P. 1
Asma Pada Kehamilan (3)

Asma Pada Kehamilan (3)

|Views: 12|Likes:
Published by Rima Putri Hastri
bahan tinjauan pustaka
bahan tinjauan pustaka

More info:

Categories:Types, Presentations
Published by: Rima Putri Hastri on Jun 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2013

pdf

text

original

BAB I TINJAUAN PUSTAKA 1.

1 Sistem Pernafasan Selama Kehamilan Selama kehamilan terjadi perubahan fisiologi sistem pernafasan yang disebabkan oleh perubahan hormonal dan faktor mekanik. Perubahan-perubahan ini diperlukan untuk mencukupi peningkatan kebutuhan metabolik dan sirkulasi untuk pertumbuhan janin, plasenta dan uterus. Selama kehamilan kapasitas vital pernapasan tetap sama dengan kapasitas sebelum hamil yaitu 3200 cc, akan tetapi terjadi peningkatan volume tidal dari 450 cc menjadi 600 cc, yang menyebabkan terjadinya peningkatan ventilasi permenit selama kehamilan antara 19-50 %. Peningkatan volume tidal ini diduga disebabkan oleh efek progesteron terhadap resistensi saluran nafas dan dengan meningkatkan sensitifitas pusat pernapasan terhadap karbondioksida. Dari faktor mekanis, terjadinya peningkatan diafragma terutama setelah pertengahan kedua kehamilan akibat membesarnya janin, menyebabkan turunnya kapasitas residu fungsional, yang merupakan volume udara yang tidak digunakan dalam paru, sebesar 20%. Selama kehamilan normal terjadi penurunan resistensi saluran napas sebesar 50%. Perubahan-perubahan ini menyebabkan terjadinya perubahan pada kimia dan gas darah. Karena meningkatnya ventilasi maka terjadi penurunan pCO2 menjadi 30 mm Hg, sedangkan pO2 tetap berkisar dari 90-106 mmHg, sebagai penurunan pCO2 akan terjadi mekanisme sekunder ginjal untuk mengurangi plasma bikarbonat menjadi 18-22 mEq/L, sehingga pH darah tidak mengalami perubahan. Secara anatomi terjadi peningkatan sudut subkostal dari 68,5 – 103,5 selama kehamilan. Perubahan fisik ini disebabkan karena elevasi diafragma sekitar 4 cm dan peningkatan diameter tranversal dada maksimal sebesar 2 cm. Adanya perubahan-perubahan ini menyebabkan perubahan pola pernapasan dari pernapasan abdominal menjadi torakal yang juga memberikan pengaruh untuk memenuhi peningkatan konsumsi oksigen maternal selama kehamilan. Laju basal metabolisme meningkat selama kehamilan seperti terbukti oleh peningkatan konsumsi oksigen. Selama melahirkan, konsumsi O2 dapat meningkat 20-25 %. Bila fungsi paru terganggu karena penyakit paru, kemampuan untuk meningkatkan konsumsi oksigen terbatas dan mungkin tidak cukup untuk mendukung partus normal, sebagai konsekuensi fetal distress dapat terjadi.
1

1.2 Pengaruh Perubahan Hormonal Selama Kehamilan Keadaan hormonal selama kehamilan sangat berbeda dengan keadaan tidak hamil dan mengalami perubahan selama perjalanan kehamilan. Perubahan-perubahan ini akan memberikan pengaruh terhadap fungsi paru. Progesteron tampaknya memberikan pengaruh awal dengan meningkatkan sensitifitas terhadap CO2, yang menyebabkan terjadinya hiperventilasi ringan, yang bisa disebut sebagai dispnea selama kehamilan. Lebih lanjut dapat dilihat adanya efek relaksasi otot polos. Pengaruh total progesteron selama kehamilan karena peningkatannya yang mencapai 50-100 kali dari keadaan tidak hamil, masih diperdebatkan dengan adanya berbagai temuan klinis yang terbuka diperdebatkan. Selama kehamilan kadar estrogen meningkat, dan terdapat data-data yang menunjukkan bahwa peningkatan ini menyebabkan menurunnya kapasitas difusi pada jalinan kapiler karena meningkatnya jumlah sekresi asam mukopolisakarida perikapiler. Estrogen memberikan pengaruh terhadap asma selama kehamilan.dengan menurunkan klirens metabolik glukokortikoid sehingga terjadi peningkatan kadar kortisol. Estrogen juga mempotensiasi relaksasi bronkial yang diinduksi oleh isoproterenol. Kadar kortisol bebas plasma meningkat selama kehamilan, demikian pula kadar total kortisol plasma. Peningkatan kadar kortisol ini seharusnya memberikan perbaikan terhadap keadaan penderita asma, akan tetapi dalam kenyataannya tidak demikian. Tampaknya beberapa wanita hamil refrakter terhadap kortisol meskipun terjadi peningkatan kadar dalam serum 2-3 kali lipat. Hal ini mungkin disebabkan terjadinya kompetisi pada reseptor glukoortikoid oleh progesteron, deoksikortikosteron dan aldosteron yang semuanya meningkat selama kehamilan. Semua tipe prostaglandin meningkat dalam serum maternal selama kehamilan, terutama menjelang persalinan aterm. Meskipun dijumpai adanya peningkatan kadar matabolit prostalandin PGF 2x yang merupakan suatu bronkokonstriktor kuat, dalam serum sebesar 10%-30%, hal ini tidak selalu memberikan pengaruh buruk pada penderita asma selama persalinan. Pada jaringan janin ditemukan histamin dalam konsentrasi tinggi. Sebagai respon terhadap stimulus ini maka plasenta menghasilkan histaminase (diaminoksidase) dalam jumlah besar mencapai 1000 kali lipat dibandingkan wanita yang tidak hamil. Penelitian dewasa ini belum membuktikan perubahan biokkimiawi ini dengan pengaruh klinik yang ditimbulkannya.

2

Penderita ini sangat jarang jatuh ke dalam status asmatikus dan dalam pengobatannya sangat jarang memerlukan kortikosteroid. sebagian karena cepat. Batuk yang memicu spasme atau kesesakan dalam saluran pernapasan.1. beberapa penderita asma hanya dimulai wheezing tanpa batuk. Keadaan ini bersifat reversible dan dapat ditoleransi. prevalensi asma sekitar 5 . Namun. Manifestasi klinis asma ditandai dengan dyspnea. Asma akut intermiten : Di luar serangan.Kontraksi otot bronkus menyebabkan saluran udara menyempit atau konstriksi. Beberapa serangan dimulai dengan batuk yang menjadi progresif lebih “sesak”. kesesakan dada. Gejala klinik bervariasi mulai dari wheezing ringan sampai bronkokonstriksi berat. bila bertambah berat akan terjadi kelelahan yang menyebabkan retensi O2 akibat hiperventilasi. Bila terjadi gagal napas. atau berlanjut terus. Mucus juga menjadi lebih kental karena sel-sel mati terkelupas. Hal tersebut membuat asma menjadi salah satu permasalahan yang biasa ditemukan dalam kehamilan. 1. Selama serangan asma. Scoggin membagi perjalanan klinis asma sebagai berikut : 1. Pada keadaan ringan. dan kemudian bunyi wheezing terjadi. adanya pernapasan dalam. mucus cenderung menjadi kering dan sukar. takikardi. Hal ini disebut brokokonstriksi yang memperbesar obstruksi yaitu asma. tidak ada gejala sama sekali. di mana hanya menjadi tanda dalam beberapa kasus. ekspirasi memanjang. Beberapa yang lain tidak pernah wheezing tetapi hanya batuk selama serangan asma terjadi. Prevalensi asma dalam kehamilan sekitar 3. Namun. pulsus paradoksus. 3 .6 % dari populasi. ditandai asidosis.3 Prevalensi Di Indonesia. dapat berbahaya.7 – 4 %. Ada pula yang berbeda. penggunaan otot asesoris pernapasan. sianosis sentral. sampai gangguan kesadaran. Pemeriksaan fungsi paru tanpa provokasi tetap normal. Pasien melaporkan gejala seperti gangguan tidur dan nyeri dada.4 Gejala Penilaian secara subyektif tidak dapat secara akurat menentukan derajat asma. beratnya pernapasan umumnya terjadi saat serangan asma. hiperkapnea. wheezing. hipoksia dapat dikompensasi hiperventilasi. pada kehamilan sangat berbahaya akibat adanya penurunan kapasitas residu. dan batuk malam hari.

Asma kronik persisten (asma kronik): Pada asma kronik selalu ditemukan gejala-gejala obstruksi jalan napas. sehingga diperlukan pengobatan yang terus menerus. Asma akut dan status asmatikus: Serangan asma dapat demikian beratnya sehingga penderita segera mencari pertolongan. Asma Ringan • • • • • • Singkat (< 1 jam ) eksaserbasi symptomatic < dua kali/minggu. edema mukosa dan adanya hipersekresi yang kental. 1. Hal tersebut disebabkan oleh karena saluran nafas penderita terlalu sensitif selain adanya faktor pencetus yang terus-menerus. 2.5 Patofisiologi Asma Pada Kehamilan Pada asma terdapat penyempitan saluran pernafasan yang disebabkan oleh spasme otot polos saluran nafas. 3. Akhirnya akan berkembang menjadi hipoksemia. Modifikasi asma berdasarkan National Asthma Education Program (NAEPP) yaitu : 1. Bila serangan asma akut tidak dapat diatasi dengan obat-obat adrenergik beta dan teofilin disebut status asmatikus. distribusi ventilasi tidak merata dalam sirkulasi darah pulmonal dan gangguan difusi gas di tingkat alveoli.2. Penyempitan ini akan menyebabkan gangguan ventilasi (hipoventilasi). Asma Berat • • • Gejala terus menerus menganggu aktivitas sehari-hari Puncak aliran ekspirasi dan kemampuan volume ekspirasi kurang dari 60% dengan variasi luas Diperlukan kortikosteroid oral untuk menghilangkan gejala. Asma Sedang Gejala asma kambuh >2 kali / mingggu Kekambuhan mempengaruhi aktivitasnya Kekambuhan mungkin berlangsung berhari-hari Kemampuan puncak ekspirasi /detik dan kemampuan volume ekspirasi berkisar antara 60-80%. 4 . 3. Puncak aliran udara ekspirasi > 80% diduga akan tanpa gejala. hiperkapnia dan asidosis pada tingkat lanjut.

dan tromboksan A2. kongesti vaskuler dan timbulnya edema. di samping kemampuan mediator-mediator ini untuk menimbulkan bronkokontriksi. Beecroft dkk mengatakan bahwa jenis kelamin janin dapat mempengaruhi serangan asma pada kehamilan. terdiri dari yang terbesar adalah eosinofil dan limfosit T¬¬H2. sinus dan paru. sedangkan prostaglandin F2 dapat memperburuk gejala asma karena efek bronkokonstriksi yang ditimbulkannya. Pada studi prospektif blind. Patofisiologi asma yang terbaru berbicara mengenai konsep inflamasi saluran pernapasan mutakhir dan strategi terapeutik di masa mendatang. Timbulnya serangan asma disebabkan terjadinya reaksi antigen antibodi pada permukaan sel mast paru. sedangkan peningkatan kadar hormon progesteron menyebabkan peningkatan laju pernapasan . Peningkatan hormon estrogen menyebabkan kongesti kapiler hidung. agen anti-inflamasi merupakan hal pokok dalam pengawasan asma persisten. Mediator-mediator ini menimbulkan reaksi peradangan dengan bronkokonstriksi. Pengaruh Kehamilan Pada Asma Perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan mempengaruhi hidung . Sel infiltrate saluran pernapasan yang radang termasuk T sel aktif. ditemukan 50% ibu bayi perempuan mengalami 5 . Pada asma dengan kausa non alergenik terjadinya bronkokontriksi tampaknya diperantarai oleh perubahan aktifitas eferen vagal yang mana terjadi ketidak seimbangan antara tonus simpatis dan parasimpatis. Perubahan fisiologis selama kehamilan mengubah prognosis asma. leukotrien juga meningkatkan sekresi mukus dan menyebabkan terganggunya mekanisme transpor mukosilia. sedangkan saraf parasimpatis menimbulkan bronkokontriksi. PGD2. PGD2a. Saraf simpatis dengan reseptor beta-2 menimbulkan bronkodilatasi.Ciri patofisiologi asma adalah inflamasi kronis and hiperaktif bronkial termasuk interaksi antara banyak sel dan mediator radang. Mediator yang dilepaskan meliputi bradikinin. Karena alasan inilah. prostaglandin PGG2.E. terutama selama trimester ketiga.D. Hal ini berhubungan dengan perubahan hormonal selama kehamilan. Walaupun kortikosteroid mengurangi produksi sitokin dan chemokines pada pasien asma atau dengan rhinitis dan alur pengobatan utama untuk banyak pasien. leukotrien C. leukotriene modifiers and antagonis juga bersifat anti-inflamasi. Terlepasnya mediator-mediator ini menimbulkan efek langsung cepat pada otot polos saluran nafas dan permiabilitas kapiler bronkus. yang akan diikuti dengan pelepasan berbagai mediator kimia untuk reaksi hipersentifitas cepat. Bronkodilatasi yang dimediasi oleh progesteron serta peningkatan kadar kortisol serum bebas merupakan salah satu perubahan fisiologis kehamilan yang dapat memperbaiki gejala asma.

abrupsio plasenta. Hipoksia janin terjadi sebelum hipoksia ibu terjadi. Biasanya serangan akan timbul mulai usai kehamilan 24 minggu sampai 36 minggu. Turner et al dalam suatu penelitian yang melibatkan 1054 wanita hamil yang menderita asma menemukan bahwa 29% kasus membaik dengan terjadinya kehamilan. karena ibu dan janin akan mengalami hipoksia. pada asma moderat 26 %. Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya serangan asma pada setiap penderita tidaklah sama. sementara tidak satu pun ibu dari bayi perempuan mengalami perbaikan. 49% kasus tetap seperti sebelum terjadinya kehamilan. korioamnionitis. Keadaan hipoksia jika tidak segera diatasi tentu akan memberikan pengaruh buruk pada janin. namun serangan asma berat dan asma yang tak terkontrol dapat menyebabkan hipoksemia ibu sehingga berefek pada janin. dan berat janin yang tidak sesuai dengan umur kehamilan. dan seksio sesaria . serta peningkatan risiko serangan 18 kali lipat setelah persalinan dengan seksio sesarea jika dibandingkan dengan persalinan per vaginam. Sebanyak 20 % dari ibu dengan asma ringan dan moderat mengalami serangan intrapartum. Ibu dengan bayi laki-laki menunjukkan perbaikan gejala asma (44.2% ibu bayi laki-laki. Sekitar 10% akan mengalami eksaserbasi pada persalinan. dan 22% kasus memburuk dengan bertambahnya umur kehamilan. Dampak yang terjadi dapat berupa kelahiran prematur. Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat bergantung dari frekuensi dan beratnya serangan asma. Sekitar 60% wanita hamil yang mendapat serangan asma dapat menyelesaikan kehamilannya dengan baik. Asma pada kehamilan berdampak penting bagi ibu dan janin selama kehamilan dan persalinan. Pengaruh Asma Pada Kehamilan Asma pada kehamilan pada umumnya tidak mempengaruhi janin. bahkan pada seorang penderita asma serangannya tidak sama pada kehamilan pertama dan kehamilan berikutnya. Efek kehamilan pada asma tidak dapat diprediksi. dan asma berat 50 %. dan akan berkurang pada akhir kehamilan. usia kehamilan muda. hipertensi pada kehamilan.peningkatan gejala asma selama kehamilan dibandingkan dengan 22. Mabie dkk (1992) melaporkan peningkatan 18 kali lipat resiko eksaserbasi pada persalinan dengan seksio sesarea dibandingkan dengan pervaginam. 6 . berupa abortus. Pada asma ringan 13 % mengalami serangan pada kehamilan. Ada hubungan antara keadaan asma sebelum hamil dan morbiditasnya pada kehamilan. persalinan prematur.4%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa gejolak adrenergik yang dialami ibu selama mengandung janin laki-laki dapat meringankan gejala asma.

episode serangan dan faal paru.1. sangatlah penting untuk menegakkan waktu kehamilan secara akurat melalui pemeriksaan USG pada trimester pertama. perawatan di ruang emergensi. Pentingnya pengobatan asma adalah mencegah kematian. yang bersifat reversibel atau reversibel sebagian. evaluasi aktivitas dan perkembangan janin dengan pemeriksaan USG rutin dipertimbangkan bagi : 1) wanita dengan asma terkontrol. auskultasi paru. 1.6 Diagnosis dan Perjalanan Penyakit Diagnosis asma ditegakkan berdasar gejala episodic obstruksi aliran jalan nafas. asma malam hari. serangan dan penggunaan obat ). bidan. dokter paru serta perawat yang khusus menangani asma dan ibu hamil itu sendiri. 7 . Uji spirometri dilakukan pada diagnosis pertama kali. Terapi medikasi asma selama kehamilan hampir sama dengan terapi penderita asma tidak hamil. tetapi pengukuran APE dengan peak flow meter biasanya sudah cukup.7 Penatalaksanaan Penatalaksanaan asma selama kehamilan membutuhkan pendekatan kooperatif antara dokter kandungan. Kelompok kerja National Asthma Education and Prevention Program (NAEPP) berpendapat bahwa pasien asma persisten harus dievaluasi minimal setiap bulannya selama kehamilan. Menurut pendapat kelompok kerja NAEPP. Evaluasi termasuk riwayat penyakit (frekuensi gejala. Pasien dengan VEP1 60-80% prediksi meningkatkan risiko terjadinya asma pada kehamilan. gangguan aktivitas. kegagalan pernapasan. 2) wanita dengan asma sedang sampai berat. mulai kehamilan minggu ke-32. dan cacat wheezing. asma persisten sedang dan asma persisten berat. dan pasien dengan VEP1 kurang dari 60% prediksi memiliki risiko yang lebih tinggi. dan dilanjutkan dengan pemantauan rutin pada kunjungan pasien selanjutnya. dengan pelega kerja singkat serta terapi harian jangka panjang untuk mengatasi inflamasi. status asmatikus. 3) wanita setelah pulih dari serangan asma berat. serta faal paru. asma persisten ringan. tergantung pada frekwensi dan derajat berat gejalanya. Asma pada kehamilan berhubungan dengan kejadian Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) dan kelahiran prematur. Derajat berat asma dapat dikelompokkan sebagai asma intermiten. Tujuan serta terapi pada prinsipnya sama dengan pada penderita asma yang tidak hamil. termasuk gejala malam.

Rekomendasi 8 . dan iritan. pencetus terkemuka serangan asma termasuk serbuk/tepung. Tiap pasien memiliki nilai baseline masing-masing sehingga terapi dapat disesuaikan. tungau. Terapi farmakologi selama kehamilan Kelompok kerja NAEPP merekomendasikan prinsip serta pendekatan terapi farmakologi dalam penatalaksanaan asma pada kehamilan dan laktasi. Prednison. sinusitis. Penilaian obyektif fungsi paru dan kesejahteraan janin Pasien harus mengukur PEFR 2 kali sehari dengan target 380 – 550 liter/menit. makanan. asap kimiawi. infeksi saluran napas atas. emosi. Pada umumnya kucing merupakan hewan kesayangan yang menyebabkan asma. β2 agonis dan kromolin bukan merupakan kontra indikasi pada penderita asma yang menyusui. aspirin. amukan hewan. d. dan hormone. c. Semua hewan pengerat. maupun aktivasi arkus refleks vagal dari esofagus ke paru sehingga menyebabkan bronkokonstriksi. Gastroesophageal reflux (GER) dikenal sebagai pencetus asma dan terjadi pada hampir 1/3 wanita hamil. dan hewan peliharaan dapat menyebabkan asma. obat-obatan anti inflamasi non steroid (NSAID). Ibu hamil harus mengerti cara mengurangi paparan agar dapat mengendalikan faktor-faktor pencetus asma. Menghindari faktor pencetus asma Mengenali serta menghindari faktor pencetus asma dapat meningkatkan kesejahteraan ibu dengan kebutuhan medikasi yang minimal. jamur. teofilin. Di samping itu. b. kelinci. Edukasi Mengontrol asma selama kehamilan penting bagi kesejahteraan janin. termasuk kecoak. antihistamin. Wanita hamil yang merokok berhubungan dengan peningkatan risiko wheezing dan kejadian asma pada anaknya. kelembaban. Asma dapat dicetuskan oleh berbagai faktor termasuk alergi. dan menghindari paparan asap tembakau serta iritan lain di sekitarnya. kortikosteroid inhalasi. Ibu hamil harus mampu mengenali dan mengobati tanda-tanda asma yang memburuk agar mencegah hipoksia ibu dan janin. exercise. Wanita hamil perokok harus berhenti merokok. Asma yang dicetuskan oleh GER dapat disebabkan oleh aspirasi isi lambung kedalam paru sehingga menyebabkan bronkospasme. misalnya: asap rokok.Penatalaksaan asma kronis pada kehamilan harus mencakup hal-hal berikut : a.

penatalaksanaan asma selama laktasi sama dengan penatalaksanaan asma selama kehamilan. pemeriksaan analisis gas darah. Penggunaan beta agonis. serta penggunaan ventilasi mekanik pada keadaan kelelahan. oral. pemberian masker oksigen. dan hipoksemia akan memperbaiki morbiditas dan mortalitas. metilprednisolon 40. pulse oximetry. dan albuterol. ditandai dengan peningkatan tekanan darah. Penanganan lini pertama adalah β adrenergic agonis (sub-kutan. kortikosteroid dan beta agonis menurunkan risiko komplikasi kehamilan menjadi rendah baik pada ibu maupun janin. 1. sehingga berefek negative bagi janin. inhalasi) loading dose 4 – 6 mg/kgBB dan dilanjutkan dengan dosis 0. Komplikasi asma tak terkontrol bagi ibu termasuk : 1) Preeklampsia (11 %). pengukuran FEV1 (forced expiratory volume in one second). Dan kortikosteroid.V. Terapi asma modern dengan teofilin. Penatalaksaan asma akut pada kehamilan adalah sebagai berikut : Penanganan asma akut pada kehamilan sama dengan non-hamil. tetapi penggunaan jangka panjang seharusnya dihindari pada kehamilan muda. dan fetal monitoring. dapat digunakan dalam pengobatan darurat pada asma berat dalam kehamilan.60 mg I. retensi air serta proteinuria. di ICU dan intubasi dini. terutama sekali sejak efek pada janin tidak diketahui. Asma berat yang tidak berespons terhadap terapi dalam 30 – 60 menit dimasukkan dalam kategori status asmatikus. Farmakoterapi tdak boleh bersifat teratogenik pada janin atau berbahaya pada ibu. tiap 6 jam. retensi CO2.8 – 1 mg/kgBB/jam sampai tercapai kadar terapeutik dalam plasma sebesar 10 – 20 µg/ml. seperti metaproterenol.8 Komplikasi Asma pada kehamilan yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan penurunan asupan oksigen ibu. PEFR. Komplikasi asma pada kehamilan bagi ibu : Asma tak terkontrol dapat menyebabkan stres yang berlebihan bagi ibu. tetapi hospitality threshold lebih rendah. Terapi selanjutnya bergantung pada pemantauan respons hasil terapi. 9 . Penanganan aktif. Dilakukan penanganan aktif dengan hidrasi intravena. Asma tak terkontrol pada kehamilan menyebabkan komplikasi baik bagi ibu maupun janin.

Plasenta juga mencegah transfer konsentrasi kortisol dalam jumlah besar dari ibu ke janin. akan tetapi terdapat beberapa factor yang mendukung seperti perubahan fungsi plasenta. Plasenta memegang peranan penting dalam mengontrol perkembangan janin dengan memberi suplai nutrisi dan oksigen dari ibu. Enzim plasenta 11β-hidroksisteroid dehidrogenase tipe-2 (11β-HSD2) berperan sebagai barier dengan memetabolisme kortisol menjadi kortison inaktif. 5) Berat bayi lahir rendah. 4) Perdarahan pervaginam Induksi kehamilan dan atau komplikasi kehamilan. kor pulmonale akut. berat badan turun serta ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. dan kelelahan otot disertai henti napas. Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa selain factor lingkungan. 10 . dan aritmia jantung. 3) Kehamilan preterm (12 %). 3) Hiperemesis gravidarum.2) Hipertensi kehamilan. dan dapat menyebabkan komplikasi pada 7% kehamilan. Penyulit yang mengancam nyawa adalah pnemotoraks. faktor genetik ikut menentukan kerentanan seseorang terhadap penyakiit asma. 4) Hipoksia neonatal. kor pulmonale akut. Komplikasi asma pada kehamilan bagi janin : Kekurangan oksigen ibu ke janin menyebabkan beberapa masalah kesehatan janin. derajat berat asma dan terapi asma. Komplikasi ini bergantung pada derajat penyakit asma. ditandai dengan mual-mual. gangguan perkembangan janin dalam rahim menyebabkan janin lebih kecil dari umur kehamilannya. pneumomediastinum. Mekanisme penyebab berat bayi lahir rendah pada wanita asma masih belum diketahui. sehingga dapat menghambat perkembangan janin . Mortalitas meningkat pada penggunaan ventilasi mekanik. termasuk : 1) Kematian perinatal. pneumomediastinum. Satu studi mencatat kematian janin disebabkan oleh asma berat sebagai akibat episode wheezing yang tidak terkontrol. pneumotoraks. Penyakit ini dapat dijumpai pada ibu yang sedang hamil. Angka kematian secara substantive meningkatkan apabila asmanya memerlukan ventilasi mekanis. yaitu tekanan darah tinggi selama kehamilan. Status asmatikus dapat menyebabkan gagal napas. 2) IUGR (12 %) . aritmia jantung. oksigen tidak adekuat bagi sel-sel.

15 WIB dengan : Keluhan Utama : Kontrol kehamilan. DJAMIL tanggal 12 Februari 2012 jam 12. HPHT : 21/07/2011 TP : 28/04/2012 : Jl.5. Riwayat Penyakit Sekarang : • • • • • • • • • • Nyeri pinggang yang menjalar ke ari-ari tidak ada.152 belimbing : Siska` : 33 tahun : 78.6) : mual (-). perdarahan (-) 11 . Riwayat hamil muda Prenatal care Riwayat hamil tua : mual (-).95 : Tamat SMA : IRT : Minang : Islam Nama Suami : Joni Umur Pendidikan Pekerjaan Suku Agama : 34 tahun : Tamat SMA : swasta : Minang : Islam Alamat : Jl. Tidak haid sejak 7 bulan yang lalu. muntah (-).BAB II LAPORAN KASUS IDENTITAS PASIEN  Nama  Umur  MR  Pendidikan  Pekerjaan  Suku  Agama belimbing  Alamat ANAMNESA Seorang pasien wanita umur 33 tahun masuk ke poliklinik Kebidanan RSUP M.152 Gerak anak dirasakan sejak 2 bulan yang lalu.01. Keluar air-air yang banyak tidak ada Keluar darah yang banyak dari kemaluan tidak ada. : ke Puskesmas (3.4. perdarahan (-). Apel II no. Apel II no. muntah (-). Keluar lendir bercampur darah dari kemaluan tidak ada.

bidan. ginjal.hidup 4. 2002.hidup 3.spontan. paru.3000 gram. sklera tidak ikterik : JVP 5-2 cm H2O. Dalam pengobatan. 1999.perempuan. Sesak nafas 3 hari yang lalu.bidan.• • • Riwayat menstruasi : menarche umur 13 tahun. jumlah 3-4 ganti duk/hari. lamanya 4-5 hari. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada riwayat keluarga mempunyai penyakit keturunan. ambroxol dan salbutamol. hati.cukup bulan. : 12 . siklus teratur. 2001.perempuan. pasien memiliki riwayat asma. Kaki terasa kebas Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat asma (+) Tidak ada riwayat sakit jantung. Sekarang Riwayat kontrasepsi : pasien sudah kontap massal RSUD pada bulan April 2011 Riwayat imunisasi : TT 2 x selama kehamilan Pemeriksaan Fisik 1) Keadaan umum 2) Kesadaran 3) Tekanan darah 4) Frekuensi nadi 5) Frekuensi nafas 6) Suhu Mata Leher Thorak : sedang : CMC : 120 / 70 mmHg : 86 /menit : 28 /menit : 370C Keadaan gizi : sedang Demam Sianosis Anemis TB BB :(-) :(-) :(-) : 155 cm : 60 kg : konjungtiva tidak anemis. nyeri haid (-). cukup bulan. kelenjar tiroid tidak membesar.hidup 2. Riwayat pernikahan 1 x tahun 1998 : 4/0/3 : Riwayat kehamilan/abortus/persalinan 1. KGB tidak membesar.bidan.spontan.3100 gram.perempuan. DM dan hipertensi.2900 gram. menular dan kejiwaan.cukup bulan.spontan.

Palpasi : FUT teraba 2 jari atas pusat balottement (+) Perkusi : Tymphani BU (+)/N BJA :158x/menit Auskultasi : Genitalia : Inspeksi : v/u tenang VT : Diagnosis Kerja : G4 P3 A0 H3 gravid 30-31 minggu + riwayat asma dalam pengobatan Sikap : 13 . wheezing ( + ).) Jantung I : Iktus tidak terlihat P : Iktus teraba satu jari medial LMCS RIC V Pk: Batas jantung dalam batas normal A : Murni. -striae gravidarum (+) -sikatrik (-). teratur. menegang. RP-/- Status Obstetrik • • • Muka : chloasma gravidarum (+) Mammae : membesar. ronkhi ( .Paru I : Pergerakan simetris kiri sama dengan kanan P : Fremitus normal kiri kanan Pk: Sonor A : Vesikuler normal.) Abdomen Genitalia Ekstremitas : Status obstetrikus : Status obstetrikus : edem -/-. areola dan papilla hiperpigmentasi. bising ( . RF + / +. Abdomen : Inspeksi : -tampak sedikit membuncit -Linea mediana hiperpigmentasi.

SIKAP Konsul ke pulmologi G4P3A0H3 gravid 31-32 minggu + riwayat asma (dalam pengobatan)janin hidup tunggal 23 Februari 2012 jam 09. Biometri : BPD : 79 mm PL TBJ AFI : 21 cm : 61 mm : 1700-1800 gram HL AC : 55 mm : 275 mm Plasenta tertanam di korpus uteri Kesan : gravid sesuai biometri 31-32 minggu janin hidup.00 WIB ANAMNESA Keluhan Utama : 14 .• • • • USG Cek labor darah rutin Cek urin rutin konsul pulmonologi Follow Up 23 April 2012 ANAMNESA • Kontrol G4P3A0H3 31 – 32 minggu HASIL USG Janin hidup tunggal intra uterin letak kepala Antipitas gerak janin baik. Anjuran : Kontrol 1 bulan lagi : DIAGNOSA KERJA intra uterin presentasi kepala.

batuk (-) .batuk darah (-) .ronkhi (-)/(-) Diagnosa kerja : Asma Bronchial + Gravid G4P3A0H3 Terapi : Aminophilin tablet 3x 150 Berotec MD 1 24 Februari 2012 jam 11.riwayat minum OAT (-) .00 WIB ANAMNESA • • • Kontrol ulang dengan G4P3A0H3 gravid 34-35 minggu Keluhan sesak sudah berkurang Tanda inpartu (-) 15 .nyeri dada (-) .os hamil 31-32 minggu Paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : simetris kiri=kanan : fremitus kiri=kanan : sonor : expirasi memanjang (+)/(+).Sesak nafas sejak 3 hari yang lalu.keringat malam (-) .menciut dipengaruhi oleh emosi cuaca dan makanan.adik ortu perempuan menderita asma .demam (-) .sesak dirasakan 2 kali daam sebulan.wheezing (-)/(-)..penurunan nafsu makan (-) dan BB (-) .sesak pertama kali dirasakan umur 17 tahun .

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu : sedang : komposmentis kooperatif : 120 / 70 mmHg : 80x /menit : 20x /menit : 37 C Thorax : paru = wheezing (-).PPV (-) DJJ : 140 x/menit SIKAP : Kontrol 1 bulan lagi 22 Maret 2012 jam 13.ronkhi (-) Abdomen Genitalia Inspeksi DIAGNOSIS : G4 P3 A0 H3 gravid 31-32 minggu + riwayat asma (dalam pengobatan) Janin hidup tunggal intra uterin presentasi kepala Terapi : • • SF 1x1 Calac 1x1 : HIS (-) : : v/u tenang. M Djamil padang dengan Keluhan utama : Kontrol kahamilan ulang Riwayat Penyakit sekarang : 16 .00 WIB ANAMNESA Seorang pasien permepuan umur 32 tahun datang ke poliklinik kebidanan RSUP Dr.

keturunan dan kejiwaan.hati.nyeri haid (-) Riwayat penyakit dahulu Tidak pernah menderita penyait jantung. Tidak ada yang menderita penyakit menular. : : 4/0/3 1 x tahun 1998 Riwayat penyakit keluarga Riwayat pernikahan Riwayat kehamilan/abortus/persalinan 5.3000 gram.perempuan.cukup bulan.ginjal.bidan.hidup 7.paru.3100 gram.perempuan.bidan.control kehamilan di RS : Mual (-). 2002. cukup bulan. Sekarang Riwayat kontrasepsi : pasien sudah kontap massal RSUD pada bulan April 2011 PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas : sedang : komposmentis kooperatif : 120 / 70 mmHg : 84x /menit : 20x /menit 17 .muntah (-).cukup bulan. 2001.lamanya 5-6 hari.spontan.5 bulan yang lalu HPHT : 21 -7-2011 TP :28-4-2012 Gerak anak dirasakan sejak 4 bualn yang lalu Riwayat hamil muda ANC : mual (-). perdarahan (-) : Menarche umur 13 tahun.banyaknya 23 x ganti duk / hari. 1999.• • • • • • • • • • • Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari (-) Keluar lendir bercampur darah (-) Keluar darah yang banyak dari kemaluan (-) Keluar air-air yang banyak dari kemaluan (-) Pasien tidak hamil sejak 8.hipertensi dan DM. muntah (-).spontan. perdarahan (-) : control kehamilan teratur 4 x di puskesmas. siklus teratur 1x 1 M Djamil padang sejak kehamilan 7 bulan.bidan. Riwayat Hamil Tua Riwayat menstruasi bulan.spontan.hidup 6.hidup 8.2900 gram.perempuan.

:: timpani : BU (+) normal. Palpasi: L1 L2 L3 L4 Perkusi Auskultasi :TFU 4 jari di bawah processus Xipoideus Teraba massa besar.00 WIB ANAMNESA Seorang pasien permepuan umur 32 tahun datang ke poliklinik kebidanan RSUP Dr. M Djamil padang dengan 18 .DJJ: 154 x /menit Genitalia Inspeksi Extremitas DIAGNOSIS : : : v/u tenang.RP(-)/(-) G4 P3 A0 H3 garvid preterm 35-36 minggu + riwayat asma terkontrol Janin hidup tunggal intra uterin letak kepala SIKAP : Control 2 minggu lagi TERAPI : -natavit 1x1 tablet 9 April 2012 jam 13.PPV (-) : Edema (-).Suhu Mata Leher Thorax Abdomen minggu : afebris : konjuntiva tidak anemis.striae (+).RF (+)/(+).lunak dan nodular.sikatrik (-).melenting dan tidak terfiksir. :teraba tahanan besar di kiri Bagian kecil di kanan : teraba massa keras.kelenjar tiroid tidak membesar : C/P dalam batas normal : Inspeksi : tampak membuncit sesuai usia kehamilan 35-36 Linea mediana hiperpigmentasi.sclera tidak ikterik : JVP 5-2 cmH2O.bulat.

wheezing +/+.muntah (-).kelenjar tiroid tidak membesar : C/P dalam batas normal.lamanya 5-6 hari.pulmonal : vesikuler. muntah (-). perdarahan (-) : Menarche umur 13 tahun. Riwayat Hamil Tua Riwayat menstruasi bulan.nyeri haid (-) PEMERIKSAAN FISIK • • • • • • • • • • Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu Mata Leher Thorax : sedang : komposmentis kooperatif : 120 / 70 mmHg : 84x /menit : 20x /menit : afebris : konjuntiva tidak anemis. 19 .control kehamilan di RS : Mual (-).banyaknya 23 x ganti duk / hari. perdarahan (-) : control kehamilan teratur 4 x di puskesmas.striae (+).sikatrik (-). Abdomen : Inspeksi : tampak membuncit sesuai usia kehamilan 35-36 Minggu Linea mediana hiperpigmentasi.ronkhi TB ` BB : 158 cm : 75 kg : 66 kg BB sebelum lahir LILA :32 cm -/-.Keluhan utama : Kontrol kahamilan ulang (Gr 4-38 minggu) Riwayat Penyakit sekarang : • • • • • • • • • • • Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari (-) Keluar lender bercampur darah (-) Keluar darah yang banyak dari kemaluan (-) Keluar air-air yang banyak dari kemaluan (-) Pasien tidak hamil sejak 9 bulan yang lalu HPHT : 21 -7-2011 TP :28-4-2012 Gerak anak dirasakan sejak 5 bulan yang lalu Riwayat hamil muda ANC : mual (-). siklus teratur 1x 1 M Djamil padang sejak kehamilan 7 bulan.sclera tidak ikterik : JVP 5-2 cmH2O.

: Edema (-). L2 :teraba tahanan besar di kiri Bagian kecil di kanan L3 : teraba massa keras.lunak dan nodular.2 : 3280 gram : 9.9 Plasenta tertanam di corpus uteri dengan derajat II-III 20 .PPV (-) Ketuban tidak bisa dinilai Teraba kepala masih floating UPD dan UPL • Extremitas : kesan panggul luas.0 : 0.Palpasi: L1 :TFU 3 jari di bawah processus Xipoideus Teraba massa besar.DJJ: 135 x /menit TBJ : 2745 gram HIS : (-) DIAGNOSIS : G4 P3 A0 H3 garvid preterm 37-39 minggu + riwayat asma terkontrol Janin hidup tunggal intra uterin letak kepala floating USG dan CTG USG : Janin hidup tunggal intra uterin presentasi kepalaa Aktivitas gerak janin baik Biometri : BPD FL HL AL K/S : janin hidup Intra uterin :94 :73 :64 : 335 HC/AC FL/HC TBA AFI : 1. L4 : TFU : 31 cm Perkusi Auskultasi • Genitalia VT : Inspeksi : v/u tenang.melenting dan tidak terfiksir.RP(-)/(-) : pembukaan tidak ada : timpani : BU (+) normal.bulat.RF (+)/(+).

SIKAP TERAPI SF 1x1 : : Control 1 minggu lagi Ca lactat 1x1 16 April 2012 Jam 12.lunak dan nodular.wheezing +/+. Abdomen : Inspeksi : tampak membuncit sesuai usia kehamilan 35-36 Minggu Linea mediana hiperpigmentasi.00 WIB Kontrol G4P3A0H3 aterm ANAMNESIS • • • • • • • • • • Control kehamilan Gerak anak (+) : sedang : komposmentis kooperatif : 120 / 70 mmHg : 84x /menit : 20x /menit : afebris : konjuntiva tidak anemis. Palpasi: L1 L2 L3 :TFU 3 jari di bawah processus Xipoideus Teraba massa besar.kelenjar tiroid tidak membesar : C/P dalam batas normal.sclera tidak ikterik : JVP 5-2 cmH2O. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu Mata Leher Thorax 21 .pulmonal : vesikuler.ronkhi -/. :teraba tahanan besar di kiri Bagian kecil di kanan : teraba massa keras.sikatrik (-).striae (+).melenting dan tidak terfiksir.bulat.

PPV (-) • VT :: 2745 gram HIS : (-) : timpani : BU (+) normal. : Edema (-).RF (+)/(+).RP(-)/(-) DIAGNOSIS : G4 P3 A0 H3 garvid preterm 38-39 minggu + riwayat asma terkontrol Janin hidup tunggal intra uterin letak kepala SIKAP CTG : 22 .L4 Perkusi Auskultasi • • Genitalia Inspeksi : : v/u tenang.DJJ: 159 x /menit TFU : 31 cm TBJ : pembukaan tidak ada Ketuban tidak bisa dinilai Teraba kepala masih floating UPD dan UPL • Extremitas : kesan panggul luas.

linea mediana hiperpigmentasi.M. teraba masa besar. lunak. Djamil Padang (sebelumnya tanggal 22 Maret dan 9 April 2012). dan taksiran partus 28-04-2012. bagian terbesar janin teraba sebelah kanan. dan keluar darah yang banyak dari kemaluan 23 . sikatrik (-). keluar darah bercampur lendir dari kemaluan.DISKUSI Telah dilaporkan sebuah kasus seorang pasien wanita umur 33 tahun datang ke Poliklinik kebidanan RS. wheezing tidak ada. keras dan melenting. Dari anamnesis didapatkan pasien datang untuk kontrol kehamilan yang ke-3 di RSUP Dr. noduler. Pasien juga mengeluhkan sesak napas sejak 3 hari yang lalu. bagian kecil janin teraba disebelah kiri. Pasien memiliki riwayat penyakit asma dan saat ini sedang dalam pengobatan. tekanan darah 120/80 mmHg. FUT teraba 3 jari di bawah processus xhypoideus. Gerak anak dirasakan sejak 4 bulan yang lalu. striae gravidarum (+). Pada pasien juga dianjurkan untuk datang ke IGD jika ada tanda-tanda: nyeri pinggang menjalar ke ari-ari. Sementara untuk pemeriksaan status obsterikus didapatkan perut tampak membuncit sesuai usia kehamilan. Pada pasien direncanakan untuk dikonsulkan ke bagian pulmonologi dan diberikan edukasi mengenai asma dalam kehamilan. keluar air-air yang banyak dari kemaluan. hilang timbul. Pasien sudah tidak haid sejak 9 bulan yang lalu dengan HPHT 21-07-2011. Dari pemeriksaan USG didapatkan kesan gravid aterm 38 – 39 minggu sesuai biometri janin dan gerak janin baik. M. pada leopold 3 teraba massa bulat. frekuensi nafas dalam batas normal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sedang. Djamil Padang pada tanggal 16 April 2012 dengan keluhan utama untuk kontrol kehamilan.

Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Obstetric Williams. Edisi 4. Journal : Tuberculosis in Pregnancy and The Impact of Directly Observed-Short Course (DOTS).com/2007/06/Pregnancy-and-tuberculosis/html Soedarto.wordpress. Pregnancy and Tuberculosis. Ed. 402-412 WOMEN’S HEALTH IN PRIMARY CARE. Price. 2007. Bernadeta. Surabaya : Airlangga University Press. 2008. Jakarta : EGC Prawirohardjo. Sanjay dkk. Jilid 2. 2006. 2006. Vol. Patofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit. http://yosefw. Laily. http://www. http://lelynursinginfo. 21. Management of Asthma in Women. Sarwono. Sinopsis Kedokteran Tropis. Gary. Sylvia Anderson et al.blogspot. Ilmu Kebidanan. Marianne. 24 . Revisi 20. Jakarta : PT. Penggunaan Obat Antituberkulosis Pada Ibu Hamil. 2006. Arifin. Buku Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6.org/journal/2006_4802_april/index/htm Frieri. 2.DAFTAR PUSTAKA Cunningham. Mirmayanti.bhj. F. 12 Juni 2007. EGC Price.com/2007/12/21/Penggunaan-Obat-Antituberkulosis-PadaIbu-Hamil/ Rao. Sylvia & Wilson Lorraine. 21 Desember 2007. Volume 7 Number 8 September 2004.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->