P. 1
Tindak Pidana Wilayah Perairan Laut Indonesia

Tindak Pidana Wilayah Perairan Laut Indonesia

|Views: 144|Likes:
Published by Agust Rizal
BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN

More info:

Published by: Agust Rizal on Jun 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/26/2013

pdf

text

original

MAKALAH

GUSRIZAL 0803101020116

DARUSSALAM UNIVERSITAS SYIAH KUALA FAKULTAS HUKUM BANDA ACEH

BAB I PENDAHULUAN
1. Latar belakang

Dalam penjelasan resmi “ Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia” ( 1945 ) dimuat antara lain : “ Negara” begitu bunyinya – melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan berdasarkan atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.1 Penegakan hukum keamanan dan ketertiban merupakan sesuatu kondisi yang wajib dilakukan untuk menciptakan situasi yang memungkinkan terselenggaranya pembangunan nasional.Penegakan hukum keamanan dan ketertiban , tidak mungkin tercapai tanpa kemampuan menegakkan kedaulatan didarat, dilaut dan diudara. Penyelenggaraan penegakan kedaulatan didarat tidak sesulit dan serumit penegakan kedaulatan dilaut, karena batas wilayah Negara didarat secara nyata dapat dibuat dan dilihat. Penegakan kedaulatan dilaut, tidak dapat dilaksanakan tanpa memahami batas wilayah/wilayah territorial serta peraturan peraturan perundang – undangan yang mendasari penegakan kedaulatan tersebut, yang secara keseluruhan pada hakikatnya bersifat dan bertujuan untuk ketertiban dan keamanan, untuk kesejahtraan dengan memperhatikan hubungan – hubungan internasional.
2. Tujuan a. Melalui makalah ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada mahasiswa maupun masyarakat dan pada penulis, khususnya mengenai tindak pidana wilayah perairan ( laut ) Indonesia. b. Memberikan gambaran tentang tindak pidana perairan ( laut ) Indonesia. c. Untuk memberikan solusi terhadap permasalahan tindak pidana wilayah perairan ( laut ) Indonesia.

1

Undang – Undang Dasar 1945. Alinea ke 4

3. Rumusan masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan tindak pidana wilayah perairan ( laut ) Indonesia? 2. Bagaimana kedudukan kedaulatan atas wilayah peairan ( laut ) Indonesia? 3. Siapakah yang melakukan penyidikan dalam kasus/perkara pidana laut di Indonesia?

BAB II

PEMBAHASAN
1. Pengertian tindak pidana wilayah perairan ( laut ) Indonesia

“ tindak pidana “ suatu perbuatan yang melanggar peraturan didalam perundang – undangan yang ada. Sedangkan “peraiaran” , kata “peraiaran” agar tidak dicampur dengan “pengairan” sebagaimana diatur oleh undang –undang Nomor : 11 tahun 1974. Dalam undang – undang tahun 1974 dicantumkan arti “pengairan” sebagai berikut, “pengairan adalah suatu bidang pembinaan atas air, sumber – sumber air, termasuk kekayaan alam bukan hewani yang terkandung didalamnya baik yang alamiah maupun yang telah diusahakan oleh manusia”. Sedangkan arti “peraiaran” dimuat dalam undang – undang nomor : 4/PRP/1960 sebagai berikut : “perairan” Indonesia adalah laut wilyah Indonesia beserta perairan pedalaman Indonesia”.
2. Kedudukan kedaulatan atas wilayah perairan di Indonesia. 1. Wilayah perairan

Wilayah perairan terdiri dari wilayah darat dan wilayah perairan. Wilayah perairan biasa juga disebut “laut wilayah” atau “laut territorial”. Yang dimaksud dengan “wilayah perairan adalah” kedaulatan Negara tertentu atas bagian tertentu dari laut. Laut sebagai wilayah territorial, merupakan daerah yang menjadi tanggung jawab sepenuhnya Negara yang bersangkutan dengan penerapan hukum yang berlaku di wilayahnya yaitu hukum nasional Negara yang bersangkutan. Hampir setiap Negara lautan mempergunakan prinsipnya untuk menentukan lebar laut territorial dengan tetap memperhatikan konvensi hukum laut internasional yang berlaku.2 Di Indonesia pembatasan oleh hukum internasional dimuat oleh pasal 9 Kitab Undang – Undang Hukum Pidana (KUHP) yang berbunya sebagai berikut : “berlakunya pasal 2-5, 7 dan 8 dibatasi oleh hal yang dikecualikan, yang diakui dalam hukum antar Negara”.
2

.P. Joko subagyo, S.H. Hukum laut Indonesia , edisi 2, cetakan 4 (Jakarta: Rineka cipta,2009)

Pengaturan “laut territorial” Indonesia diatur pada :
Peraturan pelayaran Indonesia tahu 1936, Stbl No. 700 Tahun 1936 Peraturan Pelayaran Tahun 1936, Stbl No. 703 Tahun 1936 Ordonansi laut territorial dan lingkungan Maritim Tahun 1939, Stbl. No. 442 Tahun 1939.

Berdasarkan pada ordonansi laut territorial dan lingkungan maritim 1939, pada pasal 1 ayat 1 butir 2 dirumuskan, daerah laut Indonesia (perairan territorial) sebagai berikut : “Daerah laut Indonesia termasuk bagian laut territorial yang terletak pada bagian sisi darat dari :
a. Laut pantai; b. Daerah air teluk – teluk, ceruk – ceruk laut, muara – muara sungai dan terusan.”

2. Daerah laut territorial

Berdasarkan ordonansi laut territorial dan lingkungan maritim 1939, ditentukan bahwa laut territorial jarak dari pantai adlah 3 mil laut (1 mil laut = 1852 m) diukur dari pantai pada saat air surut. Mengenai jarak 3 mil laut diatas , diikuti oleh sebagian besar Negara di dunia antara lain : Amerika serikat, inggris , jepang, belanda. Jarak 3 mil laut, telah disetujui dalam “ International Law Association” 1924. Namun ada Negara – Negara yang menentukan jarak tersebut berlainan, antara lain :
Negara – Negara Skandinavia ( Finlandia, Swedia, Norwegia ) menentukan jarak 4 mil laut. Meksiko menentukan jarak 9 mil laut. Saudi Arabia, Republik persatuan Arab, Indonesia menetukan jarak 12 mil laut.

3. Daerah Laut territorial Indonesia

Negara republik Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau – pulau, berbatasan dengan Negara – Negara tetangga antara lain:

Malaysia,Thailand, Republik singapura, Republik India, Papua New Guinea. Dengan berlakunya undang – undang nomor 4/Prp/1960 yang menentukan lebar laut wilayah Indonesia menjadi 12 mil laut maka beberapa perairan yang dulunya merupakan “laut bebas” menjadi “perairan territorial” Indonesia, sehingga menimbulkan permasalahan – permasalahan dengan Negara tetangga, misalnya:
Republik Singapura, yang menganut lebar laut wilayah 3 mil laut. Dengan demikian jarak garis wilayah perairan Indonesia dan garis wilayah perairan singapura, minimal 15 mil yakni 12 mil dan 3 mil. Tetapi berdasarkan kenyataan , jarak antara garis – garis dasar wilayah singapura kurang dari 15 mil.

Untuk mencegah perselisihan – perselisihan Republik Indonesia dengan Negara negara tetangga, maka pemerintah Indonesia mengadakan perjanjian – perjanjian dengan Negara - negara tetangga yang menghasilkan persetujuan diantaranya :
Perjanjian antara Republik Indonesia dan Malaysia tentang batas laut wilayah kedua Negara di selat malaka. Perjanjian tersebut dibuat pada tanggal 17 maret 1970 yang ditanda tangani oleh Adam Malik (sebagai Mentri luar negri Indonesia) dan tuan Haji Abdul Razak (timbalan perdana Mentri Malaysia). Perjanjian antara Indonesia dngan Australia mengenai garis – garis batas tertentu, yang ditanda tangani pada tanggal 12 februari 1973. Perjanjian ini telah menjadi undang – undang Nomor 6 tahun 1973.

3. Pihak – pihak yang melakukan penyidikan dalam kasus/perkara pidana laut di Indonesia Dalam penyidikan kasus,dilakukan oleh TNI – AL sesuai pasal 14 undang – undang nomor 5 tahun 1983. Kemudian dalam penyidikan juga diperiksa saksi – saksi baik dari perwira maupun saksi ahli dari perikanan dan imigrasi. Sesudah berita acara pemeriksaan lengkap dari penyidik diserahkan pada jaksa penuntut umum. Adapun aparat penyidik adalah sebagai berikut :
Di kapal perang (KRI) o Komandan Kapal Perang

o

Perwira lainnya di KRI, yang dalam pelaksanaannya dilakukan atas perintah Komando KRI.

-

Di kapal Patroli Keamanan Laut non KRI o o Komandan kapal Patroli Keamanan Laut yang berpangkat Perwira. Perwira lainnya dikapal, yang dalam pelaksanaanya dilakukan atas perintah Komandan Kapal.

-

Di satuan Operasi TNI AL lainnya. o Para Panglima/Komandan yang diberi wewenang memegang Komando Operasi Laut sehari – hari. o Para Perwira bawahannya yang dalam pelaksanaannya atas perintah

Panglima/Komandan Satuan Operasi.

Sebagai pembantu penyidik ditunjuk para Bintara di lingkungan TNI – AL yang diberi tugas dan wewenang sebagai Komandan Kapal Patroli Keamanan Laut. Selain dari Perwira TNI – AL, juga PPNS yang diangkat khusus untuk pelanggaran hukum tertentu misalnya :
PPNS – Perikanan PPNS – Perhubungan PPNS – Bea Cukai

Semua penyidikan dilakukan berdasarkan ketentuan – ketentuan KUHAP (Undang – undang No. 8 tahun 1981) kecuali ada ketentuan – ketentuan khusus dalam undang – undang yang bersangkutan.

BAB III

Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan 1. sebagai kedaulatan wilayah penuh, maka Negara yang berdaulat berkewenangan mengatur segala sesuatu diwilayah “laut territorial” tersebut. 2. Pembatasan kedaulatan atas “laut territorial” umumnya hanya dibatasi oleh Hukum internasional. Di Indonesia pembatasan oleh Hukum Internasional dimuat oleh pasal 9 kitab undang – undang hokum pidana (KUHP) yang berbunyi sebagai berikut: “ berlakunya pasal 2-5, 7 dan 8 dibatasi oleh hal yang dikecualikan, yang diakui dalam hokum antar Negara” B. Saran Aparat penegak hukum Republik Indonesia yang berwenang mengambil tindakan – tindakan penegakan hokum sesuai dengan UU No 8 tahun 1981. Dalam penegakan hukum dilaut, pada tahap penyidikan perlu memperhatikan dengan cermat, ketentuan – ketentuan dalam undang – undang yang ditegakkan.

DAFTAR PUSTAKA

Subagyo, Joko P,Hukum Laut Indonesia, Jakarta, Rineka Cipta, 2009 Danuredjo, LS Sumitro, Hukum Internasional Laut Indonesia, Jakarta, Bhratara, 1971 Hamzah, A, Laut territorial dan Perairan Indonesia (Himpunan Peraturan), Jakarta, Akademika Pressindo, 1984

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->