Revisi Penelitian Experimental

Konsepsi Metode Penelitian Experimental Semu Eko Teguh Pribadi

Gagasan ini muncul ketika saya dihadapkan dengan kewajiban penyelesaian final exam yang berbentuk studi penelitian di bidang kesehatan masyarakat. Banyak penelitian dari mahasiswa lain yang memunculkan berbagai pertanyaan. Salah satu pertanyaan seperti pada uraian sebelumnya bahwa terdapat kecenderungan dalam sebuah penelitian tentang fenomena kesehatan pada suatu kelompok masyarakat akan memunculkan hasil yang mendeskriditkan masyarakat itu sendiri. Dengan penggunaan kalimat keterbatasan pengetahuan, sikap dan nilai yang dianut kurang mendukung, serta perilaku hidup yang buruk dalam term kesehatan. Hampir bisa diprediksikan bahwa penelitian mendatang juga akan memberikan gambaran hasil yang serupa, bahkan ini lebih seperti postdiksi dari pada prediksi. Apakah ada keengganan dari peneliti untuk masuk lebih dalam. Apakah ada keterbatasan dari peneliti untuk masuk lebih jauh dan memandang dengan kaca mata yang lebih komprehensif. Saya tidak mau berspekulasi untuk mendiskusikan hal ini. Dalam studi Ilmu Kesehatan Masyarakat dikenal 2 jenis penelitian. Pertama adalah penelitian kuantitatif berikutnya adalah penelitian kualitatif. Jenis penelitian pertama lebih banyak mendapat fans dari kalangan mahasiswa. Sepanjang saya ketahui penelitian jenis ini berusaha untuk menominalkan ukuran-ukuran individu menjadi input sources sehingga dapat dianalisis menggunakan perangkat statistik. Dengan tujuan melaui hasil statistik tersebut akan didapat penjelasan mengenai fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Bila tidak salah menurut sejarahnya penelitian jenis ini mulai berkembang di Inggris. Kemudian dikenal sebuah istilah “Amelioratif” yaitu suatu usaha untuk menangkap dan menjelaskan fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat dengan menyelidiki gambaran dari masing-masing individu yang berada dan berinteraksi dalam masyarakat tersebut, untuk kemudian diturunkan dalam ukuran angka-angka melalui instrument kunci analisis data statistik. Ilmu Kesehatan Masyarakat sendiri merupakan satu disiplin ilmu yang lebih cenderung ke arah sosial sciences dari pada scientific sciences, namun pemakaian studi kualitatif untuk menjelaskan fenomena kesehatan yang terjadi pada masyarakat terasa sangat kurang. Mengapa terdapat kecenderungan yang lebih besar pada mahasiswa untuk menggunakan analisis kuantitatif dari pada

yaitu : • Intervensi atau Perlakuan Perlakuan Experiment KelompokControl • Kelompok Experiment dan Kelompok • Pretest dan Posttest Pretest Subjec t Posttest Subjec t Kelompok Control Tanpa Perlakuan (Placebo) Minggu 1 Minggu 2 . Bila terdapat mahasiswa yang mengajukan suatu judul penelitian yang bersifat historical review. Pada beberapa penelitian experimental yang saya baca. Banyak keberatan atas pandangan ini. Saya selalu berfikir bahwa untuk mengetahui suatu fenomena dalam masyarakat akan lebih realistis bila subyek yang diteliti adalah masyarakat dan hubungannya secara utuh serta sistem yang bekerja atasnya. namun saya bisa bernafas lega ketika menemukan dukungan dari beberapa tokoh sosiologi klasik seperti Weber. dan Durkheim. Walaupun demikian secara pribadi saya masih lebih mengandalkan penggunaan analisis kualitatif dalam menjelaskan suatu fenomena kesehatan yang terjadi dalam masyarakat. Dalam ilmu perilaku misalnya. di mana pada penelitian jenis ini tidak mutlak mensyaratkan penggunaan sumber informasi dan subyek manusia dalam studinya. Berikutnya adalah pertanyaan mengenai satu jenis penelitian yang kurang populer di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.5 Minggu 6 . Beberapa buku menyebutnya sebagai Studi Literatur. Seperti kita ketahui dalam penelitian experimental selalu mensyaratkan digunakannya beberapa faktor mutlak. terlebih lagi bila memaksakan diri untuk memberikan label angka pada tiap-tiap individu tersebut. Comte. misalnya sebuah penelitian tentang “Sejarah Rumah Sakit di Indonesia” atau “Momentum Peralihan Pendekatan Curative ke arah Preventive dalam Perkembangan Kesehatan di Indonesia” atau mungkin “Peranan Belanda dalam Perkembangan Kesehatan di Indonesia” apakah jenis penelitian seperti ini bisa diakomodir oleh Fakultas ini. tentu butuh pertimbangan lebih untuk menurunkannya pada tingkatan individu.kualitatif dalam penelitian yang mereka lakukan. terlebih dalam kajian ilmu perilaku kesehatan sering dijumpai suatu hasil akhir yang sampai saat ini belum saya ketemukan relevansi logisnya. Apakah tidak sebaiknya analisis kuantitatif dijadikan sebagai instrument pendamping di samping instrument utama analisis kualitatif. apakah tidak terlalu naïf bila komponen sikap dan perilaku diukur hanya melalui pertanyaan dengan jawaban setuju atau tidak setuju.

Juga dimaksudkan untuk menentukan metode dan instrument experiment. • Instrument dan desain test (pre dan post)harus sama. Simulasi. memenuhi syarat ilmiah. • Subjek penelitian kelompok experimental dan kelompok control diberikan pretest untuk mengetahui gambaran awal. serta perilaku dari subyek. • Dalam studi ilmu perilaku jenis intervensi bisa berupa penggunaan media dengan metode P Process. • Hanya placebo. atau metode lain sesuai dengan tema penelitian. • Jangka waktu penelitian yang sering saya baca antara 1 . Saya tidak akan memberi komentar negatif untuk penelitian jenis ini terlebih lagi dengan kapasitas saya yang kata beberapa kawan masih hijau dan butuh latihan otak lagi. serta posttest untuk mengetahui dampak sesudah perlakuan. • Dalam studi ilmu perilaku ada kecenderungan di mana variabel yang diukur dan ingin diketahui perubahannya adalah pengetahuan. • Subyek penelitian dibagi dalam dua kelompok (experiment dan control). Memang metode ini telah teruji.2 bulan disesuaikan dengan tujuan. Peer Group. sikap. sedangkan yang tepat dalam pemberian intervensi pada kelompok kelompok control tidak diberikan perlakuan atau diberikan semacam . dan kelompok experiment yang diberikan perlakuan.Bagan Metode Experimental Tanpa Modifikasi Keterangan : • Dilakukan penggalian data awal terhadap subyek penelitian sebelum pretest dilakukan baik melalui indept interview maupun FGD untuk mendapatkan informasi mengenai keadaan awal dari subyek serta hal lain berkaitan dengan penelitian.

Perlu diperhatikan adalah rentang waktu antara pretest. maka bisa dipastikan nilai saya untuk mata kuliah tersebut cukup memuaskan. Karena saya mampu menjawab sebagian besar dari pertanyaan ujian sesuai dengan apa yang saya baca pada malam sebelumnya. 1. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah seberapa kuat metode ini dalam konteks studi ilmu perilaku dan promosi kesehatan akan mampu menangkap fakta aktual tentang pengetahuan. dan posttest yang cenderung sangat singkat. ternyata mampu memberikan perubahan positif pada subyek yang terlihat pada perbedaan hasil pretest dan posttest untuk komponen pengetahuan. serta mengembangkan pengetahuan. dan tentu saja ada harapan akan munculnya anti tesis dari mereka yang berkenan mengajukannya. Tidak mengejutkan bagi saya bila dengan melakukan intervensi apapun bentuknya akan mampu memberikan perubahan pada tingkat pengetahuan subyek tentang suatu hal. Saya sebagaimana juga mahasiswa lainnya dikondisikan untuk belajar secara instant agar dapat memberikan jawaban yang benar terhadap soal yang diujikan. Saya memiliki beberapa tesis untuk menangkap kondisi ini. Juga apakah metode ini benar-benar sanggup memberikan perubahan pada tataran pengetahuan. dan bukan pada nilai . Saya ingat akan suatu masa di mana saya dan beberapa kawan akan menghadapi ujian semester. dan perilaku individu yang ada dalam masyarakat. yang dibuktikan dengan adanya perbedaan antara hasil pretest dan posttest antara kelompok perlakuan dan non perlakuan. Semoga saja kondisi ini tidak terjadi pada subyek penelitian seperti saya maksud di atas. memperbaiki. dan mungkin juga dari tesis dan anti tesis tersebut akan didapatkan suatu sintesis baru. Saya tidak mampu menjawabnya dan bahkan tidak tahu apakah pertanyaan yunior saya memiliki relevansi dengan ilmu kesehatan masyarakat. sikap. Bahkan saya tidak berani membayangkan bagaimana mungkin pada beberapa penelitian mahasiswa dengan penggunaan metode jenis ini yang memakan waktu aktif 1 hingga 2 bulan. Dua semester berikutnya seorang yunior menanyakan pertanyaan yang sangat mirip dengan pertanyaan yang diujikan waktu itu. Karena bagi saya ukuran tingkat pengetahuan subyek adalah bagaimana subyek menyimpan. sikap. intervensi. dan perilaku.memiliki landasan teori yang kuat. sikap. Hasil posttest pada kelompok perlakuan sering memberikan gambaran yang menggembirakan. dan perilaku individu dengan menggunakan apapun jenis dan bentuk intervensinya.

dinamis. Untuk hal ini saya tidak akan berkomentar. Namun untuk diketahui saya sangat skeptic dengan ide perubahan perilaku seperti ini. Dan hal ini akan sangat berpengaruh pada jawaban yang diberikan olehnya. Namun berapa jumlah mahasiswa yang mengikuti pelatihan jenis ini. Peryataan sikap saya terhadap pola pacaran sehat misalnya. Sederhana saja sikap bukanlah komponen pasif. bukan karena saya tidak mau untuk melakukannya tetapi karena memang saya tidak mampu mengomentarinya. atau dari ibu saya. dan remaja. Variabel sikap biasanya diukur dengan menggunakan skala sikap dengan peryataan sangat setuju. karena ada kecenderungan subyek akan menutupi sikap yang dirasakan negatif dan memberikan peryataan yang justru berlawanan. Apakah ada pertanyaan mengapa responden lebih sering menjawab ragu-ragu bila item ini tetap dimasukkan. setuju. 3. ragu-ragu. Beberapa ahli mencoba menyiasati dengan memberikan pelatihan khusus tata cara dan metode pelaksanaan interview agar hasil yang didapat sesuai dengan kenyataan. 2. Saya teringat ketika seorang raksasa pemikiran post modernis Michael Foucault menghabiskan hampir 2 tahun masa hidupnya untuk meneliti perilaku homoseksual di salah satu sudut kota San Fransisco. dosen. mereka memiliki kecenderungan untuk memposisikan interviewer sebagai sosok yang memiliki otoritas. komentar itu pasti lebih sulit dicerna oleh perasaan dibandingkan dua komentar sebelumnya. . Belakangan untuk penyataan raguragu ini sendiri telah dihapus untuk menghindari penumpukan jawaban pada item ragu-ragu (di tengah). seberapa reliable jawaban yang diberikan subyek atau seberapa kuat seorang peneliti mampu menangkap reliability dari peryataan subyek.jawaban benar yang diberikan subyek saat posttest yang dilakukan beberapa waktu setelah intervensi. siswa. Dengan menggunakan metode penelitian experimental yang dilaksanakan dalam waktu yang sangat terbatas ternyata dapat membuat seorang peneliti berandai-andai untuk mendapatkan hasil perubahan perilaku pada subyek penelitian. sikap memiliki kecenderungan berubah. Dan bila saya dipaksa untuk tetap berkomentar. dan menyesuaikan pada kondisi di mana individu berada. dan sangat tidak setuju yang sebelumnya telah diberi skor. cair. tidak setuju. Dengan mengajukan pertanyaan tentang sikap terhadap subyek penelitian. akan sangat berbeda bila pertanyaan berasal dari kawan. Juga harus dipahami bahwa bila subyek penelitian adalah masyarakat awam.

Kelompok Control Tanpa Perlakuan (Placebo) Minggu 1 Minggu 2 . rentang waktu. Sangat naif dan tidak dapat ditoleransi bila di sini saya hanya melakukan kritik terhadap metode tanpa menawarkan suatu metode baru sebagai jawaban. 4. Bila pandangan yang saya utarakan ternyata jauh dari benar. SelainPosttest itu pada Posttest Pretest 1 2 interview terhadap 3 tahapan posttest ke dua dan ke tiga dimasukkan juga Kelompo Kelompo Subjec Subjec k k subyek t untuk menghindari bias terhadap hasil t posttest. betapa praktis penggunaan pengetahuan bahkan untuk mempelajari mahluk sekompleks manusia. Harus ditekankan bahwa saya tidak melakukan kritik atas filosofi dasar penelitian experimental. Bila memang terdapat perubahan significant pada individu dan masyarakat dalam dimensi kesehatan melalui metode di atas tanpa ada modifikasi terhadap proses. Perlu juga dipahami sebelumnya ini bukan sekedar kritik tetapi lebih seperti autokritik karena dalam banyak hal saya juga melakukan kesalahan yang sama. saya hanya mempertanyakan ulang tentang reliabilitas penelitian sejenis dalam disiplin Ilmu Perilaku dan Promosi Kesehatan. Experiment Perlakuan Juga tedapat desain ulang terhadap instrument posttest ke dua dan Posttest ke tiga. dan betapa miskin pengetahuan yang hinggap di kepala saya.3 kali posttest Sebenarnya ini modifikasi sederhana dengan menambahkan 2 . Perhatian saya lebih dititikberatkan pada pelaksanaan posttest. intervensi. maupun intensitas perlakuannya. Pernyataan di atas adalah sebagian pandangan saya terhadap penggunaan metode penelitian experimental dengan berbagai instrument pengukurnya. Betapa indah pengetahuan. Terlebih lagi bila metode tersebut ditujukan untuk mengukur dan merubah tingkat pengetahuan. dan kelompok experiment.3 kali posttest setelah posttest pertama dilakukan terhadap kelompok experimental. Tidak akan sanggup saya sembunyikan ketakjuban ini. dan bila ternyata perubahan pada tingkat pengetahuan. sikap. betapa hebat manfaat pengetahuan. 1.5 Minggu 6 Minggu 10 Minggu Experime nt Interview Experime nt Interview . dan perilaku masyarakat dengan hanya mengandalkan sisi praktisnya saja tanpa ada modifikasi dan penyesuaian-penyesuaian. Experimental Research dengan 2 . serta perilaku subyek ternyata memang terjadi sesuai yang diharapkan dan dinyatakan oleh kebanyakan peneliti. betapa besar pengetahuan yang mereka miliki. Saya coba ajukan 2 metode yang merupakan modifikasi dari metode experimental. yang Kelompok artinya juga terdapat penambahan rentang waktu penelitian.Tapi apa boleh buat kita tidak memiliki waktu selama itu. sikap. paling tidak untuk masa akademik kita saat ini.

Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kekuatan subyek (kelompok experimental) untuk menerima dan menyimpan informasi pengetahuan yang diberikan saat intervesi.Karena item jawaban pada closed question . dan posttest 1 untuk mengetahui dampak sesudah perlakuan. • Desain posttest 2 dan 3 dapat dirubah tanpa harus merubah substansi dari test. posttest 2. dan posttest 3 adalah masing-masing satu bulan. • Instrument dan desain pretest dan posttest 1 harus sama. sementara untuk questioner dengan closed question perubahan bisa dilakukan dengan mengacak urutan pertanyaan. Misalnya dengan mengubah redaksional pertanyaan :  Pretest “Apa yang anda ketahui tentang KB?”  Posttest 1 “Apa yang anda ketahui tentang KB?”  Posstest 2 “Jelaskan apa itu KB?”  Posttest 3 “Menurut pengertian anda apa yang dimaksud dengan KB?” Maksud dari perubahan redaksional pada pertanyaan ini adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman subyek terhadap informasi dan pengetahuan yang telah dia terima. Namun perubahan pertanyaan ini hanya efektif pada jenis questioner dengan open question. • Subyek penelitian dibagi dalam dua kelompok (experiment dan control). • Interval antara pelaksanaan posttest 1.Bagan Metode Experimental Dengan Modifikasi I Keterangan : • Dilakukan penggalian data awal terhadap subyek penelitian sebelum pretest dilakukan untuk mendapatkan informasi awal mengenai subyek. • Subjek penelitian kelompok experiment dan control diberikan pretest untuk mengetahui gambaran awal. • Posttest 2 dan 3 hanya diberikan pada subyek dari kelompok experiment.

• Bila posttest pada subyek hanya dilakukan satu kali sesudah perlakuan dilakukan hasilnya mungkin kurang reliable. ini bisa dilihat dengan membandingkan lembar hasil posttest 1. sehingga dapat menghindari bias yang diberikan perlakuan. 2. dan juga apakah momentum intervensi dapat membangkitkan minat subyek untuk mencari informasi sejenis secara mandiri di luar informasi yang diberikan peneliti. dan dikuasai subyek hanya karena informasi dan pengetahuan tersebut masih fresh dalam ingatannya. dan 3. • Manfaat penggunaan metode ini adalah peneliti mampu untuk menilai dan mengevaluasi kekuatan metode intervensi dalam membentuk dan meningkatkan pengetahuan subyek. • Interview ini berbeda dengan interview awal sebelum pretest dilakukan. karena sangat mungkin bahwa informasi dan pengetahuan yang didapatkan subyek (kelompok experiment) melalui intervensi oleh peneliti hanya bersifat temporer. • Jenis dan metode intervensi disesuaikan dengan tema dan tujuan penelitian. • Untuk mengukur sikap dan perilaku subyek pasca perlakuan juga terlihat lebih logis.tentu saja tidak bisa dirubah atau dimodifikasi karena hal ini terkait dengan analisis pengolahan data. Interview pada saat dilakukannya posttest 2 dan posttest 3 ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya informasi pengetahuan yang masuk pada subyek (kelompok experimental) di luar informasi dan pengetahuan yang diberikan • Hanya placebo. Perubahan perilaku subyekpun bisa diketahui dengan menanyakan peneliti saat intervensi. kelompok experiment kelompok control tidak diberikan perlakuan atau diberikan semacam . Peneliti bisa mengukur sikap subyek dengan menggunakan instrument skala sikap pada setiap posttest dan menguji apakah jawaban subyek atas sikap dan pendiriannya terhadap suatu hal konsisten atau tidak. Hal ini dapat diketahui melalui interview yang dilakukan pada saat posttest 2 dan posttest 3. • Jangka waktu penelitian 3 bulan atau disesuaikan dengan tujuan penelitian. • Dengan adanya interval 1 bulan antara tiap posttest peneliti juga dapat mengetahui seberapa besar kemampuan subyek dalam menyimpan informasi. sedangkan terhadap hasil penelitian. karena terdapat rentan waktu yang cukup panjang antar tiap posttest.

Selama periode antar posttest peneliti tidak harus pasif. Penelitian ini menggunakan 3 intervensi dengan jenis yang sama. Keberatan ini juga saya rasa tidak terlalu masuk akal.5 Minggu 6 Minggu 10 Bagan Metode Experimental Dengan Modifikasi II Minggu 14 Keterangan : . 2 kelompok experiment. dan posttest 3 dilaksanakan.3 kali posttest. • Beberapa peneliti yang juga mahasiswa mungkin mengatakan bahwa metode ini terlalu lama dan tidak sesuai bila dibandingkan dengan waktu yang dijadwalkan kalender akademik untuk penyelesaian kegiatan penelitian yaitu 1 semester. karena waktu 3 bulan untuk melakukan penelitian experimental dengan subyek manusia adalah waktu yang relatif singkat. jadi pada metode ini terdapat 1 kelompok control dan 2 kelompok experiment. sedangkan intervensi ke dua dan intervensi ke tiga hanya diberikan pada salah satu kelompok experiment. Perubahan dilakukan dengan menambah jumlah kelompok experiment menjadi 2 kelompok. Experimental Research dengan 2 .tentang kebiasaan dan kesehariannya selama periode waktu setelah interversi hingga posttest 1. posttest 2. 2. dengan perlakuan yang berkesinambungan Pada dasarnya metode ini sama dengan metode sebelumnya. tetapi bisa meyusun hasil dan melakukan pembahasan lain di luar variabel yang didapat dari hasil posttest. Perlakuan 1 Kelompok Experiment A Perlakuan 1 Kelompok Experiment B Perlakuan 2 Posttest 1 Subjec t Perlakuan 3 Posttest 3 Kelompok Experimen tB Interview Pretest Subjec t Posttest 2 Kelompok Experimen tB Interview Kelompok Control Tanpa Perlakuan (Placebo) Minggu 1 Minggu 2 . bahkan terlalu singkat bila mengingat tujuan penelitian adalah menangkap keadaan real dari subyek manusia dan masyarakat. di mana intervensi pertama diberikan secara seimbang pada ke dua kelompok experiment.

interview setelah posttest. • Intervensi ini belaku surut. dilakukannya 2 . • Bila pada metode pertama intervensi hanya dilakukan sekali sebelum posttest 1. dalam artian walaupun jenis dan instrument intervensi yang diberikan sama namun frekwensi. bila terdapat kondisi di mana :  Kelompok experimental A diberikan sekali intervensi tanpa ada kesinambungan. serta materi yang diberikan saat intervensi ke dua dan ke tiga semakin dikurangi atau dipersingkat. Misal jika intervensi pertama yang dilakukan pada ke dua kelompok experiment berlangsung selama 1 bulan dengan frekwensi pemberian materi 4 kali (1 kali tiap 1 minggu). waktu penelitian. • Maksud dari diberlakukannya 3 intervensi pada salah satu kelompok experiment ini agar peneliti bisa memperoleh gambaran tentang kekuatan metode intervensi dan pengaruhnya terhadap subyek.  Kelompok experimental B diberikan intervensi secara berkesinambungan.• Secara umum bentuk perlakuan. dan tujuannya relatif sama dengan metode pertama. Hal ini saya rasa penting karena dalam kenyataannya sering kali para promotor dan pendidik kesehatan masyarakat diharuskan untuk menciptakan dan memilih penggunaan metode serta instrument yang tepat bagi masyarakat sasaran agar tujuan bisa tercapai. namun juga karakter dan sifat dari metode intervensi. namun disinilah letak prinsip dari pemberian intervensi berkesinambungan ini. Dan tentu saja pemilihan metode dan instrument ini tidak hanya berdasar pada kekuatan metode dan instrumentnya saja tapi juga harus memperhatikan sifat dan karakter metode dan instrument tersebut.3 kali posstest. maka kali ini intervensi tetap dilakukan setelah posttest 1 dan posttest 2. Namun intervensi ini hanya diberikan pada salah satu kelompok experiment saja saat periode antar posttest. intensitas. pelaksanaan. • Tentu saja pemberian intervensi yang terus-menerus akan menimbulkan kejenuhan pada kelompok experiment yang di maksud dan sangat mungkin justru memberikan dampak negatif terhadap subyek. Diharapkan peneliti tidak hanya mendapatkan gambaran kekuatan metode intervensi saja. dan pada intervensi ke tiga dilakukan 1 kali dalam 1 bulan. maka pada intervensi ke dua dilakukan 2 kali dalam satu bulan (1 kali tiap 2 minggu). prosedur. .

apakah ke dua metode tersebut dapat memenuhi syarat-syarat penelitian ilmiah karena memang belum teruji.co. saya rasa ini masih bisa diantisipasi dengan menggunakan uji silang secara bertahap. Karena yang saya pahami selama ini hanya terdapat bentuk uji statistik dengan data dari 1 kelompok control dan 1 kelompok experiment. Uji statistik dapat dilakukan secara bertahap. dan ke tiga uji antara kelompok experiment A dengan kelompok experiment B. ke dua uji antara kelompok control dengan kelompok experiment B.• Saya kurang yakin apakah terdapat satu bentuk uji statistik yang mampu menguji 1 kelompok control dengan 2 kelompok experiment. pertama uji antara kelompok control dengan kelompok experiment A.id 031 71440055 or 081 75124748 . Saya tidak terlalu yakin dengan 2 metode yang saya kemukakan di atas. By : Eko Teguh Pribadi. Meskipun tidak berharap secara berlebihan atas metode saya itu. 2008 red_camarade@yahoo. Namun bila memang tidak terdapat perangkat uji statistik dengan 1 kelompok control dengan 2 kelompok experiment. namun selalu ada sensasi menggembirakan tiap kali saya mampu terbang melampoi batas pemikiran saya sendiri. dan ini dilakukan pada setiap tahapan posttest.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful