Hukum Sholat Ju’mat pada Hari Raya (Idul Fitri/Adha

)
Oleh KH M Shiddiq al-Jawi 1. Pendahuluan Seperti kita ketahui, terkadang hari raya Idul Fitri atau Idul Adha jatuh pada hari Jumat. Misalnya saja yang terjadi pada tahun ini (2009), Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah 1430 H akan jatuh pada hari Jumat 27 Nopember 2009. Di sinilah mungkin di antara kita ada yang bertanya, apakah sholat Jumat masih diwajibkan pada hari raya? Apakah kalau seseorang sudah sholat Ied berarti boleh tidak sholat Jumat? Tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu dengan melakukan penelusuran pendapat ulama, dalil-dalilnya, dan pentarjihan (mengambil yang terkuat) dari dalil-dalil tersebut. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum shalat Jumat yang jatuh bertepatan dengan hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Dalam kitab Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf Al A`immah karya Imam Ad Dimasyqi, disebutkan bahwa : “Apabila hari raya bertepatan dengan hari Jumat, maka menurut pendapat Imam Asy Syafi‟i yang shahih, bahwa shalat Jumat tidak gugur dari penduduk kampung yang mengerjakan shalat Jumat. Adapun bagi orang yang datang dari kampung lain, gugur Jumatnya. Demikian menurut pendapat Imam Asy Syafi‟i yang shahih. Maka jika mereka telah shalat hari raya, boleh bagi mere ka terus pulang, tanpa mengikuti shalat Jumat. Menurut pendapat Imam Abu Hanifah, bagi penduduk kampung wajib shalat Jumat. Menurut Imam Ahmad, tidak wajib shalat Jumat baik bagi orang yang datang maupun orang yang ditempati shalat Jumat. Kewajiban shalat Jumat gugur sebab mengerjakan shalat hari raya. Tetapi mereka wajib shalat zhuhur. Menurut „Atha`, zhuhur dan Jumat gugur bersama -sama pada hari itu. Maka tidak ada shalat sesudah shalat hari raya selain shalat Ashar.” Ad Dimasyqi tidak menampilkan pendapat Imam Malik. Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid menyatakan pendapat Imam Malik sama dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Disebutkannya bahwa,“Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat,”Jika berkumpul hari raya dan Jumat, maka mukallaf dituntut untuk melaksanakannya semuanya….” Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa dalam masalah ini terdapat 4 (empat) pendapat : Pertama, shalat Jumat tidak gugur dari penduduk kota (ahlul amshaar / ahlul madinah) yang di tempat mereka diselenggarakan shalat Jumat. Sedang bagi orang yang datang dari kampung atau padang gurun (ahlul badaawi / ahlul „aaliyah), yang di tempatnya itu tidak dilaksanakan shalat Jumat, gugur kewajiban shalat Jumatnya. Jadi jika mereka –yakni orang yang datang dari kampung — telah shalat hari raya, boleh mereka terus pulang, tanpa mengikuti shalat Jumat. Inilah pendapat Imam Syafi‘i. Ini pula pendapat Utsman dan Umar bin Abdul Aziz. Kedua, shalat Jumat wajib tetap ditunaikan, baik oleh penduduk kota yang ditempati shalat Jumat maupun oleh penduduk yang datang dari kampung. Ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Jadi, shalat Jumat tetap wajib dan tidak gugur dengan ditunaikannya shalat hari raya. Ketiga, tidak wajib shalat Jumat baik bagi orang yang datang maupun bagi orang yang ditempati shalat Jumat. Tetapi mereka wajib shalat zhuhur. Demikian pendapat Imam Ahmad. Keempat, zhuhur dan Jumat gugur sama-sama gugur kewajibannya pada hari itu. Jadi setelah shalat hari raya, tak ada lagi shalat sesudahnya selain shalat Ashar. Demikian pendapat ‗Atha` bin Abi Rabbah. Dikatakan, ini juga pendapat Ibnu Zubayr dan ‗Ali.

2. Pendapat Yang Rajih Kami mendapatkan kesimpulan, bahwa pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, rahimahullah. Rincian hukumnya adalah sebagai berikut: Hukum Pertama, jika seseorang telah menunaikan shalat hari raya -yang jatuh bertepatan dengan hari Jumat- gugurlah kewajiban atasnya untuk menunaikan shalat Jumat. Dia boleh melaksanakan shalat Jumat dan boleh juga tidak.

maka tidak perlu shalat Jumat. kecuali At Tirmidzi. Mungkin ada pertanyaan.Hukum Kedua. maksudnya shalat Jumat boleh dikerjakan dan boleh tidak. shahih). yang diperselisihkan ulama. Yakni. cukuplah baginya shalat hari raya itu. Keterangan Hukum Pertama Mengenai gugurnya kewajiban shalat Jumat bagi mereka yang sudah melaksanakan shalat hari raya. Mafhum mukhalafah (ungkapan tersirat) dari hadits itu dalam hal ini berupa mafhum syarat. wajib atasnya untuk menunaikan shalat Jumat. bagi mereka yang telah menunaikan shalat hari raya tersebut. Dan sesungguhnya kami akan mengerjakan Jumat. Hukum Ketiga. disertai tetapnya hukum azimah namun hamba tidak diharuskan mengerjakan rukshshah itu. Jadi shalat Jumat pada saat hari raya. tidak boleh meninggalkan zhuhur. sehingga boleh dikerjakan dan boleh pula tidak dikerjakan. hendaklah dia shalat.‖ [Qad ijtama'a fii yawmikum haadza 'iidaani. tidak dibenarkan baginya untuk meninggalkan shalat Jumat. Dalam hal ini tidak ada dalil yang . rukhshah adalah hukum yang disyariatkan untuk meringankan hukum azimah (hukum asal) karena adanya suatu udzur (halangan). orang yang telah menjalankan shalat hari raya. Namun karena rukhshah itu tidak menghilangkan azimah sama sekali. mereka yang pada pagi harinya tidak melaksanakan shalat hari raya.‖ Kesimpulannya. apakah gugurnya shalat Jumat ini hanya untuk penduduk kampung/desa (ahlul badaawi / ahlul „aaliyah) –yang di tempat mereka tidak diselenggarakan shalat Jumat– sedang bagi penduduk kota (ahlul amshaar / ahlul madinah) —-yang di tempat mereka diselenggarakan shalat Jumat– tetap wajib shalat Jumat ? Yang lebih tepat menurut kami. Ulama hadits lain menilainya hadits mursal). lebih utama dan disunnahkan tetap melaksanakan shalat Jumat. dalilnya adalah hadits-hadits Nabi SAW yang shahih. Dia boleh menunaikan shalat Jumat dan boleh juga tidak. gugurlah kewajiban atasnya untuk menunaikan shalat Jumat.adalah ―barangsiapa yang tidak berkehendak shalat Jumat. 2.‖ [Shallan nabiyyu shallallaahu 'alayhi wa sallama al 'iida tsumma rakhkhasha fil jumu'ati tsumma qaala man syaa-a an yushalliya falyushalli] (HR. gugurnya kewajiban shalat Jumat ini berlaku secara umum. Kemudian Nabi berkata. Maka barangsiapa berkehendak (shalat hari raya). Yang demikian itu karena nash-nash hadits di atas bersifat umum. Hal ini diperkuat dan diperjelas dengan sabda Nabi dalam kelanjutan hadits Zayd bin Arqam di atas ― man syaa-a an yushalliya falyushalli‖ (barangsiapa yang berkehendak [shalat Jumat]. menjadi rukhshah. yaitu dengan adanya lafahz ―man‖ (barangsiapa/siapa saja) yang mengandung arti umum. karena ada lafazh ―man‖ sebagai syarat. menjadi rukhshah. wajib melaksanakan shalat zhuhur. hadits ini shahih. Diriwayatkan dari Abu Hurayrah RA bahwa Nabi SAW bersabda : ―Sungguh telah berkumpul pada hari kalian ini dua hari raya. wa innaa mujammi'uun] (HR. tak perlu shalat Jumat lagi. Hadits-hadits ini merupakan dalil bahwa shalat Jumat setelah shalat hari raya. Ini menunjukkan bahwa setelah shalat hari raya ditunaikan. Pada hadits Zayd bin Arqam di atas (hadits pertama) Nabi SAW bersabda ―tsumma rakhkhasha fi al jumu‘ati‖ (kemudian Nabi memberikan rukhshash dalam [shalat] Jumat). dan dalam isnadnya terdapat Baqiyah bin Walid. Imam Ad Daruquthni menilai. Abu Dawud. fa man syaa-a ajza-a-hu minal jumu'ati. maka shalat Jumat masih tetap disyariatkan. jika orang yang telah menunaikan shalat hari raya tersebut memilih untuk tidak menunaikan shalat Jumat. Hadits ini menurut Ibnu Khuzaimah.1. baik ia penduduk kampung maupun penduduk kota. Hukum Keempat. Ini adalah manthuq (ungkapan tersurat) hadits. Menurut Syaikh Taqiyuddin An Nabhani. Al Khamsah. Ibnu Majah dan Al Hakim juga meriwayatkan hadits ini dari sanad Abu Shalih. hendaklah dia shalat). Keterangan mengenai masing-masing hukum tersebut akan diuraikan pada poin berikutnya. shalat hari raya menjadi rukhshah (kemudahan/keringanan). Dan lafazh umum tetap dalam keumumannya selama tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya. baik untuk penduduk kampung/desa maupun penduduk kota. antara lain yang diriwayatkan dari Zayd bin Arqam RA bahwa dia berkata : ―Nabi SAW melaksanakan shalat Ied (pada suatu hari Jumat) kemudian beliau memberikan rukhshah (kemudahan/keringanan) dalam shalat Jumat. Insya Allah. karena terdapat udzur berupa pelaksanaan shalat hari raya.‘Barangsiapa yang berkehendak (shalat Jumat).

maka tetaplah lafazh ―man‖ dalam hadits-hadits di atas berlaku secara umum. 3. sebab Nabi SAW sendiri telah membolehkan untuk tidak shalat Jumat. wajibkah ia shalat zhuhur ? Jawabannya. Tetapi (rukhshah) itu khusus bagi orang yang menunaikan shalat Ied. Adapun penduduk desa/kampung atau penduduk padang gurun (ahlul badawi) yang datang . tidak termasuk yang dikecualikan dari keumuman nash yang mewajibkan shalat Jumat. jika seseorang sudah shalat hari raya lalu memilih untuk meninggalkan shalat Jumat. wajib atasnya shalat Jumat. Pendapat Imam Syafi’i Pada dasarnya. tak ada yang lebih utama daripada yang lain. Ini menunjukkan bahwa meskipun Nabi SAW menjadikan shalat Jumat sebagai rukhshah.4.1. yaitu shalat zhuhur. Dalilnya adalah hadits Abu Hurayrah (hadits kedua) dimana Nabi SAW bersabda ―fa man syaa -a. Ini adalah manthuq hadits. Keterangan Hukum Kedua Bagi mereka yang sudah shalat hari raya. Wajibnya shalat zhuhur itu. akan tetapi Nabi Muhammad SAW faktanya tetap mengerjakan shalat Jumat. ajzaa-hu ‗anil jumu‘ati‖ (Maka barangsiapa yang berkehendak [shalat hari raya].mengkhususkan (takhsis) keumumannya. yakni boleh dikerjakan dan boleh tidak. tidak boleh meninggalkannya. Boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan. sehingga konsekuensinya tetap wajib hukumnya shalat Jumat. antara azimah (hukum asal) dan rukhshah kedudukannya setara. 2. 2. tak perlu shalat Jumat lagi). orang yang tidak shalat hari raya.2. mana yang lebih utama (afdhal). orang yang tidak melaksanakan shalat hari raya. hanya menggugurkan kewajiban shalat Jumat.3. maka ia wajib melaksanakan shalat zhuhur. Pada hadits Abu Hurayrah RA (hadits kedua) terdapat sabda Nabi ―innaa mujammi‘uun‖ (Dan sesungguhnya kami akan mengerjakan Jumat). tidak mendapat rukhshah. kewajiban shalat zhuhur adalah kewajiban asal (al fadhu al ashli). ia tetap dituntut menjalankan shalat Jumat. Mafhum mukhalafahnya. Tidak dibenarkan baginya untuk meninggalkan shalat Jumat. Dengan kata lain. bagi shalat zhuhur itu. kecuali terdapat nash yang menjelaskan keutamaan salah satunya. Imam Ash Shan‘ani dalam Subulus Salam ketika memberi syarah (penjelasan) terhadap hadits di atas berkata : ―Hadits tersebut adalah dalil bahwa shalat Jumat -setelah ditunaikannya shalat hari raya– menjadi rukhshah.‖ Jadi. Mereka yang tidak melaksanakan shalat hari raya. rukhshah untuk meninggalkan shalat Jumat ini khusus untuk mereka yang sudah melaksanakan shalat hari raya. tidak mencakup pengguguran kewajiban zhuhur. Maka jika hukum pengganti (badal) -yaitu shalat Jumat. wajib atasnya untuk tetap menunaikan shalat Jumat. Dengan demikian. kembalilah tuntutan syara‘ kepada hukum asalnya.tidak dilaksanakan. tidak wajib. cukuplah baginya shalat hari raya itu. dikarenakan nash-nash hadits yang telah disebut di atas. Namun beliau menetapkan kewajiban tersebut hanya berlaku bagi penduduk kota (ahlul madinah/ahlul amshaar). yakni orang yang tak melaksanakan shalat hari raya. Namun dalam hal ini terdapat nash yang menunjukkan keutamaan shalat Jumat daripada meninggalkannya. perbuatan Nabi SAW itu sifatnya sunnah. Yang dikecualikan dari keumuman nash itu adalah yang telah shalat hari raya. Keterangan Hukum Ketiga Jika orang yang sudah shalat hari raya memilih untuk meninggalkan shalat Jumat. tidak mencakup orang yang tidak menjalankan shalat Ied. 2. Imam Syafii tetap mewajibkan shalat Jumat yang jatuh bertepatan pada hari raya. Jadi. dia wajib shalat zhuhur. menunaikan shalat Jumat ataukah meninggalkannya ? Pada dasarnya. Maka dari itu. baik keutamaan azimah maupun rukhshah. Hanya saja perbuatan Nabi SAW ini tidak wajib. Padahal. Keterangan Hukum Keempat Mereka yang pada pagi harinya tidak melaksanakan shalat hari raya. yaitu kaidah hukum untuk menetapkan berlakunya hukum asal. Yang demikian itu adalah mengamalkan Istish-hab. sedang shalat Jumat adalah hukum pengganti (badal). Meninjau Pendapat Lain 3. selama tidak terdapat dalil yang mengecualikan atau mengubah berlakunya hukum asal.

sedang muhaddits lain menolaknya. baik hari raya maupun bukan. beristidlal dengan hadits Zayd bin Arqam tersebut tetap dibenarkan. Sebenarnya Imam Syafi‘i berpendapat seperti itu karena menurut beliau.‘Hadits Zayd bin Arqam telah dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah…maka hadits tersebut dapat menjadi takhsis (pengecualian)…‖ Dengan demikian. kendatipun hadits Zayd bin Arqam ditolak oleh Imam Syafi‘i. Kita juga tidak boleh menolak suatu hadits karena para ahli hadits menolaknya. Menanggapi pendapat Imam Syafi‘i tersebut. Dasar pendapat mereka sebenarnya sama dengan pendapat Imam Syafi‘i. dan statusnya menjadi tidak wajib. Namun demikian. Jadi. karena terdapat hadits Zayd bin Arqam (yang shahih menurut Ibnu Khuzaimah) atau hadits Abu Hurayrah RA (yang shahih menurut Ad Daruquthni). Dengan demikian. beliau berdua memberikan perkecualian. karena ada kemungkinan hadits itu diterima oleh ahli hadits yang lain. Tapi. beliau berdua kemudian berpegang pada hukum asal masing-masing. nampak bahwa Imam Malik dan Abu Hanifah juga tidak menerima hadits-hadits yang menerangkan gugurnya shalat Jumat pada hari raya. Dalam hal ini patut kiranya ditegaskan. jika terdapat dalil syar‘i yang menerangkannya. maka wajib merujuk kepadanya…‖ Dari keterangan itu. Beliau kemudian berpegang kepada keumuman nash yang mewajibkan shalat Jumat pada semua hari (QS Al Jumu‘ah ayat 9). sebab sanad-sanad hadits itu telah diperselisihkan oleh ulama. bahwa hadits Zayd bin Arqam adalah shahih menurut Ibnu Khuzaimah. maka sesungguhnya hadits-hadits tersebut dapat menjadi takhsis hukum asal shalat Jumat. kecuali jika terdapat ketetapan syara‘. sebagaimana penjelasan Imam Ash Shan‘ani. yakni yang semula wajib kemudian menjadi rukhshah (tidak wajib). Sehingga beliau pun tidak mengamalkannya. Saya (Ash Shan‘ani) berkata. Sebab sudah menjadi suatu kewajaran dalam penilaian hadits. yakni kesunnahan shalat Ied dan kewajiban shalat Jumat. Inilah pendapat yang lebih tepat menurut kami. sedang shalat Jumat adalah fardhu. Sebab faktanya ada ahli hadits lain yang menilainya sebagai hadits shahih. sehingga beliau tidak menjadikannya sebagai takhsis yang menggugurkan kewajiban shalat Jumat. maka mereka boleh tidak mengerjakan shalat Jumat. baik bagi penduduk kota (ahlul madinah/ahlul amshaar). Pendapat Imam Malik dan Abu Hanifah Imam Malik dan Abu Hanifah tetap mewajibkan shalat Jumat. Penolakan Imam Syafi‘i terhadap hadits Zayd bin Arqam itu tidak berarti hadits tersebut –secara mutlak– tertolak (mardud). bukan hukum asalnya.ke kota untuk shalat Ied (dan shalat Jumat). 3. karena ada kemungkinan hadits itu digunakan hujjah oleh para imam atau umumnya para fuqaha… ― Maka dari itu.2. Atas dasar itu. bahwa sebuah hadits bisa saja diterima oleh sebagian muhaddits. Ibnu Rusyd menjelaskan argumentasi kedua Imam tersebut : ―Imam Malik dan Abu Hanifah berkata. Mereka berargumen bahwa dalil kewajiban shalat Jumat bersifat umum untuk semua hari (baik hari raya maupun bukan). Konsekuensinya. sehingga hukum yang didasarkan pada hadits tersebut adalah tetap berstatus hukum syar‘i. tidak berarti kita tidak boleh menggunakan hadits tersebut sebagai dalil syar‘i. hadits-hadits yang menerangkan gugurnya kewajiban shalat Jumat pada hari raya bukanlah hadits-hadits shahih. yakni bahwa shalat Jumat itu menjadi rukhshah bagi mereka yang menunaikan shalat hari raya. bahwa penolakan Imam Syafi‘i terhadap hadits Zayd bin Arqam tidaklah mencegah kita untuk menerima hadits tersebut. Imam Ash Shan‘ani menyatakan. Inilah yang menjadi prinsip asal (al ashlu) dalam masalah ini. yang berlaku kemudian adalah hukum setelah ditakhsis. yakni Imam Ibnu Khuzaimah. jelaslah bahwa Imam Syafi‘i tidak menilai hadits Zayd bin Arqam tersebut sebagai hadits shahih. Imam Ash Shan‘ani dalam Subulus Salam berkata : ―Asy Syafi‘i dan segolongan ulama berpendapat bahwa shalat Jumat tidak menjadi rukhshah. Sedang apa yang disebut dalam hadits-hadits dan atsar-atsar (yang menjadikan shalat Jumat sebagai rukhshah) tidaklah cukup kuat untuk menjadi takhsis (pengecualian) kewajiban shalat Jumat. bahwa hukum asal tersebut dapat berubah. Inilah dasar pendapat Imam Syafi‘i. . Dalam kaitan ini Imam Taqiyuddin An Nabhani dalam Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah Juz I berkata : ―…(kita tidak boleh cepat-cepat menolak suatu hadits) hanya karena seorang ahli hadits tidak menerimanya. maupun penduduk desa/kampung atau penduduk padang gurun (ahlul badawi). sementara di tempatnya tidak diselenggarakan shalat Jumat. dan salah satunya tidak dapat menggantikan yang lainnya. ‗Shalat hari raya adalah sunnah.

Tidak boleh pula dia melaksanakan shalat zhuhur. adapun orang yang pada pagi harinya tidak melaksanakan shalat hari raya. Jadi jika shalat Jumat tidak dilaksanakan. Kesimpulan Dari seluruh uraian di atas.3. dapat disimpulkan bahwa jika hari raya bertepatan dengan hari Jumat. shalat zhuhur adalah hukum asal. justru sebaliknya. . sedang shalat Jumat adalah penggantinya. Ketiga. Lalu dia (Ibnu Zubayr) mengumpulkan keduanya dan melakukan shalat untuk keduanya sebanyak dua rakaat pada pagi hari. Yang dapat dipastikan. Maka yang benar.3. Yang benar. Menurut beliau. Dia tidak menambah atas dua rakaat itu sampai dia mengerjakan shalat Ashar. maka shalat Jumat dan zhuhur gugur semuanya. Kedua. shalat Jumat adalah hukum asal (al ashl) pada hari Jumat. Tidak wajib shalat apa pun pada hari itu setelah shalat hari raya melainkan shalat ‗Ashar. Sebab ada kemungkinan (ihtimal) bahwa Ibnu Zubayr shalat zhuhur di rumahnya. Imam Ash Shan‘ani menerangkan bahwa tidaklah benar bahwa shalat Jumat adalah hukum asal (al ashl) sedang shalat zhuhur adalah hukum pengganti (al badal). maka wajiblah kembali pada hukum asal. Untuk alasan kedua dan ketiga. Imam Ash Shan‘ani tidak menerima pendapat tersebut dan telah membantahnya. Wallahu a‟lam. 4.‖ ['Iidaani ijtama'aa fii yawmin waahidin. Tidak boleh dia meninggalkan zhuhur. wajib atasnya shalat Jumat. bahwa Rasul SAW telah memberi rukhshah pada shalat Jumat. Shalat zhuhur ditetapkan kewajibannya pada malam Isra‘ Mi‘raj. Dia boleh melaksanakan shalat Jumat dan boleh juga tidak. kata Imam Ash Shan‘ani. Maka dari itu. sedang kewajiban shalat Jumat ditetapkan lebih belakangan waktunya (muta`akhkhir). sedang shalat Jumat merupakan penggantinya. Namun. jika hukum asal telah gugur. Pendapat ‘Atha bin Abi Rabah ‗Atha bin Abi Rabbah berpendapat bahwa jika hari Jumat bertepatan dengan hari raya. Tidak dibenarkan baginya untuk meninggalkan shalat Jumat. yaitu shalat zhuhur adalah hukum asal. disunnahkan baginya tetap melaksanakan shalat Jumat. kewajiban shalat zhuhur ditetapkan lebih dahulu daripada shalat Jumat. yakni mengerjakan shalat zhuhur. otomatis gugur pulalah hukum penggantinya. wajib atasnya melaksanakan shalat zhuhur. Demikianlah alasan pendapat ‗Atha` bin Abi Rabbah. jika orang yang telah menunaikan shalat hari raya tersebut memilih untuk tidak menunaikan shalat Jumat. gugurlah kewajiban shalat Jumat atasnya. yang zhahir dari hadits Zayd bin Arqam. yaitu : Pertama. Sebab. Imam Ash‘ani menjelaskan bahwa pendapat ‗Atha` tersebut didasarkan pada 3 (tiga) alasan. shalat yang tidak dikerjakan Ibnu Zubayr itu adalah shalat Jumat. bukannya shalat zhuhur. sedang shalat zhuhur adalah hukum pengganti (al badal) bagi shalat Jumat. hukumnya adalah sebagai berikut : Pertama. Namun Rasul SAW tidak memerintahkan untuk shalat zhuhur bagi orang yang tidak melaksanakan shalat Jumat. Ketiga. jika seseorang telah menunaikan shalat hari raya (Ied). berdasarkan perbuatan sahabat Ibnu Zubayr RA sebagaimana diriwayatkan Imam Abu Dawud. tidaklah dapat dipastikan bahwa Ibnu Zubayr tidak shalat zhuhur. bahwasanya : ―Dua hari raya (hari raya dan hari Jumat) telah berkumpul pada satu hari yang sama. bahwa setelah shalat hari raya Ibnu Zubayr tidak keluar dari rumahnya untuk shalat Jumat di masjid. Demikianlah hasil pentarjihan kami untuk masalah ini sesuai dalil-dalil syar‘i yang ada. fajamma'ahumaa fashallahumaa rak'atayni bukratan lam yazid 'alayhaa hattaa shallal 'ashra] Kedua.

Sayyid. [sumber: khilafah1924] . Terjemahan oleh Sarmin Syukur dan Luluk Rodliyah. 492 hal. Al Quds : Min Mansyurat Hizb Al Tahrir. 1995. Cetakan Pertama. Sabiq. Taisir Al Wushul Ila Al Ushul. 1994. Ahkamush Shalat. Rohmatul Ummah (Rahmatul Ummah Fi Ikhtilafil A`immah). 598 hal. 399 hal. Beirut : Darul Ummah. Muhammad bin Abdurrahman Asy Syafi‘i. ———-. Muhammad Husain.M. 1993. Subulus Salam. Bandung : Maktabah Dahlan. Terjemahan oleh Mahyuddin Syaf. Jilid IV. Surabaya : Al Ikhlas. Ash Shan‘ani. Cetakan Pertama. Cetakan Ketiga. Koleksi Hadits Hukum (Al Ahkamun Nabawiyah). 2000. Hasbi. 417 hal. Al Ma‘arif. Cetakan Kedua. 229 hal Syirbasyi. 1995. 310 hal. Surabaya : Al Ikhlas. 1987. 1953. ‗Atha`. Cetakan Pertama. Ash Shiddieqi. Taqiyuddin. Ibnu Khalil. Cetakan Keempat. Cetakan Ketujuhbelas. Ad Dimasyqi. Cetakan Kedua. An Nabhani. Alma‘arif. Beirut : Daarul Fikr. 554 hal. T. Raghib. Asy Syakhshiyah Al Islamiyah. Tanpa Tahun. Terjemahan oleh Husein Bahreisj. Juz I. Juz Ketiga (Ushul Fiqh). 379 hal. Asy Syakhshiyah Al Islamiyah. Himpunan Fatwa (Yas`alunaka fi Ad Din wa Al Hayah). Juz II. Jilid 2. Bandung : PT. Al Wadhih fi Ushul Al Fiqh. 1991. Juz Pertama.132 hal. Ibnu Rusyd. Cetakan Kedua. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid. Bandung : PT. 1987. Ali. Ahmad.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Beirut : Darul Ummah. Beirut : Daar An Nahdhah Al Islamiyah. 224 hal. Fikih Sunnah (Fiqhus Sunnah). Muhammad bin Ismail Al Kahlani. Beirut : Darul Bayariq. 407 hal. 1981.