P. 1
IUFD

IUFD

|Views: 132|Likes:
Published by Zakiah Tourik
Tinjauan Pustaka IUFD
Referat IUFD
Tinjauan Pustaka IUFD
Referat IUFD

More info:

Published by: Zakiah Tourik on Jun 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Di negara-negara sedang berkembang, kematian perinatal, yaitu jumlah kematian intrauterin ditambah kematian bayi lahir mati dan bayi mati dalam 7 hari setelah lahir pada kehamilan 20 minggu atau lebih, masih sangat tinggi. Di negara majupun, bila dibandingkan dengan keberhasilan negara-negara tersebut menekan kematian maternal, kematian perinatal relatif lebih lambat penurunannya. Dalam upaya menurunkan angka mortalitas perinatal ini, masalah pelayanan perinatal yang dihadapi oleh negara maju sangat berbeda dengan masalah yang dihadapi oleh negara yang sedang berkembang Di satu sisi, angka kematian perinatal ini merupakan parameter dini keadaan pelayanan kesehatan dan merupakan kemajuan sosial ekonomi suatu negara, sedangkan disatu sisi kematian janin di dalam rahim (Intra Uterine Fetal Death) berkaitan erat dengan angka kematian perinatal tersebut. WHO dan American College of Obstetricians and Gynecologist menyatakan Intra Uterine Fetal Death ( IUFD ) adalah kematian pada fetus dengan berat lahir 500 gram atau lebih.1,2,3 Menurut United States National Center for Health Statistic, kematian janin atau fetal death dibagi menjadi Early Fetal Death, kematian janin yang terjadi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu, Intermediate Fetal Death, kematian janin yang berlangsung antara usia kehamilan 20-27 minggu dan Late Fetal Death, kematian janin yang berlangsung pada usia lebih dari 28 minggu.1 Angka kematian janin termasuk dalam angka kematian perinatal yang digunakan sebagai ukuran dalam menilai kualitas pengawasan antenatal. Angka kematian perinatal di Indonesia tidak diketahui dengan pasti karena belum ada survei yang menyeluruh. Angka yang ada ialah angka kematian perinatal dari rumah sakit besar yang pada umumnya merupakan referral hospital, sehingga belum dapat menggambarkan angka kematian perinatal secara keseluruhan. Angka kematian perinatal di RSUP Fatmawati pada tahun 2007 ialah 63,98 per 1000 kelahiran hidup.1 Penyebab kematian janin bersifat multifaktorial baik dari faktor fetal, maternal, plasenta maupun iatrogenik dengan 25 – 35 % kasus tidak diketahui penyebabnya.1,2,3. Untuk dapat menentukan penyebab pasti harus dilakukan pemeriksaan autopsi.

1

1-5 Penatalaksanaan kematian janin intra uterin ialah melakukan terminasi kehamilan yang dapat dilakukan melalui penanganan ekspektatif dan penanganan aktif.2. 1-5 2 . pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dapat menegakkan diagnosis kematian janin intra uterin. Berdasarkan anamnesis. yaitu dengan induksi persalinan per vaginam dan persalinan per abdominam ( Sectio Caesaria ). Ada beberapa metode terminasi kehamilan pada kematian janin intra uterin.3 Pemeriksaan kehamilan ( antenatal care ) sangat berperan penting dalam upaya pencegahan kematian janin dan secara tidak langsung dapat menurunkan angka kematian janin.Diagnosis dini dalam kasus kematian janin adalah melalui pemantauan kesejahteraan janin serta pemeriksaan kehamilan ( antenatal care ) yang teratur.

protozoa ) a. WHO dan American College of Obstetricians and Gynecologist (1995) menyatakan Intra Uterine Fetal Death ( IUFD ) ialah kematian pada fetus dengan berat lahir 500 gram atau lebih1. EPIDEMIOLOGI Angka kematian perinatal di Indonesia tidak diketahui dengan pasti karena belum ada survei yang menyeluruh. ETIOLOGI1 III. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa penyebab kematian janin dalam rahim (IUFD) bersifat multifaktorial dengan berbagai faktor yang turut berperan sebagai faktor predisposisi terutama dalam kehamilan resiko tinggi. Intermediate Fetal Death: kematian janin yang berlangsung antara usia kehamilan 2027 minggu. Late Fetal Death minggu.BAB II TINJAUAN PUSTAKA I.2. bakteri. kematian janin atau fetal death dibagi menjadi :    Early Fetal Death 20 minggu. Penyebab kematian janin bersifat multifaktorial.3 : kematian janin yang berlangsung pada usia lebih dari 28 : kematian janin yang terjadi pada usia kehamilan kurang dari II. - 3 . DEFINISI Menurut United States National Center for Health Statistic. Angka yang ada ialah angka kematian perinatal dari rumah sakit besar yang pada umumnya merupakan referral hospital. sehingga belum dapat menggambarkan angka kematian perinatal secara keseluruhan. yaitu : Faktor Fetal ( 25 – 40 % ) Kelainan kromosom Defek kelahiran non-kromosom Hidrops non imun Infeksi ( virus.

Insidensi infeksi janin intra uterin juga sering menyebabkan kematian pada janin. - Faktor Maternal ( 5-10%) Antibodi Fosfolipid Diabetes Mellitus Hipertensi Trauma Persalinan abnormal Sepsis Asidosis Hipoksia Ruptur uteri Kehamilan Post Term Obat-obatan Idiopatik ( 25 – 35 % ) d. Parvovirus B-19.b.35%) Solusio plasenta Perdarahan Feto-maternal Cedera tali pusat Insufisiensi plasenta Asfiksia Intrapartum Plasenta previa Twin-to-twin transfusion Chorioamnionitis c. FAKTOR FETAL 25 – 40% dari bayi dengan lahir mati ( stillbirths ) diakibatkan oleh faktor fetal. varicella dan listeriosis. - Faktor Plasenta ( 25.) 4 . PATOFISIOLOGI A. CMV (CytoMegaloVirus. Salah satu faktor yang biasanya mengakibatkan kematian janin ialah malformasi kongenital mayor. infeksi Rubella. IV.

janin yang normal mendapatkan sirkulasi dari pembuluh darah umbilikal dengan jumlah 350 – 400 ml/menit . Pada kehamilan. Tidak teraba gerakan-gerakan janin. C.6 MANIFESTASI KLINIS DAN DIAGNOSIS IUFD 1.B. Panjang tali pusat N ialah 50 – 60 cm dengan diameter 12 mm. 5 . Plasenta . Pemeriksaan Fisik : Inspeksi : Tinggi fundus uteri berkurang atau lebih rendah dari usia kehamilannya. Unexplained Fetal Demise/Death ini diperkirakan akibat kegagalan transport oksigen yang disebabkan edema villi yang diinduksi tekanan osmotik yang tinggi dari hiperglikemia. 1.2 Kematian janin yang tiba tiba pada sekitar 34 -38 minggu kehamilan (unexplained Fetal Demise) lebih sering terjadi pada DM Pragestasional tidak pada DMG tanpa penyulit (preeklamsia). terdiri dari 2 arteri umbilikalis dan 1 vena umbilikalis allantois dan mesoderm primer. Auskultasi: Tidak terdengarnya denyut jantung janin setelah usia kehamilan 10-12 minggu pada pemeriksaan ultrasonic Doppler merupakan bukti kematian janin yang kuat. Transfusi antar kembar sering merupakan kausa kematian kematian janin pada kehamilan multijanin monokorionik. 2. FAKTOR PLASENTAL Penyebab kematian janin terkait dengan adanya abnormalitas pada plasenta. Hal ini berkaitan dengan aktivitas janin di dalam dua trimeter pertama.3 V. uterus teraba flaksid. FAKTOR MATERNAL Hipertensi dan Diabetes Mellitus adalah dua penyakit ibu yang sering menyebabkan kematian janin intra uterin.   Anamnesis : Pasien mengaku tidak lagi merasakan gerakan janinnya. (osmotically induced villous edema). Tidak terlihat gerakan-gerakan janin yang biasanya dapat terlihat pada ibu yang kurus. tali pusat dan membran plasenta 1. Tali Pusat . Palpasi : Tonus uterus menurun.

dimana tidak dapat lagi ditemukan bentuk simetris torak. dimana didapatkan gambaran gas dalam ruang jantung dan pembuluh darah.   Pemeriksaan Urine : Pemeriksaan ini dilakukan untuk mencari sedimen dan sel-sel pus. Pemeriksaan Penunjang : USG (Ultrasonografi) a) Tidak adanya pergerakan janin (termasuk denyut jantung) yang diukur selama periode observasi 10 menit dengan USG. HBA1C. terutama bila janin dipertahankan dalam kandungan > 2 minggu. 6 . Mencari penyebab kematian janin. ureum. b) Lama-kelamaan akan terjadi oligohidramnion dan kolaps tulang-tulang tengkorak akan tampak. Pemeriksaan Autopsi : Langsung pada plasenta. PROTOKOL INVESTIGASI PADA IUFD2 Bertujuan untuk : 1. d) Robert’s sign. kratinin. skrining TORCH.  Hematologi : Pemeriksaan ABO dan Rh. Namun ciri-ciri yang sama dapat ditemukan pada kehamilan ekstrauterin dengan janin hidup. anticardiolipin antibody. tali pusat termasuk autopsi bayi dapat memberi petunjuk pasti sebab kematian janin. yang terjadi akibat likuefaksi massa otak dan melemahnya struktur ligamentosa yang membentuk tengkorak. Memastikan diagnosis IUFD secara sonografi atau radiologi 2. gula darah post prandial. Biasanya tanda ini muncul 7 hari setelah kematian. yaitu tumpang tindih (overlapping) secara ireguler tulang tengkorak. profil tiroid. b) Hiperrefleksi dari tulang belakang c) Bayangan tulang-tulang iga bertumpuk-tumpuk. merupakan bukti kuat adanya kematian janin. VDRL. Foto Rontgen Abdomen a) Spalding’s Sign. 3. anti koagulan Lupus. Memeriksa kadar fibrinogen darah dan masa tromboplastin parsial secara periodik.

efusi cairan serosa di rongga toraks dan abdomen 7 . Plasenta berat plasenta bekuan darah dan perlengketan malformasi struktur – sirkumvalata. pletorik derajat maserasi 2. Cairan Amnion 4. Tali pusat prolaps pembengkakan . Grade I (durasi > 8 jam) : kulit terdapat bulla dan mulai mengelupas. Grade II (durasi 2-7 hari) : kulit mengelupas luas. lobus aksesorius edema – perubahan hidropik 5.Protokol Pemeriksaan pada janin dengan IUFD menurut Cunningham dan Hollier (1997) 1: 1.leher. darah konsistensi volume 3. lengan. kaki hematoma atau striktur jumlah pembuluh darah panjang tali pusat warna – mekoneum. Membran amnion   bercak/noda ketebalan Grade Maserasi pada IUFD7 :    Grade 0 (durasi < 8 jam) : kulit kemerahan ‘setengah matang’. Deskripsi bayi                 malformasi bercak/ noda warna kulit – pucat.

waspadai koagulopati. . . . perlu dibicarakan dengan pasien dan keluarganya sebelum keputusan diambil. nilai serviks ( skor bishop): . Jika trombosit dalam 2 minggu menurun tanpa persalinan spontan. Jika tes pembekuan sederhana lebih dari 7 menit atau bekuan mudah pecah. Jika penanganan aktif akan dilakukan.Tunggu persalinan spontan hingga 2 minggu. kadar fibrinogen harus dinaikkan 8 .Tempatkan misoprostol 25 mcg di puncak vagina.3. PENATALAKSANAAN IUFD 2. matangkan serviks dengan misoprostol: . naikkan dosis menjadi 50 mcg setiap 6 jam. Pasien dan keluarganya memiliki kemungkinan besar terganggu secara psikis.Persalinan dengan seksio sesarea merupakan alternatif terakhir.Jangan lakukan amniotomi karena beresiko infeksi.Jika serviks matang. .Jika tidak ada respon sesudah 2 x 25 mcg misoprostol. lakukan penanganan aktif. lakukan induksi persalinan dengan oksitosin dengan prostaglandin atau foley kateter. Bila pilihan penanganan adalah elspektatif: .5 VI. trombosit menurun.Yakinkan bahwa 90 % persalinan spontan akan terjadi tanpa komplikasi. . dapat diulangi sesudah 6 jam. efusi cairan keruh. dan serviks belum matang. Pilihan cara persalinan dapat secara aktif dengan induksi atau ekspektatif.Jangan berikan lebih dari 50 mcg setiap kali dan jangan melebihi 4 dosis. mungkin terjadi mumifikasi. TINDAKAN : Indikasi dilakukan tindakan :    Gangguan psikologis dari pasien Terdapat tanda-tanda dan gejala infeksi uterus Kadar fibrinogen yang menurun. Jika persalinan spontan tidak terjadi dalam 2 minggu. Pada kebanyakan IUFD (80%) pasien akan melahirkan secara spontan dalam waktu 2 minggu setelah janin mati. berikan antibiotika untuk metritis. Grade III (durasi >8 hari) :hepar kuning kecoklatan. Jika ada tanda infeksi. tetapi mereka harus diyakinkan tentang amannya persalinan spontan.

 Prostaglandin Pemberian gel prostaglandin (PGE2) per vaginam di daerah forniks posterior sangat efektif untuk induksi pada keadaan dimana serviks belum matang.melebihi kadar kritis sebelum dilakukan tindakan. Operasi Sectio Caesaria (SC) Pada kasus IUFD jarang dilakukan. dosis dinaikkan menjadi 40 unit. bekas SC ( dua atau lebih) dan letak lintang. pemberian dilakukan dengan dosis oksitosin dinaikkan pada hari berikutnya. Langkah induksi ini dapat ditambah dengan pemberian oksitosin.  Adanya tendensi persalinan spontan akan terjadi lebih dari 2 minggu. Pada kasus yang induksinya gagal. Pemberian dapat diulang setelah 6-8 jam. Pemberian dimulai dengan 5-10 unit oksitosin dalam 500 ml larutan Ringer laktat melalui tetesan infus intravena. Dua botol infus dapat diberikan dalam waktu yang bersamaan. 9 . langkah yang dapat diulang setelah pemberian prostaglandin per vaginam. Resiko efek antidiuretik pada dosis oksitosin yang tinggi harus dipikirkan. Apabila uterus masih refrakter. METODE-METODE TERMINASI Terminasi harus selalu dilakukan dengan induksi. Infus dimulai dengan 20 unit oksitosin dalam 500 ml larutan Ringer Laktat dengan kecepatan 30 tetes per menit. Pemberian larutan ringer laktat dalam volume yang kecil dapat menurunkan resiko tersebut. Bila tidak terjadi kontraksi setelah botol infus pertama. Operasi ini hanya dilakukan pada kasus yang dinilai dengan plasenta praevia. oleh karena itu tidak boleh diberikan lebih dari dua botol pada waktu yang sama. yaitu :  Infus Oksitosin Cara ini sering dilakukan dan efektif pada kasus-kasus dimana telah terjadi pematangan serviks. Kemungkinan terdapat kehamilan sekunder harus disingkirkan bila upaya berulang tetap gagal menginduksi persalinan.

SKEMA PENATALAKSANAAN IUFD Non-Interferensi 2 minggu Kasus refrakter atau kasus dimana terminasi kehamilan diindikasikan  Psikologis  Infeksi  Penurunan kadar fibrinogen  Retensi janin lebih dari 2 minggu Partus Spontan dalam 2 minggu (80%) Rawat di RS. Induksi persalinan Servik matang Servik belum matang Infus Oksitosin Prostaglandin gel Diulang setelah 6-8 jam Gagal gagal Oksitosin diulang dengan Ditambah Prostaglandin/vaginam Ditambah dengan infus Oksitosin 10 .

asfiksia. Kelainan pembekuan darah. pikirkan kemungkinan kehamilan multiple. PENCEGAHAN Resiko kematian janin dapat sepenuhnya dihindari dengan antenatal care yang baik. pertumbuhan janin 11 . dapat terjadi defibrinasi akibat silent Dissaminated Intravascular Coagulopathy (DIC). pikirkan oligohidramnion. cacat bawaan dan infeksi. PEMANTAUAN KESEJAHTERAAN JANIN Tujuannya untuk deteksi dini ada tidaknya faktor-faktor penyebab kematian janin. dari tepi atas simfisis sampai fundus. namun bila ketuban sudah pecah infeksi dapat terjadi terutama oleh mikroorganisme pembentuk gas seperti Cl. bayi besar. tes darah alfa-fetoprotein. Jika tinggi fundus lebih daripada kalibrasi usia kehamilan. pada keadaan uterus tidak berkontraksi. tumor. hidrosefalus. merokok. gangguan pertumbuhan. Perkiraan pertumbuhan janin dari tinggi fundus uteri terhadap usia kehamilan Diukur dengan keadaan pasien terlentang. Selama persalinan dapat terjadi inersia uteri. Tes-tes antepartum misalnya USG. minuman beralkohol atau penggunaan obat-obatan. kemungkinan kelainan ini terjadi pada kasus lainnya harus dipikirkan. VIII.welchii. KOMPLIKASI 1. 3. bila janin mati dipertahankan melebihi 4 minggu. selagi ketuban masih intak kemungkinan untuk terjadinya infeksi sangat kecil. Infeksi. Kelainan ini terjadi akibat penyerapan bertahap dari tromboplastin yang dilepaskan dari plasenta dan desidua yang mati ke dalam sirkulasi maternal. Gangguan psikologis 2. dan non-stress test fetal elektronik dapat digunakan untuk mengevaluasi kegawatan janin sebelum terjadi kematian dan terminasi kehamilan dapat segera dilakukan bila terjadi gawat janin. 4. Misalnya hipoksia. CARA-CARA PEMANTAUAN KESEJAHTERAAN JANIN : 1. retensio plasenta dan perdarahan post partum. hidramnion. Ibu menjauhkan diri dari penyakit infeksi. dengan idealnya vesica urinaria dan rectum yang kosong. Sebaliknya jika tinggi fundus kurang dari kalibrasi usia kehamilan.VII. Walaupun terjadinya terutama pada janin mati akibat inkompatibilitas Rh yang tetap dipertahankan.

Dapat pula digunakan taksiran berat janin dengan rumus Johnson Tossec. Bila terdapat penurunan kurang dari 10 gerakan dalam 12 jam. masing-masing pada pagi. meningkat pada saat kontraksi. 12 . Auskultasi denyut jantung janin Dengan alat Laennec. Pada keadaan normal otot sfingter ani janin berkontraksi. Ideal perhitungan I menit penuh. terjadi koloni kuman pada selaput dan cairan ketuban (korioamnionitis) sehingga ketuban juga akan berwarna kehijauan dan keruh. Jika janin tidak bergerak pikirkan kemungkinan diagnosis banding tidur atau hipoksia. Penghitungan dihentikan setelah gerakan janin mencapai 10 kali. ketuban pecah. Jika dengan CTG direkan untuk 10 menit. Pengamatan mekoneum dan cairan ketuban Caranya dengan amniocentesis atau amnioskopi. hal ini menandakan adanya penurunan fungsi plasenta. Normal frekuensi denyut 120-160 kali per menit.  Daily Fetal Movement Count ( DFMC ) Normalnya terdapat 3 gerakan janin dalam 1 jam. Ibu disarankan untuk segera pergi ke dokter bila terdapat kurang dari 10 gerakan dalam kurun waktu 12 jam selama 2 hari berturut-turut. 2.terhambat. dsb. Dapat secara subjektif (ditanyakan kepada ibu) atau objektif (dengan cara palpasi atau USG). siang dan malam hari. Dopller atau CTG. Dalam kehidupan janin intrauterin. Pada infeksi. Pemantauan aktifitas atau gerakan janin. atau tidak dirasakan gerakan janin sama sekali selama kurun waktu 12 jam dalam 1 hari. sehingga mekoneum tidak keluar dan bercampur air ketuban. dan relaksasi sfingter ani sehingga mekoneum keluar dan menyebabkan air ketuban berwarna kehijauan. Terdapat dua metode penghitungan gerakan janin :  Cardif ‘count 10’ formula2 Pasien mulai menghitung gerakan janin sejak jam 9 pagi. sebagian besar oksigen hanya dibutuhkan oleh otak dan jantung (refleks redistribusi). 4. Pada hipoksia akut terjadi hiperperistaltik otot-otot tubuh janin. Total penghitungan tersebut dikalikan 4. 3. sehingga air ketuban tetap jernih. sehingga terdapat penghitungan gerakan janin selama 12 jam.

pertumbuhan. 5. lokasi. presentasi. Pengamatan hormone yang diproduksi oleh plasenta Estriol dan Human Placental Lactogen (HPL) adalah hormon plasenta spesifik yang diperiksa pada darah ibu untuk menilai fungsi plasenta.Pemeriksaan rasio lecithin/sphyngomyelin (L/S ratio) pada cairan ketuban digunakan untuk menilai prediksi pematangan paru janin (pembentukan surfaktan). 7. tumor. Janin : hidup/mati. Pada janin dengan hipoksia terjadi asidosis. Pemeriksaan darah dan analisis gas darah janin Pengambilan sample darah bias dari tali pusat (umbilical cord blood sampling) atau dari kulit kepala janin (fetal scalp blood sampling). Jika abnormal berarti terjadi gangguan fungsi plasenta dan berakibat resiko pertumbuhan janin terhambat sampai kematian janin.  Tali pusat : jumlah pembuluh darah. ukuran. tranfusi intrauterin. fetoskopi. BPD-Biparietal Diameter. inkompetensia serviks. jumlah. dsb. bentuk. SDAU (sirkulasi Darah Arteri Umbilikalis)     Membran dan cairan amnion : keadaan dan jumlah. kelainan bawaan. AC-Abdominal Circumference. maturasi dan insersi. ukuran. Ultrasonografi (USG) Dapat digunakan untuk menilai :   Kantong gestasi : jumlah. sirkulasi (dengan dopller dapat menilai FDJP (Fungsi Dinamik Janin Plasenta). Dapat juga digunakan untuk membantu tindakan khusus : amniocentesis. 6. FL-Femur Length). biopsi vili korialis 13 . mola hidatidosa. perkiraan usia gestasi melaui biometri janin (CRL-Crown Rump length. Plasenta : lokasi. keadaan. Keadaan patologis : kehamilan ektopik.

CTG bisa digunakan untuk menilai fungsi kompensasi jantung janin terhadap stress fisologik. ulang FDJP dalam 2 minggu induksi persalinan 14 .TES FUNGSI DINAMIK JANIN PLASENTA (FDJP) Skor Reaktivitas DJJ Akselerasi-Stimulasi Rasio SDAU Gerak nafas-Stimulasi Indeks Cairan Amnion 2 ≥2 ≥2 <3 ≥2 episode ≥10 cm 0 <2 <2 ≥3 <2 episode <10 cm Kurangi 2 nilai pada PJT dan Deselerasi Fungsi Dinamik Janin Plasenta <5 ≥5 Seksio Sesarea Usia Gestasi <35 minggu ≥35 minggu 8. Dapat pula digunakan untuk menilai hubungan antara denyut jantung dan tekanan intrauterin. Cardiotokografi (CTG) Menggunakan dua elektroda yang dipasang pada fundus ( untuk menilai aktivitas uterus) dan pada lokasi punctum maximum denyut jantung janin pada perut ibu. dengan cara Non Stress Test (NST) dan Oxytocyn Challenge Test (OCT).

Penerbit Buku Kedokteran EGC.obfocus. 1073- Massachusetts. 785-790. 1475-77 3. 2.Fetal Death Syndrome.Jakarta. Hariadi R.LANGE. Diagnosis and Treatment. 4. Nathan. De Cherney.html 15 . Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI.1992. Ilmu Kebidanan Edisi III.DAFTAR PUSTAKA 1.com/evaluation of stillbirth. Jakarta.1997. Diabetes Mellitus Gestasional. 1999. Williams Obstetrics 21 1078.USA.Kehamilan Kembar. MoonDragon Birthing Services.Salem st Edition.288-95.564-71.2004. Ilmu kedokteran Fetomaternal Edisi Perdana. 7. McGraw Hill. 5. Surabaya. 6. Winknjosastro H. Obstetry & Gynecology.cetakan lima. 1390-94. 357-8. Alan. http://www. Kematian Perinatologi. Mochtar Rustam. Cunningham.Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.USA. FG. Sinopsis Obstetri. Balai Penerbit FK UI. Current.Lauren. Page 315-25.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->