P. 1
makalah Fraktur

makalah Fraktur

|Views: 239|Likes:
makalah mengenai fraktur
makalah mengenai fraktur

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Ayuhapsari Nareswari on Jun 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/26/2015

pdf

text

original

TRAUMA

Definisi Keadaan yang disebabkan oleh luka atau cedera yang mempunyai dampak psikologis dan sosial, bersifat holistik dan dapat menghilangkan produktivitas seseorang. Trauma dapat menyebabkan perubahan fisiologi sehingga terjadi gangguan metabolisme, kelainan imunologi dan gangguan faal berbagai organ. Penderita trauma berat menggalami gangguan faal yang penting, seperti kegagalan fungsi membran sel, gangguan integritas endotel, kelainan sistem imunologi dan dapat pula terjadi koagulasi intravaskular menyeluruh (DIC= Disseminated Intravaskular Coagultion). Patologi Respon metabolik pada trauma terbagi 3, yaitu: 1. Fase pertama berlangsung beberapa jam setelah trauma terjadi ; kembalinya sistem sirkulasi, perfusi jaringan, dan hiperglikemia. 2. Fase kedua terjadi katabolisme menyeluruh dengan imbang nitrogen negatif, hiperglikemia dan produksi panas.Fase ini dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung beratnya trauma, keadaan kesehatan sebelum trauma, tindakaan pertolongan medisnya. 3. Fase ketiga terjadi anabolisme, yaitu penumpukan kembali protein dan lemak badan yang terjadi setelah kekurangan cairan dan infeksi teratasi. Rasa nyeri hilang dan oksigenasi jaringan secara keseluruhan teratasi. Fase ini berlangsung lebih lama daripada fase katabolisme (fase kedua) dan lebih progresif, karena sintesis protein hanya bisa mencapai 35gr/hari. Trauma menyebabkan hipotalamus merangsang neuroendokrin. Peningkatan sekresi humoral sebabkan lipolisis perifer yang berujung naiknya glukosa, asam amino, dan limabh metabolisme berupa asam laktat dalam plasma. Hati bereaksi jadi peningkatan kortisol dan glukagon, produksi glukosa meningkat melalui glukogenolisis dan glukoneogenesis. Namun penggunaan glukosa perifer menurun, akhirnya intoleransi glukosa akibat trauma. Pada ginjal bereaksi peningkatan antidiuretik dan aldosteron, menahan air dan kalium. Pada trauma berat ekskresi nitrogen naik hingga 15-20 gr/hari,

seperti kehilangan massa tubuh tanpa lemak, terutama otot sebanyak 750 gr/hari. Pemberian analgesik dan imobilisasi bagian tubuh yang cedera dapat mengurangi rangsangan neurohumoral, sehingga menghambat hilangnya jaringan otot. Pasien trauma berat harus dilakukan evaluasi kebutuhan air, kalori (2000-3000), protein (1,5gr/KgBB/hari)/nitrogen, elektrolit, dan vitamin setiap hari. Pemberian kalori atas kabohidrat 60% dan 40% lemak, bila ada penyulit kebutuhan kalori jadi minimal 2500 cal dengan 2 gr protein/KgBB/hari (protein diberikan lebih banyak selama ureum tidak naik). Pada pasien trauma berat terjadi dilatasi arteriol dan sfingter prakapiler dengan pascakapiler tetap kontriksi hingga tekanan hidrostatik kapiler meningkat. Air, kalium dan klorida ekstravasasi dari intavaskular ke ruang interstisial (edema). Ketika tekanan osmotik meningkat karena keluarnya cairan, menyebabkan cairan keluar semakin terhambat. Ekstravasasi ini dapat menyebabkan hilanganya cairan intravaskular yang dapat menyebabkan hipovolemik hingga syok hipovolemik. Reaksi inflamasi dan koagulasi yang terjadi pada trauma dan sepsis dapat menganggu keutuhan endotel karena mikroagregasi trombosit dan leukosit dapat menjadi emboli di pembuluh jaringan yang luka atau terinfeksi. Gumpalan agregat tersebut melepaskan berbagai toksik yang merusak endotel atau menyebabkan vasodilatasi di daerah emboli, menyebabkan ektravasasi air, kalium, klorida dan protein. Dikarenakan hipovolemik atau syok jaringan akan mengalami hipoksia yang menyebabkan gangguan perfusi organ, akhirnya terjadi anergi yang berujung pada penurunan sistem imunitas tubuh yang meningkatkan persentase terjadinya infeksi. Etiologi 1. Trauma Tumpul Terkadang tidak menimbulkan kelaina jelas pada permukaan tubuh, namun dapat mengakibatkan kontusi atau laserasi jaringan atau organ di bawahnya. Dapat berupa benturan pada benda tumpul, perlambatan (deselerasi) dan kompresi (tekanan). Flail chest atau patah tulang iga dapat terjadi karena benturan benda tumpul pada regio thoraks, dapat juga hematotoraks dan pneumotoraks akibat kerusakaan pleura dan jaringan paru.

Pada pengemudi motor atau sepeda yang tertabrak mobil. Korban akan tersungkur ke depan dan lutut terbentur dashboard sehingga terjadi fraktur patela dan atau luksasi sendi panggul. Dada membentur kemudi sehingga menyebabkan fraktur strenum. Trauma Majemuk Hampir setiap trauma merupakan trauma majemuk. leher. Seperti pada pengemudi mobil yang tidak mengenakan sabuk pengaman dan di tabrak dari depan. 2. hati. toraks. kerdiovaskular. Ada juga kemungkinan cedera pada perut. kalau tidak ada senderan kepala akan terjadi cedera gerakan cambuk (whiplash) pada tulang leher. Komplikasi Trauma . Korban terbanting kembali ke tempat duduknya. Penumpang di belakang akan terlempar ke depan dan kepala mengenai sandaran kursi depan hingga terjadi hiperekstensi kepala menyebabkan cedera tulang leher. Kecelakaan Lalu Lintas Diagnosis dengan meneliti riwayat truma dengan cermat. yaitu yang mengenai satu atau lebih daerah tubuh seperti kepala. pernapasan. Cedera ledak adalah luka atau kerusakan jaringan akibat ledakan bom atau ledakan air. Penumpang di sebelah pengemudi mukanya akan membentur dashborard sebelum mengenai kaca depan.Cedera perlambatan sering terjadi pada kecelakaan lalu lintas. Korban akan terlempar ke jalan atau ke atas dan kepala membentur bingkai atas kaca mobil hingga terjadi hiperekstensi dengan cedera otak dan tulang leher. iga dan cedera jantung atau paru. cedera otak dan frkatur servikal. abdomen. mengenali biomekanikanya. dapat mengalami cedera pada daerah tibia karena tinggi bemper mobil sama dengan tungkai bawah. pelvis dan tungkai (cedera klinis) dan atau cedera yang menyebabkan kegagalan satu atau lebih sistem tubuh seperti saraf. dan tidak banyak cedera dinding toraks. vertebra. ginjal dan pankreas (cedera kritis) 3. Kepala membentur bingkai kaca depan dan dapat menyebabkan trauma kepala dan atau wajah. Cedera kompresi misalnya pada orang yang tertimbun runtuhan atau longsoran yang menimbulkan tekanan tiba-tiba.

Infeksi bergantung pada usia penderita. VIII. gangguan pembekuan akibat habisnya faktor beku I. 4. dapat sebabakan oleh pemakainan darah yang disimpan lama. tidak memerlukan tindakan bedah. perdarahan kasus bedah dikelompokan dalam beberapa kategori berdasarkan fasilitas transfusi. Memerlukan pertolongan bedah segera. II. hipotensi. gelisah. Kategori III. tangan dan paha dapat menyebabkan kematian dalam satu hingga tiga menit. Untuk penanganan. kontaminasi luka. waktu antara trauma dan penanggulangannya. Pada perdarahan arteri. serta gangguan fungsi trombosit. kerusakan jaringan. pada vena darah keluar mngalir dan berwarna kehitaman. Gejala klinis berupa takikardia. koreksi transfusi sebanyak 2000mL diperlukan dalam kurun waktu 8-24 jam. Pada aorta atau vena kava dalam 30 detik. Makin lama tertunda penanggulanganannya makin besar kemungkinan terinfeksi. koreksi transfusi diperlukan dalam waktu lebih dari 24 jam. Gangguan koagulasi Penderita sering ditemukam gangguan koagulasi setelah transfusi masif. sedangkan pada perdarahan kapiler darah keluar merembes dan berwarna merah segar. tergolong membahayakan atau mengancam nyawa bila untuk mempertahankan tekanan darah sistolik sekitar 100mmHg diperlukan koreksi transfusi sebanyak 2000mL atau lebih dalam kurun waktu kurang dari delapan jam. pucat. Luka tembak dianggap 2-3 kali lebih buruk kontaminasinya daripada luka tusuk. jenis tindakan dan pemberian anitbiotik. Kategori II. hipotermia (sekuestrasi trombosit). Gagal organ . 3. Kategori I. Sepsis Penyebab kematian tersering pada penderita trauma. darah akan tampak menyemprot dan merah segar. harus dihentikan dengan intervensi bedah setelah persiapan yang lebih baik. syok.1. Perdarahan Luka robek pada arteri leher. 2. jenis dan sifat luka.

volume darah menurun karena kehilangan darah dan sekuestrasi cairan dalam jaringan yang rusak dan akibar koagulasi. - Gagal hati. gagal ginjal (dialisis darah). gagal hati dan gangguan nutrisi. penyulit multipel saluran cerna. - Gagal napas. syok berat lebih dari setengah jam. Penanggulangan harus dilakukan di rumah sakit yang dilengkapi dengan unit menanggulangan paru (respirasi buatan). intosikasi alkohol. Prognosis dubia (meragukan). kelebihan dosis narkotik. cedera dinding dada. jantung (alat jantung-paru buatan). inflamasi dan ekstravasasi plasma ke seluruh jaringan akibat kerusakan endotel. - Gagagl ginjal. gangguan koagulasi. sepsis. Syok hipovolemik Pemeriksaan . Dapat terlihat jika dalam satu menit pernapasan mencapai 25-30 kali dengan tidal volume kurang dari 4mL/kgBB dan curah jantung rendah. kecuali tekanan atrial kanan yang mendekati normal. penderita penyakit ginjal. sepsis atau penggunaan obat nefrotoksik. insufisiensi hepatoselular yaitu hepatik atau obstruksi pascahepatik. pasca trauma multipel berat terutama jika disertai infeksi dan sepsis. hepatitis pascatransfusi. Dapat disebabkan oleh trauma kepala. - Gagal kardiovaskular.- Gagal otak. Ikterus pascahepatik dapat terjadi pada trauma perut (obstruksi akibat cedera pada daerah saluran empedu). keracunan barbiturat. heat stroke. syok elektrik. syok hipovolemik (iskemia otak) dan gagal jantung. Insufisiensi hepatoselulardengan ikterus hepatik terjadi pada nekrosis karena hipoksia. rongga toraks atau paru. 5. dapat ditemukan pascabedah operasi besar. hipotensi. inflamasi atau reseksi hati akibat trauma. - Gagal organ multipel. kesadaran penderita dapat menurun sampai hilang atau koma. pascatrauma sering berupa gagal ginjal akut yang dapat timbul pada penderita usia 60 tahun keatas. hiperbulirubin dengan ikterus pada penderita dapat terjadi prahepatik. serta syok dan sepsis dapat menjadi penyebab. Secara klinis tanda gagal kardiovaskular menyerupai syok hipovolemik. asfiksia.

Pemeriksaan laboratorium Memeriksa golongan darah. 3. Berat trauma diperkiraan berdasarkan jumlah semua angka. perdarahan dinilai berdasarkan tekanan darah arterial. denyut jantung dan perdarahannya. cepat dan sistematik agar tidak ada yang terlewat. 2. pankreas. meneliti bagaimana terjadinya trauma. Menilai tanda-tanda tersebut untuk kemudian ditentukan penanggulangan selanjutnya. nadi. untuk pemeriksaan otak dan tengkorak. Penilaian Derajat Trauma Gambaran beratnya trauma berdasarkan pemeriksaan pernapasan. biomekanikanya seperti apa agar dapat menarik hipotesis yang kemudian ditegaskan dengan pemeriksaan selanjutnya. kadar hemoglobin dan hematokrit serta sedimen urin untuk menentukan adanya cedera atau perdarahan pada saluran kemih. Pemeriksaan fisik Mencari bagian tubuh yang terkena trauma. terutama pada trauma kepala. Riwayat trauma Anamnesa. Pemeriksaan roentgen atau CT scan Berguna dalam menentukan adanya fraktur atau tidak. Kalau sonografi untuk pemeriksaan jaringan padat seperti hati. makin buruk). Pernapasan ditentukan frekuensinya. . perdarahan dan kesadaran. limpa dan ginjal. Segeralah bertindak setelah pemeriksaan fisik yang sederhana. 4. Harus diingat pemeriksaan tidak boleh menghambat resusitasi. Setiap parameter diberi angka 0-4 (makin rendah angka. terendah adalah 0 dan tertinggi 12. Prioritaskan pemeriksaan jalan napas.1. CT-scan bila perlu. kemudian menetapkan derajat cedera berdasarkan hasil analisis riwayat trauma. sedangkan kesadaran diukur berdasarkan skala koma Glasgow.

Tindakan Dalam Penanggulangan Trauma a. Airway with C-spine control Pemberian distribusi oksigen dalam kurun waktu kurang dari 8-10 menit. Obstruksi total karena benda asing sebabkan apnea. Subdural atau epidural. Ada atau tidak suara napas. terasakah hembusan napasnya di pipi dalam satu waktu. Apakah terlihat gelisah. Pada pasien tidak sadar lakukan pemeriksaan “Look-Listen-Feel”. Kematian setelah beberapa hari hingga beberapa minggu (15%) (biasanya disebabkan disfungsi beberapa organ atau sepsis). Kematian dalam detik-detik pertama dan menit berikutnya (50%) Laserasi otak dan pangkal otak Kerusakan sumsum tulang belakang bagian atas Kerusakan jantung. lakukan manuver Heilmicth atau abdominal thrust. Kematian Penderita Berdasarkan Periode Waktu 1. 2. Bila terjadi pada anak kecil. Bila pasien sadar dan berbicara jelas maka saluran napasnya baik-baik saja (airway clear). aorta serta pembuluh-pembuluh darah besar. bagaimana gerakan dinding dadanya. Kematian dalam menit pertama hingga beberapa jam (35%) 3.BASIC TRAUMA LIFE SUPPORT (BTLS) Merupakan pelatihan penanggulangan trauma untuk menurunkan tingkat kematian atau nilai mortalitas akibat trauma. cukup balikan . Hemtopneumotoraks Robekan limpa Laserasi hati Fraktur panggul atau multipel yang disebabkan perdarahan masif.

jika semua gagal. tanda-tandanya: • • • Gurgling (kumur-kumur). Circulation with hemorrhage control Nilai sirkulasi darah. Breathing and ventlation Inspeksi toraks. buka mulut pasien dan angkat rahang bawahnya (chin lify atau jaw thrust). Lakukan fingersweep untuk membersihkan saluran napas. Snorg (mengorok). Tindakan dengan oropharingeal tube dan nasopharyngeal untuk pasien sadar. cyanosis atau tidak. terapi bedah. saturasi oksigen bebas 24-44% Face mask.badannya secara vertikal. pasien mampu berbicara panjang dan lancar dalam keadaan sadarkah. Resusitasi paru • • • • • • Mouth to mouth Mouth to mask Bag to mask (Ambu bag) Ventilator oksigen melalui: Kanul. Stridor (crowing). adanya benda padat. tindakan tusuk dengan needle 14G. dilakukan pada pasien sadar. lidah terlipat dan pasien tidak sadar. jejas di daerah serviks ke atas. tangani dengan suction. b. • • Hipersonor tandanya pneumotoraks Redug tandanya pleurahemorrhage. bersihkan jalan napas dengan fingersweep. tanda-tanda: • Keadaan pucat . saturasi oksigen bebas 35-60% Non rebreathing mask. saturasi oksigen bebas 80-90% c. C-spine kontrol dilakukan dengan indikasi trauma multipel. Obstruksi partial. Perkusi bagian toraks (dada terlihat menggembung asimetris). pasangkan endotrakeal tube. adanya air pada saluran napas. penurunan kesadaran. Ini dilakukan pada pasien tidak sadar.

Massage jantung bila jantung berhenti. buruk atau koma di bawah 8. Nilai keadaan neurologik. Eye: • • • • Membuka spontan (skor 4) Membuka terhadap suara (skor 3) Membuka terhadapa nyeri (skor 2) Tidak merespon (skor 1) d. keadaan pupil dan kecepatannya. Disability (neurologic evaluation) - Verbal: • • • • • Berorientasi baik (skor 5) Berbicara tapi tidak berbentuk kalimat (skor 4) Berbicara kacau. desebrasi (skor 2) Tidak merespon (skor 1) - Kesadaran baik diatas 13 . dekortikasi (skor 3) Ekstensi abnormal. lalu imobilisasi. meracau (skor 3) Suara merintij atau menerang (skor 2) Tidak merespon (skor 1) - Motorik: • • • • • • Mengikuti perintah (skor 6) Melokalisir nyeri (skor 5) Fleksi normal. menarik anggota yang dirangsang (skor 4) Fleksi abnormal. .• • • - Akral dingin Nadi lemah atau tidak teraba Hitung volume urin dengan kateter Tangani status cairan pasien. cari sumber perdarahan Berikan cairan intravena dalam suhu hangat Tutup atau tekan luka dengan kain kassa. sedang 9-12 .

. Exposure and environment (membuka atau merobek pakaian penderita untuk eksplorasi trauma. bila ada laserasi curiga ada cedera kepala yang ipsilateral. Menjaga agar tidak terjadi hipotermia) Bila semua sudah dilakukan dan keadaan pasien stabil.- Respon pupil dinilai di kedua mata. lakukan secondary survey. e.

Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi. Tekanan vertikal dapat menyebabkan fraktur komunitif atau memecah (fraktur burst) misalnya pada vertebra. talus atau fraktur buckle pada anak-anak. . tulang rawan epifisis. Trauma dapat bersifat: Trauma langsung Menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan.FRAKTUR Definisi Hilangnya kontinuitas tulang. memutar dan tarikan. Biasanya jaringan lunak tetap utuh. Trauma tidak langsung Trauma yang dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur. baik yang bersifat total atau parsial. Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal. misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur klavikula. dislokasi atau fraktur dislokasi. tulang rawan sendi. Proses Terjadinya Untuk menilai kita perlu ketahu bagaimana keadaan fisik tulang dan bagaimana trauma yang dapat menyebabkan tulang patah (biomekanika). Kebanyakaan fraktur terjadi karena kegagalan tulan menahan tekanan terutama tekanan membengkok. Jenis-jenis tekanan pada tulang: • • • • Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat spiral atau oblique. Biasanya terjadi fraktur komunitif dan jaringan lunak mengalami kerusakaan.

• Fraktur terbuka (compound fracture). Fraktur dari remuk yang terkenan tekanan.Intra-artikuler .Fraktur dengan dislokasi • Konfigurasi .• • • Trauma langsung disertai resistensi pada satu jarak tertentu menyebabkan fraktur oblique atau fraktur Z.Fraktur oblik . fraktur dengan hubungan dunia luar akibat luka pada kulit dan jaringan lunak.Fraktur Z . Klasifikasi Klinis • Fraktur tertutup (simple fracture). Trauma karena tarikan pada ligamen atau tendo akan menarik sebagian tulang.Metafisial . kelemahan tulang bersifat patologis yang menyebabkan fraktur. karena trauma yang tiba-tiba. Klasifikasi Etiologis • Fraktur traumatik. • Fraktur stres. 2. Klasifikasi Radiologis • Lokalisasi . dapat berbentuk from within (robekan dari dalam akibat tulang itu sendiri) atau from without (dari luar) 3. fraktur yang tidak ada hubungan dengan dunia luar.Fraktur transversal . karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat tertentu.Diafisial .Fraktur spiral .Fraktur segmental . • Fraktur patologis. Klasifikasi Fraktur 1.

fragmen kecil berpisah.. .Tidak bergeser (undisplaced) .Fraktur depresi. Impaksi Gambaran Klinis 1. deformitas. Distraksi e. fragmen kecil tertarik otot atau tendo (fraktur epikondilus humeri.Fraktur tidak total .Fraktur garis rambut .Fraktur epifisis. . . fraktur tronkanter mayor.Fraktur baji.Bersampingan b.Fraktur green stick • Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya. dengan ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak dengan rasa sakit yang luar biasa. . fraktur patela). pembengkakan. Anamnesis Penderita datang dengan trauma baik yang hebat maupun ringan.Fraktur total . Dapat terjadi fraktur karena kecelakaan lalu lintas.Bergeser (displaced) a. kelainan gerak.Fraktur avulsi. lebih dari dua fragmen.Fraktur pecah (burst). . krepitasi atau gejala lainnya. karena trauma langsung (pada tulang tengkorak). Angulasi c. jatuh dari ketinggian atau pada .Fraktur impaksi .Fraktur komunitif. . biasanya pada vertebra karena trauma kompresi.Over riding f.Rotasi d. • Menurut ekstensi .Fraktur buckle atau torus .

c. arteri tibialis posterior sesurai anggot agerak yang kena. misalnya otak. 3. jika berisfat superfisial biasanya disebabkan oleh kerusakaan jaringan lunak dalam akibat fraktur pada tulang. bunyi seperti kertas krep ketika dielus. penganiayaan. Palpasi . Perhatikan kondisi mental penderita. Survei menyeluruh. Pemeriksaan Fisik a. 2. arteri dorsalis pedis. Krepitasi . Faktor predisposisi. Inspeksi Bandingankan dengan bagian yang sehat Perhatikan posisi anggota gerak Keadaaan umum pasien secara keseluruhan Ekspresi wajah karena nyeri Lidah kering atau basah Adanya tanda-tanda anime karena perdarahan. anemia atau perdarahan b. abdomen dan panggul. Kerusakan pada organ-organ lain.orang tua yang jatuh di kamar mandi. evaluasi adakah trauma pada organ lain. Pemeriksaan Lokal a. Adanya deformitas berupa angulasi. kecelakaan pekerja oleh karena mesin atau trauma olahraga. rotasi atau kependekan. misalnya frkatur patologis. Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal taruma berupa palpasi arteri radialis. sumsum tulang belakang atau organ-organ dalam rongga toraks. b. Perhatikan temperatur setempat yang meningkat Nyeri tekan . Lakukan dengan sangat hati-hati karena penderita merasa sangat sakit. fraktur terbuka atau tertutup. Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari. tertimpa benda berat. Evaluasi keadaan kulit dan jaringan lunak. Keadaan vaskularisasi. Syok.

Melihat adanya benda asing. c. Untuk menghindari kerusakan jaringan lunak lebih lanjut. antero-posterior dan lateral . e. lokasi serta ekstensi fraktur.- Refilling arteri pada kuku. sebaiknya pergunakan bidai bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan radiologis Hipotesis fraktur diperkuat dengan pemeriksaan radiologi (foto polos) untuk menentukan keadaan. Pemeriksaan dengan “Prinsip Dua”: Dua posisi proyeksi. Pada penderita fraktur akan ada nyeri hebat pada setiap gerakan dan berkemungkinan dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan syaraf. Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai. jadi lakukan dengan hati-hati. Pergerakan (Move) Meminta penderita untuk menggerakan secara aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. d. baru atau tidak . misal peluru. aksonotmesis atau neuromesis. fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler Melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta pergerakannya Menentukan teknik pengobatan Melihat adanya kelainan patologis lain pada tulang. Pemeriksaan neurologis Pemeriksaan safar secara sensoris dan motoris serta gradasi kelainan neurologis yaitu neuropaksia. Tujuannya : Mempelajari gambaran normal tulang dan sendi Konfirmasi adanya fraktur . warna pada bagian distal daerah trauma dan temperatur kulit.

pada anak-anak sebaiknya difoto pada kedua anggota gerak. Tomografi. Dua trauma. pada beberapa fraktur foto pertama gambarannya tidak jelas. 4. Penatalaksanaan : konservatis. Misalnya fraktur kalkaneus dan femur. Bila ada robekan ligamentum korakoklavikular dilakukan pembedahan . dengan reposisi dan imobilisasi . misalnya fraktur vertebra atau kondilus tibia.- Dua sendi pada ekstremitas. maka difoto panggul dan tulang belakang. Dua anggota gerak. CT-scan MRI Radioisotop scanning. bila gagal perlu dioperasi. atau tumbukan pada depan bahu sehingga klavikula bagian medial terdorong ke depan dan sendi strenoklavikular terlepas kearah anterior. pada trauma hebat sering menyebabkan dua fraktur. Ekstremitas Atas 1. bila terjadi trauma langsung yang medorong klavikula ke dorsal yang menyebabkan dislokasi posterior atau retrosternal . Pemeriksaan radiologis lainnya. sendi atas dan bawah dari bagian yang mengalami fraktur. contoh fraktur skafoid dibutuhkan foto berikutnya 10-14 hari kemudian. - Dua kali foto. Gelang bahu • Dislokasi sendi strenoklavikular Jarang terjadi . • Dislokasi sendi akromioklavikular Dislokasi sendi akromioklavikular tanpa robeknya ligamentum korakoklavikular biasanya tidak menyebabkan dislokasi fragmen distal ke kranial dan dapat diterapi secara konservatif dengan mitela serta latihan otot bahu.

Dislokasi anterior sering terjadi pada usia muda. Penatalaksanaan : pemberian analgetik dan latihan untuk mencegah frozen shoulder. • Fraktur skapula Biasa terjadi di bagian korpus dan kadang glenoid akibat trauma yang hebat. Pemberian analgetik dan latihan gerak jari dan tangan pada hari pertama diikuti latihan gerak bahu setelah beberapa hari. Dislokasi posterior jarang terjadi. kaput humerus terdorong ke depan sehingga menyebabkan avulsi simpai sendi dan kartilago beserta periosteum labrum glenoidale bagian anterior. sendi bahu dan selanjutnya ke sendi akromioklavikular. Ada 2 ciri khas : sumbu humerus yang tidak menunjuk ke bahu dan kontur bahu berubah karena daerah di bawah akromion kosong .untuk reposisi terbuka dan fiksasi interna yang kokoh. • Fraktur klavikula Sering terjadi akibat jatuh dengan bertumpu pada tangan. pemasangan mitela letak tangan lebih tinggi daripada siku. Fraktur yang mengenai daerah glenoid sering berupa impaksi. Posisi badan penderita miring kearah sisi sakit. Penatalaksanaan: konservatif tanpa reposisi. Dilakukan ORIF bila non-union (sangat jarang). pemeriksaan fisik terlihat daerah deltoid menjadi rata mirip bentuk segi empat karena kaput humerus bergeser ke anteromedial dan berada di daerah subkorakoid atau subglenoid. . gaya ini mematahkan klavikul (biasanya di tengah atau medial klavikula). Karena sendi sternoklavikular terfiksasi. Pasien merasa bahunya keluar dari sendi dan tidak mampu menggerakan lengannya sehingga lengan yang cedera ditopang oleh tangan disebelahnya. Mobilisasi pasca operasi untuk cegah kekakuan. Dislokasi disebabkan oleh kontraksi otot dan bobot anggota gerak atas. • Dislokasi sendi glenohumeral Pada dislokasi inferior kaput humerus terperangkap dibawah kavitas glenoid sehingga lengan terkunci pada posisi abduksi (luksasio erekta). gaya disalurkan ke lengan.

radialis dan a. dengan mitela atau traksi tulang . 2. Komplikasi : dapat terjadi disloksi anterior yang kambuhan (luksasio habitualis. Selalu pastikan keutuhan n. sedangkan pada anak terjadi trauma ringan dalam posisi lengan ekstensi (fraktur epifisis tipe II). Pada dewasa muda terjadi akibat trauma berat. terutama yang terjatuh pada siku atau tangan. Gejala klinis : Rasa nyeri terutam pada pergerakan.brankialis Gejala klinis : Nyeri lengan atas dan terbentuk hematom dalam jaringan lunak sehingga lengan patah terlihat lebih besar. korakobrakialis dan triseps akan mempengaruhi posisi fragmen fraktur batang humerus yang mengakibatkan angulasi atau rotasi. umumnya berupa fraktur impaksi.Penatalaksanaan : Reposisi segera dengan metode Stimson. Penatalaksanaan : Jika berupa impaksi segera mobilisasi dengan latihan bahu berupa gerakan penduler kerucut. Jika bukan impaksi (fraktur humerus subkaput terdislokasi dan fragmen proksimalnya dalam posisi abduksi) dilakukan reposisi dan lengan difiksasi dalam posisi abduksi dengan gips spika bahu tipe abduksi atau dipertahankan dengan traksi kulit dalam posisi zero. radialis yang melingkari periosteum diafisis humerus dari proksimal ke distal dan mudah mengalami cedera akibat patah tulang humerus bagian tengah. hematoma pada lengan atas setelah beberapa hari dan dapat meluas hingga siku. kemudian bahu dipertahankan dalam posisi endorotasi dengan penyangga ke dada selama minimal 3 minggu. • Fraktur humerus subkapital Sering terjadi pada lansia. selama 6 minggu. Patah tulang korpus humerus Kontraksi oto biseps. Penanganaan : Dapat ditangani secara tertutup terhadap angulasi (hingga 30º). Pada bagian posterior tengah humerus ada n. lesi pleksus brakialis dan nervus aksilaris dan interposisi tendo bisep kaput longum. pemendekan serta rotasi fragmen patahan tulang . bila imobilitasi kurang dari 3 minggu).

radialis didapat ketidakmampuan ekstensi jari pada sendi metakarpofalangeal. Adanya lesi saraf yang bukan neuropaksia merupakan indikasi untuk eksplorasi sekaligus melakukan fiksasi interna. Regio siku • Fraktur suprakondiler humerus Ada dua jenis : jenis ekstensi (paling sering terjadi) dan jenis fleksi (jarng terjadi). Bila reposisi tercapai. Penatalaksanaan: Reposisi pada anak dilakukan di bawah nakosis umum. pulselessness [nadi tidak teraba] dan paralisis) harus dicurigai adanya sindrom ompartemen yang dapat mengakibatkan kontaktur otot iskemia Volkmann.ulnaris didapati ketidakmampuan melakukan abduksi dan adduksi jari.medianus didapti ketidakmampuan melakukan oposisi ibu jari. Pada lesi n. 3. gangguan sensorik didapati pada bagain volar jari V. parestesia. asisten memegang lengan atas pada ketiak pasien dan operator menarik lengan bawah dengan siku dalam posisi ekstensi. Pasien tidur telentang. gannguan sensoriknya pada bagian volar ibu jari. juga gangguan sensorik di sisi dorsal sela metakarpus I. Pada lesi n. Fragmen dital humerus akan terdislokasi kearah posterior terhadap korpus humerus.radialis. pallor [pucat]. Pada lesi n. Jenis fleksi (biasa pada anak) terjadi akibat jatuh pada telapak tangan dengan tangan dan lengan bawah dalam posisi pronasi dan siku dalam posisi sedikit fleksi. Jenis ekstensi terjadi karena trauma langsung pada humerus distal melalui benturan pada siku saat lengan bawah dalam posisi supinasi dan siku dalam posisi ekstensi dengan tangan yang terfiksasi. fleksi siku dapat . Gejala klinis: siku yang bengkak dengan sudut jinjing yang berubah dengan tanda frkatur yang jelas. perlahan seraya tetap menarik lengan bawah. Bila ada gejala 5P (Pain.yang dipasang pada olekranon (fraktur korpus humerus). siku difleksikan sambil merabaarteri radialis. Komplikasi : lesi n. didapati ketidakmampuan melakukan ekstensi pergelangan tangan sehingga pasien tidak mampu melakukan fleksi jari secara efektif (tidak dapat menggenggam). Hanya fraktur terbuka dan non-union yang harus ditangani reposisi terbuka diikuti fiksasi interna. Bila masih teraba.

reposisi fraktur harus seanatomis mungkin (reposisi secara operatif). Reposisi berhasil 1 minggu kemudian foto roengent kontrol. Dapat juga terjadi fraktur yang pecahannya tidak terdislokasi atau terdilokasi minimal. hilangkan posisi fleksi siku. pertahankan posisi tersebut. Bila terdapat instabilitas. merupakan fraktur intra-artikuler . Bagian proksimal pecahan kondilus dapat tertarik ke distal dan bagain distal pecahan kondilus tertahan atau masuk ek dalam sendi sehingga posisi pecahan terbalik. Fraktur kondiler humerus pada dewasa yang biasanya berbentuk T atau Y merupakan fraktur intra-artikuler hingga rerposisi harus seanatomis mungkin secara operatif dan fiksasi yang kokoh. Pada anak fraktur kondilus lateralis humerus dapat terjadi dislokasi karena tarikan dari otot ekstensor tangan. fraktur ini cukup ditangani secara konservatif. mobilisasi pascabedah harus segera dilakukan. Gips dilepas dan diganti yang baru dan dibiarkan 3 minggu. fraktur kondilus lateralis humerus dan fraktur epikondilus medialis humerus. • Fraktur olekranon . Bila iskemia tidak hilang harus dilakukan operasi untuk membebaskan atau memulihkan arteri dan reposisi fraktur secara operatif atau traksi.ditambah (fleksi mksimal untuk memfiksasi reposisi lengan dengan tegangnya otot triseps. namun menganggu peredaran darah).Bila siku masih dapat bergerak. Fraktur epikondilus medialis humerus merupakan fraktur avulsi dan terjadi akibat gaya abduksi atau valgus yang berlebihan. Bila reposisi gagal atau ada gejala iskemia Volkmann (lesi saraf tepi). bila gejala iskemia menghilang. Pada orang dewasa umumnya didapati fraktur kondiler komunitif berbentuk T atau Y. diperlukan pembedahan untuk mengembalikan stabilitas siku. Reposisi terbuka tanpa fiksasi yang kokoh justru menyebabkan kekakuan sendi akibat perlengketan sendi pascabedah. kemudian diganti mitela untuk pasien mulai latihan gerakan fleksi ekstensi. Fraktur ini termasuk fraktur epifisis berat tipe 4 pada anak. • Fraktur humerus kondiler Sering ditemukan pada anak.

Penatalaksanaan : Karena dapat menyebabkan robekan ligamen yang mempertahankan stabilitas sendi siku. Bila tidak ada instabilitas. dan yang kapitulumnya remuk menjadi fraktur komunitif. Terdapat 3 jenis fraktur: fragmen yang patahannya tidak terdislokasi. setelah reposisi dapat mobilisasi segera. • Dislokasi sendi siku Merupakan dislokasi sendi humeroulnar dan humeroradial. • Fraktur kapitulum radius Sering disebabkan trauma tidak langsung pada tangan yang benturannya disalurkan melalui batang tulang radius. nyeri tekan. biasanya terjadi dislokasi fragmen distal ke posterior dan lateral terhadap fragmen proksimal. bila terjadi instabilitas lakukan imobilisasi dengan gips selama 3 minggu baru kemudian mobilisasi. nyeri spontan dan nyeri sumbu (pada pemeriksaan dorsal siku) dan didapati perubahan segitiga sama kaki yang dibentuk olek olekranon. . Penatalaksanaan: Fraktur tanpa dislokasi diimobilisasi selama 3minggu dan dilanjutkan dengan mobilisasi. merupakan fraktur intra-artikuler sehingga prinsip penanggulangannya reposisi seanatomis mungkin dengan ORIF dengan menggunakan ikatan kawat sehingga memungkinkan mobilisasi segera pascabedah. Perlu penilaian keadaan vaskularisasi dan saraf perifer. nyeri sumbu dan nyeri pergerakan. benturan pada tangan dan lengan bawah dengan siku dalam posisi ekstensi dan sedikit fleksi serta lengan atas terdorong ke arah volar dan medial. pada anak sedapat mungkin dipertahankan. Gejala klinis : Bengkak.Biasanya disertai distraksi yang jelas karena tonus m. Gejala klinis: Pembengkakan yang sering terbatas di daerah lateral siku. Dislokasi ini karena trauma tidak langsung. Terapi nonoperatif dapat dilakukan pada fraktur olekranon tanpa dislokasi.triseps. Pada orang dewasa dengan frkatur kapitulum terdislokasi dapat dilakuakan eksisi kapitulum tersebut. yang kapitulumnya terdilokasi. epikondilus lateral dan epikondilus medial menjadi segitiga tidak sama kaki.

Setelah tereduksi dipasangkan gips sampai atas siku selama 6-8 minggu. sehingga cukup ditangani secara konservatif dengan gips. tindakan operatif menjadi pilihan. Pada dewasa biasanya disebabkan kecelakaan lal linas atau perkelahian. Pengobatan dengan reduksi tertutup kemudian imobilisasi denga gips sampai atas siku selama 3-4 minggu. Posisi fragmenbiasanya tidak berubah. tekanan kearah sumbu supinasi dan reposisi kaput kearah ulna. • Fraktur Monteggia . Penatalaksanaan : Reposisi dengan siku posisi fleksi. Fraktur ini sulir direposisi secara tertutup dan mudah mengalam redislokasi bila reposisi berhasil Sebaiknya lakuakan ORIF dengan pelat jenis kompresi. Jika ada fragmen terdislokasi. fleksi. teliti adakah fraktur tulang radius juga atau dislokasi sendi radioulnar. gangguan ekstensi. 4. Fraktur lengan bawah • Fraktur Satu Tulang Fraktur radius akibat suatu trauma langsung dan sering terjadi pada bagian proksimal radius. Fraktur radius ulna sering disertai dislokasi fragmen fraktur. Penanganan berupa reposisi tertutup dengan anestesi.• Luksasi kaput radius Disebut siku tertarik karena siku ditarik samapai kaput tertarik lepas dari lingkaran ligamentum. • Fraktur Antebrakii Pada anak sering berupa greenstick fracture. Terjadi pada anak yang jatuh ketika ditarik tangannya oleh orang tua atau pengasuhnya. Fraktur ulna bisa disebabkan oleh trauma langsung seperti menangkis pukulan. Pada fraktur komunitif dapat terjadi penyatuan kambat atau pseudoartrosis yang memerlukan pembedahan disertai cangkok tulang. Bila secara reduksi tertutup tdak berhasil. pronasi dan supinasi. Gejala klinis : Nyeri. Tampak angulasi anterior dan biasanya kedua ujung tulang yang patah masih berhubungan satu sama lain.

• Fraktur Galeazzi Fraktur distal radius yang disertai dislokasi atau subluksasi sendi radioulnar distal. Bila berat biasanya terjadi pmendekan lengan bawah.Fraktur 1/3 proksimal ulna disertai dislokasi kapitulum radius ke anterior (dislokasi dapat terjadi juga ke lateral dan posterior). Mirip fraktur antebrakii dan bila ada dislokasi ke anterior. Penyebab umumnya trauma langsung pada ulna. . biasa terjadi karena trauma langsung sisi lateral ketika jatuh. kapitulum radius dapat diraba pada fossa kubiti. Penatalaksanaan: Pada anak secara konservatif dan metode operatif pada dewasa. Gejala klinis: Bila ringan nyeri dan tegang hanya dirasakan di daerah fraktur. Penatalaksanaan: Dapat secara konservatif. misalnya menangkis sesuatu dengan gaya berat. bila demikian terapi bedah menjadi pilihan. namun kurang memuaskan.

De Jong • Wikipedia..Daftar Pusaka • Pengantar Ilmi bedah Ortopedi. 3. 2011. Ph. Chairuddin Rasjad.com . • Buku Ajar Ilmu Bedah Ed. D. 2007. MD. Prof.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->