PENGGUNAAN TINGKAT TUTUR BAHASA JAWA SISWA KELAS I SD NEGERI 2 TRENTEN KECAMATAN CANDIMULYO MAGELANG Oleh: Dwi Wulandari

07205244048 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan tingkat tutur, faktor yang mempengaruhi tingkat tutur, dan fungsi tingkat tutur bahasa Jawa pada siswa kelas I SD Negeri 2 Trenten. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I SD Negeri 2 Trenten. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara dan catatan lapangan. Alat bantu yang dipergunakan untuk mengambil data adalah perekam (recorder). Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik deskriptif. Hasil penelitian berkaitan dengan jenis-jenis tingkat tutur bahasa Jawa yang digunakan siswa di SD Negeri 2 Trenten Candimulya Magelang, Jawa Tengah ada empat macam, yaitu; ngoko lugu, ngoko alus, krama lugu, dan krama alus. Penentu pemilihan bentuk tingkat tutur dipengaruhi oleh faktor formalitas hubungan perseorangan antara O1 dan O2, faktor tempat dan suasana, faktor tujuan tutur, dan faktor norma atau aturan. Fungsi tingkat tutur bahasa Jawa pada siswa kelas I SD Negeri 2 Trenten adalah untuk menunjukkan tingkat keakraban hubungan antara penutur dengan mitra tutur pada tingkat tutur ngoko lugu dan ngoko alus dan mencerminkan makna hormat antara penutur dengan mitra tutur pada tingkat tutur krama lugu dan krama alus. Persamaan atau perbedaan faktor sosial di antara peserta ujaran dapat menimbulkan hubungan simetris dan asimetris, akrab dan tidak akrab, serta campuran diantara keduanya. Kata kunci: tingkat tutur, bahasa Jawa, Sekolah Dasar PENDAHULUAN Bahasa sebagai produk budaya mempunyai peran sebagai sarana komunikasi. Bahasa Jawa sebagai bahasa daerah hingga saat ini masih digunakan oleh masyarakat yang ada di Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, dan masyarakat Jawa yang berada di luar Jawa. Pembentukan bahasa Jawa dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti: umur, golongan, dan perbedaan sosial. Bahasa Jawa dikenal sebagai bahasa yang rumit karena memiliki berbagai macam variasi sesuai tingkatan yang disebut tingkat tutur (speech level). Tingkat tutur dalam bahasa Jawa merupakan suatu sistem untuk menunjukkan derajat formalitas, dan derajat hormat penutur dengan mitra tutur yang diajak bicara. Nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalam bahasa Jawa adalah adanya bentuk-bentuk nilai kesopansantunan yang ditunjukkan melalui penggunaan bahasa Jawa kepada orang lain. Penggunaan bahasa Jawa yang sesuai unggah-ungguh dapat menunjukkan sikap penghormatan. Bahasa Jawa memiliki variasi (ragam) bahasa yang mencerminkan tingkatan sikap kesopansantunan kepada orang lain. Penggunaan bahasa Jawa baik

Candimulyo. Kata sing diwaca tidak tepat. Adanya tingkat tutur. Unggah-ungguh merupakan aturan sopan santun dalam berbahasa Jawa yang membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaannya. tetapi masih mengalami kesulitan dalam menerapkannya sesuai unggah-ungguh. lebih tepat jika menggunakan ingkang diwaos. Berkenaan dengan tingkat tutur. namun pada pembicaraan tersebut masih terdapat kata dalam bentuk ragam ngoko. Kesalahan penggunaan bahasa Jawa itu dapat dilihat dengan adanya penerapan tingkat tutur yang kurang tepat dan juga adanya pengaruh bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa. maka dilakukan penelitian dengan judul ”Penggunaan Tingkat Tutur Bahasa Jawa Siswa Kelas I SD Negeri 2 Trenten. Berdasarkan uraian di atas. Pemakaian tingkat tutur bahasa Jawa siswa kelas I SD Negeri 2 Trenten. Siswa kelas 1 SD Negeri 2 Trenten. Berdasarkan observasi awal yang peneliti lakukan diketahui bahwa penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa siswa kelas 1 SD Negeri 2 Trenten sering terjadi kesalahan. Bahasa Jawa yang dikenal anak-anak SD kebanyakan hanya ngoko (untuk percakapan sehari-hari). meskipun demikian penelitian penggunaan bahasa Jawa masih relatif jarang dilakukan. Candimulyo. yaitu interaksi siswa di lingkungan sekolah.dalam situasi formal maupun non formal harus disesuaikan dengan situasi yang menuntut seseorang untuk lebih peka terhadap penuturnya. Magelang yang berjumlah 16 orang dalam komunikasi sehari-hari masih menggunakan bahasa Jawa. Kata sing diwaca merupakan leksikon ngoko yang tidak tepat digunakan jika berbicara dengan orang yang lebih tua. bahkan ketika mereka berbicara dengan orang yang lebih tua. Hal tersebut perlu dikaji agar diperoleh gambaran tentang perilaku penutur bahasa pada saat berinteraksi dengan lawan tutur dalam konteks khusus. halaman pinten sing diwaca? ‟Bu. yaitu dalam hubungannya dengan siapa yang berbicara. jika berbicara dengan orang yang lebih tua menggunakan ragam krama. maka akan diungkapkan dengan bahasa Jawa tingkat tutur ngoko: Bu. Penutur mungkin maksudnya baik. Penelitian mengenai penggunaan bahasa memang sudah cukup banyak dilakukan. Anak . halaman berapa yang dibaca? (Sumber: Tuturan seorang siswa kepada ibu guru yang menanyakan bagian yang harus dibaca). hal ini bisa dilihat dalam penggunaan kosakata bahasa Jawa yang sering digunakan kurang tepat (berdasarkan unggah-ungguhing basa Jawa). Pada umumnya siswa kelas 1 di SD Negeri 2 Trenten sudah tahu jenis tingkat tutur bahasa Jawa. Candimulya. penggunaan bahasa Jawa ngoko dan krama anakanak SD sering terjadi kesalahan dalam penggunaanya. Misalnya seorang siswa ingin bertanya kepada ibu guru tentang sesuatu.anak SD dalam interaksi dengan orang yang ada di sekitarnya masih menggunakan bahasa Jawa. Magelang menarik untuk diteliti. Tujuan penelitian ini adalah untuk . khususnya mengenai tingkat tutur ngoko dan krama. Penerapan tingkat tutur yang tidak tepat itu disebabkan kurangnya penguasaan terhadap bahasa Jawa. Magelang”. dan siapa yang diajak berbicara. maka penutur harus menyadari posisi sosial mitra tuturnya.

tetapi embrio unsur kosakata krama khususnya krama inggil sudah ada sejak zaman kuno dalam bahasa Jawa Kuno (Wedhawati. Perbedaan umur. gurunya memakai variasi dengan satu dua kata kosakata krama.mendeksripsikan: (1) jenis tingkat tutur bahasa Jawa yang digunakan pada siswa kelas I SD Negeri 2 Trenten. Gejala munculnya tingkat tutur sudah terlihat pada abad ke-15 periode Jawa Pertengahan. Tingkat tutur adalah variasi bahasa yang perbedaannya ditentukan oleh sikap pembicara kepada mitra bicara atau orang ketiga yang dibicarakan. dan Krama Ngoko adus deg. Kesalahan dalam pemilihan variasi bahasa sewaktu berbicara akan memunculkan kejanggalan dan dianggap tidak sopan (ora ngerti tata krama. tepatnya pada zaman Raja Sultan Agung (16131654) memerintah kerajaan Mataram. Wedhawati (2006: 11) memberikan contoh kosakata ngoko. derajat tingkat sosial. dan krama alus. Sudaryanto (1991: 5) menyatakan bahwa. diantaranya terdapat pada teks Dewaruci Tembang Gedhe. Komunikasi tokoh Bima sebagai murid pada teks itu dengan Pendeta Durna dan Dewa Ruci. yaitu tingkat tutur ngoko dan tingkat tutur krama. Contoh Kosakata Ngoko. ngadeg akon aku melu Madya adus deg. ngadeg aken kula tumut Krama siram jumeneng dhawuh dalem dherek Arti mandi Berdiri suruh saya ikut Munculnya tingkat tutur diperkirakan pada abad ke-17. (2) faktor yang mempengaruhi penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa pada siswa kelas I SD Negeri 2 Trenten. dan jarak keakraban antara pembicara dan mitra bicara akan menentukan variasi bahasa yang dipilih. ora ngerti unggah-ungguh) (Wedhawati. ngoko. sedangkan tingkat tutur krama dibagi menjadi krama lugu dan krama alus. Madya. Tingkat tutur ngoko terdiri dari (a) ngoko biasa dan (b) ngoko alus. dan (3) fungsi tingkat tutur bahasa Jawa pada siswa kelas I SD Negeri 2 Trenten. dan tingkat tutur krama terdiri dari (a) krama biasa dan (b) krama alus. yaitu tingkat tutur ngoko dan krama. Suwadji (1994: 13) membagi tingkat tutur menjadi dua. krama. 2006: 11). 2006: 10). Jadi ada empat bentuk tingkat tutur bahasa Jawa yaitu . diantaranya seperti dibawah ini. Berikut ini akan dikemukakan beberapa teori mengenai tingkat tutur untuk memperjelas uraian hasil penelitian. ngoko alus. . seiring dengan era globalisasi terdapat dua tingkat tutur dengan masing-masing tingkat dibedakan pada dipakai atau tidaknya kosa kata yang berkadar halus. madya dan krama. Tingkat tutur ngoko biasa dan krama biasa hanya disebut dengan ngoko dan krama saja. Tingkat tutur ngoko dibedakan lagi menjadi ngoko lugu dan ngoko alus. Walaupun munculnya tingkat tutur pada abad ke-17 dan gejalanya pada abad ke-15.

Beberapa faktor yang biasanya merupakan penyebab terjadinya alih kode antara lain ialah penutur. Menunjukkan sifat hubungan yang vertikal atau asimentris antara . Act Sequence (sikap). 2. Fungsi Tingkat Tutur Poedjasoedarma (1979: 14) telah membicarakan makna dan fungsi tingkat tutur dalam bahasa Jawa. tingkat tutur krama. 4. Sehubungan dengan maknanya. Tingkat tutur ngoko mencerminkan makna tak berjarak antara penutur dengan mitra tutur. Instrumentalies (sarana). lawan tutur. Ends (tujuan dan maksud perbincangan). sehingga kemudian menggunakan bahasa lain yang dikuasai. Key (latar belakang pembicaraan). Peralihan suatu kode ke kode lain terjadi karena keinginan penutur sendiri sebagai akibat dari perubahan suatu percakapan. dan pokok pembicaraan. Makna tersebut mengisyaratkan adanya tingkat keakraban hubungan. 1983: 72). Tingkat tutur yang dibicarakan ada tiga yaitu tingkat tutur ngoko. Oleh karena itu. Menunjukkan tingkat tutur penghormatan atau tingkat kesopanan antara penutur dengan mitra tutur atau juga dengan orang yang dituturkan (orang yang dibicarakan). dan tingkat tutur madya. fungsinya untuk menunjukkan sifat keakraban hubungan yang sedang antara penutur dengan mitra tutur ( Poedjasoedarma. Menunjukkan sifat hubungan antara penutur dengan mitra tutur. dan Genres (yang berhubungan dengan jenis kelamin). Sehubungan keempat fungsi tingkat tutur itu. terutama faktor-faktor yang bersifat sosio-situasional (Suwito. Adapun makna tingkat tutur madya yaitu memiliki makna sedang. Participant (lawan bicara). terutama faktor-faktor yang sifatnya sosio-situasional. 1979 : 14-15). 3. maka fungsi tingkat tutur krama dapat dinyatakan seperti di bawah ini: 1. Faktor faktor yang mendorong terjadinya alih kode terdapat dalam pernyataan Hymes dalam Soewito (1983) yang terangkum dalam akronim SPEAKING yang dijelaskan sebagai: Setting and Scene (tempat dan suasana). hadirnya penutur ketiga.Faktor-faktor Peralihan Pemakaian Tingkat Tutur (Alih Kode) Alih kode terjadi karena beberapa sebab yaitu faktor-faktor luar bahasa. Menunjukkan situasi tutur yang sedang berlangsung. Berdasarkan uraian tersebut. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa alih kode adalah peristiwa kebahasaan yang disebabkan oleh faktor-faktor luar bahasa. Norm (aturan berbahasa). Tingkat tutur krama mencerminkan makna hormat antara penutur dengan mitra tutur. secara umum dapat dinyatakan adanya empat fungsi tingkat tutur dalam bahasa Jawa diantaranya adalah: 1. Ketiga tingkat tutur tersebut secara luas berfungsi sebagai alat komunikasi di dalam masyarakat tutur Jawa. maka fungsinya adalah untuk menunjukkan sifat hubungan yang akrab antara penutur dengan mitra tutur. Alih kode juga disebabkan oleh tidak adanya kata yang tepat untuk digunakan dalam mengungkapkan sesuatu bahasa pertama oleh seorang penutur ke bahasa kedua. Menunjukkan perbedaan status sosial antara penutur dengan mitra tutur atau orang yang dibicarakan.

penutur dan mitra tutur : hubungan “menaik” (tidak mendatar/tidak akrab). 1997: 74). sedangkan tingkat tutur krama mencerminkan makna hormat antara penutur dengan mitra tutur. 2. . Penjelasan lebih lanjut mengenai S-P-E-A-K-I-N-G sebagai berikut. Tujuan penuturan ini berkaitan dengan fungsifungsi bahasa. dan orang yang dibicarakan. Menunjukkan perbedaan status sosial antara penutur dengan mitra tutur: penutur berstatus sosial rendah. maka dapat disimpulkan bahwa fungsi tingkat tutur ngoko mencerminkan makna tak berjarak antara penutur dengan mitra tutur atau menunjukkan keakraban hubungan. dan suasana tuturan menyebabkan timbulnya variasi bahasa yang dipakai oleh penuturnya. Komponen Tutur Sejalan dengan masalah yang diteliti. 1983: 29) membuat formulasi tentang faktorfaktor penentu ini. partisipasi komunikasi juga ikut menjadi pertimbangan bagi penutur dalam menyampaikan tuturannya. 3. Demikian halnya dengan status sosial. artinya setiap orang yang terlibat dalam suatu peristiwa tutur baik secara langsung maupun tidak langsung. yaitu tujuan penutur. Participants atau peserta tutur yang terlihat dalam peristiwa komunikasi juga mempengaruhi proses komunikasi yang sedang berlangsung. umur. Setiap penutur mengharapkan hasil anggapan atas pesan yang disampaikan sesuai dengan tujuan melakukan tuturan. Kemampuan berkomunikatif penutur menentukan penggunaan diksi suatu bahasa. bentuknya dipengaruhi oleh beberapa faktor. setting merupakan latar fisik yang meliputi tempat dan waktu terjadinya peristiwa komunikasi. Faktor ini dapat disebut sebagai peserta tutur. sehingga penggunaan tingkat tutur dapat mencerminkan status sosial seseorang penutur maupun mitra tutur. pendengar. Participants (P) adalah pembicaraan. Tujuan penutur mengharapkan hasil tanggapan atas pesan yang disampaikan sesuai dengan tujuan dalam melakukan tutuan. lawan bicara. Scene merupakan latar psikis yang mengacu pada suasana psikologi yang menyertai peristiwa komunikasi tersebut. sedangkan mitra tutur berstatus sosial tinggi. Berdasarkan uraian di atas. 4. Menunjukkan situasi tutur yang formal atau resmi (Dwiraharjo. tanggapan yang diharapkan oleh penutur dan goals. Untuk mempermudah mengingat faktor-faktor tersebut kemudian disusun sehingga memuat singkatan yang berbunyi S-PE-A-K-I-N-G. Ends (E) meliputi tujuan yang ingin dicapai (ends in goals) dan hasil yang diharapkan (ends as outcomes). Setting and Scene (S) adalah tempat dan suasana pembicaraan. Perbedaan tempat. waktu. Hymes (melalui Suwito. maka digunakan penelitian yang menyatakan bahwa ujaran (utterance) atau tuturan (speech). tingkatan pendidikan. Menunjukkan tingkat penghormatan atau tingkat kesopanan yang tinggi antara penutur dengan mitra tutur atau juga dengan orang yang dituturkan (hal lain yang dibicarakan). Pada hakikatnya ada dua hal yang tercakup dalam pengertian ends yaitu hasil.

