P. 1
Mata Kuliah

Mata Kuliah

|Views: 4|Likes:
Published by Pii Tosca

More info:

Published by: Pii Tosca on Jun 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/03/2014

pdf

text

original

MATA KULIAH IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PUBLIK “PERANAN BIROKRASI DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PUBLIK” OLEH: ElkanaGoro Leba

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS NUSA CENDANA TAHUN 2011

PERANAN BIROKRASI DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PUBLIK PENGANTAR Birokrasi pemerintah adalah institusi yang kuat eksistensinya karena mempunyai kewenangan yang besar dan begitu luas memiliki sumber daya yang tidak cukup dalam menjalankan kekuasaannya dibanding dengan organisasi lain dalam sebuah Negara. Ia merupakan institusi yang dominan dalam implementasi kebijakan publik yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dalam setiap hierarkinya. Itulah sebabnya, birokrasi paling sering bahkan secara keseluruhan menjadi pelaksana kegiatan. Keberadaan birokrasi tidak hanya dalam struktur pemerintah, tetapi juga ada dalam organisasi-organisasi swasta, institusi pendidikan dan sebagainya. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu birokrasi diciptakan hanya untuk menjalankan suatu kebijakan tertentu. Birokrasi diciptakan sebagai instrumen dalam menangani keperluan-keperluan publik (public affair), mempunyai sejumlah tujuan yang berbeda, fungsinya berada dalam lingkungan yang kompleks dan luas serta bukan kekuatan yang netral dan tidak dalam kendali penuh dari pihak luar. Oleh sebab itu, birokrasi pemerintah menjadi kekuatan dalam mengimplementasikan sebuah kebijakan public. Dengan demikian, birokrasi mempunyai peranan penting dalam implementasi kebijakan public. Peranan itu biasanya diterjemahkan dalam pola pembagian tugas dan tanggung jawab yang terkendali. Hal ini tercermin dalam konsep awal yang mendasari gagasan modern tentang birokrasi berasal dari tulisan-tulisan Max Weber, seorang Sosiolog Jerman, yang mengetengahkan ciriciri pokok dari birokrasi sebagai berikut: 1. Birokrasi melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan pembagian tugas dan tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh para ahli sesuai spesialisasinya.

menuntut adanya kerjasama banyak pihak. APA YANG HARUS DILAKUKAN DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN Lineberry menyatakan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam implementasi: 1) Pembentukan Unit Organisasi Atau Staf Pelaksana Sumber daya utama dalam implementasi kebijakan adalah staf atau pegawai (streetlevel bureaucrats). 6. Penambahan jumlah staf dan implementor saja tidak cukup menyelesaikan persoalan implementasi kebijakan. PERAN BIROKRASI DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN Menyoalkan tentang peranan birokrasi dalam implementasi kebijakan.2. Dengan menggunakan SOP. 2) Penjabaran Tujuan Dalam Berbagai Aturan Pelaksana (Standard Operating Procedures/SOP) Menurut Edwards III dalam Winarno (2005:150) terdapat dua karakteristik utama dari birokrasi yakni: ”Standard Operational Procedure (SOP)’. Dalam prinsip hierarkhi unit yang besar membawahi dan membina beberapa unit kecil. tetapi diperlukan sebuah kecukupan staf dengan keahlian dan kemampuan yang diperlukan (kompeten dan kapabel) dalam mengimplementasikan kebijakan. Dalam hubungannya dengan Implementasi kebijakan yang bersifat kompleks. Dengan demikian. 4. wewenang. salahsatunya disebabkan oleh staf/pegawai yang tidak cukup memadai. Atas dasar kewenangan dan kekuasaan inilah segala kegiatan dilaksanakan. (Winarno. Kerjasama ini hanya mungkin terdapat dalam birokrasi yang mempunyai struktur yang ideal dengan pembagian tugas yang jelas. Pejabat yang melaksanakan tugas-tugasnya dengan semangat pengabdian yang tinggi. Ukuran dasar SOP atau prosedur kerja ini biasa digunakan untuk menanggulangi keadaan-keadaan umum diberbagai sektor publik dan swasta. dan pertanggungjawaban untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. ataupun tidak kompeten dalam bidangnya. Pengalaman menunjukkan bahwa tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis dilihat dari sudut teknis akan mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. Karenanya pelaksanaan politik Negara selalu tergantung pada kewenangan dan kekuasaan yang diberikan kepada birokrasi. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarkhi. Pelaksanaan tugas diatur dengan suatu peraturan formal dan aturan tersebut mencakup tentang keseragaman dalam melaksanakan tugas. maka peranan birokrasi sangat penting. Menganut suatu jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. para pelaksana dapat mengoptimalkan waktu yang tersedia dan dapat berfungsi untuk menyeragamkan tindakan-tindakan pejabat dalam organisasi yang kompleks dan tersebar . Setiap unit kecil dipimpin oleh seorang pejabat yang diberi hak. Ketika strukur birokrasi tidak kondusif terhadap implementasi suatu kebijakan. 3. 5. mencukupi. sumber daya serta kebutuhan penyeragaman dalam organisasi kerja yang kompleks dan luas”. maka hal ini akan menyebabkan ketidakefektifan dan menghambat jalanya pelaksanaan kebijakan. Standard operational procedure (SOP) merupakan perkembangan dari tuntutan internal akan kepastian waktu. yakni: apa yang harus dilakukan dalam implementasi kebijakan? bagaimana realitasnya? dan apa kendala dalam mengimlementasikan suatu kebijakan? Kita awali dengan pertanyaan yang pertama: 1. 2005:150). mengantarkan kita pada tiga pertanyaan besar. Pekerjaan dalam organisasi birokratis didasarkan pada kompetensi teknis dan dilindungi dari pemutusan kerja secara sepihak. Kegagalan yang sering terjadi dalam implementasi kebijakan. Karena Birokrasi merupakan alat dalam mencapai efesiensi yang setinggi-tingginya dalam administrasi Negara. Karena sebagai alat maka mempunyai kewenangan dan kekuasaan.

Secara ekonomis. Tugas-tugas tersebut dibagi menurut bidang dan dibedakan atas fungsi dan masing-masing dilengkapi dengan persyaratan otoritas dan sanksisanksinya. (Tachjan. Sedang secara teknologis. Jern dan David O’Porter (1981). BAGAIMANA REALITASNYA Richard Elmore (1979). baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga nirlaba kemasyarakatan (LSM). hal-hal yang harus dilakukan dalam implementasi kebijakan adalah berikut ini yaitu: 1) Menyedia waktu dan sumber-sumber yang memadai. . aktivitas. 3) Kebijakan yang di implementasikan harus didasari hubungan kausalitas yang erat. keinginan. semakin besar kebijakan membutuhkan perubahan dalam cara-cara yang lazim dalam suatu organisasi. Tugas-tugas pejabat diorganisir berdasarkan aturan yang berkesinambungan. dan kontak-kontak yang mereka miliki. Michael Lipsky (1971). semakin besar pula probabilitas SOP menghambat implementasi. publik yang menjadi target atau kliennya. di samping menghambat implementasi kebijakan SOP juga mempunyai manfaat. Kebijakan model ini biasanya diprakarsai oleh masyarakat. kebijakan yang dibuat harus sesuai dengan harapan. 5) Tugas-tugas harus terperinci dan ditempatkan pada urutan yang tepat. 2. 2006:135) Menurut Hogwood dan Gunn. sehingga dapat menimbulkan fleksibilitas yang besar dan kesamaan yang besar dalam penerapan peraturan. dana dan fasilitas-fasilitas pendukung lainnya. ”Namun demikian. Dengan begitu. dan sesuai pula dengan pejabat eselon rendah yang menjadi pelaksananya. Organisasi-organisasi dengan prosedur-prosedur perencanaan yang luwes dan kontrol yang besar atas program yang bersifat fleksibel mungkin lebih dapat menyesuaikan tanggung jawab yang baru daripada birokrasi-birokrasi tanpa mempunyai ciri-ciri seperti ini”. dan Benny H. 3) Koordinasi Berbagai Sumber Dan Pengeluaran Pada Kelompok Sasaran Serta Pembagian Tugas Diantara Badan Pelaksana `Pembagian tugas merupakan ciri utama birokrasi. menyusun suatu model yang dimulai dari mengidentifikasikan jaringan aktor yang terlibat dalam proses pelayanan dan menanyakan kepada mereka: tujuan. Model implementasi ini didasarkan pada jenis kebijakan publik yang mendorong masyarakat untuk mengerjakan sendiri implementasi kebijakannya atau tetap melibatkan pejabat pemerintah namun hanya di tataran rendah. SOP sangat mungkin dapat menjadi kendala bagi implementasi kebijakan baru yang membutuhkan cara-cara kerja baru atau tipe-tipe personil baru untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan. 2) Memadukan sumber daya yaitu manusia.luas. strategi. 4) Pengalokasian Sumber-Sumber Untuk Mencapai Tujuan Sumber daya diposisikan sebagai input dalam organisasi sebagai suatu sistem yang mempunyai implikasi yang bersifat ekonomis dan teknologis. 4) Pemahaman yang mendalam dan kesepakatan terhadap tujuan. 6) Menyempurnakan komunikasi dan koordinasi 7) Pihak-pihak yang memiliki wewenang dapat menuntut dan memperoleh kepatuhan kewenangan. Oleh karena itu. sumber daya bertalian dengan biaya atau pengorbanan langsung yang dikeluarkan oleh organisasi yang merefleksikan nilai atau kegunaan potensial dalam transformasinya ke dalam output. sumberdaya bertalian dengan kemampuan transformasi dari organisasi.

efektivitas kewenangan diperlukan dalam implementasi . struktur tidak ideal. sehingga tidak cukup untuk membiayai tugas-tugasnya.1. 41 Tahun 2007 mengisyaratkan bahwa stuktur organisasi birokrasi harus dibuat seramping mungkin agar tidak menimbulkan pemborosan pada dana dan daya. Alasan klasik yang sering kita temukan adalah kurangnya sumber-sumber pembiayaan. organisasi yang ditemukan di lapangan lebih kaya akan sturktur dan miskin fungsi. Sumber daya utama dalam implementasi kebijakan adalah staf atau pegawai (streetlevel bureaucrats). Kewenangan merupakan otoritas atau legitimasi bagi para pelaksana dalam melaksanakan kebijakan yang ditetapkan secara politik. PP No.Staf. Meski demikian. informasi mengenai data kepatuhan dari para pelaksana terhadap peraturan dan regulasi pemerintah yang telah ditetapkan. Kesalan lain adalah rekruitmen pegawai yang tidak transparan.3. mencukupi. Dalam implementasi kebijakan.Wewenang. Fakta berbicara yang terjadi justru sebaliknya.Informasi. ini bukan persoalan kurangnya sumber pembiayaan tetapi persoalan tindakan dari oknum yang tidak bermoral seperti itu. salahsatunya disebabkan oleh staf/pegawai yang tidak cukup memadai. 1. Kadang kala rekruitmen itu atas dasar criteria-kriteria pribadi yang tidak sejalan dengan tujuan organisasi. Ketika wewenang tidak ada. tetapi masih terlihat korupsi yang merajalela di setiap tingkatan birokrasi pemerintah. Dari segi sumber daya manusia. tetapi diperlukan sebuah kecukupan staf dengan keahlian dan kemampuan yang diperlukan (kompeten dan kapabel) dalam mengimplementasikan kebijakan. APA KENDALA DALAM MENGIMLEMENTASIKAN SUATU KEBIJAKAN Bertolak dari pendapat beberapa para ahli kebijakan public tentang Model atau pendekatan Implemetasi kebijakan. Oleh sebab itu.Berbicara tentang realitas yang di hadapi birokrasi ternyata tidak sebaik yang dibicarakan dalam teori. Artinya menciptakan organisasi yang miskin struktur dan kaya fungsi. Kualitas personil birokrasi pemerintah sangatlah rendah ketimbang personil yang dimiliki oleh organisasi swasta. Tetapi dalam konteks yang lain. meliputi: 1. maka sulit bagi birokrasi dapat melaksanakan kebijakan public dengan baik. sehingga dapat menggagalkan implementasi kebijakan publik. Kegagalan yang sering terjadi dalam implementasi kebijakan. 3. ataupun tidak kompeten dalam bidangnya. Kedua. Artinya. Hal ini mungkin disebabkan oleh para personil masih berorientasi pada komando dalam setiap pelaksanaan tugas. Pada umumnya kewenangan harus bersifat formal agar perintah dapat dilaksanakan secara efektif. informasi mempunyai dua bentuk yaitu: pertama. kendala yang sering dihadapi dalam pelaksanaan kebijakan public antara laian adalah sebagai berikut: 1. maka sering terjadi kesalahan dalam melihat efektivitas kewenangan. Birokrasi sering mengalami persoalan dalam hal sumber daya bahkan struktur yang tidak ideal dengan beban tugas yang diembani kepadanya. Namun yang terjadi tidaklah demikian. 1. Penambahan jumlah staf dan implementor saja tidak cukup menyelesaikan persoalan implementasi kebijakan. Produktivitas dan jiwa inovasinya sangat rendah. Dengan demikian. Permasalahan yang paling urgen juga adalah masalah stuktur organisasi yang tidak ideal dengan tugas yang diemban kepada birokrasi.2. ketika wewenang formal tersedia. Di satu pihak. namun persoalannya terletak pada kualitasnya. Sumber daya misalnya. Kendala dalam hal Sumber Daya yang dimiliki oleh pelaksana kebijakan Sumberdaya yang dimaksud. birokrasi sangat akan akan sumber daya itu jika dipandang dari sisi kuantitas. informasi yang berhubungan dengan cara melaksanakan kebijakan. maka kekuatan para implementor di mata publik tidak dilegitimasi.

kebijakan. Karena itu.Transmisi. Kedua. Terdapat tiga indikator yang dapat digunakan dalam mengkur keberhasilan variabel komunikasi. Pada dasarnya orang bergerak berdasarkan kepentingan dirinya sendiri. Penyaluran komunikasi yang baik akan dapat menghasilkan suatu implementasi yang baik pula. Inisiatif merupakan salah-satu teknik yang disarankan untuk mengatasi masalah sikap para pelaksana kebijakan dengan memanipulasi insentif. kapabel dan kompeten.Kejelasan. Implementasi yang efektif akan terlaksana. pengangkatan dan pemilihan personel pelaksana kebijakan haruslah orang-orang yang memiliki dedikasi pada kebijakan yang telah ditetapkan. Komunikasi yang diterima oleh pelaksana kebijakan (street-level-bureaucrats) harus jelas dan tidak membingungkan atau tidak ambigu/mendua. Seringkali terjadi masalah dalam penyaluran komunikasi yaitu adanya salah pengertian (miskomunikasi) yang disebabkan banyaknya tingkatan birokrasi yang harus dilalui dalam proses komunikasi. informasi yang disampaikan melalui berlapis-lapis hierarki birokrasi. Distorsi komunikasi dapat terjadi karena panjangnya rantai informasi yang dapat mengakibatkan bias informasi. Disposisi atau sikap pelaksana akan menimbulkan hambatanhambatan yang nyata terhadap implementasi kebijakan bila personel yang ada tidak melaksanakan kebijakan yang diinginkan oleh pejabat-pejabat yang lebih atas. Fasilitas fisik merupakan faktor penting dalam implementasi kebijakan. jika para pembuat keputusan mengetahui mengenai apa yang akan mereka kerjakan.Inisiatif.2. Kendala dalam hal Komunikasi yang berkaitan dengan isi dan tujuan yang akan dicapai oleh suatu kebijakan Komunikasi merupakan salah-satu variabel penting yang mempengaruhi implementasi kebijakan publik.Pengangkatan birokrasi.Fasilitas. Pertentangan seperti ini akan mengakibatkan distorsi dan hambatan yang langsung dalam komunikasi kebijakan. Dengan cara menambah keuntungan atau biaya tertentu mungkin akan menjadi faktor pendorong yang membuat para pelaksana menjalankan perintah dengan baik.4. masalah penangkapan informasi juga diakibatkan oleh persepsi dan ketidakmampuan para pelaksana dalam memahami persyaratan-persyaratan suatu kebijakan 3. 2. Hal ini dilakukan sebagai upaya memenuhi kepentingan pribadi atau organisasi. terdapat pertentangan antara pelaksana kebijakan dengan perintah yang dikeluarkan oleh pembuat kebijakan. efektivitas akan menyurut manakala wewenang diselewengkan oleh para pelaksana demi kepentingannya sendiri atau kelompoknya. maka memanipulasi insentif oleh para pembuat kebijakan mempengaruhi tindakan para pelaksana kebijakan. Ketiga. Implementor mungkin mempunyai staf yang mencukupi. Kendala yang berkaitan dengan Disposisi Faktor-faktor yang menjadi perhatian menurut Edward III dalam Agustinus (2006:159-160) mengenai disposisi dalam implementasi kebijakan terdiri dari: 2. 3. lebih khusus lagi pada kepentingan warga masyarakat. tetapi tanpa adanya fasilitas pendukung (sarana dan prasarana) maka implementasi kebijakan tersebut tidak akan berhasil. Terdapat beberapa hambatan umum yang biasa terjadi dalam transmisi komunikasi yaitu: Pertama. 1. tetapi di sisi lain. 2. Edward III dalam Agustino (2006:157-158) mengemukakan tiga variabel tersebut yaitu: 3.1.1. . komunikasi sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik”. sehingga apa yang diharapkan terdirtorsi di tengah jalan.2. Informasi yang diketahui para pengambil keputusan hanya bisa didapat melalui komunikasi yang baik.

Perintah yang diberikan dalam pelaksanaan suatu komunikasi harus konsisten dan jelas untuk ditetapkan atau dijalankan. memandang semua orang sederajat di muka hukum. KESIMPULAN Bergayutan dengan pembahasan di atas. sumber daya. baik secara parsial (terpisah sendiri-sendiri) maupuan secara simultan. media komunikasi yang digunakan untuk menyebarluaskan isi kebijakan kepada kelompok sasaran akan sangat berperan Pengaruh dimensi komunikasi. namun juga dapat menyebabkan kegagalan dalam pencapaian tujuan suatu kebijakan public. Oleh sebab itu. struktur birokrasi mempunyai pengaruh signifikan terhadap kinerja birokrasi. Sikap penolakan dari agen kelompok sasaran atau bahkan pelak agen pelaksana kebijakan Sikap penerimaan atau penolakan dari agen pelaksana kebijakan sangat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan implementasi kebijakan publik. Tetapi kebijakan publik biasanya bersifat top down yang sangat mungkin para pengambil keputusan tidak mengetahui bahkan tak mampu menyentuh kebutuhan. Dalam hal ini. Faktor komunikasi sangat berpengaruh terhadap penerimaan kebijakan oleh kelompok sasaran. keinginan atau permasalahan yang harus diselesaikan. penyebaran isi kebijakan melalui proses komunikasi yang baik akan mempengaruhi terhadap implementasi kebijakan. Caranya dengan pelatihan untuk menghargai penggunaan nalar sehat dan mengunakan hasil-hasil ilmu pengetahuan. setiap orang yang berurusan diperlakukan dengan sama pentingnya. ditemukan hambatan komunikasi dimana terdapat disiplin rendah dan pemahaman tugas serta tanggung jawab yang kurang dari petugas pelaksana kebijakan”. sikap pelaksana (disposisi). Namun demikian.3. Dengan demikian. menghargai prinsip kesederajatan kemanusian. cerdas membaca keadaan kebutuhan publik. Perlu dibiasakan mencari caracara baru yang praktis untuk pelayanan publik.05 .3. Diposkan oleh Elkana Goro Leba di 18. bukan irasional-hirarkis. maka dapat menimbulkan kebingungan bagi pelaksana di lapangan. Jika perintah yang diberikan sering berubah-ubah. birokrasi dapat mendukung keberhasilan sebuah kebijakan. sehingga kualitas komunikasi akan mempengaruhi dalam mencapai efektivitas implementasi kebijakan publik. 4. Hal ini sangat mungkin terjadi karena kebijakan yang dilaksanakan bukanlah hasil formulasi warga setempat yang mengenal betul permasalahan dan persoalan yang mereka rasakan. bukan memelihara budaya minta petunjuk dari atasan. antisipatif dan proaktif. Perlunya memiliki semangat pioner. perlu dibangun birokrasi berkultur dan struktur rasionalegaliter. inisiatif.Konsistensi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->