P. 1
Penerapan Good Governance Pada Pemerintah Kabupaten Brebes Melalui Reformasi Birokrasi

Penerapan Good Governance Pada Pemerintah Kabupaten Brebes Melalui Reformasi Birokrasi

|Views: 263|Likes:
Published by Agus Supriyadi

More info:

Published by: Agus Supriyadi on Jun 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/01/2015

pdf

text

original

PENERAPAN GOOD GOVERNANCE PADA PEMERINTAH KABUPATEN BREBES MELALUI REFORMASI BIROKRASI (STUDI KASUS PADA KECAMATAN PAGUYANGAN

DENGAN KECAMATAN BREBES)
Published : 00.58 Author : tya "Niez" BGT A. PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG MASALAH Pada dekade akhir abad 20 dan dekade awal abad 21 Indonesia dihadapkan pada tuntutan demokrasi, desentralisasi dan globalisasi. Demokratisasi politik dan pemerintahan desentralisasi tidak hanya menuntut profesionalisme dan kemampuan aparatur negara dalam pelayanan publik. Akan tetapi secara fundamental menuntut terwujudnya budaya pemerintahan yang baik dan bersih (good governance and clean governance cultures). Sedangkan globalisasi menyentuh berbagai aspek juga menuntut reformasi sistem perekonomian dan pemerintahan, termasuk birokrasinya. Hal tersebut memungkinkan interaksi perekonomian antardaerah dan bangsa berlangsung efisien. Maka dari itu, kunci keberhasilan pembangunan ekonomi dan pemerintahan antara lain mengacu pada proses dan kualitas pelayanan publik (Sedarmayanti, 2004). Upaya menuju keberhasilan pembangunan membutuhkan satu prasyarat yang harus dikembangkan. Prasyarat tersebut adalah komitmen yang tinggi untuk menerapkan nilai luhur peradaban bangsa dan prinsip “good governace” (kepemerintahan yang baik) sebagai budaya dalam mewujudkan tujuan dan cita-cita bangsa Indonesia. Good governance menjadi orientasi proses penyelenggaraan kekuasaan negara dalam menyediakan public goods and services. Good Governance juga dijadikan sebuah “budaya”, karena merupakan suatu konstruksi mental, semacam peta kognitif yang memberikan kepada individu sebuah aturan-aturan yang dijadikan pedoman dalam perilakunya yang tepat dalam berbagai konteks sosial (Goodenough, dalam Joyomartono: 2008). Guna menuju kepemerintahan yang baik, ternyata implementasi program Good governance pada periode lalu, belum mendapat jawaban. Program tersebut dapat dikatakan gagal, mengingat berbagai fenomena destruktif terjadi pada birokrasi di Indonesia. Dalam Grand design dan Road Map Reformasi birokrasi 2010-2025, disebutkan beberapa permasalahan umum birokrasi di Indonesia yang antara lain peraturan perundang-ungangan dibidang aparatur negara masih overlapping, dan tidak relevan. Mind-set dan culture-set birokrasi belum profesional. Praktik menejemen SDM belum optimal. Distribusi PNS belum merata dan proporsional dilihat dari

segi geografis. KKN masih tinggi yang terjadi pada semua sector, serta kualitas pelayanan publik yang belum dapat memenuhi harapan masyarakat luas (PAN & RB, 2010). Oleh karena itu, pemerintah kini mencanangkan program baru sebagai “senjata” untuk menghadapi krisis multidimensi. Program tersebut adalah “Reformasi Birokrasi”.

Reformasi Birokrasi bukan hanya menuntut perubahan struktur dan reposisi birokrasi, tetapi lebih komprehensif, yaitu ekonomi, politik, sosial dan budaya serta hukum. Namun, pada utamanya, reformasi birokrasi menuntut pembaharuan pada tiga aspek, yaitu kelembagaan, ketatalaksanaan, dan sumber daya manusia aparatur (PAN&RB, 2010). Reformasi birokrasi diharapkan dapat mewujudkan kinerja birokrasi secara efisien dan efektif dalam melaksanakan tugas. Terutama yang paling dapat dirasakan langsung oleh masyarakat adalah hal teknis yang berkaiatan dengan pelayanan, seperti pelayanan kesehatan dan perijinan (Humas Bappenas dalam www.bappenas.go.id). Tercapainya reformasi birokrasi, nantinya akan mengalir pada tercapainya birokrasi yang mewujudkan kepemerintahan yang baik (Good Governance). Pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang ditargetkan dari tahun 2010 sampai 2025 tentu saja terdapat pelbagai tantangan. Sepertihalnya saat implementasi program Good Governance, pada Kabupaten Brebes terjadi sebuah benturan karena adanya surat edaran bupati yang mengharuskan sentralisasi informasi (Junaedi, 2008). Seluruh informasi dan komentar hanya diakses dari satu pintu yaitu humas Kabupaten Brebes. Sedangkan humas tersebut belum dilengkapi basis data dan kemampuan yang memadai. Kebijakan sentralisasi informasi juga melemahkan kapasitas kehumasan di dinas-dinas maupun kecamatan, sehingga informasi sulit dipahami dan dimengerti masyarakat luas. Bayang-bayang birokrasi pemerintahan yang diartikan sebagai officialdom (kerajaan birokrasi) juga masih melekat pada masyarakat luas (Thoha, 2007). Padahal, pelaksanaan reformasi birokrasi memerlukan partisipasi positif dan kesatuan antara pihak birokrat sebagai government sekaligus governance, dan masyarakat pada umumnya. Pengimplementasian program Reformasi Birokrasi saat ini, berada dalam fase transisi dari program Good Governance menuju Reformasi Birokrasi. Pada fase ini sangat potensial memunculkan disorganisasi dan menurunnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Hal

Sedangkan Kecamatan Brebes berada pada barat laut dan berkarakter sebagai wilayah urban (dekat perkotaan) serta dekat dengan pusat pemerintahan tingkat kabupaten (Bappeda. Lebih fokusnya studi antropologis pada pemerintah Kecamatan Paguyangan dan Kecamatan Brebes. Berdasarkan latar belakang tersebut. Kecamatan Paguyangan berada pada ujung timur dan berkarakter sebagai wilayah rural (pedesaan) dan jauh dari pusat pemerintahan tingkat kabupaten.tersebut akan terjadi jika tidak ada kesepahaman konsep mengenai kepemerintahaan yang baik dalam implementasi program reformasi birokrasi ini. Pemilihan kedua tempat tersebut didasarkan pada keterjangkauan jarak / akses menuju pusat pemerintahan tingkat kabupaten. akan dilakukan penelitian untuk skripsi mengenai budaya Good Governance dalam pelaksanaan program Reformasi Birokrasi di Indonesia. karena menunjukkan kepedulian dan partisipasi dalam implementasi Reformasi Birokrasi dalam mencapai budaya good governance. Hal ini penting untuk dilakukan pengkajian. Adapun judul penelitian skripsi yang diangkat yaitu: “PENERAPAN GOOD GOVERNANCE PADA PEMERINTAH KABUPATEN BRERES (STUDI KASUS PADA KECAMATAN PAGUYANGAN DENGAN KECAMATAN BREBES)” . 2008).

serta melahirkan model sistem birokrasi yang didasari kajian antropologis. Birokrasi Di Indonesia . khususnya kajian sosiologi dan antropologi pemerintahan. TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 1. budaya dan politik yang terjadi dalam kepemerintahan dan masyarakat di Kabupaten Brebes. TUJUAN PENELITIAN Berdasarkan rumusan masalah. yaitu sebagai berikut: 1) bagaimanakah pemahaman Good Governance pada pemerintah Kecamatan Paguyangan dan Kecamatan Brebes? 2) bagaimanakah pemahaman Good Governance dari perspektif masyarakat? 3) sejauhmana pelaksanaan budaya Good Governance pada birokrasi pemerintah kecamatan Paguyangan dan Kecamatan Brebes? 3. PERUMUSAN MASALAH Dari latar belakang di atas maka dapat ditarik beberapa rumusan masalah. MANFAAT Adapun manfaat yang akan diperoleh dari penelitian ini. TINJAUAN PUSTAKA a. 3) menjelaskan sejauhmana pelaksanaan Good Governance pada birokrasi pemerintah kecamatan Paguyangan dan Kecamatan Brebes. Disisi lain juga membantu pemerintah Kabupaten Brebes dalam evaluasi pelayanan kepada masyarakat. 2) menjelaskan pemahaman Good Governance dari perspektif masyarakat. baik secara teoritis maupun secara praktis antara lain: 4) Secara teoritis yaitu menambah khasanah ilmu pengetahuan.2. maka studi ini bertujuan untuk: 1) menjelaskan pemahaman Good Governance pada pemerintah Kecamatan Paguyangan dan Kecamatan Brebes. 5) Secara praktis dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan literatur bagi pemerintah Kabupaten Brebes dalam menjalankan dan memberikan pelayanan terhadap publik. Mengetahui fenomena sosial. 4. B.

Agenda kebijakan yang tidak efektif dalam menghadapi permasalahan dan tantangan pembangunan bangsa. birokrasi sebagai state administration. Mereka juga memiliki jabatan yang berkekuasaan dan membentuk sebuah hierarki. 2007). Format perangkat pemerintahan di daerah yang duplikatif. Birokrasi juga seringkali disebut kerajaan yang jauh dari rakyat (Thoha. Diluar hierarki mereka terdampar rakyat yang powerless dihadapan pejabat birokrasi tersebut.Pelbagai penelitian bertema pelayanan birokrasi dalam pemerintah telah dilakukan oleh para ahli. Serta lemahnya pelayanan prima adan disiplin aparatur. Birokrasi juga bukan sebagai katalis. Birokrasi Weber merupakan bentuk birokrasi yang selama ini diterapkan. Namun sebagai parasitik dan misinya mempertahankan status quo hubungan sosial eksploitatif (Moeljarto dalam Azhari: 1994). Didalamnya terdapat seseorang yang mempunyai tugas dan tanggungjawab resmi (official duties) yang memperjelas batas-batas kewenangan pekerjaan. tersusup vested interest birokrat. pada kenyataannya. memainkan peranan sebagai penindas kelas kapitalis. Hal tersebut juga melahirkan hasil-hasil dan teori yang dimanfaatkan dalam pelbagai kajian. Marx menempatkan birokrasi secara diametris yang berlawanan dengan Hegelian Bureaucarcy. yang dibimbing oleh prosedur tertulis bersifat pragmatis untuk menyelesaikan tugas seefektif dan seefisien mungkin. Namun. . Albrow (2005) menegaskan dari abad ke-18 telah terjadi keluhan birokrasi yang tidak menguntungkan kepentingan masyarakat. Banyak permasalahan birokrasi di Indonesia selama ini yang mengemuka dalam rangka penyelenggaraan negara dan pembangunan nasional. Kompetensi aparatur yang memprihatinkan. 2001). Menurut konstruksi Marx. birokrasi seperti yang digambarkan oleh Weber merupakan birokrasi yang ideal. Menurut Budiman dan Ufford (1988). Susanto (2004) menyatakan tiap kali mendengar kata “birokrasi” yang terfokus adalah berbagai prosedural rumit serta tidak efisien tentang penyelesaian surat-surat berkenaan dengan pemerintah. termasuk penegakan hukum (Mustopadidjaja. Coleman (2008). yaitu Max Weber dan Karl Marx. Seperti tokoh besar yang menghasilkan teori birokrasi. Birokrasi kepemerintahan seringkali diartikan sebagai officialdom. Birokrasi dipandang sebagai sistem dan alat pelayanan publik dari pemerintah yang amat buruk. Permasalahan tersebut diantaranya yaitu tatanan organisasi dan manajemen pemerintah pusat yang belum mantap. Desentralisasi yang menyulitkan koordinasi. Hal tersebut juga terjadi pada semua aras.

Hal tersebut ditegaskan Said (2007) terjadi di negara-negara yang sedang berkembang mewarisi tradisi birokrasi yang korup dan kurang berpihak pada rakyat yang dilayani. Peter (1986) mengidentifikasi beberapa dalih atau alasan yang secara umum dipakai oleh birokrasi ketika birokrasi ingin mengelak dari keharusan untuk segera mengambil tindakan : “(1) Kita harus mendapat ijin tertulis terlebih dahulu dari atasan.Mengacuan pada Albrow. and the mal-adapted responses of bureautics organization wich their member. birokrasi tetap memiliki variasi konotasi. the complication of procedure. 2007). b. (3) Itu diluar wewenang kami. (4) Surat permohonan anda sudah kami masukkan ke arsip. (5) Bureaucracy Equals Something Else. (2) Bureaucracy Equals Inefficiecy and Incompetence. Masyarakat yang dilayani juga belum memberikan apresiasi positif pada kinerjanya.” Pengidentikan birokrasi dengan pelbagai hal yang bernada negatif memang bukanlah sesuatu hal yang baru. the ponderousness. terutama dalam praktek pelayanan publik dalam pelaksanaan tugasnya. 2002). belum menunjukkan pada nilai-nilai Pancasila. Bagi para ahli. Turner dan David (2002): ”(Bureaucracy) evokes the slowness. the routine. dan dinamai dengan birokrasi Pancasila (Thoha.” Birokrasi mempunyai citra buruk (the bad of bureaucracy). Etika Dan Budaya Birokrasi Di Indonesia Budaya birokrasi merupakan karakteristik kolektif masyarakat dalam menghayati dan memperlakukan birokrasi (tidak terbatas pada perilaku aparatur birokrasi). Sementara etika birokrasi merupakan karakter individu atau kelompok individu (aparatur) dalam memahami dan memperlakukan kewenangan dan tugasnya sebagai aparatur birokrasi (Said. tergantung kelompok sosial yang menyampaikan keluhan. Namun. ulients or subject consequently endure. (4) Bureaucracy Equals Perfed Administrative Rationality. Said (2007) melakukan penelitian dan menghasilkan lima pandangan tentang birokrasi dalam pemerintahan sebagai pelayanan masyarakat : (1) Bureaucracy Equals Corruption. Citra buruk tersebut membuat konsekuensi terhadap kritikan-kritikan yang terbangun negatif. Perilaku birokrasi sebagai etika dan budaya birokrasi di Indonesia didasarkan pada Pancasila. . (2) Anda terlebih dahulu harus mengajukan surat permohonan. (3) Bureaucracy Equals Size. Penelitian oleh Albrow ataupun Said didasarkan dari penelitian yang pernah dilaksanakan Peter. dalam implementasinya.

dalam birokrasi sangat kentara terlihat. accountability. assurance dan empaty sebagai bagian dari akuntabilitas publik (Nurcaya. lemah perekrutan. 2007). Di Jerman pada tahun 1867 (Prasojo. Keduanya harus diberikan kepada semua pihak terutama pengemban birokrasi. 2010). citra atau reputasi budaya birokrasi dari pemerintah Indonesia dilihat banyak korup. tidak jelas tatanan standarnya. menurut Prasojo dan Teguh (2010) yaitu komitmen untuk modernisasi birokrasi. birokrasi pemerintah bagian dari “governance” tidak berfungsi sebagai agen negara untuk mempertemukan secara utuh kepentingan rakyat dan kepentingan pemerintah. Secara internasional. tidak efisien. Pandie. budaya tradisional yang negatif masih eksis didalamnya. dan Rani (2010) melihat budaya birokrasi patrimonial merupakan gejala yang sulit dihilangkan dalam birokrasi Indonesia. transparency. rule of law. Mental suka menerobos. Sedangkan aspek-aspek tersebut berimplikasi pada penilaian kualitas pelayanan yang didasarkan pada lima dimensi yaitu tangibility. lemah dalam sistem pelayanan masyarakat dan kaku (Said. Masyarakat bangsa Indonesia dilihat oleh Koentjaraningrat (1988) memiliki mentalitasmentalitas yang kebanyakan bersifat destruktif. Gap-gap tersebut memungkinkan terjadi dalam tiap aspek good governance (UNDP dalam Soedarmayanti.Djani. Birokrasi justru berfungsi sebagai “broker” yang mengambil keuntungan dalam proses intermediasi kedua belah pihak sekaligus. kabur akan code of conduct. responsiveness. Upaya penciptaan Good governance sangat dipengaruhi adanya komitmen dan national leadership. effectiveness and efficiency. reliability. Seperti halnya KKN yang masih tinggi pada semua sector yang dilakukan oleh oknum birokrasi (PAN&RB. dalam Prasojo dan Kurniawan. serta strategic vision. Jika demikian terjadi gap (kesenjangan) antara fungsi agen negara sesungguhnya dengan praktiknya. dikotomi paradigma manajemen . Kelompok-kelompok dalam masyarakat muncul dan menentukan jalannya rekruitmen birokrasi. Otto von Bismarck memiliki peran besardalam proses pembaharuan birokrasi Jerman. Meskipun telah ada arahan ke dalam budaya rasional dalam konsep good governance. seperti Max Weber dan Otto von Meyer. 2010). responsiveness. equity. 2003) yaitu parcitipation. Anwari (2003) juga mengatakan. Penelitian Islamy (1998) mengasumsikan budaya birokrasi governance Indonesia memiliki vested interest. consensus orientation. Komitmennya telah melahirkan pemikir-pemikir Birokrasi dunia. Dua arah yang harus dituju dalam penciptaan Good governance di Indonesia. penegakan dan supremasi hukum. Komitmen dan national leadership ini menjadi kunci keberhasilan Good governance. 2008).

Keempat. Reformasi birokrasi sangat relevan mengingat ketidakmampuan pemerintah untuk melakukan perubahan struktur. Reformasi birokrasi selain relevan untuk segera diimplementasikan. jika melahirkan birokrasi baru yang kuat maka sangat vital dalam mencapai integrasi dan pembangunan nasional (Zauhar. hal ini dikarenakan meningkatnya skor governance dan “nilai merah” dalam praktek birokrasi. Kesembilan. tidak ada lagi pelanggaran. 2008).id). Agenda sosialisasi dan pelatihan banyak dilakukan. agenda besar dalam kaitan Reformasi Birokrasi sudah sampai pada tahap sebagai berikut . adanya punishment dan reward.program dan anggaran kerja harus sesuai dengan kemampuan financial Negara. kinerja sesuai dengan tugas dan fungsi (Zubaidah. Reformasi Birokrasi Pelbagai agenda dilaksanakan oleh segenap jajaran pemerintah dalam menanggapi positif program baru reformasi birokrasi.pelayanan publik dan ketidakadilan politik kesejahteraan karyawan. EE Mangindaan dalam peluncuran Program Reformasi Birokrasi menuturkan bahwa Reformasi Birokrasi dapat diukur dari Sembilan hal. Kedelapan. c. Ketujuh. tidak ada penyimpangan administrasi hingga keuangan. Ukuran yang pertama.menpag. 2002). Orientasi kolonial yang ada juga telah menyebabkan gagalnya upaya pemenuhan aspirasi dan kebutuhan masyarakat.go. Dirjen Imigrasi mengadakan kerjasama dengan Universitas Indonesia untuk mengadakan pelatihan dalam bidang reformasi birokrasi (www. Pemerintah masih belum tercipta dalam budaya pelayanan public yang berorientasi kepada kebutuhan pelanggan (service delivery culture) (Prasojo dan Kurniawan. Kelima. Keenam. Implementasi Reformasi Birokrasi mengarahkan pada kesinergian dan kecakapan government. Ketiga.imigrasi. Program reformasi birokrasi ini launching pada tanggal 7 Juli 2010 oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN&RB) (www.go. Kedua. komunikasi dengan public. tepat sasaran. waktu kerja harus efektif dan produktif. 2008).id). 2010). Diklatpim dan pembinaan PNS secara menyeluruh juga dilaksanankan oleh Pemerintah Kabupaten Brebes dalam waktu sebelum reformasi birokrasi diluncurkan (Junaedi. perizinan sesuai dengan permintaan para stakeholder. Di beberapa daerah menurut Prasojo dan Kurniawan (2008). norma dan nilai serta regulasi. Posisi birokrasi di Indonesia oleh mata internasional menempati posisi bawah. Menteri PAN.

yaitu sudut pandang pemerintahan dan sudut pandang masyarakat. Goal attaintment. Parson’s yakin bahwa AGIL (Adaptation. tidak terbatas pada tingkat struktur sosial saja.a) Modernisasi manajemen kepegawaian b) Restrukturisasi. suatu sistem harus memiliki empat fungsi atau aspek ini. 2005). Teori tersebut dipilih karena diasumsikan relevan untuk mengkaji secara mendalam dan komprehensif mengenai implementasi Good Governance melalui Reformasi Birokrasi pada Kecamatan Paguyangan dan Kecamatan Brebes. Dalam program penelitian ini. Ritzer & Douglas. Alexander (neofungsionalism) dan Luhman (Fungsionalisme sistem). LANDASAN TEORI Teori sebagai landasan untuk menganalisis data hasil penelitian adalah menggunakan teori Fungsionalisme Struktural. AGIL merupakan sebuah fungsi (function) yang merupakan kumpulan kegiatan yang ditujukan kearah pemenuhan kebutuhan tertentu / kebutuhan sistem. downsizing dan rightsizing. Namun kesatuan dari dua karakter atau posisi yang berbeda. 2007. 1) (A) Adaptation = Adaptasi . JC. and latency) diperlukan semua sistem. pada pokoknya bemberikan inti bahwa masyarakat hidup dalam sebuah sistem dan melakukan fungsi-fungsi agar tetap eksis (Salim. Teori Fungsional berasal dari pemikir besar yang terdiri dari Robert K. Secara bersama-sama keempat aspek tersebut saling berkaitan. Teori fungsional melahirkan pemikir-pemikir baru yang menyempurnakan menjadi teori fungsionalisme structural. perubahan manajemen dan organisasi c) Rekayasa proses administrasi pemerintah d) Anggaran berbasis kinerja dan prosses perencanaan yang partisipatif e) Hubungan-hubungan baru antara pemerintah dan masyarakat dalam pembangunan dan pemerintah. Merton (empirik). Bahasan Fungsionalisme Struktural yang diangkat Parson’s menekankan empat fungsi penting untuk semua sistem “tindakan” dan dikenal dengan skema AGIL (Salim. integration. Berdasarkan beberapa kajian yang dilakukan oleh para peneliti. peneliti akan melihat Good Governance bukan sebagai sebuah konsep tunggal. 2007). birokrasi di Indonesia menunjukkan kegagalan. Talcott Parson’s dalam teori ini memandang kenyataan sosial dari perspektif yang sangat luas. Agar tetap bertahan. 2. Beracuan dari definisi tersebut. Pendukung teori fungsionalisme.

2) (G) Goal attaintment = Pencapaian Tujuan Sebuah sistem fungsi harus mempunyai dan mencapai tujuan. Sistem harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan dengan kebutuhannya.Adaptasi merupakan sebuah sistem fungsi yang harus menanggulangi situasi eksternal yang gawat. .

Konsep fungsionalisme struktural Merton. Robert K. agar ketiga fungsi lainnya saling bekerjasama (A. memelihara dan memperbaiki sistem agar tetapa berada dalam kondisi yang baik dengan terus memberikan motivasi pada sistem lainnya. fungsi tersebut ada yang bersifat manifest (yang diharapkan) dan fungsi latent (yang tersembunyi. Dalam fungsi tersebut. Fungsi tersebut memiliki kecenderungan arah pada hal yang sesuai dan diharapkan. dapat digunakan sebagai alat untuk memahami fungsi dari governance pada Kecamatan Paguyangan dan Brebes. tidak diharapkan). Masyarakat berada dalam keadaan yang berubah secara seimbang Menekankan pada keteraturan masyarakat Setiap elemen masyarakat berperan dalam menjaga stabilitas Cenderung melihat masyarakat secara informal diikat oleh norma. 4) (L) Latency = Latensi atau pemeliharaan pola Latensi merupakan fungsi yang harus melengkapi. dan moral Masyarakat disatukan oleh kerjasama sukarela atau konsensus bersama oleh kedua-duanya. Pada pemerintahan tersebut apakah sudah memiliki “fungsi” yang bersifat manifest dari perspektif masyarakat. nilai. teori fungsionalisme struktural memberikan gambaran-gambaran sebagai berikut: a. e. Menurutnya. 2007). d. tekanan diberikan kepada suatu hal. sistem. seiring diimplementasikan good governance melalui reformasi birokrasi. Merton juga turut menyumbangkan pemikirannya dalam pengembangan teori Fungsionalisme Struktural. dan hal yang tersembunyi atau tidak diharapkan. struktur yang mempunyai sebuah fungsi. Secara garis besar.L). . Merton menitikberatkan pada “fungsi atas fakta-fakta sosial” (Salim.G.3) (I) Integration = Integrasi Integrasi merupakan fungsi yang harus mengaturantaa hubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya. c. b.

Alasan mengapa dipilihnya dua kecamatan tersebut sebagai lokasi penelitian didasari oleh beberapapertimbangan. 2002). maka sasaran atau fokus pada penelitian ini adalah pemerintah Kecamatan Paguyangan dan Brebes. c. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada Pemerintah Kecamatan Paguyangan dan Kecamatan Brebes. diantaranya sebagai berikut: a. Kecamatan Brebes diasumsikan oleh masyarakat Kabupaten Brebes pada umumnya sebagai daerah urban. akan memberikan gambaran mengenai implementasi good governance melalui reformasi birokrasi pada pemerintah Kecamatan Paguyangan dan Brebes. Fokus Penelitian Sesuai dengan judul penelitian. d. Kabupaten Brebes. memahami. Selain itu.C. serta masyarakat Kecamatan Paguyangan dan . dan mengungkap secara komprehensif dari implementasi good governance melalui reformasi birokrasi pada pemerintah Kecamatan Paguyangan dan Brebes. 2. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif karena dalam penelitian ini. Kabupaten Brebes. b. Masyarakat dan Pemerintah Kecamatan Paguyangan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Brebes yang berada pada titik paling jauh dari pusat pemerintahan tingkat kabupaten. untuk memberikan gambaran pemahaman tentang kepemerintahan yang baik dari perspektif pemerintah dan masyarakat. 3. Dasar Penelitian Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif. Pendekatan kualitatif ini digunakan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan deskripsi berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Moleong. Kabupaten Brebes. Kecamatan Paguyangan diasumsikan oleh masyarakat Kabupaten Brebes pada umumnya sebagai daerah rural. Masyarakat dan Pemerintah Kecamatan Brebes merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Brebes yang berada pada titik paling dekat dari pusat pemerintahan tingkat kabupaten. yaitu untuk mendeskripsikan. METODELOGI PENELITIAN 1. Penggunaan metode penelitian ini disesuaikan dengan tujuan pokok penelitian.

Pemahaman kepemerintahan yang baik perspektif masyarakat Kecamatan Paguyangan dan Brebes. dan lain-lain. 4. Fokus penelitian ini dapat diperinci lagi kedalam sub-fokus penelitian. dan data tambahan seperti dokumen. c. Pemahaman kepemerintahan yang baik perspektif pemerintah Kecamatan Paguyangan dan Brebes. yaitu: a. Sedangkan permasalahan pada penelitian ini difokuskan pada pemahaman dan implementasi budaya good governance. Sumber Data Sumber data dalam penelitian kualitatif berupa kata-kata.Brebes. tindakan. Implementasi kepemerintahan yang baik dalam public services oleh pemerintah kecamatan Paguyangan dan Brebes pada program reformasi birokrasi. b. Data penelitian ini dapat diperoleh dari berbagai sumber sebagai berikut: .

maka sebagai bahan tambahan juga diperoleh dari sumber tertulis. Sumber data tertulis ini meliputi kajian-kajian tentang pemerintahan. buku-buku yang relevan. Informan yang dapat memberikan informasi tentang objek kajian yang diperlukan oleh peneliti. seperti laporan penelitian ilmiah. c) Tokoh masyarakat. 2) Foto . Data Sekunder Data dalam penelitian ini selain diperoleh dari sumber manusia. 1) Subyek Penelitian Subyek adalam penelitian ini adalah pemerintah yang bekerja di instansi kecamatan Paguyangan dan Brebes. Informan ini dipilih dari orang yang dapat dipercaya dan mengetahui secara mendalam. serta masyarakat yang memanfaatkan pelayanan pemerintah Kecamatan Paguyangan dan Brebes. dan lain-lain. 1983). Informan yang dapat memberikan informasi tentang obyek kajian yang diteliti oleh peneliti adalah sebagai berikut: a) Masyarakat yang sedang memanfaatkan public service Kecamatan Paguyangan dan Brebes. b. Informan ini dipilih dari bebepara orang yang dapat dipercaya dan mengetahui objek yang akan diteliti. Data Primer Informan ini secara sukarela menjadi anggota penelitian meskipun hanya bersifat informasi. b) Masyarakat Kecamatan Paguyangan dan Brebes pada umunya. media massa.a. yaitu orang yang dapat memberikan informasi atau keterangan atau data yang diperlukan oleh peneliti (Koentjaraningrat. yaitu: 1) Sumber Pustaka tertulis dan dokumentasi Sumber pustaka tertulis ini digunakan untuk melengkapi sumber data informasi. d) Pegawai dan pemerintah Kecamatan Paguyangan dan Brebes. Informan merupakan individu-individu tertentu yang diwawancarai untuk keperluan informasi. skripsi. 2) Informan Informan adalah seorang yang dapat memberikan informasi guna memecahkan masalah yang diajukan dan diungkap.

mencakup cara yang digunakan oleh sesorang untuk tujuan tugas tertentu. Teknik observasi dilaksanakan pengamatan secara langsung terhadap obyek yang diteliti dalam kurun waktu yang cukup lama. 2. (pemusatan pada data-data yang tepat). Teknik observasi merupakan kegiatan yang pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera (Arikunto. notulen rapat. 1996). 1999). (2) alat elektronik seperti recorder dan kamera (3) pengamatan. peneliti melihat perilaku keadaan (setting) alamiah. maka peneliti ini menggunakan (1) catatan-catatan. yaitu foto yang dihasilkan orang di luar peneliti dan foto yang dihasilkan oleh peneliti sendiri (pribadi). Metode wawancara atau metode interview. buku-buku. 1999). catatan harian .Foto sekarang ini sudah banyak digunakan sebagai alat untuk membantu keperluan penelitian kualitatif. Ada dua kategori foto. dokumen peraturan. 1983). Teknik Wawancara Wawancara adalah suatu kegiatan komunikasi verbal dengan tujuan untuk mendapatkan informasi (Black &Champion. Dokumentasi Menurut Suharsimi. Pada dasarnya observasi sebagai teknik utama untuk mendapatkan informasi dimana dalam proses penelitian. majalah. melihat dinamika. Sedangkan menurut Rachman. 1999). dan (4) menambah persepsi atau pengetahuan tentang obyek yang diamati. Teknik Observasi Observasi atau pengamatan digunakan untuk memperoleh gambaran yang tepat mengenai perilaku pemerintah dan masyarakat serta situasi-situasi yang berkaitan dengan topik di lokasi penelitian. mencoba mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seorang informan. Penggunaan teknik observasi yang terpenting adalah mengandalkan pengamatan dan ingatan peneliti. dengan bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (Koentjaraningrat. metode dokumentasi yaitu cara pengambilan data menggunakan barang-barang tertulis. melihat gambaran perilaku berdasarkan situasi yang ada (Black & Champion. 5. Teknik Pengumpulan Data 1. metode wawancara adalah metode pengumpulan informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula (Rachman. 3. Akan tetapi untuk mempermudah pengamatan dan ingatan.

peneliti menggunakan 3 (tiga) metode yaitu observasi. 1996). Penelitian ini. . Alat dan teknik pengumpulan data.yang berhubungan dengan masalah penilitian (Suharsimi. Data tersebut dapat digunakan untuk menambah data yang ada pada peneliti. Peneliti menggunakan ketiga metode ini karena cukup relevan dalam pengumpulan data. wawancara dan dokumentasi. metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data dalam pengimplementasian Good Governance antara pemerintah kecamatan dan masyarakat sekitar.

memilih-milihnya menjadi satuan yang dapat dikelola. persamaan. Reduksi Data. dan penyajian data yang merupakan jawaban atas masalah yang diangkat dalam penelitian. d. Peneliti berusaha mencari pola. mensintesiskannya. mencari dan menemukan pola. Diawali dengan peneliti melakukan penelitian di lapangan yaitu pada mayarakat dan pemerintah Kecamatan Paguyangan dan Brebes dengan mengadakan wawancara atau observasi yang disebut tahap pengumpulan data.6. didasarkan pada reduksi data. hipotesis dan sebagainya. mengemukakan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Pengumpulan data.Keempatnya dapat digambarkan dalam bagan berikut (Miles & Huberman. chart atau grafis sehingga peneliti dapat menguasai data. mengarahkan. Setelah itu diadakan seleksi data atau penyederhanaan. Penyajian Data. hubungan. c. Pengambilan Kesimpulan atau Verifikasi. Metode Analisis Data Bogdan dan Biklen (dalam Moleong 2002) mengemukakan bahwa analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data. Penyajian data merupakan analisis dalam bentuk matrik. jadi dari data tersebut peneliti mencoba mengambil kesimpulan. b. Verifikasi dapat dilakukan dengan keputusan. Reduksi data yaitu memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus peneliti.1999) Keempat komponen tersebut saling interaktif yaitu saling mempengaruhi dan terkait. Peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menggolongkan. Data yang telah disederhanakan akan dilakukan pengelompokan dan dianalisa menggunakan . network. Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. hal-hal yang sering muncul. Menurut Miles dan Huberman (1999) tahap analisis data adalah sebagai berikut: a. model. tema. membuang yang tidak perlu dan mengyayasankan data-data yang direduksi memberikan gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan dan mempermudah peneliti untuk mencari sewaktu-waktu diperlukan. mengorganisasikan data.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 1996. analisa kualitatif membutuhkan pemetaan isu sentral sehingga kuat di rumusan masalah dan dgn menarik benang merah permasalahannya analisis lancar. Jakarta: Bina Aksara.teori Fungsionalisme Struktural. Jakarta: PT Gramedia. data yang sudah tersusun rapi dan sistematis disajikan dalam bentuk kalimat yang difokuskan pada kajian Antropologis mengenai implementasi good governance melalui reformasi birokrasi pada pemerintah Kecamatan Paguyangan dan Brebes. Krisis Tersembunyi dalam Pembangunan: Birokrasi-Birokrasi dalam Pembangunan. Untuk menarik kesimpulan. Brebes: IKIP PRESS Koentjaraningrat. irtu4l4 April 2012 08. AIPI XI. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: UII PRESS.. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi III. Lembaga Negara dalam Masa Transisi Demokrasi. 1999. Miles B. Lexy. Mathew & Huberman. 2002. Moleong. 1999. Metode dan Masalah Penelitian Sosial.J Champion. Black. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik). Azhari..my suggestion kalau berkenan.. M.27 Tya yg rajin maaf sedang atau sdh selesai nyusun skripsinya. S. Birokrasi: Cet. 1998. Bandung: Penerbit Nusa Media. 2001. Birokrasi dan Tuntutan Demokratisasi. A. Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Label: tugas semester 1. Jakarta: Balai Pustaka. Budiman. Ni’matul. Perubahan Kebudayaan dan Masyarakat dalam Pembangunan. 1988. Suharsimi. 2007. Makalah Seminar. II. Arief & Philips Quarles van Ufford. Arikunto. Yogyakarta: Tiara Wacana. Islamy. 1980. 2008. Bandung: Replika Aditama. Coleman. 2 dan 3 | 1 komentar: 1. Kebudayaan dan Mentalitet Pembangunan. Jakarta: UI PRESS. Setelah itu disusun secara sistematis sehingga dapat ditarik kesimpulan. DAFTAR PUSTAKA Albrow. 2008. Huda.. Jakarta: Rineka Cipta. 1994. Irfan.. Analisis Data Kualitatif. Kholik. Prinsip-prinsip Perumusan Kebijakan Negara. Mulyono. James. 2005. Jakarta: Gramendia.sukses ya . James & AD. Dasar-Dasar Teori Sosial. Martin. Poerwadarminta. WJS.. C. Joyomartono.

wb Lihat profil lengkapku Pengunjung Q 7482 Follower gudang ilmu sosiologi      Bahan ajar sosiologi Kelas XI (3) RPP Sosiologi Kelas XI Semester 2. Firda A.S. « Posting Lebih Baru Posting Lama » Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) Follow Us    Subscribe via RSS Follow my tweets Subscribe via Email Mengenai Saya tya "Niez" BGT assalamualaikum wr. 2 dan 3 (6) teman. Galih L. Elly N. Anis N. A.. (3) semester 4 (7) Semester 5 (Lima) (6) tugas semester 1.Balas Muat yang lain. .teman Seperjuangan       Ade setiya Nanda Andika R.. H.

aku yang tersakiti www.blogspot.    M.com .F. Blogroll Tya AlwayzLuph U Buat Lencana Anda Daily Calendar Gold Clock Musikku judika . Purwanti Sarirotul Khusnah Yulia Devi R.ex-musik. Abdan N.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->