Macam-macam Zoonosis dan penjelasannya - Pengertian Zoonosis Zoonosis adalah penyakit dan infeksi yang ditularkan secara alami antara hewan vertebrata dan manusia (Soeharsono, 2005). Jadi zoonosis juga disebut penyakit infeksi yang terjadi antara hewan dan manusia. Jenis zoonosis dibagi dua, pertama antropozoonosis yaitu infeksi pada hewan vertebrata yang ditularkan pada manusia. Dan yang kedua adalah zooantroponosis yaitu infeksi pada manusia yang dapat ditularkan pada hewan vertebrata (Anonim,2008). - Macam-macam Zoonosis dan penjelasannya Macam-macam zoonosis sebenarnya sangat banyak sekali dibawah ini adalah yang sering ditemui masyarakat pada umumnya. 1. Antraks, yaitu penyakit menular akut yang disebabkan oleh bacteria baccilus anthracis dan sangat mematikan dalam bentuknya yang paling ganas (Anonim, 2008). 2. Rabies adalah penyakit zoonotik yang disebarkan oleh Virus Rabies atau Rhabdovirus (Anonim, 2008). 3. Taksoplasmosis infeksi yang disebabkan oleh parasit sel tunggal toxoplasma gondii. Parasit hidup dalam organisme hidup lain (induknya) dan mengambil semua gizi dari induknya (Anonim, 2008). 4. SARS adalah syndrome pernafasan akut berat yang merupakan penyakit infeksi pada jaringan paru manusia yang sampai saat ini belum diketahui penyebabnya (Departemen Kesehatan, 2007) 5. Borreliosis adalah penyakit pada hewan dan manusia yang disebabkan oleh bacteria yang dikenal sebagai borrelia Sp (Soeharsono, 2005). 6. Chromobacteriosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri chromobacterium violaceum yang menyerang hewan dan manusia lewat media tanah basah dan air (Soeharsono, 2005). 7. Dermatophillosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri dermatophilus congolensis, yang ditandai dengan pembentukan kerak dan penyakit ini bersifat kronik (Soeharsono, 2005). 8. Tuberkolosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh mycobacterium sp dan bersifat kronik (Soeharsono, 2005). 9. Tularemia adalah penyakit zoonosis yang bersifat septikomik dan disebabkan oleh bakteri franscisella tularencis yang ada dalam tinja (Soeharsono, 2005). 10. Cacar monyet adalah penyakit viral dengan induk semang asli pada monyet yang disebabkan oleh virus dan dapat menular manusia (Soeharsono, 2005). 11. Cacar Sapi adalah penyakit kulit yang bersifat ringan pada sapi yang disebabkan oleh virus cacar sapi (Soeharsono, 2005). 12. Enchepalitis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh tiga jenis virus. Virus Eastern Equine Enchephalitis, virus Western Equine Enchephalitis, dan virus Venezuelan Equine Enchephalitis (Soeharsono, 2005). 13. Epidemic Polyarthitis adalah penyakit viral yang ditularkan dengan arthopoda yang disebabkan oleh virus (Soeharsono, 2005). 14. Kyasanur Forest adalah penyakit viral yang disebabkan oleh virus flavi dan lewat perantara burung migrasi (Soeharsono, 2005). 15. Murray Valley Enchephalitis adalah Penyakit viral yang disebabkan oleh arbovirus atau virus MVE (Soeharsono, 2005). 16. Newcastle Disease adalah penyakit unggas yang disebabkan oleh virus yang punya spike atau tonjolan (Soeharsono, 2005). 17. Penyakit Mulut dan Kaki (PMK) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang hewan yang berkuku genap (Soeharsono, 2005). 18. Tanapox adalah penyakit viral yang disebabkan oleh virus tanapox dan kejadian pertama di sungai tana (Kenya) (Soeharsono, 2005). 19. “TUMOR” Cacar Monyet Yaba adalah penyakit viral yang disebabakan oleh virus Orthopox (Soeharsono, 2005). 20. Yellow Fever adalah penyakit viral pada hewan dan manusia yang disebabkan oleh virus RNA dan ditulakan oleh nyamuk (Soeharsono, 2005). 21. Schistosomiasis adalah infeksi cacing golongan trematoda pada hewan atau manusia (Soeharsono, 2005). 22. Cryptosporidiosis adalah penyakit pada hewan dan manusia yang disebabkan oleh protozoa yaitu cryptosporidium sp (Soeharsono, 2005). 23. Leishmaniasis adalah penyakit pada hewan dan manusia yang disebabkan oleh parasit leishmania sp (Soeharsono, 2005). 24. Sparganosis adalah penyakit yang disebabkan oleh larva tahap kedua cacaing pita yaitu spirometra sp (Soeharsono, 2005). 25. Trichinellosis adalah penyakit infeksi cacaing trichenella spiralis pada hewan ataupun manusia (Soeharsono, 2005). 26. Trypanosomiasis Afrika dalah penyakit yang disebabakan oleh Tp gambiase yang menimbulakan penyakit tidur pada manusia (Soeharsono, 2005). 27. Trypanosomiasis Amerika adalah penyakit yang disebabkan oleh Tp Cruzi yang perkembangannya di dalam darah (Soeharsono, 2005). ANTHRAX I. SINONIM (radang limpa, malignant pustule, woolsorters` disease, miltvuur, malignant edema, ragpicker disease). (Anon. 2000) Penyakit anthrax mempunyai potensi sangat besar untuk menular dari hewan kepada manusia (zoonosis), terutama daerah yang tergolong kurang subur dan tingkat pendidikan masyarakatnya masih relatif rendah. Pemotongan ternak sakit di luar Rumah Pemotongan Hewan (RPH) , tanpa pengawasan petugas, sering menimbulkan kejadian luar biasa ( wabah ) anthrax. (Soeharsono. 2002) II. ETIOLOGI Morfologi Penyebab penyakit anthrax adalah bakteri berbentuk batang, berukuran 1-1,5 mikron kali 3-8 mikron, bersifat aerobic, nonmotil, gram positif yang disebut Bacillus antrachis. Apabila spesimen ini diambil dari hewan sakit, bakteri berbentuk rantai pendek dikelilingi oleh kapsul yang terlihat jelas. (Bacillus antrachis ditemukan di dalam otak) Bentuk vegetatif Bacillus antrachis yang ada di dalam tubuh hewan relatif tidak dapat tahan lama dalam berkompetisi dengan bakteri pembusuk. Apabila terjadi kontak dengan udara (oksigen), bakteri ini akan membentuk spora yang amat tahan terhadap pengaruh lingkungan. Oleh karena itu , setiap hewan yang mati dengan dugaan anthrax tidak boleh dilakukan autopsi. Spora anthrax dapat bertahan selama 60 tahun di dalam tanah kering. Spora juga tahan dalam waktu yang lama di debu, kapas, bulu, kulit, serbuk tulang, pakaian , dsb. (Soeharsono.2002) Spora dibentuk di tanah, jaringan/binatang mati dan tidak terbentuk di jaringan dan darah binatang hidup. Spora yang merupakan endospora tahan terhadap pengaruh lingkungan. Diameter endospora berkisar 1-2 mikrometer, sehingga sukar tersaring oleh mekanisme penyaringan di saluran pernafasan atas. Dalam tanah, spora dapat bertahan puluhan tahun. Spora antrax tahan terhadap pengaruh panas, sinar ultraviolet dan beberapa desinfektan. Endospora dapat dimatikan dengan cara autoclave pada suhu 120° C selama 15 menit. Bentuk vegetatifnya mudah dimatikan pada suhu 54° C selama 30 menit. Bakteri mudah ditumbuhkan pada berbagai media. Untuk mendapatkan koloni yang karakteristik, bakteri sebaiknya ditumbuhkan pada media yang mengandung darah tanpa antibiotika. Bakteri tumbuh subur pada pH media 7.0 – 7.4 dengan lingkungan aerob. Suhu pertumbuhan berkisar antara 12 – 45°C tetapi suhu optimumnya 37°C. Setelah masa inkubasi 24 jam, koloni kuman tampak sebagai koloni yang besar, kompak, putih-keabu-abuan dengan tepi tak beraturan. Di bawah mikroskop, koloni tersusun seperti susunan rambut sehingga sering disebut sebagai bentuk kaput medusa. Koloni bakteri bersifat sticky sehingga jika diangkat akan membentuk formasi seperti stalaktit (beaten egg-whites appearance). Jika bakteri ditumbuhkan selama 3 – 6 jam pada suhu 37°C pada media yang mengandung penisilin pada kadar 0.05 – 0.5 unit /ml , maka secara mikroskopik akan terbentuk sferis besar dalam bentuk rantai (fenomena string of pearls). bakteri antrax tidak menyebabkan hemolisis darah domba dan reaksi katalasenya positif. Bakteri mampu meragi glukosa dan menghidrolisa gelatin tetapi tidak meragi manitol, arabinosa dan xilosa. Karena menghasilkan lesitinase, maka bakteri yang ditumbuhkan pada media EYA (Egg-Yolk Agar) akan membentuk zona kompak. (Agus Sjahrurachman. Cermin dunia kedokteran.2007.) Faktor predisposisi kejadian penyakit seperti musim panas, kekurangan makanan dan keletihan mempermudah timbulnya penyakit pada hewan yang mengandung spora bersifat laten . Umumnya, Bacillus antrachis amat pathogen, namun pernah pula dilaporkan penemuan isolat Bacillus antrachis yang kurang pathogen dari seekor kuda. ( Djaenuddin dan Soetikno, 1960). Dalam sel bakteri anthrax juga terdapat eksotoksin kompleks yang terdiri atas Protective Ag (PA), Lethal factor (LF), dan Oedema factor (EF).peran ketiganya itu terlihat sekali dalam menimbulkan gejala penyakit anthrax. Tepatnya, ketiga komponen dari eksotoksin itu berperan bersama – sama. Protective Ag berfungsi untuk mengikat reseptor dan selanjutnya Lethal factor. Sedangkan odema factor akan memasuki sistem sel dari bakteri. Odema factor merupakan adenilsiklase yang mampu meningkatkan cAMP sitoplasma sel, sedangkan fungsi spesifik dari lethal factor masih belum diketahui. Pertahanan hidup Dalam mempertahankan siklus hidupnya, Bacillus anthracis membentuk dua sistem pertahanan, yaitu kapsul dan spora. Dua bentuk inilah, terutama spora yang menyebabkan Bacillus anthracis dapat bertahan hidup hingga puluhan tahun lamanya. Sedangkan kapsul merupakan suatu lapisan tipis yang menyelubungi dinding luar dari bakteri. Kapsul ini terdiri atas polipeptida berbobot molekul tinggi yang mengandung asam D – Glutamat an merupakan suatu hapten. Bacillus anthracis dapat membentuk kapsul pada rantai yang berderet. Pada media biasa rantai tidak terbentuk kecuali pada Bacillus anthracis yang ganas.Lebih jauh, bakteri ini akan membentuk kapsul dengan baik jika terdapat pada jaringan hewan yang mati atau pada media khusus yang mengandung natrium bikarbonat dengan konsentrasi karbondioksida (CO2) 5%. Kapsul inilah yang berperan dalam penghambatan fagositosis oleh sistem imun tubuh, dan juga dapat menentukan derajat keganasan atau virulensi bakteri. Selain itu, Bacillus anthracis juga membentuk spora sebagai bentuk resting cells. Pembentukan spora akan terjadi apabila nutrisi esensial yang diperlukan tidak memenuhi kebutuhan untuk pertumbuhan, prosesnya disebut sporulasi. Spora berbentuk elips atau oval, letaknya sentral dengan diameter tidak lebih dari diameter bakteri itu sendiri. Spora Bacillus anthracis ini tidak terbentuk pada jaringan atau darah binatang yang hidup, spora tersebut tumbuh dengan baik di tanah maupun pada eksudat atau jaringan hewan yang mati karena antrax. Di sinilah keistimewaan bakteri ini, apabila keadaan lingkungan sekitar menjadi baik kembali atau nutrisi esensial telah terpenuhi, spora akan berubah kembali menjadi bentuk bakteri. Spora – spora ini dapat terus bertahan hidup selama puluhan tahun dikarenakan sulit dirusak atau mati oleh pemanasan atau bahan kimia tertentu, sehingga bakteri tersebut bersifat dormant, hidup tapi tak berkembang biak. ( Arda Dinata.) III. Distribusi Anthrax termasuk penyakit yang sudah lama sekali diketahui manusia. Penyakit ini tersebar di lima benua ( Afrika, Eropa, Asia dan Australia). Di Indonesia, anthrax pertama kali diberitakan oleh Javasche Courant terjadi pada kerbau di Teluk betung ( Sumatra ) tahun 1884. Berikutnya Koran Kolonial Verslag memberitakan anthrax di Buleleng ( Bali ), Rawas (Palembang) dan lampung pada tahun 1885. Pada tahun 1886, Koran yang sama memuat berita bahwa wabah penyakit anthrax di Banten, Padang-darat, Kalimantan Barat dan Timur dan Pulau Rote (NTT). Selama lebih dari 100 tahun , penyakit anthrax tidak pernah terjadi lagi di Bali, sehingga Bali dinyatakan sebagai daerah “bebas anthrax” sampai saat ini. Menurut daerah penularannya, Antrax dibagi dalam tiga macam: Antrax daerah pertanian (Agriculture Antrax) yaitu Antrax yang penularan dan kejadiannya berkisar di daerah-daerah pertanian saja. Antrax di Indonesia pada umumnya termasuk Antrax daerah pertanian. Antrax daerah perindustrian (Industrial Antrax) yaitu Antrax yang terjadi di daerah atau kawasan industri yang menggunakan bahan baku berasal dari hewan atau hasil hewan seperti bahan-bahan yang terbuat dari kulit (tas, ikat pinggang, topi, alat musik), tulang (perhiasan, industri makanan ternak), daging (dendeng, abon dll), darah (campuran makanan ternak), tanduk (perhiasan, kerajinan dll) dan lain-lain. Antrax yang terjadi di laboratorium yaitu infeksi hewan-hewan percobaan seperti tikus putih, marmut, kelinci, centrifugasi dll. Masa inkubasi penyakit Antrax bervariasi untuk Antrax tipe kulit 7 hari (rata-rata 1-5 hari), Antrax tipe intestinal (pencernaan) antara 2-5 hari dan Antrax tipe pernapasan (pulmonal) antara 1-5 hari (biasanya 3-4 hari). ( Balipost ). IV. A. Kejadian dan penyakit pada manusia Infeksi pada manusia adalah korelasi dengan kejadian pennyakit pada domestic animal. Secara ekonomis di negara maju dimana hewan yang terkena anthrax telah terkendali ,dan hanya terjadi sekali-sekali pada manusia. Anthrax pada manusia kebanyakan biasa terjadi di daerah enzootic yaitu di negara berkembang, pada masyarakat yang bekerja sebagai petani, orang yang memakan daging hewan terinfeksi atau bekerja di perusahaan dimana wol diproduksi. Kejadian penyakit pada manusia di negara berkembang tidak dapat diketahui karena tidak semua dokter bisa mendeteksinya. Tiga jenis penularan anthrax di manusia a. Inhalational anthrax Anthrax dapat masuk tubuh melalui perut (proses pencernaan), paru-paru atau kulit (berkenaan dengan kulit) dan gejala-gejala penyebab klinis terpisah; jelas berdasar pada lokasi infeksi. Satu manusia yang terkena infeksi/tersebar akan secara umum dikarantina. Bagaimanapun, anthrax tidak biasanya menyebar dari satu manusia yang terinfeksi sampai manusia yang tidak terinfeksi. Tetapi jika penyakit itu pada tubuh maka berakibat fatal bagi orang tersebut dan koloni Bacillus anthracis menjadi suatu sumber yang potensial menginfeksi yang lain dan kehati – hatian harus digunakan untuk mencegah lebih lanjut pencemaran. Sayangnya inhalation anthrax, jika dihentikan terapinya hingga gejala – gejala yang timbul, akan mengakibatkan kematian. Anthrax dengan penanganan infeksi yang menyebar pada binatang atau wolnya, bakteri atau kecelakaan laboratorium. Infeksi lewat jalur pernafasan (inhalation) pada awalnya terlihat dengan gejala – gejala seperti influenza atau untuk beberapa hari, yang diikuti oleh keparahan; sulit bernafas; batuk yang keras dan berat ( sering juga fatal) kolaps pernapasan. Inhalational anthrax sangat fatal, dengan mortalitas mendekati 100% . Tingkat kematian (lethal level) dari anthrax dilaporkan diakibatkan oleh pernafasan (inhalation). Menghirup sekitar 10.000-20.000 spora menyebabkan terjadinya inhalation anthrax juga tergantung pada tingkat kepekaan dengan bukti bahwa sebagian orang meninggal dari kasus-kasus penyakit inhalation anthrax; ada bukti yang didokumentasikan untuk memverifikasi eksak atau rata-rata angka dari spora-spora. b. Gastrointestinal (gastroenteric) anthrax Infeksi gastrointestinal paling sering disebabkan oleh daging terinfeksi anthrax dan ditandai oleh kerusakan saluran gastrointestinal yang serius,seperti muntah darah, diare parah; sulit buang air besar;feses yang keras; radang akut saluran usus, dan hilangnya selera makan. Beberapa luka telah ditemukan di dalam perut dan di dalam mulut serta kerongkongan. Setelah bakteri masuk ke sistem usus, bakteri menyebar melalui aliran darah sepanjang tubuh, membuat lebih toksik lagi dalam perjalanan. Gastrointestinal anthrax dapat diterapi tetapi biasanya mengakibatkan daftar kematian dari 25% kepada 60%, tergantung bagaimana perawatan dimulai. c. Cutaneus anthrax Bentuk cutaneus anthrax menginfeksi sebagai luka kulit seperti bisul yang akhirnya membentuk borok dengan suatu centre (ie yang hitam, eschar). Eschar yang hitam sering kali muncul sebagai suatu, borok nekrotik tanpa rasa sakit (mulai sebagai luka kulit yang gatal atau lepuh yang gelap dan biasanya memusat sebagai suatu titik yang hitam, dari jumlah yang sedikit sampai banyak ) (seperti cetakan roti) di lapangan infeksi cutaneu anthrax secara umum membentuk di dalam lokasi dari penetrasi spora di dalam 2 sampai 5 hari setelah penginfeksian. Tidak seperti memar tetapi hampir semua luka-luka, infeksi anthrax jenis cutaneus secara normal tidak menyebabkan nyeri. Infeksi cutaneus anthrax adalah wujud sedikit fatal dari infeksi anthrax yang lain jika dilakukan terapi. Tetapi tanpa perawatan, kira-kira 20% dari semua kasus-kasus infeksi cutaneus anthrax terjadi toksemia dan kematian. Terapi anthrax jenis cutaneus, terkadang berakibat fatal (Anonim) (perkembangan anthrax di dalam cavum mediastinum) Anthrax bentuk gastrointestinal yang diakibatkan oleh penularan per os ditandai oleh nyeri abdominal, demam, septicemia dan umumnya diikuti kematian apabila tidak segera mendapat pengobatan.(Soeharsono.2002) B. Kejadian dan penyakit pada hewan Belum lama ini sebuah berita yang bersumber dari web koranindonesia.com KUPANG– MEDIA: Petugas medis dari Dinas Peternakan Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (3/11) menemukan antraks pada kambing di Desa Kolisia B, Kecamatan Magapanda. Sebelumnya antraks hanya ditemukan pada kerbau. Kepala Sub Dinas Peternakan dan Konservasi Sumber Daya Dinas Peternakan Sikka Vitalis Kanisius mengatakan, pihaknya menemukan enam ekor kambing mati di desa itu sejak dua hari terakhir. Selain itu ada satu warga tertular antraks dari kambing yang mati itu karena memakan dagingnya, warga yang terkena antraks itu timbul pada kulit (cutaneus) sehingga tidak berbahaya. Kecuali bila gejala antraks timbul di bagian perut. Bagaimana Penularan Antraks pada hewan? Utamanya, sumber penularan anthrax adalah hewan-hewan yang peka terhadap anthrax, seperti sapi, kambing, kerbau, domba, kuda, babi, burung unta serta hewan lain seperti tikus, marmut, mencit dan lainnya. Walau anjing dan hewan carnivora lainnya termasuk binatang rentan juga, tapi infeksi kuman anthrax jarang sekali terjadi pada hewan-hewan itu. Justru, infeksi anthrax dapat terjadi juga pada jenis burung, terutama burung unta. Biasanya antraks yang menyerang manusia, ketika orang tersebut membedah atau menyembelih hewan yang terinfeksi atau dapat pula ditularkan melalui produk-produk yang dihasilkan oleh hewan yang terinfeksi tersebut. Gejala Antraks pada Hewan Ternak: Hewan yang menderita antraks antara lain ditandai dengan demam tinggi, gelisah, sesak napas, kejang dan diikuti dengan kematian. “Gejala lainnya ialah darah segar keluar dari mulut, telinga dan dubur atau alat kelamin.” Gejala Klinik pada hewan Pada sapi, kerbau dan kuda umumnya anthrax bersifat akut atau perakut disertai septicemia. Oleh karena itu, kematian hewan secara mendadak, terutama jika terjadi didaerah endemic anthrax, tidak boleh langsung dilakukan autopsi, tetapi harus diyakinkan dahulu lewat pemeriksaan darah perifer( misalnya dari daun telinga) dan diberi pewarnaan cepat untuk memberikan gambaran sementara apakah anthrax atau bukan. Bila ada dugaan anthrax, bangkai harus segera di temukan darah yang berwarna hitam pekat yang sulit menggumpal keluar dari lubang ( anus , hidung,telinga). Sesaat sebelum hewan mati. Bangkai ternak yang mati oleh anthrax cepat membusuk. Pada kuda, selain demam tinggi sering ditemukan pula oedema sub kutis di daerah pectoral, inguinal , scrotum dan bawah kepala. Beberapa kuda mengalami hiperhidrosis dan kolik. Gejala diare dapat ditemukan pada beberapa ekor hewan. Keparahan penyakit dipengaruhi status kekebalan hewan, jumlah spora yang menginfeksi dan virulensi bakteri yang menyerang. Apabila penularan terjadi per os, bakteri anthrax akan masuk sistem limfatik dan menimbulkan limfangitis dan lymphadenityis yang kemudian menimbulkan septicemia. Bila bakteri masuk ke saluran pencernaan bagian tengah dan bawah akan menimbulkan enteritis ulceratie et haemorrhagica. Perkembangan bakteri anthrax dalam sistem limfatik relatif lambat, tetapi begitu masuk ke dalam aliran darah,bakteri ini berkembang dengan sangat cepat yang berlangsung terus sampai kematian. Kematian umumnya disebabkan oleh pengaruh prototoksin yang menimbulkan gangguan susunan syaraf pusat berupa kelumpuhan pusat respirasi dan mengakibatkan hipoksia. Ada dua bentuk anthrax pada manusia di Indonesia, yakni bentuk kulit sebagai akibat penularan secara kontak dan bentuk intestinal sebagai akibat penularan per os . Di Australia ada penyakit anthrax bentuk respiratorik akibat penularan per inhalation spora anthrax lewat bulu-bulu domba yang terjadi pada tempat pemotongan bulu domba sehingga disebut wool sorter`s disease. (Soeharsono.2002) V. Sumber Infeksi Bacillus anthracis penyebab penyakit anthrax memiliki dua faktor virulen yaitu kapsul polimer asam G d-glutamat dan eksotoksin yang membantu invasinya pada inang. Peranan biokimiawi eksotoksin (faktor virulen ekstraseluler) yang terdiri dari antigen protektif/ Protective Agent (PA), faktor edema/ Eudema Factor (EF) dan faktor letal/ Lethal Factor (LF) dalam patogenesis anthrax. Dapat disimpulkan bahwa : Molekul PA berperan sebagai kargo pembawa LF atau EF ke dalam sel inang. Faktor edema menyebabkan peningkatan kadar siklik adenosin mono fosfat (cAMP), sedangkan faktor letal menyebabkan pemutusan rantai molekul protein kinase dalam sel. Kedua mekanisme ini bertanggung jawab terhadap virulensi Bacillus. anthracis. Bagaimana toxin bakteri Factor Lethal menyebabkan keparahan penyebaran anthrax Dimana molekul PA berperan sebagai chaperone dalam proses tersebut. Keterangan : PA : antigen protektif; EF : faktor edema; LF : faktor letal; ATP ; adenosin trifosfat; CaM : kalmodulin; AMPc : siklik adenosin monofosfat; MAPKKs : protein kinase yang diaktivasi oleh mitogen (Sumber : Mock dan Fauet, 2001). Ekspresi virulensi molekul EF dan EF justru terjadi setelah mereka keluar dari endosom sel inang, saat itu kedua molekul ini berubah menjadi toksin edema dan toksin letal (Brossier dan Mock, 2001; Crammer dan Martinez, 2001). Setelah di dalam sel, dengan aktivitas adenilat siklase yang dimilikinya, molekul EF bekerja dengan cara mengubah molekul ATP yang diikatnya menjadi siklik 3,5 adenosin monofosfat / c-AMP. Molekul C-AMP berperan sebagai pembawa pesan sekunder yang akana meneruskan pesan yang disampaikan dari molekul EF ke sistem enmzimatik intraseluler (Voet dan Voet, 1995; Duesberry dan Woude, 1999). Hasil akhir dari kerja molekul EF ialah edema seluler akibat perubahan gradien transmembran sel dan kebocoran seluler akibat insersi molekul PA (Gauthier dan Finlay, 2001). Pola serupa juga dilakukan oleh molekul LF yang mampu memotong sejenis protein kinase intraseluler (mitogen-activated protein kinases) yang berfungsi sebagai pembawa pesan ke dua di dalam sel (Mock dan Fouet, 2001), Akibatnya terjadi hipotensi, shock dan akhirnya kematian sel (Cunha, 2001). Pengamatan in vitro menunjukkan bahwa untuk ekspersi sitotoksisitasnya, LF dan EF memerlukan proses sintesis protein yang kontinu dalam makrofag (Bhatnagar dan Friedlander, 1994). Fenomena ini juga ditunjang dengan pengamatan Tang dan Leppla (1999) yang menunjukkan diperlukannya suatu proteasom oleh toksin lethal untuk membunuh makrofag. Hal ini menyebabkan makrofag mensintesis bermacam-macam protein seperti interleukin 1 (IL-1) dan faktor nekrosis tumor alfa (TNF-a). Interleukin 1 diduga kuat menyebabkan kematian dan shock pada penderita (Hanna et al. 1993). Adanya peningkatan sekresi interleukin 6 dan TNF-a juga akan meningkatkan kadar cAMP intraseluler, hal terakhir ini juga berperan menyebabkan shock dan kematian (Hoover et al. 1994). Pengamatan in vitro juga menunjukkan tidak semua jenis makrofag peka terhadap toksin lethal anthrax. Makrofag yang mengalami defek tertentu saat menelan toksin letal justru resisten terhadap toksin tersebut (Friedlander et al. 1993). Kebocoran sel akibat pembentukan heptamer P-63 yang bertahan di membran sel, juga ikut menyebabkan kematian penderita anthrax (Zhao et al. 1995).(Iwan Haryono Utama). Antrax juga mempunyai efek, free-roaming pada hewan buas. Dekomposisi sangat cepat dan karkas menjadi kembung. Hemoragi ditemukan pada organ dalam, hati, ginjal, dan nodus limfatikus mengalami kongesti. sphlenomelaghi selalu ditandai dengan pulp, berwarna merah, hitam, kehitaman, dengan konsistensi semifluid. Tanah merupakan reservoir untuk agen infeksi. Proses infeksi oleh spora yang berada dalam tanah merupakan subjek kontroversi. Siklus hidup spora dibawah kondisi lab (dalam kultur media) dalam tanah yang steril membutuhkan waktu yang lama. Bagaimanapun dibawah kondisi natural ini menunjukan kesempurnaan dalam batas yang sedikit tahun. Secara dari aktivitas saphropitic mikroba dalam tanah. Isolasi Bacillus anthracis dari tanah atau air mengakibatkan epizootic. Ini diketahui dari beberapa hewan yang mati secara sporadic antrax. Pada manusia sumber infeksi awal dari hewan, hasil hewan yang terkontaminasi, dan pusat kontaminasi oleh spora. Cutaneus antrax diikat oleh inokulasi selama proses dari kulit hewan, kontak dengan infeksi wool. Transmisi dari hewan ke manusia sangat mungkin ke serangga sebagai vector. Pulmonary(inhalation) antrax datang dari terhirupnya spora dari kontaminasi wool. Sumber infeksi untuk bentuk gastrointestinal adalah domestic animal dan hewan liar yang mati karena infeksi anthrax. Bentuk infeksi dari transmisi lain yaitu cutaneus karena gigitan serangga. Peran dari hewan dalam epidemiologi dari penyakit: à hewan merupakan essensial à Antrax merupakan transmisi manusia oleh hewan atau produk ke hewan. (Pan American Health Organization .2003) VI. Cara penularan Penularan anthrax dari hewan kepada manusia umumnya secara kontak langsung dengan hewan atau hasil hewan. Penularan anthrax melalui kontak pada kulit yang terluka akan menimbulkan anthrax kulit (cutaneus anthrax) dengan lesi khas. Di Australia, penularan anthrax secara per inhalation dapat terjadi, terutama pada pekerja penyortir bulu domba, sehingga penyakitnya disebut woolsorter`s disease. Penularan per os pernah terjadi di Indonesia, karena dilakukan pemotongan darurat ternak di rumah, kemudian daging ternak tersebut di buat sate tanpa pembakaran yang sempurna. Penularan anthrax pada hewan umumnya terjadi per os, lewat makan atau air minum tercemar. Di daerah dengan sistem peternakan ekstensif seperti Sumba, Timor dan Flores ternak dalam jumlah besar menggunakan sumber air dan sumber makan yang sama sehingga sering menimbulkan kejadian wabah. Insekta penghisap darah seperti lalat Tabanus sp dan Stomoxis sp dapat bertindak sebagai penular secara mekanik, namun peranan insekta tersebut tidak begitu besar dalam kejadian wabah.(Anon.) Anthrax – Wikipedia, the free encyclopedia.htm Seseorang dapat tertular oleh penyakit Antraks dengan tiga cara : Kontak langsung dengan bibit penyakit yang ada di tanah/rumput, hewan yang sakit,maupun bahan-bahan yang berasal dari hewan yang sakit seperti kulit, daging,tulang dan darah. Bibit penyakit terhirup orang yang mengerjakan bulu hewan (domba dll) pada waktu mensortir. Penyakit dapat ditularkan melalui pernapasan bila seseorang menghirup spora Antraks. Memakan daging hewan yang sakit atau produk asal hewan seperti dendeng, abon dll. Karenanya ada empat tipe anthrax, yaitu anthrax kulit (cutaneus anthrax), pencernaan/anthrax usus (gastrointestinalis anthrax), pernapasan/anthrax paru (inhalation anthrax) dan anthrax otak. Anthrax otak terjadi jika bakteri terbawa darah masuk ke otak. Masa inkubasi anthrax kulit sekitar dua sampai lima hari. Mula-mula kulit gatal, kemudian melepuh yang jika pecah membentuk keropeng hitam di tengahnya. Di sekitar keropeng bengkak dan nyeri. Pada anthrax yang masuk tubuh dalam 24 jam sudah tampak tanda demam. Mual, muntah darah pada anthrax usus, batuk, sesak napas pada anthrax paru, sakit kepala dan kejang pada anthrax otak. Jika tak segera diobati bisa meninggal dalam waktu satu atau dua hari.(Anon.). VII. Diagnosis Diagnosis, baik pada hewan maupun manusia, dapat ditegakkan berdasarkan epidemiologi (sejarah kejadian anthrax masa lalu, jenis hewan terserang, ada atau tidak adanya penularan ke manusia) dan gejala klinik. Peneguhan diagnosis dilakukan secara laboratorik dengan isolasi agen penyakit dan uji serologi FAT. Pada manusia, spesimen untuk pemeriksaan laboratorik dapat diambil dari cairan vesikel, jaringan tubuh, darah (sewaktu septicemia) dan usapan langsung (direct smear) dari lesi kulit. Pewarnaan Giemza terhadap preparat usapan langsung perlu dilanjutkan dengan upaya isolasi bakteri karena dapat keliru dengan bakteri lain berbentuk batang, misalnya Bacillus subtilis. Pemeriksaan secara FAT yang mempunyai sensivitas dan ketetapan (sensivity and specifity) tinggi bisa dilakukan apabila menggunakan mikroskop fluorescence. Pada hewan, spesimen dapat berupa darah perifer dari daun telinga yang diambil dengan jarum, kemudian diisapkan pada kertas saring, kapur tulis, atau kapas jika hewan masih hidup. Apabila hewan sudah mati, spesimen dapat diambil dari potongan daun telinga, cairan oedema, tulang, kulit dan bahan lain yang tercemar. Deteksi antigen dapat dilakukan dengan uji Ascoli a. Diagnosis Banding Pada kuda, adanya oedama di bawah kulit dapat keliru dengan dourine yang disebabkan oleh Trypanosoma equiperdum. Kematian mendadak pada sejumlah hewan besar perlu mempertimbangkan kemungkinan keracunan. b. Pengambilan dan Pengiriman Spesimen Pada hewan, spesimen dapat berupa darah perifer dan daun telinga yang diambil dengan jarum, kemudian pada kertas saring, kapur tulis atau kapas, apabila hewan masih hidup. Apabila hewan sudah mati, spesimen dapat diambil dari daun telinga, cairan oedema, tulang, kulit dan bahan-bahan yang diduga tercemar seperti tanah. Spesimen harus dimasukan ke dalam kontainer yang terkuat agar tidak pecah atau tumpah dalam perjalanan. Spesimen tidak boleh dikirimkan ke laboratorium yang terletak di daerah bebas anthrax, seperti BPPH wilayah VI Denpasar.(Soeharsono. 2002) Speciment Cutaneus anthrax diperiksa secara Mikrobiologi dan Patologi untuk Diagnosis Spesimen-spesimen harus dikumpulkan dari setiap pasien yang sedang dievaluasi untuk infeksi cutaneus anthrax. Diagnosis menurut CDC I. Kain penyeka Luka: A.. Dengan mengabaikan terjadinya luka,lalu mengumpulkan kain – kain penyeka yang terpisah yaitu : Satu kain penyeka untuk Pewarna Gram dan kultur Satu kain penyeka untuk Polymerase Chain Reaction (PCR) Location/sampling yang spesifik kain penyeka itu akan bergantung pada langkah luka Tahap efisiensi kelembaban: Aseptically (secara aseptis) mengumpulkan cairan efisiensi kelembaban mengeringkan kain penyeka dari gelembung-gelembung sebelumnya yang tak dibuka. Catatan: Anthrax bacilli paling mungkin untuk dilihat oleh Pewarna Gram di dalam tahap efisiensi kelembaban. Eschar dikumpulkan : eschar material secara hati-hati diangkat pada tepi eschar yang luar itu; sisipkan guna mengeringkan kain penyeka, lalu pelan-pelan diputar selama 2-3 (detik/ barang bekas) di bawah tepi dari eschar tanpa pemindahan nya. Borok: Jika tanpa gelembung atau eschar, kain penyeka dasar dari borok yang menggunakan suatu kain penyeka yang lembab (sebelumnya dilembabkan dengan larutan garam yang steril). B. Spesimen-spesimen yang digunakan untuk pengkulturan dan PCR harus dikirimkan dalam suasana dingin, penyimpan dilakukan pada suhu 8°C; spesimen-spesimen untuk PCR hanya bisa dikirimkan dalam karbon dioksida dan disimpan pada suhu -70°C. II. Biopsi A. Suatu biopsi kulit harus diperoleh di setiap pasien dengan luka yang diduga mengalami cutaneus anthrax. 1. Jika pasien, memperoleh kekebalan penuh contoh biopsi dari papula atau gelembung dan termasuk kulit, masukkan ke dalam formalin 10% buffered untuk histopatologi dan immunohistochemistry (IHC). 2. Spesimen biopsi untuk kultur, Pewarnaan Gram, PCR dan membekukan jaringan/tisu IHC didapatkan jika pasien belum menerima antibiotik dalam 24 jam, untuk memperoleh kekebalan. 3. Jangan mencoba untuk merusak satu spesimen dari materi 2 dan 3 di atas,ataupun yang terpisah harus diperoleh. 4. Biopsi harus diambil dari kedua-duanya gelembung dan eschar.(Shieh.2003) Shieh et al. Journal dari Amerika Pathology, Nov 2003, Vol 163,no. 5, Halaman 1908, Kolom 2. B . Spesimen segar (tidak diformalin) harus disimpan dan dikirimkan setelah dibekukan secara CDC pada -70°C; jika terformalin harus dikirimkan pada suhu-kamar. III. Serum (proses yang menggunakan BSL2 mempraktekkan) A. Spesimen-spesimen serum yang akut perlu dikumpulkan dalam 7 hari gejala pertama atau sesegera mungkin setelah pengujian. B. Meskipun hasil diagnosa didapatkan isolat Bacillus anthracis dari spesimen-spesimen klinis,berupa serum orang yang baru sembuh, 14-35 hari setelah gejala. C. Kedua spesimen serum yang akut dan orang yang sembuh harus diperoleh dari sedikitnya 8 ml darah, 4 ml dari sera (laboratorium bisa menguji untuk etiologi potensial yang ganda). D. Serum terpisah dari gumpalan darah, sera perlu dibekukan dengan segera pada suhu -20°C atau lebih dingin, harus dikirimkan dalam keadaan beku dan disimpan pada karbon dioksida secara CDC, di dalam botol kecil bertutup sekrup plastik sewajarnya memberi label. E. Jangan mengirimkan botol-botol biakan darah atau darah utuh. F. Penggunaan yang sesuai secara komersial tersedia Immunetics QuickELISA™ Anthrax-PA Kit: 1. Immunetics Kit itu harus dipertimbangkan suatu test serologi penyaringan primer. 2. Test ini menghasilkan suatu hasil /negative yang positif; oleh karena itu setiap sera yang dipasangkan yang menghasilkan yang manapun. “ – /+ reaksi (acute/convalescent) atau + /+ reaksi harus dikirim kepada CDC untuk konfirmasi dan pengukuran-pengukuran ELISA kwantitatif. “ - /reaction (acute/convalescent) atau + /reaction tidak memerlukan konfirmasi. IV. Darah A. Jika pasien mempunyai bukti dari gejala sistemik, spesimen-spesimen untuk biakan darah harus diperoleh. Kumpulkan volume darah yang sesuai dan nomor yang di-set per protokol laboratorium rumah sakit lokal. B. Kumpulkan 10 darah ml di EDTA (tabung-tabung bertutup ungu) untuk PCR. (Anon.) Zoonosi\CDC – A Two-Component Direct Fluorescent-Antibody Assay for Rapid Identification of Bacillus anthracis.html VIII. Pencegahan dan pengendalian A. di Indonesia Untuk daerah bebas, pencegahan dilakukan melalui tindakan karantina berupa pelarangan masuknya hewan dari tertular ke daerah bebas. Sebagai contoh, hewan dan asal hewan dari NTB dan NTT tidak diperbolehkan masuk ke Bali. Di daerah tertular pencegahan hanya dilakukan pada hewan dengan menggunakan vaksin. Vaksin yang digunakan adalah vaksin spora (aktif) namun virulen. Di Indonesia, vaksin untuk hewan diproduksi oleh Pusat Veterinaria Farma (PUSVETMA) di Surabaya. Vaksinasi tidak diizinkan pada daerah bebas anthrax Dalam jumlah terbatas, vaksin anthrax digunakan pada orang, yakni tentara yang bertugas dalam perang, misalnya tentara Amerika sewaktu Perang Teluk. Pengendalian penyakit dilakukan apabila terjadi kejadian penyakit dengan tujuan melokalisasi penyebaran. Penutupan daerah – daerah dari lalu – lintas ternak peka anthrax untuk sementara dan melakukan tindakan pengobatan terhadap ternak yang terserang. Penutupan daerah dilakukan oleh pemerintah Daerah setempat atas rekomendasi dari Dinas Peternakan. Pemberantasan anthrax di daerah endemic sulit dilaksanakan karena sifat Bacillus anthracis amat tahan terhadap lingkungan. Pemberantasan sangat mungkin dilaksanakan apabila kejadian tersebut di daerah baru dan bersifat lokal. Pengobatan anthrax dapat dilakukan dengan antibiotika seperti penisilin dan oksitetrasiklin apabila penyakit masih dalam tahap awal. Pada masa lalu, pengobatan antrax pada hewan disamping diberi antibiotika juga diberi antiserum. Antiserum Anthrax pernah diproduksi oleh Lembaga Penelitian Penyakit Hewan(sekarang Balai Penelitian Veteriner) diBogor. Pengamanan bioterorisme. Selama tahun 1998, lebih dari dua lusin ancaman anthrax terjadi di AS. Tidak ada satupun dari ancaman ini terjadi. Prosedur umum di AS untuk menangani ancaman ini adalah : 1). Siapapun yang menerima ancaman penyebaran anthrax, segera melaporkan kepada FBI (Federal Bureau of Investigation). 2). Di AS, FBI bertanggung jawab penuh untuk melakukan investigasi terhadap ancaman senjata biologis dan lembaga lain harus bekerja sama memberikan bantuan jika diminta oleh FBI. 3). Departemen kesehatan negara bagian dan Dinas Kesehatan setempat sebaiknya juga di beritahu jika ada ancaman ini dan siap memberikan bantuan dan tindak lanjut yang mungkin diperlukan. 4). Orang yang terinfeksi anthrax tidak menular, sehingga tidak perlu dikarantina. 5). Orang yang mungkin terinfeksi, sebaiknya di sarankan menunggu hasil laboratorium dan tidak perlu diberi chemoprofilakcis. Jika mereka menjadi sakit sebelum hasil tes laboratorium selesai, mereka harus segera menghubungi Dinas Kesehatan setempat dan segera ke Rumah Sakit yang ditunjuk untuk mendapatkan perawatan gawat darurat, dan mereka harus memberi tahukan kepada petugas medis bahwa ia kemungkinan terinfeksi anthrax. 6). Jika penderita terbukti terinfeksi anthrax yang ditularkan melalui udara, penderita harus segera mendapat pengobatan profilaktic pasca infeksi dengan antibiotik yang tepat (fluorokinolon adalah obat pilihan dan doksisiklin adalah obat alternatif) dan vaksin. Imunisasi pasca infeksi dengan vaksin bebas sel yang tidak aktif di indikasikan sebagai tindak lanjut pemberian Chemoprofilakcis sesudah suatu insiden biologis. Imunisasi direkomendasikan karena kita tidak tahu apakah spora yang terhirup akan berkembang biak atau tidak. Imunisasi pasca infeksi terdiri dari tiga suntikan : sesegera mungkin sesudah terinfeksi dan pada minggu ke 2 dan ke 4 sesudahnya. Terhadap vaksin ini belum dilakukan evaluasi efektifitas dan keamanannya bagi anakanak kurang dari 18 tahun dan orang dewasa berusia 60 tahun atau lebih. 7). Setiap orang harus mengikuti petunjuk teknis yang diberikan jika menghadapi ancaman biologis 8). Setiap orang dapat dilindungi dari spora anthrax dengan menggunakan jubah pelindung, sarung tangan dan respirator yang menutupi seluruh muka dengan filter yang memiliki efektifitas tinggi terhadap partikel udara “High-efficiency Particle Air” – (HEPA), filter (level C) atau perlengkapan pernafasan “Self-Contained Breathing Apparatus” (SCBA) (level B) 9). Orang yang terpajan dan kemungkinan besar terkontaminasi sebaiknya di dekontaminasi dengan menggunakan sabun dan dibilas dengan air mengalir dalam jumlah yang banyak. Biasanya larutan klorin tidak diperlukan. Cairan klorin rumah tangga dengan perbandingan 1 : 10 (konsentrasi hipoklorit 0,5%) digunakan bila terjadi kontaminasi luas dan bahan yang terkontaminasi ini tidak bisa dibersihkan dengan air dan sabun. Melakukan dekontaminasi dengan klorin hanya direkomendasikan sesudah dilakukan dekontaminasi dengan air dan sabun, dan larutan klorin ini harus dibersihkan sesudah 10 hingga 15 menit. 10). Semua orang yang di dekontaminasi harus melepaskan pakaian dan barang-barang mereka dan memasukkannya ke dalam tas plastik, yang di beri keterangan yang jelas, berisi nama pemilik barang, nomer telpon yang bisa dihubungi, dan keterangan tentang isi tas plastik tersebut. Barang-barang ini akan di simpan sebagai barang bukti terhadap kemungkinan adanya tindakan kriminal dan barang ini akan dikembalikan kepada pemiliknya bila ancaman ini tidak terbukti. 11). Jika paket atau amplop yang dicurigai berisi anthrax dalam keadaan tertutup (tidak terbuka), mereka yang menemukan amplop ini sebaiknya tidak melakukan apapun selain menghubungi FBI. Upaya karantina, evakuasi, dekontaminasi dan kemoprofilaksis sebaiknya tidak dilakukan bila amplop atau paket dalam keadaan tertutup. Untuk kejadian yang disebabkan oleh surat yang mungkin terkontaminasi, lingkungan yang kontak langsung dengan surat tersebut harus di dekontaminasi dengan larutan hipoklorit 0,5 % sesudah dilakukan investigasi terhadap kemungkinan adanya tindakan kriminal. Barangbarang pribadi juga perlu didekontaminasi dengan cara yang sama. 12). Bantuan teknis dapat diberikan segera dengan menghubungi “National Response Center” di 800-424-8802 atau “Weapon of Mass Destruction Coordinator FBI” setempat. (I Nyoman Kandun.2000) 2. RABIES Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies, dan ditularkan melalui gigitan hewan penular rabies terutama anjing, kucing dan kera. Penyebab dan perantara penularan. Virus rabies terdapat dalam air liur hewan yang terinfeksi. Hewan ini menularkan infeksi kepada hewan lainnya atu manusia melalui gigitan dan kadang melalui jilatan. Virus akan masuk melalui saraf-saraf menuju ke medulla spinalis dan otak, yang merupakan tempat mereka berkembangbiak. Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf ke kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur. Banyak hewan yang bisa menularkan rabies kepada manusia. Yang paling sering menjadi sumber dari rabies adalah anjing; hewan lainnya yang juga bisa menjadi sumber penularan rabies adalah kucing, kelelawar, rakun, sigung, dan rubah. Rabies pada anjing masih sering ditemukan di Amerika Latin, Afrika, dan Asia, karena tidak semua hewan peliharaan mendapatkan vaksinasi untuk penyakit ini. Hewan yang terinfeksi bisa mengalami rabies buas atau rabies jinak. Pada rabies buas, hewan yang terkena tampak gelisah dan ganas, kemudian menjadi lumpuh dan mati. Pada rabies jinak, sejak awal telah terjadi kelumpuhan lokal atau kelumpuhan total. Meskipun sangat jarang terjadi, rabies bisa ditularkan melalui penghirupan udara yang tercemar. Telah dilaporkan 2 kasus yang terjadi pada penjelajah yang menghirup udara di dalam goa dimana banyak terdapat kelelawar. Manifestasi penyakit Sesudah masa tunas / inkubasi selama 10 hari sampai dengan 7 bulan, orang yang tertular dapat mengalami / menderita penyakit ini dengan gejala-gejala sebagai berikut : Diawali dengan demam ringan atau sedang, sakit kepala, tak nafsu makan, lemah, mual, muntah dan perasaan yang abnormal pada daerah sekitar gigitan (anjing/binatang liar tsb). Gejala di atas kemudian dengan cepat diikuti hiperestesi dan hipereksitasi mental serta neuromuskular, diikuti dengan kaku kuduk dan kejang-kejang otot-otot yang berfungsi dalam proses menelan dan pernafasan. Sedikit rangsangan berupa cahaya, suara, bau ataupun sedikit cairan dapat menimbulkan reflex kejang-kejang tersebut. Keadaan tersebut selanjutnya berkembang menjadi kekejangan umum dan kematianpun umumnya terjadi pada tahap ini. Pengobatan Pengobatan dilakukan dengan memberikan imunisasi pasif dengan serum anti rabies, dan pengobatan yang bersifat suportif dan simtomatik. Luka gigitan dirawat dengan tehnik tertentu dengan tujuan menghilangkan dan menonaktifkan virus. Immunisasi aktif dengan vaksin anti rabies sebelum tanda-tanda dan gejala muncul sekaligus merupakan usaha pencegahan bila ada kecurigaan binatang yang menggigit mengidap rabies. Pencegahan Pencegahan dilakukan dengan menghindari gigitan anjing atau binatang-binatang liar. Bila sudah terjadi maka binatang tersebut harus diobservasi oleh dokter hewan untuk kemungkinan rabies. Bila binatang tersebut menunjukkan tanda-tanda rabies atau bahkan mati dalam waktu 10 hari maka harus dilakukan pemeriksaan laboratorik terhadap otak binatang tersebut untuk memastikan diagnosa. TOKSOPLASMOSIS. Pengertian toksoplasmosis? Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, yang telah diketahui dapat menyebabkan cacat bawaan (kelainan kongenital) pada bayi dan keguguran (abortus) pada ibu hamil. Infeksi toksoplasma dapat bersifat tunggal atau dalam kombinasi dengan infeksi lain dari golongan TORSH-KM. Sumber penularan TOKSOPLASMOSIS adalah kotoran hewan berbulu, terutama kucing. Cara penularan TOKSOPLASMOSIS pada manusia melalui: 1. Makanan dan sayuran/buah-buahan yang tercemar kotoran hewan berbulu (kucing). 2. Makan daging setengah matang dari binatang yang terinfeksi. 3. Melalui transfusi darah atau transplantasi organ dari donor yang terinfeksi toksoplasma. 4. Secara kongenital (bawaan) dari ibu ke bayinya apabila ibu hamil terinfeksi pada bulan-bulan pertama kehamilannya. Toksoplasma pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran, lahir prematur, lahir mati, lahir cacat atau infeksi toksoplasma bawaan. Bilamana ibu hamil terkena infeksi toksoplasma maka risiko terjadinya toksoplasmosis bawaan pada bayi yang dikandungnya berkisar antara 30-40%. Infeksi toksoplasma bawaan ini dapat mengakibatkan anak yang dilahirkan mengalami kerusakan mata, perkapuran otak, dan keterbelakangan mental, namun seringkali gejala ini tidak terlihat pada bayi yang baru lahir (neonatus). Beberapa faktor yang mungkin berperan atas munculnya gejala adalah fungsi plasenta sebagai sawar (barrier), status kekebalan (imunitas) ibu hamil, dan umur kehamilan ketika terjadinya infeksi pada ibu. Makin besar umur kehamilan ketika terjadinya infeksi, makin besar pula kemungkinan terjadinya infeksi toksoplasma bawaan pada janin. Pada pihak lain, makin dini terjadinya infeksi pada janin, makin berat kerusakan (kelainan) yang dapat terjadi pada janin dan makin besar kemungkinan abortus. Siklus hidup parasit toksoplasma Toxoplasma gondii tersebar luas di alam pada manusia maupun hewan dan merupakan salah satu penyebab infeksi yang paling sering terjadi pada manusia di seluruh dunia. Parasit ini adalah suatu protozoa yang tergolong Coccidia, dan mempunyai 3 (tiga) bentuk: 1. Ookista (bentuk resisten yang berada di lingkungan luar). 2. Trofozoit (bentuk vegetatif dan proliferatif). 3. Kista (bentuk resisten yang berada di dalam tubuh manusia dan hewan). Toxoplasma berkembang-biak di usus hewan berbulu khususnya kucing, menghasilkan keluarnya ookista bersama tinja kucing. Seekor kucing dapat mengeluarkan sampai 10 juta ookista sehari selama 2 minggu. Ookista membentuk sporozoit dalam 1 sampai 3 hari dan tetap infektif selama berbulan-bulan sampai setahun di dalam tanah lembab dan panas, yang tidak kena sinar matahari. Tanah yang tercemar kotoran hewan (ku-cing) menyebabkan infeksi pada tikus dan burung, yang kemudian akan menyebabkan reinfeksi kembali pada kucing. Dengan cara ini daur hidup parasit ini sudah lengkap. Anak-anak juga dapat terinfeksi karena bermain di tanah yang tercemar kotoran kucing. Tanah juga merupakan sumber infeksi untuk herbivora seperti kambing, domba, babi dan ternak. Karena infeksi pada kebanyakan hewan menetap secara menahun, maka daging yang mentah atau setengah matang menjadi sumber infeksi untuk manusia dan hewan karnivora. Gejala dan wujud klinis toksoplasmosis Gejala yang timbul pada infeksi toksoplasma tidak khas, sehingga penderita sering tidak menyadari bahwa dirinya telah terkena infeksi. Tetapi sekali terkena infeksi toksoplasma maka parasit ini akan menetap (persisten) dalam bentuk kista pada organ tubuh penderita selama siklus hidupnya. Gejala klinis yang paling sering dijumpai adalah pembesaran kelenjar getah bening (limfe) dikenal sebagai limfadenopati, yang dapat disertai demam. Kelenjar limfe di leher adalah yang paling sering terserang. Gejala toksoplasmosis akut yang lain adalah demam, kaku leher, nyeri otot (myalgia), nyeri sendi (arthralgia), ruam kulit, gidu (urticaria), hepatosplenomegali atau hepatitis. Wujud klinis toksoplasmosis yang paling sering pada anak adalah infeksi retina (korioretinitis), biasanya akan timbul pada usia remaja atau dewasa. Pada anak, juling merupakan gejala awal dari korioretinitis. Bila makula terkena, maka penglihatan sentralnya akan terganggu. Pada penderita dengan imunodefisiensi seperti penderita cacat imun, penderita kanker, penerima cangkok jaringan yang mendapat pengobatan imunosupresan, dapat timbul gejala ringan sampai berat susunan saraf pusat seperti ensefalopati, meningoense-falitis, atau lesi massa otak dan perubahan status mental, nyeri kepala, kelainan fokal serebral dan kejang-kejang, bahkan pada penderita AIDS seringkali mengakibatkan kematian. Wujud klinis toksoplasmosis bawaan adalah kelainan neurologis: hidrosefalus, mikrosefalus, kejang, keterlambatan psikomotor, perkapuran (kalsifikasi) abnormal pada foto rontgenkepala. Selain itu tampak pula gangguan penglihatan: mikroftalmi, katarak, retinokoroiditis; juga gangguan pendengaran, dan kelainan sistemik: hepatosplenomegali, limfadenopati, dan demam yang tidak diketahui sebabnya. Pemeriksaan Diagnosis penyakit toksoplasmosis umumnya ditegakkan karena adanya kecenderu-ngan yang mengarah pada penyakit tersebut, antara lain adanya riwayat: * infertilitas, abortus, lahir mati, kelainan bawaan * memelihara binatang piaraan berbulu, misalnya kucing Pemeriksaan yang digunakan saat ini untuk mendiagnosis toksoplasmosis adalah pemeriksaan serologis, dengan memeriksa zat anti (antibodi) IgG dan IgM Toxsoplasma gondii. Antibodi IgM dibentuk pada masa infeksi akut (5 hari setelah infeksi), titernya meningkat dengan cepat (80 sampai 1000 atau lebih) dan akan mereda dalam waktu relatif singkat (beberapa minggu atau bulan). Antibodi IgG dibentuk lebih kemudian (1-2 minggu setelah infeksi), yang akan meningkat titernya dalam 6-8 minggu, kemudian menurun dan dapat bertahan dalam waktu cukup lama, berbulan-bulan bahkan lebih dari setahun. Oleh karena itu, temuan antibodi IgG dianggap sebagai infeksi yang su-dah lama, sedangkan adanya antibodi IgM berarti infeksi yang baru atau pengakifan kembali infeksi lama (reaktivasi), dan berisiko bayi terkena toksoplasmosis bawaan. Berapa tingginya kadar antibodi tersebut untuk menyatakan seseorang sudah terinfeksi toksoplasma sangatlah beragam, bergantung pada cara peneraan yang dipakai dan kendali mutu dan batasan baku masing-masing laboratorium. Salah satu contoh yang dapat dikemukakan adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Teguh Wahyu S dkk. (1998), yang menyatakan seorang ibu yang tergolong positif bilamana titer IgGnya 2.949 IU/mL atau IgM 0.5 IU/mL, sedangkan tergolong negatif bilamana titer IgG < 2.0 IU/mL atau IgM < 0.5 IU/mL. Tidak semua ibu hamil yang terinfeksi toksoplasma akan menularkan toksoplasma bawaan pada bayinya. Bilamana dalam pemeriksaan ibu sebelum hamil menunjukkan IgG positif terhadap toksoplasma, berarti ibu tersebut terinfeksi sudah lama, tetapi bukan berarti bahwa 100% bayinya akan bebas dari toksoplasmosis bawaan. Apabila pemeriksaan serologis baru dilakukan pada saat hamil, maka : 1. bila IgG (+) dan IgM (-); dianggap sebagai infeksi lama dan risiko janinnya terinfeksi cukup rendah sehingga ada sebagian pakar yang berpendapat tidak perlu diobati, kecuali jika pasien itu mengidap gangguan kekebalan. 2. bila IgG (+) dan IgM (+); uji perlu diulang lagi 3 minggu kemudian. Bilamana titer IgG tidak meningkat maka dianggap infeksi terjadi sebelum kehamilan dan risiko untuk janinnya cukup rendah, sedangkan jika titer IgG meningkat 4 kali lipat dan IgM tetap positif maka ini berarti bahwa telah terjadi infeksi baru dan janin sangat berisiko mengalami toksoplasmosis bawaan atau terjadi keguguran. 3. bila IgG (-) dan IgM (-); bukan berarti terbebas dari toksoplasmosis bawaan, justru pada ibu ini pemeriksaan harus diulang setiap 2-3 bulan untuk menasah serokonversi (perubahan negatif menjadi positif). Bilamana pada ibu hamil ditemukan IgM (+) maka pengobatan sudah pasti harus diberikan dan pemeriksaan ultrasonografi dilakukan berulang kali untuk menen-tukan adanya kelainan janin. * ultrasonografi serial setiap 3 minggu dilakukan untuk menentukan adanya kelainan, misalnya: asites, pembesaran rongga otak (ventrikulomegali) (V/H), pemesaran hati (hepatomegali), perkapuran (kalsifikasi) otak. Bila pada janin terdapat kelainan maka perlu dipertimbangkan untuk peng-akhiran (terminasi) kehamilan. * bila mungkin, dilakukan pengambilan darah janin pada kehamilan 20-32 minggu untuk pembiakan parasit (inokulasi) pada mencit. Bila inokulasi memberikan hasil positif maka perlu dipertimbangkan untuk pengakhiran kehamilan. * setelah bayi lahir perlu dilakukan pemeriksaan lengkap terhadap bayi, antara lain: pengambilan darah talipusat ketika bayi baru saja lahir untuk pemeriksaan serologis antibodi janin atau isolasi T. gondiii, pemeriksaan titik-cahaya mata (funduskopi), dan USG atau foto rontgen tengkorak. Diagnosis toksoplasma bawaan pada bayi lebih sukar ditetapkan karena gejala klinis dari infeksi toksoplasma bawaan sangat beraneka ragam dan seringkali subklinis (tidak terlihat) pada neonatus. Oleh karena itu perlu dilakukan juga pemeriksaan serologis pada neonatus, terutama bilamana diketahui ibunya terinfeksi selama kehamilan. Antibodi IgG dapat menembus plasenta, sedangkan antibodi IgM tidak dapat menembus plasenta. Dengan demikian, apabila pada darah bayi ditemukan antibodi IgG mungkin hanya merupakan pindahan (transfer) IgG ibu, dan lambat-laun akan habis. Pada usia 2-3 bulan, bayi sudah dapat membentuk antibodi IgG sendiri, bilamana bayi terinfeksi toksoplasma bawaan maka konsentrasi IgGnya akan mulai meningkat lagi setelah IgG yang diperoleh dari ibunya habis. Tetapi jika ditemukan antibodi IgM, maka ini menunjukkan infeksi nyata pada bayi (toksoplasmosis bawaan). Pengobatan TOKSOPLASMOSIS Untuk mengendalikan infeksi yang persisten ini, umumnya diperlukan reaksi imun tubuh yang memadai (adekuat). Penderita toksoplasma dengan sistem imun yang normal tidak memerlukan pengobatan, kecuali ada gejala-gejala yang berat atau berkelanjutan. Toksoplasmosis pada penderita imunodefisiensi harus diobati karena dapat mengakibatkan kematian. Toksoplasmosis pada ibu hamil perlu diobati untuk menghindari toksoplasmosis bawaan pada bayi. Obat-obat yang dapat digunakan untuk ibu hamil adalah spiramisin 3 gram/hari yang terbagi dalam 3-4 dosis tanpa memandang umur kehamilan, atau bilamana mengharuskan maka dapat diberikan dalam bentuk kombinasi pirimetamin dan sulfadiazin setelah umur kehamilan di atas 16 minggu. Pada bayi yang menderita toksoplasma bawaan baik bergejala atau tidak, sebaiknya diberikan pengobatan untuk menghindari kelainan lanjutan. Obat-obatan yang digunakan adalah: * Pirimetamin 2 mg/kg selama dua hari, kemudian 1 mg/kg/hari selama 2-6 bulan, dikikuti dengan 1 mg/kg/hari 3 kali seminggu, ditambah * Sulfadiazin atau trisulfa 100 mg/kg/hari yang terbagi dalam dua dosis, ditambah lagi * Asam folinat 5 mg/dua hari, atau dengan pengobatan kombinasi: * Spiramisin dosis 100 mg/kg/hari dibagi 3 dosis, selang-seling setiap bulan dengan pirimetamin, * Prednison 1 mg/kg/hari dibagi dalam 3 dosis sampai ada perbaikan korioreti-nitis. Perlu dilakukan pemeriksaan serologis ulangan untuk menentukan apakah pengobatan masih perlu diteruskan. Sebagai strategi baru untuk menanggulangi masalah infeksi toksoplasma yang bersifat persisten ini, digunakan kombinasi imunoterapi dan pengobatan zat antimikroba. Cacat imunologi seluler diobati dengan imunomodulator (Isoprinosine atau levamisol), sedangkan infeksinya dikendalikan dengan pemberian spiramisin. Kombinasi pengobatan ini dimaksudkan untuk memberikan dukungan bagi pende-rita dengan meningkatkan reaksi imunologik selulernya dan sekaligus mengendali-kan infeksi toksoplasmanya. A. Pengendalian Vektor Penyakit Peraturan Mentri No.374 tahun 2010 mendefinisikan bahwa pengendalian vektor merupakan kegiatan atau tindakan yang ditujukan untuk menurunkan populasi vektor serendah mungkin sehingga keberadaannya tidak lagi beresiko untuk terjadinya penularan penyakit di suatu wilayah atau menghindari kontak masyarakat dengan vektor sehingga penularan penyakit yang dibawa oleh vektor dapat di cegah (MENKES,2010). Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan secara fisik atau mekanis, penggunaan agen biotik kimiawi, baik terhadap vektor maupun tempat perkembangbiakannya dan atau perubahan perilaku masyarakat serta dapat mempertahankan dan mengembangkan kearifan loKal sebagai alternative. Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka kesakitan penyakit bersumber binatang antara lain adanya perubahan iklim, keadaan social-ekonomi dan perilaku masyarakat. Perubahan iklim dapat meningkatkan risiko kejadian penyakit tular vektor. Faktor risiko lainnya adalah keadaan rumah dan sanitasi yang buruk, pelayanan kesehatan yang belum memadai, perpindahan penduduk yang non imun ke daerah endemis. Masalah yang di hadapi dalam pengendalian vektor di Indonesia antara lain kondisi geografis dan demografi yang memungkinkan adanya keragaman vektor, belum teridentifikasinya spesies vektor ( pemetaan sebaran vektor) di semua wilayah endemis, belum lengkapnya peraturan penggunaan pestisida dalam pengendalian vektor, peningkatan populasi resisten beberapa vektor terhadap pestisida tertentu, keterbatasan sumberdaya baik tenaga, logistik maupun biaya operasional dan kurangnya keterpaduan dalam pengendalian vektor. Dalarn pengendalian vektor tidaklah mungkin dapat dilakukan pembasmian sampai tuntas, yang mungkin dan dapat dilakukan adalah usaha mengurangi dan menurunkan populasi kesatu tingkat yang tidak membahayakan kehidupan manusia. Namun hendaknya dapat diusahakan agar segala kegiatan dalam rangka menurunkan populasi vektor dapat mencapai hasil yang baik. Untuk itu perlu diterapkan teknologi yang sesuai, bahkan teknologi sederhana pun yang penting di dasarkan prinsip dan konsep yang benar. Ada beberapa cara pengendalian vector penyakit yaitu : 1. Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) Mengingat keberadaan vektor dipengaruhi oleh lingkungan fisik, biologis dan social budaya, maka pengendaliannya tidak hanya menjadi tanggung jawab sector kesehatan saja tetapi memerlukan kerjasama lintas sector dan program. Pengendalian vektor dilakukan dengan memakai metode pengendalian vektor terpadu yang merupakan suatu pendekatan yang menggunakan kombinasi beberapa metoda pengendalian vektor yang dilakukan berdasarkan pertimbangan keamanan, rasionalitas, efektifitas pelaksanaannya serta dengan mempertimbangkan kesinambungannya. a. Keunggulan Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) adalah 1. Dapat meningkatkan keefektifan dan efisiensi sebagai metode atau cara pengendalian 2. Dapat meningkatkan program pengendalian terhadap lebih dari satu penyakit tular vektor 3. Melalui kerjasama lintas sector hasil yang dicapai lebih optimal dan saling menguntungkan. Pengendalian Vektor Terpadu merupakan pendekatan pengendalian vektor menggunakan prinsip-prinsip dasar management dan pertimbangan terhadap penularan dan pengendalian peyakit. Pengendalian Vektor Terpadu dirumuskan melalui proses pengambilan keputusan yang rasional agar sumberdaya yang ada digunakan secara optimal dan kelestarian lingkungan terjaga. b. Prinsip-prinsip PVT meliputi: 1. Pengendalian vektor harus berdasarkan data tentang bioekologi vektor setempat, dinamika penularan penyakit, ekosistem dan prilaku masyarakat yang bersifat spesifik local( evidence based) 2. Pengendalian vektor dilakukan dengan partisipasi aktif berbagai sector dan program terkait, LSM, Organisasi profesi, dunia usaha /swasta serta masyarakat. 3. Pengendalian vektor dilakukan dengan meningkatkan penggunaan metoda non kimia dan menggunakan pestisida secara rasional serta bijaksana 4. Pertimbangan vektor harus mempertimbangkan kaidah ekologi dan prinsip ekonomi yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. c. Beberapa metode pengendalian vektor sebagai berikut: 1. Metode pengendalian fisik dan mekanik adalah upaya-upaya untuk mencegah, mengurangi, menghilangkan habitat perkembangbiakan dan populasi vektor secara fisik dan mekanik. Contohnya: - modifikasi dan manipulasi lingkungan tempat perindukan (3M, pembersihan lumut, penenman bakau, pengeringan, pengalihan/ drainase, dll) - Pemasangan kelambu - Memakai baju lengan panjang - Penggunaan hewan sebagai umpan nyamuk (cattle barrier) - Pemasangan kawat 2. Metode pengendalian dengan menggunakan agen biotic - predator pemakan jentik (ikan, mina padi,dll) - Bakteri, virus, fungi - Manipulasi gen ( penggunaan jantan mandul,dll) 3. Metode pengendalian secara kimia - Surface spray (IRS) - Kelambu berinsektisida - larvasida Adapun prinsip dasar dalam pengendalian vektor yang dapat dijadikan sebagai pegangan sebagai berikut : a. Pengendalian vektor harus menerapkan bermacam-macam cara pengendalian agar vektor tetap berada di bawah garis batas yang tidak merugikan/ membahayakan. b. Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologi terhadap tata lingkungan hidup. (Nurmaini, 2001) 2. Pengendalian secara alamiah (naturalistic control) yaitu dengan memanfaatkan kondisi alam yang dapat mempengaruhi kehidupan vector. Ini dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lama 3. Pengendalian terapan (applied control) yaitu dengan memberikan perlindungan bagi kesehatan manusia dari gangguan vektor. Ini hanya dapat dilakukan sementara. a. Upaya peningkatan sanitasi lingkungan (environmental sanitation improvement) b. Pengendalian secara fisik-mekanik ( physical-mechanical control) yaitu dengan modifikasi/manipulasi lingkungan c. Pengendalian secara biologis (biological control) yaitu dengan memanfaatkan musuh alamiah atau pemangsa/predator, fertilisasi d. Pengendalian dengan pendekatan per-UU (legal control) yaitu dengan karantina e. Pengendalian dengan menggunakan bahan kimia ( chemical control) (Afrizal, 2010).
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful