P. 1
Untitled

Untitled

|Views: 9|Likes:
Published by Alim Sumarno

More info:

Published by: Alim Sumarno on Jun 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/24/2013

pdf

text

original

EVALUASI KEBUTUHAN ARMADA ANGKUTAN UMUM (STUDI AWAL PERUBAHAN ARMADA ANGKOT JENIS MIKROLET MENJADI BUS SEDANG

) DI SURABAYA
Drs. Soeparno, M.T. Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya Jl. Ketintang, Kampus Ketintang, Surabaya 60231 Tlp : 081330430111 E-mail: soeparnotopuro@yahoo.com

ABSTRAK Tulisan ini membahas analisis dan evaluasi kebutuhan angkutan umum kendaraan dan minibus dengan: load factor; waktu sirkulasi; waktu henti; waktu antara kendaraan; jumlah kendaraan per waktu sirkulasi; kebutuhan jumlah armada pada perioode sibuk (k’); dengan mengacu Pedoman Teknis penyelenggaraan Angkutan penumpang Umum di wilayah Perkotan dalam Trayek tetap dan teratur tahun 2002. Tulisan bertujuan untuk mendukung Dinas Perhubungan kota Surabaya yang merencanakan perubahan kendaraan angkutan kota yang semula berkapasitas 12 penumpang menjadi 18 penumpang (minibus). Data diperoleh dengan pengamatan langsung di lapangan. Pencatatan jumlah penumpang, lama perjalanan, waktu antara kendaraan pertama dengan berikutnya, dan kapasitas angkut penumpang. Populasi penelitian adalah moda angkutan kota di Surabaya, yang terdiri atas 270 bus dari 20 trayek, 5016 angkutan kota dari 58 trayek, dan angkutan masal komuter. Untuk mengatasi hal tersebut Hasil studi menyatakan bahwa panjang trayek angkutan kota lyne X sudah ideal dengan panjang trayek maksimum 21 km, waktu tempuh antara 60 menit sampai 90 menit; headway di terminal Joyoboyo saat datang 4 menit. Headway di sub terminal Tambak Sawah termasuk ideal, waktu datang dan berangkat 5 menit dan 6 menit setiap peak maupun off peaknya. Sedangkan frekuensi lyn X di terminal Joyoboyo cukup baik sesuai Surat Keputusan Dirjen No. 687/2002. Kendaraan lyn X yang dibutuhkan berjumlah 49 unit kendaraan, dan jumlah kendaraan sekarang 72 unit. Kata Kunci: Trayek, lalu lintas, jumlah armada, peak hour, off peak, load factor ABSTRACK This paper discusses about the analysis and evaluation of public transport in Surabaya. The factors were: load, circulation time; time between public vehicles, period of public vehicles; number of public vehicle at peak time, according to Technical Guidelines for Public Transport passenger on the urban areas and regularly Route 2002. This paper supported Department of Transportation of Surabaya to change the capacity of urban transport vehicles of 12 passengers to be 18 passengers (minibus). The data were number of passengers, travel time, time between first vehicle to the next, and the passenger capacity. The population was a number of mode transportation in the city

of Surabaya, which consists of 270 buses on route of 20, 5016 public vehicles of 58 destinatons. The result showed that the urban transportation of lyne X was ideal, and maximum distance of 21 km, travel time between 60 minutes to 90 minutes; headway in the terminal when it comes to terminal of Joyoboyo was 4 minutes. The headway in sub terminal Tambak Sawah was ideal. arrival time and departure was 5 minutes and 6 minutes at peak and off peak. While the frequency of public vehicle of X in the terminal of Joyoboyo was good as the decree of Directorate General of Transportation Ministry No. DG. 687/2002. Keywords: route, traffic, fleet size, peak hour, off-peak, load factor

Pendahuluan Tingginya pertumbuhan ekonomi suatu kota akan memberikan dampak yang besar pada perkembangan kota tersebut, terutama dampak sistem pada jaringan transportasi. Secara tidak langsung transportasi mencerminkan kondisi sosial suatu masyarakat kota tersebut. Apa lagi dengan kondisi Kota Surabaya sebagai kota Metropolitan terbesar kedua di Indonesia yang memiliki banyak sekali aktifitas pergerakan yang dapat menimbulkan bangkitan tarikan perjalanan. Jumlah pertumbuhan penduduk di Kota Surabaya pada tahun 2012 mencapai 3 juta jiwa (Wikepedia, 2010), sedangkan untuk jumlah angkutan umum yang berada di kota Surabaya pada tahun 2010 mencapai 8437 unit (Surabaya Post Online, 2010). Dengan kondisi angkutan umum yang sekarang ini dapat di bilang kurang dapat memberikan pelayanan baik sesuai dengan tujuan dan fungsi angkutan umum. Sehingga sangat mustahil apabila penduduk di kota Surabaya dalam aktifitas sehari–harinya mau menggunakan angkutan umum Sehingga masyarakat Kota Surabaya dalam menjalankan aktifitasnya memilih menggunakan kendaraan pribadi yang dirasa lebih nyaman, aman, murah dan dapat digunakan sesuka hati pemiliknya. Untuk mengatasi masalah tersebut Dinas Perhubungan Kota Surabaya telah merencanakan mengenai perubahan jumlah kapasitas kendaraan angkot/bemo yang semula dapat menampung 12 penumpang, maka rencana kedepannya akan dapat menampung 18 orang yang berupa kendaraan bermotor sejeni mobil minibus (Jawapos, 2012). Jadi pada kebijakan tersebut diperlukannya studi kebutuhan armada yang tepat berdasarkan supply dan demand yang ada. Kemudian studi ini memiliki tujuan untuk mengevaluasi kebutuhan armada berdasarkan kapasitas kendaraan eksisting dengan kapasitas rencana menurut pihak regulator.

1. Tinjauan Pustaka 1.1 Peranan angkutan umum Dalam perencanaan wilayah ataupun perencanaan kota, masalah transportasi

di perkotaan tidak dapat diabaikan, karena memiliki peranana penting yaitu : a. Melayani mobilitas mayarakat. Peranan utama angkutan umum adalah melayani kepentingan mobilitas masyarakat dalam melakukan kegiatannya, baik kegiatan sehari – hari yang berjarak pendek atau menengah. b. Pengendalian lalu lintas Dalam rangka pengendalian lalu lintas, peranan layanan angkutan umum yang memiliki lintasan tetap dan mampu menampung banyak orang. Maka efisiensi penggunaan jalan menjadai lebih tinggi karena pada saat yang sama luasan jalan yang sama dimanfaatkan oleh lebih banyak orang. c. Penghematan energi Pengelolaan angkutan umum ini pun berkaitan dengan penghematan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dapat menghemat pengeluaran konsumsi bahan bakar minyak. d. Pengembangan wilayah Berkaitan dengan pengembangan wilayah, angkutan umum juga berperan dalam menunjang interaksi sosial budaya masyarakat. Agar terciptanya pemerataan pembangunan antar daerah. 1.2 Jenis pelayanan angkutan umum Berdasarkan keputusan Pemerintah nomer 41 tahun 1993, bahwa dalam pengangkutan orang dengan mengunakan kendaraan angkutan umum dibagi menjadi dua jenis yaitu : a. Trayek tetap dan teratur Adalah pelayanan angkutan yang dilakukan dalam jaringan trayek secara teratur dengan jadwal tetap atau tidak terjadwal untuk pelayanan angkutan orang dengan kendaraan angkutan umum

dalam trayek dan tertentu yang dilakukan pada jaringan trayek. Jenis angkutan umum seperti trayek AKAP, AKDP dan dalam kota. b. Tidak dalam trayek Adalah jenis pelayanan angkutan umum dalam proses pengakutan orang dengan angkutan umum yang tidak memiliki trayek tetap dan teratur. Sedangkan jenis angkutan ini seperti taksi, travel dan keperluan wisata. Dalam penentuan klasifikasi trayek angkutan umum beserta kapasitas penumpang dapat diketahui (Departemen Perhubungan RI, 2002) : c. Trayek utama Memiliki jenis pelayanan cepat dan lambat dengan menggunakan jenis angkutan bus besar lantai ganda (kapasitas penumpang perhari per kendaraan 1500–1800), bus besar lantai tunggal (kapasitas penumpang perhari per kendaraan 1000–1200), bus sedang (kapasitas penumpang perhari per kendaraan 500–600). Sedangkan untuk jenis angkutan umum berdasarkan dengan ukuran kota raya menggunakan kereta api dan bus besar, ukuran kota besar menggunakan bus besar, ukuran kota sedang menggunakan bus besar atau bus sedang dan ukuran kota kecil menggunakan bus sedang. d. Trayek cabang Memiliki jenis pelayanan cepat dan lambat yang menggunakan jenis angkutan bus besar (kapasitas penumpang perhari per kendaraan 1000 – 1200), bus sedang (kapasitas penumpang perhari per kendaraan 500– 600), dan bus kecil (kapasitas penumpang perhari per kendaraan 300–400). Sedangkan untuk

jenis angkutan umum berdasarkan dengan ukuran kota raya menggunakan bus besar atau bus sedang, ukuran kota besar menggunakan bus sedang, ukuran kota sedang menggunakan bus sedang atau bus kecil dan ukuran kota kecil menggunakan bus kecil. e. Trayek ranting Memiliki jenis pelayanan lambat yang menggunakan jenis angkutan bus sedang (kapasitas penumpang perhari per kendaraan 500–600), bus kecil (kapasitas penumpang perhari per kendaraan 300400) dan MPU (kapasitas penumpang perhari per kendaraan 250–300). Sedangkan untuk jenis angkutan umum berdasarkan dengan ukuran kota raya menggunakan bus sedang atau bus kecil, ukuran kota besar menggunakan bus kecil, ukuran kota sedang menggunakan MPU dan ukuran kota kecil menggunakan MPU. f. Trayek langsung Memiliki jenis pelayanan cepat dan lambat yang menggunakan jenis angkutan bus besar (kapasitas penumpang perhari per kendaraan 1000 – 1200), bus sedang (kapasitas penumpang perhari per kendaraan 500 – 600), dan bus kecil (kapasitas penumpang perhari per kendaraan 300 – 400). Sedangkan untuk jenis angkutan umum berdasarkan dengan ukuran kota raya menggunakan bus besar, ukuran kota besar menggunakan bus besar, ukuran kota sedang menggunakan bus sedang dan ukuran kota kecil menggunakan bus sedang. Berdasarkan pada tipe jaringan jalan yang dilewati angkutan umum dapat

dikatagorikan sebagai berikut (Santoso, Idwan, 1996) yaitu: a. Trunk route Rute jenis ini memiliki beban pelayanan paling tinggi baik saat peak hour maupun off peak. Melayani pada koridor utama yang melewati jalan arteri. b. Principal route Pada rute ini memiliki jenis pelayanan hampir sama tetapi yang membedakan hanya beroperasi hingga jam 8 malam atau jam 10 malam. Melewati jalan arteri tetapi dengan tingkat pembebanan lebih rendah dari trunk route. c. Secondary route Rute dengan jenis ini merupakan rute yang dioperasikan angkutan umum kurang dari lima belas jam per harinya. Melayani koridor dengan kawasan pemukiman ke daerah sub pusat kota. d. Branch route Rute dengan jenis ini merupakan rute yang menghubungkan trunk route ataupun principal route dengan daerah – daerah pusat aktifitas lainnya. e. Local route Merupakan rute yang melayani daerah tertentu yang luasnya relatif kecil untuk dihubungkan dengan rute lainnya dengan klasifikasi yang lebih tinggi. Biasanya melewati pada jalan – jalan kota yang mempunyai kelas jalan kolektor maupun kelas jalan lokal. f. Feeder route Merupakan rute yang digunakan sebagai pengumpan baik pada trunk route, principal route maupun secondary route. Kemudian pada jenis rute ini disediakan prasarana khusus yang akan digunakan sebagai titik transfer dengan aman dan nyaman.

g. Double route Rute ini hampir sama dengan feeder route, tetapi yang membedakannya adalah dapat melayani dua trunk route sekaligus dan juga melayani daerah pemukiman diantara kedua ujung trunk route. 2.3. Penentuan jumlah armada Dalam penentuan jumlah armada angkutan umum menurut Kementrian Perhubungan tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum di Wilayah Perkotaan Dalam Trayek Tetap dan Teratur tahun 2002. Dasar Perhitungannya adalah : a. Kapasitas kendaraan Ada hubungan dengan load faktor di dalam kendaraan dengan rumus sebagai berikut ini : (Lf)= ( ) ...(1)

Mulai dari asal ke tujuan (TTA atau TTB) ditetapkan sebesar 10 % dari waktu perjalanaan antar A dan B. d. Headway Waktu antara kendaraan ditetapkan berdasarkan rumus sebagai berikut: H= Keterangan: H = headway c = kapasitas kendaraan p = jumlah penumpang per jam pada sesi terpadat lf = Faktor muat, diambil 70% (kondisi dinamis) e. Jumlah armada per waktu sirkulasi dapat diketahui dengan rumus: K= . ...........(3)

b. Waktu sirkulasi Perlunya pengaturan kecepatan kendaraan rata-rata 20 km per jam dengan deviasi waktu sebesar 5 % dari waktu perjalanaan. Waktu sirkulasi dihitung dengan rumus: CTABA = (TAB + TBA) + ( AB2 +  BA2) + (TTA + TTB) ........(2) keterangan : CTABA = Waktu sirkulasi dari titik A ke titik B kembali ke A TAB = Waktu perjalanaan dari A ke B TBA = Waktu perjalanaan dari B ke A σ AB = Deviasi waktu perjalanaan dari A ke B σ BA = Deviasi waktu perjalanaan dari B ke A TTA = Waktu henti kendaraan di A TTB = Waktu henti kendaraan di B c. Waktu henti kendaraan

keterangan: K = Jumlah kendaraan CT = Waktu Sirkulasi (menit) H = headway (menit) fA = faktor ketersediaan (100%) f. Kebutuhan jumlah armada periode jam sibuk (K’)

saat

K’= K x

..........(4)

keterangan: K = jumlah kendaraan W = periode jam sibuk CTABA = waktu sirkulasi 2.4. Standard pelayanan angkutan umum Dalam menganalisa kinerja angkutan umum dapat menggunakan pedoman standard pelayanaan angkutan umum (Abu Bakar dkk, 1997): Tabel 1. Standard Pelayanan Angkutan Umum.

Sumber: Abu Bakar dkk, 1997. 3. Metodologi 3.1 Lokasi Studi Lokasi Studi yang akan dilaksanakan di terminal atau tempat pemberhentian awal dan akhir pada: 1). lyn “X”. yaitu rute terminal Joyoboyo- Tambak Sawah Sidoarjo 2). Lyn “D” JoyoboyoSidorame 3). Lyn “G” Joyoboyo Karang Menjangan 4). Lyn “O” Jembatan Merah-Keputih 5). Trayek tersebut dengan segala pertimbangan yang dapat mewakili lokasi penggantian bemo ke Mini bus. 3.2 Pengumpulan data Agar dalam Studi angkutan umum dapat berjalan dengan lancar, maka disini ada beberapa metode dalam pencarian data yaitu: a. Data primer Data primer merupakan salah satu data yang dapat diperoleh dengan cara terjun langsung kelapangan. Sedangkan data – data yang dibutuhkan adalah load faktor, frekuensi, headway, jumlah potensi naik turun penumpang, waktu tempuh dan produktifitas ruas. b. Data sekunder

Data ini merupakan data yang diperoleh dari beberapa instansi terkait, dan literatur-literatur yang mendukung baik dari media cetak maupun dari dunia maya (internet). Sedangkan data - data yang dibutuhkan adalah mengenai jumlah armada, kapasitas kendaraan, peta rute lyn X, kode dan nomer trayek, panjang rute dan land use yang dilalui. Sebelum melakukan proses pencarian data maka diperlukannya survei pendahuluan terlebih dahulu agar mengetahui kondisi eksisting dan mematangkan dalam pelaksanaan pencariaan data. Dalam pengumpulan data juga ada beberapa persyaratan, meliputi : a) Perlengkapan dan peralatan survei Untuk perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkan selama pencarian data berlangsung, yaitu : 1) Peta jaringan trayek 2) Form survei 3) Peralatan yang dibutuhkan Peralatan yang dibutuhkan pada studi ini seperti Papan alas (clip board), alat tulis menulis, jam tangan, stopwatch, dan kamera. b) Waktu dan periode pelaksanaan survei Untuk pelaksanaan survei dilaksanakan saat hari aktif orang bekerja selama satu hari, pada hari Rabu tanggal 26 Desember 2012 dan 8 Januari 2013 untuk melaksanakan survei dinamis yang akan digolongkan saat peak hour (jam 06:00–09:00, jam 11:00–13:00, dan jam 16:00–19:00) dan off peak (jam 09:0011:00 dan jam 13:00–16:00). Tetapi di sini dalam pelaksanaan survei dinamis dimulai pada setiap awal keberangkatan

lyn baik di terminal awal mupun terminal Tujuan. Jadi selama sehari dapat melakukan lima kali pulang pergi. Kemudian selanjutnya pada hari Kamis tanggal 27 Desember 2012 dan tanggal 3 Januari 2013 untuk melakukan survei statis lyn di terminal awal dan terminal akhir yang dilaksanakan selama jam peak hour dan off peak. c) Tenaga surveyor Untuk tenaga surveyor yang dibutuhkan adalah dengan melibatkan para mahasiswa DIII Transportasi total keseluruhan masing-masing lokasi ada 6 (enam) orang yang terdiri dari empat surveyor melakukan survei statis dan dua surveyor melakukan survei dinamis. Setiap akan melaksanakan survei perlu dilakukannya brifing terlebih dahulu untuk mematangkan saat pelaksanaan survei berlangsung. d) Koordinasi dan pemberitahuan Sebelum kegiatan survei berlangsung, maka perlunya dilakukan koordinasi dan pemberitahuan kepada pihak operator dan instansi yang terkait mengenai maksud dan tujuan dalam survei tersebut serta keperluannya. 3.3 Evaluasi data Untuk melengkapi data yang sesuai dengan tarjet dalam mengevaluasi kebutuhan aramada lyn X, maka ada beberapa jenis survei yang akan dilaksanakan yaitu: a. Survei dinamis yaitu survei yang dilaksanakan di dalam kendaraan dengan cara pencatatan jumlah penumpang naik dan turun kendaraan. Pada survei ini bertujuan untuk mengetahui jumlah naik turun penumpang setiap segmennya, kondisi

land use yang dilewati, waktu perjalanan, panjang trayek dan waktu tunggu. b. Survei statis Adalah survei yang dilakukan dari luar kendaraan dengan cara mengamati, menghitung maupun mencatat informasi dari setiap kendaraan penumpang umum yang melintas diruas jalan pada setiap arah lalu lintas atau di setiap pintu keluar masuk terminal. Pada dasarnya survei ini bertujuan untuk mengetahui jumlah operasional setiap angkutan umum, headway, dan frekuensi kendaraan per jam. Kemudian hasil headway tersebut akan dibedakan menjadi dua berdasarkan kondisi:  Eksisting Adalah merupakan hasil perhitungan tersebut yang disesuaikan dengan kondisi eksisting lapangan, baik kondisi headway dan frekuensi kendaraan selama operasional.  Rencana Adalah data yang mengkondisikan hasil usulan rencana pihak regulator yang rencananya angkutan umum jenis MPU (Mobil Penumpang Umum) kapasitas dirubah menjadi 18 seat. 3.4 Bagan alur proses pencarian data Bagan alur merupakan salah satu keperluan yang penting dalam menunjang pencariaan data dari hasil studi. Berikut ini gambar:1 proses alurnya:

Untuk analisa dan perhitungan selanjutnya dalam tulisan initidak semua dimasukan hanya ditampilkan contoh 1 (satu) rute yaitu Rute Lyn X dengan Trayek Terminal Joyoboyo Tambak Sawah, karena yang lainsama metode dan analisinya. 4.2 Rute angkutan umum Salah satu contoh yang ditulis dalam jurnal ini adalah angkutan umum lyn X yang berada di Kota Surabaya memiliki trayek dari Terminal Joyoboyo sampai dengan Tambak Sawah. Selain itu akses jalan yang dilalui pada lyn X melewati jaringan jalan utama Kota Surabaya yaitu Jalan Ahmad Yani Surabaya. Sedangkan untuk rute yang akan dilewati lyn X dapat dikatagorikan sebagai rute yang memiliki pelayanan rute tetap yang melayani daerah Terminal Joyoboyo – Pasar Wonokromo – Jln. A. Yani – Jln. Brigjen Katamso (Waru) – Jln. Kol. Sugiono – Gedongan – Tambak Sawah (industri).

Gambar 1. Bagan Alur Dalam Mengevaluasi Kinerja Kebutuhan Armada. 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Biodata angkutan umum Bemo merupakan salah satu angkutan umum berjenis mikrolet yang kesahariannya memiliki aktifitas melewati rute tetap di Surabaya. Sedangkan untuk lebih jelasnya berikut ini biodata Bemo di pakai untuk sampel Surabaya selama operasional:

Gambar 3. Rute Lyn X dengan Trayek Terminal Joyoboyo Tambak Sawah. Selain mengetahui rute yang dilewati lyn X, Maka juga harus mengetahui tempat pemberhentian lyn X selama operasional seperti halte atau shelter. Jadi berikut ini untuk lokasi halte yang di lewati lyn X selama operasional pada gambar 4 dibawah ini.

Gambar 4. Lokasi Halte yang Dilihat dari Citra Satelit Sepanjang Rute Lyn X. 4.3 Hasil perolehan data a. Survei dinamis Pada setiap trayek angkutan umum memiliki tingkat kebutuhan dalam melayani masyarakat dengan daya muatnya berbeda – berbeda. Jadi dilakukannya suatu survei pada lyn X yang disebut dengan survei dinamis atau survei naik turun penumpang. Tabel 2. Operasional Pelayanan Lyn X.

standard load faktor yang di tetapkan menurut SK Dirjen 687/2002. Sehingga operasional lyn X selama peak hour maupun off peak dapat dikatakan rugi karena tidak seimbangnya antara demand dengan suplly yang ada. Tabel 3. Perbandingan Waktu Tempuh Eksisting dengan Hasil Analisis Waktu Tempuh pada Lyn X.

Sumber. Hasil analisis (2013). Pada hasil perhitungan tabel 2 diatas menceritakan bahwa untuk kinerja operasional lyn X dari terminal Joyoboyo menuju Tambak Sawah memiliki kinerja operasional yang baik terutama dalam hal waktu tempuh. Sedangkan untuk kinerja menurut load faktor yang ada saat kondisi eksisting memiliki hasil buruk. Jadi hasil tersebut tidak sesuai dengan

Sumber. Hasil analisis (2013). Pada hasil tabel 3 diatas menceritakan bahwa perbandingan pada waktu tempuh eksisting dengan hasil analisis lyn X yang nanti bertujuan melihat waktu tempu lyn X sudah ideal apakah tidak. Sedangkan pada hasil waktu tempuh dari hasil analisis yang memiliki waktu 78 menit itu sudah ideal. Menurut SK Dirjen 687/2002, untuk waktu tempuh angkutan umum perkotaan dapat melayani dengan waktu sampai ke tempat tujuan dengan waktu 60 menit 90 menit. Jadi dapat dimpulkan bahwa dari hasil analisis waktu tempuh yang memiliki hasil 78 menit sudah ideal. 1. Survei statis Dari hasil survei statis yang diperoleh yaitu berupa frekuensi kendaraan di terminal, headway. Selain itu untuk mengetahui frekuensi perjalanan pulang pergi selama operasional dari terminal

Joyoboyo Tambak Sawah maupun sebaliknya berikut ini pada gambar 5.

Sumber. Hasil observasi (2013). Gambar 5. Grafik Fluktuasi Frekuensi Pulang Pergi Lyn X Selama Peak Hour Maupun Off Peak. Pada gambar 5 diatas mengenai grafik fluktuasi frekuensi pulang pergi lyn X untuk setiap operasi berjumlah 69 unit kendaraan. Kemudian data – data tersebut akan dilihat pada potensi lyn X yang melakukan perjalanan paling tinggi dan terendah berdasarkan dari plat nomer kendaraan lyn X. Dari data tersebut ada dua plat nomer lyn X yang memiliki frekuensi perjalanan hingga 10 rit perjalanan dalam sehari yaitu plat nomer L 1123 UF dan L 1271 UD. Walaupun kedua plat nomer tersebut memiliki frekuensi perjalanan sangat tinggi, tetapi setelah diamati jam keberangkatan dan kedatangan tidak sampai waktu tempu 50 menit. Sedangkan untuk rata – rata perjalanan setiap operasional sebanyak 4 rit per hari selama pulang pergi. Setelah mengetahui frekuensi lyn x saat operasionalnya, maka tahap selanjutnya mencari headway dan frekuensi. Untuk lebih jelasnya dapat melihat hasil survei statis dibawah ini : a.Terminal Joyoboyo Tabel 4. Operasional Lyn X di Terminal Joyoboyo saat Periode Peak Hour dan Off Peak. Pada tabel 4 diatas menceritakan operasional lyn X memiliki hasil headway ideal tetapi kondisi headway datang saat off peak pagi tidak normal berdasarkan Surat Keputusan Dirjen no. 687/2002. Sedangkan untuk hasil frekuensi memiliki hasil yang tidak ideal berdasarkan Surat Keputusan Dirjen no. 687/2002. b. Tambak Sawah Tabel 5. Operasional Lyn X di Tambak Sawah saat Periode Peak Hour dan Off Peak.

Sumber. Hasil observasi (2013). Pada tabel 5 diatas menceritakan operasional lyn X di Tambak Sawah memiliki hasil headway di Tambak Sawah sudah ideal baik selama peak hour maupun off peak. Sedangkan untuk kondisi frekuensi memiliki hasil ideal saat berangkat. Untuk kondisi frekuensi datang di Tambak Sawah ada yang tidak ideal saat kondisi peak pagi khususnya. 4.4 Perhitungan jumlah armada Setelah mengetahui kondisi eksisting baik dari jumlah naik turun penumpang hingga frekuensi kendaraan saat

operasional. Maka tahap selanjutnya melakukan perhitungan untuk kebutuhan armada yang akan dibedakan sesuai kebutuhan pada saat peak hour maupun off peak. Sehingga nanti akan menghasilkan kebutuhan yang berbeda dan sesuai dengan kondisi permintaan yang ada. Untuk langkah – langkah perhitungannya berpacu pada pedoman Keputusan Direktur Perhubungan Darat Nomer SK. 687/AJ.206 Tahun 2002 Tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum di Wilayah Perkotaan Dalam Trayek Tetap dan Teratur. Berikut ini langkah – langkah perhitungannya: 1. Mencari waktu sirkulasi dari A ke B dan kembali lagi ke A a. Kapasitas kendaraan pada lyn X adalah 12 orang. b.Waktu sirkulasi dengan pengaturan kecepatan kendaraan rata – rata 20 km/jam dengan deviasi waktu sebesar 5% dari waktu perjalanan. TAB = Waktu perjalanan dari A ke B, maksudnya waktu perjalanan dari terminal Joyoboyo ke Tambak Sawah adalah 55 menit saat peak hour pagi. TBA = Waktu perjalanan dari B ke A, maksudnya waktu perjalanan dari Tambak Sawah ke Joyoboyo adalah 45 menit saat peak hour pagi. ỢAB2= Deviasi waktu perjalanan dari A ke B saat peak hour pagi, = (5% x 55 menit {waktu perjalanan})2 = 7,5625 menit ỢBA2 = Deviasi waktu perjalanan dari B ke A saat peak hour pagi, = (5% x 45 menit {waktu perjalanan})2 = 5,0625 menit

TTA = Waktu henti kendaraan di A saat peak hour pagi, = 10% x 55 menit {waktu perjalanan} = 5,5 menit TTB = Waktu henti kendaraan di B saat peak hour pagi, = 10% x 45 menit {waktu perjalanan} = 4,5 menit Maksud deviasi waktu perjalanan diatas adalah waktu yang terbuang selama perjalanan, misalnya untuk pengambilan penumpang (ngetem) pada beberapa titik di sepanjang perjalanan angkutan umum tersebut. Jadi untuk hasil waktu sirkulasi pada perhitungan jumlah armada saat peak hour pagi lyn X dari A ke B dan kembali lagi ke A, yaitu : CTABA = (TAB + TBA) + (ỢAB2 + ỢBA2) + (TTA + TTB) = (55 + 45) + (7,5625 + 5.0625) + (5,5 + 4,5) = 100 + 12,625 + 10 = 122,625 menit Tabel 6. Waktu Sirkulasi dari A ke B Kembali Lagi ke A Pada Lyn X.

Sumber. Hasil analisis (2013) 2. Headway Untuk perhitungan headway saat peak hour pagi pada lyn X, berikut ini perhitungannya : headway (H) eksisting= 60 x C x Lf

P = 60x12x0,7 72 = 7 menit headway (H) rencana = 60 x C x Lf P = 60x18x0,7 72 = 11 menit Tabel 7. Headway saat Jam Sibuk dan Off Peak di Terminal Joyoboyo Untuk Eksisting dan Rencana. K (rencana)

= 122,625 7x1 = 122,625 7 = 17,518 unit ≈ 18 unit = CTABA H x FA = 122,625 11 x 1 = 11,679 unit ≈ 12 unit Tabel 8. Kebutuhan Jumlah Armada saat Peak Hour dan Off Peak Berdasarkan Headway Analisis.

Sumber. Hasil analisis (2013). 3. Kebutuhan armada Untuk menghitung kebutuhan jumlah armada per sirkulasi penulis membedakan menjadi dua hasil rekomendasi yang dilihat dari headway rencana dengan headway kondisi eksisting. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan jumlah armada yang mana lebih efisien dan efektif. Sehingga nanti dari hasil perbandingan kedua perhitungan jumlah armada tersebut tidak merugikan antara pihak operator maupun pengguna jasa transportasi. Berikut ini perhitungannya: K (eksisting) = CTABA H x FA

Sumber. Hasil analisis (2013) Pada tabel 8 diatas menceritakan tentang kebutuhan armada lyn X yang dilihat dari kapasitas kendaraan eksisting yaitu 12 seat dengan kapisitas rencana Pemkot Surabaya yaitu 18 seat. Jadi hasil tersebut lebih baik memakai perhitungan hasil exsisting. Walaupun hasilnya untuk kebutuhan armadanya lebih banyak dari pada rencana yang penting pelayanan waktu keberangkatan kendaraan satu dengan kendaraan dibelakangan lebih cepat, karena dengan pelayanan cepat maka akan menjadi menarik perhatiaan seseorang dalam menggunakan jasa transportasi umum. 5 Kesimpulan

Dari hasil studi ini dalam mengevaluasi kebutuhan armada lyn X dapat disimpulkan sebagai berikut ini : a. Untuk hasil survei dinamis potensi naik turun penumpang paling tinggi berada di tempat awal keberangkatan dan kedatangan angkutan lyn X, tetapi memiliki hasil load factor yang tidak ideal. Panjang trayek lyn X sudah ideal karena standardnya panjang trayek maksimum hingga 21 km dengan waktu tempuh antara 60 menit hingga 90 menit. Sedangkan hasil survei statis untuk headway yang ada di Joyoboyo hampir keseluruhan baik semua, karena masih ada kinerja headway lyn X saat datang dengan waktu 4 menit. Untuk headway yang ada di Tambak Sawah keseluruhan dikatakan ideal baik datang maupun berangkat dengan waktu 5 menit dan 6 menit setiap peak maupun off peaknya. Sedangkan frekuensi lyn X diterminal Joyoboyo dapat dikatakan cukup baik, karena masih ada beberapa hasil yang tidak ideal berdasarkan Surat Keputusan Dirjen No. 687/2002. b. Untuk kebutuhan armada lyn X disarankan memakai hasil perhitungan eksisting. Pada jumlah kebutuhan armadanya lebih banyak dari perhitungan rencana (operator) yang penting pelayanan headway lebih cepat. Jadi kebutuhan armada yang dibutuhkan adalah 49 unit kendaraan dari yang ada sekarang sebanyak 72 unit kendaraan.

Daftar Pustaka .Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Nomer SK. 687/AJ.206 Tahun 2002 Tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum di Wilayah Perkotaan Dalam Trayek Tetap dan Teratur. .Peraturan Pemerintah No. 65 tahun 2005 tentang Standard Pelayanan Minimal Pada Kegiatan Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan. Abu Bakar, Iskandar dkk. 1996. Menuju Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang Tertib. Jakarta : Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.

Suwardjoko, Warpani. 2002. Pengelolaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Bandung: ITB.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->