Beranda » Chem-is-Try » Makalah Atomic Absorption Spectroscopy (AAS ) Makalah Atomic Absorption Spectroscopy (AAS ) Posted on April

25, 2013 by Tonimpadarizzar

Rate This

Atomic Absorption Spektrophotometry (AAS) Spektrofotometri Serapan Atom

BAB I PRNDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) atau Spektrofotometri Serapan Atom adalah salah satu jenis analisa spektrofometri dimana dasar pengukurannya adalah pengukuran serapan suatu sinar oleh suatu atom, sinar yang tidak diserap, diteruskan dan diubah menjadi sinyal listrik yang terukur. AAS pertama kali diperkenalkan oleh Welsh (Australia) pada tahun 1955. AAS merupakan suatu metode yang populer untuk analisa logam, karena disamping sederhana, ia juga sensitif dan selektif.

Alat Atomic Absorption Spectrophotometer Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini berdampak pada makin meningkatnya pengetahuan serta kemampuan dari manusia. Betapa tidak setiap manusia lebih dituntut dan diarahkan kearah ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang. Tidak ketinggalan pula ilmu kimia yang identik dengan ilmu mikropun tidak luput dari sosrotan perkebangan IPTEK ini. Belakangan ini telah lahir IPTEK-IPTEK yang berpeluang mempermudah dalam keperluan analisis kimia. Salah satu bentuk kemajuan IPTEK ini yang biasa dikenal sekarang diantaranya alat serapan atom yang kemudian sangat mendukung dalam analisis kimia dengan metode Spektroskopis Serapan Atom (SSA). Para ahli kimia sudah lama menggunakan warna sebagai suatu pembantu dalam mengidentifikasi zat kimia. Dimana, serapan atom telah dikenal bertahun-tahun yang lalu. Dewasa ini penggunaan istilah spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh suatu sistim kimia itu sebagai fungsi dari panjang gelombang radiasi, demikian pula pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu gelomabng tertentu. Perpanjangan spektrofotometri serapan atom ke unsur-unsur lain semula merupakan akibat perkembangan spektroskopi pancaran nyala. Bila disinari dengan benar, kadangkadang dapat terlihat tetes-tetes sample yang belum menguap keluar dari puncak nyala, dan gas-gas nyala itu terencerkan oleh udara yang menyerobot masuk sebagai akibat tekanan rendah yang diciptakan oleh kecepatan tinggi itu, lagi pula sistim optis itu tidak memerikasa seluruh nayala melainkan hanya mengurusi suatu daerah dengan jarak tertentu diatas titik puncak pembakar. Selain dengan metode serapan atom unsur-unsur dengan energi eksitasi rendah dapat juga dianalisis dengan fotometri nyala, tetapi untuk unsur-unsur dengan energi eksitasi tinggi

Untuk analisis kualitatif. karena AAS memerlukan lampu katoda spesifik (hallow cathode). selain itu juga diharapkan agar kita dapat melihat sejauh mana efisiensi dari penggunaan metode ini jika dilihat dari kelebihan dan kekurangannya. sedangkan antara 200-300 nm. BAB II . penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut : 1. 1. juga bertujuan agar penulis maupun pembaca dapat mengetahui lebih mendalam tentang bagaimana metode ataupun prinsip kerja dari Spektroskopi Serapan Atom (SSA) itu sendiri. metode AAS lebih baik dari fotometri nyala. Untuk analisisi dengan garis spektrum resonansi antara 400-800 nm. Kemonokromatisan dalam AAS merupakan syarat utama. Apakah sajakah gangguan-gangguan yang biasa terjadi pada metode Spektroskopi Serapan Atom (SSA)? 1. Dari segi biaya operasi.3 Manfaat Penulisan Adapun Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini selain memenuhi tugas dari dosen mata kuliah. Bagaimanakah teori dasar serta prinsip kerja Spektroskopi Serapan Atom (SSA)? 2. metode fotometri nyala lebih disukai dari AAS. fotometri nyala sangat berguna. Dapat dikatakan bahwa metode fotometri nyala dan AAS merupakan komplementer satu sama lainnya. Suatu perubahan temperatur nyala akan mengganggu proses eksitasi sehingga analisis dalam fotometri nyala dapat berfarisasi hasilnya.2 Rumusan Masalah Dari latar beklakang diatas. Bagaimanakah Penggunaan / penerapan Spektroskopi Serapan Atom (SSA) dalam proses analis kimia? 3.hanya dapat dilakukan dengan fotomeetri nyala. AAS lebih mahal dari fotometri nyala berfilter.

karena ASS memerlukan lampu katoda spesifik (hallow cathode). berarti memperoleh lebih banyak energi.Untuk analisis kualitatif. yang pada saat itu menelaah garis-garis hitam pada spetrum matahari. Monokromatornya dapat tak semahal monokromator spektrofotometer biasa yang sepadan kualitasnya. Metode ini sangat tepat untuk analisis Zat pada konsentrasi rendah. Misalkan Natrium menyerap pada 589 nm.kemonokromatisan dalam ASS merupakan sarat utama.unsur-unsur dengan energi eksitasi dapat juga dianalisis dengan fotometri nyala. Dapat dikatakan bahwa metode fotometri nyala dan AAS merupakan komplomenter satu sama lainnya. Sedangkan yang mememfaatkan prinsip serapan atom pada bidang analisis adalah seorang Australia bernama Alan Walsh di tahun 1995. Satu-satunya tuntutan adalah bahwa monokromator itu melewatkan garis resonan yang dipilih.fotometri nyala sangat berguna sedangkan antara 200300 nm metode ASS lebih baik daripada fotometri nyala.PEMBAHASAN 2. Tingkat-tingkat . Dengan absorpsi energi. Metode AAS berprinsip pada absorpsi cahaya oleh atom . uranium pada 358.5 nm sedangkan kalium pada 766.tetapi untuk unsure-unsur dengan energi eksitasi tinggi hanya dapat dilakukan dengan fotometri nyala Untuk analisis dengan garis spectrum resonansi antara 400-800 nm. Cahaya pada gelombang ini mempunyai cukup energi untuk mengubah tingkat elektronik suatu atom. karena kurang dituntut. suatu atom pada keadaan dasar dinaikkan tingkat energinya ke tingkat eksitasi. Atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelaombang tertentu. Teknik ini mempunyai beberapa kelebihan di bandingkan metode spektroskopi emisi konvensional.Memang selain dengan metode serapan atom.5 nm. Dari segi biaya AAS lebih mahal dari fotometri nyala berfilter. Komponen-komponen lainnya dari sebuah spektrofotometer serapan atom adalah konfensional sifatnya. kemudian segera di gantikan dengan Spektroskopi Serapan Atom atau Atomic Absorption Spectroscopy (ASS).1 Teori Singkat Spektroskopi Serapan Atom (SSA) Sejarah singkat tentang serapan atom pertama kali diamati oleh Frounhofer.metode fotometri nyala lebih disukai dari ASS. Beberapa cara ini yang sulit dan memakan waktu. tergantung pada sifat unsurnya. Sebelum ahli kimia banyak tergantung pada cara-cara spektrofotometrik atau metode analis spektrografik. tanpa dibarengi garis-garis lain dalam spektrum sumber cahaya yang timbul dari katode logam atau gas lambannya.

Garis-garis lain yang bukan garis resonansi dapat berupa spektrum yang berasosiasi dengan tingkat energi molekul. Sinar UV atau Vis yang diabsorpsi berasal dari emeisi cahaya logam yang terdapat pada sumber energi “HOLLOW CATHODE”. biasanya berupa pita-pita lebar ataupun garis tidak berasal dari eksitasi tingkat dasar yang disebabkan proses atomisasinya.2 eV ataupun ketingkat 4p dengan energi 3. Sekitar 67 unsur telah dapat ditentukan dengan cara AAS. kemudian dengan metoda spektrofotometri UV-VIS. Besarnya intensitas cahaya yang diemisikan sebanding dengan konsentrasi sampel (berupa atom) yang terdapat pada nyala api. Elektron ini dapat tereksitasi ketingkat 3p dengan energi 2. sekarang banyak diganti dengan metoda AAS.6 eV. Sinar yang berasal dari “HOLLOW CATHODE” diserap oleh atom-atom logam yang terdapat dalam nyala api. Apabila electron kembali ke keadaan dasar “GROUND STATE” maka akan mengemisikan cahayanya. Prinsip pengukuran dengan metode AAS adalah adanya absorpsi sinar UV atau Vis oleh atom-atom logam dalam keadaan dasar yang terdapat dalam “bagian pembentuk atom”. . Misalnya unsur Na dengan nomor atom 11 mempunyai konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6 3s1. sehingga konfigurasi atom tersebut menjadi keadaan tereksitasi. masing-masing sesuai dengan panjang gelombang sebesar 589nm dan 330 nm. yang dikenal dengan garis resonansi.eksitasinya pun bermacam-macam. Pengertian Atomic Absorption Spectrometry Spektrofotometri Serapan atom (AAS) adalah suatu metode analisis untuk penentuan unsurunsur logam dan metaloid yang berdasarkan pada penyerapan (absorpsi) radiasi oleh atomatom bebas unsur tersebut. artinya tidak memiliki kelebihan energi. Kita dapat memilih diantara panjang gelombang ini yang menghasilkan garis spektrum yang tajam dan dengan intensitas maksimum. tingkat dasar untuk elektron valensi 3S. Banyak penentuan unsur-unsur logam yang sebelumnya dilakukan dengan metoda polarografi.

