Revisi Penelitian Experimental

Konsepsi Metode Penelitian Experimental Semu Eko Teguh Pribadi

Gagasan ini muncul ketika saya dihadapkan dengan kewajiban penyelesaian final exam yang berbentuk studi penelitian di bidang kesehatan masyarakat. Banyak penelitian dari mahasiswa lain yang memunculkan berbagai pertanyaan. Salah satu pertanyaan seperti pada uraian sebelumnya bahwa terdapat kecenderungan dalam sebuah penelitian tentang fenomena kesehatan pada suatu kelompok masyarakat akan memunculkan hasil yang mendeskriditkan masyarakat itu sendiri. Dengan penggunaan kalimat keterbatasan pengetahuan, sikap dan nilai yang dianut kurang mendukung, serta perilaku hidup yang buruk dalam term kesehatan. Hampir bisa diprediksikan bahwa penelitian mendatang juga akan memberikan gambaran hasil yang serupa, bahkan ini lebih seperti postdiksi dari pada prediksi. Apakah ada keengganan dari peneliti untuk masuk lebih dalam. Apakah ada keterbatasan dari peneliti untuk masuk lebih jauh dan memandang dengan kaca mata yang lebih komprehensif. Saya tidak mau berspekulasi untuk mendiskusikan hal ini. Dalam studi Ilmu Kesehatan Masyarakat dikenal 2 jenis penelitian. Pertama adalah penelitian kuantitatif berikutnya adalah penelitian kualitatif. Jenis penelitian pertama lebih banyak mendapat fans dari kalangan mahasiswa. Sepanjang saya ketahui penelitian jenis ini berusaha untuk menominalkan ukuran-ukuran individu menjadi input sources sehingga dapat dianalisis menggunakan perangkat statistik. Dengan tujuan melaui hasil statistik tersebut akan didapat penjelasan mengenai fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Bila tidak salah menurut sejarahnya penelitian jenis ini mulai berkembang di Inggris. Kemudian dikenal sebuah istilah “Amelioratif” yaitu suatu usaha untuk menangkap dan menjelaskan fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat dengan menyelidiki gambaran dari masing-masing individu yang berada dan berinteraksi dalam masyarakat tersebut, untuk kemudian diturunkan dalam ukuran angka-angka melalui instrument kunci analisis data statistik. Ilmu Kesehatan Masyarakat sendiri merupakan satu disiplin ilmu yang lebih cenderung ke arah sosial sciences dari pada scientific sciences, namun pemakaian studi kualitatif untuk menjelaskan fenomena kesehatan yang terjadi pada masyarakat terasa sangat kurang. Mengapa terdapat kecenderungan yang lebih besar pada mahasiswa untuk menggunakan analisis kuantitatif dari pada

namun saya bisa bernafas lega ketika menemukan dukungan dari beberapa tokoh sosiologi klasik seperti Weber. Seperti kita ketahui dalam penelitian experimental selalu mensyaratkan digunakannya beberapa faktor mutlak. Pada beberapa penelitian experimental yang saya baca.5 Minggu 6 . apakah tidak terlalu naïf bila komponen sikap dan perilaku diukur hanya melalui pertanyaan dengan jawaban setuju atau tidak setuju. misalnya sebuah penelitian tentang “Sejarah Rumah Sakit di Indonesia” atau “Momentum Peralihan Pendekatan Curative ke arah Preventive dalam Perkembangan Kesehatan di Indonesia” atau mungkin “Peranan Belanda dalam Perkembangan Kesehatan di Indonesia” apakah jenis penelitian seperti ini bisa diakomodir oleh Fakultas ini. terlebih dalam kajian ilmu perilaku kesehatan sering dijumpai suatu hasil akhir yang sampai saat ini belum saya ketemukan relevansi logisnya. Beberapa buku menyebutnya sebagai Studi Literatur. terlebih lagi bila memaksakan diri untuk memberikan label angka pada tiap-tiap individu tersebut. Saya selalu berfikir bahwa untuk mengetahui suatu fenomena dalam masyarakat akan lebih realistis bila subyek yang diteliti adalah masyarakat dan hubungannya secara utuh serta sistem yang bekerja atasnya. Apakah tidak sebaiknya analisis kuantitatif dijadikan sebagai instrument pendamping di samping instrument utama analisis kualitatif. dan Durkheim. yaitu : • Intervensi atau Perlakuan Perlakuan Experiment KelompokControl • Kelompok Experiment dan Kelompok • Pretest dan Posttest Pretest Subjec t Posttest Subjec t Kelompok Control Tanpa Perlakuan (Placebo) Minggu 1 Minggu 2 . Bila terdapat mahasiswa yang mengajukan suatu judul penelitian yang bersifat historical review. Comte.kualitatif dalam penelitian yang mereka lakukan. Banyak keberatan atas pandangan ini. Berikutnya adalah pertanyaan mengenai satu jenis penelitian yang kurang populer di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Walaupun demikian secara pribadi saya masih lebih mengandalkan penggunaan analisis kualitatif dalam menjelaskan suatu fenomena kesehatan yang terjadi dalam masyarakat. di mana pada penelitian jenis ini tidak mutlak mensyaratkan penggunaan sumber informasi dan subyek manusia dalam studinya. Dalam ilmu perilaku misalnya. tentu butuh pertimbangan lebih untuk menurunkannya pada tingkatan individu.

Juga dimaksudkan untuk menentukan metode dan instrument experiment. sikap. sedangkan yang tepat dalam pemberian intervensi pada kelompok kelompok control tidak diberikan perlakuan atau diberikan semacam . serta posttest untuk mengetahui dampak sesudah perlakuan. • Dalam studi ilmu perilaku ada kecenderungan di mana variabel yang diukur dan ingin diketahui perubahannya adalah pengetahuan. dan kelompok experiment yang diberikan perlakuan. Saya tidak akan memberi komentar negatif untuk penelitian jenis ini terlebih lagi dengan kapasitas saya yang kata beberapa kawan masih hijau dan butuh latihan otak lagi. • Hanya placebo. Peer Group.Bagan Metode Experimental Tanpa Modifikasi Keterangan : • Dilakukan penggalian data awal terhadap subyek penelitian sebelum pretest dilakukan baik melalui indept interview maupun FGD untuk mendapatkan informasi mengenai keadaan awal dari subyek serta hal lain berkaitan dengan penelitian. • Subyek penelitian dibagi dalam dua kelompok (experiment dan control). • Subjek penelitian kelompok experimental dan kelompok control diberikan pretest untuk mengetahui gambaran awal. memenuhi syarat ilmiah. • Dalam studi ilmu perilaku jenis intervensi bisa berupa penggunaan media dengan metode P Process. • Jangka waktu penelitian yang sering saya baca antara 1 . Simulasi. serta perilaku dari subyek. Memang metode ini telah teruji. • Instrument dan desain test (pre dan post)harus sama. atau metode lain sesuai dengan tema penelitian.2 bulan disesuaikan dengan tujuan.

Juga apakah metode ini benar-benar sanggup memberikan perubahan pada tataran pengetahuan. dan perilaku individu yang ada dalam masyarakat. Saya memiliki beberapa tesis untuk menangkap kondisi ini. Karena saya mampu menjawab sebagian besar dari pertanyaan ujian sesuai dengan apa yang saya baca pada malam sebelumnya. intervensi. Saya sebagaimana juga mahasiswa lainnya dikondisikan untuk belajar secara instant agar dapat memberikan jawaban yang benar terhadap soal yang diujikan. dan tentu saja ada harapan akan munculnya anti tesis dari mereka yang berkenan mengajukannya. dan mungkin juga dari tesis dan anti tesis tersebut akan didapatkan suatu sintesis baru. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah seberapa kuat metode ini dalam konteks studi ilmu perilaku dan promosi kesehatan akan mampu menangkap fakta aktual tentang pengetahuan. 1. maka bisa dipastikan nilai saya untuk mata kuliah tersebut cukup memuaskan. Semoga saja kondisi ini tidak terjadi pada subyek penelitian seperti saya maksud di atas. Saya tidak mampu menjawabnya dan bahkan tidak tahu apakah pertanyaan yunior saya memiliki relevansi dengan ilmu kesehatan masyarakat. dan perilaku individu dengan menggunakan apapun jenis dan bentuk intervensinya. Tidak mengejutkan bagi saya bila dengan melakukan intervensi apapun bentuknya akan mampu memberikan perubahan pada tingkat pengetahuan subyek tentang suatu hal. memperbaiki. serta mengembangkan pengetahuan. Hasil posttest pada kelompok perlakuan sering memberikan gambaran yang menggembirakan.memiliki landasan teori yang kuat. sikap. Karena bagi saya ukuran tingkat pengetahuan subyek adalah bagaimana subyek menyimpan. Perlu diperhatikan adalah rentang waktu antara pretest. Bahkan saya tidak berani membayangkan bagaimana mungkin pada beberapa penelitian mahasiswa dengan penggunaan metode jenis ini yang memakan waktu aktif 1 hingga 2 bulan. sikap. ternyata mampu memberikan perubahan positif pada subyek yang terlihat pada perbedaan hasil pretest dan posttest untuk komponen pengetahuan. dan perilaku. dan bukan pada nilai . sikap. yang dibuktikan dengan adanya perbedaan antara hasil pretest dan posttest antara kelompok perlakuan dan non perlakuan. Saya ingat akan suatu masa di mana saya dan beberapa kawan akan menghadapi ujian semester. dan posttest yang cenderung sangat singkat. Dua semester berikutnya seorang yunior menanyakan pertanyaan yang sangat mirip dengan pertanyaan yang diujikan waktu itu.

