P. 1
Spondylitis TB

Spondylitis TB

|Views: 61|Likes:
Published by Nur Hidayah
medical
medical

More info:

Categories:Types, Presentations
Published by: Nur Hidayah on Jun 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/14/2013

pdf

text

original

SPONDILITIS TUBERKULOSIS

I. PENDAHULUAN Spondilitis Tuberkulosis (TB) atau tuberkulosis spinal atau Pott’s disease adalah infeksi bakteri Mcyobacterium tuberculosis ekstrapulmonar pada daerah tulang belakang yang dapat terjadi pada anak-anak ataupun orang dewasa. Spondilitis tuberkulosis menyebar melalui diskus secara hematogen dan menyerang vertebra bagian thorakal dan daerah atas vertebra lumbaris. 1,2 Saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 2 juta penduduk terserang dan 3 juta penduduk di seluruh dunia meninggal oleh karena TB. Insiden spondilitis TB masih sulit ditetapkan, sepuluh persen dari kasus tuberkulosis ekstrapulmonar adalah spondilitis TB. 3 Penderita spondilitis tuberkulosis umumnya mengalami nyeri pada derah vertebra yang terinfeksi dan disertai dengan demam yang tidak terlalu tinggi, menggigil serta penurunan berat badan. Komplikasi spondilitis TB dapat mengakibatkan morbiditas yang cukup tinggi dan dapat timbul secara cepat ataupun lambat. Paralisis dapat timbul secara cepat disebabkan oleh abses, sedangkan secara lambat oleh karena perkembangan dari kiposis ataupun kolaps dari vertebra. 1,2,4

II. EPIDEMIOLOGI Berdasarkan laporan WHO, kasus baru TB di dunia lebih dari 8 juta per tahun. Diperkirkan 20-33% dari penduduk dunia terinfeksi oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Indonesia adalah penyumbang terbesar ketiga setelah India dan China, yaitu dengan penemuan kasus baru 583.000 orang pertahun, dan angka kematian 140.000 orang pertahun. 3 Insidens dari Spondilitis TB masih sulit ditetapkan. Insidens bervariasi di seluruh dunia dan bekaitan erat dengan faktor sosial ekonomi serta riwayat kontak infeksi TB sebelumnya. Secara umum, 1-2% dari keseluruhan kasus tuberkulosis didunia adalah Spondilitis Tb dan terus mengalami peningkatan pada tiga dekade terakhir.3,4
1

3 IV. ETIOLOGI Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberkulosis yang merupakan anggota ordo Actinomicetales dan famili Mcobacteriase. ANATOMI VERTEBRA Kolumna vertebtra terdiri atas 33 ruas tulang yang terdiri dari: 7 ruas tulang cervical 12 ruas tulang thorakal 5 ruas tulang lumbal 5 ruas tulang sakral (sacrum) 4 ruas tulang ekor (coccygis) Tulang belakang yang merupakan penopang aksial tubuh memanjang dari dasar tengkorak sampai ulang panggul (pelvis). Susunan tulang belakang yang memanjang ini pasti tidak dapat berdiri 2 . dan bersifat tahan asam. Mycobacterium tuberculosis didapatkan pada seluruh tubuh pada 40% kasus. gram positif lemah.33-50% pasien dengan Spondilitis TB memiliki riwayat TB paru. dan 50% diantaranya memiliki gejala TB paru. Hal ini disebabkan oleh karena kuman bakterium memiliki dinding sel yang tebal dan terdiri dari lapisan lilin dan lemak (asam lemak mikolat). Pada satu studi mengenai Spondilitis TB. Basil tuberkel berbentuk batang lengkung. Di antara masing-masing ruas-ruas tulang belakang terdapat bantalan berupa bangunan pipih yang elastis dan kompresif disebut cakram antar ruas tulang belakang (discus intervertebralis) yang memberikan fleksibilitas dan kompresibilitas tulang belakang. Tulang belakang juga melingkupi dan melindungi sumsum tulang belakang dan merupakan tempat perlekatan otot punggung dan leher. Selain itu bersifat pelimorfik. 5 III. tempat berat tubuh disalurkan ke kedua tungkai. tidak bergerak dan tidak membentuk spora serta memiliki panjang sekitar 2-4 µm. Sebagian besar kasus menunjukkan bahwa spondilitis TB muncul dari fokus primer diluar tulang belakang yang kemudian menyebar secara hematogen atau limfogen.

7 Bangunan lain yang mendukung tulang belakang adalah susunan otot-otot yang perlekatannya adalah pada ruas-ruas tulang belakang itu sendiri. Ia didukung dan diperkuat oleh ligamentum ( bangunan terdiri atas jaringan ikat fibreus) baik yang berbentuk pendek-pendek maupun memanjang seperti pita : ligamentum longitudinale anterior dan posterior yang menutupi masing-masing dataran depan dan belakang tulang belakang.6.tegak sendiri . maka bakteri akan 3 . Vertebral Body (dikutip dari kepustakaan 10) IV.6 Gambar 1. A. Pada keadaan normal tulang belakang mempunyai kelengkungan ke depan di daerah leher dan pinggang. Anatomy of spine B. kelengkungan ke belakang di daerah ruas tulang belakang dada dan tulang sakrum. PATOMEKANISME Patogenesa penyakit ini sangat tergantung dari kemampuan bakteri menahan cernaan enzim lisosomal dan kemampuan host untuk memobilisasi immunitas seluler. Jika bakteri tidak dapat diinaktivasi.

retensi urine dan paralisis arefleksi dapat terjadi dalam hitungan hari. ataupun juga bentuk kronis lain dari infeksi tuberkulosa seperti infeksi ke nodus limfatikus. tulang atau sendi. Setelah pubertas daya tahan tubuh mengalami peningkatan dalam mencegah penyebaran secara hematogen. demam.12.6. anak yang terinfeksi dapat terkena penyakit tuberkulosa milier atau meningitis. Bayi dan anak muda dari kedua jenis kelamin mempunyai kekebalan yang lemah. Setelah usia 1 tahun dan sebelum pubertas. Sebelum pubertas. Beberapa antigen yang dihasilkannya juga dapat juga bersifat immunosupresif. Usia dan Jenis Kelamin Terdapat sedikit perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan hingga masa pubertas. tetapi menjadi lemah dalam mencegah penyebaran penyakit di paru-paru. walaupun kavitas seperti pada orang dewasa dapat juga dilihat pada anak-anak malnutrisi di Afrika dan Asia. lesi primer di paru merupakan lesi yang berada di area lokal. Hingga usia 2 tahun infeksi biasanya dapat terjadi dalam bentuk yang berat seperti tuberkulosis milier dan meningitis tuberkulosa. protein serta polisakarida sel basil tuberkulosa bersifat immunogenik.13 Angka kejadian pada pria terus meningkat pada seluruh tingkat usia tetapi pada wanita cenderung menurun dengan cepat setelah usia anak-anak.8 Pertahanan pasien untuk menahan infeksi bakteri tuberkulosa tergantung dari: 1. Pasien dengan infeksi berat mempunyai progresi yang cepat .11 Virulensi basil tuberkulosa dan kemampuan mekanisme pertahanan host akan menentukan perjalanan penyakit. sehingga akan merangsang pembentukan granuloma dan mengaktivasi makrofag. Komponen lipid. tetapi basil tuberkulosa sendiri jarang dapat diisolasi. Pasien dengan infeksi bakteri yang kurang virulen akan menunjukkan perjalanan penyakit yang lebih lambat progresifitasnya.bermultiplikasi dalam sel dan membunuh sel itu. terutama perempuan usia 10-14 tahun. jarang menimbulkan meningitis serebral dan infeksinya bersifat terlokalisasi dan terorganisasi. insidensi 4 . yang berasal dari penyebaran secara hematogen. Respon seluler dan kandungan protein dalam cairan serebrospinal akan tampak meningkat.8.

13 3. 12.ini kemudian meningkat kembali pada wanita setelah melahirkan anak. Keadaan ini dapat terjadi setelah beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian dan bakteri dideposit pada jaringan ekstra – pulmoner. leukemia meningkatkan resiko terkena penyakit tuberkulosa. silikosis. Nutrisi Kondisi malnutrisi (baik pada anak ataupun orang dewasa) akan menurunkan resistensi terhadap penyakit. • Penyebaran Sekunder Bila daya tahan tubuh penderita menurun. Ras Ditemukan bukti bahwa populasi terisolasi contohnya orang Eskimo atau Amerika asli. Lingkungan yang buruk (kemiskinan) Kemiskinan mendorong timbulnya suatu lingkungan yang buruk dengan pemukiman yang padat dan kondisi kerja yang buruk disamping juga adanya malnutrisi.13 5.13 6. Faktor toksik Perokok tembakau dan peminum alkohol akan mengalami penurunan daya tahan tubuh.12.13 2.12. Demikian pula dengan pengguna obat kortikosteroid atau immunosupresan lain. 12. faring atau usus dan kemudian melalui saluran limfe menyebar ke limfonodulus regional dan disebut primer kompleks. maka terjadi penyebaran melalui sirkulasi darah yang akan menghasilkan tuberkulosis milier dan meningitis. mempunyai daya tahan tubuh yang kurang terhadap penyakit ini. • Lesi Tersier 5 . diabetes. leprosi. Perjalanan infeksi :6 • Kompleks Primer Lesi primer biasanya pada paru – paru. 12. sehingga akan menurunkan daya tahan tubuh. Puncak usia terjadinya infeksi berkisar antara usia 40-50 tahun untuk wanita. sementara pria bisa mencapai usia 60 tahun. Penyakit Adanya penyakit seperti infeksi HIV.13 4.

lutut.Tulang dan sendi merupakan tempat lesi tersier dan sebanyak 5 % dari tuberkulosis paru akan menyebar dan akan berakhir sebagai tuberkulosis sendi dan tulang. Tabel 1: Pembagian TB pulmonal dan extrapulmonal. sendi bahu dan daerah persendian kecil. Dikutip dari kepustakaan 6 6 . Pada saat ini kasus – kasus tuberkulosis paru masih tinggi dan kasus tuberkulosis tulang dan sendi juga diperkirakan masih tinggi. pergelangan tangan. Predileksi : Tuberkulosis sendi dan tulang terutama mengenai daerah tulang belakang ( 50 – 70 % ) dan sisanya pada sendi – sendi besar seperti panggul.

ginjal. Penyebaran basil dapat terjadi 7 .Gambar 3 Patofisiologi Spondilitis TB. 13. Pada penampakannya. tonsil). fokus infeksi primer tuberkulosa dapat bersifat tenang.14 Pada anak-anak biasanya infeksi tuberkulosa tulang belakang berasal dari fokus primer di paru-paru sementara pada orang dewasa penyebaran terjadi dari fokus ekstrapulmoner (usus. Dikutip dari kepustakaan 8 Tuberkulosa pada tulang belakang dapat terjadi karena penyebaran hematogen atau penyebaran langsung nodus limfatikus para aorta atau melalui jalur limfatik ke tulang dari fokus tuberkulosa yang sudah ada sebelumnya di luar tulang belakang. Sumber infeksi yang paling sering adalah berasal dari system pulmoner dan genitourinarius.

8 . Area infeksi secara bertahap bertambah besar dan meluas. Gambaran radiologisnya mencakup adanya scalloped karena erosi di bagian anterior dari sejumlah vertebra (berbentuk baji). Sering terjadi pada anak-anak. Anterior Infeksi yang terjadi karena perjalanan perkontinuitatum dari vertebra di atas dan dibawahnya. yaitu setengah bagian bawah vertebra diatasnya dan bagian atas vertebra di bawahnya atau melalui pleksus Batson’s yang mengelilingi columna vertebralis yang menyebabkan banyak vertebra yang terkena. 15 3. terisolasi sehingga disalahartikan sebagai tumor. Terbanyak ditemukan di regio lumbal. iskemia dan nekrosis diskus. 15 2. Hal inilah yang menyebabkan pada kurang lebih 70% kasus. berpenetrasi ke dalam korteks tipis korpus vertebra sepanjang ligamen longitudinal anterior. Dapat menimbulkan kompresi. penyakit ini diawali dengan terkenanya dua vertebra yang berdekatan.13. 15 4. Peridiskal / paradiskal Infeksi pada daerah yang bersebelahan dengan diskus (di area metafise di bawah ligamentum longitudinal anterior / area subkondral). Sentral Infeksi terjadi pada bagian sentral korpus vertebra. Bentuk atipikal Infeksi tuberkulosa pada awalnya mengenai tulang cancellous dari vertebra.melalui arteri intercostal atau lumbar yang memberikan suplai darah ke dua vertebrae yang berdekatan. Pola ini diduga disebabkan karena adanya pulsasi aortik yang ditransmisikan melalui abses prevertebral dibawah ligamentum longitudinal anterior atau karena adanya perubahan lokal dari suplai darah vertebral. Keadaan ini sering menimbulkan kolaps vertebra lebih dini dibandingkan dengan tipe lain sehingga menghasilkan deformitas spinal yang lebih hebat.14 Berdasarkan lokasi infeksi awal pada korpus vertebra dikenal tiga bentuk spondilitis:15 1. Terbanyak di temukan di regio torakal. sementara pada 20% kasus melibatkan tiga atau lebih vertebra. Banyak ditemukan pada orang dewasa. Dapat terjadi kompresi yang bersifat spontan atau akibat trauma.

melibatkan dua atau lebih vertebrae yang berdekatan melalui perluasan di bawah ligamentum longitudinal anterior atau secara langsung melewati diskus intervertebralis.14. kalaupun tampak hal itu disebabkan karena sebagian besar berat badan disalurkan melalui prosesus artikular. hilangnya tulang subchondral disertai dengan kolapsnya corpus vertebra karena nekrosis dan lisis ataupun karena dehidrasi diskus. sedangkan di bagian servikal. Discus intervertebralis. 13. Bila sudah timbul deformitas ini. kolaps hanya bersifat minimal. maka hal tersebut merupakan tanda bahwa penyakit ini sudah meluas. Dengan adanya peningkatan sudut kifosis di regio torakal. relatif lebih resisten terhadap infeksi tuberkulosa. terutama di regio torakal. 16 9 . di area lumbar hanya tampak sedikit karena adanya normal lumbar lordosis dimana sebagian besar dari berat badan ditransmisikan ke posterior sehingga akan terjadi parsial kolaps. level lesi dan jumlah vertebra yang terlibat. tulang-tulang iga akan menumpuk menimbulkan bentuk deformitas rongga dada berupa barrel chest. sekunder karena perubahan kapasitas fungsional dari end plate. 15 Penyempitan rongga diskus terjadi karena perluasan infeksi paradiskal ke dalam ruang diskus. Suplai darah juga akan semakin terganggu dengan timbulnya endarteritis yang menyebabkan tulang menjadi nekrosis. 15 Destruksi progresif tulang di bagian anterior dan kolapsnya bagian tersebut akan menyebabkan hilangnya kekuatan mekanis tulang untuk menahan berat badan sehingga kemudian akan terjadi kolaps vertebra dengan sendi intervertebral dan lengkung syaraf posterior tetap intak.16 Di regio torakal kifosis tampak nyata karena adanya kurvatura dorsal yang normal. Terjadinya nekrosis perkijuan yang meluas mencegah pembentukan tulang baru dan pada saat yang bersamaan menyebabkan tulang menjadi avascular sehingga menimbulkan tuberculous sequestra. Terkadang dapat ditemukan fokus yang multipel yang dipisahkan oleh vertebra yang normal. yang avaskular. jadi akan timbul deformitas berbentuk kifosis yang progresifitasnya (angulasi posterior) tergantung dari derajat kerusakan. atau infeksi dapat juga berdiseminasi ke vertebra yang jauh melalui abses paravertebral.

Cold abcesss ini kemudian berjalan sesuai dengan pengaruh gaya gravitasi sepanjang bidang fasial dan akan tampak secara eksternal pada jarak tertentu dari tempat lesi Aslinya. Terkadang jaringan fibrosa itu mengalami osifikasi. tampak pada radiogram sebagai gambaran bayangan berbentuk fusiform radioopak pada atau sedikit dibawah level vertebra yang terkena. tuberculous arachnoiditis). sehingga mengakibatkan ankilosis tulang vertebra yang kolaps. 13. 13.ligamentum longitudinal menghambat jalannya abses. membentuk gambaran abses paravertebral yang menyerupai (sarang burung). Kompresi syaraf sendiri dapat terjadi karena kelainan pada tulang (kifosis) atau dalam canalis spinalis (karena perluasan langsung dari infeksi granulomatosa) tanpa keterlibatan dari tulang (seperti epidural granuloma.Proses penyembuhan kemudian terjadi secara bertahap dengan timbulnya fibrosis dan kalsifikasi jaringan granulomatosa tuberkulosa.14 Pembentukan abses paravertebral terjadi hampir pada setiap kasus Dengan kolapsnya korpus vertebra maka jaringan granulasi tuberkulosa. memasuki area retrofaringeal atau berjalan sesuai gravitasi ke lateral menuju bagian tepi leher. intradural granuloma. Pada penelitian yang dilakukan Hodgson di Cleveland.abses torakal dapat mencapai dinding dada anterior di area parasternal.14 Di regio lumbal abses berjalan sepanjang otot psoas dan biasanya berjalan menuju lipat paha dibawah ligamen inguinal. paraplegia ini biasanya terjadi pada pasien berusia kurang 10 . bahan perkijuan. jika terdapat tegangan yang besar dapat terjadi ruptur ke dalam mediastinum.14 Sejumlah mekanisme yang menimbulkan defisit neurologis dapat timbul pada pasien dengan spondilitis tuberkulosa. 13. Salah satu defisit neurologis yang paling sering terjadi adalah paraplegia yang dikenal dengan nama Pott’s paraplegia. Di regio torakal. dan tulang nekrotik serta sumsum tulang akan menonjol keluar melalui korteks dan berakumulasi di bawah ligamentum longitudinal anterior. Paraplegia ini dapat timbul secara akut ataupun kronis (setelah hilangnya penyakit) tergantung dari kecepatan peningkatan tekanan mekanik kompresi medula spinalis.Terkadang.

Secara umum dapat terjadi inkontinensia urin dan feses. Dapat membaik (tidak permanen). Type I (paraplegia of active disease) / berjalan akut Onset dini.14 1.14 a. Late onset paresis Terjadi setelah lebih dari dua tahun sejak onset penyakit. Type II Onsetnya juga dini. gangguan sensoris dan paraplegia13. 13. Secara klinis pasien akan menampakkan kelemahan alat gerak bawah dengan spastisitas yang bervariasi.14 2. dihubungkan dengan penyakit yang aktif.17 Pott’s Paraplegia Sorrel-Dejerine mengklasifikasikan Pott’s paraplegia menjadi: 12.14. tetapi tidak tampak adanya spasme otot involunter dan reflek withdrawal. Invasi duramater oleh tuberkulosa Tampak gambaran meningomielitis tuberkulosa atau araknoiditis tuberkulosa. Secara klinis pasien tampak mempunyai spastisitas yang berat dengan spasme otot involunter dan reflek withdrawal. sekuestra tulang dan diskus atau karena subluksasi atau dislokasi patologis vertebra. dan dihubungkan dengan penyakit yang aktif. terjadi dalam dua tahun pertama sejak onset penyakit.dari 10 tahun (kurang lebih 2/3 kasus) dan tidak ada predileksi berdasarkan jenis kelamin untuk kejadian ini. bersifat permanen bahkan walaupun infeksi tuberkulosa menjadi tenang.14 . Tekanan eksternal pada korda spinalis dan duramater Dapat disebabkan oleh karena adanya granuloma di kanalis spinalis. 13. Sementara itu Seddon dan Butler memodifikasi klasifikasi Sorrel menjadi tiga tipe: 1.14 b. Prognosis tipe ini buruk dan bervariasi sesuai dengan luasnya kerusakan korda spinalis. Penyebab timbulnya paraplegia pada tipe I dan II dapat disebabkan oleh karena : 13. 13. material perkijuan. adanya abses. Early onset paresis Terjadi kurang dari dua tahun sejak onset penyakit 2. 11 .

Pada penyakit yang aktif 1. Penyebab yang jarang : a. peningkatan deformitas kifotik ke anterior. Bisa terjadi karena tekanan corda spinalis oleh granuloma epidural. Penyebab ekstrinsik : a. sekuester tulang dan diskus 4. fibrosis meningen dan adanya jaringan granulasi serta adanya tekanan pada corda spinalis. Pada penyakit yang sedang dalam proses penyembuhan 1.19 I. Tidak dapat ditentukan apakah dapat membaik.20 1.18. 13. dislokasi vertebra b. subluksasi patologis 5. reaktivasi penyakit atau insufisiensi vaskuler (trombosis pembuluh darah yang mensuplai corda spinalis). Trombosis corda spinalis yang infektif b.3. Type III / yang berjalan kronis Onset paraplegi terjadi pada fase lanjut. Spinal tumor syndrome V. Penyebab intrinsik : Menyebarnya peradangan tuberkulosa melalui duramater melibatkan meningen dan corda spinalis. transverse ridge dari tulang anterior ke corda spinalis 2.14 Klasifikasi untuk penyebab Pott’s paraplegia ini sendiri dijabarkan oleh Hodgson menjadi : 18. DIAGNOSIS Diagnosis pada spondilitis tuberkulosa meliputi: 16. Anamnesis Pasien dengan penyakit Pott atau spondilitis tuberkulosis biasanya datang dengan keluhan nyeri dan kaku punggung serta biasanya disertai 12 . fibrosis duramater II. III. jaringan granulasi 3. abses (cairan atau perkijuan) 2.

6. 12. Abnormalitas neurologis dapat muncul pada 50 % kasus. Juga dapat ditemukan abses iliaka atau abses psoas. pucat. 16. uji tuberkulin positif dan diperkuat oleh pemeriksaan radiologik yang menunjukkan adanya destruksi korpus vertebra servikal II—IV dengan penebalan jaringan lunak vertebral 5 . Spasme otot-otot punggung terjadi sebagai suatu mekanisme pertahanan menghindari pergerakan pada vertebra. Paraplegia banyak terjadi kalau mengenai daerah servikal atau torakal bagian atas. sesak. 5. nyeri yang menyebar ke ekstremitas bawah. Pada daerah torakal dan lumbal dapat ditemukan kifosis angular sampai gibbus. gangguan sensasi. umumnya terdapat pada anak.18. 8. spasme otot hilang dan memungkinkan terjadinya pergerakan tetapi kemudian timbul nyeri lagi. berkeringat malam. nyeri pada daerah tersebut dapat menyebar ke ekstremitas bawah.20 Selain paraplegia dan parese. nyeri dirasakan pada daerah belakang kepala dan sekitar leher. tortikolis. abses psoas. dan gangguan gerak pada sendi panggul. Pada spondilitis servikalis. Pergerakan leher terbatas. khususnya daerah lateral paha.dengan adanya demam.20 a. pergerakan leher terbatas. Pada anak. Pemeriksaan fisik6. dan pada tulang belakang terlihat bentuk kiposis. dan cauda equina syndrome dapat muncul. Pada daerah lumbosakral dapat dijumpai gejala lokal misalnya deformitas. Nyeri dapat dirasakan terlokalisir disekitar lesi atau berupa nyeri menjalar sesuai saraf yang terangsang. 13 . kadang-kadang tortikolis. 16. stridor inspirasi. Saat penderita tidur. nafsu makan kurang yang sudah berlangsung 2 bulan.18.20 Diagnosis spondilitis tbc dan abses retrofaringeal ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit berupa sering demam. penonjolan dinding posterior faring. 6. Gejala ini dikenal sebagai night cry. Inspeksi pada klien dengan spondilitis tuberkulosa kelihatan lemah. paralisis umumnya timbul kira kira dalam waktu 3 tahun. 22 2.

2. Pemeriksaan mielografi. Palpasi sesuai dengan yang terlihat pada inspeksi. c. Pemeriksaan hispatologis ditemukan tuberkel. Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional. h.b. Foto toraks atau X-ray untuk melihat adanya tuberculosis pada paru. Perkusi pada tulang belakang yang mengalami infeksi terdapat nyeri ketok. c.8 1. d. b.7. d. Pemeriksaan radiologis. Uji mantoux positif tuberkulosis. osteolitik. Foto polos vertebra ditemukan osteoporosis. c. Pemeriksaan ELISA (Enzyme-Linked Immunoadsorbent Assay) tetapi menghasilkan negatif palsu pada penderitadengan alergi. g. keadaan paru tidak ditemukan kelainan. Pemeriksaan laboratorium. 6. Pemeriksaan foto dengan zat kontras. Pungsi lumbal didapati tekanan cairan serebrospinalis rendah.12 a. b. dan mungkin ditemukan adanya massa abses paravertebral. f. Abses dingin tampak sebagai suatubayangan yang berbentuk spindle. 3. destruksi korpus vertebra. Auskultasi pada pemeriksaan auskultasi. Pemeriksaan penunjang pada spondilitis tuberkulosa yaitu: 6. penyempitan diskusintervertebralis. 14 . Uji kultur biakan bakteri dan BTA ditemukan Mycobacterium. keadaan tulang belakang terdapat adanya gibbus pada area tulangyang mengalami infeksi. Peningkatan CRP (C-Reaktif Protein). i. d. Pemeriksaan darah lengkap didapatkan leukositosis dan LED meningkat. Pemeriksaan serologi dengan deteksi antibodi spesifik dalam sirkulasi. e.9.

8. Infeksi kronik non tuberkulosis seperti infeksi jamur (blastomikosis). TERAPI Prinsip pengobatan adalah mencegah terjadinya deformitas dan mengurangi gejala nyeri kronis yang ditimbulkan. Poliomielitis dengan paresis atau paralisis tungkai dan skoliosis. Metastasis tulang belakang dengan tidak mengenai diskus dan terdapat karsinoma prostat.Terapi Konservatif Pengobatan konservatif yang ketat dapat memberikan hasil yang cukup baik.18. Skoliosis idiopatik tanpa gibbus dan tanda paralisis. 3. 7. obat-obat anti tuberkulosa dan pengeluaran abses. Proses yang berakibat kifosis dengan atau tanpa skoliosis VII. Fraktur kompresi traumatik akibat tumor medulla spinalis. 2. 2006). dan gangguan sirkumferensi tulang. MRI mengevaluasi infeksi diskus intervertebralis dan osteomielitis tulang belakang serta menunjukkan adanyapenekanan saraf (Lauerman. CT scan memberi gambaran tulang secara lebih detail dari lesiirreguler. Osteitis piogen dengan demam yang lebih cepat timbul. 9. 5. DIAGNOSA BANDING16. 4. Dasar penatalaksanaan spondilitis tuberkulosa adalah mengistirahatkan vertebra yang sakit. skelerosis.20 Diagnosis banding pada spondilitis tuberkulosa yaitu: 1.6 15 . f. Kifosis senilis berupa kifosis tidak lokal dan osteoporosis seluruh kerangka.e. kolaps diskus.6 A. Penyakit paru dengan bekas empiema tulang belakang bebas penyakit. VI. 6.

dan quinolone. radiologis dan laboratoris. Disamping itu ada OAT tambahan tetapi kemampuannya lemah misalnya Kanamycin. 2. tuberkulosis disertai diabetes mellitus dan tuberkulosis ekstrapulmonal termasuk spondilitis tuberkulosa. Kategori I adalah tuberkulosis yang berat. sampai dicapai keadaan yang tenang secara klinis. Kategori III adalah tuberkulosis paru tersangka aktif. Istirahat ditempat tidur dapat berlangsung 3 – 4 minggu. ethionamide.a. Gambar 4: Dosis pemberian OAT. tuberkulosis milier. Thiazetazone. 3. Dipetik dari kepustakaan 20 16 . Kategori II adalah tuberkulosis paru yang kambuh atau gagal dalam pengobatan. termasuk tuberkulosis paru yang luas. Kemoterapi Anti Tuberkulosa WHO memberikan panduan penggunaan OAT berdasarkan berat ringannya penyakit6 1.6 b. tuberkulosis disseminata. PAS. Streptomycin hanya sebagai kombinasi terakhir atau tambahan pada regimen yang ada. Istirahat di Tempat Tidur Istirahat dapat dilakukan dengan memakai gips terutama pada keadaan akut atau fase aktif.

6 B. torakolumbal dan lumbal atas immobilisasi dengan body jacket atau gips korset disertai fiksasi pada salah satu panggul. Selama pengobatan penderita menjalani kontrol berkala dan dilakukan pemeriksaan klinis. Immobilisasi pada umumnya berlangsung 6 bulan. benda asing dan mikro-organisme. mengkoreksi deformitas. maka perlu difikirkan kemungkinan resistensi obat. radiologis dan laboratoris. nutrisi yang kurang baik. pada daerah servikal dapat dilakukan immobilisasi dengan jaket minerva . 2.Gambar 5: Fase pemberian obat OAT. dimulai sejak penderita diizinkan berobat jalan. dan makan obat yang tidak berdisiplin. Immobilisasi Pemasangan gips bergantung pada level lesi. menghilangkan komplikasi neurologik dan kerusakan lebih lanjut. Jika terapi konservatif tidak memberikan hasil yang memuaskan. adanya jaringan kaseonekrotik dan sekuester. Deformitas bertambah. Bila dalam pengamatan tidak tampak kemajuan. Salah satu tindakan bedah yang penting adalah debridement yang bertujuan menghilangkan sumber infeksi dengan cara membuang semua debri dan jaringan nekrotik. Dipetik dari kepustakaan 20 c.Terapi Operatif Tujuan terapi operatif adalah menghilangkan sumber infeksi. pada daerah torakal. terjadi destruksi korpus multipel. 17 . secara klinis dan radiologis memburuk. Indikasi operasi: 1.

kavitasi dan kaseonekrotik dalam jumlah banyak. 3. Hal ini terjadi oleh kaena kerusakan tulang yang terjadi sangat besar sehingga terjadi destruksi yang hebat. Radiologis menunjukkan adanya sekuester. torakal tengah dan bawah pada penderita anak.21) VIII. KOMPLIKASI Komplikasi yang dapat terjadi adalah kiposis berat. Kompresi pada Spinal Cord akan mempermudah terjadinya paraplegia pada ekstremitias inferior yang dikenal dengan istilah Pott’s paraplegia.(6. PROGNOSIS Prognosis biasanya bergantung pada cepat atau tidaknya dilakukan terapi oleh karena disertai defisit neurologik 10% . terdapat abses paravertebral 4.4 IX. Lesi pada daerah ini akan menimbulkan deformitas berat pada anak dan tidak dapat ditanggulangi hanya dengan OAT.45% dari penderita dengan komplikasi nyeri yang hebat 97 % yang dapat menganggu kualitas hidup penderita.3. 5. Lesi terletak torakolumbal. Terjadinya kompresi pada medula spinalis dengan atau tidak dengan defisit neurologik. (6. 12) 18 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->