P. 1
PermenPU5-2008 Pedoman Rth

PermenPU5-2008 Pedoman Rth

|Views: 69|Likes:
Published by Frank Harris

More info:

Published by: Frank Harris on Jun 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/23/2014

pdf

text

original

Sections

  • BAB I KETENTUAN UMUM
  • 1.1. Ruang Lingkup Pedoman
  • 1.2. Acuan Normatif
  • 1.3. Istilah dan Definisi
  • Tabel 1.1 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH
  • 1.5. Tujuan Penyelenggaraan RTH
  • 1.6. Fungsi RTH
  • 1.7. Manfaat RTH
  • 1.8. Tipologi RTH
  • Gambar 1.2 Tipologi RTH
  • Tabel 1.2 Kepemilikan RTH
  • Tabel 1.3 Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan
  • BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN
  • 2.1. Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan
  • b. Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk
  • Tabel 2.1 Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk
  • 2.2. Arahan Penyediaan RTH
  • 2.2.1 Pada Bangunan/Perumahan
  • Gambar 2.1 Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden
  • 2.2.2 Pada Lingkungan/Permukiman
  • 2.2.3 Kota/Perkotaan
  • Gambar 2.2 Pola Tanam Hutan Kota Strata 2
  • Gambar 2.3 Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak
  • Gambar 2.4 Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan
  • Gambar 2.5 Jalur Tanaman Tepi Peneduh
  • Gambar 2.6 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara
  • Gambar 2.7 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan
  • Gambar 2.8 Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin
  • Tabel 2.2 Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan
  • Gambar 2.11 Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang
  • Gambar 2.12 Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki
  • Gambar 2.13 Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH di Bawah Jalan Layang
  • Tabel 2.3 Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api
  • Tabel 2.4 Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET
  • Gambar 2.14 Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai
  • Gambar 2.16 Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman
  • 2.3. Kriteria Vegetasi RTH
  • 2.3.1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan
  • Tabel 2.5 Contoh Tanaman untuk Roof Garden
  • 2.3.2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota
  • Tabel 2.6 Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Taman Kota
  • 2.3.3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota
  • Tabel 2.7 Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota
  • 2.3.4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau
  • 2.3.5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan
  • Tabel 2.9 Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki
  • Tabel 2.10 Contoh Tanaman untuk RTH di Bawah Jalan Layang
  • 2.3.6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu
  • Tabel 2.11 Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api
  • Tabel 2.12 Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET
  • Tabel 2.13 Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai
  • Tabel 2.14 Contoh Vegetasi untuk Pemakaman
  • 2.4. Ketentuan Penanaman
  • 2.4.1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam
  • 2.4.2 Penanaman
  • 2.4.3 Pemeliharaan Tanaman
  • 2.4.4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman
  • Gambar 3.5 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif)
  • Tabel 3.2 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang : a. bahwa kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik terutama Ruang Terbuka Hijau (RTH) saat ini mengalami penurunan yang sangat signifikan dan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan hidup perkotaan yang berdampak keberbagai sendi kehidupan perkotaan antara lain sering terjadinya banjir, peningkatan pencemaran udara, dan menurunnya produktivitas masyarakat akibat terbatasnya ruang yang tersedia untuk interaksi sosial; b. bahwa Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang memberikan landasan untuk pengaturan ruang terbuka hijau dalam rangka mewujudkan ruang kawasan perkotaan yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan; c. bahwa dalam rangka implementasi Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang diperlukan adanya Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu ditetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);

3. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara RI; 4. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara RI; 5. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu; 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN.

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Menteri adalah Menteri Pekerjaan Umum. Pasal 2 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan dimaksudkan untuk: a. menyediakan acuan yang memudahkan pemangku kepentingan baik pemerintah kota, perencana maupun pihak-pihak terkait, dalam perencanaan, perancangan, pembangunan, dan pengelolaan ruang terbuka hijau. memberikan panduan praktis bagi pemangku kepentingan ruang terbuka hijau dalam penyusunan rencana dan rancangan pembangunan dan pengelolaan ruang terbuka hijau. memberikan bahan kampanye publik mengenai arti pentingnya ruang terbuka hijau bagi kehidupan masyarakat perkotaan. memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat dan pihak-pihak terkait tentang perlunya ruang terbuka hijau sebagai pembentuk ruang yang nyaman untuk beraktivitas dan bertempat tinggal.

2.

3.

b.

c. d.

Pasal 3 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan bertujuan untuk: a. b. menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air; menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat; meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih. Pasal 4 (1) Ruang lingkup Peraturan Menteri memuat: a. b. c. (2) ketentuan umum, yang terdiri dari tujuan, fungsi, manfaat, dan tipologi ruang terbuka hijau; ketentuan teknis yang meliputi penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan; prosedur perencanaan dan peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau.

c.

Materi muatan tentang pengaturan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimuat secara lengkap dalam lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 5

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Peraturan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk diketahui dan dilaksanakan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 26 Mei 2008 MENTERI PEKERJAAN UMUM,

DJOKO KIRMANTO

LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TANGGAL : 26 Mei 2008 PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN .

.....4.................................2.................2...............................................2.......................... BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 2....................................4..................... Prosedur Perencanaan................6.............1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam.........................................1...................................................3..4 Penghargaan dan Kompensasi........................ 3..................................3 Lembaga/Badan Hukum................... ................................. 1............................. Kriteria Vegetasi RTH...........5..........4.................................. Manfaat RTH....................................... 2................................ Istilah dan Definisi......................2 Pada Lingkungan/Permukiman...................................................................................... 1.........1 Peran Individu/Kelompok.......................... 2.....................................2.................... 1........... .3 Kota/Perkotaan......................6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu........................................2.............. 2.............. BAB IV PROSEDUR PERENCANAAN DAN PERAN MASYARAKAT 4............................................ Kedudukan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah......2.................. 1........... BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 3................................3....... Ketentuan Penanaman.......................................... Arahan Penyediaan RTH...................3 Pemeliharaan Tanaman...................4....4........................ 4............................. Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman.....1............................................2..................... 2........................................................ ............. 2.................... 2....................4............................2 Penanaman.........................................................1.....2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota........................................ Fungsi RTH..... .... Daftar Tabel.......................................................2 Peran Swasta............................ Daftar Gambar............................................................ Ruang Lingkup Pedoman................ 2......................3.................................................... 1.....................................3............. 2.......................... 3.....3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota........... Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan.....................................2...... Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan......................... 2.............................2................... 2.................................... ......................5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan.....................................................................................................................................4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman............................2.................... 1....4.............................. 2...1..... 2........... 4......................................................................................................................................1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan.....3..............................3......................3... 4....................7........ 2.....8........................................................... 2... 4.. Prakata.............................3. Tipologi RTH................................................................... Peran Masyarakat...........................................DAFTAR ISI Daftar Isi.3.... 2............................................. i i iii iv v 1 1 1 1 3 5 5 6 6 9 9 10 10 12 14 31 31 32 33 34 36 38 43 43 43 44 45 47 47 47 52 55 59 59 59 61 61 62 62 ...................... 4...... Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan.2..................4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau..................................................... ................................................................. 3......................................... 1............ Tujuan Penyelenggaraan RTH.... BAB I KETENTUAN UMUM 1...1 Pada Bangunan/Perumahan................................ 2.................... Acuan Normatif...................................................................... RTH Fungsi Tertentu...........................

........................ L-11 ii ..............................................Lampiran A Lampiran B Lampiran C Lampiran D Bagan Proporsi RTH Wilayah Perkotaan............................................................................................... Pilihan Vegetasi untuk Dikembangkan di RTH.................. Contoh Perhitungan Hutan Kota............................................. L-1 L-2 L-5 L-9 Bibliografi.................................................... Gambar Contoh RTH Taman....................................................

.....................................................12 2.............. Kebutuhan Oksigen Menurut Klasifikasi Jenis Kendaraan Bermotor...... Kepemilikan RTH.............................................................5 C............................................................................... Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan................................ Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor......................... Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api.......2 2....1 2.................................. Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan...... Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor di Wilayah Bojonagara........... Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki... Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan............ Kebutuhan RTH di Kota Bandung Tahun 2004 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen........ Contoh Tanaman untuk Sabuk Hijau yang Tahan Terhadap Penggenangan Air........................... Bandung........... Contoh Tanaman untuk Di Bawah Jalan Layang.9 2.....................11 2......................... Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk................................7 2. Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET.3 2....1 3..5 2................... Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota....................................10 2....... Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Hutan Kota.................................................................3 3..1 C..................2 C.........................5 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH............14 3...................... Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api................. Contoh Tanaman untuk Roof Garden................................ Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET................................................................ Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota...4 2....................DAFTAR TABEL Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 1................................6 2. 5 7 8 9 22 25 26 32 33 33 34 37 37 38 39 40 43 50 51 53 54 57 L-6 L-6 L-7 L-7 L-8 iii ...........1 1.2 3............................................. RTH Sempadan Danau dan Mata Air........................... Contoh Vegetasi untuk Pemakaman............................2 1...........13 2.........4 3.............................................4 Tabel C............................ Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai...3 C............... Kebutuhan Oksigen Manusia di Kota Bandung Tahun 2004... Kemampuan Hutan dalam Mengendalikan Gelombang Pendek dan Gelombang Panjang......................8 2.............................................. Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan....................................3 2........

............ Pola Tanam Hutan Kota Strata 2...................4 B......................... Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif)......... Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki....5 3....................................... 4 7 12 15 15 17 18 19 19 20 21 21 23 24 25 29 30 31 48 48 49 50 51 52 53 60 L-2 L-2 L-3 L-3 L-4 L-4 iv .........8 2..........................................2 B...1 3................10 2............................................... Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT)........ Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif).................7 4............ Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden........ Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH Di Bawah Jalan Layang...15 2... Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan...................................... Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak.......................................... Contoh Taman Rukun Warga...................................................................4 2.... Contoh Taman Rukun Kelurahan............................. Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara.............................. Jalur Tanaman Tepi Pembatas Pandang.................. Contoh Taman Rukun Warga.... Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT) ....... ...................................................6 3.. Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT). Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan........................... Contoh Taman Kota...............................1 B.......6 2........................................................................... Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT) .... Contoh Taman Kecamatan............DAFTAR GAMBAR Gambar 1....................................... Contoh Taman Rukun Kelurahan....16 3.6 Kedudukan Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam RTR Kawasan Perkotaan........ Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman...2 2..... Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang............1 2......................11 2.......1 B........13 2........................................1 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 1..................................14 2.......... Tipologi RTH...3 3....................................................................................... Jalur Tanaman pada Median Penahan Silau Lampu Kendaraan..........7 2............5 2............. Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai............................................................. Jalur Tanaman Tepi Peneduh............................................................................................................ Contoh Taman Rukun Kecamatan.................3 2.…………………………….9 2... Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin................3 B..............................................................2 3.............................................4 3................................5 B.... Pelibatan Masyarakat pada Pemanfaatan Dan Pengendalian.........2 2....12 2............ Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air........

Pedoman ini berisi rujukan untuk penyediaan RTH. pemanfaatan RTH. ketentuan penanaman dan pemeliharaan tanaman. prosedur perencanaan dan peran masyarakat yang semuanya merupakan pedoman teknis yang berlaku secara nasional.PRAKATA Buku pedoman ini disusun oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang. Pedoman ini dipersiapkan oleh Panitia Teknik Standardisasi Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil melalui Gugus Kerja Perencanaan Sub Panitia Teknis Tata Ruang. kriteria vegetasi untuk RTH. Proses penyusunan pedoman ini telah melibatkan berbagai kalangan masyarakat termasuk para akademisi dari perguruan tinggi terkemuka. v . Departemen Pekerjaan Umum dan merupakan salah satu rujukan teknis Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten serta seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) terutama para praktisi dan para akademisi di berbagai kegiatan yang dalam tugas dan kegiatannya berkaitan dengan penyediaan dan pemanfaatan RTH di kawasan perkotaan.

jumlah penduduk. adalah segala sesuatu yang berwujud benda. penanaman dan pemeliharaan tanaman. pasir. tentang Peraturan Pelaksanaan Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum f. Tatacara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan 1. Ketentuan umum meliputi ruang lingkup pedoman. dan yang dimaksud dengan benda mati adalah tanah. Hutan kota. 3. b. sedangkan yang dimaksud dengan benda hidup ialah tanaman. kaki tanggul. Acuan Normatif Undang-Undang RI No. dan elemen-elemen lainnya yang berbentuk padat maupun cair. dan kebutuhan fungsi tertentu.Ketentuan Umum Bab I BAB I KETENTUAN UMUM 1. Elemen lansekap yang berupa benda terdiri dari dua unsur yaitu benda hidup dan benda mati. kriteria vegetasi RTH. penyediaan RTH berdasarkan: luas wilayah. arahan penyediaan RTH. b). 4. 36 Tahun 2005. tepi saluran. 26 Tahun 2007. Peraturan Pemerintah RI No. pada lingkungan/permukiman. tepi sungai. pemanfaatan RTH: pada bangunan/perumahan.1. Elemen lansekap. suara. 1. Garis sempadan. tepi luar kepala jembatan. tujuan penyelenggaraan RTH. as rel kereta api. Ketentuan teknis merupakan pedoman rinci. c. 7 Tahun 2004. tentang Pengelolaan Kawasan Lindung h. tentang Jalan g. Keputusan Presiden RI No. batu. adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak. fungsi dan manfaat RTH. fungsi tertentu. Ruang Lingkup Pedoman Pedoman ini terdiri dari ketentuan umum dan ketentuan teknis serta lampiran-lampiran sebagai pelengkapnya. adalah garis batas luar pengaman untuk mendirikan bangunan dan atau pagar yang ditarik pada jarak tertentu sejajar dengan as jalan. baik yang bersifat alamiah maupun buatan manusia. tentang Penataan Ruang Peraturan Pemerintah RI No. e. dan tipologi RTH. meliputi: a). acuan normatif. tepi waduk. tepi situ/rawa. dan ketentuan penanaman. tepi mata air. yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang. SNI 03-1733-2004. tentang Hutan Kota Peraturan Pemerintah RI No. istilah dan definisi. 34 Tahun 2006. jaringan tenaga listrik. 1 . adalah jalur penempatan tanaman serta elemen lansekap lainnya yang terletak di dalam ruang milik jalan (RUMIJA) maupun di dalam ruang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan a.3. d. 2. kedudukan pedoman penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam rencana tata ruang wilayah. pipa gas. 28 Tahun 2002. Pedoman ini dilengkapi dengan foto dan gambar contoh beberapa RTH. tentang Bangunan Gedung Undang-Undang RI No. prosedur perencanaan dan peran masyarakat. 32 Tahun1990. warna dan suasana yang merupakan pembentuk lansekap. Jalur hijau. 63 Tahun 2002. tentang Sumber Daya Air Undang-Undang RI No. Istilah dan Definisi 1.2. pada kota/perkotaan.

Pohon kecil. 10. pengawasan jalan (RUWASJA). 6. 9. Peran masyarakat. adalah wajah dari karakter lahan atau tapak yang terbentuk pada lingkungan jalan. berupa lahan yang diperkeras maupun yang berupa badan air. adalah pohon yang memiliki ketinggian sampai dengan 7 meter. adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. 11. adalah pohon yang memiliki ketinggian dewasa 7-12 meter. Ruang terbuka. adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan. 7. Koefisien Daerah Hijau (KDH). Sering disebut jalur hijau karena dominasi elemen lansekapnya adalah tanaman yang pada umumnya berwarna hijau. adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur dimana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. baik yang tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. 18. Pohon besar. adalah kesatuan geografis yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional serta mempunyai fungsi utama tertentu. 13. 14. Ruang terbuka non hijau. nyaman dan memenuhi fungsi keamanan. 17. maupun yang terbentuk dari elemen lansekap buatan manusia yang disesuaikan dengan kondisi lahannya. adalah pohon yang memiliki ketinggian dewasa lebih dari 12 meter. Kawasan. yang timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat sesuai dengan hak dan kewajiban dalam penyelenggaraan penataan ruang. adalah tumbuhan berkayu dengan percabangan mulai dari pangkal batang dan memiliki lebih dari satu batang utama. baik yang terbentuk dari elemen lansekap alamiah seperti bentuk topografi lahan yang mempunyai panorama yang indah. 12. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. adalah semua jenis tumbuhan yang difungsikan sebagai penutup tanah. adalah berbagai kegiatan masyarakat. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 2 . Pohon. Pohon sedang. adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan gedung dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. Koefisien Dasar Bangunan (KDB). Kawasan perkotaan. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. Ruang terbuka hijau privat. 19. adalah area memanjang/jalur dan atau mengelompok. 20. Lansekap jalan ini mempunyai ciri-ciri khas karena harus disesuaikan dengan persyaratan geometrik jalan dan diperuntukkan terutama bagi kenyamanan pemakai jalan serta diusahakan untuk menciptakan lingkungan jalan yang indah. tempat tumbuh tanaman. 16. 8. Perdu. Ruang terbuka terdiri atas ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non hijau. adalah RTH milik institusi tertentu atau orang perseorangan yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas antara lain berupa kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan. Lansekap jalan. yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. adalah semua tumbuhan berbatang pokok tunggal berkayu keras. Penutup tanah. 15.Ketentuan Umum Bab I 5. Ruang Terbuka Hijau (RTH). adalah ruang terbuka di wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam kategori RTH.

adalah keseluruhan tetumbuhan dari suatu kawasan baik yang berasal dari kawasan itu atau didatangkan dari luar. dan rumput. Adapun ketentuan lebih lanjut mengenai penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau diatur dalam pedoman ini. 26. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Biasanya merupakan tanaman antara bagi tanah yang kurang subur sebelum penanaman tanaman yang tetap (permanen). perencanaan tata ruang wilayah kota harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau yang luas minimalnya sebesar 30% dari luas wilayah kota. edukasi atau kegiatan lain pada tingkat lingkungan. 22. RDTR Kota. 29. adalah bangunan pengendali sungai yang dibangun dengan persyaratan teknis tertentu untuk melindungi daerah sekitar sungai terhadap limpasan air sungai. meliputi pohon.4. 28. Taman lingkungan. edukasi atau kegiatan lain pada tingkat kota. Vegetasi/tumbuhan. Sabuk hijau (greenbelt). adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. adalah kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya. 1. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 3 . adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif. yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan kondisi geografis. Semak. 27. adalah bentuk alami dari struktur percabangan dan diameter tajuk. Tanggul. 25. penataan ruang terdiri atas penataan ruang wilayah nasional. Tajuk. adalah tumbuhan berbatang hijau serta tidak berkayu disebut sebagai 24. herbaseus. 23. juga dimuat dalam RTR Kawasan Perkotaan yang merupakan rencana rinci tata ruang wilayah Kabupaten. Kedudukan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Penataan ruang merupakan suatu sistem proses perencanaan tata ruang. Perencanaan tata ruang dilakukan untuk menghasilkan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang. atau RTR Kawasan Strategis Kota. adalah RTH yang memiliki tujuan utama untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu. Wilayah. Taman kota. Di dalam Undang-Undang No. penataan ruang wilayah provinsi. Tanaman penutup tanah. semak. penataan ruang wilayah kabupaten/kota. pemanfaatan ruang. adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif. dan pengendalian pemanfaatan ruang. Rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau selain dimuat dalam RTRW Kota. Berdasarkan wilayah administrasinya.Ketentuan Umum Bab I 21. adalah jenis tanaman penutup permukaan tanah yang bersifat selain mencegah erosi tanah juga dapat menyuburkan tanah yang kekurangan unsur hara. Ruang terbuka hijau publik. perdu. 30.

dimaksudkan untuk menjamin tersedianya ruang yang cukup bagi: a. penyediaan RTH yang bersifat privat. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 4 . e. Kedalaman rencana penyediaan dan pemanfaatan RTH pada masing-masing rencana tata ruang tersebut di atas dapat dilihat pada Tabel 1.1 Kedudukan Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam RTR Kawasan Perkotaan Penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam RTRW Kota/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan. melalui pembatasan kepadatan serta kriteria pemanfaatannya. tempat rekreasi dan olahraga masyarakat. pembatas perkembangan kota ke arah yang tidak diharapkan. j. kawasan pengendalian air larian dengan menyediakan kolam retensi.1. c. kawasan konservasi untuk kelestarian hidrologis. k. buatan maupun historis.Ketentuan Umum Bab I Gambar 1. dan ruang penempatan pertandaan (signage) sesuai dengan peraturan perundangan dan tidak mengganggu fungsi utama RTH tersebut. g. b. area pengembangan keanekaragaman hayati. i. area penciptaan iklim mikro dan pereduksi polutan di kawasan perkotaan. pengamanan sumber daya baik alam. tempat pemakaman umum. f. h. d. area mitigasi/evakuasi bencana.

Ketentuan tentang peraturan zonasi. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 5 . Tahap-tahap implementasi penyediaan RTH. Rencana penyediaan RTH yang dirinci berdasarkan jenis/tipologi RTH. ƒ sebagai peneduh. arahan elemen pelengkap pada RTH. c. lokasi. Tujuan Penyelenggaraan RTH Tujuan penyelenggaraan RTH adalah: a. Indikasi program mewujudkan penyediaan RTH pada masing-masing kawasan/bagian wilayah kota. dan bersih. indah. RDTRK/RTR Kawasan 1) Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan 2) (Rencana Rinci) 3) 4) 5) 6) 1. Tipologi masing-masing RTH.Ketentuan Umum Bab I Tabel 1. dan luas dengan skala yang lebih detail/besar.1 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH Jenis Rencana Tata Ruang Rencana Tata Ruang Wilayah 1) 2) Kota (Rencana Umum) 3) 4) 5) Kedalaman Muatan Luas minimum yang harus dipenuhi.5. ƒ produsen oksigen. b. Ketentuan pemanfaatan RTH secara umum. Menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air. Arahan elemen pelengkap pada RTH. ƒ pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung lancar. ƒ penyerap air hujan. nyaman. Penetapan jenis dan lokasi RTH yang akan disediakan. Fungsi RTH RTH memiliki fungsi sebagai berikut: a. hingga konsep-konsep rencana RTH sebagai arahan untuk pengembangan disain selanjutnya. Alternatif vegetasi pengisi ruang khususnya arahan vegetasi dalam kelompok-kelompok besar. Menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat.6. Fungsi utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis: ƒ memberi jaminan pengadaan RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota). Meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman. 1. Konsep-konsep rencana RTH sebagai arahan untuk pengembangan disain selanjutnya. segar. alternatif vegetasi pengisi ruang khususnya arahan vegetasi dalam kelompok-kelompok besar.

dan pelatihan dalam mempelajari alam. . Dalam suatu wilayah perkotaan.menggambarkan ekspresi budaya lokal. maupun makro: lansekap kota secara keseluruhan.Ketentuan Umum Bab I ƒ penyedia habitat satwa. sayur mayur. buah). ƒ penahan angin. 1. seperti tanaman bunga. Tipologi RTH Pembagian jenis-jenis RTH yang ada sesuai dengan tipologi RTH sebagaimana Gambar 1. kehutanan dan lainlain. .sumber produk yang bisa dijual.merupakan media komunikasi warga kota.pembentuk faktor keindahan arsitektural.wadah dan objek pendidikan. segar. sejuk) dan mendapatkan bahan-bahan untuk dijual (kayu.menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota.8. yaitu membentuk keindahan dan kenyamanan (teduh. . keseimbangan ekologi dan konservasi hayati. . daun. ƒ Fungsi ekonomi: . daun.meningkatkan kenyamanan. bunga. b. kepentingan. b. buah. .tempat rekreasi.menciptakan suasana serasi dan seimbang antara area terbangun dan tidak terbangun.bisa menjadi bagian dari usaha pertanian.2 berikut: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 6 . empat fungsi utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan. memperindah lingkungan kota baik dari skala mikro: halaman rumah. . Manfaat RTH Manfaat RTH berdasarkan fungsinya dibagi atas: a. pemeliharaan akan kelangsungan persediaan air tanah. air dan tanah. Manfaat langsung (dalam pengertian cepat dan bersifat tangible). Manfaat tidak langsung (berjangka panjang dan bersifat intangible). pelestarian fungsi lingkungan beserta segala isi flora dan fauna yang ada (konservasi hayati atau keanekaragaman hayati). 1. dan keberlanjutan kota seperti perlindungan tata air. yaitu pembersih udara yang sangat efektif. lingkungan permukimam. ƒ penyerap polutan media udara. Fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu: ƒ Fungsi sosial dan budaya: . serta. ƒ Fungsi estetika: . penelitian. perkebunan.7. .

Tabel 1. Pekarangan rumah tinggal b. pertokoan. Hutan kota g. Dari segi kepemilikan. Pulau jalan dan median jalan b. Jenis RTH Pekarangan a. sosial budaya. Secara struktur ruang. memanjang. Taman RT b. 3. Taman RW c. tersebar). RTH dibedakan ke dalam RTH publik dan RTH privat.2 Kepemilikan RTH No. Ruang dibawah jalan layang RTH Publik RTH Privat V V V V V V V V V V V V V V V V V dan tempat 2. kawasan lindung dan taman-taman nasional serta RTH non alami atau binaan seperti taman. Taman kelurahan d. RTH dapat mengikuti pola ekologis (mengelompok.2 Tipologi RTH Secara fisik RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami berupa habitat liar alami. Taman atap bangunan RTH Taman dan Hutan Kota a.2 berikut. 1. Taman kecamatan e.Ketentuan Umum Bab I Fisik Fungsi Ekologis Struktur Kepemilikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) RTH Alami Sosial Budaya Estetika Pola Ekologis RTH Publik RTH Non Alami Ekonomi Pola Planologis RTH Privat Gambar 1. V V Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 7 . Pembagian jenis-jenis RTH publik dan RTH privat adalah sebagaimana tabel 1. maupun pola planologis yang mengikuti hirarki dan struktur ruang perkotaan. Taman kota f. Jalur pejalan kaki c. usaha c. Dilihat dari fungsi RTH dapat berfungsi ekologis. dan ekonomi. estetika. lapangan olahraga. Sabuk hijau (green belt) RTH Jalur Hijau Jalan a. pemakaman atau jalur-jaur hijau jalan. Halaman perkantoran.

maka RTH ini harus memiliki aksesibilitas yang baik untuk semua orang.3 Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan Tipologi Kawasan Perkotaan Pantai Karakteristik RTH Fungsi Utama Penerapan Kebutuhan RTH pengamanan wilayah pantai sosial budaya mitigasi bencana konservasi tanah konservasi air keanekaragaman hayati mitigasi/evakuasi bencana dasar perencanaan kawasan sosial ekologis sosial hidrologis ƒ berdasarkan luas wilayah ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan luas wilayah ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan jumlah penduduk ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan jumlah penduduk ƒ ƒ ƒ Pegunungan ƒ ƒ ƒ Rawan Bencana ƒ Berpenduduk ƒ jarang s. Jenis RTH Fungsi Tertentu a. yaitu sosial budaya. RTH sempadan pantai e.Ketentuan Umum Bab I No. Berikut ini tabel arahan karakteristik RTH di perkotaan untuk berbagai tipologi kawasan perkotaan: Tabel 1. Pemakaman RTH Publik V V V V V V RTH Privat Catatan: taman lingkungan yang merupakan RTH privat adalah taman lingkungan yang dimiliki oleh orang perseorangan/masyarakat/swasta yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas. ƒ sedang ƒ Berpenduduk ƒ padat ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 8 . termasuk aksesibilitas bagi penyandang cacat. RTH sempadan rel kereta api b. ekonomi. Jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi c. Baik RTH publik maupun privat memiliki beberapa fungsi utama seperti fungsi ekologis serta fungsi tambahan. sarana olahraga dan atau area bermain. Khusus untuk RTH dengan fungsi sosial seperti tempat istirahat. estetika/arsitektural. RTH pengamanan sumber air baku/mata air f. 4. Karakteristik RTH disesuaikan dengan tipologi kawasannya.d. RTH sempadan sungai d.

ƒ apabila luas RTH baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah memiliki total luas lebih besar dari peraturan atau perundangan yang berlaku. dilakukan dengan mengalikan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan standar luas RTH per kapita sesuai peraturan yang berlaku. b.2 1. Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk Untuk menentukan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk. Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan a.5 0.0 0.000 jiwa 120. serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota. maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya. Penyediaan RTH Berdasarkan Luas Wilayah Penyediaan RTH berdasarkan luas wilayah di perkotaan adalah sebagai berikut: ƒ ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH privat. Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota. baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat.000 jiwa Tipe RTH Taman RT Taman RW Taman Kelurahan Taman kecamatan Pemakaman Luas minimal/ unit (m2) 250 1. Target luas sebesar 30% dari luas wilayah kota dapat dicapai secara bertahap melalui pengalokasian lahan perkotaan secara tipikal sebagaimana ditunjukkan pada lampiran A.250 9. maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat.1.3 0.2 Lokasi di tengah lingkungan RT di pusat kegiatan RW dikelompokan dengan sekolah/ pusat kelurahan dikelompokan dengan sekolah/ pusat kecamatan tersebar 4 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 9 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 2. Tabel 2. ƒ proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari ruang terbuka hijau privat.1 Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk No 1 2 3 Unit Lingkungan 250 jiwa 2500 jiwa 30.000 24.000 disesuaikan Luas minimal/ kapita (m2) 1.

yang berfungsi untuk berbagai aktivitas. 2.0 12. Luas pekarangan disesuaikan dengan ketentuan koefisien dasar bangunan (KDB) di kawasan perkotaan.3 4. RTH sempadan pantai. Penyediaan RTH Berdasarkan Kebutuhan Fungsi Tertentu Fungsi RTH pada kategori ini adalah untuk perlindungan atau pengamanan.000 disesuaikan disesuaikan Luas minimal/ kapita (m2) 0. RTH kategori ini meliputi: jalur hijau sempadan rel kereta api. Arahan Penyediaan RTH 2. Untuk memudahkan di dalam pengklasifikasian pekarangan maka ditentukan kategori pekarangan sebagai: a. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 10 .5 Lokasi di pusat wilayah/ kota di dalam/ kawasan pinggiran disesuaikan dengan kebutuhan 5 480. jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 3 (tiga) pohon pelindung ditambah dengan perdu dan semak serta penutup tanah dan atau rumput.000 jiwa Hutan kota untuk fungsi-fungsi tertentu c. Pekarangan Rumah Besar Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah besar adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) kategori yang termasuk rumah besar adalah rumah dengan luas lahan di atas 500 m2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No Unit Lingkungan Tipe RTH Taman kota Luas minimal/ unit (m2) 144. RTH kawasan perlindungan setempat berupa RTH sempadan sungai. ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat.1 Pada Bangunan/Perumahan a. seperti tertuang di dalam PERDA mengenai RTRW di masing-masing kota. pengaman pejalan kaki atau membatasi perkembangan penggunaan lahan agar fungsi utamanya tidak teganggu.1. jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi.2. RTH Pekarangan Pekarangan adalah lahan di luar bangunan.2. sarana dan prasarana misalnya melindungi kelestarian sumber daya alam. dan RTH pengamanan sumber air baku/mata air.

Keterbatasan luas halaman dengan jalan lingkungan yang sempit. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB diatas 70%.2. teras rumah. RTH dalam Bentuk Taman Atap Bangunan (Roof Garden) Pada kondisi luas lahan terbuka terbatas. Pekarangan Rumah Sedang Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah sedang adalah sebagai berikut: 1) kategori yang termasuk rumah sedang adalah rumah dengan luas lahan antara 200 m2 sampai dengan 500 m2. tidak menutup kemungkinan untuk mewujudkan RTH melalui penanaman dengan menggunakan pot atau media tanam lainnya. serta penutup tanah dan atau rumput.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a. RTH Halaman Perkantoran. seperti atap gedung. c. 2) ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat.3. Pekarangan Rumah Kecil Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah kecil adalah sebagai berikut: 1) kategori yang termasuk rumah kecil adalah rumah dengan luas lahan dibawah 200 m2. memiliki minimal 2 (dua) pohon kecil atau sedang yang ditanam pada lahan atau pada pot berdiameter diatas 60 cm. Persyaratan penanaman pohon pada perkantoran. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB dibawah 70%. serta penutup tanah dan atau rumput. Perkantoran. teras-teras bangunan bertingkat dan disamping bangunan. b. pertokoan. dan tempat usaha umumnya berupa jalur trotoar dan area parkir terbuka. dan lain-lain Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 11 . a. 2) ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat. dan ditanam pada area diluar KDB yang telah ditentukan. Penyediaan RTH pada kawasan ini adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) Untuk dengan tingkat KDB 70%-90% perlu menambahkan tanaman dalam pot. maka untuk RTH dapat memanfaatkan ruang terbuka non hijau. berlaku seperti persyaratan pada RTH pekarangan rumah. dan Tempat Usaha RTH halaman perkantoran. 3) jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 1 (satu) pohon pelindung ditambah tanaman semak dan perdu. 3) jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 2 (dua) pohon pelindung ditambah dengan tanaman semak dan perdu. Pertokoan.

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 12 . lapisan kedap air (waterproofing ). dengan perakaran yang mampu tumbuh dengan baik pada media tanam yang terbatas. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 300 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayani. aspek keselamatan dan keamanan. Aspek yang harus diperhatikan dalam pembuatan taman atap bangunan adalah: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) struktur bangunan. Lahan dengan KDB diatas 90% seperti pada kawasan pertokoan di pusat kota.80% dari luas taman. atau pada kawasan-kawasan dengan kepadatan tinggi dengan lahan yang sangat terbatas. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman. 2. Luas taman ini adalah minimal 1 m2 per penduduk RT. sistem utilitas bangunan. aspek pemeliharaan ƒ peralatan ƒ tanaman Gambar 2. media tanam.2 Pada Lingkungan/Permukiman a. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk dalam lingkup 1 (satu) RT. pemilihan material. Untuk itu bangunan harus memiliki struktur atap yang secara teknis memungkinkan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II dengan memakai media tambahan.2.1 Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden Tanaman untuk RTH dalam bentuk taman atap bangunan adalah tanaman yang tidak terlalu besar. RTH dapat disediakan pada atap bangunan. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% . khususnya untuk melayani kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. seperti pot dengan berbagai ukuran sesuai lahan yang tersedia. tahan terhadap hembusan angin serta relatif tidak memerlukan banyak air. dengan luas minimal 250 m2.

khususnya kegiatan remaja. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas.90% dari luas taman. Luas taman ini minimal 0. b.000 m2. kegiatan olahraga masyarakat.90% dari luas taman. c. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas.30 m2 per penduduk kelurahan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 13 .250 m2.80% dari luas taman. RTH Taman Rukun Warga RTH Taman Rukun Warga (RW) dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu RW. dengan luas minimal taman 9. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. Lokasi taman berada pada wilayah kelurahan yang bersangkutan. juga terdapat minimal 10 (sepuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang.5 m2 per penduduk RW. RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kelurahan. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. dengan luas taman minimal 24. Luas taman ini minimal 0. RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kecamatan. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. dengan luas minimal 1. Luas taman ini minimal 0. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% . Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% .2 m2 per penduduk kecamatan. Lokasi taman berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan. juga terdapat minimal 25 (duapuluhlima) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman aktif dan minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif. d. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 1000 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya. juga terdapat minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk taman aktif dan minimal 100 (seratus) pohon tahunan dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II juga terdapat minimal 3 (tiga) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% . serta kegiatan masyarakat lainnya di lingkungan RW tersebut.000 m2.

d. perdu.2.90%. yaitu hanya memiliki komunitas tumbuhtumbuhan pepohonan dan rumput.000 penduduk dengan standar minimal 0.000 m2. b. c. Berbentuk jalur: hutan kota pada lahan-lahan berbentuk jalur mengikuti bentukan sungai. Hutan kota dapat berbentuk: a. Memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika. yaitu memiliki komunitas tumbuhtumbuhan selain terdiri dari pepohonan dan rumput. dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 80% . Hutan kota berstrata banyak.3 Kota/Perkotaan a. Meresapkan air. Lebar minimal hutan kota berbentuk jalur adalah 30 m. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. dan semak ditanam secara berkelompok atau menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan. yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga. dengan jumlah vegetasi minimal 100 pohon dengan jarak tanam rapat tidak beraturan. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau). Komunitas vegetasi tumbuh menyebar terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau gerombol-gerombol kecil. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . dan Mendukung pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia. Bergerombol atau menumpuk: hutan kota dengan komunitas vegetasi terkonsentrasi pada satu areal. Jenis vegetasi yang dipilih berupa pohon tahunan. Struktur hutan kota dapat terdiri dari: a. RTH Taman Kota RTH Taman kota adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kota atau bagian wilayah kota. b. c. jalan. dengan luas minimal 2500 m. b.3 m2 per penduduk kota. juga terdapat semak dan penutup tanah dengan jarak tanam tidak beraturan. Hutan Kota Tujuan penyelenggaraan hutan kota adalah sebagai peyangga lingkungan kota yang berfungsi untuk: a. pantai. saluran dan lain sebagainya. b. Menyebar: hutan kota yang tidak mempunyai pola bentuk tertentu.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II 2. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 14 .100% dari luas hutan kota. d. dengan luas taman minimal 144. Hutan kota berstrata dua. Menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota. Taman ini melayani minimal 480.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2.Pa z dengan: La adalah adalah P0 K adalah R adalah C adalah PAM adalah t adalah Pa adalah z adalah luas hutan kota yang harus dibangun jumlah penduduk konsumsi air/kapita (lt/hari) laju peningkatan pemakaian air faktor pengendali kapasitas suplai air perusahaan tahun potensi air tanah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 15 .2 Pola Tanam Hutan Kota Strata 2 Gambar 2.3 Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak Luas ruang hijau yang diisi dengan berbagai jenis vegetasi tahunan minimal seluas 90% dari luas total hutan kota. Dalam kaitan kebutuhan air penduduk kota maka luas hutan kota sebagai produsen air dapat dihitung dengan rumus: La = P0 . K ( 1 + R – C ) t – PAM .

9375 )(2) m2 dengan: Lt adalah luas Hutan Kota pada tahun ke t (m2) Pt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t Kt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke Tt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t 54 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari. serta pengamanan dari faktor lingkungan sekitarnya. pesawahan. yang telah ada sebelumnya (eksisting) dan melalui peraturan yang berketetapan hukum. dipenuhi pepohonan.9375 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0. untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur. Mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari. ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 16 . dipertahankan keberadaannya. ƒ ƒ Fungsi lingkungan sabuk hijau: ƒ ƒ ƒ ƒ Peredam kebisingan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Hutan kota dalam kaitan sebagai produsen oksigen dapat dihitung dengan metode Gerakis (1974). Hutan kota. Mengatasi penggenangan.9375 gram 2 adalah jumlah musim di Indonesia c. yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988). Penahan angin. Kebun campuran. sehingga berperan sebagai pembatas atau pemisah. Sabuk Hijau Sabuk hijau merupakan RTH yang berfungsi sebagai daerah penyangga dan untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan (batas kota. Sabuk hijau dapat berbentuk: ƒ RTH yang memanjang mengikuti batas-batas area atau penggunaan lahan tertentu. 0. perkebunan. lebar jalur. pemisah kawasan. Penapis cahaya silau. sebagai berikut: Pt + Kt + Tt Lt = (54 )(0. dan lain-lain) atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu. daerah rendah dengan drainase yang kurang baik sering tergenang air hujan yang dapat mengganggu aktivitas kota serta menjadi sarang nyamuk.

perlu memperhatikan 2 (dua) hal. Mengamankan pantai dan membentuk daratan. Sedangkan median berupa jalur pemisah yang membagi jalan menjadi dua lajur atau lebih. g) tidak mudah tumbang. yang disukai oleh burung-burung. RTH dapat disediakan dengan penempatan tanaman antara 20–30% dari ruang milik jalan (rumija) sesuai dengan klas jalan.4 Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan Pulau Jalan dan Median Jalan Taman pulau jalan adalah RTH yang terbentuk oleh geometris jalan seperti pada persimpangan tiga atau bundaran jalan. RTH hijau di dalam kota akan meningkatkan resapan air. Disarankan agar dipilih jenis tanaman khas daerah setempat. Dalam pedoman ini dibahas pulau jalan dan median yang berbentuk taman/RTH. Gambar 2. Pada jalur tanaman tepi jalan 1) Peneduh a) ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ ƒ ƒ Mengatasi intrusi air laut. Untuk menentukan pemilihan jenis tanaman. b) percabangan 2 m di atas tanah. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 17 . c) bentuk percabangan batang tidak merunduk. RTH Jalur Hijau Jalan Untuk jalur hijau jalan. yaitu fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya. e) berasal dari perbanyakan biji. Mengatasi penggurunan. a. serta tingkat evapotranspirasi rendah. Penyerap dan penepis bau. d) bermassa daun padat. d. sehingga akan meningkatkan jumlah air tanah yang akan menahan perembesan air laut ke daratan. f) ditanam secara berbaris.5 m dari tepi median). Median atau pulau jalan dapat berupa taman atau non taman.

bermassa daun padat. perdu/semak. jarak tanam rapat.5 Jalur Tanaman Tepi Peneduh 2) Penyerap polusi udara a) b) c) d) terdiri dari pohon. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) Angsana (Ptherocarphus indicus) Akasia daun besar (Accasia mangium) Oleander (Nerium oleander) Bogenvil (Bougenvillea Sp) Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 18 . memiliki kegunaan untuk menyerap udara.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Contoh jenis tanaman: a) Kiara Payung (Filicium decipiens) b) Tanjung (Mimusops elengi) c) Bungur (Lagerstroemia floribunda) Gambar 2.

bermassa daun rapat. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) f) Tanjung (Mimusops elengi) Kiara payung (Filicium decipiens) Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Bogenvil (Bogenvillea sp) Oleander (Nerium oleander) Gambar 2.7 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 19 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2. perdu/semak. membentuk massa.6 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara 3) Peredam kebisingan a) b) c) d) terdiri dari pohon. berbagai bentuk tajuk.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II 4) Pemecah angin a) b) c) d) tanaman tinggi. jarak tanam rapat < 3 m. bermassa daun padat. jarak tanam rapat. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) Bambu (Bambusa sp) Cemara (Cassuarina equisetifolia) Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Oleander (Nerium oleander) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 20 .8 Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin 5) Pembatas pandang a) b) c) d) tanaman tinggi. bermassa daun padat. ditanam berbaris atau membentuk massa. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) Cemara (Cassuarina equisetifolia) Mahoni (Swietania mahagoni) Tanjung (Mimusops elengi) Kiara Payung (Filicium decipiens) Kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis) Gambar 2. perdu/semak. ditanam berbaris atau membentuk massa. perdu/semak.

Penyediaan P RT TH di Kawasan n Perkotaan Bab II Gambar 2. keting ggian 1. ditana am rapat. p Contoh jen nis tanaman n: a) b) c) d) Bogen nvil (Bogenv villea sp) Kemb bang sepatu (Hibiscus rosasinensis r s) Olean nder (Netriu um oleander r) Nusa Indah (Mus ssaenda sp) 2 Jalur Tanaman pada Med dian Penah han Silau Gambar 2.5 m.10 endaraan Lampu Ke Pedom man Penyediaan dan Pemanfa faatan Ruang Terbuka T Hijau di Kawasan Perkotaan P 21 1 . m berma assa daun padat.9 Jalur Tanaman Tepi Pem mbatas Pan ndang b. Pada medi ian Penahan silau s lampu kendaraan a) b) c) d) tanam man perdu/s semak.

Persimpangan 30 m kaki empat tidak Pada ujung Tanaman rendah Tanaman rendah tegak lurus persimpangan 80 m 80 m Tanaman tinggi Tanaman tinggi Catatan: . dan jenisnya merupakan berbunga atau berstruktur indah.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II c.Tanaman tinggi.Lantana (Lantana camara) .8 m .80 m. Untuk daerah bebas pandang ini ada ketentuan mengenai letak tanaman yang disesuaikan dengan kecepatan kendaraan dan bentuk persimpangannya. Tabel 2. Sebaiknya digunakan tanaman rendah berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian <0. antara lain: 1) Daerah bebas pandang di mulut persimpangan Pada mulut persimpangan diperlukan daerah terbuka agar tidak menghalangi pandangan pemakai jalan. (lihat buku "Spesifikasi Perencanaan Lansekap Jalan Pada Persimpangan” No. Penempatan dan pemilihan tanaman dan ornamen hiasan harus disesuaikan dengan ketentuan geometrik persimpangan jalan dan harus memenuhi kriteria sebagai berikut: a) Daerah bebas pandang tidak diperkenankan ditanami tanaman yang menghalangi pandangan pengemudi. berbentuk pohon dengan percabangan di atas 2 meter Bentuk Persimpangan 2) Pemilihan jenis tanaman pada persimpangan Penataan lansekap pada persimpangan akan merupakan ciri dari persimpangan itu atau lokasi setempat. Pada Persimpangan Jalan Beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam penyelesaian lansekap jalan pada persimpangan. 02/T/BNKT/1992).2 Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan Jarak dan Jenis Tanaman Letak Tanaman Kecepatan 40 Kecepatan 60 km/jam km/jam 40 m Pada ujung 20 m 1. Persimpangan persimpangan Tanaman rendah Tanaman rendah kaki empat tegak Mendekati 80 m 100 m lurus tanpa kanal persimpangan Tanaman tinggi Tanaman tinggi 50 m 2. misalnya: .Soka berwarna-warni (Ixora stricata) . berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian < 0.Pangkas Kuning (Duranta sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 22 .Tanaman rendah.

11 Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang b) Bila pada persimpangan terdapat pulau lalu lintas atau kanal yang dimungkinkan untuk ditanami.Khaya (Khaya Sinegalensis) .Lontar (siwalan) (Borassus flabellifer) 2) Tanaman pohon bercabang > 2 m Contoh: .Tanjung (Mimosups Elengi) e. misalnya: 1) Tanaman berbatang tunggal seperti jenis palem Contoh: . RTH Ruang Pejalan Kaki Ruang pejalan kaki adalah ruang yang disediakan bagi pejalan kaki pada kiri-kanan jalan atau di dalam taman. Ruang pejalan kaki yang dilengkapi dengan RTH harus memenuhi hal-hal sebagai berkut: 1) Kenyamanan. sebaiknya digunakan tanaman perdu rendah dengan pertimbangan agar tidak mengganggu penyeberang jalan dan tidak menghalangi pandangan pengemudi kendaraan. c) Penggunaan tanaman tinggi berbentuk tanaman pohon sebagai tanaman pengarah.Bungur (Lagerstromea Loudonii) .Palem raja (Oreodoxa regia) .Pinang jambe (Areca catechu) .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2. adalah cara mengukur ditawarkan oleh sistem pedestrian yaitu: kualitas fungsional yang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 23 .

f. Kriteria pergerakan. ƒ Gambar 2. disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat. Kemudahan berpindah dari satu arah ke arah lainnya yang dipengaruhi oleh kepadatan pedestrian. kepadatan penduduk. agar area di bawah tertata rapi. marka jalan) pada lansekap untuk membantu dalam menemukan jalan pada konteks lingkungan yang lebih besar. warisan dan nilai yang dianut terhadap lingkungan. jarak rata-rata orang berjalan di setiap tempat umumnya berbeda dipengaruhi oleh tujuan perjalanan. meliputi: ƒ Kriteria dimensional. Pada umumnya orang tidak mau berjalan lebih dari 400 m. dan indah. 2) Karakter fisik. kondisi permukaan jalan dan kondisi iklim. 24 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . kondisi cuaca. kebiasaan dan gaya hidup. asri. Ruang Terbuka Hijau di Bawah Jalan Layang Penyediaan RTH di bawah jalan layang dalam rangka: a) b) c) sebagai area resapan air. berupa tanda visual (landmark. Jalur pejalan kaki harus aksesibel untuk semua orang termasuk penyandang cacat. tentang Persyaratan Teknis Aksesiblitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan dan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Ruang Pejalan Kaki. kehadiran penghambat fisik. 468/KPTS/1998 tanggal 1 Desember 1998.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ Orientasi. kebiasaan dan budaya. menghindari kekumuhan dan lokasi tuna wisma.12 Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki 3) Pedoman teknis lebih rinci untuk jalur pejalan kaki dapat mengacu pada Kepmen PU No.

memperlembut bagian/struktur bangunan yang berkesan kaku. Jalan rel kereta api belokan/lengkungan . Gambar 2. menutupi bagian-bagian struktur jalan yang tidak menarik. RTH sempadan pantai. RTH sempadan danau. serta berukuran tidak terlalu besar.1. g.lengkung luar Tanaman >11 m >23 m >11 m Obyek Bangunan >20 m >23 m >11 m Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 25 . RTH pengamanan sumber air baku/mata air. Jalan rel kereta api lurus b.3 Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api Jalan Rel Kereta Api terletak di: a.lengkung dalam . RTH Fungsi Tertentu RTH fungsi tertentu adalah jalur hijau antara lain RTH sempadan rel kereta api.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II d) e) f) menghindari permukiman liar. Jalur Hijau (RTH) Sempadan Rel Kereta Api Penyediaan RTH pada garis sempadan jalan rel kereta api merupakan RTH yang memiliki fungsi utama untuk membatasi interaksi antara kegiatan masyarakat dengan jalan rel kereta api. mengingat keterbatasan tempat. RTH jaringan listrik tegangan tinggi. RTH sempadan sungai. Berkaitan dengan hal tersebut perlu dengan tegas menentukan lebar garis sempadan jalan kereta api di kawasan perkotaan. Tabel 2.13 Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH di Bawah Jalan Layang Pemilihan tanaman seyogianya dari jenis yang tahan ternaungi sepanjang waktu dan relatif tahan kekurangan air. g.

Ketentuan jarak bebas minimum antara penghantar SUTT dan SUTET dengan tanah dan benda lain ditetapkan sebagai berikut: Tabel 2. Pelebaran tersebut dimulai dalam jarak 20 m di muka lengkungan untuk selanjutnya menyempit lagi sampai jarak lebih dari 11 m.3 m 0. 5.5 m 8.5 m 2. 6.5 m 20 m 20 m Saluran kabel SKTM SKTR 0.5 m 2.5 m 1.5 m 0.3 m 20 m 20 m Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 26 . Garis sempadan jalan rel kereta api pada belokan adalah lebih dari 23 m diukur dari lengkung dalam sampai as jalan.5 m 0.5 m 2.5 m 15 m SUTM 2.5 m 2.2. Garis sempadan jalan rel kereta api sebagaimana dimaksud pada butir 1) tidak berlaku apabila jalan rel kereta api terletak di tanah galian yang dalamnya 3. 4. f) g) g.5 m 2.5 m 1.5 m 3. Jalur Hijau (RTH) pada Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Ketentuan lebar sempadan jaringan tenaga listrik yang dapat digunakan sebagai RTH adalah sebagai berikut: a) b) Garis sempadan jaringan tenaga listrik adalah 64 m yang ditetapkan dari titik tengah jaringan tenaga listrik.5 m 8m 20 20 20 20 20 20 m m m m m m SUTET 500 KV 20 m 20 m 50 m 3m 15 m 15 m 8.5 m 8m 3.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Kriteria garis sempadan jalan kereta api yang dapat digunakan untuk RTH adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) Garis sempadan jalan rel kereta api adalah ditetapkan dari as jalan rel terdekat apabila jalan rel kereta api itu lurus. Garis sempadan jalan perlintasan sebidang antara jalan rel kereta api dengan jalan raya adalah 30 m dari as jalan rel kereta api pada titik perpotongan as jalan rel kereta api dengan as jalan raya dan secara berangsur–angsur menuju pada jarak lebih dari 11 m dari as jalan rel kereta api pada titik 600 m dari titik perpotongan as jalan kereta api dengan as jalan raya. 8. Lokasi Bangunan beton Pompa bensin Penimbunan bahan bakar Pagar Lapangan terbuka Jalan raya Pepohonan Bangunan tahan api Rel kereta api SUTT 66 KV 150 KV 20 m 20 m 20 m 20 m 50 m 20 m 3m 6. 2.5 m 0. yang secara berangsur–angsur melebar dari jarak lebih dari 11 sampai lebih dari 23 m.5 m 1.5 m 1. diukur dari puncak galian tanah atau atas serongan. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di dalam galian.5 m 0. 9. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di tanah timbunan diukur dari kaki tanggul.5 m 1.5 m 20 m 20 m 0.3 m 0. Dalam peralihan jalan lurus ke jalan lengkung diluar as jalan harus ada jalur tanah yang bebas. 3. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak pada tanah datar diukur dari as jalan rel kereta api.5 m 0.3 m 0.5 m.5 m 0. 7.3 m 0.5 m 1.3 m 0. 1.5 m 2.5 m 20 m 20 m SUTR 1.4 Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET No.3 m 0.

b) Sungai tidak bertanggul: 1) Garis sempadan sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut: 27 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . a) Sungai bertanggul: 1) 2) 3) 4) Garis sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 3 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. RTH Sempadan Sungai RTH sempadan sungai adalah jalur hijau yang terletak di bagian kiri dan kanan sungai yang memiliki fungsi utama untuk melindungi sungai tersebut dari berbagai gangguan yang dapat merusak kondisi sungai dan kelestariannya.5 m 3m 20 m 20 m 20 m SUTET 500 KV 8. Dengan pertimbangan untuk peningkatan fungsinya. 10. Sesuai peraturan yang ada. Lokasi Jembatan besi/ tangga besi/ kereta listrik Dari titik tertinggi tiang kapal Lapangan olah raga SUTT lainnya pengahantar udara tegangan rendah. maka lahan yang diperlukan untuk tapak tanggul baru sebagai akibat dilaksanakannya ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) harus dibebaskan. 11. 12.5 m SUTM 20 m 20 m 20 m 20 m SUTR 20 m 20 m 20 m 20 m Saluran kabel SKTM SKTR 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m Keterangan: SUTR SUTM SUTT SUTET SKTR SKTM = = = = = = Saluran Saluran Saluran Saluran Saluran Saluran Udara Tegangan Rendah Udara Tegangan Menengah Udara Tegangan Tinggi Udara Tegangan Ekstra Tinggi Kabel Tegangan Rendah Kabel Tegangan Menengah g. sungai di perkotaan terdiri dari sungai bertanggul dan sungai tidak bertanggul. tanggul dapat diperkuat.5 m 8. diperlebar dan ditinggikan yang dapat berakibat bergesernya garis sempadan sungai. Kecuali lahan yang berstatus tanah negara.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. televisi dan kereta gantung SUTT 66 KV 150 KV 3m 20 m 3m 2.5 m 14 m 8. Garis sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 5 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. 13.3. jaringan telekomunikasi.

garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. b) 3) 4) 5) Garis sempadan sebagaimana dimaksud pada butir 1) dan 2) diukur ruas per ruas dari tepi sungai dengan mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a) b) c) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 m. penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 50 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. 2) Garis sempadan sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut: a) Sungai besar yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas 500 km2 atau lebih. maka segala perbaikan atas kerusakan yang timbul pada sungai dan bangunan sungai menjadi tanggungjawab pengelola jalan. g.100%. jalur hijau terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurangkurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai. penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 100 m. erosi. Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 20 m. Lebar RTH sempadan pantai minimal 100 m dari batas air pasang tertinggi ke arah darat. Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 m sampai dengan 20 m. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . RTH sempadan pantai merupakan area pengaman pantai dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan oleh gelombang laut seperti intrusi air laut. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 10 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. Garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan adalah tepi bahu jalan yang bersangkutan. dengan ketentuan konstruksi dan penggunaan harus menjamin kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 28 . Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut. Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) tidak terpenuhi. RTH Sempadan Pantai RTH sempadan pantai memiliki fungsi utama sebagai pembatas pertumbuhan permukiman atau aktivitas lainnya agar tidak menggangu kelestarian pantai. Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai kurang dari 500 km2. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.4. tiupan angin kencang dan gelombang tsunami. abrasi.

Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi. Gambar 2. Kiputri. Excoecaria spp. c) d) Sonneratia spp. Tanjung.14 Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai g. wildlife habitat dan meredam angin kencang. Khusus untuk RTH sempadan pantai yang telah mengalami intrusi air laut atau merupakan daerah payau dan asin. RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekitar mata air. Angsana. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. RTH Sumber Air Baku/Mata Air RTH sumber air meliputi sungai.5. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 29 . dan Kuku.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Fasilitas dan kegiatan yang diijinkan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) b) Tidak bertentangan dengan Keppres No. Bruguiera spp. Beberapa jenis tumbuhan di ekosistem mangrove antara lain: Avicenia spp. Trengguli. Aegiceras sp. termasuk gangguan terhadap kualitas visual. RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat. pemilihan vegetasi diutamakan dari daerah setempat yang telah mengalami penyesuaian dengan kondisi tersebut. erosi. dan Nypa sp. danau/waduk. Untuk danau dan waduk. Rhizophora spp. Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai. Formasi Hutan Mangrove sangat baik sebagai peredam ombak dan dapat membantu proses pengendapan lumpur. melindungi dari ancaman gelombang pasang. Untuk mata air. Lumnitzera spp. dan mata air. Xylocarpus spp. Asam Landi (Pichelebium dulce) dan Mahoni (Switenia mahagoni ) relatif lebih tahan jika dibandingkan Kesumba.

batas terluar pemakaman berupa pagar tanaman atau kombinasi antara pagar buatan dengan pagar tanaman. batas antar blok pemakaman berupa pedestrian lebar 150-200 cm dengan deretan pohon pelindung disalah satu sisinya. ruang hijau pemakaman termasuk pemakaman tanpa perkerasan minimal 70% dari total area pemakaman dengan tingkat liputan vegetasi 80% dari luas ruang hijaunya. Untuk penyediaan RTH pemakaman. luas dan jumlah masing-masing blok disesuaikan dengan kondisi pemakaman setempat.5 m. maka ketentuan bentuk pemakaman adalah sebagai berikut: a) b) c) d) ukuran makam 1 m x 2 m. tiap makam tidak diperkenankan dilakukan penembokan/ perkerasan. tempat pertumbuhan berbagai jenis vegetasi. pemakaman dibagi dalam beberapa blok.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2. jarak antar makam satu dengan lainnya minimal 0. atau dengan pohon pelindung. e) f) g) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 30 .6. pencipta iklim mikro serta tempat hidup burung serta fungsi sosial masyarakat disekitar seperti beristirahat dan sebagai sumber pendapatan.15 Contoh Penanaman Pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air g. RTH Pemakaman Penyediaan ruang terbuka hijau pada areal pemakaman disamping memiliki fungsi utama sebagai tempat penguburan jenasah juga memiliki fungsi ekologis yaitu sebagai daerah resapan air.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Pemilihan vegetasi di pemakaman disamping sebagai peneduh juga untuk meningkatkan peran ekologis pemakaman termasuk habitat burung serta keindahan. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang. sistem perakaran masuk ke dalam tanah.16 Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman 2. Halaman Perkantoran. Pekarangan Rumah Kecil. Pertokoan. Gambar 2. dan Tempat Usaha Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) b. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan Rumah Besar. Kriteria Vegetasi RTH 2. jenis tanaman tahunan atau musiman.3. dahan tidak mudah patah. tahan terhadap hama penyakit tanaman. tidak beracun. ketinggian tanaman bervariasi. Kriteria Vegetasi untuk Taman Atap Bangunan dan Tanaman dalam Pot Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 31 . perakaran tidak mengganggu pondasi. tidak berduri. Pekarangan Rumah Sedang.1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan a. memiliki nilai estetika yang menonjol. tidak merusak konstruksi dan bangunan.3.

tidak berduri. dahan tidak mudah patah.2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk taman lingkungan dan taman kota adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) tidak beracun. tetapi tidak terlalu gelap. mudah dalam pemeliharaan. relatif tahan terhadap kekurangan air. jarak tanam setengah rapat sehingga menghasilkan keteduhan yang optimal.3. kecepatan tumbuh sedang. perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan. perawakan dan bentuk tajuk cukup indah. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung. tajuk cukup rindang dan kompak.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a) b) c) d) e) tanaman tidak berakar dalam sehingga mampu tumbuh baik dalam pot atau bak tanaman. I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 II 1 2 3 Ground Cover Jenis dan Nama Tanaman Perdu/semak Akalipa merah Nusa Indah merah Daun Mangkokan Bogenvil merah Azalea Soka daun besar Bakung Oleander Palem Kuning Sikas Alamanda Puring Kembang Merak Rumput Gajah Lantana ungu Rumput kawat Nama Latin Keterangan Acalypha wilkesiana Musaenda erytthrophylla Notophanax scutelarium Bougenvillea glabra Rhododendron indicum Ixora javonica Crinum asiaticum Nerium oleander Chrysalidocaus lutescens Cycas revolata Aalamanda cartatica Codiaeum varigatum Caesalphinia pulcherima Axonophus compressus Lantana camara Cynodon dactylon Daun berwarna Berbunga Berdaun unik Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Daun berwarna Bentuk unik Merambat berbunga Daun berwarna Berbunga Tekstur kasar Berbunga Tekstur sedang 2. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 32 . berupa habitat tanaman lokal dan tanaman budidaya.5 Contoh Tanaman untuk Roof Garden No. jenis tanaman tahunan atau musiman. ketinggian tanaman bervariasi. tahan terhadap hama penyakit tanaman. Tabel 2. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. tahan dan tumbuh baik pada temperatur lingkungan yang tinggi. perakaran tidak mengganggu pondasi.

k) sistem perakaran yang kuat sehingga mampu mencegah terjadinya longsor. e) tahan terhadap hama penyakit. b) sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung. d) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. tidak mudah patah. agar tumbuhan lain dapat tumbuh baik sebagai penutup tanah.7 Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota No.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Tabel 2. i) batang dan sistem percabangan kuat.6 Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Taman Kota No. Tabel 2.3. f) berumur panjang. l) seresah yang dihasilkan cukup banyak dan tidak bersifat alelopati. h) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri. 1 2 3 Nama Tanaman Kiara Beringin Loa Ficus spp Ficus benyamina Ficus glaberrima Nama Latin Jenis burung/potensi Punai (Treron sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 33 . g) toleran terhadap keterbatasan sinar matahari dan air. j) batang tegak kuat. c) tajuk cukup rindang dan kompak. Jenis dan Nama Tanaman Nama Latin Keterangan 1 Bunga Kupu-kupu Bauhinia Purpurea Berbunga 2 Sikat botol Calistemon lanceolatus Berbunga 3 Kemboja merah Plumeria rubra Berbunga 4 Kersen Muntingia calabura Berbuah 5 Kendal Cordia sebestena Berbunga 6 Kesumba Bixa orellana Berbunga 7 Jambu batu Psidium guajava Berbuah 8 Bungur Sakura Lagerstroemia loudonii Berbunga 9 Bunga saputangan Amherstia nobilis Berbunga 10 Lengkeng Ephorbia longan Berbuah 11 Bunga Lampion Brownea ariza Berbunga 12 Bungur Lagerstroemea floribunda Berbunga 13 Tanjung Mimosups elengi Berbunga 14 Kenanga Cananga odorata Berbunga 15 Sawo Kecik Manilkara kauki Berbuah 16 Akasia mangium Accacia mangium 17 Jambu air Eugenia aquea Berbuah 18 Kenari Canarium commune Berbuah Catatan: pemilihan tanaman disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim setempat 2. m) jenis tanaman yang ditanam termasuk golongan evergreen bukan dari golongan tanaman yang menggugurkan daun (decidous).3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) memiliki ketinggian yang bervariasi. n) memiliki perakaran yang dalam.

Kayu Homalium tomentosum Kerbau. Ameliorasi iklim mikro. Mengatasi penggenangan. Srindit (Loriculus pusillus) Jalak (sturnidae) dan. 4 Nama Tanaman Dadap Erythrina varigata Nama Latin 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Dangdeur Aren Buni Buni hutan Kembang merak Serut Jamblang Salam Gosampinus heptaphylla Arenga pinatta Antidesma bunius Antidesma montanum Caesalpinia pulcherrima Syzygium paucipuncatum Streblus asper Syzygium cumini Syzygium polyanntum Jenis burung/potensi Betet (Psittacula alexandri). Pemilihan vegetasi berdaun rapat berukuran relatif besar dan tebal dapat meredam kebisingan lebih baik. Tabel 2. Pacar Keling Bixa orellana Kemlandingan Leucaena glauca Kayu Palele Castanopsis javanica Trengguli. Penapis cahaya silau. tumbuhan berukuran tinggi dengan luasan area yang cukup dapat mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari.8 Contoh Tanaman untuk Sabuk Hijau yang Tahan Terhadap Penggenangan Air Lama genangan (hari) 0 – 10 Jenis tanaman Nama Lokal Nama Latin Sungkai. Golden Shower Cassia fistula Dalingsem. Tembelekan Lantana camara Balsa Orchoma lagopus Cendana India Santaum album Suren Toona sureni Gopasa Vitex gopassus Kesumba Keling. peletakan tanaman yang diatur sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi dan menyerap cahaya. Jati Seberang Peronema canescens Jati Tectona grandis Dahat Tectona hamiltoniana Salam Eugeniu polyantha Lantana Merah. beberapa jenis burung madu Burung ukut-ukut Srigunting Bahan pembuat sarang Buah dapat dimakan Pengundang serangga Katagori pohon langka Tahan pangkas Buah dapat dimakan Bumbu dapur 2.3.4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: ƒ Peredam kebisingan. Gia Kedondong Bulan Canarium littoralle Johar Cassia siamea Keladan Dipterocarpus gracillis Ampupu Eucalyptus alba ƒ ƒ ƒ 10 – 20 20 – 30 30 – 40 40 – 50 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 34 . Kayu Batu. untuk fungsi ini dipilih penanaman dengan vegetasi berdaun rapat.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No.

Mengatasi intrusi air laut. jalur pepohonan yang rapat dan tinggi dapat melokalisir bau dan menyerap bau. Kenanga (Cananga odorata). sabuk hijau ini dapat berupa formasi hutan mangrove. Casuarina equisetifolia Intsia bijuga Samanea saman Gluta renghas Nama Latin Sumber: Soerianagara dan Indrawan (1988) ƒ Penahan angin. Sabuk hijau seyogyanya ditempatkan tepat pada arah datangnya angin dan obyek yang dilindungi harus berada di bagian belakangnya. untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur. dan Tanjung (Mimosups elengi) adalah tanaman yang dapat mengeluarkan bau harum. Sabuk hijau yang dibangun harus cukup tebal. tanaman yang dipilih adalah yang daya evapotranspirasinya rendah. dapat melindungi daerah dari hembusan angin yang membawa serta pasir. ƒ ƒ ƒ ƒ Pola tanam sabuk hijau sebagai penahan angin adalah sebagai berikut: ƒ Sabuk hijau membentuk jalur hijau cembung ke arah datangnya angin. akan menjadikan angin laminar dan mencegah terbentuknya angin turbulen. yang terletak di bagian yang mengarah ke hembusan angin. ƒ ƒ ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 35 . Jeungjing Kosambi Tekik Kopi Meranti tembaga Sonokeling Meranti merah Keluarga Mahoni Cemara laut 50 – 60 60 – 70 70 – 80 90 – 100 100 – 200 300 Semar. Penyerap dan penepis bau. lebar jalur. Beberapa spesies tanaman seperti Cempaka (Michelia champaca). Sabuk hijau yang dibangun harus cukup panjang agar dapat melindungi objek dengan baik. Pada daerah payau dapat dipilih pohon Mahoni (Swietenia mahagoni) dan Asam Landi (Pichecolobium dulce). Sengon Laut.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Lama genangan (hari) Jenis tanaman Nama Lokal Pinus Benquet Tusam Wedang Angsana Laban Weru. Mengatasi penggurunan. Sabuk hijau yang terlalu tipis kurang dapat melindungi karena masih dapat diterobos angin. Mengamankan pantai dan membentuk daratan. Kihiyang Sonoleking Senon. yang telah terbukti dapat meredam ombak dan membantu proses pengendapan lumpur di pantai. sabuk hijau berupa jalur pepohonan yang tinggi lebar dan panjang. Pendusta utan Kihujan Rengas Pinus insularis Pinus mercusii Pterocarpus javanicus Pterocarpus indicus Vitex pubescens Albizzia procera Dalbergia sisso Paraserianthes falcataria Schleichera oleosa Albizzia lebbeck Coffea spp Shorea leprosula Dalbergia latifolia Shorea ovalis Swietenia spp.

5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan a. l) daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang. dan RTH Jalur Pejalan Kaki Kriteria untuk jalur hijau jalan adalah sebagai berikut: 1) Aspek silvikultur: a) b) c) d) e) f) 2) berasal dari biji terseleksi sehat dan bebas penyakit. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 36 . g) perawakan dan bentuk tajuk cukup indah. u) berumur panjang. f) batang tegak kuat. Kerapatan yang kurang. tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa. o) sebaiknya tidak berduri atau beracun. memiliki pertumbuhan sempurna baik batang maupun akar. d) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia. perbandingan bagian pucuk dan akar seimbang. e) batang dan sistem percabangan kuat. b) sistem perakaran masuk kedalam tanah. tidak merusak konstruksi dan bangunan. sehingga mampu menutup secara baik. s) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. t) sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi. 2. q) tahan terhadap hama penyakit. sistim perakaran padat. Tanaman harus terdiri dari beberapa strata yaitu tanaman tinggi sedang dan rendah. Sebaliknya kerapatan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terbentuknya angin turbulen. tetapi tidak terlalu gelap. j) daun sebaiknya berukuran sempit (nanofill). Sifat biologi: a) tumbuh baik pada tanah padat. p) mudah sembuh bila mengalami luka akibat benturan dan akibat lain. batang tegak dan keras pada bagian pangkal. c) fase anakan tumbuh cepat. k) tidak menggugurkan daun. tajuk simetris dan padat. m) saat berbunga/berbuah tidak mengotori jalan. h) tajuk cukup rindang dan kompak.3. i) ukuran dan bentuk tajuk seimbang dengan tinggi pohon. Kriteria Vegetasi untuk Taman Pulau Jalan dan Median Jalan. n) buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung. tidak mudah patah dan tidak berbanir. r) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri. dengan dahan yang kuat namun cukup lentur. Memiliki kerapatan daun berkisar antara 70–85%.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ ƒ Tanaman yang ditanam didominasi oleh tanaman yang cukup tinggi. tidak dapat berfungsi sebagai penahan angin.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

Tabel 2.9 Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki
No I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 II 1 2 3 4 5 Nama Lokal Pohon Bunga Kupu-kupu Bunga kupu-kupu ungu Trengguli Kayu manis Tanjung Salam Melinjo Bungur Cempaka Tanjung Perdu/semak/groundcover Canna Soka jepang Puring Pedang-pedangan Lili pita Nama Latin Tinggi (m) 8 8 15 12 15 12 15 18 18 12 0.6 0.3 0.7 0.5 0.3 Jarak Tanam (m) 12 12 12 12 12 6 6 12 12 12 0.2 0.2 0.3 0.2 0.15

Bauhinia purpurea Bauhinia blakeana Cassia fistula Cinnamommum iners Mimosups elengi Euginia polyantha Gnetum gnemon Lagerstroemia floribunda Michelia champaca Mimosups elengi Canna varigata Ixora spp Codiaeum varigatum Sansiviera spp Ophiopogon jaburan

b.

Kriteria Vegetasi untuk RTH di Bawah Jalan Layang Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) tanaman yang tahan dan dapat hidup dengan baik pada tempat yang ternaungi secara permanen; tidak membutuhkan penyinaran matahari secara penuh; relatif tahan kekurangan air; perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan; sebaiknya merupakan tanaman dari jenis yang mempunyai kemampuan dalam mengurangi polusi udara; dapat hidup dengan baik pada media tanam pot atau bak tanaman.

Tabel 2.10 Contoh Tanaman untuk RTH di Bawah Jalan Layang
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama lokal Balancing Talas-talasan Hanjuang Philodendron Pedang-pedangan Xanadu Singonium Yuca Dracaena Spatipilum

Dieffenbachia spp Calathea spp Cordyline spp Philodendron spp Sansiviera spp Philodendron xanadu Syngonium spp Yucca elephantipes Dracaaena spp Spathypillum spp

Nama latin

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

37

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

2.3.6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu a. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) tumbuh baik pada tanah padat; sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan; fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa; ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia; batang dan sistem percabangan kuat; batang tegak kuat, tidak mudah patah dan tidak berbanir; perawakan dan bentuk tajuk cukup indah; daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang; buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung; tahan terhadap hama penyakit; berumur panjang.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH rel kereta api, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi, disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian pada daerah masingmasing. Tabel 2.11 Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Nama Daerah Flamboyan Angsana Ketapang Kupu-kupu Kere paying Johar Tanjung Mahoni Akasia Bungur Kenari Johar Damar Nyamplung Jakaranda Liang liu Kismis Ganitri Saga Anting-anting Asam kranji Johar Cemara Pinus Beringin Nama Latin Delonix regia Pterocarpus indicus Terminalia cattapa Bauhinia purpurea Filicium decipiens Cassia multiyoga Mimusops elengi Swientenia mahagoni Acacia auriculiformis Lagerstroemia loudonii Canarium commune Cassia sp. Agathis alba Calophyllum inophyllum Jacaranda filicifolia Salix babilinica Muehlenbeckia sp. Elaeocarpus spahaericus Adenanthera povoniana Elaeocarpus grandiflorus Pithecelobium dulce Cassia grandis Cupresus papuana Pinus merkusii Ficus benjamina

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

38

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

Pola tanam vegetasi di sepanjang rel kereta api harus memperhatikan keamanan terhadap lalu lintas kereta api, tidak menghalangi atau mengganggu penglihatan masinis, serta tidak menggangu kekuatan struktur rel kereta api. Pola tanam yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: a) b) jarak maksimal dari sumbu rel adalah 50 m; pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan.

b. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Kriteria pemilihan vegetasi dan pola tanam untuk RTH ini adalah sebagai berikut: jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman yang memiliki dahan yang kuat, tidak mudah patah, dan perakaran tidak mengganggu pondasi; b) akarnya menghujam masuk ke dalam tanah. Jenis ini lebih tahan terhadap hembusan angin yang besar daripada tanaman yang akarnya bertebaran hanya di sekitar permukaan tanah; c) daunnya tidak mudah gugur oleh terpaan angin dengan kecepatan sedang; d) bukan merupakan pohon yang memiliki bentuk tajuk melebar; e) merupakan pohon dengan katagori kecil (small tree); f) fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa; g) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia; h) pola penanaman pemilihan vegetasi memperhatikan ketinggian yang diijinkan; i) buah tidak bisa dikonsumsi langsung oleh manusia; j) memiliki kerapatan yang cukup (50-60%); k) pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. Pemilihan jenis dan ketinggian vegetasi dimaksudkan agar penanaman vegetasi pada RTH jalur SUTT maupun SUTET, tidak menimbulkan gangguan terhadap jaringan listrik serta menghindari bahaya terhadap penduduk di sekitarnya. Lokasi penanaman harus memperhatikan jarak bebas minimum yang diijinkan. Tabel 2.12 Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nama Suku dan Jenis Nama Lokal Mangkokan Sarai raja Palem kobis Kesumba Jarak kosta Bunga Perawakan Semak Pohon sedang Pohon kecil Pohon kecil Semak Pohon kecil Diameter Batang (cm)/ Tinggi (m) /5 10/5-25 5/3-4 10/2-8 /2 10/2-6

a)

Nothopanax scutellarium Merr. Caryota mitis Lour. Licuala grandis L. Bixa orellana L. Jatropha gossypifolia L. Bauhinia purpurea L.

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

39

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

No.

Nama Suku dan Jenis

Nama Lokal kupu-kupu Kembang kuning Kembang merak Kembang sepatu kecil Serut Kemuning Kecubung gunung

Perawakan

Diameter Batang (cm)/ Tinggi (m) 20/2-6 - /3-5 - /2 10/2-5 10/-7 - /5

7. 8. 9. 10. 11. 12.

Cassia surattensis Burm. F. Caesalpinia pulcherrima (L.) Swartz. Malvaviscus arbpreus Cav. Streblus asper Lour. Muraya paniculata (L.) Jack. Brugmansia candida Pers.

Semak Semak Semak Pohon kecil Pohon kecil Semak

c.

Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) sistem perakaran yang kuat, sehingga mampu menahan pergeseran tanah; tumbuh baik pada tanah padat; sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan; kecepatan tumbuh bervariasi; tahan terhadap hama dan penyakit tanaman; jarak tanam setengah rapat sampai rapat 90% dari luas area, harus dihijaukan; tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap; berupa tanaman lokal dan tanaman budidaya; dominasi tanaman tahunan; sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH sempadan sungai, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi untuk RTH sempadan sungai disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian lahan pada daerah masing-masing. Tabel 2.13 Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama Daerah Bungur Jening Khaya Pingku Lamtorogung Puspa Kenanga Locust Kisireum Manglid Cengal Flamboyan

Lagerstromia speciosa Pithecolobium lobatum Khaya anthotheca Dysoxylum excelsum Leucaena lecocephala Schima wallichii Canangium adoratum Hymenaena courburil Eugenia cymosa Michelia velutina Hopea sangkal Delonix regia

Nama Latin

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

40

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 Nama Daerah Tanjung Trembesi Beringin Kepuh Angsret Nyamplung Leda Tengkawanglayar Johar Merbau pantai Tengkawangmajau Hoe Merawan Blabag Pala hutan Cemara sumatra Palur raja Kibeusi leutik Kaliandra Balam sudu Sawo duren Kedinding Kepuh Dadap Salam Sungkai Matoa/kasai Locust Ebony/kayuhitam Kempas Sawo kecik Asam Pingku Johar Angsana Tengkawang layar Kecapi Palem Raja Kalak Saputangan Bacang Kayu manis Kawista Kenanga Khaya Khaya Khaya Mimusops elengi Samanea saman Ficus benjamina Sterculia foetida Spathodea campanulata Callophylum inophyllum Eucalyptus deglupta Shorea mecistopteryx Cassia siamea Intsia bijuga Shorea palembanica Eucaliyptus platyphylla Hopea mangarawan Terminalia citrina Myristica fatua Casuarina sumatrana Oreodoxa regia Lindera srtichchytolia Calliandra marginata Palaguium sumatranum Crysophyllum cainito Albizzia leppecioides Sterculia foetida Erythrina cristagalli Eugenia polyantha Pheronema canescens Pometia pinnata Hymenaea courbaril Dyospiros celebica Kompasia excelsa Manilkara kauki Tamarindus indica Dysoxyllum exelsum Cassia grandis Pterocarpus indicus Shorea mecistopteryx Shandoricum koetjape Oerodoxa regia Poliantha lateriflora Maniltoa brawneodes Manejitera foetida Cinnamomun burmanni Feronia limonia Canangium odoratum Hopea bancana Shorea selanica Pterogota alata K. grandiflora K. anthotheca Nama Latin Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 41 . sinegalensis K.

Beberapa tanaman yang memiliki daya transpirasi yang rendah antara lain (Manan. 1976 dan Kurniawan. Kriteria Vegetasi untuk RTH pada Sumber Air Baku/Mata Air Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) relatif tahan terhadap penggenangan air. 1993): Cemara Laut (Casuarina equisetifolia). sebelum di lapangan. sehingga dapat menahan erosi dan meningkatkan infiltasi (resapan) air. sampel jalur hijau sungai berupa jalur memanjang dari garis sungai ke arah darat dengan lebar 20 m sampai pohon terjauh. Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Pantai Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) merupakan tanaman lokal yang sudah teruji ketahanan dan kesesuaiannya tehadap kondisi pantai tersebut. sekurang-kurangnya 100 m dari kiri kanan sungai besar dan 50 m di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman. tiupan angin dan hempasan gelombang air pasang. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 42 . tahan terhadap hama dan penyakit tanaman. Bungur (Lagerstroemia speciosa). jarak maksimal dari pantai adalah 100 m. Kelapa (Cocos nucifera). Vegetasi ideal yang ditanam pada RTH pengaman sumber air merupakan vegetasi yang tidak mengkonsumsi banyak air atau yang memiliki daya transpirasi yang rendah. daya transpirasi rendah. bakau merupakan tanaman yang khas sebagai pelindung pantai. e. untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 m. pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. penempatan petak sampel dilakukan secara awalan acak (random start) pada peta. batang dan sistem percabangan yang kuat. d) e) f) g) d. Karet Munding (Ficus elastica). memliki sistem perakaran yang kuat dan dalam. sistem perakaran yang yang kuat sehingga mampu mencegah abrasi pantai. Kiara Payung (Filicium decipiens). Damar (Agathis loranthifolia). toleransi terhadap kondisi air payau.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Persyaratan pola tanam vegetasi pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut: a) b) c) jalur hijau tanaman meliputi sempadan sungai selebar 50 m pada kirikanan sungai besar dan sungai kecil (anak sungai). Manggis (Garcinia mangostana). sampel jalur hijau sungai berupa petak-petak berukuran 20 m x 20 m diambil secara sistematis dengan intensitas sampling 10% dari panjang sungai.

14 Contoh Vegetasi untuk Pemakaman No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Lokal Bougenvil Kemboja Putih Puring Lili pita Tanjung Dadap Kembang merak Jamblang Salam Nama Latin Potensi berbunga berbunga berwarna berbunga pengundang burung pengundang serangga buah dapat dimakan pengundang burung Bougenvilia sp Plumeria alba Codiaeum varigatum Ophiopogon jaburan Mimosups elengi Erythrina varigata Caesalpinia pulcherrima Syzygium cumini Syzygium polyanntum 2. Tabel 2. atau menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi langsung.4. sedang atau kecil disesuaikan dengan ketersediaan ruang. berumur panjang. dikembalikan ke bagian bawah lubang tanam. batang tegak kuat. dan tanah yang berasal dari bagian atas lubang tanam diurugkan di bagian atas tanaman. b) besarnya diameter lubang tanam sama dengan lingkaran tajuk terluar tanaman dengan kedalaman setebal bola akar ditambah 10 cm. dapat berupa pohon besar.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II f. tahan terhadap hama penyakit. tidak mudah patah dan tidak berbanir. Penanaman dapat dilakukan setelah tanah dibiarkan selama 3–5 hari. tajuk cukup rindang dan kompak. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 43 . c) masukkan tanah di sekeliling bola akar. Ketentuan Penanaman 2. 2.1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam Lokasi tanah yang akan dijadikan media tanam harus diolah terlebih dahulu. sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi. tidak merusak konstruksi dan bangunan.2 Penanaman Pada proses penanaman harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) bibit tanaman harus memiliki percabangan dan perakaran yang sehat. Tanah yang baik sebagai media tanam adalah tanah yang gembur mengandung cukup unsur hara. tetapi tidak terlalu gelap. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pemakaman Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) sistem perakaran masuk kedalam tanah. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.4. Untuk menghasilkan media tanam yang baik maka tanah harus digemburkan dengan menggunakan cangkul hingga kedalaman pertumbuhan akar dan ditambahkan pupuk organik/kompos secukupnya. kemudian tanah yang berasal dari bagian bawah.4.

dapat menjadi indikasi bahwa siraman air sudah dinyatakan cukup.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II d) agar pohon yang baru ditanam tidak bergoyang.4. tidak pada permukaan daun tanaman. 2. dahan dan ranting. Penetrasi air siraman sedalam 15-20 cm ke dalam tanah. Pupuk yang diberikan pada tanaman dapat berupa pupuk organik maupun pupuk anorganik (misalnya NPK atau urea). e) tanaman disiram secukupnya. dahan dan ranting yang retak. dalam upaya menghindari penyakit yang disebabkan oleh cendawan. Pupuk yang digunakan untuk pohon-pohon taman biasanya pupuk majemuk NPK.3 Pemeliharaan Tanaman a. Pemangkasan tanaman dapat dilakukan dengan tujuan: 1) Pemangkasan untuk kesehatan pohon: Pemangkasan untuk tujuan ini dilakukan pada cabang. Waktu penyiraman yang terbaik adalah pada pagi atau sore hari. Penyiraman siang hari hendaknya dilakukan langsung pada permukaan tanah. Penyiraman Tujuan penyiraman tanaman. juga berfungsi melarutkan garam-garam mineral dan juga sebagai unsur utama pada proses fotosintesis. patah. Waktu penyiraman pada dasarnya dapat dilakukan kapan saja saat dibutuhkan. Waktu pemangkasan yang tepat adalah setelah masa pertumbuhan generatif tanaman (setelah selesai masa pembungaan) dan sebelum pemberian pupuk. b. selain untuk menyeimbangkan laju evapotranspirasi. 44 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . c. yang dapat mengancam keamanan pengguna taman. Pemupukan Prinsip dasar pemupukan adalah mensuplai hara tambahan yang dibutuhkan sehingga tanaman tidak kekurangan makanan. Pemangkasan Tujuan pemangkasan tanaman adalah untuk mengontrol pertumbuhan tanaman sesuai yang diinginkan serta menjaga keamanan dan kesehatan tanaman. 2) Pemangkasan untuk keamanan penggunaan taman: ƒ Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang. Untuk daerah dengan kelembaban tinggi penyiraman pada pagi hari lebih baik daripada sore hari. dengan ujung diikat pada batang pohon. diperlukan alat penahan (kayu pemancang/ajir) yang ditancapkan di seputar pohon. mati atau berpenyakit.

teknik budidaya. baik berupa serangga.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ Di daerah pejalan kaki diperlukan ruang yang bebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 2. ulat. ƒ 4) Pemangkasan untuk tujuan estetis: Pemangkasan dengan tujuan ini adalah untuk menghasilkan penampilan tanaman lebih baik atau lebih indah. nematoda dan penyakit fisiologis. yang dapat menghalangi pandangan pengguna jalan. karat. Dengan memperhatikan jenis dan kerapatan daun. piramida. mekanis. mozaik dan sebagainya. dahan dan ranting. seperti bentuk daun. bercak daun.5-5 m dari permukaan tanah. layu. silindris. Untuk jalan umum yang dilalui kendaraan diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 4. Secara kasat mata seringkali terlihat populasi binatang berupa larva. juga gesekan yang intensif dapat mengganggu kesehatan pohon. kambing. maka pemangkasan dapat menghasilkan tanaman dengan bentuk-bentuk tajuk spiral. kubus. Untuk jalan yang dilalui kendaraan pada daerah permukiman diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar minimal 3. fisik. virus. Gejala Serangan Gejala serangan hama pada umumnya langsung dapat terlihat dari kerusakan bagian tanaman. bakteri. maupun imagonya. Batang atau dahan yang menyentuh kabel telepon dan listrik perlu dipangkas.5 m dari permukaan tanah. molusca maupun hewan lainnya seperti burung. Dapat juga terjadi bagian tanaman yang terkikis.4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Hama tanaman dapat disebabkan oleh hewan. dan lain sebagainya. kelinci dan sebagainya. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 45 . Beberapa diantaranya tidak terlihat dengan mata telanjang sehingga perlu di teliti di laboratorium. 2. berubah warna dan penampilan tidak menarik. a. Sedangkan penyakit tanaman disebabkan oleh jamur. 3) Pemangkasan untuk keamanan pengguna jalan: ƒ ƒ Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang. Gejala serangan penyakit terlihat adanya akar.4. b. berlubang. kerena disamping dapat mengakibatkan korsleting/ kebakaran. Cara Pengendalian Pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan cara karantina. biologi dan kimiawi.5 m dari permukaan tanah. bunga maupun buah yang tidak sempurna. bulat.

RTH dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan sebagai berikut: a. dan tanaman pot sehingga dapat menambah nilai estetika sebuah rumah. Selain sebagai tempat untuk melakukan aktivitas sosial. RTH Taman Rukun Tetangga dapat pula dimanfaatkan sebagai suatu community garden dengan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 47 . Untuk mendukung aktivitas penduduk di lingkungan tersebut.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 3. pertokoan.2. Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan RTH pada bangunan/perumahan baik di pekarangan maupun halaman perkantoran. carport. sayur. RTH Pekarangan Dalam rangka mengoptimalkan lahan pekarangan.1. olah raga. dan tempat usaha berfungsi sebagai penghasil O2. Pertokoan. tanaman pot dimaksud dapat diatur dalam susunan/bentuk vertikal. dan lain-lain. Selain fungsi tersebut. RTH dapat dimanfaatkan pula untuk menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup. bazar. fasilitas yang harus disediakan minimal bangku taman dan fasilitas mainan anak-anak. Untuk rumah dengan RTH pada lahan pekarangan yang tidak terlalu luas atau sempit. Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman RTH pada Lingkungan/Permukiman dapat dioptimalkan fungsinya menurut jenis RTH berikut: a. peredam kebisingan. Untuk efisiensi ruang. dapat dimanfaatkan pula sebagai area parkir terbuka. dan bunga). dan Tempat Usaha RTH pada halaman perkantoran. RTH pada rumah dengan pekarangan luas dapat dimanfaatkan sebagai tempat utilitas tertentu (sumur resapan) dan dapat juga dipakai untuk tempat menanam tanaman hias dan tanaman produktif (yang dapat menghasilkan buah-buahan. dan penambah estetika suatu bangunan sehingga tampak asri. b. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) dapat dimanfaatkan penduduk sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. serta memberikan keseimbangan dan keserasian antara bangunan dan lingkungan. dan tempat untuk menyelenggarakan berbagai aktivitas di luar ruangan seperti upacara. maka RTH pekarangan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan atau kebutuhan lainnya. RTH Halaman Perkantoran. pertokoan. selain tempat utilitas tertentu. 3. dan tempat usaha.

Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup. sayur. POHON PELINDUNG JALUR PEJALAN KAKI Gambar 3.2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 48 .1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga KURSI TAMAN ARENA MAINAN ANAK JALUR PEJALAN KAKI POHON PELINDUNG Gambar 3. dan buah-buahan yang dapat dimanfaatkan oleh warga.

3 Contoh Taman Rukun Warga c. baik olahraga maupun aktivitas lainnya. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 49 . atau dapat berupa taman pasif. RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan penduduk dalam satu kelurahan. RTH Rukun Warga RTH Rukun Warga (RW) dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan remaja. Taman ini dapat berupa taman aktif. LAP. dengan jalur trek lari di seputarnya. dimana aktivitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif. kegiatan olahraga masyarakat. VOLLEY TEMPAT DUDUK TEMPAT DUDUK LAPANGAN RUMPUT TEMPAT DUDUK LAPANGAN BASKET Gambar 3.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III b. Fasilitas yang disediakan berupa lapangan untuk berbagai kegiatan. serta kegiatan sosial lainnya di lingkungan RW tersebut. beberapa unit bangku taman yang dipasang secara berkelompok sebagai sarana berkomunikasi dan bersosialisasi antar warga. sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohonpohon tahunan. misalnya duduk atau bersantai. dengan fasilitas utama lapangan olahraga (serbaguna). dan beberapa jenis bangunan permainan anak yang tahan dan aman untuk dipakai pula oleh anak remaja.

2) semak. 1 unit kios (jika diperlukan). 1 unit kios (jika diperlukan).5–2 m. 4) penutup tanah. KIOS AREA PARKIR KIOS Gambar 3. trek lari.4 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 50 . 1) minimal 50 pohon (sedang dan kecil). lebar 5 m panjang 325 m. sirkulasi jalur pejalan kaki. WC umum. lebar 1. WC umum. 3) perdu. kursi-kursi taman.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel 3. 4) penutup tanah. 3) perdu. kursi–kursi taman. Vegetasi 1) minimal 25 pohon (pohon sedang dan kecil).1 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan Jenis Taman Aktif Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80% Fasilitas 1) 2) 3) 4) Pasif 80 – 90% 5) 1) 2) 3) 4) lapangan terbuka. 2) semak.

Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III KIOS AREA PARKIR Gambar 3. trek lari. 3) perdu. atau dapat berupa taman pasif untuk kegiatan yang lebih bersifat pasif.2 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan Jenis Taman Aktif Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80% 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Fasilitas lapangan terbuka. dengan jalur trek lari di seputarnya. Kelengkapan taman ini adalah sebagai berikut: Tabel 3. parkir kendaraan.5 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif) d. 2) semak. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 51 . WC umum. termasuk sarana kios (jika diperlukan). lebar 5 m panjang 325 m. lapangan basket. lapangan volley. sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau. kursi-kursi taman. Taman ini dapat berupa taman aktif dengan fasilitas utama lapangan olahraga. Vegetasi 1) minimal 50 pohon (sedang dan kecil). RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat dimanfaatkan oleh penduduk untuk melakukan berbagai aktivitas di dalam satu kecamatan. 4) penutup tanah.

taman khusus (untuk lansia). 4) penutup tanah. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. 4) kursi-kursi taman. 3) perdu. 2) semak. SARANA OLAHRAGA KIOS SARANA OLAHRAGA AREA PARKIR SARANA OLAHRAGA PLAZA HUTAN KECIL Gambar 3. taman bunga. 2) WC umum. Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan a. 3) parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan). Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau). Vegetasi 1) lebih dari 100 pohon tahunan (pohon sedang dan kecil).Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Jenis Taman Pasif Koefisien Daerah Fasilitas Hijau (KDH) 80–90% 1) sirkulasi jalur pejalan kaki. fasilitas olah raga terbatas.3. dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 30%. RTH Taman Kota RTH Taman kota dapat dimanfaatkan penduduk untuk melakukan berbagai kegiatan sosial pada satu kota atau bagian wilayah kota. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 52 . yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi. taman bermain (anak/balita).5–2 m. lebar 1.6 Contoh Taman Kecamatan 3.

atau aktivitas yang aktif seperti jogging. AMPHITEATER 10. TAMAN BURUNG 8. GSG & LAP. rekreasi.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel 3. lebar 7 m panjang 400 m. 9) prasarana tertentu: kolam retensi untuk pengendali air larian. SCULPTURE 11. JOGGING TRACK Gambar 3. oksigen. daun. WC umum. penutup tanah. sirkulasi pejalan kaki/jogging track. unit lapangan basket (14x26 m). Hutan kota dapat juga dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas sosial masyarakat (secara terbatas. unit lapangan volley (15 x 24 m). ekonomi (buah-buahan. perdu. keanekaragaman hayati). Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 53 . AREA MAIN ANAK-ANAK 6. GERBANG UTAMA 4.3 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80 % Fasilitas lapangan terbuka. sayur). 7) panggung terbuka. LABIRIN & LEISURE AREA 7. wisata alam. PARKIR 2. LOTUS POND 12. wahana pendidikan dan penelitian. 8) area bermain anak. parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan). penghasil produk hasil hutan. KOLAM 3. senam atau olahraga ringan lainnya). perlindungan dan pemanfaatan plasma nutfah.7 Contoh Taman Kota (Rencana Taman Kota Pangkalanbun Kabupaten Kotawaringin Barat) b. BASKET 9. 10) kursi. CANNOE POND 5. Hutan kota Hutan kota dapat dimanfaatkan sebagai kawasan konservasi dan penyangga lingkungan kota (pelestarian. Fasilitas yang harus disediakan disesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan seperti kursi taman. meliputi aktivitas pasif seperti duduk dan beristirahat dan atau membaca. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 1) Vegetasi 150 pohon (pohon sedang dan kecil) semak. 2) 3) 1. trek lari.

sampah yang bau dan terbengkalai. RTH di bawah jalan layang dapat menjadi unsur estetika untuk meminimalkan unsur kekakuan konstruksi jalan. Jalur tanaman tepi jalan atau pulau jalan selain sebagai wilayah konservasi air. Median jalan dapat dimanfaatkan sebagai penahan debu dan keindahan kota. Sabuk hijau dimaksudkan sebagai kawasan lindung dengan pemanfaatan terbatas dengan pemanfaatan utamanya adalah sebagai penyaring alami udara bagi kota-kota yang berbatasan tersebut. vegetasi. Sabuk Hijau Sabuk hijau berfungsi sebagai daerah penyangga atau perbatasan antara dua kota.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Idealnya hutan kota merupakan ekosistem yang baik bagi ruang hidup satwa misalnya burung. d.4 Kemampuan Hutan dalam Mengendalikan Gelombang Pendek dan Panjang Respon Daun Dipantulkan Diserap Dibiaskan Diteruskan c. juga dapat dimanfaatkan untuk fungsi lain seperti sebagai pembentuk arsitektur kota. kelembaban. tekstur bawah kaki. e. Disamping itu RTH di bawah jalan layang dapat dimanfaatkan sebagai: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 54 . yang mempunyai peranan penting antara lain mengontrol populasi serangga. Tabel 3. emisi kendaraan. sehingga sabuk hijau dapat menjadi RTH bagi kedua kota atau lebih tersebut. RTH Jalur Hijau Jalan Pulau Jalan dan Median Jalan Taman pulau jalan maupun median jalan selain berfungsi sebagai RTH. vegetasi yang mengeluarkan bau. faktor audial (suara) dan faktor visual. RTH Jalur Pejalan Kaki RTH jalur pejalan kaki dapat dimanfaatkan sebagai: ƒ Fasilitas untuk memungkinkan terjadinya interaksi sosial baik pasif maupun aktif serta memberi kesempatan untuk duduk dan melihat pejalan kaki lainnya. Gelombang Pendek (%) 10 80 10 Gelombang Panjang (%) 100 10 90 ƒ f. juga dapat dimanfaatkan untuk keindahan/estetika kota. Untuk itu diperlukan introduksi tanaman pengundang burung pada hutan kota. Sebagai penyeimbang temperatur. RTH di Bawah Jalan Layang Selain sebagai daerah resapan air.

maka jenis aktivitas yang perlu dilakukan berkaitan dengan peranan RTH sepanjang rel kereta api adalah sebagai berikut: a) b) c) d) Memperkuat pohon melalui perawatan dari dalam. sehingga RTH pada kawasan ini dimanfaatkan sebagai pengaman listrik tegangan tinggi dan kawasan jalur hijau dibebaskan dari berbagai kegiatan masyarakat serta perlu dilengkapi tanda/peringatan untuk masyarakat agar tidak beraktivitas di kawasan tersebut. 3. RTH Fungsi Tertentu a. dan pemantauan. Menghilangkan sumber penularan hama dan penyakit serta menghilangkan tempat persembunyian ular dan binatang berbahaya lainnya. Membuat saluran drainase. Pemanfaatan daerah sempadan sungai yang berfungsi budi daya dapat dilakukan oleh masyarakat untuk kegiatan-kegiatan: a) b) c) d) budi daya pertanian rakyat. Pada zona sungai yang berfungsi lindung menjadi kawasan lindung. c. ƒ Tempat istirahat sementara bagi pengendara sepeda motor/pejalan kaki pada saat hujan. Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api RTH/jalur hijau sempadan rel kereta api dapat dimanfaatkan sebagai pengamanan terhadap jalur lalu lintas kereta api. ƒ Lokasi penempatan papan reklame secara terbatas. dan pipa air minum. pemasangan rentangan kabel listrik. perizinan. pelestarian. papan penyuluhan dan peringatan. perlindungan tepi kiri-kanan bantaran sungai yang rawan erosi. gardu listrik. kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C.4. sehingga jaringan kayu dapat tumbuh lebih banyak yang akan menjadi pohon lebih kuat. Penatagunaan daerah sempadan sungai dilakukan dengan penetapan zona-zona yang berfungsi sebagai fungsi lindung dan budi daya. Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Jaringan listrik tegangan tinggi sangat berbahaya bagi manusia. dan pengendalian daya rusak sungai melalui kegiatan penatagunaan. waduk yang berfungsi budi daya dapat dibudidayakan kecuali pemanfaatan tanggul hanya untuk jalan. pada zona sungai danau. Untuk menjaga keselamatan lalu lintas kereta api maupun masyarakat di sekitarnya. dan lain-lain.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III ƒ Lokasi penempatan utilitas seperti drainase. peningkatan fungsi sungai. Memperbaiki citra/penampilan pohon secara keseluruhan. 55 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . mencegah okupasi penduduk yang mudah menyebabkan erosi. b. serta rambu-rambu pekerjaan. kabel telpon. RTH Sempadan Sungai Pemanfaatan RTH daerah sempadan sungai dilakukan untuk kawasan konservasi.

juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yang diizinkan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: ƒ Tidak bertentangan dengan Keppres No. perizinan. e. termasuk gangguan terhadap kualitas visual. serta penutupan vegetasi di sempadan sungai. bangunan pengambilan dan pembuangan air. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 56 . dan g) pembangunan prasarana lalu lintas air. c) d) e) d. dipantau dengan menggunakan metode pemeriksaaan langsung dan analisis deskriptif komparatif.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III e) pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/jembatan baik umum maupun kereta api. ƒ Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai. wildlife habitat dan meredam angin kencang. dan pemantauan. RTH Sempadan Pantai RTH sempadan pantai selain sebagai area pengaman dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan gelombang laut. menghalau. Memantau fluktuasi debit sungai maksimum. maka aktivitas yang dapat dilakukan pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut: a) b) Memantau penutupan vegetasi dan kondisi kawasan DAS agar lahan tidak mengalami penurunan. Untuk menghindari kerusakan dan gangguan terhadap kelestarian dan keindahan sungai. keolahragaan. 32 Tahun 1990. pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau. erosi. peningkatan fungsi sumber air baku/mata air. ƒ Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi. ƒ Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat. pelestarian. Menjaga kelestarian konservasi dan aktivitas perambahan. ƒ Khusus untuk kawasan pantai berhutan bakau harus dipertahankan sesuai ketentuan dalam Keppres No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Tolak ukur 100 m di kanan kiri sungai dan 50 m kanan kiri anak sungai. menjaga dan mengamankan harus diikuti dengan aktivitas melaporkan pada instansi berwenang dan yang terkait sehingga pada akhirnya kawasan sempadan sungai yang berfungsi sebagai RTH terpelihara dan lestari selamanya. keanekaragaman vegetasi terutama jenis unggulan lokal dan bernilai ekologi dipantau dengan metode kuadrat dengan jalur masing-masing lokasi 2 km menggunakan analisis vegetasi yang diarahkan pada jenis-jenis flora yang bernilai sebagai tumbuhan obat. RTH Sumber Air Baku/Mata Air Pemanfaatan RTH sumber air baku/mata air dilakukan untuk perlindungan. Mengamankan kawasan sempadan sungai. melindungi dari ancaman gelombang pasang. dan pengendalian daya rusak sumber air baku/mata air/danau melalui kegiatan penatagunaan. Aktivitas memantau. f) penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial.

a) b) c) d) e) f) g) h) 2. b) luas ruang terbuka hijau minimal 90% dengan dominasi pohon tahunan yang diizinkan. serta rambu-rambu pekerjaan. keolahragaan. pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/ jembatan baik umum maupun kereta api. Pemakaman juga dapat berfungsi sebagai RTH untuk menambah keindahan kota. pelindung.5 RTH Sempadan Danau dan Mata Air No. RTH Pemakaman Pemakaman memiliki fungsi utama sebagai tempat pelayanan publik untuk penguburan jenasah. pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau. Mata Air Radius 200 m a) ruang terbuka hijau dengan aktivitas sosial terbatas penekanan pada kelestarian sumberdaya airnya. dan pembangunan prasarana lalu lintas air. kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C. bangunan pengambilan dan pembuangan air. dan pemersatu ruang kota. pendukung ekosistem. kabel telpon. pemasangan rentangan kabel listrik. f. daerah resapan air. Danau/waduk Minimal 50 m dari titik pasang tertinggi Pemanfaatan jaringan utilitas. penyelenggaraan kegiatankegiatan yang bersifat sosial. Jenis RTH Dimensi Sempadan 1. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 57 . budi daya pertanian rakyat. sehingga keberadaan RTH yang tertata di komplek pemakaman dapat menghilangkan kesan seram pada wilayah tersebut. papan penyuluhan dan peringatan.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel berikut ini memberikan gambaran mengenai dimensi sempadan serta pemanfaatannya pada masing-masing jenis RTH sebagai berikut: Tabel 3. dan pipa air minum.

c) tahapan penyediaan dan pemanfaatan RTH publik meliputi: 1) 2) 3) 4) 5) perencanaan. ƒ ƒ ƒ 4. untuk memberikan kesempatan akses dan mencegah terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang dari rencana tata ruang yang telah ditetapkan melalui pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang oleh masyarakat dan swasta dalam pengelolaan RTH.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV BAB IV PROSEDUR PERENCANAAN DAN PERAN MASYARAKAT 4. tidak menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan tanaman misalnya menghalangi penyinaran matahari atau pemangkasan tanaman yang dapat merusak keutuhan bentuk tajuknya. e) pemanfaatan RTH untuk penggunaan lain seperti pemasangan reklame (billboard) atau reklame 3 dimensi. d) penyediaan dan pemanfaatan RTH privat yang dilaksanakan oleh masyarakat termasuk pengembang disesuaikan dengan ketentuan perijinan pembangunan. pemanfaatan dan pemeliharaan. pemanfaatan dan pengendalian. pelaksanaan pembangunan RTH. swasta. d) menjunjung tinggi keterbukaan dengan semangat tetap menegakkan etika.1. Prosedur Perencanaan Ketentuan prosedur perencanaan RTH adalah sebagai berikut: a) penyediaan RTH harus disesuaikan dengan peruntukan yang telah ditentukan dalam rencana tata ruang (RTRW Kota/RTR Kawasan Perkotaan/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/Rencana Induk RTH) yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat. tidak mengganggu kualitas visual dari dan ke RTH. c) menghormati hak yang dimiliki masyarakat serta menghargai kearifan lokal dan keberagaman sosial budayanya. lembaga badan hukum dan atau perseorangan baik pada tahap perencanaan.2. b) penyediaan dan pemanfaatan RTH publik yang dilaksanakan oleh pemerintah disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. tidak mengganggu fungsi utama RTH yaitu fungsi sosial. perancangan teknik. pengadaan lahan. dengan prinsip: a) menempatkan masyarakat sebagai pelaku yang sangat menentukan dalam proses pembangunan ruang ruang terbuka hijau. memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan pengguna RTH. ekologis dan estetis. Peran Masyarakat Peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH merupakan upaya melibatkan masyarakat. Upaya ini dimaksudkan untuk menjamin hak masyarakat dan swasta. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 59 . b) memposisikan pemerintah sebagai fasilitator dalam proses pembangunan ruang terbuka hijau. harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: ƒ ƒ mengikuti peraturan dan ketentuan yang berlaku pada masing-masing daerah.

1 Pelibatan Masyarakat pada Pemanfaatan dan Pengendalian Peran masyarakat. pedoman ini ditujukan pada tahap pemanfaatan ruang terbuka hijau. b) Turut serta dalam meningkatkan kualitas lingkungan di perumahan dalam hal penanaman tanaman. Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH publik dalam peningkatan kualitas dan keamanan lingkungan. Peran dalam penyediaan RTH ini dapat berupa: a) b) c) d) e) f) Pengalihan hak kepemilikan lahan dari lahan privat menjadi RTH publik (hibah). c) Mengisi seoptimal mungkin lahan pekarangan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 60 . Menyerahkan penggunaan lahan privat untuk digunakan sebagai RTH publik. Membiayai pembangunan RTH publik. baik ditanam langsung maupun ditanam dalam pot. dimana rencana pembangunannya akan disusun dan ditetapkan. swasta dan badan hukum dalam penyediaan RTH publik meliputi penyediaan lahan. pemanfaatan dan pengendalian). Mengawasi pemanfaatan RTH publik. d) Turut serta secara aktif dalam komunitas masyarakat pecinta RTH. pembuatan sumur resapan (bagi daerah yang memungkinkan) dan pengelolaan sampah.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV e) memperhatikan perkembangan teknologi dan bersikap profesional. Peran masyarakat pada RTH privat meliputi: a) Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH dalam peningkatan kualitas lingkungan. Perencanaan Pemanfaatan dan Pengendalian Pengambilan Keputusan Rencana Pemanfaatan Pelaksanaan Pemanfaatan Pasca Pelaksanaan RTH Pelibatan Pelibatan Pelibatan Gambar 4. Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah kota dalam mewujudkan penghijauan antara lain: dalam lingkup kegiatan pembangunan ruang terbuka hijau (yang meliputi perencanaan. pembangunan dan pemeliharaan RTH. Membiayai pemeliharaan RTH publik. berm dan lahan kosong lainnya dengan berbagai jenis tanaman. sarana interaksi sosial serta mitigasi bencana.

namun juga sosial dan lingkungan dalam memanfaatkan ruang perkotaan. pelatihan dan diskusi di kelompok-kelompok masyarakat. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pihak swasta: a) Pihak swasta yang akan membangun lokasi usaha (mall. masyarakat dapat membentuk suatu forum atau komunitas tertentu untuk menghimpun anggota masyarakat yang memiliki kepentingan terhadap RTH.2 Peran Swasta Swasta merupakan pelaku pembangunan penting dalam pemanfaatan ruang perkotaan dan ruang terbuka hijau. dan sebagainya) dengan areal yang luas perlu menyertakan konsep pembangunan ruang terbuka hijau. pembangunan serta pemanfaatan ruang terbuka hijau melalui sosialisasi. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan masyarakat: a) Anggota masyarakat baik individu maupun kelompok yang memiliki keahlian dan/atau pengetahuan mengenai penataan ruang serta ruang terbuka hijau dapat membentuk suatu komunitas ruang terbuka hijau. Terutama karena kemampuan kewirausahaan yang mereka miliki. komunitas. f) Bekerjasama dengan pemerintah dalam menyusun mekanisme pengaduan. Untuk mencapai peran tersebut. d) Meningkatkan kemampuan masyarakat (forum. Pada kondisi yang lebih berkembang. e) Menggalang dan mencari dana kegiatan dari pihak tertentu untuk proses sosialisasi. maka terdapat peran lain yang dapat dilakukan oleh swasta. konflik yang muncul sehubungan dengan pembangunan ruang terbuka hijau. Peran swasta yang diharapkan dalam pemanfaatan ruang perkotaan sama seperti peran yang diharapkan dari masyarakat. plaza.2.1 Peran Individu/Kelompok Masyarakat dapat berperan secara individu atau kelompok dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH. dan sebagainya) dalam mengelola permasalahan. masyarakat dan swasta dalam pembangunan ruang terbuka hijau. karena swasta memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat umum. b) Mengembangkan dan memperkuat kerjasama proses mediasi antara pemerintah. yaitu untuk tidak saja menekankan pada tujuan ekonomi. g) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV 4. penyelesaian konflik serta respon dari pemerintah melalui jalur yang telah disepakati bersama. Namun. 4. mengembangkan konsep serta upaya-upaya untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah. c) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyikapi perencanaan. Untuk mencapai peran tersebut. membahas permasalahan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 61 . Misalnya: membentuk forum masyarakat peduli ruang terbuka hijau atau komunitas masyarakat ruang terbuka hijau di setiap daerah.2.

c) Berperan aktif dalam mensosialisasikan dan memberikan penjelasan mengenai proses kerjasama antara pemerintah. Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan pembangunan ruang terbuka hijau maupun dengan proses diskusi dan seminar. informasi dan pemahaman di pihak masyarakat serta akses masyarakat ke sumber daya. menghubungkan masyarakat dengan pemerintah dan swasta. f) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan kepada masyarakat dan/atau yang terkait dalam pembangunan ruang terbuka hijau. Dengan membentuk badan atau lembaga bersama antara pemerintah. maupun dengan proses diskusi dan seminar. melaksanakan. Untuk mencapai peran tersebut. 4. d) Mendorong dan/atau menfasilitasi proses pembelajaran masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan organisasi non-pemerintah antara lain: a) Membentuk sistem mediasi dan fasilitasi antara pemerintah. e) Menciptakan lingkungan dan kondisi yang kondusif yang memungkinkan masyarakat dan swasta terlibat aktif dalam proses pemanfaatan ruang secara proporsional. antara lain: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 62 . d) Berperan aktif dalam diskusi dan proses pembangunan sehubungan dengan pembentukan kebijakan publik dan proses pelibatan masyarakat dan swasta yang terkait dengan pembangunan ruang terbuka hijau.2. b) Menyelenggarakan proses mediasi jika terdapat perbedaan pendapat atau kepentingan antara pihak yang terlibat. c) Menfasilitasi proses pembelajaran kerjasama pemerintah. e) Mengupayakan bantuan pendanaan bagi masyarakat dalam realisasi pelibatan dalam pemanfaatan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau. masyarakat dan swasta serta mengenai proses pengajuan keluhan dan penyelesaian konflik yang terjadi.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV b) Bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat dalam membangun dan memelihara ruang terbuka hijau. dalam rangka mengatasi kesenjangan komunikasi. f) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. mengawasi kebijakan pemanfaatan ruang perkotaan. Organisasi lain yang memiliki peran dan posisi penting dalam mempengaruhi. adil dan bertanggung jawab. pendamping. atau organisasi lain yang serupa berperan utama sebagai perantara. masyarakat dan swasta dalam mengatasi kesenjangan komunikasi dan informasi pembangunan ruang terbuka hijau.3 Lembaga/Badan Hukum Lembaga atau badan hukum yang dimaksud merupakan Organisasi nonpemerintah. perwakilan masyarakat dan swasta untuk aktif melakukan mediasi. swasta dan masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan. menyusun.

Asosiasi profesi.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ DPR/DPRD. unsur kewilayahan seperti RT. Lembaga donor. RW. dan sebagainya.4 Penghargaan dan Kompensasi Penghargaan dan kompensasi terhadap masyarakat/perseorangan. baik perorangan. pembangunan. pemerintah daerah atau pemerintah pusat. Kelurahan dan Kecamatan. Adapun peran dari masing-masing organisasi tersebut diatas dapat disesuaikan dengan posisi dan keahlian yang dimiliki organisasi dalam membantu atau terlibat proses pembangunan ruang terbuka hijau. perguruan tinggi. swasta. sesuai dengan peraturan yang berlaku di wilayah tersebut. 4. Partai politik. sebagai kontributor dalam penyediaan RTH tersebut. lembaga atau perusahaan dalam ukuran yang wajar dan tidak mengganggu keindahan. pemeliharaan maupun peningkatan kesadaran masyarakat terhadap RTH dapat berupa: a) Piagam penghargaan yang dikeluarkan oleh lembaga swadaya masyarakat pemerhati RTH/lingkungan hidup. Instansi yang terkait dengan pengeloaan RTH/lingkungan hidup. b) Pencantuman nama. Perguruan tinggi. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 63 . dan badan hukum dalam penyediaan. dengan persetujuan tertulis dari instansi pengelolanya.2.

LAMPIRAN A (informatif) BAGAN PROPORSI RTH KAWASAN PERKOTAAN (ilustrasi) RUANG PERKOTAAN TERBANGUN TERBUKA HUNIAN (40%) NON HUNIAN (20%) TAMAN (12.5%) KDB (80%) KDB (90%) KDB (0%) KDB (70%) KDB (80%) RTH (8%) RTH (2%) RTH (12.5%) RTH (6%) RTH (1.5%) JALAN (20%) LAINNYA (7.5%) RTH PRIVAT 10% RTH PUBLIK 20% RTH KOTA 30% L-1 .

1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT) Gambar B.2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT) L-2 .LAMPIRAN B (informatif) GAMBAR CONTOH RTH TAMAN Gambar B.

4 Contoh Taman Kelurahan L-3 .Gambar B.3 Contoh Taman Rukun Warga (RW) Gambar B.

5 Contoh Taman Kelurahan Gambar B.Gambar B.6 Contoh Taman Kecamatan L-4 .

256 73.000 m3/ha/th.K (1 + R – C)t – PAM . Konsumsi air per kapita adalah 65 m3/th. memiliki penduduk pada tahun 2005 sebanyak 203.200 – 662. Kemampuan hutan kota menyimpan air 73.000 jiwa. persamaan kebutuhan hutan kota pada tahun 0 (2005) adalah sebagai berikut: 65.LAMPIRAN C (informatif) CONTOH PERHITUNGAN HUTAN KOTA (RTH) C.8%) L-5 Lt = = 142 ha . Dengan kondisi seperti tersebut di atas. Faktor di atas dapat ditulis dalam persamaan: Po. (203.307.1 Contoh Perhitungan Kebutuhan Hutan Kota (RTH) Berdasarkan Kebutuhan Air Kebutuhan air dalam kota bergantung dari faktor: a) b) c) d) kebutuhan air bersih per tahun. Kemampuanhutan kota menyimpan air.Pa z La = dengan: La Po K R C PAM t Pa z adalah luas hutan kota yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan air (Ha) adalah jumlah penduduk kota pada tahun ke 0 adalah konsumsi air per kapita (liter/hari) adalah laju peningkatan pemakaian air (biasanya seiring dengan laju pertambahan penduduk kota setempat) adalah faktor koreksi (besarnya tergantung dari upaya pemerintah dalam penurunan laju pertambahan penduduk) adalah kapasitas suplai air oleh PAM (dalam m3/tahun) adalah tahun ke adalah potensi air tanah saat ini (m3/th) adalah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air (m3/ha/th) Contoh perhitungan: Suatu kota dengan luas 2. Potensi air saat ini. Kapasitas air PAM terpasang 6.450 ha.3 jt m3/th. jumlah air yang dapat disediakan oleh PAM.000 Kebutuhan hutan kota = 142 ha (5.000) – 6.256 m3/th. Potensi air tanah 662.

dengan kasus di Kota Bandung (Noor Syailendra.412.21 0.004. 2005): Tabel C.254 243.711.2 dapat ditentukan besarnya kebutuhan oksigen kendaraan bemotor berdasarkan klasifikasi jenis kendaraan dan rata-rata umum kebutuhan oksigen.240 840 Tabel C.339. L-6 . adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0.261 Konsumsi Oksigen Manusia/Hari (gram/hari) Komsumsi Oksigen (gram/hari) 365.16 Kebutuhan Oksigen Tiap 1 kg Bahan Bakar 2.2 Contoh Perhitungan Kebutuhan Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Luasan kebutuhan hutan kota berdasarkan kebutuhan oksigen.86 Dari tabel C.9375 )(2) dengan: Lt Pt Kt Tt 54 0.77 2. dapat juga dilakukan dengan metode Gerakis (1974).160 357.9375 gram adalah jumlah musim di Indonesia Contoh perhitungan dengan menggunakan rumus Gerakis (1974) dalam Wisesa (1988).360 204. dengan rumus: Pt + Kt + Tt Lt = (54 )(0.C.597.9375 2 m2 adalah luas RTH Kota pada tahun ke t (m2) adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke t adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t adalah tetapan yan menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari.893.711 377.624 425.300 505.609 474.2 Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor Jenis Bahan Bakar Bensin Diesel Rata-rata Pemakaian Bahan Bakar (kg/PS jam) 0.000 424.240 316.560 397.1 Kebutuhan Oksigen Manusia di Kota Bandung Tahun 2004 Wilayah Pengembangan (WP) Bojonagara Cibeunying Karees Tegalega Ujungberung Gedebage Jumlah Penduduk (Jiwa) 424. yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988).

760 Total Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 196.772.634 29.Tabel C.7 11.984.765.21 0.311.760 29.3 Kebutuhan Oksigen Menurut Klasifikasi Jenis Kendaraan Bermotor Klasifikasi Daya Minimal (PS) 1 20 50 100 Kebutuhan Bahan Bakar (kg/PS) 0.000 + 324.77 2.4 Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor di Wilayah Bojonagara Bandung Jenis Kendaraan Mobil Pribadi Motor Truk Bus Minibus umum Jumlah LHR (lalu-lintas harian rata-rata) (kendaraan/hari) 16.21 0.76 87.906 94 1.634 29.77 2. maka kebutuhan hutan kota di Kota Bandung pada tahun 2004 adalah sebagai berikut: L-7 .993 Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 11.772. kebutuhan oksigen kendaraan di tiap wilayah pengembangan.305 1.341 Luas RTH = (54 )(0.16 Kebutuhan Oksigen Tiap 1 Liter BB (kg) 2.341 Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka kebutuhan RTH di Wilayah Bojonagara Kota Bandung pada tahun 2004 adalah: 356.679.86 Kebutuhan Oksigen (kg/hari) 0.21 0.440 59.760 87.301.760 45.863 13.412.259.634 582 29.91 m2 = 672.680 324.77 2.7652 Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 581.061 21.18 Sepeda motor Kendaraan penumpang Kendaraan truk Kendaraan bus Jumlah Rata-rata Tabel C.5817 11.519 56.259.739.085 45.9375)( 2 ) Luas RTH = 6.142 7.0607 21.085 45.560 4.72 ha m2 Catatan: kebutuhan oksigen untuk ternak diabaikan Dengan mengacu pada kebutuhan oksigen manusia.

07 4.107.28 L-8 .08 36.85 29.28 2.Tabel C.61 9.63 21.28 2.5 Kebutuhan RTH di Kota Bandung Tahun 2004 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Wilayah pengembangan Bojonagara Cibeunying Karees Tegalega Gedebage Ujungberung Kota Bandung Luas wilayah (Ha) 2.559.22 250.09 2.330.00 Kebutuhan RTH (Ha) 672.42 Luas (%) 28.62 3.47 20.933.16 2.27 856.04 768.40 544.602.12 16.13 11.050.730.87 470.707.

LAMPIRAN D (informatif) PILIHAN VEGETASI UNTUK DIKEMBANGKAN DI RTH Pengenal Lingkungan Perawakan Daya Tarik Potensi di RTH Dapat dikonsumsi ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Reduktor Polutan ● ● ● ● ● ● ● ● Pohon Sedang Pohon Kecil 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Akalipa hijau kuning Akasia daun besar Akasia kuning Angrek Tanah Angsana Apel Asam Asem landi Bakung Bambu Jepang Beringin Bintaro Bogenvil Bunga pukul empat Bunga saputangan Bungur Cemara gunung Cemara laut Cemara Norfolk Cempaka Dadap belang Dadap merah Damar Durian Ebony/ Kayu hitam Flamboyan Ganitri Glodogan pohon Glodogan tiang Hujan Mas Iris Jambu air Jambu batu Jambu monyet Jarak Jati Jeruk bali Jeruk nipis Johar Kalak Kaliandra Kana Kantil Karet Munding Kasia singapur Acalypha wilkesiana Accacia mangium Acacia auriculaeformis Spathoglotis plicata Pthecarpus indicus Chrysophyllum cainito Tamarindus indica Pitchecolobium dulce Crinum asiaticum Bambusa sp. Ficus benyamina Cerbera manghas Bougenvillea sp Mirabilis jalapa Amherstia nobilis Lagerstromea loudonii Casuarina junghuniana Casuarina equisetifolia Araucaria heterophylla Michelia champaca Erythrina variegata Erythrina cristagalli Agathis alba Durio zibethinus Dyospiros celebica Delonix regia Elaeocarpus grandisflora Polyathea sp. Polyathea longifolia Cassia fistula Belamcanda chinensis Eugenia aquea Psidium guajava Anacardium occidentale Jatropha integerima Tectona grandis Citrus grandisty Citrus aurantifolia Cassia siamea Polyantha lateriflora Caliandra haematocepala Canna Hibrida Michelia alba Ficus elastica Cassia spectabilis ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● L-9 Pengarah No Nama Lokal Nama Latin Bentuk Tajuk Pohon Besar Warna daun Tekstur Semak Bunga Perdu Buah .

Nyamplung Callophyllum inophyllum Oleander Nerium oleander Palem Ekor Tupai Wodyetia bifurca Palem kubis Licuala grandis Palem Kuning Chrysalidocarpus lutescens Palem Merah Cytostachys renda Palem Raja Oreodoxa regia Palem Sadeng Livistona rotundifolia Pangkas kuning Duranta sp. Trembesi Samanea saman Kelapa Kembang merak Kembang Sepatu ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● L .Perawakan Pohon Sedang Pohon Besar Daya Tarik Bentuk Tajuk Warna daun Potensi di RTH Dapat dikonsumsi ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Reduktor Polutan ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Pengenal Link ● 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 Cocos nucifera Caesalphinia pulcherima Hibiscusrosa sinensis Kemboja merah Plumeria rubra Kemuning Muraya paniculata Kenanga Cananga odorata Kenari Canarium commune Kersen Muntingiacalabura Kesumba Bixa orellana Ketapang Terminalia cattapa Ki acret Spathodea companulata Kiara Payung Filicium decipiens Kol Banda */ Pisonia alba Kupu-kupu Bauhinia purpurea Lamtorogung Leucaena leccocephala Landep Baleria priontis Lantana Lantana camara Lengkeng Euphoria longan Lontar / Siwalan Borassus flabellifer Mahoni Switenia mahagoni Mangga Mangifera indica Mangkokan Nothopanax scutellarium Matoa Pometia pinata Menteng Baccaurea motleyana Merawan Hopea mangarawan Mimba Azadirachta indica Nagasari Mesua ferrea Nangka Artocarpus heterophylla Nusa Indah Musaenda sp.10 Pengarah ● ● Tekstur No Nama Lokal Nama Latin Pohon Kecil Semak Bunga Perdu Buah . Pepaya Carica papaya Pinang Jambe Areca catechu Pinang Mac-arthur Ptychosperma macarthurii Pinus. Sikat botol Callistemon lanceolatus Soka Ixora stricata Sukun Artocarpus altilis Sutra bombay Portulaca gransiflora Tanjung Mimusops elengi Tapak dara Catharanthus roseus Teh-tehan Pangkas Acalypha sp. tusam Pinus mercusii Puspa Schima wallichii Salam Eugenia polyantha Sansiviera/Lidah mertua Sanseviera trifasciata L Sarai raja Caryota mitis Sawo kecik Manilkara kauki Serunai rambat Widelia sp.

2004. 2004. 2005. Dines T Nicholas & Brown D Kyle. 1988. Perda Depok No. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. Pembangunan Rumah Sederhana Tidak Bersusun. 1976. Bandung. Mc Graw – Hill Professional. 2001. Direktorat Jenderal Bina Marga. Mona Sintia dan Murhananto. EN. dalam Dahlan. Pemeliharaan Tanaman. Departemen Pekerjaan Umum. IPB Press. Kurniawan. tentang Garis Sempadan. Standard Specifications for Geometric Design of Urban Roads. Depok. Bandung.. dalam Dahlan. Departemen Pekerjaan Umum.. Rully Wijayakusuma.18 Tahun 2003. Ministry of Public Works. E N. IPB Press. F. Mendisain. Penebar Swadaya. Departemen Pekerjaan Umum. Time Saver Standards for Landscape Architecture. Dines. 1995. Agro Media Pustaka. Bogor. Lansekap Jalan. Tangerang. Pemeliharaan Taman. edisi revisi. Sinar Baru. 2006. Jurusan Arsitektur Lansekap Faperta Unbar. 2004. Direktorat Jenderal Cipta Karya. McGraw-Hill. Dahlan. Bogor. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. L . 2007. Directorate General of Highways. Landscape Architect’s Portable Hand Book. Hadi Susilo Arifin dan Nurhayati HS Arifin. Pengantar Pengetahuan Dasar Hortikultura. IPB Press. Spesifikasi Tanaman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan. Pedoman Umum Penanaman Jalur Hijau Jalan. Jakarta. Pedoman Perencanaan Median Jalan. 2004. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. 2005. 1993. Pengaruh Hutan dan Manajemen Daerah Aliran Sungai.11 . Manan. Daya Transpirasi Tanaman Perkotaan. Membuat dan Merawat Taman Rumah.BIBLIOGRAFI Charles Harries & Nicholas T. Kementerian Lingkungan Hidup. EN. Hendro Sunaryo dan Rismunandar. 1981. 2004. 1992. S. Direktorat Jenderal Penataan Ruang. Pedoman Teknik Departemen Pekerjaan Umum. New York. 2004. 1986. Bogor. RTH sebagai Unsur Utama Pembentuk Kota Taman.

Kota. 1977. tentang Perkeretaapian. 38 Tahun 2004. Highway Economic Requirements System. Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan SNI 033/T/BM/ 1996. Kajian Kebutuhan Hutan Kota di Kota Bandung. tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 27 April 2006. Jurusan Teknik Planologi FT Unpas. Zoer’aini Djamal Irwan. Pustaka Cidesindo. 1998. United States Department of Transportation. SNI 031/T/BM/1999. Undang-Undang No. Undang-Undang No. Surat Kabar Harian Pikiran Rakyat. 13 Tahun 1992. Ekologi Hutan Indonesia. dalam Noor Syailendra. RTH Sebagai Unsur Utama Pembentuk Undang-Undang No. J.12 . 14 Tahun 1992. Jakarta. Wisessa. Penentuan Luas Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen. dalam Endes Nurfilmarasa. tentang Jalan.Soerianegara dan Indrawan. Tantangan Lingkungan Hidup dan Lansekap Kota. Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan L .1988. 1989.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->