KELAINAN JINAK PADA PAYUDARA DAN RISIKO AKAN KANKER PAYUDARA oleh Muhammad Sayuti

I.

PENDAHULUAN

Mayoritas dari lesi-lesi yang terjadi pada payudara adalah jinak. Sebagian besar perhatian diberikan pada lesi-lesi yang membahayakan (malignant) pada payudara karena kanker payudara adalah penyakit membahayakan yang umumnya terjadi pada wanita. Walau bagaimanapun, lesilesi jinak pada payudara adalah yang paling sering terjadi dibandingkan dengan lesi-lesi yang berbahaya. Dengan menggunakan mammography, ultrasound, dan magnetic resonance imaging pada payudara, dan penggunaan needle biopsy, diagnosis tumor jinak pada payudara dapat dilakukan tanpa melalui operasi pada sebagian besar pasien. Karena mayoritas dari lesi-lesi jinak tersebut tidak berkaitan dengan peningkatan risiko untuk kanker payudara, prosedurprosedur operasi yang tidak perlu harus dihindari. Tulisan ini di buat dengan tujuan agar dapat mengenali lesi-lesi jinak, untuk membedakan mereka dari kanker payudara, dan juga untuk menilai risiko pasien akan pertumbuhan kanker payudara, sehingga modalitas penanganan yang paling sesuai dapat ditetapkan. 1,2,3
II. DAFTAR PUSTAKA 2.1. ANATOMI PAYUDARA Payudara adalah masa stroma dan parenkhim payudara yang terletak di dinding toraks anterior antara intercostal spatium II dan intercostal spatium VI dan parasternal sampai dengan linea medioklavikularis. Pada bagian payudara yang paling menonjol terdapat sebuah papilla, dikelilingi oleh daerah kulit yang lebih gelap yang disebut areola.Payudara berisi sampai 20 glandula mammaria yang masing-masing memiliki saluran dalam bentuk ductus lactiferous. Ductus lactiferous bermuara pada papilla mammae. Payudara mendapat vaskularisasi utama dari cabang a.mammaria interna, a.torakoakromialis dan cabang a.interkostalis 3,4,5. Kelenjar getah bening regional pada payudara adalah kelenjar getah bening aksila, supra dan infraklavikula serta mammaria interna. Kelenjar getah bening aksila dibagi atas 3 zona yaitu level I, II dan III. Level I adalah kelenjar getah bening yang terlatak lateral dari muskulus pektoralis minor, level II adalah terletak dibelakang m.pektoralis minor dan level III adalah terletak medial dari m.pektoralis minor, disamping itu juga ada kelenjar getah bening interpektoral 1,4,5 atau disebut Rotter.

2.2 PERTUMBUHAN PAYUDARA Hormon dan faktor-faktor yang berkaitan dengan pertumbuhan akan bereaksi terhadap sel-sel Stromal dan Ephitelial dalam mengatur pertumbuhan, maturisasi, dan pembedaan pada sel-sel kelenjar susu (mammary-gland). Secara umum, estrogenmemediasi pertumbuhan dan

Spektrum dari fitur histologis yang normal dimulai dari dominasi ducts. FAKTOR PENYEBAB KELAINAN JINAK PAYUDARA Observasi klinis pada wanita yang mendapatkan obat estrogen dan antiestrogenmemberi kesan bahwa hormon memainkan peran dalam perkembangan lesi jinak. Stroma kemungkinan juga akan mengalami hypertrophy.progesterone akan memfasilitasi percabangan duktus (ductal branching) dan pertumbuhan lobulo-alveolar. dan pada beberapa penelitian epidemiologi telah menemukan 2.6 2. peningkatan ini merepresentasikan adenosis – yaitu penambahan/peningkatan akan jumlah normal jaringan lobular (lobular tissue). Pada masa puber. umumnya ditemukan pada lesi jinak payudara.72). lobules.2 persen.72:95. Saat ini gangguan tersebut lebih dikenal dengan istilah ‘perubahan fibrocystic’ (fibrocystic changes). Dalam istilah histologi.6. dan 10 sampai dengan 100 saluran subsegmental (subsegmental ducts) yang berujung pada bagian kelenjar yang disebutterminal-duct lobular units.06 – 2. Dalam beberapa seri otopsi.4. Peningkatan ukuran payudara sampai dengan 15 persen akan terjadi selama fase ini. sedangkan klinik-klinik khusus telah menemukan 7 sampai dengan 13 persen diantara pasien wanita dalam kelompok umur ini.3.pemanjangan jaringan duktus (ductal tissue). Obat tamoxifen antiestrogen kalau digunakan dalam mencegah kanker payudara dihubungkan dengan suatu reduksi 28% dalam prevalensi lesi jinak payudara ( RR : 0. Pada masamenopause. 20 sampai dengan 40 saluran segmental (segmental ducts). 2. dengan setiap lesi menunjukkan lepasnya ikatan heterozigot dari regio yang berbeda dari DNA. Wanita dengan mutasi dalam gen BRCA 1 . 1. dan hiperplasia. serta prolactin akan mengatur produksi protein susu. Pada payudara wanita dewasa. Pada wanita antara pertengahan dekade keempat dari usianya dan saat menopause.65-0.79) ini termasuk adenosis. Pada dekade ketiga dan keempat dari usia. Lepasnya ikatan heterozigot yang menyebabkan kehilangan segmen kecil dari DNA. kista. Hasil-hasil seperti struktur pohon kompleks. penggunaan hormone-replacement therapy. jaringan kelenjar (glandular tissue) kemungkinan mengalami hypertrophy tingkat lanjut yang berkaitan dengan peningkatan jaringan stromal (stromal tissue). PERUBAHAN PADA PAYUDARA NORMAL Fitur-fitur morfologis dari payudara akan mengalami perubahan yang substansial antara permulaan masa remaja (adolescence) dan menopause. CI 95 % 0. perubahan yang bersifat siklik terjadi selama siklus menstruasi yang berakibat pada peningkatan rata-rata perkembangbiakan (proliferation) sel-sel selama fase luteal. Perubahan genetik yang mendasari dan yang didapat juga dihubungkan dengan lesi jinak payudara.3. Pada wanita antara awal usia remaja sampai dengan pertengahan usia 20an. yang dulunya dikenal sebagai gangguanfibrocystic pada payudara. dan kondisi 1. Diantara wanita postmenstrual yang mendapatkan estrogen dengan yang tanpa progrestin. duktus mamaria ektasis. Formasi cyst yang umumnya tinggi dikaitkan dengan menopause yang terlambat.lobules dan stroma dalam payudara akan bereaksi terhadap stimuli hormonal secara berlebihan (exaggerated) dengan pertumbuhan single dan multiple palpable fibroadenomas. 15 sampai dengan 23 persen dari wanita dalam kelompok umur ini ditemukan memiliki fibroadenomas. yang sering kali pada axillary tail. Lesi sering terjadi multifokal. tingkat estradiol dan progesterone meningkat untuk memulai pertumbuhan payudara. sampai dengan fitur yang menampilkan umumnya pola perubahan serabut ( fibrous change) dan formasi cyst.3. tingkatan akan nodul palpable yang tersebar (diffuse palpable nodularity) kemungkinan meningkat.70 (CI 95 % : 1. lebih dari delapan tahun prevalensi lesi jinak payudara meningkat sebesar 1.7. serta intralobular daninterlobular stroma.8 tubuh yang kurus. yang terdiri dari 5 sampai dengan 10 saluran susu primer yang bermuara pada puting susu. yang menghasilkan area yang mengalami gangguan yang dapat di raba ( palpable areas of ill-defined fullness). jumlah lobules akan mulai berkurang.

6. dan selesai (resolves) pada saat permulaan menstruasi (the onset of menses) (Tabel 2).5 – 2. Rasa nyeri yang terbatas pada daerah-daerah tertentu. Nyeri/Sakit pada Daerah Bukan Payudara (Nonbreast Pain) Rasa nyeri yang timbul di dinding dada bisa disalahtujukan dengan rasa nyeri di payudara.0)(Tabel 1). KLASIFIKASI LESI JINAK PADA PAYUDARA Dalam klasifikasi praktikal. Tabel 1.8 persen mengalami nipple discharge.3. 2.1.3. Beberapa tipe rasa nyeri yang dapat dijelaskan. Penemuan ini mendukung teori terkini dimana predisposisi yang mendasari mutasi pada beberapa penderita sebagai penyebab lesi jinak 1. Nyeri/sakit pada Payudara (Breast Pain) Siklus rasa nyeri/sakit pada payudara biasanya terjadi selama akhir fase lutealdari siklus menstruasi.Nipple discharge termasuk bersifat patologis jika hal tersebut terjadi secara spontan. termasuk localized atau diffuse lateral chest-wall pain.4.8 perkembangbiakan sel (cellular proliferation). lesi payudara jinak atau ganas pada pemeriksaan yang sangat teliti dari spesimen yang didapatkan dari mastektomi bilateral. yang diasosiasikan dengan premenstrual syndrome.4 dari cervical arthritis. 1. Benjolan-benjolan terpusat dan tersebar pada payudara (Focal and Diffuse Breast Lumps) . sekitar 6.6. 2. >2.3. Usia adalah faktor penting yang melihat pada risiko ganasnya gangguan (malignant disease).6. bersifat tetap.5.3.4 kotor. breast lesions yang tidak meningkatkan risiko ke arah kanker payudara dibedakan dari breast lesions dengan tingkatan risiko yang rendah (risiko relative.6.6. Walaupun gejala ini sangat mengganggu pasien. GAMBARAN KLINIS TUMOR JINAK PAYUDARA 2.3. berawal dari satu saluran (single duct). Klasifikasi Lesi-lesi Jinak pada payudara pada pemeriksaan histologi menurut risiko relatif kanker payudara 2. dan rasa nyeri yang berasal dari Tietze’s syndrome (costochondritis). dan ditandai dengan rasa terbakar atau nyeri seperti diiris pisau pada daerah dinding dada. Puting berlendir (Nipple Discharge) Diantara pasien-pasien wanita yang dimaksud oleh dokter sebagai mereka yang mengalami gejala-gejala gangguan payudara. hanya 5 persen dari mereka yang ditemukan mengalami gangguan dasar yang serius (serious underlying disease). rasa sakit yang menyeluruh (radicular pain) 1.atau BRCA 2 mempunyai frekuensi yang tinggi. Basis penting dari klasifikasi ini adalah 1. 2.4 siklus menstruasi.4.3.10 multipel.0) atau tingkatan sedang/moderat (risiko realtif.2. Noncyclic breast pain tidak berhubungan dengan 1. 2. dan mengandung darah 1.

jika demikian. Keluhan lesi jinak payudara yang umum pada Wanita *Persentase-persentase mengindikasikan persentase payudara yang diteliti pada otopsi yang mana lesi ditemukan. Hidradenitis suppurativa dapat bermanifestasi sebagai nodul payudara dan sakit.3.Lesi terpisah (discrete lesions) yang terdeteksi dengan palpasi atau denganmammography rutin adalah entitas-entitas yang berbeda pada wanita yang berusia kurang dari 30 tahun. tanda-tanda infeksi dan kemungkinan keterlibatan aksila harus dievaluasi. kolesistitis. Pendulous breast dapat menyebabkan rasa sakit.4 perubahan fibrocystic pada pemeriksaan histologis. Faktor risiko untuk kanker harus dikaji. dan melahirkan hidup pertama pada usia 30 tahun atau lebih. atau diatas 50 tahun. Benjolan yang terkait dengannipple discharge. peradangan dinding dada. payudara atau infeksi aksila. PEMERIKSAAN 2. Berdasarkan statistik. 9 dari 10 nodul-nodul baru pada wanita premenopausal adalah jinak (Tabel 1). ini meliputi usia. 31 sampai dengan 50 tahun. dan jumlah kerabat tingkat pertama dengan kanker payudara (dan pada usia . menarke sebelum usia 12 tahun.1. Penyebab lain meliputi mastitis.7. Tabel 2. yang biasanya menghasilkan rasa sakit mendadak. dengan tanda-tanda peradangan. Harus diwaspadai riwayat yang mengesankan toraks arthritis. dan apakah mereka bertambah dan berkurang dengan siklus menstruasi (yang menunjukkan perubahan fibrokistik). atau iskemia jantung. Lesi jinak payudara paling sering disebabkan perubahan fibrokistik. apakah atipis). Pembengkakan simetris yang tersebar (diffuse symmetrical lumpiness) umumnya ditemukan pada saat pemeriksaan fisik dan dikaitkan dengan 1. Riwayat penyakit Riwayat penyakit harus mencakup karakteristik gejala dan waktu dalam kaitannya dengan siklus haid. Informasi harus diperoleh tentang biopsi sebelumnya (apakah duktus hiperplasia dan. menopause setelah umur 55 tahun. 2.7. terutama discharge unilateral yang berdarah perlu diwaspadai. Adanya atau tidak adanya benjolan harus dipastikan.

beberapa menganjurkan inspeksi juga dengan pasien duduk dengan tangan di atas kepala.7. Posisi dan ukuran dari setiap kelenjar getah bening harus dicatat. dan ukuran lebih besar dari pada 2 cm. Pemeriksaan di sepanjang dinding dada sangat penting. palpasi batas-batas payudara. dengan tekanan gradasi (Gambar 2).3. dan keempat. dan garis bra harus mencakupi (Gambar 1). rasio . garis midaksilaris. Perangkat penilaian risiko Gail Model dapat digunakan untuk 1. Posisi pasien terlentang lebih baik karena pemeriksaan fisik payudara memerlukan jaringan payudara yang rata terhadap dada pasien. Pemeriksa mencari benjolan. Sebuah wilayah persegi panjang yang dibatasi oleh klavikula. Dalam penelitian yang membandingkan kedua modalitas screeningpemeriksaan fisik dan mamografi. ada nilai sisa diagnostik dari pemeriksaan fisik yang berperan membantu kelanjutan dari screening. sehingga memastikan pemeriksaan terhadap semua jaringan payudara. Karakter benjolan payudara sangat penting.2. Payudara harus diraba untuk evaluasi dan deteksi tekstur massa. Tangan pasien ipsilateral harus diatas level kepala pemeriksaan aspek lateral payudara. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan payudara klinis sangat berguna dalam screening maupun dalam evaluasi benjolan. batas ireguler. Pola pemeriksaan harus sistematis. pola dan teknik pemeriksaan adalah variabel penting dalam pemeriksaan klinis. ketiga. Sebuah massa baru yang dominan atau kasar atau benjolan yang membesar layak dievaluasi. secara lajur vertikal ke sternum.11 membantu menghitung risiko dari pertanyaan-pertanyaan riwayat ini. mendorong ke bawah. sistematis meningkatkan deteksi benjolan payudara. Walaupun sensitivitas mamografi lebih besar dari pada pemeriksaan fisik. kisaran kanker terdeteksi oleh pemeriksaan fisik tetapi tidak oleh mamografi adalah 3 % -45 %. atau skin dimpling. Pemeriksaan payudara dapat dilakukan dengan wanita yang duduk dengan tangan di pinggul. 2. dan secara lateral ke arah aksila.9. ini penting untuk mencakup daerah yang berbatasan dengan klavikula. Posisi pasien. Palpasi secara hati-hati. imobilitas. Gerakan kecil melingkar harus dilakukan pada setiap langkah dengan 4 menggunakan bantalan dari jari kedua. siku harus setinggi bahu untuk pemeriksaan bagian medial payudara.berapa kanker mereka terdeteksi). Salah satu metode yang disukai adalah mulai di aksila di garis midaksilaris dan kemudian menutup payudara dengan meraba garis-garis paralel. midsternum. Gambar 1 Gambar 2 Pemeriksaan aksila untuk kelenjar getah bening harus mengikuti pemeriksaan payudara. Sayangnya. dan jarak dari kulit ke dinding dada diminimalkan dengan pasien terlentang. Pemeriksaan fisik harus meliputi inspeksi dan palpasi. asimetris. Karakteristik yang mengesankan kanker termasuk suatu tekstur keras atau kasar.

1.4 berdasarkan aspirasi. untuk membantu mengevaluasi massa dan untuk mencari lesi lainnya. Ultrasonografi sering dapat mengesankan suatu lesi 1. PEMERIKSAAN PENUNJANG 2. Adalah kesalahan mengandalkan hasil mammogram negatif apabila secara klinis dicurigai adanya benjolan. Pemeriksaan Klinis Pasien dengan Benign Breast Disease 2. Mamografi biasanya dianjurkan sebagai bagian dari evaluasi pada wanita berusia lebih dari 35 tahun yang memiliki massa payudara. Mamografi umumnya tidak bermanfaat pada wanita yang lebih muda dari 35 tahun. Temuan mamografi yang mengesankan kanker termasuk peningkatan densitas.2.3.Mamografi Mamografi dapat dilakukan sebagai tambahan untuk pemeriksaan fisik dalam mengevaluasi benjolan payudara atau sebagai alat skrining.8. Bulat. Namun. . Hal ini terutama berguna pada wanita yang lebih muda dari 35 tahun. Namun.kemungkinan untuk tanda-tanda yang menunjukkan kanker ialah bukan sangat besar. ketika massa yang terdeteksi pada skrining mamografi tetapi tidak teraba. dan mikro kalsifikasi berkerumun tidak teratur. Risiko kanker adalah rendah jika sebuah simple cyst ditemukan pada USG. Dalam pengalaman peneliti. lesi padat pada mamografi mungkin mempresentasikan lesi kistik. spiculation. sangat berguna untuk mengevaluasi benjolan payudara dan dalam mendefinisikan lebih lanjut kelainan dari mammografi.Ultrasonografi Ultrasonografi tidak memiliki peran tunggal atau kajian awal dalam skrining untuk kanker payudara. dan jika massa terlalu kecil atau terlalu dalam untuk aspirasi.8. ketika seorang pasien menolak aspirasi pada sebuah massa. Tabel 3. dan teraba oleh pasien dan dokter. dan hal itu dibenarkan 1. " kista "adalah berukuran 2 cm. 2. kecuali adanya benjolan yang fix dan ukuran lebih besar dari pada 2 cm. batas ireguler.3. Sebuah penelitian tidak menemukan kanker pada 223 kista. hanya menemukan satu kanker dalam suatu "simple cyst" yang dicatat oleh USG.8. dan aspirasi jarum dapat menegaskan hal ini.4 kistik. Ultrasonografi mungkin berguna dalam mengevaluasi benjolan pada perempuan muda ini. beberapa ahli merekomendasikan bergerak langsung ke aspirasi jarum halus jika simple cyst ditemukan di lokasi yang teraba massa. baru.