merupakan sel absorpsi yang menghasilkan sampel berupa atom-atom Monokromator. analisi kuantitatif suatu sampel berdasarkan Hukum Lambert-Beer. 2) 3) 4) 5) Nyala Api. yaitu : A=εbC Keterangan: – A = absorbansi ε = absorptivitas molar b = lebar sampel yang dilalui sinar C = Konsentrasi zat Rumusan hokum Lambert Beer menunjukan bahwa besarnya nilai absorbansi berbanding lurus (linear) dengan konsentrasi. STANDAR STANDAR BIASA ADISI 1. biasanya dalam bentuk “ HOLLOW CATHODE” yang mengemisikan spectrum sinar yang akan diserap oleh atom.Pengukuran . untuk mengukur intensitas sinar dan memperkuat sinyal Readout. 1. kelinieran hokum Lamber-Beer umumnya hanya terbatas pada nilai absorban 0.8. Berdasarkan penelitian. untuk mendispersikan sinar dengan panjang gelombang tertentu Detektor.2 sampai dengan 0.Ada lima komponen dasar alat SSA : 1) SUMBER SINAR. Hukum Lambert Beer dapat diterapkan pada metode standar biasa dan metode standar adisi. Pengukuran 1. gambaran yang menunjukan pembacaan setelah diproses oleh alat elektronik Seperti umumnya pada peralatan spectrometer.

kemudian diubah menjadi sinyal yang terukur.Cara penentuan konsentrasi sampel 1. Pada kalibrasinya hanya ada ada slop 1. proses penguraian molekul menjadi atom dengan batuan energi dari api atau listrik. Panjang gelombang sinar bergantung pada konfigurasi elektron dari atom sedangkan intensitasnya bergantung pada jumlah atom dalam keadaan dasar. pada tahap ini atom akan berada pada keadaan tereksitasi. Prinsip Dasar Prinsip dasar dari pengukuran secara AAS ini adalah. Atom yang berada dalam keadaan dasar ini bisa menyerap sinar yang dipancarkan oleh sumber sinar.Pada kurva kalibrasinya kurva selain ada slop juga intersep 3.sampel standar sampel dan standar dilakukan dilakukan terpisah secara secara dan bersamaan 2. Cara diplotkan kurva ke penentuan konsentrasi sampel kalibrasi langsung diplotkan secara ke kurva kalibrasi langsung tidak 1. 2. 3. . Sinar yang tidak diserap oleh atom akan diteruskan dan dipancarkan pada detektor. dengan demikian AAS dapat digunakan baik untuk analisa kuantitatif maupun kualitatif. b.

Adanya absorpsi atau emisi radiasi disebabkan adanya transisi elektronik yaitu perpindahan electron dalam atom. dari tingkat energi yang satu ke tingkat energi yang lain. elektron akan kembali ke tingkat energi dasar sambil mengeluarkan energi yang berbentuk radiasi. Interaksi ini menimbulkan prosesproses dalam atom bebas yang menghasilkan absorpsi dan emisi (pancaran) radiasi dan panas. energi kimia dan energi listrik. Radiasi yang dipancarkan bersifat khas karena mempunyai panjang gelombang yang karakteristik untuk setiap atom bebas. Penyerapan tersebut menyebabkan tereksitasinya elektron dalam kulit atom ke tingkat energi yang lebih tinggi. Dalam AAS. Keadaan ini bersifat labil. Absorpsi radiasi terjadi apabila ada elektron yang mengabsorpsi energi radiasi sehingga berpindah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Tak ada satupun unsur dalam susunan berkala yang radiasi resonansinya menyamai unsur lain. Panjang gelombang dari radiasi yang menyebabkan eksitasi ke tingkat eksitasi tingkat-1 disebut panjang gelombang radiasi resonansi. . energi elektromagnetik. Emisi terjadi apabila ada elektron yang berpindah ke tingkat energi yang lebih rendah sehingga terjadi pelepasan energi dalam bentuk radiasi.Spektrofotometri serapan atom (AAS) adalah suatu metode analisis yang didasarkan pada proses penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berada pada tingkat energi dasar (ground state). sebaliknya atom X tidak dapat mengabsorpsi radiasi resonansi unsur Y. Radiasi ini berasal dari unsur logam/metalloid. Radiasi resonansi dari unsur X hanya dapat diabsorpsi oleh atom X. atom bebas berinteraksi dengan berbagai bentuk energi seperti energi panas.

Tingginya suhu nyala yang diperlukan untuk atomisasi setiap unsure berbeda. Atomisasi dengan nyala Suatu senyawa logam yang dipanaskan akan membentuk atom logam pada suhu ± 1700 ºC atau lebih. Syarat-syarat gas yang dapat digunakan dalam atomisasi dengan nyala: • Campuran gas memberikan suhu nyala yang sesuai untuk atomisasi unsur yang akan dianalisa . c. Sampel yang berbentuk cairan akan dilakukan atomisasi dengan cara memasukan cairan tersebut ke dalam nyala campuran gas bakar.Hal inilah yang menyebabkan metode AAS sangat spesifik dan hampir bebas gangguan karena frekuensi radiasi yang diserap adalah karakteristik untuk setiap unsur. Beberapa unsur dapat ditentukan dengan nyala dari campuran gas yang berbeda tetapi penggunaan bahan bakar dan oksidan yang berbeda akan memberikan sensitivitas yang berbeda pula. Gangguan hanya akan terjadi apabila panjang radiasi resonansi dari dua unsur yang sangat berdekatan satu sama lain. Jenis dan tipe AAS Ada tiga cara atomisasi (pembentukan atom) dalam AAS : 1.

Atomisasi dilakukan dengan nyala dari campuran gas yang sesuai dengan unsur yang dianalisa. Persyaratan bila menggunakan pelarut organik : • Tidak mudah meledak bila kena panas • Mempunyai berat jenis > 0.7 g/mL • Mempunyai titik didih > 100 ºC • Mempunyai titik nyala yang tinggi • Tidak menggunakan pelarut hidrokarbon Pembuatan atom bebas dengan menggunakan nyala (Flame AAS) . Standar dan sampel harus dipersiapkan dalam bentuk larutan dan cukup stabil. Hal-hal yang harus diperhatikan pada atomisasi dengan nyala : 1.• Tidak berbahaya misalnya tidak mudah menimbulkan ledakan. Banyaknya atom dalam nyala tergantung pada suhu nyala. N2O : C2H2 (suhu nyala 2700 – 3000 ºC). 2. Udara : propana (suhu nyala 1700 – 1900 ºC). tidak beracun dan mudah dikendalikan • Gas cukup murni dan bersih (UHP) Campuran gas yang paling umum digunakan adalah Udara : C2H2 (suhu nyala 1900 – 2000 ºC). • Gas cukup aman. Dianjurkan dalam larutan dengan keasaman yang rendah untuk mencegah korosi. Suhu nyala tergantung perbandingan gas bahan bakar dan oksidan. 3.

Atomisasi tanpa nyala Atomisasi tanpa nyala dilakukan dengan mengalirkan energi listrik pada batang karbon (CRA – Carbon Rod Atomizer) atau tabung karbon (GTA – Graphite Tube Atomizer) yang mempunyai 2 elektroda. Se. suhu furnace dinaikkan bertahap sampai terjadi dekomposisi dan penguapan senyawa organik yang ada dalam sampel sehingga diperoleh garam atau oksida logam • Pengatoman (atomization) 3. pemanasan larutan sampel melalui tiga tahapan yaitu : • Tahap pengeringan (drying) untuk menguapkan pelarut • Pengabuan (ashing). . Atomisasi dengan pembentukan senyawa hidrida Atomisasi dengan pembentukan senyawa hidrida dilakukan untuk unsur As.Contoh: Suatu larutan MX. Sampel dimasukan ke dalam CRA atau GTA. Sb yang mudah terurai apabila dipanaskan pada suhu lebih dari 800 ºC sehingga atomisasi dilakukan dengan membentuk senyawa hibrida berbentuk gas atau yang lebih terurai menjadi atomatomnya melalui reaksi reduksi oleh SnCl2 atau NaBH4. contohnya merkuri (Hg). Arus listrik dialirkan sehingga batang atau tabung menjadi panas (suhu naik menjadi tinggi) dan unsur yang dianalisa akan teratomisasi. setelah dinebulisasi ke dalam spray chamber sehingga terbentuk aerosol kemudian dibawa ke dalam nyala oleh campuran gas oksidan dan bahan bakar akan mengalami proses atomisasi 2. Suhu dapat diatur hingga 3000 ºC.

Radiasi ini yang dilewatkan melalui atom yang berada dalam nyala. Elektroda lampu katoda berongga biasanya terdiri dari wolfram dan katoda berongga dilapisi dengan unsur murni atau campuran dari unsur murni yang dikehendaki. Gas pengisi yang biasanya digunakan ialah Ne. Sumber radiasi resonansi Sumber radiasi resonansi yang digunakan adalah lampu katoda berongga (Hollow Cathode Lamp) atau Electrodeless Discharge Tube (EDT). arus listrik yang terjadi menimbulkan ionisasi gas-gas pengisi. diisi dengan gas pengisi yang dapat menghasilkan proses ionisasi. Ion-ion gas yang bermuatan positif ini menembaki atom-atom yang terdapat pada katoda yang menyebabkan tereksitasinya atomatom tersebut.Monokromator 4.Sumber radiasi berupa lampu katoda berongga 2. Bagian-Bagian Spectrometry AAS dan fungsinya Skema peralatan AAS 1.Atomizer yang terdiri dari pengabut dan pembakar 3.Detektor 5. .Rekorder a. Atom-atom yang tereksitasi ini bersifat tidak stabil dan akan kembali ke tingkat dasar dengan melepaskan energy eksitasinya dalam bentuk radiasi. Ar atau He. Tanung lampu dan jendela (window) terbuat dari silika atau kuarsa. Pemancaran radiasi resonansi terjadi bila kedua elektroda diberi tegangan.as4.

• Spray chamber berfungsi untuk membuat campuran yang homogen antara gas oksidan. Monokromator Setelah radiasi resonansi dari lampu katoda berongga melalui populasi atom di dalam nyala. Pemilihan atau pemisahan radiasi tersebut dilakukan oleh monokromator. Detektor Detektor berfungsi mengukur radiasi yang ditransmisikan oleh sampel dan mengukur intensitas radiasi tersebut dalam bentuk energi listrik. masuk ke dalam nyala. . Monokromator berfungsi untuk memisahkan radiasi resonansi yang telah mengalami absorpsi tersebut dari radiasi-radiasi lainnya. sedangkan titik kabut yang besar dialirkan melalui saluran pembuangan. Atomizer Atomizer terdiri atas Nebulizer (sistem pengabut). spray chamber dan burner (sistem pembakar) • Nebulizer berfungsi untuk mengubah larutan menjadi aerosol (butir-butir kabut dengan ukuran partikel 15 – 20 µm) dengan cara menarik larutan melalui kapiler (akibat efek dari aliran udara) dengan pengisapan gas bahan bakar dan oksidan. c.b. energy radiasi ini sebagian diserap dan sebagian lagi diteruskan. Monokromator terdiri atas sistem optik yaitu celah. gas pengisi lampu katoda berongga atau logam pengotor dalam lampu katoda berongga. • Burner merupakan sistem tepat terjadi atomisasi yaitu pengubahan kabut/uap garam unsur yang akan dianalisis menjadi atom-atom normal dalam nyala. Fraksi radiasi yang diteruskan dipisahkan dari radiasi lainnya. Radiasi lainnya berasal dari lampu katoda berongga. d. Partikel-partikel kabut yang halus kemudian bersama-sama aliran campuran gas bahan bakar. disemprotkan ke ruang pengabut. cermin dan kisi. bahan bakar dan aerosol yang mengandung contoh sebelum memasuki burner.

dan lampu diletakkan pada tempat busanya di dalam kotaknya lagi. lamanya waktu pemakaian dicatat. Sebaiknya setelah selesai penggunaan. seperti lampu katoda Cu. dan dus penyimpanan ditutup kembali. hanya saja harganya lebih mahal. akan mudah tereksitasi. Bagian yang hitam ini merupakan bagian yang paling menonjol dari ke-empat besi lainnya. Lampu katoda terbagi menjadi dua macam. 1. Lampu Katoda Lampu katoda merupakan sumber cahaya pada AAS. yang lebih menonjol digunakan untuk memudahkan pemasangan lampu katoda pada saat lampu dimasukkan ke dalam soket pada AAS. hanya bisa digunakan untuk pengukuran unsur Cu. f. Lampu katoda memiliki masa pakai atau umur pemakaian selama 1000 jam. 1. maka lampu dilepas dari soket pada main unit AAS. Tabung Gas . Cara pemeliharaan lampu katoda ialah bila setelah selesai digunakan. agar tidak ada ruang kosong untuk keluar masuknya gas dari luar dan keluarnya gas dari dalam.e. Lampu katoda berfungsi sebagai sumber cahaya untuk memberikan energi sehingga unsur logam yang akan diuji. Soket pada bagian lampu katoda yang hitam. karena bila ada gas yang keluar dari dalam dapat menyebabkan keracunan pada lingkungan sekitar. g. Lampu katoda pada setiap unsur yang akan diuji berbeda-beda tergantung unsur yang akan diuji. yaitu : Lampu Katoda Monologam : Digunakan untuk mengukur 1 unsur Lampu Katoda Multilogam : Digunakan untuk pengukuran beberapa logam sekaligus. Selotip ditambahkan. Rekorder Sinyal listrik yang keluar dari detektor diterima oleh piranti yang dapat menggambarkan secara otomatis kurva absorpsi.

Spedometer pada bagian kanan regulator merupakan pengatur tekanan yang berada di dalam tabung. maka tabung gas tersebut positif bocor. karena minyak akan dapat menyebabkan saluran gas tersumbat. Gas asetilen pada AAS memiliki kisaran suhu ± 20. yaitu dengan mendekatkan telinga ke dekat regulator gas dan diberi sedikit air. sehingga tidak akan ada serangga atau binatang lainnya yang dapat masuk ke dalam ducting.000K. menandakan ducting tertutup. tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar.Tabung gas pada AAS yang digunakan merupakan tabung gas yang berisi gas asetilen. i. maka menendakan bahwa tabung gas bocor. Bila terdengar suara atau udara. dan ada gas yang keluar. agar asap yang dihasilkan oleh AAS. dan mengeluarkannya melalui cerobong asap yang terhubung dengan ducting 1. dan ada juga tabung gas yang berisi gas N2O yang lebih panas dari gas asetilen. diolah sedemikian rupa di dalam ducting. h. untuk pengecekkan. Karena bila ada serangga atau binatang lainnya yang masuk ke dalam ducting . dan gas yang berada di dalam tabung. menekan bagian kecil pada ducting kearah miring. Regulator pada tabung gas asetilen berfungsi untuk pengaturan banyaknya gas yang akan dikeluarkan. yaitu dengan menutup bagian ducting secara horizontal. Bila ada. agar polusi yang dihasilkan tidak berbahaya.000K. Gas didalam tabung dapat keluar karena disebabkan di dalam tabung pada bagian dasar tabung berisi aseton yang dapat membuat gas akan mudah keluar. Pengujian untuk pendeteksian bocor atau tidaknya tabung gas tersebut. Asap yang dihasilkan dari pembakaran pada AAS. Kompresor . jangan menggunakan minyak. Ducting berfungsi untuk menghisap hasil pembakaran yang terjadi pada AAS. karena bila lurus secara horizontal. maka dapat menyebabkan ducting tersumbat. agar bagian atas dapat tertutup rapat. Sebaiknya pengecekkan kebocoran. dengan kisaran suhu ± 30. 1. Cara pemeliharaan ducting. yang langsung dihubungkan pada cerobong asap bagian luar pada atap bangunan. Hal lainnya yang bisa dilakukan yaitu dengan memberikan sedikit air sabun pada bagian atas regulator dan dilihat apakah ada gelembung udara yang terbentuk. selain gas juga memiliki tekanan. Penggunaan ducting yaitu. Ducting Ducting merupakan bagian cerobong asap untuk menyedot asap atau sisa pembakaran pada AAS.

hal ini merupakan proses pencucian pada aspirator dan burner setelah selesai pemakaian. dan dapat terbakar pada pemantik api secara baik dan merata.posisi ke kanan. sedangkan tombol yang kanan merupakantombol pengaturan untuk mengatur banyak/sedikitnya udara yang akan disemprotkan ke burner. selang aspirator dimasukkan ke dalam botol yang berisi aquabides selama ±15 menit. dimana pada lobang inilah awal dari proses pengatomisasian nyala api. akan mengalami eksitasi dari energi rendah ke energi tinggi. sebaiknya ditampung dengan lap. Bila warna api merah. Warna api yang dihasilkan berbeda-beda bergantung pada tingkat konsentrasi logam yang diukur. agar tercampur merata. Bagian pada belakang kompresor digunakan sebagai tempat penyimpanan udara setelah usai penggunaan AAS. Burner Burner merupakan bagian paling terpenting di dalam main unit. atau berfungsi sebagai pengatur tekanan. Logam yang berada di dalam larutan. Uap air yang dikeluarkan. Selang aspirator digunakan untuk menghisap atau menyedot larutan sampel dan standar yang akan diuji. Logam yang akan diuji merupakan logam yang berupa larutan dan harus dilarutkan terlebih dahulu dengan menggunakan larutan asam nitrat pekat. agar bersih. karena alat ini berfungsi untuk mensuplai kebutuhan udara yang akan digunakan oleh AAS. dan posisi ke kiri merupakan posisi tertutup. . Kompresor memiliki 3 tombol pengatur tekanan. oleh karena itu sebaiknya pada saat menekan ke kanan bagian ini. akan memercik kencang dan dapat mengakibatkan lantai sekitar menjadi basah. merupakan posisi terbuka. Perawatan burner yaitu setelah selesai pengukuran dilakukan. Alat ini berfungsi untuk menyaring udara dari luar. Nilai eksitasi dari setiap logam memiliki nilai yang berbeda-beda. pada waktu pembakaran atom. spedo pada bagian tengah merupakan besar kecilnya udara yang akan dikeluarkan. 1. dan aquabides. Sedangkan selang yang kiri. merupakan selang untuk mengalirkan gas asetilen. merupakan lobang pemantik api. dimana pada bagian yang kotak hitam merupakan tombol ON-OFF. Selang aspirator berada pada bagian selang yang berwarna oranye di bagian kanan burner.Kompresor merupakan alat yang terpisah dengan main unit. j. Lobang yang berada pada burner. agar lantai tidak menjadi basah dan uap air akan terserap ke lap. karena burner berfungsi sebagai tempat pancampuran gas asetilen.

Buangan dihubungkan dengan selang buangan yang dibuat melingkar sedemikian rupa. Buangan pada AAS Buangan pada AAS disimpan di dalam drigen dan diletakkan terpisah pada AAS. sehingga kurva yang dihasilkan akan terlihat buruk. Dan warna api paling biru. papan tersebut juga berfungsi agar tempat atau wadah buangan tidak tersenggol kaki. Keunggulan/ Kelebihan AAS Keuntungan metoda AAS adalah: • Spesifik • Batas (limit) deteksi rendah • Dari satu larutan yang sama. isi di dalam wadah jangan dibuat kosong.maka menandakan bahwa terlalu banyaknya gas. beberapa unsur berlainan dapat diukur • Pengukuran dapat langsung dilakukan terhadap larutan contoh (preparasi contoh sebelum pengukuran lebih sederhana. Selain itu. Bila lampu indicator menyala. dan paling panas. Bila buangan sudah penuh. 1. dan sedang berlangsungnya proses pengatomisasian nyala api. karena bila hal ini terjadi dapat mematikan proses pengatomisasian nyala api pada saat pengukuran sampel. D. menandakan bahwa alat AAS atau api pada proses pengatomisasian menyala. agar sisa buangan sebelumnya tidak naik lagi ke atas. agar tidak kering. tetapi disisakan sedikit. merupakan warna api yang paling baik. kecuali bila ada zat pengganggu) • Dapat diaplikasikan kepada banyak jenis unsur dalam banyak jenis contoh. • Batas kadar-kadar yang dapat ditentukan adalah amat luas (mg/L hingga persen) . k. Tempat wadah buangan (drigen) ditempatkan pada papan yang juga dilengkapi dengan lampu indicator.

kadang-kadang demikianlah kasus dengan metaloprotein misalnya. Kurang sempurnanya preparasi sampel. karena terdapat beberapa sumber kesalahan. Pengabuan basa dengan asam nitrat dan perklorat sering kali lebih disukai daripada pengabuan kering mengingat susut karena menguap dari unsur-unsur runutan tertentu (pengabuan kering semata-mata .E. Sering kali teknik ini juga berguna dalam kasus-kasus dimana logam itu berada pada kadar yang cukup didalam sampel itu. diantaranya: Sumber kesalahan pengukuran yang dapat terjadi pada pengukuran menggunakan SSA dapat diprediksikan sebagai berikut : 1. dan teknik ini merupakan alat utama dalam pengkajian yang meliputi logam runutan dalam lingkungan dan dalam sampel biologis. Kelemahan Metode AAS Analisis menggunakan AAS ini terdapat kelemahan. F. Penerapan Spektroskopi Serapan Atom (SSA) Dalam Analisis Kimia Untuk metode serapan atom telah diterapkan pada penetapan sekitar 60 unsur. hal ini disebabkan adanya perbedaan matriks sampel dan matriks standar Aliran sampel pada burner tidak sama kecepatannya atau ada penyumbatan pada jalannya aliran sampel. tetapi hanya tersediasedia sedikit sampel dalam analisis. Laporan pertama mengenai peranan biologis yang penting untuk nikel didasarkan pada penetapan dengan serapan atom bahwa enzim urease. 1. Sering kali tahap pertama dalam analisis sampelsampel biologis adalah mengabukan untuk merusak bahan organik. seperti : Proses destruksi yang kurang sempurna Tingkat keasaman sampel dan blanko tidak sama Kesalahan matriks. sekurang-kurangnya dari organisme pada dua ion nikel per molekul protein. Gangguan kimia berupa : Disosiasi tidak sempurna Ionisasi Terbentuknya senyawa refraktori 1.

. serapan atom menyolok sekali bebasnya dari gangguan. Baik jauhnya disosiasi menjadi atom-atom pada suatu temperatur tertentu maupun laju proses bergantung sekali pada komposisi keseluruhan dari sampel. Misalnya jika suatu larutan kalsium klorida dikabutkan dan dilarutkan partikel-partikel halus CaCl2 padat akan berdisosiasi menghasilkan atom Ca dengan jauh lebih mudah daripada paertikel kalsium fosfat. Kemudian serapan atom dilakukan terhadap larytan pengabuan basa atau terhadap larutan yang dibuat dari residu pengabuan kering. namun biasanya untuk menemukan suatu garis resonansi untuk suatu unsur tertentu.adalah pemasangan sampel dalam satu tanur untuk mengoksidasi bahan organik). Ini berarti bahwa tidak ada dua unsur yang memperagakan garis-garis spektral yang eksak sama panjang gelombangnya. Sering kali terdapat garis-garis untuk satu unsur yang sangat dekat pada beberapa garis unsur yang lain. G. Gangguan-Gangguan Dalam Metode AAS • Gangguan kimia Gangguan kimia terjadi apabila unsur yang dianalisis mengalami reaksi kimia dengan anion atau ketion tertentu dengan senyawa yang refraktori. tampak bahwa tekhnik spektroskopi serapan atom masih dalam taraf penyempurnaan 1. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang dieksistensikan dengan makin banyaknya publikasi penelitian dalam bidang spektroskopi serapan atom. 2) penambahan zat kimia lain yang dapat melepaskan kation atau anion pengganggu dari ikatannya dengan analit. Dalam satu segi. Perangkat tingkat-tingkat energi elektronik untuk sebuah atom adalah unit untuk unsur itu. Gangguan utama dalam serapan atom adalah efek matriks yang mempengaruhi proses pengatoman. Zat kimia lain yang ditambahkan disebut zat pembebas (Releasing Agent) atau zat pelindung (Protective Agent). Ca3 (PO4)2. Segi utama serapan atom tentu saja adalah kepekaan. Untuk mengatasi gangguan ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: 1) penggunaan suhu nyala yang lebih tinggi. jika tak terdapat gangguan spektral oleh unsur lain dalam sampel. sehingga tidak semua analit dapat teratomisasi.

• Gangguan Ionisasi Gangguan ionisasi terjadi bila suhu nyala api cukup tinggi sehingga mampu melepaskan elektron dari atom netral dan membentuk ion positif. K dan Na.• Gangguan Matrik Gangguan ini terjadi bila sampel mengandung banyak garam ayau asam. Untuk mengatasi masalah ini dapat dilakukan dengan penambahan larutan unsur yang mudah diionkan atau atom yang lebih elektropositif dari atom yang dianalisis. • Absorpsi Latar Belakang (Back Ground) Absorpsi Latar Belakang (Back Ground) merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan adanya berbagai pengaruh. Pembentukan ion ini mengurangi jumlah atom netral. yaitu dari absorpsi oleh nyala api. atau bila pelarut yang digunakan tidak menggunakan pelarut zat standar. absorpsi molekular. misalnya Cs. tetapi sangat mengganggu dalam analisis kuantitatif. Penambahan ini dapat mencapai 100-2000 ppm. atau bila suhu nyala untuk larutan sampel dan standar berbeda. Rb. Gangguan ini dalam analisis kualitatif tidak terlalu bermasalah. dan penghamburan cahaya. Untuk mengatasi gangguan ini dalam analisis kuantitatif dapat digunakan cara analisis penambahan satandar (Standar Adisi). . sehingga isyarat absorpsi akan berkurang juga.