P. 1
Buku Putih Pertahanan Indonesia 2008

Buku Putih Pertahanan Indonesia 2008

4.0

|Views: 14,698|Likes:
Published by Roisnahrudin

More info:

Published by: Roisnahrudin on Apr 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2014

pdf

text

original

Tantangan pertahanan pada tahun-tahun yang akan datang
diperkirakan akan lebih kompleks. Tugas mengawal NKRI yang berdimensi

165

164

165

164

kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa tetap
menjadi prioritas penyelenggaraan pertahanan negara. Wilayah Indonesia
yang sangat luas, yakni sekitar 8 juta kilometer persegi, serta karakteristik

geograf sebagai negara kepulauan dengan 17.504 pulau dan wilayah

maritim yang luasnya hampir 6 juta kilometer persegi membutuhkan
alokasi anggaran pertahanan yang proporsional dengan tingkat risiko
yang dihadapi. Dengan alokasi anggaran pertahanan di bawah 1% dari
PDB menjadi tantangan yang tidak mudah dalam penyelenggaraan
pertahanan untuk mengawal NKRI.

Pada sisi lain, fungsi pertahanan negara juga dihadapkan dengan
kecenderungan global dalam penanganan ancaman terorisme, ancaman
keamanan lintas negara, terutama kegiatan ilegal di wilayah perairan
Indonesia yang menguras kekayaan alam, seperti perompakan,
penangkapan ikan secara ilegal, dan gangguan keamanan maritim
lainnya. Di samping itu, dampak pemanasan global menyebabkan
terjadinya perubahan iklim yang ekstrem sehingga kemungkinan
terjadinya bencana alam di kawasan dan di dalam negeri diperkirakan
akan meningkat. Dalam kondisi tersebut intensitas pelibatan kekuatan
TNI dalam penanggulangan dampak bencana alam akan semakin tinggi
pula. Keterlibatan Indonesia dalam tugas-tugas perdamaian dunia serta
di kawasan diperkirakan akan meningkat atau minimal sama dengan
kondisi pada tahun 2007. Sebagai bagian dari kepentingan nasional
Indonesia, misi perdamaian dunia dan pelibatan di kawasan menuntut
kesiapan yang prima dari sektor pertahanan negara.

Untuk menghadapi tantangan tugas pertahanan tersebut,
pembangunan pertahanan diprioritaskan pada pembangunan kekuatan
dan peningkatan profesionalisme prajurit dengan ketersediaan Alutsista

PB

166

yang mampu mendukung kesiapsiagaan dan mobilitas. Dalam konteks
tersebut, Kekuatan Pokok Pertahanan mendesak untuk direalisasikan.
Untuk mewujudkan Kekuatan Pokok Pertahanan tersebut, proyeksi
anggaran pertahanan dalam dua sampai tiga tahun yang akan datang
diharapkan dapat berada di atas 1% dari GDP dan meningkat secara
bertahap dalam 10 tahun yang akan datang. Kebutuhan anggaran
pertahanan yang rasional dalam 15-20 tahun akan datang diproyeksikan
minimal 2% dari GDP. Proyeksi tersebut merupakan kalkulasi yang cermat
dan rasional, tanpa mengganggu keseimbangan pembangunan pada
sektor-sektor pembangunan lainnya di luar bidang pertahanan. Sebagai
bahan pembanding, negara-negara maju mengalokasikan anggaran
pertahanannya rata-rata di atas 2% dari GDP-nya masing-masing.
Bahkan, pada lingkup Kawasan Asia Tenggara, kebanyakan dari negara-
negara tetangga mengalokasikan anggaran pertahanan di atas 2 persen
dari PDB-nya.

Disadari bahwa tantangan pemerintah dalam mempercepat proses
pemulihan ekonomi dan upaya untuk menggali sumber-sumber pemasukan
negara merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kebijakan
pemerintah dalam pembangunan pertahanan. Namun, penentuan alokasi
anggaran pertahanan tidak cukup hanya berdasarkan kondisi ekonomi
nasional, tetapi juga perlu didasarkan pada rasio kebutuhan pertahanan
dengan memperhatikan tingkat risiko yang dihadapi. Pemenuhan
anggaran pertahanan pada rasio yang proporsional akan membangun
kemampuan pertahanan yang berdaya tangkal sekaligus memberikan
efek stabilitas yang mendorong kelancaran pelaksanaan pembangunan
nasional di bidang ekonomi dan kesejahteraan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->