dapat dibuang. Jika cairan yang didapat nonbloody.2.8. Penelitian ini mengkombinasikan dua kelompok para wanita pada kategori bawah dari risiko: yaitu mereka dengan proliferative diseasetanpa atypia dan mereka dengan nonproliferative disease (Tabel 1).3. Perjanjian antara core needle biopsy dan biopsi bedah 1. 44 ke 78 persen) untuk mengalami kanker payudara pada usia 70 tahun.4 payudara.4. 2.4 halus. dan pembawa BRCA2 memiliki probabilitas sebesar 45 persen (intervalconfidence pada 95 persen. Pembawa BRCA1 memiliki probabilitas sebesar 65 persen (intervalconfidence pada 95 persen. Kepadatan payudara pada mammographic screening juga adalah faktor risiko.8.3. dan juga jumlah lesions yang meningkat diklasifikasikan sebagai ductal hyperplasia umum dan atypical ductal hyperplasia.9.12 payudara yang mengalami peningkatan risiko.5.8.2.4 biopsi eksisi adalah dibenarkan. penambahan berat badan sebesar 20 kg (44 lb) atau lebih setelah menopause. fibroadenoma.3.Triple Diagnosis Kombinasi pemeriksaan fisik. fibrosis. sel dapat diperoleh untuk evaluasi sitologi dengan biopsi aspirasi jarum 1. Ada sensitivitas yang sangat baik (99%) dan spesifisitas (99%) dengan pendekatan ini. Risiko kanker payudara juga meningkat. Jika salah satu dari tiga modalitas mengesankan kanker. Cairan berdarah harus dikirim untuk analisis patologis. menarchedini. adenosis. karena tidak ada kanker ditemukan dalam cairan kista nonbloody. Suaturecheck klinis harus dilakukan dalam 4 sampai 6 minggu. 1. ABNORMALITAS YANG BERKAITAN DENGAN PENINGKATAN RISIKO KANKER PAYUDARA Beberapa entitas patologis diasosiasikan dengan peningkatan risiko akan kanker payudara (Tabel 1).Aspirasi jarum halus Aspirasi jarum halus dapat dilakukan untuk aspirasi sesuatu yang teraba yang dicurigai kista. Payudara yang padat mengandung proporsi yang lebih tinggi akan stromal dan jaringan kelenjar (glandular tissue). 2.8. dengan bimbingan ultrasound atau mammografi. menopause terlambat. faktor heritabilitas mempengaruhi tepatnya 60 persen dari variasi dalam kepadatan 1. Penelitian- . hanya mereka dengan sejarah keluarga yang mengidap kanker 1. 2. Hal ini kebanyakan digunakan untuk mengevaluasi massa payudara nonpalpable (yang ditemukan pada mamografi saja). dan papilloma. dan biopsi aspirasi jarum halus untuk mendiagnosis benjolan yang teraba disebut sebagai triple diagnosis. dan keluarga yang memiliki sejarah kanker payudara. Kalau tidak ada cairan yang diperoleh. kaitannya dengan tingginya tingkatestradiol dan testosterone plasma yang bebas pada wanita postmenopausal.4 adalah 94% di tujuh penelitian. Banyak penelitian yang dilaporkan mengenai isu ini menemukan adanya peningkatan risiko akan kanker payudara hanya diantara para wanita dengan proliferative disease. 31 ke 56 persen).3. Kanker ditemukan kira-kira 1% dari aspirasi berdarah. metaplasia.3.Core Needle Biopsi Jarum yang lebih besar (14-18) digunakan untuk core needle biopsy. Sebuah jarum pengukur no 22 atau 24 dimasukkan ke dalam kista yang telah distabilkan dengan tangan yang lain.mammary-duct ectasia. Diantara para wanita dengan nonproliferative disease. dengan peningkatan pada risiko relative dengan faktor lima untuk kepadatan yang paling tinggi (Gambar 1). Laporan terakhir memperlihatkan bahwa terdapat sedikit peningkatan dalam risiko kanker payudara diantara para wanita yang berusia diatas 50 tahun dengan lesi jinak ( benign lesions) yang berada pada kategori bawah dari risiko: cyst. mild-to-moderate atau florid hyperplasia tanpa atypia. Menurut penelitian-penelitian terdahulu tentang kembar (twins). menunda memiliki anak. mamografi.

Gambar 1. Gambar 2. Saat ini.1.Progres ke arah gangguang yang ganas (Malignant disease) Breast lesions dipercaya oleh banyak investigator sebagai progress yang linear dari yang biasanya ductal hyperplasia (ductal hyperplasia tanpa atypia) atau dari lobules yang membuka (unfolded lobules) ke atypical ductal hyperplasia dan kemudian ke ductal carcinoma in situ dan kanker ganas (invasive cancer).9. Kandungan DNA. Beberapa perubahan biologis dan molekuler (Gambar 2) telah diteliti yang kaitannya 1. seperti yang ditampilkan oleh aneuploidy (DNA lebih atau kurang dapat diduga dengan keberadaan 46 kromosom) yang berangsur-angsur meningkat. model-model Gail and Claus adalah yang umum digunakan sebagai cara yang praktis untuk mengestimasi risiko kanker payudara. tetapi model-model ini hanya menggunakan sejumlah variabel yang terbatas dan tidak terlalu kuat dalam memprediksi 1. Angka-angka di sebelah kanan adalah faktor-faktor dimana item yang terdaftar di sebelah kiri meningkat pada wanita dengan ductal carcinoma in situ. Aneuploidy umumnya hadir dalam ductal carcinoma in .2 dengan progress ini. tetapi hubungan sebab akibat tersebut tidak pernah dinyatakan/dipublikasikan. Risiko Kanker Payudara wanitaPremenopausal dan Postmenopausal. Rata-rata perkembangbiakan meningkat dengan faktor 5 apabila benign breast tissuedibandingkan dengan ductal carcinoma in situ. Menurut Kepadatan Payudara pada para 2.14 gangguan (disease).penelitian saat ini sedang berusaha untuk mengevaluasi kegunaan nipple aspiration dan ductal lavage sebagai tambahan stratifikasi risiko. Progres dari lesi jinak ke ganas Keterangan Gambar 2: Progres dari ke arah malignant breast disease dikaitkan dengan akumulasi peningkatan jumlah mutasi genetic.9.13.

Beberapa klinik yang khusus menangani gangguan payudara (breast disorder) memberikan tamoxifen dan danazol untuk penanganan nyeri pada payudara dan telah melaksanakannya secara random atau acak. yang melibatkan 7152 wanita yang menerima tamoxifen untuk terapi kanker payudara. 3. Pendekatanpendekatan lain seperti tamoxifen. akan tetapi inti pertanyaannya adalah kemujarabannya. Pada dua pertiga dari wanita dengan rasa nyeri pada dinding dada yang menyebar ( diffuse chest-wall pain). pada dosis 200 mg sehari (atau hanya selama fase luteal dari siklus menstruasi). pada dosis 10 mg sehari selama tiga ke enam bulan. gejala-gejala yang tidak parah adalah suatu jaminan yang menenteramkan pasien berkaitan dengan ketiadaan gangguan yang serius. dan percobaan secara klinis untuk mendemonstrasikan kemanjuran dari strategi-strategi ini. Pemasangan atau pemakaian brassiere sebagai pendukung bagi payudara kemungkinan akan mengurangi rasa nyeri. Oncogene untuk transforming growth factor α (TGF-α) meningkat seiring dengan (concomitantly) dengan timbulnya hyperplasia. nonsteroidal anti-inflammatory drugs(NSAIDs). berdasarkan dua penelitian acak. III. Namun penyebab musculoskeletal hadir atau dialami pada 40 persen dari wanita yang menunjuk klinik khusus mastalgia berfikir bahwa rasa sakit tersebut berasal dari payudara. dan satu penelitian besar baru-baru ini menunjukkan penurunan atau pengurangan pada tingkatan reseptor estrogen β (ERβ).1. atau aspirin. kewaspadaan sambil menunggu (watchful waiting) tanpa penanganan adalah termasuk dapat diterima setelah kekhawatiran mereka berkurang akan kemungkinan mendapat gangguan ganas ( malignant disease). Penggunaan oral contraceptives ternyata tidak pernah diteliti secara sistematis. Diantara pasien-pasien . dan diantara pasien-pasien yang tidak memberi respon terhadap treatment.2. Minyak bunga evening primrose sejak lama digunakan. Tidak ada cara atau pengaturan (regimen) standar untuk penanganan nyeri payudara ringansampai dengan-parah yang digunakan secara luas. pada dosis oral yaitu 1 ke 3 g sehari. Diantara 85 persen dari para wanita yang dievaluasi klinik secara besar-besaran. placebo-controlled. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkatan reseptor estrogen α (ERα) meningkat. Nyeri Payudara Siklis Isu yang paling penting dalam manajemen atau pengelolaan nyeri payudara siklis adalah untuk memutuskan apakah perlu untuk ditangani. perubahan pemakaian ke danazol.3 sukses digunakan untuk rasa nyeri yang parah. kondisi tersebut bereaksi terhadap oral atau topical NSAIDs. Dalam ketiadaan suatu massa atau discharge. Gonadotropin-releasing hormonetelah lama 1. Beberapa terapi lainnya juga kemungkinan manjur berdasarkan prinsip-prinsip fisiologi. pendekatan umum untuk penanganan nyeri siklik (cyclic pain) digunakan. atau penambahan androgen pada terapi penggantian estrogen(estrogenreplacement therapy) sepertinya lebih manjur dalam mengurangi rasa nyeri pada payudara. Terdapat peningkatan dalam c-erbB-2 (HER2/neu) dan dalam mutasi padatumor-suppresor gene p53 hanya pada ductal carcinoma in situ.Rasa Nyeri Nonsiklik (Noncyclic Pain) Pada saat rasa nyeri benar-benar terasa di payudara. PENANGANAN 3. Rekomendasi-rekomendasi awal (initial recommendations) kemungkinan termasuk penggunaan obat-obatan analgesic ringan seperti acetaminophen. Berdasarkan data sekunder dari the International Breast Cancer Intervention Study . menyediakan bukti tambahan akan kemanjuran melalui cara ini dalam meringankan mastalgia.situ. sedangkan 15 persen sisanya meminta penanganan ( treatment). tetapi preparasipreparasi yang mengandung estrogen dosis rendah (20 μgethinyl estradiol) dan 19-nor progestins kemungkinan akan dapat mengurangi rasa sakit. Menurunkan dosis estrogens dalam treatment pada para wanitapostmenopausal.

4 situ. dan biopsy) untuk para wanita yang berusia lebih dari 35 tahun dengan nodul yang dominan.4. dan yang dapat teraba (palpable) memerlukan nasehat dari dokter bedah. 85 persen memperoleh keringanan nyeri secara temporer atau permanen dari penggunaan 1. karena lobular carcinoma kemungkinan tidak terlihat pada saatmammography. Banyak para ahli yang tidak melakukanbiopsy dalam mengevaluasi para wanita yang lebih muda dengan karakter lesifibroadenoma pada saat ultrasonography dan memilih untuk mengikuti para pasien ini secara hati-hati dengan serial ultrasonography pada interval enam bulan untuk periode dua tahun dan setahun sekali setelahnya. Diantara para wanita yang lebih muda. Untuk pasien-pasien dengan diagnosis atypical ductal hyperplasia padafineneedle aspiration atau core needle biopsy. beberapa dokter ahli akan memilih untuk melakukan follow-up tanpa biopsy. maka akan dibutuhkan excisional biopsy. Namun dokter bedah ahli lainnya tidak setuju dan percaya bahwa semua fibroadenomas memerlukan diagnostic core needle biopsy atau fine-needle aspiration. Konfirmasi atas biopsy dari fibroadenoma mengeliminasi kebutuhan untuk rangkaianultrasonography.Nipple Discharge . Para wanita yang berusia diatas 35 tahun dengan nodul yang dominan harus melakukan diagnostic mammography (dan harus sering melakukan ultrasonography) serta merujuk pada dokter bedah. terutama diantara para pembawa atau pengidap BRCA mutation dimana pada mereka tidak ditemukan medullary cancer. maka pasien tersebut harus diyakinkan atau ditenangkan (reassured). pemeriksaan harus dilakukan berulangkali pada pertengahan siklus (midcycle) setelah satu atau dua siklus menstruasi. lesi yang terus menerus muncul (persistent masses). maka pasien tersebut harus dirujuk kepada dokter bedah.Lesi-lesi yang Berkelompok atau Mengumpul (Focus Lesions) Pemeriksaan yang teliti akan membedakan antara lesi yang tersendiri ( solitary / discrete). Karena beberapa penelitian menunjukkan bahwa suatu lesi yang terlihat jinak pada saat mammography dan ultrasonography.yang tersisa. Disaat nodul samar (vague nodularity) dan penebalan (thickening) hadir. semua lesi yang dominan. Untuk cysts yang terlihat nyata (gross cysts). Praktek biasa memerlukan triple test (perabaan-palpation. mammography. Jika nodul samar (vague nodularity). 3. atau nodul yang tidak simetris hadir. dan jika hal tersebut tidak ampuh. Disaat hasil mammographic screeningnegatif tetapi nodul yang dominan muncul. Pada wanita yang berusia 35 tahun atau dibawahnya. dominan. tetapi jika cysts yang sama terisi kembali. Cairan bukan darah (nonbloody fluids) dibuang (discarded). Breast imaging kemungkinan cocok untuk dilakukan. dan nodul yang samar (vague nodularity) dan penebalan (thickening). seringnya dilakukan dengan ultrasonography. Jika berisi darah. disarankan untuk melakukan konsultasi bedah. Jika keabnormalitasan tersebut berubah (resolves). maka biopsy diperlukan untuk menangani kanker payudara. 3. disarankan fine-needle aspirationdengan imaging studies berulangkali selama enam bulan. discrete. Petunjuk praktis dari The Society of Surgical Oncology merekomendasikan evaluasi berikut ini. maka cairan tersebut harus dikirim untuk cytologic analysis dan disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter bedah. penebalan.3. maka kemungkinan lesi tersebut memang jinak adalah lebih dari 99 persen. karena pemeriksaan resection yang lebih complete terkadang merubah diagnosis menjadiductal carcinoma in 1. mammography kemungkinan tidak dilakukan jika hasil-hasil pada pengujian ultrasonographic dan biopsy menghasilkan informasi yang pasti (definitive information). akan dibutuhkan mammographic screening. dengan pemeriksaan fisik yang dilakukan berulangkali pada saat pertengahan silkus ( midcycle) satu ke dua bulan setelahnya.4 kombinasi anesthetic dan steroidal drugs yang disuntikkan pada daerah yang sakit (tender site).

treatment dengandopaminergic agonists dapat diajukan (initiated) untuk dilakukan jika pasien menginginkan untuk mengurangi kebocoran cairan (fluid leak). dan khususnya jika dalam kondisi nyata berdarah atau hasil-hasil dari pengujian darah kotor adalah positif. Galactography dengan penggunaancannulation dan pemasukan zat warna (insertion of dye) ke dalam satu saluran yang memancarkan (emitting) darah pada puting. Algoritma untuk Evaluasi Breast Discharge Dengan adanya keterlibatan multiple ducts. atau yang tidak berdarah hanya memerlukan penentraman hati ( reassurance) terhadap pasien. dan alternatifnya.Algoritme praktis (Gambar 3) memilah nipple discharge menjadi dua kategori menurut keberadaan galactorrhea (diartikan sebagai produksi susu yang lebih dari satu tahun setelah menyusui (weaning) atau pada nulligravid atau para wanita menopause). jika terdapat discharge yang bersifat spontan dan terus menerus dari darah kotor yang berasal dari single duct. Suatu nipple discharge) yang dilakukan dalam kondisi ketiadaan galactorrhea. Galactorrhea termasuk patologis jika bersifat spontan. Keberadaan nipple discharge ini berkaitan dengan nodul yang dapat teraba (palpable mass) dan hasil yang positif pada saat mammography atau ultrasonography meyakinkan evaluasi akan adanya nodul atau massa tersebut. Sebagian besar darah yang timbul dari satu atau duaducts harus dievaluasi lebih lanjut. maka akan dibutuhkan penanganan lebih lanjut. Daftar lesi-lesi yang umumnya 1 ditemukan dapat dilihat pada Tabel 2. Penanganan untuk galactorrhea termasuk pengukuran prolactin dan tingkat thyrotropin serta evaluasi endocrinologic yang sesuai dan treatment jika tingkatan-tingkatan tersebut meningkat. akan memberikan visualisasi akan ruangan-yang ditempati-lesi (space-occupying-lesions). . maka harus mempertimbangkan penggunaan galactography. Jika tingkatan untuk dua hal di atas dalam keadaan normal. Multiductal discharge yang jelas (clear). surgical biopsy dapat digunakan untuk menentukan lesi-lesi tersebut.serous.65 mm. Eksplorasi ductal memberikan jalan untuk membuang lesi-lesi patologis dan penghentian (cessation) akan discharge. hijau-kehitaman. Tidak semua imaging centers memiliki para ahli dengan teknik ini. Pemeriksaan secara langsung terhadap saluran-saluran (ducts) tersebut dengan menggunakan mini-fiberoptic endoscopy dengan cannula(ductoscopy) yang berdiameter luar 0. dianggap sebagai ductal in origin dan diklasifikasikan sebagai antara uniductal ataumultiductal. Gambar 3. Apabila discharge berasal dari satu saluran (one duct). saat ini sedang diteliti kembali di pusat-pusat penelitian.

Berdasarkan proliferasi sel pada pemeriksaan payudara. Perubahan genetik yang mendasari dan yang di dapat juga dihubungkan dengan lesi jinak payudara. wanita dengan mutasi dalam gen BRCA1 atau BRCA2 mempunyai frekuensi yang tinggi akan lesi jinak atau ganas payudara. Kelainan yang mempunyai tingkatan risiko rendah dengan hasil histologis proliferasi tanpa atipia adalah: Hiperplasi duktal umum. fibroadenoma sederhana (15-23%). ini tergantung dari jenis lesi jinak payudara dan riwayat keluarga yang mengidap kanker payudara.IV. dan stromal hyperplasia). dan bermacam-macam (lobular hyperplasia. lesi jinak pada payudara dibedakan dalam lesi payudara yang tidak mempunyai peningkatan risiko ke arah kanker. adenoma raksasa. fenomena ini dikenal sebagai mutator phenotype. Risiko juga meningkat pada wanita postmenopause yang estradiol dan testosteron plasmanya tinggi. jaringan kelenjar akan mengalami hipertrofi tingkat lanjut dengan peningkatan jaringan stromal. nonsclerosing adenosis (22%). fibroadenoma kompleks (mengandung cysts berdiameter >3 mm. Di antara wanita diatas 50 tahun dengan lesi jinak payudara terdapat sedikit peningkatan risiko akan kanker payudara. Sarkoidosis. Antara pertengahan dekade keempat dan saat menopause. dalam beberapa penelitian menyebutkan pada usia ini penemuan fibroadenoma dengan angka 15%-23% dan lainnya menyebut 7%-13%. Hal ini mendukung teori bahwa predisposisi yang mendasari (underlying predisposition) ke arah mutasi pada beberapa penderita sebagai penyebab lesi jinak multipel. juvenile hypertrophy. mempunyai tingkatan risiko yang rendah dan tingkatan risiko sedang/moderat. dan lesi-lesi yang disebabkan oleh penetrasi benda asing. Mayoritas besar lesi-lesi yang terjadi pada payudara adalah jinak. menunda memiliki anak. Kelainan yang tidak mempunyai peningkatan risiko dimana dari hasil histologis didapatkan proliferasi sel minimal adalah Perubahan fibrokistik (dalam lingkup normal):cysts dan ductal ectasia (72%). Formasi kista yang meningkat juga dihubungkan dengan menopause yang terlambat dan penggunaan hormone replacement therapy serta kondisi tubuh yang kurus. mild hyperplasia (40%). . Perubahan pada payudara normal dimulai dari dominasi duktus. Kepadatan payudara pada mamografi skrening juga adalah faktor risiko. Hormon estrogen dan progesteron memainkan peran dalam perkembangan lesi jinak payudara. Tumor-tumor jinak:hamartoma. Pembawa BRCA1 dan BRCA2 memiliki probabilitas masing-masing adalah 65% dan 45% untuk mengalami kanker payudara setelah umur 70 tahun. lipoma. Mastopati diabetes. papiloma tunggal. lobulus serta stroma intra dan interlobular serta gambaran pola perubahan serabut dan formasi kista yang dikenal sebagai perubahan fibrokistik. menarche dini. neurofibroma. dan periductal fibrosis (16%). menopause terlambat. PEMBAHASAN Istilah tumor jinak payudara meliputi kelompok lesi-lesi yang heterogen dengan kemungkinan adanya gejala-gejala yang beragam atau dapat terdeteksi sebagai penemuan mikroskopik insidental. Infeksiinfeksi: granuloma dan mastitis. Pada wanita awal usia remaja sampai dengan pertengahan usia 20an. Persentase-persentase ini menunjukkan persentase payudara dengan lesi jinak yang ditemukan melalui otopsi. fat necrosis. peningkatan berat badan sebesar 20 Kg atau lebih. Pada dekade ketiga dan keempat dari usia tingkatan nodul menyebar yang teraba kemungkinan akan meningkat. Metaplasi: skuamos dan apokrin. tumor phyllodes. lobulus dan stroma akan bereaksi terhadap stimuli hormonal secara berlebihan dengan pertumbuhan fibroadenoma yang teraba tunggal atau multipel. Akan terjadi peningkatan jumlah normal jaringan lobular (adenosis) dan juga mungkin hipertrofi stroma yang dapat teraba biasanya di daerah axilary tail. Lesi-lesi traumatik: hematoma.dan adenomyoephitelioma.

hipotoroidisme. atau perubahan apokrin papiler). Sebagian besar tumor piloides dianggap sebagai tumor jinak fibroepitelial. Nyeri payudara dapat berupa nyeri siklik atau nonsiklik. spiculation. duktal hiperplasia atipis. cysts. hidradenitis supuratif. dengan darah kotor. keras. perubahan fibrokistik. tekanan dari bra. dan mikro kalsifikasi berkerumun tidak teratur mengesankan kanker. Pemeriksaan riwayat penyakit harus mencakup karakteristik gejala dan waktu dalam kaitannya dengan siklus haid dan mengkaji faktor risiko kanker meliputi: menarke sebelum usia 12 tahun. sementara itu nipple discharge tanpa adanya galaktore dari duktus multipel (timbul dan berdarah atau tidak berdarah. karsinoma duktal insitu. elastik. bilateral. tetapi beberapa menunjukkan gambaran klinis dan histologi ganas. Ultrasonografi berguna . lesi padat mengesankan suatu massa yang kistik. nyeri dinding dada yang difus di lateral. dan adenosis duktus kasar. Dan nyeri yang bukan dari dinding dada. yaitu penyakit kandung empedu. sebagian besar adalah fibroadenoma. atau serosanguineous) dapat berasal dari papiloma intraduktal. Mamografi dilakukan pada wanita yang lebih dari 35 tahun. Lesi jinak yang mempunyai tingkatan risiko sedang/moderat dengan hasil histopatologis proliferasi dengan atipis adalah: duktus hiperplasi atipis dan lobular hiperplasi atipis. lobular hiperplasia atipis. untuk puting berlendir dengan galaktore dari duktus multipel bilateral penyebabnya bisa karena hiperprolaktinemia dari tumor pituitary. lesi sebagian besar adalah fibroadenoma. nyeri pada daerah yang bukan payudara. bekas luka melingkar (radial scar). penyakit Paget payudara. Benjolan yang tersebar. jumlah kerabat tingkat pertama dengan kanker payudara. batas ireguler. nyeri dinding dada yg terlokalisasi di lateral. puting berlendir. pengapuran epitelial. Usia lebih dari 50 tahun. duktal hiperplasia umum. Puting berlendir (nipple discharge) dapat berupa adanya galaktore atau tanpa galaktore. hitam atau bening) dapat disebabkan karena perubahan fibrokistik dan duktal ektasi. penyakit jantung iskemik. obat-obat bius. nyeri nonsiklik karena peregangan ligamentum cooper. Mamografi dengan temuan yang bulat. sensitivitas dan spesifisitas dari pemeriksaan payudara secara klinis adalah berturut-turut sebesar 54 % dan 94 %. hasil mamografi yang densitasnya meningkat. ini tergantung teknik dan cara pemeriksa. Usia 30-50 tahun. Untuk nipple discharge tanpa adanya galaktore dari satu duktus (timbul atau bersifat spontan dan berdarah. nyeri siklik kemungkinan disebabkan oleh stimulasi hormonal lobulus pada payudara normal sebelum mestruasi.adenosis sklerosing. mastitis periduktal. tanpa ada benjolan yang discrete biasanya adalah perubahan fibrokistik. keras. fat necrosis dari trauma. menopause setelah umur 55 tahun. kista. keras. discrete sebagian besar lesi adalah cyst. kanker ganas (invasive cancer). Triple diagnosis (kombinasi pemeriksaan klinis. karsinoma duktal insitu. mastitis yang mengumpul atau berkelompok. Pemeriksaan secara sistematis keseluruhan payudara dan dinding dada harus dilakukan. Benjolan soliter pada usia kurang dari 30 tahun. papilloma atau papilomatosis. benjolan yang soliter atau tersebar. namun pada wanita yang kurang dari 35 tahun umumnya tidak bermanfaat. nyeri radikuler arthritis servikal. dan melahirkan hidup pertama pada usia 30 tahun atau lebih. penyakit Mondor’s (sclerosing periphlebitis vena payudara). Nyeri pada daerah yang bukan payudara kemungkinan penyebabnya adalah berasal dari nyeri pada dinding dada sindrom Tietz (costochondritis). Gambaran klinis tumor jinak payudara dapat berupa nyeri pada payudara. mamografi dan aspirasi jarum halus) masih memegang peranan yang sangat penting dengan nilai sensitivitas dan spesifisitas yang sangat baik masing-masing adalah 99 %. Mamografi dilakukan sebagai tambahan untuk mengevaluasi benjolan payudara.

untuk pasien dengan hasil duktal hiperplasi atipis dari fine needle aspirationatau core needle biopsy dibutuhkan biopsi eksisi kerana reseksi yang lebih komplit kadang dapat merubah diagnosis menjadi karsinoma duktal insitu. Penanganan nyeri dapat menggunakan NSAID atau Tamoxifen dosis 10 mg sehari selama 3 sampai 6 bulan. penurunan dosis estrogen pada treatmen postmenopause. bila nyeri permanen dapat juga digunakan kombinasi bahan anestesi dengan obat steroid yang disuntikkan pada tempat yang sakit. Untuk rasa nyeri nonsiklik dapat digunakan pendekatan secara umum.dalam mengevaluasi lebih lanjut kelainan yang di dapat dari mamografi terutama pada usia kurang dari 35 tahun terutama pada massa yang terdeteksi oleh mamografi tapi tidak teraba. kehijauan-kehitaman atau yang tidak berdarah cukup dengan penentraman hati terhadap pasien dan ditindaklanjuti dengan evaluasi. Core needle biopsy digunakan untuk mengevaluasi massa payudara yang tidak teraba namun terdeteksi oleh mamografi. juga jika massa yang kecil atau terlalu dalam untuk dilakukan aspirasi. Aspirasi jarum halus dapat dilakukan untuk suatu massa yang dicurigai kista. sementara 15 % meminta penanganan. Untuk discharge dari multi duktal yang jernih. jika didapatkan peningkatan akan memerlukan penanganan. atau bila tidak respon dengan Tamoxifen dapat diganti dengan Danazol dosis 200 mg sehari selama fase luteal dari siklus menstruasi. kanker ditemukan kira-kira 1 % dari cairan aspirasi yang berwarna darah. dilakukan dengan bimbingan ultrasonografi atau mamografi. kesesuaian core needle biopsy dengan eksisi bedah mencapai 94%. biasanya akan bereaksi cukup baik dengan NSAID oral atau topikal. . eksplorasi duktal untuk membuang lesi-lesi patologis dan penghentian discharge. Bila tidak ada cairan dapat digunakan sel yang di dapat dengan evaluasi sitologi dengan biopsi aspirasi jarum halus. atau jika nyeri yang parah dapat diberikan Gonadotropin releasing hormone. Penanganan dan evaluasi nipple discharge dapat mengunakan algoritme praktis yang menuntun berdasarkan keberadaan massa pada saat palpasi dan dari mamografi/ USG serta keberadaan galaktore.serous. Lesi-lesi yang berkelompok atau mengumpul tetap berpedoman pada triple diagnosis. namun bila tidak ada dapat dilakukan biopsi bedah. atau bila hasilnya normal dapat juga ditangani dengan agonis dopaminergik untuk mengurangi kebocoran cairan bila pasien menginginkannya. Apabiladischarge berasal dari satu duktus. Penggunaan Bra untuk menyokong payudara. 85 % cukup dengan penjelasan akan kemungkinan kearah risiko keganasan sehingga dengan itu pasien akan merasa tenang. Dalam penanganan nyeri payudara siklis tidak semua memerlukan penanganan. kontrasepsi oral (estrogen dosis rendah: ethinyl estradiol 20 µg) dan 19-nor progrestin dilaporkan juga dapat mengurangi rasa nyeri. Bila ada galaktore maka perlu pengukuran prolaktin dan tirotropin serta evaluasi endokrinologi yang sesuai. khususnya bila berdarah atau bila hasil evaluasi darah kotor hasilnya positif maka akan dibutuhkan penanganan dengan galaktorafi atau duktoskopi yang akan mempresentasikan lesi dari space occupying lesions. dapat juga digunakan minyak bunga Evening primrose dosis oral 1-3 gram sehari.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful