P. 1
jurnal_lkpp_20121206

jurnal_lkpp_20121206

|Views: 69|Likes:
Published by sherapina

More info:

Published by: sherapina on Jun 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2013

pdf

text

original

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

LKPP
bijakan Lembaga Ke rang/Jasa a B n a a d a g Pen Pemerintah

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 1

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

JURNAL PENGADAAN “Senarai Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah” DITERBITKAN OLEH Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) SME Tower Lt.8 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.94 Jakarta 12780 Telp. 021-7991025 Fax. 021-7996033 www.lkpp.go.id PELINDUNG Agus Rahardjo REDAKTUR AHLI Eiko Whismulyadi Himawan Adinegoro Bima Haria Wibisana Agus Prabowo Djamaludin Abubakar PEMIMPIN UMUM Salusra Widya PEMIMPIN REDAKSI R Adha Pamekas REDAKSI Mudji Santosa M Firdaus Suharti Ratna Ayu Maruti Mustika Rosalina Gigih Pribadi Himawan Giri Dahlan “Jurnal LKPP: Senarai” 119 halaman ; 18 x 25cm ISSN: 2089-2861 Volume 1 Number 1 Desember 2011 Printed in Indonesia

Redaksi menerima kiriman artikel atau essay yang relevan dengan dunia pengadaan. Kirim ke humas@lkpp.go.id dan dilengkapi dengan identitas diri yang jelas.

2

LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

DAFTAR ISI
RISET REDAKSI
Riset Redaksi 5-7 Pengantar Redaksi Mengenai Topik Kajian Utama

TOPIK UTAMA
Penulis: Senator Nur Bahagia 8-25 Sistem pengadaan publik dan cakupannya

LAPORAN DAERAH
Penulis: Samsul Ramli 26-39 Kabupaten Banjar Menghadapi Tantangan Pengadaan Publik

KAJIAN UMUM
Penulis: Agus Prabowo 40-57 Peninjauan Satu Tahun Pelaksanaan Perpres 54/2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

ARTIKEL/ESAI
Penulis: Maslani Penulis: Agus Kuncoro Penulis: Iwan Hardian 58-75 76-85 Audit Pengadaan Barang/Jasa Mengenal Risiko Penyimpangan untuk Pencegahan 8 Cara Cerdas Mengikuti Tender

86-105 Kasus Pengadaan Barang / Jasa Berdasarkan Temuan BPK RI

TENTANG PENULIS
Penutup: 106-112 Ringkasan CV Penulis

PETUNJUK UNTUK PENULIS
Penutup: 114-119 Petunjuk Untuk Penulis

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 3

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

RISET REDAKSI

4

LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Pengantar Redaksi
Mungkin masih banyak dari kalangan masyarakat kita yang tidak menyadari bahwa salah satu unsur pendukung dalam kegiatan pembangunan sebuah negara adalah kegiatan pengadaan barang/ jasa. Sebagai contoh yang paling sederhana adalah pengadaan kertas. Bagaimana jadinya sebuah kantor pemerintah jika mengalami kehabisan stok kertas. Tentunya kegiatan koordinasi terkait pelayanan publik, penetapan keputusan maupun kebijakan serta aktivitas lainnya yang membutuhkan kertas sebagai media akan terhambat. Kertas hanyalah sebuah contoh kecil dari betapa luas dan dinamisnya kegiatan pengadaan barang/ jasa pemerintah dalam kegiatan sehari-hari dari lembaga pemerintah pada umumnya. Bisa dibayangkan bagaimana jika sebuah lembaga pemerintah tidak memiliki komputer, jaringan internet, peralatan ATK, mobil operasional, listrik, lampu, gedung dan kebutuhan operasional penting lainnya. Yang selanjutnya terjadi adalah seluruh kegiatan Anggaran yang semestinya bisa lebih banyak dimanfaatkan untuk membiayai pembangunan lainnya, justru terkuras di dalam kegiatan pengadaan barang/ jasa yang tidak efektif dan efisien. Hal ini karena ada pihak-pihak tertentu Ironisnya penyelewengan yang paling sering terjadi justru dalam kegiatan pengadaan tersebut. Kontrak yang tidak sesuai ketentuan, proses tender yang tidak benar, mark-up harga dengan besaran yang tidak masuk akal, pejabat pembuat komitmen yang nakal, tidak maksimalnya hasil kerja penyedia, serta berbagai kasus lainnya, merupakan bentuk-bentuk penyelewengan yang pada akhirnya membuat kegiatan pengadaan menjadi sebuah kegiatan pemborosan anggaran. Padahal hampir 35-40% dari APBN/APBD 2011 atau kurang lebih senilai 450 triliun disalurkan pada kegiatan pengadaan ini. kantor menjadi lumpuh, fungsi instansi tidak berjalan, dan masyarakat pun tidak dapat terlayani.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 5

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

yang memiliki paradigma berpikir hanya untuk mencari keuntungan pribadi, dan mengenyampingkan kepentingan publik. Hal ini terbukti dengan 80% kasus korupsi yang ada dan dilaporkan ke KPK terkait pengadaan barang/jasa pemerintah. Proses pengadaan yang baik akan mendukung perkembangan sebuah negara, karena pemakaian anggaran belanja yang tepat akan menopang pembangunan yang berujung pada pertumbuhan ekonomi negara. Sebagai contoh sebuah wilayah yang memiliki infrastruktur yang baik, cenderung menarik investor untuk membangun bisnisnya di wilayah tersebut dibanding wilayah yang infrastrukturnya buruk. Kehadiran investor ini dapat mendukung perekonomian wilayah tersebut. Kebutuhan inilah yang menjadi dasar utama kenapa Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) didirikan pada tahun 2008 lalu. Di pundak lembaga inilah tugas membangun kebijakan dan sistem pengadaan publik diberikan, dengan harapan dapat menciptakan pengadaan yang kredibel dan menyejahterakan. Dari LKPP kemudian lahir Peraturan Perpres No 54 Tahun 2010 (Perpres 54) yang

menjadi regulasi utama pengadaan barang/jasa pemerintah. Di sisi lain seiring dengan gelombang reformasi birokrasi dan adanya semangat untuk menciptakan pengadaan yang lebih baik, pengadaan barang/ jasa pemerintah juga terus menunjukkan pergerakan perubahan di berbagai daerah di Tanah Air. Pembukaan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di sejumlah wilayah memperlihatkan adanya semangat reformasi pengadaan di tiap Kementerian/Lembaga/Daerah/Instansi (K/L/D/I). Jurnal Pengadaan ini diharapkan dapat menjadi media untuk menyebarluaskan semangat reformasi dalam dunia pengadaan barang/jasa pemerintah. Sehingga, dunia pengadaan akan semakin semarak dengan berbagai kajian yang memberikan pencerahan dan membuka perspektif baru seputar ilmu pengadaan barang dan jasa. Dalam Jurnal Pengadaan edisi perdana yang bertemakan ‘Senarai Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah’ ini, kita akan mendapat penjelasan lebih jauh tentang apa itu public procurement dan cakupannya, termasuk paparan lengkap terkait pemahaman, pengertian,

6

LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

ukuran kinerja serta prinsip dasar dan etika public procurement. Tidak ketinggalan ulasan bagaimana upaya Pemerintah Daerah Banjar dalam membenahi pengadaan di wilayahnya. Meski harus menghadapi situasi yang tak mudah dan penuh dengan tantangan, namun Kabupaten Banjar membuktikan dengan niat serta komitmen yang kuat, mereka mampu mengatasi tantangan pengadaan yang ada. Telah lewat dari setahun usia Peraturan Presiden No 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Perpres 54), dalam Jurnal ini kita akan melihat sebuah kajian reflektif bagaimana kiprah Perpres 54 selama setahun. Kajian ini juga akan membahas secara singkat isi dan cakupan Perpres 54, serta gambaran umum dari peraturan tersebut. Tak lupa dihadirkan pula sejumlah kasus pengadaan barang/jasa hasil temuan dari Badan Pemeriksan Keuangan (BPK), serta bagaimana proses audit yang dilakukan pada kegiatan pengadaan barang dan jasa. Turut disajikan esai menarik berjudul ‘8 Cara Cerdas Mengikuti Tender’. Esai

ini berisikan uraian tips singkat yang sehat dan benar untuk para penyedia barang/jasa dalam memenangkan tender pemerintah. Pada akhirnya siapapun kita, darimana asal kita, semuanya memiliki peran yang sama untuk memajukan bangsa ini menjadi lebih baik. Impian untuk bisa menyamai bahkan melebihi kemajuan negara lain bukanlah suatu hal yang mustahil, jika semua pihak bersamasama berkeinginan dan beritikad untuk memikirkan bangsa ini, membenahi, dan meraih apa yang kita semua cita-citakan sebuah negara yang maju dan seluruh rakyatnya dapat hidup sejahtera.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 7

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

TOPIK UTAMA

TU
8
LKPP
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

TOPIK UTAMA

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Sistem Pengadaan Publik Dan Cakupannya
Senator Nur Bahagia Pusat Pengkajian Logistik dan Rantai Pasok ITB senator@mail.ti.itb.ac.id

Abstrak Pengadaan Barang/Jasa Publik (Public procurement) menjadi semakin penting bukan hanya di negara berkembang seperti Indonesia tapi juga diberbagai negara maju seperti di Amerika dan negara yang tergabung dalam Komunitas Eropa. Sampai saat ini belum ada rumusan maupun panduan dan pedoman baku terkait dengan bagaimana penyelenggaraan public procurement yang dapat digunakan oleh setiap negara, mengingat kondisi disetiap negara berbeda-beda, bahkan pemahaman terhadap batasan dan ruang lingkup public procurement juga masih belum ada keseragaman, yang ada dan telah disepakati adalah prinsip dasar dan etika pengadaan. Menyadari pentingnya pemahaman akan public procurement, makalah ini mencoba untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif terkait dengan pemahaman, pengertian, dan serta ruang lingkup public procurement, aktivitas pokok, para pihak terkait, ukuran kinerja, dan prinsip dasar dan etika public procurement(Kata kunci: public procurement, siklus pengadaan, prinsip dan etika, kinerja pengadaan)

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 9

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

1. Pendahuluan
Dalam kegiatan publik khususnya

dari 30% APBN dialokasikan untuk pengadaan barang/jasa.

pemerintahan maupun privat (usaha swasta) selalu diperlukan barang/jasa baik untuk keperluan operasional yang bersifat rutin seperti bahan baku, bahan penolong (supplies), suku cadang, barang jadi, dan barang modal (kapital) seperti bangunan, mesin dan peralatan lainnya. Kebutuhan dapat kelancaran menjamin diperoleh waktu barang/jasa untuk operasional dan tidak menjaga untuk dimana tetapi saat untuk

Oleh sebab itu, sistem pengadaan publik yang transparan, non diskriminasi, berkeadilan, efektif dan efisien sangat penting dalam penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Salah satu isu dan permasalahan pokok dalam penyelenggaraan pengadaan publik yang diakui oleh berbagai kalangan baik dari dari masyarakat adalah kecurangan, bahkan praktek dan pemerintah

dihindarkan

diskriminatif,

korupsi yang terjadi tidak hanya di negara berkembang seperti di dalam pengadaan pemerintah di Indonesia, tetapi juga diberbagai negara maju. Menurur Christopher & Gross (2006), sebenarnya isu dan permasalahan ini 60an, telah dan mendapat berbagai perhatian upaya telah masyarakat internasional sejak tahun dilakukan untuk mencari solusinya. Kesepakatan pertama lahir tahun 1979 pada Putaran Tokyo (Tokyo Round ) dengan dikeluarkannya Government Procurement Agreement (GPA) sebagai suatu kesepakatan yang bersifat plurilateral yang mulai diberlakukan pada 1 Januari 1981.

pertumbuhan, secara instan,

untuk mendapatkannya tidak dapat diperlukan tenggang waktu. Tenggang tersebut dimulai waktu dari melakukan pemesanan, waktu untuk memproduksinya, mengantarkan barang, bahkan sampai dengan waktu untuk barang di gudang memproses hingga siap

digunakan oleh pemakainya. Diberbagai negara maju seperti di Amerika dan negara yang tergabung dalam Komunitas Eropa, tidak kurang dari 20% GDP dialokasikan untuk pengadaan barang/jasa, sedangkan di Indonesia tiap tahunnya tidak kurang

10 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Pelaksanaan GPA bersifat sukarela dan terbatas pada pengadaan dengan nilai kontrak minimal sebesar 150,000 SDR (special drawing rights). Selanjutnya GPA ini diperbaharui pada tahun 1994 sebagai bagian dari Putaran Uruguay tahun 1993 yang ditandatangani di Marrakesh pada bulan April 1994, dan mulai diberlakukan sejak bulan Januari 1996. Perlunya dukungan penyelenggaraan dari berbagai diantaranya Public lembaga PBB

Sekalipun selama

telah beberapa

terjadi tahun

perbaikan terakhir,

dalam berbagai peraturan pengadaan namun dirasakan masih perlu terus diupayakan perbaikan. Uraian berikut mencoba untuk memberikan gambaran yang memadai terkait dengan sistem pengadaan barang/jasa publik, baik yang terkait dengan pemahaman dan ruang lingkup, prinsip dasar, dan etika pengadaan maupun siklus pengadaannya.

Procurement yang baik juga mendapat internasional

2. Pengertian Pengadaan Barang/ Jasa Publik
Berbagai rumusan tentang definisi pengadaan telah banyak dikemukakan oleh para pakar, (2004), diantaranya Nur Bahagia Arrowsmith dan

melalui United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL) yang menerbitkan UNICITRAL Model Procurement Law, World Trade Organization [WTO], World Bank dan Asian negara dalam Development donor Bank sebagai yang mewajibkan pengadaan

(2006), Christopher & Schooner (2007,) sebagainya, adalah pada prinsipnya, untuk pengadaan kegiatan

negara anggota yang diberi pinjaman melaksanakan untuk melaksanakan prinsip dasar, etika, dan tata cara pengadaan yang dituangkan dalam Procurement Guide Line. Begitu juga pemerintah Indonesia memberikan prioritas yang tinggi bagi berbagai reformasi penyelenggaraan pengadaan publik secara menyeluruh, penguatan kelembagaan dan

medapatkan barang, atau jasa secara transparan, efektif, dan efisien sesuai dengan kebutuhan dan keinginan penggunanya. Yang dimaksud barang disini meliputi peralatan dan juga bangunan baik untuk kepentingan publik maupun privat. Barang/jasa publik adalah barang

pemberantasan korupsi.

yang pengunaannya terkait dengan

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 11

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

kepentingan baik secara

masyarakat berkelompok

banyak maupun

dan efisien sesuai dengan kebutuhan dan keinginan penggunanya. Dalam hal ini, pengguna bisa individu (pejabat), unit organisasi (dinas, fakultas, dsb), atau kelompok masyarakat luas. Dari pengertian oleh dari ini maka siapa yang yang bukan dimaksud dengan public procurement ditentukan melaksanakan oleh obyek pengadaan

secara umum, sedangkan barang/jasa privat merupakan barang yang hanya digunakan secara individual atau kelompok tertentu. Berdasarkan atas penggolongan ini maka suatu barang atau jasa dapat saja dikategorikan atas barang publik tapi dapat juga dikategorikan tergantung atas pada barang privat penggunaannya.

barang/jasanya.

Bila dilakukan oleh pemerintah dan institusi publik maka dikategorikan sebagai public procurement, namun jika dilakukan oleh institusi privat (swasta) maka dikategorikan sebagai private procurement. Dalam hal ini jika institusi pemerintah maka istilah pengadaan pemeritah (government procurement ) akan lebih sesuai. Berdasarkan public atas penggunanya, atas direct

Sebagai contoh, mobil bila digunakan untuk usaha angkutan penumpang umum maka dikategorikan sebagai barang publik, tapi bila digunakan untuk kepentingan pribadi maka dikategorikan sebagai barang privat. Terdapat beragam pemahaman terkait dengan public procurement, tergantung pada cara pandangnya. Mengacu pada pengertian umum tentang pengadaan tersebut maka public procurement dapat dipahami dari sudut pandang obyek pengadaan, pelaksana pengadaan, dan sumber dana untuk mengadakan. Menurut Edquist et al (2000) pada prinsipnya, pengadaan publik (Public Procurement ) adalah proses akuisisi yang dilakukan oleh pemerintah dan institusi publik untuk mendapatkan barang (goods), bangunan (works), dan jasa (services) secara transparan, efektif,

Edquist et all (2000) membedakan procurement procurement dan catalic procurement. Pada direct public procurement, Institusi Publik menjadi Pelaksana Pengadaan sekaligus merupakan pengguna dari barang/jasa yang diadakan, oleh sebab itu secara intrinsik motivasi kebutuhan dan pengusulan pengadaan berasal dari Pelaksana Pengadaan yang sekaligus juga penggunanya.

12 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Sedangkan pada catalic procurement, Pelaksana pengadaan Pengadaan atas nama melakukan dan untuk

dimaksud dengan public procurement adalah sumber pemerintah kegiatan dananya atau pengadaan berasal institusi yang dari publik.

pengguna barang/jasa, namun motivasi kebutuhan dan pengusulan pengadaan berasal dari Pelaksana Pengadaan bukan dari penggunanya. Selain kedua tipe pengadaan tersebut, dikenal pula tipe campuran yang disebut cooperative public procurement, dimana Pelaksana Pengadaan melakukan pengadaan atas nama dan untuk pengguna barang/jasa, namun motivasi kebutuhan dan pengusulan pengadaan berasal dari pengguna atau motivasi kebutuhan dari pengguna dan pengusulan pengadaan dan pelaksanaan pengadaan dilakukan

Dalam hal ini Indonesia menggunakan pemahaman ini untuk membedakan antara public procurement dan private procurement. Semua APBN, institusi sebagai pengadaan APBD, yang sumber perolehan

dananya dari pemerintah baik melalui maupun dana masyarakat yang dikelola oleh pemerintah public dikategorikan oleh procurement,

sebab itu seluruh kegiatan dan proses pengadaannya harus mengacu dan mengikuti Perpers No. 54 tahun 2010.

oleh Pelaksana Pengadaan. Sebagai contoh tipe cooperatif

3. Tujuan dan Kriteria Kinerja Pengadaan
Pada hakikatnya tujuan dari

adalah pembangunan pasar, usulan pembangunan pemerintah Pasar) (pedagang bukan dilakukan oleh dan oleh (Dinas kabupaten/kota pasar

pengelolaan sistem pengadaan adalah mencari jawaban terbaik terhadap permasalahan maupun yang timbul, baik sistem permasalahan kebijakan pengadaan permasalahan pengoperasian sehingga pengadaan barang/jasa dapat berfungsi mencapai kinerja sebagaimana yang diharapkan.

penggunanya masyarakat

konsumen) dan pelaksanaannya dapat dilakukan oleh pemerintah propinsi. Selain penggolongan diatas, ditinjau

dari sumber dana yang digunakan untuk pengadaan barang/jasa, maka yang

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 13

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Harapan dan kriteria kinerja ini tidak berlaku umum namun tergantung pada sudut pandang dan kepentingan siapa, apakah dari sudut pandang dan kepentingan pengguna (user), sudut pandang dan kepentingan pelaksana pengadaan/pengelola atau dari sudut pandang dan kepentingan masyarakat. Oleh sebab itu, kinerja sistem pengadaan akan bergantung pada siapa yang akan menilainya. Bagi pengguna baik barang/jasa buruknya atau sistem

Bagi pengelola, kinerja pengadaan diukur berdasarkan atas ongkos operasional pengadaan untuk suatu kurun waktu horison perencanaan operasi tuntutan tertentu (biasanya dalam waktu satu tahun) tanpa mengabaikan pelayanan penggunanya. Oleh sebab itu, pengelola barang akan memilih barang dengan harga yang paling murah (lowest price). Namun, jika kualitas barang dan umur pakainya berbeda maka harga yang paling murah belum tentu akan memberikan ongkos operasional yang paling rendah. Oleh sebab itu, kriteria total ongkos terendah selama umur pakai (total cost ownership) perlu digunakan. Selanjutnya, bila barang/jasa tersebut digunakan untuk keperluan produksi yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas maka ongkos terendah selama umur pakai belum tentu akan memberikan keuntungan atau manfaat yang besar. Oleh sebab itu, kriteria nilai manfaat terbesar dari uang (the best value for money) digunakan untuk menggantikan kriteria total ongkos terendah selama umur pakai (total cost ownership).

konsumen, tingkat

pengadaan akan diukur berdasarkan ketersediaan (availability) barang/jasa dan seberapa baik tingkat pelayanan (service level ) yang mampu diberikan oleh pengelola sistem pengadaan kepadanya dengan harga yang terjangkau. Bagi pengguna yang penting adalah barang/jasa tersedia pada saat diperlukan dan dengan pelayanan yang sebaik mungkin. Pengguna biasanya tidak mau peduli apakah untuk memenuhi tuntutannya tersebut pihak pengelola harus mengeluarkan ongkos yang besar atau kecil. Bahkan pengguna tidak peduli apakah pengelola merugi atau untung, yang baik. terpenting adalah terpenuhi kebutuhannya dengan pelayanan yang

14 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Cakupan Aktivitas Pengadaan
Pengguna
Rencana Pengadaan

Pelaksanaan: Panitia Pengadaan Fungsi Pengadaan

Metode Pengadaan : Lelang Pemilihan langsung Pembelian langsung

Penyedia : Persyaratan Kualifikasi

Proses pengadaan : Persiapan Pelaksanaan, tender/pembelian Perjanjian/Kontrak

Penerimaan Penyimpanan

Pembayaran

Pemakaian

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 15

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

4. Cakupan Aktivitas Pengadaan
Aktivitas pengadaan tidak terbatas pada proses pengadaan, namun cakupan aktivitas pengadaan meliputi lima kegiatan utama, yaitu rencana pengadaan, proses pengadaan, penerimaan dan penyimpanan, serta pemakaian dan manajemen aset, dan tiga transaksi, yaitu transaksi pembelian barang/ jasa (kontrak), transaksi penerimaan barang/jasa, dan transaksi pengeluaran atau penggunaan barang/jasa sebagaimana disajikan pada Gambar 1 berikut ini.

Identifikasi

kebutuhan

ini

meliputi

informasi yang berkaitan dengan jenis barang, spesifikasi barang, harga, jumlah dan barang lokasi yang diperlukan, barang. penggunaan

Sumber informasi untuk keperluan ini adalah pengguna itu sendiri sebab penggunalah yang paling tahu akan kebutuhannya. Biasanya kebutuhan barang dibedakan atas kebutuhan untuk keperluan rutin dan kebutuhan barang untuk kapital/pembangunan.

b. Proses Pengadaan
Secara umum untuk mendapatkan barang/jasa dapat diperoleh melalui pembelian (buy) atau pembuatan (make). Suatu barang/jasa diperoleh dengan cara pembelian bila barang tersebut telah tersedia di pasar (ready stock) pada saat diperlukan, sedangkan barang/jasa akan dibuat bila barang tersebut memerlukan upaya produksi atau konstruksi (make to order) terlebih dahulu untuk dapat dimanfaatkan. Sebagai contoh keperluan alat tulis diperoleh sedangkan diperoleh terlebih dengan dengan dahulu. cara cara Dilihat pembelian gedung konstruksi dari segi bangunan

a. Perencanaan Pengadaan
Awal jasa dari yang kegiatan datang dari pengadaan pengguna

adalah adanya permintaan barang/ (user) kepada Pelaksana Pengadaan/ Pengelola. Agar permintaan tersebut dapat terjamin pemenuhannya maka langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasikan kebutuhan barang/jasa dari penggunanya dan akan berakhir dengan diketahui besarnya jumlah kebutuhan barang selama horison perencanaannya, dan anggaran yang dibutuhkan.

kemampuan pengadaan maka metode

16 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

pengadaan barang dapat dibedakan atas pengadaan internal (in sourcing) dan pengadaan external (outsourcing). Swakelola sebagai salah satu bentuk pengadaan internal adalah pelaksanaan pengadaan yang dilakukan karena memiliki kemampuan sendiri untuk melaksanakannya. Oleh sebab itu, mulai dari proses rancangan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan direncanakan, dikerjakan, dan diawasi sendiri dengan menggunakan tenaga dan alat sendiri, walaupun dimungkinkan mengunakan sumber daya dari luar. Pekerjaaan yang dapat di Swakelola diantaranya pekerjaan yang bersifat rahasia, pekerjaan yang secara rinci tidak dapat dihitung/ditentukan terlebih dahulu sehingga apabila dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa akan menanggung resiko besar; pekerjaan tersebut dilihat dari segi besaran, sifat, lokasi dan pembiayaannya tidak perlu dilakukan dengan cara pelelangan, pemilihan langsung dan penunjukan langsung, atau pengadaan langsung dan/atau tidak diminati oleh penyedia barang/jasa; dan pekerjaan untuk proyek percontohan ( pilot project ) yang bersifat khusus untuk pengembangan

teknologi/metoda kerja yang belum dapat dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa. Berangkat dari hakekat, pengadaan merupakan proses menjodohkan barang/jasa yang dibutuhkan dengan penyedianya, maka metode pengadaan external atau pembelian, ditentukan berdasarkan jenis barang/jasa dan penyedianya yaitu penunjukkan langsung, seleksi, dan lelang/tender. Pada prinsipnya metoda penunjukkan langsung atau digunakan yang bila jumlah penyedia barang hanya satu (tunggal), barang/jasa dibutuhkan bersifat tertentu (khusus) dan atau hanya dapat dipenuhi oleh Penyedia Barang/Jasa tertentu. Selain itu, pengadaan barang/jasa dapat dilakukan dengan cara penunjukkan langsung karena alasan situasional misalnya pekerjaan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi karena telah terjadi keadaan kahar, pekerjaan lanjutan dari pekerjaan yang sedang dilaksanakan berdasarkan kontrak yang telah ada harga satuan tetap dan secara teknis merupakan satu kesatuan kegiatan yang tidak dapat dipecah-pecahkan dari pekerjaan sebelumnya, dan pekerjaan tambahan yang tidak dapat dielak-

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 17

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Siklus Pengadaan Barang
Kualifikasi Pemasok

Harga

Kuantitas

Katalog

Sistem manajemen pemasok

Rencana pengadaan

Daftar pemasok

Inspeksi & Penerimaan

Proses pengadaan
Pembayaran Pengumuman Penawaran Evaluasi Kontrak Monitoring

Simpan

Pemakaian

Manajemen aset

18 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

kan dalam rangka penyelesaian pengadaan barang/jasa semula sepanjang dapat dipertanggungjawabkan secara profesional, dan harganya standar dan tetap. Metoda pemilihan (selection) digunakan bila terbatas jumlah penyedia barang/jasa yang sesuai dengan kualifikasi atau klasifikasinya. Pemilihan dilakukan dengan mengundang lebih dari 1 (satu) penyedia barang/ jasa melalui permintaan penawaran dan negosiasi secara bersaing, sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, dilihat dari segi kepraktisan pemilihan dapat juga dilakukan sebagai proses lebih lanjut atas pelelangan ulang yang mengalami kegagalan.

Pelelangan secara luas dan terbuka melalui papan pengumuman resmi, dan atau media cetak/elektronik. Selain itu dimungkinkan pula

pembelian langsung yang merupakan pengadaan barang/jasa yang dilakukan secara langsung kepada penyedia barang/jasa pelelangan, tanpa melalui proses pemilihan langsung.

Pengadaan barang/jasa tertentu dapat dilakukan dengan cara pembelian langsung karena harganya standar dan tetap misalnya BBM, nilainya kecil, atau karena alasan situasional misalnya pekerjaan yang tidak dapat ditundatunda lagi karena telah terjadi keadaan kahar.

c. Penyimpanan Barang
Barang yang dibeli diharapkan akan

Sedangkan metoda pelelangan (tender) digunakan bila terdapat tak terbatas jumlah penyedia barang/jasa yang sesuai dengan kualifikasi atau klasifikasinya. Pelelangan dimaksudkan untuk menciptakan persaingan yang sehat di antara penyedia barang/ jasa yang setara dan memenuhi syarat berdasarkan tata cara lelang yang transparan dan berkeadilan sehingga terpilih penyedia barang/jasa terbaik.

datang

di

gudang

dari

penyedia

sesuai dengan apa yang tertera dalam transaksi pembelian (kontrak), baik jenis barang, spesifikasi, jumlah, dan waktunya. Sebelum barang disimpan di dalam gudang perlu diperhatikan transaksi penerimaan barang antara penyedia dengan pengelola.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 19

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Bila

transaksi

penerimaan akan

barang

Hal yang perlu diperhatikan adalah tidak diperbolehkan adanya pengeluaran barang tanpa adanya nota permintaan barang yang berasal dari pengguna dan transaksi pengeluaran barang harus ditandatangani bersama antara penerima dan pemberi barang. Selanjutnya, setiap transaksi pengeluaran barang harus dicatat pada kartu stok barang. Untuk barang modal (kapital) maka akan dilakukan pencatatan barang sebagai asset.

semuanya sudah selesai, selanjutnya bagian keuangan melakukan pembayaran, dan pengelola gudang akan menyimpan barang di gudang. Untuk itu kartu stok perlu diisi, agar penambahan pengadaan barang tercatat dan status sebagaimana

mestinya. Bagian gudang bertanggung jawab atas barang yang ada di dalam gudang.

d. Penggunaan Manajemen Asset
Kegiatan di sinilah ini

Barang

dan
Selanjutnya bagian antara interaksi antar kelima kegiatan ini akan tercermin pada aspek

merupakan interaksi

operasional antara lain berupa sistem mekanisme dan prosedur pengadaan serta pemenuhan barang, yang disebut dengan siklus pengadaan ( procurement cycle) seperti direpresentasikan pada Gambar 2 berikut. Dalam praktiknya, aspek sistem operasional pengadaan sangat bahkan terkait kinerja dengan kelancaran dan keefisienan sistem pengadaan sangat bergantung

akhir dari kegiatan pengadaan, dan terjadi pengelola dengan pengguna. Interaksi penggunaan barang dimulai dengan adanya pengguna permintaan yang barang dari ditandai dengan

adanya nota permintaan barang (order dari pengguna). Berdasarkan nota ini, bagian gudang akan mencocokkan (verifikasi ) apakah barang yang diminta pengguna dapat dipenuhi atau tidak. Jika tidak, proses pembelian perlu dilakukan. Jika barang tersedia, akan dilakukan transaksi pengeluaran barang antara pengguna dengan bagian gudang.

pada kinerja aspek operasional ini. Kebijakan pengadaan yang optimal tidak mungkin bisa dicapai tanpa didukung oleh berjalannya aspek operasional ini dengan baik. Oleh sebab itu, perlu kiranya untuk memahami dan mengelola pengadaan sesuai dengan urutan siklus pengadaannya.

20 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

5. Para Pihak Terkait
Aktivitas pengadaan dilakukan oleh berbagai pihak terkait yang dapat diklasifikasikan atas tiga pelaku utama yaitu Pengguna/Pengusul, Penyedia Barang/Jasa, dan Pelaksana Pengadaan. Pengguna/Pengusul pengadaan barang/jasa adalah individu (pejabat) atau unit organisasi yang diberikan kewenangan untuk mengusulkan pengadaan barang/jasa. Pengusul dapat berasal dari pengguna barang atau unit organisasi yang merepresentasikan pengguna dan diberikan kewenangan untuk mengusulkan pengadaan barang/jasa. Sebagai contoh pembangunan pasar diusulkan bukan oleh pedagang pasar tetapi oleh aparatur Dinas Perpasaran yang merepresentasikan dan berwenang untuk merepresentasikan pedagang pasar dan masyarakat konsumen. Adapun Penyedia barang/jasa adalah individu atau badan usaha atau mitra kerja yang menjadi penyedia barang/ Jasa dan pihak lain yang secara hukum mempunyai kapasitas untuk mengadakan ikatan perjanjian. Penyedia barang/jasa harus memiliki persyaratan profesional, kemampuan teknis, dan

manajerial berdasarkan pengalaman tertentu, sumber daya manusia (SDM), modal, peralatan, dan fasilitas lain yang memadai yang antara lain dapat dibuktikan dengan kualifikasi yang dikeluarkan asosiasi profesi yang bersangkutan atau institusi yang berwenang. Pada prinsipnya pengadaan barang dilaksanakan oleh Pelaksana Pengadaan yang berfungsi memilih dan menetapkan penyedia barang/jasa sesuai dengan permintaan pengguna/pengusulnya. Oleh sebab itu, Pelaksana Pengadaan akan berfungsi sebagai fasilitator, koordinator, dan administrator. Lingkup tugas Pelaksana Peng-adaan mulai dari proses permintaan barang/ jasa sampai dengan penunjukkan pemenang pengadaan dan tersedianya barang/jasa siap digunakan oleh penggunanya. Pelaksana Pengadaan bertanggung jawab atas terlaksananya proses pengadaan sesuai prinsipprinsip dasar pengadaan yakni efektif, efisien, transparan, kompetitif, adil dan akuntabel. Berdasarkan jenis barang yang

diadakan Pelaksana Pengadaan dapat dibedakan atas Fungsi Pengadaan yang biasanya menangani pengadaan barang yang bersifat operasional dan

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 21

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

rutin, sedangkan Panitia Pengadaan biasanya menangani pengadaan barang kapital atau proyek. Dalam melaksanakan pekerjaannya Pelaksana Pengadaan perlu mendapat dukungan dari fungsi terkait lainnya diantaranya Fungsi Keuangan, Fungsi Hukum, Fungsi Perencanaan dan Pengendalian, Fungsi Transportasi, Fungsi Penerimaan, Penyimpanan dan Pengeluaran, Fungsi Estimasi dan Pengendalian Biaya, Fungsi Administrasi dan Kontrak, dan Fungsi Pengawasan Pelaksanaan Fisik. Selain itu perlu pula ditentukan siapa pejabat berwenang yang bertanggung jawab atas pengadaan barang/jasa, karena Pelaksana Pengadaan pada prinsipnya adalah orang yang membantu Pejabat Berwenang. Pejabat Berwenang bertanggung

6. Prinsip dan Etika Pengadaan
Mengingat belum ada formulasi standar terkait dengan public procurement yang bisa dianut oleh suatu negara maka agar pengadaan barang/jasa mencapai tujuan sesuai dengan kriteria kinerja yang diharapkan sebagaimana diuraikan diatas dari berbagai sumber yang ada dapat disarikan prinsip dasar, etika pengadaan, dan ketentuan umum sebagai berikut.

a. Prinsip Dasar Pengadaan
Pengadaan Barang/Jasa dilaksanakan dengan menggunakan prinsip dasar sebagai berikut: 1. Transparan: semua ketentuan

dan informasi, baik teknis maupun administratif termasuk tata cara peninjauan, hasil peninjauan, dan penetapan Penyedia Barang/Jasa harus bersifat terbuka bagi Penyedia Barang/Jasa yang berminat dan mampu tanpa diskriminasi. 2. Adil: tidak diskriminatif dalam memberikan perlakuan bagi semua calon Penyedia Barang/Jasa dan tidak mengarah untuk memberikan keuntungan kepada pihak tertentu, dengan cara atau alasan apa pun.

jawab baik dari segi administrasi, keuangan dan manfaat pengadaan barang/jasa sesuai ketentuan dan prosedur yang berlaku. Oleh sebab itu, Pejabat Berwenang perlu memiliki integritas moral, disiplin, dan rasa tanggung jawab yang tinggi serta kualifikasi teknis dan manajerial.

22 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

3.

Bertanggung jawab: mencapai

pengaruh/tekanan dari pihak manapun; 8. Integritas: pengadaan berarti pelaksana harus

sasaran baik fisik, kualitas, kegunaan, maupun manfaat bagi kelancaran pelaksanaan usaha sesuai dengan prinsip-prinsip dan kebijakan serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa. 4. Efektif: sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi para pihak terkait. 5. Efisien: menggunakan dana,

barang/jasa

berkomitmen penuh untuk memenuhi etika pengadaan; 9. Good Corporate Governance: Memenuhi prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance)

b. Etika Pengadaan
Semua fungsi/pihak yang terlibat dalam pengadaan barang/jasa wajib mematuhi etika sebagai berikut: 1. Melaksanakan tugas secara

daya, dan fasilitas secara optimum untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan dengan biaya yang wajar dan tepat pada waktunya. 6. Kehati-hatian: berarti senantiasa memperhatikan atau patut menduga terhadap informasi, tindakan, atau bentuk apapun sebagai langkah antisipasi untuk menghindari kerugian material dan imaterial selama proses pengadaan, proses pelaksanaan pekerjaan, dan paska pelaksanaan pekerjaan; 7. Kemandirian: berarti suatu

tertib, penuh rasa tanggung jawab, demi kelancaran, dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan barang/ jasa. 2. Bekerja secara profesional dengan menjunjung tinggi kejujuran, kemandirian, dan menjaga informasi yang bersifat rahasia. 3. Tidak saling mempengaruhi

keadaan dimana pengadaan barang/jasa dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan

baik langsung maupun tidak langsung, yang mengakibatkan per-

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 23

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

saingan tidak sehat, penurunan kualitas proses pengadaan, dan hasil pekerjaan. 4. Bertanggung jawab terhadap segala keputusan yang ditetapkan sesuai dengan kewenangannya. 5. Mencegah terjadinya pertentangan kepentingan (conflict of interest ) pihak-pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan. 6. Mencegah terjadinya kebocoran keuangan dan kerugian. 7. Tidak menyalahgunakan wewenang dan melakukan kegiatan bersama dengan tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan, atau pihak lain secara langsung atau tidak langsung. 8. Tidak menerima, menawarkan,

9. Pelaksana Pengadaan hal berikut akan membantu dalam mencapai tujuan pengadaan, diantaranya adalah: a. Memastikan bahwa proses pengadaan barang/jasa dilaksanakan dengan mengikuti prinsip dasar dan etika pengadaan barang/jasa; b. Memastikan bahwa proses pengadaan barang/jasa mengikuti pedoman kebijakan dan prosedur pengadaan barang/jasa dan tidak bertentangan dengan ketentuan lainnya yang lebih tinggi; c. Memastikan bahwa pengadaan

barang/jasa dilakukan oleh Penyedia Barang/Jasa yang telah dipeninjauan secara administratif, teknikal dan finansial serta dapat dipertanggungjawabkan dalam hal biaya dan kualitas;

dan atau berjanji akan memberi hadiah, imbalan, atau berupa apa saja kepada siapapun yang diketahui atau patut dapat diduga berkaitan dengan pengadaan barang/jasa.

d. Memastikan proses pengadaan barang/jasa dilaksanakan secara kompetitif dengan tetap memperhatikan aspek keekonomian dan efisiensi pelaksanaannya; e. kan; Menggunakan standar kontrak

(term & condition) yang telah ditetap-

24 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

f. Memastikan pengadaan barang/ jasa dilaksanakan sesuai dengan perjanjian (kontrak/PO) yang disetujui antara pelaksana pengadaan dengan Penyedia Barang/Jasa; g. Dilarang melakukan pengadaan barang/jasa yang bertentangan dengan ketentuan hukum dan perundangan yang berlaku.

Daftar Pustaka
1. Arrowsmith. 2004. Public Procurement: An Appraisal of the UNCITRAL Model Law as a Global Standard. International Law & COMPQuarterly Vol17 (2004). Christopher & Gross, “WTO Government ProcurementRules and the Local Dynamicsof Procurement Policies:A Malaysian Case Study, dalam The European Journal of International Law Vol. 17 No.1,(2006),hal 151–185 Christopher & Schooner, “Incrementalism: Eroding the Impediments to a Global PublicProcurement Market”,dalam Journal of International Law (2007), hal 529, 529 . Edquist, Hommen, &Tsipouri: Public Technology Procurement and Innovation, (Boston: Kluwer Academic Publishers, 2000) Fraunhofer Institute, “Review of Isues at Stake Study for the European Commission (No ENTR/03/24)”, (December, 2005) Nur Bahagia, “Sistem Inventori”, (Bandung: Penerbit ITB, 2006) United Nation, “UNCITRAL Model Law onProcurement of Goods, Constructionand Services”, 1994 World Trade Organization, “Committee on Government Procurement, Revision of theAgreement on Government Procurement, GPA/W/297”, (December. 11, 2006)

2.

7. Penutup
3. Pengadaan barang/jasa publik ( public procurement ) merupakan pengadaan barang yang dapat dilihat dari 4. berbagai sudut pandang baik dari segi penggunanya, pelaksana pengadaan, dan sumber dananya. Aktivitas 5. pengadaan tidak terbatas pada proses pengadaan, namun cakupan aktivitas pengadaan utama meliputi lima kegiatan yaitu rencana pengadaan, 6. 7.

proses pengadaan, penerimaan dan penyimpanan, serta pemakaian dan manajemen aset, dan tiga transaksi, yaitu transaksi pembelian barang/ jasa (kontrak), transaksi penerimaan barang/jasa, dan transaksi pengeluaran atau penggunaan barang/jasa.

8.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 25

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

LAPORAN DAERAH

26 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Kabupaten Banjar Menghadapi Tantangan Pengadaan Publik
Penulis : Samsul, S.Sos
Abstraksi Pengadaan publik Pemerintah Kabupaten Banjar dikembangkan dengan alasan besaran dana yang terserap, alat pencapaian target pembangunan, rawan penyalahgunaan, alat kampanye pelestarian lingkungan, prioritas pembangunan dan sebagai faktor strategis. Sejak akhir tahun 2007, Kabupaten Banjar telah memantapkan diri mereformasi pengadaan publiknya dengan menerapkan pelelangan secara elektronik dilengkapi dengan dokumen kebijakan, sekretariat layanan eProcurement (LPSE) dan pusat koordinasi pengadaan barang/jasa (ULP). Langkah ini terbukti mampu mengeliminir tantangan ketiadaan standar operasional prosedur serta kebijakan dalam manajemen pengadaan publik; organisasi pengadaan yang kuat dan efektif; kurangnya sumber daya manusia yang kompeten dan berdedikasi tinggi.

Banjar
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 27

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Fungsi Pengadaan Publik Bagi Pemerintahan
Di negara berkembang khususnya

publik menjadi perhatian khusus dalam penyusunan kebijakan. Yang kedua, pengadaan publik telah dimanfaatkan sebagai alat utama mencapai target-target ekonomi, sosial dan lainnya 5. Besarnya anggaran belanja pemerintah mengakibatkan pengadaan publik menjadi motor berbagai penggerak kebijakan diterbitkannya ekonomi. Terbitnya Peraturan Presiden (Perpres)

Indonesia, pengadaan publik akan selalu menghadapi banyak tantangan dalam pengembangannya. Setiap negara memiliki lingkungan ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang tidak ringan. Pengadaan publik
1

memiliki

fungsi

penting bagi pemerintahan dengan berbagai alasan . Pertama, besarnya dana yang terserap mengakibatkan besar pula pengaruhnya bagi perekonomian dan perlu dikelola dengan baik. Memang, di semua negara di dunia, pada periode tahun 2000-an perkiraan besaran dana pemerintah yang terserap dalam pengadaan mencapai 10% hingga 30% dari PNB2 . Untuk Indonesia pada kwartal IV tahun 2010 konsumsi pemerintah mencapai 12% dari PDB3 dimana didalamnya termasuk pengadaan barang/jasa. Sementara di daerah, khususnya Kalimantan Selatan komponen konsumsi pemerintah pada tahun 2009 sebesar 6,75% dari PDRB .
4

nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah adalah merupakan satu bentuk kebijakan terkait pengadaan publik dalam upaya mengurangi ekonomi biaya tinggi, mendorong terjadinya pesaingan usaha yang sehat, meningkatkan penggunaan produk dalam negeri dan keberpihakan kepada pengusaha kecil. Dimana pada akhirnya semua berdampak luas pada perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Ketiga, untuk dengan berbagai atau alasan dalam

pengadaan publik memiliki potensi disalahgunakan bahasa masa kini mengandung potensi korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menjadi momok menakutkan ini dari

Untuk itulah, kemudian faktor efisiensi dan efektifitas anggaran pengadaan

pembangunan.

Hal

terungkap

28 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

secara gamblang dalam laporan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyebutkan bahwa 43% kasus yang ditangani KPK adalah terkait Pengadaan Barang/Jasa .
6

Sedangkan disisi kebijakan pengadaan termasuk didalamnya tentang sasaran ekonomi, lingkungan, sosial, dan adalah perdagangan internasional

sangat sulit bagi pembuat kebijakan dan entitas pengadaan untuk memilih prioritas optimal selalu saja ada yang harus dikorbankan untuk mencapai salah satu tujuan7. Terakhir, seiring dengan tantangantantangan diatas termasuk pesatnya perkembangan teknologi menempatkan aktifitas pengadaan publik tidak lagi sebagai sebuah kegiatan sekunder dalam pembangunan daerah. Praktisi pengadaan juga harus terlibat dalam perencanaan pengadaan publik karena perannya yang besar dalam menentukan keberhasilan pembangunan. berkembang lingkungan Dalam satu dekade terakhir pengadaan barang/jasa pemerintah atau government procurement mengalami perubahan yang mendasar dari kegiatan yang bersifat transactional kearah strategical. Transactional mengandung pengertian bahwa kegiatan pengadaan barang/jasa hanyalah proses administratif dari upaya mendapatkan barang/jasa dengan beberapa pilihan kegunaan. Hal ini

Keempat, globalisasi dan pasar bebas adalah merupakan tantangan yang tidak bisa dianggap ringan bagi sektor pengadaan publik. Entitas pengadaan publik harus bisa menyesuaikan kebijakan dan target pengembangan pengadaan publik dengan tuntutan globalisasi. Isu utama tersebut antara lain perdagangan bebas dan pelestarian lingkungan (green procurement). Untuk itulah kemudian dalam salah satu kebijakan dan aturan khusus dalam Perpres 54 dicantumkan tentang konsep ramah lingkungan. Kelima, di negara antara

ketidakselarasan

ekonomi, sosial dan politik terkait pengadaan publik terjadi terhadap dua hal penting yaitu, manajemen dan kebijakan. Ruang lingkup manajemen adalah terkait komponen cost yaitu kualitas, waktu dan biaya (lebih dari sekedar persoalan harga), meminimalisasi resiko usaha, keuangan dan teknis, meningkatkan kompetisi dan memperbaiki integritas.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 29

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

memunculkan variasi kinerja terhadap barang/jasa yang sejenis. Perubahan kearah strategical adalah bahwa proses pengadaan barang/jasa didekati sebagai satu kesatuan yang utuh dan berkesinambungan. Elemen strategis dalam siklus pengadaan barang/jasa adalah manajemen sumber daya (sourcing), pelelangan (tendering), manajemen kontrak (contract management) dan manajemen aset (asset management). Konsep ini memperkenalkan tentang pengadaan barang/jasa sebagai suatu siklus utuh dari proses pemenuhan kebutuhan pemerintah
8

Pembangunan

daerah

Kabupaten

Banjar merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan provinsi yang dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan menuju ke arah perubahan yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan Undang-

Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang menuntut adanya perubahan paradigma baru untuk lebih mengutamakan prinsipprinsip penyelenggaraan otonomi daerah yang memperhatikan aspek demokrasi, keadilan, pemerataan, dan potensi daerah. Perekonomian Kabupaten Banjar dapat dilihat besaran nilai PDRB, dimana selama tahun 2008 Kabupaten Banjar mampu menghasilkan nilai tambah bruto sebesar 5,89 trilyun rupiah, yang jika dihitung dengan harga konstan sebagai dasar mengukur yang menunjukkan laju pertumbuhan adalah ekonomi sebesar secara 3,23

dalam

menjalankan fungsinya sebagai pelayan masyarakat atau public services .

Tantangan Pengadaan Publik di Kabupaten Banjar.
Kabupaten Banjar merupakan wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan beribukota di Martapura. Terdiri dari 19 kecamatan dengan 290 desa/kelurahan dengan luasan wilayah 4.668,5 km2. Jumlah penduduk Kabupaten Banjar pada pertengahan tahun 2007 sebanyak 470.162 jiwa.

keseluruhan

triliyun rupiah. Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Banjar tahun 2009 mencapai 7,51 persen9. Kemudian berdasar laporan sementara yang disampaikan ke Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Daerah, total

30 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Kabupaten/Kota (1) 01 Tanah Laut 02 Kotabaru 03 Banjar 04 Barito Kuala 05 Tapin 06 Hulu Sungai Selatan 07 Hulu Sungai Tengah 08 Hulu Sungai Utara 09 Tabalong 10 Tanah Bumbu 11 Balangan 71 Banjarmasin 72 Banjarbaru Kalimantan Selatan

2007 (2) 4,86 6,60 6,34 0,34 4,86 4,85 6,30 4,93 4,68 4,20 5,18 6,40 5,67 6,01

2008 (3) 5,40 6,20 6,94 0,96 4,94 5,13 6,99 6,51 6,13 8,02 5,07 6,01 5,83 6,23

2009*) (4) 5,20 5,36 6,28 3,05 4,51 5,27 6,89 5,25 6,22 5,67 5,72 5,42 5,90 5,01


anggaran belanja daerah Kabupaten Banjar adalah sebesar 800 milyar rupiah. Dari total tersebut 41% atau 331 milyarnya merupakan belanja barang/jasa dan modal10 yang menjadi porsi pengadaan publik. Apabila dibandingkan dengan PDRB atas dasar harga konstan maka proporsi pengadaan publik ini mencapai 10% dari PDRB. Besaran ini tentunya cukup untuk menggambarkan pengaruh pengadaan publik dalam laju pertumbuhan perekonomian daerah Kabupaten Banjar. Dari data tabel 1, dapat dilihat Sampai akhir tahun 2007 belum ada kebijakan rangka pengadaan khusus yang diterapkan manajemen Meski sejak pemerintah Kabupaten Banjar dalam perbaikan publik. gambaran pertumbuhan perekonomian Kabupaten Banjar tidak menunjukkan perkembangan yang menggembirakan bahkan menurut angka sementara mengalami perlambatan sebesar 0,6% di tahun 2009.
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Hal

yang

penting

bagi alokasi

daerah belanja yang

memaksimalkan daerah

anggaran

khususnya

menjadi wilayah pengadaan publik dalam upaya pencapaian visi dan misi Kabupaten Banjar menjadi kabupaten yang Sejahtera dan Islami disegala sisi. Seperti telah diuraikan pada penjelasan awal, target-target ekonomi, sosial dan lainnya menjadi perhatian yang penting bagi penetapan kebijakan pengadaan publik daerah.

tahun 2005 telah ditunjuk satu unit pada sekretariat daerah, yaitu Bagian Pembangunan, yang menjadi pengawas dan pengendali pengadaan barang/jasa

LKPP 31

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

dengan nilai diatas 100 juta rupiah atau lelang umum. Namun, karena masih belum definitifnya fungsi dan peran Bagian Pembangunan sebagai koordinator pengadaan barang/jasa maka maksimalisasi pencapaian sasaran pengadaan publik masih belum teridentifikasi dengan baik. Sampai saat ini belum tersusun satu model pengukuran yang komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan terkait kinerja anggaran pengadaan publik dalam sektor perekonomian, sosial Kondisi dan ini lingkungan menyebabkan lainnya. sulitnya

Indonesia, seperti juga yang terjadi di Gambia pada periode tahun 1998. Menurut catatan Bank Dunia, setidaknya ada 3 hal penting yang menjadi tantangan pengadaan publik di negara berkembang yaitu: • Ketiadaan standar operasional

prosedur serta kebijakan dalam manajemen pengadaan publik; • • Ketiadaan organisasi pengadaan Ketiadaan sumber daya manusia yang kuat dan efektif; dibidang pengadaan kompeten dan berdedikasi tinggi11.

menyelaraskan antara hasil yang telah dicapai oleh aktifitas pengadaan publik dengan sasaran pembangunan secara keseluruhan. Kondisi ini perlu segera dilakukan perubahan strategik agar porsi 41% anggaran pengadaan publik dapat benar-benar berdampak positif bagi tercapainya target pembangunan Kabupaten Banjar yaitu kesejahteraan rakyat. Setidaknya ada tiga kelemahan utama yang sekaligus juga menjadi tantangan bagi reformasi pengadaan publik di Kabupaten Banjar. Mungkin hal ini umum terjadi disebagian besar daerah terutama kawasan tengah dan timur

Kabupaten Tantangan
Langkah adalah

Banjar

Menghadapi

strategik meluruskan

utama mindset

dalam dalam

menghadapi tiga tantangan tersebut memandang kinerja pengadaan publik. Setiap tahun pemerintah menyusun anggaran belanja dalam jumlah yang sangat fantastis namun dari sisi manfaat masih disangsikan oleh masyarakat. Ini karena secara general besarnya anggaran itu tidak terlalu berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, baik melalui peningkatan pendapatan maupun kualitas hidup lainnya.

32 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Selain karena persoalan pemborosan, korupsi, dan permasalahan inefisiensi lainnya, ada hal lain yang mendasar yaitu tentang mindset dalam memandang anggaran belanja. Ini tentang konsep cost dan price. Ada perbedaan mendasar antara cost atau biaya dengan price atau harga. Harga merupakan nilai relatif dari produk. Karena sifat relatifnya harga tidak serta merta menunjukkan besarnya sumber daya yang diperlukan dalam menghasilkan produk. Sedangkan biaya merupakan nilai absolut dari seluruh sumber daya dalam menghasilkan satu produk. Dalam pengertian ini, ketika kita menentukan komponen penghematan biaya setidaknya terdiri dari kualitas, waktu, dan harga. Sementara keberhasilan dalam realitas ukuran anggaran

Untuk sampel di Kabupaten Banjar, dapat kita lihat dalam pengisian formulasi dokumen Anggaran Dokumen (DPA) Pelaksanaan landasan sebagai

pelaksanaan pengadaan publik. Sangat sedikit unit kerja yang aware terhadap pengisian indikator kualitatif anggaran. Sebagian besar waktu dan tenaga tercurah hanya untuk pengisian formulir mata anggaran atau rekening. Tidaklah terlalu penting komitmen besar kualitatif anggaran terkait outcome ataupun benefit, yang terpenting terserap. Semestinya menilai pelaksanaan berapa

pengadaan publik harus mengikuti prinsip cost base. Sehingga uanglah yang mengikuti fungsi, atau money follow the function, bukan sebaliknya. Prinsip ini memunculkan kebutuhan (need) terkait barang/jasa dalam rangka mewujudkan sasaran kegiatan yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Atas kesadaran ini langkah demi langkah perbaikan tahapan pengadaan publik terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Banjar. Salah satu yang paling berperan adalah teknologi rangka memperluas informasi menunjang keterlibatan dalam proses

pelaksanaan

pembangunan lebih diarahkan kepada pencapaian output. Penilaian berbasis output merupakan orientasi jangka pendek. Kemudian disisi pengguna, pencapaian bukan kegiatan pembangunan kemanfaatan dinilai lebih kepada besaran anggaran berdasarkan terkait waktu dan kualitas. Hal ini menghilangkan obyektifitas terhadap penilaian kegiatan pembangunan.

pembangunan yang ditujukan dalam pembangunan,

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 33

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

pengembangan, implementasi

pemeliharaan, sistern

dan

tifitas, dan efisiensi.13

eGovernment

Pemerintah Kabupaten Banjar. 12 Pada awal tahun 2008, Kabupaten Banjar memulai langkah reformasi pengadaan dalam rangka menghadapi tiga tantangan pengadaan publik, yaitu :

2. Penguatan Organisasi Pengadaan Publik Sejak diterbitkannya Peraturan Bupati
Banjar Nomor 04 Tahun 2008 legitimasi Bagian Pembangunan sebagai leading sector koordinasi di dan pelayanan Banjar pengadaan Kabupaten

1.Penyusunan Kebijakan dan Manajemen Pengadaan Publik
Bertepatan dengan komitmen Bupati Banjar pada akhir tahun 2007 untuk segera menerapkan eProcurement atau pengadaan barang/jasa menggunakan teknologi informasi yang disampaikan dalam rapat koordinasi mingguan SKPD, dihadapan seluruh kepala

semakin kuat. Dari sini informasi dan sosialisasi terkini terkait pelaksanaan pengadaan tersalur dengan baik. Meski bentuknya belum seperti Unit Layanan Pengadaan namun tugas dan fungsi sudah mendekati. Penguatan ini semakin terasa dengan dibentuknya fasilitator Sekretariat penyedia Layanan barang/ eProcurement yang berfungsi sebagai antara jasa dan panitia pengadaan dalam melaksanakan pengadaan barang/jasa. Fungsi ini juga sama persis dengan organisasi Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang termaktub jelas dalam Perpres 54 tahun 2010. Selain kelembagaan Bagian Pembangunan juga dibackup oleh Tim Adhoc yang berasal dari praktisi-praktisi pengadaan dan teknologi informasi yang tidak dibatasi oleh pangkat dan jabatan.

langkah penyusunan ditataran kebijakan mulai dilakukan. Realisasinya dengan diterbitkan Peraturan Bupati Banjar Nomor 04 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Proses Pemilihan Penyedia Barang/Jasa dengan Sistem E-Procurement pada awal 2008. Peraturan Bupati ini diterbitkan sebagai langkah awal perbaikan manajemen pengadaan publik di Kabupaten Banjar terkait transparansi, akuntabilitas, efek-

34 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

No
 1
 2
 3
 4
 5
 6
 7
 8


LPSE
 Kabupaten
Balangan
 Kabupaten
Banjar
 Kabupaten
HSU
 Kabupaten
Tabalong
 Kabupaten
Tanah
Laut
 Kabupaten
Tapin
 Kota
Banjarbaru
 Kota
Banjarmasin


Paket
 Pengadaan
 102
 175
 10
 13
 4
 3
 454
 333


Paket
 Pengadaan
 Selesai
 71
 14
 0
 11
 2
 0
 351
 252


Pagu
 (Juta
Rp)
 72.692
 14.443
 0
 5.372
 2
 0
 214.893
 336.603


Nilai
Hasil
 Lelang
(Juta
 Rp)
 66.926
 12.594
 0
 4.533
 1.893
 0
 189.687
 298.827


Selisih
 (Juta
Rp)
 5.766
 1.849
 0
 839
 107
 0
 25.205
 37.776


%
 7,93
 12,80
 0,00
 15,61
 5,36
 0,00
 11,73
 11,22


talnya sudah 175 paket.14

Sehingga tim yang dinamakan Tim Pengembangan E-Procurement ini benar-benar terisi oleh personil yang terbukti kompetensinya. Tim ini terdiri dari 10 orang dengan komposisi 7 orang ahli pengadaan yang telah lama berkecimpung di pengadaan barang/jasa pemerintah dan 3 orang implementator teknologi informasi yang telah mampu menerapkan TI pada unit SKPD-nya masing-masing. Komposisi ini terbukti efektif dalam mengatasi kendala-kendala teknis implementasi eProcurement dilapangan. Termasuk ketika diambilnya keputusan migrasi sistem eProcurement ke dalam komunitas besar Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) LKPP pada awal tahun 2011, pengalaman yang telah ada sangat mempermudah. Tercatat pada Smart Report LKPP progres diawal migrasi sangat menggembirakan. Dari hanya 3 paket di bulan April, di bulan Juni sudah mencapai 132 paket atau to-

3. Upgrading kuantitas dan kualitas SDM Pengadaan
Sejak awal 2008 bertepatan dengan didorongnya gerbong reformasi pengadaan barang/jasa melalui implementasi eProcurement, upaya penambahan SDM yang memenuhi syarat sebagai panitia pengadaan terus dilakukan. Hasilnya di tahun 2010 tercatat 149 orang PNS Kabupaten Banjar telah memiliki sertifikat ahli pengadaan. Oleh Bagian Pembangunan setda Kab. Banjar seluruh personil ini dalam

penugasannya selalu diseimbangkan dari sisi pengalaman dan kapabilitas. Personil ahli pengadaan junior selalu di dampingi oleh personil yang telah berpengalaman dalam satu tim. Hal ini mempercepat proses pematangan pengalaman dan memperkecil resiko

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 35

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

kesalahan prosedur pengadaan. Inisiatif lain adalah mendorong personil ahli pengadaan yang telah berpengalaman untuk mengikuti training-training pendalaman kompetensi pengadaan melalui lembaga-lembaga resmi seperti LKPP , Departemen PU, dan lembaga berkompeten lainnya. Terlebih lagi sejak terbitnya Perpres 54 tahun 2010 pada medio Agustus 2010 secara intensif bekerjasama dengan Badan Kepegawaian Daerah telah dilaksanakan sosialisasi dan bimtek pendalaman materi Perpres 54 tahun 2010. Tahun 2011 Kabupaten Banjar telah membentuk Unit Layanan Pengadaan dan Layanan Pengadaan Secara Elektronik dalam format kelembagaan yang non permanen menempel pada struktur keorganisasian Bagian Pembangunan Sekretariat Daerah Pemkab Banjar.

adaan publik di Kabupaten. Banjar secara menyeluruh. Jumlah

penyedia yang terdaftar pada sistem hingga akhir 2009 tidak kurang dari 1.800 penyedia yang berasal dari dalam dan luar Kabupaten Banjar. Bahkan tahun 2008, prestasi Kabupaten Banjar dalam menerapkan eProcurement telah mendapatkan penghargaan dari majalah Nasional Warta Ekonomi melalui eGov Award 2008 sebagai Kabupaten Implementator eProcurement Terbaik.15 Sampai akhir 2008, telah dilakukan 256 kali pelelangan dan 297 kali di tahun 2009. Dari jumlah itu 194 paket pekerjaan ditahun 2008 sukses di lelang dan mendapatkan pemenang dengan nilai anggaran sebesar Rp 148.895.479.697,-Tahun 2009 ada 213 paket pekerjaan dengan nilai sebesar Rp. 266.508.699.996,-. Pelaksanaan e-Procurement memberi-

Dampak Reformasi Manajemen Pengadaan Publik di Kabupaten Banjar
Keterlibatan teknologi informasi dalam proses pengadaan publik di Kabupaten Banjar atau e-Procurement telah berdampak positif bagi reformasi peng-

kan peluang besar bagi Penyedia Barang/Jasa kualifikasi kecil untuk menjadi pemenang, dimana prosentase yang diperoleh sebesar 91% di tahun 2008 dan 84% di tahun 2009. Penyedia Barang/Jasa pemenang sebagian besar berlokasi di Kabupaten Ban-

36 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

jar dan sekitarnya dengan prosentase 93% tahun 2008 dan 88% tahun 2009. Ini membuktikan bahwa dengan pemanfaatan teknologi informasi, aplikasi e-Procurement yang sangat terbuka tetap tidak merugikan Penyedia Barang/ Jasa lokal. Dan Rp. Rp. dari nilai pelelangan telah (7,8%)

Kesimpulan
Angka-angka di atas menunjukkan

bahwa disisi kebijakan, kelembagaan, kuantitas dan kualitas SDM menunjukkan perkembangan positif bahwa Kabupaten Banjar mampu mengatasi tantangan pengadaan yang ada. Fungsi dengan pengadaan Banjar fungsi publik tidak bagi secara

132.802.472.347,00 10.348.634.353,00 atau

mencatatkan nilai sisa anggaran sebesar pada tahun 2008 dan untuk tahun 2009 dengan 213 paket pekerjaan senilai Rp. 266.508.699.996,00 nilai sisa berhasil anggaran mencatatkan

Kabupaten

berbeda

pengadaan

umum. Kuantitas nominal yang terserap dalam pengadaan publik berpengaruh besar dalam prekonomian daerah, hal ini dibuktikan dengan porsi 10% dari PDRB atas dasar Harga Konstan yang sekaligus berarti juga mempengaruhi laju perekonomian daerah. Untuk itu anggaran pengadaan publik dapat dijadikan satu alat, indikator sekaligus landasan bagi disusunnya berbagai kebijakan yang terkait dengan kebijakan disektor perekonomian, social, dan sektor lainnya. Lemahnya fungsi kontrol atas indikatorindikator dan data akan membuka peluang terhadap terjadinya penyimpangan penggunaan anggaran pengadaan publik daerah. Untuk itu, faktor efisiensi,

Rp 16.087.311.375,00 (6,08%). 16 Semenjak bermigrasi menggunakan SPSE kinerja pengadaan Banjar publik Kabupaten cenderung

meningkat. Hal ini bisa dilihat dari sistem smart report LPSE LKPP yang mencatatkan bahwa sampai 20 Juni 2011 telah dilakukan pelelangan sebanyak 175 paket dengan nilai pagu 14,44 milyar rupiah dan nilai efisiensi yang dihasilkan sebesar 1,49 Milyar atau 12% dari total pagu lelang.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 37

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

efektifitas,

transparansi,

akuntabilitas

Namun paling tidak melalui komitmen bersama menerapkan peraturan yang ada serta didukung oleh tools teknologi informasi dan profesionalisme praktisi pengadaan prioritas utama bisa dicapai dengan baik.

serta persaingan yang kompetitif harus dapat dijaga dalam sebuah rangkaian kebijakan, manajemen dan peningkatan kompetensi SDM. Selain bertanggungjawab sasaran/target terhadap internal

pencapaian artifisial di

Untuk itu, pekerjaan rumah bagi Kabupaten Banjar khususnya dan daerah pada umumnya adalah merubah persepsi pengadaan publik sebagai proses transactional, dalam upaya mendapatkan barang/jasa secara kuantitas, menjadi sebuah proses strategical dalam upaya mewujudkan target pembangunan secara menyeluruh. Perubahan persepsi ini akan berdampak pada penyusunan dan penerapan kebijakan, pemilihan dan pengembangan teknologi pengadaan yang akuntabel dan pembinaan SDM dengan standarisasi yang profesional baik dari sisi keahlian maupun penghasilan (salary). Fungsi-fungsi diatas harus menjadi

pengadaan publik yang menjadi wujud pelaksanaan juga pembangunan mampu daerah dituntut

mengadopsi kepentingan-kepentingan global terutama persoalan pelestarian lingkungan. Sebagai bagian dari entitas global, praktisi pengadaan publik daerah juga harus berupaya mendukung isuisu lingkungan. Hal ini hanya bisa terwujud dengan adanya kegiatan Layanan hasil. Memang diakui tidaklah semua mudah koordinasi Pengadaan dan pemusatan Unit melalui pengadaan melalui (ULP)

standarisasi dokumen, prosedur, dan

jiwa dan semangat dalam menghadapi tantangan pengadaan publik terutama dalam penyusunan kebijakan dan standar operasional manajemen pengadaan, pembentukan, dan penguatan kelembagaan serta pembinaan SDM.

menyelaraskan

kebutuhan

manajemen pengadaan publik terkait kualitas, waktu, dan harga dengan araharah kebijakan yang sangat dipengaruhi oleh kepentingan politik, sosial, budaya, dan lingkungan.

38 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Tentu masih akan banyak tantangan kedepan yang akan dihadapi Kabupaten Banjar, namun tiga hal yang telah berhasil dijalankan tersebut dapat menjadi modal yang kuat dalam menghadapinya.

Daftar Pustaka
1

Khi V Thai, “Challenges In Public Procurement”, dalam Challenges In Public Procurement: An International Perspective Volume 3, PrAca demics Press, 2004 Callendar, G. & Mathews, D. (2000). “Government Purchasing: An Evolving Profession?” Journal of Public Budgeting, Accounting & Financial Management, 12 (2): 272-290 Badan Pusat Statistik RI, “Laporan Bulanan Sosial Ekonomi”, Juni 2011: hal. 19 Badan Pusat Statistik-Kalsel, “Tinjauan Perekonomian Kalimantan Selatan, 2009: hal 15 Thai, K. V. (2001). “Public Procurement Re-examined.” Journal of Public Procurement, 1 (1): 9-50. Abdullah Hehamahua,Penasihat KPK, “PBJ, Korupsi & Reformasi Birokrasi” (Makalah diajukan pada Rakornas LPSE se-Indonesia tanggal 8 Juni 2011)

2

3 4 5 6

7 8

Federal Acquisition Institute (1999). The Federal Acquisition Process. Washington, DC: Author. Samsul,S.Sos, “Pembangunan Terjebak Harga”, Kolom Opini Harian Banjarmasinpost 21 Juni 2011, Hal. 26. BPS Kabupaten Banjar, “Kabupaten Banjar Dalam Angka 2010”, Hal. 313 APBD TA 2010 dari 524 Pemda (Sumber: Perda APBD TA 2010 - per 25 Juni 2010 - Data bersifat sementara), dalam http://www.djpk.depkeu.go.id/document.php/document/filemanager/1/103/98/39/ (diakses tanggal 21 Juni 2011.

9

10

11

Wayne A. Wittig and Habib Jeng, “Challenges In Public Procurement: Comparative Views Of Public Procurement Reform In Gambia”, PrAcademics Press, 2005. Bappeda Kabupaten Banjar, “Dokumen Masterplan Pengembangan TIKDA Kab. Banjar 2008-2010”, Hal 1 Peraturan Bupati Banjar Nomor 04 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pelaksanaan Proses Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Dengan Sistem E-Procurement, 15 Januari 2008. http://report-lpse.lkpp.go.id/Paket.aspx (diakses tanggal 22 Juni 2011) http://id.banjarkab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1701:kab-banjar--inisiator-aplikasi-eprocurement-egovernment-award-2008&catid=71:tikda (diakses tanggal 22 Juni 2011)

12

13

14 15

16

Bagian Pembangunan Setda Kab. Banjar, “Laporan Akhir Tahun 2009 Sekretariat Layanan eProcurement Kabupaten Banjar”, Februari 2010.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 39

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

KAJIAN UMUM

40 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Abstrak Perpres 54/2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah telah diberlakukan sejak 6 Agustus 2010. Dibandingkan dengan pendahulunya, yaitu Keppres 80/2003, terdapat beberapa perubahan mendasar dalam hal organisasi pengadaan, kewenangan dan tanggung jawab pejabat pengadaan yang lebih besar, prosedur pengadaan yang dipermudah, E-Procurement, dan sebagainya. Selama hampir satu tahun penerapannya tentu saja muncul berbagai persoalan yang perlu ditelaah dan dipeninjauan, bahkan terdengar pula pendapat bahwa Perpres 54/2010 perlu direvisi. Persoalan apa saja yang muncul di lapangan? Apakah perlu segera direvisi? Pertanyaan semacam itulah yang ingin dijawab oleh tulisan ini melalui telaah yang obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Tulisan ini adalah semacam riset atas berbagai respon dari entitas pengadaan di lapangan dari seluruh Indonesia yang dikumpulkan melalui diskusi, konsultasi, surat menyurat, dan komunikasi elektronik (email) sejak diberlakukannya Perpres 54/2010 sampai dengan pertengahan Juli 2011. Akhirnya terkumpul 514 entries, yang kemudian dikelompokkan ke dalam 15 isu menonjol yang paling sering dipersoalkan. Isu tersebut umumnya menyangkut organisasi pengadaan, conflict of interest, tata cara dan prosedur pengadaan (terutama kendaraan pemerintah dengan GSO, Standar Dokumen Pengadaan (SDP)), dan lain sebagainya. Setelah Penulis mengulas kelimabelas isu tersebut, dapat dikatakan bahwa hampir semua isu telah dijawab oleh LKPP melalui berbagai Pedoman maupun Peraturan Kepala LKPP yang semuanya dengan mudah dapat diakses melalui website LKPP. Pedoman-pedoman itu terbukti mampu “mendukung” dan mengisi “kekosongan” yang sifatnya teknis operasional dari Perpres 54/2010. Dengan demikian penulis menyimpulkan bahwa Perpres 54/2010 tidak perlu direvisi dalam waktu dekat.

Peninjauan Satu Tahun Pelaksanaan Perpres 54/2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Penulis : Dr. Ir. Agus Prabowo Widita Kasih Pramita, SKM

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 41

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Latar Belakang
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah (LKPP) berperan penting dalam penyusunan regulasi di bidang pengadaan barang/jasa. Salah satu diantaranya adalah penyusunan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah untuk menggantikan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Perpres No 54 Tahun 2010 ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekitar satu tahun yang lalu, yaitu pada tanggal 6 Agustus 2010, dan berlaku sejak tanggal ditetapkan. Sejak saat itu, sosialisasi Perpres 54/2010 telah diselenggarakan di 23 kota dengan mengundang Pemerintah Daerah dan di Jakarta dengan mengundang kementerian dan lembaga di tingkat pusat. Terbitnya Perpres Nomor 54 ini diharapkan mendorong terciptanya iklim persaingan yang sehat; efisiensi belanja negara, dan percepatan pelaksanaan APBN/APBD; tersedianya aturan, sistem, metode dan prosedur lelang yang lebih sederhana dengan tetap mem-

perhatikan good governance; tumbuh berkembangnya proses inovasi, suburnya ekonomi kreatif, dan kemandirian industri; terciptanya sistem reward & punishment yang lebih adil; dan adanya kepastian aturan yang sebelumnya belum jelas. Perpres 54/2010 akan disempurnakan dan “dinaikkan” kedudukannya dengan aturan Pengadaan Barang/Jasa setingkat Undang-Undang. Rancangan UndangUndang (RUU) tentang Pengadaan Barang/Jasa tersebut saat ini sedang dalam tahap penyusunan. Diharapkan UU Pengadaan Barang/Jasa dapat menjadi payung hukum (umbrella act) bagi peraturan pengadaan yang lebih rendah; dapat mengatasi insinkronisasi peraturan di bidang pengadaan; dan menciptakan unifikasi hukum dari berbagai peraturan perundangan yang diatur oleh berbagai kementerian.

42 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Tujuan
Selama hampir satu tahun Perpres 54/2010 persoalan tersebut di berlaku dan diterapkan, tentu saja muncul berbagai lapangan, termasuk pendapat dari beberapa pihak bahwa Perpres 54/2010 perlu segera direvisi. Berkaitan dengan pendapat tersebut, Penulis merasa perlu mengetahui respon dari entitas pengadaan atas penerapan Perpres 54/2010 di lapangan, sehingga tujuan peninjauan satu tahun Perpres 54/2010 ini adalah mengetahui penerapan Perpres 54/2010 di K/L/D/I, mengetahui kasus-kasus pengadaan yang terjadi di K/L/D/I, mengetahui isuisu pengadaan yang sering ditanyakan, dan mendapatkan masukan seputar Perpres 54/2010. Masukan dan saran yang diperoleh kelak akan dijadikan input untuk revisi Perpres 54/2010, apabila dibutuhkan.

Metodologi
Metode peninjauan dilakukan dengan mengolah berbagai data yang bersumber dari berbagai pelaksanaan pengadaan yang krusial dalam Perpres 54/2010. Permasalahan tersebut disampaikan kepada Deputi Bidang Pengembangan Strategi dan Kebijakan LKPP melalui diskusi dalam advokasi PBJ, pertanyaan via surat resmi, e-mail, dan konsultasi langsung, serta temuan di lapangan selama hampir satu tahun, yaitu mulai bulan Agustus 2010 sampai dengan Juli 2011. Setelah permasalahan dijawab, Penulis mengklasifikasikannya berdasarkan topik/isu spesifik.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 43

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

“Metode peninjauan dilakukan dengan mengolah berbagai data yang bersumber dari berbagai pelaksanaan pengadaan yang krusial dalam Perpres 54/2010”

44 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Hasil dan Pembahasan
Selama bulan Agustus 2010 sampai dengan Juli 2011 terkumpul 514 entries/ pertanyaan dari K/L/D/I dan Penyedia Barang/Jasa dari seluruh Indonesia. Isu yang ditanyakan sangat beragam, yaitu:

Isu yang Ditanyakan oleh K/L/D/I dan Penyedia Barang/Jasa

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 45

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Selain isu-isu diatas, terdapat beberapa K/L/D/I yang berkonsultasi mengenai proses pengadaan yang tengah mereka hadapi, diantaranya mengenai eskalasi harga, Berita Acara Serah Terima Pekerjaan, Pakta Integritas, pembayaran

pekerjaan, neraca aset, pengadaan buku, denda, pengadaan alat kesehatan dan obat, jasa pencetakan, dan dana DAK. Setelah diklasifikasi, terdapat 15 isu yang paling menonjol, yaitu:

Isu yang Menonjol

46 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Selanjutnya menonjol

kelimabelas diatas dapat

isu

yang

menandatangani berbagai Berita Acara (BA). Sesuai amanat Pasal 130 Perpres

diuraikan

sebagai berikut:

1. ULP/Pejabat Pengadaan
Selain pertanyaan mengenai tugas pokok dan fungsi ULP, muncul pertanyaan mengenai struktur organisasi Pokja ULP. Perlukah Pokja ULP memiliki struktur organisasi yaitu ketua, sekretaris, dan anggota. Organisasi dalam Pokja ULP tidak diatur rinci dalam Perpres 54/2010. Mengapa tidak diatur? Karena struktur Pokja ULP bukan seperti pimpinan dan anak buah, tetapi bersifat kolektif-kolegial yang terdiri dari pejabat-pejabat yang mengerti aturan pengadaan, substansi/ teknis pekerjaan, substansi kontrak, dan dapat pula ditambah dengan bidang keahlian lainnya. Jadi, dengan jiwa kolektif-kolegial itulah Pokja harus bekerja sama menyelesaikan pelelangan/seleksi. Apakah dalam Pokja boleh dibentuk ketua/sekretaris/anggota? nya “tidak dilarang”. JawabBoleh dibentuk

54/2010, ULP wajib dibentuk K/L/D/I paling lambat tahun 2014. Dalam hal ULP belum terbentuk atau belum mampu melayani keseluruhan kebutuhan Pengadaan, peran ULP dilakukan oleh Panitia Pengadaan (termasuk menetapkan penyedia dan menjawab sanggahan). Sampai saat ini telah terbentuk sekitar 100 ULP, dimana dampaknya akan terlihat pada tahun-tahun yang akan datang. Keputusan Kepala LKPP tentang Tatacara Pembentukan ULP sebagai pengganti SK-Ka-LKPP No. 02/2009 sedang dalam proses finalisasi oleh LKPP.

2. Pengadaan Langsung
Ketentuan Pengadaan Langsung

adalah tidak menambah aset negara. Banyak muncul pertanyaan mengenai pembelian apakah AC, komputer/laptop, menambah dikategorikan

aset? Hal tersebut berkaitan dengan ketentuan dalam Pasal 39 ayat (1) Perpres 54/2010 dimana ketentuan tidak bersifat kumulatif, sehingga Pengadaan Langsung dapat dilakukan bila salah satu dari 4 ketentuan dalam Pasal 39 Ayat (1) sudah dipenuhi. Di Pasal 39 ayat (1) di antara huruf c
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

boleh pula tidak, yang pasti mereka harus bekerja secara kolektif dan oleh karenanya setiap anggota Pokja harus

LKPP 47

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

dan d terdapat kata sambung “dan/ atau” yang artinya memberi pilihan. Yang terpenting dalam Pengadaan Langsung adalah “bernilai paling tinggi Rp 100 juta” sebagaimana tercantum dalam “text-body” ayat (1). tersebut, diusulkan bahwa Melihat kriteria kebingungan dalam menafsirkan pasal Pengadaan Langsung pada Pasal 39 ayat (1) dihapuskan.

3.Dokumen Pengadaan
Sejak bulan Januari 2011 LKPP secara bertahap menerbitkan Standar Dokumen Pengadaan (SDP). SDP untuk Pengadaan Langsung dan Penunjukan Langsung terbit paling akhir, sehingga banyak K/L/D/I yang menanyakan SDP dimaksud. Seluruh SDP sudah lengkap pada bulan

Selain pertanyaan diatas, banyak pihak yang masih rancu dengan perbedaan mekanisme Pengadaan Langsung dengan Penunjukan Langsung. Pengadaan Langsung hanya untuk pekerjaan dibawah Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dengan kriteria tertentu, sedangkan Penunjukan Langsung tidak dibatasi nilai pekerjaan tetapi harus memenuhi kriteria pada Pasal 38 (keadaan tertentu, barang/jasa khusus). Tatacara Pengadaan Langsung berbeda untuk masing-masing jenis pengadaan (dijelaskan dalam Lampiran Perpres 54/2010).

April 2011, dalam format word dan dapat diunduh di website LKPP (www.lkpp. go.id) atau melalui link: http://www. SDP lkpp.go.id/v2/contentlist-detail.php?m id=0029564157&id=9775763951. LKPP No. 2 Tahun 2011. SDP untuk tersebut diatur dalam Peraturan Kepala Sedangkan sudah E-Procurement

lengkap pada bulan Mei 2011, dapat diunduh di http://www.lkpp.go.id/v2/ contentlist-detail.php?mid=0029564157 &id=9109905750. SDP dimaksud diatur dalam Peraturan Kepala LKPP No. 5 Tahun 2011.

48 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

4.Pengadaan Kendaraan Bermotor Pemerintah dengan GSO (Government Sales Operation)
Sebagai implementasi Pasal 38 ayat

beberapa

K/L/D/I

menanyakan akan

mekanisme GSO untuk pengadaan sepeda motor, dimana hal ini diatur lebih lanjut.

(5) huruf e Perpres 54/2010, pada bulan Mei 2011 LKPP dan Penyedia Kendaraan Bermotor Surat melakukan Perjanjian penandatanganan

5. Conflict of Interest Organisasi Pengadaan

dalam

Pertanyaan yang banyak muncul adalah apakah PA/KPA boleh merangkap sebagai PPK dan apakah anggota ULP/ Pokja ULP boleh merangkap sebagai Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) di Daerah? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul karena Perbedaan Struktur Organisasi Pelaksanaan yang diamanatkan oleh UU No. 1/2004 dengan UU No. 33/2004 dan PP No. 58/2005. Dalam UU No. 1/2004 disebutkan bahwa PP PA/KPA mengangkat PPK, sedangkan dalam UU No.33/2004 dan No. 58/2005, PA/KPA langsung sebagai PPK, dan untuk membantu PPK diangkat Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).

Kerjasama (SPK) Penunjukan Langsung Kendaraan Pemerintah agar dapat ditunjuk langsung. Penandatanganan dilakukan oleh perwakilan penyedia kendaraan bermotor/Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) antara lain Suzuki, Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, Ford, Mazda, KIA, Nissan, dan Isuzu. Pedoman Pengadaan Penunjukan Kendaraan Langsung Pemerintah

di Lingkungan K/L/D/I diatur dalam Peraturan Kepala LKPP No. 6 Tahun 2011 yang dapat diunduh di http:// www.lkpp.go.id/v2/files/content/file/ Perka%20no%206%20tahun%202011. pdf . Saat ini tersedia layanan perangkat lunak yang disebut dengan Sistem Penunjukan Langsung Kendaraan Pemerintah, dapat diunduh di www. lkpp.go.id/katalog/index.php/katalog/ daftar_katalog_umum. Selain mobil,

Wewenang untuk melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja tersebut didelegasikan PA/KPA kepada PPK. PPTK dapat berperan sebagai PPK bilamana wewenang tersebut telah

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 49

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

didelegasikan oleh PA/KPA

kepada

di Daerah merupakan isu yang juga sering muncul. Pemahaman tentang afiliasi atau hubungan keluarga tersebut muncul karena biasanya jumlah penyedia di daerah tidak banyak dan saling bersaudara (family business). Pada prinsipnya antar Penyedia

PPTK. Namun bilamana PPTK tidak menerima pendelegasian wewenang tersebut, maka PPTK tersebut tidak dapat berperan sebagai PPK (UU No. 1/2004). PPTK sebagai pihak yang membantu PPK juga disebutkan dalam Pasal 7 Ayat (3) Perpres 54/2010, bahwa PPK dapat dibantu oleh Tim Pendukung antara lain PPTK (kedudukan PPK dan PPTK tidak sejajar), sehingga dapat disimpulkan bahwa anggota ULP/Pokja ULP harus merupakan dengan PPTK. orang yang berbeda

Barang/Jasa, maupun antara Penyedia Barang/Jasa dan Pejabat Pengadaan (PPK/ULP) dalam satu pelelangan yang sama dilarang terafiliasi atau memiliki hubungan keluarga sampai derajat kedua (Pasal 6 Perpres 54/2010 dan penjelasannya). Ketentuan di atas dianggap “mem-

Pada bulan Maret 2011, terbit Surat Edaran Bersama (SEB) antara Kepala LKPP dengan Menteri Dalam Negeri, dimana dalam hal PA belum menunjuk dan menetapkan PPK maka: PA menunjuk KPA, KPA bertindak sebagai PPK, KPA sebagai PPK dapat dibantu PPTK. Akan tetapi pada bulan Mei 2011, terbit Permendagri No. 210 Tahun 2011 yang seolah-olah “menganulir” SEB di atas tanpa melibatkan LKPP, sehingga hal ini perlu dibicarakan kembali di tingkat Kementerian. Afiliasi atau hubungan keluarga dalam Pengadaan Barang/Jasa, terutama

batasi” hak individu dan hak perdata seseorang dalam berusaha, bahkan dianggap merugikan masyarakat dunia usaha, sehingga ke depan, ketentuan di atas dapat saja ditinjau kembali apabila iklim persaingan usaha (terutama di Daerah) sudah semakin sehat.

6. Pengumuman
Berbeda dengan Keppres 80/2003, aturan dalam Perpres 54/2010 tidak lagi mewajibkan pengumuman pemilihan Penyedia Barang/Jasa melalui surat kabar (baik lokal maupun nasional).

50 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

ULP/Pejabat

Pengadaan

yang di

ke LPSE untuk dimasukkan dalam Portal Pengadaan Nasional. Apabila belum memiliki LPSE, K/L/D/I dapat menggunakan LPSE terdekat. Daftar LPSE dapat dilihat di link http://inaproc.lkpp. go.id/inaproc/lpse.

melakukan pelelangan/seleksi, wajib menayangkan pengumumannya website Pengadaan K/L/D/I Nasional masing-masing, melalui LPSE

papan pengumuman resmi, dan Portal masing-masing/terdekat. Pengumuman di surat kabar sifatnya wajib selama surat kabar tersebut masih terikat kontrak dengan pemerintah (Pusat maupun Daerah). Di lingkup nasional, perjanjian

7.Standar Dokumen Pengadaan (SDP)
Sejak Perpres 54/2010 mulai berlaku (6 Agustus 2010) hingga bulan Januari 2011, banyak K/L/D/I yang menanyakan terbitnya SDP. Selain itu, agar mudah diedit mereka mengusulkan agar SDP yang diunggah di website LKPP adalah dalam format Word. Sejak bulan Januari 2011, LKPP secara bertahap menerbitkan SDP dimaksud. Seluruh SDP sudah lengkap pada bulan April 2011. Awalnya, dengan mempertimbangkan masalah keamanan, SDP yang digugah di website LKPP adalah dalam format pdf. Setelah beberapa waktu berjalan, beberapa K/L/D/I secara khusus meminta agar SDP dibuat dalam format word. Saat ini SDP dalam format word dapat diunduh di http:// www.lkpp.go.id/v2/contentlist-detail.ph p?mid=0029564157&id=9775763951. SDP dalam format word, menimbulkan diskusi di dalam LKPP, diusulkan agar

penayangan pengumuman pengadaan barang/jasa di Koran Tempo sebagai surat kabar nasional telah berakhir pada tanggal 9 Juli 2011. Saat ini walaupun pengumuman di surat kabar tidak lagi wajib, beberapa Daerah tetap memperpanjang kontraknya, misalnya Provinsi Jawa Timur. Kewajiban pengumumannya di website K/L/D/I masing-masing K/L/D/I, memancing bagaimana pertanyaan

tatacara pengumuman di website? Memang banyak yang belum mahir walaupun sebenarnya tidak sulit. Tatacara pengumuman melalui website adalah dengan mengunggah pengumuman tersebut ke website K/L/D/I masing-masing dan mengirimkannya

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 51

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

format word hanya untuk Lembar Data Kualifikasi dan Syarat-Syarat Khusus Kontrak saja, yang lainnya tetap dalam format pdf untuk menjamin keutuhan isi.

2010 tentang Sertifikasi Keahlian Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang dapat diunduh di http://www.lkpp.go.id/ v2/files/content/file/31122010190024Per kaSertifikasiNo8_2010.pdf

8. Sertifikasi Keahlian Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Berkaitan dengan transisi penerapan Keppres 80/2003 menjadi Perpres 54/2010, banyak K/L/D/I menanyakan mengenai sertifikat pengadaan barang/ jasa yang diterbitkan tahun 2010, harus dikonversi atau hanya untuk yang telah habis masa berlakunya. Pada prinsipnya, Pemilik sertifikat L2 tidak perlu mengikuti ujian pengadaan (memperpanjang masa berlaku sertifikat) bila memiliki masa kerja lebih dari 4 tahun. Bila dibawah 4 tahun maka yang bersangkutan harus mengikuti Sosialisasi Perpres 54/2010. Sertifikat yang dikonversi adalah sertifikat yang telah habis masa berlakunya. Sertifikat yang belum habis masa berlakunya masih dapat digunakan hingga masa berlakunya habis. Sertifikat yang sudah expire dapat dikonversi dengan ketentuan dalam Peraturan Kepala LKPP No. 8 Tahun

9.Harga Perkiraan Sendiri (HPS)
HPS perlu disusun sebagai dasar untuk membandingkan harga penawaran dan negosiasi harga/biaya. Dalam penyusunan HPS harus mencantumkan keuntungan dan overhead. Perpres 54/2010 menyebutkan bahwa keuntungan dan overhead tergabung dalam HPS. Hal ini ternyata dianggap menyulitkan ketika melakukan survey dan peninjauan, sehingga banyak yang mengusulkan agar dipisah. Biaya overhead adalah biaya tidak langsung yang terdapat dalam pelaksanaan pekerjaan. Besarnya keuntungan dan biaya overhead maksimal 15% dari HPS. Penyedia Barang/Jasa tidak mengetahui berapa keuntungan yang diterapkan karena hanya diberi tahu total nilai HPS, walaupun rincian HPS tidak lagi bersifat rahasia bilamana rincian HPS terhadap masing-masing item barang/pekerjaan sudah tercantum di dalam DPA.

52 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Sesuai Perpres 54/2010, tugas penyusunan HPS ada pada PPK. Akan tetapi kedepannya, dengan mempertimbangkan beban kerja PPK, diharapkan ULP diberi kewenangan dalam menyusun HPS. Untuk melengkapi aturan penyusunan HPS dalam Perpres 54/2010, saat ini LKPP sedang menyusun Pedoman Penyusunan HPS.

1.

Pemerintah membuat Kontrak

Payung dengan Penyedia yang isinya sekurang-kurangnya memuat jenis barang/jasa, harga satuan yang ditawarkan, masa berlaku, serta pihak yang dapat menggunakan Kontrak Payung tersebut. 2. Para pihak yang dapat menggunakan Kontrak Payung dapat langsung menunjuk Penyedia untuk memperoleh barang/jasa dengan harga satuan yang tercantum dalam Kontrak Payung tersebut. Pembayarannya dilakukan oleh PPK masing-masing berdasarkan volume pekerjaan Kontrak Tahun Jamak merupakan Kontrak yang pelaksanaan pekerjaannya untuk masa lebih dari 1 (satu) tahun anggaran atas beban anggaran. Pasal 52 Perpres 54/2010 menyebutkan bahwa Item pekerjaan dalam Kontrak Tahun Jamak tanpa persetujuan Menteri Keuangan adalah: benih/bibit, penghijauan, pelayanan perintis laut/udara, makanan dan obat di RS, makanan di LP, pita cukai, jasa cleaning service. Banyak yang mengusulkan agar item pekerjaan di atas ditambah, seperti: jasa pengamanan (security service), jasa pelayanan internet, sewa gedung/kantor, langganan media dan jurnal ilmiah, dsb.

10.Kontrak
Mengenai Kontrak, pada umumnya pertanyaan adalah seputar durasi, mekanisme, dan penggunaan Kontrak Payung dan mekanisme penggunaan Kontrak Tahun Jamak. Kontrak Payung adalah “barang baru” di Perpres 54/2010 sehingga wajar apabila menimbulkan pertanyaan. Perpres 54/2010 tidak mengatur durasi Kontrak Payung, tujuannya agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan, fluktuasi harga, dan karakteristik pekerjaan. Durasinya diserahkan kepada K/L/D/I masing-masing tetapi harus diumumkan di awal. Pada prinsipnya mekanisme penggunaan Kontrak Payung adalah:

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 53

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Kontrak Tahun Jamak dengan nilai kegiatan di atas Rp 10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah) harus mendapatkan persetujuan Menteri Keuangan. Untuk memudahkan K/L/D/I dalam melaksanakan pekerjaan konstruksi, ke depan perlu dipertimbangkan agar nilai kegiatan Kontrak Tahun Jamak tanpa persetujuan Menteri Keuangan lebih ditingkatkan. Di Daerah, Kontrak Tahun Jamak harus mendapat persetujuan DPRD atau harus diatur dalam Perda.

inapan/hotel, dan barang/jasa lain yang harganya telah bersaing di pasar (seperti ATK, alat elektronik, dsb).

12.Metode Pemilihan Penyedia Barang/Jasa
K/L/D/I berkonsultasi seputar metode pemilihan Penyedia Barang/Jasa yang dianggap belum jelas, misalnya: • • Jasa cleaning service; seringkali Pencetakan soal ujian dan lem-

mengalami hambatan di awal tahun.

11.Sistem E-Procurement
Dalam upaya mempercepat pembentukan LPSE di K/L/D/I, hingga saat ini sudah terbentuk lebih dari 250 LPSE di seluruh Indonesia. K/L/D/I yang belum membentuk LPSE dapat menggunakan LPSE terdekat. Daftar LPSE dapat dilihat di http://

bar jawaban; apakah dikategorikan pengadaan yang bersifat rahasia dan apakah pengadaannya dapat diswakelolakan atau melalui penyedia. • Pekerjaan pengawasan dan pembangunan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran; mempertimbangkan lokasinya yang sangat terpencil, i n a pro c. l k pp.g o. id / i n a pro c / l p s e. Selain E-Catalogue untuk kendaraan GSO, banyak K/L/D/I yang menunggu E-Catalogue untuk barang-barang lain. Dewasa ini LKPP sedang mempersiapkan E-Catalogue untuk obat-obatan dan alat kesehatan habis pakai. Selanjutnya LKPP akan mengkaji kemungkinan E-Catalogue untuk sewa pengapakah diperbolehkan melalui Penunjukan Langsung. • Kegiatan pelatihan; apakah dapat diswakelolakan atau melalui penyedia. • Barang elektronik; apakah termasuk penambahan aset negara, kapan dimuat dalam E-Catalogue. • Baliho; biasanya pengadaan pemasangan, baliho adalah satu paket mulai dari design, printing,

54 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

pemeliharaan, sampai pembongkaran, sehingga banyak yang bertanya mengenai jenis pengadaannya. • Mesin dan suku cadang; apakah pengadaannya boleh menyebut merek. • Jasa terjemahan; biaya jasa tertetapi diangjemahan tercantum dalam Standar Biaya Umum (SBU), gap terlalu murah, sehingga timbul pertanyaan apakah jasa terjemahan dapat • dikategorikan sebagai jasa konsultansi. Jasa asuransi seperti JAMKESDA; apakah dapat menunjuk langsung atau harus melalui lelang.

14.Jaminan
Pertanyaan yang menonjol seputar Penerbit Jaminan diantaranya mengenai pihak yang dapat memberikan jaminan dan syaratnya, serta kaitannya dengan Daftar Hitam (Blacklist ). Pihak yang dapat memberikan jaminan adalah Bank Umum, Perusahaan Penjaminan atau Perusahaan Asuransi. Jaminan yang diterbitkan berlaku di semua lini, yaitu Jaminan Penawaran, Jaminan Pelaksanaan, Jaminan Uang Muka, Jaminan Pemeliharaan, serta Jaminan Sanggah Banding. Syarat Jaminan yang dikeluarkan

13. Penunjukan Langsung
Beberapa kan K/L/D/I menanyaLangserta

adalah Jaminan harus dapat dicairkan tanpa syarat (unconditional ) sebesar nilai jaminan dalam tempo 14 hari kerja. Bila melanggar syarat tersebut maka Penerbit Jaminan dikenakan sanksi Daftar Hitam. Petunjuk Teknis Operasional Daftar Hitam diatur dalam Peraturan Kepala LKPP No. 7 Tahun 2011 yang terbit tanggal 21 Juni 2011. Aturan ini dapat diunduh di

mengenai

Penunjukan rate”

sung hotel dan ruang rapat berdasarkan “published Penunjukan Langsung dalam pengadaan BBM dan obat. Pada prinsipnya, apabila tarifnya terbuka dan dapat diakses langsung oleh masyarakat maka dapat dilakukan Penunjukan Langsung. Selain itu, apabila barang/jasa memiliki tarif resmi yang ditetapkan Pemerintah (seperti listrik, BBM, obat generik), maka boleh ditunjuk langsung.

http://www.lkpp.go.id/v2/files/content/ file/Perka_No._7_Tahun_2011.pdf.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 55

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

15. Pemberlakuan Perpres 54/2010 dan PHLN (Harmonisasi dengan Donor Guidelines)
Sejak Perpres 54/2010 berlaku mulai tanggal ditetapkan (6 Agustus 2010), muncul banyak pertanyaan, apakah proses pengadaan mengacu pada Perpres 54/2010 atau Keppres 80/2003? Apakah boleh mengacu pada keduanya? K/L/D/I dapat memilih satu dari dua aturan tersebut, sehingga antara tanggal 6 Agustus 2010-31 Desember 2010, proses pengadaan dapat memilih berpedoman pada Perpres 54/2010 atau Keppres 80/2003. Yang perlu diperhatikan adalah konsistensi dalam penerapannya, konsisten mulai dari perencanaan hingga audit, tidak dapat parsial atau mencampur adukkan antara keduanya. Aturan yang dipilih harus disebutkan dalam Dokumen Pengadaan. Pada prinsipnya, pengadaan barang/ jasa yang dananya sebagian atau seluruhnya berasal dari Pinjaman/ Hibah Luar Negeri (PHLN) berpedoman pada Perpres 54/2010. Apabila terdapat perbedaan, maka para pihak dapat menyepakati tatacara pengadaan yang akan dipergunakan. Ketentuan tersebut

bertujuan untuk “menjembatani” the use of country system. Implementasi Pasal 2 ayat (3) dan (4) Perpres 54/2010 belum mulus, sehingga perlu dibuat semacam supplement Perpres 54/2010 untuk menjembatani perbedaan dengan Donor Guidelines (akan dimulai dengan Bank Dunia, ADB, Japan). Selain dengan 54/2010 itu Loan Agreement Plan. pasca Seiring dan Perpres 54/2010 perlu dilengkapai Procurement akan dengan berjalannya waktu, Perpres disempurnakan secara bertahap supplement dikurangi/ ditiadakan.

56 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Penutup dan Kesimpulan
Perpres 54/2010 mulai diberlakukan sejak satu tahun lalu, dan berlaku penuh sejak awal tahun 2011 sebagai acuan oleh seluruh K/L/D/I di Indonesia. Peninjauan Perpres 54/2010 perlu dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Ulasan dan peninjauan dari 15 isu yang menonjol di atas menunjukkan bahwa pada prinsipnya, hampir seluruh isu tersebut

telah memiliki solusi melalui berbagai pedoman seperti SEB, Peraturan Kepala LKPP tentang Standar Dokumen Pengadaan, E-Catalogue, Sertifikasi, Daftar Hitam. Pedoman-pedoman tersebut terbukti mampu mendukung dan mengisi kekosongan aturan yang sifatnya teknis operasional dari Perpres 54/2010. Dengan demikian Penulis menyimpulkan bahwa Perpres 54/2010 tidak perlu direvisi dalam waktu dekat.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 57

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

ARTIKEL/ESAI

58 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

AUDIT PENGADAAN
BARANG JASA
Oleh: Maslani dan Siswanto

Mengenal Risiko Penyimpangan untuk Pencegahan

Abstraksi Pengadaan barang dan jasa pemerintah sangat rawan terhadap penyimpangan. Untuk itu, perlu dilakukan audit pengadaan barang/jasa (APBJ). Terdapat potensi penyimpangan yang hendaknya dikenali oleh para pelaku pengadaan maupun para auditor, mulai dari proses perencanaan sampai dengan pemanfaatan hasil pengadaan. Dengan mengenali “lubang” tersebut, para pelaku pengadaan diharapkan lebih berhati-hati agar tidak terjebak pada praktik menyimpang yang dapat merugikan diri sendiri maupun bangsa dan negara. Manajemen dapat menerapkan sistem pengendalian yang menutup “lubang” tersebut. Di sisi lain, auditor perlu mengenali potensi tersebut agar mereka dapat meyakinkan bahwa risiko-risiko tersebut tidak terjadi dengan mengumpulkan bukti audit yang relevan, kompeten, cukup, dan material.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 59

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Pendahuluan
Pengadaan barang dan jasa pemerintah merupakan rawan kegiatan yang sangat terhadap penyimpangan.

sebagian atau seluruhnya dibiayai dari pinjaman/hibah luar negeri (PHLN); dan pengadaan barang/jasa untuk investasi di lingkungan BI/BHMN/BUMN/ BUMD yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD. Sasaran audit ini adalah lingkungan Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah yaitu Satuan Kerja Pusat/Daerah, Kantor, Dinas, Unit Pelaksana Teknis Pusat/ Daerah, BI/BHMN/ BUMN/BUMD dan badan usaha lainnya, dengan aspekaspek yang diaudit antara lain: 1. Perencanaan; 2. Keuangan; 3. Ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan; 4. Kewajaran harga; 5. Ketepatan kuantitas; 6. Ketepatan kualitas; 7. Ketepatan waktu pelaksanaan kegiatan; 8. Pemanfaatan hasil pelaksanaan kegiatan. Auditor maupun para pelaku pengadaan harus memahami berbagai “lubang” atau penyimpangan yang sering terjadi dalam pengadaan barang/jasa dengan tujuan untuk lebih berhati-hati terhadap “lubang” itu.

Untuk meningkatkan efektivitas dan pelaksanaan kegiatan pengadaan perlu dilakukan audit pengadaan barang/ jasa (APBJ). Jenis audit yang dapat dilakukan antara lain audit dengan tujuan tertentu (audit terhadap hal-hal lain di bidang keuangan) dan audit investigatif sebagaimana termuat dalam penjelasan Pasal 4 ayat 4 Undang-undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Audit dengan tujuan tertentu merupakan audit ketaatan terhadap ketentuan Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010. Adapun audit investigatif dilakukan apabila ditemukan penyimpangan yang berindikasi Tindak Pidana Korupsi (TPK) atau adanya pengaduan (whistle blower) dari masyarakat. Ruang lingkup APBJ adalah seluruh kegiatan pengadaan barang/jasa sesuai dengan pasal 2 Perpres No. 54 Tahun 2010 yaitu pengadaan yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD; yang

60 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Dengan pemahaman tersebut, auditor diharapkan dalam mengaudit dapat terfokus untuk meyakinkan bahwa penyimpangan tersebut tidak terjadi dengan didukung bukti-bukti yang relevan, kompeten, cukup, dan material. Adapun bagi para pelaku pengadaan diharapkan tidak melakukan penyimpangan dimaksud, karena sebenarnya modus penyimpangan tersebut sudah diketahui oleh auditor maupun penegak hukum yang dapat mengarah pada risiko KKN.

Pengertian korupsi dari segi kaidah hukum yang bersifat normatif dan berdasarkan ketentuan UU No. 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi (pasal 2 ayat 1) adalah: setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya sendiri atau orang lain, atau suatu korporasi, yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Yang merugikan negara atau

perekonomian

negara

terkandung

pengertian keuangan atau kekayaan milik pemerintah, atau swasta, maupun masyarakat, baik secara keseluruhan maupun sebagian, sebagai unsur utama yang tidak terpisahkan dari pengertian negara. Tindakan korupsi dapat digolongkan sebagai tingkah laku atau perbuatan yang dapat menimbulkan kerugian negara atau perekonomian negara. Centre of International Crime Prevention (CICP) dari UN Office for Drug Control and Crime Prevention (UN-ODCCP), telah mempublikasikan 10 bentuk korupsi (The 10 Corruption Acts) yang berbeda-beda dan dapat diaplikasikan secara praktis pada pengadaan barang/ jasa sektor publik sebagai berikut:

B. Bentuk KKN dalam Pengadaan Barang dan Jasa
Dalam Perpres No. 54 tahun 2010 terdapat ketentuan yang menyatakan bahwa penghentian/pemutusan ikatan kontrak dapat dilaksanakan apabila ternyata dalam proses pengadaan barang dan jasa terbukti terdapat KKN, kontrak dapat dibatalkan. Dalam peraturan pengadaan barang jasa yang dikeluarkan oleh IBRD dan ADB terdapat ketentuan yang menyatakan bahwa apabila diketahui atau diduga terjadi praktek KKN, kedua lembaga tersebut tidak akan membayar kontrak yang telah ada.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 61

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

a.

Pemberian

suap

(bribery):

pemberian dalam bentuk uang, barang, fasilitas, dan janji untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan yang berakibat menguntungkan diri sendiri atau pihak lain berhubungan dengan jabatan yang dipegangnya pada saat itu. b. Penggelapan (embezzlement ): perbuatan mengambil tanpa hak oleh seseorang yang telah diberi kewenangan oleh pejabat publik maupun swasta untuk mengawasi dan bertanggung jawab penuh terhadap barang milik negara. c. Pemalsuan atau (fraud ): perilaku lain suatu untuk atau tindakan

mempergunakan

kewenangan

yang dimiliki untuk bertindak memihak atau pilih kasih kepada kelompok atau perseorangan pada sisi lain bertindak diskriminatif terhadap mereka. f. Pertentangan kepentingan/memiliki usaha sendiri (internal trading): melakukan transaksi publik dengan menggunakan perusahaan milik pribadi atau keluarga dengan cara menggunakan kesempatan dan jabatan yang dimilikinya untuk memenangkan kontrak pengadaan barang/ jasa pemerintah. g. Pilih kasih (favoritism): memberikan pelayanan yang berbeda berdasarkan alasan hubungan keluarga, afiliasi partai politik, suku, agama dan golongan dengan mengesampingkan alasan objektif seperti kemampuan, kualitas, harga rendah dan profesionalitas kerja. h. Menerima komisi (commission): pejabat publik menerima sesuatu yang dan untuk atau bernilai lain-lain, hubungan dalam sebagai bisnis bentuk syarat dengan uang, saham, fasilitas, barang memperoleh pekerjaan

mengelabui

orang

organisasi dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. d. Pemerasan (extortion): memaksa seseorang untuk membayar atau memberikan sejumlah uang atau barang atau bentuk lain sebagai ganti dari seorang pejabat publik untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Perbuatan tersebut dapat diikuti dengan ancaman fisik atau kekerasan. e. Penyalahgunaan jabatan atau wewenang (abuse of discretion):

pemerintah.

62 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

i. Nepotisme (nepotism): mendahulukan sanak keluarga, kawan dekat, anggota partai politik yang sepaham dalam penunjukan atau pengangkatan staf panitia pelelangan atau pemilihan pemenang lelang. j. Kontribusi atau atau sumbangan yang ilegal (illegal contribution): partai politik pemerintah sedang berkuasa pada saat itu menerima sejumlah dana sebagai suatu kontribusi dari hasil yang dibebankan pemerintah. pada kontrakkontrak pengadaan barang/jasa

sebenarnya baik dari aspek biaya, volume, kualitas, bahan dan sebagainya); • Adanya intervensi dari anggota DPRD kepada Kepala Dinas dalam menentukan anggaran maupun rekanan yang akan menang saat pelaksanaan pekerjaan (khusus Pemda); • Rencana pengadaan yang di(spesifikasi teknis dan arahkan

kriterianya memperbesar peluang yang mengarah pada merk tertentu atau pengusaha tertentu); • Tidak mengumumkan secara terbuka rencana pengadaan barang/ jasa pada awal pelaksanaan anggaran; • Pemaketan pekerjaan yang di-

C. Potensi Penyimpangan Pengadaan Barang dan Jasa
Potensi penyimpangan dalam

rekayasa (pekerjaan hanya mampu dilaksanakan oleh kelompok tertentu saja, pemaketan pekerjaan kepada beberapa penyedia barang/jasa yang berasal dari kelompok tertentu dalam rangka tender arisan atau bagi-bagi keuntungan); • Memecah pengadaan barang/ jasa menjadi beberapa paket untuk menghindari pelelangan; • Memecah paket pekerjaan yang

pengadaan barang/jasa berdasarkan proses pengadaan barang/jasa dari perencanaan sampai pemanfaatan diuraikan di bawah ini.

1) Perencanaan pengadaaan
• Penggelembungan anggaran

(gejala penggelembungan terlihat dari unit price yang tidak realistis, rencana biasanya disusun berlebihan serta jauh dari kebutuhan

menurut sifatnya seharusnya merupakan satu kesatuan konstruksi; • Menyatukan atau memusatkan beberapa kegiatan yang tersebar di

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 63

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

beberapa daerah yang menurut sifat pekerjaan dan tingkat efisiensinya seharusnya dilakukan di daerah masing-masing; • Menggabungkan beberapa paket pekerjaan yang sifat pekerjaan dan besaran nilainya seharusnya dapat dilakukan usaha kecil tetapi menjadi satu paket pekerjaan yang hanya dapat dilaksanakan oleh usaha non kecil (menengah dan besar); • • • Rencana pembelian yang tidak Penentuan jadwal waktu yang Pemilihan metode penunjukan sesuai kebutuhan; tidak realistis; langsung untuk kontrak yang seharusnya pelelangan umum; • Pemilihan metode peninjauan dengan sistem nilai (merit point) untuk peninjauan yang seharusnya sistem gugur (untuk memenangkan produk/merk atau penyedia barang/ jasa tertentu); • Pengalokasian anggaran kegiatan yang direncanakan dilakukan dengan cara swakelola, dalam pelaksanaannya dilakukan dengan cara kontraktual kepada penyedia barang/jasa, atau sebaliknya; • Jadwal waktu untuk melakukan pendaftaran dan pengambilan dokumen pengadaan dilakukan dalam

kurun waktu yang berbeda; • Biaya untuk mendukung pelaksanaan pengadaan tidak tersedia.

2) Pembentukan pokja pejabat pengadaan

ULP/

Pokja ULP/pejabat pengadaan

tidak memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa; • Pokja ULP/pejabat pengadaan yang tertutup dan tidak transparan, tidak melayani atau menilai secara adil kepada para peserta lelang (ketidakterbukaan dan ketidakadilan ULP); • Pokja ULP/pejabat pengadaan tidak memiliki integritas (ULP tidak jujur dan tidak profesional, tidak transparan dan tidak akuntabel); • Pokja ULP/pejabat pengadaan yang memihak (ULP memberi keistimewaan kepada kelompok tertentu); • Pokja ULP/pejabat pengadaan tidak independen, bekerja di bawah tekanan PA/KPA, PPK, atau penyedia barang/jasa atau mungkin karena kepentingan diri sendiri, sehingga cenderung menghambat akses informasi dari pihak-pihak yang dianggap dapat menghalangi langkahlangkahnya (ULP dikendalikan oleh pihak tertentu);

64 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Pokja ULP/pejabat pengadaan

adalah yang terbaik sehingga sulit untuk disubstitusi (hanya satu produsen yang bisa memenuhi spekulasi teknis saat memasukkan penawaran) dan membuat ukuran yang tidak biasa (misalnya panjang x lebar dalam spekulasi teknis hanya satu produsen yang bisa memenuhi syarat); • Gambaran nilai estimasi yang ditutup-tutupi atau sulit diperoleh, meskipun nilai total HPS tidak bersifat rahasia, namun hanya mitra kerja tertentu yang mudah memperoleh akses dokumen; • • Penggelembungan (mark-up) dalam HPS; Nilai kontrak tinggi karena nilai yang ditawarkan oleh calon pemenang mendekati HPS, harga dasar tidak standar dan HPS disusun atas masukan calon pemenang; • • • • Harga dasar yang tidak standar Penentuan estimasi harga tidak Sumber/referensi harga penyuPenambahan item-item biaya dalam menyusun HPS; sesuai aturan; sunan HPS yang fiktif; yang tidak diperkenankan.

dirangkap oleh: - Pejabat Pembuat Komitmen, dan/ atau - Bendahara, dan/atau - Pejabat yang bertugas melakukan verifikasi surat permintaan pembayaran (SPP), dan/atau - Pejabat yang bertugas menerbitkan surat perintah membayar (SPM), dan/atau - Aparat pengawasan fungsional, kecuali untuk pengadaan barang/jasa yang dibutuhkan instansi pengawasan fungsional tersebut, dan/atau - ULP pemeriksa/penerima barang/ jasa.

3) Penyusunan dan Penetapan Harga Perkiraan Sendiri (HPS)
• • HPS tidak ada; Pengadaan dilakukan sebelum

anggaran ditetapkan/tidak ada anggaran, sehingga tidak disusun HPS dan spesifikasi teknis dibuat oleh rekanan pelaksana; • • HPS tidak disusun dan ditetapSepsifikasi teknis dan harga kan oleh Pejabat Pembuat Komitmen; barang/jasa dalam HPS mengarah pada merk/produk tertentu, dengan alasan spekulasi teknis yang dibuat

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 65

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

4) Penyusunan dan pengesahan dokumen pemilihan penyedia barang/jasa
• • Dokumen pemilihan tidak diPersyaratan teknis mengada-

bitnya tidak teratur dan tidak informatif (ketika masih menggunakan surat kabar); • Dalam teks pengumuman tercantum bahwa persyaratan pendaftaran dan pengambilan dokumen harus membawa dokumen asli, yang mana ULP memihak ke salah satu peserta lelang dengan memberikan bocoran RKS, rincian HPS dan membuat syarat-syarat yang mengakibatkan peserta lain tidak bisa memasukkan penawaran; • Dokumen peserta yang tidak memenuhi syarat namun diluluskan pokja ULP; • Dokumen administrasi bersifat “aspal”, yaitu dokumen peserta yang dipalsukan agar lulus prakualifikasi; • • Dokumen kualifikasi tidak

sahkan ULP; ada atau berlebihan, dibandingkan kebutuhan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan; • • • • • Kriteria kelulusan peninjauan Spesifikasi teknis mengarah tidak ada atau tidak jelas; pada produk atau kelompok tertentu; Adanya penambahan kriteria Dokumen lelang tidak standar; Dokumen lelang tidak lengkap. peninjauan yang tidak perlu;

5) Pengumuman pelelangan/seleksi/pengadaan
• • Tidak mengumumkan pele-

didukung data otentik; Peninjauan yang dilakukan pokja ULP tidak sesuai dengan kriteria; • Menggunakan metode pelelangan umum prakualifikasi yang seharusnya pelelangan umum pascakualifikasi sehingga mengurangi kompetisi; • Kriteria dalam melakukan pedokumen prakualifikasi ninjauan •

langan/seleksi/pengadaan; Diumumkan, tetapi bukan di website K/L/D/I, portal pengadaan nasional, dan papan pengumuman resmi; • Melakukan pengumuman leoleh rekanan tertentu lang yang tidak transparan, hanya diketahui dan pengumuman hanya satu kali dimuat di surat kabar lokal yang ter-

tidak ada atau tidak jelas; Melakukan prakualifikasi massal untuk mendapatkan daftar pe-

66 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

nyedia barang/jasa yang berlaku untuk pengadaan dalam kurun waktu tertentu.

8) Penjelasan (aanwijzing)
• • Penjelasan ( pre-bid meeting) Pembatasan informasi dan

7) Pendaftaran dan pengambilan dokumen pemilihan penyedia barang/jasa
• Dokumen lelang yang diserah-

terbatas pada kelompok tertentu, deskripsi oleh pokja ULP agar kelompok tertentu saja yang memperoleh informasi lengkap; • • Tidak adanya partisipasi masyarakat; Penjelasan kontroversial, penawar yang berhasil adalah mereka yang menyelaraskan segala sesuatunya dengan penjelasan pokja ULP; • • • Tidak dibuat dokumentasi rapat Tidak disebarluaskan kepada Perubahan penting atas dokupenjelasan; seluruh peserta; men pemilihan penyedia tidak dituangkan dalam adendum dokumen pemilihan penyedia; • Pada saat aanwijzing dilakukan melalui cara yang tidak fair, misalnya dengan membuat aturan yang menguntungkan beberapa peserta lelang melalui voting terbuka, padahal terdapat rekanan yang mempunyai banyak CV/”bendera” sehingga bisa menang saat peninjauan penawaran baik secara administrasi maupun secara teknis.

kan tidak sama (inkonsisten), guna mengalahkan peserta lain di luar kelompok kolusi, kepada mereka diberikan konsep dokumen, meskipun sebenarnya tersedia dokumen final setelah melalui proses penyempurnaan; • • • • Waktu pendistribusian dokuPenyebarluasan dokumen yang Lokasi pengambilan dokumen Menyatakan bahwa pendaftaran men terbatas; cacat; sulit dicari; dan pengambilan dokumen tidak boleh diwakilkan; • Menyatakan bahwa pendaftaran dan pengambilan dokumen harus dilengkapi atau membawa dokumen asli.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 67

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

9) Pemasukan dan pembukaan dokumen penawaran • • Adanya relokasi tempat peBatas akhir pemasukan doku-

ang tersebut dapat mengajukan nilai penawaran yang terendah saat menjelang penutupan pemasukan dokumen penawaran. • Adanya penyerahan dokumen fiktif, dalam rangka menjatuhkan lawan usaha, mitra kerja bertindak ilegal dengan memasukkan dokumen palsu atas nama penawar lain; • • • Ketidaklengkapan Pembukaan Pembukaan dokumen penapenapenawaran; dokumen dokumen waran dilakukan pada hari libur; waran ditunda tanpa alasan yang jelas. 10) Peninjauan penawaran • Kriteria peninjauan yang cacat,

nyerahan dokumen penawaran; men penawaran diundurkan atau dimajukan tanpa adanya adendum dokumen pemilihan penyedia; • Penyimpanan dokumen penawaran tidak dilakukan pada kotak atau tempat yang aman/terkunci; • Dengan pemasukan dokumen lelang melalui LPSE (Layanan Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik) ternyata ada indikasi tidak fair saat pelaksanaannya, peserta lelang yang akan mendaftar kesulitan mengakses sampai jangka waktu pengumuman berakhir sehingga tidak dapat mendaftar, yang bisa mendaftar hanya rekanan tertentu sehingga saat pembukaan penawaran hanya ada beberapa peserta yang masuk; • Penerimaan dokumen penawaran yang terlambat, meskipun panitia dilarang menerima dokumen yang terlambat, namun karena ada upaya KKN hal ini sering terjadi; • Peserta lelang diberi informasi nilai penawaran yang terendah saat penutupan pemasukan dokumen penawaran sehingga peserta lel-

kriteria disusun dengan maksud untuk memenangkan calon yang berani menyuap dengan jumlah cukup besar, dari awal telah dicantumkan hal-hal khusus yang sulit dipenuhi oleh mitra kerja lainnya dalam rangka justifikasi kelompok tertentu; • • Pemilihan tempat peninjauan Peserta lelang terpola (dibanlelang menurun secara yang tersembunyi; dingkan lelang sebelumnya) atau peserta mencolok;

68 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Pengaturan lelang seperti ini banyak dijumpai dalam tender arisan, sehingga beban peninjauan panitia sedikit dan mereka hanya melakukan peninjauan syarat minimum tertentu. Indikator lebih rinci pada tender arisan antara lain: a) Format penawaran yang seragam di antara para penawar; b) Harga penawaran diatur: harga

• •

Tanggal pengumuman ditundaPengumuman tidak sesuai kai-

tunda; dah atau tidak ada masukan dari masyarakat. 12) Sanggahan peserta lelang • • • • • Surat sanggahan tidak ditangJawaban sanggahan ditundaTidak seluruh sanggahan diSubstansi sanggahan tidak diSanggahan pro forma untuk

yang hampir sama dengan interval yang sama, perbedaan harga yang sangat ekstrim dan harga penawaran yang sangat rendah (tidak wajar); c) Kepemilikan yang sama di antara para penawar. • Penggantian dokumen penawaran untuk memenangkan mitra kerja tertentu dengan cara menyisipkan revisi dokumen dalam dokumen awal; • Surat penawaran palsu.

gapi; tunda; tanggapi; tanggapi; menghindari tuduhan proses lelang diatur. 13) Penunjukkan pemenang lelang • • Surat penunjukan tidak lengkap; Surat penunjukan sengaja ditunSurat penunjukan dikeluarkan Surat penunjukan tidak sah; Tanggal surat penunjukan

11) Pengumuman pemenang • • Tidak ada pengumuman pemePengumuman pemenang tidak

da-tunda pengeluarannya; • • • terburu-buru;

nang; diberitahukan kepada seluruh peserta lelang; • • Pengumuman sangat terbatas Pengumuman tidak menginkepada publik; dahkan aspek publik atau dilakukan tersembunyi;

dibuat lebih belakangan dibanding tanggal kontrak.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 69

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

14) Penandatanganan kontrak
• • • • • • Adanya kejanggalan dalam

• •

Keterlambatan penyerahan baPerintah perubahan volume/ (Contract Change Order)

rang/jasa; kontrak; Penandatanganan kontrak yang Penundaan penandatanganan kolusif; kontrak secara sengaja; Penandatanganan kontrak sePenandatanganan kontrak yang Tidak dilengkapi surat jaminan cara tertutup; tidak sah; pelaksanaan (untuk pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang nilainya lebih besar dari Rp100 juta); • Tanggal surat jaminan pelaksanaan lebih belakangan dibanding tanggal kontrak. CCO

dalam rangka KKN, biasanya pekerjaan tambah-kurang yang pada akhirnya akan menaikkan nilai kontrak pekerjaan yang cenderung ke arah maksimum pagu anggaran; • • • • Kriteria penerimaan barang yang bias; Jaminan pasca jual yang palsu; Data lapangan yang dipalsukan; Denda keterlambatan tidak

dikenakan ke penyedia barang dan jasa sehingga merugikan keuangan negara atas denda yang tidak dipungut oleh PPK; • Panitia Pemeriksa Barang tidak melakukan pemeriksaan dan menghitung pelaksanaan pekerjaan. • BA hasil pemeriksaan dinya-

15) Pelaksanaan kontrak/penyerahan barang/jasa
• Kuantitas/volume pekerjaan/ba-

takan 100% berdasarkan pada permintaan yang dibuat pimpinan satuan kerja, bukan berdasarkan perhitungan dan pemeriksaan lapangan sehingga bahan yang dipasang tidak sesuai spesifikasi teknis.

rang yang diserahkan tidak sesuai dengan kontrak; • Kualitas pekerjaan yang diserahkan tidak sama dengan ketentuan dalam spesifikasi teknis/kontrak; • Kualitas pekerjaan yang diserahkan lebih rendah dari ketentuan dalam spesifikasi teknis/kontrak;

70 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

16) Penyesuaian/eskalasi harga kontrak
• Pekerjaan tambah/kurang se-

dapat mengajukan tagihan atas suatu pekerjaan melalui beberapa kontrak sekaligus; • Duplikasi pembayaran, terjadi

ngaja tidak dapat diantisipasi sejak awal dalam perencanaan; • Penentuan harga kurs valuta asing untuk komponen barang impor sengaja diambangkan; • Dalam kontrak harga satuan (unit price), pekerjaan bervolume kecil harga satuannya sengaja direndahkan, sebaliknya pekerjaan bervolume besar harga satuannya sengaja ditinggikan. • Kontrak dinyatakan sebagai kontrak multiyears seharusnya diuji apakah layak menjadi kontrak multiyears atau dapat dijadikan kontrak tahunan, kalau secara pengujian layak menjadi kontrak tahunan lebih baik dibuat kontrak tahunan sehingga negara diuntungkan tidak perlu membayar penyesuaian/eskalasi harga atas kontrak multiyears.

apabila terdapat satu faktur yang sama namun ditagihkan dan dibayar dua kali; • jadi Tagihan palsu, biasanya terpada kontrak-kontrak yang

berkelanjutan, faktur ditagihkan untuk barang/jasa yang tidak diserahkan; • • Pembayaran fiktif; Berita Acara penerimaan ba-

rang hanya formalitas saja untuk melengkapi dokumen pembayaran yang merupakan syarat sahnya pencairan dana; • • kan; • • • Pelaporan yang tidak sesuai Pelaporan yang tidak lengkap; Pelaporan yang tidak sesuai Tidak dibuat berita acara pemkeadaan; Kekurangan pemungutan dan Pelaporan yang tidak dilaksanapenyetoran pajak/PNBP;

17) Pembayaran dan pelaporan
• • Pembayaran yang tidak sesuai Barang/jasa fiktif tetapi diba-

peraturan; • bayaran.

dengan kemajuan fisik; yarkan, terjadi bila satu penyedia barang/jasa memperoleh beberapa kontrak pekerjaan sejenis, sehingga
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 71

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

18) Potensi penyimpangan dalam pemanfaatan
• • • • Kuantitas barang/jasa yang diKualitas barang/jasa yang diPenyerahan barang/jasa di

Tenaga ahli yang digunakan

lebih dari 50% karena semua pekerjaan diserahkan ke pihak ketiga; • Proposal tidak dibuat de-

terima tidak sesuai kebutuhan; terima tidak sesuai kebutuhan; lokasi yang tidak tepat; Barang/jasa yang belum/tidak dapat dimanfaatkan.

ngan cermat sehingga pelaksanaan pekerjaan menyimpang dari proposal yang ada; • Pelaksana swakelola tidak membuat laporan harian, laporan mingguan dan laporan bulanan sebagai bentuk pertanggungjawaban; • Laporan kegiatan tidak dibuat oleh pelaksana swakelola sehingga tidak jelas pelaporan berapa biaya personil dan non personil; • Laporan bulanan dibuat oleh pemborong seharusnya dilakukan oleh pelaksana swakelola.

19) Potensi penyimpangan Pengadaan barang/jasa dengan swakelola
• • Eksistensi LSM Kelompok masyarakat yang di-

wakili oleh LSM perlu diwaspadai, karena kenyataan di lapangan menunjukkan rah • begitu banyak ada bermunculan proyek yang LSM papan nama dan LSM plat meberkaitan dengan aktivitas mereka. Penyaluran dana tidak seimbang dengan prestasi pekerjaan, di sisi lain yang mengawasi kemajuan pekerjaan di lapangan adalah LSM pelaksana itu sendiri; • Tidak ada jadwal pelaksanaan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pelaporan;

72 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Penutup
Dengan mengenal potensi penyimpangan di atas, para pelaku pengadaan diharapkan semakin berhati-hati untuk tidak melakukan pelanggaran yang dapat mengarah pada praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Di sisi lain, auditor juga harus meyakini bahwa potensi penyimpangan tersebut tidak terjadi dengan menggunakan berbagai teknik audit yang sesuai. Dengan mengenal berbagai penyimpangan dalam pengadaan barang dan jasa, diharapkan kita dapat mencegahnya, yang pada akhirnya pengadaan dilakukan secara benar demi kesejahteraan bangsa ini.

Daftar Pustaka
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. 2007. Pedoman Audit Jakarta. Peraturan Presiden No. 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Pusdiklatwas Badan Pengawasan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, S-506/K/D1/2007.

Keuangan dan Pembangunan. 2004. Audit Pengadaan Barang dan Jasa. Surachmin dan Suhandi Cahaya. 2011. Strategi dan Teknik untuk Korupsi: Mengetahui Mencegah.

Jakarta: Sinar Grafika. Sutedi, Adrian. 2008. Aspek Hukum Pengadaan Barang dan Jasa dan Berbagai Permasalahannya.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 73

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

KORUPSI KOLUSI NEPOTISME
74 LKPP
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

audit

audit
LKPP 75

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

8 Cara Cerdas Mengikuti Tender
Tender, menurut penjelasan pasal 22 Undangundang nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Praktek Persaingan Tidak Sehat, adalah tawaran mengajukan harga untuk memborong suatu pekerjaan, mengadakan barang-barang, atau untuk menyediakan jasa.

76 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

8 Cara Cerdas Mengikuti Tender
Tender, menurut penjelasan pasal 22 Undang-undang nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Praktek Persaingan Tidak Sehat, adalah tawaran mengajukan harga untuk memborong suatu pekerjaan, mengadakan barangbarang, atau untuk menyediakan jasa. Dalam disebut pengertian jumlah tersebut, tender tidak bisa

maupun tender yang dilaksanakan untuk lebih dari satu peserta. Langkah-langkah tersebut adalah: A-lamat email B-uat etalase online C-ari peluang menjadi rekanan D-aftarlah pada klasifikasi dan kualifikasi yang sesuai E-valuasi teknis bisa dilewati F-inansial menguntungkan G-abungkan semua persyaratan H-arus berani membela diri jika dirugikan

yang

mengajukan

penawaran,

sehingga

diartikan diikuti oleh beberapa peserta maupun satu peserta yang mengajukan penawaran. Oleh karena itu seluruh metode pemilihan yang tersedia dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Perpres 54/2010) adalah termasuk klasifikasi tender, dengan pengelompokan : • Tender yang diikuti oleh satu Perkembangan teknologi informatika telah jauh menyentuh bidang pengadaan dengan mulai diterapkannya pelelangan secara elektronik. Syarat utama untuk dapat mengikuti pelelangan elektronik adalah memiliki alamat email. Alamat email bisa dimiliki dalam bentuk layanan email gratis (@yahoo.com, @gmail.com, @hotmail.com), layanan email berbayar (@dnet.net.id, @cbn.net.id) maupun layanan email dengan domain sendiri (@namaperusahaan.com, @namaperusahaan.co.id). Layanan email dengan ini akan domain sendiri adalah yang terbaik untuk menyimpan data komunikasi bisnis yang bersifat rahasia sekaligus bisa menambah kepercayaan diri perusahaan. peserta yaitu penunjukan langsung dan pengadaan langsung • satu • Tender yang diikuti oleh lebih peserta Tulisan di yaitu bawah pelelangan,

Alamat Email

pemilhan dan seleksi memberikan 8 (delapan) cara cerdas mengikuti tender, baik tender yang dilaksanakan untuk satu peserta

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 77

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Buat etalase online
Etalase online dalam bentuk situs perusahaan adalah kebutuhan untuk memberikan kelebihan komparatif perusahaan baik dalam tender yang diikuti oleh satu perusahaan maupun tender yang diikuti sesuai oleh banyak dan perusahaan Muatan klasifikasi Bagi perusahaan yang klasifikasi dan kualifikasinya memenuhi syarat sebagai penyedia melalui metode Pengadaan Langsung, situs perusahaan perlu dilengkapi dengan katalog produk dan harga. Dalam jangka panjang, katalog produk dan harga yang disediakan secara elektronik akan memberikan peluang lebih baik pada saat pengadaan sudah dilakukan dengan cara e-purchasing. Dalam pelelangan/pemilihan/seleksi, kualifikasi. Mari kita

kualifikasi masing-masing perusahaan. utama situs perusahaan haruslah berupa informasi-informasi yang tersedia dalam Formulir Isian Kualifikasi. Jika situs perusahaan tidak mencantumkan hal tersebut, maka situs kurang memberikan manfaat dalam pelaksanaan tender. Ada banyak fitur yang bisa ditambahkan dalam situs perusahaan, salah satunya adalah fitur google earth yang bisa digunakan sebagai penunjuk peta lokasi kantor maupun penunjuk peta lokasi pekerjaan yang sudah atau sedang dilaksanakan. Dalam pengadaan langsung, Pejabat Pengadaan melaksanakan kualifikasi dengan cara pre-knowledge yang artinya Pejabat Pengadaan harus sudah mengetahui kualifikasi peserta sebelum Pengadaan Langsung dilakukan. Informasi kualifikasi dalam situs akan membantu Pejabat Pengadaan dalam meyakini bahwa perusahaan telah memenuhi syarat kualifikasi.

Pokja ULP harus melakukan tahapan pembuktian bayangkan indahnya tender jika suatu perusahaan ditetapkan menjadi calon pemenang dilakukan peninjauan kualifikasi oleh Pokja ULP . Pokja ULP cukup buka halaman

situs perusahaan, masuk ke menu Pengalaman dan dari menu itu muncul penanda proyek google yang earth ke lokasi pernah dikerjakan.

Sudah pasti dengan mudah Pokja ULP akan menyatakan lulus kualifikasi jika pencitraan di google earth benar-benar menggambarkan prestasi pekerjaan yang telah dilaksanakan.

78 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Cari Peluang menjadi Rekanan
Setelah langkah memiliki berikutya situs perusahaan, mencari

h t t p : / / w w w. p e n g a d a a n n a s i o n a l bappenas.go.id/eproc/app Untuk dapat mengikuti tender melalui LPSE, penyedia harus mendaftar pada masing-masing instansi yang dikehendaki, namun dalam pengembangan yang telah dilakukan saat ini, SPSE sudah mulai melakukan agregasi sehingga saat ini pendaftaran pada salah satu LPSE sudah merupakan pendaftaran pada beberapa LPSE lainnya. Dalam jangka panjang tentunya seluruh situs akan tergabung dalam agregasi sehingga peyedia tidak harus melakukan pendaftaran berulang-ulang ke beberapa LPSE. Aplikasi pelelangan elektonik memberikan kemudahan bagi penyedia untuk memantau paket-paket yang akan ditenderkan berdasarkan pilihan kelompok maupun lokasi pengadaan yang dikehendaki oleh masing-masing penyedia.

adalah

peluang menjadi rekanan. Ada 3 (tiga) cara yang ditempuh untuk mendapatkan peluang yaitu :

1. Mendapatkan Peluang melalui Kunjungan Langsung
Setiap K/L/D/I (bahasa sederhana nya Instansi Pemerintah Pusat/Daerah) wajib mengumumkan kegiatan Pengadaan Barang/Jasa melalui papan pengumuman resmi di kantornya masing-masing. Penyedia dapat datang ke setiap kantor untuk melihat pengumuman, namun cara ini tidak efisien dari segi waktu dan biaya. Disamping itu, sangat mungkin waktu kunjungan tidak bertepatan dengan waktu pengumuman pengadaan.

2. Mendapatkan Peluang Melalui Situs Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Nasional
Halaman situs LPSE Nasional berisi daftar alamat situs dari Instansi Pusat dan Daerah yang telah menerapkan pelelangan secara elektonik menggunakan aplikasi SPSE. Alamat situs LPSE Nasional adalah di url

3. Mendapatkan Peluang Melalui Situs Pengadaan Lainnya
Beberapa Instansi Pusat dan mengembangan sistem Daerah

pelelangan

secara elektronik tanpa menggunakan sistem SPSE dan belum terhubung

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 79

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

dengan

laman

LPSE

Nasional.

Lihat Pengumuman, jika me-

Contohnya adalah pelelangan elektronik pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Kota Surabaya. Peluang akan diperoleh apabila penyedia melakukan pendaftaran pada masing-masing situs pengadaan. Daftarlah pada Klasifikasi dan Kualifikasi yang Sesuai. Klasifikasi pada dasarnya mengatur bidang usaha, sementara kualifikasi mengatur ukuran perusahaan. Dokumen yang menjelaskan klasifikasi dan kualifikasi misalnya adalah Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Surat Ijin Usaha Jasa Kontruksi (SIUJK). Dalam tender, Pokja ULP/Panitia

menuhi persyaratan yang disebutkan dalam pengumuman tersebut, maka lakukan pendaftaran. • Setelah melakukan pendaftaran, peserta berhak mendapatkan dokumen lelang (secara resmi diberi nama Dokumen Pemilihan atau Dokumen Kualifikasi). Pada dokumen tersebut ada bagian yang diberi judul Lembar Data Kualifikasi. • Jika merasa tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan di Lembar Data Kualifikasi, stop sampai di sini. • Jika merasa mampu memenuhi persyaratan yag ditetapkan di Lembar Data Kualifikasi, bisa melanjutkan ke tahapan berikutnya. Media yang digunakan untuk menyatakan pemenuhan persyaratan kualifikasi adalah Formulir Isian Kualifikasi yang disampaikan tanpa perlu dilengkapi dengan lampiran salinan dokumen. Pada seluruh saat pembuktian yang kualifikasi, disebutkan peserta tender wajib membawa ASLI dokumen dalam Formulir Isian Kualifikasi dan menyerahkan salinannya. Pada prinsipnya pembuktian kualifikasi dilakukan terhadap seluruh peserta yang lulus peninjauan kualifikasi (pada

Pengadaan harus menentukan bidang usaha, kualifikasi dan persyaratan lain yang harus dipenuhi oleh peserta sebagai kesatuan disebut persyaratan kualifikasi dengan mengacu pada ketentuan pasal 19 Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010. Informasi singkat tentang persyaratan kualifikasi ada pada pengumuman tender, informasi lengkapnya ada dalam dokumen tender dengan judul Lembar Data Kualifikasi. Langkah mudah yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut :

80 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

metode prakualifikasi) atau terhadap peserta yang menjadi calon pemenang dan calon pemenang cadangan (pada metode pascakualifikasi). Konsekwensi dari kemudahan dalam proses kualifikasi yang harus diperhatikan oleh penyedia adalah apabila ada data yang tidak benar, peserta dapat digugurkan. Dan apabila ada data yang palsu atau dipalsukan, penyedia dapat dikenakan sanksi Daftar Hitam untuk badan usaha dan pengurusnya.

Sebagai pernyataan bahwa peserta sanggup memenuhi spesifikasi yang ditetapkan, maka Pokja ULP mewajibkan dokumen pendukung misalnya antara lain brosur barang, metode kerja dan/ atau jadwal pelaksanaan kerja. Peninjauan teknis dilaksanakan dengan dua cara, yaitu: • Sistem gugur, artinya peserta harus memenuhi semua unsur yang ditetapkan dalam persyaratan teknis. • Sistem ambang nilai, artinya peserta disamping harus memenuhi

Peninjauan Teknis Harus Lolos
Peninjauan teknis adalah salah satu tahap peninjauan untuk menguji apakah peserta dapat memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan. Persyaratan teknis adalah persyaratan pokok yang diwajibkan agar terlaksananya paket pekerjaan yang dimaksudkan dalam tender. Persyaratan teknis dapat berupa

semua unsur yang ditetapkan dalam persyaratan teknis, nilai kuantitatif dari masing-masing unsur harus mencapai angka tertentu yang menjadi ambang batas kelulusan. Dalam dokumen tender, ada bagian yang diberi judul Lembar Data Pemilihan. Pada halaman tersebut dijelaskan persyaratan teknis yang diwajibkan dan cara penilaian atas masing-masing unsur dalam persyaratan tersebut.

spesifikasi barang (untuk pengadaan barang), gambar yang harus dibangun dan spesifikasinya (untuk pekerjaan konstruksi), output yang harus dihasilkan (jasa konsultansi) atau pekerjaan yang harus dilaksanakan (jasa lainnya).

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 81

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Untuk Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya, tabel pertimbangan sebagai berikut:

Untuk Jasa Konsultansi, tabel pertimbangan sebagai berikut:

82 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Finansial harus menguntungkan Tender bertujuan untuk memperoleh harga yang wajar bagi penjual dan pembeli. Tender diharapkan tidak menghasilkan kemahalan harga sehingga pembeli dirugikan, juga tidak boleh menghasilkan harga yang terlalu rendah sehingga penjual dirugikan. Dalam setiap tender, sudah ditetapkan Harga yang Perkiraan merupakan Sendiri estimatisi (HPS) harga

1) Harga pokok = Rp 826.446.281 2) Overhead dan keuntungan = Rp 82.644.628 2. Jasa Konsultasi (misalnya HPS Rp 1.000.000.000) a. PPN 10% sebesar 10/110 x HPS = Rp 90.909.901 b. Harga sebelum PPN sebesar 100/110 x HPS = Rp 909.090.909 Jasa Konsultansi terdiri dari 2 unsur, yaitu Biaya Langsung Personil dan Biaya Langsung Non Personil. Besarnya Biaya Langsung Non Personil tidak melebihi 40% dari total biaya, sehingga perinciannya adalah:

pasaran yang wajar menurut Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Penyedia perlu memahami unsur-unsur yang diperhitungkan dalam HPS yaitu: 1. Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya (misalnya HPS Rp 1.000.000.000) a. PPN 10% sebesar 10/110 x HPS = Rp 90.909.901 b. Harga sebelum PPN sebesar 100/110 x HPS = Rp 909.090.909 Pada telah dan harga sebelum PPN, PPK

1) Biaya Langsung Non Personil (40%) = Rp 363.636.364 2) Biaya Langsung Personil (60%) = Rp 545.454.545 Pada Biaya Langsung Personil, PPK telah mengalokasikan overhead dan keuntungan setinggi-tingginya 10%. Dengan asumsi overhead dan keuntungan 10%, maka perinciannya: a) Harga pokok = Rp 495.867.769 b) Overhead dan keuntungan = Rp 49.586.776

mengalokasikan keuntungan

overhead

setinggi-tingginya

15%. Dengan asumsi overhead dan keuntungan 10%, maka perinciannya :

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 83

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Dua komponen, harga pokok dan overhead dan keuntungan menjadi pertimbangan utama dalam mengam-

Harus berani jika dirugikan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 memberikan kesempatan bagi peserta yang merasa dirugikan dalam pelelangan/pemilihan/seleksi untuk mengajukan sanggahan. Peserta yang

bil keputusan mengajukan atau tidak mengajukan penawaran. Cara pertimbangannya adalah : 1. Estimasi biaya yang akan dikeluarkan penyedia setinggi-tingginya adalah sebesar harga pokok.

dirugikan adalah peserta yang mengajukan penawaran. Oleh karena itu yang bukan peserta

2. Besarnya prosentase dan overhead ditentukan antara nilai minimal sampai maksimal dengan mempertimbangkan metode peninjauan yang digunakan oleh Pokja ULP .

atau yang mendaftar namun tidak memasukkan penawaran tidak berhak mengajukan sanggahan. Tindakan Pokja ULP yang dapat diklasifikasikan sebagai tindakan yang merugikan bagi peserta yang bisa diajukan sanggahan adalah:

Gabungkan semua persyaratan
1. Setelah memenuhi semua persyaratan tersebut di atas, waktunya untuk menggabungkan semua persyaratan dalam satu Dokumen Penawaran. Bentuk dan kelengkapan dokumen penawaran dijelaskan dalam dokumen kontrak pada bagian Instruksi Kepada Penyedia. Jika penawaran mensyaratkan jaminan penawaran, pastikan jaminan memenuhi syarat yang ditentukan baik jumlah dan masa berlakunya. Pokja ULP tidak memenuhi persyaratan pelelangan/seleksi atau melaksanakan ketentuan. 2. Pokja ULP melakukan tindakan yang mengakibatkan persaingan tidak sehat misalnya: a. Penyusunan spesifikasi yang mengarah pada produk tertentu; b. Kriteria peninjauan yang tidak rinci c. sehingga mengakibatkan penilaian yang tidak adil; Penambahan persyaratan di luar ketentuan yang diatur dalam pelelangan/seleksi dengan tata urut proses tidak sesuai

84 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Peraturan

Presiden

Nomor

54

harus per

dilengkapi seribu dari

dengan HPS.

jaminan

Tahun 2010. 3. Pokja ULP , PPA, PA/KPA atau Tim lainnya melakukan tindakan di luar kewenangannya terkait proses pengadaan barang/jasa. Kesempatan mengajukan sanggahan dibatasi waktu selama 5 (lima) hari kerja setelah pengumuman. Jika melewati waktu tersebut, maka sanggahan tidak dapat diterima. Alokasi waktu bagi Pokja ULP untuk menjawab sanggahan adalah 5 (lima) hari kerja. Oleh karena itu jika dalam jangka waktu tersebut sanggahan tidak dijawab, dapat diartikan sanggahan diterima. Yang perlu dipahami dalam mengajukan sanggahan adalah bahwa sanggahan bisa mengakibatkan pelelangan/seleksi gagal, namun tidak secara otomatis menetapkan penyanggah sebagai pemenang pelelangan/seleksi. Apabila peserta yang dirugikan masih belum puas dengan jawaban sanggahan dari Pokja ULP , Peraturan Presiden nomor 54 Tahun 2010 memberikan kesempatan untuk mengajukan sanggahan banding yang harus diajukan 5 (lima) hari sejak jawaban sanggahan diterima. Agar sanggahan banding dapat diproses,

sanggah banding yang nilainya dua Sanggahan banding diajukan kepada Pengguna Anggaran atau Kepala Daerah dengan alokasi waktu 15 (lima belas) hari untuk menjawab. Sebagaimana sanggahan, sanggah

banding bisa mengakibatkan pelelangan/seleksi gagal, namun tidak secara otomatis menetapkan penyanggah sebagai pemenang pelelangan/seleksi. Apabila sanggah banding ditolak, resiko bagi penyanggah adalah pencairan jaminan ke Kas Negara atau Kas Daerah. Referensi: Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Pedoman Pasal 22 tentang Larangan Persekongkolan daman Tender Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 tahun 199 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, KPPU, 2009. Cara Benar, Mudah dan Jitu Menang Tender Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Agus Kuncoro, Penerbit Wahyumedia, cetakan pertama 2011.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 85

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Kasus Pengadaan Barang/Jasa Berdasarkan Temuan BPK RI

BPK RI telah melakukan pemeriksaan pertanggungjawaban keuangan negara, baik di pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun BUMN/D. Temuan BPK yang terindikasi telah terjadi penyimpangan juga mencakup permasalahan di bidang pengadaan barang/jasa.
86 LKPP
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pesat disertai dengan pengembangan otonomi daerah, kebutuhan pemerintah akan penyelenggaraan pemerintahan turut meningkat. Kebutuhan pemerintah tersebut dapat secara materiil maupun nonmateriil. Inilah yang mendorong munculnya kebutuhan pihak ketiga yang menyokong kinerja operasional. Kebutuhan tersebut terwakili melalui proses pengadaan barang/jasa yang terbuka bagi pihak ketiga yang memenuhi persyaratan.

Mayoritas

negara

di

dunia

ini

menghabiskan dana untuk pengadaan barang/jasa hingga mencapai 10%30% dari total anggaran . Nilai transaksi pengadaan GDP, barang/jasa di negaraSerikat negara Uni Eropa mencapai 16% dari sedangkan Amerika mencapai 16% dari GDP2. Sementara di negeri kita, dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2010 sekitar 31,2% atau sekitar Rp327 triliun diperuntukkan bagi belanja barang/jasa pemerintah . Temuan BPK RI: Penyimpangan dalam

Pengadaan barang/jasa pemerintah di Indonesia menduduki peran yang sangat penting untuk menggerakkan aktivitas ekonomi. Di samping jumlah uang yang berputar cukup besar, keterlibatan dunia usaha dan birokrat publik juga sangat besar. Karena untuk usaha untuk itu, pengadaan dapat memperbaiki dan birokrat barang/jasa wahana dunia secara

Pengadaan

Barang/Jasa

Pemerintah

Dewasa ini, era reformasi bermuara pada transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran negara. Begitu pula dengan proses pengadaan barang/ jasa. Penentuan dan pemastian kualitas, pelayanan, spesifikasi, dan harga dituntut untuk transparan, efektif, efisien, dan akuntabel. Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) sebagai lembaga tinggi negara yang berwenang dalam pemeriksaan, mengemban tugas untuk tercapainya efisiensi, transparansi, efektivitas, laporan dan akuntabilitas

pemerintah

menjadi perilaku publik

menyeluruh, terutama sebagai wahana memulai penyelenggaraan pemerintahan yang baik.

keuangan negara, temasuk pada aspek pengadaan barang/jasa.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 87

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

BPK RI telah melakukan pemeriksaan pertanggungjawaban keuangan negara, baik di pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun BUMN/D. Temuan BPK yang terindikasi telah terjadi penyimpangan juga mencakup permasalahan di bidang pengadaan barang/jasa. Masyarakat dirasakan perlu mengetahui dua hal penting, yaitu: (1) seberapa banyak temuan BPK tersebut merugikan atau berpotensi merugikan negara; (2) berdasarkan temuan BPK, pelanggaran-pelanggaran atas ketentuan pengadaan barang/jasa mana sajakah yang telah dilanggar oleh entitas pemeriksaan. Berdasarkan data rekapitulasi dari Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II Tahun 2010, BPK menemukan beberapa tipe kasus pengadaan barang/ jasa, yaitu kasus yang telah merugikan keuangan negara, kasus yang berpotensi merugikan keuangan negara, kasus pengadaan yang melanggar administratif, kasus ketidakhematan, serta kasus ketidakefisienan.

1) Kasus pengadaan barang/jasa yang menimbulkan kerugian negara Kasus pengadaan barang/jasa yang menimbulkan kerugian negara terdiri dari tujuh bentuk, yaitu (1) Pengadaan barang/jasa (PBJ) fiktif; (2) rekanan tidak menyelesaikan pekerjaan; (3) barang/jasa tidak sesuai spesifikasi; (4) kekurangan volume pekerjaan dan/ atau barang; (5) kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan; (6) pemahalan harga; serta (7) belanja tidak sesuai ketentuan atau melebihi ketentuan. Macam-macam kasus temuan BPK

tersebut dijabarkan dalam tabel berikut. Kasus PBJ yang merugikan negara/daerah/perusahaan dari hasil pemeriksaan semester II tahun 2010 berjumlah 1.513 kasus dengan total kerugian sebesar Rp659.251.010.000,00. Temuan BPK sejumlah 1.513 kasus dalam pengadaan barang/jasa memiliki rincian berikut, yaitu (a) 146 kasus merugikan keuangan negara; (b) 1.319 kasus merugikan keuangan daerah; (c) 6 kasus merugikan keuangan perusahaan BUMN, serta (d) 42 kasus merugikan keuangan perusahaan BUMD.

88 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Tabel temuan kasus PBJ yang menimbulkan kerugian keuangan negara/daerah/perusahaan

Berdasarkan

jumlah

kemunculan

Posisi selanjutnya secara berurutan berupa bentuk kasus barang/jasa tidak sesuai spesifikasi sebanyak 134 kasus (9%). Bentuk kasus “PBJ fiktif” berjumlah 112 kasus (7%). Bentuk kasus “pemahalan (mark up) harga” sebanyak 74 kasus (5%). Yang terakhir, kasus “rekanan tidak menyelesaikan pekerjaan” berjumlah 38 kasus (2%). Hal tersebut dipaparkan dalam diagram lingkaran berikut. Banyaknya jumlah bentuk kasus tertentu dalam pengadaan barang/jasa be-

kasusnya, bentuk kasus “kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang” menempati posisi teratas dengan persentase sebesar 42% (628 kasus). Posisi kedua ditempati bentuk kasus “kelebihan pembayaran selain dari total kekurangan volume pekerjaan” sebanyak 280 kasus atau 19% kasus. Posisi ketiga ditempati bentuk kasus “belanja tidak sesuai kebutuhan” sebanyak 242 kasus atau senilai 16% dari total kasus.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 89

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

PBJ Fiktif7% Belanja tidak sesuai ketentuan atau melebihi ketentuan16% Rekanan tidak menyelesaikan pekerjaan2%

Pemahalan harga 5%

Kelebihan pembayaran selain kekurangan olume pekerjaan19%

Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang42%

Diagram persentase kasus pengadaan barang/jasa yang merugikan negara/perusahaan

lum tentu berkorelasi dengan besarnya dampak kerugian keuangan negara/ daerah/perusahaan. Temuan BPK sebanyak 1.471 kasus dengan total kerugian negara sebesar Rp659.251.010.000,00 memperlihatkan gian negara. Kasus “belanja tidak sesuai ketentuan atau melebihi ketentuan” yang berjumlah 16% dari total temuan kasus justru menempati posisi pertama dalam menimbulkan kerugian negara/daerah/ perusahaan. Kasus “belanja tidak sesuai bahwa banyaknya kasus tidak menentukan besarnya keru-

ketentuan atau melebihi ketentuan” mengakibatkan kerugian sebesar Rp218.034.600.000,00 atau 33% dari total temuan kerugian negara/daerah/ perusahaan. Kasus “PBJ fiktif” yang hanya sebanyak 7% dari total temuan kasus justru menempati posisi kedua dalam kerugian keuangan negara. Kasus “PBJ fiktif” mengakibatkan

kerugian sebesar Rp160.948.800.000,00 atau sebanyak 24% dari total temuan kerugian negara/daerah/perusahaan. Kasus “kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang” telah mengakibatkan kerugian sebesar Rp135.842.300.000,00

90 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

atau sebanyak 21% dari total kerugian negara/daerah/perusahaan. Kasus “kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan” merugikan keuangan negara/daerah/perusahaan senilai Rp69.132.640.000,00 atau sebesar 11% dari total temuan kerugian. Kasus “pemahalan (mark up) harga” telah menimbulkan kerugian sebesar Rp32.471.190.000,00 yang setara 5% dari total temuan kerugian keuangan negara/daerah/perusahaan.

Kasus “rekanan tidak menyelesaikan pekerjaan” telah merugikan keuangan negara/daerah/perusahaan senilai Rp. 27.508.960.000,00 serta sebesar 4% dari total temuan kerugian. Kasus “barang/jasa tidak sesuai spesifikasi” menimbulkan kerugian negara sebesar Rp15.792.270.000,00 dan setara 2% dari total temuan kerugian. Persentase besaran kerugian negara/ daerah/perusahaan untuk setiap kasus temuan diilustrasikan dalam diagram berikut ini.

Presentase Besaran Kerugian Negara dalam Pengadaan Barang / Jasa

Belanja tidak sesuai ketentuan atau melebihi ketentuan33%

PBJ Fiktif24% Rekanan tidak menyelesaikan pekerjaan 4%

Kekurangan volume pekerjaan dan/atau barang21% Pemahalan harga 5%

Kelebihan pembayaran selain kekurangan volume pekerjaan 11%

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 91

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

2) Kasus pengadaan barang/jasa yang berpotensi menimbulkan kerugian negara Pemeriksaan BPK menemukan kasus pengadaan barang/jasa yang berpotensi menimbulkan kerugian negara. Kasus yang ditemukan berupa (1) kelebihan (3) pembayaran; belum (2) selisih volume pekerjaan yang belum selesai; rekanan melaksanakan barang kewajiban (4) pemeliharaan jaminan fasilitas

yang berpotensi merugikan keuangan perusahaan BUMN; serta (d) 6 kasus yang berpotensi merugikan keuangan perusahaan BUMD. Berdasarkan jumlah kemunculan bentuk kasusnya, bentuk kasus “Kelebihan pembayaran tetapi pembayaran belum dilakukan sebagian atau seluruhnya” menempati 166 kasus. Posisi kedua ditempati bentuk kasus “rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak” sebanyak 24 kasus dengan persentase sebesar 11,42%. BPK juga menemukan adanya bentuk terhadap fasilitas kasus “Pemberian jaminan pelaksanaan tidak sesuai pekerjaan, ketentuan” posisi teratas dengan persentase sebesar 79% atau sebanyak

hasil pengadaan yang telah rusak; pemberian terhadap tidak pelaksanaan pekerjaan-pemanfaatan

barang-pemberian

sesuai ketentuan; (5) barang tidak sesuai spesifikasi teknis; serta (6) keterlambatan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa. Temuan BPK terkait pengadaan barang/ jasa yang berpotensi merugikan keuangan negara/daerah/perusahaan

pemanfaatan barang, dan pemberian sebanyak 15 kasus dengan persentase sebesar 7%. Posisi sama selanjutnya memiliki ditempati dua 0,95%,

berjumlah 210 kasus dengan total potensi kerugian senilai Rp116.866.650.000,00. Temuan BPK sejumlah 210 kasus bentuk temuan kasus yang samapersentase memiliki rincian, antara lain (a) 10 kasus yang berpotensi merugikan keuangan negara; (b) 193 kasus yang berpotensi merugikan keuangan daerah; (c) 1 kasus yaitu kasus “barang/jasa tidak sesuai spesifikasi teknis” sebanyak 2 kasus, dan kasus “keterlambatan pelaksanaan pengadaan barang/jasa oleh rekanan” sebanyak 2 kasus.

92 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Tabel temuan pengadaan barang/jasa yang berpotensi merugikan negara

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 93

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Kasus “selisih volume pekerjaan yang belum selesai” menempati urutan terakhir dengan jumlah 1 kasus atau 0,47% dari keseluruhan jumlah kasus yang berpotensi merugikan keuangan negara/daerah/perusahaan. Persentase jumlah setiap bentuk kasus pengadaan barang/jasa yang berpotensi merugikan negara diilustrasikan dalam diagram berikut ini.

Potensi

kerugian

keuangan Potensi

daekeru-

rah pada pemerintah daerah sebesar Rp107.851.280.000,00. gian keungan perusahaan BUMN sebesar Rp104.0800.000,00. Sementara itu, kerugian keuangan perusahaan BUMD sebanyak Rp6.822.830.000,00. Dari keenam temuan kasus tersebut, total potensi kerugian negara/daerah/perusahaan sebesar Rp116.866.650.000,00.

Persentase Kasus Pengadaan Barang/Jasa yang Berpotensi Merugikan Negara/Daerah/Perusahaan
Pemberian jaminan terhadap pelaksanaan pekerjaan, pemanfaatan barang, dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 7% Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak11,42%

Keterlambatan pelaksanaan pengadaan barang/jasa oleh rekanan 0,95 %

Kelebihan pembayaran tetapi pembayaran belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 79% Selisih volume pekerjaan yang belum selesai 0,47%

Berdasarkan tabel temuan BPK, potensi kerugian keuangan negara pada pemerintah pusat sebesar Rp2.088.460.000,00.

Besarnya potensi kerugian berdasarkan bentuk kasusnya memiliki nominal yang berbeda-beda. Potensi kerugian

94 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

keuangan “kelebihan

negara/daerah/perusahaan pembayaran tetapi

negara/daerah/perusahaan

sebesar

paling besar terdapat pada kasus pembayaran belum dilakukan sebagian atau seluruhnya”. Pada kasus tersebut, potensi kerugian sebesar Rp65.003.020.000,00 senilai 55,6% dari total atau potensi

Rp25.051.260.000,00 atau 21,4% dari total potensi kerugian. Posisi selanjutnya didapati pada bentuk kasus “rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak”.Bentuk kasus tersebut berpotensi merugikan keuangan negara/daerah/perusahaan dengan persentase sebesar 21,2% atau senilai Rp24.760.000.000,00. Posisi keempat ditempati bentuk kasus “keterlambatan pelaksanaan pengadaan barang/ jasa oleh rekanan” dengan persentase 1,2% atau sebesar Rp1.406.620.000,00.

kerugian. Posisi kedua ditempati bentuk kasus “pemberian jaminan terhadap pelaksanaan pekerjaan, pemanfaatan barang, dan pemberian fasilitas tidak sesuai ketentuan”. Pada bentuk kasus tersebut, ba-

Bentuk kasus “selisih volume pekerjaan yang belum selesai” sebesar
Keterlambatan pelaksanaan pengadaan barang/jasa oleh rekanan 1,2%

nyaknya potensi kerugian keuangan

Pemberian jaminan terhadap pelaksanaan pekerjaan, pemanfaatan barang, dan pmberian fasilitas tidak sesuai ketentuan 21,4%

Rekanan belum melaksanakan kewajiban pemeliharaan barang hasil pengadaan yang telah rusak 21,2%

Kelebihan pembayaran tetapi pembayaran belum dilakukan sebagian atau seluruhnya 55,6%

Selisih volume pekerjaan yang belum selesai 0,29%

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 95

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Rp338.460.000,00 dengan persentase 0,29%. Potensi kerugian keuangan negara/daerah/perusahaan paling kecil terdapat pada kasus “barang/jasa tidak sesuai spesifikasi teknis” senilai

Rp271.290.000,00 atau setara dengan 0,23% dari keseluruhan jumlah potensi kerugian. Besaran jumlah potensi kerugian dari pengadaan barang/jasa digambarkan dalam diagram diatas.

Tabel temuan BPK yang melanggar ketentuan administratif

96 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

3)

Kasus

pengadaan

barang/jasa

menunjukkan adanya kasus pelelangan proforma. Pelelangan proforma mengindikasikan bahwa pelaksanaan

secara administratif Pemeriksaan BPK juga mengungkap adanya temuan administrasi berupa penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku. Penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian negara, tidak mengurangi hak negara, tidak menghambat tidak program entitas, dan mengandung unsur indikasi

lelang dilakukan hanya untuk formalitas saja. Pada pemerintah daerah dan BUMN terdapat pengadaan yang dilakukan dengan penunjukan langsung sehingga harga kontrak tidak dapat diyakini sebagai harga yang menguntungkan. Lebih lanjut, sebaran persentase kasus pengadaan barang/jasa yang melanggar ketentuan administratif digambarkan dalam diagram berikut.

tindak pidana. Beberapa bentuk temuan tersebut dijabarkan dalam sebuah tabel. Tabel temuan BPK yang melanggar ketentuan administrati. Tabel di bawah

Persentase Pengadaan Barang/Jasa yang Melanggar Ketentuan Administratif
Pengadaan barang dilakukan tanpa kontrak 0,3% Pedoman pengadaan barang/jasa belum memadai 0,59% Panitia pengadaan barang /jasa tidak memiliki harga perkiraan sendiri (HPS)0,3% Belum ada surat penugasan atas penunjukan langsung 0,3%

Penyusunan harga perkiraan sendiri tidak didasarkan pada data yang memadai 0,59% Penunjukan langsung 0,59% Pelaksanaan lelang secara proforma 7,69%

Pelaksanaan disubkontrakkan dari rekanan ke pihak lain 0,3%

Pekerjaan dilaksanakan mendahului kontrak atau penetapan anggaran 12,42%

Pemecahan kontrak untuk menghindari pelelangan 12,42%

Pembuatan kontrak tidak cermat 0,3%

Proses pengadaan barang/jasa tidak sesuai ketentuan tetapi tidak menimbulkan kerugian negara 64,2%

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 97

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

4) Kasus pengadan barang/jasa yang menimbulkan ketidakhematan BPK juga menemukan ketidakhematan dalam pelaksanaan barang/jasa. Temuan tersebut mengungkap adanya tiga (2) bentuk kasus berupa (1) pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan; penetapan kualitas dan kuantitas

standar; (3) kemahalan harga. Bentuk kasus “kemahalan harga” merupakan kasus di mana harga barang/jasa lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Hal tersebut berdampak pada pemborosan keuangan daerah. Jumlah ketiga bentuk temuan tersebut berjumlah 309 kasus dan telah negara memboroskan keuangan

barang/jasa yang digunakan tidak sesuai

sebanyak Rp462.885.942.000,00.

Tabel temuan BPK terkait ketidakhematan dalam pengadaan barang/jasa

98 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Berdasarkan cakupan entitas, temuan ketidakhematan dalam pengadaan barang/jasa terbagi ke dalam empat jenis entitas, yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan BUMN, dan perusahaan BUMD. Temuan ketidakhematan pada pemerintah pusat sebanyak 48 kasus yang senilai Rp240.385.730.000,00.

Temuan atas pengadaan barang/jasa yang menimbulkan ketidakhematan terdiri dalam tiga bentuk kasus. Kasus “kemahalan harga” mendominasi munculnya ketidakhematan dalam pengadaan barang/jasa dengan 287 kasus atau 93% dari keseluruhan kasus ketidakhematan. Kasus “penetapan kualitas dan kuanti-

Temuan rah

pada

pemerintah 193 kasus

daesenilai

tas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar” sebesar 4% dengan jumlah 14 kasus. Kasus “pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan” sebesar 3% dengan jumlah 8 kasus. Ketiga bentuk kasus tersebut digambarkan dalam sebuah diagram berikut ini.

sebanyak

Rp240.385.730.000,00. Temuan pada entitas BUMN perusahaan-perusahaan sebanyak 29 kasus senilai

Rp125.625.450.000,00. Lebih lanjut, temuan pada entitas perusahaan-perusahaan BUMD sebanyak 39 kasus senilai Rp50.009.570,00.

Presentase Kasus Pengadaan Barang / Jasa yang menimbulkan ketidakhematan

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 99

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Besarnya pengadaan

ketidakhematan barang/jasa yang keuangan

dalam telah negara/ mencapai Mayoritas karena senilai dengan

sahaan senilai Rp7.840.470.000,00 dengan persentase sebesar 1,7%. Kasus “pengadaan barang/jasa melebihi kebutuhan” menimbulkan ketidakhematan keuangan negara/daerah/perusahaan senilai Rp331.180.000,00 dengan persentase senilai 0,07%. Gambaran persentase jumlah ketidakhematan yang memboroskan keuangan negara/daerah/perusahaan pada pengadaan barang/jasa terlihat pada diagram berikut ini.

memboroskan

daerah/perusahaan Rp462.885.942.000,00. ketidakhematan kasus “kemahalan terjadi

harga”

Rp454.714.292.000,00 persentase sebesar 98%.

Kasus “penetapan kualitas dan kuantitas barang/jasa yang digunakan tidak sesuai standar” mengakibatkan ketidakhematan keuangan negara/daerah/peru-

Pengadaan barang / jasa melebihi kebutuhan

Penerapan kualitas dan kuantitas barang / jasa yang digunakan tidak sesuai standar 1.7 % 0.07 %

Kemahalan Harga

Persentase besaran ketidakhematan keuangan negara/ daerah/perusahaan pada pengadaan barang/jasa

98.23 %

100 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

5) Kasus hasil pengadaan barang dan jasa yang menimbulkan ketidakefektifan
BPK juga memeriksa aspek ketidakefektifan terkait pencapaian hasil (outcome) pengadaan barang/jasa. Ketidak efektifan tersebut mencakup beberapa hal, yaitu pemanfaatan barang/jasa dilakukan tidak sesuai dengan rencana yang

ditetapkan, barang yang dibeli belum/ tidak dapat dimanfaatkan, serta pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak pada pencapaian tujuan organisasi. Berdasarkan cakupan entitas, temuan ketidakefektifan barang/jasa dalam pengadaan empat terdapat dalam

jenis entitas, yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan

Tabel ketidakefektifan hasil pengadaan barang/jasa

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 101

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

BUMN, dan perusahaan BUMD. Temuan ketidakefektifan pada pemerintah pusat sebanyak 19 kasus yang senilai Rp455.790.000.000,00. Temuan pada pemerintah

Temuan atas pengadaan barang/jasa yang menimbulkan ketidakefektifan terdiri dalam tiga bentuk kasus. Kasus “barang yang dibeli belum/tidak dapat dimanfaatkan” mendominasi munculnya ketidakefisienan dalam pengadaan barang/jasa dengan 92 kasus atau 72% dari keseluruhan kasus ketidakefektifan. Kasus “pemanfaatan barang/jasa tidak sesuai dengan rencana yang ditetapkan” sebesar 17% dengan jumlah 21 kasus. Kasus “pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak pada pencapaian tujuan organisasi” sebesar 3% dengan jumlah 14 kasus. Persentase ketiga bentuk kasus tersebut dipaparkan dalam diagram berikut ini.

daerah sebanyak 89 kasus senilai Rp123.877.030.000,00. Temuan pada perusahaan BUMN sebanyak 1 kasus senilai Rp11.990.650.000,00. Lebih lanjut, temuan pada entitas perusahaanperusahaan BUMD sebanyak 18 kasus senilai Rp6.415.850.000,00.

102 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Besarnya pengadaan

ketidakefektifan barang/jasa dalam barang/jasa dapat

dalam mencapai Mayoritas hasil terjadi

Rp118.733.000.000,00 persentase sebesar 19,85%.

dengan

Rp598.073.530.000,00. ketidakefektifan pengadaan belum/tidak

Kasus “pemanfaatan barang/jasa tidak berdampak pada pencapaian tujuan organisasi” menimbulkan ketidakefektifan penggunaan keuangan negara/daerah/ perusahaan senilai Rp12.590.000.000,00 dengan persentase sebesar 2,11%. Gambaran persentase jumlah ketidakhe-

karena kasus “barang yang dibeli dimanfaatkan” senilai Rp466.750.500.000,00 dengan persentase sebesar 78,04%. Kasus jasa yang tidak “pemanfaatan sesuai dengan barang/ rencana

matan yang memboroskan keuangan negara/daerah/perusahaan pada pengadaan barang/jasa terlihat pada diagram berikut ini.

ditetapkan”

mengakibatkan senilai

ketidakefektifan penggunaan keuangan negara/daerah/perusahaan

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 103

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Penutup
Dalam realitasnya, pengadaan barang/ jasa dalam penyelenggaraan pemerintahan dan BUMN/BUMD masih banyak terdapat pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku. Jumlah temuan kasus pengadaan barang/jasa tersebut cukup banyak dengan nominal penggunaan keuangan yang besar. Hal tersebut berdampak pada kerugian negara, potensi kerugian negara, ketidakhematan, serta ketidakefektifan. Perlu digarisbawahi bahwa temuan dan kasus-kasus yang disajikan dalam artikel ini merupakan temuan dan kasus hasil pemeriksaan BPK RI di semester II tahun 2010 untuk beberapa entitas. Dalam melaksanakan pemeriksaan ini, pemeriksa pastinya dibatasi dengan beberapa hal, seperti penggunaan uji petik (bukan memeriksa seluruh paket PBJ yang ada), waktu, biaya, dan hal lainnya, termasuk jenis Diharapkan seluruh entitas atau organisasi pemerintah akan turut memperbaiki sistem pengadaan barang/jasa di internalnya sendiri, mulai dari proses perencanaan, laporannya. pelaksanaan, pengawasan, hingga ke pemanfaatan, dan pepemeriksaan yang dilakukan, karena dalam IHPS II/2010 ini tidak ada satu pun pemeriksaan khusus pengadaan barang/jasa pemerintah. Untuk itu, bisa jadi masih banyak kasus yang terjadi yang tidak masuk dalam perhitungan artikel ini. Diharapkan ke depan penerapan peraturan baru pengadaan barang/jasa pemerintah yang tidak hanya mengubah proses tetapi juga sistemnya, akan memperbaiki kinerja dan mereformasi sistem pengadaan barang/jasa sehingga pada akhirnya akan menekan jumlah pelanggaran terhadap ketentuan dan/atau peraturan yang berlaku. Perlu diingat pula, bahwa dalam

melaksanakan pemeriksaan di semester II tahun 2010 ini, sebagian besar entitas masih belum menerapkan Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010. Meski begitu, dari jenis penyebab kasus pengadaan yang ada, pembenahan yang tinggi barang/jasa bila tidak sistem dari pemerintah dilakukan pengendalian pelaksana

intern dan integritas serta kepedulian para pengadaan barang/jasa pemerintah.

104 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Daftar referensi
Badan Pemeriksa Keuangan RI. 2011. Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester II Tahun 2010. Jakarta: Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. Dimitri, Nicola, Gustavo Piga, dan Giancarlo Spagnolo. 2006. Handbook of Procurement. Cambridge: Cambridge University Press. Hermawan. 2010. Peluang Usaha di Sektor Pengadaan. Diambil dari http://www.lkpp.go.id/v2/ contentlist-detail.php?mid=537 0678244&id=8433031618 yang diakses pada tanggal 2 Agustus 2011.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 105

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

106 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

TENTANG PENULIS

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 107

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

CURRICULUM VITAE
Senator Nur Bahagia

Senator Nur Bahagia, lahir di Pekalongan, Jawa Tengah pada 31 Maret 1954. Pendidikan dasar, ia selesaikan di SD Kesesi Pekalongan. Setelah lulus dari SMP III pekalongan dan tamat dari SMA Negeri Pekalongan. Kemudian ia melanjutkan sekolah di Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengambil jurusan S1 teknik industri. Di tahun 1981, ia berhasil meraih gelar magister di bidang Manajemen Produksi dari Universitas d’Aix Marseille, Prancis. Dan pada tahun 1985, mendapatkan gelar doktor bidang Produksi dan Sistem logistik pada universitas yang sama. Sempat menjabat sebagai Deputi Pusat Pelatihan Penyusunan Pengadaan pada Institut Teknologi Bandung (yang didirikan oleh Bank Dunia), Koordinator Tim Sistem Pengembangangan Pengadaan Universitas Indonesia pada Direktorat

Jenderal Pendidikan Tinggi, dan Sebagai anggota dalam Pengembangan Konsep Sistem e-Purcashing LKPP, dan masih banyak lagi. Banyak karya tulisnya yang telah dipublikasikan, diantaranya adalah “ Optimization model for integrating production lot and scheduling in job shop manufacturing”, terbit pada Jurnal TMI 19 (1), April 1999, “Design of sugar distribution system in Indonesia”, Proceeding of National Seminar on Industrial Policy, Bandung, 2000, dan “An Integrated Approach on Model Building”, Proceeding of Industrial Planning and Policy, 2005. Ia dapat dihubungi melalui email dengan alamat: senatornurb@yahoo.co.id.

108 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

CURRICULUM VITAE
Dr. Agus Prabowo

Dr. Agus Prabowo, dilahirkan pada tahun 1959 di Yogyakarta. Ia menyelesaikan S1 jurusan arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1984. Pendidikan S2 dan S3, ia selesaikan pada tahun 1985 di Universitas Hokaido, Jepang. Di 2007, ia tercatat sebagai alumni Lemhanas PPRA-40. Banyak pengalaman kerja yang ia miliki sejak tahun 1984, diantaranya pernah bekerja di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), BAPPEDA Provinsi Sulawesi Tenggara, sebagai Direktur Utama PDAM Kabupaten Kendari, Dewan Pengembangan kawasan Indonesia Timur, Direktur Utama Sumber Daya Alam dan Direktur Peninjauan Kinerja Pembangunan Daerah pada Bappenas, Deputi Pengembangan Strategi dan Kebijakan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Peme-

rintah (LKPP), dan kini mengabdi sebagai Deputi bidang Pengembangan dan Pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM) di LKPP.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 109

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

CURRICULUM VITAE
Agus Kuncoro

Agus Kuncoro (GusKun), lahir di Bojonegoro pada tanggal 16 Agustus 1971. Ia menempuh pendidikan kedinasan di Program Diploma III Keuangan Spesialisasi Bea dan CukaiAngkatan 6, lulus tahun 1993. Pendidikan Strara 1 baru diselesaikan tahun 1999 saat lulus dari Program Studi Administrasi Niaga Universitas Terbuka dan lulus dari Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro tahun 2000. Sejak 1 Januari1992 sampai dengan saat ini, menjadi PegawaiNegeriSipil (PNS) pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Mempunyai pengalaman dipekerjakan pada Badan Pelaksanan BRR-NAD-Nias pada tahun 2005-2008. Selama bertugas di 2 instansi tersebut, beberapa kali menduduki jabatan yang terkait dengan Pelaksanaan APBN, mulai dari Benda-

harawan, Pejabat Penguji Tagihan/Penandatangan SPM, Panitia Pengadaan, PPK dan KPA. Saat ini menjabat sebagai Pejabat Pembuat Komitmen pada Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I. GusKun memiliki Sertifikat Ahli Pengadaan Tingkat Pertama/Dasar, anggota Ikatan Ahli Pengadaan Indonesia (IAPI) dan memiliki sertifikat sebagai Pelatih/Narasumber Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. GusKun beberapa kali menjadi pelatih/narasumber Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah di lingkungan Instansi Pusat, Pemerintah Daerah dan Perguruan Tinggi. Buku Pengadaan pertama yang diterbitkan adalah Cara Benar, Mudah dan Jitu Menang Tender Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (2011).

110 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

CURRICULUM VITAE
Samsul, S.Sos

Samsul, dilahirkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada tanggal 17 Juli 1975. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya pada tahun 1988 dari SDN Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Pada tahun 1991, lulus dari SMPN 10 banjarmasin dan berhasil menamatkan sekolahnya di tingkat menengah atas di SMAN 70 Banjarmasin pada 1994. Ia berhasil menyelesaikan Pendidikan S1 pada program studi Administrasi Niaga FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin di 2001. Dan dari tahun 2010, ia tercatat sebagai mahasiswa S2 Magister Ilmu Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Sejak tahun 2006, ia tercatat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) Pemerintah Kabupaten Banjar. Sebelumnya, ia sempat menjadi staf Litbang dan Redaksi pada Banjarmasin Post Group Banjarmasin, staf redaksi Majalah Pilar Jakar-

ta, dan sebagai tenaga honor Bappeda Pemerintah Kabupaten banjar. Tercatat beeberapa karya tulis yang pernah ia publikasikan, diantaranya adalah Filosofi ‘e’ Dalam Government, Penting dan Tidak Penting ala Onno dan Drucker, Kunci Sukses Membangun Sistem eProcurement, Kunci Sukses Membangun Sistem eProcurement, eProcurement dan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat ‘Daerah’, eProcurement yang “Membingungkan, Indonesia Menuju Satu Aplikasi eProcurement, Mungkinkah?, dan yang terbaru Pembangunan Terjebak Harga, kesemuanya termuat dalam rubrik Opini rutin pada Harian Banjarmasinpost- Kalsel. Semua karya tulisnya dapat dibaca melalui blog pribadinya di http:// samsulramli.wordpress.com.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 111

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

CURRICULUM VITAE
Maslani

Maslani, lahir di Pati pada tanggal 11 Februari 1976. Pada tahun 1998, ia berhasil menyelesaikan kuliah D3 dalam bidang akuntansi di STAN Jakarta dan dilanjutkan mengambil program S1 Akuntansi pada instansi yang sama, lulus pada tahun 2000. Pendidikan terakhir yang ia ambil adalah S2 di bidang Magister Ekonomika Pembangunan FEB UGM pada tahun 2008. Ia lulus dengan nilai IPK yang sangat memuaskan yaitu 3,93, dengan judul tesis “Konsentrasi Manajemen Aset dan Penilaian Properti. Saat ini ia bekerja sebagai trainer atau widyaiswara pada PUSDIKLATWAS BPKP sejak tahun 2008. Pengalaman kerja sebelumnya adalah sebagai Perwakilan BPKP Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2006, pada 2004 bekerja sebagai auditor senior di PUSDIKLATWAS BPKP , dan dari tahun 2001-

2004 sebagai auditor ahli pada BPKP Provinsi Sulawesi Tengah. Maslani memiliki sertifikasi sebagai akuntan dengan Register Negara No.D -27.081. dengan sertifikat yang dimilikinya, mulai tahun 2010, Ia tercatat sebagai dosen akuntansi STAN Jakarta dan sebagai instruktur pada Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Selain itu juga, pada 2008-2009 sempat mengajar di STIE Niaga, 2006-2008 mengajar di Pusat Ppengembangan akuntansi (PPA) UGM, dan pada rentang tahun 2004-2006 mengajar akuntansi di tiga instansi pendidikan sekaligus, yaitu di Universitas Juanda, LP3I Bogor, dan STIE BINA NIAGA. Kontak yang dapat dihubungi adalah m_maslani@yahoo. com.

112 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

CURRICULUM VITAE
Iwan Iswanto Hardian

Iwan dilahirkan di Jember, Jawa Timur pada 25 October 1974. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya pada tahun 1987di Malang. Masih di kota yang sama, Ia berhasil menamatkan sekolahnya di tingkat menengah bawah dan menengah atas. Kemudian Ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN) dengan mengambil jurusan Akuntansi dan berhasil menyelesaikannya pada 1996. Gelar Sarjana dan Master Ia raih dari Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya dan Universitas Gajah Mada Jogjakarta masih di jurusan yang sama yakni Akuntansi. Sejak 1996, Ia telah tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Keuangan. Tak lama berselang pada 1998, Ia dipindahkan ke Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indone-

sia (BPK RI) hingga kini. Semenjak di BPK ia pernah mengaudit pemberian Restitusi Pajak dan Laporan Keuangan BULOG Tahun 2003 s.d 2005. Kini Ia bertanggung jawab sebagai kepala ULP di Pusdiklat BPK RI juga menjadi instruktur Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Ia pernah mengajar mengenai Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah di beberapa insititusi seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Sosial, Kementerian Perindustrian, BPK RI, Politeknik Negeri Banjarmasin, dll. Ia dapat dihubungi melalui e-mail di iwan.hardian@bpk.go.id dan hardiansf@yahoo.com.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 113

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

PETUNJUK UNTUK PENULIS

114 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

PETUNJUK UNTUK PENULIS

1. Penulisan pernah

naskah. diterbitkan

Naskah atau

yang tidak

2. Topik.

Isi

naskah

disesuaikan

dikirim ke Jurnal Pengadaan belum sedang dalam proses pengajuan untuk diterbitkan di media lain. Naskah berisi tulisan ilmiah populer bisa berasal dari ringkasan hasil penelitian,survei, yang kritis, hipotesis, atau dan gagasan orisinal seputar pengadaan mencerahkan membuka wawasan.

dengan rubrik Topik Utama yang ditetapkan redaksi dan bisa juga berisi topik bebas di luar Topik Utama. Tulisan dalam rubrik esai berisi pendalaman dna pergulatan pemikiran. Rubrik Survei berisi hasil penelitian tentang segala macam persoalan pengadaan barang/ jasa yang aktual. Rubrik Laporan Daerah berisi hasil pengamatan

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 115

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

atau penelitian tentang pengadaan barang/jasa di satu daerah tertentu di Indoenesia. Rubrik Buku berisi tinjauan buku-buku baru atau lama yang masih relevan dengan kondisi sekarang. 3. Panjang. Panjang tulisan untuk rubrik Topik Utama, Survei dan Laporan Daerah, kecuali atas kesepakatan dengan redaksi, maksimal 29.000 karakter dengan spasi (sekitar 4.000 kata) dan sudah termasuk catatan kaki; tetapi belum terhitung didalamnya esai jika ada 11.600 gambar, karakter

5. Catatan kaki. Semua rujukan pada tubuh tulisan, baik sumber yang merujuk langsung maupun tidak langsung, harus diletakkan dalam Catatan Kaki dengan urutan nama lengkap pengarang, judul lengkap sumber, tempat terbit, penerbit, tahun terbit, dan nomor halaman, kalau perlu. Rujukan dari internet harap mencantumkan halaman http secara lengkap serta tanggal pengaksesannya. Contoh-contoh Buku dengan Satu Orang Penulis Wendy Doniger, Splitting the Difference (Chicago: University of Chicago Press, 1999), hal 65. Buku dengan Dua atau Tiga Penulis Guy Cowlishaw dan Robin Dunbar, Primate Conservation Biology (Chicago: University of Chicago Press, 2000) Buku dengan Empat Orang Penulis atau Lebih Edward O Laumann et.al., The Social Organization of Sexuality: Sexual Pratices in the United States (Chicago: University of Chicago Press, 1994), hal. 225-262.

ilustrasi, bagan dan tabel. Panjang maksimal dengan spasi (tidak perlu disertai catatan kaki). Tinjauan Buku tediri dari dua versi; tinjauan pendek sekitar sekitar 11.600-14.500 23.300-29.000 karakter karakter dengan spasi dan tinjauan panjang dengan spasi. 4. Abstrak. Setiap naskah harus disertai abstrak. Panjang asbtrak maksimal 800 karakter dengan spasi dan hanya terdiri dari satu paragraf yang menggambarkan esensi isi tulisan secara gamblang, utuh dan lengkap.

116 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Buku Terjemahan atau Suntingan Srintil, The Iliad of Homer, diterjemahkan oleh Richmond Lattimore (Chicago: University of Chicago Press, 1951) Yves Bonnefoy, New and Selected Poems, disunting oleh John Naughton and Anthony Rudolf (Chicago: University of Chicago Press, 1995) Bab atau Bagian dari Sebuah Buku Andrew Wiese,”The House I Live In’:Race, Class, and African American Subruban Dreams in the Postwar United States,”dalam Kevin M Kruse dan Thomas J Sugrue (eds), The New Suburban History (Chicago: University of Chicago Press, 2006), hal. 101-102. Prakata, Kata Pengantar, atau Pendahuluan dari Sebuah Buku James Rieger,”Kata Pengantar” untuk Mary Wollstonecraft Sheley, Frankenstein; University or, of The Modern Prometheus (Chicago: XX-XXI Buku Elektronik Chicago Press, 1982) hal.

Phillip B Kurland dan Ralph Lerner (eds), The Founders’ Constitution (Chicago: University of Chicago Press, 1987), atau http://press-ubs. uch icago.edu /fou nders / (diakses tanggal 27 Juni 2006). Artikel Jurnal, Majalah, atau Surat Kabar Cetak John Maynard Smith,”The Origin of Altruism”, dalam Nature 393 (1998), hal. 639 William S Niederkorn, A Scholar Recants on His ‘Shakespeare’ Discovery”, dalam New York Times, 20 Juni 2002 (Rubrik Seni Sastra). Tesis atau Disertasi M Amundin,”Click Repetition Rate Patterns in Communicative Sounds from the Harbour Purpoise, Phocoena phocoena” (Disertasi Phd, Stockholm University, 1991), hal. 22-29,35. Makalah Brian Doyle,”Howling Like Dogs: Metaphorical in Psalm 59” Languange (Makalah

diajukan pada pertemuan internasional the Society of

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 117

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

Biblical Literature, Berlin, Jerman, 19-22 Juni 2002). Laman Evanston Public Library Board of Trustees,”Evanston Public Library Strategic Plan, 2000-2010: A Decade of Outreach,” Evanston Public Library, dalam http://www. epl.org/library/strategicplan-00.html (diakses tanggal 1 Juni 2005) Jurnal, Majalah atau Surat Kabar Maya Mark A Hlatky et.al.,”Quality-OfLife and Depressive Symptoms in Postmenapausal after Receiving Women

“The New American Dilemma: Illegal Immigration,” The Becker-Posner Blog, diposting 6 Maret 2006,dalam http;//www. becker-posner-blog.com/ archives/2006/03/the_new_ a me r ic a . h t m l#c 0 8 0 0 52 (diakses tanggal 28 Maret 2006) Surat Elektronik Surat elektronik Ibu Pengetahuan kepada Penulis, 31 Oktober 2005 Item dalam Basis Data Maya Pliny the Elder, The Natural History, John Bostock dan HT Riley (eds.), dalam the Perseus Digital Library, http://www.perseus.tufts. edu/cgi-bin/ptext?lookup= P l i n .+Nat.+1.de d ic at ion (diakses Wawancara Wawancara 2010. dengan Bapak Sukailmu, Jakarta, 1 Januari tanggal 17 November 2005)

Hormone Therapy: Result from the Heart and Estogen/Progestin Replacement Study (HERS) Trial”, dalam Journal of the American Medical Association 287, No. 5 (2002), atau http:// ja ma.a ma-a s s n.org/i s sues/v287n5/rfull/joc10108. html#aainfo (diakses tanggal 7 Januari 2004). Komentar Weblog Komentar Peter Pearson tentang

118 LKPP

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

SENARAI PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH

6. Tabel. Tabel, gambar, bagan dan ilustrasi harus mencantumkan dengan jelas nomor tabel/gambar/ bagan/ilustrasi secara berurutan, judul serta sumber data. Keterangan tabel/gambar/bagan/ilustrasi diletakkan persis di bawah tabel/gambar/bagan/ilustrasi bersangkutan. 7. Biodata. Penulis wajib menyertakan curriculum vitae dan foto diri. 8. Pengiriman. Tulisan dikirim dalam dua bentuk, yaitu 1) file elektronik dan 2) naskah tercetak (2 kopi) ditujukan kepada : a. File elektronik : humas@lkpp. go.id; gigih.pribadi@lkpp.go.id b. Naskah impin gadaan, tercetak: Redaksi SME Jurnal Tower PemPenLt.8 10. Hak cipta. Dengan publikasi lewat Jurnal Pengadaan, maka penulis menyerahkan hak cipta (copyright ) artikel secara utuh (termasuk abstrak, tabel, gambar, bagan, ilustrasi) kepada Jurnal Pengadaan, termasuk hak menerbitkan ulang dalam semua bentuk media. 9. Nomor bukti. Setiap penulis akan menerima nomor bukti penerbitan.

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav.94 Jakarta 12780.

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

LKPP 119

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->