ASUHAN KEPERAWATAN Chronic Kidney Disease et causa Diabetes Mellitus

Disusun untuk memenuhi tugas Clinical Study 2 (Maternitas)

Disusun oleh: Aprillia Nur’Aida 0810720014

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2012

LAPORAN PENDAHULUAN Chronic Kidney Disease et causa Diabetes Mellitus 1. Definisi Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). CKD merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun. Diabetes merupakan penyakit metabolik sebagai akibat dari kurangnya insulin efektif maupun insulin absolut dalam tubuh, dimana gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat, yang dapat juga menyebabkan gejala klinik akut maupun kronik. Salah satu komplikasi kronik dari diabetes adalah nefropati. Kerusakan pada nefron akibat glukosa dalam darah yang tidak dipakai disebut nefropati diabetes. Nefropati ini yang lama kelamaan dapat menyebabkan CKD. Bila kita dapat menahan tingkat glukosa dalam darah tetap rendah, kita dapat menunda atau mencegah nefropati diabetes.

(American Diabetes Association, 2007) 2. Etiologi CKD: • • • • • • Infeksi misalnya pielonefritis kronik, glomerulonefritis Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik, poliarteritis nodosa,sklerosis sistemik progresif Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik,asidosis tubulus ginjal Penyakit metabolik misalnya DM,gout,hiperparatiroidisme,amiloidosis Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik,nefropati timbal

anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra.• Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli neoplasma. Kreatinin adalah produk sisa yang berasal dari aktivitas otot yang seharusnya disaring dari dalam darah oleh ginjal yang sehat.73 m2) 1 Normal atau elevated GFR ≥ 90 2 Mild decrease in GFR 60-89 3 Moderate decrease in GFR 30-59 4 Severe decrease in GFR 15-29 5 Requires dialysis ≤ 15 Terdapat 5 stadium penyakit gagal ginjal kronis yang ditentukan melalui penghitungan nilai Glumerular Filtration Rate (GFR). anomaly congenital pada leher kandung kemih dan uretra Klasifikasi GGK atau CKD (Cronic Kidney Disease): Stage Gambaran kerusakan ginjal GFR (ml/min/1. • Batu saluran kencing yang menyebabkan hidrolityasis 3. Untuk menghitung GFR dokter akan memeriksakan sampel darah penderita ke laboratorium untuk melihat kadar kreatinin dalam darah. Klasifikasi Terdapat 8 kelas sebagai berikut : Klasifikasi penyakit Infeksi Penyakit peradangan Penyakit vascular hipertensif Gangguan jaringan penyambung Gangguan kongenital dan herediter Penyakit metabolik Nefropati toksik Nefropati obstruktif Penyakit Pielonefritis kronik Glomerulonefritis Nefrosklerosis benigna Nefrosklerosis maligna Stenosis arteri renalis Lupus eritematosus sistemik Poliarteritis nodus Skelrosis sistemik progresif Penyakit ginjal polikistik Asidosis tubulus ginjal Diabetes mellitus. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostat. striktur uretra. neoplasma fibrosis retroperitoneal Saluran kemih bawah : hipertropi prostat. fibrosis netroperitoneal. striktur uretra. Gout Hiperparatiroidisme. Amiloidosis Penyalahgunaan analgesik Nefropati timbal Saluran kemih atas : kalkuli. Dibawah ini 5 stadium penyakit gagal ginjal kronis sebagai berikut : .

seputar wajah atau tangan.gejala juga terkadang mulai dirasakan seperti :  Fatique : rasa lemah/lelah yang biasanya diakibatkan oleh anemia. Kalaupun hal tersebut diketahui biasanya saat penderita memeriksakan diri untuk penyakit lainnya seperti diabetes dan hipertensi. orannye tua.d 29 ml/min)  Stadium 5. dengan penurunan pada tingkat ini akumulasi sisa – sisa metabolisme akan menumpuk dalam darah yang disebut uremia. sehingga banyak penderita yang tidak mengetahui kondisi ginjalnya dalam stadium 1.85 Stadium 1 Seseorang yang berada pada stadium 1 gagal ginjal kronik (GGK) biasanya belum merasakan gejala yang mengindikasikan adanya kerusakan pada ginjalnya. penyakit ginjal stadium akhir/ terminal (>15 ml/min) Untuk menilai GFR ( Glomelular Filtration Rate ) / CCT ( Clearance Creatinin Test ) dapat digunakan dengan rumus : Clearance creatinin ( ml/ menit ) = ( 140-umur ) x berat badan ( kg ) 72 x creatini serum Pada wanita hasil tersebut dikalikan dengan 0. anemia atau keluhan pada tulang. Kuantitas urin bisa .  Kelebihan cairan : Seiring dengan menurunnya fungsi ginjal membuat ginjal tidak dapat lagi mengatur komposisi cairan yang berada dalam tubuh.  Perubahan pada urin : urin yang keluar dapat berbusa yang menandakan adanya kandungan protein di urin. dengan penurunan GFR ringan (60 s/d 89 ml/min)  Stadium 3. Gejala. dengan penurunan GFR moderat ( 30 s/d 59 ml/min )  Stadium 4. Hal ini membuat penderita akan mengalami pembengkakan sekitar kaki bagian bawah. tanda – tanda seseorang berada pada stadium 2 juga dapat tidak merasakan gejala yang aneh karena ginjal tetap dapat berfungsi dengan baik. Stadium 3 Seseorang yang menderita GGK stadium 3 mengalami penurunan GFR moderat yaitu diantara 30 s/d 59 ml/min. Hal ini disebabkan ginjal tetap berfungsi secara normal meskipun tidak lagi dalam kondisi tidak lagi 100 persen. Stadium 2 Sama seperti pada stadium awal. dengan penurunan GFR parah ( 15 s. Selain itu warna urin juga mengalami perubahan menjadi coklat. atau merah apabila bercampur dengan darah. Pada stadium ini muncul komplikasi seperti tekanan darah tinggi (hipertensi). dengan GFR normal (> 90 ml/min)  Stadium 2. Penderita juga dapat mengalami sesak nafas akaibat teralu banyak cairan yang berada dalam tubuh. Stadium 1. Kalaupun hal tersebut diketahui biasanya saat penderita memeriksakan diri untuk penyakit lainnya seperti diabetes dan hipertensi.

bertambah atau berkurang dan terkadang penderita sering trbangun untuk buang air kecil di tengah malam. orannye tua. Selain itu warna urin juga mengalami perubahan menjadi coklat. Dokter akan memberikan rekomendasi terbaik serta terapi – terapi yang bertujuan untuk memperlambat laju penurunan fungsi ginjal. Membatasi karbohidrat biasanya juga dianjurkan bagi penderita yang juga mempunyai diabetes. Kuantitas urin bisa bertambah atau berkurang dan terkadang penderita sering trbangun untuk buang air kecil di tengah malam. . Mengontrol minuman diperlukan selain pembatasan sodium untuk penderita hipertensi. Selain itu sangat disarankan juga untuk meminta bantuan ahli gizi untuk mendapatkan perencanaan diet yang tepat. atau merah apabila bercampur dengan darah. kram ataupunrestless legs. Selain itu besar kemungkinan muncul komplikasi seperti tekanan darah tinggi (hipertensi). Stadium 4 Pada stadium ini fungsi ginjal hanya sekitar 15 – 30 persen saja dan apabila seseorang berada pada stadium ini maka sangat mungkin dalam waktu dekat diharuskan menjalani terapi pengganti ginjal / dialisis atau melakukan transplantasi.  Sulit tidur : Sebagian penderita akan mengalami kesulitan untuk tidur disebabkan munculnya rasa gatal. Penderita juga dapat mengalami sesak nafas akaibat teralu banyak cairan yang berada dalam tubuh. anemia. penyakit tulang.  Rasa sakit pada ginjal.  Penderita GGK stadium 3 disarankan untuk memeriksakan diri ke seorang ahli ginjal hipertensi (nephrolog). Selain itu penderita juga harus membatasi asupan kalsium apabila kandungan dalam darah terlalu tinggi. Gejala yang mungkin dirasakan pada stadium 4 adalah :   Fatique : rasa lemah/lelah yang biasanya diakibatkan oleh anemia. masalah pada jantung dan penyakit kardiovaskular lainnya. karena menjaga kadar fosfor dalam darah tetap rendah penting bagi kelangsungan fungsi ginjal. Hal ini membuat penderita akan mengalami pembengkakan sekitar kaki bagian bawah. seputar wajah atau tangan. Tidak ada pembatasan kalium kecuali didapati kadar dalam darah diatas normal. Kondisi dimana terjadi penumpukan racun dalam darah atau uremia biasanya muncul pada stadium ini. Penderita GGK pada stadium ini biasanya akan diminta untuk menjaga kecukupan protein namun tetap mewaspadai kadar fosfor yang ada dalam makanan tersebut.  Perubahan pada urin : urin yang keluar dapat berbusa yang menandakan adanya kandungan protein di urin. Kelebihan cairan : Seiring dengan menurunnya fungsi ginjal membuat ginjal tidak dapat lagi mengatur komposisi cairan yang berada dalam tubuh. Rasa sakit sekitar pinggang tempat ginjal berada dapat dialami oleh sebagian penderita yang mempunyai masalah ginjal seperti polikistik dan infeksi.

Stadium II : Insufisiensi ginjal · Kadar BUN meningkat (tergantung pada kadar protein dalam diet) · Kadar kreatinin serum meningkat · Nokturia dan poliuri (karena kegagalan pemekatan) . kram ataupunrestless legs. Urin tidak keluar atau hanya sedikit sekali. Rasa sakit pada ginjal. mata dan pergelangan kaki. Rasa sakit sekitar pinggang tempat ginjal berada dapat dialami oleh sebagian penderita yang mempunyai masalah ginjal seperti polikistik dan infeksi. Patofisiologi Perjalanan umum GGK melalui 3 stadium: 1. Untuk itu diperlukan suatu terapi pengganti ginjal (dialisis) atau transplantasi agar penderita dapat bertahan hidup. Sulit berkonsentrasi Pada level ini ginjal kehilangan hampir seluruh kemampuannya untuk bekerja secara      Stadium 5 (gagal ginjal terminal) optimal. Stadium I : Penurunan cadangan ginjal · Kreatinin serum dan kadar BUN normal · Asimptomatik · Tes beban kerja pada ginjal: pemekatan kemih. Gatal – gatal. Bengkak. Perubahan cita rasa makanan : dapat terjadi bahwa makanan yang dikonsumsi tidak terasa seperti biasanya. Tidak mampu berkonsentrasi. Bau mulut uremic : ureum yang menumpuk dalam darah dapat dideteksi melalui bau pernafasan yang tidak enak. Gejala yang dapat timbul pada stadium 5 antara lain :           Kehilangan napsu makan Nausea. Merasa lelah. Sakit kepala. tes GFR 2. Nausea : muntah atau rasa ingin muntah. Keram otot Perubahan warna kulit 4. terutama di seputar wajah. Sulit tidur : Sebagian penderita akan mengalami kesulitan untuk tidur disebabkan munculnya rasa gatal.

Ringan 40% . b.20% fungsi ginjal normal 3. namun sisa nefron yang masih utuh tetap bekerja normal” . Stadium III: gagal ginjal stadium akhir atau uremia · kadar ureum dan kreatinin sangat meningkat · ginjal sudah tidak dapat menjaga homeostasis cairan dan elektrolit · air kemih/urin isoosmotis dengan plasma.010 Patofisiologi umum GGK Hipotesis Bricker (hipotesis nefron yang utuh) “Bila nefron terserang penyakit maka seluruh unitnya akan hancur. c.80% fungsi ginjal dalam keadaan normal Sedang 15% .40% fungsi ginjal normal Kondisi berat 2% .Ada 3 derajat insufisiensi ginjal: a. dengan BJ 1.

. USRDS 2007 Annual Data Report.Source: United States Renal Data System.

sekresi protein retensi Na edema pruritus perubahan warna kulit Enchepalop ati kelebihan volume cairan beban jantung naik sekresi eritropoitin  produksi Hb dan sel darah merah  sindrom uremia perpospatemia urokrom tertimbun di kulit Gangguan Integritas Kulit suplai O2  gangguan perfusi jaringan intoleransi aktivitas Toksisitas ureum di otak Penurunan kesadaran Gangguan nutrisi hipertrofi ventrikel kiri payah jantung kiri Ggn. pertukaran gas intoleransi aktivitas .Patofisiologi DIABETES Defisiensi insulin Glukagon  Glukoneogenesis Pemakaian glukosa sel  Hiperglikemia Glycosuria Osmotic diuresis Nutrisi sel  Polyphagi Polyuri Polydipsi Jantung Cerebral Makrovaskuler ekstremitas Lemak Ketogenesis Ketonemia pH  asidosis Mual Muntah Protein BUN  Nitrogen urin  Dehidrasi Hemokonsentrasi IMA Stroke Gangran arteriosklerosis Koma Kematian Retina Retinopati Mikrovaskuler Ginjal Nefropati CKD Ggn. asam basa alkalosis respiratorik Mual Muntah Perubahan pola nafas edema paru ggn.

Manifestasi Klinis  Kardiovaskuler o o o o o  Hipertensi Pitting edema Edema periorbital Pembesaran vena leher Friction rub perikardial Pulmoner o o o o KrekelS Nafas dangkal Kusmaul Sputum kental dan liat  Gastrointestinal o o o o o Anoreksia. mual dan muntah Perdarahan saluran GI Ulserasi dan perdarahan pada mulut Konstipasi / diare Nafas berbau amonia  o o o o  o o o Muskuloskeletal Kram otot Kehilangan kekuatan otot Fraktur tulang Foot drop Integumen Warna kulit abu-abu mengkilat Kulit kering. telah dibuat kriteria diagnosis klasifikasi . Pemeriksaan Penunjang Atas dasar penelitian kasus-kasus di Surabaya. bersisik Pruritus o Ekimosis o Kuku tipis dan rapuh o Rambut tipis dan kasar  Reproduksi o Amenore. dan prognosis. maka berdasarkan visibilitas. atrofi testis 6.5. diagnosis. manifestasi klinik.

5mg/dl. berupa : 1. dihubungkan dengan iskhemia retina. gatal-gatal pada kulit. 3. Proteinuri yang presisten selama 2x pemeriksaan interval 2 minggu tanpa penyebab proteinuria yang lain. akibat gangguan permeabilitas mikroaneurisma atau pecahnya kapiler. Diagnosis Nefropati Diabetika dapat dibuat apabila dipenuhi persyaratan seperti di bawah ini: 1. polipagi. DM 2. yang menyebabkan berkurangnya aliran darah dalam kapiler retina.Nefropati Diabetika tahun 1983 yang praktis dan sederhana. atau proteinuria 1x pemeriksaan plus kadar kreatinin serum >2. Pemeriksaan Laboratorium a. Berwarna kuning. Keluhan khas berupa poliuri. terutama daerah kapiler vena. 6. Urin Volume: biasanya kurang dari 400ml/24 jam atau tak ada (anuria) . 2. Eksudat berupa : • • Hard exudate. berupa tonjolan dinding kapiler. akibat pengurangan aliran darah arteri karena obstruksi kapiler. 2. didapatkan perubahan pada : Cor _ cardiomegali Pulmo _ oedem pulmo sembuh. impotens. 3. tak berbatas tegas. luka sukar ginekomastia. 5. Perdarahan bintik atau perdarahan bercak. Neovaskularisasi Bila penderita jatuh pada stadium end stage (stadium IV-V) atau CRF end stage. Keluhan tidak khas berupa: kesemutan. penurunan berat badan. karena eksudasi plasma yang lama. Pemeriksaan Fisik Pada Nefropati Diabetika didapatkan kelainan pada retina yang merupakan tanda retinopati yang spesifik dengan pemeriksaan Funduskopi. 4. Cotton wool patches. polidipsi. Shunt artesi-vena. Data yang didapatkan pada pasien antara lain pada: 1. Berwarna putih. Mikroaneusisma. Retinopati Diabetika 3. Anamnesis Dari anamnesis kita dapatkan gejala-gejala khas maupun keluhan tidak khas dari gejala penyakit diabetes. Obstruksi kapiler.

masa h. hematuria dan pengangkatan tumor selektif g. defisiensi eritropoitin GDA:asidosis metabolik. Osmolalitas serum: lebih dari 285 mOsm/kg d. Meningkat Kalsium . obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas f.2 Natrium serum : rendah Kalium: meningkat Magnesium. ph kurang dari 7. kista. Hb biasanya kurang dari 7-8 gr/dl SDM: menurun. kadar kreatinin 10 mg/dl diduga tahap akhir Ht : menurun pada adanya anemia. porfirin - Berat jenis: kurang dari 1. Ultrasono ginjal : menentukan ukuran ginjal dan adanya masa . keluar batu. menurun Protein (albumin) : menurun c. Arteriogram ginjal: mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi ekstravaskular. EKG: ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa 7. mioglobin. kecoklatan menunjukkkan adanya darah. Pelogram retrograd: abnormalitas pelvis ginjal dan ureter e. Endoskopi ginjal. fosfat atau uratsedimen kotor. lemak. Penatalaksanaan . Komplikasi: o o o Toksisitas Koma Kematian 8. bakteri. Darah BUN/ kreatinin: meningkat. nefroskopi: untuk menentukan pelvis ginjal.010 menunjukkn kerusakan ginjal berat Osmoalitas: kuran gdari 350 mOsm/kg menunjukkan kerusakn ginjal tubular dan rasio urin/serum sering 1:1 Klirens kreatinin: mungkin agak menurun Natrium:lebih besar dari 40 mEq/L karena ginjal tidak mampu mereabsorbsi natrium Protein: Derajat tinggi proteinuria (3-4+) secara kuat menunjukkkan kerusakan glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada b. Hb.- Warna: secara abnormal urin keruh kemungkinan disebabkanoleh pus.

Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui daerah femoralis namun untuk mempermudah maka dilakukan : AV fistule : menggabungkan vena dan arteri Double lumen : langsung pada daerah jantung ( vaskularisasi ke jantung ) Pengambilan batu transplantasi ginjal Dapat dilakukan dengan olahraga. Akibat dari gangguan fungsi ginjal apabila obat oral diberikan tidak dapat diekskresikan. Diet rendah garam dimaksudkan untuk mengurangi retensi natrium yang dapat mengakibatkan hipertensi dan edema.darah dan urin Observasi balance cairan Observasi adanya odema Batasi cairan yang masuk peritoneal dialysis biasanya dilakukan pada kasus – kasus emergency. Diet rendah kalium dimaksudkan untuk mencegah terjadinya hiperkalemia yang dapat menimbulkan aritmia jantung yang fatal. Pemberian diuretik pada pasien ini dimaksudkan untuk mengurangi gejala sesak napas akibat edema paru . Diuretik yang diberikan furosemid 40 mg 1 tab/hari. diet dan obat anti diabetes. Selain itu diuretik juga digunakan untuk menurunkan tekanan darah. Target tekanan darah yang dianjurkan adalah <130/80 b) Dialysis c) Operasi d) Pengendalian gula darah .a) Konservatif Dilakukan pemeriksaan lab. Pemberian insulin diberikan untuk mengendalikan kadar gula darah pasien. f) Diuretik Diuretik diberikan untuk mengurangi cairan akibat dari retensi Na dan air. sehingga mengalami penumpukan akibatnya terjadi hipoglikemia e) Diet Diet protein 0. Pada pasien ini diberikan diet DM 1700 kal/hari.6 /KgBB/hari dimaksudkan untuk mengurangi sindrom uremik dan memperlambat penurunan GFR. Sedangkan dialysis yang bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut adalah CAPD ( Continues Ambulatori Peritonial Dialysis ) Hemodialisis Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan menggunakan mesin. Pemberian anti diabetik oral tidak diberikan karena pasien telah mengalami komplikasi berupa gangguan ginjal.

Hipertensi ditangani dengan medikasi antihipertensi kontrol volume intravaskule. diuretik. Biasanya cairan diperbolehkan 300-600 ml/24 jam. rumah. telur. malam hari. . namun suplemen natrium bikarbonat pada dialisis mungkin diperlukan untuk mengoreksi asidosis.g) Anti hipertensi Pemberian antihipertensi diperlukan untuk mengurangi tekanan darah pada pasien. peritoneal dialisis atau transplantasi ginjal. kemudian digantikan dengan amlodipine 5 mg 1x/hari. diit rendah natrium. karena hal ini dapat memperberat proses sklerosis glomerulus dan menambah beban jantung sehingga jantung bekerja lebih berat lagi dan akhirnya menimbulkan dekompensasi kordis. digitalis atau dobitamine dan dialisis. Kalori untuk mencegah kelemahan dari KH dan lemak. Gagal jantung kongestif dan edema pulmoner perlu pembatasan cairan. Terapi pengganti tersebut berupa hemodialisis. Terapi pengganti ginjal Terapi ini dilakukan pada penyakit ginjal kronik stadium 5 yaitu pada LFG <15 ml/mnt. Protein yang dikonsumsi harus bernilai biologis (produk susu. Pemberian vitamin juga penting karena pasien dialisis mungkin kehilangan vitamin larut air melalui darah sewaktu dialisa. 5. Anti hipertensi yang diberikan pada pasien ini awalnya methyldopa 250 mg 3x1.  Manajemen terapi GGK (penyakit ginjal terminal) Dialysis terpi konservatif HD di RS. Intervensi diit. Asidosis metabolik pada pasien CKD biasanya tanpa gejala dan tidak perlu penanganan. Protein dibatasi karena urea. daging) di mana makanan tersebut dapat mensuplai asam amino untuk perbaikan dan pertumbuhan sel. yang berfungsi sebagai venodilator vas eferen h) Statin Statin diberikan pada keadaan dislipidemia dengan target LDL kolestrol <100mg/dl pada pasien DM dan <70 mg/dl bila sudah ada kelainan kardiovaskular. asam urat dan asam organik merupakan hasil pemecahan protein yang akan menumpuk secara cepat dalam darah jika terdapat gangguan pada klirens renal. Amlodipine termasuk dalam golongan Ca antagonis non dihydropiridine. CAPD Transplantasi ginjal Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan homeostasis selama mungkin. Pada pasien ini diberikan simvastatin 10 gr.

sakit kepala. 2.d keletihan/kelemahan. pneumonitis. Abnormalitas neurologi dapat terjadi seperti kedutan..d edema paru. muntah. asidosis metabolic.d penurunan daya tahan tubuh primer. berpindah& perawatan suplai & kebutuhanADL dgn baik aktivitas fisik dgn TD.. retensi produk sampah dan Pola nafas tidak efektif b. tindakan invasive PK: Insuf Renal PK : Anemia Sindrom defisit self care b.hangat & kering Memverbalisasikan · kulit dalam · Tentukan penyebab intoleransi aktivitas & tentukan apakah penyebab dari fisik. 4. psikis / motivasi Kaji kesesuaian aktivitas & istirahat klien sehari-hari Tingkatkan aktivitas secara bertahap. HR. prosedur dialysis. natrium. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. Kelebihan volume cairan b. perikarditis inadekuat (mual.· . anemia. kalium. Intervensi No Diagnosa Tujuan/KH Intervensi 1 Intoleransi aktivitasSetelah dilakukan askep . Diagnosa Keperawatan 1.d kurangnya informasi Risiko infeksi b. obat-obat local&sistemik. CAPD.d penurunan haluan urin.Anemia pada CKD ditangani dengan epogen (erytropoitin manusia rekombinan). kesehatan. penyakitnya.NIC: Toleransi aktivitas B. dellirium atau aktivitas kejang. Anemia pada pasaien (Hmt < 30%) muncul tanpa gejala spesifik seperti malaise.d ketidakseimbangan O2 jam Klien dapatmenoleransi· aktivitas &melakukan Kriteria Hasil: · Berpartisipasi RR yang sesuai · · Warna normal. Intoleransi aktivitas b. 6. biarkan diri Pastikan klien mengubah posisi secara klien berpartisipasi dapat perubahan posisi. keletihan umum dan penurunan toleransi aktivitas. cairan Terapi simptomatik : Suplemen alkali. 8. anoreksia dll). 10. Pada prinsipnya penatalaksanaan Terdiri dari tiga tahap : Penatalaksanaan konservatif : Pengaturan diet protein. 3. 5.d intake makanan yang Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b. anti hipertensi Terapi pengganti : HD. 9.d kelemahan. transfusi. retensi cairan dan natrium. Pasien dilindungi dari kejang. 7. transplantasi 9.

kedalaman dan menunjukkan ventilasi energi.. aktivitas Ketika pucat.pentingnya aktivitas secara bertahap · Mengekspresikan pengertian keseimbangan istirahat · 2 Pola efektif hiperventilasi... HR Monitor kehausan Monitor warna..askep .Monitor Pernafasan: b. Perhatikan pergerakan dada..djam pola nafas klien· yg · · Monitor irama. gangguan observasi gejala intoleransi spt mual.. Auskultasi bunyi nafas Monitor peningkatan ketidakmampuan istirahat. dilakukanFluit manajemen: pasien· · · dari edema · Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa. kecemasan dan sesag nafas. gejala klien intoleransi berdiri. efusi · Suara paru bersih normal pengaturan melemah cairan dan elektrolit. jam efektif / suction jika perlu. · Tanda vital dalam batas· .d.. Atur posisi tidur klien untuk maximalkan ventilasi Lakukan fisioterapi dada jika perlu Monitor status pernafasan dan oksigenasi sesuai kebutuhan Auskultasi bunyi nafas Bersihhkan skret jika ada dengan batuk Kedalaman nafas normal · penggunaan otot bantuanPengelolaan Jalan Nafas 3 Kelebihan cairan mekanisme volumeSetelah b. kesadaran & tanda vital Lakukan latihan ROM jika klien tidak aktivitas dapat menoleransi aktivitas tidakSetelah dilakukan askep . penurunan kelemahan nafas Meningkatkan toleransi · latihan & · pentingnya bertahap.. kualitas dan BJ urine turgor kulit dan adanya Fluit monitoring: · adanya indikasi mengalamikeseimbangan Kriteria hasil: · Bebas anasarka. Monitor membantu pusing.adekuat dg kriteria : · · · Tidak ada dispnea Tidak ada retraksi dada / pernafasan · · · · · frekuensi pernafasan. nadi adekuat) Monitor tanda vital Monitor overload/retraksi Kaji daerah edema jika ada Monitor intake/output cairan Monitor serum albumin dan protein total · · · Monitor RR.

jam kebutuhan tubuh dilakukan askepManajemen Nutrisi klien· nutrisi· · Kaji pola makan klien Kaji adanya alergi makanan.d. Monitor respon klien terhadap situasi yang mengharuskan klien makan.4 Ketidakseimbangan Setelah nutrisi kurang dari…. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi dan pentingnya bagi tubuh klien Monitor Nutrisi · · · · Monitor BB setiap hari jika memungkinkan. · · Monitor adanya mual muntah. Jelaskan kondisi klien Jelaskan tentang program pengobatan dan alternatif pengobantan Diskusikan perubahan gaya hidup yang pengobatan tanpa cemas · Klien / keluarga kooperatif· . Yakinkan mengandung · diet yang dikonsumsi serat untuk cukup menunjukanstatus : · · · · BB stabil adekuatdengan kriteria hasil· Tidak terjadi mal nutrisi Tingkat energi adekuat · Masukan adekuat nutrisi · mencegah konstipasi.Pasien mampu: sumber· Menjelaskan · Mengenal perawatan penjelasan yang diberikan kemungkinan penyebab. 5 · Monitor intake nutrisi dan kalori.. Anjurkan klien untuk meningkatkan asupan nutrisinya. Kolaborasi dg ahli gizi untuk penyediaan nutrisi terpilih sesuai dengan kebutuhan klien. bengkak dsb. Kurang pengetahuanSetelah dilakukan askep … Pendidikan : proses penyakit tentang penyakit. Monitor lingkungan selama makan.jam Pengetahuan klien / keluarga meningkat dg KH: · kembali kebutuhan· dan· · Kaji pengetahuan tentang dan klien proses tentang penyakit identifikasi perawatan dan kurangnya informasi. jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak bersamaan dengan waktu klien makan. Monitor proses adanya gangguan dalam mastikasi/input makanan misalnya perdarahan. pengobatan nya b. Kaji makanan yang disukai oleh klien. terbatasnya kognitif penyakitnya Jelaskan (tanda gejala).

· jam Perawat akan menangani atau mengurangi komplikasi dari insuf renal · · · Tingkatkan masukan gizi yang cukup Anjurkan istirahat cukup Pastikan penanganan aseptic daerah IV Berikan PEN-KES tentang risk infeksi monitor tanda dan gejala infeksi Pantau hasil laboratorium Amati faktor-faktor yang bisa meningkatkan infeksi proteksi infeksi: · dayaterkontrol dg KH: · Bebas infeksi · Angka leukosit normal( 4.. Timbang BB jika memungkinkan Catat balance cairan Sesuaikan pemasukan cairan setiap hari = cairan yang keluar + 300 – 500 ml/hr . urine <30 cc/jam.000 ) · Ps mengatakan tahu tentang tanda-tanda dan gejala infeksi invasive.· 10. prosedur perawatan 6 Resiko tindakan infeksi dan pengobatan b/dSetelah dilakukan askep .saat dilakukan tindakan · · · · mungkin komplikasi digunakan untuk mencegah terapi dan Diskusikan pilihannya tentang Eksplorasi kemungkinan sumber yang bisa digunakan/ mendukung Instruksikan kapan harus ke pelayanan Tanyakan kembali pengetahuan klien tentang penyakit. peningkatan BJ urine.. edema). pospat dan amonia. kalium. peningkatan natrium urine.. BUN Creat.jam risiko penurunan tahan tubuh primer 7 PK: Insuf Renal Monitor VS Pantau tanda dan gejala insuf renal ( peningkatan TD..Kontrol infeksi infeksi· · dari tanda-tanda· Ajarkan tehnik mencuci tangan Ajarkan tanda-tanda infeksi Laporkan dokter segera bila ada tanda infeksi Batasi pengunjung Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak denganps · · · · · · · · Setelah dilakukan askep .

· Berikan ketat : dorongan cairan cc/24 800-1000 untuk yang jam. Berikan reinforcement atas usaha yang klien klien dalam untuk memenuhi melakukan sesuai kebutuhannya. anemia..Bantuan perawatan diri care b/d kelemahan jam klien mampu Perawatan· diri Self care :Activity Daly Living dengan kriteria : · Pasien dapat melakukan aktivitas (makan. toileting. mual muntah. sakit kepala. · Konjungtiva tdk anemis · Kulit tidak pucat 9 komplikasi anemia : · Akral hangat · Observasi keadaan umum klien Sindrom defisit selfSetelah dilakukan askep …. HMT.· Monitor tanda-tanda anemia jam perawat akan dapat· terjadinya · · Anjurkan untuk meningkatkan asupan nutrisi klien yg bergizi Kolaborasi untuk pemeberian terapi initravena dan tranfusi darah Kolaborasi kontrol Hb. Ph rendah. toileting dan makan Beri bantuan sampai klien mempunyai kemapuan untuk merawat diri Bantu Anjurkan aktivitas kemampuannya Pertahankan aktivitas perawatan diri secara rutin Evaluasi kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. ambulasi) · Kebersihan terpenuhi · · · diri pasien· sehari-hari· berpakaian. Retic. hipoalbuminemia Setelah dilakukan askep . rendah natrium (2-4g/hr) pantau tanda dan gejala asidosis metabolik ( pernafasan dangkal cepat. Atau pembatasan masukan haluaran urin / 24 jam + 500cc · · Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet.. kebersihan.· · Monitor kemampuan pasien terhadap perawatan diri Monitor kebutuhan akan personal hygiene. letargi) · · 8 PK: Anemia Kolaborasi dengan timkes lain dalam therapinyadan HD Pantau perdarahan. status Fe meminimalkan · Hb >/= 10 gr/dl.. sehari-hari . berpakaian.

M. Suzanne C. Moorhouse. Jakarta: EGC. Daftar Pustaka Doengoes.. A. Alih bahasa: Kariasa. Jakarta: EGC. 22 april 2012 pukul 15.. Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting patients care. M. M. 11. 2002. Judith M. Jakarta: EGC.00) Rindiastuti. Yuyun. 2007.E.com/index.dilakukan. Geissler.F. Wilkinson. . 2000 http://ppni klaten. Deteksi Dini Dan Pencegahan Penyakit Gagal Ginjal Kronik Smeltzer. Buku Saku Diagnosis Keperawatan.php?option=com_content&view=article&id=71:ckd&catid= 38: ppni-ak-category&Itemid=66 (diakses tanggal.C.I. 2006. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth volume 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful