PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang : a. bahwa kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik terutama Ruang Terbuka Hijau (RTH) saat ini mengalami penurunan yang sangat signifikan dan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan hidup perkotaan yang berdampak keberbagai sendi kehidupan perkotaan antara lain sering terjadinya banjir, peningkatan pencemaran udara, dan menurunnya produktivitas masyarakat akibat terbatasnya ruang yang tersedia untuk interaksi sosial; b. bahwa Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang memberikan landasan untuk pengaturan ruang terbuka hijau dalam rangka mewujudkan ruang kawasan perkotaan yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan; c. bahwa dalam rangka implementasi Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang diperlukan adanya Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu ditetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);

3. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara RI; 4. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara RI; 5. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu; 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN.

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Menteri adalah Menteri Pekerjaan Umum. Pasal 2 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan dimaksudkan untuk: a. menyediakan acuan yang memudahkan pemangku kepentingan baik pemerintah kota, perencana maupun pihak-pihak terkait, dalam perencanaan, perancangan, pembangunan, dan pengelolaan ruang terbuka hijau. memberikan panduan praktis bagi pemangku kepentingan ruang terbuka hijau dalam penyusunan rencana dan rancangan pembangunan dan pengelolaan ruang terbuka hijau. memberikan bahan kampanye publik mengenai arti pentingnya ruang terbuka hijau bagi kehidupan masyarakat perkotaan. memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat dan pihak-pihak terkait tentang perlunya ruang terbuka hijau sebagai pembentuk ruang yang nyaman untuk beraktivitas dan bertempat tinggal.

2.

3.

b.

c. d.

Pasal 3 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan bertujuan untuk: a. b. menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air; menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat; meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih. Pasal 4 (1) Ruang lingkup Peraturan Menteri memuat: a. b. c. (2) ketentuan umum, yang terdiri dari tujuan, fungsi, manfaat, dan tipologi ruang terbuka hijau; ketentuan teknis yang meliputi penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan; prosedur perencanaan dan peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau.

c.

Materi muatan tentang pengaturan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimuat secara lengkap dalam lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 5

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Peraturan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk diketahui dan dilaksanakan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 26 Mei 2008 MENTERI PEKERJAAN UMUM,

DJOKO KIRMANTO

LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TANGGAL : 26 Mei 2008 PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN .

.1 Peran Individu/Kelompok..... ....3..................................................3 Kota/Perkotaan.........4................................................................ .........2 Pada Lingkungan/Permukiman.............2 Penanaman...... BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 2....................................................... 1..........4......................... BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 3............. Ketentuan Penanaman..................................................................................................................................... 2..................................................................................... 3.................................... Istilah dan Definisi....................4....................................................................................... Tipologi RTH.................................................4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman...........................................2..... 2..........4................................................................ Prosedur Perencanaan............... RTH Fungsi Tertentu.. 3............. Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan............2.................................................. .............................3 Pemeliharaan Tanaman........3...........1.. 2.................. Arahan Penyediaan RTH.. 2.........4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau............................2........ 1.1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam.......................................4...... 4........................................ Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan........................ 2.... ........................... 1...2... 4.............. 2........................................... Daftar Tabel.. Acuan Normatif.. .......................................................... BAB IV PROSEDUR PERENCANAAN DAN PERAN MASYARAKAT 4........ 2....................7......................................... 3.................................................................................................................. Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan...2.......... 1............... 4........................................ .......................................................................................................................................... Kedudukan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah.............................................................. i i iii iv v 1 1 1 1 3 5 5 6 6 9 9 10 10 12 14 31 31 32 33 34 36 38 43 43 43 44 45 47 47 47 52 55 59 59 59 61 61 62 62 .............5............................ 2................................. BAB I KETENTUAN UMUM 1.4....................... 2.............................. Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman.............................1......................................3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota........... 1...3.............3.................................................. Kriteria Vegetasi RTH.......1............. 2....................................................2......2........................ Manfaat RTH..................................2...... 2.......................... 1..1 Pada Bangunan/Perumahan..... Prakata...........3......... 2....DAFTAR ISI Daftar Isi........................................................2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota.............6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu..........3 Lembaga/Badan Hukum..........................2..................................................................................................................3....2............3...............2.................................... Tujuan Penyelenggaraan RTH........................... Daftar Gambar.. 2......................................... 2............................................................................. 4................. 2.3........................................................................................................... 4................ Fungsi RTH.....................3......................................... Peran Masyarakat............. Ruang Lingkup Pedoman.......... 1..........4............4 Penghargaan dan Kompensasi...........8..........................2 Peran Swasta.........................................................................5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan...................................1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan....6... 2........1....

................................................................................... Pilihan Vegetasi untuk Dikembangkan di RTH........................................................................................................ Contoh Perhitungan Hutan Kota......................... L-11 ii .....................................................................Lampiran A Lampiran B Lampiran C Lampiran D Bagan Proporsi RTH Wilayah Perkotaan.................................. Gambar Contoh RTH Taman............. L-1 L-2 L-5 L-9 Bibliografi....

... Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor...............................2 2..............................................2 1.......... Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan.3 2..................2 3.................... Contoh Vegetasi untuk Pemakaman.......................... Contoh Tanaman untuk Sabuk Hijau yang Tahan Terhadap Penggenangan Air.....1 C...................................... Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki.............1 3................ Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api.............................................................. Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk............3 3..................................7 2..................... Contoh Tanaman untuk Di Bawah Jalan Layang.................2 C...1 2........................................ Kebutuhan RTH di Kota Bandung Tahun 2004 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen.............. Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota........13 2................... RTH Sempadan Danau dan Mata Air....................................5 C......................................4 3...... Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET.................... Contoh Tanaman untuk Roof Garden............ Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota.8 2................ Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai...............11 2.. Kepemilikan RTH........................3 2........................5 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH....... Bandung......... Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan..................4 2......................................... Kebutuhan Oksigen Menurut Klasifikasi Jenis Kendaraan Bermotor...........................14 3..... Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api...........................................DAFTAR TABEL Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 1.....................................3 C.......... Kebutuhan Oksigen Manusia di Kota Bandung Tahun 2004...................4 Tabel C............... Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor di Wilayah Bojonagara.............................................. 5 7 8 9 22 25 26 32 33 33 34 37 37 38 39 40 43 50 51 53 54 57 L-6 L-6 L-7 L-7 L-8 iii ..............9 2........................................................... Kemampuan Hutan dalam Mengendalikan Gelombang Pendek dan Gelombang Panjang... Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan............ Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Hutan Kota............................................ Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET..1 1........10 2....6 2.. Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan............................................................................5 2.......................12 2..................

...................................................................................... Contoh Taman Rukun Warga.......................................14 2........... Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak..11 2............................................10 2......2 2. Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang.............16 3...........................1 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 1......12 2.....................3 B..................... Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT)...................................................6 Kedudukan Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam RTR Kawasan Perkotaan................... Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan........................... Contoh Taman Rukun Kecamatan..........15 2................................................... Tipologi RTH...........1 B.................................. Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki.................................................................................. Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH Di Bawah Jalan Layang..5 2.............……………………………...........................................................5 3. Pelibatan Masyarakat pada Pemanfaatan Dan Pengendalian............9 2.... Contoh Taman Rukun Kelurahan............... Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif)..............DAFTAR GAMBAR Gambar 1.............. 4 7 12 15 15 17 18 19 19 20 21 21 23 24 25 29 30 31 48 48 49 50 51 52 53 60 L-2 L-2 L-3 L-3 L-4 L-4 iv ........................... Jalur Tanaman pada Median Penahan Silau Lampu Kendaraan......6 3........ Contoh Taman Rukun Kelurahan............ Jalur Tanaman Tepi Pembatas Pandang........................................ Jalur Tanaman Tepi Peneduh...............................4 2.. Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan.............. Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif)....................... Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin............7 4.......4 3.13 2....... Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air............... Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT) ......... Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara.................6 2....5 B.......... Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT)................. Contoh Taman Kecamatan...........................................................2 3................. Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman...................2 2..........................1 3............4 B..........1 B..........................................3 3.......... Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden.............2 B................................. ... Pola Tanam Hutan Kota Strata 2...............7 2........................................ Contoh Taman Kota............3 2.... Contoh Taman Rukun Warga...............................1 2........ Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT) ......... Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai.......................................................................................................8 2..

PRAKATA Buku pedoman ini disusun oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang. v . Proses penyusunan pedoman ini telah melibatkan berbagai kalangan masyarakat termasuk para akademisi dari perguruan tinggi terkemuka. kriteria vegetasi untuk RTH. Pedoman ini berisi rujukan untuk penyediaan RTH. ketentuan penanaman dan pemeliharaan tanaman. prosedur perencanaan dan peran masyarakat yang semuanya merupakan pedoman teknis yang berlaku secara nasional. Departemen Pekerjaan Umum dan merupakan salah satu rujukan teknis Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten serta seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) terutama para praktisi dan para akademisi di berbagai kegiatan yang dalam tugas dan kegiatannya berkaitan dengan penyediaan dan pemanfaatan RTH di kawasan perkotaan. Pedoman ini dipersiapkan oleh Panitia Teknik Standardisasi Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil melalui Gugus Kerja Perencanaan Sub Panitia Teknis Tata Ruang. pemanfaatan RTH.

SNI 03-1733-2004. 2. Elemen lansekap. penanaman dan pemeliharaan tanaman. meliputi: a). kedudukan pedoman penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam rencana tata ruang wilayah. pasir. pada kota/perkotaan. istilah dan definisi. dan elemen-elemen lainnya yang berbentuk padat maupun cair. pipa gas. yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang. dan kebutuhan fungsi tertentu. adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak. Pedoman ini dilengkapi dengan foto dan gambar contoh beberapa RTH. fungsi dan manfaat RTH. c. tentang Penataan Ruang Peraturan Pemerintah RI No. 28 Tahun 2002.2. tepi luar kepala jembatan. suara. Istilah dan Definisi 1. pada lingkungan/permukiman. 1 . sedangkan yang dimaksud dengan benda hidup ialah tanaman. Elemen lansekap yang berupa benda terdiri dari dua unsur yaitu benda hidup dan benda mati. tentang Peraturan Pelaksanaan Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum f. 26 Tahun 2007. jaringan tenaga listrik. baik yang bersifat alamiah maupun buatan manusia. prosedur perencanaan dan peran masyarakat.3. kriteria vegetasi RTH. Keputusan Presiden RI No. 32 Tahun1990. warna dan suasana yang merupakan pembentuk lansekap. Peraturan Pemerintah RI No. as rel kereta api. Ketentuan umum meliputi ruang lingkup pedoman. pemanfaatan RTH: pada bangunan/perumahan. dan tipologi RTH. Garis sempadan. tepi situ/rawa. Hutan kota. arahan penyediaan RTH. tentang Jalan g. tepi waduk. tepi mata air. 36 Tahun 2005. tentang Bangunan Gedung Undang-Undang RI No. acuan normatif. jumlah penduduk. tentang Sumber Daya Air Undang-Undang RI No. b).Ketentuan Umum Bab I BAB I KETENTUAN UMUM 1. dan yang dimaksud dengan benda mati adalah tanah. 7 Tahun 2004. dan ketentuan penanaman. 3. penyediaan RTH berdasarkan: luas wilayah. tujuan penyelenggaraan RTH. tentang Pengelolaan Kawasan Lindung h. Ruang Lingkup Pedoman Pedoman ini terdiri dari ketentuan umum dan ketentuan teknis serta lampiran-lampiran sebagai pelengkapnya. Tatacara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan 1. 4. Acuan Normatif Undang-Undang RI No. b. adalah garis batas luar pengaman untuk mendirikan bangunan dan atau pagar yang ditarik pada jarak tertentu sejajar dengan as jalan.1. d. adalah segala sesuatu yang berwujud benda. batu. 1. Jalur hijau. kaki tanggul. e. Ketentuan teknis merupakan pedoman rinci. fungsi tertentu. tepi saluran. adalah jalur penempatan tanaman serta elemen lansekap lainnya yang terletak di dalam ruang milik jalan (RUMIJA) maupun di dalam ruang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan a. tentang Hutan Kota Peraturan Pemerintah RI No. 63 Tahun 2002. 34 Tahun 2006. tepi sungai.

6. Ruang terbuka non hijau. baik yang terbentuk dari elemen lansekap alamiah seperti bentuk topografi lahan yang mempunyai panorama yang indah. Kawasan. yang timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat sesuai dengan hak dan kewajiban dalam penyelenggaraan penataan ruang. Sering disebut jalur hijau karena dominasi elemen lansekapnya adalah tanaman yang pada umumnya berwarna hijau. Perdu. adalah ruang terbuka di wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam kategori RTH. adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan gedung dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. Ruang Terbuka Hijau (RTH). adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur dimana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan. adalah pohon yang memiliki ketinggian dewasa 7-12 meter. 14. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. adalah kesatuan geografis yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional serta mempunyai fungsi utama tertentu. Ruang terbuka. tempat tumbuh tanaman. adalah tumbuhan berkayu dengan percabangan mulai dari pangkal batang dan memiliki lebih dari satu batang utama. adalah pohon yang memiliki ketinggian dewasa lebih dari 12 meter. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 2 . 9. berupa lahan yang diperkeras maupun yang berupa badan air. Pohon sedang. 20. 10. Lansekap jalan ini mempunyai ciri-ciri khas karena harus disesuaikan dengan persyaratan geometrik jalan dan diperuntukkan terutama bagi kenyamanan pemakai jalan serta diusahakan untuk menciptakan lingkungan jalan yang indah. Penutup tanah. 13. Ruang terbuka hijau privat. 19. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. nyaman dan memenuhi fungsi keamanan. adalah semua tumbuhan berbatang pokok tunggal berkayu keras. Pohon besar. 17. pengawasan jalan (RUWASJA). adalah RTH milik institusi tertentu atau orang perseorangan yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas antara lain berupa kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan. 7. 18. Pohon kecil. 11. adalah berbagai kegiatan masyarakat. adalah pohon yang memiliki ketinggian sampai dengan 7 meter. baik yang tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. maupun yang terbentuk dari elemen lansekap buatan manusia yang disesuaikan dengan kondisi lahannya. Ruang terbuka terdiri atas ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non hijau. adalah area memanjang/jalur dan atau mengelompok. 8. Koefisien Dasar Bangunan (KDB). adalah wajah dari karakter lahan atau tapak yang terbentuk pada lingkungan jalan. adalah semua jenis tumbuhan yang difungsikan sebagai penutup tanah. 16. Peran masyarakat. yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. 12. Kawasan perkotaan. 15. Koefisien Daerah Hijau (KDH).Ketentuan Umum Bab I 5. Pohon. Lansekap jalan.

Vegetasi/tumbuhan. adalah kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya. 26. Tanaman penutup tanah. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 3 . perencanaan tata ruang wilayah kota harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau yang luas minimalnya sebesar 30% dari luas wilayah kota. yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan kondisi geografis. edukasi atau kegiatan lain pada tingkat lingkungan.Ketentuan Umum Bab I 21. dan pengendalian pemanfaatan ruang. Tajuk. Di dalam Undang-Undang No.4. dan rumput. adalah RTH yang memiliki tujuan utama untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu. adalah keseluruhan tetumbuhan dari suatu kawasan baik yang berasal dari kawasan itu atau didatangkan dari luar. adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. Kedudukan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Penataan ruang merupakan suatu sistem proses perencanaan tata ruang. Berdasarkan wilayah administrasinya. adalah bangunan pengendali sungai yang dibangun dengan persyaratan teknis tertentu untuk melindungi daerah sekitar sungai terhadap limpasan air sungai. Ruang terbuka hijau publik. penataan ruang wilayah kabupaten/kota. 23. meliputi pohon. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Perencanaan tata ruang dilakukan untuk menghasilkan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang. penataan ruang wilayah provinsi. 1. Biasanya merupakan tanaman antara bagi tanah yang kurang subur sebelum penanaman tanaman yang tetap (permanen). Rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau selain dimuat dalam RTRW Kota. Adapun ketentuan lebih lanjut mengenai penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau diatur dalam pedoman ini. Taman kota. Taman lingkungan. 25. 27. Tanggul. 28. herbaseus. adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif. adalah jenis tanaman penutup permukaan tanah yang bersifat selain mencegah erosi tanah juga dapat menyuburkan tanah yang kekurangan unsur hara. perdu. Sabuk hijau (greenbelt). RDTR Kota. 30. atau RTR Kawasan Strategis Kota. penataan ruang terdiri atas penataan ruang wilayah nasional. Wilayah. pemanfaatan ruang. adalah tumbuhan berbatang hijau serta tidak berkayu disebut sebagai 24. semak. adalah bentuk alami dari struktur percabangan dan diameter tajuk. Semak. juga dimuat dalam RTR Kawasan Perkotaan yang merupakan rencana rinci tata ruang wilayah Kabupaten. edukasi atau kegiatan lain pada tingkat kota. 22. adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif. 29.

d. pembatas perkembangan kota ke arah yang tidak diharapkan. tempat rekreasi dan olahraga masyarakat.1. e. b. i. Kedalaman rencana penyediaan dan pemanfaatan RTH pada masing-masing rencana tata ruang tersebut di atas dapat dilihat pada Tabel 1. h. f. j. penyediaan RTH yang bersifat privat. g. buatan maupun historis. area pengembangan keanekaragaman hayati. area penciptaan iklim mikro dan pereduksi polutan di kawasan perkotaan. tempat pemakaman umum.1 Kedudukan Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam RTR Kawasan Perkotaan Penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam RTRW Kota/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan. melalui pembatasan kepadatan serta kriteria pemanfaatannya. area mitigasi/evakuasi bencana. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 4 . kawasan pengendalian air larian dengan menyediakan kolam retensi. c. pengamanan sumber daya baik alam. dan ruang penempatan pertandaan (signage) sesuai dengan peraturan perundangan dan tidak mengganggu fungsi utama RTH tersebut.Ketentuan Umum Bab I Gambar 1. dimaksudkan untuk menjamin tersedianya ruang yang cukup bagi: a. kawasan konservasi untuk kelestarian hidrologis. k.

segar. c. indah. Meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman. dan luas dengan skala yang lebih detail/besar.5. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 5 . Tahap-tahap implementasi penyediaan RTH.Ketentuan Umum Bab I Tabel 1. Menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat. Konsep-konsep rencana RTH sebagai arahan untuk pengembangan disain selanjutnya. lokasi. ƒ sebagai peneduh. alternatif vegetasi pengisi ruang khususnya arahan vegetasi dalam kelompok-kelompok besar. Menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air.6. Alternatif vegetasi pengisi ruang khususnya arahan vegetasi dalam kelompok-kelompok besar. Rencana penyediaan RTH yang dirinci berdasarkan jenis/tipologi RTH. ƒ produsen oksigen. ƒ pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung lancar. b. Fungsi RTH RTH memiliki fungsi sebagai berikut: a. ƒ penyerap air hujan. Ketentuan pemanfaatan RTH secara umum. Penetapan jenis dan lokasi RTH yang akan disediakan. Ketentuan tentang peraturan zonasi. arahan elemen pelengkap pada RTH.1 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH Jenis Rencana Tata Ruang Rencana Tata Ruang Wilayah 1) 2) Kota (Rencana Umum) 3) 4) 5) Kedalaman Muatan Luas minimum yang harus dipenuhi. Fungsi utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis: ƒ memberi jaminan pengadaan RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota). hingga konsep-konsep rencana RTH sebagai arahan untuk pengembangan disain selanjutnya. nyaman. 1. RDTRK/RTR Kawasan 1) Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan 2) (Rencana Rinci) 3) 4) 5) 6) 1. Indikasi program mewujudkan penyediaan RTH pada masing-masing kawasan/bagian wilayah kota. Tipologi masing-masing RTH. Tujuan Penyelenggaraan RTH Tujuan penyelenggaraan RTH adalah: a. Arahan elemen pelengkap pada RTH. dan bersih.

kepentingan. .Ketentuan Umum Bab I ƒ penyedia habitat satwa. dan pelatihan dalam mempelajari alam. maupun makro: lansekap kota secara keseluruhan. . .merupakan media komunikasi warga kota.7. Manfaat langsung (dalam pengertian cepat dan bersifat tangible). ƒ Fungsi ekonomi: . yaitu pembersih udara yang sangat efektif. Dalam suatu wilayah perkotaan. sejuk) dan mendapatkan bahan-bahan untuk dijual (kayu.menggambarkan ekspresi budaya lokal. segar. buah.bisa menjadi bagian dari usaha pertanian. 1.tempat rekreasi.menciptakan suasana serasi dan seimbang antara area terbangun dan tidak terbangun. . Manfaat RTH Manfaat RTH berdasarkan fungsinya dibagi atas: a.menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota. . sayur mayur. empat fungsi utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan. daun.wadah dan objek pendidikan. air dan tanah. Fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu: ƒ Fungsi sosial dan budaya: . lingkungan permukimam. perkebunan. daun.pembentuk faktor keindahan arsitektural.sumber produk yang bisa dijual. pemeliharaan akan kelangsungan persediaan air tanah. keseimbangan ekologi dan konservasi hayati. memperindah lingkungan kota baik dari skala mikro: halaman rumah. b. Manfaat tidak langsung (berjangka panjang dan bersifat intangible). ƒ penahan angin. serta. . seperti tanaman bunga. yaitu membentuk keindahan dan kenyamanan (teduh. buah). dan keberlanjutan kota seperti perlindungan tata air.8. ƒ Fungsi estetika: . Tipologi RTH Pembagian jenis-jenis RTH yang ada sesuai dengan tipologi RTH sebagaimana Gambar 1. pelestarian fungsi lingkungan beserta segala isi flora dan fauna yang ada (konservasi hayati atau keanekaragaman hayati). kehutanan dan lainlain. 1. penelitian. bunga.2 berikut: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 6 . . b. ƒ penyerap polutan media udara.meningkatkan kenyamanan.

2 berikut. memanjang. Taman kota f. Pekarangan rumah tinggal b. Taman RW c. Taman RT b.2 Tipologi RTH Secara fisik RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami berupa habitat liar alami.2 Kepemilikan RTH No. 1. tersebar). Sabuk hijau (green belt) RTH Jalur Hijau Jalan a. Taman kecamatan e. pemakaman atau jalur-jaur hijau jalan. maupun pola planologis yang mengikuti hirarki dan struktur ruang perkotaan. Pulau jalan dan median jalan b. Halaman perkantoran. RTH dibedakan ke dalam RTH publik dan RTH privat. RTH dapat mengikuti pola ekologis (mengelompok.Ketentuan Umum Bab I Fisik Fungsi Ekologis Struktur Kepemilikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) RTH Alami Sosial Budaya Estetika Pola Ekologis RTH Publik RTH Non Alami Ekonomi Pola Planologis RTH Privat Gambar 1. Jenis RTH Pekarangan a. Secara struktur ruang. 3. Pembagian jenis-jenis RTH publik dan RTH privat adalah sebagaimana tabel 1. sosial budaya. usaha c. Ruang dibawah jalan layang RTH Publik RTH Privat V V V V V V V V V V V V V V V V V dan tempat 2. Hutan kota g. Taman atap bangunan RTH Taman dan Hutan Kota a. Dari segi kepemilikan. Taman kelurahan d. dan ekonomi. Tabel 1. kawasan lindung dan taman-taman nasional serta RTH non alami atau binaan seperti taman. V V Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 7 . estetika. Jalur pejalan kaki c. pertokoan. lapangan olahraga. Dilihat dari fungsi RTH dapat berfungsi ekologis.

ekonomi. Jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi c. Karakteristik RTH disesuaikan dengan tipologi kawasannya. RTH sempadan sungai d. Pemakaman RTH Publik V V V V V V RTH Privat Catatan: taman lingkungan yang merupakan RTH privat adalah taman lingkungan yang dimiliki oleh orang perseorangan/masyarakat/swasta yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas.Ketentuan Umum Bab I No. ƒ sedang ƒ Berpenduduk ƒ padat ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 8 . 4. Berikut ini tabel arahan karakteristik RTH di perkotaan untuk berbagai tipologi kawasan perkotaan: Tabel 1. termasuk aksesibilitas bagi penyandang cacat. RTH sempadan rel kereta api b.d. sarana olahraga dan atau area bermain. maka RTH ini harus memiliki aksesibilitas yang baik untuk semua orang. RTH sempadan pantai e. estetika/arsitektural. Jenis RTH Fungsi Tertentu a. RTH pengamanan sumber air baku/mata air f. yaitu sosial budaya.3 Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan Tipologi Kawasan Perkotaan Pantai Karakteristik RTH Fungsi Utama Penerapan Kebutuhan RTH pengamanan wilayah pantai sosial budaya mitigasi bencana konservasi tanah konservasi air keanekaragaman hayati mitigasi/evakuasi bencana dasar perencanaan kawasan sosial ekologis sosial hidrologis ƒ berdasarkan luas wilayah ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan luas wilayah ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan jumlah penduduk ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan jumlah penduduk ƒ ƒ ƒ Pegunungan ƒ ƒ ƒ Rawan Bencana ƒ Berpenduduk ƒ jarang s. Baik RTH publik maupun privat memiliki beberapa fungsi utama seperti fungsi ekologis serta fungsi tambahan. Khusus untuk RTH dengan fungsi sosial seperti tempat istirahat.

250 9.2 1. maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya.000 jiwa 120.0 0.5 0.000 jiwa Tipe RTH Taman RT Taman RW Taman Kelurahan Taman kecamatan Pemakaman Luas minimal/ unit (m2) 250 1. baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat. Tabel 2. serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota. maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat. dilakukan dengan mengalikan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan standar luas RTH per kapita sesuai peraturan yang berlaku. Target luas sebesar 30% dari luas wilayah kota dapat dicapai secara bertahap melalui pengalokasian lahan perkotaan secara tipikal sebagaimana ditunjukkan pada lampiran A. Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota.1.3 0. Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk Untuk menentukan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk.2 Lokasi di tengah lingkungan RT di pusat kegiatan RW dikelompokan dengan sekolah/ pusat kelurahan dikelompokan dengan sekolah/ pusat kecamatan tersebar 4 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 9 . ƒ proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari ruang terbuka hijau privat. b. ƒ apabila luas RTH baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah memiliki total luas lebih besar dari peraturan atau perundangan yang berlaku.000 24.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 2. Penyediaan RTH Berdasarkan Luas Wilayah Penyediaan RTH berdasarkan luas wilayah di perkotaan adalah sebagai berikut: ƒ ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH privat.1 Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk No 1 2 3 Unit Lingkungan 250 jiwa 2500 jiwa 30.000 disesuaikan Luas minimal/ kapita (m2) 1. Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan a.

1. ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat. Pekarangan Rumah Besar Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah besar adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) kategori yang termasuk rumah besar adalah rumah dengan luas lahan di atas 500 m2. jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi. seperti tertuang di dalam PERDA mengenai RTRW di masing-masing kota.2. Penyediaan RTH Berdasarkan Kebutuhan Fungsi Tertentu Fungsi RTH pada kategori ini adalah untuk perlindungan atau pengamanan. RTH kawasan perlindungan setempat berupa RTH sempadan sungai. 2. RTH kategori ini meliputi: jalur hijau sempadan rel kereta api.0 12.5 Lokasi di pusat wilayah/ kota di dalam/ kawasan pinggiran disesuaikan dengan kebutuhan 5 480. yang berfungsi untuk berbagai aktivitas.3 4.1 Pada Bangunan/Perumahan a.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No Unit Lingkungan Tipe RTH Taman kota Luas minimal/ unit (m2) 144. sarana dan prasarana misalnya melindungi kelestarian sumber daya alam. RTH sempadan pantai. RTH Pekarangan Pekarangan adalah lahan di luar bangunan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 10 . Arahan Penyediaan RTH 2. jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 3 (tiga) pohon pelindung ditambah dengan perdu dan semak serta penutup tanah dan atau rumput. Luas pekarangan disesuaikan dengan ketentuan koefisien dasar bangunan (KDB) di kawasan perkotaan.000 disesuaikan disesuaikan Luas minimal/ kapita (m2) 0. Untuk memudahkan di dalam pengklasifikasian pekarangan maka ditentukan kategori pekarangan sebagai: a.2.000 jiwa Hutan kota untuk fungsi-fungsi tertentu c. pengaman pejalan kaki atau membatasi perkembangan penggunaan lahan agar fungsi utamanya tidak teganggu. dan RTH pengamanan sumber air baku/mata air.

3) jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 2 (dua) pohon pelindung ditambah dengan tanaman semak dan perdu.3. dan lain-lain Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 11 . dan tempat usaha umumnya berupa jalur trotoar dan area parkir terbuka. pertokoan. c. 2) ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat. b. a. Perkantoran. seperti atap gedung. Persyaratan penanaman pohon pada perkantoran. 2) ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat. Pertokoan. maka untuk RTH dapat memanfaatkan ruang terbuka non hijau. tidak menutup kemungkinan untuk mewujudkan RTH melalui penanaman dengan menggunakan pot atau media tanam lainnya. RTH dalam Bentuk Taman Atap Bangunan (Roof Garden) Pada kondisi luas lahan terbuka terbatas. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB dibawah 70%. serta penutup tanah dan atau rumput.2. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB diatas 70%. teras-teras bangunan bertingkat dan disamping bangunan. RTH Halaman Perkantoran. dan ditanam pada area diluar KDB yang telah ditentukan. serta penutup tanah dan atau rumput. teras rumah. dan Tempat Usaha RTH halaman perkantoran. berlaku seperti persyaratan pada RTH pekarangan rumah. Pekarangan Rumah Sedang Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah sedang adalah sebagai berikut: 1) kategori yang termasuk rumah sedang adalah rumah dengan luas lahan antara 200 m2 sampai dengan 500 m2. Keterbatasan luas halaman dengan jalan lingkungan yang sempit. 3) jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 1 (satu) pohon pelindung ditambah tanaman semak dan perdu.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a. Pekarangan Rumah Kecil Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah kecil adalah sebagai berikut: 1) kategori yang termasuk rumah kecil adalah rumah dengan luas lahan dibawah 200 m2. memiliki minimal 2 (dua) pohon kecil atau sedang yang ditanam pada lahan atau pada pot berdiameter diatas 60 cm. Penyediaan RTH pada kawasan ini adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) Untuk dengan tingkat KDB 70%-90% perlu menambahkan tanaman dalam pot.

1 Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden Tanaman untuk RTH dalam bentuk taman atap bangunan adalah tanaman yang tidak terlalu besar. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman. dengan luas minimal 250 m2. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk dalam lingkup 1 (satu) RT. tahan terhadap hembusan angin serta relatif tidak memerlukan banyak air. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% . Aspek yang harus diperhatikan dalam pembuatan taman atap bangunan adalah: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) struktur bangunan. Lahan dengan KDB diatas 90% seperti pada kawasan pertokoan di pusat kota.2. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 300 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayani. aspek keselamatan dan keamanan. sistem utilitas bangunan. RTH dapat disediakan pada atap bangunan. lapisan kedap air (waterproofing ). pemilihan material. 2. dengan perakaran yang mampu tumbuh dengan baik pada media tanam yang terbatas.80% dari luas taman. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 12 . khususnya untuk melayani kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. aspek pemeliharaan ƒ peralatan ƒ tanaman Gambar 2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II dengan memakai media tambahan. Untuk itu bangunan harus memiliki struktur atap yang secara teknis memungkinkan. atau pada kawasan-kawasan dengan kepadatan tinggi dengan lahan yang sangat terbatas. media tanam. Luas taman ini adalah minimal 1 m2 per penduduk RT.2 Pada Lingkungan/Permukiman a. seperti pot dengan berbagai ukuran sesuai lahan yang tersedia.

Luas taman ini minimal 0.5 m2 per penduduk RW. khususnya kegiatan remaja.90% dari luas taman. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% . juga terdapat minimal 25 (duapuluhlima) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman aktif dan minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif.90% dari luas taman. RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kecamatan.000 m2. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. juga terdapat minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk taman aktif dan minimal 100 (seratus) pohon tahunan dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. dengan luas minimal 1. juga terdapat minimal 10 (sepuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang.250 m2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II juga terdapat minimal 3 (tiga) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang. serta kegiatan masyarakat lainnya di lingkungan RW tersebut. kegiatan olahraga masyarakat. RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kelurahan.80% dari luas taman.2 m2 per penduduk kecamatan. c. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 13 .30 m2 per penduduk kelurahan.000 m2. Luas taman ini minimal 0. dengan luas taman minimal 24. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 1000 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% . sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% . Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. d. Lokasi taman berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan. Luas taman ini minimal 0. b. RTH Taman Rukun Warga RTH Taman Rukun Warga (RW) dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu RW. dengan luas minimal taman 9. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. Lokasi taman berada pada wilayah kelurahan yang bersangkutan.

000 m2. Menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota.90%. perdu. Hutan kota berstrata banyak. Meresapkan air. dengan jumlah vegetasi minimal 100 pohon dengan jarak tanam rapat tidak beraturan. saluran dan lain sebagainya. pantai. Lebar minimal hutan kota berbentuk jalur adalah 30 m.2. Hutan kota dapat berbentuk: a. Komunitas vegetasi tumbuh menyebar terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau gerombol-gerombol kecil. d. Jenis vegetasi yang dipilih berupa pohon tahunan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 14 . b. Menyebar: hutan kota yang tidak mempunyai pola bentuk tertentu. yaitu memiliki komunitas tumbuhtumbuhan selain terdiri dari pepohonan dan rumput. Bergerombol atau menumpuk: hutan kota dengan komunitas vegetasi terkonsentrasi pada satu areal. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. dan Mendukung pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau). jalan.000 penduduk dengan standar minimal 0. b.100% dari luas hutan kota. yaitu hanya memiliki komunitas tumbuhtumbuhan pepohonan dan rumput. yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga. dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 80% . dan semak ditanam secara berkelompok atau menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan.3 Kota/Perkotaan a. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . dengan luas taman minimal 144. Hutan Kota Tujuan penyelenggaraan hutan kota adalah sebagai peyangga lingkungan kota yang berfungsi untuk: a. Hutan kota berstrata dua. c. d. Berbentuk jalur: hutan kota pada lahan-lahan berbentuk jalur mengikuti bentukan sungai.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II 2. c. dengan luas minimal 2500 m. juga terdapat semak dan penutup tanah dengan jarak tanam tidak beraturan.3 m2 per penduduk kota. b. RTH Taman Kota RTH Taman kota adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kota atau bagian wilayah kota. Taman ini melayani minimal 480. Struktur hutan kota dapat terdiri dari: a. Memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika. b.

Dalam kaitan kebutuhan air penduduk kota maka luas hutan kota sebagai produsen air dapat dihitung dengan rumus: La = P0 .3 Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak Luas ruang hijau yang diisi dengan berbagai jenis vegetasi tahunan minimal seluas 90% dari luas total hutan kota.2 Pola Tanam Hutan Kota Strata 2 Gambar 2.Pa z dengan: La adalah adalah P0 K adalah R adalah C adalah PAM adalah t adalah Pa adalah z adalah luas hutan kota yang harus dibangun jumlah penduduk konsumsi air/kapita (lt/hari) laju peningkatan pemakaian air faktor pengendali kapasitas suplai air perusahaan tahun potensi air tanah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 15 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2. K ( 1 + R – C ) t – PAM .

Kebun campuran.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Hutan kota dalam kaitan sebagai produsen oksigen dapat dihitung dengan metode Gerakis (1974). lebar jalur. Sabuk Hijau Sabuk hijau merupakan RTH yang berfungsi sebagai daerah penyangga dan untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan (batas kota. sebagai berikut: Pt + Kt + Tt Lt = (54 )(0. dipertahankan keberadaannya. Penapis cahaya silau. untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur. sehingga berperan sebagai pembatas atau pemisah. Sabuk hijau dapat berbentuk: ƒ RTH yang memanjang mengikuti batas-batas area atau penggunaan lahan tertentu. daerah rendah dengan drainase yang kurang baik sering tergenang air hujan yang dapat mengganggu aktivitas kota serta menjadi sarang nyamuk. 0. serta pengamanan dari faktor lingkungan sekitarnya. dan lain-lain) atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu. dipenuhi pepohonan. pemisah kawasan.9375 )(2) m2 dengan: Lt adalah luas Hutan Kota pada tahun ke t (m2) Pt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t Kt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke Tt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t 54 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari.9375 gram 2 adalah jumlah musim di Indonesia c.9375 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0. Mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari. yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988). ƒ ƒ Fungsi lingkungan sabuk hijau: ƒ ƒ ƒ ƒ Peredam kebisingan. perkebunan. Mengatasi penggenangan. Hutan kota. ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 16 . pesawahan. Penahan angin. yang telah ada sebelumnya (eksisting) dan melalui peraturan yang berketetapan hukum.

RTH hijau di dalam kota akan meningkatkan resapan air. c) bentuk percabangan batang tidak merunduk.4 Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan Pulau Jalan dan Median Jalan Taman pulau jalan adalah RTH yang terbentuk oleh geometris jalan seperti pada persimpangan tiga atau bundaran jalan. Penyerap dan penepis bau. a. yang disukai oleh burung-burung. RTH dapat disediakan dengan penempatan tanaman antara 20–30% dari ruang milik jalan (rumija) sesuai dengan klas jalan. Sedangkan median berupa jalur pemisah yang membagi jalan menjadi dua lajur atau lebih. Untuk menentukan pemilihan jenis tanaman. Disarankan agar dipilih jenis tanaman khas daerah setempat. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 17 . serta tingkat evapotranspirasi rendah. b) percabangan 2 m di atas tanah. Gambar 2. Median atau pulau jalan dapat berupa taman atau non taman. Mengamankan pantai dan membentuk daratan.5 m dari tepi median).Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ ƒ ƒ Mengatasi intrusi air laut. e) berasal dari perbanyakan biji. f) ditanam secara berbaris. Mengatasi penggurunan. Pada jalur tanaman tepi jalan 1) Peneduh a) ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1. yaitu fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya. d) bermassa daun padat. perlu memperhatikan 2 (dua) hal. sehingga akan meningkatkan jumlah air tanah yang akan menahan perembesan air laut ke daratan. d. Dalam pedoman ini dibahas pulau jalan dan median yang berbentuk taman/RTH. RTH Jalur Hijau Jalan Untuk jalur hijau jalan. g) tidak mudah tumbang.

5 Jalur Tanaman Tepi Peneduh 2) Penyerap polusi udara a) b) c) d) terdiri dari pohon. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) Angsana (Ptherocarphus indicus) Akasia daun besar (Accasia mangium) Oleander (Nerium oleander) Bogenvil (Bougenvillea Sp) Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 18 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Contoh jenis tanaman: a) Kiara Payung (Filicium decipiens) b) Tanjung (Mimusops elengi) c) Bungur (Lagerstroemia floribunda) Gambar 2. memiliki kegunaan untuk menyerap udara. jarak tanam rapat. perdu/semak. bermassa daun padat.

7 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 19 . bermassa daun rapat. perdu/semak. membentuk massa.6 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara 3) Peredam kebisingan a) b) c) d) terdiri dari pohon. berbagai bentuk tajuk. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) f) Tanjung (Mimusops elengi) Kiara payung (Filicium decipiens) Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Bogenvil (Bogenvillea sp) Oleander (Nerium oleander) Gambar 2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2.

perdu/semak.8 Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin 5) Pembatas pandang a) b) c) d) tanaman tinggi. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) Cemara (Cassuarina equisetifolia) Mahoni (Swietania mahagoni) Tanjung (Mimusops elengi) Kiara Payung (Filicium decipiens) Kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis) Gambar 2. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) Bambu (Bambusa sp) Cemara (Cassuarina equisetifolia) Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Oleander (Nerium oleander) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 20 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II 4) Pemecah angin a) b) c) d) tanaman tinggi. ditanam berbaris atau membentuk massa. bermassa daun padat. ditanam berbaris atau membentuk massa. bermassa daun padat. jarak tanam rapat. jarak tanam rapat < 3 m. perdu/semak.

Penyediaan P RT TH di Kawasan n Perkotaan Bab II Gambar 2. ditana am rapat. keting ggian 1. Pada medi ian Penahan silau s lampu kendaraan a) b) c) d) tanam man perdu/s semak.5 m. m berma assa daun padat.10 endaraan Lampu Ke Pedom man Penyediaan dan Pemanfa faatan Ruang Terbuka T Hijau di Kawasan Perkotaan P 21 1 .9 Jalur Tanaman Tepi Pem mbatas Pan ndang b. p Contoh jen nis tanaman n: a) b) c) d) Bogen nvil (Bogenv villea sp) Kemb bang sepatu (Hibiscus rosasinensis r s) Olean nder (Netriu um oleander r) Nusa Indah (Mus ssaenda sp) 2 Jalur Tanaman pada Med dian Penah han Silau Gambar 2.

Tanaman rendah.8 m .Tanaman tinggi. Untuk daerah bebas pandang ini ada ketentuan mengenai letak tanaman yang disesuaikan dengan kecepatan kendaraan dan bentuk persimpangannya. berbentuk pohon dengan percabangan di atas 2 meter Bentuk Persimpangan 2) Pemilihan jenis tanaman pada persimpangan Penataan lansekap pada persimpangan akan merupakan ciri dari persimpangan itu atau lokasi setempat. (lihat buku "Spesifikasi Perencanaan Lansekap Jalan Pada Persimpangan” No. antara lain: 1) Daerah bebas pandang di mulut persimpangan Pada mulut persimpangan diperlukan daerah terbuka agar tidak menghalangi pandangan pemakai jalan.Soka berwarna-warni (Ixora stricata) . berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian < 0. dan jenisnya merupakan berbunga atau berstruktur indah. 02/T/BNKT/1992). Pada Persimpangan Jalan Beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam penyelesaian lansekap jalan pada persimpangan. Persimpangan 30 m kaki empat tidak Pada ujung Tanaman rendah Tanaman rendah tegak lurus persimpangan 80 m 80 m Tanaman tinggi Tanaman tinggi Catatan: .Lantana (Lantana camara) . Tabel 2. misalnya: .2 Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan Jarak dan Jenis Tanaman Letak Tanaman Kecepatan 40 Kecepatan 60 km/jam km/jam 40 m Pada ujung 20 m 1. Sebaiknya digunakan tanaman rendah berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian <0.80 m.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II c. Persimpangan persimpangan Tanaman rendah Tanaman rendah kaki empat tegak Mendekati 80 m 100 m lurus tanpa kanal persimpangan Tanaman tinggi Tanaman tinggi 50 m 2. Penempatan dan pemilihan tanaman dan ornamen hiasan harus disesuaikan dengan ketentuan geometrik persimpangan jalan dan harus memenuhi kriteria sebagai berikut: a) Daerah bebas pandang tidak diperkenankan ditanami tanaman yang menghalangi pandangan pengemudi.Pangkas Kuning (Duranta sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 22 .

Ruang pejalan kaki yang dilengkapi dengan RTH harus memenuhi hal-hal sebagai berkut: 1) Kenyamanan.Khaya (Khaya Sinegalensis) . RTH Ruang Pejalan Kaki Ruang pejalan kaki adalah ruang yang disediakan bagi pejalan kaki pada kiri-kanan jalan atau di dalam taman.Palem raja (Oreodoxa regia) . c) Penggunaan tanaman tinggi berbentuk tanaman pohon sebagai tanaman pengarah. sebaiknya digunakan tanaman perdu rendah dengan pertimbangan agar tidak mengganggu penyeberang jalan dan tidak menghalangi pandangan pengemudi kendaraan. misalnya: 1) Tanaman berbatang tunggal seperti jenis palem Contoh: .11 Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang b) Bila pada persimpangan terdapat pulau lalu lintas atau kanal yang dimungkinkan untuk ditanami.Pinang jambe (Areca catechu) .Lontar (siwalan) (Borassus flabellifer) 2) Tanaman pohon bercabang > 2 m Contoh: .Tanjung (Mimosups Elengi) e. adalah cara mengukur ditawarkan oleh sistem pedestrian yaitu: kualitas fungsional yang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 23 .Bungur (Lagerstromea Loudonii) .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2.

kehadiran penghambat fisik. disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat. agar area di bawah tertata rapi. kebiasaan dan budaya. warisan dan nilai yang dianut terhadap lingkungan. Kriteria pergerakan. kondisi cuaca. meliputi: ƒ Kriteria dimensional. berupa tanda visual (landmark. f. Ruang Terbuka Hijau di Bawah Jalan Layang Penyediaan RTH di bawah jalan layang dalam rangka: a) b) c) sebagai area resapan air. ƒ Gambar 2. kebiasaan dan gaya hidup. asri. jarak rata-rata orang berjalan di setiap tempat umumnya berbeda dipengaruhi oleh tujuan perjalanan. kepadatan penduduk. menghindari kekumuhan dan lokasi tuna wisma. 2) Karakter fisik. dan indah. tentang Persyaratan Teknis Aksesiblitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan dan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Ruang Pejalan Kaki.12 Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki 3) Pedoman teknis lebih rinci untuk jalur pejalan kaki dapat mengacu pada Kepmen PU No. kondisi permukaan jalan dan kondisi iklim. 468/KPTS/1998 tanggal 1 Desember 1998. Jalur pejalan kaki harus aksesibel untuk semua orang termasuk penyandang cacat. marka jalan) pada lansekap untuk membantu dalam menemukan jalan pada konteks lingkungan yang lebih besar. Pada umumnya orang tidak mau berjalan lebih dari 400 m. Kemudahan berpindah dari satu arah ke arah lainnya yang dipengaruhi oleh kepadatan pedestrian. 24 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ Orientasi.

Jalur Hijau (RTH) Sempadan Rel Kereta Api Penyediaan RTH pada garis sempadan jalan rel kereta api merupakan RTH yang memiliki fungsi utama untuk membatasi interaksi antara kegiatan masyarakat dengan jalan rel kereta api.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II d) e) f) menghindari permukiman liar.lengkung dalam . Berkaitan dengan hal tersebut perlu dengan tegas menentukan lebar garis sempadan jalan kereta api di kawasan perkotaan. RTH Fungsi Tertentu RTH fungsi tertentu adalah jalur hijau antara lain RTH sempadan rel kereta api. Jalan rel kereta api lurus b. g.lengkung luar Tanaman >11 m >23 m >11 m Obyek Bangunan >20 m >23 m >11 m Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 25 .3 Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api Jalan Rel Kereta Api terletak di: a. RTH sempadan pantai. g. Tabel 2. mengingat keterbatasan tempat. Gambar 2. RTH jaringan listrik tegangan tinggi. Jalan rel kereta api belokan/lengkungan .1.13 Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH di Bawah Jalan Layang Pemilihan tanaman seyogianya dari jenis yang tahan ternaungi sepanjang waktu dan relatif tahan kekurangan air. memperlembut bagian/struktur bangunan yang berkesan kaku. serta berukuran tidak terlalu besar. menutupi bagian-bagian struktur jalan yang tidak menarik. RTH pengamanan sumber air baku/mata air. RTH sempadan sungai. RTH sempadan danau.

9. Garis sempadan jalan rel kereta api sebagaimana dimaksud pada butir 1) tidak berlaku apabila jalan rel kereta api terletak di tanah galian yang dalamnya 3. 1. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak pada tanah datar diukur dari as jalan rel kereta api. Dalam peralihan jalan lurus ke jalan lengkung diluar as jalan harus ada jalur tanah yang bebas.3 m 0. 4. Lokasi Bangunan beton Pompa bensin Penimbunan bahan bakar Pagar Lapangan terbuka Jalan raya Pepohonan Bangunan tahan api Rel kereta api SUTT 66 KV 150 KV 20 m 20 m 20 m 20 m 50 m 20 m 3m 6.5 m 0. 5. Garis sempadan jalan rel kereta api pada belokan adalah lebih dari 23 m diukur dari lengkung dalam sampai as jalan.5 m 20 m 20 m Saluran kabel SKTM SKTR 0.2.5 m 2.5 m 0.5 m 0. 6.5 m 2.5 m 1.5 m.5 m 1. 7.5 m 2.3 m 20 m 20 m Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 26 .5 m 8m 3.4 Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET No. Pelebaran tersebut dimulai dalam jarak 20 m di muka lengkungan untuk selanjutnya menyempit lagi sampai jarak lebih dari 11 m.5 m 1.3 m 0. diukur dari puncak galian tanah atau atas serongan.5 m 0.5 m 1.5 m 2.5 m 1.5 m 0.3 m 0. 2.5 m 1.5 m 20 m 20 m SUTR 1. f) g) g. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di tanah timbunan diukur dari kaki tanggul.3 m 0.5 m 3.5 m 2.5 m 8m 20 20 20 20 20 20 m m m m m m SUTET 500 KV 20 m 20 m 50 m 3m 15 m 15 m 8.5 m 2. Garis sempadan jalan perlintasan sebidang antara jalan rel kereta api dengan jalan raya adalah 30 m dari as jalan rel kereta api pada titik perpotongan as jalan rel kereta api dengan as jalan raya dan secara berangsur–angsur menuju pada jarak lebih dari 11 m dari as jalan rel kereta api pada titik 600 m dari titik perpotongan as jalan kereta api dengan as jalan raya.5 m 20 m 20 m 0. Jalur Hijau (RTH) pada Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Ketentuan lebar sempadan jaringan tenaga listrik yang dapat digunakan sebagai RTH adalah sebagai berikut: a) b) Garis sempadan jaringan tenaga listrik adalah 64 m yang ditetapkan dari titik tengah jaringan tenaga listrik. Ketentuan jarak bebas minimum antara penghantar SUTT dan SUTET dengan tanah dan benda lain ditetapkan sebagai berikut: Tabel 2.3 m 0.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Kriteria garis sempadan jalan kereta api yang dapat digunakan untuk RTH adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) Garis sempadan jalan rel kereta api adalah ditetapkan dari as jalan rel terdekat apabila jalan rel kereta api itu lurus.5 m 15 m SUTM 2.3 m 0. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di dalam galian.5 m 0.5 m 8. 3. 8. yang secara berangsur–angsur melebar dari jarak lebih dari 11 sampai lebih dari 23 m.

5 m 3m 20 m 20 m 20 m SUTET 500 KV 8. 11. diperlebar dan ditinggikan yang dapat berakibat bergesernya garis sempadan sungai. 13. televisi dan kereta gantung SUTT 66 KV 150 KV 3m 20 m 3m 2. tanggul dapat diperkuat. maka lahan yang diperlukan untuk tapak tanggul baru sebagai akibat dilaksanakannya ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) harus dibebaskan.5 m 8. sungai di perkotaan terdiri dari sungai bertanggul dan sungai tidak bertanggul. Dengan pertimbangan untuk peningkatan fungsinya. b) Sungai tidak bertanggul: 1) Garis sempadan sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut: 27 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. jaringan telekomunikasi. Garis sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 5 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. RTH Sempadan Sungai RTH sempadan sungai adalah jalur hijau yang terletak di bagian kiri dan kanan sungai yang memiliki fungsi utama untuk melindungi sungai tersebut dari berbagai gangguan yang dapat merusak kondisi sungai dan kelestariannya. Lokasi Jembatan besi/ tangga besi/ kereta listrik Dari titik tertinggi tiang kapal Lapangan olah raga SUTT lainnya pengahantar udara tegangan rendah.5 m SUTM 20 m 20 m 20 m 20 m SUTR 20 m 20 m 20 m 20 m Saluran kabel SKTM SKTR 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m Keterangan: SUTR SUTM SUTT SUTET SKTR SKTM = = = = = = Saluran Saluran Saluran Saluran Saluran Saluran Udara Tegangan Rendah Udara Tegangan Menengah Udara Tegangan Tinggi Udara Tegangan Ekstra Tinggi Kabel Tegangan Rendah Kabel Tegangan Menengah g.3. a) Sungai bertanggul: 1) 2) 3) 4) Garis sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 3 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul.5 m 14 m 8. Sesuai peraturan yang ada. Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. 10. 12.

100%. penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 50 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. dengan ketentuan konstruksi dan penggunaan harus menjamin kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 28 . Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut. RTH sempadan pantai merupakan area pengaman pantai dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan oleh gelombang laut seperti intrusi air laut. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. Lebar RTH sempadan pantai minimal 100 m dari batas air pasang tertinggi ke arah darat. penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 100 m. b) 3) 4) 5) Garis sempadan sebagaimana dimaksud pada butir 1) dan 2) diukur ruas per ruas dari tepi sungai dengan mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a) b) c) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 m. g. Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) tidak terpenuhi. Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 20 m. Garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan adalah tepi bahu jalan yang bersangkutan. maka segala perbaikan atas kerusakan yang timbul pada sungai dan bangunan sungai menjadi tanggungjawab pengelola jalan. tiupan angin kencang dan gelombang tsunami. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai kurang dari 500 km2. abrasi. erosi. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . jalur hijau terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurangkurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai. Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 m sampai dengan 20 m. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 10 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.4. 2) Garis sempadan sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut: a) Sungai besar yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas 500 km2 atau lebih. RTH Sempadan Pantai RTH sempadan pantai memiliki fungsi utama sebagai pembatas pertumbuhan permukiman atau aktivitas lainnya agar tidak menggangu kelestarian pantai.

32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekitar mata air. Khusus untuk RTH sempadan pantai yang telah mengalami intrusi air laut atau merupakan daerah payau dan asin. Formasi Hutan Mangrove sangat baik sebagai peredam ombak dan dapat membantu proses pengendapan lumpur. erosi. Beberapa jenis tumbuhan di ekosistem mangrove antara lain: Avicenia spp. danau/waduk. wildlife habitat dan meredam angin kencang. dan mata air. RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Trengguli. Bruguiera spp. Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai. melindungi dari ancaman gelombang pasang. Angsana. pemilihan vegetasi diutamakan dari daerah setempat yang telah mengalami penyesuaian dengan kondisi tersebut. Tanjung.5.14 Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai g. Asam Landi (Pichelebium dulce) dan Mahoni (Switenia mahagoni ) relatif lebih tahan jika dibandingkan Kesumba. Kiputri. Excoecaria spp. Xylocarpus spp. Untuk mata air. dan Kuku. Aegiceras sp. Gambar 2. Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi. Rhizophora spp. termasuk gangguan terhadap kualitas visual. dan Nypa sp. RTH Sumber Air Baku/Mata Air RTH sumber air meliputi sungai. Lumnitzera spp. Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat. c) d) Sonneratia spp. Untuk danau dan waduk. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 29 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Fasilitas dan kegiatan yang diijinkan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) b) Tidak bertentangan dengan Keppres No.

pemakaman dibagi dalam beberapa blok. e) f) g) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 30 . maka ketentuan bentuk pemakaman adalah sebagai berikut: a) b) c) d) ukuran makam 1 m x 2 m. RTH Pemakaman Penyediaan ruang terbuka hijau pada areal pemakaman disamping memiliki fungsi utama sebagai tempat penguburan jenasah juga memiliki fungsi ekologis yaitu sebagai daerah resapan air. batas terluar pemakaman berupa pagar tanaman atau kombinasi antara pagar buatan dengan pagar tanaman. batas antar blok pemakaman berupa pedestrian lebar 150-200 cm dengan deretan pohon pelindung disalah satu sisinya. luas dan jumlah masing-masing blok disesuaikan dengan kondisi pemakaman setempat. pencipta iklim mikro serta tempat hidup burung serta fungsi sosial masyarakat disekitar seperti beristirahat dan sebagai sumber pendapatan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2. tiap makam tidak diperkenankan dilakukan penembokan/ perkerasan.15 Contoh Penanaman Pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air g. ruang hijau pemakaman termasuk pemakaman tanpa perkerasan minimal 70% dari total area pemakaman dengan tingkat liputan vegetasi 80% dari luas ruang hijaunya. Untuk penyediaan RTH pemakaman. atau dengan pohon pelindung.5 m.6. tempat pertumbuhan berbagai jenis vegetasi. jarak antar makam satu dengan lainnya minimal 0.

1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan a. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan Rumah Besar. dahan tidak mudah patah. Pertokoan. jenis tanaman tahunan atau musiman. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara.3. perakaran tidak mengganggu pondasi. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung. tahan terhadap hama penyakit tanaman.3. memiliki nilai estetika yang menonjol. tidak beracun. Kriteria Vegetasi untuk Taman Atap Bangunan dan Tanaman dalam Pot Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 31 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Pemilihan vegetasi di pemakaman disamping sebagai peneduh juga untuk meningkatkan peran ekologis pemakaman termasuk habitat burung serta keindahan. dan Tempat Usaha Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) b. Kriteria Vegetasi RTH 2. tidak merusak konstruksi dan bangunan.16 Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman 2. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang. ketinggian tanaman bervariasi. Pekarangan Rumah Sedang. Pekarangan Rumah Kecil. sistem perakaran masuk ke dalam tanah. Halaman Perkantoran. tidak berduri. Gambar 2.

mudah dalam pemeliharaan. jenis tanaman tahunan atau musiman.2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk taman lingkungan dan taman kota adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) tidak beracun. Tabel 2. tahan dan tumbuh baik pada temperatur lingkungan yang tinggi.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a) b) c) d) e) tanaman tidak berakar dalam sehingga mampu tumbuh baik dalam pot atau bak tanaman. perakaran tidak mengganggu pondasi. tajuk cukup rindang dan kompak. dahan tidak mudah patah.3. tetapi tidak terlalu gelap. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung. jarak tanam setengah rapat sehingga menghasilkan keteduhan yang optimal. perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan.5 Contoh Tanaman untuk Roof Garden No. relatif tahan terhadap kekurangan air. ketinggian tanaman bervariasi. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 32 . I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 II 1 2 3 Ground Cover Jenis dan Nama Tanaman Perdu/semak Akalipa merah Nusa Indah merah Daun Mangkokan Bogenvil merah Azalea Soka daun besar Bakung Oleander Palem Kuning Sikas Alamanda Puring Kembang Merak Rumput Gajah Lantana ungu Rumput kawat Nama Latin Keterangan Acalypha wilkesiana Musaenda erytthrophylla Notophanax scutelarium Bougenvillea glabra Rhododendron indicum Ixora javonica Crinum asiaticum Nerium oleander Chrysalidocaus lutescens Cycas revolata Aalamanda cartatica Codiaeum varigatum Caesalphinia pulcherima Axonophus compressus Lantana camara Cynodon dactylon Daun berwarna Berbunga Berdaun unik Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Daun berwarna Bentuk unik Merambat berbunga Daun berwarna Berbunga Tekstur kasar Berbunga Tekstur sedang 2. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang. kecepatan tumbuh sedang. perawakan dan bentuk tajuk cukup indah. tahan terhadap hama penyakit tanaman. berupa habitat tanaman lokal dan tanaman budidaya. tidak berduri. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Tabel 2. tidak mudah patah. b) sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung. m) jenis tanaman yang ditanam termasuk golongan evergreen bukan dari golongan tanaman yang menggugurkan daun (decidous). k) sistem perakaran yang kuat sehingga mampu mencegah terjadinya longsor. d) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. h) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri. l) seresah yang dihasilkan cukup banyak dan tidak bersifat alelopati. n) memiliki perakaran yang dalam. Tabel 2. agar tumbuhan lain dapat tumbuh baik sebagai penutup tanah. f) berumur panjang. g) toleran terhadap keterbatasan sinar matahari dan air. i) batang dan sistem percabangan kuat.3. c) tajuk cukup rindang dan kompak. Jenis dan Nama Tanaman Nama Latin Keterangan 1 Bunga Kupu-kupu Bauhinia Purpurea Berbunga 2 Sikat botol Calistemon lanceolatus Berbunga 3 Kemboja merah Plumeria rubra Berbunga 4 Kersen Muntingia calabura Berbuah 5 Kendal Cordia sebestena Berbunga 6 Kesumba Bixa orellana Berbunga 7 Jambu batu Psidium guajava Berbuah 8 Bungur Sakura Lagerstroemia loudonii Berbunga 9 Bunga saputangan Amherstia nobilis Berbunga 10 Lengkeng Ephorbia longan Berbuah 11 Bunga Lampion Brownea ariza Berbunga 12 Bungur Lagerstroemea floribunda Berbunga 13 Tanjung Mimosups elengi Berbunga 14 Kenanga Cananga odorata Berbunga 15 Sawo Kecik Manilkara kauki Berbuah 16 Akasia mangium Accacia mangium 17 Jambu air Eugenia aquea Berbuah 18 Kenari Canarium commune Berbuah Catatan: pemilihan tanaman disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim setempat 2. 1 2 3 Nama Tanaman Kiara Beringin Loa Ficus spp Ficus benyamina Ficus glaberrima Nama Latin Jenis burung/potensi Punai (Treron sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 33 .3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) memiliki ketinggian yang bervariasi.7 Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota No.6 Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Taman Kota No. j) batang tegak kuat. e) tahan terhadap hama penyakit.

Golden Shower Cassia fistula Dalingsem.8 Contoh Tanaman untuk Sabuk Hijau yang Tahan Terhadap Penggenangan Air Lama genangan (hari) 0 – 10 Jenis tanaman Nama Lokal Nama Latin Sungkai. Tembelekan Lantana camara Balsa Orchoma lagopus Cendana India Santaum album Suren Toona sureni Gopasa Vitex gopassus Kesumba Keling.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No.4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: ƒ Peredam kebisingan. Mengatasi penggenangan. peletakan tanaman yang diatur sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi dan menyerap cahaya. Kayu Batu. Tabel 2.3. Pacar Keling Bixa orellana Kemlandingan Leucaena glauca Kayu Palele Castanopsis javanica Trengguli. Penapis cahaya silau. Ameliorasi iklim mikro. tumbuhan berukuran tinggi dengan luasan area yang cukup dapat mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari. Srindit (Loriculus pusillus) Jalak (sturnidae) dan. Pemilihan vegetasi berdaun rapat berukuran relatif besar dan tebal dapat meredam kebisingan lebih baik. untuk fungsi ini dipilih penanaman dengan vegetasi berdaun rapat. Gia Kedondong Bulan Canarium littoralle Johar Cassia siamea Keladan Dipterocarpus gracillis Ampupu Eucalyptus alba ƒ ƒ ƒ 10 – 20 20 – 30 30 – 40 40 – 50 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 34 . beberapa jenis burung madu Burung ukut-ukut Srigunting Bahan pembuat sarang Buah dapat dimakan Pengundang serangga Katagori pohon langka Tahan pangkas Buah dapat dimakan Bumbu dapur 2. Jati Seberang Peronema canescens Jati Tectona grandis Dahat Tectona hamiltoniana Salam Eugeniu polyantha Lantana Merah. Kayu Homalium tomentosum Kerbau. 4 Nama Tanaman Dadap Erythrina varigata Nama Latin 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Dangdeur Aren Buni Buni hutan Kembang merak Serut Jamblang Salam Gosampinus heptaphylla Arenga pinatta Antidesma bunius Antidesma montanum Caesalpinia pulcherrima Syzygium paucipuncatum Streblus asper Syzygium cumini Syzygium polyanntum Jenis burung/potensi Betet (Psittacula alexandri).

jalur pepohonan yang rapat dan tinggi dapat melokalisir bau dan menyerap bau. ƒ ƒ ƒ ƒ Pola tanam sabuk hijau sebagai penahan angin adalah sebagai berikut: ƒ Sabuk hijau membentuk jalur hijau cembung ke arah datangnya angin.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Lama genangan (hari) Jenis tanaman Nama Lokal Pinus Benquet Tusam Wedang Angsana Laban Weru. Beberapa spesies tanaman seperti Cempaka (Michelia champaca). Mengatasi penggurunan. sabuk hijau berupa jalur pepohonan yang tinggi lebar dan panjang. dan Tanjung (Mimosups elengi) adalah tanaman yang dapat mengeluarkan bau harum. Casuarina equisetifolia Intsia bijuga Samanea saman Gluta renghas Nama Latin Sumber: Soerianagara dan Indrawan (1988) ƒ Penahan angin. tanaman yang dipilih adalah yang daya evapotranspirasinya rendah. dapat melindungi daerah dari hembusan angin yang membawa serta pasir. Pada daerah payau dapat dipilih pohon Mahoni (Swietenia mahagoni) dan Asam Landi (Pichecolobium dulce). sabuk hijau ini dapat berupa formasi hutan mangrove. untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur. ƒ ƒ ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 35 . lebar jalur. Jeungjing Kosambi Tekik Kopi Meranti tembaga Sonokeling Meranti merah Keluarga Mahoni Cemara laut 50 – 60 60 – 70 70 – 80 90 – 100 100 – 200 300 Semar. akan menjadikan angin laminar dan mencegah terbentuknya angin turbulen. Kihiyang Sonoleking Senon. Sabuk hijau seyogyanya ditempatkan tepat pada arah datangnya angin dan obyek yang dilindungi harus berada di bagian belakangnya. Sabuk hijau yang dibangun harus cukup tebal. Kenanga (Cananga odorata). Pendusta utan Kihujan Rengas Pinus insularis Pinus mercusii Pterocarpus javanicus Pterocarpus indicus Vitex pubescens Albizzia procera Dalbergia sisso Paraserianthes falcataria Schleichera oleosa Albizzia lebbeck Coffea spp Shorea leprosula Dalbergia latifolia Shorea ovalis Swietenia spp. Sabuk hijau yang terlalu tipis kurang dapat melindungi karena masih dapat diterobos angin. Sengon Laut. Mengamankan pantai dan membentuk daratan. Sabuk hijau yang dibangun harus cukup panjang agar dapat melindungi objek dengan baik. yang terletak di bagian yang mengarah ke hembusan angin. Penyerap dan penepis bau. Mengatasi intrusi air laut. yang telah terbukti dapat meredam ombak dan membantu proses pengendapan lumpur di pantai.

perbandingan bagian pucuk dan akar seimbang. tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa. dengan dahan yang kuat namun cukup lentur. c) fase anakan tumbuh cepat. j) daun sebaiknya berukuran sempit (nanofill). sistim perakaran padat. Tanaman harus terdiri dari beberapa strata yaitu tanaman tinggi sedang dan rendah. m) saat berbunga/berbuah tidak mengotori jalan. Sebaliknya kerapatan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terbentuknya angin turbulen. batang tegak dan keras pada bagian pangkal. p) mudah sembuh bila mengalami luka akibat benturan dan akibat lain. o) sebaiknya tidak berduri atau beracun. tajuk simetris dan padat. d) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ ƒ Tanaman yang ditanam didominasi oleh tanaman yang cukup tinggi.5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan a. Kerapatan yang kurang. b) sistem perakaran masuk kedalam tanah. h) tajuk cukup rindang dan kompak. Memiliki kerapatan daun berkisar antara 70–85%. e) batang dan sistem percabangan kuat. q) tahan terhadap hama penyakit. 2. l) daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang. tidak dapat berfungsi sebagai penahan angin. f) batang tegak kuat.3. k) tidak menggugurkan daun. s) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. memiliki pertumbuhan sempurna baik batang maupun akar. g) perawakan dan bentuk tajuk cukup indah. dan RTH Jalur Pejalan Kaki Kriteria untuk jalur hijau jalan adalah sebagai berikut: 1) Aspek silvikultur: a) b) c) d) e) f) 2) berasal dari biji terseleksi sehat dan bebas penyakit. i) ukuran dan bentuk tajuk seimbang dengan tinggi pohon. r) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri. sehingga mampu menutup secara baik. t) sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi. tidak mudah patah dan tidak berbanir. tetapi tidak terlalu gelap. n) buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung. tidak merusak konstruksi dan bangunan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 36 . u) berumur panjang. Sifat biologi: a) tumbuh baik pada tanah padat. Kriteria Vegetasi untuk Taman Pulau Jalan dan Median Jalan.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

Tabel 2.9 Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki
No I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 II 1 2 3 4 5 Nama Lokal Pohon Bunga Kupu-kupu Bunga kupu-kupu ungu Trengguli Kayu manis Tanjung Salam Melinjo Bungur Cempaka Tanjung Perdu/semak/groundcover Canna Soka jepang Puring Pedang-pedangan Lili pita Nama Latin Tinggi (m) 8 8 15 12 15 12 15 18 18 12 0.6 0.3 0.7 0.5 0.3 Jarak Tanam (m) 12 12 12 12 12 6 6 12 12 12 0.2 0.2 0.3 0.2 0.15

Bauhinia purpurea Bauhinia blakeana Cassia fistula Cinnamommum iners Mimosups elengi Euginia polyantha Gnetum gnemon Lagerstroemia floribunda Michelia champaca Mimosups elengi Canna varigata Ixora spp Codiaeum varigatum Sansiviera spp Ophiopogon jaburan

b.

Kriteria Vegetasi untuk RTH di Bawah Jalan Layang Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) tanaman yang tahan dan dapat hidup dengan baik pada tempat yang ternaungi secara permanen; tidak membutuhkan penyinaran matahari secara penuh; relatif tahan kekurangan air; perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan; sebaiknya merupakan tanaman dari jenis yang mempunyai kemampuan dalam mengurangi polusi udara; dapat hidup dengan baik pada media tanam pot atau bak tanaman.

Tabel 2.10 Contoh Tanaman untuk RTH di Bawah Jalan Layang
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama lokal Balancing Talas-talasan Hanjuang Philodendron Pedang-pedangan Xanadu Singonium Yuca Dracaena Spatipilum

Dieffenbachia spp Calathea spp Cordyline spp Philodendron spp Sansiviera spp Philodendron xanadu Syngonium spp Yucca elephantipes Dracaaena spp Spathypillum spp

Nama latin

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

37

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

2.3.6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu a. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) tumbuh baik pada tanah padat; sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan; fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa; ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia; batang dan sistem percabangan kuat; batang tegak kuat, tidak mudah patah dan tidak berbanir; perawakan dan bentuk tajuk cukup indah; daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang; buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung; tahan terhadap hama penyakit; berumur panjang.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH rel kereta api, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi, disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian pada daerah masingmasing. Tabel 2.11 Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Nama Daerah Flamboyan Angsana Ketapang Kupu-kupu Kere paying Johar Tanjung Mahoni Akasia Bungur Kenari Johar Damar Nyamplung Jakaranda Liang liu Kismis Ganitri Saga Anting-anting Asam kranji Johar Cemara Pinus Beringin Nama Latin Delonix regia Pterocarpus indicus Terminalia cattapa Bauhinia purpurea Filicium decipiens Cassia multiyoga Mimusops elengi Swientenia mahagoni Acacia auriculiformis Lagerstroemia loudonii Canarium commune Cassia sp. Agathis alba Calophyllum inophyllum Jacaranda filicifolia Salix babilinica Muehlenbeckia sp. Elaeocarpus spahaericus Adenanthera povoniana Elaeocarpus grandiflorus Pithecelobium dulce Cassia grandis Cupresus papuana Pinus merkusii Ficus benjamina

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

38

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

Pola tanam vegetasi di sepanjang rel kereta api harus memperhatikan keamanan terhadap lalu lintas kereta api, tidak menghalangi atau mengganggu penglihatan masinis, serta tidak menggangu kekuatan struktur rel kereta api. Pola tanam yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: a) b) jarak maksimal dari sumbu rel adalah 50 m; pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan.

b. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Kriteria pemilihan vegetasi dan pola tanam untuk RTH ini adalah sebagai berikut: jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman yang memiliki dahan yang kuat, tidak mudah patah, dan perakaran tidak mengganggu pondasi; b) akarnya menghujam masuk ke dalam tanah. Jenis ini lebih tahan terhadap hembusan angin yang besar daripada tanaman yang akarnya bertebaran hanya di sekitar permukaan tanah; c) daunnya tidak mudah gugur oleh terpaan angin dengan kecepatan sedang; d) bukan merupakan pohon yang memiliki bentuk tajuk melebar; e) merupakan pohon dengan katagori kecil (small tree); f) fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa; g) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia; h) pola penanaman pemilihan vegetasi memperhatikan ketinggian yang diijinkan; i) buah tidak bisa dikonsumsi langsung oleh manusia; j) memiliki kerapatan yang cukup (50-60%); k) pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. Pemilihan jenis dan ketinggian vegetasi dimaksudkan agar penanaman vegetasi pada RTH jalur SUTT maupun SUTET, tidak menimbulkan gangguan terhadap jaringan listrik serta menghindari bahaya terhadap penduduk di sekitarnya. Lokasi penanaman harus memperhatikan jarak bebas minimum yang diijinkan. Tabel 2.12 Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nama Suku dan Jenis Nama Lokal Mangkokan Sarai raja Palem kobis Kesumba Jarak kosta Bunga Perawakan Semak Pohon sedang Pohon kecil Pohon kecil Semak Pohon kecil Diameter Batang (cm)/ Tinggi (m) /5 10/5-25 5/3-4 10/2-8 /2 10/2-6

a)

Nothopanax scutellarium Merr. Caryota mitis Lour. Licuala grandis L. Bixa orellana L. Jatropha gossypifolia L. Bauhinia purpurea L.

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

39

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

No.

Nama Suku dan Jenis

Nama Lokal kupu-kupu Kembang kuning Kembang merak Kembang sepatu kecil Serut Kemuning Kecubung gunung

Perawakan

Diameter Batang (cm)/ Tinggi (m) 20/2-6 - /3-5 - /2 10/2-5 10/-7 - /5

7. 8. 9. 10. 11. 12.

Cassia surattensis Burm. F. Caesalpinia pulcherrima (L.) Swartz. Malvaviscus arbpreus Cav. Streblus asper Lour. Muraya paniculata (L.) Jack. Brugmansia candida Pers.

Semak Semak Semak Pohon kecil Pohon kecil Semak

c.

Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) sistem perakaran yang kuat, sehingga mampu menahan pergeseran tanah; tumbuh baik pada tanah padat; sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan; kecepatan tumbuh bervariasi; tahan terhadap hama dan penyakit tanaman; jarak tanam setengah rapat sampai rapat 90% dari luas area, harus dihijaukan; tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap; berupa tanaman lokal dan tanaman budidaya; dominasi tanaman tahunan; sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH sempadan sungai, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi untuk RTH sempadan sungai disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian lahan pada daerah masing-masing. Tabel 2.13 Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama Daerah Bungur Jening Khaya Pingku Lamtorogung Puspa Kenanga Locust Kisireum Manglid Cengal Flamboyan

Lagerstromia speciosa Pithecolobium lobatum Khaya anthotheca Dysoxylum excelsum Leucaena lecocephala Schima wallichii Canangium adoratum Hymenaena courburil Eugenia cymosa Michelia velutina Hopea sangkal Delonix regia

Nama Latin

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

40

13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 Nama Daerah Tanjung Trembesi Beringin Kepuh Angsret Nyamplung Leda Tengkawanglayar Johar Merbau pantai Tengkawangmajau Hoe Merawan Blabag Pala hutan Cemara sumatra Palur raja Kibeusi leutik Kaliandra Balam sudu Sawo duren Kedinding Kepuh Dadap Salam Sungkai Matoa/kasai Locust Ebony/kayuhitam Kempas Sawo kecik Asam Pingku Johar Angsana Tengkawang layar Kecapi Palem Raja Kalak Saputangan Bacang Kayu manis Kawista Kenanga Khaya Khaya Khaya Mimusops elengi Samanea saman Ficus benjamina Sterculia foetida Spathodea campanulata Callophylum inophyllum Eucalyptus deglupta Shorea mecistopteryx Cassia siamea Intsia bijuga Shorea palembanica Eucaliyptus platyphylla Hopea mangarawan Terminalia citrina Myristica fatua Casuarina sumatrana Oreodoxa regia Lindera srtichchytolia Calliandra marginata Palaguium sumatranum Crysophyllum cainito Albizzia leppecioides Sterculia foetida Erythrina cristagalli Eugenia polyantha Pheronema canescens Pometia pinnata Hymenaea courbaril Dyospiros celebica Kompasia excelsa Manilkara kauki Tamarindus indica Dysoxyllum exelsum Cassia grandis Pterocarpus indicus Shorea mecistopteryx Shandoricum koetjape Oerodoxa regia Poliantha lateriflora Maniltoa brawneodes Manejitera foetida Cinnamomun burmanni Feronia limonia Canangium odoratum Hopea bancana Shorea selanica Pterogota alata K. anthotheca Nama Latin Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 41 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. grandiflora K. sinegalensis K.

Kiara Payung (Filicium decipiens). Manggis (Garcinia mangostana). toleransi terhadap kondisi air payau. memliki sistem perakaran yang kuat dan dalam. pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. bakau merupakan tanaman yang khas sebagai pelindung pantai. Vegetasi ideal yang ditanam pada RTH pengaman sumber air merupakan vegetasi yang tidak mengkonsumsi banyak air atau yang memiliki daya transpirasi yang rendah. daya transpirasi rendah. sehingga dapat menahan erosi dan meningkatkan infiltasi (resapan) air. sekurang-kurangnya 100 m dari kiri kanan sungai besar dan 50 m di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman. d) e) f) g) d. Beberapa tanaman yang memiliki daya transpirasi yang rendah antara lain (Manan. sampel jalur hijau sungai berupa jalur memanjang dari garis sungai ke arah darat dengan lebar 20 m sampai pohon terjauh. Karet Munding (Ficus elastica). Kelapa (Cocos nucifera). 1993): Cemara Laut (Casuarina equisetifolia). sebelum di lapangan. 1976 dan Kurniawan. penempatan petak sampel dilakukan secara awalan acak (random start) pada peta. e. jarak maksimal dari pantai adalah 100 m. tiupan angin dan hempasan gelombang air pasang. batang dan sistem percabangan yang kuat. Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Pantai Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) merupakan tanaman lokal yang sudah teruji ketahanan dan kesesuaiannya tehadap kondisi pantai tersebut.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Persyaratan pola tanam vegetasi pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut: a) b) c) jalur hijau tanaman meliputi sempadan sungai selebar 50 m pada kirikanan sungai besar dan sungai kecil (anak sungai). sistem perakaran yang yang kuat sehingga mampu mencegah abrasi pantai. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 42 . Kriteria Vegetasi untuk RTH pada Sumber Air Baku/Mata Air Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) relatif tahan terhadap penggenangan air. tahan terhadap hama dan penyakit tanaman. Damar (Agathis loranthifolia). Bungur (Lagerstroemia speciosa). untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 m. sampel jalur hijau sungai berupa petak-petak berukuran 20 m x 20 m diambil secara sistematis dengan intensitas sampling 10% dari panjang sungai.

dikembalikan ke bagian bawah lubang tanam. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 43 . Penanaman dapat dilakukan setelah tanah dibiarkan selama 3–5 hari.4. batang tegak kuat. sedang atau kecil disesuaikan dengan ketersediaan ruang. atau menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi langsung.1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam Lokasi tanah yang akan dijadikan media tanam harus diolah terlebih dahulu. tidak merusak konstruksi dan bangunan. Tanah yang baik sebagai media tanam adalah tanah yang gembur mengandung cukup unsur hara. tajuk cukup rindang dan kompak. dan tanah yang berasal dari bagian atas lubang tanam diurugkan di bagian atas tanaman. berumur panjang.2 Penanaman Pada proses penanaman harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) bibit tanaman harus memiliki percabangan dan perakaran yang sehat. kemudian tanah yang berasal dari bagian bawah. Ketentuan Penanaman 2. sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi. dapat berupa pohon besar.14 Contoh Vegetasi untuk Pemakaman No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Lokal Bougenvil Kemboja Putih Puring Lili pita Tanjung Dadap Kembang merak Jamblang Salam Nama Latin Potensi berbunga berbunga berwarna berbunga pengundang burung pengundang serangga buah dapat dimakan pengundang burung Bougenvilia sp Plumeria alba Codiaeum varigatum Ophiopogon jaburan Mimosups elengi Erythrina varigata Caesalpinia pulcherrima Syzygium cumini Syzygium polyanntum 2. 2.4. b) besarnya diameter lubang tanam sama dengan lingkaran tajuk terluar tanaman dengan kedalaman setebal bola akar ditambah 10 cm.4. c) masukkan tanah di sekeliling bola akar. tetapi tidak terlalu gelap. tidak mudah patah dan tidak berbanir. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II f. tahan terhadap hama penyakit. Untuk menghasilkan media tanam yang baik maka tanah harus digemburkan dengan menggunakan cangkul hingga kedalaman pertumbuhan akar dan ditambahkan pupuk organik/kompos secukupnya. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pemakaman Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) sistem perakaran masuk kedalam tanah. Tabel 2.

Penyiraman Tujuan penyiraman tanaman. 44 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . Waktu penyiraman yang terbaik adalah pada pagi atau sore hari.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II d) agar pohon yang baru ditanam tidak bergoyang. Waktu pemangkasan yang tepat adalah setelah masa pertumbuhan generatif tanaman (setelah selesai masa pembungaan) dan sebelum pemberian pupuk. 2. dalam upaya menghindari penyakit yang disebabkan oleh cendawan. c.4. dapat menjadi indikasi bahwa siraman air sudah dinyatakan cukup.3 Pemeliharaan Tanaman a. Pemangkasan tanaman dapat dilakukan dengan tujuan: 1) Pemangkasan untuk kesehatan pohon: Pemangkasan untuk tujuan ini dilakukan pada cabang. selain untuk menyeimbangkan laju evapotranspirasi. tidak pada permukaan daun tanaman. dahan dan ranting. dahan dan ranting yang retak. dengan ujung diikat pada batang pohon. patah. Pemangkasan Tujuan pemangkasan tanaman adalah untuk mengontrol pertumbuhan tanaman sesuai yang diinginkan serta menjaga keamanan dan kesehatan tanaman. e) tanaman disiram secukupnya. juga berfungsi melarutkan garam-garam mineral dan juga sebagai unsur utama pada proses fotosintesis. Penyiraman siang hari hendaknya dilakukan langsung pada permukaan tanah. diperlukan alat penahan (kayu pemancang/ajir) yang ditancapkan di seputar pohon. mati atau berpenyakit. b. Waktu penyiraman pada dasarnya dapat dilakukan kapan saja saat dibutuhkan. Untuk daerah dengan kelembaban tinggi penyiraman pada pagi hari lebih baik daripada sore hari. Pupuk yang diberikan pada tanaman dapat berupa pupuk organik maupun pupuk anorganik (misalnya NPK atau urea). 2) Pemangkasan untuk keamanan penggunaan taman: ƒ Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang. Pupuk yang digunakan untuk pohon-pohon taman biasanya pupuk majemuk NPK. Pemupukan Prinsip dasar pemupukan adalah mensuplai hara tambahan yang dibutuhkan sehingga tanaman tidak kekurangan makanan. yang dapat mengancam keamanan pengguna taman. Penetrasi air siraman sedalam 15-20 cm ke dalam tanah.

Sedangkan penyakit tanaman disebabkan oleh jamur.5 m dari permukaan tanah. kambing. bulat. berlubang.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ Di daerah pejalan kaki diperlukan ruang yang bebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 2. nematoda dan penyakit fisiologis. bakteri. piramida. Secara kasat mata seringkali terlihat populasi binatang berupa larva. layu. karat. dahan dan ranting. ƒ 4) Pemangkasan untuk tujuan estetis: Pemangkasan dengan tujuan ini adalah untuk menghasilkan penampilan tanaman lebih baik atau lebih indah. molusca maupun hewan lainnya seperti burung. biologi dan kimiawi. Beberapa diantaranya tidak terlihat dengan mata telanjang sehingga perlu di teliti di laboratorium. Dengan memperhatikan jenis dan kerapatan daun. 2. virus. mekanis.4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Hama tanaman dapat disebabkan oleh hewan. seperti bentuk daun. a. 3) Pemangkasan untuk keamanan pengguna jalan: ƒ ƒ Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang. bercak daun. maka pemangkasan dapat menghasilkan tanaman dengan bentuk-bentuk tajuk spiral. mozaik dan sebagainya. Cara Pengendalian Pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan cara karantina. Dapat juga terjadi bagian tanaman yang terkikis. Batang atau dahan yang menyentuh kabel telepon dan listrik perlu dipangkas. kelinci dan sebagainya. bunga maupun buah yang tidak sempurna.4. Gejala Serangan Gejala serangan hama pada umumnya langsung dapat terlihat dari kerusakan bagian tanaman. fisik. Untuk jalan yang dilalui kendaraan pada daerah permukiman diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar minimal 3. teknik budidaya. Gejala serangan penyakit terlihat adanya akar. dan lain sebagainya. Untuk jalan umum yang dilalui kendaraan diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 4. b. yang dapat menghalangi pandangan pengguna jalan.5-5 m dari permukaan tanah. silindris. juga gesekan yang intensif dapat mengganggu kesehatan pohon. baik berupa serangga. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 45 . maupun imagonya. kubus. berubah warna dan penampilan tidak menarik.5 m dari permukaan tanah. kerena disamping dapat mengakibatkan korsleting/ kebakaran. ulat.

dan lain-lain. RTH pada rumah dengan pekarangan luas dapat dimanfaatkan sebagai tempat utilitas tertentu (sumur resapan) dan dapat juga dipakai untuk tempat menanam tanaman hias dan tanaman produktif (yang dapat menghasilkan buah-buahan. b. RTH Pekarangan Dalam rangka mengoptimalkan lahan pekarangan. RTH Taman Rukun Tetangga dapat pula dimanfaatkan sebagai suatu community garden dengan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 47 . dan tempat untuk menyelenggarakan berbagai aktivitas di luar ruangan seperti upacara. RTH dapat dimanfaatkan pula untuk menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup. 3. Untuk rumah dengan RTH pada lahan pekarangan yang tidak terlalu luas atau sempit. RTH Halaman Perkantoran.2. bazar. Selain fungsi tersebut. pertokoan. dan tempat usaha. tanaman pot dimaksud dapat diatur dalam susunan/bentuk vertikal. serta memberikan keseimbangan dan keserasian antara bangunan dan lingkungan. RTH dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan sebagai berikut: a. Pertokoan. peredam kebisingan. dan bunga). dapat dimanfaatkan pula sebagai area parkir terbuka. dan Tempat Usaha RTH pada halaman perkantoran.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 3. Untuk mendukung aktivitas penduduk di lingkungan tersebut. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) dapat dimanfaatkan penduduk sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. fasilitas yang harus disediakan minimal bangku taman dan fasilitas mainan anak-anak. carport.1. Selain sebagai tempat untuk melakukan aktivitas sosial. dan tanaman pot sehingga dapat menambah nilai estetika sebuah rumah. dan penambah estetika suatu bangunan sehingga tampak asri. dan tempat usaha berfungsi sebagai penghasil O2. selain tempat utilitas tertentu. sayur. Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman RTH pada Lingkungan/Permukiman dapat dioptimalkan fungsinya menurut jenis RTH berikut: a. Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan RTH pada bangunan/perumahan baik di pekarangan maupun halaman perkantoran. olah raga. maka RTH pekarangan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan atau kebutuhan lainnya. Untuk efisiensi ruang. pertokoan.

POHON PELINDUNG JALUR PEJALAN KAKI Gambar 3. dan buah-buahan yang dapat dimanfaatkan oleh warga. sayur.1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga KURSI TAMAN ARENA MAINAN ANAK JALUR PEJALAN KAKI POHON PELINDUNG Gambar 3.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup.2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 48 .

misalnya duduk atau bersantai. VOLLEY TEMPAT DUDUK TEMPAT DUDUK LAPANGAN RUMPUT TEMPAT DUDUK LAPANGAN BASKET Gambar 3. RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan penduduk dalam satu kelurahan. dimana aktivitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III b. dan beberapa jenis bangunan permainan anak yang tahan dan aman untuk dipakai pula oleh anak remaja. dengan jalur trek lari di seputarnya.3 Contoh Taman Rukun Warga c. Fasilitas yang disediakan berupa lapangan untuk berbagai kegiatan. dengan fasilitas utama lapangan olahraga (serbaguna). Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 49 . kegiatan olahraga masyarakat. Taman ini dapat berupa taman aktif. beberapa unit bangku taman yang dipasang secara berkelompok sebagai sarana berkomunikasi dan bersosialisasi antar warga. atau dapat berupa taman pasif. sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohonpohon tahunan. baik olahraga maupun aktivitas lainnya. RTH Rukun Warga RTH Rukun Warga (RW) dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan remaja. LAP. serta kegiatan sosial lainnya di lingkungan RW tersebut.

1 unit kios (jika diperlukan). 2) semak.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel 3. Vegetasi 1) minimal 25 pohon (pohon sedang dan kecil). 4) penutup tanah.4 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 50 . WC umum. 1 unit kios (jika diperlukan).1 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan Jenis Taman Aktif Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80% Fasilitas 1) 2) 3) 4) Pasif 80 – 90% 5) 1) 2) 3) 4) lapangan terbuka. KIOS AREA PARKIR KIOS Gambar 3. 3) perdu. sirkulasi jalur pejalan kaki. lebar 1. 3) perdu. kursi-kursi taman. WC umum. 2) semak. lebar 5 m panjang 325 m.5–2 m. kursi–kursi taman. trek lari. 1) minimal 50 pohon (sedang dan kecil). 4) penutup tanah.

5 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif) d. dengan jalur trek lari di seputarnya. 3) perdu. kursi-kursi taman. trek lari. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 51 .2 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan Jenis Taman Aktif Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80% 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Fasilitas lapangan terbuka. RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat dimanfaatkan oleh penduduk untuk melakukan berbagai aktivitas di dalam satu kecamatan. Vegetasi 1) minimal 50 pohon (sedang dan kecil). WC umum. atau dapat berupa taman pasif untuk kegiatan yang lebih bersifat pasif. 2) semak. lapangan volley. lapangan basket. 4) penutup tanah. Taman ini dapat berupa taman aktif dengan fasilitas utama lapangan olahraga.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III KIOS AREA PARKIR Gambar 3. parkir kendaraan. lebar 5 m panjang 325 m. sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau. Kelengkapan taman ini adalah sebagai berikut: Tabel 3. termasuk sarana kios (jika diperlukan).

5–2 m. 4) kursi-kursi taman. RTH Taman Kota RTH Taman kota dapat dimanfaatkan penduduk untuk melakukan berbagai kegiatan sosial pada satu kota atau bagian wilayah kota. taman bermain (anak/balita).Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Jenis Taman Pasif Koefisien Daerah Fasilitas Hijau (KDH) 80–90% 1) sirkulasi jalur pejalan kaki. dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 30%. 3) perdu. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 52 . taman bunga. Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan a. fasilitas olah raga terbatas. lebar 1. 2) semak.6 Contoh Taman Kecamatan 3. yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi. SARANA OLAHRAGA KIOS SARANA OLAHRAGA AREA PARKIR SARANA OLAHRAGA PLAZA HUTAN KECIL Gambar 3. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. 2) WC umum. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau). taman khusus (untuk lansia). 3) parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan). 4) penutup tanah. Vegetasi 1) lebih dari 100 pohon tahunan (pohon sedang dan kecil).3.

perlindungan dan pemanfaatan plasma nutfah. BASKET 9. trek lari. AMPHITEATER 10. 2) 3) 1. atau aktivitas yang aktif seperti jogging. Hutan kota Hutan kota dapat dimanfaatkan sebagai kawasan konservasi dan penyangga lingkungan kota (pelestarian. oksigen.7 Contoh Taman Kota (Rencana Taman Kota Pangkalanbun Kabupaten Kotawaringin Barat) b. GERBANG UTAMA 4. unit lapangan basket (14x26 m). penutup tanah. 10) kursi.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel 3.3 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80 % Fasilitas lapangan terbuka. PARKIR 2. WC umum. unit lapangan volley (15 x 24 m). senam atau olahraga ringan lainnya). SCULPTURE 11. 8) area bermain anak. daun. 9) prasarana tertentu: kolam retensi untuk pengendali air larian. penghasil produk hasil hutan. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 1) Vegetasi 150 pohon (pohon sedang dan kecil) semak. AREA MAIN ANAK-ANAK 6. LABIRIN & LEISURE AREA 7. parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan). sayur). GSG & LAP. Fasilitas yang harus disediakan disesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan seperti kursi taman. Hutan kota dapat juga dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas sosial masyarakat (secara terbatas. wisata alam. LOTUS POND 12. perdu. TAMAN BURUNG 8. JOGGING TRACK Gambar 3. ekonomi (buah-buahan. rekreasi. 7) panggung terbuka. sirkulasi pejalan kaki/jogging track. lebar 7 m panjang 400 m. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 53 . KOLAM 3. keanekaragaman hayati). CANNOE POND 5. wahana pendidikan dan penelitian. meliputi aktivitas pasif seperti duduk dan beristirahat dan atau membaca.

Sabuk Hijau Sabuk hijau berfungsi sebagai daerah penyangga atau perbatasan antara dua kota. Sebagai penyeimbang temperatur. d. RTH di bawah jalan layang dapat menjadi unsur estetika untuk meminimalkan unsur kekakuan konstruksi jalan. RTH Jalur Pejalan Kaki RTH jalur pejalan kaki dapat dimanfaatkan sebagai: ƒ Fasilitas untuk memungkinkan terjadinya interaksi sosial baik pasif maupun aktif serta memberi kesempatan untuk duduk dan melihat pejalan kaki lainnya. vegetasi yang mengeluarkan bau. yang mempunyai peranan penting antara lain mengontrol populasi serangga. RTH Jalur Hijau Jalan Pulau Jalan dan Median Jalan Taman pulau jalan maupun median jalan selain berfungsi sebagai RTH. kelembaban. sehingga sabuk hijau dapat menjadi RTH bagi kedua kota atau lebih tersebut. juga dapat dimanfaatkan untuk keindahan/estetika kota. tekstur bawah kaki. Untuk itu diperlukan introduksi tanaman pengundang burung pada hutan kota. faktor audial (suara) dan faktor visual. e. Tabel 3. Disamping itu RTH di bawah jalan layang dapat dimanfaatkan sebagai: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 54 . juga dapat dimanfaatkan untuk fungsi lain seperti sebagai pembentuk arsitektur kota. RTH di Bawah Jalan Layang Selain sebagai daerah resapan air.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Idealnya hutan kota merupakan ekosistem yang baik bagi ruang hidup satwa misalnya burung. vegetasi. Jalur tanaman tepi jalan atau pulau jalan selain sebagai wilayah konservasi air. Sabuk hijau dimaksudkan sebagai kawasan lindung dengan pemanfaatan terbatas dengan pemanfaatan utamanya adalah sebagai penyaring alami udara bagi kota-kota yang berbatasan tersebut. Gelombang Pendek (%) 10 80 10 Gelombang Panjang (%) 100 10 90 ƒ f.4 Kemampuan Hutan dalam Mengendalikan Gelombang Pendek dan Panjang Respon Daun Dipantulkan Diserap Dibiaskan Diteruskan c. sampah yang bau dan terbengkalai. Median jalan dapat dimanfaatkan sebagai penahan debu dan keindahan kota. emisi kendaraan.

gardu listrik. dan pipa air minum. sehingga RTH pada kawasan ini dimanfaatkan sebagai pengaman listrik tegangan tinggi dan kawasan jalur hijau dibebaskan dari berbagai kegiatan masyarakat serta perlu dilengkapi tanda/peringatan untuk masyarakat agar tidak beraktivitas di kawasan tersebut. Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api RTH/jalur hijau sempadan rel kereta api dapat dimanfaatkan sebagai pengamanan terhadap jalur lalu lintas kereta api. dan lain-lain.4. c. waduk yang berfungsi budi daya dapat dibudidayakan kecuali pemanfaatan tanggul hanya untuk jalan. serta rambu-rambu pekerjaan. perlindungan tepi kiri-kanan bantaran sungai yang rawan erosi. 3. Membuat saluran drainase. 55 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C. ƒ Tempat istirahat sementara bagi pengendara sepeda motor/pejalan kaki pada saat hujan. dan pemantauan. kabel telpon. peningkatan fungsi sungai. pelestarian. papan penyuluhan dan peringatan. Penatagunaan daerah sempadan sungai dilakukan dengan penetapan zona-zona yang berfungsi sebagai fungsi lindung dan budi daya. pemasangan rentangan kabel listrik. sehingga jaringan kayu dapat tumbuh lebih banyak yang akan menjadi pohon lebih kuat. maka jenis aktivitas yang perlu dilakukan berkaitan dengan peranan RTH sepanjang rel kereta api adalah sebagai berikut: a) b) c) d) Memperkuat pohon melalui perawatan dari dalam. perizinan. mencegah okupasi penduduk yang mudah menyebabkan erosi. RTH Sempadan Sungai Pemanfaatan RTH daerah sempadan sungai dilakukan untuk kawasan konservasi. Pada zona sungai yang berfungsi lindung menjadi kawasan lindung. Pemanfaatan daerah sempadan sungai yang berfungsi budi daya dapat dilakukan oleh masyarakat untuk kegiatan-kegiatan: a) b) c) d) budi daya pertanian rakyat. pada zona sungai danau. Menghilangkan sumber penularan hama dan penyakit serta menghilangkan tempat persembunyian ular dan binatang berbahaya lainnya. Untuk menjaga keselamatan lalu lintas kereta api maupun masyarakat di sekitarnya. ƒ Lokasi penempatan papan reklame secara terbatas. dan pengendalian daya rusak sungai melalui kegiatan penatagunaan. b. Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Jaringan listrik tegangan tinggi sangat berbahaya bagi manusia. RTH Fungsi Tertentu a. Memperbaiki citra/penampilan pohon secara keseluruhan.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III ƒ Lokasi penempatan utilitas seperti drainase.

ƒ Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III e) pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/jembatan baik umum maupun kereta api. ƒ Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai. 32 Tahun 1990. Mengamankan kawasan sempadan sungai. serta penutupan vegetasi di sempadan sungai. pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau. Memantau fluktuasi debit sungai maksimum. ƒ Khusus untuk kawasan pantai berhutan bakau harus dipertahankan sesuai ketentuan dalam Keppres No. RTH Sumber Air Baku/Mata Air Pemanfaatan RTH sumber air baku/mata air dilakukan untuk perlindungan. dan pengendalian daya rusak sumber air baku/mata air/danau melalui kegiatan penatagunaan. menjaga dan mengamankan harus diikuti dengan aktivitas melaporkan pada instansi berwenang dan yang terkait sehingga pada akhirnya kawasan sempadan sungai yang berfungsi sebagai RTH terpelihara dan lestari selamanya. peningkatan fungsi sumber air baku/mata air. juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yang diizinkan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: ƒ Tidak bertentangan dengan Keppres No. maka aktivitas yang dapat dilakukan pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut: a) b) Memantau penutupan vegetasi dan kondisi kawasan DAS agar lahan tidak mengalami penurunan. erosi. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 56 . menghalau. dipantau dengan menggunakan metode pemeriksaaan langsung dan analisis deskriptif komparatif. keolahragaan. c) d) e) d. f) penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Tolak ukur 100 m di kanan kiri sungai dan 50 m kanan kiri anak sungai. dan pemantauan. bangunan pengambilan dan pembuangan air. melindungi dari ancaman gelombang pasang. e. wildlife habitat dan meredam angin kencang. pelestarian. RTH Sempadan Pantai RTH sempadan pantai selain sebagai area pengaman dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan gelombang laut. dan g) pembangunan prasarana lalu lintas air. Menjaga kelestarian konservasi dan aktivitas perambahan. perizinan. keanekaragaman vegetasi terutama jenis unggulan lokal dan bernilai ekologi dipantau dengan metode kuadrat dengan jalur masing-masing lokasi 2 km menggunakan analisis vegetasi yang diarahkan pada jenis-jenis flora yang bernilai sebagai tumbuhan obat. termasuk gangguan terhadap kualitas visual. Untuk menghindari kerusakan dan gangguan terhadap kelestarian dan keindahan sungai. Aktivitas memantau. ƒ Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat.

dan pipa air minum. budi daya pertanian rakyat.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel berikut ini memberikan gambaran mengenai dimensi sempadan serta pemanfaatannya pada masing-masing jenis RTH sebagai berikut: Tabel 3. papan penyuluhan dan peringatan. b) luas ruang terbuka hijau minimal 90% dengan dominasi pohon tahunan yang diizinkan. kabel telpon. Danau/waduk Minimal 50 m dari titik pasang tertinggi Pemanfaatan jaringan utilitas. pendukung ekosistem. penyelenggaraan kegiatankegiatan yang bersifat sosial. kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C. pemasangan rentangan kabel listrik. Mata Air Radius 200 m a) ruang terbuka hijau dengan aktivitas sosial terbatas penekanan pada kelestarian sumberdaya airnya. dan pembangunan prasarana lalu lintas air.5 RTH Sempadan Danau dan Mata Air No. RTH Pemakaman Pemakaman memiliki fungsi utama sebagai tempat pelayanan publik untuk penguburan jenasah. sehingga keberadaan RTH yang tertata di komplek pemakaman dapat menghilangkan kesan seram pada wilayah tersebut. pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/ jembatan baik umum maupun kereta api. dan pemersatu ruang kota. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 57 . pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau. a) b) c) d) e) f) g) h) 2. f. bangunan pengambilan dan pembuangan air. Jenis RTH Dimensi Sempadan 1. keolahragaan. daerah resapan air. Pemakaman juga dapat berfungsi sebagai RTH untuk menambah keindahan kota. serta rambu-rambu pekerjaan. pelindung.

b) penyediaan dan pemanfaatan RTH publik yang dilaksanakan oleh pemerintah disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. ƒ ƒ ƒ 4. Upaya ini dimaksudkan untuk menjamin hak masyarakat dan swasta. untuk memberikan kesempatan akses dan mencegah terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang dari rencana tata ruang yang telah ditetapkan melalui pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang oleh masyarakat dan swasta dalam pengelolaan RTH. pelaksanaan pembangunan RTH. b) memposisikan pemerintah sebagai fasilitator dalam proses pembangunan ruang terbuka hijau. perancangan teknik. Peran Masyarakat Peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH merupakan upaya melibatkan masyarakat. dengan prinsip: a) menempatkan masyarakat sebagai pelaku yang sangat menentukan dalam proses pembangunan ruang ruang terbuka hijau. harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: ƒ ƒ mengikuti peraturan dan ketentuan yang berlaku pada masing-masing daerah.2. c) menghormati hak yang dimiliki masyarakat serta menghargai kearifan lokal dan keberagaman sosial budayanya. pemanfaatan dan pengendalian.1. c) tahapan penyediaan dan pemanfaatan RTH publik meliputi: 1) 2) 3) 4) 5) perencanaan. e) pemanfaatan RTH untuk penggunaan lain seperti pemasangan reklame (billboard) atau reklame 3 dimensi. pengadaan lahan. memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan pengguna RTH. tidak menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan tanaman misalnya menghalangi penyinaran matahari atau pemangkasan tanaman yang dapat merusak keutuhan bentuk tajuknya. tidak mengganggu kualitas visual dari dan ke RTH. tidak mengganggu fungsi utama RTH yaitu fungsi sosial. ekologis dan estetis. swasta. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 59 . Prosedur Perencanaan Ketentuan prosedur perencanaan RTH adalah sebagai berikut: a) penyediaan RTH harus disesuaikan dengan peruntukan yang telah ditentukan dalam rencana tata ruang (RTRW Kota/RTR Kawasan Perkotaan/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/Rencana Induk RTH) yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat. d) menjunjung tinggi keterbukaan dengan semangat tetap menegakkan etika. d) penyediaan dan pemanfaatan RTH privat yang dilaksanakan oleh masyarakat termasuk pengembang disesuaikan dengan ketentuan perijinan pembangunan.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV BAB IV PROSEDUR PERENCANAAN DAN PERAN MASYARAKAT 4. lembaga badan hukum dan atau perseorangan baik pada tahap perencanaan. pemanfaatan dan pemeliharaan.

Menyerahkan penggunaan lahan privat untuk digunakan sebagai RTH publik. Membiayai pembangunan RTH publik. pembuatan sumur resapan (bagi daerah yang memungkinkan) dan pengelolaan sampah. Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH publik dalam peningkatan kualitas dan keamanan lingkungan. dimana rencana pembangunannya akan disusun dan ditetapkan. berm dan lahan kosong lainnya dengan berbagai jenis tanaman. baik ditanam langsung maupun ditanam dalam pot. swasta dan badan hukum dalam penyediaan RTH publik meliputi penyediaan lahan. b) Turut serta dalam meningkatkan kualitas lingkungan di perumahan dalam hal penanaman tanaman. Peran masyarakat pada RTH privat meliputi: a) Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH dalam peningkatan kualitas lingkungan.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV e) memperhatikan perkembangan teknologi dan bersikap profesional. Membiayai pemeliharaan RTH publik. Peran dalam penyediaan RTH ini dapat berupa: a) b) c) d) e) f) Pengalihan hak kepemilikan lahan dari lahan privat menjadi RTH publik (hibah). Mengawasi pemanfaatan RTH publik. d) Turut serta secara aktif dalam komunitas masyarakat pecinta RTH. c) Mengisi seoptimal mungkin lahan pekarangan. pedoman ini ditujukan pada tahap pemanfaatan ruang terbuka hijau. pemanfaatan dan pengendalian). Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah kota dalam mewujudkan penghijauan antara lain: dalam lingkup kegiatan pembangunan ruang terbuka hijau (yang meliputi perencanaan.1 Pelibatan Masyarakat pada Pemanfaatan dan Pengendalian Peran masyarakat. Perencanaan Pemanfaatan dan Pengendalian Pengambilan Keputusan Rencana Pemanfaatan Pelaksanaan Pemanfaatan Pasca Pelaksanaan RTH Pelibatan Pelibatan Pelibatan Gambar 4. pembangunan dan pemeliharaan RTH. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 60 . sarana interaksi sosial serta mitigasi bencana.

pembangunan serta pemanfaatan ruang terbuka hijau melalui sosialisasi. yaitu untuk tidak saja menekankan pada tujuan ekonomi. mengembangkan konsep serta upaya-upaya untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah. dan sebagainya) dengan areal yang luas perlu menyertakan konsep pembangunan ruang terbuka hijau. konflik yang muncul sehubungan dengan pembangunan ruang terbuka hijau. g) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian.2. f) Bekerjasama dengan pemerintah dalam menyusun mekanisme pengaduan. pelatihan dan diskusi di kelompok-kelompok masyarakat. membahas permasalahan. 4. plaza.1 Peran Individu/Kelompok Masyarakat dapat berperan secara individu atau kelompok dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH. Namun. Untuk mencapai peran tersebut. masyarakat dapat membentuk suatu forum atau komunitas tertentu untuk menghimpun anggota masyarakat yang memiliki kepentingan terhadap RTH. Misalnya: membentuk forum masyarakat peduli ruang terbuka hijau atau komunitas masyarakat ruang terbuka hijau di setiap daerah. dan sebagainya) dalam mengelola permasalahan. c) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyikapi perencanaan. Peran swasta yang diharapkan dalam pemanfaatan ruang perkotaan sama seperti peran yang diharapkan dari masyarakat. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan masyarakat: a) Anggota masyarakat baik individu maupun kelompok yang memiliki keahlian dan/atau pengetahuan mengenai penataan ruang serta ruang terbuka hijau dapat membentuk suatu komunitas ruang terbuka hijau.2. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pihak swasta: a) Pihak swasta yang akan membangun lokasi usaha (mall. e) Menggalang dan mencari dana kegiatan dari pihak tertentu untuk proses sosialisasi. karena swasta memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat umum. d) Meningkatkan kemampuan masyarakat (forum. Pada kondisi yang lebih berkembang. penyelesaian konflik serta respon dari pemerintah melalui jalur yang telah disepakati bersama. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 61 .2 Peran Swasta Swasta merupakan pelaku pembangunan penting dalam pemanfaatan ruang perkotaan dan ruang terbuka hijau. masyarakat dan swasta dalam pembangunan ruang terbuka hijau. Untuk mencapai peran tersebut. komunitas. namun juga sosial dan lingkungan dalam memanfaatkan ruang perkotaan.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV 4. Terutama karena kemampuan kewirausahaan yang mereka miliki. maka terdapat peran lain yang dapat dilakukan oleh swasta. b) Mengembangkan dan memperkuat kerjasama proses mediasi antara pemerintah.

2.3 Lembaga/Badan Hukum Lembaga atau badan hukum yang dimaksud merupakan Organisasi nonpemerintah. e) Menciptakan lingkungan dan kondisi yang kondusif yang memungkinkan masyarakat dan swasta terlibat aktif dalam proses pemanfaatan ruang secara proporsional.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV b) Bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat dalam membangun dan memelihara ruang terbuka hijau. informasi dan pemahaman di pihak masyarakat serta akses masyarakat ke sumber daya. Untuk mencapai peran tersebut. masyarakat dan swasta dalam mengatasi kesenjangan komunikasi dan informasi pembangunan ruang terbuka hijau. pendamping. c) Berperan aktif dalam mensosialisasikan dan memberikan penjelasan mengenai proses kerjasama antara pemerintah. melaksanakan. swasta dan masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan. mengawasi kebijakan pemanfaatan ruang perkotaan. adil dan bertanggung jawab. menghubungkan masyarakat dengan pemerintah dan swasta. b) Menyelenggarakan proses mediasi jika terdapat perbedaan pendapat atau kepentingan antara pihak yang terlibat. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan organisasi non-pemerintah antara lain: a) Membentuk sistem mediasi dan fasilitasi antara pemerintah. Dengan membentuk badan atau lembaga bersama antara pemerintah. atau organisasi lain yang serupa berperan utama sebagai perantara. d) Mendorong dan/atau menfasilitasi proses pembelajaran masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan. f) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. e) Mengupayakan bantuan pendanaan bagi masyarakat dalam realisasi pelibatan dalam pemanfaatan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau. masyarakat dan swasta serta mengenai proses pengajuan keluhan dan penyelesaian konflik yang terjadi. antara lain: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 62 . Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan pembangunan ruang terbuka hijau maupun dengan proses diskusi dan seminar. menyusun. Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan kepada masyarakat dan/atau yang terkait dalam pembangunan ruang terbuka hijau. Organisasi lain yang memiliki peran dan posisi penting dalam mempengaruhi. 4. c) Menfasilitasi proses pembelajaran kerjasama pemerintah. maupun dengan proses diskusi dan seminar. dalam rangka mengatasi kesenjangan komunikasi. d) Berperan aktif dalam diskusi dan proses pembangunan sehubungan dengan pembentukan kebijakan publik dan proses pelibatan masyarakat dan swasta yang terkait dengan pembangunan ruang terbuka hijau. perwakilan masyarakat dan swasta untuk aktif melakukan mediasi. f) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian.

2.4 Penghargaan dan Kompensasi Penghargaan dan kompensasi terhadap masyarakat/perseorangan. Instansi yang terkait dengan pengeloaan RTH/lingkungan hidup.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ DPR/DPRD. pemeliharaan maupun peningkatan kesadaran masyarakat terhadap RTH dapat berupa: a) Piagam penghargaan yang dikeluarkan oleh lembaga swadaya masyarakat pemerhati RTH/lingkungan hidup. dan sebagainya. pembangunan. baik perorangan. Lembaga donor. Asosiasi profesi. perguruan tinggi. b) Pencantuman nama. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 63 . Adapun peran dari masing-masing organisasi tersebut diatas dapat disesuaikan dengan posisi dan keahlian yang dimiliki organisasi dalam membantu atau terlibat proses pembangunan ruang terbuka hijau. Perguruan tinggi. Partai politik. 4. dengan persetujuan tertulis dari instansi pengelolanya. swasta. Kelurahan dan Kecamatan. sesuai dengan peraturan yang berlaku di wilayah tersebut. sebagai kontributor dalam penyediaan RTH tersebut. lembaga atau perusahaan dalam ukuran yang wajar dan tidak mengganggu keindahan. pemerintah daerah atau pemerintah pusat. RW. unsur kewilayahan seperti RT. dan badan hukum dalam penyediaan.

5%) RTH PRIVAT 10% RTH PUBLIK 20% RTH KOTA 30% L-1 .5%) KDB (80%) KDB (90%) KDB (0%) KDB (70%) KDB (80%) RTH (8%) RTH (2%) RTH (12.LAMPIRAN A (informatif) BAGAN PROPORSI RTH KAWASAN PERKOTAAN (ilustrasi) RUANG PERKOTAAN TERBANGUN TERBUKA HUNIAN (40%) NON HUNIAN (20%) TAMAN (12.5%) JALAN (20%) LAINNYA (7.5%) RTH (6%) RTH (1.

2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT) L-2 .LAMPIRAN B (informatif) GAMBAR CONTOH RTH TAMAN Gambar B.1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT) Gambar B.

3 Contoh Taman Rukun Warga (RW) Gambar B.4 Contoh Taman Kelurahan L-3 .Gambar B.

5 Contoh Taman Kelurahan Gambar B.6 Contoh Taman Kecamatan L-4 .Gambar B.

Potensi air tanah 662.8%) L-5 Lt = = 142 ha . Dengan kondisi seperti tersebut di atas.307.1 Contoh Perhitungan Kebutuhan Hutan Kota (RTH) Berdasarkan Kebutuhan Air Kebutuhan air dalam kota bergantung dari faktor: a) b) c) d) kebutuhan air bersih per tahun.200 – 662. Kemampuanhutan kota menyimpan air.000 Kebutuhan hutan kota = 142 ha (5. (203.K (1 + R – C)t – PAM . Potensi air saat ini. Faktor di atas dapat ditulis dalam persamaan: Po.256 m3/th.3 jt m3/th.Pa z La = dengan: La Po K R C PAM t Pa z adalah luas hutan kota yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan air (Ha) adalah jumlah penduduk kota pada tahun ke 0 adalah konsumsi air per kapita (liter/hari) adalah laju peningkatan pemakaian air (biasanya seiring dengan laju pertambahan penduduk kota setempat) adalah faktor koreksi (besarnya tergantung dari upaya pemerintah dalam penurunan laju pertambahan penduduk) adalah kapasitas suplai air oleh PAM (dalam m3/tahun) adalah tahun ke adalah potensi air tanah saat ini (m3/th) adalah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air (m3/ha/th) Contoh perhitungan: Suatu kota dengan luas 2. Konsumsi air per kapita adalah 65 m3/th.000 m3/ha/th.256 73.450 ha.000 jiwa. jumlah air yang dapat disediakan oleh PAM.LAMPIRAN C (informatif) CONTOH PERHITUNGAN HUTAN KOTA (RTH) C. Kapasitas air PAM terpasang 6. Kemampuan hutan kota menyimpan air 73. memiliki penduduk pada tahun 2005 sebanyak 203. persamaan kebutuhan hutan kota pada tahun 0 (2005) adalah sebagai berikut: 65.000) – 6.

16 Kebutuhan Oksigen Tiap 1 kg Bahan Bakar 2.254 243.86 Dari tabel C.C. dengan rumus: Pt + Kt + Tt Lt = (54 )(0. yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988). dapat juga dilakukan dengan metode Gerakis (1974).609 474.893.624 425.560 397.261 Konsumsi Oksigen Manusia/Hari (gram/hari) Komsumsi Oksigen (gram/hari) 365.360 204.339.240 840 Tabel C.2 Contoh Perhitungan Kebutuhan Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Luasan kebutuhan hutan kota berdasarkan kebutuhan oksigen.000 424. L-6 .2 Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor Jenis Bahan Bakar Bensin Diesel Rata-rata Pemakaian Bahan Bakar (kg/PS jam) 0.412.9375 )(2) dengan: Lt Pt Kt Tt 54 0. adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0. dengan kasus di Kota Bandung (Noor Syailendra.711.2 dapat ditentukan besarnya kebutuhan oksigen kendaraan bemotor berdasarkan klasifikasi jenis kendaraan dan rata-rata umum kebutuhan oksigen.9375 gram adalah jumlah musim di Indonesia Contoh perhitungan dengan menggunakan rumus Gerakis (1974) dalam Wisesa (1988).160 357.21 0.300 505.77 2.597.9375 2 m2 adalah luas RTH Kota pada tahun ke t (m2) adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke t adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t adalah tetapan yan menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari. 2005): Tabel C.711 377.1 Kebutuhan Oksigen Manusia di Kota Bandung Tahun 2004 Wilayah Pengembangan (WP) Bojonagara Cibeunying Karees Tegalega Ujungberung Gedebage Jumlah Penduduk (Jiwa) 424.240 316.004.

760 29.772.993 Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 11.76 87.560 4.4 Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor di Wilayah Bojonagara Bandung Jenis Kendaraan Mobil Pribadi Motor Truk Bus Minibus umum Jumlah LHR (lalu-lintas harian rata-rata) (kendaraan/hari) 16.341 Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka kebutuhan RTH di Wilayah Bojonagara Kota Bandung pada tahun 2004 adalah: 356.412.77 2.7652 Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 581.634 582 29.91 m2 = 672.9375)( 2 ) Luas RTH = 6.305 1.061 21.679.739.519 56.18 Sepeda motor Kendaraan penumpang Kendaraan truk Kendaraan bus Jumlah Rata-rata Tabel C.259.86 Kebutuhan Oksigen (kg/hari) 0.311.760 45.0607 21.21 0.3 Kebutuhan Oksigen Menurut Klasifikasi Jenis Kendaraan Bermotor Klasifikasi Daya Minimal (PS) 1 20 50 100 Kebutuhan Bahan Bakar (kg/PS) 0.440 59.085 45.142 7.000 + 324. maka kebutuhan hutan kota di Kota Bandung pada tahun 2004 adalah sebagai berikut: L-7 . kebutuhan oksigen kendaraan di tiap wilayah pengembangan.765.259.301.906 94 1.760 87.Tabel C.21 0.77 2.772.680 324.984.760 Total Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 196.72 ha m2 Catatan: kebutuhan oksigen untuk ternak diabaikan Dengan mengacu pada kebutuhan oksigen manusia.5817 11.16 Kebutuhan Oksigen Tiap 1 Liter BB (kg) 2.634 29.341 Luas RTH = (54 )(0.863 13.7 11.77 2.21 0.085 45.634 29.

00 Kebutuhan RTH (Ha) 672.63 21.050.730.22 250.107.61 9.707.04 768.12 16.602.933.87 470.07 4.28 2.559.47 20.42 Luas (%) 28.09 2.85 29.28 L-8 .62 3.5 Kebutuhan RTH di Kota Bandung Tahun 2004 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Wilayah pengembangan Bojonagara Cibeunying Karees Tegalega Gedebage Ujungberung Kota Bandung Luas wilayah (Ha) 2.13 11.330.28 2.Tabel C.08 36.27 856.40 544.16 2.

Polyathea longifolia Cassia fistula Belamcanda chinensis Eugenia aquea Psidium guajava Anacardium occidentale Jatropha integerima Tectona grandis Citrus grandisty Citrus aurantifolia Cassia siamea Polyantha lateriflora Caliandra haematocepala Canna Hibrida Michelia alba Ficus elastica Cassia spectabilis ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● L-9 Pengarah No Nama Lokal Nama Latin Bentuk Tajuk Pohon Besar Warna daun Tekstur Semak Bunga Perdu Buah .LAMPIRAN D (informatif) PILIHAN VEGETASI UNTUK DIKEMBANGKAN DI RTH Pengenal Lingkungan Perawakan Daya Tarik Potensi di RTH Dapat dikonsumsi ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Reduktor Polutan ● ● ● ● ● ● ● ● Pohon Sedang Pohon Kecil 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Akalipa hijau kuning Akasia daun besar Akasia kuning Angrek Tanah Angsana Apel Asam Asem landi Bakung Bambu Jepang Beringin Bintaro Bogenvil Bunga pukul empat Bunga saputangan Bungur Cemara gunung Cemara laut Cemara Norfolk Cempaka Dadap belang Dadap merah Damar Durian Ebony/ Kayu hitam Flamboyan Ganitri Glodogan pohon Glodogan tiang Hujan Mas Iris Jambu air Jambu batu Jambu monyet Jarak Jati Jeruk bali Jeruk nipis Johar Kalak Kaliandra Kana Kantil Karet Munding Kasia singapur Acalypha wilkesiana Accacia mangium Acacia auriculaeformis Spathoglotis plicata Pthecarpus indicus Chrysophyllum cainito Tamarindus indica Pitchecolobium dulce Crinum asiaticum Bambusa sp. Ficus benyamina Cerbera manghas Bougenvillea sp Mirabilis jalapa Amherstia nobilis Lagerstromea loudonii Casuarina junghuniana Casuarina equisetifolia Araucaria heterophylla Michelia champaca Erythrina variegata Erythrina cristagalli Agathis alba Durio zibethinus Dyospiros celebica Delonix regia Elaeocarpus grandisflora Polyathea sp.

Sikat botol Callistemon lanceolatus Soka Ixora stricata Sukun Artocarpus altilis Sutra bombay Portulaca gransiflora Tanjung Mimusops elengi Tapak dara Catharanthus roseus Teh-tehan Pangkas Acalypha sp. Trembesi Samanea saman Kelapa Kembang merak Kembang Sepatu ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● L .10 Pengarah ● ● Tekstur No Nama Lokal Nama Latin Pohon Kecil Semak Bunga Perdu Buah . Pepaya Carica papaya Pinang Jambe Areca catechu Pinang Mac-arthur Ptychosperma macarthurii Pinus. Nyamplung Callophyllum inophyllum Oleander Nerium oleander Palem Ekor Tupai Wodyetia bifurca Palem kubis Licuala grandis Palem Kuning Chrysalidocarpus lutescens Palem Merah Cytostachys renda Palem Raja Oreodoxa regia Palem Sadeng Livistona rotundifolia Pangkas kuning Duranta sp. tusam Pinus mercusii Puspa Schima wallichii Salam Eugenia polyantha Sansiviera/Lidah mertua Sanseviera trifasciata L Sarai raja Caryota mitis Sawo kecik Manilkara kauki Serunai rambat Widelia sp.Perawakan Pohon Sedang Pohon Besar Daya Tarik Bentuk Tajuk Warna daun Potensi di RTH Dapat dikonsumsi ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Reduktor Polutan ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Pengenal Link ● 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 Cocos nucifera Caesalphinia pulcherima Hibiscusrosa sinensis Kemboja merah Plumeria rubra Kemuning Muraya paniculata Kenanga Cananga odorata Kenari Canarium commune Kersen Muntingiacalabura Kesumba Bixa orellana Ketapang Terminalia cattapa Ki acret Spathodea companulata Kiara Payung Filicium decipiens Kol Banda */ Pisonia alba Kupu-kupu Bauhinia purpurea Lamtorogung Leucaena leccocephala Landep Baleria priontis Lantana Lantana camara Lengkeng Euphoria longan Lontar / Siwalan Borassus flabellifer Mahoni Switenia mahagoni Mangga Mangifera indica Mangkokan Nothopanax scutellarium Matoa Pometia pinata Menteng Baccaurea motleyana Merawan Hopea mangarawan Mimba Azadirachta indica Nagasari Mesua ferrea Nangka Artocarpus heterophylla Nusa Indah Musaenda sp.

IPB Press.. Mc Graw – Hill Professional. Pedoman Perencanaan Median Jalan. 2004. Dahlan. Manan. Agro Media Pustaka. Mendisain. Landscape Architect’s Portable Hand Book. 2001. Membuat dan Merawat Taman Rumah. Ministry of Public Works.. Kurniawan. Lansekap Jalan. Pedoman Teknik Departemen Pekerjaan Umum. Directorate General of Highways. Dines T Nicholas & Brown D Kyle. Dines. Kementerian Lingkungan Hidup. Bandung. EN. Pemeliharaan Tanaman. Standard Specifications for Geometric Design of Urban Roads. Pembangunan Rumah Sederhana Tidak Bersusun. Pemeliharaan Taman. 1993. Hendro Sunaryo dan Rismunandar. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. 1992. 1986. Perda Depok No. F. edisi revisi. Bogor. Jurusan Arsitektur Lansekap Faperta Unbar. McGraw-Hill. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. Tangerang. Departemen Pekerjaan Umum.18 Tahun 2003. Direktorat Jenderal Penataan Ruang. Hadi Susilo Arifin dan Nurhayati HS Arifin. 2004. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. IPB Press. Spesifikasi Tanaman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. E N. Sinar Baru. 2005. IPB Press. 2006. Departemen Pekerjaan Umum. Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan. 2004. 1976. Direktorat Jenderal Cipta Karya. tentang Garis Sempadan. Direktorat Jenderal Bina Marga. Mona Sintia dan Murhananto. Rully Wijayakusuma. EN. dalam Dahlan. 2005. Penebar Swadaya. Departemen Pekerjaan Umum. RTH sebagai Unsur Utama Pembentuk Kota Taman. 1988. Pengantar Pengetahuan Dasar Hortikultura. Bandung. Pedoman Umum Penanaman Jalur Hijau Jalan.11 . 1995.BIBLIOGRAFI Charles Harries & Nicholas T. dalam Dahlan. 2004. Bogor. New York. Time Saver Standards for Landscape Architecture. S. 1981. Jakarta. 2007. L . 2004. Depok. 2004. Pengaruh Hutan dan Manajemen Daerah Aliran Sungai. Bogor. Daya Transpirasi Tanaman Perkotaan.

1988. Kota. tentang Jalan. J. tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 27 April 2006.Soerianegara dan Indrawan. 1998. Highway Economic Requirements System. dalam Endes Nurfilmarasa. Ekologi Hutan Indonesia. 13 Tahun 1992.12 . Undang-Undang No. 14 Tahun 1992. 1977. Penentuan Luas Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen. Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan SNI 033/T/BM/ 1996. Wisessa. RTH Sebagai Unsur Utama Pembentuk Undang-Undang No. dalam Noor Syailendra. Zoer’aini Djamal Irwan. United States Department of Transportation. SNI 031/T/BM/1999. 1989. Jurusan Teknik Planologi FT Unpas. Pustaka Cidesindo. Undang-Undang No. tentang Perkeretaapian. Kajian Kebutuhan Hutan Kota di Kota Bandung. Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan L . 38 Tahun 2004. Jakarta. Tantangan Lingkungan Hidup dan Lansekap Kota. Surat Kabar Harian Pikiran Rakyat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful