PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang : a. bahwa kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik terutama Ruang Terbuka Hijau (RTH) saat ini mengalami penurunan yang sangat signifikan dan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan hidup perkotaan yang berdampak keberbagai sendi kehidupan perkotaan antara lain sering terjadinya banjir, peningkatan pencemaran udara, dan menurunnya produktivitas masyarakat akibat terbatasnya ruang yang tersedia untuk interaksi sosial; b. bahwa Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang memberikan landasan untuk pengaturan ruang terbuka hijau dalam rangka mewujudkan ruang kawasan perkotaan yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan; c. bahwa dalam rangka implementasi Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang diperlukan adanya Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu ditetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);

3. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara RI; 4. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara RI; 5. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu; 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN.

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Menteri adalah Menteri Pekerjaan Umum. Pasal 2 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan dimaksudkan untuk: a. menyediakan acuan yang memudahkan pemangku kepentingan baik pemerintah kota, perencana maupun pihak-pihak terkait, dalam perencanaan, perancangan, pembangunan, dan pengelolaan ruang terbuka hijau. memberikan panduan praktis bagi pemangku kepentingan ruang terbuka hijau dalam penyusunan rencana dan rancangan pembangunan dan pengelolaan ruang terbuka hijau. memberikan bahan kampanye publik mengenai arti pentingnya ruang terbuka hijau bagi kehidupan masyarakat perkotaan. memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat dan pihak-pihak terkait tentang perlunya ruang terbuka hijau sebagai pembentuk ruang yang nyaman untuk beraktivitas dan bertempat tinggal.

2.

3.

b.

c. d.

Pasal 3 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan bertujuan untuk: a. b. menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air; menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat; meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih. Pasal 4 (1) Ruang lingkup Peraturan Menteri memuat: a. b. c. (2) ketentuan umum, yang terdiri dari tujuan, fungsi, manfaat, dan tipologi ruang terbuka hijau; ketentuan teknis yang meliputi penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan; prosedur perencanaan dan peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau.

c.

Materi muatan tentang pengaturan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimuat secara lengkap dalam lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 5

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Peraturan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk diketahui dan dilaksanakan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 26 Mei 2008 MENTERI PEKERJAAN UMUM,

DJOKO KIRMANTO

LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TANGGAL : 26 Mei 2008 PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN .

........2............................ 2....................2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota.................................................... ...................... 2..................... Ketentuan Penanaman........................... Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan..................... BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 2.............. RTH Fungsi Tertentu.4............................................... 2...................... 3.. . 2........1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan......................................3.........................................8.........6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu..DAFTAR ISI Daftar Isi...................1 Pada Bangunan/Perumahan...................................4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman................................................................... Arahan Penyediaan RTH.......4 Penghargaan dan Kompensasi................................ Kedudukan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah........4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau.........................2...............................................................3 Lembaga/Badan Hukum.........1....... Acuan Normatif.................2 Peran Swasta................ Fungsi RTH........... Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan..... BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 3........2.................................................................................................................. 2.......... 2...................................................... Kriteria Vegetasi RTH............... Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan..................... Prakata....... 1......................................................................................................2............................3............................ 2.. Manfaat RTH...............................2.... 2. 2.................4........................ Peran Masyarakat............... 4........5.........................6....................... 1......... 1............2.............................. 3........ 4........................... 4.........................3.........4.................................................................... 3..... Daftar Tabel...............................4...................................... 4.....................................................2.......................................................................5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan..........1............................................................... 2. 2...............1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam...... 2................................................. ..... Ruang Lingkup Pedoman.................... Tujuan Penyelenggaraan RTH..3..........................4................................................... Prosedur Perencanaan............ 2................................................................................................. 2..............................................................................2..........2... Istilah dan Definisi.............. i i iii iv v 1 1 1 1 3 5 5 6 6 9 9 10 10 12 14 31 31 32 33 34 36 38 43 43 43 44 45 47 47 47 52 55 59 59 59 61 61 62 62 .........3......... 2............................ Tipologi RTH....... 2.................... .... BAB I KETENTUAN UMUM 1.3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota......................2...................................2......... ............................................................................................................ 1............................1..........................4....3.......................................................... 1.....................................3 Kota/Perkotaan...1.......................................... Daftar Gambar............... ................................2 Penanaman.................................... BAB IV PROSEDUR PERENCANAAN DAN PERAN MASYARAKAT 4.........3...........................................................1 Peran Individu/Kelompok...........3.3.................7.................................... Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman..................................................4....2 Pada Lingkungan/Permukiman.............................................................................................................................. 1......3 Pemeliharaan Tanaman................................... 4............................... 1............................

..........................Lampiran A Lampiran B Lampiran C Lampiran D Bagan Proporsi RTH Wilayah Perkotaan.................................................................. Pilihan Vegetasi untuk Dikembangkan di RTH.......................................... L-1 L-2 L-5 L-9 Bibliografi.. L-11 ii ....................................................................................................................................................................... Contoh Perhitungan Hutan Kota............... Gambar Contoh RTH Taman..............

...............1 1................................. Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan....... Contoh Vegetasi untuk Pemakaman............4 3........................................ 5 7 8 9 22 25 26 32 33 33 34 37 37 38 39 40 43 50 51 53 54 57 L-6 L-6 L-7 L-7 L-8 iii ... Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api....... Kemampuan Hutan dalam Mengendalikan Gelombang Pendek dan Gelombang Panjang.................................4 Tabel C............... Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan...................................8 2..3 C.....2 C............7 2............DAFTAR TABEL Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 1........................................ Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota......... Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api.2 3...................10 2................1 C....5 2...... Kebutuhan Oksigen Manusia di Kota Bandung Tahun 2004................................................... Bandung............................................................................................... Contoh Tanaman untuk Di Bawah Jalan Layang.................... Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor..1 3........ Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki...... Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Hutan Kota....................9 2.......1 2.5 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH. Contoh Tanaman untuk Sabuk Hijau yang Tahan Terhadap Penggenangan Air.................................................................4 2.. RTH Sempadan Danau dan Mata Air...... Kebutuhan RTH di Kota Bandung Tahun 2004 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen.......................................2 2......................................... Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET............................ Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan......14 3.................3 3.................. Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan.....13 2............ Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk..2 1......6 2...................... Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai.. Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET........ Kebutuhan Oksigen Menurut Klasifikasi Jenis Kendaraan Bermotor.......................................................................................................12 2........................3 2......................... Kepemilikan RTH........................................ Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor di Wilayah Bojonagara......................................3 2.........................................5 C.. Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota..............................................................................................11 2..... Contoh Tanaman untuk Roof Garden.....

....6 3...2 3..............................5 2.............15 2........................12 2............ Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang.......................................10 2............................ Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan............3 B........... Jalur Tanaman pada Median Penahan Silau Lampu Kendaraan....1 2.........14 2................................ Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara............................................... Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT) ..............................................................................……………………………... Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH Di Bawah Jalan Layang............... Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif)............7 4..................................................................................1 B.............................................. Contoh Taman Kota......2 2.......2 2.......3 3.......... Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin.. Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden..........5 3................................DAFTAR GAMBAR Gambar 1....................................1 B............................... Contoh Taman Rukun Kecamatan........4 B............. Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki. Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT).........................16 3............ Tipologi RTH..............................................................................................9 2..................................1 3..........2 B.............. Contoh Taman Rukun Kelurahan.......... Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT) ................................7 2.................................... 4 7 12 15 15 17 18 19 19 20 21 21 23 24 25 29 30 31 48 48 49 50 51 52 53 60 L-2 L-2 L-3 L-3 L-4 L-4 iv .............. Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan.................1 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 1..........4 3................ Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak........................... Pelibatan Masyarakat pada Pemanfaatan Dan Pengendalian....................6 Kedudukan Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam RTR Kawasan Perkotaan..................................................................................13 2...........6 2..... Contoh Taman Kecamatan.......... Contoh Taman Rukun Warga........................................8 2.............. Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT)...11 2..........3 2......................................... Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai..................................................... Pola Tanam Hutan Kota Strata 2......................... Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif)..5 B......... Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman........... Contoh Taman Rukun Warga.... .. Contoh Taman Rukun Kelurahan.............................4 2....... Jalur Tanaman Tepi Pembatas Pandang...................... Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air....... Jalur Tanaman Tepi Peneduh.

kriteria vegetasi untuk RTH. v . pemanfaatan RTH. Pedoman ini dipersiapkan oleh Panitia Teknik Standardisasi Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil melalui Gugus Kerja Perencanaan Sub Panitia Teknis Tata Ruang. Proses penyusunan pedoman ini telah melibatkan berbagai kalangan masyarakat termasuk para akademisi dari perguruan tinggi terkemuka. Departemen Pekerjaan Umum dan merupakan salah satu rujukan teknis Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten serta seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) terutama para praktisi dan para akademisi di berbagai kegiatan yang dalam tugas dan kegiatannya berkaitan dengan penyediaan dan pemanfaatan RTH di kawasan perkotaan. ketentuan penanaman dan pemeliharaan tanaman. prosedur perencanaan dan peran masyarakat yang semuanya merupakan pedoman teknis yang berlaku secara nasional. Pedoman ini berisi rujukan untuk penyediaan RTH.PRAKATA Buku pedoman ini disusun oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang.

c. b. istilah dan definisi.3. Keputusan Presiden RI No. tentang Bangunan Gedung Undang-Undang RI No. as rel kereta api. meliputi: a). tepi situ/rawa. tentang Peraturan Pelaksanaan Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum f. prosedur perencanaan dan peran masyarakat. tentang Sumber Daya Air Undang-Undang RI No. tepi luar kepala jembatan. Garis sempadan. 2. fungsi tertentu. batu. adalah jalur penempatan tanaman serta elemen lansekap lainnya yang terletak di dalam ruang milik jalan (RUMIJA) maupun di dalam ruang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan a. e. Pedoman ini dilengkapi dengan foto dan gambar contoh beberapa RTH. Ketentuan teknis merupakan pedoman rinci. 32 Tahun1990. b). 63 Tahun 2002. Ruang Lingkup Pedoman Pedoman ini terdiri dari ketentuan umum dan ketentuan teknis serta lampiran-lampiran sebagai pelengkapnya. tentang Hutan Kota Peraturan Pemerintah RI No. kedudukan pedoman penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam rencana tata ruang wilayah. tentang Pengelolaan Kawasan Lindung h. Elemen lansekap yang berupa benda terdiri dari dua unsur yaitu benda hidup dan benda mati. Peraturan Pemerintah RI No. adalah segala sesuatu yang berwujud benda. tepi waduk. penanaman dan pemeliharaan tanaman. sedangkan yang dimaksud dengan benda hidup ialah tanaman. jaringan tenaga listrik. pasir. dan ketentuan penanaman. Elemen lansekap. Istilah dan Definisi 1. tepi mata air. 3. d. tujuan penyelenggaraan RTH. fungsi dan manfaat RTH. tepi saluran. 34 Tahun 2006. warna dan suasana yang merupakan pembentuk lansekap. Jalur hijau. yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang. pada kota/perkotaan. dan kebutuhan fungsi tertentu. 26 Tahun 2007. dan yang dimaksud dengan benda mati adalah tanah. pipa gas. tepi sungai.2. Acuan Normatif Undang-Undang RI No. tentang Jalan g. kriteria vegetasi RTH.1. penyediaan RTH berdasarkan: luas wilayah. 1 . suara. dan tipologi RTH. tentang Penataan Ruang Peraturan Pemerintah RI No. dan elemen-elemen lainnya yang berbentuk padat maupun cair. Tatacara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan 1. adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak. pemanfaatan RTH: pada bangunan/perumahan. 1. jumlah penduduk. acuan normatif. Hutan kota. adalah garis batas luar pengaman untuk mendirikan bangunan dan atau pagar yang ditarik pada jarak tertentu sejajar dengan as jalan. 28 Tahun 2002. 7 Tahun 2004.Ketentuan Umum Bab I BAB I KETENTUAN UMUM 1. 4. kaki tanggul. arahan penyediaan RTH. Ketentuan umum meliputi ruang lingkup pedoman. pada lingkungan/permukiman. baik yang bersifat alamiah maupun buatan manusia. SNI 03-1733-2004. 36 Tahun 2005.

13. adalah kesatuan geografis yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional serta mempunyai fungsi utama tertentu. Lansekap jalan. adalah tumbuhan berkayu dengan percabangan mulai dari pangkal batang dan memiliki lebih dari satu batang utama. adalah pohon yang memiliki ketinggian dewasa 7-12 meter. adalah semua tumbuhan berbatang pokok tunggal berkayu keras. Pohon. tempat tumbuh tanaman. Ruang terbuka hijau privat. adalah wajah dari karakter lahan atau tapak yang terbentuk pada lingkungan jalan. yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. 19. 17. 9. Pohon besar. 18. adalah RTH milik institusi tertentu atau orang perseorangan yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas antara lain berupa kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan. maupun yang terbentuk dari elemen lansekap buatan manusia yang disesuaikan dengan kondisi lahannya. adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur dimana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. adalah semua jenis tumbuhan yang difungsikan sebagai penutup tanah. adalah pohon yang memiliki ketinggian sampai dengan 7 meter. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 2 . 8. adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan gedung dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. yang timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat sesuai dengan hak dan kewajiban dalam penyelenggaraan penataan ruang. 14. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. Lansekap jalan ini mempunyai ciri-ciri khas karena harus disesuaikan dengan persyaratan geometrik jalan dan diperuntukkan terutama bagi kenyamanan pemakai jalan serta diusahakan untuk menciptakan lingkungan jalan yang indah. adalah berbagai kegiatan masyarakat. Koefisien Dasar Bangunan (KDB). baik yang tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Perdu. Kawasan. Peran masyarakat. 16. adalah area memanjang/jalur dan atau mengelompok. adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan. pengawasan jalan (RUWASJA). pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. adalah ruang terbuka di wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam kategori RTH. adalah pohon yang memiliki ketinggian dewasa lebih dari 12 meter. Penutup tanah. Pohon sedang. Sering disebut jalur hijau karena dominasi elemen lansekapnya adalah tanaman yang pada umumnya berwarna hijau. 10. Ruang terbuka. Pohon kecil. 7. adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. baik yang terbentuk dari elemen lansekap alamiah seperti bentuk topografi lahan yang mempunyai panorama yang indah. Ruang terbuka non hijau. berupa lahan yang diperkeras maupun yang berupa badan air. 6. Koefisien Daerah Hijau (KDH). nyaman dan memenuhi fungsi keamanan. 11. 12. Kawasan perkotaan.Ketentuan Umum Bab I 5. Ruang Terbuka Hijau (RTH). Ruang terbuka terdiri atas ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non hijau. 15. 20.

adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif. Tanggul. penataan ruang terdiri atas penataan ruang wilayah nasional. 26. dan rumput. juga dimuat dalam RTR Kawasan Perkotaan yang merupakan rencana rinci tata ruang wilayah Kabupaten. Kedudukan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Penataan ruang merupakan suatu sistem proses perencanaan tata ruang. 27. adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. Vegetasi/tumbuhan. dan pengendalian pemanfaatan ruang. atau RTR Kawasan Strategis Kota. Taman lingkungan. Rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau selain dimuat dalam RTRW Kota. adalah RTH yang memiliki tujuan utama untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu. meliputi pohon. herbaseus. 29. adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif. 23. penataan ruang wilayah provinsi. Tanaman penutup tanah. Ruang terbuka hijau publik.Ketentuan Umum Bab I 21. semak. edukasi atau kegiatan lain pada tingkat kota. 30. Berdasarkan wilayah administrasinya. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 3 . adalah tumbuhan berbatang hijau serta tidak berkayu disebut sebagai 24. perencanaan tata ruang wilayah kota harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau yang luas minimalnya sebesar 30% dari luas wilayah kota. edukasi atau kegiatan lain pada tingkat lingkungan. Perencanaan tata ruang dilakukan untuk menghasilkan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang.4. Taman kota. adalah jenis tanaman penutup permukaan tanah yang bersifat selain mencegah erosi tanah juga dapat menyuburkan tanah yang kekurangan unsur hara. adalah bangunan pengendali sungai yang dibangun dengan persyaratan teknis tertentu untuk melindungi daerah sekitar sungai terhadap limpasan air sungai. pemanfaatan ruang. adalah keseluruhan tetumbuhan dari suatu kawasan baik yang berasal dari kawasan itu atau didatangkan dari luar. Adapun ketentuan lebih lanjut mengenai penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau diatur dalam pedoman ini. Sabuk hijau (greenbelt). 28. Semak. 22. Biasanya merupakan tanaman antara bagi tanah yang kurang subur sebelum penanaman tanaman yang tetap (permanen). adalah kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya. yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan kondisi geografis. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. RDTR Kota. 1. Di dalam Undang-Undang No. Wilayah. 25. Tajuk. perdu. adalah bentuk alami dari struktur percabangan dan diameter tajuk. penataan ruang wilayah kabupaten/kota.

tempat rekreasi dan olahraga masyarakat. area pengembangan keanekaragaman hayati. k. penyediaan RTH yang bersifat privat. melalui pembatasan kepadatan serta kriteria pemanfaatannya. Kedalaman rencana penyediaan dan pemanfaatan RTH pada masing-masing rencana tata ruang tersebut di atas dapat dilihat pada Tabel 1. c. pengamanan sumber daya baik alam. kawasan konservasi untuk kelestarian hidrologis. kawasan pengendalian air larian dengan menyediakan kolam retensi. i. dimaksudkan untuk menjamin tersedianya ruang yang cukup bagi: a. g. f. e.Ketentuan Umum Bab I Gambar 1. j. area mitigasi/evakuasi bencana. b. h. buatan maupun historis. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 4 . dan ruang penempatan pertandaan (signage) sesuai dengan peraturan perundangan dan tidak mengganggu fungsi utama RTH tersebut. area penciptaan iklim mikro dan pereduksi polutan di kawasan perkotaan. pembatas perkembangan kota ke arah yang tidak diharapkan. tempat pemakaman umum.1. d.1 Kedudukan Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam RTR Kawasan Perkotaan Penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam RTRW Kota/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan.

ƒ penyerap air hujan. Alternatif vegetasi pengisi ruang khususnya arahan vegetasi dalam kelompok-kelompok besar. lokasi. Penetapan jenis dan lokasi RTH yang akan disediakan. Ketentuan tentang peraturan zonasi. hingga konsep-konsep rencana RTH sebagai arahan untuk pengembangan disain selanjutnya. alternatif vegetasi pengisi ruang khususnya arahan vegetasi dalam kelompok-kelompok besar. Tipologi masing-masing RTH. Arahan elemen pelengkap pada RTH. c.5.1 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH Jenis Rencana Tata Ruang Rencana Tata Ruang Wilayah 1) 2) Kota (Rencana Umum) 3) 4) 5) Kedalaman Muatan Luas minimum yang harus dipenuhi. nyaman. arahan elemen pelengkap pada RTH. segar. ƒ pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung lancar. Meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman. Menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air. RDTRK/RTR Kawasan 1) Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan 2) (Rencana Rinci) 3) 4) 5) 6) 1. b.6. Fungsi utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis: ƒ memberi jaminan pengadaan RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota). Fungsi RTH RTH memiliki fungsi sebagai berikut: a. indah. ƒ sebagai peneduh. Ketentuan pemanfaatan RTH secara umum. Tahap-tahap implementasi penyediaan RTH. Menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat. dan luas dengan skala yang lebih detail/besar. ƒ produsen oksigen. Rencana penyediaan RTH yang dirinci berdasarkan jenis/tipologi RTH. 1. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 5 .Ketentuan Umum Bab I Tabel 1. Indikasi program mewujudkan penyediaan RTH pada masing-masing kawasan/bagian wilayah kota. Tujuan Penyelenggaraan RTH Tujuan penyelenggaraan RTH adalah: a. dan bersih. Konsep-konsep rencana RTH sebagai arahan untuk pengembangan disain selanjutnya.

Dalam suatu wilayah perkotaan.merupakan media komunikasi warga kota. 1. Fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu: ƒ Fungsi sosial dan budaya: . Tipologi RTH Pembagian jenis-jenis RTH yang ada sesuai dengan tipologi RTH sebagaimana Gambar 1.2 berikut: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 6 .wadah dan objek pendidikan. . . . seperti tanaman bunga. segar.7. . ƒ penahan angin. kehutanan dan lainlain. Manfaat langsung (dalam pengertian cepat dan bersifat tangible). empat fungsi utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan. buah). daun.menggambarkan ekspresi budaya lokal. sayur mayur. maupun makro: lansekap kota secara keseluruhan. yaitu pembersih udara yang sangat efektif. kepentingan. Manfaat tidak langsung (berjangka panjang dan bersifat intangible). .sumber produk yang bisa dijual.pembentuk faktor keindahan arsitektural. serta.bisa menjadi bagian dari usaha pertanian. b. keseimbangan ekologi dan konservasi hayati. ƒ Fungsi ekonomi: . yaitu membentuk keindahan dan kenyamanan (teduh. .meningkatkan kenyamanan. buah. ƒ penyerap polutan media udara.menciptakan suasana serasi dan seimbang antara area terbangun dan tidak terbangun. air dan tanah.Ketentuan Umum Bab I ƒ penyedia habitat satwa. lingkungan permukimam.tempat rekreasi. sejuk) dan mendapatkan bahan-bahan untuk dijual (kayu. penelitian. memperindah lingkungan kota baik dari skala mikro: halaman rumah. pemeliharaan akan kelangsungan persediaan air tanah. 1. pelestarian fungsi lingkungan beserta segala isi flora dan fauna yang ada (konservasi hayati atau keanekaragaman hayati). daun. .menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota.8. ƒ Fungsi estetika: . Manfaat RTH Manfaat RTH berdasarkan fungsinya dibagi atas: a. dan keberlanjutan kota seperti perlindungan tata air. dan pelatihan dalam mempelajari alam. bunga. perkebunan. b.

tersebar). pemakaman atau jalur-jaur hijau jalan. Taman RW c. Ruang dibawah jalan layang RTH Publik RTH Privat V V V V V V V V V V V V V V V V V dan tempat 2.Ketentuan Umum Bab I Fisik Fungsi Ekologis Struktur Kepemilikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) RTH Alami Sosial Budaya Estetika Pola Ekologis RTH Publik RTH Non Alami Ekonomi Pola Planologis RTH Privat Gambar 1. Dari segi kepemilikan. Taman RT b. 3. RTH dapat mengikuti pola ekologis (mengelompok. sosial budaya. dan ekonomi. Taman kecamatan e. kawasan lindung dan taman-taman nasional serta RTH non alami atau binaan seperti taman. Taman kota f. Pembagian jenis-jenis RTH publik dan RTH privat adalah sebagaimana tabel 1. Halaman perkantoran. Secara struktur ruang.2 berikut. pertokoan. usaha c.2 Tipologi RTH Secara fisik RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami berupa habitat liar alami. Tabel 1.2 Kepemilikan RTH No. 1. maupun pola planologis yang mengikuti hirarki dan struktur ruang perkotaan. V V Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 7 . Dilihat dari fungsi RTH dapat berfungsi ekologis. memanjang. Jalur pejalan kaki c. Pulau jalan dan median jalan b. RTH dibedakan ke dalam RTH publik dan RTH privat. Sabuk hijau (green belt) RTH Jalur Hijau Jalan a. Hutan kota g. estetika. Pekarangan rumah tinggal b. lapangan olahraga. Jenis RTH Pekarangan a. Taman atap bangunan RTH Taman dan Hutan Kota a. Taman kelurahan d.

Jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi c. RTH pengamanan sumber air baku/mata air f. Jenis RTH Fungsi Tertentu a. Khusus untuk RTH dengan fungsi sosial seperti tempat istirahat. Baik RTH publik maupun privat memiliki beberapa fungsi utama seperti fungsi ekologis serta fungsi tambahan. estetika/arsitektural. yaitu sosial budaya. maka RTH ini harus memiliki aksesibilitas yang baik untuk semua orang.3 Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan Tipologi Kawasan Perkotaan Pantai Karakteristik RTH Fungsi Utama Penerapan Kebutuhan RTH pengamanan wilayah pantai sosial budaya mitigasi bencana konservasi tanah konservasi air keanekaragaman hayati mitigasi/evakuasi bencana dasar perencanaan kawasan sosial ekologis sosial hidrologis ƒ berdasarkan luas wilayah ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan luas wilayah ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan jumlah penduduk ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan jumlah penduduk ƒ ƒ ƒ Pegunungan ƒ ƒ ƒ Rawan Bencana ƒ Berpenduduk ƒ jarang s. ekonomi. RTH sempadan pantai e. termasuk aksesibilitas bagi penyandang cacat. sarana olahraga dan atau area bermain.d. RTH sempadan sungai d. Berikut ini tabel arahan karakteristik RTH di perkotaan untuk berbagai tipologi kawasan perkotaan: Tabel 1.Ketentuan Umum Bab I No. Karakteristik RTH disesuaikan dengan tipologi kawasannya. 4. ƒ sedang ƒ Berpenduduk ƒ padat ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 8 . Pemakaman RTH Publik V V V V V V RTH Privat Catatan: taman lingkungan yang merupakan RTH privat adalah taman lingkungan yang dimiliki oleh orang perseorangan/masyarakat/swasta yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas. RTH sempadan rel kereta api b.

3 0.0 0.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 2. b.250 9. Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk Untuk menentukan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk. ƒ apabila luas RTH baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah memiliki total luas lebih besar dari peraturan atau perundangan yang berlaku. serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota.000 disesuaikan Luas minimal/ kapita (m2) 1. dilakukan dengan mengalikan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan standar luas RTH per kapita sesuai peraturan yang berlaku.1 Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk No 1 2 3 Unit Lingkungan 250 jiwa 2500 jiwa 30.000 24.2 1.5 0.000 jiwa Tipe RTH Taman RT Taman RW Taman Kelurahan Taman kecamatan Pemakaman Luas minimal/ unit (m2) 250 1. Penyediaan RTH Berdasarkan Luas Wilayah Penyediaan RTH berdasarkan luas wilayah di perkotaan adalah sebagai berikut: ƒ ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH privat. Target luas sebesar 30% dari luas wilayah kota dapat dicapai secara bertahap melalui pengalokasian lahan perkotaan secara tipikal sebagaimana ditunjukkan pada lampiran A. maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya. ƒ proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari ruang terbuka hijau privat.000 jiwa 120.1.2 Lokasi di tengah lingkungan RT di pusat kegiatan RW dikelompokan dengan sekolah/ pusat kelurahan dikelompokan dengan sekolah/ pusat kecamatan tersebar 4 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 9 . Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan a. maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat. Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota. Tabel 2. baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat.

RTH Pekarangan Pekarangan adalah lahan di luar bangunan. pengaman pejalan kaki atau membatasi perkembangan penggunaan lahan agar fungsi utamanya tidak teganggu. jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi. Untuk memudahkan di dalam pengklasifikasian pekarangan maka ditentukan kategori pekarangan sebagai: a. ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat.1 Pada Bangunan/Perumahan a. RTH sempadan pantai. jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 3 (tiga) pohon pelindung ditambah dengan perdu dan semak serta penutup tanah dan atau rumput.000 jiwa Hutan kota untuk fungsi-fungsi tertentu c. RTH kawasan perlindungan setempat berupa RTH sempadan sungai.2.1. Luas pekarangan disesuaikan dengan ketentuan koefisien dasar bangunan (KDB) di kawasan perkotaan. RTH kategori ini meliputi: jalur hijau sempadan rel kereta api.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No Unit Lingkungan Tipe RTH Taman kota Luas minimal/ unit (m2) 144. sarana dan prasarana misalnya melindungi kelestarian sumber daya alam.2.0 12. Penyediaan RTH Berdasarkan Kebutuhan Fungsi Tertentu Fungsi RTH pada kategori ini adalah untuk perlindungan atau pengamanan.3 4. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 10 . Pekarangan Rumah Besar Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah besar adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) kategori yang termasuk rumah besar adalah rumah dengan luas lahan di atas 500 m2. Arahan Penyediaan RTH 2.5 Lokasi di pusat wilayah/ kota di dalam/ kawasan pinggiran disesuaikan dengan kebutuhan 5 480.000 disesuaikan disesuaikan Luas minimal/ kapita (m2) 0. dan RTH pengamanan sumber air baku/mata air. 2. yang berfungsi untuk berbagai aktivitas. seperti tertuang di dalam PERDA mengenai RTRW di masing-masing kota.

Pekarangan Rumah Kecil Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah kecil adalah sebagai berikut: 1) kategori yang termasuk rumah kecil adalah rumah dengan luas lahan dibawah 200 m2. c. 3) jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 1 (satu) pohon pelindung ditambah tanaman semak dan perdu. dan ditanam pada area diluar KDB yang telah ditentukan.3. dan lain-lain Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 11 . dan Tempat Usaha RTH halaman perkantoran. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB diatas 70%. berlaku seperti persyaratan pada RTH pekarangan rumah. teras rumah. RTH Halaman Perkantoran. Penyediaan RTH pada kawasan ini adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) Untuk dengan tingkat KDB 70%-90% perlu menambahkan tanaman dalam pot. Persyaratan penanaman pohon pada perkantoran. teras-teras bangunan bertingkat dan disamping bangunan. memiliki minimal 2 (dua) pohon kecil atau sedang yang ditanam pada lahan atau pada pot berdiameter diatas 60 cm. RTH dalam Bentuk Taman Atap Bangunan (Roof Garden) Pada kondisi luas lahan terbuka terbatas. pertokoan. seperti atap gedung. serta penutup tanah dan atau rumput. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB dibawah 70%. serta penutup tanah dan atau rumput. a. Keterbatasan luas halaman dengan jalan lingkungan yang sempit. b.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a. 2) ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat. Perkantoran. Pertokoan.2. tidak menutup kemungkinan untuk mewujudkan RTH melalui penanaman dengan menggunakan pot atau media tanam lainnya. Pekarangan Rumah Sedang Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah sedang adalah sebagai berikut: 1) kategori yang termasuk rumah sedang adalah rumah dengan luas lahan antara 200 m2 sampai dengan 500 m2. maka untuk RTH dapat memanfaatkan ruang terbuka non hijau. dan tempat usaha umumnya berupa jalur trotoar dan area parkir terbuka. 3) jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 2 (dua) pohon pelindung ditambah dengan tanaman semak dan perdu. 2) ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat.

media tanam. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 300 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayani. dengan luas minimal 250 m2. khususnya untuk melayani kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. pemilihan material. aspek keselamatan dan keamanan. seperti pot dengan berbagai ukuran sesuai lahan yang tersedia.2. aspek pemeliharaan ƒ peralatan ƒ tanaman Gambar 2.1 Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden Tanaman untuk RTH dalam bentuk taman atap bangunan adalah tanaman yang tidak terlalu besar. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II dengan memakai media tambahan. tahan terhadap hembusan angin serta relatif tidak memerlukan banyak air.80% dari luas taman. Lahan dengan KDB diatas 90% seperti pada kawasan pertokoan di pusat kota. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman. Luas taman ini adalah minimal 1 m2 per penduduk RT. RTH dapat disediakan pada atap bangunan. sistem utilitas bangunan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 12 . 2. lapisan kedap air (waterproofing ). dengan perakaran yang mampu tumbuh dengan baik pada media tanam yang terbatas.2 Pada Lingkungan/Permukiman a. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk dalam lingkup 1 (satu) RT. atau pada kawasan-kawasan dengan kepadatan tinggi dengan lahan yang sangat terbatas. Untuk itu bangunan harus memiliki struktur atap yang secara teknis memungkinkan. Aspek yang harus diperhatikan dalam pembuatan taman atap bangunan adalah: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) struktur bangunan.

sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. Luas taman ini minimal 0. juga terdapat minimal 10 (sepuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. Luas taman ini minimal 0.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II juga terdapat minimal 3 (tiga) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang. dengan luas minimal taman 9. d.90% dari luas taman. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 13 . juga terdapat minimal 25 (duapuluhlima) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman aktif dan minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif. Luas taman ini minimal 0.80% dari luas taman. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% .5 m2 per penduduk RW. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% . sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. RTH Taman Rukun Warga RTH Taman Rukun Warga (RW) dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu RW. RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kelurahan.250 m2.000 m2.30 m2 per penduduk kelurahan.000 m2. dengan luas minimal 1. b. Lokasi taman berada pada wilayah kelurahan yang bersangkutan. kegiatan olahraga masyarakat. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 1000 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya. juga terdapat minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk taman aktif dan minimal 100 (seratus) pohon tahunan dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% . serta kegiatan masyarakat lainnya di lingkungan RW tersebut. c. dengan luas taman minimal 24. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. Lokasi taman berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan.2 m2 per penduduk kecamatan. khususnya kegiatan remaja. RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kecamatan.90% dari luas taman.

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 14 . Menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota. Hutan kota berstrata dua.3 m2 per penduduk kota. d. Berbentuk jalur: hutan kota pada lahan-lahan berbentuk jalur mengikuti bentukan sungai.000 m2. b.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II 2. c. b. dengan luas taman minimal 144. b.3 Kota/Perkotaan a.100% dari luas hutan kota. d. yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga. dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 80% .2. c. juga terdapat semak dan penutup tanah dengan jarak tanam tidak beraturan. b.000 penduduk dengan standar minimal 0.90%. pantai. yaitu memiliki komunitas tumbuhtumbuhan selain terdiri dari pepohonan dan rumput. jalan. Jenis vegetasi yang dipilih berupa pohon tahunan. dan semak ditanam secara berkelompok atau menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan. Menyebar: hutan kota yang tidak mempunyai pola bentuk tertentu. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . Struktur hutan kota dapat terdiri dari: a. Komunitas vegetasi tumbuh menyebar terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau gerombol-gerombol kecil. Hutan kota berstrata banyak. dan Mendukung pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia. Meresapkan air. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau). Bergerombol atau menumpuk: hutan kota dengan komunitas vegetasi terkonsentrasi pada satu areal. yaitu hanya memiliki komunitas tumbuhtumbuhan pepohonan dan rumput. Memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika. saluran dan lain sebagainya. Hutan kota dapat berbentuk: a. RTH Taman Kota RTH Taman kota adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kota atau bagian wilayah kota. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. Hutan Kota Tujuan penyelenggaraan hutan kota adalah sebagai peyangga lingkungan kota yang berfungsi untuk: a. Taman ini melayani minimal 480. Lebar minimal hutan kota berbentuk jalur adalah 30 m. dengan luas minimal 2500 m. dengan jumlah vegetasi minimal 100 pohon dengan jarak tanam rapat tidak beraturan. perdu.

Dalam kaitan kebutuhan air penduduk kota maka luas hutan kota sebagai produsen air dapat dihitung dengan rumus: La = P0 .2 Pola Tanam Hutan Kota Strata 2 Gambar 2. K ( 1 + R – C ) t – PAM .3 Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak Luas ruang hijau yang diisi dengan berbagai jenis vegetasi tahunan minimal seluas 90% dari luas total hutan kota.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2.Pa z dengan: La adalah adalah P0 K adalah R adalah C adalah PAM adalah t adalah Pa adalah z adalah luas hutan kota yang harus dibangun jumlah penduduk konsumsi air/kapita (lt/hari) laju peningkatan pemakaian air faktor pengendali kapasitas suplai air perusahaan tahun potensi air tanah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 15 .

Mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari. Sabuk Hijau Sabuk hijau merupakan RTH yang berfungsi sebagai daerah penyangga dan untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan (batas kota.9375 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0. Mengatasi penggenangan. ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 16 . serta pengamanan dari faktor lingkungan sekitarnya. daerah rendah dengan drainase yang kurang baik sering tergenang air hujan yang dapat mengganggu aktivitas kota serta menjadi sarang nyamuk. yang telah ada sebelumnya (eksisting) dan melalui peraturan yang berketetapan hukum. pemisah kawasan. dipertahankan keberadaannya.9375 )(2) m2 dengan: Lt adalah luas Hutan Kota pada tahun ke t (m2) Pt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t Kt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke Tt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t 54 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Hutan kota dalam kaitan sebagai produsen oksigen dapat dihitung dengan metode Gerakis (1974). perkebunan. dipenuhi pepohonan. Kebun campuran. untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur. Penahan angin. Penapis cahaya silau. Sabuk hijau dapat berbentuk: ƒ RTH yang memanjang mengikuti batas-batas area atau penggunaan lahan tertentu. sebagai berikut: Pt + Kt + Tt Lt = (54 )(0. sehingga berperan sebagai pembatas atau pemisah. yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988). ƒ ƒ Fungsi lingkungan sabuk hijau: ƒ ƒ ƒ ƒ Peredam kebisingan. dan lain-lain) atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu. lebar jalur. 0. Hutan kota. pesawahan.9375 gram 2 adalah jumlah musim di Indonesia c.

yaitu fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya. RTH Jalur Hijau Jalan Untuk jalur hijau jalan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 17 . e) berasal dari perbanyakan biji. g) tidak mudah tumbang. b) percabangan 2 m di atas tanah. Untuk menentukan pemilihan jenis tanaman. Mengamankan pantai dan membentuk daratan. Median atau pulau jalan dapat berupa taman atau non taman. c) bentuk percabangan batang tidak merunduk. RTH dapat disediakan dengan penempatan tanaman antara 20–30% dari ruang milik jalan (rumija) sesuai dengan klas jalan. serta tingkat evapotranspirasi rendah. Mengatasi penggurunan. yang disukai oleh burung-burung.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ ƒ ƒ Mengatasi intrusi air laut. a. d) bermassa daun padat. RTH hijau di dalam kota akan meningkatkan resapan air. perlu memperhatikan 2 (dua) hal. d. Pada jalur tanaman tepi jalan 1) Peneduh a) ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1.4 Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan Pulau Jalan dan Median Jalan Taman pulau jalan adalah RTH yang terbentuk oleh geometris jalan seperti pada persimpangan tiga atau bundaran jalan. sehingga akan meningkatkan jumlah air tanah yang akan menahan perembesan air laut ke daratan. Gambar 2. Sedangkan median berupa jalur pemisah yang membagi jalan menjadi dua lajur atau lebih.5 m dari tepi median). f) ditanam secara berbaris. Penyerap dan penepis bau. Dalam pedoman ini dibahas pulau jalan dan median yang berbentuk taman/RTH. Disarankan agar dipilih jenis tanaman khas daerah setempat.

perdu/semak.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Contoh jenis tanaman: a) Kiara Payung (Filicium decipiens) b) Tanjung (Mimusops elengi) c) Bungur (Lagerstroemia floribunda) Gambar 2.5 Jalur Tanaman Tepi Peneduh 2) Penyerap polusi udara a) b) c) d) terdiri dari pohon. memiliki kegunaan untuk menyerap udara. bermassa daun padat. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) Angsana (Ptherocarphus indicus) Akasia daun besar (Accasia mangium) Oleander (Nerium oleander) Bogenvil (Bougenvillea Sp) Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 18 . jarak tanam rapat.

6 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara 3) Peredam kebisingan a) b) c) d) terdiri dari pohon. perdu/semak.7 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 19 . berbagai bentuk tajuk. membentuk massa. bermassa daun rapat.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) f) Tanjung (Mimusops elengi) Kiara payung (Filicium decipiens) Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Bogenvil (Bogenvillea sp) Oleander (Nerium oleander) Gambar 2.

jarak tanam rapat. perdu/semak. bermassa daun padat. perdu/semak. ditanam berbaris atau membentuk massa.8 Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin 5) Pembatas pandang a) b) c) d) tanaman tinggi. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) Bambu (Bambusa sp) Cemara (Cassuarina equisetifolia) Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Oleander (Nerium oleander) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 20 . Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) Cemara (Cassuarina equisetifolia) Mahoni (Swietania mahagoni) Tanjung (Mimusops elengi) Kiara Payung (Filicium decipiens) Kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis) Gambar 2. jarak tanam rapat < 3 m. ditanam berbaris atau membentuk massa. bermassa daun padat.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II 4) Pemecah angin a) b) c) d) tanaman tinggi.

keting ggian 1.9 Jalur Tanaman Tepi Pem mbatas Pan ndang b.5 m. p Contoh jen nis tanaman n: a) b) c) d) Bogen nvil (Bogenv villea sp) Kemb bang sepatu (Hibiscus rosasinensis r s) Olean nder (Netriu um oleander r) Nusa Indah (Mus ssaenda sp) 2 Jalur Tanaman pada Med dian Penah han Silau Gambar 2. ditana am rapat.10 endaraan Lampu Ke Pedom man Penyediaan dan Pemanfa faatan Ruang Terbuka T Hijau di Kawasan Perkotaan P 21 1 . m berma assa daun padat.Penyediaan P RT TH di Kawasan n Perkotaan Bab II Gambar 2. Pada medi ian Penahan silau s lampu kendaraan a) b) c) d) tanam man perdu/s semak.

8 m . Pada Persimpangan Jalan Beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam penyelesaian lansekap jalan pada persimpangan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II c.Lantana (Lantana camara) . misalnya: .Pangkas Kuning (Duranta sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 22 . Untuk daerah bebas pandang ini ada ketentuan mengenai letak tanaman yang disesuaikan dengan kecepatan kendaraan dan bentuk persimpangannya. antara lain: 1) Daerah bebas pandang di mulut persimpangan Pada mulut persimpangan diperlukan daerah terbuka agar tidak menghalangi pandangan pemakai jalan.2 Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan Jarak dan Jenis Tanaman Letak Tanaman Kecepatan 40 Kecepatan 60 km/jam km/jam 40 m Pada ujung 20 m 1. berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian < 0. Tabel 2. Persimpangan persimpangan Tanaman rendah Tanaman rendah kaki empat tegak Mendekati 80 m 100 m lurus tanpa kanal persimpangan Tanaman tinggi Tanaman tinggi 50 m 2. Sebaiknya digunakan tanaman rendah berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian <0. 02/T/BNKT/1992). (lihat buku "Spesifikasi Perencanaan Lansekap Jalan Pada Persimpangan” No.Tanaman rendah. dan jenisnya merupakan berbunga atau berstruktur indah.Soka berwarna-warni (Ixora stricata) . berbentuk pohon dengan percabangan di atas 2 meter Bentuk Persimpangan 2) Pemilihan jenis tanaman pada persimpangan Penataan lansekap pada persimpangan akan merupakan ciri dari persimpangan itu atau lokasi setempat.Tanaman tinggi. Persimpangan 30 m kaki empat tidak Pada ujung Tanaman rendah Tanaman rendah tegak lurus persimpangan 80 m 80 m Tanaman tinggi Tanaman tinggi Catatan: .80 m. Penempatan dan pemilihan tanaman dan ornamen hiasan harus disesuaikan dengan ketentuan geometrik persimpangan jalan dan harus memenuhi kriteria sebagai berikut: a) Daerah bebas pandang tidak diperkenankan ditanami tanaman yang menghalangi pandangan pengemudi.

Tanjung (Mimosups Elengi) e. sebaiknya digunakan tanaman perdu rendah dengan pertimbangan agar tidak mengganggu penyeberang jalan dan tidak menghalangi pandangan pengemudi kendaraan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2. c) Penggunaan tanaman tinggi berbentuk tanaman pohon sebagai tanaman pengarah.Bungur (Lagerstromea Loudonii) .Khaya (Khaya Sinegalensis) .Pinang jambe (Areca catechu) . RTH Ruang Pejalan Kaki Ruang pejalan kaki adalah ruang yang disediakan bagi pejalan kaki pada kiri-kanan jalan atau di dalam taman.11 Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang b) Bila pada persimpangan terdapat pulau lalu lintas atau kanal yang dimungkinkan untuk ditanami. Ruang pejalan kaki yang dilengkapi dengan RTH harus memenuhi hal-hal sebagai berkut: 1) Kenyamanan.Palem raja (Oreodoxa regia) . misalnya: 1) Tanaman berbatang tunggal seperti jenis palem Contoh: .Lontar (siwalan) (Borassus flabellifer) 2) Tanaman pohon bercabang > 2 m Contoh: . adalah cara mengukur ditawarkan oleh sistem pedestrian yaitu: kualitas fungsional yang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 23 .

Jalur pejalan kaki harus aksesibel untuk semua orang termasuk penyandang cacat. kondisi cuaca. kepadatan penduduk. agar area di bawah tertata rapi. kondisi permukaan jalan dan kondisi iklim. kebiasaan dan gaya hidup. asri. Kriteria pergerakan. kebiasaan dan budaya. tentang Persyaratan Teknis Aksesiblitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan dan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Ruang Pejalan Kaki. meliputi: ƒ Kriteria dimensional. Kemudahan berpindah dari satu arah ke arah lainnya yang dipengaruhi oleh kepadatan pedestrian. 468/KPTS/1998 tanggal 1 Desember 1998. Ruang Terbuka Hijau di Bawah Jalan Layang Penyediaan RTH di bawah jalan layang dalam rangka: a) b) c) sebagai area resapan air. ƒ Gambar 2. menghindari kekumuhan dan lokasi tuna wisma. 24 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . kehadiran penghambat fisik. disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat. Pada umumnya orang tidak mau berjalan lebih dari 400 m. jarak rata-rata orang berjalan di setiap tempat umumnya berbeda dipengaruhi oleh tujuan perjalanan. warisan dan nilai yang dianut terhadap lingkungan. berupa tanda visual (landmark. dan indah. f. marka jalan) pada lansekap untuk membantu dalam menemukan jalan pada konteks lingkungan yang lebih besar.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ Orientasi. 2) Karakter fisik.12 Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki 3) Pedoman teknis lebih rinci untuk jalur pejalan kaki dapat mengacu pada Kepmen PU No.

RTH sempadan danau. g. Gambar 2. Berkaitan dengan hal tersebut perlu dengan tegas menentukan lebar garis sempadan jalan kereta api di kawasan perkotaan.lengkung dalam .1.3 Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api Jalan Rel Kereta Api terletak di: a.lengkung luar Tanaman >11 m >23 m >11 m Obyek Bangunan >20 m >23 m >11 m Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 25 . RTH pengamanan sumber air baku/mata air. g. Jalan rel kereta api belokan/lengkungan . RTH jaringan listrik tegangan tinggi.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II d) e) f) menghindari permukiman liar. memperlembut bagian/struktur bangunan yang berkesan kaku. Tabel 2. RTH Fungsi Tertentu RTH fungsi tertentu adalah jalur hijau antara lain RTH sempadan rel kereta api. Jalan rel kereta api lurus b. mengingat keterbatasan tempat. serta berukuran tidak terlalu besar. RTH sempadan pantai. RTH sempadan sungai. Jalur Hijau (RTH) Sempadan Rel Kereta Api Penyediaan RTH pada garis sempadan jalan rel kereta api merupakan RTH yang memiliki fungsi utama untuk membatasi interaksi antara kegiatan masyarakat dengan jalan rel kereta api. menutupi bagian-bagian struktur jalan yang tidak menarik.13 Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH di Bawah Jalan Layang Pemilihan tanaman seyogianya dari jenis yang tahan ternaungi sepanjang waktu dan relatif tahan kekurangan air.

3 m 0. Garis sempadan jalan perlintasan sebidang antara jalan rel kereta api dengan jalan raya adalah 30 m dari as jalan rel kereta api pada titik perpotongan as jalan rel kereta api dengan as jalan raya dan secara berangsur–angsur menuju pada jarak lebih dari 11 m dari as jalan rel kereta api pada titik 600 m dari titik perpotongan as jalan kereta api dengan as jalan raya.5 m 2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Kriteria garis sempadan jalan kereta api yang dapat digunakan untuk RTH adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) Garis sempadan jalan rel kereta api adalah ditetapkan dari as jalan rel terdekat apabila jalan rel kereta api itu lurus. 3.5 m 1.5 m 2. Ketentuan jarak bebas minimum antara penghantar SUTT dan SUTET dengan tanah dan benda lain ditetapkan sebagai berikut: Tabel 2.5 m 1. diukur dari puncak galian tanah atau atas serongan.3 m 0.3 m 0.5 m 0.5 m 15 m SUTM 2.3 m 0. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di tanah timbunan diukur dari kaki tanggul.3 m 0. f) g) g.5 m 0.5 m 20 m 20 m 0. Lokasi Bangunan beton Pompa bensin Penimbunan bahan bakar Pagar Lapangan terbuka Jalan raya Pepohonan Bangunan tahan api Rel kereta api SUTT 66 KV 150 KV 20 m 20 m 20 m 20 m 50 m 20 m 3m 6.3 m 20 m 20 m Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 26 .5 m 1.5 m 2.5 m 2.5 m 0.5 m 0.3 m 0.2.5 m 20 m 20 m Saluran kabel SKTM SKTR 0.5 m 1.5 m 2. Pelebaran tersebut dimulai dalam jarak 20 m di muka lengkungan untuk selanjutnya menyempit lagi sampai jarak lebih dari 11 m. 1. 7.5 m 1. 6. Dalam peralihan jalan lurus ke jalan lengkung diluar as jalan harus ada jalur tanah yang bebas.5 m 20 m 20 m SUTR 1.5 m 3.5 m 1. Garis sempadan jalan rel kereta api sebagaimana dimaksud pada butir 1) tidak berlaku apabila jalan rel kereta api terletak di tanah galian yang dalamnya 3.5 m 0. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak pada tanah datar diukur dari as jalan rel kereta api.5 m 2.5 m 8. yang secara berangsur–angsur melebar dari jarak lebih dari 11 sampai lebih dari 23 m. 8. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di dalam galian.5 m. 5. Jalur Hijau (RTH) pada Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Ketentuan lebar sempadan jaringan tenaga listrik yang dapat digunakan sebagai RTH adalah sebagai berikut: a) b) Garis sempadan jaringan tenaga listrik adalah 64 m yang ditetapkan dari titik tengah jaringan tenaga listrik. 9. 4.5 m 0.4 Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET No.5 m 8m 20 20 20 20 20 20 m m m m m m SUTET 500 KV 20 m 20 m 50 m 3m 15 m 15 m 8.5 m 8m 3. Garis sempadan jalan rel kereta api pada belokan adalah lebih dari 23 m diukur dari lengkung dalam sampai as jalan. 2.

12. tanggul dapat diperkuat. RTH Sempadan Sungai RTH sempadan sungai adalah jalur hijau yang terletak di bagian kiri dan kanan sungai yang memiliki fungsi utama untuk melindungi sungai tersebut dari berbagai gangguan yang dapat merusak kondisi sungai dan kelestariannya. 13. Garis sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 5 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul.5 m 3m 20 m 20 m 20 m SUTET 500 KV 8. maka lahan yang diperlukan untuk tapak tanggul baru sebagai akibat dilaksanakannya ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) harus dibebaskan. Lokasi Jembatan besi/ tangga besi/ kereta listrik Dari titik tertinggi tiang kapal Lapangan olah raga SUTT lainnya pengahantar udara tegangan rendah.3. Dengan pertimbangan untuk peningkatan fungsinya. Sesuai peraturan yang ada. televisi dan kereta gantung SUTT 66 KV 150 KV 3m 20 m 3m 2.5 m 14 m 8. diperlebar dan ditinggikan yang dapat berakibat bergesernya garis sempadan sungai.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. 10. sungai di perkotaan terdiri dari sungai bertanggul dan sungai tidak bertanggul. jaringan telekomunikasi. a) Sungai bertanggul: 1) 2) 3) 4) Garis sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 3 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. 11.5 m SUTM 20 m 20 m 20 m 20 m SUTR 20 m 20 m 20 m 20 m Saluran kabel SKTM SKTR 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m Keterangan: SUTR SUTM SUTT SUTET SKTR SKTM = = = = = = Saluran Saluran Saluran Saluran Saluran Saluran Udara Tegangan Rendah Udara Tegangan Menengah Udara Tegangan Tinggi Udara Tegangan Ekstra Tinggi Kabel Tegangan Rendah Kabel Tegangan Menengah g. b) Sungai tidak bertanggul: 1) Garis sempadan sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut: 27 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan .5 m 8. Kecuali lahan yang berstatus tanah negara.

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 28 . Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) tidak terpenuhi. penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 50 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. Lebar RTH sempadan pantai minimal 100 m dari batas air pasang tertinggi ke arah darat. Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 m sampai dengan 20 m.100%. RTH sempadan pantai merupakan area pengaman pantai dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan oleh gelombang laut seperti intrusi air laut.4. Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 20 m. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. b) 3) 4) 5) Garis sempadan sebagaimana dimaksud pada butir 1) dan 2) diukur ruas per ruas dari tepi sungai dengan mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan. penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 100 m. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 10 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. 2) Garis sempadan sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut: a) Sungai besar yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas 500 km2 atau lebih. tiupan angin kencang dan gelombang tsunami. abrasi. Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut. dengan ketentuan konstruksi dan penggunaan harus menjamin kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai. Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai kurang dari 500 km2. g. maka segala perbaikan atas kerusakan yang timbul pada sungai dan bangunan sungai menjadi tanggungjawab pengelola jalan. Garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan adalah tepi bahu jalan yang bersangkutan. RTH Sempadan Pantai RTH sempadan pantai memiliki fungsi utama sebagai pembatas pertumbuhan permukiman atau aktivitas lainnya agar tidak menggangu kelestarian pantai. jalur hijau terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurangkurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai. erosi.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a) b) c) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 m.

Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai. Aegiceras sp. Excoecaria spp. Rhizophora spp. danau/waduk. dan Kuku.14 Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai g. Khusus untuk RTH sempadan pantai yang telah mengalami intrusi air laut atau merupakan daerah payau dan asin. Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Fasilitas dan kegiatan yang diijinkan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) b) Tidak bertentangan dengan Keppres No. Bruguiera spp. Asam Landi (Pichelebium dulce) dan Mahoni (Switenia mahagoni ) relatif lebih tahan jika dibandingkan Kesumba. Kiputri. Trengguli. dan Nypa sp. dan mata air. Untuk danau dan waduk. Untuk mata air. RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekitar mata air. c) d) Sonneratia spp. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 29 . 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Beberapa jenis tumbuhan di ekosistem mangrove antara lain: Avicenia spp. RTH Sumber Air Baku/Mata Air RTH sumber air meliputi sungai. Xylocarpus spp.5. termasuk gangguan terhadap kualitas visual. pemilihan vegetasi diutamakan dari daerah setempat yang telah mengalami penyesuaian dengan kondisi tersebut. Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi. Lumnitzera spp. Gambar 2. wildlife habitat dan meredam angin kencang. erosi. melindungi dari ancaman gelombang pasang. Formasi Hutan Mangrove sangat baik sebagai peredam ombak dan dapat membantu proses pengendapan lumpur. Angsana. Tanjung.

pencipta iklim mikro serta tempat hidup burung serta fungsi sosial masyarakat disekitar seperti beristirahat dan sebagai sumber pendapatan. tiap makam tidak diperkenankan dilakukan penembokan/ perkerasan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2.6. ruang hijau pemakaman termasuk pemakaman tanpa perkerasan minimal 70% dari total area pemakaman dengan tingkat liputan vegetasi 80% dari luas ruang hijaunya. RTH Pemakaman Penyediaan ruang terbuka hijau pada areal pemakaman disamping memiliki fungsi utama sebagai tempat penguburan jenasah juga memiliki fungsi ekologis yaitu sebagai daerah resapan air. batas terluar pemakaman berupa pagar tanaman atau kombinasi antara pagar buatan dengan pagar tanaman. tempat pertumbuhan berbagai jenis vegetasi. jarak antar makam satu dengan lainnya minimal 0. maka ketentuan bentuk pemakaman adalah sebagai berikut: a) b) c) d) ukuran makam 1 m x 2 m. batas antar blok pemakaman berupa pedestrian lebar 150-200 cm dengan deretan pohon pelindung disalah satu sisinya. atau dengan pohon pelindung. pemakaman dibagi dalam beberapa blok. luas dan jumlah masing-masing blok disesuaikan dengan kondisi pemakaman setempat.15 Contoh Penanaman Pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air g. e) f) g) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 30 .5 m. Untuk penyediaan RTH pemakaman.

1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan a. Kriteria Vegetasi untuk Taman Atap Bangunan dan Tanaman dalam Pot Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 31 . sistem perakaran masuk ke dalam tanah. dahan tidak mudah patah. tidak merusak konstruksi dan bangunan. perakaran tidak mengganggu pondasi. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang.16 Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman 2. dan Tempat Usaha Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) b. Pekarangan Rumah Sedang. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan Rumah Besar. Pertokoan.3. ketinggian tanaman bervariasi. jenis tanaman tahunan atau musiman.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Pemilihan vegetasi di pemakaman disamping sebagai peneduh juga untuk meningkatkan peran ekologis pemakaman termasuk habitat burung serta keindahan. Halaman Perkantoran. Gambar 2. memiliki nilai estetika yang menonjol. tidak beracun. Pekarangan Rumah Kecil. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. tahan terhadap hama penyakit tanaman.3. Kriteria Vegetasi RTH 2. tidak berduri. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung.

mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. tetapi tidak terlalu gelap. tahan terhadap hama penyakit tanaman. berupa habitat tanaman lokal dan tanaman budidaya. perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan. I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 II 1 2 3 Ground Cover Jenis dan Nama Tanaman Perdu/semak Akalipa merah Nusa Indah merah Daun Mangkokan Bogenvil merah Azalea Soka daun besar Bakung Oleander Palem Kuning Sikas Alamanda Puring Kembang Merak Rumput Gajah Lantana ungu Rumput kawat Nama Latin Keterangan Acalypha wilkesiana Musaenda erytthrophylla Notophanax scutelarium Bougenvillea glabra Rhododendron indicum Ixora javonica Crinum asiaticum Nerium oleander Chrysalidocaus lutescens Cycas revolata Aalamanda cartatica Codiaeum varigatum Caesalphinia pulcherima Axonophus compressus Lantana camara Cynodon dactylon Daun berwarna Berbunga Berdaun unik Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Daun berwarna Bentuk unik Merambat berbunga Daun berwarna Berbunga Tekstur kasar Berbunga Tekstur sedang 2.3. dahan tidak mudah patah. tajuk cukup rindang dan kompak. ketinggian tanaman bervariasi. relatif tahan terhadap kekurangan air. Tabel 2. kecepatan tumbuh sedang.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a) b) c) d) e) tanaman tidak berakar dalam sehingga mampu tumbuh baik dalam pot atau bak tanaman.2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk taman lingkungan dan taman kota adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) tidak beracun. jenis tanaman tahunan atau musiman. mudah dalam pemeliharaan. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung. perakaran tidak mengganggu pondasi. perawakan dan bentuk tajuk cukup indah. jarak tanam setengah rapat sehingga menghasilkan keteduhan yang optimal. tidak berduri. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 32 . warna hijau dengan variasi warna lain seimbang.5 Contoh Tanaman untuk Roof Garden No. tahan dan tumbuh baik pada temperatur lingkungan yang tinggi.

7 Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota No. l) seresah yang dihasilkan cukup banyak dan tidak bersifat alelopati. 1 2 3 Nama Tanaman Kiara Beringin Loa Ficus spp Ficus benyamina Ficus glaberrima Nama Latin Jenis burung/potensi Punai (Treron sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 33 . j) batang tegak kuat. i) batang dan sistem percabangan kuat. c) tajuk cukup rindang dan kompak. h) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri. m) jenis tanaman yang ditanam termasuk golongan evergreen bukan dari golongan tanaman yang menggugurkan daun (decidous). f) berumur panjang.3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) memiliki ketinggian yang bervariasi. Jenis dan Nama Tanaman Nama Latin Keterangan 1 Bunga Kupu-kupu Bauhinia Purpurea Berbunga 2 Sikat botol Calistemon lanceolatus Berbunga 3 Kemboja merah Plumeria rubra Berbunga 4 Kersen Muntingia calabura Berbuah 5 Kendal Cordia sebestena Berbunga 6 Kesumba Bixa orellana Berbunga 7 Jambu batu Psidium guajava Berbuah 8 Bungur Sakura Lagerstroemia loudonii Berbunga 9 Bunga saputangan Amherstia nobilis Berbunga 10 Lengkeng Ephorbia longan Berbuah 11 Bunga Lampion Brownea ariza Berbunga 12 Bungur Lagerstroemea floribunda Berbunga 13 Tanjung Mimosups elengi Berbunga 14 Kenanga Cananga odorata Berbunga 15 Sawo Kecik Manilkara kauki Berbuah 16 Akasia mangium Accacia mangium 17 Jambu air Eugenia aquea Berbuah 18 Kenari Canarium commune Berbuah Catatan: pemilihan tanaman disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim setempat 2.6 Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Taman Kota No. Tabel 2. e) tahan terhadap hama penyakit. agar tumbuhan lain dapat tumbuh baik sebagai penutup tanah. n) memiliki perakaran yang dalam.3. g) toleran terhadap keterbatasan sinar matahari dan air.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Tabel 2. tidak mudah patah. b) sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung. d) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. k) sistem perakaran yang kuat sehingga mampu mencegah terjadinya longsor.

Penapis cahaya silau. untuk fungsi ini dipilih penanaman dengan vegetasi berdaun rapat. Ameliorasi iklim mikro. peletakan tanaman yang diatur sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi dan menyerap cahaya. tumbuhan berukuran tinggi dengan luasan area yang cukup dapat mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari. Golden Shower Cassia fistula Dalingsem. Pacar Keling Bixa orellana Kemlandingan Leucaena glauca Kayu Palele Castanopsis javanica Trengguli. Jati Seberang Peronema canescens Jati Tectona grandis Dahat Tectona hamiltoniana Salam Eugeniu polyantha Lantana Merah. Mengatasi penggenangan. Kayu Homalium tomentosum Kerbau. 4 Nama Tanaman Dadap Erythrina varigata Nama Latin 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Dangdeur Aren Buni Buni hutan Kembang merak Serut Jamblang Salam Gosampinus heptaphylla Arenga pinatta Antidesma bunius Antidesma montanum Caesalpinia pulcherrima Syzygium paucipuncatum Streblus asper Syzygium cumini Syzygium polyanntum Jenis burung/potensi Betet (Psittacula alexandri). Tabel 2. beberapa jenis burung madu Burung ukut-ukut Srigunting Bahan pembuat sarang Buah dapat dimakan Pengundang serangga Katagori pohon langka Tahan pangkas Buah dapat dimakan Bumbu dapur 2. Pemilihan vegetasi berdaun rapat berukuran relatif besar dan tebal dapat meredam kebisingan lebih baik. Srindit (Loriculus pusillus) Jalak (sturnidae) dan. Kayu Batu.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No.3. Gia Kedondong Bulan Canarium littoralle Johar Cassia siamea Keladan Dipterocarpus gracillis Ampupu Eucalyptus alba ƒ ƒ ƒ 10 – 20 20 – 30 30 – 40 40 – 50 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 34 . Tembelekan Lantana camara Balsa Orchoma lagopus Cendana India Santaum album Suren Toona sureni Gopasa Vitex gopassus Kesumba Keling.8 Contoh Tanaman untuk Sabuk Hijau yang Tahan Terhadap Penggenangan Air Lama genangan (hari) 0 – 10 Jenis tanaman Nama Lokal Nama Latin Sungkai.4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: ƒ Peredam kebisingan.

Mengamankan pantai dan membentuk daratan. Beberapa spesies tanaman seperti Cempaka (Michelia champaca). lebar jalur. Kihiyang Sonoleking Senon. yang terletak di bagian yang mengarah ke hembusan angin. Sabuk hijau yang terlalu tipis kurang dapat melindungi karena masih dapat diterobos angin. Casuarina equisetifolia Intsia bijuga Samanea saman Gluta renghas Nama Latin Sumber: Soerianagara dan Indrawan (1988) ƒ Penahan angin. Penyerap dan penepis bau. Pada daerah payau dapat dipilih pohon Mahoni (Swietenia mahagoni) dan Asam Landi (Pichecolobium dulce). untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur. Pendusta utan Kihujan Rengas Pinus insularis Pinus mercusii Pterocarpus javanicus Pterocarpus indicus Vitex pubescens Albizzia procera Dalbergia sisso Paraserianthes falcataria Schleichera oleosa Albizzia lebbeck Coffea spp Shorea leprosula Dalbergia latifolia Shorea ovalis Swietenia spp. Sabuk hijau yang dibangun harus cukup panjang agar dapat melindungi objek dengan baik. dapat melindungi daerah dari hembusan angin yang membawa serta pasir. Sengon Laut. tanaman yang dipilih adalah yang daya evapotranspirasinya rendah. yang telah terbukti dapat meredam ombak dan membantu proses pengendapan lumpur di pantai. ƒ ƒ ƒ ƒ Pola tanam sabuk hijau sebagai penahan angin adalah sebagai berikut: ƒ Sabuk hijau membentuk jalur hijau cembung ke arah datangnya angin. dan Tanjung (Mimosups elengi) adalah tanaman yang dapat mengeluarkan bau harum. jalur pepohonan yang rapat dan tinggi dapat melokalisir bau dan menyerap bau. Mengatasi intrusi air laut. sabuk hijau berupa jalur pepohonan yang tinggi lebar dan panjang.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Lama genangan (hari) Jenis tanaman Nama Lokal Pinus Benquet Tusam Wedang Angsana Laban Weru. Mengatasi penggurunan. Jeungjing Kosambi Tekik Kopi Meranti tembaga Sonokeling Meranti merah Keluarga Mahoni Cemara laut 50 – 60 60 – 70 70 – 80 90 – 100 100 – 200 300 Semar. sabuk hijau ini dapat berupa formasi hutan mangrove. Sabuk hijau seyogyanya ditempatkan tepat pada arah datangnya angin dan obyek yang dilindungi harus berada di bagian belakangnya. ƒ ƒ ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 35 . akan menjadikan angin laminar dan mencegah terbentuknya angin turbulen. Sabuk hijau yang dibangun harus cukup tebal. Kenanga (Cananga odorata).

e) batang dan sistem percabangan kuat. sehingga mampu menutup secara baik. dengan dahan yang kuat namun cukup lentur. tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa. r) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri. batang tegak dan keras pada bagian pangkal. d) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia. Memiliki kerapatan daun berkisar antara 70–85%.3. p) mudah sembuh bila mengalami luka akibat benturan dan akibat lain. n) buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung. h) tajuk cukup rindang dan kompak. memiliki pertumbuhan sempurna baik batang maupun akar. b) sistem perakaran masuk kedalam tanah. Tanaman harus terdiri dari beberapa strata yaitu tanaman tinggi sedang dan rendah. tajuk simetris dan padat. tidak dapat berfungsi sebagai penahan angin. Kriteria Vegetasi untuk Taman Pulau Jalan dan Median Jalan. perbandingan bagian pucuk dan akar seimbang. i) ukuran dan bentuk tajuk seimbang dengan tinggi pohon. dan RTH Jalur Pejalan Kaki Kriteria untuk jalur hijau jalan adalah sebagai berikut: 1) Aspek silvikultur: a) b) c) d) e) f) 2) berasal dari biji terseleksi sehat dan bebas penyakit. t) sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi. q) tahan terhadap hama penyakit. k) tidak menggugurkan daun. s) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara.5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan a. sistim perakaran padat. l) daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang. f) batang tegak kuat. Kerapatan yang kurang. tetapi tidak terlalu gelap. m) saat berbunga/berbuah tidak mengotori jalan. 2. g) perawakan dan bentuk tajuk cukup indah. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 36 . Sifat biologi: a) tumbuh baik pada tanah padat. Sebaliknya kerapatan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terbentuknya angin turbulen. c) fase anakan tumbuh cepat. j) daun sebaiknya berukuran sempit (nanofill). u) berumur panjang. o) sebaiknya tidak berduri atau beracun. tidak mudah patah dan tidak berbanir. tidak merusak konstruksi dan bangunan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ ƒ Tanaman yang ditanam didominasi oleh tanaman yang cukup tinggi.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

Tabel 2.9 Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki
No I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 II 1 2 3 4 5 Nama Lokal Pohon Bunga Kupu-kupu Bunga kupu-kupu ungu Trengguli Kayu manis Tanjung Salam Melinjo Bungur Cempaka Tanjung Perdu/semak/groundcover Canna Soka jepang Puring Pedang-pedangan Lili pita Nama Latin Tinggi (m) 8 8 15 12 15 12 15 18 18 12 0.6 0.3 0.7 0.5 0.3 Jarak Tanam (m) 12 12 12 12 12 6 6 12 12 12 0.2 0.2 0.3 0.2 0.15

Bauhinia purpurea Bauhinia blakeana Cassia fistula Cinnamommum iners Mimosups elengi Euginia polyantha Gnetum gnemon Lagerstroemia floribunda Michelia champaca Mimosups elengi Canna varigata Ixora spp Codiaeum varigatum Sansiviera spp Ophiopogon jaburan

b.

Kriteria Vegetasi untuk RTH di Bawah Jalan Layang Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) tanaman yang tahan dan dapat hidup dengan baik pada tempat yang ternaungi secara permanen; tidak membutuhkan penyinaran matahari secara penuh; relatif tahan kekurangan air; perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan; sebaiknya merupakan tanaman dari jenis yang mempunyai kemampuan dalam mengurangi polusi udara; dapat hidup dengan baik pada media tanam pot atau bak tanaman.

Tabel 2.10 Contoh Tanaman untuk RTH di Bawah Jalan Layang
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama lokal Balancing Talas-talasan Hanjuang Philodendron Pedang-pedangan Xanadu Singonium Yuca Dracaena Spatipilum

Dieffenbachia spp Calathea spp Cordyline spp Philodendron spp Sansiviera spp Philodendron xanadu Syngonium spp Yucca elephantipes Dracaaena spp Spathypillum spp

Nama latin

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

37

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

2.3.6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu a. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) tumbuh baik pada tanah padat; sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan; fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa; ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia; batang dan sistem percabangan kuat; batang tegak kuat, tidak mudah patah dan tidak berbanir; perawakan dan bentuk tajuk cukup indah; daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang; buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung; tahan terhadap hama penyakit; berumur panjang.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH rel kereta api, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi, disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian pada daerah masingmasing. Tabel 2.11 Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Nama Daerah Flamboyan Angsana Ketapang Kupu-kupu Kere paying Johar Tanjung Mahoni Akasia Bungur Kenari Johar Damar Nyamplung Jakaranda Liang liu Kismis Ganitri Saga Anting-anting Asam kranji Johar Cemara Pinus Beringin Nama Latin Delonix regia Pterocarpus indicus Terminalia cattapa Bauhinia purpurea Filicium decipiens Cassia multiyoga Mimusops elengi Swientenia mahagoni Acacia auriculiformis Lagerstroemia loudonii Canarium commune Cassia sp. Agathis alba Calophyllum inophyllum Jacaranda filicifolia Salix babilinica Muehlenbeckia sp. Elaeocarpus spahaericus Adenanthera povoniana Elaeocarpus grandiflorus Pithecelobium dulce Cassia grandis Cupresus papuana Pinus merkusii Ficus benjamina

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

38

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

Pola tanam vegetasi di sepanjang rel kereta api harus memperhatikan keamanan terhadap lalu lintas kereta api, tidak menghalangi atau mengganggu penglihatan masinis, serta tidak menggangu kekuatan struktur rel kereta api. Pola tanam yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: a) b) jarak maksimal dari sumbu rel adalah 50 m; pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan.

b. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Kriteria pemilihan vegetasi dan pola tanam untuk RTH ini adalah sebagai berikut: jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman yang memiliki dahan yang kuat, tidak mudah patah, dan perakaran tidak mengganggu pondasi; b) akarnya menghujam masuk ke dalam tanah. Jenis ini lebih tahan terhadap hembusan angin yang besar daripada tanaman yang akarnya bertebaran hanya di sekitar permukaan tanah; c) daunnya tidak mudah gugur oleh terpaan angin dengan kecepatan sedang; d) bukan merupakan pohon yang memiliki bentuk tajuk melebar; e) merupakan pohon dengan katagori kecil (small tree); f) fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa; g) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia; h) pola penanaman pemilihan vegetasi memperhatikan ketinggian yang diijinkan; i) buah tidak bisa dikonsumsi langsung oleh manusia; j) memiliki kerapatan yang cukup (50-60%); k) pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. Pemilihan jenis dan ketinggian vegetasi dimaksudkan agar penanaman vegetasi pada RTH jalur SUTT maupun SUTET, tidak menimbulkan gangguan terhadap jaringan listrik serta menghindari bahaya terhadap penduduk di sekitarnya. Lokasi penanaman harus memperhatikan jarak bebas minimum yang diijinkan. Tabel 2.12 Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nama Suku dan Jenis Nama Lokal Mangkokan Sarai raja Palem kobis Kesumba Jarak kosta Bunga Perawakan Semak Pohon sedang Pohon kecil Pohon kecil Semak Pohon kecil Diameter Batang (cm)/ Tinggi (m) /5 10/5-25 5/3-4 10/2-8 /2 10/2-6

a)

Nothopanax scutellarium Merr. Caryota mitis Lour. Licuala grandis L. Bixa orellana L. Jatropha gossypifolia L. Bauhinia purpurea L.

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

39

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

No.

Nama Suku dan Jenis

Nama Lokal kupu-kupu Kembang kuning Kembang merak Kembang sepatu kecil Serut Kemuning Kecubung gunung

Perawakan

Diameter Batang (cm)/ Tinggi (m) 20/2-6 - /3-5 - /2 10/2-5 10/-7 - /5

7. 8. 9. 10. 11. 12.

Cassia surattensis Burm. F. Caesalpinia pulcherrima (L.) Swartz. Malvaviscus arbpreus Cav. Streblus asper Lour. Muraya paniculata (L.) Jack. Brugmansia candida Pers.

Semak Semak Semak Pohon kecil Pohon kecil Semak

c.

Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) sistem perakaran yang kuat, sehingga mampu menahan pergeseran tanah; tumbuh baik pada tanah padat; sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan; kecepatan tumbuh bervariasi; tahan terhadap hama dan penyakit tanaman; jarak tanam setengah rapat sampai rapat 90% dari luas area, harus dihijaukan; tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap; berupa tanaman lokal dan tanaman budidaya; dominasi tanaman tahunan; sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH sempadan sungai, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi untuk RTH sempadan sungai disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian lahan pada daerah masing-masing. Tabel 2.13 Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama Daerah Bungur Jening Khaya Pingku Lamtorogung Puspa Kenanga Locust Kisireum Manglid Cengal Flamboyan

Lagerstromia speciosa Pithecolobium lobatum Khaya anthotheca Dysoxylum excelsum Leucaena lecocephala Schima wallichii Canangium adoratum Hymenaena courburil Eugenia cymosa Michelia velutina Hopea sangkal Delonix regia

Nama Latin

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

40

anthotheca Nama Latin Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 41 . 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 Nama Daerah Tanjung Trembesi Beringin Kepuh Angsret Nyamplung Leda Tengkawanglayar Johar Merbau pantai Tengkawangmajau Hoe Merawan Blabag Pala hutan Cemara sumatra Palur raja Kibeusi leutik Kaliandra Balam sudu Sawo duren Kedinding Kepuh Dadap Salam Sungkai Matoa/kasai Locust Ebony/kayuhitam Kempas Sawo kecik Asam Pingku Johar Angsana Tengkawang layar Kecapi Palem Raja Kalak Saputangan Bacang Kayu manis Kawista Kenanga Khaya Khaya Khaya Mimusops elengi Samanea saman Ficus benjamina Sterculia foetida Spathodea campanulata Callophylum inophyllum Eucalyptus deglupta Shorea mecistopteryx Cassia siamea Intsia bijuga Shorea palembanica Eucaliyptus platyphylla Hopea mangarawan Terminalia citrina Myristica fatua Casuarina sumatrana Oreodoxa regia Lindera srtichchytolia Calliandra marginata Palaguium sumatranum Crysophyllum cainito Albizzia leppecioides Sterculia foetida Erythrina cristagalli Eugenia polyantha Pheronema canescens Pometia pinnata Hymenaea courbaril Dyospiros celebica Kompasia excelsa Manilkara kauki Tamarindus indica Dysoxyllum exelsum Cassia grandis Pterocarpus indicus Shorea mecistopteryx Shandoricum koetjape Oerodoxa regia Poliantha lateriflora Maniltoa brawneodes Manejitera foetida Cinnamomun burmanni Feronia limonia Canangium odoratum Hopea bancana Shorea selanica Pterogota alata K. sinegalensis K.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. grandiflora K.

tiupan angin dan hempasan gelombang air pasang. sampel jalur hijau sungai berupa jalur memanjang dari garis sungai ke arah darat dengan lebar 20 m sampai pohon terjauh. Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Pantai Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) merupakan tanaman lokal yang sudah teruji ketahanan dan kesesuaiannya tehadap kondisi pantai tersebut. sehingga dapat menahan erosi dan meningkatkan infiltasi (resapan) air. jarak maksimal dari pantai adalah 100 m. d) e) f) g) d. untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 m. 1993): Cemara Laut (Casuarina equisetifolia). Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 42 . memliki sistem perakaran yang kuat dan dalam. batang dan sistem percabangan yang kuat. Kiara Payung (Filicium decipiens). sekurang-kurangnya 100 m dari kiri kanan sungai besar dan 50 m di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman. Bungur (Lagerstroemia speciosa). Vegetasi ideal yang ditanam pada RTH pengaman sumber air merupakan vegetasi yang tidak mengkonsumsi banyak air atau yang memiliki daya transpirasi yang rendah. daya transpirasi rendah. Damar (Agathis loranthifolia). tahan terhadap hama dan penyakit tanaman. bakau merupakan tanaman yang khas sebagai pelindung pantai. e. 1976 dan Kurniawan. pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. sampel jalur hijau sungai berupa petak-petak berukuran 20 m x 20 m diambil secara sistematis dengan intensitas sampling 10% dari panjang sungai. penempatan petak sampel dilakukan secara awalan acak (random start) pada peta. toleransi terhadap kondisi air payau. sistem perakaran yang yang kuat sehingga mampu mencegah abrasi pantai.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Persyaratan pola tanam vegetasi pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut: a) b) c) jalur hijau tanaman meliputi sempadan sungai selebar 50 m pada kirikanan sungai besar dan sungai kecil (anak sungai). Karet Munding (Ficus elastica). sebelum di lapangan. Beberapa tanaman yang memiliki daya transpirasi yang rendah antara lain (Manan. Manggis (Garcinia mangostana). Kriteria Vegetasi untuk RTH pada Sumber Air Baku/Mata Air Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) relatif tahan terhadap penggenangan air. Kelapa (Cocos nucifera).

4. tajuk cukup rindang dan kompak. Untuk menghasilkan media tanam yang baik maka tanah harus digemburkan dengan menggunakan cangkul hingga kedalaman pertumbuhan akar dan ditambahkan pupuk organik/kompos secukupnya. 2.1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam Lokasi tanah yang akan dijadikan media tanam harus diolah terlebih dahulu. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pemakaman Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) sistem perakaran masuk kedalam tanah. atau menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi langsung. batang tegak kuat. dikembalikan ke bagian bawah lubang tanam. dapat berupa pohon besar. c) masukkan tanah di sekeliling bola akar. Ketentuan Penanaman 2. b) besarnya diameter lubang tanam sama dengan lingkaran tajuk terluar tanaman dengan kedalaman setebal bola akar ditambah 10 cm. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung. berumur panjang. dan tanah yang berasal dari bagian atas lubang tanam diurugkan di bagian atas tanaman. tahan terhadap hama penyakit. tidak merusak konstruksi dan bangunan. sedang atau kecil disesuaikan dengan ketersediaan ruang.4.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II f. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 43 . sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi. Tanah yang baik sebagai media tanam adalah tanah yang gembur mengandung cukup unsur hara. tidak mudah patah dan tidak berbanir.4. Tabel 2.14 Contoh Vegetasi untuk Pemakaman No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Lokal Bougenvil Kemboja Putih Puring Lili pita Tanjung Dadap Kembang merak Jamblang Salam Nama Latin Potensi berbunga berbunga berwarna berbunga pengundang burung pengundang serangga buah dapat dimakan pengundang burung Bougenvilia sp Plumeria alba Codiaeum varigatum Ophiopogon jaburan Mimosups elengi Erythrina varigata Caesalpinia pulcherrima Syzygium cumini Syzygium polyanntum 2. kemudian tanah yang berasal dari bagian bawah. tetapi tidak terlalu gelap. Penanaman dapat dilakukan setelah tanah dibiarkan selama 3–5 hari.2 Penanaman Pada proses penanaman harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) bibit tanaman harus memiliki percabangan dan perakaran yang sehat.

tidak pada permukaan daun tanaman. 2. Penyiraman Tujuan penyiraman tanaman. Penetrasi air siraman sedalam 15-20 cm ke dalam tanah. patah. Untuk daerah dengan kelembaban tinggi penyiraman pada pagi hari lebih baik daripada sore hari. Waktu penyiraman yang terbaik adalah pada pagi atau sore hari. dahan dan ranting yang retak. diperlukan alat penahan (kayu pemancang/ajir) yang ditancapkan di seputar pohon. dengan ujung diikat pada batang pohon. b.4. Pupuk yang diberikan pada tanaman dapat berupa pupuk organik maupun pupuk anorganik (misalnya NPK atau urea). c. mati atau berpenyakit. dahan dan ranting.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II d) agar pohon yang baru ditanam tidak bergoyang. Waktu penyiraman pada dasarnya dapat dilakukan kapan saja saat dibutuhkan. yang dapat mengancam keamanan pengguna taman. Pemangkasan tanaman dapat dilakukan dengan tujuan: 1) Pemangkasan untuk kesehatan pohon: Pemangkasan untuk tujuan ini dilakukan pada cabang. juga berfungsi melarutkan garam-garam mineral dan juga sebagai unsur utama pada proses fotosintesis. Pupuk yang digunakan untuk pohon-pohon taman biasanya pupuk majemuk NPK. dapat menjadi indikasi bahwa siraman air sudah dinyatakan cukup. 44 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . Waktu pemangkasan yang tepat adalah setelah masa pertumbuhan generatif tanaman (setelah selesai masa pembungaan) dan sebelum pemberian pupuk. selain untuk menyeimbangkan laju evapotranspirasi. Pemangkasan Tujuan pemangkasan tanaman adalah untuk mengontrol pertumbuhan tanaman sesuai yang diinginkan serta menjaga keamanan dan kesehatan tanaman. dalam upaya menghindari penyakit yang disebabkan oleh cendawan. Penyiraman siang hari hendaknya dilakukan langsung pada permukaan tanah. Pemupukan Prinsip dasar pemupukan adalah mensuplai hara tambahan yang dibutuhkan sehingga tanaman tidak kekurangan makanan. 2) Pemangkasan untuk keamanan penggunaan taman: ƒ Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang.3 Pemeliharaan Tanaman a. e) tanaman disiram secukupnya.

bunga maupun buah yang tidak sempurna.5 m dari permukaan tanah. bakteri. fisik. piramida. Untuk jalan umum yang dilalui kendaraan diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 4. Untuk jalan yang dilalui kendaraan pada daerah permukiman diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar minimal 3. Sedangkan penyakit tanaman disebabkan oleh jamur. bercak daun. teknik budidaya. a. maupun imagonya. Gejala serangan penyakit terlihat adanya akar. Beberapa diantaranya tidak terlihat dengan mata telanjang sehingga perlu di teliti di laboratorium. dan lain sebagainya. ƒ 4) Pemangkasan untuk tujuan estetis: Pemangkasan dengan tujuan ini adalah untuk menghasilkan penampilan tanaman lebih baik atau lebih indah.5-5 m dari permukaan tanah. 3) Pemangkasan untuk keamanan pengguna jalan: ƒ ƒ Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang. kerena disamping dapat mengakibatkan korsleting/ kebakaran. molusca maupun hewan lainnya seperti burung. yang dapat menghalangi pandangan pengguna jalan.4.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ Di daerah pejalan kaki diperlukan ruang yang bebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 2. ulat. kubus. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 45 . Gejala Serangan Gejala serangan hama pada umumnya langsung dapat terlihat dari kerusakan bagian tanaman. mozaik dan sebagainya. nematoda dan penyakit fisiologis. juga gesekan yang intensif dapat mengganggu kesehatan pohon. kelinci dan sebagainya. Secara kasat mata seringkali terlihat populasi binatang berupa larva. kambing. dahan dan ranting. b. silindris. karat. baik berupa serangga. Dapat juga terjadi bagian tanaman yang terkikis. berubah warna dan penampilan tidak menarik. biologi dan kimiawi. seperti bentuk daun. berlubang. maka pemangkasan dapat menghasilkan tanaman dengan bentuk-bentuk tajuk spiral. Cara Pengendalian Pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan cara karantina. 2.5 m dari permukaan tanah. Batang atau dahan yang menyentuh kabel telepon dan listrik perlu dipangkas. Dengan memperhatikan jenis dan kerapatan daun. bulat.4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Hama tanaman dapat disebabkan oleh hewan. virus. layu. mekanis.

dan bunga). tanaman pot dimaksud dapat diatur dalam susunan/bentuk vertikal. RTH Pekarangan Dalam rangka mengoptimalkan lahan pekarangan. pertokoan. RTH dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan sebagai berikut: a. serta memberikan keseimbangan dan keserasian antara bangunan dan lingkungan. Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan RTH pada bangunan/perumahan baik di pekarangan maupun halaman perkantoran. Selain fungsi tersebut. Untuk rumah dengan RTH pada lahan pekarangan yang tidak terlalu luas atau sempit. b.1. Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman RTH pada Lingkungan/Permukiman dapat dioptimalkan fungsinya menurut jenis RTH berikut: a. RTH dapat dimanfaatkan pula untuk menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup. dan tanaman pot sehingga dapat menambah nilai estetika sebuah rumah. olah raga. RTH pada rumah dengan pekarangan luas dapat dimanfaatkan sebagai tempat utilitas tertentu (sumur resapan) dan dapat juga dipakai untuk tempat menanam tanaman hias dan tanaman produktif (yang dapat menghasilkan buah-buahan. selain tempat utilitas tertentu. dapat dimanfaatkan pula sebagai area parkir terbuka. 3. dan tempat untuk menyelenggarakan berbagai aktivitas di luar ruangan seperti upacara. carport. RTH Halaman Perkantoran. dan tempat usaha.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 3. Pertokoan.2. dan Tempat Usaha RTH pada halaman perkantoran. fasilitas yang harus disediakan minimal bangku taman dan fasilitas mainan anak-anak. Selain sebagai tempat untuk melakukan aktivitas sosial. dan penambah estetika suatu bangunan sehingga tampak asri. Untuk mendukung aktivitas penduduk di lingkungan tersebut. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) dapat dimanfaatkan penduduk sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. RTH Taman Rukun Tetangga dapat pula dimanfaatkan sebagai suatu community garden dengan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 47 . peredam kebisingan. dan tempat usaha berfungsi sebagai penghasil O2. dan lain-lain. Untuk efisiensi ruang. bazar. sayur. pertokoan. maka RTH pekarangan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan atau kebutuhan lainnya.

2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 48 . sayur.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup.1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga KURSI TAMAN ARENA MAINAN ANAK JALUR PEJALAN KAKI POHON PELINDUNG Gambar 3. dan buah-buahan yang dapat dimanfaatkan oleh warga. POHON PELINDUNG JALUR PEJALAN KAKI Gambar 3.

sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohonpohon tahunan. misalnya duduk atau bersantai. beberapa unit bangku taman yang dipasang secara berkelompok sebagai sarana berkomunikasi dan bersosialisasi antar warga. LAP. dimana aktivitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III b. kegiatan olahraga masyarakat. dan beberapa jenis bangunan permainan anak yang tahan dan aman untuk dipakai pula oleh anak remaja. RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan penduduk dalam satu kelurahan. dengan fasilitas utama lapangan olahraga (serbaguna). Taman ini dapat berupa taman aktif. serta kegiatan sosial lainnya di lingkungan RW tersebut. dengan jalur trek lari di seputarnya.3 Contoh Taman Rukun Warga c. RTH Rukun Warga RTH Rukun Warga (RW) dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan remaja. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 49 . Fasilitas yang disediakan berupa lapangan untuk berbagai kegiatan. baik olahraga maupun aktivitas lainnya. atau dapat berupa taman pasif. VOLLEY TEMPAT DUDUK TEMPAT DUDUK LAPANGAN RUMPUT TEMPAT DUDUK LAPANGAN BASKET Gambar 3.

WC umum. sirkulasi jalur pejalan kaki. 2) semak.4 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 50 . lebar 5 m panjang 325 m. KIOS AREA PARKIR KIOS Gambar 3.5–2 m. 1) minimal 50 pohon (sedang dan kecil). Vegetasi 1) minimal 25 pohon (pohon sedang dan kecil). WC umum. 4) penutup tanah.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel 3. 2) semak. 3) perdu. 1 unit kios (jika diperlukan). lebar 1. 3) perdu. kursi-kursi taman. 4) penutup tanah. 1 unit kios (jika diperlukan).1 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan Jenis Taman Aktif Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80% Fasilitas 1) 2) 3) 4) Pasif 80 – 90% 5) 1) 2) 3) 4) lapangan terbuka. kursi–kursi taman. trek lari.

2) semak. sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 51 .Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III KIOS AREA PARKIR Gambar 3.5 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif) d. termasuk sarana kios (jika diperlukan).2 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan Jenis Taman Aktif Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80% 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Fasilitas lapangan terbuka. Kelengkapan taman ini adalah sebagai berikut: Tabel 3. atau dapat berupa taman pasif untuk kegiatan yang lebih bersifat pasif. parkir kendaraan. 3) perdu. kursi-kursi taman. trek lari. Taman ini dapat berupa taman aktif dengan fasilitas utama lapangan olahraga. WC umum. RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat dimanfaatkan oleh penduduk untuk melakukan berbagai aktivitas di dalam satu kecamatan. lapangan basket. lebar 5 m panjang 325 m. dengan jalur trek lari di seputarnya. 4) penutup tanah. Vegetasi 1) minimal 50 pohon (sedang dan kecil). lapangan volley.

taman bunga. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. 4) penutup tanah. 2) WC umum. taman bermain (anak/balita). Vegetasi 1) lebih dari 100 pohon tahunan (pohon sedang dan kecil). Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan a.5–2 m. SARANA OLAHRAGA KIOS SARANA OLAHRAGA AREA PARKIR SARANA OLAHRAGA PLAZA HUTAN KECIL Gambar 3. lebar 1. dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 30%. 2) semak. 3) parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan). Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau). 3) perdu. taman khusus (untuk lansia).3. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 52 . 4) kursi-kursi taman.6 Contoh Taman Kecamatan 3. fasilitas olah raga terbatas. RTH Taman Kota RTH Taman kota dapat dimanfaatkan penduduk untuk melakukan berbagai kegiatan sosial pada satu kota atau bagian wilayah kota. yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Jenis Taman Pasif Koefisien Daerah Fasilitas Hijau (KDH) 80–90% 1) sirkulasi jalur pejalan kaki.

sayur). LOTUS POND 12. BASKET 9. 7) panggung terbuka. GSG & LAP. atau aktivitas yang aktif seperti jogging. keanekaragaman hayati). daun. sirkulasi pejalan kaki/jogging track. ekonomi (buah-buahan. unit lapangan volley (15 x 24 m). oksigen. SCULPTURE 11. CANNOE POND 5.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel 3. parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan). AMPHITEATER 10. AREA MAIN ANAK-ANAK 6. LABIRIN & LEISURE AREA 7. wisata alam. rekreasi. 9) prasarana tertentu: kolam retensi untuk pengendali air larian. senam atau olahraga ringan lainnya). 8) area bermain anak.7 Contoh Taman Kota (Rencana Taman Kota Pangkalanbun Kabupaten Kotawaringin Barat) b. perlindungan dan pemanfaatan plasma nutfah. PARKIR 2. wahana pendidikan dan penelitian. JOGGING TRACK Gambar 3. penutup tanah. KOLAM 3. Fasilitas yang harus disediakan disesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan seperti kursi taman. Hutan kota Hutan kota dapat dimanfaatkan sebagai kawasan konservasi dan penyangga lingkungan kota (pelestarian. perdu. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 53 . Hutan kota dapat juga dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas sosial masyarakat (secara terbatas. GERBANG UTAMA 4. unit lapangan basket (14x26 m). TAMAN BURUNG 8. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 1) Vegetasi 150 pohon (pohon sedang dan kecil) semak. 2) 3) 1. WC umum. trek lari. lebar 7 m panjang 400 m.3 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80 % Fasilitas lapangan terbuka. 10) kursi. penghasil produk hasil hutan. meliputi aktivitas pasif seperti duduk dan beristirahat dan atau membaca.

Disamping itu RTH di bawah jalan layang dapat dimanfaatkan sebagai: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 54 . d. vegetasi yang mengeluarkan bau. yang mempunyai peranan penting antara lain mengontrol populasi serangga. RTH Jalur Hijau Jalan Pulau Jalan dan Median Jalan Taman pulau jalan maupun median jalan selain berfungsi sebagai RTH. RTH Jalur Pejalan Kaki RTH jalur pejalan kaki dapat dimanfaatkan sebagai: ƒ Fasilitas untuk memungkinkan terjadinya interaksi sosial baik pasif maupun aktif serta memberi kesempatan untuk duduk dan melihat pejalan kaki lainnya.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Idealnya hutan kota merupakan ekosistem yang baik bagi ruang hidup satwa misalnya burung. RTH di Bawah Jalan Layang Selain sebagai daerah resapan air. juga dapat dimanfaatkan untuk fungsi lain seperti sebagai pembentuk arsitektur kota. Jalur tanaman tepi jalan atau pulau jalan selain sebagai wilayah konservasi air. tekstur bawah kaki. e. Sabuk hijau dimaksudkan sebagai kawasan lindung dengan pemanfaatan terbatas dengan pemanfaatan utamanya adalah sebagai penyaring alami udara bagi kota-kota yang berbatasan tersebut. faktor audial (suara) dan faktor visual. RTH di bawah jalan layang dapat menjadi unsur estetika untuk meminimalkan unsur kekakuan konstruksi jalan. vegetasi.4 Kemampuan Hutan dalam Mengendalikan Gelombang Pendek dan Panjang Respon Daun Dipantulkan Diserap Dibiaskan Diteruskan c. Gelombang Pendek (%) 10 80 10 Gelombang Panjang (%) 100 10 90 ƒ f. juga dapat dimanfaatkan untuk keindahan/estetika kota. Median jalan dapat dimanfaatkan sebagai penahan debu dan keindahan kota. Sebagai penyeimbang temperatur. sehingga sabuk hijau dapat menjadi RTH bagi kedua kota atau lebih tersebut. kelembaban. sampah yang bau dan terbengkalai. Untuk itu diperlukan introduksi tanaman pengundang burung pada hutan kota. Sabuk Hijau Sabuk hijau berfungsi sebagai daerah penyangga atau perbatasan antara dua kota. emisi kendaraan. Tabel 3.

RTH Sempadan Sungai Pemanfaatan RTH daerah sempadan sungai dilakukan untuk kawasan konservasi. Pemanfaatan daerah sempadan sungai yang berfungsi budi daya dapat dilakukan oleh masyarakat untuk kegiatan-kegiatan: a) b) c) d) budi daya pertanian rakyat. waduk yang berfungsi budi daya dapat dibudidayakan kecuali pemanfaatan tanggul hanya untuk jalan. Untuk menjaga keselamatan lalu lintas kereta api maupun masyarakat di sekitarnya. sehingga jaringan kayu dapat tumbuh lebih banyak yang akan menjadi pohon lebih kuat. dan pemantauan. kabel telpon. Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Jaringan listrik tegangan tinggi sangat berbahaya bagi manusia. ƒ Tempat istirahat sementara bagi pengendara sepeda motor/pejalan kaki pada saat hujan. papan penyuluhan dan peringatan. dan pipa air minum. mencegah okupasi penduduk yang mudah menyebabkan erosi. Pada zona sungai yang berfungsi lindung menjadi kawasan lindung. 55 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . Membuat saluran drainase. peningkatan fungsi sungai. kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C. pemasangan rentangan kabel listrik. maka jenis aktivitas yang perlu dilakukan berkaitan dengan peranan RTH sepanjang rel kereta api adalah sebagai berikut: a) b) c) d) Memperkuat pohon melalui perawatan dari dalam. b. c. dan pengendalian daya rusak sungai melalui kegiatan penatagunaan. Penatagunaan daerah sempadan sungai dilakukan dengan penetapan zona-zona yang berfungsi sebagai fungsi lindung dan budi daya.4. pada zona sungai danau. serta rambu-rambu pekerjaan. perlindungan tepi kiri-kanan bantaran sungai yang rawan erosi. dan lain-lain. pelestarian. 3. RTH Fungsi Tertentu a. Menghilangkan sumber penularan hama dan penyakit serta menghilangkan tempat persembunyian ular dan binatang berbahaya lainnya. perizinan. ƒ Lokasi penempatan papan reklame secara terbatas. Memperbaiki citra/penampilan pohon secara keseluruhan. Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api RTH/jalur hijau sempadan rel kereta api dapat dimanfaatkan sebagai pengamanan terhadap jalur lalu lintas kereta api. gardu listrik. sehingga RTH pada kawasan ini dimanfaatkan sebagai pengaman listrik tegangan tinggi dan kawasan jalur hijau dibebaskan dari berbagai kegiatan masyarakat serta perlu dilengkapi tanda/peringatan untuk masyarakat agar tidak beraktivitas di kawasan tersebut.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III ƒ Lokasi penempatan utilitas seperti drainase.

f) penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial. maka aktivitas yang dapat dilakukan pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut: a) b) Memantau penutupan vegetasi dan kondisi kawasan DAS agar lahan tidak mengalami penurunan. dan g) pembangunan prasarana lalu lintas air. termasuk gangguan terhadap kualitas visual. pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau. menghalau. keanekaragaman vegetasi terutama jenis unggulan lokal dan bernilai ekologi dipantau dengan metode kuadrat dengan jalur masing-masing lokasi 2 km menggunakan analisis vegetasi yang diarahkan pada jenis-jenis flora yang bernilai sebagai tumbuhan obat. pelestarian. serta penutupan vegetasi di sempadan sungai. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. keolahragaan. juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yang diizinkan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: ƒ Tidak bertentangan dengan Keppres No. peningkatan fungsi sumber air baku/mata air. e. ƒ Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi. RTH Sumber Air Baku/Mata Air Pemanfaatan RTH sumber air baku/mata air dilakukan untuk perlindungan. dan pengendalian daya rusak sumber air baku/mata air/danau melalui kegiatan penatagunaan. Mengamankan kawasan sempadan sungai. c) d) e) d. wildlife habitat dan meredam angin kencang. Memantau fluktuasi debit sungai maksimum. erosi. melindungi dari ancaman gelombang pasang. Untuk menghindari kerusakan dan gangguan terhadap kelestarian dan keindahan sungai. Tolak ukur 100 m di kanan kiri sungai dan 50 m kanan kiri anak sungai.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III e) pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/jembatan baik umum maupun kereta api. ƒ Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat. ƒ Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai. 32 Tahun 1990. Menjaga kelestarian konservasi dan aktivitas perambahan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 56 . bangunan pengambilan dan pembuangan air. dipantau dengan menggunakan metode pemeriksaaan langsung dan analisis deskriptif komparatif. RTH Sempadan Pantai RTH sempadan pantai selain sebagai area pengaman dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan gelombang laut. Aktivitas memantau. perizinan. dan pemantauan. ƒ Khusus untuk kawasan pantai berhutan bakau harus dipertahankan sesuai ketentuan dalam Keppres No. menjaga dan mengamankan harus diikuti dengan aktivitas melaporkan pada instansi berwenang dan yang terkait sehingga pada akhirnya kawasan sempadan sungai yang berfungsi sebagai RTH terpelihara dan lestari selamanya.

papan penyuluhan dan peringatan. dan pemersatu ruang kota. pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/ jembatan baik umum maupun kereta api. Pemakaman juga dapat berfungsi sebagai RTH untuk menambah keindahan kota.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel berikut ini memberikan gambaran mengenai dimensi sempadan serta pemanfaatannya pada masing-masing jenis RTH sebagai berikut: Tabel 3. dan pipa air minum.5 RTH Sempadan Danau dan Mata Air No. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 57 . penyelenggaraan kegiatankegiatan yang bersifat sosial. pendukung ekosistem. pelindung. Mata Air Radius 200 m a) ruang terbuka hijau dengan aktivitas sosial terbatas penekanan pada kelestarian sumberdaya airnya. dan pembangunan prasarana lalu lintas air. Danau/waduk Minimal 50 m dari titik pasang tertinggi Pemanfaatan jaringan utilitas. kabel telpon. pemasangan rentangan kabel listrik. sehingga keberadaan RTH yang tertata di komplek pemakaman dapat menghilangkan kesan seram pada wilayah tersebut. a) b) c) d) e) f) g) h) 2. Jenis RTH Dimensi Sempadan 1. budi daya pertanian rakyat. b) luas ruang terbuka hijau minimal 90% dengan dominasi pohon tahunan yang diizinkan. kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C. pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau. RTH Pemakaman Pemakaman memiliki fungsi utama sebagai tempat pelayanan publik untuk penguburan jenasah. keolahragaan. serta rambu-rambu pekerjaan. f. daerah resapan air. bangunan pengambilan dan pembuangan air.

Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV BAB IV PROSEDUR PERENCANAAN DAN PERAN MASYARAKAT 4. c) tahapan penyediaan dan pemanfaatan RTH publik meliputi: 1) 2) 3) 4) 5) perencanaan. b) penyediaan dan pemanfaatan RTH publik yang dilaksanakan oleh pemerintah disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. tidak mengganggu kualitas visual dari dan ke RTH. lembaga badan hukum dan atau perseorangan baik pada tahap perencanaan. memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan pengguna RTH. harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: ƒ ƒ mengikuti peraturan dan ketentuan yang berlaku pada masing-masing daerah. b) memposisikan pemerintah sebagai fasilitator dalam proses pembangunan ruang terbuka hijau.2. d) menjunjung tinggi keterbukaan dengan semangat tetap menegakkan etika.1. c) menghormati hak yang dimiliki masyarakat serta menghargai kearifan lokal dan keberagaman sosial budayanya. tidak mengganggu fungsi utama RTH yaitu fungsi sosial. ekologis dan estetis. dengan prinsip: a) menempatkan masyarakat sebagai pelaku yang sangat menentukan dalam proses pembangunan ruang ruang terbuka hijau. e) pemanfaatan RTH untuk penggunaan lain seperti pemasangan reklame (billboard) atau reklame 3 dimensi. pengadaan lahan. pemanfaatan dan pemeliharaan. untuk memberikan kesempatan akses dan mencegah terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang dari rencana tata ruang yang telah ditetapkan melalui pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang oleh masyarakat dan swasta dalam pengelolaan RTH. Peran Masyarakat Peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH merupakan upaya melibatkan masyarakat. ƒ ƒ ƒ 4. Upaya ini dimaksudkan untuk menjamin hak masyarakat dan swasta. swasta. d) penyediaan dan pemanfaatan RTH privat yang dilaksanakan oleh masyarakat termasuk pengembang disesuaikan dengan ketentuan perijinan pembangunan. Prosedur Perencanaan Ketentuan prosedur perencanaan RTH adalah sebagai berikut: a) penyediaan RTH harus disesuaikan dengan peruntukan yang telah ditentukan dalam rencana tata ruang (RTRW Kota/RTR Kawasan Perkotaan/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/Rencana Induk RTH) yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat. tidak menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan tanaman misalnya menghalangi penyinaran matahari atau pemangkasan tanaman yang dapat merusak keutuhan bentuk tajuknya. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 59 . pemanfaatan dan pengendalian. perancangan teknik. pelaksanaan pembangunan RTH.

c) Mengisi seoptimal mungkin lahan pekarangan. pemanfaatan dan pengendalian). Membiayai pemeliharaan RTH publik. Peran masyarakat pada RTH privat meliputi: a) Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH dalam peningkatan kualitas lingkungan. Perencanaan Pemanfaatan dan Pengendalian Pengambilan Keputusan Rencana Pemanfaatan Pelaksanaan Pemanfaatan Pasca Pelaksanaan RTH Pelibatan Pelibatan Pelibatan Gambar 4. pembuatan sumur resapan (bagi daerah yang memungkinkan) dan pengelolaan sampah. pedoman ini ditujukan pada tahap pemanfaatan ruang terbuka hijau. baik ditanam langsung maupun ditanam dalam pot. sarana interaksi sosial serta mitigasi bencana. pembangunan dan pemeliharaan RTH.1 Pelibatan Masyarakat pada Pemanfaatan dan Pengendalian Peran masyarakat. Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH publik dalam peningkatan kualitas dan keamanan lingkungan. swasta dan badan hukum dalam penyediaan RTH publik meliputi penyediaan lahan. Peran dalam penyediaan RTH ini dapat berupa: a) b) c) d) e) f) Pengalihan hak kepemilikan lahan dari lahan privat menjadi RTH publik (hibah). Menyerahkan penggunaan lahan privat untuk digunakan sebagai RTH publik. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 60 . berm dan lahan kosong lainnya dengan berbagai jenis tanaman. dimana rencana pembangunannya akan disusun dan ditetapkan. Membiayai pembangunan RTH publik. d) Turut serta secara aktif dalam komunitas masyarakat pecinta RTH. Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah kota dalam mewujudkan penghijauan antara lain: dalam lingkup kegiatan pembangunan ruang terbuka hijau (yang meliputi perencanaan.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV e) memperhatikan perkembangan teknologi dan bersikap profesional. b) Turut serta dalam meningkatkan kualitas lingkungan di perumahan dalam hal penanaman tanaman. Mengawasi pemanfaatan RTH publik.

Untuk mencapai peran tersebut.2. maka terdapat peran lain yang dapat dilakukan oleh swasta. membahas permasalahan. karena swasta memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat umum. plaza. b) Mengembangkan dan memperkuat kerjasama proses mediasi antara pemerintah. konflik yang muncul sehubungan dengan pembangunan ruang terbuka hijau. Peran swasta yang diharapkan dalam pemanfaatan ruang perkotaan sama seperti peran yang diharapkan dari masyarakat. Pada kondisi yang lebih berkembang.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV 4. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan masyarakat: a) Anggota masyarakat baik individu maupun kelompok yang memiliki keahlian dan/atau pengetahuan mengenai penataan ruang serta ruang terbuka hijau dapat membentuk suatu komunitas ruang terbuka hijau.2 Peran Swasta Swasta merupakan pelaku pembangunan penting dalam pemanfaatan ruang perkotaan dan ruang terbuka hijau. dan sebagainya) dengan areal yang luas perlu menyertakan konsep pembangunan ruang terbuka hijau. c) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyikapi perencanaan. penyelesaian konflik serta respon dari pemerintah melalui jalur yang telah disepakati bersama. yaitu untuk tidak saja menekankan pada tujuan ekonomi. pelatihan dan diskusi di kelompok-kelompok masyarakat. Namun.2. d) Meningkatkan kemampuan masyarakat (forum. f) Bekerjasama dengan pemerintah dalam menyusun mekanisme pengaduan. Untuk mencapai peran tersebut. dan sebagainya) dalam mengelola permasalahan. pembangunan serta pemanfaatan ruang terbuka hijau melalui sosialisasi. Misalnya: membentuk forum masyarakat peduli ruang terbuka hijau atau komunitas masyarakat ruang terbuka hijau di setiap daerah. Terutama karena kemampuan kewirausahaan yang mereka miliki. mengembangkan konsep serta upaya-upaya untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah. masyarakat dan swasta dalam pembangunan ruang terbuka hijau.1 Peran Individu/Kelompok Masyarakat dapat berperan secara individu atau kelompok dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 61 . terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pihak swasta: a) Pihak swasta yang akan membangun lokasi usaha (mall. e) Menggalang dan mencari dana kegiatan dari pihak tertentu untuk proses sosialisasi. masyarakat dapat membentuk suatu forum atau komunitas tertentu untuk menghimpun anggota masyarakat yang memiliki kepentingan terhadap RTH. namun juga sosial dan lingkungan dalam memanfaatkan ruang perkotaan. 4. komunitas. g) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian.

4. d) Mendorong dan/atau menfasilitasi proses pembelajaran masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan. c) Menfasilitasi proses pembelajaran kerjasama pemerintah.3 Lembaga/Badan Hukum Lembaga atau badan hukum yang dimaksud merupakan Organisasi nonpemerintah. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan organisasi non-pemerintah antara lain: a) Membentuk sistem mediasi dan fasilitasi antara pemerintah. mengawasi kebijakan pemanfaatan ruang perkotaan. e) Menciptakan lingkungan dan kondisi yang kondusif yang memungkinkan masyarakat dan swasta terlibat aktif dalam proses pemanfaatan ruang secara proporsional. Dengan membentuk badan atau lembaga bersama antara pemerintah. informasi dan pemahaman di pihak masyarakat serta akses masyarakat ke sumber daya. perwakilan masyarakat dan swasta untuk aktif melakukan mediasi. adil dan bertanggung jawab. maupun dengan proses diskusi dan seminar. menyusun. menghubungkan masyarakat dengan pemerintah dan swasta. masyarakat dan swasta dalam mengatasi kesenjangan komunikasi dan informasi pembangunan ruang terbuka hijau. Untuk mencapai peran tersebut.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV b) Bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat dalam membangun dan memelihara ruang terbuka hijau. b) Menyelenggarakan proses mediasi jika terdapat perbedaan pendapat atau kepentingan antara pihak yang terlibat. atau organisasi lain yang serupa berperan utama sebagai perantara. Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan kepada masyarakat dan/atau yang terkait dalam pembangunan ruang terbuka hijau. f) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. Organisasi lain yang memiliki peran dan posisi penting dalam mempengaruhi. swasta dan masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan. melaksanakan. antara lain: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 62 . Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan pembangunan ruang terbuka hijau maupun dengan proses diskusi dan seminar. dalam rangka mengatasi kesenjangan komunikasi.2. pendamping. d) Berperan aktif dalam diskusi dan proses pembangunan sehubungan dengan pembentukan kebijakan publik dan proses pelibatan masyarakat dan swasta yang terkait dengan pembangunan ruang terbuka hijau. e) Mengupayakan bantuan pendanaan bagi masyarakat dalam realisasi pelibatan dalam pemanfaatan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau. c) Berperan aktif dalam mensosialisasikan dan memberikan penjelasan mengenai proses kerjasama antara pemerintah. masyarakat dan swasta serta mengenai proses pengajuan keluhan dan penyelesaian konflik yang terjadi. f) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian.

2. Kelurahan dan Kecamatan. pemeliharaan maupun peningkatan kesadaran masyarakat terhadap RTH dapat berupa: a) Piagam penghargaan yang dikeluarkan oleh lembaga swadaya masyarakat pemerhati RTH/lingkungan hidup. Partai politik. dengan persetujuan tertulis dari instansi pengelolanya. b) Pencantuman nama. baik perorangan.4 Penghargaan dan Kompensasi Penghargaan dan kompensasi terhadap masyarakat/perseorangan. unsur kewilayahan seperti RT. dan badan hukum dalam penyediaan. pembangunan. Perguruan tinggi. RW. pemerintah daerah atau pemerintah pusat. 4. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 63 . sebagai kontributor dalam penyediaan RTH tersebut. swasta. Asosiasi profesi. Instansi yang terkait dengan pengeloaan RTH/lingkungan hidup. Lembaga donor.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ DPR/DPRD. sesuai dengan peraturan yang berlaku di wilayah tersebut. perguruan tinggi. lembaga atau perusahaan dalam ukuran yang wajar dan tidak mengganggu keindahan. dan sebagainya. Adapun peran dari masing-masing organisasi tersebut diatas dapat disesuaikan dengan posisi dan keahlian yang dimiliki organisasi dalam membantu atau terlibat proses pembangunan ruang terbuka hijau.

5%) JALAN (20%) LAINNYA (7.5%) KDB (80%) KDB (90%) KDB (0%) KDB (70%) KDB (80%) RTH (8%) RTH (2%) RTH (12.LAMPIRAN A (informatif) BAGAN PROPORSI RTH KAWASAN PERKOTAAN (ilustrasi) RUANG PERKOTAAN TERBANGUN TERBUKA HUNIAN (40%) NON HUNIAN (20%) TAMAN (12.5%) RTH PRIVAT 10% RTH PUBLIK 20% RTH KOTA 30% L-1 .5%) RTH (6%) RTH (1.

2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT) L-2 .LAMPIRAN B (informatif) GAMBAR CONTOH RTH TAMAN Gambar B.1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT) Gambar B.

3 Contoh Taman Rukun Warga (RW) Gambar B.4 Contoh Taman Kelurahan L-3 .Gambar B.

Gambar B.5 Contoh Taman Kelurahan Gambar B.6 Contoh Taman Kecamatan L-4 .

000) – 6. persamaan kebutuhan hutan kota pada tahun 0 (2005) adalah sebagai berikut: 65. (203.000 Kebutuhan hutan kota = 142 ha (5. Dengan kondisi seperti tersebut di atas.1 Contoh Perhitungan Kebutuhan Hutan Kota (RTH) Berdasarkan Kebutuhan Air Kebutuhan air dalam kota bergantung dari faktor: a) b) c) d) kebutuhan air bersih per tahun.000 jiwa. Potensi air tanah 662.3 jt m3/th.200 – 662. Konsumsi air per kapita adalah 65 m3/th.307.256 m3/th.K (1 + R – C)t – PAM .450 ha.000 m3/ha/th. Kapasitas air PAM terpasang 6. memiliki penduduk pada tahun 2005 sebanyak 203.256 73.8%) L-5 Lt = = 142 ha . Kemampuanhutan kota menyimpan air. Faktor di atas dapat ditulis dalam persamaan: Po. Potensi air saat ini. jumlah air yang dapat disediakan oleh PAM.LAMPIRAN C (informatif) CONTOH PERHITUNGAN HUTAN KOTA (RTH) C.Pa z La = dengan: La Po K R C PAM t Pa z adalah luas hutan kota yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan air (Ha) adalah jumlah penduduk kota pada tahun ke 0 adalah konsumsi air per kapita (liter/hari) adalah laju peningkatan pemakaian air (biasanya seiring dengan laju pertambahan penduduk kota setempat) adalah faktor koreksi (besarnya tergantung dari upaya pemerintah dalam penurunan laju pertambahan penduduk) adalah kapasitas suplai air oleh PAM (dalam m3/tahun) adalah tahun ke adalah potensi air tanah saat ini (m3/th) adalah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air (m3/ha/th) Contoh perhitungan: Suatu kota dengan luas 2. Kemampuan hutan kota menyimpan air 73.

L-6 .240 316.86 Dari tabel C.9375 2 m2 adalah luas RTH Kota pada tahun ke t (m2) adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke t adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t adalah tetapan yan menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari.2 dapat ditentukan besarnya kebutuhan oksigen kendaraan bemotor berdasarkan klasifikasi jenis kendaraan dan rata-rata umum kebutuhan oksigen.560 397.160 357.9375 gram adalah jumlah musim di Indonesia Contoh perhitungan dengan menggunakan rumus Gerakis (1974) dalam Wisesa (1988).711. 2005): Tabel C. dengan kasus di Kota Bandung (Noor Syailendra.240 840 Tabel C.77 2.412.21 0.360 204.2 Contoh Perhitungan Kebutuhan Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Luasan kebutuhan hutan kota berdasarkan kebutuhan oksigen. adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0.C. yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988).339. dapat juga dilakukan dengan metode Gerakis (1974).000 424.597.624 425.004.300 505.609 474.2 Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor Jenis Bahan Bakar Bensin Diesel Rata-rata Pemakaian Bahan Bakar (kg/PS jam) 0.711 377.16 Kebutuhan Oksigen Tiap 1 kg Bahan Bakar 2.893. dengan rumus: Pt + Kt + Tt Lt = (54 )(0.1 Kebutuhan Oksigen Manusia di Kota Bandung Tahun 2004 Wilayah Pengembangan (WP) Bojonagara Cibeunying Karees Tegalega Ujungberung Gedebage Jumlah Penduduk (Jiwa) 424.9375 )(2) dengan: Lt Pt Kt Tt 54 0.261 Konsumsi Oksigen Manusia/Hari (gram/hari) Komsumsi Oksigen (gram/hari) 365.254 243.

760 29.16 Kebutuhan Oksigen Tiap 1 Liter BB (kg) 2.634 582 29.21 0.341 Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka kebutuhan RTH di Wilayah Bojonagara Kota Bandung pada tahun 2004 adalah: 356.993 Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 11.7 11.772.634 29.634 29.680 324.519 56.906 94 1.679.305 1. maka kebutuhan hutan kota di Kota Bandung pada tahun 2004 adalah sebagai berikut: L-7 .760 87.142 7.765.301.Tabel C.9375)( 2 ) Luas RTH = 6.984.0607 21.5817 11.085 45.18 Sepeda motor Kendaraan penumpang Kendaraan truk Kendaraan bus Jumlah Rata-rata Tabel C.77 2.72 ha m2 Catatan: kebutuhan oksigen untuk ternak diabaikan Dengan mengacu pada kebutuhan oksigen manusia.3 Kebutuhan Oksigen Menurut Klasifikasi Jenis Kendaraan Bermotor Klasifikasi Daya Minimal (PS) 1 20 50 100 Kebutuhan Bahan Bakar (kg/PS) 0.863 13.085 45.21 0.440 59.341 Luas RTH = (54 )(0.061 21.86 Kebutuhan Oksigen (kg/hari) 0.77 2.4 Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor di Wilayah Bojonagara Bandung Jenis Kendaraan Mobil Pribadi Motor Truk Bus Minibus umum Jumlah LHR (lalu-lintas harian rata-rata) (kendaraan/hari) 16.77 2.21 0.412. kebutuhan oksigen kendaraan di tiap wilayah pengembangan.91 m2 = 672.560 4.76 87.772.259.760 45.000 + 324.311.259.760 Total Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 196.7652 Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 581.739.

12 16.07 4.730.16 2.04 768.13 11.62 3.40 544.050.00 Kebutuhan RTH (Ha) 672.Tabel C.28 2.22 250.27 856.63 21.61 9.933.602.87 470.28 L-8 .707.47 20.08 36.330.559.107.85 29.42 Luas (%) 28.28 2.5 Kebutuhan RTH di Kota Bandung Tahun 2004 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Wilayah pengembangan Bojonagara Cibeunying Karees Tegalega Gedebage Ujungberung Kota Bandung Luas wilayah (Ha) 2.09 2.

LAMPIRAN D (informatif) PILIHAN VEGETASI UNTUK DIKEMBANGKAN DI RTH Pengenal Lingkungan Perawakan Daya Tarik Potensi di RTH Dapat dikonsumsi ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Reduktor Polutan ● ● ● ● ● ● ● ● Pohon Sedang Pohon Kecil 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Akalipa hijau kuning Akasia daun besar Akasia kuning Angrek Tanah Angsana Apel Asam Asem landi Bakung Bambu Jepang Beringin Bintaro Bogenvil Bunga pukul empat Bunga saputangan Bungur Cemara gunung Cemara laut Cemara Norfolk Cempaka Dadap belang Dadap merah Damar Durian Ebony/ Kayu hitam Flamboyan Ganitri Glodogan pohon Glodogan tiang Hujan Mas Iris Jambu air Jambu batu Jambu monyet Jarak Jati Jeruk bali Jeruk nipis Johar Kalak Kaliandra Kana Kantil Karet Munding Kasia singapur Acalypha wilkesiana Accacia mangium Acacia auriculaeformis Spathoglotis plicata Pthecarpus indicus Chrysophyllum cainito Tamarindus indica Pitchecolobium dulce Crinum asiaticum Bambusa sp. Polyathea longifolia Cassia fistula Belamcanda chinensis Eugenia aquea Psidium guajava Anacardium occidentale Jatropha integerima Tectona grandis Citrus grandisty Citrus aurantifolia Cassia siamea Polyantha lateriflora Caliandra haematocepala Canna Hibrida Michelia alba Ficus elastica Cassia spectabilis ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● L-9 Pengarah No Nama Lokal Nama Latin Bentuk Tajuk Pohon Besar Warna daun Tekstur Semak Bunga Perdu Buah . Ficus benyamina Cerbera manghas Bougenvillea sp Mirabilis jalapa Amherstia nobilis Lagerstromea loudonii Casuarina junghuniana Casuarina equisetifolia Araucaria heterophylla Michelia champaca Erythrina variegata Erythrina cristagalli Agathis alba Durio zibethinus Dyospiros celebica Delonix regia Elaeocarpus grandisflora Polyathea sp.

Trembesi Samanea saman Kelapa Kembang merak Kembang Sepatu ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● L .10 Pengarah ● ● Tekstur No Nama Lokal Nama Latin Pohon Kecil Semak Bunga Perdu Buah . Nyamplung Callophyllum inophyllum Oleander Nerium oleander Palem Ekor Tupai Wodyetia bifurca Palem kubis Licuala grandis Palem Kuning Chrysalidocarpus lutescens Palem Merah Cytostachys renda Palem Raja Oreodoxa regia Palem Sadeng Livistona rotundifolia Pangkas kuning Duranta sp. tusam Pinus mercusii Puspa Schima wallichii Salam Eugenia polyantha Sansiviera/Lidah mertua Sanseviera trifasciata L Sarai raja Caryota mitis Sawo kecik Manilkara kauki Serunai rambat Widelia sp. Pepaya Carica papaya Pinang Jambe Areca catechu Pinang Mac-arthur Ptychosperma macarthurii Pinus. Sikat botol Callistemon lanceolatus Soka Ixora stricata Sukun Artocarpus altilis Sutra bombay Portulaca gransiflora Tanjung Mimusops elengi Tapak dara Catharanthus roseus Teh-tehan Pangkas Acalypha sp.Perawakan Pohon Sedang Pohon Besar Daya Tarik Bentuk Tajuk Warna daun Potensi di RTH Dapat dikonsumsi ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Reduktor Polutan ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Pengenal Link ● 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 Cocos nucifera Caesalphinia pulcherima Hibiscusrosa sinensis Kemboja merah Plumeria rubra Kemuning Muraya paniculata Kenanga Cananga odorata Kenari Canarium commune Kersen Muntingiacalabura Kesumba Bixa orellana Ketapang Terminalia cattapa Ki acret Spathodea companulata Kiara Payung Filicium decipiens Kol Banda */ Pisonia alba Kupu-kupu Bauhinia purpurea Lamtorogung Leucaena leccocephala Landep Baleria priontis Lantana Lantana camara Lengkeng Euphoria longan Lontar / Siwalan Borassus flabellifer Mahoni Switenia mahagoni Mangga Mangifera indica Mangkokan Nothopanax scutellarium Matoa Pometia pinata Menteng Baccaurea motleyana Merawan Hopea mangarawan Mimba Azadirachta indica Nagasari Mesua ferrea Nangka Artocarpus heterophylla Nusa Indah Musaenda sp.

Lansekap Jalan. S. Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan. Hadi Susilo Arifin dan Nurhayati HS Arifin.. Dines T Nicholas & Brown D Kyle. Bogor. 2005. Pedoman Teknik Departemen Pekerjaan Umum. Standard Specifications for Geometric Design of Urban Roads. 1988. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. Pembangunan Rumah Sederhana Tidak Bersusun. RTH sebagai Unsur Utama Pembentuk Kota Taman. Pedoman Umum Penanaman Jalur Hijau Jalan. tentang Garis Sempadan. Penebar Swadaya. Pengantar Pengetahuan Dasar Hortikultura. 1995. 1981. 2004. EN. Departemen Pekerjaan Umum. Kurniawan. 2004. Membuat dan Merawat Taman Rumah. dalam Dahlan. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. 2004. F. Pengaruh Hutan dan Manajemen Daerah Aliran Sungai. Direktorat Jenderal Bina Marga. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. edisi revisi. IPB Press. 1993. Mona Sintia dan Murhananto. Bandung. 2006. Depok. McGraw-Hill. 1986. Time Saver Standards for Landscape Architecture. Mendisain. IPB Press. 2004. 1976. 2005. 1992. Dines. Mc Graw – Hill Professional. Direktorat Jenderal Cipta Karya. L . Tangerang. dalam Dahlan.11 .. Perda Depok No. 2004. Bogor. New York. Pemeliharaan Tanaman.BIBLIOGRAFI Charles Harries & Nicholas T. Rully Wijayakusuma. Kementerian Lingkungan Hidup. Daya Transpirasi Tanaman Perkotaan. IPB Press. Sinar Baru. Manan. Pemeliharaan Taman. Jurusan Arsitektur Lansekap Faperta Unbar. Spesifikasi Tanaman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Hendro Sunaryo dan Rismunandar. EN. Directorate General of Highways.18 Tahun 2003. 2007. Landscape Architect’s Portable Hand Book. Pedoman Perencanaan Median Jalan. Jakarta. Bogor. 2004. Agro Media Pustaka. Direktorat Jenderal Penataan Ruang. Dahlan. 2001. Bandung. E N. Ministry of Public Works. Departemen Pekerjaan Umum. Departemen Pekerjaan Umum.

Tantangan Lingkungan Hidup dan Lansekap Kota. Jakarta. Kota. tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Undang-Undang No. SNI 031/T/BM/1999. 1989. Pustaka Cidesindo. Jurusan Teknik Planologi FT Unpas. 13 Tahun 1992. Kajian Kebutuhan Hutan Kota di Kota Bandung. Ekologi Hutan Indonesia.Soerianegara dan Indrawan. 1998. RTH Sebagai Unsur Utama Pembentuk Undang-Undang No. 27 April 2006. tentang Perkeretaapian. tentang Jalan. 14 Tahun 1992. Highway Economic Requirements System. Surat Kabar Harian Pikiran Rakyat. United States Department of Transportation. 1977. Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan L .1988. 38 Tahun 2004. dalam Noor Syailendra. Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan SNI 033/T/BM/ 1996. dalam Endes Nurfilmarasa. Wisessa. Zoer’aini Djamal Irwan.12 . Undang-Undang No. Penentuan Luas Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen. J.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful