P. 1
Hak Tanggungan

Hak Tanggungan

|Views: 53|Likes:
Published by Leo Yogapranata
pengertian hak tanggungan
pengertian hak tanggungan

More info:

Categories:Types, Brochures
Published by: Leo Yogapranata on Jun 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2013

pdf

text

original

Jual Skripsi

Home > Hukum > Pengertian Hak Tanggungan Makalah, Undang Undang, Eksekusi, Kasus, Ciri dan Sifat Pengertian Hak Tanggungan Makalah, Undang Undang, Eksekusi, Kasus, Ciri dan Sifat

adplus

Pengertian Hak Tanggungan Makalah, Undang Undang, Eksekusi, Kasus, Ciri dan Sifat - Pengertian Hak tanggungan: Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang ada di dalam bumi digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia.

Makalah Hak Tanggungan - Pelaksanaan Pasal 33 ayat (3) Undang-undang dasar 1945 yang berkenaan dengan tanah diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria. Undang-undang ini mencabut Buku II KUH Perdata sepanjang mengenai bumi, air, dan kekayaan alam yang ada di dalamnya, kecuali ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai hipotik. Namun demikian ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, yaitu:

Dengan meningkatnya pembangunan nasional yang bertitik berat pada bidang ekonomi, dibutuhkan penyediaan dana yang cukup besar, sehingga memerlukan lembaga hak jaminan yang kuat dan mampu memberi kepastian hukum bagi pihak-pihak yang berkepentingan, yang dapat mendorong peningkatan pertisipasi masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945;

Sejak berlakunya Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria sampai dengan saat ini, ketentuan-ketentuan yang lengkap mengenai Hak Tanggungan sebagai lembaga hak jaminan yang dapat dibebankan atas tanah berikut atau tidak berikut benda-benda yang berkaitan dengan tanah, belum terbentuk;

Ketentuan mengenai hipotik sebagaimana diatur dalam Buku II KUH Perdata Indonesia sepanjang mengenai tanah, dan ketentuan mengenai credietverband dalam staatsblad 1908-542 sebagaimana

4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda yang Berkaitan Dengan Tanah. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda yang Berkaitan dengan Tanah. ditetapkan untuk memenuhi ketentuan Pasal 51 UU No. 1999. Undang-undang ini diundangkan dalam Lembaran Negara RI No. masih diberlakukan sementara sampai dengan terbentuknya Undang-undang tentang Hak Tanggungan. yang secara resmi menurut Pasal 30 Undang-undang tersebut yang selanjutnya disebut Undang-undang Hak Tanggungan (UUHT). yang berdasarkan Pasal 57 Undang-undang No. Bandung. 1996. (Subekti. Presiden Republik Indonesia telah mengesahkan Undangundang No. hak pakai atas tanah tertentu yang wajib didaftar dan menurut sifatnya dapat dipindahtangankan. dipandang tidak sesuai lagi dengan kebutuhankebutuhan perkreditan. 39) Undang-undang No. Pada tanggal 9 April 1996. sebagaimana dimaksud dalam UU No. Citra Aditya Bakti. Jakarta. termasuk Hak Tanggungan. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. 3632. sehubungan dengan perkembangan tata ekonomi Indonesia. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Pasal-pasal Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah.” . dengan persetujuan DPR. 41-42) Berhubungan dengan hal tersebut dengan hal-hal tersebut diatas. Menurut Hukum Indonesia. hal. Mengingat perkembangan yang telah dan akan terjadi di bidang pengaturan dan administrasi hak-hak atas tanah serta untuk memenuhi kebutuhan masyarakat banyak selain hak milik. dan hak guna bangunan yang telah ditunjuk sebagai objek Hak Tanggungan oleh Undang-undang No. Djambatan. atau yang dikenal sebagai Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) Pasal 51 tersebut menyatakan: “Hak Tanggungan yang dapat dibebankan pada hak milik. hak guna usaha. perlu juga dimungkinkan untuk dibebani Hak Tanggungan. 33. dan 39 diatur dengan Undang-undang. pemerintah Republik Indonesia memandang perlu membentuk Undang-undang yang mengatur Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah.telah diubah dengan staatsblad 1937-190. 5 Tahun 1960 tentang Dasar Pokok-pokok Agraria. (Rachmadi Usman. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. hal. hak guna usaha dan hak guna bangunan tersebut dalam Pasal 25. sekaligus mewujudkan unifikasi hukum tanah nasional. Jaminan-jaminan untuk Pemberian Kredit.

serta ketentuan tentang credietverband yang diatur dalam staatsblad 1908-542 dan staatsblad 1937-190 dinyatakan tidak berlaku lagi. Hak Tanggungan harus mengandung ciri-ciri: a. Kedudukan kreditur yang mempunyai hak didahulukan dari kreditur lain (kreditur preferen) akan sangat menguntungkan kepada pihak yang bersangkutan dalam memperoleh pembayaran kembali (pelunasan) pinjaman uang yang diberikannya kepada debitur yang ingkar janji (wanprestasi).Cit. Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda yang Berkaitan dengan Tanah. artinya memberikan kedudukan yang diutamakan atau mendahului kepada pemegangnya (Pasal 1 angka 1 dan Pasal 20 ayat 1). yang untuk selanjutnya disebut Hak Tanggungan adalah: “Hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam UUPA. 70) Ciri-ciri dan Sifat Hak Tanggungan Dalam Penjelasan Umum Undang-undang Hak Tanggungan No. 4 Tahun 1996 dikemukakan bahwa sebagai lembaga hak jaminan atas tanah yang kuat. Dalam hal ini pemegang Hak Tanggungan sebagai kreditur memperoleh hak didahulukan dari kreditur lainnya untuk memperoleh pembayaran piutangnya dari hasil penjualan (pencairan) objek jaminan kredit yang diikat dengan Hak Tanggungan tersebut. Droit de preferent. berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu. .” Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Hak Tanggungan merupakan lembaga jaminan yang kuat karena Hak Tanggungan memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur lain. hal. Menurut Pasal 1 angka 1 UUHT. maka ketentuan mengenai hipotek yang diatur dalam Buku II KUH Perdata sepanjang mengenai pembebanan Hak Tanggungan pada hak atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah. Op.Dengan berlakunya UUHT. (Rachmadi Usman. untuk pelunasan hutang tertentu. yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lain.

hal. d. yaitu yang mengatur mengenai lembaga parate executie sebagaimana dimaksud dalam Pasal 224 HIR dan Pasal 258 Reglemen Hukum Acara untuk Daerah Luar Jawa dan Madura. maka Hak Tanggungan akan membebani secara utuh objek Hak tanggungan. Besarnya . sifat tidak dapat dibagi-bagi dari Hak Tanggungan dapat disimpangi. Dengan sifatnya yang tidak dapat dibagi-bagi. Meskipun objek dari Hak Tanggungan sudah berpindah tangan dan menjadi milik pihak lain. dicantumkan dengan maksud untuk menampung kebutuhan perkembangan dunia perbankan. dipandang perlu untuk memasukkan secara khusus mengenai eksekusi Hak Tanggungan dalam Undang-undang ini.23-25) Hak Tanggungan memiliki sifat tidak dapat dibagi-bagi kecuali jika diperjanjikan dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT).b. artinya selalu mengikuti jaminan hutang dalam tangan siapapun objek tersebut berada (Pasal 7). Memenuhi asas spesialitas dan publisitas sehingga dapat mengikat pihak ketiga dan memberikan kepastian hukum kepada pihak-pihak yang berkepentingan.Cit. Op. 41) Klausula “kecuali jika diperjanjikan dalam APHT” dalam Pasal 2 UUHT. Op. Meskipun secara umum ketentuan mengenai eksekusi telah diatur dalam hukum acara perdata yang berlaku. seperti ditetapkan dalam Pasal 2 UUHT. Dengan menggunakan klausula tersebut. jika debitur cidera janji. (Subekti. Dalam Pasal 7 UUHT disebutkan bahwa Hak tanggungan tetap mengikuti objeknya dalam tangan siapapun objek itu berada. khususnya kegiatan perkreditan. maka Hak Tanggungan tetap membebani seluruh objek Hak Tanggungan. Hal ini mengandung arti bahwa apabila hutang (kredit) yang dijamin pelunasannya dengan Hak Tanggungan baru dilunasi sebagian. Droit de suite. Bahsan . kreditur masih tetap dapat menggunakan haknya melalui eksekusi. yaitu dengan memperjanjikan bahwa apabila Hak Tanggungan dibebankan pada beberapa hak atas tanah. Berdasarkan hal tersebut maka sahnya pembebanan Hak Tanggungan disyaratkan wajib disebutkan dengan jelas piutang mana dan berapa jumlahnya yang dijamin serta benda-benda mana yang dijadikan jaminan (syarat spesialitas). maka pelunasan kredit yang dijamin dapat dilakukan dengan cara angsuran. c. hal. Sifat ini merupakan salah satu jaminan khusus bagi kepentingan pemegang Hak Tanggungan. Mudah dan pasti pelaksanaan eksekusinya Salah satu ciri Hak Tanggungan yang kuat adalah mudah dan pasti dalam pelaksanaan eksekusinya jika debitur cidera janji. dan wajib didaftarkan di Kantor Pertanahan sehingga terbuka untuk umum (syarat publisitas). (M.Cit.

Objek Hak Tanggungan Terhadap benda-benda (tanah) yang akan dijadikan objek Hak Tanggungan. yang akan dibebaskan dari Hak Tanggungan tersebut. 1999. karena apabila debitur cidera janji. Hak Tanggungan: Asas-asas. Perlu ditunjuk oleh Undang-undang sebagai hak yang dapat dibebani dengan Hak Tanggungan. 40) . 20) Hal ini sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam butir 8 Penjelasan Umum UUHT yang memberikan penjelasan bahwa karena Hak Tanggungan menurut sifatnya merupakan ikatan atau accecoir pada suatu piutang tertentu. artinya bahwa perjanjian Hak Tanggungan bukan merupakan perjanjian yang berdiri sendiri. Sifat lain dari Hak Tanggungan adalah Hak tanggungan merupakan accecoir dari perjanjian pokok. Mempunyai sifat dapat dipindah tangankan.angsuran sama dengan nilai masing-masing hak atas tanah yang merupakan bagian dari objek Hak Tanggungan. Isi dan Pelaksanaannya. Sejarah Pembentukan UUPA. Hukum Agraria Indonesia. tetapi keberadaannya adalah karena adanya perjanjian lain yang disebut dengan perjanjian pokok. Termasuk hak yang didaftar dalam daftar umum. hal. (Boedi Harsono. Surabaya. Perjanjian pokok bagi perjanjian Hak Tanggungan adalah perjanjian hutang piutang yang menimbulkan hutang yang dijamin itu. Jakarta. Ketentuan-ketentuan Pokok dan Masalah-masalah yang dihadapi Oleh Pihak Perbankan. maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut. 1996. karena hutang yang dijamin berupa uang. suatu Kajian Mengenai UUHT. (Sutan Remi Syahdeini. maka kelahiran dan keberadaanya ditentukan oleh adanya piutang yang dijamin pelunasannya. Hak Tanggungan hanya akan membebani sisa objek Hak tanggungan untuk menjamin sisa kredit yang belum dilunasi (Penjelasan Pasal 2 ayat (1) jo ayat (2) UUHT). Dapat dinilai dengan uang. Airlangga University Press. hal. karena harus memenuhi syarat publisitas. yang didasarkan pada suatu perjanjian hutang piutang atau perjanjian lain. Djambatan. benda yang dijadikan jaminan akan dapat dijual di muka umum. Dengan demikian setelah suatu angsuran dibayarkan.

Op. Hak Guna Usaha. Pembebanan Hak Tanggungan atas bangunan. Hak atas tanah berikut bangunan (baik yang berada di atas maupun di bawah tanah). tetapi karena sifatnya tidak dapat dipindah tangankan. . tanaman. Terhadap hak pakai atas tanah negara. (Subekti. dan Hak milik atas satuan rumah susun yang bangunannya berdiri di atas tanah hak-hak yang tersebut di atas. tanaman dan hasil karya yang telah ada atau akan ada. yamg merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut. dan Hak Guna Usaha sebagaimana dimaksud dalam UUPA (Pasal 4 ayat (1) UUHT). yaitu meliputi: Hak Milik. tanaman dan hasil karya tersebut diatas harus dinyatakan dengan tegas di dalam APHT (Pasal 4 ayat (4) UUHT). Hak Pakai atas Tanah Negara yang menurut ketentuan yang berlaku wajib didaftar dan menurut sifatnya dapat dipindah tangankan. Hak Guna Bangunan. dan yang merupakan milik pemegang hak atas tanah. 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun. Hak jaminan atas rumah susun tersebut meliputi: Rumah susun yang berdiri atas tanah Hak Milik. tanaman dan hasil karya tersebut. Hak Pakai yang diberikan oleh negara. pembebanan Hak Tanggungan atas bendabenda tersebut hanya dilakukan dengan penandatanganan serta (bersama) pada APHT yang bersangkutan oleh pemiliknya atau yang diberi kuasa oleh pemilik benda-benda tersebut untuk menandatangani serta (bersama) APHT dengan akta otentik. yang menyatakan bahwa ketentuan Hak Tanggungan berlaku juga terhadap pembebanan hak jaminan atas rumah susun. 45-46) Objek Hak Tanggungan menjadi lebih luas jika dikaitkan dengan Pasal 12 UU No. hal. maka hak pakai tersebut tidak termasuk dalam objek Hak Tanggungan. Pasal 4 UUHT telah menentukan hak atas tanah yang dapat dijadikan objek Hak Tanggungan. Hak Guna Bangunan.Berkaitan dengan hal tersebut. Pembebanan Hak Tanggungan atas bangunan. sebagaimana tertuang dalam Pasal 27 UUHT.Cit. Apabila bangunan. yang walaupun wajib didaftarkan. Yang dimaksud akta otentik di sini adalah Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) atas benda-benda di atas tanah tersebut yang dibebani Hak Tanggungan (Pasal 4 ayat (5) UUHT). dan hasil karya sebagaimana disebut diatas tidak dimiliki oleh pemegang hak atas tanah. dan yang merupakan milik pemegang hak atas tanah.

Karena Hak Tanggungan sebagai lembaga hak atas tanah tidak mengandung kewenagan untuk menguasai secara fisik dan menggunakan tanah yang dijadikan pemberi Hak Tanggungan kecuali dalam keadaan yang disebutkan dalam Pasal 11 ayat (2) huruf c. Pemberi Hak Tanggungan Pemberi Hak Tanggungan adalah orang atau badan hukum yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap objek Hak Tanggungan. Dari penjelasan umum UUHT antara lain dijelaskan bahwa pada saat pembuatan SKMHT dan APHT.Subjek Hak Tanggungan Yang dimaksud subjek Hak Tanggungan dalam hal ini adalah pemberi dan pemegang Hak Tanggungan. harus sudah ada keyakinan pada Notaris atau PPAT yang bersangkutan bahwa pemberi Hak Tanggungan mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap objek Hak Tanggungan yang dibebankan. Pemegang Hak Tanggungan Pemegang Hak Tanggungan adalah orang atau badan hukum yang berkedudukan sebagai pihak yang berpiutang (Pasal 9 UUHT). Meskipun kepastian mengenai dimilikinya kewenangan tersebut baru dipersyaratkan pada waktu pemberian Hak Tanggungan itu didaftar. b. Kewenangan tersebut harus ada pada pemberi Hak Tanggungan pada saat pendaftaran Hak Tanggungan (Pasal 8 UUHT). Proses Pembebanan Hak Tanggungan . a. maka pemegang Hak tanggungan dapat dilakukan oleh Warga Negara Indonesia atau Badan Hukum Indonesia atau Warga Negara Asing atau Badan Hukum Asing.

Jakarta. dihadapan PPAT dan pejabat bank. Selain itu.. denda. baru kemudian bank merealisasikan kredit kepada calon debitur. 32) Pengikatan jaminan Hak Tanggungan yang dilakukan dalam perjanjian kredit yang dimaksud di sini adalah melalui proses pembebanan Hak Tanggungan sebagaimana telah ditentukan dalam UUHT yaitu melalui dua tahap berupa: Tahap pemberian Hak Tanggungan yang dilakukan di hadapan PPAT. jangka waktu kredit. bunga dan sebagainya. formulir tersebut kemudian diserahkan kembali kepada bank. maka kemudian dilakukan negosiasi antara kedua belah pihak. Calon debitur mengisi formulir permohonan kredit yang telah disediakan oleh pihak bank. (Thomas Suyatno. . Setelah formulir diisi dengan lengkap dan benar. biaya administrasi. Tujuan analisis ini adalah untuk memastikan kebenaran data dan informasi yang diberikan dalam permohonan kredit. Setelah dilakukan pengikatan jaminan Hak Tanggungan dan PPAT telah memberikan keterangan bahwa calon debitur dinyatakan telah memenuhi persyaratan. hal. keperluan kredit. Gramedia Pustaka Utama. yaitu pihak bank dan calon debitur. Tahap pendaftaran Hak tanggungan yang dilakukan di Kantor Pertanahan Kabupaten atau Kota setempat. yang merupakan saat lahirnya Hak Tanggungan. Negosiasi kredit ini antara lain mengenai maksimal kredit yang akan diberikan. 1993. yang dalam hal ini adalah pihak bank yaitu dengan melalui tahap sebagai berikut: Calon debitur mengajukan permohonan kredit dan menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan dan telah ditentukan pihak bank dalam pengajuan kredit.Secara umum prosedur pemberian kredit dengan jaminan Hak Tanggungan yang diajukan calon debitur kepada kreditur. hasil analisis dan evaluasi kredit ini digunakan sebagai dasar pertimbangan akan diterima atau ditolaknya permohonan kredit tersebut. Apabila terhadap hasil analisis dan evaluasi kredit calon debitur dinyatakan layak oleh pihak bank untuk memperoleh kredit. dalam hal ini berupa jaminan Hak Tanggungan. Dasar-dasar Hukum Perkreditan Edisi Ketiga. Pihak bank kemudian melakukan analisis dan evaluasi kredit atas dasar data yang tercantum dalam formulir permohonan kredit tersebut. Apabila telah terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak maka dilakukan penandatanganan perjanjian kredit yang berupa surat pengakuan hutang dengan pengikatan jaminan.

pemegang Hak Tanggungan dan dua orang saksi. 31) Terhadap objek Hak Tanggungan yang terdiri lebih dari satu bidang tanah dan diantaranya ada yang letaknya diluar daerah kerjanya. untuk pembuatan pemberian APHT yang bersangkutan PPAT memerlukan ijin dari Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Propinsi. dilakukan dengan pembuatan APHT yang dibuat oleh PPAT sesuai peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Dengan ketentuan bahwa bidang-bidang tanah tersebut harus terletak dalam satu daerah kerja Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota (Pasal 3 ayat (2) Peraturan Menteri Agraria No. Op. Dalam penjelasan umum angka 7 dijelaskan pula bahwa dalam kedudukan sebagaimana tersebut dalam Pasal 1 angka 4. dan akta pemberian kuasa pembebanan Hak Tanggungan. Terhadap objek Hak Tanggungan berupa hak atas tanah yang berasal dari konversi hak lama yang telah memenuhi syarat didaftarkan akan tetapi pendaftarannya belum dilakukan. hal. yang merupakan perjanjian pokoknya. Maka pembebanan Hak Tanggungan didahului dengan perjanjian yang menimbulkan hubungan hukum hutang piutang yang dijamin pelunasannya. yang dituangkan di dalam dan merupakan bagian tidak terpisahkan dari perjanjian hutang piutang yang bersangkutan. Menurut ketentuan Pasal 10 ayat (2) UUHT pemberian Hak Tanggungan yang wajib dihadiri oleh pemberi Hak Tanggungan. pemberian Hak Tanggungan dilakukan bersamaan dengan permohonan pendaftaran hak atas tanah yang bersangkutan. Bahsan. Tahap Pemberian Hak Tanggungan Sesuai dengan sifat Accecoir dari Hak Tanggungan. a. Cit. Hak lama yang dimaksud disini adalah hak yang kepemilikan atas tanah menurut hukum adat yang telah ada akan tetapi proses administrasi dalam konversinya belum selesai dilaksanakan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini adalah sebagaimana tersebut dalam Pasal 10 ayat (1) UUHT yang menyatakan bahwa pemberian Hak Tanggungan didahului dengan janji untuk memberikan Hak Tanggungan sebagaimana jaminan pelunasan hutang tertentu. maka akta yang dibuat oleh PPAT merupakan akta otentik. APHT yang dibuat oleh PPAT tersebut merupakan akta otentik (Penjelasan Umum angka 7 UUHT). (M. 15 Tahun 1961 dan Pasal 3 . akta pembebanan hak atas tanah. artinya hak atas tanah tersebut belum bersertifikat.Menurut Pasal 1 angka 4 UUHT disebutkan bahwa PPAT adalah pejabat umum yang diberi wewenang untuk membuat akta pemindahan hak atas tanah.

SK. Nilai tanggungan. baginya harus pula dicantumkan suatu domisili pilihan di Indonesia. antara lain: . (Bambang Setijoprodjo dalam Lembaga Kajian Hukum dan Bisnis Fakultas Hukum USU Medan. 58-59) Selanjutnya Undang-undang menetapkan isi yang sifatnya wajib untuk sahnya APHT. Dalam Pasal 11 ayat (1) UUHT disebutkan hal-hal yang wajib dicantumkan dalam APHT. batas-batas. dalam APHT dapat dicantumkan janji-janji yang sifatnya fakultatif dan tidak mempunyai pengaruh terhadap sahnya APHT (Pasal 11 ayat (2) UUHT). Persiapan Pelaksanaan Hak Tanggungan di Lingkungan Perbankan (Hasil Seminar). hal. Dalam dimuatnya janji-janji itu dalam APHT yang kemudian di daftar pada Kantor Pertanahan. Dengan tidak mencantumkannya secara lengkap hal-hal yang wajib disebut dalam APHT. maka janji-janji terdebut juga mempunyai kekuatan mengikat terhadap pihak ketiga. 1996. yaitu: Nama dan identitas pemberi dan pemegang Hak Tanggungan. (Rachmadi Usman. Domisili pihak-pihak sebagaimana dimaksud pada angka 1. dan luas tanah. yakni meliputi rincian mengenai sertfikat hak atas tanah yang bersangkutan.Bandung.Keputusan Direktur Jenderal Agraria No. Apabila domisili pilihan itu tidak dicantumkan dalam APHT maka kantor PPAT tempat pembuatan APHT dianggap sebagai domisili yang dipilih. Uraian yang jelas mengenai objek Hak Tanggungan. dan apabila di antara mereka ada yang berdomisili di luar Indonesia. 110) Adapun janji-janji yang disebutkan dalam APHT sebagaimana tersebut dalam Pasal 11 ayat (2). Selain hal tersebut di atas. hal. Penunjukan secara jelas hutang atau hutang-hutang yang dijamin pelunasannya dengan Hak Tanggungan dan meliputi juga nama dan identitas debitur yang bersangkutan. letak. Cit. Citra Aditya Bakti. 67/DDA/1968). Maka mengakibatkan akta yang bersangkutan menjadi batal demi hukum. Dalam hal ini pihak-pihak bebas menentukan untuk menyebutkan atau tidak menyebutkan janji-janji tersebut dalam APHT. Op. atau bagi tanah yang belum terdaftar sekurang-kurangnya memuat uraian mengenai pemilikan.

jika objek Hak Tanggungan diasuransikan. Janji yang memberikan kewenangan kepada pemegang Hak Tanggungan berdasarkan penetapan Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi objek Hak Tanggungan apabila debitur sungguh-sungguh cidera janji. yaitu dilarang diperjanjikan pemberian kewenangan kepada debitur untuk memiliki objek Hak Tanggungan apabila debitur cidera janji. Janji bahwa sertifikat hak atas tanah yang telah dibubuhi catatan pembebanan Hak Tanggungan tetap berada di tangan kreditur sampai seluruh kewajiban debitur dipenuhi sebagaimana mestinya. Janji bahwa pemegang Hak Tanggungan akan memperoleh seluruh atau sebagian dari uang asuransi yang diterima pemberi Hak Tanggungan untuk pelunasan piutangnya. kecuali dengan persetujuan tertulis lebih dahulu dari pemegang Hak Tanggungan. Janji yang memberikan kewenangan kepada pemegang Hak Tanggungan untuk menyelamatkan objek Hak Tanggungan. Janji bahwa pemegang Hak Tanggungan tidak akan melepaskan haknya atas objek Hak Tanggungan tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari pemegang Hak Tanggungan. Janji bahwa pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual atas kekuasaan sendiri objek Hak Tanggungan apabila debitur cidera janji. jika hal itu diperlukan untuk pelaksanaan eksekusi atau untuk mencegah menjadi hapusnya atau dibatalkannya hak yang menjadi objek Hak Tanggungan karena tidak dipenuhi atau dilanggarnya ketentuan Undang-undang. Janji bahwa pemegang Hak Tanggungan akan memperoleh seluruh atau sebagian dari ganti rugi yang diterima pemberi Hak Tanggungan untuk pelunasan piutangnya apabila objek Hak Tanggungan dilepaskan dari haknya oleh pemberi Hak Tanggungan atau dicabut haknya untuk kepentingan umum. Ada janji yang dilarang untuk dilakukan.Janji yang membatasi kewenangan pemberi Hak Tanggungan untuk menyewakan objek Hak Tanggungan dan/ atau menentukan atau mengubah jangka waktu sewa di muka. Janji bahwa pemegang Hak Tanggungan akan mengosongkan objek Hak Tanggungan pada waktu eksekusi Hak Tanggungan. yaitu janji yang disebutkan dalam Pasal 12 UUHT. Ketentuan tersebut diadakan dalam rangka melindungi kepentingan debitur dan . kecuali dengan persetujuan tertulis terlebih dahulu dari pemegang Hak Tanggungan. Janji yang membatasi kewenangan pemberi Hak Tanggungan. Janji yang diberikan oleh pemegang Hak Tanggungan pertama bahwa objek Hak Tanggungan tidak akan dibersihkan dari Hak Tanggungan.

Bentuk dan isi buku tanah Hak Tanggungan telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Agraria No. Satrio. Hukum Jaminan. terutama jika nilai objek Hak Tanggungan melebihi besarnya hutang yang dijamin. PPAT wajib mengirimkan APHT yang bersangkutan dan berkas lainnya yang diperlukan kepada Kantor Pertanahan. serta selalu berpedoman pada tujuannya untuk didaftarkannya Hak Tanggungan itu secepat mungkin. Op.Cit. termasuk di dalamnya sertifikat hak atas tanah dan/ atau surat-surat keterangan mengenai objek Hak Tanggungan. 69 ) Pendaftaran Hak Tanggungan dilakukan oleh Kantor Pertanahan atas dasar data di dalam APHT serta berkas pendaftaran yang diterimanya dari PPAT. Kepastian tanggal buku tanah itu dimaksudkan agar pembuatan buku tanah Hak Tanggungan tidak berlarut-larut sehingga dapat merugikan pihak-pihak yang berkepentingan dan mengurangi jaminan kepastian hukum. 1998. Menurut Pasal 13 ayat (4) UUHT tanggal pembuatan buku tanah Hak Tanggungan adalah hari ke-7 setelah penerimaan secara lengkap surat-surat yang diperlukan bagi pendaftaran Hak Tanggungan. Oleh karena itu pemegang Hak Tanggungan dilarang untuk serta merta menjadi pemilik objek Hak Tanggungan jika debitur cidera janji. buku tanah yang bersangkutan diberi tanggal hari kerja berikutnya. Dengan pengiriman oleh PPAT berarti akta dan berkas lain yang diperlukan itu disampaikan ke Kantor Pertanahan melalui petugasnya atau dikirim melalui pos tercatat. Buku 2.pemberi Hak Tanggungan lainnya. Hak Tanggungan lahir dan kreditur menjadi kreditur pemegang Hak Tanggungan. (Bambang Setijoprodjo dalam Lembaga Kajian Hukum Bisnis Fakultas Hukum USU Medan. Sanksi atas pelanggarannya akan ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur jabatan PPAT. hal. b. PPAT wajib melaksanakan ketentuan tersebut karena jabatannya. PPAT wajib menggunakan cara yang paling baik dan aman dengan memperhatikan kondisi di daerah dan fasilitas yang ada. Tahap Pendaftaran Hak Tanggungan Menurut Pasal 13 UUHT. Hak Tanggungan. dan identitas pihak-pihak yang bersangkutan. hal. dengan dibuatkan buku tanah Hak Tanggungan. Berkas lain yang dimaksud di sini adalah meliputi surat-surat bukti yang berkaitan dengan objek Hak Tanggungan. Bandung. Citra Aditya Bakti.(J. . 143) Dengan dibuatnya buku tanah tersebut. 3 Tahun 1997. pamberian Hak Tanggungan wajib didaftarkan ke Kantor Pertanahan selambatlambatnya 7 hari kerja setelah penandatanganan APHT. dengan kedudukan mendahului dari krediturkreditur lain. Hak Jaminan Kebendaan. Jika hari ke-7 jatuh pada hari libur.

(Habib Ajie. 2000. Setelah sertifikat Hak Tanggungan selesai dibuat. Mandar Maju. kemudian sertifikat Hak Tanggungan tersebut diserahkan kepada pemegang Hak Tanggungan yang bersangkutan. eksekusi Hak Tanggungan dilakukan berdasarkan: Hak pemegang Hak Tanggungan pertama untuk menjual objek Hak Tanggungan atas dasar kewenangan dan janji yang disebut dalam Pasal 6 UUHT. Eksekusi Hak Tanggungan yaitu terjadi apabila debitur cidera janji sehingga objek Hak Tanggungan kemudian dijual melalui pelelangan umum menurut cara yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku dan pemegang Hak Tanggungan berhak mengambil seluruh atau sebagian dari hasilnya untuk pelunasan piutangnya dengan hak mendahului daripada kreditur-kreditur lain. . Titel eksekutorial yang terdapat dalam sertifikat Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) UUHT.Dalam hal hak atas tanah yang dijadikan jaminan belum bersertifikat terlebih dahulu sebelum dilakukan pendaftaran Hak Tanggungan. Waktu hari ketujuh yang ditetapkan sebagai tanggal buku tanah Hak Tanggungan tersebut dalam hal yang demikian. hal. Untuk memberikan kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Dengan pencantuman irah-irah tersebut pada sertifikat Hak Tanggungan. Hak Tanggungan Sebagai Lembaga Jaminan Atas Tanah. dihitung sejak selesainya pendaftaran hak atas tanah yang bersangkutan. Eksekusi Hak Tanggungan Salah satu ciri dari Hak Tanggungan adalah mudah dan pasti dalam pelaksanaan eksekusinya apabila dikemudian hari debitur wanprestasi. sertifikat Hak Tanggungan diberi irah-irah dengan membubuhkan pada sampulnya kalimat “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” (Pasal 14 ayat (2) dan (3) UUHT). maka untuk itu dapat dipergunakan Lembaga Parate Eksekusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 224 HIR dan 258 Rbg. Bandung. 22) Menurut Pasal 20 ayat (1) UUHT.

Pelelangan ini langsung . yaitu: a. karena dalam pelelangan ini tidak diperlukan perintah Ketua Pengadilan Negeri untuk melakukan penjualan terhadap objek Hak Tanggungan yang bersangkutan. serta tidak ada pernyataan keberatan (Pasal 22 ayat (2) dan (3) UUHT). Parate Eksekusi (Pasal 14 ayat (2) UUHT) Dalam hal ini kreditur pemegang Hak Tanggungan harus menunjukkan bukti bahwa debitur ingkar janji dalam memenuhi kewajibannya dan dengan menyerahkan sertifikat Hak Tanggungan yang bersangkutan sebagai dasarnya. Hal ini dilakukan setelah lewat 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh pemberi atau pemegang Hak Tanggungan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan diumumkan dalam 2 (dua) surat kabar yang beredar di daerah yang bersangkutan atau media masa setempat. Penjualan objek Hak Tanggungan dapat juga dilakukan di bawah tangan asalkan atas kesepakatan pemberi dan pemegang Hak Tanggungan. sertifikat Hak Tanggungan sebagai tanda atau alat bukti adanya Hak Tanggungan yang memuat irah-irah yang berbunyi “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”. Permohonan eksekusi ini diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri. Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan eksekusi objek Hak Tanggungan dapat dilakukan melalui 3 (tiga) cara. Penjualan barang secara prosedural ini dimungkinkan dapat diperoleh harga yang tertinggi sehingga menguntungkan semua pihak. Eksekusi kemudian dilakukan atas dasar perintah dan dengan Pimpinan Ketua Pengadilan Negeri tersebut. Dengan irah-irah tersebut. Pelelangan Umum (Pasal 6 UUHT) Pelaksanaan pelelangan umum berdasarkan pada Pasal 6 UUHT ini lebih mudah daripada “Parate Eksekusi”. sertifikat Hak Tanggungan mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Eksekusi Hak Tanggungan dengan titel eksekutorial dapat dilakukan karena berdasarkan Pasal 14 ayat (2) UUHT.Berdasarkan Pasal 6 UUHT disebutkan bahwa apabila debitur cidera janji. melalui pelelangan umum yang dilakukan oleh Kantor Lelang Negara. pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut. b.

jika dengan cara demikian itu akan dapat diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan semua pihak. Penjualan di Bawah Tangan (Pasal 6 UUHT) Dalam keadaan tertentu apabila melalui pelelangan umum diperkirakan tidak akan menghasilkan harga tertinggi. maka atas kesepakatan pemberi dan pemegang Hak Tanggungan. yaitu harus dilakukan dihadapan PPAT yang membuat aktanya dan diikuti dengan pendaftarannya di Kantor Pertanahan.dapat dilakukan karena dimilikinya kekuatan eksekutorial yang termuat pada irah-irah sertfikat Hak Tanggungan tersebut. Penjualan di bawah tangan terhadap objek Hak Tanggungan ini wajib dilakukan menurut ketentuan PP No. . c. 14 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah. sehingga dalam hal ini kreditur pemegang Hak Tanggungan langsung dapat mengajukan permintaan penjualan objek Hak Tanggungan yang bersangkutan kepada Kantor Lelang Negara. dimungkinkan eksekusi dilakukan dengan cara penjualan di bawah tangan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->