Asuhan keperawatan pada pasien ACUTE LUNG OEDEM (ALO) ACUTE LUNG OEDEM (ALO) 1.

1 Acute lung oedem (Alo) atau cedera paru akut adalam penumpukan cairan di dalam paru-paru baik dalam spasium interstial atau dalam alveoli (Diane C. Baughman, Joann C. Hankley Kep. Medikal Bedah, Penerbit Buku Kedokteran). 1.2 Etiologi Penyebab acute lung oedema (Alo) secara umum dapat di golongkan menjadi dua. 1.2.1 Cardiae 1. Edema paru kardiogenik Yaitu edema paru yang disebabkan karena gangguan pada jantung atau sistem kardiovaskuler terdiri dari : 1). Gagal ventrikel jantung kanan / kiri - Diapneed efort - Fatigue - Ortopnea - Dispnea naktural paroksimal (PND) - Pembesaran jantung - Irama heaving - Pernafasan chyne stoke - Ronchi dan kongesti vena pulmunalis 2). Stenosis metral Terjadi penyempitan pada salah satu katub jantung yang katup jantungnya metral. 2. Sindrome kongistif jantung - Edema paru neurogenik - Edema paru karena ketinggian tempat - Emboli lemak - Pankreatitis - Kelainan-kelainan lain 1.2.2 Non Cardiae - Instifiensi paru pasca trauma - Aspirasi cairan tambung - Sianosis - Pnemonia (segala macam sebab) - Overdosis hernia (narkotik) - Istalasi asap dan luka bakar saluran pernafasan - Instalasi bahan kimia teksik - Toksisitas O2 - Tenggelam atau hampir tenggelam 2.2 Patofisiologi 2.3 Tanda-tanda dan gejala klinis 1. Serangan khas terjadi pada malam hari setelah berbaring selama beberapa jam dan biasanya di dahului dengan rasa gelisah, ansictas dan tidak dapat tidur 2. Awitan sesak nafas mendadak dan rasa akfiksia (seperti kebiasaan nafas) tangan menjadi dingin dan basah, bantalan kuku menjadi sianotik dan warna kulit menjadi abu-abu

3. Nadi cepat dan lemah, vena leher distensi 4. Batuk hebat menyebabkan peningkatan jumlah sputum mokoid 5. Dengan makin berkembangnya edema paru, ansietas berkembang menjadi mendekati, pasien muali bingung, kemudian stopor 6. Nafas menjadi bising dan basah (dapat tenggelam oleh cairan sendiri) 7. Heomamptec (batuk darah) 8. Ronchi 9. Tekanan darah menurun 10. Takhikardi 2.4 Pemeriksaan fisik 1). Pemeriksaan elektro magnetik (ECG) - di dapatkan gambaran deviasi sumbu jantung kiri - hipertropi ventrikel kiri, pembesaran atrium kiri 2). Pemeriksaan foto thorax Jantung tampak membesar cardiomegali dan di sertai dengan pembesaran ventrikel kiri dan atrium kanan 2. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian a. Identitas penderita Identitas penderita meliputi nama, unsur jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, agama, suku / bangsa, alamat, tanggal dan jam masuk rumah sakit, diagnosa medik. b. Keluhan utama Klien biasanya mengeluh sesak nafas, badan lemas c. Riwayat penyakit sekarang Adanya sesak nafas (+) dan kelemahan d. Riwayat penyakit dahulu Klien biasanya pada riwayat penyakit yang sama dengan yang dialami sekarang atau kadang-kadang punya riwayat hipertensi, DM, infeksi paru, TB paru dan lain-lain e. Riwayat penyakit keluarga Penyakit keturunan yang pernah dialami keluarga seperti DM, penyakit lain seperti hipertensi. f. Riwayat psiko sosio spiritual Peran penderita terhadap keluarga menurun akibat kelemahan dan penyakit yang diderita, pada riwayat spiritual klien mengalami perubahan dalam melaksanakan ibadah sehari hari dan merasa ketakutan dengan kematian yang disebabkan oleh penyakitnya. b. Pola-pola fungsi kesehatan 1. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat Terjadi perubahan penatalaksanaan dan pemeliharaan dan pemeliharaan sehingga dapat menimbulkan perawatan diri 2. Pola nutrisi dan metabolisme Terjadi karena perubahan adanya keluhan pasien berupa mual-muntah, kehilangan nafsu makan

3. Pola aktivitas dan latihan Pola pasien Alo akan terjadi kelemahan pada seluruh anggota badan sehingga aktivitasnya di bantu 4. Pola eliminasi Pada klien Alo biasanya terjadi penurunan produksi urine 5. Pola tidur dan istirahat Terjadi perubahan yang disebabkan sesak, nyeri, mual-muntah, gelisah, cemas 6. Pola persepsi dan kognotif Pada kx ini mengalami penurunan kesadaran yang disebabkan suplay O2 yang ke otak menurun 7. Pola persepsi diri Kx merasa dirinya tidak berdaya dan menarik diri karena tidak bisa merasa apaapa 8. Pola hubungan dan peran Kx menarik diri dari lingkungan karena menganggap dirinya tidak berarti 9. Pola produksi dan sexual Biasanya terjadi perubahan karena adanya kelelahan dan penurunan kesadaran 10. Pola penanggulangan stress Adanya kegelisahan, kecemasan dan ketakutan atau depresi yang disebabkan penyakit yang diderita cara Kx dalam mengatasi masalah tesebut. 11. Pola tata nilai dan kepercayaan Biasanya Kx tidak bisa mengerjakan ibadahnya seperti biasanya karena disebabkan penyakit 2. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik - Whizing Ronchi - Paru : nafas vasikuler - Bunyi : paru sonor kiri : ICS 1 – 7 sonor - Jantung : - Irama sinus takikardi - S1 S2 tunggal - Ictus cordis di ICS 7 cmc kiri lebih dari 2 cm - Cardiomegali (+) palpasi (+) - Batas jantung Atas : kanan kurang lebih 3 cm pada ICS 2 paresternal ka / ki 3 cm pada ICS 2 dari garis tepi sternum sebelah ki tidak sama ICS 5 paristernium Ki - Auskultasi : terdengar irama gallop pada aspek tidak di temukan bising per dasi end systolik maupun per end dyastolik tidak takikardi bunyi jantung - Pmx abdomen : bentuk dasar asites (+) - Keadaan umum : sesak, mual-muntah, badan lemas, gelisah, ansitas dan tidak dapat tidur, nadi cepat, lemah, vena leher distensi, tekanan darah menurun - Sistem respirasi : terjadi sesak dan rongki (+) nafas menjadi bising dan basah - Sistem kardiovaskuler : terjadi penurunan kontraktilitas ventrikel dan penurunan kardiounput - Sistem gastro intestinal : terjadi mual-muntah - Sistem persyarafan : pada sistem ini tidak mengalami gangguan - Sistem genito urinasia : biasanya terjadi penurunan urine

2.2 Diagnosa keperawatan 1. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan perubahan kontraktilitas myokard / perubahan inotropik 2. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan ketidak seimbangan antara suplai O2 / kebutuhan umum, tirah baring lama / immobilisasi 3. Resiko tinggi kerusakan pertukaran yang berhubungan dengan perubahan membran alvelus contoh : pengumpulan / perpindahan cairan ke dalam area intestisial / alveoli 4. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungn dengan tirah baring lama, penurunan perfosi jantung 5. Ansietas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya Rencana tindakan 1. Penurunan curah jantung Kemungkinan di buktikan oleh Distritmia, perubahan mental, makin buruknya gagal jantung peningkatan kadar digitalis serum Hasil yang diharapkan : - Mendemontrasikan frekuensi jantung dan irama dalam rentang yang diharapkan pasien dengan tidak adanya / terkontrolnya distritmia - Mempertahankan mental biasanya Intervensi 1. Kaji tanda-tanda vital (TD) R / : distritmia dapat menurunkan TD dan meningkatkan hiposia jaringan yang dapat memperbungkuk toksisitas digitas 2. Mencatat frekuensi / irama adanya bunyi jantung ekstra R / : frekuensi jantung cepat tidak teratur atau terlalu lambat dapat menunjukkan toksisitas digitalis 3. Observasi adanya edema, perubahan sensorik dan perilaku contoh : gelisah, bingung delesium R / : gangguan psikis di sebabkan oleh penurunan atau curah jantung ketidak seimbangan elitrolit 4. Berikan O2 dengan kanula nasal atau masker sesuai dengan indikasi R / : dapat memenuhi kebutuhan O2 pada jaringan dan mencegah terjadinya hipoksia 5. Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan R / : dapat menurunkan resiko tinggi terjadinya komplikasi penyakit 2. Kurang pengetahuan tentang penyebab / kondisi pengobatan Kemungkinan dibuktikan oleh : Pertanyaan, salah satu persepsi, gagal memperbaiki prtogram sebelumnya. Terjadi komplikasi yang dapat di cegah Hasil yang diharapkan : 1. pasien akan menyatakan pemahaman tentang kondisi dan program pengobatan 2. pasien akan menyatakan tindakan yang akan diperlukan dan kemungkinan efek samping merugikan dari obat

berikan informasi dalam bentuk belajar yang bervariasi 3. Dr. kaji tingkat pasien / orang terdekat dan kemampuan / keinginan untuk belajar 2. edisi 3. Linda Juall Carpenito. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. 2000. FK Unibraw. pemberantasan diet / aktivitas dan obat 4. 1994. DSPD.3. berikan penguatan penjelasan faktor resiko. Penerbit buku kedokteran EGC. pasien akan melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alasan tindakannya Intervensi 1. Jakarta. Penerbit lab / IMF Ilmu Penyakit dalam. Penyakit Dalam Praktis Malang. Rencana Asuhan Keperawatan. berikan tekanan pentingnya menghubungi dokter bila nyeri dada DAFTAR PUSTAKA Doengoes. 2000. . Harijono Achmad. Buku Kedokteran EGC. berikan pedoman untuk meningkatkan aktivitas secara bertahap 5. Jakarta.

1. sembab paru pada narkotik.(Soeparman . ALO atau Edema paru adalah terkumpulnya cairan ekstravaskuler yang patologis di dalam paru. Infeksi paru : menghirup gas/ uap/ asap toksik. 1.1 Pengertian ALO atau Edema paru adalah timbunan cairan abnormal dalam paru baik di rongga interstisial dalam alveoli. LANDASAN TEORI 1.2 ETIOLOGI Penyebab acut odem secara umum dapat digolongkan menjadi dua yaitu : 1. kelainan ginjal maupun oleh karena perubahan permeabilitas paru itu sendiri. 798). adanya bahan asing endotoksin atau eksotoksin aloksan. radiasi serta imunologis. sembab paru neurogenik.2.2. 1. Oleh karena peningkatan tekanan darah vena paru. 1. misalnya pada stenosis batub mitral.2.3 Patofisiologi Ruang interstisial paru terisi dengan cairan oleh karena beberapa sebab baik berupa kelainan jantung. dan limfangitis fibrosa. 3) Peningkatan “Negativitas tekanan interstisial” Pengosongan udara secara tiba – tiba dan dalam jumlah yang besar pada pneumotoraks (unilateral) maupun pada efusi pleura juga tekanan negatif yang sangat besar. 2) Penurunan tekanan onkotis plasma oleh karena hipoalbuminemia. decompensasi cordis.2.2. Pada dua penyebab yang pertama biasanya berupa transudat dan pada yang terakhir cairan dapat berupa plasma dan cairan koloid.2. .2. gagal jantung kiri.2 Edema paru non kardiogenik Yaitu edema paru yang bukan disebabkan karena kelainan pada jantung tetapi paru itu sendiri seperti : 1.2. hipertensi. Hadirnya cairan di alveoli juga akan mengganggu fungsi surfaktan paru sehingga akan terjadi kolaps pada kantong – kantong udara ini. sesudah konversi ke irama sinus dan pasca anastesi maupun pasca bedah pintas kardio pulmones. Dengan masuknya cairan ke dalam rongga interstisial/ alveoli akan berakibat timbulnya gangguan difusi dan ventilasi oleh karena terjadi perubahan sifat membran alveoli kapiler paru menjadi kaku dan complience menurun.2.1 Kelompok dengan ketidakseimbangan “tenaga starling” 1) Peningkatan tekanan kapiler paru. overload cairan infus.1 Edema Paru Kardiogenik Yaitu edema paru yang disebabkan karena gangguan pada jantung atau sistem kardiovaskuler seperti penyakit jantung aterosklerotik.4 Beberapa penyebab yang masih belum jelas mekanismenya Sembab paru pada ketinggian. (Bruner & Suddartk . paru renjatan (shock lung) oleh karena trauma diluar toraks.3 Kegagalan sistem saluran limfatik Dijumpai pada pasca cangkok paru.ALO (ACUT LUNG ODEM) 1. kelainan katup. karsinomatosis limfangitik. 1. aspirasi asam lambung. 767) 1. 4) Peningkatan “tekanan onkotis interstisial” 1. misalnya pada serangan asma berat.2 Perubahan permeobilitas membran alveoli kapiler.2. eklampsia.

Memberikan aminofiln IV secara perlahan – lahan untuk mengurangi kardiak asma. apakah pernah demam. Memberikan furosemid 40 – 80 mg IV. 2. 2. Memberikan oksigen 6 – 8 liter/ menit atau 100 % O2 dengan masker.1.2 mg digitoksin dan dengan dosis yang lebih rendah pada pasien yang telah mendapat digitalis.6 Penatalaksanaan 1. asidosis metabolik dan hipokapnea.4 – 0. dispnea nokturnal. 2.5 Riwayat Penyakit Keluarga . penyakit katup janung dan penyakit jantung bawaan.6 mg lanatosid C atau 1. 4.4 Riwayat Penyakit Dahulu Kadang – kadang ada hypertensi. 1. Hipoksia dengan sianosis sentral. Orthopnoe : Sesak nafas terjadi pada saat berbaring dan dapat dikurangi dengan sikap duduk/ berdiri. Patofisiologi edema paru dengan adanya penyebab tekanan kapiler paru akibat gagal ventrikel jantung kiri. 2.Pada “analisa gas darah” terdapat hipoksemia dan hipokapnea pada tingkat yang lanjut dapat terjadi asidosis metabolik . wheezing dan terdapatnya sputum yang berdarah dengan latar belakang terdapatnya kelainan jantung. 4. 2. 1. Posisi penderita didudukkan 60 – 90 untuk memperbaiki ventilasi. 1. 1.5 Diagnosa Diagnosa ditegakkan atas dasar klinis yakni terdapatnya sesak secara tiba – tiba. takinardi.4 Gejala Klinik Penderita pada umumnya sesak napas dari yang paling ringan berupa : 1. pekerjaan. 3.2 Keluhan Utama Sesak nafas. Pemeriksaan photo rongent mungkin didapatkan kardiomegali. konstipasi.1. 2. 7. 3.1 Mencakup nama. 1.1. agama dan alamat.1. bedah jantung. Memberikan morphin 4 – 6 mg intervena untuk mengurangi venous retourn. bila keadaan ini berlangsung lama dapat terjadi penyulit berupa endapan jaringan fibrin dan hialin pada permukaan epitel alveoli yang akan memperburuk gangguan faal difusi yang sudah terganggu. Batuk – batuk yang refrakter dan sedikit memberi respon pada pengobatan dan kadang – kadang disertai dengan dahak berbusa dan berwarna merah muda. 6. LANDASAN ASKEP 2.8 mg bila nitrogliserin memberikan hasil yang baik dapat diulang 3 – 4 jam. Lakukan digitalis yang cepat 1. reumatik. jenis kelamin.1. 1. umur. Penurunan kesadaran. Terdengar suara ronchi basah yang halus/ kasar. berkeringat. malaise. 2. Dyspnoe d’effort : Sesak nafas yang terjadi ketika melakukan aktivitas. pendidikan. 5.3 Riwayat Penyakit Sekarang Apakah ada keluhan nyeri dada.1 Pengkajian 2. Nitrogliserin dapat diberikan pada penderita dengan tensi yang normal atau hipertensi 0. sesak.

2.1. kebutuhan kelemahan umum. Paru : Bentuk. lainnya dan DM.11 Kebiasaan hidup sehari-hari Menyangkut cairan. 2.12 Pemeriksaan Fisik Mata : Konjunctiva dan sklera Leher : Peningkatan JVP. 2.10 Riwayat alergi Tanyakan apakah anda alergi makanan.8 Riwayat Sosial Ekonomi Tanyakan tentng provesi pasien dan usaha pertolongan bila ada keluarga yang sakit 2. tirah baring lama atau immobilitas. 3) Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus. pernafasan frekwensi. Ditanya tentang seberapa jauh pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakitnya.Apakah ada keluarga yang mengalami penyakit yang sama. pergerakan dada. paru menunjukkan adanya kongestif ringan sampai odem paru yang ditandai dengan gambaran butterfly apparance atau claudy lung. nadi dan suara jantung. kebersihan diri.1. 2. penyakit jantung. 2) Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidak sinambungan antara suplai O2. hal ini penting karena untuk memberikan asuhan keperawatan kita dapat menyesuaikan kekuasaan yang dianut pasien sepanjang hal tersebut tidak bertentangan denga terapi yang harus ditaati 2. kebiasaan makan – makanan berlemak atau sering mengkonsumsi daging. 2. 4) Resiko peningkatan terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama.1.13 Pemeriksaan Penunjang Elektro magnetic (ECG) Didapatkan deviasi sumbu jantung kiri.15 Intervensi Keperawatan . suara nafas dan suara nafas tambahan.7 Faktor Resiko Apakah penderita merokok atau minum – minuman keras.1. 2. penurunan perfusi jantung. berhubungan dengan kontraktilitas miokard atau perubahan inotropik. 5) Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.1.1. pembesaran atrium kiri. aktivitas dan istirahat 2.6 Tingkat Pengetahuan Pasien dan Keluarga. irama. didapatkan gelombang P pulmonal atau gelombang p mitral (bila etiologinya mitral stenosis) Pemeriksaan foto torax Jantung nampak membesar atau kardiomegali disertai pembesaran ventrikel kiri dan atrium kanan.1.1. Ekstrimitas : Kelembapan dan odem.14 Diagnosa yang Timbul 1) Penurunan curah jantung.1. Abdomen : Asites dan bising usus. hipertensi ventrikel kiri.1. obat hal ini berhubungan dengan diit dan obat-obatan 2. Jantung : Tekanan darah. eliminasi.9 Riwayat spiritual Tanyakan tentang kepercayaan yang dianut. makanan.

tentukan tingkat rahabilitasi jantung dan program aktivitas. tirah baring lama atau immobilitas. Berikan O2 dengan kanul nazal atau masker sesuai dengan indikasi. bingung. atau terlalu lambat dapat menunjukkan toksisitas digitalis. delirium. Tujuan Menunjukkan partisipasi dalam aktivitas memenuhi kebutuhan sendiri dalam peningkatan aktivitas. Tujuan : terjadinya peningkatan curah jantung. R/ Penurunan yang perlahan – lahan dalam aktivitas menghindari konsumsi oksigen berlebih. delirium. Kolaborasi. berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2. Oeservasi adanya odem perubahan sensori dan perilaku. kebutuhan kelemahan umum. ketidak seimbangan elektrolit. Pasien menyatakan pemahaman tentang kondisi dan program peningkatan. Kaji penyebab kelelahan seperti pengobatan nyeri. . R/ Gangguan psikis disebabkan oleh penurunan curah jantung. Beri bantuan dalam melakukan aktivitas secara bertahap.1) DX 1 Penurunan curah jantung berhubungan dengan kontraktilitas miokard atau perubahan inotropik. contoh : gelisah. R/ Kemampuan miokard untuk meningkatkan stroke dan aktivitas dapat menyebabkan peningkatan cairan jantung yang berubah – ubah dan kebutuhan oksigen meningkat sehinggatimbul kelelahan dan kelemahan. 3) DX III Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler alveoli. R/ Dapat memenuhi kebutuhan O2 pada jaringan dan mencegah terjadinya hipoksia 2) Dx II Intoleran aktivitas. R/ Kebutuhan pasien terpenuhi tanpa membutuhkan pengeluaran. Intervensi : Ukur TTV sebelum atau sesudah aktivitas. bingung. R/ Frekwensi jantung cepat tidak teratur. R/ Hipotensi otostatik dapat terjadi dalam aktivitas. R/ Kelelahan dapat timbul dari efek samping dari berbagai obat nyeri. Kriteria hasil : Mendemonstrasikan fekuensi jantung dan irama dalam jantung yang diharapkan dengan terkontrolnya intervensi Intervensi : Kaji TTV (TD) R/ desritmia dapat menurunkan TD dan meningkatkan hipoksit jaringan yang dapat memperburuk toksisitas digitalis Mencatat frekwensi/ irama dan adanya bunyi jantung ekstra. Observasi adanya odem perubahan sensori atau perilaku contoh : gelisah. Kriteria hasil : Klien berpartisipasi dalam aktivitas.

Tujuan : Pasien mempunyai pertukaran gas yang adekuat dengan bunyi nafas normal dan warna kulit normal. 4) DX IV Ansietas berhubungan dengan situasi yang mengancam hidup. R/ Mengurangi kerja pernafasan dan meningkatkan pertukaran gas. Berikan CO2 sesuai program R/ Mewaspadai adanya hipoksemia (penurunan PaO2) dan hiperkapnia (peningkatan PaCO2). eupnea. ≥ 80 mmHg PaCO2 < 45 mmHg. Bantu pasien senyaman mungkin dengan duduk fowler tinggi. saturasi oksigen ≥ 95 %. Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan khususnya yang akan menimbulkan ketidaknyamanan R/ Mengurangi rasa takut. dan cemas. Intervensi : Berikan kesempatan pada pasien dan orang terdekat untuk mengekspresikan perasaan dan rasa takut. . R/ Bersikap yakin dan mendukung. R/ Menghilangkan rasa nyeri. PaO. Tujuan : Pasien mengkomunikasikan rasa takut dan kuatir dan melaporkan peningkatan kenyamanan fisik dan psikologis. Bantu pasien dalam posisi fowler tinggi. Intervensi : Auskultasi R/ Waspadai krekels. j ≤ 100 dpin. yang menandakan kongesti cairan alveolar.

kerena kapiler mengalirkan isinya kedalam vena. Mengingat lesi ini tidak merata disaluran paru.com/2008/08/07/edema-paru/ ) C. Perubahan ini karena saluran limfatik terjalin dalam jaringan ikat longgar yang mengelilingi artiola paru dan saluran pernafasan yang kecil. sel fagosit. 1994). melalui pelebaran pori–pori kapiler yang dicetuskan oleh histamin pada cedera jaringan atau reaksi alergi . yaitu : 1. Fraksi yang besar ruang interstisial dibentuk oleh kapiler paru yang dindingnya terdiri atas satu lapis sel endotelium di atas jalinan kolagen dari jaringan elastis. 2008 ) B. dan beberapa sel lam. Faktor penentu yang penting dalam pembentukan cairan dalam ekstravaskuler adalah perbedaan tekanan hidrostatis dan onkotik dalam lumen kapiler dan ruang interstisial. Peningkatan tekanan hidrostatis. biduran) . akan disertai peningkatan tekanan darah kapiler. lepuh ) dan respon alergi (misalnya .karena kelebihan cairan yang difiltrasi keluar tertahan di cairan interstisium dan tidak dapat dikembalikan ke darah melalui sistem limfe. Penyumbatan pembuluh limfe menimbulkan edema. Terkenanya arteriola kecil juga menyebabkan gambaran radiologis dini pada gagal jantung kiri. sementara jumlah cairan yang direabsorpsi kurang dari normal . dengan demikian terdapat cairan tambahan yang tertinggal diruang –ruang interstisium. ETIOLOGI Penyebab edema dapat dikelompokan menjadi empat kategori umum: Penurunan konsentrasi protein plasma menyebabkan penurunan tekanan osmotic plasma. PATOFISIOLOGI Pemahaman tentang mekanisme ini memerlukan tinjauan mengenai pembentukan dan reabsorpsi cairan paru serta struktur ultra paru. Pembendungan darah di vena ini menyebabkan kaki yang mendorong terjadinya edema regional di ekstremitas bawah. Terjadi penurunan tekanan osmotik koloid plasma yang menurunkan kearah dalam sementara peningkatan tekanan osmotik koloid cairan interstisium yang diseabkan oleh kelebihan protein dicairan interstisium meningkatkan tekanan kearah luar. Edema regional juga dapat terjadi karena restriksi lokal aliran balik vena. misalnya darah terbendung di vena . serta permaebilitas sel endotelium terhadap air. (http://ajangbekarya. Ruangan alveolar dipisahkan dari interstisium paru. Kelainan ini disebabkan oleh dua keadaan. zat terlarut (solut). fibrolas.TINJAUAN TEORI A. Pembengkakan saluran limfatik ini akan berdampak pada struktur disekitarnya dan mengakibatkan terjadinya perubahan tekanan pada struktur tersebut. maka timbul perubahan dalam distribusi ventilasi dan perfusi yang kemudian menyebabkan terjadinya hipoksemia ringan. . ( Arif Muttaqin. Peningkatan tekanan vena . Peningkatan permeabilitas dinding kapiler menyebabkan protein plasma yang keluar dari kapiler ke cairan interstisium disekitarnya lebih banyak. d. ketidakseimbangan ini ikut berperan menimbulkan edema lokal yang berkaitan dengan cedera ( misalnya . Salah satu contoh adalah adalah pembengkakan di tungkai dan kaki yang sering terjadi pada masa kehamilan. makanan yang kurang mengandung protein . terutama oleh sel epitel alveoli Tipe I. c. Edema yang disebabkan oleh penurunan konsentrasi protein plasma dapat terjadi melalui beberapa cara : pengeluaran berlebihan protein plasma di urin akibat penyakit ginjal . yaitu retribusi aliran darah dari basis ke aspek paru pada klien dengan posisi tegak. penurunan sintesis protein plasma akibat penyakit hati ( hati mensintesis hampir semua protein plasma ). Peningkatan tekanan kearah dinding kapiler ini terutama berperan pada edema yang terjadi pada gagal jantung kongestif. Salah satunya akibatnya adalah adanya obstruksi pada saluran pernafasan kecil yang telah dibuktikan sebagai perubahan fisiologis dini pada klien dengan gagal jantung kiri.wordpress.penurunan ini menyebabkan filtrasi cairan yang keluar dari pembuluh lebih tinggi. 2. yang pada kondisi normal membentuk suatu bariel relatif nonpermaebel terhadap aliran cairan dari instersium ke rongga – rongga udara (spaces). Uterus yang membesar menekan vena –vena besar yang mengalirkan darah dari ekstremitas bawah pada saat vena-vena tersebut masuk ke rongga abdomen. a. dan molekul besar seperti protein plasma ( Aryanto. PENGERTIAN Edema paru merupakan suatu keadaan terkumpulnya cairan patologi di ekstravaskular dalam paru. atau pengeluaran protein akibat luka bakar yang luas . Ciri Perubahan ini pada edema paru adalah terjadinya peningkatan aliran limfatik. Peningkatan permaebilitas kapiler paru. Sebagai contoh. b.

Edema paru akut ( dispnea. hiperventilasi dan alkalosis respiratorik akan tetap berlangsung. Peningkatan tekanan vena sentral Peningkatan tekanan darah. takikardia. diuretik. Meskipun demikian. Alveoli terisi air dan pada saat yang sama aliran darah kedaerah tersebut tetap berlangsung. Kecuali pada keadaan yang berat. perbaikan keadaan umum dan memberi kesempatan pada paru-paru untuk membaik. protein serum rendah. Secara radiologisakan tampak gambaran infiltrat alveolar yang tersebar di seluruh paru. Obat-obatan yang dapat dipakai adalah kelompok vasodilator. natrium urine rendah ( <10 mEq/24 jam ) 2. terutama di daerah parahiral dan basal. Laju pernafasan meningkat. serta sianosis bila pernapasannya tidak dibantu. Ketika klien dalam keadaan sadar. batuk (produktif/nonproduktif). Efusi pleura. turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder). Pada fase ini komplians paru berkurang. dilakukan terapi bertujuan untuk mengurangi tekanan hidrostatik yang menyebabkan edema tersebut. Sistem Cardiovaskuler . dan pembatasan garam dalam diet. Dan pada fase ini mungkinterjadi peningkatan pintas kanan ke kiri melalui alveoli yang tidak mengalami ventilasi. hiperventilasi. penambahan 5% = kelebihan sedang. MANIFESTASI KLINIK Gejala dan Tanda Distensi vena jugularis. semua gambaran menjadi lebih berat dan konplians akan menurun dengan nyata (Nowak 2004). natrium serum normal.kuat Melambatnya waktu pengosongan vena-vena tangan Edema perifer dan periorbita Asites. serta sejauh mungkin mengurangi tekanan yang menyebabkan pergeseran cairan melalui barrier yang terluka. Keadaan ini biasanya disebut sebagai Adult Respiratory Distress Syndrom ( ARDS ) D. penambahan 8% = kelebihan berat E. d. ketidakseimbangan antara ventilasi dan aliran darah menyebabkan hipoksemia memburuk.ronki basah di seluruh lapangan paru ) Penambahan berat badan secara cepat : penambahan 2% = kelebihan ringan. ekskresi karbon dioksida tidak tergantung dan klien akan menunjukkan keadaan hiperventilasi dengan alkalosis respiratorik. karena terapi spesifik untuk perlukaan akut paru pada umumnya tidak ada (kecuali bila penyebabnya adalah infeksi). terdengar stridor. sputum banyak. Hal ini menyebabkan terjadinya tapiknea yang mungkin merupakan tanda klinis awal. Sistem Integumen Subyektif : Obyektif : kulit pucat. cengeng Obyektif : Pernafasan cuping hidung. Sistem Pulmonal Subyektif : sesak nafas. Pengkajian Keperawatan 1. banyak keringat .a. cyanosis. dan terapi suportif merupakan satu-satunya pilihan. Jika terbentuknya cairan interstisial melebihi kapasitas sistem limfatik. Pada fase alveola penuh dengan cairan. Pemeriksaan Laboratorium Penurunan hematokrit. dan obat-obatan inotropik. PENATALAKSANAAN MEDIS Pada edema paru di tempat terjadinya peningkatan tekanan. dada tertekan. Hal ini penting. Prinsip dasar pengelolaannya adalah tirah banding. kemerahan 2. gangguam difusi juga ikuti berperan. e. ronchii pada lapang paru. Pemeriksaan Radiologis Pada foto torak terdapat kavitas dengan dinding tebal dengan tanda-tanda konsolidasi disekelilingnya. maka pintas kanan dan kiri aliran darah akan menjadi lebih berat dan akan menyebabkan hipoksemia yang rentan terhadap peningkatan konsentrasi oksigen yang diinspirasi. Denyut nadi penuh. maka terjadilah edema dinding alveolar.takipnea. f. Pada klien dengan edema paru. diakan tampak menggalami sesak napas hebat dan ditandai dengan tapiknea. Selain hal yang telah disebutkan diatas. oksigenisasi yang adekuat. b. c. Tujuan terapi pada edema paru yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas adalah untuk menghilangkan faktor penyebab perlukaan paru. 3. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. penggunaan otot bantu pernafasan. suhu kulit meningkat. pernafasan diafragma dan perut meningkat. Kavitas ini bisa multipel atau tunggal dengan ukuran 2-20cm F.

Subyektif : sakit kepala Obyektif : Denyut nadi meningkat. Sistem Musculoskeletal Subyektif : lemah. Sistem digestif Subyektif : mual. kelemahan dan kelelahan Tujuan : Jalan nafas dapat dipertahankan kebersihannya Kriteria evaluasi : Suara nafas bersih. ventilasi. Hiperoksigenasi dengan 4-5 kali pernafasn dengan O2 100 % dan hiperinflasi dengan 1 ½ kali VT menggunakan resusitasi manual atau ventilator. kejang Obyektif : GCS menurun. kadar karbon darah meningkat/normal Elektrolit : Natrium/kalsium menurun/normal Rencana Intervensi Bersihan jalan nafas tidak efektif b. ronchii tidak terdengar pada seluruh lapang paru Rencana Intervensi Rasional Auskultasi bunyi nafas tiap 2-4 jam Beri bronkodilator Lakukan hisap lendir bila ronchii terdengar Tekanan penghisapan tidak lebih 100-200 mmHg. retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan 6. Sistem Neurosensori Subyektif : gelisah.8OC Mencegah sekresi kental Peningkatan tekanan tiba-tiba mungkin menunjukkan adanya perlengketan jalan nafas Memfasilitasi pembuangan secret Memfasilitasi pengenceran dan pengeluaran sekret menuju bronkus utama Monitor humidivier dan suhu ventilator Monitor status hidrasi klien Monitor ventilator tekanan dinamis Beri Lavase cairan garam faali sesuai indikasi Beri fisioterapi dada sesuai indikasi . penurunan kadar oksigen darah. Studi Laboratorik : Hb : menurun/normal Analisa Gas Darah : acidosis respiratorik.d intubasi. penurunan kesadaran. proses penyakit. kadang muntah Obyektif : konsistensi feses normal/diare 8. suara jantung tambahan 4. refleks menurun/normal. Suhu ideal 3537. nyeri otot/normal. letargi 5. Auskultasi bunyi nafas setelah penghisapan Oksigen lembab merangasang pengenceran sekret. pembuluh darah vasokontriksi. Sistem genitourinaria Subyektif : Obyektif : produksi urine menurun/normal. cepat lelah Obyektif : tonus otot menurun. 7. Denyut jantung tidak teratur. kualitas darah menurun.

menunjukkan konsentrasi O2 & CO2 darah Periode penyapihan rawan terhadap perubahan status oksigenasi Dalam berbagai kondisi. atau pengesetan ventilator tidak tepat Tujuan : Pertukaran gas jaringan paru optimal Kriteria evaluasi : Gas Darah Arteri dalam keadaan normal Rencana Tindakan Periksa AGD 10-30 menit setelah pengesetan ventilator atau setelah adanya perubahan ventilator Monitor AGD atau oksimetri selama periode penyapihan Kaji apakah posisi tertentu menimbulkan ketidaknyamanan pernafasan Monitor tanda hipoksia dan hiperkapnea Rasional AGD diperiksa sebagai evaluasi status pertukaran gas.Beri bronkodilator Memfasilitasi pengeluaran secret menuju bronkus utama Gangguan pertukaran Gas b.d pemasangan selang endotrakeal . semua prosedur.d sekresi tertahan. proses penyakit. ketidaknyamanan dapat mempengaruhi klinis penderita Hipoksia dan hiperkapnea ditandai adanya gelisah dan penurunan kesadaran. hiperventilasi. asidosis. Mengurangi kebingungan klien dan tujuan dan alat yang berhubungan dengan meminimalisasi adanya komunikasi yang klien sulit antara klien dan perawat Berikan bel atau papan catatan serta alat Sebagai media komunikasi antara klien tulis untuk komunikasi dan perawat Ajukan pertanyaan tertutup Menghindari komunikasi tidak efektif Yakinkan pasien bahwa suara akan kembali bila endotrakela dilepas Mengurangi kecemasan yang mungkin timbul akibat kehilangan suara Resiko tinggi infeksi b.d pemasangan selang endotrakeal Tujuan : Klien dan petugas kesehatan dapat berkomunikasi secara efektif selama pemasangan selang endotrakeal Kriteria evaluasi : Klien dan perawat menentukan dan menggunakan metodayang tepat untuk Rencana Tindakan Rasional Jelaskan lingkungan. diaporesis dan keluhan sesak meningkat Gangguan komunikasi verbal b.

2008. Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Pernapasan. bau lebih menyengat.Tujuan : Klien tidak mengalami infeksi nosokomial Kriteria evaluasi : Tidak terdapat tanda-tanda infeksi nosokomial Rencana Tindakan Rasional Evaluasi warna.E. A. Jakarta: EGC Mengurangi resiko infeksi nosokomial Mengurangi resiko infeksi nosokomial Mengurangi resiko infeksi nosokomial Perubahan membrana mukosa dan adanya sinusitis mungkin menjadi indikasi adanya infeksi pernafasan Infeksi dapat dilihat dari tanda umum/khusus organ . konsistensi dan Infeksi traktus respiratorius dapat bau sputum tiap kali penghisapan mengakibatkan sputum bertambah banyak. warna berubah lebih gelap Tampung spesimen untuk kultur dan Memastikan adanya kuman dalam sensitivitas sesuai indikasi sputum/jalan nafas Pertahankan teknis steril selama penghisapan lendir Ganti selang ventilator tiap 24 – 72 jam Lakukan oral higiene Palpasi sinus dan lihat membrana mukosa selama demam yang tidak diketahui sebabnya Monitor tanda vital terhadap tanda infeksi DAFTAR PUSTAKA Muttaqin. Jakarta: Salemba Medika Doenges M. Rencana Asuhan Keperawatan. jumlah. 2000.

Proses terjadinya berbagai masalah keperawatan pada klien dengan HHF.Marino 1991) .Keluhan utama : Jantung berdebar-debar dan nafas sesak c.Konsep dasar Gagal nafas yang terjadi pada klien dengan hard heart failure merupakan suatu proses sistematis yang biasanya merupakan peristiwa yang panjang dan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung yang memicu terjadinya bendungan pada paru sehingga terjadi "dead space" yang berakibat kegagalan ventilasi alveolar. Asthma . Gambar 1.Riwayat MRS d. Riwayat hipertensi . Odem paru dan gagal nafas B Pengkajian a. DM. Riwayat keperawatan : Klien merasakan jantungnya sering berdebar-debar dan nafas menjadi sesak dan terasa lelah jika beraktivitas.. Identitas: b.(Paul L. Data keperawatan (a) Sistem pernafasan . .

Kap. mengeluh nyeri dan rasa tidak enak O : Tidak tenang.Data Etiologi Diagnose S : Sesak nafas sejak. Acral dingin. bergeeser ke kiri. Retraksi otot pernafasan. Wh . badan terasa lemah. ingin mencabut alat yang terpasang.d adanya odem paru sekunder dekompensasi ventrikel kiri (b) Sistem kardiovaskuler Data Etologi Diagnose S : Kepala pusing. aktivitas tak terkontrol Resiko terjadi trauma Resiko terjadi trauma b. kaki bengkak s O : Bendungan vena jugularis (+).d ancaman terhadap kematian S : Gelisah. produksi sekret banyak Dekompensasi ventrikel kiri Bendungan paru (odem paru) Resiko tinggi terjadi ketidakefektifan bersihan jalan nafas Resiko tinggi gangguan pertukaran gas b. odem . S1S2 ireguler S3 (+).refill > 1-2dt ++ Dekompensasi kordis penurunan kontraktilitas jantung penurunan tekanan darah Syok Ggn perfusi ke jaringan Ggn perfusi jaringan b. Rh . keluar keringat dingin.d penurunan kotraktilitas jantung (c) Rasa aman Data Etiologi Diagnosis S : Gelisah. pusing PaO2 <>20 X/mnt. Persaan tidak enak kaena terpasang alat ventilator. Ictus kordis pada pada iccs 5-6. ingin mencabut alat yang terpasang Ruangan dengan berbagai alat Suara monitor penyakit yg mengancam jiwa . O : Tidak tenang. jantung berdebar-debar.d kegelisahan sebagai dampak pemasangan alat bantu nafas Cemas b.

pusing hilang Rencana Tindakan Rasional . Rencana Tindakan Dx: Gangguan perfusi jaringan b. .Untuk melihat gambaran fungai jantung .Untuk memastikan aanatomi jantung dan melihat adanya edema paru. Dx Resiko ganguan pertukaran gas Tujuan : Setelah dirawat selama 3X24 jam RR : 18 X/mnt.Kolaborasi: .Melihat tingkat perfusi dengan menilai optimalisasi fungsi ginjal.Memenuhi kebutuhan pefusi otak .Periksan DL .Lingkungan yang asing cemas Cemas b. N : 88X/mnt.Berikan posisi syok . .EKG . Urine 40-50 cc/jam. . Gangguan komunikasi verbal C.Lasix 1 ampul .Meningkatkan perfusi ginjal dan mengurangi odem .d ancaman kematian.Observasi produksi urin dan balance cairan . mengatasi jika terjadi asidosis mencegah kolaps vena.Memperkuat kontraktilitas otot jantung . sesak (-).d penurunan kontraktilitas otot jantung Tujuan : Setelah dirawat selama 3X 24 jam T : 120/80. BGA normal paO2 95-100 % Rencana Tindakan Rasionalisasi .Untuk mengetahui fungsi jantung dalam upaya mengetahui lebih awal jika terjadi gaguann perfusi .Lanoxin IV 1 ampul .Observasi vital sign (N : T : S ) dan kapilarri refill setiap jam .RL untuk memenuhi kebutuhan cairan intra vaskuler.Untuk melihat faktor-faktor predisposisi peningkatan fungsi metabolisme klliensehingga terjadi peningkatan kerja jantung.Lapangkan jalan nafas dengan mengektensikan kepala . situasi lingkungan perawatan dan disorientasi tempat.Pemberian infus RL 28 tts/menit .Foto thorak .

Meningkatkan bersihan jalan nafas . dyspnoe (-).Membantu mengencerkan sekret .Memudahkan pelepasan sekret .Lakukan pemeriksaan ventilator tiap 1-2 jam .Untuk meningkatkan aliran udara sehingga suply O2 optimal .Untuk mengetahui adanya sekret .d tidak adanya reflek batuk dan produksi sekret yang banyak Tujuan : Setelah dirawat tidak terjadi sumbatan jalan nafas.d dengan kelelahan.Jalan nafas bersih.Lakukan suction jika terdengar stridor/ ronchi sampai bersih.Orbservasi pernafasan observasi seting ventilator .Untuk meningkatkan saturasi O2 jaringan .Monitor status hidrasi klien .BGA dan SaO2 . obstruksi ETT Tujuan : Setelah dirawat nafas sesuai dengan irama ventilator.Untuk membantu fungsi pernafasan yang terganggu Dx : Resiko terjadi ketidak efektifan bersihan jalan nafas b.Mencegah sekret mengental . . sekret bersih Tindakan Rasionalisasi .Berikan O2 per kanul 6-10lt/mnt atau bantuan nafas dengan ventilator sesuai mode dan dosis yang telah ditetapkan. .Untuk mengetahui optimalisasi fungsi pertukaran gas pada paru . alarm tidak berbunyi Rencana Tindakan Rasionalisasi .jam .Kolaborasi pemeriksaan .Pertahankan suhu humidifier 35-37. volume nafas adekuat. stridor (-). sehingga mencegah hipoksia.Lakukan suction jika ada sekret .Evaluasi semua ventilator dan tentukan penyebabnya .Kaji tanda-tanda vital sebelum dan setelah tindakan .Lakukan fisiotherapi nafas . .5 derajat .Pertahankan alat resusitasi bag & mask pada posisi TT sepanjang waktu .Memantau keefektifan jalan nafas . dan tidak terjadi infeksi nasokomial.Deteksi dini adanya kelainan Dx : Ketidakefektifan pola nafas b.Auskultasi bunyi nafas tiap 2 . pengesetan ventilator yang tidak tepat..Lakukan auskultasi paru .

Obsevasi tanda dan gejala barotrauma . .Kolaborasi penggunaan sedasi .Amankan selang ETT dengan fiksasi yg baik .Untuk mencegah fighting .5-37 derajat celcius Tindakan Rasionalisasi .Mencegah berkurangnya aliran udara nafas .Menjamin selang ventilator steril . idak terjadi baro taruma.Mencegah fighting sehingga trauma bisa dicegah .Orientasikan klien tentang alat perawatan yang digunakan .Monitor suara nafas dan pergerakan dada .Masukka penahan gigi .Yakinkan nafas klien sesuai dengan irama vetilator .Untuk deteksi dini .d kegelisahan sebagai efek pemasangan alat bantu nafas Tujuan : Setelah dirawat klien tidak mengalami iritasi pd jalan nafas.Mencegah tergigitnya selang ETT .Monitor dini terjadini infeksi skunder .Agar klien memahami peran dan fungsi serta sikap yang harus dilakukan klien ..Jika perlu lakukan fiksasi .Deteksi dini adanya kelainan pada vntilator . tidak terjadi keracunan O2.Untuk mencegah timbulnya trauma akibat penekanan yang terus menerus pada satu tempat.Evaluasi keefektifan pola nafas Dx : Resiko terjadi trauma b.Untuk mencegah trauma .Bunyi alarm pertanda ggn fungsi ventilator -Mempermudah melakukan pertolongan jika sewaktu[waktu ada gangguan fungsi ventilator .Evaluasi tekanan atau kebocoran balon cuff .Mencegah infeksi skunder .Lakukan oral hygiene setiap hari .Ganti slang tubing setiap 24-72 jam . tidak terjadi infeksi saluran nafas. suhu tubuh 36.Evaluasi warna dan bau sputum .Kolaborasi pemberian antibiotika -.Mencegah selang ETT tercabut .Rubah posisi setiap 2 jam .

Philadelpia Hudack & Galo (1996). Philadelpia Tabrani (1998). DR. Identitas Nama : Tn DS Umur : 52 tahun Kelamin : Laki-laki Pendidikan : SD Pekerjaan : Sopir dan pekerja bangunan Alamat : Mojosari. tidak gelisah dan tenang Tindakan Rasional . PENGKAJIAN a. 20-21 AGUSTUS 2001 A.Mengurangi cemas dan meningkatkan daya tahan klien . J. Bandung Carpenitto (1997) Nursing Diagnosis.Menggali perasaan dan masalah klien . Pada tanggal 17 Agustus 2001 sore klien mengeluh sesaknya makin bertambah. Paul (1991) ICU Book.Berikan keluarga mengunjungi pada saat-saat tertentu ..Berikan suport mental .Untuk meningkatkan semangat dan motivasi . Agenda Gawat Darurat.Dorong klien agar mengepresikan perasaannya . Riwayat keperawatan Klien mengeluh batuk-batuk kecil dan sesak ringan sejak satu bulan yang lalu. Keluhan utama : c. EGC .d disorientasi ruangan dan ancaman akan kematian Tujuan : Setelah dirawat kien kooperatif. setiap mengeluh biasanya memeriksakan diri ke "mantri" dan biasanya hilang setelah diberi obat (jenis dan dosis lupa).Berikan orientasi ruangan . klien memeriksakan diri je RS Mojosari . Pembina Ilmu. Daftar pustaka : Marini L. Perawatan Kritis.Lakukan komunikasi terapeutik .Mengurangi stress adaptasi .Membinan hubungan saling percaya . Pendekatan Holistik. Lea & Febriger. SOETOMO TGL. D.B Lippincott. Jakarta TINJAUAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN TN.Berikan informasi realistis sesuai dengan tingkat pemahaman klien . Mojokerto Penanggung : Biaya sendiri b.Agar klien memahami tujuan perawatan yang dilakukan.S DENGAN HHF + ODEM PARU DAN GAGAL NAFAS DI RUANG ICU GBPT RS.Sebagai profilaksis Dx : Cemas b.

Foto Thorak terdapat gambaran odem paru pada kedua lobus paru. PEEP 5. Fi O2 40 %.4. produksi sekret banyak. PCO2:32. riwayat MRS (-).Terpasang ETT No 7. Data keperawatan (a). dan ventilator dengan mode CPAP . riwayat Asthma (-) tetapi orang tua penderita asthma..00 klien baru tiba di RSDS dalam keadaan sesak dan diberikan bantuan nafas (bag & mask) dan obat dibawah lidah. Riwayat DM (tidak tahu). d. EMV 10.5. Stridor (+). jantung tampak membesar Terpasang ETT Produksi sekret banyak Resiko terjadi ketidakefektifan jalan nafas Dekompensasi ventrikel kiri Bendungan paru (odem paru) ventilasi tidak optimal Hipoksia Resiko tinggi terjadi ketidakefektifan bersihan jalan nafas Gangguan pertukaran gas b.tetapi dianjurkan langsung ke Surabaya.2...4 HCO3:23. Riwayat Hipertensi (+) sejak tahun 1987. BE:-0.SpO2 100 %. .475. .d adanya odem paru sekunder dekompensasi ventrikel kiri (b) Sistem kardiovaskuler Data Etologi Diagnose S:O : Bendungan vena jugularis (-).. cyanoisis (-). S1S2 ireguler S3 (-). Wh +/+. reflek menelan baik BGA : PH:7. retraksi otot pernafasan (-).2. RR :20 X/mnt. Tanggal 17 Agustus sore sekitar Pk 22. PO2:98. I:E 1 : 2. Sistem respirasi Data Etiologi Diagnose S:O : Rh +/+. Ictus kordis 2 jari.

d penurunan kotraktilitas jantung (c) Rasa aman Data Etiologi Diagnosis S:O : Tidak tenang. T : 130/89 mm Hg. Kap.d ancaman kematian. aktivitas tak terkontrol Resiko terjadi trauma Resiko terjadi trauma b. EKG : tampak gambaran PVC pada seluruh lead.dadanya luka tempat insersi alat perawatan B. situasi lingkungan perawatan dan disorientasi tempat. Lingkungan yang asing cemas Cemas b.bergeeser ke kiri. dan gambaran LVH pada lead V 6. Dekompensasi kordis penurunan kontraktilitas jantung penurunan tekanan darah Syok Ggn perfusi ke jaringan Resiko terjadi ggn perfusi jaringan b. Hb :12. Terpasang kateter Resiko terjadi infeksi b.8 HR: 132 X/mnt. (-) odem pada kaki (-). keluar keringat dingin.d kegelisahan sebagai dampak pemasangan alat bantu nafas S : -. Acral hangat. Rencana Tindakan . O : Tidak tenang.refill > 2dt. gelisah. ingin mencabut alat yang terpasang. tidak mampu mengungkapkan keinginnaya secara verbal Ruangan dengan berbagai alat Suara monitor penyakit yg mengancam jiwa. gelisah Persaan tidak enak kaena terpasang alat ventilator. Gangguan komunikasi verbal Terpasang infus pd kaki kanan. ingin mencabut alat yang terpasang.

Meningkatkan bersihan jalan nafas . I:E = 1:2.Untuk meningkatkan saturasi O2 jaringan . @ 2 jam . sesak (-). .Kaji tanda-tanda vital sebelum dan setelah tindakan .Membantu mengencerkan sekret . FiO2 :35 %.Lapangkan jalan nafas dengan mengektensikan kepala . sehingga mencegah hipoksia.Lakukan fisiotherapi nafas .Memudahkan pelepasan sekret .Dx : Resiko terjadi ketidak efektifan bersihan jalan nafas b. . .Memantau keefektifan jalan nafas .Orbservasi pernafasan observasi seting ventilator BIPAP 10-18. dyspnoe (-). dan tidak terjadi infeksi nasokomial.Lakukan suction jika ada sekret .Untuk mengetahui adanya sekret .d tidak adanya reflek batuk dan produksi sekret yang banyak Tujuan : Setelah dirawat selama 2 hari tidak terjadi sumbatan jalan nafas.Lakukan suction jika terdengar stridor/ ronchi sampai bersih.Untuk membantu fungsi pernafasan yang terganggu .Berikan O2 per kanul 6-10lt/mnt atau bantuan nafas dengan ventilator sesuai mode dan dosis yang telah ditetapkan.BGA dan SpO2 . .Pertahankan suhu humidifier 35-37.Untuk mengetahui optimalisasi fungsi pertukaran gas pada paru .Auskultasi bunyi nafas tsebelum dan setelah suction.5 derajat . stridor (-).Lakukan auskultasi paru .Mencegah sekret mengental .Monitor status hidrasi klien .Deteksi dini adanya kelainan Dx Resiko ganguan pertukaran gas Tujuan : Setelah dirawat selama 2X24 jam RR : 18 X/mnt. BGA normal SpO2 95-100 % Rencana Tindakan Rasionalisasi .Kolaborasi pemeriksaan .Jalan nafas bersih.Untuk meningkatkan aliran udara sehingga suply O2 optimal . sekret bersih Tindakan Rasionalisasi .

RL untuk memenuhi kebutuhan cairan intra vaskuler. .Kolaborasi: .Foto thorak . .Observasi vital sign (N : T : S ) dan kapilarri refill dan suhu acral setiap jam .Dx: Gangguan perfusi jaringan b.Melihat tingkat perfusi dengan menilai optimalisasi fungsi ginjal.Untuk melihat gambaran fungsi jantung . mengatasi jika terjadi asidosis mencegah kolaps vena. Urine 70 cc/jam.Spironelacton 1 X 50 mg .EKG .d penurunan kontraktilitas otot jantung Tujuan : Setelah dirawat selama 2 hari T : 120/80. .Untuk memastikan aanatomi jantung dan melihat adanya edema paru.Captopril 3 X 25 mg .Lasix 1 ampul .Lakukan balance cairan @ 24 jam . dekompensasi (-) Rencana Tindakan Rasional .ISDN 3 X 5 mg .menurukan tekanan darah sehingga tahanan jantung berkurang.KSR 3 X 1 tab .Memperbaiki kontraktilitas dan perfusi otot jantung.Meningkatkan perfusi ginjal dan mengurangi odem . . N : 88X/mnt. .Untuk mencegah overload cairan dan mengurangi beban kerja jantung .Untuk mengetahui fungsi jantung dalam upaya mengetahui lebih awal jika terjadi gaguann perfusi . .Pemberian infus RL 28 tts/menit 500 cc/24 jam .Periksan DL .Observasi produksi urin dan balance cairan .Untuk melihat faktor-faktor predisposisi peningkatan fungsi metabolisme klliensehingga terjadi peningkatan kerja jantung.Menceggah Asidosis metabolik .Mengatur metabolisme kalium yang bermanfaat untuk memperbaiki kontraksi otot jantung . EKG normal. pusing hilang.

Evaluasi warna dan bau sputum .Untuk deteksi dini .d kegelisahan sebagai efek pemasangan alat bantu nafas Tujuan : Setelah dirawat selama 2 hari klien tidak mengalami iritasi pd jalan nafas.Masukka penahan gigi . tidak terjadi keracunan O2. volume nafas adekuat.Amankan selang ETT dengan fiksasi yg baik .Agar klien memahami peran dan fungsi serta sikap yang harus dilakukan klien .Untuk mencegah timbulnya trauma akibat penekanan yang terus menerus pada satu tempat. tidak terjadi infeksi saluran nafas.d dengan kelelahan.Bunyi alarm pertanda ggn fungsi ventilator -Mempermudah melakukan pertolongan jika sewaktu[waktu ada gangguan fungsi ventilator .Pertahankan alat resusitasi bag & mask pada posisi TT sepanjang waktu . pengesetan ventilator yang tidak tepat.Monitor suara nafas dan pergerakan dada .Orientasikan klien tentang alat perawatan yang digunakan .Dx : Ketidakefektifan pola nafas b. alarm tidak berbunyi Rencana Tindakan Rasionalisasi .Rubah posisi setiap 2 jam . obstruksi ETT Tujuan : Setelah dirawat selama 2 hari nafas sesuai dengan irama ventilator.Untuk mencegah trauma .5-37 derajat celcius Tindakan Rasionalisasi .Evaluasi keefektifan pola nafas Dx : Resiko terjadi trauma b.Mencegah berkurangnya aliran udara nafas .Mencegah selang ETT tercabut . idak terjadi baro taruma. suhu tubuh 36.Jika perlu lakukan fiksasi .Lakukan oral hygiene setiap hari .Evaluasi semua ventilator dan tentukan penyebabnya .Untuk mencegah fighting . .Lakukan pemeriksaan ventilator tiap 1-2 jam .Yakinkan nafas klien sesuai dengan irama vetilator .Mencegah fighting sehingga trauma bisa dicegah .Evaluasi tekanan atau kebocoran balon cuff .Mencegah tergigitnya selang ETT .Deteksi dini adanya kelainan pada vntilator .

Dorong klien agar mengepresikan perasaannya .Mandikan klien 2 X seharil .Memperbaiki kebersihan kulit dan mulut sbg upaya mencegah kolonisasi kuman pada kulit/mulut.Mengurangi cemas dan meningkatkan daya tahan klien .Lakukan perawatan kateter @ jam .Untuk meningkatkan semangat dan motivasi . . tidak gelisah dan tenang Tindakan Rasional . Dx : Resiko terjadi infeksi s.Menggali perasaan dan masalah klien .e penurunan daya tahan dan adanya insersi alat-alat perawatan Tujuan : setelah dirawat selama 3 hari tidak terjadi infeksi skunder Tindakan Rasional -.Lakukan perawatan infus @ 24 jam .Mengurangi stress adaptasi .Dx : Cemas b.Lakukan komunikasi terapeutik .Berikan suport mental .Ganti slang tubing setiap 24-72 jam .Berikan informasi realistis sesuai dengan tingkat pemahaman klien .Tanda berupa panas.Berikan keluarga mengunjungi pada saat-saat tertentu .Lakukan oral hygiene @ 24 jam .d disorientasi ruangan dan ancaman akan kematian Tujuan : Setelah dirawat selama 2 hari diharapkan klien kooperatif.25 09.Sebagai salah satu indikator tjd infeksi .Agar klien memahami tujuan perawatan yang dilakukan.00 08.00 10.Tindakan keperawatan DX TGL/JAM TINDAKAN HASIL 1 20-8-2001 08.00 .Mencegah infeksi pada traktus urinarius .Membinan hubungan saling percaya .Mencegah infeksi /plebitis pada insersi infus .Berikan orientasi ruangan . C.Cek suhu tubuh @ 8 jam . nyeri serta ggn fungsi.05 08. kemerahan.Mencegah infeksi skunder pd salnaf .Observasi tanda peradangan pada lokasi insersi alat perawatan. bengkak. .

05 08. Stridor (-) Klien dalam posisi semi fowler Sekret banyak S : 37 OC T:136/79.00 .00 08. RR:18X/mnt Sekret bersih Sekret bersih 2 20-8-2001 08.00 14.Mengecek suhu humidifier .25 09.Melakukan fisiotherapi nafas .Melakukan auskultasi paru dan suction .Melakukan auskultasi paru dan suction .Memonnitor tanda-tanda vital . Stridor (-) Klien dalam posisi semi fowler Sekret banyak S : 37 OC T:136/79.Melakukan auskultasi paru dan suction Wh -/-. RR:18X/mnt Sekret bersih Sekret bersih Wh -/-.Melakukan fisiotherapi nafas . Rh +/-. Rh +/-.00 21-8-200 08.00 14.Melakukan suction . N:96.Melakukan auskultasi bunyi nafas .00 12.12.Melakukan auskultasi paru dan suction .Memonnitor tanda-tanda vital .00 10.Melakukan suction .00 .Melakukan auskultasi paru dan suction . N:96.Mengecek suhu humidifier .

..15 11. . FiO2 :35 %.... I:E :1:2. I:E :1:2.00 10. PEEP 5.00 . PEEP 5.00 13.Memonitor SpO2 Memonitor seting Ventilator BIPAP 18 X/mnt.Memeriksa adanya Cyanosis .10.Bahan lab sudah terambil -Ventilator sudah terseting SpO2 98 % Monitor sudah terseting SpO2 98% .Mengambil bahan pemeriksaan BGA . . PEEP 5. Memonitor seting Ventilator CPAP 18 X/mnt.Ventilator sudah terseting . FiO2 :35 %.Memonitor SpO2 .Memonitor seting Ventilator BIPAP 18 X/mnt. I:E :1:2.Memonitor seting Ventilator CPAP 18 X/mnt.Memonitor SpO2 . I:E :1:2.Memonitor SpO2 Memonitor seting Ventilator CPAP 18 X/mnt. I:E :1:2. PEEP 5..15 11. .Mengambil bahan pemeriksaan BGA . I:E :1:2. .00 13. .Memonitor SpO2 .. PEEP 5. FiO2 :40 %.Memeriksa adanya Cyanosis . FiO2 :45 %. . FiO2 :35 %. FiO2 :40 %.00 21-8-2001 08. PEEP 5.Memonitor SpO2 . Memonitor seting Ventilator BIPAP 18 X/mnt.

30 09.10 21-8-2001 07.Cyanosis (-) Nafas spontan lemah SpO2 100% Darah arteri sudah terambil SpO2 100% cyanoisis (-) Nafas spontan lemah SpO2 100% cyanoisis (-) 3 20-8-2001 07.Memonitor EKG dan suara jantung Pemberian obat personde .KSR 1 tab .Spironelacton 50 mg .00 09.Pemberian infus RL 5 tts/menit .00 09.30 09.Melakukan balance cairan .ISDN 5 mg .Captopril 25 mg .10 .

Melakukan balance cairan .KSR 1 tab Pemberian terapi IV .30 12.30 10.30 .Pemberian infus RL 5 tts/menit .Lasix 1 ampul Input : 1500 Oput : 1200 Infus lancar PVC S1S2 normal Obat masuk alergi (-) Alergi (+) Input : 1500 Oput : 1200 Infus lancar PVC Obat masuk alergi (-) Alergi (+) 4 20-8-2001 08.Captopril 25 mg .30 10.Memonitor EKG Pemberian obat personde .ISDN 5 mg .30 12.30 21-8-2001 08.Lasix 1 ampul Mengobservasi vital sign .Spironelacton 50 mg .Pemberian terapi IV .

Menganjurkan klien agar merubah posisi secara teratur Klien setuju .epertahankan alat resusitasi bag & mask pada posisi TT .15 21-8-2001 11.Mengamankan selang ETT dengan fiksasi .00 11.Mengevaluasi tekanan atau kebocoran balon cuff .Memrtahankan alat resusitasi bag & mask pada posisi TT .Memonitor suara nafas dan pergerakan dada Ventilator lancar Bag & mask sudah tersedia Kbocoran (-) Fiksasi baik Geraakan dada dan nafas sesuai Ventilator lancar Bag & mask sudah tersedia Kbocoran (-) Fiksasi baik Geraakan dada dan nafas sesuai 5 20-8-2001 11.Memonitor suara nafas dan pergerakan dada Melakukan pemeriksaan ventilator .00 11.Melakukan pemeriksaan ventilator .15 Menyampaikan agar klien tidak mencabut alat-alat peralatan yang ada di tubuh klien .Mengamankan selang ETT dengan fiksasi .Menganjurkan klien agar merubah posisi secara teratur Menyampaikan agar klien tidak mencabut alat-alat peralatan yang ada di tubuh klien .Mengevaluasi tekanan atau kebocoran balon cuff .

Memonitor suhu tubuh . .Melakukan oral hygiene .Melakukan oral hygiene .Mendorong klien agar mengepresikan perasaannya .Memberika informasi tentang perkembangan keadaan klien sekarang Klien tenang Klien bercerita tentang penyakitnya Klien optimis Klien paham dan tampak tenang 7 20-8-2001 09.Memonitor suhu tubuh .Merawat kateter .Merawat kateter .Memperhatikan keluhan klien .Mengobservasi tanda peradangan pada lokasi insersi alat perawatan.25 09.35 21-8-2001 .Memberikan suport mental .Merawat infus .Klien setuju Klien setuju Klien setuju 6 20-8-2001 10.Mengobservasi tanda peradangan pada lokasi insersi alat perawatan. .Merawat infus .30 .

09.7 o C D.4 . Acral hangat. gelisah (-).09. Evaluasi DIAGNOSE PERKEMBANGAN Resiko terjadi ketidak efektifan bersihan jalan nafas 22-8-2001 Pk.09.00 S : Klien mengatakan optimis akan segera sembuh O : Klien komunikatif dan tampak tenang . tanda barotrauma (-) A :Masalah tidak terjadi P:Resiko terjadi taruma 22-8-2001 Pk. S1S2 reguler.00 S : sesak (-) O : Klien nafas spontan dengan canul nasal 6 lt/mnt. stridor (-) sumbatan jalan nafas (-) A : Masalah tidak terjadi P : Pindahkan klien ke ruang perawatan jantung (ICCU) Gangguan pertukaran gas 22-8-2001 Pk 09. PCO2 :42. S3 (-). Hb 12. Foto Thorak LVH (+) A : Masalah tidak terjadi P : Lanjutkan perawatan di ruang jantung Ggn pola nafas 22-8-2001 Pk. BE : 3 RR : 16X A : Masalah teratasi P : Lakukan perawatan di ruang jantung Resiko gangguan perfusi 22-8-2001 Pk.Mulut bersih Tanda radang (-) Infus dan kateter terawat S . O : T : 135/89 mm Hg.7 o C Mulut bersih Tanda radang (-) Infus dan kateter terawat S . 36. keringat dingin (-).00 S : klien merasa lebih lega O : Vnetilator sudah diwining.5. EKG : PVC pada semua lead.00 S : pusing (-). 36. cyanosis (-).44. kapilari refill 2 dt. PO2 : 96 mmHg.00 S : klien nyaman O : tanda-tanda trauma fisik tidak ada A : Masalah tidak terjadi P:Kecemasan 21-8-2001 Pk 11.00 S : Klien mengatakan dapat batuk dan menelan O : sekret (-). berdebar (-). BGA PH:7. N : 96 X/mnt. SpO2 100 %. 09.

retraksi costae (-). PO2:91. iwayat Asthma (-). Pengkajian persistem (a) Pernafasan S:O : Terpasang ETT Uk 5. Gempol . Anak juga dikeluhkan flu dan batuk-batuk dan sumer-sumer sejak tgl 15/8/2001 sore.2. Pasuruan Penanggung : Orang tua ( Benny D. Suara nafas ++/+. Paru Wh -/-. 20/8/2001 badan anak menjadi lebih lemah sehingga untuk berdiri saja susah. Identitas Nama : RD Umur : 5 th Jenis kelamin : Laki-laki Anak ke : Pertama Alamat : Rejo Agung.W) b. Imunisasi lengkap.7 o C A : Masalah tidak terjadi P : lanjutkan perawatan di ICCU LAPORAN UJIAN GAWAT DARURAT ASUHAN KEPERAWATAN ANAK RD DENGAN GBSBRONCHOPNEMONI DAN ATELEKTASIS DI RUANG ICU GBPT RSUD DR SOETOMO SURABAY A.4.00 dan langsung ditangani di Bagian Resusitasi IRD. . PCO2 44. Keluar saliva lewat mulut (sering dan banyak). Cyanosis (-).6 o C. Inspirasi presure + 10. cyanosis (-). stridddor (+). FiO2 40 %. Selanjutnya anak dibawa ke RSUD Dr Soetomo tanggal 20/8/2001 Pk 23. PEEP +2. S : 36. T : 112/60 (MAP 77 mm Hg). cuping hidung (-). SpO2 100 %.451. AaDO2 177.A : Masalah teratasi P :Resiko terjadi infeksi S : Klien tidak mengeluh badan terasa panas O : Tanda radang (-). terpasang mayo. Riwayat MRS (-). HCO3 : 30. Acral dingin. infus dan kateter terawat. BGA : PH 7. PENGKAJIAN a.7.7.9 mm Hg (b) Kardiovaskuler S:O: N : 87X/mnt reguler. Riwayat Flu (+) sejak seminggu yang lalu dan diberikan obat flu yang dibeli di Apotik. BE :5. RR : 30 X. Capillari refill 2 dt. c. EMV :15. S : 36. Foto thorak tampak gambaran hipodens pada lobus paru kiri atas. Rh -/-. Riwayat Keperawatan Anak dikeluhkan kakinya lemas tgl 19 /8/2001 sorebdan pagi tangga. serta nafas dibantu dengan ventilator Mode : SIMV PS 20 X. SpO2 100 %.5.

Alb. Rp . berapa lama pengobatannya keluarga bersedia melanjutkan perawatan lanjutannya. Resiko terjadi disuse syndrome .Px GDA. Ggn komunikasi verbal 5.---(d) Perkemihan S:O : Terpasang cateter. Resiko terjadi ketidakefektifan bersihan jalan nafas 2.3 % EKG : Lead II Sinus (c) Neurologi S:O : GCS : 2x3. Analisa Masalah Dari data diatas dirumuskan bebepara permasalahan: 1. kateter terawat (e) Pencernaan S:O : Klien makan sonde pediasure 6 X 50 cc.Sonde pediasure : 6 X 50 cc .4 g/dl HbO2 : 95. Psikologis S : Orang tua menyatakan bagaimana kemungkinan penyakit anaknya. O : Tampak kusut. refleks +/+. Ketidakefektifan pola nafas 4.Ampicillin 3 X 500 mg . distensi (-).Alinamin F 3 X 1 amp . tulang intak 000 000 (g). RF RF . pupil isokor. skybala (-). sementara puasa sampai tracheostomi selesai dilakukan. peristaltik (+) lemah. (f) Muskuloskeletal S:O : Kekuatan otot 000 000. out-put 2005 cc dalam 24 jam.Bisolvon 3 X 1 tab . Thorax Foto B. Therapi: .Infus Dex D 5 1/2 NS 1250 cc/24 jam . warna kuning jernih.Cloxacillin 3 X 250 mg . DL. tampak kebingungan. Resiko terjadi trauma 7. Diplopia (-). membuka mata (+) lemah. Resiko tinggi terjadi infeksi 6. Resiko tejadi ggn pertukaran gas 3..Hb : 12. lateralisasi (-)..

5-37 oC • Tanda-tanda radang pada lokasi insersi alat perawatan (-) Tindakan . Pada px urine ery (-). PEEP +2.Kolaborasi : • Pengggantian ETT dengan Tracheostomi • Penggantian insersi surflo dengan vanocath • Pemeriksaan leuko • Pemeriksaan albumin • Lab UL • Pemberian profilaksis Amox 3 X 500 mg dan Cloxacilin 3 X 250 mg Dx : Resiko terjadi disuse syndrome b. I : E 1:2 • Analisa hasil BGA Dx : Resiko tinggi terjado infeksi b. saliva bersih.Lakukan auskultasi sebelum dan setelah tindakan fisiotherapi dan suction .d kelemahan tubuh sebagai efek perjalanan penyakit GBS Tujuan : Setelah dirawat . sumbatan tidak terjadi Tindakan: .Lakukan pemeriksaan BGA setiap 24 jam . FiO2 40 %. sylinder (-).Ganti kateter setiap 72 jam .Monitor respirasi dan cyanosis . stridor (-).Monitor SpO2 setiap jam .8. Resiko terjadi bersihan saluran nafas tidak efektif b.Lakukan fisiotherapi nafas dan suction setiap 3 jam jika terdengar stridor atau SpO2 <> 95 % Tindakan: . • Suhu tubuh 36.d penurunan reflek menelan dan peningkatan produksi saliva Tujuan : Setelah dirawat sekret bersih.Rawat tempat insersi infus dan kateter setiap hari .Rawat ETT setiap hari -Lakukan prinsip steril pada saat suction .Tanda-tanda infeksi (-) • leiko 3-5 X 10 4. Kecemasan pada orang tua C. Rencana Keperawatan Dx 1.Lakukan perawatan EET setiap 2 jam .Kolaborasi : • Seting ventilator SIMV PS 15.d pemakaian alat perawatan seperti kateter dan infus Tujuan : setelah dirawat diharapkan .

30 08.He tentang penyakit GBS.Meminta agar keluarga mengisi informed konsen dari tindakan yang akan dilakukan oleh petugas D.-Kontraktur (-) .15 08.Nutrisi terpenuhi .45 09. Kecemasan pada orang tua b.Kaji tanda-tanda pnemoni orthostatik .Berikan latihan pasif 2 kali sehari .Setelah dirawat klien dapat menerima keadaan dan kooperatif terhadap tindakan yang akan dilakukan Tindakan : . Tindakan Keperawatan TGL/JAM TINDAKAN PELAKSANA 08.Personal hygiene baik Tindakan: .Lakukan mirimg kanan dan kiri setiap 2 jam .He tentang perawatan dan pemasangan alat perawatan alternatif sehubungan dengan proses perawatan yang lama seperti pemasangan tracheostomi dan vanocath .Monitor intake dan output cairan dan lakukan balance setia 24 jam . .Bab dan bak terbantu .10 08.Mandikan klien setiap hari .Kolaborasi: • Alinamin F 3 X 1 ampul • Sonde pediasuer 6 X 50 cc • Latihan fisik fasif oleh fisiotherapis Dx. perjalanan penyakit dan penanganannya.d ancaman kematian pada anak serta perawatan yang lama Tujuan : .30 .00 09.Monitor status neurologi setiap 8 jam .10 09.Bantu Bab dab Bak .

Wh -/-.Rh-/Melakukan fisiotherapi nafas dan suction (Sekret banyak warna putih) Memiringkan klien kekiri Melakukan oral hygiene (Mulut bersih) Merawat infus dan cateter (Kateter dan infus terawat.Wh -/-. tanda radang (-)) Mengambil bahan lab DL. T : 121/72 mm Hg. GDA dan albumin Injeksi ampicilin 500 mg Alinamin F 1 ampul Mengecek persiapan tracheostomi: .Canul tracheostomi no 6 sudah ada . Rh -/-.30 Melakukan auskultasi paru (stridor (+).Informed concent (+) .SpO2 100 % .3 . S :36.00 10.Sekret bersih . Stridor -/.Menunggu konfirmasi dari OK lt V Observasi vital sign HR 103 X/mnt.Keluarga sudah siap .Saliva mengalir kesamping . SpO2 99 %. Urine 90 cc 2 jam Airway lancar .RR:22X/mnt.10.Wayan Wayan .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful