P. 1
Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara (2)

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara (2)

|Views: 580|Likes:
Published by Rizal Rahadiana

More info:

Published by: Rizal Rahadiana on Jun 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2014

pdf

text

original

STRATEGI PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA/DAERAH

Disusun oleh :

Rizal Rahadiana (Absen 27 / NIM 09.6113)

Kelas 4SE2

SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK JAKARTA 2013

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Setiap tahun pemerintah melakukan pengadaan barang yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).Setiap tahun pula berarti jumlah aset bertambah. Barang-barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN tersebut dapat diidentifikasikan sebagai bagian dari Barang Milik Negara (BMN). Hal ini berdasarkan pengartian BMN, pasal 1 butir 10 UU No 1 tahun 2004, yaitu semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehanlainnya yang sah. Sedangkan barang-barang yang berasal dari perolehan yang sah ini batasan pengertiannya adalah barang-barang yang menurut ketentuan perundang-undangan, ketetapan pengadilan, dan/atau perikatan yang sah ditetapkan sebagai Barang Milik Negara. implikasi dari semua itu adalah, dengan bertambahnya Barang Milik Negara/Daerah di setiap tahunnya, berarti bertambah pula kekayaan Negara. Sebagai salah satu dari kekayaan Negara, maka sudah seharusnyalah BMN/D dalam hal ini memiliki tata kelola yang baik. Tata kelola yang baik tersebut harus diwujudkan, karena apabila dalam tata kelola tersebut dilakukan secara tidak benar atau tidak bersungguh-sungguh, maka sama saja dengan menyianyiakan kekayaan Negara. Hal itu juga berarti pemerintah, dalam hal ini pemangku amanat dari rakyat, tidak dapat mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dia kuasai (BMN/D) yang pada

hakekatnya adalah semuanya milik rakyat. BMN/D memiliki fungsi yang strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan tetapi dalam pelaksanaan pengelolaannya sarat dengan potensi konflik kepentingan. Banyak permasalahan yang timbul dalam system pengelolaan BMN/D di Indonesia. Apabila kita tengok di masa sebelum reformasi, masalah akuntabilitas memiliki permasalahan yang sangat kronis. Beberapa permasalahan tersebut adalah :     belum lengkapnya data mengenai jumlah, nilai, kondisi dan status kepemilikannya; belum tersedianya database yang akurat dalam rangka penyusunan Neraca Pemerintah; pengaturan yang ada belum memadai dan terpisah-pisah; kurang adanya kesamaan persepsi dalam hal pengelolaan BMN.

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

2

Setelah Negara Indonesia mengalami reformasi, bangsa Indonesia mulai tersadar dan bergegas melakukan pembenahan-pembenahan. Dinataranya yaitu pembuatan Undang-Undang dan peraturan yang berkaitan dengan tata kelola BMN/D. UU no 17 tahun 2003 tentang keuangan Negara, UU no 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan Negara dan PP no 6 tahun 2006 tentang pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah keppres no 17 tahun 2007 tentang tim penertiban barang milik Negara, disusun demi terciptanya tatakelola BMN/D yang baik. Tetapi hal ini belum berarti permasalahn-permasalahn pengelolaan BMN/D ini selesai begitu saja. Malahan BPKP dalam RDP dengan DPR-RI 12 juni 2007 mengungkapkan bahwa asset negara dihampir 90 % lembaga negara belum dikelola secara profesional, sehingga kualitas laporan keuangan buruk. Satu dasawarsa setelah negeri ini reformasi, belum cukup untuk menjadikan baiknya tata kelola BMN/D. Kenyataan tersebut menyiratkan bahwa permasalahan ini merupakan permasalahan yang sangat pelik. Sebagaimana yang terkandung dalam PP Nomor 6 tahun 2006, yaitu tidak sekedar administratif, tetapi lebih maju berpikir dalam menangani asset negara, dengan bagaimana meningkatkan efisiensi, efektifitas dan menciptakan nilai tambah dalam mengelola asset. Berangkat dari hal tersebut, penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut lagi terkait dengan strategi pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Seperti apakah siklus atau proses pengelolaan Barang Milik Negara, permasalahan-permasalahan apa yang terjadi, serta strategi seperti apakah yang pemerintah siapkan untuk memperbaiki tata kelola BMN/D di Indonesia. 1.2. Tujuan    Untuk menggambarkan siklus atau proses pengelolaan Indonesia. Untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam proses pengelolaan BMN/D Untuk mengkaji strategi apakah yang pemerintah siapkan untuk memperbaiki tata kelola BMN/D di Indonesia. BMN/D di

BAB II KONSEP DEFINISI

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

3

2.1. Barang Milik Negara/Daerah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah yang telah mendapat penyempurnaan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008, serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah dijelaskan bahwa yang disebut sebagai barang milik daerah sebagai berikut: 1. Barang milik Daerah meliputi: a. barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD; dan b. barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah; 2. Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi: a. barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis; b. barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak; c. barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang; atau d. barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Di sisi lain, BMN/D dapat kita artikan juga sebagai asset Negara. Pernyataan Standar Akuntasi Pemerintahan (PSAP) Nomor 7 tentang Akuntansi Aset tetap,

menyatakan bahwa aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum. 2.2. Ruang Lingkup Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah yang telah mendapat penyempurnaan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008, maka pengelolaan barang milik daerah meliputi : 1) perencanaan kebutuhan dan penganggaran; 2) pengadaan; 3) penggunaan;

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

4

4) pemanfaatan; 5) pengamanan dan pemeliharaan; 6) penilaian; 7) penghapusan; 8) pemindahtanganan; 9) penatausahaan; 10) . pembinaan, pengawasan dan pengendalian.

2.3. Pejabat di Lingkungan Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah Secara umum, pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah merupakan bagian dari tugas Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. BMN/D merupakan salah satu asset atau kekayaan Negara yang memiliki peran vital dalam penyelengaraan pemerintahan Indonesia. Adapun secara struktural, pejabat-pejabat yang berada pada lingkungan pengolaan Barang Milik Negara adalah : Pengelola Barang adalah pejabat yang berwenang dan bertanggungjawab menetapkan kebijaksanaan dan pedoman, serta melakukan pengelolaan BMN. Pengguna Barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan BMN Kuasa Pengguna Barang adalah kepala satuan kerja atau pejabat yang ditunjuk oleh Pengguna Barang untuk menggunakan barang yang berada dalam penguasaannya dengan sebaik-baiknya.

2.3.1. Pejabat di Lingkungan Pengelolaan Barang Milik Negara (BMN) Pejabat Pengelolaan Barang Milik Negara (BMN) antara lain adalah : 1. Pengelola BMN adalah Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN). 2. Pengguna BMN adalah Menteri/Pimpinan Lembaga, yang secara fungsional dilaksanakan oleh Sekretaris Jenderal/Sekretaris Kementerian/Sekretaris Utama. 3. Kuasa Pengguna BMN adalah Kepala Kantor dalam lingkungan

kementerian/lembaga. Pada unit pusat Kuasa Pengguna BMN dijabat oleh Kepala Biro yang menangani pengelolaan BMN pada kesekretariatan (di BPS adalah Kepala Biro Umum).

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

5

Pejabat Pengelola BMN adalah Menteri Keuangan yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab sebagai berikut : a. merumuskan kebijakan, mengatur, dan menetapkan pedoman pengelolaan barang milik negara; b. meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan barang milik negara; c. menetapkan status penguasaan dan penggunaan barang milik negara; d. mengajukan usul pemindahtanganan barang milik negara berupa tanah dan bangunan yang memerlukan persetujuan DPR; e. memberikan keputusan atas usul pemindahtanganan barang milik negara berupa tanah dan bangunan yang tidak memerlukan persetujuan DPR sepanjang dalam batas kewenangan Menteri Keuangan; f. memberikan pertimbangan dan meneruskan usul pemindahtanganan barang milik negara berupa tanah dan bangunan yang tidak memerlukan persetujuan DPR sepanjang dalam batas kewenangan Presiden; g. memberikan keputusan atas usul pemindahtanganan dan barang milik negara selain tanah dan bangunan sesuai penghapusan

batas kewenangannya; barang

h. memberikan pertimbangan dan meneruskan usul pemindahtanganan milik negara selain tanah dan bangunan kepada Presiden atau DPR;

i. menetapkan penggunaan, pemanfaatan atau pemindahtanganan tanah dan bangunan; j. memberikan keputusan atas usul pemanfaatan barang milik negara selain tanah dan bangunan; k. melakukan koordinasi dalam pelaksanaan inventarisasi barang milik negara serta menghimpun hasil inventarisasi; m. melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan barang milik negara; n. menyusun dan mempersiapkan Laporan Rekapitulasi barang milik Presiden sewaktu diperlukan. negara/daerah kepada

Sementara itu Pejabat Pengguna Barang Milik Negara adalah Menteri/pimpinan lembaga selaku pimpinan kementerian negara/lembaga, yang berwenang dan

bertanggungjawab untuk : a) menetapkan kuasa pengguna barang dan menunjuk pejabat yang mengurus dan menyimpan barang milik negara;

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

6

b) mengajukan rencana kebutuhan dan penganggaran barang milik negara untuk kementerian negara/ lembaga yang dipimpinnya; c. melaksanakan pengadaan barang milik negara sesuai dengan perundangundangan yang berlaku; d. mengajukan permohonan penetapan status tanah dan bangunan untuk penguasaan dan penggunaan barang milik negara yang diperoleh dari beban APBN dan perolehan lainnya yang sah; e. menggunakan barang milik negara yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi kementerian

negara/lembaga; f. mengamankan dan memelihara barang milik negara yang berada dalam penguasaannya; g. mengajukan usul pemanfaatan dan pemindahtanganan barang milik negara selain tanah dan bangunan; h. mengajukan usul pemindahtanganan dengan tindak lanjut tukar menukar berupa tanah dan bangunan yang masih dipergunakan untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi namun tidak sesuai dengan tata ruang wilayah atau penataan kota; i. mengajukan usul pemindahtanganan dengan tindak lanjut penyertaan modal pemerintah pusat/daerah atau hibah yang dari awal pengadaaannya sesuai peruntukkan yang tercantum dalam dokumen penganggaran; j. menyerahkan tanah dan bangunan yang tidak dimanfaatkan untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya kepada pengelola barang; k. melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan barang milik negara yang ada dalam penguasaannya; l. melakukan pencatatan dan inventarisasi barang milik negara yang berada dalam penguasaannya; m. menyusun dan menyampaikan Laporan Barang n. Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) yang berada dalam penguasaannya kepada pengelola barang.

2.3.2. Pejabat di Lingkunagn Pengelolaan Barang Milik Daerah (BMD)

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

7

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007, pengelolaan barang milik daerah dilakukan oleh pejabat pengelola barang milik daerah yang terdiri dari: (1) Kepala Daerah selaku pemegang kekuasaan pengelolaan barang milik daerah (2) Sekretaris Daerah selaku pengelola barang; (3) Kepala Biro/Bagian Perlengkapan/Umum/Unit pengelola barang milik daerah selaku pembantu pengelola; (4) Kepala SKPD selaku pengguna; (5) Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah selaku kuasa pengguna; (6) Penyimpan barang milik daerah; dan (7) Pengurus barang milik daerah.

Adapun wewenang dan tanggung jawab dari masing-masing pejabat pengelola barang milik daerah berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 adalah sebagai berikut: 1. Kepala Daerah sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan barang milik daerah,

mempunyai wewenang : a. menetapkan kebijakan pengelolaan barang milik daerah; b. menetapkan penggunaan, pemanfaatan atau pemindahtanganan tanah dan

bangunan; o. menetapkan kebijakan pengamanan barang milik daerah; d. mengajukan usul pemindahtanganan barang milik daerah yang memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah; e. menyetujui usul pemindahtanganan dan penghapusan barang milik Daerah sesuai batas kewenangannya; dan f. menyetujui usul pemanfaatan barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan. 2. Sekretaris Daerah selaku pengelola BMD, berwenang dan bertanggung jawab: a. menetapkan pejabat yang mengurus dan menyimpan barang milik daerah; b. meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan barang milik daerah; c. meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan pemeliharaan/perawatan barang milik daerah; d. mengatur pelaksanaan pemanfaatan, penghapusan dan pemindahtanganan barang milik daerah yang telah disetujui oleh Kepala Daerah;

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

8

e. melakukan koordinasi dalam pelaksanaan inventarisasi barang milik daerah; f. melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan barang milik daerah. 3. Kepala Biro/Bagian Perlengkapan/Umum/Unit pengelola barang milik daerah

bertanggungjawab mengkoordinir penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah yang ada pada masing-masing SKPD; 4. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah selaku pengguna Barang Milik Daerah, berwenang dan bertanggung jawab: a. mengajukan rencana kebutuhan barang milik daerah bagi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya kepada Kepala Daerah melalui pengelola; b. mengajukan permohonan penetapan status untuk penguasaan dan penggunaan barang milik daerah yang diperoleh dari beban APBD dan perolehan lainnya yang sah kepada Kepala Daerah melalui pengelola; c. melakukan pencatatan dan inventarisasi barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya; d. menggunakan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya; e. mengamankan dan memelihara barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya; f. mengajukan usul pemindahtanganan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan yang tidak memerlukan persetujuan DewanPerwakilan Rakyat Daerah dan barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan kepada Kepala Daerah melalui pengelola; g. menyerahkan tanah dan bangunan yang tidak dimanfaatkan untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya kepada Kepala Daerah melalui pengelola; h. melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan barang milik daerah yang ada dalam penguasaannya; dan i. menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) yang berada dalam penguasaannya kepada pengelola.

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

9

5. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah selaku kuasa pengguna barang milik daerah, berwenang dan bertanggung jawab: a. mengajukan rencana kebutuhan barang milik daerah bagi unit kerja yang dipimpinnya kepada Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bersangkutan; b. melakukan pencatatan dan inventarisasi barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya; c. menggunakan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi unit kerja yang dipimpinnya; d. mengamankan dan memelihara barang milik daerah yang berada dalam

penguasaannya; e. melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan barang milik

daerah yang ada dalam penguasaannya; dan f. menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran (LBKPS) dan Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan (LBKPT) yang berada dalam penguasaannya kepada kepala satuan kerja perangkat daerah yang bersangkutan. 6. Penyimpan barang bertugas menerima, menyimpan dan menyalurkan barang yang berada pada pengguna/kuasa pengguna; dan 7. Pengurus barang bertugas mengurus barang milik daerah dalam pemakaian pada masing-masing pengguna/kuasa pengguna.

BAB III PEMBAHASAN

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

10

3.1. Siklus Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah Sebagaimana yang tercantum telah disebutkan pada bab II , berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah yang telah mendapat penyempurnaan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008, maka pengelolaan barang milik daerah meliputi : 3.1.1. Perencanaan Kebutuhan dan Penganggaran Siklus Pengelolaan Barang Milik Daerah dimulai dengan perencanaan kebutuhan dan penganggaran. Pada tahap ini, peran seorang kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sebagai pengguna barang milik daerah bagiSKPD merupakan sesuatu yang penting. Salah satu wewenang dan tanggungjawab Kepala SKPD sebagai pengguna barang milik daerah, adalah mengajukan rencana kebutuhan barang milik daerah bagi SKPD yang dipimpinnya kepada Kepala Daerah melalui pengelola. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 yang telah mendapat penyempurnaan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008, mengenai Barang Milik Negara/Daerah, Perencanaan kebutuhan Barang Milik Negara/Daerah disusun

dalam rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah setelah memperhatikan ketersediaan barang milik negara/daerah yang ada. Perencanaan kebutuhan barang milik negara/daerah berpedoman pada standar barang, standar kebutuhan, dan standar harga. BPPK (2011) menyatakan perencanaan adalah suatu kegiatan untuk merumuskan rincian kebutuhan Barang Milik Negara/Daerah (BMN/D) untuk menghubungkan

pengadaan barang yang telah lalu dengan keadaan yang sedang berjalan sebagai dasar dalam melakukan tindakan yang akan datang. Selanjutnya menurut BPPK (2011) adapun tujuan perencanaan adalah : 1. Agar penggunaan anggaran efisien, efektif, hemat, tidak boros dan tepat sasaran. 2. Mengantisipasi perkembangan organisasi dan perubahan kepegawaian yang membutuhkan kesesuaian BMN/D yang dibutuhkan. 4. Adanya perubahan kondisi BMN/D yang disebabkan rusak ( berat atau ringan), dihapuskan, dijual, kedaluwarsa, dan sebagainya sehingga memerlukan penggantian. 4. Kebutuhan BMN/D yang disesuaikan dengan jumlah dan keperluan

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

11

perorangan pegawai. 5. Mengamankan barang persediaan yang dibutuhkan baik untuk menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsi atau keperluan berjaga-jaga.

3.1.2.

Pelaksanaan Pelaksanaan merupakan seluruh rangkaian proses mulai dari pengadaan,

penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, dan penatausahaan. Pengadaan adalah suatu rangkaian kegiatan yang prosesnya dilaksanakan berdasarkan prinsip prinsip: efisien, efektif, transparan dan terbuka, bersaing, adil/tidak diskriminatif dan akuntabel. Proses kegiatan pengadaan didasari atas kebijakan dengan berbagai aspek tujuan meliputi pemberdayaan masyarakat agar memberi peluang berusaha, berarti memberi kesempatan bekerja khususnya pada usaha kecil dalam rangka mengurangi pengangguran (BPPK, 2011). BPPK (2011) menyatakan pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik negara/daerah oleh pihak lain dalam berbagai bentuk antara lain dalam bentuk ; sewa, pinjam pakai, kerja sama pemanfaatan, Bangun Guna Serah atau Bangun Serah Guna, dan sejenisnya. Pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN)/ Barang Milik Daerah (BMD) sebagaimana tersebut di atas sepanjang diyakini bahwa BMN/BMD tersebut sudah tidak diperlukan lagi bagi penyelenggaraan pemerintahan negara/daerah berdasarkan; pertimbangan/alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, dilaksanakan dengan

pertimbangan untuk kepentingan negara/daerah dan kepentingan umum, untuk menunjang penyelenggaraaan tugas pokok dan fungsi oleh pengguna barang dengan persetujuan pengelola barang, mengoptimalkan manfaat barang milik Negara/daerah dan mencegah penggunaan BMN/D oleh pihak lain secara tidak sah. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 yang telah mendapat penyempurnaan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008, Pengelola barang, pengguna barang dan/atau kuasa pengguna barang wajib melakukan pengamanan barang milik negara/daerah yang berada dalam penguasaannya meliputi pengamanan administrasi, pengamanan fisik, pengamanan hukum. Adapun pengamanan yang dapat dilakukan terhadap barang milik negara/daerah adalah : 1. Barang milik negara/ daerah berupa tanah harus disertifikatkan atas nama Pemerintah Republik Indonesia/ pemerintah daerah yang bersangkutan; 2. Barang milik negara/daerah berupa bangunan harus dilengkapi dengan bukti

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

12

kepemilikan atas nama Pemerintah Republik Indonesia/ pemerintah daerah yang bersangkutan; 3. Barang milik negara selain tanah dan/atau bangunan harus dilengkapi dengan bukti kepemilikan atas nama pengguna barang; 4. Barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan harus dilengkapi dengan bukti kepemilikan atas nama pemerintah daerah yang bersangkutan. Pengguna barang dan/atau kuasa pengguna barang bertanggung jawab atas pemeliharaan barang milik negara/daerah yang ada di bawah penguasaannya. Pemeliharaan berpedoman pada Daftar Kebutuhan Pemeliharaan Barang (DKPB). Biaya pemeliharaan barang milik negara/daerah dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/ Daerah. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Nomor 17 Tahun 2007, penilaian barang milik daerah dilakukan dalam rangka penyusunan neraca pemerintah daerah, pemanfaatan, dan pemindahtanganan barang milik daerah. Penetapan nilai barang milik daerah dalam rangka penyusunan neraca pemerintah daerah dilakukan dengan berpedoman pada Standar Akuntansi Pemerintah (SAP). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 menyatakan bahwa penghapusan barang milik daerah meliputi penghapusan dari daftar barang pengguna dan/atau kuasa pengguna dan penghapusan dari daftar barang milik daerah. Penghapusan barang milik daerah dilakukan dalam hal barang milik daerah dimaksud sudah tidak berada dalam penguasaan pengguna dan/atau kuasa pengguna dan sudah beralih kepemilikannya, terjadi pemusnahan atau karena sebab-sebab lain. Penghapusan dilaksanakan dengan keputusan pengelola atas nama Kepala Daerah untuk barang milik daerah dimaksud sudah tidak berada dalam penguasaan pengguna dan/atau kuasa pengguna dan dengan Keputusan Kepala Daerah untuk barang milik daerah yang sudah beralih kepemilikannya, terjadi pemusnahan atau karena sebab-sebab lain. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 barang milik daerah yang dihapus dan masih mempunyai nilai ekonomis, dapat dilakukan melalui pelelangan umum/pelelangan terbatas; dan/atau disumbangkan atau dihibahkan kepada pihak lain. Bentuk-bentuk pemindahtanganan sebagai tindak lanjut atas penghapusan barang milik daerah meliputi penjualan, tukar menukar, hibah, dan penyertaan modal pemerintah daerah. Pada kegiatan penatausahaan meliputi pembukuan, inventarisasi dan pelaporan :

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

13

1. Pembukuan yaitu Kuasa pengguna barang/pengguna barang harus melakukan pendaftaran dan pencatatan barang milik Negara/daerah ke dalam Daftar Barang Kuasa Pengguna (DBKP)/Daftar Barang Pengguna (DBP) menurut penggolongan dan kodefikasi barang. Pengelola barang harus melakukan pendaftaran dan pencatatan barang milik Negara/daerah berupa tanah dan/atau bangunan dalam Daftar Barang Milik Negara/Daerah (DBMN/D) menurut penggolongan barang dan kodefikasi barang. 2. Inventarisasi yaitu pengguna barang melakukan inventarisasi barang milik negara/daerah sekurang-kurangnya sekali dalam lima tahun. Terhadap barang milik Negara/daerah yang berupa persediaan dan konstruksi dalam pengerjaan, pengguna barang melakukan inventarisasi setiap tahun. Pengguna barang menyampaikan laporan hasil inventarisasi pengelola barang selambat-lambatnya tiga bulan setelah selesainya inventarisasi. 3. Pelaporan yaitu kuasa pengguna barang harus menyusun Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran (LBKPS) dan Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan (LBKPT) untuk disampaikan kepada pengguna barang. Pengguna barang harus menyusun Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) untuk disampaikan kepada pengelola barang. 3.1.3. Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian BPPK (2011) menyatakan pembinaan adalah usaha atau tindakan yang dilakukan secara efektif, dan efisien, serta dalam perspektif jangka panjang, baik bersifat perubahan maupun penyempurnaan, agar pengelolaan BMN/D pada keseluruhan siklus atau tahapan kegiatan dapat dilaksanakan dengan tertib dan mencapai hasil yang lebih baik, terutama dalam memberikan daya dukung yang tinggi terhadap kelancaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi, serta keberhasilan pencapaian tujuan organisasi. Usaha atau tindakan dalam kegiatan pembinaan yang dilakukan oleh pimpinan pada berbagai tingkatan secara konkrit dapat dilakukan dalam berbagai bentuk seperti pemberian pedoman, bimbingan, motivasi, supervisi, konsultasi, pendidikan dan pelatihan (BPPK, 2011). Sementara itu, Pengawasan adalah proses kegiatan pimpinan untuk memastikan dan menjamin bahwa tujuan dan tugas-tugas organisasi akan dan telah terlaksana dengan baik sesuai dengan kebijaksanaan, instruksi, rencana dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dan yang berlaku (BPPK, 2011).

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

14

Unsur yang terakhir dalam pengelolaan barang milik Negara/Daerah, yang tidak kalah penting tentunya, adalah pengendalian. Menurut BPPK (2011), pengendalian intern secara luas merupakan suatu proses yang dipengaruhi dan melibatkan tidak hanya pada tingkat pimpinan tertinggi tetapi seluruh sumber daya manusia dalam organisasi bersangkutan. Pengendalian intern tersebut dirancang untuk memberikan jaminan yang memadai dalam rangka pencapaian tujuan yang ditetapkan. Jaminan yang diberikan tidak bersifat mutlak satu dan lain hal terutama adanya unsur ketidakpastian dimasa datang yang tidak jarang sulit diprediksi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem

Pengendalian Intern Pemerintah menyatakan sistem pengendalian intern adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.

3.2. Permasalahan Pengelolaan BMN/D di Indonesia Pada 31 Desember 2005 yang lalu, nilai BMN adalah Rp237,78 triliun yang tersebar di 71 Kementerian/Lembaga (K/L), dan pada 31 Desember 2011 meningkat menjadi Rp1.694,57 triliun yang tersebar di 87 K/L. Dilihat dari kenaikan belanja modal, maka setiap tahun diperkirakan. BMN kita memiliki kenaikan rata-rata sebesar Rp84,25 triliun dari tahuntahun sebelumnya. Sebenarnya BMN dapat meningkat lebih dari itu pertahun mengingat definisi BMN adalah semua yang diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau perolehan lain yang sah. Singkat kata, bisa jadi seharusnya lebih banyak lagi BMN yang tercipta dari belanja barang, belanja bantuan sosial, dan belanja lain-lain apabila substansi dari belanja-belanja tersebut memang menghasilkan BMN. Menurut Auditor Utama Keuangan Negara II, Syafri Adnan Baharuddin, berdasarkan data kompilasi sementara hasil pemeriksaan interim LKKL tahun 2011 pada 49 Kementerian/Lembaga (K/L), diketahui permasalahan pengeloaan BMN, diantaranya: (1) Luas/Jumlah Unit ; (2) Aset dikuasai pihak ketiga; (3) Tidak adanya dokumen kepemilikan; (4) Pemanfaatan tanpa persetujuan Menkeu; (5) Aset dalam sengketa; (6) Kondisi asset rusak berat belum dihapus; dan (7) Hasil IP yang tidak sesuai dengan

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

15

kenyataan. Dari kenyataan-kenyataan tersebut, mengisyaratkan bahwa tata kelola Barang Milik Negara/Daerah di Indonesia masih memiliki tingkat akuntabiitas yang rendah. Permasalahn lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah masih adanya perbedaan persepsi antar penyelenggara pengelolaan dalam hal penerapan berbagai atribut hokum dalam pengelolaan BMN/D. Dasar-dasar hukum dalam pengelolaan BMN/D tersebut diantaranya adalah Undang-undang Nomor 17/2003 tentang Keuangan Negara, Undang-undang Nomor 01/2004 tentang Perbendaharaan Negara, Peraturan Pemerintah Nomor 06/2006 tentang Pengelolaan Badan Milik Negara/Daerah, Permen Keuangan Nomor 120/PMK.06/2007 tentang Penatausahaan BMN, dan PMK Nomor

96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, dan Pemindahtanganan BMN. 3.3. Strategi Pengelolaan BMN/D Dalam rangka mewujudkan pengelolaan aset Negara yang baik, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) membuat sebuah stategi Pengelolaan yang disebut Roadmap Strategic Assets Management, dan set pertama yang mendapat sorotan dan prioritas untuk dibenahi adalah Barang Milik Negara. Dalam pelaksanaannya Roadmap Strategic Assets Management yang mulai disusun pada tahun 2007, sekarang dipertajam lagi dengan dibagi menjadi tiga periode pelaksanaan, yaitu : a) Periode Penertiban dan Pembenahan (2007-2009) Terdapat 4 (empat) tujuan utama penertiban BMN, yaitu (i) melakukan pemutakhiran pembukuan BMN pada Sistem Informasi Manajemen Akuntansi Keuangan BMN (SIMAK BMN), (ii) mewujudkan penatausahaan BMN di seluruh satuan kerja (satker) instansi Pemerintah Pusat, (iii) menyajikan koreksi nilai aset tetap neraca awal 2004 pada Laporan Keuangan K/L, dan (iv) melakukan tindak lanjut penatausahaan dan pengelolaan BMN yang tertib dan optimal. Termasuk dalam objek penertiban BMN saat itu adalah aset yang dikuasai K/L termasuk yang berada pada satker Badan Layanan Umum (BLU), aset yang berasal dari

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

16

Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (DK/TP), aset yang berasal dari Bantuan Pemerintah Yang Belum ditentukan Statusnya (BPYBDS), aset eks BPPN, aset bekas milik Asing/ Cina, aset eks Kepabeanan/Bea Cukai, aset Bank Dalam Likuidasi (BDL), aset eks Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), barang rampasan, benda cagar budaya/benda berharga asal Muatan Kapal yang Tenggelam (BMKT), dan aset lain yang berdasarkan peraturan perundang-undangan ditetapkan sebagai BMN. Inventarisasi menjadi icon DJKN bermula dengan terbitnya Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2007 tentang Penertiban BMN yang memberikan tanggung jawab kepada Pengelola Barang untuk menyusun pedoman pelaksanaan IP BMN dan pelaporannya dengan mempercepat tercapainya IP BMN yang dilakukan oleh K/L secara tertib, efektif, efesien, dan akuntabel. Meskipun demikian, sebetulnya dalam pasal 6 ayat (2) huruf l, Peraturan Pemerintah (PP) 6 Tahun 2006, disebutkan bahwa K/L sebagai pengguna BMN berwenang dan bertanggung jawab melakukan pencatatan dan inventarisasi BMN yang berada dalam penguasaannya. DJKN memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan pedoman pengelolaan BMN, seperti yang diamanatkan PP 6 tahun 2006. Akhirnya sejak tahun 2007 diterbitkan peraturan-peraturan antara lain Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor

96/PMK.06/2007 tentang Tatacara Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan dan Pemindahtangan Barang Milik Negara, PMK Nomor 120/PMK.06/2007 tentang Penatausahaan Barang Milik Negara, PMK Nomor 97/PMK.06/2007 tentang Kodifikasi Barang Milik Negara sebagaimana telah diubah dengan PMK Nomor 29/PMK.06/2010 dan lain-lain. Pada tahun 2008 diterbitkan PP Nomor 38 Tahun 2008 yang merupakan Perubahan atas PP Nomor 6 tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Pada periode ini pula pegawai DJKN, baik di pusat maupun di daerah, yang bersinggungan langsung dengan BMN terus-menerus melakukan peningkatan kapasitas pegawai pada pengguna barang baik terkait pengelolaan maupun penatausahaan BMN. Pada tahun 2009, Menteri Keuangan dan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) menerbitkan Peraturan Bersama Nomor 186/PMK.06/2009 dan Nomor 24 tahun 2009 tentang Pensertipikatan Barang Milik Negara Berupa Tanah. Walau masih banyak kekurangan, tahun 2009 menjadi tahun yang memperlihatkan kenaikan aset negara secara signifikan, salah satu penyebabnya adalah kenaikan nilai wajar aset hasil dari penilaian BMN. BMN yang tercatat mulai tahun 2009 telah menembus angka Rp1.000 triliun.

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

17

b) Periode Utilisasi dan Persiapan (2010-2012) Pada periode ini, banyak hal yang telah dilaksanakan oleh pengelola barang maupun pengguna banrang. Dalam rangka persiapan optimalisasi BMN, perlu terlebih dahulu diketahui berapa sebenarnya BMN yang digunakan untuk tugas dan fungsi serta penunjangnya (utilisasi). Faktor penting pelaksanaan suksesnya utilisasi antara lain adanya sertipikat BMN berupa tanah dan/atau kelengkapan dokumen kepemilikan BMN lainnya selain tanah dan/atau bangunan. Apabila dokumen tersebut telah dilengkapi, maka kewajiban Pengguna Barang selanjutnya meminta agar ditetapkan status penggunaannya untuk tugas dan fungsi K/L. Setelah penertiban BMN selesai, masih terdapat tugas besar lain, yakni mengawal dan memastikan data hasil IP dimasukkan ke dalam SIMAKBMN setiap satker. Untuk itu Pengelola Barang menerbitkan PMK Nomor 109/PMK.06/2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Inventarisasi, Penilaian, dan Pelaporan dalam Rangka Penertiban Barang Milik Negara dan bersama dengan Direktorat Jenderal Perbendaharaan menerbitkan PMK Nomor 102/PMK.05/2009 tentang Tata Cara Rekonsiliasi Barang Milik Negara dalam Rangka Penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Selain menerbitkan peraturan tentang penatausahaan BMN, Pengelola Barang juga menyempurnakan peraturan yang terkait dengan aplikasi SIMAKBMN, di antaranya PMK Nomor 29/PMK.06/2010 tentang Kodefikasi BMN. Hal lain, untuk menyelaraskan pengelolaan BMN berupa Rumah Negara dengan peraturan yang dibuat oleh Kementerian Pekerjaan Umum, Pengelola Barang menerbitkan PMK Nomor 138/PMK.06/201 tentang Pengelolaan BMN Berupa Rumah Negara. Pasca penertiban BMN, Pengelola Barang menerbitkan KMK Nomor 271/KMK.06/2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Tindak Lanjut Hasil Penertiban Barang Milik Negara pada Kementerian/Lembaga dan PMK Nomor 125/PMK.06/2011 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara yang Berasal Dari Dana Dekonsentrasi Dan Dana Tugas Pembantuan Sebelum Tahun Anggaran 2011. Diharapkan dengan dua PMK ini, hal-hal yan ditemukan setelah kegiatan penertiban BMN memiliki pedoman tindak lanjut yang sama. Pada tahun 2011 pula diterbitkan PMK Nomor 250/PMK.06/2011 tentang Tata Cara Pengelolaan Barang Milik Negara yang Tidak Digunakan untuk Penyelenggaraan

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

18

Tugas dan Fungsi Kementerian/Lembaga. Hal ini merupakan respon DJKN terhadap utilisas aset yang mengharuskan pengadaan BMN hanya untuk tugas dan fungsi.

Persiapan menuju penatausahaan BMN yang mengacu pada basis akrual juga telah diantisipasi dengan menerbitkan KMK Nomor 53/KMK.06/2011 tentang Penerapan Penyusutan Barang Milik Negara pada Entitas Pemerintah. KMK dimaksud mengatur penerapan penyusutan secara bertahap dan disesuaikan dengan penerapan basis akrual pada LKPP.

Awal tahun 2012, DJKN bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dan Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan dalam new initiative penganggaran on top kegiatan sertipikasi pada DIPA BPN. Untuk menetapkan target agar dana on top DIPA BPN dapat akurat, Pengelola Barang menerbitkan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Pendataan Tanah Pemerintah (SIMANTAP) yang fungsinya antara lain menjaring data yang akurat dan terkini dari BMN berupa tanah yang berada pada K/L. Dalam periode ini, walau masih ada yang perlu diperbaiki, upaya dan kerja keras pengelola dan pengguna barang kiranya perlu diapresiasi. Dari Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK, terdapat kenaikan yang signifikan atas pencapaian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh K/L. Apabila dibandingkan dengan tahun 2006 yang lalu, LKKL yang mendapatkan opini WTP hanya tujuh K/L atau 8,6% dari total 81 K/L, sedangkan pada tahun 2011 meningkat menjadi 67 K/L atau 77 % dari total 87 K/L. Kontribusi dari pengelolaan BMN atas opini LKPP signifikan, mengingat BPK RI memberikan opini WDP, karena masalah utamanya aset, baik itu aset pada K/L terkait pelaksanaan IP aset tetap maupun masalah aset eks BPPN. Terkait aset tetap pada K/L yang menjadi kualifikasi pada LKPP tahun 2011, Direktorat BMN DJKN telah membuat action plan untuk melaksanakan:  rekonsiliasi dengan K/L atas selisih absolut koreksi sebesar Rp1,54 triliun serta melakukan pembinaan dan asistensi pada seluruh K/L terkait monitoring koreksi hasil IP;  meminta Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan melakukan rekonsiliasi dan verifikasi untuk menelusuri nilai aset pengembangan yang benar - benar bersinggungan dengan hasil IP, agar

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

19

tidak terdapat pencatatan ganda dan melakukan koreksi pencatatan di SIMAK BMN.  DJKN akan berkoordinasi dengan K/L, agar melakukan penelusuran dan verifikasi kembali atas BMN yang tidak ditemukan pada saat penertiban, dan mendorong K/L agar mengajukan permohonan penghapusan atas BMN dimaksud kepada DJKN sebagaimana diatur dalam KMK Nomor 271/KMK.06/2011, dengan target penyelesaian tahun 2012.

c) Periode Optimalisasi (Mulai 2013) Sertifikasi BMN berupa tanah oleh BPN, diharapkan dapat dimonitor oleh Pengelola Barang mulai tahun 2013. Sertipikasi penting, karena menjadi jembatan bagi utilisasi dan efektifitas pengeluaran APBN. BMN yang telah memiliki sertipikat dapat ditetapkan status penggunaannya, dimanfaatkan maupun dipindahtangankan. Setelah periode utilisasi dan persiapan, periode selanjutnya adalah bagaimana BMN dapat dioptimalisasikan. Optimalisasi tentu membutuhkan basis data BMN yang akurat. Dengan basis data yang akurat, maka apapun bentuk pengelolaan BMN-nya akan dengan mudah dapat dilaksanakan. Pemanfaatan BMN idle oleh pengelola maupun pemanfaatan dan pemidahtanganan BMN sesuai ketentuan, menjadi bagian penting dari optimalisasi pengelolaan BMN. Integrasi antara perencanaan anggaran dan perencanaan BMN sebagai wacana untuk efektifitas dan efisiensi pengeluaran APBN kiranya memang perlu disiapkan mengingat di tahun-tahun mendatang kecenderungan belanja modal akan terus naik. Selain sudah diamanatkan dalam PP Nomor 6 Tahun 2006, integrasi diharapkan menjadi alat yang bisa mem-filter atau memastikan bahwa perencanaan BMN K/L sudah benar-benar optimal, sesuai kebutuhan dan anggaran yang tersedia. Jika hal ini dapat dilaksanakan di tahun-tahun mendatang, maka lambat laun tugas dan fungsi DJKN sebagai pengelola barang akan semakin efektif, serta memberikan warna dan kontribusi terhadap pengelolaan anggaran. Tuntutan pengelolaan BMN ke depan adalah bagaimana pengelolaan BMN dapat memberikan kontribusi yang nyata terhadap APBN, mengingat APBN di tahun-tahun mendatang akan responsif terhadap perubahan perekonomian global.

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

20

Seperti terlihat dalam Bagan 1, mulai tahun 2013 diharapkan penatausahaan sudah mengarah ke basis akrual. Hal ini tentu tidak semudah membalik telapak tangan mengingat masih terdapat beberapa K/L yang ternyata belum mendapatkan opini WTP dari BPK. Analogi sederhananya, tanpa basis akrual saja masih terdapat K/L yang mendapatkan opini Disclaimer, apalagi basis akrual ditetapkan. Berkaitan dengan penatausahaan BMN, penulis berpendapat tentang perlunya perbaikan dalam lima aspek untuk perbaikan penatausahaan di tahun-tahun mendatang, antara lain: Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlibat dalam Pengelolaan BMN, Kepatuhan terhadap Peraturan Pengelolaan BMN, Penganggaran, Koordinasi antara Pengelola dan Pengguna, dan Sistem Aplikasi yang dijalankan. Untuk menyiapkan penatausahaan yang lebih baik di tahun-tahun berikutnya, maka atas lima hal tersebut pengelola barang telah/akan melakukan: 1) SDM Pengembangan kapasitas dan kapabilitas SDM yang berkaitan dengan Penatausahaan BMN dilakukan terus-menerus oleh segenap pegawai DJKN, antara lain dilakukan melalui sosialisasi atas peraturan-peraturan terkait pengelolaan dan penatausahaan BMN, kebijakan akuntansi BMN, serta pelatihan atas aplikasi SIMAK BMN dan aplikasi Persediaan baik di lingkungan internal Pengelola Barang maupun di lingkungan K/L selaku Pengguna Barang, mengintensifkan pelaksanaan pembinaan dan bimbingan teknis seluruh aspek penatausahaan BMN mulai tingkat satker/Koordinator Wilayah/Kantor Pusat K/L oleh KPKNL/Kanwil DJKN/Kantor Pusat DJKN, dan membangun komunikasi intensif dengan K/L pada tataran pengambil kebijakan. 2) Kepatuhan Sebagai upaya memperbaiki dan menyempurnakan pelaksanaan penatausahaan BMN oleh K/L, maka perlu selalu diselenggarakan rapat koordinasi baik dengan K/L maupun dengan Kanwil DJKN/KPKNL agar persoalan tingkat satker dapat dimitigasi lebih awal dan tidak terakumulasi di tingkat pusat. 3) Penganggaran

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

21

Monitoring dan evaluasi pelaksanaan Penatausahaan BMN, perlu dilakukan secara konsisten dan terus-menerus, sehingga ketaatan pada aturan penganggaran dan pelaksanaan anggaran terkait BMN dapat terus meningkat. Di samping itu, perlu dilakukan langkah-langkah lain sebagai penunjang keberhasilan pelaksanaan penatausahaan BMN, antara lain dengan dilakukannya pemeringkatan atas laporan BMN yang disampaikan oleh K/L serta adanya sistem reward and punishment. 4) Koordinasi DJKN berupaya berkoordinasi terus-menerus dan intensif dengan seluruh K/L yang BMN-nya masih menjadi penyebab kualifikasi LKPP. Koordinasi juga dilakukan secara paralel dengan Direktorat Akuntansi dan Pelaporan, Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan dilakukan \monitoring secara periodik atas tindak lanjut temuan BPK yang telah disusun oleh K/L yang bersangkutan. 5) Sistem Aplikasi 

Pembentukan help-desk Penatausahaan BMN guna membantu pemecahan permasalahan yang dihadapi oleh K/L terkait pelaksanaan penatausahaan BMN secara cepat, hal ini dapat diakses baik melalui telepon, faksimili, surat elektronik, maupun konsultasi langsung.

Pengelola barang juga telah menyiapkan situs/forum komunikasi online dengan alamat http://fokus-bmn.org/ dimana seluruh satker dapat berkomunikasi secara online terkait permasalahan teknis aplikasi seperti kendala dalam instalasi aplikasi/database Aplikasi SIMAK BMN dan Persediaan termasuk pembahasan terkait kebijakan penatausahaan BMN pada unit penatausahaan BMN.

BAB IV PENUTUP

4.1.

Kesimpulan

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

22

1) Pengelolaan aset dalam hal ini Barang Milik Negara terutama sebelum dideklarasikannya reformasi managemen asset oleh DJKN mengalami

permasalahan akuntabilitas yang sangat pelik pada kementrian dan lembaga pengelola Barang Milik Negara. 2) Sebelum periode reformasi, Kurang bagusnya komunikasi yang dijalin antara kementrian dan lembaga (K/L) selaku pengelola dan pengguna BMN/D dengan DJKN selaku pengelola anggaran BMN/D tidak berjalan baik dan optimal. 3) Reformasi yang dilakukan terhadap pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dimulai pada tahun 2007, dengaan membagi menjadi tiga periode yaitu (1) 20072009, periode penertiban dan pembenahan (2) 2010-2011, periode utilisasi dan persiapan (3) mulai dari 2013, periode optimalisasi. 4) Strategi pengelolaan asset Negara yang diluncurkan pada tahun 2007, Strategic Assets Management, dapat memperbaiki akuntabilitas Kementrian dan Lembaga dalam pengelolaan BMN/D terbukti dengan progress yang baik untuk jumlah K/L yang mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian, dari tahun 2007 hingga tahun 2011. (table terlampir) 4.2. Saran

1) Untuk melaksanakan strategi yang telah dibuat, DJKN sebagai pengelola Anggaran BMN/D dan Kementrian dan Lembaga (K/L) sebagai pengelola dan pengguna BMN/D harus meningkatkan kualitas koordinasi, karena tanpa koordinasi yang baik, strategi pembenahan BMN yang baik akan sulit untuk terlaksana. 2) Penyertaan teknonologi yang mengikuti perkembangan zaman sangat perlu, misalkan dalam hal rekonsiliasi, jikalau bias dilakukan rekonsiliasi online, dapat mempermudah dan mempercepat rekonsiliasi internal dan eksternal.

DAFTAR PUSTAKA

Roadmap Strategic asset Management diakses dari http://www.djkn.depkeu.go.id, pada tanggal 17 Februari 2013

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

23

Tripartit

Pembahasan

dan

Penyelesaian

Permasalahan

Pengelolaan

BMN

Kementerian/Lembaga diakses dari http://www.bsn.go.id, pada tanggal 17 Februari 2013

Mulyana, Budi & Widyaiswara Muda.2010.Pokok-Pokok Pengelolaan Barang Milik Daerah.Jakarta:STAN. PP No 38 Tahun 2008 Undang-undang Nomor 17/2003 tentang Keuangan Negara, Undang-undang Nomor 01/2004 tentang Perbendaharaan Negara, Peraturan Negara/Daerah. Permen Keuangan Nomor 120/PMK.06/2007 tentang Penatausahaan BMN PMK Nomor 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, dan Pemindahtanganan BMN. Pemerintah Nomor 06/2006 tentang Pengelolaan Badan Milik

LAMPIRAN

Strategi Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

24

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->