LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA III

PENENTUAN PANAS PELARUTAN

Oleh: Nama NIM Kelompok : Ni Made Indra Wahyuni : 0608105003 : I

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS UDAYANA

2008
PENENTUAN PANAS PELARUTAN
I. PENDAHULUAN Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari, bahwa: a.Setiap reaksi kimia selalu disertai dengan perubahan energi b. Perubahan kalor dapat diukur atau dipelajari dengan percobaan yang sederhana 1.2 Dasar Teori Termodinamika adalah ilmu yang mempelajari perubahan-perubahan energi yang menyertai suatu proses fisika dan kimia. Ada dua hal yang menjadi penekanan dalam mempelajari termodinamika yaitu: 1. Penentuan kalor reaksi (termokimia) 2. Penentuan arah suatu proses dan sifat-sifat sistem dalam kesetimbangan (termodinamika). Termokimia ialah cabang kimia yang berhubungan dengan hubungan timbal balik panas dengan reaksi kimia atau dengan perubahan keadaan fisika. Dengan cara ini, termokimia berguna untuk memperkirakan perubahan energi yang terjadi dalam proses reaksi kimia, perubahan fase dan pembentukan larutan. Hampir dalam setiap reaksi kimia terjadi penyerapan dan pelepasan energi. Suatu sistem tertentu dapat mengalami terjadinya perubahan eksoterm dan endoterm. Perubahan eksoterm merupakan perubahan yang mampu mengalirkan kalor dari sistem ke lingkungan (sistem melepaskan kalor ke lingkungan sehingga temperatur sistem meningkat). Sedangkan perubahan endoterm adalah perubahan yang mampu mengalirkan kalor dari lingkungan ke sistem (sistem menerima kalor sehingga temperaturnya menurun). Termokimia berkaitan dengan fungsi energi dalam (U), entalpi (H), entropi (S) serta energi bebas Gibbs (G). Dasar termokimia adalah Hukum Termodinamika yaitu: 1. Hukum Pertama Termodinamika

1.1 Tujuan Percobaan

Entalpi pembakaran standar (ΔHC0) yaitu jumlah kalor yang terlibat untuk pembakaran (mereaksikan gas O2) satu mol zat dalam keadaan standar. Adapun jenis-jenis entalpi reaksi diantaranya adalah: 1. H2O (l) H2O (g) ΔHS = + 44. H2 (g) + ½ O2 (g) H2O(l) ΔHf = -285. yang menyatakan banyaknya energi yang tersimpan dalam suatu zat atau sistem. Hukum Kedua Termodinamika Dalam hukum kedua termodinamika ini terlihat adanya hubungan antara entropi dan spontanitas suatu reaksi. entropi berhubungan dengan ketidakteraturan molekul dalam sistem. 2. Entalpi pelarutan standar (ΔHS0) yaitu jumlah kalor yang terlibat untuk melarutkan satu mol zat dalam keadaan standar.unsurnya dalam keadaan standar. Hukum Ketiga Termodinamika Hukum ini menyatakan bahwa ”Entropi suatu kristal sempurna adalah nol pada temperatur absolut”. HCN (aq) + KOH (aq) KCN (aq) + H2O (l) ΔH = -12 kJ/mol .85 kJ/mol 2. Entalpi pembentukan standar (ΔHf0) yaitu jumlah kalor yang terlibat untuk membentuk satu mol suatu zat dari unsur. C (s) + O2 (g) CO2 (g) ΔHC = -393.52 kJ/mol 4. Entalpi netralisasi yaitu jumlah kalor yang terlibat ketika satu mol air terbentuk akibat reaksi netralisasi asam dan basa. Perubahan entalpi penguraian standar (ΔHd0) yaitu jumlah kalor yang terlibat untuk menguraikan satu mol suatu zat menjadi unsurnya dalam keadaan standar. Entalpi (H) merupakan kalor reaksi pada sistem isobar (tekanan tetap). Dalam hukum ini dinyatakan bahwa ”bila suatu sistem mengalami serangkaian perubahan yang akhirnya membawa sistem kembali ke keadaan awalnya maka beda perubahan energinya adalah nol”. Jadi.Hukum pertama termodinamika merupakan uraian baru dari hukum kekekalan energi. Hukum ini menyatakan bahwa ”Entropi alam semesta bertambah dalam suatu perubahan spontan dan tetap dalam suatu proses kesetimbangan” 3.01 kJ/mol 5. NaCl (s) Na (s) + ½ Cl (g) ΔHd = + 411 kJ/mol 3.

Dalam percobaan penentuan panas pelarutan ini juga dipergunakan alat kalorimeter. Dalam penggunaan kalorimeter berlaku bahwa kalor (Q) yang dilepas sama dengan kalor (Q) yang diterima. Harga tetapan kalorimeter didapat dengan membagi jumlah kalor yang diserap kalorimeter dengan perubahan temperaturnya. s . Dua buah sistem yang mempunyai kalor yang berbeda. sehingga kedua sistem mempunyai kalor yang sama. HCl (g) + H2O (l) HCl (aq) ΔH = -72.4 kJ/mol Untuk mengukur perubahan energi dalam reaksi kimia (umumnya dalam bentuk kalor) biasanya digunakan alat kalorimeter. Kalor jenis (s) merupakan banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikan temperatur 1 gram zat sebesar satu derajat Celsius. atau walaupun ada pertukaran kalor harus sekecil mungkin sehingga dapat diabaikan. Sedangkan kapasitas kalor (C) adalah banyaknya kalor . Entalpi pengenceran yaitu jumlah kalor yang terlibat ketika suatu zat atau larutan diencerkan dalam konsentrasi tertentu. Kalorimeter yaitu suatu tabung yang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak ada pertukaran atau perpindahan kalor dengan sekeliling. Besarnya kalor yang dilepas atau diterima ditentukan dengan persamaan berikut: Q = m . maka apabila kedua sistem dalam keadaan berkontakan satu sama lain akan membentuk keadaan setimbang. Perpindahan kalor tersebut akan berlangsung terus hingga kedua sistem memiliki suhu yang sama. ∆T Dimana: Q m s ∆T = jumlah kalor yang diserap atau dilepaskan (J)] = massa sampel (g) = kalor jenis (J/g 0C) = perubahan temperatur (0C) Jumlah kalor yang diserap oleh kalorimeter untuk menaikkan temperaturnya sebesar satu derajat disebut tetapan kalorimeter.6. Tetapan kalorimeter dapat ditentukan dengan melakukan percobaan sederhana yaitu dengan mencampurkan sejumlah air panas dengan sejumlah air dingin sehingga akan terjadi penyerapan kalor oleh kalorimeter sebesar selisih dari kalor yang dilepaskan air panas dikurangi kalor yang diserap oleh air dingin.

Larutan memiliki entropi yang lebih besar dari pada zat terlarut dan pelarut murninya.1. 5. 7. Kelarutan gas dalam air berkurang dengan naiknya temperatur. 4. pengaduk dan bahan isolasi termometer 0 – 500 C dan 1. Serbuk CuSO4 aquadest NaOH padat larutan HCl pekat serbuk Fe . METODE PERCOBAAN • Alat yang dipergunakan diantaranya adalah: 1. 6. Suatu zat dengan panas pelarut positif hanya akan terlarut jika kenaikan entropi pada saat pelarutan cukup tinggi. 9. Alat dan Bahan Bahan yang digunakan adalah: 1. 3. 3. 2.1000 C labu ukur 50 mL dan 100 mL Gelas ukur 50 mL dan 100 mL beaker glass pemanas stopwatch Pipet tetes Batang pengaduk 2. 5. 2. • Kalorimeter. Pengaruh suhu pada kelarutan zat padatan lebih mudah larut pada temperatur tinggi. 8. Kelarutan akan semakin besar dengan bertambahnya tekanan. II.yang diperlukan untuk menaikan temperatur sejumlah tertentu zat sebesar satu derajat Celsius. 4.

Cara pengerjaan: Cara pengerjaan: Cara pengerjaan: . Temperatur larutan HCl diukur dengan termometer 3. lalu temperaturnya dicatat. 20 cm3 air dipanaskan dalam gelas kimia sampai ± 100 diatas temperatur kamar kemudian temperaturnya dicatat. 4. Penentuan Kalor Reaksi Fe(s) + CuSO4(Aq) 1. Kenaikan temperatur diukur dengan menggunakan grafik. Sebanyak 20 cm3 NaOH 2. Penentuan Kalor Penetralan HCl dan NaOH 1. 2.05 M diukur dan temperaturnya dicatat (diatur sedemikian rupa sehingga temperaturnya sama dengan temperatur HCl). 20 cm3 HCl 2 M dimasukkan kedalam kalorimeter. 40 cm3 larutan CuSO4 1 M dimasukkan ke dalam kalorimeter. Sebanyak 3. Air panas tersebut dicampurkan kedalam kalorimeter. 3. 6. Temperatur larutan dicatat selama 2 menit dengan selang waktu ½ menit. 20 cm3 air dimasukkan ke dalam kalorimeter dengan buret. 2. Basa ini dicampurkan kedalam kalorimeter dan temperatur campuran dicatat selama 5 menit dengan selang waktu ½ menit.2. 5. diaduk atau dikocok kemudian temperaturnya diamati selama 10 menit dengan selang 1 menit setelah pencampuran. Temperatur campuran dicatat dengan selang waktu satu menit setelah pencampuran selama 10 menit. C.2. Kurva pengamatan temperatur vs selang waktu dibuat untuk menentukan harga penurunan air panas dan penaikan temperatur air dingin. Cara Kerja A. 2. 4. Bubuk Fe dimasukkan kedalam CuSO4 dalam kalorimeter. 3.03 gram bubuk Fe ditimbang dengan teliti 4. Penentuan Tetapan Kalorimeter 1. B.

5 41 = 310C = 20 cm3 = 2.03 gram 0. 5 34. jika kerapatan kelarutan 1. 5 1 41 T NaOH V NaOH M NaOH 1. 5 5 39 Setelah pencampuran : t (menit) Temperatur (0C) . DATA PENGAMATAN A. 5 C.2 3.03 g cm -3 dan kalor jenisnya sebesar 3. III. 5 6 35.5 28.5 7 33. Penentuan Tetapan Kalorimeter T air dingin V air dingin V air panas = 290C = 20 cm3 = 20 cm3 1 34 2 34 3 33.5.5 2 28.5 41. 5 2. 1 10 33 T air panas = 390C Setelah pencampuran: t (menit) Temperatur (0C) Penentuan Kalor Reaksi Fe(s) + CuSO4(Aq) V CuSO4 m Fe = 40 cm3 = 3.5 Temperatur Fe selama 2 menit: t (menit) Temperatur ( 0C ) Setelah pencampuran Fe(s) dan CuSO4(Aq) : t (menit) Temperatur (0C) 1 30 2 31 3 31 4 32. 4 33.5 40 4 39. 8 10 40 Penentuan Kalor Penetralan HCl dan NaOH T HCl V HCl M HCl = 310C = 20 cm3 = 2M 0.05 M 2 40.5 39. Kalor penetralan dihitung. 5 3 40. 5 6 33. Grafik dibuat untuk memperoleh perubahan temperatur akibat reaksi ini. 8 B. 6. 9 4. 4 8 33.5 1 28.96 J/g K.5 7 37 8 38 9 38.5 40. 7 5 33.5 1. 2 9 33.5 28.

. Pembuatan Larutan • Larutan CuSO4 1M Diketahui : M CuSO4 Mr CuSO4 V larutan Ditanya Jawab : massa CuSO4 : M 1M 1M = = = = 1M = 159. . PERHITUNGAN 1. M1 V1 = 16.55 g / mol Massa CuSO4 = 159.955 gram = 15.IV. . • Larutan HCl 2 M Diketahui : V2 M1 M2 Ditanya Jawab : V1 = 100 mL = 12 M = 2M = . . . . M2 = = V2 xM 2 M1 100mLx 2 M 12 M : V1 . . . .96 gram. .? = V2 . . ? m CuSO4 1000 x V Mr CuSO4 m CuSO4 1000 x 159.55 g/mol = 100 mL =. . massa CuSO4 yang harus ditimbang untuk membuat larutan CuSO 4 1M sebanyak 100 mL adalah 15. . . . .55 10 = 15.96 gram Jadi.67 mL = 17 mL .55 g / mol 100 10 xm CuSO 4 159. .

05mol / Lx 40 g / mol 10 = 8.05 M = Massa CuSO4 = 2. .05 M Diketahui : M NaOH Mr NaOH V larutan Ditanya Jawab : massa NaOH : M = = 2. q2.05 M = 2.2 J/g K = ……. dan k = 20 cm3 = 20 cm3 = 1 g/ cm3 = 4. q3. . .05M sebanyak 100 mL adalah 8. massa NaOH yang harus ditimbang untuk membuat larutan NaOH 2. ? m NaOH 1000 x V Mr NaOH m NaOH 1000 x 40 g / mol 100 10 xm NaOH 40 g / mol 2. . Penentuan Tetapan Kalorimeter Diketahui : V air dingin V air panas ρ air kalor jenis (s) air Ditanya Jawab: m air dingin = ρ air x V air dingin = 1 g/ cm3 x 20 cm3 = 20 g m air panas = ρ air x V air panas = 1 g/ cm3 x 20 cm3 = 20 g : q1. . ? . 2.2 gram Jadi. . . .05 M = 40 g/mol = 100 mL =. .Jadi volume HCl yang harus dipipet untuk membuat larutan HCl 2 M sebanyak 100 mL adalah 17 mL • Larutan NaOH 2.2 gram.

Kalor yang diberikan air panas (q2) q2 = massa air panas x kalor jenis air x kenaikan temperatur = m air panas x sair x ∆T = 20 g x 4.q1 = 504 J – 336 J = 168 J 4.• Untuk air dingin: ∆T T1 = 29 0C T2 = 33 0C = T2 – T1 = 33 0C – 29 0C = 4 0C (adanya kenaikan temperatur) T1 = 39 0C T2 = 33 0C • Untuk air panas: ∆T = T2 – T1 = 33 0C – 39 0C = -6 0C (adanya penurunan temperatur) 1.2 J/g K x 6 K = 504 J 3.2 J/g K x 4 K = 336 J 2. Tetapan Kalorimeter (k) k = = q3 ∆ T 168 J 4K = 42 J/K . Kalor yang diterima kalorimeter (q3) q3 = q2 . Kalor yang diserap air dingin (q1) q1 = massa air dingin x kalor jenis air x kenaikan temperatur = m air dingin x sair x ∆T = 20 g x 4.

5 0C T2 = 28.03 gram = 1. dan Hr …….5 0C = 40 cm3 = 3.5 0C = 0 0C • Setelah penambahan Fe T1 = 30 0C T2 = 400C ∆T = T2 – T1 = 40 0C – 30 0C = 10 0C (kenaikan temperatur) (temperatur konstan) = 28.5 0C – 28. q6. Kalor yang dihasilkan oleh reaksi (q6) q6 = q4 + q5 . q5.3.56 J 3. Penentuan Kalor Reaksi Fe(s) + CuSO4(Aq) Diketahui : T CuSO4 V CuSO4 m Fe ρ FeSO4 slar Ditanya : Jawab • : T1 = 28.52 Jg-1K-1 x 10 K = 802. Kalor yang diserap larutan (q5) q5 = m air panas x ρlar x s x ∆T1 = 20 g x 1. Kalor yang diserap kalorimeter (q4) q4 = k x ∆T = 42 J/K x 10 K = 420 J 2. ? Untuk CuSO4 : 1.5 0C ∆T = T2 – T1 = 28.14 g/cm3 x 3.52 Jg-1K-1 = q4.14 g/ cm3 = 3.

05 mmol/mL x 20 mL = 41 mmol mmol HCl = 2 mmol/ mL x 20 mL = 40 mmol NaOH + HCl 40 mmol 40 mmol NaCl 40 mmol 40 mmol + H2O 40 mmol 40 mmol m: b : s : 41 mmol 40 mmol 1 mmol .56 J / mol 0. ? mmol NaOH = 2.040 1.= 420 J + 802. dan ∆Hn = ……. Penentuan Kalor Penetralan HCl dan NaOH Diketahui : ρlarutan slarutan T1 T2 [NaOH] [HCl] V NaOH V HCl Ditanya : Jawab • • : = 1. q12.96 Jg-1K-1 = 41.564 J/mol = 30.5 0C = 39 0C = 2. q13.040 = 30.56 J 4.56 J = 1.222.03 g/ cm3 = 3.05 M = 2M = 20 cm3 = 20 mL = 20 cm3 = 20 mL q11.564 kJ/mol 4.222. Entalphi reaksi (Hr) Hr = = q6 J / mol 0.

512.822 J/mol = .96 Jg-1K-1 x (-2.03 g/ cm3 = 41.2 g x 3.12. Kalor Penentralan (∆Hn) ∆H n = = = 40 cm3 q13 J / mol 0.Pada reaksi ini dihasilkan 40 mmol NaCl = 0.2 gram 1.822 kJ/mol .040 − 512.5) K = 41.88 J 2.96 Jg-1K-1 x (39 – 41.88 J 4. Kalor yang dihasilkan oleh reaksi (q13) q13 = q11 + q12 = (.407.105 J 3.88) J + (-105) J = .407.12.88 J / mol 0.5) K = .040 = .2 g x 3. Kalor yang diserap kalorimeter (q12) q12 = k x ∆T3 = 42 J/K x (-2.5) K = . Kalor yang diserap (q11) q11 = m larutan x s x ∆T3 = 41.040 mol NaCl Volume total larutan m larutan = V total larutan x ρ larutan = 40 cm3 x 1.

PEMBAHASAN Percobaan penentuan panas pelarutan ini bertujuan untuk mempelajari bahwa setiap reaksi kimia selalu disertai dengan perubahan energi dan juga perubahan kalor yang menyertai suatu reaksi kimia dapat diukur dengan percobaan sederhana. Setelah proses pencampuran air dingin dan air panas dilakukan maka temperatur campuran diukur selama 10 menit dengan selang waktu 1 menit. Penentuan Tetapan Kalorimeter Adapun untuk menentukan tetapan kalorimeter ini dilakukan dengan mencampurkan air dingin dengan air panas ke dalam kalorimeter.V. Sebelum pencampuran. Untuk temperatur air panas yang akan dicampurkan diatur sedemikian rupa sehingga perbedaan temperaturnya sebesar ± 10 0C dari temperatur kamar. Untuk temperatur air dingin sebesar 29 0C sedangkan untuk temperatur air panas sebesar 39 0C. Adapun dalam percobaan ini dipergunakan alat kalorimeter untuk mengukur perubahan temperatur yang terjadi selama percobaan berlangsung. Setelah pencampuran terjadi penurunan temperatur untuk air panas yang semula 39 0C menjadi 33 0C (penurunan temperatur sebesar 6 0C) sedangkan untuk air dingin mengalami kenaikan temperatur yaitu dari 29 0C menjadi 33 0C (kenaikan temperatur sebesar 4 0C). . selanjutnya perlahan-lahan terjadi penurunan temperatur campuran sampai diperoleh temperatur campuran sebesar 33 0C setelah 10 menit pengukuran. nilai temperatur campuran konstan yaitu sebesar 34 0C. A. Hal ini menunjukkan bahwa dalam proses pencampuran tersebut terjadi peristiwa pelepasan dan penyerapan kalor yaitu air panas melepaskan kalor dan diserap oleh air dingin. Untuk lebih jelas tentang kenaikan temperatur air dingin dan penurunan temperatur air panas dapat dilihat pada kurva pencampuran air panas-dingin dibawah ini. temperatur masing-masing zat diukur.penentuan kalor reaksi Fe(s) + CuSO4(Aq) dan penentuan kalor penetralan HCl dan NaOH. Adapun dari hasil pengukuran terlihat bahwa pada awal pengukuran. Untuk percobaan penentuan panas pelarutan ini dilakukan tiga jenis percobaan yaitu penentuan tetapan kalorimeter.

sedangkan T2 menunjukkan temperatur air panas. Untuk temperatur campuran air dingin dan air panas ditunjukkan dengan T3. Temperatur konstan terjadi pada menit pertama dan ke-2 kemudian pada menit ke-6 sampai menit ke-7. T1 menunjukkan temperatur air dingin.Kurva diatas menunjukkan saat air panas dan air dingin dimasukkan ke dalam kalorimeter. Selanjutnya temperatur .

Sebanyak 40 cm3 larutan CuSO4 dimasukkan dalam kalorimeter dan diukur temperaturnya selama 2 menit dengan selang waktu ½ menit. Penentuan Kalor Reaksi Fe (s) + CuSO4 (Aq) Dalam percobaan kalor reaksi ini dipergunakan serbuk Fe dan larutan CuSO 4 1 M. Proses pelepasan dan penyerapan kalor yang terjadi dalam kalorimeter dapat dihitung. Adapun nilai kalor yang diserap kalorimeter sebesar 420 J. Dari nilai kalor tersebut.564 J/mol. Adapun kalor yang dilepaskan oleh air panas sebesar504 J sedangkan kalor yang diserap oleh air dingin sebesar 336 J. Adapun temperatur campuran semakin lama semakin naik.56 J. Sehingga jumlah kalor yang dihasilkan dalam reaksi adalah jumlah kalor yang diserap kalorimeter ditambah kalor yang diserap larutan yaitu sebesar 1. sedangkan kalor yang diserap oleh larutan sebesar 802. sehingga diperoleh nilai tetapan kalorimeter (k) sebesar 42 J/K.56 J. B. temperatur campuran diukur selama 10 menit dengan selang waktu 1 menit. Dari kedua nilai kalor tersebut dapat diketahui besarnya kalor yang diterima oleh kalorimeter yaitu sebesar 168 J. .222.campuran perlahan-lahan menurun sampai menit ke-10 dan saat menit ke-10 diperoleh temperatur campuran sebesar 33 0C. Dari hasil pengukuran temperatur campuran. Dari hasil pengukuran temperatur selama 2 menit diperoleh temperatur CuSO 4 yang konstan sebesar 28. dapat diketahui besarnya entalpi reaksi Fe (s) + CuSO4 (Aq) adalah 30.5 0 C. dapat dilakukan perhitungan untuk mencari jumlah kalor yang digunakan dalam reaksi Fe dengan CuSO4. dimana pada menit pertama temperaturnya sebesar 30 0C kemudian temperatur akhirnya (pada menit ke-10) sebesar 40 0C. Sehingga terjadi kenaikan temperatur campuran sebesar 10 0C dari awal sampai akhir pencampuran. Untuk kenaikan temperatur saat pencampuran Fe dengan CuSO 4 dapat dilihat pada kurva dibawah ini.03 gram serbuk Fe ke dalam kalorimeter Setelah proses pencampuran dilakukan. Untuk tetapan kalorimeter (k) itu sendiri dihitung dengan cara membagi besarnya kalor yang diserap oleh kalorimeter (168 J) dengan perubahan temperaturnya (4 K). Selanjutnya dimasukkan sebanyak 3.

05 M. Penentuan kalor penetralan dilakukan dengan mencampurkan larutan HCl dengan larutan NaOH. temperatur kedua larutan diukur dimana temperatur basa yaitu NaOH diatur sedemikian rupa agar sama dengan temperatur HCl. Dari hasil pengukuran temperatur sebelum pencampuran. Penentuan Kalor Penetralan HCl dan NaOH Dalam penentuan kalor penetralan ini digunakan 2 jenis larutan yaitu larutan HCl dan larutan NaOH.C. Sedangkan untuk larutan NaOH dibuat dari NaOH padat yang dilarutkan dalam 100 mL aquades sehingga dihasilkan larutan NaOH 2. diperoleh . Sebelum pencampuran. Larutan HCl pekat yang dipakai dalam percobaan harus diencerkan terlebih dahulu sampai diperoleh larutan yang lebih encer dengan molaritas larutan sebesar 2 M.

Hal ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan konsentrasi larutan HCl dan NaOH serta adanya kesalahan dalam percobaan yang dilakukan.5 0C (pada menit-0. Dari hasil pengukuran temperatur terlihat bahwa terjadi penurunan temperatur campuran dari 41. Sehingga kalor yang dihasilkan oleh reaksi dapat dihitung dengan menjumlahkan kalor yang diserap larutan (–407. Untuk menghitung kalor penetralan HCl dan NaOH dilakukan dngan cara membagi jumlah kalor yang dihasilkan dalam reaksi dengan jumlah mol NaCl yang terbentuk sehingga diperoleh kalor penetralan untuk HCl dan NaOH sebesar 12.5 0C.88 J) dengan kalor yang diserap kalorimeter (–105 J) yaitu sebesar –512. Nilai perubahan temperatur campran ini dapat digunakan untuk menghitung nilai kalor netralisasi untuk HCl dan NaOH.5) sampai 39 0C (pada menit ke-5). dilakukan pengukuran temperatur selama 5 menit dengan selang waktu ½ menit.88 J. Namur nilai kalor penetralan yang diperoleh dari perhitungan lebih kecil dari literatur. Sehingga nilai penurunan temperaturnya sebesar 2.temperatur kedua larutan sebesar 31 0C. Untuk mengetahui perubahan temperatur campuran selama reaksi berlangsung dengan selang waktu 5 menit dapat dilihat pada kurva di bawah ini. . Dari hasil perhitungan diperoleh kalor yang diserap sebesar –407.822 kJ/mol. Adapun dalam reaksi penetralan tersebut diperoleh molekul air (H2O) dengan reaksi yang terjadi yaitu: HCl (aq) + NaOH (aq) NaCl (aq) + H2O (l) Setelah pencampuran. Selanjutnya dilakukan pencampuran kedua larutan dalam kalorimeter.88 J sedangkan kalor yang diserap kalorimeter sebesar –105 J. Berdasarkan literatur diketahui bahwa kalor netralisasi untuk asam kuat dan basa kuat adalah konstan yaitu sebesar -57 kJ/ mol.

.

Tony. 2. Kimia Fisika.822 kJ/ mol. Tim Laboratorium Kimia Fisika. Sastrohamidjojo. 2001. Jakarta.564 J/mol atau 30. 1990. Kenaikan temperatur pada air dingin sebesar 4 0C sedangkan penurunan temperatur pada air panas sebesar 6 0C. Gramedia. Penuntun Praktikum Kimia Fisika III. 3. Besarnya kalor netralisasi asam kuat (HCl) dengan basa kuat (NaOH) pada percobaan ini adalah 12. Jurusan Kimia F. Dalam penentuan kalor reaksi antara Fe(s) dengan CuSO4(aq) diperoleh nilai kalor (entalpi) reaksi sebesar 30. Nilai tetapan kalorimeter sebesar 42 J/ K.VI. 1993. Yogyakarta. Edisi ke-2. Kimia Dasar. 5. H. Dogra.K Dogra. DAFTAR PUSTAKA Bird. KESIMPULAN Dari hasil pembahasan diatas maka dapat disimpulkan beberapa hal yaitu: 1. Kalor yang diserap oleh air dingin sebesar 336 J sedangkan kalor yang dilepaskan oleh air panas sebesar 504 J. Bina Aksara. Sukardjo. Yogyakarta. Kimia Fisika untuk Universitas. 1989. Gadjah Mada University Press. S dan S. 4.564 kJ/mol. Universitas Indonesia Press. Kimia Fisik dan Soal-Soal. 2008. Jakarta. VII.MIPA Universitas Udayana. Bukit Jimbaran .

3.2 5 28. 6 3 28.2 J/g K H+(aq) + OH-(aq) H2O(l) . NaCl + H2O ∆Hn untuk sistem reaksi adalah -57 kJ/ mol Basa lemah dengan asam kuat (NH4OH dengan HCl) ∆Hn untuk sistem reaksi adalah kurang dari -57 kJ/ mol Basa lemah dengan asam lemah (NH4OH dengan CH3COOH ) ∆Hn untuk sistem reaksi adalah kurang dari -57 kJ/ mol 2. LAMPIRAN A.VII. Diketahui : T air panas T air dingin V air panas V air dingin ρ air kalor jenis (s) air Data pengamatan : t (menit) Temperatur (0C) 0 29.0 = 35 0C = 29 0C = 40 cm3 = 40 cm3 = 1 g/ cm3 = 4. Basa kuat dengan asam kuat (NaOH dengan HCl) NaOH + HCl b. Jika sistem yang dipelajari hanya menyangkut zat padat dan zat cair saja. Akibatnya perubahan entalphi ∆H dan perubahan energi ∆U dalam hal ini adalah identik. Panas netralisasi asam kuat oleh basa kuat adalah konstan yaitu -57 kJ/ mol.8 2 28. c. maka kerja dapat diabaikan dimana yang terjadi perubahan volume sangat kecil.0 1 28. Tetapi panas netralisasi asam lemah dan basa lemah kurang dari -57 kJ/ mol karena asam atau basa mengalami ionisasi sedangkan asam kuat dan basa kuat berdisosiasi sempurna dan reaksinya hanya: Contohnya: a. 4 4 28. Sehingga kerja yang bersangkutan dengan sistem tersebut dapat diabaikan (P∆V). Kalor penetralan adalah kalor reaksi yang dihasilkan atau dilepaskan pada penetralan 1 mol asam oleh basa atau 1 mol basa oleh asam. Jawaban Pertanyaan 1.

6 K k = 4.6 k = 0.4 + 28.s.2 J / gK ..8 + 28.( ∆t − ∆T ) = ∆T ∆T • ∆t untuk air panas ∆t : T1 = 35 0C T2 = 28.4 – 29) 0C = .? .2 + 28.4.6..s.. Diketahui : m Na2CO3 m air ∆T3 s Ditanya : ∆Hs = 8.(6.0 J/g K = ..6 0C m.6 + 28.4 5 5 = 40 g k= q3 m.6 K 1008 J k = =1680 J / K 0.6) K k = 0.60 C : T1 = 29 0C T2 = 28..6 K 40.Ditanya : k = …… ? Jawab : • m air dingin = m air panas = ρair x Vair = 1 g/ cm3 x 40 cm3 • Air panas : T1 = 35 0C T2 = 28.4 0C = T2 – T1 = (28.24 K = 4..4 0C • ∆T untuk air dingin ∆t = T2 – T1 = (28.2 J .0.0 142 = = 28..6 − 0.4 g = 80 g = 6..( ∆t − ∆T ) ∆T 40 g .4.4 – 35) 0C = .

79 J + 10483 J = 12799.0792 mol Kalor yang diserap (q11) q11 = m larutan x s x ∆T3 = 88.24 K = 2316. + 2 H2O 8.0792mol 12799.0792 mol s : a.88 mol 0.24 K = 10483.0792 mol 106 g / mol 80 g = 4.2 Jg-1K-1 x 6.99 J ∆H n = = 53872 Jmol −1 = 53. Data Pengamatan . Kalor Penentralan (∆Hn) q13 0.1584 mol 8.Jawab • • : Na2CO3 + 2H2O 2NaOH + H2CO3 molNa 2 CO3 = molH 2 O = 8.87 kJ / mol 0.1584 mol 0.0792 mol b : 0.2 J c.99 J = 12.79 J b.1584mol + 0.4 g = 0.0792 mol 0. Kalor yang diserap kalorimeter (q12) q12 = k x ∆T3 = 1680 J/K x 6.4 g x 4.7216 mol 2NaOH 0.2376mol ∆H n = B. Kalor yang dihasilkan oleh reaksi (q13) q13 = q11 + q12 = 2316.79999 Kj d.1584 mol + H2CO3 0.44mol 18 g / mol Reaksi stokiometri : Na2CO3 m : 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful