Macam-macam Zoonosis dan penjelasannya - Pengertian Zoonosis Zoonosis adalah penyakit dan infeksi yang ditularkan secara

alami antara hewan vertebrata dan manusia (Soeharsono, 2005). Jadi zoonosis juga disebut penyakit infeksi yang terjadi antara hewan dan manusia. Jenis zoonosis dibagi dua, pertama antropozoonosis yaitu infeksi pada hewan vertebrata yang ditularkan pada manusia. Dan yang kedua adalah zooantroponosis yaitu infeksi pada manusia yang dapat ditularkan pada hewan vertebrata (Anonim,2008). - Macam-macam Zoonosis dan penjelasannya Macam-macam zoonosis sebenarnya sangat banyak sekali dibawah ini adalah yang sering ditemui masyarakat pada umumnya. 1. Antraks, yaitu penyakit menular akut yang disebabkan oleh bacteria baccilus anthracis dan sangat mematikan dalam bentuknya yang paling ganas (Anonim, 2008). 2. Rabies adalah penyakit zoonotik yang disebarkan oleh Virus Rabies atau Rhabdovirus (Anonim, 2008). 3. Taksoplasmosis infeksi yang disebabkan oleh parasit sel tunggal toxoplasma gondii. Parasit hidup dalam organisme hidup lain (induknya) dan mengambil semua gizi dari induknya (Anonim, 2008). 4. SARS adalah syndrome pernafasan akut berat yang merupakan penyakit infeksi pada jaringan paru manusia yang sampai saat ini belum diketahui penyebabnya (Departemen Kesehatan, 2007) 5. Borreliosis adalah penyakit pada hewan dan manusia yang disebabkan oleh bacteria yang dikenal sebagai borrelia Sp (Soeharsono, 2005). 6. Chromobacteriosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri chromobacterium violaceum yang menyerang hewan dan manusia lewat media tanah basah dan air (Soeharsono, 2005). 7. Dermatophillosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri dermatophilus congolensis, yang ditandai dengan pembentukan kerak dan penyakit ini bersifat kronik (Soeharsono, 2005). 8. Tuberkolosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh mycobacterium sp dan bersifat kronik (Soeharsono, 2005). 9. Tularemia adalah penyakit zoonosis yang bersifat septikomik dan disebabkan oleh bakteri franscisella tularencis yang ada dalam tinja (Soeharsono, 2005). 10. Cacar monyet adalah penyakit viral dengan induk semang asli pada monyet yang disebabkan oleh virus dan dapat menular manusia (Soeharsono, 2005). 11. Cacar Sapi adalah penyakit kulit yang bersifat ringan pada sapi yang disebabkan oleh virus cacar sapi (Soeharsono, 2005). 12. Enchepalitis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh tiga jenis virus. Virus Eastern Equine Enchephalitis, virus Western Equine Enchephalitis, dan virus Venezuelan Equine Enchephalitis (Soeharsono, 2005). 13. Epidemic Polyarthitis adalah penyakit viral yang ditularkan dengan arthopoda yang disebabkan oleh virus (Soeharsono, 2005). 14. Kyasanur Forest adalah penyakit viral yang disebabkan oleh virus flavi dan lewat perantara burung migrasi (Soeharsono, 2005). 15. Murray Valley Enchephalitis adalah Penyakit viral yang disebabkan oleh arbovirus atau virus MVE (Soeharsono, 2005). 16. Newcastle Disease adalah penyakit unggas yang disebabkan oleh virus yang punya spike atau tonjolan (Soeharsono, 2005). 17. Penyakit Mulut dan Kaki (PMK) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang hewan yang berkuku genap (Soeharsono, 2005). 18. Tanapox adalah penyakit viral yang disebabkan oleh virus tanapox dan kejadian pertama di sungai tana (Kenya) (Soeharsono, 2005).

19. “TUMOR” Cacar Monyet Yaba adalah penyakit viral yang disebabakan oleh virus Orthopox (Soeharsono, 2005). 20. Yellow Fever adalah penyakit viral pada hewan dan manusia yang disebabkan oleh virus RNA dan ditulakan oleh nyamuk (Soeharsono, 2005). 21. Schistosomiasis adalah infeksi cacing golongan trematoda pada hewan atau manusia (Soeharsono, 2005). 22. Cryptosporidiosis adalah penyakit pada hewan dan manusia yang disebabkan oleh protozoa yaitu cryptosporidium sp (Soeharsono, 2005). 23. Leishmaniasis adalah penyakit pada hewan dan manusia yang disebabkan oleh parasit leishmania sp (Soeharsono, 2005). 24. Sparganosis adalah penyakit yang disebabkan oleh larva tahap kedua cacaing pita yaitu spirometra sp (Soeharsono, 2005). 25. Trichinellosis adalah penyakit infeksi cacaing trichenella spiralis pada hewan ataupun manusia (Soeharsono, 2005). 26. Trypanosomiasis Afrika dalah penyakit yang disebabakan oleh Tp gambiase yang menimbulakan penyakit tidur pada manusia (Soeharsono, 2005). 27. Trypanosomiasis Amerika adalah penyakit yang disebabkan oleh Tp Cruzi yang perkembangannya di dalam darah (Soeharsono, 2005).

ANTHRAX I. SINONIM (radang limpa, malignant pustule, woolsorters` disease, miltvuur, malignant edema, ragpicker disease). (Anon. 2000) Penyakit anthrax mempunyai potensi sangat besar untuk menular dari hewan kepada manusia (zoonosis), terutama daerah yang tergolong kurang subur dan tingkat pendidikan masyarakatnya masih relatif rendah. Pemotongan ternak sakit di luar Rumah Pemotongan Hewan (RPH) , tanpa pengawasan petugas, sering menimbulkan kejadian luar biasa ( wabah ) anthrax. (Soeharsono. 2002) II. ETIOLOGI Morfologi Penyebab penyakit anthrax adalah bakteri berbentuk batang, berukuran 1-1,5 mikron kali 3-8 mikron, bersifat aerobic, nonmotil, gram positif yang disebut Bacillus antrachis. Apabila spesimen ini diambil dari hewan sakit, bakteri berbentuk rantai pendek dikelilingi oleh kapsul yang terlihat jelas. (Bacillus antrachis ditemukan di dalam otak) Bentuk vegetatif Bacillus antrachis yang ada di dalam tubuh hewan relatif tidak dapat tahan lama dalam berkompetisi dengan bakteri pembusuk. Apabila terjadi kontak dengan udara (oksigen), bakteri ini akan membentuk spora yang amat tahan terhadap pengaruh lingkungan. Oleh karena itu , setiap hewan yang mati dengan dugaan anthrax tidak boleh dilakukan autopsi.

sedangkan fungsi spesifik dari lethal factor masih belum diketahui.4 dengan lingkungan aerob. Pertahanan hidup Dalam mempertahankan siklus hidupnya. kulit. maka secara mikroskopik akan terbentuk sferis besar dalam bentuk rantai (fenomena string of pearls). kapas. Bakteri mampu meragi glukosa dan menghidrolisa gelatin tetapi tidak meragi manitol. pakaian . Dalam tanah. dsb. Kapsul ini terdiri atas polipeptida berbobot molekul tinggi yang mengandung asam D – Glutamat an merupakan suatu hapten. bulu. Koloni bakteri bersifat sticky sehingga jika diangkat akan membentuk formasi seperti stalaktit (beaten egg-whites appearance). Cermin dunia kedokteran. Dalam sel bakteri anthrax juga terdapat eksotoksin kompleks yang terdiri atas Protective Ag (PA). Umumnya.0 – 7. koloni kuman tampak sebagai koloni yang besar. 1960). ketiga komponen dari eksotoksin itu berperan bersama – sama.peran ketiganya itu terlihat sekali dalam menimbulkan gejala penyakit anthrax. Lethal factor (LF). Untuk mendapatkan koloni yang karakteristik. ( Djaenuddin dan Soetikno. sehingga sukar tersaring oleh mekanisme penyaringan di saluran pernafasan atas. jaringan/binatang mati dan tidak terbentuk di jaringan dan darah binatang hidup. Suhu pertumbuhan berkisar antara 12 – 45°C tetapi suhu optimumnya 37°C. spora dapat bertahan puluhan tahun.05 – 0. maka bakteri yang ditumbuhkan pada media EYA (Egg-Yolk Agar) akan membentuk zona kompak. Bentuk vegetatifnya mudah dimatikan pada suhu 54° C selama 30 menit. Karena menghasilkan lesitinase. Jika bakteri ditumbuhkan selama 3 – 6 jam pada suhu 37°C pada media yang mengandung penisilin pada kadar 0. bakteri sebaiknya ditumbuhkan pada media yang mengandung darah tanpa antibiotika.2002) Spora dibentuk di tanah. Dua bentuk inilah.5 unit /ml . Endospora dapat dimatikan dengan cara autoclave pada suhu 120° C selama 15 menit. Protective Ag berfungsi untuk mengikat reseptor dan selanjutnya Lethal factor. Spora antrax tahan terhadap pengaruh panas. dan Oedema factor (EF). Bacillus anthracis membentuk dua sistem pertahanan. Tepatnya.Spora anthrax dapat bertahan selama 60 tahun di dalam tanah kering. Diameter endospora berkisar 1-2 mikrometer. Bakteri mudah ditumbuhkan pada berbagai media. Spora yang merupakan endospora tahan terhadap pengaruh lingkungan. Bacillus antrachis amat pathogen. yaitu kapsul dan spora. bakteri antrax tidak menyebabkan hemolisis darah domba dan reaksi katalasenya positif.) Faktor predisposisi kejadian penyakit seperti musim panas. Sedangkan odema factor akan memasuki sistem sel dari bakteri. Bacillus anthracis dapat membentuk kapsul pada . terutama spora yang menyebabkan Bacillus anthracis dapat bertahan hidup hingga puluhan tahun lamanya. kompak.2007. koloni tersusun seperti susunan rambut sehingga sering disebut sebagai bentuk kaput medusa. Di bawah mikroskop. Sedangkan kapsul merupakan suatu lapisan tipis yang menyelubungi dinding luar dari bakteri. Odema factor merupakan adenilsiklase yang mampu meningkatkan cAMP sitoplasma sel. kekurangan makanan dan keletihan mempermudah timbulnya penyakit pada hewan yang mengandung spora bersifat laten . Setelah masa inkubasi 24 jam. (Soeharsono. Spora juga tahan dalam waktu yang lama di debu. Bakteri tumbuh subur pada pH media 7. arabinosa dan xilosa. serbuk tulang. (Agus Sjahrurachman. sinar ultraviolet dan beberapa desinfektan. namun pernah pula dilaporkan penemuan isolat Bacillus antrachis yang kurang pathogen dari seekor kuda. putih-keabu-abuan dengan tepi tak beraturan.

spora akan berubah kembali menjadi bentuk bakteri. Antrax daerah perindustrian (Industrial Antrax) yaitu Antrax yang terjadi di daerah atau kawasan industri yang menggunakan bahan baku berasal dari hewan atau hasil hewan seperti bahan-bahan yang terbuat dari kulit (tas. ikat pinggang. IV. Berikutnya Koran Kolonial Verslag memberitakan anthrax di Buleleng ( Bali ). Spora – spora ini dapat terus bertahan hidup selama puluhan tahun dikarenakan sulit dirusak atau mati oleh pemanasan atau bahan kimia tertentu. Menurut daerah penularannya. Pembentukan spora akan terjadi apabila nutrisi esensial yang diperlukan tidak memenuhi kebutuhan untuk pertumbuhan. Di sinilah keistimewaan bakteri ini. centrifugasi dll. Spora berbentuk elips atau oval. daging (dendeng. ( Balipost ). Masa inkubasi penyakit Antrax bervariasi untuk Antrax tipe kulit 7 hari (rata-rata 1-5 hari). Penyakit ini tersebar di lima benua ( Afrika. Bacillus anthracis juga membentuk spora sebagai bentuk resting cells. industri makanan ternak). spora tersebut tumbuh dengan baik di tanah maupun pada eksudat atau jaringan hewan yang mati karena antrax. topi. alat musik).Lebih jauh. hidup tapi tak berkembang biak. Padang-darat. kerajinan dll) dan lain-lain. anthrax pertama kali diberitakan oleh Javasche Courant terjadi pada kerbau di Teluk betung ( Sumatra ) tahun 1884. Selama lebih dari 100 tahun . Pada tahun 1886. . Distribusi Anthrax termasuk penyakit yang sudah lama sekali diketahui manusia. kelinci. Kalimantan Barat dan Timur dan Pulau Rote (NTT). marmut. Antrax yang terjadi di laboratorium yaitu infeksi hewan-hewan percobaan seperti tikus putih. tulang (perhiasan. Kapsul inilah yang berperan dalam penghambatan fagositosis oleh sistem imun tubuh. Spora Bacillus anthracis ini tidak terbentuk pada jaringan atau darah binatang yang hidup. Eropa. darah (campuran makanan ternak).rantai yang berderet.) III. Rawas (Palembang) dan lampung pada tahun 1885. tanduk (perhiasan. ( Arda Dinata. sehingga Bali dinyatakan sebagai daerah “bebas anthrax” sampai saat ini. Kejadian dan penyakit pada manusia Infeksi pada manusia adalah korelasi dengan kejadian pennyakit pada domestic animal. Asia dan Australia). Pada media biasa rantai tidak terbentuk kecuali pada Bacillus anthracis yang ganas. sehingga bakteri tersebut bersifat dormant. apabila keadaan lingkungan sekitar menjadi baik kembali atau nutrisi esensial telah terpenuhi. penyakit anthrax tidak pernah terjadi lagi di Bali. letaknya sentral dengan diameter tidak lebih dari diameter bakteri itu sendiri. Antrax tipe intestinal (pencernaan) antara 2-5 hari dan Antrax tipe pernapasan (pulmonal) antara 1-5 hari (biasanya 3-4 hari). Antrax dibagi dalam tiga macam: Antrax daerah pertanian (Agriculture Antrax) yaitu Antrax yang penularan dan kejadiannya berkisar di daerah-daerah pertanian saja. dan juga dapat menentukan derajat keganasan atau virulensi bakteri. abon dll). A. Selain itu. Di Indonesia. Koran yang sama memuat berita bahwa wabah penyakit anthrax di Banten. prosesnya disebut sporulasi. Antrax di Indonesia pada umumnya termasuk Antrax daerah pertanian. bakteri ini akan membentuk kapsul dengan baik jika terdapat pada jaringan hewan yang mati atau pada media khusus yang mengandung natrium bikarbonat dengan konsentrasi karbondioksida (CO2) 5%.

radang akut saluran usus. dengan mortalitas mendekati 100% .feses yang keras. paru-paru atau kulit (berkenaan dengan kulit) dan gejala-gejala penyebab klinis terpisah. ada bukti yang didokumentasikan untuk memverifikasi eksak atau rata-rata angka dari spora-spora. Gastrointestinal anthrax dapat diterapi tetapi biasanya mengakibatkan daftar kematian dari 25% kepada 60%. pada masyarakat yang bekerja sebagai petani. batuk yang keras dan berat ( sering juga fatal) kolaps pernapasan. Sayangnya inhalation anthrax. anthrax tidak biasanya menyebar dari satu manusia yang terinfeksi sampai manusia yang tidak terinfeksi. eschar). jika dihentikan terapinya hingga gejala – gejala yang timbul. Inhalational anthrax sangat fatal.seperti muntah darah. b. c. sulit buang air besar. akan mengakibatkan kematian. Beberapa luka telah ditemukan di dalam perut dan di dalam mulut serta kerongkongan. Anthrax dengan penanganan infeksi yang menyebar pada binatang atau wolnya. Eschar yang hitam sering . orang yang memakan daging hewan terinfeksi atau bekerja di perusahaan dimana wol diproduksi. tergantung bagaimana perawatan dimulai. Setelah bakteri masuk ke sistem usus. sulit bernafas. jelas berdasar pada lokasi infeksi. Satu manusia yang terkena infeksi/tersebar akan secara umum dikarantina. yang diikuti oleh keparahan. dan hilangnya selera makan.dan hanya terjadi sekali-sekali pada manusia.Secara ekonomis di negara maju dimana hewan yang terkena anthrax telah terkendali . Tingkat kematian (lethal level) dari anthrax dilaporkan diakibatkan oleh pernafasan (inhalation).000-20. Tiga jenis penularan anthrax di manusia a. Kejadian penyakit pada manusia di negara berkembang tidak dapat diketahui karena tidak semua dokter bisa mendeteksinya. Cutaneus anthrax Bentuk cutaneus anthrax menginfeksi sebagai luka kulit seperti bisul yang akhirnya membentuk borok dengan suatu centre (ie yang hitam. Inhalational anthrax Anthrax dapat masuk tubuh melalui perut (proses pencernaan). diare parah. Tetapi jika penyakit itu pada tubuh maka berakibat fatal bagi orang tersebut dan koloni Bacillus anthracis menjadi suatu sumber yang potensial menginfeksi yang lain dan kehati – hatian harus digunakan untuk mencegah lebih lanjut pencemaran.000 spora menyebabkan terjadinya inhalation anthrax juga tergantung pada tingkat kepekaan dengan bukti bahwa sebagian orang meninggal dari kasus-kasus penyakit inhalation anthrax. Infeksi lewat jalur pernafasan (inhalation) pada awalnya terlihat dengan gejala – gejala seperti influenza atau untuk beberapa hari. Gastrointestinal (gastroenteric) anthrax Infeksi gastrointestinal paling sering disebabkan oleh daging terinfeksi anthrax dan ditandai oleh kerusakan saluran gastrointestinal yang serius. Anthrax pada manusia kebanyakan biasa terjadi di daerah enzootic yaitu di negara berkembang. membuat lebih toksik lagi dalam perjalanan. Bagaimanapun. bakteri menyebar melalui aliran darah sepanjang tubuh. Menghirup sekitar 10. bakteri atau kecelakaan laboratorium.

demam. gelisah. Sebelumnya antraks hanya ditemukan pada kerbau. tapi infeksi kuman anthrax jarang sekali terjadi pada hewan-hewan itu.” Gejala Klinik pada hewan Pada sapi. kejang dan diikuti dengan kematian. seperti sapi.kali muncul sebagai suatu.com KUPANG– MEDIA: Petugas medis dari Dinas Peternakan Sikka. dari jumlah yang sedikit sampai banyak ) (seperti cetakan roti) di lapangan infeksi cutaneu anthrax secara umum membentuk di dalam lokasi dari penetrasi spora di dalam 2 sampai 5 hari setelah penginfeksian. kambing. borok nekrotik tanpa rasa sakit (mulai sebagai luka kulit yang gatal atau lepuh yang gelap dan biasanya memusat sebagai suatu titik yang hitam. kuda. Biasanya antraks yang menyerang manusia. Kecamatan Magapanda.2002) B. Selain itu ada satu warga tertular antraks dari kambing yang mati itu karena memakan dagingnya. babi. marmut. Infeksi cutaneus anthrax adalah wujud sedikit fatal dari infeksi anthrax yang lain jika dilakukan terapi. terutama jika terjadi didaerah endemic anthrax. Bagaimana Penularan Antraks pada hewan? Utamanya. Walau anjing dan hewan carnivora lainnya termasuk binatang rentan juga. “Gejala lainnya ialah darah segar keluar dari mulut. tetapi harus . Nusa Tenggara Timur (NTT). pihaknya menemukan enam ekor kambing mati di desa itu sejak dua hari terakhir. sumber penularan anthrax adalah hewan-hewan yang peka terhadap anthrax. infeksi anthrax dapat terjadi juga pada jenis burung. sesak napas. domba.(Soeharsono. infeksi anthrax jenis cutaneus secara normal tidak menyebabkan nyeri. septicemia dan umumnya diikuti kematian apabila tidak segera mendapat pengobatan. warga yang terkena antraks itu timbul pada kulit (cutaneus) sehingga tidak berbahaya. terutama burung unta. Tetapi tanpa perawatan. Tidak seperti memar tetapi hampir semua luka-luka. ketika orang tersebut membedah atau menyembelih hewan yang terinfeksi atau dapat pula ditularkan melalui produk-produk yang dihasilkan oleh hewan yang terinfeksi tersebut. Oleh karena itu. kira-kira 20% dari semua kasus-kasus infeksi cutaneus anthrax terjadi toksemia dan kematian. telinga dan dubur atau alat kelamin. Terapi anthrax jenis cutaneus. terkadang berakibat fatal (Anonim) (perkembangan anthrax di dalam cavum mediastinum) Anthrax bentuk gastrointestinal yang diakibatkan oleh penularan per os ditandai oleh nyeri abdominal. Gejala Antraks pada Hewan Ternak: Hewan yang menderita antraks antara lain ditandai dengan demam tinggi. Kejadian dan penyakit pada hewan Belum lama ini sebuah berita yang bersumber dari web koranindonesia. kerbau dan kuda umumnya anthrax bersifat akut atau perakut disertai septicemia. Kepala Sub Dinas Peternakan dan Konservasi Sumber Daya Dinas Peternakan Sikka Vitalis Kanisius mengatakan. kerbau. kematian hewan secara mendadak. Kecuali bila gejala antraks timbul di bagian perut. burung unta serta hewan lain seperti tikus. Flores. tidak boleh langsung dilakukan autopsi. Justru. mencit dan lainnya. Sabtu (3/11) menemukan antraks pada kambing di Desa Kolisia B.

ATP .2002) V. Gejala diare dapat ditemukan pada beberapa ekor hewan. jumlah spora yang menginfeksi dan virulensi bakteri yang menyerang. 2001). (Soeharsono. bangkai harus segera di temukan darah yang berwarna hitam pekat yang sulit menggumpal keluar dari lubang ( anus . 2001. anthracis. saat itu kedua molekul ini berubah menjadi toksin edema dan toksin letal (Brossier dan Mock. LF : faktor letal.bakteri ini berkembang dengan sangat cepat yang berlangsung terus sampai kematian. Ekspresi virulensi molekul EF dan EF justru terjadi setelah mereka keluar dari endosom sel inang. Beberapa kuda mengalami hiperhidrosis dan kolik. Bagaimana toxin bakteri Factor Lethal menyebabkan keparahan penyebaran anthrax Dimana molekul PA berperan sebagai chaperone dalam proses tersebut. Crammer dan Martinez. hidung. . EF : faktor edema. 2001). Bila ada dugaan anthrax. Ada dua bentuk anthrax pada manusia di Indonesia. sedangkan faktor letal menyebabkan pemutusan rantai molekul protein kinase dalam sel. CaM : kalmodulin. MAPKKs : protein kinase yang diaktivasi oleh mitogen (Sumber : Mock dan Fauet. faktor edema/ Eudema Factor (EF) dan faktor letal/ Lethal Factor (LF) dalam patogenesis anthrax. Bila bakteri masuk ke saluran pencernaan bagian tengah dan bawah akan menimbulkan enteritis ulceratie et haemorrhagica.telinga). selain demam tinggi sering ditemukan pula oedema sub kutis di daerah pectoral. Di Australia ada penyakit anthrax bentuk respiratorik akibat penularan per inhalation spora anthrax lewat bulu-bulu domba yang terjadi pada tempat pemotongan bulu domba sehingga disebut wool sorter`s disease. Sumber Infeksi Bacillus anthracis penyebab penyakit anthrax memiliki dua faktor virulen yaitu kapsul polimer asam G d-glutamat dan eksotoksin yang membantu invasinya pada inang.diyakinkan dahulu lewat pemeriksaan darah perifer( misalnya dari daun telinga) dan diberi pewarnaan cepat untuk memberikan gambaran sementara apakah anthrax atau bukan. Kematian umumnya disebabkan oleh pengaruh prototoksin yang menimbulkan gangguan susunan syaraf pusat berupa kelumpuhan pusat respirasi dan mengakibatkan hipoksia. tetapi begitu masuk ke dalam aliran darah. Bangkai ternak yang mati oleh anthrax cepat membusuk. Keterangan : PA : antigen protektif. Dapat disimpulkan bahwa : Molekul PA berperan sebagai kargo pembawa LF atau EF ke dalam sel inang. Peranan biokimiawi eksotoksin (faktor virulen ekstraseluler) yang terdiri dari antigen protektif/ Protective Agent (PA). Sesaat sebelum hewan mati. Perkembangan bakteri anthrax dalam sistem limfatik relatif lambat. Kedua mekanisme ini bertanggung jawab terhadap virulensi Bacillus. Apabila penularan terjadi per os. scrotum dan bawah kepala. bakteri anthrax akan masuk sistem limfatik dan menimbulkan limfangitis dan lymphadenityis yang kemudian menimbulkan septicemia. Faktor edema menyebabkan peningkatan kadar siklik adenosin mono fosfat (cAMP). Keparahan penyakit dipengaruhi status kekebalan hewan. AMPc : siklik adenosin monofosfat. Pada kuda. inguinal . yakni bentuk kulit sebagai akibat penularan secara kontak dan bentuk intestinal sebagai akibat penularan per os . adenosin trifosfat.

(Iwan Haryono Utama). Secara dari aktivitas saphropitic mikroba dalam tanah. sphlenomelaghi selalu ditandai dengan pulp. kontak dengan infeksi wool. 2001). LF dan EF memerlukan proses sintesis protein yang kontinu dalam makrofag (Bhatnagar dan Friedlander. Akibatnya terjadi hipotensi. ginjal. 2001). 1999). Pada manusia sumber infeksi awal dari hewan. 1994). kehitaman. 1994). Interleukin 1 diduga kuat menyebabkan kematian dan shock pada penderita (Hanna et al. Hal ini menyebabkan makrofag mensintesis bermacam-macam protein seperti interleukin 1 (IL-1) dan faktor nekrosis tumor alfa (TNF-a). Kebocoran sel akibat pembentukan heptamer P-63 yang bertahan di membran sel. 1995).5 adenosin monofosfat / c-AMP. 1995. Ini diketahui dari beberapa hewan yang mati secara sporadic antrax. Adanya peningkatan sekresi interleukin 6 dan TNF-a juga akan meningkatkan kadar cAMP intraseluler. Makrofag yang mengalami defek tertentu saat menelan toksin letal justru resisten terhadap toksin tersebut (Friedlander et al. 1993). free-roaming pada hewan buas. hati. Tanah merupakan reservoir untuk agen infeksi. Pengamatan in vitro juga menunjukkan tidak semua jenis makrofag peka terhadap toksin lethal anthrax. juga ikut menyebabkan kematian penderita anthrax (Zhao et al. Duesberry dan Woude. Pengamatan in vitro menunjukkan bahwa untuk ekspersi sitotoksisitasnya. Siklus hidup spora dibawah kondisi lab (dalam kultur media) dalam tanah yang steril membutuhkan waktu yang lama. . Bagaimanapun dibawah kondisi natural ini menunjukan kesempurnaan dalam batas yang sedikit tahun. 1993). Pola serupa juga dilakukan oleh molekul LF yang mampu memotong sejenis protein kinase intraseluler (mitogen-activated protein kinases) yang berfungsi sebagai pembawa pesan ke dua di dalam sel (Mock dan Fouet. hasil hewan yang terkontaminasi. Hasil akhir dari kerja molekul EF ialah edema seluler akibat perubahan gradien transmembran sel dan kebocoran seluler akibat insersi molekul PA (Gauthier dan Finlay. Dekomposisi sangat cepat dan karkas menjadi kembung. dengan aktivitas adenilat siklase yang dimilikinya. molekul EF bekerja dengan cara mengubah molekul ATP yang diikatnya menjadi siklik 3. Antrax juga mempunyai efek. Hemoragi ditemukan pada organ dalam. hitam. berwarna merah. 2001). Isolasi Bacillus anthracis dari tanah atau air mengakibatkan epizootic. dan pusat kontaminasi oleh spora. Molekul C-AMP berperan sebagai pembawa pesan sekunder yang akana meneruskan pesan yang disampaikan dari molekul EF ke sistem enmzimatik intraseluler (Voet dan Voet. Fenomena ini juga ditunjang dengan pengamatan Tang dan Leppla (1999) yang menunjukkan diperlukannya suatu proteasom oleh toksin lethal untuk membunuh makrofag. dan nodus limfatikus mengalami kongesti. shock dan akhirnya kematian sel (Cunha.Setelah di dalam sel. hal terakhir ini juga berperan menyebabkan shock dan kematian (Hoover et al. Cutaneus antrax diikat oleh inokulasi selama proses dari kulit hewan. Proses infeksi oleh spora yang berada dalam tanah merupakan subjek kontroversi. dengan konsistensi semifluid.

Penularan per os pernah terjadi di Indonesia. lewat makan atau air minum tercemar. terutama pada pekerja penyortir bulu domba. Di daerah dengan sistem peternakan ekstensif seperti Sumba. pernapasan/anthrax paru (inhalation anthrax) dan anthrax otak. Bentuk infeksi dari transmisi lain yaitu cutaneus karena gigitan serangga.tulang dan darah. Penularan anthrax melalui kontak pada kulit yang terluka akan menimbulkan anthrax kulit (cutaneus anthrax) dengan lesi khas. sehingga penyakitnya disebut woolsorter`s disease. Anthrax otak terjadi jika bakteri terbawa darah masuk ke otak. Masa inkubasi anthrax kulit sekitar dua sampai lima hari.maupun bahan-bahan yang berasal dari hewan yang sakit seperti kulit.(Anon. Timor dan Flores ternak dalam jumlah besar menggunakan sumber air dan sumber makan yang sama sehingga sering menimbulkan kejadian wabah. the free encyclopedia. Mula-mula kulit gatal.htm Seseorang dapat tertular oleh penyakit Antraks dengan tiga cara : Kontak langsung dengan bibit penyakit yang ada di tanah/rumput. pencernaan/anthrax usus (gastrointestinalis anthrax). daging. Bibit penyakit terhirup orang yang mengerjakan bulu hewan (domba dll) pada waktu mensortir. Di Australia. penularan anthrax secara per inhalation dapat terjadi. kemudian daging ternak tersebut di buat sate tanpa pembakaran yang sempurna. abon dll.) Anthrax – Wikipedia. karena dilakukan pemotongan darurat ternak di rumah. Karenanya ada empat tipe anthrax. Cara penularan Penularan anthrax dari hewan kepada manusia umumnya secara kontak langsung dengan hewan atau hasil hewan. hewan yang sakit. Penyakit dapat ditularkan melalui pernapasan bila seseorang menghirup spora Antraks. Sumber infeksi untuk bentuk gastrointestinal adalah domestic animal dan hewan liar yang mati karena infeksi anthrax. yaitu anthrax kulit (cutaneus anthrax). namun peranan insekta tersebut tidak begitu besar dalam kejadian wabah.Transmisi dari hewan ke manusia sangat mungkin ke serangga sebagai vector. Pulmonary(inhalation) antrax datang dari terhirupnya spora dari kontaminasi wool. . Memakan daging hewan yang sakit atau produk asal hewan seperti dendeng. Peran dari hewan dalam epidemiologi dari penyakit: à hewan merupakan essensial à Antrax merupakan transmisi manusia oleh hewan atau produk ke hewan. (Pan American Health Organization . Insekta penghisap darah seperti lalat Tabanus sp dan Stomoxis sp dapat bertindak sebagai penular secara mekanik. Penularan anthrax pada hewan umumnya terjadi per os.2003) VI.

misalnya Bacillus subtilis. Apabila hewan sudah mati. atau kapas jika hewan masih hidup. Mual. Peneguhan diagnosis dilakukan secara laboratorik dengan isolasi agen penyakit dan uji serologi FAT. baik pada hewan maupun manusia. kulit dan bahan-bahan yang diduga tercemar seperti tanah. Pewarnaan Giemza terhadap preparat usapan langsung perlu dilanjutkan dengan upaya isolasi bakteri karena dapat keliru dengan bakteri lain berbentuk batang. Pemeriksaan secara FAT yang mempunyai sensivitas dan ketetapan (sensivity and specifity) tinggi bisa dilakukan apabila menggunakan mikroskop fluorescence.kemudian melepuh yang jika pecah membentuk keropeng hitam di tengahnya. kapur tulis. spesimen dapat berupa darah perifer dari daun telinga yang diambil dengan jarum. ada atau tidak adanya penularan ke manusia) dan gejala klinik. kemudian diisapkan pada kertas saring. Di sekitar keropeng bengkak dan nyeri. muntah darah pada anthrax usus. tulang. kemudian pada kertas saring.(Soeharsono. jenis hewan terserang. 2002) Speciment Cutaneus anthrax diperiksa secara Mikrobiologi dan Patologi untuk Diagnosis Spesimen-spesimen harus dikumpulkan dari setiap pasien yang sedang dievaluasi untuk infeksi cutaneus anthrax. spesimen dapat diambil dari potongan daun telinga. Spesimen harus dimasukan ke dalam kontainer yang terkuat agar tidak pecah atau tumpah dalam perjalanan. spesimen dapat berupa darah perifer dan daun telinga yang diambil dengan jarum. Pada hewan. Deteksi antigen dapat dilakukan dengan uji Ascoli a. Pengambilan dan Pengiriman Spesimen Pada hewan. Diagnosis Banding Pada kuda. seperti BPPH wilayah VI Denpasar. apabila hewan masih hidup. jaringan tubuh. Jika tak segera diobati bisa meninggal dalam waktu satu atau dua hari. darah (sewaktu septicemia) dan usapan langsung (direct smear) dari lesi kulit. Diagnosis Diagnosis. Diagnosis menurut CDC . batuk. cairan oedema. Kematian mendadak pada sejumlah hewan besar perlu mempertimbangkan kemungkinan keracunan. Spesimen tidak boleh dikirimkan ke laboratorium yang terletak di daerah bebas anthrax. Pada manusia. dapat ditegakkan berdasarkan epidemiologi (sejarah kejadian anthrax masa lalu. Apabila hewan sudah mati.(Anon. sakit kepala dan kejang pada anthrax otak. kapur tulis atau kapas. adanya oedama di bawah kulit dapat keliru dengan dourine yang disebabkan oleh Trypanosoma equiperdum. kulit dan bahan lain yang tercemar. spesimen dapat diambil dari daun telinga.). Pada anthrax yang masuk tubuh dalam 24 jam sudah tampak tanda demam. b. tulang. sesak napas pada anthrax paru. spesimen untuk pemeriksaan laboratorik dapat diambil dari cairan vesikel. VII. cairan oedema.

penyimpan dilakukan pada suhu 8°C. Vol 163.lalu mengumpulkan kain – kain penyeka yang terpisah yaitu : Satu kain penyeka untuk Pewarna Gram dan kultur Satu kain penyeka untuk Polymerase Chain Reaction (PCR) Location/sampling yang spesifik kain penyeka itu akan bergantung pada langkah luka Tahap efisiensi kelembaban: Aseptically (secara aseptis) mengumpulkan cairan efisiensi kelembaban mengeringkan kain penyeka dari gelembung-gelembung sebelumnya yang tak dibuka. Journal dari Amerika Pathology. Biopsi harus diambil dari kedua-duanya gelembung dan eschar.no.ataupun yang terpisah harus diperoleh. spesimen-spesimen untuk PCR hanya bisa dikirimkan dalam karbon dioksida dan disimpan pada suhu -70°C. Spesimen biopsi untuk kultur. Jika pasien. 5. lalu pelan-pelan diputar selama 2-3 (detik/ barang bekas) di bawah tepi dari eschar tanpa pemindahan nya. Halaman 1908. PCR dan membekukan jaringan/tisu IHC didapatkan jika pasien belum menerima antibiotik dalam 24 jam. Jangan mencoba untuk merusak satu spesimen dari materi 2 dan 3 di atas. Biopsi A. Pewarnaan Gram. 2. kain penyeka dasar dari borok yang menggunakan suatu kain penyeka yang lembab (sebelumnya dilembabkan dengan larutan garam yang steril). Spesimen segar (tidak diformalin) harus disimpan dan dikirimkan setelah dibekukan secara CDC pada -70°C. 1. masukkan ke dalam formalin 10% buffered untuk histopatologi dan immunohistochemistry (IHC). 4.2003) Shieh et al. Eschar dikumpulkan : eschar material secara hati-hati diangkat pada tepi eschar yang luar itu. Dengan mengabaikan terjadinya luka. Suatu biopsi kulit harus diperoleh di setiap pasien dengan luka yang diduga mengalami cutaneus anthrax. B . memperoleh kekebalan penuh contoh biopsi dari papula atau gelembung dan termasuk kulit. sisipkan guna mengeringkan kain penyeka. B. untuk memperoleh kekebalan. II.I. Catatan: Anthrax bacilli paling mungkin untuk dilihat oleh Pewarna Gram di dalam tahap efisiensi kelembaban.(Shieh. Kain penyeka Luka: A. Kolom 2. . Borok: Jika tanpa gelembung atau eschar. jika terformalin harus dikirimkan pada suhu-kamar. Nov 2003. Spesimen-spesimen yang digunakan untuk pengkulturan dan PCR harus dikirimkan dalam suasana dingin. 3..

html VIII. di Indonesia Untuk daerah bebas. Kumpulkan 10 darah ml di EDTA (tabung-tabung bertutup ungu) untuk PCR. B. Jika pasien mempunyai bukti dari gejala sistemik. 2.) Zoonosi\CDC – A Two-Component Direct Fluorescent-Antibody Assay for Rapid Identification of Bacillus anthracis. pencegahan dilakukan melalui tindakan karantina berupa pelarangan masuknya hewan dari tertular ke daerah bebas. Spesimen-spesimen serum yang akut perlu dikumpulkan dalam 7 hari gejala pertama atau sesegera mungkin setelah pengujian. sera perlu dibekukan dengan segera pada suhu -20°C atau lebih dingin. Sebagai contoh. Pencegahan dan pengendalian A. “ – /+ reaksi (acute/convalescent) atau + /+ reaksi harus dikirim kepada CDC untuk konfirmasi dan pengukuran-pengukuran ELISA kwantitatif. Kedua spesimen serum yang akut dan orang yang sembuh harus diperoleh dari sedikitnya 8 ml darah. B.III. Kumpulkan volume darah yang sesuai dan nomor yang di-set per protokol laboratorium rumah sakit lokal. “ . hewan dan asal hewan dari NTB dan NTT tidak diperbolehkan masuk ke Bali. Jangan mengirimkan botol-botol biakan darah atau darah utuh. Serum terpisah dari gumpalan darah. F.berupa serum orang yang baru sembuh. Serum (proses yang menggunakan BSL2 mempraktekkan) A. . 14-35 hari setelah gejala. harus dikirimkan dalam keadaan beku dan disimpan pada karbon dioksida secara CDC. Penggunaan yang sesuai secara komersial tersedia Immunetics QuickELISA™ Anthrax-PA Kit: 1. Test ini menghasilkan suatu hasil /negative yang positif. di dalam botol kecil bertutup sekrup plastik sewajarnya memberi label. 4 ml dari sera (laboratorium bisa menguji untuk etiologi potensial yang ganda). (Anon. Immunetics Kit itu harus dipertimbangkan suatu test serologi penyaringan primer. Darah A./reaction (acute/convalescent) atau + /reaction tidak memerlukan konfirmasi. E. oleh karena itu setiap sera yang dipasangkan yang menghasilkan yang manapun. IV. spesimen-spesimen untuk biakan darah harus diperoleh. Meskipun hasil diagnosa didapatkan isolat Bacillus anthracis dari spesimen-spesimen klinis. D. C.

Pada masa lalu. Penutupan daerah dilakukan oleh pemerintah Daerah setempat atas rekomendasi dari Dinas Peternakan. misalnya tentara Amerika sewaktu Perang Teluk. Vaksinasi tidak diizinkan pada daerah bebas anthrax Dalam jumlah terbatas. Orang yang terinfeksi anthrax tidak menular. Orang yang mungkin terinfeksi. segera melaporkan kepada FBI (Federal Bureau of Investigation). 2). Penutupan daerah – daerah dari lalu – lintas ternak peka anthrax untuk sementara dan melakukan tindakan pengobatan terhadap ternak yang terserang. . penderita harus segera mendapat pengobatan profilaktic pasca infeksi dengan antibiotik yang tepat (fluorokinolon adalah obat pilihan dan doksisiklin adalah obat alternatif) dan vaksin. vaksin untuk hewan diproduksi oleh Pusat Veterinaria Farma (PUSVETMA) di Surabaya. Vaksin yang digunakan adalah vaksin spora (aktif) namun virulen. dan mereka harus memberi tahukan kepada petugas medis bahwa ia kemungkinan terinfeksi anthrax. Pemberantasan anthrax di daerah endemic sulit dilaksanakan karena sifat Bacillus anthracis amat tahan terhadap lingkungan. 3). sehingga tidak perlu dikarantina. Di Indonesia. yakni tentara yang bertugas dalam perang. Pemberantasan sangat mungkin dilaksanakan apabila kejadian tersebut di daerah baru dan bersifat lokal. Jika mereka menjadi sakit sebelum hasil tes laboratorium selesai. sebaiknya di sarankan menunggu hasil laboratorium dan tidak perlu diberi chemoprofilakcis. Di AS. lebih dari dua lusin ancaman anthrax terjadi di AS. 5). Selama tahun 1998. vaksin anthrax digunakan pada orang. Pengendalian penyakit dilakukan apabila terjadi kejadian penyakit dengan tujuan melokalisasi penyebaran. 6). Antiserum Anthrax pernah diproduksi oleh Lembaga Penelitian Penyakit Hewan(sekarang Balai Penelitian Veteriner) diBogor. 4). Tidak ada satupun dari ancaman ini terjadi. Jika penderita terbukti terinfeksi anthrax yang ditularkan melalui udara. Pengobatan anthrax dapat dilakukan dengan antibiotika seperti penisilin dan oksitetrasiklin apabila penyakit masih dalam tahap awal.Di daerah tertular pencegahan hanya dilakukan pada hewan dengan menggunakan vaksin. pengobatan antrax pada hewan disamping diberi antibiotika juga diberi antiserum. mereka harus segera menghubungi Dinas Kesehatan setempat dan segera ke Rumah Sakit yang ditunjuk untuk mendapatkan perawatan gawat darurat. Departemen kesehatan negara bagian dan Dinas Kesehatan setempat sebaiknya juga di beritahu jika ada ancaman ini dan siap memberikan bantuan dan tindak lanjut yang mungkin diperlukan. Pengamanan bioterorisme. Siapapun yang menerima ancaman penyebaran anthrax. FBI bertanggung jawab penuh untuk melakukan investigasi terhadap ancaman senjata biologis dan lembaga lain harus bekerja sama memberikan bantuan jika diminta oleh FBI. Prosedur umum di AS untuk menangani ancaman ini adalah : 1).

7). dekontaminasi dan kemoprofilaksis sebaiknya tidak dilakukan bila amplop atau paket dalam keadaan tertutup.2000) 2. dan keterangan tentang isi tas plastik tersebut. filter (level C) atau perlengkapan pernafasan “Self-Contained Breathing Apparatus” (SCBA) (level B) 9). Setiap orang harus mengikuti petunjuk teknis yang diberikan jika menghadapi ancaman biologis 8). RABIES . Biasanya larutan klorin tidak diperlukan. evakuasi. Imunisasi direkomendasikan karena kita tidak tahu apakah spora yang terhirup akan berkembang biak atau tidak. dan larutan klorin ini harus dibersihkan sesudah 10 hingga 15 menit. 10). lingkungan yang kontak langsung dengan surat tersebut harus di dekontaminasi dengan larutan hipoklorit 0.5%) digunakan bila terjadi kontaminasi luas dan bahan yang terkontaminasi ini tidak bisa dibersihkan dengan air dan sabun. Melakukan dekontaminasi dengan klorin hanya direkomendasikan sesudah dilakukan dekontaminasi dengan air dan sabun. Upaya karantina.5 % sesudah dilakukan investigasi terhadap kemungkinan adanya tindakan kriminal.Imunisasi pasca infeksi dengan vaksin bebas sel yang tidak aktif di indikasikan sebagai tindak lanjut pemberian Chemoprofilakcis sesudah suatu insiden biologis. Semua orang yang di dekontaminasi harus melepaskan pakaian dan barang-barang mereka dan memasukkannya ke dalam tas plastik. Imunisasi pasca infeksi terdiri dari tiga suntikan : sesegera mungkin sesudah terinfeksi dan pada minggu ke 2 dan ke 4 sesudahnya. Barangbarang pribadi juga perlu didekontaminasi dengan cara yang sama. Cairan klorin rumah tangga dengan perbandingan 1 : 10 (konsentrasi hipoklorit 0. 12). Barang-barang ini akan di simpan sebagai barang bukti terhadap kemungkinan adanya tindakan kriminal dan barang ini akan dikembalikan kepada pemiliknya bila ancaman ini tidak terbukti. mereka yang menemukan amplop ini sebaiknya tidak melakukan apapun selain menghubungi FBI. Jika paket atau amplop yang dicurigai berisi anthrax dalam keadaan tertutup (tidak terbuka). Terhadap vaksin ini belum dilakukan evaluasi efektifitas dan keamanannya bagi anakanak kurang dari 18 tahun dan orang dewasa berusia 60 tahun atau lebih. yang di beri keterangan yang jelas. sarung tangan dan respirator yang menutupi seluruh muka dengan filter yang memiliki efektifitas tinggi terhadap partikel udara “High-efficiency Particle Air” – (HEPA). Bantuan teknis dapat diberikan segera dengan menghubungi “National Response Center” di 800-424-8802 atau “Weapon of Mass Destruction Coordinator FBI” setempat. Setiap orang dapat dilindungi dari spora anthrax dengan menggunakan jubah pelindung. berisi nama pemilik barang. Untuk kejadian yang disebabkan oleh surat yang mungkin terkontaminasi. 11). nomer telpon yang bisa dihubungi. (I Nyoman Kandun. Orang yang terpajan dan kemungkinan besar terkontaminasi sebaiknya di dekontaminasi dengan menggunakan sabun dan dibilas dengan air mengalir dalam jumlah yang banyak.

Pada rabies jinak. yang merupakan tempat mereka berkembangbiak. dan pengobatan yang bersifat suportif dan simtomatik. Keadaan tersebut selanjutnya berkembang menjadi kekejangan umum dan kematianpun umumnya terjadi pada tahap ini. tak nafsu makan. yang telah diketahui dapat menyebabkan cacat bawaan (kelainan kongenital) pada bayi dan keguguran (abortus) pada ibu hamil. Hewan ini menularkan infeksi kepada hewan lainnya atu manusia melalui gigitan dan kadang melalui jilatan.Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. kucing dan kera. . suara. hewan lainnya yang juga bisa menjadi sumber penularan rabies adalah kucing. Bila sudah terjadi maka binatang tersebut harus diobservasi oleh dokter hewan untuk kemungkinan rabies. rakun. Pencegahan Pencegahan dilakukan dengan menghindari gigitan anjing atau binatang-binatang liar. karena tidak semua hewan peliharaan mendapatkan vaksinasi untuk penyakit ini. Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf ke kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur. Penyebab dan perantara penularan. Yang paling sering menjadi sumber dari rabies adalah anjing. Sedikit rangsangan berupa cahaya. diikuti dengan kaku kuduk dan kejang-kejang otot-otot yang berfungsi dalam proses menelan dan pernafasan. Telah dilaporkan 2 kasus yang terjadi pada penjelajah yang menghirup udara di dalam goa dimana banyak terdapat kelelawar. Immunisasi aktif dengan vaksin anti rabies sebelum tanda-tanda dan gejala muncul sekaligus merupakan usaha pencegahan bila ada kecurigaan binatang yang menggigit mengidap rabies. Gejala di atas kemudian dengan cepat diikuti hiperestesi dan hipereksitasi mental serta neuromuskular. rabies bisa ditularkan melalui penghirupan udara yang tercemar. sakit kepala. kelelawar. Banyak hewan yang bisa menularkan rabies kepada manusia. Pada rabies buas. lemah. sigung. Afrika. hewan yang terkena tampak gelisah dan ganas. muntah dan perasaan yang abnormal pada daerah sekitar gigitan (anjing/binatang liar tsb). sejak awal telah terjadi kelumpuhan lokal atau kelumpuhan total. Manifestasi penyakit Sesudah masa tunas / inkubasi selama 10 hari sampai dengan 7 bulan. Pengobatan Pengobatan dilakukan dengan memberikan imunisasi pasif dengan serum anti rabies. Virus akan masuk melalui saraf-saraf menuju ke medulla spinalis dan otak. dan Asia. Virus rabies terdapat dalam air liur hewan yang terinfeksi. kemudian menjadi lumpuh dan mati. Rabies pada anjing masih sering ditemukan di Amerika Latin. dan rubah. orang yang tertular dapat mengalami / menderita penyakit ini dengan gejala-gejala sebagai berikut : Diawali dengan demam ringan atau sedang. TOKSOPLASMOSIS. Pengertian toksoplasmosis? Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Hewan yang terinfeksi bisa mengalami rabies buas atau rabies jinak. bau ataupun sedikit cairan dapat menimbulkan reflex kejang-kejang tersebut. Infeksi toksoplasma dapat bersifat tunggal atau dalam kombinasi dengan infeksi lain dari golongan TORSH-KM. Meskipun sangat jarang terjadi. dan ditularkan melalui gigitan hewan penular rabies terutama anjing. mual. Bila binatang tersebut menunjukkan tanda-tanda rabies atau bahkan mati dalam waktu 10 hari maka harus dilakukan pemeriksaan laboratorik terhadap otak binatang tersebut untuk memastikan diagnosa. Luka gigitan dirawat dengan tehnik tertentu dengan tujuan menghilangkan dan menonaktifkan virus.

yang tidak kena sinar matahari. Karena infeksi pada kebanyakan hewan menetap secara menahun. makin besar pula kemungkinan terjadinya infeksi toksoplasma bawaan pada janin. Makan daging setengah matang dari binatang yang terinfeksi. Beberapa faktor yang mungkin berperan atas munculnya gejala adalah fungsi plasenta sebagai sawar (barrier). lahir mati. 3. Kista (bentuk resisten yang berada di dalam tubuh manusia dan hewan). Seekor kucing dapat mengeluarkan sampai 10 juta ookista sehari selama 2 minggu. Toxoplasma berkembang-biak di usus hewan berbulu khususnya kucing.Sumber penularan TOKSOPLASMOSIS adalah kotoran hewan berbulu. menghasilkan keluarnya ookista bersama tinja kucing. dan keterbelakangan mental. dan mempunyai 3 (tiga) bentuk: 1. Ookista membentuk sporozoit dalam 1 sampai 3 hari dan tetap infektif selama berbulan-bulan sampai setahun di dalam tanah lembab dan panas. Trofozoit (bentuk vegetatif dan proliferatif). 2. 4. Gejala klinis yang paling sering dijumpai adalah pembesaran . makin berat kerusakan (kelainan) yang dapat terjadi pada janin dan makin besar kemungkinan abortus. babi dan ternak. sehingga penderita sering tidak menyadari bahwa dirinya telah terkena infeksi. Tanah juga merupakan sumber infeksi untuk herbivora seperti kambing. Secara kongenital (bawaan) dari ibu ke bayinya apabila ibu hamil terinfeksi pada bulan-bulan pertama kehamilannya. Siklus hidup parasit toksoplasma Toxoplasma gondii tersebar luas di alam pada manusia maupun hewan dan merupakan salah satu penyebab infeksi yang paling sering terjadi pada manusia di seluruh dunia. Makin besar umur kehamilan ketika terjadinya infeksi. Parasit ini adalah suatu protozoa yang tergolong Coccidia. perkapuran otak. Tetapi sekali terkena infeksi toksoplasma maka parasit ini akan menetap (persisten) dalam bentuk kista pada organ tubuh penderita selama siklus hidupnya. Ookista (bentuk resisten yang berada di lingkungan luar). Infeksi toksoplasma bawaan ini dapat mengakibatkan anak yang dilahirkan mengalami kerusakan mata. domba. lahir prematur. Gejala dan wujud klinis toksoplasmosis Gejala yang timbul pada infeksi toksoplasma tidak khas. Dengan cara ini daur hidup parasit ini sudah lengkap. dan umur kehamilan ketika terjadinya infeksi pada ibu. 3. maka daging yang mentah atau setengah matang menjadi sumber infeksi untuk manusia dan hewan karnivora. lahir cacat atau infeksi toksoplasma bawaan. terutama kucing. Melalui transfusi darah atau transplantasi organ dari donor yang terinfeksi toksoplasma. 2. Cara penularan TOKSOPLASMOSIS pada manusia melalui: 1. Pada pihak lain. Makanan dan sayuran/buah-buahan yang tercemar kotoran hewan berbulu (kucing). makin dini terjadinya infeksi pada janin. Tanah yang tercemar kotoran hewan (ku-cing) menyebabkan infeksi pada tikus dan burung. Anak-anak juga dapat terinfeksi karena bermain di tanah yang tercemar kotoran kucing. Bilamana ibu hamil terkena infeksi toksoplasma maka risiko terjadinya toksoplasmosis bawaan pada bayi yang dikandungnya berkisar antara 30-40%. status kekebalan (imunitas) ibu hamil. yang kemudian akan menyebabkan reinfeksi kembali pada kucing. Toksoplasma pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran. namun seringkali gejala ini tidak terlihat pada bayi yang baru lahir (neonatus).

misalnya kucing Pemeriksaan yang digunakan saat ini untuk mendiagnosis toksoplasmosis adalah pemeriksaan serologis. Selain itu tampak pula gangguan penglihatan: mikroftalmi. Bilamana dalam pemeriksaan ibu sebelum hamil menunjukkan IgG positif terhadap toksoplasma. sedangkan tergolong negatif bilamana titer IgG < 2. temuan antibodi IgG dianggap sebagai infeksi yang su-dah lama. berbulan-bulan bahkan lebih dari setahun. atau lesi massa otak dan perubahan status mental. dan demam yang tidak diketahui sebabnya. bahkan pada penderita AIDS seringkali mengakibatkan kematian. Antibodi IgM dibentuk pada masa infeksi akut (5 hari setelah infeksi). kemudian menurun dan dapat bertahan dalam waktu cukup lama. Bila makula terkena. nyeri sendi (arthralgia). Kelenjar limfe di leher adalah yang paling sering terserang. Salah satu contoh yang dapat dikemukakan adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Teguh Wahyu S dkk. antara lain adanya riwayat: * infertilitas. nyeri otot (myalgia). penerima cangkok jaringan yang mendapat pengobatan imunosupresan. maka penglihatan sentralnya akan terganggu. dengan memeriksa zat anti (antibodi) IgG dan IgM Toxsoplasma gondii. Oleh karena itu. abortus. dapat timbul gejala ringan sampai berat susunan saraf pusat seperti ensefalopati.5 IU/mL. Pada anak. Berapa tingginya kadar antibodi tersebut untuk menyatakan seseorang sudah terinfeksi toksoplasma sangatlah beragam. kelainan bawaan * memelihara binatang piaraan berbulu. sedangkan adanya antibodi IgM berarti infeksi yang baru atau pengakifan kembali infeksi lama (reaktivasi). tetapi bukan . yang akan meningkat titernya dalam 6-8 minggu.0 IU/mL atau IgM < 0. retinokoroiditis. Gejala toksoplasmosis akut yang lain adalah demam.5 IU/mL. perkapuran (kalsifikasi) abnormal pada foto rontgenkepala. gidu (urticaria). keterlambatan psikomotor. meningoense-falitis. biasanya akan timbul pada usia remaja atau dewasa. kaku leher. juling merupakan gejala awal dari korioretinitis. katarak. yang dapat disertai demam. nyeri kepala. Tidak semua ibu hamil yang terinfeksi toksoplasma akan menularkan toksoplasma bawaan pada bayinya. yang menyatakan seorang ibu yang tergolong positif bilamana titer IgGnya 2. ruam kulit. limfadenopati. mikrosefalus. juga gangguan pendengaran. Wujud klinis toksoplasmosis bawaan adalah kelainan neurologis: hidrosefalus. (1998). Antibodi IgG dibentuk lebih kemudian (1-2 minggu setelah infeksi). Pemeriksaan Diagnosis penyakit toksoplasmosis umumnya ditegakkan karena adanya kecenderu-ngan yang mengarah pada penyakit tersebut. lahir mati.949 IU/mL atau IgM 0. dan kelainan sistemik: hepatosplenomegali. penderita kanker. kelainan fokal serebral dan kejang-kejang. bergantung pada cara peneraan yang dipakai dan kendali mutu dan batasan baku masing-masing laboratorium. titernya meningkat dengan cepat (80 sampai 1000 atau lebih) dan akan mereda dalam waktu relatif singkat (beberapa minggu atau bulan).kelenjar getah bening (limfe) dikenal sebagai limfadenopati. berarti ibu tersebut terinfeksi sudah lama. hepatosplenomegali atau hepatitis. Wujud klinis toksoplasmosis yang paling sering pada anak adalah infeksi retina (korioretinitis). kejang. Pada penderita dengan imunodefisiensi seperti penderita cacat imun. dan berisiko bayi terkena toksoplasmosis bawaan.

dan USG atau foto rontgen tengkorak. pemeriksaan titik-cahaya mata (funduskopi). * setelah bayi lahir perlu dilakukan pemeriksaan lengkap terhadap bayi. dan lambat-laun akan habis. misalnya: asites. kecuali jika pasien itu mengidap gangguan kekebalan. Diagnosis toksoplasma bawaan pada bayi lebih sukar ditetapkan karena gejala klinis dari infeksi toksoplasma bawaan sangat beraneka ragam dan seringkali subklinis (tidak terlihat) pada neonatus. bila IgG (-) dan IgM (-). pembesaran rongga otak (ventrikulomegali) (V/H). pemesaran hati (hepatomegali). Obat-obat yang dapat digunakan untuk ibu hamil adalah spiramisin 3 gram/hari yang terbagi dalam 3-4 dosis tanpa memandang umur kehamilan. 2. Bilamana titer IgG tidak meningkat maka dianggap infeksi terjadi sebelum kehamilan dan risiko untuk janinnya cukup rendah. gondiii. Antibodi IgG dapat menembus plasenta. dianggap sebagai infeksi lama dan risiko janinnya terinfeksi cukup rendah sehingga ada sebagian pakar yang berpendapat tidak perlu diobati. kecuali ada gejala-gejala yang berat atau berkelanjutan. Apabila pemeriksaan serologis baru dilakukan pada saat hamil. * ultrasonografi serial setiap 3 minggu dilakukan untuk menentukan adanya kelainan.berarti bahwa 100% bayinya akan bebas dari toksoplasmosis bawaan. umumnya diperlukan reaksi imun tubuh yang memadai (adekuat). bila IgG (+) dan IgM (+). terutama bilamana diketahui ibunya terinfeksi selama kehamilan. 3. Toksoplasmosis pada penderita imunodefisiensi harus diobati karena dapat mengakibatkan kematian. justru pada ibu ini pemeriksaan harus diulang setiap 2-3 bulan untuk menasah serokonversi (perubahan negatif menjadi positif). Toksoplasmosis pada ibu hamil perlu diobati untuk menghindari toksoplasmosis bawaan pada bayi. maka ini menunjukkan infeksi nyata pada bayi (toksoplasmosis bawaan). Bila inokulasi memberikan hasil positif maka perlu dipertimbangkan untuk pengakhiran kehamilan. bukan berarti terbebas dari toksoplasmosis bawaan. dilakukan pengambilan darah janin pada kehamilan 20-32 minggu untuk pembiakan parasit (inokulasi) pada mencit. Bila pada janin terdapat kelainan maka perlu dipertimbangkan untuk peng-akhiran (terminasi) kehamilan. Oleh karena itu perlu dilakukan juga pemeriksaan serologis pada neonatus. atau bilamana . Pengobatan TOKSOPLASMOSIS Untuk mengendalikan infeksi yang persisten ini. sedangkan antibodi IgM tidak dapat menembus plasenta. sedangkan jika titer IgG meningkat 4 kali lipat dan IgM tetap positif maka ini berarti bahwa telah terjadi infeksi baru dan janin sangat berisiko mengalami toksoplasmosis bawaan atau terjadi keguguran. antara lain: pengambilan darah talipusat ketika bayi baru saja lahir untuk pemeriksaan serologis antibodi janin atau isolasi T. Tetapi jika ditemukan antibodi IgM. Pada usia 2-3 bulan. uji perlu diulang lagi 3 minggu kemudian. bila IgG (+) dan IgM (-). perkapuran (kalsifikasi) otak. * bila mungkin. bayi sudah dapat membentuk antibodi IgG sendiri. Penderita toksoplasma dengan sistem imun yang normal tidak memerlukan pengobatan. Dengan demikian. bilamana bayi terinfeksi toksoplasma bawaan maka konsentrasi IgGnya akan mulai meningkat lagi setelah IgG yang diperoleh dari ibunya habis. Bilamana pada ibu hamil ditemukan IgM (+) maka pengobatan sudah pasti harus diberikan dan pemeriksaan ultrasonografi dilakukan berulang kali untuk menen-tukan adanya kelainan janin. maka : 1. apabila pada darah bayi ditemukan antibodi IgG mungkin hanya merupakan pindahan (transfer) IgG ibu.

2010). belum lengkapnya peraturan penggunaan pestisida dalam pengendalian vektor. pelayanan kesehatan yang belum memadai. dikikuti dengan 1 mg/kg/hari 3 kali seminggu. atau dengan pengobatan kombinasi: * Spiramisin dosis 100 mg/kg/hari dibagi 3 dosis. perpindahan penduduk yang non imun ke daerah endemis. sebaiknya diberikan pengobatan untuk menghindari kelainan lanjutan. digunakan kombinasi imunoterapi dan pengobatan zat antimikroba. Pada bayi yang menderita toksoplasma bawaan baik bergejala atau tidak. ditambah lagi * Asam folinat 5 mg/dua hari. * Prednison 1 mg/kg/hari dibagi dalam 3 dosis sampai ada perbaikan korioreti-nitis. penggunaan agen biotik kimiawi. A. baik terhadap vektor maupun tempat perkembangbiakannya dan atau perubahan perilaku masyarakat serta dapat mempertahankan dan mengembangkan kearifan loKal sebagai alternative. kemudian 1 mg/kg/hari selama 2-6 bulan. logistik maupun biaya operasional dan kurangnya keterpaduan dalam pengendalian vektor. Masalah yang di hadapi dalam pengendalian vektor di Indonesia antara lain kondisi geografis dan demografi yang memungkinkan adanya keragaman vektor.mengharuskan maka dapat diberikan dalam bentuk kombinasi pirimetamin dan sulfadiazin setelah umur kehamilan di atas 16 minggu. Cacat imunologi seluler diobati dengan imunomodulator (Isoprinosine atau levamisol). . Obat-obatan yang digunakan adalah: * Pirimetamin 2 mg/kg selama dua hari. Perlu dilakukan pemeriksaan serologis ulangan untuk menentukan apakah pengobatan masih perlu diteruskan. keterbatasan sumberdaya baik tenaga. Faktor risiko lainnya adalah keadaan rumah dan sanitasi yang buruk.374 tahun 2010 mendefinisikan bahwa pengendalian vektor merupakan kegiatan atau tindakan yang ditujukan untuk menurunkan populasi vektor serendah mungkin sehingga keberadaannya tidak lagi beresiko untuk terjadinya penularan penyakit di suatu wilayah atau menghindari kontak masyarakat dengan vektor sehingga penularan penyakit yang dibawa oleh vektor dapat di cegah (MENKES. ditambah * Sulfadiazin atau trisulfa 100 mg/kg/hari yang terbagi dalam dua dosis. Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan secara fisik atau mekanis. sedangkan infeksinya dikendalikan dengan pemberian spiramisin. Pengendalian Vektor Penyakit Peraturan Mentri No. belum teridentifikasinya spesies vektor ( pemetaan sebaran vektor) di semua wilayah endemis. Perubahan iklim dapat meningkatkan risiko kejadian penyakit tular vektor. selang-seling setiap bulan dengan pirimetamin. Kombinasi pengobatan ini dimaksudkan untuk memberikan dukungan bagi pende-rita dengan meningkatkan reaksi imunologik selulernya dan sekaligus mengendali-kan infeksi toksoplasmanya. Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka kesakitan penyakit bersumber binatang antara lain adanya perubahan iklim. Sebagai strategi baru untuk menanggulangi masalah infeksi toksoplasma yang bersifat persisten ini. peningkatan populasi resisten beberapa vektor terhadap pestisida tertentu. keadaan social-ekonomi dan perilaku masyarakat.

Melalui kerjasama lintas sector hasil yang dicapai lebih optimal dan saling menguntungkan. maka pengendaliannya tidak hanya menjadi tanggung jawab sector kesehatan saja tetapi memerlukan kerjasama lintas sector dan program. Pengendalian Vektor Terpadu dirumuskan melalui proses pengambilan keputusan yang rasional agar sumberdaya yang ada digunakan secara optimal dan kelestarian lingkungan terjaga. Prinsip-prinsip PVT meliputi: 1. Namun hendaknya dapat diusahakan agar segala kegiatan dalam rangka menurunkan populasi vektor dapat mencapai hasil yang baik. dinamika penularan penyakit.Dalarn pengendalian vektor tidaklah mungkin dapat dilakukan pembasmian sampai tuntas. efektifitas pelaksanaannya serta dengan mempertimbangkan kesinambungannya. yang mungkin dan dapat dilakukan adalah usaha mengurangi dan menurunkan populasi kesatu tingkat yang tidak membahayakan kehidupan manusia. LSM. . ekosistem dan prilaku masyarakat yang bersifat spesifik local( evidence based) 2. Dapat meningkatkan program pengendalian terhadap lebih dari satu penyakit tular vektor 3. Keunggulan Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) adalah 1. Pengendalian vektor harus berdasarkan data tentang bioekologi vektor setempat. Pengendalian vektor dilakukan dengan memakai metode pengendalian vektor terpadu yang merupakan suatu pendekatan yang menggunakan kombinasi beberapa metoda pengendalian vektor yang dilakukan berdasarkan pertimbangan keamanan. bahkan teknologi sederhana pun yang penting di dasarkan prinsip dan konsep yang benar. Untuk itu perlu diterapkan teknologi yang sesuai. Pengendalian vektor dilakukan dengan partisipasi aktif berbagai sector dan program terkait. b. Pengendalian Vektor Terpadu merupakan pendekatan pengendalian vektor menggunakan prinsip-prinsip dasar management dan pertimbangan terhadap penularan dan pengendalian peyakit. dunia usaha /swasta serta masyarakat. Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) Mengingat keberadaan vektor dipengaruhi oleh lingkungan fisik. rasionalitas. Organisasi profesi. 3. Pertimbangan vektor harus mempertimbangkan kaidah ekologi dan prinsip ekonomi yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Ada beberapa cara pengendalian vector penyakit yaitu : 1. biologis dan social budaya. Pengendalian vektor dilakukan dengan meningkatkan penggunaan metoda non kimia dan menggunakan pestisida secara rasional serta bijaksana 4. a. Dapat meningkatkan keefektifan dan efisiensi sebagai metode atau cara pengendalian 2.

fungi . 2001) 2. Metode pengendalian secara kimia .Pemasangan kawat 2. virus. pembersihan lumut. Pengendalian secara alamiah (naturalistic control) yaitu dengan memanfaatkan kondisi alam yang dapat mempengaruhi kehidupan vector. . pengalihan/ drainase. Metode pengendalian dengan menggunakan agen biotic .Kelambu berinsektisida .larvasida Adapun prinsip dasar dalam pengendalian vektor yang dapat dijadikan sebagai pegangan sebagai berikut : a. Ini hanya dapat dilakukan sementara.predator pemakan jentik (ikan.Bakteri.c.dll) . Pengendalian vektor harus menerapkan bermacam-macam cara pengendalian agar vektor tetap berada di bawah garis batas yang tidak merugikan/ membahayakan. Contohnya: .Memakai baju lengan panjang . mengurangi.dll) 3. menghilangkan habitat perkembangbiakan dan populasi vektor secara fisik dan mekanik. Pengendalian terapan (applied control) yaitu dengan memberikan perlindungan bagi kesehatan manusia dari gangguan vektor.Manipulasi gen ( penggunaan jantan mandul.Pemasangan kelambu .Penggunaan hewan sebagai umpan nyamuk (cattle barrier) . Beberapa metode pengendalian vektor sebagai berikut: 1. penenman bakau. b. dll) . Metode pengendalian fisik dan mekanik adalah upaya-upaya untuk mencegah. pengeringan.modifikasi dan manipulasi lingkungan tempat perindukan (3M.Surface spray (IRS) . (Nurmaini. mina padi. Ini dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lama 3. Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologi terhadap tata lingkungan hidup.

Pengendalian secara biologis (biological control) yaitu dengan memanfaatkan musuh alamiah atau pemangsa/predator.a. Pengendalian dengan menggunakan bahan kimia ( chemical control) (Afrizal. Pengendalian dengan pendekatan per-UU (legal control) yaitu dengan karantina e. fertilisasi d. . 2010). Pengendalian secara fisik-mekanik ( physical-mechanical control) yaitu dengan modifikasi/manipulasi lingkungan c. Upaya peningkatan sanitasi lingkungan (environmental sanitation improvement) b.