BAB II PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDE SATU

Kompetensi Mahasiswa diharapkan: 1. Mengenali bentuk PD orde satu dengan variabel terpisah dan tak terpisah. 2. Dapat mengubah bentuk PD tak terpisah menjadi terpisah melalui transformasi variabel yang sesuai. 3. Menentukan keeksakan suatu PD orde satu. 4. Menyelesaikan persamaan differensial eksak dengan menggunakan metode yang sesuai. 5. Mengubah PD tak eksak menjadi eksak dengan mengalikannya dengan faktor integral yang hanya bergantung pada satu variabel. 6. Menentukan selesaian PD linier orde satu yang homogen dan tak homogen.

Materi 1. Persamaan diferensial terpisah 2. Reduksi ke Bentuk Terpisah 3. Persamaan Diferensial Eksak 4. Faktor Integral 5. PD Linier orde satu

2-1

BAB II PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDE SATU

Persamaan diferensial (PD) orde satu merupakan bentuk PD yang paling sederhana, karena hanya melibatkan turunan pertama dari suatu fungsi yang tidak diketahui. Jika dalam persamaan tersebut variabel bebas dan variabel tak bebasnya berada pada sisi yang berbeda dari tanda persamaannya, maka disebut PD yang terpisah dan untuk menentukan selesaiannya tinggal diintegralkan. Jika tidak demikian, maka disebut PD tak terpisah. Suatu PD orde satu yang tak terpisah biasanya dapat dengan mudah dijadikan PD terpisah melalui penggantian (substitusi) dari salah satu variabelnya. 2.1 Persamaan diferensial terpisah Banyak PD orde satu yang dapat direduksi ke dalam bentuk (1) g(y)y’ = f(x)

dengan menggunakan manipulasi aljabar. Karena y’ = dy/dx, maka kita lebih sering menuliskan (1) sebagai (2) g(y) dy = f(x) dx.

Karena dalam persamaan (2) variabel x dan y terpisah, yakni masing-masing berada pada sisi yang berlainan, maka persamaan (2) disebut PD variabel terpisah, atau secara singkat cukup dinamakan persamaan terpisah. Dengan melakukan pengintegralan pada dua sisinya, diperoleh (3)

∫ g ( y)dy = ∫ f ( x)dx + c.

2-2

Jika kita menganggap bahwa f dan g fungsi-fungsi yang kontinu, maka integral dalam (3) ada, dan dengan mengevaluasi integral ini kita dapat memperoleh selesaian persamaan (1). Contoh 1 Selesaikan PD: 9yy’ + 4x = 0. Penyelesaian: Dengan pemisahan variabel akan diperoleh 9y dy = -4x dx. Dengan pengintegralan pada masing-masing sisinya akan diperoleh selesaian umum:
9 2 y = −2 x 2 + c1 atau 2 c x2 y2 + = c, dengan c = 1 . 9 4 18

Selesaian ini menyatakan suatu keluarga ellips.
y

X

Gambar Selesaian PD 9yy’ + 4x = 0.

2-3

Jika 2-4 . y ( y ≠ 0). Contoh 3 Selesaikan PD: y’ = -2xy. Perlu diperhatikan bahwa kita harus menambahkan suatu konstanta integrasi setelah melakukan pengintegralan. Penyelesaian: Dengan pemisahan variabel diperoleh dy = −2 xdx. y = tan( x + c).Contoh 2 Selesaikan PD: y’ = 1 + y2. Pengintegralan menghasilkan (1) ln y = − x 2 + c1. Untuk melakukan pengecekan ruas kiri diturunkan sebagai berikut. 1+ y2 arctan y = x + c. Penyelesaian: Dengan pemisahan variabel dan pengintegralan akan diperoleh dy = dx.

y > 0. Jika y<0 maka –y > 0 sehingga (ln(-y))’ = -y’/(-y) = y’/y. Kita mengetahui bahwa 2-5 . Karena y = |y| jika y>0 dan –y = |y| jika y < 0. maka (ln y)’ = y’/y. dari (4) diperoleh |y| = e− x 2 + c1 . Lebih lanjut. maka terbukti bahwa (ln|y|)’ = y’/y.

Untuk kasus c = 0. diperoleh selesaian y ≡ 0. maka akan diperoleh Selesaian ini menyatakan keluarga kurva berbentuk lonceng. 2-6 .ea+b = eaeb. Dengan memilih ec1 = c jika y > 0 dan ec1 = -c jika y < 0.

seperti (y/x)3. Ini berlaku untuk persamaan yang berbentuk (5) y’ = g(y/x). 2-7 . sin(y/x) dan sebagainya.y x Gambar Selesaian PD y’ = -2xy 2.2 Reduksi ke Bentuk Terpisah Ada beberapa PD orde satu yang tidak terpisah. kita bisa mengubahnya menjadi PD terpisah. di mana g suatu fungsi (y/x) yang diketahui. dengan tetap mengingat bahwa y dan u merupakan fungsi dari x. Bentuk persamaan ini menyarankan kepada kita untuk mengambil substitusi y/x = u. Jadi y = ux. tetapi dengan melakukan perubahan variabel.

y2 + x2 = 0. 2-8 . Sekarang kita bisa melakukan pemisahan variabel u dan x dan diperoleh du dx = . Penyelesaian: Pembagian dengan x2. Dengan memasukkan (6) dalam persamaan (5) dan mengingat bahwa g(y/x) = g(u) diperoleh u + u’x = g(u).u2 + 1 = 0 atau 2xuu’ + u2 + 1 = 0. Contoh 4 Selesaikan PD: 2xyy’ . x x 2 Jika diambil u = y/x. menghasilkan 2 y  y y '−  + 1 = 0. g (u ) − u x Jika diintegralkan dan kemudian disubstitusikan kembali u dengan y/x akan diperoleh selesaian (5).Dengan penurunan diperoleh (6) y’ = u + u’x. dengan (6) persamaan menjadi 2u(u + u’x) .

Dengan pemisahan variabel dan pengintegralan diperoleh 1   1 − dv = 2dx dan  4v + 11  1 v − ln 4v + 11 = 2 x + c1 . 4 2-9 . Ambil x .Dengan pemisahan variabel akan diperoleh 2udu dx =− .2y = v. Penyelesaian.c/2)2 + y2 = c2/4.4y + 5)y’ + x . Dengan mengganti kembali u dengan y/x. 2 x 1+ u Jika diintegralkan diperoleh ln(1 + u2) = -ln|x| + c* atau 1 + u2 = c/x. diperoleh x2 + y2 = cx atau (x . maka y’ = ½(1 . Contoh 5 Selesaikan PD: (2x .2y + 3 = 0.v’) dan persamaan menjadi (2v + 5)v’ = 4v + 11.

2y. xy’ = e-xy. y = ln x − C x 7. xy’ = x + y 2.2 1. 1 ( y − x ) 2 + 5( y − x ) − 6 x + C = 0 2 2-10 . Kunci Jawaban Latihan 2.8y + ln|4x . Selesaikan: 1. y = x(lnx+C) x ln x + C 2. y =x(arcsinx+C) 5. Gunakan Transformasi yang diberikan dan selesaikan PD-nya: 5. x2y’ = x2 – xy + y2 3. kita bisa menuliskan -4x . xy’ = y + x2sec(y/x) 4. xy’ = y + x5ex/4y3.y 6.Karena v = x . y’ = (y-x)2 7. y = x − 3.8y + 11| + c = 0. y ' = y − x +1 y− x+5 (xy = v) (y-x = v) (y-x = v). Latihan 2.

y) = c. ∂y Misal M dan N terdefinisikan dan mempunyai turunan parsial pertama yang kontinu dalam suatu daerah di bidang xy yang batas-batasnya berupa kurva tutup yang tidak mempunyai irisan mandiri (self-intersections). Maka dari (10) diperoleh ∂M ∂ 2u = .y).y)dy = 0 disebut PD eksak jika ruas kirinya adalah diferensial total atau diferensial eksak (8) du = ∂u ∂u dx + dy ∂x ∂y dari suatu fungsi u(x.2. Dengan membandingkan (7) dan (8) kita mengetahui bahwa (7) adalah PD eksak jika ada suatu fungsi u(x. ∂y ∂y∂x ∂N ∂ 2u = . ∂x ∂x∂y 2-11 .y) sedemikian hingga (10) (a) ∂u =M ∂x (b) ∂u = N.3 Persamaan Diferensial Eksak Suatu PD orde satu yang berbentuk (7) M(x. Dengan pengintegralan akan diperoleh selesaian umum dari (1) yang berbentuk (9) u(x.y)dx + N(x. Maka PD (7) dapat ditulis dengan du = 0.

Untuk menentukan k(y). gunakan (10b) untuk mendapatkan dk/dy. maka dua turunan kedua di atas adalah sama. Secara sama kita bisa menggunakan rumus (10b) untuk mendapatkan rumus (12*) yang mirip dengan (12) yaitu (12*) u = ∫ Ndy + l( x ).y) dapat ditemukan dengan perkiraan atau dengan cara sistematis seperti berikut. dan integralkan. y dipandang sebagai suatu konstan. kita turunkan ∂u/∂y dari (12).Dengan asumsi kontinuitas. Persamaan di atas ditulis dalam bentuk (7). yaitu (y+4)dx + xdy = 0. dan k(y) berperan sebagai konstan integrasi. Dari (10a) dengan pengintegralan terhadap x dalam pengintegralan ini. diperoleh (12) u = ∫ Mdx + k ( y ). dan intergralkan. Rumus (12) diperoleh dari (10a). Untuk menentukan l(x) kita turunkan ∂u/∂x dari (12*). Jika (7) eksak. Contoh 6 Selesaikan xy’ + y + 4 = 0. maka fungsi u(x. ∂y ∂x Syarat ini bukan hanya perlu tetapi juga cukup untuk Mdx+Ndy menjadi diferensial total. Jadi (11) ∂M ∂N = . gunakan (10a) untuk mendapatkan dl/dx. Penyelesaian. Kita lihat bahwa 2-12 .

rumus di atas diturunkan terhadap x dan gunakan rumus (10a) untuk mendapatkan ∂u dl = y+ ∂x dx =M = y + 4. N = x. Untuk menentukan l(x). 2-13 .M = y+4. Jadi selesaian umum PD berbentuk u = xy+l(x) = xy+4x+c* = konstan. = ∫ xdy + l( x ). Pembagian dengan x menghasilkan y = c/x+4. dan Jadi (11) dipenuhi. sehingga persamaannya adalah eksak. atau l = 4x+c*. Jadi dl/dx = 4. Dari (12*) diperoleh u = ∫ Ndy + l( x ). = xy+l(x).

dy .Catatan: Persamaan di atas bisa ditulis menjadi ydx + xdy = -4dx. Ruas kiri adalah diferensial total dari xy. Dengan (11) terbukti bahwa PDnya eksak. sehingga jika diintegralkan akan diperoleh xy = -4x+c. k = y2 + c * Selesaian umumnya adalah u = konstan atau 2-14 . Penyelesaian. Dari (12) diperoleh u = ∫2xsin3ydx+k(y) = x2sin3y+k(y). Jika diturunkan terhadap y diperoleh ∂u dk = 3x 2 cos 3y + ∂y dy = 3x 2 cos 3y + 2 y. yang sama dengan penyelesaian dengan menggunakan metode sistematis. Jadi dk = 2 y. Contoh 7 Selesaikan PD: 2xsin3ydx + (3x2cos3y+2y)dy = 0. yaitu d(xy).

y) = c secara implisit. seperti persamaan semula atau tidak. Jadi PDnya tidak eksak. Dan dilihat apakah akan menghasilkan dy/dx = -M/N atau Mdx + Ndy = 0. 2-15 . Contoh 8. Perhatikan! Metode kita memberikan selesaian dalam bentuk implisit u(x.x2sin3y + y2 = c. kita turunkan u(x. Kasus tidak eksak Perhatikan PD ydx-xdy=0.y) = c = konstan. bukan dalam bentuk eksplisit y = f(x). Dalam kasus demikian metode kita tidak berlaku: dari (12). Untuk mengeceknya. Terlihat bahwa M=y dan N=-x sehingga ∂M/∂y = 1 tetapi ∂N/∂x=-1. u = ∫Mdx+k(y) = xy+k(y).

Latihan 2. Metode ini akan dibahas dalam pasal berikutnya. (x+2y)dx + (y2+2x)dy = 0 2. mungkin bisa diubah menjadi eksak dengan dibagi/dikalikan dengan suatu fungsi tertentu (yang cocok). Jika suatu PD itu eksak. (3+y+2y2sin2x)dx – (ysin2x-2xy-x)dy = 0 5. maka kita bisa mengubah menjadi tak eksak dengan membagi dengan suatu fungsi tertentu. 2y(x-y)dx + x(x-4y)dy = 0 3. xdx+ydy=0 adalah PD eksak. tetapi dengan membagi dengan y akan diperoleh PD tak eksak x/ydx+dy=0.3 Tunjukkan bahwa PD berikut eksak dan tentukan selesaian umumnya 1. Jika digunakan (12*) juga akan menghasilkan hal yang sama. Hal ini tidak mungkin. (xcosy-x2)dy + (sinx-2xy+x2)dx = 0. Untuk menyelesaikan PD tak eksak yang demikian ini diperlukan metode yang lain.sehingga ∂u/∂y = x+k’(y). Demikian juga suatu PD tak eksak. (xey-e2y)dy + (ey-x)dx = 0 7. 2-16 . karena k(y) hanya fungsi dari y saja. Sebagai contoh. xcos(xy)dy + (2x+ycos(xy))dx = 0 6. Ini harus sama dengan N=-x. (xsiny-y2)dy – cosy dx = 0 4.

faktor integrasi bisa diperoleh dengan melakukan pemeriksaan. sebagaimana kita lihat berikut ini.y) (≡ 0). faktor integrasi dapat ditentukan dengan cara yang sistematis. tetapi jika dikalikan dengan F(x. Fungsi ini disebut faktor integrasi dari (13). Untuk ini perlu diingat beberapa diferensial seperti dalam contoh 9 berikut.4 Faktor Integral Persamaan Differensial: y-1dx+2xdy = 0 adalah tak eksak. Dalam kasus-kasus khusus yang penting.2. diperoleh PD eksak: x-1dx+2ydy = 0.y) = y/x. yang jika diselesaikan dengan metode kita.y)dy = 0. Contoh 9 Selesaikan: xdy-ydx = 0. Berdasarkan pengalaman. Penyelesaian. adalah tidak eksak. Hal ini mengilustrasikan bahwa kadang-kadang suatu PD berbentuk (13) P(x. 2-17 .y)dx+Q(x. diperoleh lnx+y2 = c. tetapi bisa dibuat eksak dengan mengalikan dengan fungsi (yang cocok) yang berbentuk F(x.

Penyelesaian. Penyelesaian yang bersesuaian dengan faktor-faktor integral itu berturut-turut adalah: x/y=c. xy  x y  xdy − ydx  d  arctan  = 2 . dan arctan(y/x)=c. x x + y2  maka fungsi-fungsi 1/y2. y2 x  y  xdy − ydx d  ln  = .PD di atas adalah bukan PD eksak. dan 1/(x2+y2) adalah faktor-faktor integrasi dari PD di atas. Tentukan faktor-faktor integrasi yang lain dari PD pada contoh 9. 2-18 . Karena  y  ydx − xdy d  = . 1/xy. Ketiga penyelesaian di atas secara esensial adalah sama karena masing-masing menyatakan keluarga garis lurus yang melalui titik asal. sehingga diperoleh F(x)(xdy-ydx) = Contoh 10 xdy − ydx x2  y = d   = 0. x y = cx. ln(y/x)=c. Suatu faktor integrasi yang cocok adalah F = 1/x2.

diperoleh (15) 1 dF 1  ∂P ∂Q   − =  . Jadi syarat keeksakan ∂M/∂y = ∂N/∂x menjadi (14) ∂ ∂ ( FP ) = ( FQ ). jika kita mempunyai satu faktor integral F dari PD (9). katakan x. diferensial yang lain adalah H(FPdx+Fqdy) = H(u)du. Tetapi kita akan mengamati suatu faktor integral yang hanya bergantung pada satu variabel. F dx Q   ∂y ∂x  2-19 .y) faktor integrasi dari (9).y) adalah faktor integrasi yang lain dari (9). Karena FPdx+FQdy adalah diferensial du untuk suatu fungsi u. dan untuk sebarang H(u). maka FPdx+FQdy = 0 Adalah suatu PD eksak. kita selalu dapat memperoleh faktor-faktor integral yang lainnya. ∂y ∂x Hal ini lebih komplek daripada jika persamaan (13) diselesaikan sehingga kurang praktis.Contoh di atas mengilustrasikan bahwa. Ini menunjukkan bahwa H(u)F(x. Jadi (14) menjadi F ∂P dF ∂Q = Q+F . Jika F(x. ∂y dx ∂x Dengan membagi dengan FQ dan pengurutan kembali.

(4x+3y2)dx + 2xydy = 0. Jika (13) sedemikian hingga ruas kanan dari (15) hanya bergantung pada x. yang diperoleh dengan menyelesaikan (15). Q = 2xy. (b). yang diperoleh dengan menyelesaikan 1 dF 1  ∂Q ∂P   =  − . Ruas kanan dari (3) adalah (6y-2x)/(2xy) = 2/x. 2-20 . maka ∂P/∂y=6y. Karena ∂P/∂y ≠ ∂Q/∂x maka bukan PD eksak. F dy P   ∂x ∂y  Contoh 11. Faktor integral F(x) Selesaikan (16) Penyelesaian. Jika (13) sedemikian hingga (∂Q/∂x-∂P/∂y)/P hanya bergantung pada y. maka (13) mempunyai suatu faktor integrasi F(y).Ini membuktikan: Teorema 1 (Faktor integrasi hanya bergantung pada satu variabel) (a). P = 4x+3y2. maka (13) mempunyai suatu faktor integrasi F(x). maka ∂Q/∂x = 2y.

sehingga (16) mempunyai suatu faktor integrasi F(x). Kalikan (16) dengan x2. exy Tentukan suatu faktor integral yang sesuai dan selesaikan PD-nya: 4. 1 dF 2 = . Penerapan yang terpenting dalam metode faktor integral adalah dalam penyelesaian PD linier. 2dx-ey-xdy = 0 5.4 Tunjukkan bahwa fungsi yang diberikan adalah suatu faktor integrasi dan selesaikan PD nya: 1. cosxdx+sinxdy = 0 2-21 . x 2. (y+1)dx-(x+1)dy = 0 Gunakan Teorema 1 dan selesaikan PD-nya 6. sinydx+cosydy=0. Latihan 2. 2ydx+xdy = 0. yaitu PD yang berbentuk y’ + p(x)y = r(x). 1/x2 3. Selesaian PD eksak ini adalah x4+x3y2 = c. F ( x) = x 2 . Dengan (15). F dx x ln F = 2 ln x .yang hanya fungsi dari x saja. y2dx+(1+xy)dy=0. diperoleh PD eksak 4x3dx+(3x2y2dx+2x3ydy) = 0.

Faktor integral: f(x) = x Selesaian: x3 ey+x2y=C 2. Faktor integral: f(x) = ex. 2-22 . Selesaian untuk PD homogen (18) y’ + p(x)y = 0.4 4. jika tidak demikian maka disebut nonhomogen. mudah dicari dengan pemisahan variabel: dy/y = -p(x)dx sehingga lny= -∫p(x)dx+c* atau (19) y(x) = ce-∫p(x)dx (c=±ec* jika y ≥ 0). (3xey+2y)dx+(x2ey+x)dy = 0.5 PD Linier orde satu PD orde satu dikatakan linier jika dapat ditulis dalam bentuk (17) y’ + p(x)y = r(x). Jika r(x)≡0. maka disebut PD linier homogen. Kunci Jawaban Latihan 2. dimana p dan r fungsi-fungsi x yang kontinu pada suatu interval. Selesaian : 2ex-ey=C 5. Faktor integral: f(x) = (1+x)-2 Selesaian: C(x+1)-y=0 7.7.

Dari sini. sehingga 2-23 . Jadi F(x) = eh(x) dimana h(x) = ∫p(x)dx. Dengan pemisahan variabel dan pengintegralan diperoleh: dF/F = pdx.disini kita bisa memilih c=0 yang bersesuaian dengan selesaian y ≡ 0. Jadi (17) dikalikan dengan F = eh dapat ditulis eh (y’+h’y) = ehr. Tetapi dengan dalil rantai : (ehy)’ = ehy’+ehh’y. Ini berbentuk Pdx+Qdy = 0. Jadi (19) tinggal menjadi 1 dF = p( x ). lnF=∫p(x)dx. dimana P=py-r dan Q=1. F dx Teorema 1 mengakibatkan bahwa faktor integral F(x) hanya bergantung pada x. kita bisa menuliskan dalam bentuk (py-r)dx+dy = 0. h’ = p. Untuk selesaian PD nonhomogen (17).

diperoleh: (20) y(x) = e-h[∫ehrdx+c]. sehingga diperoleh (y’-y)e-x = (ye-x)’ = e2xe-x = ex integralkan kedua ruas untuk mendapatkan selesaian yang sama dengan yang di atas: 2-24 . diperoleh ehy = ∫ehrdx+c. Dengan pengintegralan. Di sini P = -1. h = ∫pdx = -x Dan dari (20) diperoleh selesaian umum y(x) = ex[∫e-x e2x dx+c] = ex[ex+c] = cex+e2x.(ehy)’ = ehr. Contoh 12 Selesaikan PD linier y’-y = e2x. r = e2x. kita kalikan persamaannya dengan eh=e-x. Penyelesaian. Ini menyatakan selesaian umum dari (17) dalam bentuk suatu integral. h = ∫p(x)dx. Jika kedua rusuk dibagi dengan eh. Cara yang lain.

Jadi p = 1/x. Penyelesaian. Latihan 5 Selesaikan PD linier orde satu 2-25 . Persamaan ditulis dalam bentuk (17): y’+(1/x)y = -4/x. eh = x. e-h = 1/x. Dari sini. sehingga y = e2x+cex. Cocok dengan contoh 12.ye-x = ex+c. sehingga h = ∫pdx = lnx. Contoh 13 Selesaikan xy’+y+4 = 0. r = -4/x. dengan (20) diperoleh selesaian umum: y(x) = 1/x[∫x(-4/x)dx+c] = c/x-4.

y’+2y+y2=0. y’+(2x-1)y = xy2+(x-1) 2. 2-26 .1. y’+(2-1/x)y = y2-2/x 5. y’+(2x4-1/x))y = x3y2+x5 3. y’-2y/x = -y2/x+x2 4.

dapat diubah menjadi terpisah dengan substitusi y/x = u. Selesaian: ∫ g ( y)dy = ∫ f ( x)dx + c.1 Persamaan diferensial terpisah Bentuk : g(y) dy = f(x) dx. di mana g suatu fungsi (y/x) yang diketahui. 2.2 Reduksi ke Bentuk Terpisah Persamaan tak terpisah yang berbentuk y’ = g(y/x).RINGKASAN BAB II PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDE SATU 2. g (u ) − u x 2-27 . sehingga menjadi bentuk terpisah du dx = .

y) untuk mendapatkan dl/dx.y)dy = 0 disebut PD eksak jika memenuhi ∂M ∂N = . xdx+ydy=0 adalah PD eksak. Secara sama. Selesaiannya berbentuk u(x. Untuk menentukan l(x) kita turunkan ∂u/∂x dan gunakan kesamaan ∂u/∂x = M(x. ∂y ∂x Jika tidak demikian. Untuk menentukan k(y). Sebagai contoh.y) = c. kita turunkan ∂u/∂y gunakan kesamaan ∂u/∂y = N(x. u dapat ditentukan dengan u = ∫ Ndy + l( x ).4 Persamaan Diferensial Eksak Suatu PD orde satu yang berbentuk M(x. dengan k(y) suatu fungsi dari y saja.y) untuk mendapatkan dk/dy. kemudian integralkan. kemudian intergralkan. Jika suatu PD itu eksak.y)dx + N(x. dimana u = ∫ Mdx + k ( y ). 2-28 . tetapi dengan membagi dengan y akan diperoleh PD tak eksak x/ydx+dy=0.2. maka disebut PD tak eksak. maka kita bisa mengubah menjadi tak eksak dengan membagi dengan suatu fungsi tertentu.

hanya bergantung pada x saja. maka faktor integrasi F(x) dari Q ∂ y ∂ x   PD tersebut hanya bergantung pada x saja. (15) 1 dF 1  ∂P ∂Q   =  − .y)dx+Q(x. (∂Q/∂x-∂P/∂y)/P hanya bergantung pada y. 2-29 . 2. yaitu ∫ F(x) = e 1  ∂P ∂Q   −   dx Q  ∂y ∂x  (b).Demikian juga suatu PD tak eksak. 1  ∂P ∂Q    − .y)dx+Q(x. bisa dibuat eksak dengan mengalikan dengan fungsi (yang cocok) yang berbentuk F(x.y)dy = 0. maka faktor integrasi F(y) dari PD tersebut hanya bergantung pada y saja yaitu F ( y) = e ∫ 1  ∂Q ∂P    dy −  P  ∂x ∂y  .y) (≡ 0). F dx Q   ∂y ∂x  Teorema 1 (Faktor integrasi hanya bergantung pada satu variabel) Jika P(x.4 Faktor Integral PD tidak eksak P(x. mungkin bisa diubah menjadi eksak dengan dibagi/dikalikan dengan suatu fungsi tertentu (yang cocok).y)dy = 0 suatu PD tak eksak sedemikian hingga: (a). Fungsi ini disebut faktor integrasi.

Selesaian umum PD homogen y’ + p(x)y = 0. dimana p dan r fungsi-fungsi x yang kontinu pada suatu interval. Jika r(x)≡0. dengan h = ∫p(x)dx.5 PD Linier orde satu Bentuk umum PD orde satu linier : y’ + p(x)y = r(x). jika tidak demikian maka disebut nonhomogen. adalah y(x) = ce-∫p(x)dx Selesaian umum PD nonhomogen y’ + p(x)y = r(x). maka disebut PD linier homogen. adalah y(x) = e-h[∫ehrdx+c]. 2-30 .2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful