P. 1
Saum Dan Kesehatan

Saum Dan Kesehatan

|Views: 3|Likes:
Published by Mely Eka Jayanti

More info:

Published by: Mely Eka Jayanti on Jun 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/24/2013

pdf

text

original

TUGAS

BACALAH TIGA TULISAN SINGKAT DI BAWAH, KEMUDIAN IDENTIFIKASI DAN TULISKAN HAL-HAL YANG MENURUT SAUDARA/SAUDARI DIPANDANG PENTING TERKAIT DENGAN IBADAH PUASA

KUMPULKAN TANGGAPAN SAUDARA/SAUDARI, MASUKKAN KE MAP DAFTAR HADIR DAN TARUH DI KONTER ABSEN DI BAWAH

SAUM DAN KESEHATAN Oleh Prof. Dr. dr. H.A. Himendra W./Sumber : Harian Pikiran Rakyat(Senin, 2 Oktober 2006) DALAM perspektif kesehatan rohani (jiwa), saum Ramadan mendidik jiwa seorang mukmin untuk meningkatkan kualitas ketakwaannya kepada Allah SWT. Ramadan menguatkan jiwanya menjadi seorang yang tegar, pantang menyerah dalam menjalani kehidupan. Saum membersihkan rohani kita dengan menanamkan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar dan jujur, beramal ikhlas, disiplin, menghindari sifat tamak dan rakus, percaya kepada diri sendiri, mendidik sportivitas yang tinggi, dsb. Oleh sebab itu, para ulama menamakan pula Ramadan dengan sebutan Syahrut Tarbiyyah (bulan Allah mendidik manusia). Hanya saja, sering kali manusia terjebak dan dikuasai hawa nafsu dalam menjalani kehidupannya; terjebak pada nafsu harta, takhta, dan wanita. Manusia yang menjadi hamba hawa nafsu, tidak lagi melihat sesuatu dengan kacamata benar dan salah, baik dan buruk, halal dan haram. Dampaknya, manusia model ini mengganggu, merusak, dan merugikan orang lain. Saum Ramadan pada hakikatnya juga adalah memerangi hawa nafsu dalam arti mengendalikannya, bukan membunuh hawa nafsu. Berperang melawan hawa nafsu merupakan perjuangan yang berat, kata Rasulullah saw., jika dilakukan tanpa niat yang tulus dan ikhlas hanya untuk menggapai rida Allah semata. Kekalahan manusia dalam mengendalikan hawa nafsunya, maka ia akan menuhankan hawa nafsu itu, akibatnya manusia menjadi sesat dan menyesatkan orang lain. Inilah inti ayat Alquran yang menegur manusia untuk tidak terjebak pada hawa nafsu (QS 45:23) Saum Ramadan, pada intinya mendidik manusia mengendalikan hawa nafsunya. Saum membuat jiwanya kuat, manusia memperoleh derajat yang tinggi di sisi-Nya dan inilah yang menjadikannya mampu membuka pintu-pintu langit, sehingga segala pinta dalam doa yang dimohonkannya pasti dikabulkan Allah SWT. Rasulullah saw., bersabda, "Ada tiga golongan orang yang tidak akan ditolak doa mereka, yaitu doa orang saum sampai ia berbuka, doa seorang pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi." (HR Tirmidzi). Dalam konteks ini, Rasulullah saw. menyatakan bahwa perut kita harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara. Simaklah Alquran Surah Al-A'raaf ayat 31) dan sabda Nabi Muhammad saw., "Kita ini adalah kaum yang makan bila lapar dan makan tidak kenyang." Berdasarkan ayat Alquran dan hadis di atas, maka saum Ramadan berpotensi dalam mencegah penyakit akibat dari pola makan yang berlebihan. Hikmah saum Ramadan yaitu: 1. Mengistirahatkan sejenak organ pencernaan manusia selama sebulan, karena saat tidak saum maka pencernaan di dalam tubuh manusia telah bekerja keras. 2. Tubuh melakukan detoksifikasi (mengeluarkan zat-zat yang berbahaya bagi tubuh). Saum Ramadan memberikan batasan bagi kalori yang masuk ke dalam tubuh manusia, sehingga tubuh dapat menghasilkan enzim-enzim antioksidan yang bermanfaat untuk membersihkan zat-zat beracun dan karsinogen dan kemudian mengeluarkannya dari dalam tubuh manusia. Di samping meningkatkan jumlah sel darah putih yang berfungsi menangkal penyakit dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. 3. Menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh serta memperbaiki fungsi hormon, meremajakan sel-sel tubuh, dan meningkatkan fungsi organ tubuh. Kegiatan ibadah Saum hendaknya disempurnakan dengan menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Aktivitas itu menjadi sangat penting dalam perspektif kesehatan. Rasulullah menganjurkan ketika berbuka dengan memakan dan minum yang manis. Wallahu a'lam bishshawab.

SAUM DAN KEBERSIHAN Oleh K.H. Abdullah Gymnastiar: Sumber Pikiran Rakyat On Line BULAN Ramadan adalah bulan pelatihan, bulan training center yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membuat akhlak dan pribadi kita menjadi lebih bersih dan indah. Ramadan merupakan sebuah kesempatan yang telah Allah berikan bagi kita untuk memperbaiki sikap dan perilaku kita. Pantang bagi kita menyia-nyiakan perpindahan detik demi detik di bulan Ramadan ini tanpa amalan apa pun. Ramadan ini sungguh sangat berharga bagi kita sehingga kita harus memperhitungkan agar setiap ucapan, pikiran, dan perilaku kita menjadi amal saleh. Mari kita awali bulan Ramadan ini dengan menata kebersihan diri, melatih diri untuk senantiasa hidup bersih lahir batin adalah suatu tuntunan yang harus dijalani. Namun, langkah itu sangat bergantung pada keseriusan dan tekad diri kita sendiri. Pola hidup bersih harus berawal dari diri sendiri. Mulailah berlatih hidup bersih dari hati, lisan, sikap, dan tindakan. Berusahalah agar setiap untaian kata yang keluar dari lisan kita penuh makna. Hindari kata-kata kotor, keji, dan tidak senonoh. Sebab, setiap kali kita bicara kotor, layout wajah bisa mendadak berubah menjadi buruk. Makin bersih hidup kita, kita akan semakin peka. Coba lihat cermin yang bersih! Satu titik noda menempel padanya akan cepat ketahuan. Akan tetapi kalau cermin kotor, penuh noda dan debu, digunakan untuk melihat wajah sendiri saja susah. Makin bersih diri kita, insya Allah kita akan lebih peka melihat aib dan kekurangan diri sendiri. Bahkan, kita akan lebih peka terhadap peluang amal dan ilmu. Sebaliknya, bagi yang kotor hati, jangankan untuk melihat kekurangan orang lain, melihat kekurangan diri saja tidak mampu. Orang yang hidup kotor, sekalipun sering melanggar larangan Allah, tidak pernah merasa diri banyak dosa. Dia tidak pernah merasa bersalah dan mempunyai kekurangan. Kesalahan dia lihat pada orang lain melulu. Itulah buah dari hidup kotor. Harta kotor, pikiran kotor, dan kelakuan kotor menghasilkan ”cermin” kotor. Hidup seperti ini tentu sangat jauh dari kebahagiaan dan kemuliaan. Nabi Muhammad saw., adalah figur pribadi yang bersih tubuh, bersih pikiran, bersih ucapan, dan bersih hati. Tutur kata beliau penuh makna, jauh dari sia-sia. Akan tetapi, sikap dan penampilan beliau juga senantiasa rapi, bersih, dan bersahaja. Setiap kali berwudu, Rasulullah selalu bersiwak (menggosok gigi). Sesudah makan, beliau juga bersiwak dan menjelang tidur pun beliau bersiwak. Rasulullah tekun memelihara kebersihan tubuhnya. Tidak ada satu pun keterangan yang menyebutkan bahwa tubuh beliau kotor dan kusam. Bahkan, keringatnya pun harum. Saking harumnya, menurut salah satu riwayat, sampai-sampai istri beliau sangat ingin menampung keringatnya. Dalam urusan-urusan kecil pun Rasulullah senantiasa memberikan keteladanan. Beliau menganjurkan kita agar menggunting kuku serta membersihkan bulu-bulu tubuh. Paling tidak, hal itu dilakukan setiap hari Jumat. Dalam hadis, Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya Allah itu Baik dan menyukai kebaikan, (Allah) Bersih dan menyukai kebersihan, (Allah) Pemurah dan senang pada kemurahan hati, (Allah) Dermawan dan senang kepada kedermawanan.” (H.R. Turmudzi). Dengan demikian, tidak ada lagi alasan untuk menunda-nunda hidup bersih. Mari kita jadikan detik demi detik di bulan mulia ini menjadi saat kita mampu membersihkan lisan kita, pandangan kita, hati kita, dan harta kita. Mudah-mudahan uraian ini dapat membuat kita semakin bergairah dalam menata diri menjadi pribadi bersih. Sebab, yang kita perbuat sebenarnya adalah pancaran dari kalbu kita. Seumpama sebuah teko, ia hanya akan mengeluarkan isi yang ada di dalamnya. Jika di dalamnya air kopi, yang keluar juga air kopi. Bila di dalamnya air teh, yang keluar juga air teh, begitu seterusnya. Begitu pula dengan perilaku lahiriah kita adalah cermin kalbu kita yang sesungguhnya. Ibadah saum Ramadan, saat kita dituntut semaksimal mungkin untuk dapat mengendalikan hawa nafsu, merupakan saat yang tepat untuk melatih kebersihan pribadi maupun lingkungan di sekitar kita. Apabila seorang hamba kalbunya telah bersih, bening, dan lurus, karena telah terkelola dengan baik, akan tercermin pula dari perilaku lahiriahnya. Di antaranya dapat dilihat dari raut muka atau wajah, karena kalau hati cerah, ceria, senang, tulus, dari wajah juga akan tersembul pancaran ketulusan, dan senantiasa memancar energi yang membahagiakan orang lain. Sudah seharusnya menjadi cita-cita jauh di lubuk hati kita yang terdalam untuk menekatkan diri menjadi seorang pribadi bersih hati yang selalu dicintai dan dinanti kehadirannya. Karena sungguh akan sangat berbahagia orang-orang yang sikap dan tingkah lakunya membuat orang di sekitarnya merasa aman. Karena perilaku kita adalah juga cerminan kondisi kalbu kita. Kalbu yang bening, tingkah lakunya akan bening menyenangkan pula. Hal ini tiada lain buah dari

pengelolaan kalbu yang benar, sungguh-sungguh, dan istikamah insya Allah. Selamat menikmati kebahagiaan Ramadan dan selamat berjuang menata kebersihan diri. Wallahu a'lam. RAMADAN WAHANA PENDIDIKAN Oleh : Drs. K.H. HabIb Syarief Muhammad Al-Aydrus: Sumber Pikiran Rakyat On Line RAMADAN merupakan bulan yang di dalamnya sarat dengan rahmat dan maghfirah Allah SWT. Suatu bulan di mana kemurahan Tuhan betul-betul "diobral" bagi hamba-hamba-Nya, pintu tobat terbuka lebar bagi setiap hamba yang menyadari kekhilafannya. Sejatinya, puasa bertujuan membentuk manusia agar menjadi orang-orang yang bertakwa (Q.S. 2:183). Dengan kata lain, tujuannya agar manusia itu betul-betul menjadi manusia sesuai dengan kodrat penciptaannya (Q.S. 51:56). Hal demikian sedikitnya bisa dicapai melalui tiga pendekatan: mengenali diri (ma'rifat an-nafs), mengenali orang lain (ma'rifat al-ghair), dan mengenali Tuhan (ma'rifat Allah). Ma'rifat an-nafs atau muhasabah diri merupakan sebuah media bagi setiap individu untuk menyelami keberadaan dirinya secara komprehensif mulai dari siapa dan dari mana ia datang, untuk apa dan bagaimana seharusnya ia menjalani kehidupannya, dan terakhir ke mana ia harus kembali. Dalam hal ini, pada dasarnya manusia terdiri dari dua unsur, jasmani dan rohani. Tubuh manusia berasal dari tanah, dan roh (jiwa) berasal dari substansi imateri di alam gaib. Tubuh mempunyai daya fisik atau jasmani, yaitu mendengar, melihat, merasa, meraba, mencium dan gaya gerak dan sebagainya sedangkan roh (an-nafs) mempunyai dua daya; daya berpikir yang disebut akal yang berpusat di kepala dan daya rasa yang berpusat di qalbu, yang berpusat di dada. Daya pikir, sepanjang sejarah Islam dipertajam oleh golongan cendekiawan dan filsuf Islam melalui dorongan ayat-ayat kauniyah; ayat-ayat mengenai kosmos yang mengandung perintah agar manusia banyak memikirkan dan meneliti alam sekitarnya (Q.S. 3:190). Sedangkan ibadah puasa akan mempertajam daya rasa, sebab intisari puasa ialah mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Mahasuci yakni Allah SWT. Yang Mahasuci hanya dapat didekati oleh roh yang suci. Puasa merupakan latihan untuk menyucikan ruh atau jiwa sehingga semakin banyak seseorang berpuasa secara ikhlas (hanya mengharap rida Allah), makin suci pula roh atau jiwanya. Puasa juga dapat diinterpretasikan dengan penaklukan nafsu dan amarah dengan bersabar menahan lapar dan haus sepanjang hari selama sebulan (Q.S.39:10). Ma'rifat al-ghair, dapat dilakukan dengan mengeluarkan zakat fitrah dan mal. Sebab melalui puasa orang akan merasakan sendiri bagaimana pahit dan getirnya menahan lapar dan haus. Jika dalam kurun waktu sebulan saja, -menahan lapar dan haus- merupakan suatu hal yang terasa berat, bagaimana pula dengan orang-orang yang keseharian hidupnya "dipaksa" merasakan hal tersebut secara terus- menerus? Dari sini kepekaan dan solidaritas sosial akan muncul dalam diri seseorang. Ikut merasakan penderitaan orang-orang "sekeliling" (miskin) menjadi keharusan bagi orang yang berpuasa, hingga tidak heran jika mereka terprioritaskan sebagai mustahik zakat (Q.S. 9:60). Dalam hal ini, Allah bukan hanya memberikan anjuran, namun sudah sampai pada konteks warning, "Pahala puasa seseorang tidak diterima oleh Allah sampai dia mengeluarkan zakat." Adapun ma'rifat Allah dilakukan dengan cara mengintensifkan semaksimal mungkin beragam ritual sebagai media komunikasi dengan-Nya. Sebab pada hakikatnya, semua kewajiban (ibadah) yang dibebankan Allah terhadap hambaNya memiliki "pesan moral", sehingga pelaksanaan kewajiban seringkali tidak dipandang bernilai jika pesan moralnya tidak tercapai, dengan kata lain pelaksanaan kewajiban tersebut dianggap sia-sia, sekalipun sah. Dilihat dari "kemasannya" ia memenuhi syarat, tetapi isinya tidak ada. Persis seperti padi yang tidak berisi. Secara lahiriyah ia tampak bagus, namun ketika dikupas tidak ada berasnya. Begitu pun halnya dengan puasa. Selain mempunyai keharusan meninggalkan makan, minum, dan berhubungan seksual pada siang hari, puasa juga memiliki keharusan lain yang bila tidak dipenuhi bisa membuat puasa menjadi tidak "berisi". Pesan moral inilah yang tampaknya bagi sebagian dari kita terasa berat, itu sebabnya Nabi saw, menegaskan, "Sangat banyak orang yang berpuasa, tetapi yang diperolehnya hanya lapar dan dahaga. ”Bahkan dalam riwayat lain disebutkan, Nabi saw, bersabda, "Puasa seseorang menjadi tidak berguna lantaran dia melakukan kidzb (berdusta), ghibah (ngerumpi), namimah (mengadu domba), yamiin al ghomus (sumpah palsu), dan an nadhr bi syahwat (melihat dengan nafsu)." (HR. Anas bin Malik).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->