BAB IV PEMBENTUKAN KATA

A. Pengantar

Sudah kita ketahui bahwa dalam bahasa Indonesia ada kata dasar dan kata bentukan. Kata dasar disusun menjadi kata bentukan melalui tiga macam proses pembentukan, yaitu: (1) afiksasi atau pengimbuhan; (2) reduplikasi atau pengulangan; (3) komposisi atau pemajemukan. Kita juga sudah mengenal adanya imbuhan atau afiks yang meliputi prefiks atau awalan, sufiks atau akhiran, dan infiks atau sisipan. Infiks sebenarnya tidak begitu penting dalam bahasa Indonesia, tetapi dalam pembentukkan istilah infiks-in yang berasal dari Jawa sering juga dipakai. Menurut FPBS (1994 :19), pembentukan kata dengan menggunakan awalan dan akhiran dalam bahasa Indonesia sudah banyak dikenal oleh para mahasiswa. Namun demikian sering juga kita jumpai kata-kata yang bentuknya tidak tepat atau salah. Perhatikan contoh pemakaian kata bercetak miring pada teks berikut! Pergaulan hidup yang berdeferensiasi berarti pergaulan hidup terbagi atas sektor-sektor dimana tiap khusus tertuju pada pelaksanaan salah satu fungsi yang telah disebut itu. Kata berdeferensiasi dalam kalimat tersebut digunakan secara salah. Kata yang lebh sesuai adalah berbeda-beda karena kata deferensiasi bukanlah anggota kosa kata baku bahasa Indonesia walaupun maknanya sama dengan kata berbedabeda. Contoh-contoh lain dapat diamati pada kalimat-kalimat di bawah ini. Perhatikan kata-kata yang bercetak miring! 1. Usaha kami selama ini memang profitable sehingga kami dapat menghidupi karyawan secara layak. 2. 3. Semua ilmuwan sangat besar atensinya terhadap penemuan Andi. Supaya mudah dicetak, lempung sebaiknya diolah tidak terlalu lunak dan tidak terlalu keras. 1

objektivisme. Demikianlah kita mengenal adanya awalan a-. di samping harmoni kita mengenal disharmoni. atau asosial. 2 . Penulis terpaksa mengubah rumus itu dan ternyata hasil perubahan itu dapat digunakan untuk menyelesaikan analisis data. bukan pemerian. objektif. Kesalahan juga terjadi pada bentukan kata. objektivisasi. Jika diperhatikan konteks dan acuan kata-kata bercetak miring tersebut tampak bahwa bentukan kata-kata itu tidak tepat. 2. Perhatikan contoh berikut ini! 1. Dari bentuk tersebut kita menemukan kata dasar objek. de-. Alasannya sudah jelas. 3. Dalam hal ini bentukan kata yang digunakan dalam kalimat merupakan bentukan-bentukan kata yang tidak tepat. dis-. objektivitas. di samping integrasi kita mengenal disintegrasi. Akan lebih tepat jika kata perubahan diganti dengan ubahan. -isme. yang diperikan adalah perian. di samping regulasi kita mengenal deregulasi. B. Pengambilan data dijalankan dengan menyebarkan angket kepada semua informan yang telah ditentukan. Kedua kendaraan itu tabrakan di tikungan tajam dan kecelakaan tak dapat dihindari. itas. Di samping kata evaluasi kita mengenal devaluasi. Setiap pemerian data selalu dilengkapi dengan contoh pemerian data itu dapat dipahami secara lebih konkret. kata pemerian diganti dengan perian. sehingga memungkinkan kita untuk menganalisis bentuk-bentuk tersebut dan menemukan awalan atau akhirannya. dan kata tabrakan diganti dengan bertabrakan. Imbuhan dari bahasa asing Yang perlu kita pelajari ialah adanya imbuhan yang berasal dari bahasa asing yang kadang juga dikenakan pada kata dasar bahasa Indonesia. bentukan tabrakan merupakan bentukan yang tidak baku. (FPBS : 1994 :38). -isasi. Kata-kata asing yang diserap dalam bahasa Indonesia itu pada dasarnya kita pandang sebagai kata dasar. akhiran –if. Hasil mengubah adalah ubahan. Namun demikian bentuk-bentuk kata asing itu bermacam-macam.4. Kita mengenal kata-kata objek. Di samping kata moral atau sosial kita kenal adanya amoral.

Awalan ini artinya ‘tidak’. koinsidental.seperti pada ekstra-universiter. 3 . ekstra linguistic. antikarat yang artinya ‘melawan’ atau ‘bertentangan dengan’. i. Contoh: ekstra-ketat.misalnya pada kata inkonvensional.misalnya interdental. bi. d. inframerah. anonym. ekstra. juga oleh penutur yang bukan dwibahasawan. anti. l. kadang juga dipakai pada kata-kata bahasa Indonesia sendiri.seperti pada dehidrasi.1.seperti pada amoral. b.misalnya pada hipertensi. hiper. Awalan ini artinya ‘di dalam’. eks-presiden. Awalan ini artinya ‘bersama-sama’ atau ‘beserta’.seperti pada eks-prajurit. eks-partai terlarang. Awalan ini artinya ‘meniadakan’ atau ‘menghilangkan’. ekstra-terestrial. dehumanisasi. Awalan ini mengandung arti ‘tidak’ atau ‘tidak ber’.misalnya pada infrastruktur. in. biseksual. bikonveks. inaktif. eks-karyawan. Awalan Awalan-awalan pada kata-kata serapan yang disadari adanya. antiklimaks. intransitive.misalnya pada bilateral. eks.misalnya pada intrauniversiter. yang biasa di Indonesiakan dengan antar-. j. adalah sebagai berikut: a. k.misalnya pada kokulikuler. c. a. Awalan ini artinya ‘di tengah’. kopilot. infra. intramolekuler. bilingual. Awalan ini artinya ‘bekas’ yang sekarang dinyatakan dengan kata ‘mantan’. hipersensitif. f. ekstra-hati-hati. antipemerintah. Awalan ini artinya ‘lebih’ atau ‘sangat’. kopromotor. Awalan ini artinya ‘tambah’. asimetris. e.seperti pada antikomunis. hiperseksual. inter. ‘diluar’. deregulasi. asosial. de. Awalan ini artinya ‘dua’. internasional. devaluasi. infrasonic. ko. interisuler. intra. g. h. atau ‘sangat’. antimagnet.

harfiah. asasi. nonmigas. sarkasme. –asme misalnya pada pleonasme. wujudiyah. Awalan ini artinya ‘banyak’. 4 . novelet itu ‘novel kecil’. nonberas. neorealisme. neo. f. multi. novelete. maknawi. duniawi. –et seperti pada operet. nonminyak. o. multilateral. non. makroekonomi. c. –asi/isasi misalnya pada afiksasi. Awalan ini artinya ‘baru’. –al misalnya pada actual. d. structural. intelektual. p. multijutawan. konfirmasi. multilingual.m. Kata-kata yang berakhiran –al ini tergolong kata sifat. insani. nasionalisasi.seperti pada nongelar. n. elementer. nonOpec. emosional. antusiasme. Jadi operet itu ‘opera kecil’.misalnya pada makrokosmos. Akhiran ini menyatakan kata benda. sekunder. arbitrer. microfilm.misalnya pada kontrarevolusi. –er seperti pada primer.seperti pada neokolonialisme. Akhiran tersebut menyatakan ‘proses menjadikan’ atau ‘penambahan’. gerejani. mikro. e.seperti pada mikroorganisme. unsuriyah. 2. aktualisme. Awalan ini artinya ‘bukan’ atau ‘tidak ber-‘. Awalan ini artinya ‘besar’ atau ‘dalam arti luas’. asali.seperti pada multipartai. Akhiran ini menyatakan pengertian ‘kecil’. –i/wi/iah misalnya pada hakiki. kontra. kaderisasi. Akhiran ini menyatakan sifat. sigaret. kontrasepsi. r. b. makrolinguistik. mayoret. Akhiran-akhiran ini menyatakan sifat. multikompleks. mikrokosmos. makro. komputerisasi. neofeodalisme. kontradiksi. Akhiran Pada kata-kata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia kita jumpai akhiran-akhiran seperti berikut: a. q. Awalan ini artinya ‘berlawanan’ atau ‘menentang’. Awalan ini artinya ‘kecil’ atau ‘renik’.

etimologi. –itas seperti pada aktualitas. redaktur.g. noderator. –ur seperti pada donator. avonturir. Marxis. -ik 2 seperti pada spesifik. Akhiran ini menyatakan orang yang bekerja pada bidang atau orang yang mempunyai kegemaran ber-. atau orang yang ahli menulis dalam bentuk seperti yang disebut di dalam kata dasar. sukarnois. universitas. direktur. banker. esei. Akhiran ini menyatakan sifat. otentik. m. n. Akhiran ini menyatakan ‘benda’ dalam arti ‘bidang ilmu’. Hinduisme. Akhiran ini artinya orang yang bertindak sebagai orang yang mempunyai kepandaian seperti yang tersebut pada kata dasar. moril. Pada kata-kata lain kata-kata ini diganti dengan –al. apatis. Akhiran ini menyatakan benda. unik. obyektif. k. praktis. statistic. -il seperti pada idiil. transitif. kondektur. h. –ir seperti pada mariner. -isme seperti pada nasionalisme. dedaktik. –or seperti pada editor. j. -is 2 pada kata ateis. novelis. o. –is 1 pada kata praktis. l. sosiologi. 5 . i. debitur. fanatic. –if misalnya pada aktif. materiil. Akhiran ini menyatakan orang yang mempunyai faham seperti disebut dalam kata dasar. legendaries. deklamator. patriotisme. bapakisme. Akhiran ini seperti yang di atas menyatakan agentif atau pelaku. kelirumologi. Akhiran ini menyatakan sifat. -logi artinya ‘ilmu’. semantic. karakteristik. prosaic. operator. agentif. p. ekonomis. –ik 1 seperti pada linguistic. Akhiran ini menyatakan sifat. produktivitas. Akhiran ini menyatakan sifat. objektivitas. Isme artinya ‘faham’. –logi seperti pada filologi. yuridis. naratif.

Menurut kaidah bahasa Indonesia barangkali kata morfologi atau akademi tidak perlu berubah apabila berpindah posisinya.dan akhiran –less. dan –ik.C. Yang sering menimbulkan keraguan ialah penggunaan akhiran –is dan –ik. atau tidak ber’. Urusan akademi dan urusan akademis maknanya berbeda. yang pertama menyatakan hubungan kemilikan yang kedua hubungan kesifatan. il. ada imbuhan yang membentuk kata sifat. im-. in-. sedang –ik dari bahasa Inggris –ic 6 . Upaya Pengindonesiaan Awalan dan akhiran di atas berdasarkan maknanya dapat dibeda-bedakan menjadi beberapa kelompok. er-. endosentris atau endosentrik? Akhiran –is diserap dari bahasa Belanda –isch. kayu. Kata sifat bentuk dengan penambahan akhiran –al. Dalam bahasa Indonesia sendiri tidak banyak afiks pembentuk kata sifat. tanpa. dis.dan beberapa awalan lain yang tak tercantum dalam daftar di atas seperti ab-. contohnya: sifat ibu dan sifat keibuan. Mana yang betul: akademis atau akademik. yang artinya ‘tidak. dan semata-mata posisinya dalam satuan sintaksis yang menempatkannya sebagai atribut. juga mensifatkan meja pada meja kayu. Ada imbuhan yang membentuk kata benda. Dalam bahasa Indonesia kedudukan kata dalam satuan sintaksis yang lebih besar menentukan sifat hubungannya dengan kata lain. Tetapi hubungan makna itu barangkali baru timbul setelah bahasa Indonesia menyerap kata-kata asing yang berbeda bentuknya itu. misalnya pada morfologi bahasa Indonesia dan proses morfologi. seperti yang disebut oleh Fokker (1960:139) bahwa bahasa Indonesia miskin susunan ajektivis. Seperti hanya bagus pada meja bagus. if-. bukan. non-. untuk kata-kata dalam bahasa Indonesia sendiri digunakan konfiks ke-an. serta akademi bahasa Indonesia dan pembantu dekan bidang akademi. Dalam bahasa Indonesia kata kayu tidak mengalami perubahan bentuk. uang negara dan kunjungan kenegaraan. Untuk menegaskan perbedaan hubungan makna itu. yaitu awalan a-. Kata benda kayu dapat mensifatkan kata lain seperti halnya kata sifat bagus. Di samping itu dapat juga digunakan akhiran dari bahasa Arab –i/-wi/-iah yang tidak lagi terasa akhiran asing dalam bahasa Indonesia. Beberapa awalan dapat digolongkan sebagai menyatakan pengertian negative.

bakelektron (electron-like). awapada: awahama (disinfect). linguistic. 1988:431). untuk menyatakan pengertian seperti yang dinyatakan oleh bentukan-bentukan dalam bahasa asing. antardepartemen seperti pada: alih aksara (transliteration). misalnya penalaran mantiki (logika reasoning). spesifik. semantic. linguistic. 7 (intercontinental). yang terasa lebih bersifat Indonesia. 3. awahubung (disconnect). dapat digunakan untuk menerjemahkan kata-kata asing. adimarga (boulevard). makhluk surgawi (devine being). 5. Daftar afiks. awawarna (discolor). terjemahan harfiah (letteral translation) dan sebagainya. dalaml bahasa Indonesia sendiri digali imbuhan atau kata-kata yang diharapkan dapat menjadi padanan bentukanbentukan dalam bahasa asing (Johannes.atau –ical. 4. durpada: durjana (evildoer). logistic. bakintan (adamantine). adiseperti pada: adidaya (super power). 1982 dan 1983. fonetik. mengingat akhiran –ik banyak digunakan untuk menandai kata benda (statistic. antropologi ragawi (physical anthropology). kecuali pada kata-kata: simpatik. alergik. bakpada bakruang (space-like). seperti: statistic. malice). bakagar (galantineous). pengawasan (disimilasi). semantic. alih bahasa (translate). adibusana (high fashion). antarnusa (interinsuler).). antarbenua (interdepartmental). antarseperti pada: antarbangsa (internasional). adikodrati (super natural). atau kata tersebut adalah sebagai berikut. dan sebagainya) untuk kata sifat hendaknya digunakan –is. Di samping itu. morfem. dan dalam Moeliono dan Dardjowidjojo (Eds. durkarsa (malevolence. dursila (immoral). Seperti yang digariskan di dalam Pedoman Pembentukan Istilah. 1. Akhiran yang berasal dari bahasa Arab. alih alih teknologi (transfer of technology). . 2. unik. adikarya (masterpiece). durhaka (sinful). karakteristik. alih tulis (transcript). 6. awabau (deodorize). analgesik. Sementara itu akhiran –ik diserap jujga dari akhiran –ics dari bahasa Inggris yang menandai kata benda.

Mahakuasa. pada: lirkaca (glassy) liragar (galantineous) liritan (adamantine) sang lir sari ‘yang seperti bunga’. niraksara (illiterate). pada: rupa bola (speroid). mahaguru (guru besar). lepas pantai (offshore). rupa baji (cuneiform) 19. lepas 8. pramuwisata (tourist guide). lir- pada: lepas landas (takeoff). 16. Maha Pemurah. 8 . perkipas (fanwise). nirpada: nirnoda (stainless). nirnyawa (inanimate). narapraja (pegawai pemerintah).7. pramuria (hostess). 17. salah hitung (miscalculate). nararya (nonbleman). peridolar (dollarwise). pascapada: pascapanen (postharvest). malakelola (mismanage). salah ucap (misspel). malabentuk (malformation). pascadoktor 14. niranta (infinite). purnakarya (pekerjaan yang telah dilakukan dengan baik). peri(postdoctoral). malapraktik (malpractice). 9. pramupada: pramugari (stewardes). pascaperang (postwar). purnakaryawan (pensiunan pegawai negeri). pratinjau (preview). preface). prakira (forecast). pramusiwi (babysitter). pascasarjana (postgraduate). purnawirawan 18. 11. salah paham (misunderstanding). 13. purnapada: purnawaktu (fulltime). maha- pada: maharaja (kaisar. nara pada: narasumber (resource person). 15. salah pada: salah cetak (misprint). pra- pada: prasejarah (prehistory). raja besar). narapidana (convicted). Mahaadil. prakata (foreword. Maha Esa. mahasiswa. pada: perijam (clookwise). rupa tangga (scalariform). periujung (endwise). 12. nirgelar (non-degree). rupa (pensiunan ABRI). mala- pada: malagizi (malnutrition). 10.

nawapada: saptamarga. tunasusila. pada: hastabrata. dan Hanuman. Sekarang varian – man sudah tidak produktif lagi. 25. serbacuaca (all- 21. weather). serbabisa (all-round). tansuku (non-syllabic). Untuk kata-kata yang terakhir dengan vocal I atau u dulu digunakan akhiran –man seperti pada seniman. tata hokum. tritunggal. sastrawan dan sebagainya.pada: tridarma. dasa. swakelola (dikelola sendiri). minantu (son-in-low). akhiran –wan digunakan juga untuk kata benda 9 . tak- pada: taksosial (asocial). sisipan –in- 28.20. 29. serba- pada: serbasama (homogeneous). tri. pancasila. tan- pada tanlogam (non-metal). tanorganik (anorganic. serbaneka (multivarious). kinurang (subtrahend). tunanetra. taksah (illegal). 30. taknormal (abnormal). takmurni (impure). timambah (additive). inorganic). dwipihak. caturpada: caturwarga. takhidup (nonliving). swadaya (kekuatan sendiri). tata 26.pada: pancamarga. 24. ekasila. suganda (bau yang harum). sudarma (darma yang baik). dwi. serbaguna (multipurpose). negarawan. linambang (sign). budiman. awalan bilangan eka pada: ekaprasetyaj. tata nama. 27. temerang (shiny). gemetar (tremulous). swapraja (daerah otonom). binagi (dividend). tanvokoid (non-vokoid). hastasaptapada: saptaprasetya. su- pada: sujana (orang baik lawannya durjana). swa- pada: swakarsa (kemauan sendiri). pada: tinambah (addent). pada: tunakarya. bangsawan. panca. indah). sisipan –em- pada: gemaung (echoic). triratna. swasembada (dapat memenuhi kebutu han sendiri). 23. susastra (sastra yang baik. 22. sadpada: sadpada. akhiran –wan/-man/-wati Akhiran –wan ditambahkan pada kata-kata benda yang berakhir dengan vokal a seperti pada gunawan. hartawan. nawaaksara. tuna- pada: tata bahasa. tata kalimat.pada: dwiwarna. sukarsa (good-will). tunawisma.pada: dasasila.

diharapkan semakin meningkat. non-beras.dan pem. musisi. politikus. misalnya: politikus/politisi menjadi negarawan. contohnya rokhaniwan. teknikus. senator. tunaaksara. bahariwan.di samping akhiran –wan/wati seperti yang disebutkan di atas.kita jumpai pada: non-gelar. melainkan diusahakan agar dapat dinyatakan dengan kata-kata yang lebih bersifat Indonesia. Kemampuan untuk menyerap berbagai gagasan dari Barat dan mengungkapkannya kembali dalam bahasa Indonesia.dan tan. Dengan alat-alat ketatabahasaan di atas diharapkan bahwa bahasa Indonesia menjadi lebih luwes dalam menyatakan kembali berbagai konsep dalam berbagai bidang ilmu yang berasal dari Barat. seperti pada: tunadaksa.Awalan nir. or seperti pada koruptor. novelis. musikus. yang jamaknya ditandai dengan akhiran –si. Kembali kepada sarana morfologi untuk menyatakan pengertian ‘negatif’ seperti yang dikemukakan pada awal subbab ini. misalnya industriawan. Kadang ada kecenderungan untuk menambahkan vokal a pada kata yang berakhir dengan vokal i. ilmuwan. tan-. teknisi. Dalam bahasa Indonesia ada awalan pe. tunagrahita. non-Islam dan sebagainya. akademisi. Akhiran-akhiran –is seperti pada linguis. Awalan non. kritisi. linguis menjadi ilmu bahasawan. non-Opec. Dari pengamatan sekilas kelihatan bahwa penggunaan non.masih tetap lebih tinggi kekerapannya daripada awalan dalam bahasa Indonesia sendiri yang diusulkan. Kata-kata asing tidak kita pungut begitu saja. non-Barat.yang tidak berakhir dengan vokal a. tak dan tuna. redaktur.jarang dijumpai. Dari penggalian potensi yang ada pada bahasa Indonesia sendiri disarankan penggunaan awalan nir-. librarian menjadi pustakawan. Begitu juga akhiran –us pada kritikus. politisi. -ir seperti banker. menyatakan pelaku atau orang yang mempunyai pekerjaan atau keahlian dalam bidang tertentu. 10 . -ur seperti pada direktur. teoritisi. non-Jawa. grammarian menjadi tata bahasawan. teoritikus. nonminyak. Beberapa kata asing memang dapat lebih diindonesiakan dengan akhiran –wan. akademikus. non-pribumi. mariner.memang agak produktif. Sementara awalan tuna.

komporisasi. pejudo. pegolf. pengintensifan untuk intensifikasi. sampai-sampai kata-kata dalam bahasa Indonesia sendiri ada yang mendapat akhiran tersebut. kriterium dan criteria. Contohnya: turinisasi. Hal yang sama berlaku untuk beberapa bentukan dengan akhiran –itas dengan konfiks ke–an seperti: objektivitas dengan keobjektifan. petenis. Akhiran –asi atau –isasi sangat produktif. pebowling. unsur dan anasir tidak begitu diperhatikan dalam bahasa Indonesia. sedang variannya yang tidak mengandung sengauan diturunkan dari kata kerja berawalan ber. randuisasi. pengonkretan untuk konkretisasi.tidak dapat bersaing dengan awalan-awalan tersebut di atas. golf. sportivitas dengan kesportifan. agresivitas dengan keagresifan. Memang sesudah terserap dalam bahasa Indonesia kata-kata itu tentu saja tidak perlu tunduk pada kaidah bahasa aslinya. lamtoronisasi.Pembedaan tunggal-jamak seperti pada politikus dan politisi. mengarang – pengarang. Kata-kata bentukan dengan akhiran semacam ini sebenarnya dapat dinyatakan dengan konfiks peng – an misalnya penasionalan untuk nasionalisasi. elastisitas dengan keelastisan. Namun bentukan dengan –sasi atau –isasi tetap produktif dan banyak digunakan dalam bidang ilmu. menjahit – penjahit. Awalan peng. pembaratan untuk westernisasi. dan sebagainya. juga dengan akhiran –wan/-wati. criteria.diturunkan dari kata kerja. tenes. Begitu juga kalau dalam suatu upacara penguburan seorang yang memberikan sambutan mengajak para hadirin berdoa agar arwah almarhumah diberi tempat yang layak di sisi Tuhan. Kata benda berawalan peng. kriteria-kriteria. datum dan data. Kalau politisi. data dan unsur yang lebih banyak dipakai boleh saja untuk menyatakan jamak kata itu diulang menjadi politisi-politisi. Bentuk pirsawan yang diturunkan dari pirsa ‘melihat’ dipandang tidak tepat dan diganti dengan pemirsa. Awalan peng. pesilat. melempar – pelempar. aktualitas dengan keaktualan.diturunkan dari kata kerja berawalan meng-. Adanya bentuk-bentuk pecatur. barangkali diturunkan dari bermain catur. pembabakan untuk periodisasi. pompanisasi. kompleksitas dengan kekompleksan. 11 . data-data atau unsur-unsur.

dan peng–an perlu diamati apakah kata dasar yang berupa kata serapan itu diperlakukan sama atau berbeda dengan kata-kata yang lebih asli. Proses pembentukan itu ada tiga macam. dan geseran apiko-alveolar /s/ jika mendapat awalan meng.juga belum diterima dan dipergunakan oleh para penutur./k/. D. peng. Ada pelayanan pascajual dan pelayanan purnajual. pengulangan. Kata-kata serapan. Semacam awalan bak.tidak hanya menyatakan pengertian ‘selesai’ atau ‘sesudah’.dan lirmempunyai arti yang sama dan rupanya sengaja ditawarkan mana yang dipilih diantara dua bentuk itu. Kata-kata yang diawali oleh konsonan hambatan tak bersuara /p/. baik. 12 . yaitu pengimbuhan. Juga mengingat bahwa unsur-unsur serapan itu ada yang diawali dengan gugus konsonan. tolong menjadi menolong dan penolong.kedua awalan itu kadang dikacaukan. contohnya: pukul menjadi memukul dan pemukul. dan ‘arwah’.adalah lawannya pra-. atau berhasil’.fonem tersebut hilang atau luluh. Pasca. dan pemajemukan. Pembentukan Lebih Lanjut Yang dimaksud pembentukan lebih lanjut ialah pembentukan kata turunan melalui proses morfologi bahasa Indonesia dengan kata-kata serapan sebagai bentuk dasarnya.dan lawannya su. karang menjadi mengarang dan pengarang. Dalam kaitannya dengan unsur serapan.dan purna. meskipun cakupan maknanya tidak seluas –eks. Awalan dur. Dalam kaitannya dengan penambahan awalan meng-. dalam beberapa pemakaian dapat menggantikan kata tersebut. sebagai warga kosakata bahasa Indonesia. karena dalam pengulangan dan pemajemukan tidak ada yang perlu dibicarakan./t/. purna. Begitu juga waktu dibicarakan pengulangan kata ‘data’ ‘ politisi’. juga dapat mengalami proses pembentukan sebagaimana warga kosakata yang lain. Mengenai pasca. Yang betul ialah pascajual.Kata mantan.atau peng. Pembicaraan mengenai pembentukan lebih lanjut sebenarnya sudah dimulai ketika dibicarakan konfiks peng–an dan ke-an dengan unsure serapan sebagai kata dasarnya. melainkan juga ‘penuh. Purnakaryawan ialah karyawan yang sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik sampai pensiun. pembicaraan hanya menyangkut pengimbuhan.

peneroran atau penteroran. parker. Kata-kata serapan yang diawali dengan konsonan hambatan apiko – dental tak bersuara /t/ contohnya: target. untuk kata-kata yang belum dikenal. Soal keberterimaan itu rupanya ditentukan oleh tingkat keasingan (atau keindonesiaan) kata serapan tersebut. dan bagaimana jika fonem-fonem awal tersebut membentuk satu gugus dengan fonem-fonem yang lain. melainkan juga diberi tanda hubung untuk mempertegas batas antara kata dasar dengan unsur-unsur pembentukannya. Agar dapat dibentuk sesuai dengan kaidah morfofonemik yang berlaku. dan penelponan. Oleh karena itu. seperti contoh di atas yaitu men-tekel dan pen-tekel-an. dan menelpon. Yang sudah disesuaikan menjadi /p/ mengalami penghilangan atau luluh. penargetan atau pentargetan. Jika mendapat awalan mengdan peng. meneror atau menteror. menerjemahkan. pemaketan. bukan saja konsonan awalnya tidak mengalami peluluhan.menjadi menargetkan atau mentargetkan. yang berterima ialah men-tekel dan pen-tekel-an.atau peng – an. Apabila dibentuk dengan awalan meng. Kata-kata serapan yang diawali dengan konsonan hambatan bilabial tak bersuara /p/ contohnya: paket. pemotretan.susun menjadi menyusun dan penyusun. dan memiketi. pemarkiran. meneror dan peneroran agaknya masih belum berterima. Perlu dipertanyakan apakah hal yang sama juga dialami oleh kata-kata serapan. kata-kata tersebut menjadi memaketkan. potret. pemiketan. terjemah. telpon. Jadi kata-kata serapan tersebut diperlakukan sama dengan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang lain. Kata ‘tekel’ (dari tackle) tidak berterima jika dibentuk menjadi menekel dan penekelan. piket. sedang apabila tetap /f/ mendapat 13 . memarkir. teror. penerjemahan. memotret. Konsonan geseran labio-dental tak bersuara /f/ dulu disesuaikan dengan system fonologi bahasa Indonesia menjadi /p/. Bentukan menargetkan dan penargetan. Kata yang belum begitu dikenal apabila mengalami proses morfofonemis menyebabkan orang sulit mengenal kata dasar dari suatu bentukan. kata asing yang kemudian menjadi kata dasar itu harus sudah dikenal dengan baik. Jika dibentuk dengan peng – an menjadi.

kontak. pemroduksian. mengeker dan pengekeran. mensistematiskan dan pensistematisan./p/ tidak luluh menjadi: memprotes. memprihatinkan. /kl/. Tetapi /k/ itu lebur apabila mendapat awalan peng. menyetop dan penyetopan. kredit. kreatif konsonan /k/-nya tidak hilang bila mendapat awalan mengmenjadi: mengkritik. yaitu /m/. maupun konfiks peng-an. Tetapi apabila mendapat konfiks peng-an /p/-nya luluh menjadi: pemrotesan. memprogram. konsonan yang awalnya tidak pernah mengalami peleburan. Konsonan hambatan dorso-velar tak bersuara /k/ yang mengalami kata-kata katrol. menyekrup dan penyekrupan. konsep. Contohnya: pikir menjadi memikirkan dan pemikiran. dan praktik. contohnya pada kata “sinkrun” dan “sistematis”. mengonsep dan pengonsepan. baik dalam pembentukan dengan awalan meng-. sekrup. fitnah menjadi memfitnah dan pemfitnahan. /kr/. contohnya: 14 . dan /st/? kata-kata serapan yang diawali dengan gugus /kr/ contohnya: kritik. /sk/. setop. jika mendapat awalan meng.dan peng-an menjadi mensinkrunkan dan pensinkrunan. /st/. dan mempraktikkan. kristal.sengauan yang homorgan. Seperti halnya pada unsur serapan yang lain.atau konfiks peng-an seperti terlihat pada: mengatrol dan pengatrolan. /pl/. mengkristal dan mengkreatifkan. memproduksi. mengkristal. dan pemraktikan. dan keker luluh apabila mendapat awalan meng. menyetor dan penyetoran. Kata-kata serapan yang diawali dengan fonem geseran apiko-dental tak bersuara /s/ ada yang mengalami peluluhan ada yang tidak. Kata-kata tersebut contohnya: sample. pemrograman. jika mendapat awalan meng. /sp/. produksi. Ini bukan perlakuan yang istimewa untuk unsur-unsur serapkan sebab hal yang demikian itu kita lihat juga pada bentukan memperkirakan. Kata-kata serapan yang diawali dengan gugus konsonan /tr/. program.dan pengan kata-kata tersebut menjadi menyampel dan penyampelan. setor. mengontak dan pengontakan. Bagaimana dengan kata serapan yang diawali gugus konsonan /tr/. pengristalan dan pengreditan dan pengredit. Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan /pr/ seperti pada protes. peng-. Jika mendapat awalan meng. kata-kata yang masih terasa asing mendapat perlakuan yang berbeda.atau peng-an menjadi: pengritikan dan pengritik.

memplester. Pada pengulangan dengan awalan konsonan awal pada suku ulangannya juga tidak luluh. Keduanya mempunyai komponen makna yang sama. penskalaan. Kata perempuan yang mempunyai komponen makna manusia dewasa berkelamin perempuan adalah sinonim dengan kata wanita. Dalam hal ini para ahli semantik telah mengklasifikasikan perhubungan makna itu ke dalam berbagai kategori. penstabilan. pemplesteran. Kata perempuan merupakan kata yang metral. pengklipingan. sudah tentu konsonan pertamanya tidak pernah lebur apabila mendapat awalan meng. Kata-kata serapan yang diawali oleh gugus konsonan yang terjadi atas tiga fonem dan fonem yang pertama berupa hambatan atau geseran tak bersuara. mensponsori. Kata-kata serapan itu tentu saja juga dapat mengalami proses pengulangan seperti pada: traktor-traktor. pensponsor. penskala. dan wanita terasa ada implikasi penghargaan pengucapannya. pentraktir.mentraktir. mengkritik-kritik. penstabil. 15 . contohnya: mempraktis-praktisan. Sinonimi Dua buah kata yang mempunyai kemiripan makna diantaranya disebut dua kata yang sinonim. mengkliping. seperti sinonimi. kalau ada.atau peng-. hiponimi. pensponsoran. Hal ini mengakibatkan adanya berbagai perhubungan yang memperlihatkan kesamaan. Berikut akan dijelaskan beberapa kategori yang penting dalam pembahasan semantik. pemplester. pertentangan. E. a. computer-komputer dan sebagainya. menstabilkan. Perhubungan antarmakna Kata-kata biasanya mengandung komponen makna yang kompleks. menstabil-stabilkan. dan sebagainya. polisemi. antonimi dan sebagainya. menskalakan. pengkliping. Kata-kata serapan tidak dapat mengalami perulangan sebagian yang berupa dwipurwa atau dwiwasana. Sekalipun kata perempuan dan wanita sulit dibedakan artinya namun di dalamnya ternyata ada unsur emotif yang membedakannya. tumpang tindih.

antonimi. bertalian dengan kesamaan-kesamaan. Hiponimi Dekat dengan perhubungan yang disebut sinonimi adalah perhubungan yang disebut hiponimi. Jadi merah. Kata seperti pukul dapat menyiratkan makna (1) jam seperti terdapat dalam pukul tiga. Bila sebuah kata memiliki semua komponen makna kata lainnya.b. maka perhubungan itu disebut hiponimi. Homonimi dan Polisemi Bila terdapat dua buah makna atau lebih yang dinyatakan dengan sebuah bentuk yang sama. sebaliknya. yaitu pendekatan semantik yang mecoba melakukan klasifikasi makna berdasarkan persamaan arti atau bidang makna yang sama dikumpulkan dalam satu kelompok c. dipakai untuk menyebut makna yang berlawanan. Kata warna meliputi semua warna lain. polisemi. Bentuk-bentuk seperti laki-laki dan hidup. homonimi. oleh sebab itu dianggap dua kata yang dua kata yang kebetulan bunyi sama atau sama nama. dan dapat menyiratkan makna (2) kegiatan memukul. Dan kata-kata yang berlawanan makna itu disebut mempunyai perhubungan yang bersifat antonimi. d. 16 . masing-masing berantonim dengan perempuan dan mati . Antonimi Perhubungan makna yang terdapat antara sinonimi. hijau adalah hiponim dari kata warna. tetapi tidak sebaliknya. Kata bisa (1) dan bisa (2) mengandung makna yang sama sekali berbeda. hitam. dan oleh karena itu disebut kata yang mempunyai banyak makna. atau polisemi. maka perhubungan makna dan bentuk itu disebut homonimi (sama nama atau juga yang sering disebut homofini (sama bunyi). hiponimi. Tetapi kata pukul mempunyai dua makna yang saling berhubungan. Hiponimi kemudian menjadi dasar pendekatan yang disebut dengan semantic field atau semantic domain. Kata yang mempunyai banyak makna disebut polisemi. Hiponimi menyatakan hubungan makna yang mengandung pengertian hubungan hierarkis.