Penyelesaian Sengketa Internasional

Secara damai: 1). Negosiasi Negosiasi merupakan teknik penyelesaian sengketa yang paling tradisional dan paling sederhana. Teknik negosiasi tidak melibatkan pihak ketiga, hanya berpusat pada diskusi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang terkait. Perbedaan persepsi yang dimiliki oleh kedua belah pihak akan diperoleh jalan keluar dan menyebabkan pemahaman atas inti persoalan menjadi lebih mudah untuk dipecahkan. Karena itu, dalam salah satu pihak bersikap menolak kemungkinan negosiasi sebagai salah satu cara penyelesaian akan mengalami jalan buntu. 2). Mediasi dan jasa-jasa baik (Mediation and good offices) Mediasi merupakan bentuk lain dari negosiasi, sedangkan yang membedakannya adalah keterlibatan pihak ketiga. Pihak ketiga hanya bertindak sebagai pelaku mediasi (mediator), komunikasi bagi pihak ketiga disebut good offices. Seorang mediator merupakan pihak ketiga yang memiliki peran aktif untuk mencari solusi yang tepat guna melancarkan terjadinya kesepakatan antara pihak-pihak yang bertikai. Mediasi hanya dapat terlaksana dalam hal para pihak bersepakat dan mediator menerima syarat-syarat yang diberikan oleh pihak yang bersengketa. Perbedaan antara jasa-jasa baik dan mediasi adalah persoalan tingkat. Kasus jasa-jasa baik, pihak ketiga menawarkan jasa untuk mempertemukan pihak-pihak yang bersengketa dan mengusulkan (dalam bentuk syarat umum) dilakukannya penyelesaian, tanpa secara nyata ikut serta dalam negosiasi-negosiasi atau melakukan suatu penyelidikan secara seksama atas beberapa aspek dari sengketa tersebut. Mediasi, sebaliknya pihak yang melakukan mediasi memiliki suatu peran yang lebih aktif dan ikut serta dalam negosiasi-negosiasi serta mengarahkan pihak-pihak yang bersengketa sedemikian rupa sehingga jalan penyelesaiannya dapat tercapai, meskipun usulanusulan yang diajukannya tidak berlaku terhadap para pihak.

. Konsiliasi (Conciliation) Menurut the Institute of International Law melalui the Regulations the Procedur of International Conciliation yang diadopsinya pada tahun 1961 dalam Pasal 1 disebutkan sebagai suatu metode penyelesaian pertikaian bersifat internasional dalam suatu komisi yang dibentuk oleh pihakpihak. Pada tanggal 18 Desember 1967. baik sifatnya permanen atau sementara berkaitan dengan proses penyelesaian pertikaian. tapi terdapat juga yang hanya dilakukan oleh seorang konsiliator. laporan dari konsiliasi hanya sebagai proposal atau permintaan dan bukan merupakan konstitusi yang sifatnya mengikat. Pengertian sempit. konsiliasi berarti penyerahan suatu sengketa kepada sebuah komite untuk membuat laporan beserta usul-usul kepada para pihak bagi penyelesaian sengketa tersebut. Tujuan dari penyelidikan. Pengertian luas konsiliasi mencakup berbagai ragam metode di mana suatu sengketa diselesaikan secara damai dengan bantuan negara-negara lain atau badan-badan penyelidik dan komite-komite penasehat yang tidak berpihak. 4). Menurut Shaw. Istilah konsiliasi (conciliation) mempunyai arti yang luas dan sempit. Proses konsiliasi pada umumnya diberikan kepada sebuah komisi yang terdiri dari beberapa orang anggota. tanpa membuat rekomendasi-rekomendasi yang spesifik untuk menetapkan fakta yang mungkin diselesaikan dengan cara memperlancar suatu penyelesaian yang dirundingkan. Serta meminta Sekertaris Jenderal untuk mempersiapkan suatu daftar para ahli yang jasanya dapat dimanfaatkan melalui perjanjian untuk pencarian fakta dalam hubungannya dengan suatu sengketa. yang relevan dengan permasalahan. Dengan dasar bukti-bukti dan permasalahan yang timbul. badan ini akan dapat mengeluarkan sebuah fakta yang disertai dengan penyelesaiannya.3). Majelis Umum Perserikatan BangsaBangsa mengeluarkan resolusi yang menyatakan pentingnya metode pencarian fakta (fact finding) yang tidak memihak sebagai cara penyelesaian damai dan meminta negara-negara anggota untuk lebih mengefektifkan metode-metode pencarian fakta. Penyelidikan (Inquiry) Metode penyelidikan digunakan untuk mencapai penyelesaian sebuah sengketa dengan cara mendirikan sebuah komisi atau badan untuk mencari dan mendengarkan semua bukti-bukti yang bersifat internasional.

Isi Piagam PBB tersebut di antaranya memberikan peran penting kepada International Court of Justice (ICJ) dan upaya penegakannya diserahkan pada Dewan Keamanan. Arbitration (arbitrasi) Pihaknya adalah negara. Mahkamah Internasional merupakan bagian integral dari PBB. Dewan Keamanan juga diberikan kewenangan untuk melakukan upaya-upaya yang terkait dengan penyelesaian sengketa. Para pihak dalam sengketa internasional dapat saja menyelesaikan sengketa yang terjadi di antara mereka ke badan peradilan internasional seperti International Court of Justice (ICJ/Mahkamah . Arbitrasi lebih flexible dibanding dengan penyelesain sengketa melalui pengadilan. individu.5). Penyelesaian di bawah naungan organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa Amanat yang disebutkan dalam Pasal 1 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Mahkamah internasional ini bertugas untuk menyelesaikan tuntutanyang diajukan dan mengeluarkan keputusan yang bersifat final dan mengikat para pihak. Hukum internasional publik juga mengenal good offices atau jasa-jasa baik yang termasuk ke dalam penyelesaian sengketa secara diplomatik. Sedangkan Bab VI. Badan-badan regional Melibatkan lembaga atau organisasi regional baik sebelum maupun sesudah PBB berdiri. Dari penyelesaian sengketa yang tercantum dalam Piagam. mediasi. Tujuan tersebut sangat terkait erat dengan upaya penyelesaian sengketa secara damai. DK dapat mengambil tindakan-tindakan yang terkait dengan penjagaan atas perdamaian. dan konsiliasi. enquiry. Berdasarkan Bab VII Piagam PBB. Yang termasuk ke dalam penyelesaian sengketa secara hukum adalah arbitrase dan judicial settlement. 6). tidak ada tata urutan yang mutlak mengenai penyelesaian sengketa secara damai. salah satu tujuannya adalah untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional. dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. yaitu penyelesaian sengketa secara hukum dan secara politik/diplomatik. jadi tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. 7). Sedangkan yang termasuk ke dalam penyelesaian sengketa secara diplomatik adalah negosiasi. Pada dasarnya. Serta hubungannya dengan Mahkamah Internasional. dan badan-badan hukum.

pencabutan privilige diplomatik. misalnya suatu pemboikotan barang-barang terhadap suatu negara tertentu. Pembalasan dapat berupa berbagai macam bentuk. .Internasional). negara-negara biasanya memilih untuk memberikan prioritas pada prosedur penyelesaian secara politik/diplomatik. tanpa harus melalui mekanisme negosiasi. karena penyelesaian secara politik/diplomatik akan lebih melindungi kedaulatan mereka. Tindakan bersenjata yang tidak dapat disebut perang juga banyak diupayakan. Dengan kebebasan dalam memilih prosedur penyelesaian sengketa. Perbedaan antara tindakan pembalasan dan retorsi adalah pembalasan mencakup tindakan yang pada umumnya boleh dikatakan sebagai perbuatan illegal sedangkan retorsi meliputi tindakan sifatnya balas dendam yang dapat dibenarkan oleh hukum. daripada mekanisme arbitrase atau badan peradilan tertentu. mediasi. c). Perang Tujuan perang adalah menaklukan negara lawan dan membebankan syarat-syarat penyelesaian di mana negara yang ditaklukan itu tidak memiliki alternatif lain selain mematuhinya. Tindakan-tindakan pembalasan (Repraisals) Pembalasan merupakan metode-metode yang dipakai oleh negara-negara untuk mengupayakan diperolehnya ganti rugi dari negara-negara lain dengan melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya pembalasan. Misalnya merenggangnya hubungan diplomatik. Retorsi (Retortion) Retorsi adalah pembalasan dendam oleh suatu negara terhadap tindakan-tindakan tidak pantas atau tidak patut dari negara lain. PBB tidak memaksakan prosedur apapun kepada negara anggotanya. Secara kekerasan a). b). secara sederhana perang merupakan tindakan kekerasan yang dilakukan untuk menaklukan negara lawan untuk membebankan syarat-syarat penyelesaian secara paksa. atau penarikan diri dari konsesi-konsesi fiskal dan bea. Balas dendam tersebut dilakukan dalam bentuk tindakantindakan sah yang tidak bersahabat di dalam konferensi negara yang kehormatannya dihina. Konsepsi ini sejalan dengan pendapat Karl von Clausewitz yang mengatakan bahwa perang adalah perjuangan dalam skala besar yang dimaksudkan oleh salah satu pihak untuk menundukan lawannya guna memenuhi kehendaknya. ataupun cara diplomatik lainnya.

tindakan itu pada umumnya ditujukan untuk memaksa negara yang pelabuhannya diblokade mentaati permintaan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara yang memblokade. khususnya kekerasan. e). Menurut Mahkamah. Blokade secara damai (Pacific Blockade) Pada waktu perang. Intervensi (Intervention) Hukum internasional pada umumnya melarang campur tangan yang berkaitan dengan urusan-urusan negara lain. intervensi dilarang oleh hukum internasional apabila: (a) campur tangan yang berkaitan dengan masalah-masalah di mana setiap negara dibolehkan untuk mengambil keputusan secara bebas. . Kadang-kadang digolongkan sebagai pembalasan. blokade terhadap pelabuhan suatu negara yang terlibat perang sangat lazim dilakukan oleh angkatan laut. yang dalam kaitan khusus ini berarti suatu tindakan yang lebih dari sekedar campur tangan saja dan lebih kuat dari pada mediasi atau usulan diplomatik. Blokade secara damai adalah suatu tindakan yang dilakukan pada waktu damai.d). dan (b) campur tangan itu meliputi gangguan terhadap kemerdekaan negara lain dengan cara-cara paksa.

Traktat Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara atau TAC (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia) dalam KTT pertama ASEAN di pulau Bali ini antara lain menyebutkan bahwa akan membentuk Dewan Tinggi ASEAN untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara sesama anggota ASEAN akan tetapi pihak Malaysia menolak beralasan karena terlibat pula sengketa dengan Singapura untuk klaim pulau Batu Puteh. Filipina. Pihak Malaysia membangun resor parawisata baru yang dikelola pihak swasta Malaysia karena Malaysia memahami status quo sebagai tetap berada di bawah Malaysia sampai persengketaan selesai. karena baik Indonesia yang bertahan pada posisi dan argumentasi bahwa kedua pulau tersebut telah menjadi bagian . Setelah hampir 30 tahun.000 meter²). Cina.Pada tahun 1969 pihak Malaysia secara sepihak memasukkan kedua pulau tersebut ke dalam peta nasionalnya. Kedua negara lalu sepakat agar Sipadan dan Ligitan dinyatakan dalam keadaan status status quo akan tetapi ternyata pengertian ini berbeda. Vietnam. Kronologi Sengketa: Sengketa klaim Sipadan Ligitan antara Indonesia dengan Malaysia mulai muncul pada tahun 1967. Pihak Malaysia pada tahun 1991 lalu menempatkan sepasukan polisi hutan (setara Brimob) melakukan pengusiran semua warga negara Indonesia serta meminta pihak Indonesia untuk mencabut klaim atas kedua pulau. Pada tahun 1976. sengketa kepemilikan Sabah dengan Filipina serta sengketa kepulauan Spratley di Laut Cina Selatan dengan Brunei Darussalam. dan Taiwan. Ketika ditengah kedua negara sedang merundingkan batas landas kontinen. Malaysia menyatakan bahwa pulau Sipadan dan Ligitan termasuk dalam wilayah kedaulatannya. Padahal menurut Indonesia kedua pulau tersebut tercatat wilayah kedaulatannya. masingmasing negara ternyata memasukkan pulau Sipadan dan pulau Ligitan ke dalam batas-batas wilayahnya. sedangkan pihak Indonesia mengartikan bahwa dalam status ini berarti status kedua pulau tadi tidak boleh ditempati/diduduki sampai persoalan atas kepemilikan dua pulau ini selesai. Sejak saat itu berlangsung berbagai pertemuan dan perundingan antara kedua negara bertetangga tersebut untuk menyelesaikan sengketa secara damai. perundingan tiba pada jalan buntu.Sengketa Sipadan dan Ligitan Sengketa Sipadan dan Ligitan adalah persengketaan Indonesia dan Malaysia atas pemilikan terhadap kedua pulau yang berada di Selat Makassar yaitu pulau Sipadan (luas: 50.

dalam voting di lembaga itu. Indonesia meratifikasi pada tanggal 29 Desember 1997 dengan Keppres Nomor 49 Tahun 1997 demikian pula Malaysia meratifikasi pada 19 November 1997." pada tanggal 31 Mei 1997. Sementara itu. Kemenangan Malaysia. Dalam kunjungannya ke Kuala Lumpur pada tanggal 7 Oktober 1996. . sementara satu hakim merupakan pilihan Malaysia dan satu lagi dipilih oleh Indonesia. kegiatan pariwisata yang dilakukan Malaysia tidak menjadi pertimbangan. berbagai dalil hukum. Presiden Soeharto akhirnya menyetujui usulan PM Mahathir tersebut yang pernah diusulkan pula oleh Mensesneg Moerdiono dan Wakil PM Anwar Ibrahim. akhirnya Mahkamah Internasional memutuskan pulau Sipadan dan pulau Ligitan milik Malaysia. pungutan pajak terhadap pengumpulan telur penyu sejak tahun 1930. tetap bertahan pada posisi masing-masing. Dalam persidangan Mahkamah Internasional yang melibatkan argumentasi kontra argumentasi. Pada 1997 kedua belah pihak sepakat menempuh jalan hukum yaitu dengan menyerahkan sengketa tersebut kepada Mahkamah Internasional. oleh karena berdasarkan pertimbangan effectivity (tanpa memutuskan pada pertanyaan dari perairan teritorial dan batas-batas maritim). sementara hanya 1 orang yang berpihak kepada Indonesia. Keputusan ICJ/Mahkamah Internasional: Pada tahun 1998 masalah sengketa Sipadan dan Ligitan dibawa ke Mahkamah Internasional. maupun Malaysia yang juga meyakini kedaulatannya atas pulau-pulau tersebut sejak masa colonial Inggris. dibuatkan kesepakatan "Final and Binding. Malaysia dimenangkan oleh 16 hakim. yaitu pemerintah Inggris (penjajah Malaysia) telah melakukan tindakan administratif secara nyata berupa penerbitan ordonansi perlindungan satwa burung. Kemudian pada hari Selasa 17 Desember 2002 Mahkamah Internasional mengeluarkan keputusan tentang kasus sengketa kedaulatan Pulau Sipadan-Ligatan antara Indonesia dengan Malaysia. serta penolakan berdasarkan chain of title (rangkaian kepemilikan dari Sultan Sulu) akan tetapi gagal dalam menentukan batas di perbatasan laut antara Malaysia dan Indonesia di selat Makassar. bukti sejarah. Dari 17 hakim itu. dan operasi mercu suar sejak 1960-an. teori. kedua negara menandatangani persetujuan tersebut. 15 merupakan hakim tetap dari MI. dokumen dan fakta pendukung dari kedua belah pihak yang masing-masing dilengkapi oleh tim pengacara handal.wilayahnya sejak masa penjajahan Belanda. Hasilnya.

yang memenuhi fungsi effectivities.di mana negara-negara anggota ASEAN dalam menyelesaikan suatu permasalahan harus di tempuh nya itikad baik dan damai (Perjanjian ASEAN 24 februari 1976 di BALI). setiap anggota ASEAN wajib membawa kasus mereka ke PBB dan putusan Mahkamah Internasional adalah final dan tidak dapat di ganggu gugat. tetapi karena Inggris sebelum tahun 1969 telah menununjukkan penguasaan yang efektif atas kedua pulau itu berupa pungutan pajak atas pemungutan telur penyu.Hal ini membuktikan adanya kehendak dan tindakan menjalankan fungsi negara. Dalam sengketa Sipadan-Ligitan. belanda tidak pernah melakukan tindakan yang nyata . dan operasi mercu suar sejak 1960-an. Dalam Hukum Internasional dikenal istilah "Uti Possidetis Juris" yang artinya negara baru akan memiliki wilayah atau batas wilayah yang sama dengan bekas penjajahnya. operasi mercu suar. Jadi Mahkamah Internasional memenangkan Malaysia saat itu bukan karena Malaysia pada tahun 1990-an telah membangun resort di kedua pulau itu.mulai dari Diplomasi dan perundingan setiap tahun-nya. yaitu pemerintah Inggris (penjajah Malaysia) telah melakukan tindakan administratif secara nyata berupa penerbitan ordonansi perlindungan satwa burung. Tetapi. sementara Malaysia bisa menunjukkan bukti bahwa Inggris (penjajah Malaysia) memiliki dan mengelola kedua pulau itu. Dengan segala cara mereka kerahkan. Indonesia dan Malaysia bersepakat istilah "warisan penjajah" itu berlaku untuk wilayah-wilayah yang dikuasai sebelum tahun 1969. Sebenarnya pemerintah Indonesia dengan para diplomatnya telah berusaha untuk mendapatkan hak atas kedua pulau itu.Landasan Keputusan Mahkamah Internasional memenangkan Malaysia: Kemenangan Malaysia. oleh karena berdasarkan pertimbangan effectivity (tanpa memutuskan pada pertanyaan dari perairan teritorial dan batas-batas maritim). Lebih dari itu. Kekalahan dan Letak Kesalahan Indonesia mengenai Sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan: Kekalahan Indonesia di Sipadan dan Ligitan (sebelah utara Ambalat) adalah karena Indonesia tidak bisa menunjukkan bukti bahwa Belanda (penjajah Indonesia) telah memiliki kedua pulau itu. dan aturan perlindngan satwa.sebenarnya Mahkamah Internasional sudah mengetahui kalau Belanda adalah pemilik pulau itu dahulunya. Apabila tidak menemukan kesepakatan. pungutan pajak terhadap pengumpulan telur penyu sejak tahun 1930.tetapi Indonesia dan Malaysia juga tidak dapat mencari titik temu dan kesepakatan dalam Sipadan dan Ligitan.sesuai dengan Piagam ASEAN.

Dari pernyataan diatas yang menjadi penyebab utama kekalahan Indonesia adalah Indonesia kurang memiliki data dan bukti historis yang dapat menunjukan bahwa Belanda juga memiliki kehendak dan tindakan menjalankan fungsi negara yang malahan lebih kuat dari Inggris pada masanya. belanda tidak pernah melakukan tindakan yang nyata apapun di Pulau itu. Kemudian. Lebih dari itu. .sebenarnya Mahkamah Internasional sudah mengetahui kalau Belanda adalah pemilik pulau itu dahulunya. nampaknya Indonesia memang agak mengabaikan Sipadan dan Ligitan. Justru sebaliknya Inggris-lah yang banyak melakukan pembangunan dan invasi di kedua pulau itu. Tetapi. Jauh dari pada itu Konvensi 1891. Argumen ini hanya mengatur batasan wilayah di Kalimantan (darat) tidak di perairan. Dengan memperhatikan posisi dan letak Sipadan dan Ligitan serta ambisi strategis/ekonomis Belanda adalah sulit dibayangkan kalau Belanda tidak melakukan kegiatan pengawasan dan pemanfaatan kedua pulau tersebut pada waktu itu. Tetapi sesudah tahun 1969 pada saat mulai muncul sengketa klaim. hanya menarik 3 mil dari titik pantai (kalau sekarang 12 mil) dan penarikan 3 mil itu tidak sampai ke sipadan dan Ligitan. telepon. Sarana hiburan seperti pemancar radio. Dan terakhir Indonesia kalah di Faktor Occupation (pendudukan). Mahkamah Internasional menolak pembelaan dan argumen Indonesia yang bersandar pada konvensi 1891. meskipun disepakati status quo atas Sipadan dan Ligitan. pariwisata.apapun di Pulau itu. Sebelum 1969 barangkali karena Indonesia tidak menyadari keberadaan posisi kedua pulau itu. dan kehadiran penduduk yang terus meningkat. hanya menarik 3 mil dari titik pantai (kalau sekarang 12 mil) dan penarikan 3 mil itu tidak sampai ke sipadan dan Ligitan. Kemudian. Justru sebaliknya Inggris-lah yang banyak melakukan pembangunan dan invasi di kedua pulau itu. Jauh dari pada itu Konvensi 1891. atau mungkin juga karena terlalu banyak persoalan yang dihadapi. Argumen ini hanya mengatur batasan wilayah di Kalimantan (darat) tidak di perairan. justru Malaysia tetap melanjutkan kegiatannya berupa penangkapan ikan. Intinya masyarakat yang tinggal di pulau tersebut banyak bergantung pada transpotasi dan bantuan ekonomi dari Malaysia bertahun-tahun. Disamping itu. dan televisi juga berasal dari Malaysia selama bertahu-tahun). Mahkamah Internasional menolak pembelaan dan argumen Indonesia yang bersandar pada konvensi 1891.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful