LAPORAN PENDAHULUAN LUKA BAKAR A.

Definisi Luka bakar adalah injury pada jaringan yang disebabkan oleh suhu panas (thermal), kimia, elektrik, dan radiasi. B. Etiologi  Thermal: air panas, api, panas permukaan.  Kimia: asam, alkali, dan lainnya.  Radiasi: terapi dan sinar ultraviolet.  Elektrik. C. Macam-macam  Derajat 1 (superficial) yaitu hanya mengenai epidermis dengan ditandai eritema, nyeri, fungsi fisiologis masih utuh, dapat terjadi pelepuhan, serupa dengan terbakar matahari ringan. Tampak 24 jam setelah terpapar dan fase penyembuhan 3 - 5 hari.  Derajat 2 (partial) adalah mengenai dermis dan epidermis dengan ditandai lepuh atau terbentuknya vesikula dan bula, nyeri yang sangat, hilangnya fungsi fisiologis. Fase penyembuhan tanpa infeksi 7 – 21 hari.  Derajat 3 atau ketebalan penuh yaitu mengenai seluruh lapisan epidermis dan dermis, tana meninggalkan sisa-sisa sel epidermis untuk mengisi kembali daerah yang rusak, hilangnya rasa nyeri, warnanya dapat hitam, coklat dan putih, mengenai jaringan termasuk (fascia, otot, tendon dan tulang). D. Patofisiologi  Berat ringannya luka bakar tergantung pada factor: agent, lamanya terpapar, area yang terkena, kedalamannya, bersamaan dengan trauma, usia dan kondisi penyakit sebelumnya.  Fisiologi syok pada luka bakar akibat dari lolosnya cairan dalam sirkulasi kapiler secara massive dan berpengaruh pada system kardiovaskular karena hilangnya atau rusaknya kapiler, yang menyebabkan cairan akan lolos atau hilang dari compartment intravascular ke dalam jaringan interstisial. Eritrosit dan lekosit tetap dalam sirkulasi dan menyebabkan peningkatan hematokrit dan lekosit. Darah dan cairan akan hilang melalui evaporasi sehingga terjadi kekurangan cairan.  Kompensasi terhadap syok dengan kehilangan cairan maka tubuh mengadakan respon dengan menurunkan sirkulasi system gastrointestinal yang mana dapat terjadi ilius parlitik, takikardi dan takipnea merupakan kompensasi untuk menurunkan volume vaskuler dengan meningkatkan kebutuhan oksigen terhadap injuri jaringan dan perubahan system. Kemudian menurunkan perfusi pada ginjal, dan terjadi vasokontriksi yang akan berakibat pada depresi filtrasi glomerulus dan oliguri.  Respon luka bakan akan meningkatkan aliran darah ke organ vital dan menurunkan aliran darah ke perifer dan organ yang tidak vital.

  

Respon metabolic pada luka bakr adalah hipermetabolisme yang merupakan hasil dari pengingkatan sejumlah energy, peningkatan katekolamin, dimana terjadi peningkatan temperature dan metabolism, hiperglikemi karena meningkatnya pengeluaran glukosa unutk kebutuhan metabolic yang kemudian terjadi penipisan glukosa, ketidakseimbangan nitrogen oleh karena status hipermetabolisme dan injuri jaringan. Kerusakan pada sel darah merah dan hemolisi menimbulkan anemia, yang kemudian akan meningkatkan curah jantung untuk mempertahankan perfusi. Pertumbuhan dapat terhambat oleh depresi hormone pertumbuhan karena terfokus pada penyembuhan jaringan yang rusak. Pembentukan edema karena adanya p0eningkatan permeabilitas kapiler dan pada saat yang sama terjadi vasodilatasi yang menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dalam kapiler. Tejadi pertukaran elektrolit yang abnormal antara sel dan cairan interstisial dimana secara khusus natrium masuk dalam sel dan kalium keluar dari dalam sel. Dengan demikian mengakibatkan kekurangan sodium dalam intravaskuler. Respon luka bakar terhadap injuri pada anak dan perpindahan cairan setelah injuri thermal: Dalam 24 jam pertama luka bakar

meningkatkan permeabilitas kapiler

hilangnya plasma, protein, cairan dan elektrolit dari volume sirkulasi ke dalam rongga interstisial: hipoproteinemia, hiponetremia, hiperkalemia

hipovelemi

syok

dan stridor. gejala syok. dan elektrolit. luka. pengeluaran urine. nafas dengan menggunakan otot asesori. dan bising usus . Kemudian 24 jam kedua terapi cairan ringer laktat dengan dekstrosa 5%.E. tekanan nadi lemah. Terapi albumin dapat diberikan bila indikasi  Monitor kelebihan cairan  Lakukan kateterisasi untuk memantau urine output (pengeluaran urine)  Monitor serum elektrolit sesuai program  Antibiotic untuk mencegah infeksi  Terapi analgetik  Perawatan luka harus steril  Hidroterapi  Terapi fisik  Skit graff bila indikasi  Monitor gravitasi urine atau berat jenis urine  Penderita dengan luas luka bakar lebih dari 15% tidak boleh diberikan cairan per oral pada awalnya karena dapat terjadi ilius. Setengah sisanya diberikan merata selama 16 jam berkutnya. dalam 24 jam pertama setelah luka bakar. menurunya pengeluaran urine atau anuri. analisa gas darah. Ht.  Lihat derajat luka bakar. cuping hidung. Penatalaksanaan Terapeutik  Mempertahankan jalan nafas  Pemberian oksigen 100% untuk intoksikasi karbon monoksida  Monitor analisa gas darah  Escharatomy  Terapi cairan: formula Parkland sering digunakan.  Bila syok: takikardi. pada anak 4 ml ringer laktat/ kg berat badan/ luas permukaan luka bakar. Pantau pengeluaran urin harus mencapai (1 ml/ kg berat badan/ jam).  Perubahan suhu tubuh dari demam ke hipotermi. Setengah jumlah cairan yang dihitung diberikan dalam 8 jam pertama setelah terjadinya cedera. hipotensi. F.  Status pernafasan: takipnea. takipnea. Penatalaksaan  Kaji kegawatan luka bakar  Kaji tingkat nyeri  Kaji kepatenan jalan napas. G. TTV. H. Pemeriksaan Penunjang  Pemeriksaan Laboratorium: Hb. Manifestasi Klinik  Riwayat terpaparnya.

 Kaji perilaku klien dan perubahan kesadaran I.  Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan perubahan integritas kulit. 2.  Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan cairan melalui luka bakar thermal. Bernapas dengan mudah Rencana tindakan: 1. Frekuensi pernafasan normal 2. Latih napas perlahan dan batuk efektif. Kaji penyebab ketidak efektifan pernapasan. .  Ketidakefektifan termoregulasi yang berhubungan dengan kerusakan kulit dan kehilangan panas.  Nyeri berhubungan dengan kerusakan dan trauma jaringan. 3. R/ temuan analisi gas darah mengindikasikan kadar oksigen. R/ meningkatkan ekspansi paru. Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam status pernapasan anak tetap stabil. serta PH.  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan selera makan. Kaji status pernapasan klien.  Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan luka bakar. Pantau analisis gas darah. R/ untuk memudahkan ventilasi dengan menurunkan tekanan abdomen terhadap diafragma. 5. J. R/ mengetahui penyebab yang pasti dari cedera sangat penting untuk member terapi yang cepat dan tepat. memobilisasi dan drainase secret. Suara napas bersih 3. R/ peningkatan frekuensi dan usaha napas mengindikasi peningkatan obstruksi jalan napas. Diagnosa Keperawatan  Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan edema pada saluran napas atas dan cedera asap. 4. Kriteria hasil: 1. Beri posisi semifowler/ posisi yang mengurangi kerja pernapasan dan meningkatkan ekspansi dada. karbon dioksida. Tidak ada pernapasan cuping hidung 4. Rencana Tindakan  Diagnosa 1: gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan edema pada saluran napas atas dan cedera asap.

6. R/ perubahan lokasi atau intensitas. Ekspresi nyeri berkurang. Pantau berat badan anak. TTV normal. Diagnosa 3: nyeri berhubungan dengan kerusakan dan trauma jaringan. R/ memberikan tindakan sesuai dengan indikasi klien. 4. Waktu pengisian kapiler cepat. Beri informasi kepada orang tua penyebab nyeri anak. Kegelisahan berkurang. 2. 4. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk tindakan lebih lanjut. Atur posisi anak senyaman mungkin. Diagnosa 2: kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan cairan melalui luka bakar thermal. Kriteria hasil: 1. Membran mukosa lembab. R/ secara umum penggantian cairan harus difitrasi untuk meyakinkan ratarata keluaran urine. R/ dengan informasi yang benar dapat mengurangi kecemasan orang tua. Tujuan: setelah dilakukan tindakan 1x24 jam kebutuhan cairan elektrolit anak terpenuhi. 2. 3. Tujuan: setelah dilakukan tindakan 1x24 jam nyeri berkurang. 3. Intake dan output sesuai. R/ dengan posisi yang nyaman dapat meminimalkan nyeri. Kolaborasi dengan dokter untuk terapi analgetik. karakter nyeri dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi. Pantau keluaran dan berat jenis urine anak setiap jam. R/ memberikan pedoman untuk pengantian cairan dan mengkaji respon kardiovaskuler. Rencana tindakan: 1. Beri cairan IV. Rencana tindakan: 1. R/ berat badan anak harian merupakan indicator utama status cairan anak. 3. Turgor kulit baik. Kaji tanda-tanda vital. 2. 6. Kriteria hasil: 1. 5. R/ mengganti kehilangan cairan. Keluaran urin sebanyak 1ml/kg/jam. 4.  . Kaji tingkat nyeri. 2.

TTV normal. 4. yang biasanya diperoleh dari orang tua (atau anak. Suapi anak. Diagnosa 5: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan selera makan. 2. Makan 1 porsi habis. Rencana tindakan: 1. 2. 2. Pertahankan teknik cuci tangan oleh tim medis dan pengunjung. Kriteria hasil: 1. R/ kalori dan protein ekstra meningkatkan pertumbuhan jaringan yang optimal. Diagnosa 4: Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan perubahan integritas kulit. Beri makanan yang bervariasi pada anak. 2. jika dibutuhkan). pilihan makanan. R/ menghilangkan rasa nyeri. R/ mengendalikan proliferasi bakteri. Anak dapat mempertahankan atau meningkatkan berat badan. Kaji TTV. 4. serta kesulitan mengunyah dan menelan.  . Beri diet TKTP. R/ pemberian obat antibiotic dapat melawan infeksi. Tujuan: setalah dilakukan tindakan 3x24 jam selera makan membaik. Kolaborasi dengan tim dokter untuk pemberian antiviotik sesuai indikasi. R/ perubahan berbau busuk dapat mengindikasikan infeksi bakteri. membantu dalam pengembangan rencana nutrisi. Rencana tindakan: 1. R/ semua informasi ini. 3. Kaji luka bakar untuk melihat perubahan warna dan bau. Hasil kultur luka normal. R/ dengan menyuapi klien diharapkan nafsu makan klien bertambah. R/ TTV yang tidak normal dapat merupakan tanda-tanda dini infeksi. Tujuan: setelah dilakukan tindakan 1x24 jam anak tidak mengalami tanda infeksi. Timbang berat badan setiap hari. termasuk asupan makanan yang biasa dikonsumsi anak. R/ untuk meminimalkan terjadinya infeksi. Kriteria hasil: 1. Karbohidrat ekstra dapat mengatasi malnutrisi. Kaji mengenai riwayat diet. R/ menimbang berat badan harian secara langsung mengukur status nutrisi anak. alergi makanan. 3. 5. 5. Pasang balutan pada luka.

2. Beri makanan sedikit-sedikit tapi sering. Tujuan: setelah dilakukan tindakan 3x24 jam anak tidak memiliki indikasi kerusakan integritas kulit. R/ pemantauan yang sering memastikan deteksi dini dan terapi hipotermia yang tepat. Suhu tubuh kurang dari 37. R/ membuang eskar dapat mengurangi resiko infeksi bakteri. Kriteria hasil: 1. Lindungi anak dengan selimut. Seka anak dengan larutan antiseptic dua kali sehari. Pertahankan lingkungan yang hangat. R/ cara khusus untuk meningkatkan nafsu makan. untuk mencegah risiko terjadina kondisi yang mengancam kehidupan.8º C. R/ penggunaan selimut mengurangi kehilangan panas dan meningkatkan suhu tubuh Diagnosa 7: Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan luka bakar.  . Rencana tindakan: 1. 6. Jaga klien untuk tidak menggaruk atau mengorek luka. 3. 7. Kriteria hasil: 1. Buang jaringan yang rusak (eskar) dengan menggunakan spon halus dan gunting. Penurunan ukuran luka bakar. R/ lingkungan yang hangat meminimalkan penurunan suhu. 2. Diagnosa 6: Ketidakefektifan termoregulasi yang berhubungan dengan kerusakan kulit dan kehilangan panas. 8. Kaji suhu anak setiap jam hingga stabil. 3. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet yang tepat. Rencana tindakan: 1. Tujuan: setelah dilakukan tindakan 1x24 jam anak dapat mempertahankan termoregulasi normal. 3. R/ seka meningkatkan pemisahan eskar (jaringan yang rusak) dengan perlahan. R/ dengan diet yang tepat dapat meningkatkan asupan nutrisi klien. R/ cara khusus untuk meningkatkan nafsu makan. R/ meningkatkan selera makan dan intake makanan. 2. Adanya pertumbuhan kulit baru. dan menipiskan serta membuang bakteri di permukaan kulit. Tidak ada tanda infeksi. Beri tempat makan yang menarik.

R/ untuk mempertahankan proses penyembuhan luka. .

N Umur : 30 th/ 28 th Alamat : Ngawi Pendidikan : S1/ SMA Pekerjaan : Guru/ IRT Keluhan Klien Saat MRS: ibu klien mengatakan anaknya tersiram air panas. Penyuluhan : istirahat total. Identitas Klien Nama Umur Alamat Agama Pendidikan Pekerjaan Diagnosa medis No. Anaknya bermain di sekitar dapur lalu menabrak ibunya yang membawa panci berisi air panas. Reg Tanggal MRS : An. . b. S : 2 tahun : Ngawi : Islam ::: luka bakar : 111156 : 13 April 2013 jam: 20. Identitas Ayah/ Ibu Nama : Tn.00 WIB II.00 WIB ibunya memasak air untuk membuat kopi. Lalu klien dibawa ke IRD dr. d.00 WIB. S DENGAN DX. Riwayat Penyakit Sekarang Keluarga klien mengatakan pada hari Sabtu. ANC (Ante Natal Care) Hamil ke 3  Trimester 1 a. Pemeriksaan : 1 bulan sekali. 13 April 2013 pukul 19. MEDIS LUKA BAKAR DI RUANG BOUGENVIL RSUD DR. SOEROTO NGAWI I.ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. Soetomo Ngawi dan tiba di IRD pukul 19. Saat pengkajian: ibu klien mengatakan anaknya tersiram air panas pada paha kiri. Anaknya tersiram air panas di bagian paha kiri. B/ Ny. Lalu klien mendapatkan perawatan lebih lanjut. c. Riwayat Kesehatan Dahulu 1. Keluhan : perdarahan.30 WIB. III. Dari IRD klien dipindah ke ruang Bougenvil pada jam 20. IV. Obat : vitamin dan tablet penambah darah.

Riwayat Kesehatan Keluarga Di keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit yang sama dan tidak ada riwayat penyakit keturunan. VI. b. Klien menangis saat takut dan merasa tidak nyaman.  Duduk : 10 bulan.  Merangkak : 9 bulan.  Jalan : 12 bulan. Pemeriksaan : 1 bulan sekali. b. d. Obat : vitamin dan tablet penambah darah.  . Obat : vitamin dan tablet penambah darah.  Klien lahir pada tanggal 3 Januari 2011.V. Soeroto Ngawi  Klien lahir dengan cara normal. 5. Pemeriksaan : 1 bulan sekali. 3. Penyuluhan : istirahat total. Riwayat Imunisasi Ibu klien mengatakan imunisasi klien sudah lengkap. Persepsi dan harapan klien terhadap masalahnya. b. 2. Pola pertahanan. Keluhan : pinggang pegal-pegal. Persepsi dan harapan keluarga terhadap masalah klien.  Trimester 3 a. Riwayat Tumbuh Kembang  Miring : 2 bulan.  TB :  LK : 4. d. Riwayat Post Natal  BBL : 3000 gr. Penyuluhan : anjurkan minum obat dan istirahat total.  Melangkah : 11 bulan. Riwayat Psikososial a. d. Harapan : keluarga klien berharap klien cepat sembuh dan cepat pulang dari rumah sakit. Pola nilai dan kepercayaan. c. Persepsi : keluarga klien menganggap penyakit klien tidak terlalu parah. c. c. Riwayat Natal  Klien lahir di Kamar Bersalin RSUD dr. Trimester 2 a.  Tengkurap : 8 bulan. Keluhan : tidak ada keluhan.

Aktifitas  Bermain  Selama pengkajian anak belum mandi. Keadaan Umum Klien  Kesadaran  TTV : compos mentis. Selama pengkajian baru ganti baju 1x. Eliminasi BAB-BAK c. B dan Ny.  BAB 1x/ hari.00 WIB.  Tidur malam mulai jam 19. Pola Kesehatan Sehari-hari Pola-pola a. bau khas urin. Nafsu makan menurun. Personal Hygiene Sebelum sakit Makan 1 porsi habis  dengan komposisi nasi. Selama pengkajian anak belum tidur. bau  khas urin. f. Mandi 2x sehari. Ideal diri :Peran diri : anak ketiga dari pasangan Tn. e. Keluarga berdoa kepada Allah agar anaknya sehat. : RR : 24x/ menit :N : 94x/ menit . dan sayur. lauk. Warna urin kuning. Tidur siang ±3 jam. e.  BAK 6-7x/ hari. Nutrisi       b. VIII.  Saat sakit Makan 1 porsi tidak habis dengan makanan dari RS. Pemeriksaan Fisik a. N Harga diri :Identitas diri : klien anak ketiga dari tiga bersaudara. Klien hanya berbaring di tempat tidur dan sekali-sekali digendong oleh ibunya.00 – 05. Selama pengkajian BAK baru 1x.  Ganti baju 3-4x sehari. Nafsu makan baik. Warna urin kuning. Istirahat       d. Tidur nyenyak. Selama pengkajian belum BAB.  Feses lunak. bau khas feses.Klien dan keluarga beragama Islam. Selama pengkajian anak belum keramas.  Keramas 2 hari sekali. Genogram VII. Pengkajian konsep diri.

bersih. Pemeriksaan hidung Septum hidung simetris. reflek berkedip baik. Palpasi : teraba ictus cordis. Auskultasi : bersih. Perkusi : sonor. terdapat secret. Pemeriksaan Thorak Inspeksi : tidak ada retraksi. sclera berwarna putih. kornea berwarna hitam. i. terlihat pembuluh darah di dahi. j. Palpasi : tidak teraba massa. Mukosa bibir agak kering. konjungtiva merah muda. tonsil bersih. f. Pemeriksaan Mata Bentuk mata simetris. Auskultasi : bising usus 7x/ menit. Auskultasi : bunyi S1 dan S2 tunggal. Pemeriksaan Jantung Inspeksi : tidak tampak ictus cordis. Pemeriksaan mulut dan faring. k. bersih. Perkusi : timpani. Pemeriksaan Anggota Gerak Ekstremitas KO :5 5 4 5 .b. terdapat serumen sedikit. lidah berwarna merah muda. Pemeriksaan Telinga Simetris. d. Palpasi : tidak ada tumor. Pemeriksaan Abdomen Inspeksi : terlihat datar. g. c.8ºC Pemeriksaan Kepala dan Muka  Kepala : bentuk kepala mesosepal. Pemeriksaan Payudara dan Ketiak Warna areola kecoklatan. Pemeriksaan Leher Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis. n. Palpasi : vocal fremitus simetris.  Muka : bentuk simetris. warna rambut hitam. reflek pupil baik. Pemeriksaan paru-paru Inspeksi : inspirasi dan ekspirasi teratur. l. Perkusi : pekak. lubang hidung simetris. h. kuku pendek dan bersih. turgor kulit normal. Pemeriksaan Integumen Warna kulit sawo matang. daun telingan bersih. : Suhu : 36. m. simetris. e.

RDW : 15.4 Mm3 . kaki kanan terdapat luka bakar.IX.MCH : 22. 13 April 2013 pukul: 20.3 L g/dl . Tangan kanan dan kiri bergerak aktif.1 .MCV : 75 L µm3 .31 106/mm2 .HCT : 32. X. p.2 103/mm3 . Hasil: .PLT : 335 102/mm2 .1 L% .6 L pg . Pemeriksaan Penunjang a. penis bersih.30 WIB.MPV : 7. Laborat Jenis: DL Hari/ tgl/ pukul: Sabtu.MCHC : 30.3 H% .FDW : 12.HGB : 9. o. kaki kiri bergerak aktif.RBC : 4.WBC : 9. Pemeriksaan status neurologis Kesadaran: compos mentis. tangan kiri terpasang infus RL.LED : 9/15 Penatalaksanaan tanggal 13 April 2013  Infus RL 10 tpm  Antibiotic  Analgetic  Salep luka bakar . Pemeriksaan Genetalia dan Sekitar Anus Anus bersih.7 L g/dl .

Ds: Do: terdapat luka bakar cukup luas dan merah. Ds: keluarga klien mengatakan anaknya tersiram air panas.ANALISA DATA Nama: An. kulit dan jaringan mengelupas. mukosa bibir kering. S Umur: 2 tahun No. Reg: 111156 Tanggal 13 April 2013 13 April 2013 13 April 2013 13 April 2013 Kelompok Data Ds: keluarga klien mengatakan anaknya menangis terus. Do: klien menangis. Do: terdapat luka bakar. Masalah Nyeri Penyebab Kerusakan jaringan Resiko infeksi Perubahan kulit integritas Perubahan nutrisi Kehilangan kurang dari kebutuhan makan tubuh selera Kerusakan kulit integritas Luka bakar . Do: klien lemah. Ds: keluarga klien mengatakan klien tidak mau makan.

13 April 2013 Tanggal Muncul 13 April 2013 13 April 2013 13 April 2013 Malah Keperawatan Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan.DAFTAR MASALAH Nama: An. Reg: 111156 Tanggal Teratasi tt . No. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan selera makan. 2. 3. S Umur: 2 tahun No 1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka bakar. 4. Resiko infeksi berhubungan dengan perubahan integritas kulit.

Atur posisi yang nyaman anak dapat senyaman meminimalkan mungkin. Ekspresi nyeri terjadinya berkurang. Kolaborasi dengan dokter untuk terapi analgetik. Kaji TTV. Reg: 111156 No 1. atau intensitas. Hasil kultur luka melihat normal perubahan warna dan bau. Tujuan/ Kriteria Intervensi Rasional Hasil setelah dilakukan 1. 2. perubahan berbau busuk dapat mengindikasika n infeksi bakteri. perubahan berbau busuk dapat mengindikasika n infeksi bakteri. perubahan lokasi tindakan 1x24 jam nyeri. bakar untuk 2. 3. 1. tindakan 1x24 jam anak tidak mengalami tanda infeksi dengan kriteria hasil: 2. TTV normal. untuk meminimalkan terjadinya tt 2. Kaji luka 1. nyeri berkurang karakter nyeri dengan kriteria dapat hasil: mengindikasikan 1. Resiko infeksi berhubungan dengan perubahan integritas kulit. No. Pertahankan . 4. komplikasi.RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Nama: An. Kegelisahan 2. 3. dengan posisi berkurang 2. dengan informasi 3. menghilangkan rasa nyeri. tua. 2. Kaji tingkat 1. nyeri. 3. 4. Beri informasi yang benar dapat kepada orang mengurangi tua penyebab kecemasan orang nyeri anak. setelah dilakukan 1. S Umur: 2 tahun Diagnosa Keperawatan Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan.

Suapi anak. Kaji mengenai 1. Beri diet 2. 2. Kolaborasi dengan tim dokter untuk pemberian antiviotik sesuai indikasi. 1. termasuk yang biasanya asupan diperoleh dari makanan yang orang tua (atau biasa anak. R/ semua riwayat diet. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan selera makan. setalah dilakukan tindakan 3x24 jam selera makan membaik dengan kriteria hasil: 1. makanan. alergi membantu dalam makanan. 4. 4. 3. pemberian obat antibiotic dapat melawan infeksi. Timbang berat 3.teknik cuci tangan oleh tim medis dan pengunjung. Pasang balutan pada luka. jika dikonsumsi dibutuhkan). mengendalikan proliferasi bakteri. R/ dengan . R/ kalori dan TKTP. pengembangan pilihan rencana nutrisi. anak. 3. 5. Makan 1 porsi habis infeksi. 2. 4. Anak dapat mempertahanka n atau meningkatkan berat badan. Karbohidrat ekstra dapat mengatasi malnutrisi. 4. harian secara langsung mengukur status nutrisi anak. protein ekstra meningkatkan pertumbuhan jaringan yang optimal. R/ menimbang badan setiap berat badan hari. 5. informasi ini. serta kesulitan mengunyah dan menelan.

menyuapi klien diharapkan nafsu makan klien bertambah. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka bakar. R/ cara khusus untuk meningkatkan nafsu makan. yang rusak dapat 3. Beri makanan 5. Jaga klien 3.5. permukaan kulit. 8. untuk untuk tidak mempertahankan menggaruk proses atau mengorek penyembuhan luka. 6. Penurunan ukuran luka 2. R/ meningkatkan selera makan dan intake makanan. Adanya membuang pertumbuhan bakteri di kulit baru. 2. . Seka anak 1. membuang eskar bakar. seka tindakan 3x24 jam dengan meningkatkan anak tidak memiliki larutan pemisahan eskar indikasi kerusakan antiseptic dua (jaringan yang integritas kulit kali sehari. Beri makanan 7. 4. Buang jaringan 2. R/ dengan diet yang tepat dapat meningkatkan asupan nutrisi klien. Kolaborasi 8. setelah dilakukan 1. dan hasil: menipiskan serta 1. R/ cara khusus untuk meningkatkan nafsu makan. dengan ahli gizi untuk pemberian diet yang tepat. yang bervariasi pada anak. rusak) dengan dengan kriteria perlahan. Beri tempat 6. 7. 3. gunting. sedikit-sedikit tapi sering. luka. Tidak ada tanda (eskar) dengan mengurangi infeksi. makan yang menarik. menggunakan resiko infeksi spon halus dan bakteri.

Mengatur posisi anak senyaman mungkin. 1. Memberi diet TKTP. 6. alergi makanan. 3. Dx Tanggal/ Jam 1. Memberi makanan sedikit-sedikit tapi sering. 4. R/ klien kooperatif. 3. pilihan makanan. Mengkaji luka bakar untuk melihat perubahan warna dan bau. 13 April 2013 No. R/ klien menangis merasakan nyerinya. memasang balutan pada luka. Memberi informasi kepada orang tua penyebab nyeri anak. 1. R/ klien hanya makan 1 – 2 sendok. R/ klien hanya makan 1 – 2 sendok. Memberi tempat makan yang menarik. Menyuapi anak. tt . Mengkaji tingkat nyeri. R/ klien merasa nyaman. Berkolaborasi dengan dokter untuk terapi analgetik. Memberi makanan yang bervariasi pada anak. R/ warna luka merah dan berbau anyir. Reg: 111156 2. S Umur: 2 tahun No. 5. Mengkaji TTV. 13 April 2013 Tindakan Perawatan 1. 5. 2. Mengkaji mengenai riwayat diet. termasuk asupan makanan yang biasa dikonsumsi anak. R/ klien hanya makan 1 – 2 sendok. 4. R/ pengunjung mentaati peraturan. Berkolaborasi dengan tim dokter untuk pemberian antibiotik sesuai indikasi. serta kesulitan mengunyah dan menelan. R/ klien tidak nafsu makan. R/ orang tua klien kooperatif dan mengerti penyebab nyeri yang dialami anaknya. R/ klien hanya makan 1 – 2 sendok.8ºC 2. 3.  RR : 24x/ menit  N : 94x/ menit  Suhu : 36. Mempertahankan teknik cuci tangan oleh tim medis dan pengunjung.CATATAN TINDAKAN KEPERAWATAN Nama: An. 4. R/ klien diberikan antibiotik sesuai indikasi. 2. 13 April 2013 3. R/ luka tertutup. R/ klien diberikan obat anti nyeri.

13 April 2013 7. R/ klien kooperatif. 2. Menjaga klien untuk tidak menggaruk atau mengorek luka. Membuang jaringan yang rusak (eskar) dengan menggunakan spon halus dan gunting. R/ klien menangis ketika lukanya dirawat. R/ klien menangis ketika lukanya diseka. .4. Menyeka anak dengan larutan antiseptic dua kali sehari. 1. Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet yang tepat. R/ klien diberikan diet TKTP. 3.

CATATAN PERKEMBANGAN Nama: An. Timbang berat badan setiap hari. S: keluarga klien mengatakan klien tidak mau makan. 8. Kaji luka bakar untuk melihat perubahan warna dan bau. Kolaborasi dengan tim dokter untuk pemberian antiviotik sesuai indikasi. A: masalah belu teratasi. 2. termasuk asupan makanan yang biasa dikonsumsi anak. 13 April 2013 4. A: masalah belum teratasi. Kaji mengenai riwayat diet. 6. Beri diet TKTP. 2. 3. 5. O: terdapat luka bakar. A: masalah belum teratasi. Beri informasi kepada orang tua penyebab nyeri anak. Kaji TTV. 7. 2. P: lanjutkan intervensi no: 1. kulit dan jaringan mengelupas. alergi makanan. 3. 13 April 2013 No. O: klien menangis. S Umur: 2 tahun No. P: lanjutkan intervensi no: 1. Kaji tingkat nyeri. Pasang balutan pada luka. A: masalah belum teratasi. Reg: 111156 2. Atur posisi anak senyaman mungkin. mukosa bibir kering. O: klien lemah. Suapi anak. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet yang tepat. serta kesulitan mengunyah dan menelan. Beri tempat makan yang menarik. Pertahankan teknik cuci tangan oleh tim medis dan pengunjung. 5. Beri makanan yang bervariasi pada anak. 13 April 2013 Perkembangan S: keluarga klien mengatakan anaknya menangis terus. pilihan makanan. 4. 13 April 2013 3. 4. Dx Tanggal/ Jam 1. Beri makanan sedikit-sedikit tapi sering. S: keluarga klien mengatakan anaknya tersiram air panas. 4. 3. Kolaborasi dengan dokter untuk terapi analgetik S: O: terdapat luka bakar cukup luas dan merah. P: lanjutkan intervensi no: 1. P: lanjutkan intervensi no: tt .

1. 3. Buang jaringan yang rusak (eskar) dengan menggunakan spon halus dan gunting. Seka anak dengan larutan antiseptic dua kali sehari. 2. Jaga klien untuk tidak menggaruk atau mengorek luka. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful