NASKAH AKADEMIK

REVISI UNDANG UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

KEMENTERIAN DALAM NEGERI 2011

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang

Desentralisasi adalah istilah dengan konotasi yang luas. Setiap penyerahan kewenangan dari Pemerintah Pusat dapat tercakup dari pengertian tersebut. Konsep desentralisasi selalu berkaitan dengan kewenangan untuk mengatur dan mengurus kekuasaan yang menjadi domain pemerintah pusat. Dalam konteks Indonesia, desentralisasi selalu dikaitkan pembentukan daerah otonom atau pemerintahan daerah (pemda) dan penyerahan urusan pemerintahan dari Pemerintah Pusat mengatur dan

kepada Pemda sehingga Pemda mempunyai kewenangan untuk mengurus urusan pemerintahan tersebut.

Tiada satupun pemerintah dari suatu negera dengan wilayah yang luas dapat menentukan kebijaksanaan secara efektip ataupun dapat melaksanakan

kebijaksanaan dan program-programnya secara efisien melalui sistem sentralisasi (Bowman & Hampton, 1983). Dari pandangan ini kita dapat melihat urgensi dari kebutuhan akan pelimpahan ataupun penyerahan sebagian kewenangan Pemerintah Pusat baik dalam konotasi politis maupun administratip kepada organisasi atau unit diluar Pemerintah Pusat itu sendiri. Apakah pelimpahan ini akan lebih menitik beratkan pada pilihan devolusi, dekonsentrasi, delegasi ataupun bahkan privatisasi, hal tersebut tergantung dari para pengambil keputusan politik di negara yang bersangkutan. Dibanyak negara di dunia keempat bentuk tersebut diterapkan oleh Pemerintah, walaupun salah satu bentuk mungkin mendapatkan prioritas

dibandingkan bentuk-bentuk lainnya (Rondinelli & Cheema, 1983).

Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004

2

Dalam konteks Indonesia, untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan rakyat dan memperkuat integrasi nasional, para pendiri bangsa sejak awal sebagaimana dinyatakan dalam konstitusi yaitu Undang Undang Dasar 1945 mencita-citakan Indonesia sebagai negara kesatuan yang desentralistis dan demokratis. Para pendiri bangsa menyadari bahwa variabilitas yang tinggi antar daerah dalam berbagai aspek tidak memungkinkan Indonesia menjadi negara yang sentralistis. Desentralisasi menjadi pilihan selain karena keinginan

mewujudkan pemerintahan yang responsif terhadap dinamika yang terjadi di daerah, juga karena pemerintahan yang desentralistis lebih kondusif bagi percepatan pengembangan demokrasi di Indonesia. Dengan melimpahkan

sebagaian urusan pemerintahan ke daerah, maka rakyat di daerah akan menjadi semakin mudah terlibat dalam penyelenggaraan pemerintahan. Mereka juga akan dapat lebih mudah mengawasi jalannya penyelenggaraan pemerintahan. Namun, dalam perjalanan sejarah pemerintahan di Indonesia, pelaksanaan desentralisasi mengalami pasang-surut sesuai dengan dinamika politik, ekonomi, dan sosial yang terjadi di masa itu. Pelaksanaan desentralisasi di Indonesia

mengalami perkembangan yang berarti sejak dilaksanakannya UU 22/1999 yang menganut otonomi luas. UU tersebut membatasi urusan pemerintahan di tingkat pusat dan provinsi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 dan mengalihkan sisanya kepada kabupaten/ kota melalui mekanisme pengakuan. Mekanisme pembagian urusan pemerintahan tersebut mengikuti konsep urusan sisa ( residual functions) diserahkan ke tingkat Kabupaten/Kota sedangkan urusan pemerintahan di tingkat pusat dan di tingkat provinsi ditentukan secara jelas dan specifik yang dituangkan dalam PP 25/2000. Mengingat scope urusan sisa yang diserahkan ke Kabupaten/Kota sangat luas, maka menimbulkan kesan bahwa di Kabupaten/Kota mengacu kepada prinsip otonomi luas atau general

competence sedangkan otonomi terbatasnya (ultra vires ) ada di tingkat provinsi.
UU ini juga menjadikan DPRD sebagai lembaga parlemen daerah yang memiliki kewenangan yang luas termasuk melakukan pemilihan dan pemakzulan kepala daerah ketika Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Kepala Daerah kepada Kepala daerah dua kali ditolak secara berurutan. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004
3

Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 4 . dan berwenang untuk melakukan urusan pemerintahan yang berskala nasional (lintas provinsi) atau internasional (lintas negara). Konflik yang terjadi antar KDH dan DPRD cenderung meluas di banyak daerah dan mengganggu kelancaran jalannya pemerintahan daerah. standar. Mengacu kepada ketiga kriteria tersebut. akuntabilitas dan efisiensi. mempunyai kewenangan untuk membuat pengaturan dalam bentuk norma.32/ 2004 mencoba memperjelas pembagian urusan pemerintahan dan tetap dalam koridor otonomi luas ( general competence) yang ada di tingkat daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota. prosedur dan kriteria (NSPK) yang dijadikan acuan bagi pemda provinsi. dan tidak jelasnya hubungan interelasi dan interdepensi antar tingkatan dan dan susunan pemerintahan khususnya antara Pemda dengan Pemerintah Pusat dan antara Pemda Provinsi dengan Pemda kabupaten/Kota. pelaksanaan desentralisasi yang dilakukan secara radikal dengan mengalihkan urusan yang seluas-luasnya ke daerah ternyata menimbulkan beberapa masalah. evaluasi dan supervisi terhadap pemda. berwenang melakukan monitoring. PP 38 tahun 2007 sebagai turunan dari UU 32/2004 mencoba melakukan pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat. UU N0. Pemerintah Pusat. Kriteria tersebut adalah kriteria eksternalitas. Semua hal di atas mendorong pemerintah untuk merevisi UU N0.22/1999 untuk menata kembali pelaksanaan desentralisasi sehingga percepatan pembangunan daerah dapat dilakukan. pembagian urusan pemerintahan menjadi sebagai berikut: 1. kabupaten/kota untuk melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah tersebut. seperti ketidakjelasan pembagian urusan antar susunan pemerintahan. Ada tiga kriteria yang dipakai sebagai pedoman dalam pembagian urusan pemerintahan tersebut. pemda provinsi dan pemda kabupaten/kota.Pada awal otonomi daerah di era reformasi. Penempatan DPRD sebagai parlemen daerah dengan kewenangan untuk memilih dan memakzulkan kepala daerah (KDH) menghasilkan destabilisasi pemerintahan daerah.

maka pemda dapat menetapkan perda untuk melaksanakan urusan yang menjadi kewenangannya.2. Kelautan dan Pertikanan 5. Urusan pemerintahan tersebut yaitu: 1. Sosial 2. Pemda kabupaten/Kota berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan yang berskala kabupaten/kota berdasarkan NSPK yang ditetapkan Pusat. Pendekatan tersebut ditujukan untuk mendorong pemda melaksanakan urusan pemerintahan yang benar-benar sesuai dengan karakter daerah dan kebutuhan masyarakat daerah tersebut untuk mendukung terciptranya kesejahteraan masyarakat daerah. Selain itu pemerintah pusat diwajibkan menyelesaikan penetapan NSPK tersebut dalam waktu dua tahun dan apabila dalam waktu dua tahun pemerintah pusat belum juga menetapkan NSPK untuk dijadikan acuan bagi pemda untuk melaksanakan urusan pemerintahan yang diserahkan ke daerah. Urusan pemerintahan diklasifikasikan kedalam dua kategori yaitu ”urusan wajib” yang terkait dengan pelayanan dasar dan urusan pilihan yang terkait dengan pengembangan sektor unggulan yang potensial tumbuh dan berkembang di daerah tersebut. 3. Lingkungan Hidup 3. Kehutanan Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 5 . Perdagangan 4. Fungsi lainnya dari NSPK adalah mengatur hubungan antar tingkatan dan susunan pemerintahan yaitu antara pusat dan daerah dan antar pemda dalam pelaksanaan suatu urusan pemerintahan sehingga urusan pemerintahan tersebut dapat terselenggara secara sistemik dan sinerjik. Pemda Provinsi mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan yang berskala provinsi (lintas kabupaten/kota) berdasarkan NSPK yang ditetapkan Pusat. Ada 31` urusan pemerintahan yang di desentralisasikan ke daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Kependudukan 16. Pekerjaan Umum 20. Arsip 25. Usaha Kecil dan Menengah 9. Pendidikan 7. Pertanian dan Perkebunan 11. Komunikasi dan Informasi/ Kominfo 23. Pertambangan (Enerji dan Sumber Daya MineralESDM) 12. Kebudayaan dan Pariwisata 15. Tenaga Kerja dan Transmigrasi 10. Pemuda dan Olah Raga 22. Penanaman Modal 14. Perumahan 24. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera 18. Pertanahan 26. Kesatuan Bangsa dan Politik /Kesbang Pol 27. Pemerintahan Umum 29. Penataan Ruang 21. Perhubungan 13. Perindustrian 19. Kesehatan 8.6. Kepegawaian Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 6 . Pemberdayaan Perempuan 17. Pemberdayaan Masyarakat Desa/PMD 30. Statistik 28.

31. dan kabupaten/ kota. menjadi juga kewenangan Provinsi dan kewenangan Kabupaten/Kota. Pembagian urusan pemerintahan antara Pusat. hanya skalanya yang berbeda. Banyak urusan yang penting bagi upaya peningkatan kesejahteraan rakyat yang kemudian tidak tertangani dengan baik karena tidak diatur dengan jelas dalam UU N0. UU N0. KDH Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 7 . Kepala daerah tidak lagi dipilih oleh DPRD tetapi dipilih langsung oleh rakyat sebagaimana para anggota DPRD. Tidak adanya daftar urusan wajib dan pilihan dalam UU 22/1999 telah melahirkan kebingungan para aktor dan pemangku kepentingan di pusat dan daerah mengenai pembagian urusan antara pemerintah.32/2004 juga mengubah kedudukan DPRD dan pola hubungan antara DPRD dengan kepala daerah (KDH). Pemerintah berharap dengan memberi urusan pilihan kepada daerah mereka dapat mengembangkan kegiatan yang dapat menjadi keunggulan daerah dan berdasarkan struktur ekonomi dan sumberdaya yang tersedia di daerah.22/1999. Prosedur dan Kriteria (NSPK) yang dijadikan pedoman atau acuan bagi Pemda Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Kalau Pemerintah Pusat mempunyai kewenangan yang berskala nasional atau lintas Provinsi. Provinsi dan Kabupaten/Kota dituangkan dalam matriks pembagian urusan yang dipayungi dalam PP 38/2007. Pemerintah kemudian menetapkan Norma. Apa yang dikerjakan di Pusat. maka Provinsi akan mempunyai kewenangan dengan skala Provinsi atau lintas Kabupaten/Kota sedangkan Kabupaten/Kota mempunyai kewenangan skala Kabupaten/Kota atas 31 urusan pemerintahan yang di desentralisasikan. Standard. Perpustakaan Kalau UU 22/1999 memakai prinsip ”residual function” untuk Kabupaten/Kota yaitu semua urusan pemerintahan yang tidak secara eksplisit dinyatakan dalam PP 25/2000 sebagai kewenangan Pusat dan Provinsi akan menjadi kewenangan Kabupaten/Kota. provinsi. Dalam UU 32/2004 pembagian urusan pemerintahan mempergunakan prinsip ”concurrence function” artinya diterapkannya prinsip konkurensi dari setiap urusan pemerintahan.

Ketidak jelasan pengaturan dalam UU 32/2004 sering menimbulkan intepretasi yang berbeda dari berbagai kelompok kepentingan dan menjadi salah satu sumber konflik antar susunan pemerintahan dan aparatnya. dalam UU 32/2004 mereka memiliki kedudukan yang setara dan menjadi mitra dari KDH. Otonomi luas yang diwujudkan dalam bentuk 31 urusan yang diserahkan ke daerah sering menimbulkan masalah dalam pembiayaannya. Walaupun UU 32/2004 telah berhasil menyelesaikan beberapa masalah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. ketidakjelasan pembagian urusan antar susunan pemerintahan masih merupakan masalah yang secara persisten dihadapi oleh Indonesia dalam pelaksanaan desentralisasi. telah menyebabkan banyak daerah mengalami kesulitan dalam pembiayaan urusan tersebut. dalam pembagian urusan. Misalnya. Urusan yang sangat banyak ditambah dengan sumber pendanaan yang terbatas. Karena Kepala Daerah dipilih oleh rakyat.karena itu memiliki basis legitimasi yang kuat dan tidak lagi tergantung pada DPRD. Urusan pemerintahan yang berbasis ekologis masih tetap sulit untuk dibagi antar tingkatan pemerintahan karena batas wilayah administrasi pemerintahan sering kurang sesuai dengan externalitas yang ditimbulkan dari urusan pemerintahan yang berbasis ekologis. maka Kepala Daerah menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggung jawaban (LKPJ) dan bukan LPJ kepada DPRD. Konflik dan tumpang tindih kewenangan antar susunan pemerintahan dan antar daerah tetap terjadi dan memerlukan pengaturan yang lebih jelas dan efektif. namun ternyata dalam pelaksanaannya muncul beberapa masalah baru yang perlu memperoleh perhatian pemerintah dan semua pemangku kepentingan. DPRD yang sebelumnya memiliki kewenangan untuk melakukan pemakzulan terhadap KDH apabila Laporan Pertanggung Jawabannya (LPJ) ditolak oleh DPRD. Keadaan tersebut diperparah dengan adanya kecenderungan daerah untuk membuat struktur organisasi yang gemuk akibat tekanan birokrasi akan tambahan jabatan akan memicu menigkatnya kebutuhan akan pegawai yang pada gilirannya akan menyebabkan bengkaknya biaya aparatur atau overhead cost. Otonomi luas dalam Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 8 . Dalam UU 32/2004 kedudukan DPRD dikembalikan sebagai bagian dari unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

walaupun secara empirik banyak dari urusan tersebut tidak sesuai dengan prioritas untuk menyejahterakan rakyat. Otonomi daerah yang luas belum disikapi sebagai ”open menu” bagi elit daerah. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya perintah dari peraturan perundangundangan atau kementerian dan lembaga pemerintah non kementerian (LPNK) yang mewajibkan daerah untuk membentuk suatu organisasi untuk mewadahi suatu urusan yang tidak ada relevansi atau urgensinya di daerah tersebut. Seyogyanya mereka memprioritaskan urtusan-urusan pemerintahan yang sesuai dengan urusan wajib yang terkait prioritas pelayanan dasar dan urusan pilihan yang menjadi prioritas untuk dikembangkan sesuai dengan unggulan daerah. Pengaturan tentang pelayanan publik sangat penting dalam UU pemerintahan daerah karena tidak adanya pengaturan tentang pelayanan publik sering membuat daerah kurang peduli dengan penyelenggaraan pelayanan publik. Meningkatnya overhead cost akan mengurangi alokasi anggaran untuk pelayanan publik sebagai dasar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah.bentuk banyaknya urusan pemerintahan yang diserahkan ke daerah dapat menjadi justifikasi bagi daerah untuk menambah struktur organisasi perangkat daerah. dinamika pelaksanaan desentralisasi selama dekade terakhir ini juga menunjukan perlu adanya penambahan pengaturan baru tentang pelayanan publik. Pemberian otonomi luas akan menjadi alasan utama bagi daerah untuk mengembangkan organisasi untuk mewadahi urusan pemerintahan tersebut. Disamping itu. salah satu pertimbangan utama dari pelaksanaan desentralisasi agar daerah dapat menyelenggarakan Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 9 . Diperlukan pemikiran untuk menerapkan kelembagaan yang ”right sizing” yang bercirikan ramping struktur namun kaya fungsi. partisipasi masyarakat. Sedangkan. Munculnya gejala patronasi dan kooptasi birokrasi secara politis akan memberikan tekanan bagi elit politik lokal untuk mengembangkan struktur organisasi. Otonomi luas bukan berarti semua urusan harus dilembagakan tapi fungsinya tetap menjadi domain kewenangan daerah namun tidak harus dilembagakan tersendiri karena akan memicu bengkaknya overhead cost. dsb.

Pengaturan tentang penyelenggaraan pelayanan publik perlu dimasukan dalam UU pemerintahan daerah agar daerah memiliki pedoman dan standar yang jelas dalam menyelenggarakan pelayanan yang berkualitas. Dengan adanya revisi terhadap UU 32/2004 maka diharapkan penyelenggaraan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia benar-benar dapat mendorong kemajuan daerah dan meningkatkan kemakmuran bagi warga di daerah. Dengan demikian. Maksud dan Tujuan memperkuat integrasi nasional Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 10 . Amat jarang daerah yang mengakui bahwa partisipasi adalah hak dari setiap warga yang harus dilindungi oleh negara. juga untuk melengkapi berbagai kekurangan yang ada dalam UU 32/2004. Atas dasar pertimbangan-pertimbangan di atas maka revisi UU N0. karena pengaturan tentang partisipasi masyarakat tidak ada dalam UU 32/2004 banyak daerah yang masih mengabaikan perlunya mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses kebijakan di daerah. Salah satu tujuan dari desentralisasi adalah agar masyarakat dan pemangku kepentingan dapat lebih mudah berpartisipasi dalam proses kebijakan di daerah. B. Partisipasi masyarakat menjadi salah satu kunci sukses dari penyelenggaraan desentralisasi dan otonomi daerah. Revisi dilakukan disamping untuk melakukan perubahan terhadap pengaturan yang ada agar lebih mampu menjawab berbagai masalah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Penambahan pengaturan tentang partisipasi yang mengatur hak-hak warga untuk terlibat dalam proses kebijakan dan kewajiban daerah untuk memberi ruang kepada warganya untuk terlibat dalam proses kebijakan amat penting untuk menjamin agar penyelenggaraan pemerintah daerah benar-benar mengabdi pada kepentingan warga. Namun. desentralisasi diharapkan juga dapat menjadi perangkat kebijakan untuk dan memperkokoh keberadaan NKRI. dan dapat dijangkau oleh warganya dengan mudah.32/2004 diperlukan.pelayanan publik yang berkualitas. Pengaturan yang sama juga dilakukan mengenai partisipasi masyarakat. sesuai dengan kebutuhan warganya.

Dalam pembagian urusan misalnya. Ketidakjelasan pengaturan sering membuat kerjasama antara pemerintah. Praktek penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia menurut UU 32/2004 belum sepenuhnya menjamin terwujudnya NKRI yang desentralistis dan mampu menjamin adanya hubungan yang harmonis dan sinerjik antar tingkatan dan susunan pemerintahan. Pada gilirannya penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam konstruksi UU 32/2004 sering belum mampu mempercepat perbaikan kesejahteraan rakyat di daerah yang akibat lanjutannya adalah rendahnya peningkatan kesejahteraan masyarakat secara nasional. antar provinsi dan kabupaten/ kota. Disamping memperjelas konsep desentralisasi dalam kerangka NKRI. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 Berbagai 11 . Disamping itu tidak jelasnya hubungan antara pemerintah pusat dan pemda telah menyebabkan sulitnya menciptakan sinerji antara pembangunan pusat dengan daerah dan antara provinsi dengan kabupaten/kota dalam wilayah provinsi tersebut. ketidakjelasan pengaturan dalam berbagai aspek penyelenggaraan pemerintah daerah. Pengaturan yang ada selama ini dinilai belum jelas dan memadai sehingga pembentukan daerah otonom baru cenderung dilakukan secara masif dan lebih didorong oleh pertimbangan kepentingan elit dan sempit dari berbagai kelompok kepentingan yang ada di daerah.Revisi UU 32/2004 dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki berbagai kelemahan dari UU 32/ 2004 terkait dengan konsep kebijakan desentralisasi dalam negara kesatuan. revisi juga dilakukan untuk memperjelas berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan daerah yang selama ini belum diatur dengan jelas dalam UU 32/2004. dalam pembentukan daerah otonom baru. provinsi. Misalnya. dan antar daerah. konsep negara kesatuan yang desentralistis belum sepenuhnya tergambar dalam pengaturan dan norma-norma yang ada sehingga seringkali masih dijumpai ketidakharmonisan hubungan antar Kementrian dan Lembaga dengan daerah. Akibatnya adalah sulitnya pencapaian target-terget nasional yang telah ditetapkan pemerintah pusat karena masing-masing tingkatan pemerintahan mempunyai target dan prioritasnya sendiri-sendiri. dan hubungan antara pemerintah dengan warga dan kelompok madani. dan daerah dan antar daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah belum dapat dilakukan secara optimal.

demokratis. Tapi sebaliknya juga jangan penyelahgunaan kekuasaan berlindung dibalik kegiatan yang inovatif. daerah perbatasan. dan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Untuk itu diperlukan payung hukum untuk mendorong dan melindungi pemda yang telah melakukan kegiatan-kegiatan inovatif tanpa dihantui oleh tuntutan hukum. Demikian juga halnya dengan penyelenggaraan pemda. pengelolaan aset dan sumberdaya di daerah selama ini dinilai belum jelas sehingga cenderung tidak efektif dan tidak mampu menjawab dinamika daerah yang sangat cepat dan kompleks. Untuk itu diperlukan adanya kriteria yang jelas untuk menentukan bahwa suatu kegiatan masuk dalam rumpun inovasi. dan akuntabel. kemajuan yang dicapai akan sangat dipengaruhi oleh terobosan-terobosan pemikiran yang harus dilakukan pemda khususnya dalam penyediaan pelayanan publik. kewajiban daerah untuk menjamin hak-hak warga berpartisipasi. Jangan sampai kegiatan yang inovatif bermuara pada kriminalisasi. Disamping itu terdapat juga kebutuhan untuk mendorong inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kemajuan suatu bangsa sangat ditetukan oleh sejauhmana kreativitas bangsa yang bersangkutan untuk selalu mencari alternatif dalam peningkatan kualitas hidupnya. responsif.pengaturan tentang kawasan perkotaan. Beberapa pengaturan terkait dengan hubungan antara pemerintah daerah dengan warganya seperti pengaturan tentang hak-hak warga untuk berpartisipasi dalam proses kebijakan di daerah. namun sangat penting untuk mempercepat keberhasilan desentralisasi mewujudkan pemerintahan daerah yang bersih. kawasan khusus. Sedangkan berbagai hal tersebut sangat strategis dalam menjamin terwujudnya pemerintahan daerah yang bersih. Pemda harus didorong untuk memanfaatkan kearifan lokal (local wisdom) yang ada untuk meningkatkan kinerjanya melalui peningkatan kreativitas dan inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. dan hak-hak warga menyampaikan keluhan serta mekanisme penyelesaian sengketa antara warga dan penyelenggara pelayanan publik belum diatur dalam UU 32/2004. Revisi juga dilakukan untuk menambahkan beberapa pengaturan baru yang selama ini belum tercakup dalam UU 32/2004. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 12 .

Untuk mengatasi masalah tersebut harus ada payung hukum yang mengatur kejelasan atas suatu kesalahan dalam penyelenggaraan pemda. Metodologi Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 13 . Kalau setiap kesalahan dipaksakan masuk ke ranah pro yustisia. Timbullah budaya kerja mencari selamat. Suatu kesalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan seyogyanya diperiksa dulu oleh aparat pengawas internal pemerintah yang dalam hal ini dilakukan oleh Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Kalau ada indikasi pidana maka sifatnya akan menjadi pro yustisia dan menjadi tugas serta kewenangan aparat penegak hukum untuk menindak lanjutinya. Akibatnya penyerapan anggaran menjadi terkendala dan banyak menimbulkan sisa diakhir tahun anggaran. Apakah kesalahan tersebut masuk dalam ranah administratif ( non yustisia) atau ranah pidana (pro yustisia ). visioner. akan menyebabkan keengganan pejabat daerah dalam mengurus kegiatan-kegiatan yang berimplikasi hukum padahal kegiatan tersebut sangat diperlukan masyarakat karena terkait pelayanan publik. Adanya revisi UU 32/2004 ini diharapkan dapat memberi kesempatan untuk membangun kerangka hukum penyelenggaraan pemerintahan daerah yang menyeluruh. C. dan efektif merespon berbagai masalah yang sekarang dan mungkin terjadi di masa mendatang di dalam penyelenggaraan pemerintah daerah di Indonesia. Hasil pemeriksaan yang dilakukan BPKP akan menentukan apakah kesalahan tersebut masuk dalam ranah administrasi atau pidana. Pada satu sisi pelayanan publik belum optimal namun pada sisi lain anggaran yang ada belum termanfaatkan secara optimal. Adanya ketakutan yang berlebihan terhadap dampak hukum yang terjadi telah menyebabkan aparat pemda enggan untuk melakukan kegiatankegiatan yang dianggap potensial menyebabkan masalah hukum di kemudian hari.Sisi lain yang memerlukan payung hukum adalah tindakan hukum terhadap pejabat daerah.

diharapkan UU yang dihasilkan nanti benar-benar mampu menjawab berbagai masalah yang sekarang dihadapi ataupun tantangan yang mungkin terjadi di masa mendatang dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. mengenai penyelenggaraan pelayanan publik oleh pemerintah daerah. Berbagai masalah yang dihadapi oleh penyelenggara pemerintahan daerah dan pemangku kepentingan setelah dikaji secara akademik ternyata bersumber dari ketidak-jelasan pengaturan dari UU 32/2004 dan ketidakharmonisan antara UU 32/2004 dengan peraturan perundangan lainnya. Didalam menentukan agenda revisi. Dorongan untuk melakukan revisi juga muncul dari masalah yang dihadapi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang mekanisme pengelolaannya belum diatur dalam UU 32/2004. partisipatif. Pangkalpinag. daerah. Tim juga melakukan uji publik dengan kalangan kementerian dan lembaga pemerintah non kementerian. para penyelenggara pemerintahan daerah. tim revisi melakukan serangkaian FGD (focusssed- group discussion) di berbagai daerah dengan multi-stakeholders. Bersifat problem-based karena inisiatif dan dasar untuk melakukan revisi adalah masalah yang dihadapi baik oleh pemerintah. asosiasi pemerintahan daerah seperti Asosiasi Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 14 . Berbagai masalah yang dihadapi oleh banyak pemangku kepentingan ini menjadi dasar dan mendorong upaya untuk merevisi UU 32/2004. Misalnya. dan berbasis pada pemikiran yang secara akademik dan politik dapat diterima. diantaranya di Mataram. dan para pemangku kepentingan lainya terkait dengan penyelenggarakan pemerintahan daerah. Untuk itu diperlukan revisi UU 32/2004 untuk mengakomodasi kebutuhan adanya pengaturan yang diperlukan untuk menjawab tantangan yang sekarang dan dimasa mendatang dihadapi oleh pemerintah daerah. Pelayanan publik adalah hal yang sangat strategis dan menjadi isu yang sangat penting karena terkait secara langsung dengan kesejahteraan masyarakat. Bali dan lain-lainnya.Revisi Undang-Undang ini dirancang sedemikian rupa agar bersifat problem-based. Dengan demikian. Metoda partisipatori digunakan dalam keseluruhan proses revisi UU 32/2004. NTB dan Semarang. yaitu menentukan hal apa dari UU 32/ 2004 yang perlu direvisi. Jawa Tengah.

perwakilan dari berbagai NGO. tetapi juga berbagai pihak diluar tim. Tim revisi telah memperoleh berbagai masukan dari berbagai kalangan dan masukan-masukan tersebut sepanjang bermanfaat serta layak dipertimbangkan telah dipergunakan Tim Revisi untuk menyempurnakan konsep yang secara terus menerus dibangun dan disempurnakan. unsur-unsur dari kementrian dan lembaga pemerintah lainnya. Termasuk uji publik dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). dan efektif untuk menjawab masalah dan tantangan yang dihadapi dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Dengan melibatkan proses yang terbuka dan partisipatif diharapkan pemikiran yang berkembang dalam revisi menggambarkan pemikiran yang terkini. Proses revisi juga dilakukan secara terbuka dan partisipatif dimana tim revisi yang terdiri dari pakar berbagai bidang keilmuan yang relevan dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah bersama-sama dengan tim dari berbagai komponen di Departemen Dalam Negeri mendiskusikan berbagai masalah yang terjadi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah dan merumuskan norma yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. perdebatan yang intens dilakukan bukan hanya dengan Tim Pakar. relevan. pejabat dari berbagai unsur dari Kementerian Dalam Negeri. Dengan melibatkan multi-stakeholders di berbagai daerah diharapkan agenda revisi dapat mencakup masalah dan kebutuhan yang dirasakan oleh banyak pihak yang mewakili kepentingan yang berbeda-beda. Kementerian Dalam Negeri akan menjadikan masukan dan pemikiran yang berkembang dalam konsultasi publik menjadi informasi dan Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 15 .Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI). Dalam membahas berbagai isu. wakil dari Asosiasi. Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI). kalangan akademisi dan pemerhati otonomi daerah. seperti: pakar dari universitas dan lembaga lainnya. Dengan konsultasi publik yang luas dengan berbagai pihak dan pemangku kepentingan diharapkan dapat mendorong terjadi perdebatan yang terbuka tentang berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan yang selama ini menjadi perhatian masyarakat luas. dan pemangku kepentingan lainnya. Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI).

Pendekatan keilmuan dilakukan untuk mencari solusi yang tepat terhadap berbagai masalah yang terjadi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. D. pengaturan yang secara akademik sound harus juga dapat diimplementasikan dengan mudah. Namun. tetapi juga secara politik fisibel. sederhana. Karena itu. 16 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 . Revisi juga dilakukan dengan mengkombinasikan pendekatan keilmuan dan politik. Struktur Penulisan Naskah akademik ini terdiri dari 5 Bab. Pengaturan baru tentunya harus memiliki landasan konsepsual yang kuat didukung oleh hasil riset dan pengalaman internasional yang memadai. Adanya konsep yang jelas tentang desentralisasi dalam negara kesatuan diharapkan dapat membantu para pembentuk UU dan pemangku kepentingan dalam menentukan arah dari revisi UU 32/2004. Bab II berisi tentang kerangka konsepsual yang menjelaskan konsep desentralisasi dan konstruksi desentralisasi dalam negara kesatuan. dan akseptabel dimata berbagai pemangku kepentingan. dan efektif. Bab I menjelaskan tentang pendahuluan yang mencakup latar belakang.bahan yang penting untuk menjadikan UU pemerintahan daerah hasil revisi benarbenar menjadi milik masyarakat dan semua pemangku kepentingan. Dengan melibatkan para pakar dari berbagai universitas dan lembaga penelitian yang berbeda diharapkan revisi dapat menghasilkan pengaturan baru yang secara akademik kuat dan secara politik fisibel. Untuk itu maka para pakar diminta melakukan kajian tentang berbagai isu yang dianggap penting dan menuliskan hasilnya sehingga dapat menjadi bahan untuk pembuatan naskah akademik dan masukan yang penting dalam revisi UU 32/2004. Bab III memuat materi dari revisi UU32/2004. tujuan dari revisi. metodologi. Semua masalah strategis yang memerlukan perubahan pengaturan dalam UU pemerintahan daerah dan keterkaitannya dengan peraturan perundangan lainnya dijelaskan disini. dan struktur penulisan. pemikiran dari para pakar dan anggota Tim Revisi dikonsultasikan dengan para pihak yang berkepentingan sehingga pengaturan yang diusulkan bukan hanya tepat secara konsepsual.

dan usulan perubahan. permasalahan yang berkembang dalam setiap isu. Bab V Penutup Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 17 . dan usulan perubahan kebijakan untuk menjawab masalah yang terjadi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. dan inovasi daerah. Bab ini diharapkan dapat membantu para pihak memahami nilai-nilai dan tujuan yang ingin diwujudkan dari setiap isu kebijakan yang muncul. permasalahan yang berkembang dalam topik itu. analisis tentang penyebab munculnya masalah. seperti partisipasi masyarakat. analisis tentang penyebab munculnya masalah. Bab IV menjelaskan tentang Dasar Pemikiran dari setiap topik dan isu yang dibahas dalam revisi. Bab ini juga mengidentifikasi masalah yang memerlukan pengaturan baru dalam UU hasil revisi.Disamping memuat masalah yang menuntut perubahan. pelayanan publik.

Undang Undang No. Adapun sekuen perubahan tersebut adalah sebagaimana terurai berikut ini. meneruskan sistem yang diwariskan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Pasang Surut Otonomi Daerah di Indonesia Deskripsi sistem pemerintahan daerah di Indonesia ditandai dengan diberlakukannya berbagai perundang-undangan tentang pemerintahan daerah. Setiap Undang-Undang yang diberlakukan akan menandai terjadinya perubahan dalam sistem pemerintahan daerah dan ini sangat erat kaitannya dengan situasi politik nasional. Komite tersebut bertindak selaku badan legislatip dan anggotaanggotanya diangkat oleh Pemerintah Pusat. Sebuah Komite National Daerah didirikan pada setiap level terkecuali di tingkat Propinsi. Komite tersebut memilih lima orang dari anggotanya untuk bertindak selaku badan eksekutip yang dipimpin oleh Kepala Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 18 .1. Pada dasarnya pengaturanpengaturan yang dimuat dalam Undang-Undang 1/1945 tersebut.BAB II KERANGKA KONSEPTUAL: KEBIJAKAN DESENTRALISASI DALAM NEGARA KESATUAN II. Pada dasarnya terdapat lima kali perubahan yang bersifat pokok terhadap sistem pemerintahan daerah pasca kemerdekaan. Setiap perubahan sistem tersebut dituangkan dalam Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah yang memuat pengaturan yag berbeda satu sama lainnya. 1). UndangUndang tersebut didasarkan pada pasal 18 UUD 1945.1/ 1945 Undang-Undang ini dikeluarkan pada tanggal 23 Nopember 1945 dan merupakan UU Pemerintahan Daerah yang pertama setelah kemerdekaan.

Kepala Daerah diangkat oleh Pemerintah dari calon-calon yang diusulkan oleh DPRD. sebagai ketua DPD pada satu sisi dan sebagai wakil Pusat di daerah pada sisi yang lain. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 19 . ia bertindak selaku wakil dari Daerah yang bersangkutan. Kepala Daerah bertindak selaku Ketua DPD. Pada sisi lain Kepala Daerah tetap menjalankan dwifungsi. Kabupaten atau Kotamadya dan terakhir Desa atau Kota Kecil. Undang-Undang No. namun penekanan lebih diberikan kepada prinsip dekonsentrasi. dan pemerintahan seharihari dijalankan oleh Dewan Pemerintahan Daerah (DPD). Status Kepala Daerah adalah diangkat dan diambil dari Keanggotaan Komite. Walaupun terdapat Komite Daerah. Kekuasaan Eksekutip dipegang oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Sebagai alat Pusat. 2).22/1948 hanya mengatur mengenai daerah otonom dan sama sekali tidak menyinggung daerah administratip. DPD yang menjalankan urusan pemerintahan daerah bertanggung jawab kepada DPRD baik secara kolektif maupun sendiri-sendiri. Undang Undang Nomor 22 Tahun 1948 Undang-Undang No. mereka mempunyai kewenangan yang terbatas karena status mereka yang diangkat oleh Pemerintah dan bukan dipilih. Kondisi tersebut merupakan cerminan dari praktek demokrasi parlementer yang dianut pada masa tersebut. Kepala Daerah mengawasi DPRD dan DPD. UU tersebut hanya mengakui 3 tingkatan daerah otonom yaitu. Hal tersebut terlihat dari dualisme fungsi yang diberikan kepada figur Kepala Daerah. Provinsi. sedangkan sebagai Ketua DPD. Kepala Daerah memjalankan dua fungsi utama yaitu sebagai Kepala Daerah Otonom dan sebagai Wakil Pemerintah Pusat di daerah yang bersangkutan.Daerah untuk menjalankan roda pemerintahan daerah. Sistem ini mencerminkan kehendak Pemerintah untuk menerapkan prinsip desentralisasi dan dekonsentrasi dalam sistem pemerintahan daerah.22/1948 dikeluarkan pada tanggal 10 Juli 1948 yang dimaksudkan sebagai pengganti UU 1/1945 yang dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan semangat kebebasan setelah kemerdekaan.

UU 22/1948 secara jelas menyatakan urusan-urusan yang dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah (otonomi materiil) seperti prinsip Ultra Vares yang diterapkan pada Pemerintah Daerah di Inggris. Belanda telah merubah daerah-daerah yang didudukinya kembali menjadi negara-negara bagian dibawah sistem Federal. dan Asisten Wedana atau Camat (Suryaningrat. dan Kalimantan. Dalam realitas. Keinginan memberikan otonomi lebih didasarkan kepada pertimbangan politis dibandingkan pertimbangan efisiensi dan efektifitas. Keadaan tersebut telah menimbulkan keresahan di kalangan Pamong Praja yang bertugas melaksanakan urusan-urusan Pemerintah Pusat di daerah. 1980). Kelompok Pamong Praja menurut Peraturan Pemerintah No. sedangkan daerah-daerah dibawah sistem Federal diatur sistim Pemerintahan Daerahnya menurut UU No. maka UU 1/1957 ditandai dengan penekanan yang lebih jauh lagi kearah Desentralisasi. Sedangkan wilayah Republik Indonesia hanya terbatas pada Jawa Tengah. Bupati. Wedana. 3) Undang Undang Nomor.Tidak seperti UU 1/1945. Residen. sebagian Sumatra. Partai-Partai politik di Parlemen menuntut adanya pemerintah daerah yang lebih demokratik. UU 22/1948 hanya berlaku pada wilayah Republik. pada kenyataannya kewenangan yang dilimpahkan kepada pemerintah Daerah tetaplah terbatas.44/1950. Terdapat 15 jenis urusan yang diserahkan kepada Pemerintah Daerah tanpa melihat tingkatannya. Meskipun terdapat dorongan yang sangat kuat untuk meluaskan otonomi daerah. Dari 15 urusan yang telah diserahkan ke daerah sama Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 20 . UU 1/1957 adalah produk dari sistem parlemen Liberal hasil dari Pemilihan Umum pertama tahun 1955.1 Tahun 1957 Apabila UU 1/1945 lebih menekankan pada aspek Dekonsentrasi. kebanyakan Daerah pada masa tersebut masih dibawah kontrol Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian otonomi mengenyampingkan kemampuan riil dari pemerintah daerah.27 tahun 1956 terdiri dari Gubernur. dan UU 22/1948 pada aspek desentralisasi. Bahkan kota Kecil sebagai Pemerintah Daerah Tingkat III mempunyai urusan yang sama dengan urusan Pemerintah Daerah tingkat atasnya.

Kepala Daerah juga Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 21 . Dalam kekacauan politik tersebut. dan kembali kepada UUD 1945. Kepala Daerah mengemban dua fungsi yaitu sebagai eksekutip daerah dan wakil Pusat di daerah. Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang isinya yaitu. kabinet dibawah Perdana Menteri Juanda mengundurkan diri dan keadaan darurat pun diumumkan. Penyebabnya adalah bahwa pelimpahan urusan harus dilakukan dengan Peraturan Pemerintah dan prosedur tersebut memakan waktu yang sangat lama. sampai dengan tahun 1958 hanya baru 7 urusan yang sebenarnya diserahkan kepada Propinsi. Sistem Pemerintahan Daerah menurut UU 1/1957 adalah hampir sama dengan pengaturan dalam UU 22/1948. namun sebelum diangkat ia harus mendapatkan pengesahan dari Presiden untuk Daerah Tingkat I dan Menteri Dalam Negeri untuk Daerah Tingkat II dan Tingkat III. Anggota DPD dipilih dari DPRD dan bertanggung jawab kepada DPRD. Kepala Daerah dipilih oleh DPRD. sebagai tindak lanjut dari Dekrit Presiden. Pada tanggal 5 Juli 1959. Dalam Penpres tersebut diatur bahwa Pemerintah Daerah terdiri dari Kepala Daerah dan DPRD. membubarkan Kabinet. Pemerintah mengeluarkan Penpres 6/1959 untuk mengatur Pemerintahan Daerah agar sejalan dengan UUD 1945.seperti urusan yang dilimpahkan berdasarkan UU 22/1948. namun kekuasaan tertinggi d daerah terletak ditangan DPRD. Pada saat tersebut dimulailah apa yang disebut Demokrasi Terpimpin (Guided Democracy). Kepala Daerah dan DPD baik secara sendiri-sendiri maupun secara kolektip bertanggung jawab kepada DPRD. 4) Penetapan Presiden (Penpres) Nomor 6 Tahun 1959 Pada tanggal 16 Nopember 1959. Keinginan untuk menciptakan pemerintahan yang demokratik tidak diiringi dengan kedewasaan sosial dan politik. DPRD membuat kebijakan daerah dan DPD bertugas untuk melaksanakannya. Kepala Daerah bertindak selaku ketua DPD. mencabut berlakunya UUDS 1950. Pemerintah Daerah terdiri dari DPRD dan DPD. Kepala Daerah hanya berperan selaku alat daerah dan tidak bertanggung jawab kepada Pusat. Perbedaannya dengan UU 22/1948 terletak pada peranan yang dijalankan oleh Kepala Daerah.

Meskipun DPRD mempunyai hak untuk mengusulkan calon-calon Kepala Daerah. 1961). Urusan-Urusan yang dijalankan oleh Residen diserahkan kepada Gubernur. Sebagai tindak lanjutnya Pemerintah mengeluarkan Penetapan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1963 tentang Penyerahan Urusan-Urusan Pusat yang sebelumnya dijalankan oleh Pamong Praja kepada Pemerintah Daerah. Sedangkan sebagai wakil Pusat dia bertanggung jawab kepada Pemerintah Pusat. Arus balik dari peranan Pamong Praja yang dominan tersebut terjadi dengan dikeluarkannya Ketetapan MPRS No. dan Pusat mempunyai kontrol yang kuat terhadap Kepala Daerah yang umumnya direkrut dari Pamong Praja. Hal ini juga merupakan refleksi dari menguatnya peranan partai-partai politik dalam percaturan politik nasional. Pada awal tahun 1960an pada waktu semua jabatan Kepala Daerah terisi. Presiden ataupun Menteri Dalam Negeri mempunyai hak untuk menolaknya dan mengangkat calon yang direstui. tapi diangkat oleh Presiden untuk Daerah Tingkat I. Kekuasaan Daerah pada dasarnya terletak ditangan Kepala Daerah. dan urusan-rusan yan dijalankan oleh Wedana diserahkan kepada Bupati atau Walikota. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 22 . Sebagai eksekutip daerah ia bertanggung jawab kepada DPRD. sedangkan posisi Asisten Wedana atau Camat tetap dipertahankan. Kemudian Undang-Undang No. Kepala daerah diusulkan oleh DPRD. dari 238 Kepala Daerah. Ini merupakan terjadinya arus balik dari dekonsentrasi ke arah desentralisasi. dan oleh Menteri Dalam Negeri untuk Kepala Daerah Tingkat II.II/MPRS/1960 yang menyatakan pemberian otonomi yang seluas-luasnya kepada Pemerintah Daerah. 150 orang atau 63% berasal dari Pamong Praja (Legge. namun harus bebas dari partai politik. Sebagai eksekutip daerah Kepala daerah dibantu oleh Badan Pemerintah Harian (BPH) yang anggota-anggotanya dipilih dari DPRD. namun tidak bisa dipecat oleh DPRD. Penpres 6/1959 menandai beralihnya kebijaksanaan pemerintahan daerah kearah prinisip Dekonsentrasi.18 Tahun 1965 dikeluarkan untuk mengganti Penpres 6/1959.bertindak selaku Ketua DPRD. Golongan Pamong Praja mendominasi jabatan Bupati dan Walikota.

Sebagai kepala daerah otonom. Berdasarkan UU 18/1965. 6) UU No. Secara struktural. terdapat tiga tingkatan Pemerintah Daerah yang otonom yaitu. Perubahan-perubahan mendasar yang terjadi dalam sistem pemerintahan daerah adalah bahwa Kepala Daerah bukanlan lagi bertindak sebagai Ketua DPRD. dan dia juga diijinkan menjadi anggota partai politik. UU 18/1965 merupakan arus balik dari kecenderungan sentralisasi menuju ke desentralisasi. Agama dan Komunis. Meskipun prinsip desentralisasi dan dekonsentrasi dianut dalam sistem tersebut. Hal ini nampak dari kebebasan yang diberikan kepada Kepala Daerah dan BPH untuk menjadi anggota partai politik tertentu. Propinsi.5 tahun 1974 UU No. Ciri utama dari UU 5/1974 adalah penguatan peran Kepala Daerah dalam menjalankan dua fungsi utamanya yaitu sebagai kepala daerah otonom dan sebagai wakil pemerintah pusat di daerah. Hal ini hampir serupa dengan otonomi dalam UU 1/1957. 5 Tahun 1974 lahir sebagai tindak lanjut dari peristiwa G 30 S PKI yang kemudian diikuti dengan lahirnya Orde Baru. Kepala Daerah tetap memegang peran ganda yaitu sebagai pimpinan daerah dan wakil Pusat di daerah. Dengan demikian kesetiaan atau loyalitas dari para eksekutip daerah tidak lagi semata-mata hanya kepada Pemerintah Pusat. Otonomi yang diberikan kepada Daerah adalah otonomi nyata dan seluas-luasnya. dia memimpin penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan kewenangan yang diserahkan oleh pemerintah pusat ke Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 23 .5) Undang Undang Nomor 18 tahun 1965 Pada pertengahan dekade 1960an telah timbul tuntutan yang semakin kuat untuk merevisi sistem Pemerintahan Daerah agar sejalan dengan semangat Demokrasi Terpimpin dan Nasakom yaitu konsep politik yang dikeluarkan oleh Presiden Sukarno untuk mengakomodasikan tiga kekuatan politik terbesar pada waktu itu yaitu kelompok partai Nasionalis. Kabupaten atau Kotamadya dan Kecamatan. namun Dekonsentrasi hanyalah dianggap sebagai pelengkap (supplement) saja walaupun diberi embel-embel vital.

daerah. Sedangkan sebagai wakil pemerintah pusat kepala daerah disebut sebagai kepala wilayah yang memimpin wilayah administrasi sebagai wilayah kerja wakil pusat dei daerah. Sebagai kepala wilayah maka yang bersangkutan berperan sebagai administrator pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. Kepala wilayah juga mempunyai peran sebagai kordinator pemerintahan di daerah yang

mengkordinir semua instansi vertikal yang ada di wilayah kerjanya. Kepala wilayah juga bertanggung jawab atas penyelenggaraan urusan umum di daerah yaitu urusan-urusan terkait dengan kordinasi, pembinaan, ketentraman dan ketertiban umum dan menyelenggarakan semua urusan pemerintahan yang belum di otonomikan atau belum ada instansi vertikal yang menanganinya (urusan sisa). Ciri utama dari UU 5/1974 adalah kuatnya intervensi pemerintah pusat dalam setiap elemen dasar dari pemerintahan daerah. Dari aspek urusan pemerintahan, prinsip otonomi daerah yang dianut adalah otonomi yang luas, riil dan bertanggung jawab. Dalam kenyataannya urusan pemerintahan yang diserahkan ke daerah berjumlah 7 s/d 9 urusan untuk tingkat kabupaten/kota dan 19 urusan untuk tingkat provinsi. Nuansa sentralisasi juga terasa kuat dalam aspek kepegawaian, keuangan, dan aspek-aspek lainnya dalam hubungan pusat dengan daerah. UU 5/1974 bertahan selama hampir 25 tahun yang kemudian diganti dengan UU 22 tahun 1999 sebagai tindak lanjut dari reformasi. Dari pendekatan historis ini isu sentral yang dapat ditarik adalah bagaimana pemerintah pusat selalu berusaha memegang kendali/ kontrol terhadap daerah. Dalam banyak hal, pemerintah pusat berusaha mengontrol daerah melalui figur Kepala Daerah yang didudukkan sebagai alat pusat dan alat daerah. Untuk memenangkan kesetiaan Kepala Daerah kepada pusat dalam menjalankan dual roles nya, pusat seringkali sangat dominan dalam penentuan/pengangkatan Kepala Daerah. Kuatnya bargaining position pusat dalam penentuan Kepala Daerah ini telah mendorong loyalitas Kepala Daerah yang lebih tinggi kepada pusat dibandingkan kepada daerah. Aspek positip dari kebijaksanaan ini adalah adanya kepastian bahwa program2 ataupun arahan pusat akan terlaksana secara lancer di daerah. Pada Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004
24

tahap awal kemerdekaan pendekatan ini sangat berguna untuk menggalang persatuan dan kesatuan bangsa yang masih sangat rawan pada waktu itu (tujuan integratif). Aspek negatipnya, terutama setelah tujuan integratif tercapai adalah pada diri Kepala Daerah sendiri, yang akan sering dihadapkan pada suatu dilema manakala dihadapkan pada situasi harus memilih antara kepentingan pusat dan daerah. Ke-Pusat dia dituntut akan loyalitas, ke daerah dia dihadapkan pada akauntabilitas. Kebijakan pemerintah untuk melakukan desentralisasi pemerintahan di Indonesia sudah lama dilakukan dan mengalami pasang surut sejak UU N0.1 Tahun 1945 dikeluarkan oleh pemerintah. Para pendiri bangsa sejak awal telah memutuskan perlunya desentralisasi dilakukan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Pasca reformasi, pemerintah melakukan serangkaian kebijakan, antara lain dengan menerbitkan UU N0.22/1999 yang kemudian diganti dengan UU N0.32/2004 untuk mencari format kebijakan desentralisasi yang mampu dan

mempercepat kemajuan daerah, meningkatkan kesejahteraan rakyat, sekaligus memperkuat integrasi nasional.

Walaupun berbagai upaya telah

dilakukan untuk mengantisipasi dinamika politik, sosial, dan ekonomi yang berpengaruh terhadap sistim pemerintahan daerah, namun Undang-Undang N0. 32 Tahun 2004 sebagai payung kebijakan desentralisasi masih mengandung banyak kekurangan dan kelemahan yang jika tidak segera diperbaiki dapat mengganggu keberhasilan desentralisasi itu sendiri. Dinamika pelaksanaan desentralisasi pemerintahan menimbulkan beberapa pertanyaan penting tentang bentuk desentralisasi yang seharusnya dikembangkan di Indonesia. Apakah desentralisasi yang sebaiknya dilakukan di Indonesia

terbatas pada desentralisasi wilayah, sebagaimana selama ini dilakukan, atau termasuk juga desentralisasi fungsional (Rondinelli, 2007). Apakah desentralisasi terpisah dari dekonsentrasi dan tugas pembantuan sebagaimana yang digunakan di Indonesia, atau mengikuti klasifikasi Rondinelli dan Cheema (1983) yang mengklasifikasi desentralisasi kedalam berbagai cara, yaitu: dekonsentrasi, delegasi dan devolusi. Apakah desentralisasi yang dikembangkan di Indonesia tetap mengikuti praktik yang selama ini dilakukan di negara-negara kesatuan, Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004
25

yang melimpahkan kewenangannya sebagian besar pada kabupaten/ kota? Atau, pelimpahan kewenangan kepada provinsi perlu diperbesar seperti yang terjadi pada negara-negara yang menganut sistim pemerintahan federal. Pertanyaanpertanyaan seperti ini tentu penting untuk menjadi bahan pemikiran bersama dalam mengembangkan kebijakan desentralisasi di Indonesia. Fakta bahwa desentralisasi di banyak negara belum mampu menghasilkan bukti yang solid dan kokoh untuk mendorong kemajuan daerah, partisipasi masyarakat, dan kesejahteraan warga menyadarkan banyak pihak tentang pentingnya model desentralisasi dan otonomi daerah disesuaikan dengan kondisi sosial, budaya, politik, dan ekonomi masing-masing negara. Walaupun

desentralisasi menjadi strategi pembangunan yang umum dilakukan di banyak negara maju dan berkembang pasca tahun 1980an, namun cerita keberhasilan desentralisasi sering bersifat unik dan kontekstual (Andrews and Vries, 2007). Keberhasilan desentralisasi dalam memperbaiki kehidupan warganya tidak berlaku umum dan tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang taken for granted. Beberapa penelitian telah mengingatkan mengenai risiko penggunaan desentralisasi sebagai panacea dalam memecahkan masalah pembangunan dan pelayanan publik di negara sedang berkembang, yang cenderung

menyederhanakan masalah (Andersson, Gibson and Lehoucq 2004). Segelintir peneliti mulai mempertanyakan asumsi yang mengklaim bahwa desentralisasi dapat memperbaiki pemberian pelayanan di tingkat lokal (Agrawal and Gibson 1999; Larson 2002; Andersson dkk, 2004; Deininger and Mpuga 2005). Sementara peneliti yang lain seperti Andrews dan Vries (2007) yang

membuktikan bahwa pengalaman Brazil, Rusia, Jepang, dan Swedia dalam melaksanakan desentralisasi ternyata menghasilkan pengalaman yang berbeda terkait dengan dampaknya terhadap partisipasi publik. Memang tidak semua

negara mengalami kemajuan setelah melaksanakan desentralisasi. Di beberapa negara desentralisasi justru telah membuka kesempatan untuk “rent-seeking” dan korupsi (Treisman 2000; Oyono 2004, Tambulasi dan Kayuni, 2007).

Keberhasilan desentralisasi memperbaiki kesejahteraan rakyat di daerah sangat tergantung pada kesesuaian bentuk, cakupan dan besaran kewenangan yang Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004
26

responsif. bukan hanya sekarang ini. 1993. Desentralisasi sudah menjadi pilihan anak-anak bangsa. Indonesia yang memiliki wilayah yang sangat luas dan terbentang pada begitu banyak pulau yang terpisah satu dengan lainnya. yang sekarang ini menjadi gerakan pembaharuan administrasi publik di negara maju dan berkembang. sosial budaya. Bahkan. tetapi bahkan sejak para pendiri bangsa dimasa lalu.1 Tahun 1945 tentang otonomi daerah. Przeworski and Stokes 1999). desentralisasi telah menjadi satu nilai penting dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang efisien. dan akuntabel (Osborne & Gaebler. Fakta bawa pemerintah yang baru saja menyatakan kemerdekaannya untuk kali pertama dalam pembentukan UU mengatur tentang penyelenggaraan pemerintahan daerah menunjukan bahwa para pendiri bangsa melihat desentralisasi sebagai suatu nilai yang penting. Keyakinan bahwa desentralisasi menjadi pilihan yang tepat dapat dijustifikasi dengan melihat pengalaman banyak negara lain yang berhasil menggunakan desentralisasi untuk mendorong pembangunan daerah. Manin. dan geografis yang memiliki variabilitas yang tinggi antar daerah. 1 Kondisi demografis. dan cara pelaksanaan desentralisasi dengan kapasitas pemerintah daerah. Namun. dan tingkat sosial ekonomi yang berbeda-beda membutuhkan pemerintah daerah yang otonom dan memiliki kapasitas merespon dinamika lokal yang kompleks. Pilihan para pendiri bangsa dimasa lalu terhadap desentralisasi dan otonomi daerah menunjukan kearifan mereka terhadap tingginya pluralitas bangsa.dialihkan ke daerah. Pemerintahan daerah yang seperti ini hanya dapat dikembangkan ketika desentralisasi dilakukan. 1998). menjadikan desentralisasi sebagai keniscayaan. dan kesejahteraan ekonomi (Boone 2003. dukungan kementrian dan lembaga sektoral. Pollit. efektif. Lam 1996. dalam New Public Management (NPM). dan kekuatan masyarakat sipil di daerah. dampak yang berbeda-beda yang dialami banyak negara lain dalam melaksanakan desentralisasi tidak perlu membuat Indonesia menjadi raguragu dalam melaksanakan desentralisasi dan otonomi daerah. Birchall dan Putman. demokratisasi. Bahwa sebagian negara lainnya gagal menjadikan desentralisasi sebagai strategi untuk membangun pemerintahan yang efisien dan efektif hanyalah Hal ini dibuktikan dengan d ikeluarkannya UU N0. 1 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 27 . dengan etnisitas. Oates 1972. budaya. Kohl 2003.

(Rondinelli 1980. Manor 1999. tetapi desentralisasi juga melahirkan banyak masalah baru dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. 1980. kesiapan aparatur pusat dan daerah untuk mengubah mindset. politik. 1982). budaya. 2003b). dimana sebagian provinsi dan kabupaten/ kota berhasil mempercepat pembangunan daerahnya.menunjukan bahwa desentralisasi tidak bisa diperlakukan secara taken for granted. tetapi dalam sebuah konteks historik. Bardhan and Mookherjee 2000). Dillinger 1995. Pelaksanaan desentralisasi yang tidak kontekstual. dan cita-cita membangun negara bangsa. ketika tingkat pemerintahan Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 28 . sementara sebagian lainnya gagal memanfaatkan otonomi untuk perbaikan kinerja (Dwiyanto. dan kelembagaan tertentu. Desentralisasi tidak terjadi dalam ruang yang vakum. karena keberhasilannya bersifat kontekstual. 2003a and Dwiyanto. seperti kapasitas lokal. Seabright 1996. Walaupun secara umum desentralisasi dan otonomi daerah mampu mendorong munculnya berbagai inovasi. tersedianya lembaga lokal yang berjiwa demokratis. dapat menjawab pertanyaan yang dikemukakan oleh Turner dan Hulme (1997) yang risau tentang kegagalan desentralisasi memenuhi janjinya. karena dilaksanakan untuk memenuhi tekanan eksternal lembaga donor yang seringkali mengkaitkan dengan program-programnya. Sistim desentralisasi yang dikembangkan mesti harus kontekstual dengan memperhatikan berbagai variabel dan kondisi sehingga model desentralisasi yang dikembangkan di Indonesia benar-benar sesuai dengan sistim pemerintahan. Sebagian dari variabel diatas dapat menjelaskan mengapa pengalaman banyak daerah di Indonesia melaksanakan desentralisasi juga berbeda-beda. komitmen politik dari pimpinan nasional. Bahwa pelaksanaan desentralisasi mesti harus memperhatikan konteks masing-masing negara sudah lama diingatkan oleh para pemikir desentralisasi sejak lama (Rondinelli. Ada banyak kondisi yang diperlukan agar desentralisasi dapat menghasilkan manfaat seperti yang diharapkan. politik. sejarah. Cheema and Rondinelli. budaya. kualitas kepemimpinan lokal. tersedianya saluran bagi partisipasi politik masyarakat. Apa yang salah dengan desentralisasi: teori atau prakteknya? Atau gugatan Jeffrey (2008) tentang koherensi dan stabilitas dari penyelenggaraan pemerintahan secara desentralistis. konsistensi kebijakan. dan terbatasnya otoritas fiskal di daerah.

Dengan melakukan serangkaian koreksi terhadap persoalan baik yang bersifat sistemik ataupun yang kontekstual maka diharapkan Indonesia dapat mewujudkan kebijakan desentralisasi yang mampu membawa kemajuan. Untuk itu dalam rangka memperbaiki pelaksanaan desentralisasi di Indonesia upaya yang serius dan menyeluruh perlu dilakukan untuk meninjau kembali berbagai pengaturan yang ada dalam UU N0.yang berbeda dikuasai partai politik yang berbeda-beda. Apa yang terjadi selama ini menunjukan pentingnya membuat kebijakan desentralisasi yang jelas dan tepat karena kegagalan untuk membuat kebijakan yang tepat dan jelas dapat memicu bukan hanya kegagalan implementasi tetapi juga kegagalan untuk mencapai tujuan dari kebijakan desentralisasi itu sendiri. pelaksanaan desentralisasi tidak dapat memberi manfaat sebagaimana diharapkan oleh para pemangku kepentingan dan masyarakat luas. Berbagai keluhan tentang ketidakmampuan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia memenuhi harapan dari banyak pemangku kepentingan dapat muncul dari keduanya. ketidaktepatan model desentralisasi yang diterapkan dan karena kesalahan implementasinya. Akibatnya. dan memperkokoh keberadaan NKRI. Hal yang sama juga dapat mendorong terjadi penafsiran yang berbeda di kalangan pemangku kepentingan sehinga pelaksanaan desentralisasi tidak sesuai dengan semangat dari peraturan perundangan yang berlaku. Bahkan. Subtansi yang kabur dalam peraturan perundangan dapat menjadi sumber masalah dalam pelaksanaan desentralisasi. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 29 . kesejahteraan rakyat di daerah. Pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkan kita semua untuk berani secara terbuka dan kritis melihat persoalan yang terjadi dalam pelaksanaan desentralisasi di Indonesia. Banyak penelitian membuktikan bahwa ketidakjelasan dalam pengaturan kebijakan desentralisasi menimbulkan masalah dalam implementasi (Dwiyanto. subtansi yang salah dalam pengaturan dapat memicu implementasi yang salah pula. atau bahkan karena interaksi dari keduanya.32 Tahun 2004 yang dinilai menimbulkan kerancuan dalam memahami tujuan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia. 2003a).

Lembaga perwakilan rakyat di daerah (DPRD) hanya memiliki regulatory power untuk membuat peraturan daerah yang tidak bertentangan dengan produk lembaga legislatif (DPR) dan peraturan perundangan yang yang lebih tinggi. Dengan memilih menjadi negara kesatuan yang desentralistik. UUD 1945 memberi kekuasaan pemerintahan tertinggi pada presiden. Dalam negara kesatuan umumnya desentralisasi hanya terjadi dalam eksekutif. Pertama. Kedaluatan hanya ada ditangan negara.Pengembangan desentralisasi di Indonesia perlu memperhatikan kondisikondisi yang diperlukan bagi keberhasilan desentralisasi itu sendiri dan berbagai konteks kekinian yang terjadi di Indonesia. desentralisasi dalam negara kesatuan memiliki ciri yang berbeda dengan desentralisasi dalam negara yang menganut sistim federal. yang berkedudukan di pusat. melimpahkan atau menarik kembali kewenangan dan fungsi yang dilimpahkan ke daerah. Penyelenggara negara dan atau Presiden sebagai kepala pemerintahan dapat melakukan review terhadap peraturan daerah dan membatalkannya jika bertentangan dengan UU dan peraturan perundangan yang lebih tinggi. daerah (bisa provinsi atau kabupaten/ kota) umumnya dibentuk oleh negara (pusat) melalui peraturan perundangan tertentu. Kewenangan yang diberikan kepada pemerintahan daerah adalah kewenangan eksekutif yang dimiliki oleh Presiden. desentralisasi yang dikembangkan adalah desentralisasi dalam negara kesatuan. kewenangan Pemerintahan daerah tidak memiliki kompetensi legislatif dan yudisial. Negara melalui UU dapat membentuk dan membubarkan daerah. bukan ada di daerah. di negara kesatuan hanya ada satu lembaga legislatif. Dalam negara kesatuan. Pilihan negara kesatuan telah jelas termuat dalam konstitusi dan masih menjadi konsensus politik. Karena itu daerah memperoleh kewenangan dari negara. Sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan tertinggi. Didalam negara kesatuan tidak ada shared soverignity . Implikasinya. bukan sebaliknya. Indonesia memiliki konstruksi hubungan pusat dan daerah yang berbeda dengan konstruksi yang ada didalam sistim federal. bukan kewenangan penyelenggara negara lainnya. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 30 . Walaupun konsep negara kesatuan mengalami dinamika dan penyesuaian sesuai dengan tantangan yang dihadapi. bukan dalam kewenangan legislatif dan judisial.

sebagaimana dinyatakan dalam konstitusi (UUD 1945 ps 18 dan 18A). Walaupun desentralisasi pemerintahan di negara-negara kesatuan umumnya lebih banyak diserahkan kepada pemerintahan kabupaten/ kota. terhadap nasional. maka prinsip subsidiaritas menjadi superior. dan pengembangan wilayah. Kriteria dan prinsip dalam pembagian urusan perlu dirumuskan dengan jelas dan dimasukan dlam konstitusi sehingga tidak mudah untuk dirubah untuk kepentingan sempit dan jangka pendek. utamanya untuk penyelenggaraan pelayanan pemenuhan kebutuhan dasar. walaupun tidak ada hubungan hirarkhis antara provinsi dengan kabupaten/ kota. Di negara kesatuan yang memiliki susunan ganda. Presiden memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/ kota. sarana dan prasarana. dan memudahkan warga untuk terlibat dalam penyelenggaraannya. secara fungsional Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 31 . Ketika subsidiaritas berbenturan dengan kriteria lainnya. Kedua. Cara ini diharapkan mampu mempercepat terwujudnya democratic governance pada tingkat lokal. kehutanan. termasuk yang dilakukan oleh pemerintahan daerah. pengelolaan lingkungan.Presiden harus mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pemerintahan Karena itu. Sebagian dari urusan yang didesentralisasikan dalam bidang pendidikan. misalnya: efisiensi. serta urusan pemerintahan yang berbasis ekologis akan lebih efisien dan efektif jika dikelola oleh pemerintah provinsi. provinsi dan Pilihan untuk memiliki multi-tiers government dapat dijustifikasi dari adanya comparative advantages dari keberadaan pemerintah kabupaten/ kota mengingat tidak semua urusan yang didesentralisasikan dapat dikelola secara efisien dan efektif oleh kabupaten/ kota. mudah dikontrol oleh warga. Pertimbangannya adalah yang paling dekat dengan warga adalah yang paling tahu tentang kebutuhan warganya. Indonesia menganut sistim pemerintahan dengan susunan ganda (multi- tiers government). Kalau desentralisasi pemerintahan di masa mendatang tetap diberikan sebagian besar kepada kabupaten/ kota maka penerapan prinsip subsidiaritas harus menjadi pertimbangan utama dalam melakukan pembagian urusan pemerintahan. kesehatan.

Hubungan antar keduanya perlu ditata dengan baik sehingga keberadaan keduanya mampu menciptakan sinergi dan komplementaritas yang menguntungkan warganya.hubungan hirarki antar keduanya sulit dihindari. Apalagi ketika provinsi juga diperlakukan sebagai wilayah administratif. menjadi sangat penting perannya dalam membangun negara kesatuan yang solid dan kokoh. maka hubungan hirarkhis fungsional antara provinsi dan kabupaten/ kota tidak dapat dihindari. dan terintegrasi dengan baik. UU ini perlu mengarahkan peran pemerintahan kabupaten/ kota sebagai penyelenggara urusan pemenuhan kebutuhan dasar dengan memperhatikan keuntungan komparatifnya dibandingkan dengan pemerintahan provinsi. dalam negara kesatuan yang memiliki multi-tiers government. Sedangkan. and synergizing institution untuk penguatan kapasitas dan optimalitas penyelenggaraan pemerintahan daerah. Dalam manajemen pemerintahan sehari-hari. Untuk memperkuat NKRI. hubungan interdepensi dan interrelasi antar pemerintahan kabupaten/ kota adalah keniscayaan. provinsi sebagai daerah otonom diarahkan sebagai penyelenggara pelayanan yang memiliki eksternalitas lintas kabupaten/ kota dan pembangunan wilayah. presiden membutuhkan instrumen yang dapat menjalankan peran sebagai intermediaries. Secara fungsional keberadaan provinsi diperlukan untuk memfasilitasi managemen pemerintahan antar kabupaten/ kota agar terjadi koherensi. Penguatan peran gubernur sebagai wakil pusat di daerah juga memiliki rasionalitas lainnya. enabling. Pemberian peran tambahan kepada KDH provinsi sebagai wakil pemerintah pusat dapat mengurangi kekhawatiran terhadap munculnya ancaman separatisme. Penguatan peran provinsi perlu diimbangi juga dengan penguatan peran gubernur sebagai wakil pusat. sinerji. Untuk itu. penguatan Pengalaman sejarah pemerintahan Indonesia menunjukan bahwa peran provinsi sebagai daerah otonom sering menimbulkan kekhawatiran tentang risiko munculnya gerakan separatisme. Pembagian urusan yang jelas. dimana kepala daerahnya diberi tugas sebagai wakil pusat di daerah. Penambahan peran gubernur sebagai wakil pusat dapat Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 32 . Sinergi dan komplementaritas antara pemerintahan provinsi dan kabupaten/ kota hanya dapat dilakukan kalau pembagian urusan antar keduanya jelas dan terumuskan dengan baik.

Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 33 . Pemikiran untuk menjadikan gubernur sepenuhnya sebagai wakil pusat dan menjadikan provinsi sebagai wilayah administratif dapat menjadikan NKRI semakin sentralistis dan mempersempit ruang untuk partisipasi publik yang menjadi salah satu nilai yang ingin diwujudkan oleh kebijakan desentralisasi. Pengembangan kawasan perbatasan yang memiliki aspek geo-politik strategis seringkali tidak dapat dikelola sepenuhnya oleh satu daerah otonom. sehingga diperlukan satu institusi yang secara khusus dirancang untuk menjalankan fungsi pemerintah tertentu di kawasan perbatasan. walaupun tidak diatur dalam konstitusi realitas yang ada menunjukan bahwa Indonesia menganut desentralisasi teritorial dan fungsional. serta memperkuat integrasi nasional (national-binding forces).menjadi pilihan yang mudah. proses rekrutmen dan penempatan pegawai yang terbuka. pegawai daerah. dan efektif untuk membangun konsistensi dan sinergi penyelenggaraan pemerintahan pusat dan daerah. sebagai negara kesatuan pemerintah membentuk sistim kepegawaian nasional yang mencakup pegawai nasional. dan pegawai profesional lainnya. Selama ini desentralisasi teritorial sangat dominan sehingga cederung memonopoli konsep desentralisasi di Indonesia. Penerapan peran ganda gubernur juga dinilai lebih sesuai dengan semangat desentralisasi daripada menjadikan gubernur sepenuhnya sebagai wakil pusat di daerah. Sistim kepegawaian nasional harus dapat memberi ruang kepada daerah untuk mengembangkan kompetensi lokal yang diperlukan untuk mempercepat pembangunan daerah. Munculnya masalah-masalah strategis terkait dengan kawasan perbatasan. dan unggulan ekonomi mendorong perlunya Indonesia mengembangkan konsep desentralisasi fungsional. Ketiga. konservasi. murah. dimana pemerintah desentralisasi membentuk lembaga khusus semi pemerintah di daerah untuk menjalankan fungsi pemerintah pusat tertentu. kompetitif. menjadi contoh terjadinya Pengembangan kawasan khusus dapat fungsional. Keempat. Pegawai nasional menjadi perangkat pemerintah untuk pemberdayaan daerah. pemerataan kemajuan dan kesejahteraan daerah. Sistim kepegawaian nasional harus mencakup standar kompetensi. dan menjamin adanya mobilitas pegawai antar daerah secara wajar.

Kekaburan dalam isi kebijakan akan mendorong munculnya misintepretasi dan distorsi kebijakan yang Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 34 . Karena sebagian dana yang digunakan untuk menjalankan pemerintahan daerah bersumber dari pajak dan sumber-sumber lain di tingkat nasional maka pemerintahan daerah harus juga akuntabel pada stakeholders pada tingkat nasional. konsistensi diperlukan antar peraturan perundangan yang mengatur tentang penyelenggaraan pemerintahan dengan peraturan perundangan yang mengatur kegiatan-kegiatan kementrian dan lembaga. stakeholders di daerah dan nasional. berbeda dengan yang terjadi di negara federal dimana daerah memiliki sumber-sumber penerimaan sendiri yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Penggunaan hibah dan transfer dari pusat untuk pembiayaan pemerintahan daerah memiliki beberapa implikasi. akuntabilitas dari penggunaan dana oleh daerah tidak hanya pada konstituen yang ada di daerah. Implikasi pertama. Dalam aras kebijakan. Daerah memiliki akuntabilitas ganda. Ketidakharmonisan antara UU tentang penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan UU sektoral dapat menciptakan kebingungan aktor-aktor di pusat dan daerah. UU tentang pemerintahan daerah harus menjadi arah kebijakan yang menjiwai dan menjadi pedoman bagi pembentukan UU sektoral. Keenam. Kebijakan dan standar penting untuk memastikan daerah mampu menjamin semua warga dimanapun mereka tinggal mampu mengakses volume dan kualitas pelayanan yang sama. Sebagaimana pengalaman di negara-negara lainnya. tetapi juga pada konstituen pada tingkat nasional. pemerintah perlu membuat kebijakan dan standar pelayanan sebagai acuan daerah dalam mengelola pelayanan publik. keberhasilan desentralisasi membutuhkan adanya konsistensi dalam keseluruhan aspek kebijakan dan implementasinya. Implikasi lainnya.Kelima. ketidakharmonisan UU bukan hanya akan menimbulkan kekaburan terhadap subtansi peraturan perundang-undangan tetapi juga akan mempersulit pelaksanaan dari desentralisasi itu sendiri. di negara kesatuan umumnya sumber penerimaan dikontrol oleh pusat dan didistribusikan kembali ke daerah untuk mengatasi kesenjangan fiskal antar daerah.

Ketujuh. Desentralisasi harus dilakukan secara bersama-sama dengan demokratisasi pada tingkat lokal sehingga warga dapat terlibat dalam pengambilan keputusan dan ikut mengontrol jalannya penyelenggaraan pemerintahan. Konsistensi antara UU dengan peraturan pelaksanaannya harus dijaga agar implementasi dari UU itu benar-benar sesuai dengan semangat dari pembentuk UU. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 35 . Implikasinya. desentralisasi hanya akan berhasil kalau diikuti dengan pemberdayaan lembaga perwakilan rakyat di daerah dan penguatan kelompok masyarakat sipil di daerah di daerah sehingga efektivitas kontrol politik di daerah menjadi semakin effektif. pengembangan desentralisasi sebagaimana terjadi pada negaranegara lainnya membutuhkan ruang politik yang lebih luas bagi warga untuk terlibat dalam proses politik di aras lokal.. perlu dikembangkan strategi yang menjamin pelaksanaan desentralisasi benar-benar sesuai dengan semangat yang dimiliki dalam pembentukan peraturan perundang-undangan. yang merugikan kepentingan warga dan pemangku kepentingan yang luas.tidak perlu dan dapat menjauhkan kebijakan desentralisasi dari nilai-nilai yang akan diwujudkannya. Dengan cara ini maka distorsi implementasi dapat ditekan seminimal mungkin sehingga pelaksanaan desentralisasi dapat menciptakan hasil sebagaimana yang diharapkan. Tanpa penguatan lembaga perwakilan rakyat dan masyarakat sipil di daerah. Dalam aras implementasi. Pembentukan UU pemerintahan daerah harus diikuti dengan pembentukan peraturan pelaksanaan yang sesuai dengan semangat pembentukan UU itu sendiri. desentralisasi hanya akan melahirkan elite captures dalam proses penyelenggaraan pemerintahan di daerah.

Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 36 .BAB III MATERI MUATAN UNDANG UNDANG PEMERINTAHAN DAERAH Secara ringkas materi muatan revisi UU 32/2004 mencakup beberapa hal sebagai berikut: 1. utamanya terkait dengan konflik sosial. Upaya untuk mengendalikan pembentukan DOB telah dilakukan oleh pemerintah dengan mengeluarkan PP 78/2007 dan PP 6/ 2008. Revisi UU 32/2004 harus mengatur dengan jelas siapa yang sebenarnya memiliki kewenangan mengusulkan pembentukan daerah otonom. PP 78/2007 mengatur tentang prosedur dan persyaratan pembentukan DOB sedangkan PP 6/2008 mengatur tentang evaluasi kinerja daerah otonom dan implikasinya terhadap penggabungan daerah. Pembentukan daerah otonom baru (DOB) yang tidak terkendali dikawatirkan akan membuat penyelenggaraan pemerintahan menjadi tidak efisien dan efektif. Pembentukan DOB melalui UU dapat ditafsirkan bahwa DPR memiliki kewenangan untuk melakukan inisiatif dalam pembentukan DOB. Pembentukan dan Penataan Daerah Isu penataan daerah telah menjadi perhatian para pemangku kepentingan karena ekses negatif dari pemekaran daerah yang sangat masif selama lima tahun terakhir. PP tersebut sering kurang efektif untuk digunakan pembentukan DOB karena perbedaan intepretasi tentang mengendalikan kewenangan pembentukan DOB yang muncul dari intepretasi terhadap UU N0. penurunan kualitas pelayanan.10/2004 tentang pembentukan peraturan perundangan. Namun. pemerintah semata atau bersama dengan DPR. dan fragmentasi spasial yang sangat tinggi dari pemerintahan daerah.

Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah telah menerbitkan PP 38/2007 yang berusaha merinci urusan desentralisasi kedalam urusan pemerintah. dan kabupaten/ kota. Misalnya dalam pengelolaan hutan. provinsi. Kementrian negara memiliki kewenangan untuk melakukan sinkronisasi dan koordinasi dalam Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 37 . PP tersebut masih menyisakan persoalan terkait dengan ketidakjelasan konsep skala provinsi dan skala kabupaten/ kota yang dipergunakan untuk mendefinisikan urusan provinsi dan kabupaten/ kota. Namun.2. Pembagian Urusan Pemerintahan Pembagian urusan pemerintahan menjadi isu yang strategis karena implikasi dari ketidakjelasan dalam pembagian urusan sangat luas. Lebih dari itu. undang-undang sektoral termasuk UU 39 tahun 2008 tentang Kementerian Negara tidak menyebut sama sekali peran gubernur sebagai wakil pusat. Terkait dengan peran gubernur sebagai wakil pusat. Upaya untuk memperjelas pembagian urusan penting dilakukan agar desentralisasi pemerintahan benar-benar dapat berjalan seperti yang diatur dalam UU pemerintahan daerah.6/2007 dan PP3/ 2008 yang mengatur tentang Tata Hutan dan Pengelolaan Hutan tidak konsisten dengan PP 38/2007 dasn UU 32/2004 yang telah mendesentralisasikan urusan kehutanan kepada daerah. tidak hanya menyangkut hubungan antar susunan pemerintahan tetapi juga antara kementrian/ lembaga dengan pemerintah daerah. Akibatnya sering muncul konflik antara pemerintah (Departemen Kehutanan) dengan daerah dalam pengelolaan hutan. Hal yang sama terjadi dalam hubungan antara peraturan perundangan sektoral lainnya dengan UU 32/2004. pelaksanaan pembagian urusan pemerintahan daerah juga sering berbenturan dengan UU sektoral yang sering tidak harmonis dengan UU pemerintahan daerah. PP N0. ketidakjelasan pembagian urusan juga mendorong terjadi tumpang tindih dan duplikasi urusan pemerintahan sehingga menimbulkan masalah efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah. Ketidakjelasan pembagian urusan sering memicu konflik antar susunan pemerintahan karena menimbulkan perebutan kewenangan diantara mereka. Lebih dari itu.

Pembengkakan perangkat daerah telah menimbulkan beban yang sangat besar pada APBD sehingga sekitar 70—80% tersedot untuk pembiyaan birokrasi dan aparatur daerah. UU No. isu besarnya biaya yang harus dipikul baik oleh pemerintah daerah maupun oleh calon kepala daerah dan isu-isu lainnya. Berbagai masalah yang muncul adalah isu money politics. Untuk itu perlu pengaturan yang jelas untuk memberi landasan hukum yang tegas guna mengurangi permasalahan-permasalahan pilkada terkait isu-isu tersebut diatas. isu moral dan etik. 3. Isu penting lainnya dalam perangkat daerah adalah kedudukan 38 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 . isu perdebatan yang selama ini terjadi tentang kedudukan DPRD. Keinginan untuk memperkuat peran gubernur sebagai wakil pusat di daerah mesti harus didukung oleh UU sektoral yang mengakui peran gubernur sebagai wakil pusat di daerah. hubungan antar KDH dan DPRD terkait dengan penyusunan APBD. terkait dengan upaya pemberdayaan DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di daerah. Penyelenggara Pemerintahan Daerah Isu yang perlu diperjelas dalam bab penyelenggara daerah adalah kejelasan kedudukan DPRD sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah dan hubungannya dengan KDH.pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya tanpa melibatkan gubernur sebagai wakil pusat. Pilkada sering diwarnai sengketa yang banyak menguras enerji pemerintah baik di pusat maupun daerah. Isu lainnya terkait dengan penyelenggara pemerintahan daerah adalah isu pemilihan kepala daerah (pilkada). Penegasan ini mengakhiri Namun. 27 Tahun 2009 tentang Susunan dan Kedudukan DPR. pemberdayaan sekretariat DPRD. dan pemberdayaan DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di daerah belum diatur dengan jelas. dan DPRD telah menegaskan kedudukan DPRD sebagai unsur penyelenggara pemerintahan di daerah. isu tim sukses yang berimbas kepada tidak netralnya pegawai daerah. DPD. isu dinasti. Pembaharuan pengaturan tentang perangkat dan aparatur daerah perlu diperlukan untuk memperkuat profesionalisme dan kinerja SKPD.

polemik muncul tentang siapa yang memiliki kewenangan melakukan review terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. Dalam bidang keuangan daerah. UU 43/1999 dan peraturan pemerintah yang ada belum mampu menjawab secara efektif berbagai masalah tersebut dan pengaturan yang jelas dan tegas diperlukan untuk mendorong daerah membentuk aparatur yang profesional. Aparatur Daerah Pelaksanaan otonomi daerah telah menimbulkan berbagai ekses negatif yang belum sepenuhnya dapat diselesaikan perangkat perundangan yang ada. Dalam bidang lainnya. Ketidakpuasan warga dan pemangku kepentingan terhadap peraturan daerah sudah jamak terjadi dan memperlukan pengaturan yang jelas dan efektif. dan putra daerah telah menimbulkan gangguan pada pengembangan aparatur yang profesional. agama. Sebagai SKPD yang berbasis kewilayahan. pemerintahan yang lebih tinggi (executive review) atau lembaga peradilan (judicial review)? Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 39 . Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah Banyaknya peraturan daerah dan rancangan Perda yang bermasalah sering menimbulkan reaksi publik yang luas. 4. politisasi birokrasi. Dalam konteks desentralisasi sekarang ini. dan menguatnya unsur-unsur subyektivitas dalam manajemen kepegawaian berbasis pada etnis. tahun 2008 Departemen Keuangan membatalkan lebih dari 2000 perda dari sekitar 7200 peraturan daerah tentang pajak dan retribusi. karena dinilai bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi. muncul banyak perda yang bias gender dan mengancam wawasan kebangsaan. Kecamatan belu memiliki fungsi yang jelas. UU 32/2004 dan PP 41/2007 belum mengatur tentang fungsi pelayanan publik yang dapat dilimpahkan kepada Kecamatan. 5.Kecamatan dan hubungannya dengan SKPD lainnya yang berbasis pada sektor. Fragmentasi spasial dalam kepegawaian yang semakin tinggi dan rigid.

termasuk keharusan adanya partisipasi masyarakat dalam pembentukan perda. memperbaharui. Terbukti dengan munculnya banyak Perda bermasalah.17 Tahun 2007 tentang RJPN dan UU N0. Penguatan pengaturan tentang pembentukan peraturan daerah perlu dilakukan dalam revisi UU 32/2004. dan mengelola data dan informasi yang diperlukan dalam perencanaan daerah. Untuk mengatasi kesulitan ini maka duplikasi dan inkonsistensi antara UU 25/2004 dengan UU 32/2004 perlu dihilangkan. Tidak tersedianya data membuat kualitas perencanaan daerah cenderung buruk. 26/2007 tentang tata ruang. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 40 . namun hendaknya pengaturan baru tersebut tidak bertentangan dan mengulang hal yang sudah diatur dalam dan UU N0. tersebut sering menyulitkan daerah dalam menyelenggarakan Perbedaan kegiatan perencanaan daerah.10/2004. Namun. Perencanaan Pembangunan Daerah Persoalan yang mendasar dalam perencanaan pembangunan daerah adalah inkonsistensi antara UU 32/2004 dan UU N0.10/2004 telah mengatur dengan jelas tentang proses pembentukan peraturan daerah. aturan ketentuan dalam UU N0.UU N0. UU 25/2004 perlu diarahkan untuk mengatur mengenai proses dan dokumen perencanaan daerah sedangkan revisi UU 32/2004 mengatur tentang kelembagaan dan manajemen dari perencanaan daerah. 6. Terkait dengan manajemen perencanaan daerah adalah perlunya mengatur kewajiban daerah mengumpulkan. Isu lainnya adalah tentang instrumen yang dapat digunakan untuk menjaga konsistensi antara perencanaan pembangunan daerah dengan N0.25/2004 dalam mendefinisikan dokumen dan basis legalitas dari dokumen perencanaan daerah. Pembatalan perda bermasalah melalui peraturan Presiden juga dinilai tidak fisibel mengingat besaran jumlah Perda yang harus ditinjau ulang sangat besar.10/2004 belum secara efektif mampu menangkal munculnya Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan atau peraturan yang lebih tinggi.

Keuangan Daerah Terbatasnya anggaran yang tersedia untuk pelayanan publik menjadi salah isu yang penting dan perlu memperoleh pengaturan yang jelas. ekonomi. Manfaat desentralisasi hanya dapat dirasakan oleh masyarakat ketika desentralisasi membuat daerah mampu mengalokasikan anggaran lebih banyak untuk pelayanan publik. dan pemerintahan yang perlu diselesaikan oleh pemerintah daerah. UU 17/2003. sebagai akibat dari maraknya industri perumahan. Namun. menimbulkan masalah sosial. data menunjukkan bahwa 70-80% anggaran daerah dihabiskan untuk belanja pegawai dan operasional birokrasi pemerintah. membuat pertumbuhan kawasan perkotaan yang sangat pesat kurang dapat dioptimalkan untuk kepentingan masyarakat luas dan pemerintah daerah. Isu lainnya adalah perlunya penguatan peran Gubernur sebagai budget optimizer dalam alokasi DAK.7. Munculnya kawasan perkotaan baru yang berdampingan dengan kawasan perdesaan. Gubernur sebagai pemerintah dapat menjadi intermediaries pencapaian tujuan pemerintah dengan meningkatkan relevansi program-program pemerintah di daerah. Revisi UU 32/2004 perlu mengatur peran gubernur sebagai wakil pusat untuk menjadi budget optimizer dalam alokasi DAK. Pengeluaran belanja pegawai yang sangat besar membuat masyarakat di daerah tidak dapat menikmati manfaat dari pelaksanaan otonomi daerah. UU 32/2004. Sayangnya.26/ 2007 tentang tata ruang belum mengatur tentang Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 41 . 8. Besarnya pengeluaran untuk belanja pegawai yang menjadi salah satu variabel penting untuk menentukan alokasi dasar dari DAU menjadi salah satu faktor yang mendorong pembengkakan pegawai di daerah. UU 32/2004 dan UU N0. dan UU 33/2004 belum mengatur dengan jelas peran Gubernur sebagai budget optimizer. Tidak adanya Undang-Undang yang mengatur tentang perkotaan dan kelembagaan yang mengurus kawasan tersebut sering membuat pemerintah daerah gagal mengelola kawasan perkotaan untuk kepentingan publik. Kawasan Perkotaan Belum adanya pengaturan yang memadai tentang kawasan perkotaan.

Beberapa pengaturan yang relevan dalam PP tersebut dan implikasinya terhadap kelembagaan pengelolaan kawasan perkotaan perlu dimasukan dalam revisi UU 32/2004. dan implikasinya terhadap bentuk kelembagaan pengelolaan kawasan perkotaan. kawasan perbatasan. UU N0. UU sektoral dan PP yang mengatur tentang hal ini seperti PP 68/1998 dan PP 8/1999 tentang konservasi hutan. Konflik yang sering terjadi terkait dengan pengelolaan kawasan khsusus disebabkan karena pengaturan tentang hubungan lembaga pengelola kawasan khusus dengan daerah kurang diatur dengan jelas. Kebutuhan pengaturan kawasan khusus sekarang ini sangat mendesak terkait dengan kebutuhan adanya kawasan ekonomi khusus. Revisi UU 32/2004 perlu mengatur tentang pengelolaan kawasan khusus dan hubungannya dengan pemerintahan daerah. standar penyelenggaraan pelayanan yang Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 42 . utamanya dilihat dari jumlah penduduknya. dan kawasan konservasi. PP tersebut belum mengatur tipologi kota yang sangat bervariasi.1/2007 tentang Kawasan Perdaganan dan Pelabuhan bebas mengatur hubungan kelembagaan antara kawasan khusus dengan pemerintah daerah. 9.36/2000 dan Perpu No. Kawasan Khusus Pengembangan kawasan khusus untuk mengelola fungsi-fungsi khusus tertentu dalam rangka kepentingan nasional strategik belum diatur secara memadai dalam UU 32/2004. Namun. Beberapa masalah dalam penyelenggaraan pelayanan publik seperti: tidak adanya standar pelayanan minimal untuk pelayanan dasar. Pelayanan Publik Pelayanan publik menjadi isu penting dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.kelembagaan dan pengelolaan kawasan perkotaan. sayangnya UU 32/2004 belum mengatur sama sekali tentang penyelengaraan pelayanan publik di daerah. Kelembagaan dan pengelolaan kawasan perkotaan diatur dalam PP 34/ 2009. 10. Namun.

8/ 1985 tentang Ormas. mekanisme penyampaian keluhan dan penyelesaian sengketa. sayangnya Undang-Undang N0. Partisipasi masyarakat juga diperlukan agar mereka dapat ikut mengawasi jalannya penyelenggaraan pemerintahan daerah. 32 tahun 2004 perlu mengatur berbagai hal diatas dengan jelas.mengatur hak dan kewajiban pengguna dan penyelenggara. UU N0. Namun. penyelenggaraan Dengan membuat pengaturan yang jelas tentang publik di daerah diharapkan pelaksanaan pelayanan desentralisasi dapat mempercepat tercapainya perbaikan kualitas pelayanan publik. Namun. dan UU N0. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 43 . Keberhasilan desentralisasi menuntut adanya keterlibatan masyarakat di daerah dalam praktik penyelenggaraan pemerintahan seperti dalam proses pembentukan peraturan daerah. perumusan APBD. keterlibatan masyarakat yang semakin tinggi maka berbagai Dengan kebijakan pembangunan daerah tersebut akan dapat merepresentasikan kepentingan masyarakat luas. penyusunan perencanaan daerah. dan hak-hak warga dan pemangku kepentingan dalam proses kebijakan di daerah. cara. dan penyelenggaraan pelayanan publik. Oleh karena itu revisi Undang-Undang N0.14/2008 tentang keterbukaan informasi publik belum mengatur dengan jelas mekanisme.32/ 2004. pengaturan tentang penyelenggaraan pelayanan publik oleh daerah nantinya harus disinkronkan dengan UU pelayanan publik yang baru saja disahkan sehingga tidak terjadi tumpangtindih dan inkonsistensi dalam pengaturan tentang pelayanan publik di daerah. Partisipasi Masyarakat Partisipasi masyarakat menjadi salah satu isu strategis karena partisipasi menjadi salah satu kondisi yang perlu agar penyelenggaraan pemerintahan daerah dapat berhasil dengan baik. penting untuk diatur dalam revisi UU 32/2004. 11.

DPOD dinilai kurang efektif dalam menjalankan perannya karena gagal mencegah munculnya kebijakan sektoral yang dinilai tidak konsisten dengan UU pemerintahan daerah. DPOD tidak didukung oleh sebuah think tank yang memadai.12. Ketidakoptimalan peran DPOD disebabkan oleh ketidakjelasan pemisahan peran DPOD sebagai advisory body dan clearing house untuk perumusan kebijakan otonomi daerah. 13. Untuk itu revisi UU 32/2004 perlu menambahkan pengaturan tentang inovasi daerah yang dapat dilakukan oleh pejabat publik sejauh tindakan mereka tidak menimbulkan kerugian negara. draf RUU administrasi Pemerintahan tersebut belum mengatur secara spesifik diskresi yang diambil pejabat pemerintahan dalam melakukan inovasi dalam pelayanan publik. terutama di daerah. DPOD juga dinilai kurang mampu berperan dalam pengendalian pembentukan DOB. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) Keberadaan DPOD selama ini banyak dipersoalkan karena fungsinya yang tidak jelas. dan bertujuan untuk memenuhi kepentingan umum. yang diperlukan untuk memenuhi kepentingan umum dan mempercepat pencapaian kesejahteraan rakyat. Namun. Desentralisasi pemerintahan telah menuntut pejabat pemerintahan 44 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 . Sebagai lembaga yang bertugas melakukan kajian terhadap proposal pembentukan DOB dan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan otonomi daerah. yang mengatur salah satunya diskresi pejabat publik. tidak mengandung konflik kepentingan. Sebagai salah satu lembaga yang bertugas memberi rekomendasi kepada Presiden terkait dengan kebijakan otonomi daerah. Akibatnya. Inovasi Daerah Tidak adanya pengaturan yang jelas tentang diskresi dan inovasi yang dilakukan oleh pejabat publik di daerah sering membuat mereka tidak berani melakukan tindakan yang inovatif. Terkait dengan hal ini pemerintah bersama DPR telah memasukan RUU Administrasi Pemerintahan kedalam Prolegnas 2009-2010. DPOD sering mengalami kesulitan untuk memberi rekomendasi yang jelas kepada Presiden ketika dihadapkan pada pilihan kebijakan yang kompleks dan dilematis.

UU Pelayanan Publik 9 Partisipasi Masyarakat UU 32/2004. UU 33/2004. Secara ringkas materi revisi UU 32/2004 dan peraturan perundangan terkait dapat dirumuskan dalam matriks berikut ini: N0. DPRD. PP 38/2007. 1 Materi yang akan direvisi Pembentukan daerah otonom Peraturan Perundangan Terkait UU 32/2004. UU 23/2003 UU 32/2004. UU 26/2007 UU 32/2004.8/1985. UU 43/1999. PP 41/2007.daerah melakukan inovasi dan karena pengaturan tentang inovasi di daerah perlu dimasukan dalam UU pemerintahan daerah. UU 10/2004. UU N0. UU 14/2008. UU 39/2008 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 45 . 10/2004. UU 17/ 2007. PP 6/2008 2 Pembagian Urusan dan Peran Gubernur sebagai wakil pemerintah 3 Penyelenggara Pemerintahan Daerah (KDH. UU N0. UU 12/2008. PP 41 UU 32/2004. Perangkat Daerah) 4 5 Aparatur Daerah Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah 6 Perencanaan Pembangunan Daerah 7 8 Keuangan Daerah Pelayanan Publik UU 32/2004. UU33/2004. PP 38/2007. UU 14/2008. PP 12/2002. PP 38/2007 UU 32/2004. PP 78/2004. UU 17/2003 UU 32/2004. UU 43/1999. PP 41/2007 UU 32/2004. UU 23/2003. UU 25/2004.

PP 41/2007 11 Kawasan Khusus UU 43/2008. UU 36/2000. UU 32/2004. PP 68/1998. 49/2000 13. UU 32/2004. Kepres N0. RUU Administrasi Pemerintahan Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 46 . Inovasi Daerah dan tindakan hukum terhadap aparat daerah UU 32/2004. UU 33/2004. PP 34/2009.10 Kawasan Perkotaan UU 26/ 2007. PP 8/1999 12 DPOD UU 32/2004.

dan murah sehingga legitimasi negara dimata warganya menjadi semakin kuat.BAB IV DASAR PEMIKIRAN. mudah. Apalagi jika jarak pisik ini juga diikuti dengan jarak kejiwaan yang semakin jauh. Jarak yang jauh membuat pelayanan pemerintah tidak mudah dijangkau oleh warganya. Karena tujuan utama pembentukan DOB adalah mempermudah interaksi antara negara dengan warganya maka kriteria utama untuk menilai perlu tidaknya pembentukan DOB mestinya adalah seberapa besar Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 47 . Pembentukan daerah otonom baru (DOB) dapat dilakukan kalau dengan adanya DOB membuat jarak fisik dan kejiwaan antara negara dengan warganya menjadi lebih dekat. Ketika jarak kekuasaan terlalu jauh. Interaksi yang lebih mudah akan membuat kualitas pelayanan menjadi semakin baik dan mudah diakses oleh warganya. baik fisik ataupun kejiwaan. maka keberadaan pemerintah menjadi kurang jelas dan hubungan antara pemerintah dengan warganya menjadi sangat jauh. Jarak yang lebih dekat membuat interaksi antara negara dengan warganya menjadi lebih sederhana. Ketika hal itu terjadi maka legitimasi pemerintah menjadi sering dipertanyakan. PERMASALAHAN. Jarak yang sangat jauh antara kekuasaan dengan warga dapat menimbulkan kesan negatif tentang keberadaan pemerintah dimata warganya. ANALISIS. DAN USUL PENYEMPURNAAN IV. Jarak fisik dan kejiwaan yang jauh sering juga menjadi sumber dari melunturnya kepercayaan warga terhadap pemerintah. ketika interaksi antara pemerintah dengan warganya menjadi sangat sulit dan manfaat tentang keberadaan pemerintah terhadap kehidupan warganya sangat rendah. 1 Pembentukan dan Penataan Daerah Dasar Pemikiran Pembentukan daerah otonom baru memiliki justifikasi teoritik yang kuat untuk mendekatkan kekuasaan dengan warganya di daerah.

Untuk itu kriteria tentang jumlah penduduk penting untuk diperhatikan dalam pembentukan DOB. melalui pemekaran. ekonomi dan aspek geostrategik lainnya yang penting dalam pengembangan daerah otonom dalam konteks NKRI. Pengaturan yang jelas diperlukan agar pembentukan daerah otonom baru benar-benar mampu memberi manfaat yang lebih besar daripada kerugiannya. Identifikasi Permasalahan Pembentukan daerah otonom baru. sebagaimana tampak dari masih banyaknya usulan pembentukan daerah otonom baru yang sekarang ini masih dibicarakan di DPR. Besaran manfaat adanya DOB tentu amat ditentukan oleh besarnya populasi dari DOB. Adanya kriteria yang jelas dan obyektif dan dimuat dalam undang undang pemerintahan daerah penting dilakukan agar dapat menjadi pegangan semua kelompok kepentingan yang ingin mengusulkan pembentukan daerah otonom baru. Semakin besar jumlah penduduknya. Walaupun demikian. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 48 .pembentukan DOB mampu mempebaiki interaksi antara pemerintah dengan warganya. disamping kelayakan ekonomi dan politik. manfaat yang diterima oleh DOB cenderung menjadi semakin besar. baik pada tingkat provinsi ataupun kabupaten/ kota. terutama dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Agar kriteria tersebut dapat digunakan sebagai pegangan dalam menilai proposal pembentukan DOB maka kriteria tersebut harus dirumuskan dengan jelas dan dimuat dalam undang undang pemerintahan daerah. politik. Untuk itu perlu dipertimbangkan besaran manfaat dari pembentukan DOB dengan biaya dan kerugian yang nantinya harus dibayar oleh warganya. kegiatan pemekaran tampaknya akan terus berjalan. menjadi wacana publik yang menarik karena meluasnya dampak negatif dari pemekaran baik bagi daerah induk maupun DOB. yang memperhatikan secara menyeluruh daya dukung sosial. Lebih dari itu. Apakah peningkatan kualitas pelayanan sebagai akibat dari pembentukan DOB melebihi biaya dan kerugian yang dibayar oleh warga. pemerintah perlu membuat rancang desain reformasi teritorial untuk memberi arah terhadap pengembangan daerah otonom.

sedangkan motivasi mereka dengan memiliki daerah otonom sendiri umumnya adalah karena ingin memperoleh akses dan kualitas pelayanan yang lebih baik.Pemerintah bersama DPR sudah menyetujui ratusan daerah baru. sering hal itu tidak terjadi. karena menjadi bagian dari daerah otonom baru. masyarakat di daerah otonom baru (DOB) juga cenderung tidak puas dengan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh DOB. daerah induk. mestinya harus diikuti dengan berkurangnya anggaran untuk birokrasi dan aparatur dan bertambahnya biaya untuk kegiatan pembangunan dan pelayanan publik. Salah satunya. Bagi daerah induk. masyarakat seringkali harus membayar biaya pemerintahan yang lebih besar karena berkurangnya penduduk dan wilayah dari daerah induk seringkali tidak berakibat pada pengurangan biaya pemerintahan. karena pertimbangan-pertimbangan politik dan lainnya. Berkurangnya jumlah wilayah dan penduduk. Mereka menilai kualitas pelayanan publik cenderung menurun. Walaupun banyak dari DOB tersebut belum memenuhi syarat namun dinyatakan memenuhi syarat dan tetap disahkan menjadi DOB. Hal inilah yang menyebabkan mengapa mereka cenderung tidak puas terhadap kualitas pelayanan publik di DOBnya. baik bagi pemerintah pusat. Namun. November 2007 49 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 . masyarakat harus membayar biaya pemerintahan per kapita yang lebih besar. Biaya pegawai dan operasional dari pemerintah di daerah induk tidak berkurang walaupun jumlah wilayah dan pegawai yang mereka tanggung menjadi semakin kecil. dan DOB itu sendiri. ada ratusan calon DOB akan menyusul untuk disahkan. Munculnya banyak DOB dalam waktu yang singkat memiliki implikasi yang sangat luas. karena pembentukan DOB lebih didorong oleh 2 DSF. Policy Brief. Banyak kajian menunjukan bahwa sebagian besar pemekaran berakibat negatif bagi masyarakat yang tinggal di daerah induk maupun bagi mereka yang tinggal di daerah baru. Tentu ada banyak penjelasan mengapa pembentukan DOB sering tidak menghasilkan kualitas pelayanan dan penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik. Cost and Benefits of New Region Creation in Indonesia.2 Dalam bidang pelayanan publik. Sejak berlakunya UU 22/1999 sampai sekarang sudah ada 205 DOB dan kalau mekanisme seperti sekarang masih tetap dipakai. Akibatnya.

3 apalagi kalau kedua daerah itu. Kenyataan bahwa daerah induk sering kurang memberi dukungan kepada daerah baru sebagaimana dipersyaratkan oleh peraturan perundangan ikut memberi kontribusi terhadap kesulitan DOB untuk memenuhi kebutuhan pelayanan warganya. Apalagi ketika dalam proses pemekaran muncul masalah antara daerah induk dengan daerah baru terkait dengan penguasaan aset. seperti pemekaran kecamatan dan kalurahan/ desa.kepentingan elit birokrasi dan politik yang ingin memperbesar akses mereka terhadap sumberdaya kekuasaan daripada keinginan untuk memperbaiki akses dan kualitas pelayanan. Ketidakjelasn peta daerah sering mendorong perebutan aset dan sumberdaya alam antar masyarakat di daerah induk dengan daerah baru. yang membuat pembagian aset dan sumberdaya alam menjadi semakin rumit. daerah induk dan DOB.4 Persyaratan pembentukan daerah otonom baru yang menentukan jumlah minimal kabupaten/ kota untuk pembentukan provinsi dan kecamatan untuk pembentukan kabupaten/ kota telah mendorong terjadi pemekaran pada satuan pemerintahan di tingkat bawah. dan batas-batas daerah yang rawan terhadap munculnya konflik antara daerah induk dengan daerah baru membuat dukungan daerah induk terhadap DOB menjadi tidak lancar. memiliki potensi konflik horizontal yang semakin tinggi terkait dengan semakin tidak tersedianya peta daerah yang jelas. sumberdaya alam. Pemekaran pada tataran yang semakin rendah. dapat menjadi sumber konflik antara penduduk kedua daerah yang kalau tidak dikelola dengan baik akan dapat memicu konflik horizontal meluas. Bahkan. Jakarta 4 ibid Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 50 . Konflik 3 Diskusi T im Pakar bersama dengan komponen Departemen Dalam Negeri Desember 2008 di Hotel Millenium. Konflik dapat meluas keranah yang lain dan semakin melebar dan merugikan masyarakat luas. memiliki ciri-ciri primordial yang berbeda. Ketidakjelasan peta. hubungan antara daerah induk dengan DOB yang tidak harmonis sering menjadi sumber konflik antara penduduk di kedua daerah itu. misalnya. Konflik ini meluas karena pemekaran daerah pada tingkat provinsi dan kabupaten`juga mendorong pemekaran pada tingkat yang lebih rendah.

namun kenyataaanya keberadaan PP tersebut belum mampu mengendalikan proses pembentukan DOB secara wajar.penguasaan aset dan sumberdaya alam pada tingkat bawah cenderung menghasilkan konflik horizontal yang keras. Biaya pemerintahan yang semakin mahal. yang kemudian diperbaharui dengan PP Walaupun PP N0. dan sumberdaya alam secara langsung berpengaruh bagi kehidupan mereka. dan proliferasi birokrasi secara spasial yang semakin tinggi mendorong berbagai pihak untuk secara kritis memikirkan kembali format pembentukan DOB. hukum yang digunakan untuk mengatur pembentukan daerah otonom baru selama ini adalah N0. 78/ 2007 sudah mengatur secara rinci prosedur. beberapa penyebab dari meluasnya upaya pengembangan DOB perlu dianalisis. Pertama. PP 129/2000. dan tata cara pembentukan daerah otonom. Dalam UU N0. ketidakjelasan kerangka kebijakan yang mengatur pembentukan daerah otonom baru.78/2007. Untuk dapat merumuskan kebijakan yang tepat dan mampu menjawab problema yang dihadapi pemerintah Indonesia dalam pembentukan DOB. Berbagai pihak bahkan mendorong untuk melakukan moratorium pembentukan DOB. sambil memberi kesempatan kepada pemerintah Indonesia untuk menata ulang kebijakan pemekaran daerah agar kebijakan baru nantinya benar-benar dapat mendorong reformasi teritorial yang mampu memperkokoh kebijakan desentralisasi dan dapat mempercepat terwujudnya kesejahteraan rakyat.22/1999 dan UU 32/2004 tentang pemerintahan Dasar daerah pembentukan daerah otonom baru belum diatur secara jelas. 51 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 . konflik sosial dan horizontal yang seringkali muncul sebagai ekses dari pembentukan daerah otonom baru. tanah. Salah satunya karena kekuatan PP tersebut ketika berbenturan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi yang memberi ruang terjadinya 5 Wawancara Tim Peneliti MAP UGM dengan beberapa pemangku kepentingan di Seram dan Ruteng. karena perselisihan aset.5 Analisis Pembentukan DOB secara masif dalam waktu yang relatif singkat telah melahirkan problema baru dalam pelaksanaan desentralisasi di Indonesia. persyaratan.

Daerah juga diuntungkan dengan adanya DAU yang diberikan kepada DOB. Kedua. Dalam kondisi tersebut maka PP 78/2007 menjadi tidak banyak artinya. maka pengembangan DOB akan terus terjadi dan amat sulit dikendalikan. maka hak inisiatif dapat berasal dari Presiden maupun DPR. Masyarakat dan sektor swasta juga diuntungkan dengan adanya pembangunan sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan pemerintahan di DOB. selama ini tidak ada kajian untuk menilai pengaruh pembentukan DOB bagi daerah-daerah lainnya. Karena DOB dibentuk berdasarkan UU. Kajian perlu dilakukan untuk menilai seberapa besar proporsi anggaran untuk pelayanan publik di DOB dan daerah otonom lainnya menjadi semakin kecil sebagai akibat dari semakin banyaknya daerah otonom.pembentukan DOB. Selagi insentif seperti ini masih dapat dinikmati oleh para pihak di pusat dan daerah. Pembentukan DOB Elit politik di DPR menciptakan begitu banyak insentif kepada multi-pihak. diuntungkan oleh adanya pembentukan DOB melalui semakin banyaknya peluang bagi partai politik untuk memiliki representasi yang semakin besar di daerah dan keuntungan pribadi yang mungkin diperoleh melalui serangkaian aktivitas yang dilakukan dalam proses pembentukan DOB. Belakangan ini hamper semua usulan DOB merupakan hak inisiatif DPR. Ketiga. Kajian ini penting untuk menilai apakah pembentukan satu DOB perlu Daerah otonom lainnya setidaknya akan mengalami kerugian karena proporsi DAU yang mereka terima akan menjadi semakin kecil. Hal ini terjad i karena alokasi DAU dari APBN akan dibagi kepada semakin banyak daerah otonom. Sementara implikasi pembentukan DOB bagi daerah otonom lainnya cenderung diabaikan 6 . kepentingan besarnya insentif yang diterima oleh berbagai pemangku sebagai akibat dari pembentukan DOB. 6 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 52 . misalnya UU N0.10/2004 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Elit birokrasi dan politik di daerah juga diuntungkan dengan tersedianya jabatan politik dan birokrasi baru yang terbuka bagi mereka. Kajian yang ada selama ini cenderung hanya memusatkan perhatian terhadap implikasi pembentukan DOB bagi daerah induk dan DOB itu sendiri.

atau digabung dengan daerah lainnya karena tidak layak menjadi daerah otonom. dan pentahapan pembentukan daerah baru yang jelas dan ketat. Pemerintah telah membentuk PP No. namun implementasi dari PP tersebut sejauh ini belum jelas. Pengaturan baru harus menjamin bahwa pembentukan daerah baru benar-benar dilakukan untuk kepentingan masyarakat luas di daerah dan keberadaan daerah otonom baru juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.6/2008 tentang evaluasi kinerja daerah dan mengatur tentang kemungkinan satu daerah otonom yang memiliki kinerja yang buruk selama tiga tahun berturutturut untuk digabung dengan daerah lain. evaluasi kinerja daerah otonom perlu dilakukan secara sungguhsungguh untuk menjadi dasar bagi kebijakan reformasi territorial. Untuk itu diperlukan pengaturan yang jelas dan instrumental bagi pemerintah untuk melikwidasi daerah otonom dan menjadikannya daerah administratif atau menggabungkan dua atau lebih daerah otonom menjadi menjadi satu daerah otonom baru. Usul Penyempurnaan Perlu adanya pengaturan yang jelas mengenai proses. kriteria. difasilitasi untuk dimekarkan karena dinilai terlalu besar sehingga skala pemerintahannya menjadi tidak efektif. Keempat. Daerah-daerah yang tidak mampu tersebut mungkin saja digabung dengan daerah-daerah lainnya atau dibawah pengelolaan Pemerintah Pusat. 1.memperoleh persetujuan dari daerah-daerah lainnya. PP 6/2008 telah mengatur tentang evaluasi kinerja daerah otonom dan kemungkinan adanya Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 53 . Evaluasi ini penting untuk menilai apakah satu daerah perlu dipertahankan status otonominya. Pengaturan yang ada dalam UU 32/2004 dirasa masih terlalu longgar sehingga pembentukan daerah otonom baru lebih banyak didorong oleh kepentingan sempit dari elit di daerah. Perlu adanya pengaturan yang komprehensif mengenai penghapusan daerah kalau daerah tersebut memang tidak mampu melaksanakan otonominya untuk menciptakan kesejahteraan yang minimal. diluar daerah induk karena dampak dari pembentukan DOB juga ditanggung oleh daerah-daerah lainnya.

5. kriteria.penggabungan antar daerah otonom. maka seharusnya inisiatif pembentukan daerah berasal dari pemerintah. Beberapa aspek yang terkandung dalam PP tersebut dapat dimasukan dalam revisi UU 32/2004. dan mekanisme pembentukan DOB dengan mengadopsi pengaturan yang ada di PP 78/2007. pemerintah dan daerah dapat mengusulkan pembentukan daerah otonom baru. Dengan memasukan pengaturan yang ada dalam PP 78/2007 kedalam revisi UU 32/2004 maka kedudukan pengaturan tersebut akan menjadi semakin kuat dan dapat menjadi pegangan bagi semua pemangku kepentingan dalam melakukan reformasi penataan daerah di Indonesia. 4. Insentif perlu dibuat untuk mendorong daerah untuk menggabungkan daerahnya dengan daerah lainnya. mengingat beberapa DOB memiliki jumlah penduduk yang sangat kecil dan tidak memungkinkan terjadi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang optimal. Karena pemekaran dan penggabungan daerah adalah domain dari eksekutif. Pengaturan tentang proses pengusulan daerah otonom oleh daerah dan pemerintah. Sebelum ditetapkan menjadi daerah otonom definitif harus ditetapkan terlebih dahulu menjadi calon daerah otonom dalam jangka waktu minimal 3 (tiga) tahun dan maksimum 5 (lima) tahun. 3. masing-masing perlu diatur dengan jelas agar proses pembentukan daerah otonom baru dilakukan secara terbuka dan akuntabel. 2. baik pusat ataupun daerah. Bila dalam jangka waktu tersebut daerah persiapan dianggap tidak mampu maka harus kembali pada daerah asal. Perlu ada pengaturan yang jelas tentang persyaratan. Perlu adanya pengaturan mengenai daerah persiapan sebelum sebuah daerah menjadi daerah otonom penuh. Perlu ada pengaturan tentang jumlah penduduk minimal dari satu daerah otonom. Pembinaan. pengawasan dan pembiayaan daerah persiapan ini dilakukan oleh daerah induk. Perlu diatur dengan jelas mengenai siapa yang memiliki kewenangan untuk mengusulkan daerah otonom baru. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 54 . Atas pertimbangan strategik tertentu. Perlu juga dipersiapkan mekanisme insentif dan disinsentif bagi daerah untuk melakukan pemekaran atau penggabungan.

Kedudukan negara bagian sangat kuat karena mereka memiliki kompetensi bukan hanya dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan. tetapi juga dalam bidang legislatif dan peradilan.Sebaliknya. Pembagian Urusan Pemerintah. Di negara federal. disinsentif perlu diciptakan bagi daerah untuk melakukan pemekaran. 2. IV. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 55 . Melalui UU Negara membentuk daerah provinsi dan kabupaten/ kota dan menyerahkan sebagian urusan pemerintah kepada daerah. Bagian ini akan membahas kedua masalah tersebut secara terpisah. Kedua.1. Ketidakjelasan peran dan sumberdaya yang digunakan Gubernur sebagai wakil pusat. Dalam negara kesatuan pembagian urusan antar pemerintahan dilakukan oleh negara (pemerintah dan DPR) melalui undang-undang. bukan sebaliknya.2 Pembagian Urusan Pemerintahan dan Peran Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah Ada dua masalah penting yang perlu diatur lebih jelas dalam pembagian urusan. IV. Masalah yang pertama menyangkut ketidakjelasan pembagian urusan pemerintahan antara provinsi dan kabupaten dan hubungan antara pemerintah provinsi dengan kabupaten/ kota. Provinsi dan Kabupaten/Kota Dasar Pemikiran Pembagian urusan ( functional assignment) dalam negara kesatuan memiliki karakteristik yang berbeda dengan di negara federal. states (negara bagian) membentuk negara dan menyerahkan sebagian urusan pemerintahan kepada pemerintah federal dan mengaturnya dalam konstitusi. Pemerintah perlu meninjau kembali formula pembagian DAU dengan menciptakan disinsentif bagi pembentukan DOB dan insentif bagi penggabungan satu daerah dengan daerah lainnya.

di negara kesatuan. efisiensi. Dalam negara kesatuan. dengan menentukan secara jelas urusan yang menjadi kewenangan pusat dan daerah. bukan urusan-urusan lainnya. Wewenang mengurus dan mengatur Diskusi tentang pembagian urusan antar susunan pemerintah dapat dibaca dalam paper Benyamin Husein dan Eko Prasojo berjudul “Konsep Pembagian Kewenangan (Urusan) Antar Tingkat Pemerintahan”. 32/ 2004 mencoba mengkombinasikan kedua cara diatas. serta menetapkannya dalam peraturan perundangan (ultravires ). general competence. maka pembagian urusan kepada daerah perlu mempertimbangkan berbagai kriteria seperti kompetensi daerah. paper tidak diterbitkan 7 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 56 . Tidak boleh terdapat tumpang tindih antara satu yurisdiksi dengan yurisdiksi lainnya. efisiensi. dan akuntabilitas. Negara melalui undang-undang dapat menambah dan mengurangi urusan yang diserahkan kepada daerah.Di negara kesatuan. karena pembentukan daerah dimaksudkan untuk mempermudah pelayanan terhadap kebutuhan warga dan memperluas arena demokrasi. UU N0. akuntabilitas. tetapi memungkinkan keduanya melaksanakan urusan tertentu berdasarkan atas kriteria tertentu seperti eksternalitas. Namun. negara menentukan urusan yang diatur pusat dan sisanya menjadi urusan daerah. secara umum ada dua cara untuk membagi urusan pusat dan urusan daerah. Pertama. Besarnya jumlah urusan yang akan diserahkan kepada daerah. Indonesia pernah menggunakan kedua cara tersebut. Dalam pembagian urusan harus terdapat kejelasan pembagian wewenang mengatur dan 7 mengurus di wilayah yurisdiksi: pusat. propinsi dan kabupaten/kota. eksternalitas. Wewenang mengatur dan mengurus harus dibagi habis secara jelas antar tingkatan pemerintahan. negara menentukan secara spesifik urusan yang diserahkan kepada daerah dan pemerintah. urusan yang diserahkan kepada daerah adalah urusan pemerintahan semata. dan kriteria lainnya yang memungkinkan pemerintah dan daerah dapat secara optimal dan sinerjik mensejahterakan warganya. karenanya terserah sepenuhnya kepada negara. Kedua.

dan kabupaten/ kota. namun dalam praktik penggunaan kriteria itu sangat sulit dilakukan. Identifikasi Permasalahan Pembagian urusan pemerintahan masih menjadi tarik menarik antara pemerintah pusat. Sedangkan wewenang mengatur dan mengurus berdasarkan azas desentralisasi dan tugas pembantuan titik beratnya diletakan pada yang paling dekat dengan masyarakat (prinsip subsidiaritas). Pemerintah dapat mengatur dan mengurus urusan yang menurut kriteria tertentu sebaiknya dikelola secara inklusif oleh pemerintah. tidak mungkin terdapat satu urusan yang hanya dilakukan secara desentralisasi tanpa sentralisasi. Salah satu sumbernya adalah karena ketidakjelasan UU 32/2004 dan PP 38/2007 dalam membagi urusan antar tingkat pemerintahan yang berbeda. sekalipun urusan tersebut diselenggarakan dengan melalui azas desentralisasi atau tugas pebantuan. Dalam urusan yang diserahkan kepada daerah. dan kriteria (NSPK) yang harus dijadikan dasar oleh provinsi dan kabupaten/ kota untuk mengelola urusan yang menjadi kewenangannya. prosedur. Hal ini berbeda dengan negara federal dimana baik pemerintah federal maupun pemerintah negara bagian masing-masing dapat secara inklusif memiliki wewenang mengatur dan mengurus untuk satu urusan pemerintahan tertentu. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 57 . Sedangkan kriteria akuntabilitas cenderung menunjuk pada tingkat pemerintahan yang lebih dekat dengan masyarakat. negara dapat memberi wewenang kepada pemerintah mengatur urusan-urusan pemerintahan. Walaupun UU 32/2004 telah menentukan kriteria yang digunakan untuk membagi urusan. standar. provinsi. Kriteria efisiensi dalam penyelenggaraan urusan selalu mengarah pada skala ekonomi sehingga urusan cenderung diserahkan kepada pemerintah yang lebih tinggi. Penerapan kriteria eksternalitas juga tidak sederhana karena pemerintah daerah sering kurang memperhatikan dampak dari kegiatannya terhadap pihak lain diluar jurisdiksinya. Di negara kesatuan.berdasarkan azas sentralisasi diletakkan di pemerintah pusat. pemerintah memiliki kewenangan untuk membuat norma. Artinya.

dan kabupaten/ kota untuk semua urusan konkuren. disharmoni antara UU 32/2004 dengan UU sektoral takterhindarkan dan menciptakan arena konflik antara daerah dan Kementrian/ Lembaga dalam pengelolaan urusan pemerintahan. bukan atas pertimbangan yang konsepsional tentang pembagian peran antara pusat dan daerah dalam era desentralisasi. dan kabupaten/ kota. Pengaturan secara simetris urusan wajib dan pilihan kepada daerah yang berbeda-beda karakteristik dan lingkungannnya dinilai tidak cocok. Mereka memahami pembagian urusan berdasarkan atas apa yang sudah mereka lakukan secara rutin berdasarkan struktur kelembagaan yang ada. provinsi. pemerintah perlu membuat SPM (standar pelayanan minimal) atau Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 58 . Akibatnya. banyak pelaku dan pemangku kepentingan yang kemudian memberi interpretasi yang berbeda-beda tentang mana urusan pemerintah. PP tersebut menjelaskan bahwa provinsi menyelenggarakan urusan skala provinsi sedangkan kabupaten/ kota menyelenggarakan urusan skala kabupaten/ kota. Akibatnya. utamanya pemenuhan kebutuhan dasar warga. Mereka enggan untuk menyesuaikan peraturan perundangan yang dimilikinya dengan UU 32/2004. urusan pilihan sebaiknya diperluas agar dapat memberi ruang kepada daerah untuk mengembangkan pemerintahan sesuai dengan tantangan dan kebutuhan daerah. provinsi. Dalam penyelenggaraan urusan wajib. Urusan wajib mestinya dibatasi pada urusan pemenuhan kebutuhan dasar dan strategis yang umumnya dihadapi oleh daerah. Masalah lain yang muncul dari pelaksanaan UU 32/2004 adalah pembagian urusan menjadi urusan wajib dan urusan pilihan yang harus diselenggarakan daerah. Namun. Ketidakjelasan pembagian urusan antar susunan pemerintahan sering menjadi sumber konflik antara daerah dengan kementrian dan lembaga di pusat dan menimbulkan kekaburan dari konsep desentralisasi itu sendiri. Sedangkan. Kementrian dan LPND sering mengembangkan peraturan perundangan yang tidak sesuai dengan semangat UU 32/2004 dan PP 38/2007. mana urusan yang skala provinsi dan mana urusan skala kabupaten/ kota untuk setiap sektor belum dapat dirumuskan dengan jelas.PP 38/2007 telah mencoba mengatur urusan pemerintah.

Penyerahan urusan pemerintahan ke daerah yang sangat masif dan serentak. Keinginan untuk mempertahankan status-quo muncul karena kepentingankepentingan jangka pendek dari para pejabat di kementrian dan lembaga terkait dengan risiko perampingan organisasi dan berkurangnya akses terhadap anggaran ketika urusan didesentralisasikan ke daerah. kesulitan muncul dari meluasnya miskonsepsi para pemangku kepentingan di daerah tentang desentralisasi dan hubungan antar susunan pemerintahan. yang belum pernah dilakukan oleh negara lainnya. Lessons-learnt sulit diperoleh dari negara-negara lainnya sehingga contoh-contoh tentang pembagian urusan antar susunan pemerintahan yang barang kali dapat dijadikan pertimbangan untuk melakukan hal yang sama di Indonesia relatif sangat terbatas. membuat Indonesia mengalami kesulitan untuk belajar dari pengalaman negara lain dalam melakukan desentralisasi urusan. Analisis Walaupun UU 32/2004 telah menentukan urusan pemerintahan yang secara esklusif menjadi kewenangan pusat dan urusan yang didesentralisasikan ke daerah dan menentukan kriteria untuk membagi urusan didesentralisasikan ke daerah. Di tingkat pusat masalah muncul karena kurang sinkronnya UU 32/2004 dengan UU sektoral. Pelaksanaan UU 22/1999 telah membentuk persepsi para pemangku kepentingan di daerah bahwa semua urusan diluar urusan eklusif adalah urusan daerah dan pemerintah tidak lagi memiliki kewenangan untuk Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 59 . namun dalam kenyataannya beberapa kementrian dan lembaga masih enggan melakukannya. Dari sisi lain. sejauh ini SPM dan standar pelayanan untuk berbagai urusan belum dapat dirumuskan secara memadai sehingga ketimpangan pelayanan antar daerah takterhindarkan.standar lainnya untuk menjamin agar warga dimanapun mereka berada dapat mengakses secara sama pelayanan tersebut. Banyak undang-undang sektoral yang belum searah dengan semangat dari kebijakan desentralisasi. Walaupun UU 32/2004 telah memerintahkan pengalihan urusan wajib dan pilihan kepada daerah. Namun.

Upaya untuk memperjelas pembagian urusan antar susunan pemerintahan tidak dapat dihindari selalu memunculkan pro dan kontra antara para pemangku kepentingan yang berbeda-beda. efisiensi. Miskonsepsi lainnya muncul terkait dengan hubungan antara provinsi dan kabupaten/ kota dalam urusan yang telah didesentralisasikan. provinsi. dan kabupaten/ kota menjadi salah satu faktor yang mempersulit upaya untuk memperjelas pembagian urusan antar susunan pemerintahan. Karena itu. pembagian urusan harus dilakukan secara tepat dengan menggunakan kriteria yang jelas. Pemerintah setidak-tidaknya memiliki kewenangan untuk merumuskan NSPK. tidak ada urusan yang sepenuhnya menjadi urusan daerah. Konflik kepentingan antar kementrian/ lembaga. yang seharusnya menjadi dasar bagi daerah dalam menyelenggarakan urusan yang telah didesentralisasikan. dan akuntabilitas sebaiknya dilakukan pada tingkat provinsi.mengatur penyelenggaraan urusan diluar urusan yang eklusif. Pembagian urusan menjadi arena perebutan kewenangan. rasional. akses terhadap anggaran. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 60 . Sedangkan dalam negara kesatuan. dan proporsional sesuai dengan kompetensi dan sumberdaya yang tersedia pada masing-masing susunan pemerintahan. Belum adanya pengaturan yang jelas tentang pembagian urusan antara provinsi dan kabupaten dalam urusan wajib dan pilihan membuat duplikasi dan konflik dalam penyelenggaraan urusan antara provinsi dan kabupaten/ kota sering tidak dapat dihindari. Daerah seringkali menganggap setiap pengaturan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap urusan yang telah didesentralisasikan sebagai campurtangan pusat terhadap urusan daerah. Kabupaten/ kota cenderung menganggap semua urusan yang didesentralisasikan tersebut menjadi urusannya dan mengabaikan interdependensi dan interrelasi dalam penyelenggaraan urusan antar kabupaten/ kota dimana provinsi dapat mengambil peran untuk mengatur dan mengurus urusan yang karena pertimbangan eksternalitas. dan sumberdaya kekuasaan antar susunan pemerintahan.

2. Perlu pengaturan yang jelas tentang urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan wajib yang terkait dengan urusan dasar harus diselenggarakan oleh daerah berdasarkan SPM yang dibuat oleh pemerintah. memperjelas cara penyelengaraan urusan pusat dengan menentukan urusan yang sebaiknya dilakukan oleh pemerintah sendiri secara langsung. Dengan memperjelas cara penyelenggaraan urusan pemerintahan. pada urusan ekslusif dan urusan concurrent yang karena kriteria tertentu dilaksanakan oleh pemerintah sebagai urusan pemerintah. sedangkan urusan konkuren adalah urusan yang dapat diatur oleh pemerintah dan atau daerah. Karena penyelenggaraan urusan wajib ini sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat maka undang undang juga perlu mengatur tentang sangsi bagi daerah yang gagal menyelenggarakan urusan wajib sesuai dengan SPM atau NSPK yang dibuat oleh pemerintah. urusan yang terkait dengan kebutuhan dasar warga yang secara minimal harus dipenuhi oleh daerah dan urusan wajib yang terkait dengan kebijakan nasional strategis. yang penentuannya dilakukan dengan kriteria tertentu. Urusan ekslusif adalah urusan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat. Pertama. dengan menggunakan Dekonsentrasi perlu dibatasi hanya dekosentrasi. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 61 . dan tugas pembantuan. hubungan antar tingkatan dan susunan pemerintahan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan akan dapat ditata dengan lebih baik. 32 Tahun 2004. Perlu restrukturisasi pengaturan mengenai pembagian urusan pemerintahan dalam penyempurnaan UU No. sedangkan urusan wajib yang terkait dengan kepentingan strategis pemerintah diselenggarakan berdasarkan standar lainnya yang diatur dalam NSPK yang dibuat pemerintah. seperti Keluarga Berencana. mengubah konsep yang digunakan untuk membagi urusan pemerintahan menjadi urusan ekslusif dan urusan konkuren (dapat didesentralisasikan).Usul Penyempurnaan 1. Urusan wajib dibedakan menjadi dua kelompok urusan. Kedua. Restrukturisasi dilakukan dengan menata kembali arsitektur pembagian urusan pemerintahan antar tingkat pemerintahan.

Untuk memberdayakan daerah yang kurang mampu memenuhi standar pelayanan provinsi dan SPM. provinsi perlu diberi peran untuk melakukan ekualisasi di daerahnya. Mengingat variabilitas antar daerah dalam penyelenggaraan urusan dasar sangat tinggi. dan fasilitasi penyelenggaraan urusan. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 62 . dayaguna dan hasilguna dipimpin oleh Sekretaris Daerah dan dengan pembiayaan dari APBN. keunggulan Pengambilan keputusan tentang urusan pilihan yang akan dikelola oleh daerah dapat didasarkan pada struktur PDRB. Perlu dibuat pengaturan yang lebih jelas tentang penyelenggaraan urusan pilihan. dan pemanfaatan sumberdaya lokal yang tersedia di daerah. supervisi. mata pencaharian penduduk. 5. Daerah provinsi dan kabupaten/ kota yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari yang ditentukan dalam SPM dapat membuat standar pelayanan diatas standar yang diatur dalam SPM. Gubernur dibantu oleh perangkat dalam bentuk sekretariat dan guna menciptakan sinerji dengan perangkat daerah. Sedangkan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan urusan oleh provinsi dilakukan oleh pemerintah. Penyelenggaraan urusan pilihan yang dibuat oleh daerah harus sinerjik dan terintegrasi dengan kebijakan nasional untuk peningkatan dayasaing bangsa. 4. Daerah menyelenggarakan urusan pilihan untuk pengembangan daerah dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat. pemerintah menugaskan gubernur sebagai wakil pemerintah pusat untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap kabupaten/ kota. maka undang undang perlu memberi ruang bagi daerah untuk membuat standar pelayanan daerah yang melampaui SPM yang ditetapkan secara nasional. Untuk menjalankan fungsi monitoring. Di dalam menjalankan peran sebagai wakil pemerintah pusat. Dengan memberi peran ini pada provinsi maka diharapkan pemerataan akses pelayanan masyarakat di berbagai daerah dapat diperbaiki sehingga kesejahteraan sosial ekonomi yang merata dapat diwujudkan di daerah.3.

IV. prosedur. Pemerintah pusat memiliki kewenangan untuk menjamin bahwa kebijakan-kebijakan nasionalnya dapat dilaksanakan secara efektif di seluruh wilayah Indonesia. dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan harus melakukannya sendiri. pembinaan dan pengawasan. Oleh karena itu. penyelenggaraan pemerintahan daerah harus mengikuti norma. Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah dan Sebagai KDH Dasar Pemikiran Dalam negara kesatuan. Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 63 . maka pemerintah perlu melakukan pemantauan. pembinaan. gubernur memiliki peran Sedangkan dalam sebagai kepala daerah dan sekaligus sebagai alat pusat. evaluasi. evaluasi. Dalam UU N0. atau mendelegasikannya kepada pemerintahan daerah propinsi sebagai tugas pembantuan. standar.5/1974. Pertanyaan seperti ini penting diperhatikan karena pilihan institusi dan mekanisme yang akan digunakan memiliki implikasi yang sangat luas baik secara politik. peran kepala wilayah lebih menonjol daripada kepala daerah.2. pelaksanaan otonomi dititikberatkan pada daerah tingkat II dan bersamaan dengan itu asas desentralisasi dilaksanakan bersama-sama dengan asas dekonsentrasi.1 1957. Dalam kenyataannya. mendelegasikanya pada kepada gubernur sebagai wakil pemerintah pusat. Penetapan Presiden N0.2. 6 tahun 1959 gubernur lebih banyak diperankan menjadi alat pemerintah pusat. Dalam UU N0. dan kriteria (NSPK) yang ditentukan oleh pemerintah pusat. Penyerahan urusan pemerintahan yang sebagian besar diberikan kepada kabupaten/ kota menuntut pemerintah untuk memastikan bahwa kabupaten/ kota mengatur dan mengurus urusan tersebut sesuai dengan NSPK yang telah dibuat oleh pemerintah. gubernur memiliki peran yang berubah-ubah. Untuk menjamin agar kabupaten/ kota mematuhi NSPK yang telah dibuatnya. Pertanyaannya adalah apakah pemerintah pusat ketika melakukan pemantauan. organisasional. pelaksanaan dekonsentrasi lebih menonjol daripada desentralisasi. Dalam sejarah perkembangan pemerintahan daerah. dan legal. pemerintah pusat memiliki peran yang sangat kuat dalam menjaga kepentingan nasional.

wewenang dan kewajiban yang bersifat ”attributed” yang dinyatakan dalam Pasal 37 dan Pasal 388. Pengaturan mengenai peran gubernur baik sebagai kepala provinsi dan sebagai wakil pemerintah perlu dirancang untuk menjamin keutuhan wilayah Indonesia. dan mendorong dinamika penyelenggaraan pemerintahan daerah. bupati. Harus ada pembagian peran yang jelas dari gubernur sebagai kepala provinsi dan wakil pemerintah pusat. Bupati/ walikota menurut UU 32/2004 tidak merangkap sebagai wakil pemerintah pusat. dan walikota bertindak sebagai kepala daerah sekaligus sebagai kepala wilayah. mekanisme yang akan digunakan untuk memainkan masingmasing peran itu dengan baik. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 juga menganut paradigma yang sama dengan dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999. kesatuan bangsa. namun lebih memperkuat peranan Gubernur sebagai wakil Pemerintah di Daerah dengan dirincikan tugas. Bupati/ walikota adalah kepala daerah dan tidak merangkap sebagai kepala wilayah. instrumen kelembagaan dan sumber biaya yang akan digunakan oleh gubernur dalam menjalankan masingmasing perannya. otonom. Diskusi tentang hal ini dapat dibaca dalam E. keberadaan pasal tersebut dirasakan belum mampu menempatkan Gubernur secara jelas baik sebagai kepala provinsi dan sebagai wakil pemerintah pusat. Pokok-Pokok Pikiran Tentang Permasalahan Kedudukan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah Pusat. pemerintah menggunakan “ fused model ” yang menempatkan gubernur d isamping sebagai kepala daerah otonom juga menjad i wakil pemerintah pusat. Dalam UU N0. yang artinya bupati/ walikota hanya berkedudukan sebagai kepala daerah otonom. Dalam perkembangannya. dan implikasi dari pelaksanaan masing-masing 8 Dalam UU 32/2004. Koswara Kertapraja.22/1999 pemerintah menerapkan split model dengan mendudukan kepala daerah semata-mata sebagai alat daerah dan tidak merangkap sebagai kepala wilayah. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 64 . Daerah provinsi dinyatakan sebagai Disamping sebagai daerah daerah otonom yang memiliki otonomi terbatas. sedangkan untuk kabupaten dan kota diberlakukan ”split model” . provinsi juga sebagai wilayah administrasi dan gubernur disamping sebagai kepala provinsi juga sebagai wakil pemerintah pusat. Tarik menarik peran gubernur sebagai kepala provinsi dan wakil pemerintah pusat selalu terjadi sesuai dengan dinamika penyelenggaraan pemerintahan daerah dan kapentingan pemerintah dalam menjamin kepentingan nasional dan kesatuan bangsa.gubernur.

konflik kepentingan sering terjadi ketika Gubernur sebagai kepala daerah otonomi memiliki kepentingan yang berbeda dengan Menteri/ Kepala LPND dalam berbagai aspek pengelolaan kegiatan pembangunan di daerahnya. Dalam UU 32/ 2004 Peranan ganda Gubernur sebagai kepala daerah dan wakil Pemerintahb Pusat di Daerah yang bertanggungjawab kepada Presiden belum diatur secara jelas sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda-beda tentang kedudukan Gubernur. UU 32/2004 hanya mengatur peran Gubernur dalam pasal 37 dan pasal 38 dengan menempatkan Gubernur sebagai sebagai aparat dekonsentrasi atau wakil pemerintah pusat di daerah. seringkali posisi Gubernur sebagai kepala daerah otonom berbeda dengan posisi yang diambil oleh kementwerian/LPNK. Dalam kenyataannya. Identifikasi Permasalahan Peran KDH Provinsi atau Gubernur dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah selama ini masih sangat terbatas.peran tersebut. sering menimbulkan konflik peran ketika kepentingan provinsi berbeda dengan kepentingan Pemerintah. efisiensi. peran Gubernur sebagaimana disebutkan tadi kurang dapat dilaksanakan secara optimal karena berbagai sebab. dan kegiatan lainnya. baik sebagai kepala daerah atau sebagai wakil pemerintah pusat. dan kejelasan hubungan antara susunan pemerintahan. Sebagai wakil pemerintah pusat di daerah. kehutanan. dan koordinasi BINWAS penyelenggaraan tugas pebantuan di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah kabupaten/ kota. Gubernur Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 65 . Peran ganda Gubernur. Misalnya. Pertama. Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat memiliki peran BINWAS penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/ kota. sebagaimana diuraikan berikut ini. dalam pengelolaan kegiatan pertambangan. Pilihan untuk memanfaatkan kedudukan gubernur sebagai wakil pusat dan instrumen kelembagaannya perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kompleksitas struktur birokrasi di daerah. sebagai kepala daerah dan wakil pemerintah pusat. Dalam pasal 38 UU 32/2004.

Pasal 10 ayat 4 dan ayat 5 tidak mengatur dengan jelas mengenai tugas yang harus dilakukan Gubernur. Ketika kebijakan kementerian?LPNK berbeda dengan kepentingan daerah Gubernur mengalami kesulitan untuk mengambil peran sebagai wakil pemerintah pusat. Keempat. karena itu revsisi UU 32/2004 perlu mengatur secara lebih jelas hal ini. sebagai wakil pemerintah pusat Gubernur melaksanakan tugas dekonsentrasi. ketidakjelasan pengaturan tentang peran Gubernur seringkali menimbulkan kerancuan peran dan tugas Gubernur dalam melakukan monitoring terhadap kabupaten/kota. Hal ini sering menimbulkan ketidakjelasan dalam pertanggungjawaban pengelolaan tugas dekonsentrasi. pasal-pasal tersebut tidak mengatur dengan cukup jelas tentang apakah Bin Was Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 66 . kabupaten/ kota sering Pelaksanaan tugas monitoring terhadap kinerja dilakukan secara campur aduk dalam konteks Pasal 37 dan 38 UU 32/2004 secara jelas dekonsentrasi sekaligus desentralisasi. hanya dibantu oleh perangkat daerah yang ditugaskan untuk melaksanakan tugas-tugas dekonsentrasi dengan sumber pembiayaan yang kurang jelas. Namun. Disamping itu tidak tersedianya sarana dan prasarana untuk mendukung peran Gubernur dalam menjalankan tugas-tugas dekonsentrasi menjadikan kedudukan Gubernur sebagai wakil pemerintah tidak efektif. peran Gubernur dalam pelaksanaan tugas dekonsentrasi tidak diatur dengan jelas.seringkali harus mengamankan kebijakan pemerintah pusat. Namun. Hal ini sering membuat kedudukan Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah menjadi tidak jelas. UU 32/ 2004 belum mengatur situasi seperti ini. yang kadangkala berbenturan dengan kepentingan daerahnya. Kedua. pelimpahan urusan pemerintah kepada Gubernur tidak diatur dalam UU. dalam menjalankan tugas dekonsentrasi. Selebihnya. Pasal tersebut hanya mengatakan bahwa pemerintah dapat melimpahkan penyelenggaraan urusannya kepada Gubernur. Ketiga. Gubernur sebagai wakil pusat di daerah tidak mempunyai perangkat dekonsentrasi sendiri. memberi tugas kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat untuk melakukan BinWas terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah.

provinsi memiliki peran ekualisasi. dan pemberdayaan terhadap kabupaten/ kota terkait dengan kebijakan yang menggambarkan kekhasan provinsi. sering membuat penyelenggaraan pemerintahan kabupaten/ kota kurang dapat dikoordinasikan secara efektif dan sinerjik untuk mencapai tujuan pembangunan provinsi. Akibatnya. kendati keduanya adalah daerah otonom. pelaksanaan tugas pembantuan oleh Provinsi kepada Kabupaten/Kota dan Desa belum memiliki pengaturan yang jelas. Seharusnya hubungan antara provinsi Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 67 . pelaksanan tugas pembantuan dari propinsi kepada kabupaten/ kota belum dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Kelima. Namun.perlu juga dilakukan dalam pelaksanaan desentralisasi atau hanya terbatas pada pelaksanaan tugas dekonsentrasi. Dalam UU 32/2004 peran tersebut tidak diatur dengan jelas. Kewenangan dan kapasitas pemerintah provinsi untuk melaksanakan koordinasi dalam perencanaan program pembangunan dan pelayanan publik yang memiliki eksternalitas lintas kabupaten/ kota kurang dapat dikelola secara efektif dan sinerjik. hubungan koordinasi antara provinsi dan kabupaten/kota selama ini masih kurang berjalan secara efektif. Analisis Provinsi dan Kabupaten/Kota sama-sama merupakan daerah otonom. fasilitasi. pelaksanaan berbagai peran Rendahnya optimalitas dari tersebut belum dapat dilakukan secara optimal. Karena itu. pelaksanaan peran tersebut. Pemerintah propinsi tidak memiliki kewenangan yang jelas untuk dapat mengatur kegiatan pembangunan dan pelayanan publik yang mencakup wilayah lebih dari satu kabupaten/ kota agar dapat diselenggarakan secara sinerjik. Keenam. Agar pemerintah provinsi memiliki dasar yang kuat untuk melaksanakan tugas pembantuan kepada kabupaten/ kota dan Desa pengaturan yang jelas diperlukan mengenai kriteria dan konsekwensi dari pelaksanaan tugas pembantuan. Pengaturan yang jelas tentang kewenangan provinsi dalam koordinasi perencanaan pembangunan daerah dan penyelenggaraan pelayanan publik perlu dilakukan dengan jelas.

kapan Gubernur harus bertindak sebagai wakil pemerintah pusat dan kapan Gubernur harus bertindak sebagai kepala daerah. dan penyelarasan kegiatan pembangunan di daerah jika dapat diperkuat akan dapat mengurangi ketegangan yang selama ini terjadi dalam hubungan antara Bupati/ Walikota dengan Gubernur yang banyak terjadi di daerah. Pertama. koordinasi. masalah lain yang perlu dicarikan solusinya adalah peran Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. Pengaturan lebih jelas tentang peran Gubernur untuk melakukan BINWAS. Jika tidak dilakukan pengaturan yang jelas fungsi ganda Gubenur sebagai KDH dan wakil pemerintah pusat dalam revisi UU 32/2004 maka upaya untuk mendorong adanya pembangunan daerah yang sinerjik dan sustainable dalam wilayah provinsi akan mengalami banyak hambatan. Kedudukan Gubernur sebagai Kepala Daerah dan sebagai wakil pemerintah pusat seringkali kurang dapat dipisahkan dengan tegas dalam beberapa hal. maka penyelenggaraan pemerintahan di daerah selama ini kurang terkoordinasi dengan baik dan sinerji dalam pembangunan daerah tidak dapat diwujudkan secara optimal. Akibat lebih jauh dari tidak berjalannya peran BINWAS.dan kabupaten/kota dalam wilayahnya diatur dalam NSPK yang ditetapkan pemerintah pusat melalui kementerian/LPNK dalam pelaksanaan setiap urusan pemerintahan yang bersifat konkuren. Miskonsepsi dalam memahami pola hubungan tersebut cenderung 68 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 . Hal ini perlu diatur dengan jelas karena memiliki implikasi kelembagaan dan anggaran yang berbeda. Ketidakjelasan pengaturan kedudukan Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat dan kepala daerah membuat fungsi ganda Gubernur belum dapat berjalan dengan baik karena struktur kelembagaan dan anggaran belum dapat memberi dukungan yang kuat terhadap pelaksanaan fungsi ganda Gubernur. Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat yang mengamankan melalui mekanisme binwas agar tata hubungan yang diatur dalam NSPK berjalan secara optimal. Kedua. Disamping hubungan antara pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota. akibat dari tidak berjalannya secara optimal fungsi ganda itu maka pelaksanaan BINWAS dari Gubernur belum dapat berjalan dengan baik.

Usul Penyempurnaan 1. Lebih dari itu.mempersulit koordinasi dan sinerji dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan kabupaten/ kota. Sebaliknya Bupati/Walikota dapat melapor dan mengadu kepada Gubernur bila terjadi berbagai masalah dalam penyelenggaraan pemerintah di daerah. pengaturan juga diperlukan agar Gubernur dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah dan mengendalikan konflik yang terjadi antar kabupaten/ kota dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. maka hubungan antara Gubernur dengan Bupati/ Walikota bersifat bertingkat. maka penyempurnaan UU 32/2004 perlu membuat pengaturan yang jelas tentang peran Gubernur baik sebagai KDH dan wakil pemerintah pusat. dan ekonomi di daerah. Penguatan fungsi ganda Gubernur juga dapat memperkuat hubungan antar tingkatan pemerintahan. Penguatan peran Gubernur sebagai KDH akan dapat memperkuat orientasi pengembangan wilayah dan memperkecil dampak kebijakan desentralisasi terhadap fragmentasi spasial. termasuk dalam hubungan antar kabupaten/ kota. Pengaturan yang lebih jelas tentang kedudukan Gubernur yang memiliki untuk mengurangi konflik dan “dual function” juga sangat diperlukan kesulitan membangun sinerji dalam pembangunan daerah. social. Sebagai wakil pusat Gubernur seyogyanya mempunyai perangkat tersendiri yang dibiayai dari APBN. Apabila perangkat daerah dimanfaatkan sebagai perangkat gubernur sebagai wakil pusat akan potensial menyebabkan kerancuan dalam pembiayaan. pengawasan dan pertanggung jawaban. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 69 . Dalam pelaksanaan peran Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat. Dengan mengingat besarnya permasalahan yang muncul sebagai akibat dari ketidakjelasan peran KDH provinsi dan Gubernur. dimana Gubernur dapat melakukan peran BINWAS terhadap kinerja Bupati/ Walikota dalam penyelenggaraan urusan pemerintah di daerah.

Pengaturan yang lebih jelas juga diperlukan terhadap kedudukan Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat. melakukan pemantauan dan evaluasi. 4. menjaga keamanan dan ketertiban. dan pemberdayaan kabupaten/ kota agar mereka dapat bersinergi untuk mencapai tujuan pembangunan di provinsinya. 3.2. Hubungan antara gubernur sebagai wakil pusat dengan Kementrian/ LPNK dalam penyelenggaraan urusan pemerintah di daerah perlu diatur dengan jelas. Provinsi karenanya dapat membuat peraturan daerah yang terkait dengan kekhasannya yang mengikat kabupaten/ kota yang ada di wilayahnya. pembinaan dan pengawasan. dan koordinasi kegiatan penyelenggaraan pemerintah yang ada di wilayahnya. lintas kabupaten/kota. Provinsi dapat melakukan peran ekualisasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik dengan memberdayakan kabupaten/ kota yang tidak mampu memenuhi standar pelayanan yang diterapkan di provinsinya. Provinsi dapat memberi bantuan teknis dan subsidi kepada kabupaten/ kota yang tidak mampu memenuhi standar pelayanan yang berlaku di provinsinya. Sebagai daerah otonom. Disamping itu. Dengan memainkan peran ekualisasi keberadaan provinsi juga akan dapat dirasakan manfaatnya oleh kabupaten/ kota yang ada di wilayahnya. Dalam konteks ini. dan atau urusan yang eksternalitasnya melewati batas-batas kabupaten/ kota. provinsi memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus urusan desentralisasi yang menjadi urusannya. gubernur sebagai kepala provinsi memiliki kewenangan mengambil kebijakan yang mengikat kabupaten/ kota yang ada di wilayahnya. Untuk itu pengaturan tentang peran gubernur sebagai kepala provinsi perlu dibuat agar dapat menjadi instrumen bagi gubernur untuk melakukan koordinasi. Sebagai wakil pemerintah pusat gubernur memiliki peran menjalankan urusan pemerintahan umum. fasilitasi. seperti melakukan resolusi konflik yang terjadi di wilayahnya. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 70 . provinsi dapat membuat kebijakan kekhasan provinsi yang mencirikan provinsi dan membedakannya dengan provinsi lainnya. Provinsi juga memiliki peran dalam pengembangan ekonomi wilayah dan kerjasama antar daerah dalam pengembangan kawasan.

dan e) perencanaan. Untuk menjaga agar daerah melaksanakan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah berdasar NSPK yang telah ditentukan maka pemerintah perlu melakukan pembinaan dan pengawasan (Binwas). dan kewenangan yang jelas dan memadai.3 Pembinaan dan Pengawasan Dasar Pemikiran Dalam suatu negara kesatuan. penelitian. dan Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 71 . pemantauan. Pelaksanaan kedua peran itu membutuhkan institusi. diperlukan. pedoman. d) pendidikan dan pelatihan. Binwas juga dilakukan untuk melindungi kepentingan rakyat agar rakyat memperoleh pelayanan sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh pemerintah. 2. pengembangan. Dalam melakukan pembinaan pemerintah dapat melakukan berbagai kegiatan yang meliputi: a) koordinasi antar susunan pemerintahan. gubernur perlu memiliki anggaran yang bersumber dari APBN dan dapat digunakan untuk menjalankan berbagai peran tersebut. Tujuan dari Binwas adalah untuk menjamin agar daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang diserahkan oleh pemerintah sesuai dengan ketentuan pemerintah. pemerintah memiliki peran yang sangat strategis melalui pembentukan standar. Pengaturan yang jelas tentang peran gubernur sebagai kepala provinsi dan wakil pemerintah pusat diperlukan untuk menghindari kerancuan yang selama ini terjadi dalam pelaksanaan peran ganda Gubernur. NSPK dibuat agar penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan arah kebijakan yang telah ditentukan oleh pemerintah. personalia. c) pemberian bimbingan. b) pemberian pedoman dan standar pelaksanaan urusan pemerintahan. 5. Untuk itu pengaturan yang jelas tentang hal tersebut sangat V. dan kriteria (NSPK) dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. anggaran. norma.Untuk itu. dan konsultasi pelaksanaan urusan pemerintahan. supervisi.

Disamping itu pemerintah juga dapat menggunakan tugas pembantuan sebagai instrumen Binwas. Binwas dapat dilakukan secara berjenjang. Dengan melakukan kegiatan BinWas ini maka pemerintah dapat mendorong percepatan terwujudnya perbaikan kesejahteraan masyarakat di daerah. diantaranya: a) pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. sinkronisasi dan integrasi kegiatan Tidak adanya NSPK pemerintahan dan pembangunan daerah sulit dilakukan. Mengingat besarnya cakupan wilayah Indonesia. sering juga membuat pemerintah mengalami kesulitan dalam melakukan Diskusi tentang cakupan konsep pembinaan dan pengawasan dapat dibaca di Muchlis Hamdi. Pemerintah dapat melakukan kegiatan. Pemerintah berkewajiban melakukan Binwas terhadap provinsi dan Gubernur sebagai wakil pusat melakukan Binwas terhadap kabupaten/ kota. Pemb inaan dan Pengawasan Dalam Hubungan Pusat-Daerah. 9 Sedangkan dalam melakukan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. pelaksanaan urusan pemerintahan di banyak daerah cenderung berbeda-beda sesuai dengan intepretasi dan semangat yang dimiliki oleh masingmasing pimpinan daerah. Akibatnya. Akibatnya. Pengawasan yang dilakukan dapat bersifat preventif dan pengawasan represif. Identifikasi Permasalahan UU 32/ 2004 sebenarnya telah mengisyaratkan mengenai perlunya Binwas dilakukan oleh pemerintah sebagaimana disebutkan dalam pasal 217. Untuk dapat melakukan Binwas pemerintah memiliki instrumen yang dapat digunakan untuk menghukum dan memberi penghargaan kepada daerah sesuai dengan kemampuannya dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah sesuai dengan NSPK. namun sayangnya pengaturan tentang hal tersebut secara jelas dan rinci belum dilakukan.evaluasi pelaksanaan urusan pemerintahan. paper tidak diterbitkan. 9 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 72 . dan b) pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. dimana pemerintah yang lebih tinggi menjalankan Binwas terhadap pemerintah dibawahnya.

dan sinerjik dalam bingkai negara kesatuan perlu dilakukan dengan cermat dan efektif. Gubernur belum memiliki aparat sendiri yang dapat ditugaskan untuk menjalankan fungsi Binwas terhadap kabupaten/ kota. perlu mengatur Mengantisipasi secara jelas pemberlakuan NSPK tersebut. merata. dan lembaga pemerintah non-departemen untuk merumuskan NSPK untuk masingmasing urusan yang secara teknis menjadi tanggungjawabnya selambatlambatnya dua tahun sejak PP tersebut diberlakukan. Sayangnya sejauh ini. PP 38/2007 mengamanatkan pada departemen. Akibatnya. mekanisme. dan prosedur melakukan pembinaan dan pengawasan bidang pemerintahan umum dan teknis. Dalam hal kewenangan dan tanggungjawab pembinaan dan pengawasan pelaksanaan urusan pemerintahan. Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengawasan untuk pelaksanaan urusan pemerintahan di kabupaten/ kota perlu diperjelas mengenai peran Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat untuk melakukan pembinaaan dan pengawasan kinerja kabupaten/ kota. pemberdayaan Gubernur baik sebagai wakil pemerintah pusat maupun sebagai KDH memerlukan sumberdaya aparatur yang profesional dan menguasai kemampuan teknis yang diperlukan dalam penyelenggaraan berbagai urusan pemerintahan dan pendanaan yang memadai. pelaksanaan Binwas cenderung kurang efektif. Analisis Binwas sebagai upaya untuk menjamin terlaksananya pembangunan daerah yang terintegrasi. perlu diperjelas mengenai bidang pengawasan mana yang seharusnya menjadi tanggungjawab Departemen Dalam Negeri dan bidang pengawasan teknis yang seharusnya menjadi tanggungjawab instansi sektoral. Disamping itu.pemantauan dalam rangka pembinaan dan pengawasan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan di daerah. pemerintah kewenangan. Tidak adanya pengaturan yang jelas sering membuat Gubernur kurang dapat menjalankan perannya untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan. Kendati Binwas terdiri dari dua kegiatan 73 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 . kementrian negara.

pembinaan diimaksudkan untuk mendorong kemampuan pemerintahan daerah dalam membangun kehidupan masyarakat dengan kesadaran berkewarganegaraan yang tinggi. Pada aspek administratif. serta kewenangan pengelolaannya. pengawasan berperan sebagai penjamin terbangunnya daerah yang maju. terutama berkaitan dengan perencanaan dan penganggaran. baik yang bersifat substansial atau nilai-nilai maupun yang bersifat prosedural. Sedangkan pengawasan bertujuan untuk menjamin agar kegiatan pelaksanaan rencana sesuai dengan spefisikasi yang telah ditentukan. Pada aspek ekonomi. fiskal. pembinaan dapat difokuskan pada penegasan pembagian urusan pemerintahan. Pada aspek fiskal. Pembinaan yang dilakukan oleh Pusat terhadap Daerah dapat mencakup aspekaspek politik. dan sosial budaya. Termasuk dalam kegiatan ini adalah pembinaan dunia usaha dan koperasi. Terkait dengan Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 74 . terwujudnya masyarakat yang sejahtera dalam bingkai sistem dan kepentingan nasional. Dengan pengawasan diharapkan tujuan yang tercapai benar-benar dapat membangun kondisi yang diinginkan secara efisien dan efektif. Pada aspek politik. administratif. namun keduanya saling melengkapi dan memperkuat upaya untuk mendorong agar daerah mampu menyelenggarakan urusan pemerintahan sesuai dengan NSPK yang dibuat oleh pemerintah. pembinaan dapat berfokus pada peningkatan pendapatan asli daerah beriringan dengan pelaksanaan kebijakan transfer dan pinjaman yang ditetapkan oleh Pusat. terciptanya keadilan regional. Dari uraian tersebut menjadi jelas bahwa pembinaan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah upaya yang dilakukan oleh Pemerintah untuk mewujudkan tercapainya tujuan penyelenggaraan otonomi daerah.yang berbeda. pembinaan dapat berfokus pada pembangunan ekonomi daerah. pembinaan dan pengawasan. Sedangkan pada aspek sosial budaya. yang dapat menjamin kemungkinan berlangsungnya privatisasi dalam pelaksanaan urusan pemerintahan daerah. ekonomi. Dalam konteks keberadaan daerah otonom. pembinaan dapat difokuskan pada penguatan lembaga perwakilan rakyat daerah bersamaan dengan lembaga pemberdayaan masyarakat.

Dalam melakukan pembinaan Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 75 . Untuk itulah perlu diformulasikan agar pembinaan yang bersifat umum seperti terkait dengan aspek manajerial pemerintahan dan administrasi. Pengawasan yang bersifat umum dilaksanakan oleh Departemen Dalam Negeri. Adapun pembinaan yang bersifat teknis dilakukan oleh Departemen atau Lembaga Pemerintah Non Departemen sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing. Pengawasan juga harus secara jelas mengatur mengenai aspek yang diawasi yaitu penyelenggaraan urusan pemerintahan dan utamanya terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. diusulkan penyempurnaan UU No. Menteri Dalam negeri melaksanakan pembinaan bidang pemerintahan umum sedangkan Menteri/ Kepala LPNK melaksakan pembinaan teknis urusan pemerintahan terkait dengan bidang tugasnya masing-masing.bidang-bidang pembinaan sebagaimana tersebut di atas maka tentunya harus ada kejelasan institusi mana yang akan melakukan pembinaan. 32 Tahun 2004 terkait dengan aspek pembinaan dan pengawasan. pengawasan yang dilaksanakan oleh Pemerintah juga harus secara tegas diatur institusi mana yang melaksanakannya. Sama halnya dengan pembinaan. Kementerian/LPNK terkait melakukan pengawasan teknis terhadap pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi bidang tugasnya dan Kementerian Dalam Negeri melakukan pengawasan terhadap pengaturan yang dihasilkan. Usulan Perubahan Berdasarkan hasil Analisis dan pengamatan terhadap masalah. Proses pembinaan dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. Pembinaan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi dilaksanakan oleh menteri dalam negeri dan menteri/pimpinan LPNK terkait. sedangkan pengawasan yang bersifat khusus dilakukan oleh Departemen atau Lembaga Pemerintah Non Departemen dengan tetap melaksanakan koordinasi dengan Menteri Dalam Negeri. dilaksanakan dengan pangaturan sebagai berikut : 1. pembinaan dilaksanakan oleh Departemen Dalam Negeri.

Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan dapat dilakukan oleh aparatur daerah provinsi dan juga aparatur pusat yang ada di daerah. IV.1. Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/ kota dilakukan oleh Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat. Beberapa diantara permasalahan tersebut adalah terjadinya money politics yang sering sulit dibuktikan tapi sangat dirasakan oleh masyarakat. 2.3. Munculnya dinasti elit penguasa lokal yang ditandai oleh diusulkannya sanak famili kepala daerah baik anak. istri. Persoalan moral juga mewarnai beberapa calon kepala daerah dimana calon yang sudah diketahui secara meluas melakukan perbuatan asusila yang nampak dalam video tapi karena tidak menjadi Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 76 . Permasalahan yang berasal dari pilkada kemudian akan mempengaruhi efektifitas pemerintahan daerah.3 PENYELENGGARA PEMERINTAHAN DAERAH IV. saudara untuk menjadi calon kepala daerah. Persoalan etika juga sering disepelekan yaitu terjadinya beberapa kasus kepala daerah yang sudah menjabat dua kali kemudian mencalonkan dirinya sebagai wakil kepala daerah. Pemilihan Kepala Daerah dan Hubungan Kepala Daerah dengan DPRD Dasar Pemikiran Berbagai permasalahan muncul dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Indonesia. menantu. Angaran yang digunakan untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap kabupaten/ kota yang ada di wilayahnya dibiayai oleh APBN. Memang secara legal tidak menyalahi karena tidak ada hukum positif yang dilanggar tapi dari segi etika pemerintahan dan kepantasan sulit untuk diterima akal sehat.teknis kepada daerah provinsi Menteri/ Kepala LPNK berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri.

Kegagalan dalam membangun kapasitas DPRD dapat membuat fungsi DPRD dalam melakukan check and balance tidak efektif. dimana masing-masing tidak dapat menjatuhkan yang lainnya. DPRD harus memiliki kapasitas yang memadai untuk menjalankan fungsi tersebut. Sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah keduanya memiliki kedudukan yang setara.kasus hukum menjadi tidak melanggar persyaratan sehingga yang bersangkutan tetap mencalonkan diri. Juga dalam menjalankan fungsi legislasi dalam konteks membuat peraturan daerah bersama dengan KDH. para anggota DPRD harus memiliki dukungan sumberdaya yang memadai agar mereka dapat menjadi mitra yang setara dan sejajar kapasitasnya dengan KDH. |Namun persoalan muncul ketika etika dan kepantasan tersebut tidak diatur secara tertulis. Dalam banyak hal konflik diantara mereka sering mengganggu efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah. maka pelanggaran atas etika tersebut dianggap hal-hal yang wajar saja dilakukan dalam masa transisi demokrasi sekarang ini untuk mendukung ambisi pribadi. Sebagai institusi yang berfungsi mengawasi KDH dan perangkatnya dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Karena hubungan keduanya tidak diatur dengan jelas maka ketegangan dan konflik sering terjadi antara KDH dan DPRD . Hubungan antara KDH dengan DPRD harus dikembangkan sebagai upaya penegakan prinsip-prinsip checks and balances. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 77 . Persoalan lain yang timbul adalah dalam sistem politik yang demokratis ketegangan hubungan antara kepala daerah (KDH) dengan DPRD menjadi isu politik yang jamak dijumpai di daerah. Kondisi tersebut menunjukkan kepada kita memang semua permasalahan tersebut diatas harus dituangkan dalam peraturan perundang-undangan agar menjadi syarat normatif yang selama ini tidak ada sehingga tidak ada hukum positif yang dilanggar. Kita menyadari bahwa disamping hukum yang tertulis ada juga hukum yang tidak tertulis namun dihormati keberadaannya khususnya yang terkait dengan persoalan etika dan kepantasan. Diberlakukannya pilkada langsung untuk Gubernur/ Bupati/ Walikota dan anggota DPRD membuat masing-masing pihak sama-sama memiliki legitimasi politik yang sangat kuat.

Untuk membuat hubungan antara KDH dan DPRD menjadi dinamis maka pengaturan tentang hubungan antara KDH dan DPRD harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: a. b. Prinsip Kesetaraan. Prinsip checks and balances. c. Keduanya memiliki kedudukan yang setara. Kedudukan. dimana KDH dan DPRD tidak dapat saling menjatuhkan satu sama lainnya d. DPRD adalah unsur penyelenggara pemerintahan dan sekaligus lembaga perwakilan rakyat di daerah yang memiliki fungsi melakukan pengawasan terhadap KDH. maka secara agregat akan menyumbang kepada peningkatan kesejahteraan nasional. dan kewajiban dari KDH dan DPRD harus secara jelas diatur dalam peraturan perundangan dan masing-masing pihak harus bertindak sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. Dalam konteks otonomi daerah kedua isu menguras habis perhatian kita sehingga sering terabaikan tujuan utama otonomi daerah adalah mensejahterakan rakyat daerah yang kalau berhasil. Identifikasi Permasalahan Pemilihan kepala daerah (pilkada) sangat banyak menyedot enerji baik pemerintah pusat and pemerintah disamping isu pembentukan daerah otonom baru. Beberapa masalah krusial dalam konteks pilkada antara lain adalah: Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 78 . Kemitraan Sebagai sesama unsur penyelenggara pemerintahan daerah keduanya harus dapat bekerjasama dan bermitra dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat di daerahnya. Prinsip negara hukum. hak.

Adalah sangat sulit bagi birokrasi daerah untuk bersikap netral dalam pilkada. namun sulit menemukan bukti-bukti. Terjadinya praktek money politics dan dirasakan secara meluas. Kepala daerah dan wakil kepala daerah sering tidak harmonis tidak lama setelah keduanya terpilih. Ditengarai majunya mereka dengan memanfaatkan fasilitas dan resources yang dimiliki oleh kepala daerah terkait. namun karena tidak terjadi proses hukum maka tidak ada alasan hukum untuk melarang yang bersangkutan mencalonkan diri. menantu dan lain-lainnya.a. d. c. b. Dalam beberapa kasus kondisi tersebut telah menyebabkan terjadinya pengkotak-kotakan birokrasi daerah baik yang memihak kepala daerah maupun yang memihak wakil kepala daerah. Tumbuhnya gejala oligarkhi dalam pilkada ditandai dengan majunya banyak calon yang berasal dari keluarga kepala daerah baik istri. Ada beberapa kasus calon terlibat dalam gambar video melakukan tindakan a susila. Keduanya sering terlibat dalam berebut peran karena masing-masing merasa mempunyai andil yang sama dalam pemenangan sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah. maka kejadian tersebut akan mencoreng kewibawaan pemerintahan daerah. e. Walaupun secara hokum tertulis tidak ada yang dilanggar. namun dari aspek etika sangat sulit untuk diterima dan mencederai akal sehat. Untuk kepentingan karirnya mereka dipaksa oleh situasi untuk memihakkan diri pada salah satu calon kepala daerah. Banyak fakta menunjukkan diadakannya mutasi atau demosi jabatan daerah ketika salah satu calon memenangkan pilkada. anak. Karena kepala daerah adalah kepala pemerintahan di daerah. Merosotnya niali-nilai etika dalam pemerintahan ketika seseorang yang sudah dua kali menjabat kepala daerah mengajukan dirinya menjadi wakil kepala daerah. f. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 79 . Dikerahkannya birokrasi daerah untuk memberikan dukungan kepada petahana (incumbent).

220 proyek. Persoalannya. pembuatan APBD dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. Itu artinya. Sebagai pejabat karir. banyak daerah yang mengalami keterlambatan dalam pengesahan APBD sehingga mengganggu kelancaran penyelenggaraan pemerintahan daerah. Tingginya biaya tersebut terutama akan menjadi beban berat bagi daerah-daerah miskin sedangkan pada sisi lain banyak daerah yang masih sulit untuk memberikan pelayanan dasar yang paling mkinimal kepada rakyatnya. Masalah lain dari penyelenggara pemerintahan daerah adalah dalam konteks hubungan antara KDH dan DPRD. data Tempo menyebutkan ada sebagian proyek 10 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 80 . DPRD sering menjadikan 10 Anggota APBD sebagai arena untuk memperjuangkan kepentingan pengusaha kliennya untuk memperoleh kontrak proyek dari pemerintah daerahnya.g. Tingginya biaya pilkada yang harus ditanggung baik oleh pemda maupun oleh calon kepala daerah. Banyak kasus menunjukan bahwa DPRD tidak mau membahas usulan Perda dan rancangan APBD yang disampaikan oleh Bupati/ Walikota/ Gubernur. ketika hubungan antara KDH dengan DPRD kurang harmonis. Dalam pengelolaan sekretariat DPRD. Beberapa pimpinan fraksi besar menitipkan proyek yang besarnya berkisar dari 50. Dalam praktek sering terjadi masalah diantara keduanya karena interpretasi terhadap peraturan perundangan sesuai dengan kepentingannya sendiri. Arena yang sering menjadi sumber konflik antar keduanya adalah pembentukan peraturan daerah. Dalam pembentukan peraturan daerah dan pembuatan APBD. Namun. 50 juta. sehingga ketegangan dan konflik antara KDH dan DPRD sering terjadi di banyak daerah. bukan lelang terbuka. ketegangan antara KDH dan DPRD muncul terutama terkait dengan pengangkatan sekretaris dewan. dari total 786 proyek yang d ititipkan anggota dewan ini sebagian besar nilainya dibawah Rp. masalah muncul ketika salah satu pihak tidak bersedia membahas usulan pihak lainnya. nasib sekretaris dewan sering dipengaruhi oleh penilaian dari sekretaris Fenomena DPRD Kota Surabaya dapat d ijadikan misal. Sekretaris dewan sering mengalami role conflict dan mengalami posisi dilematis. Salah satu anggota dewan menjelaskan bahwa itu semua hasil Jaringasmara/ Penjaringan Aspirasi Masyarakat. Beberapa daerah bahkan gagal mengesahkan APBDnya sehingga terpaksa menggunakan APBD tahun sebelumnya. mekanisme pelaksanaannya melalui penunjukan langsung. Akibatnya.

Karena perbedaan kepentingan politis KDH dan DPRD pengangkatan sekretaris dewan sering menjadi sumber ketegangan antara KDH dan DPRD. Calon Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 81 . yang bersangkutan harus memfasilitasi DPRD yang sering memiliki kepentingan dan sikap yang berbeda dengan yang dimiliki oleh KDH ketika dihadapkan pada isu yang sama. Untuk menghindari munculnya masalah etika dan moral dalam pilkada maka perlu adanya pengaturan mengenai persyaratan kepala daerah.kabupaten/ kota/ provinsi yang tentunya juga amat dipengaruhi oleh kepentingan KDH. Dalam bidang pengawasan. karena indikator kinerja dan pencapaian kemajuan program dan proyek tidak terdefinisikan dengan jelas. Untuk itu perlu kiranya dipikirkan adanya mekanisme pemilihan hanya untuk kepala daerah saja sedangkan wakilnya ditunjuk oleh kepala daerah terpilih. ketegangan dan konflik antara KDH dan DPRD sering terjadi karena perbedaan pemahaman antara anggota DPRD dengan pengelola SKPD dalam mencermati indikator kinerja keberhasilan dari program dan proyek pembangunan di daerah. Analisis Salah satu pilar yang mendukung efektifitas pemerintahan daerah dalam mensejahterakan masyarakat daerah adalah terpilihnya kepala daerah yang cakap (capable) mempunyai integritas dan dapat diterima (acceptable with integrity). Pada sisi lain pemilihan kepala daerah dan wakilnya secara berpasangan sering menimbulkan masalah setelah terpilih menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah. Dengan cara demikian akan terhindar potensi konflik antara kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Rendahnya kualitas perencanaan program dan proyek membuat proses pengawasan program dan proyek menjadi semakin sulit. Akibatnya seringkali terjadi perbedaan pendapat dan penilaian antara KDH dengan DPRD dalam menilai kinerja program dan proyek yang ada di daerah. Untuk itu maka perlu dipikirkan mekanisme agar kepala daerah yang capable dan accepable dapat terealisir. Sedang sebagai sekretaris dewan.

Demikian juga terkait masalah etika. Demokratis bisa berkonotasi dua yaitu bisa dipilih langsung oleh rakyat dan kedua bisa dipilih oleh DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat. konstitusi dalam pasal 18 menyatakan bahwa gubernur. bupati dan walikota dipilih secara demokratis. Rendahnya intensitas hubungan antara Gubernur dan masyarakat tidaklah menuntut akuntabilitas yang tinggi dari Gubernur kepada masyarakat. Dalam sejarah pemerintahan daerah. yang menganut adanya pemisahan dan penyebaran kekuasaan. perlu dipikirkan bahwa pilkada provinsi cukup dilakukan melalui pemilihan oleh DPRD. 2. Untuk itu mkaka pemilihan bupati/walikota sebaiknya tetap langsung oleh rakyat. Dari sisi legal. Ada beberapa pemikiran yang melandasinya yaitu: 1. Untuk itu intensitas pertemuan bupati/walikota dengan wargana akan tinggi sekali. perlu diatur bahwa calon kepala daerah yang sudah dua kali menjabat kepala daerah tidak diperbolehkan mencalonkan diri sebagai wakil kepala daerah. Dari sini lahir argumen kenapa gubernur tidak dipilih oleh DPRD saja sebagai wakil rakyat. terutama juga dilihat kacamata negara demokratis. Konsekuensinya rakyat menuntut akuntabilitas yang tinggi dari bupati/ walikota. Untuk menekan biaya yang timbul dalam pilkada. Berbeda dengan pemilihan bupati/waikota. Sebagian terbesar pelayanan publik langsung diberikan oleh pemda kabupaten/kota. Dari sisi pelayanan publik yang diberikan oleh provinsi. Ini berarti intensitas pertemuan antara Gubernur dan masyarakat provinsi yang bersangkutan tidaklah tinggi.kepala daerah yang sudah jelas terbukti secara hukum cacat terkait masalah moral dilarang untuk ikut mencalonkan diri. Pelimpahan kekuasaan pemerintahan daerah kepada Kepala Daerah Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 82 . Dengan adanya pengaturan tersebut akan menjadi aturan tertulis dan hukum positip yang mengikat. Ternyata sedikit sekali pelayanan publik langsung yang diberikan provinsi kepada masyarakat. hubungan Kepala Daerah dan DPRD dapat dikatakan belum pernah mencapai titik yang ideal.

Agus. Kedua. Posisi sekretaris DPRD masih dianggap sebagai Lihat temuan GDS 2002 dan GAS 2006 dalam Dwiyanto. PSKK UGM: Yogyakarta dan Dwiyanto. check and balance penting diperkuat efektivitasnya agar Mekanisme tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan oleh salah satu dari keduanya dan agar KDH dan DPRD dapat bekerjasama dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat di daerah. Agus. dkk.dan DPRD sebenarnya dilakukan dalam rangka pembagian kekuasaan antara kedua unsur penyelenggara pemerintahan daerah sehingga terjadi mekanisme check and balance dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. terutama dalam pembentukan peraturan daerah. DPRD untuk merepresentasikan kepentingan warganya Akibatnya. PSKK UGM: Yogyakarta 11 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 83 . Kedua kegiatan tersebut sering menjadi arena dominasi Hal ini membuat kepentingan elit politik dan birokrasi ( elite captures). Pertama. Reformasi Tata Pemerintahan dan Otonomi Daerah. dan dalam melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan daerah. peran dalam proses pembentukan peraturan daerah dan proses penyusunan APBD sering tidak dapat dilakukan secara efektif. Karena itu sekretariat DPRD harus dilengkapi dengan tenaga profesional yang memiliki kemampuan teknis untuk mendukung kegiatan dari para anggota DPRD. Kapasitas DPRD amat jauh lebih rendah dibandingkan dengan KDH dan perangkatnya. kapasitas kelembagaan DPRD yang masih terbatas dalam memberi dukungan kepada para anggotanya. 2007. Kinerja Tata Pemerintahan di Daerah. Ada beberapa penjelasan mengenai mengapa DPRD belum mampu merepresentasikan kepentingan warganya. dkk. 2003. DPRD pada umumnya belum memiliki sekretaris DPRD yang profesional dan mampu membangun kapasitas organisasi untuk memberi dukungan kepada anggota DPRD. Sebagai sebuah institusi sekretariat DPRD mestinya dapat memberi dukungan kepada para anggota DPRD dalam menjalankan kewajiban sebagai wakil rakyat di daerah. penyusunan APBD. Untuk dapat mewujudkan adanya check and balance maka kapasitas DPRD mesti harus ditingkatkan karena berbagai temuan menunjukan bahwa kemampuan DPRD dalam menjalankan fungsinya sangat rendah11. kepercayaan warga terhadap DPRD menjadi semakin terkikis dan ketidakpuasan mereka terhadap kinerja DPRD semakin rendah.

membuat mereka yang memiliki kemampuan yang baik tidak tertarik menjadi sekretaris DPRD. dan memperjuangkan kepentingan warga dan konstituen. menjalankan peran sebagai anggota Keterbatasan kemampuan mereka DPRD ikut mendorong munculnya ketidakpuasan masyarakat terhadap anggota DPRD dan DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 84 . Intervensi partai politik terhadap para anggota DPRDnya yang sangat kuat membuat para anggota DPRD tidak dapat memperjuangkan kepentingan rakyat yang diwakilinya. Proses rekrutmen anggota DPRD yang sekarang terjadi lebih menempatkan mereka sebagai wakil partai politik daripada sebagai wakil rakyat. kemampuan anggauta DPRD pada umumnya secara individu masih rendah sehingga tidak dapat secara optimal menjalankan peran mereka sebagai wakil rakyat. kemampuan DPRD untuk dapat menjalankan fungsi pengawasan terhadap kinerja KDH masih sangat terbatas. Persepsi yang seperti ini membuat daerah sering tidak menempatkan calon yang terbaik untuk posisi sekretaris daerah. DPRD juga memiliki keterbatasan anggaran dan sumberdaya yang tidak memungkinkan mereka menjalankan fungsi check and balance. manakala kepentingan rakyat yang diwakili berbeda dengan kepentingan politik partainya. Pendidikan dan pengalaman mereka dalam kegiatan pemerintahan yang terbatas sering membuat kemampuan mereka untuk menjalankan peran sebagai anggota DPRD tidak optimal. ketidakjelasan kedudukan anggota DPRD sebagai wakil rakyat. Keempat. menggali.posisi buangan dan marjinal bukan posisi strategis dalam konteks pengembangan karir di birokrasi daerah. Apalagi kenyataan bahwa sekretaris DPRD sering mengalami posisi yang sulit ketika terjadi konflik antara KDH dengan DPRD. Akibatnya. Semua hal diatas membuat sekretaris daerah pada umum belum mampu memberi dukungan yang optimal kepada DPRD. Ketiga. Kelima. keterbatasan anggaran yang tersedia bagi anggota DPRD untuk menyerap.

Perlu ada pengaturan yang dapat memperkuat posisi sekretaris DPRD sebagai seorang manajer yang profesional dan independen dari sekretariat daerah. Perlu diatur batasan etika dan moral dalam persyaratan calon kepala daerah 3. maka pemberdayaan DPRD hanya akan efektif kalau dapat menyelesaikan berbagai masalah diatas. KDH. Usulan Perubahan 1. Untuk itu perlu ada pengaturan yang jelas tentang kedudukan sekretaris DPRD. Pengaturan harus memungkinkan sekretaris DPRD untuk mengoptimalkan dukungannya kepada DPRD agar dapat menjalankan tugasnya sebagai lembaga perwakilan rakyat. kemampuan anggota DPRD dalam menjalankan perannya sebagai wakil rakyat. Sebagai pimpinan organisasi pendukung kegiatan DPRD maka sekretaris DPRD harus dapat bertindak secara profesional dan independen dari tekanan pihak KDH. Perlu ada pengaturan bawa gubernur dipilih oleh DPRD sedangkan bupati/walikota tetap dipilih secara langsung oleh rakyat. Perlu ada pengaturan yang jelas tentang kedudukan dan hubungan antara DPRD dan KDH sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. dan kualitas hubungan antara anggota DPRD dengan konstituennya. Pengaturan tersebut harus mampu menjamin terjadi check and balance dalam hubungan kerja keduanya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat di daerah. hubungannya dengan Sekda. 2. 4.Dengan memahami berbagai faktor diatas. Pemberdayaan DPRD setidaknya harus mampu meningkatkan antara lain: kapasitas sekretariat DPRD dan pejabatnya. dan DPRD. ketersediaan sumberdaya untuk memberi dukungan kepada DPRD dalam menjalankan seluruh fungsinya. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 85 .

struktur. mekanisme kerja. Pengaturan perlu dibuat agar anggaran yang disediakan benar-benar dipergunakan untuk menjalankan fungsi representasi dan tidak dipergunakan untuk tujuan lain yang tidak terkait dengan pelaksanaan fungsi representasi. 7.3.5. struktur. IV. maka Presiden sebagai kepala pemerintahan dapat menjadi institusi yang dapat menjadi wasit yang baik dalam penyelesaian konflik antara KDH dan DPRD. Untuk pelaksanaannya Presiden dapat menunjuk Menteri Dalam Negeri untuk mewakili Presiden mengambil tindakan yang diperlukan dalam penyelesaian konflik yang terjadi antara DPRD dan KDH. Untuk dapat menjalankan fungsi representasi. Seberapa tepat daerah merancang disain. Disain. dan proses kerja sehingga Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 86 . 6. Sekretariat DPRD harus memiliki sumberdaya yang memadai untuk merekrut tenaga ahli yang dapat memberi dukungan kepada DPRD dan para anggotanya dalam menjalankan semua fungsi yang melekat pada anggota DPRD. 2. Dalam hal terjadi konflik antar KDH dan DPRD. Kegiatan anggota DPRD dalam menjalankan fungsi representasi harus memperoleh anggaran yang wajar dan memadai. anggota DPRD perlu memiliki anggaran yang memadai untuk menjalin hubungan yang erat dengan warga yang diwakilinya. Organisasi Perangkat Daerah Dasar Pemikiran Organisasi perangkat daerah memiliki posisi yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Perlu ada pengaturan yang memungkinkan sekretariat DPRD memfasilitasi DPRD dan para anggotanya untuk menjalankan perannya sebagai wakil rakyat di daerah. dan kualitas aparatur sangat menentukan kinerja daerah.

Dengan berazaskan pada prinsip efektivitas maka daerah harus mengembangkan struktur organisasi yang mampu mewujudkan outputs dan outcomes sesuai yang diharapkan dari penyelenggaraan setiap urusan pemerintahan daerah. Efektivitas mengukur kemampuan struktur organisasi untuk merealisasikan progam-program yang dikembangkan oleh daerah. efektif. daerah tentunya harus mendasarkan pada urusan wajib dan urusan lainnya yang dapat menjadi unggulan daerah. Organisasi daerah juga mampu berinteraksi secara wajar dan saling melengkapi dan mendukung kegiatan-kegiatan dari organisasi daerah lainnya sehingga sinerji antar organisasi di daerah dapat diwujudkan. Kemudahan interaksi akan dapat menghemat enerji pemerintah daerah dan warganya dalam mengakses pelayanan publik dan kegiatan pemerintahan lainnya. efektivitas. dan kemudahan interaksi. Prinsip efisiensi ini mengajarkan bahwa struktur harus sederhana dan ramping tapi mampu mengemban banyak fungsi. Sedangkan. Kemudahan interaksi antara organisasi daerah dengan warganya juga sangat penting diwujudkan karena kemudahan interaksi akan sangat warga untuk mengakses pelayanan publik di daerahnya. Struktur perangkat daerah harus efisien. Pengembangan birokrasi di daerah harus juga mempertimbangkan prinsip-prinsip efisiensi. Dengan mengembangkan struktur organisasi atau perangkat daerah yang memenuhi ketiga prinsip diatas. Dengan struktur yang seperti ini maka daerah akan dapat menyelenggarakan urusan yang menjadi kewenangannya dengan pengorbanan sumberdaya yang kecil.mampu menjalankan fungsi secara efisien. prinsip kemudahan interaksi menjamin adanya kemudahan interaksi antar organisasi di daerah dan antar organisasi dengan warganya. maka daerah akan dapat mengembangkan organisasi yang ramping tetapi melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan efektif. dan sinerjik menjadi kunci keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Dalam merancang disain dan struktur birokrasinya. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 87 .

Identifikasi Permasalahan Pengalaman dalam pelaksanaan otonomi daerah menunjukan

kecenderungan daerah untuk membentuk onganisasi perangkat daerah yang banyak jumlahnya dan kurang didasarkan pada kebutuhan nyata daerah yang bersangkutan. 12 Besarnya organisasi perangkat daerah yang dimaksud dapat dilihat dari banyaknya jumlah Dinas Daerah, jumlah Badan dan jumlah Kantor. Banyak daerah kabupaten dan kota yang mempunyai dinas yang sebenarnya kurang relevan dengan kebutuhan masyarakat atau potensi unggulan yang ada di daerah tersebut. Masih banyak dijumpai adanya dinas pertanian atau bahkan kehutanan di daerah perkotaan. Berbagai studi menunjukan bahwa para

pemangku kepentingan di daerah menilai struktur birokrasi di daerah cenderung gemuk dan menyerap anggaran yang besar. Akibatnya, banyak anggaran pemerintah yang terserap untuk belanja pegawai dan memenuhi kebutuhan birokrasi daripada yang digunakan untuk membiayai pelayanan masyarakat. Disamping struktur birokrasi yang besar dan kompleks, masalah lainnya adalah adanya orientasi pegawai daerah untuk menduduki jabatan struktural sangat tinggi dan berlebihan. Hal ini disebabkan karena jabatan struktural dalam birokrasi publik memiliki fungsi yang multidimensional. Jabatan struktural bukan hanya memberikan mereka kekuasaan, penghormatan, tetapi juga tambahan penghasilan yang berarti. Semakin tinggi jabatan strukturalnya, semakin besar nilai yang diperoleh oleh pejabatnya. Hal seperti ini mendorong birokrasi dan para pejabatnya untuk memperbesar struktur birokrasi di daerah sehingga dapat menyediakan banyak tempat bagi para pejabat birokrasi di daerah. Karenanya tidak mengherankan kalau banyak daerah yang mengembangkan struktur birokrasi yang besar dan kompleks. Orientasi yang berlebih pada jabatan struktural, membuat pengembangan jabatan fungsional kurang berkembang di dalam birokrasi di daerah. Banyak

daerah yang belum mengembangkan jabatan fungsional. Padahal jabatan fungsional tidak menuntut organisasi yang besar, bahkan dapat memperbaiki
Diskusi tentang hal ini dapat dibaca dalam Roy Salomo, “Pokok-Pokok Pemikiran Untuk Penyempurnaan UU N0.32/2004: Perangkat Daerah”, paper tidak diterbitkan
12

Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004

88

kualitas pelayanan pemerintah daerah melalui peningkatan kapasitas aparatur birokrasi. Penciptaan jabatan fungsional dalam birokrasi pemerintah di daerah

penting didorong agar daerah dapat mempercepat pengembangan kapasitas aparaturnya dengan baik dan cepat. Belum adanya Analisis jabatan dan Analisis beban kerja membuat daerah tidak pernah tahu secara pasti berapa besar organisasi yang dibutuhkan dan berapa banyak jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Akibatnya, pengembangan struktur birokrasi di daerah seringkali lebih banyak didasarkan atas pertimbangan subyektif, jangka pendek, dan pemahaman yang kurang tepat terhadap kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh Daerah. Masalah lainnya adalah adanya kecenderungan dari kementerian/LPNK untuk mendesak daerah membuat struktur organisasi sebagaimana yang ada di pusat dengan tawaran akan diberi bantuan. Disamping itu munculnya berbagai undang-undang sektoral yang mengharuskan daerah untuk membentuk suatu organisasi yang sering relevansinya tidak ada di daerah yang bersangkutan seperti kewajiban membuat organisasi bencana walaupun daerah tersebut bukan berpotensi bencana. Sama halnya dengan diwajibkannya daerah membuat lembaga penyuluhan pertanian di daerah perkotaan yang tidak ada petaninya. Pada akhirnya semua instruksi dan desakan tersebut akan bermuara pada membengkaknya kelembagaan daerah yang sekailigus juga meningkatkan overhead cost dan mengurangi biaya pelayanan public.

Analisis Ada beberapa penyebab mengapa daerah cenderung mengembangkan struktur organisasi yang besar dan kompleks13. Pertama, kecenderungan semakin kuatnya politisasi birokrasi di daerah. Pilkada yang membutuhkan resources yang besar memberi peluang kepada aparat birokrasi untuk terlibat pemenangan calon kepala daerah. Banyak aparat birokrasi yang terlibat menjadi tim sukses dari calon
Disamping berbagai hal diatas Salomo juga menjelaskan faktor-faktor lainnya seperti orientasi pada jabatan struktural yang sangat besar dan dampak dari pembubaran instansi vertikal di daerah yang sering memaksa daerah membuat struktur yang gemuk.
13

Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004

89

kepala daerah dengan harapan jika calonnya terpilih akan memperoleh kedudukan yang lebih baik dalam birokrasi di daerah. Disamping itu, kepala daerah terpilih sering berusaha memasukan pendukungnya dalam jabatan birokrasi sehingga diharapkan dapat memberi dukungan terhadap keberhasilan program-program yang dijanjikannya dalam pilkada. Untuk dapat menampung para pendukungnya sering kepala daerah kemudian mengembangkan struktur birokrasi di daerah. Kedua, jumlah pegawai negeri yang besar di daerah mendorong mereka mengembangkan struktur organisasi yang besar agar dapat menampungnya dalam jabatan-jabatan struktural yang ada. Dilihat dari kepentingan birokrasi,

pengembangan struktur yang besar tentu menguntungkan.

Namun, dilihat dari

kepentingan publik sangat merugikan karena banyak anggaran yang kemudian terserap untuk pembiayaan birokrasi daripada untuk kepentingan publik. Disamping memerlukan pembiayaan yang tinggi, struktur yang besar dan kompleks juga cenderung mempersulit interaksi antara pemerintah dengan warganya. Pelayanan publik menjadi semakin rumit dan panjang. Ketiga, belum ada tradisi untuk melakukan evaluasi kinerja (performance

review) yang secara periodik menilai ketepatan antara struktur birokrasi dengan visi
dan misi daerah. Akibatnya, banyak daerah tidak memiliki visi dan misi yang jelas sehingga mereka dapat mengembangkan struktur birokrasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan daerah dan mengembangkan struktur berdasar berdasar kepentingan sempit dan jangka pendek. Analisis jabatan juga sangat jarang dilakukan.

Karenanya tidak mengherankan kalau daerah cenderung memiliki struktur yang besar dan kompleks. Pelaksanaan otonomi yang diharapkan dapat dijadikan sebagai peluang bagi daerah untuk merestrukturisasi birokrasi sehingga lebih efisien ternyata tidak menjadi kenyataan. Dengan melihat kondisi yang seperti ini, maka tidak mengherankan kalau banyak anggaran daerah yang terserap untuk membiayai struktur yang gemuk tersebut. Sejauh ini data Departemen Keuangan menunjukkan bahwa rata-rata

Propinsi, Kabupaten dan Kota di Indonesia mengalokasikan dana sekitar 77,45% pada tahun 2004, dan 76,43% pada tahun 2005 dari anggarannya untuk Belanja Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004
90

dan standar dalam pengembangan Organisasi perangkat daerah. Usulan Penyempurnaan 1. ketersediaan sumber daya aparatur. 32 Tahun 2004. Hal ini menjelaskan mengapa desentralisasi di Indonesia belum banyak memperbaiki kesejahteraan rakyat di daerah. Dengan cara tersebut setiap kementerian/LPNK akan mempunyai stakeholders yang jelas yang akan Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 91 . Perlu adanya pengetatan struktur organisasi daerah agar mempunyai struktur organisasi sesuai dengan prioritas kebutuhan pelayanan dasar serta sektor unggulan yang potensial dikembangkan di daerah yang bersangkutan. Untuk itu pengaturan bagi perangkat daerah yang efektif harus menjadi perhatian penting dalam penyempurnaan UU No. Untuk itu perlu adanya pemetaan atau mapping dari kementerian/LPNK di pusat untuk memetakan daerah-daerah dengan potensi unggulan atau prioritas pelayanan dasar sesuai dengan kewenangan kementerian/LPNK terkait. 2. kriteria. Pembengkakan organisasi juga berdampak pada melebarnya rentang kendali (span of control) dan menimbulkan masalah "inkoherensi institusional" karena fungsi yang seharusnya ditangani dalam satu kesatuan unit harus diderivasi ke beberapa unit organisasi sehingga pada akhirnya mengarah pada proliferasi birokrasi. Perlu ada pengaturan tentang norma. Kondisi tersebut lebih jauh juga berpotensi menimbulkan disharmoni atau bahkan friksi antar unit organisasi sebagai akibat tarik-menarik kewenangan. karakteristik potensi dan kebutuhan daerah. Akibatnya biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjadi semakin kecil. kemampuan keuangan daerah. dan pengembangan pola kemitraan antar daerah serta dengan pihak ketiga. Sedangkan dari besaran anggaran untuk belanja publik masih terdapat komponen biaya overhead. Pengaturan harus mendorong daerah untuk dapat membentuk organisasi perangkat yang sesuai dengan kewenangan yang dimiliki.Aparatur.

Analisis jabatan harus dapat memberi informasi kepada daerah tentang kebutuhan jabatan. Selain itu pengembangan jabatan fungsional juga dapat membantu pengembangan profesionaisme pegawai daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan daerah. klasifikasi jabatan. 3. Jika daerah mampu untuk mengembangkan jabatan fungsional secara signifikan maka daerah dapat mengurangi tekanan yang ada padanya untuk membuat struktur gemuk demi menampung tenaga kerja yang jumlahnya cukup besar. maka minat aparat daerah untuk menduduki jabatan struktural dapat ditingkatkan dan pengembangan profesionalisme aparat di daerah dapat dipercepat. Cara tersebut akan menghilangkan pola instruksi yang memaksakan daerah untuk membuat organisasi yang seragam di seluruh daerah. dan sistem informasi kepegawaian. 4. Besaran belanja pegawai yang sekarang ini berkisar 70-90 persen APBD sudah amat Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 92 . 5. Pengaturan organisasi perangkat daerah perlu memikirkan pengembangan jabatan fungsional secara signifikan. tapi akan sesuai dengan sektor unggulan dan prioritas pelayanan dasar dari daerah tersebut. Dengan mengembangkan ukuran kinerja yang jelas dan memberikan insentif berbasis pada kinerja. Perlu juga disusun pengaturan tentang insentif berbasis kinerja sehingga orientasi pegawai daerah yang cenderung untuk menduduki jabatan struktural dapat berubah. Perlu juga disusun pengaturan yang mendorong daerah melakukan Analisis jabatan dan menjadikannya sebagai dasar dalam mereformasi perangkat pemerintahannya yang dimilikinya. standar kompetensi jabatan. Perlu ada pengaturan yang membatasi besaran anggaran untuk belanja pegawai. Pengaturan tentang hal ini dapat dilakukan dengan menentukan besaran proporsi anggaran belanja pegawai terhadap APBD. sistem renumerasi.dilibatkan dalam pencapaian target nasional dari kementerian/LPNK tersebut. Pendekatan tersebut akan menciptakan pola asimetris antar daerah dalam menerapkan organisasi perangkat daerah. 6.

5/1974 Kecamatan memiliki kedudukan yang sangat kuat. karena desa diperlakukan sebagai kesatuan masyarakat hukum yang otonom berbasis adat dan tradisi. IV.3. Di daerah tertentu yang Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 93 . Namun. keberadaan dan fungsinya sangat tergantung pada daerah. Camat tidak lagi memiliki kewenangan hirarkhis terhadap Kepala Desa. dan UU 32/2004. Camat sebagai perangkat daerah berperan membantu Bupati/ Walikota menjalankan tugas desentralisasi dan tugas dekonsentrasi kemudian dilakukan oleh Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat. Kecamatan Dasar Pemikiran Peran dan fungsi Kecamatan mengalami pergeseran yang sangat berarti sesuai dengan konteks politik dan legal. Kecamatan semestinya dapat difungsikan sebagai salahsatu agen pelayanan atau menjadi intermediaries yang penting dalam hubungan antara warga dengan Kabupaten/ Kota. kecamatan memiliki peran yang strategis karena menjadi ujung tombak dari banyak kegiatan pemerintahan. Dalam UU N0. Anggaran untuk belanja pegawai setidak-tidaknya tidak boleh melebihi besaran anggaran yang disediakan untuk pelayanan publik. Dalam kedudukan yang seperti ini. dalam UU 22/1979 peran Kecamatan mengalami perubahan yang sangat mendasar.3. Kecamatan bukan lagi perangkat dekonsentrasi tetapi berubah menjadi perangkat daerah. Dalam UU 32/2004 Kecamatan tetap diperlakukan sebagai perangkat daerah dan karena itu. karena Kecamatan diakui sebagai wilayah administratif dan sebagai kepala wilayah Camat juga menjalankan tugas dekonsentrasi. sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.merugikan kepentingan publik di daerah. UU 22/1999. Pengaturan tentang masa transisi untuk mendorong daerah agar dapat memperkecil proporsi anggaran untuk belanja pegawai sangat diperlukan. Sebagai perangkat daerah. sebagaimana diatur dalam UU 5/1974.

memiliki lingkungan geografis yang luas dan akses terhadap pusat pemerintahan di Kabupaten sangat sulit Kecamatan dapat menjadi salah satu agen pelayanan publik dan menjadi intermediaries dalam hubungan antara pemerintah dengan warganya. sayang keberadaan Kecamatan selama ini belum memperoleh apresiasi yang wajar dan dimanfaatkan oleh Kabupaten/ Kota memfasilitasi pelayanan kepada warganya. potensi yang tersedia di Kecamatan sering memadai untuk dijadikan sebagai salah satu agen pelayanan pemerintah. Namun. status. Walaupun Camat sudah tidak lagi sebagai kepala wilayah. fungsi. Identifikasi Permasalahan Salah satu masalah utama dalam pengembangan kecamatan adalah ketidakjelasan tentang kedudukan Camat. Sedangkan. dan anggaran Kecamatan perlu diperjelas sehingga keberadaannya membawa manfaat bagi masyarakat di wilayahnya. yaitu kewenangan atributif untuk menjalankan fungsi pemerintahan umum. potensi yang tersedia di Kecamatan sebenarnya dapat diberdayakan untuk menjadi salah satu pilihan bagi Kabupaten/ Kota untuk memperbaiki kinerja pelayanan dan pemerintahannya. Dalam posisi seperti ini Camat seringkali menghadapi situasi yang sulit untuk dapat memainkan peran sesuai dengan harapan masyarakat. Bupati/ Walikota dapat melimpahkan sebagian kewenangannya kepada Camat untuk memberi pelayanan kepada warganya. Sedangkan. Kecamatan pada umumnya juga belum memiliki anggaran yang jelas. namun seringkali masyarakat dan warganya masih menganggap dan mengharapkan Camat untuk berperan sebagai kepala wilayah. Karena itu. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 94 . Sementara ekspektasi masyarakat untuk mengambil peran tertentu dalam pelayanan dan menjalankan fungsi pemerintahan umum sangat besar. kedudukan Camat sebagai perangkat daerah sekarang ini memiliki kewenangan yang terbatas. Namun. Belum banyak Kabupaten/ Kota yang melimpahkan kewenangan kepada Camat untuk menyelenggarakan pelayanan pemerintah yang berskala Kecamatan. Sebagai akibat dari ketidakjelasan peranannya.

Untuk melihat kedudukan Kecamatan dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. pengelolaan kebersihan. prasarana umum. Pelimpahan kewenangan bupati/walikota tersebut adalah untuk pelayanan publik yang berskala kecamatan dan sesuai dengan karakteristik Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 95 .5 Tahun 1974 Kecamatan diperlakukan sebagai perangkat dekonsentrasi dan sekaligus sebagai kepala wilayah. dan pelayanan lainnya sesuai dengan karakteristik kecamatan yang bersangkutan. kedudukan Kecamatan mengalami perubahan besar. perangkat serta sarana dan prasarana yang diperlukan. maka posisi Kecamatan dapat dilihat dari dua perspektif yang berbeda dalam mengelola kegiatan pemerintahan di daerah. Beberapa daerah memberdayakan kecamatan dengan memberikan kewenangan delegatif kepada Camat untuk menyelenggarakan pelayanan tertentu. Dalam UU No. administrasi kependudukan. Dalam perspektif ini Kecamatan dapat menjadi SKPD yang digunakan oleh daerah sebagai penyelenggara kegiatan pelayanan tertentu yang berskala kecamatan. Perspektif pertama menggunakan wawasan kewilayahan dalam melihat kedudukan dan peran Kecamatan.Analisis Secara paradigmatik. apakah mereka bersedia mendelegasikan sebagian perannya dalam penyelenggaraan pelayanan publik. penataan ruang. Kecamatan diberi kewenangan delegatif untuk mendekatkan pelayanan pada masyarakat. Sedangkan dalam UU 32/2004 Kecamatan diperlakukan sebagai perangkat daerah. sejak UU 22/1999 dan UU 32/2004 dikeluarkan oleh pemerintah. perizinan. peran Camat kemudian sangat tergantung pada tindakan yang diambil oleh Bupati/ Walikota. Sebagai perangkat daerah. Perubahan kedudukan yang mendasar ini tentu memiliki pengaruh terhadap keberadaan Kecamatan dan kontribusinya terhadap keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan di daerah. banyak Bupati/ Walikota yang tidak mau mendelegasikan kewenangannya kepada Camat sehingga peran Camat menjadi sangat terbatas. Sebaliknya. Untuk itu perlu diatur mengenai kewenangan delegatif minimal yang harus dilimpahkan kepada Camat dan kejelasan mengenai sumber pembiayaan. seperti pengelolaan kebersihan. Dalam perspektif ini.

kecamatan yang bersangkutan. Namun. dan transportasi mudah diperoleh maka keberadaan Kecamatan menjadi tidak begitu penting. Warga dapat berinteraksi dengan pemerintahnya di tingkat Kabupaten/ Kota dengan mudah dan murah. efisien. yang mengutamakan pendekatan sektoral dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. dan interaktif. Jika hal seperti ini terus berlanjut maka daerah akan sulit mengembangkan pemerintahan yang efisien. akses terhadap pelayanan di ibukota Kabupaten/ Kota sulit dan mahal. apakah berbasis sektoral. Karena itu daerah perlu didorong untuk memiliki orientasi yang jelas dalam pengembangan perangkat daerah dan pendekatan yang digunakan dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Daerah perlu memberi kewenangan delegatif kepada Kecamatan secara lebih jelas dan rinci. atau kombinasi dari keduanya. Daerah dapat mendorong 96 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 . Untuk daerah yang secara geografis cakupan wilayahnya sangat luas. kewilayahan. Konflik antara kepentingan wilayah dan sektor akan selalu terjadi dan kepentingan warga akan adanya pelayanan publik yang mudah diakses. Perspektif ini cocok digunakan menjelaskan peran kecamatan terutama untuk daerah yang memiliki wilayah geografis yang luas dan kendala transportasi bagi warganya untuk dapat mengakses pelayanan pada tingkat Kabupaten/ Kota. Dalam perspektif kedua. efektif. responsif. dan kendala transportasi masih sangat berarti. Yang menjadi masalah sekarang ini adalah ketika daerah mengembangkan struktur kelembagaan yang tidak jelas orientasinya. peran Kecamatan menjadi sangat terbatas. dan efektif akan sulit untuk diwujudkan. Kabupaten/ Daerah dapat mengembangkan pelayanan di tingkat Kota seperti pelayanan One-Stop Service (satu pintu) yang mengabaikan peran Kecamatan. akses terhadap pelayanan di Kota mudah dan murah. maka penguatan kelembagaan Kecamatan menjadi pusat pelayanan sangat diperlukan. Ketika pelayanan publik dan kegiatan pemerintahan dikelola secara sektoral dan akses masyarakat luas untuk mengakses pelayanan pada tingkat Kabupaten/ Kota sangat mudah maka pengembangan struktur birokrasi berbasis sektoral menjadi pilihan yang cocok. untuk daerah Kota yang wilayah geografisnya relatif sempit.

Untuk kawasan Kota yang wilayah geografisnya relatif sempit. 2. 3. Dalam hal ini daerah harus memberikan perangkat kelembagaan. daerah dapat mengembangkan pelayanan satu atap dan terpusat di Kota. dan lebih akuntabel. Sebagai SKPD peran Kecamatan perlu ditempatkan pada kedudukan yang jelas. tidak dikembalikan lagi menjadi wilayah administrasi pemerintahan seperti pada masa UU Nomor 5 Tahun 1974. Untuk daerah yang ingin menjadikan Kecamatan sebagai pusat pelayanan publik maka Bupati/ Walikota wajib melimpahan kewenangan delegatif tertentu kepada Camat. dan personel yang memadai kepada Kecamatan agar mereka dapat menjalankan perannya secara optimal. dan sarana transportasi mudah diperoleh. perijinan usaha kecil skala kecamatan dan pengawasan tata ruang dapat didelegasikan kepada Kecamatan. mudah. Tetap menjadikan kecamatan sebagai satuan kerja perangkat daerah. Beberapa pelayanan seperti: pengelolaan kebersihan.penyelenggaraan pelayanan publik yang tersentralisasi di Kota dengan menggunakan satu pintu. pembiayaan. Jika dari pertimbangan kewilayahan. dan transportasi keberadaan Kecamatan sebagai pusat pelayanan amat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan publik tertentu maka Kecamatan perlu diberdayakan sebagai pusat pelayanan publik pada skala kecamatan. sesuai dengan kebutuhan daerah. aksesabilitas. sehingga penyelenggaraan pelayanan publik menjadi murah. Dalam konteks ini daerah tidak memerlukan perangkat Kecamatan sebagai pusat pelayanan. pelayanan di kota mudah diakses. Untuk daerah yang seperti ini keberadaan Kecamatan yang kuat menjadi tidak relevan dan karena tugas utama Camat adalah membantu Bupati/ Walikota Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 97 . pemeliharaan prasarana umum. Usul Penyempurnaan Berdasarkan penjelasan di atas dapat disampaikan usulan penyempurnaan pengaturan mengenai kecamatan sebagai berikut : 1.

IV. 4. sehingga daerah kabupaten/ kota tidak dengan mudah membentuk kecamatan baru tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. dan pembubaran Kecamatan perlu diatur dengan ukuran dan kriteria yang jelas agar tindakan yang diambil oleh daerah benar-benar bermanfaat bagi kepentingan warga di daerah. pembentukan kecamatan perlu melalui proses persiapan sesuai tahap dan parameter yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. dan kepedulian PNS terhadap masalah bangsa menjadi sangat stretegis dalam pelaksanaan otonomi daerah.4. menunjukkan bahwa harapan tersebut masih jauh dari yang diinginkan. Pembentukan. Pelaksanaan otonomi daerah diharapkan dapat Namun.untuk melaksanakan fungsi pemerintahan umum. Sebagai salah satu pilar penyangga NKRI maka keberadaan dan kualitas dari PNS menjadi salah satu aspek strategis dalam mempertahankan kelangsungan NKRI. yang cenderung marak di berbagai daerah. Khusus untuk penambahan Kecamatan baru. Munculnya banyak miskonsepsi dalam memahami otonomi daerah telah membuat manajemen kepegawaian menjadi terkotak-kotak pada wilayah yang sempit dan Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 98 . Pengaturan yang memberi kesempatan kepada daerah untuk mengembangkan struktur kelembagaan dan perangkat daerah yang berbeda sesuai dengan kondisi daerahnya perlu diatur dengan jelas dalam UU ini. Aparatur Daerah Dasar Pemikiran Pegawai negeri sipil (PNS) adalah salah satu pilar utama dari NKRI. Selain itu. Kebijakan untuk meningkatkan profesionalisme. kenyataan mendorong dan memperkuat pencapaian tujuan tersebut. wawasan nasional. perlu dibuat pengaturan yang lebih ketat agar pembentukan Kecamatan baru benar-benar dilakukan untuk kepentingan masyarakat di daerah bukan hanya untuk kepentingan elit di daerah. penggabungan.

Manajemen kepegawaian harus dapat menjadikan PNS bertindak independen dari semua kegiatan politik dan melindungi mereka dari campur tangan kekuatan dan kekuasaan politik yang ada di daerah. Karena itu pendekatan terpadu perlu dikembangkan agar keduanya dapat berjalan bersama dan sinergis. Pemerintah dapat memulainya dari jabatan Rekrutmen dan promosi jabatan publik secara 99 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 . Lebih dari itu reformasi kepegawaian harus terintegrasi dengan reformasi birokrasi di daerah. dan kompetitif. Untuk mempertahankan PNS sebagai pilar NKRI maka pemerintah perlu mengembangkan manajemen kepegawaian yang bersifat nasional yang memungkinkan mobilitas pegawai antar daerah otonom berjalan dengan lancar. publik yang dinilai strategis. mewujudkan prinsip meritokrasi dan melakukan rekrutmen dan promosi berbasis pada kompetensi maka pemerintah perlu mengembangkan ukuran dan standar kompentesi untuk jabatan publik. Manajemen kepegawaian harus dapat meningkatkan kapasitas PNS untuk mengambil jarak yang sama terhadap semua kekuatan politik yang ada di daerah dan bertindak adil terhadap semua kelompok dan golongan yang ada di masyarakat. Peran PNS sebagai pilar dari NKRI hanya akan dapat diwujudkan kalau profesionalisme menjadi nilai penting dalam pengembangan kebijakan dan manajemen kepegawaian. Pemerintah harus dapat mengembangkan kebijakan dan manajemen kepegawaian yang mampu menjaga netralitas PNS terhadap partai politik dan kegiatan politik. Mobilitas pegawai antar daerah otonom bukan hanya penting untuk membangun wawasan nasional tetapi juga untuk peningkatan kapasitas pegawai itu sendiri.menjauhkan dari keinginan membangun aparatur yang berwawasan nasional dan profesional. Tour of duty and area karenanya harus menjadi bagian yang penting dalam perencanaan karir PNS dan pengembangan manajemen kepegawaian di daerah. Untuk dapat meningkatkan profesionalisme maka rekrutmen PNS dan penempatan mereka dalam jabatan publik harus dilakukan berdasarkan Untuk dapat meritokrasi dan berbasis kompetensi. terbuka. Manajemen kepegawaian di daerah harus menjadi bagian yang terintegrasi dengan manajemen kepegawaian nasional.

sebagai bagian dari tim sukses.14 Fenomena seperti ini tentu mempersulit upaya pengembangan profesionalisme aparatur daerah. sebagai akibat dari eforia Pilkada. dan kemampuan membayar untuk menduduki jabatan tersebut. Tidak adanya standar kompetensi untuk jabatan struktural dan fungsional mempersulit penerapan prinsip meritokrasi dalam rekrutmen dan promosi pejabat publik di daerah. Rekrutmen dan promosi harus berbasis pada jabatan. Analisis jabatan perlu dilakukan secara periodik untuk menentukan kebutuhan aparatur secara pas baik jumlah ataupun klasisifikasinya. 2002 dan GAS 2006 yang diselenggarakan oleh PSKK UGM menunjukan adanya penguatan subyektifitas dalam rekrutmen dan promosi pejabat publik pasca pelaksanaan otonomi daerah. Pelaksanaan pilkada yang membutuhkan sumberdaya yang besar dan mobilisasi masa yang sangat banyak telah memberi peluang bagi para calon kepala daerah untuk menarik para pejabat karir dalam struktur pemerintah di daerah untuk terlibat terlalu jauh dalam kegiatan pilkada. 14 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 100 . tanggungjawab. Kepala daerah memiliki ruang yang sangat besar untuk menempatkan pejabat publik sesuai dengan selera dan kepentingannya. ruang yang tersedia bagi kepala daerah sering dimanfaatkan untuk menempatkan pejabat daerah berdasarkan ukuran-ukuran subyektif seperti loyalitas.terbuka dapat dilakukan dengan memberi peluang yang sama kepada semua yang memenuhi persyaratan kompetensi untuk bersaing memperebutkan jabatan publik yang tersedia. dan pendukung pencalonan GDS. afiliasi politik. Dalam suasana politisasi yang sangat kuat sekarang ini. Besaran gaji dan insentif yang diberikan harus sebanding dengan beban kerja. Persaingan yang terbuka perlu didorong agar dapat menjadi insentif bagi PNS untuk meningkatkan kapasitas dirinya sesuai dengan aspirasi karir yang dimilikinya. Untuk mempercepat pengembangan profesionalisme maka sistim penggajian harus dikembangkan berdasarkan atas kinerja. menjadi pasangan calon kepala atau wakil kepala daerah. dan pencapaian kinerja. Identifikasi Permasalahan Rendahnya profesionalisme aparatur daerah menjadi persoalan utama dalam manajemen kepegawaian daerah.

Sedangkan tanpa aparatur yang profesional amat sulit membayangkan pelaksanaan otonomi daerah akan dapat mendorong terjadinya kemajuan daerah. Profesionalisme birokrasi menuntut aparatur memiliki pengalaman penugasan yang berbeda dalam bidang dan di wilayah yang berbeda. Fenomena seperti ini lazim terjadi di daerah dan membuat politisasi birokrasi di daerah menjadi sangat intens dan mengganggu upaya untuk mewujudkan aparatur yang profesional tidak berpihak pada kepentingan politik tertentu. Bagi para pejabat birokrasi pilkada juga menjadi peluang bagi mereka untuk dapat membangun akses terhadap kekuasaan politik yang diharapkannya nanti dapat mempercepat promosi mereka kedalam jabatan birokrasi yang lebih strategis.mereka sebagai kepala daerah. Masalah lain yang perlu diselesaikan dalam kepegawaian di daerah adalah rendahnya mobilitas aparat birokrasi di daerah. mobilitas pegawai antar daerah dikawatirkan membuat wawasan nasional dari para pejabat birokrasi daerah menjadi sangat kurang. Meluasnya praktik KKN melalui rekrutmen dan promosi pejabat publik di daerah sering mendorong daerah menjadi semakin tertutup dalam melakukan rekrutmen dan promosi pejabat publik di daerah. daerah. Rekrutmen yang tertutup membuat jabatan yang tersedia di satu daerah tidak dapat diakes oleh daerah lainnya. Rendahnya mobilitas pegawai antar daerah sering terkait dengan sistim rekrutmen yang tertutup dan berbau KKN. Kondisi seperti ini sering menutup kesempatan bagi PNS yang memiliki pengalaman dan kompeten di daerah lain untuk dapat bersaing secara wajar menduduki jabatan tersebut. Banyak pejabat birokrasi yang kemudian secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam proses pilkada dan menjadi bagian dari upaya pemenangan calon kepala daerah yang didukungnya. Pengaturan perlu dilakukan untuk mendorong adanya mobilitas pegawai antar daerah. mobilitas pegawai Setelah pelaksanaan otonomi Rendahnya antar daerah menjadi sangat rendah. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 101 . Hal ini tentu sangat merugikan dilihat dari kepentingan untuk mempertahankan integrasi nasional dan juga dari pengembangan profesionalisme aparatur daerah.

dan berdedikasi tinggi sebagai aparat negara dalam mengabdi pada masyarakat adalah harapan masyarakat luas yang tampaknya masih sangat jauh untuk menjadi realitas. Dalam rekrutmen pejabat di daerah sering terjadi Bupati/ Walikota/ Gubernur menempatkan pejabat kedalam jabatan publik tidak berdasar pada pertimbangan kompetensi dan profesionalisme tetapi menggunakan ukuran subyektif seperti afiliasi politik. profesional. 15 UU No. “Kepegawaian”. Dalam pilkada banyak Bupati/ Walikota yang menekan para pejabat karir seperti Sekda dan Kepala Dinas yang dibawahnya untuk melakukan berbagai tindakan politis yang seharusnya tidak dilakukan oleh mereka sebagai seorang birokrat yang menggunakan Walikotanya. Efuria demokrasi telah mendorong para politisi baik yang ada di DPRD ataupun di eksekutif (Bupati/ Walikota/ Gubernur) untuk melakukan intervensi kehidupan birokrasi untuk kepentingan politiknya. 32 Tahun 2004 belum memiliki pengaturan yang mampu mengarahkan pengembangan profesionalisme dari PNS di daerah.Analisis Memiliki PNS yang netral. Berbagai masalah dalam manajemen kepegawaian terkait dengan netralitas. rendahnya profesionalisme. upaya pencegahan dan pencarian solusi terhadap masalah ini perlu segera dilakukan. Untuk itu. kecenderungan menguatnya pertimbangan subyektif dalam rekrutemen dan penempatan pejabat publik sangat kuat. dengan menjadi tim sukses daerah untuk mendukung pencalonan dan Bupati/ Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 102 . kesamaan etnis. resources Misalnya. Setelah pelaksanaan otonomi daerah. Masih banyak ruang yang tersedia bagi berbagai pihak untuk melakukan inflitrasi politik dalam kehidupan birokrasi pemerintah di daerah. dan kekerabatan. paper tidak d iterbitkan 15 profesional. GDS 2002 dan GAS 2006 telah dilakukan di banyak kabupaten/ kota dan provinsi membuktikan bahwa subyektivitas dalam penempatan para pejabat publik di daerah sudah sampai pada titik yang sangat merugikan pengembangan profesionalisme di dalam birokrasi pemerintah. Belum tersedianya peraturan yang mengatur hubungan antara pejabat politik (elected officials) dengan pejabat karir memang menjadi salah satu sebab dari menguatnya politisasi birokrasi di daerah. dan mobilitas pegawai dapat dibaca dalam Siti Zuhro.

Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 103 . Untuk itu perlu dibuat kerangka hukum yang mengatur agar hak-hak dan kewenangan politik dari Gubernur/ Bupati/ Walikota tidak digunakan untuk kepentingan politik partai. Mereka berpikir bahwa akses terhadap kekuasaan dapat menjadi jalan tol bagi pengembangan karir mereka dalam birokrasi pemerintah di daerah. Kecenderungan para pejabat karir menjadi tim sukses Gubernur/ Bupati/ Walikota dalam pilkada baik secara terang-terangan atau diam-diam dan menggunakan sumberdaya publik untuk memenangkan calon yang didukungnya harus dihindari. Usulan Penyempurnaan Penyempurnaan UU No. terbuka. Para pejabat birokrasi berharap dengan menjadi tim sukses mereka akan memiliki akses terhadap kekuasaan dan memperoleh jabatan yang strategis. Untuk itu. Kecenderungan diatas harus diakhiri. 32 Tahun 2004 seyogyanya diarahkan pada pengembangan sistim kepegawaian daerah yang menghargai profesionalisme dan menjauhkan birokrasi pemerintah dari intervensi politik yang berorientasi pada kepentingan politik sempit dari aktor-aktor politik daerah. seperti Gubernur/ Bupati/ Walikota dan para anggota DPRD.Pada sisi lain. Hubungan antara pejabat karir dan politik di daerah harus diatur dengan jelas sehingga dinamika hubungan keduanya dapat mendorong peningkatan kinerja pemerintah daerah. Hubungan antara pejabat politik dengan pejabat karir harus diatur dengan jelas dan pengaturan itu harus dapat menjadi terwujudnya aparatur daerah yang profesional. banyak pejabat karir yang melihat pilkada sebagai peluang untuk melakukan manuver politik dengan mendukung kegiatan pencalonan Bupati/ Walikota/ Gubernur. Penyempurnaan juga dilakukan untuk mencegah para pejabat karir memanfaatkan peluang politik yang terbuka dengan adanya pilkada untuk membangun akses terhadap kekuasaan. Bagi para pejabat birokrasi ini membangun akses terhadap kekuasaan menjadi jalur yang lebih mudah dan cepat untuk mengembangkan karir daripada menunjukan kinerja dan profesionalismenya. rekrutmen pejabat birokrasi di daerah harus mengikuti prinsip-prinsip meritokrasi. dan konpetitif.

3. seperti kepentingan partai. Mendagri dan Gubernur atas nama pemerintah dapat mendistribusikan aparatur daerah yang memiliki jabatan strategis di dalam wilayah yang menjadi kewenangannya. Hal yang sama dapat juga dilakukan untuk jabatan fungsional dan profesional strategis tertentu. takterpisahkan dari aparatur negara. dan pribadi tetapi harus dilakukan dalam rangka mewujudkan aparatur daerah yang profesional. perencana. Membuat pengaturan yang jelas dan tegas tentang hubungan antara pejabat politik dan aparat birokrasi di daerah yang mampu menjamin terwujudnya aparatur daerah yang profesional. wakil pemerintah pusat harus diberi kewenangan Gubernur sebagai untuk merekrut. Gubernur dapat memindahkan aparatur yang menduduki jabatan struktural strategis. Perlunya pengaturan mengenai standard kompetensi dalam jabatan-jabatan dalam jajaran birokrasi pemerintah daerah. perlu ada pengaturan yang memungkinkan pemerintah mengendalikan pengembangan dan distribusi aparatur daerah dengan klasifikasi dan jabatan tertentu. Penggunaan hak-hak politik yang dimiliki oleh Gubernur. dan profesional yang dinilai strategis dan dapat dimobilisasi untuk kebutuhan daerah dan nasional. ke kabupaten/ kota yang ada di wilayahnya untuk pengembangan kapasitas aparatur dan daerah. Untuk itu. terutama untuk jabatan yang Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 104 . fungsional. dan mendistribusikan aparatur daerah dengan klasifikasi dan jabatan tertentu di wilayahnya. mengembangkan. dan keahlian langka lainnya. peduli kepada kepentingan publik. dan berwawasan kebangsaan. seperti: dokter spesialis. Perlu ada pengaturan tentang klasifikasi jabatan strategis baik struktural. Bupati/ Walikota tidak boleh dilalukan untuk kepentingan politik yang sempit.Untuk itu ada beberapa pengaturan yang perlu dibuat: 1. seperti kepala SKPD. kelompok. Menteri Dalam Negeri atas nama pemerintah dapat merekrut dan mendistribusikan aparatur daerah dengan klasifikasi dan jabatan tertentu secara lintas provinsi. 2. 4. akuntan. Mengembangkan terintegrasi konsep sistim pengembangan Aparatur daerah aparatur daerah adalah bagian yang yang secara nasional.

6. IV. Adanya sistim rekrutmen dan promosi yang terbuka akan dapat mendorong para pejabat birokrasi memiliki akses yang sama terhadap peluang karir yang tersedia.5 Peraturan Daerah Dasar Pemikiran Setiap daerah otonom memiliki kewenangan mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Mereka yang berada di satu kabupaten/ kota akan dapat mengetahui dan memiliki akses terhadap lowongan yang ada di daerah lainnya. Sedangkan sistim rekrutmen yang kompetitif diharapkan dapat mendorong terjadinya kompetisi yang sehat dan wajar dalam promosi jabatan birokrasi pemerintah. berupa Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 105 . Keterbukaan juga dapat menjamin rekrutmen dan promosi menjadi lebih fair dan jujur. Kompetisi yang sehat akan mendorong mereka melakukan investasi untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan aspirasi karir mereka masing-masing. Ukuran ini juga dapat mendorong para pegawai untuk mengembangkan kompetensinya sesuai dengan aspirasi karir masing-masing. Kewenangan ini memberi daerah hak untuk membuat produk hukum untuk menyelenggarakan otonomi yang dimilikinya. Ukuran kompetensi yang diperlukan untuk menduduki jabatan strategis tertentu harus didefinisikan dengan jelas.strategis. Mendorong daerah untuk mengembangkan sistim rekrutmen dan promosi yang terbuka. berbasis pada kompetensi dan posisi. 5. Definisi ukuran kompetensi penting dalam perencanaan dan pengembangan karir pejabat birokrasi pemerintah. dan apolitis. Daerah didorong untuk mampu mengembangkan sistim insentif berbasis pada kinerja. terbuka. Sistim yang berbasis kompetensi kalau dilakukan dengan konsisten dapat menjadi landasan bagi daerah dalam membangun aparatur yang profesional. kompetitif. kompetitif. Mendorong daerah mengembangkan manajemen kepegawaian yang mampu mendorong adanya profesionalisme.

Namun demikian.peraturan daerah. Dengan demikian ketaatan terhadap berbagai peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi menjadi prasyarat yang utama dalam penyusunan Peraturan Daerah. Disparitas Pengujian Peraturan Daerah: Suatu Tinjauan Normatif http://www. Identifikasi Permasalahan Dalam negara kesatuan produk hukum yang dihasilkan oleh daerah dibuat dalam upaya melaksanakan berbagai peraturan perundang-undangan yang lebih 16 Yance Arizona .pdf dalam 106 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 . serta c] penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi 16 . b] menampung kondisi khusus daerah.org/database/artikel/lain/Disparitas Pengujian Perda.legalitas. peraturan daerah sebagai bagian dari sistim peraturan perundangan-undangan tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundangan yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi (lex superiori derogat legi inferiori). Bahkan. Pasal 12 UUNo. Terkait dengan muatan peraturan daerah. Representasi berbagai kelompok kepentingan dalam proses pembuatan peraturan daerah penting untuk dijaga agar peraturan daerah sungguh-sungguh menggambarkan kebutuhan daerah dan mampu mendorong pembangunan daerah sebagaimana diharapkan oleh warganya. konsultasi publik dalam pembuatan peraturan daerah wajib dilakukan. 10/2004 menyatakan bahwa muatan dari peraturan daerah adalah: a] penyelenggaraan otonomi dan tugas pembantuan. Agar peraturan daerah yang dibuat oleh daerah mencerminkan aspirasi dan kebutuhan daerah maka daerah harus melibatkan para pemangku kepentingan yang ada di daerahnya dalam membuat peraturan daerah. Untuk itu. peraturan daerah seharusnya dibuat untuk melaksanakan peraturan perundangan-undangan yang lebih tinggi. Pemerintah memiliki kewenangan untuk menjaga konsistensi dan koherensi antara peraturan daerah dengan peraturan yang lebih tinggi melalui fungsi pembinaan dan pengawasan (Binwas). Daerah membentuk peraturan daerah untuk mengatur dan mengurus fungsi-fungsi pemerintahan yang telah diserahkan kepada daerah.

karena tidak ramah terhadap investasi dan menciptakan ekonomi biaya tinggi. Sumber: Denny Indrayana. Dalam menyikapi perda seperti ini UU 32/2004 sebenarnya telah memiliki pengaturan tentang 17 kewenangan pemerintah untuk membatalkan Peraturan Salah satu contohnya adalah Perda Syariat. Namun. dalam kenyataannya selama pelaksanaan otonomi daerah banyak sekali peraturan daerah yang bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan bertentangan dengan kepentingan umum. Lebih dari itu.org/indonesia/images/stories/SUPLEMENGATRA/gatraedisi-vii. Denny Indrayana menemukan fakta bahwa dalam pembuatannya terjad i manipulasi dengan mendatangkan orang untuk membawa aspirasi yang kemudian diklaim sebagai aspirasi masyarakat.pdf Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 107 . wanita kristen yang akan menghadiri acara resmi yang diadakan puskesmas setempat di sodorkan jilbab. Padahal. di ayat 2 menegaskan bahwa masyarakat yang bukan islam pakaiannya disesuaikan dengan agamanya masing-masing. 18 Berbagai kelompok kepentingan sering mengeluh karena banyak masukan dan pemikiran yang disampaikan dalam public hearing di DPRD tidak diakomodasi tanpa alasan yang jelas. Keterlibatan masyarakat dalam proses pembuatan peraturan daerah sering hanya dijadikan sebagai formalitas dan tidak substantif. peraturan daerah sering kurang mampu menjawab berbagai persoalan dan kebutuhan masyarakat.17 Berbagai masalah lain tersebut terjadi karena pembentukan peraturan daerah sering tidak melibatkan pemangku kepentingan.The Wahid Institute.wahidinstitute. Akibatnya. Depancasilaisasi Lewat Perda SI. Bahkan. bekerja sama dengan The Asia Foundation dan Majalah GATRA. Di Desa Garuntungan. Kecamatan Kindang.pdf 18 Menyangkut Perda Syariat.tinggi. http://www. Masalah lain adalah kecenderungan peraturan daerah dibuat untuk mencapai tujuan yang sempit dan jangka pendek. meskipun masyarakat tahu bahwa wanita tersebut beragama kristen. banyak kelompok dalam masyarakat yang mengeluh dan merasa dirugikan oleh munculnya berbagai peraturan daerah yang dinilai tidak berwawasan kebangsaan. Ada Unsur Melecehkan Al Quran dan Hadist. http://www. karena dinilai menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi daerah. GAS 2006 menunjukkan proses pembuatan peraturan daerah cenderung sangat elitis dan karenanya. Sumber .wahidinstitute. Banyak perda terkait dengan pajak dan retribusi yang dibuat oleh daerah cenderung memperburuk iklim investasi. ketika peraturan daerah tersebut ditetapkan banyak protes dan resistensi muncul dari berbagai kelompok masyarakat. karenanya tidak boleh bertentangan dengan perundang-undangan yang lebih tinggi. Banyak peraturan daerah yang kemudian terpaksa dibatalkan oleh pemerintah. pasal 13 perda tersebut menyebutkan bahwa perda hanya berlaku bagi masyarakat islam. Bulukumba.org/indonesia/images/stories/SUPLEMENGATRA/gatraedisi-vii.

Sedangkan argumentasi dari pilihan kedua adalah bahwa peraturan daerah adalah produk hukum yang dikeluarkan oleh lembaga legislatif Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 108 . seperti peraturan daerah. Namun mekanismenya terlalu rumit sebab pembatalan Perda harus dengan Peraturan Presiden dan dibatasi waktu 60 (enam puluh) hari. gagal memenuhi azas pembentukan peraturan daerah. Kontroversi juga banyak terjadi di daerah sebagai akibat dari ketidakpuasan pemangku kepentingan di daerah terhadap peraturan daerah. Demonstrasi dan protes dari berbagai kelompok kepentingan di daerah yang menuntut pencabutan peraturan daerah dan peraturan kepala daerah sering terjadi di banyak daerah. Karena itu pemerintah berhak menilai apakah daerah telah menggunakan kewenangan yang diberikannya sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UU. Bahkan. Analisis Banyak studi menunjukan bahwa keterbatasan dalam memahami kedudukan produk hukum daerah dalam konteks peraturan perundang-undangan. orientasi pada kepentingan yang sempit dan berjangka pendek. Argumentasi dari pilihan yang pertama adalah bahwa dalam negara kesatuan daerah memperoleh kewenangan sebagai akibat dari penyerahan kewenangan yang diberikan oleh presiden sebagai kepala pemerintahan. ada dua pilihan yang tersedia yaitu: executive review atau judicial review. dan kegagalan memahami kepentingan umum sering membuat produk hukum daerah. Dalam mengatasi persoalan yang muncul terkait dengan peraturan daerah yang dinilai merugikan kepentingan umum atau bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi.daerah yang dinilai bertentangan dengan kepentingan umum dan bertentangan dengan perundangan yang yang lebih tinggi. tidak jarang kasus pertentangan antar produk hukum daerah dengan produk hukum yang lebih tinggi ini menyeret pejabat daerah ke pengadilan. Konflik antar susunan pemerintahan sering terjadi karena peraturan daerah dan peraturan kepala daerah bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi.

Untuk mencegah agar perda dan peraturan KDH tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang lebih tinggi maka pemberdayaan pemerintahan Kontroveersi tentang kedudukan DPRD sebagai lembaga legislatif daerah atau sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah dapat dibaca dalam bab tentang DPRD. 20 Data yang diperoleh dari Departemen Keuangan.daerah 19 . Pengalaman selama ini dengan menerapkan executive review pemerintah masih kesulitan mengendalikan pembentukan peraturan yang dinilai merugikan kepentingan umum. dan tanpa mengurangi hak-hak daerah untuk membuat produk hukum yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah. Sebagai ilustrasi. sampai Desember 2006 terdapat 9. Dari sejumlah itu Departemen Keuangan sudah merekomendasikan kepada Departemen Dalam Negeri untuk membatalkan 895 Perda yang terkait dengan pajak dan retribusi. karenanya tidak dapat dibatalkan dengan mudah oleh pemerintah. Salah satunya karena pencabutan peraturan daerah menurut UU 10/2004 dilakukan dengan peraturan presiden. pada tahun 2008 Direktorat Jendral Perimbangan Keuangan Daerah telah mengevaluasi lebih dari 7200 peraturan dan rencana peraturan daerah dan merekomendasi 2000 perda tentang pajak dan retribusi untuk dicabut karena merugikan kepentingan umum atau bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. dari 1999-Maret 2006 telah membatalkan 506 peraturan daerah dan menilai 393 peraturan daerah lainnya sebagai layak dibatalkan21. Melihat banyaknya kasus penerbitan peraturan daerah yang dinilai melanggar kepentingan umum maka pengaturan pencabutan peraturan daerah yang bermasalah perlu dibuat lebih sederhana. Persoalan menjadi semakin rumit dan kompleks karena jumlah peraturan daerah yang bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi atau bertentangan dengan kepentingan umum tiap tahunnya dapat berjumlah ribuan.id/konten. efisien.php?nama=Berita&op=search&query=pem batalan%20perda Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 109 .go.617 Perda yang terkait dengan perizinan. pajak dan retribusi di daerah. Walaupun daerah menerima pelimpahan kewenangan dari pemerintah mereka dapat juga melakukan judicial review jika keberatan terhadap tindakan yang dilakukan oleh pemerintah yang membatalkan peraturan daerah yang dibentuknya.20 Departemen Dalam Negeri. Dari jumlah ini sampai akhir tahun 2007 sejumlah 761 perda telah dibatalkan 21 19 http://www. Perdebatan tentang bentuk pengawasan terhadap peraturan daerah tentu menambah kerumitan dari masalah yang dihadapi sekarang ini dalam pembentukan peraturan daerah.depdagri.

Sebagaimana ditemukan dalam berbagai penelitian. Usulan Perubahan 1. Peraturan daerah yang terkait dengan kepentingan umum dan dampak dari kesalahan dalam peraturan daerah langsung dirasakan oleh masyarakat dan ketika kerusakan terjadi tidak mudah dikembalikan.daerah melalui peningkatan kapasitas pembentukan peraturan daerah perlu dilakukan. Mengingat banyaknya kasus peraturan daerah yang bermasalah yang tidak mungkin diselesaikan dengan peraturan presiden maka Undang Undang pemerintah daerah dapat membuat pengaturan yang lebih sederhana dengan melimpahkan kewenangan presiden dalam pengendalian peraturan daerah kepada Menteri Dalam Negeri untuk peraturan daerah provinsi dan Gubernur untuk peraturan daerah kabupaten/ kota. Sebagai pihak yang melimpahkan 110 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 . Karena itu penguatan kapasitas teknis dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi kesalahan dalam pembentukan peraturan daerah dan peraturan KDH. tenggang waktu kewenangannya ( rationae temporis ). wilayah wewenangnya (rationae locus). Dalam menyelesaikan persoalan terkait dengan banyaknya peraturan daerah yang bermasalah. dan akuntabel. pemerintah dapat menggunakan asas preventif dan asas represif. seperti antara lain: peraturan daerah tentang pajak dan retribusi. KDH dan anggota DPRD yang berwenang untuk secara bersama-sama membentuk peraturan daerah sering tidak memahami berbagai masalah teknis dalam pembentukan peraturan daerah dan peraturan KDH. tata ruang. Sedang untuk peraturan daerah lainnya asas represif lebih cocok untuk diterapkan karena lebih efisien. Peningkatan kapasitas teknis pemerintahan daerah dalam memahami materi kewenangan yang dimilikinya (rationae materie). mudah. dan prosedur pembentukannya. Perlu ditegaskan secara jelas bahwa fungsi Perda sebagai produk hukum daerah adalah penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi yang dibentuk untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang telah dilimpahkan ke daerah. dan APBD maka asas preventif dapat diberlakukan.

Pembatalan perda kabupaten/kota untuk efisiensi dapat dilimpahkan oleh Presiden kepada |Gubernur selaku wakil pusat. 2. Selebihnya seharusnya menggunakan asas represif. Pengaturan mengenai penggunaaan asas preventif dan asas represif dalam pembatalan peraturan daerah dan produk hukum daerah lainnya perlu dibuat dengan jelas. Pemerintahan daerah wajib membuat program peraturan daerah (Proturda) dan mensosialisakan kepada warga di daerahnya sehingga mereka mengetahui dengan jelas mengenai peraturan daerah yang akan dibentuk di daerahnya. 4. dan tata ruang. Asas preventif sebaiknya hanya dilakukan pada peraturan daerah dalam bidang tertentu. 3.kewenangan kepada daerah pemerintah tentu dapat membatalkan peraturan daerah yang dinilai bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi dan kepentingan umum (executive review). Mekanisme ini Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 111 .kepentingan yang terkait. Untuk perda provinsi Presiden melimpahkan pembatalannya kepada Menteri Dalam Negeri dan apabila tidak puas dapat melakukan “appeal” ke Presiden. Pertimbangan untuk menggunakan asas represif atau preventif tergantung pada dampak dari kerugian yang ditanggung oleh masyarakat dan risiko pemulihan dari dampak negatif dari penerbitan peraturan daerah yang bermasalah. terbuka. APBD. Pengaturan yang lebih jelas tentang mekanisme dan prosedur pembatalan perda yang bertentangan dengan peraturan perundangan perlu dibuat sederhana. dan memperhatikan kedudukan dan susunan pemerintahan yang ada. Hak-hak warga dan pemangku kepentingan dalam proses pembentukan Perda harus dijamin sehingga materi Perda benar-benar merefleksikan kepentingan umum. seperti perda tentang pajak dan retribusi daerah. KDH dan DPRD dalam membentuk peraturan daerah perlu melibatkan pemangku. Perlu ada pengaturan yang lebih jelas mengenai hak-hak warga untuk terlibat dalam proses pembuatan peraturan daerah. menggunakan kriteria yang jelas. Namun apabila daerah merasa kurang puas dapat melakukan “appeal” ke Menteri Dalam Negeri.

Dalam UU ini diatur mengenai perencanaan jangka panjang. ada dua jenis perencanaan yang dibuat oleh pemerintah. 6 Perencanaan Pembangunan Daerah Dasar Pemikiran Di Indonesia. yang diatur dalam UU 26/2007 tentang Penataan Ruang. Prinsip yang dikedepankan dalam UU ini adalah harmonisasi dalam pemanfaatan untuk ruang. Dalam UU ini. dan pengawasannya. pelaksanaan. 5. Perencanaan yang pertama diatur dalam dalam UU25/2004. Perencanaan pembangunan kemudian diterjemahkan dalam kebijakan penganggaran. dan kabupaten. sehingga lebih mengesampingkan kebebasan daerah mengeksploitasi ruang untuk 112 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 . provinsi. Kedua jenis perencanaan ini memiliki keterkaitan yang erat satu sama lain tetapi sekaligus memiliki perbedaan yang tegas.merupakan “executive review” dan dapat diikuti dengan “yudicial review” ke Mahkamah Agung. sebagai instrumen investasi pemerintah. perencanaan pembangunan nasional dan perencanaan tata ruang. Kemudian diatur juga mengenai harmonisasi antara perencanaan oleh pemerintah pusat. penataan ruang diselenggarakan oleh Negara melalui berbagai jenjang pemerintahan tetapi tetap melibatkan peran masyarakat dalam pengaturan. serta harmonisasi dan sinkronisasi antar jenjang waktu perencanaan tersebut./kota. jangka menengah. yang mengatur tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Jenis perencanaan yang kedua adalah perencanaan tata ruang (spatial planning). maka setiap perda sebelum diundangkan dalam lembaran daerah harus mendapatkan nomor registrasi yang dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri untuk perda provinsi dan pemda provinsi untuk perda kabupaten/kota. pembinaan. dan tahunan. Untuk memudahkan pemerintah mengetahui jumlah perda yang diterbitkan oleh daerah. IV. sehingga membentuk suatu sistem perencanaan pembangunan nasional yang harmonis.

Kedua. disinsentif. Akibatnya. sanksi administratif. diharapkan dapat memberi dukungan implementasi terhadap kedua undang-undang itu. pemerintah menggunakan berbagai instrumen pengendalian: insentif. konsistensi dan sinerji dalam pembangunan daerah belum dapat secara optimal diwujudkan. kebijakan pembangunan daerah sebagaimana dinyatakan dalam RPJMD dan RKPD sering belum dikaitkan dengan rencana tata ruang daerah.32/2004 perlu dijaga konsistensinya dengan kedua undang-undang perencanaan diatas dan bahkan. Selama ini banyak daerah yang perencanaan pembangunan daerahnya belum mengacu kepada rencana pembangunan provinsi dan nasional. Hal ini karena karakteristik ruang yang bersifat kontinum dan tidak dibatasi oleh wilayah administratif. Dalam rangka menjamin terjadinya harmonisasi. namun dalam pelaksanaannya masih ada beberapa hal memperlukan penyempurnaan. Sebagai konteks yang perlu dicatat untuk masukan ke dalam revisi UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah bahwa segala ketentuan yang akan memuat mengenai perencanaan. sangsi perdata. Pengintegrasian antara dokumen RPJMD dan RKPD dengan dokumen tata ruang Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 113 . masih banyak daerah yang belum menggunakan rencana tata ruang yang lebih tinggi sebagai dasar dalam mengembangkan kegiatan pembangunan daerahnya. Dalam perencanaan tata ruang. Identifikasi Permasalahan Walaupun UU 32/2004 telah mengatur perencanaan pembangunan secara cukup rinci. hendaknya mengacu dan tidak bertentangan dengan UU 25/2004 dan UU 26/2007. dan pidana. Pengaturan tentang perencanaan daerah yang akan dibentuk dalam revisi UU N0. Keduanya adalah undang-undang yang lebih khusus mengatur perencanaan. Pengendalian dalam perencanaan tata ruang relatif lebih ketat karena ruang adalah sumberdaya yang akan menjadi obyek pemanfaatan untuk mencapai tujuan pembangunan. keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan pembangunan daerah dengan pembangunan nasional dan antara perencanaan kabupaten/ kota dengan perencanaan provinsi masih perlu ditingkatkan.kepentingannya semata. Pertama.

dalam mendefinisikan masukan untuk kegiatan pembangunan daerah sering belum memasukan masukan diluar pendanaan. keluaran. dan masukan. Akibatnya. seperti aset dan peraturan perundangan yang spesifik dibuat untuk mendukung kegiatan pembangunan. dan hasil yang diharapkan belum dapat diamati dengan mudah oleh para pelaksana dan pemangku kepentingan. sumber daya alam yang pengelolaannya dikuasakan pada daerah sebagai masukan yang penting dalam pembangunan daerah membuat kegiatan pembangunan daerah cenderung menguntungkan para pengusaha besar di daerah. memiliki dimensi ruang belum Kegiatan pembangunan yang dapat ditempatkan dalam lokasi yang telah ditentukan dalam rencana tata ruang. tanah. Belum dimasukannya aset seperti barang milik daerah. banyak kegiatan pembangunan daerah yang kurang sesuai dengan rencana tata ruang yang telah dibuat dan menimbulkan berbagai masalah lingkungan yang merugikan kepentingan masyarakat. Ketiga. Para perencana pembangunan daerah sering mengalami kendala untuk membuat rencana pembangunan daerah yang berbasis pada informasi yang akurat dan reliabel karena keterbatasan data yang dimilikinya. Kemampuan untuk mengisi rencana tata ruang dengan kegiatan pembangunan yang sesuai masih sangat rendah. Keempat. menunjukan terjadinya penguasaan aset daerah yang Banyak kasus dalam digunakan pembangunan daerah yang manfaatnya kurang dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Bahkan. banyak dokumen rencana pembangunan daerah yang belum dibuat atas dasar data yang akurat dan reliabel. Karena itu definisi tentang masukan untuk kegiatan pembangunan seharusnya mencakup tidak hanya pendanaan tetapi juga aset dan sumberdaya lainnya yang dikuasai oleh daerah. Akibatnya keterkaitan antara masukan.sering belum dapat dilakukan dengan optimal. Tidak tersedianya data yang lengkap dan dikumpulkan secara berkala membuat para perencana mengalami kesulitan dalam membuat rencana Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 114 . dokumen rencana pembangunan daerah sering belum secara jelas memuat secara rinci hasil pembangunan yang diharapkan (outcomes). keluaran yang dihasilkan.

Akibatnya tidak akan terjadi kontinuitas perencanaan dan pembangunan di daerah dan pada gilirannya akan menganggu pencapaian target pembangunan nasional secara keseluruhan. paper tid ak diterbitkan 115 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 . Masing-masing daerah berjalan sesuai dengan rencana dan prioritasnya sendiri-sendiri. Akibatnya sangat sulit untuk merealisasikan target-target nasional yang ditetapkan pemerintah pusat karena adanya fragmentasi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembangunan. RJPMD. Keban. Revisi UU 32/2004 diharapkan 22 Jeremias T. dimana UU 25/2004 mendefinisikan RKPD sebagai rencana kerja pembangunan daerah sementara UU 32/2004 mendefinisikan RKPD sebagai rencana kerja pemerintah daerah.25 Tahun 2004 tentang perencanaan pembangunan nasional mengatakan bahwa RPJMD cukup disahkan melalui peraturan kepala daerah. UU 32/2004 dan UU N0. RKPD. Keenam. dalam tataran empirik dewasa ini kurang tercipta sinerji dan harmonisasi antara perencanaan pembangunan pusat dan daerah dan antara daerah. Kelima. dan Renja SKPD namun keduanya memiliki pengaturan yang berbeda terkait dengan basis legalitas dari dokumen perencanaan dan definisi dari konsep yang dipergunakan. “Perencanaan Pembangunan Daerah”. Kondisi tersebut diperparah lagi oleh adanya pergantian elit daerah baik kepala daerah maupun DPRD dengan prioritas yang mungkin berbeda dengan elit pendahulunya. Perbedaan konsep RKPD di dalam kedua UU tersebut.pembangunan yang mampu menjawab secara tepat masalah yang berkembang di daerah. UU 32/2004 menentukan bahwa RPJMD harus disahkan melalui peraturan daerah sementara UU N0. Perbedaan tersebut sering membuat kebingungan aparat di daerah. kebingungan sering terjadi di daerah terkait dengan sumber legitimasi dari RPJMD. 25/2004 telah mengatur perlunya daerah membuat RPJPD. Analisis Kesulitan pemerintah dalam menjaga konsistensi perencanaan pembangunan daerah dengan nasional dan antar daerah telah lama dirasakan oleh banyak pihak22.

dapat memberi solusi terhadap perbedaaan tersebut sehingga daerah dapat memiliki dasar hukum yang jelas dalam menyiapkan dokumen perencanaan. Tidak adanya pengaturan yang jelas tentang keterkaitan antara rencana pembangunan dengan rencana tata ruang juga sering menjadi sumber dari keengganan daerah untuk mengisi rencana tata ruang daerah. Selama ini banyak daerah yang mengabaikan pentingnya inventarisasi dan penilaian aset dalam merencanakan kegiatan pembangunan daerah. keluaran. Akibatnya. dan masukan sering membuat para pelaksana dan pemangku kepentingan mengalami kesulitan untuk memahami rasionalitas dari kegiatan pembangunan daerah. Pengaturan ini diharapkan dapat juga mendorong terintegrasinya pembangunan daerah bukan hanya dengan rencana tata ruang tetapi juga dengan rencana pembangunan nasional. Tidak tersedianya data yang mengukur hasil pembangunan yang diharapkan (outcomes). kegiatan pembangunan daerah dengan rencana tata ruang yang ada sering tidak nyambung dan menghasilkan masalah baru yang merugikan kepentingan publik di daerah. Adanya pengaturan yang mengamanatkan daerah untuk mengisi perencanaan tata ruang dengan kegiatan pembangunan sosial ekonomi yang relevan akan dapat mendorong daerah untuk tunduk pada dokumen tata ruang yang dimilikinya. Untuk mengurangi praktik KKN dalam perencanaan maka perlu pengaturan yang mengharuskan dokumen rencana pembangunan daerah memuat ketiga komponen tersebut diatas. Disamping itu. pengaturan perlu dibuat untuk memastikan bahwa daerah memperhitungkan masukan diluar pendanaan dalam kegiatan pembangunan daerah. Pemuatan data tersebut akan dapat membuat para pemangku kepentingan memahami rasionalitas kegiatan pembangunan daerah. Hal ini juga memberi peluang kepada para perencana dan pelaku pembangunan untuk melakukan praktik KKN dengan menitipkan proyekproyek pembangunan yang relevansinya dengan prioritas pembangunan daerah amat rendah. Terbatasnya informasi dan data yang valid dan terbarukan menjadi salah satu penyebab dari rendahnya kualitas perencanaan pembangunan daerah. Aset Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 116 .

Aset tersebut sering dianggap sebagai given dan karenanya penilaian yang wajar dari aset tersebut dan kontribusinya terhadap pembangunan daerah belum dihargai secara wajar. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 117 . Analisis terhadap PDRB dan mata pencaharian penduduk serta pemanfaatan lahan dapat dijadikan acuan dalam menentukan sector unggulan daerah tersebut. Kementerian/LPNK terkait dapat memetakan daerah-daerah mana yang mempunyai masalah mendasar dalam arti dibawah rata-rata nasional atau dibawah SPM dalam pencapaian pelayanan dasarnya. keluaran. Untuk menciptakan sinerji pembangunan pusat dengan daerah dapat dimulai dari mapping urusan dann kelembagaan yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintahan daerah. dan terbarukan secara berkala maka kualitas perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembangunan akan menjadi semakin baik. sumberdaya alam. Hasil pemetaan tersebut akan diikuti dengan pembentukan kelembagaan daerah yang akan mewadahi urusan yang terkait dengan sector unggulan dan pelayanan dasar prioritas di daerah tersebut. Dengan adanya data dasar yang lengkap. maka daerah harus didorong untuk melakukan dokumentasi data yang penting bagi kegiatan perencanaan pembangunan. Akibatnya.daerah atau aset negara yang dikuasakan pengelolaannya kepada daerah kurang diperhitungkan dalam pembangunan daerah. sumberdaya alam. masukan baik pendanaan ataupun diluar pendanaan seperti barang daerah. relevan. Setiap kementerian/LPNK akan melakukan pemetaan daerah provinsi atau kabupaten/kota yang mempunyai sector unggulan sesuai bidang kerja kementerian/LPNK terkait. dan aset-aset lainnya yang pengelolaannya dikuasakan pada daerah sangat penting didokumentasikan dengan baik. dan barang daerah yang kemudian dimanfaatkan oleh pihak swasta yang manfaatnya bagi kepentingan publik belum dapat dirasakan secara meluas. Data tentang indikator pencapaian hasil pembangunan. Untuk mendorong daerah melakukan berbagai perubahan dan perbaikan sebagamana tersebut diatas. Demikian juga dengan urusan pemerintahan yang bersifat wajib yang terkait dengan pelayanan dasar. Data-data tersebut perlu dikumpulkan secara berkala dan bersifat terbuka bagi pemangku kepentingan. banyak pemanfaatan aset daerah berupa tanah.

Dengan cara tersebut akan tercipta sinerji dan harmonisasi perencanaan pembangunan antara pusta dan daerah dalam pencapaian target nasional dalam bidang pembangunan tertentu. Perlu ada pengaturan yang mendorong daerah untuk menjamin keterkaitan. 4. 3.Dengan cara demikian setiap kementerian/LPNK akan mengetahui secara pasti daerah-daerah yang akan menjadi stakeholders nasional. 5. Indikator hasil pembangunan yang diharapkan. dan masukan harus dirumuskan dengan jelas dan menjadi dasar dalam pengembangan sistim informasi daerah. dan masukan dalam dokumen RPJMD dan RENJA SKPD. dan sinerji kegiatan pembangunan antar daerah dan antara kegiatan pembangunan daerah dengan tujuan pembangunan nasional. dan masukan dari semua kegiatan pembangunan daerah dan mengintegrasikannya dengan sistim informasi nasional. keserasian. 2. utamanya. Melalui masing-masing mekanisme musyawarah pembangunan kementerian/LPNK membuat perencanaan strategis di bidangnya masing-masing dengan melibatkan stakeholders utamanya. Perlu ada sinkronisasi dan harmonisasi ketentuan tentang perencanaan pembangunan daerah antara UU pemerintahan daerah dengan UU 118 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 . keluaran. Perlu ada pengaturan yang mengharuskan daerah untuk mendefinisikan hasil pembangunan yang diharapkan. Dalam renstranas ditentukan peran masing-masing tingkatan pemerintahan dalam perencanaan pembangunan termaksud. keluaran. Perlu pengaturan tentang keharusan daerah untuk mengumpulkan secara berkala data tentang indikator hasil pembangunan yang diharapkan. Usulan Perbaikan 1. Perlu ada pengaturan yang mendorong daerah melakukan inventarisasi dan penilaian aset daerah atau aset yang dikuasakan kepada daerah dan memperhitungkannya secara wajar dalam kegiatan perencanaan pembangunan daerah. keluaran.

Keuangan dan Aset Daerah Dasar Pemikiran Penerimaan daerah yang terbatas semestinya digunakan secara efisien dan efektif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Karena itu. terutama dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Anggaran yang dihabiskan untuk membiayai kegiatan pemerintah harus lebih kecil daripada anggaran yang digunakan untuk melayani warganya. Apa yang terjadi sekarang ini dimana belanja pegawai jauh melebihi belanja untuk pelayanan publik mesti harus dikoreksi sehingga pada saatnya nanti belanja untuk pelayanan publik menjadi jauh lebih besar daripada belanja pelayanan publik.7. Tentu tidak elok kalau keberadaan pemerintah justru menyita lebih banyak sumberdaya daripada yang digunakannya untuk melayani masyarakatnya. tap i.550. 23 Sebagai contoh. Setiap rupiah yang dikeluarkan oleh pemerintah hendaknya memiliki pengaruh terhadap membaiknya kesejahteraan masyarakat.92% dari total anggaran belanja daerah. anggaran untuk masyarakat miskin hanya 0. IV. Dengan cara ini maka fungsi pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya akan dapat terwujud.682. Pemerintah dibentuk untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.15. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 119 . Kejelasan tentang basis legal dari dokumen perencanaan yang selama ini menjadi sumber kebingungan daerah dalam menetapkan RPJMD perlu segera diakhiri. keberadaan pemerintah harus dapat memberi nilai tambah bagi masyarakat.perencanaan pembangunan nasional. Pemerintah yang diberi amanat untuk menjalankan fungsi dan tugasnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat seharusnya menempatkan kepentingan dan kebutuhan masyarakat sebagai kriteria utama dalam mengalokasikan anggaran pemerintah. Sumber: S inar Harapan. Pantau Anggaran Daerah! 21 Mei 2008.23 Biaya pemerintahan seharusnya lebih kecil daripada biaya untuk melayani warganya. Kabupaten Bantul pada tahun 2006 mendapatkan pemasukan dari retribusi masyarakat miskin yang sakit sebesar Rp.736. Ayo.

termasuk tanah. Selama ini pemahaman pejabat Aset pemerintah tentang aset yang tersedia di daerah cenderung terbatas. Pengaturan tentang penggunaan aset untuk kepentingan ekonomi dan lainnya perlu dilakukan. penyebarluasan konsep aset yang luas perlu dilakukan dikalangan para penyelenggara pemerintahan daerah. sumberdaya alam. Hal ini dapat kita lihat dari tingginya belanja pegawai dan operasional pemerintah (berkisar 70%90%).Aset pemerintah harus juga digunakan untuk sebesar-besarnya peningkatan kesejahteraan masyarakat. utamanya sektor dunia usaha. Banyak aset negara di daerah yang digunakan oleh pihak lain. Pengaturan tentang pemberdayaan aset mesti harus menempatkan kepentingan masyarakat sebagai pertimbangan utama. Penyelenggara pemerintahan daerah harus dapat memanfaatkan aset-aset negara di daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kecenderungan ini menunjukan bahwa selama ini pemerintahan daerah masih lebih banyak mengurus dirinya sendiri daripada mengurus kebutuhan warganya. Untuk itu. sedangkan yang dimaksud dengan aset sebenarnya jauh lebih luas. Identifikasi Permasalahan Permasalahan paling besar dalam keuangan daerah adalah adanya misalokasi anggaran yang tidak sesuai dengan prioritas daerah. Karena terbatasnya pemahaman para pengambil kebijakan tentang aset sering menyebabkan pemanfaatan aset di daerah sering kurang optimal dilihat dari kepentingan masyarakat. Akibatnya muncul ketidakpuasan publik terhadap kinerja pemerintah daerahnya. dan aset non-tangible lainnya. cenderung dipahami terbatas pada barang milik pemerintah. yang manfaatnya lebih banyak dinikmati oleh pelaku usaha daripada masyarakat luas di daerah. dimana sebagian besar anggaran lebih banyak Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 120 . Proses penganggaran yang relatif tertutup mendorong terjadinya elite captures dalam penganggaran.

24 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 121 . 2007. Pemerintah setempat tidak mampu mengendalikan penambangan liar yang dilakukan masyarakat. Politik Penguasaan Sumber Daya Timah di Bangka Belitung. Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 . Sumber: AMCA: The Spirit Of Budak Bangka. masih sering terjadi aset-aset negara di daerah dimanfaatkan oleh pelaku ekonomi yang hasilnya kurang memberi sumbangan terhadap perbaikan kesejahteraan masyarakat di daerah. 25 Juga kecenderungan daerah untuk mengalokasikan anggaran yang dimilikinya untuk kegiatan-kegiatan yang bukan menjadi prioritas yang penting menjadi bukti bahwa kapasitas daerah untuk mengelola dana yang dimilikinya untuk pembangunan daerah masih perlu didorong dan ditingkatkan. luas daerah yang rusak berbentuk kawah dengan lebar 2-50 Hektar dan kedalaman sampai dengan 9 meter adalah 400. Kerusakan lingkungan dan ketidakseimbangan ekosistim sebagai akibat dari pengelolaan aset yang kurang bertanggungjawab menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi masyarakat generasi sekarang dan mendatang.000 hektar. Ibid 25 Daerah cenderung menyimpan dana tersebut pada Bank simpanan daerah dan telah mencapai angka 3. Desentralisasi Fiskal dan Kesenjangan Daerah. Butuh dana triliunan untuk mereklamasinya.dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan elit birokrasi dan politik. Hutan. Dalam pemanfaatan aset negara di daerah. Ironisnya lagi. hasil penambangan cenderung diselundupkan ke luar negeri melalui kerjasama gelap dengan aparat keamanan laut dan birokrasi-peradilan. dan lahan yang dimanfaatkan oleh para pelaku usaha sering justru menghasilkan kerugian bagi masyarakat luas.1% dari PDB Bulan November 2006. dkk. 26 Penambangan liar di Provinsi Bangka Belitung dapat dijadikan misal.24 Akses warga dan pemangku kepentingan di daerah yang rendah terhadap proses penganggaran membuat elit birokrasi dan politik sering lebih menempatkan kepentingannya diatas kepentingan warganya. Berdasarkan data dari Bapedalda Provinsi bangka Belitung. Masalah lain dalam bidang keuangan daerah adalah rendahnya kapasitas daerah dalam membelanjakan dananya untuk pembangunan daerah. Sumber. sumberdaya alam. Disparitas anggaran untuk kebutuhan birokrasi dan DPRD dan anggaran untuk pelayanan publik adalah salah satu bukti dari terjadinya elite captures dalam proses penganggaran. 26 Banyak aset lahan yang dikuasai oleh pelaku usaha yang diubah menjadi kawasan pemukiman yang Dwiyanto. Kecenderungan daerah untuk menginvestasikan uangnya di SBI dan deposito menunjukan ketidakmampuannya untuk memanfaatkan revenues yang dimilikinya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerahnya. Dan Erwiza Erman (peneliti LIPI). Timah Bangka: Antara Dendam Sejarah dan Perjuangan Mendapatkan Akses.

memiliki nilai tambah yang berlipat ganda, yang keuntungannya hanya dinikmati oleh para pelaku usaha.

Analisis Tidak adanya pagu yang jelas tentang berapa banyak anggaran dapat dialokasikan untuk biaya belanja pegawai dan operasional birokrasi pemerintah membuat daerah menghabiskan sebagian besar anggarannya untuk membiaya dirinya sendiri, bukan untuk biaya melayani warganya. Banyak daerah yang

menghabiskan sekitar 90 persen dari APBDnya untuk belanja pegawai dan kegiatan operasional satuan birokrasinya. Hal ini disebabkan karena tidak ada insentif yang efektif bagi daerah untuk merampingkan satuan organisasinya. Tidak adanya pagu anggaran untuk belanja pegawai dan biaya operasional pemerintah dan insentif untuk merampingkan birokrasinya memberi ruang yang besar bagi daerah untuk mengembangkan birokrasinya. Kecenderungan daerah untuk mengembangkan struktur birokrasi yang gemuk juga menjadi salah satu penyebab dari besaran jumlah anggaran yang digunakan untuk membiayai birokrasi. Mengurangi jumlah biaya belanja pegawai hanya dapat dilakukan dengan mendorong daerah untuk merampingkan struktur birokrasinya. Adanya pagu anggaran untuk belanja birokrasi dan pegawai akan dapat mendorong daerah melakukan rasionalisasi dan rightsizing. Namun, rasionalisasi dan rightsizing memiliki implikasi sosial dan politik yang cukup besar yang mesti diperhitungkan. Keresahan dan protes dari kalangan aparat di daerah tentu sangat besar dan dapat menimbulkan risiko politik bagi pemerintah. Pembatasan pagu anggaran untuk belanja pegawai harus dilakukan dengan hati-hati dan dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan kemampuan daerah. Mendorong daerah lebih peduli kepada kepentingan publik juga dapat dilakukan dengan membuat proses penganggaran menjadi lebih terbuka, transparan, dan partisipatif. Kecenderungan yang umum terjadi di daerah, dimana

Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004

122

praktik penganggaran sangat tertutup dan elitis, harus segera dihentikan. Salah satu caranya adalah dengan mendorong partisipasi pemangku kepentingan dan masyarakat luas untuk terlibat dalam proses penganggaran. Proses penganggaran yang cenderung ekslusif harus dirubah menjadi inklusif, partisipatif, dan terbuka sehingga para pemangku kepentingan dapat mengetahui berapa banyak pagu anggaran yang ada dan untuk apa saja anggaran tersebut dialokasikan dan berapa besarannya. Cara seperti ini dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Dalam penggunaan aset daerah, yang sekarang cenderung kurang menguntungkan masyarakat dan sering menjadi arena KKN, pemerintah perlu membuat pengaturan yang lebih jelas. Tidak adanya pengaturan yang melindungi kepentigan warga dalam penggunaan aset daerah sering membuat pemanfaatan aset daerah lebih menguntungkan pelaku usaha dan kurang dapat dirasakan manfaatnya oleh warga dan pemerintah daerah. Penguatan terhadap pengaturan yang ada dalam Undang-Undang N0.32/ 2004 tentang aset daerah diperlukan agar dapat menjadi pegangan yang efektif bagi daerah untuk mendayagunakan aset daerah secara lebih produktif dan bermanfaat bagi kepentingan warga di daerah. Dalam pemanfaatan uang daerah, alokasi melalui DAU sebagai subsidi umum (Block Grant) telah memberikan ruang yang luas bagi elit local untuk memanfaatkannya sesuai dengan kepentingan mereka. Pada satu sisi anggaran banyak dihabiskan untuk biaya opearsional birokrasi daerah termasuk elite politiknya (Kepala Daerah dan DPRD), pada sisi yang lain anggaran pelayanan public cenderung menurun terus. Apalagi menjelang pilkada, banyak anggaran dialokasikan dengan dalih bantuan social yang ditujukan kepada kelompokkelompok masyarakat tertentu untuk mendapatkan dukungan politik dalam pilkada. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan pengaturan yang bersifat affirmative dalam undang-undang yang mengatur pemanfaatan DAU agar jangan disalah

gunakan untuk kepentingan sempit dari birokrasi daerah. Sudah waktunya DAU diarahkan untuk pembiayaan pelayanan dasar yang masih jauh dari sekalipun yang bersifat minimal. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004
123

harapan

Usulan Penyempurnaan 1. Perlu adanya pengaturan yang memberi insentif kepada daerah untuk memperkecil proporsi anggaran belanja aparatur terhadap anggaran daerah secara keseluruhan. Selama ini belanja untuk aparatur (gaji pegawai dan

biaya operasional birokrasi pemerintah) sangat besar sehingga anggaran yang tersedia untuk kegiatan pembangunan relatif sangat kecil. Untuk mengatasi kondisi seperti ini maka pengaturan yang mendorong daerah memperkecil belanja aparatur perlu diatur sehingga besaran proporsi untuk kegiatan pembangunan dan pelayanan publik dapat ditingkatkan. 2. Perlu ada pengaturan yang mengharuskan daerah melakukan penganggaran secara terbuka, partisipatif, dan akuntabel. UU perlu mengharuskan daerah melakukan konsultasi publik yang luas dalam membuat anggaran. Dokumen anggaran yang rinci harus dapat diakes oleh warga yang membutuhkannya. 3. Perlu ada pengaturan yang memberi insentif kepada daerah untuk

merampingkan birokrasinya dan mengurangi belanja aparaturnya. Pemerintah telah membuat PP 41/ tahun 2007 yang mengatur tentang organisasi dan tata laksana daerah yang mengatur mengenai besaran struktur birokrasi yang ada di daerah. Namun, pengaturan itu belum mampu memberi insentif yang

efektif bagi daerah untuk merampingkan struktur birokrasinya. 4. Perlu ada pengaturan yang jelas tentang pemberdayaan aset daerah agar penggunaan aset daerah dapat dilakukan secara akuntabel, produktif, dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat luas. Konsep aset perlu diperluas meliputi hutan dan sumberdaya alam. Daerah perlu diberi kewenangan

mengelola aset secara akuntabel, produktif, dan bermanfaat bagi kepentingan publik. 5. Perlu pengaturan yang mengarahkan DAU untuk membiayai pelayanan dasar dengan mengacu pada pencapaian SPM sehingga mengurangi potensi pemanfaatan anggaran sesuai preferensi elite daerah tapi mengacu pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat daerah.

Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004

124

Untuk itu. Mekanisme penyampaian keluhan harus dikembangkan di setiap satuan birokrasi pelayanan dan birokrasi wajib menindaklanjuti keluhan yang disampaikan warga penggunanya.8 Pelayanan Publik Dasar Pemikiran Terwujudnya pelayanan publik yang berkualitas (prima) menjadi salah satu ciri tata pemerintahan yang baik (good governance). Mengingat terbatasnya risources yang tersedia bagi daerah untuk penyelenggaraan pelayanan publik maka daerah perlu didorong untuk mengutamakan pelayanan dasar. Kinerja pelayanan publik sangat besar pengaruhnya terhadap kualitas kehidupan masyarakat. gubernur sebagai wakil pusat melakukan supervisi atas pelayanan publik di wilayahnya. Oleh karena itu membangun sistem manajemen pelayanan publik yang handal adalah keniscayaan bagi daerah kalau mereka ingin meningkatkan kesejahteraan warganya. pemerintah berharap pelayanan publik akan menjadi lebih responsif terhadap dinamika masyarakat di daerahnya. Warga harus dapat dengan lebih mudah mengawasi jalannya penyelenggaraan pelayanan. menjadi Tidak mengherankan kalau perbaikan kualitas pelayanan publik salah satu alasan mengapa pemerintah mendesentralisasikan kewenangan penyelenggaraan pelayanan publik kepada daerah. Penetapan standar pelayanan minimum tidak berarti membatasi ruang bagi daerah untuk menyelenggarakan Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 125 . Dengan menyerahkan kewenangan penyelenggaraan pelayanan kepada daerah.IV. Ketika manajemen pelayanan diserahkan ke daerah. Agar pemerataan akses terhadap pelayanan dasar dapat dijaga maka perlu ada pengaturan tentang standar pelayanan minimum untuk pelayanan yang termasuk dalam kategori pelayanan dasar. kesempatan warga untuk ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan pelayanan seharusnya menjadi semakin terbuka. Untuk mengawasi praktik penyelenggaraan pelayanan di daerah kabupaten/kota. perlu ada definisi yang jelas tentang pelayanan dasar. Mereka harus dapat menyampaikan aspirasinya (local voice) kepada rezim pelayanan.

Besarnya angka pengguna biro jasa dalam mengakses pelayanan publik sangat bervariasi. dan banyak kabupaten/ kota berhasil mengembangkan pelayanan satu pintu (OSS). kesamaan profesi (sesama PNS). Salah satu masalah yang penting dalam penyelenggaraan pelayanan adalah semakin pelayanan. Ibid 126 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 . pada saat yang sama banyak kabupaten/ kota yang gagal mewujudkan kinerja pelayanan yang lebih baik. Sementara kabupaten Jembrana berhasil memberikan pelayanan pendidikan dan kesehatan secara gratis dan beberapa kabupaten seperti Sragen. beberapa kota/ kabupaten berhasil mengembangkan manajemen pelayanan yang partisipatif dengan mengadopsi kontrak pelayanan seperti yang dilakukan di Kota Yogyakarta dan Blitar. etnis. berkisar antara 50-80 persen tergantung pada jenis 27 28 Roy V Solomo. Otonomi daerah ternyata memiliki dampak yang berbeda dalam praktik penyelenggaraan pelayanan di daerah. menguatnya unsur-unsur subyektivitas dalam penyelenggaraan Hal ini ditandai dengan semakin maraknya diskriminasi dalam pelayanan berbasis pada unsur-unsur subyektivitas seperti pertemanan. masalah lain dalam penyelenggaraan pelayanan publik adalah rendahnya aksesibilitas pelayanan. Misalnya. afiliasi politik. dkk. 2003 dan Dwiyanto. paper tidak diterbitkan Diskusi lebih lanjut tentang hal ini dapat d ibaca di Dwiyanto. Daerah yang memiliki kapasitas lebih dapat menyelenggarakan pelayanan diatas standar pelayanan minimum. yang ditandai dengan masih besarnya angka pengguna biro jasa (intermediaries) dalam penyelenggaraan pelayanan. Identifikasi Permasalahan Penyelenggaraan pelayanan publik di daerah menunjukan kinerja yang bervariasi. Disamping diskriminasi pelayanan publik. Namun. Sidoarjo. 27 Beberapa daerah berhasil mengembangkan inovasi dalam manajemen pelayanan publik dengan mengembangkan berbagai teladan (best practices). 2007. Pelayanan Publik Revisi UU 32/2004. dan agama 28 .pelayanan sesuai dengan aspirasi dan kapasitas daerah.

penyelenggaraan pelayanan selama ini cenderung dianggap sebagai domain rezim pelayanan. Warga tidak memiliki kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan tentang berbagai hal terkait dengan pelayanan yang dibutuhkannya. Kecenderungan prosedur pelayanan hanya mengatur kewajiban dan mengabaikan hak-hak pengguna pelayanan publik menjadi salah satu sebab mengapa penyelenggaraan pelayanan publik sering menjadi sumber ketidakpuasan warga terhadap pemerintah. Analisis Ada beberapa penyebab mengapa kinerja pelayanan publik di daerah pada umumnya masih jauh dari yang diharapkan. 29 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 127 . rezim pelayanan dapat memperlakukan warga pengguna seenaknya.29 Besarnya angka pengguna jasa ini menunjukan ketidaksanggupan warga untuk berhubungan langsung dengan penyelenggara pelayanan.pelayanan. Survei kepuasan warga pengguna terhadap pelayanan perizinan di Kota Yogyakarta pada tahun 2005 yang dilakukan oleh PSKK UGM menunjukan bahwa angka pengguna yang menggunakan perantara atau calo pelayanan dalam pengurusan izin sangat besar dan bervariasi antar jenis perizinan. kualitas. penyelenggara pelayanan publik sering menjadi arena konflik antara pemerintah dengan warganya. Prosedur juga sering gagal mengatur mengenai kewajiban dari penyelenggara pelayanan. Akibatnya. Akibatnya. Jenis pelayanan. dapat berbuat seenaknya dalam mengelola Akibatnya. dan cara pelayanan sepenuhnya ditentukan oleh rezim pelayanan. prosedur pelayanan cenderung hanya mengatur kewajiban dari warga pengguna. pelayanan yang diberikan oleh daerah sering tidak sesuai dengan aspirasi dan kebutuhannya. tetapi hak-haknya tidak pernah diatur dan dilindungi. Tidak adanya pengaturan tentang hak-hak warga membuat proses pelayanan publik menjadi penuh dengan ketidakpastian. Pertama. Kedua. Penyelenggara pelayanan cenderung menempatkan dirinya sebagai penguasa. Hal ini menjelaskan besarnya opportunity cost yang dihadapi oleh masyarakat dalam mengakses pelayanan publik. yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada pengguna dan pelayanan publik.

Akibatnya. Kepuasan warga belum menjadi kriteria utama bagi birokrasi pelayanan untuk menilai kinerjanya. Keberadaan Ombudsman daerah dapat dijadikan saluran bagi masyarakat untuk menyampaikan keluhannya. Selama ini pelayanan dasar belum didefinisikan Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 128 .Ketiga. Kontrak tersebut akan menjelaskan jenis pelayanan. Akibatnya. Untuk itu harus dibangun kontrak pelayanan public antara pemda dengan masyarakat. birokrasi pelayanan belum mampu mengembangkan budaya dan etika pelayanan yang menghargai posisi pengguna sebagai warga negara yang berdaulat. prosedur dan waktu yang diperlukan untuk mengakses pelayanan public tersebut. Rakyat sebagai pengguna pelayanan publik harus mempunyai kepastian tentang jenis dan kulaitas pelayanan public yang disediakan pemda. Usulan Penyempurnaan 1. Kemudian kalau pemda gagal memenuhi kontrak pelayanan public tersebut. proses pelayanan seringkali dikaitkan dengan struktur hirarkhi birokrasi di daerah. harus terdapat kejelasan kemana masyarakat harus menyampaikan keluhannya. kualitas. Keempat. Panjangnya jenjang hirarkhi birokrasi dengan sendirinya membuat proses pelayanan publik menjadi panjang dan menghabiskan banyak enerji dari warga dan penyelenggara pelayanan. niaya. Birokrasi pelayanan masih menempatkan warga sebagai obyek pelayanan yang dapat diperlakukan seenaknya sesuai dengan kemauannya. Perlu pengaturan yang jelas tentang konsep pelayanan dasar yang wajib disediakan oleh pemerintah. Apalagi ketika prosedur pelayanan dibuat dengan semangat untuk mencegah terjadinya moral hazards proses pelayanan publik menjadi sangat kompleks dan sulit diikuti secara wajar oleh warga pengguna. akuntabilitas birokrasi belum dilihat dari kepuasaan warga terhadap pelayanannya melainkan dari kepatuhan birokrasi terhadap peraturan dan prosedur pelayanan. banyak warga cenderung menggunakan biro jasa atau perantara. Besarnya angka pengguna biro jasa menunjukan bahwa masyarakat tidak lagi sanggup mengakses pelayanan secara wajar.

Dalam penyelenggaraan pelayanan dasar. Daerah dapat menyelenggarakan pelayanan dasar diatas standar nasional. Apa saja yang termasuk dalam pelayanan dasar harus didefinisikan dengan jelas. sehingga perhatian daerah terhadap penyelenggaraan pelayanan dasar dapat diamati oleh warga dan pemangku kepentingannya dengan mudah. 3. akuntabel. dan usulan perbaikan (local voices) dan menjadikan hal itu sebagai bagian yang penting untuk perbaikan kinerja dan akuntabilitas publik. pengembangan indeks kepuasan warga pengguna. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 129 . Daerah harus dapat menyelenggarakan pelayanan yang mudah diakses oleh semua warganya terlepas dari ciri-ciri subyektifnya. Perlu ditegaskan dalam Undang-Undang ini tentang kewajiban daerah untuk menyelenggarakan pelayanan dasar sesuai dengan standar pelayanan minimum (SPM) dan atau standar lainnya yang dibuat oleh pemerintah. responsif. 6. 2. Lembaga Ombudsman daerah dapat dijadikan sebagai lembaga mediasi penyelesaian masalah dan konflik yang terjadi antara warga pengguna dengan manajemen pelayanan publik. dan yang diselenggarakan secara partisipatif dan sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Untuk mendorong adanya perbaikan manajemen pelayanan yang berkelanjutan maka daerah perlu didorong untuk secara periodik melakukan evaluasi kinerja pelayanan publik dengan melakukan. 5. dan partisipatif. Tidak adanya definisi yang jelas tentang pelayanan dasar yang wajib disediakan oleh pemerintah dapat memiliki risiko tidak terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat. efisien. mampu menjawab kebutuhan warga.dengan jelas dalam perundangan-undangan yang ada. daerah harus mengembangkan sistim pelayanan yang berkeadilan. Dalam mewujudkan sistim pelayanan publik sebagaimana tersebut diatas daerah harus mengembangkan manajemen pelayanan publik yang memungkinkan terjadi perbaikan secara berkelanjutan. antara lain. sesuai dengan kemampuan dan aspirasi masyarakatnya. Karena itu manajemen pelayanan publik harus menjamin adanya hak warga untuk menyampaikan aspirasi. 4. keluhan.

keberadaan maklumat pelayanan penting karena dapat menjadi pedoman bagi mereka untuk mewujudkan pelayanan sesuai yang dijanjikannya. Lebih dari itu. Partisipasi karenanya dapat Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 130 . Maklumat atau kontrak pelayanan dapat menjadi alat yang mudah dan sederhana bagi warga mengawasi praktik penyelenggaraan pelayanan.7. diantaranya adalah sebagai sarana bagi warga untuk mengekspresikan kebutuhan dan kepentinganannya sehingga proses kebijakan daerah menjadi lebih responsif terhadap kebutuhan dan kepentingan warga. partisipasi penting untuk menjamin warga memiliki ownership dalam proses kebijakan dan karenanya dapat menciptakan kepedulian dan dukungan warga untuk keberhasilan pembangunan di daerahnya. Untuk ruang bagi warga untuk dapat berpartisipasi dalam pemerintah harus dibuka seluas-luasnya. Partisipasi masyarakat memiliki fungsi penting. Partisipasi juga dapat digunakan melakukan pendidikan dan pembelajaran bagi warga terhadap masalah dan kebijakan publik. Bagi penyelenggara.9 Partisipasi Masyarakat Dasar Pemikiran Kebijakan desentralisasi hanya akan berhasil meningkatkan kesejahteraan warganya jika diikuti dengan pemberdayaan masyarakat agar mereka dapat berperanserta dan sekaligus mengawasi jalannya penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Daerah perlu mendorong birokrasi pelayanannya utuk mengembangan maklumat atau kontrak pelayanan yang mengatur secara proporsional dan seimbang hak dan kewajiban dari penyelenggara dan pengguna pelayanan. Otonomi daerah yang melimpahkan kewenangan pada elit politik dan birokrasi di daerah harus diikuti dengan otonomi pada tingkat warga untuk dapat mengontrol perilaku elit politik dan birokrasi dalam menggunakan kekuasaannya. Hanya dengan cara seperti ini maka desentralisasi pemerintahan dapat memperbaiki kesejahteraan masyarakat di daerah. IV.

perencanaan pembangunan daerah. Pemerintah daerah dapat sangat terbuka kepada warganya dan mendorong warganya untuk berpartisipasi ketika pemerintah tidak Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 131 .membentuk sense of citizenship yang sangat penting bagi pengembangan demokrasi dan pembangunan bangsa. Namun. Otonomi daerah diharapkan mampu mendorong adanya peningkatan keterlibatan masyarakat dalam proses penyelenggaraan pemerintahan di daerah. termasuk dalam proses pembuatan peraturan daerah. dan pengawasan kegiatan pemerintahan di daerah. Namun. setelah pelaksanaan otonomi daerah tampak bahwa partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan dan pemerintahan belum seperti yang diharapkan. Salah satu kesulitan dalam mendorong partisipasi masyarakat adalah terbatasnya akses warga terhadap informasi. walaupun kebijakan tersebut berpengaruh sangat besar terhadap kehidupannya. munculnya banyak forum komunikasi dan partisipasi warga di daerah ternyata belum mampu secara berarti meningkatkan keterlibatan warga dalam proses kebijakan di daerah karena berbagai forum itu seringkali didominasi oleh elit sehingga kepentingan yang diperjuangkan dalam proses kebijakan masih lebih banyak kepentingan elit daripada kepentingan warga pada umumnya. Penelitian sebelumnya menunjukan bahwa keterbukaan pemerintah untuk membuka akses warga terhadap informasi masih sangat mendua. Otonomi daerah masih lebih banyak dinikmati oleh elit politik dan birokrasi di daerah daripada warga pada umumnya. Memang banyak studi menunjukan bahwa ada kecenderungan yang meluas mengenai munculnya banyak forum komunikasi dan partisipasi masyarakat di banyak kabupaten/ kota di Indonesia. karena sangat dipengaruhi oleh adatidaknya konflik kepentingan. Rendahnya akses warga terhadap informasi membuat mereka mengalami kesulitan dalam mengambil peran yang optimal dalam proses kebijakan di daerah. Identifikasi Permasalahan Salah satu tujuan utama dari penyelenggaraan otonomi daerah adalah mendekatkan penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan warganya.

Keterbukaan informasi ini akan dapat mengurangi dominasi elit lokal dalam proses kebijakan di daerah. partisipasi masyarakat dalam proses kebijakan di daerah masih amat terbatas. maka penyelenggara negara cenderung menjadi sangat tertutup dan mencegah keterlibatan masyarakat30. Peningkatan partisipasi masyarakat juga memerlukan pemberdayaan masyarakat itu sendiri. Untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam proses kebijakan maka penyelenggara pemerintahan daerah perlu membuka akses publik seluas-luasnya terhadap informasi tentang berbagai kebijakan pemerintah. APBD. Agus. seperti dalam penyusunan Perda. Yogyakarta: CPPS GMU Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 132 . Masyarakat luas cenderung menempati posisi pinggiran sehingga kepentingannya sering kurang dapat terakomodasi dalam proses kebijakan di daerah. Governance Reform and Regional Autonomy: Executive Summary. dan prioritas pembangunan daerah. 2003.memiliki kepentingan terhadap isu dan masalah yang dipersoalkan. Analisis Kebijakan desentralisasi menuntut adanya ruang partisipasi masyarakat yang semakin besar karena pelaksanaan desentralisasi hanya akan berhasil kalau diikuti dengan kemampuan warga di daerah untuk terlibat dalam penyelenggaraan 30 Dwiyanto. Selama ini proses kebijakan publik cenderung didominasi oleh elit lokal karena mereka yang memiliki akses terhadap informasi dan kekuasaan. Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses kebijakan di daerah maka berbagai upaya untuk meningkatkan keyakinan mereka tentang manfaat partisipasi terhadap perbaikan kehidupannya dan memperkecil risiko ketika mereka terlibat dalam proses kebijakan perlu dilakukan. Namun ketika penyelenggara pemerintahan daerah memiliki kepentingan dan kepentingannya dapat terganggu jika transparansi dilakukan. Akibatnya. Kepercayaan diri yang rendah terhadap kemampuannya untuk ikut mempengaruhi proses perubahan dan besarnya risiko yang harus dibayar dari keterlibatannya dalam proses kebijakan sering membuat minat mereka terlibat dalam proses kebijakan di daerah masih amat rendah.

pemerintahan di daerah. Pelimpahan urusan ke daerah mesti harus diikuti dengan kemampuan masyarakat di daerah untuk mengawasi jalannya penyelenggaraan pemerintahan daerah. Tanpa adanya penguatan partisipasi masyarakat dalam

penyelenggaraan pemerintahan di daerah, dikawatirkan kebijakan dan program pembangunan daerah menjadi semakin jauh dari aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Dari uraian diatas ada 4 masalah penting dalam penguatan partisipasi masyarakat: dominasi elit politik dan birokrasi dalam proses kebijakan, akses informasi yang terbatas, sikap pemerintah yang mendua dalam menyikapi partisipasi masyarakat, dan kesadaran masyarakat yang rendah untuk berperan serta dalam proses kebijakan. Keempat masalah tersebut menunjukan bahwa penguatan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah terkait dengan

costs of and demand for participation. Kesadaran dan
Namun, rendahnya kebutuhan

kesepahaman tentang manfaat partisipasi bagi mereka menunjukan bahwa

demand for partipaticipation masih rendah.

mereka untuk berpartisipasi mungkin juga disebabkan oleh besarnya cost dan risiko yang harus dibayar untuk berpartisipasi. Akses warga terhadap informasi sangat terbatas, dominasi elit politik dan birokrasi dalam proses kebijakan, dan sikap pemerintah yang mendua terhadap partisipasi membuat cost dan risiko untuk berpartisipasi menjadi semakin besar. Untuk dapat mendorong partisipasi masyarakat maka daerah berkewajiban untuk menghilangkan kendala (costs) dan menaikan kebutuhan (demand) masyarakat untuk terlibat dalam proses kebijakan di daerah. Warga harus dijamin aksesnya terhadap informasi tentang berbagai hal terkait dengan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik, karena informasi adalah bahan baku utama bagi proses kebijakan publik. Selama ini akses terhadap

informasi tentang kegiatan pemerintahan masih sangat terbatas. Lebih dari itu, berbagai prosedur dan ketentuan tentang proses kebijakan yang menghambat warga dan pemangku kepentingan untuk terlibat dalam proses kebijakan harus dapat dipermudah. Proses kebijakan di daerah harus didorong menjadi semakin

Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004

133

terbuka, mudah diakses, dan dekat dengan masyarakat sehingga kendala untuk berpartisipasi menjadi semakin rendah. Untuk mendorong keingingan berpartisipasi dalam proses kebijakan di daerah maka utilisasi informasi dan pengetahuan yang disumbangkan oleh masyarakat dalam proses kebijakan di daerah harus menjadi semakin besar. Salah satu faktor yang mendorong rendahnya kebutuhan untuk berpartisipasi adalah rendahnya keyakinan masyarakat bahwa informasi dan usulan yang mereka sampaikan akan dimanfaatkan dalam pengambilan keputusan. Dalam

perencanaan pembangunan daerah, misalnya, banyak warga yang apatis dengan proses musrenbang yang terjadi di lingkungannya karena mereka tidak yakin apa yang diputuskan dalam musrenbang akan diakomodasi dalam pengambilan keputusan tentang alokasi anggaran. Tidak adanya koneksi antara musrenbang dengan keputusan yang dibuat oleh panitia anggaran menjadikan masyarakat enggan untuk terlibat dalam proses musrenbang31. Proses kebijakan yang tidak akomodatif terhadap aspirasi publik seperti ini yang menjadi salah satu faktor yang mendorong mengapa partisipasi masyarakat dalam proses kebijakan di daerah selama ini relatif rendah.

Usulan Penyempurnaan Untuk mendorong terselenggaranya pemerintahan daerah yang partisipatif maka pengaturan yang jelas tentang partisipasi masyarakat dalam peraturan perundangan perlu dilakukan. Pengaturan tersebut setidak-tidaknya mencakup berbagai hal sebagai berikut: 1. Perlu adanya penegasan bahwa daerah wajib menjamin hak warga baik secara perseorangan ataupun berkelompok untuk terlibat dalam proses pengambilan kebijakan pemerintahan di daerah.

31 Banyak temuan menunjukan tid ak adanya koneksi antara proses musrenbang yang dikelola oleh eksekutif dengan proses penganggaran yang dikelola o leh DPRD. Usulan dan keputusan masyarakat yang telah diperb incangkan di Musrenbag sering tidak lagi dibahas dalam rapat komisi anggaran. Tidak adanya kesinambungan antara proses birokrasi dan politik dalam proses penganggaran sering membuat masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap institusi dan mekanisme perencanaan dari bawah.

Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004

134

2. Perlu ada penegasan ruang untuk keterlibatan publik dalam pelaksanaan pemerintahan daerah terutama dalam hal penyusunan kebijakan, perencanaan pembangunan, proses pembahasan anggaran, proses pembahasan rancangan peraturan, dan penyediaan pelayanan publik daerah. Hak warga untuk

terlibat dalam proses kebijakan tersebut adalah hak yang harus dilindungi oleh daerah dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses kebijakan di daerah. Karena itu daerah harus melakukan konsultasi seluas-luasnya dengan warga dan para pemangku kepentingan sebelum menetapkan satu kebijakan. Pelanggaran terhadap hak warga ini dan kewajiban daerah melindungi hak warga untuk terlibat dalam proses kebijakan menjadi bagian yang penting dalam penilaian kinerja daerah. 3. Perlu ada pengaturan tentang hak-hak warga untuk memperoleh akses terhadap informasi dan data yang dibutuhkan dalam kebijakan. Akses

terhadap informasi juga penting bagi warga agar dapat terlibat dalam pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. dalam menjamin akses warga terhadap informasi kebijakan akan dan Kegagalan mempersulit pengawasan

keterlibatan

warga

dalam

pembuatan

penyelenggaraan pemerintahan daerah. 4. Dalam penyelenggaraan pelayanan, hak warga terhadap informasi tentang biaya, waktu, dan cara pelayanan harus diatur dengan jelas. Daerah juga

perlu memberi ruang bagi warga dan pemangku kepentingan untuk menyampaikan keluhan, kritik, dan saran dan menjadikannya sebagai bagian dari masukan untuk perbaikan manajemen pelayanan publik. Daerah perlu

mendorong perangkat dan aparatnya untuk menyelenggarakan pelayanan publik yang partisipatif. 5. Perlu pengaturan tentang keterkaitan antara proses pengambilan keputusan yang partisipatif (misalnya, Musrenbang) dengan proses pengambilan Penguatan

keputusan yang teknokratis dan birokratis (alokasi anggaran).

keterkaitan antara hasil keputusan Musrenbang dengan proses alokasi anggaran sangat penting sebagai insentif bagi warga untuk berpartisipasi
135

Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004

IV. tidak adanya keterkaitan antara proses yang terjadi di Musrenbang dengan keputusan alokasi anggaran menjadi disinsentif bagi warga untuk berpartisipasi dalam proses kebijakan publik. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 136 . Kawasan permukiman baru dibangun dengan ciri perkotaan yang modern dengan fasilitas kehidupan sosial dan ekonomi yang berbeda dengan kawasan induknya.10 Kawasan Perkotaan Dasar Pemikiran UU No. Kemajuan kehidupan ekonomi dan modernitas telah mendorong semakin cepatnya pertumbuhan kawasan perkotaan. Sebaliknya. Dalam pengaturan administrasi pemerintahan kawasan perkotaan tersebut sering masih menjadi satu dengan kawasan lainnya. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah membuat kehidupan kawasan perkotaan menjadi semakin kompleks dan membutuhkan pengaturan yang semakin dinamik dan terintegrasi dengan kawasan lainnya sehingga kemajuan kawasan perkotaan dapat mendorong perubahan sosial ekonomi pada kawasan lainnya. terutama di daerah yang menjadi konsentrasi pemukiman baru telah menimbulkan berbagai fenomena baru yang menarik. yang masih mencirikan kawasan perdesaan. yang memiliki gaya hidup dan perilaku yang berbeda dengan gaya hidup di kawasan lainnya. yang masih bercirikan sistim administrasi pemerintahan yang tradisional. Secara fisik kawasan perkotaan baru tersebut memiliki ciri-ciri kota yang modern namun secara sosial sering terpisah dengan kawasan lainnya. Akibatnya. Tumbuh-suburnya kawasan perkotaan baru. 32/2004 telah memiliki pengaturan mengenai kawasan perkotaan. namun belum memadai.dalam proses kebijakan di daerah. sering muncul masalah yang sebenarnya dapat dihindari jika pengaturan mengenai kawasan perkotaan dapat dilakukan secara terintegrasi dengan kawasan lainnya.

Berbagai aspek kelembagaan. ekonomi. Tidak jarang perubahan rencana tata ruang memiliki dampak ekologis yang dapat merugikan kepentingan publik.Pengaturan kawasan perkotaan perlu dibuat agar dapat mengakomodasi tantangan yang dihadapi dalam perkembangan yang sangat cepat. Salah satu masalah yang banyak dijumpai di banyak daerah adalah seringnya terjadi pelanggaran terhadap rencana tata ruang dalam rangka mengakomodasi munculnya kawasan perkotaan dan segala implikasinya. Identifikasi Permasalahan Di dalam UU No. dan lingkungan. 32 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 137 . 32 Tahun 2004 telah terdapat pengaturan mengenai kawasan perkotaan.32/ 2004 belum dilakukan secara memadai. tetapi juga harus dapat melindungi kepentingan lainnya seperti kebutuhan konservasi lingkungan. muncul banyak masalah dalam pengelolaan kawasan perkotaan. Untuk memberi landasan yang kuat kepada daerah untuk mengelola pertumbuhan kawasan perkotaan dan mengarahkannya untuk kesejahteraan masyarakat maka pengaturan tentang pengelolaan kawasan perkotaan perlu diatur dalam UU pemerintahan daerah. dan terwujudnya tata pemerintahan yang baik. dan pengaturan tentang pengembangan kawasan perkotaan belum banyak diatur dalam UU yang ada32. namun pengaturan tersebut belum cukup mengatur berbagai isu yang terkait dengan isu kawasan perkotaan. pengaturan mengenai hal ini dalam UU N0. Sayangnya. pelayanan. Pengaturan yang dibuat harus dapat mengakomodasi kebutuhan daerah dalam mengembangkan kawasan perkotaan. Akibatnya. sosial. kehidupan sosial yang sehat. Ibid. Rencana tata ruang yang ada di banyak daerah sering mengalami konversi karena tekanan kepentingan ekonomi. baik dari sisi teknologi. Berbagai masalah dalam pengembangan perkotaan yang belum d iatur dalam UU 32/2004 dan memerlukan pengaturan dalam revisi sebagian telah d ijelaskan dalam Diamar.

Munculnya kawasan kota mandiri yang memiliki kehidupan kota yang sangat modern sementara pemerintah daerah yang membawahinya masih memiliki pola manajemen yang tradisional sering menimbulkan masalah baru dalam pengelolaan kawasan perkotaan. Diperkirakan 10 tahun mendatang. Hal seperti ini belum diatur dengan baik dalam UU Pengaturan tentang pengelolaan kota perlu dibuat dalam undang undang pemerintahan daerah. Analisis Pengaturan tentang pengelolaan kawasan perkotaan amat diperlukan mengingat perkembangan kawasan perkotaan di beberapa daerah di Indonesia dalam dekade terakhir ini sudah sangat cepat.32/ 2004. N0. Manajemen kota mandiri perlu diberi kewenangan- kewenangan untuk mengelola kawasan tersebut sebagaimana yang dimiliki oleh Kota atau daerah induk. seperti kota mandiri. sosial. Upaya pemerintah daerah untuk merespon kebutuhan kawasan kota mandiri perlu didukung dengan perangkat perundang-undangan yang memadai. Ada banyak daerah yang memiliki pertumbuhan kawasan perkotaan yang sangat pesat namun belum terintegrasi dengan baik secara kelembagaan. dan lingkungan dengan kawasan lainnya. Dinamika kehidupan perkotaan yang sangat berbeda dengan kawasan lainnya menuntut adanya pengaturan yang berbeda dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya. Untuk dapat mengembangkan managemen pengelolaan kawasan perkotaan yang modern. Kegagalan merespon dengan tepat Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 138 . daerah perlu diberi peluang untuk memberdayakan lembaga dan aparaturnya untuk dapat mengelola kawasan perkotaan modern. Keberadaan kawasan perkotaan memberi peluang dan sekaligus tantangan yang perlu direspon dengan tepat oleh pemerintah. dengan baik. 70 persen penduduk Pulau Jawa tinggal di perkotaan. pisik. dan kelembagaan antar kawasan dalam satu kabupaten/ kota. Akibatnya seringkali muncul ketimpangan dalam berbagai aspek kehidupan ekonomi.Masalah lain adalah kurangnya integrasi perkembangan kawasan perkotaan dengan wilayah lainya.

kota kecamatan atau kota kabupaten yang memiliki ciri-ciri demografis. Masalah lain yang perlu diatur adalah pengelolaan kawasan kota dalam satu kabupaten/ kota. Kawasan perkotaan tentu membutuhkan manajemen yang berbeda dengan kawasan perdesaan. karena pengelolaan bersama tersebut tidak memiliki landasan perundangundangan yang kokoh. Dinamika kehidupan perkotaan sering melampaui batas-batas wilayah administratif. Selama ini pengaturan kehidupan perkotaan di kabupaten/ kota dilakukan seperti halnya kawasan perdesaan. dalam bidang kelembagaan dalam pengelolaan kawasan perkotaan. Sedangkan. Namun. sesuai dengan masalah yang berkembang di kawasan tersebut. banyak masalah yang muncul terkait dengan perkembangan kawasan perkotaan tidak dapat diselesaikan dengan baik. maka seringkali penanganannya kurang optimal.perkembangan kawasan perkotaan dapat menimbulkan masalah perkotaan yang kompleks yang merugikan penghuni kawasan perkotaan dan sekitarnya. Sayangnya. dan ekonomis yang berbeda sering menuntut pengelolaan yang berbeda. Tindakan yang diambil cenderung sporadis dan reaktif. sosiologis. kurang visioner sehingga kebijakan yang comprehensive sangat sulit dikembangkan. dalam struktur kelembagaan yang ada. Kehidupan perkotaan memiliki eksternalitas baik positif ataupun negatif melewati batas-batas administratif. Bentuk kelembagaan yang berkembang juga sangat bervariasi dengan tingkat efektivitas yang berbeda-beda tergantung dari kesungguhan dari masing-masing kepala daerah. Sampai sekarang baik UU 32/2004 ataupun peraturan perundangundangan lainnya belum mengatur tentang kelembagaan pengelolaan kawasan perkotaan. Tidak adanya pengaturan yang jelas tentang pengelolaan kawasan perkotaan membuat pemerintah cenderung mengelola kawasan perkotaan secara adhoc dan reaktif. Misalnya. Berbagai upaya sudah dilakukan di berbagai daerah untuk menyelenggarakan pengelolaan bersama berbagai masalah dan kebutuhan bersama antar kota dan antar kota dengan kabupaten sekitarnya. Akibatnya. Kehidupan perkotaan juga menciptakan kebutuhan dan dinamika kehidupan yang berbeda dengan kehidupan perdesaan. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 139 .

Pemerintahan Kabupaten sering mengalami kesulitan untuk mengintegrasikan kedua kawasan tersebut. Sedangkan lembaga Kecamatan sebenarnya dapat diberdayakan untuk dapat merespon dinamika dan kebutuhan pelayanan masyarakat di kota Kecamatan. Kota kecamatan yang membutuhkan pelayanan berbeda tidak dapat direspon oleh Camat sebagai perangkat daerah karena keterbatasan wewenang dan sumberdaya yang dimiliki oleh Camat. Tidak adanya pengaturan yang jelas tentang hak-hak masyarakat pemilik tanah yang digunakan untuk pengembangan kawasan baru tersebut juga sering membuat masyarakat yang tinggal di kawasan tergusur dan kehilangan sumber kehidupan yang selama ini tergantung pada lahan yang dimilikinya. sebagai akibat dari dinamika ekonomi dan semakin maraknya industri real estate. Hal yang sama juga terjadi dalam pengelolaan kawasan kota Kabupaten. Berbagai masalah muncul karena besarnya perbedaan status sosial ekonomi dan gaya hidup penduduk kawasan kota baru dengan wilayah sekitarnya sering menimbulkan kecemburuan sosial. Pengembangan kota baru memerlukan pertimbangan yang menyeluruh sehingga keberadaannya Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 140 . Jika dinamika seperti ini tidak diantisipasi dengan baik oleh pemerintah maka masalah perkotaan dimasa mendatang akan menjadi semakin kompleks dan sulit diselesaikan dengan baik. Banyak dari mereka yang kemudian mengalami kesulitan ekonomi. Munculnya banyak kota baru di dalam satu kabupaten. sementara pengusaha pengembang kawasan tersebut memiliki keuntungan yang berlimpah. Masalah lain dalam pengembangan kota baru biasanya terkait dengan pelanggaran tata ruang. telah menimbulkan masalah dan sekaligus peluang bagi perkembangan daerah. Banyak terjadi pengalihan peruntukan dari pertanian ke pemukiman atau dari jalur hijau dan konservasi lingkungan ke pemukiman yang seringkali menimbulkan banyak masalah bagi masyarakat luas. Kewenangan dan sumberdaya yang ada terkonsentrasi di birokrasi kabupaten.kabupaten/ kota memiliki keterbatasan untuk dapat merespon dinamika kehidupan yang berbeda karena peluang untuk mengembang inovasi dalam pengelolaan kawasan perkotaan belum diatur dalam peraturan-perundangan yang ada.

Belum kelembagaan dalam pengaturan tentang berbagai aspek pengelolaan kawasan perkotaan. Harus ada kejelasan tentang batas-batas kewenangan pengelola kota mandiri dalam mengelola “kotanya” dengan kewenangan Pemda yang membawahi kawasan perkotaan tersebut. Pengelolaan kawasan kota mandiri perlu diatur secara berbeda karena masalah dan peluang yang dihadapinya berbeda Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 141 . Pemahaman tentang kedua aspek dari kawasan perkotaan tersebut perlu dijadikan sebagai dasar dalam pengaturan kawasan perkotaan. Pertimbangan ekonomi yang selama ini cenderung dominan dalam pengembangan kota baru mesti harus dilengkapi dengan pertimbangan sosial dan politik yang masak sehingga keberadaan kota baru dapat memberi manfaat yang luas dan berkelanjutan. 2. Dalam peraturan perundangan yang ada pengaturan tentang jenis atau tipe kota dan berbagai aspek yang melekat pada jenis kota tersebut belum dirumuskan dengan jelas. membuat daerah belum mampu secara optimal mengelola kawasan perkotaan yang dimilikinya. Usul Penyempurnaan 1. Kompleksitas yang dihadapi oleh kawasan perkotaan cenderung berbeda antar jenis kota yang berbeda. Perlu ada pengaturan tentang jenis kota dan segala aspek yang mengikutinya. karena itu perlu cara pengaturan yang berbeda untuk masing-masing jenis kota. Pemerintah perlu mendefinisikan kawasan perkotaan secara jelas dan membuat pengaturan kelembagaan yang dapat digunakan untuk mengelola kawasan perkotaan secara optimal.sedapat mungkin memberi kemanfaatan yang besar bagi pemerintah dan masyarakat luas dengan risiko yang minimal. Selama ini kawasan perkotaan cenderung hanya didefinisikan secara administratif. Lebih dari itu. tetapi secara fungsional belum diatur dengan jelas. yang pengembangan memadai kawasan perkotaan juga memerlukan pengaturan memadainya tentang pengelolaan kelembagaan. 3. Sedangkan pengaturan seperti itu penting agar dapat menjadi pedoman bagi daerah dalam mengembangkan kawasan perkotaan yang dimilikinya.

untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing bangsa pemerintah dapat menetapkan satu kawasan menjadi kawasan. yang memiliki pengaturan yang khusus sehingga kawasan tersebut dapat bersaing dalam pasar internasional.dengan kawasan lainnya. Keberadaan fasilitas sosial dan fasilitas umum untuk mendukung pengembangan kawasan perkotaan perlu diatur dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengembangan kawasan perkotaan. Desentralisasi fungsional lazimya dikenal dalam bentuk ”kawasan khusus atau distrik-distrik khusus. Namun. fasilitas sosial dan fasilitas Perlu juga diatur tentang pengelolaan oleh Pemerintah Daerah agar umum keberaadaannya dapat berlanjut dan dirasakan oleh masyarakat luas. atau sering disebut juga special authorities”. 1980). 4. Perlu ada pengaturan terhadap peranan pihak swasta dalam membangun dan mengembangkan kawasan perkotaan termasuk penyiapan fasilitas sosial dan fasilitas umum dalam kawasan yang dikembangkannya. Daerah dapat memberi kewenangan kepada pengelola kota untuk memfasilitas penyelenggaraan pelayanan kepada warganya sesuai dengan kebutuhan warga kota tersebut. Misalnya. keberadaan dan pengelolaan kawasan kota mandiri harus terintegrasi dengan kawasan lainnya sehingga keberadaan kota mandiri dapat mendorong perkembangan kawasan lainnya. IV. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 142 . Kawasan khusus dibentuk untuk menyelenggarakan fungsi-fungsi khusus yang diperlukan dalam mencapai tujuan strategik nasional atau daerah.11 Desentralisasi Fungsional (Kawasan Khusus) Dasar Pemikiran Dalam pelaksanaan desentralisasi dikenal dua macam desentralisasi yaitu desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional (Rondenelli.

Kawasan Ekonomi Khusus. Kawasan Konservasi. Tidak selalu sejalannya kepentingan strategik nasional dengan kepentingan daerah membuat pengelolaan kawasan khusus sering mengalami kendala ketika Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 143 . Namun. Pengaturan khusus tersebut meliputi antara lain. Pemerintahan daerah hanya mengatur hubungan antara pemerintah dengan daerah terkait dengan tata cara pembentukan dan pengelolaan kawasan khusus. Kawasan khusus dapat berbentuk kawasan yang meliputi kawasan Perbatasan Negara. Organisasi parastatal menjalankan kegiatan operasional dari lembaga pemerintah pusat di suatu daerah otonom. dalam praktiknya pengembangan kawasan khusus seringkali menimbulkan berbagai konflik antara badan pengelola kawasan khusus dengan pemerintahan daerah. Identifikasi Permasalahan Untuk mendorong percepatan pencapaian tujuan nasional strategik dalam berbagai bidang seperti ekonomi.Undang undang-undang sektoral sesuai dengan jenis kawasannya. urusan dan kewenangan yang diserahkan. Perbedaan cara pandang terhadap berbagai hal yang seringkali tumpang tindih dan tidak jelas dalam pengaturan membuat benturan dan konflik antar badan pengelola kawasan khusus dan pemerintahan daerah tak terhindarkan. tetapi Ia sendiri tidak bersifat otonom dan karenanya tidak memiliki lembaga perwakilan rakyat. dan pertahanan nasional pemerintah dapat mengembangkan kawasan khusus. personel. pembiayaan. lingkungan. Pengaturan kawasan khusus secara rinci dilakukan dalam Undang. yang merupakan kepanjangan dari salah satu organ pemerintah pusat (atau BUMN).Berbeda dengan desentralisasi teritorial yang bersifat umum. dan wilayah yang ditetapkan sebagai kawasan khusus. struktur kelembagaan. yaitu: kawasan lain yang dipandang perlu ditetapkan sebagai Kawasan Khusus. desentralisasi fungsional memerlukan pengaturan yang khusus berlaku pada satu kawasan tertentu yang ditetapkan sebagai kawasan khusus. Pengembangan kawasan khusus sebagai pengejawantahan dari desentralisasi fungsional juga berbeda dengan organisasi parastatal. dan Kawasan khusus lainnya.

Pertama. mestinya harus dijadikan pembelajaran yang baik bagi pengembangan kawasan khusus lainnya dimasa mendatang. pengaturan kelembagaan dari kawasan khusus. Pengaturan hendaknya mencakup hubungan pengelola kawasan khusus tersebut dengan pemerintahan daerah. hubungan antara kawasan khusus dengan pemerintahan daerah. konservasi lingkungan. pembentukan kawasan khusus diluar kawasan ekonomi khusus sangat penting dilakukan Karena UU 32/2004 belum mengatur secara rinci pengembangan kawasan khusus terutama diluar kawasan ekonomi khusus. misalnya pengelolaan kawasan perbatasan dan konservasi lingkungan yang sangat penting dilihat dari kepentingan nasional strategik belum diatur dalam UU 32/2004. yang kurang dirasakan manfaatnya secara nasional. Masalah lain adalah bahwa UU 32/ 2004 hanya membatasi kawasan khusus dari perspektif industri dan perdagangan.berhadapan dengan kepentingan-kepentingan jangka pendek dan mendesak dari pemerintah daerah. Untuk itu diperlukan pengaturan dalam Undang Undang tentang pemerintahan daerah mengenai kewenangan yang perlu diberikan kepada pengelola kawasan khusus. dan bagaimana koordinasi dan sinerji antara keduanya dapat dilakukan. tentu ada banyak aspek yang harus dipertimbangkan agar pengembangannya dapat bermanfaat bagi masyarakat di kawasan khusus ataupun secara nasional. Dengan demikian akan terbentuk kejelasan apa hak dan kewajiban daerah dalam kawasan khusus dan sebaliknya juga menjadi jelas hak dan kewajiban pengelola kawasan khusus terhadap daerah. Pengalaman dalam pengembangan kawasan ekonomi khusus Batam menunjukan adanya konflik yang bersumber dari ketidakjelasan hubungan Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 144 . dan pengelolaan kawasan strategis seperti daerah perbatasan. Pengalaman kegagalan pengembangan kawasan khusus Batam. Mengingat besarnya tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dalam mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi. maka pengaturan pengembangan kawasan khusus diperlukan. Analisis Dalam pengembangan kawasan khusus. Jenis kawasan khusus lainnya.

Apa kewenangan yang akan dilimpahkan kepada pengelola kawasan khusus harus dijelaskan dalam Undang Undang agar semua pihak dapat memahami batas-batas kewenangan yang dilimpahkan oleh pemerintah kepada kawasan khusus dan bagaimana seharusnya kewenangan itu digunakan untuk mencapai tujuan dari pengembangan kawasan khusus itu? Pengaturan harus juga dilakukan untuk aspek kepegawaian.kelembagaan antara pengelola kawasan khusus (Badan Otorita) dengan pemerintah daerah 33 . sosial ekonomi. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 145 . Karena urusan khusus yang akan dikelola oleh lembaga pengelola kawasan khusus tersebut adalah urusan pemerintahan maka pemerintah memiliki kewenangan untuk mengatur kelembagaan dari pengelolaan kawasan khusus. Ketidakjelasan pengaturan sering membuat masing-masing cenderung mengembangkan kewenangannya. Namun. keterlibatan unsur-unsur non-pemerintah dalam pengelolaan kawasan khusus perlu dijaga agar aspirasi dan kepentingan warga dan pemangku kepentingan dalam pengelolaan kawasan khusus dapat diperhatikan. maka daerah perlu dilibatkan dalam struktur kelembagaan pengusahaan kawasan khusus. Pengaturan tentang peran pemerintah dan daerah dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan khusus perlu diatur dengan jelas dalam undang undang. dengan menegasikan peran dari lembaga lainnya. karena lembaga pengelola kawasan khusus nantinya akan berinteraksi dan bekerjasama sangat erat dengan daerah. Penyebab lain dari konflik yang sering terjadi dalam pengelolaan kawasan khusus adalah ketidakjelasan pelimpahan wewenang yang diberikan kepada kawasan khusus. Karena itu pengelola kawasan khusus harus diberi wewenang untuk mengambil tindakan tertentu dalam rangka melaksanakan mandat yang diberikan kepada kawasan khusus. Bahkan. Dalam hal prosedur pengembangan kawasan khusus perlu diingat bahwa pengembangan kawasan khsusus dilakukan atas insiatif dari pemerintah dan untuk 33 Diskusi mendalam tentang masalah yang terjad i dalam pengelo laan kawasan ekonomi khusus Batam dalam ketenagakerjaan. Tujuan pengembangan kawasan khusus adalah untuk mempercepat pencapaian tujuan nasional strategik tertentu. pembiayaan. dan prosedur pengembangan kawasan khusus. Ibid. dan konfliknya dengan pemerintah daerah setempat dapat dibaca dalam Diamar.

Pengaturan tentang hal ini diperlukan dalam Undang Undang. melalui Kementerian Dalam Negeri. jenis kewenangan bersifat khusus yang akan dialihkan kepada lembaga yang dibentuk untuk mengelola urusan khusus itu. Pengaturan tersebut mencakup antara lain: tujuan pengalihan kewenangan khusus. kawasan perbatasan. mengacu pada kepentingan daerah dan nasional. Perlu pengaturan tentang siapa yang berhak mengusulkan pembentukan kawasan khusus. mekanisme pengusulan. antara lain dalam pengelolaan kawasan ekonomi khusus. Namun daerah juga dapat mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk dikembangkan sebagai kawasan khusus apabila memang terdapat potensi untuk itu. kawasan konservasi. Pengalihan urusan pemerintah yang bersifat khusus kepada lembaga yang secara khusus dibentuk untuk itu. Pemerintah yang melihat pentingnya kawasan khusus tertentu dikembangkan untuk pencapaian tujuan nasional strategik dapat mengambil inisiatif untuk pengembangan kawasan khusus di daerah tertentu.kepentingan nasional. Agar pembentukan kawasan khusus dilakukan dengan pertimbangan yang jelas. Perlu pengaturan yang jelas mengenai pengalihan urusan pemerintahan tertentu yang bersifat khusus kepada lembaga yang secara khusus dibentuk untuk mengelola urusan tersebut di daerah. maka mekanisme pengusulan penetapan dan pengambilan keputusan tentang kawasan khusus perlu diatur dengan jelas. Hal yang sama dapat dilakukan oleh pemerintah. Pemangku kepentingan di daerah yang melihat potensi untuk pengembangan kawasan khusus tertentu dapat mengajukan usulan kepada pemerintah. 2. Perlu diatur dengan jelas bahwa untuk mencapai tujuan pembangunan nasional dan daerah. pemerintah dan daerah dapat mengusulkan pembentukan kawasan khusus tertentu. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 146 . Usul Penyempurnaan 1. dan wilayah yang akan terkena pengaturan khsusus tersebut. dan proses pengambilan keputusan tentang penetapan kawasan khusus. . dan kawasan khsusus lainnya yang diperlukan dalam pencapaian tujuan nasional strategis.

Masing-masing daerah Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 147 . Pengaturan harus menjamin terjadinya sinerji dan koordinasi fungsional antara pengelolaan kawasan kawasan khusus dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah 4. Hubungan social dan ekonomi secara fungsional seringkali tumpang tindih dan melewati batas-batas wilayah administratif satu daerah otonom. penanggulangan bencana. dan penanganan berbagai masalah kesehatan. Otonomi daerah telah mendorong terjadinya fragmentasi spasial yang semakin tinggi dan membuat jarak yang semakin melebar antara batas wilayah administratif dengan batas wilayah fungsional. seperti: pengelolaan daerah aliran sungai. Kerjasama Antar Daerah Dasar Pemikiran Kerjasama antar daerah menjadi isu penting dalam pelaksanaan otonomi daerah karena pemenuhan kebutuhan masyarakat di daerah tidak semuanya dapat diselenggarakan secara efisien dan efektif dalam batas jurisdiksi wilayah administratif satu daerah semata. Banyak kegiatan pemerintahan dan pelayanan publik yang memiliki eksternalitas. Namun.12. pengelolaan sampah. dan membutuhkan keterlibatan lebih dari satu daerah otonom untuk mengelolanya secara efisien dan efektif.3. kerjasama antar daerah dalam penyelenggaraan pelayanan publik amat sulit diwujudkan. Perlu pengaturan hubungan antara lembaga pengelola kawasan khusus dengan pemerintahan daerah. dalam kenyataannya. Agar penyelanggaraan urusan pemerintahan yang dikelola oleh kawasan khusus tidak berbenturan dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah maka pengaturan tentang kewenangan kawasan ksusus dan hubungannya dengan pemerintahan daerah perlu dilakukan dengan jelas. Urusan pemerintahan yang diserahkan kepada kawasan khusus tidak boleh tumpang tindih dengan urusan yang telah diserahkan kepada pemerintahan daerah. pelayanan transportasi. IV.

(4) berbasis pada sikap saling percaya. Bangkalan. Bahkan. 34 Sedangkan. kasus kerjasama antara Kabupaten Semarang dengan Kota Semarang juga mengalami kegagalan walaupun mereka menyadari bahwa tanpa kerjasama mereka tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan pelayanan air bersih dan persampahan di 34 Keban. dan (6) harus ada komitmen masing-masing pihak untuk memenuhi perjanjian yang telah disepakati. (2) bebas dari keinginan melakukan KKN. Mojokerto. Permasalahan Upaya untuk melakukan kerjasama antar daerah sudah cukup diusahakan. pengelolaan kerjasama antar prinsip antara lain: (1) daerah Apapun sifatnya. bentuk kelembagaan kerjasama antar daerah dapat bersifat adhoc atau melembaga. harus memperhatikan berbagai prinsip- berorientasi pada kepentingan umum. Mengingat isu dan obyek kerjasama berbeda sifat dan urgensinya maka kerjasama antar daerah dapat bersifat wajib dan sukarela. Kerjasama antar daerah karenanya perlu diatur dengan jelas dalam undang-undang pemerintahan daerah. dan Lamongan dapat menjadi salah satu contoh dari kegagalan mewujudkan kerjasama antar daerah. 2009. Sidoarjo. walaupun umumnya berakhir dengan kegagalan.cenderung bekerja sendiri-sendiri sehingga membuat kegiatan pemerintahan dan pelayanan menjadi kurang efisien dan efektif. (3) saling menguntungkan dan memberdayakan para pihak yang terlibat. 2007. menghargai. tidak jarang muncul ketegangan hubungan antar daerah dan penduduk antar daerah otonom ketika penyelenggaraan pelayanan yang memiliki eksternalitas tersebut dinilai tidak adil dan merugikan kepentingan sebagian dari pemangku kepentingan. Surabaya. “Kerjasama Antar Daerah”. Yogyakarta 35 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 148 .. tergantung pada kebutuhan dan kesepakatan para pihak35. Kasus GERBANGKERTASUSILO yang mencoba mengintegrasikan pengembangan Gresik. Jeremias T. Pratikno. dan saling membutuhkan. Di Jawa Tengah. Paper tidak dipublikasikan. PLOD. “Kerjasama Antar Daerah: Komp leksitas dan Tawaran Format Kelembagaan. (5) bersifat inklusif dan partisipatif.

Kabupaten Sleman. Di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Ibid 149 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 . Di wilayah Sumatera misalnya. Dalam pengelolaan sampah ketiga daerah tersebut dapat mewujudkan kerjasama dalam pengelolaan sampah yang pembiayaannya ditanggung bersama dan dibagi sesuai dengan volume sampah yang dihasilkan oleh masing-masing daerah. upaya untuk mendorong kerjasama antar daerah dalam membangun jalur transportasi juga belum berhasil dilakukan dengan baik. Sekretariat bersama untuk mengelola kerjasama ketiga daerah dapat dilembagakan dan inisiatif kerjasama untuk bidang-bidang lainya mulai dikembangkan. tampak jelas bahwa walaupun kerjasama antar daerah selama ini banyak mengalami kegagalan namun 36 Keban. JABOTABEK. Keberhasilan dalam pengelolaan sampah bersama menumbuhkan kepercayaan diantara ketiga daerah tersebut bahwa kerjasama antar daerah dapat memberi manfaat bersama dan membuat pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih efisien dan efektif. berbagai upaya untuk membangun kerjasama antara DKI Jakarta dengan wilayah sekitarnya tersebut selalu mengalami kegagalan.Kota Semarang. Akibatnya. Dari berbagai kasus kerjasama antar daerah tersebut.36 Namun. sudah lama dirintis kerjasama antara DKI Jakarta dengan beberapa wilayah sekitarnya (Jawa Barat) melalui proyek BOTABEK. Kasus kerjasama antar daerah yang mungkin dapat dinilai cukup berhasil adalah kerjasama KERTAMANTUL. yang melibatkan Kota Yogyakarta. dan sekarang menjadi JABOTABEKJUR untuk mengatasi berbagai masalah dalam pengembangan wilayah Jakarta dan sekitarnya. pengelolaan DAS Bengawan Solo menjadi tidak efektif untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan di sepanjang DAS tersebut dan mengakibatkan terjadi banjir hebat di berbagai kabupaten dan kota yang dilalui oleh sungai tersebut. dan Kabupaten Bantul dalam pengelolaan sampah . Kerjasama juga amat sulit diwujudkan dalam pengelolaan lahan gambut di Kalimantan yang selalu menghasilkan kebakaran yang meluas dan menyebarkan asap ke berbagai daerah sekitarnya. Cerita kegagalan dalam upaya mendorong kerjasama juga terjadi dalam pengelolaan DAS Bengawan Solo.

32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. sebenarnya pemerintah telah mendorong kerjasama antar daerah melalui berbagai instrument kebijakan. potensi konflik antar daerah sebagai akibat dari pelaksanaan otonomi daerah akan menjadi semakin besar. Keberhasilan KERTAMANTUL memberi inspirasi bagi daerah lainnya untuk dapat merintis kerjasama dengan daerah lainnya. 25/2004 tentang Sistim Perencanaan Pembangunan Nasional.kerjasama antar daerah bukan sesuatu yang mustahil karena ternyata jika dikelola dengan baik dan sungguh-sungguh kerjasama antar daerah dapat sangat bermanfaat bagi masyarakat di daerah. yaitu: mengapa amat sulit mendorong kerjasama antar daerah dan mengapa banyak dari upaya kerjasama antar daerah menemui kegagalan? Otonomi daerah yang mendorong terjadi fragmentasi spasial mestinya harus dibarengi semangat kerjasama antar daerah yang lebih besar. UU N0. UU N0. Jika otonomi daerah tidak dibarengi oleh penguatan semangat kerjasama antar daerah maka otonomi daerah dapat menciptakan ketegangan hubungan antar daerah dan melahirkan potensi konflik horizontal. Menyadari hal ini.33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 150 . Analisis Ada dua permasalahan yang perlu diperjelas dalam hal kerjasama antar daerah. Masalah publik sekarang dan di masa mendatang akan semakin kompleks dan tidak mungkin ditanggung oleh daerah secara sendiri-sendiri. Hal ini terjadi karena pelaksanaan fungsi-fungsi pelayanan dan kegiatan social ekonomi masyarakat di satu kabupaten/ kota akan menjadi semakin sering bertubrukan dengan batas-batas wilayah administratif dari daerah otonom lainnya. Apalagi dalam disain otonomi daerah yang mengalihkan sebagian besar urusan pemerintahan kepada kabupaten/ kota. Kegagalan membangun kerjasama antar daerah bukan hanya menghilangkan kesempatan warga di daerah untuk memperoleh pelayanan publik yang berkualitas dan lebih murah tetapi juga membawa kepada mereka potensi konflik horizontal yang sangat besar dan sulit dikendalikan. UU N0. jika hal itu terjadi.

kolaborasi antar daerah dan antar susunan pemerintahan menjadi keniscayaan ketika masalah yang dihadapi bersifat strategis dan 37 melibatkan Dwiyanto. pemerintah juga telah menerbitkan PP N0. Peraturan perundang-undangan yang ada sejauh ini masih belum menjanjikan insentif yang memadai bagi daerah untuk bekerjasama.telah berupaya mendorong terjadinya kerjasama antar daerah. Masalah publik yang strategis dan kegagalan menyelesaikannya memiliki implikasi yang besar bagi kehidupan warga di daerah. 2007. Pada hal peluang untuk memanfaatkan instrument kebijakan yang ada.50/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Antar Daerah yang dimaksudkan untuk memberi dukungan kepada daerah untuk melakukan kerjasama dengan daerah lainya dalam menyelesaikan berbagai masalah publik yang memiliki eksternalitas yang melewati batas-batas administratif. instrumen kebijakan juga diperlukan memberi disinsentif yang lebih besar bagi daerah yang gagal melakukan kerjasama dalam menyelesaikan masalah public yang eksternalitasnya melewati batas-batas provinsi dan kabupaten/kota. “ Apakah kepercayaan publik masih menjad i modal social kita? Analisis terhadap data Government Assessment Survey 2006”. berbagai instrumen kebijakan tersebut tampaknya belum efektif untuk mendorong daerah untuk bekerjasama karena kendala dan disinsentif untuk bekerjasama masih sangat besar. misalnya melalui penggunaan DAK sangat terbuka. maka kerjasama menjadi sangat penting dan bersifat wajib. Salah satu penyebabnya adalah instrument kebijakan yang ada belum mampu memberi insentif yang cukup efektif untuk mendorong daerah bekerjasama. Dalam kondisi dimana modal sosial dan trust yang ada dalam masyarakat cenderung mengecil 37 maka insentif untuk bekerjasama menjadi instrument kebijakan yang penting. Kecenderungan daerah menjadi semakin narrow minded dan ketegangan hubungan antar daerah yang semakin tinggi membuat dorongan untuk bekerjasama menjadi semakin memudar. Bahkan. Makalah Seminar Bulanan PSKK UGM Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 151 . Untuk itu diperlukan adanya pengaturan yang membolehkan penggunaan DAK untuk pembiayaan kerjasama antar daerah dan antar pemerintah dengan daerah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan warga. Di banyak Negara lainnya. Namun. Agus. Disamping memberi insentif.

Instrumen kebijakan ini hanya akan efektif kalau konsekwensi dari kegagalan melakukan kerjasama cukup signifikan bagi daerah dan warganya. Academic Research Library. Untuk kerjasama yang diperlukan untuk menyelesaikan lintas kabupaten/ kota dan provinsi yang bersifat strategis dan kegagalan pengelolaannya memiliki dampak yang besar bagi warga di daerah maka kerjasama tersebut bersifat wajib.kepentingan para pihak. Salah satu caranya dengan membolehkan pemerintah mengambil alih penanganan masalah tersebut dengan membebankan pembiayaannya secara proporsional kepada APBD. fasilitasi terhadap asosiasi berbagai pemerintahan menjadi sangat penting peranannya. mengingat trust yang ada antar daerah dan antar pusat dengan daerah cenderung menurun selama dekade terakhir ini. Revisi Undang-Undang N0. Insentif dan disinsentif tersebut perlu diatur dalam Undang-Undang Pemerintahan Daerah. Tentu insentif dan disinsentif tidak cukup. Diperlukan upaya lain untuk mencairkan hubungan antar daerah dan tradisi untuk bekerjasama. Public Administration Review.32/2004 perlu memperkuat pengaturan tentang kerjasama antar daerah yang dapat bersifat wajib dan sukarela. Usulan Perubahan 1. Ketika kerjasama bersifat wajib dan daerah dinilai gagal melakukan kerjasama untuk penyelesaian masalah pelayanan publik yang bersifat lintas kabupaten/ kota atau lintas provinsi. kerjasama antar daerah dan antar pusat dengan daerah amat sulit diwujudkan. Dalam situasi seperti ini disinsentif diperlukan. 20-32 Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 152 . 66.38 Di Indonesia. Collaboration Processes: Inside the Black Box. walaupun masalah yang dihadapi sangat strategis seperti dalam pengelolaan DAS Bengawan Solo dan penanganan banjir di Jakarta. Melalui instrument insentif dan disinsentif ini pemerintah dapat mendorong terwujudnya kerjasama antar daerah dan bila mana perlu. Dalam konteks ini. 2. 2006. maka pemerintah dapat mengambil alih penyelenggaraan pelayanan tersebut dan membebankan 38 Lihat Thompson dan Perry. antar pemerintah dengan daerah.

Dinamika politik. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) harus memiliki kapasitas yang memadai untuk merespon berbagai isu terkait dengan implementasi otonomi daerah.13 Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) Dasar Pemikiran Sebagai lembaga yang bertugas memberi pertimbangan kepada Presiden dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. dan legal-administratif dari penyelenggaraan pemerintahan daerah yang sangat kompleks sekarang ini sering memunculkan masalah-masalah baru yang perlu segera dicarikan solusinya oleh pemerintah. Untuk dapat memberi rekomendasi kebijakan yang solid dan sound kepada Presiden dalam merespon berbagai isu kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah maka DPOD harus didukung oleh tim kajian yang melibatkan pakar dari berbagai latar keilmuan yang relevan dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah.pembiayaannya proporsional. Pemerintah perlu memfasilitasi berbagai bentuk lembaga kerjasama antara daerah untuk mendorong semangat kerjasama antar daerah. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 153 . pada APBD masing-masing daerah terkait secara 3. ekonomi. Untuk itu fungsi advisory dan kajian yang selama ini melekat pada DPOD harus dipisahkan. DPOD sebagai advisory body secara kelembagaan dipisahkan dari fungsinya sebagai policy research and analysis institutions. DPOD sebagai advisory body hanya beranggotakan para Menteri dan pemangku kepentingan terkait yang bertugas memutuskan mengenai rekomendasi yang akan diberikan kepada presiden terkait dengan isu-isu strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. IV. DPOD harus dapat mengantisipasi dan memberi rekomendasi kebijakan yang solid dan sound kepada Presiden terkait dengan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah.

Banyaknya daerah otonom baru dan daerah induknya yang mengalami penurunan kinerja pasca pemekaran menjadi indikasi bahwa kapasitas DPOD untuk benar-benar menjadi advisory body Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 154 . Untuk dapat menjalankan fungsinya DPOD didukung oleh sebuah working groups yang terdiri dari kelompok pakar yang memiliki latar keilmuan yang relevan dengan masalah penyelenggaraan pemerintahan daerah dan memiliki integrasi yang kuat. dalam pemekaran daerah DPOD sering tidak dapat memberi rekomendasi yang conclusive dan mampu mengendalikan pemekaran daerah sehingga pemekaran daerah benar-benar membawa manfaat bagi kemajuan daerah induk dan daerah otonom baru. rekomendasi kebijakan yang diberikan DPOD kepada Presiden benarbenar conclusive dan didukung oleh kajian yang solid dan memiliki dukungan empirik yang memadai. Adanya position paper yang didukung oleh fakta empirik akan membuat para anggota DPOD dapat memberikan rekomendasi yang conclusive kepada Presiden. Identifikasi Permasalahan Salah satu masalah penting dalam pemberdayaan DPOD adalah kapasitasnya dalam memberi rekomendasi terhadap Presiden untuk mengambil kebijakan yang tepat dalam merespon berbagai masalah penyelenggaraan pemerintahan daerah. Tugas dari tim kajian adalah membuat positioning paper terhadap isu-isu strategis yang muncul dan menyediakan pilihan kebijakan dan segala konsekwensinya untuk menanggapi setiap isu strategis yang akan dibicarakan dalam rapat DPOD. Misalnya. Untuk itu restrukturisasi DPOD perlu dilakukan.Untuk membantu DPOD dalam merumuskan rekomendasi kebijakan maka DPOD perlu didukung oleh tim kajian ( think tank) yang kuat yang melibatkan para pakar dari latar keilmuan yang relevan dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Lebih dari itu. Dengan demikian. DPOD diarahkan sepenuhnya menjadi advisory body untuk Presiden dalam mengambil kebijakan terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah. DPOD harus dikelola oleh sekretariat yang kuat dan dipimpin oleh seorang profesional yang bekerja penuh waktu.

Kesulitan DPOD untuk memberi dukungan yang optimal sebagian disebabkan oleh terbatasnya sumberdaya yang tersedia di sekretariat DPOD. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 155 . Restrukturisasi diperlukan untuk membuat DPOD dapat berperan sebagai advisory body yang kuat dan effektif. Ketidaksiapan informasi dan tidakadanya policy papers terkait dengan isu yang dibahas di rapat DPOD sering membuat DPOD kurang siap membahas isu dan masalah strategis yang berkembang di daerah. sosial. pemberdayaan kapasitas fiskal daerah. Sedangkan masalah-masalah tersebut sangat strategis dan perlu segera ditanggapi oleh Presiden.masih dipertanyakan. Masalah lain yang dihadapi oleh DPOD adalah rendahnya kapasitas internal DPOD dalam mengelola kegiatan DPOD dan memberi dukungan kepada anggotanya sehingga mereka dapat bekerja secara efektif. termasuk tenaga ahli untuk melakukan kajian terhadap pemerintahan isu dan masalah membuat tertentu DPOD terkait menjadi dengan kurang penyelenggaraan daerah fungsional. Dinamika politik. DPOD sering tidak mampu memberi rekomendasi kebijakan yang solid dan conclusive secara cepat untuk merespon masalah dan isu strategis di daerah seperti pemekaran. dan pembatalan peraturan daerah. Kesulitan DPOD untuk mengelola sumberdaya yang ada sehingga mampu merumuskan agenda yang strategik yang perlu direspon oleh para anggota DPRD sering membuat rekomendasi kebijakan yang diberikan oleh DPOD menjadi kurang optimal dan efektif. Banyaknya temuan yang menunjukan adanya penurunan kinerja daerah otonom baru dan daerah induk membuktikan bahwa rekomendasi yang dibuat oleh DPOD kurang valid dan sound. dan ekonomi yang sangat tinggi di daerah sering membuat keterlambatan dalam merespon masalah kebijakan tertentu dapat menghasilkan situasi yang lebih buruk terjadi di daerah. Untuk dapat memberi rekomendasi yang solid dan sound maka DPOD harus memiliki informasi yang memadai yang dapat menjadi dasar merumuskan rekomendasi kepada Presiden. Akibatnya. Terbatasnya sumberdaya yang tersedia untuk DPOD. restrukturisasi kelembagaan daerah dan kepegawaian daerah.

dana perimbangan daerah. peningkatan kapasitas fiskal daerah. Hal ini terjadi karena sebagai advisory body. Kebijakan strategis yang perlu diambil oleh Presiden untuk merespon berbagai masalah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah seperti masalah pemekaran daerah. Tidak tersedianya Tim Pakar yang berlatar keilmuan berbeda namun relevan dengan masalah penyelenggaraan pemerintahan daerah yang secara penuh atau paruh waktu bekerja untuk untuk membantu kelompok kerja yang ada dalam merumuskan position papers terkait dengan masalah dan isu kebijakan yang perlu direspon oleh DPOD membuat DPOD mengalami kesulitan untuk memperoleh informasi yang sahih dan kuat untuk menjadi dasar dalam merumuskan rekomendasi kebijakan kepada Presiden. DPOD sering mengalami kesulitan untuk memproduksi informasi dan fakta empirik yang dapat menjadi landasan yang kokoh dalam merekomendasi kebijakan kepada Presiden.Analisis Kurangnya dukungan informasi yang diperlukan untuk memberi rekomendasi kebijakan sering membuat DPOD terkesan lamban dalam merespon dinamika yang terjadi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. dan restrukturisasi kelembagaan daerah tentu membutuhkan broad-based information dan data-data yang obyektif sebagai pendukungnya. Keberadaan beberapa pakar pemerintahan daerah dalam keanggotaan DPOD tidak banyak membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh DPOD dalam merumuskan rekomendasi kebijakan karena kedudukan mereka sebagai anggota DPOD hanya terlibat dalam kegiatan DPOD ketika rapat DPOD diselenggarakan. Akibatnya dukungan sekretariat dan kelompok kerja terhadap DPOD sebagai advisory body relatif amat terbatas dan kurang optimal. Mereka tidak memiliki Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 156 . DPOD tidak didukung oleh think tank atau kelompok kerja yang kuat dan mampu menghasilkan positioning paper terkait dengan isu-isu yang dibicarakan di DPOD. Kelompok kerja dan sekretariat DPOD yang ada sekarang ini bersifat adhoc dan umumnya dirangkap oleh pejabat struktural dari berbagai instansi yang terkait.

pemangku kepentingan terkait termasuk asosiasi pemerintahan daerah. DPOD memerlukan banyak kajian untuk merumuskan rekomendasi kebijakan kepada Presiden. Para pakar yang selama ini menjadi anggota DPOD sebaiknya difungsikan Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 157 . Sebagai advisory body. DPOD sebagai advisory body kepada Presiden dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah hanya beranggotakan Menteri. Untuk itu DPOD memerlukan dukungan sebuah think tank atau kelompok kerja yang secara khusus dirancang untuk mekakukan analisis dan merumuskan policy papers and briefs terkait dengan isu dan masalah strategis dalam penyelenggaraan otonomi daerah.kesempatan untuk melakukan kajian secara mendalam terhadap masalah yang akan dibicarakan dalam persidangan DPOD. dan dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri. DPOD sebagai advisory body perlu didukung oleh sekretariat yang memadai dan policy think tank yang tangguh. Adanya policy think tank akan sangat membantu DPOD dalam menjalankan misinya sebagai advisory body. Untuk itu restrukturisasi kelembagaan DPOD diperlukan. Merumuskan kembali struktur kelembagaan dan keanggotaan DPOD. Untuk mengembangan policy think tank yang tangguh DPOD perlu memperoleh sumberdaya yang memadai agar dapat memberi dukungan yang memadai sehingga analisis dan riset untuk merumuskan policy papers and briefs dapat dilakukan dengan baik. Komposisi keanggotaan DPOD perlu diubah sehingga hanya terdiri dari para pengambil kebijakan yang terdiri dari Menteri terkait atau yang mewakilinya. Para pakar yang selama ini mewakili dunia akademik dalam DPOD sebaiknya difungsikan sebagai tim pakar untuk think tank yang dibentuk oleh DPOD. Usulan Perubahan Untuk memperkuat kapasitas DPOD dalam merekomendasi kebijakan kepada Presiden terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah maka beberapa hal berikut perlu dilakukan: 1.

3. IV. 2. Upaya untuk menjaga keseimbangan antara keinginan menciptakan kepastian hukum dengan pemberian kewenangan diskresi bagi para penyelenggara Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 158 . Penguatan sekretariat DPOD Pengaturan perlu dibuat untuk memungkinkan DPOD dapat bekerja secara efektif dan mampu secara optimal memberi rekomendasi kebijakan untuk merespon berbagai masalah kebijakan otonomi daerah. tetapi oleh profesional yang bekerja penuh waktu.sebagai pakar yang dipekerjakan pada think tank yang secara khusus dibentuk untuk merumuskan rekomendasi kebijakan terkait dengan isu-isu strategik dalam penyelenggaraan otonomi daerah. yang pejabatnya merangkap jabatan-jabatan lainnya di berbagai instansi terkait. DPOD perlu didukung oleh sekretariat yang tidak bersifat adhoc.13 Inovasi Daerah dan Tindakan |Hukum terhadap Aparat Daerah Dasar Pemikiran Majunya suatu bangsa banyak ditentukan oleh kemampuan bangsa tersebut membuat terobosan pemikiran dalam menangani persoalan-persoalan yang dihadapi serta menciptakan ide-ide baru dalam pembangunan bangsanya. Memperkuat dukungan teknis kepada DPOD DPOD perlu diperkuat dengan lembaga pendukung yang kuat dan memiliki sumberdaya yang memadai untuk dapat mengelola policy think tank yang tangguh. Keberadaan policy think tank yang tangguh sangat diperlukan karena dinamika penyelenggaraan pemerintahan daerah sangat tinggi dan isu dan masalah kebijakan berkembang dengan cepat dan memerlukan kebijakan yang tepat dan efektif.

Upaya untuk menegakan kepastian hukum perlu dilakukan tetapi perlindungan terhadap inovasi yang dilakukan oleh pejabat publik dalam rangka meningkatkan kesejahteraan warganya dan memenuhi kepentingan umum juga harus dilakukan. Maraknya berbagai bentuk penyalahgunaan wewenang yang dilakukan para penyelenggara pemerintahan daerah mengharuskan pemerintah mereformasi peraturan perundangan agar peluang penyalahgunaan kekuasaan dapat dikurangi. sering bersifat dilematis. tetapi pilihan harus diambil oleh pemerintah. Namun. Jika hal ini tidak dilakukan maka para pejabat publik akan takut melakukan inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kondisi tersebut sering bermuara pada terjadinya pelanggaran hukum dan bermuara pada tuduhan tindak kriminal. Menghadapi hal tersebut. penegakan dan perlindungan hukum bagi pejabat publik dalam mengembangkan inovasi harus ditempatkan sebagai upaya penguatan kepastian hukum itu sendiri. Dinamika sosial. muncul kecenderungan aparat daerah menghindari hal-hal yang abu-abu namun keputusan harus diambil manakala menyangkut kepentingan masyarakat daerah tersebut. Keduanya. pemerintah harus dapat mengambil pilihan yang menjaga keseimbangan dari kedua kepentingan tersebut. mengurangi peluang untuk penyalahgunaan kekuasaan dan memberi ruang untuk mengambil diskresi. politik. di sisi lain pemerintah perlu memberi ruang yang memadai bagi pejabat publik untuk mengambil diskresi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Pada sisi lain aparat daerah sekarang ini sering mengalami kegamangan manakala menemukan daerah abu-abu karena peraturan perundang-undangan yang bermasalah. Sudah menjadi rahasia umum bahwa peraturan perundangundangan sektor sering masih belum harmonis dengan peraturan perundangundangan otonomi daerah. Dua kepentingan ini. dan ekonomi di daerah yang sangat tinggi sering menuntut para pejabat publik mengambil diskresi dan menciptakan inovasi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat.pemerintahan daerah perlu dilakukan. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 159 . Dalam menghadapi pilihan dilematis seperti ini.

Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 160 . Namun pelaksanan penegakan hukum harus dilakukan dengan cermat dan konsisten agar tidak menimbulkan ketidakpastian dikalangan para penyelenggara pemerintaan daerah. Banyak penyelenggara pemerintahan yang mengambil ”sikap pasif” dan kurang ”responsif” terhadap pemenuhan kepentingan publik yang berkaitan dengan jabatannya. serta terjadinya tumpang-tindih pemeriksaan dan penyidikan yang dilakukan oleh Kepolisian dan Kejaksaan di daerah. Keputusan Menpan ini dikeluarkan sebagai acuan dalam rangka menangani kasus-kasus penyidikan yang dilakukan atas dasar pengaduan masyarakat yang sering kurang dapat dipertanggungjawabkan. Aparat pengawas pemerintah seperti Badan Pengawasan dan Pemeriksaan Pembangunan (BPKP) dapat dimanfaatkan sebagai salah satu instrumen untuk menentukan apakah suatu pelanggaran masuk kedalam pelanggaran yang bersifat administrative (non yustisia) atau masuk ke ranah pidana (pro yustisia).Untuk itu diperlukan kejelasan dan ketegasan. Untuk itu Menpan mengeluarkan keputusan Nomor 148/Menpan/5/2003 tentang Pedoman Umum Penanganan Pengaduan Masyarakat. Mereka sering menjadi takut dan ragu dalam mengambil diskresi. hal-hal mana yang masuk dalam ranah administratif dan hal-hal mana yang masuk ranah pidana manakala diduga terjadi pelanggaran oleh aparat pemda. Kondisi seperti ini jika dibiarkan akan dapat menurunkan kreativitas. Rendahnya kepastian dalam penegakan hukum sering membuat para penyelenggara pemerintahan di daerah mengalami keresahan dan ketakutan untuk mengambil inisiatif dan diskresi dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. Hasil pemeriksaan yang dilakukan BPKP yang kemudian ditindak lanjuti oleh aparat penegak hokum manakala terbukti bahwa yang disangkakan tersebut bersifat pelanggaran pidana. Identifikasi Permasalahan Upaya pemerintah untuk meningkatkan efektivitas penegak hukum terkait dengan penyalahgunaan kekuasaan oleh para penyelenggara pemerintahan daerah perlu memperoleh dukungan.

Analisis Persoalan dilematis yang dihadapi dalam perlindungan hukum terhadap inovasi yang dilakukan oleh aparatur daerah terjadi karena Indonesia belum memiliki peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kewenangan pejabat publik mengambil diskresi. Akibatnya. Kondisi seperti ini tentu membuat aparatur di daerah mengalami kesulitan untuk menanggapi dinamika politik dan ekonomi yang sangat tinggi sekarang ini. Desember/ Januari 2009 menjelaskan 10 Bupati/ Walikota yang dinilai berhasil memajukan daerah. 39 dan keberanian mengambil terobosan-terobosan demi Rendahnya kreativitas dan inovasi yang dilakukan oleh daerah dapat diamati dengan sedikitnya teladan (best practices) yang berhasil dikembangkan oleh daerah. Diluar itu. Ide dan Gagasan.com/2008/01/23/pengawasan-menuju-clean-government/ 40 Majalah Temo. kepentingan publik. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 161 .wordpress. Media Berbagi Visi. banyak peraturan perundang-undangan yang sudah ketinggalan dan tidak sesuai lagi dengan masalah dan tantangan yang dihadapi oleh daerah. http://swadaya. Ruang yang tersedia untuk mengambil diskresi bagi aparatur daerah belum diatur dengan jelas sementara tuntutan dan tekanan untuk mengambil tindakan dalam menyelesaikan masalah publik di daerah menuntut aparatur daerah untuk segera bertindak agar masalah dapat diselesaikan dengan baik.40 Lebih dari itu. namun belum diperbaharui dan karenanya sering masih diberlakukan oleh aparat pengawasan dan penegak hukum. Pengawasan Menuju Clean Governm ent. 39 Mereka sering Tidak jarang satu objek diperiksa berkali-kali o leh pengawas yang berasal dari instansi yang sama dan hasilnya berbeda-beda.semangat innovasi. Sumber: Swamandiri. sedikit dari Dari lebih 530 provinsi dan kabupaten/ kota di Indonesia hanya mereka yang berhasil mengembangkan inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. banyak data menunjukan bahwa daya serap APBD cenderung rendah dan banyak dana daerah yang sebenarnya dapat digunakan untuk menggerakan sektor riil dan mempercepat pembangunan daerah sekarang ini cenderung ditempatkan di Bank Pembangunan Daerah yang kemudian sering dibelikan SBI. para pejabat merasa tertekan. Salah satu ukuran dari keberhasilannya adalah kemampuan mengembangkan inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Pengalaman menunjukan teladan (best practices) tidak mudah direplikasi di daerah lainnya karena kesempatan melakukan inovasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik dan pemerintahan tidak tersedia. Seorang aparatur negara yang melakukan inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik akan memperoleh perlindungan hukum tertentu. Aparatur daerah dapat melakukan inovasi sejauh tidak bertentangan ketentuan dengan peraturan perundangan yang berlaku. tidak didasarkan pada kepentingan sendiri. sejauh tindakannya dilakukan untuk memenuhi kepentingan publik. dan pengelolaan inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. rule waive. namun pada sisi lain mereka sadar bahwa perlindungan hukum bagi inovasi di Indonesia belum diatur dalam peraturan perundangan yang berlaku. tata cara. yang amat diperlukan untuk daerah untuk mengatasi kekosongan peraturan dan kejadian-kejadian yang bersifat kontingensi. seperti terus berlanjut. Pengaturan perlu dibuat untuk memberi ruang yang memadai Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 162 . banyak kasus-kasus kesalahan administrasi dan prosedur yang kemudian diselesaikan dengan hukum acara pidana. Penyebab lainnya adalah kurang berfungsinya Hukum Administrasi Negara. Pengembangan hukum acara pidana jauh lebih maju daripada hukum acara administrasi negara. Sunset rules. Di banyak negara-negara yang memiliki sistim administrasi publik yang maju. ada banyak peraturan perundang-undangan yang memberi ruang yang memadai bagi aparatur negara termasuk yang di daerah untuk mengembangkan inovasi. Perlu ada pengaturan yang jelas tentang kesempatan. dan kelompok. Usulan Perubahan 1. Akibatnya. keluarga. sangat sulit mengharapkan aparat Jika hal daerah mengembangkan inovasi. dan reinvention laboratory dibuat untuk memberi ruang bagi aparatur pemerintah untuk mengambil diskresi dalam rangka melakukan inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik.mengalami kegalauan ketika dihadapkan pada tekanan untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan untuk merespon kebutuhan publik.

keluarga. 3. Untuk menciptakan kepastian hukum bagi aparatur dalam mengelola kegiatan pemerintahan perlu ada aturan yang jelas mengenai proses penegakan hukum terhadap aparatur daerah ketika melaksanakan kebijakan publik yang menjadi kewenangannya. tidak mengandung konflik kepentingan. dan kelompok. 2. Perlu ada pengaturan yang melindungi aparatur daerah yang mengambil kebijakan publik dari tindak pidana sepanjang tindakannya dilakukan untuk memenuhi kepentingan umum. Pengaturan tersebut harus dapat mendorong adanya pemerintahan yang bersih tetapi juga tidak menghalangi aparatur untuk mengembangkan inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pengaturan seperti ini penting untuk mencegah terjadinya kriminalisasi kegagalan kebijakan publik yang dapat menghalangi inovasi kebijakan dan pelayanan publik di daerah. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 163 . tidak untuk memperkaya diri sendiri. dan tidak merugikan keuangan negara. Kegagalan dari pelaksanaan kebijakan yang terjadi jangan dianggap pelanggaran pidana dan tidak dapat dikriminalkan. dan bertentangan dengan hukum. tidak merugikan kepentingan negara.kepada aparat daerah untuk mengembangkan inovasi tanpa harus dihadapkan kepada kekawatiran untuk dihadapkan pada persoalan hukum sejauh inovasi dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

politik. 32 Tahun 2004 sudah tidak lagi cocok dan relevan untuk digunakan.BAB V PENUTUP Pelaksanaan desentralisasi di Indonesia masih mengalami banyak hambatan dan kendala sehingga tujuan dari kebijakan tersebut belum dapat diwujudkan secara optimal. banyak masalah yang muncul di daerah tidak dapat diselesaikan dengan pengaturan yang ada. karena situasi yang dihadapi oleh pemerintah baik pusat ataupun daerah sudah berbeda dengan yang dulu dijadikan sebagai dasar dalam pembentukan Undang-Undang N0. 32 Tahun 2004 perlu dilakukan. Pengaturan yang ada sekarang ternyata telah gagal mendorong adanya profesionalisme.32 Tahun 2004. mobilitas pegawai lintas daerah dan antar susunan pemerintahan. kepegawaian. dan pembagian urusan perlu dirumuskan kembali karena dinamika yang terjadi di daerah tidak lagi dapat dikelola dengan menggunakan pengaturan yang ada. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 164 . Pengaturan tentang pemekaran daerah. perencanaan. Menghadapi situasi seperti ini maka perbaikan terhadap pengaturan yang ada di Undang-Undang N0. dan ekonomi yang berkembang di daerah yang cenderung menjadi semakin tinggi. dan netralitas mereka terhadap kekuatan politik yang ada di daerah. Kecenderungan pemekaran daerah yang sulit dikendalikan dalam beberapa tahun terakhir ini dan menimbulkan dampak negatif bagi daerah induk dan daerah otonom baru memerlukan pengaturan yang berbeda dan dapat menjamin bahwa pemekaran yang terjadi nantinya benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas baik di daerah induk ataupun di daerah otonom baru. Hal yang sama juga terjadi dalam aspek-aspek penyelenggaraan pemerintahan daerah lainnya seperti aspek kepegawaian. dalam beberapa hal pengaturan yang ada di Undang-Undang N0. Akibatnya. Hambatan dan kendala tersebut muncul sebagian karena pengaturan yang ada dalam Undang-Undang 32 tahun 2004 belum mampu secara tepat mengantisipasi dinamika sosial. Bahkan.

32 Tahun 2004 diperlukan. Tanpa adanya perbaikan terhadap Undang-Undang penyelenggaraan N0. Dengan berbagai pertimbangan diatas. menambah pengaturan baru yang diperlukan untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan daerah benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat di daerah.32 Tahun 2004 adalah satu keniscayaan.Lebih dari itu. dalam perbaikan Undang-Undang N0. muncul fenomena baru yang ada dalam masyarakat di daerah yang memerlukan norma baru karena belum diatur sama sekali dalam Undang-Undang N0. dan hal-hal baru yang memerlukan pengaturan lebih jelas dalam Undang-Undang yang baru.32 Tahun 2004 seperti meluasnya kebutuhan partisipasi masyarakat dan kapasitas masyarakat untuk terlibat dalam proses kebijakan di daerah. Bahkan. Sedangkan pelayanan publik adalah hal yang sangat penting dan salah satu tujuan utama dari pelaksanaan desentralisasi. aspek apa saja yang perlu diperbaiki dan diperkuat.32 Tahun 2004 dikawatirkan penyelenggaraan pemerintahan daerah akan menjadi semakin buruk dan mengganggu kesejahteraan masyarakat di daerah. Dengan pertimbangan seperti tersebut diatas. Dengan adanya perbaikan diharapkan berbagai masalah yang selama ini terjadi di daerah dapat Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 165 . Karena itu. perubahan Undang-Undang N0. Oleh karena itu. yang juga belum diatur dalam Undang-Undang N0. tanpa perbaikan Undang- Undang N0.32 Tahun 2004 dirancang untuk memperbaiki pengaturan-pengaturan yang dinilai kurang mampu bekerja secara optimal dalam mencapai tujuan dari kebijakan desentralisasi dan sekaligus. perubahan dan perbaikan Undang-Undang N0.32 Tahun 2004 daerah maka amat sulit mampu mengharapkan mewujudkan pemerintahan benar-benar kehidupan yang lebih baik bagi warganya. Hal yang sama juga terjadi dalam penyelenggaraan pelayanan publik. maka para pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan diharapkan dapat memahami dengan baik mengapa perbaikan terhadap Undang-Undang N0. Fenomena semacam ini perlu diatur dengan jelas sehingga kapasitas yang meningkat untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan masyarakat pemerintahan di daerah dapat dimanfaatkan secara optimal.32 Tahun 2004 pengaturan tentang pelayanan publik perlu ditambahkan.32 Tahun 2004.

dan akuntabel. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 166 . Perbaikan praktik penyelenggaraan pemerintahan itu nantinya diharapkan dapat mempercepat terwujudnya kemajuan daerah dan kesejahteraan warganya.dicarikan solusinya dengan baik sehingga penyelenggarakan pemerintahan daerah dapat berjalan secara efisien. efektif.

no. Catherine.Daftar Pustaka Agrawal.. " Capture and Governance at Local and National Levels. no. Andersson. “High Expectation. Andrew. Lehoucq. and D." World Development 27. 1 (2003): 5-27.sagepub. “Decentralization As Political Strategy in West Africa”." Journal of Environment and Development 12. Gibson.id/ Bardhan. Boone. Gibson. Japan. Varying Outcomes: Decentralization and Participation in Brazil. no.bpk." American Economic Review 90. " What Motivates Municipal Governments? Uncovering the Institutional Incentives for Municipal Governance of Forest Resources in Bolivia. 4 (1999): 629-49. 3 (2004): 421-26. Christina W and Michiel S. Aritonang. Baharuddin.com/cgi/content/abstract/73/3/424.com/cgi/content/abstract/36/4/355. de Vries. http://cps.. "The Politics of Decentralizing Natural Resource Policy. no.go. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 167 . "Enchantment and Disenchantment: The Role of Community in Natural Resource Conservation. Arun. Mookherjee. 2 (2000): 135-39. ”Stop Dululah Pemekaran Daerah. P." PS: Political Science and Politics 37. C.sagepub. and F. and Clark C.” http://www. Krister. K. Russia and Sweden”. Andersson. http://ras.

dkk. dkk. 2007. "Decentralization. Accountability and Performance.com. “ Democracy and Decentralization in Southeast Asia and West Africa: Participation. Agus. Richard . and James Manor. Agus. Son. http://cps. Dillinger." In Decentralizing Infrastructure: Advantages and Limitations. “Pembentukan Daerah dan Kawasan Khusus. edited by A. Washington D. Agus. 1 (2005): 171-91.sagepub." World Development 33.” Paper tidak diterbitkan. Catherine. “Decentralization opening a new window for corruption. Estache. Dwiyanto. 2006.C. no. 1998. Yogyakarta: PSKK UGM Dwiyanto. Deininger. Crook. Diamar. “Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik. 2003a. An Accountability Assesment of malawi’s Four Years of Democratic Local Governance”. Klaus.” Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 168 . 2003b.” Cambridge: University of Cambridge.: World Bank Discussion Papers 290. Teladan dan Pantangan Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. “Reformasi Tata Pemerintahan dan Otonomi Daerah. "Does Greater Accountability Improve the Quality of Public Service Delivery? Evidence from Uganda. Politics and Public Sector. and Paul Mpuga. 1995.Boone. B.” Yogyakarta: PSKK UGM Dwiyanto.

" Journal of Public Economics 83. M. Fleurke. Hoessein.wahidinstitute. 1991. “Produk Hukum Penyelenggaraan Otonomi Daerah dan Tugas Pembantuan” .org/indonesia/images/stories/SUPLEMENGATRA/gatrae disi-vii. 2007. Paper tidak diterbitkan. Benyamin. "Decentralization and Corruption: Evidence across Countries.Dwiyanto. “Exploring Reform Options In Functional Assignment”(Draf Report). paper tidak diterbitkan Hoessein.pdf Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 169 .J. Gabe. no.” Yogyakarta: PSKK UGM Esman. West Hartford. Indrayana. “A Contingency Approach to Decentralization”. http://www. Paper tidak diterbitkan. 2007. Inc. Raymond and Roberta Gatti. “Konsep Pembagian Kewenangan (Urusan) Antar Tingkat Pemerintahan”. Frederik and Rudie Hulst. 2007. Connecticut: Kumarian Press. 2007. “Management Dimensions of Development: Perspectives and Strategies”. Ada Unsur Melecehkan Al Quran dan Hadist. Denny. Ferrazi. Benyamin dan Eko Prasojo. Public Organization Rev (2006) 6:37-56 Hamdi. Muchlis “Pembinaan dan Pengawasan Dalam Hubungan Pusat-Daerah”. Jakarta: DSF and GTZ Fisman. Agus. 3 (2002): 325-45. “Kinerja Tata Pemerintahan Daerah. dkk.

Paper tidak diterbitkan.pbet. ”Merebut Anggaran Publik.2007. E. “Perencanaan Pembangunan Daerah”.go.com/cgi/content/abstract/23/2/153 KOMPAS. New York: United Nations: Economic and Social Affairs. : Dalam: kauneck@unr. Pejabat di Daerah Harus Kompak. Kertapraja. Benjamin. in Public Administration and Democratic Governance: Governments Serving Citizens. Keban.org/Publikasi/Buku/Merebut _Anggaran_Publik_ Lakpesdam. E. “Democratizing Decentralization in Bolivia: The Law of Popular Participation”. D.edu. Anderson. Jalan Panjang Menuju Demokratisasi”PenganggaranDaerah. ”Pokok-Pokok Pikiran Tentang Permasalahan Kedudukan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah Pusat”.http://www. Kauneckis. dan K. Pokok-Pokok Pikiran Tentang Permasalahan Kedudukan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah Pusat.Katorobo.pdf Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 170 . 2006. Jeremias T.http://www. Kohl. Decentralization and Local Autonomy for Participatory Democracy. Making Decentralization Work: A Cross- National Examination of Local Governments and Natural Resource Governance in Latin America. Kertapraja. Paper tidak diterbitkan. 2007. 2007.id/konten. Koswara.sagepub. http://jpe. Bupati dan DPR Jangan Saling Menjatuhkan.depdagri.php?nama=Berita&op=detail_beri ta&id=524 LAKPESDAM. Koswara.

James. and Monica Di Gregorio. 1999. David and Ted Gaebler. Property Rights and Devolution of Forest and Protected Area Management." 145. no. D. Adam Przeworski and Susan Stokes. and Susan Stokes. Manin. 1993.” New York: Harcourt Brace and Jovanovich. Bernard." In Democracy. 1 (2002): 17-31.. edited by Bernard Manin. Adam Przeworski. Ruth.com/cgi/content/abstract/11/1/ Larson. Osborne.M. edited by Arun and Elinor Ostrom Agrawal. "Natural Resources and Decentralization in Nicaragua: Are Local Governments up to the Job?" World Development 30.Lam. "Elections and Representation. 1999. "Collective Action. and Representation. Manor. Meinzen-Dick. http://ppa. Property Rights and Devolution of Natural Resource Management." In Collective Action. “Decentralization in Public Administration: Hong Kong’s Experience”. 1972. 1999. Accountability.: World Bank.sagepub. "The Political Economy of Democratic Decentralization.Jermain T. Anna Knox. “Reinventing Government. Oates.C. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 171 . Anne M. W. Washington. How the Entrepreneurial Spirit is Transforming the Public Sector” New York: Plume. “ Fiscal Federalism.E. Cambridge: Cambridge University Press.

Waiting for Democracy: The Politics of Choice in Natural Resource Decentralization. Phil Rene. G. Decentralization in Latin America : Learning through Experience .2007. Paper tidak diterbitkan. China”. Ch. Decentralization as Developmental Strategy http://chr. Peterson. Two Steps Back? Paradoxes of Natural Resources Managment Decentralization in Cameroon. 1 (2004): 91-111. ”Masukan Untuk Revisi UU 32/2004 Terkait Dengan Kerjasama Antar Daerah”. Washington D.” Paper tidak diterbitkan.Oyono. Jesse. 4 (2003).sagepub. Jonathan. Decentralizing Public Service Management. "Comparative Federalism and Decentralization: On Meaning and Measurement. : World Resources Institute. Ribot. Venkat." Journal of Modern African Studies 42. London: MacMillan Press. Raman. no. Pollit. and K. Ltd. ”Konsep dan Pengaturan Desentralisasi Fungsional dan Kawasan Khusus Dalam UU Pemerintahan Daerah”. "One Step Forward.. Menggagas Format Ideal Hubungan Antara Kepala Daerah dan DPRD. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 172 . J. “Development a Model for Developing in Countries.: World Bank. 1998.C. Eko. Rodden.C. 2004.com/cgi/content/abstract/42/4/369. Prasojo.Puttman. no. Paper tidak dipublikasikan. C. Pratikno. 2007. George. Washington D.2007. Indra J. Piliang. Birchall. 1997.." Comparative Politics 36.

(1983) Vol. no. and Erik Wibbels. D. “Pelayanan Publik Revisi UU 32/2004. 2007. A." World Politics 54.. D. Salomo. 1 (1989): 5-27.W.com/ Rondinelli. no. Johnson.. J.” Paper tidak diterbitkan.Rodden. Dalam Public Administration and Democratic Governance: Governments Serving Citizens. “Governments Serving People: The changing Role of Public Administration in Democratic Governance. Rondinelli. 3 181-207 Rondinelli. varying outcomes :decentralization participation”. D. http://ras.A. 4 (2002): 494-531. "Analyzing Decentralization Policies in Developing Countries: A Political-Economy Framework. Public Administration and Development.A.S. “Implementing Decentralization Programs In Asia: Comparative Analysis”. Rondinelli. D." Development and Change 20. http://ras. “Government Decentralization in Comparative Perspective: Theory and Practice in Developing Countries”.com/ cgi/content/abstract/73/3/424.A. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 173 . D. Roy V. "Beyond the Fiction of Federalism.A. and R. New York: United Nations: Economic and Social Affairs.sagepub. Rondinelli.sagepub. McCoullough.. “Government Decentralization in Comparative Perspective: Theory and Practice in Developing Countries and High Expectations. Jonathan.

Hulme. http://www. “Pokok-Pokok Penyempurnaan Kecamatan”.pdf Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 174 . dan D. Paper tidak diterbitkan. Roy V. 1997. diterbitkan. Seabright.Salomo. "Federalism and the Politics of Macroeconomic Policy and Performance. “Anggota DPRD Ramai-ramai Garap Proyek. Treisman. www. Pengawasan Menuju Clean Government.TempoInteraktif.com/2008/01/23/pengawasan- menuju-clean-government/ Tempo.wordpress. 2007.” . Erik. Paper tidak Wibbels. no. Wastiono. Paul.” London: MacMillan Press LTD." Journal of Public Economics 76. "The Causes of Corruption: A Cross-National Study. http://swadaya. Ide dan Gagasan. Media Berbagi Visi. "Accountability and Decentralization in Government: An Incomplete Contracts Model. Daniel.org/database/artikel/lain/Disparitas Pengujian Perda. Swamandiri. “Disparitas Pengujian Peraturan Daerah: Suatu Tinjauan Normatif”. Turner." American Political Science Review 44 (2000): 687-702 Yance Arizona . M. “Pokok-Pokok Pemikiran Untuk Penyempurnaan UU N0." European Economic Review 40 (1996). 3 (2000): 399-45. Administration and Development: Making the State Work. “ Governance. 2007.legalitas.32/2004: Perangkat Daerah”. Sadu.

Siti. “Kepegawaian”. 2007.Zuhro. Kementerian Dalam Negeri : Naskah Akademik Revisi UU No 32 Tahun 2004 175 . Paper tidak diterbitkan.