P. 1
Restorasi Lahan Bekas Tambang.pdf

Restorasi Lahan Bekas Tambang.pdf

|Views: 462|Likes:
restorasi tambang batubara
restorasi tambang batubara

More info:

Categories:Types, Research
Published by: wahyu catur adinugroho on Jun 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/19/2014

pdf

text

original

PROSIDING

WORKSHOP IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batubara
BALAI BESAR PENELITIAN DIPTEROKARPA BALAI PENELITIAN KEHUTANAN BANJARBARU BALAI PENELITIAN TEKNOLOGI PERBENIHAN SAMBOJA

Swiss Bel-Hotel Banjarmasin, 21 Oktober 2009

Diterbitkan Oleh : Balai Besar Penelitian Dipterokarpa
Jl. A. Wahab Syahrani No. 68, Sempaja Samarinda-Kaltim | Telp:0541-206364 | Fax: 0541-742298 admin@diptero.or.id | www.diptero.or.id

Penanggung Jawab : Ir. 68. Didik Purwito. Dipublikasikasikan Oleh : Balai Besar Penelitian Dipterokarpa Jl. M.com Website : http://www. Ir. +62-541-206364 Fax. Penyunting : Ir. Samarinda Telp.Sc. MM. Herry Prijono. MM. +62-541-742298 Email : diptero@ymail.diptero. Tjuk Sasmito Hadi. S.Hut. Ir. Nina Juliaty. Ir. Sempaja. Herry Prijono. A.Hut. MP. S.or. Wahab Syahranie No.id ISBN : 978-979-17183-7-0 Dicetak Ulang Oleh : Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja DIPA BA 29 BPTP Samboja Tahun 2010 . Tata Letak : Nurul Hermawati. Rahmat Setiyono. MM.

PROSIDING WORKSHOP IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batubara BALAI BESAR PENELITIAN DIPTEROKARPA BALAI PENELITIAN KEHUTANAN BANJARBARU BALAI PENELITIAN TEKNOLOGI PERBENIHAN SAMBOJA Swiss Bel-Hotel Banjarmasin. 21 Oktober 2009 Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Balai Besar Penelitian Dipterokarpa .

pertambangan. Konsekwensi dari sistem pertambangan tersebut adalah luas areal yang terbuka (bare soil) akan semakin bertambah setiap tahunnya disebabkan karena bertambahnya luas areal pertambangan. MM NIP. Apabila hal tersebut tidak segera diatasi maka akan berdampak: hutan Kalimantan semakin terancam kelestariannya dan akan beralih fungsi menjadi areal non kehutanan (perkebunan. Samarinda. maka Balai Besar Penelitian Dipterocarpa bekerjasama dengan Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru dan Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Semboja. prosiding ini menyajikan 10 makalah utama dan makalah penunjang yang merupakan hasil sintesa penelitian dan uji coba serta kebijakan yang difokuskan pada penyelamatan hutan melalui rehabilitasi lahan bekas tambang batubara. Dari sistem ini langkah-langkah utama untuk mencapai deposit bahan tambang tersebut diperoleh melalui tahapan pembersihan lahan di areal yang akan ditambang (land clearing) serta pengupasan batuan dasar (bedrock) hingga mencapai permukaan deposit. 19560425 198203 1 010 iii . Desember 2009 Kepala Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. Untuk penyediaan paket teknologi untuk mendukung kegiatan rehabilitasi lahan bekas tambang batubara di wilayah Hutan Kalimantan. Hal ini disebabkan disamping eksploitasi yang tak terkendali dan perambahan hutan juga kegiatan eksplorasi pertambangan sangat berpengaruh besar terhadap perubahan ekosistem baik itu didalam maupun di luar kawasan hutan. Kritik dan saran untuk perbaikan dimasa datang sangat diharapkan. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud kepedulian dan untuk memecahkan masalah revegetasi hutan pada areal lahan tambang batubara. yang akan mengakibatkan terjadinya bencana apabila tidak dilakukan tindakan koreksi. pemukiman).KATA PENGANTAR Luas lahan terdegradasi dan tempat terbuka pada kawasan hutan di wilayah Kalimantan dewasa ini semakin meningkat. Selain itu disajikan rumusan hasil seminar yang merupakan sintesa dari 10 makalah yang dibawakan dan hasil diskusi serta evaluasi dari peserta seminar. Herry Prijono. Sesuai dengan tema Workshop tersebut. menyelenggaran kegiatan Workshop pada tanggal 20-21 Nopember 2009 di Banjarmasin-Kalimantan Selatan dengan tema “IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batubara”. Ir. Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya workshop tersebut. Upaya pemulihan lahan bekas tambang batu bara saat ini mutlak segera ditangani secara serius melalui kegiatan reklamasi lahan bekas tambang yang merupakan bagian integrasi dari kegiatan pertambangan. diucapkan terima kasih. Kegiatan teknik penambangan batubara pada umumnya dilakukan dengan cara sistem pengupasan permukaan tanah (open pit mining system). Semoga Prosiding ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan kehutanan untuk mendukung penyelamatan hutan melalui rehabilitasi lahan bekas tambang batubara khususnya di wilayah Kalimantan.

.... 6.............................. Daftar Isi ................................. Kalimantan Timur Agus Darmawan dan M. 3.......... Kitadin Embalut......... iii iv vi ix xii Kata Pengantar ………………………………………………….. Upaya Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batubara di Kalimantan Selatan Dony Rachmanadi ……...................................................................... Kabupaten Kutai Kartanegara Kaltim Maming Iriansyah dan Adi Susilo ……….................................. 2.. Kebijakan Pertambangan Dalam Pencegahan Penanggulangan Kerusakan Pencemaran Lingkungan Dinas Pertambangan dan Energi ……….DAFTAR ISI Hal.................. MAKALAH UTAMA 1....... Potensi Perdagangan Karbon Pada Lahan Bekas Tambang Kirsfianti Ginoga dan Nur Merispatin ………............................... Berau Coal....................................... Kendala dan Alternatif xv 1 8 17 27 41 46 vi ....... Prosfek.... Aditya Irawan ………......... Kesesuaian Jenis Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batubara di PT................. Pemanfaatan Mikroorganisme Dalam Memperbaiki Lahan Bekas Tambang. Arahan Kepala Badan LITBANG Kehutanan Pada Workshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melaui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara ....... 7............... Sambutan Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan ………………………............... Laporan Kepala Balai Besar Penelitian Dipterokarpa …………………….......................................................... 5.............................. Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batubara di PT...................…………… Rumusan Hasil Wokshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara …………………………........... 4........... Peranan Satwaliar Dalam Reklamasi Lahan Bekas Tambang Chandradewana Boer ………....................

............................................................. Mulyana Omon ……................................... MAKALAH PENUNJANG 1............. 7.... Restorasi Lahan Bekas Tambang Batubara Wahyu Catur Adinugroho dan Kade Sidiyasa ………........................... Uji Jenis-jenis Dipterokarpa pada Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang di PT.................... Pemilihan Jenis-jenis Pohon Potensial Untuk Mendukung Kegiatan Restorasi Lahan Tambang Melalui Pendekatan Ekologis Ishak Yassir dan R............................ Bismark ………............ 10................... Keragaman Jenis dan Sifat Kimia Tanah Pada Areal Tambang Emas di PT.......... 8........................................ 3............. 2... 9............................................. KEM Kalimantan Timur Amiril Saridan ………..Gunawan ………........... Kandungan Mikroorganisme Pada Lahan Pasca Tambang Batubara 53 64 77 94 106 120 131 138 145 151 vii ......... Berau Coal.... Pertumbuhan Shorea balangeran Burch Pada Umur 3 Tahun Sebagai Salah Satu Tanaman Alternatif Pada Lahan Bekas Tambang Ayi Suyana dan Abdurachman ……................. Adaro Kalimantan Selatan Agus Subandrio.. 4............... Kalimantan Timur Amiril Saridan ………................ Model Hubungan Kelembagaan Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batubara M. Tambunan ……….................. Kaltim Prima Coal Kalimantan Timur M................. Pelaksanaan Reklamasi Batubara di PT................................................... Tata Ruang Reklamasi Tambang Batubara di PT..................................... Fajri dan Lidya Suastati ……... 6........................................... Cara Memproduksi Bibit Jenis Nyatoh (Palaquium sp) dapat Dijadikan Salah Satu Alternatif Untuk Penanaman Areal Bekas Tambang Melalui Ujicoba Stek Pucuk Dengan Perlakukan Zat Perangsang Akar di Rumah Kaca Rayan ………. Sukarman dan Ronny P.......................... 5........

............................. Prospek Tanaman Gaharu Pada Lahan Bekas Tambang Batubara Ayi Suyana dan Abdurachman ………………........................................... Cara Memproduksi Semai Jenis Pohon Banggeris (Kempassia exelsa) di Persemaian dapat Dijadikan Salah Satu Alternatif untuk Penanaman Areal Bekas Tambang dengan Perlakuan Media Sapih yang Berbeda Rayan ………................... 14. Susunan Panitia ..... 9......………........................................ Kajian Kelembagaan Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batubara di PT............................................................ Daftar Peserta ......................................... Fajri dan Lidya Suastati ……………………………………………… LAMPIRAN Jadwal Acara .................... 12....................................................................................... Teknik Penyimpanan Benih Aquilaria microcarpa Terhadap Persen Kecambah Sebagai Alternatif Pemilihan Jenis untuk Penanaman pada Areal Eks Tambang Batubara Massofian Noor ………................................. 11..... Metoda Pengadaan Bibit Jenis Sungkai (Peronema canescens) dapat Dijadikan Salah Satu Alternatif Untuk Penanaman Areal Bekas Tambang Melalui Pembiakan Vegetatif Stek Batang Dengan Perlakuan Sungkup di Persemaian Rayan ……….............. Kitadin...................................................................................... 8....................Dina Naemah ……………………………………………………………..... Reklamasi Tambang Berbasis Kehutanan Sosial Hamdani Fauzi dan Normela Rachmawati ……………………………...................................................... Kalimantan Timur Amiril Saridan ……….......... 13........ Berau Coal M..... 10..... 158 164 171 180 187 197 219 223 238 244 254 viii .... Uji Coba Reklamasi Tambang Batubara Dengan Jenis-jenis Dipterokarpa di PT..................................

karena apabila kegiatan eksploitasi batubara di areal tersebut dilakukan maka hutan yang ada di atasnya dapat dipastikan akan rusak atau bahkan musnah. iklim. khususnya di dalam negeri. Kewajiban untuk memulihkan kembali struktur hutan sehingga hutan dapat †††† Peneliti Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja 151 . akan terus meningkat akibat semakin menyusutnya minyak dan gas bumi. analisis terhadap hambatan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan vegetasi serta perbaikan kondisi tanah. fungsi konservasi ataupun fungsi lindung. Khususnya bagi areal batubara yang terdapat di kawasan hutan telah memunculkan sikap pro dan kontra.Prosiding Workshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara RESTORASI LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA Oleh: Wahyu Catur Adinugroho dan Kade Sidiyasa†††† Abstrak Penambangan batubara di kawasan hutan secara langsung telah memberikan input terhadap peningkatan laju kerusakan hutan di Indonesia. Untuk memperbaiki kondisi vegetasi yang rusak tersebut berbagai upaya harus dilakukan. Beberapa faktor kunci yang harus dipahami diantaranya adalah pemilihan jenis. lahan terdegradasi. Ibarat nasi suah menjadi bubur. Upaya pemulihan kembali struktur hutan dan fungsi kawasan seperti tercantum dalam klausal pinjam pakai kawasan harus dilakukan secara bertanggungjawab oleh perusahaan pengelola. tetapi juga pengetahuan yang memadai tentang bagaimana melakukan revegatasi secara benar. Penerapan teknologi modern yang ramah lingkungan seperti penggunaan kompos aktif. Tingginya potensi batubara dengan sebarannya yang luas telah menimbulkan suatu persoalan baru dalam rencana pemanfaatannya. pemilihan jenis tumbuhan. I. humic acid. Dengan demikian maka pemanfaatan dimasa yang akan datang. pertumbuhan tanaman. terabric. unsur hara. baik sebagai fungsi produksi. Dalam pelaksanaan kegiatan restorasi. bio-enzim. dan fakta telah menunjukkan bahwa izin pinjam pakai kawasan hutan untuk penambangan batubara telah dikeluarkan untuk meminimalisasi dampak buruk yang diakibatkan. tidak hanya dibutuhkan komitmen. khususnya yang terdapat di Kalimantan adalah batubara. PENDAHULUAN Salah satu kekayaan alam Indonesia cukup melimpah. tanah. Kata kunci: struktur fungsi hutan. Sumber alam ini merupakan energi yang cukup tersedia dan merupakan salah satu komoditi ekspor penghasil devisa negara serta mulai dimanfaatkan sebagai sumber energi pengganti minyak dan gas bumi. Kegiatan restorasi harus dilakukan pada kawasan bekas tambang atau kawasan terdegradasi lainnya yang tidak dapat lagi menjalankan kembali fungsinya seperti semula sehingga dengan restorasi diharapkan struktur tegakan pulih kembali seperti semula atau mendekati kondisi semula. lahan-lahan terdegradasi tanpa vegetasi yang menutupinya tampak terlihat dimana-mana pada lahan bekas tambang batubara. terabuster dan teraglue perlu dilakukan dalam upaya memperbaiki kondisi tanah. yakni dengan cara menanami kembali (restorasi) lahan-lahan bekas tambang tersebut.

namun pengetahuan yang memadai dalam melakukan revegasti lahan bekas tambang batubara sangat dibutuhkan. Hutan yang rusak akan mempunyai struktur tegakan yang berbeda dengan kondisi awalnya sehingga fungsi hutan akan terganggu. maka kegiatan restorasi tersebut biasanya diarahkan untuk menunjang program konservasi walaupun areal yang direstorasi tersebut sebenarnya merupakan kawasan hutan produksi atau mungkin hutan lindung. Adapun parameter suatu struktur tegakan hutan dipterokarpa. yaitu fungsi produksi (bagi hutan produksi). Hal ini terjadi karena kurang atau tidak adanya pemahaman yang memadai. fungsi konservasi (bagi hutan konservasi) dan fungsi lindung (bagi hutan lindung). Hanya saja banyak kalangan yang seringkali memanfaatkan momen-momen tertentu untuk mencapai tujuan tertentu pula.Prosiding Workshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara menjalankan fungsinya kembali setelah penambangan sebenarnya telah tercantum dalam kesepakatan pinjam pakai kawasan hutan. produksi dan lindung. II. yaitu konservasi. yakni lokasi dan legalitas status kawasan. padahal keduanya memiliki tujuan yang berbeda. adalah kekayaan jenis. STRUKTUR. Selain itu. Hal ini dimaksudkan agar tegakan hutan yang rusak atau musnah akibat pembukaan tambang tersebut kembali atau mendekati seperti keadaan semula. karena euphoria konservasi. tetapi untuk melaksanakannya tidak hanya dibutuhkan komitmen. kerapatan pohon. TAHAPAN RESTORASI Kegiatan restorasi pada areal bekas tambang atau areal terdegradasi lainnya perlu dilakukan. dipahami dan dicermati oleh para pelaku restorasi sehingga kegiatannya dapat terlaksana sesuai dengan rencana dan tujuan yang ingin dicapai. Terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk melakukan sutau kegiatan restorasi dimana tahapan-tahapan ini harus diketahui. sebagai berikut : 152 . semak belukar dan vegetasi lainnya). Restorasi biasanya meliputi tegakan reklamasi (yakni yang berhubungan dengan pemulihan tanah) dan revegetasi (mengembalikan vegetasi hutan. sedikitnya ada dua hal yang juga harus diketahui sebelum memulai tahapan kegiatan restorasi. suatu struktur hutan akan membentuk hutan yang memiliki fungsi yang berbeda-beda. bahwa hutan memiliki berbagai fungsi. baik dari segi struktur maupun fungsinya. FUNGSI HUTAN DAN RESTORASI Kegiatan restorasi yang dilaksanakan di berbagai tempat seringkali tidak tepat pada sasaran. Dalam kaitannya dengan dengan kegiatan restorasi maka tujuannya adalah untuk memulihkan kembali struktur dan fungsi hutan seperti (mendekati) kondisi semula. asosiasi dan kerapatan tajuk. yaitu sesuai dengan klausul yang tercantum dalam draft perjanjian pinjam pakai kawasan yang pada intinya tidak memperbolehkan adanya upaya merubah fungsi kawasan. dominasi. Sebagai contoh. restorasi didefinisikan sebagai upaya memperbaiki atau memulihkan kondisi lahan yang rusak dengan membentuk struktur dan fungsinya sesuai (mendekati) dengan kondisi semula. Kegiatan restorasi juga seringkali diidentikkan dengan kegiatan untuk tujuan konservasi. Dalam hal ini. III. dalam makalah ini diuraikan bagaimana seharusnya memulihkan kembali lahan bekas tambang batubara sehingga tercapai struktur dan fungsi hutan sebenarnya. Berkaitan dengan hal tersebut. Pemahaman mengenai struktur hutan dan fungsi hutan ini menjadi hal yang penting karena kerusakan hutan selalu berkaitan dengan struktur dan fungsi hutan. Struktur hutan senantiasa berkaitan erat dengan fungsi hutan. distribusi.

Kondisi biofisik meliputi informasi tentang topografi. kecermatan. tanah. Untuk melakukan kegiatan ini diperlukan keahlian. meski demikian tidak menutup kemungkinan terjadinya perbedaan pendapat dalam menyikapi ketentuan-ketentuan tersebut. Hal ini diperlukan untuk menentukan arah dan strategi tindakan restorasi yang akan dilakukan. Masalah ini dapat diatasi dengan mengajukan argumentasi yang didasari oleh hasil-hasil percobaan ilmiah yang telah menunjukkan hasil yang baik. vegetasi dan satwa. selain itu pelaku restorasi mempunyai gambaran tentang letak kawasan yang akan direstorasi. UKL. selanjutnya mampu menentukan metode sampling atau jumlah sampel (cuplikan) yang tepat yang dapat mewakili kondisi seluruh kawasan. pengadaan bibit dan lain-lain. baik yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Hal ini tercantum secara jelas dalam peta lokasi. Sedangkan informasi tentang kondisi vegetasi diperlukan untuk menentukan tingkat penutupan vegetasi serta mengidentifikasi jenis-jenis yang tumbuh di 153 . kepekaan dan pengalaman yang memadai bagi seorang surveyor. ketelitian. Seorang surveyor yang baik akan mampu mengidentifikasi kawasan secara detail dan mengenali kondisi/sifat spesifik yang menonjol dari suatu lokasi sehingga mampu mendeliniasi atau memetakan kawasan dengan baik berdasarkan kondisi spesifiknya. Legalitas Status Kawasan dan Ijin-ijin Terkait Setelah diketahui lokasi yang akan direstorasi maka sebelum dilakukan survey ke lapangan. dimana restorasi harus dilakukan secara spesifik sesuai dengan fungsi kawasan dan penentuan jenis tumbuhan yang akan ditanam. iklim. Setelah data sekunder dikumpulkan maka tahapan kegiatan dalam restorasi tersebut di atas dapat dilakukan sebagai berikut: a. Survey Lapangan Survey lapangan (ground check) dimaksudkan untuk melihat secara langsung kondisi kawasan yang akan direstorasi serta mengumpulkan data yang berkaitan dengan karakteristik lapangan. Lokasi Restorasi Hal pertama atau mendasar yang perlu diketahui oleh pelaku restorasi adalah lokasi/kawasan yang akan direstorasi. seperti dokumen AMDAL.Prosiding Workshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara 1. Informasi tentang kondisi topografi diperlukan untuk menentukan tindakan penanganan lahan yang ada agar sasaran konservasi dapat dipertahankan. Adapun data karakteristik lapangan yang diperlukan adalah kondisi biofisik dan sosial ekonomi kawasan. misalnya tentang jenis tumbuhan yang ditanam. beberapa informasi tentang legal status kawasan (hutan produksi. Data ini diperlukan untuk kemudahan akses pelaku restorasi menuju lokasi. Informasi iklim diperlukan untuk menentukan jadwal kegiatan penanaman serta penentuan jenis tumbuhan yang sesuai dan mampu beradaptasi dengan kondisi iklim yang ada. Dalam hal ini perlu pertimbangan-pertimbangan apakah diperlukan sistem terasering atau tidak. ijin yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan maupun informasi-informasi yang terkait dengan sejarah kawasan. 2. UPL. Selain itu juga restorasi harus dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam ijin-ijin terkait yang telah ditetapkan. hutan konservasi atau hutan lindung) dan ijin-ijin terkait.

Pemilihan Jenis Tanaman Setelah dilakukan survey lapangan maka tahapan selanjutnya adalah membuat daftar jenis tumbuhan yang potensial untuk ditanam. Selain itu. KTK yang rendah (< 16). Jenis-jenis tumbuhan yang potensial tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan iklim dan kemampuannya dala beradaptasi dengan kondisi tanah di kawasan yang akan direstorasi. Hal-hal yang menjadi perhatian pokok dalam perencanaan kegiatan restorasi adalah sebagai berikut : Berkaitan dengan kondisi tanah. Hambatanhambatan ataupun keterbatasan-keterbatasan tersebut dapat berupa kurangnya nutrisi. termasuk tingkat kesulitan dalam upaya perbanyakannya. tanah bersifat padat. c. kemudian dilakukan analisis berkaitan dengan kendalakendala yang dapat mengganggu pertumbuhan vegetasi. KTK. S dan Mn). Pengambilan contoh tanah pada lapisan olah (top soil). N. Pada areal yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa blok. dalam hal pemilihan jenis. kerapatan pori. Cara yang baik yang dapat dilakukan dalam melihat kemampuan suatu jenis dalam beradaptasi tersebut adalah dengan cara mengobservasi jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitar areal yang akan direstorasi. yang penting jenis yang akan ditanam tersebut adalah bersifat pioner dan ditanam tidak mengikuti pola pembuatan hutan tanaman. P. yakni pada kedalaman 0-30 cm dan lapisan sub-soil (pada kedalaman 30-50 cm) dan tersebar merata sehingga dapat mewakili kondisi tanah pada masing-masing blok. Zn dan Fe sehingga tanah bersifat racun (toxic). pH yang rendah. kemampuan menyerap air. yakni yang cenderung bersifat homogen. Dalam hal ini penggunaan jenis tanaman eksotik dapat dipertimbangkan. HC yang rendah. b. Berdasarkan uji contoh tanah pada masing-masing blok dan sejarah kawasan. Al. Pengadaan Bibit Jenis-jenis tumbuhan yang telah ditentukan untuk digunakan dalam program restorasi. Dalam hal ini disimpulkan bahwa jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitarnya tersebut akan mampu beradaptasi dengan baik. Ca dan Mg) dan mineral racun (Al. dimana metode sampling dan jumlah contih (cuplikan) yang harus diambil harus ditentukan dengan tepat. Dalam pengumpulan informasi tentang kondisi tanah ini diperlukan pemahaman tentang teknik sampling. Pengadaan bibit 154 . Mg > Ca. dan kesesuaiannya dengan tujuan restorasi. misalnya sebagai akibat dari kandungan Al > 3 me (60 %). kandungan unsur hara makro (bahan organik. tingginya kandungan logam berat seperti Cu. selanjutnya dilakukan pengambilan contoh tanah pada masing-masing blok. K. selanjutnya dilakukan upaya pengadaan bibitnya. Untuk mengetahui sifat-sifat fisik dan kimia tanah maka analisis contoh tanah harus dilakukan. Zn. pH.Prosiding Workshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara lokasi atau di sekitar lokasi yang akan direstorasi yang nantinya diharapkan akan dapat menjadi sumber bibit dalam kegiatan restorasi. hal ini sangat penting mengingat tanah merupakan media tumbuh tanaman yang akan menentukan tanaman dapat hidup atau tidak. perlu juga mempertimbangkan ketersediaan sumber bibit. Fe. yakni mengembalikan struktur dan fungsi hutan ke keadaan seperti semula (mendekati) semula. Sifat fisik dan kimia tanah yang sangat perlu diketahui yang dapat menjadi faktor penentu dan pembatas dalam pertumbuhan tanaman antara lain adalah tekstur.

Dalam hal ini perlu mempertimbangan perkembangan lebar tajuk yang bervariasi. Dalam kegiatan penanaman diperlukan input teknologi untuk meningkatkan keberhasilan hidup tanaman. Teknologi ini diantaranya dengan penggunaan bioremedy dan terabuster. Penyiapan lahan dapat dilakukan dengan cara menggemburkan media tanam sehingga tanah menjadi remah. Untuk menilai baik tidaknya bibit-bibit tersebut antara lain dapat dilakukan dengan cara memeriksa bentuk atau sistem perakarannya karena akar merupakan organ yang penting bagi tumbuhan yang berperan dalam menyerap unsurunsur hara dan air untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya. Namun demikian. dalam upaya perbanyakan bibit tersebut perlu diperhatikan agar bibit yang dihasilkan adalah bibit-bibit yang berkualitas baik. d. Untuk membantu dalam penggemburan tanah di sekitar lubang tanam dapat dilakukan dengan cara pemberian terabric dan humic acid.Prosiding Workshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara tersebut dapat melalui sistem perbanyakan secara vegetatif maupun generatif. Kekurangan-kekurangan terhadap kondisi tanah tersebut dapat berupa kandungan hara yang rendah. Penggunaan terabuster dimaksudkan agar unsur hara yang tersedia dapat langsung diserap oleh tanaman. Untuk itu maka informasi yang berkaitan dengan iklim sangat diperlukan. untuk 155 . keseimbangan serta ketersediaannya bagi tanaman. hal pertama yang perlu dilakukan adalah membuat pola (design) penanaman yaitu dengan menentukan jarak tanam dan komposisi jenis tumbuhan yang akan ditanam. misalnya NPK untuk mengatasi kurangnya nutrisi tanah. Pada lahan yang berbatu-batu. e. Hal ini diperlukan agak awal agar pada saat penanaman kondisi lahan dalam keadaan siap sehingga akar tanaman dapat berkembang dengan baik. pemberian kompos aktif berupa obat-obatan penyubur tanah. pemberian bio-enzim untuk mengubah unsur hara menjadi tersedia sehingga dapat diserap tanaman. Dalam upaya memperbaiki kondisi tanah. sedangan bioremedy (penambahan mikoriza) dimaksudkan untuk meningkatkan penyerapan unsur hara oleh tanaman. maka dapat dilakukan kegiatan penyiapan lahan untuk kegiatan penanaman. pembuatan drainase dan pembersihan gulam di sekitar lubang tanam (dapat juga dilakukan dengan cara pemberian mulsa). f. Untuk kegiatan ini. hal-hal yang dapat dilakukan antara lain dengan cara pemberian pupuk. Perbaikan Kondisi Tanah Apabila diketahui adanya beberapa kekurangan berkaitan dengan kondisi tanah maka upaya perbaikannya perlu dilakukan. Penanaman Setelah dilakukan perbaikan kondisi tanah dan bibit dari jenis-jenis yang terpilih telah tersedia maka langkah yang perlu dilakukan adalah melakukan penanaman. Penentuan waktu tanam yang tepat akan menentukan tingkat keberhasilan hidup tanaman. Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan penanaman adalah penyiapan lubang tanam dimana ukuran lubang tanam harus disesuaikan dengan kesuburan tanah serta ukuran bibit tanaman. pemberian humic substance complex (HSC) atau pemberian polimer untuk mengatasi KTK yang rendah (< 16). Penyiapan Lahan Bersamaan dengan kegiatan pengadaan dan penyiapan bibit.

struktur dan komposisi hutan seperti keadaan hutan sebelum hutan tersebut terdegradasi (ITTO. manipulasi akar lateral dan lain-lain). penyiangan. Berbeda dengan konsep rehabilitasi hutan yang bertujuan hanya untuk memperbaiki fungsi dan produktivitas hutan tanpa harus membandingkannya dengan kondisi awal (asli) ketika hutan tersebut belum terdegradasi (Wali. restorasi harus dilaksanakan dengan penuh komitmen serta dengan input pengetahuan yang memadai sehingga restorasi dapat tepat sasaran dan mencapai hasil yang diharapkan. 1992). Teraglue merupakan sebuah perekat yang bersifat polimer yang mampu mengikat unsur hara sehingga tidak mudah tercuci saat hujan. Adapun parameter-parameter yang digunakan dalam mengevaluasi kegiatan adalah sebagai berikut :  Tingkat survival (jumlah tanaman yang hidup). Restorasi ekologi hutan bertujuan untuk memulihkan fungsi. PENUTUP Restorasi merupakan konsep yang tergolong baru dalam upaya pemulihan kondisi ekosistem hutan yang terdegradasi. Sedangkan evaluasi dilakukan pada akhir kegiatan untuk melihat tingkat keberhasilannya sesuai Pedoman Penilaian Keberhasilan Reklamasi Hutan (Menteri Kehutanan. 2002. 156 . 2003). 2009). monitoring dan evaluasi terhadap hasil kegiatan restorasi. Pemeliharaan. jika yang hidup lebih dari 80% maka kegiatan dianggap berhasil  Apakah pertumbuhan tanaman normal? tidak kekuningan? Tidak stagnan?  Apakah akar sudah menembus bagian luar lubang tanaman?  Apakah serasah sudah tercampur dengan tanah (terdekomposisi)?  Adaptabilitas (tanaman dapat hidup)  Kemampuan tanaman untuk dapat bertahan dan melanjutkan hidup. g. Untuk menyelamatkan hutan pada lahan-lahan bekas penambangan batubara. bioremedy dan teraglue serta biji-bijian atau dengan menggunakan tanaman penutup tanah seperti kacang buto.. Lamb et al.  Terbentuknya struktur tegakan  Kehadiran satwa di areal yang direstorasi  Masuknya secara alami jenis-jenis tumbuhan yang ada di sekitar areal yang direstorasi IV. Monitoring dan Evaluasi Setelah penanaman harus dilakukan kegiatan pemeliharaan (yang meliputi penyulaman. produktivitas.Prosiding Workshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara mempercepat revegetasi dapat juga dilakukan dengan penggunaan kompos aktif berupa terabuster. Monitoring perlu dilakukan secara berkelanjutan selama kegiatan berlangsung tanpa melihat hasil.

P. International Union for Conservation of Nature and Natural Resources. Laboratory of Forest and Biotechnology and Environment. Gland. No. 2003. Pedoman Penilaian Keberhasilan Reklamasi Hutan. 2002. Switzerland and Cambridge. tanggal 17 September 2009. Lamb. UK and The World Wide Fund for Nature. Gland Switzerland. K. Setiadi. 2009. ITTO Guidelines for the Restoration. International Tropical Timber Organization. M. SPB Academic Publishing. D.Prosiding Workshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara DAFTAR PUSTAKA [ITTO] International Timber Trade Organization. Bogor Agricultural University. 157 . Wali. Menteri Kehutanan. Netherland. Ecosystem Rehabilitation (Volume 2: Ecosystem Analysis and Sinthesis). Management and Rehabilitation of Degraded and Secondary Tropical Forest. Gilmor. Rehabilitation and Restoration of Degraded Forest. and D. Revegetation Concept for Rehabilitated Degraded Land. Bogor. 1992. Y. 2002.60/Menhut-II/2009.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->