PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang : a. bahwa kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik terutama Ruang Terbuka Hijau (RTH) saat ini mengalami penurunan yang sangat signifikan dan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan hidup perkotaan yang berdampak keberbagai sendi kehidupan perkotaan antara lain sering terjadinya banjir, peningkatan pencemaran udara, dan menurunnya produktivitas masyarakat akibat terbatasnya ruang yang tersedia untuk interaksi sosial; b. bahwa Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang memberikan landasan untuk pengaturan ruang terbuka hijau dalam rangka mewujudkan ruang kawasan perkotaan yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan; c. bahwa dalam rangka implementasi Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang diperlukan adanya Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu ditetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);

3. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara RI; 4. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara RI; 5. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu; 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN.

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Menteri adalah Menteri Pekerjaan Umum. Pasal 2 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan dimaksudkan untuk: a. menyediakan acuan yang memudahkan pemangku kepentingan baik pemerintah kota, perencana maupun pihak-pihak terkait, dalam perencanaan, perancangan, pembangunan, dan pengelolaan ruang terbuka hijau. memberikan panduan praktis bagi pemangku kepentingan ruang terbuka hijau dalam penyusunan rencana dan rancangan pembangunan dan pengelolaan ruang terbuka hijau. memberikan bahan kampanye publik mengenai arti pentingnya ruang terbuka hijau bagi kehidupan masyarakat perkotaan. memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat dan pihak-pihak terkait tentang perlunya ruang terbuka hijau sebagai pembentuk ruang yang nyaman untuk beraktivitas dan bertempat tinggal.

2.

3.

b.

c. d.

Pasal 3 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan bertujuan untuk: a. b. menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air; menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat; meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih. Pasal 4 (1) Ruang lingkup Peraturan Menteri memuat: a. b. c. (2) ketentuan umum, yang terdiri dari tujuan, fungsi, manfaat, dan tipologi ruang terbuka hijau; ketentuan teknis yang meliputi penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan; prosedur perencanaan dan peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau.

c.

Materi muatan tentang pengaturan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimuat secara lengkap dalam lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 5

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Peraturan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk diketahui dan dilaksanakan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 26 Mei 2008 MENTERI PEKERJAAN UMUM,

DJOKO KIRMANTO

LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TANGGAL : 26 Mei 2008 PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN .

.........2......................... 3.................................. 2..2....3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota..7...... ...........................6.........................................3..........1 Pada Bangunan/Perumahan.............................................................. 4.......... 2.............. 3.................................. Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan.....................................3....... 2..........................3 Kota/Perkotaan.3.........................3 Lembaga/Badan Hukum.....4.........2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota............4.......................... 2..................................................2........................................2.....1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam........................................... BAB IV PROSEDUR PERENCANAAN DAN PERAN MASYARAKAT 4....4........................................4 Penghargaan dan Kompensasi........... 2................................................ 1................... Daftar Tabel...............................3. Arahan Penyediaan RTH.......... .................. Istilah dan Definisi..... Ruang Lingkup Pedoman.................4............................................. Manfaat RTH................................................................. 2........................................................................................... 1........................ Peran Masyarakat...................................................................................................... ............................. 2......4..........................................2.......................................1..... 3........................4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau......................................... 1............................ Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan........................... Kedudukan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah...........2...................................................................3.....................................................DAFTAR ISI Daftar Isi........... Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman..................................................3............................ Daftar Gambar.............................. 2....................................... ..3................................................2 Penanaman.....................1 Peran Individu/Kelompok................................................. 2.............................................................. 1....................... Prosedur Perencanaan.. Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan...............5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan............. Tujuan Penyelenggaraan RTH......... 4............................................ Kriteria Vegetasi RTH................................ Fungsi RTH.........2............................................ ..................................................3..................... 2.............................2............ 1.........................................................................4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman. 1................... Ketentuan Penanaman. Tipologi RTH... RTH Fungsi Tertentu........................................................8......3....................................................3 Pemeliharaan Tanaman..............................4.......................2 Peran Swasta................. 2.....2 Pada Lingkungan/Permukiman................... Acuan Normatif.......................... i i iii iv v 1 1 1 1 3 5 5 6 6 9 9 10 10 12 14 31 31 32 33 34 36 38 43 43 43 44 45 47 47 47 52 55 59 59 59 61 61 62 62 ....... 2................................................ ..........1............. 4.................1................ Prakata. 2.......... 1.................................................................................................................................2...............2.........................................................................................................1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan............5.... BAB I KETENTUAN UMUM 1......2. BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 2.............6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu................. 2.............................................................1........................... 2................. BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 3.............. 2.........4............. 4..................... 4.......

................................. Pilihan Vegetasi untuk Dikembangkan di RTH....................... L-1 L-2 L-5 L-9 Bibliografi................................................................................................. L-11 ii ...........................................................................Lampiran A Lampiran B Lampiran C Lampiran D Bagan Proporsi RTH Wilayah Perkotaan.. Contoh Perhitungan Hutan Kota................................................ Gambar Contoh RTH Taman......................................................

.............4 Tabel C.............. Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api..3 C.3 3........................................ Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota................................................... Contoh Tanaman untuk Sabuk Hijau yang Tahan Terhadap Penggenangan Air............ Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor di Wilayah Bojonagara.......................... Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota......7 2....................................................5 C.......................6 2..DAFTAR TABEL Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 1........1 2... Bandung............................................................................................................. Contoh Vegetasi untuk Pemakaman........................ Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor....5 2........................14 3................... Contoh Tanaman untuk Roof Garden.................... Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan............ Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Hutan Kota........................... Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk.... Kebutuhan Oksigen Menurut Klasifikasi Jenis Kendaraan Bermotor........ RTH Sempadan Danau dan Mata Air..........................4 3.................................................. Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan.....2 3........1 C....................... Kepemilikan RTH..............12 2............................2 C.....3 2.. Kemampuan Hutan dalam Mengendalikan Gelombang Pendek dan Gelombang Panjang.......... Kebutuhan RTH di Kota Bandung Tahun 2004 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen.................13 2...5 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH.... Contoh Tanaman untuk Di Bawah Jalan Layang.... Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai. Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki..................... Kebutuhan Oksigen Manusia di Kota Bandung Tahun 2004...................................4 2......... Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET............................2 2...........8 2............................................... Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET.............................................. Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan........ Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan..................1 3................................ Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api............................................................................. 5 7 8 9 22 25 26 32 33 33 34 37 37 38 39 40 43 50 51 53 54 57 L-6 L-6 L-7 L-7 L-8 iii ..............................11 2.............................................1 1.2 1..................10 2......9 2........................3 2.................................

........................ Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak.......... Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang.......4 B..........................................5 2........... Contoh Taman Rukun Warga.......................................................... Contoh Taman Kota..........................3 B.........................................3 2............... Jalur Tanaman Tepi Pembatas Pandang.....................8 2............................................... Contoh Taman Rukun Warga....................................14 2....7 2................................................ Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT) ....... Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan.............................2 2.......1 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 1............12 2.....5 3........................................................................................................... Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH Di Bawah Jalan Layang.....................…………………………….............. Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif)................................ Pelibatan Masyarakat pada Pemanfaatan Dan Pengendalian..............................1 2.................. Tipologi RTH........... Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara............................................. Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air.10 2.................................................................16 3...............1 B.............................2 B...............................7 4................... 4 7 12 15 15 17 18 19 19 20 21 21 23 24 25 29 30 31 48 48 49 50 51 52 53 60 L-2 L-2 L-3 L-3 L-4 L-4 iv ................ Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki.6 2.................... Contoh Taman Rukun Kecamatan.................. Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai........................ ................................................ Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan....2 2.........................................9 2................... Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT)... Contoh Taman Rukun Kelurahan.............. Pola Tanam Hutan Kota Strata 2....................................1 3........ Jalur Tanaman Tepi Peneduh.......4 3...................................... Jalur Tanaman pada Median Penahan Silau Lampu Kendaraan...... Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT).13 2.........15 2. Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden. Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman.................................................1 B..2 3.11 2..4 2.................... Contoh Taman Rukun Kelurahan..6 3...............6 Kedudukan Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam RTR Kawasan Perkotaan..... Contoh Taman Kecamatan. Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT) ...................5 B......DAFTAR GAMBAR Gambar 1.......3 3..................................... Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif)........................... Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin..............................

prosedur perencanaan dan peran masyarakat yang semuanya merupakan pedoman teknis yang berlaku secara nasional. Pedoman ini berisi rujukan untuk penyediaan RTH. Pedoman ini dipersiapkan oleh Panitia Teknik Standardisasi Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil melalui Gugus Kerja Perencanaan Sub Panitia Teknis Tata Ruang. Proses penyusunan pedoman ini telah melibatkan berbagai kalangan masyarakat termasuk para akademisi dari perguruan tinggi terkemuka.PRAKATA Buku pedoman ini disusun oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang. ketentuan penanaman dan pemeliharaan tanaman. pemanfaatan RTH. v . kriteria vegetasi untuk RTH. Departemen Pekerjaan Umum dan merupakan salah satu rujukan teknis Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten serta seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) terutama para praktisi dan para akademisi di berbagai kegiatan yang dalam tugas dan kegiatannya berkaitan dengan penyediaan dan pemanfaatan RTH di kawasan perkotaan.

Acuan Normatif Undang-Undang RI No. tepi sungai. 7 Tahun 2004. tentang Peraturan Pelaksanaan Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum f. d. 2. 36 Tahun 2005. warna dan suasana yang merupakan pembentuk lansekap. Istilah dan Definisi 1. dan tipologi RTH. 34 Tahun 2006. 1 . 26 Tahun 2007. b). 4.Ketentuan Umum Bab I BAB I KETENTUAN UMUM 1. 32 Tahun1990. adalah garis batas luar pengaman untuk mendirikan bangunan dan atau pagar yang ditarik pada jarak tertentu sejajar dengan as jalan. dan yang dimaksud dengan benda mati adalah tanah. 3. tepi luar kepala jembatan. 28 Tahun 2002. Hutan kota. tentang Bangunan Gedung Undang-Undang RI No. Ketentuan teknis merupakan pedoman rinci. b. dan kebutuhan fungsi tertentu.2. fungsi tertentu. 1. Ketentuan umum meliputi ruang lingkup pedoman. e. tentang Sumber Daya Air Undang-Undang RI No.3. c. pemanfaatan RTH: pada bangunan/perumahan. jumlah penduduk. istilah dan definisi. pipa gas.1. tepi situ/rawa. sedangkan yang dimaksud dengan benda hidup ialah tanaman. Garis sempadan. yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang. acuan normatif. Elemen lansekap yang berupa benda terdiri dari dua unsur yaitu benda hidup dan benda mati. kaki tanggul. adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak. meliputi: a). Tatacara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan 1. tepi saluran. as rel kereta api. tujuan penyelenggaraan RTH. tentang Penataan Ruang Peraturan Pemerintah RI No. suara. tentang Pengelolaan Kawasan Lindung h. dan elemen-elemen lainnya yang berbentuk padat maupun cair. kedudukan pedoman penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam rencana tata ruang wilayah. Keputusan Presiden RI No. Elemen lansekap. jaringan tenaga listrik. tentang Hutan Kota Peraturan Pemerintah RI No. tepi mata air. penyediaan RTH berdasarkan: luas wilayah. arahan penyediaan RTH. kriteria vegetasi RTH. Pedoman ini dilengkapi dengan foto dan gambar contoh beberapa RTH. fungsi dan manfaat RTH. SNI 03-1733-2004. pada kota/perkotaan. Peraturan Pemerintah RI No. Ruang Lingkup Pedoman Pedoman ini terdiri dari ketentuan umum dan ketentuan teknis serta lampiran-lampiran sebagai pelengkapnya. prosedur perencanaan dan peran masyarakat. Jalur hijau. 63 Tahun 2002. adalah segala sesuatu yang berwujud benda. adalah jalur penempatan tanaman serta elemen lansekap lainnya yang terletak di dalam ruang milik jalan (RUMIJA) maupun di dalam ruang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan a. baik yang bersifat alamiah maupun buatan manusia. tepi waduk. tentang Jalan g. batu. pasir. penanaman dan pemeliharaan tanaman. dan ketentuan penanaman. pada lingkungan/permukiman.

7. adalah pohon yang memiliki ketinggian dewasa lebih dari 12 meter. Ruang terbuka terdiri atas ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non hijau. Pohon kecil. 10. Koefisien Dasar Bangunan (KDB). Kawasan perkotaan. maupun yang terbentuk dari elemen lansekap buatan manusia yang disesuaikan dengan kondisi lahannya. yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan. Ruang terbuka hijau privat. adalah kesatuan geografis yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional serta mempunyai fungsi utama tertentu. 16. baik yang tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Pohon besar. Lansekap jalan. adalah semua jenis tumbuhan yang difungsikan sebagai penutup tanah. yang timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat sesuai dengan hak dan kewajiban dalam penyelenggaraan penataan ruang. adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur dimana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. adalah berbagai kegiatan masyarakat. adalah wajah dari karakter lahan atau tapak yang terbentuk pada lingkungan jalan. tempat tumbuh tanaman. 11. 19. adalah semua tumbuhan berbatang pokok tunggal berkayu keras. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. adalah tumbuhan berkayu dengan percabangan mulai dari pangkal batang dan memiliki lebih dari satu batang utama. adalah RTH milik institusi tertentu atau orang perseorangan yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas antara lain berupa kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan. adalah area memanjang/jalur dan atau mengelompok. baik yang terbentuk dari elemen lansekap alamiah seperti bentuk topografi lahan yang mempunyai panorama yang indah. adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. Sering disebut jalur hijau karena dominasi elemen lansekapnya adalah tanaman yang pada umumnya berwarna hijau. adalah pohon yang memiliki ketinggian sampai dengan 7 meter. Perdu. Peran masyarakat. 6. Koefisien Daerah Hijau (KDH). Ruang terbuka non hijau. Ruang Terbuka Hijau (RTH). 18. Ruang terbuka. adalah ruang terbuka di wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam kategori RTH. Pohon. 20. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 2 . 12. 8. 17. Penutup tanah. 14. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. Lansekap jalan ini mempunyai ciri-ciri khas karena harus disesuaikan dengan persyaratan geometrik jalan dan diperuntukkan terutama bagi kenyamanan pemakai jalan serta diusahakan untuk menciptakan lingkungan jalan yang indah. 15. Pohon sedang.Ketentuan Umum Bab I 5. adalah pohon yang memiliki ketinggian dewasa 7-12 meter. berupa lahan yang diperkeras maupun yang berupa badan air. 13. 9. Kawasan. adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan gedung dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. pengawasan jalan (RUWASJA). nyaman dan memenuhi fungsi keamanan.

27. adalah bentuk alami dari struktur percabangan dan diameter tajuk. Kedudukan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Penataan ruang merupakan suatu sistem proses perencanaan tata ruang. penataan ruang terdiri atas penataan ruang wilayah nasional. adalah RTH yang memiliki tujuan utama untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu. adalah tumbuhan berbatang hijau serta tidak berkayu disebut sebagai 24. edukasi atau kegiatan lain pada tingkat lingkungan. 1. penataan ruang wilayah kabupaten/kota. Tanggul. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Vegetasi/tumbuhan. 23. Tanaman penutup tanah. Biasanya merupakan tanaman antara bagi tanah yang kurang subur sebelum penanaman tanaman yang tetap (permanen). adalah kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya. atau RTR Kawasan Strategis Kota. 30. adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif. Wilayah. Ruang terbuka hijau publik. adalah jenis tanaman penutup permukaan tanah yang bersifat selain mencegah erosi tanah juga dapat menyuburkan tanah yang kekurangan unsur hara. adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif. 28. juga dimuat dalam RTR Kawasan Perkotaan yang merupakan rencana rinci tata ruang wilayah Kabupaten. pemanfaatan ruang. perdu. 26.Ketentuan Umum Bab I 21. 22. Adapun ketentuan lebih lanjut mengenai penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau diatur dalam pedoman ini. RDTR Kota. Berdasarkan wilayah administrasinya. meliputi pohon. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 3 . penataan ruang wilayah provinsi. edukasi atau kegiatan lain pada tingkat kota. Semak. adalah bangunan pengendali sungai yang dibangun dengan persyaratan teknis tertentu untuk melindungi daerah sekitar sungai terhadap limpasan air sungai.4. herbaseus. adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. Taman lingkungan. dan rumput. dan pengendalian pemanfaatan ruang. yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan kondisi geografis. perencanaan tata ruang wilayah kota harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau yang luas minimalnya sebesar 30% dari luas wilayah kota. 25. Di dalam Undang-Undang No. 29. Perencanaan tata ruang dilakukan untuk menghasilkan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang. Taman kota. Rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau selain dimuat dalam RTRW Kota. adalah keseluruhan tetumbuhan dari suatu kawasan baik yang berasal dari kawasan itu atau didatangkan dari luar. Tajuk. Sabuk hijau (greenbelt). semak.

1 Kedudukan Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam RTR Kawasan Perkotaan Penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam RTRW Kota/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan. area penciptaan iklim mikro dan pereduksi polutan di kawasan perkotaan. Kedalaman rencana penyediaan dan pemanfaatan RTH pada masing-masing rencana tata ruang tersebut di atas dapat dilihat pada Tabel 1. kawasan pengendalian air larian dengan menyediakan kolam retensi. tempat rekreasi dan olahraga masyarakat. j. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 4 . h. i. c. pengamanan sumber daya baik alam. f. k. dimaksudkan untuk menjamin tersedianya ruang yang cukup bagi: a. melalui pembatasan kepadatan serta kriteria pemanfaatannya. dan ruang penempatan pertandaan (signage) sesuai dengan peraturan perundangan dan tidak mengganggu fungsi utama RTH tersebut. pembatas perkembangan kota ke arah yang tidak diharapkan. d. e.1. b. penyediaan RTH yang bersifat privat. tempat pemakaman umum. kawasan konservasi untuk kelestarian hidrologis. area pengembangan keanekaragaman hayati. area mitigasi/evakuasi bencana.Ketentuan Umum Bab I Gambar 1. g. buatan maupun historis.

Ketentuan pemanfaatan RTH secara umum. 1. Menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat. dan bersih. ƒ sebagai peneduh. ƒ produsen oksigen. Menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air. ƒ penyerap air hujan.6. RDTRK/RTR Kawasan 1) Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan 2) (Rencana Rinci) 3) 4) 5) 6) 1. Tipologi masing-masing RTH.Ketentuan Umum Bab I Tabel 1.5. nyaman. c. indah. lokasi. hingga konsep-konsep rencana RTH sebagai arahan untuk pengembangan disain selanjutnya. Meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman. Fungsi utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis: ƒ memberi jaminan pengadaan RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota). Rencana penyediaan RTH yang dirinci berdasarkan jenis/tipologi RTH. Fungsi RTH RTH memiliki fungsi sebagai berikut: a. Arahan elemen pelengkap pada RTH. arahan elemen pelengkap pada RTH. Ketentuan tentang peraturan zonasi. segar. Alternatif vegetasi pengisi ruang khususnya arahan vegetasi dalam kelompok-kelompok besar. Tahap-tahap implementasi penyediaan RTH. b. ƒ pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung lancar.1 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH Jenis Rencana Tata Ruang Rencana Tata Ruang Wilayah 1) 2) Kota (Rencana Umum) 3) 4) 5) Kedalaman Muatan Luas minimum yang harus dipenuhi. alternatif vegetasi pengisi ruang khususnya arahan vegetasi dalam kelompok-kelompok besar. Konsep-konsep rencana RTH sebagai arahan untuk pengembangan disain selanjutnya. Indikasi program mewujudkan penyediaan RTH pada masing-masing kawasan/bagian wilayah kota. Penetapan jenis dan lokasi RTH yang akan disediakan. Tujuan Penyelenggaraan RTH Tujuan penyelenggaraan RTH adalah: a. dan luas dengan skala yang lebih detail/besar. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 5 .

Manfaat tidak langsung (berjangka panjang dan bersifat intangible). bunga. air dan tanah. buah.meningkatkan kenyamanan. . . 1. ƒ penyerap polutan media udara. daun.menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota. ƒ penahan angin. pelestarian fungsi lingkungan beserta segala isi flora dan fauna yang ada (konservasi hayati atau keanekaragaman hayati). . ƒ Fungsi ekonomi: . kepentingan. Tipologi RTH Pembagian jenis-jenis RTH yang ada sesuai dengan tipologi RTH sebagaimana Gambar 1. ƒ Fungsi estetika: .tempat rekreasi.pembentuk faktor keindahan arsitektural.2 berikut: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 6 . Dalam suatu wilayah perkotaan. yaitu membentuk keindahan dan kenyamanan (teduh. b. Manfaat RTH Manfaat RTH berdasarkan fungsinya dibagi atas: a. yaitu pembersih udara yang sangat efektif. buah). perkebunan. . 1. b.8. dan keberlanjutan kota seperti perlindungan tata air.merupakan media komunikasi warga kota. sejuk) dan mendapatkan bahan-bahan untuk dijual (kayu.sumber produk yang bisa dijual.7. maupun makro: lansekap kota secara keseluruhan. . . daun. keseimbangan ekologi dan konservasi hayati. pemeliharaan akan kelangsungan persediaan air tanah.Ketentuan Umum Bab I ƒ penyedia habitat satwa. kehutanan dan lainlain. serta.wadah dan objek pendidikan. .bisa menjadi bagian dari usaha pertanian. memperindah lingkungan kota baik dari skala mikro: halaman rumah. empat fungsi utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan. dan pelatihan dalam mempelajari alam. lingkungan permukimam. seperti tanaman bunga.menggambarkan ekspresi budaya lokal. Manfaat langsung (dalam pengertian cepat dan bersifat tangible).menciptakan suasana serasi dan seimbang antara area terbangun dan tidak terbangun. sayur mayur. Fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu: ƒ Fungsi sosial dan budaya: . segar. penelitian.

Ruang dibawah jalan layang RTH Publik RTH Privat V V V V V V V V V V V V V V V V V dan tempat 2. Jenis RTH Pekarangan a. Halaman perkantoran. dan ekonomi. maupun pola planologis yang mengikuti hirarki dan struktur ruang perkotaan. tersebar). Pembagian jenis-jenis RTH publik dan RTH privat adalah sebagaimana tabel 1. V V Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 7 . Taman kota f. Taman RT b. lapangan olahraga. Dilihat dari fungsi RTH dapat berfungsi ekologis. pertokoan. Tabel 1. memanjang. Secara struktur ruang. sosial budaya.Ketentuan Umum Bab I Fisik Fungsi Ekologis Struktur Kepemilikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) RTH Alami Sosial Budaya Estetika Pola Ekologis RTH Publik RTH Non Alami Ekonomi Pola Planologis RTH Privat Gambar 1. Taman RW c. 1. Sabuk hijau (green belt) RTH Jalur Hijau Jalan a. RTH dibedakan ke dalam RTH publik dan RTH privat. 3. usaha c. Dari segi kepemilikan. estetika.2 Kepemilikan RTH No.2 berikut. Pekarangan rumah tinggal b. Jalur pejalan kaki c. Taman kecamatan e. pemakaman atau jalur-jaur hijau jalan. Taman kelurahan d. Pulau jalan dan median jalan b. kawasan lindung dan taman-taman nasional serta RTH non alami atau binaan seperti taman. Hutan kota g.2 Tipologi RTH Secara fisik RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami berupa habitat liar alami. Taman atap bangunan RTH Taman dan Hutan Kota a. RTH dapat mengikuti pola ekologis (mengelompok.

Jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi c. Karakteristik RTH disesuaikan dengan tipologi kawasannya. RTH pengamanan sumber air baku/mata air f. 4. ekonomi. Baik RTH publik maupun privat memiliki beberapa fungsi utama seperti fungsi ekologis serta fungsi tambahan. ƒ sedang ƒ Berpenduduk ƒ padat ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 8 . sarana olahraga dan atau area bermain. estetika/arsitektural. Berikut ini tabel arahan karakteristik RTH di perkotaan untuk berbagai tipologi kawasan perkotaan: Tabel 1.3 Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan Tipologi Kawasan Perkotaan Pantai Karakteristik RTH Fungsi Utama Penerapan Kebutuhan RTH pengamanan wilayah pantai sosial budaya mitigasi bencana konservasi tanah konservasi air keanekaragaman hayati mitigasi/evakuasi bencana dasar perencanaan kawasan sosial ekologis sosial hidrologis ƒ berdasarkan luas wilayah ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan luas wilayah ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan jumlah penduduk ƒ berdasarkan fungsi tertentu ƒ berdasarkan jumlah penduduk ƒ ƒ ƒ Pegunungan ƒ ƒ ƒ Rawan Bencana ƒ Berpenduduk ƒ jarang s. maka RTH ini harus memiliki aksesibilitas yang baik untuk semua orang.d. RTH sempadan rel kereta api b. Khusus untuk RTH dengan fungsi sosial seperti tempat istirahat. RTH sempadan pantai e. Jenis RTH Fungsi Tertentu a. RTH sempadan sungai d. termasuk aksesibilitas bagi penyandang cacat.Ketentuan Umum Bab I No. yaitu sosial budaya. Pemakaman RTH Publik V V V V V V RTH Privat Catatan: taman lingkungan yang merupakan RTH privat adalah taman lingkungan yang dimiliki oleh orang perseorangan/masyarakat/swasta yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas.

b. Target luas sebesar 30% dari luas wilayah kota dapat dicapai secara bertahap melalui pengalokasian lahan perkotaan secara tipikal sebagaimana ditunjukkan pada lampiran A. Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan a. ƒ proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari ruang terbuka hijau privat. Penyediaan RTH Berdasarkan Luas Wilayah Penyediaan RTH berdasarkan luas wilayah di perkotaan adalah sebagai berikut: ƒ ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH privat. Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk Untuk menentukan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk. Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota.000 24. dilakukan dengan mengalikan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan standar luas RTH per kapita sesuai peraturan yang berlaku. maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat.1.000 disesuaikan Luas minimal/ kapita (m2) 1.0 0. serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota. ƒ apabila luas RTH baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah memiliki total luas lebih besar dari peraturan atau perundangan yang berlaku.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 2.3 0.2 Lokasi di tengah lingkungan RT di pusat kegiatan RW dikelompokan dengan sekolah/ pusat kelurahan dikelompokan dengan sekolah/ pusat kecamatan tersebar 4 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 9 .5 0. maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya. Tabel 2. baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat.000 jiwa Tipe RTH Taman RT Taman RW Taman Kelurahan Taman kecamatan Pemakaman Luas minimal/ unit (m2) 250 1.250 9.000 jiwa 120.1 Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk No 1 2 3 Unit Lingkungan 250 jiwa 2500 jiwa 30.2 1.

5 Lokasi di pusat wilayah/ kota di dalam/ kawasan pinggiran disesuaikan dengan kebutuhan 5 480.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No Unit Lingkungan Tipe RTH Taman kota Luas minimal/ unit (m2) 144. RTH kategori ini meliputi: jalur hijau sempadan rel kereta api. pengaman pejalan kaki atau membatasi perkembangan penggunaan lahan agar fungsi utamanya tidak teganggu. jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 3 (tiga) pohon pelindung ditambah dengan perdu dan semak serta penutup tanah dan atau rumput.000 disesuaikan disesuaikan Luas minimal/ kapita (m2) 0. RTH kawasan perlindungan setempat berupa RTH sempadan sungai.3 4.1 Pada Bangunan/Perumahan a.0 12. jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi. Pekarangan Rumah Besar Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah besar adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) kategori yang termasuk rumah besar adalah rumah dengan luas lahan di atas 500 m2. seperti tertuang di dalam PERDA mengenai RTRW di masing-masing kota. ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat. Luas pekarangan disesuaikan dengan ketentuan koefisien dasar bangunan (KDB) di kawasan perkotaan. dan RTH pengamanan sumber air baku/mata air.000 jiwa Hutan kota untuk fungsi-fungsi tertentu c. 2. Untuk memudahkan di dalam pengklasifikasian pekarangan maka ditentukan kategori pekarangan sebagai: a. sarana dan prasarana misalnya melindungi kelestarian sumber daya alam. Arahan Penyediaan RTH 2.2. Penyediaan RTH Berdasarkan Kebutuhan Fungsi Tertentu Fungsi RTH pada kategori ini adalah untuk perlindungan atau pengamanan. RTH sempadan pantai. yang berfungsi untuk berbagai aktivitas.2. RTH Pekarangan Pekarangan adalah lahan di luar bangunan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 10 .1.

3) jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 1 (satu) pohon pelindung ditambah tanaman semak dan perdu. Pekarangan Rumah Sedang Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah sedang adalah sebagai berikut: 1) kategori yang termasuk rumah sedang adalah rumah dengan luas lahan antara 200 m2 sampai dengan 500 m2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a. dan ditanam pada area diluar KDB yang telah ditentukan. Keterbatasan luas halaman dengan jalan lingkungan yang sempit. teras rumah. Pertokoan. dan tempat usaha umumnya berupa jalur trotoar dan area parkir terbuka. Persyaratan penanaman pohon pada perkantoran. dan lain-lain Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 11 . serta penutup tanah dan atau rumput. 2) ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat. RTH Halaman Perkantoran. pertokoan. teras-teras bangunan bertingkat dan disamping bangunan. tidak menutup kemungkinan untuk mewujudkan RTH melalui penanaman dengan menggunakan pot atau media tanam lainnya. b. RTH dalam Bentuk Taman Atap Bangunan (Roof Garden) Pada kondisi luas lahan terbuka terbatas. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB diatas 70%. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB dibawah 70%. c. a. Penyediaan RTH pada kawasan ini adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) Untuk dengan tingkat KDB 70%-90% perlu menambahkan tanaman dalam pot. 3) jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 2 (dua) pohon pelindung ditambah dengan tanaman semak dan perdu. berlaku seperti persyaratan pada RTH pekarangan rumah. memiliki minimal 2 (dua) pohon kecil atau sedang yang ditanam pada lahan atau pada pot berdiameter diatas 60 cm.2. dan Tempat Usaha RTH halaman perkantoran.3. seperti atap gedung. maka untuk RTH dapat memanfaatkan ruang terbuka non hijau. serta penutup tanah dan atau rumput. Pekarangan Rumah Kecil Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah kecil adalah sebagai berikut: 1) kategori yang termasuk rumah kecil adalah rumah dengan luas lahan dibawah 200 m2. 2) ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat. Perkantoran.

RTH dapat disediakan pada atap bangunan. seperti pot dengan berbagai ukuran sesuai lahan yang tersedia. dengan perakaran yang mampu tumbuh dengan baik pada media tanam yang terbatas. Untuk itu bangunan harus memiliki struktur atap yang secara teknis memungkinkan. 2. lapisan kedap air (waterproofing ).2 Pada Lingkungan/Permukiman a. Lahan dengan KDB diatas 90% seperti pada kawasan pertokoan di pusat kota. media tanam. tahan terhadap hembusan angin serta relatif tidak memerlukan banyak air.1 Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden Tanaman untuk RTH dalam bentuk taman atap bangunan adalah tanaman yang tidak terlalu besar. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman. aspek keselamatan dan keamanan. pemilihan material. sistem utilitas bangunan.2.80% dari luas taman. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 12 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II dengan memakai media tambahan. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk dalam lingkup 1 (satu) RT. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 300 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayani. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% . aspek pemeliharaan ƒ peralatan ƒ tanaman Gambar 2. khususnya untuk melayani kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. atau pada kawasan-kawasan dengan kepadatan tinggi dengan lahan yang sangat terbatas. dengan luas minimal 250 m2. Aspek yang harus diperhatikan dalam pembuatan taman atap bangunan adalah: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) struktur bangunan. Luas taman ini adalah minimal 1 m2 per penduduk RT.

Luas taman ini minimal 0. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 1000 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya. RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kelurahan. RTH Taman Rukun Warga RTH Taman Rukun Warga (RW) dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu RW. kegiatan olahraga masyarakat. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% . dengan luas taman minimal 24.000 m2. Luas taman ini minimal 0.90% dari luas taman. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% . Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 13 .90% dari luas taman. dengan luas minimal 1. juga terdapat minimal 25 (duapuluhlima) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman aktif dan minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif. juga terdapat minimal 10 (sepuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. b.250 m2. Lokasi taman berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan. RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kecamatan. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. c. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% .5 m2 per penduduk RW.2 m2 per penduduk kecamatan. Lokasi taman berada pada wilayah kelurahan yang bersangkutan. Luas taman ini minimal 0. dengan luas minimal taman 9. juga terdapat minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk taman aktif dan minimal 100 (seratus) pohon tahunan dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas.30 m2 per penduduk kelurahan. d.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II juga terdapat minimal 3 (tiga) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang.000 m2.80% dari luas taman. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. khususnya kegiatan remaja. serta kegiatan masyarakat lainnya di lingkungan RW tersebut.

Berbentuk jalur: hutan kota pada lahan-lahan berbentuk jalur mengikuti bentukan sungai. b. dan semak ditanam secara berkelompok atau menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan. Jenis vegetasi yang dipilih berupa pohon tahunan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 14 .100% dari luas hutan kota. Hutan kota berstrata dua. Menyebar: hutan kota yang tidak mempunyai pola bentuk tertentu. jalan. Lebar minimal hutan kota berbentuk jalur adalah 30 m. perdu. Struktur hutan kota dapat terdiri dari: a. Hutan kota dapat berbentuk: a.3 m2 per penduduk kota. dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 80% .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II 2. dengan luas minimal 2500 m. dan Mendukung pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia. dengan luas taman minimal 144.2. Menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota. juga terdapat semak dan penutup tanah dengan jarak tanam tidak beraturan. b.3 Kota/Perkotaan a.000 m2. yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga.000 penduduk dengan standar minimal 0. saluran dan lain sebagainya. Taman ini melayani minimal 480. yaitu memiliki komunitas tumbuhtumbuhan selain terdiri dari pepohonan dan rumput. b. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau). Komunitas vegetasi tumbuh menyebar terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau gerombol-gerombol kecil. dengan jumlah vegetasi minimal 100 pohon dengan jarak tanam rapat tidak beraturan. Meresapkan air. d. c.90%. d. pantai. yaitu hanya memiliki komunitas tumbuhtumbuhan pepohonan dan rumput. b. c. Bergerombol atau menumpuk: hutan kota dengan komunitas vegetasi terkonsentrasi pada satu areal. Memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . RTH Taman Kota RTH Taman kota adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kota atau bagian wilayah kota. Hutan Kota Tujuan penyelenggaraan hutan kota adalah sebagai peyangga lingkungan kota yang berfungsi untuk: a. Hutan kota berstrata banyak.

Dalam kaitan kebutuhan air penduduk kota maka luas hutan kota sebagai produsen air dapat dihitung dengan rumus: La = P0 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2.2 Pola Tanam Hutan Kota Strata 2 Gambar 2.3 Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak Luas ruang hijau yang diisi dengan berbagai jenis vegetasi tahunan minimal seluas 90% dari luas total hutan kota. K ( 1 + R – C ) t – PAM .Pa z dengan: La adalah adalah P0 K adalah R adalah C adalah PAM adalah t adalah Pa adalah z adalah luas hutan kota yang harus dibangun jumlah penduduk konsumsi air/kapita (lt/hari) laju peningkatan pemakaian air faktor pengendali kapasitas suplai air perusahaan tahun potensi air tanah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 15 .

9375 )(2) m2 dengan: Lt adalah luas Hutan Kota pada tahun ke t (m2) Pt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t Kt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke Tt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t 54 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari. yang telah ada sebelumnya (eksisting) dan melalui peraturan yang berketetapan hukum.9375 gram 2 adalah jumlah musim di Indonesia c. sebagai berikut: Pt + Kt + Tt Lt = (54 )(0. pesawahan.9375 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0. dipertahankan keberadaannya. Mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari. perkebunan. untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur. Penapis cahaya silau. ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 16 . sehingga berperan sebagai pembatas atau pemisah. dipenuhi pepohonan. Kebun campuran. Penahan angin. ƒ ƒ Fungsi lingkungan sabuk hijau: ƒ ƒ ƒ ƒ Peredam kebisingan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Hutan kota dalam kaitan sebagai produsen oksigen dapat dihitung dengan metode Gerakis (1974). daerah rendah dengan drainase yang kurang baik sering tergenang air hujan yang dapat mengganggu aktivitas kota serta menjadi sarang nyamuk. Hutan kota. yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988). pemisah kawasan. dan lain-lain) atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu. lebar jalur. serta pengamanan dari faktor lingkungan sekitarnya. 0. Sabuk hijau dapat berbentuk: ƒ RTH yang memanjang mengikuti batas-batas area atau penggunaan lahan tertentu. Mengatasi penggenangan. Sabuk Hijau Sabuk hijau merupakan RTH yang berfungsi sebagai daerah penyangga dan untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan (batas kota.

Pada jalur tanaman tepi jalan 1) Peneduh a) ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1. perlu memperhatikan 2 (dua) hal. yang disukai oleh burung-burung. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 17 . RTH hijau di dalam kota akan meningkatkan resapan air. Gambar 2. yaitu fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya. sehingga akan meningkatkan jumlah air tanah yang akan menahan perembesan air laut ke daratan. e) berasal dari perbanyakan biji. Dalam pedoman ini dibahas pulau jalan dan median yang berbentuk taman/RTH. d. Penyerap dan penepis bau.4 Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan Pulau Jalan dan Median Jalan Taman pulau jalan adalah RTH yang terbentuk oleh geometris jalan seperti pada persimpangan tiga atau bundaran jalan. Sedangkan median berupa jalur pemisah yang membagi jalan menjadi dua lajur atau lebih. serta tingkat evapotranspirasi rendah. g) tidak mudah tumbang. Mengatasi penggurunan.5 m dari tepi median). Median atau pulau jalan dapat berupa taman atau non taman. b) percabangan 2 m di atas tanah. Mengamankan pantai dan membentuk daratan. RTH Jalur Hijau Jalan Untuk jalur hijau jalan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ ƒ ƒ Mengatasi intrusi air laut. f) ditanam secara berbaris. a. Untuk menentukan pemilihan jenis tanaman. d) bermassa daun padat. c) bentuk percabangan batang tidak merunduk. RTH dapat disediakan dengan penempatan tanaman antara 20–30% dari ruang milik jalan (rumija) sesuai dengan klas jalan. Disarankan agar dipilih jenis tanaman khas daerah setempat.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Contoh jenis tanaman: a) Kiara Payung (Filicium decipiens) b) Tanjung (Mimusops elengi) c) Bungur (Lagerstroemia floribunda) Gambar 2. memiliki kegunaan untuk menyerap udara. jarak tanam rapat. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) Angsana (Ptherocarphus indicus) Akasia daun besar (Accasia mangium) Oleander (Nerium oleander) Bogenvil (Bougenvillea Sp) Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 18 . perdu/semak. bermassa daun padat.5 Jalur Tanaman Tepi Peneduh 2) Penyerap polusi udara a) b) c) d) terdiri dari pohon.

6 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara 3) Peredam kebisingan a) b) c) d) terdiri dari pohon.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2. membentuk massa. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) f) Tanjung (Mimusops elengi) Kiara payung (Filicium decipiens) Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Bogenvil (Bogenvillea sp) Oleander (Nerium oleander) Gambar 2. perdu/semak. bermassa daun rapat.7 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 19 . berbagai bentuk tajuk.

Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) Cemara (Cassuarina equisetifolia) Mahoni (Swietania mahagoni) Tanjung (Mimusops elengi) Kiara Payung (Filicium decipiens) Kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis) Gambar 2. bermassa daun padat. jarak tanam rapat < 3 m. bermassa daun padat. ditanam berbaris atau membentuk massa. perdu/semak. jarak tanam rapat. ditanam berbaris atau membentuk massa. perdu/semak.8 Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin 5) Pembatas pandang a) b) c) d) tanaman tinggi. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) Bambu (Bambusa sp) Cemara (Cassuarina equisetifolia) Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Oleander (Nerium oleander) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 20 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II 4) Pemecah angin a) b) c) d) tanaman tinggi.

9 Jalur Tanaman Tepi Pem mbatas Pan ndang b.Penyediaan P RT TH di Kawasan n Perkotaan Bab II Gambar 2.5 m. p Contoh jen nis tanaman n: a) b) c) d) Bogen nvil (Bogenv villea sp) Kemb bang sepatu (Hibiscus rosasinensis r s) Olean nder (Netriu um oleander r) Nusa Indah (Mus ssaenda sp) 2 Jalur Tanaman pada Med dian Penah han Silau Gambar 2. keting ggian 1. m berma assa daun padat. Pada medi ian Penahan silau s lampu kendaraan a) b) c) d) tanam man perdu/s semak. ditana am rapat.10 endaraan Lampu Ke Pedom man Penyediaan dan Pemanfa faatan Ruang Terbuka T Hijau di Kawasan Perkotaan P 21 1 .

80 m. berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian < 0.Pangkas Kuning (Duranta sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 22 . 02/T/BNKT/1992).Soka berwarna-warni (Ixora stricata) . Penempatan dan pemilihan tanaman dan ornamen hiasan harus disesuaikan dengan ketentuan geometrik persimpangan jalan dan harus memenuhi kriteria sebagai berikut: a) Daerah bebas pandang tidak diperkenankan ditanami tanaman yang menghalangi pandangan pengemudi.Tanaman tinggi. Untuk daerah bebas pandang ini ada ketentuan mengenai letak tanaman yang disesuaikan dengan kecepatan kendaraan dan bentuk persimpangannya. Pada Persimpangan Jalan Beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam penyelesaian lansekap jalan pada persimpangan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II c. Sebaiknya digunakan tanaman rendah berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian <0.8 m . dan jenisnya merupakan berbunga atau berstruktur indah. Tabel 2.Tanaman rendah.2 Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan Jarak dan Jenis Tanaman Letak Tanaman Kecepatan 40 Kecepatan 60 km/jam km/jam 40 m Pada ujung 20 m 1. (lihat buku "Spesifikasi Perencanaan Lansekap Jalan Pada Persimpangan” No. antara lain: 1) Daerah bebas pandang di mulut persimpangan Pada mulut persimpangan diperlukan daerah terbuka agar tidak menghalangi pandangan pemakai jalan. misalnya: . Persimpangan persimpangan Tanaman rendah Tanaman rendah kaki empat tegak Mendekati 80 m 100 m lurus tanpa kanal persimpangan Tanaman tinggi Tanaman tinggi 50 m 2. berbentuk pohon dengan percabangan di atas 2 meter Bentuk Persimpangan 2) Pemilihan jenis tanaman pada persimpangan Penataan lansekap pada persimpangan akan merupakan ciri dari persimpangan itu atau lokasi setempat. Persimpangan 30 m kaki empat tidak Pada ujung Tanaman rendah Tanaman rendah tegak lurus persimpangan 80 m 80 m Tanaman tinggi Tanaman tinggi Catatan: .Lantana (Lantana camara) .

Pinang jambe (Areca catechu) .Bungur (Lagerstromea Loudonii) .11 Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang b) Bila pada persimpangan terdapat pulau lalu lintas atau kanal yang dimungkinkan untuk ditanami. sebaiknya digunakan tanaman perdu rendah dengan pertimbangan agar tidak mengganggu penyeberang jalan dan tidak menghalangi pandangan pengemudi kendaraan. Ruang pejalan kaki yang dilengkapi dengan RTH harus memenuhi hal-hal sebagai berkut: 1) Kenyamanan. adalah cara mengukur ditawarkan oleh sistem pedestrian yaitu: kualitas fungsional yang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 23 .Khaya (Khaya Sinegalensis) . misalnya: 1) Tanaman berbatang tunggal seperti jenis palem Contoh: .Tanjung (Mimosups Elengi) e. RTH Ruang Pejalan Kaki Ruang pejalan kaki adalah ruang yang disediakan bagi pejalan kaki pada kiri-kanan jalan atau di dalam taman. c) Penggunaan tanaman tinggi berbentuk tanaman pohon sebagai tanaman pengarah.Lontar (siwalan) (Borassus flabellifer) 2) Tanaman pohon bercabang > 2 m Contoh: .Palem raja (Oreodoxa regia) .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2.

disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat.12 Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki 3) Pedoman teknis lebih rinci untuk jalur pejalan kaki dapat mengacu pada Kepmen PU No. Kriteria pergerakan. kebiasaan dan budaya.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ Orientasi. asri. dan indah. jarak rata-rata orang berjalan di setiap tempat umumnya berbeda dipengaruhi oleh tujuan perjalanan. kehadiran penghambat fisik. berupa tanda visual (landmark. agar area di bawah tertata rapi. Ruang Terbuka Hijau di Bawah Jalan Layang Penyediaan RTH di bawah jalan layang dalam rangka: a) b) c) sebagai area resapan air. 24 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . ƒ Gambar 2. marka jalan) pada lansekap untuk membantu dalam menemukan jalan pada konteks lingkungan yang lebih besar. kondisi permukaan jalan dan kondisi iklim. warisan dan nilai yang dianut terhadap lingkungan. 468/KPTS/1998 tanggal 1 Desember 1998. tentang Persyaratan Teknis Aksesiblitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan dan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Ruang Pejalan Kaki. 2) Karakter fisik. kondisi cuaca. Kemudahan berpindah dari satu arah ke arah lainnya yang dipengaruhi oleh kepadatan pedestrian. Pada umumnya orang tidak mau berjalan lebih dari 400 m. f. meliputi: ƒ Kriteria dimensional. menghindari kekumuhan dan lokasi tuna wisma. kepadatan penduduk. Jalur pejalan kaki harus aksesibel untuk semua orang termasuk penyandang cacat. kebiasaan dan gaya hidup.

Jalur Hijau (RTH) Sempadan Rel Kereta Api Penyediaan RTH pada garis sempadan jalan rel kereta api merupakan RTH yang memiliki fungsi utama untuk membatasi interaksi antara kegiatan masyarakat dengan jalan rel kereta api. RTH sempadan danau. menutupi bagian-bagian struktur jalan yang tidak menarik. Berkaitan dengan hal tersebut perlu dengan tegas menentukan lebar garis sempadan jalan kereta api di kawasan perkotaan. memperlembut bagian/struktur bangunan yang berkesan kaku.3 Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api Jalan Rel Kereta Api terletak di: a. RTH sempadan pantai. g. Gambar 2.lengkung luar Tanaman >11 m >23 m >11 m Obyek Bangunan >20 m >23 m >11 m Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 25 . Jalan rel kereta api belokan/lengkungan . RTH Fungsi Tertentu RTH fungsi tertentu adalah jalur hijau antara lain RTH sempadan rel kereta api.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II d) e) f) menghindari permukiman liar.13 Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH di Bawah Jalan Layang Pemilihan tanaman seyogianya dari jenis yang tahan ternaungi sepanjang waktu dan relatif tahan kekurangan air. Tabel 2.lengkung dalam . RTH sempadan sungai. RTH pengamanan sumber air baku/mata air. g. Jalan rel kereta api lurus b. mengingat keterbatasan tempat. serta berukuran tidak terlalu besar.1. RTH jaringan listrik tegangan tinggi.

5 m 2. 9. Jalur Hijau (RTH) pada Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Ketentuan lebar sempadan jaringan tenaga listrik yang dapat digunakan sebagai RTH adalah sebagai berikut: a) b) Garis sempadan jaringan tenaga listrik adalah 64 m yang ditetapkan dari titik tengah jaringan tenaga listrik.5 m 0.5 m.5 m 2.3 m 0.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Kriteria garis sempadan jalan kereta api yang dapat digunakan untuk RTH adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) Garis sempadan jalan rel kereta api adalah ditetapkan dari as jalan rel terdekat apabila jalan rel kereta api itu lurus.5 m 1.5 m 20 m 20 m Saluran kabel SKTM SKTR 0.5 m 2. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di dalam galian. 7.5 m 1.5 m 20 m 20 m 0. 1.4 Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET No. f) g) g. Lokasi Bangunan beton Pompa bensin Penimbunan bahan bakar Pagar Lapangan terbuka Jalan raya Pepohonan Bangunan tahan api Rel kereta api SUTT 66 KV 150 KV 20 m 20 m 20 m 20 m 50 m 20 m 3m 6.5 m 1.5 m 0. diukur dari puncak galian tanah atau atas serongan.5 m 1. Garis sempadan jalan rel kereta api pada belokan adalah lebih dari 23 m diukur dari lengkung dalam sampai as jalan. 5.5 m 1. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di tanah timbunan diukur dari kaki tanggul.5 m 8.5 m 0.5 m 2.3 m 20 m 20 m Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 26 . 3.5 m 20 m 20 m SUTR 1. Pelebaran tersebut dimulai dalam jarak 20 m di muka lengkungan untuk selanjutnya menyempit lagi sampai jarak lebih dari 11 m.5 m 3. yang secara berangsur–angsur melebar dari jarak lebih dari 11 sampai lebih dari 23 m.5 m 15 m SUTM 2. 8.5 m 1.3 m 0.5 m 0.2.5 m 2.5 m 2.3 m 0.5 m 8m 20 20 20 20 20 20 m m m m m m SUTET 500 KV 20 m 20 m 50 m 3m 15 m 15 m 8.5 m 8m 3. Garis sempadan jalan rel kereta api sebagaimana dimaksud pada butir 1) tidak berlaku apabila jalan rel kereta api terletak di tanah galian yang dalamnya 3. Garis sempadan jalan perlintasan sebidang antara jalan rel kereta api dengan jalan raya adalah 30 m dari as jalan rel kereta api pada titik perpotongan as jalan rel kereta api dengan as jalan raya dan secara berangsur–angsur menuju pada jarak lebih dari 11 m dari as jalan rel kereta api pada titik 600 m dari titik perpotongan as jalan kereta api dengan as jalan raya. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak pada tanah datar diukur dari as jalan rel kereta api. 4. Ketentuan jarak bebas minimum antara penghantar SUTT dan SUTET dengan tanah dan benda lain ditetapkan sebagai berikut: Tabel 2.3 m 0. 2.5 m 0. 6.3 m 0. Dalam peralihan jalan lurus ke jalan lengkung diluar as jalan harus ada jalur tanah yang bebas.5 m 0.3 m 0.

b) Sungai tidak bertanggul: 1) Garis sempadan sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut: 27 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . 11. Lokasi Jembatan besi/ tangga besi/ kereta listrik Dari titik tertinggi tiang kapal Lapangan olah raga SUTT lainnya pengahantar udara tegangan rendah. Garis sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 5 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. Dengan pertimbangan untuk peningkatan fungsinya. tanggul dapat diperkuat.3.5 m 3m 20 m 20 m 20 m SUTET 500 KV 8. Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. 12. diperlebar dan ditinggikan yang dapat berakibat bergesernya garis sempadan sungai. Sesuai peraturan yang ada. a) Sungai bertanggul: 1) 2) 3) 4) Garis sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 3 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul.5 m SUTM 20 m 20 m 20 m 20 m SUTR 20 m 20 m 20 m 20 m Saluran kabel SKTM SKTR 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m Keterangan: SUTR SUTM SUTT SUTET SKTR SKTM = = = = = = Saluran Saluran Saluran Saluran Saluran Saluran Udara Tegangan Rendah Udara Tegangan Menengah Udara Tegangan Tinggi Udara Tegangan Ekstra Tinggi Kabel Tegangan Rendah Kabel Tegangan Menengah g. 13. 10. sungai di perkotaan terdiri dari sungai bertanggul dan sungai tidak bertanggul. RTH Sempadan Sungai RTH sempadan sungai adalah jalur hijau yang terletak di bagian kiri dan kanan sungai yang memiliki fungsi utama untuk melindungi sungai tersebut dari berbagai gangguan yang dapat merusak kondisi sungai dan kelestariannya.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. jaringan telekomunikasi. maka lahan yang diperlukan untuk tapak tanggul baru sebagai akibat dilaksanakannya ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) harus dibebaskan.5 m 14 m 8. televisi dan kereta gantung SUTT 66 KV 150 KV 3m 20 m 3m 2.5 m 8.

penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 50 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. dengan ketentuan konstruksi dan penggunaan harus menjamin kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai.4. Lebar RTH sempadan pantai minimal 100 m dari batas air pasang tertinggi ke arah darat. Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) tidak terpenuhi. RTH Sempadan Pantai RTH sempadan pantai memiliki fungsi utama sebagai pembatas pertumbuhan permukiman atau aktivitas lainnya agar tidak menggangu kelestarian pantai. 2) Garis sempadan sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut: a) Sungai besar yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas 500 km2 atau lebih. Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut. g. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai kurang dari 500 km2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a) b) c) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 m. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 20 m. b) 3) 4) 5) Garis sempadan sebagaimana dimaksud pada butir 1) dan 2) diukur ruas per ruas dari tepi sungai dengan mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan. jalur hijau terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurangkurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 28 .100%. maka segala perbaikan atas kerusakan yang timbul pada sungai dan bangunan sungai menjadi tanggungjawab pengelola jalan. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. RTH sempadan pantai merupakan area pengaman pantai dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan oleh gelombang laut seperti intrusi air laut. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 10 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. abrasi. Garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan adalah tepi bahu jalan yang bersangkutan. penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 100 m. tiupan angin kencang dan gelombang tsunami. Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 m sampai dengan 20 m. erosi.

Angsana. Rhizophora spp. Gambar 2. Asam Landi (Pichelebium dulce) dan Mahoni (Switenia mahagoni ) relatif lebih tahan jika dibandingkan Kesumba. RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekitar mata air. RTH Sumber Air Baku/Mata Air RTH sumber air meliputi sungai. danau/waduk.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Fasilitas dan kegiatan yang diijinkan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) b) Tidak bertentangan dengan Keppres No. Lumnitzera spp. erosi. Tanjung. Untuk danau dan waduk. Xylocarpus spp. dan mata air. pemilihan vegetasi diutamakan dari daerah setempat yang telah mengalami penyesuaian dengan kondisi tersebut. RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. termasuk gangguan terhadap kualitas visual.14 Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai g. Aegiceras sp. Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai. dan Kuku. dan Nypa sp. Bruguiera spp. Beberapa jenis tumbuhan di ekosistem mangrove antara lain: Avicenia spp. melindungi dari ancaman gelombang pasang. Trengguli. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 29 . 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Excoecaria spp. wildlife habitat dan meredam angin kencang. Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat. c) d) Sonneratia spp. Untuk mata air.5. Formasi Hutan Mangrove sangat baik sebagai peredam ombak dan dapat membantu proses pengendapan lumpur. Kiputri. Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi. Khusus untuk RTH sempadan pantai yang telah mengalami intrusi air laut atau merupakan daerah payau dan asin.

ruang hijau pemakaman termasuk pemakaman tanpa perkerasan minimal 70% dari total area pemakaman dengan tingkat liputan vegetasi 80% dari luas ruang hijaunya. luas dan jumlah masing-masing blok disesuaikan dengan kondisi pemakaman setempat. pencipta iklim mikro serta tempat hidup burung serta fungsi sosial masyarakat disekitar seperti beristirahat dan sebagai sumber pendapatan.15 Contoh Penanaman Pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air g. RTH Pemakaman Penyediaan ruang terbuka hijau pada areal pemakaman disamping memiliki fungsi utama sebagai tempat penguburan jenasah juga memiliki fungsi ekologis yaitu sebagai daerah resapan air. jarak antar makam satu dengan lainnya minimal 0. Untuk penyediaan RTH pemakaman. e) f) g) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 30 . tempat pertumbuhan berbagai jenis vegetasi. tiap makam tidak diperkenankan dilakukan penembokan/ perkerasan.6. pemakaman dibagi dalam beberapa blok.5 m. batas terluar pemakaman berupa pagar tanaman atau kombinasi antara pagar buatan dengan pagar tanaman. batas antar blok pemakaman berupa pedestrian lebar 150-200 cm dengan deretan pohon pelindung disalah satu sisinya. atau dengan pohon pelindung. maka ketentuan bentuk pemakaman adalah sebagai berikut: a) b) c) d) ukuran makam 1 m x 2 m.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2.

Pekarangan Rumah Kecil. jenis tanaman tahunan atau musiman. Halaman Perkantoran. perakaran tidak mengganggu pondasi. tidak beracun.3. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung. tahan terhadap hama penyakit tanaman. dahan tidak mudah patah.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Pemilihan vegetasi di pemakaman disamping sebagai peneduh juga untuk meningkatkan peran ekologis pemakaman termasuk habitat burung serta keindahan. ketinggian tanaman bervariasi. memiliki nilai estetika yang menonjol.3. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. Kriteria Vegetasi RTH 2. sistem perakaran masuk ke dalam tanah.16 Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman 2. tidak berduri. Gambar 2. dan Tempat Usaha Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) b. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang. Pertokoan.1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan a. tidak merusak konstruksi dan bangunan. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan Rumah Besar. Kriteria Vegetasi untuk Taman Atap Bangunan dan Tanaman dalam Pot Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 31 . Pekarangan Rumah Sedang.

tajuk cukup rindang dan kompak.2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk taman lingkungan dan taman kota adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) tidak beracun. ketinggian tanaman bervariasi. tetapi tidak terlalu gelap. relatif tahan terhadap kekurangan air. Tabel 2. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a) b) c) d) e) tanaman tidak berakar dalam sehingga mampu tumbuh baik dalam pot atau bak tanaman. perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan. mudah dalam pemeliharaan. jenis tanaman tahunan atau musiman.5 Contoh Tanaman untuk Roof Garden No. I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 II 1 2 3 Ground Cover Jenis dan Nama Tanaman Perdu/semak Akalipa merah Nusa Indah merah Daun Mangkokan Bogenvil merah Azalea Soka daun besar Bakung Oleander Palem Kuning Sikas Alamanda Puring Kembang Merak Rumput Gajah Lantana ungu Rumput kawat Nama Latin Keterangan Acalypha wilkesiana Musaenda erytthrophylla Notophanax scutelarium Bougenvillea glabra Rhododendron indicum Ixora javonica Crinum asiaticum Nerium oleander Chrysalidocaus lutescens Cycas revolata Aalamanda cartatica Codiaeum varigatum Caesalphinia pulcherima Axonophus compressus Lantana camara Cynodon dactylon Daun berwarna Berbunga Berdaun unik Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Daun berwarna Bentuk unik Merambat berbunga Daun berwarna Berbunga Tekstur kasar Berbunga Tekstur sedang 2. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. perakaran tidak mengganggu pondasi. kecepatan tumbuh sedang. tahan terhadap hama penyakit tanaman. tidak berduri. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang. berupa habitat tanaman lokal dan tanaman budidaya.3. dahan tidak mudah patah. jarak tanam setengah rapat sehingga menghasilkan keteduhan yang optimal. tahan dan tumbuh baik pada temperatur lingkungan yang tinggi. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 32 . perawakan dan bentuk tajuk cukup indah.

e) tahan terhadap hama penyakit. b) sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung. j) batang tegak kuat. g) toleran terhadap keterbatasan sinar matahari dan air. n) memiliki perakaran yang dalam. h) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri. agar tumbuhan lain dapat tumbuh baik sebagai penutup tanah. k) sistem perakaran yang kuat sehingga mampu mencegah terjadinya longsor. f) berumur panjang. 1 2 3 Nama Tanaman Kiara Beringin Loa Ficus spp Ficus benyamina Ficus glaberrima Nama Latin Jenis burung/potensi Punai (Treron sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 33 . Tabel 2. tidak mudah patah.3. l) seresah yang dihasilkan cukup banyak dan tidak bersifat alelopati.6 Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Taman Kota No.7 Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota No. i) batang dan sistem percabangan kuat. m) jenis tanaman yang ditanam termasuk golongan evergreen bukan dari golongan tanaman yang menggugurkan daun (decidous). c) tajuk cukup rindang dan kompak.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Tabel 2. Jenis dan Nama Tanaman Nama Latin Keterangan 1 Bunga Kupu-kupu Bauhinia Purpurea Berbunga 2 Sikat botol Calistemon lanceolatus Berbunga 3 Kemboja merah Plumeria rubra Berbunga 4 Kersen Muntingia calabura Berbuah 5 Kendal Cordia sebestena Berbunga 6 Kesumba Bixa orellana Berbunga 7 Jambu batu Psidium guajava Berbuah 8 Bungur Sakura Lagerstroemia loudonii Berbunga 9 Bunga saputangan Amherstia nobilis Berbunga 10 Lengkeng Ephorbia longan Berbuah 11 Bunga Lampion Brownea ariza Berbunga 12 Bungur Lagerstroemea floribunda Berbunga 13 Tanjung Mimosups elengi Berbunga 14 Kenanga Cananga odorata Berbunga 15 Sawo Kecik Manilkara kauki Berbuah 16 Akasia mangium Accacia mangium 17 Jambu air Eugenia aquea Berbuah 18 Kenari Canarium commune Berbuah Catatan: pemilihan tanaman disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim setempat 2. d) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara.3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) memiliki ketinggian yang bervariasi.

Jati Seberang Peronema canescens Jati Tectona grandis Dahat Tectona hamiltoniana Salam Eugeniu polyantha Lantana Merah. Srindit (Loriculus pusillus) Jalak (sturnidae) dan. tumbuhan berukuran tinggi dengan luasan area yang cukup dapat mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari. beberapa jenis burung madu Burung ukut-ukut Srigunting Bahan pembuat sarang Buah dapat dimakan Pengundang serangga Katagori pohon langka Tahan pangkas Buah dapat dimakan Bumbu dapur 2. Gia Kedondong Bulan Canarium littoralle Johar Cassia siamea Keladan Dipterocarpus gracillis Ampupu Eucalyptus alba ƒ ƒ ƒ 10 – 20 20 – 30 30 – 40 40 – 50 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 34 . Pemilihan vegetasi berdaun rapat berukuran relatif besar dan tebal dapat meredam kebisingan lebih baik.3.4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: ƒ Peredam kebisingan. Tabel 2. Pacar Keling Bixa orellana Kemlandingan Leucaena glauca Kayu Palele Castanopsis javanica Trengguli. Kayu Batu. peletakan tanaman yang diatur sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi dan menyerap cahaya. 4 Nama Tanaman Dadap Erythrina varigata Nama Latin 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Dangdeur Aren Buni Buni hutan Kembang merak Serut Jamblang Salam Gosampinus heptaphylla Arenga pinatta Antidesma bunius Antidesma montanum Caesalpinia pulcherrima Syzygium paucipuncatum Streblus asper Syzygium cumini Syzygium polyanntum Jenis burung/potensi Betet (Psittacula alexandri). Ameliorasi iklim mikro. Golden Shower Cassia fistula Dalingsem. Tembelekan Lantana camara Balsa Orchoma lagopus Cendana India Santaum album Suren Toona sureni Gopasa Vitex gopassus Kesumba Keling.8 Contoh Tanaman untuk Sabuk Hijau yang Tahan Terhadap Penggenangan Air Lama genangan (hari) 0 – 10 Jenis tanaman Nama Lokal Nama Latin Sungkai. Kayu Homalium tomentosum Kerbau. Mengatasi penggenangan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. Penapis cahaya silau. untuk fungsi ini dipilih penanaman dengan vegetasi berdaun rapat.

Sabuk hijau yang terlalu tipis kurang dapat melindungi karena masih dapat diterobos angin. Sabuk hijau yang dibangun harus cukup panjang agar dapat melindungi objek dengan baik. Kihiyang Sonoleking Senon. dan Tanjung (Mimosups elengi) adalah tanaman yang dapat mengeluarkan bau harum. akan menjadikan angin laminar dan mencegah terbentuknya angin turbulen. dapat melindungi daerah dari hembusan angin yang membawa serta pasir. yang terletak di bagian yang mengarah ke hembusan angin. Mengamankan pantai dan membentuk daratan. sabuk hijau ini dapat berupa formasi hutan mangrove. Sabuk hijau yang dibangun harus cukup tebal. Pada daerah payau dapat dipilih pohon Mahoni (Swietenia mahagoni) dan Asam Landi (Pichecolobium dulce). Jeungjing Kosambi Tekik Kopi Meranti tembaga Sonokeling Meranti merah Keluarga Mahoni Cemara laut 50 – 60 60 – 70 70 – 80 90 – 100 100 – 200 300 Semar. Sengon Laut. yang telah terbukti dapat meredam ombak dan membantu proses pengendapan lumpur di pantai. Pendusta utan Kihujan Rengas Pinus insularis Pinus mercusii Pterocarpus javanicus Pterocarpus indicus Vitex pubescens Albizzia procera Dalbergia sisso Paraserianthes falcataria Schleichera oleosa Albizzia lebbeck Coffea spp Shorea leprosula Dalbergia latifolia Shorea ovalis Swietenia spp. Sabuk hijau seyogyanya ditempatkan tepat pada arah datangnya angin dan obyek yang dilindungi harus berada di bagian belakangnya. untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur. Penyerap dan penepis bau. jalur pepohonan yang rapat dan tinggi dapat melokalisir bau dan menyerap bau. Casuarina equisetifolia Intsia bijuga Samanea saman Gluta renghas Nama Latin Sumber: Soerianagara dan Indrawan (1988) ƒ Penahan angin. Mengatasi penggurunan. Kenanga (Cananga odorata). lebar jalur. ƒ ƒ ƒ ƒ Pola tanam sabuk hijau sebagai penahan angin adalah sebagai berikut: ƒ Sabuk hijau membentuk jalur hijau cembung ke arah datangnya angin. Mengatasi intrusi air laut. tanaman yang dipilih adalah yang daya evapotranspirasinya rendah. ƒ ƒ ƒ Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 35 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Lama genangan (hari) Jenis tanaman Nama Lokal Pinus Benquet Tusam Wedang Angsana Laban Weru. Beberapa spesies tanaman seperti Cempaka (Michelia champaca). sabuk hijau berupa jalur pepohonan yang tinggi lebar dan panjang.

Kriteria Vegetasi untuk Taman Pulau Jalan dan Median Jalan. q) tahan terhadap hama penyakit. f) batang tegak kuat. u) berumur panjang. Sifat biologi: a) tumbuh baik pada tanah padat. p) mudah sembuh bila mengalami luka akibat benturan dan akibat lain. k) tidak menggugurkan daun. r) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri. dengan dahan yang kuat namun cukup lentur. dan RTH Jalur Pejalan Kaki Kriteria untuk jalur hijau jalan adalah sebagai berikut: 1) Aspek silvikultur: a) b) c) d) e) f) 2) berasal dari biji terseleksi sehat dan bebas penyakit. d) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ ƒ Tanaman yang ditanam didominasi oleh tanaman yang cukup tinggi. l) daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang. memiliki pertumbuhan sempurna baik batang maupun akar. c) fase anakan tumbuh cepat. b) sistem perakaran masuk kedalam tanah. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 36 . t) sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi. batang tegak dan keras pada bagian pangkal. s) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. sistim perakaran padat. 2. perbandingan bagian pucuk dan akar seimbang. Tanaman harus terdiri dari beberapa strata yaitu tanaman tinggi sedang dan rendah. i) ukuran dan bentuk tajuk seimbang dengan tinggi pohon. m) saat berbunga/berbuah tidak mengotori jalan. Kerapatan yang kurang. tidak dapat berfungsi sebagai penahan angin. g) perawakan dan bentuk tajuk cukup indah. tidak merusak konstruksi dan bangunan.5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan a. h) tajuk cukup rindang dan kompak. Memiliki kerapatan daun berkisar antara 70–85%. tidak mudah patah dan tidak berbanir. j) daun sebaiknya berukuran sempit (nanofill). tajuk simetris dan padat. sehingga mampu menutup secara baik. tetapi tidak terlalu gelap. e) batang dan sistem percabangan kuat.3. n) buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung. Sebaliknya kerapatan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terbentuknya angin turbulen. o) sebaiknya tidak berduri atau beracun. tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

Tabel 2.9 Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki
No I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 II 1 2 3 4 5 Nama Lokal Pohon Bunga Kupu-kupu Bunga kupu-kupu ungu Trengguli Kayu manis Tanjung Salam Melinjo Bungur Cempaka Tanjung Perdu/semak/groundcover Canna Soka jepang Puring Pedang-pedangan Lili pita Nama Latin Tinggi (m) 8 8 15 12 15 12 15 18 18 12 0.6 0.3 0.7 0.5 0.3 Jarak Tanam (m) 12 12 12 12 12 6 6 12 12 12 0.2 0.2 0.3 0.2 0.15

Bauhinia purpurea Bauhinia blakeana Cassia fistula Cinnamommum iners Mimosups elengi Euginia polyantha Gnetum gnemon Lagerstroemia floribunda Michelia champaca Mimosups elengi Canna varigata Ixora spp Codiaeum varigatum Sansiviera spp Ophiopogon jaburan

b.

Kriteria Vegetasi untuk RTH di Bawah Jalan Layang Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) tanaman yang tahan dan dapat hidup dengan baik pada tempat yang ternaungi secara permanen; tidak membutuhkan penyinaran matahari secara penuh; relatif tahan kekurangan air; perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan; sebaiknya merupakan tanaman dari jenis yang mempunyai kemampuan dalam mengurangi polusi udara; dapat hidup dengan baik pada media tanam pot atau bak tanaman.

Tabel 2.10 Contoh Tanaman untuk RTH di Bawah Jalan Layang
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama lokal Balancing Talas-talasan Hanjuang Philodendron Pedang-pedangan Xanadu Singonium Yuca Dracaena Spatipilum

Dieffenbachia spp Calathea spp Cordyline spp Philodendron spp Sansiviera spp Philodendron xanadu Syngonium spp Yucca elephantipes Dracaaena spp Spathypillum spp

Nama latin

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

37

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

2.3.6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu a. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) tumbuh baik pada tanah padat; sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan; fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa; ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia; batang dan sistem percabangan kuat; batang tegak kuat, tidak mudah patah dan tidak berbanir; perawakan dan bentuk tajuk cukup indah; daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang; buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung; tahan terhadap hama penyakit; berumur panjang.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH rel kereta api, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi, disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian pada daerah masingmasing. Tabel 2.11 Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Nama Daerah Flamboyan Angsana Ketapang Kupu-kupu Kere paying Johar Tanjung Mahoni Akasia Bungur Kenari Johar Damar Nyamplung Jakaranda Liang liu Kismis Ganitri Saga Anting-anting Asam kranji Johar Cemara Pinus Beringin Nama Latin Delonix regia Pterocarpus indicus Terminalia cattapa Bauhinia purpurea Filicium decipiens Cassia multiyoga Mimusops elengi Swientenia mahagoni Acacia auriculiformis Lagerstroemia loudonii Canarium commune Cassia sp. Agathis alba Calophyllum inophyllum Jacaranda filicifolia Salix babilinica Muehlenbeckia sp. Elaeocarpus spahaericus Adenanthera povoniana Elaeocarpus grandiflorus Pithecelobium dulce Cassia grandis Cupresus papuana Pinus merkusii Ficus benjamina

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

38

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

Pola tanam vegetasi di sepanjang rel kereta api harus memperhatikan keamanan terhadap lalu lintas kereta api, tidak menghalangi atau mengganggu penglihatan masinis, serta tidak menggangu kekuatan struktur rel kereta api. Pola tanam yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: a) b) jarak maksimal dari sumbu rel adalah 50 m; pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan.

b. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Kriteria pemilihan vegetasi dan pola tanam untuk RTH ini adalah sebagai berikut: jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman yang memiliki dahan yang kuat, tidak mudah patah, dan perakaran tidak mengganggu pondasi; b) akarnya menghujam masuk ke dalam tanah. Jenis ini lebih tahan terhadap hembusan angin yang besar daripada tanaman yang akarnya bertebaran hanya di sekitar permukaan tanah; c) daunnya tidak mudah gugur oleh terpaan angin dengan kecepatan sedang; d) bukan merupakan pohon yang memiliki bentuk tajuk melebar; e) merupakan pohon dengan katagori kecil (small tree); f) fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa; g) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia; h) pola penanaman pemilihan vegetasi memperhatikan ketinggian yang diijinkan; i) buah tidak bisa dikonsumsi langsung oleh manusia; j) memiliki kerapatan yang cukup (50-60%); k) pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. Pemilihan jenis dan ketinggian vegetasi dimaksudkan agar penanaman vegetasi pada RTH jalur SUTT maupun SUTET, tidak menimbulkan gangguan terhadap jaringan listrik serta menghindari bahaya terhadap penduduk di sekitarnya. Lokasi penanaman harus memperhatikan jarak bebas minimum yang diijinkan. Tabel 2.12 Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nama Suku dan Jenis Nama Lokal Mangkokan Sarai raja Palem kobis Kesumba Jarak kosta Bunga Perawakan Semak Pohon sedang Pohon kecil Pohon kecil Semak Pohon kecil Diameter Batang (cm)/ Tinggi (m) /5 10/5-25 5/3-4 10/2-8 /2 10/2-6

a)

Nothopanax scutellarium Merr. Caryota mitis Lour. Licuala grandis L. Bixa orellana L. Jatropha gossypifolia L. Bauhinia purpurea L.

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

39

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

No.

Nama Suku dan Jenis

Nama Lokal kupu-kupu Kembang kuning Kembang merak Kembang sepatu kecil Serut Kemuning Kecubung gunung

Perawakan

Diameter Batang (cm)/ Tinggi (m) 20/2-6 - /3-5 - /2 10/2-5 10/-7 - /5

7. 8. 9. 10. 11. 12.

Cassia surattensis Burm. F. Caesalpinia pulcherrima (L.) Swartz. Malvaviscus arbpreus Cav. Streblus asper Lour. Muraya paniculata (L.) Jack. Brugmansia candida Pers.

Semak Semak Semak Pohon kecil Pohon kecil Semak

c.

Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) sistem perakaran yang kuat, sehingga mampu menahan pergeseran tanah; tumbuh baik pada tanah padat; sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan; kecepatan tumbuh bervariasi; tahan terhadap hama dan penyakit tanaman; jarak tanam setengah rapat sampai rapat 90% dari luas area, harus dihijaukan; tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap; berupa tanaman lokal dan tanaman budidaya; dominasi tanaman tahunan; sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH sempadan sungai, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi untuk RTH sempadan sungai disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian lahan pada daerah masing-masing. Tabel 2.13 Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama Daerah Bungur Jening Khaya Pingku Lamtorogung Puspa Kenanga Locust Kisireum Manglid Cengal Flamboyan

Lagerstromia speciosa Pithecolobium lobatum Khaya anthotheca Dysoxylum excelsum Leucaena lecocephala Schima wallichii Canangium adoratum Hymenaena courburil Eugenia cymosa Michelia velutina Hopea sangkal Delonix regia

Nama Latin

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

40

13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 Nama Daerah Tanjung Trembesi Beringin Kepuh Angsret Nyamplung Leda Tengkawanglayar Johar Merbau pantai Tengkawangmajau Hoe Merawan Blabag Pala hutan Cemara sumatra Palur raja Kibeusi leutik Kaliandra Balam sudu Sawo duren Kedinding Kepuh Dadap Salam Sungkai Matoa/kasai Locust Ebony/kayuhitam Kempas Sawo kecik Asam Pingku Johar Angsana Tengkawang layar Kecapi Palem Raja Kalak Saputangan Bacang Kayu manis Kawista Kenanga Khaya Khaya Khaya Mimusops elengi Samanea saman Ficus benjamina Sterculia foetida Spathodea campanulata Callophylum inophyllum Eucalyptus deglupta Shorea mecistopteryx Cassia siamea Intsia bijuga Shorea palembanica Eucaliyptus platyphylla Hopea mangarawan Terminalia citrina Myristica fatua Casuarina sumatrana Oreodoxa regia Lindera srtichchytolia Calliandra marginata Palaguium sumatranum Crysophyllum cainito Albizzia leppecioides Sterculia foetida Erythrina cristagalli Eugenia polyantha Pheronema canescens Pometia pinnata Hymenaea courbaril Dyospiros celebica Kompasia excelsa Manilkara kauki Tamarindus indica Dysoxyllum exelsum Cassia grandis Pterocarpus indicus Shorea mecistopteryx Shandoricum koetjape Oerodoxa regia Poliantha lateriflora Maniltoa brawneodes Manejitera foetida Cinnamomun burmanni Feronia limonia Canangium odoratum Hopea bancana Shorea selanica Pterogota alata K.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. sinegalensis K. anthotheca Nama Latin Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 41 . grandiflora K.

Damar (Agathis loranthifolia). Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Pantai Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) merupakan tanaman lokal yang sudah teruji ketahanan dan kesesuaiannya tehadap kondisi pantai tersebut. bakau merupakan tanaman yang khas sebagai pelindung pantai. sampel jalur hijau sungai berupa petak-petak berukuran 20 m x 20 m diambil secara sistematis dengan intensitas sampling 10% dari panjang sungai. penempatan petak sampel dilakukan secara awalan acak (random start) pada peta. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 42 . toleransi terhadap kondisi air payau. e. d) e) f) g) d. sekurang-kurangnya 100 m dari kiri kanan sungai besar dan 50 m di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman. sistem perakaran yang yang kuat sehingga mampu mencegah abrasi pantai. 1993): Cemara Laut (Casuarina equisetifolia). sebelum di lapangan. Manggis (Garcinia mangostana). memliki sistem perakaran yang kuat dan dalam. 1976 dan Kurniawan. tahan terhadap hama dan penyakit tanaman. Kelapa (Cocos nucifera). daya transpirasi rendah. Kiara Payung (Filicium decipiens). jarak maksimal dari pantai adalah 100 m. Karet Munding (Ficus elastica). Kriteria Vegetasi untuk RTH pada Sumber Air Baku/Mata Air Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) relatif tahan terhadap penggenangan air.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Persyaratan pola tanam vegetasi pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut: a) b) c) jalur hijau tanaman meliputi sempadan sungai selebar 50 m pada kirikanan sungai besar dan sungai kecil (anak sungai). sampel jalur hijau sungai berupa jalur memanjang dari garis sungai ke arah darat dengan lebar 20 m sampai pohon terjauh. tiupan angin dan hempasan gelombang air pasang. sehingga dapat menahan erosi dan meningkatkan infiltasi (resapan) air. untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 m. batang dan sistem percabangan yang kuat. Beberapa tanaman yang memiliki daya transpirasi yang rendah antara lain (Manan. pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. Bungur (Lagerstroemia speciosa). Vegetasi ideal yang ditanam pada RTH pengaman sumber air merupakan vegetasi yang tidak mengkonsumsi banyak air atau yang memiliki daya transpirasi yang rendah.

sedang atau kecil disesuaikan dengan ketersediaan ruang. b) besarnya diameter lubang tanam sama dengan lingkaran tajuk terluar tanaman dengan kedalaman setebal bola akar ditambah 10 cm. tidak mudah patah dan tidak berbanir. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 43 .2 Penanaman Pada proses penanaman harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) bibit tanaman harus memiliki percabangan dan perakaran yang sehat. atau menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi langsung.4.1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam Lokasi tanah yang akan dijadikan media tanam harus diolah terlebih dahulu. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung. dikembalikan ke bagian bawah lubang tanam. Untuk menghasilkan media tanam yang baik maka tanah harus digemburkan dengan menggunakan cangkul hingga kedalaman pertumbuhan akar dan ditambahkan pupuk organik/kompos secukupnya. sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi. Tanah yang baik sebagai media tanam adalah tanah yang gembur mengandung cukup unsur hara.14 Contoh Vegetasi untuk Pemakaman No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Lokal Bougenvil Kemboja Putih Puring Lili pita Tanjung Dadap Kembang merak Jamblang Salam Nama Latin Potensi berbunga berbunga berwarna berbunga pengundang burung pengundang serangga buah dapat dimakan pengundang burung Bougenvilia sp Plumeria alba Codiaeum varigatum Ophiopogon jaburan Mimosups elengi Erythrina varigata Caesalpinia pulcherrima Syzygium cumini Syzygium polyanntum 2. berumur panjang.4. c) masukkan tanah di sekeliling bola akar. 2. Penanaman dapat dilakukan setelah tanah dibiarkan selama 3–5 hari.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II f. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pemakaman Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) sistem perakaran masuk kedalam tanah. kemudian tanah yang berasal dari bagian bawah. tajuk cukup rindang dan kompak. tetapi tidak terlalu gelap. Ketentuan Penanaman 2. Tabel 2. tahan terhadap hama penyakit. tidak merusak konstruksi dan bangunan. dapat berupa pohon besar.4. batang tegak kuat. dan tanah yang berasal dari bagian atas lubang tanam diurugkan di bagian atas tanaman.

Waktu penyiraman pada dasarnya dapat dilakukan kapan saja saat dibutuhkan. 44 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . Pemangkasan tanaman dapat dilakukan dengan tujuan: 1) Pemangkasan untuk kesehatan pohon: Pemangkasan untuk tujuan ini dilakukan pada cabang. 2. Penyiraman Tujuan penyiraman tanaman. Waktu pemangkasan yang tepat adalah setelah masa pertumbuhan generatif tanaman (setelah selesai masa pembungaan) dan sebelum pemberian pupuk. juga berfungsi melarutkan garam-garam mineral dan juga sebagai unsur utama pada proses fotosintesis. diperlukan alat penahan (kayu pemancang/ajir) yang ditancapkan di seputar pohon. yang dapat mengancam keamanan pengguna taman. Pupuk yang digunakan untuk pohon-pohon taman biasanya pupuk majemuk NPK. Waktu penyiraman yang terbaik adalah pada pagi atau sore hari. selain untuk menyeimbangkan laju evapotranspirasi. e) tanaman disiram secukupnya.3 Pemeliharaan Tanaman a. dalam upaya menghindari penyakit yang disebabkan oleh cendawan. Penyiraman siang hari hendaknya dilakukan langsung pada permukaan tanah. dengan ujung diikat pada batang pohon. 2) Pemangkasan untuk keamanan penggunaan taman: ƒ Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang. dapat menjadi indikasi bahwa siraman air sudah dinyatakan cukup. Penetrasi air siraman sedalam 15-20 cm ke dalam tanah. mati atau berpenyakit. dahan dan ranting yang retak. c.4. tidak pada permukaan daun tanaman. Pupuk yang diberikan pada tanaman dapat berupa pupuk organik maupun pupuk anorganik (misalnya NPK atau urea). b.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II d) agar pohon yang baru ditanam tidak bergoyang. Pemangkasan Tujuan pemangkasan tanaman adalah untuk mengontrol pertumbuhan tanaman sesuai yang diinginkan serta menjaga keamanan dan kesehatan tanaman. Untuk daerah dengan kelembaban tinggi penyiraman pada pagi hari lebih baik daripada sore hari. patah. Pemupukan Prinsip dasar pemupukan adalah mensuplai hara tambahan yang dibutuhkan sehingga tanaman tidak kekurangan makanan. dahan dan ranting.

Untuk jalan umum yang dilalui kendaraan diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 4.5-5 m dari permukaan tanah. Beberapa diantaranya tidak terlihat dengan mata telanjang sehingga perlu di teliti di laboratorium. Cara Pengendalian Pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan cara karantina.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II ƒ ƒ Di daerah pejalan kaki diperlukan ruang yang bebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 2. berubah warna dan penampilan tidak menarik. Gejala serangan penyakit terlihat adanya akar. Batang atau dahan yang menyentuh kabel telepon dan listrik perlu dipangkas.4. bulat. bercak daun. Secara kasat mata seringkali terlihat populasi binatang berupa larva. bakteri. seperti bentuk daun. bunga maupun buah yang tidak sempurna. silindris. 3) Pemangkasan untuk keamanan pengguna jalan: ƒ ƒ Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang. maka pemangkasan dapat menghasilkan tanaman dengan bentuk-bentuk tajuk spiral. baik berupa serangga. yang dapat menghalangi pandangan pengguna jalan. kubus. kelinci dan sebagainya. mozaik dan sebagainya. piramida. juga gesekan yang intensif dapat mengganggu kesehatan pohon.5 m dari permukaan tanah. fisik. molusca maupun hewan lainnya seperti burung. Dapat juga terjadi bagian tanaman yang terkikis. biologi dan kimiawi. layu. ulat. mekanis. teknik budidaya. a. dan lain sebagainya. berlubang. nematoda dan penyakit fisiologis. Dengan memperhatikan jenis dan kerapatan daun.5 m dari permukaan tanah. Sedangkan penyakit tanaman disebabkan oleh jamur. dahan dan ranting. Gejala Serangan Gejala serangan hama pada umumnya langsung dapat terlihat dari kerusakan bagian tanaman.4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Hama tanaman dapat disebabkan oleh hewan. Untuk jalan yang dilalui kendaraan pada daerah permukiman diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar minimal 3. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 45 . karat. ƒ 4) Pemangkasan untuk tujuan estetis: Pemangkasan dengan tujuan ini adalah untuk menghasilkan penampilan tanaman lebih baik atau lebih indah. kambing. virus. kerena disamping dapat mengakibatkan korsleting/ kebakaran. 2. maupun imagonya. b.

fasilitas yang harus disediakan minimal bangku taman dan fasilitas mainan anak-anak. Untuk rumah dengan RTH pada lahan pekarangan yang tidak terlalu luas atau sempit. sayur. dan tempat usaha. olah raga. Untuk efisiensi ruang. 3. RTH Pekarangan Dalam rangka mengoptimalkan lahan pekarangan. RTH Halaman Perkantoran. selain tempat utilitas tertentu.2. RTH dapat dimanfaatkan pula untuk menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup. maka RTH pekarangan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan atau kebutuhan lainnya. dapat dimanfaatkan pula sebagai area parkir terbuka. Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman RTH pada Lingkungan/Permukiman dapat dioptimalkan fungsinya menurut jenis RTH berikut: a. RTH pada rumah dengan pekarangan luas dapat dimanfaatkan sebagai tempat utilitas tertentu (sumur resapan) dan dapat juga dipakai untuk tempat menanam tanaman hias dan tanaman produktif (yang dapat menghasilkan buah-buahan.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 3. Untuk mendukung aktivitas penduduk di lingkungan tersebut. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) dapat dimanfaatkan penduduk sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. dan bunga).1. dan penambah estetika suatu bangunan sehingga tampak asri. carport. serta memberikan keseimbangan dan keserasian antara bangunan dan lingkungan. pertokoan. Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan RTH pada bangunan/perumahan baik di pekarangan maupun halaman perkantoran. dan tanaman pot sehingga dapat menambah nilai estetika sebuah rumah. RTH Taman Rukun Tetangga dapat pula dimanfaatkan sebagai suatu community garden dengan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 47 . Selain fungsi tersebut. dan tempat untuk menyelenggarakan berbagai aktivitas di luar ruangan seperti upacara. b. dan Tempat Usaha RTH pada halaman perkantoran. dan lain-lain. tanaman pot dimaksud dapat diatur dalam susunan/bentuk vertikal. pertokoan. peredam kebisingan. Selain sebagai tempat untuk melakukan aktivitas sosial. bazar. RTH dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan sebagai berikut: a. dan tempat usaha berfungsi sebagai penghasil O2. Pertokoan.

dan buah-buahan yang dapat dimanfaatkan oleh warga.1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga KURSI TAMAN ARENA MAINAN ANAK JALUR PEJALAN KAKI POHON PELINDUNG Gambar 3. sayur.2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 48 . POHON PELINDUNG JALUR PEJALAN KAKI Gambar 3.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup.

serta kegiatan sosial lainnya di lingkungan RW tersebut. LAP. beberapa unit bangku taman yang dipasang secara berkelompok sebagai sarana berkomunikasi dan bersosialisasi antar warga. kegiatan olahraga masyarakat. dimana aktivitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III b. Fasilitas yang disediakan berupa lapangan untuk berbagai kegiatan. RTH Rukun Warga RTH Rukun Warga (RW) dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan remaja. dan beberapa jenis bangunan permainan anak yang tahan dan aman untuk dipakai pula oleh anak remaja. dengan jalur trek lari di seputarnya. atau dapat berupa taman pasif. VOLLEY TEMPAT DUDUK TEMPAT DUDUK LAPANGAN RUMPUT TEMPAT DUDUK LAPANGAN BASKET Gambar 3. baik olahraga maupun aktivitas lainnya. dengan fasilitas utama lapangan olahraga (serbaguna). misalnya duduk atau bersantai. sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohonpohon tahunan. RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan penduduk dalam satu kelurahan.3 Contoh Taman Rukun Warga c. Taman ini dapat berupa taman aktif. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 49 .

5–2 m. lebar 5 m panjang 325 m.1 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan Jenis Taman Aktif Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80% Fasilitas 1) 2) 3) 4) Pasif 80 – 90% 5) 1) 2) 3) 4) lapangan terbuka. 4) penutup tanah. Vegetasi 1) minimal 25 pohon (pohon sedang dan kecil). WC umum. kursi–kursi taman. trek lari.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel 3. lebar 1. 1 unit kios (jika diperlukan). 2) semak. KIOS AREA PARKIR KIOS Gambar 3. WC umum.4 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 50 . 3) perdu. sirkulasi jalur pejalan kaki. 1) minimal 50 pohon (sedang dan kecil). 2) semak. 3) perdu. 1 unit kios (jika diperlukan). kursi-kursi taman. 4) penutup tanah.

RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat dimanfaatkan oleh penduduk untuk melakukan berbagai aktivitas di dalam satu kecamatan. lapangan volley. sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau. lapangan basket. 4) penutup tanah. WC umum. atau dapat berupa taman pasif untuk kegiatan yang lebih bersifat pasif.5 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif) d. 2) semak. termasuk sarana kios (jika diperlukan). trek lari. 3) perdu. dengan jalur trek lari di seputarnya. Kelengkapan taman ini adalah sebagai berikut: Tabel 3.2 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan Jenis Taman Aktif Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80% 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Fasilitas lapangan terbuka. Taman ini dapat berupa taman aktif dengan fasilitas utama lapangan olahraga. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 51 . parkir kendaraan. kursi-kursi taman.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III KIOS AREA PARKIR Gambar 3. lebar 5 m panjang 325 m. Vegetasi 1) minimal 50 pohon (sedang dan kecil).

taman bunga. taman khusus (untuk lansia). lebar 1. Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan a.5–2 m. fasilitas olah raga terbatas.3. Vegetasi 1) lebih dari 100 pohon tahunan (pohon sedang dan kecil). yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 52 . dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 30%. 2) WC umum.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Jenis Taman Pasif Koefisien Daerah Fasilitas Hijau (KDH) 80–90% 1) sirkulasi jalur pejalan kaki. 4) kursi-kursi taman. 3) perdu. SARANA OLAHRAGA KIOS SARANA OLAHRAGA AREA PARKIR SARANA OLAHRAGA PLAZA HUTAN KECIL Gambar 3. 2) semak. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. RTH Taman Kota RTH Taman kota dapat dimanfaatkan penduduk untuk melakukan berbagai kegiatan sosial pada satu kota atau bagian wilayah kota. 4) penutup tanah.6 Contoh Taman Kecamatan 3. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau). 3) parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan). taman bermain (anak/balita).

daun. 9) prasarana tertentu: kolam retensi untuk pengendali air larian. 7) panggung terbuka. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 1) Vegetasi 150 pohon (pohon sedang dan kecil) semak. Fasilitas yang harus disediakan disesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan seperti kursi taman. penutup tanah. oksigen. penghasil produk hasil hutan. Hutan kota dapat juga dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas sosial masyarakat (secara terbatas. atau aktivitas yang aktif seperti jogging. AMPHITEATER 10. LOTUS POND 12. CANNOE POND 5.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel 3. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 53 .3 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80 % Fasilitas lapangan terbuka. 2) 3) 1. BASKET 9. senam atau olahraga ringan lainnya). JOGGING TRACK Gambar 3. keanekaragaman hayati). unit lapangan volley (15 x 24 m). 8) area bermain anak. perlindungan dan pemanfaatan plasma nutfah. Hutan kota Hutan kota dapat dimanfaatkan sebagai kawasan konservasi dan penyangga lingkungan kota (pelestarian. wisata alam. TAMAN BURUNG 8. GERBANG UTAMA 4. 10) kursi. WC umum. AREA MAIN ANAK-ANAK 6. sayur). unit lapangan basket (14x26 m). trek lari. lebar 7 m panjang 400 m. SCULPTURE 11. GSG & LAP. meliputi aktivitas pasif seperti duduk dan beristirahat dan atau membaca. sirkulasi pejalan kaki/jogging track. ekonomi (buah-buahan. perdu. KOLAM 3. rekreasi. wahana pendidikan dan penelitian. PARKIR 2. parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan).7 Contoh Taman Kota (Rencana Taman Kota Pangkalanbun Kabupaten Kotawaringin Barat) b. LABIRIN & LEISURE AREA 7.

tekstur bawah kaki. vegetasi. d. RTH di bawah jalan layang dapat menjadi unsur estetika untuk meminimalkan unsur kekakuan konstruksi jalan. vegetasi yang mengeluarkan bau. Untuk itu diperlukan introduksi tanaman pengundang burung pada hutan kota. RTH Jalur Hijau Jalan Pulau Jalan dan Median Jalan Taman pulau jalan maupun median jalan selain berfungsi sebagai RTH. Sabuk Hijau Sabuk hijau berfungsi sebagai daerah penyangga atau perbatasan antara dua kota. e. faktor audial (suara) dan faktor visual. sampah yang bau dan terbengkalai. emisi kendaraan. Tabel 3. juga dapat dimanfaatkan untuk fungsi lain seperti sebagai pembentuk arsitektur kota. Jalur tanaman tepi jalan atau pulau jalan selain sebagai wilayah konservasi air. Gelombang Pendek (%) 10 80 10 Gelombang Panjang (%) 100 10 90 ƒ f. Disamping itu RTH di bawah jalan layang dapat dimanfaatkan sebagai: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 54 . Sabuk hijau dimaksudkan sebagai kawasan lindung dengan pemanfaatan terbatas dengan pemanfaatan utamanya adalah sebagai penyaring alami udara bagi kota-kota yang berbatasan tersebut. Median jalan dapat dimanfaatkan sebagai penahan debu dan keindahan kota. yang mempunyai peranan penting antara lain mengontrol populasi serangga.4 Kemampuan Hutan dalam Mengendalikan Gelombang Pendek dan Panjang Respon Daun Dipantulkan Diserap Dibiaskan Diteruskan c. RTH Jalur Pejalan Kaki RTH jalur pejalan kaki dapat dimanfaatkan sebagai: ƒ Fasilitas untuk memungkinkan terjadinya interaksi sosial baik pasif maupun aktif serta memberi kesempatan untuk duduk dan melihat pejalan kaki lainnya. juga dapat dimanfaatkan untuk keindahan/estetika kota.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Idealnya hutan kota merupakan ekosistem yang baik bagi ruang hidup satwa misalnya burung. Sebagai penyeimbang temperatur. kelembaban. sehingga sabuk hijau dapat menjadi RTH bagi kedua kota atau lebih tersebut. RTH di Bawah Jalan Layang Selain sebagai daerah resapan air.

Pemanfaatan daerah sempadan sungai yang berfungsi budi daya dapat dilakukan oleh masyarakat untuk kegiatan-kegiatan: a) b) c) d) budi daya pertanian rakyat. Untuk menjaga keselamatan lalu lintas kereta api maupun masyarakat di sekitarnya. b. dan pemantauan. Memperbaiki citra/penampilan pohon secara keseluruhan. gardu listrik. papan penyuluhan dan peringatan. pelestarian. maka jenis aktivitas yang perlu dilakukan berkaitan dengan peranan RTH sepanjang rel kereta api adalah sebagai berikut: a) b) c) d) Memperkuat pohon melalui perawatan dari dalam. c. perizinan. 3. sehingga RTH pada kawasan ini dimanfaatkan sebagai pengaman listrik tegangan tinggi dan kawasan jalur hijau dibebaskan dari berbagai kegiatan masyarakat serta perlu dilengkapi tanda/peringatan untuk masyarakat agar tidak beraktivitas di kawasan tersebut. Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Jaringan listrik tegangan tinggi sangat berbahaya bagi manusia. 55 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan .4. kabel telpon. RTH Fungsi Tertentu a. perlindungan tepi kiri-kanan bantaran sungai yang rawan erosi. ƒ Tempat istirahat sementara bagi pengendara sepeda motor/pejalan kaki pada saat hujan. pada zona sungai danau. dan pengendalian daya rusak sungai melalui kegiatan penatagunaan. Menghilangkan sumber penularan hama dan penyakit serta menghilangkan tempat persembunyian ular dan binatang berbahaya lainnya. waduk yang berfungsi budi daya dapat dibudidayakan kecuali pemanfaatan tanggul hanya untuk jalan. dan pipa air minum. RTH Sempadan Sungai Pemanfaatan RTH daerah sempadan sungai dilakukan untuk kawasan konservasi. mencegah okupasi penduduk yang mudah menyebabkan erosi. peningkatan fungsi sungai. Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api RTH/jalur hijau sempadan rel kereta api dapat dimanfaatkan sebagai pengamanan terhadap jalur lalu lintas kereta api. ƒ Lokasi penempatan papan reklame secara terbatas. sehingga jaringan kayu dapat tumbuh lebih banyak yang akan menjadi pohon lebih kuat. Penatagunaan daerah sempadan sungai dilakukan dengan penetapan zona-zona yang berfungsi sebagai fungsi lindung dan budi daya.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III ƒ Lokasi penempatan utilitas seperti drainase. serta rambu-rambu pekerjaan. pemasangan rentangan kabel listrik. kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C. Pada zona sungai yang berfungsi lindung menjadi kawasan lindung. dan lain-lain. Membuat saluran drainase.

pelestarian. maka aktivitas yang dapat dilakukan pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut: a) b) Memantau penutupan vegetasi dan kondisi kawasan DAS agar lahan tidak mengalami penurunan. Menjaga kelestarian konservasi dan aktivitas perambahan. menghalau. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 56 . Mengamankan kawasan sempadan sungai. Aktivitas memantau.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III e) pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/jembatan baik umum maupun kereta api. melindungi dari ancaman gelombang pasang. dan pengendalian daya rusak sumber air baku/mata air/danau melalui kegiatan penatagunaan. keolahragaan. peningkatan fungsi sumber air baku/mata air. keanekaragaman vegetasi terutama jenis unggulan lokal dan bernilai ekologi dipantau dengan metode kuadrat dengan jalur masing-masing lokasi 2 km menggunakan analisis vegetasi yang diarahkan pada jenis-jenis flora yang bernilai sebagai tumbuhan obat. perizinan. e. f) penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial. ƒ Khusus untuk kawasan pantai berhutan bakau harus dipertahankan sesuai ketentuan dalam Keppres No. Tolak ukur 100 m di kanan kiri sungai dan 50 m kanan kiri anak sungai. termasuk gangguan terhadap kualitas visual. juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yang diizinkan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: ƒ Tidak bertentangan dengan Keppres No. RTH Sumber Air Baku/Mata Air Pemanfaatan RTH sumber air baku/mata air dilakukan untuk perlindungan. erosi. 32 Tahun 1990. pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau. serta penutupan vegetasi di sempadan sungai. c) d) e) d. ƒ Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai. ƒ Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat. dan g) pembangunan prasarana lalu lintas air. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. dipantau dengan menggunakan metode pemeriksaaan langsung dan analisis deskriptif komparatif. Untuk menghindari kerusakan dan gangguan terhadap kelestarian dan keindahan sungai. Memantau fluktuasi debit sungai maksimum. wildlife habitat dan meredam angin kencang. menjaga dan mengamankan harus diikuti dengan aktivitas melaporkan pada instansi berwenang dan yang terkait sehingga pada akhirnya kawasan sempadan sungai yang berfungsi sebagai RTH terpelihara dan lestari selamanya. dan pemantauan. ƒ Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi. RTH Sempadan Pantai RTH sempadan pantai selain sebagai area pengaman dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan gelombang laut. bangunan pengambilan dan pembuangan air.

budi daya pertanian rakyat. pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/ jembatan baik umum maupun kereta api. keolahragaan. papan penyuluhan dan peringatan. f. sehingga keberadaan RTH yang tertata di komplek pemakaman dapat menghilangkan kesan seram pada wilayah tersebut. pendukung ekosistem. pemasangan rentangan kabel listrik. bangunan pengambilan dan pembuangan air. dan pembangunan prasarana lalu lintas air. pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau. dan pemersatu ruang kota. Pemakaman juga dapat berfungsi sebagai RTH untuk menambah keindahan kota.5 RTH Sempadan Danau dan Mata Air No. daerah resapan air. Jenis RTH Dimensi Sempadan 1.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel berikut ini memberikan gambaran mengenai dimensi sempadan serta pemanfaatannya pada masing-masing jenis RTH sebagai berikut: Tabel 3. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 57 . kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C. Mata Air Radius 200 m a) ruang terbuka hijau dengan aktivitas sosial terbatas penekanan pada kelestarian sumberdaya airnya. RTH Pemakaman Pemakaman memiliki fungsi utama sebagai tempat pelayanan publik untuk penguburan jenasah. b) luas ruang terbuka hijau minimal 90% dengan dominasi pohon tahunan yang diizinkan. a) b) c) d) e) f) g) h) 2. serta rambu-rambu pekerjaan. Danau/waduk Minimal 50 m dari titik pasang tertinggi Pemanfaatan jaringan utilitas. dan pipa air minum. pelindung. kabel telpon. penyelenggaraan kegiatankegiatan yang bersifat sosial.

Prosedur Perencanaan Ketentuan prosedur perencanaan RTH adalah sebagai berikut: a) penyediaan RTH harus disesuaikan dengan peruntukan yang telah ditentukan dalam rencana tata ruang (RTRW Kota/RTR Kawasan Perkotaan/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/Rencana Induk RTH) yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat. pemanfaatan dan pengendalian. tidak mengganggu kualitas visual dari dan ke RTH. d) menjunjung tinggi keterbukaan dengan semangat tetap menegakkan etika. e) pemanfaatan RTH untuk penggunaan lain seperti pemasangan reklame (billboard) atau reklame 3 dimensi.1. c) tahapan penyediaan dan pemanfaatan RTH publik meliputi: 1) 2) 3) 4) 5) perencanaan. untuk memberikan kesempatan akses dan mencegah terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang dari rencana tata ruang yang telah ditetapkan melalui pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang oleh masyarakat dan swasta dalam pengelolaan RTH. b) penyediaan dan pemanfaatan RTH publik yang dilaksanakan oleh pemerintah disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Peran Masyarakat Peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH merupakan upaya melibatkan masyarakat. b) memposisikan pemerintah sebagai fasilitator dalam proses pembangunan ruang terbuka hijau.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV BAB IV PROSEDUR PERENCANAAN DAN PERAN MASYARAKAT 4. pengadaan lahan. d) penyediaan dan pemanfaatan RTH privat yang dilaksanakan oleh masyarakat termasuk pengembang disesuaikan dengan ketentuan perijinan pembangunan. swasta.2. lembaga badan hukum dan atau perseorangan baik pada tahap perencanaan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 59 . perancangan teknik. Upaya ini dimaksudkan untuk menjamin hak masyarakat dan swasta. ekologis dan estetis. dengan prinsip: a) menempatkan masyarakat sebagai pelaku yang sangat menentukan dalam proses pembangunan ruang ruang terbuka hijau. harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: ƒ ƒ mengikuti peraturan dan ketentuan yang berlaku pada masing-masing daerah. memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan pengguna RTH. tidak mengganggu fungsi utama RTH yaitu fungsi sosial. ƒ ƒ ƒ 4. pelaksanaan pembangunan RTH. c) menghormati hak yang dimiliki masyarakat serta menghargai kearifan lokal dan keberagaman sosial budayanya. tidak menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan tanaman misalnya menghalangi penyinaran matahari atau pemangkasan tanaman yang dapat merusak keutuhan bentuk tajuknya. pemanfaatan dan pemeliharaan.

Perencanaan Pemanfaatan dan Pengendalian Pengambilan Keputusan Rencana Pemanfaatan Pelaksanaan Pemanfaatan Pasca Pelaksanaan RTH Pelibatan Pelibatan Pelibatan Gambar 4. pemanfaatan dan pengendalian). pembangunan dan pemeliharaan RTH. swasta dan badan hukum dalam penyediaan RTH publik meliputi penyediaan lahan. pedoman ini ditujukan pada tahap pemanfaatan ruang terbuka hijau. pembuatan sumur resapan (bagi daerah yang memungkinkan) dan pengelolaan sampah. Membiayai pembangunan RTH publik. d) Turut serta secara aktif dalam komunitas masyarakat pecinta RTH. Mengawasi pemanfaatan RTH publik. Peran masyarakat pada RTH privat meliputi: a) Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH dalam peningkatan kualitas lingkungan.1 Pelibatan Masyarakat pada Pemanfaatan dan Pengendalian Peran masyarakat. Membiayai pemeliharaan RTH publik.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV e) memperhatikan perkembangan teknologi dan bersikap profesional. dimana rencana pembangunannya akan disusun dan ditetapkan. Menyerahkan penggunaan lahan privat untuk digunakan sebagai RTH publik. baik ditanam langsung maupun ditanam dalam pot. Peran dalam penyediaan RTH ini dapat berupa: a) b) c) d) e) f) Pengalihan hak kepemilikan lahan dari lahan privat menjadi RTH publik (hibah). Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 60 . berm dan lahan kosong lainnya dengan berbagai jenis tanaman. b) Turut serta dalam meningkatkan kualitas lingkungan di perumahan dalam hal penanaman tanaman. sarana interaksi sosial serta mitigasi bencana. c) Mengisi seoptimal mungkin lahan pekarangan. Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH publik dalam peningkatan kualitas dan keamanan lingkungan. Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah kota dalam mewujudkan penghijauan antara lain: dalam lingkup kegiatan pembangunan ruang terbuka hijau (yang meliputi perencanaan.

c) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyikapi perencanaan. plaza. yaitu untuk tidak saja menekankan pada tujuan ekonomi. membahas permasalahan. dan sebagainya) dalam mengelola permasalahan. dan sebagainya) dengan areal yang luas perlu menyertakan konsep pembangunan ruang terbuka hijau. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pihak swasta: a) Pihak swasta yang akan membangun lokasi usaha (mall. Namun. masyarakat dapat membentuk suatu forum atau komunitas tertentu untuk menghimpun anggota masyarakat yang memiliki kepentingan terhadap RTH. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan masyarakat: a) Anggota masyarakat baik individu maupun kelompok yang memiliki keahlian dan/atau pengetahuan mengenai penataan ruang serta ruang terbuka hijau dapat membentuk suatu komunitas ruang terbuka hijau. Untuk mencapai peran tersebut.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV 4. namun juga sosial dan lingkungan dalam memanfaatkan ruang perkotaan. karena swasta memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat umum. mengembangkan konsep serta upaya-upaya untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah. masyarakat dan swasta dalam pembangunan ruang terbuka hijau. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 61 . e) Menggalang dan mencari dana kegiatan dari pihak tertentu untuk proses sosialisasi. 4. g) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. Pada kondisi yang lebih berkembang.2.2 Peran Swasta Swasta merupakan pelaku pembangunan penting dalam pemanfaatan ruang perkotaan dan ruang terbuka hijau. komunitas. Terutama karena kemampuan kewirausahaan yang mereka miliki. d) Meningkatkan kemampuan masyarakat (forum.2. Peran swasta yang diharapkan dalam pemanfaatan ruang perkotaan sama seperti peran yang diharapkan dari masyarakat. konflik yang muncul sehubungan dengan pembangunan ruang terbuka hijau. pembangunan serta pemanfaatan ruang terbuka hijau melalui sosialisasi.1 Peran Individu/Kelompok Masyarakat dapat berperan secara individu atau kelompok dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH. penyelesaian konflik serta respon dari pemerintah melalui jalur yang telah disepakati bersama. Untuk mencapai peran tersebut. pelatihan dan diskusi di kelompok-kelompok masyarakat. maka terdapat peran lain yang dapat dilakukan oleh swasta. Misalnya: membentuk forum masyarakat peduli ruang terbuka hijau atau komunitas masyarakat ruang terbuka hijau di setiap daerah. b) Mengembangkan dan memperkuat kerjasama proses mediasi antara pemerintah. f) Bekerjasama dengan pemerintah dalam menyusun mekanisme pengaduan.

pendamping. b) Menyelenggarakan proses mediasi jika terdapat perbedaan pendapat atau kepentingan antara pihak yang terlibat. d) Berperan aktif dalam diskusi dan proses pembangunan sehubungan dengan pembentukan kebijakan publik dan proses pelibatan masyarakat dan swasta yang terkait dengan pembangunan ruang terbuka hijau. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan organisasi non-pemerintah antara lain: a) Membentuk sistem mediasi dan fasilitasi antara pemerintah. dalam rangka mengatasi kesenjangan komunikasi. informasi dan pemahaman di pihak masyarakat serta akses masyarakat ke sumber daya. c) Menfasilitasi proses pembelajaran kerjasama pemerintah. d) Mendorong dan/atau menfasilitasi proses pembelajaran masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan. masyarakat dan swasta serta mengenai proses pengajuan keluhan dan penyelesaian konflik yang terjadi. Organisasi lain yang memiliki peran dan posisi penting dalam mempengaruhi.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV b) Bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat dalam membangun dan memelihara ruang terbuka hijau. 4. c) Berperan aktif dalam mensosialisasikan dan memberikan penjelasan mengenai proses kerjasama antara pemerintah. Dengan membentuk badan atau lembaga bersama antara pemerintah. perwakilan masyarakat dan swasta untuk aktif melakukan mediasi. atau organisasi lain yang serupa berperan utama sebagai perantara. menghubungkan masyarakat dengan pemerintah dan swasta. mengawasi kebijakan pemanfaatan ruang perkotaan. maupun dengan proses diskusi dan seminar. adil dan bertanggung jawab. antara lain: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 62 . masyarakat dan swasta dalam mengatasi kesenjangan komunikasi dan informasi pembangunan ruang terbuka hijau. Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan kepada masyarakat dan/atau yang terkait dalam pembangunan ruang terbuka hijau.3 Lembaga/Badan Hukum Lembaga atau badan hukum yang dimaksud merupakan Organisasi nonpemerintah. f) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. menyusun. Untuk mencapai peran tersebut. melaksanakan. e) Menciptakan lingkungan dan kondisi yang kondusif yang memungkinkan masyarakat dan swasta terlibat aktif dalam proses pemanfaatan ruang secara proporsional. e) Mengupayakan bantuan pendanaan bagi masyarakat dalam realisasi pelibatan dalam pemanfaatan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau.2. f) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan pembangunan ruang terbuka hijau maupun dengan proses diskusi dan seminar. swasta dan masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan.

swasta. perguruan tinggi. Partai politik. unsur kewilayahan seperti RT. Adapun peran dari masing-masing organisasi tersebut diatas dapat disesuaikan dengan posisi dan keahlian yang dimiliki organisasi dalam membantu atau terlibat proses pembangunan ruang terbuka hijau. pemeliharaan maupun peningkatan kesadaran masyarakat terhadap RTH dapat berupa: a) Piagam penghargaan yang dikeluarkan oleh lembaga swadaya masyarakat pemerhati RTH/lingkungan hidup. dan sebagainya.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ DPR/DPRD. pemerintah daerah atau pemerintah pusat.2. sebagai kontributor dalam penyediaan RTH tersebut. b) Pencantuman nama. lembaga atau perusahaan dalam ukuran yang wajar dan tidak mengganggu keindahan. baik perorangan. dan badan hukum dalam penyediaan. Asosiasi profesi. sesuai dengan peraturan yang berlaku di wilayah tersebut. Instansi yang terkait dengan pengeloaan RTH/lingkungan hidup. Lembaga donor. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 63 . 4. dengan persetujuan tertulis dari instansi pengelolanya. Perguruan tinggi. pembangunan.4 Penghargaan dan Kompensasi Penghargaan dan kompensasi terhadap masyarakat/perseorangan. Kelurahan dan Kecamatan. RW.

5%) RTH PRIVAT 10% RTH PUBLIK 20% RTH KOTA 30% L-1 .5%) KDB (80%) KDB (90%) KDB (0%) KDB (70%) KDB (80%) RTH (8%) RTH (2%) RTH (12.5%) JALAN (20%) LAINNYA (7.5%) RTH (6%) RTH (1.LAMPIRAN A (informatif) BAGAN PROPORSI RTH KAWASAN PERKOTAAN (ilustrasi) RUANG PERKOTAAN TERBANGUN TERBUKA HUNIAN (40%) NON HUNIAN (20%) TAMAN (12.

1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT) Gambar B.2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT) L-2 .LAMPIRAN B (informatif) GAMBAR CONTOH RTH TAMAN Gambar B.

3 Contoh Taman Rukun Warga (RW) Gambar B.Gambar B.4 Contoh Taman Kelurahan L-3 .

Gambar B.5 Contoh Taman Kelurahan Gambar B.6 Contoh Taman Kecamatan L-4 .

1 Contoh Perhitungan Kebutuhan Hutan Kota (RTH) Berdasarkan Kebutuhan Air Kebutuhan air dalam kota bergantung dari faktor: a) b) c) d) kebutuhan air bersih per tahun.K (1 + R – C)t – PAM .3 jt m3/th. Potensi air tanah 662. Faktor di atas dapat ditulis dalam persamaan: Po.LAMPIRAN C (informatif) CONTOH PERHITUNGAN HUTAN KOTA (RTH) C.200 – 662. (203. jumlah air yang dapat disediakan oleh PAM. Kemampuan hutan kota menyimpan air 73.307. Kapasitas air PAM terpasang 6.256 m3/th. Konsumsi air per kapita adalah 65 m3/th.000 Kebutuhan hutan kota = 142 ha (5.000 m3/ha/th.000) – 6.Pa z La = dengan: La Po K R C PAM t Pa z adalah luas hutan kota yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan air (Ha) adalah jumlah penduduk kota pada tahun ke 0 adalah konsumsi air per kapita (liter/hari) adalah laju peningkatan pemakaian air (biasanya seiring dengan laju pertambahan penduduk kota setempat) adalah faktor koreksi (besarnya tergantung dari upaya pemerintah dalam penurunan laju pertambahan penduduk) adalah kapasitas suplai air oleh PAM (dalam m3/tahun) adalah tahun ke adalah potensi air tanah saat ini (m3/th) adalah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air (m3/ha/th) Contoh perhitungan: Suatu kota dengan luas 2. Kemampuanhutan kota menyimpan air. Dengan kondisi seperti tersebut di atas.8%) L-5 Lt = = 142 ha . persamaan kebutuhan hutan kota pada tahun 0 (2005) adalah sebagai berikut: 65. Potensi air saat ini. memiliki penduduk pada tahun 2005 sebanyak 203.256 73.450 ha.000 jiwa.

000 424. dengan rumus: Pt + Kt + Tt Lt = (54 )(0.1 Kebutuhan Oksigen Manusia di Kota Bandung Tahun 2004 Wilayah Pengembangan (WP) Bojonagara Cibeunying Karees Tegalega Ujungberung Gedebage Jumlah Penduduk (Jiwa) 424.261 Konsumsi Oksigen Manusia/Hari (gram/hari) Komsumsi Oksigen (gram/hari) 365.160 357.86 Dari tabel C.360 204.597.77 2.339. adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0.2 Contoh Perhitungan Kebutuhan Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Luasan kebutuhan hutan kota berdasarkan kebutuhan oksigen.C.300 505. L-6 .240 316. yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988).16 Kebutuhan Oksigen Tiap 1 kg Bahan Bakar 2. dapat juga dilakukan dengan metode Gerakis (1974).9375 gram adalah jumlah musim di Indonesia Contoh perhitungan dengan menggunakan rumus Gerakis (1974) dalam Wisesa (1988).412. 2005): Tabel C.9375 2 m2 adalah luas RTH Kota pada tahun ke t (m2) adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke t adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t adalah tetapan yan menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari.004.624 425.711 377.609 474. dengan kasus di Kota Bandung (Noor Syailendra.893.560 397.21 0.2 Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor Jenis Bahan Bakar Bensin Diesel Rata-rata Pemakaian Bahan Bakar (kg/PS jam) 0.711.2 dapat ditentukan besarnya kebutuhan oksigen kendaraan bemotor berdasarkan klasifikasi jenis kendaraan dan rata-rata umum kebutuhan oksigen.254 243.9375 )(2) dengan: Lt Pt Kt Tt 54 0.240 840 Tabel C.

000 + 324.Tabel C.760 Total Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 196.259.760 87.9375)( 2 ) Luas RTH = 6.21 0.311.72 ha m2 Catatan: kebutuhan oksigen untuk ternak diabaikan Dengan mengacu pada kebutuhan oksigen manusia.341 Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka kebutuhan RTH di Wilayah Bojonagara Kota Bandung pada tahun 2004 adalah: 356.412.7652 Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 581.77 2.21 0.772.772.0607 21.634 582 29.739.18 Sepeda motor Kendaraan penumpang Kendaraan truk Kendaraan bus Jumlah Rata-rata Tabel C.4 Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor di Wilayah Bojonagara Bandung Jenis Kendaraan Mobil Pribadi Motor Truk Bus Minibus umum Jumlah LHR (lalu-lintas harian rata-rata) (kendaraan/hari) 16.3 Kebutuhan Oksigen Menurut Klasifikasi Jenis Kendaraan Bermotor Klasifikasi Daya Minimal (PS) 1 20 50 100 Kebutuhan Bahan Bakar (kg/PS) 0.440 59.21 0.305 1.91 m2 = 672.86 Kebutuhan Oksigen (kg/hari) 0.634 29.760 29.993 Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 11.301.085 45.519 56.77 2.863 13.259.634 29.76 87.085 45.679. maka kebutuhan hutan kota di Kota Bandung pada tahun 2004 adalah sebagai berikut: L-7 .16 Kebutuhan Oksigen Tiap 1 Liter BB (kg) 2.680 324.765.5817 11.7 11.984.77 2.142 7.560 4.760 45. kebutuhan oksigen kendaraan di tiap wilayah pengembangan.341 Luas RTH = (54 )(0.061 21.906 94 1.

050.602.63 21.28 L-8 .22 250.16 2.09 2.730.13 11.27 856.559.933.42 Luas (%) 28.40 544.707.87 470.Tabel C.00 Kebutuhan RTH (Ha) 672.28 2.85 29.62 3.330.107.07 4.28 2.08 36.61 9.47 20.12 16.04 768.5 Kebutuhan RTH di Kota Bandung Tahun 2004 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Wilayah pengembangan Bojonagara Cibeunying Karees Tegalega Gedebage Ujungberung Kota Bandung Luas wilayah (Ha) 2.

LAMPIRAN D (informatif) PILIHAN VEGETASI UNTUK DIKEMBANGKAN DI RTH Pengenal Lingkungan Perawakan Daya Tarik Potensi di RTH Dapat dikonsumsi ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Reduktor Polutan ● ● ● ● ● ● ● ● Pohon Sedang Pohon Kecil 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Akalipa hijau kuning Akasia daun besar Akasia kuning Angrek Tanah Angsana Apel Asam Asem landi Bakung Bambu Jepang Beringin Bintaro Bogenvil Bunga pukul empat Bunga saputangan Bungur Cemara gunung Cemara laut Cemara Norfolk Cempaka Dadap belang Dadap merah Damar Durian Ebony/ Kayu hitam Flamboyan Ganitri Glodogan pohon Glodogan tiang Hujan Mas Iris Jambu air Jambu batu Jambu monyet Jarak Jati Jeruk bali Jeruk nipis Johar Kalak Kaliandra Kana Kantil Karet Munding Kasia singapur Acalypha wilkesiana Accacia mangium Acacia auriculaeformis Spathoglotis plicata Pthecarpus indicus Chrysophyllum cainito Tamarindus indica Pitchecolobium dulce Crinum asiaticum Bambusa sp. Ficus benyamina Cerbera manghas Bougenvillea sp Mirabilis jalapa Amherstia nobilis Lagerstromea loudonii Casuarina junghuniana Casuarina equisetifolia Araucaria heterophylla Michelia champaca Erythrina variegata Erythrina cristagalli Agathis alba Durio zibethinus Dyospiros celebica Delonix regia Elaeocarpus grandisflora Polyathea sp. Polyathea longifolia Cassia fistula Belamcanda chinensis Eugenia aquea Psidium guajava Anacardium occidentale Jatropha integerima Tectona grandis Citrus grandisty Citrus aurantifolia Cassia siamea Polyantha lateriflora Caliandra haematocepala Canna Hibrida Michelia alba Ficus elastica Cassia spectabilis ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● L-9 Pengarah No Nama Lokal Nama Latin Bentuk Tajuk Pohon Besar Warna daun Tekstur Semak Bunga Perdu Buah .

10 Pengarah ● ● Tekstur No Nama Lokal Nama Latin Pohon Kecil Semak Bunga Perdu Buah .Perawakan Pohon Sedang Pohon Besar Daya Tarik Bentuk Tajuk Warna daun Potensi di RTH Dapat dikonsumsi ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Reduktor Polutan ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Pengenal Link ● 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 Cocos nucifera Caesalphinia pulcherima Hibiscusrosa sinensis Kemboja merah Plumeria rubra Kemuning Muraya paniculata Kenanga Cananga odorata Kenari Canarium commune Kersen Muntingiacalabura Kesumba Bixa orellana Ketapang Terminalia cattapa Ki acret Spathodea companulata Kiara Payung Filicium decipiens Kol Banda */ Pisonia alba Kupu-kupu Bauhinia purpurea Lamtorogung Leucaena leccocephala Landep Baleria priontis Lantana Lantana camara Lengkeng Euphoria longan Lontar / Siwalan Borassus flabellifer Mahoni Switenia mahagoni Mangga Mangifera indica Mangkokan Nothopanax scutellarium Matoa Pometia pinata Menteng Baccaurea motleyana Merawan Hopea mangarawan Mimba Azadirachta indica Nagasari Mesua ferrea Nangka Artocarpus heterophylla Nusa Indah Musaenda sp. tusam Pinus mercusii Puspa Schima wallichii Salam Eugenia polyantha Sansiviera/Lidah mertua Sanseviera trifasciata L Sarai raja Caryota mitis Sawo kecik Manilkara kauki Serunai rambat Widelia sp. Pepaya Carica papaya Pinang Jambe Areca catechu Pinang Mac-arthur Ptychosperma macarthurii Pinus. Trembesi Samanea saman Kelapa Kembang merak Kembang Sepatu ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● L . Nyamplung Callophyllum inophyllum Oleander Nerium oleander Palem Ekor Tupai Wodyetia bifurca Palem kubis Licuala grandis Palem Kuning Chrysalidocarpus lutescens Palem Merah Cytostachys renda Palem Raja Oreodoxa regia Palem Sadeng Livistona rotundifolia Pangkas kuning Duranta sp. Sikat botol Callistemon lanceolatus Soka Ixora stricata Sukun Artocarpus altilis Sutra bombay Portulaca gransiflora Tanjung Mimusops elengi Tapak dara Catharanthus roseus Teh-tehan Pangkas Acalypha sp.

2004.BIBLIOGRAFI Charles Harries & Nicholas T. Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan. Bogor. Pedoman Umum Penanaman Jalur Hijau Jalan. dalam Dahlan. 2001. Pengaruh Hutan dan Manajemen Daerah Aliran Sungai. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. Kementerian Lingkungan Hidup. McGraw-Hill. Bogor. Time Saver Standards for Landscape Architecture. 2006. Departemen Pekerjaan Umum. 2007. Membuat dan Merawat Taman Rumah. Standard Specifications for Geometric Design of Urban Roads. Dines. Ministry of Public Works. Spesifikasi Tanaman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Perda Depok No. IPB Press. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. Bogor. Tangerang. 2004. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. 1988. 2004. Directorate General of Highways. tentang Garis Sempadan. Hendro Sunaryo dan Rismunandar. Rully Wijayakusuma. 2004. Pemeliharaan Taman.. Mc Graw – Hill Professional. Kurniawan. 1986. Bandung. F. 2004. Pengantar Pengetahuan Dasar Hortikultura. Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta. 2005. Sinar Baru. Departemen Pekerjaan Umum. Landscape Architect’s Portable Hand Book. Direktorat Jenderal Penataan Ruang. IPB Press. 1995. EN. Hadi Susilo Arifin dan Nurhayati HS Arifin. Agro Media Pustaka. Bandung.18 Tahun 2003. Pemeliharaan Tanaman. Manan. 2004. Daya Transpirasi Tanaman Perkotaan. IPB Press. Dahlan. L . Pembangunan Rumah Sederhana Tidak Bersusun.11 . EN. E N. Pedoman Teknik Departemen Pekerjaan Umum. RTH sebagai Unsur Utama Pembentuk Kota Taman. 2005. 1992.. 1981. Lansekap Jalan. edisi revisi. S. 1993. Dines T Nicholas & Brown D Kyle. Mona Sintia dan Murhananto. 1976. Penebar Swadaya. Jurusan Arsitektur Lansekap Faperta Unbar. Mendisain. Direktorat Jenderal Cipta Karya. Pedoman Perencanaan Median Jalan. Direktorat Jenderal Bina Marga. New York. Depok. dalam Dahlan.

dalam Noor Syailendra. 27 April 2006. Undang-Undang No. Zoer’aini Djamal Irwan. Pustaka Cidesindo. 1998. Jakarta.1988. Ekologi Hutan Indonesia. dalam Endes Nurfilmarasa. Surat Kabar Harian Pikiran Rakyat. RTH Sebagai Unsur Utama Pembentuk Undang-Undang No. United States Department of Transportation. Tantangan Lingkungan Hidup dan Lansekap Kota. 1977. tentang Perkeretaapian. Highway Economic Requirements System.Soerianegara dan Indrawan. 38 Tahun 2004. J. Kota. Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan L . tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan SNI 033/T/BM/ 1996. 14 Tahun 1992. Jurusan Teknik Planologi FT Unpas. SNI 031/T/BM/1999. tentang Jalan.12 . Wisessa. Undang-Undang No. 1989. Kajian Kebutuhan Hutan Kota di Kota Bandung. 13 Tahun 1992. Penentuan Luas Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen.