P. 1
ASKEP KANKER LAMBUNG

ASKEP KANKER LAMBUNG

|Views: 64|Likes:
Published by Kurniawan Zila
;p'[0[0-[
;p'[0[0-[

More info:

Published by: Kurniawan Zila on Jun 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2013

pdf

text

original

ASKEP KANKER LAMBUNG

ASKEP KANKER LAMBUNG 1. Definisi Neopasma ialah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus-menerus secara tak terbatas, tidak terkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh. (Patologi, dr. Achmad Tjarta,2002) Karsinoma Gaster ialah suatu neoplasma yang terdapat pada Gaster. (R. Simadibrata,2000) 2. Anatomi Fisiologi Lambung Lambung merupakan sebuah kantung muskuler yang letaknya antara esophagus dan usus halus, sebelah kiri abdomen di bawah diafragma. Lambung merupakan saluran yang dapat mengembang karena adanya gerakan peristaltik, tekanan organ lain, tekanan organ lain dan postur tubuh. Struktur lambung. a. Fundus ventrikuli Bagian ini menonjol ke atas, terletak di sebelah kiri osteum kardiakum dan biasanya berisi gas. Pada batas dengan esophagus terdapat katup sfingter kardiak. b. Korpus ventrikuli Bagian ini merupakan bagian lambung yang berbentuk tabung dan mempunyai otot yang tebal membentuk sfincter pylorus. Antrum pylorus merupakan muara bagian distal dan berlanjut ke duodenum. c. Antrum pylorus Merupakan bagian lambung yang berbentuk tabung dan mempunyai otot yang tebal membentuk sfincter pylorus. Antrum pylorus merupakan muara distal yang berlanjut ke duodenum. d. Kurvantura minor Terletak di sebelah kanan lambung dan terbentang dari osteum kardiak sampai ke pylorus. Kurvantura minor dihubungkan ke hepar oleh omentum minor. Suatu lipatan ganda dari peritoneum. e. Oesteum kariakum Merupakan tempat esophagus bagian abdomen masuk ke lambung. Pada bagian ini terdapat orifisium pylorus yang tidak mempunyai sfincter khusus, hanya berbentuk cincin yang membuka dan menutup osteum dengan kontraksi dan relaksasi. Osteum dapat tertutup oleh lipatan membran mukosa dan serta otot pada dasar esophagus. Fungsi lambung: Lambung menampung makanan yang masuk melalui esophagus, menghancurkan makanan dengan gerakan peristaltik lambung dan getah lambung. Penghancuran makanan dilakukan dengan dua cara: a. Mekanis : menyimpan, mencampur dengan sekret lambung dan mengeluarkan kimus ke dalam usus. Pendorongan makanan terjadi secara gerakan peristaltik setiap 20 detik. b. Kimiawi : bolus dalam lambung akan dicampur dengan asam lambung dan enzim-enzim tergantung jenis makanan enzim yang dihasilkan antara lain pepsin asam garam, renin dan lapisan lambung. 1. Pepsin, memecah putih telur menjadi asam amino (albumin dan pepton) agar dapat diabsorbsi

di intestinum minor. 2. Asam garam (HCl) mengasamkan makanan sebagai antiseptik dan desinfektan yang masuk ke dalam makanan. Disamping itu mengubah pepsinogen menjadi pepsin dalam suasana asam. 3. Renin, sebagai ragi pembekuan susu dan membentuk kasein dan kaseinogen dari protein. 4. Lapisan lambung memecah lemak menjadi asam lemak untuk merangsang sekresi getah lambung. Sekresi getah lambung Sekresi getah lambung mulai terjadi pada awal orang makan apabila melihat, mencium, dan merasakan makanan maka sekresi lambung akan terangsang, karena pengaruh saraf sehingga menimbulkan rangsang kimiawi yang menyebabkan dinding lambung melepaskan hormon yang disebut sekresi getah lambung. Sekresi getah lambung mengalami 3 fase yaitu: a. Fase serebral Antisipasi dari makan menyebabkan stimulus merambat dari otak ke nervus vagus sampai ke lambung yang merupakan kelenjar yang terstimulasi untuk mensekresi hormon gastrin yang disekresi oleh membran mukosa kanalis pylorus yang menghasilkan getah lambung. b. Fase gastric Pada fase ini gastrin lebih banyak diproduksi. c. Fase intestinal Masuknya darah ke dalam intestinum menyebabkan sekresi getah lambung membentuk lebih banyak gastrin. Sfingter pylorus mengendalikan pengosongan lambung walaupun pylorus tetap terbuka. Kontraksi antrum akan diikuti oleh kontraksi pylorus dan duodenum. Apabila suatu gelombang peristaltik kuat sampai di antrum maka tekanan isi antrum naik dan diikuti oleh kontraksi pylorus sehingga mendorong kembali sebagian besar isi antrum yang masih bersifat padat ke korpus lambung, hanya sejumlah kecil yang masuk ke duodenum pada setiap kali kontraksi. 3. Klasifikasi Early gastric cancer (tumor ganas lambung dini). Berdasarkan hasil pemeriksaan radiologi, gastroskopi dan pemeriksaan histopatologis dapat dibagi atas : Tipe I (pritrured type) Tumor ganas yang menginvasi hanya terbatas pada mukosa dan sub mukosa yang berbentuk polipoid. Bentuknya ireguler permukaan tidak rata, perdarahan dengan atau tanpa ulserasi. Tipe II (superficial type) Dapat dibagi atas 3 sub tipe. II.a. (Elevated type) Tampaknya sedikit elevasi mukosa lambung. Hampir seperti tipe I, terdapat sedikit elevasi dan lebih meluas dan melebar. II.b. (Flat type) Tidak terlihat elevasi atau depresi pada mukosa dan hanya terlihat perubahan pada warna mukosa. II.c. (Depressed type) Didapatkan permukaan yang iregular dan pinggir tidak rata (iregular) hiperemik / perdarahan. Type III. (Excavated type)

dan anemia pernisiosa. Berupa infiltrating Carsinomatous type. Pylori. Sepertiganya karsinoma berbagai bentuk di atas. Dapat disimpulkan bahwa kebiasaaan hidup mempunyai peran penting. arteri hepatika dan celiac. Prognosis yang baik berhubungan dengan bentuk polipoid dan kemudian berbentuk ulserasi dan yang paling jelek ada bentuk scirrhous. makanan panas dapat merupakan faktor timbulnya tumor ganas seperti juga makanan yang di asap. Sedangkan pada atrofi gaster disapatkan bagian atas gaster dan secara multisenter. Mukosa sekitar ulkus tampak sangat hiperemik. Bormann III. frekuensi tumor ganas gaster lebih rendah. 1. Bormann II Merupakan Non Infiltrating Carsinomatous Ulcer dengan tepi ulkus serta mukosa sekitarnya menonjol dan disertai nodular. Karsinoma gaster terlihat beberapa bentuk. Penyebarannya melalui dinding yang disemari penyebaran pada permukaan. II c dan II a  III atau III Menyerupai Bormann II (tumor ganas lanjut) dan sering disertai kombinasi seperti II c Advanced gastric cancer (tumor ganas lanjut). Irlandia. Massa yang tumbuh melalui dinding menginvasi lapisan otot.II c. keabuan dan merah kehitaman. Bormann I. Bentuk linisplastika. Bormann IV Berupa bentuk diffuse Infiltrating type. otak dan bagian lain saluran cerna. 6. pankreas dan hilus selitar limpa. Di samping itu juga pengaruh keadaan lingkungan mungkin memegang peran penting terutama pada penyakit gaster seperti dinegara Jepang. 4. polip di gaster. Patofisiologi Seperti pada umumnya tumor ganas ditempat lain penyebab tumor gaster juga belum diketahui secara pasti. Rusia dan Skandinavia. 3. . 2. 3. Dasar ulkus terlihat nekrotik dengan warna kecoklatan. 4. Ternyata pada orang jepang yang telah lama meninggalkan jepang. ikan asin yang mungkin mempermudah timbuknya tumor ganas gaster. Faktor yag mempermudah timbulnya tumor ganas gaster adalah perubahan mukosa yang abnormal antara lain seperti gastritis atropik. paru. Dapat juga mengenai tulang. tidak terlihat bats tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa. Menurut klasifikasi Bormann dapat dibagi atas : 1. Bentuknya berupa polipoid karsinoma yang sering juga disebut sebagai fungating dan mukosa di sekitar tumor atropik dan iregular. Seperempatnya berasal dari propria yang berbentuk fungating yang tumbuh ke lumen sebagai massa. tidak terlihat batas tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa. 2. Karsinoma gaster berasal dari pertumbuhan epitel pada membran mukosa gaster. Australia. 5. dan faktor infeksi H. Kabanyakan karsinoma gaster berkembang pada bagian bawah gaster. Selain itu faktor lain yang mempengaruhi adalah faktor herediter. 4. Chili. Penyebaran karsinoma gaster sering kehati. Seperempatnya berbentuktumor yang berulserasi.

Darah yang nyata atau samar dalam tinja n. Sering Makan daging hewan dengan cara dipanggang atau dibakar atau diasapkan. Muntah d. 1. oblik yang disertai dengan komprsi. Penurunan Berat badan. Mudah kenyang. Nausea. 3. Keram abdomen m. Disfagia. 7. 2. Pemeriksaan radiologi yang penting adalah pemeriksaan kontras ganda dengan berbagai posisi seperti telentang. Namun para penyelidik berpendapat bahwa komposisi makanan merupakan faktor penting dalam kejadian karsinoma Gaster. i. Herediter. untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan tes Benzidin. 2. 4. l. Tengkurap. 4. Regurgitasi. Didaerah epigastrium mungkin ditemukan suatu massa dan jika telah terjadi metastasis ke hati. Pemeriksaan fisis dapat membantu diagnosis berupa berat badan menurun dan anemia. 5. . Pemeriksaan darah pada tinja. Hematemasis. Radiologi.5. Faktor infeksi (oleh kuman H. Sering makan makanan yang terlalu pedas. c. Kelemahan. Gastritis kronis. Kurang makanan yang mengandung serat. Nyeri b. Pada pemeriksaan Okuda (1969) dengan biopsi ditemukan 94 % pasien dengan tumor ganas gaster sedangkan dengan sitologi lavse hanya didapatkan 50 %. Pemeriksaan gastroskopi banyak sekali membantu diagnosis untuk melihat adanya tumor gaster. Pemeriksaan Diagnosis 1. Asites ( perut membesar). j. Pasien mengeluh rasa tidak enak pada perut terutama sehabis makan. 6. dan kadang-kadang kelenjar limfe klavikula teraba. k. Pemeriksaan fisis. 6. Makan makanan yang memproduksi bahan karsinogenik dan ko-karsinogenik. h. teraba hati yang iregular. e. Etiologi Penyebab dari karsinoma Gaster sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Pylory). g. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala karsinoma kolo-rektal tergantung dari lokasi dan besarnya tumor : a. Pada tumor ganas sering didapatkan perdarahan dalam tinja (occult blood). Anoreksia. 7. Gastroskopi dan Biopsi. Makanan tersebut seperti . 3. f.

tidak ada sisa Ca pada irisan lambung. polusi. Tentu pemeriksaan ini perlu dilengkapi dengan pemeriksaan gastroskopi dan biopsi. frekuensi dan jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari  Adanya mual. 4. Dapat terjadi pada bagian bawah lambung dekat daerah pilorus yang disertai keluhan mintahmuntah. pembedahab sudah dapat dilakukan sebagai tindakan paliatif. Radiasi Pengobatan dengan radiasi memperlihatkan kurang berhasil. 3.  Ketaatan terhadap diet. ketidakmampuan memenuhi kebutuhan nutrisi  Adanya kebiasaan merokok. epirubisin dan karmisetin dengan hasil 18 – 30 %. Konsep Dasar Keperawatan A. Di antara obat yang di gunakan adalah 5 FU. Hematemesis yang masif dan melena dapat terjadi pada tumor ganas lambung sehingga dapat menimbulkan anemia. B. mitonisin C.5. Persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan  Apakah ada riwayat kanker pada keluarga  Status kesehatan dan penyakit yang diderita. Penatalaksanaan 1. Walaupun telah terdapat daerah sebar. pilihan terbaik adalah pembedahan. obat-obatan. Pengkajian a. Sitologi. Adhesi. Perforasi Dapat terjadi perforasi akut dan perforasi kronik. Nutrisi metabolik  Jenis. ventilasi. trimetrexote. 6. hidrourea. lingkungan. Hematemesis. Kemoterapi Pada tumor ganas dapat dilakukan pemberian obat secara tunggal atau kombinsi kemoterapi. Pemeriksaan Papanicolaou dari cairan lambung dapat memastikan tumor ganas lambung dengan hasil 80 – 90 %. 3. Bedah jika penyakit belum menunjukkan tanda penyebaran. Obstruksi. reseksi cairan sekitar yang terkena. anorexia. 2. Reaksi kuratif akan berhsil bila tidak ada tanda metastasis di tempat lain. muntah. Komplikasi 1. alkohol dan mengkonsumsi obat-obatan tertentu. dari pengambilan kelenjar limfa secukupnya. Jika tumor mengenai dinding lambung dapat terjadi perlengketan dan infiltrasi dengan organ sekitarnya dan menimbulkan keluhan nyeri perut 7. upaya yang dilakukan  Lingkungan tempat tinggal klien  Tingkat pengetahuan dan kepedulian pasien  Hal-hal yang membuat status kesehatan pasien berubah : merokok. 2. kaji diet khusus . alkohol. b.

Persepsi dan konsep diri  Penilaian klien terhadap dirinya sendiri h. waktu dan orang  Adanya gangguan proses pikir dan daya ingat  Cara klien mengatasi rasa tidak nyaman(nyeri)  Adanya kesulitan dalam mempelajari sesuatu g.takut. bentuk feses. Eliminasi  Pola BAK dan BAB: frekuensi. Diagnosa Keperawatan a. Aktivitas dan latihan  Kebiasaan aktivitas sehari hari  Kebiasaan olah raga  Rasa sakit saat melakukan aktivitas e. dan bau  Adanya nyeri waktu BAB d. Mekanisme koping dan toleransi terhadap stess  Adanya perasaan cemas. Jenis makanan yang disukai (pedas. asam. Reproduksi dan seksualitas  Adanya gangguan seksualitas dan penyimpangan seksualitas  Pengaruh/hubungan penyakit terhadap seksualitas j. Sistem kepercayaan  Agama yang dianut.apakah kegiatan ibadah terganggu A.tidak sabar ataupun marah  Mekanisme koping yang biasa digunakan  Respon emosional klien terhadap status saat ini  Orang yang membantu dalam pemecahan masalah k. Persepsi kognitif  Gangguan pengenalan (orientasi) terhadap tempat. muntah dan tidak . manis. dingin)  Adanya makanan tambahan  Napsu makan berlebih/kurang  Kebersihan makanan yang dikonsumsi c. ketidaknyamanan. Peran dan hubungan dengan sesama  Klien hidup sendiri/keluarga  Klien merasa terisolasi  Adanya gangguan klien dalam keluarga dan masyarakat i. Pre-Op 1. Nyeri berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel kanker 2. panas. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual. Tidur dan istirahat  Adanya gejala susah tidur/insomnia  Kebiasaan tidur per 24 jam f. Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan 3. karakteristik. masalah pengontrolan  Adanya mencret bercampur darah  Adanya Diare dan konstipasi  Warna feses.

nafsu makan 4. Post-Op 1. marah. Nyeri berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel kanker Tujuan : Nyeri berkurang sampai hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan Hasil yang diharapkan : Nyeri berkurang sampai dengan hilang Rencana Tindakan: 1. C. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder terhadap prosedur invasive. 4. Tujuan : Kebutuhsn nutrisi dapat terpenuhi setelah dilakukan keperawatan Hasil yang diharapkan: . b. Ketidakefektifan pola nafas b. lokasi. Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien R/ pasien kooperatif dalam segala tindakan dan mengurangi kecemasan pasien 2.d adanya pengaruh anastesi. Kecemasan berhubungan dengan ketidakpastian tentang hasil pengobatan kanker. cemas) R/ dengan mengetahui faktor penyebab nyeri menentukan tindakan untuk mengurangi nyeri 3. 3. 5. frekfensi R/ mengtahui tingkat nyeri sebagai evaluasi untuk intervensi selanjutnya 2. Rencana Keperawatan a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status puasa. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual. Pre-Operasi Dp 1. Kaji karakteristik nyeri. muntah dan tidak nafsu makan. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik R/ analgetik efektif untuk mengatasi nyeri Dp 2. Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. 2. Kaji faktor penyebab timbul nyeri (takut . Ajarkan tehnik relaksasi tarik nafas dalam R/ tehnik relaksasi dapat mengatsi rasa nyeri 4. Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa medik R/ memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat 4. Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan Tujuan : Kecemasan dapat diminimalkan setelah dilakukan tindakan keperawatan Hasil yang diharapkan : Kecemasan pasien berkurang Rencana Tindakan: 1. Nyeri berhubungan dengan interupsi tubuh sekunder terhadap prosedur invasif atau intervensi operasi. Akui rasatakut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan R/ dukungan memampukan pasien memulai membuka/ menerima kenyataan penyakit dan pengobatan Dp 3. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan akan ketakutannya R/ untuk mengurangi kecemasan 3.

2. R/ Menentukan aktivitas yang boleh dilakukan. R/ Terpenuhinya kebutuhan klien.d adanya pengaruh anastesi. tidak ada suara tambahan Rencana tindakan : 1. R/ Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat/tidak dimanifestasikan adanya bunyi nafas adventisius misalnya: penyebaran.. R/ Untuk mengetahui kehilangan berat badan. 2. 3. Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi. Tujuan : Pola nafas kembali efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan. 3. catat adanya bunyi nafas misalnya mengi. Kaji kemampuan klien dalam beraktivitas. Hasil yang diharapkan: Klien menunjukkan peningkatan toleransi dalam beraktivitas yang ditandai dengan: tidak mengeluh lemas. Ajarkan teknik relaksasi yaitu tarik napas dalam. Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.Suara nafas vesikuler . 3. Hasil yang diharapkan : . 2. krekels basah (bronkitis). Rencana tindakan : 1. ronchi. R/ Tachipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/adanya proses infeksi akut. Auskultasi bunyi nafas. distress . Kaji kebiasaan makan klien. Timbang berat badan bila memungkinkan. Catat adanya derajat dyspnea misalnya keluhan “lapar udara”. Hidangkan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan hangat. klien beraktivitas secara bertahap. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin R/ Mencegah kekurangan karena penurunan absorsi vitamin larut dalam lemak Dp 4. R/ Istirahat akan memberikan energi yang cukup dan membantu dalam proses penyembuhan. R/ Mengidentifikasi kelainan beraktivitas. R/ Tarik nafas dalam membantu untuk merelaksasikan dan mengurangi mual. R/ Jenis makanan yang disukai akan membantu meningkatkan nafsu makan klien. bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi (emfisema) atau tidak adanya bunyi nafas (asma berat).Nutrisi klien terpenuhi . Tujuan : Intoleransi aktivitas teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan. 4. 4.Bunyi nafas bersih. Kaji/pantau frekuensi pernafasan. gelisah. ansietas. Sediakan waktu istirahat yang cukup. Bantu memenuhi kebutuhan klien. catat radio inspirasi/ekspirasi. 5. Kaji keluhan klien saat beraktivitas.Mual berkurang sampai dengan hilang. krekels. Rencana Tindakan : 1. R/ Makanan yang hangat menambah nafsu makan. Ketidakefektifan pola nafas b. Post-Operasi Dp 1.

reaksi alergi. 7. Dp 2.Mual berkurang sampai dengan hilang. R/ Makanan yang hangat menambah nafsu makan. bantal. Observasi karakteristik batuk misalnya menetap.pernafasan. R/ Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif. Dorong/bantu latihan nafas abdomen atau bibir. Kaji karakteristik nyeri. Nyeri berhubungan dengan interupsi tubuh sekunder terhadap prosedur invasif atau intervensi operasi. marah. Hasil yang diharapkan : Nyeri berkurang sampai dengan hilang Rencana Tindakan : 1. Tujuan : Nutrisi pasien terpenuhi setelah dilakukan keperawatan. R/ Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. 5. R/ Memberikan pasien-pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dyspnea dan menurunkan jebakan udara. Kaji faktor penyebab timbul nyeri (takut . cemas) R/ dengan mengetahui faktor penyebab nyeri menentukan tindakan untuk mengurangi nyeri 3. R/ Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret. Mempermudah pengeluaran. khususnya bila pasien lansia. Hidangkan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan hangat. mentriger episode akut. Ajarkan tehnik relaksasi tarik nafas dalam R/ tehnik relaksasi dapat mengatsi rasa nyeri 4. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman misalnya peninggian kepala tempat tidur. Bantu tindakan untuk memperbaiki keefektifan upaya batuk. Rencana tindakan : 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status puasa. 4. asap dan bulu bantal yang berhubungan dengan kondisi individu. 8. sakit akut atau kelemahan. Tujuan : Nyeri berkurang sampai hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik R/ analgetik efektif untuk mengatasi nyeri Dp 3. Hasil yang diharapkan : . penggunaan otot bantu.Nutrisi klien terpenuhi . basah. frekfensi R/ mengtahui tingkat nyeri sebagai evaluasi untuk intervensi selanjutnya 2. . lokasi. Misalnya infeksi. Tingkatkan masukan cairan antara sebagai pengganti makanan. batuk pendek. Cairan selama makan dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. 6. Penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. dll membantu menurunkan kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada. Pertahankan polusi lingkungan minimum misalnya: debu. Batuk paling efektif pada posisi duduk tinggi atau kepala di bawah setelah perkusi dada. R/ Pencetus tipe reaksi alergi pernafasan yang dapat. duduk pada sandaran tempat tidur. R/ Disfungsi pernafasan adalah variabel yang tergantung pada tahap proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. Sokongan tangan/kaki dengan meja.

Dp 5. 5. . Rencana tindakan : 1. jujur pada pasien/orang terdekat. Rencana tindakan: 1. 2. 4. menggigil. Ajarkan teknik relaksasi yaitu tarik napas dalam. eritema. R/ Pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi. Gangguan konsep diri berhubungan dengan kehilangan Tujuan : Gangguan konsep diri teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan Kriteria Hasil : Klien dapat percaya diri dengan keadaan penyakitnya. R/ Deteksi dini terjadinya proses infeksi. membantu mengurangi ansietas. 3. 4. Tujuan : Infeksi tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan.Proses penyembuhan luka tepat waktu. reaksi keluarga dan pasien terhadap penyakit dan penanganannya. Observasi daerah luka operasi.Tidak ada tanda-tanda infeksi. adanya rembesan. Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa medik R/ Memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat 4. 3. R/ Untuk mengetahui kehilangan berat badan. Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien R/ pasien kooperatif dalam segala tindakan dan mengurangi kecemasan pasien 2. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan akan ketakutannya R/ Untuk mengurangi kecemasan 3. Hasil yang diharapkan : . Timbang berat badan bila memungkinkan. Akui rasatakut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan R/ Dukungan memampukan pasien memulai membuka/ menerima kenyataan penyakit dan pengobatan Dp 5. Kolaborasi dengan medik untuk terapi antibiotik. R/ Sebagai indikator adanya infeksi/terjadinya sepsis. Kecemasan berhubungan dengan ketidakpastian tentang hasil pengobatan kanker Tujuan : Kecemasan dapat diminimalkan setelah dilakukan tindakan keperawatan. berkeringat. Kaji kebiasaan makan klien. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin R/ Mencegah kekurangan karena penurunan absorsi vitamin larut dalam lemak Dp 4. . Observasi tanda-tanda vital. R/ Untuk mempermudah dalam proses pendekatan. adanya demam. pus. Hasil yang diharapkan : Kecemasan pasien berkurang Rencana Tindakan: 1. R/ Membantu menurunkan penyebaran dan pertumbuhan bakteri. Kaji respon. R/ Tarik nafas dalam membantu untuk merelaksasikan dan mengurangi mual. Berikan informasi yang tepat. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder terhadap prosedur invasive.2. R/ Jenis makanan yang disukai akan membantu meningkatkan nafsu makan klien.

4. lynda RN.Fakultas Kedokteran : UI.K. Atiek S. Kapita Selekta Kedokteran. Libatkan semua orang terdekat dalam pendidikan dan perencanaan perawatan di rumah. Ed 3. Berikan waktu/dengarkan hal-hal yang menjadi keluhan. 3. Kamus Lengkap Kedokteran. R/ Support keluarga membantu dalam proses penyembuhan.(1997). Husna Ametz. Purnawan Ajunadi. R/ Dapat memudahkan beban terhadap penanganan dan adaptasi di rumah. Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat. Muda.(1999).(1982). Jakarta : Gitamedia Press.Edisi Revisi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran (EGC) . R/ Dukungan yang terus menerus akan memudahkan dalam proses adaptasi. Jakarta : Media Aesculappius. Edisi 2. Media Aesculapius.Diagnosa dan Rencana Keperawatan. Ahmad. Daftar Pustaka A.seomasto. Juall Carpenito. Syaifuddin.2. Kaji hubungan antara pasien dan anggota keluarga dekat. (2003).

Kurvantura minor Terletak di sebelah kanan lambung dan terbentang dari osteum kardiak sampai ke pylorus. Antrum pylorus merupakan muara bagian distal dan berlanjut ke duodenum. sebelah kiri abdomen di bawah diafragma. b. Mekanis : menyimpan.ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KANKER LAMBUNG Oleh : Ferdynandus Felix TL..2000) 2. Antrum pylorus merupakan muara distal yang berlanjut ke duodenum. tidak terkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh. Struktur lambung.Md. (R. c. tekanan organ lain. Achmad Tjarta. Anatomi Fisiologi Lambung Lambung merupakan sebuah kantung muskuler yang letaknya antara esophagus dan usus halus. Lambung merupakan saluran yang dapat mengembang karena adanya gerakan peristaltik. Pada bagian ini terdapat orifisium pylorus yang tidak mempunyai sfincter khusus. Fundus ventrikuli Bagian ini menonjol ke atas. hanya berbentuk cincin yang membuka dan menutup osteum dengan kontraksi dan relaksasi. Fungsi lambung: Lambung menampung makanan yang masuk melalui esophagus. d. tekanan organ lain dan postur tubuh.Kep. Mahasiswa Prodi S1 Keperawatan STIK Muhammadiyah Pontianak 1. dr. Simadibrata. (Patologi. terletak di sebelah kiri osteum kardiakum dan biasanya berisi gas. Osteum dapat tertutup oleh lipatan membran mukosa dan serta otot pada dasar esophagus. Pada batas dengan esophagus terdapat katup sfingter kardiak. Suatu lipatan ganda dari peritoneum. mencampur dengan sekret lambung dan mengeluarkan kimus ke dalam . Definisi Neopasma ialah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus-menerus secara tak terbatas. e. Penghancuran makanan dilakukan dengan dua cara: a. A. Antrum pylorus Merupakan bagian lambung yang berbentuk tabung dan mempunyai otot yang tebal membentuk sfincter pylorus. Oesteum kariakum Merupakan tempat esophagus bagian abdomen masuk ke lambung. Korpus ventrikuli Bagian ini merupakan bagian lambung yang berbentuk tabung dan mempunyai otot yang tebal membentuk sfincter pylorus.2002) Karsinoma Gaster ialah suatu neoplasma yang terdapat pada Gaster. menghancurkan makanan dengan gerakan peristaltik lambung dan getah lambung. Kurvantura minor dihubungkan ke hepar oleh omentum minor. a.

Berdasarkan hasil pemeriksaan radiologi. renin dan lapisan lambung. Asam garam (HCl) mengasamkan makanan sebagai antiseptik dan desinfektan yang masuk ke dalam makanan. memecah putih telur menjadi asam amino (albumin dan pepton) agar dapat diabsorbsi di intestinum minor. 4. Fase intestinal Masuknya darah ke dalam intestinum menyebabkan sekresi getah lambung membentuk lebih banyak gastrin. Pendorongan makanan terjadi secara gerakan peristaltik setiap 20 detik. Kontraksi antrum akan diikuti oleh kontraksi pylorus dan duodenum. Hampir seperti tipe I. (Elevated type) Tampaknya sedikit elevasi mukosa lambung. hanya sejumlah kecil yang masuk ke duodenum pada setiap kali kontraksi. Fase gastric Pada fase ini gastrin lebih banyak diproduksi. II. Tipe II (superficial type) Dapat dibagi atas 3 sub tipe. Renin. Pepsin. II. Fase serebral Antisipasi dari makan menyebabkan stimulus merambat dari otak ke nervus vagus sampai ke lambung yang merupakan kelenjar yang terstimulasi untuk mensekresi hormon gastrin yang disekresi oleh membran mukosa kanalis pylorus yang menghasilkan getah lambung. b. Kimiawi : bolus dalam lambung akan dicampur dengan asam lambung dan enzim-enzim tergantung jenis makanan enzim yang dihasilkan antara lain pepsin asam garam. (Flat type) Tidak terlihat elevasi atau depresi pada mukosa dan hanya terlihat perubahan pada warna . Klasifikasi Early gastric cancer (tumor ganas lambung dini). Sekresi getah lambung mengalami 3 fase yaitu: a. perdarahan dengan atau tanpa ulserasi.usus. terdapat sedikit elevasi dan lebih meluas dan melebar. Sfingter pylorus mengendalikan pengosongan lambung walaupun pylorus tetap terbuka. b. gastroskopi dan pemeriksaan histopatologis dapat dibagi atas : Tipe I (pritrured type) Tumor ganas yang menginvasi hanya terbatas pada mukosa dan sub mukosa yang berbentuk polipoid. dan merasakan makanan maka sekresi lambung akan terangsang. sebagai ragi pembekuan susu dan membentuk kasein dan kaseinogen dari protein.b. Disamping itu mengubah pepsinogen menjadi pepsin dalam suasana asam.a. c. 1. 3. 2. Bentuknya ireguler permukaan tidak rata. Sekresi getah lambung Sekresi getah lambung mulai terjadi pada awal orang makan apabila melihat. mencium. Lapisan lambung memecah lemak menjadi asam lemak untuk merangsang sekresi getah lambung. 3. Apabila suatu gelombang peristaltik kuat sampai di antrum maka tekanan isi antrum naik dan diikuti oleh kontraksi pylorus sehingga mendorong kembali sebagian besar isi antrum yang masih bersifat padat ke korpus lambung. karena pengaruh saraf sehingga menimbulkan rangsang kimiawi yang menyebabkan dinding lambung melepaskan hormon yang disebut sekresi getah lambung.

Faktor yag mempermudah timbulnya tumor ganas gaster adalah perubahan mukosa yang abnormal antara lain seperti gastritis atropik. Di samping itu juga pengaruh keadaan lingkungan mungkin memegang peran penting terutama pada penyakit gaster seperti dinegara Jepang. keabuan dan merah kehitaman. 2. Bormann II Merupakan Non Infiltrating Carsinomatous Ulcer dengan tepi ulkus serta mukosa sekitarnya menonjol dan disertai nodular. Bentuk linisplastika. 4. Kabanyakan karsinoma gaster berkembang pada bagian bawah gaster. Irlandia. Bormann IV Berupa bentuk diffuse Infiltrating type. 5. 4. (Depressed type) Didapatkan permukaan yang iregular dan pinggir tidak rata (iregular) hiperemik / perdarahan. dan faktor infeksi H. polip di gaster. Selain itu faktor lain yang mempengaruhi adalah faktor herediter. Menurut klasifikasi Bormann dapat dibagi atas : 1. Karsinoma gaster terlihat beberapa bentuk. .c. makanan panas dapat merupakan faktor timbulnya tumor ganas seperti juga makanan yang di asap. dan anemia pernisiosa. Dasar ulkus terlihat nekrotik dengan warna kecoklatan. 3. Mukosa sekitar ulkus tampak sangat hiperemik. Sepertiganya karsinoma berbagai bentuk di atas.mukosa. 1. Bormann I. frekuensi tumor ganas gaster lebih rendah. Australia. Dapat disimpulkan bahwa kebiasaaan hidup mempunyai peran penting. tidak terlihat batas tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa. tidak terlihat bats tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa. (Excavated type) II c. Chili. Sedangkan pada atrofi gaster disapatkan bagian atas gaster dan secara multisenter. Seperempatnya berbentuktumor yang berulserasi. Karsinoma gaster berasal dari pertumbuhan epitel pada membran mukosa gaster. Bentuknya berupa polipoid karsinoma yang sering juga disebut sebagai fungating dan mukosa di sekitar tumor atropik dan iregular. 3. Type III. 2. Massa yang tumbuh melalui dinding menginvasi lapisan otot. Rusia dan Skandinavia. II. Pylori. Patofisiologi Seperti pada umumnya tumor ganas ditempat lain penyebab tumor gaster juga belum diketahui secara pasti. 6. Seperempatnya berasal dari propria yang berbentuk fungating yang tumbuh ke lumen sebagai massa. ikan asin yang mungkin mempermudah timbuknya tumor ganas gaster. Bormann III. Berupa infiltrating Carsinomatous type. 4. Penyebarannya melalui dinding yang disemari penyebaran pada permukaan. II c dan II a  III atau III Menyerupai Bormann II (tumor ganas lanjut) dan sering disertai kombinasi seperti II c Advanced gastric cancer (tumor ganas lanjut). Ternyata pada orang jepang yang telah lama meninggalkan jepang.

Dapat juga mengenai tulang. dan kadang-kadang kelenjar limfe klavikula teraba. Kelemahan. f. 6. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala karsinoma kolo-rektal tergantung dari lokasi dan besarnya tumor : a. Hematemasis. pankreas dan hilus selitar limpa. Muntah d. 3. c. Kurang makanan yang mengandung serat. Pemeriksaan fisis. Sering makan makanan yang terlalu pedas. Disfagia. Pylory). 2. 6. Pemeriksaan Diagnosis 1. Asites ( perut membesar). i. Didaerah epigastrium mungkin ditemukan suatu massa dan jika telah terjadi metastasis ke hati. Etiologi Penyebab dari karsinoma Gaster sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Pemeriksaan radiologi yang penting adalah pemeriksaan kontras ganda dengan berbagai posisi seperti telentang. Makan makanan yang memproduksi bahan karsinogenik dan ko-karsinogenik. j. Nausea.Prognosis yang baik berhubungan dengan bentuk polipoid dan kemudian berbentuk ulserasi dan yang paling jelek ada bentuk scirrhous. e. arteri hepatika dan celiac. Namun para penyelidik berpendapat bahwa komposisi makanan merupakan faktor penting dalam kejadian karsinoma Gaster. 4. . Makanan tersebut seperti . Penyebaran karsinoma gaster sering kehati. Gastroskopi dan Biopsi. Herediter. 3. otak dan bagian lain saluran cerna. 7. Pemeriksaan gastroskopi banyak sekali membantu diagnosis untuk melihat adanya tumor gaster. 1. Darah yang nyata atau samar dalam tinja n. Pemeriksaan fisis dapat membantu diagnosis berupa berat badan menurun dan anemia. 5. Keram abdomen m. Tengkurap. Faktor infeksi (oleh kuman H. Sering Makan daging hewan dengan cara dipanggang atau dibakar atau diasapkan. Radiologi. l. Gastritis kronis. Regurgitasi. h. g. paru. Penurunan Berat badan. Nyeri b. oblik yang disertai dengan komprsi. Pasien mengeluh rasa tidak enak pada perut terutama sehabis makan. 2. 5. teraba hati yang iregular. 7. Mudah kenyang. Anoreksia. k.

Pengkajian a.Pada pemeriksaan Okuda (1969) dengan biopsi ditemukan 94 % pasien dengan tumor ganas gaster sedangkan dengan sitologi lavse hanya didapatkan 50 %. ventilasi. Di antara obat yang di gunakan adalah 5 FU. trimetrexote. alkohol. polusi. reseksi cairan sekitar yang terkena. . Kemoterapi Pada tumor ganas dapat dilakukan pemberian obat secara tunggal atau kombinsi kemoterapi. 4. tidak ada sisa Ca pada irisan lambung. Perforasi Dapat terjadi perforasi akut dan perforasi kronik. 5. mitonisin C. pilihan terbaik adalah pembedahan. Adhesi. Radiasi Pengobatan dengan radiasi memperlihatkan kurang berhasil. B. Walaupun telah terdapat daerah sebar. Komplikasi 1. Dapat terjadi pada bagian bawah lambung dekat daerah pilorus yang disertai keluhan mintahmuntah. Bedah jika penyakit belum menunjukkan tanda penyebaran. Jika tumor mengenai dinding lambung dapat terjadi perlengketan dan infiltrasi dengan organ sekitarnya dan menimbulkan keluhan nyeri perut 7. Pemeriksaan Papanicolaou dari cairan lambung dapat memastikan tumor ganas lambung dengan hasil 80 – 90 %. dari pengambilan kelenjar limfa secukupnya. Obstruksi. upaya yang dilakukan  Lingkungan tempat tinggal klien  Tingkat pengetahuan dan kepedulian pasien  Hal-hal yang membuat status kesehatan pasien berubah : merokok. 6. Pada tumor ganas sering didapatkan perdarahan dalam tinja (occult blood). obat-obatan. 2. Pemeriksaan darah pada tinja. untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan tes Benzidin. 4. Hematemesis yang masif dan melena dapat terjadi pada tumor ganas lambung sehingga dapat menimbulkan anemia. 3. Penatalaksanaan 1. lingkungan. pembedahab sudah dapat dilakukan sebagai tindakan paliatif. hidrourea. Hematemesis. Konsep Dasar Keperawatan A. Persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan  Apakah ada riwayat kanker pada keluarga  Status kesehatan dan penyakit yang diderita. Tentu pemeriksaan ini perlu dilengkapi dengan pemeriksaan gastroskopi dan biopsi. Sitologi. epirubisin dan karmisetin dengan hasil 18 – 30 %. 2. Reaksi kuratif akan berhsil bila tidak ada tanda metastasis di tempat lain. 3.

dan bau  Adanya nyeri waktu BAB d. manis. asam. muntah. Tidur dan istirahat  Adanya gejala susah tidur/insomnia  Kebiasaan tidur per 24 jam f. Sistem kepercayaan  Agama yang dianut. ketidaknyamanan.apakah kegiatan ibadah terganggu . Aktivitas dan latihan  Kebiasaan aktivitas sehari hari  Kebiasaan olah raga  Rasa sakit saat melakukan aktivitas e. dingin)  Adanya makanan tambahan  Napsu makan berlebih/kurang  Kebersihan makanan yang dikonsumsi c.b.  Ketaatan terhadap diet.tidak sabar ataupun marah  Mekanisme koping yang biasa digunakan  Respon emosional klien terhadap status saat ini  Orang yang membantu dalam pemecahan masalah k. Persepsi dan konsep diri  Penilaian klien terhadap dirinya sendiri h. masalah pengontrolan  Adanya mencret bercampur darah  Adanya Diare dan konstipasi  Warna feses. Persepsi kognitif  Gangguan pengenalan (orientasi) terhadap tempat. karakteristik. ketidakmampuan memenuhi kebutuhan nutrisi  Adanya kebiasaan merokok.takut. Reproduksi dan seksualitas  Adanya gangguan seksualitas dan penyimpangan seksualitas  Pengaruh/hubungan penyakit terhadap seksualitas j. Peran dan hubungan dengan sesama  Klien hidup sendiri/keluarga  Klien merasa terisolasi  Adanya gangguan klien dalam keluarga dan masyarakat i. Nutrisi metabolik  Jenis. bentuk feses. Eliminasi  Pola BAK dan BAB: frekuensi. kaji diet khusus  Jenis makanan yang disukai (pedas. anorexia. frekuensi dan jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari  Adanya mual. alkohol dan mengkonsumsi obat-obatan tertentu. panas. waktu dan orang  Adanya gangguan proses pikir dan daya ingat  Cara klien mengatasi rasa tidak nyaman(nyeri)  Adanya kesulitan dalam mempelajari sesuatu g. Mekanisme koping dan toleransi terhadap stess  Adanya perasaan cemas.

Nyeri berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel kanker Tujuan : Nyeri berkurang sampai hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan Hasil yang diharapkan : Nyeri berkurang sampai dengan hilang Rencana Tindakan: 1. Diagnosa Keperawatan a. 4.A. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik R/ analgetik efektif untuk mengatasi nyeri Dp 2. lokasi. frekfensi R/ mengtahui tingkat nyeri sebagai evaluasi untuk intervensi selanjutnya 2. Kecemasan berhubungan dengan ketidakpastian tentang hasil pengobatan kanker. Post-Op 1. Nyeri berhubungan dengan interupsi tubuh sekunder terhadap prosedur invasif atau intervensi operasi.d adanya pengaruh anastesi. 5. Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan 3. Kaji faktor penyebab timbul nyeri (takut . Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan akan ketakutannya R/ untuk mengurangi kecemasan 3. Pre-Op 1. Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. Akui rasatakut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan R/ dukungan memampukan pasien memulai membuka/ menerima kenyataan penyakit dan . Pre-Operasi Dp 1. b. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder terhadap prosedur invasive. cemas) R/ dengan mengetahui faktor penyebab nyeri menentukan tindakan untuk mengurangi nyeri 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status puasa. muntah dan tidak nafsu makan 4. C. Kaji karakteristik nyeri. 3. marah. 2. Ajarkan tehnik relaksasi tarik nafas dalam R/ tehnik relaksasi dapat mengatsi rasa nyeri 4. Nyeri berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel kanker 2. Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan Tujuan : Kecemasan dapat diminimalkan setelah dilakukan tindakan keperawatan Hasil yang diharapkan : Kecemasan pasien berkurang Rencana Tindakan: 1. Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa medik R/ memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat 4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual. Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien R/ pasien kooperatif dalam segala tindakan dan mengurangi kecemasan pasien 2. Rencana Keperawatan a. Ketidakefektifan pola nafas b.

R/ Untuk mengetahui kehilangan berat badan. Tujuan : Intoleransi aktivitas teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan. Bantu memenuhi kebutuhan klien.Suara nafas vesikuler . krekels basah (bronkitis). R/ Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat/tidak dimanifestasikan adanya bunyi nafas adventisius misalnya: penyebaran. 2. ronchi.Mual berkurang sampai dengan hilang. Auskultasi bunyi nafas. Hasil yang diharapkan: Klien menunjukkan peningkatan toleransi dalam beraktivitas yang ditandai dengan: tidak mengeluh lemas. Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. Tujuan : Pola nafas kembali efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan. R/ Jenis makanan yang disukai akan membantu meningkatkan nafsu makan klien. Kaji kebiasaan makan klien. Hidangkan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan hangat. R/ Makanan yang hangat menambah nafsu makan. Ketidakefektifan pola nafas b.d adanya pengaruh anastesi.pengobatan Dp 3. 2. Kaji kemampuan klien dalam beraktivitas. R/ Tarik nafas dalam membantu untuk merelaksasikan dan mengurangi mual. Kaji keluhan klien saat beraktivitas.Bunyi nafas bersih. Tujuan : Kebutuhsn nutrisi dapat terpenuhi setelah dilakukan keperawatan Hasil yang diharapkan: . Hasil yang diharapkan : . Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin R/ Mencegah kekurangan karena penurunan absorsi vitamin larut dalam lemak Dp 4. krekels. R/ Mengidentifikasi kelainan beraktivitas. Post-Operasi Dp 1. klien beraktivitas secara bertahap. 5. catat adanya bunyi nafas misalnya mengi. muntah dan tidak nafsu makan. Rencana tindakan : 1. R/ Istirahat akan memberikan energi yang cukup dan membantu dalam proses penyembuhan. . R/ Terpenuhinya kebutuhan klien. Sediakan waktu istirahat yang cukup. Rencana Tindakan : 1. 4. R/ Menentukan aktivitas yang boleh dilakukan. Ajarkan teknik relaksasi yaitu tarik napas dalam. 4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual. Timbang berat badan bila memungkinkan. bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi (emfisema) atau tidak adanya bunyi nafas (asma berat). 3.Nutrisi klien terpenuhi . 3. tidak ada suara tambahan Rencana tindakan : 1.

Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi. 8. gelisah. Kaji karakteristik nyeri. R/ Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret. basah. Mempermudah pengeluaran. R/ Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif. Dorong/bantu latihan nafas abdomen atau bibir. Observasi karakteristik batuk misalnya menetap. 4. lokasi. R/ Tachipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/adanya proses infeksi akut. Penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. distress pernafasan. Batuk paling efektif pada posisi duduk tinggi atau kepala di bawah setelah perkusi dada. reaksi alergi. catat radio inspirasi/ekspirasi. duduk pada sandaran tempat tidur. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman misalnya peninggian kepala tempat tidur. Hasil yang diharapkan : . Tingkatkan masukan cairan antara sebagai pengganti makanan. sakit akut atau kelemahan. 7. R/ Memberikan pasien-pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dyspnea dan menurunkan jebakan udara. 6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status puasa. marah. cemas) R/ dengan mengetahui faktor penyebab nyeri menentukan tindakan untuk mengurangi nyeri 3. Ajarkan tehnik relaksasi tarik nafas dalam R/ tehnik relaksasi dapat mengatsi rasa nyeri 4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik R/ analgetik efektif untuk mengatasi nyeri Dp 3. Misalnya infeksi. Bantu tindakan untuk memperbaiki keefektifan upaya batuk. Tujuan : Nutrisi pasien terpenuhi setelah dilakukan keperawatan. batuk pendek. Pertahankan polusi lingkungan minimum misalnya: debu. frekfensi R/ mengtahui tingkat nyeri sebagai evaluasi untuk intervensi selanjutnya 2. R/ Disfungsi pernafasan adalah variabel yang tergantung pada tahap proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. Sokongan tangan/kaki dengan meja. 3. ansietas. Kaji/pantau frekuensi pernafasan. bantal. mentriger episode akut. Cairan selama makan dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. Hasil yang diharapkan : Nyeri berkurang sampai dengan hilang Rencana Tindakan : 1. 5. Nyeri berhubungan dengan interupsi tubuh sekunder terhadap prosedur invasif atau intervensi operasi. khususnya bila pasien lansia.2. Tujuan : Nyeri berkurang sampai hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan. R/ Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. R/ Pencetus tipe reaksi alergi pernafasan yang dapat. Catat adanya derajat dyspnea misalnya keluhan “lapar udara”. penggunaan otot bantu. Dp 2. dll membantu menurunkan kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada. Kaji faktor penyebab timbul nyeri (takut . asap dan bulu bantal yang berhubungan dengan kondisi individu.

R/ Untuk mengetahui kehilangan berat badan. 5. 3. Gangguan konsep diri berhubungan dengan kehilangan . adanya rembesan. eritema. 4. Timbang berat badan bila memungkinkan. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder terhadap prosedur invasive. 4. Hidangkan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan hangat. Dp 5. pus. Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa medik R/ Memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat 4.Tidak ada tanda-tanda infeksi.Nutrisi klien terpenuhi . R/ Makanan yang hangat menambah nafsu makan. 2.Proses penyembuhan luka tepat waktu. membantu mengurangi ansietas. Tujuan : Infeksi tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan. menggigil. R/ Pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi. Rencana tindakan: 1. R/ Sebagai indikator adanya infeksi/terjadinya sepsis. Rencana tindakan : 1. adanya demam. Ajarkan teknik relaksasi yaitu tarik napas dalam. Hasil yang diharapkan : . Kolaborasi dengan medik untuk terapi antibiotik. Observasi tanda-tanda vital. Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien R/ pasien kooperatif dalam segala tindakan dan mengurangi kecemasan pasien 2. Akui rasatakut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan R/ Dukungan memampukan pasien memulai membuka/ menerima kenyataan penyakit dan pengobatan Dp 5. Observasi daerah luka operasi. Berikan informasi yang tepat. 2.Mual berkurang sampai dengan hilang. . R/ Deteksi dini terjadinya proses infeksi. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin R/ Mencegah kekurangan karena penurunan absorsi vitamin larut dalam lemak Dp 4. R/ Jenis makanan yang disukai akan membantu meningkatkan nafsu makan klien.. 3. berkeringat. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan akan ketakutannya R/ Untuk mengurangi kecemasan 3. Kaji kebiasaan makan klien. R/ Membantu menurunkan penyebaran dan pertumbuhan bakteri. jujur pada pasien/orang terdekat. R/ Tarik nafas dalam membantu untuk merelaksasikan dan mengurangi mual. Kecemasan berhubungan dengan ketidakpastian tentang hasil pengobatan kanker Tujuan : Kecemasan dapat diminimalkan setelah dilakukan tindakan keperawatan. Hasil yang diharapkan : Kecemasan pasien berkurang Rencana Tindakan: 1.

Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat.Fakultas Kedokteran : UI. Edisi 2.(1982).Edisi Revisi. Ahmad. Jakarta : Media Aesculappius. Atiek S. 3. R/ Dukungan yang terus menerus akan memudahkan dalam proses adaptasi. R/ Untuk mempermudah dalam proses pendekatan. Juall Carpenito. Syaifuddin. R/ Dapat memudahkan beban terhadap penanganan dan adaptasi di rumah.K. Husna Ametz. Ed 3. Kapita Selekta Kedokteran. Berikan waktu/dengarkan hal-hal yang menjadi keluhan. 4. (2003). Kamus Lengkap Kedokteran. Kaji respon.Diagnosa dan Rencana Keperawatan. reaksi keluarga dan pasien terhadap penyakit dan penanganannya. Muda. Media Aesculapius. Purnawan Ajunadi. 2. . lynda RN. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran (EGC). Kaji hubungan antara pasien dan anggota keluarga dekat. R/ Support keluarga membantu dalam proses penyembuhan.Tujuan : Gangguan konsep diri teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan Kriteria Hasil : Klien dapat percaya diri dengan keadaan penyakitnya.(1999). Libatkan semua orang terdekat dalam pendidikan dan perencanaan perawatan di rumah.(1997). Jakarta : Gitamedia Press. Daftar Pustaka A.seomasto. Rencana tindakan : 1.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->