Asuhan Keperawatan Pada Bayi Ny.W I dengan Kasus RDS (Respiratory Distress Syndrom) di Ruang Bakung (Perinatologi) RSUP Dr.

Soeradji Tirtonegoro ,Klaten

Disusun Oleh : 1. AGUS TRIANTO 2. BAYU CAHYO OKTAFIAN 3. GUNTUR SUNYATA (P 27220011 159) (P 27220011 1..) (P 27220011 1..)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA JURUSAN KEPERAWATAN 2013

25

BAB I TINJAUAN TEORI

A. Defenisi Sindroma gagal nafas (respiratory distress syndrom, RDS) adalah istilah yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus. Gangguan ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru (Suriadi dan Yuliani, 2001). Gangguan ini biasanya dikenal dengan nama hyaline membran desease (HMD) atau penyakit membran hialin karena pada penyakit ini selalu ditemukan membran hialin yang melapisi alveoli. B. Etiologi Ada 4 faktor penting penyebab defisiensi surfaktan pada RDS yaitu prematur, asfiksia perinatal, maternal diabetes, seksio sesaria. Respiratory Distress Syndrome (RDS) disebut juga Hyaline Membran Disease (HMD) didapatkan pada 10% bayi prematur, yang disebabkan defisiensi surfaktan pada bayi yang lahir dengan masa gestasi kurang. Surfaktan biasanya didapatkan pada paru yang matur. C. Patofisiologi RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan kurangnya zat yang disebut surfaktan. Surfaktan adalah zat aktif yang diproduksi sel epitel saluran nafas disebut sel pnemosit tipe II. Zat ini mulai dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai max pada minggu ke 35. Zat ini terdiri dari fosfolipid (75%) dan protein (10%). Peranan surfaktan ialah merendahkan tegangan permukaan alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara fungsional pada sisa akhir expirasi. Kolaps paru ini akan menyebabkan terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis. Hipoksia akan menyebabkan terjadinya : 1. Oksigenasi jaringan menurun>metabolisme anerobik dengan penimbunan asam laktat asam organic>asidosis metabolic.

26

2. Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris>transudasi kedalam alveoli>terbentuk fibrin>fibrin dan jaringan epitel yang nekrotik>lapisan membrane hialin. Asidosis dan atelektasis akan menyebabkan terganggunya jantun, penurunan aliran darah keparum, dan mengakibatkan hambatan pembentukan surfaktan, yang menyebabkan terjadinya atelektasis. Sel tipe II ini sangat sensitive dan berkurang pada bayi dengan asfiksia pada periode perinatal, dan kematangannya dipacu dengan adanya stress intrauterine seperti hipertensi, IUGR dan kehamilan kembar. D. Tanda dan Gejala Gejala utama Gawat napas / distress respirasi pada neonatus yaitu :      Takipnea : laju napas > 60 kali per menit (normal laju napas 40 kali per menit) Sianosis sentral pada suhu kamar yang menetap atau memburuk pada 4896 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik Retraksi : cekungan pada sternum dan kosta pada saat inspirasi Grunting : suara merintih saat ekspirasi Pernapasan cuping hidung

Tabel 2. Evaluasi Gawat Napas dengan skor Downes Pemeriksaan Frekuensi napas Retraksi Sianosis Skor 0 < 60 /menit Tidak ada retraksi Tidak ada sianosis 1 60-80 /menit Retraksi ringan Sianosis hilang dengan 02 2 > 80/menit Retraksi berat Sianosis menetap walaupun diberi O2 Penurunan ringan Tidak ada udara udara masuk masuk Dapat didengar Dapat didengar dengan stetoskop tanpa alat bantu

Air entry Merintih Evaluasi:

Udara masuk Tidak merintih < 3 = gawat napas ringan 4-5 = gawat napas sedang > 6 = gawat napas berat

27

E. Pemeriksaan Diagnostik/ Penunjang Pemeriksaan Penunjang pada Neonatus yang mengalami Distress Pernafasan Pemeriksaan Kultur darah Analisis gas darah Kegunaan Menunjukkan keadaan bakteriemia Menilai derajat hipoksemia dan keseimbangan asam basa Glukosa darah Menilai keadaan hipoglikemia, karena hipoglikemia dapat menyebabkan atau memperberat takipnea Rontgen toraks Mengetahui etiologi distress nafas Darah rutin dan hitung Leukositosis menunjukkan adanya infeksi jenis Neutropenia menunjukkan infeksi bakteri Trombositopenia menunjukkan adanya sepsis Pulse oximetry Menilai hipoksia dan kebutuhan tambahan oksigen Sumber: Hermansen F. Komplikasi Komplikasi jangka pendek ( akut ) dapat terjadi : 1. Ruptur alveoli : Bila dicurigai terjadi kebocoran udara ( pneumothorak, pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema intersisiel ), pada bayi dengan RDS yang tiba-tiba memburuk dengan gejala klinis hipotensi, apnea, atau bradikardi atau adanya asidosis yang menetap. 2. Dapat timbul infeksi yang terjadi karena keadaan penderita yang memburuk dan adanya perubahan jumlah leukosit dan thrombositopeni. Infeksi dapat timbul karena tindakan invasiv seperti pemasangan jarum vena, kateter, dan alat-alat respirasi. 3. Perdarahan intrakranial dan leukomalacia periventrikular : perdarahan intraventrikuler terjadi pada 20-40% bayi prematur dengan frekuensi terbanyak pada bayi RDS dengan ventilasi mekanik. 4 PDA dengan peningkatan shunting dari kiri ke kanan merupakan komplikasi bayi dengan RDS terutama pada bayi yang dihentikan terapi surfaktannya. Komplikasi jangka panjang dapat disebabkan oleh toksisitas oksigen, tekanan yang tinggi dalam paru, memberatnya penyakit dan kurangnya oksigen yang menuju ke otak dan organ lain. Komplikasi jangka panjang yang sering terjadi :

28

adanya infeksi. masa terjadi gestasi. 5. Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekuat. 2. Insiden BPD meningkat dengan menurunnya masa gestasi. Mempertahankan suhu lingkungan netral. dan adanya infeksi. 6. sekitar adanya 10-70% hipoxia. Pasang jalur infus intravena.1. Bila terjadi kejang potong kejang segera periksa kadar gula darah e. sesuai dengan kondisi bayi. inflamasi. Retinopathy prematur Kegagalan berhubungan fungsi neurologi. 2. Jika bayi mengalami apneu Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan Lakukan penilaian lanjut c. Mempertahankan perfusi jaringan adekuat. Mempertahankan cairan dan elektrolit adekuat. bayi yang dengan komplikasi intrakranial. Pemberian nutrisi adekuat 29 . G. Bronchopulmonary Dysplasia (BPD): merupakan penyakit paru kronik yang disebabkan pemakaian oksigen pada bayi dengan masa gestasi 36 minggu. 4.dkk (2003) tindakan untuk mengatasi masalah kegawatan pernafasan meliputi : 1. Penatalaksanaan Menurut Suriadi dan Yuliani (2001) dan Surasmi. dan defisiensi vitamin A. Mencegah hipotermia. Mempertahankan keseimbangan asam basa. BPD berhubungan dengan tingginya volume dan tekanan yang digunakan pada waktu menggunakan ventilasi mekanik. Penatalaksanaan secara umum : a. yang paling sering dan bila bayi tidak dalam keadaan dehidrasi berikan infus dektrosa 5%      Pantau selalu tanda vital Jaga patensi jalan nafas Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal) b. 3.

Biasanya kondisi tersebut akan membaik dan sembuh sendiri tanpa pengobatan. segera dilakukan menajemen lanjut sesuai dengan kemungkinan penyebab dan jenis atau derajat gangguan nafas. Terutama terjadi setelah bedah sesar. nilai kembali bayi setelah 2 jam Apabila bayi tidak menunjukan perbaikan atau tanda-tanda perburukan setelah 2 jam.Setelah menajemen umum. Jika tidak 30 . Apabila suhu kembali abnormal ulangi tahapan tersebut diatas. Gangguan napas ringan merupakan tanda awal dari infeksi sistemik. demam curiga infeksi berat atau ketuban pecah dini (> 18 jam) Bila suhu aksiler 34. pada beberapa kasus. bila masih sesak dapat diberikan o2 4-5 liter/menit dengan sungkup Bayi jangan diberi minukm Jika ada tanda berikut. Meskipun demikian. Bila tidak ada tanda-tanda kearah sepsis. berikan ASI peras setiap 2 jam. terapi untuk kemungkinan besar sepsis Bila bayi mulai menunjukan tanda-tanda perbaikan kurangai terapi o2secara bertahap .36.5-39˚C tangani untuk masalah suhu abnormal dan nilai ulang setelah 2 jam: Bila suhu masih belum stabil atau gangguan nafas belum ada perbaikan.5 ˚C atau 37.  Suhu aksiler <> 39˚C Air ketuban bercampur mekonium Riwayat infeksi intrauterin. berikan antibiotika (ampisilin dan gentamisin) untuk terapi kemungkinan besar sepsis. Gangguan nafas sedang    Lakukan pemberian O2 2-3 liter/ menit dengan kateter nasal. Pasang pipa lambung. berikan antibiotika untuk terapi kemungkinan besar seposis    Jika suhu normal. teruskan amati bayi. Menajemen spesifik atau menajemen lanjut: Gangguan nafas ringan Beberapa bayi cukup bulan yang mengalami gangguan napas ringan pada waktu lahir tanpa gejala-gejala lain disebut “Transient Tacypnea of the Newborn” (TTN).

Kurangi pemberian O2 secara bertahap bila ada perbaikan gangguan napas. berikan ASI peras dengan memakai salah satu cara pemberian minum  Amati bayi selama 24 jam setelah pemberian antibiotik dihentikan. Bila dalam pengamatan ganguan nafas memburuk atau timbul gejala sepsis lainnya. Hentikan pemberian O2 jika frekuensi napas antara 30-60 kali/menit. minumbaik dan tak ada alasan bayi tatap tinggal di Rumah Sakit bayi dapat dipulangkan Gangguan nafas ringan   Amati pernafasan bayi setiap 2 jam selama 6 jam berikutnya.dapat menyusu. Terapi untuk kemungkinan kesar sepsis dan tangani gangguan nafas sedang dan dan segera dirujuk di rumah sakit rujukan. Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaan dalam pengobatan RDS adalah pemberian surfaktan eksogen ( derifat dari sumber alami misalnya manusia.   Berikan ASI bila bayi mampu mengisap. Bila bayi kembali tampak kemerahan tanpa pemberian O2 selama 3 hari. tetapi bisa juga berbentuk surfaktan buatan ) 31 . Bila tidak berikan ASI peras dengan menggunakan salah satu cara alternatif pemberian minuman. didapat dari cairan amnion atau paru sapi. Penatalaksanaan medis: Pengobatan yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS adalah:      Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan caiaran paru Fenobarbital Vitamin E menurunkan produksi radikalbebas oksigen Metilksantin (teofilin dan kafein ) untuk mengobati apnea dan untuk pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik.

flaciditas Penurunan suhu tubuh Pulmonary . umur kehamilan Apgar score. mungkin 80 – 100 x ) Nafas grunting Nasal flaring Retraksi intercostal. kelemahan.BAB II KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. suprasternal. atau substernal Cyanosis (sentral kemudian diikuti sirkumoral) berhubungan dengan persentase desaturasi hemoglobin 32 . apakah terjadi aspiksia Bayi prematur yang lahir melalui operasi caesar Cardiovaskular Bradikardi (dibawah 100 x per menit) dengan hipoksemia berat Murmur sistolik Denyut jantung dalam batas normal Integumen Pallor yang disebabkan oleh vasokontriksi peripheral Pitting edema pada tangan dan kaki Mottling Neurologis Immobilitas.Takipnea (pernafasan lebih dari 60 x per menit. Pengkajian Riwayat maternal Menderita penyakit seperti diabetes mellitus Kondisi seperti perdarahan placenta Tipe dan lamanya persalinan Stress fetal atau intrapartus Status infant saat lahir Prematur.

dengan bahan cairan amnion (untuk janin yang mempunyai predisposisi RDS)  Lecitin/Sphingomielin (L/S) ratio 2 : 1 atau lebih mengindikasikan maturitas paru  Phospatidyglicerol : meningkat saat usia gestasi 35 minggu  Tingkat phosphatydylinositol Analisa Gas Darah. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan hilangnya fungsi jalan nafas. Gangguan pertukaran gas b. untuk menentukan ventilasi jalan nafas. 2. Diagnosa Keperawatan 1. penurunan motilitas usus. untuk melihat densitas atelektasis dan elevasi diaphragma dengan overdistensi duktus alveolar Bronchogram udara. episode apnea Status Behavioral Lethargy Study Diagnostik Seri rontqen dada. Tidak efektifnya pola nafas yang berhubungan dengan ketidaksamaan nafas bayi dan ventilator. peningkatan resistensi jalan nafas 3. 5. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan menghisap. defisiensi surfaktan dan ketidakstabilan alveolar. meningkat sebagai hasil dari release potassium dari sel alveolar yang rusak B. 4.d imaturitas paru dan neuromuskular. PaCO2 kurang dari 60 mmHg.45 Level pottasium. untuk menentukan maturitas paru. crakles.31 – 7. Resiko tinggi deficit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan sensible dan insensible 33 . pH 7. peningkatan sekret pulmonal.- Penurunan suara nafas. PaO2 kurang dari 50 mmHg. saturasi oksigen 92% – 94%. Data laboratorium Profil paru. tidak berfungsinya ventilator dan posisi bantuan ventilator yang kurang tepat.

Hindari penghisapan sedikitnya 1 jam setelah pemberian surfaktan Frekuensi jantung 100-140 x/i Pernapasan 40-60 x/i Takipneu atau apneu tidak ada Sianosis tidak ada 34 .d imaturitas paru dan neuromuskular. dan perpisahan dengan bayi sebagai akibat situasi krisis 7. perasaan bersalah. Lakukan penghisapan R: menghilangkan mukus yang terakumulasi dari nasofaring. Hindari hiperekstensi leher R: karena akan mengurangi diameter trakea. pernafasan cuping hidung. Posisikan untuk pertukaran udara yang optimal. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pola nafas efektif. C.6. kenali tandatanda distres misalnya: mengorok. apnea. Resiko tinggi gangguan termoregulasi : hipotermi b. b. dan selang endotrakeal. defisiensi surfaktan dan ketidakstabilan alveolar. Observasi adanya penyimpangan dari fungsi yang diinginkan . e. Implementasi Keperawatan 1.d belum terbentuknya lapisan lemak pada kulit. KH: . R: memastikan posisi sesuai dengan yang diinginkan dan mencegah terjadinya distres pernafasan. d. c. Penghisapan selang endotrakeal sebelum pemberian surfaktan R: memastikan bahwa jalan napas bersih f. Gangguan pertukaran gas b. tempatkan pada posisi telentang dengan leher sedikit ekstensi dan hidung menghadap keatap dalam posisi ’mengendus’ R: untuk mencegah adanya penyempitan jalan nafas. trakea. Koping keluarga inefektif berhubungan dengan ansietas.Jalan nafas bersih Intervensi a.

R: menilai fungsi pemberian surfaktan. Observasi dari penurunan pengembangan dada dan peningkatan fremitus R:Pengembangan dada dapat menjadi batas dari akumulasi cairan dan adanya cairan dapat meningkatkan fremitus c. ventilator. penggunaan otot pernafasan. Turunkan pengaturan. Tujuan : Pasien dapat mempertahankan jalan nafas dengan bunyi nafas yang jernih dan ronchi (-) Pasien bebas dari dispneu Mengeluarkan sekret tanpa kesulitan Memperlihatkan tingkah laku mempertahankan jalan nafas Tindakan : Independen a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan hilangnya fungsi jalan nafas. h. Observasi peningkatan pengembangan dada setelah pemberian surfaktan. khususnya tekanan inspirasi puncak dan oksigen R: mencegah hipoksemia dan distensi paru yang berlebihan. mukus atau sumbatan lain dari saluran nafas d. peningkatan sekret pulmonal. Catat perubahan dalam bernafas dan pola nafasnya R:Penggunaan otot-otot interkostal/abdominal/leher dapat meningkatkan usaha dalam bernafas b.R: meningkatkan absorpsi ke dalam alvelolar g. cyanosis. 2. Catat karakteristik dari batuk 35 . batuk dengan atau tanpa sputum. Catat karakteristik dari suara nafas R:Suara nafas terjadi karena adanya aliran udara melewati batang tracheo branchial dan juga karena adanya cairan. peningkatan resistensi jalan nafas ditandai dengan : dispneu. perubahan pola nafas.

Adanya sputum dapat dalam jumlah yang banyak. Kaji kemampuan batuk. Tindakan : Independen a. ultrasonik nabulasasi R:Dapat berfungsi sebagai bronchodilatasi dan mengeluarkan sekret j. catat peningkatan respirasi atau perubahan pola nafas 36 . cairan IV . Tidak efektifnya pola nafas yang berhubungan dengan ketidaksamaan nafas bayi dan ventilator. Berikan fisiotherapi dada misalnya : postural drainase. Berikan oksigen. tebal dan purulent e. Pertahankan posisi tubuh/posisi kepala dan gunakan jalan nafas tambahan bila perlu R:Pemeliharaan jalan nafas bagian nafas dengan paten f. perubahan posisi dan lakukan suction bila ada indikasi R:Penimbunan sekret mengganggu ventilasi dan predisposisi perkembangan atelektasis dan infeksi paru g. latihan nafas dalam. albuteal dan mukolitik R:Diberikan untuk mengurangi bronchospasme. Berikan therapi aerosol. Peningkatan oral intake jika memungkinkan R:Peningkatan cairan per oral dapat mengencerkan sputum Kolaboratif h. Berikan bronchodilator misalnya : aminofilin.R:Karakteristik batuk dapat merubah ketergantungan pada penyebab dan etiologi dari jalan nafas. tempatkan di kamar humidifier sesuai indikasi R:Mengeluarkan sekret dan meningkatkan transport oksigen i. menurunkan viskositas sekret dan meningkatkan ventilasi 3. perkusi dada/vibrasi jika ada indikasi R:Meningkatkan drainase sekret paru. Kaji status pernafasan. peningkatan efisiensi penggunaan otot-otot pernafasan k. tidak berfungsinya ventilator dan posisi bantuan ventilator yang kurang tepat.

Catat ada tidaknya suara nafas dan adanya bunyi nafas tambahan seperti crakles. d. dan ketidakmampuan beristirahat R:Hipoksemia dapat menyebabkan iritabilitas dari miokardium e. Kaji adanya cyanosis R:Selalu berarti bila diberikan oksigen (desaturasi 5 gr dari Hb) sebelum cyanosis muncul. Berikan pencegahan IPPB R:Peningkatan ekspansi paru meningkatkan oksigenasi h. confusion. Review X-ray dada R:Memperlihatkan kongesti paru yang progresif i. bibir yang indikasi adanya hipoksemia sistemik. cyanosis perifer seperti pada kuku dan ekstremitas adalah vasokontriksi. Wheezing terjadi karena bronchokontriksi atau adanya mukus pada jalan nafas c. mengurangi penggunaan oksigen Kolaboratif f. dan wheezing R:Suara nafas mungkin tidak sama atau tidak ada ditemukan. Tanda cyanosis dapat dinilai pada mulut. Crakles terjadi karena peningkatan cairan di permukaan jaringan yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas membran alveoli – kapiler. bronchodilator dan ekspektorant R:Untuk mencegah ARDS 37 . Berikan istirahat yang cukup dan nyaman R:Menyimpan tenaga pasien. Berikan humidifier oksigen dengan masker CPAP jika ada indikasi R:Memaksimalkan pertukaran oksigen secara terus menerus dengan tekanan yang sesuai g. Observasi adanya somnolen. apatis.R:Takipneu adalah mekanisme kompensasi untuk hipoksemia dan peningkatan usaha nafas b. antibiotik. Berikan obat-obat jika ada indikasi seperti steroids.

Berikan makanan sesuai dengan prosedur berikut : Elevasikan kepala bayi Berikan ASI atau susu formula dengan prinsip gravitasi dengan ketinggian 6– 8 inchi dari kepala bayi Berikan makanan dengan suhu ruangan Tengkurapkan bayi setelah makan sekitar 1 jam R: Memberikan makanan tanpa menurunkan tingkat energi bayi e. Pertahankan pemberian infus Dex 10% W 60 – 100 ml/kg bb/hari 38 . Cek lokasi selang NGT dengan cara : Aspirasi isi lambung Injeksikan sejumlah udara dan auskultasi masuknya udara pada lambung Letakkan ujung selang di air. Tujuan : Mempertahankan dan mendukung intake nutrisi Intervensi Rasional a. Berikan infus D 10% W sekitar 65 – 80 ml/kg bb/ hari R: Untuk menggantikan kalori yang tidak didapat secara oral b. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan menghisap. Pasang selang nasogastrik atau orogastrik untuk dapat memasukkan makanan jika diindikasikan atau untuk mengevaluasi isi lambung R:Pilihan ini dilakukan jika masukan sudah tidak mungkin dilakukan. bila masuk lambung. selang tidak akan memproduksi gelembung R: Untuk mencegah masuknya makanan ke saluran pernafasan d. 5. c.4. Resiko tinggi deficit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan sensible dan insensible Tujuan : Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Intervensi Rasional a. penurunan motilitas usus. Berikan TPN jika diindikasikan R: TPN merupakan metode alternatif untuk mempertahankan nutrisi jika bowel sounds tidak ada dan infants berada pada stadium akut.

Kaji respon verbal dan non verbal orangtua terhadap kecemasan dan penggunaan koping mekanisme R:Hal ini akan membantu mengidentifikasi dan membangun strategi koping yang efektif b. R:Kelebihan cairan dapat menjadi keadaan fatal. Bantu orangtua mengungkapkan perasaannya secara verbal tentang kondisi sakit anaknya. dan mendukung bounding antara orangtua dan infant Intervensi Rasional a. Takipnea dan penggunaan pemanas tubuh akan meningkatkan kebutuhan cairan c. Tingkatkan cairan infus 10 ml/kg/hari. dan perpisahan dengan bayi sebagai akibat situasi krisis Tujuan : Meminimalkan kecemasan dan rasa bersalah. gunakan infusion pump Untuk mencegah kelebihan atau kekurangan cairan.R: Penggantian cairan secara adekuat untuk mencegah ketidakseimbangan b. 39 . Koping keluarga inefektif berhubungan dengan ansietas. tergantung dari urine output. perasaan bersalah. prosedur dan pengobatan infant. Monitor intake cairan dan output dengan cara : Timbang berat badan bayi setiap 8 jam Timbang popok bayi untuk menentukan urine output Tentukan jumlah BAB Monitor jumlah asupan cairan infus setiap hari R:Catatan intake dan output cairan penting untuk menentukan ketidak seimbangan cairan sebagai dasar untuk penggantian cairan e. perawatan yang lama pada unit intensive. penggunaan pemanas dan jumlah feedings R: Mempertahankan asupan cairan sesuai kebutuhan pasien. Pertahankan tetesan infus secara stabil. d. Lakukan pemeriksaan sodium dan potassium setiap 12 atau 24 jam R:Peningkatan tingkat sodium dan potassium mengindikasikan terjadinya dehidrasi dan potensial ketidakseimbangan elektrolit 6.

d belum terbentuknya lapisan lemak pada kulit. serta membantu orangtua menghadapi keadaan sakit kronis pada anaknya. Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan suhu tubuh tetap normal. anjurkan orangtua untuk mengunjungi dan ikut terlibat dalam perawatan anaknya R: Memfasilitasi proses bounding e. 7. serta mengurangi tingkat kecemasan c. Tempatkan bayi pada tempat yang hangat R : Mencegah terjadinya hipotermi b. Kriteria Evaluasi : - Suhu 37 °C Bayi tidak kedinginan Intervensi dan Rasional : a. Bila mungkin.R: Membuat orangtua bebas mengekpresikan perasaannya sehingga membantu menjalin rasa saling percaya. Pantau suhu tubuh setiap 2 jam R : Memonitor perkembangan suhu tubuh bayi 40 . Rujuk pasien pada perawat keluarga atau komunitas R: Rujukan untuk mempertahankan informasi yang adekuat. Resiko tinggi gangguan termoregulasi : hipotermi b. Berikan informasi yang akurat dan konsisten tentang kondisi perkembangan infant R: Informasi dapat mengurangi kecemasan d. Atur suhu incubator R : Menjaga kestabilan suhu tubuh c.

Am Fam Physician. 2007. Paket Pelatihan Pelayanan Obsetri Dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK). dkk. hal.. Badan Penerbit UNDIP. Lorah K.A . Nur .2003. 303-306.html> Hermansen C. Bagian IKA FKUI.dkk. Jilid I. Indrasanto.76:987-94. Ilmu Kesehatan Anak. diakses pada tanggal 10 September 2011 <http://www. Asuhan Keperawatan Pasien Respiratory Distress Syndrome (RDS). dkk. Respiratory distress in the newborn.DAFTAR PUSTAKA Evan.Asrining. edisi 1 Jakarta : CV Sagung Seto Winarno. 2001. 2011. 1991. Surasmi. Deteksi Dini Dan Manajemen Gangguan Napas Pada Neonatus Sebagai Aplikasi P O N E K (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif). Editor : Rusepno Hassan & Husein Alatas. dkk. Unair/RSUD Dr.ilmukeperawatanku. 2010. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Pemberian Surfaktan Pada Bayi Prematur Dengan Respiratory Distress Syndrome. hal. Jakarta. hal. Penatalaksanaan Kegawatan Neonatus. 2008. 151-153. Kosim.Perawatan Bayi Resiko Tinggi. A. M. 41 . Soetomo Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI..H. Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Kariadi/ FK UNDIP Semarang Markum.. 2010.S.Jakarta: EGC Suriadi dan Yuliani.com/asuhan-keperawatan-pasienrespiratory-distress-syndrome-rds. R. Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK. Semarang. Jakarta 1985. dalam Simposium Gawat Darurat Neonatus. Unit Kerja Koordinasi Pediatri Darurat IDAI. 1991. Eriyanti. Jilid I.

PP Spontan.00 WIB pada bayi Ny. S : 29 Tahun : Gentan. PENGKAJIAN Pengkajian dilakukan pada tanggal 31 Mei 2013 pukul 07. KMK . Penanggung jawab Nama Usia Alamat Agama Jenis kelamin Hubungan dengan pasien 3.RM Dx.03/07 Mlese. Keluhan Utama Sesak nafas (+) : Tn.W I : 29 Mei 2013 : Perempuan : Gentan.03/07 Mlese.Klaten : Islam : 780763 : Neo Perempuan. Identitas pasien Nama Tanggal lahir Jenis kelamin Alamat Agama No. Riwayat Penyakit Sekarang 42 .W dengan RDS di ruang Bakung (Perinatologi) RSUP Dr. 1. Gemeli dengan ibu KPD Tanggal Masuk 2.Klaten.BAB III PEMBAHASAN A. Data pasien didapatkan dari wawancara terhadap keluarga pasien dan dari data medis pasien.Masuk : Bayi Ny.Klaten : Islam : Laki-laki : Orang tua : 29 Mei 2013 Jam 4.Cawas.Soeradji Tirtonegoro.Cawas.

8. 9. Riwayat Natal Bayi Ny. W I hanya mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan oleh bidan. W I harus segera dikeluarkan. W I mengatakan selama hamil rutin memeriksakan kandungannya ke bidan didekat rumahnya setiap bulan.S mengatakan umur kehamilannya baru ± 34 minggu. Riwayat Penyakit Dahulu Ny. W I lahir pada tanggal 29 Mei 2013 jam Wib. Di dalam keluarga Ny. retraksi dalam (+) dan sianosis. Riwayat Antenatal Ny. W I maupun suaminya tidak ada yang mempunyai riwayat BBLSR. W I mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit keturunan maupun menular. W I lahir pada tanggal 29 Mei 2013 jam 15. Di HCU Neonatus bayi langsung ditempatkan di inkubator dan mendapatkan O2 NCPAP 40 % PEEP 5 l/mnt. W I mengatakan tidak ada keluhan saat hamil. Riwayat Psikososial Ny. karena air ketubannya sudah keluar. takipnea (+). 6.Bayi Ny. Ny. 5. Ny. sesak nafas (+). maka oleh dokter bayi Ny. W I tidak mempunyai riwayat penyakit deabetes militus maupun hipertensi. W I mengatakan air ketuban sudah keluar sejak sebelum melahirkan. Ny. 7. karena bayi Ny. Riwayat Penyakit Keluarga Ny. W I lahir dengan BB 1650 gr. 43 . Ny.05 WIB secara spontan. W I sering menengok anaknya keruang Bakung bagian isolasi neonatus. tangis (-).

W I mendapat terapi infus D 10% 6 cc/jam. b) Pola kebutuhan cairan dan nutrisi Kebutuhan cairan = 30 ml/hari. Pola pengkajian a) Pola pernapasan RR = 68 x/menit. Riwayat Post Natal a) Apgar Score 0 tidak ada tidak ada lemah tidak ada biru putih 1 100 tak teratur sedang 2 100 baik baik APGAR SCORE denyut jantung pernapasan tonus otot peka rangsang warna jumlah b) Berat badan lahir c) Lingkar kepala d) Lingkar lengan atas e) Panjang badan f) Lingkar dada g) Lingkar perut h) Anus i) Adanya kelainan congenital : 1650 gram : 30 cm : 5 cm : 40 cm : 26 cm : 25 cm : positif : negatif 1 5 Menit Menit 2 1 1 0 2 1 2 1 merintih menangis Merah jambu ujung-2 biru Merah jambu 1 5 1 7 11. 44 . retraksi dada (+). terapi O2 NCPAP 40 % PEEP 5 l/mnt. sianosis. Bayi Ny. pernafasan cuping hidung. W I minum ASI 8 X 4 cc melalui OGT karena refleks menghisap dan menelan bayi masih lemah. Bayi NY.10.

W I tahu bahwa anaknya belum bisa disusui karena reflek menelannya dan menghisap masih kurang sehingga harus dipasang selang makan. menurut Ny. f) Hubungan Psikologis Ny. tidak memiliki kebiasaan untuk diet ketat.c) Pola Eliminasi Bayi Ny. tangisnya masih merintih dan geraknya belum aktif. Suhu = 367 0 C Pemeriksaan tibuh : 45 . Ny. Ny. W I bayinya dalam kondisi tidak baik. Ny. W I terlihat lemah di dalam inkubator. tangis merintih Vitalsign : RR= 68 x/menit. Ibu pasien selalu berdoa agar anaknya segera diberi kesembuhan dan segera pulang bersamanya. W I sering menjenguk anaknya. W I tidak ketergantungan maupun mengonsumsi obat psikotropika maupun alkohol/minuman keras. Pemeriksaan Fisik     Keadaan Umum Kesadaran : lemah : CM (Compos Mentis). dan terlihat sesak nafas sampai tulang dadanya terlihat tertarik. e) Latar Belakang Sosial dan Budaya Ny. g) Persepsi-Kognitif Ny. W I merasa khawatir dengan kondisi anaknya yang menurutnya sangat kecil. W I tidak merokok. HR =184 x/menit. W I sudah BAK dan BAB warna hitam lembek (mekonium). Ny. W I memakai pempers dan ditimbang tiap kali ganti pempers. d) Pola Aktivitas dan Istirahat Bayi Ny. W I tidak memiliki pantangan makanan tertentu ketika hamil. 12. gerak kurang aktif. W I tahu tentang kondisi bayinya. Bayi Ny.

Ekstremitas : Akral dingin. tidak ikterus. : Simetris (kanan kiri sama). terpasang infus umbilikalis D10%.Tidak ada lesi. sutura terlihat. terdapat bising usus 5 x/mnt. gerak kurang aktif. tidak ditemukan stomatitis. tak ada iritasi perineal.tipis. Cardio Abdomen Umbilikus : HR = 184x/menit : Simetris. b. RR= 68x/menit. Ketika di test dengan spuit diberikan ASI. Kepala Mata Hidung : Rambut hitam. Reflek : a. Mulut : Bibir merah. sianosis. tidak ada lesi. mukosa bibir kering. tidak terjadi perdarahan. Jumlah jari tangan 5/5. retraksi dada (+). tidak terjadi infeksi. Reflek Moro . Telinga Leher Thorax : Tidak ada deformitas. : terdapat pernafasan cuping hidung. : Tali pusat basah. lubang hidung 2. tarikan intercosta (+).Kulit : Warna kulit kemerahan degan ekstermitas kebiruan. tidak ada pembesaran kelenjar tiroid. tak ada kelumpuhan. : Bersih. lubang telinga bersih. terdapat sedikit lanugo pada dahi dan sekitar pipi. terpasang O2 NCPAP 40 % PEEP 5 l/mnt. : Sklera mata putih. dada cekung kebawah (di bawah px). Genetalia : Labia mayora belum menutupi labia minora. warna feces hitam lembek.terpasang OGT. maka pasien tidak dapat 46 . Jumlah jari kaki 5/5. konjungtiva merah muda. tidak ada kelainan letak lubang uretra Anus : Tidak ada lesi. kulit tipis. ditemukan suara nafas ronki. simetris. Reflek Sucking (Menghisab). ketika ada suara agak keras di sekitar ruangan / tempat inkubator maka pasien kurang merespon/ diam saja.

2 1.2 – 11. Jika disentuh kakinya oleh perawat. ketika perawat membuat gerakan / suara di sekitar pasien. kurang.2+ 33.1 15 – 25 19 – 48 0 -12 40 – 74 1 – 3.3 42.9 4. 13.3 7.7 34.0 O Satuan 10 /ul 106/ul g/dl % fL fL Pg 103/ul fL fL fL % % % % 103/ul 103/ul 103/ul 3 Nilai normal 9-30 3.menelan dengan sempurna ASI yang diberikan dan selalu ada ASI yang keluar dari mulutnya. Reflek Menelan . namun genggaman masih lemah.5 107. pasien kurang merespon. Data Penunjang Hasil Laboratorium tanggal 29 Mei 2013 jam 16.5 – 7 - .8 0. Reflek Tonic Neck (Menoleh).7 47 – 75 80 – 99 27 – 31 33 – 37 150 – 450 35 – 45 9 – 13 7. Reflek Grasping (Menggenggam) .9 – 23. Reflek Babinski (Sentuhan Telapak Kaki).7 21.8 58. pasien akan menarik kakinya ke atas.6+ 36.7 3.7 – 6. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 12 13 14 15 16 16 17 WBC RBC HGB HCT MCV MCH MCHC PLT RDW PDW MPV P-LCR LYM% MXD% NEUT% LYM# MXD# NEUT# Gol Darah 47 Pemeriksaan Hasil 11.5 14.95 14. ketika perawat meletakkan jari telunjuknya ke tangan pasien. d.36 WIB.6 358 AG 69 11. jika diberi munim lewat spuit maka ASI kan keluar sebagian dari mulutnya. e. pasien dapat menggenggam jari telunjuk perawat. c.06.7 0 – 1.1 9. f.

Retraksi dada (+) .retraksi dalam (+) .5 mg (hari 2) 31-05-2013 O2 NCPAP 35% PEEP 5 Infus TPN IL Injeksi : Ampicillin-Sulbactam 2x85 mg (hari 2) Gentamicyn 1x7.Tarikan intercosta (+) .14. .suara nafas ronki sianosis (-) Data Subjektif . Terapi 29-05-2013 : O2 NCPAP 40% PEEP 5 Infus D10% 6 cc/jam Injeksi : Ampicillin-Sulbactam 2x85 mg (hari 1) Gentamicyn 1x7.takipnea (+).KU: Lemah 48 .5 mg (hari 2) DATA FOKUS Data Objektif .5 mg (hari 1) 30-05-2013: O2 NCPAP 40% PEEP 5 Infus D10% 6 cc/jam Injeksi : Ampicillin-Sulbactam 2x85 mg (hari 2) Gentamicyn 1x7.

Mukosa bibir kering .BB:1650gr .Terpasang O2 NCPAP 40 % PEEP 5 l/mnt .HR = 186 x/menit .akral dingin .RR = 68 x/menit .70 C . terdapat lanugo di dahi dan di pipi.Terpasang OGT minum 4ccx8 .Terpasang infus umbilikalis 49 .Reflek hisap dan menelan lemah .Suhu = 36.Pasien terdapat di inkubator .Kulit bayi tipis..

Suhu = 36.retraksi dalam (+) .DO : Retraksi dada (+) .KU: Lemah .DO : Retraksi dada (+) . tidak berfungsinya ventilator .RR = 68 x/menit .Terpasang O2 NCPAP 40 % PEEP 5 l/mnt 50 .Tarikan intercosta (+) .KU: Lemah . . .70 C . Data Fokus .suara nafas ronki sianosis Problem Gangguan pertukaran gas Etiologi imaturitas paru dan neuromuskular.Terpasang O2 NCPAP 40 % PEEP 5 l/mnt 2 .takipnea (+).70 C .Suhu = 36.ANALISA DATA No 1.retraksi dalam (+) .Tarikan intercosta (+) .RR = 68 x/menit .HR = 186 x/menit . defisiensi surfaktan dan ketidakstabilan alveolar .takipnea (+).HR = 186 x/menit .suara nafas ronki sianosis Tidak efektifnya pola nafas Ketidaksamaan nafas bayi dan ventilator.

Kulit bayi tipis.Mukosa bibir kering .Terpasang OGT minum 4ccx8 .. 4. B..BB:1650gr Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ketidakmampuan menghisap. penurunan motilitas usus. defisiensi surfaktan dan ketidakstabilan alveolar. 51 . Gangguan pertukaran gas b.DO : Pasien terdapat di inkubator .3. .akral dingin Resiko tinggi gangguan termoregulasi : hipotermi belum terbentuknya lapisan lemak pada kulit. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1.d imaturitas paru dan neuromuskular.DO : Reflek hisap dan menelan lemah . . terdapat lanugo di dahi dan di pipi.

R: memastikan posisi sesuai dengan yang diinginkan dan mencegah terjadinya distres pernafasan. d. kenali tanda-tanda distres misalnya: mengorok. INTERVENSI KEPERAWATAN 1.d imaturitas paru dan neuromuskular. Posisikan untuk pertukaran udara yang optimal. Gangguan pertukaran gas b. pernafasan cuping hidung. Lakukan penghisapan 52 .Jalan nafas bersih Frekuensi jantung 100-140 x/i Pernapasan 40-60 x/i Takipneu atau apneu tidak ada Sianosis tidak ada Pasien dapat mempertahankan jalan nafas dengan bunyi nafas yang jernih dan ronchi (-) Intervensi a.2. C. c. b. tempatkan pada posisi telentang dengan leher sedikit ekstensi dan hidung menghadap keatap dalam posisi ’mengendus’ R: untuk mencegah adanya penyempitan jalan nafas. tidak berfungsinya ventilator 3. apnea. Resiko tinggi gangguan termoregulasi : hipotermi b. Tidak efektifnya pola nafas yang berhubungan dengan ketidaksamaan nafas bayi dan ventilator. Hindari hiperekstensi leher R: karena akan mengurangi diameter trakea. defisiensi surfaktan dan ketidakstabilan alveolar. penurunan motilitas usus. Observasi adanya penyimpangan dari fungsi yang diinginkan . Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan pola nafas efektif. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan menghisap. KH: . 4.d belum terbentuknya lapisan lemak pada kulit.

khususnya tekanan inspirasi puncak dan oksigen R: mencegah hipoksemia dan distensi paru yang berlebihan. albuteal dan mukolitik R:Diberikan untuk mengurangi bronchospasme. Penghisapan selang endotrakeal sebelum pemberian surfaktan R: memastikan bahwa jalan napas bersih f. Turunkan pengaturan. e. menurunkan viskositas sekret dan meningkatkan ventilasi 2. ultrasonik nabulasasi R:Dapat berfungsi sebagai bronchodilatasi dan mengeluarkan sekret k. Kolaboratif i. Berikan bronchodilator misalnya : aminofilin. Observasi peningkatan pengembangan dada setelah pemberian surfaktan. cairan IV . tempatkan di kamar humidifier sesuai indikasi R: meningkatkan transport oksigen j. Hindari penghisapan sedikitnya 1 jam setelah pemberian surfaktan R: meningkatkan absorpsi ke dalam alvelolar g. R: menilai fungsi pemberian surfaktan. tidak berfungsinya ventilator Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1x24 jam pola nafas dapat menjadi efektif KH: Frekuensi jantung 100-140 x/i Pernapasan 40-60 x/i Takipneu atau apneu tidak ada Sianosis tidak ada Tidak ada pernafasan cuping hidung Tindakan : Independen 53 . Berikan oksigen. dan selang endotrakeal.R: menghilangkan mukus yang terakumulasi dari nasofaring.Berikan therapi aerosol. ventilator. Tidak efektifnya pola nafas yang berhubungan dengan ketidaksamaan nafas bayi dan ventilator. trakea. h.

Catat ada tidaknya suara nafas dan adanya bunyi nafas tambahan seperti crakles. Wheezing terjadi karena bronchokontriksi atau adanya mukus pada jalan nafas c. antibiotik. cyanosis perifer seperti pada kuku dan ekstremitas adalah vasokontriksi.a. dan ketidakmampuan beristirahat R:Hipoksemia dapat menyebabkan iritabilitas dari miokardium e. Tanda cyanosis dapat dinilai pada mulut. d. Berikan istirahat yang cukup dan nyaman R:Menyimpan tenaga pasien. confusion. Crakles terjadi karena peningkatan cairan di permukaan jaringan yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas membran alveoli – kapiler. bronchodilator dan ekspektorant R:Untuk mencegah ARDS 54 . jika ada indikasi seperti steroids. Berikan humidifier oksigen dengan masker CPAP jika ada indikasi R:Memaksimalkan pertukaran oksigen secara terus menerus dengan tekanan yang sesuai g. Observasi adanya somnolen. Kaji status pernafasan. catat peningkatan respirasi atau perubahan pola nafas R:Takipneu adalah mekanisme kompensasi untuk hipoksemia dan peningkatan usaha nafas b. dan wheezing R:Suara nafas mungkin tidak sama atau tidak ada ditemukan. Kolaborasi dengan dokter pemberikan obat. bibir yang indikasi adanya hipoksemia sistemik. apatis. Berikan pencegahan IPPB R:Peningkatan ekspansi paru meningkatkan oksigenasi h. Review X-ray dada R:Memperlihatkan kongesti paru yang progresif i. mengurangi penggunaan oksigen Kolaboratif f. Kaji adanya cyanosis R:Selalu berarti bila diberikan oksigen (desaturasi 5 gr dari Hb) sebelum cyanosis muncul.

c. selang tidak akan memproduksi gelembung R: Untuk mencegah masuknya makanan ke saluran pernafasan d. penurunan motilitas usus. Berikan infus D 10% W sekitar 65 – 80 ml/kg bb/ hari R: Untuk menggantikan kalori yang tidak didapat secara oral b. Pasang selang nasogastrik atau orogastrik untuk dapat memasukkan makanan jika diindikasikan atau untuk mengevaluasi isi lambung R:Pilihan ini dilakukan jika masukan sudah tidak mungkin dilakukan. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan menghisap. Cek lokasi selang NGT dengan cara : Aspirasi isi lambung Injeksikan sejumlah udara dan auskultasi masuknya udara pada lambung Letakkan ujung selang di air. Berikan makanan sesuai dengan prosedur berikut : Elevasikan kepala bayi Berikan ASI atau susu formula dengan prinsip gravitasi dengan ketinggian 6– 8 inchi dari kepala bayi Berikan makanan dengan suhu ruangan Tengkurapkan bayi setelah makan sekitar 1 jam R: Memberikan makanan tanpa menurunkan tingkat energi bayi e.3. Tujuan : Setelah dilakukan Tindakan Keperawatan dalam waktu 3x24 jam intake nutrisi dapat terpenuhi KH: -Bayi dapat minum dengan baik BC seimbang Berat Badan Bayi tidak turun lebih dari 10% Kemampuan menghisap dan menelan Bayi terlatih Intervensi Rasional a. bila masuk lambung. Monitor intake cairan dan output dengan cara : Timbang berat badan bayi setiap 8 jam 55 .

Kriteria Hasil : Suhu 36. Tempatkan bayi pada tempat yang hangat(incubator) R : Mencegah terjadinya hipotermi b.d belum terbentuknya lapisan lemak pada kulit. Berikan TPN jika diindikasikan R: TPN merupakan metode alternatif untuk mempertahankan nutrisi jika bowel sounds tidak ada dan infants berada pada stadium akut.Ganti gedong bayi jika basah R:Menghindari kehilangan panas bayi melaui perpindahan panas D. Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan suhu tubuh tetap normal.- Timbang popok bayi untuk menentukan urine output Tentukan jumlah BAB Monitor jumlah asupan cairan infus setiap hari R:Catatan intake dan output cairan penting untuk menentukan ketidak seimbangan cairan sebagai dasar untuk penggantian cairan f.5 °C Bayi tidak kedinginan Intervensi dan Rasional : a. Pantau suhu tubuh setiap 2 jam R : Memonitor perkembangan suhu tubuh bayi d.Dx Tindakan Keperawatan Respon pasien ttd 56 . Atur suhu incubator R : Menjaga kestabilan suhu tubuh c. 4. Resiko tinggi gangguan termoregulasi : hipotermi b.5-37. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Pukul No.

ASI 5 cc dimasukan melalui OGT . dan memasukan asi sesuai diet pasien. ASI 5 cc dimasukan melalui OGT .Tak ada suara tambahan yang abnormal. DO : .Pasien tampak mengunyah-ngunyah selang OGT ketika ASI dimasukan DS : - 12.Terdapat retraksi dada .00 WIB 3 Mengganti popok pasien karena pasien BAB DO : .Pasien tampak mengunyah-ngunyah selang OGT ketika ASI dimasukan DS : - 14.Tak ada gerakan cuping hidung.00 wib 3 Mengecek residu lambung.Kulit tidak sianosis DS : - 12. .00 WIB 1 Observasi RR pasien. jumlah kurang lebih satu sendok makan.Residu 1 cc lendir berwarna putih keruh dibuang.Pasien menanggis. DO : RR = 54 x/menit .15 WIB 3 Mengecek residu lambung. adanya retraksi dada. konsistensi lembek. warna feces coklat. adanya suara tambahan/tidak. . DO : . suara nafas vesikuler.13 Januari 2013 Jam 10. dan memasukan asi sesuai diet pasien.Residu 1 cc lendir berwarna putih keruh dibuang. DS : - 57 .

HR DO : Suhu : 36.2.Pasien tenang. Kulit tidak mengalami sianosis.4 2 Mengganti popok pasien karena pasien BAK DS : Mengukur suhu .00 WIB 21. DO : .15 WIB 1. akral hangat. ASI 5 cc dimasukan melalui OGT DS : - 16.4 Mengukur suhu . ASI 5 cc dimasukan melalui OGT .5 0C RR : 48 x/Menit HR : 154 x/menit DS : 18.00 WIB 1 Memberikan terapi O 2 DO : . DO : . Memonitor warna 58 . RR.00 WIB 4 Memberikan terapi obat Injeksi cefotaxime 70 mg DS : 21. urine berwarna kuning.00 WIB 3 Mengecek residu lambung.00 WIB 3 Mengecek residu lambung.15. HR DO : Suhu : 36.Obat injeksi cefotaxime 70 mg masuk melalui IV/Infus DO : .Pasien tampak mengunyah-ngunyah selang OGT ketika ASI dimasukan DS : 20. dan memasukan sesuai diet pasien. warna kulit kemerahan headbox 2 liter/menit Memonitor tanda-tanda sianosis.2. DO : .Residu 0.Pasien terpasang headbox 2 liter/menit. RR.8 0C RR : 44 x/Menit HR : 150 x/menit DS : 23.00 WIB 1. dan memasukan sesuai diet pasien.Residu 1 cc lendir.5 cc lendir bening dibuang.

00 WIB Tanggal 14 Januari 2013 03.15 WIB 1. mengganti popok dengan popok yang bersih.00 WIB 4 Memberikan terapi obat Injeksi cefotaxime 70 mg Gentamicine 7 mg DO : . popok sudah diganti dengan yang besih.00 WIB 2. melakukan perawatan tali pusat. dan memasukan sesuai diet pasien. ASI 5 cc dimasukan melalui OGT DS : DO : . tidak terjadi infeksi pada tali pusat.Pasien terpasang headbox 59 .kulit 24. dan memasukan sesuai diet pasien. 4 Menyibin pasien dengan air hangat.00 1 Memberikan terapi O2 DO : . tali pusat kuning segar.Pasien menangis ketika disibin dengan air hangat. DS : - 08.Residu 0.00 WIB 3 Mengecek residu lambung.Obat injeksi cefotaxime 70 mg dan Gentamicine 7 mg masuk melalui IV/Infus DS : - 08. RR.5 0C RR : 40 x/Menit HR : 148 x/menit DS : - 09.Residu 1.00 WIB 06. HR DO : Suhu : 36. ASI 5 cc dimasukan melalui OGT DS : - 07.2. 3 Mengecek residu lambung.5 cc lendir bening dibuang.4 Mengukur suhu . mengobservasi tandatanda infeksi pada tali pusat DO : . 2 Memonitor suhu inkubator DS : DO : Suhu inkubator 35 0C DS : DO : .5 cc lendir berwarna putih keruh dibuang.

Kulit tidak mengalami sianosis. warna kulit kemerahan DS : DO : .15 WIB 3 3 Memonitor suhu inkubator. Memonitor warna kulit 4.00 WIB 1 Observasi RR pasien. adanya retraksi dada. suara nafas vesikuler.Terdapat retraksi dada .15 WIB 3 Mengecek residu lambung. ASI 5 cc dimasukan melalui OGT DS : - 09.Kulit tidak sianosis DS : - 12. Memonitor warna kulit DS : - 2 liter/menit. akral hangat.Pasien terpasang headbox 2 liter/menit. 12. adanya suara tambahan/tidak.Tak ada kemerahan pada area umbilikal tempat pemasangan infus DS : DO : . Kulit tidak mengalami sianosis.00 WIB 10. dan memasukan sesuai diet pasien. dan memasukan asi sesuai DO : .Tak ada gerakan cuping hidung. warna kulit kemerahan DO : . akral hangat. .Suhu inkubator 350 C DS : DO : . .WIB headbox 2 liter/menit Memonitor tanda-tanda sianosis. Mengecek residu lambung. 10.Residu 1 cc lendir berwarna putih keruh 60 . DO : RR = 54 x/menit .R esidu 1 cc lendir berwarna putih keruh dibuang. Memantau adanya kemerahan atau pembengkakan pada area pemasangan infus.00 WIB 1 Memberikan terapi O2 headbox 2 liter/menit Memonitor tanda-tanda sianosis.Tak ada suara tambahan yang abnormal.

DO : . ASI 5 cc dimasukan melalui OGT DS : - 16.Pasien menanggis.diet pasien.00 WIB 1.Pasien tampak mengunyah-ngunyah selang OGT ketika ASI dimasukan DS : 20.00 WIB 3 Mengecek residu lambung. ASI 5 cc dimasukan melalui OGT . warna feces coklat.Pasien tampak mengunyah-ngunyah selang OGT ketika ASI dimasukan DS : - 14. dibuang.00 WIB 4 Memberikan terapi obat Injeksi cefotaxime 70 mg DS : DO : . RR.Residu 0.00 WIB 3 Mengganti popok pasien karena pasien BAB DO : . DS : - 15.2.00 WIB 3 Mengecek residu lambung. DO : .5 0C RR : 48 x/Menit HR : 154 x/menit DS : 18.5 cc lendir bening dibuang. HR DO : Suhu : 36.Residu 1 cc lendir. jumlah kurang lebih satu sendok makan.4 Mengukur suhu . ASI 5 cc dimasukan melalui OGT . konsistensi lembek. dan memasukan sesuai diet pasien. dan memasukan sesuai diet pasien.Obat injeksi cefotaxime 70 mg masuk melalui IV/Infus 61 .

mengobservasi tanda- DO : .21. ASI 5 cc dimasukan melalui OGT DS : - headbox 2 liter/menit Memonitor tanda-tanda sianosis.00 WIB 2 3 Memonitor suhu inkubator Mengecek residu lambung.5 cc lendir bening dibuang. urine berwarna kuning.2. RR.00 WIB Tanggal 15 Januari 2013 Jam 03. melakukan perawatan tali pusat.Residu 1. warna kulit kemerahan DS : DO : Suhu inkubator 35 0C DS : DO : .Residu 0. akral hangat.00 WIB 1 Memberikan terapi O 2 DO : .Pasien menangis ketika disibin dengan air hangat.4 Mengukur suhu . HR 23. 3 Mengecek residu lambung. dan memasukan sesuai diet pasien.8 0C RR : 44 x/Menit HR : 150 x/menit DS : - 1.5 cc lendir berwarna putih keruh dibuang.00 WIB 2. Memonitor warna kulit 24.15 WIB 2 Mengganti popok pasien karena pasien BAK DO : . Kulit tidak mengalami sianosis.Pasien terpasang headbox 2 liter/menit. 4 Menyibin pasien dengan air hangat.Pasien tenang. tali pusat kuning 62 . mengganti popok dengan popok yang bersih. dan memasukan sesuai diet pasien. DS : DO : Suhu : 36.00 WIB 06. DO : . ASI 5 cc dimasukan melalui OGT DS : - 07. popok sudah diganti dengan yang besih.00 WIB 21.

Kulit tidak mengalami sianosis. Mengecek residu lambung. HR segar. dan memasukan sesuai diet pasien. 63 . Memonitor warna kulit DO : .00 WIB 4 Memberikan terapi obat Injeksi cefotaxime 70 mg DS : 08.00 WIB 10.5 0C RR : 40 x/Menit HR : 148 x/menit DS : - 09.15 WIB 1. akral hangat.Obat injeksi cefotaxime 70 mg masuk melalui IV/Infus DO : Suhu : 36. ASI 5 cc dimasukan melalui OGT 09. RR. 10. Kulit tidak mengalami sianosis.15 WIB 3 3 Memonitor suhu inkubator.00 WIB 1 Memberikan terapi O2 headbox 2 liter/menit Memonitor tanda-tanda sianosis.4 Mengukur suhu . DO : .2. tidak terjadi infeksi pada tali pusat. Memonitor warna kulit 4. Memantau adanya kemerahan atau pembengkakan pada area pemasangan infus.Residu 1 cc lendir berwarna putih keruh dibuang.Suhu inkubator 350 C DS : DO : .Tak ada kemerahan pada area umbilikal tempat pemasangan infus DS : DO : . warna kulit kemerahan DS : DO : . warna kulit kemerahan DS : DO : .00 WIB 1 Memberikan terapi O2 headbox 2 liter/menit Memonitor tanda-tanda sianosis.Pasien terpasang headbox 2 liter/menit.tanda infeksi pada tali pusat DS : 08. akral hangat.Pasien terpasang headbox 2 liter/menit.

Lanjutkan Intervensi .Terdapat retraksi dada Terpasang O2 headbox 2 ltr/mnt terdapat sianosis A : .Monitor retraksi dada. EVALUASI No 1.RR=55x/menit .00 WIB Dx I S : O : .Monitor vitalsign .Tidak terdapat pernapasan cuping hidung . 15 Januari 2013 III S:tidak Evaluasi 64 .80 C .Monitor adanya tanda-tanda sianosis .Tidak terjadi sianosis A : Masalah teratasi P : Pertahankan Intervensi 3.HR : 147x/m .Pasien ditempatkan dalam incubator dengan suhu incubator 350 C .RR : 55x/m .Suara napas vesikuler .Tidak terdapat suara tambahan pernapasan .Akral hangat . 15 Januari 2013 12.00 WIB II S : O : .Lanjutkan terapi O2 headbox 2 ltr/mnt 2. Tanggal/jam 15 Januari 2013 12.Suhu pasien 36.DS : - E. adanya suara napas tambahan .Masalah teratasi sebagian P : .

BB 1400 gram .tidak terdapat kemerahan pada area umbilikul pemasangan infuse .Timbang BB / hari 4.00 WIB O : .Pantau adanya tanda-tanda infeksi .00 WIB IV S :O : .RR : 55 x/m .Cek residu setiap 3 jam .80 C A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan Intervensi .HR : 147 x/m .Suhu : 36.Reflek menghisap dan menelan masih lemah A : Masalah belum teratasi P : Lanjutkan Intervensi Monitor Vitalsign .Monitor Vitalsign .ASI 5 cc masuk melalui OGT .Laksanakan terapi injeksi cefotaxime 70 mg/12 jam dan gentamicin 7 mg/36 jam 65 . 15 Januari 2013 12.12.Pantau intake ASI .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful