1

Hal-hal Terbaru Tentang Transfusi Darah
Ronald D. Miller, MD
Sejak dikenalnya hepatitis non A, non B (HCV) sebagai komplikasi mayor transfusi darah, penyebab infeksi lainnya seperti HTLV-I (human T-cell leukemia/virus limfoma tipe I) and CMV (sitomegalovirus) timbul bersama infeksi yang paling menghancurkan yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Infektifitas darah homolog telah menyebabkan pergeseran perhatian dari menyempurnakan prosedur pencocokan silang dan mencegah reaksi transfusi ke permasalahan yang berkisar antara pencegahan penyakit yang ditularkan melalui transfusi dan immunosupresi yang diinduksi oleh transfusi hingga mempertanyakan apakah banyak transfusi darah homolog benar-benar berindikasi klinis. Data tahun 1996 menunjukkan bahwa resiko infeksi dari darah homolog telah berkurang secara bermakna (Tabel 1) . Hal ini utamanya disebabkan oleh luasnya pengujian pada seluruh darah yang didonasikan (Tabel 2). Walaupun belum diukur dengan yang teliti, pengujian yang diperbaiki (misalnya pengujian molekular dan inaktifasi viral), dengan menggunakan pengujian yang mengidentifikasi asam-asam nukleat virus, window period (Tabel 1) menurun secara bermakna dan insidensi HIV dan hepatitis berkurang hingga kurang lebih 1/1.000.000. Sebelum meninjau status produk-produk darah sintetik, pernyataan berbagai konsep pada kedokteran transfusi akan diperiksa.

Tabel 1 : Persentase Resiko Infeksi yang Ditularkan melalui Transfusi dengan Unit Penyaring Darah di Amerika Serikat
Resiko 1. HIV 2. HTLV 3. Cytomegalovirus 4. HCV 5. HBV 6. Resiko infeksi agregat 1/493.000 1/641.000 <1.0% 1/103.000 1/63.000 1/34.000* Window Period (hari) 22 51 dengan cepat 82 59 ——

HIV = human immunodeficiency virus tipe 1 HTLV = human T-cell lymphotropic virus HCV = virus hepatitis C HBV = virus hepatitis B * 88% HBV & HCV

Tabel 2: Pengujian Penyakit Infeksi terhadap Darah Transfusi H
1. Pengujian diskontinuitas alanin aminotransferase 2. Pengujian antibodi hepatitis C 3. Antibodi terhadap antigen inti hepatitis B 4. HIV-1* 5. HIV-2

Jelaslah transpor oksigen dapat dipertahankan dengan hematokrit hingga 20%. Defenisi akhir kadar hematokrit atau hemoglobin yang dibutuhkan untuk melakukan transfusi darah harus berdasarkan pada banyak faktor seperti status kardiovaskular. Bagaimanapun juga ketakutan pada tahun-tahun terakhir akan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh transfusi. indikasi untuk transfusi darah mungkin juga tergantung pada sumber darah. Pengujian serologik terhadap sifilis H dari JAMA 1995. kristaloid atau koloid). cardiac output. 274: 1374 * HIV = human immunodeficiency virus ** HTLV = human T-cell lymphotropic virus I. darah tepatnya diberikan untuk meningkatkan baik kapasitas pengangkutan oksigen dan volume intravaskular. Bulletin tersebut menyatakan bahwa “kapasitas pengangkutan oksigen adekuat dapat dipenuhi dengan hemoglobin 7 g/dl atau bahkan lebih kurang bila volume intravaskular adekuat . indikasi-indikasi untuk darah autolog mungkin lebih liberal karena tidak akan menyebarkan penyakit (misalnya. takikardi). umur. menyebabkan peninjauan ulang terhadap indikasi ini. peningkatan volume vaskular seharusnya bukan merupakan suatu indikasi untuk transfusi darah. kehilangan darah intraoperatif) dengan hematokrit kurang dari 21% seringkali membutuhkan transfusi darah. Dengan anggapan volume intravaskular normal dan respon kompensasi kardiovaskular normal (contohnya. oksigenasi arterial. Transfusi darah biasanya diberikan untuk meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen dan volume intravaskular. Yang lebih memperumit permasalahan ini. Bagaimanapun juga. National Institutes of Health Consensus Conference berpendapat bahwa pasien-pasien sehat dengan hematokrit lebih besar daripada 30% jarang membutuhkan transfusi darah perioperatif sedang pasien-pasien tersebut dengan anemia akut (misalnya. Pada bulan Juli 1989 FDA Drug Bulletin. Dalam sejarah.2 6. darah autolog sebaiknya tidak dipandang sepenuhnya aman karena adanya kemungkinan kesalahan klinis dan reaksi hemolitik sesudah transfusi. hematokrit kurang dari 30% (atau hemoglobin kurang dari 10 g/dl) menunjukkan kebutuhan untuk transfusi darah perioperatif. khususnya Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS). memberikan panduan keras untuk pemberian sel darah merah. hepatitis dan AIDS) dibandingkan dengan darah homolog. Sehingga. Dari segi praktisnya. karena volume intravaskular dapat diperbesar dengan pemberian cairan yang tidak menularkan infeksi (misalnya. Indikasi untuk Transfusi Darah Indikasi untuk transfusi darah makin dipertanyakan. peningkatan kapasitas pengangkutan oksigen merupakan satu-satunya indikasi nyata untuk transfusi darah. Baru-baru ini. kehilangan darah yang diantisipasi. Secara kritis berapa nilai hematokrit/ hemoglobin yang diperlukan untuk kapasitas pengangkutan O 2. dan volume darah. berdasarkan teori. Sebagai contoh. Walaupun demikian. bila seorang pasien mengalami perdarahan. HTLV I/II** 7.

kekhawatiran bahwa transfusi darah seringkali diberikan secara tidak tepat sehingga diperlukan penelitian yang lebih cermat terhadap praktek transfusi. atlit yang terlatih dan pasien-pasien kardiak postoperatif mengalami perbaikan kemampuan fisik bila kadar hemoglobin ditingkatkan. banyak komite transfusi rumah sakit mengadakan pemeriksaan ulang pada pasien-pasien didapatkan hematokrit postoperatif lebih tinggi dari normal (33-34 %) dan menerima darah sehingga perlu ditinjau kembali indikasi pemberian transfusi darah. pada pasien-pasien yang sehat. pH intramukosal) dapat menjadi indikasi untuk transfusi darah. Sehingga seorang dokter ahli anestesi harus menyatakan secara jelas dalam status rumah sakit alasan pemberian transfusi darah. Menggunakan data pada sebuah populasi pembedahan orthopedik. hemoglobin lebih tinggi dari 10 g/dl) dapat menguntungkan pasien yang sangat tidak sehat. .0 g/dl tidak menyebabkan adanya bukti oksigenasi yang tidak adekuat. tidak dapat dihasilkan kesimpulan tepat dari data yang sangat berguna tapi bersifat usulan ini. Meskipun demikian. Kenyataannya satu penelitian menemukan bahwa bila darah yang disimpan lebih dari 15 hari diberikan. Bagaimanapun juga. Pengaruh usia darah yang diberikan akan didiskusikan nanti pada presentasi ini. umur) dan peningkatan kapasitas oksigen (misalnya. akan terjadi iskemia limpa. Weiskopf et al menemukan. Namun.” Ada kondisi medis yang dapat membenarkan pemberian darah untuk mencapai hemoglobin yang lebih tinggi (misalnya. baik dokter dan komite transfusi akan mengevaluasi lebih lanjut ketepatan transfusi tersebut. Peninjauan ini dilakukan untuk menentukan apakah darah telah diberikan dengan tepat. Tidak ada pengukuran spesifik yang dapat secara konsisten memperkirakan kapan seorang pasien diuntungkan oleh transfusi darah. Walaupun demikian terdapat bukti bahwa kualitas (contohnya. Sebaliknya. Bagaimanapun juga pasienpasien ini tidak dipermasalahkan dengan stress pemulihan dari pembedahan dan anesthesia. Weiskopf et al menemukan bahwa pasien yang tidak dapat meningkatkan cardiac outputnya dengan cara meningkatkan denyut jantungnya sebaiknya menerima transfusi hingga kadar hemoglobin lebih dari 10 g/dl. beberapa kelompok telah mencoba mendefenisikan keadaan dimana transfusi darah sebaiknya diberikan dengan mengukur oksigenasi jaringan dan hemodinamik (contohnya. Yang terbaru. variasi kadar hemoglobin tidak berhubungan dengan lamanya hospitalisasi. Bila ditemukan transfusi yang tidak tepat.3 untuk melakukan perfusi. Lebih baru lagi. biasanya pada pasien-pasien perawatan intensif. Mungkin indikator lebih sensitif terhadap oksigenasi jaringan (misalnya. penurunan konsentrasi hemoglobin hingga 5. peningkatan konsumsi oksigen sebagai respon terhadap kandungan oksigen). Sayangnya. konsep yang ditegaskan oleh Purdy et al menyatakan bahwa pasien-pasien yang menerima darah yang berumur 17 hari dibandingkan dengan darah yang berumur 25 hari mempunyai tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi. Sebagai contoh. penyakit arteri koroner).

3. intraoperatif dan postoperatif. %BV Denyut nadi. hemodilusi akut normovolemik. 5. Indikasi untuk transfusi sel darah merah autolog mungkin lebih baik daripada sel darah merah alogenik karena resiko transmisi penyakit yang lebih rendah. Lebih lanjut.4 American Society of Anesthesiologists (ASA) telah mengembangkan Panduan Praktek untuk Terapi Komponen darah. Rekomendasi ASA untuk transfusi darah adalah: Rekomendasi: Sel Darah Merah Organisasi tersebut menyimpulkan bahwa: 1. hipotensi yang disengaja. per menit Tekanan darah (mm Hg) Tekanan nadi Tes pengisian kapiller Pernapasan per menit Urine . Tidak disarankan hanya menggunakan pemicu hemoglobin untuk pasien yang gagal memperbaiki semua faktor-faktor fisiologis dalam pembedahan penting yang dapat mempengaruhi oksigenasi. 2. Transfusi jarang diindikasikan bila konsentrasi hemoglobin lebih besar dari 10 g/dL dan hampir selalu diindikasikan bila kurang dari 6 g/dL. khususnya bila anemia akut. beberapa organisasi menekankan penggunaan tanda-tanda vital dan kehilangan darah sebagai indikator: Print Pengelompokan American College of Surgeons terhadap perdarahan Akut Faktor Kehilangan darah. ml/jam SSP (status mental) Penggantian cairan (hukum 3:1) I up to 750 up to 15 >100 Normal Normal 14-20 ≥30 Sedikit gelisah Kristaloid II 750-1500 15-30 >100 Normal Positif 20-30 20-30 Cukup gelisah Kristaloid III 1500-2000 30-40 >120 Menurun Menurun Positif 30-40 5-10 Gelisah bingung Kristaloid + darah ≥40 IV ≥2000 ≥140 Menurun Menurun Positif >35 dpt diabaikan Bingung letargi Kristaloid +darah Normal/meningkat Menurun . Panduan ini menekankan pentingnya penetapan resiko pasien terhadap komplikasi yang berhubungan dengan oksigenasi yang tidak adekuat. penggunaan darah autolog preoperatif. ml Kehilangan darah. dan obat-obatan dapat saja menguntungkan. Apakah konsentrasi hemoglobin sedang (6-10 g/dL) membutuhkan transfusi sel darah merah harus berdasarkan resiko pasien terhadap komplikasi-komplikasi oksigenasi yang tidak adekuat. Bila keadaan tepat. suatu konsep yang lebih ditekankan barubaru ini. 4.

. Sebagai contoh. ada 182 kegawatan yang berhubungan transfusi dilaporkan ke FDA. Lebih lanjut mereka membantah bahwa darah autolog tidak mempunyai resiko. ada pendapat bahwa darah autolog tidak lebih aman dibandingkan dengan darah alogenik (misalnya. 29 (16%) diantaranya disebabkan oleh kontaminasi bakterial. Satu dari 16. Kenyataannya. emfisema. panduan berikut disarankan bahwa pemberian satu unit PRC akan meningkatkan hematokrit 3-5 %. ! Hemoglobin < 8 g/dL ! Hemoglobin < 10 g/dL dengan penyakit berat (misalnya. dari resiko infeksi).5 Panduan yang lebih sederhana akan sangat menolong. Sehingga disimpulkan bahwa darah alogenik juga cukup beresiko. beberapa komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah autolog ada pada daftar di bawah: 1.Satu contoh dari penelitian seperti itu adalah pasien-pasien histerektomi. Karena itu. Darah Autologous dibandingkan dengan Darah Alogenik Secara mengejutkan. dari tahun 1986 hingga 1991. Hampir semua dengan darah alogenik walaupun dua pasien juga mendapatkan darah autolog. darah autolog lebih baik dibanding darah alogenik. dengan bantuan Habibi et al. 10 kasus infeksi Yersinia enterokolitika yang dilaporkan. Karena itu. Anemia 2.000 donasi darah autolog mengalami reaksi yang cukup berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit. Anjuran banyak bank darah. disimpulkan bahwa darah autolog sebelum operasi lebih baik dihapuskan karena akan meningkatkan resiko transfusi darah alogenik. II. program darah autolog dapat saja dihapuskan. Unit yang salah (1:100.000) 4. Sebagai contoh. penyakit jantung iskemik) ! Hemoglobin < 10 g/dL dengan darah autolog ! Hemoglobin < 12 g/dL dan tergantung ventilator Pertimbangannya peningkatan kapasitas pengangkutan oksigen lebih penting daripada peningkatan volume intravaskular. Karena itu penulis menekankan pentingnya penetapan hemoglobin atau hematokrit. Transfusi darah yang lebih sering Saran untuk pembatasan transfusi darah autolog tidak meliputi imunosupresi (lihat diskusi selanjutnya) atau penyebaran infeksi dalam darah alogenik. Indikasinya adalah: ! Kehilangan darah > 20% volume darah bila lebih dari 1000 ml. Kanter et al menemukan bahwa 25 dari 140 pasien yang mendonorkan darahnya dirinya harus ditransfusi kembali sedangkan dari 123 pasien yang tidak mendonorkan darahnya sendiri hanya 1 yang perlu ditransfusi. Iskemia miokardial preoperatif dari anemia 3.

PTT paling kurang 1. Koagulasi Dokter ahli anestesi mengetahui bahwa kecenderungan perdarahan sering terjadi pada pasienpasien yang ditransfusi secara masif. Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa. Lebih lanjut. Walaupun penekanan utama pada hitung thrombosit. Koagulopati ini disebabkan oleh kombinasi banyaknya volume darah yang diberikan dan lamanya hipotensi atau hipoperfusi. ASA menyarankan pemberian FFP dengan panduan berikut: 1. Bila dokter tetap ingin memberikan FFP kriteria berikut harus ditetapkan: 1. Buletin Obat FDA baru (Juli 1989) menyimpulkan bahwa FFP sebaiknya jangan diberikan: 1. Untuk reversal mendesak terapi warfarin. Nyatanya. Hal ini mungkin karena thrombosit dilepaskan ke dalam sirkulasi dari limpa. beberapa pengarang mempertanyakan peranan thrombositopenia pada koagulopati pada pasien-pasien yang ditransfusi secara masif. pasien yang hipotensif dan menerima banyak unit darah kemungkinan terjadi koagulopati baik karena DIC maupun karena berkurangnya faktor-faktor koagulasi karena penyimpanan darah di bank darah. Untuk ekspansi volume. Profilaksis setelah operasi By Pass Yang lebih baru lagi. . Hitung thrombosit lebih besar daripada 70. Perdarahan menyeluruh yang tidak dapat dikendalikan dengan jahitan bedah atau kauter 2. Jelasnya.6 III. Reed et al menemukan tidak ada keuntungan pemberian thrombosit profilaksis selama transfusi masif. banyak pasien yang telah menerima lebih dari 100 unit darah bertahan dengan perubahan kecil pada koagulasi.000/mm (untuk menjamin bahwa thrombositopenia bukan merupakan penyebab perdarahan). FFP tetap diberikan untuk pengobatan koagulopati yang disebabkan oleh transfusi. Konferensi ini menyimpulkan bahwa pemberian FFP sebagai bagian dari terapi koagulopati yang disebabkan oleh transfusi darah masif hanya sedikit yang dapat dibuktikan kebenarannya. Profilaksis dengan transfusi darah masif 3. > 1 jam) dapat mentolerir banyak unit darah tanpa menyebabkan koagulopati. Keseluruhan peningkatan penggunaan FFP pada tahun 1970an menyebabkan National Institutes of Health (NIH) mengadakan konferensi untuk membahas masalah ini pada tahun 1985. Mereka secara tepat menunjuk bahwa hitung thrombosit jarang menurun serendah yang diperkirakan dari pengenceran saja.5 kali dari normal. sumsum tulang dan karena adanya thrombosit non fungsional. Pasien-pasien dengan perfusi baik dan tidak hipotensi untuk jangka waktu yang lama (misalnya. Thrombosit sebaiknya jangan diberikan untuk memperbaiki hasil pemeriksaan laboratorium pada keadaan thrombositopenia kecuali pada keadaan koagulopati klinis. Thrombositopenia dilusi merupakan penyebab diatesis hemoragik pada pasien yang menerima banyak unit darah. 3. sebagai suplemen nutrisi 2.

Satu unit darah segar menyediakan faktor-faktor koagulasi yang sama dengan yang terkandung dalam satu unit FFP. Bagaimanapun juga. Detergen Pelarut. Untuk koreksi perdarahan mikrovaskular sekunder terhadap defisiensi faktor pembekuan pada pasien-pasien yang ditransfusi dengan lebih dari satu volume darah dan bila PT dan PTT tidak dapat diperiksa. Baru-baru ini (1998) tersedia di Palang Merah. kebalikan dari penggunaan darah lengkap dimana kadar fibrinogen tetap tidak berubah kecuali ada DIC (koagulasi inravaskular diseminata).7 2. kadar fibrinogen menurun signifikan.5 kali normal. Bila PRC digunakan untuk mengganti kehilangan darah mayor. penurunan tidak sebanyak yang diperkirakan karena pengenceran. HCV. dokter dapat mencoba memberikan FFP secara profilaksis. 6.5 kali normal). 3. Baru-baru ini tiga pilihan dipertimbangkan oleh kebanyakan bank darah : A. FFP dikontraindikasikan untuk tambahan volume plasma atau konsentrasi albumin. HBV. Plasma dari donor multipel dikumpulkan dan diberikan campuran pelarut penghancur lemak (tri-n-butil fosfat) dan detergen (triton x-100) untuk menginaktivasi sampul lipid penyebab infeksi termasuk HIV. Mempunyai beberapa kekurangan. seperti VIII. Penelitian terbaru oleh Murray et al menunjukkan bahwa bila kehilangan volume intravaskuler digantikan dengan PRC dan kristaloid. kecuali untuk reversal mendesak antikoagulasi warfarin. termasuk pengumpulan yang dapat menyebabkan kontaminasi penyebab infeksi yang beramplop. Kesimpulan diatas berdasarkan anggapan bahwa yang diberikan adalah darah lengkap. . PT dan PTT seringkali melebihi 1. Untuk koreksi perdarahan mikrovaskular bila ada peningkatan PT atau APTT (>1. dimana FFP 5-8 ml/kg biasanya mencukupi. Murray et al secara khusus mempertanyakan penggunaan PRC untuk kehilangan darah yang banyak. Kebanyakan penelitian memeriksa pengaruh transfusi masif darah lengkap pada koagulasi karena banyak pusat trauma menggunakan darah lengkap. mungkin disimpan dalam sel-sel endotelial dan dilepaskan dari endotelium selama stress pembedahan. HTLV. tetapi menyatakan bahwa FFP hanya dibutuhkan bila PT dan PTT paling kurang 1. Walaupun seluruh faktor-faktor koagulasi menurun. Murray et al secara khusus menyarankan untuk tidak mengikuti kebijaksanaan ini. Pada penggunaan PRC.5 kali normal dan kadar fibrinogen kurang dari 75 mg/dL. Untuk koreksi defisiensi faktor pembekuan yang tidak diketahui bila konsentrat spesifik tidak tersedia. Mereka merasa bahwa faktor-faktor. FFP harus diberikan dalam dosis yang dihitung untuk mencapai konsentrasi faktor plasma minimum 30% (biasanya dicapai dengan pemberian FFP 10-15 mL/kg ). 5. 4.

unit pertama dilepaskan. Hasilnya. banyak pengarang telah mengemukakan data untuk menunjukkan bahwa transfusi darah meningkatkan suseptibilitas terhadap infeksi dan peningkatan progresi tumor malignan. tetapi berhubungan dengan peningkatan sintesis prostaglandin E. yang diuji kembali untuk mempersiapkan FFP. Saat itu. Plasma donor tunggal. Unit kedua tidak digunakan hingga orang tersebut kembali lebih dari 3 bulan kemudian untuk donasi ketiga dan lolos kembali seluruh pengujian. Imunosupresi Transfusi darah homolog menimbulkan suatu reaksi imunosupresif nonspesifik pada resipien. Pendekatan ini mempunyai keuntungan yang jelas. Terbaru. . menyarankan untuk memberikan PRC dibanding darah lengkap bila transfusi diindikasikan pada pasien-pasien kanker. Blumbert et al. Efek ini bersifat terapi untuk resipien transplantasi ginjal. (Tabel 4). Unit (donasi pertama) disimpan bila seluruh riwayat dan penyebab penyakit infeksi negatif. Mekanisme dan efek dari kanker ini tidak diketahui. Namun. Walaupun banyak faktor dapat terlibat pada pasien yang sakit keras (misalnya. Penemuan lanjut ini menimbulkan kekhawatiran tentang pemberian FFP pada pasien-pasien yang imunitasnya ditekan.8 B. dan produk degradasi fibrinogen pada FFP. Perkiraannya adalah bahwa reduksi sero positif (dan karena itu transmisi) hingga 1/3-1/2 gambaran saat ini. bukti meyakinkan bahwa ada hubungan antara transfusi preoperatif dan rekurensi tumor atau bertahan hidup pada pasien-pasien dengan berbagai jenis kanker sebagaimana ditinjau oleh Schricmer et al. Pilihan diatas diadakan pada pertemuan di University of California San Fransisco Transfusion Committee dan dokter akan mempunyai banyak pilihan plasma yang lebih aman untuk pasien. Hubungan ini tidak saling bergantung pada waktu dimana donasi diberikan. IV. C. Landers et al telah meninjau mekanisme imunomodulasi yang disebabkan tranfusi (Tabel 3) dan penurunan fungsi imun setelah transfusi darah alogenik atau homolog. Schriemer et al. Unit tersebut tidak dilepaskan untuk digunakan hingga donor yang sama menyumbangkan unit kedua lebih dari 3 bulan setelah donasi pertama dan lolos pada pengujian serologik. unit kedua dapat digunakan. pasien-pasien yang menerima transfusi darah kemungkinan punya penyakit yang lebih luas dan invasif). menemukan bahwa pasien-pasien yang ditransfusi dengan PRC bertahan hidup lebih baik daripada pasien-pasien yang menerima darah lengkap. Suatu hubungan terbalik terjadi antara jumlah donasi yang diberikan seseorang dengan kemungkinan menjadi sero positif. penurunan generasi interleukin 2. Yang tampaknya mencapai reduksi maksimum insidensi sero positif pada lebih dari 4 donasi. Plasma yang sering didonorkan. Saat itu. tetapi pemberiannya rumit.

sehingga menghambat produksi IL-2 ! Inhibisi interleukin-2 oleh limfositT akan menurunkan stimulasi sel B dan produksi antibodi ! Teori deplesi klonal – sel-sel yang rusak akan menolak proses graft ! Penurunan produksi limfosit T supressor ! Pembentukan anti-idiotipik T cell receptor atau antibodi yang dapat melawan antigen pada transfusi darah akan bangkit dan membentuk antigen yang baru.82:187 Table 4: Penurunan Fungsi Imun akibat Transfusi Darah Allogenik* ! Pengurangan respon limfosit ! Penurunan produksi sitokin ! Penurunan respon terhadap mitogen (subtansi yang menstimulasi mitosis dan perubahan limfosit) atau antigen larut in vivo atau in vitro ! Peningkatan jumlah atau fungsi sel supresor ! Penurunan aktivitas sel pembunuh alami ! Penurunan fungsi monosit ! Penurunan sitotoksisitas yang di mediasi sel terhadap sel-sel target tertentu ! Peningkatan produksi mediator dan antibodi anti idotipik supresif * Dari : Landers et. Anesth Analg 1996. Thrombosit Sebagiamana diindikasikan sebelumnya. terdapat kekhawatiran bahwa produk-produk darah homolog telah diberikan secara tidak tepat. Profilaksis pada cardiopulmonar bypass.al.82:187 (33) V. * Dari : Landers et. FDA Drug Bulletin Juli 1989 mencoba memberi panduan dan menyatakan bahwa thrombosit tidak boleh diberikan : 1. Profilaksis transfusi darah massif.9 Table 3: Mekanisme Modulasi Imun yang ditimbulkan oleh Transfusi* ! Penumpukan Fe pada sistem RE mengakibatkan berbagai perubahan ! Penurunan aktifitas makrofag yang dapat menangkap antigen kelas II oleh monosit yang memproduksi prostaglandin E2. Kepada pasien-pasien dengan ITP (kecuali bila ada perdarahan yang mengancam jiwa) 2. Terapi Komponen A. .al. Anesth Analg 1996. 3.

5.000-100.000/mm 3.000/mm 3 dan biasanya diindikasikan bila hitung thrombosit lebih rendah dari 50. Tranfusi thrombosit profilaksis jarang diindikasikan pada pasien-pasien bedah dengan thrombositopenia yang berhubungan dengan penurunan produksi thrombosit bila hitung thrombosit lebih besar daripada 100. Transfusi thrombosit profilaksis tidak efektif dan jarang kali diindikasikan bila thrombositopenia berhubungan dengan peningkatan destruksi thrombosit (misalnya. ASA task force baru-baru ini menyarankan bahwa : 1. kini sangat disarankan tiap pasien yang menjadi demam setelah menerima konsentrat thrombosit harus dianggap septik hingga terbukti sebaliknya. faktor XIII. Kriopresipitat Kriopresipitat mengandung faktor VIII:C (aktivitas prokoagulan).000/mm 3.10 FDA tidak menyatakan bahwa pada pasien yang menjalankan pembedahan atau prosedur invasif lain tidak diuntungkan dari transfusi thrombosit profilaksis bila hitung thrombosit paling kurang 50.000-100. Transfusi thrombosit dapat diindikasikan bila hitung thrombosit cukup tetapi terdapat disfungsi thrombosit dan perdarahan mikrovaskular.000/mm 3. atau disfungsi thrombosit yang berhubungan dengan pengobatan atau penyakit. yang merupakan glikoprotein yang berperan pada peningkatan aktivitas sistem RES dalam membunuh partikel asing dan bakteri dari darah Terdapatnya fibrinogen yang rendah pada PRC. fibrinogen. B. Karena peningkatan kekhawatiran tentang kontaminasi bakterial. 2. sepsis. penentuan harus didasarkan pada resiko pasien untuk perdarahan yang lebih signifikan 4.000/mm3 dan thrombositopenia merupakan satu-satunya kelainan. sehingga ASA task force menyarankan pemberian kriopresipitat untuk: .000/mm3).000/mm 3 dan jarang membutuhkan transfusi bila lebih besar dari 100. dan fibronektin. Pasien-pasien bedah dan obstetrik dengan perdarahan mikrovaskular biasanya membutuhkan transfusi thrombosit bila hitung thrombosit lebih kecil dari 50. Penentuan apakah pasien-pasien dengan hitung thrombosit pada tingkat menengah (50. ITP). 3. Jelasnya.000/mm 3) membutuhkan terapi harus berdasarkan pada resiko perdarahan. Transfusi thrombosit dibutuhkan untuk pasien-pasien dengan perdarahan sistemik dan untuk pasien-pasien dengan resiko tinggi perdarahan yang disebabkan oleh gangguan koagulasi. maksudnya adalah untuk membuat dokter lebih tepat dalam menetapkan indikasi transfusi thrombosit. Jika hitung thrombosit antara 50. faktor VIII:vWF (faktor von Willebrand ). Persalinan pervaginam atau operatif dengan kehilangan darah yang sedikit dapat dilakukan pada pasien-pasien dengan hitung thrombosit kurang dari 50.

Koreksi perdarahan mikrovaskular pada pasien-pasien dengan transfusi massif dengan konsentrasi fibrinogen kurang dari 80-100 mg/dL (atau bila konsentrasi fibrinogen tidak dapat diukur pada saat itu). Komplikasi Dengan memperhitungkan pertimbangan di atas. Dasarnya produk-produk ini : 1.coli menghasilkan sel darah merah manusia). VII. . Darah lengkap harus diberikan pada transfusi darah massif.000 U PRC ~ 1/2. Hemoglobin rekayasa genetik (misalnya E. VI. insidensi dari reaksi yang merugikan adalah : Reaksi yang merugikan terhadap Transfusi* Tipe reaksi Reaksi febril Reaksi alergi (urtikaria) Rekasi transfusi hemolitik akut Rekasi transfusi lambat Penyakit graft vs host (GVHD) Udem paru akut yang berhubungan dengan transfusi (TRALI) Insidensi 1% dari transfusi PRC 20% dari transfusi platelet 1/1000 reaksi transfusi ~ 1/33. Larutan hemoglobin bebas stroma yang mengandung sejumlah modifikasi dari molekul hemoglobin. 2. Pasien-pasien perdarahan dengan penyakit von Willebrand. Hal ini diungkapkan oleh Dietz et al pada Anesthesia & Analgesia Februari 1996. 3.11 1. keputusan ini harus dibuat dengan konsultasi dengan hematolog pasien tersebut). Konsentrat faktor VIII merupakan terapi standar untuk hemofilia. termasuk yang terdaftar di atas. 2. Teknik rekombinan DNA terbaru telah digunakan untuk mengembangkan faktor VIII yang bebas transmisi penyakit.000 U PRC * Dari Principles of Anesthetic Techniques and Anesthetic Emergencies Darah yang telah bersih dari leukosit dapat menurunkan kejadian imunosupresi dan insidensi banyak reaksi transfusi. Produk ini telah diberikan pada sukarelawan manusia dan pasien-pasien dengan keberhasilan yang cukup. Profilaksis pada pasien-pasien non perdarahan perioperiatif atau peripartum dengan defisiensi fibrinogen kongenital atau penyakit von Willebrand yang tidak berespon terhadap DDAVP (bila memungkinkan. banyak perusahaan mencoba membuat hemoglobin sintetik. dengan allogenik. karena PRC kurang mengandung faktor koagulasi.500 U PRC 1/10. Darah Sintetik Karena banyak masalah.

Larutan hemoglobin liposome-encapsulated. tapi sulit disediakan oleh bank darah. Untuk mencegah banyak komplikasi. produk-produk ini dipandang sebagai pengganti darah. larutan organik dengan kelarutan oksigen tinggi. Kriteria FDA terhadap efisiensi sulit diterapkan. kebanyakan produk menyebabkan hipertensi ringan dan peningkatan konsentrasi amilase dan lipase yang signifikansinya masih harus ditetapkan. seperti cross-link. Sejauh ini. berbagai pendekatan telah digunakan. Meskipun aman. 4. dan lain-lain. mengandung hemoglobin dengan membran sintetik. dan konjugator baik dengan kimiawi maupun tehnik genetik sebagaimana diringkaskan dibawah. Sekarang lebih menekankan pada kemampuan transpor oksigennya yang akan didiskusikan. Perfluorokarbon.12 3. Tabel 5: Pengganti Sel darah Merah Aktivitas (efek biologis) ! Transpor O2 ! Bantuan hidup selama anemia berat ! Resusitasi cairan Efisiensi (keuntungan untuk pasien) ! Penurunan penggunaan produk-produk darah ! Penurunan morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan transfusi ! Penggunaan pada lingkungan yang secara logistik sulit Awalnya. seperti kerusakan ginjal. pelepasan endotoksin. . Berbagai penelitian fase II and III telah dan sedang dilaksanakan. polimerisasi.