P. 1
PENGENDALIAN GULMA

PENGENDALIAN GULMA

|Views: 127|Likes:
Published by Heny Susanti

More info:

Published by: Heny Susanti on Jun 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2013

pdf

text

original

PENGENDALIAN GULMA

Pengertian dari pengendalian gulma (control) harus dibedakan dengan pemberantasan
(eradication). Pengendalian gulma (weed control) dapat didefinisikan sebagai proses
membatasi infestasi gulma sedemikian rupa sehingga tanaman dapat dibudidayakan
secara produktif dan efisien.
Dalam pengendalian gulma tidak ada keharusan untuk membunuh seluruh gulma,
melainkan cukup menekan pertumbuhan dan atau mengurangi populasinya sampai pada
tingkat dimana penurunan produksi yang terjadi tidak berarti atau keuntungan yang
diperoleh dari penekanan gulma sedapat mungkin seimbang dengan usaha ataupun biaya
yang dikeluarkan. Dengan kata lain pengendalian bertujuan hanya menekan populasi
gulma sampai tingkat populasi yang tidak merugikan secara ekonomik atau tidak
melampaui ambang ekonomik (economic threshold), sehingga sama sekali tidak
bertujuan menekan populasi gulma sampai nol.
Sedangkan pemberantasan merupakan usaha mematikan seluruh gulma yang ada baik
yang sedang tumbuh maupun alat-alat reproduksinya, sehingga populasi gulma sedapat
mungkin ditekan sampai nol. Pemberantasan gulma mungkin baik bila dilakukan pada
areal yang sempit dan tidak miring, sebab pada areal yang luas cara ini merupakan
sesuatu yang mahal dan pada tanah miring kemungkinan besar menimbulkan erosi.
Eradikasi pada umumnya hanya dilakukan terhadap gulma-gulma yang sangat merugikan
dan pada tempat-tempat tertentu.
Pengendalian gulma pada prinsipnya merupakan usaha meningkatkan daya saing
tanaman pokok dan melemahkan daya saing gulma. Keunggulan tanaman pokok harus
menjadi sedemikian rupa sehingga gulma tidak mampu mengembangkan
pertumbuhannya secara berdampingan atau pada waktu bersamaan dengan tanaman
pokok.
Pelaksanaan pengendalian gulma hendaknya didasari dengan pengetahuan yang cukup
mengenai gulma yang bersangkutan. Apakah gulma tersebut bersiklus hidup annual,
biennial ataupun perennial, bagaimana berkembang biaknya, bagaimana sistem
penyebarannya, bagaimana dapat beradaptasi dengan lingkungan dan dimana saja
distribusinya, bagaimana bereaksi terhadap perubahan lingkungan dan bagaimana
tanggapannya terhadap perlakuan-perlakuan tertentu termasuk penggunaan zat–zat kimia
berupa herbisida.
Pengendalian gulma harus memperhatikan teknik pelaksanannya di lapangan (faktor
teknis), biaya yang diperlukan (faktor ekonomis) dan kemungkinan dampak negatif yang
ditimbulkannya.
Terdapat beberapa metode/cara pengendalian gulma yang dapat dipraktekkan di
lapangan. Sebelum melakukan tindakan pengendalian gulma sangat penting mengetahui
cara-cara pengendalian guna memilih cara yang paling tepat untuk suatu jenis tanaman
budidaya dan gulma yang tumbuh disuatu daerah.
Teknik pengendalian yang tersedia adalah :
1. Pengendalian dengan upaya preventif (pembuatan peraturan/perundangan, karantina,
sanitasi dan peniadaan sumber invasi).
2. Pengendalian secara mekanis/fisik (pengerjaan tanah, penyiangan, pencabutan,
pembabatan, penggenangan dan pembakaran).
3. Pengendalian secara kultur–teknis (penggunaan jenis unggul terhadap gulma,
pemilihan saat tanam, cara tanam-perapatan jarak tanam/heavy seeding, tanaman sela,
rotasi tanaman dan penggunaan mulsa).
4. Pengendalian secara hayati (pengadaan musuh alami, manipulasi musuh alami dan
pengolahan musuh alami yang ada disuatu daerah).
5. Pengendalian secara kimiawi (herbisida dengan berbagai formulasi, surfaktan, alat
aflikasi dsb).
6. Pengendalian dengan upaya memamfaatkannya (untuk berbagai keperluan seperti
sayur, bumbu, bahan obat, penyegar, bahan kertas/karton, biogas pupuk, bahan kerajinan
dan makanan ternak).
5.1. PENGENDALIAN SECARA PREVENTIF
Tindakan paling dini dalam upaya menghindari kerugian akibat invasi gulma adalah
pencegahan (preventif). Pencegahan dimaksud untuk mengurangi pertumbuhan gulma
agar usaha pengendalian sedapat mungkin dikurangi atau ditiadakan.
Pencegahan sebenarnya merupakan langkah yang paling tepat karena kerugian yang
sesungguhnya pada tanaman budidaya belum terjadi. Pencegahan biasanya lebih murah,
namun demikian tidak selalu lebih mudah. Pengetahuan tentang cara-cara penyebaran
gulma sangat penting jika hendak melakukan dengan tepat.
A. Peniadaan Sumber Invasi dan Sanitasi
Beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk meniadakan sumber invasi
adalah :
1) Menggunakan biji tanaman yang bersih dan tidak tercampur biji lain terutama biji-biji
gulma.
2) Menghindari penggunaan pupuk kandang yang belum matang.
3) Membersihkan tanah-tanah yang berasal dari tempat lain, tubuh dan kaki ternak dari
biji-biji gulma.
4) Mencegah pengangkutan tanaman beserta tanahnya dari tempat-tempat lain, karena
pada bongkahan tanah tersebut kemungkinan mengandung biji-biji gulma.
5) Pembersihan gulma dipinggir-pinggir sungai dan saluran air.
6) Menyaring air pengairan agar tidak membawa biji-biji gulma ke petak-petak
pertanaman yang diairi.
B. Karantina Tumbuhan
Karantina tumbuhan bertujuan mencegah masuknya organisme pengganggu tumbuhan
lewat perantaraan lalu-lintas/perdagangan. Karantina tumbuhan merupakan cara
pengendalian tidak langsung dan relatif paling murah.
5.2. PENGENDALIAN MEKANIS
Pengendalian mekanis merupakan usaha menekan pertumbuhan gulma dengan cara
merusak bagian-bagian sehingga gulma tersebut mati atau pertumbuhannya terhambat.
Teknik pengendalian mekanis hanya mengandalkan kekuatan fisik atau mekanik. Dalam
praktek dilakukan secara tradisional dengan tangan, dengan alat sederhana sampai
penggunaan alat berat yang lebih modern.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih peralatan untuk digunakan dalam
pengendalian gulma adalah sistem perakaran, umur tanaman, kedalaman dan penyebaran
sistem perakaran, umur dan luas infestasi, tipe tanah, topografi, serta kondisi cuaca/iklim.
A. Pengolahan Tanah (Land Preparation)
Pengolahan tanah dengan alat-alat seperti cangkul, bajak, garu, traktor dan sebagainya,
pada umumnya berfungsi untuk mengendalikan gulma.
Pengolahan tanah pada prinsipnya melepaskan ikatan antara gulma dengan media tempat
tumbuhnya. Efektivitas pengolahan tanah dalam pengendalian gulma tergantung
beberapa faktor seperti siklus hidup gulma dan tanamannya, dalam dan penyebaran
perakaran, lama dan luasnya infestasi, macam tanaman yang dibudidayakan, jenis tanah,
topografi dan iklim.
B. Penyiangan (Weeding)
Penyiangan yang tepat biasanya dilakukan pada saat pertumbuhan aktif dari gulma.
Penundaan sampai gulma berbunga mungkin tak hanya gagal membongkar akar gulma
secara maksimum, tetapi juga gagal mencegah tumbuhnya biji-biji gulma yang viabel
sehingga memberi kesempatan untuk perkembangbiakan dan penyebarannya.
Penyiangan sesudah gulma dewasa akan banyak membongkar akar tanaman dan
menimbulkan kerusakan fisik. Sedang penyiangan yang terlalu sering akan menimbulkan
kerusakan akar tanaman pokok
C. Pencabutan (Hand Pulling)
Pencabutan dengan tangan ditujukan untuk gulma annual dan biennial. Pelaksanaan
pencabutan gulma terbaik adalah pada saat sebelum pembentukan biji, sedang
pencabutan pada saat gulma sudah dewasa mengakibatkan kemungkinan adanya bagian
bawah gulma yang tidak tercabut sehingga tumbuh kembali.
D. Pembabatan (Mowing)
Pembabatan pada umumnya hanya efektif untuk mengendalikan gulma-gulma yang
bersifat setahun (annual) dan kurang efektif untuk gulma tahunan (perennial). Efektivitas
cara ini sangat ditentukan oleh saat dan interval pembabatan. Pembabatan sebaiknya
dilakukan pada saat daun gulma sedang tumbuh lebat, menjelang berbunga dan sebelum
membentuk biji.
E. Pembakaran (Burning)
Pembakaran merupakan salah satu cara mengendalikan gulma. Suhu kritis yang
menyebabkan kematian (Termodeash Point) pada sel adalah 45–55º C, tetapi biji yang
kering lebih tahan daripada tumbuhan yang hidup.
Sebenarnya yang dimaksud dengan pembakaran adalah penggunaan api untuk
pengendalian gulma dengan alat pembakar (burner) seperti alat untuk mengelas, flame
cultivator atau weed burner yang menggunakan bahan bakar butane dan propone. Atau
pembakaran dengan memberikan panas dalam bentuk uap (sceaming), terutama dalam
usaha mematikan biji gulma pada tempat-tempat tertentu seperti pembuatan bedengan.
F. Penggenangan
Bila tersedia air, penggenangan dapat mengurangi pertumbuhan gulma. Cara ini biasa
digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan gulma darat (terrestrial). Penggenangan
efektif untuk mengendalikan gulma tahunan. Caranya dengan membuat galangan
pembatas dengan tinggi genangan 15-25 cm selama 3–8 minggu. Sebagian besar gulma
tidak berkecambah pada kondisi anaerob.
5.3. PENGENDALIAN KULTUR TEKNIS
Pengendalian kultur teknis merupakan cara pengendalian gulma dengan menggunakan
praktek-praktek budidaya, antara lain :
1) Penanaman jenis tanaman yang cocok dengan kondisi tanah.
2) Penanaman rapat agar tajuk tanaman segera menutup ruang kosong.
3) Pemupukan yang tepat untuk mempercepat pertumbuhan tanaman sehingga
mempertinggi daya saing tanaman terhadap gulma.
4) Pengaturaan waktu tanam dengan membiarkan gulma tumbuh terlebih dahulu
kemudian dikendalikan dengan praktek budidaya tertentu.
5) Penggunaan tanaman pesaing (competitive crops) yang tumbuh cepat dan berkanopi
lebar sehingga memberi naungan dengan cepat pada daerah di bawahnya.
6) Modifikasi lingkungan yang melibatkan pertumbuhan tanaman menjadi baik dan
pertumbuhan gulma tertekan.
A. Rotasi Tanaman (Crop Rotation)
Rotasi tanaman atau pergiliran tanaman sebenarnya bertujuan memanfaatkan tanah, air,
sinar matahari dan waktu secara optimum sehingga diperoleh hasil yang memadai.
Dengan pergiliran tanaman maka pada umumnya permukaan tanah akan selalu tertutup
oleh naungan daun tanaman, sehingga gulma tertekan.
B. Sistem Bertanam (Croping System)
Perubahan cara bertanam dari monokultur ke polikultur (intercropping atau multiple
croping) dapat mempengaruhi species gulma yang tumbuh sehingga menimbulkan
perbedaan interaksi dalam kompetisi.
Cara penanaman tumpang sari, tumpang gilir, tanaman sela atau lainnya ternyata dapat
menekan pertumbuhan gulma, karena gulma tidak sempat tumbuh dan berkembang biak
akibat sinar matahari serta tempat tumbuhnya selalu terganggu.
C. Pengaturan Jarak Tanam (Crop Density)
Peningkatan kepadatan tanaman meningkatkan efek naungan terhadap gulma sehingga
mengurangi pertumbuhan dan reproduksinya. Meskipun demikian pada jarak tanam yang
sempit mungkin tanaman budidaya memberikan hasil relatif kurang. Oleh sebab itu
sebaiknya penanaman dilakukan pada jarak tanam yang optimal.
D. Pemulsaan (Mulching)
Mulsa akan mempengaruhi cahaya yang akan sampai ke permukaan tanah dan
menyebabkan kecambah-kecambah gulma serta berbagai jenis gulma dewasa mati.
Disamping mempertahankan kelembaban tanah, mulsa akan mempengaruhi temperatur
tanah.
E. Tanaman Penutup Tanah (Legum Cover Crop-LCC)
Sering disebut tanaman pelengkap (smother crops) atau tanaman pesaing (competitive
crops). Sebagai tanaman penutup tanah biasa digunakan tanaman kacang-kacangan
(leguminosae) karena selain dapat tumbuh secara cepat sehingga cepat menutup tanah
tetapi dapat juga digunakan sebagai pupuk hijau.
Sifat penting yang diperlukan bagi tanaman penutup tanah adalah harus dapat tumbuh
dan berkembang cepat sehingga mampu menekan gulma. Jenis-jenis leguminosae yang
biasa digunakan adalah Calopogonium muconoides (CM), Calopogonium caerelum (CC),
Centrosoma pubescens (CP) dan Pueraria javanica (PJ).
Selain pertumbuhan cepat sifat lainnya yang dikehendaki adalah tidak menyaingi
tanaman pokok. Apabila pertumbuhannya terlalu rapat maka harus dilakukan
pengendalian dengan cara pembabatan atau dibongkar untuk diganti dengan penutup
tanah yang lainnya.
Penggunaan tanaman penutup tanah untuk mencegah pertumbuhan gulma-gulma
berbahaya (noxious) terutama golongan rumput merupakan cara kultur teknis yang
dipandang paling berhasil diperkebunan.
5.4. PENGENDALIAN HAYATI
Pengendalian hayati (biological control) adalah penggunaan biota untuk melawan biota.
Pengendalian hayati dalam arti luas mencakup setiap usaha pengendalian organisme
pengganggu dengan tindakan yang didasarkan ilmu hayat (biologi). Berdasarkan hal ini
maka penggunaan Legum Cover Crops (LCC) kadang-kadang juga dimasukkan sebagai
pengendalian hayati.
Pengendalian hayati pada gulma adalah suatu cara pengendalian dengan menggunakan
musuh-musuh alami baik hama (insekta), penyakit (patogen), jamur dan sebagainya guna
menekan pertumbuhan gulma. Hal ini biasa ditujukan terhadap suatu species gulma asing
yang telah menyebar secara luas di suatu daerah. Pemberantasan gulma secara total
bukanlah tujuan pengendalian hayati karena dapat memusnahkan agen-agen hayati yang
lain.
A. Pengendalian Alami dan Hayati
Berdasarkan campur tangan yang terjadi maka dibedakan antara pengendalian alami dan
pengendalian hayati. Perbedaan utama terletak pada ada atau tidaknya campur tangan
manusia dalam ekosistem. Dalam pengendalian alami disamping musuh alami sebagai
pengendali hayati masih ada iklim dan habitat sebagai faktor pengendali non hayati.
Sedang pada pengendalian hayati ada campur tangan manusia yang mengelola gulma
dengan memanipulasi musuh alaminya.
Pengendalian hayati merupakan metode yang paling layak dan sekaligus paling sulit
dipraktekkan karena memerlukan derajat ketelitian tinggi dan serangkaian test dalam
jangka waktu panjang (bertahun-tahun) sebelum suatu organ pengendali hayati dilepas
untuk pengendalian suatu species gulma. Dasar pengendalian hayati adalah kenyataan
bahwa di alam ada musuh-musuh alami yang mampu menekan beberapa species gulma.
B. Musuh–musuh Alami Gulma
Ada beberapa syarat utama yang dibutuhkan agar suatu makhluk dapat digunakan sebagai
pengendali alami :
1. Makhluk tersebut tidak merusak tanaman budidaya atau jenis tanaman pertanian
lainnya, meskipun tanaman inangnya tidak ada.
2. Siklus hidupnya menyerupai tumbuhan inangnya, misalnya populasi makhluk ini akan
meningkat jika populasi gulmanya juga meningkat.
3. Harus mampu mematikan gulma atau paling tidak mencegah gulma membentuk
biji/berkembang biak.
4. Mampu berkembang biak dan menyebar ke daerah-daerah lain yang ditumbuhi
inangnya.
5. Mempunyai adaptasi baik terhadap gulma inang dan lingkungan yang ditumbuhinya.
5.5. PENGENDALIAN KIMIA
Pengendalian gulma dengan menggunakan senyawa kimia tanpa mengganggu tanaman
pokok dikenal dengan nama “Herbisida“.
Kelebihan dan keuntungan penggunaan herbisida dalam pengendalian gulma antara lain:
υ Herbisida dapat mengendalikan gulma yang tumbuh bersama tanaman budidaya yang
sulit disaingi.
ϖ Herbisida pre-emergence mampu mengendalikan gulma sejak awal.
ω Pemakaian herbisida dapat mengurangi kerusakan akar dibandingkan pengerjaan tanah
waktu menyiangi secara mekanis.
ξ Erosi dapat dikurangi dengan membiarkan gulma (rumput) tumbuh secara terbatas
dengan pemakaian herbisida.
ψ Banyak gulma yang bersifat pohon lebih mudah dibasmi dengan herbisida.
ζ Lebih efektif membunuh gulma tahunan dan semak belukar.
{ Dapat menaikkan hasil panen tanaman dibandingkan dengan perlakuan penyiangan
biasa.
Disamping kelebihan dan keuntungan, herbisida mempunyai keurangan-kekurangan yang
dapat merugikan, antara lain dapat menimbulkan :
υ Efek samping
ϖ Species gulma yang resisten
ω Polusi
ξ Residu dapat meracuni tanaman.
Penggunaan herbisida yang berhasil sangat tergantung akan kemampuannya untuk
membasmi beberapa jenis gulma dan tidak membasmi jenis-jenis lainnya (tanaman
budidaya). Cara kerja yang selektif ini merupakan faktor yang paling penting bagi
keberhasilan suatu herbisida.
Ada 4 (empat) faktor yang mempengaruhi keberhasilannya atau selektifitas herbisida,
yaitu :
Faktor Tanaman :
Umur dan kecepatan pertumbuhan.
Struktur luar seperti bentuk daun ( ukuran dan permukaan ), kedalaman akar, lokasi titik
tumbuh, dll
Struktur dalam seperti translokasi dan permeabilitas membran / jaringan
Proses-proses biokimia seperti pengaktifan enzim, herbisida, dll
Faktor Herbisidanya :
Struktur
Konsentrasi
Formulasi (cair atau granular)
Faktor Lingkungan :
Temperatur,
Cahaya,
Hujan,
Faktor-faktor tanah
Cara Pemakaian/Aplikasi :
Tipe herbisida (digunakan ke tanah, ke tanaman),
Volume penyemprotan,
Ukuran butiran semprotan,
Waktu penyemprotan.
6. BAKU PENGENDALIAN GULMA DI PERKEBUNAN
Untuk kebutuhan praktek pengelolaan gulma di perkebunan diperlukan adanya suatu
baku penyiangan yang dianggap normal untuk dijadikan sebagai pedoman umum. Di
dalam baku penyiangan normal digambarkan tingkat ambang pengendalian gulma.
Tingkat ambang pengendalian gulma adalah tingkat pertumbuhan gulma paling maksimal
yang masih dapat dibolehkan sebelum menimbulkan efek penekanan
pertumbuhan/produksi dan menimbulkan gangguan fisik yang berarti.
Uraian tentang norma-norma kelas penyiangan di perkebunan sebagai berikut :
Kelas Penyiangan Uraian
P0 Dalam kelas ini, secara normatif hanya tanaman kelapa sawit yang diperkenankan
tumbuh dan kacang-kacangan (leguminosae). Namun menjelang setiap rotasi penyiangan
dapat diperbolehkan tumbuh gulma golongan A, B, dan C dengan persentase penutupan
5-25% dan tinggi 5-10 cm bergantung pada umur tanaman kelapa sawit. Gulma yang
masih dapat dibolehkan tumbuh selain kacang-kacangan adalah : rumput lunak seperti
Ageratum, Cyrtococcum, Paspalum, Ottochloa dan lain-lain. Gulma yang tidak boleh
tumbuh adalah golongan D dan E, yaitu Eupatorium, Lantana, Melastoma, Colocasia
(keladi) dan gulma berduri. Kelas penyiangan P0 terdapat di piringan pohon umur 0-1
tahun.
P1 Secara normatif dalam kelas P1 hanya penutup tanah kacang-kacangan yang
diperkenankan tumbuh. Namun menjelang setiap rotasi penyiangan, gulma golongan B
dan C diperbolehkan tumbuh dengan persentase penutupan maksimum 25% dan tinggi
maksimum 30 cm. Jenis gulma yang diperbolehkan tumbuh adalah rumput lunak berdaun
lebar maupun berdaun pita dari golongan B dan C. Gulma yang tidak dapat ditoleransi
tumbuh adalah golongan D dan E seperti gulma berdaun pita tangguh Brachiaria mutica,
Imperata cylindrical; gulma alelopati Mikania; gulma berkayu Eupatorium, Lantana dan
lain-lain. Kelas penyiangan P1 terdapat dalam gawangan tanaman TBM.
P2 Kelas penyiangan dimana kacang-kacangan, gulma lunak berdaun pita maupun
berdaun lebar diperbolehkan tumbuh dengan penutupan 25-50% dan tinggi 20 cm
bergantung pada umur tanaman. Gulma yang tidak diperbolehkan tumbuh adalah gulma
berkayu seperti Eupatorium, Lantana; gulma berbahaya seperti Imperata cylindrical,
Mikania serta gulma berduri (golongan D dan E). Kelas penyiangan P2 terdapat pada
jalur Tanaman Menghasilkan (TM).
P3 Kelas penyiangan dimana kacang-kacangan, gulma lunak rumput-rumputan dan
gulma berdaun lebar dari golongan A, B dan C diperbolehkan tumbuh menutup tanah
100%, tetapi tingginya dikendalikan maksimum 30 cm. Pengendalian dapat dilakukan
dengan membabat. Gulma golongan D dan E tidak diperbolehkan tumbuh sehingga perlu
diberantas dengan interval tertentu. Kelas penyiangan P3 terdapat pada gawangan TM
sampai berumur 15-20 tahun.
P4 Kelas penyiangan dimana kacang-kacangan dan gulma umum rumput-rumputan,
berdaun lebar dan gulma berkayu terkecuali gulma golongan E seperti lalang (Imperata
cylidrica), Mikania, diperbolehkan tumbuh asalkan tumbuhnya tidak melebihi 30 cm.
Kelas penyiangan P4 terdapat pada gawangan Tanaman Menghasilkan (TM ) berumur
lebih dari 15-20 tahun.
P5 Kelas penyiangan dimana kacang-kacangan, gulma lunak rumput-rumputan, gulma
berdaun lebar dan gulma perdu berkayu diperkenan tumbuh kecuali gulma golongan E
seperti lalang (Imperata cylindrical), Mikania dan lain-lain. Kelas penyiangan P5 terdapat
pada areal tanaman menjelang diremajakan.
7. PENGENDALIAN LALANG
7.1.PENDAHULUAN
Lalang (Imperata cylindrica) termasuk salah satu dari sepuluh gulma penting yang paling
merugikan. Saat ini dikenal enam varietas lalang, salah satu diantaranya tumbuh baik di
Asia Tenggara.
Lalang merupakan gulma yang mempunyai tingkat kebutuhan unsur hara yang rendah
sehingga mampu tumbuh pada tanah yang tidak subur, tanah berpasir dan rawa. Di
Indonesia, gulma lalang masih dapat tumbuh di areal dengan ketinggian mencapai 2.600
m di atas permukaan laut.
Perkembangbiakannya dilahan yang terbuka (tanpa naungan) sangat cepat melalui biji
maupun akar rimpang. Dalam waktu 75 hari setelah menyebar, sebatang akar rimpang
mampu menghasilkan lebih dari 3 kg bobot kering dan satu tajuk bunga mampu
menghasilkan 500–600 biji. Populasi lalang pada lahan yang tidak diolah dapat mencapai
3–5 juta pupus per hektar dengan biomasa daun 7–18 ton dan rimpang 3–11 ton per
hektar. Suatu areal disebut Sheet Lalang jika populasi lalang diareal tersebut berkisar 40-
100%.
Kerugian yang ditimbulkan oleh lalang disamping menjadi pesaing bagi tanaman utama
dalam serapan hara, air dan kompetisi ruang, juga menghasilkan zat alelopati yang
bersifat racun. Kandungan bahan organik, N dan P dibawah lalang lebih rendah jika
dibandingkan pada lahan yang didominasi populasi putihan (Eupatorium palescens)
maupun sengganen (Melastoma malabatricum). Pertumbuhan tanaman kacangan yang
terhambat oleh populasi lalang juga dapat menjadi indikator bahwa lahan tersebut
mempunyai kandungan unsur P yang rendah.
7.2. CARA PENGENDALIAN
Pengertian pengendalian lalang adalah upaya mengendalikan bagian–bagian yang dapat
menyebabkan pertumbuhan lalang, baik pertumbuhan vegetatif (akar rimpang) maupun
generatif (biji). Beberapa cara yang sering dilakukan dalam pengendalian lalang adalah
perebahan, mekanis kultur teknis dan kimiawi.
A. Perebahan
Perebahan merupakan salah satu tehnik pengendalian lalang yang sesuai diterapkan untuk
lahan perkebunan, dengan kelebihan sebagai berikut :
¬ Daun dan batang yang telah rebah akan kering dan mati tanpa merangsang
pertumbuhan tunas pada rimpang, sekaligus menjadi mulsa yang menghambat
pertumbuhan gulma lainnya.
¬ Relatif mudah dilakukan serta dapat mengurangi resiko kebakaran (lalang yang telah
rebah relatif sulit terbakar).
Perebahan sebaiknya dilakukan sewaktu lalang telah berkembang penuh dan padat.
Lalang yang daunnya telah kering lebih mudah direbahkan, biasanya dimusim kemarau.
Rotasi dilakukan sesuai dengan perkembangan lalang. Untuk lahan dengan tanaman
kelapa sawit yang masih muda dan tajuknya belum menutup memerlukan rotasi yang
lebih pendek dibandingkan dengan lahan yang tajuk sawitnya telah menutup.
Teknik perebahan yang biasa dilakukan adalah :
(a) Perebahan menggunakan papan
Alat yang dipakai dapat terbuat dari papan yang ringan dan kuat dengan bagian dasar rata
atau cekung, panjang 1,5 m, lebar 25 cm dan tebal 5 cm. Pada kedua ujung papan
diikatkan tali sebagai pegangan.
Penggunaannya adalah dengan cara memegang tali dan menginjakkan kaki pada papan di
atas lalang. Angkat kembali papan tersebut dan lakukan secara berulang dari bagian
pangkal sampai ujung lalang sehingga gulma tersebut rebah secara sempurna. Alat ini
sesuai untuk sheet lalang yang masih banyak tunggulnya. Keperluan tenaga kerja adalah
15–20 HK/ha.
(b) Perebahan menggunakan potongan kayu atau drum
Sepotong kayu atau batang kelapa yang cukup berat dengan panjang 2 m dapat digunakan
untuk merebahkan lalang dengan cara mendorongnya diatas lalang secara berulang–ulang
sampai lalang rebah sempurna. Cara ini sesuai untuk lahan yang relatif bebas tunggul
dengan sedikit populasi tanaman utama.
Cara yang lain adalah menggunakan drum minyak kapasitas 200 lt yang diisi dengan air.
Drum digulingkan diatas lalang menggunakan tangan atau dimodifikasi sedemikian rupa
sehingga dapat ditarik hewan. Untuk meningkatkan efektifitasnya, dapat dipasang pelat–
pelat logam kecil pada permukaan drum. Cara ini memerlukan tenaga kerja 2–3 HK/Ha
jika dilakukan secara manual dan 1,0–1,5 HK/Ha jika menggunakan tenaga hewan.
B. Cara Mekanis
Pengertian cara mekanis adalah pengendalian lalang menggunakan tenaga mesin
(misalnya jenis wheel tractor), pengolahan tanah menggunakan bajak atau cangkul secara
manual dan penebasan.
(a) Pembajakan/Pencangkulan secara Manual
Pengendalian lalang dengan pembajakan atau pencangkulan dapat dilakukan bersamaan
dengan pengolahan tanah. Kegiatan ini efektif jika lalang masih dalam tahap awal
pertumbuhan. Jika tinggi lalang telah mencapai 75 cm atau lebih, sebaiknya lalang
ditebas atau dibakar terlebih dahulu. Tanah diolah sampai kedalaman 20–25 cm dan
dibalik agar rimpang lalang kering terkena panas matahari selama 1 minggu. Pengolahan
tanah ini sebaiknya dilakukan beberapa kali hingga rimpang benar–benar mati dan tidak
tumbuh menjadi lalang baru.
(b) Penggunaan traktor
Tahapan pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
¹ Pembajakan pertama (1st ploughing) pada jalur–jalur yang searah dengan kedalaman
pembajakan sekitar 30 cm atau sampai ke kedalaman perakaran lalang.
¹ Pembajakan kedua (2nd ploughing), dilaksanakan 2 minggu setelah pembajakan
pertama dengan arah memotong jalur pembajakan pertama. Kedalaman pembajakan sama
dengan kedalaman pembajakan pertama.
¹ Penggaruan pertama (1st harrowing), dilaksanakan 2 minggu setelah pembajakan
kedua.
¹ Penggaruan kedua (2nd harrowing), dilaksanakan 2 minggu setelah penggaruan
pertama.
¹ Penggaruan ketiga (3rd harrowing), dilaksanakan 2 minggu setelah penggaruan kedua.
Arah penggaruan sebaiknya saling memotong dengan kedalaman 30 cm atau sampai ke
kedalaman perakaran, agar akar rimpang terpotong–potong halus sehingga tidak
memungkinkan lagi bagi pertumbuhan vegetatif lalang. Perburuan lalang (wiping)
dilakukan sebulan sekali.
Keuntungan penggunaan traktor dalam pengendalian lalang adalah:
¹ Waktu yang diperlukan lebih singkat.
¹ Kebutuhan tenaga kerja lebih sedikit dibandingkan kebutuhan tenaga kerja pada cara
manual maupun cara kimiawi.
¹ Dapat dilakukan pada areal yang sulit air dan dalam waktu yang sama dapat dilakukan
pengolahan tanah.
Sedangkan kelemahannya adalah :
¹ Biayanya yang cukup mahal.
¹ Hanya dapat digunakan pada lahan yang datar sampai dengan kemiringan 8 – 9 %.
¹ Memerlukan waktu yang tepat terutama harus memperhatikan curah hujan. Cara ini
lebih efektif dilakukan pada musim kemarau, karena pada musim hujan banyak rimpang
lalang yang tidak kering dan mati sehingga lalang tersebut mampu tumbuh kembali.
(c) Penebasan dan Mulsa
Penebasan dapat mengurangi persaingan lalang dengan tanaman pokok, tetapi hanya
sementara sehingga harus sering diulangi terutama pada musim hujan. Pemberian mulsa
dengan daun lalang dipangkal gulma tersebut dianjurkan untuk menekan pertumbuhan
kembali.
C. Pengendalian secara Kultur Teknis
Tanaman penutup tanah jenis Leguminosae (kacangan) yang tumbuh secara cepat, dapat
menaungi dan menghambat pertumbuhan lalang. Beberapa spesies yang sering ditanam
sebagai tanaman penutup tanah adalah Pueraria javanica (PJ), Centrosema pubescens
(CP), Calopogonium mucunoides (CM), Psophocarpus palustris (PP) dan Calopogonium
caeruleum (CC).
Peranan kacangan penutup tanah dalam rehabilitasi lalang adalah :
¹ Menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakan lalang.
¹ Menutupi permukaan tanah secara cepat sehingga dapat mengurangi erosi tanah.
¹ Mengikat Nitrogen dari udara sehingga meningkatkan cadangan N dalam tanah.
¹ Menghasilkan jumlah mulsa dan meningkatkan kandungan bahan organik tanah.
D. Cara Kimiawi
Maksud dari cara kimiawi adalah pengendalian lalang dengan penyemprotan
menggunakan bahan–bahan kimiawi yang disebut herbisida. Cara ini lebih banyak
digunakan, karena dapat dilakukan di areal yang datar maupun bergelombang dengan
biaya yang relatif murah.
Penyemprotan harus merata pada seluruh areal dengan memperhatikan volume semprot,
herbisida yang diperlukan, luas lahan dan cuaca. Penyemprotan lebih efektif pada musim
kemarau.
Jika umur lalang sudah tua, sebagian besar daunnya kering dan banyak yang rebah, maka
sebelum penyemprotan harus dilakukan pembabatan atau pembakaran. Aplikasi herbisida
dilakukan setelah lalang mencapai tinggi 50 cm, yaitu 2–3 minggu sebelum berbunga
atau sampai masa pertumbuhan vegetatifnya habis.
Berdasarkan cara kerjanya, herbisida dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu
herbisida kontak dan sistemik. Herbisida kontak (misalnya dengan bahan aktif paraquat)
mematikan lalang secara cepat sehingga sangat bermanfaat jika penanaman tanaman
utama harus segera dilakukan. Namun demikian, lalang akan tumbuh kembali sekitar 2
minggu sehingga herbisida kontak kurang efektif untuk mengendalikan lalang dalam
waktu yang lama.
Herbisida sistemik (dengan bahan aktif glyfosat, sulfosat atau imazapir) menyebar dari
daun lalang ke rimpang sehingga mematikan tunas–tunas yang ada dan menghambat
pertumbuhan kembali. Lalang akan muncul kembali dari rimpang yang tidak terjangkau
oleh herbisida karena tertutup oleh daun lalang atau vegetasi lainnya.
Apabila ketersediaan herbisida atau tenaga terbatas, prioritas pengendalian adalah
mengisolasi perluasan lalang dan menuntaskan sesuai kemampuan. Jangan
mengendalikan keseluruhan tanpa follow up-nya.
(a) Pengendalian Lalang Sheet
Pada pertumbuhan lalang yang meluas (sheet), metode pengendalian yang efektif adalah
dengan cara kimia (penyemprotan herbisida).
Aplikasi dengan menggunakan Medium Volume (MV = 450-600 lt/Ha) didasarkan atas
tebalnya pertumbuhan lalang dan kecepatan angin dikawasan yang akan disemprot.
(b) Pengendalian Lalang Sporadis (Spot) dan Lalang Kontrol (Wiping)
Pertumbuhan lalang yang sporadis (terpencar-pencar) akan lebih efektif jika diberantas
dengan metode spot spraying. Sedangkan pada kebun yang sudah normal kondisi
lalangnya (lalang kontrol) diberantas dengan cara Wiping (diusap dengan kain yang
dibalutkan di jari tangan). Untuk Spot spraying, dikonversikan kebutuhan herbisida dan
air sesuai dengan anjuran. Misalnya 15% dari total areal, maka herbisida yang dibutuhkan
15/100 x 4 atau 6 lt Round Up.
Wiping merupakan kelanjutan dari spot spraying, pada lalang yang belum mati secara
tuntas, atau tumbuh baru beberapa helai daun. Pekerjaan wiping dilakukan secara beregu
dengan sistem giring sehingga tidak ada lalang yang tertinggal. Rotasi wiping 2 bulan
sekali makin lama makin jarang.
Tehnik Wiping lalang dilakukan dengan menggunakan kain katun yang berukuran 3 x 12
cm dibalutkan pada tiga jari tangan (tidak dibenarkan menggunakan kaos kaki atau
sarung tangan). Contoh herbisida yang dipakai adalah Eagle 480 AS atau Round Up (1,0–
1,3 %) + Surfaktan (0,5%) atau Assault 250 AS (0,5–0,7%) + Surfaktan (0,5%).
Cara Wiping Lalang
Sebelum di-“wiping” rumpun lalang dibersihkan dari sampah-sampah disekitar
pangkalnya dengan menggunakan arit kecil (guris). Kemudian celupkan kain ke dalam
larutan herbisida dan peras sedikit agar tidak menetes.
Penyapuan (wiping) dimulai dari batang bawah sampai ke ujung daun secara merata dan
basah, dan dilakukan per helai daun lalang. Hindarkan batang/daun lalang pecah, putus
atau tercabut sewaktu wiping atau pembersihan sampah.
1 cm dan dibuat simpul ikatan.tUntuk menghindari terjadinya lalang yang ketinggalan
tidak di-wiping atau terjadi pengulangan wiping, maka sebaiknya ujung lalang yang telah
di wiping dapat diputuskan sedikit
8. PENGENDALIAN GULMA DI PIRINGAN
Pengendalian gulma di piringan dapat dilakukan dua cara, yaitu cara manual dan cara
kimiawi.
Tujuan pengendalian gulma di piringan adalah :
Mendukung pertumbuhan tanaman kelapa sawit dengan cara membuang gulma pesaing
dalam penyerapan unsur hara, air dan cahaya matahari secara manual.
Mempermudah pekerja lainnya misalnya panen, pemupukan dan pengawasan.
Untuk menyediakan piringan yang bersih sehingga pengumpulan berondolan dapat
dilakukan secara efisien.
Penyiangan gulma di piringan yang dilakukan secara manual menggunakan cangkul dan
parang babat. Pekerja tidak diijinkan memotong bagian tanaman kelapa sawit selama
pengendalian gulma di piringan. Gulma dibabat kandas pada permukaan tanah lalu
dibuang dari piringan. Tanaman penutup tanah disingkirkan dari dalam piringan sehingga
pelepah tidak terganggu oleh tanaman LCC. Tanaman yang tumbuh pada batang dan
tajuk tanaman kelapa sawit dibersihkan dan LCC jangan sampai membelit tanaman
kelapa sawit.
Interval waktu yang optimum antar rotasi juga tergantung dari jenis dan keadaan
pertumbuhan gulma, tanah, dan keadaan terain di lapangan. Oleh karena itu di daerah–
daerah tertentu penambahan atau pengurangan dari rotasi penyiangan dapat
dipertimbangkan setelah dikonsultasikan dengan atasan yang bersangkutan.
Pada Tanaman Belum Menghasilkan umur 1 tahun (TBM-1) dan TBM-2 tidak
dibenarkan menggunakan herbisida apabila tidak sangat terpaksa, sedangkan pada TBM
3 tahun penggunaan herbisida harus benar–benar diawasi agar tidak mengenai bagian
tanaman yang masih muda.
Frekuensi aplikasi atau rotasi per tahun dapat disesuaikan dengan jenis dan kerapatan
gulma.
Penyemprotan piringan pada TM lebih dianjurkan dari pada penyiangan dengan cangkul
atau dibabat karena alasan–alasan sebagai berikut :
Penyemprotan akan menghasilkan mulsa dari gulma yang mati. Ini selanjutnya akan
berguna untuk konservasi air dan hara.
Penyemprotan tidak menimbulkan gangguan pada tanah.
Penyemprotan membutuhkan tenaga kerja yang lebih sedikit.
Penyemprotan lebih murah dan mempunyai efek yang lebih lama.
Penyemprotan dapat dilakukan bilamana tanaman tidak lagi terlalu peka terhadap
kerusakan yang disebabkan karena percikan larutan semprot yang terbawa angin.
Tingkatan pertumbuhan ini umumnya tercapai dalam jangka waktu 24–30 bulan sejak
ditanam di lapangan.
Pengendalian gulma secara kimiawi seringkali berakibat suksesi atau perubahan jenis
gulma yang dominan. Hal ini nampak pada perkebunan–perkebunan dimana hanya
dijumpai 2 atau 3 jenis gulma tertentu yang dominan tumbuh disekitar tanaman kelapa
sawit. Jenis gulma yang dominan terdapat disekitar piringan dan jalan panen adalah
Ageratum spp, Peperonia spp dan Paspalum spp.
Sebelun dilakukan penyemprotan, keadaan lapangan harus diperiksa lebih dahulu.
Herbisida dan peralatanannya dipilih sesuai dengan jenis gulma yang dijumpai.
Mandor/pengawas bertanggung jawab untuk memastikan bahwa alat semprot dikalibrasi
dengan baik dan bahan kimia dicampur berdasarkan anjuran.
Dalam pengendalian gulma secara kimiawi, gunakan herbisida secara bertanggung jawab.
Jangan berusaha menciptakan kondisi bebas gulma dengan cara melakukan
penyemprotan secara berlebihan. Jangan membuang sisa campuran, bahan kimia, tempat
bahan kimia di lapangan.
Pedomani petunjuk penanganan limbah tersebut pada label maupun pedoman kebijakan
penanganan, penyimpanan, dan pembuangan bahan tersebut. Jangan membiarkan areal
bukan sasaran, saluran air atau tanaman pertanian tercemar herbisida. Penyemprotan
harus ekstra hati-hati pada saat penyemprotan herbisida pada tanaman muda untuk
menghindari tetesan atau cipratan herbisida ke tandan buah atau daun-daun bagian
bawah.
9. PENGENDALIAN GULMA DI GAWANGAN
Pengendalian gulma di gawangan dapat dilakukan secara manual maupun secara
kimiawi.
Tujuan pengendalian gulma di gawangan secara manual, antara lain :
Mengendalikan atau membuang gulma yang tidak bisa dikendalikan dengan
penyemprotan herbisida tanpa menyebabkan kerusakan pada tanaman kelapa sawit muda.
Meningkatkan efektifitas aplikasi herbisida dengan cara membabat gulma sebagai
persiapan untuk menyemprotan (beri waktu 2–3 minggu agar gulma tumbuh kembali).
Menjaga dan memelihara kesuburan tanah melalui pemeliharaan kacangan penutup
tanah (LCC) yang dapat menurunkan erosi, mengikat N2 dari udara dan menambah
serasah untuk meningkatkan bahan organik tanah.
Mendorong pertumbuhan tanaman kelapa sawit secara optimal melalui pengurangan
pengaruh kompetisi gulma dalam pemakaian hara, air, dan cahaya.
Memelihara lingkungan yang baik bagi perkembangan serangga yang menguntungkan
(misalnya predator serangga hama).
Mencegah berkembangnya gulma kayu-kayuan.
Sedangkan tujuan mengendalian gulma di gawangan secara kimiawi, antara lain :
Memberantas gulma keras seperti lalang (Imperata cylindrica), Melastoma (Melastoma
malabathricum), Dicranopteris lineris dan lain-lain.
Mengendalikan rumput-rumputan, gulma perambat dan gulma kayuan yang tidak dapat
dicabut dengan tangan.
Pengendalian gulma di gawangan pada TBM tahun pertama bersifat total, selain LCC
harus dibasmi. Pada tahun 2 dan 3, penyiangan gawangan dilakukan secara selektif.
Rumput lapangan, pakis sayur yang tidak tumbuh berlebihan dapat ditolerir.
Dongkel anak kayu adalah mencabut anak–anak kayu, tunas tunggul kayu dan gulma
berkayu lainnya sampai ke akarnya.
Pada TBM 1 dan TBM–2 tahun tidak dibenarkan menggunakan herbisida, sedangkan
pada TBM 3 tahun penggunaan herbisida benar–benar diawasi agar tidak mengenai
bagian tanaman yang masih muda.
Penyiangan gawangan pada TM, harus dilakukan secara selektif atas dasar pengamatan di
lapangan. Jika pertumbuhan gulma setempat cukup banyak dan dari jenis gulma lunak
(misalnya : Nephrolepis spp), maka jenis–jenis gulma lunak tersebut dapat dipertahankan
namun secara berkala dibabat..
Faktor–faktor pertimbangan terpenting adalah :
Sifat pertumbuhan dari jenis gulma tersebut tidak terlalu berlebihan sehingga dapat
menyaingi tanaman sawit.
Pengendalian gulma di gawangan harus tepat waktu sehingga tidak terjadi dominasi
jenis gulma yang kurang baik.
Pengendalian gulma di gawangan/penyiangan harus dilakukan dengan gangguan tanah
seminimum mungkin.
PENGENDALIAN GULMA DI JALAN PIKUL DAN TPH
Jalan pikul/jalan panen dan TPH merupakan salah satu sarana yang terpenting dari
produksi dan perawatan. TPH adalah sebagai tempat pengumpulan hasil panen sebelum
diangkut ke PKS. Tujuan pengendalian gulma pada jalan panen/jalan pikul untuk
memelihara jalan panen dan menyediakan akses yang lancar bagi kegiatan pemeliharaan,
aplikasi pupuk dan pengawasan.
Supaya berfungsi sebagaimana mestinya, maka sarana tersebut mutlak memerlukan
pemeliharaan yang berkesinambungan.
http://puputwawan.wordpress.com/2011/06/25/pengendalian-gulma-pada-kelapa-sawit/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->