P. 1
Etika Pejabat Birokrasi Di Indonesia Dalam Mewujudkan Good Governance

Etika Pejabat Birokrasi Di Indonesia Dalam Mewujudkan Good Governance

|Views: 161|Likes:
Published by Leo Yogapranata
pemerintah daerah
pemerintah daerah

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: Leo Yogapranata on Jun 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/28/2015

pdf

text

original

1

Bab I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dalam kehidupan berbagai Negara bangsa di berbagai belahan dunia, birokrasi berkembang merupakan wahana utama dalam penyelenggaraan Negara dalam berbagai bidang kehidupan bangsa dan dalam hubungan antar bangsa. Di samping melakukan pengelolaan pelayanan, birokrasi juga bertugas menerjemahkan berbagai keputusan politik ke dalam berbagai kebijakan publik, dan berfungsi melakukan pengelolaan atas pelaksanaan berbagai kebijakan tersebut secara operasional. Sebab itu disadari bahwa birokrasi merupakan faktor penentu keberhasilan keseluruhan agenda pemerintahan, termasuk dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN (clean government) dalam keseluruhan scenario perwujudan kepemerintahan yang baik (good governance). Namun pengalaman bangsa kita dan bangsa-bangsa lain menunjukkan bahwa birokrasi, tidak senantiasa dapat

menyelenggarakan tugas dan fungsinya tersebut secara otomatis dan independen serta menghasilkan kinerja yang signifikan. Keberhasilan birokrasi dalam pemberantasan KKN juga ditentukan oleh banyak factor lainnya. Di antara factor-faktor tersebut yang perlu diperhitungkan dalam kebijakan “reformasi birokrasi” adalah koplitmen, kompetensi, dan konsistensi semua pihak yang berperan dalam penyelenggaraan Negara, baik unsur aparatur Negara maupun warga negaea dalam mewujudkan clean government dan good governancem serta dalam mengaktualisasian dan membumikan berbagai dimensi nilai yang terkandung dalam konstitusi Negara kita, sesuai posisi dan peran masing-masing dalam

2

Negara dan bermasyarakat bangsa. Tindak pidana korupsi telah terjadi secara meluas, dan dianggap pula telah menhadi suatu penyakit yang sangat parang yang tidak hanya merugikan keuangan Negara, tetapi juga telah merupakan pelanggaran terhadap hak-hak social dan ekonomi masyarakat, menggerogoti demokrasi, merusak aturan hokum, dan memundurkan pembangunan serta memudarkan masa depan bangsa. Dalam hubungan itu, KKN tidak hanya mengandung pengertian penyalahgunakaan kekuasaan ataupun kewenangan yang mengakibatkan kerugian keuangan dan asset Negara, tetapi juga setiap kebijakan dan tindakan yang menimbulkan depresiasi nilai public, baik disengaja atau pun tidak sengaja.

B. Pokok Permasalahan Konsep-konsep tentang nilai moral dan etika dalam administrasi pemerintahan dirumuskan untuk diterapkan dalam kehidupan kenegaraan dan lingkup administrasi yang sesungguhnya. Keanfaatan konsepsi etika tersebut hanya akan terasa apabila ia benar-benar dapat menjadi bagian dari dinamika administrasi modern. Dalam banyak hal, konsep dan teori filosofis mengenai moralitas dalam bidang administrasi negara itu juga berasal dari praktek adinistrasi sehari-hari. Oelh sebab itu, pembahasan mengenai etika administrasi negara tidak berada dalam ruang hampa, ia harus selalu menyertakan pembahasan tentang aplikasinya, bagaimana para birokrat dan administrator bertindak atau harus bertindak menurut kaidah-kaidah etis yang ada guna mencapai good governance. Berdasarkan uraian diatas, permasalahan yang ingin diketahui adalah : 1. Bagaimana penerapan konsep etika administrasi dalam pejabat pemegang birokrasi ?

3 2. Bagaimana implementasi etika dalam praktek? . Apa azas-azas birokrasi yang baik untuk mencapai good governance ? 3.

Namun tidak semua himpunan catatan yang lepas dapat dijadikan administrasi. 02/DJ/Kep/1991. Pengertian Hukum Administrasi Negara Istilah Administrasi berasal dari bahasa Latin yaitu Administrare. Administrative Law (Inggris). Istilah Hukum Administrasi Negara (yang dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. dalam pasal 5 disebut Hukum Tata Pemerintahan) berasal dari bahasa Belanda Administratiefrecht. kegiatan dan dinamika kerjasama manusia.. Alasan penggunaan istilah . Dalam rapat dosen Fakultas Hukum Negeri seluruh Indonesia pada bulan Maret 1973 di Cibulan. yang artinya adalah setiap penyusunan keterangan yang dilakukan secara tertulis dan sistematis dengan maksud mendapatkan sesuatu ikhtisar keterangan itu dalam keseluruhan dan dalam hubungannya satu dengan yang lain. Droit Administratief (Perancis).4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sehingga dengan demikian Ilmu Administrasi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari proses. Hukum Tata Pemerintahan atau lainnya. 0198/LI/1972 tentang Pedoman Mengenai Kurikulum Minimal Fakultas Hukum Negeri maupun Swasta di Indonesia. diputuskan bahwa sebaiknya istilah yang dipakai adalah “Hukum Administrasi Negara”. Dalam Keputusan Dirjen Dikti Depdikbud No. 30/DJ/Kep/1983 tentang Kurikulum Inti Program Pendidikan Sarjana Bidang Hukum disebut dengan istilah Hukum Administrasi Negara Indonesia. mata kuliah ini dinamakan Asas-Asas Hukum Administrasi Negara. sedangkan dalam Keputusan Dirjen Dikti No. atau Verwaltungsrecht (Jerman). dengan tidak menutup kemungkinan penggunaan istilah lain seperti Hukum Tata Usaha Negara.

Mengenai Hukum Administrasi Negara para sarjana hukum di negeri Belanda selalu berpegang pada paham Thorbecke. C. Hukum Administrasi Negara menurut . dimana pada saat itu Raja Willem I memerintah menurut kehendaknya sendiri pemerintahan di Den Haag. Oppenheim memberikan suatu definisi Hukum Administrasi Negara adalah sebagai suatu gabungan ketentuan-ketentuan yang mengikat badan-badan yang tinggi maupun yang rendah apabila badan-badan itu menggunakan wewenang yang telah diberikan kepadanya oleh Hukum Tata Negara. maka demikian pula halnya dengan Hukum Administrasi Negara juga sukar diadakan suatu perumusan yang sesuai dan tepat.5 Hukum Administrasi Negara ini adalah bahwa Hukum Administrasi Negara merupakan istilah yang luas pengertiannya sehingga membuka kemungkinan ke arah pengembangan yang sesuai dengan perkembangan dan kemajuan negara Republik Indonesia ke depan. membentuk dan mengubah kementerian-kementerian menurut orang-orang dalam pemerintahan. Hukum Administrasi Negara sebagai salah satu bidang ilmu pengetahuan hukum. dan oleh karena hukum itu sukar dirumuskan dalam suatu definisi yang tepat. beliau dikenal sebagai Bapak Sistematik Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara. yang juga memiliki murid Mr. Dan berdasarkan Kurikulum Program Sarjana Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Dirjen Dikti Depdiknas tahun 2000. Thorbecke adalah orang yang pertama kali mengadakan organisasi pemerintahan atau mengadakan sistem pemerintahan di Belanda. Thorbecke menulis buku yang berjudul Aantekeningen op de Grondwet (Catatan atas undang-undang dasar) yang pada pokoknya isi buku ini mengkritik kebijaksanaan Raja Belanda Willem I. mata kuliah ini disebut Hukum Administrasi Negara dengan bobot 2 SKS. Adapun salah satu muridnya adalah Oppenheim. Van Vollenhoven.

Dalam mempelajari Hukum Tata Negara kita membuka fokus terhadap konstitusi negara sebagai keseluruhan. maka negara berfungsi. berpendirian bahwa tidak ada perbedaan yuridis prinsipal antara Hukum Administrasi Negara dan Hukum Tata Negara. yang terdiri dari: a. Peradilan Pidana d. S. Peradilan Administrasi Utrecht (1985) dalam bukunya Pengantar Hukum Administrasi Negara mengatakan bahwa Hukum Administrasi Negara ialah himpunan peraturan –peraturan tertentu yang menjadi sebab. sedangkan dalam membahas Hukum Administrasi Negara lebih menitikberatkan perhatian secara khas kepada administrasi . Perbedaannya menurut Prajudi hanyalah terletak pada titik berat dari pembahasannya. Sedangkan murid Oppenheim yaitu Van Vollenhoven membagi Hukum Administrasi Negara menjadi 4 yaitu sebagai berikut: 1) Hukum Peraturan Perundangan (regelaarsrecht/the law of the legislative process) 2) Hukum Tata Pemerintahan (bestuurssrecht/ the law of government) 3) Hukum Kepolisian (politierecht/ the law of the administration of security) 4) Hukum Acara Peradilan (justitierecht/ the law of the administration of justice).6 Oppenheim adalah sebagai peraturan-peraturan tentang negara dan alat-alat perlengkapannya dilihat dalam geraknya (hukum negara dalam keadaan bergerak atau staat in beweging). Dengan kata lain Hukum Administrasi Negara merupakan sekumpulan peraturan yang memberi wewenang kepada administrasi negara untuk mengatur masyarakat. Peradilan Ketatanegaraan b. Dr.H. Prajudi Atmosudirjo. Peradilan Perdata c. Sementara itu pakar hukum Indonesia seperti Prof.

.7 negara saja. Administrasi merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam konstitusi negara di samping legislatif. dan eksaminasi. yudikatif. dimana administrasi Negara diberi wewenang untuk melakukan tindakan hukumnya sebagai implementasi dari policy suatu pemerintahan. Gralia Indonesia. Hukum Administrasi Negara adalah sebagai suatu pengkhususan atau spesialisasi dari Hukum Tata Negara yakni bagian hukum mengenai administrasi negara. atau hukum konstitusi negara atau hukum politik negara. Dapat dikatakan bahwa hubungan antara Hukum Administrasi Negara dan Hukum Tata Negara adalah mirip dengan hubungan antara hukum dagang terhadap hukum perdata. dimana hukum dagang merupakan pengkhususan atau spesialisasi dari hukum perikatan di dalam hukum perdata. Jakarta . Hukum administrasi negara sebagai hukum operasional negara di dalam menghadapi masyarakat serta penyelesaian pada kebutuhan-kebutuhan dari masyarakat tersebut. Hukum Administrasi Negara diartikan juga sebagai sekumpulan peraturan yang mengatur hubungan antara administrasi Negara dengan warga masyarakat.1 1 Prajudi Atmosudirdjo Hukum Administrasi Negara. maka dapatlah disimpulkan bahwa Hukum Administrasi Negara adalah hukum mengenai seluk-beluk administrasi negara (hukum administrasi negara heteronom) dan hukum operasional hasil ciptaan administrasi negara sendiri (hukum administrasi negara otonom) di dalam rangka memperlancar penyelenggaraan dari segala apa yang dikehendaki dan menjadi keputusan pemerintah di dalam rangka penunaian tugas-tugasnya.1994. Berdasarkan definisi Hukum Administrasi Negara menurut Prajudi Atmosudirdjo . Hukum administrasi negara merupakan bagian operasional dan pengkhususan teknis dari hukum tata negara.

Implementasinya adalah dengan mengeluarkan undang-undang yang mengatur tentang lingkungan hidup. Bahkan oleh John Locke tugas kehakiman dimasukkan ke dalam lapangan eksekutif karena mengadili itu termasuk melaksanakan . Lapangan Pekerjaan Administrasi Negara Sebelum abad ke 17 adalah sukar untuk menentukan mana lapangan administrasi Negara dan mana termasuk lapangan membuat undang-undang dan lapangan kehakiman. pada waktu itu kekuasaan Negara dipusatkan pada tangan raja kemudian pada birokrasi-birokrasi kerajaan.8 Contoh. karena pada waktu itu belum dikenal “pemisahan kekuasaan”. Pelaksanaannya adalah bahwa disetiap daerah ada pejabat administrasi Negara yang berwenang memberi/menolak izin bangunan yang diajukan masyarakat melalui Keputusan Administrasi Negara yang berupa izin mendirikan bangunan. Undang-undang ini menghendaki bahwa setiap pembangunan harus mendapatkan izin dari pejabat yang berwenang. Sejak itu baru kita mengetahui apakah yang menjadi lapangan administrasi negara itu. Tapi setelah abad ke 17 timbulah aliran baru yang menghendaki agar kekuasaan negara dipisahkan dari kekuasaan raja dan diserahkan kepada tiga badan kenegaraan yang masing-masing mempunyai lapangan pekerjaan sendiri-sendiri terpisah yang satu dari yang lainnya seperti yang telah dikemukakan oleh John Locke dan Montesquieu. Maka yang menjadi lapangan administrasi negara berdasarkan teori Trias Politica John Locke maupun Monesquieu adalah lapangan eksekutif yaitu lapangan yang melaksanakan undang-undang. B. policy pemerintah Indonesia adalah mengatur tata ruang di setiap kota dan daerah di seluruh Indonesia dalam rangka penataan lingkungan hidup.

terutama yang bersifat yuridis 4) Hukum tentang sarana-sarana dari Administrasi Negara. yaitu sebagai berikut:3 2 Ibid hlm 61 3 Victor M. 1987. Sejak adanya teori “pemisahan kekuasaan” ini lapangan administrasi negara mengalami perkembangan yang pesat. tetapi tidak dapat diterapkan kedalam system pemerintahan dari suatu negara hukum modern (moderneechsstaat). maka ruang lingkup atau lapangan hukum administrasi negara meliputi:2 1) Hukum tentang dasar-dasar dan prinsip-prinsip umum daripada administrasi Negara 2) Hukum tentang organisasi dari administrasi Negara 3) Hukum tentang aktivitas-aktivitas dari Administrasi Negara. karena lapangan pekerjaan administrasi negara pada Negara hukum modern adalah lebih luas dari pada dalam negara hukum klasik. Prajudi Atmosudirdjo (1994: 61) mengemukakan bahwa untuk keperluan studi ilmiah. Bina Aksara. Pokok-Pokok Hukum Administrasi Negara. Tetapi ajaran Trias Politica ini hanya dapat diterapkan secara murni di negaranegara seperti yang digambarkan oleh Immanuel Kant dan Fichte yaitu di negara-negara hukum dalam arti sempit atau seperti yang disebut Utrech “Negara Hukum Klasik” (klasieke rechtsstaat). Jakarta. yang dikenal dengan sebutan “residu theori”. terutama mengenai Kepegawaian Negara dan Keuangan Negara 5) Hukum Administrasi Pemerintahan Daerah atau Wilayah 6) Hukum tentang Peradilan Administrasi Negara Sementara Van Vollenhoven sebagaimana dikutip oleh Victor M. Situmorang. Situmorang menggambarkan suatu skema mengenai Hukum Administrasi Negara di dalam kerangka hukum seluruhnya. Hlm 23 .9 undang-undang.

Strafrechtspleging/Hukum Acara Pidana 5) Politierecht (Hukum Kepolisian) 6) Regelaarsrecht (Hukum Proses Perundang-Undangan) Lebih lanjut Victor M.10 1) Staatsrecht (materieel)/Hukum Tata Negara (materiel). Administrative rechtspleging (formeel administratiefrecht/Peradilan Administrasi Negara) 3. Rechtspraak (peradilan) c. dan ini sangat menentukan lapangan atau kekuasaan Hukum Administrasi Negara antara lain :4 1. yang tentunya sangat tergantung pada perkembangan dari suatu sistem pemerintahan yang dianut oleh negara yang bersangkutan. Regeling (perundang-undangan) 2) Burgerlijkerecht (materieel)/Hukum Perdata (materiel) 3) Strafrecht (materiel)/Hukum Pidana (materiel) 4) Administratiefrecht (materiel) dan formell)/Hukum Administrasi Negara (materiel dan formeel). Burgerlijeke rechtspleging/Hukum Acara Perdata 4. Situmorang menyebutkan ada beberapa teori dari lapangan administrasi negara. Teori Ekapraja (Ekatantra) 4 Ibid Hlm 27-37 . Bestuur (pemerintahan) b. meliputi: a. meliputi: a. Justitierecht (hukum peradilan) yang meliputi: 1. Politie (kepolisian) d. Staatsrechterlijeke rechtspleging (formeel staatsrecht/Peradilan Tata Negara) 2. Bestuursrecht (hukum pemerintahan) b.

yaitu: 1) Political Function (Government). sehingga pemerintahannya sering disebut pemerintahan Eka Praja). Lapangan pekerjaan administrasi negara atau hukum administrasi negara hanya terbatas pada mempertahankan peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan yang dibuat oleh raja. dan 2) Legis Executio. Judicial power Legis Executio ini bersifat luas. yang meliputi “Law Creating Function”. yakni melaksanakan “The Constitution” beserta seluruh undang-undang yang ditetapkan oleh kekuasaan legislatif. Dalam negara yang berbentuk monarki absolut ini hukum administrasi negara berbentuk instruksi-instruksi yang harus dilaksanakan oleh aparat negara (sistem pemerintahan yang sentralisasi dan konsentrasi). 2. Teori Dwipraja (Dwitantra) Hans Kelsen membagi seluruh kekuasaan negara menjadi dua bidang yaitu: 1) Legis Latio. Oleh sebab itu dalam negara yang demikian terdapat hanya satu macam kekuasaan saja yakni kekuasaan raja. menjalankan (eksekutif) dan mempertahankan dalam arti mengawasi (yudikatif).11 Teori ini ada dalam negara yang berbentuk sistem pemerintahan monarki absolut. dan 2) Administrative Function (Verwaltung atau Bestuur). Legislative power b. Raja dalam sistem pemerintahan yang monarki absolut memiliki kekuasaan untuk membuat peraturan (legislatif). dimana seluruh kekuasaan negara berada di tangan satu orang yaitu raja. maka mencakup selain kekuasaan administratif juga seluruh judicial power. Lebih lanjut Hans Kelsen kemudian membagi kekuasaan administratif tersebut menjadi dua bidang yang lebih lanjut disebut sebagai Dichotomy atau Dwipraja atau Dwitantra. yang meliputi: a. . dalam arti alat administrasi negara hanya merupakan “machtsapparat” (alat kekuatan) belaka.

yaitu kekuasaan yang meliputi segala tindakan untuk menjaga keamanan negara dalam hubungan dengan negara lain seperti membuat aliansi dan sebagainya atau misalnya kekuasaan untuk mengadakan hubungan antara alat-alat negara baik intern maupun ekstern. termasuk didalamnya juga kekuasaan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan perundangan. yaitu kekuasaan untuk membuat peraturan perundangan 2) Kekuasaan eksekutif. yaitu: 1) Kekuasaan legislatif. membagi tiga kekuasaan dalam negara yang berdiri sendiri dan terlepas satu sama lain. tidak hanya terbatas pada pelaksanan undang-undang saja. sosial budaya maupun politik. 4. yaitu kekuasaan pengadilan (yudikatif). baik dalam bidang ekonomi. Pemerintah banyak mencampuri urusan kehidupan masyarakat. Teori Catur Praja Berdasarkan teori residu dari Van Vollenhoven dalam bukunya “Omtrek Van Het Administratief Recht”. Teori Tripraja (Trias Politica) John Locke dalam bukunya “Two Treatises on Civil Government”. yaitu kekuasaan untuk melaksanakan peraturan perundangundangan. 2) Fungsi polisi (politie) Merupakan fungsi untuk melaksanakan pengawasan secara preventif yakni memaksa penduduk suatu wilayah untuk mentaati ketertiban hukum serta . membagi kekuasaan/fungsi pemerintah menjadi empat yang dikenal dengan teori catur praja yaitu: 1) Fungsi memerintah (bestuur) Dalam negara yang modern fungsi bestuur yaitu mempunyai tugas yang sangat luas.12 3. 3) Kekuasaan federatif.

5) Fungsi Kewarganegaraan (Burgers). JR. Lemaire juga membagi fungsi pemerintahan menjadi lima. Teori Sad Praja . 3) Fungsi Kepolisian (Politie). 2) Bestuur (kekuasaan pemerintahan dalam arti sempit). supaya perselisihan tersebut dapat diselesaikan berdasarkan peraturan hukum dengan seadil-adilnya. 3) politie (Kekuasaan polisi). 4) Fungsi mengatur (regelaar) Yaitu suatu tugas perundangan untuk mendapatkan atau memperoleh seluruh hasil legislatif dalam arti material. agar tata tertib dalam masyarakat tersebut tetap terpelihara. Teori Panca Praja Dr. Stellinga dalam bukunya yang berjudul “Grondtreken Van Het Nederlands Administratiegerecht”.13 mengadakan penjagaan sebelumnya (preventif). yaitu: 1) Bestuurszorg (kekuasaan menyelenggarakan kesejahteraan umum). dan 5) reglaar (kekuasaan mengatur). melainkan undang-undang dalam arti material yaitu setiap peraturan dan ketetapan yang dibuat oleh pemerintah mempunyai daya ikat terhadap semua atau sebagian penduduk wilayah dari suatu negara. membagi fungsi pemerintahan menjadi lima fungsi yaitu: 1) Fungsi perundang-undangan (wetgeving). 6. 3) Fungsi mengadili (justitie) Adalah fungsi pengawasan yang represif sifatnya yang berarti fungsi ini melaksanakan yang konkret. 2) Fungsi pemerintahan (Bestuur). 4) Fungsi Peradilan (Rechtspraak). Adapun hasil dari fungsi pengaturan ini tidaklah undang-undang dalam arti formil (yang dibuat oleh presiden dan DPR). 5. 4) Justitie (kekuasaan mengadili).

yaitu: 1) kekuasaan pemerintah 2) kekuasaan perundangan 3) kekuasaan pengadilan 4) kekuasaan keuangan 5) kekuasaan hubungan luar negeri 6) kekuasaan pertahanan dan keamanan umum . bahwa kekuasaan pemerintahan dibagi menjadi 6 kekuasaan.14 Teori Sad Praja ini dikemukakan oleh Wirjono Prodjodikoro.

etika lingkungan hidup. yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat tugas negara.15 BAB III ANALISIS ETIKA PEJABAT BIROKRASI INDONESIA Berbicara tentang Etika Birokrasi sebenarnya kita berbicara tentang nilai-nilai yang mendasari tindakan Birokrasi atau alat-alat Negara dalam menjalankan tugastugasnya. yang mana kita tahu bahwa Birokrasi merupakan sebuah organisasi penyelenggara pemerintahan yang terstruktur dari pusat . Dalam undang-undang tersebut juga ditegaskan bahwa pegawai negeri harus bebas dari pengaruh golongan dan partai politik. tugas Pegawai Negeri. menyelenggarakan tugas pembangunan. Penerapan etika adminitrasi dalam prakteknya terutama dalam administrasi pemerintahan juga meiliki banyak aspek-aspek yang harus dijalankan dengan sebaik. dengan mewujudkan peinsip demokratis. jujur. etika politik. dan merata. tugas adil.baiknya sejalan dengan asas-asas Birokrasi untuk mencapai Pemerintahan yang baik. . Etika Birokrasi telah termuat dalam peraturan Kepegawaian yang mengatur para aparat Birokrasi (Pegawai negeri) itu sendiri. keadilan social dan pemerataan serta mewujudkan kesejahteraan umum. Secara akademis etika birokrasi termasuk etika sosial bersama dengan etikaetika yang lain seperti etika profesi. A. dan menyelenggarakan menyelenggarakan pemerintahan. Penerapan Konsep Etika Administrasi dalam Pejabat Pemegang Birokrasi Tugas dari suatu Birokrasi salah satunya harus sesuai dengan pasal 3 UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. kritik ideologi. dan sikap terhadap sesame. secara profesional.

Aparat Birokrasi secara kongkrit di negara kita yaitu Pegawai Negeri baik itu Sipil maupun Militer. maka perlu usaha dan latihan ke arah itu serta penegakkan sangsi yang tegas dan jelas kepada mereka yang melanggar kode Etik atau aturan yang telah ditetapkan. yaitu karakteristik birokrasi dan karakteristik manusia. kolusi. yang secara Organisatoris dan hirarkis melaksanakan tugas dan fungsi masing-masing sesuai aturan yang telah ditentukan. Menanamkan Kode Etik tersebut adalah demi terciptanya Aparat Birokrasi lebih jujur. Misalnya pada variabel organisasi. Hubungan birokratik tidak sama dengan hubungan .16 sampai kedaerah dan memiliki jenjang atau tingkatan yang disebut hirarki. yang telah diatur lewat Undang-undang Kepegawaian. Antara karakteristik itu dengan perilaku terdapat hubungan yang sedikit banyak bersifat kausal. dan lebih rajin serta yang terpenting lebih memiliki moral yang baik terhindar dari perbuatan tercela seperti korupsi. Jadi Etika Birokrasi sangat terkait dengan tingkah laku para aparat birokrasi itu sendiri dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Perilaku birokrasi jauh berbeda jika dipahami dalam hubungan pemerintahan. lebih bertanggung jawab. Agar tercipta Aparat Birokrasi yang lebih beretika sesuai harapan di atas. lebih berdisiplin. hierarki menimbulkan sifat taat bawahan terhadap atasan. Perilaku birokrasi terbentuk dari interaksi antara dua variabel. kepentingan atau kebutuhan hidup menuntut imbalan yang memadai dari organisasi. atau lebih spesifi lagi. struktur dan aktor. Etika Birokrasi merupakan bagian dari aturan main dalam organisasi Birokrasi atau Pegawai Negeri yang secara structural telah diatur aturan mainnya. Pada variabel manusia. Kode Etik yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) disebut Sapta Prasetya Korps Pegawai Republik Indonesia ( Sapta Prasetya KORPRI) dan dikalangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) disebut Sapta Marga. dimana kita kenal sebagai Kode Etik Pegawai Negeri. nepotisme dan lain-lain.

pemerintah berada di bawahnya. Bahkan pada saat rakyat berfungsi sebagai pemegang kedaulatan. banyak pelanggaran hak asasi manusia dan menutup akses keterbukaan. sekali lagi hal ini tertumpu pada kemauan individu-individu yang berkerja dalam instansi tersebut untuk dapat merubah kebiasaan yang buruk dan mengantinya dengan penerapan etika administrasi yang baik B. Namun terlepass dari pendapat diatas. yang diperintah dan manusia bukanlah bawahan pemerintah. Di negara Indonesia. Asas-asas Birokrasi dalam Good Governance Terkait dengan Asas-asas Birokrasi dalam Good Governance atau Pemerintah yang baik memiliki pengertian yang berbeda-beda di setiap negara. Jika dilihat kondisi Indonesia pada saat ini. asas-asas pemerintahan yang baik. saat ini masih banyak instansi-instansi pemerintah yang belum mampu menerapkan prinsip etika administrasi yang baik. tetapi dalam kenyataannya bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi belum dirasakan merata oleh masyarakat dan stabilitas telah memasung demokrasi/partisipasi rakyat. sebagian besar rakyat Indonesia sepakat bahwa pada era pemerintahan Soekarno berhasil meletakkan dasar Nasionalisme bagi bangsa Indonesia tetapi gagal dalam merumuskan program-program pembangunan yang berguna bagi masyarakat. Ketika Birokrasi Pemerintahan bertindak keluar. Pada masa orde baru rakyat mengalami kemakmuran dengan dilaksanakannya pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional. Dalam banyak hal. melalui fakta-fakta yang ada. tetapi hubungan ini tidak identik dan tidak analog dengan hubungan birokratik. Asas-asas Umum Pemerintahan yang baik menurut Wahyudi Kumorotomo dalam buku “Etika Administrasi Negara” adalah: . yang artinya bahwa prinsip-prinsip ini tidak bersifat global.17 pemerintahan. terjadilah hubungan birokratik pemerintahan.

iv. Mewujudkan negara hukum . Prinsip Demokrasi Prinsip demokrasi inni sama seperti berasas kedaulatan rakyat. maka kepentingan rakyatlah yang diutamakan karena kepentingan rakyat. Keadilan sosial dan pemerataan Keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan tercapai apabila tidak terjadi ketimpangan distribusi hasil-hasil pembangunan antarkelompok masyarakat kaya dengan miskin dan antardaerah/wilayah geografis antara perkotaan dengan pedesaan. dapat dipertanggungjawabkan. Asas kedaulatan berarti bahwa rakyat memiliki kekuassaan tertinggi dalam pemerintahan negara. Mengusahakan kesejahteraan umum Setiap aparat birokrasi pemerintah agar mempunyai komitmen yang tulus untuk memperhatikan kesejahteraan kepada rakyat. Di dalam sistem pemerintahan yang berasas kedaulatan rakyat.18 i. martabat manusia. Oleh karena itu dalam pemerintahan dengan prinsip demokrasi. rakyta pula yang menentukan jalannya suatu negara dan pemerintahan. Dasar dari konsep demokrasi menyangkut penilaian tentang nilai manusia. dan efisien. hendaknya setiap aktivitas birokrasi pemerintahan dalam mewujudkan kepentingan rakyat berjiwa demokrasi. Oleh karena itu aparat birokrasi agar membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat miskin dan masyarakat pedesaan dengan kebutuhan masyarakat kaya dan masyarakat perkotaan. ii. dan kesamaan di hadapan hukum. Demokrasi mendambakan terciptanya suatu sistem kemasyarakatan yang setiap warga negaranya mempunyai kedudukan yang sama dan adil. iii.

dan biaya yang dikeluarkan. Dinamika dalam melaksanakan tugas-tugas negara merupakan prasyarat untuk dapat menciptakan birokrasi pemerintahan yang responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang berkembang. v. asas-asas umum pemerintahan yang baik tercantum juga dalam UU No. Asas Kepastian Hukum. Dinamika dan efisiensi Dinamika hendaknya diartikan sebagai kemampuan beradaptasi dengan globalisasi suatu organisasi. Selain itu. 2. Jadi aparat pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan harus berdasarkan ketentuan perundang-undangan. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara. kepatutan. Efisiensi dalam hal ini diartikan adalah tetap mengutamakan kepuasan dan kelancaran layanan terhadap publik. prosedur layanan. dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara. .19 Indonesia pada daasranya merupakan negara hukum. Adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan. tetapi tetap memperhitungkan pemakaian tenaga kerja. Maksud dari globalisasi ini adalah adaptasi organisasi yang baik sehingga ia sanggup mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat dan dapat menelorkan kebijakan-kebijakan yang tepat. yaitu: 1. Maksud dari perwujudan negara hukum adalah aparatur pemerintah bersama dengan seluruh rakyat akan mewujudkan suatu pemerintahan yang dijalankan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. 28 / 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN. Di samping itu efisiensi sama diperlukan.

Asas Akuntabilitas. 7. dan keseimbangan dalam pengendalian Penyelenggara Negara. dan selektif. 4. Asas Proporsionalitas. Adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. keserasian. Asas Keterbukaan. Adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. jujur. 3. Adapun tambahan dua asas yang tercantum dalam UU No. .20 Adalah asas yang menjadi landasan keteraturan. Asas Profesionalitas. dan rahasia negara. 5. Adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif. Asas Kepentingan Umum. ketujuh asas diatas ditambah lagi dengan 2 asas yaitu Asas Efektivitas dan Asas Efisiensi. dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi. Adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. 32 / 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 6. Adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara. akomodatif.

Namun dengan alasan . Kemampuan untuk bisa melakukan penyesuaian itu menuntut discretionary power yang besar. Implementasi Etika dalam Birokrasi Ada beberapa alasan mengapa Etika Birokrasi penting diperhatikan dalam pengembangan pemerintahan yang efisien. Pengembangan etika birokrasi mungkin bisa fungsional terutama dalam memberi “ policy guidance” kepada para pejabat birokrat untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. birokrasi seringkali tidak dihadapkan pada pilihan – pilihan yang jelas seperti baik dan buruk. Para pejabat birokrasi seringkali tidak dihadapkan pada pilihan yang sulit. antara baik dan baik. Penggunaan kekuasaan direksi ini hanya akan dapat dilakukan dengan baik kalau birokrasi memiliki kesadaran dan pemahaman yang tinggi mengenai besarnya kekuasaan yang dimiliki dan implikasi dari penggunaan kekuasaan itu bagi kepentingan masyarakatnya. Para Birokrat juga membutuhkan perubahan sikap perilaku agar dapat dikatakan lebih beretika di dalam melaksanakan tugasnya. Dinamika yang terjadi dalam lingkungan tentunya menuntut kemampuan birokrasi untuk melakukan adjustments agar tetap tanggap terhadap perubahan yang terjadi dalam lingkungannya.21 C. Alasan lainnya adalah keberhasilan pembangunan yang telah meningkatkan dinamika dan kecepatan perubahan dalam lingkungan birokrasi. salah satunya adalah karena masalah-masalah yang dihadapi oleh birokrasi pemerintah dimasa mendatang akan semakin kompleks. Dalam memecahkan masalah yang berkembang. tanggap dan akuntabel. sudah jelas bahwa etika Birokrasi sangat dibutuhkan pada saat ini mengingat di Negara kita masyarakat bergantung pula pada Birokrasi tersebut. yang masing – masing memiliki implikasi yang saling berbenturan satu sama lain. Dari alasan-alasan yang sudah diuraikan.

para bawahan tidak dapat menolak permintaan atasannya. Dengan wewenangnya. Menolak atau mencegah permintaan atasannya dianggap sebagai tindakan yang tidak loyal terhadap atasan. Artinya korupsi yang dilakukan tanpa melihat pihak ketiga. Graft. Salah satunya seperti bentuk korupsi. dan bukan untuk kepentingan publik. Korupsi dapat diartikan sebagai bentuk perbuatan menggunakan barang publik. maupun nepotisme atau yang sering kita sebut dengan KKN. hal ini sangat besar kemungkinan pada etika adaministrasi negara dalam revitalisasi manajemen pemerintahan dalam rangka upaya penataan ulang pemerintahan Indonesia yang tidak sesuai dengan good governance. Pada kenyataan nya Law enforcement dalam manajemen pemerintahan di Indonesia sangat diabaikan sehingga akan sangat menjadi ancaman bagi manajemen pemerintahan dalam upaya menata ulang manajemen pemerintahan yang sehat dan dapat meminimalisir terjadinya birokatologi dan mal administrasi. uang kantor. Bribery. jabatan kantor untk kepentingan diri sendiri. Dilihat proses terjadinya perilaku korupsi ini dapat dibedakan ke dalam tiga bentuk. merupakan korupsi yang bersifat internal. atau lebih tepatnya pengawasan yang tidak ketat didalam suatu birokrasi menjadi salah satu penyebab penyimpangan etika. . dan nepotism. Seperti menggunakan atau atau mengambil barang kantor. Ketiganya merupakan tindakan yang menyimpang hukum dan biasanya pada kasus-kasus ini terdapat banyak penyimpangan serta penyelewengan pada law enforcement. Yang mana sebetulnya semua penyelewengan akan mudah diminimalisir. bisa berupa uang dan jasa. jika prinsip good governance ini dipegang oleh masing-masing birokrasi yang ada. kolusi. Korupsi ini terjadi karena mereka mempunyai kedudukan dan jabatan di kantor tersebut.22 perekonomian Pegawai negeri yang minim. untuk kepentingan memperkaya diri. yaitu Graft.

Tindakan pemberian sesuatu (prnyogokan. Artinya tindakan korupsi tadi tidak akan terjadi jika tidak ada orang lain. tidak lancar. yang melakukan tindakan penyuapan. penyogokan terhadap dirinya. tapi didasarkan atas pertimbangan “nepitis”. Pejabat tersebut sudah tahu “beres” segala sesuatu yang diperlukan untuk kepentingan hajat mantu tersebut. materi. penyuapan. atau penyogok. tapi bisa juga berupa jasa. merupakan wujud dari tindakan korupsi berupa “grafrt”. atau keputusan yang dibuat akan menguntungkan pemberi. “kekerabatan”. menyogok. penyuap.23 Bahkan sering terjadi. Pelayanan yang diberikan seringkali dihambat. dan lain sebagainya. sepeti masih teman. bukan karena sistem dan prosedurnya. Pemberian sesuatu (penyogok. merupakan tindakan korupsi yang melibatkan orang lain diluar dirinya (instansinya). Contoh di atas. tapi karena disengaja oleh oknum birokrat. merupakan suatu tindakan korupsi berupa kecendrungan pengambilan keputusan yang tidak berdasarkan pada pertimbangan objektif. rekomendasi. . bawahan sudah menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh atasan. sebelum atasan minta. penyuap. rasional. Korupsi semacam ini sering terjadi pada dinas/instansi yang mempunyai tugas pelayanan. Misalnya ada seorang pejabat (di daerah) punya hajat mantu. penyuapan). menerbitkan surat izin. agar urusannya menjadi lancar. maka segala sesuatu yang diperlukan untuk hajat tersebut telah dicukupi oleh anak buahnya. dimaksudkan agar dapat memengaruhi objektivitas dalam membuat keputusan. atau dengan cara memberi pelicin berupa uang untuk menyuap. Sementara bribery (penyogokan. pelicin). Sehingga mereka yang berkepentingan. lebih suka melalui calo. pelicin) dapat berupa uang. Sedangkan nepotism. Karenanya korupsi ini sering disebut dengan korupsi yang bersifat eksternal. dan panitia yang dibentukpun sesuai dengan bidang kewenangan masingmasing anak buahnya.

dan tercela. orang yang berada disekitarnya (anak buahnya) adalah orang-orang yang masih nepotis atau masih kerabat dekat. Korupsi individualis. Pertimbangan pengambilan keputusan tadi. karena tindakan korupsi ini bisa diterima sebagai sesuatu yang wajar/biasa (tidak menyimpang) oleh orang yang berada di sekitarnya dan merupakan bagian dari suatu realita. Hal ini disebabkan diantara mereka tidak ingin instansinya tercemar. golongan. daripada mereka akan dikucilkan. merupakan penyimpangan yang dilakukan oleh salah satu atau beberapa orang dalam suatu organisasi dan berkembang suatu mekanisme muncul. dan menjadi saksi dalam perkara atas tindakan korupsi tadi. disudutkan. Korupsi sistemik. Korupsi sistemik merupakan suatu korupsi ketika yang melakukan korupsi adalah sebagian besar (kebanyakan orang) dalam suatu organisasi (melibatkan banyak orang). hilang dan jika ketahuan pelaku korupsi akan terkena hukuman. menutup-nutupi. dicela. maka diantara mereka yang terlibat saling melindungi. yaitu korusi individualis dan korupsi sistemik. sering kali untuk kepentingan orang yang membuat keputusan. dan bahkan diakhiri nasib kariernya. bisa berupa dijauhi. Namun dilihatnya dari sifatnya korupsi dapat dibedakan menjadi dua macam. dan mendukung satu sama lain untuk menyelamatkan orang yang ketahuan tadi. Jika ketahuan. pejabat. sehingga walaupun mereka tahu ada tindakan korupsi mereka lebih baik “diam”. berbeda dengan korupsi individualisme. Dikatakan sistemik. Perilaku korup ini dianggap oleh kelompok (masyarakat) sebagai tindakan yang menyimpang. Jika mereka melakukan tindakan penyimpangan mereka akan aman dan dilindungi.24 keluarga. Korupsi di atas adalah korupsi yang dilihat dari proses terjadinya. Mereka akan lebih aman. dan lain sebagainya. . buruk.

J. Raja Grafindo Persada. Miller. Prajudi Atmosudirdjo Hukum Administrasi Negara. Jakarta. Yogyakarta: Tiara Wacana. PT. Kontt & G. 2001. Etika Administrasi Negara. Reformasi birokrasi dan Peilihan institusi politik . Gralia Indonesia. Jeck H. 1987.1994 .25 DAFTAR PUSTAKA H. Hlm : 173-175 Kumorotomo. Jakarta . Wahyudi. Pengantar Etika. De Vos.

26 Robert C. Victor M. Situmorang. Jakarta: Erlangga. Etika: Suatu Pengantar. Solomon. Pokok-Pokok Hukum Administrasi Negara. 1987.. Jakarta Undang-undang dan Peraturan lainnya : Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah . Bina Aksara.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->