Tari Dupplang, Gambaran Prosesi Kehidupan MaNusia

Pada : 01-04-2011 | Oleh : admin | In : Tradisi | dibaca : 21 kali (No Ratings Yet) Oleh Lilik Rosida Irmawati

Tari Sebagai Media Penyambutan Bentuk kesenian tari barangkali sama tuanya dengan bentuk seni lainnya, dan telah mengalami tahapan evolusi sampai mencapai bentuknya yang sempurna pada masa sekarang.. Konon, sejak jaman dahulu kala tarian dipergunakan oleh para Raja ketika mengadakan penyambutan para tamu agung yang datang berkunjung, baik yang berasal dari kerajaan-kerajaan tetangga ataupun tamu yang datang dari manca negara. Tujuan penyambutan adalah untuk menghibur sekaligus sebagai sebuah upaya diplomasi untuk menghindari pertentangan dan pertikaian. Karena berada di dalam wilayah kerajaan, Sumenep mempunyai kekayaan seni tari. Baik yang berasal dari kalangan rakyat biasa, ataupun dari lingkungan istana. Dapat dikatakan bahwa seni tari tradisional di setiap daerah mempunyai pola-pola gerakan yang berbeda dan spesifik, begitu pula ragam gerak dari tari tradisional Madura. Gerakan-gerakan yang ada dalam setiap tari tradisional Madura (terutama gerakan jemari/tangan) tak pernah terlepas dari huruf-huruf yang tertera dalam AlQur’an, seperti huruf Allahu ataupun Muhammad. Begitu pula dengan batas gerakangerakan tangan, tak melebihi batas payudara. Pada masa sekarang banyak sekali seni tari tradisional telah mengalami kepunahan, diantara-nya ; tari Marning dari Lenteng, tari Theng-There’ dari Rubaru dan tari Duplang. Namun ada seni tari tradisi tetap bertahan sampai saat ini karena telah mengalami berbagai perubahan, salah seorang kreografer handal, memperkaya dengan gerakan-gerakan tari konvensional tanpa kehilangan makna, tarian tersebut adalah tarian Muang Sangkal. Sampai saat ini tari Muang Sangkal menjadi tarian wajib menyambut tamu-tamu yang datang ke Sumenep. Diantara sekian banyak tari tradisional Sumenep yang telah punah, tari Dupplang merupakan salah satu tari tradisional yang sangat spesifik, unik dan langka. Keunikan dari tari ini disebabkan tarian ini merupakan suatu jalinan kisah, sebuah

e kencono. pemupukan. adapun pakaian serta aksesoris yang digunakan penari tergantung pada permintaan yang mengadakan pertunjukan. Setelah menanam. . Dan tarian ini jarang dipentaskan setelah adanya pergantian sistem pemerintahan. Tarian ini diciptakan oleh seorang penari keraton bernama Nyi Raisa. Jalinan Cerita Utuh Kerja Keras Wanita Petani Tari Dupplang adalah penggambaran prosesi jalinan cerita tentang petani wanita yang menanam sejenis tumbuhan ubi-ubian. Jenis ubi ini jarang di konsumsi oleh masyarakat.penggambaran prosesi yang utuh dari kehidupan seorang wanita desa. Berbeda dengan ubi-ubian lainnya. Kerja keras wanita-wanita petani yang selama ini terlupakan. namun memerlukan halaman yang luas. digunakan kain panjang dan kebaya. se namen gaddung”. misal adanya kemarau yang sangat panjang dan sulit untuk mendapatkan bahan makanan. Prosesi tarian ini diawali oleh alunan gendingan. lemah gemulai sekaligus menggemaskan. sembari menembangkan sebuah kalimat “Bapa’e Dupplang. Adapun durasi pertunjukan memakan waktu sekitar 1 s/d 2 jam. pengolahan sampai tahap memasak. sebagai tanda bakti seorang anak. Di lingkungan keraton. pakaian yang dikenakan biasanya pakaian adat Lega dan memakai sanggul. Dan tarian ini berakhir. Setiap pergantian gerakan berdiri ke duduk jongkok. karena sangat sulit dalam proses memasak-nya. penari kembali pulang ke rumah. Tarian Dupplang ini adalah penggambaran utuh dari proses awal penanaman. berputar kemudian jongkok sembari menembangkan kidung Candaga. Setelah tiba di rumah mertua. Generasi terakhir yang mampu menguasai tarian ini adalah Nyi Suratmi. Biasanya Gaddung ini di konsumsi apabila dalam keadaan yang sangat mendesak dan darurat. ketika penari setelah mengkonsumsi gaddung tersebut mabuk. Biasanya pementasan dilaksanakan pada pagi. lemah lembut. Sedangkan untuk kalangan masyarakat biasa. dijalin dan dirangkai dalam gerakangerakan yang sangat indah. peralihan dari sistem Raja ke Bupati. memeriahkan acara perkawinan ataupun selamatan desa/laut. pemanenan. si penari memasuki arena pentas. siang ataupun sore hari. penjemuran. Setelah proses itu selesai. bersama-sama mereka memakannya. Sejak saat itu. Tarian Duplang ini dibawakan oleh 1 penari wanita. si penari menghantarkan makanan tersebut ke rumah mertua. Adapun tempat pementasan tidak memerlukan sebuah panggung. penari mulai menanam gaddung. otomatis tarian ini jarang sekali dipentaskan. Prosesi Pertunjukan Tarian ini sering dipentaskan untuk menyambut tamu di istana. Selesai pengucapan kidung tersebut. Gaddung jenis ubi ini akan menimbulkan ekses memabukkan apabila dalam proses memasak tidak benar.

Setelah itu penari kembali pulang ke rumah. dalam posisi jongkok penari menembang “ Bapa’e Dupplang se neleggi Gaddung”. gaddung dimasukkan ke dalam keranjang setelah itu di bawa pulang dengan cara di taruh di atas kepala. pergi ke laut. Setelah penggalian selesai. Tarian Dupplang ini adalah sebuah tarian yang cukup rumit dan membutuhkan stamina tinggi. penari berangkat ke rumah mertua untuk menghantarkan makanan tersebut. mengiris-iris kemudian dimasukkan kembali ke dalam keranjang dan di bawa ke laut untuk di cuci. membuka batok kelapa dengan parang. kemudian ditambah lagi dengan gerakan hilir mudik dari rumah ke ladang. proses memasak.Selama dalam prosesi tersebut. Karena dalam setiap gerakan tari senantiasa diiringi alunan kidung yang dibawakan oleh penari. Adapun musik yang mengiringi tarian ini senantiasa mengikuti gerakan-gerakan penari. Disamping mempertontonkan kepiawaian dalam menari. Sambil berjalan mundur dalam posisi jongkok. tambana Dupplang ayak sapolo” secara terus menerus diiringi gending ayak Sapolo adalah sebuah nama tembang. mabuk. Dalam penjemuran ini penari berkali-kali membolak-balikkan gaddung. Setelah selesai. Setelah selesai penari kembali pulang ke rumah untuk menjemurnya. penari selalu mengalunkan kidung yang sama. Selendang dipergunakan sebagai pengganti tikar. Dalam adegan ini penari mengidungkan “Bapa’e Dupplang nolonga Gaddung”. selendang diumpamakan linggis. Sambil menunggu. Karena tingkat kesulitan yang sangat tinggi tersebut. Penari melihat tanamannya yang mulai tumbuh dan membuatkan para-para tempat menjalarnya tanaman tersebut. Setelah dianggap agak kering. penari sambil duduk jongkok memberikan makanan tersebut. Setelah gaddung masak. banyak penari yang segan untuk mempelajarinya. Adegan berikutnya adalah penari kembali ke ladang untuk menggali tanamannya. Setiba di rumah mertua. gaddung tersebut diinjak-injak. Sebagai penutup penari mengidungkan kalimat “Apa tambana Dupplang. penari mengambil sebutir kelapa. diangkat ke luar dari panci. menghantarkan ke rumah mertua dan yang paling akhir adalah ketika penari dalam keadaan mabuk setelah makan gaddung. Setelah itu penari mengupas. apabila tarian Dupplang . begitu pula saat penari kembali ke ladang untuk melihat tanamannya. Karena banyak sekali perpindahan gerakan dari posisi jongkok ke posisi berdiri. kembali ke rumah. Sehingga tidaklah mengherankan. kemudian bersama-sama memakannya. Puncak dari tarian ini adalah ketika penari dalam keadaan mabuk. kembali ke rumah. Sesampai di rumah gaddung tersebut dimasukkan ke dalam panci untuk di masak. gaddung itu dimasukkan kembali ke keranjang untuk di bawa masuk ke rumah. mengupas kelapa kemudian memarutnya. Setelah makan gaddung tersebut. Penari juga menunjukkan kebolehannya dalam menembang. Sesampai di laut. Sampai di rumah gaddung tersebut diletakkan sambil mengidungkan “Bapa’e Dupplang e kencono se andi’ gaddung ”. diletakkan ke dalam piring kemudian ditaburi kelapa parut. yaitu “Bapa’e Dupplang”.

Ket. Dengan demikian tari Duplang ini benar-benar punah.com/2011/04/tari-dupplang-gambaran-prosesi-kehidupanmanusia-2/#ixzz1bgzmlMtg . gambar : Nyi Surasmi (kanan) bersama penulis Read more: http://www.tidak di kenal dan tidak diingat lagi oleh seniman-seniman tari generasi berikutnya.lontarmadura.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful