P. 1
abses kepalaa

abses kepalaa

|Views: 9|Likes:
Published by Senja Tsamrotul

More info:

Published by: Senja Tsamrotul on Jun 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/16/2013

pdf

text

original

Sections

  • I. 1. Latar Belakang
  • I. 2. Permasalahan
  • I. 3. Tujuan
  • I. 4. Manfaat
  • II. 1. Pengertian
  • II. 2. Etiologi
  • II. 3. Patofisiologi
  • II. 4. Manifestasi Klinik
  • II. 5. Pemeriksaan Diagnostik
  • II. 6. Penatalaksanaan
  • II. 7. Komplikasi
  • III. 1. Pengkajian
  • III. 2. Diagnosa
  • III. 3. Intervensi
  • III. 4. Implementasi
  • III. 5. Evaluasi
  • IV. 1. Kesimpulan
  • IV. 2. Saran

nursingakademilusy

Senin, 09 Mei 2011

askep abses otak
A. DEFINISI Abses otak adalah suatu proses infeksi yang melibatkan parenkim otak; terutama disebabkan oleh penyebaran infeksi dari fokus yang berdekatan oleh penyebaran infeksi dari fokus yang berdekatan atau melaui sistem vaskular.(Price,2005;1155) Abses otak (AO) adalah suatu reaksi piogenik yang terlokalisir pada jaringan otak.( http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10AbsesOtak89.pdf/10AbsesOtak89.html ) Timbunan abses pada daerah otak mempunyai daerah spesifik, pada daerah cerebrum 75% dan cerebellum 25%.(long,1996;193) B. ANATOMI FISIOLOGI Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron. Otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu terdapat kaitan erat antara otak dan pemikiran. Otak dan sel saraf didalamnya dipercayai dapat mempengaruhi kognisi manusia. Pengetahuan mengenai otak mempengaruhi perkembangan psikologi kognitif. Bagian - bagian otak manusia : Bagian Otak depan Diensefalon Talamus Epitalamus Hipotalamus Subtalamus Telensefalon (Hemisfer serebrum) Korteks serebrum Bulbus olfaktori Amigdala Septal region Forniks Basal ganglia Otak tengah Tektum Cerebral Otak belakang Medula oblongata Vestibular nuclei Cochlear nuclei Medullary RF Raphe nuclei Solitary nucleus Olivary complex Metensefalon Pons Serebelum/otak kecil

A. ETIOLOGI Berbagai mikroorganisme dapat ditemukan pada AO, yaitu bakteri, jamur dan parasit. - Bakteri yang tersering adalah Staphylococcus aureus, Streptococcus anaerob, Streptococcus beta hemolyticus, Streptococcus alpha hemolyticus, E. coli dan Baeteroides. Abses oleh Staphylococcus biasanya berkembang dari perjalanan otitis media atau fraktur kranii. Bila infeksi berasal dari sinus paranasalis penyebabnya adalah Streptococcus aerob dan anaerob, Staphylococcus dan Haemophilus influenzae. Abses oleh Streptococcus dan Pneumococcus sering merupakan komplikasi infeksi paru. Abses pada penderita jantung bawaan sianotik umumnya oleh Streptococcus anaerob. - Jamur penyebab AO antara lain Nocardia asteroides, Cladosporium trichoides dan spesies Candida dan Aspergillus. Walaupun jarang, Entamuba histolitica, suatu parasit amuba usus dapat menimbulkan AO secara hematogen. ( http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10AbsesOtak89.pdf/10AbsesOtak89.html ) - Komplikasi dari infeksi telinga (otitis media, mastoiditis )hampir setengah dari jumlah penyebab abses otak serta Komplikasi infeksi lainnya seperti ; paru-paru (bronkiektaksis,abses paru,empiema )jantung ( endokarditis ), organ pelvis, gigi dan kulit.(long,1996;193) A. MANIFESTASI KLINIS Gejala fokal yang terlihat pada abses otak Lobus Gejala Frontalis mengantuk, tidak ada perhatian, hambatan dalam mengambil keputusan,Gangguan intelegensi, kadang-kadang kejang Temporalis tidak mampu meyebut objek;tidak mampu membaca, menulis atau,mengerti katakata;hemianopia. Parietalis gangguan sensasi posisi dan persepsi stereognostik,kejang fokal,hemianopia homonim,disfasia,akalkulia,agrafia Serebelum sakit kepala suboksipital,leher kaku,gangguan koordinasi,nistagmus,tremor intensional. .(price,2005;1156) B. PATOFISIOLOGI Fase awal abses otak ditandai dengan edema lokal, hiperemia infiltrasi leukosit atau melunaknya parenkim. Trombisis sepsis dan edema. Beberapa hari atau minggu dari fase awal terjadi proses liquefaction atau dinding kista berisi pus. Kemudian terjadi ruptur, bila terjadi ruptur maka infeksi akan meluas keseluruh otak dan bisa timbul meningitis. ( long,1996;193) AO dapat terjadi akibat penyebaran perkontinuitatum dari fokus infeksi di sekitar otak maupun secara hematogen dari tempat yang jauh, atau secara langsung seperti trauma kepala dan operasi kraniotomi. Abses yang terjadi oleh penyebaran hematogen dapat pada setiap bagian otak, tetapi paling sering pada pertemuan substansia alba dan grisea; sedangkan yang perkontinuitatum biasanya berlokasi pada daerah dekat permukaan otak pada lobus tertentu. AO bersifat soliter atau multipel. Yang multipel biasanya ditemukan pada penyakit jantung bawaan sianotik; adanya shunt kanan ke kiri akan menyebabkan darah sistemik selalu tidak jenuh sehingga sekunder terjadi polisitemia. Polisitemia ini memudahkan terjadinya trombo-emboli. Umumnya lokasi abses pada tempat yang sebelumnya telah mengalami infark akibat trombosis; tempat ini menjadi rentan terhadap bakteremi atau radang ringan. Karena adanya shunt kanan ke kin maka bakteremi yang biasanya dibersihkan oleh paru-paru sekarang masuk langsung ke dalam sirkulasi sistemik yang kemudian ke daerah infark. Biasanya terjadi pada umur lebih dari 2 tahun. Dua pertiga AO adalah soliter, hanya sepertiga AO adalah multipel. Pada tahap awal AO terjadi reaksi radang yang difus pada jaringan otak dengan infiltrasi lekosit disertai udem, perlunakan dan kongesti jaringan otak, kadangkadang disertai bintik perdarahan. Setelah beberapa hari sampai beberapa minggu terjadi nekrosis dan pencairan pada pusat lesi sehingga membentuk suatu rongga abses. Astroglia, fibroblas dan makrofag mengelilingi jaringan yang nekrotik. Mula-mula abses tidak berbatas tegas tetapi lama kelamaan dengan fibrosis yang progresif terbentuk kapsul dengan dinding yang konsentris. Tebal kapsul antara beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter. Beberapa ahli membagi perubahan patologi AO dalam 4 stadium yaitu : 1) stadium serebritis dini 2) stadium serebritis lanjut 3) stadium pembentukan kapsul dini

4) stadium pembentukan kapsul lanjut. Abses dalam kapsul substansia alba dapat makin membesar dan meluas ke arah ventrikel sehingga bila terjadi ruptur, dapat menimbulkan meningitis. Infeksi jaringan fasial, selulitis orbita, sinusitis etmoidalis, amputasi meningoensefalokel nasal dan abses apikal dental dapat menyebabkan AO yang berlokasi pada lobus frontalis. Otitis media, mastoiditis terutama menyebabkan AO lobus temporalis dan serebelum, sedang abses lobus parietalis biasanya terjadi secara hematogen.( http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10AbsesOtak89.pdf/10AbsesOtak89.html) A. KOMPLIKASI Komplikasi meliputi : - retardasi mental - epilepsi - kelainan neurologik fokal yang lebih berat. Komplikasi ini terjadi bila AO tidak sembuh sempurna. ( http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10AbsesOtak89.pdf/10AbsesOtak89.html ) A. PROGNOSIS Tergantung dari: 1) cepatnya diagnosis ditegakkan 2) derajat perubahan patologis 3) soliter atau multipel 4) penanganan yang adekuat. Dengan alat-alat canggih dewasa ini AO pada stadium dini dapat lebih cepat didiagnosis sehingga prognosis lebih baik. Prognosis AO soliter lebih baik dari mu1ipe1.( http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10AbsesOtak89.pdf/10AbsesOtak89.html A. PENATALAKSANAAN MEDIS - Terapi antibiotik. Kombinasi antibiotik dengan antibiotik spektrum luas. Antibiotik yang dipakai ;Penicilin, chlorampenicol (chloramyetin) dan nafacillen (unipen). Bila telah diketahui bakteri anaerob, metrodiazelo (flagyl) juga dipakai. - Surgery ; aspirasi atau eksisi lengkap untuk evaluasi abses. (long,1996;194)

BAB III Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Abses Otak PENGKAJIAN 1. Anamnesis - Identitas klien ;usia, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tgl MRS, askes dst. - Keluhan utama ; nyeri kepala disertai dengan penurunan kesadaran. - Riwayat penyakit sekarang ; demam, anoreksi dan malaise, peninggian tekanan intrakranial serta gejala nerologik fokal . - Riwayat penyakit dahulu ; pernah atau tidak menderita infeksi telinga (otitis media, mastoiditis ) atau infeksi paru-paru (bronkiektaksis,abses paru,empiema )jantung ( endokarditis ), organ pelvis, gigi dan kulit. 2. Pemeriksaan fisik - KU - Pola fungsi kesehatan : Aktivitas/istirahat : gejala ; malaise Tanda ;ataksia,masalah berjalan,kelumpuhan,gerakan involunter. Sirkulasi Gejala ; adanya riwayat kardiopatologi, seperti endokarditis

Tanda ; TD meningkat,nadi menurun (berhubungan peningkatan TIK dan pengaruh pada vasomotor). Eliminasi Tanda;adanya inkontensia dan/atau retensi Nutrisi Gejala ; kehilangan nafsu makan,disfagia (pada periode akut ) Tanda ; anoreksia,muntah.turgor kulit jelek,membran mukosa kering. Higiene Tanda ; ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri(pada periode akut) Neurosensori Gejala ; sakit kepala,parestesia,timbul kejang, gangguan penglihatan Tanda ; penurunan status mental dan kesadaran,kehilangan memori, sulit dalam mengambil keputusan,afasia,mata; pupil unisokor (peningkatan TIK),nistagmus.kejang umum lokal. Nyeri /kenyamanan Gejala ; Sakit kepala mungkin akan diperburuk oleh ketegangan;leher/punggung kaku. Tanda ; tampak terus terjaga. Menangis/mengeluh. Pernapasan Gejala ; adanya riwayat infeksi sinus atau paru Tanda ;peningkatan kerja pernapasan ( episode awal ). Perubahan mental (letargi sampai koma) dan gelisah. Keamanan Gejala ; adanya riwayat ISPA/infeksi lain meliputi ; mastoiditis, telinga tengah, sinus,abses gigi; infeksi pelvis,abdomen atau kulit;fungsi lumbal, pembedahan, fraktur pada tengkorak/cedera kepala. Tanda ; suhu meningkat, diaforesis, menggigil. Kelemahan secara umum; tonus otot flaksid atau spastik;paralisis atau parese. Gangguan sensasi. 3. Prosedur diagnostik — Pemeriksaan laboratorium - LED meningkat dan mungkin disertai leukositosis. - ( http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10AbsesOtak89.pdf/10AbsesOtak89.html ) · Pemeriksaan penunjang - CT Scan Mengidentifikasi dan melokalisasi abses besar dan abses kecil disekitarnya.(price,2005;1155) - Arteriografi Menunjukkan lokasi abses di lobus temporal atau abses cerebellum.(long,1996;194) DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri akut b.d proses inflamasi, toksin dalam sirkulasi Tujuan : Nyeri teratasi atau dapat dikontrol. Kriteria hasil : klien melaporkan nyeri berkurang atau dapat diatasi, dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau mengurangi nyeri, klien tidak gelisah, skala nyeri 0-1 atau teratasi. Intervensi : - berikan lingkungan yang tenang, ruangan agak gelap sesuai indikasi (menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensitivitas pada cahaya dan meningkatkan relaksasi ) - Tingkatkan tirah baring, bantulah kebutuhan perawatan diri yang penting. (menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri) Kolaborasi - Berikan analgetik, seperti asetaminofen, kodein. ( untuk menghilangkan nyeri ) 2. Hambatan mobilitas fisik b.d gangguan persepsi atau kognitif, penurunan kekuatan,terapi pembatasan/kewaspadaan keamanan mis tirah baring, imobilisasi. Tujuan : klien dapat menunjukkan cara mobilisasi secara optimal Kriteria hasil : klien dapat mempertahankan posisi tubuh yang optimal, klien dapat mempertahankan/meningkatkan kekuatan dan fungsi tubuh yang sakit,mempertahankan integritas kulit, kandung kemih dan fungsi usus.

mencegah pemajanan pada individu terinfeksi) . Intervensi : . terapi wicara.d defisit neurologis. kolaborasi . . berkembangnya nadi yang tidak teratur atau demam yang terus menerus. (menurunkan resiko pasien terkena infeksi sekunder. Mengotrol penyebaran sumber infeksi. masase dengan pelembab.Teliti adanya keluhan nyeri dada. .Kaji kesadaran sensorik seperti respon sentuhan.sensorik.Letakkan pasien pada posisi tertentu. Risti terhadap penyebaran infeksi b. dan terapi kognitif.Berikan perawatan kulit dengan cermat. Nilai 3 : memerlukan bantuan/peralatan yang terus menerus dan alat khusus. . ganti linen/pakaian yang basah tersebut tetap bersih dan bebas dari kerutan. . Pantau dan batasi pengunjung/staf sesuai kebutuhan. Perubahan persepsi-sensori b. tidak ada bukti penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain. Tujuan : Penyebaran infeks tidak terjadi Kriteria hasil : mencapai masa penyembuhan tepat waktu.Periksa kembali kembali kemampuan dan keadaan secara fungsional pada kerusakan yang terjadi (mengidentifikasi kemungkinan kerusakan secara fungsional dan mempengaruhi pilihan intervensi yang akan dilakukan ) . Ubah posisi pasien secara teratur dan buat sedikit perubahan posisi antar waktu. fungsi persepsi membaik.Pantau haluaran urin. Nilai 1 : memerlukan bantuan/peralatan yang minimal. Bantu dengan latihan kandung kemih bila memungkinkan.Kaji derajat imobilisasi pasien dengan menggunakan skala ketergantungan (0-4) Nilai 0 : klien mampu mandiri.berikan terapi antibiotik sesuai indikasi (obat yang dipilih tergantung pada tipe infeksi dan sensitivitas individu.Intervensi : . Catat warna dan bau urine. statis cairan. . ( meningkatkan sirkulasi dan elastisitas kulit dan menurunkan terjadinya eksekoriasi kulit ) . dan proses pikir. panas/dingin.berikan tindakan isolasi sebagai tindakan pencegahan ( isolasi diperlukan sampai organismenya diketahui/dosis antibiotik yang cocok telah diberikan untuk menurunkan risiko penyebaran pada orang lain ) .Evaluasi/pantau secara teratur perubahan orientasi.d diseminata hematogen dari patogen. Seseorang dalam semua katagori sama-sama mempunyai risiko kecelakaan namun katagori 2-4 mempunyai resiko terbesar untuk terjadinya bahaya tersebut sehubungan dengan imobilisasi.Berikan bantuan untuk melakukan ROM (mempertahankan mobilisasi dan fungsi sendi/posisi normal ekstrimitas dan menurunkan terjadinya vena statis. ( infeksi sekunder seperti miokarditis/perikarditis dapat berkembang dan memerlukan intervensi lanjut ) Kolaborasi . 4. (perubahan posisi yang teratur menyebabkan penyebaran terhadap berat badan dan menigkatkan sirkulasi seluruh bagian tubuh. 3. . maupun staf. Nilai 4 : tergantung secara total pada pemberi asuhan. kemampuan berbicara. terapi okupasi.benda tajam/tumpul dan kesadaran terhadap gerakan dan alat tubuh. Kriteria hasil : tingkat kesadaran normal.Bicara dengan suara yang lembut dan pelan. pengunjung. Tujuan : mengembalikan dan mempertahankan fungsi persepsi sensori. Intervensi .alam perasaan. Gunakan kalimat yang pendek dan sederhana.Rujuk pada ahli fisioterapi.pertahankan tehnik aseptik dan tehnik mencuci tangan yang tepat baik pasien. Nilai 2 : memerlukan bantuan sedang/dengan pengawasan/diajarkan.

Berikan informasi dalam bentuk-bentuk dan segmen yang sederhana.http://supersuga.d edema serebral Tujuan : Pasien kembali pada. Intervensi : .”Patofisiologi : konsep klinis proses -proses penyakit Ed.keadaan status neurologis sebelum sakit.. Klien mengerti tentang kondisinya Intervensi : . Kriteria hasil : Tanda-tanda vital dalam batas normal.menyimpan informasi yang diberikan. Jakarta : EGC * Long. prognosis dan perawatan abses otak Kriteria Hasil : Klien terlihat tenang. Totong. 1996 “ Perawatan Medikal Bedah. deksametason. turgor kulit dan keadaan membran mukosa.1999:308 ) DAFTAR PUSTAKA Price.diunduh 15/11/ 2008. ( menurunnya rentang perhatian pasien dapat menurunkan kemampuan untuk menerima.pantau intake dan output. Risti perubahan perfusi jaringan serebral b. Kamaluddin. Sylvia A. .(Doenges. Bandung :Yayasan IAPK Doenges. M. Asetaminofen : menurunkan metabolisme seluler/menurunkan konsumsi oksigen dan resiko kejang.Beri kesempatan pada klien dan keluarga untuk bertanyaa mengenai hal-hal yang tidak diketahuinya. Moorhouse. Diposkan oleh Lusy di 00. Catat karakteristik urine. klorpomasin. ( mungkin memerlukan drainase dari adanya abses otak atau penglepasan pirau ventrikel” mencegah ruptur/mengontrol penyebaran infeksi ) 5. asetaminofen. Jaga kepala tetap pada posisi netral.pantau pernapasan.24 . catat pola dan irama pernapasan.co. Klorpomasin : obat pilihan dalam mengatasi kelainan postut tubuh atau mengigil yang dapat meningkatkan TIK. adanya peningkatan kognitif dan tidak ada atau hilangnya tanda-tanda tekanan intrakranial yang meningkat.2”.berikan obat sesuai indikasi seperti . Diunduh 15/11/2008. http://www. Kurang pengetahuan tentang kondisi abses otak.pantau status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan keadaan normalnya.d kurangnya informsi Tujuan : Klien mengetahui tentang kondisi abses otak.” Anatomi Otak “.dan perkembangan dari kerusakan cerebral ) . Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien “.kalbe.) .) .6 vol. seperti GCS ( pengkajian kecenderungan adanya perubahan tingkat kesadaran dan potensial penigkatan tekanan intrakranial adalah sangat berguna dalam menentukan lokasi. ( tipe dari pola pernapasan merupakan tanda yang berat dari adanya peningkatan TIK/daerah serebral yang terkena dan mungkin merupakan indikasi perlunya untuk melakukan intubasi disertai pemasangan ventilator mekanik.html Anonim .wordpress. Barbara C. Suatu pendekatan proses keperawatan. 1999. Kesadaran meningkat.tinggikan kepala tempat tidur sekitar 15-45 derajat sesuai toleransi dan indikasi. Meningkatnya kesadaran pasien dan fungsi sensoris.siapkan untuk intervensi pembedahan sesuai indikasi. 6.id/files/cdk/files/10AbsesOtak89.” Abses Otak ”. Jakarta : EGC. “ Rencana Asuhan Keperawatan. Rasa sakit kepala berkurang.mengingat. Deksametason : dapat menurunkan permeabilitas kapiler untuk membatasi pembentukan edema serebral. terutama jika kesadaran menurun. prognosis dan perawatan abses otak b. (peningkatan aliran vena dari kepala akan menurunkan TIK. (hipertermi menigkatkan kehilangan air tak kasat mata dan menigkatkan resiko dehidrasi.com/2008/03/26/anatomi-otak/.pdf/10AbsesOtak89. Kolaborasi .2005.

Abses oleh Streptococcus dan Pneumococcus sering merupakan komplikasi infeksi paru. otitits media. Patofisiologi/ WOC Fase awal abses otak ditandai dengan edema lokal. Abses pada penderita jantung bawaan sianotik umumnya oleh Streptococcus anaerob. suatu parasit amuba usus dapat menimbulkan AbsesOtak secara hematogen. Jamur penyebab Abses Otak antara lain Nocardia asteroides. coli dan Baeteroides. Walaupun jarang. E. Komplikasi dari infeksi telinga (otitis media. telinga dan gigi (infeksi sisnus paranasal. c. Streptococcus alpha hemolyticus. Staphylococcus dan Haemophilus influenzae. yaitu bakteri. 2002). Beberapa hari atau minggu dari fase awal terjadi proses . Entamuba histolitica. infeksi gigi dan infeksi sistemik. Trombisis sepsis dan edema. mastoididtis. atau melalui penyebaran infeksi dari organ lain (abses paru-paru. mastoiditis )hampir setengah dari jumlah penyebab abses otak serta Komplikasi infeksi lainnya seperti . Untuk mencegah abses otak maka perlu dilakukan pengobatan yang tepat pada otitis media. Abses otak adalah komplikasi yang meningkat pada pasien yang system imunnya disupresi baik karena terapi atau penyakit (Smaltzer. jamur dan parasit. Cladosporium trichoides dan spesies Candida dan Aspergillus. 2011). sinusistis. Abses otak merupakan komplikasi yang dikaitkan dengan beberapa bentuk meningitis. b. Streptococcus beta hemolyticus. hiperemia infiltrasi leukosit atau melunaknya parenkim. paru-paru (bronkiektaksis. melalui penyebaran infeksi dari daerah lain seperti sinus. Etiologi Berbagai mikroorganisme dapat ditemukan pada Abses Otak. organ pelvis. Ini dapat terjadi melalui invasi otak langsung dari trauma intrakranial atau pembedahan .ASUHAN KEPERAWATAN Abses Otak Pengertian Abses Otak ( Infeksi Intrakranial ) Abses otak merupakan kumpulan dari unsur-unsur infeksius dalam jaringan otak (Arif muttaqin. endokarditis infektif) dan dapat dapat menjadi komplikasi yang berhubungan dengan beberapa bentuk meningitis. sepsis gigi).abses paru. a. Abses oleh Staphylococcus biasanya berkembang dari perjalanan otitis media atau fraktur kranii. gigi dan kulit.empiema) jantung ( endokarditis ). Bila infeksi berasal dari sinus paranasalis penyebabnya adalah Streptococcus aerob dan anaerob.

Abses Otak bersifat soliter atau multipel. Beberapa ahli membagi perubahan patologi AO dalam 4 stadium yaitu : 1) stadium serebritis dini 2) stadium serebritis lanjut 3) stadium pembentukan kapsul dini 4) stadium pembentukan kapsul lanjut. Penyebab infeksi dari focus primer pada paru-paru seperti abses paru. bila terjadi ruptur maka infeksi akan meluas keseluruh otak dan bisa timbul meningitis. Yang multipel biasanya ditemukan pada penyakit jantung bawaan sianotik. Komplikasi pada meninghitis purulenta.Esterichia coli. Implanmentasi langsung akibat trauma. Abses Otak dapat terjadi akibat penyebaran perkontinuitatum dari fokus infeksi di sekitar otak maupun secara hematogen dari tempat yang jauh. tempat ini menjadi rentan terhadap bakteremi atau radang ringan.adanya infiltrasi dan jaringan menjadi lunak. Karena adanya shunt kanan ke kin maka bakteremi yang biasanya dibersihkan oleh paru-paru sekarang masuk langsung ke dalam sirkulasi sistemik yang kemudian ke daerah infark. Mikroorganisme penyebab abses masuk ke otak dengan cara : 1. Mula-mula abses tidak berbatas tegas tetapi lama kelamaan dengan fibrosis yang progresif terbentuk kapsul dengan dinding yang konsentris. fibroblas dan makrofag mengelilingi jaringan yang nekrotik. mastoiditis terutama menyebabkan Abses Otak lobus temporalis dan serebelum.sinus mastoid. Infeksi jaringan fasial. penyebab infeksi kronik pada telinga. Abses yang terjadi oleh penyebaran hematogen dapat pada setiap bagian otak. bacteriodes fragilis. Astroglia. sinusitis etmoidalis. sedang abses lobus parietalis biasanya terjadi secara hematogen.di mana bakteri masuk ke otak dengan melalui tulang atau pembuluh darah. adanya shunt kanan ke kiri akan menyebabkan darah sistemik selalu tidak jenuh sehingga sekunder terjadi polisitemia. atau secara langsung seperti trauma kepala dan operasi kraniotomi. Setelah beberapa hari sampai beberapa minggu terjadi nekrosis dan pencairan pada pusat lesi sehingga membentuk suatu rongga abses.liquefaction atau dinding kista berisi pus. amputasi meningoensefalokel nasal dan abses apikal dental dapat menyebabkan Abses Otak yang berlokasi pada lobus frontalis. Dua pertiga Abses Otak adalah soliter. Biasanya terjadi pada umur lebih dari 2 tahun. 2.fungsi lumbal. selulitis orbita. Lunak. Abses dalam kapsul substansia alba dapat makin membesar dan meluas ke arah ventrikel sehingga bila terjadi ruptur. Mikroorganisme yang umum menyebabkan abses otak adalah streptococci. Setelah terjadi implamentasi bakteri kemudian terjadi reaksi peradangan inkal dengan karakteristik edema local. kadang-kadang disertai bintik perdarahan. dapat menimbulkan meningitis.tindakan operasi . Kemudian terjadi ruptur. sedangkan yang perkontinuitatum biasanya berlokasi pada daerah dekat permukaan otak pada lobus tertentu. Umumnya lokasi abses pada tempat yang sebelumnya telah mengalami infark akibat trombosis. 3. tetapi paling sering pada pertemuan substansia alba dan grisea. hanya sepertiga Abses Otak adalah multipel. empyema. pada endokarditis dan perikarditis. hyperaemia . mengandung minyak perdarahan petechikal dan sebukan neoutrofil. Polisitemia ini memudahkan terjadinya trombo-emboli.pada tingkat ini lokasi pembentukan abses Nampak kongestik. bronchiactasis. perlunakan dan kongesti jaringan otak. Tebal kapsul antara beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter. Pada tahap awal Abses Otak terjadi reaksi radang yang difusi pada jaringan otak dengan infiltrasi lekosit disertai odema. Otitis media.beberapa hari sampai beberapa bulan jaringan otak tejadi nekrosis dan .

pergeseran otak). Penyebaran infeksi dari daerah lain dari daerah lain seperti sinus.mengeluarkan m. Sakit kepala yang dirasakan terpusat pada daerah abses dan rasasakit semakin hebat dan parah. fenobarbital) dapat deberikan sebagai profilaksis untuk mencegah terjadinya kejang. Setelah pengobatan abses otak. kaku kuduk. Gejala-gejala lainnya adalah mual dan muntah. telinga. adalah gejala paling lanjut pasien. gangguan kepribadian dankelemahan otot pada salah satu sisi bagian tubuh Komplikasi Komplikasi meliputi : . dan gigi (infeksi sinus paranasal. defisit neurologik dapat terjaid berupa hemiparesis.retardasi mental . gangguan penglihatan dan kelumpuhan saraf kraniala karena kemungkinan adanya gangguan jaringan otak. Tanda dan GEJALA Gejala yang timbul bervariasi dari seorang dengan yang lain.issa pus. 2. tergantung pada ukuran dan lokasi abses pada otak. Terapi diteruskan pascaoperasi. kejang. Invasi Otak langsung dari trauma intracranial atau pembedahan. tanda neurologik fokal (kelemahan ekstermitas. kejang) dapat terjadi bergantung pada tempat abses. Manifestasi Klinis Manifestasi Klinik dari abses otak diakibatkan oleh perubahan pasca dinamika intracranial (edema. demam mungkin ada tetapi juga tidak. atau perilaku disorientasi. Penatalaksanaan Medis Sasaran penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan abses. Lebih dari 75% penderita mengeluh sakit kepala dan merupakan gejala utama yang paling sering dikeluhkan. Serangan tulang biasanya terjadi dengan angka kematian yang tinggi.di luar jaringan nekrotik tampak jaringan granulasi yang mengandung kapiler. penurunan penglihatan. otitis media dan sepsis gigi) .fibroslat. Aspirin atau obat lainnya tidak akan menolong menyembuhkan sakit kepala tersebut. Dosis besara melalui intravena biasanya ditentukan praoperatif untuk menembus jaringan otak dan abses otak. Pengobatan antimikroba diberikan untuk menghilangkan organisme sebagai penyebab atau menurunkan perkembangan virus. Sakit kepala biasanya memburuk pada pagi hari.limposit dan sel plasmajika tanpa pengobatan yang memadai pus akan membesar. Muntah juga umum terjadi. kejang. abses otak diobati dengan terapi antimikrobadan irisan pembedahan atau aspirasi. Kortikosteroid dapat diberikan untuk menolong merunkan radang edema serebral jika pasien memperlihatkan adanya peningkatan deficit neurologik. Obat-obat antikonvulsan (fenitoin. Kurang lebih separuh dari penderita mengalami demam tetapi tidak tinggi.menyebar dan meluas subarachnoid dan ventrikel. Abses yang luas dapat diobati dengan terapi antimikroba yang tepat dengan pemantauan ketat melalui pengamatan dengan CT. Komplikasi ini terjadi bila Abses Otak tidak sembuh sempurna. infeksi atau lokasi abses.epilepsi .Terdapat perubahan pada status mental pasien seperti ditunjukan pada perilaku letargik. Abses ini dapat terjadi melalui : 1.kelainan neurologik fokal yang lebih berat. peka. Asuhan Keperawatan Klien dengan Abses Otak Abses otak merupakan kumpulan dari unsur-unsur infeksius dalam jaringan otak.

dan perilaku klien. Pada pengkajian klien abses otak.lien dalam pelaksanaan pengkajian lain dengan member pertanyaan dan tetap melakukan pengawasan sepanjang waktu untuk menentukan kelayakan ekspresi emosi dan pikiran. Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien juga penting untuk menilai respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respond an pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga atau masyarakat. Apakah ada dampak yang timbul pada klien yaitu timbul ketakutan akan kecacatan. rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal dan pandanga terhadap dirinya yang salah (ganguan citra tubuh). Keluhan perubahan perilaku juga umum terjadi. stimulus apa yang sering menimbulkan kejang. tidak respontif dan koma. pemeriksaan diagnostic. Tanyakan kepada klien dengan jelas tentang gejala yang timbul seperti kapan mulai serangan. Hasil pengkajian yang didapatkan dari abses otak diakibatkan oleh perubahan pada dinamika intracranial (edema. Riwayat Penyakit Dahulu Pengkajian penyakit yang pernah dialami klien memungkinkan adanya hubungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah klien mengalami riwayat trauma langsung dari trauma intra cranial atau pembedahan. Anamnesis Keluhan utama yang sering menjadi alas an klien untuk meminta bantuan pelayanan kesehatan adalah adanya gejala neurologis (kelemahan ekstremitas. demikian pula respon individu terhadap proses fisiologis. Penyebaran infeksi dari organ lain (abses paru. infeksi atau lokasi abses. gigi (infeksi sinus paranasal. penurunan penglihatan. telinga. rasa cemas. Disorientasi dan gangguan memori biasanya merupakan perubahan lanjut dari abses otak. otitis media. endokarditis infektif) dan dapat menjadi komplikasi akibat beberapa bentuk meningitis yang menjadikan terjadinya abse otak. dan kejang. sepsis gigi). Keluhan tersebut adalah kelemahan ekstermitas. pemeriksaan fisik. dan tindakan apa yang talah diberikan dalam upaya menurunkan keluhan kejang tersebut. sesuai perkembangan penyakit dapat terjadi letargi. Perubahan yang terjadi bergantung pada beratnya penyakit.3. pernahkah mengalami infeksi dari daerah lain seperti sinus. penurunan penglihatan dan kejang). dan pengkajian psikososial. kognitif. Keluhan kejang perlu mendapat perhatian untuk dilakukan pengkajian lebih mendalam. bagaimana sifat timbulnya kejang. Pengkajian mengenai mekanisme koping yang secara sadar biasa digunakan klien selama masa stres meliputi kemampuan klien untuk mendiskusikan masalah kesehatan saat ini yang telah diketahui dan perubahan perilaku akibat stress. Riwayat Penyakit Saat ini Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui untuk mengetahui jenis kuman penyebab. pergeseran otak). biasanya didapatkan keluhan yang berhubungan dengan akibat dari proses supurasi infeksis dan peningkatan TIK. endokarditis infektif) dan dapat menjadi komplikasi yang berhubungan dengan beberpa bentuk abses otak Asuhan Keperawatan Klien Dengan Abses Otak Pengkajian Pengkajian keperawatan abses otak meliputi anamnesis riwayat penyakit. Sebagian besar pengkajian ini dapat diselesaikan melalui interaksi menyeluruh dengan k. . Pengkajian Psiko-sosio-spiritual Pengkajian psikologis klien abses otak meliputi beberapa dimensi yang memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai status emosi. kemungkinan penyebaran infeksi dari organ lain (abses paru. sembuh atau bertambah buruk. Adanya penurunan atau perubahan pada tingkat kesadaran disebabkan oleh abses otak bakteri.

B3 (Brain) Pengkajian B3 merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap dibandingkaan pengkajian pada sistem lainnya. Perspektif keperwatan dalm mengkaji terdiri dari dua masalah. Apabiala klien sudah mengalami koma maka penilaiaan GCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran klien dan bahan evaluasi untuk monitoring pemberian asuhan. TD biasanya normal atau meningkat berhubungan dengan tanda-tanda peningkatan TIK. Palpasi thorak untuk menilai taktil premitus. Auskultasi bunyi napas tambahan seperti ronchi pada klien dengan peningkatan akumulasi sekret. Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran klien abses otak biasanya berkisar pada tingkat letergi. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan per sistem (B1-B6) dengan fokus periksaaan fisik pada pemeriksaan B3 (Brain) yang terarah dan dihubungkan dengan keluhan-keluhan dari klien. Fungsi Serebral Status mental : observasi penampilan klien dan tingkah lakunya. Perawata juga memasukkan pengkajian terhadap fungsi neurologis dengan dampak gangguan neorologis yang akan terjadi pada gaya hidup individu. Penurunan denyut nadi terjadi terjadi berhubungan dengan tanda-tanda peningkatan TIK.Karena klien harus menjalani rawat inap maka apakah keadaan ini member dampak padas status ekonomi klien. Keadaan ini biasanya dihubungkan dengan proses inflamasi dan proses supurasi di jaringan otak yang sudah mengganggu pusat pengatur suhu tubuh. karena biaya perawatan dan pengobatan memrlukan dana yang tidak sedikit. 0 Pada klien abses otak biasanya didapatkan peningkatkan suhu tubuh lebih dari 38-41 C. produksi sputum. B2 (Blood) Pengkajian pada sistem kardiovaskuler terutama dilakukan pada klien abses otak pada tahap lanjut seperti apabila klien sudah mengalami renjatan (syok). nilai gaya bicara. . dan observasi ekspresi wajah serta aktivitas motorik yang pada klien abses otak tahap lanjut biasanya status mental klien mengalami perubahan. B1 (Breathing) Inspeksi kemampuan klien batuk. Tingkat kesadaran Kualitas kesadaran klien merupakan parameter yang paling mendasar dan paling penting yang membutuhkan pengkajian. yaitu ketebatsan yang diakibatkan oleh deficit neurologis dalam hubungannya dengan peran social klien dan rencana pelayanan yang akan mendukung adaptasi pada gangguan neurologis di dalam system dukungan individu. pada efusi pleura atau abses paru taktil premitus akan menurun pada sisi yang sakit. Beberapa sistem digunakan untuk memebuat peningkatan perubahan dalam kewaspadaan dan kesadaran. dan semikomatosa. sesak napas. Pemeriksaan fisik dimulai dengan memeriksa tandatanda vital (TTV). dan peningktan frekuensi pernapasan yang sering di dapatkan pada klien abses otak yang disertai adanya gangguan pada sistem pernapasan. Tingkat kesadaran klien dan respon terhadap lingkungan adalah indikator paling sensitif untuk disfungsi sistem persarafan. Pemeriksaan Fisik Setelah melukakan anemnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien. stupor. pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian anamnesis. Apabila disertai peningkatan frekuensi pernapasan sering berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme umum dan adanya infeksi pada sistem pernapasan sebelum mengalami abses otak.

Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. Terapi diteruskan pada pasca operasi. Penatalaksanaan medis Sasaran penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan abses. kontrol keseimbangan dan koordinasi pada abses otak tahap lanjut mengalami perubahan sehingga klien mengalami kelemahan ekstremitas dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Saraf VII. 3. Dengan alasan yang tidak diketahui. Saraf XII. Sistem motorik Kekuatan otot menurun. Saraf XI. tidak ada perasaan abnormal di permukaan tubuh. Pemeriksaan papiledema mungkin didapatkan terutama pada abses otak supuratif diserati abses srebri dan efusi subdural yang menyebabkan terjadinya peningkatan TIK. 1. Perasaan suhu normal. Indra pengecapan normal. Perasaan proprioseptif normal dan perasaan diskriminatif normal. tanda-tanda perubahan dari fungsi dan reaksi pupil akan didapatkan. IV. Pemeriksaan diagnostik Pengulangan pengkajian neurologis dan pengkajian klien secara terus-menerus penting untuk menentukan letak abses yang akurat.dan distonia. VI. Saraf III. Saraf IX dan X. Dosis besar melalui intravena biasanya ditentukan praoperatif untuk menembus jaringan otak dan abses otak. Saraf V. setelah evolusi dan resolusi lesi-lesi supuratif. Pada tahap lanjut abses otak yang telah mengganggu kesadaran. Gerakan involunter Tidak ditemukan adanya tremor. Pemeriksaan dan fungsi reaksi pupil pada klien abses otak yang tidak disertai penurunan kesadaran biasanya tanpa kelainan. Pemeriksaan refleks Pemeriksaan reflek dalam. Pada klien abses otak umumnya tidak didapatkan paralisis pada otot wajah dan refleks kornea biasanya tidak ada kelainan.Pemeriksaan saraf kranial Saraf I. Abses otak diobati dengan terapi antimikroba dan irisan pembedahan atau aspirasi. Kejang dan peningkatan TIK juga berhubungan dengan abses otak. ligamentum. Tidak ditemukan adanya tuli konduksi dan tuli persepsi. Tic. atau periosteum derajat reflek pada respon normal. Saraf II. Pengobatan antimikroba diberikan untuk menghilangkan organisme penyebab atau menurunkan perkembangan virus. Sistem sensorik Pemeriksaan sensorik pada abses otak biasanya didapatkan perasaan raba normal. Saraf VIII. Kemampuan menelan baik. Pada keadaan tertentu klien biasanya mengalami kejang umum terutama pada anak dengan abses otak disertai peningkatan suhu tubuh yang tinggi. Adanya usaha dari klien untuk melakukan fleksi leher dan kaku leher (rigiditas nukal). dan dalam menentukan waktu yang optimal untuk dilaksanakan intervensi pembedahan. klien abses otak mengeluh mengalami fotobia atau sensitif yang berlebihan terhadap cahaya. pengetukan pada tendon. CT scan sangat baik dalam menentukan letak abses. Persepsi pengecapan dalam batas normal. wajah simetris. tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi. perasaan nyeri normal. Lidah simetris. 2. . Biasanya pada klien abses otak tidak ada kelainan dan fungsi penciuman tidak ada kelainan. Tes ketajaman penglihatan pada kondisi normal.

dan integrasi sensorik. 5. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan ketidakmampuan menelan. gangguan penglihatan. tidak nyaman. Diagnosis Keperawatan 1. 7. Kopling individu tidak efektif yang behubungan dengan prognosis penyakit. dengan pemantauan ketat melalui pengamatan melalui CT scan. Abses yang luas dapat diobati dengan terapi antimikroba yang tepat. 2. Resiko tingi cedera yang berhubungan dengan kejang. 4. kejang. dan penurunan tingkat kesadaran. dengan angka kematian tinggi. dalam. Nyeri kepala yang berhubungan dengan iritasi selaput dan jaringan otak Tujuan : Dalam waktu 3 x 24 jam keluhan/rasa sakit terkendali Kriteria Hasil : Klien dapat tidur dengan tenang. perubahan aktual dalam sruktur dan fungsi. Ketidakefektifan jalan nafas yang berhubunga dengan akumulasi sekret. Lakukan latihan gerak aktif atau pasif Dapat membantu relaksasi otot-otot yang sesuai kondisi dengan lembut dan hati. Obat-obatan antikonvulsa ( feniton. ketidakberdayaan dan merasa tidak ada harapan. 6. perubahan psikososial. Gangguan persepsi sensorik yang berhubungan dengan kerusakan penerima rangsang sensorik. Peningkatan suhu tubuh. tranmisi sensorik. 3. 6. Kortikoesteroid dapat diberikan untuk menolong menurunkan peradangan edema serebri jika klien memperlihatkan adanya peningkatan defisit neurologis. 5. keadaan hipermetabolik. fenobarbital) dapat diberikan sebagai prokfilak mencegah terjadinya kejang. Perubahan perfusi jaringan otak yang behubungan dengan peradangan dan edema pada otak dan selaput otak. Kolaborasi pemberian analgesik Mungkin diperlukan untuk menurunkan . perubahan status mental.tegang dan dapat menurunkan nyeri/rasa hati.4. perubahan persepsi kognitif. Setelah pengobatan abses otak. defisit neurologis dapat terjadi berupa hemiparesis. Serangan ulang biasanya terjadi. meningkatkan kesehatan klien secara optimal. wajah rileks dan klien memverbalisasikan penurunan rasa sakit Intervensi Rasionalisasi Usahakan membuat lingkungan yang Menurunkan reaksi terhadap rangsangan aman dan tenang eksternal atau kesensifitan terhadap cahaya dan menganjurkan klien beristirahat Kompre dingin (es) pada kepala Dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah otak Lakukan penatalaksanaan nyeri dengan Membantu menurunkan (memutuskan) metode distraksi dan relaksasi napas stimulasi sensasi nyeri. kemampuan batuk menurun akibat penurunan kesadaran. dan kelumpuhan saraf kranial karena kemungkinan adanya ganguan jaringan otak. Rencana Intervensi Tujuan rencana intervensi keperawatan adalah membantu klien dalam mengatasi masalah kebutuhan dasarnya.

1. .id/files/cdk/files/10AbsesOtak89.Erlangga Medical Series : Jakarta.Lecture Notes Penyakit Infeksi Edisi 6. BK. DAFTAR PUSTAKA    Smaltzer.2011. Definisi.29 Asuhan Keperawatan Abses Otak 1. http://www. Muttaqin.rasa sakit Catatan : Narkotika merupakan kontraindikasi karena berdampak pada status neurologis sehingga sukar untuk di kaji.pdf/10AbsesOtak89.2002. Mandal.co.Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Ganggguan Sistem Pernafasan.2006.html Diposkan oleh ARIEF LUKMAN HAKIM PRATAMA di 03. Arif. C.Buku Ajar Keperawatan Medical-Bedah Edisi 8 Volume 3.Salemba Medika : Jakarta.kalbe.Buku Kedokteran EGC : Jakarta.

Abses pada penderita jantung bawaan sianotik umumnya oleh Streptococcus anaerob. Walaupun jarang. Etiologi Berbagai mikroorganisme dapat ditemukan pada AO. terutama pada anak berusia lebih dari 2 tahun. paru-paru (bronkiektaksis. yaitu bakteri.empiema )jantung ( endokarditis ). Streptococcus anaerob. Bila infeksi berasal dari sinus paranasalis penyebabnya adalah Streptococcus aerob dan anaerob. Entamuba histolitica. organ pelvis. suatu parasit amuba usus dapat menimbulkan AO secara hematogen. E. merupakan factor predisposisi terjadinya abses otak .3. Komplikasi dari infeksi telinga (otitis media.abses paru. namun demikian insidens terjadinya abses otak sangat tinggi pada penderita yang mengalami gangguan kekebalan tubuh (seperti penderita HIV positif atau orang yang menerima transplantasi organ). Bakteri yang tersering adalah Staphylococcus aureus. mastoiditis )hampir setengah dari jumlah penyebab abses otak serta Komplikasi infeksi lainnya seperti . Streptococcus beta hemolyticus. Cladosporium trichoides dan spesies Candida dan Aspergillus. Patofisiologi . jamur dan parasit.Abses otak adalah kumpulan nanah yang terbungkus oleh suatu kapsul dalam jaringan otak yang disebabkan karena infeksi bakteri atau jamur. Jamur penyebab AO antara lain Nocardia asteroides. gigi dan kulit. Abses otak biasanya akibat komplikasi dari suatu infeksi. Abses oleh Streptococcus dan Pneumococcus sering merupakan komplikasi infeksi paru. coli dan Baeteroides. Keadaan-keadaan ini jarang terjadi. 1.2. trauma atau tindak pembedahan. 1. (misalnya pada Tetralogy of Fallot). Penyakit jantung bawaan sianotik dengan pirau dari kanan ke kiri. Abses oleh Staphylococcus biasanya berkembang dari perjalanan otitis media atau fraktur kranii. Staphylococcus dan Haemophilus influenzae. Streptococcus alpha hemolyticus. 1. 2.

Fase awal abses otak ditandai dengan edema lokal. AO dapat terjadi akibat penyebaran perkontinuitatum dari fokus infeksi di sekitar otak maupun secara hematogen dari tempat yang jauh. Yang multipel biasanya ditemukan pada penyakit jantung bawaan sianotik. hanya sepertiga AO adalah multipel. Karena adanya shunt kanan ke kin maka bakteremi yang biasanya dibersihkan oleh paru-paru sekarang masuk langsung ke dalam sirkulasi sistemik yang kemudian ke daerah infark. Abses yang terjadi oleh penyebaran hematogen dapat pada setiap bagian otak. Dua pertiga AO adalah soliter. perlunakan dan kongesti jaringan otak. Beberapa hari atau minggu dari fase awal terjadi proses liquefaction atau dinding kista berisi pus. Setelah beberapa hari sampai beberapa minggu terjadi nekrosis dan pencairan pada pusat lesi sehingga membentuk suatu rongga abses. adanya shunt kanan ke kiri akan menyebabkan darah sistemik selalu tidak jenuh sehingga sekunder terjadi polisitemia. Kemudian terjadi ruptur. bila terjadi ruptur maka infeksi akan meluas keseluruh otak dan bisa timbul meningitis. tempat ini menjadi rentan terhadap bakteremi atau radang ringan. atau secara langsung seperti trauma kepala dan operasi kraniotomi. Trombisis sepsis dan edema. Polisitemia ini memudahkan terjadinya trombo-emboli. Mula-mula abses tidak berbatas tegas tetapi lama kelamaan dengan fibrosis yang progresif terbentuk kapsul dengan dinding yang konsentris. Astroglia. Umumnya lokasi abses pada tempat yang sebelumnya telah mengalami infark akibat trombosis. . sedangkan yang perkontinuitatum biasanya berlokasi pada daerah dekat permukaan otak pada lobus tertentu. AO bersifat soliter atau multipel. Pada tahap awal AO terjadi reaksi radang yang difus pada jaringan otak dengan infiltrasi lekosit disertai udem. fibroblas dan makrofag mengelilingi jaringan yang nekrotik. kadang-kadang disertai bintik perdarahan. tetapi paling sering pada pertemuan substansia alba dan grisea. Tebal kapsul antara beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter. hiperemia infiltrasi leukosit atau melunaknya parenkim. Biasanya terjadi pada umur lebih dari 2 tahun.

pembentukan dinding sangat lambat oleh karena kurangnya vaskularisasi di daerah substansi putih dibandingkan substansi abu. Fibroblast mulai menjadi reticulum yang akan membentuk kapsul kolagen. Stadium serebritis lanjut (Late Cerebritis) (hari ke 4 – 9) Saat ini terjadi perubahan histologis yang sangat berarti. Pembentukan kapsul yang terlambat di permukaan tengah memungkinkan abses membesar ke dalam substansi putih.4. Klasifikasi Beberapa ahli membagi perubahan patologi AO dalam 4 stadium yaitu : 1.1. Sel-sel radang terdapat pada tunika adventisia dari pembuluh darah dan mengelilingi daerah nekrosis infeksi. 2. Di tepi pusat nekrosis didapati daerah sel radang. Lapisan fibroblast membentuk anyaman reticulum mengelilingi pusat nekrosis. Stadium pembentukan kapsul dini (Early Capsule Formation) (hari ke 10 – 14) Pusat nekrosis mulai mengecil. Di daerah ventrikel. Saat ini terjadi edema di sekita otak dan peningkatan efek massa karena pembesaran abses. Stadium serebritis dini (Early Cerebritis) (hari ke 1 – 3) Terjadi reaksi radang local dengan infiltrasi polymofonuklear leukosit. makrofag-makrofag besar dan gambaran fibroblast yang terpencar. Bila . Peradangan perivaskular ini disebut cerebritis. limfosit dan plasma sel dengan pergeseran aliran darah tepi. makrofag menelan acellular debris dan fibroblast meningkat dalam pembentukan kapsul. Pada fase ini edema otak menyebar maksimal sehingga lesi menjadi sangat besar 3. Daerah pusat nekrosis membesar oleh karena peningkatan acellular debris dan pembentukan nanah karena pelepasan enzim-enzim dari sel radang. yang dimulai pada hari pertama dan meningkat pada hari ke 3.

hemianopsia homonim disertai kesadaran yang menurun me- . peninggian te-kanan intrakranial dan gejala neurologik fokal 1) Abses pada lobus frontalis biasanya tenang dan bila ada gejala-gejala neurologik seperti hemikonvulsi. makrofag. Reaksi astrosit. Daerah tepi dari sel radang. terdapat gejala-gejala infeksi seperti demam. 1. sedang abses lobus parietalis biasanya terjadi secara hematogen. gliosis. Bentuk pusat nekrosis diisi oleh acellular debris dan sel-sel radang. 4. dapat robek ke dalam ventrikel lateralis.abses cukup besar. c. Infeksi jaringan fasial. malaise. Stadium pembentukan kapsul lanjut (Late Capsule Formation) (setelah hari ke 14) Pada stadium ini. Pada pembentukan kapsul. anoreksi dan gejalagejala peninggian tekanan intrakranial berupa muntah. dapat menimbulkan meningitis. d. reaksi astrosit di sekitar otak mulai meningkat. Lapisan neurovaskular sehubungan dengan serebritis yang berlanjut. hemiparesis. Tanda Dan Gejala Klinis Pada stadium awal gambaran klinik AO tidak khas. terjadi perkembangan lengkap abses dengan gambaran histologis sebagai berikut: a. dan edema otak di luar kapsul. terlihat daerah anyaman reticulum yang tersebar membentuk kapsul kolagen. sakit kepala dan kejang.5. Dengan semakin besarnya AO gejala menjadi khas berupa trias abses otak yang terdiri dari gejala infeksi. Otitis media. dan fibroblast. mastoiditis terutama menyebabkan AO lobus temporalis dan serebelum. Abses dalam kapsul substansia alba dapat makin membesar dan meluas ke arah ventrikel sehingga bila terjadi ruptur. amputasi meningoensefalokel nasal dan abses apikal dental dapat menyebabkan AO yang berlokasi pada lobus frontalis. e. sinusitis etmoidalis. Kapsul kolagen yang tebal. b. selulitis orbita.

muntah dan kaku kuduk (25%).nunjukkan prognosis yang kurang baik karena biasanya terjadi herniasi dan perforasi ke dalam kavum ventrikel 2) Abses lobus temporalis selain menyebabkan gangguan pendengaran dan mengecap didapatkan disfasi. biasanya berasal hematogen dan berakibat fatal. Defisit neurologis fokal menunjukkan adanya edema di sekitar abses. 1.6. b. defek penglihatan kwadran alas kontralateral dan hem ianopsi komplit. Kejang biasanya bersifat fokal. Terkadang juga didapatkan mual. dismetri dan nistagmus. tremor. berlokasi terutama di daerah anterior sehingga gejala fokal adalah gejala sensorimotorik 3) Abses serebelum biasanya berlokasi pada satu hemisfer dan menyebabkan gangguan koordinasi seperti ataksia. Pemeriksaan fisik: Panas tidak terlalu tinggi. Anamnesis: Sakit kepala merupakan keluhan dini yang paling sering dijumpai (70 – 90%). 4) Abses batang otak jarang sekali terjadi. Pemeriksaan Dan Diagnosis a. apatis . Gangguan motorik terutama wajah dan anggota gerak atas dapat terjadi bila perluasan abses ke dalam lobus frontalis relatif asimptomatik. Gangguan kesadaran mulai dari perubahan kepribadian.

sampai koma. Harus diketahui kapan keluhan pertama kali timbul. c. Abses terlihat sebagai bercak/noktah pada jaringan otak. perjalanan penyakit dan apakah baru-baru ini pernah mengalami infeksi. Biasanya lekosit sedikit meningkat dan laju endap darah meningkat pada 60% kasus b. penderita yang berobat dalam keadaan distress. Pemeriksaan laboratorium: Darah: jarang dapat memastikan diagnosis. terus menerus sakit kepala dan semakin parah. Pada stadium lanjut (3 dan 4) didapatkan daerah hipodens dikelilingi cincin yang menyerap kontras. Pemeriksaan radiologi: CT Scan: CT scan kepala dengan kontras dapat dipakai untuk memastikan diagnosis. Dokter harus mengumpulkan riwayat medis dan perjalanan penyakit penderita serta keluhan-keluhan yang diderita oleh pasien. Kultur darah dan cairan tubuh lainnya akan menemukan sumber infeksi tersebut. Diagnosa Gejala awal abses otak tidak jelas karena tidak spesifik. . Apabila dijumpai papil edema menunjukkan bahwa proses sudah berjalan lanjut. Jika diagnosis masih belum dapat ditegakkan. Pada stadium awal (1 dan 2) hanya didapatkan daerah hipodens dan daerah irreguler yang tidak menyerap kontras. Untuk mendiagnosis abses otak dilakukan pemeriksaan CT sken (computed tomography) atau MRI sken (magnetic resonance imaging) yang secara mendetil memperlihatkan gambaran potongan tiap inci jaringan otak. maka sampel dari bercak/noktah tersebut diambil dengan jarum halus yang dilakukan oleh ahli bedah saraf. a. Pada beberapa kasus.7. 1. kejang atau defisit neurologik (misalnya otot pada salah satu sisi bagian tubuh melemah). Dapat dijumpai hemiparese dan disfagia. Cairan Serebro Spinal (CSS): dilakukan bila tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial (TIK) oleh karena dikhawatirkan terjadi herniasi d.

Besar abses. Golongan sefalosporin generasi ke tiga dapat pula digunakan. Ada 2 pendekatan yang dilakukan dalam terapi abses otak. Antibiotika untuk mengobati infeksi---Jika diketahui infeksi yang terjadi disebabkan oleh bakteri yang spesifik. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam menentukan pemberian antibiotik. Abses yang lokasinya jauh dalam jaringan otak merupakan kontraindikasi operasi. Jika lokasi abses mudah dicapai dan kerusakkan saraf yang ditimbulkan tidak terlalu membahayakan maka abses diangkat dengan tindakan pembedahan. Penatalaksanaan Pada umumnya terapi AO meliputi pemberian antibiotik dan tindakan operatif berupa eksisi (aspirasi). abses dialirkan keluar baik dengan insisi (irisan) langsung atau dengan pembedahan yaitu memasukkan jarum ke lokasi abses dan . Bila penyebabnya kuman an-aerob dapat diberikan metronidasol.8. Tindakan pembedahan dapat dilakukan dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut di atas. yaitu : c. Soliter atau multipel. Sebelum ada hash pemeriksaan bakteriologik dapat diberikan antibiotik secana polifragmasi ampisilin/penisilin dan kioramfenikol. Aspirasi atau pembedahan untuk mengangkat jaringan abses---Jaringan abses diangkat atau cairan nanah dialirkan keluar tergantung pada ukuran dan lokasi abses tersebut. Paling sedikit antibiotika yang diberikan selama 6 hingga 8 minggu untuk menyakinkan bahwa infeksi telah terkontrol. sebagai berikut: 1) Bila gejala klinik belum berlangsung lama (kurang dan 1 minggu) atau kapsul belum terbentuk. paling tidak antibiotika berspektrum luas untuk membunuh lebih banyak kuman penyakit. pada abses multipel tidak dilakukan operasi Pemilihan antibiotik didasarkan hasil pemeriksaan bakteriologik dan sensitivitas.1. 2) Sifat-sifat abses: a. 2. b. maka diberikan antibiotika yang sensitif terhadap bakteri tersebut. Pada kasus lainnya. drainase dan ekstirpasi. 1.

usia. gigi dan kulit. pekerjaan. Pengkajian a) Anamnesis Identitas klien . kejang. Jarum ditempatkan pada daerah abses oleh ahli bedah saraf dengan bantuan neurografi stereotaktik. pernah atau tidak menderita infeksi telinga (otitis media. Antikonvulsan diberikan untuk mengatasi kejang dan penggunaanya dapat diteruskan hingga abses telah berhasil diobati.9. nyeri kepala disertai dengan penurunan kesadaran. Perdarahan abses ASUHAN KEPERAWATAN Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Abses Otak 2. tgl MRS. Komplikasi a. agama. yaitu suatu tehnik pencitraan radiologi untuk melihat jarum yang disuntikkan ke dalam jaringan abses melalui suatu monitor. jenis kelamin. c) Riwayat penyakit sekarang .1. anoreksi dan malaise. askes dst. pendidikan. b) Keluhan utama . Pemeriksaan . organ pelvis. mastoiditis ) atau infeksi paru-paru (bronkiektaksis. segeralah mencari pertolongan. 1.empiema )jantung ( endokarditis ). Hubungi dokter bila mengalami sakit kepala yang kontinu dan keadaannnya makin memburuk dalam beberapa hari atau minggu. demam. Herniasi unkal atau tonsiler karena kenaikan TIK Ventrikulitis karena pecahnya abses di ventrikel b.2.KU fisik . d) Riwayat penyakit dahulu . alamat. Keberhasilan pengobatan dilakukan dengan menggunakan MRI sken atau CT sken untuk menilai keadaan otak dan abses tersebut. suku bangsa.cairan nanah diaspirasi (disedot) keluar. muntah. 2. Jika sakit kepala disertai mual.abses paru. gangguan kepribadian atau kelemahan otot. peninggian tekanan intrakranial serta gejala nerologik fokal .

masalah berjalan. Perubahan mental (letargi sampai koma) dan gelisah. adanya riwayat infeksi sinus atau paru Tanda . malaise Tanda .parestesia. seperti endokarditis : Tanda .2.adanya inkontensia dan/atau retensi d) Nutrisi Gejala . ataksia.timbul kejang. Sakit kepala mungkin akan diperburuk oleh ketegangan.leher/punggung kaku. anoreksia. infeksi pelvis.kehilangan memori.peningkatan kerja pernapasan ( episode awal ).turgor kulit jelek. sakit kepala. TD meningkat.kelumpuhan. adanya riwayat kardiopatologi.nadi menurun (berhubungan peningkatan TIK dan pengaruh pada vasomotor). pupil unisokor (peningkatan TIK).disfagia (pada periode akut ) Tanda .abdomen atau kulit.membran mukosa kering. i) Keamanan Gejala .afasia. pembedahan. penurunan status mental dan kesadaran.mata. sinus.fungsi lumbal.abses gigi.3. sulit dalam mengambil keputusan. gangguan penglihatan Tanda . Menangis/mengeluh. mastoiditis. e) Higiene Tanda . h) Pernapasan Gejala . fraktur pada tengkorak/cedera kepala. tampak terus terjaga.kejang umum lokal.gerakan involunter. Pola fungsi kesehatan : a) Aktivitas/istirahat gejala . Tanda . . kehilangan nafsu makan. g) Nyeri /kenyamanan Gejala . ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri(pada periode akut) f) Neurosensori Gejala . adanya riwayat ISPA/infeksi lain meliputi .muntah.nistagmus. c) Eliminasi Tanda. telinga tengah. b) Sirkulasi Gejala .

d proses inflamasi. Arteriografi Menunjukkan lokasi abses di lobus temporal atau abses cerebellum.terapi pembatasan/kewaspadaan Tujuan : klien dapat keamanan mis cara tirah baring. Intervensi : a. berikan lingkungan yang tenang.2005. klien tidak gelisah. Nyeri akut b.(price. tirah baring. CT Scan Mengidentifikasi dan melokalisasi abses besar dan abses kecil disekitarnya. Kriteria hasil : klien melaporkan nyeri berkurang atau dapat diatasi. menggigil. kodein. ruangan agak gelap sesuai indikasi (menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensitivitas pada cahaya dan meningkatkan relaksasi ) b. Tingkatkan (menurunkan Kolaborasi c. suhu meningkat. tonus otot flaksid atau spastik. Hambatan mobilitas fisik b. 2. gerakan bantulah yang kebutuhan dapat perawatan diri yang penting. skala nyeri 0-1 atau teratasi. penurunan kekuatan. dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau mengurangi nyeri.d gangguan persepsi atau kognitif. Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan sensasi.(long. toksin dalam sirkulasi Tujuan : Nyeri teratasi atau dapat dikontrol.1996. optimal menunjukkan mobilisasi . b) Pemeriksaan penunjang a. diaforesis. Kelemahan secara umum. Prosedur diagnostic a) Pemeriksaan laboratorium LED meningkat dan mungkin disertai leukositosis.5. seperti asetaminofen. nyeri) meningkatkan ( untuk menghilangkan nyeri ) 2. secara imobilisasi.194) 2.paralisis atau parese. Berikan analgetik.4.Tanda .1155) b.

klien dapat mempertahankan/meningkatkan kekuatan dan fungsi tubuh yang sakit. Pantau haluaran urin. kulit. c. d. 3. Perubahan persepsi-sensori b. ganti linen/pakaian yang basah tersebut tetap bersih dan bebas dari kerutan. Kaji derajat imobilisasi pasien dengan menggunakan skala ketergantungan (0-4) Nilai 0 : klien mampu mandiri. Catat warna dan bau urine. masase dengan pelembab. Bantu dengan latihan kandung kemih bila memungkinkan. Nilai 1 : memerlukan bantuan/peralatan yang minimal. e. Berikan bantuan untuk melakukan ROM (mempertahankan mobilisasi dan fungsi sendi/posisi normal ekstrimitas dan menurunkan terjadinya vena statis. (perubahan posisi yang teratur menyebabkan penyebaran terhadap berat badan dan menigkatkan sirkulasi seluruh bagian tubuh.d defisit neurologis. Ubah posisi pasien secara teratur dan buat sedikit perubahan posisi antar waktu. Nilai 4 : tergantung secara total pada pemberi asuhan. Periksa kembali kembali kemampuan dan keadaan secara fungsional pada kerusakan yang terjadi (mengidentifikasi kemungkinan kerusakan secara fungsional dan mempengaruhi pilihan intervensi yang akan dilakukan ) b. Seseorang dalam semua katagori sama-sama mempunyai risiko kecelakaan namun katagori 2-4 mempunyai resiko terbesar untuk terjadinya bahaya tersebut sehubungan dengan imobilisasi.Kriteria hasil : klien dapat mempertahankan posisi tubuh yang optimal. kandung kemih dan fungsi usus.mempertahankan integritas Intervensi : a. . Berikan perawatan kulit dengan cermat. Nilai 2 :memerlukan bantuan sedang/dengan pengawasan/diajarkan Nilai 3 : memerlukan bantuan/peralatan yang terus menerus dan alat khusus. Letakkan pasien pada posisi tertentu. ( meningkatkan sirkulasi dan elastisitas kulit dan menurunkan terjadinya eksekoriasi kulit ) f.

mencegah pemajanan pada individu terinfeksi) c. Evaluasi/pantau secara teratur perubahan orientasi. Rujuk pada ahli fisioterapi. ( infeksi sekunder seperti miokarditis/perikarditis dapat berkembang dan memerlukan intervensi lanjut ) d.benda tajam/tumpul dan kesadaran terhadap gerakan dan alat tubuh. maupun staf. pengunjung. tidak ada bukti penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain. 4. pertahankan tehnik aseptik dan tehnik mencuci tangan yang tepat baik pasien. kolaborasi d. Intervensi a. c. Teliti adanya keluhan nyeri dada. panas/dingin. statis cairan.Tujuan : mengembalikan dan mempertahankan fungsi persepsi sensori. terapi wicara. dan proses pikir. Pantau dan batasi pengunjung/staf sesuai kebutuhan. Kaji kesadaran sensorik seperti respon sentuhan.alam perasaan. b.d diseminata hematogen dari patogen. Mengotrol penyebaran sumber infeksi. kemampuan berbicara. berikan tindakan isolasi sebagai tindakan pencegahan ( isolasi diperlukan sampai organismenya diketahui/dosis antibiotik yang cocok telah diberikan untuk menurunkan risiko penyebaran pada orang lain ) b. Kriteria hasil : tingkat kesadaran normal. Intervensi : a. (menurunkan resiko pasien terkena infeksi sekunder. dan terapi kognitif. berkembangnya nadi yang tidak teratur atau demam yang terus menerus. . Kolaborasi a) berikan terapi antibiotik sesuai indikasi (obat yang dipilih tergantung pada tipe infeksi dan sensitivitas individu. Risti terhadap penyebaran infeksi b.sensorik. fungsi persepsi membaik. Gunakan kalimat yang pendek dan sederhana. terapi okupasi. Tujuan : Penyebaran infeks tidak terjadi Kriteria hasil : mencapai masa penyembuhan tepat waktu. Bicara dengan suara yang lembut dan pelan.

pantau intake dan output. Kolaborasi a) tinggikan kepala tempat tidur sekitar 15-45 derajat sesuai toleransi dan indikasi. Jaga kepala tetap pada posisi netral. Kriteria hasil : Tanda-tanda vital dalam batas normal. turgor kulit dan keadaan membran mukosa. pantau pernapasan. Kesadaran meningkat. asetaminofen Deksametason : dapat menurunkan permeabilitas kapiler untuk membatasi pembentukan edema serebral. terutama jika kesadaran menurun. Rasa sakit kepala berkurang. Meningkatnya kesadaran pasien dan fungsi sensoris. deksametason. adanya peningkatan kognitif dan tidak ada atau hilangnya tanda-tanda tekanan intrakranial yang meningkat. pantau status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan keadaan normalnya. (peningkatan aliran vena dari kepala akan menurunkan TIK. (hipertermi menigkatkan kehilangan air tak kasat mata dan menigkatkan resiko dehidrasi. d.keadaan status neurologis sebelum sakit. seperti GCS ( pengkajian kecenderungan adanya perubahan tingkat kesadaran dan potensial penigkatan tekanan intrakranial adalah sangat berguna dalam menentukan lokasi. ( mungkin memerlukan drainase dari adanya abses otak atau penglepasan pirau ventrikel” mencegah ruptur/mengontrol penyebaran infeksi ) 5. klorpomasin. ( tipe dari pola pernapasan merupakan tanda yang berat dari adanya peningkatan TIK/daerah serebral yang terkena dan mungkin merupakan indikasi perlunya untuk melakukan intubasi disertai pemasangan ventilator mekanik.d edema serebral Tujuan : Pasien kembali pada. Risti perubahan perfusi jaringan serebral b.dan perkembangan dari kerusakan cerebral ) b.) b) berikan obat sesuai indikasi seperti . catat pola dan irama pernapasan. Catat karakteristik urine.b) siapkan untuk intervensi pembedahan sesuai indikasi. . Intervensi : a. c.

) b. . prognosis dan perawatan abses otak Kriteria Hasil : Klien terlihat tenang.mengingat. prognosis dan perawatan abses otak b. Klien mengerti tentang kondisinya Intervensi : a. untuk menurunnya perhatian dapat kemampuan menerima.d kurangnya informs Tujuan : Klien mengetahui tentang kondisi abses otak. Beri kesempatan pada klien dan keluarga untuk bertanyaa mengenai hal-hal yang tidak diketahuinya. Asetaminofen : menurunkan metabolism seluler/menurunkan konsumsi oksigen dan resiko kejang.Klorpomasin : obat pilihan dalam mengatasi kelainan postut tubuh atau mengigil yang dapat meningkatkan TIK. 6. Kurang pengetahuan tentang kondisi abses otak. Berikan ( informasi rentang dalam bentuk-bentuk pasien dan segmen menurunkan yang sederhana.menyimpan informasi yang diberikan.

kejang. defisit neurologis fokal. b. 2. oleh karena itu perlu adanya penanganan yang serius terhadap kasus ini. paralisis. Infeksi yang terjadi diakibatkan oleh jamur. Tujuan Tujuan disusunnya asuhan keperawatan ini adalah: 1. Permasalahan Permasalahan yang timbul sehingga disusunnya asuhan keperawatan ini adalah bagaimana seharusnya tindakan asuhan keperawatan pada sistem persarafan dengan kasus abses otak? I. 2. Kasus ini bisa terjadi pada anak dan dewasa. parasit dan komplikasi lain. Tujuan Umum Untuk memenuhi kegiatan belajar mengajar dari mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II (KMB II). 1.ASUHAN KEPERAWATAN ABSES OTAK BAB I PENDAHULUAN I. Manfaat dari penyusunan asuhan keperawatan ini. 4. b. Manfaat 1. 3. bakteri. 2. Tujuan Khusus a. Pengertian . Memperoleh gambaran mengenai abses otak. yaitu: Kegunaan Ilmiah Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa Sebagai salah satu tugas akademik Kegunaan Praktis Bermanfaat bagi tenaga perawat dalam penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan abses otak BAB II KONSEP MEDIS II. Pada pasien yang mengalami abses otak akan rentan terhadap komplikasi-komplikasi yang sangat berbahaya bagi penderitanya. misalnya otitis media dan mastoiditis. Latar Belakang Abses otak (AO) adalah suatu reaksi piogenik yang terlokalisir pada jaringan otak. Dapat memahami tentang konsep asuhan keperawatan pasien dengan abses otak. I. 1. I. misalnya: gangguan mental. hidrosephalus serta herniasi. a.

Streptococcus anaerob. Penyebaran infeksi kronik pada telinga. E. II. organ pelvis. Implantasi langsung akibat trauma. Bila infeksi berasal dari sinus paranasalis penyebabnya adalah Streptococcus aerob dan anaerob. coli dan Baeteroides. Komplikasi dari infeksi lain Komplikasi dari infeksi telinga (otitis media. empisema). Bakteri Bakteri yang tersering adalah Staphylococcus aureus. 2. mastoiditis )hampir setengah dari jumlah penyebab abses otak serta Komplikasi infeksi lainnya seperti: paru-paru (bronkiektaksis. tindakan operasi. 3. yaitu: 1. mastoid. hiperemia infiltrasi leukosit atau melunaknya parenkim. 3. Jamur Jamur penyebab AO antara lain Nocardia asteroides. Penyebaran bakteri dari fokus primer pada paru-paru seperti abses paru. Etiologi Penyebab dari abses otak ini antara lain. Streptococcus alpha hemolyticus. Trombisis sepsis dan edema. suatu parasit amuba usus dapat menimbulkan AO secara hematogen. tetapi paling sering pada pertemuan substansia alba . Abses yang terjadi oleh penyebaran hematogen dapat pada setiap bagian otak. 4. Streptococcus beta hemolyticus. atau secara langsung seperti trauma kepala dan operasi kraniotomi. Staphylococcus dan Haemophilus influenzae. bila terjadi ruptur maka infeksi akan meluas keseluruh otak dan bisa timbul meningitis. pada daerah cerebrum 75% dan cerebellum 25%. jantung (endokarditis). Entamuba histolitica. empyema. AO dapat terjadi akibat penyebaran perkontinuitatum dari fokus infeksi di sekitar otak maupun secara hematogen dari tempat yang jauh. gigi dan kulit. Fase awal abses otak ditandai dengan edema lokal. II. Parasit Walaupun jarang. 2. abses paru. Abses pada penderita jantung bawaan sianotik umumnya oleh Streptococcus anaerob. Timbunan abses pada daerah otak mempunyai daerah spesifik. Abses oleh Staphylococcus biasanya berkembang dari perjalanan otitis media atau fraktur kranii. Beberapa hari atau minggu dari fase awal terjadi proses liquefaction atau dinding kista berisi pus. Abses oleh Streptococcus dan Pneumococcus sering merupakan komplikasi infeksi paru. pungsi lumbal. bronchiactasis. Kemudian terjadi ruptur. terutama disebabkan oleh penyebaran infeksi dari fokus yang berdekatan oleh penyebaran infeksi dari fokus yang berdekatan atau melaui sistem vaskular. 3. Patofisiologi Mikroorganisme penyebab abses masuk ke otak dengan cara: 1. dimana bakteri dapat masuk ke otak dengan melalui tulang atau pembuluh darah. Cladosporium trichoides dan spesies Candida dan Aspergillus. Komplikasi dari meningitis purulenta.Abses otak (AO) adalah suatu proses infeksi yang melibatkan parenkim otak. 2. pada endokarditis dan perikarditis. sinus.

Mula-mula abses tidak berbatas tegas tetapi lama kelamaan dengan fibrosis yang progresif terbentuk kapsul dengan dinding yang konsentris. mastoiditis terutama menyebabkan AO lobus temporalis dan serebelum. Infeksi jaringan fasial. Karena adanya shunt kanan ke kin maka bakteremi yang biasanya dibersihkan oleh paru-paru sekarang masuk langsung ke dalam sirkulasi sistemik yang kemudian ke daerah infark. Hemiparesis /paralisis 5. 2. Kulit kepala lunak/lembut Sinus paranasal 2. fibroblas dan makrofag mengelilingi jaringan yang nekrotik. Astroglia. 4. selulitis orbita. Pada tahap awal AO terjadi reaksi radang yang difus pada jaringan otak dengan infiltrasi lekosit disertai udem. Polisitemia ini memudahkan terjadinya trombo-emboli. dapat menimbulkan meningitis. adanya tandatanda peningkatan tekanan intrakranial.1. Biasanya terjadi pada umur lebih dari 2 tahun. apatis. Tanda dan gejala lain tergantung dari lokasi abses. hanya sepertiga AO adalah multipel. AO bersifat soliter atau multipel. adanya shunt kanan ke kiri akan menyebabkan darah sistemik selalu tidak jenuh sehingga sekunder terjadi polisitemia. sedang abses lobus parietalis biasanya terjadi secara hematogen. kejang. IM menurun kesadaran mungkin dpat terjadi. defisit motorik. tempat ini menjadi rentan terhadap bakteremi atau radang ringan. Kontralateral . Nyeri kepala yang terlokalisir di frontal 3. Umumnya lokasi abses pada tempat yang sebelumnya telah mengalami infark akibat trombosis. Dua pertiga AO adalah soliter. sinusitis etmoidalis. kaku kuduk. 3. sedangkan yang perkontinuitatum biasanya berlokasi pada daerah dekat permukaan otak pada lobus tertentu. kadang-kadang disertai bintik perdarahan. disorientasi 4. II. Lokasi Tanda dan Gejala Sumber Infeksi Lobus frontalis1. dan grisea. Manifestasi Klinik Tanda dan gejala awal dan umum dari abses otak adalah nyeri kepala. Letargi. Tebal kapsul antara beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter. 4. amputasi meningoensefalokel nasal dan abses apikal dental dapat menyebabkan AO yang berlokasi pada lobus frontalis. Beberapa ahli membagi perubahan patologi AO dalam 4 stadium yaitu : stadium serebritis dini stadium serebritis lanjut stadium pembentukan kapsul dini stadium pembentukan kapsul lanjut. Abses dalam kapsul substansia alba dapat makin membesar dan meluas ke arah ventrikel sehingga bila terjadi ruptur. Setelah beberapa hari sampai beberapa minggu terjadi nekrosis dan pencairan pada pusat lesi sehingga membentuk suatu rongga abses. Otitis media. perlunakan dan kongesti jaringan otak. Yang multipel biasanya ditemukan pada penyakit jantung bawaan sianotik.

Infeksi pada telinga tengah II. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diganostik yang dapat dilakukan pada pasien dengan kasus abses otak. 1. Penatalaksaan Umum a. 7. 2. II. Paralisis. Pengobatan a. 4. 2. 3. protein meningkat (kontraindikasi pada kemungkinan terjadi herniasi karena peningkatan TIK). 2. 6. Lumbal Pungsi: meningkatnya sel darah putih. Glococorticosteroid: Dexamethasone c. VI. Pembedahan 3. II. 3. MRI: sama halnya dengan CT scan yaitu adanya lokasi abses dan ventrikel terjadi perubahan ukuran. 5. Defisit neurologis fokal . Biopsi otak: mengetahui jenis kuman patogen. 7. 1. glukosa normal. sinus. yaitu: 1. Chlorampenicol. Gangguan mental 2. yaitu: 1. b. Matronidazole. 4. 6. Support nutrisi: tinggi kalori dan tinggi protein. 3. IV. fisioterapi 2. Nafcillin. 5. V. Demam tinggi Kejang Dispagia Gangguan lapang pandang Distonia Paralisis saraf III dan IV Paralisis fasial kontralateral Ataxia ipsilateral Nystagmus Dystonia Kaku kuduk positif Nyeri kepala pada suboccipital Disfungsi saraf III. 5. 4. 5. Terapi peningktan TIK c.Lobus temporal cerebellum 6. Anticonvulsants: Oilantin. Komplikasi Kemungkinan komplikasi yang akan terjadi pada pasien dengan abses otak adalah: 1. Support fungsi tanda vital d. paru-paru: terdapat proses suppurative. CT scan: adanya lokasi abses dan ventrikel terjadi perubahan ukuran. Penatalaksanaan Penetalaksaan medis yang dilakukan pada abses otak. Kejang 4. b. mastoid. Antibiotik: Penicillin G. X-ray tengkorak. 3.

Jenis kelamin c. usia. 1. Riwayat penyakit sekarang: demam. Nystagmus d. Identitas klien dan psikososial a.abses paru. Penampilan sebelum sakit j. Mekanisme koping k. Peningkatan sushu tubuh g. Pemeriksaan fisik a. 3. Tingkat kesadaran b. Paralisis/kelemahan otot h. Agama g. mastoiditis) atau infeksi paru-paru (bronkiektaksis. peninggikatan tekanan intrakranial serta gejala nerologik fokal . Pola fungsi kesehatan a. Pendidikan d. Tempat tinggal yang kumuh 2. Nyeri kepala c.5. Pengkajian 1. Aktivitas/istirahat Gejala: malaise . gigi dan kulit. Kejang j. Herniasi BAB III KONSEP KEPERAWATAN III. Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial k. Alamat e. b. Gangguan pendengaran dan penglihatan f. Hidrosephalus 6. Reran keluarga i. Tanda brudzinski’s dan kernig’s positif 6. Perubahan pola napas i. organ pelvis. Ptosis e. Pekerjaan f.empiema). Suku bangsa h. jantung (endokarditis). 5. Kaku kuduk l. anoreksi dan malaise. 4. Keluhan utama: nyeri kepala disertai dengan penurunan kesadaran. Riwayat penyakit dahulu: pernah atau tidak menderita infeksi telinga (otitis media.

mata. Klien mengatakan bahwa pandangannya kabur Data Objektif (DO): a. Kelemahan secara umum. Keamanan Gejala: adanya riwayat ISPA/infeksi lain meliputi . b.abdomen atau kulit. Diagnosa Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan abses otak.parestesia. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan proses peradangan. 2. Nyeri /kenyamanan Gejala: Sakit kepala mungkin akan diperburuk oleh ketegangan pada leher/punggung kaku. i. g. Nyeri kepala .kehilangan memori. pupil unisokor (peningkatan TIK). Klien mengatakan merasa lemah d.kelumpuhan. Higiene Tanda: ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri(pada periode akut) f. seperti endokarditis Tanda: TD meningkat. diaforesis.disfagia (pada periode akut). Perubahan tanda vital c. mastoiditis. Perubahan pola napas. pembedahan.afasia.nadi menurun (berhubungan peningkatan TIK dan pengaruh pada vasomotor). Eliminasi Tanda: adanya inkontensia dan/atau retensi d. yaitu: 1. infeksi pelvis. Menangis/mengeluh. sinus. Tanda: tampak terus terjaga. fraktur pada tengkorak/cedera kepala. gangguan penglihatan Tanda: penurunan status mental dan kesadaran.masalah berjalan. Nutrisi Gejala: kehilangan nafsu makan. Neurosensori Gejala: sakit kepala. Klien mengatakan nyeri kepala b. Tanda: anoreksia.Tanda: ataksia. sulit dalam mengambil keputusan. bradikardia d.timbul kejang.gerakan involunter. Perubahan mental (letargi sampai koma) dan gelisah.membran mukosa kering. Sirkulasi Gejala: adanya riwayat kardiopatologi. III.muntah.turgor kulit jelek. peningkatan tekanan intra kranial (TIK) Ditandai dengan : Data Subjektif (DS): a.Gangguan sensasi.abses gigi.paralisis atau parese. h. e. telinga tengah.nistagmus. c.kejang umum lokal. tonus otot flaksid atau spastik. Perubahan kesadaran b. Pernapasan Gejala: adanya riwayat infeksi sinus atau paru Tanda: peningkatan kerja pernapasan ( episode awal ). menggigil. Klien mengatakan merasa mual c. Tanda: suhu meningkat.fungsi lumbal.

Kontraktur. Muntah f. kehilangan cairan. Ditandai dengan: Data Subjektif (DS): Pasien mengatakan lemah. atropi. b. Perubahan nilai elektrolit 6. abses 2. hemiplegia. Refleks patologis i. Penurunan kesadaran b. Ditandai dengan: Data Subjektif (DS): Pasien mengatakan demam dan rasa haus. Kerusakan pada Nervus kranial III.e. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Paralisis. Urine pekat e. kelemahan. muntah Data Objektif (DO): a. Resiko injuri: jatuh berhubungan dengan aktivitas kejang. Suhu tubuh diatas 38o C. Kelemahan motorik g. penurunan kesadaran dan status mental. Hipertermia berhubungan dengan infeksi Ditandai dengan: Data Subjektif (DS): Pasien mengatakan demam dan rasa haus. Peningkatan leukosit 5. Data Objektif (DO): a. . Data Objektif (DO): a. IV. Perubahan nilai ACD j. VII. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan umum. Ditandai dengan: Data Subjektif (DS): Kelurga klien mengatakan bahwa klien mengalami penurunan kesadaran. VIII h. Perubahan status mental 3. intake yang tidak adekuat. defisit neurologik. Turgor kulit kurang c. 4. Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan intake tidak adekuat. Mukosa mulut kering d. mual dan muntah. Data Objektif (DO): a. Aktivitas kejang c. b. parese. VI. Hasil pemeriksaan CT scan adanya edema serebri. Kekuatan otot kurang c. tremor b. Perubahan tanda vital c. Kulit kering d. Suhu tubuh di atas 38oC.

Ditandai dengan: Data Subjektif (DS): Pasien menguluh nyeri kepala. kemampuan motorik. refleks. Tekanan darah kurang dari normal. R/ : Tanda dari iritasi meningeal terjadi akibat peradangan dan mengakibatkan peningkatan TIK. oksigen. Kolaborasi dalam pemberian diuretik osmotik. e. c. kaku kuduk. R/ : mengurangi peningkatan TIK. Mempertahankan tingkat kesadaran dan orientasi b. cepat lelah. R/ : perubahan tekanan nadi dan bradikardia indikasi herniasi otak dan peningkatan TIK. 3. Monitor tanda vital dan temperatur setiap 2 jam. . Pasien tidak menghabiskan makanan yang telah disediakan b. yaitu: 1. Tinggikan posisi kepala 30-40o pertahankan kepala pada posisi neutral. b. Adanya tanda-tanda kekurangan nutrisi: anemis. 7. iritasi meningeal. steroid. Data Objektif (DO): a. mual dan muntah. Hb dan Albumin kurang dari normal f. memenuhi kebutuhan oksigenasi. Tidak terjadi defisit neurologi Intervensi: a. Tanda vital dalam batas normal c. R/ : Menhindari peningktan TIK. Ekspresi wajah menunjukkan rasa nyeri b. muntah. R/ : Memfasilitasi kelancaran aliran darah vena. f.Ditandai dengan: Data Subjektif (DS): Pasien mengatakan tidak nafsu makan. Berikan waktu istirahat yang cukup dan kurangi stimulus lingkungan. Penurunan BB d. antibiotik. peningkatan tekanan intra kranial (TIK) Kriteria hasil: a. hindari fleksi leher. kaku pada leher dan merasa tidak nyaman. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan proses peradangan. Data Objektif (DO): a. Diet makan c. Monitor status neurologi setiap 2 jam: tingkat kesadaran. mengedan. d. R/ : Mengurangi edema serebral. Nyeri berhubungan dengan nyeri kepala. Intervensi Intervensi yang direncanakan pada klien dengan abses otak. pupil. nyri kepala. e. Kurangi aktivitas yang dapat menimbulkan peningkatan TIK: batuk. menahan napas. Kaku kuduk positif III. kaku kuduk. menghilangkan faktor penyebab.

oksigen. d. kesiapan suction. 5o C. konstipasi. b. R/ : Menghindari kerusakan kulit. Suhu tubuh normal 36. Tidak terjadi atropi. R/ : Melancarkan aliran darah dan mencegah dekubitus. elektrolit dalam batas normal. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan umum. R/ : Merencanakan intervensi lebih lanjut dan mengurangi kejang. c. Turgor kulit baik. R/ : Mengurangi resiko injuri dan mencegah obstruksi pernapasan. R/ : Setelah kejang kemungkinan pasien disorientasi. Tidak terjadi kontraktur. R/ : Menghindari kontraktur dan atropi. Kriteria hasil: a. Intervensi: a. Konsul pada ahli fisioterapi jika diperlukan. penurunan kesadaran dan status mental. e.5 – 37. R/ : Mengetahui respon post kejang. R/ : Perencanaan yang penting lebih lanjut. Lakukan ROM pasive. R/ : Hemiparese mungkin dapat terjadi. b. Mempertahankan tingkat kesadaran dan orientasi b. c. Kaji status neurologik dan tanda vital setelah kejang. Monitor tromboemboli. d.2. R/ : Komplikasi immobilitas. c. R/ : Menentukan keadaan pasien dan resiko kejang. Alih posisi pasien setiap 2 jam. Tanda vital normal. c. R/ : Mengurangi resiko kejang / menghentikan kejang. d. Pertahankan keamanan pasien seperti penggunaan penghalangtempat tidur. Pasien dapat mempertahankan mobilisasinya secara optimal. Kolaborasi dalal pemberian obat anti kejang. f. Orientasikan pasien ke lingkungan. Resiko injuri: jatuh berhubungan dengan aktivitas kejang. Integritas kulit utuh. b. Injuri tidak terjadi Intervensi: a. e. b. 4. spatel. 3. . d. Kaji kemampuan mobilisasi. Kriteria hasil: a. Kaji status neurologi setiap 2 jam. Lakukan masage bagian tubuh yang tertekan. Hipertermia berhubungan dengan infeksi Kriteria Hasil: a. Catat aktivitas kejang dan tinggal bersama pasien selama kejang. defisit neurologik. f. Pengeluaran urine tidak pekat. Kejang tidak terjadi c.

R/ : Tubuh dapat kehilngan cairan melalui kulit dan penguapan. Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan intake tidak adekuat. 5o C. mual dan muntah. Intervensi: a. d. Kriteria hasil: a. Pertahankan temperatur tubuh dalam batas normal. R/ : Mengetahui keseimbangan cairan. R/ : Mengetahui suhu tubuh. Berikan minum yang cukup 2000 cc/hari.Intervensi: a. Monitir hasil pemeriksaan laboratorium terutama elektrolit. d. Berikan obat anti pireksia. e. Observasi tanda-tanda dehidrasi. Monitor tanda-tanda kejang. pernapasan dan tekanan darah. Turgor kulit baik. R/ : Mengurangi suhu tubuh. R/ : Pemenuhan kebutuhan cairan dengan IV akan mempercepat pemulihan dehidrasi. R/ : Mengurangi distensi gaster. h. intake yang tidak adekuat. kelemahan. Catat intake dan output cairan.5 – 37. Monitor suhu setiap 2 jam. R/ : Mengetahui perbaikan atau ketidak seimbangan cairan dan elektrolit. Kriteria Hasil : a. R/ : Mengurangi suhu tubuh melalui proses konduksi. 6. R/ : Suhu tubuh yang panas berisiko terjadi kejang. Berikan minuman dalam porsi sedikit tetapi sering. R/ : Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit menimbulkan perubahan tanda vital seperti penurunan tekanan darah. Pengeluaran urine tidak pekat. g. Monitor tanda-tanda dehidrasi. . R/ : Mencegah dehidrasi. R/ : Efek dari peningkatan suhu adalah perubahan nadi. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. c. b. e. Ukur tanda vital setiap 4 jam. f. f. Nafsu makan pasien baik. Tanda vital normal. elektrolit dalam batas normal. b. Lakukan kompres dingin dan hangat. d. R/ : Mencegah secara dini terjadinya dehidrasi. g. 5. R/ : Peningkatan temperatur mengakibatkan pengeluaran cairan lewat kulit bertambah. kehilangan cairan. R/ : Tekanan vena sentral untuk mengetahui keseimbangan cairan. Suhu tubuh normal 36. c. b. c. dan peningkatan nadi. Pertahankan dan monitor tekanan vena setral. Monitor tanda vital. Kolaborasi dalam pemberian cairan intravena.

Kurangi minum sebelum makan. R/ : Menekan rasa mual dan muntah. Berikan obat analgetik sesuai program. R/ : Mengetahui derajat nyeri pasien. Nyeri berkurang atau tidak terjadi b. Terjadi peningkatan BB secara bertahap. e. keadaan bising. Tanda vital dalam batas normal. R/ : Posisi berbaring saat makanan dalam lambung penuh dapat mengakibatkan refluks dan tidak nyaman. Lakukan perubahan posisi. Hindari keadaan yang dapat menggangu selera makan: lingkungan kotor. . j. kaku kuduk. b. Kaji tingkat nyeri pasien. Sajikan makanan dalam keadaan hangat dan hygiene. c. R/ : Meningkatkan rasa nyaman. d. Jaga lingkungan untuk tetap nyaman: mengurangi cahaya. i. Hindari berbaring kurang 1 jam setelah makan. d. f. R/ : Meningkatkan rasa nyaman. f. R/ : Mengetahui penanganan yang efektif. 7. d. g. c. Tanda-tanda kurang nutrisi tidak ada. Pasien dapat menghabiskan makanan yang telah disediakan RS. Lakukan perawatan mulut. Ekspresi wajah tidak menunjukkan rasa nyeri c. Hb dan albumin dalam batas normal. Intervensi: a. c. f. Monitor kadar Hb dan albumin. R/ : Meningkatkan nafsu makan. Berikan makan dalam porsi kecil tapi sering. Tanda vital normal. R/ : Meningkatkan selera makan. Intervensi a.b. e. Berikan antiemetik 1 jam sebelum makan. b. kebersihan tempat makan. Kaji makanan kesukaan pasien. R/ : Minum yang banyak sebelum makan mengurangi intake makanan. Kaji faktor yang dapat meringankan dan memperberat nyeri. R/ : Meningkatkan selera makan. suara gaduh. menarik. R/ : Meningkatkan selera makan pasien. Kriteria hasil: a. Timbang BB 3 hari sekali secara periodik. iritasi meningeal. R/ : Mengetahui status nutrisi. e. h. Lakukan massage pada daerah yang nyeri secara lembut. kompres hangat. bau. R/ : Menhindari mual dan muntah. R/ : Penuruna BB berarti kebutuhan makanan kurang. Nyeri berhubungan dengan nyeri kepala. R/ : Meningkatkan relaksasi.

g. Memonitor tanda-tanda dehidrasi. Melakukan masage bagian tubuh yang tertekan. c. Melakukan kompres dingin dan hangat. Mengkaji kemampuan mobilisasi. III. kaku kuduk. 3. Memberikan waktu istirahat yang cukup dan kurangi stimulus lingkungan. Mengkonsultasikan pada ahli fisioterapi jika diperlukan. Mengurangi aktivitas yang dapat menimbulkan peningkatan TIK: batuk. e. e. Mengorientasikan pasien ke lingkungan. menahan napas. g. nyri kepala. c. c. Memonitor suhu setiap 2 jam. pupil. mengedan. steroid. Implementasi: a. Memonitor tanda vital. f. Memonitor status neurologi setiap 2 jam: tingkat kesadaran. muntah. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan umum. Mengkolaborasi dalam pemberian diuretik osmotik. oksigen. Memonitor tromboemboli.R/ : Mengurangi nyeri. b. Mempertahankan keamanan pasien seperti penggunaan penghalang tempat tidur. e. Memonitor tanda-tanda kejang. Implementasi Implementasi atau tindakan keperawatan yang dilakukan berdasarkan intervensi pada pasien abses otak. d. d. c. kemampuan motorik. Hipertermia berhubungan dengan infeksi Implementasi: a. e. b. Melakukan ROM pasive. hindari fleksi leher. spatel. Mengkaji status neurologik dan tanda vital setelah kejang. 4. Resiko injuri: jatuh berhubungan dengan aktivitas kejang. Meninggikan posisi kepala 30-40o pertahankan kepala pada posisi neutral. 2. defisit neurologik. refleks. penurunan kesadaran dan status mental. yaitu: 1. Memberikan minum yang cukup 2000 cc/hari. d. f. Mengkolaborasi dalam pemberian obat anti kejang. Memonitor tanda vital dan temperatur setiap 2 jam. Mengalih posisi pasien setiap 2 jam. . Mencatat aktivitas kejang dan tinggal bersama pasien selama kejang. Mengkaji status neurologi setiap 2 jam. b. konstipasi. oksigen. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan proses peradangan. antibiotik. Implementasi: a. Memberikan obat anti pireksia. d. peningkatan tekanan intra kranial (TIK) Implementasi: a. b. kesiapan suction. 4. f.

Mencapai perubahan tingkat kesadaran dan orientasi yang meningkat. 2. III. Menjaga lingkungan untuk tetap nyaman: mengurangi cahaya. Memberikan makan dalam porsi kecil tapi sering. Menunjukkan tidak adanya refleks patologis. Tidak terjadinya resiko yang dapat menyebabkan injuri . Menghindari keadaan yang dapat menggangu selera makan: lingkungan kotor. c. mual dan muntah. Mengkaji faktor yang dapat meringankan dan memperberat nyeri. keadaan bising. d. Menyajikan makanan dalam keadaan hangat dan hygiene. b. Melakukan perubahan posisi. e. b.5. Menunjukkan tidak terjadinya defisit neurologi f. h. f. h. Memberikan antiemetik 1 jam sebelum makan. kehilangan cairan. Melakukan massage pada daerah yang nyeri secara lembut. Memberikan minuman dalam porsi sedikit tetapi sering. Implementasi: a. kaku kuduk. Mengobservasi tanda-tanda dehidrasi. Memonitor kadar Hb dan albumin. Mencatat intake dan output cairan. Nyeri berhubungan dengan nyeri kepala. kompres hangat. Mengkaji tingkat nyeri pasien. intake yang tidak adekuat. d. Implementasi: a. Memonitir hasil pemeriksaan laboratorium terutama elektrolit. b. Memberikan obat analgetik sesuai program. j. g. i. Mengkaji makanan kesukaan pasien. Melakukan perawatan mulut. e. g. Mengurangi minum sebelum makan. yaitu: 1. a. Tanda vital dalam batas normal e. c. d. suara gaduh. f. Mempertahankan temperatur tubuh dalam batas normal. Mengkolaborasi dalam pemberian cairan intravena. Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan intake tidak adekuat. e. c. Mempertahankan dan monitor tekanan vena setral. Evaluasi Hasil evaluasi yang diharapkan setelah dilakukan implementasi dari intervensi yang direncanakan. 6. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Menurunnya kelemahan motorik d. 5. Pandangan bagus c. Mengukur tanda vital setiap 4 jam. iritasi meningeal. bau. Menhindari berbaring kurang 1 jam setelah makan. kebersihan tempat makan. Menunjukkan peningkatan kesadaran b. kelemahan. f. Menimbang BB 3 hari sekali secara periodik. Implementasi: a. menarik. 7.

f. Menunjukkan tanda-tanda nutrisi yang terpenuhi. Menunjukkan peningkatan kesadaran b. Peningkatan satus mental 3. g. Menunjukkan tanda vital yang normal b. Menetapkan program istirahat dan latihan yang seimbang. Mentaati program medikasi c. Mencapai penurunan suhu tubuh a. e. Menetapkan maantaati jadwal medikasi yang memaksimalkan kekuatan otot. 1. Klien mampu beradaptasi terhadap ganggaun mobilitas fisik yang dialami a. Tidak adanya komplikasi berhubungan dengan immobilitas yang dialami. h. Tidak terjadinya atropi d. Menunjukkan intake makanan yang baik. Menunjukkan turgor kulit yang baik 5. Mencapai kebutuhan nutrisi yang terpenuhi a. Tidak terjadi kejang c. Menunjukkan partisipasi dalam perawatan. Menunjukkan mobilisasi secara aktif dan optimal b. Menunjukkan integritas kulit yang utuh c. Menunjukkan suhu tubuh normal d. Menujukkan nafsu makan yang baik d. Kesimpulan . e. Tidak terjadinya kontraktur.a. BAB IV PENUTUP IV. Menunjukkan peningkatan berat badan. Menunjukkan pengeluaran urine yang tidak pekat c. 4. b.

Keperawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Harsono. Infeksi yang terjadi diakibatkan oleh jamur. misalnya otitis media dan mastoiditis. resiko injuri. Long. . seperti: perubahan perfusi jaringan serebral. 2. Patofisiologi Konsep Klinis dan Proses-Proses Penyakit Volume 1 Edisi 6. Buku Saku Patofisiologi. Oleh karena itu perlu adanya penanganan yang serius terhadap kasus ini. EGC: Jakarta. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Edisi I. 2009. 1996. ketidakseimbangan cairan. hidrosephalus serta herniasi. 2006. misalnya: gangguan mental.Abses otak (AO) adalah suatu reaksi piogenik yang terlokalisir pada jaringan otak. Price. defisit neurologis fokal. 1996. parasit dan komplikasi lain. Edisi Revisi. Keperawatan Medikal – Bedah gangguan Sistem Persarafan. Saran Abses otak dapat menyebabkan perubahan status kesehatan pada penderitanya serta dapat menimbulkan komplikasi yang dapat memperparah kondisi prognosis pada klien dengan kasus tersebut. paralisis. Jukarnain. Buku Ajar Neurologi Klinis. Elizabeth J. EGC: Jakarta Guyton. 1987. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit Edisi Revisi. Bandung : yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan. Kasus ini bisa terjadi pada anak dan dewasa. kejang. Kasus ini dapat menyebabkan masalah keperawatan. EGC: Jakarta. hipertermia. nutrisi kurang dari kebutuhan serta nyeri. IV. Barbara C. kerusakan mobilitas fisik. Sylvia A. 2011. bakteri. DAFTAR PUSTAKA Corwin. Pada pasien yang mengalami abses otak akan rentan terhadap komplikasi-komplikasi yang sangat berbahaya bagi penderitanya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->