Pendidikan Transformatif

*

Oleh: Ashari Cahyo Edi**

Abstraksi: Potret pendidikan di Indonesia makin hari makin buram. Menurut penulis, ini disebabkan karena pendidikan di Indonesia menganut paradigma liberal. Dalam koridor paradigma ini pendidikan diabdikan bagi kepentingan ekonomi semata. Pendidikan tidak bertujuan untuk pembebasan kemanusiaan. Penulis menguraikan tiga paradigma pendidikan yang lazim berlaku: konservatif, liberal, kritik. Ketiganya membentuk corak kesadaran yang berbeda pula bagi peserta didik. Pendidikan konservatif menghasilkan kesadaran magis; pendididkan liberal menghasilkan kesadaran naif; sebaliknya, berbeda dengan dua paradigma sebelumnya, pendidikan kritik membentuk kesadaran kritis. Model pendidikan banking-yang ignoramus critical karena sekadar

menumpuk pengetahuan nir diseminasi

sense-, tak pelak

menghadirkan sosok generasi yang buta akan penindasan. Kemacetan transformasi sosial dewasa ini, tak lain juga bermula dari pendidikan yang tidak transformatif tersebut.

MENGAPA peduli pada pendidikan? Banyak orang menyebut bahwa antara pendidikan dan perubahan sosial adalah dua hal yang saling terkait dan mempengaruhi. Suatu perubahan kiranya sulit akan terjadi tanpa diawali pendidikan, begitu pula pendidikan yang transformatif tak akan pula terwujud bila tidak didahului dengan perubahan, utamanya, paradigma yang mendasarinya. Bahkan, ada pula yang berpendapat bahwa menyebut perubahan sosial dan pendidikan yang transformatif ibarat menyebut sesuatu dalam satu tarikan nafas: pendidikan taranformatif adalah perubahan sosial dan perubahan sosial adalah pendidikan transformatif. Sungguhkah? Biar lebih jelas, mari kita uraikan bersama.

"Dasar pemalas. kritis. nantinya bisa menjadi pemantik diskusi yang tidak saja lebih komprehensif. telah memungkinkan saya 'memergoki' sejumlah persoalan yang meresahkan. Dengan kesadaran sebagai subjek tersebut manusia dapat memerankan liberative action. menurut Freire. namun juga kontributif bagi terwujudnya sistem pendidikan yang lebih baik atau bahkan ideal: membebaskan. baik secara sadar maupun tidak sengaja. ditransmisikan kepada para pelaku perubahan sosial. utamanya di Indonesia. masyarakat termasuk juga kita. Tanpa beban mereka asyik bincang sembari menikmati riuh ramai kendaraan. Tatanan sosial yang demokratis ini menurutnya kondusif bagi humanisme dan pembebasan. Kesadaran ini secara komunal akhirnya membentuk kesadaran sosial. Pengalaman sebagai peserta didik selama ini. Dari wajah mereka hampir tak tergurat raut penyesalan karena meninggalkan pelajaran. pemikir dan aktivis Pendidikan Kritis. mempunyai pendapati cemerlang perihal pendidikan dan kaitannya dengan perubahan sosial1. bolos sekolah.Perubahan sosial tentu membutuhkan aktor-aktor yang mempunyai pengetahuan. Dalam bentuknya yang paling ideal. pendidikan membangkitkan kesadaran (conscientizacao) diri manusia sebagai subjek. Potret Buram Pendidikan Indonesia Alkisah. Ya. Paulo Freire. kemampuan. penumpang. serta transformatif. Dengan kesadaran sosial yang dibangun diatas basis relasi intersubjektif rakyat dapat memainkan peranan dalam rekonstruksi tatanan sosial baru yang lebih demokratis. tulisan ini disajikan dengan semangat untuk melakukan kritisasi terhadap dunia pendidikan. melanggar titah orang tua. Sepintas. komitmen. yang tentunya kontra ideologi hegemonik. mungkin akan berkata. ada sekelompok siswa sebuah SMU di kota saya nongkrong di terminal bis. tidak tahu . ataupun teriakan para kenek. siapa tahu dengan men-share deretan persoalan yang meresahkan tersebut. Untuk itu perlu tersedianya suatu media dimana ide-ide. nilainilai maupun ideologi. Beranjak dari signifikansi utama pendidikan diatas. serta kesadaran akan diri dan posisi strukturalnya.

Sistem pendidikan dengan sendirinya menjadi instrumen untuk melanggengkan kekuasaan. daya kritis terhadap realitas. begitu dilarang. Kalau dilihat lebih cermat. Ilustrasi diatas bukan sebatas rekaan belaka. yang loyal terhadap penguasa. akuntan. malah menjadi sumber kesusahan dan kegelisahan. Akhirnya setiap ada pelajaran bahasa. bermain. ide-ide. Nilai-nilai. upaya-upaya yang mencegah tumbuhnya kecerdasan untuk berpikir bebas. di hari senin pada jam pertama. mengembangkan potensi dst. teknisi. metode pengajaran yang monoton dan membelenggu.. memang di-setting secara sistematis. sejak minggu lalu Toni ingin bertanya tentang soal yang satu itu. kian membuat peserta didik tidak bebas mengembangkan potensi. preferensi. menjaga agar masyarakat di Hindia Belanda tetap bodoh. Sejak zaman kolonial Belanda. yang ditransmisikan melalui institusi pendidikan dengan sendirinya ditujukan untuk membentuk kesadaran yang menafsirkan .. jantung Toni berdebar kencang. Bahkan menjelma menjadi penjara. Sejenak terbayang betapa akan malunya Ia terkena marah bapak guru di depan kelas. Sekolah yang kita bayangkan sebagai 'kabin' belajar. Pernahkah Anda merasa betapa sekolah demikian membosankan atau bahkan menakutkan? Suatu ketika. ahli hukum dst. Suatu hal yang lumrah tapi belum tentu benar. tidak up to date. dan akhirnya hanya menjadi pengikut semua ujar guru yang kurang kreatif sekaligus miskin daya kritis. Sebenarnya.. Diantara kita banyak yang pernah mengalami masalah semacam itu.menghargai jerih payah orangtua!". berteman. Namun Ia takut. teman-teman sekelasnya akan menertawakan ketidaktahuannya. dsb. tidak 'sadar diri' sehingga kekuasaan kolonial tidak terancam. Pendidikan hanya semata-mata memasukkan peserta didik kedalam sistem yang sudah ada: mencetak dokter. Tujuannya jelas yakni. Ini disebabkan PR bahasa-nya yang belum juga selesai meski sudah tiga hari dikerjakan. yang berujung pada kesadaran terhadap posisi diri di struktur sosial. pendidikan yang membelenggu itu merupakan tipikal sistem pendidikan negara jajahan. begini dilarang. ruangan kelas seolah menjadi tempat yang paling tidak aman baginya. Ditambah lagi guru yang otoriter.

pendidikan di Indonesia dan negara-negara dunia ketiga pada umumnya belum beranjak berubah. Visi dan misi pendidikan yang tercermin dalam kurikulum orientasinya cuma satu: bagaimana mencetak lulusan yang akseptabel terhadap pasar. karakter pendidikan tetap stagnan. Dalam konteks kekinian dimana penjajahan tidak lagi menemui bentuknya yang paling primitif. Meski dibalut modernitas zaman yang kemilau dengan sains mutakhir hingga teknologi canggih. Dewasa ini. sistem pendidikan dengan sendirinya mengabdi pada kepentingan modal. Dengan pandangan seperti itu. Perubahan sosial bagi mereka bukanlah suatu yang harus diperjuangkan. di era Kapitalisme berkuasa ini. ada tiga paradigma3 pendidikan yang dapat memberi peta pemahaman mengenai paradigma apa yang menjadi pijakan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang berdampak sangat serius terhadap perubahan sosial. kaum tertindas dan . yakni orang orang miskin. model pendidikan seperti ini tetap berlangsung hingga sekarang. hanya Tuhan lah yang merencanakan keadaan masyarakat dan hanya dia yang tahu makna dibalik itu semua. paradigma konservatif. buta huruf. serta benar baik secara ideologis maupun kultural. Paradigma ini berangkat dari asumsi bahwa ketidaksederajatan masyarakat merupakan suatu keharusan alami. karena perubahan hanya akan membuat manusia lebih sengsara saja. Pada dasarnya masyarakat tidak bisa merencanakan perubahan atau mempengarhui perubahan sosial. baik skill maupun kesamaaan kerangka berpikir. nasib pendidikan tak jauh-jauh amat dari sebelumnya: membangun komformitas kesadaran peserta didik terhadap struktur yang sedang berlaku. Tiga Paradigma Pendidikan Secara konseptual.4 Pertama.2 Sayangnya. mustahil bisa dihindari serta sudah merupakan ketentuan sejarah atau takdir Tuhan. kaum konservatif tidak menganggap rakyat memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk merubah kondisi mereka. Mereka yang menderita.penindasan terhadapnya sebagai hal yang wajar. Pendek kata. tatkala Barat kembali hadir dengan kekuatan ekonominya.

metode pengajaran yang effisien seperti dynamics group. Namun bagi mereka pendidikan sama sekali steril dari persoalan politik dan ekonomi masyarakat. memoderenkan sekolah. Kalaupun terjadi distorsi maka yang perlu diperbaiki adalah individu yang menjadi bagian dari sistem dan bukan sistem. Pendidikan dalam perspektif liberal menjadi sarana untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai-nilai tata susila keyakinan dan nilai-nilai dasar agar stabil dan berfungsi secara baik dimasyarakat. Tugas pendidikan cuma menyiapkan murid untuk masuk dalam sistem yang ada. Oleh karena itu masalah perbaikan dalam dunia pendidikan bagi mereka sebatas usaha reformasi 'kosmetik' seperti perlunya: membangun gedung baru. Kaum miskin haruslah sabar dan belajar untuk menunggu sampai giliran mereka datang. Penyelenggaraan sekolah atau madrasah dalam perspektif dan paradigma konservatif memang terisolasi dari persoalan persoalan kelas maupun gender ataupun persoalan ketidak adilan di masyarakat. Kaum Liberal. seperti sistem kapitalisme yang tidak adil Kedua paradigma pendidikan Liberal. Hal-hal tersebut terisolasi dengan struktur kelas dan gender dalam masyarakat. komputerisasi. Kurikulum sekolah secara jelas bagi kaum konservatif juga tidak ada kaitannya dengan sistem dan struktur sosial diluar sekolah.mereka yang dipenjara. Banyak orang bersekolah dan belajar untuk berperilaku baik dan oleh karenanya tidak dipenjara. experimental learning dan sebagainya. Sistem diibaratkan sebuah tubuh manusia yang senantiasa berjalan harmonis dan penuh keteraturan (functionalism structural)5. Paham konservatif hanya melihat pentingnya harmoni serta menghindarkan konflik dan kontradiksi. menjadi demikian karena salah mereka sendiri. karena akhirnya semua orang akan mencapai kebebasan dan kebahagiaan kelak. mengakui bahwa memang ada masalah di masyarakat. Karena toh banyak orang yang bisa bekerja keras dan berhasil meraih sesuatu. learning by doing. menyehatkan rasio murid-guru. . Sebagian besar penyelenggaraan sekolah yang dikelola oleh kaum tradisionalis berangkat dari paradigma konservatif ini.

Jika bagi kaum konservatif pendidikan bertujuan untuk menjaga status quo. Dalam dunia pendidikan. Tiga paradigma diatas masing-masing membawa dampak berupa karakter kesadaran manusia yang oleh Freire digolongkan menjadi tiga6. Sehingga yang perlu dilakukan adalah dialog. sementara bagi kaum liberal ditujukan untuk perubahan moderat dan acapkali juga pro status quo. Yang terakhir adalah paradigma pendidikan kritis.Akar dari pendidikan semacam dapat ditelusuri dari pijakan filosofisnya yakni. Dalam perspektif ini. menumpuk pengetahuan namun terasing dari realitas sosial (banking system). paham liberalisme. Pendidikan bagi paradigma kritis merupakan arena perjuangan politik. Pertama kesadaran magis. yakni suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Perspektif ini tentu mempunyai beberapa syarat. saling menawarkan apa yang mereka mengerti dan bukan menghafal. maka bagi penganut paradigma kritis menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam tatanan politik ekonomi masyarakat dimana pendidikan berada. Kesadaran magis lebih melihat faktor diluar manusia (natural maupun supra natural) sebagai penyebab dan ketakberdayaan. serta proses perubahan sosial secara inskrimental demi menjaga stabilitas jangka panjang. Misalnya saja masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan kemiskinan mereka dengan sistim politik dan kebudayaan. melindungi hak. Masing-masing pihak. mesti berangkat dari pemahaman bahwa masing-masing mempunyai pengalaman dan pengetahuan. dan kebebasan (freedoms). Baik guru maupun peserta didik mesti berada dalam posisi yang egaliter dan tidak saling mensubordinasi. menciptakan ruang bagi peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis diri dan struktur dunianya dalam rangka transformasi sosial. jika proses belajar mengajar tidak mampu melakukan analisis terhadap suatu masalah maka . pendidikan harus mampu membuka wawasan dan cakrawala berpikir baik pendidik maupun peserta didik. suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan.

yakni mereka malas. dan oleh sebab itu tidak perlu dipertanyakan. Proses pendidikan model ini tidak memberikan kemampuan analisis. Tugas sekolah adalah bagaimana membuat dan mengarahkan agar murid bisa masuk beradaptasi dengan sistem yang sudah benar tersebut. Oleh karena itu 'man power development' adalah sesuatu yang diharapkan akan menjadi pemicu perubahan. Paradigma umat modernis yang menggunakan paham pendidikan liberal dapat dikatagorikan kedalam kesadaran naif ini. dimana murid mengikuti secara buta perkataan dan pendangan guru. Jadi dalam menganalisis mengapa suatu masyarakat miskin. politik. bahkan sistem dan struktur yang ada adalah sudah baik dan benar. Kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. ekonomi dan budaya dan akibatnya pada keadaaan masyarakat. tidak memiliki kewiraswataan. atau tidak memiliki budaya 'membangunan'. melatih murid untuk mampu mengidentifikasi 'ketidakadilan' dalam sistim dan struktur yang ada. kaitan antara sistim dan struktur terhadap satu permasalahan masyarakat. kreativitas. serta bagaimana . Kesadaran kedua adalah kesadaran naif.proses belajar mengajar tersebut dalam perspektif Freirean disebut sebagai pendidikan fatalistik. Proses pendidikan lebih merupakan proses menirukan. tanpa ada mekanisme untuk memahami 'makna' ideologi dari setiap konsepsi atas kehidupan masyarakat. bagi mereka disebabkan karena 'salah' masyarakat sendiri. Kesadaran ketiga disebut sebagai kesadaran Kritis. merupakan faktor 'given'. 'need for achievement' dianggap sebagai penentu perubahan sosial. Pendidikan dalam konteks ini juga tidak mempertanyakan sistem dan struktur. kemudian mampu melakukan analisis bagaimana sistim dan struktur itu bekerja. Murid secara dogmatik menerima 'kebenaran' dari guru. Paradigma kritis dalam pendidikan. Pendekatan struktural menghindari 'blaming the victims" dan lebih menganalisis untuk secara kritis menyadari struktur dan sistim sosial. Keadaan yang di katagorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat 'aspek manusia' menjadi akar penyebab masalah masyarakat. Paradigma tradisional yang menggunakan paham pendidikan dan sekolah konservatif dapat dikatagorikan dalam kesadaran magis ini. dan seterusnya. Dalam kesadaran ini 'masalah etika.

pendidikan kita sulit dibedakan dengan pelatihan atau trainning. Pendidikan mau tidak mau dipaksa tereduksi hanya sebagai komoditas dan harus terbingkai dalam logika pasar. Peserta didik disibukkan oleh rutinitas studi-studi berdasarkan kurikulum yang juga terasing dari kehidupan sosial. Ini ditandai mulai dari privatisasi pendidikan. "Pak Tani disawah sedang…". saat SD kita acapkali diberi pertanyaan dimaan kita hanya perlu memberi satu kata sebagai jawaban. Dapat pula dikatakan. mudah dijalankan dan langsung memberi manfaat kepada masyarakat kecil. sistem pendidikan di Indonesia selama ini masih jauh untuk dikategorikan sebagai pendidikan kritis. sehingga darwinisme sosial7 pun sulit dielakkan berlaku. Untuk . Lebih parah lagi. Tugas pendidikan dalam paradigma kritis adalah menciptakan ruang dan keselamatan agar peserta pendidikan terlibat dalam suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan lebih baik. Misalnya begini. dalam taraf tertentu pendidikan kita justru terjebak dalam paradigma konservatif. yang murah. serta orientasinya yang kental dengan ideologi kapitalisme. Dewasa ini. pendidikan kian bergeser dari status dan fungsi awalnya. Sekedar contoh. Misalnya. peserta didik digiring untuk memusatkan diri pada teknologi yang bias sektor urban. ketika bicara sains dan teknologi. model subjek-objek. Disatu sisi ia menjadi eksklusif dan tak terjangkau oleh kalangan bawah. Paradigma umat Islam transformatif yang menggunakan model pendidikan kritis dapat dikatagorikan kedalam kesadaran kritis. mesin-mesin industri berat dan bukan perihal teknologi tepat guna. Misalnya. Metode searah sulit dipungkiri memupus kreatifitas peserta didik dalam mengembangkan corak berpikir bebas.mentransformasikannya. Hasil Pendidikan Nasional: Kemacetan Transformasi Sosial ? Dari pemetaan diatas. meskipun kalau dilihat secara umum pendidikan nasional termasuk dalam mainstream liberal. Sedang disisi lain visi dan misinya tidak keluar dari koridor ekonomi (menyiapkan peserta didik sebagai homo economicus semata). ketika dunia didera gelombang globalisasi.

akibat proses pendidikan yang sangat liberal sulit untuk tidak menjadi-meminjam istilah Heru Nugroho-Intelektual 'asongan'.menjawab pertanyaan ini murid SD tidak punya banyak pilihan. memupuk. dalam sistem yang demokratis seorang murid bisa mengisinya dengan misalnya. sedikit banyak orientasi mahasiswa mengalami pergeseran. baik kesadaran magis maupun kesadaran naif begitu kuat mengakar dalam masyarakat kita. Sejalan dengan penjelasan Freire mengenai tiga kesadaran sebagai dampak pengadopsian tiga paradigma pendidikan. tak lepas pula dari model pendidikan selama ini yang justru makin membenamkan semangat inisiatif. Atau yang lebih buruk lagi ketika kesadaran naif akibat hegemoni paradigma liberal menjangkiti sebagian besar masyarakat. Melainkan terjebak dalam pragmatisme pasar. perhatian mahasiswa sedikit banyak terserap untuk studi. Dihadapkan melambungnya biaya menuntut ilmu akibat komersialisasi pendidikan. adalah hal umum dan membudaya dikalangan masyarakat terutama jawa. orientasi utamanya bukanlah bekerja demi kepentingan umat.. yang menjajakan pengetahuannya untuk riset maupun pengembangan wacana yang seringkali adalah proyek pemilik modal. membaca koran (karena sedang istirahat). dsb. baik karena soal biaya maupun standardisasi yang ditetapkan oleh pasar. atau memanen. inovatif dan kekritisan masyarakat. Padahal. Perhatian terhadap persoalan sosial. Guru secara sepihak akan menyalahkan bila isinya bukan mencangkul. Ketika ada tuntutan untuk cepat lulus. Dan setelah lulus. Sifat nrimo ing pandum (menerima jatah atau nasib) selain sebagai hasil feodalisme. melakukan rembug mengenai irigasi dsb. Para ilmuan misalnya. Atau bisa dikatakan idealisme angkatan muda terjangkit erosi yang membahayakan. Terjebaknya para ilmuan ini memberi kontribusi besar terhadap macetnya ilmu-ilmu sosial dan ketidakmampuannya menjadi bagian dari problem solving dalam . tertanam dalam filosofi liberal yang memerosotkan potensi-potensinya untuk melakukan atau setidaknya berjalan searah dengan kepentingan transformasi sosial. Budaya fatalis misalnya. yang nyata dihadapi masyararakat cenderung terabaikan. lingkungan.

Hanya saja harapan dan impian harus ditindak lanjuti dengan aktualisasi. Menuju Pendidikan Transformatif Rangkaian persoalan pelik diatas telah menggiring dunia pendidikan kita menuju kerusakan sistemik. Dua hal ini jelas bukan sebagai ekstase yang penuh ilusi dan tipu daya. Ilmuan tak jarang terjebak dalam studi-studi keilmuan yang sebenarnya disetting oleh ideologi mainstream yang kontra transformasi. ilmuan bukanlah para penjelajah berwatak pemberani yang menemukan kebenaran-kebenaran baru. Perubahan baik mengenai kurikulum. serta menggambarkan para pengritik ilmu sebagai para 'pembual'8.masyarakat. terbentang pekerjaan rumah yang luar biasa berat. Wallahu 'Alam Bisshoa . Namun bukan berarti menjadi sah bagi kita untuk bersikap apatis. para ilmuan telah menjadi aparat status quo dari ideologi hegemonik. kritis dan transformatif. Karena mimpi dan harapan memberi kita energi untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. maupun pergeseran paradigma yang sepertinya tidak bisa ditolak jika menginginkan perubahan yang substantif. lagi-lagi kita harus kembali belajar bersama Freire perihal pendidikan yang membebaskan. Dengan kata lain. Tak ada perubahan tanpa impian. tidak sekadar 'kosmetik' ingin diwujudkan. Dan. Mereka menjadi sangat sensitif dan kehilangan kearifan dengan mencap kritik terhadap ilmu adalah 'omong kosong'. perangkat aturan legal. The Structure of Scientific Revolutions (1962). Dalam Magnum Opus-nya Thomas Kuhn. sehingga kekhawatiran akan efek ekstase tadi tidak terjadi dan berlanjut. Mengurai benang merah yang terlanjur jalin berkelindan tak tentu ujungpangkalnya. Freire menekankan pentimgmya pengharapan (hope) dan impian (dream). Ke depan. begitu pula tak ada impian tanpa harapan. Mereka lebih mirip para pemecah teka-teki yang bekerja dalam pandangan dunia yang telah mapan.

Kompilasi Makalah Terpilih. 7 . Litbang Bulaksumur Pos 1999-2000 5 Suwarsono & Alvin Y. dan "dominant theory" yang dipakai bersama (Sardar.*Pernah dipresentasikan dalam workshop Learning Space. H. yang diadakan oleh Sciences (Small Circle for Islamic Studies and Community Empowerment). Massachusetts: Bergin & Garvey Publishers. No. 1995 3 Paradigma oleh Thomas Kuhn secara implisit diartikan sebagai world view atau pandangan dunia. & Giroux.. semua aktifitas dan inisiatif yang membentuk aparat hegemoni politik dan kultural kelas-kelas yang berkuasa. pernyataan-pernyataan apa yang seharusnya dikemukakan..cit. **Editor Jurnal Youth Institute for Critical Studies (YICS). Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UGM yang sedang giat menulis skripsi. yang menggariskan apa yang seharusnya dipelajari. 4 Aronowitz.A. disarikan dari Mansour Fakih. konvensi. Masjid Kampus UGM. Sekolah atau Penjara. 1994 6 Mansour Fakih op. So. dogma. media masa. Januari-Febuari 2001 2 Seperti ujar Gramscie bahwa dominasi tidak melulu dalam bentuk eksploitasi ekonomi (determinasi ekonomi). melainkan juga dalam bentuk kemampuan negara untuk mendapatkan 'persetujuan' aktif (secara tidak sadar) dari kelas-kelas yang tertindas. Jakarta.. LP3ES. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Tiara Wacana. Theories And Methods in Political Science. hal. 2001:33). MacMillan Press Ltd. 1985. Education Under Siege. medio Juni 2002. Inc. parlemen. S. End Note 1 Dikutip dari Agustinus Mintara. sebagai suatu cara pandang atas segala sesuatu-sering berupa seperangkat asumsi.01-02 Tahun Ke-50. Yakni. dan kaidah-kaidah apa yang seharusnya diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperoleh (Agus Salim. Sumber. Upaya ini dilakukan utamanya melalui pendidikan. Basis edisi Paulo Freire. keyakinan. David Marsh and Gerry Stoker. 2002:69). Mencari Model Sekolah Berkualitas: Dilema Paradigma Pendidikan. Yogyakarta.

adalah sah bagi individu dan kelompok msyarakat yang punya sumber daya untuk 'memukul roboh' kelompok dan individu lain demi kepentingan dan kelangsungan kelompok tersebut. Thomas Kuhn dan Perang Ilmu. Jendela. 2002 . 8 Ziauddin Sardar. Pendek kata.7 Secara sederhana Darwinisme Sosial dapat dipahami sebagai suatu keadaan diamana kehidupan sosial dianalogikan dengan konsep Darwin tentang iklim kompetisi antar penyusun ekosistem yang berpijak pada postulat survival of the fittest. Yogyakrta.