Juga harus dipahami bahwa bila subyek penelitian adalah masyarakat awam. Saya teringat ketika seorang raksasa pemikiran post modernis Michael Foucault menghabiskan hampir 2 tahun masa hidupnya untuk meneliti perilaku homoseksual di salah satu sudut kota San Fransisco. dinamis. Untuk hal ini saya tidak akan berkomentar. dan sangat tidak setuju yang sebelumnya telah diberi skor. mereka memiliki kecenderungan untuk memposisikan interviewer sebagai sosok yang memiliki otoritas. akan sangat berbeda bila pertanyaan berasal dari kawan. atau dari ibu saya. cair. Beberapa ahli mencoba menyiasati dengan memberikan pelatihan khusus tata cara dan metode pelaksanaan interview agar hasil yang didapat sesuai dengan kenyataan.jawaban benar yang diberikan subyek saat posttest yang dilakukan beberapa waktu setelah intervensi. bukan karena saya tidak mau untuk melakukannya tetapi karena memang saya tidak mampu mengomentarinya. Dan bila saya dipaksa untuk tetap berkomentar. ragu-ragu. siswa. seberapa reliable jawaban yang diberikan subyek atau seberapa kuat seorang peneliti mampu menangkap reliability dari peryataan subyek. Apakah ada pertanyaan mengapa responden lebih sering menjawab ragu-ragu bila item ini tetap dimasukkan. Namun untuk diketahui saya sangat skeptic dengan ide perubahan perilaku seperti ini. 2. karena ada kecenderungan subyek akan menutupi sikap yang dirasakan negatif dan memberikan peryataan yang justru berlawanan. Sederhana saja sikap bukanlah komponen pasif. komentar itu pasti lebih sulit dicerna oleh perasaan dibandingkan dua komentar sebelumnya. tidak setuju. Namun berapa jumlah mahasiswa yang mengikuti pelatihan jenis ini. Dan hal ini akan sangat berpengaruh pada jawaban yang diberikan olehnya. Dengan mengajukan pertanyaan tentang sikap terhadap subyek penelitian. Variabel sikap biasanya diukur dengan menggunakan skala sikap dengan peryataan sangat setuju. dan remaja. Belakangan untuk penyataan raguragu ini sendiri telah dihapus untuk menghindari penumpukan jawaban pada item ragu-ragu (di tengah). Peryataan sikap saya terhadap pola pacaran sehat misalnya. Dengan menggunakan metode penelitian experimental yang dilaksanakan dalam waktu yang sangat terbatas ternyata dapat membuat seorang peneliti berandai-andai untuk mendapatkan hasil perubahan perilaku pada subyek penelitian. sikap memiliki kecenderungan berubah. dan menyesuaikan pada kondisi di mana individu berada. setuju. dosen. . 3.

dan bila ternyata perubahan pada tingkat pengetahuan. Saya coba ajukan 2 metode yang merupakan modifikasi dari metode experimental. Sangat naif dan tidak dapat ditoleransi bila di sini saya hanya melakukan kritik terhadap metode tanpa menawarkan suatu metode baru sebagai jawaban. SelainPosttest itu pada Posttest Pretest 1 2 interview terhadap 3 tahapan posttest ke dua dan ke tiga dimasukkan juga Kelompo Kelompo Subjec Subjec k k subyek t untuk menghindari bias terhadap hasil t posttest.5 Minggu 6 Minggu 10 Minggu Experime nt Interview Experime nt Interview . Perlu juga dipahami sebelumnya ini bukan sekedar kritik tetapi lebih seperti autokritik karena dalam banyak hal saya juga melakukan kesalahan yang sama. Harus ditekankan bahwa saya tidak melakukan kritik atas filosofi dasar penelitian experimental.3 kali posttest Sebenarnya ini modifikasi sederhana dengan menambahkan 2 . betapa praktis penggunaan pengetahuan bahkan untuk mempelajari mahluk sekompleks manusia. Perhatian saya lebih dititikberatkan pada pelaksanaan posttest. intervensi. dan perilaku masyarakat dengan hanya mengandalkan sisi praktisnya saja tanpa ada modifikasi dan penyesuaian-penyesuaian. Kelompok Control Tanpa Perlakuan (Placebo) Minggu 1 Minggu 2 . yang Kelompok artinya juga terdapat penambahan rentang waktu penelitian. Experimental Research dengan 2 . dan betapa miskin pengetahuan yang hinggap di kepala saya. serta perilaku subyek ternyata memang terjadi sesuai yang diharapkan dan dinyatakan oleh kebanyakan peneliti.3 kali posttest setelah posttest pertama dilakukan terhadap kelompok experimental. sikap. maupun intensitas perlakuannya. saya hanya mempertanyakan ulang tentang reliabilitas penelitian sejenis dalam disiplin Ilmu Perilaku dan Promosi Kesehatan. rentang waktu. Betapa indah pengetahuan. dan kelompok experiment. Tidak akan sanggup saya sembunyikan ketakjuban ini. 4. betapa hebat manfaat pengetahuan. Pernyataan di atas adalah sebagian pandangan saya terhadap penggunaan metode penelitian experimental dengan berbagai instrument pengukurnya. Bila memang terdapat perubahan significant pada individu dan masyarakat dalam dimensi kesehatan melalui metode di atas tanpa ada modifikasi terhadap proses. paling tidak untuk masa akademik kita saat ini. Experiment Perlakuan Juga tedapat desain ulang terhadap instrument posttest ke dua dan Posttest ke tiga. 1. Bila pandangan yang saya utarakan ternyata jauh dari benar. betapa besar pengetahuan yang mereka miliki. Terlebih lagi bila metode tersebut ditujukan untuk mengukur dan merubah tingkat pengetahuan.Tapi apa boleh buat kita tidak memiliki waktu selama itu. sikap.

Karena item jawaban pada closed question . • Subjek penelitian kelompok experiment dan control diberikan pretest untuk mengetahui gambaran awal. • Instrument dan desain pretest dan posttest 1 harus sama. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kekuatan subyek (kelompok experimental) untuk menerima dan menyimpan informasi pengetahuan yang diberikan saat intervesi.Bagan Metode Experimental Dengan Modifikasi I Keterangan : • Dilakukan penggalian data awal terhadap subyek penelitian sebelum pretest dilakukan untuk mendapatkan informasi awal mengenai subyek. • Posttest 2 dan 3 hanya diberikan pada subyek dari kelompok experiment. sementara untuk questioner dengan closed question perubahan bisa dilakukan dengan mengacak urutan pertanyaan. posttest 2. • Desain posttest 2 dan 3 dapat dirubah tanpa harus merubah substansi dari test. • Subyek penelitian dibagi dalam dua kelompok (experiment dan control). dan posttest 3 adalah masing-masing satu bulan. • Interval antara pelaksanaan posttest 1. Misalnya dengan mengubah redaksional pertanyaan :  Pretest “Apa yang anda ketahui tentang KB?”  Posttest 1 “Apa yang anda ketahui tentang KB?”  Posstest 2 “Jelaskan apa itu KB?”  Posttest 3 “Menurut pengertian anda apa yang dimaksud dengan KB?” Maksud dari perubahan redaksional pada pertanyaan ini adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman subyek terhadap informasi dan pengetahuan yang telah dia terima. Namun perubahan pertanyaan ini hanya efektif pada jenis questioner dengan open question. dan posttest 1 untuk mengetahui dampak sesudah perlakuan.

• Untuk mengukur sikap dan perilaku subyek pasca perlakuan juga terlihat lebih logis. • Jenis dan metode intervensi disesuaikan dengan tema dan tujuan penelitian. dan juga apakah momentum intervensi dapat membangkitkan minat subyek untuk mencari informasi sejenis secara mandiri di luar informasi yang diberikan peneliti. Perubahan perilaku subyekpun bisa diketahui dengan menanyakan peneliti saat intervensi. • Manfaat penggunaan metode ini adalah peneliti mampu untuk menilai dan mengevaluasi kekuatan metode intervensi dalam membentuk dan meningkatkan pengetahuan subyek. • Dengan adanya interval 1 bulan antara tiap posttest peneliti juga dapat mengetahui seberapa besar kemampuan subyek dalam menyimpan informasi. Hal ini dapat diketahui melalui interview yang dilakukan pada saat posttest 2 dan posttest 3. • Interview ini berbeda dengan interview awal sebelum pretest dilakukan. • Jangka waktu penelitian 3 bulan atau disesuaikan dengan tujuan penelitian. ini bisa dilihat dengan membandingkan lembar hasil posttest 1. kelompok experiment kelompok control tidak diberikan perlakuan atau diberikan semacam .tentu saja tidak bisa dirubah atau dimodifikasi karena hal ini terkait dengan analisis pengolahan data. dan dikuasai subyek hanya karena informasi dan pengetahuan tersebut masih fresh dalam ingatannya. Peneliti bisa mengukur sikap subyek dengan menggunakan instrument skala sikap pada setiap posttest dan menguji apakah jawaban subyek atas sikap dan pendiriannya terhadap suatu hal konsisten atau tidak. karena terdapat rentan waktu yang cukup panjang antar tiap posttest. • Bila posttest pada subyek hanya dilakukan satu kali sesudah perlakuan dilakukan hasilnya mungkin kurang reliable. 2. dan 3. sedangkan terhadap hasil penelitian. Interview pada saat dilakukannya posttest 2 dan posttest 3 ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya informasi pengetahuan yang masuk pada subyek (kelompok experimental) di luar informasi dan pengetahuan yang diberikan • Hanya placebo. karena sangat mungkin bahwa informasi dan pengetahuan yang didapatkan subyek (kelompok experiment) melalui intervensi oleh peneliti hanya bersifat temporer. sehingga dapat menghindari bias yang diberikan perlakuan.

• Beberapa peneliti yang juga mahasiswa mungkin mengatakan bahwa metode ini terlalu lama dan tidak sesuai bila dibandingkan dengan waktu yang dijadwalkan kalender akademik untuk penyelesaian kegiatan penelitian yaitu 1 semester. 2 kelompok experiment. Perubahan dilakukan dengan menambah jumlah kelompok experiment menjadi 2 kelompok. di mana intervensi pertama diberikan secara seimbang pada ke dua kelompok experiment. karena waktu 3 bulan untuk melakukan penelitian experimental dengan subyek manusia adalah waktu yang relatif singkat. tetapi bisa meyusun hasil dan melakukan pembahasan lain di luar variabel yang didapat dari hasil posttest. Experimental Research dengan 2 .3 kali posttest. Selama periode antar posttest peneliti tidak harus pasif. bahkan terlalu singkat bila mengingat tujuan penelitian adalah menangkap keadaan real dari subyek manusia dan masyarakat.5 Minggu 6 Minggu 10 Bagan Metode Experimental Dengan Modifikasi II Minggu 14 Keterangan : . Keberatan ini juga saya rasa tidak terlalu masuk akal. 2. dan posttest 3 dilaksanakan. dengan perlakuan yang berkesinambungan Pada dasarnya metode ini sama dengan metode sebelumnya.tentang kebiasaan dan kesehariannya selama periode waktu setelah interversi hingga posttest 1. posttest 2. sedangkan intervensi ke dua dan intervensi ke tiga hanya diberikan pada salah satu kelompok experiment. Perlakuan 1 Kelompok Experiment A Perlakuan 1 Kelompok Experiment B Perlakuan 2 Posttest 1 Subjec t Perlakuan 3 Posttest 3 Kelompok Experimen tB Interview Pretest Subjec t Posttest 2 Kelompok Experimen tB Interview Kelompok Control Tanpa Perlakuan (Placebo) Minggu 1 Minggu 2 . Penelitian ini menggunakan 3 intervensi dengan jenis yang sama. jadi pada metode ini terdapat 1 kelompok control dan 2 kelompok experiment.

maka pada intervensi ke dua dilakukan 2 kali dalam satu bulan (1 kali tiap 2 minggu). interview setelah posttest. Misal jika intervensi pertama yang dilakukan pada ke dua kelompok experiment berlangsung selama 1 bulan dengan frekwensi pemberian materi 4 kali (1 kali tiap 1 minggu). namun juga karakter dan sifat dari metode intervensi. serta materi yang diberikan saat intervensi ke dua dan ke tiga semakin dikurangi atau dipersingkat. namun disinilah letak prinsip dari pemberian intervensi berkesinambungan ini. bila terdapat kondisi di mana :  Kelompok experimental A diberikan sekali intervensi tanpa ada kesinambungan. • Maksud dari diberlakukannya 3 intervensi pada salah satu kelompok experiment ini agar peneliti bisa memperoleh gambaran tentang kekuatan metode intervensi dan pengaruhnya terhadap subyek. Hal ini saya rasa penting karena dalam kenyataannya sering kali para promotor dan pendidik kesehatan masyarakat diharuskan untuk menciptakan dan memilih penggunaan metode serta instrument yang tepat bagi masyarakat sasaran agar tujuan bisa tercapai. • Tentu saja pemberian intervensi yang terus-menerus akan menimbulkan kejenuhan pada kelompok experiment yang di maksud dan sangat mungkin justru memberikan dampak negatif terhadap subyek.  Kelompok experimental B diberikan intervensi secara berkesinambungan. dan pada intervensi ke tiga dilakukan 1 kali dalam 1 bulan. prosedur.3 kali posstest. . • Intervensi ini belaku surut. Namun intervensi ini hanya diberikan pada salah satu kelompok experiment saja saat periode antar posttest. dalam artian walaupun jenis dan instrument intervensi yang diberikan sama namun frekwensi. • Bila pada metode pertama intervensi hanya dilakukan sekali sebelum posttest 1. dilakukannya 2 . Dan tentu saja pemilihan metode dan instrument ini tidak hanya berdasar pada kekuatan metode dan instrumentnya saja tapi juga harus memperhatikan sifat dan karakter metode dan instrument tersebut. intensitas. dan tujuannya relatif sama dengan metode pertama. pelaksanaan. maka kali ini intervensi tetap dilakukan setelah posttest 1 dan posttest 2. waktu penelitian.• Secara umum bentuk perlakuan. Diharapkan peneliti tidak hanya mendapatkan gambaran kekuatan metode intervensi saja.

co. dan ini dilakukan pada setiap tahapan posttest. namun selalu ada sensasi menggembirakan tiap kali saya mampu terbang melampoi batas pemikiran saya sendiri. ke dua uji antara kelompok control dengan kelompok experiment B. apakah ke dua metode tersebut dapat memenuhi syarat-syarat penelitian ilmiah karena memang belum teruji. Meskipun tidak berharap secara berlebihan atas metode saya itu. saya rasa ini masih bisa diantisipasi dengan menggunakan uji silang secara bertahap. By : Eko Teguh Pribadi. Saya tidak terlalu yakin dengan 2 metode yang saya kemukakan di atas. Uji statistik dapat dilakukan secara bertahap. 2008 red_camarade@yahoo. Namun bila memang tidak terdapat perangkat uji statistik dengan 1 kelompok control dengan 2 kelompok experiment. dan ke tiga uji antara kelompok experiment A dengan kelompok experiment B.• Saya kurang yakin apakah terdapat satu bentuk uji statistik yang mampu menguji 1 kelompok control dengan 2 kelompok experiment.id 031 71440055 or 081 75124748 . Karena yang saya pahami selama ini hanya terdapat bentuk uji statistik dengan data dari 1 kelompok control dan 1 kelompok experiment. pertama uji antara kelompok control dengan kelompok experiment A.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful