PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang : a. bahwa kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik terutama Ruang Terbuka Hijau (RTH) saat ini mengalami penurunan yang sangat signifikan dan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan hidup perkotaan yang berdampak keberbagai sendi kehidupan perkotaan antara lain sering terjadinya banjir, peningkatan pencemaran udara, dan menurunnya produktivitas masyarakat akibat terbatasnya ruang yang tersedia untuk interaksi sosial; b. bahwa Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang memberikan landasan untuk pengaturan ruang terbuka hijau dalam rangka mewujudkan ruang kawasan perkotaan yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan; c. bahwa dalam rangka implementasi Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang diperlukan adanya Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu ditetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);

3. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara RI; 4. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara RI; 5. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu; 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN.

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Menteri adalah Menteri Pekerjaan Umum. Pasal 2 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan dimaksudkan untuk: a. menyediakan acuan yang memudahkan pemangku kepentingan baik pemerintah kota, perencana maupun pihak-pihak terkait, dalam perencanaan, perancangan, pembangunan, dan pengelolaan ruang terbuka hijau. memberikan panduan praktis bagi pemangku kepentingan ruang terbuka hijau dalam penyusunan rencana dan rancangan pembangunan dan pengelolaan ruang terbuka hijau. memberikan bahan kampanye publik mengenai arti pentingnya ruang terbuka hijau bagi kehidupan masyarakat perkotaan. memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat dan pihak-pihak terkait tentang perlunya ruang terbuka hijau sebagai pembentuk ruang yang nyaman untuk beraktivitas dan bertempat tinggal.

2.

3.

b.

c. d.

Pasal 3 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan bertujuan untuk: a. b. menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air; menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat; meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih. Pasal 4 (1) Ruang lingkup Peraturan Menteri memuat: a. b. c. (2) ketentuan umum, yang terdiri dari tujuan, fungsi, manfaat, dan tipologi ruang terbuka hijau; ketentuan teknis yang meliputi penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan; prosedur perencanaan dan peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau.

c.

Materi muatan tentang pengaturan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimuat secara lengkap dalam lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 5

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Peraturan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk diketahui dan dilaksanakan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 26 Mei 2008 MENTERI PEKERJAAN UMUM,

DJOKO KIRMANTO

LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TANGGAL : 26 Mei 2008 PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN .

.............................. 1.............3...............................2........1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan............................................. 4..3 Pemeliharaan Tanaman.............................. BAB IV PROSEDUR PERENCANAAN DAN PERAN MASYARAKAT 4............................................................ 4...... 1........................................2..................................2 Peran Swasta.......................... 2.....................................................................................................4...............3.............................................................................. Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan.................................4...................... Ruang Lingkup Pedoman........................................6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu........................ Ketentuan Penanaman......................................................................................................... ....2.................. Tujuan Penyelenggaraan RTH........................... 2................................................1.............. 1................ Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan...........3.............1........................1.........6...7....................2............ Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan............. 2.......4...... 2........................................DAFTAR ISI Daftar Isi......................... Daftar Gambar..... 2...........................1............................................................... Manfaat RTH.............................................................2.........2 Penanaman...........3........................................................4........1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam. BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 2...........3......... Peran Masyarakat.............................. 2..........4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau..................................................................... ......... ................................... RTH Fungsi Tertentu... 2.................... BAB I KETENTUAN UMUM 1...... 1................... Prosedur Perencanaan......................... 3.4.............................................. Kedudukan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah........ 2.................................................2 Pada Lingkungan/Permukiman.... Daftar Tabel... BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 3.4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman.... Arahan Penyediaan RTH.....4...... 2........... Tipologi RTH................ ....... 2.........2........................................................................2..................................2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota.... Kriteria Vegetasi RTH............... 4...............................4.................3............................................4 Penghargaan dan Kompensasi............. Istilah dan Definisi...........................2..................3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota..................................................... 2.................. 2............. 2....................................3 Kota/Perkotaan...... 3.......................5.............................................................................................. 1.................................................................2........... 1........................ 4................. 3...... .....2...................................................................... Fungsi RTH....2..........3.................3 Lembaga/Badan Hukum................................................1 Pada Bangunan/Perumahan................... 1......... 2........5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan............................................3............8...................................................................................................................... 2.............. ................................................................ i i iii iv v 1 1 1 1 3 5 5 6 6 9 9 10 10 12 14 31 31 32 33 34 36 38 43 43 43 44 45 47 47 47 52 55 59 59 59 61 61 62 62 ...... 2. 4....................1 Peran Individu/Kelompok................. Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman............ Acuan Normatif..........................................................................................................................3.................................................. Prakata...............

.....................................................................Lampiran A Lampiran B Lampiran C Lampiran D Bagan Proporsi RTH Wilayah Perkotaan...................................................................... Contoh Perhitungan Hutan Kota..................................... Gambar Contoh RTH Taman................................................................................................... L-11 ii ...................... Pilihan Vegetasi untuk Dikembangkan di RTH............... L-1 L-2 L-5 L-9 Bibliografi....................

..........13 2..2 2.................................2 C.............1 1.............................................................. Contoh Tanaman untuk Roof Garden........7 2........5 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH.................................. Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor di Wilayah Bojonagara......................................................................... Contoh Tanaman untuk Di Bawah Jalan Layang................................8 2.. Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota............ Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api......5 C............... Kebutuhan Oksigen Manusia di Kota Bandung Tahun 2004........................... RTH Sempadan Danau dan Mata Air..................9 2........14 3.. Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan............................ Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Hutan Kota........................................... Kemampuan Hutan dalam Mengendalikan Gelombang Pendek dan Gelombang Panjang.. Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET................................................... Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota.12 2........... Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor...................................1 C........3 C....... Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk.........................................3 2........DAFTAR TABEL Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 1.....4 2... Kepemilikan RTH........1 2.......... 5 7 8 9 22 25 26 32 33 33 34 37 37 38 39 40 43 50 51 53 54 57 L-6 L-6 L-7 L-7 L-8 iii .....1 3...........................6 2............................ Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan....4 3........................................................................................ Contoh Vegetasi untuk Pemakaman.......................................... Bandung........................................................................... Contoh Tanaman untuk Sabuk Hijau yang Tahan Terhadap Penggenangan Air........2 3.........................................3 2............. Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET............................................. Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan....... Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api................. Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki.................................... Kebutuhan Oksigen Menurut Klasifikasi Jenis Kendaraan Bermotor............3 3.4 Tabel C.............2 1............11 2... Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai......5 2...................10 2............................ Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan............................ Kebutuhan RTH di Kota Bandung Tahun 2004 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen.........

........2 2... Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT)..............................4 B............................................................... Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak................ Jalur Tanaman Tepi Pembatas Pandang............. Pola Tanam Hutan Kota Strata 2....................... Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT) ................11 2........................ Contoh Taman Rukun Warga............. Jalur Tanaman pada Median Penahan Silau Lampu Kendaraan.. Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai....................................................16 3............. Contoh Taman Rukun Kelurahan. Pelibatan Masyarakat pada Pemanfaatan Dan Pengendalian...............................5 B........................................1 2....1 B............................................ Contoh Taman Rukun Kecamatan......7 4...................3 B............................... Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif)..... Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara........1 3........... Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin...........3 2.............2 3........................12 2............8 2..............2 B.........................2 2... Tipologi RTH......................6 Kedudukan Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam RTR Kawasan Perkotaan.................................................................................................................................... Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif)..................... Contoh Taman Kecamatan. Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang....7 2...15 2................5 3............. Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden.......................................6 2...... Contoh Taman Rukun Kelurahan....1 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 1....................................13 2...............5 2.......................... 4 7 12 15 15 17 18 19 19 20 21 21 23 24 25 29 30 31 48 48 49 50 51 52 53 60 L-2 L-2 L-3 L-3 L-4 L-4 iv ......... Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki.................................................... Contoh Taman Rukun Warga.................... Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan............10 2............. .............9 2......................... Contoh Taman Kota................................ Jalur Tanaman Tepi Peneduh... Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan................................... Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air.14 2.......1 B............................... Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman.....................................................4 3.................... Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT) .............................................DAFTAR GAMBAR Gambar 1...3 3............................. Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH Di Bawah Jalan Layang.........……………………………..........................................................4 2............. Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT)......6 3.....................

prosedur perencanaan dan peran masyarakat yang semuanya merupakan pedoman teknis yang berlaku secara nasional. Departemen Pekerjaan Umum dan merupakan salah satu rujukan teknis Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten serta seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) terutama para praktisi dan para akademisi di berbagai kegiatan yang dalam tugas dan kegiatannya berkaitan dengan penyediaan dan pemanfaatan RTH di kawasan perkotaan. v . Proses penyusunan pedoman ini telah melibatkan berbagai kalangan masyarakat termasuk para akademisi dari perguruan tinggi terkemuka. Pedoman ini dipersiapkan oleh Panitia Teknik Standardisasi Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil melalui Gugus Kerja Perencanaan Sub Panitia Teknis Tata Ruang. pemanfaatan RTH. Pedoman ini berisi rujukan untuk penyediaan RTH.PRAKATA Buku pedoman ini disusun oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang. ketentuan penanaman dan pemeliharaan tanaman. kriteria vegetasi untuk RTH.

Ketentuan umum meliputi ruang lingkup pedoman. yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang. 36 Tahun 2005. baik yang bersifat alamiah maupun buatan manusia. tepi waduk. pasir. dan ketentuan penanaman. Tatacara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan 1. c.2. kriteria vegetasi RTH. tentang Sumber Daya Air Undang-Undang RI No. Ruang Lingkup Pedoman Pedoman ini terdiri dari ketentuan umum dan ketentuan teknis serta lampiran-lampiran sebagai pelengkapnya. Pedoman ini dilengkapi dengan foto dan gambar contoh beberapa RTH. 4. penyediaan RTH berdasarkan: luas wilayah. tepi situ/rawa. pada lingkungan/permukiman. kedudukan pedoman penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam rencana tata ruang wilayah. Ketentuan teknis merupakan pedoman rinci. b). istilah dan definisi. jumlah penduduk. arahan penyediaan RTH. tentang Peraturan Pelaksanaan Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum f. tentang Hutan Kota Peraturan Pemerintah RI No. fungsi dan manfaat RTH. kaki tanggul. b. 34 Tahun 2006. 28 Tahun 2002. tepi saluran. dan tipologi RTH. 3. 26 Tahun 2007. tepi mata air. tentang Jalan g. pada kota/perkotaan. tepi sungai.3. Elemen lansekap. 32 Tahun1990. e. tepi luar kepala jembatan. 1 . as rel kereta api. Hutan kota. penanaman dan pemeliharaan tanaman. tujuan penyelenggaraan RTH.Ketentuan Umum Bab I BAB I KETENTUAN UMUM 1. adalah segala sesuatu yang berwujud benda. adalah garis batas luar pengaman untuk mendirikan bangunan dan atau pagar yang ditarik pada jarak tertentu sejajar dengan as jalan. sedangkan yang dimaksud dengan benda hidup ialah tanaman. suara. meliputi: a). adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak. dan kebutuhan fungsi tertentu. SNI 03-1733-2004. fungsi tertentu.1. tentang Penataan Ruang Peraturan Pemerintah RI No. warna dan suasana yang merupakan pembentuk lansekap. dan elemen-elemen lainnya yang berbentuk padat maupun cair. Peraturan Pemerintah RI No. tentang Pengelolaan Kawasan Lindung h. d. prosedur perencanaan dan peran masyarakat. Istilah dan Definisi 1. 2. 7 Tahun 2004. dan yang dimaksud dengan benda mati adalah tanah. Keputusan Presiden RI No. Elemen lansekap yang berupa benda terdiri dari dua unsur yaitu benda hidup dan benda mati. pipa gas. Garis sempadan. pemanfaatan RTH: pada bangunan/perumahan. 63 Tahun 2002. batu. acuan normatif. adalah jalur penempatan tanaman serta elemen lansekap lainnya yang terletak di dalam ruang milik jalan (RUMIJA) maupun di dalam ruang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan a. Acuan Normatif Undang-Undang RI No. 1. jaringan tenaga listrik. Jalur hijau. tentang Bangunan Gedung Undang-Undang RI No.

10. Pohon. baik yang tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. 16.Ketentuan Umum Bab I 5. adalah pohon yang memiliki ketinggian dewasa lebih dari 12 meter. adalah tumbuhan berkayu dengan percabangan mulai dari pangkal batang dan memiliki lebih dari satu batang utama. adalah pohon yang memiliki ketinggian dewasa 7-12 meter. nyaman dan memenuhi fungsi keamanan. pengawasan jalan (RUWASJA). pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Ruang terbuka. adalah kesatuan geografis yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional serta mempunyai fungsi utama tertentu. adalah pohon yang memiliki ketinggian sampai dengan 7 meter. berupa lahan yang diperkeras maupun yang berupa badan air. Ruang terbuka terdiri atas ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non hijau. 14. 15. adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan gedung dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. adalah area memanjang/jalur dan atau mengelompok. Lansekap jalan. 18. adalah ruang terbuka di wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam kategori RTH. yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. adalah semua tumbuhan berbatang pokok tunggal berkayu keras. adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan. Sering disebut jalur hijau karena dominasi elemen lansekapnya adalah tanaman yang pada umumnya berwarna hijau. tempat tumbuh tanaman. Penutup tanah. Koefisien Daerah Hijau (KDH). adalah semua jenis tumbuhan yang difungsikan sebagai penutup tanah. Lansekap jalan ini mempunyai ciri-ciri khas karena harus disesuaikan dengan persyaratan geometrik jalan dan diperuntukkan terutama bagi kenyamanan pemakai jalan serta diusahakan untuk menciptakan lingkungan jalan yang indah. maupun yang terbentuk dari elemen lansekap buatan manusia yang disesuaikan dengan kondisi lahannya. 8. 9. adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur dimana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. Koefisien Dasar Bangunan (KDB). Ruang Terbuka Hijau (RTH). Ruang terbuka hijau privat. 11. Kawasan. 7. 6. Pohon kecil. yang timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat sesuai dengan hak dan kewajiban dalam penyelenggaraan penataan ruang. 17. Pohon besar. 19. Ruang terbuka non hijau. Kawasan perkotaan. Perdu. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 2 . pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. 12. adalah berbagai kegiatan masyarakat. 13. Pohon sedang. baik yang terbentuk dari elemen lansekap alamiah seperti bentuk topografi lahan yang mempunyai panorama yang indah. adalah wajah dari karakter lahan atau tapak yang terbentuk pada lingkungan jalan. adalah RTH milik institusi tertentu atau orang perseorangan yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas antara lain berupa kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan. 20. Peran masyarakat.

dan pengendalian pemanfaatan ruang. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 3 . Tanggul.Ketentuan Umum Bab I 21.4. Tajuk. adalah bentuk alami dari struktur percabangan dan diameter tajuk. edukasi atau kegiatan lain pada tingkat kota. meliputi pohon. adalah bangunan pengendali sungai yang dibangun dengan persyaratan teknis tertentu untuk melindungi daerah sekitar sungai terhadap limpasan air sungai. penataan ruang wilayah kabupaten/kota. Sabuk hijau (greenbelt). herbaseus. 26. adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. Adapun ketentuan lebih lanjut mengenai penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau diatur dalam pedoman ini. adalah RTH yang memiliki tujuan utama untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu. Taman kota. Ruang terbuka hijau publik. 30. 25. 1. 29. 28. adalah kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya. Kedudukan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Penataan ruang merupakan suatu sistem proses perencanaan tata ruang. adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif. Semak. perdu. atau RTR Kawasan Strategis Kota. Berdasarkan wilayah administrasinya. adalah tumbuhan berbatang hijau serta tidak berkayu disebut sebagai 24. Perencanaan tata ruang dilakukan untuk menghasilkan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang. 27. pemanfaatan ruang. adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif. RDTR Kota. juga dimuat dalam RTR Kawasan Perkotaan yang merupakan rencana rinci tata ruang wilayah Kabupaten. penataan ruang wilayah provinsi. perencanaan tata ruang wilayah kota harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau yang luas minimalnya sebesar 30% dari luas wilayah kota. Vegetasi/tumbuhan. penataan ruang terdiri atas penataan ruang wilayah nasional. dan rumput. adalah jenis tanaman penutup permukaan tanah yang bersifat selain mencegah erosi tanah juga dapat menyuburkan tanah yang kekurangan unsur hara. Tanaman penutup tanah. Wilayah. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau selain dimuat dalam RTRW Kota. 23. 22. Di dalam Undang-Undang No. Taman lingkungan. semak. yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan kondisi geografis. edukasi atau kegiatan lain pada tingkat lingkungan. Biasanya merupakan tanaman antara bagi tanah yang kurang subur sebelum penanaman tanaman yang tetap (permanen). adalah keseluruhan tetumbuhan dari suatu kawasan baik yang berasal dari kawasan itu atau didatangkan dari luar.

area pengembangan keanekaragaman hayati. e. k. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 4 .Ketentuan Umum Bab I Gambar 1.1. dan ruang penempatan pertandaan (signage) sesuai dengan peraturan perundangan dan tidak mengganggu fungsi utama RTH tersebut. pembatas perkembangan kota ke arah yang tidak diharapkan. c. area mitigasi/evakuasi bencana. Kedalaman rencana penyediaan dan pemanfaatan RTH pada masing-masing rencana tata ruang tersebut di atas dapat dilihat pada Tabel 1. h. kawasan pengendalian air larian dengan menyediakan kolam retensi. d. pengamanan sumber daya baik alam. tempat pemakaman umum. kawasan konservasi untuk kelestarian hidrologis. dimaksudkan untuk menjamin tersedianya ruang yang cukup bagi: a. melalui pembatasan kepadatan serta kriteria pemanfaatannya. buatan maupun historis. b. f. penyediaan RTH yang bersifat privat. tempat rekreasi dan olahraga masyarakat. i. j.1 Kedudukan Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam RTR Kawasan Perkotaan Penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam RTRW Kota/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan. area penciptaan iklim mikro dan pereduksi polutan di kawasan perkotaan. g.

c. Meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman.Ketentuan Umum Bab I Tabel 1.5.1 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH Jenis Rencana Tata Ruang Rencana Tata Ruang Wilayah 1) 2) Kota (Rencana Umum) 3) 4) 5) Kedalaman Muatan Luas minimum yang harus dipenuhi. alternatif vegetasi pengisi ruang khususnya arahan vegetasi dalam kelompok-kelompok besar. lokasi. ƒ pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung lancar. RDTRK/RTR Kawasan 1) Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan 2) (Rencana Rinci) 3) 4) 5) 6) 1. 1. Penetapan jenis dan lokasi RTH yang akan disediakan. Rencana penyediaan RTH yang dirinci berdasarkan jenis/tipologi RTH. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 5 . Indikasi program mewujudkan penyediaan RTH pada masing-masing kawasan/bagian wilayah kota. segar. Tujuan Penyelenggaraan RTH Tujuan penyelenggaraan RTH adalah: a. hingga konsep-konsep rencana RTH sebagai arahan untuk pengembangan disain selanjutnya. Fungsi utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis: ƒ memberi jaminan pengadaan RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota). nyaman. Alternatif vegetasi pengisi ruang khususnya arahan vegetasi dalam kelompok-kelompok besar. Konsep-konsep rencana RTH sebagai arahan untuk pengembangan disain selanjutnya. ƒ sebagai peneduh. Fungsi RTH RTH memiliki fungsi sebagai berikut: a. ƒ penyerap air hujan. Ketentuan tentang peraturan zonasi. Tahap-tahap implementasi penyediaan RTH. ƒ produsen oksigen. Arahan elemen pelengkap pada RTH. Tipologi masing-masing RTH. dan luas dengan skala yang lebih detail/besar.6. Menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air. dan bersih. Menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat. arahan elemen pelengkap pada RTH. b. Ketentuan pemanfaatan RTH secara umum. indah.

pelestarian fungsi lingkungan beserta segala isi flora dan fauna yang ada (konservasi hayati atau keanekaragaman hayati).tempat rekreasi. yaitu membentuk keindahan dan kenyamanan (teduh.2 berikut: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 6 . ƒ penyerap polutan media udara. daun. kehutanan dan lainlain. Fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu: ƒ Fungsi sosial dan budaya: . b.pembentuk faktor keindahan arsitektural. .Ketentuan Umum Bab I ƒ penyedia habitat satwa.7. . . . b. maupun makro: lansekap kota secara keseluruhan. serta. kepentingan. keseimbangan ekologi dan konservasi hayati.wadah dan objek pendidikan. Manfaat RTH Manfaat RTH berdasarkan fungsinya dibagi atas: a.meningkatkan kenyamanan. Tipologi RTH Pembagian jenis-jenis RTH yang ada sesuai dengan tipologi RTH sebagaimana Gambar 1. lingkungan permukimam.8. Dalam suatu wilayah perkotaan. ƒ penahan angin. penelitian.menggambarkan ekspresi budaya lokal. dan pelatihan dalam mempelajari alam. buah. 1. segar. seperti tanaman bunga.merupakan media komunikasi warga kota. ƒ Fungsi estetika: . sejuk) dan mendapatkan bahan-bahan untuk dijual (kayu. . empat fungsi utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan. yaitu pembersih udara yang sangat efektif.bisa menjadi bagian dari usaha pertanian. buah). . Manfaat tidak langsung (berjangka panjang dan bersifat intangible). air dan tanah. bunga. daun. memperindah lingkungan kota baik dari skala mikro: halaman rumah. ƒ Fungsi ekonomi: . . perkebunan. sayur mayur. pemeliharaan akan kelangsungan persediaan air tanah. Manfaat langsung (dalam pengertian cepat dan bersifat tangible).menciptakan suasana serasi dan seimbang antara area terbangun dan tidak terbangun. dan keberlanjutan kota seperti perlindungan tata air.sumber produk yang bisa dijual. 1.menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota.

estetika. Pembagian jenis-jenis RTH publik dan RTH privat adalah sebagaimana tabel 1. Taman kota f.2 Tipologi RTH Secara fisik RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami berupa habitat liar alami. Dilihat dari fungsi RTH dapat berfungsi ekologis. tersebar). Secara struktur ruang. RTH dibedakan ke dalam RTH publik dan RTH privat. kawasan lindung dan taman-taman nasional serta RTH non alami atau binaan seperti taman.Ketentuan Umum Bab I Fisik Fungsi Ekologis Struktur Kepemilikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) RTH Alami Sosial Budaya Estetika Pola Ekologis RTH Publik RTH Non Alami Ekonomi Pola Planologis RTH Privat Gambar 1. 1. Taman atap bangunan RTH Taman dan Hutan Kota a. memanjang. Taman RT b. 3. pertokoan. Taman kelurahan d.2 berikut. Hutan kota g. Jalur pejalan kaki c. V V Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 7 . sosial budaya. usaha c. Sabuk hijau (green belt) RTH Jalur Hijau Jalan a. Pulau jalan dan median jalan b. Halaman perkantoran.2 Kepemilikan RTH No. Pekarangan rumah tinggal b. Taman kecamatan e. Tabel 1. lapangan olahraga. maupun pola planologis yang mengikuti hirarki dan struktur ruang perkotaan. dan ekonomi. Ruang dibawah jalan layang RTH Publik RTH Privat V V V V V V V V V V V V V V V V V dan tempat 2. pemakaman atau jalur-jaur hijau jalan. Taman RW c. RTH dapat mengikuti pola ekologis (mengelompok. Dari segi kepemilikan. Jenis RTH Pekarangan a.

Pemakaman RTH Publik V V V V V V RTH Privat Catatan: taman lingkungan yang merupakan RTH privat adalah taman lingkungan yang dimiliki oleh orang perseorangan/masyarakat/swasta yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas. maka RTH ini harus memiliki aksesibilitas yang baik untuk semua orang. ƒ sedang ƒ Berpenduduk ƒ padat ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 8 . termasuk aksesibilitas bagi penyandang cacat.d. Khusus untuk RTH dengan fungsi sosial seperti tempat istirahat. RTH sempadan rel kereta api b. estetika/arsitektural. RTH sempadan pantai e. Berikut ini tabel arahan karakteristik RTH di perkotaan untuk berbagai tipologi kawasan perkotaan: Tabel 1. yaitu sosial budaya. ekonomi. Jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi c. RTH pengamanan sumber air baku/mata air f. Karakteristik RTH disesuaikan dengan tipologi kawasannya. RTH sempadan sungai d.Ketentuan Umum Bab I No. Jenis RTH Fungsi Tertentu a. sarana olahraga dan atau area bermain. 4. Baik RTH publik maupun privat memiliki beberapa fungsi utama seperti fungsi ekologis serta fungsi tambahan.3 Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan Tipologi Kawasan Perkotaan Pantai Karakteristik RTH Fungsi Utama Penerapan Kebutuhan RTH pengamanan wilayah pantai sosial budaya mitigasi bencana konservasi tanah konservasi air keanekaragaman hayati mitigasi/evakuasi bencana dasar perencanaan kawasan sosial ekologis sosial hidrologis ƒ berdasarkan luas wilayah ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan luas wilayah ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan jumlah penduduk ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan jumlah penduduk ƒ ƒ ƒ Pegunungan ƒ ƒ ƒ Rawan Bencana ƒ Berpenduduk ƒ jarang s.

baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat. maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya.5 0.1 Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk No 1 2 3 Unit Lingkungan 250 jiwa 2500 jiwa 30.250 9. serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota.2 1.000 disesuaikan Luas minimal/ kapita (m2) 1. ƒ proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari ruang terbuka hijau privat.000 jiwa 120.000 jiwa Tipe RTH Taman RT Taman RW Taman Kelurahan Taman kecamatan Pemakaman Luas minimal/ unit (m2) 250 1.000 24. Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan a.2 Lokasi di tengah lingkungan RT di pusat kegiatan RW dikelompokan dengan sekolah/ pusat kelurahan dikelompokan dengan sekolah/ pusat kecamatan tersebar 4 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 9 . dilakukan dengan mengalikan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan standar luas RTH per kapita sesuai peraturan yang berlaku.1. maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat. Target luas sebesar 30% dari luas wilayah kota dapat dicapai secara bertahap melalui pengalokasian lahan perkotaan secara tipikal sebagaimana ditunjukkan pada lampiran A. Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota. ƒ apabila luas RTH baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah memiliki total luas lebih besar dari peraturan atau perundangan yang berlaku. Tabel 2. Penyediaan RTH Berdasarkan Luas Wilayah Penyediaan RTH berdasarkan luas wilayah di perkotaan adalah sebagai berikut: ƒ ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH privat.3 0.0 0.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 2. Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk Untuk menentukan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk. b.

jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi. Pekarangan Rumah Besar Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah besar adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) kategori yang termasuk rumah besar adalah rumah dengan luas lahan di atas 500 m2.2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No Unit Lingkungan Tipe RTH Taman kota Luas minimal/ unit (m2) 144. dan RTH pengamanan sumber air baku/mata air. Untuk memudahkan di dalam pengklasifikasian pekarangan maka ditentukan kategori pekarangan sebagai: a.5 Lokasi di pusat wilayah/ kota di dalam/ kawasan pinggiran disesuaikan dengan kebutuhan 5 480. yang berfungsi untuk berbagai aktivitas. RTH Pekarangan Pekarangan adalah lahan di luar bangunan. jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 3 (tiga) pohon pelindung ditambah dengan perdu dan semak serta penutup tanah dan atau rumput. pengaman pejalan kaki atau membatasi perkembangan penggunaan lahan agar fungsi utamanya tidak teganggu. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 10 . RTH kategori ini meliputi: jalur hijau sempadan rel kereta api. RTH sempadan pantai. Luas pekarangan disesuaikan dengan ketentuan koefisien dasar bangunan (KDB) di kawasan perkotaan.1 Pada Bangunan/Perumahan a. Arahan Penyediaan RTH 2.1. Penyediaan RTH Berdasarkan Kebutuhan Fungsi Tertentu Fungsi RTH pada kategori ini adalah untuk perlindungan atau pengamanan. 2. sarana dan prasarana misalnya melindungi kelestarian sumber daya alam. RTH kawasan perlindungan setempat berupa RTH sempadan sungai.000 jiwa Hutan kota untuk fungsi-fungsi tertentu c.000 disesuaikan disesuaikan Luas minimal/ kapita (m2) 0. ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat.0 12. seperti tertuang di dalam PERDA mengenai RTRW di masing-masing kota.3 4.2.

pertokoan dan tempat usaha dengan KDB dibawah 70%. dan lain-lain Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 11 . berlaku seperti persyaratan pada RTH pekarangan rumah. memiliki minimal 2 (dua) pohon kecil atau sedang yang ditanam pada lahan atau pada pot berdiameter diatas 60 cm. teras rumah. Pekarangan Rumah Sedang Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah sedang adalah sebagai berikut: 1) kategori yang termasuk rumah sedang adalah rumah dengan luas lahan antara 200 m2 sampai dengan 500 m2. teras-teras bangunan bertingkat dan disamping bangunan. 2) ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat. seperti atap gedung. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB diatas 70%. dan tempat usaha umumnya berupa jalur trotoar dan area parkir terbuka. dan ditanam pada area diluar KDB yang telah ditentukan. Pertokoan. Persyaratan penanaman pohon pada perkantoran. maka untuk RTH dapat memanfaatkan ruang terbuka non hijau. c. b. serta penutup tanah dan atau rumput. Perkantoran. pertokoan. serta penutup tanah dan atau rumput. RTH dalam Bentuk Taman Atap Bangunan (Roof Garden) Pada kondisi luas lahan terbuka terbatas. Keterbatasan luas halaman dengan jalan lingkungan yang sempit. Pekarangan Rumah Kecil Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah kecil adalah sebagai berikut: 1) kategori yang termasuk rumah kecil adalah rumah dengan luas lahan dibawah 200 m2. Penyediaan RTH pada kawasan ini adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) Untuk dengan tingkat KDB 70%-90% perlu menambahkan tanaman dalam pot. dan Tempat Usaha RTH halaman perkantoran.3.2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a. a. tidak menutup kemungkinan untuk mewujudkan RTH melalui penanaman dengan menggunakan pot atau media tanam lainnya. 3) jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 2 (dua) pohon pelindung ditambah dengan tanaman semak dan perdu. 3) jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 1 (satu) pohon pelindung ditambah tanaman semak dan perdu. RTH Halaman Perkantoran. 2) ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat.

aspek keselamatan dan keamanan.1 Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden Tanaman untuk RTH dalam bentuk taman atap bangunan adalah tanaman yang tidak terlalu besar. dengan perakaran yang mampu tumbuh dengan baik pada media tanam yang terbatas. Luas taman ini adalah minimal 1 m2 per penduduk RT. lapisan kedap air (waterproofing ). Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 12 . dengan luas minimal 250 m2. Lahan dengan KDB diatas 90% seperti pada kawasan pertokoan di pusat kota.2 Pada Lingkungan/Permukiman a. atau pada kawasan-kawasan dengan kepadatan tinggi dengan lahan yang sangat terbatas. khususnya untuk melayani kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II dengan memakai media tambahan. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman. Aspek yang harus diperhatikan dalam pembuatan taman atap bangunan adalah: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) struktur bangunan. Untuk itu bangunan harus memiliki struktur atap yang secara teknis memungkinkan. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk dalam lingkup 1 (satu) RT. sistem utilitas bangunan. tahan terhadap hembusan angin serta relatif tidak memerlukan banyak air. aspek pemeliharaan ƒ peralatan ƒ tanaman Gambar 2.80% dari luas taman.2. pemilihan material. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 300 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayani. RTH dapat disediakan pada atap bangunan. media tanam. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% . 2. seperti pot dengan berbagai ukuran sesuai lahan yang tersedia.

sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas.250 m2. kegiatan olahraga masyarakat. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 13 . Lokasi taman berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan.000 m2. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. Lokasi taman berada pada wilayah kelurahan yang bersangkutan. dengan luas minimal taman 9. Luas taman ini minimal 0. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% . dengan luas minimal 1. serta kegiatan masyarakat lainnya di lingkungan RW tersebut. Luas taman ini minimal 0.90% dari luas taman. juga terdapat minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk taman aktif dan minimal 100 (seratus) pohon tahunan dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif. RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kelurahan.2 m2 per penduduk kecamatan. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% . khususnya kegiatan remaja. b.80% dari luas taman.000 m2. juga terdapat minimal 10 (sepuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang. d. juga terdapat minimal 25 (duapuluhlima) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman aktif dan minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif. dengan luas taman minimal 24. c. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% . Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan.30 m2 per penduduk kelurahan. RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kecamatan. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 1000 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. RTH Taman Rukun Warga RTH Taman Rukun Warga (RW) dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu RW.5 m2 per penduduk RW.90% dari luas taman.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II juga terdapat minimal 3 (tiga) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. Luas taman ini minimal 0.

3 m2 per penduduk kota. dengan luas minimal 2500 m. Hutan kota dapat berbentuk: a. Hutan kota berstrata banyak. Komunitas vegetasi tumbuh menyebar terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau gerombol-gerombol kecil. Memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika. Struktur hutan kota dapat terdiri dari: a. c.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II 2. pantai. yaitu hanya memiliki komunitas tumbuhtumbuhan pepohonan dan rumput. dan semak ditanam secara berkelompok atau menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan. Menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota.000 m2. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau). dengan luas taman minimal 144.000 penduduk dengan standar minimal 0. b. Taman ini melayani minimal 480. Berbentuk jalur: hutan kota pada lahan-lahan berbentuk jalur mengikuti bentukan sungai.90%. Menyebar: hutan kota yang tidak mempunyai pola bentuk tertentu. juga terdapat semak dan penutup tanah dengan jarak tanam tidak beraturan. Jenis vegetasi yang dipilih berupa pohon tahunan. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. dan Mendukung pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia. Hutan Kota Tujuan penyelenggaraan hutan kota adalah sebagai peyangga lingkungan kota yang berfungsi untuk: a. saluran dan lain sebagainya. perdu. RTH Taman Kota RTH Taman kota adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kota atau bagian wilayah kota.3 Kota/Perkotaan a. yaitu memiliki komunitas tumbuhtumbuhan selain terdiri dari pepohonan dan rumput. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . jalan. b. dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 80% . d. b. c. dengan jumlah vegetasi minimal 100 pohon dengan jarak tanam rapat tidak beraturan.100% dari luas hutan kota. d. b. yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga. Hutan kota berstrata dua. Lebar minimal hutan kota berbentuk jalur adalah 30 m. Meresapkan air. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 14 . Bergerombol atau menumpuk: hutan kota dengan komunitas vegetasi terkonsentrasi pada satu areal.2.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2. Dalam kaitan kebutuhan air penduduk kota maka luas hutan kota sebagai produsen air dapat dihitung dengan rumus: La = P0 .Pa z dengan: La adalah adalah P0 K adalah R adalah C adalah PAM adalah t adalah Pa adalah z adalah luas hutan kota yang harus dibangun jumlah penduduk konsumsi air/kapita (lt/hari) laju peningkatan pemakaian air faktor pengendali kapasitas suplai air perusahaan tahun potensi air tanah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 15 . K ( 1 + R – C ) t – PAM .2 Pola Tanam Hutan Kota Strata 2 Gambar 2.3 Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak Luas ruang hijau yang diisi dengan berbagai jenis vegetasi tahunan minimal seluas 90% dari luas total hutan kota.

pesawahan. sehingga berperan sebagai pembatas atau pemisah. Mengatasi penggenangan. dipenuhi pepohonan. Sabuk Hijau Sabuk hijau merupakan RTH yang berfungsi sebagai daerah penyangga dan untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan (batas kota. lebar jalur. Mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari. perkebunan. dipertahankan keberadaannya. Penahan angin. daerah rendah dengan drainase yang kurang baik sering tergenang air hujan yang dapat mengganggu aktivitas kota serta menjadi sarang nyamuk. sebagai berikut: Pt + Kt + Tt Lt = (54 )(0. serta pengamanan dari faktor lingkungan sekitarnya. 0. untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur.9375 gram 2 adalah jumlah musim di Indonesia c. ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 16 . Hutan kota.9375 )(2) m2 dengan: Lt adalah luas Hutan Kota pada tahun ke t (m2) Pt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t Kt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke Tt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t 54 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari. yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988). ƒ ƒ Fungsi lingkungan sabuk hijau: ƒ ƒ ƒ ƒ Peredam kebisingan. Penapis cahaya silau.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Hutan kota dalam kaitan sebagai produsen oksigen dapat dihitung dengan metode Gerakis (1974).9375 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0. Kebun campuran. yang telah ada sebelumnya (eksisting) dan melalui peraturan yang berketetapan hukum. Sabuk hijau dapat berbentuk: ƒ RTH yang memanjang mengikuti batas-batas area atau penggunaan lahan tertentu. pemisah kawasan. dan lain-lain) atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu.

d) bermassa daun padat. Sedangkan median berupa jalur pemisah yang membagi jalan menjadi dua lajur atau lebih. f) ditanam secara berbaris.4 Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan Pulau Jalan dan Median Jalan Taman pulau jalan adalah RTH yang terbentuk oleh geometris jalan seperti pada persimpangan tiga atau bundaran jalan. Gambar 2. e) berasal dari perbanyakan biji. Penyerap dan penepis bau. Dalam pedoman ini dibahas pulau jalan dan median yang berbentuk taman/RTH. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 17 . yaitu fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya. d. RTH dapat disediakan dengan penempatan tanaman antara 20–30% dari ruang milik jalan (rumija) sesuai dengan klas jalan. b) percabangan 2 m di atas tanah. yang disukai oleh burung-burung. RTH Jalur Hijau Jalan Untuk jalur hijau jalan. c) bentuk percabangan batang tidak merunduk. Mengatasi penggurunan. serta tingkat evapotranspirasi rendah.5 m dari tepi median). a. g) tidak mudah tumbang. perlu memperhatikan 2 (dua) hal. Median atau pulau jalan dapat berupa taman atau non taman. Pada jalur tanaman tepi jalan 1) Peneduh a) ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1. Mengamankan pantai dan membentuk daratan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ ƒ ƒ Mengatasi intrusi air laut. Disarankan agar dipilih jenis tanaman khas daerah setempat. sehingga akan meningkatkan jumlah air tanah yang akan menahan perembesan air laut ke daratan. RTH hijau di dalam kota akan meningkatkan resapan air. Untuk menentukan pemilihan jenis tanaman.

perdu/semak. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) Angsana (Ptherocarphus indicus) Akasia daun besar (Accasia mangium) Oleander (Nerium oleander) Bogenvil (Bougenvillea Sp) Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 18 . memiliki kegunaan untuk menyerap udara.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Contoh jenis tanaman: a) Kiara Payung (Filicium decipiens) b) Tanjung (Mimusops elengi) c) Bungur (Lagerstroemia floribunda) Gambar 2. jarak tanam rapat. bermassa daun padat.5 Jalur Tanaman Tepi Peneduh 2) Penyerap polusi udara a) b) c) d) terdiri dari pohon.

Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) f) Tanjung (Mimusops elengi) Kiara payung (Filicium decipiens) Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Bogenvil (Bogenvillea sp) Oleander (Nerium oleander) Gambar 2. berbagai bentuk tajuk.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2.6 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara 3) Peredam kebisingan a) b) c) d) terdiri dari pohon.7 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 19 . perdu/semak. bermassa daun rapat. membentuk massa.

ditanam berbaris atau membentuk massa. bermassa daun padat. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) Bambu (Bambusa sp) Cemara (Cassuarina equisetifolia) Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Oleander (Nerium oleander) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 20 . jarak tanam rapat < 3 m. ditanam berbaris atau membentuk massa. perdu/semak. jarak tanam rapat.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II 4) Pemecah angin a) b) c) d) tanaman tinggi. bermassa daun padat. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) Cemara (Cassuarina equisetifolia) Mahoni (Swietania mahagoni) Tanjung (Mimusops elengi) Kiara Payung (Filicium decipiens) Kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis) Gambar 2.8 Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin 5) Pembatas pandang a) b) c) d) tanaman tinggi. perdu/semak.

Penyediaan P RT TH di Kawasan n Perkotaan Bab II Gambar 2.9 Jalur Tanaman Tepi Pem mbatas Pan ndang b. p Contoh jen nis tanaman n: a) b) c) d) Bogen nvil (Bogenv villea sp) Kemb bang sepatu (Hibiscus rosasinensis r s) Olean nder (Netriu um oleander r) Nusa Indah (Mus ssaenda sp) 2 Jalur Tanaman pada Med dian Penah han Silau Gambar 2. Pada medi ian Penahan silau s lampu kendaraan a) b) c) d) tanam man perdu/s semak. keting ggian 1.5 m. ditana am rapat.10 endaraan Lampu Ke Pedom man Penyediaan dan Pemanfa faatan Ruang Terbuka T Hijau di Kawasan Perkotaan P 21 1 . m berma assa daun padat.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II c. (lihat buku "Spesifikasi Perencanaan Lansekap Jalan Pada Persimpangan” No. Untuk daerah bebas pandang ini ada ketentuan mengenai letak tanaman yang disesuaikan dengan kecepatan kendaraan dan bentuk persimpangannya. misalnya: . berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian < 0. berbentuk pohon dengan percabangan di atas 2 meter Bentuk Persimpangan 2) Pemilihan jenis tanaman pada persimpangan Penataan lansekap pada persimpangan akan merupakan ciri dari persimpangan itu atau lokasi setempat. Persimpangan 30 m kaki empat tidak Pada ujung Tanaman rendah Tanaman rendah tegak lurus persimpangan 80 m 80 m Tanaman tinggi Tanaman tinggi Catatan: .8 m . Persimpangan persimpangan Tanaman rendah Tanaman rendah kaki empat tegak Mendekati 80 m 100 m lurus tanpa kanal persimpangan Tanaman tinggi Tanaman tinggi 50 m 2. Penempatan dan pemilihan tanaman dan ornamen hiasan harus disesuaikan dengan ketentuan geometrik persimpangan jalan dan harus memenuhi kriteria sebagai berikut: a) Daerah bebas pandang tidak diperkenankan ditanami tanaman yang menghalangi pandangan pengemudi.80 m. Pada Persimpangan Jalan Beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam penyelesaian lansekap jalan pada persimpangan. Sebaiknya digunakan tanaman rendah berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian <0.Pangkas Kuning (Duranta sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 22 . Tabel 2.Tanaman tinggi.Lantana (Lantana camara) . dan jenisnya merupakan berbunga atau berstruktur indah.Tanaman rendah.Soka berwarna-warni (Ixora stricata) . antara lain: 1) Daerah bebas pandang di mulut persimpangan Pada mulut persimpangan diperlukan daerah terbuka agar tidak menghalangi pandangan pemakai jalan. 02/T/BNKT/1992).2 Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan Jarak dan Jenis Tanaman Letak Tanaman Kecepatan 40 Kecepatan 60 km/jam km/jam 40 m Pada ujung 20 m 1.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2.Palem raja (Oreodoxa regia) .Pinang jambe (Areca catechu) .11 Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang b) Bila pada persimpangan terdapat pulau lalu lintas atau kanal yang dimungkinkan untuk ditanami. c) Penggunaan tanaman tinggi berbentuk tanaman pohon sebagai tanaman pengarah. adalah cara mengukur ditawarkan oleh sistem pedestrian yaitu: kualitas fungsional yang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 23 . misalnya: 1) Tanaman berbatang tunggal seperti jenis palem Contoh: .Lontar (siwalan) (Borassus flabellifer) 2) Tanaman pohon bercabang > 2 m Contoh: . RTH Ruang Pejalan Kaki Ruang pejalan kaki adalah ruang yang disediakan bagi pejalan kaki pada kiri-kanan jalan atau di dalam taman.Tanjung (Mimosups Elengi) e.Khaya (Khaya Sinegalensis) . Ruang pejalan kaki yang dilengkapi dengan RTH harus memenuhi hal-hal sebagai berkut: 1) Kenyamanan.Bungur (Lagerstromea Loudonii) . sebaiknya digunakan tanaman perdu rendah dengan pertimbangan agar tidak mengganggu penyeberang jalan dan tidak menghalangi pandangan pengemudi kendaraan.

Pada umumnya orang tidak mau berjalan lebih dari 400 m. kebiasaan dan budaya. kehadiran penghambat fisik. dan indah. Kemudahan berpindah dari satu arah ke arah lainnya yang dipengaruhi oleh kepadatan pedestrian.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ Orientasi. Kriteria pergerakan. 2) Karakter fisik. jarak rata-rata orang berjalan di setiap tempat umumnya berbeda dipengaruhi oleh tujuan perjalanan. marka jalan) pada lansekap untuk membantu dalam menemukan jalan pada konteks lingkungan yang lebih besar. warisan dan nilai yang dianut terhadap lingkungan. Ruang Terbuka Hijau di Bawah Jalan Layang Penyediaan RTH di bawah jalan layang dalam rangka: a) b) c) sebagai area resapan air. kondisi permukaan jalan dan kondisi iklim. kepadatan penduduk. asri. Jalur pejalan kaki harus aksesibel untuk semua orang termasuk penyandang cacat. menghindari kekumuhan dan lokasi tuna wisma. kondisi cuaca. disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat. berupa tanda visual (landmark. kebiasaan dan gaya hidup. 24 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . agar area di bawah tertata rapi. f. 468/KPTS/1998 tanggal 1 Desember 1998. tentang Persyaratan Teknis Aksesiblitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan dan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Ruang Pejalan Kaki. meliputi: ƒ Kriteria dimensional.12 Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki 3) Pedoman teknis lebih rinci untuk jalur pejalan kaki dapat mengacu pada Kepmen PU No. ƒ Gambar 2.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II d) e) f) menghindari permukiman liar. Jalan rel kereta api lurus b. Jalur Hijau (RTH) Sempadan Rel Kereta Api Penyediaan RTH pada garis sempadan jalan rel kereta api merupakan RTH yang memiliki fungsi utama untuk membatasi interaksi antara kegiatan masyarakat dengan jalan rel kereta api. RTH jaringan listrik tegangan tinggi. serta berukuran tidak terlalu besar. mengingat keterbatasan tempat. Jalan rel kereta api belokan/lengkungan . Gambar 2. g.13 Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH di Bawah Jalan Layang Pemilihan tanaman seyogianya dari jenis yang tahan ternaungi sepanjang waktu dan relatif tahan kekurangan air.lengkung dalam .lengkung luar Tanaman >11 m >23 m >11 m Obyek Bangunan >20 m >23 m >11 m Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 25 . memperlembut bagian/struktur bangunan yang berkesan kaku. Berkaitan dengan hal tersebut perlu dengan tegas menentukan lebar garis sempadan jalan kereta api di kawasan perkotaan. Tabel 2. menutupi bagian-bagian struktur jalan yang tidak menarik. RTH sempadan danau. RTH sempadan pantai. RTH pengamanan sumber air baku/mata air. g.1. RTH sempadan sungai. RTH Fungsi Tertentu RTH fungsi tertentu adalah jalur hijau antara lain RTH sempadan rel kereta api.3 Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api Jalan Rel Kereta Api terletak di: a.

3 m 0.5 m 15 m SUTM 2. 7. diukur dari puncak galian tanah atau atas serongan.5 m 1.5 m. 8.5 m 0.5 m 8. 9.5 m 2.3 m 20 m 20 m Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 26 .5 m 2.5 m 8m 20 20 20 20 20 20 m m m m m m SUTET 500 KV 20 m 20 m 50 m 3m 15 m 15 m 8. Dalam peralihan jalan lurus ke jalan lengkung diluar as jalan harus ada jalur tanah yang bebas.3 m 0.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Kriteria garis sempadan jalan kereta api yang dapat digunakan untuk RTH adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) Garis sempadan jalan rel kereta api adalah ditetapkan dari as jalan rel terdekat apabila jalan rel kereta api itu lurus.5 m 0.5 m 2.5 m 1.5 m 1. Garis sempadan jalan rel kereta api sebagaimana dimaksud pada butir 1) tidak berlaku apabila jalan rel kereta api terletak di tanah galian yang dalamnya 3. Garis sempadan jalan rel kereta api pada belokan adalah lebih dari 23 m diukur dari lengkung dalam sampai as jalan.3 m 0.3 m 0. 1.5 m 1.5 m 0. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di tanah timbunan diukur dari kaki tanggul. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak pada tanah datar diukur dari as jalan rel kereta api.2.5 m 0. Garis sempadan jalan perlintasan sebidang antara jalan rel kereta api dengan jalan raya adalah 30 m dari as jalan rel kereta api pada titik perpotongan as jalan rel kereta api dengan as jalan raya dan secara berangsur–angsur menuju pada jarak lebih dari 11 m dari as jalan rel kereta api pada titik 600 m dari titik perpotongan as jalan kereta api dengan as jalan raya. f) g) g.5 m 3. 5.3 m 0. Jalur Hijau (RTH) pada Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Ketentuan lebar sempadan jaringan tenaga listrik yang dapat digunakan sebagai RTH adalah sebagai berikut: a) b) Garis sempadan jaringan tenaga listrik adalah 64 m yang ditetapkan dari titik tengah jaringan tenaga listrik.5 m 2. 2. 3.5 m 2. Lokasi Bangunan beton Pompa bensin Penimbunan bahan bakar Pagar Lapangan terbuka Jalan raya Pepohonan Bangunan tahan api Rel kereta api SUTT 66 KV 150 KV 20 m 20 m 20 m 20 m 50 m 20 m 3m 6.5 m 1. 6. Pelebaran tersebut dimulai dalam jarak 20 m di muka lengkungan untuk selanjutnya menyempit lagi sampai jarak lebih dari 11 m. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di dalam galian.5 m 8m 3.4 Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET No.5 m 2. 4.5 m 20 m 20 m Saluran kabel SKTM SKTR 0.5 m 0. Ketentuan jarak bebas minimum antara penghantar SUTT dan SUTET dengan tanah dan benda lain ditetapkan sebagai berikut: Tabel 2.5 m 20 m 20 m 0.3 m 0. yang secara berangsur–angsur melebar dari jarak lebih dari 11 sampai lebih dari 23 m.5 m 0.5 m 20 m 20 m SUTR 1.5 m 1.

5 m 14 m 8. a) Sungai bertanggul: 1) 2) 3) 4) Garis sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 3 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. 12. Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. Garis sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 5 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. b) Sungai tidak bertanggul: 1) Garis sempadan sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut: 27 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . Sesuai peraturan yang ada. diperlebar dan ditinggikan yang dapat berakibat bergesernya garis sempadan sungai. 10. 11.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. sungai di perkotaan terdiri dari sungai bertanggul dan sungai tidak bertanggul.5 m SUTM 20 m 20 m 20 m 20 m SUTR 20 m 20 m 20 m 20 m Saluran kabel SKTM SKTR 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m Keterangan: SUTR SUTM SUTT SUTET SKTR SKTM = = = = = = Saluran Saluran Saluran Saluran Saluran Saluran Udara Tegangan Rendah Udara Tegangan Menengah Udara Tegangan Tinggi Udara Tegangan Ekstra Tinggi Kabel Tegangan Rendah Kabel Tegangan Menengah g. RTH Sempadan Sungai RTH sempadan sungai adalah jalur hijau yang terletak di bagian kiri dan kanan sungai yang memiliki fungsi utama untuk melindungi sungai tersebut dari berbagai gangguan yang dapat merusak kondisi sungai dan kelestariannya. televisi dan kereta gantung SUTT 66 KV 150 KV 3m 20 m 3m 2.5 m 8.3. jaringan telekomunikasi. tanggul dapat diperkuat.5 m 3m 20 m 20 m 20 m SUTET 500 KV 8. maka lahan yang diperlukan untuk tapak tanggul baru sebagai akibat dilaksanakannya ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) harus dibebaskan. Lokasi Jembatan besi/ tangga besi/ kereta listrik Dari titik tertinggi tiang kapal Lapangan olah raga SUTT lainnya pengahantar udara tegangan rendah. 13. Dengan pertimbangan untuk peningkatan fungsinya.

4.100%. RTH sempadan pantai merupakan area pengaman pantai dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan oleh gelombang laut seperti intrusi air laut. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. 2) Garis sempadan sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut: a) Sungai besar yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas 500 km2 atau lebih. Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 m sampai dengan 20 m. Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) tidak terpenuhi. Garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan adalah tepi bahu jalan yang bersangkutan. abrasi. Lebar RTH sempadan pantai minimal 100 m dari batas air pasang tertinggi ke arah darat. tiupan angin kencang dan gelombang tsunami.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a) b) c) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 m. g. penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 100 m. Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 20 m. dengan ketentuan konstruksi dan penggunaan harus menjamin kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai. maka segala perbaikan atas kerusakan yang timbul pada sungai dan bangunan sungai menjadi tanggungjawab pengelola jalan. b) 3) 4) 5) Garis sempadan sebagaimana dimaksud pada butir 1) dan 2) diukur ruas per ruas dari tepi sungai dengan mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 10 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut. jalur hijau terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurangkurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai. penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 50 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. erosi. Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai kurang dari 500 km2. RTH Sempadan Pantai RTH sempadan pantai memiliki fungsi utama sebagai pembatas pertumbuhan permukiman atau aktivitas lainnya agar tidak menggangu kelestarian pantai. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 28 .

Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat. Tanjung. Lumnitzera spp. dan Nypa sp. Excoecaria spp.14 Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai g. Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi. wildlife habitat dan meredam angin kencang. pemilihan vegetasi diutamakan dari daerah setempat yang telah mengalami penyesuaian dengan kondisi tersebut. c) d) Sonneratia spp.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Fasilitas dan kegiatan yang diijinkan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) b) Tidak bertentangan dengan Keppres No. Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 29 . Bruguiera spp. Xylocarpus spp. RTH Sumber Air Baku/Mata Air RTH sumber air meliputi sungai. Formasi Hutan Mangrove sangat baik sebagai peredam ombak dan dapat membantu proses pengendapan lumpur. dan mata air. Kiputri. Angsana. Untuk danau dan waduk. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Rhizophora spp. danau/waduk. Khusus untuk RTH sempadan pantai yang telah mengalami intrusi air laut atau merupakan daerah payau dan asin. Asam Landi (Pichelebium dulce) dan Mahoni (Switenia mahagoni ) relatif lebih tahan jika dibandingkan Kesumba. Trengguli. termasuk gangguan terhadap kualitas visual.5. erosi. Untuk mata air. dan Kuku. Gambar 2. RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. melindungi dari ancaman gelombang pasang. Beberapa jenis tumbuhan di ekosistem mangrove antara lain: Avicenia spp. Aegiceras sp. RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekitar mata air.

pemakaman dibagi dalam beberapa blok. maka ketentuan bentuk pemakaman adalah sebagai berikut: a) b) c) d) ukuran makam 1 m x 2 m.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2. atau dengan pohon pelindung. pencipta iklim mikro serta tempat hidup burung serta fungsi sosial masyarakat disekitar seperti beristirahat dan sebagai sumber pendapatan. tiap makam tidak diperkenankan dilakukan penembokan/ perkerasan.6.15 Contoh Penanaman Pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air g. tempat pertumbuhan berbagai jenis vegetasi.5 m. Untuk penyediaan RTH pemakaman. e) f) g) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 30 . batas antar blok pemakaman berupa pedestrian lebar 150-200 cm dengan deretan pohon pelindung disalah satu sisinya. jarak antar makam satu dengan lainnya minimal 0. ruang hijau pemakaman termasuk pemakaman tanpa perkerasan minimal 70% dari total area pemakaman dengan tingkat liputan vegetasi 80% dari luas ruang hijaunya. RTH Pemakaman Penyediaan ruang terbuka hijau pada areal pemakaman disamping memiliki fungsi utama sebagai tempat penguburan jenasah juga memiliki fungsi ekologis yaitu sebagai daerah resapan air. batas terluar pemakaman berupa pagar tanaman atau kombinasi antara pagar buatan dengan pagar tanaman. luas dan jumlah masing-masing blok disesuaikan dengan kondisi pemakaman setempat.

Halaman Perkantoran. tidak berduri.16 Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman 2. jenis tanaman tahunan atau musiman. Pekarangan Rumah Sedang. ketinggian tanaman bervariasi. Gambar 2.1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan a. sistem perakaran masuk ke dalam tanah. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan Rumah Besar. tidak beracun. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. tidak merusak konstruksi dan bangunan. tahan terhadap hama penyakit tanaman. Kriteria Vegetasi untuk Taman Atap Bangunan dan Tanaman dalam Pot Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 31 . perakaran tidak mengganggu pondasi. dahan tidak mudah patah. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang. dan Tempat Usaha Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) b.3. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung. Pertokoan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Pemilihan vegetasi di pemakaman disamping sebagai peneduh juga untuk meningkatkan peran ekologis pemakaman termasuk habitat burung serta keindahan. Pekarangan Rumah Kecil. Kriteria Vegetasi RTH 2. memiliki nilai estetika yang menonjol.3.

sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung. relatif tahan terhadap kekurangan air. Tabel 2. ketinggian tanaman bervariasi. mudah dalam pemeliharaan. I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 II 1 2 3 Ground Cover Jenis dan Nama Tanaman Perdu/semak Akalipa merah Nusa Indah merah Daun Mangkokan Bogenvil merah Azalea Soka daun besar Bakung Oleander Palem Kuning Sikas Alamanda Puring Kembang Merak Rumput Gajah Lantana ungu Rumput kawat Nama Latin Keterangan Acalypha wilkesiana Musaenda erytthrophylla Notophanax scutelarium Bougenvillea glabra Rhododendron indicum Ixora javonica Crinum asiaticum Nerium oleander Chrysalidocaus lutescens Cycas revolata Aalamanda cartatica Codiaeum varigatum Caesalphinia pulcherima Axonophus compressus Lantana camara Cynodon dactylon Daun berwarna Berbunga Berdaun unik Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Daun berwarna Bentuk unik Merambat berbunga Daun berwarna Berbunga Tekstur kasar Berbunga Tekstur sedang 2. dahan tidak mudah patah. perawakan dan bentuk tajuk cukup indah. tahan dan tumbuh baik pada temperatur lingkungan yang tinggi. tetapi tidak terlalu gelap.3. tahan terhadap hama penyakit tanaman. berupa habitat tanaman lokal dan tanaman budidaya. jenis tanaman tahunan atau musiman. tidak berduri.5 Contoh Tanaman untuk Roof Garden No. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang.2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk taman lingkungan dan taman kota adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) tidak beracun.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a) b) c) d) e) tanaman tidak berakar dalam sehingga mampu tumbuh baik dalam pot atau bak tanaman. tajuk cukup rindang dan kompak. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 32 . perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan. perakaran tidak mengganggu pondasi. jarak tanam setengah rapat sehingga menghasilkan keteduhan yang optimal. kecepatan tumbuh sedang.

7 Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota No. d) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. l) seresah yang dihasilkan cukup banyak dan tidak bersifat alelopati. Jenis dan Nama Tanaman Nama Latin Keterangan 1 Bunga Kupu-kupu Bauhinia Purpurea Berbunga 2 Sikat botol Calistemon lanceolatus Berbunga 3 Kemboja merah Plumeria rubra Berbunga 4 Kersen Muntingia calabura Berbuah 5 Kendal Cordia sebestena Berbunga 6 Kesumba Bixa orellana Berbunga 7 Jambu batu Psidium guajava Berbuah 8 Bungur Sakura Lagerstroemia loudonii Berbunga 9 Bunga saputangan Amherstia nobilis Berbunga 10 Lengkeng Ephorbia longan Berbuah 11 Bunga Lampion Brownea ariza Berbunga 12 Bungur Lagerstroemea floribunda Berbunga 13 Tanjung Mimosups elengi Berbunga 14 Kenanga Cananga odorata Berbunga 15 Sawo Kecik Manilkara kauki Berbuah 16 Akasia mangium Accacia mangium 17 Jambu air Eugenia aquea Berbuah 18 Kenari Canarium commune Berbuah Catatan: pemilihan tanaman disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim setempat 2. 1 2 3 Nama Tanaman Kiara Beringin Loa Ficus spp Ficus benyamina Ficus glaberrima Nama Latin Jenis burung/potensi Punai (Treron sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 33 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Tabel 2.3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) memiliki ketinggian yang bervariasi. h) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri. c) tajuk cukup rindang dan kompak. n) memiliki perakaran yang dalam. agar tumbuhan lain dapat tumbuh baik sebagai penutup tanah. e) tahan terhadap hama penyakit. m) jenis tanaman yang ditanam termasuk golongan evergreen bukan dari golongan tanaman yang menggugurkan daun (decidous). f) berumur panjang. j) batang tegak kuat. g) toleran terhadap keterbatasan sinar matahari dan air. b) sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung. i) batang dan sistem percabangan kuat. tidak mudah patah. k) sistem perakaran yang kuat sehingga mampu mencegah terjadinya longsor. Tabel 2.6 Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Taman Kota No.3.

Srindit (Loriculus pusillus) Jalak (sturnidae) dan. Pemilihan vegetasi berdaun rapat berukuran relatif besar dan tebal dapat meredam kebisingan lebih baik.8 Contoh Tanaman untuk Sabuk Hijau yang Tahan Terhadap Penggenangan Air Lama genangan (hari) 0 – 10 Jenis tanaman Nama Lokal Nama Latin Sungkai. Penapis cahaya silau. Gia Kedondong Bulan Canarium littoralle Johar Cassia siamea Keladan Dipterocarpus gracillis Ampupu Eucalyptus alba ƒ ƒ ƒ 10 – 20 20 – 30 30 – 40 40 – 50 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 34 . Kayu Batu.3. Ameliorasi iklim mikro. beberapa jenis burung madu Burung ukut-ukut Srigunting Bahan pembuat sarang Buah dapat dimakan Pengundang serangga Katagori pohon langka Tahan pangkas Buah dapat dimakan Bumbu dapur 2. Pacar Keling Bixa orellana Kemlandingan Leucaena glauca Kayu Palele Castanopsis javanica Trengguli. Tabel 2.4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: ƒ Peredam kebisingan. Jati Seberang Peronema canescens Jati Tectona grandis Dahat Tectona hamiltoniana Salam Eugeniu polyantha Lantana Merah. 4 Nama Tanaman Dadap Erythrina varigata Nama Latin 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Dangdeur Aren Buni Buni hutan Kembang merak Serut Jamblang Salam Gosampinus heptaphylla Arenga pinatta Antidesma bunius Antidesma montanum Caesalpinia pulcherrima Syzygium paucipuncatum Streblus asper Syzygium cumini Syzygium polyanntum Jenis burung/potensi Betet (Psittacula alexandri). untuk fungsi ini dipilih penanaman dengan vegetasi berdaun rapat. tumbuhan berukuran tinggi dengan luasan area yang cukup dapat mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari. peletakan tanaman yang diatur sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi dan menyerap cahaya. Golden Shower Cassia fistula Dalingsem.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. Kayu Homalium tomentosum Kerbau. Mengatasi penggenangan. Tembelekan Lantana camara Balsa Orchoma lagopus Cendana India Santaum album Suren Toona sureni Gopasa Vitex gopassus Kesumba Keling.

dan Tanjung (Mimosups elengi) adalah tanaman yang dapat mengeluarkan bau harum. Sabuk hijau yang dibangun harus cukup tebal. sabuk hijau ini dapat berupa formasi hutan mangrove. ƒ ƒ ƒ ƒ Pola tanam sabuk hijau sebagai penahan angin adalah sebagai berikut: ƒ Sabuk hijau membentuk jalur hijau cembung ke arah datangnya angin. Mengamankan pantai dan membentuk daratan. lebar jalur. Kihiyang Sonoleking Senon. Sabuk hijau seyogyanya ditempatkan tepat pada arah datangnya angin dan obyek yang dilindungi harus berada di bagian belakangnya. Mengatasi penggurunan. ƒ ƒ ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 35 . Kenanga (Cananga odorata). Mengatasi intrusi air laut. Pada daerah payau dapat dipilih pohon Mahoni (Swietenia mahagoni) dan Asam Landi (Pichecolobium dulce). Penyerap dan penepis bau. dapat melindungi daerah dari hembusan angin yang membawa serta pasir. akan menjadikan angin laminar dan mencegah terbentuknya angin turbulen. tanaman yang dipilih adalah yang daya evapotranspirasinya rendah. Jeungjing Kosambi Tekik Kopi Meranti tembaga Sonokeling Meranti merah Keluarga Mahoni Cemara laut 50 – 60 60 – 70 70 – 80 90 – 100 100 – 200 300 Semar. Casuarina equisetifolia Intsia bijuga Samanea saman Gluta renghas Nama Latin Sumber: Soerianagara dan Indrawan (1988) ƒ Penahan angin. Sabuk hijau yang terlalu tipis kurang dapat melindungi karena masih dapat diterobos angin. Pendusta utan Kihujan Rengas Pinus insularis Pinus mercusii Pterocarpus javanicus Pterocarpus indicus Vitex pubescens Albizzia procera Dalbergia sisso Paraserianthes falcataria Schleichera oleosa Albizzia lebbeck Coffea spp Shorea leprosula Dalbergia latifolia Shorea ovalis Swietenia spp. yang terletak di bagian yang mengarah ke hembusan angin. Beberapa spesies tanaman seperti Cempaka (Michelia champaca). yang telah terbukti dapat meredam ombak dan membantu proses pengendapan lumpur di pantai. Sabuk hijau yang dibangun harus cukup panjang agar dapat melindungi objek dengan baik. untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Lama genangan (hari) Jenis tanaman Nama Lokal Pinus Benquet Tusam Wedang Angsana Laban Weru. sabuk hijau berupa jalur pepohonan yang tinggi lebar dan panjang. Sengon Laut. jalur pepohonan yang rapat dan tinggi dapat melokalisir bau dan menyerap bau.

5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan a. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 36 . s) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. g) perawakan dan bentuk tajuk cukup indah. t) sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi. l) daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang. memiliki pertumbuhan sempurna baik batang maupun akar. b) sistem perakaran masuk kedalam tanah. p) mudah sembuh bila mengalami luka akibat benturan dan akibat lain. m) saat berbunga/berbuah tidak mengotori jalan. e) batang dan sistem percabangan kuat. tidak merusak konstruksi dan bangunan. tetapi tidak terlalu gelap. sehingga mampu menutup secara baik.3. dan RTH Jalur Pejalan Kaki Kriteria untuk jalur hijau jalan adalah sebagai berikut: 1) Aspek silvikultur: a) b) c) d) e) f) 2) berasal dari biji terseleksi sehat dan bebas penyakit. sistim perakaran padat. f) batang tegak kuat. Memiliki kerapatan daun berkisar antara 70–85%. q) tahan terhadap hama penyakit. r) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri. Sebaliknya kerapatan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terbentuknya angin turbulen. k) tidak menggugurkan daun. u) berumur panjang. batang tegak dan keras pada bagian pangkal. n) buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung. 2. perbandingan bagian pucuk dan akar seimbang. Sifat biologi: a) tumbuh baik pada tanah padat. Kriteria Vegetasi untuk Taman Pulau Jalan dan Median Jalan. h) tajuk cukup rindang dan kompak. dengan dahan yang kuat namun cukup lentur. i) ukuran dan bentuk tajuk seimbang dengan tinggi pohon. Tanaman harus terdiri dari beberapa strata yaitu tanaman tinggi sedang dan rendah. d) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia. tidak mudah patah dan tidak berbanir. tajuk simetris dan padat. o) sebaiknya tidak berduri atau beracun. tidak dapat berfungsi sebagai penahan angin.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ ƒ Tanaman yang ditanam didominasi oleh tanaman yang cukup tinggi. tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa. Kerapatan yang kurang. j) daun sebaiknya berukuran sempit (nanofill). c) fase anakan tumbuh cepat.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

Tabel 2.9 Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki
No I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 II 1 2 3 4 5 Nama Lokal Pohon Bunga Kupu-kupu Bunga kupu-kupu ungu Trengguli Kayu manis Tanjung Salam Melinjo Bungur Cempaka Tanjung Perdu/semak/groundcover Canna Soka jepang Puring Pedang-pedangan Lili pita Nama Latin Tinggi (m) 8 8 15 12 15 12 15 18 18 12 0.6 0.3 0.7 0.5 0.3 Jarak Tanam (m) 12 12 12 12 12 6 6 12 12 12 0.2 0.2 0.3 0.2 0.15

Bauhinia purpurea Bauhinia blakeana Cassia fistula Cinnamommum iners Mimosups elengi Euginia polyantha Gnetum gnemon Lagerstroemia floribunda Michelia champaca Mimosups elengi Canna varigata Ixora spp Codiaeum varigatum Sansiviera spp Ophiopogon jaburan

b.

Kriteria Vegetasi untuk RTH di Bawah Jalan Layang Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) tanaman yang tahan dan dapat hidup dengan baik pada tempat yang ternaungi secara permanen; tidak membutuhkan penyinaran matahari secara penuh; relatif tahan kekurangan air; perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan; sebaiknya merupakan tanaman dari jenis yang mempunyai kemampuan dalam mengurangi polusi udara; dapat hidup dengan baik pada media tanam pot atau bak tanaman.

Tabel 2.10 Contoh Tanaman untuk RTH di Bawah Jalan Layang
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama lokal Balancing Talas-talasan Hanjuang Philodendron Pedang-pedangan Xanadu Singonium Yuca Dracaena Spatipilum

Dieffenbachia spp Calathea spp Cordyline spp Philodendron spp Sansiviera spp Philodendron xanadu Syngonium spp Yucca elephantipes Dracaaena spp Spathypillum spp

Nama latin

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

37

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

2.3.6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu a. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) tumbuh baik pada tanah padat; sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan; fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa; ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia; batang dan sistem percabangan kuat; batang tegak kuat, tidak mudah patah dan tidak berbanir; perawakan dan bentuk tajuk cukup indah; daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang; buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung; tahan terhadap hama penyakit; berumur panjang.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH rel kereta api, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi, disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian pada daerah masingmasing. Tabel 2.11 Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Nama Daerah Flamboyan Angsana Ketapang Kupu-kupu Kere paying Johar Tanjung Mahoni Akasia Bungur Kenari Johar Damar Nyamplung Jakaranda Liang liu Kismis Ganitri Saga Anting-anting Asam kranji Johar Cemara Pinus Beringin Nama Latin Delonix regia Pterocarpus indicus Terminalia cattapa Bauhinia purpurea Filicium decipiens Cassia multiyoga Mimusops elengi Swientenia mahagoni Acacia auriculiformis Lagerstroemia loudonii Canarium commune Cassia sp. Agathis alba Calophyllum inophyllum Jacaranda filicifolia Salix babilinica Muehlenbeckia sp. Elaeocarpus spahaericus Adenanthera povoniana Elaeocarpus grandiflorus Pithecelobium dulce Cassia grandis Cupresus papuana Pinus merkusii Ficus benjamina

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

38

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

Pola tanam vegetasi di sepanjang rel kereta api harus memperhatikan keamanan terhadap lalu lintas kereta api, tidak menghalangi atau mengganggu penglihatan masinis, serta tidak menggangu kekuatan struktur rel kereta api. Pola tanam yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: a) b) jarak maksimal dari sumbu rel adalah 50 m; pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan.

b. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Kriteria pemilihan vegetasi dan pola tanam untuk RTH ini adalah sebagai berikut: jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman yang memiliki dahan yang kuat, tidak mudah patah, dan perakaran tidak mengganggu pondasi; b) akarnya menghujam masuk ke dalam tanah. Jenis ini lebih tahan terhadap hembusan angin yang besar daripada tanaman yang akarnya bertebaran hanya di sekitar permukaan tanah; c) daunnya tidak mudah gugur oleh terpaan angin dengan kecepatan sedang; d) bukan merupakan pohon yang memiliki bentuk tajuk melebar; e) merupakan pohon dengan katagori kecil (small tree); f) fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa; g) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia; h) pola penanaman pemilihan vegetasi memperhatikan ketinggian yang diijinkan; i) buah tidak bisa dikonsumsi langsung oleh manusia; j) memiliki kerapatan yang cukup (50-60%); k) pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. Pemilihan jenis dan ketinggian vegetasi dimaksudkan agar penanaman vegetasi pada RTH jalur SUTT maupun SUTET, tidak menimbulkan gangguan terhadap jaringan listrik serta menghindari bahaya terhadap penduduk di sekitarnya. Lokasi penanaman harus memperhatikan jarak bebas minimum yang diijinkan. Tabel 2.12 Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nama Suku dan Jenis Nama Lokal Mangkokan Sarai raja Palem kobis Kesumba Jarak kosta Bunga Perawakan Semak Pohon sedang Pohon kecil Pohon kecil Semak Pohon kecil Diameter Batang (cm)/ Tinggi (m) /5 10/5-25 5/3-4 10/2-8 /2 10/2-6

a)

Nothopanax scutellarium Merr. Caryota mitis Lour. Licuala grandis L. Bixa orellana L. Jatropha gossypifolia L. Bauhinia purpurea L.

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

39

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

No.

Nama Suku dan Jenis

Nama Lokal kupu-kupu Kembang kuning Kembang merak Kembang sepatu kecil Serut Kemuning Kecubung gunung

Perawakan

Diameter Batang (cm)/ Tinggi (m) 20/2-6 - /3-5 - /2 10/2-5 10/-7 - /5

7. 8. 9. 10. 11. 12.

Cassia surattensis Burm. F. Caesalpinia pulcherrima (L.) Swartz. Malvaviscus arbpreus Cav. Streblus asper Lour. Muraya paniculata (L.) Jack. Brugmansia candida Pers.

Semak Semak Semak Pohon kecil Pohon kecil Semak

c.

Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) sistem perakaran yang kuat, sehingga mampu menahan pergeseran tanah; tumbuh baik pada tanah padat; sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan; kecepatan tumbuh bervariasi; tahan terhadap hama dan penyakit tanaman; jarak tanam setengah rapat sampai rapat 90% dari luas area, harus dihijaukan; tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap; berupa tanaman lokal dan tanaman budidaya; dominasi tanaman tahunan; sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH sempadan sungai, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi untuk RTH sempadan sungai disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian lahan pada daerah masing-masing. Tabel 2.13 Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama Daerah Bungur Jening Khaya Pingku Lamtorogung Puspa Kenanga Locust Kisireum Manglid Cengal Flamboyan

Lagerstromia speciosa Pithecolobium lobatum Khaya anthotheca Dysoxylum excelsum Leucaena lecocephala Schima wallichii Canangium adoratum Hymenaena courburil Eugenia cymosa Michelia velutina Hopea sangkal Delonix regia

Nama Latin

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

40

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 Nama Daerah Tanjung Trembesi Beringin Kepuh Angsret Nyamplung Leda Tengkawanglayar Johar Merbau pantai Tengkawangmajau Hoe Merawan Blabag Pala hutan Cemara sumatra Palur raja Kibeusi leutik Kaliandra Balam sudu Sawo duren Kedinding Kepuh Dadap Salam Sungkai Matoa/kasai Locust Ebony/kayuhitam Kempas Sawo kecik Asam Pingku Johar Angsana Tengkawang layar Kecapi Palem Raja Kalak Saputangan Bacang Kayu manis Kawista Kenanga Khaya Khaya Khaya Mimusops elengi Samanea saman Ficus benjamina Sterculia foetida Spathodea campanulata Callophylum inophyllum Eucalyptus deglupta Shorea mecistopteryx Cassia siamea Intsia bijuga Shorea palembanica Eucaliyptus platyphylla Hopea mangarawan Terminalia citrina Myristica fatua Casuarina sumatrana Oreodoxa regia Lindera srtichchytolia Calliandra marginata Palaguium sumatranum Crysophyllum cainito Albizzia leppecioides Sterculia foetida Erythrina cristagalli Eugenia polyantha Pheronema canescens Pometia pinnata Hymenaea courbaril Dyospiros celebica Kompasia excelsa Manilkara kauki Tamarindus indica Dysoxyllum exelsum Cassia grandis Pterocarpus indicus Shorea mecistopteryx Shandoricum koetjape Oerodoxa regia Poliantha lateriflora Maniltoa brawneodes Manejitera foetida Cinnamomun burmanni Feronia limonia Canangium odoratum Hopea bancana Shorea selanica Pterogota alata K. anthotheca Nama Latin Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 41 . sinegalensis K. grandiflora K.

Vegetasi ideal yang ditanam pada RTH pengaman sumber air merupakan vegetasi yang tidak mengkonsumsi banyak air atau yang memiliki daya transpirasi yang rendah. sehingga dapat menahan erosi dan meningkatkan infiltasi (resapan) air. pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. Karet Munding (Ficus elastica). jarak maksimal dari pantai adalah 100 m. Bungur (Lagerstroemia speciosa). sebelum di lapangan. Beberapa tanaman yang memiliki daya transpirasi yang rendah antara lain (Manan. e. penempatan petak sampel dilakukan secara awalan acak (random start) pada peta. Kiara Payung (Filicium decipiens). daya transpirasi rendah. 1993): Cemara Laut (Casuarina equisetifolia). Damar (Agathis loranthifolia). 1976 dan Kurniawan. bakau merupakan tanaman yang khas sebagai pelindung pantai. Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Pantai Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) merupakan tanaman lokal yang sudah teruji ketahanan dan kesesuaiannya tehadap kondisi pantai tersebut. untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 m. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 42 . tahan terhadap hama dan penyakit tanaman. d) e) f) g) d. sekurang-kurangnya 100 m dari kiri kanan sungai besar dan 50 m di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Persyaratan pola tanam vegetasi pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut: a) b) c) jalur hijau tanaman meliputi sempadan sungai selebar 50 m pada kirikanan sungai besar dan sungai kecil (anak sungai). sampel jalur hijau sungai berupa jalur memanjang dari garis sungai ke arah darat dengan lebar 20 m sampai pohon terjauh. batang dan sistem percabangan yang kuat. tiupan angin dan hempasan gelombang air pasang. Manggis (Garcinia mangostana). sistem perakaran yang yang kuat sehingga mampu mencegah abrasi pantai. sampel jalur hijau sungai berupa petak-petak berukuran 20 m x 20 m diambil secara sistematis dengan intensitas sampling 10% dari panjang sungai. memliki sistem perakaran yang kuat dan dalam. toleransi terhadap kondisi air payau. Kelapa (Cocos nucifera). Kriteria Vegetasi untuk RTH pada Sumber Air Baku/Mata Air Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) relatif tahan terhadap penggenangan air.

sedang atau kecil disesuaikan dengan ketersediaan ruang.4. tidak mudah patah dan tidak berbanir. kemudian tanah yang berasal dari bagian bawah. Untuk menghasilkan media tanam yang baik maka tanah harus digemburkan dengan menggunakan cangkul hingga kedalaman pertumbuhan akar dan ditambahkan pupuk organik/kompos secukupnya. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 43 .14 Contoh Vegetasi untuk Pemakaman No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Lokal Bougenvil Kemboja Putih Puring Lili pita Tanjung Dadap Kembang merak Jamblang Salam Nama Latin Potensi berbunga berbunga berwarna berbunga pengundang burung pengundang serangga buah dapat dimakan pengundang burung Bougenvilia sp Plumeria alba Codiaeum varigatum Ophiopogon jaburan Mimosups elengi Erythrina varigata Caesalpinia pulcherrima Syzygium cumini Syzygium polyanntum 2.2 Penanaman Pada proses penanaman harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) bibit tanaman harus memiliki percabangan dan perakaran yang sehat. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pemakaman Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) sistem perakaran masuk kedalam tanah. tajuk cukup rindang dan kompak. tetapi tidak terlalu gelap. dapat berupa pohon besar.4.1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam Lokasi tanah yang akan dijadikan media tanam harus diolah terlebih dahulu. dikembalikan ke bagian bawah lubang tanam. b) besarnya diameter lubang tanam sama dengan lingkaran tajuk terluar tanaman dengan kedalaman setebal bola akar ditambah 10 cm. dan tanah yang berasal dari bagian atas lubang tanam diurugkan di bagian atas tanaman. 2. berumur panjang.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II f. sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi. atau menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi langsung. c) masukkan tanah di sekeliling bola akar. Tanah yang baik sebagai media tanam adalah tanah yang gembur mengandung cukup unsur hara. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung. tidak merusak konstruksi dan bangunan.4. Ketentuan Penanaman 2. Tabel 2. tahan terhadap hama penyakit. Penanaman dapat dilakukan setelah tanah dibiarkan selama 3–5 hari. batang tegak kuat.

dapat menjadi indikasi bahwa siraman air sudah dinyatakan cukup. dengan ujung diikat pada batang pohon. selain untuk menyeimbangkan laju evapotranspirasi. Pupuk yang digunakan untuk pohon-pohon taman biasanya pupuk majemuk NPK. dahan dan ranting yang retak.4. juga berfungsi melarutkan garam-garam mineral dan juga sebagai unsur utama pada proses fotosintesis.3 Pemeliharaan Tanaman a. 2) Pemangkasan untuk keamanan penggunaan taman: ƒ Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang. Untuk daerah dengan kelembaban tinggi penyiraman pada pagi hari lebih baik daripada sore hari. tidak pada permukaan daun tanaman. Pemangkasan tanaman dapat dilakukan dengan tujuan: 1) Pemangkasan untuk kesehatan pohon: Pemangkasan untuk tujuan ini dilakukan pada cabang. Penyiraman siang hari hendaknya dilakukan langsung pada permukaan tanah. Penetrasi air siraman sedalam 15-20 cm ke dalam tanah. Pupuk yang diberikan pada tanaman dapat berupa pupuk organik maupun pupuk anorganik (misalnya NPK atau urea). Pemupukan Prinsip dasar pemupukan adalah mensuplai hara tambahan yang dibutuhkan sehingga tanaman tidak kekurangan makanan. e) tanaman disiram secukupnya. b. dahan dan ranting. c. diperlukan alat penahan (kayu pemancang/ajir) yang ditancapkan di seputar pohon. patah. Waktu pemangkasan yang tepat adalah setelah masa pertumbuhan generatif tanaman (setelah selesai masa pembungaan) dan sebelum pemberian pupuk. Pemangkasan Tujuan pemangkasan tanaman adalah untuk mengontrol pertumbuhan tanaman sesuai yang diinginkan serta menjaga keamanan dan kesehatan tanaman. 44 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . mati atau berpenyakit. 2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II d) agar pohon yang baru ditanam tidak bergoyang. Waktu penyiraman pada dasarnya dapat dilakukan kapan saja saat dibutuhkan. yang dapat mengancam keamanan pengguna taman. dalam upaya menghindari penyakit yang disebabkan oleh cendawan. Penyiraman Tujuan penyiraman tanaman. Waktu penyiraman yang terbaik adalah pada pagi atau sore hari.

silindris.4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Hama tanaman dapat disebabkan oleh hewan.4. bakteri. nematoda dan penyakit fisiologis. kelinci dan sebagainya. a. mozaik dan sebagainya. bulat. Untuk jalan yang dilalui kendaraan pada daerah permukiman diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar minimal 3. Sedangkan penyakit tanaman disebabkan oleh jamur. Dapat juga terjadi bagian tanaman yang terkikis. dan lain sebagainya. karat. Secara kasat mata seringkali terlihat populasi binatang berupa larva.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ Di daerah pejalan kaki diperlukan ruang yang bebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 2. 3) Pemangkasan untuk keamanan pengguna jalan: ƒ ƒ Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang. molusca maupun hewan lainnya seperti burung.5 m dari permukaan tanah. kubus. berlubang. juga gesekan yang intensif dapat mengganggu kesehatan pohon. b. ulat. fisik. Gejala serangan penyakit terlihat adanya akar. ƒ 4) Pemangkasan untuk tujuan estetis: Pemangkasan dengan tujuan ini adalah untuk menghasilkan penampilan tanaman lebih baik atau lebih indah. dahan dan ranting. Beberapa diantaranya tidak terlihat dengan mata telanjang sehingga perlu di teliti di laboratorium. mekanis. bercak daun. maupun imagonya.5-5 m dari permukaan tanah. layu. piramida. seperti bentuk daun. biologi dan kimiawi. teknik budidaya. Untuk jalan umum yang dilalui kendaraan diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 4. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 45 . kerena disamping dapat mengakibatkan korsleting/ kebakaran. Gejala Serangan Gejala serangan hama pada umumnya langsung dapat terlihat dari kerusakan bagian tanaman. 2. Dengan memperhatikan jenis dan kerapatan daun.5 m dari permukaan tanah. berubah warna dan penampilan tidak menarik. Cara Pengendalian Pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan cara karantina. yang dapat menghalangi pandangan pengguna jalan. maka pemangkasan dapat menghasilkan tanaman dengan bentuk-bentuk tajuk spiral. baik berupa serangga. Batang atau dahan yang menyentuh kabel telepon dan listrik perlu dipangkas. virus. kambing. bunga maupun buah yang tidak sempurna.

Untuk mendukung aktivitas penduduk di lingkungan tersebut. dan lain-lain. dan tempat usaha. bazar. RTH dapat dimanfaatkan pula untuk menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup. 3. fasilitas yang harus disediakan minimal bangku taman dan fasilitas mainan anak-anak. maka RTH pekarangan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan atau kebutuhan lainnya. RTH Taman Rukun Tetangga dapat pula dimanfaatkan sebagai suatu community garden dengan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 47 . Selain fungsi tersebut. Pertokoan. b. selain tempat utilitas tertentu. Selain sebagai tempat untuk melakukan aktivitas sosial. dan tempat usaha berfungsi sebagai penghasil O2. Untuk rumah dengan RTH pada lahan pekarangan yang tidak terlalu luas atau sempit. serta memberikan keseimbangan dan keserasian antara bangunan dan lingkungan. Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan RTH pada bangunan/perumahan baik di pekarangan maupun halaman perkantoran. sayur. dan penambah estetika suatu bangunan sehingga tampak asri. pertokoan.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 3. Untuk efisiensi ruang. dan bunga). RTH Halaman Perkantoran. RTH Pekarangan Dalam rangka mengoptimalkan lahan pekarangan.1.2. dan tanaman pot sehingga dapat menambah nilai estetika sebuah rumah. peredam kebisingan. RTH pada rumah dengan pekarangan luas dapat dimanfaatkan sebagai tempat utilitas tertentu (sumur resapan) dan dapat juga dipakai untuk tempat menanam tanaman hias dan tanaman produktif (yang dapat menghasilkan buah-buahan. olah raga. Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman RTH pada Lingkungan/Permukiman dapat dioptimalkan fungsinya menurut jenis RTH berikut: a. dan tempat untuk menyelenggarakan berbagai aktivitas di luar ruangan seperti upacara. carport. dapat dimanfaatkan pula sebagai area parkir terbuka. pertokoan. RTH dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan sebagai berikut: a. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) dapat dimanfaatkan penduduk sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. dan Tempat Usaha RTH pada halaman perkantoran. tanaman pot dimaksud dapat diatur dalam susunan/bentuk vertikal.

sayur. dan buah-buahan yang dapat dimanfaatkan oleh warga.2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 48 .1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga KURSI TAMAN ARENA MAINAN ANAK JALUR PEJALAN KAKI POHON PELINDUNG Gambar 3. POHON PELINDUNG JALUR PEJALAN KAKI Gambar 3.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup.

dengan fasilitas utama lapangan olahraga (serbaguna). kegiatan olahraga masyarakat.3 Contoh Taman Rukun Warga c. LAP. dengan jalur trek lari di seputarnya.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III b. dan beberapa jenis bangunan permainan anak yang tahan dan aman untuk dipakai pula oleh anak remaja. misalnya duduk atau bersantai. beberapa unit bangku taman yang dipasang secara berkelompok sebagai sarana berkomunikasi dan bersosialisasi antar warga. dimana aktivitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif. Fasilitas yang disediakan berupa lapangan untuk berbagai kegiatan. VOLLEY TEMPAT DUDUK TEMPAT DUDUK LAPANGAN RUMPUT TEMPAT DUDUK LAPANGAN BASKET Gambar 3. sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohonpohon tahunan. Taman ini dapat berupa taman aktif. baik olahraga maupun aktivitas lainnya. RTH Rukun Warga RTH Rukun Warga (RW) dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan remaja. RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan penduduk dalam satu kelurahan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 49 . serta kegiatan sosial lainnya di lingkungan RW tersebut. atau dapat berupa taman pasif.

3) perdu. WC umum. trek lari. Vegetasi 1) minimal 25 pohon (pohon sedang dan kecil). 3) perdu.5–2 m. 4) penutup tanah. KIOS AREA PARKIR KIOS Gambar 3. 1 unit kios (jika diperlukan).4 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 50 . 4) penutup tanah. kursi-kursi taman. 1) minimal 50 pohon (sedang dan kecil). lebar 1.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel 3.1 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan Jenis Taman Aktif Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80% Fasilitas 1) 2) 3) 4) Pasif 80 – 90% 5) 1) 2) 3) 4) lapangan terbuka. lebar 5 m panjang 325 m. 1 unit kios (jika diperlukan). WC umum. kursi–kursi taman. sirkulasi jalur pejalan kaki. 2) semak. 2) semak.

lapangan basket.5 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif) d. WC umum. trek lari. Kelengkapan taman ini adalah sebagai berikut: Tabel 3. 4) penutup tanah. sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau. lapangan volley. lebar 5 m panjang 325 m.2 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan Jenis Taman Aktif Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80% 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Fasilitas lapangan terbuka. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 51 . 3) perdu. 2) semak. atau dapat berupa taman pasif untuk kegiatan yang lebih bersifat pasif. parkir kendaraan.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III KIOS AREA PARKIR Gambar 3. termasuk sarana kios (jika diperlukan). Vegetasi 1) minimal 50 pohon (sedang dan kecil). kursi-kursi taman. RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat dimanfaatkan oleh penduduk untuk melakukan berbagai aktivitas di dalam satu kecamatan. dengan jalur trek lari di seputarnya. Taman ini dapat berupa taman aktif dengan fasilitas utama lapangan olahraga.

2) WC umum. 4) kursi-kursi taman. 4) penutup tanah. Vegetasi 1) lebih dari 100 pohon tahunan (pohon sedang dan kecil). 2) semak. Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan a. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. RTH Taman Kota RTH Taman kota dapat dimanfaatkan penduduk untuk melakukan berbagai kegiatan sosial pada satu kota atau bagian wilayah kota. SARANA OLAHRAGA KIOS SARANA OLAHRAGA AREA PARKIR SARANA OLAHRAGA PLAZA HUTAN KECIL Gambar 3.5–2 m. fasilitas olah raga terbatas.6 Contoh Taman Kecamatan 3. lebar 1.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Jenis Taman Pasif Koefisien Daerah Fasilitas Hijau (KDH) 80–90% 1) sirkulasi jalur pejalan kaki. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau). 3) perdu. dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 30%. taman bermain (anak/balita). taman bunga. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 52 . yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi.3. 3) parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan). taman khusus (untuk lansia).

GSG & LAP. LOTUS POND 12. 9) prasarana tertentu: kolam retensi untuk pengendali air larian. trek lari. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 1) Vegetasi 150 pohon (pohon sedang dan kecil) semak. parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan). wisata alam. AREA MAIN ANAK-ANAK 6. Fasilitas yang harus disediakan disesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan seperti kursi taman. oksigen. rekreasi. Hutan kota Hutan kota dapat dimanfaatkan sebagai kawasan konservasi dan penyangga lingkungan kota (pelestarian. JOGGING TRACK Gambar 3.3 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80 % Fasilitas lapangan terbuka. meliputi aktivitas pasif seperti duduk dan beristirahat dan atau membaca. atau aktivitas yang aktif seperti jogging. wahana pendidikan dan penelitian. Hutan kota dapat juga dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas sosial masyarakat (secara terbatas. unit lapangan volley (15 x 24 m). unit lapangan basket (14x26 m). Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 53 . CANNOE POND 5. PARKIR 2.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel 3. daun. 8) area bermain anak. 7) panggung terbuka. 2) 3) 1. penghasil produk hasil hutan. sirkulasi pejalan kaki/jogging track. GERBANG UTAMA 4. perdu. 10) kursi. lebar 7 m panjang 400 m. TAMAN BURUNG 8. keanekaragaman hayati). KOLAM 3. sayur). ekonomi (buah-buahan. WC umum. LABIRIN & LEISURE AREA 7. penutup tanah. BASKET 9. AMPHITEATER 10. senam atau olahraga ringan lainnya). SCULPTURE 11.7 Contoh Taman Kota (Rencana Taman Kota Pangkalanbun Kabupaten Kotawaringin Barat) b. perlindungan dan pemanfaatan plasma nutfah.

Sabuk hijau dimaksudkan sebagai kawasan lindung dengan pemanfaatan terbatas dengan pemanfaatan utamanya adalah sebagai penyaring alami udara bagi kota-kota yang berbatasan tersebut. RTH Jalur Pejalan Kaki RTH jalur pejalan kaki dapat dimanfaatkan sebagai: ƒ Fasilitas untuk memungkinkan terjadinya interaksi sosial baik pasif maupun aktif serta memberi kesempatan untuk duduk dan melihat pejalan kaki lainnya. Tabel 3. Gelombang Pendek (%) 10 80 10 Gelombang Panjang (%) 100 10 90 ƒ f. RTH di Bawah Jalan Layang Selain sebagai daerah resapan air. Disamping itu RTH di bawah jalan layang dapat dimanfaatkan sebagai: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 54 .4 Kemampuan Hutan dalam Mengendalikan Gelombang Pendek dan Panjang Respon Daun Dipantulkan Diserap Dibiaskan Diteruskan c. Median jalan dapat dimanfaatkan sebagai penahan debu dan keindahan kota. yang mempunyai peranan penting antara lain mengontrol populasi serangga. RTH di bawah jalan layang dapat menjadi unsur estetika untuk meminimalkan unsur kekakuan konstruksi jalan. kelembaban. Untuk itu diperlukan introduksi tanaman pengundang burung pada hutan kota. juga dapat dimanfaatkan untuk keindahan/estetika kota. Sebagai penyeimbang temperatur. vegetasi yang mengeluarkan bau. e. sehingga sabuk hijau dapat menjadi RTH bagi kedua kota atau lebih tersebut. Sabuk Hijau Sabuk hijau berfungsi sebagai daerah penyangga atau perbatasan antara dua kota. Jalur tanaman tepi jalan atau pulau jalan selain sebagai wilayah konservasi air. juga dapat dimanfaatkan untuk fungsi lain seperti sebagai pembentuk arsitektur kota. emisi kendaraan. d. sampah yang bau dan terbengkalai. tekstur bawah kaki. vegetasi.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Idealnya hutan kota merupakan ekosistem yang baik bagi ruang hidup satwa misalnya burung. faktor audial (suara) dan faktor visual. RTH Jalur Hijau Jalan Pulau Jalan dan Median Jalan Taman pulau jalan maupun median jalan selain berfungsi sebagai RTH.

Memperbaiki citra/penampilan pohon secara keseluruhan. RTH Sempadan Sungai Pemanfaatan RTH daerah sempadan sungai dilakukan untuk kawasan konservasi.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III ƒ Lokasi penempatan utilitas seperti drainase. peningkatan fungsi sungai. waduk yang berfungsi budi daya dapat dibudidayakan kecuali pemanfaatan tanggul hanya untuk jalan. Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api RTH/jalur hijau sempadan rel kereta api dapat dimanfaatkan sebagai pengamanan terhadap jalur lalu lintas kereta api. pemasangan rentangan kabel listrik. sehingga jaringan kayu dapat tumbuh lebih banyak yang akan menjadi pohon lebih kuat. perlindungan tepi kiri-kanan bantaran sungai yang rawan erosi. dan pipa air minum. gardu listrik. RTH Fungsi Tertentu a. pada zona sungai danau. Pemanfaatan daerah sempadan sungai yang berfungsi budi daya dapat dilakukan oleh masyarakat untuk kegiatan-kegiatan: a) b) c) d) budi daya pertanian rakyat. Penatagunaan daerah sempadan sungai dilakukan dengan penetapan zona-zona yang berfungsi sebagai fungsi lindung dan budi daya. kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C. sehingga RTH pada kawasan ini dimanfaatkan sebagai pengaman listrik tegangan tinggi dan kawasan jalur hijau dibebaskan dari berbagai kegiatan masyarakat serta perlu dilengkapi tanda/peringatan untuk masyarakat agar tidak beraktivitas di kawasan tersebut. Pada zona sungai yang berfungsi lindung menjadi kawasan lindung. papan penyuluhan dan peringatan. dan pemantauan. ƒ Lokasi penempatan papan reklame secara terbatas. c. Untuk menjaga keselamatan lalu lintas kereta api maupun masyarakat di sekitarnya.4. maka jenis aktivitas yang perlu dilakukan berkaitan dengan peranan RTH sepanjang rel kereta api adalah sebagai berikut: a) b) c) d) Memperkuat pohon melalui perawatan dari dalam. kabel telpon. b. Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Jaringan listrik tegangan tinggi sangat berbahaya bagi manusia. serta rambu-rambu pekerjaan. dan pengendalian daya rusak sungai melalui kegiatan penatagunaan. Membuat saluran drainase. pelestarian. 3. dan lain-lain. Menghilangkan sumber penularan hama dan penyakit serta menghilangkan tempat persembunyian ular dan binatang berbahaya lainnya. ƒ Tempat istirahat sementara bagi pengendara sepeda motor/pejalan kaki pada saat hujan. perizinan. 55 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . mencegah okupasi penduduk yang mudah menyebabkan erosi.

32 Tahun 1990. ƒ Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai. perizinan. c) d) e) d. serta penutupan vegetasi di sempadan sungai. menghalau. juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yang diizinkan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: ƒ Tidak bertentangan dengan Keppres No. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 56 . dipantau dengan menggunakan metode pemeriksaaan langsung dan analisis deskriptif komparatif. peningkatan fungsi sumber air baku/mata air. ƒ Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat. dan pemantauan. maka aktivitas yang dapat dilakukan pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut: a) b) Memantau penutupan vegetasi dan kondisi kawasan DAS agar lahan tidak mengalami penurunan. Tolak ukur 100 m di kanan kiri sungai dan 50 m kanan kiri anak sungai. keolahragaan. ƒ Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi. menjaga dan mengamankan harus diikuti dengan aktivitas melaporkan pada instansi berwenang dan yang terkait sehingga pada akhirnya kawasan sempadan sungai yang berfungsi sebagai RTH terpelihara dan lestari selamanya. dan pengendalian daya rusak sumber air baku/mata air/danau melalui kegiatan penatagunaan. pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau. e. Mengamankan kawasan sempadan sungai. RTH Sumber Air Baku/Mata Air Pemanfaatan RTH sumber air baku/mata air dilakukan untuk perlindungan. keanekaragaman vegetasi terutama jenis unggulan lokal dan bernilai ekologi dipantau dengan metode kuadrat dengan jalur masing-masing lokasi 2 km menggunakan analisis vegetasi yang diarahkan pada jenis-jenis flora yang bernilai sebagai tumbuhan obat. dan g) pembangunan prasarana lalu lintas air. pelestarian. wildlife habitat dan meredam angin kencang. Memantau fluktuasi debit sungai maksimum.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III e) pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/jembatan baik umum maupun kereta api. Menjaga kelestarian konservasi dan aktivitas perambahan. RTH Sempadan Pantai RTH sempadan pantai selain sebagai area pengaman dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan gelombang laut. ƒ Khusus untuk kawasan pantai berhutan bakau harus dipertahankan sesuai ketentuan dalam Keppres No. bangunan pengambilan dan pembuangan air. Untuk menghindari kerusakan dan gangguan terhadap kelestarian dan keindahan sungai. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. termasuk gangguan terhadap kualitas visual. erosi. melindungi dari ancaman gelombang pasang. f) penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial. Aktivitas memantau.

dan pemersatu ruang kota. dan pembangunan prasarana lalu lintas air. RTH Pemakaman Pemakaman memiliki fungsi utama sebagai tempat pelayanan publik untuk penguburan jenasah. pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/ jembatan baik umum maupun kereta api. Danau/waduk Minimal 50 m dari titik pasang tertinggi Pemanfaatan jaringan utilitas. budi daya pertanian rakyat. dan pipa air minum. pelindung. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 57 . pemasangan rentangan kabel listrik. daerah resapan air. kabel telpon. pendukung ekosistem.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel berikut ini memberikan gambaran mengenai dimensi sempadan serta pemanfaatannya pada masing-masing jenis RTH sebagai berikut: Tabel 3. kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C. serta rambu-rambu pekerjaan. Pemakaman juga dapat berfungsi sebagai RTH untuk menambah keindahan kota. keolahragaan. penyelenggaraan kegiatankegiatan yang bersifat sosial. Jenis RTH Dimensi Sempadan 1. pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau. sehingga keberadaan RTH yang tertata di komplek pemakaman dapat menghilangkan kesan seram pada wilayah tersebut. Mata Air Radius 200 m a) ruang terbuka hijau dengan aktivitas sosial terbatas penekanan pada kelestarian sumberdaya airnya. b) luas ruang terbuka hijau minimal 90% dengan dominasi pohon tahunan yang diizinkan. f. bangunan pengambilan dan pembuangan air. a) b) c) d) e) f) g) h) 2. papan penyuluhan dan peringatan.5 RTH Sempadan Danau dan Mata Air No.

tidak mengganggu kualitas visual dari dan ke RTH. lembaga badan hukum dan atau perseorangan baik pada tahap perencanaan. c) tahapan penyediaan dan pemanfaatan RTH publik meliputi: 1) 2) 3) 4) 5) perencanaan. pengadaan lahan. tidak menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan tanaman misalnya menghalangi penyinaran matahari atau pemangkasan tanaman yang dapat merusak keutuhan bentuk tajuknya. c) menghormati hak yang dimiliki masyarakat serta menghargai kearifan lokal dan keberagaman sosial budayanya. harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: ƒ ƒ mengikuti peraturan dan ketentuan yang berlaku pada masing-masing daerah. dengan prinsip: a) menempatkan masyarakat sebagai pelaku yang sangat menentukan dalam proses pembangunan ruang ruang terbuka hijau. b) memposisikan pemerintah sebagai fasilitator dalam proses pembangunan ruang terbuka hijau. ekologis dan estetis. d) penyediaan dan pemanfaatan RTH privat yang dilaksanakan oleh masyarakat termasuk pengembang disesuaikan dengan ketentuan perijinan pembangunan. untuk memberikan kesempatan akses dan mencegah terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang dari rencana tata ruang yang telah ditetapkan melalui pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang oleh masyarakat dan swasta dalam pengelolaan RTH. Prosedur Perencanaan Ketentuan prosedur perencanaan RTH adalah sebagai berikut: a) penyediaan RTH harus disesuaikan dengan peruntukan yang telah ditentukan dalam rencana tata ruang (RTRW Kota/RTR Kawasan Perkotaan/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/Rencana Induk RTH) yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat. ƒ ƒ ƒ 4. perancangan teknik. pelaksanaan pembangunan RTH.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV BAB IV PROSEDUR PERENCANAAN DAN PERAN MASYARAKAT 4. Peran Masyarakat Peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH merupakan upaya melibatkan masyarakat. e) pemanfaatan RTH untuk penggunaan lain seperti pemasangan reklame (billboard) atau reklame 3 dimensi. tidak mengganggu fungsi utama RTH yaitu fungsi sosial. pemanfaatan dan pengendalian. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 59 . b) penyediaan dan pemanfaatan RTH publik yang dilaksanakan oleh pemerintah disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. d) menjunjung tinggi keterbukaan dengan semangat tetap menegakkan etika. Upaya ini dimaksudkan untuk menjamin hak masyarakat dan swasta.2. swasta.1. pemanfaatan dan pemeliharaan. memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan pengguna RTH.

Peran masyarakat pada RTH privat meliputi: a) Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH dalam peningkatan kualitas lingkungan. Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH publik dalam peningkatan kualitas dan keamanan lingkungan. Peran dalam penyediaan RTH ini dapat berupa: a) b) c) d) e) f) Pengalihan hak kepemilikan lahan dari lahan privat menjadi RTH publik (hibah). Perencanaan Pemanfaatan dan Pengendalian Pengambilan Keputusan Rencana Pemanfaatan Pelaksanaan Pemanfaatan Pasca Pelaksanaan RTH Pelibatan Pelibatan Pelibatan Gambar 4. swasta dan badan hukum dalam penyediaan RTH publik meliputi penyediaan lahan. pedoman ini ditujukan pada tahap pemanfaatan ruang terbuka hijau. Mengawasi pemanfaatan RTH publik. Membiayai pemeliharaan RTH publik. Menyerahkan penggunaan lahan privat untuk digunakan sebagai RTH publik. baik ditanam langsung maupun ditanam dalam pot.1 Pelibatan Masyarakat pada Pemanfaatan dan Pengendalian Peran masyarakat. pembuatan sumur resapan (bagi daerah yang memungkinkan) dan pengelolaan sampah. d) Turut serta secara aktif dalam komunitas masyarakat pecinta RTH. dimana rencana pembangunannya akan disusun dan ditetapkan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 60 . Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah kota dalam mewujudkan penghijauan antara lain: dalam lingkup kegiatan pembangunan ruang terbuka hijau (yang meliputi perencanaan. sarana interaksi sosial serta mitigasi bencana. b) Turut serta dalam meningkatkan kualitas lingkungan di perumahan dalam hal penanaman tanaman. Membiayai pembangunan RTH publik. berm dan lahan kosong lainnya dengan berbagai jenis tanaman. pemanfaatan dan pengendalian).Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV e) memperhatikan perkembangan teknologi dan bersikap profesional. c) Mengisi seoptimal mungkin lahan pekarangan. pembangunan dan pemeliharaan RTH.

1 Peran Individu/Kelompok Masyarakat dapat berperan secara individu atau kelompok dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH. Terutama karena kemampuan kewirausahaan yang mereka miliki. maka terdapat peran lain yang dapat dilakukan oleh swasta. membahas permasalahan. b) Mengembangkan dan memperkuat kerjasama proses mediasi antara pemerintah. Untuk mencapai peran tersebut. Pada kondisi yang lebih berkembang. karena swasta memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat umum. pelatihan dan diskusi di kelompok-kelompok masyarakat. 4. komunitas.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV 4. yaitu untuk tidak saja menekankan pada tujuan ekonomi. c) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyikapi perencanaan. pembangunan serta pemanfaatan ruang terbuka hijau melalui sosialisasi. g) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. dan sebagainya) dalam mengelola permasalahan.2. namun juga sosial dan lingkungan dalam memanfaatkan ruang perkotaan. mengembangkan konsep serta upaya-upaya untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah. f) Bekerjasama dengan pemerintah dalam menyusun mekanisme pengaduan.2. konflik yang muncul sehubungan dengan pembangunan ruang terbuka hijau. e) Menggalang dan mencari dana kegiatan dari pihak tertentu untuk proses sosialisasi. masyarakat dapat membentuk suatu forum atau komunitas tertentu untuk menghimpun anggota masyarakat yang memiliki kepentingan terhadap RTH. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pihak swasta: a) Pihak swasta yang akan membangun lokasi usaha (mall. masyarakat dan swasta dalam pembangunan ruang terbuka hijau. Namun. plaza. penyelesaian konflik serta respon dari pemerintah melalui jalur yang telah disepakati bersama. Peran swasta yang diharapkan dalam pemanfaatan ruang perkotaan sama seperti peran yang diharapkan dari masyarakat. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 61 . terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan masyarakat: a) Anggota masyarakat baik individu maupun kelompok yang memiliki keahlian dan/atau pengetahuan mengenai penataan ruang serta ruang terbuka hijau dapat membentuk suatu komunitas ruang terbuka hijau. Misalnya: membentuk forum masyarakat peduli ruang terbuka hijau atau komunitas masyarakat ruang terbuka hijau di setiap daerah. dan sebagainya) dengan areal yang luas perlu menyertakan konsep pembangunan ruang terbuka hijau.2 Peran Swasta Swasta merupakan pelaku pembangunan penting dalam pemanfaatan ruang perkotaan dan ruang terbuka hijau. Untuk mencapai peran tersebut. d) Meningkatkan kemampuan masyarakat (forum.

Untuk mencapai peran tersebut. menyusun. Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan kepada masyarakat dan/atau yang terkait dalam pembangunan ruang terbuka hijau. maupun dengan proses diskusi dan seminar. Dengan membentuk badan atau lembaga bersama antara pemerintah. Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan pembangunan ruang terbuka hijau maupun dengan proses diskusi dan seminar. Organisasi lain yang memiliki peran dan posisi penting dalam mempengaruhi. perwakilan masyarakat dan swasta untuk aktif melakukan mediasi. pendamping. mengawasi kebijakan pemanfaatan ruang perkotaan. f) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. melaksanakan. atau organisasi lain yang serupa berperan utama sebagai perantara. b) Menyelenggarakan proses mediasi jika terdapat perbedaan pendapat atau kepentingan antara pihak yang terlibat. e) Menciptakan lingkungan dan kondisi yang kondusif yang memungkinkan masyarakat dan swasta terlibat aktif dalam proses pemanfaatan ruang secara proporsional. f) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian.2. e) Mengupayakan bantuan pendanaan bagi masyarakat dalam realisasi pelibatan dalam pemanfaatan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau. menghubungkan masyarakat dengan pemerintah dan swasta. adil dan bertanggung jawab. masyarakat dan swasta serta mengenai proses pengajuan keluhan dan penyelesaian konflik yang terjadi. c) Menfasilitasi proses pembelajaran kerjasama pemerintah. d) Mendorong dan/atau menfasilitasi proses pembelajaran masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan. 4.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV b) Bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat dalam membangun dan memelihara ruang terbuka hijau. c) Berperan aktif dalam mensosialisasikan dan memberikan penjelasan mengenai proses kerjasama antara pemerintah. dalam rangka mengatasi kesenjangan komunikasi. antara lain: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 62 . informasi dan pemahaman di pihak masyarakat serta akses masyarakat ke sumber daya. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan organisasi non-pemerintah antara lain: a) Membentuk sistem mediasi dan fasilitasi antara pemerintah.3 Lembaga/Badan Hukum Lembaga atau badan hukum yang dimaksud merupakan Organisasi nonpemerintah. masyarakat dan swasta dalam mengatasi kesenjangan komunikasi dan informasi pembangunan ruang terbuka hijau. swasta dan masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan. d) Berperan aktif dalam diskusi dan proses pembangunan sehubungan dengan pembentukan kebijakan publik dan proses pelibatan masyarakat dan swasta yang terkait dengan pembangunan ruang terbuka hijau.

pemeliharaan maupun peningkatan kesadaran masyarakat terhadap RTH dapat berupa: a) Piagam penghargaan yang dikeluarkan oleh lembaga swadaya masyarakat pemerhati RTH/lingkungan hidup.2. Kelurahan dan Kecamatan. Adapun peran dari masing-masing organisasi tersebut diatas dapat disesuaikan dengan posisi dan keahlian yang dimiliki organisasi dalam membantu atau terlibat proses pembangunan ruang terbuka hijau. Partai politik. perguruan tinggi. RW. dan badan hukum dalam penyediaan. Lembaga donor. unsur kewilayahan seperti RT. pembangunan. pemerintah daerah atau pemerintah pusat. Instansi yang terkait dengan pengeloaan RTH/lingkungan hidup. dan sebagainya. baik perorangan. swasta. sebagai kontributor dalam penyediaan RTH tersebut. Asosiasi profesi. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 63 . 4. sesuai dengan peraturan yang berlaku di wilayah tersebut.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ DPR/DPRD.4 Penghargaan dan Kompensasi Penghargaan dan kompensasi terhadap masyarakat/perseorangan. Perguruan tinggi. lembaga atau perusahaan dalam ukuran yang wajar dan tidak mengganggu keindahan. b) Pencantuman nama. dengan persetujuan tertulis dari instansi pengelolanya.

5%) RTH PRIVAT 10% RTH PUBLIK 20% RTH KOTA 30% L-1 .LAMPIRAN A (informatif) BAGAN PROPORSI RTH KAWASAN PERKOTAAN (ilustrasi) RUANG PERKOTAAN TERBANGUN TERBUKA HUNIAN (40%) NON HUNIAN (20%) TAMAN (12.5%) KDB (80%) KDB (90%) KDB (0%) KDB (70%) KDB (80%) RTH (8%) RTH (2%) RTH (12.5%) RTH (6%) RTH (1.5%) JALAN (20%) LAINNYA (7.

1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT) Gambar B.LAMPIRAN B (informatif) GAMBAR CONTOH RTH TAMAN Gambar B.2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT) L-2 .

3 Contoh Taman Rukun Warga (RW) Gambar B.Gambar B.4 Contoh Taman Kelurahan L-3 .

6 Contoh Taman Kecamatan L-4 .5 Contoh Taman Kelurahan Gambar B.Gambar B.

Dengan kondisi seperti tersebut di atas.307. (203.450 ha.1 Contoh Perhitungan Kebutuhan Hutan Kota (RTH) Berdasarkan Kebutuhan Air Kebutuhan air dalam kota bergantung dari faktor: a) b) c) d) kebutuhan air bersih per tahun.8%) L-5 Lt = = 142 ha . Kapasitas air PAM terpasang 6. Potensi air saat ini.000) – 6. Kemampuanhutan kota menyimpan air.3 jt m3/th.Pa z La = dengan: La Po K R C PAM t Pa z adalah luas hutan kota yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan air (Ha) adalah jumlah penduduk kota pada tahun ke 0 adalah konsumsi air per kapita (liter/hari) adalah laju peningkatan pemakaian air (biasanya seiring dengan laju pertambahan penduduk kota setempat) adalah faktor koreksi (besarnya tergantung dari upaya pemerintah dalam penurunan laju pertambahan penduduk) adalah kapasitas suplai air oleh PAM (dalam m3/tahun) adalah tahun ke adalah potensi air tanah saat ini (m3/th) adalah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air (m3/ha/th) Contoh perhitungan: Suatu kota dengan luas 2.200 – 662. Faktor di atas dapat ditulis dalam persamaan: Po.K (1 + R – C)t – PAM .000 m3/ha/th. jumlah air yang dapat disediakan oleh PAM.LAMPIRAN C (informatif) CONTOH PERHITUNGAN HUTAN KOTA (RTH) C.256 m3/th. memiliki penduduk pada tahun 2005 sebanyak 203. Potensi air tanah 662. persamaan kebutuhan hutan kota pada tahun 0 (2005) adalah sebagai berikut: 65.000 Kebutuhan hutan kota = 142 ha (5. Kemampuan hutan kota menyimpan air 73.256 73.000 jiwa. Konsumsi air per kapita adalah 65 m3/th.

77 2.893.597.711 377.86 Dari tabel C.360 204.339.9375 gram adalah jumlah musim di Indonesia Contoh perhitungan dengan menggunakan rumus Gerakis (1974) dalam Wisesa (1988).004. adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0. 2005): Tabel C.9375 2 m2 adalah luas RTH Kota pada tahun ke t (m2) adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke t adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t adalah tetapan yan menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari.300 505.000 424. dapat juga dilakukan dengan metode Gerakis (1974).21 0.160 357.16 Kebutuhan Oksigen Tiap 1 kg Bahan Bakar 2.609 474.1 Kebutuhan Oksigen Manusia di Kota Bandung Tahun 2004 Wilayah Pengembangan (WP) Bojonagara Cibeunying Karees Tegalega Ujungberung Gedebage Jumlah Penduduk (Jiwa) 424.9375 )(2) dengan: Lt Pt Kt Tt 54 0. dengan rumus: Pt + Kt + Tt Lt = (54 )(0. dengan kasus di Kota Bandung (Noor Syailendra.240 840 Tabel C.C. L-6 .560 397.624 425.2 Contoh Perhitungan Kebutuhan Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Luasan kebutuhan hutan kota berdasarkan kebutuhan oksigen. yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988).240 316.412.2 dapat ditentukan besarnya kebutuhan oksigen kendaraan bemotor berdasarkan klasifikasi jenis kendaraan dan rata-rata umum kebutuhan oksigen.254 243.711.261 Konsumsi Oksigen Manusia/Hari (gram/hari) Komsumsi Oksigen (gram/hari) 365.2 Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor Jenis Bahan Bakar Bensin Diesel Rata-rata Pemakaian Bahan Bakar (kg/PS jam) 0.

061 21.634 29.412.993 Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 11.21 0.984.760 87.4 Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor di Wilayah Bojonagara Bandung Jenis Kendaraan Mobil Pribadi Motor Truk Bus Minibus umum Jumlah LHR (lalu-lintas harian rata-rata) (kendaraan/hari) 16.906 94 1.680 324.16 Kebutuhan Oksigen Tiap 1 Liter BB (kg) 2.7652 Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 581.21 0.7 11.0607 21.305 1.91 m2 = 672.634 29.739.3 Kebutuhan Oksigen Menurut Klasifikasi Jenis Kendaraan Bermotor Klasifikasi Daya Minimal (PS) 1 20 50 100 Kebutuhan Bahan Bakar (kg/PS) 0.760 29.085 45.18 Sepeda motor Kendaraan penumpang Kendaraan truk Kendaraan bus Jumlah Rata-rata Tabel C.311.259.72 ha m2 Catatan: kebutuhan oksigen untuk ternak diabaikan Dengan mengacu pada kebutuhan oksigen manusia.142 7.341 Luas RTH = (54 )(0.634 582 29.77 2.560 4.519 56.259. maka kebutuhan hutan kota di Kota Bandung pada tahun 2004 adalah sebagai berikut: L-7 .765.772.301.76 87.679.760 Total Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 196.5817 11.760 45.085 45.Tabel C.86 Kebutuhan Oksigen (kg/hari) 0.341 Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka kebutuhan RTH di Wilayah Bojonagara Kota Bandung pada tahun 2004 adalah: 356. kebutuhan oksigen kendaraan di tiap wilayah pengembangan.77 2.772.000 + 324.21 0.440 59.9375)( 2 ) Luas RTH = 6.77 2.863 13.

730.07 4.933.00 Kebutuhan RTH (Ha) 672.5 Kebutuhan RTH di Kota Bandung Tahun 2004 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Wilayah pengembangan Bojonagara Cibeunying Karees Tegalega Gedebage Ujungberung Kota Bandung Luas wilayah (Ha) 2.707.602.28 L-8 .330.28 2.12 16.16 2.63 21.04 768.40 544.559.107.61 9.28 2.27 856.85 29.13 11.Tabel C.22 250.42 Luas (%) 28.08 36.050.47 20.62 3.09 2.87 470.

Ficus benyamina Cerbera manghas Bougenvillea sp Mirabilis jalapa Amherstia nobilis Lagerstromea loudonii Casuarina junghuniana Casuarina equisetifolia Araucaria heterophylla Michelia champaca Erythrina variegata Erythrina cristagalli Agathis alba Durio zibethinus Dyospiros celebica Delonix regia Elaeocarpus grandisflora Polyathea sp.LAMPIRAN D (informatif) PILIHAN VEGETASI UNTUK DIKEMBANGKAN DI RTH Pengenal Lingkungan Perawakan Daya Tarik Potensi di RTH Dapat dikonsumsi ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Reduktor Polutan ● ● ● ● ● ● ● ● Pohon Sedang Pohon Kecil 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Akalipa hijau kuning Akasia daun besar Akasia kuning Angrek Tanah Angsana Apel Asam Asem landi Bakung Bambu Jepang Beringin Bintaro Bogenvil Bunga pukul empat Bunga saputangan Bungur Cemara gunung Cemara laut Cemara Norfolk Cempaka Dadap belang Dadap merah Damar Durian Ebony/ Kayu hitam Flamboyan Ganitri Glodogan pohon Glodogan tiang Hujan Mas Iris Jambu air Jambu batu Jambu monyet Jarak Jati Jeruk bali Jeruk nipis Johar Kalak Kaliandra Kana Kantil Karet Munding Kasia singapur Acalypha wilkesiana Accacia mangium Acacia auriculaeformis Spathoglotis plicata Pthecarpus indicus Chrysophyllum cainito Tamarindus indica Pitchecolobium dulce Crinum asiaticum Bambusa sp. Polyathea longifolia Cassia fistula Belamcanda chinensis Eugenia aquea Psidium guajava Anacardium occidentale Jatropha integerima Tectona grandis Citrus grandisty Citrus aurantifolia Cassia siamea Polyantha lateriflora Caliandra haematocepala Canna Hibrida Michelia alba Ficus elastica Cassia spectabilis ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● L-9 Pengarah No Nama Lokal Nama Latin Bentuk Tajuk Pohon Besar Warna daun Tekstur Semak Bunga Perdu Buah .

Trembesi Samanea saman Kelapa Kembang merak Kembang Sepatu ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● L . Nyamplung Callophyllum inophyllum Oleander Nerium oleander Palem Ekor Tupai Wodyetia bifurca Palem kubis Licuala grandis Palem Kuning Chrysalidocarpus lutescens Palem Merah Cytostachys renda Palem Raja Oreodoxa regia Palem Sadeng Livistona rotundifolia Pangkas kuning Duranta sp. Sikat botol Callistemon lanceolatus Soka Ixora stricata Sukun Artocarpus altilis Sutra bombay Portulaca gransiflora Tanjung Mimusops elengi Tapak dara Catharanthus roseus Teh-tehan Pangkas Acalypha sp.10 Pengarah ● ● Tekstur No Nama Lokal Nama Latin Pohon Kecil Semak Bunga Perdu Buah . Pepaya Carica papaya Pinang Jambe Areca catechu Pinang Mac-arthur Ptychosperma macarthurii Pinus.Perawakan Pohon Sedang Pohon Besar Daya Tarik Bentuk Tajuk Warna daun Potensi di RTH Dapat dikonsumsi ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Reduktor Polutan ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Pengenal Link ● 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 Cocos nucifera Caesalphinia pulcherima Hibiscusrosa sinensis Kemboja merah Plumeria rubra Kemuning Muraya paniculata Kenanga Cananga odorata Kenari Canarium commune Kersen Muntingiacalabura Kesumba Bixa orellana Ketapang Terminalia cattapa Ki acret Spathodea companulata Kiara Payung Filicium decipiens Kol Banda */ Pisonia alba Kupu-kupu Bauhinia purpurea Lamtorogung Leucaena leccocephala Landep Baleria priontis Lantana Lantana camara Lengkeng Euphoria longan Lontar / Siwalan Borassus flabellifer Mahoni Switenia mahagoni Mangga Mangifera indica Mangkokan Nothopanax scutellarium Matoa Pometia pinata Menteng Baccaurea motleyana Merawan Hopea mangarawan Mimba Azadirachta indica Nagasari Mesua ferrea Nangka Artocarpus heterophylla Nusa Indah Musaenda sp. tusam Pinus mercusii Puspa Schima wallichii Salam Eugenia polyantha Sansiviera/Lidah mertua Sanseviera trifasciata L Sarai raja Caryota mitis Sawo kecik Manilkara kauki Serunai rambat Widelia sp.

2004. 2004. IPB Press. Jakarta. Bogor.18 Tahun 2003. Pedoman Umum Penanaman Jalur Hijau Jalan. Dines T Nicholas & Brown D Kyle. 1981. Agro Media Pustaka. Bandung. 1986. Jurusan Arsitektur Lansekap Faperta Unbar. Lansekap Jalan. IPB Press. 2004. 2004. Time Saver Standards for Landscape Architecture. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. 1992. Sinar Baru. Mona Sintia dan Murhananto. Departemen Pekerjaan Umum. Direktorat Jenderal Cipta Karya. Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan. 2004. Departemen Pekerjaan Umum. Dahlan. Membuat dan Merawat Taman Rumah. Hendro Sunaryo dan Rismunandar. Hadi Susilo Arifin dan Nurhayati HS Arifin. Bandung. dalam Dahlan. Pengaruh Hutan dan Manajemen Daerah Aliran Sungai. Pembangunan Rumah Sederhana Tidak Bersusun. 1988. 2004. Kurniawan. Departemen Pekerjaan Umum. Pengantar Pengetahuan Dasar Hortikultura. New York. Pemeliharaan Taman. Daya Transpirasi Tanaman Perkotaan. Rully Wijayakusuma. Ministry of Public Works. RTH sebagai Unsur Utama Pembentuk Kota Taman. Landscape Architect’s Portable Hand Book. Directorate General of Highways. Tangerang. F. 2005. 1993. L . Depok.. Dines. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. Kementerian Lingkungan Hidup. Mendisain. Bogor. 2007. E N. 1976. Mc Graw – Hill Professional. Standard Specifications for Geometric Design of Urban Roads. 2001.BIBLIOGRAFI Charles Harries & Nicholas T. McGraw-Hill. Pemeliharaan Tanaman. EN. Direktorat Jenderal Bina Marga. 1995. Spesifikasi Tanaman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Pedoman Teknik Departemen Pekerjaan Umum. edisi revisi.11 . Perda Depok No. Penebar Swadaya. S. Pedoman Perencanaan Median Jalan. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. tentang Garis Sempadan. Bogor. IPB Press. 2006. EN. 2005.. Direktorat Jenderal Penataan Ruang. Manan. dalam Dahlan.

Kota. Zoer’aini Djamal Irwan. SNI 031/T/BM/1999.12 . Wisessa. Undang-Undang No.1988. Pustaka Cidesindo. 13 Tahun 1992. Highway Economic Requirements System. Tantangan Lingkungan Hidup dan Lansekap Kota. Jurusan Teknik Planologi FT Unpas. tentang Perkeretaapian. 14 Tahun 1992. 1998. tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 1989. J.Soerianegara dan Indrawan. Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan SNI 033/T/BM/ 1996. Penentuan Luas Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen. Kajian Kebutuhan Hutan Kota di Kota Bandung. Jakarta. 27 April 2006. Ekologi Hutan Indonesia. Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan L . RTH Sebagai Unsur Utama Pembentuk Undang-Undang No. Surat Kabar Harian Pikiran Rakyat. tentang Jalan. Undang-Undang No. 38 Tahun 2004. 1977. dalam Endes Nurfilmarasa. dalam Noor Syailendra. United States Department of Transportation.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful