P. 1
Kawasan

Kawasan

|Views: 52|Likes:
Published by Rusde Muhamad

More info:

Published by: Rusde Muhamad on Jun 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2015

pdf

text

original

Kawasan

EDISI 26

bulletin

.

Publikasi D I R E K T O R AT K AWA S A N K H U S U S DAN DAERAH TERTINGGAL KEDEPUTIAN PENGEMBANGAN REGIONAL DAN OTONOMI DAERAH BAPPENAS

2010

ISSN 1693-6957

Konsep Kesiapsiagaan Terhadap Bencana di Tingkat Komunitas Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat Bencana Wasior, Merapi dan Mentawai Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana

POTRET PENANGGULANGAN BENCANA DI INDONESIA

Daftar isi
Fokus • Potret Penanggulangan Bencana di Indonesia ---1 • Konsep Kesiapsiagaan Terhadap Bencana di Tingkat Komunitas --- 8

Dari Redaksi
encana yang terjadi akhir-akhir ini di berbagai wilayah Indonesia telah memberikan pelajaran dan pengalaman berharga bagi semua pihak baik pemerintah, swasta, LSM, dan masyarakat luas termasuk masyarakat yang terkena bencana. Berbagai institusi/lembaga baik lokal, nasional maupun internasional telah turut berkontribusi dan berpartisipasi dalam membantu penanganan korban bencana. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dengan jelas menegaskan bahwa penanggulangan bencana bukan sekadar aksi tanggap darurat sesaat setelah bencana terjadi, akan tetapi meliputi proses mitigasi (prabencana) dan rekontruksi-rehabilitasi (pascabencana). Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana memberikan prioritas yang proporsional terhadap ketiga tahap penanggulangan bencana tersebut, khususnya pada tahap mitigasi, rekonstruksi, dan rehabilitasi. Dengan adanya rangkaian bencana yang dialami dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mengembangkan kesadaran mengenai kerawanan dan kerentanan masyarakat terhadap bencana. Sikap reaktif dan pola penanggulangan bencana yang dilakukan kini dirasakan tidak lagi memadai dan sangat disadari bahwa kebutuhan untuk mengembangkan sikap baru yang lebih proaktif, menyeluruh, dan mendasar dalam menyikapi bencana. Berdasarkan kenyataan di atas maka Redaksi Bulletin Kawasan Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal Bappenas, Edisi 26 Tahun 2010 kali ini mengangkat tema “Potret Pananggulangan Bencana di Indonesia” sebagai laporan utama. Dalam rubrik fokus diulas mengenai berbagai penanganan bencana yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Rubrik Opini, menampilkan tulisan mengenai penanggulangan bencana berbasis masyarakat yang disampaikan oleh Ahyudin. Selain itu terdapat tulisan Petrasa Wacana yang mengulas tentang bencana ekologi sebagai dampak perubahan iklim global dan upaya peredaman risiko bencana. Selanjutnya Rubrik Daerah menampilkan mengenai Sejarah pengetahuan PRBBK di Indonesia; studi kasus NTT, dan mengulas upaya penanggulangan bencana di Provinsi Aceh. Pada rubrik Potret, pembaca diajak melihat sisi lain dari bencana Wasior, Mentawai dan Merapi. Terakhir pada Rubrik Pustaka menampilkan resensi buku terbitan Bakornas PB, dan sebuah buku terbitan Bina Swadaya Konsultan yang mengajak kita melihat secara dekat upaya penanggulangan bencana yang dilakukan oleh komunitas masyarakat. Akhirnya, kami ucapkan selamat membaca, semoga bermanfaat..! PELINDUNG: Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah, Bappenas, Max H. Pohan. PENANGGUNG JAWAB DAN PEMIMPIN REDAKSI: Direktur Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Suprayoga Hadi. DEWAN REDAKSI: Rohmad Supriyadi, Samsul Widodo, Sutiman, Kuswiyanto, Hermani Wahab, Moris Nuaimi, Aruminingsih, Diah Lenggogeni, Rayi Paramita, Andri Narti Mardiah. REDAKTUR: Pringgadi Kridiarto, Rahman Nidi, Yelda Rugesty, Samantha Prakosa Jati. KONTRIBUTOR: Ahyudin, Petrasa Wacana, Jonatan A Lassa, Asmadi Syam, Priyantono Djarot Nugroho. EDITOR: Prof. Dr. Ir. M. Ikhwanuddin, M.Sc. KESEKRETARIATAN DAN DISTRIBUSI: M. Fadholi, Okta. TATA LETAK: Agung Cahyanto.

B

Opini • Ahyudin, Penanganan Bencana Berbasis Masyarakat ----12 • Petrasa Wacana, Bencana Ekologi Sebagai Dampak Perubahan Iklim Global dan Upaya Peredaman Risiko Bencana---15

Daerah • Sejarah Pengetahuan PRBBK di Indonesia: Studi Kasus NTT --- 19 • Penanggulangan Bencana di Provinsi Aceh ----- 22 Potret • Bencana Wasior, Mentawai dan Merapi ---27 • Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana --- 30 Pustaka • Pengenalan Karakteristik Bencana dan Upaya Mitigasinya di Indonesia ----30 • Menata Asa dari Reruntuhan Gempa: Pengalaman Pendampingan Pelaku Industri Mikro Korban Gempa Jogjakarta ---- 32

Kawasan

bulletin

ALAMAT REDAKSI Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Jalan Taman Suropati No. 2 Jakarta Pusat 10310 Telp. 3926249, 3101984, Faks. (021) 3926249, Situs: http://kawasan.bappenas.go.id. Redaksi menerima tulisan dari pembaca dengan panjang tulisan maksimal 5 halaman pada kertas ukuran A-4. Redaksi berhak mengubah maupun mengedit tulisan.

FO KU S

Potret Penanggulangan Bencana Di Indonesia
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, menyatakan bahwa penanggulangan bencana merupakan salah satu bagian dari kebijakan pembangunan nasional dalam serangkaian kegiatan baik sebelum, pada saat maupun sesudah terjadinya bencana. Selain itu, penanggulangan bencana merupakan tangung jawab bersama antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang dilaksanakan selaras dengan kebijakan dan prioritas pembangunan nasional dan daerah.
Bangunan Fisik yang Rusak Parah Akibat Bencana Tanah Longsor

Sumber: Doc BNPB

eberapa tahun terakhir keseharian kita senantiasa diwarnai berbagai berita kejadian bencana seperti tsunami, gempa bumi, gunung meletus, longsor, banjir, kekeringan dan bencana alam lainnya. Dampak bencana pun dirasakan semakin parah, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain kerusakan lingkungan yang parah, meningkatnya jumlah penduduk yang tinggal di daerah rawan bencana, rendahnya tingkat kesiapsiagaan dan mitigasi serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana. Sementara itu, perkembangan teknologi media yang berdampak pada pergerakan arus informasi, sehingga peristiwa bencana yang terjadi dapat menarik perhatian jutaan penduduk dunia hanya dalam hitungan jam.

B

Posisi Indonesia yang berada pada zona rawan bencana, menyebabkan ratusan ribu penduduk telah menjadi korban bencana dalam satu dekade terakhir. Walaupun respon secara cepat dan reaktif terhadap bencana telah diupayakan seoptimal mungkin, namun dampak psikologis dan sosioekonomi jangka panjang berpengaruh pada komunitas masyarakat yang terkena bencana dalam waktu relatif lama. Pengalaman menangani bencana yang terjadi di Aceh, Nias, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Bengkulu serta beberapa daerah lainnya telah mengalami perkembangan seiring dengan upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka pemulihan pascabencana termasuk pemulihan ekonomi dan kepercayaan masyarakat.

Pada masa lalu bencana seringkali dipandang sebagai suatu kejadian yang terjadi secara acak, dimana respon reaktif hanya dibutuhkan ketika bencana terjadi. Namun, fakta sejarah dan bukti empiris membuktikan bahwa banyak peristiwa bencana yang berulang dan terjadi secara periodik di suatu wilayah tertentu. Walaupun sulit memprediksi waktu dan skala intensitas suatu kejadian dengan tepat di masa depan, namun Pemerintah dan masyarakat dapat melakukan suatu tindakan pencegahan yang berdampak positif dalam kaitannya dengan upaya mitigasi terhadap kemungkinan terjadinya bencana. Hingga saat ini, manajemen bencana seringkali hanya sebatas respon reaktif jangka pendek, namun kurang berorientasi pada tindakan proaktif kesiapsiagaan serta upaya mitigasinya. Berkaitan dengan hal di atas dalam Bulletin Kawasan Edisi

E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010

.

BU L L ET I N K A W A SA N

1

F O KUS

ini membahas mengenai upaya penanggulangan bencana yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia khususnya di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, Papua Barat, dan Jawa Tengah. Provinsi Aceh sebagaimana kita ketahui dalam beberapa tahun belakangan kerap dilanda bencana alam bahkan yang terbesar dan tercatat dalam sejarah peradaban manusia adalah bencana gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004. Sementara Provinsi Sumatra Barat memiliki catatan penting dalam penanganan bencana gempa bumi di Indonesia. Wilayah ini dalam beberapa tahun terakhir sering mengalami gempa bumi. Papua Barat salah satu wilayah di bagian timur Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam besar juga menyimpan potensi bencana alam yang besar, seperti banjir bandang di Wasior yang terjadi pada awal Oktober

Penanggulangan Bencana Provinsi Aceh Sejarah penanggulangan bencana di Aceh telah memberikan dampak yang cukup signifikan dalam kehidupan masyarakat Aceh dan Indonesia pada umumnya. Bencana alam tsunami yang terjadi di Aceh tahun 2004 merupakan kejadian besar terakhir yang tercatat di samping bencana-bencana skala yang lebih kecil seperti banjir, abrasi, Kejadian Luar Biasa (KLB), dan kebakaran. Bencana tersebut memberikan dampak negatif terhadap hasil pembangunan dan proses pembangunan yang sedang berlangsung. Kombinasi dari keadaan geografis, geologis, dan aspek pembangunan menyebabkan Aceh memiliki sejarah bencana yang kompleks. Kendati telah terjadi bencana besar tsunami, Aceh masih tetap berpotensi terjadi bencana

Kesenjangan antar wilayah, antar kelompok masyarakat dan perbedaan sosial ekonomi di kabupaten/kota di Aceh dapat menimbulkan konflik sosial. Ini terbukti dengan adanya konflik sosial di Kabupaten Aceh Besar, Aceh Utara dan Aceh Timur. Konflik ini sudah terjadi sejak tahun 1946 dan menyebabkan hampir seluruh kabupaten yang ada di Aceh dengan kerugian materil dan non materil yang cukup besar. Sebagai akibat mobilitas penduduk, Aceh juga berpotensi terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB), bencana biologis berupa wabah dan penyakit epidemik menular. Hampir di semua kabupaten/kota dalam 10 (sepuluh) tahun terakhir ini pernah mengalami kasus-kasus yang berpotensi KLB, wabah atau epidemi penyakit seperti diare, campak, malaria, HIV/AIDS, Avian Influenza (flu burung) dan H1N1 (flu Meksiko). Terjadinya bencana di Aceh tidak lepas dari belum cukup baiknya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Pencemaran dan kerusakan lingkungan seperti penggungulan hutan, pencemaran lingkungan, dan penggalian tambang merupakan indikasi penurunan daya dukung lingkungan terutama di kabupaten Aceh Besar, Lhokseumawe, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Bener Meriah dan Aceh Tamiang. Turunnya kualitas lingkungan dapat menjadi salah satu potensi ancaman bencana sehingga harus segera diatasi. Potensi ancaman di Aceh diprediksikan tidak akan berkurang secara signifikan dalam tahun-tahun ke depan. Bencana ini berpotensi mengancam kehidupan seperti timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis bagi masyarakat. Untuk itu diperlukan

Sumber: Doc BNPB

Evakuasi Korban Bencana Oleh Relawan Penanggulangan Bencana

2010. Sementara Jawa Tengah DIY adalah daerah yang memiliki potensi ancaman bencana gunung Merapi yang selalu aktif dan secara periodik terus mengalami erupsi. Sementara disisi lain karakteristik dan kultur masyarakat jawa yang unik dalam menghadapi bahaya gunung Merapi kerap menjadi perbincangan di tingkat nasional dan dunia internasional.

yang sama atau timbul bencana baru. Secara hidro-meteorologis, Aceh telah mengalami bencana banjir, kekeringan, abrasi-sedimentasi, dan angin puting beliung. Sampai saat ini, belum tercatat Aceh menjadi lintasan badai siklon tropis, namun demikian, terjadinya perubahan iklim global dapat menyebabkan daerah ini sebagai lintasan utama badai siklon tropis.

2

EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0

.

BU L L ET I N K A WA S A N

pemetaan mikrozonasi daerah Lubuk Sikaping dan sekitarnya melalui kegiatan dengan dana Rp75 juta. Agam (20. Pariaman (25. sektoral dan kurang terpadu. Harapannya adalah agar tidak terjadi penanganan yang tumpang tindih.FO KU S Sumber: http://antasari. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penanganan bencana yang dilakukan di Aceh saat ini belum optimal. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui satu program pengelolaan dan penanganan dampak bencana pada 2010 melakukan pemetaan daerah rawan bencana alam. banjir hingga tsunami. seperti di kawasan pesisir Kota Padang.649). BU L L ET I N K A W A SA N 3 . Data tersebut berdasarkan penelitian sejumlah pihak terkait ditingkat nasional. pemetaan distribusi penduduk di sekitar Gunung Tandikat. Pemerintah Sumatera Barat dengan penduduk lebih dari 4.029). mulai dari gempa bumi. Daerah pesisir pantai Sumbar dinilai paling berisiko terhadap bencana gelombang tsunami. Padang Pariaman. Warga yang bermukim di zona merah tsunami terbesar berada di Kota Padang mencapai 380. Gunung Tandikat dan Gunung Talang) dengan anggaran Rp50 juta. Keempat. Semua itu dilakukan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Penanggulangan Bencana Provinsi Sumatera Barat Sejak tahun 2007. Kedua. Ketiga. Pada bagian lain.313). Besarnya potensi bencana yang dapat melanda Aceh maka. Hasil penelitian menunjukkan Sumbar merupakan daerah dengan risiko dan potensi tsunami tinggi dengan frekuensi setiap 200 tahun.402 jiwa. sebagai bentuk tanggung jawab Pemerintah dalam melindungi segenap warganya.430 meter diatas permukaan laut).6 juta jiwa telah mengantisipasi terjadinya bencana dengan menetapkan Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2007. Padang Pariaman (24. Bencana alam yang melanda Sumatera Barat merupakan suatu hal yang tidak dapat dielakkan. upaya-upayanya masih terfokus pada pemerintah. Agam. karena memang kondisi alam dan letak Sumbar yang rawan terhadap bencana. Disamping itu. dengan dana Rp75 juta (Gunung Tandikat berada dalam wilayah Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Agam dengan tinggi 2.net Relawan Asing Turut Membantu Korban Tsunami Aceh upaya menyeluruh penanggulangan bencana terutama yang terkait dengan pengurangan risiko bencana (PRB). Dengan Peraturan Gubernur Nomor: 102 Tahun 2009 lahirlah Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) pada tanggal 21 Juni 2009. rakyat Sumatera Barat disibukkan oleh kejadian bencana alam yang datang silih berganti. Sebanyak 534. Latar belakang ini menjadikan Penanganan Bencana di Aceh memerlukan Badan khusus.878 jiwa warga terdata bermukim pada zona merah tsunami. tentang Penanggulangan Bencana. Pasaman Barat (29. BPBA mempunyai tugas yang berat dalam penanggulangan bencana. Pasaman Barat dan Kepulauan Mentawai. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. seyogyanya perubahan sistem pemerintahan dengan semakin dilibatkannya organisasi nonpemerintah dalam kegiatan kemasyarakatan memerlukan perubahan mendasar dari sistem penanganan bencana. Selain itu. Sedangkan kegiatan pemantauan dan evaluasi bencana geologi di Sumbar disediakan anggaran Rp40 juta. ancaman letusan gunung berapi. reaktif. kegiatan monitoring aktivitas Gunung berapi di Sumbar (Gunung Merapi. longsor.861). Pesisir Selatan. Suka tidak suka masyarakat harus mempersiapkan diri untuk terbiasa dengan bencana dan dapat melakukan antisipasi jika musibah itu terjadi. antara lain paradigma penanganan bencana masih bersifat parsial. majalah National Geographic Indonesia Edisi I menyebutkan Padang mempunyai potensi risiko E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 . Program ini didanai dari APBD 2010 sebesar Rp320 juta. melakukan pemetaaan pergerakan tanah di Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Agam dengan anggaran Rp80 juta. Kegiatan dalam program ini meliputi: Pertama. yang lokasinya dekat dengan Kota Bukittinggi dan Padang Panjang.980). kemudian Pesisir Selatan (36. Gunung berapi dengan tipe “Stratovolcano” ini kini berstatus normal aktif. Pariaman.644) dan Kepulauan Mentawai (17.

primaironline. pemulihan kondisi dari dampak bencana. Cilacap. epidemi. fungsi BPBD adalah mengkoordinasikan kegiatankegiatan prabencana. wabah. Daerah rawan bencana gunung berapi yang masih aktif seperti Gunung Merapi (di Magelang). Wonosobo. Kendal. pegunungan Dieng (di Banjarnegara). Kebumen. 4 EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 . sedangkan pelaksana kegiatankegiatan pemulihan sesuai fungsi yang menjadi tanggung jawab Gunung Sindoro dan Sumbing (di Temanggung dan Wonosobo). penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum. Surakarta. Tingginya risiko ini disebabkan letak geografis daerah ini berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan dilalui lempeng Indo Australia-Eurasia yang aktif bergerak empat hingga enam sentimeter per tahun. pemaduan kegiatan penanggulangan bencana dengan program pembangunan. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang memadai. gelombang tinggi. Daerah rawan banjir dan kekeringan berada di sepanjang pantai utara dan pantai selatan Jawa diantaranya Kabupaten Brebes. Grobogan. Kudus. Pemalang. Penanggulangan Bencana Provinsi Jawa Tengah Peran BPBD Provinsi dalam penanggulangan bencana adalah sebagai koordinator. tangguh. Cilacap. pelaksana. Upaya penanggulangan bencana meliputi: pengurangan risiko bencana. dan mitigasi. pelaksana. Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang rawan bencana. perlindungan masyarakat dari dampak bencana. Kegiatan tersebut dilaksanakan tidak semata hanya oleh BPBD tetapi juga harus didukung oleh instansi yang terkait. Dalam tahap pra bencana dan situasi tidak terjadi bencana. Sragen. Pati. Kerentanan sosial baik karena keragaman agama dan sosial-budaya serta fanatisme kelompok hampir berada di semua daerah di Jawa Tengah. Berbagai ancaman bencana alam seperti erupsi gunung berapi.F O KUS tertinggi di dunia jika terjadi tsunami ditinjau dari jumlah penduduk yang berada di pesisir pantai. Pekalongan. Banjarnegara. Kerusakan Akibat Gempa Sumatera Barat Gunung Slamet (di Pemalang). BU L L ET I N K A WA S A N Sumber: http://www.com . BPBD berperan sebagai koordinasi. Peran ini dilaksanakan sebagai bagian dari tahapan-tahapan penanggulangan bencana. kesiapsiagaan. Gunung Lawu (di Karanganyar). tsunami. Temanggung. kegagalan teknologi maupun kerusuhan sosial. Dalam situasi terjadi bencana. Sedangkan pada tahap pascabencana BPBD menjalankan fungsi koordinasi. dan komando seluruh kegiatan penanggulangan bencana. Daerah rawan longsor berada di daerah yang mempunyai kemiringan wilayah tinggi seperti di Kabupaten Brebes. meliputi pencegahan. Pergerakan lempeng itu jika bertumbukan atau mengalami patahan dapat memicu terjadinya gempa bumi yang berpotensi diikuti gelombang tsunami seperti yang terjadi di Kepulauan Mentawai Oktober 2010 yang merenggut ratusan jiwa penduduk dan menghancurkan sarana dan prasarana fisik daerah tersebut. Kini masa tanggap darurat telah usai. kebakaran hutan dan lahan. Sukoharjo. gempa bumi. dilanjutkan dengan proses rehabilitasi dan rekonstruksi untuk memulihkan kembali kehidupan masyarakat di Kepulauan Mentawai. Pekalongan. Purworejo. Rencana operasi tanggap darurat harus dilaksanakan dan diawasi sehingga dapat tercapai kinerja penanggulangan bencana yang handal. serta komando. kekeringan dan tanah longsor. dan terkoordinasi. Demak. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam bentuk dana siap pakai. Karanganyar dan Purworejo. angin puting beliung. Blora. banjir. dan pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak bencana menjadi tanggung jawab bersama Pemerintah dan masyarakat.

Sukoharjo. Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) a. Tegal dan Kota Semarang) sedangkan lainnya ditetapkan melalui Peraturan Bupati (Kabupaten Kudus. Tingkat risiko tinggi adalah banjir dan kekeringan. tanah longsor. Purbalingga. Pemantauan penggunaan teknologi yang secara tiba-tiba dan atau berangsur berpotensi menjadi sumber ancaman atau sumber bahaya. Tingkat risiko rendah adalah tsunami. pembangunan infrastruktur. abrasi. Demak.blogspot. Karanganyar. Mitigasi (Risk Reduction) Tindakan yang harus dilakukan adalah: a. 3. Rencana Operasi (Renop). Penyelenggaraan pendidikan. 5. Pekalongan dan Wonogiri). angin topan dan atau puting beliung dan bencana lingkungan. Rencana Aksi Daerah Pengurangan Risiko Bencana (RAD-PRB) 3. Sragen. Sampai saat ini kabupaten/ kota di Jawa Tengah yang telah membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah adalah 20 kabupaten/kota. Rencana Pemulihan (Rehabilitasi dan Rekonstruksi) Strategi yang ditempuh dalam rangka penanggulangan bencana di Jawa Tengah adalah sebagai berikut: 1. Menyediakan perlindungan asuransi bencana b. Sumber: http://antofiction. Sebagai sosial jaring pengaman . konflik sosial dan kegagalan teknologi. Penguatan ketahanan sosial masyarakat. Purworejo. biologi. Pati. Pengaturan pembangunan. c. Terhadap BPBD yang ditetapkan melalui Peraturan Bupati masih memerlukan rekomendasi dari Kementerian Dalam Negeri agar dapat berjalan efektif. E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 2. c. 4. tata bangunan Evakuasi Korban Meninggal Akibat Letusan Gunung Merapi.FO KU S instansi tetap dilaksanakan oleh sektor masing-masing. Isu strategis penanggulangan bencana di Jawa Tengah berdasarkan hasil analisis risiko terbagi dalam 3 tingkatan : 1. Dalam penyelenggaraan bersama penanggulangan bencana. Pengalihan (Risk Transfer) Tindakan yang dilakukan adalah mengalihkan sebagian risiko kepada pihak lain (asuransi) dengan tujuan: a. Pencegahan (Risk Avoidance) Dilakukan melalui tindakan-tindakan: c. Pelaksanaan penataan ruang b. 2. dimana 3 kabupaten/kota ditetapkan melalui Peraturan Daerah (Kabupaten Cilacap. d. Kontrol terhadap penguasaan dan pengelolaan sumberdaya alam yang secara tiba-tiba dan atau berangsur berpotensi menjadi sumber bahaya bencana. Jawa Tengah 3. Penataan ruang dan pengelolaan lingkungan hidup. Banjarnegara. Tingkat risiko menengah adalah gempa bumi. Wonosobo. Banyumas. e. Rencana Kontinjensi (Renkon).com/ 2. Membebaskan atau mengurangi kewajiban pemerintah untuk menanggung biaya rekonstruksi pascabencana BU L L ET I N K A W A SA N 5 . Batang. Brebes. penyuluhan dan pelatihan baik secara konvensional maupun modern. Boyolali. erupsi gunung api. setiap daerah perlu mempersiapkan dokumen perencanaan penanggulangan bencana yang terdiri dari : 1. Rembang. b. Identifikasi dan pengenalan secara pasti terhadap sumber bahaya atau ancaman bencana.

Penyusunan dan ujicoba rencana penanggulangan kedaruratan bencana.F O KUS d. pemasangan dan pengujian sistem peringatan dini c. Penyediaan dan penyiapan lahan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Bappeda Provinsi Jawa Tengah berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran Rencana Penanggulangan Bencana Provinsi Jawa Tengah dalam Rencana Strategis SKPD di lingkungan Provinsi Jawa Tengah. Kaidah-kaidah pelaksanaan RPB Provinsi Jawa Tengah adalah sebagai berikut: 1. RPB Provinsi Jawa Tengah akan dituangkan dalam Peraturan Gubernur. b. 5. Rencana Pembangunan Menengah Daerah (RPJM-D) maupun dokumen rencana yang bersifat nasional seperti Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014 dan Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2010-2012. Penyediaan dan penyiapan barang pasokan pemenuhan kebutuhan dasar d. instansi di lingkungan Provinsi Jawa Tengah dalam membuat ataupun melakukan revisi terhadap rencana strategis di Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Penanggulangan Bencana. 6. e. Rencana Aksi Daerah Pengurangan Risiko Bencana. maka RPB ini merupakan salah satu masukan penting bagi. BU L L ET I N K A WA S A N Sumber: http://nasional. g.vivanews. Pemerintah Kabupaten/Kota berkewajiban menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Kabupaten/Kota. Kesiapsiagaan Tindakan yang dilakukan adalah : a. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Penyiapan lokasi evakuasi f. Sebagai dokumen rencana yang merupakan pertimbangan dalam melaksanakan Simulasi Bencana Sebagai Upaya Kesiapsiagaan Masyarakat Terhadap Bencana Gempa dan Tsunami 6 EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 .com . Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Provinsi Jawa Tengah merupakan bentuk komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana khususnya di Jawa Tengah dan sekaligus wujud dan peran serta Jawa Tengah dalam mendukung penyelenggaraan penanggulangan bencana secara nasional. Menghemat dana penanggulangan bencana e. SKPD berkewajiban menyusun rencana strategis yang berperspektif pengurangan risiko bencana sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dengan berpedoman pada RPB Provinsi Jawa Tengah maupun Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. barang dan peralatan untuk pemenuhan pemulihan sarana dan prasarana. yang akan menjadi pedoman dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan memperhatikan RPB Provinsi Jawa Tengah maupun Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014. informasi dan pemutakhiran prosedur tetap tanggap darurat bencana rencana pembangunan. masyarakat umum dan dunia usaha mengacu pada RPB Provinsi Jawa Tengah maupun Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014 2. 4. 3. SKPD di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Penanggulangan Bencana Provinsi Jawa Tengah dengan Rencana Strategis SKPD yang berkaitan dengan isu kebencanaan. Pemerintah daerah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Penanggulangan Bencana dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Pemberdayaan masyarakat dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak luar. pelatihan dan gladi tentang mekanisme tanggap darurat. Pengorganisasian. Pengorganisasian. penyuluhan. 4. Penyusunan data akurat.

baik berupa gempa bumi. atau lainnya. Sekitar 80 persen infrastruktur di wilayah itu rusak parah. bencana banjir bandang di Wasior beberapa waktu lalu telah menegaskan kepada kita semua bahwa hampir semua wilayah di Indonesia termasuk Pulau Papua menyimpan potensi bencana alam yang besar. yang masih berdiri seperti rumah tinggal. Namun. Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga mengerahkan kapal-kapalnya ke Teluk Wondama. Walaupun kapal-kapal tersebut baru tiba beberapa jam kemudian Sumber: http://nasional. dengan bekal pengalaman di Aceh melalui pentahapan rekonstruksi daerah bencana mulai tahap tanggap darurat hingga tahap rekonstruksi dan rehabilitasi. BU L L ET I N K A W A SA N 7 . Pemerintah juga mengirimkan bala bantuan melalui darat dan udara.com Berbagai Elemen Masyarakat Ikut Terlibat dalam Penanganan Korban Bencana dan dikerahkan untuk mengangkut bantuan. longsor. informasi tentang Papua selalu datang terlambat. namun harus berupaya membangun kembali infrastruktur daerah dan kepercayaan masyarakat setempat. kantor. Dalam peristiwa itu dilaporkan sedikitnya 90 orang tewas. Korban hilang diduga tertimbun lumpur setinggi 2-3 meter atau terseret banjir ke laut. toko. mestinya kita tidak membiarkan warga Papua menanggulangi kesulitan dan penderitaannya sendiri. 64 orang dinyatakan hilang. jalan dan jembatan umumnya mengalami kerusakan. Pemerintah berupaya mengerahkan segenap kemampuan dan sumber daya yang dimiliki untuk menanggulangi dampak bencana banjir bandang di Wasior tersebut. Pemerintah dan pemerintah daerah tak cukup hanya mengirimkan bantuan sandang dan pangan. itupun masih terjendala karena hancurnya sarana jalan. hotel. Minimnya sarana komunikasi menjadi kendala. Ditengah minimnya infrastruktur perhubungan dan komunikasi di Papua karena masih tertinggal dibandingkan dengan daerah lain. Kurangnya informasi mengenai bencana di Wasior menyebabkan perhatian kita sebagai masyarakat kepada saudara-saudara kita di ujung timur tersebut tidak sebesar perhatian kita ke daerah lain.FO KU S Penanggulangan Bencana Papua Barat Pulau Papua sebagai daerah paling timur dari Negara Kesatuan RepubIik Indonesia (NKRI) merupakan daerah yang kaya sumber daya alam baik pertambangan. Provinsi Papua Barat. pertanian. banjir. Kita harus menunjukkan solidaritas sesama masyarakat kepada warga Papua. sekolah. berikut mengaktifkan kembali fungsi-fungsi pemerintahan kota. Diharapkan pasca tanggap darurat pemerintah dapat lebih fokus dalam upaya merekonstruksi fisik kota yang 80 persen hancur. pariwisata dan perikanan dengan populasi penduduk yang sedikit. Pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama merehabilitasi fungsi-fungsi kota dan memulihkan mental para pengungsi dari trauma pascabencana. Pada awal Oktober 2010 bencana banjir bandang telah meluluhlantahkan Kota Wasior salah satu ibu kota Kecamatan di Kabupaten Teluk Wondama. Selanjutnya Pemerintah harus segera merekonstruksi Kota Wasior. E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 . dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal. kehutanan. (*) *) Diolah dari berbagai sumber. Presiden telah memberikan bantuan senilai Rp 2 miliar. masjid.vivanews. Tidak ada yang membayangkan sebelumnya bahwa pulau ini berada dalam intipan bencana yang dapat terjadi setiap saat. gereja. Sebagian besar bangunan di Kota Wasior rata dengan tanah.

Indonesia yang rentan terhadap berbagai jenis bencana alam. Membangun budaya ketahanan masyarakat dalam menghadapi dan mencegah dampak bencana memerlukan intervensi yang inovatif. dan lingkungan akibat bencana. Visi dari pembangunan ketahanan masyarakat perlu diintegrasikan ke dalam visi pembangunan bangsa. longsor. tepat. kebakaran. tsunami. ekonomi. Karena bahaya tidak dipandang sebagai prioritas sosial hingga saat bencana datang melanda. baik dalam ruang lingkup struktur sosial maupun perkembangan ekonomi. kekeringan. banjir dan sebagainya. bencana dapat menimbulkan dampak yang serius pada komunitas sekitar dan bahkan pada negara. Konferensi Dunia tentang Upaya Pengurangan Risiko Bencana pada tahun 2005 menghasilkan “Kerangka Aksi Hyogo” 2005-2015. Memastikan bahwa pengurangan risiko bencana ditempatkan sebagai prioritas nasional dan lokal dengan dasar institusional yang kuat dalam pelaksanaannya. Konferensi tersebut mengadopsi 5 (lima) prioritas tindakan sebagai berikut: 1. logis yang berorientasi pada manusia dan kebutuhannya. Sebagai negara yang rawan bencana. perencanaan program pembangunan dan pengurangan kemiskinan. misalnya : gempa bumi. sehingga dengan mengintegrasikan risiko-risiko bahaya ke dalam agenda pembangunan kita telah melakukan suatu tindakan yang mengandung nilai strategis. 8 EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 . Seperti yang telah dialami di Aceh dan Yogjakarta. Berbagai faktor seperti : letak geografis. BU L L ET I N K A WA S A N Sumber: Doc BNPB Evakuasi Korban Meninggal yang Tertimbun Bangunan Runtuh Akibat Gempa . gunung meletus. ekonomis. prioritas tersebut ditempatkan pada hal-hal lain seperti penghidupan T dan ekonomi dalam agenda pemerintahan dan masyarakat. masyarakat Indonesia harus mengetahui dan mempelajari cara hidup di tengah bahaya.F O KUS Sumber: Doc BNPB Aktivitas Relawan Penanggulangan Bencana Pascabencana KONSEP KESIAPSIAGAAN TERHADAP BENCANA DI TINGKAT KOMUNITAS erbentuknya masyarakat yang siapsiaga dalam menghadapi bencana merupakan hal penting bagi negara seperti Indonesia. Pembangunan berkesinambungan harus dilakukan melalui pendekatan yang dapat mengurangi terjadinya dampak sosial. dengan tema “Membangun Ketahanan Negara dan Masyarakat terhadap Bencana” menekankan bahwa berbagai upaya untuk mengurangi risiko bencana seyogyanya terintegrasi secara sistematis dalam kebijaksanaan.

termasuk Pemerintah dan pemerintah daerah. organisasi internasional. Pada realitasnya. a feeling that members matter to one another and to the group. pengurangan risiko bencana dan peningaktan sumber daya manusia. terutama sebelum bantuan atau pertolongan datang dari instansi. 4. Mengajarkan Kesiapsiagaan Bencana Sejak Dini Sumber:http://bmp. faktor-faktor risiko bencana. bukan saja Pengertian komunitas dapat didekati dengan definisi dari McMillan & Chavis (1986) sebagai berikut: “ community is defined as a feeling that members have a belonging.combine. Mengurangi dasar. organisasiorganisasi. dan pendidikan untuk membangun suatu budaya aman dan ketahanan pada semua tingkatan. Kelima prioritas tindakan tersebut memerlukan komitmen dari para pelaku dan pihak terkait. setepat mungkin. Mengidentifikasi. sektor swasta. Dalam kajian pengembangan kerangka penilaian kesiapsiagaan masyarakat ini. bagian/regional. komunitas dan individu untuk mampu menanggapi situasi bencana secara cepat dan tepat guna.or. inovasi. 3. sesuai situasi dan kondisi serta kapasitas masingmasing. di masyarakat masih banyak terdapat berbagai penafsiran yang berbeda terhadap konsep kesiapsiagaan. tetapi juga pada tingkatan komunitas yang langsung merasakan bencana itu.id . mengevaluasi dan memonitor risiko-risiko bencana dan meningkatkan pemanfaatan peringatan dini. Konferensi dunia mengenai upaya pengurangan risiko bencana (PRB) juga menetapkan bahwa dalam pendekatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko bencana. and a shared faith that members’ need will be met through their commitment to be together ” “tindakan-tindakan yang memungkinkan pemerintahan. sebab dan akibat dan cara-cara untuk menanggulangi bencana. warga masyarakat. dan komunitas ilmuwan. mendorong keterlibatan dan partisipasi masyarakat dalam upaya penanggulangan banana. dan internasional berikut pelaku lainnya yang terkait harus memperhitungkan aktivitas-aktivitas kunci dalam bentuk 5 (lima) prioritas tindakan yang harus mengimplementasikan prioritas tersebut. RPJMN 2010-2014 telah menetapkan arah kebijakan pengarusutamaan pengurangan risiko bencana sebagai perioritas pembangunan nasional dan daerah.id BU L L ET I N K A W A SA N 9 .” 5. organisasi negara. Komunitas ilmuwan dapat menawarkan landasan yang terpercaya melalui penelitian tentang bahaya dan bencana. digunakan suatu konsep atau pengertian dari Nick Carter (1991).or. Memperkuat kesiapsiagaan terhadap bencana dengan respon yang efektif pada semua tingkatan. penguatan kapasitas penanggulangan bencana di pusat dan daerah. optimalisasi istrumen pengendalian pemanfaatan ruang dalam aspek pengurangan risiko E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana Banjir pada tingkatan pemerintahan.FO KU S 2. juga melalui informasi relevan yang dihasilkan berkaitan dengan risiko-risiko. Menggunakan pengetahuan. badan-badan pertolongan atau lembaga penanganan bencana yang resmi. Termasuk ke dalam tindakan kesiapsiagaan adalah penyusunan rencana penanggulangan bencana. pemeliharaan sumberdaya dan pelatihan personil. masyarakat. Sumber: http://merapi. Kesiapsiagaan Masyarakat Terhadap Bencana Pengalaman dalam menangani berbagai bencana dalam beberapa tahun terakhir ini telah dirasakan pentingnya meningkatkan kesiapsiagan masyarakat.

Pada saat pelaksanaan rehab-rekon pascabencana. 5. yaitu : 1. Tingkat kesiapsiagaan suatu komunitas dapat menurun setiap saat dengan berjalannya waktu dan dengan terjadinya perubahan-perubahan sosial-budaya. Koordinasi : penguatan koordinasi antar lembaga atau organisasi 2.F O KUS serta menghilangkan friksi dan meningkatkan kerjasama antar lembaga/organisasi terkait 4. Perencanaan keadaan darurat (contingency planning). politik dan ekonomi dari suatu masyarakat. 3. gangguan layanan. juga harus dibangun mekanisme kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan bencana berikutnya.com Bagan Sistem Peringatan Dini Bencana Dalam mengembangkan dan memelihara suatu tingkat kesiapsiagaan. Dalam mendukung usaha-usaha peningkatan kesiapsiagaan. Karena itu diperlukan agar selalu memantau dan mengetahui kondisi kesiapsiagaan masyarakat dan melakukan usaha-usaha untuk menjaga dan meningkatkan tingkat kesiapsiagaan tersebut. Selain itu perlu diperhatikan sifat kedinamisan dari suatu kondisi kesiapsiagaan suatu komunitas. Instansi/Unit Penanggulangan Bencana yang permanen dan bersifat spesialis untuk memantau dan menjaga tingkat kesiapsiagaan. Keefektifan dari kesiapsiagaan masyarakat dapat dilihat dari implementasi kegiatan tanggap darurat dan pemulihan pascabencana.gkj-sarimulyo. Kebijakan dan Peraturan (produk hukum) yang memadai. Identifikasi. diperlukan adanya unsur-unsur sebagai berikut : 1. Pemanfaatan sumberdaya (perlu inventarisasi semua sumberdaya yang ada secara up to date). berbagai usaha perlu dilakukan untuk menciptakan elemenelemen penting berikut ini : 10 EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 . Kesiapan : unit organisasi penanggulangan bencana harus bertanggung jawab penuh untuk memantau dan menjaga standar kesiapan semua elemen. perencanaan penanganan situasi darurat yang tepat dan selalu diperbaharui (tidak tertinggal). BU L L ET I N K A WA S A N . melibatkan berbagai organisasi sumberdaya. Perencanaan dan organisasi : adanya arahan dan kebijakan. kerugian. dapat disimpulkan bahwa kesiapsiagaan suatu komunitas selalu tidak lepas dari aspek-aspek lainnya dari kegiatan pengelolaan bencana (tanggap darurat. 4. kajian dan pemantauan bentuk ancaman bencana (sumber. Sifat Kesiapsiagaan Terkait dengan definisi di atas. Pelatihan dan Kesadaran Masyarakat : perlu adanya pelatihan yang memadai dan adanya kesadaran masyarakat serta ketersediaan informasi yang memadai dan akurat. diperlukan berbagai langkah persiapan pra-bencana. terdapat beberapa aspek yang memerlukan perhatian. gangguan kegiatan ekonomi/sosial). Untuk menjamin tercapainya suatu tingkat kesiapsiagaan tertentu. struktur organisasi penanggulangan bencana yang memadai 2. kemungkinan korban. 5. Usaha Peningkatan Kesiapsiagaan Dalam mengembangkan kesiapsiagaan masyarakat. Elemen Penting Kesiapsiagaan Dalam Sumber: http://www. kejelasan tugas dan tanggung jawab. rehabrekon. pencegahan dan mitigasi). Sumberdaya : inventarisasi dari semua organisasi sumberdaya secara lengkap dan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas 3.

dan Seberapa besar peringatan dini 4. Seberapa siap perencanaan pra bencana dan kesiapsiagaan masyarakat.technologyindonesia. Fasilitas dan sistim operasional 3. Pelatihan 5.FO KU S 1. Kemampuan koordinasi semua tindakan (adanya mekanisme tetap koordinasi) 2.com *) Diolah dari berbagai sumber. termasuk kemampuan Sumber: http://netsains. Sistem Peringatan Dini Sistem peringatan dini menjadi bagian penting dari mekanisme kesiapsiagaan masyarakat. maka bencana yang ditimbulkan dapat diperkecil dampak negatifnya. Masyarakat untuk menanggapi dapat mengurangi dampak bencana peringatan tersebut dan akan sangat bergantung pada melakukan tindakan antisipasi beberapa faktor.com BU L L ET I N K A W A SA N 11 . Ketepatan peringatan 2. Kemampuan untuk menerima beban yang meningkat dalam situasi darurat/krisis. Peralatan dan persediaan kebutuhan dasar atau supply 4. 6. Informasi 7. Jarak waktu yang tersedia antara keluarnya peringatan sampai datangnya peristiwa yang dapat menimbulkan bencana 3. (*) 1. Sumber: http://www. misalnya: secara tepat. Kesadaran masyarakat pendidikan. Tsunami Early System for Indonesia Gambar Sistem Peringatan Dini Bencana E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 . Secara teoritis bila peringatan dini disampaikan tepat waktu. karena dapat menjadi faktor kunci penting yang menghubungkan antara tahap kesiapsiagaan dan tanggap darurat.

niscaya para korban bencana dapat segera diselamatkan dan dipulihkan. Kedua. apapun jenisnya. Maka. Sebab. Paradigma Penanganan Bencana Mari kita awali dengan mencermati paradigma yang pertama. dan tuntas merupakan A keniscayaan atau konsekuensi dari dua hal ideal. yakni Paradigma Ideologi Bencana dan Penanganannya. faktor-faktor yang menjadi landasan formula penanganan bencana yang cepat. sudah selayaknya jika upaya menangani bencana harus menjadi ukuran harga diri dan martabat 12 EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 . ketepatan dalam strategi penanganan bencana. risiko bencana dalam skala besar. harus diletakkan dalam perspektif kenegaraan. pastilah memiliki ”dampak sistemik” yang bisa mengancam eksistensi bangsa dan negara. Kendati demikian. BU L L ET I N K A WA S A N . Inti dari fungsi manajemen negara adalah menjaga eksistensi rakyat. Dalam sudut pandang ini. Bencana. kita tidak dapat melepaskan kaitan antara bencana dan negara. Tiga kata kunci itu adalah : Cepat. Jika setiap pihak yang terlibat dalam upaya menangani bencana melandaskan aktivitasnya pada tiga hal tersebut. Total dan Tuntas. ketepatan memahami paradigma bencana dan penanganannya. menjaga kesejahteraan masyarakat. total. Ketiganya menjadi jaminan atas keberhasilan dalam menangani bencana apapun. Pertama.OPINI Sumber: Doc BNPB Barak Pengungsian Sementara Korban Bencana Penanganan Bencana Berbasis Masyarakat Oleh: Ahyudin (*) da tiga kata kunci yang wajib hadir dalam formula penanganan bencana. Paradigma ini juga menempatkan bencana sebagai ancaman langsung terhadap kehidupan masyarakat dan rakyat secara luas. Bencana dan penanganannya merupakan persoalan bangsa dan negara.

Jika ini kita lakukan. Artinya. setiap bencana memiliki nilai dan esensi yang membawa berjuta hikmah di dalamnya. sukses tidaknya menangani bencana menjadi ukuran kinerja manajemen negara. Untuk itu. Bukan pula pemerintah. membangkitkan fitrah kemanusiaan.wordpress. Hasil akhirnya adalah keseimbangan dan harmoni. yakni Paradigma Strategi Penanganan Bencana. pengorganisasian dan pengembangan strategis dalam koridor TDM (Total Disaster Management). konten dan lingkup penanganan bencana haruslah terintegerasi. dan menjadi momentum bersatunya manusia. Kita tak bisa memandang masyarakat sekadar sebagai kelompok rentan risiko. perencanaan kesiapsiagaan. menangani bencana bukanlah sekadar kegiatan teknis.org Sekarang mari kita cermati paradigma kedua. Tak ada momentum sehebat bencana yang mampu menggelorakan dan membangkitkan kepedulian. Kepedulian bisa menjadi solusi atas berbagai persoalan Sumber: http://www. Dengan demikian. emergency. menangani bencana adalah sebuah disiplin manajemen. Dalam perspektif manajemen. Memang selalu ada hikmah di balik musibah. seremonial. Ia mampu menggelorakan solidaritas kemanusiaan. Dengan demikian. hasilnya akan mampu mewujudkan kepedulian menjadi kultur masyarakat. bencana menyebabkan risiko kemanusiaan yang luar biasa. dan rekontruksi. bencana sekaligus juga sebagai anugerah kemanusiaan. percayalah. Sebab.org manusia dengan Tuhannya dan keseimbangan hubungan manusia dengan manusia lainya. Masyarakat Sebagai Inti Pertahanan Bencana Masyarakat adalah inti pertahanan dan subjek utama penanganan bencana. secara hakiki. Meskipun secara objektif mereka memang rentan risiko bencana lantaran kemiskinan dan kebodohan struktural masyarakat kita secara umum. Sebab. BU L L ET I N K A W A SA N 13 . secara spontan.mpbi.O PIN I negara. Kepedulian akan menjadi sistem jaminan sosial masyarakat. Bencana Dalam Manajemen Perspektif mitigasi. dan parsial. Stimulasi yang diberikan Tuhan yang Maha Esa agar manusia memiliki momentum untuk bangkit menjadi kuat. Bukan yang lain. bencana sesungguhnya merupakan stimulan Ilahiyah. Bencana adalah peristiwa kemanusiaan. masif. pada kenyataanya harus diakui bahwa masyarakatlah pahlawan sesungguhnya dalam penanganan bencana. bencana juga dapat membangkitkan rasa kemanusiaan manusia. intensif dan memiliki target yang terukur. amanah. Secara komprehensif. Namun. Menangani bencana adalah sebuah rangkaian aktivitas berkesinambungan di atas perencanaan. Nilai dan Esensi Bencana Di sisi lain.com Sumber: http://pmicilegon. Kepedulian masyarakat secara umum adalah sumber energi dan modal sosial yang besar artinya untuk mendukung penanganan bencana. Maka. Kiri: Korban Jiwa Akibat Bencana Bisa Berkurang Jika Masyarakat Siap Menghadapi Bencana Atas: Pemetaan Daerah Bencana Oleh Masyarakat Rawan Kanan: Fasilitator Memberikan Pelatihan Bencana Kepada Masyarakat E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 . Tugas kita adalah meresponsnya dengan baik. Bencana juga merupakan modal sosial yang luar biasa. dan menerobos semua sekat yang tak tertandingi oleh peristiwa apapun. jujur dan profesional. Keseimbangan hubungan Sumber: http://antaratv. perlu gerakan edukasi kepedulian masyarakat secara lebih serius: terkonsep. mulai dari manajemen pencegahan sampai manajemen rekontruksi. rehabilitasi. lingkup manajemen penanganan bencana mencakup aktivitas pencegahan.

Jika bencana adalah tantangan. Jadi. Masyarakat. memiliki multiplier effect dan berkesinambungan. Bagai menggarami lautan. Sebab menangani bencana memerlukan kekuatan kebersamaan. Meski sangat mungkin masyarakat mampu membangun rumah tahan gempa. Maka. Di samping juga menyesuaikan dengan kearifan dan potensi lokal. Strategi dan Solusi Program penanganan bencana. Formula penanganan bencana secara cepat. total. mandiri. Sebagian kebijakan penanganan juga kurang tepat. namun tak selalu bangunan tersebut tahan bencana lainya seperti banjir dan kebakaran. Bukan pula sekadar aksi emergency karitatif. Untuk itu. Bukan sekadar bagi-bagi sembako. mulai dari tahap perencanaan program hingga implementasi dan pengembangannya. termasuk bencana. pendekatan proyek juga digunakan dalam penanganan bencana. Terhadap masyarakat korban bencana. Ia harus strategis. baik masyarakat secara umum maupun masyarakat lokal (local society) korban bencana secara khusus. Banyak pula model implementasi program yang secara tidak langsung menciptakan ketergantungan masyarakat. dan terhormat. tetapi kembangkanlah model pendampingan. Kendala Sayangnya. sistem pertahanan terbaik adalah sistem pertahanan masyarakat semesta. sinergi antar pihak terkait harus dijalin. kuat. tidak bervisi kemanusiaan. Ancaman bencana sesungguhnya mirip dengan serangan musuh terhadap bangsa dan negara. sesungguhnya merupakan inti pertahanan bencana. BU L L ET I N K A WA S A N . masyarakat seharusnya menjadi sumberdaya utama penanganan bencana. Meresponsnya dengan cepat dan profesional adalah amal saleh kita. Kekuatan dan ketangguhan masyarakat dan bangsa ini menghadapi bencana adalah peluang besar untuk menjadikan bangsa kita sebagai bangsa besar. Maka secara alamiah. Penutup Bencana adalah stimulan dan pesan Ilahiyah agar kita bertakwa. menangani bencana di negeri ini ibarat menegakkan benang basah. Sekadar pentas pameran kebajikan. Di sisi lain. Berbasis perencanaan EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 strategis dan pengelolaan secara reguler. Sedang pemerintah mesti memiliki peran untuk mengkoridori dan mendorong agar masyarakat bisa menjadi subjek utama penanganan bencana. resources program penanganan bencana bisa menggerakan unsur relawan. Secara ideal. upaya menuju ke arah itu masih menghadapi sejumlah kendala. kepedulian akan melahirkan sebuah peradaban baru. tidak produktif sehingga menyakiti perasaan masyarakat. Program penanganan bencana seharusnya berorientasi kemandirian masyarakat. Yang tak kalah penting adalah mengembangkan budaya kerelawanan masyarakat. Begitu pula dengan budaya masyarakat (pasrah. masyarakat adalah subjek utama penanganan bencana.OPINI sosial kemanusiaan. Sejumlah pihak juga mempolitisasi bencana. Dengan demikian. Sungguh. maka tantangan sesungguhnya adalah modal besar agar kita bangkit menjadi kuat. Pengetahuan yang minim tentang bencana dan penanganannya juga menjadi persoalan tersendiri. Untuk itu. pihak lainya termasuk pemerintah sebagai support (regulator). semestinya memenuhi sejumlah kriteria. Bukan menempatkanya sebagai objek. dan tuntas hanya mungkin diwujudkan jika masyakarat mampu menjadi subjek. nrimo. Belum lagi soal penyalahgunaan hak-hak korban bencana (misalnya. maka masyarakat harus dilibatkan secara total. Kekuatan yang menciptakan bencana lebih banyak dan lebih hebat daripada yang berupaya mengatasinya. Manfaatnya juga harus berdampak massal. Jangan menggurui masyarakat. Maka. program penanganan bencana juga harus unik dan merupakan terobosan baru. Banyak pendekatan program penanganan bencana yang menempatkan masyarakat lokal sebagai objek belaka. Ego sektoral dalam penanganan bencana juga masih teramat kuat. (*) *) Presiden ACT Foundation (Yayasan Aksi Cepat Tanggap 14 . frekuensi bencana juga menjadi kendala. ia harus mampu menstimulans berbagai pihak untuk terlibat. Pola hubungan dengan masyarakat pun bukan lagi hubungan subjek dan objek. Bahkan. kelembagaan penanganan bencana dapat dihadirkan pada tingkat komunitas masyarakat. Sesunguhnya Allah SWT lebih mencintai hamba dan bangsa yang lebih kuat. Sejumlah wilayah menjadi langganan beragam jenis bencana (banjir bencana). gunakanlah komunikasi persuasif. Di sisi lain. Menjadikan penanganan bencana sekadar gerakan seremoni. Kendala pertama adalah kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat. penanganan bencana harus ditangani dalam persfektif manajemen. Karena program penanganan bencana pada dasarnya merupakan program milik masyarakat dan kebutuhan masyarakat. Parahnya. mudah puas dan mental inferior). Pendidikan kebencanaan juga bisa diimplementasikan sampai pada level komunitas masyarakat. korupsi dana bencana).

Perubahan iklim berdampak pada terjadinya bencana alam dimana-mana mulai dari badai topan. tsunami dan berbagai bencana lainnya yang mengakibatkan hilangnya fungsi ekosistem yang berdampak pada terjadinya bencana ekologis. perubahan iklim. Kondisi ini akan meningkat dari tahun ke tahun dan menjadi permasalahan serius bagi dunia. Bencana ekologis akan terjadi apabila keseimbangan antara makluk hidup dan tempat tinggalnya tidak terpenuhi. El Nino. kelaparan. Kata kunci : Pemanasan global.O PIN I Bencana Ekologi Sebagai Dampak Perubahan Iklim Global dan Upaya Peredaman Risiko Bencana Oleh Petrasa Wacana Peneliti Pusat Studi Manajemen Bencana UPN "Veteran" Yogyakarta Abstrak Pemanasan global menjadi isu utama di dunia. korban. hal ini berdampak pada terjadinya kenaikan suhu di bumi. kekeringan. PENDAHULUAN emanasan global telah terjadi semenjak abad 20. Selain itu juga pemanasan global terjadi akibat dari kegiatan ekploitasi secara besar-besaran terhadap sumberdaya alam yang menjadi bagian dari siklus keseimbangan alam.net . Risiko bencana yang ditimbulkan adalah berupa hilangnya keberfungsiaan masyarakat. Dalam dua dekade ini telah terjadi pertumbuhan penduduk di dunia yang sangat pesat. Bencana terjadi akibat adanya faktor-faktor ancaman (hazard) berupa fenomena alam akibat pemanasan global dan adanya kerentanan (vulnerability) di dalam suatu masyarakat dalam menerima risiko bencana. kenaikan suhu permukaan dan perubahan musim yang tidak dapat diprediksi. banjir. yang mengakibatakan bencana alam. risiko bencana. badai siklon tropis. endemic. yang mengakibatkan hilangnya keseimbangan dalam siklus bumi. BU L L ET I N K A W A SA N 15 Sumber: http://www. Papua Akibat Kerusakan Lingkungan pasokan emisi gas dan efek rumah kaca di bumi yang tidak seimbang dengan daya tampung wilayahnya. disaster management. Bencana itu berupa kenaikan permukaan air laut akibat pencairan es di kutub. badai tropis. merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh di dunia di abad 21. Pemanasan global memberikan dampak terhadap perubahan iklim global sebagai akibat dari efek rumah kaca dan pemenuhan emisi gas CO2 yang dapat mengakibatkan perubahan kondisi suhu global dan siklus metereologi dan geologi. ancaman. I. saat terjadi bencana (emergency response) dan setelah terjadi bencana (recovery and rencana strategis). kerusakan fisik dan kerusakan lingkungan. mulai dari awal revolusi industri di negara-negara eropa. sehingga menjadi suatu ancaman (hazard) yang . dapat mengakibatkan risiko bencana apabila ada kerentanan (vulnerability) di dalam suatu lingkungan masyarakat dalam menerima ancaman. dan badai siklon. Kebutuhan akan pemenuhan hidupnya mengakibatkan bertambahnya E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 P Banjir Bandang di Wasior. banjir akibat faktor cuaca yang tidak menentu yang sering diikuti dengan bencana longsor.sectoredwin. kerentanan. untuk itulah perlu dilakukan upaya-upaya peredaman risiko bencana (disaster risk reduction) yang merupakan suatu kegiatan manajemen bencana untuk mengurangi risiko bencana dari dampak perubahan iklim global mulai dari sebelum bencana terjadi (mitigasi dan kesiaapsiagaan). kerugian material. terjadinya El Nino.

badai siklon tropis dapat menghancurkan wilayah yang dilewatinya memiliki diameter antara 20 – 150 kilometer. (2) manajemen kesiapsiagaan dan manajemen krisis. dan (4) pemulihan dan rencana aksi. kondisi musim yang tidak stabil diakibatkan oleh adanya perubahan iklim global di bumi sehingga sulit untuk di prediksi secara pasti. kenaikan temperature ekstrim. Pemanasan global berdampak pada perubahan iklim di dunia menjadi tidak stabil. serta kebakaran hutan juga merupakan penyumbang emisi gas CO2 di dunia yang mengakibatkan perubahan pada lingkungan dan tataguna lahan (landuse). (3) kedaruratan (emergency response). banjir. Perubahan Iklim dan Bencana Ekologis Perubahan iklim global yang diakibatkan oleh meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer bumi sebagai efek rumah kaca (greenhouse). prefipitasi. Badai siklon tropis merupakan fenomena badai yang terjadi akibat system tekanan udara rendah pada daerah tropis yang menjadi sebuah ancaman (hazard) yang dapat menimbulkan bencana. ekonomi. yang mempengaruhi kehidupan dan penghidupan masyarakat serta asetaset kehidupan yang ada meliputi manusia. fisik (infrastruktur). gempa. BU L L ET I N K A WA S A N . 16 EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 . rusaknya suatu ekosistem dan tatanan kehidupan manusia dalam jangka panjang.4 – 5. Meningkatnya suhu udara dari waktu ke waktu rata-rata pertahun mencapai 1. kondisi morfologi dan adanya air pasang laut. Bencana menjadi semakin meluas di mana-mana sehingga perlu tindakan penanganan secara konprehensif. makluk hidup dan kondisi alam. erupsi gunungapi. Adanya ketidakseimbangan antara energi yang diterima dengan energi yang dilepaskan ke udara dan terjadi perubahan tatanan pada atmosfir dapat mempengaruhi siklus iklim menjadi tidak seimbang. siklus hidrologi menjadi tidak seimbang antara evaporasi. merupakan bencana kekeringan yang terjadi yang terjadi akibat meningkatnya suhu dari ratarata suhu normalnya sehingga terjadi perubahan musim yang sangat signifikan. pemanasan suhu global di udara memberi dampak terhadap keseimbangan energi dalam suatu wilayah hingga mengaklibatkan kekeringan berkapanjangan. pengaruhuh utama dari pemanasan global terhadap terjadinya bencana adalah perubahan suhu udara yang semakin meningkat sehingga mengakibatkan perubahan musim yang tidak seimbang dan memicu percepatan siklus geologi dan metereologi. kekeringan dan lainnya. Pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim dilaksanakan dengan manajemen bencana dan rencana aksi pengurangan risiko bencana berupa: (1) mitigasi. Kegiatan industri. tsunami. Akhir-akhir ini bencana sering terjadi mulai dari tsunami. Beberapa tahun terakhir banjir merupakan fenomena yang biasa terjadi di berbagai negara ada yang diakibatkan oleh rusaknya fungsi hutan sebagai pengatur siklus air. dan dapat mengakibatkan banjir akibat naiknya masa air dilaut dan di daratan yang terbawa oleh angin dengan kekuatan yang tinggi. penggunaan minyak bumi dan batubara. Alam sebagai tempat tinggal dan segala sesuatu yang memberikan keseimbangan lingkungan. yang tidak mengenal batas wilayah dan waktu. Bencana ekologis merupakan fenomena alam yang terjadi akibat adanya perubahan tatanan ekologi yang mengalami ganguan atas beberapa faktor yang saling mempengaruhi antara manusia. Jumlah populasi yang sangat tinggi menjadi faktor-faktor penentu terjadinya bencana. Dampak yang terbesar akibat dari perubahan iklim di dunia adanya bencana El Nino. Bencana yang selalu terjadi silih berganti tanpa mengenal waktu dan wilayah.O P I NI Konferensi internasional tentang pemanasan global di Jepang tahun2005 menghasilkan Kyoto Protokol yang menjadi landasan dan kerangka kerja bagi seluruh negaranegara di dunia untuk menekan laju pemanasan global dan perubahan iklim. kekeringan dan El Nino yang dapat menimbulkan risiko bencana pada sistem ekologis. infiltrasi dan daya dukung lahan terhadap air permukaan. PEMBAHASAN 1. air pasang dan banjir. tata kelola lahan yang tidak baik. menurunnya produktifitas pertanian. bencana ekologi sering terjadi akibat akumulasi krisis ekologi yang disebabkan oleh ketidakadilan dan gagalnya pengurusan alam yang mengakibatkan kolapsnya tata kehidupan manusia. sosial budaya dan sumberdaya alam. perlu di ingat bahwa sustu ancaman (hazard) akan menjadi bencana apabila menimbulkan dampak yang sangat besar dan luas. kondisi ini juga dipercepat dengan dampak yang dilakukan oleh kegiatan manusia dalam mengelola lingkungan sehingga mempengaruhi pemanasan global di bumi yang berujung pada terjadinya bencana-bencana dimana-mana. Kondisi alam yang tidak seimbang dan perubahan siklus iklim yang tidak sesuai mengakibatkan bencana tidak dapat diprediksi secara pasti. hal ini dipengaruhi juga dengan kondisi cuaca yang tidak menentu dimana musim hujan tidak lagi pada siklusnya. longsor. hal ini harus menjadi suatu pemikiran bersama dalam mengatasinya dan menyelesaikan permasalahan ini. badai. Hilangnya keseimbangan lingkungan akibat kerusakan alam yang tidak stabil menjadi sesuatu yang harus diatasi oleh semua pihak. apabila pemananasan global terus bertambah setiap tahunnya dapat menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap percepatan ancaman yang seperti badai siklon tropis. Sebagai akibatnya terjadi perubahan temperature yang sangat signifikan di atmosfer.8 derajat celcius hingga tahun 2100 yang dapat mempengaruhi kenaikan muka air laut mencapai 88 meter. II.

Atas penilaian risiko bencana dapat dijadikan tolak ukur suatu rencana strategis dalam membangun suatu kesiapsiagaan dalam satu komunitas untuk menghadapi risiko bencana. Dalam konfrensi dunia tentang pengurangan risiko bencana di jepang (World Confrence on Disaster Reduction. pengurangan emisi gas CO2 di udara menjadi sesuatu yang penting untuk dilakukan pengurangan dampak pemanasan global di dunia. Bencana ekologis menjadi ancaman bagi setiap negara sehingga perlu adanya tindakan preventif dalam mereduksi risiko bencana yang akan ditimbulkan.ac.20015).O PIN I Gejala Perubahan Iklim Global: Gelombang Tinggi Air Laut iklim dan lingkungan. serta bagaimana tingkat kerentanan (vulnerability) suatu komunitas memiliki nilai yang sangat tinggi sehingga ada hubungan antara tiga faktor diatas untuk menjadi suatu bencana (Paripurno. Pencegahan dan pengelolaan lingkungan harus dimulai secara dini untuk menilai risiko dan kondisi alam yang tidak stabil terhadap ancaman bencana ekologis. Bencana ekologi terjadi akibat adanya akumulasi dari seluruh rangkaian proses yang di akibatkan oleh pemanasan global di dunia.technologyindonesia. kerentanan (vulnerability) dan kemampuan (capacity) dalam mengelola ancaman. dengan mengacu pada United Framework Convention on Climate Changes (UNFCCC) bencana dan perubahan iklim menjadi isu utama karena memliki hubungan atas terjadinya berbagai bencana di E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 dunia dan menghasilkan rencana aksi Hyogo (Hyogo Framework for Action 2005 . pada tahapan sebelum bencana manajemen risiko dapat dilakukan dengan melakukan upaya-upaya pencegahan atau mitigasi. sebagai kerangka kerja untuk setiap Negaranegara di dunian melakukan rencana aksi pengurangan perubahan iklim dan pengelolaan lingkungan untuk mengurangi dunia dari pemanasan global yang dapat mengakibatkan bencana ekologis. pengurangan risiko bencana diimplementasikan sampai ke tingkat komunitas dimana setiap negara didorong untuk memiliki rencana aksi sebagai upaya peredaman risiko bencana. 2000). perubahan iklim dalam waktu yang sangat lama tidak terbatas pada aspek-aspek . Pengurangan risiko bencana meliputi tahapan sebelum bencana.com hal ini berdampak pada kondisi lahan dan mempengaruhi produktifitas pertanian untuk menghasilkan dapat berdampak pada rusaknya satu ekosistem. berkurangnya daya tahan pangan dan hilangnya keberfungsiaan lahan. saat bencana dan setelah bencana. dan kerusakan ekologi.id Ilustrasi Pemanasan Global Pada Bumi 2. Ancaman adalah sesuatu yang dapat mengkibatkan terjadinya bencana baik secara alamiah (natural disaster) maupun akibat ulah manusia itu sendiri (man-made disaster). tatanank kehidupan manusia. mengenal ancaman untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi terjadinya bencana. menjadi fenomena sosial ketika banyak terjadi kekeringan. Sumber: http://anggeh. dari faktor-faktor di atas kemudian dilakukan penilaian terhadap kerentanan (vulnerability) dalam suatu komunitas untuk menerima dampak ancaman sehingga dapat mengetahui tingkat risiko bencana. untuk mengurangi risiko bencana perlu melakukan peningkatan nilai BU L L ET I N K A W A SA N 17 . Japan 2005). Upaya Peredaman Bencana Risiko Bencana (disaster) merupakan fenomena yang terjadi akibat kolektifitas atas komponen ancaman (hazard) yaitu berbagai isu-isu pemanasan global yang mempengaruhi kondisi alam dan lingkungan.student. Semakin tinggi nilai ancaman dan nilai kerentanan maka risiko bencana semakin tinggi. Sumber: http://www. mitigasi dapat dilakukan denganpenilaian risiko bencana berdasarkan atas analisa ancaman (hazard) yang diakibatkan perubahan iklim global. Risiko bencana merupakan hubungan antara komponenkomponen ancaman (hazard). Selain itu dapat mempengaruhi ketersediaan sumberdaya air baik yang ada di permukaan maupun yang ada di bawah permukaan. sistem peringatan dini harus dimiliki sebagai tanda yang dapat memberikan informasi adanya ancaman risiko bencana. Selain itu upayaupaya peredaman risiko bencana telah dilakukan dengan adanya Kyoto Protokol tahun 2005. merupakan upaya terpadu yang dilakukan untuk meminimalkan risiko bencana. khususnya bencana ekologis. Kobe. serta pendekatan non structural dengan pendekatan masyarakat sebagai perancang dan perencana suatu tindakan mitigasi bencana. dari hasil konfrensi ini.umm. Mitigasi dapat dilakukan dengan melakukan du pendekatan antara lain pendekatan structural yang mengacu pada infrastruktur yang mendukung pengurangan pengaruh pemanasan global dan risiko bencana.

Upaya kesiapsiagaan dapat dilakukan dengan melakukan suatu rencana aksi yang diimplementasikan dalam suatu kegiatan yang bertujuan untuk pengurangan risiko bencana. Journal of Disasters. 2006. Number 5. An Operational Framework for Mainstreaming Disaster Risk. 5.kabarindonesia. Volume 30. L and Pelling. tsunami. Volume 30. M and Hilhorst. K. berguna bagi keberlanjutan dan pembangunan berkelanjutan aman dari risiko bencana. M. kesehatan dan hak-hak dasar kepada seluruh komponen yang terlanda tanpa terkecuali. Number 1. and Challenges to.OPINI Sumber: http://www. Helmer. The Impacts of Climate Changes on The Risk Natural Disaster. meliputi 3 isu yang harus di perhatikan : (1) pengurangan risiko bencana. mengenal ancaman. kenaikan temperature ekstrim. Volume 30. Volume 7. Integration. Rencana aksi harus meliputi upayaupaya yang dilakukan untuk pengurangan laju perubahan iklim di setiap negara. kesiapsiagaan. Van Aalst and Marteen. Proses pemulihan (recovery) menjadi bagian dari upaya peredaman risiko bencana dimana dalam perencanaan suatu program pemulihan harus memiliki unsur-unsur terhadap pengurangan risiko bencana. mengetahui dampak yang dapat ditimbulkan oleh faktor-faktor yang mengakibatkan terjadinya bencana dalam lingkungan (disaster ecology). 2007. dimana terjadi hilangnya keseimbangan ekologi seperti badai siklon tropis. seringkali bencana yang terjadi silih berganti dalam satu waktu yang sama (bencana kembar). 18 . KESIMPULAN 1. yang menjadi satu kesatuan yang saling berhubungan dalam mengelola ancaman bencana alam (natural disaster). 2005. International Science Journal Climate Reserch. 3. manajemen emergensi. pp 5-18 (14). Bencana merupakan akumulasi dari faktor-faktor alam yang telah mengalami ganguan keseimbangan dimana ada suatu kerentanan (vulnerability) pada suatu wilayah yang terkena dampak sehingga menurunnya daya tangkal masyarakat dalam menerima risiko bencana. pp 19-38. Maret 2006. DAFTAR PUSTAKA 1. 4. dengan mengurangi efek pemanasan global yang saling berhubungan antara pengurangan risiko bencana. September – Oktober 2001.Public Healt Risk Assesment Linked to Climaic and Ecologycal Change. Natural Disasters and Climate Change. kekeringan dan El Nino. 6. Number 1. Upaya pengurangan risiko bencana dapat dilakukan dengan melakukan tahapan manajemen bencana yang meliputi pencegahan dan mitigasi. EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 4. pp 34-38. Volume 1. Maret 2006. Number 1. A. September 2007. Perceived Changein Risk of Natural Disasters caused by Global Warming. Perubahan iklim yang terjadi akibat pemanasan global di dunia memberikan dampak terhadap terjadinya bencana-bencana alam yang merupakan bencana ekologis. Mar 2006. Journal of Disasters. Journal Human and Ecological Risk Assesment. Jonatan. III. Volume 1. 2. endemic. BU L L ET I N K A WA S A N . The ISME Journal. 2001. 2005. Hal ini berdampak pada kondisi lingkungan disekitarnya. Climate Change and International Development: Scope for. pp 567584. Saat terjadinya bencana di suatu wilayah perlu dilakukan penanganan cepat (emergency response) untuk memberi jaminan keselamatan. air pasang dan banjir. Disaster Risk. C. Upaya peredaman risiko bencana merupakan upaya terpadu dan terencana yang dilakukan dalam manajemen bencana sehingga dapat diimplementasikan ke dalam pengeloalaan lingkungan yang berbasis pengurangan risiko bencana. 2006. Thomas Mitchell. IV.D. pp 1-4.com pemulihan dan rencana aksi yang dapat berimplikasi terhadap pengurangan risiko bencana. Freites. (2) perubahan iklim global dan (3) pembangunan berkelanjutan. pp 373-385 (13) Schipper. 2. Journal of Disaster. (*) 3. dalam masa krisis pemulihan cepat terhadap kehidupan dan penghidupan masyarakat harus dilakukan secara terencana dan terpadu sehingga dapat ditangani dengan cepat. 2006. pengurangan global warming dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) Kerusakan Daerah Aliran Sungai Sebagai Salah Satu Bencana Ekologi kerentanan (vulnerability) menjadi kapasitas (capacity) dengan melakukan penguatan kapasitas di dalam masyarakat dalam mengelola lingkungan.

Proses Evakuasi Korban Bencana Longsor di Jawa Barat E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 . Kerangka PRBBK selalu berangkat dengan “kepercayaan” bahwa ada kapasitas lokal yang bisa digunakan dalam mengurangi risiko bencana yang perlu dikenali oleh pihak luar dan pengambil kebijakan. Kandidat Phd di United Nations University (Unu). jauh sebelum Pusat Studi Mitigasi ITB didirikan tahun 2003 [2]. Indonesia pernah mendapatkan bantuan penguatan kapasitas melalui lembaga bernama “National Centre for Disaster Management” pada tahun 1986 [1] namun tidak diketahui bagaimana Departemen Sosial sebagai host mentransmisikan pengetahuanpengetahuan pengelolaan risiko bencana ke daerah. Selanjutnya kerangka kerja “Crunch” bergerak sebagai “pengetahuan” yang berjalan melintasi banyak tempat dan waktu hingga tiba dan digunakan di Provinsi Nusa Tenggara Timur sekitar awal tahun 2000an ketika pengetahuan itu didapatkan dari para peserta training PRBBK di Asian Disaster Preparedness Centre di Bangkok 1998-2002. yang kemudian dikonseptualisasi dan di promosikan secara internasional dari para ahli di Inggris.DAE R AH SEJARAH PENGETAHUAN PRBBK DI INDONESIA: STUDI KASUS NTT ecara etis. Sumber: Doc BNPB BU L L ET I N K A W A SA N 19 .) secara original. sebagai perubahan kebijakan tahun 1979 dan ketika era IDNDR (International Decade for Natural Disaster Reduction) secara formal dimulai. Ketika sistim UNDRO (United Nations Disaster Relief Organization) diberlakukan. Misalkan. Jerman. S Tulisan: Tidak ditemukannya bukti tertulis yang memadai terkait sejarah mitigasi dan pengetahuan kerangka kerja PRBBK di NTT terutama sejak sistem Bakornas diperkenalkan pada tahun 1979. inspirasinya lahir dari Nepal. Tulisan ini meneropong praktek PRBBK dari sisi risiko kegempaan dan penggunaan kerangka kerja PRBBK di NTT. kerangka kerja PRBBK dengan model “Cruch” yang terkenal dalam buku At Risk (Oleh Piers Blaikie et. ITB JONATAN A. LASSA: Anggota MPBI. praktek pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas (PRBBK) diasumsikan mendahului kesadaran menggunakan kerangka kerja PRBBK. al. sebelum kemudian lembaga tersebut kehilangan pengaruh akibat sekretariat host penanganan bencana dipindahkan ke Menkokesra di tahun 1990. Yang pasti.

PMPB-Kupang kemudian lebih berorientasi pada sumber-sumber pengetahuan dari luar (kontra-PRBBK). Divergensi „praktisi lokal“ vs „ilmuan lokal“ ini ini memberikan indikasi terkait efek bola salju yang tersendat dalam penyebarluasan pendekatan PRBBK di NTT. terutama Inggris. serta Kefa dan Belu untuk Pulau Timor. tepatnya tahun 1987 (Lihat Hendrikus Rani 1987 “Penilaian Gempa yang lebih resilient terhadap gempa. Sedangkan LSM seperti Pikul. Filipina. Sebaliknya. walau sempat diremehkan oleh para arsitektur barat. Fakta ini membangkitkan gugatan pada rumah-rumah modern di Flores dan merupakan sebuah penemuan kembali pada kapasitas rumah bermaterial lokal dan berbasis pengetahuan lokal EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 Sumber: http://www.DA E R A H sudah sejak era UNDRO secara parsial telah menjadi semacam knowledge hub pengetahuan mitigasi gempa dan mitigasi georisk lainnya. Peristiwa Gempa/Tsunami 1992 memberikan pembelajaran yang kuat terkait pentingnya pengetahuan lokal dalam menghadapi gempa. terutama kalangan LSM. Hal yang sama terjadi di tahun 2002 dan 2004. Namun disayangkan. misalkan PMPB Kupang. Sebagai oto kritik penulis. Secara sistimatis. Surabaya selama setahun. yang sekembalinya. Sejarah studi bencana di NTT yang dilakukan oleh inisiatif lokal dapat ditelusuri kembali pada embrio Pusat Studi Mitigasi. kemudian melatih tukang-tukang lokal melalui lembaga Pusat Studi Mitigasi Unwira secara formal didirikan paska Gempa/ Tsunami 1992 yang secara internal dimungkinkan oleh kembalinya beberapa tenaga pendidik Fakultas Teknik Unwira yang telah menempuh pendidikan master di Institute Teknologi Bandung dan Asian Institute of Technology. Simbiosis Mutualisme tertunda. Yayasan Pikul pernah memiliki Strategic Planning Program Disaster Management sejak tahun 2000 dan Strategic Planning Disaster Management di Indonesia Konfrerensi Nasional Pengelolaan Risiko Bencana Bermasis Komunitas misi lokal baik di Flores (Ende. statistik rumah rusak parah/ total adalah sebagai berikut: 79% “rumah permanen”. walaupun secara geografis hanya berjarak 3km antara kantor PMPB Kupang dan Perpustakaan Unwira Kupang. Lembaga Misi SVD kembali mendapatkan suntikan pengetahuan terkait mitigasi gempa dari berbagai sumber termasuk Pusat Studi Mitigasi Unwira dan Universitas Katolik Atmajaya Jogjakarta. Yang terjadi justru sebaliknya. sejarah lisan pertukangan di NTT.) Setelah peristiwa gempa 1992 yang melanda Ende dan Sikka di Pulau Flores. khususnya Arsitek Vernakuler yakni Romo Mangunwijaya. Alor Pantar 1987” Laporan Penelitian Pusat Studi Gempa Unwira). tahun 1999 dan 2000 secara berturut-turut mengirimkan staff ke training PRBKK oleh ADPC di Manila. Sikka) hingga Bali dan Nusa Tenggara Barat.org 20 . penulis menjumpai di tahun 2002 bahwa LSM-LSM spesialis bencana seperti PMPB Kupang tidak memiliki informasi yang memadai terkait perkembangan penelitian dan inovasi rumah tahan gempa di Unwira. BU L L ET I N K A WA S A N . 8% untuk rumah semi permanen dan 2% untuk rumah sementara (berdinding kayu). selalu muncul dari pusat-pusat pelatihan tenaga misi seperti di Maumere dan Ende untuk Pulau Flores. Universitas Katolik Widya Mandira. Tepatnya tahun 1979-1980. Kemudian dilanjutkan di akhir tahun 1980 di Institut Teknologi Bandung untuk kursus singkat bangunan (termasuk materi tahan gempa). terlihat bahwa pengetahuan PRBBK secara historis mengalami berbagai momentum. Lembaga Misi SVD di Sikka mengirimkan seorang staff ke untuk berguru di Lembaga Pengawasan Bangunan Universitas Kristen Petra. sejak tahun 1998 mengirimkan staff ke ADPC Bangkok. bahkan hingga kini. Sebagai salah satu peserta matakuliah Mitigasi Gempa Unwira 1996. Misalkan di Ende. Kupang. Dari analisis derajat jaringan PRBBK di NTT dalam 20 tahun terakhir. inovasi lokal ini tidak dikenali di luar Unwira. sejak 1998 juga sudah mengirimkan staff divisi Disaster Management ke ADPC Bangkok.mpbi. Bangkok. [3] (Sebagai tambahan. Reaksi serupa mirip dengan reaksi ilmuan-ilmuan Jepang paska gempa Nobi 1891 yang mulai meragukan bangunan-bangunan teknologi Eropa dan mendapati rumah-rumah disain arsitek tradisional Jepanglah yang lebih bertahan menghadapi gempa.

2) Tahun 1979. Namun seperti PMPB Kupang.bnpb. mampu dilakukan oleh LSM-LSM di NTT. BU L L ET I N K A W A SA N 21 . Wens Bataona 28 Sept 2010. 3) Lihat Gregory Clancey (2006) “Earthquake Nation: The Cultural Politics of Japanese Seismicity 18681930. 27 July 2009. merupakan clustercluster pengetahuan PRBBK yang perlu dihubungkan dalam jaringan-jaringan PRBBK Indonesia dan menarik melihat ulang terminologi awal di era 1990an terkait PRBBK. 4) Lihat http://pmb. Penulis juga mewawancarai tiga orang tukang berbeda di Sikka terkait penguatan kapasitas yang diterima dari lembaga misi. Dr.id .itb. Hal ini kemudian diikuti oleh berbagai training PRBBK di Sulawesi Tengah.id/ [akses 20 Peta Kejadian Bencana di Provinsi NTT Timur 2002-2005. saran dan pertanyaan silahkan dikirimkan pada email: jonatan. Eko Teguh Paripurno E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 yang dianugerahi UNISDR Sawakawa Laureate 2009.” University of California Press: London.DAE R AH Pustaka : Sumber: http://geospasial. awalnya tidak di disain secara sistimatis untuk menjadi knowledge hub terbukti dengan masih terjadinya asimetrik informasi terutama ketidak tahuan lembaga-lembaga donor yang kemudian secara highcost menggunakan lembaga-lembaga yang berbasis di Jawa dan Bali untuk menjadi fasilitator di daerah-daerah perbatasan NTT. Pembelajaran penting lainnya yang bisa dipetik adalah bahwa berbagai penguatan kapasitas beberapa pemerintah daerah di NTT yang baru saja mengalami reformasi regulasi penanganan bencana.lassa at gmail. staff SVD Maumere dimaksud detraining oleh beberapa ahli bangunan di Unkris Petra Surabaya seperti Benny Lumantara yang kemudian menjadi ahli seismic design Indonesia. Komentar. Dated November 1986. di mana penulis adalah co-fasilitator dalam kurun waktu April-November 2003. Sept 2010]. sebagai misal Flores Institute for Institutional Development (FIRD).” (*) *) Tulisan ini merupakan work in progress dari riset pengetahuan PRBBK penulis di Indonesia termasuk NTT. dan bagaimana para tukang kemudian berperan sebagai knowledge transmitter terkait penguatan tulangan beton untuk mencegah keretakan akibat tekanan gaya geser gempa pada tembok bangunan rumah permanen. Peta Index Rawan Bencana NTT Sumber: http://geospasial. Munculnya praktik PRBBK Indonesia dan munculnya tokoh seperti Dr. PMPB Kupang dan sebagainya yang perlahan mampu berperan sebagai fasilitator. Br.ac. Sumber: telp.USAID Project. Budi Kleden. Interview.go. Pembelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa investasi pada PRBBK terutama pada penciptaan knowledge hub dengan visi jangka panjang memberikan hasil yang positif namun tidak linear. Hal ini untuk menjawab tantangan Kepala BNPB di Konferensi PRBBK Agustus 2008 terkait proyek mencari PRBBK yang “Indonesia tulen.go.bnpb. Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Timur tahun 2003 oleh berbagai fasilitator dari PMPB Kupang dan Yayasan Pikul.id 1) Wong Arthur (1986) Strengthening Disaster Preparedness and Disaster Management in Indonesia” First Technical Report for Project INS/82/020 Government of Indonesia UNDP/UNDRO . personal communication.com.

Di sisi demografi. Aceh telah mengalami bencana banjir. Letak Aceh yang juga berdekatan dengan garis khatulistiwa juga menyebabkan Aceh memiliki kondisi iklim yang khas dengan musim hujan dan kemarau yang panjang.id Ratapan Duka Seorang Ibu PascaBencana Tsunami Aceh. EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 Kendati telah pernah terjadi bencana besar tsunami.web. Secara hidrometeorologis. Aceh berada pada pertemuan 2 lempeng utama dunia. Pengalaman penanggulangan bencana yang terjadi di Aceh telah memberikan dampak yang cukup signifikan dalam kehidupan bermasyarakat di Aceh dan juga Indonesia pada umumnya. dan puting beliung. 22 . kekeringan.DA E R AH POTRET PENANGGULANGAN BENCANA DI PROVINSI ACEH Oleh: Drs. Pembagian akses dan kontrol atas pengelolaan dan hasil A Sumber: http://www. Selain hal itu. Karena itu. Kesenjangan antara wilayah. akibat terjadinya perubahan iklim global dapat saja menjadikan Aceh sewaktuwaktu menjadi daerah lintasan utama badai siklon tropis. Bencana alam tsunami yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 merupakan kejadian besar terakhir yang tercatat di Aceh di samping bencana-bencana lain dengan skala dampak yang lebih kecil seperti banjir. letusan gunung berapi. antar kelompok masyarakat dan perbedaan sosial ekonomi di beberapa kabupaten/kota yang ada di Aceh dapat menimbulkan konflik yang juga merupakan salah satu bencana sosial. Dari kondisi geologis.hong. Aceh memiliki penyebaran populasi yang tidak merata dengan keanekaragaman suku dan budaya. Aceh memiliki kekayaan alam yang berlimpah namun belum didukung oleh sistem eksplorasi yang optimal yang memadukan antara konsep tata ruang yang mendukung pengurangan risiko bencana dan sisi manfaat bagi masyarakat Aceh. abrasisedimentasi. Lempeng Eurasia yang bertumbukan langsung dengan lempeng Indo Australia membentuk tunjaman lempeng tektonik yang melintas dari barat pulau Sumatera melalui sebelah Selatan pulau Jawa hingga ke Nusa Tenggara. Aceh rawan terhadap bencana-bencana hidrometeorologis. dan kebakaran lahan/pemukiman. abrasi. belum ada catatan Aceh menjadi lintasan badai siklon tropis. Hingga saat ini. tanah longsor dan tsunami. Tahun 2004 sumber daya alam antara laki-laki dan perempuan juga belum seimbang. BU L L ET I N K A WA S A N . Kejadian Luar Biasa (KLB). Kondisi pertemuan lempeng tersebut menyebabkan Aceh berpotensi terhadap gempa bumi. Kejadian bencanabencana tersebut di Aceh memberikan dampak negatif terhadap hasil pembangunan yang sudah dicapai atau yang sedang berlangsung di Aceh. Asmadi Syam Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh LATAR BELAKANG ceh secara geografis terletak di khatulistiwa di antara Benua Asia dan Australia serta di antara Samudera Hindia dan Selat Malaka. Namun demikian. Kondisikondisi tersebut menjadikan Aceh sebagai wilayah yang sangat rawan terhadap bencana alam. Aceh masih berpotensi terjadi pengulangan bencana yang sama atau timbulnya jenis bencana baru. yaitu lempeng Eurasia dan Indo-Australia.

Pidie Jaya. kerugian harta benda dan dampak psikologis bagi masyarakat. sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Pada bagian lain.mil Selain potensi bencana alam. BU L L ET I N K A W A SA N 23 Sumber: http://www. termasuk perlindungan atas korban bencana. udara dan tanah dan terjadinya penggalian tambang merupakan indikasi penurunan kualitas lingkungan di beberapa kabupaten/kota seperti Aceh Besar. antara lain paradigma penanganan bencana yang bersifat parsial. Turunnya kualitas lingkungan dapat merupakan salah Sumber: http://katakamidotcom. campak. baik ketika bencana itu terjadi.cpf. Lhokseumawe. sektoral dan kurang terpadu. Wabah dan penyakit epidemik menular baik pada hewan dan pada manusia mengakibatkan kerugian dan atau permasalahan lainnya. Pencemaran dan kerusakan lingkungan seperti E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 Kapal Nelayan Terseret Hingga Ke Daratan Oleh Gelombang Tsunami . Potensi ancaman bencana di Aceh diprediksikan tidak akan berkurang secara signifikan dalam tahun-tahun ke depan. pencemaran air. Pidie.navy. baik yang disebabkan oleh alam dan non alam selalu berpotensi mengancam kehidupan seperti timbulnya korban jiwa. Hampir semua kabupaten/kota dalam 10(sepuluh) tahun terakhir pernah mengalami kasus-kasus yang berpotensi KLB. satu potensi ancaman yang harus diperhitungkan sedini mungkin. hidrologis dan demografis Aceh maka diperlukan suatu upaya menyeluruh dalam upaya penanggulangan bencana.DAE R AH Ini sudah terbukti dengan terjadinya konflik sosial di Kabupaten Aceh Besar. malaria. Disamping itu.com semua jenis bencana. geologis. reaktif. wabah atau epidemi penyakit seperti diare. perubahan pada sistem pemerintahan serta semakin terlibatnya organisasi nonpemerintah dalam kegiatan kemasyarakatan memerlukan Dalam Sekejab Gelombang Tsunami Menyapu Semua Harta Benda Terjadinya bencana di Aceh tidak terlepas dari masih belum cukup baiknya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. sudah terjadi. pengrusakan hutan. Penanganan bencana yang telah dilakukan di Aceh saat ini cenderung belum optimal. Konflik ini tidak hanya terjadi di dalam 1 kabupaten di Aceh tetapi hampir terjadi di seluruh kabupaten yang ada di Aceh dengan kerugian materil dan non materil yang cukup signifikan.wordpress. Aceh Utara. HIV/AIDS termasuk Avian Influenza (flu burung) dan H1N1 (flu Meksiko). kerusakan lingkungan. Sejarah mencatat bahwa konflik sudah mulai terjadi di Aceh sejak sejak tahun 1946. Mengingat kondisi geografis. Hal tersebut dilakukan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum yang berlandaskan Pancasila. upayaupaya tersebut masih berfokus pada upaya pemerintah. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Pada dasarnya . Aceh juga berpotensi terhadap terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan variasi jenis penyakit beragam dan frekuensi yang meningkat. Bener Meriah dan Aceh Tamiang. maupun bencana yang berpotensi di masa yang akan datang. Hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah Aceh dalam melindungi segenap warga dengan tujuan untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan. Aceh Utara dan Aceh Timur.

setara dan bermartabat 2. Menyusun. Menetapkan standarisasi serta kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan bencana berdasarkan peraturan perundang-undangan 3. pengurangan kerentanan dan penguatan kapasitas masyarakat terhadap ancaman bencana yang bersifat dinamis dalam jangka waktu 2010-2012. terarah. baik sebelum bencana. Melindungi segenap warga masyarakat Aceh dari ancaman bencana melalui pengurangan risiko 2. Merumuskan dan menetapkan kebijakan penanggulangan bencana dan penangganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat serta efektif dan efisien. terkoordinasi serta menyeluruh RUANG LINGKUP Rencana Aksi Daerah Pengurangan Risiko Bencana (RAD-PRB) ini mempunyai ruang lingkup wilayah Aceh. FUNGSI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA ACEH (BPBA) Fungsi Badan Penanggulangan Bencana Aceh adalah sebagai berikut : 1. Penggorganisasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terarah. Adapun penjabaran Tsunami Aceh diambil dari Foto Satelit 24 EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 . Harapannya adalah agar tidak terjadi upaya yang tumpang tindih atau terhindar dari jurang dalam upaya penanganan bencana di Aceh.DA E R AH TUJUAN DIBENTUKNYA BADAN PENANGGULANGAN BENCANA ACEH (BPBA) Sedangkan tujuan daripada dibentuknya Badan Penanggulangan Bencana Aceh adalah sebagai berikut: 1. BU L L ET I N K A WA S A N Sumber: http://blogdetik.mpbi.org Rapat Konsolidasi Pembentukan BPBD perubahan mendasar pada sistem penanganan bencana.com . M e n y e l e n g g a r a k a n penangganan dan Pengurangan Risiko Bencana secara terencana. Di dalamnya memuat kebijakan dan program-program dalam rangka pengurangan ancaman bahaya. saat tanggap darurat maupun saat pascabencana secara adil. Menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan bencana 5. terpadu. Membangun penanggulangan yang handal system bencana Sumber: http://www. menetapkan serta menginformasikan peta rawan bencana 4. terpadu dan menyeluruh 3. Melaksanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada wilayahnya 6.

Dinas Pengairan Aceh Koordinasi dengan SKPA ini meliputi koordinasi dari analisis dampak bencana terutama akibat dari mengecilnya sungai akibat ditutup lumpur atau karena rusaknya drynase akibat meluapkan sungai.DAE R AH pelaksanaannya berdasarkan prioritas sesuai dengan tugas dan fungsi kelembagaan di daerah. koordinasi ini hanya dengan dengan memerintahkan kepada SKPA tersebut untuk mengerahkan potensi-potensi yang dimiliki. jadi pola koordinasi dengan Dinas Pengairan sering terjadi bila pra dan pascabencana 5. sehingga memerlukan pengerahan alat berat kelapangan E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 . PMI. Dinas Sosial Provinsi Aceh. Pola koordinasi yang dilakukan dengan dinas ini meliputi koordinasi mengenai logistik dan peralatan bencana yang bisa dikerahkan bila sewaktu-waktu terjadi bencana. tapi merupakan komponen penting dalam melaksanakan kegiatan baik Pra. Basarnas. BU L L ET I N K A W A SA N 25 Sumber: http://www. bila ada titik pengungsian warga yang terkena bencana 2. Pola koordinasi yang dibangun adalah pola menurut tupoksi masing-masing dilapangan. Dinas Kesehatan Aceh Pola koordinasi yang dilakukan meliputi hasil dari kajian cepat dari Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) yang apabila membutuhkan penanganan medis dan adanya korban jiwa maupun luka-luka baru dilakukan pengerahan dari siaga kesehatan Aceh 3. Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh Sumber: http://www. POLA KOORDINASI BADAN PENANGGULANGAN BENCANA ACEH Pola Koordinasi dimaksud meliputi koordinasi dengan Satuan Kerja Pemerintahan Aceh yang meliputi : 1.dw-world.koran-jakarta.com . Pramuka.de Kegiatan Trauma Healing Anak-anak Korban Bencana 4. Pemadam Kebakaran Badan ini bukan merupakan SKPA. seperti dampak bencana terjadi putusnya jalan dan jembatan. terlebih bila ada korban jiwa yang hilang atau Pembangunan Kembali Pemukiman Penduduk Pasca Tsunami Aceh Pola koordinasi dengan SKPA ini meliputi pengerahan peralatan yang berhubungan dengan bidang pekerjaan umum. saat maupun pascabencana. baik personil Tagana maupun Dapur Umum Lapangan (Dunlap) bisa dikerahkan berbarengan dengan bahan makanan siap saji.

BU L L ET I N K A WA S A N Sumber: http://blueskomersial. baik sebelum. Dasipena dan lain-lain. semoga KOMITMEN PEMERINTAH DAERAH DALAM MENANGANI BENCANA SEBAGAI PRIORITAS UTAMA DALAM MENGURANGI DAMPAK BENCANA Badan Penanggulangan Bencana Aceh masih seumur jagung. pemadam kebakaran mempunyai peralatan yang cukup bila terjadi bencana di tempat-tempat tertentu. (*) AnggotaTNI Berdoa Di Atas Puing-Puing Markas Mereka Yang Tersapu Tsunami 26 EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 . Oleh karena itu pemerintah Aceh dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) akan mempersiapkan diri dalam membantu pemerintah sesuai dengan tuntutan UU No. mitigasi bencana dan penanganan bencana serta pemberdayaan social korban bencana. seperti adanya kurikulum disekolah dengan kebencanaan. 24 Tahun 2007 untuk lebih memposisi diri dalam profesionalisme dalam penanggulangan bencana terutama bencana alam dan bencana sosial. karena dengan adanya badan ini arus politisir barang bantuan pemerintah kepada rakyat bisa dihindari minimal diperkecil. Palang Merah mempunyai skill yang penting dalam menekan angka korban yang lebih besar. Model perencanaan ini pula yang harus bisa dikembangkan sebagai model/konsep penanggulangan bencana dimana masyarakat bisa dipolakan sebagai pelaku/pelaksana penanggulangan bencana itu sendiri. saat dan sesudah bencana. BADAN PENANGGULANGAN BENCANA ACEH SEBAGAI SOLUSI PERMASALAHAN BENCANA DI DAERAH Keberadaan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) bukan saja sebagai alternative pemecahan masalah kebencanaan di Aceh. masyarakat dan sektor swasta dalam mengurangi risiko bencana. tetapi tugas yang akan diemban sangat besar dan berat dan tuntutan masyarakat terhadap badan inipun sangat besar terutama dalam pengurangan risiko bencana dan dalam menguraangi danpak bencana. adanya desa siaga bencana. jadi kesemua badan baik SKPA maupun non SKPA diatas mempunyai korelasi yang sangat penting dalam penanganan bencana. adanya relawan Tagana. Koordinasi ini penting karena Basarnas mempunyai perlengkapan dan tenaga skill yang terampil dalam menyelamatkan korban.blog . MODEL PERENCANAAN PROGRAM PB YANG DIKEMBANGKAN PEMERINTAH MELALUI BPBA SAAT INI Berbicara model tentu saja tidak terlepas dari kemitraan antara pemerintah.DA E R AH meninggal dunia. 200 milyar pertahun dan diharapkan untuk BPBA memperoleh dana yang besar pula dalam melaksanakan kegiatan kebencanaan di Aceh terutama pra bencana. dan alokasi anggaran utnuk penangganan bencana tersebut bisa kita katakana besar. tetapi lebih dari itu. Selama ini penanggulangan bencana dilakukan oleh Satkorlak/ Satlak dan ketuanya pasti pejabat public yang dipilih rakyat melalui partai politik dan bukan dari kalangan professional. Oleh karena itu paradigma penanganan bencana sudah mulai berubah dari paradigm politik keparadigma professional sesuai dengan bidang masing-masingnya. hal ini lumrah karena managemen penanggulangan bencana yang salah. keempat hal tersebut merupakan satu-kesatuan yang sangat erat hubungannya dalam pengembangan model-model yang harus dikembangkan dan harus sesuai dengan bentuk bencana yang terjadi. seperti dana Badan Reintegrasi Aceh (BRA) yang mencapai Rp. Kejadian dilapangan sering terjadi adalah bila setelah selesai penanganan bencana alam akan diiringi dengan timbulnya bencana social baru.

satu sisi hutan yang diekploitasi secara besarbesaran mungkin akan memberikan jumlah keuntungan ekonomi yang besar untuk jangka pendek. Sumber: http://blueskomersial. Sumber: http://blogdetik. Sebab.blog BU L L ET I N K A W A SA N 27 . mengurangi kadar air yang tersimpan di tanah. terutama di luar Provinsi Papua yang mengenal nama Wasior sebagai salah satu Kecamatan di Kabupaten Teluk Wondama. Namun. Selain itu. Peristiwa yang penuh duka ini juga memicu perdebatan terkait peran ulah manusia sebagai penyebab bencana alam.com A meyakini bahwa penebangan hutan dan pembangunan yang tak terencana di wilayah hulu merupakan penyebab utama bencana tersebut.POT RE T WASIOR BENCANA EKOLOGI ? ndai saja tidak ada bencana banjir bandang yang memakan banyak korban dan merusak sarana umum. Tidak hanya di Wasior tapi kondisi kawasan serapan air dan hutan pada sejumlah daerah di Indonesia. Tak terkira kerugian material yang ditimbulkan olehnya. sehingga bencana banjir dan longsor berpotensi terjadi. . di daerah aliran sungai (DAS) sudah banyak yang rusak. hutan yang rusak akan mempengaruhi kadar oksigen di alam. Jadi. Sebab. dan mengurangi kekuatan struktur tanah yang rentan bergeser. Padahal mereka E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 gangguan dan ditambah dengan tingginya curah hujan. perusahaan pemegang HPH tersebut bisa saja melakukan penebangan kayu diluar areal yang telah ditentukan karena mengejar keuntungan yang lebih besar. Bagi kelompok pencinta lingkungan hidup respon pemerintah terhadap bencana wasior sangat mengecewakan karena tidak menyinggung tentang penanggulangan penyebab bencana banjir itu sendiri. dan sisi lain bisa menimbulkan potensi curah hujan tinggi. dampaknya akan menimbulkan bencana seperti di Wasior yang potensinya sulit untuk dihindari. (*) Banjir bandang yang melanda Kota Wasior di Papua Barat telah menyebabkan ratusan orang tewas dan hilang. Akibat kerusakan hebat tersebut. Kalau ekosistem hutan tidak stabil karena banyak Hutan dan Sungai Di Wasior Pemukiman Penduduk di Wasior Yang Rusak Akibat Banjir Bandang Sudah saatnya diletakkan landasan kesadaran bahwa nilai ekologi hutan juga sangat penting dikelola secara baik. tak hanya memikirkan untuk pemasukan bagi daerah semata. Masih terus diberikannya Hak Penguasaan Hutan (HPH) oleh Pemerintah apakah itu membuka lahan perkebunan atau pengambilan kayu jelas menjadi ancaman bencana yang semakin tinggi. sudah memprihatinkan yang disebabkan banyak faktor sehingga potensi bencana ekologi bisa terjadi. tidak banyak masyarakat di Indonesia. dampaknya juga menimbulkan kerugian jangka panjang karena biaya untuk restorasi hutan jauh lebih besar jumlahnya. Dampak pemanasan global di satu sisi akan membuat kondisi air akan banyak tersedot. Wasior bagaikan daerah mati karena semua sarana dan prasarana umum tidak berfungsi. Pemerintah daerah diharapkan memberikan perhatian besar terhadap keberlangsungan ekosistem kawasan hutan dan DAS. Papua Barat. Bilamana terjadi gangguan terhadap hutan dan telah mempengaruhi ekosistemnya maka berpotensi pada terjadinya bencana ekologi.

pasir dan kerikil yang dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan bangunan dan menjadi sumber mata pencaharian sebagian besar penduduk di sekitar aliran sungai Gendol. namun sebagian justru bersuka cita. jembatan hingga perumahan dan tidak hanya disekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta saja bahkan hingga ke Jakarta. Kemunculan itu sebagai pertanda bila penguasa Merapi menurut kepercayaan masyarakat di sekitarnya hendak punya hajat. Berkah yang bersifat langsung memang ada yaitu berupa jutaan meter kubik pasir Merapi yang turun memenuhi hulu-hulu sungai. Pada saat terjadi bencana meletusnya gunung merapi akhir Oktober 2010 lalu yang menelan ratusan korban jiwa. gunung yang terletak di sebelah utara kota Yogya ini sangat indah terlihat dari kejauhan. ada juga pengusaha angkutan pasir seiring dengan meningkatnya permintaan akan bahan bangunan. padahal kondisi saat itu sangat berbahaya. bahwa berkah Merapi (pasir dan batu) sebentar lagi akan mengalir turun.kompasiana. Pasir-pasir yang ada di aliran G Sumber: http://regional. Penduduk di sepanjang kali Gendol banyak yang berprofesi sebagai pengumpul pasir dan kerikil untuk dapat membiayai hidup dan menyekolahkan anaknya. warga akan mendapatkan berkah bukanlah suatu yang sepenuhnya keliru. munculnya Wedhus Gembel (awan panas) dipandang tidak sebagai musibah atau bencana semata.blogspot. jalan. Hal itu sangat bertentangan dengan kebijakan pemerintah daerah setempat.com 28 EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 . warungwarung penyedia makanan bagi para penggali pasir serta para sopir yang mengangkut dari luar kota Yogya. mengevakuasi hingga merelokasi korban bencana. Tidak semua warga menyambutnya dengan rasa takut. “Saat Merapi punya gawe”. apabila pagi langit cerah terlihat putih diantara birunya warna gunung.com Abu Vulkanik Merapi Akan Mendatangkan Kesuburan Lahan Pertanian BERKAH DIBALIK BENCANA MERAPI sungai di Merapi diambil untuk dijual oleh para penambang ke berbagai proyek baik skala kecil. Kepulan asap merapi yang senantiasa muncul. Bagi warga yang tinggal di sekitar lereng Merapi. Bencana meletusnya Merapi selain memuntahkan awan panas juga membawa bebatuan. artinya akan ada kiriman pasir dari Merapi. Para penduduk disekitar sungai Gendol yang merupakan salah satu sungai yang dilewati lahar dingin merapi apabila aktifitasnya meningkat mereka senang. ekonomi justru tumbuh pascabencana terjadi. BU L L ET I N K A WA S A N . (*) Terjangan Awan Panas Merapi Menghanguskan Hutan dan Pemukiman Penduduk Sumber: http://pendhijogja. hal ini sering menginspirasi banyak orang dalam mengekpresikan perasaannya. bila Merapi punya gawe berarti pemerintah juga punya pekerjaan tambahan seperti membuat barak pengungsian lengkap dengan dapur umum hingga posko kesehatan. Suatu keyakinan apabila Merapi sudah punya gawe.POT R E T unung merapi merupakan petunjuk arah bagi warga Yogyakarta dan sekitarnya. Untuk menghindari risko yang lebih besar terhadap keselamatan jiwa mereka aparat kepolisian dan TNI bahkan harus mengevakuasi secara paksa para penambang pasir tersebut. berbagai media khususnya televisi memberitakan bahwa masyarakat di sekitar kali Gendol banyak yang nekat dan membandel tanpa ada rasa takut untuk segera menambang pasir mengalir dari puncak merapi. maupun proyek besar seperti membangun gedung bertingkat.

sehingga ketika tsunami itu menerjang mentawai tersapu ombak. ribuan orang harus tinggal di pengungsian karena rumah mereka hilang dan mengalami rusak berat akibat terjangan tsunami. Cuaca yang buruk juga menyebabkan sulitnya penyaluran bantuan makanan. tinggal yang aman untuk mereka tempati setelah keluar dari tempat pengungsian. empa berskala 7.. Banyaknya korban ini karena sebagian besar penduduk setempat mengira bahwa gempa yang sebelumnya mengguncang Mentawai tidak akan berpotensi tsunami.2 Skala Richter (SR) yang mengguncang Kepulauan Mentawai. Banyak pihak menilai pemerintah lamban dalam menangani bencana di Mentawai. Letak geografis Mentawai yang berada di tengah laut mengakibatkan sulitnya pemerintah dan kelompok relawan dalam melakukan evakuasi dan menyalurkan bantuan. Pemerintah harus bisa merelokasi para korban ke tempat yang lebih aman dan menjamin penghidupan yang lebih baik bagi para korban untuk bisa melanjutkan kehidupan mereka ke depannya. bersama pemerintah Provinsi Sumatra Barat adalah melakukan invetarisasi kebutuhan korban gempa dan tsunami yang berada di pengungsian. Bukan hanya bantuan saat berada di pengungsian saja yang dibutuhkan. dengan Semua pihak yang terlibat dalam penanganan bencana gempa dan tsunami Mentawai harus lebih sigap dalam menyalurkan mendistribusikan bantuan dan harus pula tepat sasaran. Walaupun bencana tersebut tidak sebesar bencana tsunami di Aceh tahun 2004 silam.. Mentawai sendiri merupakan daerah kepulauan terpencil yang berada di tengah laut. namun tsunami Mentawai juga menelan banyak korban meninggal dunia. Ternyata kemudian tsunami setinggi 30 meter menerjang seluruh daerah Mentawai. obat-obatan. Sumatera Barat pada tanggal 26 Oktober 2010 telah mengakibatkan tsunami. seluruh pihak-pihak yang bertanggungjawab untuk menangani bencana ini harus dengan segera melakukan tindakan yang untuk mengevakuasi para korban. Pemerintah dianggap cenderung lebih berfokus pada bencana merapi yang secara kebetulan terjadi pada saat yang E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 G hampir bersamaan bencana Mentawai. Mereka sudah kehilangan sanak saudara dan tempat tinggal. Ratusan jiwa melayang. bahkan pada awal tanggap darurat Mentawai bantuan terpaksa disalurkan dengan cara melemparkan dari udara dengan menggunakan helikopter dan pesawat TNI. Terutama menghilangkan perasaan trauma yang mungkin di alami oleh para korban. (*) . mereka jauh lebih membutuhkan bantuan untuk kehidupan mereka setelah keluar dari pengungsian. Langkah yang harus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Mentawai. pakaian dan kebutuhan lainnya bagi korban tsunami. maka dari itu mereka pasti lebih membutuhkan tempat Sumber: http://pepitoku. Setelah mendapat berita tsunami seharusnya pemerinta lebih tanggap dalam menangani bencana. Rumah mereka sudah tidak mungkin ditempati lagi karena mengalami rusak berat.POT RE T TSUNAMI MENTAWAI YANG “SUNYI”. Mereka butuh uluran tangan kita semua untuk bisa bangkit dan menata kembali hidup mereka yang porak poranda pascabencana melanda. maka pemerintah daerah yang harus bisa mengkoordinasi langkah-langkah yang mesti dilakukan.com Kondisi Mentawai yang Rusak Parah Akibat Gempa dan Tsunami Sebagai ujung tombak dalam penanganan bencana gempa dan tsunami yang melanda Mentawai. BU L L ET I N K A W A SA N 29 .

Lamanya kegiatan tanggap darurat di Mentawai disebabkan keterbatasan akses terhadap wilayah-wilayah yang terkena dampak bencana yang sebagian besar hanya dapat diakses melalui laut. Pemulihan sektor ekonomi segera dilaksanakan setelah pemulihan yang meliputi beberapa hal: fisik prasarana. Tidak terjadi penundaan proses pemulihan. Bencana gempa dan tsunami Mentawai mengakibatkan 486 jiwa korban meninggal dunia dan 49 jiwa mengalami luka-luka. Sipora dan Sikakap dan 516 unit huntara di Pagai Selatan. yang diselesaikan bersamaan dengan berakhirnya kegiatan tanggap darurat bencana. Mentawai dan Merapi dipenghujung tahun 2010. serta hilangnya harta benda. Walaupun ancaman erupsi telah berangsur-angsur menurun. Sedangkan serta adanya bencana sekunder berupa untuk penanganan pengungsi korban banjir lahan dingin yang terjadi di wilayah PERENCANAAN REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI ejadian bencana telah mengakibatkan korban jiwa. 30 EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 .POT R E T REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI PASCABENCANA egiatan tanggap darurat merupakan respon pertama yang dilaksanakan sesaat setelah kejadian bencana dalam rangka melakukan evakuasi dan penyelamatan korban bencana. Presiden RI telah memberikan arahan bahwa pelaksanaan tanggap darurat pasca erupsi Gunung Merapi sepenuhnya berada di bawah komando BNPB yang didukung oleh seluruh Kementerian/Lembaga. K bencana yang kehilangan tempat tinggal. Pemerintah melalui BNPB telah mengalokasikan pendanaan bagi pembangunan 93 unit barak pengungsi termasuk pembangunan prasarana permukiman sementara. serta pemerintah Kabupaten Teluk Wondama. dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan mulai dari Pemerintah 2. serta upaya pemenuhan kebutuhan dasar bagi korban bencana. bencana tersebut juga telah menimbulkan pengungsian penduduk baik yang masih berada di Kabupaten Teluk Wondama maupun pengungsi yang keluar dari kabupaten bahkan keluar dari wilayah Provinsi Papua Barat. Untuk pengungsi data yang dihimpun oleh posko sampai dengan diturunkannya status Gunung Merapi dari status awas menjadi waspada mencapai 21. Berbagai upaya tanggap darurat telah dilaksanakan baik berupa penyaluran bantuan berupa kebutuhan sehari-hari namun juga terhadap penanganan psikotraumatik terhadap korban bencana yang berada di pengungsian. Selanjutnya pelaksanaan tanggap darurat pascabencana gempa bumi dan tsunami di Kepulauan Mentawai Provinsi Sumatera Barat dilaksanakan sampai dengan akhir bulan November 2010. kejadian erupsi Gunung Merapi telah mengakibatkan 369 jiwa meninggal dunia dan 179 jiwa mengalami lukaluka. Berdasarkan data dan informasi dari posko BNPB. Perencanaan pemulihan yang sebuah perencanaan yang komperhensif menyeluruh. termasuk hasil-hasil pembangunan yang telah dibangun selama ini. Selain itu untuk penanganan pengungsi BNPB bersama-sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) telah mempersiapkan pembangunan 512 unit huntara di Pagai Utara. dalam rangka mengembalikan kondisi wilayah pascabencana serta membangun kembali kearah yang K lebih baik (build back better) diperlukan 1. Berdasarkan data dan informasi yang dihimpun oleh posko tanggap darurat BNPB sampai dengan 7 Desember 2010. Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi DI Yogyakarta. namun masih terdapat ancaman bencana berupa banjir lahar dingin yang mengancam. Berbagai bantuan berupa peralatan Sedangkan untuk penanganan dan logistik kebutuhan korban bencana pascabencana erupsi Gunung Merapi disampaikan baik oleh Pemerintah maupun oleh masyarakat. Pelaksanaan kegiatan tanggap darurat pascabencana banjir bandang di Kabupaten Teluk Wondama dikoordinasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan dukungan Kementerian/ Lembaga.374 orang mengalami luka ringan. pemerintah provinsi. Sebagai tindaklanjut penanganan pascabencana setelah tanggap darurat. 97 orang mengalami luka berat. TNI dan Kepolisian Republik Indonesia.995 jiwa yang tersebar di 112 titik lokasi pengungsian di kedua Provinsi tersebut. bencana banjir bandang Wasior telah mengakibatkan 161 orang korban meninggal dunia. Pemerintah Provinsi. termasuk relawan dan masyarakat. Demikian halnya dengan tiga kejadian bencana yang menimpa Wasior. Selain itu. Pemerintah Daerah serta masyarakat yang mengacu kepada prinsip-prinsip perencanaan pemulihan 3. untuk itu BNPB bersama-sama dengan para pemangku kepentingan masih terus bersiaga terutama dengan memperhatikan wilayah-wilayah dibantaran sungai serta infrastruktur disekitar aliran sungai berupa jembatan yang sangat rentan terhadap ancaman banjir lahar dingin tersebut. BU L L ET I N K A WA S A N . dan 3. Pelaksanaan tanggap darurat ditetapkan sampai dengan akhir bulan Oktober 2010. Pusat. selain itu juga kondisi cuaca ekstrim diperairan dan keterbatasan akses komunikasi di Kepulauan Mentawai juga menjadi hambatan dalam proses tanggap darurat yang dikoordinasikan oleh BNPB. pemerintah kabupaten/kota.

yang memuat secara lengkap tentang kebijakan pemulihan.POT RE T 4. Provinsi Papua Barat telah selesai disusun dan telah dilaporkan kepada Wakil Presiden RI. Total kebutuhan pendanaan rehabilitasi dan rekonstruksi serta relokasi pascabencana Wasior mencapai Rp. Komitmen politik turut mendorong keberlangsungan proses pemulihan. sebagai input utama dari penilaian kebutuhan dan penyusunan rencana aksi pemulihan yang dilaksanakan untuk menilai dampak kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan akibat bencana. termasuk kerangka pengawasan dan strategi pengakhiran dan kesinambungan rehabilitasi dan rekonstruksi dalam kedudukannya dalam proses perencanaan dan pembangunan reguler.43 miliar. Pelaksanaan relokasi masyarakat ke wilayah yang aman dari ancaman bencana dengan memperhatkan kebutuhan terhadap layanan dasar dan perekonomian masyarakat. kelembagaan. pendanaan. (2). 7. R RENCANA AKSI REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI PASCABENCANA BANJIR BANDANG WASIOR tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Penilaian kebutuhan pascabencana. Kecepatan pemulihan juga tergantung pada kepemimpinan dan kemampuan pemerintah daerah. termasuk dampak kemanusiaan yang terjadi. dan kebutuhan rekonstruksi jangka panjang. Penyusunan dokumen rencana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi. 8. Renja K/L dan Renja SKPD). Pelaksanaan pemulihan pascabencana di Kabupaten Teluk Wondama direncanakan selesai dalam kurun waktu 2 tahun anggaran sampai dengan 2012. merupakan dokumen pelengkap dari dokumen perencanaan pembangunan yang telah disusun. Kabupaten Teluk Wondama. Proses pemulihan merupakan proses untuk membantu individu dan masyarakat menata kembali kehidupan dan mata pencaharian. Kedua . serta bagi masyarakat asli Wasior dengan memperhatikan upayaupaya pengurangan risiko bencana. encana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir bandang di Wasior. 5. 6. kebutuhan rehabilitasi sebagai upaya pemulihan jangka menengah. dan Ketiga . pendampingan dan pengawasan yang memadai terhadap seluruh proses pemulihan. bahwa kerusakan dan kerugian akibat bencana banjir bandang Wasior mencapai Rp. serta penilaian terhadap risiko pascabencana. serta menjadi pedoman dalam penyusunan rencana tahunan (RKP/RKPD.35 miliar yang direncanakan Sumber: Doc Act E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 . Rehabilitasi dan rekonstruksi in-situ yang dikhususkan kepada wilayah-wilayah yang masih aman terhadap ancaman bencana. Untuk itu dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi harus dipaduserasikan dengan dokumen RPJPN/D dan RPJMN/D. Penilaian kerusakan dan kerugian. maka salah satu kebijakan pemulihan yang diambil adalah dengan rencana relokasi masyarakat ke daerah yang lebih aman dengan tetap memperhatikan kebutuhan akses masyarakat terhadap matapencaharian serta akses terhadap layanan dasar. Selanjutnya pelaksanaan penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dilaksanakan melalui proses perencanaan yang meliputi: Pertama . Proses pemulihan mempertimbangkan risiko dimasa datang. pelaksanaan. Hasil penilaian kerusakan dan kerugian pascabencana sebagai input utama penyusunan penilaian kebutuhan dan penyusunan rencana aksi didapatkan. sebagai tindak lanjut dari hasil penilaian kerusakan yang dilaksanakan untuk menilai kebutuhan pendanaan yang dibagi kedalam kebutuhan pemulihan awal sebagai kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi. 280 miliar yang didominasi oleh kerusakan sektor perumahan dan permukiman masyarakat yang mencapai Rp. Dengan memperhatikan kebijakan yang telah ditetapkan maka terdapat dua skema pelaksanaan pemulihan yaitu: (1). Optimalisasi penggunaan sumber daya lokal wilayah pascabencana. 107. 370. Pembangunan Hunian Sementara (Huntara) Bagi Korban Bencana BU L L ET I N K A W A SA N 31 . dan 9. Pemulihan akan berjalan efektif jika tersedia pendanaan. Dengan memperhatikan kondisi wilayah terkena bencana yang merupakan kawasan DAS dengan Sedangkan kedudukan dokumen rencana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang merupakan komitmen bersama pemangku kepentingan.

dan masyarakat. termasuk penyediaan lahan yang diperlukan bagi relokasi permukiman. namun sekaligus akan mengupayakan perbaikan kondisi wilayah dan kesejahteraan masyarakat di Kepulauan Mentawai secara menyeluruh.82 miliar. (3). Hasil penilaian kerusakan dan kerugian pascabencana yang disusun dibawah koordinasi Bappenas dan BNPB bersama-sama dengan Kementerian/Lembaga. sekaligus sebagai stimulan pemulihan ekonomi masyarakat. Memperhatikan aspek legalitas kepemilikan lahan dan pendirian bangunan sesuai peraturan yang berlaku. Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi serta relokasi pascabencana banjir bandang di Kabupaten Teluk Wondama. BU L L ET I N K A WA S A N . RENCANA AKSI REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI DAN PERCEPATAN PEMBANGUNAN PASCABENCANA MENTAWAI enyusunan rencana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi dan percepatan pembangunan pascabencana di Kabupaten Kepulauan Mentawai. 1. mencapai Rp. maka diperlukan upaya percepatan pembangunan sektor strategis di Kepulauan Mentawai. Jumlah penduduk pulau siberut yang akan direlokasi akan dikonfirmasikan oleh pemerintah daerah. APBD Provinsi. Jumlah kebutuhan sementara pembangunan infrastruktur vital untuk percepatan pembangunan adalah Rp. (3). pagai selatan dan siberut. (4). Selanjutnya hasil penilaian kebutuhan pemulihan sementara sampai dengan 3 Desember 2010 mencapai Rp. Menyusun Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) tingkat provinsi dan kabupaten yang disinkronkan dengan RPJMD. dan APBD Kabupaten/ Kota. diintegrasikan dengan pelaksanaan pengurangan risiko bencana dengan prisnsip-prinsip yang meliputi: (1). yang mengakomodasi fungsi pkw dan pkl di wilayah kabupaten kepulauan mentawai. (3). Pelaksanaan pembangunan sektor perumahan dan permukiman ditargetkan selesai dilaksanakan dalam waktu 6 bulan. (2). Dalam rangka perbaikan kondisi wilayah dan kesejahteraan masyarakat di Kepulauan Mentawai secara menyeluruh. Opsi Material Bangunan Rumah: Menggunakan baja ringan atau Menggunakan material kayu. serta (5). Menyusun Rencana Aksi Daerah Pengurangan Risiko Bencana (RAD PRB) tingkat provinsi dan tingkat kabupaten. serta (7). Adapun kebijakan pelaksanaan pemulihan: (1).09 triliun termasuk P kebutuhan terhadap percepatan pembangunan wilayah Kepulauan Mentawai yang mencapai Rp. Melengkapi RTRW Provinsi Papua Barat 2008 – 2028 yang baru mengakomodasi kawasan rawan bencana. Khusus kebutuhan percepatan pembangunan wilayah kepulauan mentawai direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2012-2013 dengan memperhatikan: (1). (4). Sektor perumahan meliputi: Pembangunan rumah berbasis masyarakat (BLM Plus). 644 miliar. pergerakan tanah. dan pulau-pulau yang EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 terdampak tsunami 25 oktober 2010: pagai utara. 348. pembangunan dermaga untuk transportasi antar pulau. Pengembangan data dan informasi bencana yang diintegrasikan dengan sistem data dan informasi bencana (DIBI) BNPB. gempa. dilaksanakan melalui kebijakan sektoral. banjir tingkat provinsi dan kabupaten. Provinsi Sumatera Barat. Sampai dengan saat ini proses penyusunan rencana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa bumi dan tsunami di Kepulauan Mentawai masih terus berlangsung dan ditargetkan selesai pada pertengahan bulan Desember 2010. yang didominasi oleh kerusakan dan kerugian sektor perumahan yang mencapai Rp. 644 miliar. (2). Rencana penanggulangan bencana kabupaten mentawai. (5). Dengan pendekatan mitigasi. (20> Strategi percepatan pembangunan meliputi pembangunan infrastruktur jalan raya/jalan poros pada masing-masing pulau.92 miliar. Menyusun Rencana Rinci Kawasan berbasis mitigasi bencana. (2). Penyusunan RTRW Kabupaten Teluk Wondama yang berbasis mitigasi bencana. Revisi rtrw provinsi sumatera barat. pemerintah daerah.sebagai pedoman kegiatan 32 . Rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur lainnya.POT R E T dialokasikan melalui pendanaan APBN. Dalam rangka mendukung pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi serta percepatan pembangunan diperlukan kerangka perencanaan pembangunan yang diarahkan kepada: (1). pembangunan baru airstrip di pulau pagai utara dan peningkatan airstrip di sipora. Kebijakan umum pemulihan pascabencana Mentawai tidak hanya sekedar mengembalikan kepada kondisi seperti sebelum terjadinya bencana 25 Oktober 2010. penduduk kawasan pesisir pulau siberut dipindahkan ke area yang lebih tinggi. Menyusun analisis dan peta risiko bencana tsunami. termasuk pertimbangan alur sungai purba. Ruang lingkup percepatan pembangunan meliputi pulau siberut (rawan gempa dan tsunami). (6). pulau sipora dan pulau pagai selatan. 115.

sebagai pedoman penetapan zoning pemukiman baru dan perijinan. Kedua. serta (6). cakupan jumlah penduduk yang dijangkau dan bentuk-bentuk perluasan lainnya. besaran kegiatan yang ada. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan yang didanai IMDFF-DR termasuk kegiatan evaluasi eksternal. Perluasan proyek atau kegiatan yang sedang dilakukan (scaleup) oleh implementing partner baik dari sisi cakupan wilayah. Konsistensi perlu dibangun sejak tahapan penilaian. sebagai pedoman pengendalian pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan analisis risiko bencana. yang dilaksanakan melalui mekanisme dana perwalian The Indonesian Multi Donor Fund Facility for Disaster Recovery (IMDFF-DR). Sesuai dengan amanat UndangUndang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. (4). pengkajian kebutuhan paska bencana. Project investment dan technical assistance termasuk new-stand alone project. Sedangkan pemanfaatan dana IMDFF-DR tersebut diantaranya adalah : 1. 3. dengan dukungan masyarakat. Rencana aksi daerah pengurangan risiko bencana (RAD PRB). dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi. (3). lembaga non pemerintah. pengintegrasian RAD PRB kedalam RPJMD. yang dibangun bersama antara Pemerintah RI bersama-sama dengan Bank Dunia dan badan-badan PBB yang diwakili oleh UNDP. dan Kempat. merupakan salah satu skim pendanaan pemulihan yang dimungkinkan digunakan dengan memperhatikan keterbatasan kemampuan pendanaan Pemerintah. 7. (5). pendanaan pengurangan risiko bencana. Namun demikian upaya-upaya pemulihan awal telah dilaksanakan melalui realokasi pendanaan dari berbagai sumber yang dilaksanakan melalui program pemberdayaan masyarakat dan padat karya dalam rangka memulihkan kehidupan perekonomian masyarakat yang terkena dampak bencana. dan pengendalian rehabilitasirekonstruks. Audit oleh auditor independen atau yang disepakati oleh Steering Committee (SC). (*) Sumber: http://nasional. 6. perkiraan kebutuhan.POT RE T pra bencana. masyarakat dan swasta. ketika terjadi bencana dan pascabencana. kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana. Pembentukan dan operasional sekretariat termasuk kegiatan appraisal teknis proposal. RKPD dan RK-SKPD. BU L L ET I N K A W A SA N 33 . Pembangunan dan pengembangan kapasitas (capacity development).vivanews. bahwa pemulihan pascabencana merupakan tanggung jawab bersama antara Pemerintah. Revisi RTRW Kabupaten Kepulauan Mentawai. tambahan pendanaan untuk komponen baru dalam proyek yang sedang berjalan R 2. sebagai upaya mitigasi. Pemerintah Provinsi diharapkan dapat pro-aktif dalam setiap proses penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dengan K/L terkait sesuai dengan kebutuhan pemulihan. 5. PENDANAAN PEMULIHAN PASCABENCANA MELALUI MITRA PEMERINTAH encana pendanaan pemulihan pascabencana melalui mitra Pemerintah. co-financing proyek baru. Rencana detil tata ruang daerah permukiman baru. saati ini masih dalam masa tanggap darurat sehingga proses perencanaan pemulihan pascabencana belum dapat dilaksanakan sampai dengan berakhirnya tanggap darurat. 4. Untuk penanganan pascabencana erupsi Gunung Merapi. Sebagai penutup. Dukungan pada program pemerintah baik sektoral maupun multisektor yang menjadi bagian dari upaya rehabilitasi dan rekonstruksi.com Tinjauan dan Pemberian Bantuan Oleh Pemerintah kepada Korban Bencana Alam E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 . Ketiga. pelaksanaan. perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. dan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi proyek. bahwa beberapa hal terkait pelaksanaan penanggulangan bencana yang perlu diperhatikan adalah: Pertama. penyusunan rencana induk/aksi. perencanaan aksi pemulihan disusun melalui koordinasi antara Pemerintah dan pemerintah daerah.

Kejutan terebut terjadi karena kurangnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan mengahadapi Siklus Mitigasi Bencana ancaman bahaya. Tahap awal dalam upaya ini adalah mengenal/ Dalam pengenalan dampak bencana paling tidak ada interaksi empat faktor utama yang menyebabkan bencana menimbulkan banyak korban dan kerugian yang besar yaitu : 1. sehingga fokus dari penanggulangan bencana lebih bersifat bantuan (relief ) dan kedaruratan (emergency). membantu kita untuk menambah Beberapa jenis bencana seperti pengetahuan mengenai gempa bumi. Sikap atau prilaku yang mengakibatkan penurunan B kualitas sumberdaya (vulnerability) alam 3. BU L L ET I N K A WA S A N . kekeringan. bahaya dan bencana yang terjadi dimana akan terjadi serta besaran di Indonesia serta mengenal kekuatannya. Dalam paradigma ini 34 EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 . saat tanggap darurat dan pascabencana. Sedangkan beberapa beberapa strategi mitigasi yang bencana lainnya seperti banjir. tsunami dan anomali cuaca lain mengurangi risiko bencana. letusan gunung dampak bencana atau dengan kata api. Kurangnya pemahaman terhadap karakteristik bahaya (hazards) 2. karena pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Pandangan konvensional menganggap bencana itu suatu peristiwa atau kejadian yang tidak terelakkan dan korban harus segera mendapatkan per tolongan. Meskipun demikian kejadian bencana Sumber: http://semanticisland.PUSTAK A PENGENALAN KARAKTERISTIK BENCANA DAN UPAYA MITIGASINYA DI INDONESIA mengidentifikasi terhadap sumber encana alam dapat bahaya atau ancaman bencana.blogspot.com selalu memberikan dampak kejutan dan menimbulkan banyak kerugian baik jiwa maupun materi. terjadi secara tiba-tiba maupun melalui proses Buku ini mencoba yang berlangsung secara berlahan. 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana. ekonomi dan lingkungan. Dalam implementasinya kegiatan pengurangan risiko bencana nasional akan disesuaikan dengan rencana pengurangan risiko bencana pad tingkat regional dan internasional. Dengan adanya Undangundang No. Kurangnya informasi/peringatan dini (early warning) yang menyebabkan ketidakpastian 4. tanah perlu dilakukan guna mengurangi longsor. masih dapat diramalkan sebelumnya. hampir tidak mungkin pengenalan akan karakteristik diperkirakan secara akurat kapan. Penanggungan bencana dilakukan secara terarah mulai pra bencana. Paradigma yang berkembang saat ini adalah paradigma pengurangan risiko bencana yang merupakan rencana terpadu yang bersifat lintas sektoral dan lintas wilayah serta meliputi aspek sosial. maka penyelenggaraan penanggulangan bencana diharapkan akan semakin baik. Ketidakberdayaan/ ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman bahaya Melalui buku ini kita juga dapat melihat adanya pergeseran konsep penanggulangan bencana yang mengalami pergeseran paradigma dari konvensional menuju ke holistik.

ekonomi dan lingkungan. Meletakkan pengurangan risiko bencana sebagai prioritas nasional maupun daerah yang pelaksanaannya harus didukung oleh kelembagaan yang kuat 2. Memperkuat kesiapan menghadapi bencana pada semua tingkatan masyarakat agar respons yang dilakukan lebih efektif. Lakhar BAKORNAS PB Sosialisasi Peta Rawan Bencana Merupakan Salah Satu Upaya Mitigasi Bencana E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 . Sebagai tindak lanjutdalam menghadapi perubahan paradigma tersebut pada bulan Januari 2005 bertempat di KobeJepang. dan pengetahuan tradisional (traditional knowledge) yang ada dan berkembang di masyarakat. Mengurangi faktor-faktor penyebeb risiko bencana 5. baik kerugian jiwa. inovasi dan pendidikan untuk membangun kesadaran keselamatan diri dan ketahanan terhadap bencana pada semua tingkatan masyarakat 4. Memanfaatkan pengetahuan. Sumber: http://kanvaso. mengkaji dan memantau risiko bencana serta menerapkan sistem peringatan dini 3. Mengidentifikasi. telah diselenggarakan Konfrensi Penguruangan Bencana Dunia (Word Confrence on Disaster Reduction) yang menghasilkan beberapa substansi dasar dalam mengurangi kerugian akibat bencana.PU STAK A masyarakat merupakan subyek. (*) Judul Buku Penulis Penerbit : Pengenalan Karakteristik Bencana dan Upaya Mitigasi di Indonesia Edisi II : Tim Bakornas PB : Direktorat Mitigasi. Substansi dasar tersebut yang selanjutnya merupakan lima prioritas kegaitan untuk tahun 2005-2015 yaitu : 1.com BU L L ET I N K A W A SA N 35 . social. obyek sekaligus sasaran utama upaya pengurangan risiko bencana dan berupaya mengadopsi dan mempertahankan kearifan lokal (local wisdom).

sekarang ini masyarakat korban gempa Yogyakarta telah banyak berubah dan berbenah. Selain itu. peningkatan keterampilan dan pengelolaan keuangan. Proses perjalanan percepatan pemulihan industri kecil pasca gempa ini memang tidak mudah. Adapun beberapa agenda yang harus diselesaikan antara lain pemulihan korban dari trauma gempa. sedikit banyak telah membantu mereka untuk bangkit dan berdaya kembali. seringkali para korban bencana tidak mampu untuk bangkit sendiri dari keterpurukan pascabencana sehigga perlu uluran tangan dari pihak lain yang menolong. mendampingi dan memberdayakan mereka kembali. Japan International Coorporate Agency (JICA) dalam melakukan pendampingan pada pelaku industri mikro korban gempa Yogyakarta. Ada berbagai hal yang perlu menjadi sasaran dan fokus sehingga program dapat berhasil. BU L L ET I N K A WA S A N . Beberapa tahun telah berlalu sejak malapetaka (gempa) itu terjadi. Selain itu. inisiasi dan pengembangan kelembagaan masyarakat. Dalam buku ini dijelaskan tentang agenda-agenda pendampingan yang dilakukan sejak dari terpuruknya kondisi psikologis para korban hingga mampu kembali bangkit dan berdaya. Aktifitas ekonomi masyarakat terpukul dan perekonomian daerah pun seketika terganggu. Perasaan sedih. harta benda. rusaknya tatanan sosial ekonomi masyarakat hingga hancurnya sarana dan prasarana fisik. bencana selalu saja meninggalkan kerusakan pada sisi psikologis korban. gempa besar yang meluluhlantahkan berbagai bangunan dan menelan ratusan korban jiwa manusia beberapa tahun yang lalu. Begitu pula yang terjadi di Yogyakarta. pengembangan jejaring antar lembaga masyarakat serta dengan pemangku kepentingn dan lain sebagainya. kehilangan dan trauma juga berperan besar dalam B membuat terhentinya aktivitas usaha produktif. Usaha masyarakat baik yang bersakala besar maupun kecil banyak yang berhenti beroperasi akibat rusaknya sarana dan prasarana. baik karena dinamika alam maupun yang disebabkan kesalahan manusia selalu saja menimbulkan kerugian yang tidak sedikit jumlahnya. Namun bukanlah hal yang mudah untuk melakukan Penulis : Tim Binaswadaya Penerbit : Bina Swadaya Uluran tangan dari berbagai pihak. buku ini juga memuat faktor-faktor kunci baik internal maupun eksternal yang menjadi penentu keberhasilan upaya transformatif ini. seperti hilangnya nyawa.PUSTAK A M E N ATA A S A D A R I Pengalaman Pendampingan Pelaku Industri Mikro Korban Gempa Yogyakarta encana. Buku ini merupakan ikhtiar Bina Swadaya untuk merekam pengalamannya bekerjasama dengan EDI SI N OM OR 2 6 T A H U N 2 0 1 0 36 . Lalu ada beberapa kegiatan yang perlu dijalankan secara berbarengan atau stimultan supaya terjadi proeses saling mendukung satu sama lain. juga telah melumpuhkan sendi-sendi kehidupan dalam masyarakat.

akibat tragedi yang menimpa dan menghancurkan semua yang dimiliki. mereka (korban) bisa menjadi sangat peka dan perasa. Apalagi yang dilakukan Bina Swadaya bersama JICA adalah bersifat transformatif bukan karitatif yang sekadar membagi dan memberi lalu semuanya selesai. BU L L ET I N K A W A SA N Sumber: http:/http://magnetcendana.PU STAK A R E R E N T U H A N G E M PA ***** E D I SI NO MOR 2 6 TA HUN 2010 .wordpress. Dalam situasi ini pendekatan kepada masyarakat harus dilakukan secara hati-hati dan penuh kesabaran agar tidak disalahpahami. tetapi lebih dari itu yakni bagaimana mendampingi mereka dan memberikan pemahaman bahwa bencana bukan akhir dari segalanya. meratpi keterpurukan tidak salah namun berupaya bangkit dari ketidakberdayaan akibat bencana ini jauh lebih penting. Industri Kerajinan Rakyat yang Berusaha Pulih PascaBencana Gempa Jogja Sumber: http://meshalre.com pendekatan bagi masyarakat korban bencana.com/2008/07/11/ Industri Rumah Tangga sebagai Sektor Ekonomi yang Paling Cepat Pu.blogspot.ih Dari Bencana 37 .

Duka mereka adalah derita kita. ia bisa menjadi sangat murka dan mendatangkan bencana dahysat pada manusia. mengobati yang terluka dan mengubur mereka yang telah tiada. Sumber: D oc BNP B Sumber: D o c AC T Bencana bukan akhir dari segalanya. mari bangkit menatap masa depan yang cerah. namun ketika keseimbangan alam terganggu. waktu serasa berhenti. Sumber: . berharap uluran tangan-tangan yang tidak kenal lelah bahu membahu berpacu melawan waktu menyelamatkan yang masih hidup. jika dimanfaatkan secara arif dan bijak akan mendatangkan manfaat yang besar bagi kehidupan manusia. D oc BNP B Alam. senyuman mereka kebahagian kita.GALERI PUSTAKA Ketika Bencana itu datang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->