P. 1
Modul Praktikum Fisika

Modul Praktikum Fisika

|Views: 492|Likes:
Published by Kiki Pratama Aizen
Praktikum Fisika
Praktikum Fisika

More info:

Published by: Kiki Pratama Aizen on Jun 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/01/2014

pdf

text

original

Sections

  • PERCOBAAN I PENGUKURAN
  • PERCOBAAN II VEKTOR GAYA OLEH DUA KATROL
  • PERCOBAAN III AIR TRACK
  • PERCOBAAN IV GERAK LURUS BERUBAH BERATURAN
  • PERCOBAAN V USAHA DAN ENERGI
  • PERCOBAAN VI MOMEN INERSIA
  • PERCOBAAN VII SUHU DAN KALOR
  • PERCOBAAN VIII GETARAN PEGAS
  • PERCOBAAN IX PEMBENTUKAN BAYANGAN PADA CERMIN DATAR
  • PERCOBAAN X INTERFERENSI SINAR LASER OLEH DUA CELAH
  • PERCOBAAN XI PEMBENTUKAN BAYANGAN OLEH LENSA
  • PERCOBAAN XII INDEKS BIAS PRISMA DAN PLAN PARAREL
  • PERCOBAAN XIII HUKUM OHM DAN RANGKAIAN HAMBATAN SERI DAN PARALEL
  • PERCOBAAN XIV HUKUM KIRCHHOFF
  • PERCOBAAN XV MENENTUKAN MOMEN MAGNETIK PADA MAGNET BATANG
  • PERCOBAAN XVI HUKUM ARCHIMEDES

1

BAB I
TEORI KESALAHAN DALAM PENGUKURAN

A. STANDAR KOMPETENSI
Mahasiswa dapat memahami dan menggunakan, serta mengaplikasikan
teori kesalahan dalam pengukuran khususnya fisika

B. KOMPETENSI DASAR
Kompetensi dasar yang harusdicapai mahasiswa padatopik ini adalah:
1. Memahami pengertian pengukuran dalam fisika
2. Memahami kesalahan dan ketidakpastian dalam pengukuran
3. Memahami pengertian perambatan kesalahan dalam pengukuran
4. Memahami pengertian penulisan kesalahan dalam pengukuran
5. Mengaplikasikan teori kesalahan dan ketidakpastian dalam pengukuran

C. INDIKATOR
1. Mampu menjelaskan pengertian pengukuran dalam fisika
2. Mampu menjelaskan konsep kesalahan dan ketidakpastian dalam
pengukuran
3. Mampu menjelaskan pengertian perambatan kesalahan dalam
pengukuran
4. Mampu menjelaskan pengertian penulisan kesalahan dalam
pengukuran
5. Mampu memberikan contoh dari masing-masing jenis sumber
kesalahan
6. Mampu menggunakan ketidakpastian dalam hasil pengukuran

D. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa dapat mendefenisikan pengertian pengukuran dalam fisika
2. Mahasiswa dapat mendefenisikan konsep kesalahan dan ketidakpastian
dalam pengukuran
2

3. Mahasiswa dapat mendefenisikan pengertian perambatan kesalahan
dalam pengukuran
4. Mahasiswa dapat membedakan dan memberikan contoh dari jenis-jenis
sumber kesalahan
7. Mahasiswa dapat menggunakan ketidakpastian dalam hasil
pengukuran
5. Mahasiswa dapat menyelesaikan persoalan-persoalan pengukuran
dalam fisika
6. Mahasiswa dapat mengetahui pentingnya kesalahan dalam pengukuran
7. Mahasiswa dapat menuliskan hasil pengukuran dengan benar

PENGUKURAN DAN KETIDAKPASTIAN
Untuk mengerti dan memahami dunia sekitar kita, dibutuhkan relasi
antara suatu besaran fisika dengan besaran fisika yang lain. Sebagai contoh,
utnuk mengukur kecepatan (v) pada gerak lurus beraturan diperlukan untuk
mengukur jarak (s) dan waktu (t).
t
s
v=
Supaya jelas, hasil pengukuran harus dinyatakan secara kuantitatif, bukan
secara kualitatif atau hanya dengan ilustrasi. Hasil kuantitatif ini diperlukan
untuk perbandingan dengan hasil-hasil yang lain

Bukan : Seharusnya
Hasan tinggi sekali Hasan mempunyai tinggi 2,1 m
Angin sepoi-sepoi basah Kecepatan angin 10 m/detik

Ketepatan pengukuran adalah hal yang sangat penting di fisika untuk
mendapatkan hasil yang dapat dipercaya. Namun demikian tidak ada
pengukuran yang absolut tepat, selalu ada ketidakpastian dalam setiap
pengukuran.
3

Oleh karena itu, kita harus menyertakan angka-angka kesalahan supaya
kita dapat memberikan penilaian yang wajar dari hasil percobaan besaran
fisika, misal x dapat dinyatakan :
x x x x x A + < < A ÷
dengan x merupakan nilai terbaik sebagai pengganti nilai yang benar, x A
merupakan kesalahan pada pengukuran yang disebabkan keterbatasan alat,
ketidakcermatan, perbedaan waktu pengukuran, dan lain sebagainya. Dengan
menyertakan kesalahan atau batas toleransi terhadap suatu nilai yang kita
anggap benar, kita dapat mempertanggungjawabkan hasil percobaan yang
dilakukan.

1. Sumber-sumber dan Tipe Kesalahan
Sumber-sumber kesalahan eksperimen dapat berasal dari :
a. Instrumental, seperti kalibrasi alat yang tidak sempurna
b. Observasi, seperti kesalahan paralaks pembacaan
c. Environmental, seperti tegangan listrik yang tidak stabil
d. Teori, disini model dibuat terlalu sederhana, seperti pengabaian
gaya gesek.
e. Secara pengukuram, kesalahan ini terbagi dua macam :
f. Error sistematik
g. Error random
Error Random, adalah kesalahan yang konsisten terjadi pada pengukuran
yang pada dasarnya dapat diidentifikasikan dan dihilangkan. Error ini dapat
dihindari dengan cara kalibrasi yang baik, pengamatan yang menghindari
paralaks, perulangan apabila terjadi breakdown listrik.
Error Random,tidak selamanyadapat diidentifikasi, seperti: kesalahan
setelah mencapai divisi skala terkecil, fluktuasi suhu, dan vibrasi mekanik.
Kesalahan ini dapat dikuantifikasi secara statistik.
Skema error random dan error sistematik dapat digambarkan di bawah ini :


Hanya error random
Nilai sesungguhnya
Eror random dan sistematik
4

2. Penulisan Kesalahan pada Hasil Pengukuran
Cara memperkirakan dan menyatakan kesalahan ini, bergantung pada cara
pengukuran yang dilakukan, yaitu: pengukuran berulang dan pengukuran
tunggal (tidak dapat diulang).
Apabila dimungkinkan, dalam suatu percobaan hendaknya dilakukan
melalui pengukuran berulang, tetapi terkadang pengukuran tunggal tidak dapat
dihindari, yaitu pada :
a. Peristiwa yang tidak dapat diulang, contoh : pengukuran kecepatan
komet, lama gerhana matahari total, dan lain-lain.
b. Pengukuran diulang tetapi hasilnya tetap sama, hal ini biasanya
diakibatkan oleh tingkat ketelitian alat yang rendah dipakai untuk
mengukur besaran yang lebih kecil, contoh : mengukur tebal bulu
dengan mistar.
Dalam hal demikian hasil pengukuran dilaporkan sebagai berikut :
x x A ±
dengan x adalah hasil pengukuran tunggal dan x A merupakan ½ kali skala
pengukuran terkecil (s.p.t) dari alat ukur. Contoh cm t ) 05 , 0 10 , 2 ( ± = .
Pengukuran berulang menghasilkan sampel populasi x, yaitu x
1
, x
2
, x
3
, …,
x
n
. Untuk menyatakan nilai terbaik sebagai pengganti nilai benar x dari
pengkuran diatas, dipakai nilai rata-rata sampelx , yaitu :
¿
=
=
n
i
i
x
n
x
1
1

Sedangkan untuk menyatakan deviasi hasil pengukuran ( x A ) dapat dipakai
deviasi standar nilai rata-rata sample :
( ) ( )
) 1 ( ) 1 (
) ( 2
2
2
1
2
1
÷
÷
=
÷
÷
=
¿ ¿
¿
÷
n n
x X n
n n
x x
S
i i
n
i
x

Hasil pengukuran dapat dituliskan sebagai berikut :
x
s x x x x ± = A ± =

5

(Terkadang ada beberapa buku teks eksperimen yang mengambil kesalahan
berlebihan seperti
u S x
x
+ = A 3
, dengan u adalah kesalahan bersistem / skala
terkecil dari alat ukur).
Kesalahan pengukuran sering kali dinyatakan dalam :
a. Kesalahan relative :
x
x A
(dapat juga ditulis dalam persen)
b. Kesalahan mutlak : x A
c. Kesalahan (relatif) terhadap literatur :
lit
lit
x
x x ÷

Penulisan hasil hendaknya menggunakan angka signifikan yang benar,
angka di belakang koma dari kesalahan tidak boleh lebih dari angka di
belakang koma dari hasil rata-rata, apabila dijumpai bilangan sangat besar atau
sangat kecil hendaknya digunakan bentuk eksponen dan satuan harus selalu
dituliskan.
Tabel I. Cara Penulisan Angka Signifikan
Contoh Penulisan yang Salah Contoh Penulisan yang Benar
k = (200,1 ± 0,215)
0
K/detik k = (200,1 ± 0,2)
0
K/detik
d = (0,000002 ±
0.00000035)mm
d = (20 ± 4) x 10
-7
mm
π = 22/7 π = 3,1415
F = (2700000 ± 30000) N F = (270 ± 3 ) x 10
4
N

3. Perambatan Kesalahan
Banyak besaran fisika yang merupakan fungsi besaran-besaran fisika
lainnya. Misalkan besaran fisika z, fungsi dari x dan y. Untuk mengetahui z,
maka besaran x dan yharus diukur terlebih dahulu. Selanjutnya ketidakpastian z
juga dapat ditentukan dengan terlebih dahulu menguraikan fungsi z = z (x,y)
menjadi deret Taylor atau diferensial di sekitar x dan y.
Contoh-contoh :
1. x x a z maka x a z A = A = cos , sin
6

2. x
x
z maka
x
z A ÷ = A =
2
1
,
1

3. y y x x z maka xy z A + A = A = ,
Ketidakpastian z dapat juga dihitung dengan persamaan :
.......
2
2
2
2
+ A
|
|
.
|

\
|
c
c
+ A
|
.
|

\
|
c
c
= A y
y
z
x
x
z
z
Kadang-kadang dijumpai suatu besaran yang ditentukan oleh beberapa
pengukuran x, yang mempunyai derajat keakuratannya berbeda
i
x A
. Nilai
rata-rata besaran tersebut dapat dihitung dengan nilai rata-rata berbobot :
¿
¿
=
=
=
n
i
i
n
i
i i
g
x g
x
1
1

dengan faktor bobot
( )
2
1
i
i
x
g
A
=
Ketidakpastian dari rata-rata berbobot adalah :
( )
( )
¿
¿
=
=
÷
÷
= A
n
i
i
n
i
i i
g n
x x g
x
1
1
1


5. Pembuatan Grafik Dan Regresi Linear
Hasil percobaan bila dibuat dalam bentuk angka-angka saja akan
menjemukan, untuk itu angka-angka tersebut divisualisasikan dalam bentuk
grafik atau kurva dari variabel yang dikehendaki. Pembuatan grafik
mempunyai tujuan melihat hubungan antar variabel, menghitung
konstanta/koefisien dari rumus, dan membuktikan kebenaran suatu rumus.
Untuk keperluan hal yang pertama, dapat dilakukan dengan cara ,membuat
semua titik data yang ada, kemudian kita hubungkan titik tersebut (misalnya
dengan penggaris maal) supaya didapatkan pola kurva. Sedangkan untk
7

keperluan kedua dan ketiga, kita usahakan agar kurva berbentuk linear y = a +
bx . Sebagai contoh, misalkan kita ingin mencari hubungan antara tekanan (P)
dan volume(V) gas pada suhu tetap. Kita kenal Hukum Boyle ; PV = konstan,
maka untuk mendapatkan garis lurus, kita gambarkan grafik P vs 1/V dan
bukan P vs V.
Kemudian untuk mendapatkan koefisien/konstanta dari suatu
percobaan, kita gunakan metode last square (kuadrat terkecil) untuk
mendapatkan regresi linear. Penurunan rumus lebih dalam dapat dilihat di
buku-buku statistik, disini hanya akan diperlihatkan hasil akhir saja.
Misalkan kita memiliki sejumlah data x
1
, x
2
, x
3
, …..x
n
(jumlah data n) yang
berhubungan secara linear dengan data-data y
1
, y
2
, y
3
, ….y
n
yang dapat
dinyatakan sebagai berikut :
bx a y + =
Harga-harga terbaik a dan b dapat dicari dengan metode kuadrat terkecil:
( )( ) ( )( )
( ) ( )
2
2
2
¿ ¿
¿ ¿ ¿ ¿
÷
÷
=
x x n
xy x x y
a

dengan kesalahan
( )
2 2
2
¿ ¿
¿
÷
=
i i
i
x x n
x
Sy Sa
( ) ( )( )
( ) ( )
2
2
¿ ¿
¿ ¿ ¿
÷
÷
=
x x n
y x xy n
b

dengan kesalahan
( )
2 2
¿ ¿
÷
=
i i
x x n
n
Sy Sa

Di sini :
( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) (
(
¸
(

¸

÷
+ ÷
÷ |
.
|

\
|
÷
=
¿
¿ ¿
¿ ¿ ¿ ¿ ¿ ¿
2
2
2 2 2 2
2 2
2
2
1
i i
i i i i i i
i
x x n
xy n y y x x y x
y
n
Sy
Kekuatan hubungan antara x dan y dapat dihitung dari koefisien korelasi
(pembahasan lebih lengkap dapat dilihat pada sisi buku-buku statistik) :
8

( )
( )( ) ( )
( ) ( )
¿ ¿
¿
÷ ÷
÷ ÷
= =
2 2
y y x x
y y x x
S S
S
xy r
i i
i i
y x
xy

atau dapat ditulis sebagai berikut :
( )( )
( ) ( ) ( ) ( )
¿ ¿ ¿ ¿
¿ ¿ ¿
÷ ÷
÷
=
2
2
2
2
) (
i i i i
i i i i
y y n x x n
y x y x n
xy r
Untuk memudahkan mencari harga-harga a dan b sebaiknya dibuat tabel
dengan kolom-kolom x, y, x
2
dan xy.

Soal Kompetensi :
1. Suatu teknik untuk menyatakan sifat fisis dalam sebuah bilangan sebagai
hasil dari membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain dengan suatu
besaran baku yang diterima sebagai satuan disebut …
A. Mengukur
B. Pengukuran
C. Ukuran
D. Takaran
E. Menimbang
2. Suatu besaran X, diukur dengan menggunakan alat ukur secara berulang
sebanyak lima kali dengan hasil X
1
, X
2
, X
3
, X
4
, dan X
5
. Maka penulisan
hasil pengukuran yang harus dilaporkan adalah …
A. (
̅

)
B. (
̅


(∑

)(∑

)

)
C. (
̅


(∑

)(∑

)

)
D. (
̅

)
E. (
̅

)
3. Hasil kali dari 2,567 x 0,023 = ……… menghasilkan …. angka
berarti.
A. 0,059041 ; 5 AB
B. 0,05904 ; 4 AB
C. 0,0590 ; 3 AB
D. 0,059 : 2 AB
E. 0,06 ; 1 AB
9

4. Hasil pengukuran massa suatu benda dengan menggunakan neraca lengan
tiga yang memiliki Nst 0,1 gram adalah (50,0 0,05) gram. Jika nol pada
skala utamanya tepat di angka 2,0 gram, maka hasil pengukuran
sebenarnya adalah …
A. (52,0 0,1) gram
B. (50,2 0,05) gram
C. (48,0 0,01) gram
D. (52,0 0,05) gram
E. (48,0 0,05) gram
10

PERCOBAAN I
PENGUKURAN

A. Standar Kompetensi
Menerapkan konsep besaran dan satuan dalam pemecahan pengukuran.
B. Kompetensi Dasar
Memahami penggunaan alat serta besarannya.
C. Indikator
1. Mahasiswa dapatmengetahui penggunan alat-alat ukur untuk pengukuran panjang,
massa dan volume.
2. Mahasiwa dapatmembaca hasil pengukuran dari alat-alat ukur yang digunakan
dengan tepat.
D. Tujuan Percobaan
1. Mempelajari penggunan alat-alat ukur untuk pengukuran panjang, massa dan
volume.
2. Membaca hasil pengukuran dari alat-alat ukur yang digunakan dengan tepat
3. Mempelajari penggunaan teori ralat dalam pengukuran.

E. Alat Dan Bahan
No Nama Alat / Bahan Jumlah
1 Mistar 1 buah
2 Jangka sorong 1 buah
3 Mikrometer sekrup 1 buah
4 Sferometer 1 buah
5 Neraca 1 buah
6 Bola Pejal 1 buah
7 Lensa cembung 1 buah
8 Lensa cekung 1 buah

F. Teori Dasar
Alat Ukur Panjang
1. Mistar Ukur
Mistar ukur merupakan alat ukur linear yang paling sederhana dan paling banyak
dikenal orang.Biasanya berupa pelat dari baja atau kuningan dimana pada dua sisi dari
salah satu permukaannya diberi skala (metris atau inch). Panjang dari skala ukuran mistar
adalah 150 mm-300 mm dengan pembagian dalam skala 0,5 atau 1 mm.
11

Pengukuran dilaksanakan dengan menempelkan mistar pada objek yang diukur
sehingga objek ukur dapat langsung dibaca pada skala mistar ukur.Kecermatan
pembacaan tidak dapat lebih dari 0,5 mm,oleh karena itu mistar tidak dapat digunakan
untuk pengukuran dengan kecermatan yang tinggi.
Cm 0 1 2

Gambar 1.1 Mistar ukur dengan ketelitian 0,1 cm

2. Jangka Sorong
Jangka Sorong adalah alat ukur besaran panjang yang mempunyai dua skala,yaitu
skala utama dan skala nonius.
Jangka sorong dapat dipakai untuk mengukur :
- Bagian luar dari suatu benda
- Bagian dalam suatu benda (benda berongga)
- Kedalaman suatu benda.
Kecermatan pembacaan bergantung dari skala noniusnya dalam hal ini adalah 0;
10; 0,05; atau 0,02 mm. Hal yang harus diperhatikan sewaktu menggunakan jangka
sorong adalah :
- Rahang ukur gerak (peluncur) harus dapat meluncur pada batang ukur dengan
baik tanpa bergoyang.
- Memeriksa kedudukan nol serta kesejajaran dari permukaan kedua rahang.
- Benda ukur sedapat mungkin jangan diukur hanya dengan menggunakan ujung
dari rahang ukur(harus agak ke dalam).
- Tekanan pengukuran jangan terlampau kuat sehingga memungkinkan
pembengkokan rahang ukur ataupun lidah ukur kedalaman.
- Pembacaan skala nonius dilakukan setelah jangka sorong diangkat dari objek
ukur dengan hati-hati (setelah peluncur dimatikan).Memiringkan jangka
sorong sehingga bidang skala nonius hampir sejajar dengan bidang
pandangan,dengan demikian mempermudah penentuan garis nonius yang
menjadi segaris dengan skala garis skala utama.
12


Gambar 1. Jangka sorong

3. Mikrometer Sekrup
Mikrometer merupakan alat ukur linier yang mempunyai kecermatan yang lebih
baik daripada jangka sorong. Pada umumnya mempunyai kecermatan sampai 0,01
mm,jadi sebenarnya tidak dapat mengukur sampai kecermatan 1 mikrometer (meski nama
alat ini mikrometer).Kadang ada juga yang dibuat dengan kecermatan 0,05 mm dan
bahkan 0,002 mm.
Sebuah mikrometer sekrup terdiri dari dua bagian yaitu bagian tetap dan bagian
yang dapat diputar (selubung luar).Sama halnya dengan jangka sorong mikrometer sekrup
memiliki dua skala yaitu skala utama yang terdapat pada bagian tetap dan skala nonius
yang terletak pada bagian yang dapat diputar.
Bagian-bagian micrometer sekrup
- Rahang atas, Rahang geser.
- Kunci
- Skala tetap atau skala utama.
- Skala putar, Pemutar.







Gambar 2. Mikrometer sekrup

13

Fungsi mikrometer sekrup antara lain :
- Mengukur ketebalan diameter luar suatu logam,kawat dan sebagainya
- Mengukur ketebalan dari suatu material misalnya: buku,kertas,kotak kecil dan
sebagainya
- Mengukur panjang suatu bagian yang tidak terlalu besar
- Mengukur jarak dua titik yang sangat dekat.

4. Sferometer
Sferometer adalah alat yang digunakan untuk menentukan kelengkungan suatu
benda yang berbentuk bagian dari bola, seperti cermin/lensa baik cekung maupun
cembung. Sferometer mempunyai dua skala yaitu skala utama dan skala nonius. Skala
utama berdiri tegak dimana skala nol tepat berada di tengah. Sferometer memiliki
ketelitian 0.01 mm.
Untuk menentukan jari-jari kelengkungan lensa baik cembung maupun cekung
adalah dengan menggunakan persamaan dibawah ini :

(1.1)

Dengan : R = Jari-jari kelengkungan lensa
a = Hasil pengukuran
l = Jarak antara kaki sferometer
Gambar 3. Sferometer

5. Kerapatan (Massa jenis)
Berbagai metode digunakan untuk menentukan massa jenis suatu benda yang
bergantung pada bentuk dan homogenitas dari benda tersebut .

(1.2) ,dengan m = massa,dan V = volume benda yang diukur.
Massa dan volume dari benda uji biasanya diukur terpisah, kemudian digunakan
persamaan diatas untuk menghitung massa jenisnya. Volume benda uji ditentukan secara
geometri untuk benda yang sederhana, dapat juga diukur dengan mencelupkan benda
tersebut ke dalam zat cair, kemudian diukur volume zat cair yang dipindahkan.




14

Alat Ukur Massa
1. Neraca tiga lengan
Neraca tiga lengan adalah alat ukur massa yang memiliki tiga lengan berupa
batangan satuan, puluhan, dan batangan ratusan diantara batangan satuan dan puluhan.
Nilai skala terkecil Alat ukur ini adalah : 0,1 gr. Benda diletakkan pada piringan neraca
untuk kemudian diukur massanya.








Gambar 4. Neraca Tiga Lengan

G. Tugas Sebelum Percobaan
1. Berapa skala terkecil dari masing-masing alat ukur yang ada ketahui?
2. Tuliskan Fungsi dari bagian-bagian mikrometer sekrup!
3. Tentukan ketidakpastian (Aa) untuk
z
y x
a
2
.
= !
4. Berapakah hasil pengukuran dengan alat bantu nonius seperti ditunjukkan oleh
gambar berikut :



Gambar 5. Pengukuran dengan jangka sorong
5. Buktikan persamaan

dengan menggunakan analisa geometri !

H. Prosedur Percobaan
Pengukuran Panjang
a. Mistar
1) Memeriksa mistar yang telah disediakan apakah titik nol pada mistar sudah tepat atau
tidak.
2) Menentukan nilai skala terkecil dari mistar tersebut
15

3) Mengukur panjang dan lebar meja praktikum masing-masing sebanyak kali untuk
ditentukan luasnya.
4) Menuangkannya dalam bentuk tabel berikut :
Tabel 1.1 Panjang dan Lebar Meja Praktikum
No.
Panjang Meja
( p ±Ap ) cm
Lebar meja
( l ±Al ) cm
1.
2.
3.

b. Jangka Sorong
1) Memeriksa apakah skala nol utama berimpit dengan skala nol pada skala nonius.Jika
tidak,maka pergeserannya dicatat.
2) Mengukur diameter dalam,luar,serta kedalaman tabung.
3) Mencatat skala utama yang terlihat berdekatan dengan angka nol pada skala nonius.
4) Mencatat garis nonius yang tepat berimpit dengan garis pada skala utama
5) Membaca dan mencatat hasil pengukuran sebanyak 3 kali

Tabel 1.2 diameter dalam tabung (d
1
):
No SU ( cm ) SN ( cm ) HP : ( d
1
± Ad
1
)
1.
2.
3.

Tabel1.3 diameter luar tabung (d
2
) :
No SU ( cm ) SN ( cm ) HP : ( d
2
± Ad
2
)
1.
2.
3.

Tabel 1.4 kedalaman tabung (t) :
No SU ( cm ) SN ( cm ) HP : ( t ± At )
1.
2.
16

3.

c. Mikrometer Sekrup
1) Memeriksa titik nol mikrometer skrup
2) Meletakkan bola pejal diantara spindel dengan landasan
3) Memutar rached hingga berbunyi “klik” tiga kali.
4) Membaca dan mencatat hasil pengukuran bola pejal.
5) Mengulangi pengukuran sebanyak 3 kali
6) Mengulangi prosedur 1 – 5 untuk pengukuran ketebalan kertas

Tabel 1.5 pengukuran diameter bola pejal d :
No SU ( cm ) SN ( cm ) HP : ( d ± Ad )
1.
2.
3.

Tabel 1.6 pengukuran ketebalan :
No SU ( cm ) SN ( cm ) HP : ( x ± Ax )
1.
2.
3.

d. Sferometer
1) Sferometer didirikan diatas bidang datar hingga keempat kaki dari sferometer
bersinggungan dengan bidang datar
2) Memeriksa apakah skala nol dari skala utama tepat menjadi pelurus dari skala nol dari
skala nonius
3) Memindahkan sferometer tersebut pada permukaan lensa cekung dan cembung untuk
ditentukan jarak cekung dan cembungnya,dengan kaki sferometer harus
bersinggungan dengan permukaan lensa
4) Membaca dan mencatat hasil pengukuran
5) Mengulangi pengukuran lensa sebanyak 3 kali
6) Menentukan jari-jari kelengkungan lensa.

17

Tabel 1.7 pengukuran jarak kelengkungan lensa cekung (a) :
No SU ( cm ) SN ( cm ) HP : ( a ± Aa )
1.
2.
3.

Tabel 1.8 pengukuran jarak kelengkungan lensa cembung (h) :
No SU ( cm ) SN ( cm ) HP : ( a ± Aa )
1.
2.
3.

Pengukuran Massa
a. Neraca Tiga Lengan
1) Memeriksa lebih dahulu apakah jarum berayun dari neraca yang dipakai menunjukan
skala nol. Jika tidak,mencatat pergeseran tersebut.
2) Meletakkan bola pejal pada piringan neraca.
3) Membaca dan mencatat massa dari bola pejal yang akan ditentukan massa jenisnya.
4) Mengulangi pengukuran sebanyak 3 kali.
5) Memasukkan data pada tabel data hasil pengamatan
Tabel 1.9 pengukuran massa bola pejal :
No HP : ( m ± Am ) gram
1.
2.
3.

I. Tugas Setelah Percobaan
1. Setelah melakukan praktikum maka hitunglah luas meja praktikum!
2. Hitunglah volume tabung, volume bola, massa jenis bola serta jari-jari
kelengkungan lensa baik lensa cekung maupun lensa cembung!
3. Dari alat yang digunakan manakah yang paling teliti? Jelaskan!
4. Anda ingin mengukur sekeping papan (ukurannya ± 25 mm). Jika anda
menghendaki ketelitin pengukuran 99%, dapatkah anda menggunakan mistar atau
jangka sorong? Berikan alasanmu!
18

5. Berapakah perbandingan ketelitian mikrometer sekrup dengan jangka sorong
yanfg memiliki nonius 10,20, 50?
6. Berapakah perbandingan ketelitian mistar dengan sferometer ?
































19

PERCOBAAN II
VEKTOR GAYA OLEH DUA KATROL

A. Standar Kompetensi
Mengaplikasikan konsep vektor dalam suatu sistem kesetimbangan.
B. Kompetensi Dasar
Menganalisis gaya-gaya yang bekerja pada satu titik.
C. Indikator
1. Mahasiswa dapat menentukan gaya-gaya yang bekerja dalam keadaan setimbang.
2. Mahasiswa dapat menentukan besar sudut antara dua vektor.
3. Mahasiswa dapat menentukan penyelesaian masalah dengan menggunakan sifat-
sifat dan operasi perkalian skalar dua vektor.
D. Tujuan Percobaan
1. Mengetahui gaya-gaya dalam keadaan setimbang dan mampu menjelaskan hukum
Newton I.
2. Membuktikan prinsip-prinsip gaya berat dalam keadaan serimbang.
3. Menentukan resultan gaya dalam keadaan setimbang.
E. Alat Dan Bahan :

No Nama Alat/Bahan Jumlah
1 Statip 1 set
2 Katrol 2 buah
3 Penggantung beban 3 buah
4 Busur 1 buah
5 Berbagai massa Secukupnya
6 Tali Secukupnya

F. Dasar Teori

Vektor Gaya
Gaya secara intuisi, didefinisikan sebagai dorongan atau tarikan terhadap suatu
benda. Dalam kehidupan sehari-hari penerapan konsep tersebut antara lain seperti
mendorong mobil yang sedang mogok, memukul paku dengan martil, batu jatuh karena
gaya gravitasi, dan lain sebagainya. Gaya tidak selalu menyebabkan gerak. Misalnya,
mendorong tembok dengan sekuat tenaga, namun tembok yang didorong tetap tidak
20

bergerak. Gaya merupakan besaran vektor. Alat untuk mengukur besar (kekuatan) gaya
adalah neraca pegas.

Gambar 6. Contoh vektor gaya
Vektor Resultan
Sejumlah gaya yang bekerja pada suatu struktur dapat direduksi menjadi satu
resultan gaya, maka konsep ini dapat membantu di dalammenyederhanakan
permasalahan.Menghitung resultan gaya tergantung dari jumlah dan arah dari gaya-
gayatersebut.
Beberapa cara/metode untuk menghitung/mencari resultan gaya, yaituantara lain :
1. Metode penjumlahan dan pengurangan vektor gaya.
2. Metode segitiga dan segi-banyak vektor gaya.
3. Metode proyeksi vektor gaya.

1. Metode penjumlahan dan pengurangan vektor gaya
Metode ini menggunakan konsep bahwa dua gaya atau lebih yangterdapat pada
garis kerja gaya yang sama (segaris) dapat langsungdijumlahkan (jira arah sama/searah)
atau dikurangkan (jika arahnyaberlawanan).

Gambar 7. Penjumlahan vektor searah dan segaris menjadi resultan gaya R

2. Metode segitiga dan segi-banyak vektor gaya
Metode ini menggunakan konsep, jika gaya-gaya yang bekerja tidaksegaris, maka
dapat digunakan cara Paralellogram dan Segitiga Gaya.Metode tersebut cocok jika gaya-
gayanya tidak banyak.
21


Gambar 8. Resultan dua vektor gaya yang tidak segaris

Namun jika terdapat lebih dari dua gaya, maka harus disusun suatu
segibanyak(poligon) gaya. Gaya-gaya kemudian disusun secara berturutan,mengikuti arah
jarum jam.

Gambar 9. Resultan dari beberapa vektor gaya yang tidak searah

Jika telah terbentuk segi-banyak tertutup, maka penyelesaiannya adalahtidak ada
resultan gaya atau resultan gaya sama dengan nol.Namun jika terbentuk segi-banyak tidak
tertutup, maka garis penutupnyaadalah resultan gaya.

3. Metode proyeksi vektor gaya
Metode proyeksi menggunakan konsep bahwa proyeksi resultan dari duabuah
vektor gaya pada setiap sumbu adalah sama dengan jumlah aljabarproyeksi masing-
masing komponennya pada sumbu yang sama. Sebagaicontoh dapat dilihat pada gambar
dibawah.

Gambar 10. proyeksi vektor gaya
22


3.1 Proyeksi Sumbu
X
1
dan X adalah masing-masing proyeksi gaya F
1
dan R terhadap sumbux.
sedangkan Y
1
dan Y adalah masing-masing proyeksi gaya F
1
dan Rterhadap sumbu y.

Dengan demikian metode tersebut sebenarnya tidak terbatas untuk duabuah vektor
gaya, tetapi bisa lebih.Jika hanya diketahui vektor-vektor gaya dan akan dicari resultan
gaya,maka dengan mengetahui jumlah kumulatif dari komponen proyeksisumbu, yaitu X
dan Y, maka dengan rumus pitagoras dapat dicari nilairesultan gaya (R).

(2.1)

4. Keseimbangan
Suatu benda akan berada dalam keadaan setimbang apabila besarnya aksi sama
dengan reaksi. Dengan kata lain, gaya yang menyebabkan benda dalam keadaan
kesetimbangan, ialah gaya aksi sama dengan gaya reaksi. Gaya aksi merupakan gaya luar,
sedangkan gaya reaksi merupakan gaya dalam. Gaya reaksi merupakan gaya tumpuan,
maka reaksi tumpuan adalah besarnya gaya dalam yang dilakukan oleh tumpuan untuk
mengimbangi gaya luar agar benda dalam kesetimbangan. Oleh karena itu, besarnya gaya
reaksi sama dengan jumlah gaya luar yang bekerja (membebani) suatu konstruksi.
4.1 Keseimbangan Statis
Jika struktur tidak dikenai gaya, struktur tersebut dapat dikatakandalam keadaan
diam.


Gambar 11 (a) Struktur tidak dikenai gaya, (b) struktur diam

Jika struktur dikenaisebuah atau sekelompokgaya yang mempunyairesultan,
struktur akanbergerak (mengalamipercepatan) yangdisebabkan oleh gayagayatersebut.
Arah darigerakannya sama dengandengan garis kerja sebuahgaya atau resultan
(a)
(b)
23

darisekelompok gaya tersebut.Besarnya percepatantegantung dari hubunganantara massa
strukturdengan besarnya gaya.


Gambar 12 (a) translasi, (b) Rotasi/overturning/terguling


Gambar 13. Struktur dikenai dua gaya yang mempunyai resultan

Secara Grafis :


G. Tugas Sebelum Percobaan
1. Sebutkan dan gaya apa saja yang saudara ketahui!
2. Kapan kita pergunakan hukum Newton I, II dan III?
3. Apa syarat dari kesetimbangan?

H. Prosedur Percobaan
1. Hubungkan tali diantara dua katrol, dengan masing-masing ujung tali dikaitkan
dengan penggantung beban seperti pada gambar.
2. Letakkan beberapa beban pada penggantung beban yaitu W
1
dan W
2
. (terlebih dahulu
timbang m
1
, m
2
).
3. Berilah anak timbangan pada pengait yang tengah antara dua katrol dengan beban W
3

sehingga kondisi sistem seimbang.


(a)
(b)
24







Gambar 14.Percobaan vektor gaya oleh 2 katrol

4. Catat harga W
1
, W
2
, W
3
.
5. Dengan busur derajat mendatar, catat sudut yang dibentuk oleh kedua tali karena
beban W
2
, misal sudut α sudut β dan γ.
6. Ulangi percobaan dengan mengubah harga beban W
3
(variasikan 3 kali pada posisi
setimbang).
7. Isilah dalam bentuk tabel pengamatan

Tabel Pengamatan 2.1
Percobaan (W
1
+ΔW)N (W
2
+ΔW)N (W
3
+ΔW)N (90 + o)
0
(90 + β)
0
γ
0

Setimbang I
Setimbang II
Setimbang III

I. Tugas Setelah Percobaan
1. Apakah sebuah vektor dapat diuraikan kearah sumbu-sumbunya?
2. Apakah sebuah katrol yang licin sempurna tidak merubah besar gaya tetapi dapat
merubah arah gaya?
3. Mengapa harga tegangan tali satu T
1
sama dengan berat W
1
dan mengapa tegangan
tali dua T
2
sama dengan berat W
2
?
4. Jumlahkan harga T
1
sinα + T
2
sinβ
5. Bandingkan harga W
2
dengan T
1
γ + T
2
γ.
6. Carilah harga
7. Bandingkan harga T
1
γ + T
2
γ atau W
2
dengan R.
(
W
1
W
3
(
α β
W
2
γ
25

8. Buatlah tabel data untuk mencatat data, perhitungan, analisa dan penyimpulan.
9. Apakah harga sama dengan harga T
1
γ + T
2
γ dan
sama dengan harga W
3
?
10. Dapatkah dinyatakan bahwa bila dua vektor T
1
dan T
2
membentuk sudut γ harga
resultannya?




















26

PERCOBAAN III
AIR TRACK

A. Standar Kompetensi
Memecahkan persoalan Kinematika dengan Hukum II Newton.
B. Kompetensi Dasar
Mengaplikasikan dan menguji hukum II Newton pada percobaan.
C. Indikator
1. Mahasiswa dapat merangkai percobaan dengan baik.
2. Mahasiswa mampu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi gaya-gaya yang
terjadi.
D. Tujuan Percobaan
1. Menentukan percepatan gerak benda pada “Air Track”.
2. Memplot grafik antara gaya (F) dengan percepatan (a) pada gerak benda pada “Air
Track”.
3. Menentukan massa inersia (m
I
) dari grafik dan membandingkannya dengan massa
sistem.
E. Alat dan Bahan

No Nama Alat dan Bahan Jumlah
1 Air Track 1 set
2 Air Blower untuk Air Track 1 buah
3 Scaler Counter 1 buah
4 Troley untuk Air Track 1 buah
5 Set beban bercelah Secukupnya
6 Penggantung beban bercelah 1 buah
7 Kabel Penghubung dan gerbang Secukupnya
8 Benang 1 meter
9 Neraca lengan tiga 1 buah
10 Water pass 1 buah

F. Dasar Teori
Hukum II Newton
Hukum II Newton membicarakan hubungan antara gaya yang bekerja pada
sebuah benda dan percepatan yang ditimbulkan oleh gaya tersebut. Gaya merupakan
27

sesuatu yang hanya dapat diketahui jika dilihat pengaruhnya terhadap suatu benda. Air
track adalah salah satu peralatan yang digunakan untuk menentukan Hukum II Newton
tersebut, dimana pengaruh lintasan pada gerak benda dapat diminimalkan sehingga dapat
diabaikan. Dalam percobaan ini, air track merupakan lintasan massa peluncur/glider.
Pada air track terdapat lubang-lubang sebagai lintasan udara yang berfungsi sebagai
pengurang gesekan yang terjadi.
Dalam hal ini, hanya ditinjau pengaruh gaya terhadap gerak benda. Untuk melihat
pengaruh itu, dapat dilakukan pengamatan sebagai berikut:
Kereta dinamika (trolley) yang diberi beban melewati katrol (seperti pada gambar
berikut ini) akan bergerak lurus dipercepat (GLBB). Menurut teori fisika akan berlaku
persamaan :
F = m.a
untuk gerak sistem benda tersebut . Pernyataan ini dinamakan sebagai Hukum II
Newton.
Dimana: F = besar gaya yang dialami oleh benda (N)
m = massa benda (kg)
a = percepatan yang dialami benda (m/s
2
)

Percepatan yang timbul pada sebuah benda karena pengaruh gaya yang bekerja
pada benda, besarnya berbanding lurus dengan gaya yang mempengaruhi benda dan
berbanding terbalik dengan massa benda. Sehingga dapat dituliskan :
m
F
a =


Massa sistem yang bergerak adalah m = m
1
+ m
2


Gambar 15. Kit percobaan air track

28


Gambar 16. Sketsa percobaan

Gaya (F) yang menyebabkan troley bergerak dipercepat adalah gaya berat m
2

yang setara dengan m
2
.g, dimana g adalah besar percepatan gravitasi.
Misalkan m
2
terdiri dari 4 buah massa yang terpisah (m
3
, m
4
, m
5
dan m
6
),
sehingga m
2
= m
3
+ m
4
+ m
5
+ m
6
. Jika m
6
diambil dari m
2
dan ditambah ke m
1
, maka
gaya (F) yang mempengaruhi gerak system massa m akan semakin kecil padahal massa
total system tetap tidak berubah. Percobaan dengan memvariasikan besar massa m
2
dapat
dilakukan karena massa m
2
merupakan gabungan dari beberapa massa. Mengubah besar
massa m
2
berarti mengubah besar gaya yang bekerja pada sistem troley yang bergerak
yang selanjutnya akan mengubah besar percepatan gerak benda. Mekanisme seperti ini
digunakan dalam percobaan “Menguji Hukum II Newton dengan menggunakan Air
Track”. Perlu diperhatikan bahwa massa sistem yang bergerak harus dibuat tidak berubah
(konstan) agar data percobaan dapat diolah secara tepat.
Percepatan gerak troley ditentukan dengan menggunakan persamaan GLBB:
s = v
0
t ± ½ at
2

Dengan mengingat bahwa kecepatan awal (v
0
) adalah nol (0), maka besar
percepatan adalah:
a = 2s/t
2

G. Tugas Sebelum Percobaan
1. Jelaskan kenapa landasan air track harus dibuat sedatar mungkin dengan
menggunakan water pass!
2. Tuliskan persamaan untuk menentukan besar percepatan gerak jika waktu tempuh
GLBB diketahui!


m
1

m
2

29

H. Prosedur Percobaan
1. Pastikan landasan Air Track tepat horizontal dengan menggunakan water pass
2. Timbang massa trolley dan massa penggantung beban bercelah dengan
menggunakan neraca.
3. Catat massa beban bercelah.
4. Hubungkan terminal start timer dengan sistem saklar yang dipasang pada awal
lintasan dan terminal stop timer dengan sistem saklar yang dipasang pada jarak 80
cm.
5. Hidupkan air blower dan catat waktu yang tertera pada scaler conter setelah sistem
selesai. Ulangi prosedur ini hingga mendapatkan tiga data.
6. Variasikan massa yaitu dengan menambah massa trolley dan massa penggantung
beban sesuai tabel pengamatan.
7. Catat hasil percobaan dalam tabel pengamatan.
Tabel 3.1 Pengamatan percobaan
Massa sistem = ……….. kg
Panjang lintasan = ……….. m
No m
1
±Am (gr) m
2
±Am (gr) t ±At (s)
1 m + 0 m + 20
2 m + 5 m + 15
3 m + 10 m + 10
4 m + 15 m + 5
Keterangan:
m
1
= Massa trolley + massa beban bercelah
m
2
= massa penggantung +massa beban bercelah
t = waktu yang ditunjukkan oleh scaler counter
Tabel 3.2 Hasil Percobaan
No m
s
±Am
s
(gr) F ±AF (gr) t ±At (s) a ±Aa (m/s
2
)
1
2
3
4
Ket:
m
s
= m
1
+ m
2

30

I. Tugas Setelah Percobaan
1. Tentukan percepatan gerak benda pada “Air Track”!
2. Plotlah grafik antara gaya (F) dengan percepatan (a) pada gerak benda pada “Air
Track”?
3. Tentukan massa Inersia (mI) dari grafik yang telah dibuat berdasarkan percobaan?
4. Bandingkanlah massa Inersia dengan massa yang diukur dengan menggunakan
neraca?




























31

PERCOBAAN IV
GERAK LURUS BERUBAH BERATURAN

A. Standar Kompetensi
Mengaplikasikan konsep Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) pada percobaan
sederhana.
B. Kompetensi Dasar
Merangkai kegiatan percobaan untuk menentukan percepatan pada ticker timer
C. Indikator
1. Mahasiswa dapat merangkai percobaan GLBB sederhana.
2. Mahasiswa mampu mengetahui pengaruh bentuk lintasan terhadapa percepatan.
D. Tujuan Percobaan
1. Menyelidiki gerak lurus berubah beraturan dipercepat dengan ticker timer dengan
pengaruh sudut.
2. Mampu memplot grafik hubungan antara kecepatan dan waktu.
E. Alat dan bahan :

No Nama Alat dan bahan Jumlah
1. Pengetik atau Ticker Timer 1 Set
2. Kereta dinamika 1 buah
3. Busur 1 Buah
4. Pita kertas putih Secukupnya
5. Lintasan 1 set
6. Power suply 1 set

F. Dasar Teori
Konsepsi Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB)
Gerak lurus berubah beraturan (GLBB) adalah gerak benda dalam lintasan garis lurus
dengan percepatan tetap. Jadi, ciri utama GLBB adalah bahwa dari waktu ke waktu
kecepatan benda berubah, semakin lama semakin cepat. Dengan kata lain gerak benda
dipercepat. Namun demikian, GLBB juga dapat berarti bahwa dari waktu ke waktu
kecepatan benda berubah, semakin lambat hingga akhirnya berhenti. Dalam hal ini benda
mengalami perlambatan tetap. Dalam modul ini, kita tidak menggunakan istilah
perlambatan untuk gerak benda diperlambat. Kita tetap saja menamakannya percepatan,
hanya saja nilainya negatif. Jadi perlambatan sama dengan percepatan negatif.
32

Ciri-ciri benda GLBB adalah:
1. Perpindahan tiap selang waktunya berubah secara berurutan
2. Kecepatannya berubah secara beraturan
3. Percepatannya tetap
Kecepatan menjelaskan kelajuan benda beserta arahnya sedangkan percepatan
menjelaskan bagaimana kecepatan itu berubah terhadap waktu.
Ticker timer atau mengetik waktu biasa digunakan di laboratorium fisika untuk
menyelidiki gerak suatu benda


G. Tugas Sebelum Percobaan
1. Jelaskan pengertian gerak lurus berubah beraturan!
2. Tuliskan persamaan untuk menemukan kecepatan akhir sebuah benda yang mengalami
percepatan tetap pada jarak tertentu.
3. Sebutkan beberapa aplikasi dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan
GLBB & GLB!

H. Prosedur Percobaan
1. Memasang bidang miring diatas meja. Kemiringan dibuat degan sudut kemiringan
kecil sekitar 15
0
.
2. Memasang pengetik diatas bidang miring.
3. Memasang kereta dinamika berbeban yang dihubungkan dengan pita kertas putih
lewat karbon pengetik pada bidang miring. Lihat gambar dibawah ini
Gambar 17. ticker timer
33


Gambar 18. Percobaan Ticker Timer

4. Memegang kereta dinamika supaya tidak bergerak.
5. Melepaskan kereta dinamika dan biarkan bergerak turun sepanjang bidang miring
sambil menarik pita ketik.
6. Dari pita ketik yang dihasilkan, memberi tanda untuk setiap garis ketikan.

Gambar 19. Rekaman gerak benda pada ticker timer

7. Memotong pita ketikan sesuai dengan tanda yang diberikan
8. Mengulangi prosedur 1-7 untuk sudut 20
0
, 25
0
.
9. Menempatkan potongan-potongan pita ketikan tersebut secara berurutan, hingga
diperoleh diagram batang.
Tabel 4.1 Hasil pengamatan
Sudut Jumlah Dot (n)
15
0

20
0

25
0


I. Tugas Setelah Percobaan
1. Gerak apa yang dihasilkan pada percobaan yang anda lakukan?Jelaskan!
2. Bagaimana bentuk grafik yang dihasilkan percobaan untuk ∆V dan ∆t?


34

PERCOBAAN V
USAHA DAN ENERGI

A. Standard Kompetensi
Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik.
B. Kompetensi Dasar
Menganalisis hubungan antara usaha, perubahan energi dengan hukum kekekalan
energi mekanik
C. Indikator
1. Mahasiswa dapat memahami usaha pada bidang miring.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan gaya mekanis pada bidang miring.
D. Tujuan Percobaan
1. Menentukan besar usaha yang dilakukan pada satu bidang miring
2. Menentukan besar energi potensial yang bekerja pada percobaan
E. Alat dan Bahan

No. Nama Alat dan Bahan Jumlah
1 Dasar statif 1 buah
2 Batang statif panjang 1 buah
3 Jepit penahan 1 buah
4 Balok penahan 1 buah
5 Katrol kecil (Ǿ 50 mm) 2 buah
6 Steker perangkai 1 buah
7 Bidang miring 1 buah

F. Dasar Teori
Kata “usaha” atau “kerja” memiliki berbagai arti dalam percakapan sehari-hari.
Namun dalam fisika, usaha memiliki arti khusus, untuk memaparkan bagaimana
dikerahkannya gaya pada benda, hingga benda berpindah. Usaha ( W ) terjadi bila sebuah
gaya bekerja pada suatu benda dan dapat mengatasi hambatan yang ada sehingga benda
tersebut berpindah tempat atau kecepatannya berubah.
Secara matematis, usaha yang dilakukan oleh gaya yang konstan didefinisikan
sebagai hasil kali perpindahan dengan gaya yang sejajar dengan perpindahan.
35


Gambar 20. Perpindahan pada balok

Persamaan matematisnya adalah :
W = F s
F adalah gaya yang sejajar dengan perpindahan dan s adalah perpindahan.
Apabila gaya konstan tidak searah dengan perpindahan, sebagaimana tampak pada
gambar di bawah, maka usaha yang dilakukan oleh gaya pada benda didefinisikan sebagai
perkalian antara perpindahan dengan komponen gaya yang searah dengan perpindahan.
Komponen gaya yang searah dengan perpindahan adalah F cos .

Gambar 21. Gaya konstan tidak searah dengan perpindahan
Secara matematis dirumuskan sebagai berikut :


G. Tugas Sebelum Percobaan
1. Jelaskan pengetian usaha di dalam fisika ?
2. Tuliskan satuan usaha dalam SI dan CGS beserta dimensinya ?
3. Tuliskan perbedaan usaha dan gaya ?
H. Prosedur Percobaan
1. Rakit statif sesuai gambar



Gambar 22. Sistem percobaan Usaha dan energi

36


2. Rakit bidang miring pada balok penahan menggunakan jepit penahan.
3. Tentukan berat kedua katrol + seteker perangkai ( w = mg).catat hasil pengamatan
pada tabel.
4. Kaitkan katrol pada dinamometer dan taruh diatas bidang miring.
5. Atur ketinggian bidang miring (mulai dari h=30 cm).
6. Amati gaya yang terjadi (F
R
) pada dinamometer dan catat hasilnya pada tabel.
7. Lepaskan dinamometer dari katrol dan taruh katrol diatas bidang miring yang
paling atas (ketinggian diatas bidang horizontal h = 30 cm). Lepaskan katrol agar
menggelincir pada bidang miring hingga sampai pada bidang horizontal ( di titik B
pada gambar 2). Usaha yang dilakukan gaya F
R
= F
R
.l (l = panjang bidang miring =
100 cm ).
8. Isikan nilai usaha = F
R
.l pada tabel pengamatan dan lengkapi pula harga w.h.
9. Ulangi langkah 4 sampai 8 dengan mengubah ketinggian (h) bidang miring sesuai
table di bawah.
10. Ulangi langkah 3 sampai 9 setelah menambah dua beban pada katrol.

Gambar 23. Sistem pada percobaan
Tabel pengamatan 5.1 Tanpa tambahan beban.
Tinggi h (m) w (N) w.h(Joule) F
R
(N) Usaha=F
R
. l(Joule)
0,3
0,4
0,5

Tabel pengamatan 5.2 Dengan tambahan beban.
Tinggi h (m) w (N) w.h(Joule) F
R
(N) Usaha=F
R
. l(Joule)
0,3
0,4
0,5

37

I. Tugas Setelah Percobaan
1. Tuliskan faktor apa saja yang mempengaruhi besar usaha pada percobaan ini ?
2. Adakah perbedaan antara nilai usaha yang didapat dari rumus w.h dan FR.l ?
3. Tuliskan kesimpulan dari percobaan ini ?































38

PERCOBAAN VI
MOMEN INERSIA

A. Standar Kompetensi
Menerapkan konsep dan prinsip gerak translasi, rotasi, dan kesetimbangan benda tegar
dalam menyelesaikan masalah.
B. Kompetensi Dasar
Menguasai konsep dan menghitung gerak translasi, rotasi, kesetimbangan benda
tegar.
C. Indikator
1. Mahasiswa memahami dan dapat menghitung gerak translasi dan rotasi benda tegar
2. Mahasiswa dapat menghitung kesetimbangan benda tegar
D. Tujuan Percobaan
1. Memahami peran momen inersia pada gerak rotasi benda tegar.
2. Menentukan momen inersia dari benda tegar.
3. Menentukan konstanta puntir K dari kawat logam.
4. Menentukan modulus geser dari kawat logam.
E. Alat dan Bahan

No. Nama Alat dan Bahan Jumlah
1 Mistar 1 buah
2 Mikrometer 1 buah
3 Stopwatch 1 buah
4 Kawat logam (100 cm dan 50 cm) 1 buah
5 Lempeng besi 1 buah
6 Silinder pejal 1 buah
7 Statif dan penjepit 1 buah
8 Jangka sorong 1 buah
9 Neraca 1 buah

F. Teori Dasar
Dalam proses rotasi benda tegar, setelah pada benda diberikan gaya
yangmenyebabkan banda dapat berotasi. Sebenarnya benda tegar tersebut akan berusaha
untuk mempertahankan keadaan awalnya untuk tetap diam. Pada suatu benda, sifat
39

kelembaman (kemalasan) yang selalu mengusahakan benda tersebut untuk
mempertahankan keadaan semulanya dinamakan momen inersia.
Jika suatu benda tegar mengalami gerak translasi murni besaran massa dari benda
yang berperan, tetapi jika benda tersebut mengalami gerak rotasi murni maka peranan
massa benda digantikan oleh momen inersia benda tersebut terhadap sumbu rotasinya.

Menentukan momen inersia secara statis
Untuk menentukan momem inersia dari keping logam berbentuk segi empat secara
statis, dapat dilakukan dengan cara mengukur panjang, lebar, dan tebal dari keeping dan
juga menimbang massanya. Jika panjang keeping a, lebar b, tebal c, dan massanya M
(seperti pada gambar), momen inersia keping terhadap sumbu rotasi melalui pusat massa
yang sejajar tebal c adalah:
I c
=
( )
12
2 2
b a M +


Dapat dibuktikan pula bahwa momen inersia keping terhadap sumbu rotasi melalui
pusat massa yang sejajar dengan panjang a adalah:
I a
=
( )
12
2 2
c b M +


Terhadap sumbu rotasi melalui pusat massa dan sejajar lebar b, momen inersianya
adalah:
I b
=
( )
12
2 2
c a M +


Mmomen inersia keping lingkaran/silinder pejal terhadap sumbu rotasi yang berimpit
dengan sumbu silinder (seperti pada gambar) adalah:
I s
=
2
1
2
MR
M adalah massa silinder dan R adalah jari-jari silinder. Jadi secara statis momen
inersia silinder dapat ditentukan jika massa dan jari-jari silinder diketahui.
Momen inersia batang yang berbentuk silinder terhadap sumbu rotasi yang sejajar
dengan diameter silinder adalah:
I d
= M
|
|
.
|

\
|
+
4 12
2 2
R L


M adalah massa, R adalah jari-jari silinder dan L adalah panjang silinder. Jadi secara
statis momen inersianya dapat ditanyakan jika M, R, L diketahui.

40

Menentukan momen inersia secara dinamis
Momen inersia benda juga dapat ditentukan secara dinamis, yaitu dengan
menggantungkan benda pada kawat, dan ujung kawat yang lain dieratkan pada statif
seperti pada gambar di bawah.
Jika benda diberi sedikit simpangan dari posisi setimbangnya dengan cara memutar
benda (dengan sudut kecil), maka kawat akan terpuntir. Jika benda dilepaskan maka benda
akan mengalami gerak harmonic anguler (sudut), disebabkan oleh momen gaya punter dari
kawat.

Hubungan antara momen inersia dan Konstanta puntir
Jika kita memperhatikan gambar benda yang bergerak osilasi (pada gambar),
tentunya kita akan mengetahui adanya periode gerak osilasi benda tersebut. Periode gerak
osilasi memenuhi persamaan sebagai berikut:
P = 2π
k
I


Dengan p adalah periode osilasi, I momen kelembaman terhadap sumbu rotasi dan K
adalah konstanta punter dari kawat.
I =
I B
+
I K



I B
= Momen inersia dari benda

ik
= Momen inersia dari kawat
Jika dua benda dengan momen inersia masing-masing
I1
dan
I 2
secara berturut-
turut digantungkan pada kawat yang sama, maka periode gerak
angulernya masing-masing dinyatakan dengan:
p
1
= 2π
K
I I K
+
1


p
2
= 2π
K
I I K
+
2


Dari kedua persamaan ini, jika
I1
,
P1
,
I 2
, dan
P2
diketahui, maka
I k
dan k
dapat ditentukan. Sebaliknya jika
I k
dan k diketahui, cara ini dapat dipakai untuk
menentukan momen inersia benda yang lain secara dinamis dengan mengukur periode dari
gerak harmonic angulernya.
Hubungan antara konstanta punter dan modulus geser dinyatakan oleh persamaan:
41

K =
l
r
2
2
t
M
Dengan L adalah panjang kawat dan r jari-jari kawat, M adalah modulus geser.

G. Tugas Sebelum Praktikum
1. Dengan menggunakan kalkulus integral, buktikan
I c
=
( )
12
2 2
b a M +
Dan
I s
=
2
2
1
MR
2. Sebutkan pengertian: gerak rotasi murni, gerak translasi murni, inersia,
momen inersia dan benda tegar!
3. Dengan menggunakan persamaan ω = 2πf, coba tentukan bagaimana diperoleh
persamaanP = 2π
k
i
?

H. Prosedur Percobaan
1. Ukur panjang, lebar, tebal,dan massa lempeng persegi panjang.
2. Ukur diameter, tinggi, dan massa silinder pejal.
3. Ukur diameter kawat yang digunakan.
4. Gantungkan kawat pada statif.
5. Gantungkan lempeng persegi panjang pada kawat logam sepanjang 50 cm.
6. Berikan simpangan sudut sebesar 360
0
pada lempeng kemudian lepaskan sehingga
lempeng memberikan gerak osilasi sebanyak 5 kali.
7. Hitung waktu osilasi dari lempeng besi dengan menggunakan stopwatch.
8. Ulangi prosedur 6-7 untuk mendapatkan 3 data.
9. Variasikan panjang kawat logam yang digunakan menjadi 100 cm.
10. Ulangi prosedur 5 s/d 8 untuk silinder pejal.

Tabel 6.1 Hasil pengamatan
Benda Tegar Panjang kawat (m) Waktu untuk berosilasi (s)
Silinder Pejal 0,5
1
Lempeng persegi panjang 0,5
1




42


I. Tugas Setelah Percobaan
1. Apakah sama besar Ia, Ib, dan Ic untuk masing-masing benda tegar? Mengapa?
2. Untuk kawat yang sama tetapi panjangnya berbeda, apakah osilasi benda tetap
sama?jelaskan mengapa?
3. Apakah panjang kawat mempengaruhi nilai konstanta puntir kawat?jelaskan
mengapa?
4. Apakah yang mempengaruhi momen inersia dari suatu benda tegar (berdasarkan
percobaan yang dilakukan).


























43

PERCOBAAN VII
SUHU DAN KALOR
A. Standar Kompetensi
Menerapkan konsep suhu dan kalor pada percobaan sederhana.
B. Kompetensi Dasar
Merangkai percobaan suhu dan kalor dan mencari besaran-besarn penting yang terkait.
C. Indikator
1. Mahasiswa dapat menentukan besarnya kalor lebur dari es
2. Mahasiswa dapat mengetahui defenisi kalor lebur dari suatu zat
3. Mahasiswa dapat mengetahui kalor jenis tembaga dan kalor lebur dari besi
D. Tujuan Percobaan
1. Menentukan besarnya kalor lebur dari es dan logam.
2. Mengetahui kalor jenis dari tembaga.
3. Mengetahui kalor lebur dari timah
E. Alat dan Bahan

No. Nama Alat dan Bahan Jumlah
1 Biji timah 20 buah
2 Biji Tembaga 20 buah
3 Air Secukupnya
4 Es Secukupnya
5 Kalorimeter 1 Set
6 Termometer 1 buah
7 Neraca tiga lengan 1 buah
8 Panci 1 buah
9 Lampu Bunsen dan tungku 1 buah
10 Statif 1 Set
12 Stopwatch 1 Buah

F. Dasar Teori
Kalor adalah suatu bentuk energi yang diterima oleh suatu benda yang menyebabkan
benda tersebut berubah suhu atau wujud bentuknya. Kalor berbeda dengan suhu, karena
suhu adalah ukuran dalam satuan derajat panas. Kalor merupakan suatu kuantitas atau
jumlah panas baik yang diserap maupun dilepaskan oleh suatu benda. Dari sisi sejarah
44

kalor merupakan asal kata caloric ditemukan oleh ahli kimia perancis yang bernama
Antonnie laurent lavoiser (1743– 1794). Kalor memiliki satuan Kalori (kal) dan Kilokalori
(Kkal). 1 Kal sama dengan jumlah panas yang dibutuhkan untuk memanaskan 1 gram air
naik 1 derajat celcius.
Kalor didefinisikan sebagai energi panas yang dimiliki oleh suatu zat. Secara umum
untuk mendeteksi adanya kalor yang dimiliki oleh suatu benda yaitu dengan mengukur
suhu benda tersebut. Jika suhunya tinggi maka kalor yang dikandung oleh benda sangat
besar, begitu juga sebaliknya jika suhunya rendah maka kalor yang dikandung sedikit. Dari
hasil percobaan yang sering dilakukan besar kecilnya kalor yang dibutuhkan suatu
benda(zat) bergantung pada 3 faktor yaitu massa zat, jenis zat (kalor jenis), perubahan
suhu.
Banyaknya panas yang diperlukan suatu benda untuk menaikkan suhunya sangat
bergantung pada kapasitas panas, C, dari bahan benda tersebut. Secara matematis
dituliskan :
C = dQ/dT
Panas jenis adalah kapasitas panas bahan tiap satuan massanya, yaitu :
c = C/m
Panas jenis merupakan salah satu sifat termometrik benda. Untuk selang suhu yang
tak terlalu besar, biasanya c dapat dianggap konstan, sehingga apabila suatu benda
bermassa m, panas jenis bahannya c dan suhunya T1 maka untuk menaikkan suhunya
menjadi T2 diperlukan panas sebesar :
Q = m.c.(T2 - T1)
Bila sebuah benda dengan suhu tertentu disinggungkan benda lain yang suhunya
lebih rendahmaka dalam selang waktu tertentu suhu kedua benda tersebut akan menjadi
sama (setimbang).Hal ini terjadi karena benda yang bersuhu lebih tinggi memberikan
panasnya ke benda yang bersuhu lebih rendah. Berdasarkan hukum kekekalan energi
jumlah panas yang diberikan sama dengan jumlah panas yang diterima oleh benda yang
bersuhu lebih rendah (asas Black).
Sejumlah air yang telah diketahui massanya, dipanaskan dengan menggunakan
kompor listrik. Air yang suhunya lebih tinggi ini dimasukkan ke dalam kalorimeter yang
berisi air, massa air dingin sudah ditimbang terlebih dahulu. Dalam hal ini air dingin dan
kalorimeter adalah dua benda yang bersuhu sama yang akan menerima panas dari air
panas.
Menurut asas Black diperoleh bahwa:
kalor yang dilepas = kalor yang diterima
45

(air panas) (air dingin+kalorimeter)
m
2
.c.(T
2
-T
a
) = (m
1
.c+H).(T
a
-T
1
) ,
dimana :
m
1
= massa air dingin dengan suhu T
1

m
2
= massa air panas dengan suhu T
2

c = panas jenis air (1 kal/g.
o
C ± 1 %)
T
a
= suhu akhir sistem
H = harga air (kapasitas) kalorimeter

Kalorimeter
Kalor yang dipindahkan dari atau ke sistem diukur di dalam alat yang dinamakan
kalorimeter, yang terdiri dari sebuah wadah cuplikan kecil yang dibenamkan dalam sebuah
bejana air yang besar. Bejana luar itu disekat dengan baik sekali di sebelah luar untuk
menghalangi lubang kamar mencapai air, sedangkan wadah di dalam dibuat dari tembaga
atau suatu bahan penghantar kalor yang lain untuk mengizinkan kalor acara mudah
dipertukarkan antara wadah itu dan air.
Pengukuran jumlah kalor reaksi yang diserap atau dilepaskan pada suatu reaksi kimia
dengan eksperimen disebut kalorimetri. Dengan menggunakan hukum Hess, kalor reaksi
suatu reaksi kimia dapat ditentukan berdasarkan data perubahan entalpi pembentukan
standar, energi ikatan dan secara eksperimen. Proses dalam kalorimeter berlangsung secara
adiabatik, yaitu tidak ada energi yang lepas atau masuk dari luar ke dalam kalorimeter.

G. Tugas Sebelum Percobaan
1. Bagaimana caranya anda mengetahui massa air yang dipergunakan ?
2. Bagaimana caranya anda dapat mengetahui massa es yang dileburkan ?
3. Mengapa dalam persamaan yang kita jumpai dari teori jumlah kalor yang diserap
oleh es : Q
e
= m
e
K
1
+ m
e
c
a
t
2

4. Tentukan nilai kalor lebur es secara teori !

H. Langkah – Langkah Percobaan
Kalor Lebur Es
1. Timbang kalorimeter kosong dengan pengaduknya.
2. Isi kalorimeter dengan sejumlah air ( + ½ bagian dari volume kalorimeter ).
3. Timbang kembali kalorimeter yang telah berisi air.
4. Masukkan kalorimeter ke dalam penyekat panas yang telah disediakan
46

5. Ukur suhu kalorimeter yang berisi air dan yang sedang berada di dalam kotak
penyekat panas.
6. Masukkan segumpal es ke dalam kalorimeter yang berisi air, mengaduk dan
mencatat suhunya setiap 30 “selama 150”. Perhatikan suhu mula-mula turun,
kemudian konstan dan naik kembali. Sesudah suhu naik pengamatan dihentikan
dan menimbang kalorimeter beserta isinya.

Tabel 7.1 Hasil pengamatan
m
k
m
k + a
m
k + a + e

t
( k + a + e )

30 s 60 s 90 s 120 s 150 s


Kalor Lebur Logam
1. Nolkan terlebih dahulu neraca yang digunakan,lalu menimbang kalorimeter
tersebut beserta pengaduknya dalam keadaan kosong.
2. Isi calorimeter dengan ±3/4 bagian dari kalorimeter tersebut, lalu menimbang
kembali.
3. Ukur suhu kalorimeter yang berisi air dengan termometer.
4. Timbang butir-butir logam yang telah disediakan.(20 Biji logam)
5. Panaskan butir-butir logam diatas panci hingga suhunya ±100
0
C(dalam
pengukuran suhu logam tidak diperkenankan mengenai dinding panci) dengan
menggunakan termometer.
6. Masukan butir-butir logam yang telah dipanaskan kedalam kalorimeter yang
berisi air dan suhu beserta massanya telah diketahui agar tidak terjadi
pengurangan suhu.
7. Aduk isi dari kalorimeter tersebut dengan pengaduk hingga suhunya tidak naik
lagi.
Jenis Logam m
k
m
l
m
k+a
t
( k + a + l )

Timah
Tembaga



47

I. Tugas setelah percobaan
1. Bandingkan kalor lebur es yang diperoleh pada praktikum dengan yang diketahui
pada teori!
2. Tentukan nilai kalor lebur es secara eksperimen !
3. Berikan analisis dan kesimpulan dari percobaan tersebut ! Dan faktor-faktor apa
yang memungkinkaan perbedaan hasil pada percobaan ?





























48

PERCOBAAN VIII
GETARAN PEGAS

A. Standar Kompetensi
Menerapkan konsep dan prinsip gejala gelombang dan optik dalam menyelesaikan
masalah.
B. Kompetensi Dasar
Melakukan kajian ilmiah untuk mengenali gejala dan ciri – ciri gelombang secara
umum dan penerapannya.
C. Indikator
4. Mahasiswa dapatmenjelaskan faktor – faktor yang mempengaruhi periode pegas.
5. Mahasiwa dapat menentukan periode dan tetapan gaya pada pegas.
D. Tujuan Percobaan
4. Menentukan konstanta dan tetapan pada pegas.
5. Mencari hubungan antara periode pegas terhadap massa beban.
E. Alat Dan Bahan

No Nama Alat / Bahan Jumlah
1 Stopwatch 1 buah
1 Dasar statif 1 buah
2 Kaki statif 1 buah
3 Batang statif pendek 1 buah
4 Batang statif panjang 1 buah
5 Pegas spiral 1 buah
6 Beban 50 gram 5 buah
7 Beban 100 gram 5 buah

F. Teori Dasar
Gerak yang berulang dalam selang waktu yang sama disebut Gerak Periodik. Gerak
periodik ini selalu dapat dinyatakan dalam fungsi sinus dan cosinus, oleh sebab itu gerak
periodik disebut Gerak Harmonik. Jika gerak yang periodik ini bergerak bolak – balik
melalui lintasan yang sama disebut Getaran atau Osilasi.
Waktu yang dibutuhkan untuk menempuh satu lintasan bolak – balik disebut Periode,
sedangkan banyaknya getaran tiap satuan waktu disebut Frekuensi. Hubungan antara
periode (T) dan frekuensi (f) menurut pernyataan ini adalah :
49

T =

Satuan frekuensi dalam SI adalah putaran per detik atau Hertz (Hz). Posisi pada saat
resultan gaya bekerja pada partikel yang bergetar sama dengan nol disebut posisi
seimbang.
Perhatikan sebuah benda massanya (m) digantungkan pada ujung pegas, pegas
bertambah panjang. Dalam keadaan seimbang, gaya berat (w) sama dengan gaya pegas (F),
resultan gaya sama dengan nol, beban diam.











Dari keseimbangannya beban diberi simpangan (y), pada beban bekerja gaya (F), gaya ini
cenderung menggerakkan beban keatas. Gaya pegas merupakan gaya penggerak, padahal
gaya pegas sebanding dengan simpangan pegas.
F = -k y ; k = konstanta pegas
Mudah dipahami bahwa makin kecil simpangan makin kecil pula gaya penggerak.
Gerakan yang gaya penggeraknya sebanding dengan simpangan disebut Gerak Harmonis
(selaras).
Tanda negatif (-) harus digunakan karena arah F dan y selalu berlawanan.
Menurut Hukum Newton II, Pada gerak benda ini berlaku :
F = m.a
Gaya pemulih pada gerak benda ini adalah : F = -k . y

Persamaan ini disebut persamaan differensialgerak harmonik sederhana.
Untuk mencari persamaan gerak harmonik sederhana dengan jalan mencari
penyelesaian persamaan differensial gerak harmonik sederhana yaitu suatu fungsi (y)
y
0 max 0
max 0 max
a Ek Ep
max 0 max
setimbang
F = -k. y
50

sedemikian rupa sehingga diturunkan dua kali terhadap (t) diperoleh negatif dari fungsi
tersebut dikalikan dengan suatu. Fungsi yang mempunyai sifat demikian adalah fungsi
sinus atau fungsi cosinus.
Misalkan diambil fungsi sinus sebagai penyelesaian : y = ( ) dengan A, ω,
dan θ masih harus dicari harganya.
Bila persamaan di atas diturunkan dua kali terhadap waktu (t) maka diperoleh :

( )
Bila persamaan diatas di substitusikan ke persamaan differensial gerak harmonik
sederhana, diperoleh :

( )

( )
Jadi agar fungsi sin tersebut benar – benar menjadi penyelesaian persamaan differensial
gerak harmonik sederhana, diperoleh :

Jika waktu t dalam persamaan y = A sin ( ) ditambah dengan

maka, diperoleh :
[(

) ]
( )
( )
Jadi fungsi tersebut berulang kembali setelah selang waktu

. oleh sebab itu,

adalah
periode geraknya, atau T =

Karena

maka diperoleh :

51


G. Tugas Sebelum Percobaan
1. Tuliskan beberapa contoh gerak harmonik.
2. Faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi periode pada getaran pegas.

H. Prosedur Percobaan
Menentukan faktor – faktor yang mempengaruhi peride getaran
1. Susunlah alat dan bahan seperti pada gambar di bawah ini.








2. Tarik beban ke bawah sejauh ± 2 cm dan praktikan menyiapkan stopwatch (jam
henti ) di tangan.
3. Lepaslah beban, setelah berayun dengan stabil maka hidupkan stopwatch dengan
acuan yang tetap (gerakan dari atas atau bawah).
4. Hitung sampai 10 getaran dan tepat pada saat itu, matikan jam henti. Catat hasil
pengamatan dalam tabel.
5. Hitung waktu untuk 1 getaran ( periode, T ) dan melengkapi isi tabel.
6. Ulangi langkah 2 s/d langkah 5 sampai dengan simpangan 3 cm.
7. Ulangi langkah 2 s/d langkah 6 dengan masing – masing 1 beban.

Tabel Pengamatan 1.1
Simpangan (m) 0,02 0,03 0,02 0,03 0,02 0,03
Massa beban (kg) 0,2 0,2 0,25 0,25 0,3 0,3
Waktu untuk 10 ayunan (t,s)
Periode (T,s)




52


Menghitung Tetapan Gaya pada Sistem Pegas

1. Gantung seutas pegas pada tiang, ujung bebas dihubungkan dengan beban (m).
2. Beri simpangan pada sistem pegas tersebut (x), pada posisi (2), kemudian lepas
terjadi gerak bolak – balik terhadap titik (1).
3. Lakukan pengukuran waktu getaran.
4. Isikan hasil pengamatan anda pada tabel berikut.
Tabel Pengamatan 1.2
Amplitudo
(cm)
10 x T
(sekon)
T
(sekon)
2
3

Tabel Pengamatan 1.3
Massa beban
(gram)
10 x T
(sekon)
T
(sekon)
T
2

(sekon)
200
250
300

I. Tugas Setelah Percobaan
Untuk Tabel Pengamatan 1.1
1. Berdasarkan percobaan diatas jelaskan faktor – faktor yang mempengaruhi periode
getaran.
2. Berdasarkan data pengamatan, tentukan periode getaran pegas.
53

3. Dengan menggunakan konstanta pegas diatas, hitung periode getaran pegas.
4. Dan bandingkan dengan hasil perhitungan nomor 2.

Untuk Tabel Pengamatan 1.2 dan 1.3
1. Bagaimana dengan periode T, apakah dipengaruhi oleh : (a) amplitudo, (b) massa
benda.
2. Buatlah grafik T
2
terhadap m. Bagaimana bentuk grafiknya ?
3. Tentukan konstanta gaya pegas dari grafikyang anda buat tersebut.
4. Coba anda lakukan analisa terhadap hasil yang anda dapatkan, kemudian
bandingkan dengan (hasil) teori yang ada.

























54


PERCOBAAN IX
PEMBENTUKAN BAYANGAN PADA CERMIN DATAR

A. Standar Kompetensi
Mampu menganalisis dan menerapkan konsep optikgeometri dalam kehidupan sehari-
hari.
B. Kompetensi Dasar
Mampu memahami konsep pembentukan bayangan dan pemantulan pada cermin datar
melalui percobaan.
C. Indikator
a. Mahasiswa dapat menentukan hubungan matematis antara besar sudut cermin datar
dengan banyaknya bayangan yang terbentuk
b. Mahasiswa dapat melukis sinar-sinar yang membentuk bayangan pada diagram
cermin datar yang mebentuk sudut.
D. Tujuan Percobaan
4. Menghitung jumlah banyangan yang terjadi pada dua cermin datar berdasarkan
percobaan untuk beberapa sudut berbeda.
5. Menggambarkan pembentukan banyangan yang terjadi pada dua cermin datar untuk
beberapa sudut yang berbeda.
E. Alat Dan Bahan :
No Nama Alat/Bahan Jumlah
1 Cermin Datar 2 Buah
2 Laser Pointer 1 Buah
3 Busur Derajat 1 Buah
4 Soft Board 1 Buah
5 Jarum Pentul 1 Buah
6 Kertas putih 1 Buah

F. Dasar Teori
Cahaya biasanya tampak sebagai sekelompok sinar-sinar cahaya atau disebut juga
berkas cahaya. Ada tiga jenis berkas cahaya yaitu sejajar (paralel), menyebar (divergen)
dan mengumpul (konvergen). Cermin adalah permukaan halus, rata dan mengkilap yang
memantulkan seluruh cahaya yang datang padanya. Ada dua jenis pemantulan cahaya
yakni pemantulan baur dan pemantulan teratur.
55

Hukum Snellius tentang pemantulan bahwa :
1. Sinar datang, sinar pantul dan garis normal berpotongan pada satu titik dan terletak
pada satu bidang datar
2. Sudut sinar datang (
i
o
) selalu sama dengan sudut sinar pantul (
r
o )
Dari benda sejati yang berdiri dimuka cermin datar akan terbentuk sebuah bayangan
maya dan dari sebuah banyangan yang berdiri dimuka cermin datar akan terbentuk
sebuah banyangan maya. Jumlah bayangan akan tergantung pada jumlah bayangan
cermin yang nampak oleh cermin lain. Jumlah banyangan dari dua cermin datar
membentuk sudut
o
dapat ditentukan dengan persamaan berikut:
n =
m ÷
°
°
o
360

dimana : n = bayangan yang dihasilkan

°
o = sudut apit kedua cermin datar
m = 1 jika
°
°
o
360
genap atau m = 0 jika
°
°
o
360
ganjil

G. Tugas Sebelum Percobaan
4. Tuliskan sifat-sifat pada cermin datar?
5. Berapakah jumlah bayangan yang dibentuk oleh dua cermin datar untuk sudut 60
°
serta gambarkan pembentukan bayangannya?
6. Apa yang dimaksud dengan pemantulan teratur dan pemantulan baur serta berikan
contohnya masing-masing?
7. Apa yang dimaksud dengan sinar datang, sinar pantul, garis normal, sudut datang
dan sudut pantul pada peristiwa pemantulan cahaya?

H. Prosedur Percobaan
Pemantulan Pada Cermin Datar
1. Letakkan cermin dalam keadaan tegak pada kertas putih yang diatur dengan busur
derajat
2. Nyalakan sumber cahaya dan arahkan sinar kearah cermin dengan membentuk
sudut
i
o
tarhadap garis normal
3. Amati sinar pantul yang keluar dari cermin dan ukur sudut pantul
r
o
4. Gambarkan sinar datang , sinar pantul dan garis normal pada peristiwa pemantulan
5. Ulangi percobaan untuk beberapa sudut yang berbeda
56

6. Isi data hasil percobaan pada tabel pengamatan berikut ini :
Tabel Pengamatan 2.1
No
Sinar Datang (
i
o
)
Sinar Pantul (
r
o )
1
2
3
4
5

7. Simpulkan konsep yang diperoleh dari percobaan tersebut.

Pembentukan Bayangan Pada Cermin Datar
1. Pasang dua cermin datar membentuk sudut pada bidang datar yang datar seperti
softboard ( antara cermin boleh diberi engsel)
2. Ukur sudut diantara dua cermin (
o
) tersebut dimulai
0 0 0
180 , 90 , 60

3. Letakkan jarum pentul di suatu titik sembarang softboard diantara kedua cermin
yang membentuk sudut
4. Amati dan hitung jumlah banyangan yang nampak didalam kedua cermin bersudut
tersebut
5. Ulangi percobaan untuk beberapa sudut yang berbeda
6. Isi data percobaan pada tabel pengamatan berikut ini
Tabel Pengamatan 2.1
No o
n ¿
360
°
/
o
360
°
/
o
-1
1
2
3
4
5

8. Simpulkan konsep yang diperoleh dari percobaan tersebut.

I. Tugas Setelah Percobaan
1. Hitunglah jumlah banyangan yang terjadi pada dua cermin datar berdasarkan
percobaan untuk beberapa sudut yang berbeda?
57

2. Gambarkan pembentukan bayangan yang terjadi pada dua cermin datar untuk
beberapa sudut yang berbeda?
3. Bandingkan jumlah bayangan yang terjadi secara teori dan percobaan?
4. Ukur sudut pantul yang terjadi berdasarkan percobaan dan diskusikan apakah
besarnya sudut datang selalu sama dengan sudut pantul?
5. Diskusikan apakah sinar datang ,sianar pantul dan garis normal terletak dalam suatu
bidang datar?
6. Gambarkan sinar datang,sinar pantul dan garis normal pada peristiwa pemantulan
untuk beberapa sudut datang yang berbeda?


























58

PERCOBAAN X
INTERFERENSI SINAR LASER OLEH DUA CELAH

A. Standar Kompetensi
Mampu mengamati gejala interferensi cahaya monokromatik dari dua celah.
B. Kompetensi Dasar
Merangkai kegiatan percobaan untuk menentukan jarak dua celah sempit dengan sinar
laser.
C. Indikator
1. Mahasiswa dapat menentukan jarak antara dua celah sempit berdasarkan pengukuran
pola interferensi.
D. Tujuan Percobaan
1. Menentukan diameter dari objek pada percobaan
E. Alat dan Bahan
No Nama Alat dan Bahan Jumlah
1 Sinar laser He-Ne 1 Buah
2 Dua celah sempit 1 Set
3 Mistar 1 Buah
4 Kawat kecil berbagai ukuran diameter 3 Buah
5 Kertas milimeter 3 Buah

F. Dasar Teori
Gejala interferensi cahaya dapat dijelaskan jika cahaya dipandang sebagai
gelombang. Interferensi gelombang- gelombang yang koheren (gelombang dengan
panjang gelombang dan beda fase yang sama) akan saling menguatkan. Sedangkan
interferensi antara dua gelombang yang berbeda fase akan saling melemahkan.
Interferensi cahaya oleh dua celah diilustrasikan dalam Gambar 2.
Pada layar akan tampak pola terang dan gelap secara bergantian. Pola terang berada
pada posisi tengah (segaris posisi laser) disebut terang pusat. Pada gambar 1, terang pusat
berada pada posisi titik A. Di sebelah pola terang pusat (titik A) terdapat pola gelap
pertama (titik B), setelah itu terdapat pola terang pertama (titik C). Pola terang terjadi
akibat interferensi yang saling melemahkan. Berarti sinar 1 dan sinar 2 memiliki fase
yang sama, sedangkan sinar 3 dan sinar 4 berbeda fase .


59


C
3
B
1 4 y
2 A
L


Perbedaan fase gelombang terjadi karena panjang lintasan sinar 3 berbeda dengan
panjang lintasan sinar 4. Jika perbedaan panjang itu disebut S maka untuk interferensi
saling melemahkan, berlaku :

Sedangkan untuk interferensi saling meguatkan berlaku :

Berdasarkan analisa geometri sinar pada gambar 1, dapat diperoleh persamaan :

Sehingga untuk pola terang berlaku :

dan untuk pola gelap berlaku :

Dari persamaan di atas dapat dinyatakan bahwa jarak antara dua pola terang yang
berdekatan adalah :

Jarak y dapat diambil sebagai jarak dari pertengahan pola terang pusat ke
pertengahan pola terang di dekatnya. Jarak anatara celah dengan layar dapat diukur (L)
dan nilai panjang gelombang laser () dapat diketahui dari spesifikasi alat. Secara teori,
panjang gelombang laser He-Ne adalah 632,8 nm. Dengan mengetahui nilai y, L, , maka
jarak antara celah (d) dapat diketahui. Metode ini dapat digunakan untuk menentukan
diameter sebuah kawat atau rambut. Kawat yang disinari laser dapat berfungsi sebagai
Laser
60

pemecah sinar, dimana tepi- tepi kawat bertindak sebagai 2 celah. Jika d adalah diameter
kawat, maka

G. Tugas Sebelum Percobaan
1. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi interferensi!
2. Sebutkan jenis-jenis sinar laser berdasarkan λ-nya!

H. Prosedur Percobaan
1. Ukur diameter (d) kawat dengan menggunakan mikrometer.
2. Letakkan celah sempit pada sebuah dudukan/ pemegang celah
3. Kaitkan kawat pada dudukan celah agar percobaan dapat lebih mudah dilakukan.
4. Sorotkan sinar laser tepat menuju celah tersebut.
5. Amati pola yang terbentuk pada layar/ dinding.
6. Tandailah titik tengah dan semua pola terang dengan menggunakan pensil
7. Matikan sumber sinar laser, lalu ukurlah dimensi L dan y
8. Lakukan untuk kawat dengan diameter kawat yang berbeda








No. d (alat mikrometer) L (m) y
1
(m) y
2
(m) y
3
(m)
1
2
3

I. Tugas Setelah Percobaan
5. Tentukan jarak antar celah beserta ralat pengukurannya!
6. Bandingkan perbedaan jarak antara celah dengan menggunakan y
1
, y
2
dan y
3
!
7. Bandingkan hasil pengukuran d dengan milimeter dan d dengan metode ini!


61

PERCOBAAN XI
PEMBENTUKAN BAYANGAN OLEH LENSA

A. Standar Kompetensi
Memahami konsep dan penerapan optika dalam produk teknologi sehari-hari.
B. Kompetensi Dasar
Menyelidiki sifat-sifat cahaya dan hubungan dengan berbagai bentuk lensa.
C. Indikator
1. Mahasiswa dapat merancang dan melakukan percobaan untuk menunjukkan sifat-
sifat cahaya.
2. Mahasiswa dapat melakukan percobaan untuk menentukan letak bayangan dari
sifat-sifat bayangan pada lensa cekung dan lensa cembung.
D. Tujuan Percobaan
1. Menyelidiki sifat bayangan yang dibentuk oleh lensa cembung dan lensa cekung
2. Melihat hubungan antara jarak benda, jarak bayangan, dengan jarak fokus lensa
negatif dan lensa positif.
E. Alat dan bahan :
No Nama Alat dan bahan Jumlah
1 Lensa cekung 1 Buah
2 Lensa cembung 1 Buah
3 Dudukan lensa 2 Buah
4 Layar 1 Buah
5 Mistar 1 Buah
6 Sumber cahaya (lilin) 1 Buah

F. Dasar Teori
1. Lensa
Lensa adalah suatu benda yang tembus pandang dan mempunyai paling sedikit
satu permukaan lengkung. Ada dua jenis lensa yaitu lensa cembung dan lensa cekung.
a. Lensa cembung (lensa positif/lensa konveks), lensa ini memiliki bagian
tengah yang lebih tebal daro pada bagian tepinya, sehingga sinar - sinar
biasanya bersifat mengumpul. Lensa ini juga disebut lensa konvergen.
62


b. Lensa cekung (lensa negatif/lensa konkaf), lensa ini memiliki bagian
tengah yang lebih tipis dari pada bagian tepinya, sehingga sinar – sinar
biasanya bersifat memancar. Lensa ini juga disebut lensa divergen.

Sinar menuju lensa dapat dilakukan dari dua arah, sehingga pada lensa terdapat
dua titik fokus (dilambangkan F
1
dan F
2
). Titik folus F
1
disebut titik fokus aktif, karena
sinar sejajar sumbu utama dibiaskan melalui atau seolah – olah dari titik tersebut.
Sedangkan F
2
disebut titik fokus pasif.

Sinar – sinar istimewa pada lensa cembung
a. Sinar datang sejajar sumbu utama dibiaskan menuju titik fokus

b. Sinar datang yang melalui titik pusat lensa ( 0 ) tidak mengalami
pembiasan

63

c. Sinar datang melalui titik focus akan dibiaskan sejajar sumbu utama


Sinar – sinar istimewa pada lensa cekung
a. Sinar datang sejajar sumbu utama dibiaskan seolah-olah berasal dari titik
fokus F
1


b. Sinar datang yang melalui titik pusat lensa ( 0 ) tidak mengalami
pembiasan

c. Sinar datang yang seolah-olah menuju titik fokus, dibiaskan sejajar
dengan sumbu utama.


Apa bila lensa tebal hanya mempunyai sebuah permukaan, yang mempunyai jari –
jari kelengkungan R
1
dan R
2
, untuk lensa tipis ketebalan lensa dianggap nol, atau tidak
diperhitungkan.
I = permukaan pertama
64

II = permukaan kedua
R
1
dan R
2
jari – jari kelengkungan masing – masing permukaan

(

) (

)
Dimana:
n = indeks bias tempat benda dan bayangan, atau indeks bias disekeliling lensa
itu berada. Untuk udara, n=1
n’= indeks bias lensa
untuk n = 1 (diudara) maka persamaan (4.1) menjadi:

(

) (

)
Dan bila bendanya ada dijauh tak berhingga s = ~, maka bayangan benda akan berada
pada titik focus lensa atau s’ = f, maka persamaan (4.2) dapat menjadi:
s = ~ →s’ = f

(

) (

)

(

) (

)
f: = jarak fokus lensa
ketentuan:
a. Untuk lensa cembung-cembung (bikonvek), R
1
positif dan R
2
negatif
b. Untuk lensa cekung – cekung (bikonkaf), R
1
negatif dan R
2
positif
c. Dapat disebutkan R di depan lensa bernilai negative dan R dibelakang
lensa bernilai positif

c. Kekuatan Lensa (P)
Kekuatan lensa atau sering juga disebut dengan daya lensa adalah kebalikan
dari jarak fokus lensa.

(

) (

)
Dengan:
f : jarak fokus lensa diudara
P : kekuatan lensa diudara
Bila f mempunyai satuan meter maka P mempunyai satuan dioptri

()

Atau bila f bersatuan cm, maka persamaannya dapat dituliskan menjadi:
65

G. Tugas Sebelum Percobaan
1. Lensa bikonvek (cembung-cembung) mempunyai jari-jari kelengkungan masing-
masing 15 cm dan 10 cm dan indeks bias lensa tersebut 1,5 berada diudara. Berapakah
jarak fokus lensa?
Dalam setiap perhitungan dipergunakan ketentuan:
a. Lensa cembung mempunyai f positif
b. Lensa cekung mempunyai f negatif
2. Lukiskan pembentukan bayangan pada lensa cembung jika benda berada di ruang
1,2,3,dan 4, dan sebutkan sifat bayangannya, begitu juga untuk lensa cekung.

H. Prosedur Percobaan
1. Catat harga jarak fokus lensa positif dan lensa negatif
2. Rangkai alat sesuai gembar dibawah . Letakkan lensa cembung pada jarak 15cm
dari benda (sumber cahaya). Jarak antara benda sampai lensa ini adalah s.

3. Geser- geser layar sehingga terbentuk bayangan yang paling jelas pada layar. Jarak
antara lensa sampai bayangan adalah s’.
4. Ukur tinggi benda (h) dan tinggi bayangan (h’)
5. Ulangi langkah 2,3,dan 4 dengan memvariasikan jarak benda s= 20cm, dan s=25cm
6. Bandingkan sifat dan hasil pembentukan bayangan yang terjadi pada saat praktikum
dengan secara teori
7. Letakkan lensa cekung pada jarak 7cm dari benda. Ulangi langkah 3 dan 4 untuk
lensa cekung, dan variasikan jarak benda (s) pada lensa cekung sebanyak dua kali.
8. Isi data hasil percobaan pada tabel
Tabel pengamatan 4.1 Lensa cembung

No
s
(cm)
s’
(cm)
h
(cm)
h’
(cm)
s+s’
(cm)
s.s’
(cm
2
)
s.s’/s+s
(cm)
s’/s
Sifat
bayangan
1 15
66

2 20
3 25

Tabel pengamatan 4.2 Lensa cekung
No
s
(cm)
s’
(cm)
h
(cm)
h’
(cm)
s+s’
(cm)
s.s’
(cm
2
)
s.s’/s+s
(cm)
s’/s
Sifat
bayangan
1 7
2 .....
3 .....

I. Tugas Setelah Percobaan
1. Dari percobaan yang telah dilakukan maka hitunglah titik fokus, kuat lensa, dan
perbesaran lensa.
2. Bolehkah jarak antara benda sampai lensa s diberi nama jarak benda? Apa alasannya?
3. Bolehkah jarak antara lensa sampai bayangan disebut dengan jarak bayangan? Apa
alasannya?
4. Bagaimana besar bayangan dari benda ketika dilihat langsung oleh mata melalui lensa,
dan bagaimana bayangan yang ditangkap oleh layar? Bayangan apakah yang terjadi
pada kedua lensa tersebut?
5. Berdasarkan pertanyaan 3 bolehkan lensa cekung disebut lensa negatif?
6. Apakah harga s.s’/s+s’ tetap
7. Apakah harga s.s’/s+s’ sama dengan f?
8. Berikan analisis terhadap grafik hubungan antara s.s’ dengan s+s’ yang telah kamu
gambar.
9. Berdasarkan data buatlah grafik dengan sumbu y adalah s.s’ dan sumbu x adalah s+s’






Catatan:
1. Bayangan maya adalah bayangan yang langsung dapat dilihat oleh mata.
2. Bayangan sejati adalah bayangan yang dapat dilihat mata kalau ditangkap oleh layar
s.s’
s+s’
67

PERCOBAAN XII
INDEKS BIAS PRISMA DAN PLAN PARAREL

A. Standard Kompetensi
Memahami gejala alam dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
B. Kompetensi Dasar
Mampu menganalisis dan menerapkan konsep optik geometrikdalam kehidupan
sehari-hari
C. Indikator
1. Mahasiswa mampu memahami prinsip-prinsip dasar prisma dan bentuk pembiasan
cahaya pada prisma tersebut.
2. Mahasiswa mampu menentukan pergeseran sinar pada kaca plan paralel (t)
D. Tujuan Percobaan
1. Menentukan indeks bias bahan prisma
2. Menentukan pergeseran sinar pada kaca plan paralel (t)
3. Menggambarkan pembentukan pembiasan cahaya oleh prisma dan plan paralel
E. Alat dan Bahan
No. Nama Alat dan Bahan Jumlah
1 Kertas HVS 8 Buah
2 Jarum pentul panjang 8 Buah
3 Busur derajat 1 Buah
4 Mistar 1 Buah
5 Karbon tebal / Sterefoam 1 Buah
6 Kaca plan pararel 1 Buah
7
Milimeter block
2lembar

F. Dasar Teori
Prisma dalam optika adalah suatu medium bening yang dibatasi oleh dua permukaan
yang membentuk sudut.Apabila seberkas cahaya putih atau cahaya polikromatin melewati
sebuah prisma maka cahaya tersebut akan diuraikan. Penguraian cahaya ini menjadi warna-
warni cahaya monokromatik disebut dengan dispersi cahaya.Dispersi cahaya terjadi karena
disetiap warna cahaya mempunyai indeks bias yang berbeda-beda. Cahaya merah
mempunyai indeks bias terbesar,sehingga dari gambar diperoleh cahaya merah mengalami
deviasi(penyimpangan) terkecil dan cahaya warna ungu mengalami deviasi terbesar.
Besarnya sudut deviasi dari berkas cahaya.
68

Dari sebuah prisma dengan sudut pembias | dan indeks bias prisma n akan diperoleh
sinar yang keluar dari prisma akan membelok sebesar o terhadap sinar mula-mula masuk
mengenai prisma sudut
1
o disebut dengan sudut penyimpangan atau sudut deviasi. Secara
sistematis geometris akan diperoleh besarnya sudut deviasi o pada prisma tersebut yakni,
( ) ( )
2 2 1 1
i r r i ÷ + ÷ = o
Dengan mengubah-ubah posisi prisma sehingga besarnya sudut datang menjadi berubah-
ubah juga. Apabila sudut datang menjadi lebih besar, sudut deviasi juga bertambah besar,
dan sebaliknya. Bila sudut datang dibuat menjadi lebih kecil, dengan cara memutar posisi
prisma, sudut deviasi akan menjadi lebih kecil tidak dapat diperkecil terus, ada sudut
deviasi tidak dapat diperkecil lagi. Jadi pada suatu prisma ada deviasi terkecil ada deviasi
minimum. Secara sistematik bila segi tiga kaki dibuktikan :
1 2 1 2 1
2 : : r i r r I = = = |
Sinar PQ datang dari udara mengenai prisma dengan sudut datang I
1
terhadap garis
normal N. Oleh permukaan AB sinar PQ dibiaskan mendekati normal N. menurut arah QR,
sudut biasnya r
1
. selanjutnya sinar QR dibiaskan oleh permukaan BC, menurut RS dengan
sudut datang i
2
dan sudut bias r
2
untuk setiap kali cahaya itu mengalami pembiasan, cahaya
dibelokkan ke arah bagian prisma yang tebal.



o




Gambar 24 : Perambatan cahaya pada prisma

Sinar yang keluar dari prisma (sinar RS) membelok sebesar sudut o terhadap arah
sinar yang mula-mula (perpanjangan sinar PQ). Sudut o disebut sudut deviasi. Secara
geometri dapat dibuktikan:
( ) ( )
2 2 1 1
i r r i ÷ + ÷ = o
Pada plan pararel, Dengan menggunakan hukum pembiasan n
u
sin i = n
k
sin r, dapat
dihitung nilai n
k
(indek bias kaca)
Dengan menggunakan rumus pergeseran sinar kaca plan paralel (t)
t=d sin (i-r)/cos r
N
P
A
A
C
A
C
A
D
T
R
S
n
U
N
r
2

n
Q
r
1

i
1

I
2

n
1

69

d = ketebalan kaca
i = sudut dating
r = sudut bias
t = pergeseran sinar kaca plan parallel

G. Tugas Sebelum Percobaan
1. Sebuah prisma dengan indeks-bias
3
dan mempunyai sudut pembias sebesar
0
60
.Tentukanlah sudut deviasi minimum dari prisma tersebut?
2. Sebutkan alat-alat optik yang menggunakan prisma sebagai komponennya?

H. Prosedur Percobaan
Indeks Bias Prisma
1. Letakkan karton dimeja dan sehelai kertas diatasnya
2. Meletakkan prisma dikertas dan menarik garis sepanjang ketiga sisinya
3. Lukis sebuah sinar datang AB dengan sudut datang
0 0 0
60 , 50 , 40

4. Tanjapkan jarum pentul titik A dan B meletakkan prisma ditempat semula
5. Tinjau dari arah melalui prisma dan tanjapkan jarum D dan C sedemikian hingga
A,B,C,D terlihat seakan-akan terletak dalam suatu garis lurus
6. Perpanjangan AB dan DE sehingga perpotongan dan membentuk sudut deviasi
7. Ulangi langkah 3 s/d 6 dengan sudut
0 0
60 , 50

8. Buat data pengamatan dan hasil pengamatan
No i
1
r
1
i
2
r
2
β δ
1


2


3



Pergeseran Sinar Pada Kaca Plan Paralel
1. Letakkanlah karton di atas meja
2. Ambilah kertas grafik dan letakkan di atas karton
3. Buat garis tepat di tengah sepanjang kertas arah vertikal dan horisontal
4. Letakkanlah kaca plan paralel di atas kertas grafik lalu gambarlah bagiantepi kaca
tersebut
5. Buatlah garis vertikal sebagai garis normal (N)
6. Buatlah sudut datang (i) dan masukkan nilai sudutnya
0 0 0
35 , 30 , 25

70

7. Tancapkan jarum pentul di titik A dan B pada sudut
8. Ukur besar sudut bias (r) dan garis normal,kemudian masukkan hasilnya pada tabel
pengamatan.
9. Ulangi langkah 1-8 sebanyak 3 kali dengan besar sudut datang yangberbeda-beda.
No i
1
r
1
i
2
r
2
β D
1


2


3



Tugas Setelah Percobaan
a. Berdasarkan data percobaan yang diperoleh, tentukan indeks bias bahan prisma yang
digunakan!
b. Tentukan pula pergeseran sinar pada kaca plan paralel tiap percobaan!






















71

PERCOBAAN XIII
HUKUM OHM DAN
RANGKAIAN HAMBATAN SERI DAN PARALEL

A. Standar Kompetensi
Memahami gejala hukum ohm dan hubungannya dalam kehidupan sehari-hari serta
menerapkan konsep kelistrikan dalam penyelasaian masalah dan berbagai produk dan
teknologi.
B. Kompetensi Dasar
Merangkai komponen listrik (resistor) yang tersusun secara seri, paralel, serta dapat
mengukur kuat arus dan tegangan masing-masing resistor.
C. Indikator
1. Mampu menyusun rangkaian seri dan paralel dengan benar.
2. Mampu mengukur besarnya hambatan, kuat arus dan tegangan dalam rangkaian.
D. Tujuan Percobaan
1. Membuktikan hukum Ohm.
2. Mengenali sifat-sifat rangkaian seri dan paralel.
E. Alat dan Bahan
No. Nama Alat dan Bahan Jumlah
1 Resistor 1200 2 Buah
2 Resistor 2200 1 Buah
3 Multimeter 1 Buah
4 Project Board 1 Buah
5 Kabel Secukupnya
6 Catu Daya 1 Buah

F. Teori Dasar
Pengertian Arus Listrik
Arus listrik terjadi karena adanya aliran elektron dimana setiap elektron
mempunyai muatan yang besarnya sama. Jika benda mempunyai muatan negatif maka
benda tersebut mempunyai kelebihan elektron. Derajat termuatinya benda tersebut
diukur dengan jumlah kelebihan elektron yang ada. Muatan sebuah elektron sering
dinyatakan dalam simbol q yang memiliki nilai q=1,6 x 10
-19
C.
72

Besarnya arus listrik dengan satuan banyaknya elektron per detik, namun
demikian ini bukanlah satuan yang praktis karena harganya terlalu kecil. Satuan yang
dipakai adalah ampere.

Pengertian Tegangan
Misalnya kita mempunyai dua buah tabung yang dihubungkan dengan pipa. Jka
kedua tabung ditaruh di atas meja maka permukaan air pada kedua tabung akan sama
dan dalam hal ini tidak ada aliran air dalam pipa. Jika salah satu tabung diangkat maka
dengan sendirinya air akan mengalir dari tabung tersebut ke tabung yang lebih rendah.
Makin tinggi tabung diangkat maka makin daras aliran air yang melalui pipa.
Terjadinya aliran tersebut dapat dipahami dengan konsep energi potensial.
Tingginya tabung menunjukkan besarnya energi potensial yang dimiliki. Yang
paling penting dalam hal ini adalah perbedaan tinggi kedua tabung yang sekaligus
menentukan besarnya perbedaan potensial. Jadi semakin besar perbedaan potensialnya
semakin deras aliran air dalam pipa. Perlu diperhatikan bahwa beda potensial diukur
diantara ujung-ujung suatu konduktor. Jika kita brbicara tentang potensial pada titik
tertentu maka hal itu adalah sebenarnya kita mengukur beda potensial pada titik
tersebut terhadap suatu titik acuan tertentu. Sebagai standar titik acuan biasanya
dipilih titik tanah (ground).

Hukum Ohm
Ohm menggunakan rangkaian percobaan percobaan sederhana dengan rangkaian
sumber potensial secara seri, mengukur besarnya arus yang mengalir dan menemukan
hubungan linear sederhana, ditulis sebagai :

Rangkaian Seri dan Paralel
Rangkaian Seri adalah salah satu rangkaian listrik yang disusun secara sejajar
(seri).Baterai dalam senter umumnya disusun dalam rangkaian seri.
Rangkaian Paralel adalah salah satu rangkaian listrik yang disusun secara berderet
(paralel). Lampu yang dipasang di rumah umumnya merupakan rangkaian paralel.
Rangakain listrik paralel adalah suatu rangkaian listrik, di mana semua input
komponen berasal dari sumber yang sama. Semua komponen satu sama lain tersusun
paralel. Hal inilah yang menyebabkan susunan paralel dalam rangkaian listrik
menghabiskan biaya yang lebih banyak (kabel penghubung yang diperlukan lebih
banyak). Selain kelemahan tersebut, susunan paralel memiliki kelebihan tertentu
73

dibandingkan susunan seri. Adapun kelebihannya adalah jika salah satu komponen
dicabut atau rusak, maka komponen yang lain tetap berfungsi sebagaimana mestinya
Gabungan antara rangkaian seri dan rangkaian paralel disebut rangkaian seri-
paralel(kadang disebut sebagai rangkaian campuran).
a. Rangkaian seri


Jumlah hambatan total rangkaian seri sama dengan jumlah hambatan tiap-
tiap komponen (resistor).
b. Rangkaian paralel

.
Jumlah kebalikan hambatan total rangkaian paralel sama dengan jumlah dari
kebalikan hambatan tiap- tiap komponen (resistor).

G. Tugas Sebelum Praktikum
1. Jelaskan bunyi hukum ohm serta aplikasinya di kehihidu[an sehari-hari
2. Jika tiga buah resistor dengan nilai yang sama yaitu R dirangkai seri dengan sebuah
tegangan besarnya E.
a. Hitung besar hambatan total
b. Hitung kuat arus yang mengalir dalam rangkaian
c. Hitung besar tegangan pada setiap resistor dalam rangkaian
d. Kesimpulan apa yang anda dapatkan dari hasil perhitungan a dan b diatas

H. Prosedur Percobaan
1. Hukum Ohm
a. Persiapkan alat dan bahan sesuai dengan daftar alat dan bahan dengan
menggunakan 2 resistor masing-masing 1200Ω dan 2200Ω.
b. Susunlah rangkaian seperti dibawah ini :
74


c. Tegangan sumber diatur sebesar 3 Volt.
d. Amatilah arus yang melewati R1 dan R2.
e. Amatilah tegangan yang melewati R1 dan R2.
f. Ulangi langkah 3 dan 4 untuk sumber tegangan sebesar 4,5 Volt dan 6 Volt.
g. Masukan data hasil percobaan pada table berikut ini :
NO
Tegangan V
( Volt )
Kuat Arus I
( ampere)
Hambatan Ω
( Ohm )
1.
2.
3.

2. Rangkaian Seri
a. Persiapkan alat dan bahan sesuai dengan daftar alat dan bahan dengan
menggunakan 3 resistor masing-masing 1200Ω, 1200Ω dan 2200Ω.
b. Susunlah rangkaian seperti dibawah ini :






c. Tegangan sumber diatur sebesar 3 Volt
d. Amatilah pada alat ukur kuat arus dan tegangan pada hambatan R masing –
masing i dan v .
e. Ulangi langkah 3 dan 4 untuk tegangan sebesar 6 Volt.
f. Masukan data hasil percobaan ke dalam table dibawah ini :
R
1
R
2
R
3

V
1
V
3
V
2

A
V
75

No.
V
1
(V)
V
2
(V)

V
3

(V)
V
tot
(V)

I
1
(A)
I
2
(A)
I
3

(V)
I
tot
(A)

R
1
=
V
1
/ I
1

R
2
=
V
2
/ I
2

R
3
=
V
3
/ I
3

R= V
tot
/
I
tot
1.
2.

3. Rangkaian Paralel
a. Persiapkan alat dan bahan sesuai dengan daftar alat dan bahan dengan
menggunakan 3 resistor masing-masing 1200Ω, 1200Ω dan 2200Ω.
b. Susunlah rangkaian seperti dibawah ini :


c. Tegangan sumber diatur sebesar 3 Volt
d. Amatilah pada alat ukur kuat arus dan tegangan pada hambatan R masing –
masing i dan v .
e. Ulangi langkah 3 dan 4 untuk tegangan sebesar 6 Volt.
f. Masukan data hasil percobaan ke dalam table dibawah ini :

No.
V
1
(V)
V
2
(V)

V
3

(V)
V
tot
(V)

I
1
(A)
I
2
(A)
I
3

(V)
I
tot
(A)

R
1
=
V
1
/ I
1

R
2
=
V
2
/ I
2

R
3
=
V
3
/ I
3

R= V
tot
/
I
tot
1.
2.









76

PERCOBAAN XIV
HUKUM KIRCHHOFF

A. Standar Kompetensi
Menerapkan konsep kelistrikan dalam berbagai penyelesaian masalah dan berbagai
produk teknologi.
B. Kompetensi Dasar
Merangkai alat ukur listrik dan menggunakannya pada rangkaian tertutup secara baik
dan benar.
C. Indikator
1. Mahasiswa dapat membuktikan Hukum Kirchhoff secara kuantitatif.
2. Mahasiswa dapat menganalisis kuat arus pada rangkaian tertutup.
3. Mahasiswa dapat membuktikan Hukum I dan II Kirchhoff dalam percobaan.
D. Tujuan Percobaan
1. Menentukan kuat arus pada setiap cabang dalam suatu rangkaian listrik
2. Menentukan tegangan antara dua titik dalam suatu rangkaian listrik
E. Alat dan Bahan
No. Nama Alat dan Bahan Jumlah
1 Ohmmeter 1 Buah
2 Voltmeter 1 Buah
3 Amperemeter 1 Buah
4 Power Supply (catu daya) 2 Buah
5 Resistor 100 ohm 3 Buah
6 Kabel Penghubung 6 Buah

F. Dasar Teori
Tegangan yang membentangi tiap elemen dan arus yang mengalir melalui tiap elemen
dalam sebuah rangkaian listrik diatur oleh kedua Hukum Kirchhoff. Secara historis, Gustav
Robert Kirchhoff (1824 – 1887) dalam membuat analisisnya tentang hukum tersebut, dengan
cermat mengikuti Faraday dalam memaparkan induksi listrik, Oersted dalam menghubungkan
magnet listrik, Ampere dalam menghubungkan gaya dengan arus listrik, dan Ohm dalam
mengaitkan tegangan dan arus.
Hukum I Kirchhof
Hukum pertama ini disebut juga dengan Hukum Arus Kirchoff yang berbunyi :
77

“jumlah kuat arus yang menuju titik percabangan sama dengan jumlah kuat arus yang
meninggalkan titik percabangan tersebut”. Artinya jumlah kuat arus pada semua cabang
yang bertemu pada satu titik sama dengan nol.
Hukum ini adalah konsekuensi dari hukum kekekalan muatan. Muatan yang masuk ke
sebuah simpul harus meninggalkan simpul tersebut karena muatan tidak dapat
terakumulasi pada sebuah simpul.
Secara matematis, Hukum I Kirchhoff dapat dituliskan sebagai berikut :

¿ ¿
=
n percabanga titik an meninggalk n percabanga titik menuju
I I

Pada gambar 1 arus I
1
, I
2
, dan I
3
menuju titik cabang A, sedangkan arus I
4
dan I
5

meninggalkan titik cabang A.

5 4 3 2 1
I I I I I
I I
n percabanga titik an meninggalk n percabanga titik menuju
+ = + +
=
¿ ¿





Hukum II Kirchhoff
Hukum kedua ini disebut juga Hukum Tegangan Kirchhoff yang berbunyi :
“jumlah tegangan yang mengelilingi lintasan tertutup sama dengan nol”. Hukum ini
merupakan konsekuensi kekekalan energi dan sifat konservatif rangkaian listrik. Hukum
Tegangan Kirchhoff dapat diterapkan pada rangkaian dengan beberapa cara yang berbeda.
Sebuah metoder yang memberikan sedikit kesalahan penulisan persamaan dibanding
lainnya, terdiri dari gerakan sekeliling rangkaian tertutup menurut arah jarum jam dan
menulis langsung tegangan setiap elemen yang terminal ( + ) nya dijumpai dan menulis
negatif bagi setiap tegangan yang pertama dijumpai tanda ( - ) .
Secara matematis Hukum Tegangan Kirchhoff dapat dituliskan sebagai berikut :

0 . = +
¿ ¿
R I V

Dari gambar 2, kuat arus yang mengalir dapat ditentukan dengan menggunakan
Gambar 25 . Arus – arus pada titik cabang

A

I
5
I
4
I
3
I
2
I
1
78

beberapa aturan sebagai berikut :
1. Tentukan arah putaran arusnya untuk masing-masing loop.
2. Arus yang searah dengan arah perumpamaan dianggap positif.
3. Arus yang mengalir dari kutub negatif ke kutup positif di dalam elemen dianggap
positif.
4. Jika hasil perhitungan kuat arus positif maka arah perumpamaannya benar, bila
negatif berarti arah arus berlawanan dengan arah pada perumpamaan.

G. Tugas Sebelum Percobaan
1. Jelaskan Hukum I dan II Kirchhoff !
2. Mengapa burung yang sedang bertengger di kabel listrik tidak tersengat arus listrik
? jelaskan !

H. Langkah – Langkah Percobaan











Langkah I - Mengukur besar resistansi/hambatan yang digunakan
1. Dengan menggunakan ohmmeter yang ada pada multimeter, ukur tiap-tiap
resistansi/hambatan yang digunakan, nyatakan dalam ohm ( Ω ) dan catat sebagai
R
1 ,
R
2,
dan R
3


Langkah II - Mengukur besar tegangan sumber yang digunakan
1. Dengan menggunakan voltmeter yang ada pada basicmeter , ukur tiap-
tiaptegangan yang digunakan, nyatakan dalam volt ( V ) dan catat sebagai E
1
dan
E
2


d

c
b

a

I
3
I
2
I
1
R
3
R
2
R
1
E
1 E
2
Gambar 26 . Skema Rangkaian Percobaan

79

Langkah III - Mengukur kuat arus pada rangkaian
1. Merangkai alat dan bahan seperti skema di atas
2. Jika rangkaian sudah benar, tekan tombol ON pada kedua power supply
3. Mengukur kuat arus pada I1, I2 , dan I3 untuk E1 = 12 V dan E2 = 9 V
4. Mengukur kuat arus pada I1, I2 , dan I3 untuk E1 = 12 V dan E2 = 6 V
5. Mengukur kuat arus pada I1, I2 , dan I3 untuk E1 = 9 V dan E2 = 6 V
6. Dengan menggunakan voltmeter, ukur tegangan pada R1, R2, dan R3
7. Mencatat hasil pengukuran pada data pengamatan


Catatan :
- pada saat mengukur tegangan, alat ukur diparalelkan dengan rangkaian
- pada saat mengukur arus, alat ukur diserikan dengan rangkaian
- saat menggunakan alat ukur, gunakan batas ukur yang paling besar terlebih dahulu
agar tidak merusak alat ukur tersebut
1. Mengukur resistansi/hambatan yang digunakan :
R
1
= ... ohm R
2
= ... ohm R
3
= ... ohm

2. Mengukur tegangan sumber yang digunakan :
No Percobaan E
1
E
2
1 I ... volt ... volt
2 II ... volt ... volt
3 III ... volt ... volt

3. Mengukur kuat arus pada rangkaian :
No Percobaan I
1
I
2
I
3

1 I ... ampere ... ampere ... ampere
2 II ... ampere ... ampere ... ampere
3 III ... ampere ... ampere ... ampere

4. Mengukur tegangan pada masing – masing resistor:
No Percobaan R
1
R
2
R
3

1 I ... volt ... volt ... volt
2 II ... volt ... volt ... volt
3 III ... volt ... volt ... volt

80

PERCOBAAN XV
MENENTUKAN MOMEN MAGNETIK PADA MAGNET BATANG

A. Standar Kompetensi
Menerapkan konsep kemagnetan dalam berbagai penyelesaian masalah dan berbagai
produk teknologi.
B. Kompetensi Dasar
Merangkai percobaan penentuan momen magnetik pada magnet batang.
C. Indikator
1. Mahasiswa dapat menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi momen magnetik
pada magnet batang.
D. Tujuan Percobaan
1. Menentukan momen magnetik pada magnet batang.
2. Menentukan faktor yang mempengaruhi momen magnetik

E. Alat dan Bahan
No. Nama alat Jumlah
1 Mistar (1/2 m dan 1 m) 2 buah
2 Kompas/magnetometer 1 buah
3 Magnet batang 2 buah

F. Dasar Teori
Misalkan sebuah magnetometer (kompas) dipengaruhi oleh sebuah magnet
batang yang berada di sebelah barat kompas tersebut, maka jarum magnetometer akan
setimbang jika k dua gaya (yang berlawanan itu) sama besar, atau jika




Sehingga ;

Dimana :
H
0
adalah komponen horizontal dari medan magnet bumi.
m’ adalah kuat kutub kompas.

Apabila panjang magnet batang adalah 2l, momen magnetiknya M dan jarak
dari titik pusat kompas adalah d, maka besar gaya F adalah :
81


(

)

jika persamaan (8.2) disubtitusiskan ke persamaan (8.1), akan diperoleh :

(

)

Besar momen magnetic (m)dari sebuah magnet batang dapat ditentukan
dengan mengukur h
0
, d, l dan . H
0
dapat ditentukan dengan menggunkan percobaan
lain. Dan dalam percobaan ini h
0
dianggap 0,18 oersted.
G. Tugas Sebelum Percobaan
1. Apa yang dimaksud dengan momen magnetik ?
2. Tuliskan jenis-jenis magnet ?
H. Prosedur Percobaan
7. Ukurlah panjang magnet batang dengan menggunakn mistar!



8. Letakkan kompas di atas sebuah mistar tepat di tengah tengah mistar tersebut.
Aturlah posisi kompas sehingga berada ditengah tengah mistar kayu dengan
benar. Arahkan mistar ke barat-timur.




9. Letakkan magnet batang dengan posisi barat-timur. Pada arah d dari kompas.
Perhatikan simpangan arm magnetometer dan catatlah besar simpangannya .




10. Baliklah arah medan magnet batang . Ujung S mendekati magnetometer
(usahakan agar jarak d tidak berubah), Catatlah besar simpangannya .
11. Lakukanlah langkah 1 sampai 4 untuk jarak d yang berbeda

S U
2l
W E
N
S
U S
W E
N
S
U S
82





12. Lakukanlah langkah percobaan 1- 4 dengan menggunakan magnet batang yang
berbeda



2. Tugas setelah percobaan
1. Tuliskan data percobaan pada tabel berikut ini:
Percobaan ke- l (m) d (m)
Penyimpangan
(θ)
utara
Penyimpangan
(θ)
selatan
1 0,03
0,35
0,30
0,25
2 0,45
0,35
0,30
0,25

2. Tentukan nilai momen magnetic (M) magnet batang berdasarkan data yang
anda peroleh beserta ralat pengukurannya!
3. Tuliskan kesimpulan yang anda peroleh dari percobaan ini!











W E
N
S
U S
W E
N
S
U S
83

PERCOBAAN XVI
HUKUM ARCHIMEDES

A. Standar Kompetensi
Memahami konsep dan penerapan hukum Archimedes dalam kehidupan sehari-hari.
B. Kompetensi Dasar
Menyelidiki perbedaan berat benda di udara dengan berat benda dalam air.
C. Indikator
1. Mahasiswa dapat merancang dan melakukan percobaan untuk membuktikan hukum
Archimedes.
2. Mahasiswa dapat mengetahui penyebab perbedaan berat benda di udara dengan di air.
D. Tujuan Percobaan
1. Dapat melihat perbedaan berat benda di udara dengan di air.
2. Dapat memahami konsep hukum Archimedes.
3. Dapat melihat hubungan antara pengurangan berat benda dengan volume benda yang
dikalikan dengan percepatan gravitasi dan massa jenis zat cair.
E. Alat dan Bahan
No. Nama Alat Jumlah
1. Jangka Sorong 1 Buah
2. Hidrometer 1 Buah
3. Dasar Statif 1 Buah
4. Batang Statif 2 Buah
5. Klem Universal 1 Buah
6. Beban 3 Buah
7. Air Secukupnya
8. Bejana 1 Buah
9. Dinamometer 1 Buah

F. Dasar Teori
Fluida merupakan sesuatu yang dapat mengalir sehingga sering disebut sebagai zat
alir. Fasa zat cair dan gas termasuk ke dalam jenis fluida.Fluida selalu mempunyai bentuk
yang dapat berubah secara kontinyu mengikuti bentuk wadahnya karena fluida tidak dapat
menahan gaya geser.
84

Suatu benda yang dicelupkan dalam zat cair mendapat gaya ke atas sehingga benda
kehilangan beratnya (beratnya menjadi berat semu). Gaya ke atas ini disebut sebagai gaya
apung (buoyancy), yaitu suatu gaya ke atas yang dikerjakan oleh zat cair pada benda.
Munculnya gaya apung adalah konsekuensi dari tekanan zat cair yang meningkat dengan
kedalaman. Dengan demikian berlaku hubungan :
Gaya apung = berat benda di udara – berat benda dala
Gaya apung = W – W’
Dengan : W = berat benda di udara (N)
W’ = berat benda di dalam zat cair (N)
Cara Archimedes menemukan hukumnya yaitu:pertama, jika dicelupkan batu ke
dalam suatu bejana yang berisi air,maka pemukaan air akan naik.Ini karena batu
menggantikan volum air. Jika batu dicelupkan pada bejana yang penuh berisi air, maka
sebagian dari air akan tumpah dari bejana. Volum air yang ditampung tetap sama dengan
volume batu yang menggantikan air. Jadi, Suatu benda yang dicelupkan seluruhnya dalam
zat cair selalu menggantikan volum zat cair yang sama dengan volum benda itu sendiri.
Kedua, Archimedes mengaitkan antara gaya apung yang dirasakannya dengan volum
zat cair yang dipindahkan benda. Dari sinilah Archimedes (287-212 SM),ilmuan Yunani
kuno, berhasil menemukan hukumnya, yaitu hukum Archimedes yang berbunyi :
Gaya apung yang bekerja pada suatu benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke
dalam suatu fluida sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda tersebut.
Penyebab munculnya gaya apung yang dikerjakan oleh suatu fluida kepada benda
yang tercelup dalam fluida karena selisih antara gaya hidrostatis yang dikerjakan fluida
terhadap permukaan bawah dengan permukaan atas benda.Dengan kata lain, gaya apung
terjadi karena makin dalam zat cair, maka makin besar tekanan hidrostatisnya. Ini
menyebabkan tekanan pada bagian bawah benda lebih besar daripada tekanan pada bagian
atasnya

G. Tugas Sebelum Percobaan
1. Bagaimanakah bunyi dari hukum Archimedes ?
2. Sebutkan rumus-rumus yang digunakan dari percobaan Hukum Archimedes dan
besaran-besaran apa saja yang digunakan di dalamnya ?

H. Prosedur Percobaan
1. Menyediakan alat-alat serta bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini.
85

2. Mengukur diameter dan tinggi beban yang digunakan dengan menggunakan
jangka sorong. Lakukan pengukuran secara berulang sebanyak 3 kali pada
masing-masing beban.
3. Menghitung volume beban tersebut.
4. Mengukur massa jenis zat cair yang digunakan dalam percobaan tersebut dengan
menggunakan hidrometer.
5. Mengukur berat beban tersebut di udara dengan menggunakan dinamometer
seperti gambar berikut :

Gambar 27. Mengukur dengan dinamometer di udara
6. Mengukur berat benda di dalam air dengan menggunakan dinamometer yang
digantungkan di statif.

Gambar 28. Mengukur dengan dinamometer di air
7. Membandingkan berat beban yang diukur di udara dengan berat beban yaqng
diukur di dalam air.
8. Menulis data yang diperoleh di lembar data percobaan.

Tabel 8.1 Hasil Percobaan
BEBAN
d (cm) t (cm)
1
d
2
d
3
d
1
t
2
t
3
t

1
86

2
3

Tabel 8.2 Pengolahan data
Beban d (cm) t (cm) V (cm
3
) W (N) W’ (N) ρ W – W’
1.
2.
3.

I. Tugas setelah percobaan
1. Apa artinya pengurangan berat benda bilamana ditimbang di dalam zat cair dengan di
udara ?
2. Hitung volume beban yang digunakan, untuk mengetahui besar gaya keatas yang di
berikan air tehadap beban secara teori!
3. Bandingkan besar selisih berat benda di air dan diudara dengan besar gaya archimedes
secara teori sebagai nilai persen kesalahan yang terjadi dalam praktikum!

87


Bahan Ajar

PRAKTIKUM FISIKA UMUM

Dosen Pengampu Mata Kuliah :

Yul Ifda Tanjung, S.Pd



















88

KATA PENGANTAR

Diktat Praktikum Fisika Umum ini ditulis bertujuan untuk membantu para mahasiswa
jurusan Fisika FMIPA UNIMED medan yang sedang mengikuti mata kuliah Fisika Umum
dan juga bagi para pembaca yang berminat mempelajari percobaan-percobaan dalam Fisika.
Sehingga dalam penyajiannya diupayakan menggunakan bahasa sederhana dan mudah di
pahami dan diikuti pemberian prosedur percobaan yang jelas.

Materi yang dibahas dalam buku ini meliputi teori pengukuran dan kesalahan dalam
pengukuran. Untuk memperdalam pemahaman pembaca disajikan pula teori-teori pendukung
praktikum sehingga mempermudah pembaca menghubungkan konsep dasar dan mampu
mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Diktat ini cocok sebagai bahan kajian untuk
menghadapi ujian bagi mahasiswa danberguna dalam membantu pemahamankonsep dasar
Fisika Umum.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan dosen
yang memberikan dukungan dan bersedia diajakdiskusi oleh penulis yang berkenaan dengan
konsep-konsep yang diuraikan dalam buku ini dan juga kepada semua pihak yang membantu
penjilitan buku ini.

Materi yang dibahas dalam buku ini mungkin masih banyak kekurangannya tanpa
disadari oleh penulis. Oleh karena itu, penulis sangatmengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun dari pembaca demi menyempurnakan kritika dan saran yang sifatnya
membangun dari pembaca demi penyempurnaan dari buku ini. Semoga buku ini dapat
memberikan manfaat yang banyak kepada pembaca.Amin.


Medan, 2012



Penulis













i
89


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I. Teori Kesalahan dalam Pengukuran 1

Percobaan 1. Pengukuran 8
Percobaan 2. Vektor Gaya Oleh Dua Katrol 17
Percobaan 3. Air Track 24
Percobaan 4. Gerak Lurus Berubah Beraturan 29
Percobaan 5. Usaha dan Energi 32
Percobaan 6. Momen Inersia 36
Percobaan 7. Suhu dan Kalor 41
Percobaan 8. Getaran Pegas 46
Percobaan 9. Pembentukan Bayangan Pada Cermin Datar 52
Percobaan 10. Interferensi Sinar Laser Oleh Dua Celah 56
Percobaan 11. Pembentukan Bayangan Oleh Lensa 59
Percobaan 12. Indeks Bias Prisma dan Plan Paralel 65
Percobaan 13. Hukum Ohm dan Rangkaian Hambatan seri dan paralel 69
Percobaan 14. Hukum Kirchoff 74
Percobaan 15. Menentukan Momen Magnetik pada Magnet Batang 78
Percobaan 16. Hukum Archimedes 81


ii

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->