P. 1
Asma Bronchiale

Asma Bronchiale

|Views: 6|Likes:
Published by Saha Thea

More info:

Published by: Saha Thea on Jun 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/08/2014

pdf

text

original

BAB II TINJAUAN TEORITIS Asma Bronkhial 1.

Definisi Asma Asma adalah kondisi jangka panjang yang mempengaruhi saluran napas-saluran kecil yang mengalirkan udara masuk ke dan keluar dari paru-paru. Asma adalah penyakit inflamasi (peradangan). Saluran napas penyandang asma biasanya menjadi merah dan meradang. Asma sangat terkait dengan alergi. Alergi dapat memperparah asma. Namun demikian, tidak semua penyandang asma mempunyai alergi, dan tidak semua orang yang mempunyai alergi menyandang asma (Bull & Price, 2007). Pada penderita asma, saluran napas menjadi sempit dan hal ini membuat sulit bernapas. Terjadi beberapa perubahan pada saluran napas penyandang asma, yaitu dinding saluran napas membengkak; adanya sekumpulan lendir dan sel-sel yang rusak menutupi sebagian saluran napas; hidung mengalami iritasi dan mungkin menjadi tersumbat; dan otot-otot saluran napas mengencang tetapi semuanya dapat dipulihkan ke kondisi semula dengan terapi yang tepat. Selama terjadi serangan asma, perubahan dalam paru-paru secara tiba-tiba menjadi jauh lebih buruk, ujung saluran napas mengecil, dan aliran udara yang melaluinya sangat jauh berkurang sehingga bernapas menjadi sangat sulit (Bull & Price, 2007). 2. Klasifikasi Asma Berkaitan dengan gangguan saluran pernapasan yang berupa peradangan dan

bronkokonstriksi, beberapa ahli membagi asma dalam 2 golongan besar, seperti yang dianut banyak dokter ahli pulmonologi (penyakit paru-paru) dari Inggris, yakni: a) Asma Ekstrinsik Asma ekstrinsik adalah bentuk asma yang paling umum, dan disebabkan karena reaksi alergi penderitanya terhadap hal-hal tertentu (alergen), yang tidak membawa pengaruh apa-apa terhadap mereka yang sehat. Kecenderungan alergi ini adalah “kelemahan keturunan”. Setiap orang dari lahir memiliki sistem imunitas alami yang melindungi tubuhnya terhadap serangan dari luar. Sistem ini bekerja dengan memproduksi antibodi. Pada saat datang serangan, misalnya dari virus yang memasuki tubuh, sistem ini akan menghimpun antibodi untuk menghadapi dan berusaha menumpas sang penyerang. Dalam proses mempertahankan diri ini, gejala-gejala permukaan yang mudah tampak adalah naiknya

temperatur tubuh, demam, perubahan warna kulit hingga timbul bercak-bercak, jaringan-jaringan tertentu memproduksi lendir, dan sebagainya (Hadibroto & Alam, 2006).

b) Asma Intrinsik Asma intrinsik tidak responsif terhadap pemicu yang berasal dari alergen. Asma jenis ini disebabkan oleh stres, infeksi, dan kondisi lingkungan seperti cuaca, kelembapan dan suhu tubuh. Asma intrinsik biasanya berhubungan dengan menurunnya kondisi ketahanan tubuh, terutama pada mereka yang memiliki riwayat kesehatan paru-paru yang kurang baik, misalnya karena bronkitis dan radang paru-paru (pneumonia). Penderita diabetes mellitus golongan lansia juga mudah terkena asma intrinsik. Penderita asma jenis ini kebanyakan berusia di atas 30 tahun (Hadibroto & Alam, 2006).

Namun penting dicatat, bahwa dalam prakteknya, asma adalah penyakit yang kompleks, sehingga tidak selalu dimungkinkan untuk menentukan secara tegas, golongan asma yang diderita seseorang. Sering indikasi asma ekstrinsik dan intrinsik bersama-sama dideteksi ada pada satu orang. Sebagai contoh, dalam kasus asma bronkial (termasuk jenis ekstrinsik) yang kronis, pada saat menangani terjadinya serangan, dokter akan sering mendiagnosa hadirnya faktor-faktor kecemasan dan rasa panik. Keduanya adalah emosi yang sifatnya naluriah pada saat seseorang harus berjuang agar bisa bernapas. Selanjutnya rasa cemas dan panik ini meneruskan lingkaran setan dan memperparah gejala serangan. Juga akan tercatat, bahwa bahan-bahan iritan (pengganggu) dari luar seperti asap rokok dan hairspray akan memperparah kondisi penderita. Kesimpulannya adalah, dari asal asma bronkial (termasuk asma ekstrinsik) akan terlihat juga hadirnya faktor asma intrinsik. Demikian pula, seseorang yang punya sejarah bronkitis di masa kanak-kanak sering tumbuh menjadi orang dewasa yang cenderung menderita asma yang alergik, sebagai akibat kelemahan bawaan dari masa kanak-kanaknya (Hadibroto & Alam, 2006).

Klasifikasi tingkat penyakit asma dapat dibagi berdasarkan frekuensi kemunculan gejala (Hadibroto & Alam, 2006).

1. Intermitten, yaitu sering tanpa gejala atau munculnya kurang dari 1 kali dalam seminggu dan gejala asma malam kurang dari 2 kali dalam sebulan. Jika seperti itu yang terjadi, berarti faal (fungsi) paru masih baik. 2. Persisten ringan, yaitu gejala asma lebih dari 1 kali dalam seminggu dan serangannya sampai mengganggu aktivitas, termasuk tidur. Gejala asma malam lebih dari 2 kali dalam sebulan. Semua ini membuat faal paru realatif menurun. 3. Persisten sedang, yaitu asma terjadi setiap hari dan serangan sudah mengganggu aktivitas, serta terjadinya 1-2 kali seminggu. Gejala asma malam lebih dari 1-2 kali seminggu. Gejala asma malam lebih dari 1 kali dalam seminggu. Faal paru menurun. 4. Persisten berat, gejala asma terjadi terus-menerus dan serangan sering terjadi. Gejala asma malam terjadi hampir setiap malam. Akibatnya faal paru sangat menurun. Klasifikasi tingkat penyakit asma berdasarkan berat ringannya gejala (Hadibroto & Alam, 2006): 1. Asma akut ringan, dengan gejala: rasa berat di dada, batuk kering ataupun berdahak, gangguan tidur malam karena batuk atau sesak napas, mengi tidak ada atau mengi ringan, APE (Arus Puncak Aspirasi) kurang dari 80%. 2. Serangan asma akut sedang, dengan gejala: sesak dengan mengi agak nyaring, batuk kering/berdahak, aktivitas terganggu, APE antara 50-80%. 3. Serangan asma akut berat, dengan gejala: sesak sekali, sukar berbicara dan kalimat terputusputus, tidak bisa barbaring, posisi harus setengan duduk agar dapat bernapas, APE kurang dari 50%. 3. Etiologi Menurut The Lung Association of Canada, ada dua faktor yang menjadi pencetus asma (Hadibroto & Alam, 2006): 1. Pemicu (trigger) yang mengakibatkan mengencang atau menyempitnya saluran pernapasan (bronkokonstriksi). Umumnya pemicu yang mengakibatkan bronkokonstriksi termasuk stimulus sehari-hari seperti perubahan cuaca dan suhu udara dimana cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfer yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Serangan asma kadang-kadang berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga (serbuk sari beterbangan). Selain itu polusi udara dari luar dan dalam ruang serta asap rokok yang terhirup oleh penderita asma dapat juga

tungau. Ditambah lagi penderita asma yang memiliki riwayat infeksi saluran pernapasan misalnya sinusitis dapat mengakibatkan eksaserbasi serangan asma. kemungkinan alergi dan saluran napas yang memang mudah terserang. di antaranya memiliki riwayat asma atau alergi lainnya dalam keluarga (keturunan) karena asma dapat diwariskan-diturunkan dari satu anggota keluarga ke anggota keluarga berikutnya. Selain itu pilek atau infeksi virus dan terpapar iritan di tempat kerja juga dapat mengakibatkan peradangan (inflammation) pada saluran pernapasan yang berakibat pada terjadinya serangan asma (Ayres. 2007). 2003). Pajanan asap rokok. Selain itu. Merokok ketika hamil dimana asap rokok berhubungan dengan penurunan fungsi paru. bisa juga dalam bentuk inhalan yaitu alergen yang masuk ke tubuh melalui hidung atau mulut. Jenis alergen inhalan yang utama adalah tepung sari (serbuk) bunga. 2. Beberapa faktor orang memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk menyandang asma dibandingkan orang lain (Bull & Price. . Kadang-kadang olahraga dapat menyebabkan serangan asma (Bull & Price. Selain itu. Aspek-aspek potensi risiko kemunculan penyakit asma (Widjadja.memicu terjadinya serangan asma. selain itu juga dapat memperberat serangan asma yang sudah ada. serta jamur. Baik perokok aktif maupun pasif semasa kanak-kanan. Jika salah satu orangtua menyandang asma. Bagi beberapa orang. Bentuk lainnya yaitu kontak langsung dengan kulit seperti memakai perhiasan. sebelum dan sesudah kelahiran berhubungan dengan efek berbahaya yang dapat diukur seperti meningkatkan risiko terjadinya gejala serupa asma pada usia dini. serpihan dan kotoran binatang. jangan berolahraga secara berlebihan. karena gangguan emosi/stres dapat menjadi pencetus serangan asma. peluang berkembangnya asma pada anak-anaknya sekitar dua kali dibandingkan anak-anak yang orangtuanya tidak menyandang asma. Umumnya penyebab (inducer) asma adalah alergen. logam dan jam tangan. jenis olahraga tertentu dapat menyebabkan udara terperangkap di dalam saluran napas dan membuat sulit bernapas. Penyebab (inducer) yang mengakibatkan peradangan (inflammation) pada saluran pernapasan. pohon. Beberapa faktor genetik (keturunan) dapat mempengaruhi perkembangan asma. yang tampil dalam bentuk ingestan dimana alergen masuk ke tubuh melalui mulut (dimakan/diminum) terutama makanan dan obat-obatan. 2007). tanaman. antara lain aspek genetik. 2009). Penderita asma harus menjaga kestabilitas dari emosi/stresnya.

Salah satu contoh yaitu histamin. Dulu fungsi eosinofil di dalam sputum tidak diketahui. beberapa ahli membagi asma dalam 2 golongan besar yakni asma ekstriksi dan asma intrinsik (Hadibroto & Alam. Antibodi ini melekat pada permukaan sel mast pada mukosa bronkus. Bila reseptor beta-2 dirangsang dengan obat anti asma Salbutamol (beta-2 mimetik). Dengan demikian jelas bahwa kadar IgE akan meninggi dalam darah tepi (Herdinsibuae dkk. Antibodi ini merupakan imunoglobin jenis IgE. Sel mast tersebut tidak lain daripada basofil yang kita kenal pada hitung jenis leukosit. Selain itu lendir yang sangat lengket akan disekresikan . Mekanisme terjadinya reaksi ini telah diketahui dengan baik. Adanya eosinofil dalam sputum dapat dengan mudah diperlihatkan. tetapi sangat rumit. Berdasarkan klasifikasi tersebut akan dijabarkan masing-masing dari patofisiologinya. b) Asma Intrinsik Terjadinya asma intrinsik sangat berbeda dengan asma ekstrinsik. Pada mukosa bronkus dan darah tepi terdapat sangat banyak eosinofil. Pada permukaan sel mast juga terdapat reseptor beta-2 adrenergik. maka pelepasan histamin akan terhalang. Serabut-serabut vagus. sel mast tersebut akan memisahkan diri dan melepaskan sejumlah bahan yang menyebabkan konstriksi bronkus. 2005). sering dapat menolong kasus-kasus seperti ini. demikian hipersensitifnya sehingga langsung menimbulkan refleks konstriksi bronkus. Mungkin mula-mula akibat kepekaan yang berlebihan (hipersensitivitas) dari serabut-serabut nervus vagus yang akan merangsang bahan-bahan iritan di dalam bronkus dan menimbulkan batuk dan sekresi lendir melalui satu refleks. Jadi eosinofil memberikan perlindungan terhadap serangan asma. Patofisiologi Berkaitan dengan gangguan saluran pernapasan yang berupa peradangan dan bronkokonstriksi. hiperemia serta sekresi lendir putih yang tebal. tetapi baru-baru ini diketahui bahwa dalam butir-butir granula eosinofil terdapat enzim yang menghancurkan histamin dan prostaglandin. 2006).4. Atropin bahan yang menghambat vagus. akan membuat antibodi terhadap alergen yang dihirup itu. a) Asma Ekstrinsik Pada asma ekstrinsik alergen menimbulkan reaksi yang hebat pada mukosa bronkus yang mengakibatkan konstriksi otot polos. Bila satu molekul IgE yang terdapat pada permukaan sel mast menangkap satu molekul alergen. Penderita yang telah disensitisasi terhadap satu bentuk alergen yang spesifik. contoh lain ialah prostaglandin.

Sel Inflamasi Sel-sel inflamasi yang terlibat dalam patofisiologi asma terutama adalah sel mast. prostaglandin PGD2 dan leukotrien LTC4 (yang baru disintesis setelah ada aktivasi). dan karenanya dapat berespon terhadap allergen yang terhirup. dan eosinofil. yang bertanggungjawab terhadap beberapa tanda asma dan alergi. kegagalan pernapasan dan akhirnya kematian. 5. Sel mast terdapat pada lapisan epithelial saluran nafas. Terdapatnya peningkatan jumlah sel mast pada cairan bronkoalveolar pasien asma mengindasikan bahwa sel ini terlibat dalam patofisiologi asma. serta udara dingin juga berperan. Adanya ikatan cross-linking antara alergen dengan IgE tersebut memicu serangkaian biokimia didalam Sel yang kemudian menyebabkan terjadinya degranulasi sel mast. asap. dengan demikian merokok juga sangat merugikan (Herdinsibuae dkk. Beberapa obat telah dikembangkan untuk menstabilkan sel mast agar tidak mudah terdegranulasi. a) Sel mast Sel ini sudah lama dikaitkan dengan penyakit asma dan alergi. Berbagai mediator tersebut antara lain adalah histamine (yang disintesis dan disimpan di dalam granul sel dan dilepas secara cepat ketika sel mast teraktivasi). karena ia dapat melepaskan berbagai mediator inflamasi. Sel mast diaktivasi oleh alergen melalui ikatan suatu alergen dengan IgE yang telah melekat pada reseptornya (Fcereceptor) di permukaan sel mast. b) Limfosit . Degranulasi adalah peristiwa pecahnya sel mast yang menyebabkan pelepasan berbagai mediator inflamasi. sehingga berakibat timbulnya status asmatikus. Namun. adenovirus dan juga oleh bakteri seperti hemophilus influenzae. Selain itu. Rangsangan yang paling penting untuk refleks ini ialah infeksi saluran pernapasan oleh flu (common cold). 2005). Polusi udara oleh gas iritatif asal industri. yang diduga kuat berasal dari sel mast yang terdegranulasi. dan sitokin (yang disintesis dalam waktu yang lebih lambat dan berperan dalam reaksi fase lambat).sehingga pada kasus-kasus berat dapat menimbulkan sumbatan saluran napas yang hampir total. pada pasien asma yang dijumpai penigkatan kadar histamine dan triptase pada cairan bronkoalveolarnya.sel mast juga mengandung faktor kemotatik yang dapat menarik eosinofil dan neutrofil ke saluran nafas. limfosit. baik yang sudah tersimpan atau baru disintesis. Peran sel mast pada reaksi alergi fase lambat masih belum diketahui secara pasti.

Selain itu. Selain itu. Limfosit sendiri terdiri dari dua tipe yaitu limfosit T dan limfosit B. dan eosinophil cationic probasic protein (ECP). 6. yang nantinya akan menempel pada sel-sel inflamasi sehingga terjadi pelepasan berbagai mediator inflamasi. tanda-tanda peringatan awal bisa sama. beberapa produk eosinofil seperti LCT4. serta secara langsung menyebabkan kontraksi otot polos saluran nafas (Bussed an Reed. sekresi mediatorbdari sel mast dan basofil. menyebabkan hiperresponsivitas bronkus. yang dapat menyebabkan kerusakan epitelium saluran nafas. c) Eosinofil Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa eosinofil berkontribusi terhadap patofisiologi penyakit alergi pada saluran nafas. hampir sama. pada individu yang sama. yaitu sifatnya unik untuk setiap individu. Sel Th2 memproduksi berbagai sitokin yang berperan dalam reaksi inflamasi sehingga disebut sitokin prainflamasi. IL-9. PAF. IL-6. Sitokin-sitokin ini nampaknya berfungsi dalam pertahanan tubuh terhadap pathogen ekstrasel. atau sama sekali berbeda pada setiap episode serangan dan tanda peringatan awal yang paling bisa diandalkan adalah penurunan dari angka prestasi penggunaan “Preak Flow Meter”. seperti IL-3. dan metabolit oksigen toksik dapat menambah keparahn asma. IL-4.Peran limfosit dalam asma semakin banyak mendapat dukungan fakta. sel-sel limfosit juga dijumpai pada cairan bronkoalveolar pasien asma pada reaksi fase lambat. sehiingga inflamasi pada asma atau alergi sering disebut juga inflamasi eosinofilia. 1993). IL-4 dan IL-13 misalnya. Tanda-tanda awal datangnya asma memiliki sifat-sifat sebagai berikut. dan IL-13. eosinophil peroxidase(EPO). Eosinofil mengandung berbagai protein granul seperti: major inflamasi eosinifilia (MBP). Dijumpai adanya kaitan yang erat antara keparahan asma dengan keberadaan eosinofil di saluran nafas yang terinflamasi. antara lain dengan terdapatnya produk-produk limfosit yaitu sitokin pada biopsy bronchial pasien asma. Limfosit T masih terbagi lagi menjadi dua subtipe yaitu Th1 dan Th2 (T helper 1 dan T helper 2). biasanya akan ditemukan tanda-tanda awal datangnya asma. dia bekerja mengaktivasi sel limfosit B untuk memproduksi IgE. Manifestasi Klinis a) Tanda Sebelum muncul suatu episode serangan asma pada penderita. .

emfisema subkutis. mengi/napas berbunyi (wheezing) dan batuk (lebih sering terjadi pada anak daripada orang dewasa). merasa capai.Beberapa contoh tanda peringatan awal (Hadibroto & Alam. gagal napas. b) Gejala (1) Gejala Asma Umum Perubahan saluran napas yang terjadi pada asma menyebabkan dibutuhkannya usaha yang jauh lebih keras untuk memasukkan dan mengeluarkan udara dari paru-paru. bayangan abu-abu atau membiru pada kulit. bersin-bersin. daerah leher dan di antara atau di bawah tulang rusuk melesak ke dalam. bersama tarikan napas. Tidak semua orang akan mengalami gejala-gelaja tersebut. Hal tersebut dapat memunculkan gejala berupa sesak napas/sulit bernapas. sesak dada. gatal-gatal pada tenggorokan. . turunnya toleransi tubuh terhadap kegiatan olahraga dan kecenderungan penurunan prestasi dalam penggunaan Preak Flow Meter. angka performa penggunaan Preak Flow Meter menunjukkan rating yang termasuk “hati-hati” atau “bahaya” (biasanya antara 50% sampai 80% dari penunjuk performa terbaik individu) (Hadibroto & Alam. sesak dada. bronkitis. 2006) adalah sebagai berikut yaitu serangan batuk yang hebat. (2) Gejala Asma Berat Gejala asma berat (Hadibroto & Alam. aspergilosis. napas menjadi dangkal dan cepat atau lambat dibanding biasanya. susah bicara dan berkonsentrasi. atelektasis. fraktur iga. Selain itu. serta angka performa penggunaan Preak Flow Meter dalam wilayah berbahaya (biasanya di bawah 50% dari performa terbaik individu). Beberapa orang dapat mengalaminya dari waktu ke waktu. perubahan suasana hati (moodiness). dan bronkopulmonar alergik. dan beberapa orang lainya selalu mengalaminya sepanjang hidupnya. Komplikasi Asma Penyakit asma yang tidak ditangani dengan baik lambat-laun akan berakibat pada terjadinya komplikasi (Mansjoer. napas berat “ngik-ngik”. 7. 2007). lingkaran hitam dibawah mata. hidung mampat. Gelaja asma seringkali memburuk pada malam hari atau setelah mengalami kontak dengan pemicu asma (Bull & Price. bermula dari daerah sekitar mulut (sianosis). pundak membungkuk. 2008) dimana dapat menyebabkan beberapa penyakit sebagai berikut yaitu. pneumomediastinum. susah tidur. lubang hidung mengembang dengan setiap tarikan napas. 2006). 2006) adalah perubahan dalam pola pernapasan. jalan sedikit menyebabkan napas tersengal-sengal. tersengal-sengal. terjadinya pneumotorak. batuk.

(2) Pemeriksaan Darah (Analisa Gas Darah/AGD/astrub) (a) Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia. Pemeriksaan Diagnostik a) Pemeriksaan Laboratorium (1) Pemeriksaan Sputum Adanya badan kreola adalah karakteristik untuk serangan asma yang berat. (c) Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15. karena hanya reaksi yang hebat saja yang menyebabkan transudasi dari edema mukosa. b) Pemeriksaan Penunjang (1) Pemeriksaan Radiologi Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. (b) Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.000/mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi. atau asidosis. sedangkan hitung sel eosinofil normal antara 100-200/mm3. 2008). sehingga terlepaslah sekelompok sel-sel epitel dari perlekatannya. 2008). cara tersebut kemudian diikuti kultur dan uji resistensi terhadap beberapa antibiotik (Muttaqin. Pewarnaan gram penting untuk melibat adanya bakteri. (3) Sel Eosinofil Sel eosinofil pada klien dengan status asmatikus dapat mencapai 1000-1500/mm3 baik asma intrinsik ataupun ekstrinsik. Perbaikan fungsi paru disertai penurunan hitung jenis sel eosinofil menunjukkan pengobatan telah tepat (Muttaqin. serta diafragma yang menurun. hiperkapnia. (3) Scanning Paru Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru. (2) Pemeriksaan Tes Kulit Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma. (4) Spirometer . Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis.8.

Biopsi endobronkial dan transbronkial dapat menunjukkan gambaran inflamasi. dalam menegakkan diagnosis asma diperlukan pemeriksaan obyektif (spirometer/FEV1 atau PFM). Pemeriksaan darah IgE Atopi dilakukan dengan cara radioallergosorbent test (RAST) bila hasil uji tusuk kulit tidak dapat dilakukan (pada dermographism). Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan a) Penatalaksanaan Medis . Untuk diagnosis obstruksi saluran napas. (7) Pemeriksaan IgE Uji tusuk kulit (skin prick test) untuk menunjukkan adanya antibodi IgE spesifik pada kulit. Penilaian semi-kuantitatif inflamasi saluran napas dapat dilakukan melalui biopsi paru. Uji tersebut untuk menyokong anamnesis dan mencari faktor pencetus.Alat pengukur faal paru. Analisis sputum yang diinduksi menunjukkan hubungan antara jumlah eosinofil dan Eosinophyl Cationic Protein (ECP) dengan inflamasi dan derajat berat asma. PFM dibuat untuk pemantauan dan bukan alat diagnostik. Oleh karena pemeriksaan jasmani dapat normal. PFM mengukur terutama saluran napas besar. (6) X-ray Dada/Thorax Dilakukan untuk menyingkirkan penyakit yang tidak disebabkan asma. APE dapat digunakan dalam diagnosis untuk penderita yang tidak dapat melakukan pemeriksaan FEV1. selain penting untuk menegakkan diagnosis juga untuk menilai beratnya obstruksi dan efek pengobatan. alat tersebut digunakan untuk mengukur jumlah udara yang berasal dari paru. (8) Petanda Inflamasi Derajat berat asma dan pengobatannya dalam klinik sebenarnya tidak berdasarkan atas penilaian obyektif inflamasi saluran napas. dan kadar oksida nitrit udara yang dikeluarkan dengan napas. Web of Caution (WOC) secara Teorits 10. Spirometer lebih diutamakan dibanding PFM karena PFM tidak begitu sensitif dibanding FEV. pemeriksaan sel eosinofil dalam sputum. 9. Gejala klinis dan spirometri bukan merupakan petanda ideal inflamasi. Uji alergen yang positif tidak selalu merupakan penyebab asma. tetapi jarang atau sulit dilakukan di luar riset. (5) Peak Flow Meter/PFM Peak flow meter merupakan alat pengukur faal paru sederhana.

Dengan demikian. budesonide [Pulmicort®]. Keyakinan ini sangat disokong oleh penemuan obat-obatan pencegah peradangan saluran pernapasan. (4) Penggunaannya harus teratur dalam jangka panjang (5) Daya kerja lambat/gradual. sedang obat-obatan pelega sebagai pendukung. penyebab asma yang mereka derita adalah karena peradangan (inflamasi). Asthma & Immunology) penggolongan obat asma (Hadibroto & Alam. biasanya mengambil waktu sekitar dua minggu baru terlihat efektivitasnya ayang terukur. yakni hanya pada saat datangnya serangan sudah ketinggalan zaman. Cara menangani asma yang reaktif. Hal ini membuktikan bahwa pasa asma ekstrinsik. 2006) adalah sebagai berikut: a) Obat-obat anti peradangan (preventer) (1) Usaha pengendalian asma dalam jangka panjang (2) Golongan obat ini mencegah dan mengurangi peradangan. dokter masa kini menggunakan obat peradangan sebagai senjata utama. Karena belum terlalu lama ini. dan bukan karena bronkokonstriksi. yakni baru sejak pertengahan tahun 1990-an mulai mengental keyakinan di kalangan kedokteran bahwa asma yang tidak terkendali dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan pada saluran pernapasan dan paru-paru.(1) Terapi Obat Penatalaksanaan medis pada penderita asma bisa dilakukan dengan pengguaan obat-obatan asma dengan tujuan penyakit asma dapat dikontrol dan dikendalikan. fluticasone [Flixotide®]. Menurut AAAI (Amerika Academy of Allergy. dan produksi lendir (3) Cara kerjanya adalah dengan mengurangi sensitivitas saluran pernapasan terhadap pemicu asma yang berupa alergen. dan risiko kematiannya karena asma juga lebih tinggi. keharusan mengalami rawat inap. Hasil penelitian medis menunjukkan bahwa para penderita asma yang terutama menggantungkan diri pada obat-obatan pelega (reliever/bronkodilator) secara umum memiliki kondisi yang buruk dibandingkan penderita asma umumnya. Contoh obat anti peradangan adalah beclometasone [Becotide®]. Selanjutnya prosentase keharusan kunjungan ke unit gawat daruat (UGD). mometasone [Asmanex®]. yang aman untuk digunakan dalam jangka panjang. pembengkakan saluran napas. dan montelukast [Singulair®] secara bertahap mengurangi peradangan saluran napas dan (jika digunakan secara teratur) akan .

Obat pencegah biasanya tersedia dalam bentuk inhaler berwarna cokelat. Merek yang paling populer adalah Ventolin dan Proventil yang disajikan sebagai obat hirup dosis terukur. (1) Salmeterol Obat ini adalah bronkodilator yang bekerja perlahan dimana obat ini bekerja dengan mengendurkan oto-otot yang mengelilingi saluran pernapasan. Obat ini tidak dapat digunakan untuk anak-anak di bawah 12 tahun. larutan untuk alat nebulizer. Obat ini paling efektif bila dikombinasikan dengan suatu obat kortikosteroid hirup. formoterol [Foradil®.mengontrol penyakit asma. dan salmeterol [Serevent®] secara cepat mengembalikan saluran napas yang menyempit yang . meskipun beberapa (misalnya montelukast) tersedia dalam tablet. Efek samping obat ini sama seperti kafein sehingga tidak dianturkan untuk pasien hiperaktif. Efek samping obat ini dapat menyebabkan stimulasi. terbutaline [Bricanyl®]. merah. dan spray. Bentuk hirup bekerja lebih karena langsung menuju saluran pernapasan yang bermasalah. Proventil HFA sebagai obat hirup bubuk kering. sirup. Obat ini disajikan dalam bentuk obat hirup dosis terukut dan obat hirup bubuk kering. atau oranye. Oxis®]. obat hirup bubuk kering. jantung berdebar. sirup. tablet lepas-tunda (extendedreliase). c) Obat-obat pelega gejala asma (reliever/bronkodilator) Misalnya salbutamol [Ventolin®]. Ventolin terdaftar di Indonesia dalam bentuk sediaan tablet. nebulizer. dan pusing. Bronkolidarot yang paling populer dan disajikan dalam bentuk obat hirup dosis terukur. Obat ini umumnya bekerja setelah setengah jam dan daya kerjanya bertahan hingga 12 jam. putih. (2) Teofilin Obat ini termasuk satu golongan dengan kafein (zat aktif yang terdapat dalam secangkir kopi) dan termasuk bronkodilator yang lama daya kerjanya. ketimbang harus lewat lambung dulu. dan tidak dapat berfungsi sebagai pelega seketika dalam hal terjadi serangan asma. tablet biasa. (3) Albuterol Sulfat atau Salbutamol. b) Obat-obat pelega gejala berjangka panjang Obat-obat pelega gejala berjangka panjang dalam nama generik yang ada di pasaran adalah salmeterol hidroksi naftoat (salmeterol xinafoate) dan teofilin (theophylline). Merek lain adalah Ascolen.

perubahan berat badan. Biasanya digunakan di rumah sakit dengan cara intravenuous. karena fungsi paruparu berada pada titik yang paling rendah di tengan malam. Cocok untuk pasien anak-anak yang sulit minum obat. d) Obat-obatan kortikosteroid oral Kortikosteroid oral adalah obat yang ampuh untuk mengatasi pembengkakan dan peradangan yang mencetuskan serangan asma. Obat ini membutuhkan enam hingga delapan jam untuk bekerja. Obat pereda/pelega biasanya tersedia dalam bentuk inhaler berwarna biru atau abu-abu. tetapi harganya lebih mahal. Dengan merek Prelone disajikan sebagai sirup 15 mg per 5 ml. sehingga makin cepat digunakan makin cepat pula daya kerja yang dirasakan. (4) Deksametason (Dexamethasone) Dengan merek Decadron. dan gejala demam yang ditekan. (3) Metilprednisolon (Methylprednisolone) Sangat mirip dengan prednisolon. dengan kelebihan rasanya yang lebih bisa diterima anak-anak. efek samping dari penggunaan kortikosteroid ini tidak perlu dikhawatirkan jika penggunaannya hanya dalam jangka pendek dan kadangkala saja. Dari hasil penelitian terbukti bahwa dosis kortikosteroid oral yang diberikan di siang hari bisa membantu mereka yang mengalami serangan asma untuk tidur pada malam harinya. Prediaped disajikan sebagai sirup 5 mg per 5 ml. efek samping penggunaan kortikosteroid oral juga cukup nyata.terjadi selama serangan asma ke kondisi semula. satu dosis tunggalnya berdaya kerja dua hingga tiga kali lebih lama dibandingkan preparat kortikosteroid yang lain. (1) Prednison (Prednisone) Prednison adalah preparat kortikosteroid oral yang paling umum digunakan. Akan tetapi. Malam hari termasuk waktu dimana serangan asma paling sering terjadi. meningkatnya selera makan. (2) Prednisolon (Prednisolone) Prednisolon adalah kortikosteroid oral yang sangat mirip prednisone. (2) Alat-alat hirup Alat hirup dosis terukur atau Metered Dose Inhaler (MDI) disebut juga inhaler atau puffer adalah alat yang paling banyak digunakan untuk menghantar obat-obatan ke saluran pernapasan . Di sisi lain. seperti perubahan suasana hati (mood changes). Obat ini disajikan dalam bentuk pil maupun sirup.

paten bunyi bersih dengan rasio 2. dan mendorongnya keluar dari moncong masuk ke saluran pernapasan atau paru-paru pemakainya. Alat hirup dosis terukur memuat obat-obatan dan cairan tekan (pressurized liquid). Mempertahanka nafas. 11. Sebagai hasil teknologi mutakhir. biasanya chlorofluorocerbous/CFC. ex: mengi Kaji/pantau dimanifestasikan frekuensi adanya nafas n jalan napas pernafasan. yang mengembang menjadi gas ketika melewati moncongnya. Alat ini menyandang sebutan dosis terukur (metered-dose) karena memang menghantar suatu jumlah obat yang konsisten/terukur dengan setiap semprotan. c) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (bronkuspasme). alat hirup dosis terukur kini bisa digunakan oleh segala tingkatan usia. mulai dari balita hingga lansia. b) Penatalaksanaan Keperawatan Penatalaksanaan keperawatan yang dapat dilakukan pada penderita asma adalah sebagai berikut. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan a) Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (bronkospasme). penumpukan sekret. Rasional Beberapa derajat bronkus dengan Auskultasi bunyi spasme catat terjadi dengan nafas. sekret kental. fisiotherapy. 2. dan beri O2 bila perlu. Cairan yang sebutan populernya adalah propelan tersebut memecah obat-obatan yang dikandung menjadi butiran-butiran atau kabut halus. d) Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuat imunitas. Intervensi Mandiri 1. .atau paru-paru pemakainnya. b) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (bronkospasme). Tachipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat napas inspirasi/ekspirasi atau . hasil adanya nafas kriteria bunyi obstruksi jalan nafas dan dapat/tidak berhubungan sebagai berikut: dengan gangguan suplai oksigen (bronkospas me). catat advertisius. 1. pemberian cairan. No 1 Diagnosa Keperawatan Tidak efektifnya bersihan jalan Tujuan/Kriteri a Hasil Pencapaian bersihan napas jalan 1. yaitu memberikan penyuluhan (pendidikan kesehatan).

sandara tidur. cairan sekret. tergantung tahap proses akut yang menimbulkan tempat perawatan di rumah tidur. cairan dapat 7. ml/ hari 6. Peninggian kepala tempat tidur Pertahankan memudahkan fungsi polusi lingkungan pernafasan minimum. distress selama pernafasan. Tempatkan posisi pernafasan yang pada contoh: meninggikan kepala nyaman variable pasien. Disfungsi adalah yang pada nafas misalnya bantu. sekret kental jelas. batuk dan mengeluarkan sekret. sekret. gravitasi. penerimaan pada atau Menunjukan derajat perilaku untuk ansietas. stress/adanya proses memperbaiki bersihan jalan penggunaan obat infeksi akut. 5. tempat 4. Berikan sesuai obat kekentalan indikasi penggunaan . Hidrasi membantu toleransi menurunkan kekentalan air penggunaan hangat menurunkan sekret. duduk pada sakit. efektif 4. Pencetus tipe alergi dapat episode 6.penumpukan 2. contoh: asap dll. dengan menggunakan debu. Tingkatkan pernafasan masukan sampai 3000 sesuai jantung memberikan hangat. 5. Catat adanya ditemukan dispnea. 3. 3. Kolaborasi cairan mentriger dengan akut.

Merelaksasikan otot halus dan menurunkan spasme jalan nafas. 2. hangat dapat menurunkan spasme bronkus. Mandiri 1. Ajarkan pasien memperpanjang waktu sehingga ekspirasi pasien hasil pernapasan dalam. Mempertahanka n Tinggikan kepala akan bernapas lebih dan bantu efektif dan efisien. produksi 2 Pola nafas Perbaikan pola dengan 1.bronkodilator. Memaksimalkan bernapas dan kerja napas tambahan. 3. 3. semi fowler. Duduk tinggi ventilasi mengubah posisi. 2. dan mukosa. mengi. posisi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan Kolaborasi Berikan oksigen pernapasan. Membantu pasien tidak efektif nafas berhubungan kriteria dengan gangguan suplai oksigen (bronkospas me) 1. Tidak mengalami sianosis tanda lain. adekuat dengan Berikan menunjukan RR:16-20 x/menit irama teratur. atau hipoksia menurunkan napas. dan 3. Pasien dapat melakukan pernafasan . sebagai berikut: 2. 7.

Penurunan getaran vibrasi diduga Perbaikan tanda vital dan 2. Malnutrisi mempengaruhi dapat Kolaborasi Dapatkan kesehatan umum untuk mencegah specimen sputum dan menurunkan . tambahan dengan sesuai 3. dehidrasi. irama jantung. 2. 4. hasil AGDA dan perubahan toleransi pasien.hipoksemia. berikut: sebagai membrane mukosa. mengindikasikan beratnya Perbaikan 2. ventilasi. 4. dengan tidak adekuat imunitas Mengidentifikas ikan intervensi 3. 3. 1. Awasi tanda. Demam terjadi dan dapat karena atau infeksi dengan 1. 4 Risiko tinggi Tidak terjadinya terhadap infeksi Mandiri 1. oksigen jaringan adekuat. dan tekanan dapat efek indikasi disritmia. berhubungan sebagai berikut: 1. kriteria hasil 2.dalam. Awasi suhu. Kaji/awasi secara perifer atau sentral dengan kriteria rutin kulit dan keabu-abuan sianosis dan sentral berhubungan hasil dengan gangguan suplai oksigen 2. darah menunjukan hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. Sianosis mungkin pertukaran gas 1. Kolaborasi (bronkuspas me) adanya pengumplan Berikan oksigen cairan/udara. 3 Gangguan pertukaran gas Perbaikan Mandiri 1. Palpasi fremitus. Tachicardi. Dapat memperbaiki atau mencegah memburuknya hipoksia. Diskusikan infeksi adekuat kebutuhan nutrisi.

suhu = 37o C.atau menurunkan resiko infeksi. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan hasil: rongga dada simetris. trombosit 260. dan klien merasa sesaknya berkurang setelah dilakukan pengasapan (nebulizer). suara napas klien terdengar wheezing. Pulmicort. Dari hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil: Hb = 15. terhadap Untuk mengidentifikasi organisme penyabab dan terhadap kerentanan berbagai Perubahan pola kultur/sensitifitas. Ht = 47vol%. 3.000/mm3. dan sputum berwarna putih kental. Uraian Kasus Nn. Klien juga mengatakan mempunyai riwayat asma sejak kelas 6 SD dan klien mengatakan bahwa ada salah satu anggota keluarganya yang memiliki riwayat asma. yaitu ibunya. anti microbial. RR = 36x/menit. dan hasil TTV: TD = 130/70 mmHg. G 23 tahun suku minang datang dengan keluhan napasnya sesak sewaktu bangun pagi dan semakin meningkat ketika beraktivitas. Dari hasil pengkajian klien mengeluh sesak. resonan pada perkusi dinding dada.000/mm3. batuk berdahak dengan dahak berwarna putih. HR = 76x/menit. Dari hasil observasi didapatkan hasil: tingkat kesadaran: kompos mentis. retraksi dinding dada (+). Ventolin.5 gr%. taktil fremitus simetris antara kiri dan kanan. G DENGAN DIAGNOSA ASMA BRONKHIAL DI RUMAH SAKIT UMUM ARIFIN AHMAD A. leukosit = 17. pewarnaan gram. hidup untuk meningkatkan lingkungan yang nyaman. . Klien saat ini mendapatkan terapi: IVFD RL 20 tts/i. BAB III KASUS ASUHAN KEPERAWATAN Nn. 2. klien juga batuk berdahak. dengan batuk atau tahanan pengisapan untuk infeksi.

serta batuk berdahak. didapatkan hasil paru dalam batas normal.Bisolvon dan O2 dengan nasal kanul 2 L. B. G : 23 tahun  Alasan Masuk (Keluhan Utama) Klien masuk rumah sakit dengan keluhan napasnya sesak sewaktu bangun pagi dan semakin meningkat ketika beraktivitas. batuk berdahak dengan dahak berwarna putih. yaitu ibunya. Pemeriksaan Fisik a) Tingkat Kesadaran: Compos mentis b) TTV: (1) BP : 130/70 mmHg (2) RR: 36 x/menit (3) HR: 76 x/menit (4) T : 37oC c) Hasil pengkajian:  Inspeksi . Pada pemeriksaan penunjang X-ray dada/thorax. Riwayat Penyakit Keluarga Klien mengatakan bahwa ada salah satu anggota keluarganya yang memiliki riwayat asma. 2. Anamnesa  Nama Umur Identitas Klien : Nn.    Riwayat Penyakit Dahulu Klien mengatakan mempunyai riwayat asma sejak kelas 6 SD Riwayat penyakit Sekarang Klien mengeluh sesak. Pengkajian 1.

Trombosit 260. C. Terapi Pengobatan Saat Ini IVFD RL 20 tts/i.  Palpasi Taktil fremitus simetris antara kiri dan kanan.Rongga dada simetris.000/mm3 .Ht = 47vol%. retraksi dinding dada (+).  Perkusi Resonan dikedua lapang paru.Hb = 15. 4. mengatakan batuk dengan berdahak dahak DS: Klien Data Etiologi Pencetus serangan (alergen) ↓ Reaksi antigen & antibodi ↓ Masalah Keperawatan Tidak efektifnya bersihan nafas jalan . 3.  Pemeriksaan laboratorium . Ventolin. Pemeriksaan Penunjang dan Laboratorium  Pada pemeriksaan penunjang X-ray dada/thorax.000/mm3 . didapatkan hasil paru dalam batas normal. Bisolvon dan O2 dengan nasal kanul 2 L. Analisa Data No 1 1.5 gr% .  Auskultasi Suara napas klien terdengar wheezing. dan sputum berwarna putih kental.Leukosit = 17. Pulmicort.

Terapi diberikan: oksigen 2L. Pulmicort. 2. & anafilaksin) ↓ ↑ permeabilitas kapiler DO: 1. berwarna agak kental. yang 2 1. vital: BP=130/70 mmHg RR=36 x/menit HR=76x/menit T=37oC 2. Bisolvon. 4.berwarna putih. Klien sesak. Ventolin. IVFD RL 20 tts/i. DS: Klien merasa Pencetus serangan (alergen) Pola nafas tidak efektif . bradikinin. 3. merasa Dikeluarkannya substansi vasoaktif (histamin. Suara klien napas putih tampak nafas batuk Tanda-tanda ↓ Kontraksi otot polos Edema mukosa Hipersekresi ↓ Obstruksi jalan nafas ↓ Tidak efektifnya bersihan jalan nafas terdengar wheezing. Klien sesak disertai berdahak.

sesak DO: 1. Klien sesak disertai berdahak. D. 4. IVFD RL 20 tts/i. Bisolvon. vital: BP=130/70 mmHg RR=36 x/menit HR=76x/menit T=37 C 2. berwarna agak kental. Suara klien napas putih tampak nafas batuk o ↓ Reaksi antigen & antibodi Tanda-tanda ↓ Dikeluarkannya substansi vasoaktif (histamin. Web of Caution (WOC) . 3. Terapi diberikan: oksigen 2L. & anafilaksin) ↓ Kontraksi otot polos ↓ Bronkospasme ↓ Suplai O2 menurun ↓ Merangsang kemoreseptor sentral (spons dan medulla oblongata) ↓ Hiperventilasi yang ↓ Sesak ↓ Pola nafas tidak efektif terdengar wheezing. bradikinin. Ventolin. Pulmicort.

derajat spasme . Auskultasi 1.E. Diagnosa Keperawatan Tidak efektifnya bersihan jalan Tujuan/Kriteri a Hasil Pencapaian Intervensi Mandiri Rasional bersihan jalan 1. Beberapa napas dengan bunyi nafas. Asuhan Keperawatan No 1.

Menunjukan perilaku untuk 2. 3.nafas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (bronkospasm e). adalah variable yang tergantung pada tahap proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. 1. . penumpukan sekret. 2. Kaji/pantau memperbaiki bersihan jalan nafas misalnya batuk efektif dan mengeluarkan sekret. ansietas. Mempertahanka n jalan napas paten dengan bunyi napas bersih atau jelas. frekuensi pernafasan. Disfungsi pernafasan 3. penerimaan atau selama stress/adanya proses infeksi akut. Tachipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat inspirasi/ekspi ditemukan pada rasi. kriteria hasil sebagai berikut: catat adanya bunyi nafas. catat rasio 2. penggunaan obat bantu. ex: mengi bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat/tidak dimanifestasika n adanya nafas advertisius. distress pernafasan. sekret kental. Catat adanya derajat dispnea.

duduk pada sandara tempat tidur. Tingkatkan masukan cairan sampai dengan 3000 menurunkan kekentalan sekret. penggunaan pernafasan dapat mentriger episode akut. 5. dapat menurunkan kekentalan sekret. asap dll. Hidrasi membantu 6. Peninggian kepala tempat tidur 4. Pertahankan polusi lingkungan minimum. contoh: meninggikan kepala tempat tidur. Pencetus tipe alergi 5. ml/ hari sesuai cairan hangat toleransi jantung memberikan air hangat. .4. 6. Tempatkan posisi yang nyaman pada pasien. contoh: debu. memudahkan fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi.

Kolaborasi 7. 2.penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. Merelaksasikan sesuai indikasi bronkodilator. posisi. otot halus dan menurunkan spasme jalan nafas. dan produksi mukosa. Berikan posisi semi fowler. Ajarkan pasien pernapasan dalam. Tinggikan kriteria hasil sebagai berikut: kepala dan bantu mengubah Mempertahanka n ventilasi adekuat dengan menunjukan RR=16-20 x/menit dan irama napas teratur. 2. mengi. Tidak mengalami sianosis atau 2. Perbaikan pola Mandiri 1. nafas dengan 1. Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernapasan. Berikan obat7. 2 Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan suplai oksigen berkurang (bronkospasm e) 1. Membantu pasien memperpanjang waktu ekspirasi sehingga pasien akan bernapas .

Pasien dapat melakukan pernafasan dalam. sedang obat-obatan pelega sebagai pendukung. Memaksimalka n bernapas dan menurunkan kerja napas F. Dengan demikian. yakni hanya pada saat datangnya serangan sudah ketinggalan zaman. keharusan mengalami rawat inap. yang aman untuk digunakan dalam jangka panjang. Menurut AAAI (Amerika Academy of Allergy. 3. dan risiko kematiannya karena asma juga lebih tinggi. Keyakinan ini sangat disokong oleh penemuan obat-obatan pencegah peradangan saluran pernapasan. Penatalaksanan Farmakologi Belum terlalu lama. 2006) adalah sebagai berikut: a) Obat-obat anti peradangan (preventer) (1) Usaha pengendalian asma dalam jangka panjang (2) Golongan obat ini mencegah dan mengurangi peradangan.tanda hipoksia lain. pembengkakan saluran napas. Selanjutnya prosentase keharusan kunjungan ke unit gawat daruat (UGD). dan produksi lendir . Asthma & Immunology) penggolongan obat asma (Hadibroto & Alam. Hasil penelitian medis menunjukkan bahwa para penderita asma yang terutama menggantungkan diri pada obatobatan pelega (reliever/bronkodilator) secara umum memiliki kondisi yang buruk dibandingkan penderita asma umumnya. dokter masa kini menggunakan obat peradangan sebagai senjata utama. penyebab asma yang mereka derita adalah karena peradangan (inflamasi). dan bukan karena bronkokonstriksi. yakni baru sejak pertengahan tahun 1990-an mulai mengental keyakinan di kalangan kedokteran bahwa asma yang tidak terkendali dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan pada saluran pernapasan dan paru-paru. Hal ini membuktikan bahwa pasa asma ekstrinsik. 3. lebih efektif dan efisien. Penatalaksanaan Farmakologi dan Non Farmakologi 1. Kolaborasi 3. Cara menangani asma yang reaktif. Berikan oksigen tambahan.

tablet biasa. budesonide [Pulmicort®]. b) Obat-obat pelega gejala berjangka panjang Obat-obat pelega gejala berjangka panjang dalam nama generik yang ada di pasaran adalah salmeterol hidroksi naftoat (salmeterol xinafoate) dan teofilin (theophylline). Contoh obat anti peradangan adalah beclometasone [Becotide®]. (1) Salmeterol Obat ini adalah bronkodilator yang bekerja perlahan dimana obat ini bekerja dengan mengendurkan oto-otot yang mengelilingi saluran pernapasan. fluticasone [Flixotide®]. Efek samping obat ini sama seperti kafein sehingga tidak dianturkan untuk pasien hiperaktif. merah. larutan untuk alat nebulizer. (2) Teofilin Obat ini termasuk satu golongan dengan kafein (zat aktif yang terdapat dalam secangkir kopi) dan termasuk bronkodilator yang lama daya kerjanya. mometasone [Asmanex®]. biasanya mengambil waktu sekitar dua minggu baru terlihat efektivitasnya ayang terukur. Bentuk hirup bekerja lebih karena langsung menuju saluran pernapasan yang .(3) Cara kerjanya adalah dengan mengurangi sensitivitas saluran pernapasan terhadap pemicu asma yang berupa alergen. Obat ini paling efektif bila dikombinasikan dengan suatu obat kortikosteroid hirup. atau oranye. (3) Albuterol Sulfat atau Salbutamol. Obat ini tidak dapat digunakan untuk anak-anak di bawah 12 tahun. Obat ini umumnya bekerja setelah setengah jam dan daya kerjanya bertahan hingga 12 jam. Obat pencegah biasanya tersedia dalam bentuk inhaler berwarna cokelat. putih. obat hirup bubuk kering. (4) Penggunaannya harus teratur dalam jangka panjang (5) Daya kerja lambat/gradual. Bronkolidarot yang paling populer dan disajikan dalam bentuk obat hirup dosis terukur. dan montelukast [Singulair®] secara bertahap mengurangi peradangan saluran napas dan (jika digunakan secara teratur) akan mengontrol penyakit asma. tablet lepas-tunda (extendedreliase). meskipun beberapa (misalnya montelukast) tersedia dalam tablet. dan tidak dapat berfungsi sebagai pelega seketika dalam hal terjadi serangan asma. Obat ini disajikan dalam bentuk obat hirup dosis terukut dan obat hirup bubuk kering. sirup.

karena fungsi paruparu berada pada titik yang paling rendah di tengan malam. sehingga makin cepat digunakan makin cepat pula daya kerja yang dirasakan. Prediaped disajikan sebagai sirup 5 mg per 5 ml. efek samping dari penggunaan kortikosteroid ini tidak perlu dikhawatirkan jika penggunaannya hanya dalam jangka pendek dan kadangkala saja. formoterol [Foradil®. Ventolin terdaftar di Indonesia dalam bentuk sediaan tablet. Merek lain adalah Ascolen. (1) Prednison (Prednisone) Prednison adalah preparat kortikosteroid oral yang paling umum digunakan. Obat ini membutuhkan enam hingga delapan jam untuk bekerja. Oxis®]. Merek yang paling populer adalah Ventolin dan Proventil yang disajikan sebagai obat hirup dosis terukur. perubahan berat badan. jantung berdebar. dan pusing. Malam hari termasuk waktu dimana serangan asma paling sering terjadi. c) Obat-obat pelega gejala asma (reliever/bronkodilator) Misalnya salbutamol [Ventolin®]. Obat pereda/pelega biasanya tersedia dalam bentuk inhaler berwarna biru atau abu-abu. dan salmeterol [Serevent®] secara cepat mengembalikan saluran napas yang menyempit yang terjadi selama serangan asma ke kondisi semula. Dengan merek Prelone disajikan sebagai sirup 15 mg per 5 ml. terbutaline [Bricanyl®]. seperti perubahan suasana hati (mood changes). Akan tetapi. Efek samping obat ini dapat menyebabkan stimulasi. dan spray. efek samping penggunaan kortikosteroid oral juga cukup nyata. ketimbang harus lewat lambung dulu. dan gejala demam yang ditekan. (2) Prednisolon (Prednisolone) Prednisolon adalah kortikosteroid oral yang sangat mirip prednisone.bermasalah. sirup. meningkatnya selera makan. Proventil HFA sebagai obat hirup bubuk kering. nebulizer. dengan kelebihan rasanya yang lebih bisa diterima anak-anak. (3) Metilprednisolon (Methylprednisolone) . Obat ini disajikan dalam bentuk pil maupun sirup. Di sisi lain. Dari hasil penelitian terbukti bahwa dosis kortikosteroid oral yang diberikan di siang hari bisa membantu mereka yang mengalami serangan asma untuk tidur pada malam harinya. d) Obat-obatan kortikosteroid oral Kortikosteroid oral adalah obat yang ampuh untuk mengatasi pembengkakan dan peradangan yang mencetuskan serangan asma.

Alat ini menyandang sebutan dosis terukur (metered-dose) karena memang menghantar suatu jumlah obat yang konsisten/terukur dengan setiap semprotan.Sangat mirip dengan prednisolon. dan mendorongnya keluar dari moncong masuk ke saluran pernapasan atau paru-paru pemakainya. e) Alat-alat hirup Alat hirup dosis terukur atau Metered Dose Inhaler (MDI) disebut juga inhaler atau puffer adalah alat yang paling banyak digunakan untuk menghantar obat-obatan ke saluran pernapasan atau paru-paru pemakainnya. dan bukaan (lebar atau sempitnya) saluran pernapasannya. Cairan yang sebutan populernya adalah propelan tersebut memecah obat-obatan yang dikandung menjadi butiran-butiran atau kabut halus. kemudian meniup ke dalam Peak Flow Meter secepatnya dengan sekuat-kuatnya. Sebagai hasil teknologi mutakhir. Untuk menggunakannya. biasanya chlorofluorocerbous/CFC. Peak Flow Meter adalah alat sederhana yang bisa digunakan di rumah. (4) Deksametason (Dexamethasone) Dengan merek Decadron. Biasanya digunakan di rumah sakit dengan cara intravenuous. tidak akan bisa meniup sekuat bila saluran . maka orangtua anak penderita asma. Alat ini mengukur kekuatan embusan napas pemakainya. Berpegang pada prinsip bahwa untuk menatalaksana segala sesuatu dengan baik harus ada tolok ukurnya. f) Peak Flow Meter Alat ini memegang peranan yang sangat penting dalam usaha dan program pengendalian asma. besar usahanya dalam mengembus. termasuk oleh anakanak berumur lima tahun ke atas. yang mengembang menjadi gas ketika melewati moncongnya. Ada tiga hal yang mempengaruhi kekuatan embusan napas seseorang. Seseorang yang saluran pernapasannya menyempit. Alat hirup dosis terukur memuat obat-obatan dan cairan tekan (pressurized liquid). yaitu ukuran paru-parunya. maupun anak-anak dan orang dewasa penderita asma sendiri harus menguasai cara mengukur fungsi paru-paru mereka. satu dosis tunggalnya berdaya kerja dua hingga tiga kali lebih lama dibandingkan preparat kortikosteroid yang lain. Tindakan selanjutnya kemudian adalah mengambil langkah yang sesuai dengan hasil pengukuran tersebut. si pemakai menarik napas dan mengisi paru-parunya sepenuh mungkin. alat hirup dosis terukur kini bisa digunakan oleh segala tingkatan usia. terutama untuk mendeteksi gejala akan datangnya serangan asma. Cocok untuk pasien anak-anak yang sulit minum obat. tetapi harganya lebih mahal. mulai dari balita hingga lansia.

atau sesak napas. (3) Lakukan secara teratur 2 kali sehari (Wijayakusuma. Untuk mengetahui kondisi bukaan saluran pernapasan seseorang. lalu saring. b) Resep 2 5 g adas 5 batang serai 20 jari kayu manis 20 g jahe merah 30 g pegagan segar (15 g keringi) Gula aren secukupnya . rebus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc. Berikut ini beberapa ramuan herbal yang dapat dimanfaatkan dalam penanganan asma. dan orang yang bersangkutan harus segera ke dokter untuk menghindari keharusan dirawat di UGD.pernapasannya terbuka sempurna. Pengobatan yang menggunakan tanaman herbal sebagai medianya biasa disebut sebagai pengobatan secara tradisional atau pengobatan menggunakan ramuan herbal. Kondisi asma seseorang dianggap terkendali baik jika hasil pengukuran sesaat ada dalam rentang 80-100% dari kondisi terbaiknya (masuk zona hijau). 2008). yaitu: a) Resep 1 15 g kulit jeruk mandarin kering (1) Cuci bersih semua bahan. Penatalaksanan Non Farmakologi Penatalaksanaan secara non farmakologi dapat memanfaatkan tanaman-tanaman herbal dalam penyembuhan berbagai penyakit pasien. Pertanda pertama dari datangnya serangan asma bisanya terlihat dari menurunnya ukuran catatan Peak Flow Meter seseorang. Untuk memperoleh patokan terbaik seseorang. dan catat hasilnya. lakukan pengukuran dengan Peak Flow Meter pada waktu orang tersebut berada dalam kondisi asmanya terkendali dengan baik. Pengukuran di bawah 60% kondisi terbaik memasuki zona merah. yang berarti harus waspada karena terlihat tanda-tanda akan datangnya serangan asma. 2. antara 60-80% dari kondisi terbaik ia memasuki zona kuning. lendir yang berlebihan. kita membandingkan hasil pengukuran sesaat dengan patokan ukuran terbaik dari orang tersebut. iris-iris. (2) Minum selagi hangat. berarti bahaya. Ini bahkan sebelum muncul gejala-gejala yang lain seperti batuk.

(2) Lakukan secara teratur 2 kali sehari (Wijayakusuma. 2008). (2) Minum selagi hangat. 2008).(1) Cuci bersih semua bahan. iris dengan ketebalan 3-5 mm (1) Tempelkan jahe dengan menggunakan koyo hangat pada titik dazhui. 2009). (3) Lakukan secara teratur 2 kali sehari (Wijayakusuma. (2) Panaskan airnya dengan api kecil hingga mendidih. (3) Lakukan secara teratur 2 kali sehari (Wijayakusuma. 2008). . (2) Minum selagi hangat. d) Resep 4 200 g lobak putih 3 siung bawang putih 30 kencur (1) Cuci bersih semua bahan. rebus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc. rebus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc. e) Resep 5 (pemakaian luar) Jahe secukupnya. (3) Lakukan secara teratur 2 kali sehari (Wijayakusuma. f)     Resep 6 6 buah biji cermai merah 8 butir buah lengkeng 4 potong akar kara 8 butir bawang merah (1) Ditumbuk semua bahan dan direbus dengan 2 gelas air hingga satu setengah gelas. 2008). lalu saring. (2) Diminum satu hari 2 kali minum (Widjadja. Minum hangat-hangat. c) Resep 3 3 g bunga melati kering (10 g segar) 6 lembar daun jinten (1) Cuci bersih. lalu jus atau blender dan saring. yaitu ruas tulang paling menonjol yang terletak antara ruas tulang belakang leher ketujuh dan ruas tulang belakang dada yang pertama. lalu saring.

sering penanganannya harus ditinjau ulang dan diubah. 5. 2003). Dasar pemikirannya. 6. dan kemungkinan akibat sampingan dari masing-masing obat. dalam arti gejala-gejalanya bisa membaik dan memburuk dari waktu ke waktu. Salah satu terapi yang dapat dilakukan adalah terapi pijat (Hartanti. terutama yang menyangkut dirinya sendiri. 2. Penulisan rencana tindakan (Action Plan). beserta faktor-faktor pemicunya. 3. Cara menggunakan alat-alat pengobatan asma secara benar. 4.Selain mengunakan ramuan herbal kita juga bisa menggunakan terapi. Untuk itu dibutuhkan komunikasi yang efektif antara sang pasien dengan dokternya (Hadibroto & Alam. Seluk beluk pengobatan asma. 2006). Tujuan pengobatan dan penatalaksanaan. Dalam hal ini sebaiknya sang pasien mempunyai referensi atau pengetahuan tentang: 1. asma adalah suatu penyakit biasa yang bisa dikendalikan. Pengenalan tanda-tanda dan gejala awal datangnya serangan. . Namun. Karena variabilitas ini. Health Education (Pendidikan Kesehatan) Pendidikan bagi pasien adalah suatu bagian yang penting dalam usaha meningkatkan cara penanganan asma. asma juga penyakit yang bersifat Variabel. G. Apakah asma itu.

obat-obatan yang digunakan. (2003). Jakarta: Penerbit Erlangga Hadibroto. Jakarta: Pustaka Anggrek . Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Ayres. untuk mencegah serangan yang lebih gawat. meningkatkan atau mengurangi. Niluh Gede Yasmin. (2003). c) Memberikan kesempaatan bagi penderita asma untuk segera dan lebih awal memulai penanganan. menghadapi gejala asma yang memburuk. b) Memberitahukan apa yang harus dilakukan. dan rencana ini harus dimiliki oleh setiap penderita asma. Iwan & Syamsir Alam. 7. (2007). dan menambah obat-obatan yang digunakan. Buku harian asma adalah sarana yang sangat penting untuk mencatat gejala-gejala asma. Asma. Jakarta: PT Dian Rakyat Bull. Jon. Rencana tindakan menyesuaikan dengan tingakat keparahan gejala. Memberi arahan akan kapan dan bagaimana usaha mengurangi penggunaan obat-obatan hingga dosis seminimal mungkin. dan catatan prestasi Peak Flow Meter. Pengisian Buku Harian asma. Jadi Dokter di Rumah Sendiri dengan Terapi Herbal dan Pijat. Vien. begitu asma sudah terkendali.Rencana tindakan adalah suatu rencana mengatasi kondisi asma yang memburuk. Jika gejala-gejala semuanya tercatat. DAFTAR PUSTAKA Asih. Eleanor & David Price. (2006). yang disiapkan di bawah pengawasan dan persetujuan dokter yang merawat. Simple Guide Asma. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Hartanti. Buku Harian asma digunakan bersama dengan Rencana Tindakan. sehingga si penderita punya pegangan dalam usaha mengendalikan asmanya (Hadibroto & Alam. sang pasien akan lebih sadar akan perubahan-perubahan yang mengindikasikan bahwa asmanya mulai lepas kendali. (2003). juka kondisi sang pasien tidak membaik. Dengan demikian ia bisa menyesuaikan pengobatannya berdasarkan Rencana Tindakan. Lengkapnya rencana ini bisa: a) Memberi pengarahan kapan waktunya untuk mengubah. 2006). Keperawatan Medikal Bedah: Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Asma.

Arif. Ilmu Penyakit Dalam. (2008). Jakarta: PT Rineka Cipta Mansjoer. Jakarta: Media Aesculapius Muttaqin. (2005). Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3.Herdinsibuae. Arif dkk. (2008). W dkk. Jakarta: Penerbit Salemba Medika . Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->