Gadis berkerudung…

Saat masuk semester dua kelas satu SMP, kelasku yang terpisah dengan kelas Fais kedatangan murid baru, namanya Zahra… itulah nama yang ia sebut saat mengenalkan dirinya di depan kelas, Pertama kali ia masuk ke dalam kelas, ia terlihat ramah dan tersenyum ke arahku, baru pertama kali aku melihat gadis sepertinya di sekolah ini. Ia satu-satunya siswi di kelasku yang mengenakan kerudung dan berseragam serba panjang, ia sangat menawan di mataku dan sangat berbeda dengan teman-temanku yang lain, penampilannya sederhana tetapi begitu elok di pandang mata Ibu guru mempersilahkan murid baru itu untuk duduk di bangkunya, ia menuju bangku yang masih kosong tepat di belakangku. Pelajaran akan segera di mulai, aku ingin sekali menoleh ke belakang sekedar menyapa gadis berkerudung yang baru menempati bangku di belakangku tetapi aku mengurungkan niatku dan mulai membuka buku pelajaran. Jam istirahat sudah tiba dan murid-murid segera keluar meninggalkan kelas, tinggallah aku dan murid baru itu di dalam kelas… Aku menoleh ke belakang dan menyapanya, “Hai? aku Mentari, tetapi panggil saja aku Tari” Aku mengulurkan tanganku dan gadis berkerudung itu menyambut uluran tanganku dengan hangat dan tersenyum lalu memperkenalkan dirinya, “Hai juga, senang bisa berkenalan sama kamu Tari, aku Zahra dan panggil saja aku Zia” Saat menatap wajahnya, aku terpesona melihat mata Zia yang indah, Aku mengajak Zia pergi istirahat bersama dan kami pergi ke kantin sekolah, Zia tidak banyak jajan sepertiku, ia hanya memesan jus alpukat, kami berdua banyak mengobrol saat beristirahat, aku menanyakan kenapa Zia pindah sekolah ke sekolahku… “Emm, ada sedikit masalah di sekolahku yang lama” ia hanya tersenyum dan segera menghabiskan jusnya yang masih tersisa, Aku ingin sekali menanyakan lebih jauh tentang Zia, tetapi jam istirahat sudah selesai dan kami segera menuju kelas. Ini pertama kalinya aku ke kantin bersama teman sekelasku selama aku bersekolah disini, aku tidak terlalu dekat dengan teman perempuan sekelasku semenjak pertama masuk SMP, bagiku mereka membosankan karena yang selalu mereka bicarakan pasti tidak jauh tentang anak laki-laki, tentang barang-barang yang baru mereka beli, tentang jalan-jalan dan sebagainya. Waktunya pulang, semua murid-murid di dalam kelas berhamburan keluar dan mulai berinteraksi dengan murid-murid dari kelas lain setelah berdoa bersama, “Zia, kamu pulang kemana? mau pulang bareng bersamaku?” Aku menawarkan Zia untuk pulang bersamaku karena selama masuk SMP aku selalu pulang sendiri di jemput supir dan rasanya sangat membosankan, “Terima kasih sebelumnya ya Tari… aku pulang sendiri saja dan kebetulan aku naik sepeda saat pergi ke sekolah”

tetapi aku malu untuk mengatakannya. “Bun. aku merasa grogi saat hendak menekan bel rumah tante Ana. aku lupa menanyakan nomor ponsel Zia.Zia menolak ajakanku dengan baik dan tersenyum tanpa menyebutkan kemana ia akan pulang. tante juga apa kabar? kapan dedenya lahir?” “Kabar tante juga baik. Fais sudah pulang dan aku segera menuju ke tempat parkir.. Meskipun ada bu Aisah yang mengurus semua keperluan dan menemaniku di rumah tetapi aku masih merasa kesepian di rumah jika mama belum pulang dan saat ini perasaanku sedang gelisah karena Fais belum menjawab pesan singkatku. Aku mencari Fais ke kelasnya dan ternyata kelas Fais sudah bubar setengah jam lebih cepat dari kelasku. “Tari.. kamu mau ketemu Fay. apa kabar kamu sayang?” Ku cium tangan tante Ana. “Fay kira. ibuku belum pulang. aku dan Zia berpisah di parkiran sekolah. waktu masih jadi anak TK aku hanya tinggal berteriak memanggil nama Fais. Tante Ana sedang berada di ruang tv. sudah lama di luar?” Fais membukakan pintu gerbang rumahnya untukku “Baru saja aku tiba. setelah jam empat sore aku sudah selesai mandi dan bu Aisah sudah menyiapkan kue yang akan ku bawa ke rumah tante Ana. aku langsung membenamkan wajahku di bantal kursi sofa di ruang tv. tante Ana ada?” aku membalas senyuman Fais. Saat di perjalanan pulang. dari kejauhan kulihat Zia membelokan sepedanya ke sebuah perumahan yang jaraknya tidak jauh dari sekolah dan sepanjang perjalanan aku memikirkan Fais yang jarang bersamaku akhir-akhir ini dan sesampainya di rumah. segera aku bersiap pergi ke rumah tante Ana. Tercium bau kue yang sedang di panggang saat aku menuju ke kamarku dan ternyata bu Aisah sedang membuat kue. baru teringat olehku saat menuju ke kelas Fais. “Tari. tetapi sekarang aku merasa malu untuk melakukannya. ayo masuk” Aku hanya tertawa di dalam hati mendengar kata-kata Fais dan ingin rasanya aku menjawab katakata Fais bahwa aku kerumahnya memang untuk bertemu dengannya. “Kabar Tari baik tante. tetapi ternyata hal itu tidak terjadi. bu Aisah mengijinkan aku untuk membawa sebagian kuenya setelah matang untuk tante Ana. ada Mentari nih…” Fais memberitahu tante Ana bahwa aku datang. hatiku berdebar-debar saat melihatnya. Belum sempat aku menekan bel tiba-tiba seseorang keluar dari dalam rumah tante Ana dan itu adalah Fais. Hanya butuh waktu kurang lebih sepuluh menit dari rumahku dengan bersepeda untuk sampai di rumah tante Ana dan sekarang aku sudah berdiri di depan gerbang rumah tante Ana. Fais tersenyum kepadaku… rasanya hatiku seperti berbunga-bunga saat melihat ia tersenyum. seharusnya dalam minggu ini dedenya lahir” tante Ana tersenyum sambil mengelus perutnya yang besar dan mempersilahkan aku duduk . Mengantar kue hanyalah alasan untuk ke rumah tante Ana agar aku bisa bertemu dengan Fais. aroma kue yang di panggang membuatku punya sebuah rencana untuk bertemu Fais. aku khawatir jika Fais melihatku ia akan masuk kedalam rumah lagi. bunda ada di dalam. Zia pulang naik sepedanya.

. Fais khawatir karena saat tante Ana melahirkan Fais dulu. terima kasih” aku melepaskan tanganku dari tangan Fais Aku merasa malu dan memalingkan wajahku darinya dan tersenyum.“Tari kesini mengantar kue buatan bu Aisah untuk tante dan dedenya” “Terima makasih Tari. terimakasih pak Sam” aku membalas candaan Fais Aku merasa aneh saat Fais duduk di depanku. sepertinya ia menelan darahku.. “Tidak ada” aku turun dari ayunan dan menghampiri tamanan bunga mawar yang sedang mekar Indah sekali bunga mawar yang sedang bermekaran dan aku ingin memetiknya. Aku tidak mengerti apa yang terjadi denganku akhir-akhir ini.. Aku memegang tangan Fais dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja dan Fais tersenyum kepadaku. Fais datang membawakan minuman berwarna orange untukku. kelasku kedatangan murid baru dan ia sangat cantik. Aku senang saat Fais mengajakku ke taman. ia tiba-tiba bertanya tentang gadis berkerudung bernama Zahra itu kepadaku. “Tidak. Fais beruntung memiliki keluarga yang utuh dan sebentar lagi ia akan menjadi seorang kakak. aku . jantungku selalu berdebar kencang dan aku merasa aliran darahku mengalir deras saat berada di dekat Fais. ia mengkhawatirkan kondisi tante Ana. Jariku berdarah dan Fais segera menghampiriku dan menghisap jariku yang berdarah. Fais mengatakan kepadaku bahwa ia merasa takut membayangkan nanti saat tante Ana akan melahirkan. saat menyentuh bunga mawar itu jariku tertusuk duri bunga mawar dan terluka. Ia duduk tepat di belakang tempat dudukku” hatiku terus berdebar kencang saat menatap wajah Fais. Saat ayahku masih hidup. kami sudah tumbuh menjadi remaja… Kami menghentikan sepeda kami dan duduk di ayunan. “Fay dengar dari teman sekelas bahwa kelas kamu kedatangan murid baru dan mereka mengatakan gadis itu sangat cantik” “Benar. “Masih terasa sakit?” Fais masih memengang tanganku yang jarinya tertusuk duri bunga mawar. Aku hampir menangis saat teringat kembali tentang ayahku… “Ada apa?” Fais mengejutkanku dengan menyentuh hidungku menggunakan jarinya. tante baru mau minta tolong Fay untuk membeli kue” tante Ana pergi ke dapur membawa bungkusan kue yang ku bawa. Rasanya seperti saat masih Tk aku bersepeda bersama Fais dan tidak terasa waktu cepat berlalu. kebetulan sekali. aku sering menggoda beliau dengan meminta seorang adik agar aku tidak kesepian.. kami bersepeda bersama menuju taman setelah berpamitan kepada tante Ana. jus jeruk kesukaanku… “Di minum dulu neng Tari” Fais mulai menggodaku seperti biasa “Iya. tante Ana sempat mengalami pendarahan dan sempat koma selama dua hari. aku meminta kepada Fais untuk pulang saja karena hari sudah semakin gelap dan kami pulang ke rumah masing-masing.

tetapi Fais mengatakan bahwa hanya ia yang tahu dimana bunga mawar tidak berduri itu dan tidak akan memberitahukannya kepadaku dimana bunga mawar itu. Terlintas di benakku tentang aku yang ingin menikah dengan Fais kelak jika besar nanti. aku bertanya kenapa Fais menghisap darah di jariku dan menelanya? ia menjawab jika darahnya tidak di keluarkan akan terasa gatal nantinya dan ia menggodaku dengan mengatakan bahwa ia haus.berpisah dengan Fais di taman setelah sebelumnya Fais menawarkan diri untuk mengantarku pulang tetapi aku menolaknya dan mengatakan aku bisa pulang sendiri. Cukup lama kami berbincang di telpon. Aku langsung pergi ke kamar setelah sampai di rumah. Aku semakin penasaran dengan bunga mawar itu… Pembicaraan kami malam itu di akhiri dengan kata-kata ‘selamat malam dan mimpi indah…’ . Aku berbaring di tempat tidur sambil memeluk boneka beruangku. ‘Tentu saja ada dan aku tidak akan memetik bunga mawar yang tidak berduri itu. Aku tertawa mendengar ucapannya dan aku juga bertanya apakah ada bunga mawar yang tumbuh tidak berduri? Jawabannya membuatku penasaran. ia menanyakan apakah jariku masih terasa sakit? ku katakan bahwa jariku sudah tidak terasa sakit. aku akan melindungi bunga mawar itu’… Aku sangat penasaran dengan bunga mawar yang tidak berduri itu dan ingin melihatnya. maka dari itu ia mengisap darah di jariku. aku hanya tersenyum membayangkan menjadi seorang pengantin. Ponselku berdering dan ternyata Fais yang menghubungiku. aku terus memikirkan tentang Fais. ku jawab telpon yang masuk dari Fais. sepertinya mama belum juga pulang dari kantor.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful