PROSIDING

WORKSHOP IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batubara
BALAI BESAR PENELITIAN DIPTEROKARPA BALAI PENELITIAN KEHUTANAN BANJARBARU BALAI PENELITIAN TEKNOLOGI PERBENIHAN SAMBOJA

Swiss Bel-Hotel Banjarmasin, 21 Oktober 2009

Diterbitkan Oleh : Balai Besar Penelitian Dipterokarpa
Jl. A. Wahab Syahrani No. 68, Sempaja Samarinda-Kaltim | Telp:0541-206364 | Fax: 0541-742298 admin@diptero.or.id | www.diptero.or.id

or.id ISBN : 978-979-17183-7-0 Dicetak Ulang Oleh : Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja DIPA BA 29 BPTP Samboja Tahun 2010 . MP. Didik Purwito. Samarinda Telp. Herry Prijono. Ir. S. MM.Hut. Tjuk Sasmito Hadi.Sc. +62-541-742298 Email : diptero@ymail.Hut.Penanggung Jawab : Ir. A. 68. Rahmat Setiyono. Sempaja. Penyunting : Ir. Nina Juliaty. S. Tata Letak : Nurul Hermawati.com Website : http://www. +62-541-206364 Fax. MM. Herry Prijono.diptero. Ir. Ir. MM. Wahab Syahranie No. Dipublikasikasikan Oleh : Balai Besar Penelitian Dipterokarpa Jl. M.

21 Oktober 2009 Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Balai Besar Penelitian Dipterokarpa .PROSIDING WORKSHOP IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batubara BALAI BESAR PENELITIAN DIPTEROKARPA BALAI PENELITIAN KEHUTANAN BANJARBARU BALAI PENELITIAN TEKNOLOGI PERBENIHAN SAMBOJA Swiss Bel-Hotel Banjarmasin.

Upaya pemulihan lahan bekas tambang batu bara saat ini mutlak segera ditangani secara serius melalui kegiatan reklamasi lahan bekas tambang yang merupakan bagian integrasi dari kegiatan pertambangan. Sesuai dengan tema Workshop tersebut. 19560425 198203 1 010 iii . Samarinda. diucapkan terima kasih. prosiding ini menyajikan 10 makalah utama dan makalah penunjang yang merupakan hasil sintesa penelitian dan uji coba serta kebijakan yang difokuskan pada penyelamatan hutan melalui rehabilitasi lahan bekas tambang batubara. Kritik dan saran untuk perbaikan dimasa datang sangat diharapkan. Herry Prijono. MM NIP. menyelenggaran kegiatan Workshop pada tanggal 20-21 Nopember 2009 di Banjarmasin-Kalimantan Selatan dengan tema “IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batubara”. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud kepedulian dan untuk memecahkan masalah revegetasi hutan pada areal lahan tambang batubara. pertambangan. Untuk penyediaan paket teknologi untuk mendukung kegiatan rehabilitasi lahan bekas tambang batubara di wilayah Hutan Kalimantan.KATA PENGANTAR Luas lahan terdegradasi dan tempat terbuka pada kawasan hutan di wilayah Kalimantan dewasa ini semakin meningkat. pemukiman). Konsekwensi dari sistem pertambangan tersebut adalah luas areal yang terbuka (bare soil) akan semakin bertambah setiap tahunnya disebabkan karena bertambahnya luas areal pertambangan. Kegiatan teknik penambangan batubara pada umumnya dilakukan dengan cara sistem pengupasan permukaan tanah (open pit mining system). Ir. maka Balai Besar Penelitian Dipterocarpa bekerjasama dengan Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru dan Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Semboja. Desember 2009 Kepala Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. Apabila hal tersebut tidak segera diatasi maka akan berdampak: hutan Kalimantan semakin terancam kelestariannya dan akan beralih fungsi menjadi areal non kehutanan (perkebunan. Selain itu disajikan rumusan hasil seminar yang merupakan sintesa dari 10 makalah yang dibawakan dan hasil diskusi serta evaluasi dari peserta seminar. yang akan mengakibatkan terjadinya bencana apabila tidak dilakukan tindakan koreksi. Hal ini disebabkan disamping eksploitasi yang tak terkendali dan perambahan hutan juga kegiatan eksplorasi pertambangan sangat berpengaruh besar terhadap perubahan ekosistem baik itu didalam maupun di luar kawasan hutan. Dari sistem ini langkah-langkah utama untuk mencapai deposit bahan tambang tersebut diperoleh melalui tahapan pembersihan lahan di areal yang akan ditambang (land clearing) serta pengupasan batuan dasar (bedrock) hingga mencapai permukaan deposit. Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya workshop tersebut. Semoga Prosiding ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan kehutanan untuk mendukung penyelamatan hutan melalui rehabilitasi lahan bekas tambang batubara khususnya di wilayah Kalimantan.

.......................... Pemanfaatan Mikroorganisme Dalam Memperbaiki Lahan Bekas Tambang.......................................... 4..................... MAKALAH UTAMA 1.................. 2.......... 6............................................................ Laporan Kepala Balai Besar Penelitian Dipterokarpa ……………………............................... Prosfek............................ Potensi Perdagangan Karbon Pada Lahan Bekas Tambang Kirsfianti Ginoga dan Nur Merispatin ………. Kalimantan Timur Agus Darmawan dan M..... Kitadin Embalut.......................... Kesesuaian Jenis Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batubara di PT. 5...... Berau Coal............... 7.... Peranan Satwaliar Dalam Reklamasi Lahan Bekas Tambang Chandradewana Boer ………........ Aditya Irawan ………............................. Kabupaten Kutai Kartanegara Kaltim Maming Iriansyah dan Adi Susilo ………............................................... Sambutan Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan ………………………..... Arahan Kepala Badan LITBANG Kehutanan Pada Workshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melaui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara ....................... Upaya Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batubara di Kalimantan Selatan Dony Rachmanadi ……..... Daftar Isi .…………… Rumusan Hasil Wokshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara ………………………….................................... iii iv vi ix xii Kata Pengantar …………………………………………………............... Kebijakan Pertambangan Dalam Pencegahan Penanggulangan Kerusakan Pencemaran Lingkungan Dinas Pertambangan dan Energi ………...... 3.............. Kendala dan Alternatif xv 1 8 17 27 41 46 vi .............. Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batubara di PT..............DAFTAR ISI Hal....

...... MAKALAH PENUNJANG 1.... Cara Memproduksi Bibit Jenis Nyatoh (Palaquium sp) dapat Dijadikan Salah Satu Alternatif Untuk Penanaman Areal Bekas Tambang Melalui Ujicoba Stek Pucuk Dengan Perlakukan Zat Perangsang Akar di Rumah Kaca Rayan ………....... 9............... Pertumbuhan Shorea balangeran Burch Pada Umur 3 Tahun Sebagai Salah Satu Tanaman Alternatif Pada Lahan Bekas Tambang Ayi Suyana dan Abdurachman …….....................................................................................Gunawan ………..... Fajri dan Lidya Suastati ……............. 2........ 6.................................................. Adaro Kalimantan Selatan Agus Subandrio.. Mulyana Omon ……....................................... Keragaman Jenis dan Sifat Kimia Tanah Pada Areal Tambang Emas di PT................... Pelaksanaan Reklamasi Batubara di PT.............. Kalimantan Timur Amiril Saridan ………....................... 10....................................... Pemilihan Jenis-jenis Pohon Potensial Untuk Mendukung Kegiatan Restorasi Lahan Tambang Melalui Pendekatan Ekologis Ishak Yassir dan R.. Berau Coal..................................... Kandungan Mikroorganisme Pada Lahan Pasca Tambang Batubara 53 64 77 94 106 120 131 138 145 151 vii .... Restorasi Lahan Bekas Tambang Batubara Wahyu Catur Adinugroho dan Kade Sidiyasa ………..... Bismark ………........... Uji Jenis-jenis Dipterokarpa pada Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang di PT................................... Model Hubungan Kelembagaan Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batubara M..................................... Tata Ruang Reklamasi Tambang Batubara di PT. 4....... KEM Kalimantan Timur Amiril Saridan ………................. Kaltim Prima Coal Kalimantan Timur M......................... 8............................................ Sukarman dan Ronny P............. 3............................ Tambunan ……….... 7.......... 5..

.................... Cara Memproduksi Semai Jenis Pohon Banggeris (Kempassia exelsa) di Persemaian dapat Dijadikan Salah Satu Alternatif untuk Penanaman Areal Bekas Tambang dengan Perlakuan Media Sapih yang Berbeda Rayan ………........................ 10................. 12.............. Reklamasi Tambang Berbasis Kehutanan Sosial Hamdani Fauzi dan Normela Rachmawati ……………………………............................ 158 164 171 180 187 197 219 223 238 244 254 viii ................ Kajian Kelembagaan Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batubara di PT.......................... Prospek Tanaman Gaharu Pada Lahan Bekas Tambang Batubara Ayi Suyana dan Abdurachman ………………............................................................. 9....... Susunan Panitia ...... Metoda Pengadaan Bibit Jenis Sungkai (Peronema canescens) dapat Dijadikan Salah Satu Alternatif Untuk Penanaman Areal Bekas Tambang Melalui Pembiakan Vegetatif Stek Batang Dengan Perlakuan Sungkup di Persemaian Rayan ………. 13........................... Fajri dan Lidya Suastati ……………………………………………… LAMPIRAN Jadwal Acara ..........................………..... Kalimantan Timur Amiril Saridan ……….................................................. 8................................................... Daftar Peserta ....................................................... Teknik Penyimpanan Benih Aquilaria microcarpa Terhadap Persen Kecambah Sebagai Alternatif Pemilihan Jenis untuk Penanaman pada Areal Eks Tambang Batubara Massofian Noor ………................................................. 14..Dina Naemah ……………………………………………………………...................... Berau Coal M. Kitadin............... 11.................................................................................... Uji Coba Reklamasi Tambang Batubara Dengan Jenis-jenis Dipterokarpa di PT...........................

dan fakta telah menunjukkan bahwa izin pinjam pakai kawasan hutan untuk penambangan batubara telah dikeluarkan untuk meminimalisasi dampak buruk yang diakibatkan. tanah.Prosiding Workshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara RESTORASI LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA Oleh: Wahyu Catur Adinugroho dan Kade Sidiyasa†††† Abstrak Penambangan batubara di kawasan hutan secara langsung telah memberikan input terhadap peningkatan laju kerusakan hutan di Indonesia. Beberapa faktor kunci yang harus dipahami diantaranya adalah pemilihan jenis. terabric. khususnya di dalam negeri. Sumber alam ini merupakan energi yang cukup tersedia dan merupakan salah satu komoditi ekspor penghasil devisa negara serta mulai dimanfaatkan sebagai sumber energi pengganti minyak dan gas bumi. Tingginya potensi batubara dengan sebarannya yang luas telah menimbulkan suatu persoalan baru dalam rencana pemanfaatannya. tetapi juga pengetahuan yang memadai tentang bagaimana melakukan revegatasi secara benar. baik sebagai fungsi produksi. unsur hara. Ibarat nasi suah menjadi bubur. analisis terhadap hambatan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan vegetasi serta perbaikan kondisi tanah. Untuk memperbaiki kondisi vegetasi yang rusak tersebut berbagai upaya harus dilakukan. akan terus meningkat akibat semakin menyusutnya minyak dan gas bumi. yakni dengan cara menanami kembali (restorasi) lahan-lahan bekas tambang tersebut. Dengan demikian maka pemanfaatan dimasa yang akan datang. Upaya pemulihan kembali struktur hutan dan fungsi kawasan seperti tercantum dalam klausal pinjam pakai kawasan harus dilakukan secara bertanggungjawab oleh perusahaan pengelola. Kewajiban untuk memulihkan kembali struktur hutan sehingga hutan dapat †††† Peneliti Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja 151 . tidak hanya dibutuhkan komitmen. pertumbuhan tanaman. bio-enzim. humic acid. Khususnya bagi areal batubara yang terdapat di kawasan hutan telah memunculkan sikap pro dan kontra. PENDAHULUAN Salah satu kekayaan alam Indonesia cukup melimpah. Dalam pelaksanaan kegiatan restorasi. fungsi konservasi ataupun fungsi lindung. karena apabila kegiatan eksploitasi batubara di areal tersebut dilakukan maka hutan yang ada di atasnya dapat dipastikan akan rusak atau bahkan musnah. pemilihan jenis tumbuhan. khususnya yang terdapat di Kalimantan adalah batubara. Kegiatan restorasi harus dilakukan pada kawasan bekas tambang atau kawasan terdegradasi lainnya yang tidak dapat lagi menjalankan kembali fungsinya seperti semula sehingga dengan restorasi diharapkan struktur tegakan pulih kembali seperti semula atau mendekati kondisi semula. iklim. Penerapan teknologi modern yang ramah lingkungan seperti penggunaan kompos aktif. Kata kunci: struktur fungsi hutan. terabuster dan teraglue perlu dilakukan dalam upaya memperbaiki kondisi tanah. lahan terdegradasi. lahan-lahan terdegradasi tanpa vegetasi yang menutupinya tampak terlihat dimana-mana pada lahan bekas tambang batubara. I.

Prosiding Workshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara menjalankan fungsinya kembali setelah penambangan sebenarnya telah tercantum dalam kesepakatan pinjam pakai kawasan hutan. yaitu sesuai dengan klausul yang tercantum dalam draft perjanjian pinjam pakai kawasan yang pada intinya tidak memperbolehkan adanya upaya merubah fungsi kawasan. asosiasi dan kerapatan tajuk. Restorasi biasanya meliputi tegakan reklamasi (yakni yang berhubungan dengan pemulihan tanah) dan revegetasi (mengembalikan vegetasi hutan. Hanya saja banyak kalangan yang seringkali memanfaatkan momen-momen tertentu untuk mencapai tujuan tertentu pula. fungsi konservasi (bagi hutan konservasi) dan fungsi lindung (bagi hutan lindung). Terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk melakukan sutau kegiatan restorasi dimana tahapan-tahapan ini harus diketahui. Hal ini dimaksudkan agar tegakan hutan yang rusak atau musnah akibat pembukaan tambang tersebut kembali atau mendekati seperti keadaan semula. Hutan yang rusak akan mempunyai struktur tegakan yang berbeda dengan kondisi awalnya sehingga fungsi hutan akan terganggu. III. STRUKTUR. namun pengetahuan yang memadai dalam melakukan revegasti lahan bekas tambang batubara sangat dibutuhkan. bahwa hutan memiliki berbagai fungsi. Berkaitan dengan hal tersebut. Adapun parameter suatu struktur tegakan hutan dipterokarpa. semak belukar dan vegetasi lainnya). Dalam hal ini. suatu struktur hutan akan membentuk hutan yang memiliki fungsi yang berbeda-beda. yaitu konservasi. Dalam kaitannya dengan dengan kegiatan restorasi maka tujuannya adalah untuk memulihkan kembali struktur dan fungsi hutan seperti (mendekati) kondisi semula. tetapi untuk melaksanakannya tidak hanya dibutuhkan komitmen. TAHAPAN RESTORASI Kegiatan restorasi pada areal bekas tambang atau areal terdegradasi lainnya perlu dilakukan. yakni lokasi dan legalitas status kawasan. distribusi. Selain itu. karena euphoria konservasi. adalah kekayaan jenis. Kegiatan restorasi juga seringkali diidentikkan dengan kegiatan untuk tujuan konservasi. Sebagai contoh. II. maka kegiatan restorasi tersebut biasanya diarahkan untuk menunjang program konservasi walaupun areal yang direstorasi tersebut sebenarnya merupakan kawasan hutan produksi atau mungkin hutan lindung. restorasi didefinisikan sebagai upaya memperbaiki atau memulihkan kondisi lahan yang rusak dengan membentuk struktur dan fungsinya sesuai (mendekati) dengan kondisi semula. produksi dan lindung. baik dari segi struktur maupun fungsinya. yaitu fungsi produksi (bagi hutan produksi). Pemahaman mengenai struktur hutan dan fungsi hutan ini menjadi hal yang penting karena kerusakan hutan selalu berkaitan dengan struktur dan fungsi hutan. kerapatan pohon. dominasi. dalam makalah ini diuraikan bagaimana seharusnya memulihkan kembali lahan bekas tambang batubara sehingga tercapai struktur dan fungsi hutan sebenarnya. sebagai berikut : 152 . dipahami dan dicermati oleh para pelaku restorasi sehingga kegiatannya dapat terlaksana sesuai dengan rencana dan tujuan yang ingin dicapai. FUNGSI HUTAN DAN RESTORASI Kegiatan restorasi yang dilaksanakan di berbagai tempat seringkali tidak tepat pada sasaran. Hal ini terjadi karena kurang atau tidak adanya pemahaman yang memadai. padahal keduanya memiliki tujuan yang berbeda. sedikitnya ada dua hal yang juga harus diketahui sebelum memulai tahapan kegiatan restorasi. Struktur hutan senantiasa berkaitan erat dengan fungsi hutan.

2. Seorang surveyor yang baik akan mampu mengidentifikasi kawasan secara detail dan mengenali kondisi/sifat spesifik yang menonjol dari suatu lokasi sehingga mampu mendeliniasi atau memetakan kawasan dengan baik berdasarkan kondisi spesifiknya. Kondisi biofisik meliputi informasi tentang topografi. UPL. Untuk melakukan kegiatan ini diperlukan keahlian. Adapun data karakteristik lapangan yang diperlukan adalah kondisi biofisik dan sosial ekonomi kawasan. kepekaan dan pengalaman yang memadai bagi seorang surveyor. iklim. Data ini diperlukan untuk kemudahan akses pelaku restorasi menuju lokasi. Hal ini diperlukan untuk menentukan arah dan strategi tindakan restorasi yang akan dilakukan. UKL. Survey Lapangan Survey lapangan (ground check) dimaksudkan untuk melihat secara langsung kondisi kawasan yang akan direstorasi serta mengumpulkan data yang berkaitan dengan karakteristik lapangan. ijin yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan maupun informasi-informasi yang terkait dengan sejarah kawasan. misalnya tentang jenis tumbuhan yang ditanam. Informasi tentang kondisi topografi diperlukan untuk menentukan tindakan penanganan lahan yang ada agar sasaran konservasi dapat dipertahankan. beberapa informasi tentang legal status kawasan (hutan produksi. ketelitian. tanah. dimana restorasi harus dilakukan secara spesifik sesuai dengan fungsi kawasan dan penentuan jenis tumbuhan yang akan ditanam.Prosiding Workshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara 1. Sedangkan informasi tentang kondisi vegetasi diperlukan untuk menentukan tingkat penutupan vegetasi serta mengidentifikasi jenis-jenis yang tumbuh di 153 . selanjutnya mampu menentukan metode sampling atau jumlah sampel (cuplikan) yang tepat yang dapat mewakili kondisi seluruh kawasan. baik yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. vegetasi dan satwa. hutan konservasi atau hutan lindung) dan ijin-ijin terkait. meski demikian tidak menutup kemungkinan terjadinya perbedaan pendapat dalam menyikapi ketentuan-ketentuan tersebut. Lokasi Restorasi Hal pertama atau mendasar yang perlu diketahui oleh pelaku restorasi adalah lokasi/kawasan yang akan direstorasi. pengadaan bibit dan lain-lain. Legalitas Status Kawasan dan Ijin-ijin Terkait Setelah diketahui lokasi yang akan direstorasi maka sebelum dilakukan survey ke lapangan. Masalah ini dapat diatasi dengan mengajukan argumentasi yang didasari oleh hasil-hasil percobaan ilmiah yang telah menunjukkan hasil yang baik. Setelah data sekunder dikumpulkan maka tahapan kegiatan dalam restorasi tersebut di atas dapat dilakukan sebagai berikut: a. Dalam hal ini perlu pertimbangan-pertimbangan apakah diperlukan sistem terasering atau tidak. seperti dokumen AMDAL. selain itu pelaku restorasi mempunyai gambaran tentang letak kawasan yang akan direstorasi. kecermatan. Selain itu juga restorasi harus dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam ijin-ijin terkait yang telah ditetapkan. Hal ini tercantum secara jelas dalam peta lokasi. Informasi iklim diperlukan untuk menentukan jadwal kegiatan penanaman serta penentuan jenis tumbuhan yang sesuai dan mampu beradaptasi dengan kondisi iklim yang ada.

termasuk tingkat kesulitan dalam upaya perbanyakannya. Pemilihan Jenis Tanaman Setelah dilakukan survey lapangan maka tahapan selanjutnya adalah membuat daftar jenis tumbuhan yang potensial untuk ditanam. Al. Dalam hal ini disimpulkan bahwa jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitarnya tersebut akan mampu beradaptasi dengan baik. yakni mengembalikan struktur dan fungsi hutan ke keadaan seperti semula (mendekati) semula. S dan Mn). P. Pengadaan Bibit Jenis-jenis tumbuhan yang telah ditentukan untuk digunakan dalam program restorasi. kerapatan pori. c. kandungan unsur hara makro (bahan organik. pH. yang penting jenis yang akan ditanam tersebut adalah bersifat pioner dan ditanam tidak mengikuti pola pembuatan hutan tanaman. N. Dalam hal ini penggunaan jenis tanaman eksotik dapat dipertimbangkan. Hal-hal yang menjadi perhatian pokok dalam perencanaan kegiatan restorasi adalah sebagai berikut : Berkaitan dengan kondisi tanah. tanah bersifat padat. selanjutnya dilakukan upaya pengadaan bibitnya. Sifat fisik dan kimia tanah yang sangat perlu diketahui yang dapat menjadi faktor penentu dan pembatas dalam pertumbuhan tanaman antara lain adalah tekstur. dalam hal pemilihan jenis. hal ini sangat penting mengingat tanah merupakan media tumbuh tanaman yang akan menentukan tanaman dapat hidup atau tidak. kemampuan menyerap air. perlu juga mempertimbangkan ketersediaan sumber bibit. Berdasarkan uji contoh tanah pada masing-masing blok dan sejarah kawasan. Pengambilan contoh tanah pada lapisan olah (top soil). Fe. Hambatanhambatan ataupun keterbatasan-keterbatasan tersebut dapat berupa kurangnya nutrisi. dimana metode sampling dan jumlah contih (cuplikan) yang harus diambil harus ditentukan dengan tepat. Pengadaan bibit 154 . K. Selain itu. tingginya kandungan logam berat seperti Cu. b. Cara yang baik yang dapat dilakukan dalam melihat kemampuan suatu jenis dalam beradaptasi tersebut adalah dengan cara mengobservasi jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitar areal yang akan direstorasi. misalnya sebagai akibat dari kandungan Al > 3 me (60 %). dan kesesuaiannya dengan tujuan restorasi. KTK yang rendah (< 16). Pada areal yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa blok. yakni yang cenderung bersifat homogen. Mg > Ca. yakni pada kedalaman 0-30 cm dan lapisan sub-soil (pada kedalaman 30-50 cm) dan tersebar merata sehingga dapat mewakili kondisi tanah pada masing-masing blok. Dalam pengumpulan informasi tentang kondisi tanah ini diperlukan pemahaman tentang teknik sampling. Zn dan Fe sehingga tanah bersifat racun (toxic). pH yang rendah.Prosiding Workshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara lokasi atau di sekitar lokasi yang akan direstorasi yang nantinya diharapkan akan dapat menjadi sumber bibit dalam kegiatan restorasi. Zn. Ca dan Mg) dan mineral racun (Al. Untuk mengetahui sifat-sifat fisik dan kimia tanah maka analisis contoh tanah harus dilakukan. Jenis-jenis tumbuhan yang potensial tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan iklim dan kemampuannya dala beradaptasi dengan kondisi tanah di kawasan yang akan direstorasi. KTK. selanjutnya dilakukan pengambilan contoh tanah pada masing-masing blok. HC yang rendah. kemudian dilakukan analisis berkaitan dengan kendalakendala yang dapat mengganggu pertumbuhan vegetasi.

Penggunaan terabuster dimaksudkan agar unsur hara yang tersedia dapat langsung diserap oleh tanaman. Untuk itu maka informasi yang berkaitan dengan iklim sangat diperlukan. sedangan bioremedy (penambahan mikoriza) dimaksudkan untuk meningkatkan penyerapan unsur hara oleh tanaman. keseimbangan serta ketersediaannya bagi tanaman. pemberian kompos aktif berupa obat-obatan penyubur tanah. Dalam kegiatan penanaman diperlukan input teknologi untuk meningkatkan keberhasilan hidup tanaman. Penentuan waktu tanam yang tepat akan menentukan tingkat keberhasilan hidup tanaman. Untuk kegiatan ini. hal-hal yang dapat dilakukan antara lain dengan cara pemberian pupuk. misalnya NPK untuk mengatasi kurangnya nutrisi tanah. hal pertama yang perlu dilakukan adalah membuat pola (design) penanaman yaitu dengan menentukan jarak tanam dan komposisi jenis tumbuhan yang akan ditanam. Pada lahan yang berbatu-batu. pemberian humic substance complex (HSC) atau pemberian polimer untuk mengatasi KTK yang rendah (< 16). Dalam hal ini perlu mempertimbangan perkembangan lebar tajuk yang bervariasi. Teknologi ini diantaranya dengan penggunaan bioremedy dan terabuster. dalam upaya perbanyakan bibit tersebut perlu diperhatikan agar bibit yang dihasilkan adalah bibit-bibit yang berkualitas baik. Untuk membantu dalam penggemburan tanah di sekitar lubang tanam dapat dilakukan dengan cara pemberian terabric dan humic acid. maka dapat dilakukan kegiatan penyiapan lahan untuk kegiatan penanaman. Kekurangan-kekurangan terhadap kondisi tanah tersebut dapat berupa kandungan hara yang rendah. Hal ini diperlukan agak awal agar pada saat penanaman kondisi lahan dalam keadaan siap sehingga akar tanaman dapat berkembang dengan baik. pembuatan drainase dan pembersihan gulam di sekitar lubang tanam (dapat juga dilakukan dengan cara pemberian mulsa). e. Untuk menilai baik tidaknya bibit-bibit tersebut antara lain dapat dilakukan dengan cara memeriksa bentuk atau sistem perakarannya karena akar merupakan organ yang penting bagi tumbuhan yang berperan dalam menyerap unsurunsur hara dan air untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya. untuk 155 . Namun demikian. Penanaman Setelah dilakukan perbaikan kondisi tanah dan bibit dari jenis-jenis yang terpilih telah tersedia maka langkah yang perlu dilakukan adalah melakukan penanaman. Perbaikan Kondisi Tanah Apabila diketahui adanya beberapa kekurangan berkaitan dengan kondisi tanah maka upaya perbaikannya perlu dilakukan. Penyiapan lahan dapat dilakukan dengan cara menggemburkan media tanam sehingga tanah menjadi remah. Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan penanaman adalah penyiapan lubang tanam dimana ukuran lubang tanam harus disesuaikan dengan kesuburan tanah serta ukuran bibit tanaman. Dalam upaya memperbaiki kondisi tanah. Penyiapan Lahan Bersamaan dengan kegiatan pengadaan dan penyiapan bibit. d. pemberian bio-enzim untuk mengubah unsur hara menjadi tersedia sehingga dapat diserap tanaman. f.Prosiding Workshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara tersebut dapat melalui sistem perbanyakan secara vegetatif maupun generatif.

Sedangkan evaluasi dilakukan pada akhir kegiatan untuk melihat tingkat keberhasilannya sesuai Pedoman Penilaian Keberhasilan Reklamasi Hutan (Menteri Kehutanan. Teraglue merupakan sebuah perekat yang bersifat polimer yang mampu mengikat unsur hara sehingga tidak mudah tercuci saat hujan. 1992). produktivitas. Pemeliharaan.. penyiangan. 156 . Berbeda dengan konsep rehabilitasi hutan yang bertujuan hanya untuk memperbaiki fungsi dan produktivitas hutan tanpa harus membandingkannya dengan kondisi awal (asli) ketika hutan tersebut belum terdegradasi (Wali. manipulasi akar lateral dan lain-lain).Prosiding Workshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara mempercepat revegetasi dapat juga dilakukan dengan penggunaan kompos aktif berupa terabuster. Adapun parameter-parameter yang digunakan dalam mengevaluasi kegiatan adalah sebagai berikut :  Tingkat survival (jumlah tanaman yang hidup). Monitoring perlu dilakukan secara berkelanjutan selama kegiatan berlangsung tanpa melihat hasil. bioremedy dan teraglue serta biji-bijian atau dengan menggunakan tanaman penutup tanah seperti kacang buto. 2009). jika yang hidup lebih dari 80% maka kegiatan dianggap berhasil  Apakah pertumbuhan tanaman normal? tidak kekuningan? Tidak stagnan?  Apakah akar sudah menembus bagian luar lubang tanaman?  Apakah serasah sudah tercampur dengan tanah (terdekomposisi)?  Adaptabilitas (tanaman dapat hidup)  Kemampuan tanaman untuk dapat bertahan dan melanjutkan hidup.  Terbentuknya struktur tegakan  Kehadiran satwa di areal yang direstorasi  Masuknya secara alami jenis-jenis tumbuhan yang ada di sekitar areal yang direstorasi IV. PENUTUP Restorasi merupakan konsep yang tergolong baru dalam upaya pemulihan kondisi ekosistem hutan yang terdegradasi. struktur dan komposisi hutan seperti keadaan hutan sebelum hutan tersebut terdegradasi (ITTO. 2003). Monitoring dan Evaluasi Setelah penanaman harus dilakukan kegiatan pemeliharaan (yang meliputi penyulaman. restorasi harus dilaksanakan dengan penuh komitmen serta dengan input pengetahuan yang memadai sehingga restorasi dapat tepat sasaran dan mencapai hasil yang diharapkan. 2002. Untuk menyelamatkan hutan pada lahan-lahan bekas penambangan batubara. Lamb et al. monitoring dan evaluasi terhadap hasil kegiatan restorasi. g. Restorasi ekologi hutan bertujuan untuk memulihkan fungsi.

2003. 2002. 2009. Gilmor.60/Menhut-II/2009. Wali. Ecosystem Rehabilitation (Volume 2: Ecosystem Analysis and Sinthesis). Gland Switzerland. UK and The World Wide Fund for Nature.Prosiding Workshop IPTEK Penyelamatan Hutan Melalui Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Batu Bara DAFTAR PUSTAKA [ITTO] International Timber Trade Organization. Bogor Agricultural University. Netherland. Rehabilitation and Restoration of Degraded Forest. 157 . and D. ITTO Guidelines for the Restoration. Pedoman Penilaian Keberhasilan Reklamasi Hutan. Switzerland and Cambridge. Laboratory of Forest and Biotechnology and Environment. P. SPB Academic Publishing. Setiadi. Menteri Kehutanan. Y. 2002. Bogor. Revegetation Concept for Rehabilitated Degraded Land. Management and Rehabilitation of Degraded and Secondary Tropical Forest. No. Gland. International Tropical Timber Organization. M. tanggal 17 September 2009. International Union for Conservation of Nature and Natural Resources. 1992. K. D. Lamb.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful