PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang : a. bahwa kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik terutama Ruang Terbuka Hijau (RTH) saat ini mengalami penurunan yang sangat signifikan dan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan hidup perkotaan yang berdampak keberbagai sendi kehidupan perkotaan antara lain sering terjadinya banjir, peningkatan pencemaran udara, dan menurunnya produktivitas masyarakat akibat terbatasnya ruang yang tersedia untuk interaksi sosial; b. bahwa Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang memberikan landasan untuk pengaturan ruang terbuka hijau dalam rangka mewujudkan ruang kawasan perkotaan yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan; c. bahwa dalam rangka implementasi Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang diperlukan adanya Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu ditetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);

3. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara RI; 4. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara RI; 5. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu; 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN.

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Menteri adalah Menteri Pekerjaan Umum. Pasal 2 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan dimaksudkan untuk: a. menyediakan acuan yang memudahkan pemangku kepentingan baik pemerintah kota, perencana maupun pihak-pihak terkait, dalam perencanaan, perancangan, pembangunan, dan pengelolaan ruang terbuka hijau. memberikan panduan praktis bagi pemangku kepentingan ruang terbuka hijau dalam penyusunan rencana dan rancangan pembangunan dan pengelolaan ruang terbuka hijau. memberikan bahan kampanye publik mengenai arti pentingnya ruang terbuka hijau bagi kehidupan masyarakat perkotaan. memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat dan pihak-pihak terkait tentang perlunya ruang terbuka hijau sebagai pembentuk ruang yang nyaman untuk beraktivitas dan bertempat tinggal.

2.

3.

b.

c. d.

Pasal 3 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan bertujuan untuk: a. b. menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air; menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat; meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih. Pasal 4 (1) Ruang lingkup Peraturan Menteri memuat: a. b. c. (2) ketentuan umum, yang terdiri dari tujuan, fungsi, manfaat, dan tipologi ruang terbuka hijau; ketentuan teknis yang meliputi penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan; prosedur perencanaan dan peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau.

c.

Materi muatan tentang pengaturan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimuat secara lengkap dalam lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 5

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Peraturan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk diketahui dan dilaksanakan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 26 Mei 2008 MENTERI PEKERJAAN UMUM,

DJOKO KIRMANTO

LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TANGGAL : 26 Mei 2008 PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN .

...................3........3.............3............... 2.............................2.... 2................. RTH Fungsi Tertentu........1 Peran Individu/Kelompok......6........... Ruang Lingkup Pedoman... 2......................... 4.............................1 Pada Bangunan/Perumahan..................3 Kota/Perkotaan....... 2.. Ketentuan Penanaman................................................................ 3......................2 Peran Swasta.......................... BAB IV PROSEDUR PERENCANAAN DAN PERAN MASYARAKAT 4.......................... 2.............. Daftar Tabel.................. 2...............1.....................................................................2.......3................. 3....................... 4........................ ...................5...4......................3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota..................................................... 1............................................ 2.............. Manfaat RTH..........................1................................................................................ 3...................................... Tujuan Penyelenggaraan RTH..............................8...DAFTAR ISI Daftar Isi........................................................................................................................2............................ 2....................2..........................4........................... .............................................................................2.....3...................................................1...................................................2 Penanaman............................................. 1.................................. Kedudukan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah....................................................................................................................................... 4...2..................... 1........................................... 4.............6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu........ ............ Istilah dan Definisi....................... Fungsi RTH..............................................4............. Peran Masyarakat............. 2......................................... Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan............ 1........2.................................................5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan............1.......... Arahan Penyediaan RTH............................................................................................................................................4..........2......................................................................... ..........7.......................... Prakata.................... 2............................................................................... Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan... Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman... .............. 2..............3...........4.....1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan.. 2........ Tipologi RTH............................................................... Prosedur Perencanaan.............. 2...............4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman......................... Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan.................... Kriteria Vegetasi RTH.................. BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 3.........................3....... 1.............................................................. i i iii iv v 1 1 1 1 3 5 5 6 6 9 9 10 10 12 14 31 31 32 33 34 36 38 43 43 43 44 45 47 47 47 52 55 59 59 59 61 61 62 62 ............................2........................ Daftar Gambar........3 Lembaga/Badan Hukum....3.........................4.......................................... 2......................................................... BAB I KETENTUAN UMUM 1............................................. 2.......................................................... .........2............2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota.4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau.......................1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam..............2 Pada Lingkungan/Permukiman......................3....................... Acuan Normatif........................ 1..........................4...............4 Penghargaan dan Kompensasi........ 1............... 4...............3 Pemeliharaan Tanaman.... BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 2.......2................................... 2........

......................................................................................................................................................... L-1 L-2 L-5 L-9 Bibliografi..................... Contoh Perhitungan Hutan Kota............................. Gambar Contoh RTH Taman............................................. L-11 ii ..............Lampiran A Lampiran B Lampiran C Lampiran D Bagan Proporsi RTH Wilayah Perkotaan............................................. Pilihan Vegetasi untuk Dikembangkan di RTH.........................

.................... Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET.............3 2.................................. Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET............1 3...... Kebutuhan RTH di Kota Bandung Tahun 2004 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen..............................................................................................3 2...2 2.................................................................... Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan........................................1 1.6 2..............8 2.....................10 2...... Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai.........2 3...........1 C........... Contoh Vegetasi untuk Pemakaman......................................13 2..................................... Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor di Wilayah Bojonagara................ Kemampuan Hutan dalam Mengendalikan Gelombang Pendek dan Gelombang Panjang.....................................9 2................... Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor...12 2........5 C... Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api....................... Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota...... Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk......2 1.......4 3..... Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan...................................................DAFTAR TABEL Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 1.....7 2............................................................................. Kepemilikan RTH........................... Kebutuhan Oksigen Menurut Klasifikasi Jenis Kendaraan Bermotor................................4 2................................ Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki...............5 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH................4 Tabel C...............................5 2................................................................................... 5 7 8 9 22 25 26 32 33 33 34 37 37 38 39 40 43 50 51 53 54 57 L-6 L-6 L-7 L-7 L-8 iii ............................................ Bandung....... Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan.... RTH Sempadan Danau dan Mata Air.......................................................14 3...............1 2... Contoh Tanaman untuk Di Bawah Jalan Layang... Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Hutan Kota........................ Contoh Tanaman untuk Roof Garden........... Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan...... Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api..... Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota.. Contoh Tanaman untuk Sabuk Hijau yang Tahan Terhadap Penggenangan Air................3 C.........11 2.2 C................3 3................. Kebutuhan Oksigen Manusia di Kota Bandung Tahun 2004...............

.....................................................................3 2......16 3..................................3 3......................DAFTAR GAMBAR Gambar 1..............................................2 3..................... Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif)................................................................................. Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak...... Tipologi RTH..........................2 2..... Contoh Taman Kota.......................... 4 7 12 15 15 17 18 19 19 20 21 21 23 24 25 29 30 31 48 48 49 50 51 52 53 60 L-2 L-2 L-3 L-3 L-4 L-4 iv . Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman.............1 3......................................................................... Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH Di Bawah Jalan Layang.................6 2.............................................5 2................................................................ Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan........................3 B........... Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden....................8 2..........2 B............... Jalur Tanaman pada Median Penahan Silau Lampu Kendaraan.........................1 B..4 3...................................................... Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan.............……………………………......... Contoh Taman Kecamatan.... Jalur Tanaman Tepi Pembatas Pandang... Jalur Tanaman Tepi Peneduh.............. Pelibatan Masyarakat pada Pemanfaatan Dan Pengendalian.............1 B.....4 B....... Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT) ...................................................................1 2...... Contoh Taman Rukun Warga.................... Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air......................4 2...............1 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 1...................... Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai........................ Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT)...... Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang......................... Pola Tanam Hutan Kota Strata 2............ ............10 2.................................14 2............................. Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT) ...........................12 2............... Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara..........................2 2............. Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif)....... Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin......5 3....................6 Kedudukan Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam RTR Kawasan Perkotaan................. Contoh Taman Rukun Warga..........................13 2.......5 B............................6 3....... Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT)...................7 4.................... Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki.. Contoh Taman Rukun Kelurahan.7 2.........9 2.................. Contoh Taman Rukun Kelurahan............................................ Contoh Taman Rukun Kecamatan...........15 2.......................11 2...

Pedoman ini berisi rujukan untuk penyediaan RTH. Pedoman ini dipersiapkan oleh Panitia Teknik Standardisasi Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil melalui Gugus Kerja Perencanaan Sub Panitia Teknis Tata Ruang. Departemen Pekerjaan Umum dan merupakan salah satu rujukan teknis Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten serta seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) terutama para praktisi dan para akademisi di berbagai kegiatan yang dalam tugas dan kegiatannya berkaitan dengan penyediaan dan pemanfaatan RTH di kawasan perkotaan. prosedur perencanaan dan peran masyarakat yang semuanya merupakan pedoman teknis yang berlaku secara nasional. Proses penyusunan pedoman ini telah melibatkan berbagai kalangan masyarakat termasuk para akademisi dari perguruan tinggi terkemuka. pemanfaatan RTH. kriteria vegetasi untuk RTH. ketentuan penanaman dan pemeliharaan tanaman.PRAKATA Buku pedoman ini disusun oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang. v .

acuan normatif. 1 . SNI 03-1733-2004. 26 Tahun 2007. sedangkan yang dimaksud dengan benda hidup ialah tanaman. istilah dan definisi.Ketentuan Umum Bab I BAB I KETENTUAN UMUM 1. dan elemen-elemen lainnya yang berbentuk padat maupun cair. meliputi: a). Tatacara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan 1. b). pasir. Ketentuan teknis merupakan pedoman rinci. 34 Tahun 2006. kaki tanggul. e. fungsi dan manfaat RTH. pada lingkungan/permukiman. kedudukan pedoman penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam rencana tata ruang wilayah. d. baik yang bersifat alamiah maupun buatan manusia. b. tepi situ/rawa. Istilah dan Definisi 1. tentang Peraturan Pelaksanaan Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum f. 28 Tahun 2002. suara. 36 Tahun 2005. Elemen lansekap yang berupa benda terdiri dari dua unsur yaitu benda hidup dan benda mati. tentang Pengelolaan Kawasan Lindung h. dan tipologi RTH. arahan penyediaan RTH. Keputusan Presiden RI No. tentang Jalan g. adalah jalur penempatan tanaman serta elemen lansekap lainnya yang terletak di dalam ruang milik jalan (RUMIJA) maupun di dalam ruang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan a. Garis sempadan. tentang Sumber Daya Air Undang-Undang RI No. as rel kereta api. tepi waduk. tepi saluran. jumlah penduduk. adalah garis batas luar pengaman untuk mendirikan bangunan dan atau pagar yang ditarik pada jarak tertentu sejajar dengan as jalan.2. Pedoman ini dilengkapi dengan foto dan gambar contoh beberapa RTH. Ketentuan umum meliputi ruang lingkup pedoman. yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang. 7 Tahun 2004. tepi mata air. batu. tepi sungai. 1. 3. adalah segala sesuatu yang berwujud benda. tepi luar kepala jembatan. tentang Penataan Ruang Peraturan Pemerintah RI No. pipa gas. dan kebutuhan fungsi tertentu. tentang Hutan Kota Peraturan Pemerintah RI No. c. warna dan suasana yang merupakan pembentuk lansekap. 2. fungsi tertentu. kriteria vegetasi RTH. pemanfaatan RTH: pada bangunan/perumahan. 4. pada kota/perkotaan. 63 Tahun 2002. penyediaan RTH berdasarkan: luas wilayah.3. Elemen lansekap. 32 Tahun1990.1. prosedur perencanaan dan peran masyarakat. tentang Bangunan Gedung Undang-Undang RI No. Peraturan Pemerintah RI No. Acuan Normatif Undang-Undang RI No. jaringan tenaga listrik. dan yang dimaksud dengan benda mati adalah tanah. Jalur hijau. Hutan kota. Ruang Lingkup Pedoman Pedoman ini terdiri dari ketentuan umum dan ketentuan teknis serta lampiran-lampiran sebagai pelengkapnya. dan ketentuan penanaman. adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak. tujuan penyelenggaraan RTH. penanaman dan pemeliharaan tanaman.

9. adalah semua tumbuhan berbatang pokok tunggal berkayu keras. berupa lahan yang diperkeras maupun yang berupa badan air. Koefisien Daerah Hijau (KDH). Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 2 . 17. baik yang tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. 11. adalah wajah dari karakter lahan atau tapak yang terbentuk pada lingkungan jalan. Lansekap jalan. 8. Kawasan. Ruang terbuka non hijau. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. pengawasan jalan (RUWASJA). adalah area memanjang/jalur dan atau mengelompok. adalah pohon yang memiliki ketinggian sampai dengan 7 meter. Pohon. 7. 15. yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. 12. Pohon sedang. 16. 20. Ruang terbuka terdiri atas ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non hijau. adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur dimana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. adalah kesatuan geografis yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional serta mempunyai fungsi utama tertentu. 10. adalah RTH milik institusi tertentu atau orang perseorangan yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas antara lain berupa kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan. Peran masyarakat. 13. adalah ruang terbuka di wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam kategori RTH. Sering disebut jalur hijau karena dominasi elemen lansekapnya adalah tanaman yang pada umumnya berwarna hijau. adalah berbagai kegiatan masyarakat. Perdu. adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan. adalah tumbuhan berkayu dengan percabangan mulai dari pangkal batang dan memiliki lebih dari satu batang utama. Penutup tanah. maupun yang terbentuk dari elemen lansekap buatan manusia yang disesuaikan dengan kondisi lahannya. Ruang Terbuka Hijau (RTH). adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. 6. Kawasan perkotaan. Ruang terbuka hijau privat. adalah pohon yang memiliki ketinggian dewasa lebih dari 12 meter. Koefisien Dasar Bangunan (KDB). 18. yang timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat sesuai dengan hak dan kewajiban dalam penyelenggaraan penataan ruang. 19. Ruang terbuka. Pohon kecil. adalah semua jenis tumbuhan yang difungsikan sebagai penutup tanah. Pohon besar. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan gedung dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. baik yang terbentuk dari elemen lansekap alamiah seperti bentuk topografi lahan yang mempunyai panorama yang indah. nyaman dan memenuhi fungsi keamanan. Lansekap jalan ini mempunyai ciri-ciri khas karena harus disesuaikan dengan persyaratan geometrik jalan dan diperuntukkan terutama bagi kenyamanan pemakai jalan serta diusahakan untuk menciptakan lingkungan jalan yang indah. tempat tumbuh tanaman. adalah pohon yang memiliki ketinggian dewasa 7-12 meter. 14.Ketentuan Umum Bab I 5.

Berdasarkan wilayah administrasinya.4. adalah jenis tanaman penutup permukaan tanah yang bersifat selain mencegah erosi tanah juga dapat menyuburkan tanah yang kekurangan unsur hara. dan pengendalian pemanfaatan ruang. 27. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 3 . 1. Semak. perencanaan tata ruang wilayah kota harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau yang luas minimalnya sebesar 30% dari luas wilayah kota. Vegetasi/tumbuhan. semak. juga dimuat dalam RTR Kawasan Perkotaan yang merupakan rencana rinci tata ruang wilayah Kabupaten. adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif. Taman lingkungan. adalah bentuk alami dari struktur percabangan dan diameter tajuk. Taman kota. Tanaman penutup tanah. Tanggul. herbaseus. perdu. Perencanaan tata ruang dilakukan untuk menghasilkan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang. Rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau selain dimuat dalam RTRW Kota. adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif. 23. edukasi atau kegiatan lain pada tingkat kota. Kedudukan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Penataan ruang merupakan suatu sistem proses perencanaan tata ruang. 26. adalah keseluruhan tetumbuhan dari suatu kawasan baik yang berasal dari kawasan itu atau didatangkan dari luar. adalah RTH yang memiliki tujuan utama untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu. dan rumput. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. penataan ruang wilayah provinsi.Ketentuan Umum Bab I 21. yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan kondisi geografis. RDTR Kota. edukasi atau kegiatan lain pada tingkat lingkungan. 29. Ruang terbuka hijau publik. Wilayah. Tajuk. adalah kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya. adalah tumbuhan berbatang hijau serta tidak berkayu disebut sebagai 24. Di dalam Undang-Undang No. 30. adalah bangunan pengendali sungai yang dibangun dengan persyaratan teknis tertentu untuk melindungi daerah sekitar sungai terhadap limpasan air sungai. atau RTR Kawasan Strategis Kota. Adapun ketentuan lebih lanjut mengenai penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau diatur dalam pedoman ini. 22. penataan ruang wilayah kabupaten/kota. Biasanya merupakan tanaman antara bagi tanah yang kurang subur sebelum penanaman tanaman yang tetap (permanen). pemanfaatan ruang. adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. penataan ruang terdiri atas penataan ruang wilayah nasional. Sabuk hijau (greenbelt). 28. meliputi pohon. 25.

pengamanan sumber daya baik alam. d. area mitigasi/evakuasi bencana. penyediaan RTH yang bersifat privat. g. Kedalaman rencana penyediaan dan pemanfaatan RTH pada masing-masing rencana tata ruang tersebut di atas dapat dilihat pada Tabel 1. tempat rekreasi dan olahraga masyarakat.1 Kedudukan Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam RTR Kawasan Perkotaan Penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam RTRW Kota/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan. area penciptaan iklim mikro dan pereduksi polutan di kawasan perkotaan. kawasan pengendalian air larian dengan menyediakan kolam retensi. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 4 . melalui pembatasan kepadatan serta kriteria pemanfaatannya. b. j. pembatas perkembangan kota ke arah yang tidak diharapkan. i. area pengembangan keanekaragaman hayati.1. buatan maupun historis. f. k. h. kawasan konservasi untuk kelestarian hidrologis. dimaksudkan untuk menjamin tersedianya ruang yang cukup bagi: a. tempat pemakaman umum. dan ruang penempatan pertandaan (signage) sesuai dengan peraturan perundangan dan tidak mengganggu fungsi utama RTH tersebut. e.Ketentuan Umum Bab I Gambar 1. c.

5. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 5 .1 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH Jenis Rencana Tata Ruang Rencana Tata Ruang Wilayah 1) 2) Kota (Rencana Umum) 3) 4) 5) Kedalaman Muatan Luas minimum yang harus dipenuhi. nyaman. c. hingga konsep-konsep rencana RTH sebagai arahan untuk pengembangan disain selanjutnya. Penetapan jenis dan lokasi RTH yang akan disediakan. b. dan bersih. Indikasi program mewujudkan penyediaan RTH pada masing-masing kawasan/bagian wilayah kota. ƒ produsen oksigen. ƒ sebagai peneduh. Tahap-tahap implementasi penyediaan RTH. dan luas dengan skala yang lebih detail/besar.Ketentuan Umum Bab I Tabel 1. Ketentuan pemanfaatan RTH secara umum. indah. Menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat. arahan elemen pelengkap pada RTH. lokasi. Menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air. RDTRK/RTR Kawasan 1) Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan 2) (Rencana Rinci) 3) 4) 5) 6) 1. Fungsi utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis: ƒ memberi jaminan pengadaan RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota). Arahan elemen pelengkap pada RTH. segar. ƒ pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung lancar. 1. Fungsi RTH RTH memiliki fungsi sebagai berikut: a. Rencana penyediaan RTH yang dirinci berdasarkan jenis/tipologi RTH. Ketentuan tentang peraturan zonasi. Alternatif vegetasi pengisi ruang khususnya arahan vegetasi dalam kelompok-kelompok besar. Tujuan Penyelenggaraan RTH Tujuan penyelenggaraan RTH adalah: a. Tipologi masing-masing RTH. Konsep-konsep rencana RTH sebagai arahan untuk pengembangan disain selanjutnya. alternatif vegetasi pengisi ruang khususnya arahan vegetasi dalam kelompok-kelompok besar. ƒ penyerap air hujan.6. Meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman.

Ketentuan Umum Bab I ƒ penyedia habitat satwa. . 1.merupakan media komunikasi warga kota. Tipologi RTH Pembagian jenis-jenis RTH yang ada sesuai dengan tipologi RTH sebagaimana Gambar 1. dan pelatihan dalam mempelajari alam. empat fungsi utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan. pelestarian fungsi lingkungan beserta segala isi flora dan fauna yang ada (konservasi hayati atau keanekaragaman hayati). . 1. air dan tanah.meningkatkan kenyamanan. daun. . daun. penelitian.tempat rekreasi.pembentuk faktor keindahan arsitektural. b. perkebunan.menggambarkan ekspresi budaya lokal. pemeliharaan akan kelangsungan persediaan air tanah. . Manfaat tidak langsung (berjangka panjang dan bersifat intangible).bisa menjadi bagian dari usaha pertanian. Fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu: ƒ Fungsi sosial dan budaya: . Dalam suatu wilayah perkotaan. lingkungan permukimam. seperti tanaman bunga. b. buah.8. ƒ Fungsi estetika: . ƒ Fungsi ekonomi: . Manfaat RTH Manfaat RTH berdasarkan fungsinya dibagi atas: a. yaitu pembersih udara yang sangat efektif. kehutanan dan lainlain. ƒ penyerap polutan media udara.menciptakan suasana serasi dan seimbang antara area terbangun dan tidak terbangun.2 berikut: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 6 . .sumber produk yang bisa dijual. ƒ penahan angin. buah). sayur mayur. yaitu membentuk keindahan dan kenyamanan (teduh. dan keberlanjutan kota seperti perlindungan tata air. .7. . bunga.wadah dan objek pendidikan. Manfaat langsung (dalam pengertian cepat dan bersifat tangible). maupun makro: lansekap kota secara keseluruhan. serta. kepentingan. memperindah lingkungan kota baik dari skala mikro: halaman rumah. segar.menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota. keseimbangan ekologi dan konservasi hayati. sejuk) dan mendapatkan bahan-bahan untuk dijual (kayu.

V V Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 7 . Tabel 1.2 berikut. Ruang dibawah jalan layang RTH Publik RTH Privat V V V V V V V V V V V V V V V V V dan tempat 2. tersebar). usaha c. RTH dibedakan ke dalam RTH publik dan RTH privat. estetika. lapangan olahraga.2 Tipologi RTH Secara fisik RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami berupa habitat liar alami. Dilihat dari fungsi RTH dapat berfungsi ekologis. Halaman perkantoran. Taman RW c. Hutan kota g. Taman kecamatan e. pemakaman atau jalur-jaur hijau jalan. Jalur pejalan kaki c. 1. memanjang. Taman RT b. maupun pola planologis yang mengikuti hirarki dan struktur ruang perkotaan. kawasan lindung dan taman-taman nasional serta RTH non alami atau binaan seperti taman.2 Kepemilikan RTH No. RTH dapat mengikuti pola ekologis (mengelompok. sosial budaya. Taman atap bangunan RTH Taman dan Hutan Kota a. Taman kelurahan d. dan ekonomi.Ketentuan Umum Bab I Fisik Fungsi Ekologis Struktur Kepemilikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) RTH Alami Sosial Budaya Estetika Pola Ekologis RTH Publik RTH Non Alami Ekonomi Pola Planologis RTH Privat Gambar 1. Pekarangan rumah tinggal b. Sabuk hijau (green belt) RTH Jalur Hijau Jalan a. Pulau jalan dan median jalan b. Taman kota f. Pembagian jenis-jenis RTH publik dan RTH privat adalah sebagaimana tabel 1. Secara struktur ruang. 3. pertokoan. Dari segi kepemilikan. Jenis RTH Pekarangan a.

RTH sempadan pantai e. RTH sempadan sungai d. Khusus untuk RTH dengan fungsi sosial seperti tempat istirahat. Berikut ini tabel arahan karakteristik RTH di perkotaan untuk berbagai tipologi kawasan perkotaan: Tabel 1. Pemakaman RTH Publik V V V V V V RTH Privat Catatan: taman lingkungan yang merupakan RTH privat adalah taman lingkungan yang dimiliki oleh orang perseorangan/masyarakat/swasta yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas. Karakteristik RTH disesuaikan dengan tipologi kawasannya. RTH pengamanan sumber air baku/mata air f. ekonomi. maka RTH ini harus memiliki aksesibilitas yang baik untuk semua orang. termasuk aksesibilitas bagi penyandang cacat.3 Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan Tipologi Kawasan Perkotaan Pantai Karakteristik RTH Fungsi Utama Penerapan Kebutuhan RTH pengamanan wilayah pantai sosial budaya mitigasi bencana konservasi tanah konservasi air keanekaragaman hayati mitigasi/evakuasi bencana dasar perencanaan kawasan sosial ekologis sosial hidrologis ƒ berdasarkan luas wilayah ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan luas wilayah ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan jumlah penduduk ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan jumlah penduduk ƒ ƒ ƒ Pegunungan ƒ ƒ ƒ Rawan Bencana ƒ Berpenduduk ƒ jarang s. Jenis RTH Fungsi Tertentu a.Ketentuan Umum Bab I No. Baik RTH publik maupun privat memiliki beberapa fungsi utama seperti fungsi ekologis serta fungsi tambahan. Jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi c. sarana olahraga dan atau area bermain. ƒ sedang ƒ Berpenduduk ƒ padat ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 8 . yaitu sosial budaya.d. RTH sempadan rel kereta api b. 4. estetika/arsitektural.

000 jiwa Tipe RTH Taman RT Taman RW Taman Kelurahan Taman kecamatan Pemakaman Luas minimal/ unit (m2) 250 1. baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat. ƒ apabila luas RTH baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah memiliki total luas lebih besar dari peraturan atau perundangan yang berlaku.000 24.000 jiwa 120. ƒ proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari ruang terbuka hijau privat.1. maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya. Penyediaan RTH Berdasarkan Luas Wilayah Penyediaan RTH berdasarkan luas wilayah di perkotaan adalah sebagai berikut: ƒ ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH privat.1 Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk No 1 2 3 Unit Lingkungan 250 jiwa 2500 jiwa 30. Tabel 2.0 0.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 2. Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota. Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan a.2 1. Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk Untuk menentukan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk.2 Lokasi di tengah lingkungan RT di pusat kegiatan RW dikelompokan dengan sekolah/ pusat kelurahan dikelompokan dengan sekolah/ pusat kecamatan tersebar 4 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 9 .250 9.5 0. maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat. dilakukan dengan mengalikan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan standar luas RTH per kapita sesuai peraturan yang berlaku. b.3 0. serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota.000 disesuaikan Luas minimal/ kapita (m2) 1. Target luas sebesar 30% dari luas wilayah kota dapat dicapai secara bertahap melalui pengalokasian lahan perkotaan secara tipikal sebagaimana ditunjukkan pada lampiran A.

dan RTH pengamanan sumber air baku/mata air. RTH Pekarangan Pekarangan adalah lahan di luar bangunan. Luas pekarangan disesuaikan dengan ketentuan koefisien dasar bangunan (KDB) di kawasan perkotaan.000 jiwa Hutan kota untuk fungsi-fungsi tertentu c.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No Unit Lingkungan Tipe RTH Taman kota Luas minimal/ unit (m2) 144.5 Lokasi di pusat wilayah/ kota di dalam/ kawasan pinggiran disesuaikan dengan kebutuhan 5 480.3 4. jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 3 (tiga) pohon pelindung ditambah dengan perdu dan semak serta penutup tanah dan atau rumput. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 10 .000 disesuaikan disesuaikan Luas minimal/ kapita (m2) 0. RTH kawasan perlindungan setempat berupa RTH sempadan sungai. jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi.2. Untuk memudahkan di dalam pengklasifikasian pekarangan maka ditentukan kategori pekarangan sebagai: a.1. yang berfungsi untuk berbagai aktivitas.0 12. Pekarangan Rumah Besar Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah besar adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) kategori yang termasuk rumah besar adalah rumah dengan luas lahan di atas 500 m2. Penyediaan RTH Berdasarkan Kebutuhan Fungsi Tertentu Fungsi RTH pada kategori ini adalah untuk perlindungan atau pengamanan. seperti tertuang di dalam PERDA mengenai RTRW di masing-masing kota. Arahan Penyediaan RTH 2.1 Pada Bangunan/Perumahan a. RTH sempadan pantai.2. pengaman pejalan kaki atau membatasi perkembangan penggunaan lahan agar fungsi utamanya tidak teganggu. RTH kategori ini meliputi: jalur hijau sempadan rel kereta api. sarana dan prasarana misalnya melindungi kelestarian sumber daya alam. 2. ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat.

dan tempat usaha umumnya berupa jalur trotoar dan area parkir terbuka. serta penutup tanah dan atau rumput. berlaku seperti persyaratan pada RTH pekarangan rumah. Pekarangan Rumah Kecil Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah kecil adalah sebagai berikut: 1) kategori yang termasuk rumah kecil adalah rumah dengan luas lahan dibawah 200 m2. tidak menutup kemungkinan untuk mewujudkan RTH melalui penanaman dengan menggunakan pot atau media tanam lainnya. Penyediaan RTH pada kawasan ini adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) Untuk dengan tingkat KDB 70%-90% perlu menambahkan tanaman dalam pot. 2) ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat. RTH dalam Bentuk Taman Atap Bangunan (Roof Garden) Pada kondisi luas lahan terbuka terbatas. a. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB diatas 70%. RTH Halaman Perkantoran. c. Keterbatasan luas halaman dengan jalan lingkungan yang sempit. Perkantoran. Pekarangan Rumah Sedang Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah sedang adalah sebagai berikut: 1) kategori yang termasuk rumah sedang adalah rumah dengan luas lahan antara 200 m2 sampai dengan 500 m2. pertokoan. seperti atap gedung. dan ditanam pada area diluar KDB yang telah ditentukan. 3) jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 1 (satu) pohon pelindung ditambah tanaman semak dan perdu. Persyaratan penanaman pohon pada perkantoran. 3) jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 2 (dua) pohon pelindung ditambah dengan tanaman semak dan perdu. b. teras-teras bangunan bertingkat dan disamping bangunan. maka untuk RTH dapat memanfaatkan ruang terbuka non hijau.3. Pertokoan.2. serta penutup tanah dan atau rumput. dan lain-lain Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 11 . memiliki minimal 2 (dua) pohon kecil atau sedang yang ditanam pada lahan atau pada pot berdiameter diatas 60 cm. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB dibawah 70%. 2) ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat. teras rumah. dan Tempat Usaha RTH halaman perkantoran.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a.

2. aspek keselamatan dan keamanan. Untuk itu bangunan harus memiliki struktur atap yang secara teknis memungkinkan. media tanam. Lahan dengan KDB diatas 90% seperti pada kawasan pertokoan di pusat kota. 2. sistem utilitas bangunan. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk dalam lingkup 1 (satu) RT. dengan perakaran yang mampu tumbuh dengan baik pada media tanam yang terbatas. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 300 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayani. Aspek yang harus diperhatikan dalam pembuatan taman atap bangunan adalah: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) struktur bangunan. tahan terhadap hembusan angin serta relatif tidak memerlukan banyak air. seperti pot dengan berbagai ukuran sesuai lahan yang tersedia. aspek pemeliharaan ƒ peralatan ƒ tanaman Gambar 2.80% dari luas taman. lapisan kedap air (waterproofing ). Luas taman ini adalah minimal 1 m2 per penduduk RT. pemilihan material.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II dengan memakai media tambahan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 12 .2 Pada Lingkungan/Permukiman a. khususnya untuk melayani kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman. atau pada kawasan-kawasan dengan kepadatan tinggi dengan lahan yang sangat terbatas. dengan luas minimal 250 m2. RTH dapat disediakan pada atap bangunan.1 Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden Tanaman untuk RTH dalam bentuk taman atap bangunan adalah tanaman yang tidak terlalu besar. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% .

b. Lokasi taman berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan. Luas taman ini minimal 0. RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kecamatan. kegiatan olahraga masyarakat. d. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. RTH Taman Rukun Warga RTH Taman Rukun Warga (RW) dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu RW. juga terdapat minimal 25 (duapuluhlima) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman aktif dan minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II juga terdapat minimal 3 (tiga) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang. dengan luas minimal 1.000 m2. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. Luas taman ini minimal 0.90% dari luas taman. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas.90% dari luas taman. dengan luas minimal taman 9. juga terdapat minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk taman aktif dan minimal 100 (seratus) pohon tahunan dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% . Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% . khususnya kegiatan remaja. juga terdapat minimal 10 (sepuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang. serta kegiatan masyarakat lainnya di lingkungan RW tersebut. RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kelurahan. dengan luas taman minimal 24. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% . Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 13 .250 m2. c.2 m2 per penduduk kecamatan.80% dari luas taman. Luas taman ini minimal 0. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 1000 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya.30 m2 per penduduk kelurahan.000 m2. Lokasi taman berada pada wilayah kelurahan yang bersangkutan.5 m2 per penduduk RW.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II 2. Taman ini melayani minimal 480. b. Meresapkan air. juga terdapat semak dan penutup tanah dengan jarak tanam tidak beraturan. jalan. Berbentuk jalur: hutan kota pada lahan-lahan berbentuk jalur mengikuti bentukan sungai. dengan luas taman minimal 144.2. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. d. Menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota. yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga. c. dengan luas minimal 2500 m.3 Kota/Perkotaan a. dan Mendukung pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia. b. dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 80% .000 m2. Memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika.000 penduduk dengan standar minimal 0. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 14 . pantai. dan semak ditanam secara berkelompok atau menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan.90%. yaitu memiliki komunitas tumbuhtumbuhan selain terdiri dari pepohonan dan rumput. b. Struktur hutan kota dapat terdiri dari: a. Lebar minimal hutan kota berbentuk jalur adalah 30 m. Hutan kota berstrata dua.100% dari luas hutan kota. Komunitas vegetasi tumbuh menyebar terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau gerombol-gerombol kecil. dengan jumlah vegetasi minimal 100 pohon dengan jarak tanam rapat tidak beraturan. Hutan kota berstrata banyak. saluran dan lain sebagainya. perdu. b. Hutan kota dapat berbentuk: a. Bergerombol atau menumpuk: hutan kota dengan komunitas vegetasi terkonsentrasi pada satu areal. yaitu hanya memiliki komunitas tumbuhtumbuhan pepohonan dan rumput.3 m2 per penduduk kota. d. c. Jenis vegetasi yang dipilih berupa pohon tahunan. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau). RTH Taman Kota RTH Taman kota adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kota atau bagian wilayah kota. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . Menyebar: hutan kota yang tidak mempunyai pola bentuk tertentu. Hutan Kota Tujuan penyelenggaraan hutan kota adalah sebagai peyangga lingkungan kota yang berfungsi untuk: a.

Dalam kaitan kebutuhan air penduduk kota maka luas hutan kota sebagai produsen air dapat dihitung dengan rumus: La = P0 .3 Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak Luas ruang hijau yang diisi dengan berbagai jenis vegetasi tahunan minimal seluas 90% dari luas total hutan kota.Pa z dengan: La adalah adalah P0 K adalah R adalah C adalah PAM adalah t adalah Pa adalah z adalah luas hutan kota yang harus dibangun jumlah penduduk konsumsi air/kapita (lt/hari) laju peningkatan pemakaian air faktor pengendali kapasitas suplai air perusahaan tahun potensi air tanah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 15 .2 Pola Tanam Hutan Kota Strata 2 Gambar 2. K ( 1 + R – C ) t – PAM .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2.

9375 )(2) m2 dengan: Lt adalah luas Hutan Kota pada tahun ke t (m2) Pt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t Kt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke Tt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t 54 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari. Hutan kota. Kebun campuran.9375 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0. dan lain-lain) atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu.9375 gram 2 adalah jumlah musim di Indonesia c. daerah rendah dengan drainase yang kurang baik sering tergenang air hujan yang dapat mengganggu aktivitas kota serta menjadi sarang nyamuk. yang telah ada sebelumnya (eksisting) dan melalui peraturan yang berketetapan hukum. dipertahankan keberadaannya. Penapis cahaya silau. pemisah kawasan. 0. Sabuk Hijau Sabuk hijau merupakan RTH yang berfungsi sebagai daerah penyangga dan untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan (batas kota. Sabuk hijau dapat berbentuk: ƒ RTH yang memanjang mengikuti batas-batas area atau penggunaan lahan tertentu. pesawahan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Hutan kota dalam kaitan sebagai produsen oksigen dapat dihitung dengan metode Gerakis (1974). Mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari. perkebunan. ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 16 . Mengatasi penggenangan. sehingga berperan sebagai pembatas atau pemisah. dipenuhi pepohonan. sebagai berikut: Pt + Kt + Tt Lt = (54 )(0. untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur. lebar jalur. Penahan angin. ƒ ƒ Fungsi lingkungan sabuk hijau: ƒ ƒ ƒ ƒ Peredam kebisingan. serta pengamanan dari faktor lingkungan sekitarnya. yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988).

d.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ ƒ ƒ Mengatasi intrusi air laut. Sedangkan median berupa jalur pemisah yang membagi jalan menjadi dua lajur atau lebih. Median atau pulau jalan dapat berupa taman atau non taman. Mengamankan pantai dan membentuk daratan.4 Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan Pulau Jalan dan Median Jalan Taman pulau jalan adalah RTH yang terbentuk oleh geometris jalan seperti pada persimpangan tiga atau bundaran jalan. Gambar 2. Untuk menentukan pemilihan jenis tanaman. b) percabangan 2 m di atas tanah. g) tidak mudah tumbang. Disarankan agar dipilih jenis tanaman khas daerah setempat. RTH hijau di dalam kota akan meningkatkan resapan air. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 17 .5 m dari tepi median). d) bermassa daun padat. RTH dapat disediakan dengan penempatan tanaman antara 20–30% dari ruang milik jalan (rumija) sesuai dengan klas jalan. Dalam pedoman ini dibahas pulau jalan dan median yang berbentuk taman/RTH. a. sehingga akan meningkatkan jumlah air tanah yang akan menahan perembesan air laut ke daratan. perlu memperhatikan 2 (dua) hal. RTH Jalur Hijau Jalan Untuk jalur hijau jalan. Penyerap dan penepis bau. yaitu fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya. yang disukai oleh burung-burung. Mengatasi penggurunan. e) berasal dari perbanyakan biji. Pada jalur tanaman tepi jalan 1) Peneduh a) ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1. f) ditanam secara berbaris. c) bentuk percabangan batang tidak merunduk. serta tingkat evapotranspirasi rendah.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Contoh jenis tanaman: a) Kiara Payung (Filicium decipiens) b) Tanjung (Mimusops elengi) c) Bungur (Lagerstroemia floribunda) Gambar 2. jarak tanam rapat. memiliki kegunaan untuk menyerap udara. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) Angsana (Ptherocarphus indicus) Akasia daun besar (Accasia mangium) Oleander (Nerium oleander) Bogenvil (Bougenvillea Sp) Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 18 . bermassa daun padat. perdu/semak.5 Jalur Tanaman Tepi Peneduh 2) Penyerap polusi udara a) b) c) d) terdiri dari pohon.

Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) f) Tanjung (Mimusops elengi) Kiara payung (Filicium decipiens) Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Bogenvil (Bogenvillea sp) Oleander (Nerium oleander) Gambar 2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2. berbagai bentuk tajuk.6 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara 3) Peredam kebisingan a) b) c) d) terdiri dari pohon. perdu/semak. membentuk massa.7 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 19 . bermassa daun rapat.

jarak tanam rapat < 3 m. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) Bambu (Bambusa sp) Cemara (Cassuarina equisetifolia) Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Oleander (Nerium oleander) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 20 . jarak tanam rapat. bermassa daun padat. bermassa daun padat. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) Cemara (Cassuarina equisetifolia) Mahoni (Swietania mahagoni) Tanjung (Mimusops elengi) Kiara Payung (Filicium decipiens) Kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis) Gambar 2. perdu/semak. ditanam berbaris atau membentuk massa.8 Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin 5) Pembatas pandang a) b) c) d) tanaman tinggi.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II 4) Pemecah angin a) b) c) d) tanaman tinggi. ditanam berbaris atau membentuk massa. perdu/semak.

m berma assa daun padat.Penyediaan P RT TH di Kawasan n Perkotaan Bab II Gambar 2.5 m.9 Jalur Tanaman Tepi Pem mbatas Pan ndang b.10 endaraan Lampu Ke Pedom man Penyediaan dan Pemanfa faatan Ruang Terbuka T Hijau di Kawasan Perkotaan P 21 1 . ditana am rapat. p Contoh jen nis tanaman n: a) b) c) d) Bogen nvil (Bogenv villea sp) Kemb bang sepatu (Hibiscus rosasinensis r s) Olean nder (Netriu um oleander r) Nusa Indah (Mus ssaenda sp) 2 Jalur Tanaman pada Med dian Penah han Silau Gambar 2. Pada medi ian Penahan silau s lampu kendaraan a) b) c) d) tanam man perdu/s semak. keting ggian 1.

berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian < 0. Persimpangan persimpangan Tanaman rendah Tanaman rendah kaki empat tegak Mendekati 80 m 100 m lurus tanpa kanal persimpangan Tanaman tinggi Tanaman tinggi 50 m 2.80 m.Tanaman rendah. Sebaiknya digunakan tanaman rendah berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian <0.8 m . (lihat buku "Spesifikasi Perencanaan Lansekap Jalan Pada Persimpangan” No. misalnya: . Persimpangan 30 m kaki empat tidak Pada ujung Tanaman rendah Tanaman rendah tegak lurus persimpangan 80 m 80 m Tanaman tinggi Tanaman tinggi Catatan: . dan jenisnya merupakan berbunga atau berstruktur indah. Untuk daerah bebas pandang ini ada ketentuan mengenai letak tanaman yang disesuaikan dengan kecepatan kendaraan dan bentuk persimpangannya.Tanaman tinggi. Penempatan dan pemilihan tanaman dan ornamen hiasan harus disesuaikan dengan ketentuan geometrik persimpangan jalan dan harus memenuhi kriteria sebagai berikut: a) Daerah bebas pandang tidak diperkenankan ditanami tanaman yang menghalangi pandangan pengemudi. Tabel 2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II c.Soka berwarna-warni (Ixora stricata) . 02/T/BNKT/1992).Pangkas Kuning (Duranta sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 22 .2 Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan Jarak dan Jenis Tanaman Letak Tanaman Kecepatan 40 Kecepatan 60 km/jam km/jam 40 m Pada ujung 20 m 1.Lantana (Lantana camara) . antara lain: 1) Daerah bebas pandang di mulut persimpangan Pada mulut persimpangan diperlukan daerah terbuka agar tidak menghalangi pandangan pemakai jalan. berbentuk pohon dengan percabangan di atas 2 meter Bentuk Persimpangan 2) Pemilihan jenis tanaman pada persimpangan Penataan lansekap pada persimpangan akan merupakan ciri dari persimpangan itu atau lokasi setempat. Pada Persimpangan Jalan Beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam penyelesaian lansekap jalan pada persimpangan.

RTH Ruang Pejalan Kaki Ruang pejalan kaki adalah ruang yang disediakan bagi pejalan kaki pada kiri-kanan jalan atau di dalam taman.Lontar (siwalan) (Borassus flabellifer) 2) Tanaman pohon bercabang > 2 m Contoh: . c) Penggunaan tanaman tinggi berbentuk tanaman pohon sebagai tanaman pengarah.Palem raja (Oreodoxa regia) .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2.Pinang jambe (Areca catechu) .Tanjung (Mimosups Elengi) e. misalnya: 1) Tanaman berbatang tunggal seperti jenis palem Contoh: . sebaiknya digunakan tanaman perdu rendah dengan pertimbangan agar tidak mengganggu penyeberang jalan dan tidak menghalangi pandangan pengemudi kendaraan. adalah cara mengukur ditawarkan oleh sistem pedestrian yaitu: kualitas fungsional yang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 23 .Bungur (Lagerstromea Loudonii) .Khaya (Khaya Sinegalensis) .11 Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang b) Bila pada persimpangan terdapat pulau lalu lintas atau kanal yang dimungkinkan untuk ditanami. Ruang pejalan kaki yang dilengkapi dengan RTH harus memenuhi hal-hal sebagai berkut: 1) Kenyamanan.

asri. meliputi: ƒ Kriteria dimensional.12 Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki 3) Pedoman teknis lebih rinci untuk jalur pejalan kaki dapat mengacu pada Kepmen PU No. ƒ Gambar 2. Pada umumnya orang tidak mau berjalan lebih dari 400 m. f. tentang Persyaratan Teknis Aksesiblitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan dan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Ruang Pejalan Kaki. menghindari kekumuhan dan lokasi tuna wisma. Jalur pejalan kaki harus aksesibel untuk semua orang termasuk penyandang cacat. dan indah.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ Orientasi. marka jalan) pada lansekap untuk membantu dalam menemukan jalan pada konteks lingkungan yang lebih besar. Ruang Terbuka Hijau di Bawah Jalan Layang Penyediaan RTH di bawah jalan layang dalam rangka: a) b) c) sebagai area resapan air. agar area di bawah tertata rapi. 2) Karakter fisik. warisan dan nilai yang dianut terhadap lingkungan. berupa tanda visual (landmark. disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat. Kriteria pergerakan. 24 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . kebiasaan dan budaya. kondisi permukaan jalan dan kondisi iklim. kehadiran penghambat fisik. jarak rata-rata orang berjalan di setiap tempat umumnya berbeda dipengaruhi oleh tujuan perjalanan. Kemudahan berpindah dari satu arah ke arah lainnya yang dipengaruhi oleh kepadatan pedestrian. kepadatan penduduk. 468/KPTS/1998 tanggal 1 Desember 1998. kondisi cuaca. kebiasaan dan gaya hidup.

memperlembut bagian/struktur bangunan yang berkesan kaku. g. mengingat keterbatasan tempat. RTH sempadan sungai.3 Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api Jalan Rel Kereta Api terletak di: a. menutupi bagian-bagian struktur jalan yang tidak menarik.lengkung dalam . Berkaitan dengan hal tersebut perlu dengan tegas menentukan lebar garis sempadan jalan kereta api di kawasan perkotaan. RTH pengamanan sumber air baku/mata air. Jalan rel kereta api lurus b. Jalur Hijau (RTH) Sempadan Rel Kereta Api Penyediaan RTH pada garis sempadan jalan rel kereta api merupakan RTH yang memiliki fungsi utama untuk membatasi interaksi antara kegiatan masyarakat dengan jalan rel kereta api. Gambar 2. RTH Fungsi Tertentu RTH fungsi tertentu adalah jalur hijau antara lain RTH sempadan rel kereta api. RTH sempadan pantai. serta berukuran tidak terlalu besar.1. RTH sempadan danau. RTH jaringan listrik tegangan tinggi. Jalan rel kereta api belokan/lengkungan .13 Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH di Bawah Jalan Layang Pemilihan tanaman seyogianya dari jenis yang tahan ternaungi sepanjang waktu dan relatif tahan kekurangan air. Tabel 2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II d) e) f) menghindari permukiman liar. g.lengkung luar Tanaman >11 m >23 m >11 m Obyek Bangunan >20 m >23 m >11 m Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 25 .

2.5 m 2.5 m 20 m 20 m SUTR 1. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak pada tanah datar diukur dari as jalan rel kereta api. 3.3 m 0. yang secara berangsur–angsur melebar dari jarak lebih dari 11 sampai lebih dari 23 m. Garis sempadan jalan perlintasan sebidang antara jalan rel kereta api dengan jalan raya adalah 30 m dari as jalan rel kereta api pada titik perpotongan as jalan rel kereta api dengan as jalan raya dan secara berangsur–angsur menuju pada jarak lebih dari 11 m dari as jalan rel kereta api pada titik 600 m dari titik perpotongan as jalan kereta api dengan as jalan raya.3 m 0.5 m 15 m SUTM 2. Dalam peralihan jalan lurus ke jalan lengkung diluar as jalan harus ada jalur tanah yang bebas. Ketentuan jarak bebas minimum antara penghantar SUTT dan SUTET dengan tanah dan benda lain ditetapkan sebagai berikut: Tabel 2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Kriteria garis sempadan jalan kereta api yang dapat digunakan untuk RTH adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) Garis sempadan jalan rel kereta api adalah ditetapkan dari as jalan rel terdekat apabila jalan rel kereta api itu lurus.5 m 0.3 m 0.5 m 2.3 m 0. 8.5 m 2.5 m 0. diukur dari puncak galian tanah atau atas serongan. 1.3 m 20 m 20 m Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 26 . Garis sempadan jalan rel kereta api sebagaimana dimaksud pada butir 1) tidak berlaku apabila jalan rel kereta api terletak di tanah galian yang dalamnya 3. 4.5 m 2.5 m 1.5 m 1.5 m 8m 3.4 Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET No. 7. Lokasi Bangunan beton Pompa bensin Penimbunan bahan bakar Pagar Lapangan terbuka Jalan raya Pepohonan Bangunan tahan api Rel kereta api SUTT 66 KV 150 KV 20 m 20 m 20 m 20 m 50 m 20 m 3m 6.5 m 0.5 m 8m 20 20 20 20 20 20 m m m m m m SUTET 500 KV 20 m 20 m 50 m 3m 15 m 15 m 8. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di tanah timbunan diukur dari kaki tanggul. Garis sempadan jalan rel kereta api pada belokan adalah lebih dari 23 m diukur dari lengkung dalam sampai as jalan.5 m.5 m 1.5 m 2.2.5 m 3.5 m 0. Pelebaran tersebut dimulai dalam jarak 20 m di muka lengkungan untuk selanjutnya menyempit lagi sampai jarak lebih dari 11 m. 6.3 m 0. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di dalam galian. 5.5 m 20 m 20 m Saluran kabel SKTM SKTR 0.5 m 0. 9.5 m 20 m 20 m 0.5 m 1.5 m 8.5 m 1.5 m 2. f) g) g.5 m 0. Jalur Hijau (RTH) pada Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Ketentuan lebar sempadan jaringan tenaga listrik yang dapat digunakan sebagai RTH adalah sebagai berikut: a) b) Garis sempadan jaringan tenaga listrik adalah 64 m yang ditetapkan dari titik tengah jaringan tenaga listrik.3 m 0.5 m 1.

diperlebar dan ditinggikan yang dapat berakibat bergesernya garis sempadan sungai. tanggul dapat diperkuat.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. 10. Lokasi Jembatan besi/ tangga besi/ kereta listrik Dari titik tertinggi tiang kapal Lapangan olah raga SUTT lainnya pengahantar udara tegangan rendah.5 m 14 m 8. Dengan pertimbangan untuk peningkatan fungsinya. b) Sungai tidak bertanggul: 1) Garis sempadan sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut: 27 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan .5 m SUTM 20 m 20 m 20 m 20 m SUTR 20 m 20 m 20 m 20 m Saluran kabel SKTM SKTR 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m Keterangan: SUTR SUTM SUTT SUTET SKTR SKTM = = = = = = Saluran Saluran Saluran Saluran Saluran Saluran Udara Tegangan Rendah Udara Tegangan Menengah Udara Tegangan Tinggi Udara Tegangan Ekstra Tinggi Kabel Tegangan Rendah Kabel Tegangan Menengah g. 12. Garis sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 5 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul.5 m 8. RTH Sempadan Sungai RTH sempadan sungai adalah jalur hijau yang terletak di bagian kiri dan kanan sungai yang memiliki fungsi utama untuk melindungi sungai tersebut dari berbagai gangguan yang dapat merusak kondisi sungai dan kelestariannya. Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. 13. sungai di perkotaan terdiri dari sungai bertanggul dan sungai tidak bertanggul. a) Sungai bertanggul: 1) 2) 3) 4) Garis sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 3 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. maka lahan yang diperlukan untuk tapak tanggul baru sebagai akibat dilaksanakannya ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) harus dibebaskan. jaringan telekomunikasi.3. televisi dan kereta gantung SUTT 66 KV 150 KV 3m 20 m 3m 2.5 m 3m 20 m 20 m 20 m SUTET 500 KV 8. 11. Sesuai peraturan yang ada.

Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 20 m. Garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan adalah tepi bahu jalan yang bersangkutan.100%. maka segala perbaikan atas kerusakan yang timbul pada sungai dan bangunan sungai menjadi tanggungjawab pengelola jalan.4. dengan ketentuan konstruksi dan penggunaan harus menjamin kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai. g. Lebar RTH sempadan pantai minimal 100 m dari batas air pasang tertinggi ke arah darat. tiupan angin kencang dan gelombang tsunami. Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) tidak terpenuhi. RTH sempadan pantai merupakan area pengaman pantai dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan oleh gelombang laut seperti intrusi air laut. Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut. penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 50 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. 2) Garis sempadan sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut: a) Sungai besar yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas 500 km2 atau lebih. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 28 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a) b) c) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 m. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 10 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. erosi. RTH Sempadan Pantai RTH sempadan pantai memiliki fungsi utama sebagai pembatas pertumbuhan permukiman atau aktivitas lainnya agar tidak menggangu kelestarian pantai. penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 100 m. Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai kurang dari 500 km2. b) 3) 4) 5) Garis sempadan sebagaimana dimaksud pada butir 1) dan 2) diukur ruas per ruas dari tepi sungai dengan mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan. Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 m sampai dengan 20 m. abrasi. jalur hijau terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurangkurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai.

Bruguiera spp. dan mata air. melindungi dari ancaman gelombang pasang. Tanjung. Untuk mata air. Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi. Xylocarpus spp. RTH Sumber Air Baku/Mata Air RTH sumber air meliputi sungai.14 Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai g. pemilihan vegetasi diutamakan dari daerah setempat yang telah mengalami penyesuaian dengan kondisi tersebut. Excoecaria spp. Aegiceras sp. Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai. Kiputri. Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 29 . wildlife habitat dan meredam angin kencang. Lumnitzera spp. Trengguli. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Angsana.5. erosi. Formasi Hutan Mangrove sangat baik sebagai peredam ombak dan dapat membantu proses pengendapan lumpur. dan Kuku. RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekitar mata air. Untuk danau dan waduk. termasuk gangguan terhadap kualitas visual. c) d) Sonneratia spp. Beberapa jenis tumbuhan di ekosistem mangrove antara lain: Avicenia spp. Gambar 2. Rhizophora spp. dan Nypa sp.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Fasilitas dan kegiatan yang diijinkan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) b) Tidak bertentangan dengan Keppres No. Asam Landi (Pichelebium dulce) dan Mahoni (Switenia mahagoni ) relatif lebih tahan jika dibandingkan Kesumba. danau/waduk. Khusus untuk RTH sempadan pantai yang telah mengalami intrusi air laut atau merupakan daerah payau dan asin. RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.

luas dan jumlah masing-masing blok disesuaikan dengan kondisi pemakaman setempat. tempat pertumbuhan berbagai jenis vegetasi.6. ruang hijau pemakaman termasuk pemakaman tanpa perkerasan minimal 70% dari total area pemakaman dengan tingkat liputan vegetasi 80% dari luas ruang hijaunya. jarak antar makam satu dengan lainnya minimal 0. Untuk penyediaan RTH pemakaman.5 m. pemakaman dibagi dalam beberapa blok. RTH Pemakaman Penyediaan ruang terbuka hijau pada areal pemakaman disamping memiliki fungsi utama sebagai tempat penguburan jenasah juga memiliki fungsi ekologis yaitu sebagai daerah resapan air. batas terluar pemakaman berupa pagar tanaman atau kombinasi antara pagar buatan dengan pagar tanaman. tiap makam tidak diperkenankan dilakukan penembokan/ perkerasan. e) f) g) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 30 . batas antar blok pemakaman berupa pedestrian lebar 150-200 cm dengan deretan pohon pelindung disalah satu sisinya.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2. atau dengan pohon pelindung. maka ketentuan bentuk pemakaman adalah sebagai berikut: a) b) c) d) ukuran makam 1 m x 2 m.15 Contoh Penanaman Pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air g. pencipta iklim mikro serta tempat hidup burung serta fungsi sosial masyarakat disekitar seperti beristirahat dan sebagai sumber pendapatan.

tidak berduri. perakaran tidak mengganggu pondasi. Pertokoan.1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan a. Kriteria Vegetasi RTH 2. dan Tempat Usaha Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) b.16 Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman 2. memiliki nilai estetika yang menonjol. sistem perakaran masuk ke dalam tanah. Kriteria Vegetasi untuk Taman Atap Bangunan dan Tanaman dalam Pot Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 31 . Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan Rumah Besar.3.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Pemilihan vegetasi di pemakaman disamping sebagai peneduh juga untuk meningkatkan peran ekologis pemakaman termasuk habitat burung serta keindahan. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. jenis tanaman tahunan atau musiman. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung.3. ketinggian tanaman bervariasi. tahan terhadap hama penyakit tanaman. Gambar 2. dahan tidak mudah patah. tidak beracun. Pekarangan Rumah Sedang. tidak merusak konstruksi dan bangunan. Halaman Perkantoran. Pekarangan Rumah Kecil.

berupa habitat tanaman lokal dan tanaman budidaya. tahan terhadap hama penyakit tanaman.2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk taman lingkungan dan taman kota adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) tidak beracun. tidak berduri. I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 II 1 2 3 Ground Cover Jenis dan Nama Tanaman Perdu/semak Akalipa merah Nusa Indah merah Daun Mangkokan Bogenvil merah Azalea Soka daun besar Bakung Oleander Palem Kuning Sikas Alamanda Puring Kembang Merak Rumput Gajah Lantana ungu Rumput kawat Nama Latin Keterangan Acalypha wilkesiana Musaenda erytthrophylla Notophanax scutelarium Bougenvillea glabra Rhododendron indicum Ixora javonica Crinum asiaticum Nerium oleander Chrysalidocaus lutescens Cycas revolata Aalamanda cartatica Codiaeum varigatum Caesalphinia pulcherima Axonophus compressus Lantana camara Cynodon dactylon Daun berwarna Berbunga Berdaun unik Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Daun berwarna Bentuk unik Merambat berbunga Daun berwarna Berbunga Tekstur kasar Berbunga Tekstur sedang 2. tetapi tidak terlalu gelap. jarak tanam setengah rapat sehingga menghasilkan keteduhan yang optimal. dahan tidak mudah patah. ketinggian tanaman bervariasi. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung. Tabel 2.3. tajuk cukup rindang dan kompak.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a) b) c) d) e) tanaman tidak berakar dalam sehingga mampu tumbuh baik dalam pot atau bak tanaman. jenis tanaman tahunan atau musiman. perakaran tidak mengganggu pondasi. kecepatan tumbuh sedang. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang. relatif tahan terhadap kekurangan air. tahan dan tumbuh baik pada temperatur lingkungan yang tinggi. perawakan dan bentuk tajuk cukup indah. perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan.5 Contoh Tanaman untuk Roof Garden No. mudah dalam pemeliharaan. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 32 .

l) seresah yang dihasilkan cukup banyak dan tidak bersifat alelopati. d) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Tabel 2. i) batang dan sistem percabangan kuat.3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) memiliki ketinggian yang bervariasi.3. k) sistem perakaran yang kuat sehingga mampu mencegah terjadinya longsor. agar tumbuhan lain dapat tumbuh baik sebagai penutup tanah. e) tahan terhadap hama penyakit. Jenis dan Nama Tanaman Nama Latin Keterangan 1 Bunga Kupu-kupu Bauhinia Purpurea Berbunga 2 Sikat botol Calistemon lanceolatus Berbunga 3 Kemboja merah Plumeria rubra Berbunga 4 Kersen Muntingia calabura Berbuah 5 Kendal Cordia sebestena Berbunga 6 Kesumba Bixa orellana Berbunga 7 Jambu batu Psidium guajava Berbuah 8 Bungur Sakura Lagerstroemia loudonii Berbunga 9 Bunga saputangan Amherstia nobilis Berbunga 10 Lengkeng Ephorbia longan Berbuah 11 Bunga Lampion Brownea ariza Berbunga 12 Bungur Lagerstroemea floribunda Berbunga 13 Tanjung Mimosups elengi Berbunga 14 Kenanga Cananga odorata Berbunga 15 Sawo Kecik Manilkara kauki Berbuah 16 Akasia mangium Accacia mangium 17 Jambu air Eugenia aquea Berbuah 18 Kenari Canarium commune Berbuah Catatan: pemilihan tanaman disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim setempat 2. n) memiliki perakaran yang dalam. m) jenis tanaman yang ditanam termasuk golongan evergreen bukan dari golongan tanaman yang menggugurkan daun (decidous). f) berumur panjang. b) sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung. 1 2 3 Nama Tanaman Kiara Beringin Loa Ficus spp Ficus benyamina Ficus glaberrima Nama Latin Jenis burung/potensi Punai (Treron sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 33 . tidak mudah patah. g) toleran terhadap keterbatasan sinar matahari dan air.6 Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Taman Kota No. h) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri.7 Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota No. j) batang tegak kuat. Tabel 2. c) tajuk cukup rindang dan kompak.

Pemilihan vegetasi berdaun rapat berukuran relatif besar dan tebal dapat meredam kebisingan lebih baik. Kayu Batu. Gia Kedondong Bulan Canarium littoralle Johar Cassia siamea Keladan Dipterocarpus gracillis Ampupu Eucalyptus alba ƒ ƒ ƒ 10 – 20 20 – 30 30 – 40 40 – 50 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 34 . Golden Shower Cassia fistula Dalingsem. tumbuhan berukuran tinggi dengan luasan area yang cukup dapat mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari. Mengatasi penggenangan. Tembelekan Lantana camara Balsa Orchoma lagopus Cendana India Santaum album Suren Toona sureni Gopasa Vitex gopassus Kesumba Keling. Ameliorasi iklim mikro. Penapis cahaya silau. Jati Seberang Peronema canescens Jati Tectona grandis Dahat Tectona hamiltoniana Salam Eugeniu polyantha Lantana Merah. untuk fungsi ini dipilih penanaman dengan vegetasi berdaun rapat. Pacar Keling Bixa orellana Kemlandingan Leucaena glauca Kayu Palele Castanopsis javanica Trengguli.3. Srindit (Loriculus pusillus) Jalak (sturnidae) dan.8 Contoh Tanaman untuk Sabuk Hijau yang Tahan Terhadap Penggenangan Air Lama genangan (hari) 0 – 10 Jenis tanaman Nama Lokal Nama Latin Sungkai. Kayu Homalium tomentosum Kerbau. 4 Nama Tanaman Dadap Erythrina varigata Nama Latin 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Dangdeur Aren Buni Buni hutan Kembang merak Serut Jamblang Salam Gosampinus heptaphylla Arenga pinatta Antidesma bunius Antidesma montanum Caesalpinia pulcherrima Syzygium paucipuncatum Streblus asper Syzygium cumini Syzygium polyanntum Jenis burung/potensi Betet (Psittacula alexandri).4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: ƒ Peredam kebisingan. Tabel 2. beberapa jenis burung madu Burung ukut-ukut Srigunting Bahan pembuat sarang Buah dapat dimakan Pengundang serangga Katagori pohon langka Tahan pangkas Buah dapat dimakan Bumbu dapur 2. peletakan tanaman yang diatur sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi dan menyerap cahaya.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No.

Beberapa spesies tanaman seperti Cempaka (Michelia champaca). Sabuk hijau yang terlalu tipis kurang dapat melindungi karena masih dapat diterobos angin. yang telah terbukti dapat meredam ombak dan membantu proses pengendapan lumpur di pantai. Pada daerah payau dapat dipilih pohon Mahoni (Swietenia mahagoni) dan Asam Landi (Pichecolobium dulce). Casuarina equisetifolia Intsia bijuga Samanea saman Gluta renghas Nama Latin Sumber: Soerianagara dan Indrawan (1988) ƒ Penahan angin. Penyerap dan penepis bau. ƒ ƒ ƒ ƒ Pola tanam sabuk hijau sebagai penahan angin adalah sebagai berikut: ƒ Sabuk hijau membentuk jalur hijau cembung ke arah datangnya angin. ƒ ƒ ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 35 . lebar jalur. jalur pepohonan yang rapat dan tinggi dapat melokalisir bau dan menyerap bau. akan menjadikan angin laminar dan mencegah terbentuknya angin turbulen. Kenanga (Cananga odorata). sabuk hijau ini dapat berupa formasi hutan mangrove. dan Tanjung (Mimosups elengi) adalah tanaman yang dapat mengeluarkan bau harum. Mengatasi penggurunan. yang terletak di bagian yang mengarah ke hembusan angin. tanaman yang dipilih adalah yang daya evapotranspirasinya rendah. sabuk hijau berupa jalur pepohonan yang tinggi lebar dan panjang. Mengamankan pantai dan membentuk daratan. Sabuk hijau seyogyanya ditempatkan tepat pada arah datangnya angin dan obyek yang dilindungi harus berada di bagian belakangnya. Sengon Laut. Pendusta utan Kihujan Rengas Pinus insularis Pinus mercusii Pterocarpus javanicus Pterocarpus indicus Vitex pubescens Albizzia procera Dalbergia sisso Paraserianthes falcataria Schleichera oleosa Albizzia lebbeck Coffea spp Shorea leprosula Dalbergia latifolia Shorea ovalis Swietenia spp. Kihiyang Sonoleking Senon. Sabuk hijau yang dibangun harus cukup panjang agar dapat melindungi objek dengan baik. Mengatasi intrusi air laut. dapat melindungi daerah dari hembusan angin yang membawa serta pasir. untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Lama genangan (hari) Jenis tanaman Nama Lokal Pinus Benquet Tusam Wedang Angsana Laban Weru. Jeungjing Kosambi Tekik Kopi Meranti tembaga Sonokeling Meranti merah Keluarga Mahoni Cemara laut 50 – 60 60 – 70 70 – 80 90 – 100 100 – 200 300 Semar. Sabuk hijau yang dibangun harus cukup tebal.

tidak merusak konstruksi dan bangunan. r) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri. dengan dahan yang kuat namun cukup lentur. batang tegak dan keras pada bagian pangkal. f) batang tegak kuat. g) perawakan dan bentuk tajuk cukup indah. dan RTH Jalur Pejalan Kaki Kriteria untuk jalur hijau jalan adalah sebagai berikut: 1) Aspek silvikultur: a) b) c) d) e) f) 2) berasal dari biji terseleksi sehat dan bebas penyakit. Sifat biologi: a) tumbuh baik pada tanah padat. tetapi tidak terlalu gelap. sehingga mampu menutup secara baik. tidak dapat berfungsi sebagai penahan angin. Kriteria Vegetasi untuk Taman Pulau Jalan dan Median Jalan. tajuk simetris dan padat.3. j) daun sebaiknya berukuran sempit (nanofill). t) sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi. Sebaliknya kerapatan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terbentuknya angin turbulen. Memiliki kerapatan daun berkisar antara 70–85%. o) sebaiknya tidak berduri atau beracun. Tanaman harus terdiri dari beberapa strata yaitu tanaman tinggi sedang dan rendah. n) buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung. u) berumur panjang.5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan a. i) ukuran dan bentuk tajuk seimbang dengan tinggi pohon. e) batang dan sistem percabangan kuat. perbandingan bagian pucuk dan akar seimbang. Kerapatan yang kurang. 2. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 36 . s) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. memiliki pertumbuhan sempurna baik batang maupun akar. h) tajuk cukup rindang dan kompak.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ ƒ Tanaman yang ditanam didominasi oleh tanaman yang cukup tinggi. p) mudah sembuh bila mengalami luka akibat benturan dan akibat lain. d) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia. sistim perakaran padat. q) tahan terhadap hama penyakit. c) fase anakan tumbuh cepat. b) sistem perakaran masuk kedalam tanah. tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa. l) daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang. tidak mudah patah dan tidak berbanir. m) saat berbunga/berbuah tidak mengotori jalan. k) tidak menggugurkan daun.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

Tabel 2.9 Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki
No I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 II 1 2 3 4 5 Nama Lokal Pohon Bunga Kupu-kupu Bunga kupu-kupu ungu Trengguli Kayu manis Tanjung Salam Melinjo Bungur Cempaka Tanjung Perdu/semak/groundcover Canna Soka jepang Puring Pedang-pedangan Lili pita Nama Latin Tinggi (m) 8 8 15 12 15 12 15 18 18 12 0.6 0.3 0.7 0.5 0.3 Jarak Tanam (m) 12 12 12 12 12 6 6 12 12 12 0.2 0.2 0.3 0.2 0.15

Bauhinia purpurea Bauhinia blakeana Cassia fistula Cinnamommum iners Mimosups elengi Euginia polyantha Gnetum gnemon Lagerstroemia floribunda Michelia champaca Mimosups elengi Canna varigata Ixora spp Codiaeum varigatum Sansiviera spp Ophiopogon jaburan

b.

Kriteria Vegetasi untuk RTH di Bawah Jalan Layang Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) tanaman yang tahan dan dapat hidup dengan baik pada tempat yang ternaungi secara permanen; tidak membutuhkan penyinaran matahari secara penuh; relatif tahan kekurangan air; perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan; sebaiknya merupakan tanaman dari jenis yang mempunyai kemampuan dalam mengurangi polusi udara; dapat hidup dengan baik pada media tanam pot atau bak tanaman.

Tabel 2.10 Contoh Tanaman untuk RTH di Bawah Jalan Layang
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama lokal Balancing Talas-talasan Hanjuang Philodendron Pedang-pedangan Xanadu Singonium Yuca Dracaena Spatipilum

Dieffenbachia spp Calathea spp Cordyline spp Philodendron spp Sansiviera spp Philodendron xanadu Syngonium spp Yucca elephantipes Dracaaena spp Spathypillum spp

Nama latin

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

37

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

2.3.6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu a. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) tumbuh baik pada tanah padat; sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan; fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa; ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia; batang dan sistem percabangan kuat; batang tegak kuat, tidak mudah patah dan tidak berbanir; perawakan dan bentuk tajuk cukup indah; daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang; buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung; tahan terhadap hama penyakit; berumur panjang.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH rel kereta api, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi, disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian pada daerah masingmasing. Tabel 2.11 Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Nama Daerah Flamboyan Angsana Ketapang Kupu-kupu Kere paying Johar Tanjung Mahoni Akasia Bungur Kenari Johar Damar Nyamplung Jakaranda Liang liu Kismis Ganitri Saga Anting-anting Asam kranji Johar Cemara Pinus Beringin Nama Latin Delonix regia Pterocarpus indicus Terminalia cattapa Bauhinia purpurea Filicium decipiens Cassia multiyoga Mimusops elengi Swientenia mahagoni Acacia auriculiformis Lagerstroemia loudonii Canarium commune Cassia sp. Agathis alba Calophyllum inophyllum Jacaranda filicifolia Salix babilinica Muehlenbeckia sp. Elaeocarpus spahaericus Adenanthera povoniana Elaeocarpus grandiflorus Pithecelobium dulce Cassia grandis Cupresus papuana Pinus merkusii Ficus benjamina

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

38

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

Pola tanam vegetasi di sepanjang rel kereta api harus memperhatikan keamanan terhadap lalu lintas kereta api, tidak menghalangi atau mengganggu penglihatan masinis, serta tidak menggangu kekuatan struktur rel kereta api. Pola tanam yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: a) b) jarak maksimal dari sumbu rel adalah 50 m; pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan.

b. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Kriteria pemilihan vegetasi dan pola tanam untuk RTH ini adalah sebagai berikut: jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman yang memiliki dahan yang kuat, tidak mudah patah, dan perakaran tidak mengganggu pondasi; b) akarnya menghujam masuk ke dalam tanah. Jenis ini lebih tahan terhadap hembusan angin yang besar daripada tanaman yang akarnya bertebaran hanya di sekitar permukaan tanah; c) daunnya tidak mudah gugur oleh terpaan angin dengan kecepatan sedang; d) bukan merupakan pohon yang memiliki bentuk tajuk melebar; e) merupakan pohon dengan katagori kecil (small tree); f) fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa; g) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia; h) pola penanaman pemilihan vegetasi memperhatikan ketinggian yang diijinkan; i) buah tidak bisa dikonsumsi langsung oleh manusia; j) memiliki kerapatan yang cukup (50-60%); k) pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. Pemilihan jenis dan ketinggian vegetasi dimaksudkan agar penanaman vegetasi pada RTH jalur SUTT maupun SUTET, tidak menimbulkan gangguan terhadap jaringan listrik serta menghindari bahaya terhadap penduduk di sekitarnya. Lokasi penanaman harus memperhatikan jarak bebas minimum yang diijinkan. Tabel 2.12 Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nama Suku dan Jenis Nama Lokal Mangkokan Sarai raja Palem kobis Kesumba Jarak kosta Bunga Perawakan Semak Pohon sedang Pohon kecil Pohon kecil Semak Pohon kecil Diameter Batang (cm)/ Tinggi (m) /5 10/5-25 5/3-4 10/2-8 /2 10/2-6

a)

Nothopanax scutellarium Merr. Caryota mitis Lour. Licuala grandis L. Bixa orellana L. Jatropha gossypifolia L. Bauhinia purpurea L.

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

39

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

No.

Nama Suku dan Jenis

Nama Lokal kupu-kupu Kembang kuning Kembang merak Kembang sepatu kecil Serut Kemuning Kecubung gunung

Perawakan

Diameter Batang (cm)/ Tinggi (m) 20/2-6 - /3-5 - /2 10/2-5 10/-7 - /5

7. 8. 9. 10. 11. 12.

Cassia surattensis Burm. F. Caesalpinia pulcherrima (L.) Swartz. Malvaviscus arbpreus Cav. Streblus asper Lour. Muraya paniculata (L.) Jack. Brugmansia candida Pers.

Semak Semak Semak Pohon kecil Pohon kecil Semak

c.

Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) sistem perakaran yang kuat, sehingga mampu menahan pergeseran tanah; tumbuh baik pada tanah padat; sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan; kecepatan tumbuh bervariasi; tahan terhadap hama dan penyakit tanaman; jarak tanam setengah rapat sampai rapat 90% dari luas area, harus dihijaukan; tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap; berupa tanaman lokal dan tanaman budidaya; dominasi tanaman tahunan; sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH sempadan sungai, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi untuk RTH sempadan sungai disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian lahan pada daerah masing-masing. Tabel 2.13 Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama Daerah Bungur Jening Khaya Pingku Lamtorogung Puspa Kenanga Locust Kisireum Manglid Cengal Flamboyan

Lagerstromia speciosa Pithecolobium lobatum Khaya anthotheca Dysoxylum excelsum Leucaena lecocephala Schima wallichii Canangium adoratum Hymenaena courburil Eugenia cymosa Michelia velutina Hopea sangkal Delonix regia

Nama Latin

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

40

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. sinegalensis K. anthotheca Nama Latin Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 41 . 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 Nama Daerah Tanjung Trembesi Beringin Kepuh Angsret Nyamplung Leda Tengkawanglayar Johar Merbau pantai Tengkawangmajau Hoe Merawan Blabag Pala hutan Cemara sumatra Palur raja Kibeusi leutik Kaliandra Balam sudu Sawo duren Kedinding Kepuh Dadap Salam Sungkai Matoa/kasai Locust Ebony/kayuhitam Kempas Sawo kecik Asam Pingku Johar Angsana Tengkawang layar Kecapi Palem Raja Kalak Saputangan Bacang Kayu manis Kawista Kenanga Khaya Khaya Khaya Mimusops elengi Samanea saman Ficus benjamina Sterculia foetida Spathodea campanulata Callophylum inophyllum Eucalyptus deglupta Shorea mecistopteryx Cassia siamea Intsia bijuga Shorea palembanica Eucaliyptus platyphylla Hopea mangarawan Terminalia citrina Myristica fatua Casuarina sumatrana Oreodoxa regia Lindera srtichchytolia Calliandra marginata Palaguium sumatranum Crysophyllum cainito Albizzia leppecioides Sterculia foetida Erythrina cristagalli Eugenia polyantha Pheronema canescens Pometia pinnata Hymenaea courbaril Dyospiros celebica Kompasia excelsa Manilkara kauki Tamarindus indica Dysoxyllum exelsum Cassia grandis Pterocarpus indicus Shorea mecistopteryx Shandoricum koetjape Oerodoxa regia Poliantha lateriflora Maniltoa brawneodes Manejitera foetida Cinnamomun burmanni Feronia limonia Canangium odoratum Hopea bancana Shorea selanica Pterogota alata K. grandiflora K.

sampel jalur hijau sungai berupa jalur memanjang dari garis sungai ke arah darat dengan lebar 20 m sampai pohon terjauh. sebelum di lapangan. Damar (Agathis loranthifolia). toleransi terhadap kondisi air payau. memliki sistem perakaran yang kuat dan dalam. sistem perakaran yang yang kuat sehingga mampu mencegah abrasi pantai. sehingga dapat menahan erosi dan meningkatkan infiltasi (resapan) air. sekurang-kurangnya 100 m dari kiri kanan sungai besar dan 50 m di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman. 1993): Cemara Laut (Casuarina equisetifolia). tiupan angin dan hempasan gelombang air pasang. Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Pantai Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) merupakan tanaman lokal yang sudah teruji ketahanan dan kesesuaiannya tehadap kondisi pantai tersebut. daya transpirasi rendah. Kelapa (Cocos nucifera). tahan terhadap hama dan penyakit tanaman. batang dan sistem percabangan yang kuat. Bungur (Lagerstroemia speciosa).Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Persyaratan pola tanam vegetasi pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut: a) b) c) jalur hijau tanaman meliputi sempadan sungai selebar 50 m pada kirikanan sungai besar dan sungai kecil (anak sungai). jarak maksimal dari pantai adalah 100 m. pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. d) e) f) g) d. bakau merupakan tanaman yang khas sebagai pelindung pantai. 1976 dan Kurniawan. Beberapa tanaman yang memiliki daya transpirasi yang rendah antara lain (Manan. Karet Munding (Ficus elastica). Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 42 . penempatan petak sampel dilakukan secara awalan acak (random start) pada peta. Kriteria Vegetasi untuk RTH pada Sumber Air Baku/Mata Air Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) relatif tahan terhadap penggenangan air. Vegetasi ideal yang ditanam pada RTH pengaman sumber air merupakan vegetasi yang tidak mengkonsumsi banyak air atau yang memiliki daya transpirasi yang rendah. untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 m. e. Kiara Payung (Filicium decipiens). Manggis (Garcinia mangostana). sampel jalur hijau sungai berupa petak-petak berukuran 20 m x 20 m diambil secara sistematis dengan intensitas sampling 10% dari panjang sungai.

1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam Lokasi tanah yang akan dijadikan media tanam harus diolah terlebih dahulu. tetapi tidak terlalu gelap. sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi. Tanah yang baik sebagai media tanam adalah tanah yang gembur mengandung cukup unsur hara. atau menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi langsung. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 43 . batang tegak kuat. tajuk cukup rindang dan kompak.4. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung. tahan terhadap hama penyakit.2 Penanaman Pada proses penanaman harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) bibit tanaman harus memiliki percabangan dan perakaran yang sehat. tidak mudah patah dan tidak berbanir. Tabel 2.4. dikembalikan ke bagian bawah lubang tanam. c) masukkan tanah di sekeliling bola akar. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pemakaman Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) sistem perakaran masuk kedalam tanah. kemudian tanah yang berasal dari bagian bawah.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II f. Ketentuan Penanaman 2. berumur panjang. b) besarnya diameter lubang tanam sama dengan lingkaran tajuk terluar tanaman dengan kedalaman setebal bola akar ditambah 10 cm. dan tanah yang berasal dari bagian atas lubang tanam diurugkan di bagian atas tanaman.4. Untuk menghasilkan media tanam yang baik maka tanah harus digemburkan dengan menggunakan cangkul hingga kedalaman pertumbuhan akar dan ditambahkan pupuk organik/kompos secukupnya. sedang atau kecil disesuaikan dengan ketersediaan ruang. dapat berupa pohon besar.14 Contoh Vegetasi untuk Pemakaman No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Lokal Bougenvil Kemboja Putih Puring Lili pita Tanjung Dadap Kembang merak Jamblang Salam Nama Latin Potensi berbunga berbunga berwarna berbunga pengundang burung pengundang serangga buah dapat dimakan pengundang burung Bougenvilia sp Plumeria alba Codiaeum varigatum Ophiopogon jaburan Mimosups elengi Erythrina varigata Caesalpinia pulcherrima Syzygium cumini Syzygium polyanntum 2. 2. Penanaman dapat dilakukan setelah tanah dibiarkan selama 3–5 hari. tidak merusak konstruksi dan bangunan.

dengan ujung diikat pada batang pohon. Pupuk yang digunakan untuk pohon-pohon taman biasanya pupuk majemuk NPK. selain untuk menyeimbangkan laju evapotranspirasi. dahan dan ranting. Penyiraman siang hari hendaknya dilakukan langsung pada permukaan tanah.4. Waktu pemangkasan yang tepat adalah setelah masa pertumbuhan generatif tanaman (setelah selesai masa pembungaan) dan sebelum pemberian pupuk. Pemupukan Prinsip dasar pemupukan adalah mensuplai hara tambahan yang dibutuhkan sehingga tanaman tidak kekurangan makanan. 2. b. dalam upaya menghindari penyakit yang disebabkan oleh cendawan. Penyiraman Tujuan penyiraman tanaman.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II d) agar pohon yang baru ditanam tidak bergoyang. dahan dan ranting yang retak. tidak pada permukaan daun tanaman. diperlukan alat penahan (kayu pemancang/ajir) yang ditancapkan di seputar pohon. Waktu penyiraman pada dasarnya dapat dilakukan kapan saja saat dibutuhkan.3 Pemeliharaan Tanaman a. Waktu penyiraman yang terbaik adalah pada pagi atau sore hari. patah. Pupuk yang diberikan pada tanaman dapat berupa pupuk organik maupun pupuk anorganik (misalnya NPK atau urea). 2) Pemangkasan untuk keamanan penggunaan taman: ƒ Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang. c. dapat menjadi indikasi bahwa siraman air sudah dinyatakan cukup. Pemangkasan Tujuan pemangkasan tanaman adalah untuk mengontrol pertumbuhan tanaman sesuai yang diinginkan serta menjaga keamanan dan kesehatan tanaman. yang dapat mengancam keamanan pengguna taman. mati atau berpenyakit. e) tanaman disiram secukupnya. Pemangkasan tanaman dapat dilakukan dengan tujuan: 1) Pemangkasan untuk kesehatan pohon: Pemangkasan untuk tujuan ini dilakukan pada cabang. 44 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . juga berfungsi melarutkan garam-garam mineral dan juga sebagai unsur utama pada proses fotosintesis. Untuk daerah dengan kelembaban tinggi penyiraman pada pagi hari lebih baik daripada sore hari. Penetrasi air siraman sedalam 15-20 cm ke dalam tanah.

Gejala serangan penyakit terlihat adanya akar. kelinci dan sebagainya. bulat. juga gesekan yang intensif dapat mengganggu kesehatan pohon. berubah warna dan penampilan tidak menarik. kambing. karat. bakteri.5 m dari permukaan tanah. layu. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 45 . seperti bentuk daun. Gejala Serangan Gejala serangan hama pada umumnya langsung dapat terlihat dari kerusakan bagian tanaman.4. Cara Pengendalian Pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan cara karantina. maupun imagonya. piramida. yang dapat menghalangi pandangan pengguna jalan. bunga maupun buah yang tidak sempurna. maka pemangkasan dapat menghasilkan tanaman dengan bentuk-bentuk tajuk spiral. Secara kasat mata seringkali terlihat populasi binatang berupa larva. molusca maupun hewan lainnya seperti burung. biologi dan kimiawi. fisik. kerena disamping dapat mengakibatkan korsleting/ kebakaran. silindris. b. 2. dahan dan ranting. Dengan memperhatikan jenis dan kerapatan daun.4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Hama tanaman dapat disebabkan oleh hewan. Dapat juga terjadi bagian tanaman yang terkikis. a.5 m dari permukaan tanah. virus. dan lain sebagainya. teknik budidaya. berlubang. 3) Pemangkasan untuk keamanan pengguna jalan: ƒ ƒ Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang. kubus. Sedangkan penyakit tanaman disebabkan oleh jamur. Untuk jalan umum yang dilalui kendaraan diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 4.5-5 m dari permukaan tanah. Untuk jalan yang dilalui kendaraan pada daerah permukiman diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar minimal 3. baik berupa serangga. bercak daun. ulat.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ Di daerah pejalan kaki diperlukan ruang yang bebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 2. Beberapa diantaranya tidak terlihat dengan mata telanjang sehingga perlu di teliti di laboratorium. mekanis. Batang atau dahan yang menyentuh kabel telepon dan listrik perlu dipangkas. ƒ 4) Pemangkasan untuk tujuan estetis: Pemangkasan dengan tujuan ini adalah untuk menghasilkan penampilan tanaman lebih baik atau lebih indah. mozaik dan sebagainya. nematoda dan penyakit fisiologis.

Selain sebagai tempat untuk melakukan aktivitas sosial. carport. serta memberikan keseimbangan dan keserasian antara bangunan dan lingkungan. dan Tempat Usaha RTH pada halaman perkantoran. dapat dimanfaatkan pula sebagai area parkir terbuka. Pertokoan. Untuk efisiensi ruang. Untuk mendukung aktivitas penduduk di lingkungan tersebut. selain tempat utilitas tertentu. dan tempat usaha berfungsi sebagai penghasil O2. sayur.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 3. dan lain-lain. olah raga. RTH Halaman Perkantoran. dan tempat usaha.1. Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman RTH pada Lingkungan/Permukiman dapat dioptimalkan fungsinya menurut jenis RTH berikut: a. Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan RTH pada bangunan/perumahan baik di pekarangan maupun halaman perkantoran. RTH dapat dimanfaatkan pula untuk menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup. RTH Pekarangan Dalam rangka mengoptimalkan lahan pekarangan. pertokoan. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) dapat dimanfaatkan penduduk sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. RTH Taman Rukun Tetangga dapat pula dimanfaatkan sebagai suatu community garden dengan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 47 . RTH dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan sebagai berikut: a. 3. maka RTH pekarangan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan atau kebutuhan lainnya. dan penambah estetika suatu bangunan sehingga tampak asri. b. pertokoan.2. tanaman pot dimaksud dapat diatur dalam susunan/bentuk vertikal. peredam kebisingan. dan tempat untuk menyelenggarakan berbagai aktivitas di luar ruangan seperti upacara. dan bunga). RTH pada rumah dengan pekarangan luas dapat dimanfaatkan sebagai tempat utilitas tertentu (sumur resapan) dan dapat juga dipakai untuk tempat menanam tanaman hias dan tanaman produktif (yang dapat menghasilkan buah-buahan. Untuk rumah dengan RTH pada lahan pekarangan yang tidak terlalu luas atau sempit. dan tanaman pot sehingga dapat menambah nilai estetika sebuah rumah. Selain fungsi tersebut. bazar. fasilitas yang harus disediakan minimal bangku taman dan fasilitas mainan anak-anak.

sayur.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup. POHON PELINDUNG JALUR PEJALAN KAKI Gambar 3.1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga KURSI TAMAN ARENA MAINAN ANAK JALUR PEJALAN KAKI POHON PELINDUNG Gambar 3.2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 48 . dan buah-buahan yang dapat dimanfaatkan oleh warga.

dengan jalur trek lari di seputarnya. dimana aktivitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif. misalnya duduk atau bersantai. kegiatan olahraga masyarakat. baik olahraga maupun aktivitas lainnya. dan beberapa jenis bangunan permainan anak yang tahan dan aman untuk dipakai pula oleh anak remaja. Taman ini dapat berupa taman aktif.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III b. atau dapat berupa taman pasif. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 49 . beberapa unit bangku taman yang dipasang secara berkelompok sebagai sarana berkomunikasi dan bersosialisasi antar warga. dengan fasilitas utama lapangan olahraga (serbaguna). sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohonpohon tahunan. LAP. serta kegiatan sosial lainnya di lingkungan RW tersebut. RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan penduduk dalam satu kelurahan. RTH Rukun Warga RTH Rukun Warga (RW) dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan remaja. VOLLEY TEMPAT DUDUK TEMPAT DUDUK LAPANGAN RUMPUT TEMPAT DUDUK LAPANGAN BASKET Gambar 3. Fasilitas yang disediakan berupa lapangan untuk berbagai kegiatan.3 Contoh Taman Rukun Warga c.

trek lari. KIOS AREA PARKIR KIOS Gambar 3. kursi–kursi taman. 1 unit kios (jika diperlukan). 3) perdu. 2) semak.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel 3. 4) penutup tanah. 1) minimal 50 pohon (sedang dan kecil).1 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan Jenis Taman Aktif Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80% Fasilitas 1) 2) 3) 4) Pasif 80 – 90% 5) 1) 2) 3) 4) lapangan terbuka.5–2 m.4 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 50 . lebar 5 m panjang 325 m. Vegetasi 1) minimal 25 pohon (pohon sedang dan kecil). 4) penutup tanah. 2) semak. WC umum. sirkulasi jalur pejalan kaki. 1 unit kios (jika diperlukan). lebar 1. WC umum. kursi-kursi taman. 3) perdu.

parkir kendaraan. Kelengkapan taman ini adalah sebagai berikut: Tabel 3. kursi-kursi taman. sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III KIOS AREA PARKIR Gambar 3.2 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan Jenis Taman Aktif Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80% 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Fasilitas lapangan terbuka. Taman ini dapat berupa taman aktif dengan fasilitas utama lapangan olahraga. lapangan basket. Vegetasi 1) minimal 50 pohon (sedang dan kecil). WC umum. trek lari. 3) perdu. lapangan volley. lebar 5 m panjang 325 m. termasuk sarana kios (jika diperlukan). 4) penutup tanah. RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat dimanfaatkan oleh penduduk untuk melakukan berbagai aktivitas di dalam satu kecamatan. atau dapat berupa taman pasif untuk kegiatan yang lebih bersifat pasif. 2) semak. dengan jalur trek lari di seputarnya. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 51 .5 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif) d.

yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. fasilitas olah raga terbatas. 4) kursi-kursi taman. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 52 . taman bermain (anak/balita).5–2 m. taman khusus (untuk lansia). 3) perdu. Vegetasi 1) lebih dari 100 pohon tahunan (pohon sedang dan kecil). dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 30%. taman bunga. 2) semak.6 Contoh Taman Kecamatan 3. 4) penutup tanah. lebar 1. 2) WC umum. SARANA OLAHRAGA KIOS SARANA OLAHRAGA AREA PARKIR SARANA OLAHRAGA PLAZA HUTAN KECIL Gambar 3. 3) parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan). Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan a. RTH Taman Kota RTH Taman kota dapat dimanfaatkan penduduk untuk melakukan berbagai kegiatan sosial pada satu kota atau bagian wilayah kota.3.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Jenis Taman Pasif Koefisien Daerah Fasilitas Hijau (KDH) 80–90% 1) sirkulasi jalur pejalan kaki. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau).

parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan). Fasilitas yang harus disediakan disesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan seperti kursi taman.7 Contoh Taman Kota (Rencana Taman Kota Pangkalanbun Kabupaten Kotawaringin Barat) b. LABIRIN & LEISURE AREA 7. daun. LOTUS POND 12. TAMAN BURUNG 8. atau aktivitas yang aktif seperti jogging. wisata alam.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel 3. senam atau olahraga ringan lainnya). sayur). meliputi aktivitas pasif seperti duduk dan beristirahat dan atau membaca. sirkulasi pejalan kaki/jogging track. penutup tanah. AMPHITEATER 10. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 1) Vegetasi 150 pohon (pohon sedang dan kecil) semak. 10) kursi. GSG & LAP. 9) prasarana tertentu: kolam retensi untuk pengendali air larian. PARKIR 2. unit lapangan volley (15 x 24 m). CANNOE POND 5. ekonomi (buah-buahan. perdu. Hutan kota dapat juga dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas sosial masyarakat (secara terbatas. penghasil produk hasil hutan. keanekaragaman hayati). AREA MAIN ANAK-ANAK 6. unit lapangan basket (14x26 m). GERBANG UTAMA 4. 8) area bermain anak. perlindungan dan pemanfaatan plasma nutfah. 7) panggung terbuka. rekreasi. Hutan kota Hutan kota dapat dimanfaatkan sebagai kawasan konservasi dan penyangga lingkungan kota (pelestarian. oksigen. WC umum. wahana pendidikan dan penelitian. trek lari. BASKET 9. 2) 3) 1. SCULPTURE 11. KOLAM 3. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 53 .3 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80 % Fasilitas lapangan terbuka. JOGGING TRACK Gambar 3. lebar 7 m panjang 400 m.

yang mempunyai peranan penting antara lain mengontrol populasi serangga. sampah yang bau dan terbengkalai. RTH di bawah jalan layang dapat menjadi unsur estetika untuk meminimalkan unsur kekakuan konstruksi jalan. kelembaban. juga dapat dimanfaatkan untuk fungsi lain seperti sebagai pembentuk arsitektur kota. Untuk itu diperlukan introduksi tanaman pengundang burung pada hutan kota. juga dapat dimanfaatkan untuk keindahan/estetika kota. d.4 Kemampuan Hutan dalam Mengendalikan Gelombang Pendek dan Panjang Respon Daun Dipantulkan Diserap Dibiaskan Diteruskan c. Sabuk hijau dimaksudkan sebagai kawasan lindung dengan pemanfaatan terbatas dengan pemanfaatan utamanya adalah sebagai penyaring alami udara bagi kota-kota yang berbatasan tersebut.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Idealnya hutan kota merupakan ekosistem yang baik bagi ruang hidup satwa misalnya burung. tekstur bawah kaki. emisi kendaraan. RTH Jalur Hijau Jalan Pulau Jalan dan Median Jalan Taman pulau jalan maupun median jalan selain berfungsi sebagai RTH. Sabuk Hijau Sabuk hijau berfungsi sebagai daerah penyangga atau perbatasan antara dua kota. RTH di Bawah Jalan Layang Selain sebagai daerah resapan air. e. vegetasi. RTH Jalur Pejalan Kaki RTH jalur pejalan kaki dapat dimanfaatkan sebagai: ƒ Fasilitas untuk memungkinkan terjadinya interaksi sosial baik pasif maupun aktif serta memberi kesempatan untuk duduk dan melihat pejalan kaki lainnya. Disamping itu RTH di bawah jalan layang dapat dimanfaatkan sebagai: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 54 . vegetasi yang mengeluarkan bau. Gelombang Pendek (%) 10 80 10 Gelombang Panjang (%) 100 10 90 ƒ f. Median jalan dapat dimanfaatkan sebagai penahan debu dan keindahan kota. Jalur tanaman tepi jalan atau pulau jalan selain sebagai wilayah konservasi air. faktor audial (suara) dan faktor visual. sehingga sabuk hijau dapat menjadi RTH bagi kedua kota atau lebih tersebut. Sebagai penyeimbang temperatur. Tabel 3.

perizinan. ƒ Tempat istirahat sementara bagi pengendara sepeda motor/pejalan kaki pada saat hujan. Pada zona sungai yang berfungsi lindung menjadi kawasan lindung. Untuk menjaga keselamatan lalu lintas kereta api maupun masyarakat di sekitarnya. peningkatan fungsi sungai.4. kabel telpon. waduk yang berfungsi budi daya dapat dibudidayakan kecuali pemanfaatan tanggul hanya untuk jalan. dan pipa air minum. mencegah okupasi penduduk yang mudah menyebabkan erosi. Memperbaiki citra/penampilan pohon secara keseluruhan. pada zona sungai danau. dan pengendalian daya rusak sungai melalui kegiatan penatagunaan. RTH Fungsi Tertentu a. c. 3. Pemanfaatan daerah sempadan sungai yang berfungsi budi daya dapat dilakukan oleh masyarakat untuk kegiatan-kegiatan: a) b) c) d) budi daya pertanian rakyat. Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api RTH/jalur hijau sempadan rel kereta api dapat dimanfaatkan sebagai pengamanan terhadap jalur lalu lintas kereta api. pemasangan rentangan kabel listrik. 55 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . RTH Sempadan Sungai Pemanfaatan RTH daerah sempadan sungai dilakukan untuk kawasan konservasi. kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C. gardu listrik. dan lain-lain. sehingga jaringan kayu dapat tumbuh lebih banyak yang akan menjadi pohon lebih kuat. perlindungan tepi kiri-kanan bantaran sungai yang rawan erosi.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III ƒ Lokasi penempatan utilitas seperti drainase. sehingga RTH pada kawasan ini dimanfaatkan sebagai pengaman listrik tegangan tinggi dan kawasan jalur hijau dibebaskan dari berbagai kegiatan masyarakat serta perlu dilengkapi tanda/peringatan untuk masyarakat agar tidak beraktivitas di kawasan tersebut. ƒ Lokasi penempatan papan reklame secara terbatas. papan penyuluhan dan peringatan. maka jenis aktivitas yang perlu dilakukan berkaitan dengan peranan RTH sepanjang rel kereta api adalah sebagai berikut: a) b) c) d) Memperkuat pohon melalui perawatan dari dalam. Penatagunaan daerah sempadan sungai dilakukan dengan penetapan zona-zona yang berfungsi sebagai fungsi lindung dan budi daya. dan pemantauan. b. pelestarian. Menghilangkan sumber penularan hama dan penyakit serta menghilangkan tempat persembunyian ular dan binatang berbahaya lainnya. Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Jaringan listrik tegangan tinggi sangat berbahaya bagi manusia. serta rambu-rambu pekerjaan. Membuat saluran drainase.

menghalau. dan g) pembangunan prasarana lalu lintas air. dipantau dengan menggunakan metode pemeriksaaan langsung dan analisis deskriptif komparatif. 32 Tahun 1990. menjaga dan mengamankan harus diikuti dengan aktivitas melaporkan pada instansi berwenang dan yang terkait sehingga pada akhirnya kawasan sempadan sungai yang berfungsi sebagai RTH terpelihara dan lestari selamanya. Aktivitas memantau. e. keanekaragaman vegetasi terutama jenis unggulan lokal dan bernilai ekologi dipantau dengan metode kuadrat dengan jalur masing-masing lokasi 2 km menggunakan analisis vegetasi yang diarahkan pada jenis-jenis flora yang bernilai sebagai tumbuhan obat. Menjaga kelestarian konservasi dan aktivitas perambahan. maka aktivitas yang dapat dilakukan pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut: a) b) Memantau penutupan vegetasi dan kondisi kawasan DAS agar lahan tidak mengalami penurunan. pelestarian. perizinan.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III e) pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/jembatan baik umum maupun kereta api. peningkatan fungsi sumber air baku/mata air. dan pengendalian daya rusak sumber air baku/mata air/danau melalui kegiatan penatagunaan. erosi. juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yang diizinkan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: ƒ Tidak bertentangan dengan Keppres No. c) d) e) d. RTH Sumber Air Baku/Mata Air Pemanfaatan RTH sumber air baku/mata air dilakukan untuk perlindungan. ƒ Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai. ƒ Khusus untuk kawasan pantai berhutan bakau harus dipertahankan sesuai ketentuan dalam Keppres No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau. termasuk gangguan terhadap kualitas visual. melindungi dari ancaman gelombang pasang. wildlife habitat dan meredam angin kencang. ƒ Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat. Tolak ukur 100 m di kanan kiri sungai dan 50 m kanan kiri anak sungai. serta penutupan vegetasi di sempadan sungai. bangunan pengambilan dan pembuangan air. Memantau fluktuasi debit sungai maksimum. RTH Sempadan Pantai RTH sempadan pantai selain sebagai area pengaman dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan gelombang laut. ƒ Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi. dan pemantauan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 56 . keolahragaan. Untuk menghindari kerusakan dan gangguan terhadap kelestarian dan keindahan sungai. f) penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial. Mengamankan kawasan sempadan sungai.

dan pemersatu ruang kota. bangunan pengambilan dan pembuangan air. pelindung. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 57 . Danau/waduk Minimal 50 m dari titik pasang tertinggi Pemanfaatan jaringan utilitas. penyelenggaraan kegiatankegiatan yang bersifat sosial. pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/ jembatan baik umum maupun kereta api. a) b) c) d) e) f) g) h) 2. kabel telpon. b) luas ruang terbuka hijau minimal 90% dengan dominasi pohon tahunan yang diizinkan. Jenis RTH Dimensi Sempadan 1. pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau. papan penyuluhan dan peringatan. pemasangan rentangan kabel listrik. Mata Air Radius 200 m a) ruang terbuka hijau dengan aktivitas sosial terbatas penekanan pada kelestarian sumberdaya airnya. RTH Pemakaman Pemakaman memiliki fungsi utama sebagai tempat pelayanan publik untuk penguburan jenasah. Pemakaman juga dapat berfungsi sebagai RTH untuk menambah keindahan kota. kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C. sehingga keberadaan RTH yang tertata di komplek pemakaman dapat menghilangkan kesan seram pada wilayah tersebut. daerah resapan air. keolahragaan. f. pendukung ekosistem.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel berikut ini memberikan gambaran mengenai dimensi sempadan serta pemanfaatannya pada masing-masing jenis RTH sebagai berikut: Tabel 3. serta rambu-rambu pekerjaan. budi daya pertanian rakyat. dan pipa air minum.5 RTH Sempadan Danau dan Mata Air No. dan pembangunan prasarana lalu lintas air.

Peran Masyarakat Peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH merupakan upaya melibatkan masyarakat. b) penyediaan dan pemanfaatan RTH publik yang dilaksanakan oleh pemerintah disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Prosedur Perencanaan Ketentuan prosedur perencanaan RTH adalah sebagai berikut: a) penyediaan RTH harus disesuaikan dengan peruntukan yang telah ditentukan dalam rencana tata ruang (RTRW Kota/RTR Kawasan Perkotaan/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/Rencana Induk RTH) yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat. swasta. pemanfaatan dan pemeliharaan. memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan pengguna RTH.2. ƒ ƒ ƒ 4. d) penyediaan dan pemanfaatan RTH privat yang dilaksanakan oleh masyarakat termasuk pengembang disesuaikan dengan ketentuan perijinan pembangunan. pelaksanaan pembangunan RTH. harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: ƒ ƒ mengikuti peraturan dan ketentuan yang berlaku pada masing-masing daerah. Upaya ini dimaksudkan untuk menjamin hak masyarakat dan swasta.1. tidak menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan tanaman misalnya menghalangi penyinaran matahari atau pemangkasan tanaman yang dapat merusak keutuhan bentuk tajuknya. tidak mengganggu fungsi utama RTH yaitu fungsi sosial. lembaga badan hukum dan atau perseorangan baik pada tahap perencanaan. pemanfaatan dan pengendalian. d) menjunjung tinggi keterbukaan dengan semangat tetap menegakkan etika. b) memposisikan pemerintah sebagai fasilitator dalam proses pembangunan ruang terbuka hijau. c) tahapan penyediaan dan pemanfaatan RTH publik meliputi: 1) 2) 3) 4) 5) perencanaan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 59 . e) pemanfaatan RTH untuk penggunaan lain seperti pemasangan reklame (billboard) atau reklame 3 dimensi. tidak mengganggu kualitas visual dari dan ke RTH. perancangan teknik. ekologis dan estetis. pengadaan lahan. untuk memberikan kesempatan akses dan mencegah terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang dari rencana tata ruang yang telah ditetapkan melalui pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang oleh masyarakat dan swasta dalam pengelolaan RTH. c) menghormati hak yang dimiliki masyarakat serta menghargai kearifan lokal dan keberagaman sosial budayanya.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV BAB IV PROSEDUR PERENCANAAN DAN PERAN MASYARAKAT 4. dengan prinsip: a) menempatkan masyarakat sebagai pelaku yang sangat menentukan dalam proses pembangunan ruang ruang terbuka hijau.

Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah kota dalam mewujudkan penghijauan antara lain: dalam lingkup kegiatan pembangunan ruang terbuka hijau (yang meliputi perencanaan. pedoman ini ditujukan pada tahap pemanfaatan ruang terbuka hijau. berm dan lahan kosong lainnya dengan berbagai jenis tanaman. Peran dalam penyediaan RTH ini dapat berupa: a) b) c) d) e) f) Pengalihan hak kepemilikan lahan dari lahan privat menjadi RTH publik (hibah). pemanfaatan dan pengendalian). pembangunan dan pemeliharaan RTH. Membiayai pembangunan RTH publik.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV e) memperhatikan perkembangan teknologi dan bersikap profesional. Membiayai pemeliharaan RTH publik. b) Turut serta dalam meningkatkan kualitas lingkungan di perumahan dalam hal penanaman tanaman. baik ditanam langsung maupun ditanam dalam pot. pembuatan sumur resapan (bagi daerah yang memungkinkan) dan pengelolaan sampah. dimana rencana pembangunannya akan disusun dan ditetapkan. Peran masyarakat pada RTH privat meliputi: a) Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH dalam peningkatan kualitas lingkungan. swasta dan badan hukum dalam penyediaan RTH publik meliputi penyediaan lahan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 60 . Perencanaan Pemanfaatan dan Pengendalian Pengambilan Keputusan Rencana Pemanfaatan Pelaksanaan Pemanfaatan Pasca Pelaksanaan RTH Pelibatan Pelibatan Pelibatan Gambar 4. Menyerahkan penggunaan lahan privat untuk digunakan sebagai RTH publik. c) Mengisi seoptimal mungkin lahan pekarangan. d) Turut serta secara aktif dalam komunitas masyarakat pecinta RTH. sarana interaksi sosial serta mitigasi bencana.1 Pelibatan Masyarakat pada Pemanfaatan dan Pengendalian Peran masyarakat. Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH publik dalam peningkatan kualitas dan keamanan lingkungan. Mengawasi pemanfaatan RTH publik.

penyelesaian konflik serta respon dari pemerintah melalui jalur yang telah disepakati bersama.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV 4. c) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyikapi perencanaan. konflik yang muncul sehubungan dengan pembangunan ruang terbuka hijau. namun juga sosial dan lingkungan dalam memanfaatkan ruang perkotaan. membahas permasalahan. masyarakat dan swasta dalam pembangunan ruang terbuka hijau. Misalnya: membentuk forum masyarakat peduli ruang terbuka hijau atau komunitas masyarakat ruang terbuka hijau di setiap daerah. Namun. yaitu untuk tidak saja menekankan pada tujuan ekonomi. Untuk mencapai peran tersebut. d) Meningkatkan kemampuan masyarakat (forum.1 Peran Individu/Kelompok Masyarakat dapat berperan secara individu atau kelompok dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan masyarakat: a) Anggota masyarakat baik individu maupun kelompok yang memiliki keahlian dan/atau pengetahuan mengenai penataan ruang serta ruang terbuka hijau dapat membentuk suatu komunitas ruang terbuka hijau. dan sebagainya) dengan areal yang luas perlu menyertakan konsep pembangunan ruang terbuka hijau. komunitas.2 Peran Swasta Swasta merupakan pelaku pembangunan penting dalam pemanfaatan ruang perkotaan dan ruang terbuka hijau. karena swasta memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat umum. b) Mengembangkan dan memperkuat kerjasama proses mediasi antara pemerintah. pelatihan dan diskusi di kelompok-kelompok masyarakat. Peran swasta yang diharapkan dalam pemanfaatan ruang perkotaan sama seperti peran yang diharapkan dari masyarakat.2. Untuk mencapai peran tersebut. e) Menggalang dan mencari dana kegiatan dari pihak tertentu untuk proses sosialisasi. Pada kondisi yang lebih berkembang. 4. plaza. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 61 .2. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pihak swasta: a) Pihak swasta yang akan membangun lokasi usaha (mall. dan sebagainya) dalam mengelola permasalahan. pembangunan serta pemanfaatan ruang terbuka hijau melalui sosialisasi. mengembangkan konsep serta upaya-upaya untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah. f) Bekerjasama dengan pemerintah dalam menyusun mekanisme pengaduan. maka terdapat peran lain yang dapat dilakukan oleh swasta. Terutama karena kemampuan kewirausahaan yang mereka miliki. masyarakat dapat membentuk suatu forum atau komunitas tertentu untuk menghimpun anggota masyarakat yang memiliki kepentingan terhadap RTH. g) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian.

mengawasi kebijakan pemanfaatan ruang perkotaan. masyarakat dan swasta serta mengenai proses pengajuan keluhan dan penyelesaian konflik yang terjadi. e) Mengupayakan bantuan pendanaan bagi masyarakat dalam realisasi pelibatan dalam pemanfaatan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau. menghubungkan masyarakat dengan pemerintah dan swasta. e) Menciptakan lingkungan dan kondisi yang kondusif yang memungkinkan masyarakat dan swasta terlibat aktif dalam proses pemanfaatan ruang secara proporsional. f) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. perwakilan masyarakat dan swasta untuk aktif melakukan mediasi. c) Menfasilitasi proses pembelajaran kerjasama pemerintah. b) Menyelenggarakan proses mediasi jika terdapat perbedaan pendapat atau kepentingan antara pihak yang terlibat. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan organisasi non-pemerintah antara lain: a) Membentuk sistem mediasi dan fasilitasi antara pemerintah. melaksanakan. dalam rangka mengatasi kesenjangan komunikasi. Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan kepada masyarakat dan/atau yang terkait dalam pembangunan ruang terbuka hijau. menyusun. Organisasi lain yang memiliki peran dan posisi penting dalam mempengaruhi. Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan pembangunan ruang terbuka hijau maupun dengan proses diskusi dan seminar. pendamping. f) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV b) Bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat dalam membangun dan memelihara ruang terbuka hijau. atau organisasi lain yang serupa berperan utama sebagai perantara. c) Berperan aktif dalam mensosialisasikan dan memberikan penjelasan mengenai proses kerjasama antara pemerintah.2. d) Mendorong dan/atau menfasilitasi proses pembelajaran masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan. maupun dengan proses diskusi dan seminar. swasta dan masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan. adil dan bertanggung jawab. d) Berperan aktif dalam diskusi dan proses pembangunan sehubungan dengan pembentukan kebijakan publik dan proses pelibatan masyarakat dan swasta yang terkait dengan pembangunan ruang terbuka hijau. informasi dan pemahaman di pihak masyarakat serta akses masyarakat ke sumber daya. Dengan membentuk badan atau lembaga bersama antara pemerintah. masyarakat dan swasta dalam mengatasi kesenjangan komunikasi dan informasi pembangunan ruang terbuka hijau. Untuk mencapai peran tersebut.3 Lembaga/Badan Hukum Lembaga atau badan hukum yang dimaksud merupakan Organisasi nonpemerintah. antara lain: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 62 . 4.

lembaga atau perusahaan dalam ukuran yang wajar dan tidak mengganggu keindahan. Partai politik. swasta. sesuai dengan peraturan yang berlaku di wilayah tersebut. perguruan tinggi. 4. Lembaga donor. Adapun peran dari masing-masing organisasi tersebut diatas dapat disesuaikan dengan posisi dan keahlian yang dimiliki organisasi dalam membantu atau terlibat proses pembangunan ruang terbuka hijau. b) Pencantuman nama.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ DPR/DPRD.2. Asosiasi profesi. dan sebagainya. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 63 . pemeliharaan maupun peningkatan kesadaran masyarakat terhadap RTH dapat berupa: a) Piagam penghargaan yang dikeluarkan oleh lembaga swadaya masyarakat pemerhati RTH/lingkungan hidup. RW. sebagai kontributor dalam penyediaan RTH tersebut. Instansi yang terkait dengan pengeloaan RTH/lingkungan hidup. pembangunan. unsur kewilayahan seperti RT. dan badan hukum dalam penyediaan. baik perorangan. pemerintah daerah atau pemerintah pusat. dengan persetujuan tertulis dari instansi pengelolanya.4 Penghargaan dan Kompensasi Penghargaan dan kompensasi terhadap masyarakat/perseorangan. Kelurahan dan Kecamatan. Perguruan tinggi.

5%) RTH (6%) RTH (1.5%) JALAN (20%) LAINNYA (7.5%) RTH PRIVAT 10% RTH PUBLIK 20% RTH KOTA 30% L-1 .5%) KDB (80%) KDB (90%) KDB (0%) KDB (70%) KDB (80%) RTH (8%) RTH (2%) RTH (12.LAMPIRAN A (informatif) BAGAN PROPORSI RTH KAWASAN PERKOTAAN (ilustrasi) RUANG PERKOTAAN TERBANGUN TERBUKA HUNIAN (40%) NON HUNIAN (20%) TAMAN (12.

1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT) Gambar B.2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT) L-2 .LAMPIRAN B (informatif) GAMBAR CONTOH RTH TAMAN Gambar B.

3 Contoh Taman Rukun Warga (RW) Gambar B.Gambar B.4 Contoh Taman Kelurahan L-3 .

Gambar B.6 Contoh Taman Kecamatan L-4 .5 Contoh Taman Kelurahan Gambar B.

Faktor di atas dapat ditulis dalam persamaan: Po. persamaan kebutuhan hutan kota pada tahun 0 (2005) adalah sebagai berikut: 65.000 jiwa.307. Konsumsi air per kapita adalah 65 m3/th. Potensi air tanah 662. Kemampuan hutan kota menyimpan air 73.256 73.8%) L-5 Lt = = 142 ha .1 Contoh Perhitungan Kebutuhan Hutan Kota (RTH) Berdasarkan Kebutuhan Air Kebutuhan air dalam kota bergantung dari faktor: a) b) c) d) kebutuhan air bersih per tahun.000 Kebutuhan hutan kota = 142 ha (5. Potensi air saat ini.LAMPIRAN C (informatif) CONTOH PERHITUNGAN HUTAN KOTA (RTH) C. (203. Kemampuanhutan kota menyimpan air.200 – 662.450 ha.000 m3/ha/th. memiliki penduduk pada tahun 2005 sebanyak 203.Pa z La = dengan: La Po K R C PAM t Pa z adalah luas hutan kota yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan air (Ha) adalah jumlah penduduk kota pada tahun ke 0 adalah konsumsi air per kapita (liter/hari) adalah laju peningkatan pemakaian air (biasanya seiring dengan laju pertambahan penduduk kota setempat) adalah faktor koreksi (besarnya tergantung dari upaya pemerintah dalam penurunan laju pertambahan penduduk) adalah kapasitas suplai air oleh PAM (dalam m3/tahun) adalah tahun ke adalah potensi air tanah saat ini (m3/th) adalah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air (m3/ha/th) Contoh perhitungan: Suatu kota dengan luas 2.256 m3/th.3 jt m3/th. Dengan kondisi seperti tersebut di atas. Kapasitas air PAM terpasang 6. jumlah air yang dapat disediakan oleh PAM.K (1 + R – C)t – PAM .000) – 6.

9375 gram adalah jumlah musim di Indonesia Contoh perhitungan dengan menggunakan rumus Gerakis (1974) dalam Wisesa (1988).261 Konsumsi Oksigen Manusia/Hari (gram/hari) Komsumsi Oksigen (gram/hari) 365.560 397.2 Contoh Perhitungan Kebutuhan Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Luasan kebutuhan hutan kota berdasarkan kebutuhan oksigen.240 316.9375 )(2) dengan: Lt Pt Kt Tt 54 0. adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0. yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988).9375 2 m2 adalah luas RTH Kota pada tahun ke t (m2) adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke t adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t adalah tetapan yan menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari.77 2.2 dapat ditentukan besarnya kebutuhan oksigen kendaraan bemotor berdasarkan klasifikasi jenis kendaraan dan rata-rata umum kebutuhan oksigen.240 840 Tabel C.000 424.339.C.86 Dari tabel C. dengan rumus: Pt + Kt + Tt Lt = (54 )(0.711.624 425.360 204.711 377. L-6 .412.893. dapat juga dilakukan dengan metode Gerakis (1974).609 474.004.1 Kebutuhan Oksigen Manusia di Kota Bandung Tahun 2004 Wilayah Pengembangan (WP) Bojonagara Cibeunying Karees Tegalega Ujungberung Gedebage Jumlah Penduduk (Jiwa) 424. dengan kasus di Kota Bandung (Noor Syailendra. 2005): Tabel C.160 357.597.16 Kebutuhan Oksigen Tiap 1 kg Bahan Bakar 2.300 505.254 243.21 0.2 Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor Jenis Bahan Bakar Bensin Diesel Rata-rata Pemakaian Bahan Bakar (kg/PS jam) 0.

259.760 Total Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 196.77 2.9375)( 2 ) Luas RTH = 6.906 94 1.765.341 Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka kebutuhan RTH di Wilayah Bojonagara Kota Bandung pada tahun 2004 adalah: 356.0607 21.77 2.760 45.634 29.259.680 324.21 0.772.3 Kebutuhan Oksigen Menurut Klasifikasi Jenis Kendaraan Bermotor Klasifikasi Daya Minimal (PS) 1 20 50 100 Kebutuhan Bahan Bakar (kg/PS) 0.16 Kebutuhan Oksigen Tiap 1 Liter BB (kg) 2.Tabel C.341 Luas RTH = (54 )(0.5817 11.634 29.519 56.739.311.76 87.7 11.061 21. kebutuhan oksigen kendaraan di tiap wilayah pengembangan.760 29.412.142 7.772.7652 Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 581.301.86 Kebutuhan Oksigen (kg/hari) 0.560 4.760 87.21 0.77 2.863 13.634 582 29.085 45.440 59.72 ha m2 Catatan: kebutuhan oksigen untuk ternak diabaikan Dengan mengacu pada kebutuhan oksigen manusia.91 m2 = 672. maka kebutuhan hutan kota di Kota Bandung pada tahun 2004 adalah sebagai berikut: L-7 .305 1.984.679.18 Sepeda motor Kendaraan penumpang Kendaraan truk Kendaraan bus Jumlah Rata-rata Tabel C.21 0.4 Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor di Wilayah Bojonagara Bandung Jenis Kendaraan Mobil Pribadi Motor Truk Bus Minibus umum Jumlah LHR (lalu-lintas harian rata-rata) (kendaraan/hari) 16.000 + 324.085 45.993 Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 11.

707.27 856.16 2.42 Luas (%) 28.62 3.050.22 250.04 768.08 36.87 470.730.Tabel C.09 2.28 L-8 .12 16.107.07 4.5 Kebutuhan RTH di Kota Bandung Tahun 2004 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Wilayah pengembangan Bojonagara Cibeunying Karees Tegalega Gedebage Ujungberung Kota Bandung Luas wilayah (Ha) 2.330.13 11.85 29.61 9.28 2.28 2.63 21.00 Kebutuhan RTH (Ha) 672.602.47 20.559.40 544.933.

LAMPIRAN D (informatif) PILIHAN VEGETASI UNTUK DIKEMBANGKAN DI RTH Pengenal Lingkungan Perawakan Daya Tarik Potensi di RTH Dapat dikonsumsi ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Reduktor Polutan ● ● ● ● ● ● ● ● Pohon Sedang Pohon Kecil 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Akalipa hijau kuning Akasia daun besar Akasia kuning Angrek Tanah Angsana Apel Asam Asem landi Bakung Bambu Jepang Beringin Bintaro Bogenvil Bunga pukul empat Bunga saputangan Bungur Cemara gunung Cemara laut Cemara Norfolk Cempaka Dadap belang Dadap merah Damar Durian Ebony/ Kayu hitam Flamboyan Ganitri Glodogan pohon Glodogan tiang Hujan Mas Iris Jambu air Jambu batu Jambu monyet Jarak Jati Jeruk bali Jeruk nipis Johar Kalak Kaliandra Kana Kantil Karet Munding Kasia singapur Acalypha wilkesiana Accacia mangium Acacia auriculaeformis Spathoglotis plicata Pthecarpus indicus Chrysophyllum cainito Tamarindus indica Pitchecolobium dulce Crinum asiaticum Bambusa sp. Ficus benyamina Cerbera manghas Bougenvillea sp Mirabilis jalapa Amherstia nobilis Lagerstromea loudonii Casuarina junghuniana Casuarina equisetifolia Araucaria heterophylla Michelia champaca Erythrina variegata Erythrina cristagalli Agathis alba Durio zibethinus Dyospiros celebica Delonix regia Elaeocarpus grandisflora Polyathea sp. Polyathea longifolia Cassia fistula Belamcanda chinensis Eugenia aquea Psidium guajava Anacardium occidentale Jatropha integerima Tectona grandis Citrus grandisty Citrus aurantifolia Cassia siamea Polyantha lateriflora Caliandra haematocepala Canna Hibrida Michelia alba Ficus elastica Cassia spectabilis ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● L-9 Pengarah No Nama Lokal Nama Latin Bentuk Tajuk Pohon Besar Warna daun Tekstur Semak Bunga Perdu Buah .

Sikat botol Callistemon lanceolatus Soka Ixora stricata Sukun Artocarpus altilis Sutra bombay Portulaca gransiflora Tanjung Mimusops elengi Tapak dara Catharanthus roseus Teh-tehan Pangkas Acalypha sp. Trembesi Samanea saman Kelapa Kembang merak Kembang Sepatu ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● L . tusam Pinus mercusii Puspa Schima wallichii Salam Eugenia polyantha Sansiviera/Lidah mertua Sanseviera trifasciata L Sarai raja Caryota mitis Sawo kecik Manilkara kauki Serunai rambat Widelia sp.Perawakan Pohon Sedang Pohon Besar Daya Tarik Bentuk Tajuk Warna daun Potensi di RTH Dapat dikonsumsi ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Reduktor Polutan ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Pengenal Link ● 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 Cocos nucifera Caesalphinia pulcherima Hibiscusrosa sinensis Kemboja merah Plumeria rubra Kemuning Muraya paniculata Kenanga Cananga odorata Kenari Canarium commune Kersen Muntingiacalabura Kesumba Bixa orellana Ketapang Terminalia cattapa Ki acret Spathodea companulata Kiara Payung Filicium decipiens Kol Banda */ Pisonia alba Kupu-kupu Bauhinia purpurea Lamtorogung Leucaena leccocephala Landep Baleria priontis Lantana Lantana camara Lengkeng Euphoria longan Lontar / Siwalan Borassus flabellifer Mahoni Switenia mahagoni Mangga Mangifera indica Mangkokan Nothopanax scutellarium Matoa Pometia pinata Menteng Baccaurea motleyana Merawan Hopea mangarawan Mimba Azadirachta indica Nagasari Mesua ferrea Nangka Artocarpus heterophylla Nusa Indah Musaenda sp. Pepaya Carica papaya Pinang Jambe Areca catechu Pinang Mac-arthur Ptychosperma macarthurii Pinus.10 Pengarah ● ● Tekstur No Nama Lokal Nama Latin Pohon Kecil Semak Bunga Perdu Buah . Nyamplung Callophyllum inophyllum Oleander Nerium oleander Palem Ekor Tupai Wodyetia bifurca Palem kubis Licuala grandis Palem Kuning Chrysalidocarpus lutescens Palem Merah Cytostachys renda Palem Raja Oreodoxa regia Palem Sadeng Livistona rotundifolia Pangkas kuning Duranta sp.

Lansekap Jalan. Bogor. Direktorat Jenderal Penataan Ruang. Perda Depok No. Bandung. Spesifikasi Tanaman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2005. Mona Sintia dan Murhananto.. Time Saver Standards for Landscape Architecture. Mc Graw – Hill Professional. Landscape Architect’s Portable Hand Book. 2004. Rully Wijayakusuma. Departemen Pekerjaan Umum. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. Pedoman Perencanaan Median Jalan. Sinar Baru. EN. 1992. Direktorat Jenderal Bina Marga. Manan. 2004. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. Standard Specifications for Geometric Design of Urban Roads. Pedoman Umum Penanaman Jalur Hijau Jalan. S. dalam Dahlan. 1988. Pemeliharaan Tanaman.BIBLIOGRAFI Charles Harries & Nicholas T. Mendisain. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. 2004. IPB Press. Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan. Kementerian Lingkungan Hidup. Directorate General of Highways. Daya Transpirasi Tanaman Perkotaan. 2004. 1981. L . McGraw-Hill. Jakarta. 2001. Kurniawan. Ministry of Public Works. Pengantar Pengetahuan Dasar Hortikultura. Tangerang. 1995. IPB Press. Pedoman Teknik Departemen Pekerjaan Umum. Pengaruh Hutan dan Manajemen Daerah Aliran Sungai. Bogor. Pembangunan Rumah Sederhana Tidak Bersusun. tentang Garis Sempadan. 2005. E N. Dines. Departemen Pekerjaan Umum. Departemen Pekerjaan Umum. dalam Dahlan.18 Tahun 2003. Hendro Sunaryo dan Rismunandar. Pemeliharaan Taman. 1993. EN. RTH sebagai Unsur Utama Pembentuk Kota Taman. edisi revisi. 1976. Dahlan.11 . 2004. Membuat dan Merawat Taman Rumah. Direktorat Jenderal Cipta Karya. Bogor. F. Agro Media Pustaka. Hadi Susilo Arifin dan Nurhayati HS Arifin. 2007. Dines T Nicholas & Brown D Kyle. 1986. 2004. 2006. Bandung. IPB Press. Penebar Swadaya. Depok. Jurusan Arsitektur Lansekap Faperta Unbar. New York..

RTH Sebagai Unsur Utama Pembentuk Undang-Undang No. 1977. tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Tantangan Lingkungan Hidup dan Lansekap Kota. Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan L .1988. 1998. Undang-Undang No. Jurusan Teknik Planologi FT Unpas. 27 April 2006. Kota. 14 Tahun 1992. tentang Perkeretaapian. 1989. Surat Kabar Harian Pikiran Rakyat.Soerianegara dan Indrawan. Penentuan Luas Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen. United States Department of Transportation.12 . 13 Tahun 1992. dalam Noor Syailendra. dalam Endes Nurfilmarasa. Undang-Undang No. 38 Tahun 2004. Kajian Kebutuhan Hutan Kota di Kota Bandung. Highway Economic Requirements System. Wisessa. Pustaka Cidesindo. Jakarta. Zoer’aini Djamal Irwan. tentang Jalan. Ekologi Hutan Indonesia. Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan SNI 033/T/BM/ 1996. SNI 031/T/BM/1999. J.