PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang : a. bahwa kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik terutama Ruang Terbuka Hijau (RTH) saat ini mengalami penurunan yang sangat signifikan dan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan hidup perkotaan yang berdampak keberbagai sendi kehidupan perkotaan antara lain sering terjadinya banjir, peningkatan pencemaran udara, dan menurunnya produktivitas masyarakat akibat terbatasnya ruang yang tersedia untuk interaksi sosial; b. bahwa Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang memberikan landasan untuk pengaturan ruang terbuka hijau dalam rangka mewujudkan ruang kawasan perkotaan yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan; c. bahwa dalam rangka implementasi Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang diperlukan adanya Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu ditetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);

3. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara RI; 4. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara RI; 5. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu; 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN.

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Menteri adalah Menteri Pekerjaan Umum. Pasal 2 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan dimaksudkan untuk: a. menyediakan acuan yang memudahkan pemangku kepentingan baik pemerintah kota, perencana maupun pihak-pihak terkait, dalam perencanaan, perancangan, pembangunan, dan pengelolaan ruang terbuka hijau. memberikan panduan praktis bagi pemangku kepentingan ruang terbuka hijau dalam penyusunan rencana dan rancangan pembangunan dan pengelolaan ruang terbuka hijau. memberikan bahan kampanye publik mengenai arti pentingnya ruang terbuka hijau bagi kehidupan masyarakat perkotaan. memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat dan pihak-pihak terkait tentang perlunya ruang terbuka hijau sebagai pembentuk ruang yang nyaman untuk beraktivitas dan bertempat tinggal.

2.

3.

b.

c. d.

Pasal 3 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan bertujuan untuk: a. b. menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air; menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat; meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih. Pasal 4 (1) Ruang lingkup Peraturan Menteri memuat: a. b. c. (2) ketentuan umum, yang terdiri dari tujuan, fungsi, manfaat, dan tipologi ruang terbuka hijau; ketentuan teknis yang meliputi penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan; prosedur perencanaan dan peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau.

c.

Materi muatan tentang pengaturan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimuat secara lengkap dalam lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 5

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Peraturan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk diketahui dan dilaksanakan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 26 Mei 2008 MENTERI PEKERJAAN UMUM,

DJOKO KIRMANTO

LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TANGGAL : 26 Mei 2008 PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN .

........................................4.................................................. 1................................. .........................2............3........... 1.......................3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota.............................................................................2..................................... 4............1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam.................................................................... ...............2...............................................................3 Pemeliharaan Tanaman......2.......5.......................................2 Peran Swasta. 4.........2................. 2..............................................................................3............ 4......1......... Tipologi RTH.............. Daftar Tabel. BAB I KETENTUAN UMUM 1..............................................2 Penanaman........ .....4 Penghargaan dan Kompensasi........................................... 2....... 2............................................................................. Prakata..6...............................................2.............................1 Peran Individu/Kelompok............... Arahan Penyediaan RTH.............................................2........................ 2.................... 2............................. 2. 2.................4....................... RTH Fungsi Tertentu......................................................... Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan......................... ................ 2.... 3..................................................................................... Manfaat RTH......................... BAB IV PROSEDUR PERENCANAAN DAN PERAN MASYARAKAT 4...................... Istilah dan Definisi...............................2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota.................................................................................2.3...................... Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman........................................... 1.... Fungsi RTH..........3...... Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan.................... 2.......................3.......................................................................... ..................................... Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan...... 2.......................... 2.............4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau....1 Pada Bangunan/Perumahan....................2.................... Ketentuan Penanaman......................................................3.....2 Pada Lingkungan/Permukiman................................4...................... Kriteria Vegetasi RTH.............................................................. 3........ BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 2.................8.... i i iii iv v 1 1 1 1 3 5 5 6 6 9 9 10 10 12 14 31 31 32 33 34 36 38 43 43 43 44 45 47 47 47 52 55 59 59 59 61 61 62 62 ........................ 2................. 4......................3...................................1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan..... ..................1............... 1.....3............4......... Daftar Gambar..... 1.............2.. 4.................. Prosedur Perencanaan.............................................................................4......................1............................... Kedudukan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah...... 2........................................................................................................................................... Ruang Lingkup Pedoman..... 2........... 1..........DAFTAR ISI Daftar Isi.... 2.......................................... Tujuan Penyelenggaraan RTH........4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman.........4...3 Kota/Perkotaan.............3.........................................1................................................4............................................5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan.........................3 Lembaga/Badan Hukum.................................................................................................. 3................ 2..................2....7...................................... BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 3.................................................. Peran Masyarakat...............................................6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu........... Acuan Normatif..................... 1.............

............. Contoh Perhitungan Hutan Kota..................................................... Gambar Contoh RTH Taman................................................................................................ L-1 L-2 L-5 L-9 Bibliografi...... L-11 ii ................................................................................................................................... Pilihan Vegetasi untuk Dikembangkan di RTH........Lampiran A Lampiran B Lampiran C Lampiran D Bagan Proporsi RTH Wilayah Perkotaan.........................

.....................1 2.........................................................................7 2........13 2...................... Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api...... Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota............................................14 3............... Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan......................................... Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor........... Kemampuan Hutan dalam Mengendalikan Gelombang Pendek dan Gelombang Panjang.........3 3................................................. Contoh Tanaman untuk Sabuk Hijau yang Tahan Terhadap Penggenangan Air................11 2.....................2 2....3 2. Bandung..............3 2...............5 2.....................4 2.1 C........................................................ Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota........DAFTAR TABEL Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 1......... Kebutuhan RTH di Kota Bandung Tahun 2004 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen.5 C..................... Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET.............. Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki.............5 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH.....8 2....... 5 7 8 9 22 25 26 32 33 33 34 37 37 38 39 40 43 50 51 53 54 57 L-6 L-6 L-7 L-7 L-8 iii ........ Kebutuhan Oksigen Manusia di Kota Bandung Tahun 2004.....2 3....................................1 3............................................. RTH Sempadan Danau dan Mata Air.......................................................................... Contoh Tanaman untuk Roof Garden................................................... Kepemilikan RTH..................4 Tabel C.................2 C..............4 3..................................... Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk.................................12 2.......... Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor di Wilayah Bojonagara....... Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan....................................2 1..............................10 2........... Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan......... Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api................. Kebutuhan Oksigen Menurut Klasifikasi Jenis Kendaraan Bermotor............. Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET. Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Hutan Kota..............6 2..................9 2...............3 C......... Contoh Vegetasi untuk Pemakaman......................1 1....................................................................... Contoh Tanaman untuk Di Bawah Jalan Layang............. Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai........ Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan.........................

.... Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air...1 2..16 3............ Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden............2 2....................... Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang.............DAFTAR GAMBAR Gambar 1........................................................................12 2............... Contoh Taman Rukun Kelurahan...........3 2.2 B............................................................................................................................. Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai.................................6 2. Pelibatan Masyarakat pada Pemanfaatan Dan Pengendalian....................10 2.......... Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara.................. Contoh Taman Rukun Warga..5 3.13 2....................................... Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT)................................... Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan.... Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin....... Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT) ...............4 3.............................7 2... Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH Di Bawah Jalan Layang.......................2 3................4 B..............1 B............... Tipologi RTH................... Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak..................................................................................... Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan............... Contoh Taman Kecamatan.............................................. 4 7 12 15 15 17 18 19 19 20 21 21 23 24 25 29 30 31 48 48 49 50 51 52 53 60 L-2 L-2 L-3 L-3 L-4 L-4 iv ...................... Jalur Tanaman Tepi Peneduh..4 2.....................................3 B...2 2....11 2..........9 2.........6 3.................1 3.......... Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT) ...........................................................................5 2.................................................... Jalur Tanaman pada Median Penahan Silau Lampu Kendaraan.......... Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman.5 B.....................................1 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 1....... ... Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif)...................................... Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif)...........................1 B.....3 3........ Pola Tanam Hutan Kota Strata 2.................. Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki. Contoh Taman Kota.... Jalur Tanaman Tepi Pembatas Pandang...............................................................................……………………………..............6 Kedudukan Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam RTR Kawasan Perkotaan...................15 2...................................... Contoh Taman Rukun Kelurahan.........8 2.. Contoh Taman Rukun Warga........................................14 2...........7 4............................. Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT)........................... Contoh Taman Rukun Kecamatan...............

prosedur perencanaan dan peran masyarakat yang semuanya merupakan pedoman teknis yang berlaku secara nasional.PRAKATA Buku pedoman ini disusun oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang. Pedoman ini berisi rujukan untuk penyediaan RTH. pemanfaatan RTH. Proses penyusunan pedoman ini telah melibatkan berbagai kalangan masyarakat termasuk para akademisi dari perguruan tinggi terkemuka. v . Departemen Pekerjaan Umum dan merupakan salah satu rujukan teknis Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten serta seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) terutama para praktisi dan para akademisi di berbagai kegiatan yang dalam tugas dan kegiatannya berkaitan dengan penyediaan dan pemanfaatan RTH di kawasan perkotaan. Pedoman ini dipersiapkan oleh Panitia Teknik Standardisasi Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil melalui Gugus Kerja Perencanaan Sub Panitia Teknis Tata Ruang. kriteria vegetasi untuk RTH. ketentuan penanaman dan pemeliharaan tanaman.

jaringan tenaga listrik. Elemen lansekap. tentang Jalan g. penanaman dan pemeliharaan tanaman. Ruang Lingkup Pedoman Pedoman ini terdiri dari ketentuan umum dan ketentuan teknis serta lampiran-lampiran sebagai pelengkapnya. Peraturan Pemerintah RI No. tepi situ/rawa. penyediaan RTH berdasarkan: luas wilayah. warna dan suasana yang merupakan pembentuk lansekap. batu. 2. e. dan kebutuhan fungsi tertentu. Ketentuan umum meliputi ruang lingkup pedoman. pasir. arahan penyediaan RTH. Istilah dan Definisi 1. tepi waduk. 34 Tahun 2006. prosedur perencanaan dan peran masyarakat. Ketentuan teknis merupakan pedoman rinci. acuan normatif. jumlah penduduk.Ketentuan Umum Bab I BAB I KETENTUAN UMUM 1. Jalur hijau. adalah segala sesuatu yang berwujud benda. suara. adalah garis batas luar pengaman untuk mendirikan bangunan dan atau pagar yang ditarik pada jarak tertentu sejajar dengan as jalan.2. dan ketentuan penanaman. pipa gas. tentang Hutan Kota Peraturan Pemerintah RI No. meliputi: a). as rel kereta api. 1. 26 Tahun 2007. baik yang bersifat alamiah maupun buatan manusia. 63 Tahun 2002. 3. 1 . Tatacara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan 1. Acuan Normatif Undang-Undang RI No. dan elemen-elemen lainnya yang berbentuk padat maupun cair. istilah dan definisi. kedudukan pedoman penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam rencana tata ruang wilayah. pada lingkungan/permukiman.1. tujuan penyelenggaraan RTH. kaki tanggul. tepi mata air. tentang Bangunan Gedung Undang-Undang RI No. tentang Penataan Ruang Peraturan Pemerintah RI No. tepi sungai. fungsi tertentu. 36 Tahun 2005. dan tipologi RTH. SNI 03-1733-2004. sedangkan yang dimaksud dengan benda hidup ialah tanaman. Hutan kota. fungsi dan manfaat RTH. tepi luar kepala jembatan. Garis sempadan. tentang Pengelolaan Kawasan Lindung h. b). Elemen lansekap yang berupa benda terdiri dari dua unsur yaitu benda hidup dan benda mati. tepi saluran. dan yang dimaksud dengan benda mati adalah tanah. pada kota/perkotaan. adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak. d. kriteria vegetasi RTH. tentang Sumber Daya Air Undang-Undang RI No. 7 Tahun 2004. yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang. tentang Peraturan Pelaksanaan Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum f. 28 Tahun 2002. 4. 32 Tahun1990. b. c. pemanfaatan RTH: pada bangunan/perumahan. Keputusan Presiden RI No. adalah jalur penempatan tanaman serta elemen lansekap lainnya yang terletak di dalam ruang milik jalan (RUMIJA) maupun di dalam ruang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan a.3. Pedoman ini dilengkapi dengan foto dan gambar contoh beberapa RTH.

12. Koefisien Dasar Bangunan (KDB). nyaman dan memenuhi fungsi keamanan. adalah ruang terbuka di wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam kategori RTH. Penutup tanah. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 2 . Peran masyarakat. 14. adalah semua jenis tumbuhan yang difungsikan sebagai penutup tanah. adalah kesatuan geografis yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional serta mempunyai fungsi utama tertentu. Ruang Terbuka Hijau (RTH). adalah pohon yang memiliki ketinggian dewasa lebih dari 12 meter. adalah pohon yang memiliki ketinggian sampai dengan 7 meter. 10. 7. adalah berbagai kegiatan masyarakat. maupun yang terbentuk dari elemen lansekap buatan manusia yang disesuaikan dengan kondisi lahannya. Kawasan perkotaan. Ruang terbuka terdiri atas ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non hijau. adalah wajah dari karakter lahan atau tapak yang terbentuk pada lingkungan jalan. Ruang terbuka hijau privat. adalah tumbuhan berkayu dengan percabangan mulai dari pangkal batang dan memiliki lebih dari satu batang utama. 13. 15. adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. 11. 20. Pohon. Perdu. adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur dimana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. baik yang tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan gedung dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. 16. Sering disebut jalur hijau karena dominasi elemen lansekapnya adalah tanaman yang pada umumnya berwarna hijau. Ruang terbuka non hijau. 6. 19. yang timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat sesuai dengan hak dan kewajiban dalam penyelenggaraan penataan ruang. Pohon besar. Koefisien Daerah Hijau (KDH). 8. adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan. baik yang terbentuk dari elemen lansekap alamiah seperti bentuk topografi lahan yang mempunyai panorama yang indah. adalah semua tumbuhan berbatang pokok tunggal berkayu keras. tempat tumbuh tanaman. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. pengawasan jalan (RUWASJA). yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. Ruang terbuka. adalah area memanjang/jalur dan atau mengelompok. berupa lahan yang diperkeras maupun yang berupa badan air. 18. 17. 9. Pohon kecil. Pohon sedang. adalah pohon yang memiliki ketinggian dewasa 7-12 meter. Kawasan.Ketentuan Umum Bab I 5. adalah RTH milik institusi tertentu atau orang perseorangan yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas antara lain berupa kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan. Lansekap jalan ini mempunyai ciri-ciri khas karena harus disesuaikan dengan persyaratan geometrik jalan dan diperuntukkan terutama bagi kenyamanan pemakai jalan serta diusahakan untuk menciptakan lingkungan jalan yang indah. Lansekap jalan.

30. perdu. Ruang terbuka hijau publik. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 3 . adalah bangunan pengendali sungai yang dibangun dengan persyaratan teknis tertentu untuk melindungi daerah sekitar sungai terhadap limpasan air sungai. yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan kondisi geografis. Taman kota. RDTR Kota. adalah kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya. 29. adalah jenis tanaman penutup permukaan tanah yang bersifat selain mencegah erosi tanah juga dapat menyuburkan tanah yang kekurangan unsur hara. Perencanaan tata ruang dilakukan untuk menghasilkan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang. Adapun ketentuan lebih lanjut mengenai penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau diatur dalam pedoman ini. adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif. Di dalam Undang-Undang No. dan rumput. adalah tumbuhan berbatang hijau serta tidak berkayu disebut sebagai 24. Tajuk. edukasi atau kegiatan lain pada tingkat lingkungan. perencanaan tata ruang wilayah kota harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau yang luas minimalnya sebesar 30% dari luas wilayah kota. adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. Rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau selain dimuat dalam RTRW Kota. atau RTR Kawasan Strategis Kota. penataan ruang terdiri atas penataan ruang wilayah nasional. Biasanya merupakan tanaman antara bagi tanah yang kurang subur sebelum penanaman tanaman yang tetap (permanen). penataan ruang wilayah provinsi. 1. Kedudukan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Penataan ruang merupakan suatu sistem proses perencanaan tata ruang. juga dimuat dalam RTR Kawasan Perkotaan yang merupakan rencana rinci tata ruang wilayah Kabupaten. pemanfaatan ruang. herbaseus. 26. meliputi pohon. Tanggul. 27. Berdasarkan wilayah administrasinya. Tanaman penutup tanah. Semak. semak. 23. adalah RTH yang memiliki tujuan utama untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu.4. adalah bentuk alami dari struktur percabangan dan diameter tajuk. dan pengendalian pemanfaatan ruang. edukasi atau kegiatan lain pada tingkat kota. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Vegetasi/tumbuhan. penataan ruang wilayah kabupaten/kota. adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif. adalah keseluruhan tetumbuhan dari suatu kawasan baik yang berasal dari kawasan itu atau didatangkan dari luar. Wilayah.Ketentuan Umum Bab I 21. 25. 28. 22. Taman lingkungan. Sabuk hijau (greenbelt).

i. area penciptaan iklim mikro dan pereduksi polutan di kawasan perkotaan. penyediaan RTH yang bersifat privat. kawasan pengendalian air larian dengan menyediakan kolam retensi. dimaksudkan untuk menjamin tersedianya ruang yang cukup bagi: a. f. h.1 Kedudukan Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam RTR Kawasan Perkotaan Penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam RTRW Kota/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 4 . e. k. pembatas perkembangan kota ke arah yang tidak diharapkan. tempat pemakaman umum. melalui pembatasan kepadatan serta kriteria pemanfaatannya. c. kawasan konservasi untuk kelestarian hidrologis. area pengembangan keanekaragaman hayati. j. dan ruang penempatan pertandaan (signage) sesuai dengan peraturan perundangan dan tidak mengganggu fungsi utama RTH tersebut. Kedalaman rencana penyediaan dan pemanfaatan RTH pada masing-masing rencana tata ruang tersebut di atas dapat dilihat pada Tabel 1. d. pengamanan sumber daya baik alam. tempat rekreasi dan olahraga masyarakat. g. buatan maupun historis. area mitigasi/evakuasi bencana.1.Ketentuan Umum Bab I Gambar 1. b.

b. alternatif vegetasi pengisi ruang khususnya arahan vegetasi dalam kelompok-kelompok besar. RDTRK/RTR Kawasan 1) Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan 2) (Rencana Rinci) 3) 4) 5) 6) 1. Konsep-konsep rencana RTH sebagai arahan untuk pengembangan disain selanjutnya. Rencana penyediaan RTH yang dirinci berdasarkan jenis/tipologi RTH. dan luas dengan skala yang lebih detail/besar. arahan elemen pelengkap pada RTH. Tahap-tahap implementasi penyediaan RTH. Penetapan jenis dan lokasi RTH yang akan disediakan. hingga konsep-konsep rencana RTH sebagai arahan untuk pengembangan disain selanjutnya. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 5 . ƒ pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung lancar. Tujuan Penyelenggaraan RTH Tujuan penyelenggaraan RTH adalah: a. nyaman. segar. dan bersih. Arahan elemen pelengkap pada RTH. c. Indikasi program mewujudkan penyediaan RTH pada masing-masing kawasan/bagian wilayah kota. Fungsi utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis: ƒ memberi jaminan pengadaan RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota).1 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH Jenis Rencana Tata Ruang Rencana Tata Ruang Wilayah 1) 2) Kota (Rencana Umum) 3) 4) 5) Kedalaman Muatan Luas minimum yang harus dipenuhi. Menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat. Fungsi RTH RTH memiliki fungsi sebagai berikut: a. ƒ sebagai peneduh. Tipologi masing-masing RTH.5. 1.Ketentuan Umum Bab I Tabel 1. Ketentuan tentang peraturan zonasi. Ketentuan pemanfaatan RTH secara umum. Menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air. Meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman. ƒ penyerap air hujan. lokasi. Alternatif vegetasi pengisi ruang khususnya arahan vegetasi dalam kelompok-kelompok besar. indah.6. ƒ produsen oksigen.

menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota. bunga. dan pelatihan dalam mempelajari alam. yaitu membentuk keindahan dan kenyamanan (teduh. Tipologi RTH Pembagian jenis-jenis RTH yang ada sesuai dengan tipologi RTH sebagaimana Gambar 1. dan keberlanjutan kota seperti perlindungan tata air.7. daun. b. pelestarian fungsi lingkungan beserta segala isi flora dan fauna yang ada (konservasi hayati atau keanekaragaman hayati). 1. maupun makro: lansekap kota secara keseluruhan. b. Manfaat RTH Manfaat RTH berdasarkan fungsinya dibagi atas: a. . .Ketentuan Umum Bab I ƒ penyedia habitat satwa. air dan tanah. keseimbangan ekologi dan konservasi hayati. .merupakan media komunikasi warga kota. buah. . . kepentingan. ƒ penahan angin. Manfaat tidak langsung (berjangka panjang dan bersifat intangible).meningkatkan kenyamanan. .sumber produk yang bisa dijual. yaitu pembersih udara yang sangat efektif. perkebunan.8. segar. kehutanan dan lainlain. seperti tanaman bunga.bisa menjadi bagian dari usaha pertanian. lingkungan permukimam. ƒ Fungsi ekonomi: . pemeliharaan akan kelangsungan persediaan air tanah. empat fungsi utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan. memperindah lingkungan kota baik dari skala mikro: halaman rumah. sayur mayur.tempat rekreasi. daun. ƒ penyerap polutan media udara.menggambarkan ekspresi budaya lokal. .2 berikut: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 6 . Manfaat langsung (dalam pengertian cepat dan bersifat tangible). 1. serta. buah). Dalam suatu wilayah perkotaan. ƒ Fungsi estetika: .pembentuk faktor keindahan arsitektural. Fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu: ƒ Fungsi sosial dan budaya: .wadah dan objek pendidikan. penelitian. sejuk) dan mendapatkan bahan-bahan untuk dijual (kayu.menciptakan suasana serasi dan seimbang antara area terbangun dan tidak terbangun.

Halaman perkantoran. Taman atap bangunan RTH Taman dan Hutan Kota a. Taman RT b. Secara struktur ruang. Ruang dibawah jalan layang RTH Publik RTH Privat V V V V V V V V V V V V V V V V V dan tempat 2. pertokoan. Pulau jalan dan median jalan b. 3.2 Kepemilikan RTH No. V V Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 7 .Ketentuan Umum Bab I Fisik Fungsi Ekologis Struktur Kepemilikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) RTH Alami Sosial Budaya Estetika Pola Ekologis RTH Publik RTH Non Alami Ekonomi Pola Planologis RTH Privat Gambar 1. Hutan kota g. estetika. sosial budaya. 1. Dilihat dari fungsi RTH dapat berfungsi ekologis. Tabel 1. Jenis RTH Pekarangan a. RTH dapat mengikuti pola ekologis (mengelompok. RTH dibedakan ke dalam RTH publik dan RTH privat. memanjang. Taman kecamatan e. tersebar). maupun pola planologis yang mengikuti hirarki dan struktur ruang perkotaan. Pembagian jenis-jenis RTH publik dan RTH privat adalah sebagaimana tabel 1. Taman kelurahan d. kawasan lindung dan taman-taman nasional serta RTH non alami atau binaan seperti taman.2 berikut. Dari segi kepemilikan. pemakaman atau jalur-jaur hijau jalan.2 Tipologi RTH Secara fisik RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami berupa habitat liar alami. Taman kota f. Jalur pejalan kaki c. Taman RW c. usaha c. Sabuk hijau (green belt) RTH Jalur Hijau Jalan a. dan ekonomi. Pekarangan rumah tinggal b. lapangan olahraga.

RTH sempadan pantai e. 4.d.3 Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan Tipologi Kawasan Perkotaan Pantai Karakteristik RTH Fungsi Utama Penerapan Kebutuhan RTH pengamanan wilayah pantai sosial budaya mitigasi bencana konservasi tanah konservasi air keanekaragaman hayati mitigasi/evakuasi bencana dasar perencanaan kawasan sosial ekologis sosial hidrologis ƒ berdasarkan luas wilayah ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan luas wilayah ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan jumlah penduduk ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan jumlah penduduk ƒ ƒ ƒ Pegunungan ƒ ƒ ƒ Rawan Bencana ƒ Berpenduduk ƒ jarang s. Baik RTH publik maupun privat memiliki beberapa fungsi utama seperti fungsi ekologis serta fungsi tambahan. maka RTH ini harus memiliki aksesibilitas yang baik untuk semua orang. ƒ sedang ƒ Berpenduduk ƒ padat ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 8 . Jenis RTH Fungsi Tertentu a. RTH sempadan rel kereta api b. estetika/arsitektural. Berikut ini tabel arahan karakteristik RTH di perkotaan untuk berbagai tipologi kawasan perkotaan: Tabel 1. RTH pengamanan sumber air baku/mata air f. termasuk aksesibilitas bagi penyandang cacat. Khusus untuk RTH dengan fungsi sosial seperti tempat istirahat. Jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi c. RTH sempadan sungai d. Pemakaman RTH Publik V V V V V V RTH Privat Catatan: taman lingkungan yang merupakan RTH privat adalah taman lingkungan yang dimiliki oleh orang perseorangan/masyarakat/swasta yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas. yaitu sosial budaya. sarana olahraga dan atau area bermain. Karakteristik RTH disesuaikan dengan tipologi kawasannya. ekonomi.Ketentuan Umum Bab I No.

2 Lokasi di tengah lingkungan RT di pusat kegiatan RW dikelompokan dengan sekolah/ pusat kelurahan dikelompokan dengan sekolah/ pusat kecamatan tersebar 4 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 9 . dilakukan dengan mengalikan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan standar luas RTH per kapita sesuai peraturan yang berlaku.250 9.000 jiwa Tipe RTH Taman RT Taman RW Taman Kelurahan Taman kecamatan Pemakaman Luas minimal/ unit (m2) 250 1. Penyediaan RTH Berdasarkan Luas Wilayah Penyediaan RTH berdasarkan luas wilayah di perkotaan adalah sebagai berikut: ƒ ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH privat. Tabel 2. Target luas sebesar 30% dari luas wilayah kota dapat dicapai secara bertahap melalui pengalokasian lahan perkotaan secara tipikal sebagaimana ditunjukkan pada lampiran A. maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya. Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk Untuk menentukan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk. ƒ apabila luas RTH baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah memiliki total luas lebih besar dari peraturan atau perundangan yang berlaku.000 24. ƒ proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari ruang terbuka hijau privat. Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota.000 jiwa 120.2 1. b. baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat. serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota.1.3 0.5 0. Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan a.000 disesuaikan Luas minimal/ kapita (m2) 1. maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 2.1 Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk No 1 2 3 Unit Lingkungan 250 jiwa 2500 jiwa 30.0 0.

000 jiwa Hutan kota untuk fungsi-fungsi tertentu c. yang berfungsi untuk berbagai aktivitas.1 Pada Bangunan/Perumahan a. Untuk memudahkan di dalam pengklasifikasian pekarangan maka ditentukan kategori pekarangan sebagai: a.2.1.2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No Unit Lingkungan Tipe RTH Taman kota Luas minimal/ unit (m2) 144.5 Lokasi di pusat wilayah/ kota di dalam/ kawasan pinggiran disesuaikan dengan kebutuhan 5 480.000 disesuaikan disesuaikan Luas minimal/ kapita (m2) 0. Arahan Penyediaan RTH 2. jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi.0 12. dan RTH pengamanan sumber air baku/mata air. pengaman pejalan kaki atau membatasi perkembangan penggunaan lahan agar fungsi utamanya tidak teganggu. sarana dan prasarana misalnya melindungi kelestarian sumber daya alam. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 10 . RTH kawasan perlindungan setempat berupa RTH sempadan sungai. Penyediaan RTH Berdasarkan Kebutuhan Fungsi Tertentu Fungsi RTH pada kategori ini adalah untuk perlindungan atau pengamanan. RTH sempadan pantai.3 4. jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 3 (tiga) pohon pelindung ditambah dengan perdu dan semak serta penutup tanah dan atau rumput. Luas pekarangan disesuaikan dengan ketentuan koefisien dasar bangunan (KDB) di kawasan perkotaan. RTH Pekarangan Pekarangan adalah lahan di luar bangunan. seperti tertuang di dalam PERDA mengenai RTRW di masing-masing kota. ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat. RTH kategori ini meliputi: jalur hijau sempadan rel kereta api. 2. Pekarangan Rumah Besar Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah besar adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) kategori yang termasuk rumah besar adalah rumah dengan luas lahan di atas 500 m2.

2) ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat. berlaku seperti persyaratan pada RTH pekarangan rumah. Penyediaan RTH pada kawasan ini adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) Untuk dengan tingkat KDB 70%-90% perlu menambahkan tanaman dalam pot. Pekarangan Rumah Sedang Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah sedang adalah sebagai berikut: 1) kategori yang termasuk rumah sedang adalah rumah dengan luas lahan antara 200 m2 sampai dengan 500 m2. dan lain-lain Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 11 . b. dan tempat usaha umumnya berupa jalur trotoar dan area parkir terbuka. Persyaratan penanaman pohon pada perkantoran. a. teras-teras bangunan bertingkat dan disamping bangunan. 3) jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 2 (dua) pohon pelindung ditambah dengan tanaman semak dan perdu.3. memiliki minimal 2 (dua) pohon kecil atau sedang yang ditanam pada lahan atau pada pot berdiameter diatas 60 cm. RTH dalam Bentuk Taman Atap Bangunan (Roof Garden) Pada kondisi luas lahan terbuka terbatas. teras rumah. c.2. Keterbatasan luas halaman dengan jalan lingkungan yang sempit. Pertokoan. RTH Halaman Perkantoran. Perkantoran. serta penutup tanah dan atau rumput. 2) ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat. dan Tempat Usaha RTH halaman perkantoran. Pekarangan Rumah Kecil Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah kecil adalah sebagai berikut: 1) kategori yang termasuk rumah kecil adalah rumah dengan luas lahan dibawah 200 m2. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB dibawah 70%. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB diatas 70%. dan ditanam pada area diluar KDB yang telah ditentukan. pertokoan. tidak menutup kemungkinan untuk mewujudkan RTH melalui penanaman dengan menggunakan pot atau media tanam lainnya. seperti atap gedung. serta penutup tanah dan atau rumput. 3) jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 1 (satu) pohon pelindung ditambah tanaman semak dan perdu.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a. maka untuk RTH dapat memanfaatkan ruang terbuka non hijau.

Lokasi taman berada pada radius kurang dari 300 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayani. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk dalam lingkup 1 (satu) RT.2 Pada Lingkungan/Permukiman a. tahan terhadap hembusan angin serta relatif tidak memerlukan banyak air. khususnya untuk melayani kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut.1 Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden Tanaman untuk RTH dalam bentuk taman atap bangunan adalah tanaman yang tidak terlalu besar. Aspek yang harus diperhatikan dalam pembuatan taman atap bangunan adalah: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) struktur bangunan. 2. pemilihan material. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 12 . media tanam. Luas taman ini adalah minimal 1 m2 per penduduk RT.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II dengan memakai media tambahan. sistem utilitas bangunan. dengan perakaran yang mampu tumbuh dengan baik pada media tanam yang terbatas. dengan luas minimal 250 m2. aspek pemeliharaan ƒ peralatan ƒ tanaman Gambar 2.2. lapisan kedap air (waterproofing ). atau pada kawasan-kawasan dengan kepadatan tinggi dengan lahan yang sangat terbatas. Untuk itu bangunan harus memiliki struktur atap yang secara teknis memungkinkan. Lahan dengan KDB diatas 90% seperti pada kawasan pertokoan di pusat kota. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% . seperti pot dengan berbagai ukuran sesuai lahan yang tersedia.80% dari luas taman. aspek keselamatan dan keamanan. RTH dapat disediakan pada atap bangunan.

RTH Taman Rukun Warga RTH Taman Rukun Warga (RW) dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu RW.90% dari luas taman.80% dari luas taman. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 13 .250 m2. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 1000 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya.000 m2. juga terdapat minimal 10 (sepuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang. Lokasi taman berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan. dengan luas minimal 1. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan.2 m2 per penduduk kecamatan. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan.5 m2 per penduduk RW. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% .000 m2. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% . juga terdapat minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk taman aktif dan minimal 100 (seratus) pohon tahunan dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif. d. dengan luas minimal taman 9.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II juga terdapat minimal 3 (tiga) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang. Lokasi taman berada pada wilayah kelurahan yang bersangkutan. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kecamatan. Luas taman ini minimal 0. RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kelurahan. kegiatan olahraga masyarakat. serta kegiatan masyarakat lainnya di lingkungan RW tersebut. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. khususnya kegiatan remaja. Luas taman ini minimal 0. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. Luas taman ini minimal 0.30 m2 per penduduk kelurahan. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% .90% dari luas taman. juga terdapat minimal 25 (duapuluhlima) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman aktif dan minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif. b. dengan luas taman minimal 24. c.

Komunitas vegetasi tumbuh menyebar terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau gerombol-gerombol kecil. jalan. b.100% dari luas hutan kota. dengan jumlah vegetasi minimal 100 pohon dengan jarak tanam rapat tidak beraturan. dan semak ditanam secara berkelompok atau menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan. RTH Taman Kota RTH Taman kota adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kota atau bagian wilayah kota. pantai. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 14 .000 m2. saluran dan lain sebagainya. yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga. Meresapkan air. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. Hutan kota dapat berbentuk: a. c.3 Kota/Perkotaan a. Hutan kota berstrata banyak.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II 2. Hutan kota berstrata dua. yaitu hanya memiliki komunitas tumbuhtumbuhan pepohonan dan rumput.3 m2 per penduduk kota. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . dengan luas minimal 2500 m. Memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika. Lebar minimal hutan kota berbentuk jalur adalah 30 m. Jenis vegetasi yang dipilih berupa pohon tahunan. dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 80% . Taman ini melayani minimal 480. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau).000 penduduk dengan standar minimal 0. Bergerombol atau menumpuk: hutan kota dengan komunitas vegetasi terkonsentrasi pada satu areal. b. Berbentuk jalur: hutan kota pada lahan-lahan berbentuk jalur mengikuti bentukan sungai. b. perdu. Hutan Kota Tujuan penyelenggaraan hutan kota adalah sebagai peyangga lingkungan kota yang berfungsi untuk: a. Struktur hutan kota dapat terdiri dari: a. Menyebar: hutan kota yang tidak mempunyai pola bentuk tertentu.2. yaitu memiliki komunitas tumbuhtumbuhan selain terdiri dari pepohonan dan rumput. dengan luas taman minimal 144. Menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota. juga terdapat semak dan penutup tanah dengan jarak tanam tidak beraturan. d. dan Mendukung pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia. d. b.90%. c.

K ( 1 + R – C ) t – PAM .3 Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak Luas ruang hijau yang diisi dengan berbagai jenis vegetasi tahunan minimal seluas 90% dari luas total hutan kota.2 Pola Tanam Hutan Kota Strata 2 Gambar 2.Pa z dengan: La adalah adalah P0 K adalah R adalah C adalah PAM adalah t adalah Pa adalah z adalah luas hutan kota yang harus dibangun jumlah penduduk konsumsi air/kapita (lt/hari) laju peningkatan pemakaian air faktor pengendali kapasitas suplai air perusahaan tahun potensi air tanah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 15 . Dalam kaitan kebutuhan air penduduk kota maka luas hutan kota sebagai produsen air dapat dihitung dengan rumus: La = P0 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2.

ƒ ƒ Fungsi lingkungan sabuk hijau: ƒ ƒ ƒ ƒ Peredam kebisingan. daerah rendah dengan drainase yang kurang baik sering tergenang air hujan yang dapat mengganggu aktivitas kota serta menjadi sarang nyamuk. Mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari. 0. yang telah ada sebelumnya (eksisting) dan melalui peraturan yang berketetapan hukum. dan lain-lain) atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu. Hutan kota. dipenuhi pepohonan. perkebunan. Mengatasi penggenangan. serta pengamanan dari faktor lingkungan sekitarnya. sebagai berikut: Pt + Kt + Tt Lt = (54 )(0. Penahan angin. Kebun campuran. Sabuk Hijau Sabuk hijau merupakan RTH yang berfungsi sebagai daerah penyangga dan untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan (batas kota.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Hutan kota dalam kaitan sebagai produsen oksigen dapat dihitung dengan metode Gerakis (1974). dipertahankan keberadaannya.9375 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0. Sabuk hijau dapat berbentuk: ƒ RTH yang memanjang mengikuti batas-batas area atau penggunaan lahan tertentu.9375 )(2) m2 dengan: Lt adalah luas Hutan Kota pada tahun ke t (m2) Pt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t Kt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke Tt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t 54 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari. untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur. yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988). Penapis cahaya silau. ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 16 . pemisah kawasan. lebar jalur. pesawahan. sehingga berperan sebagai pembatas atau pemisah.9375 gram 2 adalah jumlah musim di Indonesia c.

perlu memperhatikan 2 (dua) hal. RTH hijau di dalam kota akan meningkatkan resapan air. d. Median atau pulau jalan dapat berupa taman atau non taman. yang disukai oleh burung-burung. Untuk menentukan pemilihan jenis tanaman. Penyerap dan penepis bau. Dalam pedoman ini dibahas pulau jalan dan median yang berbentuk taman/RTH. d) bermassa daun padat. e) berasal dari perbanyakan biji. sehingga akan meningkatkan jumlah air tanah yang akan menahan perembesan air laut ke daratan. b) percabangan 2 m di atas tanah. a.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ ƒ ƒ Mengatasi intrusi air laut. f) ditanam secara berbaris. Mengamankan pantai dan membentuk daratan. RTH dapat disediakan dengan penempatan tanaman antara 20–30% dari ruang milik jalan (rumija) sesuai dengan klas jalan. Gambar 2. serta tingkat evapotranspirasi rendah.4 Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan Pulau Jalan dan Median Jalan Taman pulau jalan adalah RTH yang terbentuk oleh geometris jalan seperti pada persimpangan tiga atau bundaran jalan. Sedangkan median berupa jalur pemisah yang membagi jalan menjadi dua lajur atau lebih. Disarankan agar dipilih jenis tanaman khas daerah setempat. g) tidak mudah tumbang. yaitu fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 17 .5 m dari tepi median). Mengatasi penggurunan. RTH Jalur Hijau Jalan Untuk jalur hijau jalan. Pada jalur tanaman tepi jalan 1) Peneduh a) ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1. c) bentuk percabangan batang tidak merunduk.

perdu/semak. jarak tanam rapat.5 Jalur Tanaman Tepi Peneduh 2) Penyerap polusi udara a) b) c) d) terdiri dari pohon.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Contoh jenis tanaman: a) Kiara Payung (Filicium decipiens) b) Tanjung (Mimusops elengi) c) Bungur (Lagerstroemia floribunda) Gambar 2. memiliki kegunaan untuk menyerap udara. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) Angsana (Ptherocarphus indicus) Akasia daun besar (Accasia mangium) Oleander (Nerium oleander) Bogenvil (Bougenvillea Sp) Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 18 . bermassa daun padat.

bermassa daun rapat. berbagai bentuk tajuk.6 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara 3) Peredam kebisingan a) b) c) d) terdiri dari pohon. membentuk massa.7 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 19 . perdu/semak.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) f) Tanjung (Mimusops elengi) Kiara payung (Filicium decipiens) Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Bogenvil (Bogenvillea sp) Oleander (Nerium oleander) Gambar 2.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II 4) Pemecah angin a) b) c) d) tanaman tinggi. bermassa daun padat. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) Cemara (Cassuarina equisetifolia) Mahoni (Swietania mahagoni) Tanjung (Mimusops elengi) Kiara Payung (Filicium decipiens) Kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis) Gambar 2.8 Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin 5) Pembatas pandang a) b) c) d) tanaman tinggi. ditanam berbaris atau membentuk massa. ditanam berbaris atau membentuk massa. jarak tanam rapat. perdu/semak. bermassa daun padat. jarak tanam rapat < 3 m. perdu/semak. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) Bambu (Bambusa sp) Cemara (Cassuarina equisetifolia) Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Oleander (Nerium oleander) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 20 .

5 m.9 Jalur Tanaman Tepi Pem mbatas Pan ndang b. p Contoh jen nis tanaman n: a) b) c) d) Bogen nvil (Bogenv villea sp) Kemb bang sepatu (Hibiscus rosasinensis r s) Olean nder (Netriu um oleander r) Nusa Indah (Mus ssaenda sp) 2 Jalur Tanaman pada Med dian Penah han Silau Gambar 2. Pada medi ian Penahan silau s lampu kendaraan a) b) c) d) tanam man perdu/s semak. ditana am rapat. m berma assa daun padat.Penyediaan P RT TH di Kawasan n Perkotaan Bab II Gambar 2. keting ggian 1.10 endaraan Lampu Ke Pedom man Penyediaan dan Pemanfa faatan Ruang Terbuka T Hijau di Kawasan Perkotaan P 21 1 .

misalnya: . Sebaiknya digunakan tanaman rendah berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian <0.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II c. Persimpangan 30 m kaki empat tidak Pada ujung Tanaman rendah Tanaman rendah tegak lurus persimpangan 80 m 80 m Tanaman tinggi Tanaman tinggi Catatan: .Lantana (Lantana camara) . berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian < 0. Untuk daerah bebas pandang ini ada ketentuan mengenai letak tanaman yang disesuaikan dengan kecepatan kendaraan dan bentuk persimpangannya.Tanaman tinggi. Penempatan dan pemilihan tanaman dan ornamen hiasan harus disesuaikan dengan ketentuan geometrik persimpangan jalan dan harus memenuhi kriteria sebagai berikut: a) Daerah bebas pandang tidak diperkenankan ditanami tanaman yang menghalangi pandangan pengemudi.8 m .2 Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan Jarak dan Jenis Tanaman Letak Tanaman Kecepatan 40 Kecepatan 60 km/jam km/jam 40 m Pada ujung 20 m 1.Soka berwarna-warni (Ixora stricata) . berbentuk pohon dengan percabangan di atas 2 meter Bentuk Persimpangan 2) Pemilihan jenis tanaman pada persimpangan Penataan lansekap pada persimpangan akan merupakan ciri dari persimpangan itu atau lokasi setempat. Pada Persimpangan Jalan Beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam penyelesaian lansekap jalan pada persimpangan.Pangkas Kuning (Duranta sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 22 . 02/T/BNKT/1992).80 m. antara lain: 1) Daerah bebas pandang di mulut persimpangan Pada mulut persimpangan diperlukan daerah terbuka agar tidak menghalangi pandangan pemakai jalan.Tanaman rendah. dan jenisnya merupakan berbunga atau berstruktur indah. (lihat buku "Spesifikasi Perencanaan Lansekap Jalan Pada Persimpangan” No. Tabel 2. Persimpangan persimpangan Tanaman rendah Tanaman rendah kaki empat tegak Mendekati 80 m 100 m lurus tanpa kanal persimpangan Tanaman tinggi Tanaman tinggi 50 m 2.

c) Penggunaan tanaman tinggi berbentuk tanaman pohon sebagai tanaman pengarah. RTH Ruang Pejalan Kaki Ruang pejalan kaki adalah ruang yang disediakan bagi pejalan kaki pada kiri-kanan jalan atau di dalam taman.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2.Pinang jambe (Areca catechu) .11 Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang b) Bila pada persimpangan terdapat pulau lalu lintas atau kanal yang dimungkinkan untuk ditanami. sebaiknya digunakan tanaman perdu rendah dengan pertimbangan agar tidak mengganggu penyeberang jalan dan tidak menghalangi pandangan pengemudi kendaraan.Lontar (siwalan) (Borassus flabellifer) 2) Tanaman pohon bercabang > 2 m Contoh: .Tanjung (Mimosups Elengi) e.Bungur (Lagerstromea Loudonii) . Ruang pejalan kaki yang dilengkapi dengan RTH harus memenuhi hal-hal sebagai berkut: 1) Kenyamanan. adalah cara mengukur ditawarkan oleh sistem pedestrian yaitu: kualitas fungsional yang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 23 . misalnya: 1) Tanaman berbatang tunggal seperti jenis palem Contoh: .Palem raja (Oreodoxa regia) .Khaya (Khaya Sinegalensis) .

menghindari kekumuhan dan lokasi tuna wisma. kehadiran penghambat fisik. jarak rata-rata orang berjalan di setiap tempat umumnya berbeda dipengaruhi oleh tujuan perjalanan. Ruang Terbuka Hijau di Bawah Jalan Layang Penyediaan RTH di bawah jalan layang dalam rangka: a) b) c) sebagai area resapan air. warisan dan nilai yang dianut terhadap lingkungan. meliputi: ƒ Kriteria dimensional. Kemudahan berpindah dari satu arah ke arah lainnya yang dipengaruhi oleh kepadatan pedestrian. 24 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . kepadatan penduduk. ƒ Gambar 2. kebiasaan dan gaya hidup. 468/KPTS/1998 tanggal 1 Desember 1998. berupa tanda visual (landmark. asri. kondisi cuaca. Jalur pejalan kaki harus aksesibel untuk semua orang termasuk penyandang cacat. agar area di bawah tertata rapi.12 Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki 3) Pedoman teknis lebih rinci untuk jalur pejalan kaki dapat mengacu pada Kepmen PU No. disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ Orientasi. Kriteria pergerakan. 2) Karakter fisik. dan indah. Pada umumnya orang tidak mau berjalan lebih dari 400 m. marka jalan) pada lansekap untuk membantu dalam menemukan jalan pada konteks lingkungan yang lebih besar. f. kebiasaan dan budaya. kondisi permukaan jalan dan kondisi iklim. tentang Persyaratan Teknis Aksesiblitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan dan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Ruang Pejalan Kaki.

RTH sempadan danau. g. Tabel 2. RTH Fungsi Tertentu RTH fungsi tertentu adalah jalur hijau antara lain RTH sempadan rel kereta api.lengkung dalam . Berkaitan dengan hal tersebut perlu dengan tegas menentukan lebar garis sempadan jalan kereta api di kawasan perkotaan.13 Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH di Bawah Jalan Layang Pemilihan tanaman seyogianya dari jenis yang tahan ternaungi sepanjang waktu dan relatif tahan kekurangan air. mengingat keterbatasan tempat. memperlembut bagian/struktur bangunan yang berkesan kaku. RTH pengamanan sumber air baku/mata air. RTH jaringan listrik tegangan tinggi. Jalan rel kereta api belokan/lengkungan . RTH sempadan sungai. Gambar 2. Jalan rel kereta api lurus b.1.3 Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api Jalan Rel Kereta Api terletak di: a. serta berukuran tidak terlalu besar. g. menutupi bagian-bagian struktur jalan yang tidak menarik. RTH sempadan pantai. Jalur Hijau (RTH) Sempadan Rel Kereta Api Penyediaan RTH pada garis sempadan jalan rel kereta api merupakan RTH yang memiliki fungsi utama untuk membatasi interaksi antara kegiatan masyarakat dengan jalan rel kereta api.lengkung luar Tanaman >11 m >23 m >11 m Obyek Bangunan >20 m >23 m >11 m Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 25 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II d) e) f) menghindari permukiman liar.

5 m 20 m 20 m SUTR 1.5 m 8.3 m 0.5 m 1.5 m. 1.2.3 m 0.4 Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET No. Garis sempadan jalan perlintasan sebidang antara jalan rel kereta api dengan jalan raya adalah 30 m dari as jalan rel kereta api pada titik perpotongan as jalan rel kereta api dengan as jalan raya dan secara berangsur–angsur menuju pada jarak lebih dari 11 m dari as jalan rel kereta api pada titik 600 m dari titik perpotongan as jalan kereta api dengan as jalan raya. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di tanah timbunan diukur dari kaki tanggul. 5. 9.3 m 0.5 m 8m 20 20 20 20 20 20 m m m m m m SUTET 500 KV 20 m 20 m 50 m 3m 15 m 15 m 8.3 m 0. 3. yang secara berangsur–angsur melebar dari jarak lebih dari 11 sampai lebih dari 23 m. Pelebaran tersebut dimulai dalam jarak 20 m di muka lengkungan untuk selanjutnya menyempit lagi sampai jarak lebih dari 11 m.5 m 2. 8.5 m 1. 6.5 m 1.5 m 8m 3.5 m 0.5 m 1.3 m 20 m 20 m Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 26 .5 m 20 m 20 m Saluran kabel SKTM SKTR 0.5 m 2.5 m 1. diukur dari puncak galian tanah atau atas serongan. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak pada tanah datar diukur dari as jalan rel kereta api.3 m 0.5 m 3.5 m 0. Dalam peralihan jalan lurus ke jalan lengkung diluar as jalan harus ada jalur tanah yang bebas.5 m 0.5 m 2. Garis sempadan jalan rel kereta api sebagaimana dimaksud pada butir 1) tidak berlaku apabila jalan rel kereta api terletak di tanah galian yang dalamnya 3.5 m 1.5 m 2.5 m 2. Jalur Hijau (RTH) pada Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Ketentuan lebar sempadan jaringan tenaga listrik yang dapat digunakan sebagai RTH adalah sebagai berikut: a) b) Garis sempadan jaringan tenaga listrik adalah 64 m yang ditetapkan dari titik tengah jaringan tenaga listrik. f) g) g. Lokasi Bangunan beton Pompa bensin Penimbunan bahan bakar Pagar Lapangan terbuka Jalan raya Pepohonan Bangunan tahan api Rel kereta api SUTT 66 KV 150 KV 20 m 20 m 20 m 20 m 50 m 20 m 3m 6.3 m 0.5 m 20 m 20 m 0.5 m 0.5 m 15 m SUTM 2.5 m 0. 2. Ketentuan jarak bebas minimum antara penghantar SUTT dan SUTET dengan tanah dan benda lain ditetapkan sebagai berikut: Tabel 2. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di dalam galian.5 m 0. 7. Garis sempadan jalan rel kereta api pada belokan adalah lebih dari 23 m diukur dari lengkung dalam sampai as jalan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Kriteria garis sempadan jalan kereta api yang dapat digunakan untuk RTH adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) Garis sempadan jalan rel kereta api adalah ditetapkan dari as jalan rel terdekat apabila jalan rel kereta api itu lurus.5 m 2. 4.

a) Sungai bertanggul: 1) 2) 3) 4) Garis sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 3 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. maka lahan yang diperlukan untuk tapak tanggul baru sebagai akibat dilaksanakannya ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) harus dibebaskan. Lokasi Jembatan besi/ tangga besi/ kereta listrik Dari titik tertinggi tiang kapal Lapangan olah raga SUTT lainnya pengahantar udara tegangan rendah.5 m 8.5 m 3m 20 m 20 m 20 m SUTET 500 KV 8.5 m 14 m 8. 13. Dengan pertimbangan untuk peningkatan fungsinya. Sesuai peraturan yang ada. tanggul dapat diperkuat.5 m SUTM 20 m 20 m 20 m 20 m SUTR 20 m 20 m 20 m 20 m Saluran kabel SKTM SKTR 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m Keterangan: SUTR SUTM SUTT SUTET SKTR SKTM = = = = = = Saluran Saluran Saluran Saluran Saluran Saluran Udara Tegangan Rendah Udara Tegangan Menengah Udara Tegangan Tinggi Udara Tegangan Ekstra Tinggi Kabel Tegangan Rendah Kabel Tegangan Menengah g. diperlebar dan ditinggikan yang dapat berakibat bergesernya garis sempadan sungai. Garis sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 5 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. jaringan telekomunikasi.3. 10. RTH Sempadan Sungai RTH sempadan sungai adalah jalur hijau yang terletak di bagian kiri dan kanan sungai yang memiliki fungsi utama untuk melindungi sungai tersebut dari berbagai gangguan yang dapat merusak kondisi sungai dan kelestariannya. 12. sungai di perkotaan terdiri dari sungai bertanggul dan sungai tidak bertanggul.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. b) Sungai tidak bertanggul: 1) Garis sempadan sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut: 27 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . 11. televisi dan kereta gantung SUTT 66 KV 150 KV 3m 20 m 3m 2.

dengan ketentuan konstruksi dan penggunaan harus menjamin kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai. RTH sempadan pantai merupakan area pengaman pantai dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan oleh gelombang laut seperti intrusi air laut. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 10 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 20 m. Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai kurang dari 500 km2. g. 2) Garis sempadan sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut: a) Sungai besar yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas 500 km2 atau lebih. RTH Sempadan Pantai RTH sempadan pantai memiliki fungsi utama sebagai pembatas pertumbuhan permukiman atau aktivitas lainnya agar tidak menggangu kelestarian pantai. Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 m sampai dengan 20 m. Garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan adalah tepi bahu jalan yang bersangkutan. b) 3) 4) 5) Garis sempadan sebagaimana dimaksud pada butir 1) dan 2) diukur ruas per ruas dari tepi sungai dengan mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan.100%. Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) tidak terpenuhi. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 28 .4.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a) b) c) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 m. erosi. jalur hijau terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurangkurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. maka segala perbaikan atas kerusakan yang timbul pada sungai dan bangunan sungai menjadi tanggungjawab pengelola jalan. tiupan angin kencang dan gelombang tsunami. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 100 m. penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 50 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. abrasi. Lebar RTH sempadan pantai minimal 100 m dari batas air pasang tertinggi ke arah darat.

Formasi Hutan Mangrove sangat baik sebagai peredam ombak dan dapat membantu proses pengendapan lumpur. pemilihan vegetasi diutamakan dari daerah setempat yang telah mengalami penyesuaian dengan kondisi tersebut. danau/waduk. termasuk gangguan terhadap kualitas visual. dan mata air. erosi. Trengguli. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 29 . Xylocarpus spp. Bruguiera spp. Rhizophora spp. RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Lumnitzera spp. Tanjung. Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai. Beberapa jenis tumbuhan di ekosistem mangrove antara lain: Avicenia spp. Angsana. RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekitar mata air. Khusus untuk RTH sempadan pantai yang telah mengalami intrusi air laut atau merupakan daerah payau dan asin. Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat. dan Nypa sp.14 Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai g. dan Kuku. Untuk danau dan waduk. Aegiceras sp. Asam Landi (Pichelebium dulce) dan Mahoni (Switenia mahagoni ) relatif lebih tahan jika dibandingkan Kesumba. Untuk mata air.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Fasilitas dan kegiatan yang diijinkan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) b) Tidak bertentangan dengan Keppres No.5. Excoecaria spp. RTH Sumber Air Baku/Mata Air RTH sumber air meliputi sungai. Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi. wildlife habitat dan meredam angin kencang. melindungi dari ancaman gelombang pasang. Kiputri. c) d) Sonneratia spp. Gambar 2.

pemakaman dibagi dalam beberapa blok. jarak antar makam satu dengan lainnya minimal 0.15 Contoh Penanaman Pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air g.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2. batas antar blok pemakaman berupa pedestrian lebar 150-200 cm dengan deretan pohon pelindung disalah satu sisinya. Untuk penyediaan RTH pemakaman. RTH Pemakaman Penyediaan ruang terbuka hijau pada areal pemakaman disamping memiliki fungsi utama sebagai tempat penguburan jenasah juga memiliki fungsi ekologis yaitu sebagai daerah resapan air. ruang hijau pemakaman termasuk pemakaman tanpa perkerasan minimal 70% dari total area pemakaman dengan tingkat liputan vegetasi 80% dari luas ruang hijaunya.5 m.6. batas terluar pemakaman berupa pagar tanaman atau kombinasi antara pagar buatan dengan pagar tanaman. atau dengan pohon pelindung. pencipta iklim mikro serta tempat hidup burung serta fungsi sosial masyarakat disekitar seperti beristirahat dan sebagai sumber pendapatan. luas dan jumlah masing-masing blok disesuaikan dengan kondisi pemakaman setempat. maka ketentuan bentuk pemakaman adalah sebagai berikut: a) b) c) d) ukuran makam 1 m x 2 m. tiap makam tidak diperkenankan dilakukan penembokan/ perkerasan. e) f) g) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 30 . tempat pertumbuhan berbagai jenis vegetasi.

Pertokoan.16 Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman 2. jenis tanaman tahunan atau musiman. Kriteria Vegetasi RTH 2. ketinggian tanaman bervariasi. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Pemilihan vegetasi di pemakaman disamping sebagai peneduh juga untuk meningkatkan peran ekologis pemakaman termasuk habitat burung serta keindahan. tidak beracun. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung. Pekarangan Rumah Sedang. perakaran tidak mengganggu pondasi. dan Tempat Usaha Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) b. Gambar 2. Pekarangan Rumah Kecil.3. tidak merusak konstruksi dan bangunan. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan Rumah Besar. tidak berduri. memiliki nilai estetika yang menonjol. Kriteria Vegetasi untuk Taman Atap Bangunan dan Tanaman dalam Pot Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 31 . tahan terhadap hama penyakit tanaman. sistem perakaran masuk ke dalam tanah.3. dahan tidak mudah patah.1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan a. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. Halaman Perkantoran.

perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan. berupa habitat tanaman lokal dan tanaman budidaya. tahan dan tumbuh baik pada temperatur lingkungan yang tinggi. mudah dalam pemeliharaan. Tabel 2. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 32 . tajuk cukup rindang dan kompak. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. tidak berduri.2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk taman lingkungan dan taman kota adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) tidak beracun. perawakan dan bentuk tajuk cukup indah. jarak tanam setengah rapat sehingga menghasilkan keteduhan yang optimal. relatif tahan terhadap kekurangan air. tetapi tidak terlalu gelap. I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 II 1 2 3 Ground Cover Jenis dan Nama Tanaman Perdu/semak Akalipa merah Nusa Indah merah Daun Mangkokan Bogenvil merah Azalea Soka daun besar Bakung Oleander Palem Kuning Sikas Alamanda Puring Kembang Merak Rumput Gajah Lantana ungu Rumput kawat Nama Latin Keterangan Acalypha wilkesiana Musaenda erytthrophylla Notophanax scutelarium Bougenvillea glabra Rhododendron indicum Ixora javonica Crinum asiaticum Nerium oleander Chrysalidocaus lutescens Cycas revolata Aalamanda cartatica Codiaeum varigatum Caesalphinia pulcherima Axonophus compressus Lantana camara Cynodon dactylon Daun berwarna Berbunga Berdaun unik Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Daun berwarna Bentuk unik Merambat berbunga Daun berwarna Berbunga Tekstur kasar Berbunga Tekstur sedang 2. perakaran tidak mengganggu pondasi. dahan tidak mudah patah. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.3. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang. kecepatan tumbuh sedang.5 Contoh Tanaman untuk Roof Garden No. tahan terhadap hama penyakit tanaman. ketinggian tanaman bervariasi.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a) b) c) d) e) tanaman tidak berakar dalam sehingga mampu tumbuh baik dalam pot atau bak tanaman. jenis tanaman tahunan atau musiman.

Jenis dan Nama Tanaman Nama Latin Keterangan 1 Bunga Kupu-kupu Bauhinia Purpurea Berbunga 2 Sikat botol Calistemon lanceolatus Berbunga 3 Kemboja merah Plumeria rubra Berbunga 4 Kersen Muntingia calabura Berbuah 5 Kendal Cordia sebestena Berbunga 6 Kesumba Bixa orellana Berbunga 7 Jambu batu Psidium guajava Berbuah 8 Bungur Sakura Lagerstroemia loudonii Berbunga 9 Bunga saputangan Amherstia nobilis Berbunga 10 Lengkeng Ephorbia longan Berbuah 11 Bunga Lampion Brownea ariza Berbunga 12 Bungur Lagerstroemea floribunda Berbunga 13 Tanjung Mimosups elengi Berbunga 14 Kenanga Cananga odorata Berbunga 15 Sawo Kecik Manilkara kauki Berbuah 16 Akasia mangium Accacia mangium 17 Jambu air Eugenia aquea Berbuah 18 Kenari Canarium commune Berbuah Catatan: pemilihan tanaman disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim setempat 2. agar tumbuhan lain dapat tumbuh baik sebagai penutup tanah. Tabel 2.3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) memiliki ketinggian yang bervariasi. d) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. tidak mudah patah. i) batang dan sistem percabangan kuat. k) sistem perakaran yang kuat sehingga mampu mencegah terjadinya longsor. h) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri.3. b) sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung. g) toleran terhadap keterbatasan sinar matahari dan air. m) jenis tanaman yang ditanam termasuk golongan evergreen bukan dari golongan tanaman yang menggugurkan daun (decidous). f) berumur panjang. n) memiliki perakaran yang dalam. j) batang tegak kuat.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Tabel 2. e) tahan terhadap hama penyakit.7 Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota No. l) seresah yang dihasilkan cukup banyak dan tidak bersifat alelopati. c) tajuk cukup rindang dan kompak.6 Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Taman Kota No. 1 2 3 Nama Tanaman Kiara Beringin Loa Ficus spp Ficus benyamina Ficus glaberrima Nama Latin Jenis burung/potensi Punai (Treron sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 33 .

Gia Kedondong Bulan Canarium littoralle Johar Cassia siamea Keladan Dipterocarpus gracillis Ampupu Eucalyptus alba ƒ ƒ ƒ 10 – 20 20 – 30 30 – 40 40 – 50 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 34 . Jati Seberang Peronema canescens Jati Tectona grandis Dahat Tectona hamiltoniana Salam Eugeniu polyantha Lantana Merah.3. Penapis cahaya silau. tumbuhan berukuran tinggi dengan luasan area yang cukup dapat mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari. Pemilihan vegetasi berdaun rapat berukuran relatif besar dan tebal dapat meredam kebisingan lebih baik. 4 Nama Tanaman Dadap Erythrina varigata Nama Latin 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Dangdeur Aren Buni Buni hutan Kembang merak Serut Jamblang Salam Gosampinus heptaphylla Arenga pinatta Antidesma bunius Antidesma montanum Caesalpinia pulcherrima Syzygium paucipuncatum Streblus asper Syzygium cumini Syzygium polyanntum Jenis burung/potensi Betet (Psittacula alexandri). Srindit (Loriculus pusillus) Jalak (sturnidae) dan. Kayu Batu. Ameliorasi iklim mikro. Tembelekan Lantana camara Balsa Orchoma lagopus Cendana India Santaum album Suren Toona sureni Gopasa Vitex gopassus Kesumba Keling. Mengatasi penggenangan. Kayu Homalium tomentosum Kerbau. untuk fungsi ini dipilih penanaman dengan vegetasi berdaun rapat.4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: ƒ Peredam kebisingan.8 Contoh Tanaman untuk Sabuk Hijau yang Tahan Terhadap Penggenangan Air Lama genangan (hari) 0 – 10 Jenis tanaman Nama Lokal Nama Latin Sungkai. Tabel 2. peletakan tanaman yang diatur sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi dan menyerap cahaya. Golden Shower Cassia fistula Dalingsem. Pacar Keling Bixa orellana Kemlandingan Leucaena glauca Kayu Palele Castanopsis javanica Trengguli.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. beberapa jenis burung madu Burung ukut-ukut Srigunting Bahan pembuat sarang Buah dapat dimakan Pengundang serangga Katagori pohon langka Tahan pangkas Buah dapat dimakan Bumbu dapur 2.

untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur. Sabuk hijau yang dibangun harus cukup tebal. tanaman yang dipilih adalah yang daya evapotranspirasinya rendah. sabuk hijau berupa jalur pepohonan yang tinggi lebar dan panjang. Sabuk hijau yang dibangun harus cukup panjang agar dapat melindungi objek dengan baik. Sabuk hijau yang terlalu tipis kurang dapat melindungi karena masih dapat diterobos angin. Pendusta utan Kihujan Rengas Pinus insularis Pinus mercusii Pterocarpus javanicus Pterocarpus indicus Vitex pubescens Albizzia procera Dalbergia sisso Paraserianthes falcataria Schleichera oleosa Albizzia lebbeck Coffea spp Shorea leprosula Dalbergia latifolia Shorea ovalis Swietenia spp. akan menjadikan angin laminar dan mencegah terbentuknya angin turbulen. Kenanga (Cananga odorata). yang terletak di bagian yang mengarah ke hembusan angin.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Lama genangan (hari) Jenis tanaman Nama Lokal Pinus Benquet Tusam Wedang Angsana Laban Weru. sabuk hijau ini dapat berupa formasi hutan mangrove. Mengatasi penggurunan. dapat melindungi daerah dari hembusan angin yang membawa serta pasir. Beberapa spesies tanaman seperti Cempaka (Michelia champaca). Sengon Laut. Pada daerah payau dapat dipilih pohon Mahoni (Swietenia mahagoni) dan Asam Landi (Pichecolobium dulce). dan Tanjung (Mimosups elengi) adalah tanaman yang dapat mengeluarkan bau harum. ƒ ƒ ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 35 . lebar jalur. Jeungjing Kosambi Tekik Kopi Meranti tembaga Sonokeling Meranti merah Keluarga Mahoni Cemara laut 50 – 60 60 – 70 70 – 80 90 – 100 100 – 200 300 Semar. Mengatasi intrusi air laut. yang telah terbukti dapat meredam ombak dan membantu proses pengendapan lumpur di pantai. jalur pepohonan yang rapat dan tinggi dapat melokalisir bau dan menyerap bau. ƒ ƒ ƒ ƒ Pola tanam sabuk hijau sebagai penahan angin adalah sebagai berikut: ƒ Sabuk hijau membentuk jalur hijau cembung ke arah datangnya angin. Penyerap dan penepis bau. Kihiyang Sonoleking Senon. Mengamankan pantai dan membentuk daratan. Sabuk hijau seyogyanya ditempatkan tepat pada arah datangnya angin dan obyek yang dilindungi harus berada di bagian belakangnya. Casuarina equisetifolia Intsia bijuga Samanea saman Gluta renghas Nama Latin Sumber: Soerianagara dan Indrawan (1988) ƒ Penahan angin.

s) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. k) tidak menggugurkan daun. tidak dapat berfungsi sebagai penahan angin. d) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia. tetapi tidak terlalu gelap. u) berumur panjang. sehingga mampu menutup secara baik. m) saat berbunga/berbuah tidak mengotori jalan. tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 36 . memiliki pertumbuhan sempurna baik batang maupun akar. p) mudah sembuh bila mengalami luka akibat benturan dan akibat lain. Kerapatan yang kurang. 2. tajuk simetris dan padat. sistim perakaran padat. c) fase anakan tumbuh cepat. n) buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung. t) sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi. tidak mudah patah dan tidak berbanir. e) batang dan sistem percabangan kuat.5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan a. j) daun sebaiknya berukuran sempit (nanofill). Tanaman harus terdiri dari beberapa strata yaitu tanaman tinggi sedang dan rendah. Sebaliknya kerapatan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terbentuknya angin turbulen. q) tahan terhadap hama penyakit.3. dan RTH Jalur Pejalan Kaki Kriteria untuk jalur hijau jalan adalah sebagai berikut: 1) Aspek silvikultur: a) b) c) d) e) f) 2) berasal dari biji terseleksi sehat dan bebas penyakit. g) perawakan dan bentuk tajuk cukup indah. Sifat biologi: a) tumbuh baik pada tanah padat. Memiliki kerapatan daun berkisar antara 70–85%. dengan dahan yang kuat namun cukup lentur. h) tajuk cukup rindang dan kompak. b) sistem perakaran masuk kedalam tanah. perbandingan bagian pucuk dan akar seimbang. Kriteria Vegetasi untuk Taman Pulau Jalan dan Median Jalan. i) ukuran dan bentuk tajuk seimbang dengan tinggi pohon. batang tegak dan keras pada bagian pangkal. o) sebaiknya tidak berduri atau beracun. r) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri. tidak merusak konstruksi dan bangunan. l) daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang. f) batang tegak kuat.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ ƒ Tanaman yang ditanam didominasi oleh tanaman yang cukup tinggi.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

Tabel 2.9 Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki
No I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 II 1 2 3 4 5 Nama Lokal Pohon Bunga Kupu-kupu Bunga kupu-kupu ungu Trengguli Kayu manis Tanjung Salam Melinjo Bungur Cempaka Tanjung Perdu/semak/groundcover Canna Soka jepang Puring Pedang-pedangan Lili pita Nama Latin Tinggi (m) 8 8 15 12 15 12 15 18 18 12 0.6 0.3 0.7 0.5 0.3 Jarak Tanam (m) 12 12 12 12 12 6 6 12 12 12 0.2 0.2 0.3 0.2 0.15

Bauhinia purpurea Bauhinia blakeana Cassia fistula Cinnamommum iners Mimosups elengi Euginia polyantha Gnetum gnemon Lagerstroemia floribunda Michelia champaca Mimosups elengi Canna varigata Ixora spp Codiaeum varigatum Sansiviera spp Ophiopogon jaburan

b.

Kriteria Vegetasi untuk RTH di Bawah Jalan Layang Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) tanaman yang tahan dan dapat hidup dengan baik pada tempat yang ternaungi secara permanen; tidak membutuhkan penyinaran matahari secara penuh; relatif tahan kekurangan air; perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan; sebaiknya merupakan tanaman dari jenis yang mempunyai kemampuan dalam mengurangi polusi udara; dapat hidup dengan baik pada media tanam pot atau bak tanaman.

Tabel 2.10 Contoh Tanaman untuk RTH di Bawah Jalan Layang
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama lokal Balancing Talas-talasan Hanjuang Philodendron Pedang-pedangan Xanadu Singonium Yuca Dracaena Spatipilum

Dieffenbachia spp Calathea spp Cordyline spp Philodendron spp Sansiviera spp Philodendron xanadu Syngonium spp Yucca elephantipes Dracaaena spp Spathypillum spp

Nama latin

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

37

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

2.3.6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu a. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) tumbuh baik pada tanah padat; sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan; fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa; ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia; batang dan sistem percabangan kuat; batang tegak kuat, tidak mudah patah dan tidak berbanir; perawakan dan bentuk tajuk cukup indah; daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang; buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung; tahan terhadap hama penyakit; berumur panjang.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH rel kereta api, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi, disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian pada daerah masingmasing. Tabel 2.11 Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Nama Daerah Flamboyan Angsana Ketapang Kupu-kupu Kere paying Johar Tanjung Mahoni Akasia Bungur Kenari Johar Damar Nyamplung Jakaranda Liang liu Kismis Ganitri Saga Anting-anting Asam kranji Johar Cemara Pinus Beringin Nama Latin Delonix regia Pterocarpus indicus Terminalia cattapa Bauhinia purpurea Filicium decipiens Cassia multiyoga Mimusops elengi Swientenia mahagoni Acacia auriculiformis Lagerstroemia loudonii Canarium commune Cassia sp. Agathis alba Calophyllum inophyllum Jacaranda filicifolia Salix babilinica Muehlenbeckia sp. Elaeocarpus spahaericus Adenanthera povoniana Elaeocarpus grandiflorus Pithecelobium dulce Cassia grandis Cupresus papuana Pinus merkusii Ficus benjamina

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

38

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

Pola tanam vegetasi di sepanjang rel kereta api harus memperhatikan keamanan terhadap lalu lintas kereta api, tidak menghalangi atau mengganggu penglihatan masinis, serta tidak menggangu kekuatan struktur rel kereta api. Pola tanam yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: a) b) jarak maksimal dari sumbu rel adalah 50 m; pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan.

b. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Kriteria pemilihan vegetasi dan pola tanam untuk RTH ini adalah sebagai berikut: jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman yang memiliki dahan yang kuat, tidak mudah patah, dan perakaran tidak mengganggu pondasi; b) akarnya menghujam masuk ke dalam tanah. Jenis ini lebih tahan terhadap hembusan angin yang besar daripada tanaman yang akarnya bertebaran hanya di sekitar permukaan tanah; c) daunnya tidak mudah gugur oleh terpaan angin dengan kecepatan sedang; d) bukan merupakan pohon yang memiliki bentuk tajuk melebar; e) merupakan pohon dengan katagori kecil (small tree); f) fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa; g) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia; h) pola penanaman pemilihan vegetasi memperhatikan ketinggian yang diijinkan; i) buah tidak bisa dikonsumsi langsung oleh manusia; j) memiliki kerapatan yang cukup (50-60%); k) pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. Pemilihan jenis dan ketinggian vegetasi dimaksudkan agar penanaman vegetasi pada RTH jalur SUTT maupun SUTET, tidak menimbulkan gangguan terhadap jaringan listrik serta menghindari bahaya terhadap penduduk di sekitarnya. Lokasi penanaman harus memperhatikan jarak bebas minimum yang diijinkan. Tabel 2.12 Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nama Suku dan Jenis Nama Lokal Mangkokan Sarai raja Palem kobis Kesumba Jarak kosta Bunga Perawakan Semak Pohon sedang Pohon kecil Pohon kecil Semak Pohon kecil Diameter Batang (cm)/ Tinggi (m) /5 10/5-25 5/3-4 10/2-8 /2 10/2-6

a)

Nothopanax scutellarium Merr. Caryota mitis Lour. Licuala grandis L. Bixa orellana L. Jatropha gossypifolia L. Bauhinia purpurea L.

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

39

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

No.

Nama Suku dan Jenis

Nama Lokal kupu-kupu Kembang kuning Kembang merak Kembang sepatu kecil Serut Kemuning Kecubung gunung

Perawakan

Diameter Batang (cm)/ Tinggi (m) 20/2-6 - /3-5 - /2 10/2-5 10/-7 - /5

7. 8. 9. 10. 11. 12.

Cassia surattensis Burm. F. Caesalpinia pulcherrima (L.) Swartz. Malvaviscus arbpreus Cav. Streblus asper Lour. Muraya paniculata (L.) Jack. Brugmansia candida Pers.

Semak Semak Semak Pohon kecil Pohon kecil Semak

c.

Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) sistem perakaran yang kuat, sehingga mampu menahan pergeseran tanah; tumbuh baik pada tanah padat; sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan; kecepatan tumbuh bervariasi; tahan terhadap hama dan penyakit tanaman; jarak tanam setengah rapat sampai rapat 90% dari luas area, harus dihijaukan; tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap; berupa tanaman lokal dan tanaman budidaya; dominasi tanaman tahunan; sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH sempadan sungai, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi untuk RTH sempadan sungai disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian lahan pada daerah masing-masing. Tabel 2.13 Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama Daerah Bungur Jening Khaya Pingku Lamtorogung Puspa Kenanga Locust Kisireum Manglid Cengal Flamboyan

Lagerstromia speciosa Pithecolobium lobatum Khaya anthotheca Dysoxylum excelsum Leucaena lecocephala Schima wallichii Canangium adoratum Hymenaena courburil Eugenia cymosa Michelia velutina Hopea sangkal Delonix regia

Nama Latin

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

40

13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 Nama Daerah Tanjung Trembesi Beringin Kepuh Angsret Nyamplung Leda Tengkawanglayar Johar Merbau pantai Tengkawangmajau Hoe Merawan Blabag Pala hutan Cemara sumatra Palur raja Kibeusi leutik Kaliandra Balam sudu Sawo duren Kedinding Kepuh Dadap Salam Sungkai Matoa/kasai Locust Ebony/kayuhitam Kempas Sawo kecik Asam Pingku Johar Angsana Tengkawang layar Kecapi Palem Raja Kalak Saputangan Bacang Kayu manis Kawista Kenanga Khaya Khaya Khaya Mimusops elengi Samanea saman Ficus benjamina Sterculia foetida Spathodea campanulata Callophylum inophyllum Eucalyptus deglupta Shorea mecistopteryx Cassia siamea Intsia bijuga Shorea palembanica Eucaliyptus platyphylla Hopea mangarawan Terminalia citrina Myristica fatua Casuarina sumatrana Oreodoxa regia Lindera srtichchytolia Calliandra marginata Palaguium sumatranum Crysophyllum cainito Albizzia leppecioides Sterculia foetida Erythrina cristagalli Eugenia polyantha Pheronema canescens Pometia pinnata Hymenaea courbaril Dyospiros celebica Kompasia excelsa Manilkara kauki Tamarindus indica Dysoxyllum exelsum Cassia grandis Pterocarpus indicus Shorea mecistopteryx Shandoricum koetjape Oerodoxa regia Poliantha lateriflora Maniltoa brawneodes Manejitera foetida Cinnamomun burmanni Feronia limonia Canangium odoratum Hopea bancana Shorea selanica Pterogota alata K. sinegalensis K.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. anthotheca Nama Latin Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 41 . grandiflora K.

Bungur (Lagerstroemia speciosa). Karet Munding (Ficus elastica). sehingga dapat menahan erosi dan meningkatkan infiltasi (resapan) air. pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. sampel jalur hijau sungai berupa petak-petak berukuran 20 m x 20 m diambil secara sistematis dengan intensitas sampling 10% dari panjang sungai. Kriteria Vegetasi untuk RTH pada Sumber Air Baku/Mata Air Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) relatif tahan terhadap penggenangan air. toleransi terhadap kondisi air payau. sebelum di lapangan. tiupan angin dan hempasan gelombang air pasang. penempatan petak sampel dilakukan secara awalan acak (random start) pada peta. untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 m. Vegetasi ideal yang ditanam pada RTH pengaman sumber air merupakan vegetasi yang tidak mengkonsumsi banyak air atau yang memiliki daya transpirasi yang rendah. sampel jalur hijau sungai berupa jalur memanjang dari garis sungai ke arah darat dengan lebar 20 m sampai pohon terjauh. tahan terhadap hama dan penyakit tanaman. daya transpirasi rendah. Kelapa (Cocos nucifera). Beberapa tanaman yang memiliki daya transpirasi yang rendah antara lain (Manan. memliki sistem perakaran yang kuat dan dalam. Manggis (Garcinia mangostana). Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Pantai Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) merupakan tanaman lokal yang sudah teruji ketahanan dan kesesuaiannya tehadap kondisi pantai tersebut. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 42 . e. 1993): Cemara Laut (Casuarina equisetifolia). bakau merupakan tanaman yang khas sebagai pelindung pantai. sistem perakaran yang yang kuat sehingga mampu mencegah abrasi pantai. jarak maksimal dari pantai adalah 100 m. sekurang-kurangnya 100 m dari kiri kanan sungai besar dan 50 m di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman. Damar (Agathis loranthifolia).Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Persyaratan pola tanam vegetasi pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut: a) b) c) jalur hijau tanaman meliputi sempadan sungai selebar 50 m pada kirikanan sungai besar dan sungai kecil (anak sungai). 1976 dan Kurniawan. Kiara Payung (Filicium decipiens). d) e) f) g) d. batang dan sistem percabangan yang kuat.

Untuk menghasilkan media tanam yang baik maka tanah harus digemburkan dengan menggunakan cangkul hingga kedalaman pertumbuhan akar dan ditambahkan pupuk organik/kompos secukupnya. atau menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi langsung. sedang atau kecil disesuaikan dengan ketersediaan ruang. tidak mudah patah dan tidak berbanir. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.4. Penanaman dapat dilakukan setelah tanah dibiarkan selama 3–5 hari. batang tegak kuat.2 Penanaman Pada proses penanaman harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) bibit tanaman harus memiliki percabangan dan perakaran yang sehat. c) masukkan tanah di sekeliling bola akar. sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi.1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam Lokasi tanah yang akan dijadikan media tanam harus diolah terlebih dahulu. b) besarnya diameter lubang tanam sama dengan lingkaran tajuk terluar tanaman dengan kedalaman setebal bola akar ditambah 10 cm.4. Ketentuan Penanaman 2. dan tanah yang berasal dari bagian atas lubang tanam diurugkan di bagian atas tanaman. dikembalikan ke bagian bawah lubang tanam. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 43 . 2. tajuk cukup rindang dan kompak. tahan terhadap hama penyakit.14 Contoh Vegetasi untuk Pemakaman No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Lokal Bougenvil Kemboja Putih Puring Lili pita Tanjung Dadap Kembang merak Jamblang Salam Nama Latin Potensi berbunga berbunga berwarna berbunga pengundang burung pengundang serangga buah dapat dimakan pengundang burung Bougenvilia sp Plumeria alba Codiaeum varigatum Ophiopogon jaburan Mimosups elengi Erythrina varigata Caesalpinia pulcherrima Syzygium cumini Syzygium polyanntum 2. tetapi tidak terlalu gelap. kemudian tanah yang berasal dari bagian bawah. berumur panjang.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II f. tidak merusak konstruksi dan bangunan.4. Tanah yang baik sebagai media tanam adalah tanah yang gembur mengandung cukup unsur hara. dapat berupa pohon besar. Tabel 2. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pemakaman Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) sistem perakaran masuk kedalam tanah.

mati atau berpenyakit.4. b. Pupuk yang diberikan pada tanaman dapat berupa pupuk organik maupun pupuk anorganik (misalnya NPK atau urea). dalam upaya menghindari penyakit yang disebabkan oleh cendawan. juga berfungsi melarutkan garam-garam mineral dan juga sebagai unsur utama pada proses fotosintesis. Penyiraman Tujuan penyiraman tanaman. Pemupukan Prinsip dasar pemupukan adalah mensuplai hara tambahan yang dibutuhkan sehingga tanaman tidak kekurangan makanan. Penetrasi air siraman sedalam 15-20 cm ke dalam tanah. Waktu penyiraman pada dasarnya dapat dilakukan kapan saja saat dibutuhkan. 2. patah. 44 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . dengan ujung diikat pada batang pohon. 2) Pemangkasan untuk keamanan penggunaan taman: ƒ Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II d) agar pohon yang baru ditanam tidak bergoyang. c.3 Pemeliharaan Tanaman a. Pupuk yang digunakan untuk pohon-pohon taman biasanya pupuk majemuk NPK. dahan dan ranting. e) tanaman disiram secukupnya. yang dapat mengancam keamanan pengguna taman. dahan dan ranting yang retak. Pemangkasan tanaman dapat dilakukan dengan tujuan: 1) Pemangkasan untuk kesehatan pohon: Pemangkasan untuk tujuan ini dilakukan pada cabang. Pemangkasan Tujuan pemangkasan tanaman adalah untuk mengontrol pertumbuhan tanaman sesuai yang diinginkan serta menjaga keamanan dan kesehatan tanaman. Waktu penyiraman yang terbaik adalah pada pagi atau sore hari. diperlukan alat penahan (kayu pemancang/ajir) yang ditancapkan di seputar pohon. Waktu pemangkasan yang tepat adalah setelah masa pertumbuhan generatif tanaman (setelah selesai masa pembungaan) dan sebelum pemberian pupuk. Untuk daerah dengan kelembaban tinggi penyiraman pada pagi hari lebih baik daripada sore hari. tidak pada permukaan daun tanaman. selain untuk menyeimbangkan laju evapotranspirasi. Penyiraman siang hari hendaknya dilakukan langsung pada permukaan tanah. dapat menjadi indikasi bahwa siraman air sudah dinyatakan cukup.

kerena disamping dapat mengakibatkan korsleting/ kebakaran. ƒ 4) Pemangkasan untuk tujuan estetis: Pemangkasan dengan tujuan ini adalah untuk menghasilkan penampilan tanaman lebih baik atau lebih indah. Dengan memperhatikan jenis dan kerapatan daun. maupun imagonya. nematoda dan penyakit fisiologis. piramida. bunga maupun buah yang tidak sempurna. karat. Untuk jalan umum yang dilalui kendaraan diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 4. kambing.4. fisik. ulat.5 m dari permukaan tanah.4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Hama tanaman dapat disebabkan oleh hewan. Beberapa diantaranya tidak terlihat dengan mata telanjang sehingga perlu di teliti di laboratorium. Untuk jalan yang dilalui kendaraan pada daerah permukiman diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar minimal 3.5 m dari permukaan tanah. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 45 . juga gesekan yang intensif dapat mengganggu kesehatan pohon. dahan dan ranting. mozaik dan sebagainya. bakteri. Gejala Serangan Gejala serangan hama pada umumnya langsung dapat terlihat dari kerusakan bagian tanaman. b. layu. a. Dapat juga terjadi bagian tanaman yang terkikis. bulat. Batang atau dahan yang menyentuh kabel telepon dan listrik perlu dipangkas. Gejala serangan penyakit terlihat adanya akar.5-5 m dari permukaan tanah. teknik budidaya. kubus. biologi dan kimiawi. virus. kelinci dan sebagainya. 2. maka pemangkasan dapat menghasilkan tanaman dengan bentuk-bentuk tajuk spiral. berubah warna dan penampilan tidak menarik. seperti bentuk daun.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ Di daerah pejalan kaki diperlukan ruang yang bebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 2. 3) Pemangkasan untuk keamanan pengguna jalan: ƒ ƒ Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang. Secara kasat mata seringkali terlihat populasi binatang berupa larva. berlubang. dan lain sebagainya. bercak daun. silindris. Cara Pengendalian Pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan cara karantina. yang dapat menghalangi pandangan pengguna jalan. Sedangkan penyakit tanaman disebabkan oleh jamur. molusca maupun hewan lainnya seperti burung. baik berupa serangga. mekanis.

RTH dapat dimanfaatkan pula untuk menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup. Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan RTH pada bangunan/perumahan baik di pekarangan maupun halaman perkantoran. RTH Taman Rukun Tetangga dapat pula dimanfaatkan sebagai suatu community garden dengan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 47 . maka RTH pekarangan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan atau kebutuhan lainnya. RTH dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan sebagai berikut: a. RTH Pekarangan Dalam rangka mengoptimalkan lahan pekarangan. RTH Halaman Perkantoran.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 3. selain tempat utilitas tertentu. olah raga. dan tanaman pot sehingga dapat menambah nilai estetika sebuah rumah. b.2. Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman RTH pada Lingkungan/Permukiman dapat dioptimalkan fungsinya menurut jenis RTH berikut: a. dan tempat usaha berfungsi sebagai penghasil O2. dan penambah estetika suatu bangunan sehingga tampak asri. pertokoan. bazar. dan bunga). Untuk rumah dengan RTH pada lahan pekarangan yang tidak terlalu luas atau sempit. tanaman pot dimaksud dapat diatur dalam susunan/bentuk vertikal. 3. Pertokoan. fasilitas yang harus disediakan minimal bangku taman dan fasilitas mainan anak-anak. Selain fungsi tersebut. peredam kebisingan. dan tempat untuk menyelenggarakan berbagai aktivitas di luar ruangan seperti upacara. Untuk efisiensi ruang. dan lain-lain. dapat dimanfaatkan pula sebagai area parkir terbuka. sayur. dan Tempat Usaha RTH pada halaman perkantoran. dan tempat usaha.1. Selain sebagai tempat untuk melakukan aktivitas sosial. carport. RTH pada rumah dengan pekarangan luas dapat dimanfaatkan sebagai tempat utilitas tertentu (sumur resapan) dan dapat juga dipakai untuk tempat menanam tanaman hias dan tanaman produktif (yang dapat menghasilkan buah-buahan. Untuk mendukung aktivitas penduduk di lingkungan tersebut. serta memberikan keseimbangan dan keserasian antara bangunan dan lingkungan. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) dapat dimanfaatkan penduduk sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. pertokoan.

sayur.2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 48 . dan buah-buahan yang dapat dimanfaatkan oleh warga.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup. POHON PELINDUNG JALUR PEJALAN KAKI Gambar 3.1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga KURSI TAMAN ARENA MAINAN ANAK JALUR PEJALAN KAKI POHON PELINDUNG Gambar 3.

dan beberapa jenis bangunan permainan anak yang tahan dan aman untuk dipakai pula oleh anak remaja. misalnya duduk atau bersantai. beberapa unit bangku taman yang dipasang secara berkelompok sebagai sarana berkomunikasi dan bersosialisasi antar warga. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 49 . dimana aktivitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif. kegiatan olahraga masyarakat. dengan jalur trek lari di seputarnya. VOLLEY TEMPAT DUDUK TEMPAT DUDUK LAPANGAN RUMPUT TEMPAT DUDUK LAPANGAN BASKET Gambar 3. Fasilitas yang disediakan berupa lapangan untuk berbagai kegiatan.3 Contoh Taman Rukun Warga c. atau dapat berupa taman pasif. sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohonpohon tahunan. RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan penduduk dalam satu kelurahan.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III b. Taman ini dapat berupa taman aktif. RTH Rukun Warga RTH Rukun Warga (RW) dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan remaja. baik olahraga maupun aktivitas lainnya. LAP. dengan fasilitas utama lapangan olahraga (serbaguna). serta kegiatan sosial lainnya di lingkungan RW tersebut.

1 unit kios (jika diperlukan). Vegetasi 1) minimal 25 pohon (pohon sedang dan kecil). kursi–kursi taman. 2) semak. lebar 1.1 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan Jenis Taman Aktif Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80% Fasilitas 1) 2) 3) 4) Pasif 80 – 90% 5) 1) 2) 3) 4) lapangan terbuka. 1) minimal 50 pohon (sedang dan kecil). kursi-kursi taman. 3) perdu.4 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 50 . 4) penutup tanah. trek lari. WC umum. KIOS AREA PARKIR KIOS Gambar 3.5–2 m. WC umum. sirkulasi jalur pejalan kaki. 2) semak. 4) penutup tanah. 1 unit kios (jika diperlukan).Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel 3. lebar 5 m panjang 325 m. 3) perdu.

Taman ini dapat berupa taman aktif dengan fasilitas utama lapangan olahraga. dengan jalur trek lari di seputarnya. lapangan basket. 3) perdu. Kelengkapan taman ini adalah sebagai berikut: Tabel 3. trek lari. lebar 5 m panjang 325 m. sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau. RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat dimanfaatkan oleh penduduk untuk melakukan berbagai aktivitas di dalam satu kecamatan. parkir kendaraan.5 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif) d.2 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan Jenis Taman Aktif Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80% 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Fasilitas lapangan terbuka. WC umum. 2) semak. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 51 . kursi-kursi taman. 4) penutup tanah. termasuk sarana kios (jika diperlukan). atau dapat berupa taman pasif untuk kegiatan yang lebih bersifat pasif. Vegetasi 1) minimal 50 pohon (sedang dan kecil). lapangan volley.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III KIOS AREA PARKIR Gambar 3.

SARANA OLAHRAGA KIOS SARANA OLAHRAGA AREA PARKIR SARANA OLAHRAGA PLAZA HUTAN KECIL Gambar 3. dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 30%. taman bermain (anak/balita).5–2 m. taman bunga. RTH Taman Kota RTH Taman kota dapat dimanfaatkan penduduk untuk melakukan berbagai kegiatan sosial pada satu kota atau bagian wilayah kota. yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau). 3) perdu. lebar 1. fasilitas olah raga terbatas. taman khusus (untuk lansia). Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan a.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Jenis Taman Pasif Koefisien Daerah Fasilitas Hijau (KDH) 80–90% 1) sirkulasi jalur pejalan kaki. 3) parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan). 2) WC umum. 4) penutup tanah. Vegetasi 1) lebih dari 100 pohon tahunan (pohon sedang dan kecil). 4) kursi-kursi taman.6 Contoh Taman Kecamatan 3. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 52 . Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. 2) semak.3.

BASKET 9. wahana pendidikan dan penelitian. TAMAN BURUNG 8. lebar 7 m panjang 400 m.7 Contoh Taman Kota (Rencana Taman Kota Pangkalanbun Kabupaten Kotawaringin Barat) b. penghasil produk hasil hutan. 7) panggung terbuka. atau aktivitas yang aktif seperti jogging. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 53 . unit lapangan basket (14x26 m). oksigen. GERBANG UTAMA 4. sirkulasi pejalan kaki/jogging track. JOGGING TRACK Gambar 3. PARKIR 2. ekonomi (buah-buahan. penutup tanah. WC umum. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 1) Vegetasi 150 pohon (pohon sedang dan kecil) semak. 10) kursi. daun.3 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80 % Fasilitas lapangan terbuka. perlindungan dan pemanfaatan plasma nutfah.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel 3. LOTUS POND 12. sayur). 2) 3) 1. AREA MAIN ANAK-ANAK 6. rekreasi. 9) prasarana tertentu: kolam retensi untuk pengendali air larian. wisata alam. unit lapangan volley (15 x 24 m). trek lari. LABIRIN & LEISURE AREA 7. SCULPTURE 11. AMPHITEATER 10. Hutan kota Hutan kota dapat dimanfaatkan sebagai kawasan konservasi dan penyangga lingkungan kota (pelestarian. parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan). senam atau olahraga ringan lainnya). 8) area bermain anak. perdu. keanekaragaman hayati). Fasilitas yang harus disediakan disesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan seperti kursi taman. CANNOE POND 5. GSG & LAP. KOLAM 3. Hutan kota dapat juga dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas sosial masyarakat (secara terbatas. meliputi aktivitas pasif seperti duduk dan beristirahat dan atau membaca.

Sabuk hijau dimaksudkan sebagai kawasan lindung dengan pemanfaatan terbatas dengan pemanfaatan utamanya adalah sebagai penyaring alami udara bagi kota-kota yang berbatasan tersebut.4 Kemampuan Hutan dalam Mengendalikan Gelombang Pendek dan Panjang Respon Daun Dipantulkan Diserap Dibiaskan Diteruskan c. Disamping itu RTH di bawah jalan layang dapat dimanfaatkan sebagai: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 54 . RTH di bawah jalan layang dapat menjadi unsur estetika untuk meminimalkan unsur kekakuan konstruksi jalan. e. RTH Jalur Hijau Jalan Pulau Jalan dan Median Jalan Taman pulau jalan maupun median jalan selain berfungsi sebagai RTH. yang mempunyai peranan penting antara lain mengontrol populasi serangga. vegetasi yang mengeluarkan bau. Sebagai penyeimbang temperatur. faktor audial (suara) dan faktor visual. Untuk itu diperlukan introduksi tanaman pengundang burung pada hutan kota. Median jalan dapat dimanfaatkan sebagai penahan debu dan keindahan kota. juga dapat dimanfaatkan untuk keindahan/estetika kota. sehingga sabuk hijau dapat menjadi RTH bagi kedua kota atau lebih tersebut. juga dapat dimanfaatkan untuk fungsi lain seperti sebagai pembentuk arsitektur kota. Tabel 3. sampah yang bau dan terbengkalai. emisi kendaraan. kelembaban. vegetasi. Gelombang Pendek (%) 10 80 10 Gelombang Panjang (%) 100 10 90 ƒ f. Sabuk Hijau Sabuk hijau berfungsi sebagai daerah penyangga atau perbatasan antara dua kota. Jalur tanaman tepi jalan atau pulau jalan selain sebagai wilayah konservasi air. RTH Jalur Pejalan Kaki RTH jalur pejalan kaki dapat dimanfaatkan sebagai: ƒ Fasilitas untuk memungkinkan terjadinya interaksi sosial baik pasif maupun aktif serta memberi kesempatan untuk duduk dan melihat pejalan kaki lainnya. d.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Idealnya hutan kota merupakan ekosistem yang baik bagi ruang hidup satwa misalnya burung. RTH di Bawah Jalan Layang Selain sebagai daerah resapan air. tekstur bawah kaki.

Membuat saluran drainase. ƒ Tempat istirahat sementara bagi pengendara sepeda motor/pejalan kaki pada saat hujan. pada zona sungai danau. Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Jaringan listrik tegangan tinggi sangat berbahaya bagi manusia. dan pengendalian daya rusak sungai melalui kegiatan penatagunaan. dan pipa air minum. 55 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . perlindungan tepi kiri-kanan bantaran sungai yang rawan erosi. Pemanfaatan daerah sempadan sungai yang berfungsi budi daya dapat dilakukan oleh masyarakat untuk kegiatan-kegiatan: a) b) c) d) budi daya pertanian rakyat. ƒ Lokasi penempatan papan reklame secara terbatas. papan penyuluhan dan peringatan. kabel telpon. Menghilangkan sumber penularan hama dan penyakit serta menghilangkan tempat persembunyian ular dan binatang berbahaya lainnya. RTH Sempadan Sungai Pemanfaatan RTH daerah sempadan sungai dilakukan untuk kawasan konservasi. waduk yang berfungsi budi daya dapat dibudidayakan kecuali pemanfaatan tanggul hanya untuk jalan. sehingga jaringan kayu dapat tumbuh lebih banyak yang akan menjadi pohon lebih kuat. kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C. 3. gardu listrik. Untuk menjaga keselamatan lalu lintas kereta api maupun masyarakat di sekitarnya. Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api RTH/jalur hijau sempadan rel kereta api dapat dimanfaatkan sebagai pengamanan terhadap jalur lalu lintas kereta api. sehingga RTH pada kawasan ini dimanfaatkan sebagai pengaman listrik tegangan tinggi dan kawasan jalur hijau dibebaskan dari berbagai kegiatan masyarakat serta perlu dilengkapi tanda/peringatan untuk masyarakat agar tidak beraktivitas di kawasan tersebut. c. Penatagunaan daerah sempadan sungai dilakukan dengan penetapan zona-zona yang berfungsi sebagai fungsi lindung dan budi daya. maka jenis aktivitas yang perlu dilakukan berkaitan dengan peranan RTH sepanjang rel kereta api adalah sebagai berikut: a) b) c) d) Memperkuat pohon melalui perawatan dari dalam. Pada zona sungai yang berfungsi lindung menjadi kawasan lindung. mencegah okupasi penduduk yang mudah menyebabkan erosi.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III ƒ Lokasi penempatan utilitas seperti drainase. serta rambu-rambu pekerjaan. dan pemantauan. perizinan. peningkatan fungsi sungai. b. RTH Fungsi Tertentu a. Memperbaiki citra/penampilan pohon secara keseluruhan. dan lain-lain.4. pelestarian. pemasangan rentangan kabel listrik.

dipantau dengan menggunakan metode pemeriksaaan langsung dan analisis deskriptif komparatif. pelestarian. Tolak ukur 100 m di kanan kiri sungai dan 50 m kanan kiri anak sungai. keanekaragaman vegetasi terutama jenis unggulan lokal dan bernilai ekologi dipantau dengan metode kuadrat dengan jalur masing-masing lokasi 2 km menggunakan analisis vegetasi yang diarahkan pada jenis-jenis flora yang bernilai sebagai tumbuhan obat. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Menjaga kelestarian konservasi dan aktivitas perambahan. ƒ Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai. ƒ Khusus untuk kawasan pantai berhutan bakau harus dipertahankan sesuai ketentuan dalam Keppres No. RTH Sumber Air Baku/Mata Air Pemanfaatan RTH sumber air baku/mata air dilakukan untuk perlindungan. ƒ Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi. juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yang diizinkan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: ƒ Tidak bertentangan dengan Keppres No. keolahragaan. bangunan pengambilan dan pembuangan air.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III e) pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/jembatan baik umum maupun kereta api. ƒ Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat. Mengamankan kawasan sempadan sungai. c) d) e) d. Memantau fluktuasi debit sungai maksimum. f) penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial. peningkatan fungsi sumber air baku/mata air. serta penutupan vegetasi di sempadan sungai. erosi. Aktivitas memantau. menghalau. wildlife habitat dan meredam angin kencang. termasuk gangguan terhadap kualitas visual. dan pengendalian daya rusak sumber air baku/mata air/danau melalui kegiatan penatagunaan. dan pemantauan. dan g) pembangunan prasarana lalu lintas air. e. pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau. maka aktivitas yang dapat dilakukan pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut: a) b) Memantau penutupan vegetasi dan kondisi kawasan DAS agar lahan tidak mengalami penurunan. Untuk menghindari kerusakan dan gangguan terhadap kelestarian dan keindahan sungai. perizinan. RTH Sempadan Pantai RTH sempadan pantai selain sebagai area pengaman dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan gelombang laut. 32 Tahun 1990. menjaga dan mengamankan harus diikuti dengan aktivitas melaporkan pada instansi berwenang dan yang terkait sehingga pada akhirnya kawasan sempadan sungai yang berfungsi sebagai RTH terpelihara dan lestari selamanya. melindungi dari ancaman gelombang pasang. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 56 .

dan pipa air minum. pemasangan rentangan kabel listrik. pelindung. sehingga keberadaan RTH yang tertata di komplek pemakaman dapat menghilangkan kesan seram pada wilayah tersebut. f. budi daya pertanian rakyat. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 57 . RTH Pemakaman Pemakaman memiliki fungsi utama sebagai tempat pelayanan publik untuk penguburan jenasah. serta rambu-rambu pekerjaan. dan pembangunan prasarana lalu lintas air.5 RTH Sempadan Danau dan Mata Air No. pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau. kabel telpon. Danau/waduk Minimal 50 m dari titik pasang tertinggi Pemanfaatan jaringan utilitas. keolahragaan. bangunan pengambilan dan pembuangan air.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel berikut ini memberikan gambaran mengenai dimensi sempadan serta pemanfaatannya pada masing-masing jenis RTH sebagai berikut: Tabel 3. pendukung ekosistem. Mata Air Radius 200 m a) ruang terbuka hijau dengan aktivitas sosial terbatas penekanan pada kelestarian sumberdaya airnya. dan pemersatu ruang kota. Pemakaman juga dapat berfungsi sebagai RTH untuk menambah keindahan kota. kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C. papan penyuluhan dan peringatan. penyelenggaraan kegiatankegiatan yang bersifat sosial. daerah resapan air. b) luas ruang terbuka hijau minimal 90% dengan dominasi pohon tahunan yang diizinkan. a) b) c) d) e) f) g) h) 2. Jenis RTH Dimensi Sempadan 1. pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/ jembatan baik umum maupun kereta api.

Prosedur Perencanaan Ketentuan prosedur perencanaan RTH adalah sebagai berikut: a) penyediaan RTH harus disesuaikan dengan peruntukan yang telah ditentukan dalam rencana tata ruang (RTRW Kota/RTR Kawasan Perkotaan/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/Rencana Induk RTH) yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat. memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan pengguna RTH. pemanfaatan dan pengendalian. pemanfaatan dan pemeliharaan.1. lembaga badan hukum dan atau perseorangan baik pada tahap perencanaan. tidak mengganggu kualitas visual dari dan ke RTH. tidak menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan tanaman misalnya menghalangi penyinaran matahari atau pemangkasan tanaman yang dapat merusak keutuhan bentuk tajuknya. d) menjunjung tinggi keterbukaan dengan semangat tetap menegakkan etika. pengadaan lahan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 59 . d) penyediaan dan pemanfaatan RTH privat yang dilaksanakan oleh masyarakat termasuk pengembang disesuaikan dengan ketentuan perijinan pembangunan. c) menghormati hak yang dimiliki masyarakat serta menghargai kearifan lokal dan keberagaman sosial budayanya. pelaksanaan pembangunan RTH. Upaya ini dimaksudkan untuk menjamin hak masyarakat dan swasta. c) tahapan penyediaan dan pemanfaatan RTH publik meliputi: 1) 2) 3) 4) 5) perencanaan. e) pemanfaatan RTH untuk penggunaan lain seperti pemasangan reklame (billboard) atau reklame 3 dimensi.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV BAB IV PROSEDUR PERENCANAAN DAN PERAN MASYARAKAT 4. perancangan teknik.2. b) memposisikan pemerintah sebagai fasilitator dalam proses pembangunan ruang terbuka hijau. dengan prinsip: a) menempatkan masyarakat sebagai pelaku yang sangat menentukan dalam proses pembangunan ruang ruang terbuka hijau. Peran Masyarakat Peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH merupakan upaya melibatkan masyarakat. ekologis dan estetis. swasta. untuk memberikan kesempatan akses dan mencegah terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang dari rencana tata ruang yang telah ditetapkan melalui pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang oleh masyarakat dan swasta dalam pengelolaan RTH. b) penyediaan dan pemanfaatan RTH publik yang dilaksanakan oleh pemerintah disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: ƒ ƒ mengikuti peraturan dan ketentuan yang berlaku pada masing-masing daerah. tidak mengganggu fungsi utama RTH yaitu fungsi sosial. ƒ ƒ ƒ 4.

Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah kota dalam mewujudkan penghijauan antara lain: dalam lingkup kegiatan pembangunan ruang terbuka hijau (yang meliputi perencanaan. Membiayai pemeliharaan RTH publik. Perencanaan Pemanfaatan dan Pengendalian Pengambilan Keputusan Rencana Pemanfaatan Pelaksanaan Pemanfaatan Pasca Pelaksanaan RTH Pelibatan Pelibatan Pelibatan Gambar 4. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 60 . pedoman ini ditujukan pada tahap pemanfaatan ruang terbuka hijau. berm dan lahan kosong lainnya dengan berbagai jenis tanaman. Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH publik dalam peningkatan kualitas dan keamanan lingkungan. Membiayai pembangunan RTH publik. Menyerahkan penggunaan lahan privat untuk digunakan sebagai RTH publik. b) Turut serta dalam meningkatkan kualitas lingkungan di perumahan dalam hal penanaman tanaman. sarana interaksi sosial serta mitigasi bencana. Peran dalam penyediaan RTH ini dapat berupa: a) b) c) d) e) f) Pengalihan hak kepemilikan lahan dari lahan privat menjadi RTH publik (hibah). swasta dan badan hukum dalam penyediaan RTH publik meliputi penyediaan lahan. c) Mengisi seoptimal mungkin lahan pekarangan. pembuatan sumur resapan (bagi daerah yang memungkinkan) dan pengelolaan sampah. baik ditanam langsung maupun ditanam dalam pot. dimana rencana pembangunannya akan disusun dan ditetapkan. Mengawasi pemanfaatan RTH publik. pemanfaatan dan pengendalian). Peran masyarakat pada RTH privat meliputi: a) Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH dalam peningkatan kualitas lingkungan.1 Pelibatan Masyarakat pada Pemanfaatan dan Pengendalian Peran masyarakat. pembangunan dan pemeliharaan RTH.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV e) memperhatikan perkembangan teknologi dan bersikap profesional. d) Turut serta secara aktif dalam komunitas masyarakat pecinta RTH.

pembangunan serta pemanfaatan ruang terbuka hijau melalui sosialisasi. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan masyarakat: a) Anggota masyarakat baik individu maupun kelompok yang memiliki keahlian dan/atau pengetahuan mengenai penataan ruang serta ruang terbuka hijau dapat membentuk suatu komunitas ruang terbuka hijau. e) Menggalang dan mencari dana kegiatan dari pihak tertentu untuk proses sosialisasi.2. 4. d) Meningkatkan kemampuan masyarakat (forum.2 Peran Swasta Swasta merupakan pelaku pembangunan penting dalam pemanfaatan ruang perkotaan dan ruang terbuka hijau.2. namun juga sosial dan lingkungan dalam memanfaatkan ruang perkotaan. penyelesaian konflik serta respon dari pemerintah melalui jalur yang telah disepakati bersama. b) Mengembangkan dan memperkuat kerjasama proses mediasi antara pemerintah.1 Peran Individu/Kelompok Masyarakat dapat berperan secara individu atau kelompok dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH. Pada kondisi yang lebih berkembang. Untuk mencapai peran tersebut. masyarakat dapat membentuk suatu forum atau komunitas tertentu untuk menghimpun anggota masyarakat yang memiliki kepentingan terhadap RTH. Peran swasta yang diharapkan dalam pemanfaatan ruang perkotaan sama seperti peran yang diharapkan dari masyarakat. g) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. c) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyikapi perencanaan. Untuk mencapai peran tersebut. komunitas. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 61 . plaza. konflik yang muncul sehubungan dengan pembangunan ruang terbuka hijau. f) Bekerjasama dengan pemerintah dalam menyusun mekanisme pengaduan. maka terdapat peran lain yang dapat dilakukan oleh swasta. pelatihan dan diskusi di kelompok-kelompok masyarakat. mengembangkan konsep serta upaya-upaya untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah. masyarakat dan swasta dalam pembangunan ruang terbuka hijau. yaitu untuk tidak saja menekankan pada tujuan ekonomi. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pihak swasta: a) Pihak swasta yang akan membangun lokasi usaha (mall.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV 4. Namun. dan sebagainya) dalam mengelola permasalahan. Misalnya: membentuk forum masyarakat peduli ruang terbuka hijau atau komunitas masyarakat ruang terbuka hijau di setiap daerah. Terutama karena kemampuan kewirausahaan yang mereka miliki. membahas permasalahan. karena swasta memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat umum. dan sebagainya) dengan areal yang luas perlu menyertakan konsep pembangunan ruang terbuka hijau.

antara lain: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 62 . dalam rangka mengatasi kesenjangan komunikasi. perwakilan masyarakat dan swasta untuk aktif melakukan mediasi. menghubungkan masyarakat dengan pemerintah dan swasta. Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan pembangunan ruang terbuka hijau maupun dengan proses diskusi dan seminar. c) Menfasilitasi proses pembelajaran kerjasama pemerintah.2. mengawasi kebijakan pemanfaatan ruang perkotaan. 4. adil dan bertanggung jawab. e) Menciptakan lingkungan dan kondisi yang kondusif yang memungkinkan masyarakat dan swasta terlibat aktif dalam proses pemanfaatan ruang secara proporsional. Organisasi lain yang memiliki peran dan posisi penting dalam mempengaruhi.3 Lembaga/Badan Hukum Lembaga atau badan hukum yang dimaksud merupakan Organisasi nonpemerintah. d) Berperan aktif dalam diskusi dan proses pembangunan sehubungan dengan pembentukan kebijakan publik dan proses pelibatan masyarakat dan swasta yang terkait dengan pembangunan ruang terbuka hijau. Dengan membentuk badan atau lembaga bersama antara pemerintah. Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan kepada masyarakat dan/atau yang terkait dalam pembangunan ruang terbuka hijau. f) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. masyarakat dan swasta serta mengenai proses pengajuan keluhan dan penyelesaian konflik yang terjadi. Untuk mencapai peran tersebut. maupun dengan proses diskusi dan seminar. f) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. e) Mengupayakan bantuan pendanaan bagi masyarakat dalam realisasi pelibatan dalam pemanfaatan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau. b) Menyelenggarakan proses mediasi jika terdapat perbedaan pendapat atau kepentingan antara pihak yang terlibat. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan organisasi non-pemerintah antara lain: a) Membentuk sistem mediasi dan fasilitasi antara pemerintah. d) Mendorong dan/atau menfasilitasi proses pembelajaran masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV b) Bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat dalam membangun dan memelihara ruang terbuka hijau. pendamping. masyarakat dan swasta dalam mengatasi kesenjangan komunikasi dan informasi pembangunan ruang terbuka hijau. c) Berperan aktif dalam mensosialisasikan dan memberikan penjelasan mengenai proses kerjasama antara pemerintah. atau organisasi lain yang serupa berperan utama sebagai perantara. melaksanakan. swasta dan masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan. menyusun. informasi dan pemahaman di pihak masyarakat serta akses masyarakat ke sumber daya.

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 63 . sebagai kontributor dalam penyediaan RTH tersebut. 4. unsur kewilayahan seperti RT. swasta. dan sebagainya. Partai politik.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ DPR/DPRD. sesuai dengan peraturan yang berlaku di wilayah tersebut. perguruan tinggi. pemeliharaan maupun peningkatan kesadaran masyarakat terhadap RTH dapat berupa: a) Piagam penghargaan yang dikeluarkan oleh lembaga swadaya masyarakat pemerhati RTH/lingkungan hidup. lembaga atau perusahaan dalam ukuran yang wajar dan tidak mengganggu keindahan. Lembaga donor. Adapun peran dari masing-masing organisasi tersebut diatas dapat disesuaikan dengan posisi dan keahlian yang dimiliki organisasi dalam membantu atau terlibat proses pembangunan ruang terbuka hijau. RW. Instansi yang terkait dengan pengeloaan RTH/lingkungan hidup. b) Pencantuman nama. Perguruan tinggi. pembangunan. pemerintah daerah atau pemerintah pusat.2. dan badan hukum dalam penyediaan. Asosiasi profesi. Kelurahan dan Kecamatan.4 Penghargaan dan Kompensasi Penghargaan dan kompensasi terhadap masyarakat/perseorangan. dengan persetujuan tertulis dari instansi pengelolanya. baik perorangan.

LAMPIRAN A (informatif) BAGAN PROPORSI RTH KAWASAN PERKOTAAN (ilustrasi) RUANG PERKOTAAN TERBANGUN TERBUKA HUNIAN (40%) NON HUNIAN (20%) TAMAN (12.5%) RTH PRIVAT 10% RTH PUBLIK 20% RTH KOTA 30% L-1 .5%) KDB (80%) KDB (90%) KDB (0%) KDB (70%) KDB (80%) RTH (8%) RTH (2%) RTH (12.5%) JALAN (20%) LAINNYA (7.5%) RTH (6%) RTH (1.

LAMPIRAN B (informatif) GAMBAR CONTOH RTH TAMAN Gambar B.1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT) Gambar B.2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT) L-2 .

3 Contoh Taman Rukun Warga (RW) Gambar B.Gambar B.4 Contoh Taman Kelurahan L-3 .

Gambar B.5 Contoh Taman Kelurahan Gambar B.6 Contoh Taman Kecamatan L-4 .

000 jiwa.3 jt m3/th.200 – 662. persamaan kebutuhan hutan kota pada tahun 0 (2005) adalah sebagai berikut: 65.K (1 + R – C)t – PAM . Potensi air tanah 662.256 73. Faktor di atas dapat ditulis dalam persamaan: Po.Pa z La = dengan: La Po K R C PAM t Pa z adalah luas hutan kota yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan air (Ha) adalah jumlah penduduk kota pada tahun ke 0 adalah konsumsi air per kapita (liter/hari) adalah laju peningkatan pemakaian air (biasanya seiring dengan laju pertambahan penduduk kota setempat) adalah faktor koreksi (besarnya tergantung dari upaya pemerintah dalam penurunan laju pertambahan penduduk) adalah kapasitas suplai air oleh PAM (dalam m3/tahun) adalah tahun ke adalah potensi air tanah saat ini (m3/th) adalah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air (m3/ha/th) Contoh perhitungan: Suatu kota dengan luas 2. Kemampuan hutan kota menyimpan air 73.LAMPIRAN C (informatif) CONTOH PERHITUNGAN HUTAN KOTA (RTH) C. Dengan kondisi seperti tersebut di atas.8%) L-5 Lt = = 142 ha .000) – 6. Kapasitas air PAM terpasang 6. Konsumsi air per kapita adalah 65 m3/th. memiliki penduduk pada tahun 2005 sebanyak 203. Kemampuanhutan kota menyimpan air.1 Contoh Perhitungan Kebutuhan Hutan Kota (RTH) Berdasarkan Kebutuhan Air Kebutuhan air dalam kota bergantung dari faktor: a) b) c) d) kebutuhan air bersih per tahun.307. (203.000 Kebutuhan hutan kota = 142 ha (5.000 m3/ha/th. Potensi air saat ini. jumlah air yang dapat disediakan oleh PAM.256 m3/th.450 ha.

2005): Tabel C.240 840 Tabel C.2 Contoh Perhitungan Kebutuhan Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Luasan kebutuhan hutan kota berdasarkan kebutuhan oksigen.2 Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor Jenis Bahan Bakar Bensin Diesel Rata-rata Pemakaian Bahan Bakar (kg/PS jam) 0. L-6 .711.86 Dari tabel C. dengan rumus: Pt + Kt + Tt Lt = (54 )(0.004. yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988).893.597.609 474.160 357.360 204.624 425.9375 2 m2 adalah luas RTH Kota pada tahun ke t (m2) adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke t adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t adalah tetapan yan menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari.9375 )(2) dengan: Lt Pt Kt Tt 54 0.1 Kebutuhan Oksigen Manusia di Kota Bandung Tahun 2004 Wilayah Pengembangan (WP) Bojonagara Cibeunying Karees Tegalega Ujungberung Gedebage Jumlah Penduduk (Jiwa) 424.560 397.261 Konsumsi Oksigen Manusia/Hari (gram/hari) Komsumsi Oksigen (gram/hari) 365.240 316.21 0.300 505.C.2 dapat ditentukan besarnya kebutuhan oksigen kendaraan bemotor berdasarkan klasifikasi jenis kendaraan dan rata-rata umum kebutuhan oksigen. dengan kasus di Kota Bandung (Noor Syailendra.9375 gram adalah jumlah musim di Indonesia Contoh perhitungan dengan menggunakan rumus Gerakis (1974) dalam Wisesa (1988).339.711 377.254 243.000 424.16 Kebutuhan Oksigen Tiap 1 kg Bahan Bakar 2. dapat juga dilakukan dengan metode Gerakis (1974). adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0.412.77 2.

18 Sepeda motor Kendaraan penumpang Kendaraan truk Kendaraan bus Jumlah Rata-rata Tabel C.341 Luas RTH = (54 )(0.519 56.634 582 29.984.7 11.085 45.085 45.3 Kebutuhan Oksigen Menurut Klasifikasi Jenis Kendaraan Bermotor Klasifikasi Daya Minimal (PS) 1 20 50 100 Kebutuhan Bahan Bakar (kg/PS) 0.259.993 Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 11.259.760 Total Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 196.0607 21.5817 11. kebutuhan oksigen kendaraan di tiap wilayah pengembangan.77 2.440 59.72 ha m2 Catatan: kebutuhan oksigen untuk ternak diabaikan Dengan mengacu pada kebutuhan oksigen manusia.061 21.739.21 0.412.679.86 Kebutuhan Oksigen (kg/hari) 0.77 2.341 Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka kebutuhan RTH di Wilayah Bojonagara Kota Bandung pada tahun 2004 adalah: 356.772.305 1. maka kebutuhan hutan kota di Kota Bandung pada tahun 2004 adalah sebagai berikut: L-7 .77 2.772.680 324.760 45.765.760 29.16 Kebutuhan Oksigen Tiap 1 Liter BB (kg) 2.7652 Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 581.634 29.000 + 324.76 87.9375)( 2 ) Luas RTH = 6.906 94 1.21 0.634 29.142 7.760 87.301.Tabel C.863 13.91 m2 = 672.21 0.311.4 Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor di Wilayah Bojonagara Bandung Jenis Kendaraan Mobil Pribadi Motor Truk Bus Minibus umum Jumlah LHR (lalu-lintas harian rata-rata) (kendaraan/hari) 16.560 4.

559.85 29.63 21.Tabel C.28 2.87 470.28 L-8 .00 Kebutuhan RTH (Ha) 672.12 16.42 Luas (%) 28.602.61 9.47 20.050.5 Kebutuhan RTH di Kota Bandung Tahun 2004 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Wilayah pengembangan Bojonagara Cibeunying Karees Tegalega Gedebage Ujungberung Kota Bandung Luas wilayah (Ha) 2.13 11.07 4.330.40 544.16 2.28 2.62 3.22 250.730.107.08 36.09 2.27 856.04 768.933.707.

LAMPIRAN D (informatif) PILIHAN VEGETASI UNTUK DIKEMBANGKAN DI RTH Pengenal Lingkungan Perawakan Daya Tarik Potensi di RTH Dapat dikonsumsi ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Reduktor Polutan ● ● ● ● ● ● ● ● Pohon Sedang Pohon Kecil 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Akalipa hijau kuning Akasia daun besar Akasia kuning Angrek Tanah Angsana Apel Asam Asem landi Bakung Bambu Jepang Beringin Bintaro Bogenvil Bunga pukul empat Bunga saputangan Bungur Cemara gunung Cemara laut Cemara Norfolk Cempaka Dadap belang Dadap merah Damar Durian Ebony/ Kayu hitam Flamboyan Ganitri Glodogan pohon Glodogan tiang Hujan Mas Iris Jambu air Jambu batu Jambu monyet Jarak Jati Jeruk bali Jeruk nipis Johar Kalak Kaliandra Kana Kantil Karet Munding Kasia singapur Acalypha wilkesiana Accacia mangium Acacia auriculaeformis Spathoglotis plicata Pthecarpus indicus Chrysophyllum cainito Tamarindus indica Pitchecolobium dulce Crinum asiaticum Bambusa sp. Polyathea longifolia Cassia fistula Belamcanda chinensis Eugenia aquea Psidium guajava Anacardium occidentale Jatropha integerima Tectona grandis Citrus grandisty Citrus aurantifolia Cassia siamea Polyantha lateriflora Caliandra haematocepala Canna Hibrida Michelia alba Ficus elastica Cassia spectabilis ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● L-9 Pengarah No Nama Lokal Nama Latin Bentuk Tajuk Pohon Besar Warna daun Tekstur Semak Bunga Perdu Buah . Ficus benyamina Cerbera manghas Bougenvillea sp Mirabilis jalapa Amherstia nobilis Lagerstromea loudonii Casuarina junghuniana Casuarina equisetifolia Araucaria heterophylla Michelia champaca Erythrina variegata Erythrina cristagalli Agathis alba Durio zibethinus Dyospiros celebica Delonix regia Elaeocarpus grandisflora Polyathea sp.

Pepaya Carica papaya Pinang Jambe Areca catechu Pinang Mac-arthur Ptychosperma macarthurii Pinus.10 Pengarah ● ● Tekstur No Nama Lokal Nama Latin Pohon Kecil Semak Bunga Perdu Buah . tusam Pinus mercusii Puspa Schima wallichii Salam Eugenia polyantha Sansiviera/Lidah mertua Sanseviera trifasciata L Sarai raja Caryota mitis Sawo kecik Manilkara kauki Serunai rambat Widelia sp.Perawakan Pohon Sedang Pohon Besar Daya Tarik Bentuk Tajuk Warna daun Potensi di RTH Dapat dikonsumsi ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Reduktor Polutan ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Pengenal Link ● 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 Cocos nucifera Caesalphinia pulcherima Hibiscusrosa sinensis Kemboja merah Plumeria rubra Kemuning Muraya paniculata Kenanga Cananga odorata Kenari Canarium commune Kersen Muntingiacalabura Kesumba Bixa orellana Ketapang Terminalia cattapa Ki acret Spathodea companulata Kiara Payung Filicium decipiens Kol Banda */ Pisonia alba Kupu-kupu Bauhinia purpurea Lamtorogung Leucaena leccocephala Landep Baleria priontis Lantana Lantana camara Lengkeng Euphoria longan Lontar / Siwalan Borassus flabellifer Mahoni Switenia mahagoni Mangga Mangifera indica Mangkokan Nothopanax scutellarium Matoa Pometia pinata Menteng Baccaurea motleyana Merawan Hopea mangarawan Mimba Azadirachta indica Nagasari Mesua ferrea Nangka Artocarpus heterophylla Nusa Indah Musaenda sp. Sikat botol Callistemon lanceolatus Soka Ixora stricata Sukun Artocarpus altilis Sutra bombay Portulaca gransiflora Tanjung Mimusops elengi Tapak dara Catharanthus roseus Teh-tehan Pangkas Acalypha sp. Nyamplung Callophyllum inophyllum Oleander Nerium oleander Palem Ekor Tupai Wodyetia bifurca Palem kubis Licuala grandis Palem Kuning Chrysalidocarpus lutescens Palem Merah Cytostachys renda Palem Raja Oreodoxa regia Palem Sadeng Livistona rotundifolia Pangkas kuning Duranta sp. Trembesi Samanea saman Kelapa Kembang merak Kembang Sepatu ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● L .

Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. S. E N. Departemen Pekerjaan Umum. Direktorat Jenderal Penataan Ruang. 2004. Landscape Architect’s Portable Hand Book. Hendro Sunaryo dan Rismunandar. F. 1995. Mendisain. Jakarta. Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan. dalam Dahlan. Dines. Daya Transpirasi Tanaman Perkotaan. 1988. Ministry of Public Works. 2001. 1976. IPB Press. 2006. Perda Depok No. Bogor. L . Standard Specifications for Geometric Design of Urban Roads. Membuat dan Merawat Taman Rumah. Agro Media Pustaka. edisi revisi. Mona Sintia dan Murhananto. Pembangunan Rumah Sederhana Tidak Bersusun. Tangerang. Penebar Swadaya. 2004. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. RTH sebagai Unsur Utama Pembentuk Kota Taman. Bogor.18 Tahun 2003. Lansekap Jalan. McGraw-Hill. EN. Dines T Nicholas & Brown D Kyle.. dalam Dahlan. Kementerian Lingkungan Hidup. Dahlan. 2005. Time Saver Standards for Landscape Architecture. Kurniawan.BIBLIOGRAFI Charles Harries & Nicholas T. EN. 2005.11 . IPB Press. Pengantar Pengetahuan Dasar Hortikultura. Direktorat Jenderal Cipta Karya. 1992. 1993. Pemeliharaan Tanaman. Pedoman Umum Penanaman Jalur Hijau Jalan. Departemen Pekerjaan Umum. Manan. IPB Press. Pemeliharaan Taman. Directorate General of Highways. New York. Pengaruh Hutan dan Manajemen Daerah Aliran Sungai. 2004. Spesifikasi Tanaman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Bandung. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. Jurusan Arsitektur Lansekap Faperta Unbar.. 2004. Pedoman Teknik Departemen Pekerjaan Umum. Rully Wijayakusuma. 2004. Bandung. Bogor. Sinar Baru. Mc Graw – Hill Professional. Pedoman Perencanaan Median Jalan. 2007. Direktorat Jenderal Bina Marga. 1986. Depok. Departemen Pekerjaan Umum. tentang Garis Sempadan. 2004. 1981. Hadi Susilo Arifin dan Nurhayati HS Arifin.

dalam Endes Nurfilmarasa. Zoer’aini Djamal Irwan. RTH Sebagai Unsur Utama Pembentuk Undang-Undang No. Jurusan Teknik Planologi FT Unpas. 13 Tahun 1992. Kota. 27 April 2006. Undang-Undang No. 1989. Pustaka Cidesindo. dalam Noor Syailendra. J. United States Department of Transportation.Soerianegara dan Indrawan. Highway Economic Requirements System. tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. tentang Perkeretaapian.12 . Surat Kabar Harian Pikiran Rakyat. Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan SNI 033/T/BM/ 1996. SNI 031/T/BM/1999. tentang Jalan. Undang-Undang No. Ekologi Hutan Indonesia. Wisessa.1988. Tantangan Lingkungan Hidup dan Lansekap Kota. Penentuan Luas Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen. Kajian Kebutuhan Hutan Kota di Kota Bandung. 1977. 14 Tahun 1992. Jakarta. Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan L . 1998. 38 Tahun 2004.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful