P. 1
penyakit_reproduksi

penyakit_reproduksi

|Views: 10|Likes:
Published by Susi Darmayanti

More info:

Published by: Susi Darmayanti on Jun 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2014

pdf

text

original

PENANGANAN KESEHATAN HEWAN (KASUS GANGGUAN REPRODUKSI PADA TERNAK SAPI

)

Oleh

:

Drh. Arsyad Drh. Yudistira BS

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung

LATAR BELAKANG
• Upaya meningkatkan populasi ternak • Populasi ternak bisa mengalami kegagalan apabila tingkat reproduksi ternak rendah. • Apabila reproduksi ternak prima maka fertilitas dan tingkat kelahiran ternak meningkat. • Kegagalan reproduksi ternak dapat berupa kegagalan kebuntingan atau abortus.

Ukuran yg Dipakai utk Menyatakan Adanya Gangguan Reproduksi • Angka kebuntingan (Conception rate) < 50% • Jarak antar beranak (Calving interval) > 400 hari • Jarak antar melahirkan sampai bunting kembali (Service periode) > 120 hari • Angka perkawinan per kebuntingan (Service per Conception) > 2 • Jumlah induk sapi yg membutuhkan lebih dari tiga kali IB utk terjadinya kebuntingan > 30%

Penyebab Gangguan Reproduksi
1. Gangguan Keseimbangan Hormon
(CLP,kista ovari,hipofungsi ovari)

2. Pengelolaan ternak yg kurang baik
(,kurang pakan,kurang gerak,kandang sempit)

3. Penyakit alat kelamin
(bakteri,virus,protozoa,jamur,mikoplasma)

4. Kelainan patologi alat kelamin
(hipoplasia ovari,hipoplasia uterus,kista vagina,freemartin)

5. Lingkungan kandang yg kurang baik
(kandang terlalu panas,sanitasi kurang baik,berdesak2an)

Kelenjar Ovarium Menghasilkan 3 hormon yaitu: estrogen. progesteron dan relaksin 3.HORMON2 PADA HEWAN BETINA 1. Luteinizing Hormone (LH). dan Luteotrophic Hormon (LTH). 2. Kelenjar Hipofisa Anterior Menghasilkan 3 hormon : FSH (Follicle Stimulating Hormone). Endometrium Menghasilkan Prostaglandin F2α .

Relaksin = relaksasi simphesis pubis . LTH = meneruskan pengaruh LH dalam pembentukan korpus luteum 4.HORMON2 PADA HEWAN BETINA 1. Progesteron = menyiapkan uterus untuk kebuntingan dan menghambat perkembangan folikel 6. Estrogen = Menyebabkan birahi pada hewan betina 5. FSH = memicu pertumbuhan folikel2 pada ovarium 2. LH = memicu ovulasi dari folikel2 3.

Tertahannya corpus luteum .Kadar progesteron tinggi di luar masa kebuntingan .Progesteron sehingga sekresi FSH & LH dihambat folikel tidak tumbuh tdk ada estrogen anestrus .Gangguan keseimbangan hormon • Corpus Luteum Persisten .Persisten krn CL ini tetap besar ukurannya dan tetap menghasilkan progesteron .

Pengobatan : Penyuntikkan PGF2α 20-25 mg IM (cukup mahal) ..Pemberian antibiotika intra uterin .Muncul pada induk yg habis melahirkan atau ada kematian embrio dini .

FSH normal maka terjadi pertumbuhan folikel tidak normal pada ovarium . . nimfomania.• Kista Ovari .Pengobatan : Pemberian LH & PGF2α .Folikel yg tidak matang bertambah byk pada ovarium.Kelenjar Hipofisa anterior gagal melepaskan LH dalam darah dgn kadar yg cukup.Gejala : anestrus. angka kebuntingan rendah .

Pakan Sapi perah yg memperoleh pakan dengan kandungan protein tinggi. b. mendorong terjadinya produksi susu yg tinggi disertai dgn kista ovarium .Faktor2 yg mempengaruhi terjadinya kista ovari: a. Produksi susu 45% kasus diderita oleh sapi yg memproduksi susu tinggi.

c. . Musim 48 % kasus terjadi pada musim dingin di daerah yg mempunyai 4 musim d. bila dapat bunting dan beranak cenderung utk timbul lagi kista ovarium pada siklus birah berikutnya. Genetik Induk sapi yg menderita kista ovarium.

Ovarium Normal Kista Ovarium .

. Reproduksi pada bagian ovarium licin tidak ditemukan perkembangan folikel (seperti beras)  Penurunan fungsi ovarium  48 % dari seluruh kasus`gangguan reproduksi yg ada di Indonesia  Anestrus yaitu tidak muncul birahi dalam waktu yg lama .gangguan keseimbangan hormon Hipofungsi Ovarium  Kadar FSH dan LH rendah karena gangguan pada kelenjar hipofise anterior  Pada Palpasi sal.…...

• Penyebab utama adalah pakan yg kurang baik • Dapat juga disebabkan hewan betina yg terlalu lama dalam kandang tidak pernah dilepas di lapangan penggembalaan • Kandang yg sempit merupakan penyebab lain terjadinya hipofungsi ovarium .

permukaan licin karena tidak ada pertumbuhan folikel sehingga proses reproduksi sama sekali tidak berjalan .ATROPI OVARIUM • Jika pakan yg kurang berjalan lama hipofungsi ovarium dapat berubah menjadi atropi ovarium • Ovarium lebih kecil daripada ukuran normal.

Lanjutan Atropi Ovarium • Pengobatan memerlukan waktu yg lebih lama • Kondisi tubuh harus diperbaiki dengan pemberian pakan yg baik .

U HCG IM. hormon FSH . pemberian Vitamin ADE. hewan betina yg terlalu lama di kandang karena tidak pernah digembalakan.  Gejala : anestrus  Pengobatan : perbaiki kualitas dan jumlah pakan.Lanjutan Atropi Ovarium  Penyebab : Kurang pakan/gizi (utama). kandang yg sempit. penyuntikkan 400-700 IU PMSG dan 2500 -3000 I.

Hipofungsi Ovarium Ovarium Normal .

tetapi tidak cukup mampu dalam mendorong sintesa hormon estrogen dari folikel de graaf sehingga tidak muncul birahi • Pengobatan dengan suntikan estrogen dosis rendah timbul birahi klinis . tetapi ovariumnya terjadi ovulasi • Hormon LH mampu menumbuhkan folikel pada ovarium sehingga terjadi ovulasi.BIRAHI TENANG • Induk Hewan tidak menunjukan gejala birahi secara klinis.

penurunan produksi susu .ABORTUS • Kelahiran yg fetusnya dalam keadaan mati atau tidak mempunyai daya hidup di luar tubuh induknya. • Terjadi pada berbagai umur kebuntingan • Menyebabkan kerugian ekonomi yg tidak sedikit pada peternak seperti kehilangan fetus yg seharusnya dilahirkan induk.

dapat merupakan sumber penyakit yg mengancam ternak lainnya disertai turunnya berat badan induk .• Apabila abortus disebabkan oleh penyakit menular.

keracunan . Abortus karena sebab-sebab non infeksi contoh : defisiensi makanan. hormonal. Brucellosis.Penyebab abortus 1. Abortus karena sebab-sebab infeksi contoh : Trichomoniasis. Bovine Viral Diarrhea 2.

1. TRICHOMONIASIS  Disebabkan oleh Trichomonas Foetus  Penularan melalui Inseminasi Buatan (alat IB yang tercemar oleh protozoa). melalui pertolongan kelahiran yg tidak bersih  Abortus terjadi antara minggu ke-1 dan minggu ke-16 masa kebuntingan. .

Angka kebuntingan rendah Abortus dini. .GEJALA     Meningkatnya kasus kemajiran (mandul). Pyometra.

PENGENDALIAN  IB dengan pejantan yang sehat  Menggunakan peralatan IB yang bersih  Istirahat kelamin .

PENGOBATAN  Betina pyometra estrogen/ PGF2α alfa salep bovoflavin  Pejantan yg sakit ringan  Betina abortus antibiotik intra uterina  Pemberian antibiotik dosis 50mg/kg BB selama 5 hari .

BRUCELLOSIS • Penyebab : bakteri Brucella abortus • Bersifat Zoonosis • Sifat bakteri mudah mati oleh desinfektan. • Pada fetus. sinar matahari. bakteri ditemukan pada saluran pencernaan dan paru . pasteurisasi. pengeringan • Bakteri bertahan lama beberapa bulan pada lingkungan basah.2.

Gejala Brucellosis • keguguran setelah bulan kelima dari masa kebuntingan • retensi plasenta • keluar kotoran dari vagina • sapi yang sakit dapat sembuh setelah mengalami abortus selama 2-3x reinfeksi • Dapat menulari hampir semua betina yg telah dewasa kelamin .

. oedema...Lanjutan Gejala Brucellosis.......... haemoraghi .. • pedet yg dilahirkan hidup tapi prematur lemah lalu mati • fetus yang mati akan terlihat autolisis....

Cara Penularan Brucellosis • Penularan dapat terjadi melalui pencernaan bila makanan yg tercemar oleh kotoran yg positif brucelossis termakan oleh induk sapi • IB dengan air mani yg tercemar Brucella .

Pengobatan & Pengendalian • Pemberian antiseptik dan antibiotika (kombinasi penisiilin dan streptomisin) pada hewan yang sakit • Vaksinasi (strain 19) pada usia 3-7 bulan (pada sapi dara) • Sapi yang tertular dijual / dipotong .

.

tetapi mortalitas rendah. . Bovine Viral Diarrehea • Penyebab Virus Bovine Viral Diarrhea • Morbiditas tinggi (sangat menular).3. khususnya sapi betina yg sedang bunting tua. • Menyerang sapi umur 8 bulan sampai 2 tahun.

Pengobatan & Pengendalian • Fetus dan plasenta yang digugurkan dibakar • Hewan yang baru datang dikarantina selama 4 minggu • Sanitasi dan kebersihan harus terpelihara .…….

.GEJALA • • • • • Produksi susu menurun dengan cepat Keluar cairan berlebihan dari mulut dan hidung Lepuh2 pada mukosa mulut dan hidung Diare berlangsung 2-6 bulan Kematian sangat jarang.

PENGENDALIAN • Pengobatan yg tepat belum ada • Pencegahan dengan melepaskan ternak di lapangan penggembalaan yg tertutup agar virus tidak menyebar • Vaksinasi pada pedet di atas 8 bulan .

Cara Penularan • Secara langsung : lewat air liur. ingus. air kemih maupun tinja yang mengandung virus .

pernafasan cepat . Infectious Postular Vulvovaginitis (IPV) • Penyebabnya Virus • Termanifestasi 3 bentuk : a. timbul batuk b. Bentuk alat kelamin Lepuh2 berisi cairan pada mukosa vagina . Bentuk respirasi Keluar cairan dari hidung.4.

.c. Bentuk konjungtivitis Radang pada konjungtiva • Abortus pada sapi betina mencapai 50 % pada umur kebuntingan >160 hari • Penularan sangat cepat khususnya pada ternak yg berada dalam 1 kawasan.

• Penanggulangan dengan menggunakan vaksin dari virus yg telah dibiakkan pada jaringan • Sapi yg sudah tertular dapat diobati dengan diulas salep antibiotika pada permukaan yg lepuh. .

Abortus karena Keracunan • Daun Lamtoro yg diberikan dalam jumlah besar pada induk bunting dapat diikuti abortus karena racun mimosin yg dikandung • Rumput liar di rawa2 jika termakan dalam jumlah yg besar dpt menyebabkan abortus pada 21-142 hari kemudian karena mengandung racun Nitrat • Daun semanggi yg mengandung estrogen juga dapat menyebabkan abortus .5.

ABORTUS .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->