Budidaya Tiram Mutiara

BUDIDAYA TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima

)
BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Indonesia memiliki potensi laut yang sangat besar dalam usaha budidaya. Potensi ini di dukung oleh tersediannya bahan dasar yang cukup banyak, persyaratan lingkungan yang baik, serta kondisi musim yang menguntungkan untuk berbagai jenis komoditas laut yang akan dibudidayakan. Sala satu potensi laut dari non ikan yang dapat di budidayakan adalah tiram mutiara (Pinctada maxima) yang pada intinya akan menghasilkan mutiara. Allah SWT telah berfirman dalam (Surat An-Nahl : 14) artinya : Dan Dia Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. Dan Allah berfirman pada surat (Fatir : 12) artinya : Dan tiada sama (antara) dua lautan, yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asing lagi pahit. Di Indonesia kegiatan budidaya tiram mutiara sudah cukup lama berkembang. Bahkan sampai pada saat ini ada lebih 65 perusahan, baik dalam bentuk modal asing maupun dalam bentuk modal dalam negeri. Tuntutan utama dalam budidaya mutiara adalah tersedianya tiram mutiara ukuran operasi dalam jumlah yang cukup, tepat waktu, dan berkesenambungan. Namun, keuntungan penyediaan tiram tidak mungkin hanya mengandalkan hasil penyelaman di alam, apalagi hasil penyelaman di alam sangat fluktuatif, tergantung musim, dan ukurannya tidak seragam. Mutiara yang ukurannya di bawah standar harus dipelihara sampai besar sehingga diperlukan waktu dan tambahan biaya yang tidak sedikit. Menghadapi situasi yang demikian sangat perlu diusahakan kegiatan yang mengarah pada kegiatan penyediaan benih melalui pembenihan buatan di hatchery. Sehingga dapat menjadi suatu unit budidaya tiram yang akan menghasilkan produksi mutiara yang jauh lebih besar. Akibat dari keterbatasan ini maka dalam usaha budidaya tiram mutiara, perlu melakukan kegiatan untuk mempelajari sifat dan kebiasan hidup tiram mutiara, baik dari persyaratan lingkungan pemeliharaan, metode atau cara pemeliharaan dan peralatan yang digunakan untuk memproduksi mutiara yang berkualitas. Mengingat lokasi budidaya di laut yang dipengaruhi oleh alam dan sekitarnya, sehingga membudidayakan tiram mutiara haruslah menyesuaikan dengan kondisi alam atau perairan sekitarnya sebagai tempat hidupnya dengan kehidupan biologis dan fisiologis dari tiram mutiara yang dipelihara, dengan tujuan agar tiram hidup dengan baik.

Salah satu kendala dalam mengembangkan usaha budidaya tiram mutiara untuk menghasilkan mutiara bulat di Indonesia adalah umunya teknologi budidaya masih di kuasai oleh tenaga kerja asing, terutama Jepang dan sangat sedikit atau terbatas tenaga ahli dari Indonesia. Perusahan Swasta maupun Nasional yang mengembangkan budidaya tiram mutiara masih mengandalkan tenaga ahli dari Jepang/asing. Di daerah Maluku sampai saat ini terdapat perkembangan yang pesat dalam pembudidayaan tiram mutiara. Tiram ini merupakan salah satu produksi perikanan yang penting yang dapat dibudidayakan bukan semata-mata untuk pengambilan dagingnya sebagai bahan makanan direstoran, akan tetapi yang lebih diutamakan adalah pengambilan mutiara yang terdapat didalamnya. Bisa berasal dari mutiara alam (preparat yang tidak sengaja masuk kedalamnya), atau mutiara buatan (preparat yang sengaja dimasukkan/dioperasikan kedalam cangkang mutiara tersebut). Disamping itu kulitnyapun dapat dipasarkan ke luar negeri. Sampai saat ini di daerah maluku terdapat 5 perusahaan yang bergerak dalam bidang budidaya tiram mutiara di laut : 1. PT. Maluku Pearl Development dengan lokasi kepulauan Aru 2. PT. Maney Southern Pearl dengan lokasi kepulauan Aru 3. CV. Duta Aru Indah dengan lokasi Pulau Obi, Bacan 4. CV . Chrisna Pearl dengan lokasi kepulauan Aru 5. CV. Dobo Pearl dengan lokasi kepulauan Aru. Dilihat dari data tersebut di atas dapat digambarkan bahwa lokasi kepulauan Aru merupakan daerah yang cocok dan sesuai untuk kegiatan budidaya tiram mutiara di daerah Maluku Tenggara, sedangkan di daerah Maluku Utara terdapat di pulau Bacan dan Kecematan Kao, Halmahera. Untuk urutan 1 sampai 3 tujuan usahanya adalah pengambilan mutiaranya sedangkan urutan 4 dan 5 tujuan budidaya tiram ini adalah untuk pengambilan kulitnya saja sebagai komoditi ekspor. CV. Duta Aru Indah Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara merupakan salah satu industri yang bergerak di bidang perikanan yang mempunyai unit usaha pebenihan tiram mutiara (Pinctada maxima). Unit pembenihan tiram mutiara memanfaatkan beberapa jenis phytoplankton sebagai pakan larva tiram mutiara. Mengingat jenis dan jumlah pakan alami yang tersedia di alam kurang mencukupi maka diperlukan teknik yang baik untuk mengkultur phytoplankton pada skala laboratorium (kultur murni) maupun semi masal. Tujuannya adalah untuk memenuhi pakan alami yang mencukupi baik kualitas maupun kwantitas bagi larva tiram mutiara sehingga mendukung keberhasilan usaha pembenihan. Oleh karena itu, penulis mengambil judul “Teknik dan Manajemen Budidaya Tiram Mutiara (Pinctada maxima)” di “CV. Duta Aru Indah” Pulau Obi Halmahera Selatan Maluku Utara. B. Tujuan

6. Mengetahui proses atau teknik operasi pemeliharaan tiram mutiara (Pinctada maxima) dari penanganan pembesaran (tiram sebelum operasi).Tujuan dari pelaksanaan Magang industri ini adalah : 1. Mampu mengidentifikasi dan menelaah fungsi-fungsi manajemen budidaya tiram mutiara (Pinctada maxima) di lokasi praktek. 7. BAB II TINJAUAN PUSTAKA . Mampu mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi dalam usaha budidaya tiram mutiara di lokasi praktek. Mengetahui teknik pembenihan tiram mutiara serta kendala yang dihadapi dalam usaha pemeliharaan dilokasi budidaya. Dapat mengetahui aspek teknis budidaya tiram mutiara (Pinctada maxima) secara umum dan mengetahui teknik pemasangan inti mutiara bulat untuk menghasilkan mutiara bulat. Untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selama kuliah tahun pertama. C. 2. 2. 3. Sasaran. pasca operasi pemasangan inti mutiara bulat dan pelaksanaan pemanenan. 3. Dapat mengetahui metode pembuatan sarana budidaya. 5. pelaksanaan operasi. Untuk memenuhi persyaratan akademik. Mengetahui jenis dan teknik kultur pakan alami skala murni dan semi massal phytoplankton yang digunakan sebagai pakan larva tiram mutiara. Dapat mengetahui aspek teknis yang di terapkan dalam kultur murni dan semi masal phytoplankton untuk pakan larva tiram mutiara. 4. Sasaran dalam pelaksanaan magang industri budidaya tiram mutiara ini antara lain adalah sebagai berikut : 1. Baik dalam manajemen lingkungan maupun dalam penanganan budidaya.

ukuran serta bentuk: Tabel 1. Pinctada margaritifera dan Pinctada martensii. dapat mengenal jenis tiram mutiara yang berkualitas baik. dan Cephalopoda (Mulyanto. Di beberapa daerah Pinctada fucata dikenal juga sebagai Pinctada martensii. Tiram merupakan hewan yang mempunyai cangkang yang sangat keras dan tidak simetris. Lamellibrachiata. Hewan ini tidak bertulang belakang dan bertubuh lunak (Philum mollusca). Pinctada maxima. Klasifikasi tiram mutiara menurut mulyanto (1987) dan Sutaman(1993) adalah sebagai berikut : Kingdom Sub kingdom Philum Klas Ordo Famili Genus : Animalia : Invertebrata : Mollusca : Pellecypoda : Anysomyaria : Pteridae : Pinctada Spesies : Pinctada maxima (Jameson 1901) Menurut Dwiponggo (1976). Pengetahuan ini dapat digunakan untuk mengembangkan teknik pembenihan dan perbaikan teknik penempatan inti mutiara bulat. Pinctada fucata. 1987). Amphineura. Gastropoda. seaphopoda. yaitu. Untuk membedakan jenis tiram mutiara tersebut. jenis-jenis tiram mutiara yang terdapat di Indonesia adalah: Pintada maxima. Perbandingan dari tiga jenis Pinctada penghasil mutiara yang terpenting . 1. Sebagai jenis yang ukuran terbesar adalah Pinctada maxima. Selain itu. Pinctada chimnitzii. memahami siklus serta reproduksi dari tiram mutiara (Pinctada maxima) tersebut. perlu dilakukan pengamatan morfologi. phylum ini terdiri atas 6 klas yaitu: Monoplancohora. seperti warna cangkang dan cangkang bagian dalam (Nacre). Mengenal Tiram Mutiara (Pinctada maxima) Mengetahui tentang biologi reproduksi tiram mutiara sangat dibutuhkan untuk mengembangkan industri budidaya. dan Pteria penguin. Sebagai penghasil mutiara terpenting adalah tiga spesies.A. Pinctada margaritefera. Klasifikasi Tiram mutiara termasuk dalam phylum mollusca. atau Pellecypoda.

SIFAT-SIFAT Dewasa Penuh Ukuran Rata-rata Kecembungan Warna Luar Cangkang Garis Cangkang Nacre Pinggiran Garis engsel Berat P. yang tidak sama bentuknya. . Maxima 12 inchi 8 inchi Rata Coklat kuning Pucat hanya suatu jejak Putih perak Kuning emas Sedang 15 cangkang tiap 9-10 cangkang kan tiap kan Sumber: Forek Indonesia 2001-2004. Morfologi Kulit mutiara (Pinctada maxima) ditutupi oleh sepasang kulit tiram (Shell. (Winarto. berwarna hitam dan berfungsi sebagai alat untuk menempel pada suatu substrat yang di sukai. Cangkang tersusun dari zat kapur yang dikeluarkan oleh epithel luar. Anatomi. 1. Margaritifera 7 inchi 6 inchi Agak cembung Coklat kehijauan Baris titik-titik Warna baja Hijau metalik Pendek Nacre (interior) P. 2004).7 coklat ungu Perak kehijauan Jingga kuning Panjangnya Sedang 60-100 cangkang tiap kan P. mantel.1987) dan juga sebagai alat pembersih. sedangkan kulit sebelah kiri agak cembung. Kaki ini berfungsi sebagai alat bergerak hanya pada masa mudanya sebelum hidup menetap pada substrat (Mulyanto. Sel epitel luar ini juga menghasilkan kristal kalsium karbonat (Ca CO3) dalam bentuk kristal argonit yang lebih dikenal sebagai nacre dan kristal heksagonal kalsit yang merupakan pembentuk lapisan seperti prisma pada cangkang. Kaki merupakan salah satu bagian tubuh yang bersifat elastis terdiri dari susunan jaringan otot yang dapat merenggang/memanjang sampai tiga kali dari keadaan normal. cangkan). Martensii 4 inchi 3 inchi Cembung Abu-abu kuning k. Yang berfungsi untuk membuka dan menutup cangkang. Tubuh tiram mutiara terbagi atas tiga bagian yaitu : Bagian kaki. 3. Specie ini mempunyai diameter dorsal-ventral dan anterior-posterior hampir sama sehingga bentuknya agak bundar. Catatan : 1 kan = 8. kulit sebelah kanan agak pipih. Pada bagian kaki terdapat bysus.205 pon 2. yaitu suatu bagian tubuh yang bentuknya seperti rambut atau serat.267 pon 1 kg = 2. Bagian dorsal bentuk datar dan panjang semacam engsel berwarna hitam. dan organ dalam.

Pada tiram Pinctada fucata warna gonad ini terjadi sebaliknya. sedangkan betina berwarna kuning tua.Gambar 1. 2. Gonad Hati Perut Kaki 5. Fenomena sex reversal pada tiram mutiara (Pinctada maxima) menunjukan bahwa jenis kelamin pada tiram teryata tidak tetap. Inti 6. setelah fase matang penuh. 3. Otot refractor B. Pada fase ini sangat sulit untuk dibedakan. hati. dan lain-lain). Namun. Mantel 7. Tingkat kematangan gonad tiram mutiara dikelompokkan menjadi 5 fase yaitu :  Fase I : Tahap tidak aktif/salin/istrahat (Inactife/spent/resting) Kondisi gonad mengecil dan bening transparan dalam beberapa kasus.  Fase III : Matang (Mature) Gonad tersebar merata hampir keseluruh jaringan organ. Oocyt berbentuk seperti buah pir dengan ukuran 68 x 50 μm dan inti berukuran 25 μm. biasanya berwarna krem kekuningan. gonat menutupi organ dalam (seperti perut. kecuali pada beberapa kasus tertentu ditemukan sejumlah individu hermaprodit terjadi perubahan sel kelamin (sel reversal) biasanya terjadi pada sejumlah individu setelah memijah atau pada fase awal perkembangan gonad. Siklus Hidup dan Reproduksi Tiram mutiara mempunyai jenis kalamin terpisah. 4. Gamet mulai berkembang disepanjang dinding katong gonad. Anatomi tiram mutiara (Pinctada maxima) Keterangan gambar : 1. gonad berwarna oranye pucat. Sebagian besar oocyt (bakal telur) bentuknya belum beraturan dan inti belum ada. gonad jantan dan betina secara eksternal sangat sulit dibedakan. Otot adductor 8.5 μm. material gametogenetik (sel kelamin) mulai ada dalam gonad sampai mencapai fase lanjut. sel berwarna kekuningan (lemak). Ukuran rata-rata oocyt 60 μm x 47. Menurut Winanto (2004) bahwa.  fase II : Perkembangan/pematangan (Developing/maturing) Warna transparan hanya terdapat pada bagian tertentu. Bentuk gonad tebal menggembung pada kondisi matang penuh. keduanya berwarna krem kekuningan. Rongga kosong. . gonad tiram mutiara (Pinctada maxima) jantan berwarna putih krem. Kecuali bagian kaki pada fase awal. gonad mulai menyebar di sepanjang bagian posterior disekitar otot refraktor dan lebih jelas lagi dibagian anterior-dorsal.

Sementara FKG III terjadi pad bulan Januari-Maret dan Juni-Desember (Winanto. lembarlembar insang mulai tampak jelas. kemudian secara bertahap cangkang juga ikut berkembang. 1987). Selanjutnya akan tumbuh berkembang menjadi tiram mutiara dewasa dan dapat beruba kelaminnya. pada fase ini biasanya larva sangat sensitif terhadap cahaya dan sering dipermukaan air.4 μm. Perkembangan selanjutnya adalah tumbuh vilum. Dengan bantuan bulubulu getar. (Mulyanto. Mei. terutama pada bulan April dan Juni. Pada musim tertentu.  Fase V : Salin (Spent) Bagian permukaan gonad mulai menyusut dan mengerut dengan sedikit gonad (kelebihan gamet) tertinggal didalam lumen (saluran-saluran didalam organ reproduksi) pada kantong. 2004). Tahap berikutnya adalah fase trocofor. dan akhirnya menjadi multisel. Bentuk cangkangnya sama mantel sudah berfungsi secara permanen. Selama fase planktonis. Hampir semua oosyt berbentuk bulat dan berinti. tersebar merata dan secara konsisten akan keluar dengan sendirinya atau jika ada sedikit-sedikit trigger (getaran). oosyt bebas dan terdapat diseluruh dinding kantong.7 μm. Kemudian selanjutnya menjadi podifeliger yang di ikuti tumbuhnya kaki sebagai akhir stadium planktonis. Banyak ahli yang sependapat bahwa Pinctada maxima terjadi perubahan kelamin yang bertepatan dengan musim pemijahan setelah telur atau sperma habis di seburkan keluar. lalu membentuk polar lobe II yang merupakan awal proses pembelahan sel. Pembuhan terjadi secara eksternal didalam air. Telur yang telah di buahi akan mengalami perubahan bentuk. fase kematangan gonad penuh (FKG IV) hanya terjadi pada bulan Maret. trocofor akan berkembang menjadi veliger (larva berbentuk D) yang ditandai dengan tumbuhnya organ mulut dan pencernaan. C. Perkembangan akhir larva yaitu perubahan fase plantigrade menjadi spat (bibit) dan akan menetap. Selama 7 tahun pengamatan. Dengan tumbuhnya vilum larva memasuki stadia umbo. Jika ada oosyt maka jumlahnya hanya sedikit dan bentuknya bulat. perkembangan gonad tertinggi hanya sampai FKG II. induk tiram mutiara di alam yang telah dewasa akan bertelur. ukuran rata-rata oosyt 54. Fase IV : Matang penuh/memijah sebagian (Fully maturation/partially spawned) Gonad menggembung. Namun. Mula-mula terjadi penonjolan polar. telur-telur tersebut akan di buahi oleh sel kelamin jantan (sperma). Kemudian. Teknik Produksi . larva biasanya berenang dengan menggunakan bulu-bulu getar atau hanyut dalam arus air. Lampung dari tahun 1996-2002 menunjukan bahwa kematangan gonad terjadi setiap bulan. Hasil pengamatan terhadap fase kematangan gonad dan musim pemijahan Pinctada maxima di teluk Hurun. dan Agustus-November. Gerakan-gerakannya sederhana dari berenang sampai berputar-putar dilakukan dengan vilum dan kaki. Gonad masa istrahat terjadi pada bulan Desember. Fase I dan II terjadi hampir sepanjang tahun. Pada tahap ini larva sudah mulai makan dan tubuhnya telah di tutupi cangkang tipis. Setelah kaki berfungsi dengan baik velum akan menghilang. ukuran oosyt rata-rata 51.

Untuk melihat posisi gonad. kecuali bagian kaki (Winanto et al. Lalu dibawah ke tempat budidaya yang relatif dangkal sehingga memacu tiram untuk memijah. Kegiatan pembenihan ini diawali dengan kultur pakan hidup. pemeliharaan larva. tiram akan segera memijah jika terjadi perubahan lingkungan perairan walaupun sedikit. biasanya induk akan membuka cangkang karena kekurangan oksigen. ada kalanya berukuran 15 cm (DVM) sudah matang gonad penuh. Secara morfologi. pemeliharaan spat.Dalam kegiatan untuk memproduksi spat dapat dimulai jika semua sarana operasional telah tersedia. Hal ini yang perlu disiapkan lebih dahulu jauh hari sebelum pembangunan fisik dimulai. larva. Setelah cangkang terbuka sebagian . dan spat. Induk-induk yang akan diseleksi dengan posisi berdiri atau bagian dorsal di bawah. dan pendederan. Kemungkinan lain adalah shock mekanik yang terjadi karena perlakuan kasar pada saat cangkang dibersihkan atau akibat perbedaan tekanan. segera digunakan alat pembuka cangkang (shell opener) agar cangkang terbuka. Persyaratan yang paling penting adalah tingkat kematangan gonad. pemijahan.30. 2. Kegiatan selanjutnya adalah seleksi induk. 1. Pengelolaan induk di laboratorium dalam kondisi terkendali telah dilakukan oleh para ahli. Pemijahan Pemijahan tiram mutiara secara alami sering terjadi pada tiram yang telah dewasa. Proses pembukaan cangkang hendaknya jangan dipaksakan karena dapat menyebabkan cangkang pecah. terutama pakan hidup dan induk. khususnya induk jantan. Dalam kondisi gonad matang penuh. tiram mutiara dewasa dan telah mencapai matang gonad penuh yaitu (fase IV) dapat diketahui. Kemudian. Para ahli tersebut memelihara induk Pinctada maxima di laboratorium dilakukan di dalam bak fiberglass kapasitas 1 ton. Seleksi induk Dalam kegiatan seleksi induk tiram mutiara dapat dilakukan di atas rakit apung di laut atau di laboratorium. Induk yang berasal dari hatchery. Dengan spatula.000.000 sel/cc/hari. Klasifikasi tiram mutiara yang memenuhi syarat untuk dijadikan induk berukuran antara 17-20 cm (DVM). Aplikasi pakan hidup diberikan dengan variasi komposisi Isocrysis galbana dan atau Pavlova luthri dengan Tetraselmis tetrathele atau Chaetoceros sp. pada cangkang segera dipasang baji dari kayu sebagai pangganjal agar cangkang tetap terbuka sebagian. dengan perbandingan 1:1. dengan kondisi gonad adalah seluruh permukaan organ bagian dalam tertutup oleh gonad. digunakan alat spatula. jumlah pakan yang diberikan antara 25. Induk-induk yang sudah diseleksi atau sudah memenuhi syarat segera dibawa ke laboratorium untuk dipijahkan. Selanjutnya. Selama pemeliharaan digunakan sistem air mengalir dan diberi pakan tambahan fitoplankton. insang di sibakkan sehingga posisi gonad dapat terlihat dengan jelas dan secara visual tingkat kematangan dapat diketahui. dalam arti bahwa jumlah pakan yang dikulturkan harus cukup untuk pakan induk. .. 2002).

jika suhu air di tempat pemijahan mulanya sekitar 28ºC di tinggikan menjadi 35ºC. bisa mencapai 1-2 jam. 1. dengan bahan kimia juga bertujuan untuk merubah lingkungan mikro tempat pemijahan. misalnya induk belum mencapai fase matang gonad (fase III) maka perlu di lakukan ekspose lebih lama. fluktuasi suhu. Metode kejut suhu dilakukan dengan cara. Jenis bahan kimia yang umum di gunakan antara lain hydrogen peroksida (H2O2). Sperma yang keluar seperti asap berwarna putih. Setelah masa ekspose. natrium hidroksida (NaOH). Seperti halnya manipulasi lingkungan. Waktu setelah Pembuahan 15 menit 25 menit 40 menit Temperature air (ºC) 28 28 9 Perkembangan Penonjolan polar body I Penonjolan polar body II Penonjolan polar lobe I. jika suhu awal tempat pemijahan sekitar 28ºC di tinggikan menjadi 33-45ºC . yamg bertujuan memberikan shock fisiologis pada induk sehingga terpaksa mengeluarkan sel-sel gonadnya (Winanto. dan ekspose. Biasanya yang lebih dulu memijah adalah induk jantan dan di susul oleh induk betina. Pada kasus ini bisa di kombinasi antara metode ekspose dengan metode kejut suhu atau fluktuasi suhu. Metode yang ketiga yaitu metode ekspose juga sering di lakukan dan ada kalanya di kombinasikan dengan metode kejut suhu. permulaan cleavage . Induk di letakkan di tempat teduh. Induk-induk akan memijah setelah 60-90 menit dari perlakuan. ini di naikkan secara bertahap dengan bantuan alat pemanas (heater). Rangsangan kimia Dalam pemijahan dengan menggunakan bahan kimia juga sering di lakukan. Tabel 2. Metode manipulasi Lingkungan Metode pertama manipulasi lingkungan yang biasa di gunakan dan resiko kegagalannya relatif kecil adalah metode kejut suhu (thermal shock). pada kondisi tertentu. Secara ekstrim bahan kimia dapat dengan segera merubah lingkungan pH air menjadi asam atau basa. lalu di biarkan selama 30-45 menit. ammonium hidroksida (NH4OH). induk di kembalikan lagi ke tempat bak pemijahan. amoniak (NH4).Menurut Winanto (2004) rekayasa pemijahan perlu dilakukan jika secara alami tiram tidak mau memijah di dalam bak pemijahan. yaitu metode manipulasi lingkungan dan metode rangsangan kimia. tetapi hasil pembuahan (fertilisasi) biasannya kurang baik. 1. perlakuan ini di lakukan terus-menerus sampai induk memijah. Ada dua metode yang digunakan dalam perlakuan pemijahan. a. 2004). b. Perkembangan Pinctada maxima setelah telur di buahi. dan larutan tris (trace buffer). jika induk belum memijah setelah 60-90 menit maka suhu di turunkan kembali ke suhu awal. Metode yang ke dua adalah fluktuasi suhu.

Pavlova lutheri.45 menit 1 jam 1½ jam-3 jam 2½ jam-3½ jam 3½ jam-4 jam 30 30 28-30 27-30 27-31 Stage 2 sel Stage 4 sel Stage 8 sel Stage morula Blastula mulai megadakan rotasi permulaan gastrula5½ jam28-30Perkembangan flagelata apical7½ jam28-30Kulit tiram hampir menutupi tubuh18½ jam-19 jam26-30 (D shape) D. .6 gram 3. Nannoclorophysis. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jenis pupuk EDTA NaH2PO42H2O FeCI36H2O H3BO3 MnCI2 NaNO3 Na2SiO39H2O Trace Matel Solution Vitamin Aquades sampar Dosis (conway) 45 gram 20 gram 1. 2002 Makanan utama larva tiram mutiara adalah jenis alga Isocrysis galbana dan Monocrysis lutheri. Sp. koleksi. Air laut yang digunakan sebagai media pemeliharaan harus melewati saringan ukuran mikro dan saringan kapas.36 gram 100 gram 1 ml 1 ml 1000 ml Dosis (guillard) 10 gram 10 gram 2.6 gram 100 gram 5 gram/30 ml 1 ml 1000 ml Sumber : Ditjenkan. isolasi dan perbanyakan meliputi kultur murni.6 gram 0.5 gram 33. hal ini untuk menjaga kualitas. 2004). Sp. Kultur Phytoplankton Pakan alami untuk tiram mutiara yaitu jenis-jenis flagelata berukuran ≤ 10 µ. dan Tetraselmis chuii. semi masal dan masal (Winanto.9 gram 3. kuantitas serta kemurnian pakan alami tersebut. selanjutnya disterilisasi dengan Autoclav. Komposisi pupuk untuk kultur plankton. Pemeliharaan pakan alami ini dilakukan secara bertahap. Komposisi pupuk yang di gunakan adalah sebagai berikut : Tabel 3. Yang dilakukan dengan menggunakan media agar. Secara bertahap. setelah terbentuk koloni baru dipindahkan ke dalam tabung reaksi. Beberapa jenis mikroalga yang umum di berikan untuk larva tiram mutiara yaitu : Isocrysis galbana. Chaetocheros. sehingga pakan ini perlu disiapkan sebagai makanan awal dari larva dan harus dilakukan tiga hari sebelum larva menetas.

air laut yang digunakan cukup disaring dengan kantong saringan 60-80 mikron. Kultur semi masal Pada prinsipnya kultur semi masal dan masal sama dengan kultur dalam skala laboratorium. Berikut ini adalah kepadatan optimum beberapa jenis plankton : 1. Jika masih terkontaminasi maka harus dilakukan pemurnian ulang sehingga didapatkan koloni satu spesies atau jenis Phytoplankton yang diinginkan selanjutnya. Setelah itu. Pemeliharaan berikut masih dalam skala laboratorium pada volume 3-5 liter dengan waktu pemeliharaan 5-7 hari untuk Isocrysis galbana 4-6 hari untuk Chaetoceros sedangkan untuk Pavlova lutheri sama dengan Isocrysis galbana. Kepadatan plankto yang baik diberikan sebagai pakan. Inokulum di dalam tabung reaksi dapat diperbanyak secara bertahap sampai mencapai pertumbuhan puncak (blooming). Untuk mengetahui setiap fase pertumbuhan tersebut perlu dilakukan pengamatan setiap hari. a. Pemeliharaan plankton pada skala laboratorium dilakukan secara bertahap. bibit dimasukan ke dalam media. Hal ini untuk menjaga kemurnian dan kualitas stok. diamati dengan mikroskop untuk mengetahui apakah terjadi kontaminsi dengan jenis lain atau tidak. Kultur skala laboratorium ini dimaksudkan untuk menyediakan inokulum untuk pembenihan skala semi-masal atau skala 30-80 liter. awal fase pertumbuhan tetap. Kultur murni Kultur murni pada skala laboratorium dapat menggunakan pupuk atau media Guillard Conway. Untuk jenis Isocrysis galbana dan Pavlova luthery yang dipelihara dalam skala laboratorium dan semi masal akan capai kepadatan optimum setelah 4-6 hari. 500 cc dan 1000 cc. kemudian diperbanyak lagi ke 200 cc. Mulai dipelihara 100 cc. dapat dilakukan kultur tanpa pengudaraan selama 2-3 bulan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kontaminasi. Setelah berbentuk koloni. Untuk kultur semi masal dan masal. hanya volumenya lebih besar. caranya dengan pengambilan sample dan dapat dihitung kepadatannya dengan menggunakan haemocytometer. Setelah media air laut disiapkan pupuk dimasukan kemudian diaduk secara merata atau diberi pengudaraan. Jika tujuan kultur untuk stok dan mempertahankan kemurnian. atau setelah mencapai kepadatan optimum. 300 cc. biasanya pada fase pertumbuhan optimum.1. Lama pemeliharaan tergantung pada jenis dan tingkat kepadatan inokulum. Isocrysis galbana : 9-10 juta sel/cc . dilakukan pemindahan untuk di ukur dalam tabung reaksi dengan menggunakan tabung reaksi Ose. 2. Pada skala laboratorium jenis Isocrysis galbanai dan Pavlova lutheri dapat dipelihara 5-10 hari dan Chaetoseros sp dapat dipelihara selama 5-12 hari. Untuk kultur murni dapat digunakan cawan Petri dengan media agar.

Pemanenan phytoplankton dapat dilakukan 3 cara yaitu sebagai berkut : 1. pemanenan phytoplankton harus dilakukan setelah pada saat puncak populasi. diberi pupuk dan tanpa aerasi tetapi harus dilakukan pengocokan setiap hari. dapat disimpan dalam kulkas (< 10º C) dengan syarat diperiksa setiap minggu atau bulan untuk menjaga mutu phytoplankton tersebut. Biakan stok murni ini diletakkan . Penyaringan dengan plankton net. Pavlova lutheri : 11-2 juta sel/cc : 5-8 juta sel/cc 1. 2. Penyimpanan stok murni dalam media cair dilakukan dalam tabung reaksi volume 10 ml. Kultur tidak perlu diberi aerasi karena hanya menjadi sumber kontaminasi. seperti : Sodium hidroksida dan NaOH. Pada kultur skala masal. 3. : 4-6 juta sel/cc Bila kebutuhan pakan alami dalam jumlah besar maka dapat dilakukan kultur skala masal. Martosudarno dan wulan (1990) berpendapat bahwa untuk menyimpan bibit phytoplankton lebih lama. Cara pengendapan menggunakan bahan kimia. Menurut Isnasetyo dan Kurniastuti (1995). kepadatan maksimum akan dicapai setelah 5-7 hari. c. Disimpan dalam media agar pada cawan Petri. 2. Penyimpanan bibit murni Guna untuk kesinambungan kultur phytoplankton maka perlu dilakukan pemeliharaan stok bibit murni. 3.b. sisa zat hara masih cukup besar sehingga dapat membahayakan organisme pemangsa karena pemberian phytoplankton pada bak pemeliharaan larva. Penyimpanan stok bibit murni dalam media agar dapat bertahan sampai 6 bulan. Disimpan dalam media cair pada tabung reaksi. Chaetoceros sp. Apabila pemanenan terlambat maka telah banyak terjadi kematian phytoplankton sehingga kualitasnya menurun. misalnya dengan volume pemeliharaan 1-5 ton. 4. Kultur phytoplankton dapat di pelihara dengan beberapa cara sebagai berikut 1. Pemanenan dengan memindahkan langsung bersama media kultur. Disimpan pada media agar miring pada tabung reaksi. Tetraselmis tetrathele d. 3. Disimpan dalam media cair pada Erlenmeyer.

Kepadatan yang baik ± 200 ekor/liter. F. Selama pertumbuhan. bakteri. Pemilihan lokasi pembenihan maupun budidaya berada dekat pantai dan terlindung dari pengaruh angin musim dan tidak terdapat gelombang besar. a. wadah kultur serta inokulum) E. Pemeliharaan Larva Pemeliharaan larva hingga spat dapat berhasil apabila di perhatikan terjadinnya stadiastadia kritis (Winanto. Fase kritis yang terakhir adalah fase pantigride. pada fase D. dan jenis phytoplankton lainnya. Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi budidaya. larva mengalami perubahan kebiasaan hidup dari sifat plantonis (spatfal) menjadi spat yang hidupnya menetap (sesil bentik) di dasar. Kendala yang umum ditemukan dalam kultur phytoplankton adalah kontaminasi oleh mikroorganisme lain seperti : Protozoa. terutama fase umbo akhir atau fase bintik hitam (eye spot) atau fase pedifeliger. pakan. Selama pemeliharaan pergantian air sebanyak 50-100 %. yaitu : 1. larva mengalami tiga masa krisis. Lokasi Lokasi usaha untuk budidaya tiram mutiara ini berada di perairan laut yang tenang. diantaranya kualitas air. terjadi pada fase umbo. 1993). bahkan dapat menimbulkan kematian (Sutaman. terutama induk. pupuk. udara atau aerasi. kepadatan yang tinggi akan berpengaruh pada pertumbuhan normal. dan kondisi fisiologis organisme. untuk itu tempat pemeliharaan di tutup dengan plastik gelap. Kritis kedua.pada rak kulkas dengan pencahayaan lampu TL. Kontaminasi ini dapat bersumber dari medium (air laut. yaitu pertama kali larva mulai makan sehingga perlu di sediakan pakan yang ukurannya sesuai dengan bukaan mulut larva. Faktor Ekologi Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup tiram. 2004). Batasan faktor ekologi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi lokasi budidaya adalah : 1. Larva tiram lebih menyukai tempat yang gelap atau remang-remang daripada yang terang. Lokasi Usaha Ketepatan pemilihan lokasi merupakan salah satu syarat keberhasilan budidaya tiram mutiara. Tandanya adalah terdapat penonjolan umbo. Lokasi dengan arus tenang dan gelombang kecil dibutuhkan untuk menghindari kekeruhan air dan stress fisiologis yang akan mengganggu kerang mutiara. Penyimpanan stok murni dalam kulkas dapat bertahan selama 1 bulan dan sebiknya segra digunakan dan diganti dengan stok baru. setiap 2-3 hari atau sesuai kebutuhan (Winanto ec al. . 2004). Kondisi larva sangat sensitif karena mengalami metamorfosis. Pertama.

Arus Arus tenang merupakan tempat yang paling baik.5. Lokasi yang terdapat pecahanpecahan karang juga merupakan alternatif tempat yang sesuai untuk melakukan budidaya tiram mutiara. hal ini bertujuan untuk menghindari teraduknya pasir perairan yang masuk ke dalam tiram dan mengganggu kualitas mutiara yang dihasilkan. c. Jika kisaran melebihi batas tersebut. 1. Pemilihan lokasi sebaiknya di perairan yang memiliki salinitas antara 32-35 ppt. yaitu 2-3 hari. e. 1. h. Kondisi ini baik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup tiram mutiara. Suhu Perubahan suhu memegang peranan penting dalam aktivitas biofisiologi tiram di dalam air. Tiram mutiara dapat hidup pada salinitas 24 ppt dan 50 ppt untuk jangka waktu yang pendek.8. untuk pemeliharaan tiram mutiara sebaiknya kecerahan air antara 4. Untuk kenyamanan. g. Cangkang tiram akan terbuka sedikit apabila ada cahaya dan terbuka lebar apabila keadaan gelap. Kecerahan Kecerahan air akan berpengaruh pada fungsi dan struktur invertebrata dalam air. tiram mutiara lebih menyukai hidup pada salinitas yang tinggi.75 – pH 7. Tiram tidak akan dapat berproduksi lagi apabila pH melebihi 9. Pada prinsipnya. induk tiram harus dipelihara di kedalaman melebihi tingkat kecerahan yang ada. Pasang surut air juga perlu diperhatikan karena pasang surut air laut dapat menggantikan air secara total dan terus-menerus sehingga perairan terhindar dari kemungkinan adanya limbah dan pencemaran lain.1.5 meter. Menurut Sutaman (1993). 1.5-6. Salinitas Dilihat dari habitatnya. Suhu yang baik untuk kelangsungan hidup tiram mutiara adalah berkisar 25-30 0C. pH Derajat keasaman air yang layak untuk kehidupan tiram pinctada maxima berkisar antara 7. 1. Suhu air pada kisaran 27 – 31 0C juga dianggap layak untuk tiram mutiara. f. b.0-6. et. d. 1. maka proses pemeliharaan akan sulit dilakukan. Oksigen .00. habitat tiram mutiara di perairan adalah dengan pH lebih tinggi dari 6. al.75.6 pH agar tiram mutiara dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Aktivitas tiram akan meningkat pada pH 6. 1988). 1. Dasar Dasar perairan sebaiknya dipilih yang berkarang dan berpasir.8.00 dan menurun pada pH 4. Lama penyinaran akan berpengaruh pada proses pembukaan dan penutupan cangkang (Winanto.

Konsentrasi nitrit 0.1 g/l. maupun industri. misalnya pencemaran yang berasal dari limbah rumah tangga. Pencemaran yang berasal dari kegiatan pertanian berupa kotoran hewan.6645 mg/l dan nitrit sekitar 0. limbah pertanian. dan patogen yang menghasilkan berbagai zat beracun. Parameter lain 1) Fosfat Kandungan fosfat yang lebih tinggi dari batas toleransi akan mengakibatkan tiram mutiara mengalami hambatan pertumbuhan. Pencemaran Lokasi budidaya tiram mutiara harus berada di lokasi yang bebas dari pencemaran.1615 g/l merupakan batasan yang layak untuk normalitas hidup dan pertumbuhan organisme budidaya. Hal ini untuk kemudahan dalam pengangkutan dan pemindahan induk tiram mutiara. sehingga mengurangi risiko kerugian akibat kematian. Metode Pemeliharaan Tiram Mutiara . G. Limbah rumah tangga dapat berupa deterjen. Risiko ini terutama pada saat akan panen atau setelah satu tahun penyuntikan inti mutiara bulat (nucleus). Faktor Risiko a. pertanian. 3) Amoniak Batas toleransi organisma akuatik terhadap amoniak berkisar antara 0. b.Oksigen terlarut dapat menjadi faktor pembatas kelangsungan hidup dan perkembangannya.25 mg/l dapat mengakibatkan stres dan bahkan kematian pada organisme yang dipelihara. Pada kisaran yang lebih tinggi dari angka tersebut dapat mengakibatkan gangguan pernafasan dan akhirnya mengakibatkan kematian pada organisme.16-0.650 l/l. Pencemaran air akan mengakibatkan kematian. 2) Nitrat Kisaran nitrat yang layak untuk organisme yang dibudidayakan sekitar 0.27 g/l merupakan kandungan fosfat yang baik untuk budidaya mutiara. Selain itu kegiatan mulai dari pembenihan sampai dengan budidaya induk tiram dapat dipilih lokasi di sekitar pantai yang berdekatan dengan lokasi tempat tinggal pengelola usaha budidaya.5-5 mg/l. untuk ukuran 60 – 70 mm mengkonsumsi sebanyak 1. zat padat. 1. baik spat maupun induk tiram mutiara. dan limbah industri.810 l/l.25250.339 l/l.2-6. ukuran 50 – 60 mm mengkonsumsi oksigen sebanyak 1. Fosfat pada kisaran 0. Lokasi budidaya dengan fosfat berkisar antara 0. dan herbisida akan membahayakan kelangsungan hidup tiram mutiara.4-3. Tiram mutiara akan dapat hidup baik pada perairan dengan kandungan oksigen terlarut berkisar 5. i. berbagai zat beracun. 2. Manusia Pencurian dan sabotase merupakan faktor yang juga perlu dipertimbangkan dalam menentukan lokasi budidaya mutiara.6 ppm. insektisida. Pemilihan lokasi juga harus terhindar dari polusi dan pencemaran air. Pinctada maxima untuk ukuran 40-50 mm mengkonsumsi oksigen sebanyak 1. misalnya limbah rumah tangga.1001-0.

Bahan utama metode ini adalah kayu rakit (kayu atau bambu). Pemeliharaan spat tiram disesuaikan dengan kondisi perairan disekitarnya. pelampung (drum minyak. 1993). dan pembesaran. styrofoam. metode rakit terapung (floating raft method) dan metode tali rentang (long line method). Pada umumnya tiram mutiara yang akan dioperasi inti mutiara bundar berasal dari hasil penangkapan dialam yang dikumpulkan dari kolektor dan nelayan. Metode Rakit Apung (floating raft method) Rakit apung selain berfungsi sebagai pemeliharaan induk. 1. Tali rentang yang digunakan adalah dari bahan polyethelen atau sejenisnya dipasang diantara tali yang satu dengan yang lainnya yang diberi jarak 5 meter dan panjang tali rentang tergantung dari luas budidaya. 1987). pada prinsipnya metode ini terdiri dari alat gantungan dan tempat untuk meletakkan gantungan. pasca operasi dan ketrampilan dari teknisi serta sarana pembenihan tiram yang memadai. bahwa pelampung yang digunakan adalah pelampung dari plastik. (1988). Menurut Priyono (1981). H. Metode pemeliharaan gantungan dibagi lagi menjadi dua metode yaitu. Metode tali rentang dapat diterapkan pada perairan yang dasarnya agak dalam atau dasar perairan agak keras. et. untuk dalam keberhasilan pemeliharaan tiram mutiara untuk menghasilkan mutiara bulat baik kualitas maupun kuantitas sangat ditentukan oleh proses penanganan tiram sebelum operasi pemasangan inti. juga berfungsi sebagai aklimatisasi (beradaptasi) induk pasca pengangkutan. Pemeliharaan benih (spat) yang masih kecil berukuran dibawah 5 cm dipelihara pada kedalaman 2-3 cm sedangkan spat dengan ukuran di atas 5 cm dipelihara pada kedalaman lebih dari 4 cm (Sutaman. pemeliharaan mutiara umumnya dilakukan dengan metode rakit apung. tali-tali dan jangkar (Mulyanto. 2. Teknis Budidaya Tiram Mutiara (Pinctada maxima) Pada prinsipnya. hal inilah yang menjadi penyebab sehingga tidak dapat melaksanakan operasi dalam jumlah yang banyak. dan fiberglass. pendederan. fiber glass. Namun produksi benih belum dapat dikembangkan secara masal. Metode Tali Rentang (long line method) Menurut Winanto.Sarana pemeliharaan tiram mutiara pada umumnya dilakukan dengan metode pemeliharaan gantungan (hanging culture method). al. Sedangkan hasil pembenihan dari hatchery dapat diperoleh ukuran yang relatif seragam ukurannya sehingga dapat dilakukan operasi pemasangan inti mutiara dalam jumlah yang banyak. saat pelaksanaan operasi. styrofoam). . Cara ini banyak digunakan karena lebih mudah dalam pengawasan serta hasilnya lebih baik dari pada cara pemeliharaan dasar (botton culture method). Namun ukuran cangkang mutiara terdiri dari macam-macam ukuran yang nantinya disortir menurut ukuran besarnya mutiara.

Mutiara tiruan/imitasi (imitation pearl) (Dwiponggo. Dalam kegiatan ini ada 3 cara yang sering digunakan untuk memaksa tiram secara alami membuka cangkangnya yaitu dengan merendamnya dalam air dengan kepadatan yang tinggi. . Mutiara pemeliharaan Sebelum proses penanganan tiram mutiara (Pinctada maxima) untuk pemasangan inti mutiara. al. Penanganan Tiram Sebelum Operasi Pemasangan Inti Mutiara Dengan demikian kalau kita tinjau mengenai terjadinya mutiara. 1976). Menurut Sutaman (1993). 1. Benih tiram mutiara yang telah terkumpul dari hasil seleksi untuk dioperasi harus dipelihara dalam rakit pemeliharaan khusus supaya memudahkan dalam penanganan saat operasi akan berlangsung. 1987). Selain dari perlakuan menaik turunkan keranjang pemeliharaan tiram. Pembukaan cangkang Setelah tiram mutiara diistrahatkan selama 1 hari setelah proses ovulasi buatan selanjutnya dlakukan proses pembukaan cangkang tiram mutiara. Ovulasi buatan ini merupakan kegiatan yang sengaja dilakukan untuk memaksa tiram mutiara agar mengeluarkan telur atau spermanya. karena tiram yang matang telur jaringan tubuhnya sangat peka terhadap rangsangan dari luar. b. Seleksi bibit Benih tiram mutiara dari hasil penyelaman (natural) maupun dari hasil pembenihan (breeding) diseleksi untuk mencari tiram yang telah siap untuk dioperasi pemasangan inti. 1. kegiatan lain yang dilakukan yaitu masa pelemasan tiram (yukuesey) dimana tiram mutiara yang siap operasi di kurangi jatah pakannya dan membatasi ruang geraknya sehingga tiram menjadi lemah dan kepekaannnya menjadi berkurang pada saat inti dimasukkan (Mulyanto.1. et. untuk saat ini dapat dibagi menjadi dua yaitu:   Mutiara asli yang terdiri dari mutiara alam (natural pearl) dan mutiara pemeliharaan (cultured pearl). harus dilakukan beberapa proses yaitu sebagai berikut: 1. bahwa benih siap operasi adalah tiram yang kondisinya sehat. c. 1988). bahwa cara ovulasi buatan yaitu dengan menaik turunkan keranjang pemeiharaan kedalam air dengan cepat sampai telur atau sperma keluar dari tiram. sirkulasi air dan cara yang terakhir yaitu pengeringan (Winanto. Ovulasi buatan Ovulasi buatan bertujuan agar pada saat operasi tiram mutiara tidak sedang dalam keadaan matang telur. a. Menurut Mulyanto (1987). telah berumur 2-3 tahun jika benih itu di dapat dari usaha budidaya dan berukuran diatas 15 cm jika benih tersebut didapat dari hasil penangkapan. sehingga inti yang di pasang akan dimuntahkan kembali. tidak cacat.

Operasi Pemasangan Inti Mutiara Bulat Untuk menghasilkan mutiara pada tiram ada dua cara yang umum di lakukan dalam operasi pemasangan inti mutiara yaitu: a. 1987).68 90. Ada beberapa cara yang perlu dilakukan dalam operasi pemasangan inti mutiara bulat adalah sebagai berikut: 1) Sebelum pemasangan inti.32 55.Setelah cangkang terbuka akibat dari perlakuan ini. Menurut Tun dan Winanto (1988).3 . Umumnya ukuran inti mutiara yang dimasukkan kedalam gonad tiram mutiara jenis Pinctada maxima yaitu berkisar antara 3. Diameter (mm) 3.09 mm (Mulyanto.82 1. Dalam pemasangan inti perlu diperhatikan ukuran inti yang akan dipasang.2 1.93 Nomor Bobot 1000 butir (gram) 41. 2) Membuat potongan mantel dengan pengambilan mantel dari tiram donor dan mengguntingnya sekitar lebar 5 mm dan panjang 4 cm. Selanjutnya 1 jam sebelum operasi. pemasangan inti mutiara setengah bulat (blister). tiram siap operasi di kumpulkan diatas meja operasi. Pemasangan inti mutiara bulat b. 1987). kemudian mantel dipotong membentuk bujur sangkar dengan sisi-sisi 4 mm (Sutaman.0 1. Daftar ukuran inti mutiara bundar yang digunakan untuk operasi tiram mutiara (Pinctada maxima) (Mulyanto.63 3. 2. Table 4.1 1.03 3. cangkang tersebut segera ditahan dengan forsep dan di pasang baji pada mulut tiram supaya cangkang selalu dalam keadaan terbuka. 1993).33 3. 3)Pemasangan inti mutiara bulat. Operasi pemasangan inti mutiara bulat merupakan bagian terpenting dalam menentukan keberhasilan pembuatan mutiara bulat. tiram-tiram tersebut diletakkan didalam dulang dengan bagian engsel atau dorsal disebelah bawah (Sutaman.03-9. 1993). mantel yang diambil hendaknya dipilih tiram yang mudah dan aktif.01 53.

78 9.67 382.40 139. Pemeriksaan dengan alat ini dilakukan sekitar 45 hari setelah masa tento terakhir atau kurang lebih 3 bulan setelah pemasangan inti.48 8. Tiram yang akan diperiksa di tahan dengan baji lalu diletakkan pada shell holder dan diperiksa. .2 2.0 2. Apabila inti masih berada didalam.3 645.82 726.96 Cara pemasangan inti yang perlu diperhatikan yaitu peralatan operasi lebih terdahulu disterilkan atau dibersihkan.18 8.5 1.9 2.7 2. Setelah tiram dioperasi.56 907. et. mantel dan inti (nukleus) yang ada didalam gonad bersinggungan langsung dan operasi dilakukan dengan cepat sehingga tiram mutiara tidak stress atau mati.06 241. Penangannan Tiram Pasca Operasi Menurut Mulyanto (1987).96 7.54 4. Tiram yang masih terdapat inti didalam cangkangnya dalam posisi semula dipelihara kembali hingga waktu panen tiba.76 440. mengemukakan bahwa pemeliharaan tiram mutiara pasca operasi sangat menentukan penyembuhan dan pembentukan mutiara yang dihasilkan.4 2.27 7.4 1.10 502. 1988) Pemeriksaan inti mutiara yang dilakukan oleh perusahan-perusahan yang berskala besar dilakukan dengan cara menggunakan alat rontgen. al.09 1.8 1.15 5.3 2.50 169.0 113.6 1. maka bagian tersebut akan kelihatan sedikit menonjol (Winanto. dengan cepat dan hati-hati dimasukkan kembali kedalam air dan digantung pada rakit pemeliharaan yang letaknya paling dekat rumah operasi dan pada tempat yang pergerakan airnya paling kecil.5 2.45 5. 3.38 283. Setelah masa penyembuhan.87 8.31 1008.1 2.57 7.7 1.06 6.30 203.8 2. pembuatan sayatan yang baik dan penempatan inti yang tepat didalam organ dalam tiram.24 4. karena lamanya saat operasi pemasangan inti mutiara.50 330. 1987).87 571.9 3.84 5.4.66 6.65 813. Tiram memerlukan waktu istrahat yang cukup 1-3 bulan untuk menyembuhkan luka shock akibat dari operasi pemasangan inti..36 6. dilakukan pemeriksaan terhadap tiram untuk mengetahui apakah inti yang telah dipasang masih dalam posisi semula atau dimuntahkan.75 6. Tiram yang memuntahkan intinya dan kondisi tubuhnya masih baik dapat diulangi pemasangan inti mutiara bulat atau setengah bulat (blister) (Mulyanto.6 2.07 1015.

Tekanan tinggi. karena untuk mengurangi mortalitas pada waktu pemasangan inti mutiara bulat kedua. Menurut Tun dan Winanto (1988). Cara pemanenan dapat dilakukan sebagai berikut : tiram yang sudah dipanen diletakkan di atas meja operasi. sehingga kilau dan warnanya lebih baik walaupun pelapisan nacrenya berlangsung lebih lambat. maka mutiara dengan mudah dapat dikeluarkan dari gonad tiram.4. di Indonesia panen akan lebih baik menguntungkan apabila dilakukan pada saat musim hujan. Kemudian bagian mantel dan insang yang menutupi gonad disisihkan sehingga mutiara akan kelihatan dan tampak menonjol dengan sedikit bercahaya. Panen Menurut Mulyanto (1987).5-2 tahun sejak operasi pemasangan inti maka tiram dapat dipanen dengan kecermatan dan ketepatan yang benar agar hasil mutiara dapat berkualitas baik. bahwa setelah masa pemeliharaan 1. . Lalu dibuat sayatan pada organ tersebut seperti pada saat pemasangan inti itiara bulat. suhu rendah dan relatif konstan serta suasana remang-remang dapat menyebabkan sel penghasil nacre lebih aktif mensekresikan nacre.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful