P. 1
Ped. Pengendalian Tata Ruang Kota

Ped. Pengendalian Tata Ruang Kota

|Views: 36|Likes:
Published by DeasiArisandi
Ped. Pengendalian Tata Ruang Kota
Ped. Pengendalian Tata Ruang Kota

More info:

Published by: DeasiArisandi on Jun 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/24/2013

pdf

text

original

Pd.

X – XX – XXXX – X

Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Perkotaan

1

Ruang Lingkup

Ruang lingkup pedoman ini terdiri dari 2 (dua) kegiatan pokok, yaitu: Pengawasan (pelaporan, pemantauan, evaluasi) dan Penertiban. Dalam pedoman ini kegiatan pengawasan dan penertiban tersebut diuraikan dalam bentuk Ketentuan Umum dan Ketentuan Teknis. Materi pedoman mencakup tata cara dan kriteria teknis pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan perkotaan, terutama untuk kota besar dan kota metropolitan. Pedoman ini ditujukan kepada : a. Pemerintah Kota dan Kabupaten sebagai rujukan dalam rangka menyusun kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan perkotaan; b. Masyarakat sebagai acuan/arahan dalam kegiatan pelaporan dan pemantauan pemanfaatan ruang di kawasan perkotaan. Salah satu contoh konsep pola hubungan antara kawasan perkotaan dan wilayah administrasi kota serta fenomena urban sprawl yang biasanya terjadi akibat ketersediaan lahan yang semakin langka dan mahal di pusat kota (urban) dapat dilihat pada Lampiran A. Konsep ini sekaligus menunjukkan lokasi dimana pedoman ini dapat diterapkan. Sementara kedudukan pedoman pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan perkotaan dalam penataan ruang ditunjukkan pada Lampiran B.

2

Acuan normatif

Tata Cara Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Perkotaan, disusun berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu : Undang Undang R.I No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang R.I No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan Pemerintah R.I No. 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Peraturan Pemerintah R.I No. 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tatacara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang. Peraturan Pemerintah R.I No. 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah.

3

Istilah dan definisi

3.1 evaluasi usaha untuk menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata ruang (penjelasan UU No. 24/1992)

1 dari 25

Pd. X – XX – XXXX – X

3.2 ijin pemanfaatan ruang ijin yang berkaitan dengan lokasi, kualitas ruang, dan tata bangunan yang sesuai dengan peraturan perundangan undangan, hukum adat, dan kebiasaan yang berlaku (penjelasan UU No. 24/1992) 3.3 kawasan budidaya kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan (UU No. 24/1992) 3.4 kawasan lindung kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan (UU No. 24/1992) 3.5 kawasan perkotaan kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi (UU No. 24/1992) 3.6 kota kawasan perkotaan yang berstatus Daerah Otonom 3.7 pelaporan kegiatan memberi informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang (penjelasan UU No. 24/1992) 3.8 pemanfaatan ruang rangkaian program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang memanfaatkan ruang menurut jangka waktu yang ditetapkan di dalam rencana tata ruang (penjelasan UU No. 24/1992) 3.9 pemantauan usaha atau perbuatan untuk mengamati, mengawasi, dan memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang sesuai maupun tidak sesuai dengan rencana tata ruang (penjelasan UU No.24/1992). Proses pemantauan dalam hal ini merupakan kegiatan yang akan terus dilakukan, baik ada pelanggaran maupun tidak ada pelanggaran pemanfaatan ruang. 3.10 penataan ruang proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang (UU No. 24/1992) 3.11 penertiban usaha untuk mengambil tindakan agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud (penjelasan UU No. 24/1992) 2 dari 25

24/1992) 3. over a large area – en.18 urban sprawl pertumbuhan kawasan metropolitan. industri dan campuran 3. baik direncanakan maupun tidak (UU No.14 rencana tata ruang hasil perencanaan tata ruang (UU No. khususnya ke arah pinggiran kota. X – XX – XXXX – X 3. dan mencakup luas lahan yang besar (the growth of a metropolitan area.J. b) pemantauan terhadap perubahan pemanfaatan ruang.S. biasanya digunakan sebagai daerah perumahan.wikipedia. serta c) evaluasi sebagai upaya menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata ruang.16 sub urban kawasan pinggiran kota (Kamus Besar Bahasa Indonesia. 24/1992) 3. 24/1992) 3. ruang lautan. particularly the suburbs. Pengawasan diselenggarakan melalui kegiatan sebagai berikut : a) pelaporan yang menyangkut segala hal yang tentang pemanfaatan ruang.Pd. dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah.12 pengawasan usaha untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang (penjelasan UU No. W. Poerwadarminta) daerah perumahan yang lokasinya di pinggiran kota (a residential district located on the outskirts of a city . 24/1992) 3.15 ruang wadah yang meliputi ruang daratan. pertanian.org/wiki/Urban_sprawl) 4 Ketentuan umum Pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan ruang. 24/1992) 3. agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang (penjelasan UU No.WordNet Dictionary) kawasan yang terletak di bagian tepi suatu kota yang pemanfaatan ruangnya relatif lebih rendah intensitasnya.13 pengendalian pemanfaatan ruang pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan ruang. tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya (UU No.17 tata ruang wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang. 3 dari 25 .

d) Pelaporan disampaikan kepada : instansi yang berwenang yaitu Dinas Tata Ruang / Dinas Tata Kota / Dinas Pekerjaan Umum atau instansi lain yang berfungsi mengendalikan pemanfaatan ruang untuk ditindaklanjuti dalam proses pemantauan dan/atau evaluasi. bertujuan untuk mencegah terjadinya penyimpangan kegiatan yang dilaksanakan terhadap perijinan yang telah diterbitkan. bertujuan untuk mencegah terjadinya kelambatan atau masa idle (non-performing) yang berdampak negatif. Hal-hal yang dilaporkan dalam aspek non-fisik menyangkut tanggapan dan penilaian masyarakat. b) Pengawasan pasca pembangunan. kantor. baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. c) Subyek pelaporan terdiri dari pihak-pihak yang memiliki hak dan/atau kewajiban untuk melaporkan hal-hal yang menyangkut pemanfaatan ruang. kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang tersebut dilaksanakan secara terintegrasi dan terkoordinasi. 4. X – XX – XXXX – X Dalam pelaksanaannya. Subyek yang memiliki kewajiban untuk melaporkan adalah pihak pengguna ruang. baik itu aspek fisik maupun non-fisik. serta pengaruh yang ditimbulkan oleh pemanfaatan ruang terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. 4. toko.1 Pelaporan a) Fungsi pelaporan adalah sebagai salah satu sumber informasi bagi pemerintah atau instansi yang berwenang dalam memantau dan mengevaluasi pemanfaatan ruang sebagaimana yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang kawasan.Pd.1. Bentuk pelaporan dapat disampaikan secara tertulis maupun tidak tertulis. Aspek fisik menyangkut konstruksi bangunan seperti gedung. 4 dari 25 . b) Pelaporan tidak hanya berupa laporan pelanggaran atas rencana tata ruang. 2) masyarakat luas (pihak-pihak di luar pengguna baik yang berada maupun tidak berada di sekitar kawasan pemanfaatan ruang) : berguna sebagai penyeimbang informasi sekaligus sebagai kontrol terhadap laporan yang dibuat oleh pengguna ruang. sedangkan subyek yang memiliki hak untuk melaporkan adalah masyarakat luas dengan perincian sebagai berikut: 1) pengguna ruang : berupa laporan kegiatan pembangunan yang akan digunakan untuk menilai sampai sejauh mana pelaksanaan pemanfaatan ruang direalisasikan sesuai dengan rencana tata ruang yang berlaku. sedangkan pelaporan tertulis atau tidak tertulis disampaikan oleh masyarakat umum. Penertiban merupakan tindakan yang dilakukan bila terdapat indikasi pelanggaran pemanfaatan ruang (lihat Lampiran C). rumah. Pelaporan tertulis disampaikan oleh pihak pengguna ruang. sedangkan non-fisik menyangkut pengaruh/dampak negatif dan positif dari pemanfaatan ruang terhadap kehidupan sosialekonomi masyarakat. f) Bentuk pelaporan berupa standar-formal (format baku) yang diberlakukan oleh instansi pemerintah dan instansi terkait lainnya yang berwenang dalam pengendalian pemanfaatan ruang.1 Pengawasan Berdasarkan waktu pelaksanaannya. e) Obyek pelaporan terdiri dari aspek-aspek yang terkait dengan pemanfaatan ruang. dan sebagainya. tetapi juga segala hal yang menyangkut kegiatan pemanfaatan ruang. pasar. pengawasan dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu : a) Pengawasan selama proses pembangunan (construction).

Dalam tahap ini pihak pengguna ruang menyampaikan semua rencana pemanfaatan ruang yang telah mendapat persetujuan atau ijin dari pemerintah atau instansi yang berwenang. baik pengguna ruang itu sendiri maupun masyarakat umum (lihat Lampiran C). hasil laporan pada tahap ini akan menentukan apakah pelaksanaan pemanfaatan ruang perlu ditinjau kembali untuk disesuaikan dengan rencana atau terus dilanjutkan. yakni pelaporan yang disampaikan pada tahap pelaksanaan pemanfaatan ruang. Pada tahap ini pihak pengguna diharuskan mengisi formulir yang telah disediakan oleh pemerintah atau instansi terkait. Pelaporan pada tahap ini berguna sebagai input bagi pelaksanaan evaluasi terhadap kegiatan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan rencana tata ruang. yaitu tertulis dan tidak tertulis.Pd. j) Pelaporan oleh masyarakat umum dapat dilakukan kapan pun selama dalam pelaksanaan kegiatan pemanfaatan ruang dinilai ada hal-hal yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang yang berlaku. Itu artinya. X – XX – XXXX – X g) Mekanisme pelaporan merupakan proses dan prosedur pelaporan yang harus dilalui oleh pelapor. yakni pelaporan rencana final pembangunan. 3) Tahap Pasca Konstruksi. i) Pelaporan oleh pengguna ruang dilakukan dalam 3 (tiga) tahap: 1) Tahap Pra Konstruksi. Tabel 1 Ringkasan Tahap Pelaporan Subyek Pelaporan Pengguna ruang (wajib lapor) Bentuk Pelaporan Tertulis Waktu Pelaporan Tahap Pra Konstruksi Tahap Konstruksi Tahap Pasca Konstruksi Kapan pun selama dalam pelaksanaan kegiatan pemanfaatan ruang dinilai ada hal-hal yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang yang berlaku Obyek Pelaporan Aspek fisik (konstruksi fisik) : bangunan Aspek non-fisik (pengaruh/dampak negatif & positif dari pemanfaatan ruang terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat) : tanggapan dan penilaian masyarakat. Pelaporan yang disampaikan pada tahap ini berupa hasil akhir dari kegiatan pembangunan. Pelaporan ini berguna sebagai input bagi proses evaluasi dan peninjauan kembali terhadap kesesuaian antara rencana dan pelaksanaan akhir pemanfaatan ruang. yakni pelaporan hasil akhir dari pelaksanaan pemanfaatan ruang. pengaruh yang ditimbulkan oleh pemanfaatan ruang terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Masyarakat luas (hak lapor) Tertulis Tidak tertulis 2) Tahap Konstruksi. Prosedur pelaporan yang disampaikan oleh masyarakat umum dapat dilakukan melalu dua cara. 5 dari 25 . h) Tahapan pelaporan terdiri dari tahap-tahap pelaporan yang harus dilakukan oleh pengguna ruang maupun masyarakat selama proses pelaksanaan kegiatan pembangunan dilakukan.

2 Pemantauan a) Pemantauan adalah aktivitas yang bertujuan mengamati. Ilustrasi Pelaporan 4. pengguna ruang. c) Subyek pemantauan terdiri dari instansi pemerintah yang berwenang di bidang tata ruang di wilayah administrasi kabupaten/kota seperti Dinas Tata Kota. atau instansi terkait perihal adanya dugaan pelanggaran pemanfaatan ruang. 2) kegiatan lanjutan setelah adanya laporan dari masyarakat atau instansi terkait perihal adanya dugaan penyimpangan/ketidaksesuaian pembangunan fisik dengan rencana tata ruang Tabel 2 Ringkasan Tahap Pemantauan Subyek Pemantauan Instansi Pemerintah (DTK. d) Pemantauan dilakukan secara berkala minimal 1 tahun sekali dan merupakan : 1) kegiatan rutin. wawancara. Dinas Pekerjaan Umum. b) Fungsi pemantauan adalah agar pelaksanaan pemanfaatan ruang dapat sesuai dengan Rencana Tata Ruang dan merupakan salah satu upaya untuk mencegah pelanggaran pemanfaatan ruang yang dapat merugikan masyarakat. Kondisi lahan terakhir: wilayah terbangun (built up areas) ATAU lahan kosong 6 dari 25 .Pd. Dinas Perkim & Tata Ruang. Dinas Permukiman dan Tata Ruang. Insidentil:untuk ‘memecahkan masalah lokal’ (melalui sidak. Dinas PU. kunjungan lapangan) Waktu Pemantauan Tahap Pra Konstruksi Tahap Konstruksi Tahap Pasca Konstruksi Obyek Pemantauan Wilayah administrasi (kota dan kabupaten). X – XX – XXXX – X Gambar 1. dsb) Bentuk Pemantauan Rutin/periodik: berdasarkan prosedur yang berlaku. Pemantauan merupakan kegiatan rutin dari instansi terkait dan merupakan tindak lanjut adanya laporan dari masyarakat. dan dinas lain yang terkait.1. mengikuti dan mendokumentasikan perubahan status/kondisi suatu kegiatan pemanfaatan ruang suatu kawasan/obyek tertentu dalam periode waktu tertentu.

wilayah terbangun (built up areas) misalnya untuk memantau kegiatan renovasi. yakni kota dan kabupaten 2) Kondisi lahan terakhir : . Pemantauan formal ini menghasilkan laporan periodik. . 2 dari 25 . revitalisasi/peremajaan. yaitu : 1) Masa pra konstruksi. 2) Masa konstruksi.1.Pd. yaitu pemantauan yang dilakukan oleh aparat instansi yang berwenang untuk ‘memecahkan masalah lokal’ atau masalah yang mendapat perhatian masyarakat. 4. dan lain-lain. 3) Masa pasca konstruksi. dapat dilihat pada Lampiran E. X – XX – XXXX – X Gambar 2. dilaksanakan pada saat bangunan telah dipakai/digunakan untuk suatu kegiatan. yaitu : 1) Pemantauan yang dilakukan secara rutin/periodik. 2) Pemantauan yang dilakukan secara insidentil. Evaluasi merupakan bagian dari tindakan pengawasan yang menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi pemanfaatan ruang untuk ditindaklanjuti.3 Evaluasi a) Evaluasi merupakan tindak lanjut dari kegiatan pelaporan dan pemantauan. h) Hasil pemantauan dikelompokkan ke dalam 4 tipologi pemanfaatan ruang : 1) Konversi Lahan (Tipologi A) : 2) Dominasi Fungsi (Tipologi B) : 3) Hubungan Fungsional Antar Kegiatan dan Antar Kawasan (Tipologi C) : 4) Konflik Pemanfaatan Ruang dalam Satu Kawasan (Tipologi D) : Untuk lebih jelasnya. g) Pemantauan dilakukan dengan 2 (dua) cara. dilaksanakan pada saat kegiatan pembangunan dimulai hingga siap dimanfaatkan. dilaksanakan bersamaan dalam masa studi kelayakan. Ilustrasi Pemantauan e) Penentuan lokasi wilayah pemantauan pemanfaatan ruang dilakukan berdasarkan : 1) Wilayah administrasi.Wilayah/lahan kosong (misalnya dari kawasan pertanian menjadi kawasan industri atau tanah kosong/telantar menjadi kawasan perumahan dan permukiman) f) Pemantauan pemanfaatan ruang dilakukan berdasarkan 3 (tiga) tahapan. atau perubahan fungsi ruang seperti dari kawasan perumahan ke kawasan perdagangan. yaitu pemantauan yang dilakukan oleh aparat instansi yang berwenang berdasarkan prosedur yang berlaku.

Dinas Perkim & Tata Ruang. termasuk penemuan faktor-faktor yang menyebabkan pencapaian lebih dan atau kurang dari manfaat yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang. h) Tata cara pelaksanaan evaluasi akan diuraikan dalam Ketentuan Teknis. 4.B. C. serta unsur masyarakat yang dapat dilakukan oleh suatu forum yang merepresentasikan kepentingan masyarakat (dewan pakar. Dari hasil evaluasi dapat diketahui sampai sejauh mana penyimpangan pemanfaatan ruang terjadi. c) Penertiban dilakukan melalui pemeriksaan (penyidikan) dan penyelidikan pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang berlaku. c) Subyek evaluasi terdiri dari lembaga atau instansi yang berwenang di bidang penataan ruang (Dinas Tata Ruang & Permukiman atau Dinas Tata Kota atau Dinas Pekerjaan Umum). kemudian dibandingkan dengan dokumen rencana dan laporan pemantauan pelaksanaan penataan ruang yang disusun oleh dinas/instansi terkait. Tabel 3 Ringkasan Tahap Evaluasi Subyek Evaluasi Instansi Pemerintah (DTK. Dinas PU. dsb). B. dan D (lihat Lampiran E).Pd. tokoh masyarakat. g) Obyek yang dievaluasi adalah hasil pelaporan dan analisa pencapaian manfaat yang disusun secara profesional. X – XX – XXXX – X b) Tujuan evaluasi adalah penilaian tentang pencapaian manfaat yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang. dan D (lihat Lampiran III) Alat Evaluasi RTRW Ijin lokasi / bangunan Amdal (jika ada) Kriteria lokasi dan standar teknis yang berlaku di bidang penataan ruang Obyek Evaluasi Hasil pelaporan dan hasil pemantauan yang dilakukan oleh aparat dan masyarakat e) Alat atau instrumen yang digunakan dalam evaluasi.2 Penertiban a) Penertiban merupakan tindakan yang harus dilakukan sesuai peraturan perundangan yang berlaku dan berdasarkan hasil rekomendasi pada tahap evaluasi. b) Penertiban dilakukan karena hasil rekomendasi dalam tahap evaluasi menunjukkan bahwa telah terjadi pelanggaran/ketidaksesuaian/penyimpangan terhadap Rencana Tata Ruang yang berlaku. adalah : 1) RTRW (yang telah disahkan dengan Perda) atau Rencana Detil yang telah disahkan oleh Bupati/ Walikota. d) Indikator yang digunakan dalam evaluasi. dsb) Indikator Evaluasi Tipologi A.C. adalah Tipologi A. 2) Ijin-ijin tentang lokasi yang dikeluarkan oleh pemerintah/dinas terkait 3) Ijin tentang bangunan yang dikeluarkan oleh pemerintah/ dinas terkait 4) Analisa mengenai dampak lingkungan (jika ada) 5) Kriteria lokasi dan standar teknis yang berlaku di bidang penataan ruang f) Hasil evaluasi merupakan laporan yang berisi rekomendasi untuk ditindaklanjuti. 7 dari 25 atas . dan berada pada indikator tipologi yang meliputi : konversi lahan / dominasi fungsi / hubungan fungsional antar kegiatan atau antar kawasan / konflik pemanfaatan ruang dalam satu kawasan.

3) Pemerintah daerah kabupaten/kota menyelenggarakan (melalui instansi yang berwenang) sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya kegiatan pengawasan. 2) Lembaga/instansi yang berwenang memberikan ijin pemanfaatan ruang melakukan pengecekan lapangan terhadap realisasi pembangunan yang dilakukan. b) Pemberian wewenang pengawasan pada tingkat kecamatan sampai kelurahan yang meliputi : 1) Mekanisme pengawasan secara formal di kecamatan/kelurahan 2) Pemberian wewenang untuk memberikan surat peringatan 8 dari 25 . dan sebagainya. seperti : Dinas Tata Kota. 5 5. Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). sanksi perdata. Surat Ijin Penambangan Daerah (SIPD). Dinas Penertiban. f) Waktu penertiban dilakukan selama tahap konstruksi maupun tahap pasca konstruksi. Dinas Perkim & Tata Ruang. dan sanksi pidana. mekanisme. serta proses dan prosedur pengawasan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh masyarakat luas. X – XX – XXXX – X d) Subyek penertiban terdiri dari lembaga/instansi yang berwenang dalam bidang pengaturan dan pemanfaatan ruang. Berdasarkan perijinan itulah maka kegiatan pengawasan dan penertiban dalam pemanfaatan ruang dapat dilaksanakan sampai dengan pengenaan sanksi atau dengan insentif dan disinsentif. Dinas PU. i) Beberapa bentuk pengendalian pemanfaatan ruang melalui mekanisme perijinan antara lain: Ijin Pemanfaatan Ruang (IPR).1 Ketentuan teknis Pengawasan a) Kegiatan yang dilakukan dalam pengawasan : 1) Pelaku pembangunan/pengguna ruang melaporkan kegiatan yang dilakukan secara berkala kepada instansi/lembaga yang berwenang memberikan ijin pemanfaatan ruang. g) Metode penertiban adalah secara langsung di tempat pelanggaran pemanfaatan ruang (on site) atau melalui proses pengadilan. Suatu ijin pembangunan diberikan kepada pemohon dengan dasar rencana tata ruang. Dinas Pengawasan Pembangunan Kota. h) Perijinan merupakan salah satu alat dalam pengendalian pemanfaatan ruang. Ijin Lokasi. Pengenaan sanksi dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang sanksi baik pelanggaran maupun kejahatan yang diatur dalam peraturan perundangundangan yang berlaku. dsb) Bentuk Penertiban Sanksi administrasi Sanksi perdata Sanksi pidana Waktu Penertiban Tahap Konstruksi Tahap Pasca Konstruksi Metode Penertiban On site (langsung di tempat pelanggaran pemanfaatan ruang) Proses pengadilan e) Bentuk penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang diselenggarakan dalam bentuk pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku berupa sanksi administrasi. dan Ijin Undang-Undang Gangguan/HO. yang meliputi maksud dan tujuan. Tabel 4 Ringkasan Tahap Penertiban Subyek Penertiban Instansi Pemerintah (DTK.Pd.

pihak pengguna juga berkewajiban mempublikasikan/menginformasikan hasil akhir pelaksanaan kegiatan pemanfaatan ruang kepada masyarakat luas. b) Prosedur Pelaporan oleh Masyarakat Umum 1) Pelaporan oleh masyarakat umum dapat dilakukan kapan pun selama dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan. Media pelaporan tertulis yang kedua bisa menggunakan teknologi internet atau membuka kotak pos pengaduan. Prosedur pelaporan yang dilakukan oleh masyarakat umum dapat dilakukan melalui dua cara : (a) Pelaporan tertulis (b) Pelaporan tidak tertulis. (c) Format pelaporan pada tahap pasca konstruksi dan mekanisme publikasi kepada masyarakat mengikuti ketentuan yang telah dibuat oleh instansi pemerintah atau instansi terkait yang berwenang dalam pengendalian pemanfaatan ruang. (b) Menyampaikan laporan berdasarkan format surat penulisan laporan sendiri. 2) Pelaporan tertulis dilakukan melalui dua tahap : (a) Mengisi formulir pelaporan yang telah disediakan oleh instansi pemerintah atau instansi terkait lainnya yang berwenang dalam pengendalian pemanfaatan ruang. (b) Selain kepada pemerintah dan instansi terkait lainnya. 9 dari 25 . (c) Format pelaporan pada tahap pra konstruksi mengikuti ketentuan yang telah dibuat oleh instansi pemerintah atau instansi terkait yang berwenang dalam pengendalian pemanfaatan ruang.1. 3) Pasca Konstruksi (a) Pihak pengguna ruang menyampaikan laporan hasil akhir pelaksanaan kegiatan pembangunan kepada instansi pemerintah dan instansi terkait lainnya yang berwenang dalam pengendalian pemanfaatan ruang. 5. Prosedur pelaporan dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu : a) Prosedur Pelaporan oleh Pengguna Ruang 1) Pra Konstruksi (a) Pihak pengguna ruang menyampaikan laporan rencana pemanfaatan ruang secara lengkap (detil) kepada instansi pemerintah dan instansi terkait lainnya yang berwenang dalam pengendalian pemanfaatan ruang.Pd. (b) Pihak pengguna / pemanfaat berkewajiban mempublikasikan / menginformasikan rencana kegiatan pembangunan kepada masyarakat luas melalui kegiatan uji publik dan semacamnya (mekanismenya dapat disesuaikan dengan daerah masing-masing. (c) Format pelaporan pada tahap pra konstruksi mengikuti ketentuan yang telah dibuat oleh instansi pemerintah atau instansi terkait yang berwenang dalam pengendalian pemanfaatan ruang. atau memanfaatkan mekanisme yang sudah ada). 2) Konstruksi (a) Pihak pengguna ruang menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan pembangunan kepada instansi pemerintah dan instansi terkait lainnya yang berwenang dalam pengendalian pemanfaatan ruang.1 Pelaporan mengusulkan mekanisme penertiban untuk Format laporan ditunjukkan pada Lampiran D. X – XX – XXXX – X 3) Pemberian wewenang untuk pelanggaran-pelanggaran. (b) Pihak pengguna juga berkewajiban melaporkan tanggapan masyarakat – baik tertulis/tidak tertulis yang bersifat negatif maupun positif – terhadap kegiatan pelaksanaan pembangunan. bila dinilai ada hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana pemanfaatan tata ruang yang berlaku.

Pd. 5) Peta penggunaan lahan tahun terakhir. c) Informasi yang diperlukan dalam pemantauan yaitu : 1) Pengumpulan informasi mengenai tolok ukur tertentu.2 Pemantauan a) Alat kerja (instrumen) yang digunakan dalam kegiatan pemantauan adalah : 1) Peta RTRW Kota dan atau Kabupaten. 5. RDTR Kota. C. 2) Membandingkan peta rencana dengan hasil kajian peta guna lahan eksisting pada butir a). perencanaan. 3) Dokumen petunjuk pelaksanaan rencana tata ruang. B. lakukan analisa untuk menentukan perubahan guna lahan tersebut termasuk dalam tipologi A. C.1. dan perancangan kegiatan-kegiatan evaluasi sebelum dan selama pelaksanaan / penyelenggaraan kegiatan. atau D. berbentuk dokumen termasuk juga catatan pada saat studi. B. penilaian. e) Tata cara pemantauan yang dilakukan secara rutin/periodik adalah sebagai berikut : 1) Mengkaji peta guna lahan eksisting. 2) Mengkaji peta guna lahan eksisting. dan/atau RTR Kota yang berlaku. 3) Pengumpulan informasi mengenai persepsi masyarakat pengguna dan penerima manfaat melalui metode kuesioner. dan hasil kajian peta guna lahan eksisting pada butir b). d) Pengambilan data pemantauan mengandalkan pengumpulan data sekunder. 5) Bila terjadi perubahan guna lahan. 4) Menyusun laporan hasil perbandingan pada butir c) untuk melihat apakah terjadi perubahan guna lahan atau tidak. 3) Menyusun laporan hasil perbandingan pada butir b) untuk melihat apakah terjadi perubahan guna lahan atau tidak. 5) Menyusun laporan hasil analisa pada butir d) kepada Kepala Dinas terkait (Dinas Tata Ruang & Permukiman / Dinas Tata Kota / Dinas Pekerjaan Umum). 4) Bila terjadi perubahan guna lahan. atau D. 3) Membandingkan kondisi di lapangan dengan laporan masyarakat pada butir a). 6) Peta dasar wilayah kota dan/atau kabupaten. 2) Peta rencana detail tata ruang (bila ada). 10 dari 25 . 2) Pengumpulan informasi mengenai data sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat. dan sebagainya. 7) Ketentuan yang dikeluarkan instansi yang berwenang (menyangkut pembangunan fisik di lokasi tertentu) antara lain : (a) ijin lokasi (b) ijin peruntukan penggunaan lahan (c) ijin mendirikan bangunan (d) sertifikat laik fungsi (khusus untuk bangunan gedung) (e) AMDAL b) Tingkat ketelitian peta yang digunakan dalam kegiatan pemantauan disesuaikan dengan kebutuhan dengan mengacu pada ketelitian peta RTRW Kab/Kota. f) Tata cara pemantauan yang dilakukan secara insidentil adalah sebagai berikut : 1) Mempelajari laporan yang masuk dari masyarakat. X – XX – XXXX – X 3) Pelaporan tidak tertulis dilakukan melalui media interaktif yang dibuat oleh instansi pemerintah dan instansi terkait lainnya yang berwenang dalam pengendalian pemanfaatan ruang. 4) Dokumen Peraturan Daerah tentang RTRW Kota dan atau Kabupaten. kualitas lingkungan. lakukan analisa untuk menentukan perubahan guna lahan tersebut termasuk dalam tipologi A.

7) Apabila dalam proses evaluasi terdapat hal-hal yang tidak dapat ditangani di tingkat kabupaten/kota. 2) Kegiatan evaluasi dilakukan segera setelah pemantauan dilakukan dan diselesaikan dalam waktu maksimal 2 bulan. 5) Hasil evaluasi diumumkan kepada masyarakat. tokoh masyarakat. 6) Menyampaikan laporan hasil evaluasi secara resmi kepada pelapor. dsb).1. (c) Proses banding dimungkinkan bagi kedua belah pihak. dengan cara ditempel pada papan pengumuman di lembaga yang berwenang di bidang penataan ruang.Pd. untuk ditindaklanjuti. (b) Pencabutan dilakukan secara sepihak. (b) Peniadaan fasilitas yang diperlukan bagi keberlangsungan kegiatan yang diberikan sanksi. X – XX – XXXX – X 6) Menyusun laporan hasil analisa pada butir e) kepada Kepala Dinas terkait (Dinas Tata Ruang & Permukiman / Dinas Tata Kota / Dinas Pekerjaan Umum). 5. 4) Laporan hasil evaluasi disampaikan kepada Kepala Dinas terkait.3 Evaluasi a) Tata Cara Evaluasi 1) Analisis kasus yang terjadi di lapangan dengan mengisi format serta memilih tipologi A/B/C/D pada lampiran C untuk mengetahui indikator yang dievaluasi.2 Penertiban a) Tahap-tahap yang dilakukan dalam proses penertiban adalah : 1) Peringatan (a) Penerbitan lembar evaluasi yang berisikan perbedaan antara perijinan dan realisasi. maka laporan hasil evaluasi disampaikan pula kepada instansi terkait di tingkat Provinsi. 3) Alat evaluasi yang digunakan yaitu : (a) RTRW Kabupaten/Kota yang telah disahkan (b) RDTR Kawasan di dalam Kabupaten/Kota. berdasarkan dokumen perijinan dan hasil evaluasi/pengawasan. 2) Mengisi format evaluasi (lampiran F) sesuai dengan hasil pelaporan dan/atau pemantauan. jika telah tersedia. 3) Pencabutan Ijin dan Proses Hukum (Legal Action) (a) Pencabutan dilakukan melalui serangkaian proses peringatan sebelumnya. 5. 2) Sanksi (a) Biaya tambahan dikenakan dalam jangka waktu tertentu sampai dengan pelaku pembangunan memperbaiki penyimpangan yang terjadi. (b) Pemberitahuan tindakan perbaikan yang harus dilakukan oleh pelaku pembangunan. (c) Ijin lokasi / ijin mendirikan bangunan (d) Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) (1) RKL (Rencana Kelola Lingkungan) (2) RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan) (3) ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan) (e) Kriteria lokasi dan standar teknis kawasan budidaya b) Mekanisme Evaluasi 1) Kepala Dinas terkait (Dinas Tata Ruang & Permukiman / Dinas Tata Kota / Dinas Pekerjaan Umum) membentuk suatu Tim Evaluasi yang terdiri dari unsur dinas terkait serta unsur masyarakat (dewan pakar. 11 dari 25 . 3) Tim Evaluasi menyusun laporan hasil evaluasi.

5) Penetapan jenis sanksi finansial. d) Bentuk-bentuk kegiatan penertiban adalah sebagai berikut : 1) Penerbitan Surat Peringatan yang disertai lembar evaluasi yang berisikan pelanggaran yang dilakukan. 3) Pemutusan Sanksi Pengadilan. 4) Pencabutan Ijin Lokasi dan Ijin Usaha (a) Tingkatan penindakan terberat yang memiliki konsekuensi pada penutupan usaha.Pd. 7) Penetapan besaran denda atas ketidakberhasilan pembangunan. (b) Pelaku pelanggaran hanya diberi surat peringatan sekali dan diharuskan memperbaiki kerusakan yang dihasilkan dalam tempo waktu yang telah ditetapkan sebelumnya. (b) Jenis penindakan : pemutusan sanksi pengadilan serta pemutusan ijin lokasi dan ijin usaha. (b) Kriteria penindakan : kategori pelanggaran relatif ringan sampai dengan berat/berbahaya. 9) Membentuk otoritas kelembagaan yang jelas untuk penanganan masalah transportasi perkotaan dan pinggiran kota. Kepala Dinas terkait akan menjadi Ketua Tim Evaluasi lanjutan ini. X – XX – XXXX – X 4) Rekomendasi yang tertuang dalam laporan ini akan ditindaklanjuti oleh Kepala Dinas terkait. 3) Penyusunan dan penetapan kriteria pelanggaran yang berdampak penting. 2) Pemberitahuan tindakan perbaikan yang harus dilakukan. 12 dari 25 . 5) Rekomendasi dapat berupa kajian lebih lanjut yang harus dilakukan oleh tim yang lebih besar. (b) Pengenaan denda langsung juga bisa diberikan ketika pelaku pelanggaran terbukti tidak mengindahkan surat peringatan tertulis. b) Tingkatan penindakan dalam penertiban : 1) Peringatan Tertulis (a) Penindakan terhadap pelanggaran aktivitas industri yang secara nyata dan terbukti sah telah menyalahi ketentuan perijinan. (c) Bila sampai jatuh tempo belum dilakukan perbaikan maka penindakan dapat ditingkatkan ke penindakan berikutnya. (b) Dilakukan jika pelaku pelanggaran yang sudah diganjar putusan pengadilan masih tetap saja melakukannya. 2) Penindakan di majelis pengadilan (trial by court) (a) Dilakukan ketika indikasi pelanggaran yang telah dilakukan tergolong berat dan pelakunya tidak menunjukkan itikad baik memperbaiki kerusakan lingkungan dan kesalahannya. namun pelakunya menunjukkan itikad baik untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan (lihat Lampiran E) dan tidak akan mengulangi kesalahannya. c) Lokasi penindakan dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu : 1) Penindakan di tempat kejadian (on site punishment) (a) Dilakukan begitu hasil pengawasan menunjukkan pelaku industri melakukan pelanggaran. 4) Penyusunan dan penetapan kriteria pelanggaran yang berdampak strategis. 6) Penetapan sanksi kegiatan yang bertingkat. yaitu penindakan bagi pelaku pelanggaran berat dan berbahaya serta menimbulkan kerusakan yang luas. 8) Penetapan kriteria yang dapat diperpanjang masa ijin lokasinya. (c) Jenis penindakan : pemberian surat peringatan dan pengenaan denda langsung. 2) Pengenaan Denda Langsung (a) Penindakan yang berupa penjatuhan denda secara langsung begitu diketahui pelanggaran yang dilakukan sudah terkategorikan berat dan berbahaya.

X – XX – XXXX – X 10) Pemberlakuan standar peralatan dan prosedur instalasi.Pd. 16) Penentuan batas maksimum wilayah terkena dampak. masyarakat memiliki hak dan kewajiban untuk memperbaiki kualitas dan mendukung terwujudnya pemanfaatan ruang yang sesuai dengan rencana tata ruang. meliputi : 1) Menyiapkan dan menerima laporan serta melakukan inventarisasi laporan. serta terselenggaranya pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perkotaan. Dinas Pekerjaan Umum/Tata Ruang/Tata Kota. serta kerjasama dengan pemerintah kabupaten/kota tetangga jika diperlukan. 12) Pemberian prioritas/penundaan ijin kepada industri yang memenuhi ketentuan. 6 6. Peran serta masyarakat merupakan hal yang penting karena hasil kegiatan penataan ruang adalah untuk kepentingan masyarakat. c) Tugas dan fungsi kelembagaan pengelola pengendalian atau Tim Koordinasi. b) Peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perkotaan adalah berbagai kegiatan masyarakat yang terkait dengan fungsi pelaporan. c) Dalam kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perkotaan.1 Kelembagaan dan Peran Serta Masyarakat Kelembagaan a) Kelembagaan mencakup lembaga-lembaga yang memiliki wewenang dalam pengendalian pemanfaatan ruang. 4) Menyusun temuan masalah/penyimpangan. 13) Pemberlakuan standar manajemen industri. membahas temuan dalam rapat koordinasi dan merumuskan rekomendasi . 2) Melakukan peninjauan ke lapangan atau lokasi kasus. 13 dari 25 . dalam pelaksanaannya dilaksanakan secara terkoordinasi dengan melibatkan institusi terkait dengan pembinaan perencanaan daerah (Bappeda). Badan Pertanahan. serta dalam rangka penertiban pemanfaatan ruang.’ 6) Melakukan evaluasi temuan. 7) Menyelenggarakan evaluasi progam pembangunan dan kinerja instansi perijinan. pemantauan. 14) Pengenaan tarif pajak dan retribusi perbaikan lingkungan. 3) Memeriksa kesesuaian antara kondisi fisik lapangan dengan rencana pemanfaatan ruang sesuai RTRW/RDTR. Lembaga-lembaga yang dimaksud meliputi instansi pemerintah dan institusi-institusi terkait lainnya yang berwenang dalam pengendalian pemanfaatan ruang.2 Peran serta masyarakat a) Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perkotaan diselenggarakan oleh pemerintah dengan melibatkan masyarakat. Masyarakat sebagai mitra pemerintah dapat mendayagunakan kemampuan secara aktif sebagai perwujudan hak dan kewajibannya. 6. termasuk BKPRD. 8) Menyiapkan langkah penertiban dengan melakukan koordinasi pelaksanaan penertiban. (lihat Lampiran G) b) Lembaga atau institusi pengelola pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan perkotaan yang terkait dengan kewenangan pemerintah daerah kabupaten dan kota. yang dilaksanakan secara terkoordinasi antara pemerintah dan masyarakat. dan evaluasi serta penertiban. serta instansi bidang hukum serta aparat kecamatan/desa. 5) Menyusun laporan hasil pemantauan kepada instansi yang berwenang. 11) Pemasangan alat pengukur konsumsi energi dan air bersih. 15) Penetapan kewajiban perbaikan lingkungan dan pembangunan infrastruktur publik.

14 dari 25 . d) Hak masyarakat adalah : 1) Mengetahui secara terbuka peraturan perundangan yang berlaku dan kebijakan penataan ruang seperti Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRW). X – XX – XXXX – X Peran serta masyarakat dapat dilakukan oleh seorang. saran atau keberatan kepada pemerintah melalui media massa. Rencana Detil Tata Ruang (RDTR).Pd. Gambar 3. melalui penyebarluasan rencana tata ruang yang telah ditetapkan pada tempat-tempat dimana masyarakat dapat mengetahui dengan mudah. kelompok orang. Besarnya penggantian sesuai dengan peraturan perundangan. e) Kewajiban masyarakat adalah : 1) Berperan serta dalam proses penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perkotaan. Ilustrasi Peran Serta Masyarakat f) Bentuk peran serta masyarakat dalam kegiatan pemanfaatan ruang kawasan perkotaan adalah : 1) Mengajukan usul. badan hukum dan badan usaha swasta. asosiasi profesi. 3) Berlaku tertib dalam keikutsertaannya dalam kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang. hukum yang berlaku. 3) Melaksanakan pembangunan sesuai rencana pemanfaatan ruang kawasan perkotaan yang telah ditetapkan. dan lembaga formal kemasyarakatan. 2) Memperoleh penggantian yang layak sesuai perundangan yang berlaku atas kondisi yang dialami masyarakat sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan. memelihara dan meningkatkan kualitas lingkungan sesuai arahan rencana pemanfaatan kawasan perkotaan. LSM. 2) Berperan serta di dalam memelihara kualitas ruang dan mentaati ketentuan rencana tata ruang atau rencana detil tata ruang kawasan perkotaan yang telah ditetapkan. 2) Berpartisipasi aktif dalam menjaga.

X – XX – XXXX – X 4) Berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengawasan agar dihindari pelaksanaan pembangunan yang menyimpang dari tatacara/ kriteria yang telah ditetapkan.Pd. minimal dari masyarakat pelapor. 5) Dalam menyusun Tim Evaluasi pemerintah akan melibatkan masyarakat sebagai anggota tim. 9 dari 25 .

Pd. X – XX – XXXX – X Lampiran A Konsep Pola Hubungan antara Kawasan Perkotaan dan Kawasan Pinggirannya KABUPATEN Y KOTA X Keterangan : Kawasan Perkotaan Wilayah administratif A Jaringan Jalan Sub Urban Urban Sprawl 10 dari 25 .

24 Tahun 1992) Perencanaan Tata Ruang Pemanfaatan Ruang Pengendalian Pemanfaatan Ruang Pengawasan Penertiban Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Perkotaan 11 dari 25 . X – XX – XXXX – X Lampiran B Kedudukan Pedoman dalam Penataan Ruang Penataan Ruang (UU No.Pd.

Pemeriksaan Laporan Laporan kpd Masyarakat 7. Pengguna ruang/pengembang Pemeriksaan Laporan 5. dsb 3. Instansi / Institusi yang berwenang di bidang penataan ruang Instansi / Institusi yang berwenang di bidang penataan ruang Masyarakat 12 dari 25 . Instansi / Institusi yang berwenang di bidang penataan ruang Instansi / Institusi yang berwenang di bidang penataan ruang Masyarakat Laporan Hasil Akhir Pelaksanaan Pemanfaatan Ruang Laporan tidak diterima Laporan tidak diterima 6. X – XX – XXXX – X Lampiran C Bagan Alir Pengendalian Pemanfaatan Ruang Tahap Pengawasan PROSES 1.Pd. Laporan Pelaksanaan Pemanfaatan Ruang Laporan tidak diterima 4. Laporan Rencana Final Pemanfaatan Ruang Laporan tidak diterima Laporan tidak diterima URAIAN PELAPORAN TAHAP PRA KONSTRUKSI Laporan Rencana Final Pemanfaatan Ruang Laporan diterima oleh Kepala Instansi / Institusi yang berwenang di bidang penataan ruang Pemeriksaan Laporan dan/atau Laporan Masyarakat Laporan diterima : LANJUTKAN ke Tahap Konstruksi Laporan tidak diterima : KEMBALI ke Tahap Pra Konstruksi TAHAP KONSTRUKSI Laporan Pelaksanaan Pemanfaatan Ruang Laporan diterima oleh Kepala Instansi / Institusi yang berwenang di bidang penataan ruang Pemeriksaan Laporan dan/atau Laporan Masyarakat Laporan diterima : LANJUTKAN ke Tahap Pasca Konstruksi Laporan tidak diterima : KEMBALI ke Tahap Konstruksi TAHAP PASCA KONSTRUKSI Laporan Hasil Akhir Pelaksanaan Pemanfaatan Ruang Laporan diterima oleh Kepala Instansi / Institusi yang berwenang di bidang penataan ruang Pemeriksaan Laporan dan/atau Laporan Masyarakat Laporan diterima : LANJUTKAN ke Pemantauan Laporan tidak diterima : KEMBALI ke Tahap Pasca Konstruksi PELAKSANA Pengguna ruang/pengembang 2. PEMANTAUAN 9. Pengguna ruang/pengembang 8. Instansi / Institusi yang berwenang di bidang penataan ruang Instansi / Institusi yang berwenang di bidang penataan ruang Masyarakat Pemeriksaan Laporan Uji Publik.

X – XX – XXXX – X PROSES 1. ARSIP Surat Kembali pd Pelapor Tidak ada penyimpangan Analisa RTRW vs kondisi eksisting Ada penyimpangan 4. Instansi / Institusi yang berwenang di bidang penataan ruang Instansi / Institusi yang berwenang di bidang penataan ruang 2. arsip Proses analisa RTRW versus kondisi eksisting dengan metoda survey sekunder (lihat Lampiran Tabel Ceklis) Bila ada penyimpangan : LANJUTKAN ke tahap Evaluasi Bila tidak ada penyimpangan : buat surat kembali kepada pelapor PELAKSANA Masyarakat (baik pengguna. Evaluasi : melakukan evaluasi terhadap penyebab terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang. 13 dari 25 . pengembang. Perlu tindak lanjut TIDAK YA Peninjauan Lapangan 3. RTRW yang berlaku perlu ditinjau ulang (review). Laporan diterima oleh Kepala Instansi / Institusi yang berwenang di bidang penataan ruang Pemeriksaan Laporan Perlu tindak lanjut : LANJUTKAN ke tahap Peninjauan Lapangan Tidak perlu tindak lanjut : buat surat kembali kepada pelapor. Bentuk rekomendasi yang diberikan dapat didasarkan pada 2 hal : Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan RTRW yang berlaku. Laporan Masyarakat Pemeriksaan Laporan Kondisi Eksisting URAIAN PEMANTAUAN Input berupa laporan adanya dampak/penyimpangan pemanfaatan ruang DAN/ATAU kondisi eksisting yang perlu dipantau secara rutin. Rekomendasi : memberikan suatu rekomendasi untuk tahap Penertiban dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang. Instansi / Institusi yang berwenang di bidang penataan ruang EVALUASI REKOMENDASI EVALUASI 1.Pd. maupun masyarakat yang terkena dampak pemanfaatan ruang) Instansi / Institusi yang berwenang di bidang penataan ruang Instansi / Institusi yang berwenang di bidang penataan ruang 2.

X – XX – XXXX – X Lampiran D (normatif) Format laporan (yang disampaikan secara lisan) Catatan Laporan Masyarakat (yang disampaikan secara lisan) Nama Pelapor No.....Pd.. (nama jelas penerima laporan) *) kolom ini diisi berdasarkan RTRW yang berlaku **)membandingkan antara laporan yang diterima dengan RTRW yang berlaku 14 dari 25 ..... ttd 200............xxxx Kelurahan Itu – Kecamatan Anu 2 kavling di Blok perumahan A di Kelurahan Itu berubah fungsi menjadi fungsi industri Limbah industri dari 2 kavling tersebut mengakibatkan polusi udara dan polusi air di Blok terkait Kawasan Perumahan : Gatot : Kasie ADA ketidaksesuaian rencana dengan pemanfaatan ruang Pemanfaatan ruang menurut rencana *) Nama penerima laporan Jabatan Kesesuaian/bias antara perencanaan tata ruang dengan pemanfaatan rencana tata ruang **) Rencana tindak lanjut Laporan diteruskan Kepada Tanggal Atau : Laporan telah diselesaikan sebagai Atau : ..............xxxx...... KTP Nama wilayah/kawasan yang dilaporkan Materi laporan pemanfataan ruang : Bambang : xx......xxxxxx...... : Kasubdit : ...................

) d Persentase (c : total luas kawasan perkotaan)x100% e Luas eksisting (km2) f (e : total luas kawasan perkotaan) x100% g Selisih antara c dan e (km2) *) Luas Kawasan (km2) Persentase luas eksisting 1. udara g. laut. laut. pemakaman i. perkantoran f. …. peribadatan. rekreasi. Kawasan Budidaya a. perkantoran f. kesehatan. terminal angkutan darat. rekreasi. pertanian h. perdagangan c. Kawasan Lindung 2. tempat pembuangan akhir 15 dari 25 . X – XX – XXXX – X Lampiran E (normatif) Format evaluasi pemanfaatan lahan di kawasan perkotaan (berdasarkan tipologi pemanfaatan ruang) Konversi Lahan (TIPOLOGI A) a No b Fungsi Kawasan c (menurut RTRW / Perda tgl. kesehatan. perumahan dan permukiman b. fasilitas sosial (pendidikan. perdagangan c. industri d. terminal angkutan darat. pemakaman i. 2. fasilitas sosial (pendidikan. tempat pembuangan akhir *) bila c ≥ e : tidak terjadi konversi lahan bila c < e : terjadi konversi lahan Dominasi Fungsi (TIPOLOGI B) a No b Fungsi Kawasan c Luas lahan yang digunakan untuk kegiatan non b dalam kawasan b (km2) d Persentase luas lahan yang digunakan untuk kegiatan non b dalam kawasan b (c : total luas kawasan b)x100% 1. udara g. olahraga) e. olahraga) e. peribadatan. pertanian h. perumahan dan permukiman b. Kawasan Lindung Kawasan Budidaya a.Pd. industri d.

2. rekreasi.2.2.2.2. …………. terminal angkutan darat. olahraga) d. e.2. pertanian h. ………….2.1. …………. …………. tempat pembuangan akhir Konflik Pemanfaatan Ruang dalam Satu Kawasan (TIPOLOGI D) a No 1. b.1.2 …………. …………. Kawasan Lindung B Fungsi Kawasan c d Kegiatan lain di sekitar Gangguan yang ditimbulkan kawasan b yang mengganggu (misal : polusi udara. ………….1. …………. b.1. fasilitas sosial (pendidikan.2 …………. f.1. X – XX – XXXX – X Hubungan Fungsional Antar Kegiatan dan Antar Kawasan (TIPOLOGI C) a No 1.1. i. fasilitas sosial (pendidikan. …………. industri c. Kawasan Lindung b Fungsi Kawasan c d Kegiatan lain di dalam Gangguan yang ditimbulkan kawasan b yang mengganggu (misal : polusi udara.1.1 …………. …………. …………. h.1.2. a. …………. …………. perumahan dan permukiman b. e.2. a. f. 2. industri d.1. laut. b. …………. d. ………….Pd. perdagangan b. d. pemakaman i. 1. 16 dari 25 . h. laut. polusi kegiatan di kawasan b suara.2. …………. …………. …………. …………. d.2.1. c.1.2. g. perkantoran e. …………. …………. ………….1.1. a. c. Kawasan Budidaya a. e. …………. dsb) 1. kesehatan. i. Kawasan Budidaya a. perdagangan c. c. pertanian g. perumahan dan permukiman b. ………….2. g. peribadatan. …………. ………….2. terminal angkutan darat.1. …………. dsb) 1. udara g.1.1. …………. …………. …………. …………. tempat pembuangan akhir i.2. f. g. a.2. …………. udara f. perkantoran f. c.2. …………. f. h. polusi kegiatan di kawasan b suara.2. h. …………. rekreasi. olahraga) e. d. g. …………. i.1.1 …………. i. …………. 1. kesehatan. 2. e.1. …………. pemakaman h. peribadatan.

Dominasi Fungsi c. Konflik Pemanfaatan Ruang dalam Satu Kawasan. III... Ketua Tim Evaluasi 17 dari 25 ..dst...... X – XX – XXXX – X Lampiran F (normatif) Format evaluasi I. Fungsional Konflik Pemanfaat Penilaian Kesimpulan . Konversi Lahan b...th 2 .Pd.. Kesimpulan (hasil analisis yang dilakukan pada butir II) IV.. ttd 200.....th 1 ... Format Umum Evaluasi Tahap Pra Konstruksi (pra perubahan pemanfaatan ) Konstruksi (proses perubahan pemanfaatan) Pasca Konstruksi (tahap pemanfaatan ) Kegiatan .. Hasil evaluasi sesuai tipologi pemanfaatan ruang yang dikaji a...Studi Kelayakan ... Rekomendasi II. Hubungan Fungsional Antar Kegiatan dan Antar Kawasan d.. Rekomendasi (saran tindak dari kesimpulan) ........DED Indikator Konversi lahan Dominasi fungsi Hub.

Kabupaten/Kota iv. Departemen Kelautan dan Perikanan v. i. Mendeliniasi kawasan sesuai kriteria. Merumuskan rencana pemanfaatan kawasan berdasarkan prinsip-prinsip pengelolaan kawasan. Perguruan Tinggi c. iii. LSM b. Masyarakat 18 dari 25 . Pemanfaatan dan pelaksanaan program dan proyek yang bersifat strategis dan berdampak regional atau nasional.Pd. iv. c. Kementerian Lingkungan Hidup iv. DPR i. Peran serta sebagai stakeholder/pemangku kepentingan b. ii.Lembaga Formal a. Merumuskan program pengelolaan kawasan.Lembaga Non Formal a. X – XX – XXXX – X Lampiran G Institusi Pemanfaatan Ruang Peringkat Institusi 1. Pengendalian pemanfaatan kawasan. Menetapkan zona lingkungan kawasan. 2. v. Dinas Kehutanan Propinsi ii. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah iii. Pusat Institusi Pemanfaatan i. Memproses pengesahan kawasan. Propinsi iii. Dinas Permukiman dan Prasarana Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Propinsi DPRD Propinsi Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota Dinas Tata Ruang Kabupaten/Kota Badan Pertanahan Kabupaten/Kota Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kabupaten/Kota DPRD Kabupaten/Kota Kriteria Utama Pemanfaatan Pertanahan Infrastruktur Keamanan Lingkungan Keadilan Sosial Keuangan Penetapan dan perencanaan pengelolaan kawasan. Departemen Kehutanan ii.

Muh. Sadikin Lembaga Dit. ST 8. Tiendas 4. Penataan Ruang Nasional – Ditjen Penataan Ruang Dit. Ir. Nellie M. Drs. CES 3.Pd. Indira P. Ruchyat Deni Dj. Penataan Ruang Nasional – Ditjen Penataan Ruang 2) 19 dari 25 . Ir. Ir. James Siahaan. Ir. Lina Marlia. X – XX – XXXX – X Lampiran H Daftar nama dan lembaga 1) Pemrakarsa Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum Penyusun Nama 1. ST 7. Warpani. Penataan Ruang Nasional – Ditjen Penataan Ruang Dit. Richzal. MT 9. Penataan Ruang Nasional – Ditjen Penataan Ruang Dit. Dra.Eng. Penataan Ruang Nasional – Ditjen Penataan Ruang Dit. Penataan Ruang Wilayah Tengah – Ditjen Penataan Ruang Dit. Penataan Ruang Nasional – Ditjen Penataan Ruang Dit. Kristianto Solaiman 5. Sri Nurnaeni. Drs. MA 6.. M. Penataan Ruang Nasional – Ditjen Penataan Ruang Dit. 2. Penataan Ruang Nasional – Ditjen Penataan Ruang Dit.

2003. 3. Pedoman Tata Cara Pelaksanaan Kegiatan Pemanfaatan Ruang di Daerah. 20 dari 25 . Direktorat Jenderal Penataan Ruang. Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Perkotaan dan Sub Urban.327/KPTS/M/2002. X – XX – XXXX – X BIBLIOGRAFI 1. Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah. 2002. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi/Kabupaten/Kota yang telah disahkan dengan Peraturan Daerah.Pd. Departemen Pekerjaan Umum. 2. Laporan Akhir. Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan. 4. 1999/2000. Lampiran V : Kepmen Kimpraswil no.

Pd. X – XX – XXXX – X 21 dari 25 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->