Untuk mempermudah mengingat faktor-faktor tersebut. adanya faktor-faktor yang menandai terjadinya peristiwa tutur itu dapat dikaji dengan unsur-unsur teori S-P-EA-K-I-N-G. Kecamatan Candimulyo. Kecamatan Candimulyo. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Genre (G) merupakan jenis kegiatan diskusi yang mempunyai sifat-sifat lain dari jenis kegiatan yang lain. Instrumentalities tersebut meliputi saluran yang dipilih (channels) dan bentuk tuturan (form of speech). Kabupaten Magelang. Tuturan siswa kelas I SD Negeri 2 Trenten.Populasi yang dijadikan objek dalam penelitian ini adalah siswa kelas I SD Negeri 2 Trenten. Dengan demikian apabila ditemukan tuturan berupa kalimat yang memuat tingkat tutur bahasa Jawa yang dituturkan siswa akan diambil sebagai data. Kabupaten Magelang sebagai sasaran penelitian. Untuk memperoleh data berupa tingkat tutur pada penelitian ini akan menggunakan metode Simak Bebas Libat Cakap (SBLC) dan akan disertai dengan teknik rekam yang berfungsi untuk memperkuat atau melengkapi . Jumlah siswa kelas I adalah 16 orang yang terdiri dari 6 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah sampling jenuh. faktor dan fungsi pemakaian tingkat tutur bahasa Jawa di SD Negeri 2 Trenten. suasana bicara dan sebagainya. Teknik ini memiliki teknik dasar yang berwujud teknik sadap. sikap dan suasana yang menunjukkan tingkat formalitas pembicaraan dan bahasa yang digunakan dalam menyampaikan pendapat atau pesan. Unsur-unsur teori S-P-E-A-KI-N-G di atas digunakan untuk mengkaji lebih lanjut mengenai penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa siswa kelas I SD Negeri 2 Trenten. diantaranya adalah penutur. Kabupaten Magelang. norms juga dapat diartikan sebagai kaidah kebahasaan yang berlaku dalam lingkungan tuturan dan aturan yang mengikat agar diinterpretasikan sesuai keadaan. Key (K) adalah berupa nada suara. Kecamatan Candimulyo. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keseluruhan peristiwa pembicaraan dengan segala faktor serta peranan faktor –faktor di dalam peristiwa dikenal dengan sebutan peristiwa tutur (speech event). maka digunakan unsur-unsur teori S-P-E-A-K-I-N-G tersebut. Candimulyo. Sampel adalah bagian atau wakil populasi yang diteliti. Bentuk dan isi pesan merupakan komponen pokok dalam sebuah tingkat tutur. Magelang. tempat bicara. Penelitian ini difokuskan pada jenis. lawan bicara. Instrumentalities (I) adalah alat untuk bertutur atau menyampaikan suatu pendapat. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik simak atau penyimakan. Instrumentalities merupakan sarana tutur yang digunakan untuk menyampaikan isi dan maksud tuturan. Setiap penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa dipengaruhi beberapa faktor. pokok pembicaraan.Act Sequences (A) adalah suatu peristiwa tutur di mana seseorang pembicara sedang mempergunakan kesempatan berbicaranya meliputi bentuk pesan (message form) dan isi pesan (message content). Norms (N) adalah aturan permainan dalam pembicaraan.

Kabupaten Magelang pada penelitian ini akan menggunakan teknik catat dan teknik wawancara.teknik Simak Bebas Libat Cakap (SBLC). Participants: Dian Anggia (7) dan Mbak Nurhidayah (35). sehingga diperoleh data yang stabil. Keabsahan data penelitian dipertanggungjawabkan melalui validitas dan reliabilitas data. Untuk memperoleh faktorfaktor dan fungsi penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa siswa kelas I di SD Negeri 2 Trenten. Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik deskriptif. pedoman wawancara. roti: netral 2 Ngoko Alus mencerminkan makna Endi sing diwaos bu? tak berjarak antara Endi. sing: ngoko penutur dan mitra tutur Diwaos: krama andhap Bu: netral . Kecamatan Candimulyo. dan kartu data. faktor. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian terhadap penggunaan tingkat tutur pada siswa kelas I SD memunculkan tiga hal. iki tak berjarak antara dhuwite. Contoh hasil temuan pada penelitian ini dapat dijabarkan dalam tabel berikut: Contoh Jenis Tingkat Tutur. yaitu dengan cara pembacaan. data dilakukan oleh peneliti secara mandiri. Langkah yang ditempuh untuk mencapai kevalidan hasil penelitian. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah perekam. Secara reliabilitas data dalam penelitian intra-rater yaitu dengan melakukan pembacaan dan mengkaji data secara berulang-ulang. penutur dan mitra tutur Tuku. dan fungsi tingkat tutur. Faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Tingkat Tutur dan Fungsi Tingkat Tutur Bahasa Jawa No Jenis Tingkat Tutur 2 Ngoko Lugu Faktor yang Mempengaruhi 3 Setting and Scene: di kantin sekolah saat istirahat. pengamatan dan analisis yang cermat serta mengacu pada teori yang ada. iki. jenis tingkat tutur. yaitu. dhuwite: ngoko Mbak. End: bermaksud membeli dan menyerahkan uang Norm: adanya tingkat keakraban hubungan Act sequences: percakapan non formal Key: nada suara datar Instrumentalities: lisan Setting and Scene: di sekolah ketika pelajaran matematika Participants: Ari (7) dan Ibu Sumarawati (56) Ends: menanyakan halaman mana yang dibaca Fungsi Tingkat Tutur Indikator 1 1 4 5 mencerminkan makna Mbak tuku roti. Secara validitas. keabsahan data diperoleh menggunakan validitas semantik dan pertimbangan ahli.

no kalih boten saged Boten. afiks -e). Magelang adalah sebagai berikut: Tingkat Tutur Ngoko Tingkat tutur ngoko adalah tingkat tutur yang berintikan leksikon ngoko atau menjadi unsur inti dalam tingkat tutur ngoko adalah leksikon ngoko. . nulis: netral mencerminkan makna hormat antara penutur dengan mitra tutur. Ilham. faktor yang mempengaruhi pemakaian tingkat tutur dan fungsi tingkat tutur bahasa Jawa yang digunakan pada siswa kelas 1 SD Negeri 2 Trenten. Niki. Kecamatan Candimulyo. niki Ilham boten nulis. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa jenis tingkat tutur. sopan santun dengan guru Act sequences: percakapan formal di kelas Key: nada suara datar Instrumentalities: lisan Setting and Scene: di sekolah ketika pelajaran matematika Participants: Rupi Puspitasari (7) dan Ibu Sumarawati (56) Ends: memberitahukan tidak bisa mengerjakan no dua Norm: etika. boten: krama Bu. Tingkat tutur ngoko adalah salah satu tingkat tutur yang mencerminkan rasa tak berjarak antara penutur (O1) terhadap mitra tutur (O2).3 Krama Lugu 4 Krama Alus Norm: adanya tingkat keakraban hubungan Act sequences: percakapan formal di kelas Key: nada suara datar Instrumentalities: lisan Setting and Scene: di sekolah ketika pelajaran matematika Participants: Rekhan (7) dan Ibu Sumarawati (56) Ends: memberitahukan bahwa Ilham tidak menulis Norm: etika. bukan leksikon yang lain. Kecamatan Candimulyo. no: netral Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa jenis tingkat tutur bahasa Jawa yang digunakan pada siswa kelas 1 SD Negeri 2 Trenten. Afiks yang muncul dalam tingkat tutur ini semuanya berbentuk ngoko (misalnya. saged: krama Kalih: krama inggil Bu. sopan santun dengan guru Act sequences: percakapan formal di kelas Key: nada suara datar Instrumentalities: lisan mencerminkan makna hormat antara penutur dengan mitra tutur Bu. Tingkat tutur ngoko terdiri dari ngoko lugu dan ngoko alus. Tingkat tutur krama terdiri dari krama lugu dan krama alus. Magelang dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu ngoko dan krama. Bu.

artinya O1 tidak memiliki rasa segan terhadap O2. ini uangnya). Mbak tuku roti. Tingkat tutur ngoko lugu adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang semua kosakatanya berbentuk ngoko dan netral. Magelang adalah ngoko alus. iki dhuwite. Magelang adalah ngoko lugu. Sufiks -e pada kata dhuwite „uangnya‟ pada kata tersebut merupakan sufiks penanda ngoko. tingkat ngoko inilah yang seharusnya digunakan. yaitu dalam hubungannya dengan siapa yang berbicara dan siapa yang diajak bicara. „ Mbak beli roti. Ngoko Alus Tingkat tutur yang digunakan pada siswa kelas 1 SD Negeri 2 Trenten. Jadi. iki „ini‟ dan dhuwite „uangnya‟ merupakan jenis tingkat tutur ngoko. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa kosakata tuku „beli‟. Di bawah ini disajikan kutipan percakapan siswa yang menggunakan tingkat tutur ngoko lugu: Konteks: Percakapan terjadi ketika Dian Anggia menjelaskan kepada Mbak Nurhidayah bahwa dia bermaksud membeli roti. Percakapan di atas mencerminkan ciriciri tingkat tutur ngoko lugu yang semua kosakatanya berbentuk ngoko. Tingkat tutur ngoko alus adalah bentuk unggah-ungguh yang di dalamnya bukan hanya terdiri atas leksikon ngoko dan netral saja. Hal ini menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam menerapkan kata-kata tersebut dengan tepat sesuai unggah-ungguh. hal ini menunjukkan makna tak berjarak antara penutur dengan mitra tutur. Kecamatan Candimulyo. Percakapan terjadi di kantin sekolah. sehingga ketika berbicara dengan Mbak Nurhidayah menggunakan tingkat tutur ngoko lugu. iki dhuwite (Mbak beli roti. Dian Anggia dalam berbicara dengan Mbak Nurhidayah menggunakan kata ngoko yang mengisyaratkan adanya tingkat keakraban hubungan. Dian Anggia termasuk masih anak-anak (umur 7 tahun). Leksikon krama inggil dan . Bahasa yang digunakan anak usia 7 tahun belum menunjukkan tingkat tutur yang sempurna karena kosakata yang dikuasai anak usia 7 tahun masih terbatas. Kecamatan Candimulyo. (1) Dian Anggia : Mbak tuku roti. melainkan juga terdiri atas leksikon krama inggil dan krama andhap. Dian Anggia sebagai penutur menggunakan tingkat tutur ngoko lugu ketika menjelaskan kepada Mbak Nurhidayah bahwa dia bermaksud membeli roti dan menyerahkan uangnya. bagi orang yang ingin menyatakan keakraban terhadap orang lain. Percakapan antara siswa dan penjual tersebut menggunakan tingkat tutur ngoko lugu. Tingkat tutur ngoko mempunyai dua bentuk varian.ini uangnya‟. Penanda ngoko lugu terlihat dari kalimat. kemudian menyerahkan uangnya. Tingkat tutur ngoko lugu adalah tingkat tutur yang semua kosakatanya hanya berbentuk ngoko. Mbak Nurhidayah : Iya Dhik Dian’ „ iya Dhik Dian‟ Sumber: (9 April 2012) Tuturan pada data (1) terjadi antara Dian Anggia (siswa) dengan Mbak Nurhidayah (penjual). yang terdiri atas: Ngoko Lugu Tingkat tutur yang digunakan oleh siswa kelas 1 SD Negeri 2 Trenten.

dan krama andhap. hal ini menunjukkan makna tak berjarak antara penutur dengan mitra tutur. Tingkat Tutur Krama Tingkat tutur krama yaitu tingkat tutur yang mengungkapkan arti penuh sopan santun. Bahasa yang digunakan anak usia 7 tahun belum menunjukkan tingkat tutur yang sempurna karena kosakata yang dikuasai masih terbatas. Penanda kalimat pada tingkat tutur ngoko alus terlihat pada kalimat Endi sing diwaos Bu? „ mana yang dibaca Bu? „. Kecamatan Candimulyo. Hal ini terlihat dari leksikon yang digunakan Ari ketika berbicara dengan Ibu Sumarawati. sing „yang‟. Ari menggunakan tingkat tutur ngoko alus kepada Ibu Sumarawati. sedangkan leksikon krama andhap terdapat pada kata diwaos „dibaca‟. Dari kalimat tersebut dapat diketahui bahwa kosakata . (2) Ari : Endi sing diwaos Bu? „Mana yang dibaca Bu?‟ Ibu Sumarawati : Halaman tiga lan sekawan „Halaman tiga dan empat‟ Sumber: (10 April 2012) Tuturan pada data (2) di atas dapat diketahui bahwa Ari menggunakan tingkat tutur ngoko alus ketika menanyakan bagian yang harus dibaca kepada Ibu Sumarawati. Data di atas dapat disimpulkan bahwa kosakata yang digunakan oleh Ari ketika berbicara dengan Ibu Sumarawati adalah ngoko. Hal ini menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam menerapkan kata-kata tersebut dengan tepat sesuai unggah-ungguh. Tingkat tutur ngoko alus adalah tingkat tutur yang di dalamnya bukan hanya terdiri atas leksikon ngoko saja. karena lawan tutur adalah orang yang belum dikenal. Ari dalam berbicara dengan Ibu Sumarawati menggunakan kata ngoko yang mengisyaratkan adanya tingkat keakraban hubungan. krama andhap dan krama. Ari termasuk masih anak-anak (umur 7 tahun). Percakapan terjadi di dalam kelas saat pelajaran matematika. yaitu dalam hubungannya dengan siapa yang diajak bicara. sehingga ketika berbicara dengan Ibu Sumarawati menggunakan tingkat tutur ngoko alus. atau berpangkat . endi„mana‟ merupakan kosakata ngoko. Magelang.pada kata diwaos „dibaca‟ pada kata tersebut merupakan prefiks penanda krama andhap. dan krama andhap yang mencerminkan ciri-ciri tingkat tutur ngoko alus yang kosakatanya berbentuk ngoko. dan sing „yang‟. Kutipan percakapan di bawah ini menyajikan penggunaan tingkat tutur ngoko alus pada siswa kelas 1 SD Negeri 2 Trenten.leksikon krama yang muncul dalam tingkat tutur ini hanya digunakan untuk penghormatan kepada O2 (mitra tutur). sedangkan untuk diri sendiri O1 (penutur) selalu menggunakan bentuk ngoko dan krama andhap. dan endi „mana‟. Leksikon ngoko terdapat pada kata. diwaos „ dibaca‟. merupakan jenis kosakata krama andhap. Konteks: Percakapan terjadi antara Ari dengan Ibu Sumarawati ketika Ari menanyakan bagian yang harus dibaca pada ibu guru. tetapi juga terdapat leksikon krama inggil. Prefiks di. Tingkat ini menandakan adanya perasaan segan (pakewuh) penutur terhadap lawan tutur.

Tingkat tutur krama lugu adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang semua kosakatanya berbentuk krama. Magelang adalah krama lugu. Terdapat faktor penentu untuk menentukan tingkat tutur yang digunakan dalam tuturan di atas. Kecamatan Candimulyo.atau priyayi. apabila ingin tuturannya dapat diterima sesuai dengan kaidah yang berlaku. Faktor penentu yang paling menonjol dalam tuturan yang dituturkan oleh Rekhan kepada Ibu guru adalah tingkat formalitas hubungan. niki „ini‟. Dalam peristiwa tutur. boten „tidak‟ merupakan jenis leksikon krama. yaitu: Krama lugu Tingkat tutur yang digunakan pada siswa kelas 1 SD Negeri 2 Trenten. ini Ilham tidak nulis‟ Ibu Sumarawati : Ayo boten pareng rame „Ayo tidak boleh ramai‟ Sumber: (10 April 2012) Tuturan pada data (3) di atas menunjukkan bahwa Rekhan menggunakan tingkat tutur krama lugu ketika memberitahukan kepada Ibu guru kalau Ilham tidak menulis. sehingga Rekhan memilih bentuk tingkat tutur krama lugu dengan cara menggunakan leksikon-leksikon krama dalam tuturannya. Tingkat tutur krama mempunyai dua bentuk varian. Ada kaidah-kaidah tertentu yang harus dipatuhi dalam pemilihan bentuk tingkat tutur yang tepat ketika seorang penutur berkomunikasi dengan mitra tutur. niki Ilham boten nulis ‘Bu. Percakapan antara Rekhan dan Ibu Sumarawati menggunakan tingkat tutur krama lugu. Tingkat tutur krama lugu adalah bentuk tingkat tutur bahasa Jawa yang semua kosakatanya krama. Kalimat tersebut menunjukkan kosakata. yaitu semua kosakatanya berbentuk krama. Kutipan percakapan pada siswa kelas 1 SD Negeri 2 Trenten. begitu juga awalan dan akhiranya. berwibawa. niki Ilham boten nulis „Bu. Ragam krama digunakan bagi mereka yang merasa dirinya lebih rendah status sosialnya dari pada lawan bicara. termasuk juga afiksnya kalau kata itu berafiks. begitu juga dengan awalan dan akhiranya. Hal ini menunjukkan bahwa Rekhan tidak mengalami kesulitan dalam . ini Ilham tidak nulis‟. Tingkat tutur krama semua katanya adalah krama. Kecamatan Candimulyo. Penanda krama lugu terlihat dari kalimat Bu. Percakapan terjadi di dalam kelas saat pelajaran Matematika. (3) Rekhan : Bu. ada jarak antara O1 dan O2. sebab pertama kali bertemu/belum kenal. dan lain-lain. Pada data (3) menunjukkan bahwa kosakata yang digunakan oleh Rekhan ketika memberitahukan kepada Ibu guru kalau Ilham tidak menulis adalah krama yang mencerminkan ciri tingkat tutur krama lugu. O1 bersikap hormat kepada O2 dan tidak boleh berbuat semaunya. Magelang dapat dilihat di bawah ini: Konteks: Percakapan terjadi antara Rekhan dengan Ibu Sumarawati ketika memberitahukan kepada Ibu guru kalau Ilham tidak menulis. Rekhan menyadari bahwa seorang guru mempunyai status yang lebih tinggi dibandingkan seorang siswa. sehingga bentuk tingkat tutur yang dipilih adalah krama lugu. Rekhan dalam berbicara dengan ibu guru menggunakan bentuk krama untuk menunjukkan sifat hormat antara penutur dengan mitra tutur.

Kecamatan Candimulyo. Penanda krama alus dapat dilihat dari kalimat. Rupi Puspitasari menyadari bahwa seorang guru mempunyai status yang lebih tinggi dibandingkan seorang . dan apa yang dibicarakan Krama alus Tingkat tutur yang digunakan pada siswa kelas 1 SD Negeri 2 Trenten. Percakapan antara Rupi Puspitasari dengan Ibu Sumarawati menggunakan tingkat tutur krama alus. Penggunaan unggah-ungguh bahasa krama tersebut digunakan sebagai wujud penghormatan terhadap mitra tutur. sehingga Rupi Puspitasari memilih bentuk tingkat tutur krama alus dengan cara menggunakan leksikon-leksikon krama dan krama inggil dalam tuturannya. Pada data (4) menunjukkan bahwa kosakata yang digunakan Rupi Puspitasari ketika berbicara dengan Ibu Sumarawati adalah krama dan krama inggil yang mencerminkan ciri-ciri tingkat tutur krama alus yang semua kosakatanya berbentuk krama (leksikon krama dan leksikon krama inggil). Tingkat tutur krama alus adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang semua kosakatanya terdiri atas leksikon krama dan dapat ditambah dengan leksikon krama inggil atau krama andhap. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa kosakata. atau kekayaan yang lebih tinggi daripada O1. Tingkat tutur krama alus adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang semua kosakatanya terdiri atas leksikon krama dan dapat ditambah dengan leksikon krama inggil atau krama andhap. Terdapat faktor penentu untuk menentukan tingkat tutur yang digunakan dalam tuturan di atas. nomor dua tidak bisa‟ Ibu Sumarawati : Ayo njajal digarap sik Mbak ‘Ayo coba dikerjakan dulu Mbak Rupi‟ Sumber: (10 April 2012) Tuturan pada data (4) di atas menunjukkan bahwa Rupi Puspitasari menggunakan tingkat tutur krama alus ketika berbicara dengan Ibu Sumarawati. pendidikan. nomor dua tidak bisa‟. nomor kalih boten saged „Bu. Bu. nomor kalih boten saged „Bu. Magelang adalah krama alus. termasuk dalam kosakata krama inggil. Kutipan percakapan pada siswa kelas 1 SD Negeri 2 Trenten.menerapkan kata-kata yang sesuai unggah-ungguh yaitu dalam hubungannya dengan siapa yang berbicara. Magelang disajikan di bawah ini: Konteks: Percakapan terjadi antara Rupi Puspitasari dengan Ibu Sumarawati pada pelajaran Matematika. Faktor penentu yang paling menonjol dalam tuturan yang dituturkan oleh Rupi Puspitasari kepada Ibu guru adalah tingkat formalitas hubungan. Kecamatan Candimulyo. Percakapan terjadi di dalam kelas. (4) Rupi Puspitasari : Bu. siapa yang diajak berbicara. Dalam pemilihan bentuk tingkat tutur yang tepat ketika seorang penutur berkomunikasi dengan mitra tutur. Kedudukan tersebut dinilai dari segi umur. kalih „dua‟. saged „bisa‟ termasuk dalam kosakata krama. Mitra tutur yang dimaksud tentulah orang yang lebih dihormati yaitu O2 dan O3 yang memiliki kedudukan. dan boten „tidak‟. ada kaidah-kaidah tertentu yang harus dipatuhi apabila ingin tuturannya dapat diterima sesuai dengan kaidah yang berlaku.

dkk. 1979. Maryono. Rupi Puspitasari dalam berbicara dengan ibu guru menggunakan bentuk krama dan krama inggil untuk menunjukkan kesopanan atau sifat hormat antara penutur dengan mitra tutur. serta campuran diantara keduanya. Persamaan atau perbedaan faktor sosial di antara peserta ujaran dapat menimbulkan hubungan simetris dan asimetris. dan apa yang dibicarakan. Wedhawati. krama lugu dan krama alus. Empat bentuk tersebut masing-masing adalah ngoko lugu. Tata Bahasa Baku Bahasa-Jawa. maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1.siswa. Fungsi tingkat tutur bahasa Jawa pada siswa kelas I SD Negeri 2 Trenten adalah untuk menunjukkan tingkat keakraban hubungan antara penutur dengan mitra tutur pada tingkat tutur ngoko lugu dan ngoko alus dan mencerminkan makna hormat antara penutur dengan mitra tutur pada tingkat tutur krama lugu dan krama alus. Soepomo. dan faktor norma atau aturan. 1991. Penentu pemilihan bentuk tingkat tutur dipengaruhi oleh faktor formalitas hubungan perseorangan antara O1 dan O2. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan dalam mengamati penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa siswa kelas I SD Negeri 2 Trenten. DAFTAR PUSTAKA Dwiraharjo. Jawa Tengah. 1994. . Sosiolinguistik: Teori dan Problema. 1997. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sudaryanto.1983. Ditemukan empat bentuk tingkat tutur. Yogyakarta: Kanisius. “Fungsi dan Bentuk Krama” Disertasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Jakarta. 3. 1996. 2. Suwadji. Candimulya.Hal ini menunjukkan bahwa Rupi Puspitasari tidak mengalami kesulitan dalam menerapkan kata-kata yang sesuai unggah-ungguh yaitu dalam hubungannya dengan siapa yang berbicara. sehingga bentuk tingkat tutur yang dipilih adalah krama alus. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Surakarta: Henary. Poedjasoedarma. siapa yang diajak berbicara. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama. faktor tempat dan suasana. Tata Bahasa Jawa Mutakhir. Ngoko lan Krama. Suwito. faktor tujuan tutur. Tingkat Tutur Bahasa Jawa. akrab dan tidak akrab. ngoko alus. Magelang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful