SIFAT LARUTAN

• Sifat Koligatif Larutan
• Sifat fisik larutan yang hanya bergantung pada konsentrasi zat terlarut, bukan pada jenisnya. • Untuk mengetahui sejauh mana sifat suatu larutan berubah dibandingkan pelarut murninya ketika dimasukkan sejumlah zat terlarut  hukum sifat koligatif  hanya berlaku untuk larutan ideal.

LARUTAN IDEAL
• Larutan yang memiliki gaya tarik-menarik antarmolekul solut dan solvennya sama dengan gaya tarik antara molekul-molekul solut dan solvennya masing-masing. • Larutan Ideal hanya bersifat hipotetis, keberadaannya hanya dapat didekati oleh larutan nyata yang sangat encer atau dua zat dengan struktur kimia yang hampir sama. • Contoh : metanol – etanol benzena – toluena n-heksana – n-heptana etil bromida – etil iodida

• Larutan-larutan yang mengandung jumlah partikel terlarut sama  memperlihatkan sifat koligatif yang sama. •Pengaruh jenis zat terlarut  hanya pada zatzat yang membentuk ion. •Aplikasi sifat koligatif larutan : menentukan konsentrasi larutan menentukan massa molekul zat terlarut

Sifat koligatif larutan: – Penurunan tekanan uap – Kenaikan titik didih – Penurunan titik beku – Tekanan osmotik Sifat koligatif larutan : – Non elektrolit – Elektrolit .

Larutan elektrolit dalam air terurai menjadi partikel-partikel bermuatan listrik (ion ) Muatan masing-masing ion = valensi ion Jumlah muatan positif = jumlah muatan negatif Larutan elektrolit tidak selalu terurai sempurna sehingga membentuk kesetimbangan dengan molekul-molekul yang tidak terurai.Zat yang dalam larutan/leburannya dapat menghantarkan listrik: Elektrolit. Arrhenius (1887)  teori disosiasi elektrolit. .

Penurunan Tekanan Uap • Tekanan uap  ukuran kecenderungan molekul cairan untuk menguap. Karena pada permukaan larutan terdapat interaksi antara zat terlarut dan pelarut  laju penguapan pelarut berkurang. • Pada suhu tertentu  tekanan uap pelarut murni P0 atm dan tekanan uap larutan P atm • Raoult  solut non volatil menyebabkan penurunan tekanan uap : ΔP = P0 .P . Akibatnya  tekanan uap larutan menurun  selisih antara tekanan uap pelarut murni dengan tekanan uap larutan. • Semakin mudah molekul cairan menguap  semakin besar tekanan uapnya. • Bila ke dalam suatu pelarut dilarutkan zat yang sukar menguap  tekanan uap menjadi lebih rendah dibandingkan tekanan uap pelarut murninya.

Untuk larutan ideal berlaku hukum Raoult : • P = x1 P0 (x1 = 1 – x2) ΔP = x2 P0 • X1= fraksi mol pelarut • X2= fraksi mol zat terlarut • Penurunan tekanan uap berbanding lurus dengan fraksi mol zat terlarut. .

Dalam larutan.LARUTAN NON IDEAL Larutan yang tidak memenuhi atau menyimpang dari hukum Raoult disebut larutan non ideal. molekul dari tiap zat terikat lebih lemah. sehingga lebih mudah menguap daripada keadaan murninya. 1. Larutan non ideal (deviasi positif) Disebabkan gaya tarik antara molekul yang berbeda lebih kecil daripada gaya tarik antara molekul yang sama. .

molekul dari tiap zat terikat lebih kuat. Tekanan parsial masing-masing lebih kecil dari yang diperkirakan hukum Raoult  deviasi negatif.tekanan parsial masing-masing lebih besar dari yang diperkirakan hukum Raoult  deviasi positif. sehingga lebih sulit menguap daripada keadaan murninya. Pembentukan larutannya melepaskan panas (eksoterm) Contoh : aseton-kloroform .Larutan non ideal (deviasi negatif) Disebabkan gaya tarik antara molekul yang berbeda lebih besar dari gaya tarik antara molekul yang sama. Dalam larutan. Pembentukan larutannya menyerap panas (endoterm) Contoh : eter dan CCl4 2.

Gaya tarikmenarik relatif A-B = A-A.B-B Kalor Pelarutan Nol Penyimpangan Hukum Raoult Tidak ada Contoh Benzena-toluena Etil bromida-etil iodida Etanol-metanol Eter-CCl4 Etanol-heksana Aseton-CS2 A-B < A-A.B-B Positif (Endoterm) Positif A-B > A-A.B-B Negatif (Eksoterm) Negatif Aseton-kloroform Aseton-air Air-asam nitrat .

.

• Kenaikan titik didih  tergantung molalitas solut dalam larutan (jumlah mol solut diabaikan terhadap terhadap jumlah mol solven). • Jika cairan dididihkan  harus dipanaskan sampai suhu di atas titik didih normal agar tekanan uap cairan = tekanan uap solven murni. • Akibatnya  tekanan uap solven kurang dari 1 atm. . • Penambahan solut yang non volatil  tekanan uap larutan menurun.Kenaikan Titik Didih • Titik didih : suhu pada saat tekanan uap jenuh cairan = tekanan udara luar (titik didih normal).

1 76.95 80.75 100 .2 78.51 titik didih (oC) 118.71 2.63 1.7 61.Kenaikan Titik Didih : ∆Tb =Kbm (Kb = tetapan titik didih molal) solven Asam asetat Aseton Benzena Karbon tetraklorida Kloroform Etanol Naftalena Fenol air Kb(oC/mol) 2.92 3.1 55.22 6.53 5.56 0.03 3.93 1.4 218 181.

• Penambahan solut non volatil  fase padat akan masuk pada fase cair  kesetimbangan akan didapat jika suhu diturunkan • Penurunan titik beku sebanding dengan konsentrasi solut yang ditambahkan : ΔTf = kf m (kf = tetapan titik beku molal) – Penentuan penurunan titik beku  termometer Beckmann .Penurunan Titik Beku • Titik beku : suhu pada saat fase padat solven murni dan fase cair dari larutan berada dalam kesetimbangan pada 1 atm.

99 4.Daftar tetapan titik beku molal beberapa solven solven Air Etanol Benzena Asam asetat Fenol Naftalen Kloroform Karbon tetraklorida Nitrobenzena Kf 1.90 3.86 1.9 80.7 .40 6.2 -64.0 7.80 30.92 4.90 7.0 Tf 0 -115.6 40.0 -22.0 5.46 16.0 5.

gelatin. • Jika aliran solven terus bertambah ( larutan sangat encer). . Contoh : kertas perkamen. selulosa asetat. maka selaput pecah (tidak terjadi kesetimbangan). • Tekanan osmosis : tekanan yang harus diberikan pada larutan untuk mencegah aliran solven ke dalam larutan (agar volume konstan). membran sel organisma. • Membran semipermiabel  selaput berpori yang hanya dapat dilalui partikel solven.Osmosis • Osmosis : difusi solven dari larutan konsentrasi rendah ke larutan konsentrasi tinggi melalui membran semipermiabel.

Teori Osmossis • Teori tumbukan molekul solven murni dan molekul solven dalam larutan saling bertumbukan juga menumbuk membran. . Agar terjadi kesetimbangan tekanan  molekul solven murni mengalir ke larutan  terjadi tekanan yang arahnya berlawanan. • Teori tekanan uap Tekanan uap solven murni lebih tinggi dari tekanan uap larutan. Aliran solven murni lebih sedikit terjadi perbedaan tekanan akibat tumbukan.

0821 L atm/mol K • T = suhu absolut (K) .Hukum Tekanan Osmosis : л = M R T • Л = tekanan osmotik (atm) • M = molaritas larutan (mol/L) • R = tetapan gas 0.

Bila merkuri diganti dengan air. maka air akan naik setinggi 25 m.86 m. Tekanan osmotik dalam sel tumbuhan adalah 4050 atm. Contoh : larutan 0. menimbulkan tekanan osmotik sebesar 2.1 M pada 298 K.45 atm  mampu mengangkat merkuri setinggi 1.Tekanan osmotik. . meskipun pada larutan encer sangat besar.

• Secara kuantitatif.Sifat koligatif larutan elektrolit • Sifat koligatif abnormal  lebih besar. . pengaruh ionisasi larutan elektrolit dikemukakan oleh Van’t Hoff dengan faktor i . • Faktor i adalah perbandingan harga sifat koligatif larutan elektrolit dengan harga sifat koligatif larutan non elektrolit pada konsentrasi yang sama.

Derajat ionisasi () bagian dari 1 mol zat elektrolit yang terinonisasi menjadi ion-ionnya mol zat yang dilarutkan  = mol zat yang terionisasi Elektrolit kuat  = 1 Non elektrolit  = 0 Elektrolit lemah 0 <  < 1 .

• Untuk larutan non elektrolit. maka semakin besar nilai i. pada semua konsentrasi i akan bernilai 1. semakin besar pula sifat koligatif yang ditunjukkan. karena derajat ionisasi (α = 0) • Karena sifat koligatif hanya bergantung pada jumlah partikel. i = { 1 + (n – 1) α .

m.m. (1+ (n-1) ) P = Po .T.XB.(1+ (n-1) )  = C. (1+ (n-1) ) n = jumlah ion dr zat elektrolit  = derajat ionisasi .R.(1 + (n-1) ) Tf = Kf.Hukum Raoult tidak berlaku untuk larutan elektrolit  yang berlaku hukum Van’t Hoff Tb = Kb.

NH4Cl~ 2x CaCl2. K2SO4 ~ 3x K3Fe(CN)6).Contoh : HCl. AlCl3~4X Penurunan tekanan ΔP = x2 P0 uap Kenaikan titik didih ΔTb = kbm ΔP = x2 P0 i ~ ΔTb = kbm i Penurunan titik beku Tekanan osmotik ΔTf = kf m ΔTf = kf m i л=MRT л=MRTi .

• Plasma biasanya isotonik atau sedikit hipotonik dengan sel darah. sehingga osmosis dapat terjadi. Zat ini berperan dalam menjaga tekanan osmotik darah.OSMOSIS DALAM DARAH • Salah satu fraksi paling besar dalam plasma adalah albumin serum. • Dari hasil percobaan.65 atm pada suhu 370. . diperoleh bahwa plasma memiliki tekanan osmotik 7.

9%. jika larutan infus hipotonis.• Di rumah sakit. Peristiwa ini disebut krenasi. yaitu air masuk ke dalam sel darah yang menyebabkan sel mengelmbung dan pecah. • Jika larutan infus bersifat hipertonik. maka akan terjadi hemolisis. maka air akan keluar dari sel darah sehingga sel akan mengkerut dan rusak. larutan infus yang dimasukkan ke dalam tubuh pasien secara intervena haruslah bersifat isotonik dengan sel-sel darah. . Contoh larutan intervena yang bersifat isotonik terhadap sel darah adalah larutan NaCl 0. • Sebaliknya.

banyak atau sedikit. • Bila tekanan osmosis plasma berubah-ubah berarti fungsi ginjal dan hati tidak normal. yang mengatur gula dalam darah. . tergantung susunan darah • Selain itu juga dipengarui oleh hati.• Tekanan osmotik darah sangat dipengaruhi oleh kerja ginjal. yang mengeluarkan urine.

yaitu molekul zat tertentu saja yang dapat menembus.OSMOSIS PADA TUMBUHAN • Sel-sel tumbuhan selain dibangun oleh dinding sel yang bersifat permeabel. • Membran sel ini tidak sekedar bersifat semipermeabel. osmosis terjadi melalui bulubulu akar dan sel-sel akar. . juga dibangun oleh membran sel dari lemak dan protein. tetapi juga selektif permeabel. • Pada tumbuhan. sedangkan molekul zat lain tidak dapat menembus walaupun berukuran lebih kecil.

Begitu pula. memiliki tekanan osmotik lebih tinggi. sehingga air akan masuk ke sel akar untuk kemudian diedarkan ke seluruh bagian jaringan tanaman sampai sel daun. • Larutan berkonsentrasi tinggi (hipertonik). . larutan yang konsentrasinya rendah (hipotonik). memiliki tekanan osmotik lebih rendah. • Osmosis berlangsung dari sel ke sel berikutnya dengan arah dan besar tekanan yang berbeda sesuai konsentrasinya.• Sel-sel akar memiliki konsentrasi lebih tinggi dibandingkan larutan yang berada di luar sel (dalam tanah).

plasma akan terlepas dari dinding sel  plasmolisis. sehingga plasma akan menyusut.• Jika dua larutan memiliki tekanan osmotik sama (konsentrasi sama). • Apabila sel tumbuhan ditempatkan dalam larutan yang hipertonik terhadap inti sel. maka antara kedua larutan itu tidak akan terjadi osmosis. . Kedua larutan itu dinamakan isotonik. maka air akan keluar dari isi sel. Jika hal ini berlangsung terus-menerus.

sehingga menjadi mengembang. . • Kecepatan osmosis dipengaruhi oleh beberapa faktor. suhu. berbeda dari tumbuhan yang satu dengan tumbuhan yang lainnya. tekanan. dan permeabilitas membran. yaitu perbedaan konsentrasi. maka air akan masuk kembali ke dalam sel. • Pengaruh osmosis dalam sel tumbuhan.• Jika sel yang telah mengalami plasmolisis dimasukkan ke dalam larutan hipotonik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful