P. 1
Patologi Sosial

Patologi Sosial

|Views: 846|Likes:
Published by Fahrur Rozi Alfiqri
pastos
pastos

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Fahrur Rozi Alfiqri on Jun 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/04/2015

pdf

text

original

Sections

  • 1. FAKTOR GEOGRAFIS
  • 2. FAKTOR BIOLOGIS
  • 3. FAKTOR DEMOGRAFIS
  • 4. FAKTOR SOCIO CULTURAL (SOSIAL BUDAYA)
  • 5) Partisipasi Sosial

1

PATOLOGI SOSIAL

Secara etimologis kata patologi berasal dari kata-kata:
Pathos, yang berarti disease/penyakit
Logos, yang mempunyai arti:
a. Berbicara tentang
b. Ilmu
Jadi, patologi berarti:

“Membicarakan tentang penyakit atau ilmu tentang penyakit”.

Maksudnya:
Ilmu yang membicarakan tentang asal usul dan sifat-sifatnya
penyakit.
Konsep ini bermula dari pengertian penyakit di bidang ilmu
kedokteran dan biologi yang kemudian diberlakukan pula untuk
masyarakat karena masyarakat itu tidak ubahnya dengan organisme
atau biologi, sehingga masyarakat pun dapat dikenai penyakit.

Kata Sosial:

Berarti tempat atau wadah pergaulan hidup antar manusia yang
perwujudannya berupa:
--Kelompok manusia atau organisme.
Yakni individu manusia yang saling berhubungan secara timbal balik
(berinteraksi), bukan manusia / individu dalam arti fisik.
Dalam arti yang lebih luas yaitu community atau masyarakat.

Patologi Sosial:

= Ilmu tentang gejala-gejala sosial yang dianggap sakit disebabkan
oleh faktor-faktor sosial.
= Ilmu tentang “penyakit masyarakat”.
= Ilmu tentang asal usul dan sifat-sifatnya penyakit yang
berhubungan dengan hakekat adanya manusia dalam hidup
bermasyarakat.

2

ARISTOTELES

Berpendapat bahwa manusia sebagai “Zoon Politicon” atau
sebagai makhluk sosial.
Manusia dalam kehidupannya selalu berusaha menyempurnakan
diri, menyesuaikan diri dengan masyarakat atau alam
lingkungannya.
Tetapi dalam usahanya untuk menyempurnakan diri itu, ia selalu
menghadapi tantangan dan hambatan.
Tantangan dan hambatan itulah yang menyebabkan kegagalan
manusia untuk mencapai tujuan.
Kegagalan itu pula yang merupakan sumber patologi sosial.
Jika usaha itu mengalami rintangan sebagai individu tidak dapat
menyesuaikan diri dengan masyarakat lingkungan-nya, maka
keadaan itu disebut maladjustment.

PENGERTIAN PATOLOGI SOSIAL
# Gillin dan Gilliin

Patologi sosial adalah studi tentang pola-pola sosial dan prosesnya
yang melibatkan didalamnya kegagalan manusia untuk
menyesuaikan dirinya maupun kelembagaan-kelembagaannya
dalam mencapai tujuan, yang memungkin-kan mempertahankan
kelangsungan hidupnya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

# James C. Coleman

Ketika kondisi-kondisi dalam suatu komunitas atau masyarakat
luas mempunyai dampak (berdampak) patogenik terhadap
perkembangan dan perilaku orang-orang, maka situasi merupakan
patologi sosial.
Kondisi-kondisi itu menurut Coleman:
1. Kemiskinan
2. Tindak kejahatan
3. Prasangka sosial (prejudice) dan diskriminasi

3

4. Disorganisasi sosial

SEJARAH SINGKAT PATOLOGI SOSIAL

Manusia dalam memenuhi kebutuhannya telah menghasilkan
teknologi yang berkembang dengan cepatnya, sehingga
menimbulkan hal-hal yang berakibat negatif kepada manusia dan
kemanusiaan itu sendiri.

Akibat Revolusi Industri

Menunjukkan betapa cepatnya perkembangan ilmu-ilmu alam dan
eksakta yang tidak seimbang dengan perkembangan ilmu-ilmu sosial,
telah menimbulkan berbagai kesulitan yang nyaris dapat
menghancurkan umat manusia.
Misalnya:
Pemakaian mesin-mesin industri di pabrik-pabrik.
Mengubah cara kerja manusia, yang dulu banyak memakai
tenaga manusia sekarang diperkecil.
Terjadinya pemecatan buruh sehingga pengangguran meningkat
(terutama tenaga kerja yang tidak terampil).
Dengan timbulnya kota-kota industri, terjadi urbanisasi besar-
besaran, penduduk desa yang tidak terampil di bidang industri
mengalir ke kota-kota industri.
Jumlah pengangguran di kota semakin besar.
Adanya kecenderungan pengusaha lebih menyukai tenaga kerja
wanita dan anak-anak (lebih murah & lebih rendah upahnya).

Keadaan ini semakin menambah banyaknya masalah kemasyarakatan
(social problem), terutama buruh rendah yang berkaitan dengan
kebutuhan:
- Perumahan

4

- Pendidikan
- Perlindungan hukum
- Kesejahteraan sosial, dsb.

Istilah atau konsep lain untuk patologi sosial :

1. Masalah Sosial (Social Problem)
2. Disorganisasi Sosial / Social Disorganization / Sosial Dis-
integration
3. Sosial Maladjustment
4. Sociopathic
5. Abnormal
6. Sociatri

Pendekatan (Approach) Dalam Penyelidikan
Tingkah Laku Sosiopatik

Approach Biologis

Pendekatan biologis tentang tingkah laku sosiopatik dalam
biologi biasanya termuat dalam bagian genetika.
Patologi itu menurun melalui gen/plasma pembawa sifat di
dalam keturunan, kombinasi dari gen-gen atau tidak adanya
gen-gen tertentu.
Ada pewarisan umum melalui keturunan yang menunjukkan
tendensi untuk berkembang kearah patologis (tipe
kecenderungan yang luar biasa normal).
Melalui pewarisan dalam bentuk konstitusi yang lemah, yang
akan berkembang ke arah tingkah laku sosiopatik.
Bentuk-bentuk tingkah laku yang menyimpang secara sosial
yang disebabkan oleh ketiga hal tersebut diatas dan ditolak oleh
umum seperti:
- Homoseksualitas
- Alkoholisme

5

- Gangguan-gangguan mental tertentu.

Approach Psychologist & Psychiatris

>> Pendekatan Psikologis

Menerangkan tingkah laku sosiopatik berdasarkan teori
inteligensi, sehingga orang melanggar norma-norma sosial yang
ada antara lain karena faktor-faktor:
- Inteligensi
- Sifat-sifat kepribadian
- Proses berpikir
- Motivasi
- Sikap hidup yang keliru
- Internalisasi yang salah

>> Pendekatan Psychiatris

Berdasarkan teori konflik emosional dan kecenderungan
psikopatologis yang ada dibalik tingkah laku menyimpang secara
sosial.

Approach Sosiologis

Penyebab dari tingkah laku sosiopatis itu adalah murni sosiologis
atau sosio-psikologis, yaitu tingkah laku yang berbeda dan
menyimpang dari kebiasaan serta norma umum, yang pada suatu
tempat dan waktu tertentu sangat ditentang atau menimbulkan

akibat reaksi sosial “tidak setuju”.

Reaksi dari masyarakat itu antara lain berupa :
- Hukuman
- Segregasi (pemisahan/pengasingan)
- Pengucilan

6

Konsep Masyarakat Ideal

- Masyarakat ideal yaitu konsep tentang masyarakat yang terbaik
yang dicita-citakan.
- Suatu masyarakat dipandang baik atau jelek itu didasarkan pada
dapat atau tidaknya masyarakat itu memenuhi harapan-harapan
atau keinginan-keinginan anggotanya.
- Penilaian itu didasarkan atau dipengaruhi oleh kebudayaan dan
berkembang sejalan dengan itu.
- Masyarakat sosial timbul jika sejumlah anggota masyarakat yang
berbuat suatu yang tidaklah seperti yang diharapkan atau dicita-
citakan oleh masyarakat dan perbuatan-perbuatan tersebut dapat
menjalar atau berkembang di masyarakat.

Beberapa Teori Tentang Masalah Sosial
1.
Teori Perubahan Sosial (Sosial Change)

Menurut teori ini, apabila sesuatu segi atau aspek kehidupan
sosial berubah (apalagi jika perubahannya itu berjalan cepat),
maka akan menimbulkan masalah sosial.

2. Teori Cultural Lag (W.F. Ogburn)

„Cultural Lag‟ atau kelambanan budaya atau kelambanan

kultural adalah keadaan tidak sinkronnya perkembangan suatu
budaya pada satu segi dengan segi lainnya, sehingga ada yang
terbelakang (terlambat).
Teori ini menyatakan :
Apabila bermacam-macam bagian dari kebudayaan berkembang
secara tidak seimbang, tidak sesuai dengan perkembangan
teknologi dan ilmu pengetahuan, maka kebudayaan tadi akan
mengalami proses kelambatan kultural.
Karena kabudayaan itu dipandang sebagai kesatuan organik,

maka „cultural lag‟ menimbulkan masalah sosial.

3. Teori Konflik Sosial

7

Menyatakan bahwa „konflik sosial akan menimbulkan masalah
sosial‟.

Konflik sosial adalah situasi yang menimbulkan pertentangan
sebagian besar penduduk atau anggota masyarakat seperti :
perang, kejahatan, dsb.

4. Teori Disorganisasi Sosial (M.A. Elliot & F.A. Merrill)

Menyatakan bahwa perubahan sosial menimbulkan keretakan
organisasi sosial yang lama. Keretakan ini merupakan masalah
sosial karena masyarakat itu sebagai kesatuan yang bersifat
organic.

5. Teori Pathologi

Teori ini mendasarkan diri pada analogi organisme biologi
dengan organisme sosial. Masalah sosial dianalogikan dengan
penyakit.
Yang disebut penyakit adalah penyimpangan dari keadaan
normal.

FASE STUDY PATOLOGI SOSIAL
Menurut St. Vembriarto (1981), perkembangan patologi sosial
melalui 3 fase yaitu:

1. Fase Masalah Sosial (Social Problem)

Pada fase ini yang menjadi objek penyelidikan patologi sosial
adalah masalah-masalah social, seperti masalah pengangguran,
pelacuran, kejahatan, kemelaratan, masalah penduduk, dsb.

2. Fase Disorganisasi Sosial (Social Disorganization)

Pada fase ini yang menjadi obyek penyelidikan patologi sosial
adalah disorganisasi sosial. Fase ini merupakan koreksi dan
perkembangan dari fase masalah sosial.

3. Fase Sistematik

8

Fase ini merupakan perkembangan dari dua fase sebelumnya.
Pada fase ini patologi sosial berkembang menjadi ilmu
pengetahuan yang mempunyai sistem yang bulat.
Sebabnya bisa dari luar, misalnya : kurangnya solidaritas dan
dari dalam, yaitu timbulnya perpecahan.

Tanda-tanda atau Ciri-ciri Disorganisasi Sosial

1. Adanya disorganisasi peranan, yakni fungsi anggota-anggota
suatu kelompok tidak dilaksanakan dengan sukses.
2. Adanya peranan-peranan yang tidak menentu atau tidak jelas
(gejala ambiguity). Misalnya seorang pejabat korupsi untuk
partainya.

Sosial Problem :

Adalah penilaian masyarakat terhadap keadaan tertentu yang tidak
diinginkan dan dianggap sebagai masalah, dan dapat diperbaiki
hanya dengan tindakan sosial (social action) yang tepat.

Yang Memakai Istilah Patologi Sosial (Social Pathology)
Misalnya : -Lawrence Guy Brown
- Queen & Gruener
- J.P Gillin & J.L Gillin

Berpendapat :
Pada waktu orang menghadapi social problem (host of social
maladjustment)
maka ia harus mempunyai motive untuk
mengadakan tindakan yang tepat agar terselenggara social
welfare.
Orang mempunyai motive to reform (memperbaiki kembali
keadaan) dan memberikan landasan ilmiah terhadap apa yang
akan dilakukannya.

9

Landasan ilmiah tersebut diintroducer untuk mempelajari
objeknya yaitu masyarakat.
Social problem hanya dapat diketahui dengan menganalogikan di
dalamnya dengan memakai kata pathologi.
Manusia mempunyai sifat-sifat atau unit-unit yang bersifat
organis psychologis dan sosial.
Dengan menggunakan istilah patologi sosial jelas tercermin di
dalamnya pengertian biologis organis dari masyarakat.

Kedudukan Pathologi Sosial Dalam Kelompok
Ilmu Pengetahuan

>> Ilmu Pengetahuan Dilihat Dari Segi Objek Kajian :

Kelompok ilmu pengetahuan alam dan eksakta (natural and
exact sciences).
Kelompok ilmu pengetahuan sosial (social sciences) yakni yang
obyek kajiannya adalah human affairs atau human behaviors
atau segi-segi kehidupan manusia dan tingkah laku serta
masalahnya.
Kelompok ilmu pengetahuan budaya dan kerohanian

(humaniora/humanities).

>> Dikelompokkan Menurut Metode Kerjanya :

Ilmu pengetahuan yang bersifat formal normatif.
Obyek penyelidikannya dipandang dari sudut bagaimana
seharusnya dan bukan dari sudut bagaimana adanya.
Ilmu pengetahuan yang bersifat empirik deskriptif.

Empirik maksudnya berdasarkan pengalaman-pengalaman
atau empiris.

Deskriptif maksudnya bahwa ilmu pengetahuan itu bersifat
melukiskan sebagaimana adanya tidak menilai obyeknya.

10

Pro dan Kontra Penggunaan Istilah Patologi Sosial
>> Tidak setuju

Mencerminkan konsep biologi & organis.
Secara apriori masyarakat dipandang dalam keadaan sakit.
Masyarakat dipandang sebagai obyek dari orang-orang yang
menimbulkan penyakit masyarakat (manusia disamakan
dengan benda).

Mabel A. Elliot dan Francis A. Merrill

-- Lebih cenderung menggunakan istilah social disorganization.
Mereka berpendapat :
Didalam sosial disorganization sekaligus tergambar social
problem.
Bahwa yang menyebabkan social problem adalah social proces.

Sosial Problem Mempelajari :

Lahirnya sikap anti sosial dan individu di dalam lingkungan
keluarga dan masyarakat.
Sikap anti sosial dari kelompok dengan kelompok lainnya.

Social Disorganization (Mabel A. Elliot & Francis A. Merril)
dalam bukunya “Social Disorganization”.
Masyarakat yang disorganized adalah masyarakat yang oleh
karena satu atau lain sebab banyak anggota-anggotanya gagal
(tidak berhasil) melaksanakan peranan yang diharapkan oleh
masyarakat.

Jelasnya tingkah laku dari banyak orang dalam masyarakat tidak lagi berbuat seperti yang
diharapkan atau dicita-citakan masyarakat.

Social Disorganization adalah proses pecah atau bubarnya
kelompok sosial.

Disorganisasi Fungsional

Terjadi apabila individu, kelompok, atau sistem-sistem dalam
masyarakat tidak berfungsi secara wajar.

11

Ini terjadi karena keretakan dalam hubungan fungsional antar
individu sampai pada taraf yang mengganggu pelaksanaan tugas-
tugas kelompok.

Patologi Sosial (Gillin)

Studi tentang pola-pola sosial dan prosesnya yang melibatkan di
dalamnya kegagalan manusia untuk menyesuaikan dirinya maupun
kelembagaan-kelembagaannya dalam mencapai tujuan yang
memungkinkan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan
memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya.
Intinya: Kegagalan penyesuaian diri baik secara individu maupun
kelembagaannya.

Definisi Penyesuaian Diri

Istilah penyesuaian diri berasal dari kata adaptasi dalam biologi yang
berarti usaha individu menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat
ia hidup.
Dalam psikologi ini dikenal dengan kata adjustment (penyesuaian
diri), selama hidupnya manusia selalu dituntut untuk menyesuaikan
diri dengan lingkungan (Schneider, 1964).

Penyesuaian Diri

Merupakan suatu proses yang mencakup mental dan tingkah
laku, dimana individu berusaha keras untuk mengatasi atau
menguasai kebutuhan dalam diri, tension, frustasi dan konflik,
tujuannya adalah untuk mendapatkan keharmonisan dan
keselarasan antara tuntutan lingkungan dimana ia tinggal dengan
tuntutan di dalam dirinya.
Penyesuaian diri ini perlu untuk bisa survive / mempertahankan
kelangsungan hidup.
Penyesuaian diri (adjustment) mengandung 2 proses yaitu:
1. Menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada.
2. Mengubah keadaan dengan kebutuhan individu.

12

Setiap organisme secara alamiah telah dilengkapi dengan
perangkat untuk menyesuaikan diri.
- Pada tumbuh-tumbuhan.
- Pada hewan / animal
Contoh : Bunglon, bisa berubah warna kulitnya).
- Pada manusia.

Cara Penyesuaian Pada Animal : Instinktif

Apabila lingkungannya berupa sukar sekali menyesuaikan diri
dan bila tidak mampu bertahan maka cepat sekali spesies tersebut
akan punah.
Misal:
- Burung-burung berterbangan pada saat gempa.
- Burung-burung yang selalu berpindah tempat pada setiap
musim.

Cara Penyesuaian Pada Manusia

Sebagian besar melalui proses belajar, karena manusia hidup
bermasyarakat di dalam lingkungan budaya tertentu yang sangat
kompleks. Hal ini menuntut proses pembelajaran yang tinggi.
Proses belajar:
- Membutuhkan waktu yang lama.
- Memiliki fleksibilitas yang tinggi (sifatnya fleksibel).
Sifat fleksibility : memungkinkan orang/individu mampu
melakukan perubahan sosial budaya yang sangat kompleks.
Misalnya : toilet training, sosialisasi.
Secara umum individu yang penyesuaian dirinya baik ialah
individu yang mampu mengatasi konflik, frustasi-frustasi
dan menyelaraskan kesulitan dalam diri maupun kesulitan
yang berhubungan dengan lingkungan.

13

Penyesuaian Diri Yang Tidak Berhasil (Maladjustment)

Yaitu apabila individu tidak mampu mengatasi konflik yang
dihadapi sehingga dapat menimbulkan frustasi pada dirinya.
Frustasi ini dapat terjadi bila tuntutan hidup sangat membebani
individu, karena ia tidak mampu menemukan cara yang sesuai
untuk mengatasi masalah atau tuntutan dari lingkungan tersebut.
Akan tetapi tidak selamanya kondisi yang dirasakan berat atau
stres berat dapat menimbulkan tingkah laku maladjustment.
Kadang-kadang stres dapat membangkitkan kekuatan yang luar
biasa dan merupakan cara-cara yang efektif dalam penyesuaian
diri.

Kapan suatu perilaku dikatakan maladjustment atau tidak.?

Misal: Orang miskin tidak selalu maladjustment, karena sebagian ada
yang nyuri (maladjustment). Tapi ada juga yang kerja (adjustment).
Jadi tergantung pada usaha setiap orang untuk melakukan hal yang
positif.

Adaptasi dan adjustment merupakan suatu tuntutan untuk setiap
organisasi.

Adjustment

Organisme

Lingkungan

Adaptasi
Setiap penyesuaian mempunyai sifat interaktif. Kita perlu
menyesuaikan diri untuk mempertahankan diri atau
kelangsungan hidup (survival).
Corak atau sifat lingkungan mempengaruhi corak dalam adaptasi.
Lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi corak
penyesuaian diri seseorang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi adaptasi:
1. Faktor Geografi, misal: iklim

14

2. Biologik : Struktur genetic (bentuk tubuh, darah, warna kulit,
mata, ras)
3. Demografi : Jumlah penduduk
4. Socio Cultural
Manusia kadang-kadang mengalami kegagalan dalam
penyesuaian dirinya.
Pada faktor-faktor non sosio kultural pada umumnya manusia
masih mampu untuk menyesuaikan diri. Lain halnya penyesuaian
terhadap faktor socio cultural, karena bervariasi dan kompleks
sifatnya.
Sifat penyesuaian diri yaitu adjusted dan maladjusted.
Terhadap lingkungan socio cultural inipun manusia pada
umumnya mampu mempertahankan integritasnya sepanjang
perubahan yang terjadi relatif kecil, tidak terlalu cepat atau
mendadak sifatnya.
Pada masyarakat “statis” (budaya homogen, aturan jelas, sistem
nilai jelas), misal: Suku Samoa, Baduy, Tengger.

Masyarakat “dinamis” (masyarakat yang hidup, cepat berubah).
Banyak manusia yang berhasil menyesuaikan diri dan juga tidak
berhasil menyesuaikan diri dan bahkan ada yang bersifat
patologis.

PENYESUAIAN

Adaptasi: bersifat patologis.
Secara garis besar, sifat penyesuaian diri dibagi menjadi 3 bagian
yaitu:

a) Reaktif

Ciri khas: pada makhluk vegetatif (tumbuh-tumbuhan),
berlaku secara otomatis/alamiah.

15

Makhluk vegetatif dalam keteraturan juga sangat
menakjubkan, misal tumbuh dan memperbanyak diri namun
tidak mengembangkan diri.
Penyesuaian reaktif ini sebenarnya dimiliki pula oleh
makhluk-makhluk animate (hewan dan manusia).
Penyesuaian reaktif ini perlu pada manusia, terutama untuk
mengatasi perubahan–perubahan pada lingkungan fisik
seperti cuaca, suhu udara, dsb.

b) Aktif

Penyesuaian ini merupakan ciri khas pada animate.
Dikatakan aktif karena mereka mampu bergerak dan secara
aktif pula mampu mempertahankan diri terhadap lingkungan
luar.

Beberapa spesies binatang dan manusia mampu
berkelompok dan mengembangkan suatu masyarakat atau
komunitas.
Misal: semut, tawon, gajah singa.
Manusia : berorganisasi
Pada binatang, pada umumnya pola perilaku tidak berubah
dari satu generasi ke generasi berikutnya. Polanya sama
dalam situasi apapun.

c) Kreatif

Dengan perangkat penyesuaian seperti ini manusia mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan fleksibel dan
canggih.
Dengan kata lain, manusia selain beradaptasi dan aktif
menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan, juga mampu
mengubah lingkungannya untuk mencapai optimasi
penyesuaian yang diinginkannya.
Manusia mampu menciptakan cara-cara lain untuk
melindungi diri dari ancaman lingkungannya.

16

Lebih jauh lagi cara penyesuaian diri ini tidak hanya riil, tapi
juga yang bersifat abstrak.
Demikian berkembangnya ide-ide/karsa, bahkan me-lebihi
kodrat alamiahnya.
Berupaya hidup di bawah air, di atmosfir dan di angkasa
luar, yang secara alamiah manusia adalah makhluk darat.
Dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat manusia tidak
bersifat statis, tetapi mampu membangun kesatuan individu
yang terjamin dan seringkali canggih.
Dalam dimensi kesatuan sosial ini perlu tercipta tata
kehidupan budaya sentral, dengan variabilitasnya yang
sangat luas dan rumit sifatnya.
Dan dalam rangka kehidupan berbudaya ini manusia
memperluas dimensi kehidupannya menjadi yang bersifat
abstrak.
Manusia dengan kreatifitasnya tidak saja berhasil dalam
penyesuaiannya, bahkan berkembang dan menguasai semua
spesies di muka bumi.
Dibalik keberhasilan ini manusia dituntut untuk
mengembangkan cara-cara penyesuaian yang lebih canggih
terhadap lingkungan sosial dan budayanya yang lebih
kompleks, dan sekaligus pula rentan terhadap perubahan.
Oleh karena itu dalam kehidupan manusia penyesuaian ini
tidak hanya sesuai atau punah tetapi juga dalam adjustment
dan maladjustment.
Daya penyesuaian manusia yang begitu tinggi ternyata tidak
menjamin keberhasilannya menghadapi perubahan-
perubahan cepat dalam tingkat kehidupan sosial dan
budayanya.
Sebagian diantara mereka mengalami kegagalan atau dapat
dikatakan sebagian anggota masyarakat gagal menghadapi

17

stress sosial, mengalami frustasi yang kemudian mengalami
pola perilaku menyimpang.
Kelompok orang inilah yang dikatakan mengalami
maladjustment (jika seseorang tidak dapat menyesuaikan
diri dengan lingkungan).
Kesulitan mengadakan adaptasi dan adjustment menyebabkan
Kebingungan
Kecemasan
Konflik-konflik
Baik yang terbuka & eksternal sifatnya maupun yang internal
(dalam batin sendiri).
Sehingga berkembang :
Pola tingkah laku menyimpang dari norma-norma umum
Berbuat semau sendiri
Demi kepentingan sendiri
Mengganggu/merugikan orang lain

4 FAKTOR DALAM PENYESUAIAN DIRI
(MENURUT ROBERT BIERSTEDT)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->