Pendidikan Transformatif

*

Oleh: Ashari Cahyo Edi**

Abstraksi: Potret pendidikan di Indonesia makin hari makin buram. Menurut penulis, ini disebabkan karena pendidikan di Indonesia menganut paradigma liberal. Dalam koridor paradigma ini pendidikan diabdikan bagi kepentingan ekonomi semata. Pendidikan tidak bertujuan untuk pembebasan kemanusiaan. Penulis menguraikan tiga paradigma pendidikan yang lazim berlaku: konservatif, liberal, kritik. Ketiganya membentuk corak kesadaran yang berbeda pula bagi peserta didik. Pendidikan konservatif menghasilkan kesadaran magis; pendididkan liberal menghasilkan kesadaran naif; sebaliknya, berbeda dengan dua paradigma sebelumnya, pendidikan kritik membentuk kesadaran kritis. Model pendidikan banking-yang ignoramus critical karena sekadar

menumpuk pengetahuan nir diseminasi

sense-, tak pelak

menghadirkan sosok generasi yang buta akan penindasan. Kemacetan transformasi sosial dewasa ini, tak lain juga bermula dari pendidikan yang tidak transformatif tersebut.

MENGAPA peduli pada pendidikan? Banyak orang menyebut bahwa antara pendidikan dan perubahan sosial adalah dua hal yang saling terkait dan mempengaruhi. Suatu perubahan kiranya sulit akan terjadi tanpa diawali pendidikan, begitu pula pendidikan yang transformatif tak akan pula terwujud bila tidak didahului dengan perubahan, utamanya, paradigma yang mendasarinya. Bahkan, ada pula yang berpendapat bahwa menyebut perubahan sosial dan pendidikan yang transformatif ibarat menyebut sesuatu dalam satu tarikan nafas: pendidikan taranformatif adalah perubahan sosial dan perubahan sosial adalah pendidikan transformatif. Sungguhkah? Biar lebih jelas, mari kita uraikan bersama.

Perubahan sosial tentu membutuhkan aktor-aktor yang mempunyai pengetahuan. masyarakat termasuk juga kita. bolos sekolah. tidak tahu . melanggar titah orang tua. siapa tahu dengan men-share deretan persoalan yang meresahkan tersebut. yang tentunya kontra ideologi hegemonik. menurut Freire. utamanya di Indonesia. Potret Buram Pendidikan Indonesia Alkisah. mungkin akan berkata. penumpang. Beranjak dari signifikansi utama pendidikan diatas. ada sekelompok siswa sebuah SMU di kota saya nongkrong di terminal bis. mempunyai pendapati cemerlang perihal pendidikan dan kaitannya dengan perubahan sosial1. serta transformatif. Pengalaman sebagai peserta didik selama ini. namun juga kontributif bagi terwujudnya sistem pendidikan yang lebih baik atau bahkan ideal: membebaskan. ataupun teriakan para kenek. nantinya bisa menjadi pemantik diskusi yang tidak saja lebih komprehensif. Ya. Tanpa beban mereka asyik bincang sembari menikmati riuh ramai kendaraan. Dari wajah mereka hampir tak tergurat raut penyesalan karena meninggalkan pelajaran. kritis. pemikir dan aktivis Pendidikan Kritis. nilainilai maupun ideologi. Dengan kesadaran sebagai subjek tersebut manusia dapat memerankan liberative action. Dalam bentuknya yang paling ideal. "Dasar pemalas. kemampuan. tulisan ini disajikan dengan semangat untuk melakukan kritisasi terhadap dunia pendidikan. baik secara sadar maupun tidak sengaja. ditransmisikan kepada para pelaku perubahan sosial. Dengan kesadaran sosial yang dibangun diatas basis relasi intersubjektif rakyat dapat memainkan peranan dalam rekonstruksi tatanan sosial baru yang lebih demokratis. Untuk itu perlu tersedianya suatu media dimana ide-ide. Sepintas. Kesadaran ini secara komunal akhirnya membentuk kesadaran sosial. Tatanan sosial yang demokratis ini menurutnya kondusif bagi humanisme dan pembebasan. pendidikan membangkitkan kesadaran (conscientizacao) diri manusia sebagai subjek. telah memungkinkan saya 'memergoki' sejumlah persoalan yang meresahkan. serta kesadaran akan diri dan posisi strukturalnya. komitmen. Paulo Freire.

ahli hukum dst. bermain. dsb. dan akhirnya hanya menjadi pengikut semua ujar guru yang kurang kreatif sekaligus miskin daya kritis. Pernahkah Anda merasa betapa sekolah demikian membosankan atau bahkan menakutkan? Suatu ketika. mengembangkan potensi dst. teknisi. ide-ide. Sekolah yang kita bayangkan sebagai 'kabin' belajar. Ditambah lagi guru yang otoriter.. tidak up to date. malah menjadi sumber kesusahan dan kegelisahan. Ini disebabkan PR bahasa-nya yang belum juga selesai meski sudah tiga hari dikerjakan. jantung Toni berdebar kencang.menghargai jerih payah orangtua!". yang berujung pada kesadaran terhadap posisi diri di struktur sosial. begini dilarang. Nilai-nilai. preferensi. metode pengajaran yang monoton dan membelenggu. tidak 'sadar diri' sehingga kekuasaan kolonial tidak terancam. sejak minggu lalu Toni ingin bertanya tentang soal yang satu itu. di hari senin pada jam pertama. Pendidikan hanya semata-mata memasukkan peserta didik kedalam sistem yang sudah ada: mencetak dokter. Sejenak terbayang betapa akan malunya Ia terkena marah bapak guru di depan kelas. Akhirnya setiap ada pelajaran bahasa. berteman. Sejak zaman kolonial Belanda. yang loyal terhadap penguasa. Bahkan menjelma menjadi penjara. Sebenarnya. yang ditransmisikan melalui institusi pendidikan dengan sendirinya ditujukan untuk membentuk kesadaran yang menafsirkan . Tujuannya jelas yakni. memang di-setting secara sistematis.. pendidikan yang membelenggu itu merupakan tipikal sistem pendidikan negara jajahan. upaya-upaya yang mencegah tumbuhnya kecerdasan untuk berpikir bebas. teman-teman sekelasnya akan menertawakan ketidaktahuannya. akuntan. menjaga agar masyarakat di Hindia Belanda tetap bodoh. Diantara kita banyak yang pernah mengalami masalah semacam itu. Sistem pendidikan dengan sendirinya menjadi instrumen untuk melanggengkan kekuasaan. Namun Ia takut. daya kritis terhadap realitas. Suatu hal yang lumrah tapi belum tentu benar.. begitu dilarang. Kalau dilihat lebih cermat. Ilustrasi diatas bukan sebatas rekaan belaka. kian membuat peserta didik tidak bebas mengembangkan potensi. ruangan kelas seolah menjadi tempat yang paling tidak aman baginya.

Dalam konteks kekinian dimana penjajahan tidak lagi menemui bentuknya yang paling primitif. karena perubahan hanya akan membuat manusia lebih sengsara saja. mustahil bisa dihindari serta sudah merupakan ketentuan sejarah atau takdir Tuhan.penindasan terhadapnya sebagai hal yang wajar. Paradigma ini berangkat dari asumsi bahwa ketidaksederajatan masyarakat merupakan suatu keharusan alami. karakter pendidikan tetap stagnan. hanya Tuhan lah yang merencanakan keadaan masyarakat dan hanya dia yang tahu makna dibalik itu semua. sistem pendidikan dengan sendirinya mengabdi pada kepentingan modal. tatkala Barat kembali hadir dengan kekuatan ekonominya. Pada dasarnya masyarakat tidak bisa merencanakan perubahan atau mempengarhui perubahan sosial. yakni orang orang miskin. Pendek kata. ada tiga paradigma3 pendidikan yang dapat memberi peta pemahaman mengenai paradigma apa yang menjadi pijakan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang berdampak sangat serius terhadap perubahan sosial. nasib pendidikan tak jauh-jauh amat dari sebelumnya: membangun komformitas kesadaran peserta didik terhadap struktur yang sedang berlaku.4 Pertama. kaum konservatif tidak menganggap rakyat memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk merubah kondisi mereka. Visi dan misi pendidikan yang tercermin dalam kurikulum orientasinya cuma satu: bagaimana mencetak lulusan yang akseptabel terhadap pasar. Meski dibalut modernitas zaman yang kemilau dengan sains mutakhir hingga teknologi canggih. kaum tertindas dan . di era Kapitalisme berkuasa ini. baik skill maupun kesamaaan kerangka berpikir. Perubahan sosial bagi mereka bukanlah suatu yang harus diperjuangkan. serta benar baik secara ideologis maupun kultural. paradigma konservatif. Mereka yang menderita. pendidikan di Indonesia dan negara-negara dunia ketiga pada umumnya belum beranjak berubah. Dengan pandangan seperti itu. model pendidikan seperti ini tetap berlangsung hingga sekarang. Dewasa ini. buta huruf. Tiga Paradigma Pendidikan Secara konseptual.2 Sayangnya.

Namun bagi mereka pendidikan sama sekali steril dari persoalan politik dan ekonomi masyarakat. metode pengajaran yang effisien seperti dynamics group. komputerisasi. mengakui bahwa memang ada masalah di masyarakat. Kurikulum sekolah secara jelas bagi kaum konservatif juga tidak ada kaitannya dengan sistem dan struktur sosial diluar sekolah. Kaum Liberal. experimental learning dan sebagainya. Hal-hal tersebut terisolasi dengan struktur kelas dan gender dalam masyarakat. Penyelenggaraan sekolah atau madrasah dalam perspektif dan paradigma konservatif memang terisolasi dari persoalan persoalan kelas maupun gender ataupun persoalan ketidak adilan di masyarakat. seperti sistem kapitalisme yang tidak adil Kedua paradigma pendidikan Liberal. Sebagian besar penyelenggaraan sekolah yang dikelola oleh kaum tradisionalis berangkat dari paradigma konservatif ini. Oleh karena itu masalah perbaikan dalam dunia pendidikan bagi mereka sebatas usaha reformasi 'kosmetik' seperti perlunya: membangun gedung baru. . menjadi demikian karena salah mereka sendiri. Pendidikan dalam perspektif liberal menjadi sarana untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai-nilai tata susila keyakinan dan nilai-nilai dasar agar stabil dan berfungsi secara baik dimasyarakat. Paham konservatif hanya melihat pentingnya harmoni serta menghindarkan konflik dan kontradiksi. Sistem diibaratkan sebuah tubuh manusia yang senantiasa berjalan harmonis dan penuh keteraturan (functionalism structural)5. Kalaupun terjadi distorsi maka yang perlu diperbaiki adalah individu yang menjadi bagian dari sistem dan bukan sistem. karena akhirnya semua orang akan mencapai kebebasan dan kebahagiaan kelak.mereka yang dipenjara. Kaum miskin haruslah sabar dan belajar untuk menunggu sampai giliran mereka datang. menyehatkan rasio murid-guru. Banyak orang bersekolah dan belajar untuk berperilaku baik dan oleh karenanya tidak dipenjara. Karena toh banyak orang yang bisa bekerja keras dan berhasil meraih sesuatu. Tugas pendidikan cuma menyiapkan murid untuk masuk dalam sistem yang ada. learning by doing. memoderenkan sekolah.

Perspektif ini tentu mempunyai beberapa syarat. Sehingga yang perlu dilakukan adalah dialog. serta proses perubahan sosial secara inskrimental demi menjaga stabilitas jangka panjang. Jika bagi kaum konservatif pendidikan bertujuan untuk menjaga status quo. Pendidikan bagi paradigma kritis merupakan arena perjuangan politik. Baik guru maupun peserta didik mesti berada dalam posisi yang egaliter dan tidak saling mensubordinasi. pendidikan harus mampu membuka wawasan dan cakrawala berpikir baik pendidik maupun peserta didik. sementara bagi kaum liberal ditujukan untuk perubahan moderat dan acapkali juga pro status quo. mesti berangkat dari pemahaman bahwa masing-masing mempunyai pengalaman dan pengetahuan. Pertama kesadaran magis. dan kebebasan (freedoms). jika proses belajar mengajar tidak mampu melakukan analisis terhadap suatu masalah maka . saling menawarkan apa yang mereka mengerti dan bukan menghafal. melindungi hak. suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan. Dalam perspektif ini. Masing-masing pihak. maka bagi penganut paradigma kritis menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam tatanan politik ekonomi masyarakat dimana pendidikan berada. Kesadaran magis lebih melihat faktor diluar manusia (natural maupun supra natural) sebagai penyebab dan ketakberdayaan.Akar dari pendidikan semacam dapat ditelusuri dari pijakan filosofisnya yakni. yakni suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Tiga paradigma diatas masing-masing membawa dampak berupa karakter kesadaran manusia yang oleh Freire digolongkan menjadi tiga6. menciptakan ruang bagi peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis diri dan struktur dunianya dalam rangka transformasi sosial. Yang terakhir adalah paradigma pendidikan kritis. paham liberalisme. Dalam dunia pendidikan. Misalnya saja masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan kemiskinan mereka dengan sistim politik dan kebudayaan. menumpuk pengetahuan namun terasing dari realitas sosial (banking system).

proses belajar mengajar tersebut dalam perspektif Freirean disebut sebagai pendidikan fatalistik. Pendidikan dalam konteks ini juga tidak mempertanyakan sistem dan struktur. merupakan faktor 'given'. Paradigma umat modernis yang menggunakan paham pendidikan liberal dapat dikatagorikan kedalam kesadaran naif ini. kaitan antara sistim dan struktur terhadap satu permasalahan masyarakat. Paradigma tradisional yang menggunakan paham pendidikan dan sekolah konservatif dapat dikatagorikan dalam kesadaran magis ini. kreativitas. Oleh karena itu 'man power development' adalah sesuatu yang diharapkan akan menjadi pemicu perubahan. ekonomi dan budaya dan akibatnya pada keadaaan masyarakat. atau tidak memiliki budaya 'membangunan'. dan oleh sebab itu tidak perlu dipertanyakan. Kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. kemudian mampu melakukan analisis bagaimana sistim dan struktur itu bekerja. Tugas sekolah adalah bagaimana membuat dan mengarahkan agar murid bisa masuk beradaptasi dengan sistem yang sudah benar tersebut. bahkan sistem dan struktur yang ada adalah sudah baik dan benar. bagi mereka disebabkan karena 'salah' masyarakat sendiri. Proses pendidikan lebih merupakan proses menirukan. Dalam kesadaran ini 'masalah etika. Kesadaran ketiga disebut sebagai kesadaran Kritis. Jadi dalam menganalisis mengapa suatu masyarakat miskin. tidak memiliki kewiraswataan. serta bagaimana . politik. melatih murid untuk mampu mengidentifikasi 'ketidakadilan' dalam sistim dan struktur yang ada. yakni mereka malas. dan seterusnya. Keadaan yang di katagorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat 'aspek manusia' menjadi akar penyebab masalah masyarakat. 'need for achievement' dianggap sebagai penentu perubahan sosial. Proses pendidikan model ini tidak memberikan kemampuan analisis. Kesadaran kedua adalah kesadaran naif. tanpa ada mekanisme untuk memahami 'makna' ideologi dari setiap konsepsi atas kehidupan masyarakat. Pendekatan struktural menghindari 'blaming the victims" dan lebih menganalisis untuk secara kritis menyadari struktur dan sistim sosial. Paradigma kritis dalam pendidikan. dimana murid mengikuti secara buta perkataan dan pendangan guru. Murid secara dogmatik menerima 'kebenaran' dari guru.

Sedang disisi lain visi dan misinya tidak keluar dari koridor ekonomi (menyiapkan peserta didik sebagai homo economicus semata). Misalnya. mudah dijalankan dan langsung memberi manfaat kepada masyarakat kecil. meskipun kalau dilihat secara umum pendidikan nasional termasuk dalam mainstream liberal. Pendidikan mau tidak mau dipaksa tereduksi hanya sebagai komoditas dan harus terbingkai dalam logika pasar. Misalnya begini. "Pak Tani disawah sedang…". Dewasa ini. saat SD kita acapkali diberi pertanyaan dimaan kita hanya perlu memberi satu kata sebagai jawaban. ketika bicara sains dan teknologi. model subjek-objek. pendidikan kita sulit dibedakan dengan pelatihan atau trainning.mentransformasikannya. ketika dunia didera gelombang globalisasi. yang murah. Untuk . dalam taraf tertentu pendidikan kita justru terjebak dalam paradigma konservatif. mesin-mesin industri berat dan bukan perihal teknologi tepat guna. Misalnya. serta orientasinya yang kental dengan ideologi kapitalisme. Ini ditandai mulai dari privatisasi pendidikan. Hasil Pendidikan Nasional: Kemacetan Transformasi Sosial ? Dari pemetaan diatas. sistem pendidikan di Indonesia selama ini masih jauh untuk dikategorikan sebagai pendidikan kritis. sehingga darwinisme sosial7 pun sulit dielakkan berlaku. pendidikan kian bergeser dari status dan fungsi awalnya. Paradigma umat Islam transformatif yang menggunakan model pendidikan kritis dapat dikatagorikan kedalam kesadaran kritis. Tugas pendidikan dalam paradigma kritis adalah menciptakan ruang dan keselamatan agar peserta pendidikan terlibat dalam suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan lebih baik. Metode searah sulit dipungkiri memupus kreatifitas peserta didik dalam mengembangkan corak berpikir bebas. Sekedar contoh. Lebih parah lagi. Dapat pula dikatakan. Disatu sisi ia menjadi eksklusif dan tak terjangkau oleh kalangan bawah. Peserta didik disibukkan oleh rutinitas studi-studi berdasarkan kurikulum yang juga terasing dari kehidupan sosial. peserta didik digiring untuk memusatkan diri pada teknologi yang bias sektor urban.

melakukan rembug mengenai irigasi dsb. Guru secara sepihak akan menyalahkan bila isinya bukan mencangkul. adalah hal umum dan membudaya dikalangan masyarakat terutama jawa. baik karena soal biaya maupun standardisasi yang ditetapkan oleh pasar. memupuk. yang nyata dihadapi masyararakat cenderung terabaikan.. akibat proses pendidikan yang sangat liberal sulit untuk tidak menjadi-meminjam istilah Heru Nugroho-Intelektual 'asongan'. tak lepas pula dari model pendidikan selama ini yang justru makin membenamkan semangat inisiatif. Padahal. inovatif dan kekritisan masyarakat. Perhatian terhadap persoalan sosial. Para ilmuan misalnya. tertanam dalam filosofi liberal yang memerosotkan potensi-potensinya untuk melakukan atau setidaknya berjalan searah dengan kepentingan transformasi sosial.menjawab pertanyaan ini murid SD tidak punya banyak pilihan. perhatian mahasiswa sedikit banyak terserap untuk studi. yang menjajakan pengetahuannya untuk riset maupun pengembangan wacana yang seringkali adalah proyek pemilik modal. orientasi utamanya bukanlah bekerja demi kepentingan umat. Ketika ada tuntutan untuk cepat lulus. Sifat nrimo ing pandum (menerima jatah atau nasib) selain sebagai hasil feodalisme. Melainkan terjebak dalam pragmatisme pasar. membaca koran (karena sedang istirahat). Budaya fatalis misalnya. atau memanen. lingkungan. Dan setelah lulus. dalam sistem yang demokratis seorang murid bisa mengisinya dengan misalnya. baik kesadaran magis maupun kesadaran naif begitu kuat mengakar dalam masyarakat kita. Sejalan dengan penjelasan Freire mengenai tiga kesadaran sebagai dampak pengadopsian tiga paradigma pendidikan. dsb. Dihadapkan melambungnya biaya menuntut ilmu akibat komersialisasi pendidikan. sedikit banyak orientasi mahasiswa mengalami pergeseran. Atau yang lebih buruk lagi ketika kesadaran naif akibat hegemoni paradigma liberal menjangkiti sebagian besar masyarakat. Atau bisa dikatakan idealisme angkatan muda terjangkit erosi yang membahayakan. Terjebaknya para ilmuan ini memberi kontribusi besar terhadap macetnya ilmu-ilmu sosial dan ketidakmampuannya menjadi bagian dari problem solving dalam .

serta menggambarkan para pengritik ilmu sebagai para 'pembual'8. Dengan kata lain. lagi-lagi kita harus kembali belajar bersama Freire perihal pendidikan yang membebaskan. Namun bukan berarti menjadi sah bagi kita untuk bersikap apatis. Dua hal ini jelas bukan sebagai ekstase yang penuh ilusi dan tipu daya. Mereka menjadi sangat sensitif dan kehilangan kearifan dengan mencap kritik terhadap ilmu adalah 'omong kosong'. Ke depan. kritis dan transformatif. Mengurai benang merah yang terlanjur jalin berkelindan tak tentu ujungpangkalnya. para ilmuan telah menjadi aparat status quo dari ideologi hegemonik. Menuju Pendidikan Transformatif Rangkaian persoalan pelik diatas telah menggiring dunia pendidikan kita menuju kerusakan sistemik. Dalam Magnum Opus-nya Thomas Kuhn. ilmuan bukanlah para penjelajah berwatak pemberani yang menemukan kebenaran-kebenaran baru. Tak ada perubahan tanpa impian. Mereka lebih mirip para pemecah teka-teki yang bekerja dalam pandangan dunia yang telah mapan. Freire menekankan pentimgmya pengharapan (hope) dan impian (dream). maupun pergeseran paradigma yang sepertinya tidak bisa ditolak jika menginginkan perubahan yang substantif.masyarakat. Ilmuan tak jarang terjebak dalam studi-studi keilmuan yang sebenarnya disetting oleh ideologi mainstream yang kontra transformasi. perangkat aturan legal. The Structure of Scientific Revolutions (1962). sehingga kekhawatiran akan efek ekstase tadi tidak terjadi dan berlanjut. terbentang pekerjaan rumah yang luar biasa berat. begitu pula tak ada impian tanpa harapan. tidak sekadar 'kosmetik' ingin diwujudkan. Dan. Wallahu 'Alam Bisshoa . Perubahan baik mengenai kurikulum. Karena mimpi dan harapan memberi kita energi untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Hanya saja harapan dan impian harus ditindak lanjuti dengan aktualisasi.

LP3ES. Jakarta. dan kaidah-kaidah apa yang seharusnya diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperoleh (Agus Salim. S. Basis edisi Paulo Freire. yang menggariskan apa yang seharusnya dipelajari. Mencari Model Sekolah Berkualitas: Dilema Paradigma Pendidikan.*Pernah dipresentasikan dalam workshop Learning Space. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yakni. dogma. yang diadakan oleh Sciences (Small Circle for Islamic Studies and Community Empowerment). parlemen. **Editor Jurnal Youth Institute for Critical Studies (YICS). 2002:69). Sumber. Litbang Bulaksumur Pos 1999-2000 5 Suwarsono & Alvin Y. Perubahan Sosial dan Pembangunan. 2001:33). sebagai suatu cara pandang atas segala sesuatu-sering berupa seperangkat asumsi.cit. disarikan dari Mansour Fakih. Kompilasi Makalah Terpilih. Masjid Kampus UGM. & Giroux. Massachusetts: Bergin & Garvey Publishers. media masa. 1995 3 Paradigma oleh Thomas Kuhn secara implisit diartikan sebagai world view atau pandangan dunia. 1994 6 Mansour Fakih op. konvensi. Theories And Methods in Political Science. keyakinan. So. Tiara Wacana. Education Under Siege.01-02 Tahun Ke-50. medio Juni 2002. dan "dominant theory" yang dipakai bersama (Sardar. 4 Aronowitz. 1985. 7 . melainkan juga dalam bentuk kemampuan negara untuk mendapatkan 'persetujuan' aktif (secara tidak sadar) dari kelas-kelas yang tertindas. hal. pernyataan-pernyataan apa yang seharusnya dikemukakan.A. Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UGM yang sedang giat menulis skripsi.. semua aktifitas dan inisiatif yang membentuk aparat hegemoni politik dan kultural kelas-kelas yang berkuasa. Yogyakarta. H. Upaya ini dilakukan utamanya melalui pendidikan. No.. David Marsh and Gerry Stoker. Januari-Febuari 2001 2 Seperti ujar Gramscie bahwa dominasi tidak melulu dalam bentuk eksploitasi ekonomi (determinasi ekonomi).. MacMillan Press Ltd. Sekolah atau Penjara. Inc. End Note 1 Dikutip dari Agustinus Mintara.

Pendek kata. 8 Ziauddin Sardar. Thomas Kuhn dan Perang Ilmu. 2002 . Yogyakrta. Jendela. adalah sah bagi individu dan kelompok msyarakat yang punya sumber daya untuk 'memukul roboh' kelompok dan individu lain demi kepentingan dan kelangsungan kelompok tersebut.7 Secara sederhana Darwinisme Sosial dapat dipahami sebagai suatu keadaan diamana kehidupan sosial dianalogikan dengan konsep Darwin tentang iklim kompetisi antar penyusun ekosistem yang berpijak pada postulat survival of the fittest.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful