P. 1
Kajian Daerah Rawan Tsunami

Kajian Daerah Rawan Tsunami

|Views: 131|Likes:

More info:

Published by: Muhammad Murtiza Shidqi on Jun 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2014

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Latar belakang
  • 2. TINJAUAN PUSTAKA
  • 2.1. Kondisi umum lokasi penelitian
  • 2.2. Definisi dan batasan wilayah pesisir
  • 2.3 Gelombang tsunami dan Pembangkitnya
  • 2.3.1 Pengertian dan karakteristik gelombang tsunami
  • Gambar 7. Gelombang yang terbentuk akibat deformasi
  • 2.4 Pemodelan Gelombang Tsunami
  • 2.4.1 Persamaan Penjalaran Gelombang Tsunami
  • 2.4.2 Persamaan Kontinuitas
  • 2.4.3 Deformasi Dasar Laut
  • 2.5.1 Pengertian dan Karakteristik Citra Alos
  • Gambar 10. Satelit ALOS (JAXA, 2006)
  • Tabel 1. Keterangan umum ALOS
  • Tabel 2. Keterangan umum sensor PRISM
  • Tabel 3. Keterangan umum AVNIR
  • Tabel 4. Keterangan umum PALSAR
  • 2.5.2 Digital Elevation Model (DEM)
  • 2.5.3 Metode Pansharpan Alos
  • 2.5.4 Penutupan/Penggunaan Lahan
  • 3. BAHAN DAN METODE
  • 3.1 Waktu dan lokasi penelitian
  • 3.2 Alat dan bahan
  • 3.2.1 Alat
  • 3.2.2 Bahan
  • 3.3 Metode penelitian
  • 3.3.1 Pengolahan citra awal
  • 3.3.2 Penurunan Data Elevation Model
  • Tabel 6. Informasi Sensor penuruan DEM ALOS
  • Tabel 7. Parameter Triangulasi DEM
  • 3.3.3 Pengolahan pansharpan ALOS
  • Gambar 14. Bagan alir metode pansharpan
  • 3.4 Pengolahan Pemodelan Tsunami
  • Gambar 15. Lokasi domain model
  • 3.5 Integrasi Model dan Citra
  • 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
  • 4. 1 Digital Elevation Model ( DEM)
  • Gambar 20. Lokasi pengamatan topografi Teluk Penyu (Cilacap)
  • 4.2 Pengukuran Ketinggian dari Citra ALOS
  • Gambar 22 Digital Elevation Model Kabupaten Cilacap 2D
  • Gambar 23. Perbandingan DEM ALOS dan SRTM 90
  • Gambar 24. Grafik perbandingan (a) DEM ALOS dan (b) DEM SRTM
  • Tabel 9. Perbandingan topografi survey lapangan, ALOS dan SRTM
  • Gambar 25. Digital Elevation Model Cilacap 3D (Teluk Penyu)
  • 4.3 Pansharpan ALOS
  • Gambar 26. Citra ALOS AVNIR (hasil croping)
  • Gambar 29. Penutupan/penggunaan lahan Kabupaten Cilacap
  • 4. 5 Tsunami Modeling
  • 4.5.1 Area Simulasi dan Batimetri
  • Tabel 11. Area (Domain) Topografi dan Area Batimetri
  • Gambar 31. Peta batimetri (GRID-A) Pulau Jawa
  • Gambar 33. Peta batimetri (GRID-D) Kab. Cilacap
  • 4.5.2 Sumber Gempa
  • Gambar 35. Penjalaran tsunami 7.7 SM (a) setelah 1 jam (b) 2 jam
  • 4.6 Ketinggian tsunami (Run-up Tsunami)
  • Gambar 39. Run-up tsunami 7.7 SM (Posisi -7:46: 36.6 dan 109:05:30.3 BT)
  • Gambar 40. Run-up tsunami 7.7 SM (Posisi -7:41: 28.5 LS 109: 05:31.7 BT)
  • Gambar 42. Run-up Tsunami 8.9 SM (Posisi -7:46: 36.6 dan 109:05:30.3 BT)
  • Gambar 45. Run-up Tsunami 8.7 SM (Posisi -7:41: 28.5 LS 109: 05:31.7 BT)
  • 4.7 Integrasi (Overlay) Data Penginderaan Jauh dengan Model Tsunami
  • Tabel 13. Luasan limpasan tsunami (7.7 SM) pada kelas topografi (ha)
  • Tabel 14. LuasanLimpasan Tsunami (8.9 SM) pada kelas Topografi (ha)
  • Tabel 15. Luasan limpasan tsunami (8.7 SM) pada kelas topografi (ha)
  • Gambar 52 . Area limpasan tsunami 7.7 SM di Kabupaten Cilacap
  • Gambar 53. Run-up tsunami 7.7 SM di Kabupaten Cilacap
  • Gambar 54. Area limpasan tsunami 8.9 SM di Kabupaten Cilacap
  • Gambar 55. Run-up tsunami 8.9 SM di Kabupaten Cilacap
  • Gambar 56. Area Limpasan Tsunami 8.7 SM di Kabupaten Cilacap
  • Gambar 57. Run-up tsunami 8.7 SM di Kabupaten Cilacap
  • 4.8 Penentuan Daerah Rawan Tsunami Kabupaten Cilacap
  • Gambar 59 . Luasan area kelas topografi pada tiap Desa di Kab. Cilacap
  • 5. KESIMPULAN DAN SARAN
  • DAFTAR PUSTAKA

KAJIAN DAERAH RAWAN BENCANA TSUNAMI BERDASARKAN CITRA SATELIT ALOS DI CILACAP, JAWA TENGAH

Oleh : Agus Supiyan C64104017

Skripsi

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ii

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul:

KAJIAN DAERAH RAWAN BENCANA TSUNAMI BERDASARKAN CITRA SATELIT ALOS DI CILACAP, JAWA TENGAH adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah dilakukan sebelumnya oleh pihak lain baik di perguruan tinggi IPB maupun perguruan tinggi yang lain. Data yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini merupakan data yang diperoleh dari hasil penelitian dan pengamatan yang telah dilakukan. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, September 2008

Agus Supiyan C64104017

iii

RINGKASAN AGUS SUPIYAN. Kajian Daerah Rawan Tsunami Berdasarkan Citra Satelit ALOS di Cilacap, Jawa Tengah. Dibimbing oleh VINCENTIUS P. SIREGAR dan ITA CAROLITA. Bencana tsunami yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2006 di Pantai Pangandaran melanda wilayah daratan Pulau Jawa termasuk daerah pesisir Cilacap yang menyebabkan kerugian baik secara material maupun non material yang sangat besar. Hal ini disebabkan karena Pantai Cilacap yang dekat dengan lempengan tektonik yang terus selalu bergerak. Penelitian ini dilakukan sebagai simulasi serta prediksi area limpasan tsunami disekitar pesisir Pantai Kabupaten Cilacap berdasarkan analisis penginderaan jauh dengan metode integrasi pemodelan tsunami dengan data ALOS (Advanced Land Observing Satellite). ALOS adalah satelit pemantau lingkungan yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pemantauan bencana alam dan memiliki resolusi spasial yang tinggi dan bersifat stereo. Sensor PRISM (Panchromatic Remote-Sensing Intsrument for Stereo Mapping) adalah sensor optis yang mempunyai kemampuan untuk menghasilkan citra stereo yang dapat diproses lebih lanjut untuk menghasilkan DEM. Saat ini kajian DEM digunakan untuk menghasilkan berbagai informasi, seperti : peta kontur, kemiringan lahan dan animasi 3D. Informasi tersebut sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan program kegiatan pemetaan lahan dan manajemen bencana tsunami. Digital Elevation Model (DEM) yang digunakan pada penelitian ini untuk menentukan daerah rawan tsunami di Cilacap, Jawa Tengah berdasarkan kondisi topografinya. Penentuan daerah rawan tsunami berdasarkan penggunaan lahannya diperoleh dengan cara penggabungan (overlay) antara model tsunami dengan peta penutupan/penggunaan lahan Kabupaten Cilacap yang berasal dari citra ALOS. Penggunaan metode pansharpan adalah cara untuk meningkatkan informasi pengkelasan yang lebih banyak dan akurat . Model Tsunami Universitas Tohoku menggunakan data DEM sebagai salah satu faktor yang menentukan seberapa jauh tsunami dapat menjangkau daratan. Selain DEM, faktor batimteri, serta kekuatan gempa turut mempengaruhi tinggi dan limpasan tsunami yang dihasilkan. Pemilihan skenario gempa yang digunakan model tsunami ini yaitu 7.7 Mw, 8.7 Mw, serta 8.9 Mw bertujuan untuk mengkaji seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan pada tiap skenario gempanya. Tiga skenario gempa yang dapat menghasilkan tsunami yaitu 7.7 Mw, 8.7 Mw, serta 8.9 Mw menggenangi beberapa desa pesisir di Kabupten Cilacap. Desa Tegal Kamulyan adalah Desa rawan tsunami dengan tingkat kerusakan yang paling besar yaitu 7.87 ha pada skala gempa 7.7 Mw, 120.914 ha pada skala gempa 8.7 Mw, dan 142.513 ha pada skala gempa 8.9 Mw. Hal ini disebabkan landainya topografi dan tipe penggunaan lahan yang padat pemukiman dibandingkan dengan desa lain yang terkena limpasan tsunami.

JAWA TENGAH Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor Oleh : Agus Supiyan C64104017 PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .KAJIAN DAERAH RAWAN BENCANA TSUNAMI BERDASARKAN CITRA SATELIT ALOS DI CILACAP.

DEA NIP. Ir. Siregar. Indra Jaya. Vincentius P. 131 471 372 Ir.Sc NIP. 300 001 380 Mengetahui. Dosen pembimbing Pembimbing I Pembimbing II Dr. Ir.SKRIPSI Judul Skripsi : KAJIAN DAERAH RAWAN BENCANA TSUNAMI BERDASARKAN CITRA SATELIT ALOS DI CILACAP. M. Dr. M. 131 578 799 Tanggal lulus : 12 September 2008 . Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Prof.Si NIP. Ita Carolita. JAWA TENGAH Agus Supiyan C64104017 Nama Mahasiswa Nomor Pokok : : Disetujui.

Akhir kata. Skripsi ini dibuat agar dapat mengkaji daerah rawan tsunami di Pantai Selatan Kabupaten Cilacap. Bogor. DEA dan Ir. yang selalu membimbing selangkah demi selangkah sehingga skripsi dengan judul ”Kajian Daerah Rawan Bencana tsunami Berdasarkan Citra Satelit ALOS di Kabupaten Cilacap. semoga skripsi ini dapat berguna bagi pihak – pihak yang berkepentingan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr.vi KATA PENGANTAR Puji dan syukur pada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia. Vincentius P. Si selaku komisi pembimbing serta Ir. Penentuan daerah rawan tsunami melalui integrasi antara data penginderaan jauh yaitu ALOS dengan model tsunami Tohoku berdasarkan area limpasannya (inundation). Aris Subarkah. Siregar. JAXA dan LAPAN yang telah memberikan izin dalam hal penggunaan data. MT selaku pembimbing lapangan. dan dapat diimplementasikan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. dan membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini. JawaTengah” dapat terselesaikan. Ita Carolita. Jawa Tengah berdasarkan tiga skenario gempa. Semua pihak yang telah memberi masukan. M.Ir. September 2008 .

6. Penulis . Nabi Muhammad SAW. Irma.vii UCAPAN TERIMA KASIH Skripsi ini tidak lepas dari bantuan banyak pihak yang membimbing dan mendorong serta memberikan dukungan pada penulis untuk dapat menyelesaikannya. Imam (Ra). Vincentius P. Indra Gunawan S. 9. Asep.. 8. Aris Subarkah. Seorang wanita yang akan selalu dalam mata. 5. oleh karenanya penulis ucapkan terima kasih kepada : 1. M. dan hati penulis. yang telah banyak memberi masukan dan bimbingan. dan anggota keluarga lain yang selalu mendoakan saya . Asep (Men) dan Budi yang selalu menjadi bagian dalam cerita hidup penulis. 2. 7. Siregar. Ela. Ir. Ita Carolita. Teman-teman ITK 41 yang telah memberi semangat dan dukungan. Dosen pembimbing lapang.Ir. Dosen pembimbing pembimbing skripsi. Bayu (Al). Semua anggota keluarga.Si.Si. atas segala bimbingan dan arahan pengolahan di bidang tsunami modelling sehingga terselesaikannya skripsi ini. 12. 3. Dr. atas karunia dan rahmat Nya menuntun setiap hamba Nya ke jalan kebenaran.sahabatku : Guntur dan Dody (P2b).T. Sahabat. Allah SWT. atas segala bantuan dan bimbingan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. 4. pikiran. suri tauladan bagi saya dan kita sebagai umatNya. M. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini. Ayahanda Sumarna dan Ibunda Aminah. DEA dan Ir. Pihak BMG. Dion (Mil).

..............................................3.................... 3........................................................1.........5 Faktor-faktor kerawanan tsunami ......4 Pengolahan penutupan/penggunaan lahan ........................ 3.. 2..................................................................................4 Pengolahan Pemodelan Tsunami ........... ........... Pengertian dan karakteristik citra ALOS . 2......1 Pengolahan citra awal ....... Persamaan kontinuitas ...... 3.........3 Pengolahan pansharpan ALOS .................... Persamaan penjalaran gelombang tsunami .....3... 3....4.. TINJAUAN PUSTAKA ..............2 Penurunan data elevation model ........................................ 2.viii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN ...... 2..........2 Alat dan bahan ..................................4........................................................1 Pre-processing (pengolahan awal) .................................. 2...4..3 Gelombang tsunami dan Pembangkitnya ...... 2................................1 Latar belakang ...........................3......... 2...........4...............................4........................................... 3..................1. 2.................... 3.. xi ....... Digital Elevation Model (DEM) . x ....2.................. PENDAHULUAN .....5.......3...........5.......................................... 2.................................................................... 2.................................... BAHAN DAN METODE .2 Definisi dan batasan wilayah pesisir ..................2.1.4.............................2.............................................1 Waktu dan lokasi penelitian ...................................................................1 Kondisi umum lokasi penelitian ............1 Alat ...4....5 Integrasi model dan citra .........................2 Bahan . Penutupan/penggunaan lahan ...................... 3..... 1... 2.2...................................................................3........2 Tujuan ..... 2.3..................................................... xiv 1 1 2 3 3 5 7 7 9 13 14 16 17 17 18 19 22 24 26 31 31 32 32 33 33 34 34 39 39 41 43 47 50 51 1... 3.......... 3............................................... 3.................... 3..................... 2...................................................................... 1.3..........................................5................ Metode pansharpan ALOS ......................................... 2..4 Pemodelan gelombang tsunami .......................... Pembangkit tsunami ...3.........3..........5........... 3................................3 Metode penelitian .......................2 Processing (pacu model) ........................... 3............................................................................................................................................................ 2. Deformasi dasar Laut ............ Faktor-faktor penyebab tsunami .......................2...................3.............................. 3........... 2...................................................... Pengertian dan karakteristik gelombang tsunami ………...............3 Post-processing (interpretasi) .. 3...................

... 4....................................................................................................... 4..............................................................2 Pengukuran ketinggian dari citra ALOS .......1 Area simulasi dan batimetri ...........................................................3 Pansharpan ALOS ...................2 Limpasan tsunami pada Land Use ...........5 Tsunami modeling .............................................1 Limpasan tsunami dan DEM ..........7............ 4...... 4......................... KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 54 54 57 64 67 70 70 75 77 83 89 89 93 99 107 ........................................5..7.................... 4...................................................................................................... 4............................................................7 Integrasi (overlay) data penginderaan jauh dengan model tsunami.................6 Ketinggian tsunami (run-up tsunami) .. 4.. 114 ....7................................................... 4...........3 Area genangan tsunami ........................................ 4.......ix 4..........5.................3 Limpasan tsunami di desa/kecamatan .................... 4......... 117 .......................... 112 .................. 137 RIWAYAT HDUP ............... 4.................... 4........... HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................... 4........................................................................8 Penentuan daerah rawan tsunami Kabupaten Cilacap ..............5......... 4.....2 Sumber gempa ...1 Digital Elevation Model (DEM) ... 5....4 Peta penutupan/penggunaan lahan .....................................

.....7 SM) dan pada tipe penggunaan lahan (ha) ....................... ............................................................ Area (domain) topografi dan area batimetri 12.................... ........................... Keterangan umum ALOS Keterangan umum AVNIR Keterangan umum PALSAR ............. Luasan area limpasan tsunami (7...................7 SM) pada kelas topografi (ha) 16................... 8....................................... Parameter gempa .............. Luasan limpasan tsunami (8.......................... ............. ....................................9 SM) dan pada tipe penggunaan lahan (ha) ... 6 7............ Area Limpasan tsunami (8................... ................. ... ..x DAFTAR TABEL Halaman 20 20 21 22 28 38 38 56 62 62 71 75 90 91 92 94 96 98 99 103 106 1....9 SM) pada kelas topografi (ha) 15.....7 SM) pada Desa/Kecamatan (ha) 20.................... ALOS dan SRTM ... ............................................. Area limpasan tsunami (7.... ............................ . 5.................................... Posisi pengukuran topografi (survey LAPAN dan BPPT) Perbandingan topografi survey lapangan.............................7 SM) pada kelas topografi (ha) 14......................................... 11.. ....... 19.....7 SM) pada Desa/Kecamatan (ha) .. 13.......... 4........ .................... .............7 SM) dan pada tipe penggunaan lahan (ha) . Keterangan umum sensor PRISM Ukuran minimum unit penggunaan lahan Informasi sensor penurunan DEM ALOS Parameter triangulasi DEM ... 18................................ Data statistik perbandingan topografi .......... 9.......................... Luasan area limpasan tsunami (8.....9 SM) pada Desa/Kecamatan (ha) 21................ Luasan limpasan tsunami (8................................ 2.... Area Limpasan tsunami (8...... 3........................ Luasan limpasan tsunami (7........................... Luasan area limpasan tsunami (8........ 10....... 17.................................

............................................................................... .................... 4 . .......... 9...... dip................ ............... Citra ALOS AVNIR (hasil croping) 27.......................... 17.. Peta lokasi penelitian ....................... .............................. ........................................... ....... Diagram alir keseluruhan penelitian 21.................. dan arah slip 7...................... .......................... Lokasi pengamatan topografi Teluk Penyu (Cilacap) 22.......... ...................... Jawa Tengah 2......................... Prinsip pengukuran DEM dengan sifat paralak satelit 14... Perbandingan DEM ALOS dan SRTM 90 .................. ......... Lempeng-lempeng tektonik Indonesia 5............................. ............ ................................................................................ Lokasi Kabupaten Cilacap........................ Jenis-jenis patahan 4................. Pembuatan domain ......... Sejarah tsunami Indonesia 18........ Model bidang sesar dalam kerangka model penjalaran gelombang 11............. Digital Elevation Model Cilacap 3D (Teluk Penyu) 26............................ ...................... ........................ ................................................... 28.......................... Skema numerik beda hingga 10.......... 6 Parameter orientasi sesar strike......................... 13................. Perbandingan panjang gelombang tsunami 3..... ........ Penutupan/penggunaan lahan Kabupaten Cilacap ....... Citra ALOS pansharpan (PRISM-AVNIR) 30....................... 8 10 11 11 13 14 15 18 19 23 31 35 41 43 47 48 49 53 55 58 59 61 61 63 64 65 66 68 71 1....... Gelombang yang terbentuk akibat deformasi 8............................................................................................... ALOS PRISM-Nadir (hasil croping) ............ Bagan alir metode pansharpan 15...... ........................... ............. Grid area batimetri dan topografi 29................................................................................... Lokasi domain model 16. Digital Elevation Model Kabupaten Cilacap 2D 23............. ...............xi DAFTAR GAMBAR Halaman . .. ... Perbedaan DEM dan DTM dan DSM ...... Bagan alir proses pacu model (running) tsunami modelling 19..................... Grafik perbandingan (a) DEM ALOS dan (b) DEM SRTM 25................................................ 2006) 12................ Citra ALOS PRISM 20.................................. Sejarah gempa tsunami tahun 1973-2007 ............................ ................. Satelit ALOS (Jaxa......................................... 24.............................. ...............

.......7 SM (a) setelah 1 jam (b) 2 jam 38.... Run-Up tsunami 8.....9 SM pada Penggunaan/Penutupan Lahan di Kabupaten Cilacap .7 SM (posisi -7:41: 28................................ Run-up tsunami 8..........9 SM di Kabupaten Cilacap 57.......9 SM (a) setelah 1 jam (b) 2 jam 37...........3 BT)….7 BT) .....7 SM (posisi -7:46: 36... Maksimum run-up tsunami .....7 SM di Kabupaten Cilacap ................................... . 50....5 LS dan 109: 05:31. ..................7 SM (posisi -7:41: 28....... Run-up tsunami 8. .....9 SM (posisi -7:41: 28...... 44............6 LS dan 109:05:30..................... 40..7 SM ........5 LS dan 109: 05:31.. Kalsifikasi perairan Indonesia (Sumber : TNI AL.......... .. .......... Cilacap 34........ Peta batimetri (GRID-D) Kab. . Run-up tsunami 8.... Penjalaran tsunami 7............ ...... 42....................................... ........7 SM di Kabupaten Cilacap 54....................6 LS dan 109:05:30......... Area Limpasan tsunami 8...................7 SM (posisi -7:46: 36...... 51. Run-up tsunami 7.......... 46..5 LS dan 109: 05:31...7 SM di Kabupaten Cilacap 55... Area Limpasan Tsunami 8.. Area limpasan tsunami 8..7 SM pada penggunaan/penutupan lahan di Kabupaten Cilacap .............................. 49............... Luasan area kelas topografi pada tiap Desa di Kab.. 72 73 74 76 78 79 80 82 84 84 85 86 86 87 88 89 90 92 89 95 97 99 100 102 104 105 107 108 108 32....... Run-up tsunami 7................ 39...........7 SM di Kabupaten Cilacap 53..............7 BT)… 41.......9 SM 48.............. Penjalaran tsunami 8............................ Luasan area kelas penggunaan lahan pada tiap Desa di Kab........ Penjalaran tsunami 8.... Run-up tsunami 8.... Run-up tsunami 8... Run-Up tsunami 7.......... 52. Penjalaran tsunami berdasarkan waktu tempuh (arrival time) .. Cilacap.....3 BT)… 43.............................................. ... ............. DEM dan limpasan tsunami 7... DEM dan limpasan tsunami 8.......................7 SM pada Penggunaan/Penutupan Lahan di Kabupaten Cilacap .............xii 31.. Area Limpasan Tsunami 8.. 59.... 58..... DEM dan limpasan tsunami 8.......................6 LS dan 109:05:30...................................... 2005) 35.... Cilacap ...7 SM 47... Area limpasan tsunami 7.. Peta batimetri (GRID-A) Pulau Jawa 33.................... ........ ..............9 SM di Kabupaten Cilacap 56.......... Posisi epicenter dan kekuatan gempa ......... .....7 SM (a) setelah 1 jam (b) 2 jam 36........... Area limpasan tsunami 7................................ .....9 SM (posisi -7:46: 36.7 BT) .....3 BT) … 45.........................

.... Tingkat kerusakan limpasan tsunami 7.....9 SM 62.............7 SM ............. 109 110 111 .......................... ...xiii 60..7 SM 61........... Tingkat kerusakan limpasan tsunami 8....................... Tingkat kerusakan limpasan tsunami 8. ....

...... 7.............xiv DAFTAR LAMPIRAN 1..................9 dengan tutupan lahan . Tabel hubungan kelas topografi dengan desa ....... .................. Tabel hasil survey lapangan (track GPS dan wawancara) 4........................ 5............................ 6 Tabel hubungan skala tsunami 8...... Foto-foto kegiatan survey lapangan 3............ ................... 9..............7 dengan tutupan lahan ........7 dengan tutupan lahan ..................... Tabel pengukuran tinggi gelombang tsunami ....................... Tabel hubungan skala tsunami 8.......... Data USGS 2008 ............. .... Survey lapangan .................. Tabel hubungan skala tsunami 7.......................................... 8........................... Halaman 117 117 128 129 129 130 130 125 136 2..........................

Kabupaten Cilacap merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki pantai yang berhadapan dengan Samudera Hindia. Gempa-gempa tersebut sebagian besar berpusat di dasar Samudra Hindia dan beberapa di antaranya mengakibatkan gelombang laut besar (tsunami). Namun disamping mempunyai potensi sumberdaya yang besar. Dibandingkan dengan gempa di Amerika Serikat maka Indonesia memiliki frekuensi gempa 10 kali lipatnya. Tsunami adalah salah satu bencana alam yang senantiasa mengancam penduduk pesisir. Daerah Teluk Penyu adalah salah satu bagian dari pantai yang dimiliki Kabupaten Cilacap yang rawan terhadap bahaya tsunami karena letaknya berdekatan dengan patahan lempeng . Hal ini disebabkan karena wilayah Indonesia terletak pada daerah pertemuan empat lempeng tektonik (lempeng Eurasia.1 Latar belakang Wilayah pesisir Indonesia merupakan daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Indo-Australia. PENDAHULUAN 1. Menurut Arnold (1986) in Diposaptono dan Budiman (2005). dan lempeng Filipina) yang tiap waktu terus bergerak. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan tinggi di dunia. namun daya hancurnya yang besar membuatnya harus diperhitungkan. wilayah pesisir Indonesia juga memiliki potensi bencana yang besar. Pentingnya pesisir bagi manusia khususnya para nelayan adalah diperolehnya sumber penghidupan dari berbagai aktivitas di sekitar pesisir laut. Samudera Pasifik.1 1. Indonesia sebagai negara kepulauan secara geologis rentan terhadap bencana alam pesisir. Walaupun jarang terjadi.

2. lembaga penelitian. . Penelitian mengenai daerah rawan bencana tsunami di Cilacap ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis daerah rawan terkena bencana tsunami berdasarkan analisis menggunakan penginderaan jarak jauh dan model tsunami.2 Indo-Australia di Selatan Pulau Jawa. Tujuan Tujuan penelitian ini adalah melakukan kajian daerah rawan bencana tsunami yang difokuskan pada kajian limpasan (inundation) secara spasial dengan menggunakan Digital Elevation Model ALOS dan pemodelan tsunami di daerah pesisir Cilacap. Rendahnya tingkat akurasi topografi dari SRTM ini menyebabkan perlu adanya data topografi yang memiliki ketelitian yang lebih tinggi dari SRTM yaitu data DEM dari citra satelit penginderaan jauh. Jawa Tengah. Data topografi yang biasa dijadikan sebagai faktor kerawanan tsunami adalah data SRTM. 1. Namun penelitian mengenai daerah rawan tsunami dengan menggunakan integrasi pemodelan dan data penginderaan jauh. Penelitian mengenai daerah rawan tsunami yang berbasis penginderaan jauh saat ini sudah banyak dilakukan. Salah satu bencana tsunami yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2006 di Pantai Pangandaran melanda wilayah pesisir Cilacap menyebabkan kerugian baik secara material maupun non material yang besar. saat ini sedang dikembangkan secara aktif oleh para peneliti. dan perguruan tinggi di dunia.

namun sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. dan dari utara ke selatan 35 km yaitu dari Cilacap ke Sampang. Kedungreja. Maos. Kawunganten. Gandrungmangu. sedangkan kelurahan terdiri dari 3 kecamatan (Gambar 1). Wanareja. . Binangun.1. Kesugihan.3 2.109°30’30”BT.360. Jeruklegi.840 ha. Cipari. Kabupaten Cilacap terbagi menjadi 24 kecamatan dengan jarak terjauh dari barat ke timur 152 km dari Dayeuhluhur ke Nusawungu. Sidareja. Cilacap dulunya merupakan Kota Administratif. TINJAUAN PUSTAKA 2.07°45’20” LS dan 108°04’30” BT . Cimanggu. dan Cilacap Selatan. Berikut adalah kecamatan-kecamatan yang tersebar di Kabupaten Cilacap ini : Dayeuhluhur. Kroya. Karang pucung. 2005). Kondisi umum lokasi penelitian Daerah penelitian berlokasi di Pantai Selatan Cilacap Jawa Tengah. Desa-desa tersebar di 21 kecamatan. dengan luas wilayah 225. Nusawungu. Sampang. Posisi geografis Kabupaten Cilacap berada antara 07°30’00” LS . tidak dikenal adanya kota administratif. Adipala. Patimuan. dimana meliputi kecamatan Cilacap Utara. Kampung laut ( BAPPEDA Cilacap. Majenang. Sedangkan batas-batas wilayah kabupaten Cilacap ini adalah sebagai berikut : Sebelah utara Sebelah selatan Sebelah timur Sebelah barat : Kabupaten Brebes dan Kabupaten Banyumas : Samudera Hindia : Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Kebumen : Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar Ibukota Kabupaten Cilacap adalah Cilacap. Bantarsari. Cilacap Tengah.

2007). . timur. Sedangkan bagian selatan merupakan dataran rendah.347 meter). Lokasi Kabupaten Cilacap. Diantara kota-kota kecamatan yang cukup signifikan di Kabupaten Cilacap adalah: Majenang. dan Kroya. Luas wilayahnya sekitar 6. Sampang. Bagian utara adalah daerah perbukitan salah satu puncaknya adalah Gunung Pojoktiga (1.142. 2005) Kabupaten Cilacap merupakan kabupaten terluas di Jawa Tengah. Gambar 1.57 Km2 atau lebih kurang 225. Kawasan hutan menutupi lahan Kabupaten Cilacap bagian utara.146 meter. membuat kabupaten ini memiliki dua kode telepon (Wikipedia. Jawa Tengah (BAPPEDA Cilacap.6% dari total wilayah Jawa Tengah yaitu sekitar 2.84 Ha diatas ketinggian 0 – 1. Karangpucung. Majenang menjadi pusat pertumbuhan kabupaten Cilacap di bagian Barat sedangkan Kroya dan Sampang menjadi pusat pertumbuhan di Bagian Timur.4 dan Kota Administratif Cilacap kembali menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Cilacap.360. Begitu luasnya. Sidareja.

Kabupaten Cilacap termasuk zona B yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi dengan periode ulang sekitar 10-15 tahun.908 jiwa yang terdiri dari laki-laki 855. dan perembesan air asin.5 dan selatan. Dan pantai adalah . Definisi dan batasan wilayah pesisir Wilayah pesisir adalah suatu daerah pertemuan antara darat dan laut. I bukota kabupaten Cilacap berada di tepi pantai Samudera Hindia. angin laut. 2007). Penduduk Kabupaten Cilacap setiap tahun terus bertambah.69 persen. Berdasarkan hubungan antara tsunami dan karakteristik seismotektonik. menurut hasil registrasi penduduk pada akhir tahun 2004 mencapai 1. Diposaptono (2005) membagi ke dalam enam zona seismotektonik. sedangkan kearah laut wilayah pesisir mencangkup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar.2.070 jiwa. Bagian barat daya terdapat sebuah inlet yang dikenal dengan Segara Anakan. Di sebelah selatan terdapat Nusa Kambangan.20 persen).31 persen). baik kering maupun terendam air yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut. dan terendah pada tahun 2004 (0. yang memiliki Cagar Alam Nusakambangan. dimana ke arah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan. dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2000 (1.709. maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran. Pertumbuhan ini merupakan pertumbuhan penduduk yang terendah sejak tahun 1984 (Wikipedia. Selama 5 tahun terakhir rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun sebesar 0. 2.838 jiwa dan perempuan 854.

Sedangkan menurut Diposaptono (2005) pengertian daerah pesisir merupakan daerah yang memiliki dua macam batas (boundaries). pengaruh gelombang dan arus laut (Triatmodjo. kearah darat dibatasi oleh pengaruh sifatsifat fisik laut dan sosial ekonomi bahari. 1999). . 1999).6 daerah di tepi perairan yang dipengaruhi oleh air pasang tertinggi dan air surut terendah (Triatmodjo. yang memiliki ciri geosfer yang khusus. yaitu : batas yang sejajar dengan garis pantai (longshore) dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai (cross-shore). namun terdapat kesepakatan umum di dunia bahwa wilayah pesisir adalah wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Pertemuan antara air laut dan daratan ini dibatasi oleh garis pantai (shore line). Walaupun demikian sampai sekarang belum ada definisi wilayah pesisir yang baku. Penelitian ini menggunakan batasan pesisir yang ditinjau untuk kepentingan pengelolaan wilayah rawan tsunami Kota Cilacap. Pertimbangan tersebut diambil berkaitan dengan pendekatan spasial yang digunakan dalam penelitian ini untuk identifikasi dan analisis daerah limpasan tsunami. sedangkan ke arah laut dibatasi oleh proses alami serta akibat kegiatan manusia terhadap lingkungan di darat Pada bentang lahan pesisir (coastal landscape) tercakup perairan laut yang disebut dengan pantai atau tepi laut. Wilayah pesisir adalah suatu jalur saling pengaruh antara darat dan laut. yang kedudukannya berubah sesuai dengan kedudukan pada saat pasang surut. adalah suatu daerah yang meluas dari titik terendah air laut pada saat surut hingga ke arah daratan sampai mencapai batas efektif dari gelombang.

Gelombang ini berbeda dengan gelombang laut lainya yang bersifat kontinyu seperti gelombang laut yang ditimbulkan oleh gaya gesek angin atau gelombang pasang surut yang ditimbulkan oleh gaya tarik benda angkasa. yakni gelombangnya bersifat sesaat. tsunami berasal dari Bahasa Jepang. Panjang gelombang tsunami dapat mencapai 240 km di laut terbuka seperti samudera pasifik dengan panjang gelombang rata-rata 4600 m dengan kecepatan gelombang mencapai 760 km/jam Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gaya impulsif ini bersifat transien. dapat dideskripsikan tsunami sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif yang terjadi pada medium laut.3 Gelombang tsunami dan Pembangkitnya 2. . Secara umum tsunami diartikan sebagai pasang laut yang besar di pelabuhan.1 Pengertian dan karakteristik gelombang tsunami Secara harfiah. Perbedaan gelombang tsunami dengan gelombang yang dibangkitkan oleh angin adalah terletak pada gerakan airnya. 2005). erupsi vulkanik. “Tsu” berarti pelabuhan dan “nami” adalah gelombang. Gelombang yang dibangkitkan oleh angin hanya menggerakan air laut bagian atas. 2005). Periode gelombang angin hanya beberapa detik (kurang dari 20 detik). Gangguan impulsif itu bisa berupa gempa bumi tektonik. Jadi.3. atau longsoran (land-slide) (Diposaptono dan Budiman. Hal diatas disetujui oleh Ingmanson dan Wallace (1973) bahwa tsunami merupakan gelombang laut yang mempunyai periode panjang yang ditimbulkan oleh suatu gangguan di laut.7 2. Sementara itu periode gelombang tsunami berkisar antara 10-60 menit (Barber. 1969 in Diposaptono dan Budiman.

Perbandingan panjang gelombang antara gelombang yang disebabkan oleh angin.gelombang tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. Kecepatan penjalaran tsunami tersebut sangat tergantung dari kedalaman laut dan penjalarannya dapat mencapai ribuan kilometer dari pusatnya. gelombang pasang surut. 2005) Ciri lainnya dari tsunami adalah panjang gelombangnya yang besar. bisa mencapai puluhan kilometer. Gambar 2. Perbedaan gelombang. dan gelombang tsunami (Diposaptono dan Budiman. kecepatan semakin berkurang karena gesekan dengan . Selama penjalaran dari tengah laut (pusat terbentuknya tsunami) menuju pantai. Kecepatan rambatnya di laut dalam (deep sea) berkisar dari 400 sampai 1000 km/jam.8 Namun pada gelombang tsunami menggerakan seluruh kolom air dari permukaan sampai dasar.

tinggi gelombang di pantai menjadi semakin besar karena adanya penumpukkan massa air akibat adanya penurunan kecepatan. Ketika mencapai pantai. Akibatnya. Dari berbagai tsunami yang pernah terjadi di Indonesia. Tsunami akibat gempa tektonik Gempa tektonik merupakan gerakan-gerakan retakan yang akan menyebabkan pergerakan vertikal massa batuan bukan pergerakan horizontal massa batuan. 2005). (Diposaptono dan Budiman.9 dasar laut yang semakin dangkal. gelombang naik (run-up) ke daratan dengan kecepatan yang berkurang menjadi sekitar 25-100 km/jam (Diposaptono dan Budiman. 2005). 2 Faktor-faktor penyebab terjadinya tsunami Terjadinya tsunami di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. 90 % disebabkan oleh gempagempa tektonik. Proses terjadinya gempa tektonik dimulai dengan adanya pergerakan dua lempeng yang saling berbatasan saling bergerak reatif terhadap sesamanya. 2. Jika proses tersebut terjadi di dasar laut maka akan menyebabkan perubahan muka laut yaitu terbentuknya puncak dan lembah gelombang yang berukuran 150 km antara puncak gelombang yang satu dengan puncak gelombang berikutnya ke segala arah. 9% disebabkan oleh gunung berapi.3. 2005). A. Berbagai pergerakan massa batuan yang disebabkan oleh gempa tektonik ini dapat dilihat pada (Gambar 3). dan 1% oleh tanah longsor (Diposaptono dan Budiman. Aktivitas tektonik yang disebabkan adanya pergerakan dua lempeng tersebut menimbulkan energi elastis yang dapat terakumulasi dari waktu ke waktu .

Sedangkan pada zona subduksi. Jenis-jenis patahan : (a) sesar turun (normal fault). 2005) Zona konvergen ditandai dengan gerakan dua lempeng yang berbatasan itu ke bawah lempeng benua. divergen. lembah. konvergen. . Batas lempeng yang terbentuk terdiri dari 3 jenis yaitu. jika gempanya berkekuatan lebih dari 6. maka tsunami akan terjadi (Diposaptono dan Budiman. 2005). Gambar 3. kedua lempeng bergerak saling mendekati karena mempunyai berat jenis sama sehingga lempeng melipat ke atas. dan pusat gempa berada pada kedalaman kurang 60 km dari dasar laut. Zona ini terdiri dari dua jenis. tumbukan dan subduksi.5 SM.10 sehingga menyebabkan pembentukan pegunungan. Secara empiris. Apabila gempa dengan patahan naik maupun turun (lebih dari beberapa meter secara mendadak dan vertikal) terjadi di laut dengan kedalaman mencapai ribuan meter. dan singgungan. (b) sesar naik (reverse fault). Pada zona tumbukan. kedua lempeng yang bertumbukkan mempunyai berat jenis yang berbeda. gunung api dan tsunami yang terletak pada batas-batas lempeng. (c) sesar horizontal (strike slip) (Diposaptono dan Budiman.

sembilan kali karena letusan gunung berapi. 2007) Berdasarkan catatan. sebanyak 98 kali tsunami disebabkan gempa bumi.11 Gambar 4. Di Indonesia sepanjang tahun 1600 sampai 2005 telah terjadi 107 kali tsunami. gempa tektonik memang menyumbang kontribusi terbesar terjadinya tsunami baik di dalam maupun luar negeri. Lempeng-lempeng tektonik Indonesia (Gunawan. Dari jumlah itu. dan satu kali oleh tanah longsor di dasar laut (Gambar 5). Sejarah gempa tsunami tahun 1973-2007 (USGS. Gambar 5. 2008) .

Berdasarkan hasil penelitian. pusat gempanya berada kurang dari 60 km dari permukaan laut (gempa dangkal). Syarat lain.5 SM.5 SM. B. . Jadi. Tsunami akibat tanah longsor Penyebab kedua terjadinya tsunami adalah adanya longsor besar yang disebabkan oleh gempa.3 Pembangkit Tsunami Tsunami yang terjadi menyebabkan fluktuasi muka laut secara mendadak berkaitan erat dengan kegiatan bumi yang terus-menerus bergerak dinamis. Selain itu gempa tersebut harus menghasilkan deformasi dasar laut secara vertikal cukup besar. jika ada gempa tektonik yang terjadi pada kedalaman lebih dari 60 km.12 Memang tidak semua gempa bisa menghasilkan tsunami. kegiatan gunung berapi. tsunami bisa terwujud jika kekuatan gempa minimal 6. Sebagian besar tsunami dibangkitkan oleh deformasi vertikal dasar laut yang berasosiasi dengan penyesaran. . Tanah longsor tersebut runtuhnya bebatuan dalam jumlah yang banyak kemudian menimbulkan gelombang dengan puncak gelombang bisa mencapai 535 meter di atas garis pantai. 2. atau longsor di dasar laut. erupsi vulkanik di bawah laut.3. gempa-gempa. lebih dari 2 meter. tidak akan menghasilkan tsunami walaupun kekuatan gempanya diatas 6.

Kedua sesar tersebut mengakibatkan perubahan kerak bumi dalam arah vertikal yang dimanifestasikan oleh komponen dip-slip yang dapat membangkitkan tsunami. dip. Dua struktur yang menimbulkan tsunami perubahan-perubahan tersebut dapat berupa struktur sesar naik (thrusting fault) atau sesar normal (normal fault).13 Parameter-paramter sesar seperti panjang dan lebar sesar. Jika lantai Samudera naik (uplift) atau turun dengan cepat . kedalaman pusat gempa. Dip (kemiringan) adalah sudut kemiringan foot wall terhadap bidang horizontal. Hal itu dapat dijelaskan karena pergerakan vertikal lantai Samudera dapat menyebabkan perubahan massa air di atas lantai Samudera yang bergerak tersebut. energi atau magnitude. dip. 2005) Strike (jurus) merupakan arah garis horizontal yang terletak pada bidang sesar. Parameter orientasi sesar strike. Rake adalah sudut pergeseran antara strike dengan garis bidang sesar. slip dan mekanisme fokus (strike. dan arah slip (Diposaptono dan Budiman. Tsunami biasanya terjadi pada gempa-gempa dangkal yang mengakibatkan reformasi pada kerak bumi yang selanjutnya memberikan pengaruh yang kuat terhadap perubahan dasar laut. dan sudut slip) adalah paramter-parameter yang utama dari sumber gempa (Gambar 6) Gambar 6.

. Manshinha dan D. Gelombang yang terbentuk akibat deformasi (L. Pemodelan tsunami adalah upaya untuk mensimulasikan penjalaran gelombang tsunami yang disebabkan oleh deformasi dasar laut (gempa). Smylie. Model-model suatu ekosistem umumnya lebih sederhana dari arti sesungguhnya. mulai dari lantai Samudera sampai permukaan. maka akan menaikkan dan menurunkan air laut dalam skala besar.E. Gambar 7. 2001).14 sebagi respon terhadap gempa bumi. Proses kegiatan yang menggunakan pendekatan sistem sebagai kerangka bahasan dikenal dengan istilah permodelan (modelling). 1971) 2.4 Pemodelan Gelombang Tsunami Model merupakan suatu abstraksi atau penyederhanan dari sebuah sistem yang lebih kompleks (Soetaert dan Herman. Pemodelan tsunami pada dasarnya bertujuan memperkirakan sebaran tinggi dan limpasan tsunami dalam ruang dan waktu.

penjalaran. Metode beda hingga yang digunakan pada model tsunami menggunakan: forward difference central difference ∂η ( x. t + Δt ) − ∂η ( x. dan run-up tsunami dapat dihitung dengan menggunakan metode beda hingga (finite difference method atau FDM).15 Pembangkitan. t ) = + o(Δt ) dan ∂t Δt (2. Jarak antara dua titik dalam arah-x adalah ∆x dan jarak antara dua titik dalam arah-y adalah ∆y. Skema numerik beda hingga (Immamura. Subskrip i menunjukkan nomor sel pada arah-x dan subskrip j menunjukkan nomor sel pada arah sumbu-y.jn dimana n adalah langkah waktu ke-n. Gambar 8.2) 1 1 ∂η (t ) ∂η (t + 2 Δt ) − ∂η (t − 2 Δt ) = + o(Δt ) ∂t Δt . Untuk fungsi yang berubah terhadap waktu serta berubah terhadap jarak. t ) ∂η ( x. 2006) Metode numerik beda hingga didasari pada persamaan matematik dalam bentuk deret yang disebut deret Taylor.1) (2.j menunjukkan nomor sel dimana variabel tersebut berada. hampiran beda mundur (backward difference) dan hampiran beda tengah (central difference). Pada dasarnya notasi numerik beda hingga sering ditulis fi. Pendekatan untuk menyelesaikan deret Taylor ini terdiri dari 3 cara yaitu : hampiran beda maju (forward difference). notasi skema numeriknya ditulis seperti fi.j dimana f adalah variabel suatu fungsi dan subskrip i.

1 Persamaan Penjalaran Gelombang Tsunami Seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Persamaan momentum dalam koordinat z dengan kondisi dinamik pada permukaan p=0 memberikan tekanan hidrostatik : P = -ρ.(z.4. dan diferensiasi. Sehingga berdasarkan pendekatan ini gerak vertikal dan partikel air tidak berpengaruh pada distribusi tekanan. dan τy A : total kedalaman yang diberikan oleh h+ η. 2006): (2.η) (2. 2. : gesekan dasar dalam arah x dan y : visikositas Eddy horizontal (konstan) . Teori ini menjelaskan bahwa percepatan vertikal air dapat diabaikan. aproksimasi. D τx.g.4) Dimana. Teori gelombang dangkal menyebutkan bahwa syarat terjadinya gelombang dangkal adalah jika nilai perbandingan antara kedalaman air yang dilalui oleh gelombang tersebut dan panjang gelombangnya lebih kecil dari 1/20. karena besarnya lebih kecil daripada percepatan gravitasi.16 Penggunaan metode beda hingga ini biasanya digunakan untuk interpolasi dalam perhitungan numerik. salah satu faktor penyebab utama tsunami adalah adanya gerakan dasar laut akibat gempa bumi yang dapat menimbulkan perairan dangkal atau gelombang panjang (long wave).3) Berdasarkan kondisi batas dinamik dan kinematika dasar maka diperoleh persamaan integrasi Teori Gelombang Dangkal ( Immamura.

persamaan kontinuitas sebagai persamaan konversi massa tiga dimensi juga mempengaruhi untuk fluida incompresible (Imammura.17 2. dan sudut kemiringan) dan dinamik (kecepatahan patahan dan pertambahan waktu dislokasi). Strike (jurus) Ф. 1971 in Abietto. Parameter-parameter bidang sesar tersebut anatara lain adalah : a.4.4. 1997 deformasi dasar laut diestimasi melalui parameter-parameter patahan.3 Deformasi Dasar Laut Menurut Manshina. Untuk menyederhanakan persamaan di atas maka diperlukan syarat batas. Sehingga hasil akhirnya adalah sebagai berikut : ∂η ∂M ∂N + + =0 ∂t ∂x ∂y (2.5) Persamaan di atas berlaku untuk dimana saja di dalam fluida. ∂η ∂u ∂v + + =0 ∂t ∂x ∂y (2. slip. lebar. Paramater patahan ini ada dua macam yaitu: parameter statik (panjang. dislokasi. 2006).6) Dimana : (2.7) Dimana M dan N adalah discharge fluks dalam arah x dan y 2.2 Persamaan Kontinuitas Selain persamaan gerak yang mempengaruhi model tsunami ini. merupakan arah garis horisontal yang terletak pada bidang sesar di ukur searah jarum jam dari arah utara serta dengan asumsi haning wall berada di sebelah kanan ( 0˚≤ Ф ≤360˚ ) .

Rake bernilai positif pada sesar naik dan bernilai negatif pada sesar normal ( -180˚≤ λ ≤180˚ ) Gambar 9. Model bidang sesar dalam kerangka model penjalaran gelombang (Abietto.18 b. Dip (kemiringan) δ adalah sudut kemiringan foot wall terhadap bidang horisontal ( 0˚≤ δ ≤90˚ ) c. seni dan teknologi untuk memperoleh informasi tentang objek daerah atau gejala yang didapat dengan analisis data yang diperoleh melalui alat tanpa kontak langsung dengan objek daerah atau fenomena yang dikaji (Lillesand dan Kiefer.5 Sistem Penginderaan Jauh Penginderaan jauh adalah ilmu. Rake (sudut pergeseran) λ merupakan sudut antara strike dengan garis bidang sesar arau slip yang merupakan arah hanging wall. 1997) 2.1990) .

ALOS dilengkapi dengan 3 instrumen penginderaan jauh : yaitu Panchromatik Remote-sensing Instrument for Stereo Mapping (PRISM) yang dirancang untuk dapat memperoleh data Digital Terrain Model (DTM). dan PhasedArray type L-band Synthetic Aperture Radar (PALSAR) untuk pemantauan permukaan bumi dan cuaca pada siang dan malam hari (Ginting et al. ALOS yang diluncurkan pada tahun 2006 adalah satelit pemantau lingkungan yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kartografi. Satelit ALOS (JAXA. pemantauan bencana alam.5.19 2. 2003) . observasi wilayah. Advanced Visible and Near Infrared Radiometer type-2 (AVNIR-2) untuk pemantauan penutup lahan secara lebih tepat. Gambar 10. 2006) ALOS singkatan dari Advanced Land Observing Satellite adalah satelit milik Jepang yang merupakan satelit generasi lanjutan dari JERS-1 dan ADEOS yang dilengkapi dengan teknologi yang lebih maju. dan survey sumber daya alam.1 Pengertian dan Karakteristik Citra Alos Pada penelitian ini data penginderaan jauh yang dipakai adalah data citra dari satelit ALOS (Advanced Land Observing Satellite).

Di bawah ini tabel karakteristik sensor PRISM : Tabel 2. Secara umum satelit ini memiliki karakteristik yang dapat dijelaskan pada tabel dibawah ini : Tabel 1. Keterangan umum ALOS Alat peluncuran Tempat peluncuran Berat Satelit Power Waktu Operasional Orbit Roket H-IIA Pusat Ruang Angkasa Tanagashima 4 000 Kg 7 000 W 3 sampai 5 Tahun Sun-Synchronous Sub-Recurr Orbit Recurrent Period : 46 hari Sub cycle 2 hari Tinggi Lintasan : 692 km di atas Equator Inclinasi : 98.2 0 Sumber : JAXA. Backward) 1.5 m dan memiliki kemampuan untuk mengambil obyek yang sama pada permukaan bumi dari 3 posisi yang berbeda.52 – 0.0 ( Forward dengan Backward) Diatas 70 0. Keterangan umum sensor PRISM Panjang Gelombang Banyaknya Optik Base to High Ratio S/N MTF Resolusi Spasial Lebar Cakupan Jumlah Detektor Sudut pengambailan Panjang Bit 0.2 atau lebih 2.20 Satelit ALOS telah diluncurkan oleh Badan Luar Angkasa Jepang (JAXA) pada bulan Januari 2006 dan telah berhasil merekam informasi permukaan bumi. Resolusi untuk high resolution mode dan ScanSAR masingmasing 10 meter dan 100 meter. 2006 Panchromatic Remote-sensing Instrumen for Stereo mapping (PRISM) adalah instrumen penginderaan jauh pada satelit ALOS dengan sensor pankromatik dengan resolusi spasial 2.77 µm 3 buah ( Forward. 2006 .5 Derajat 8 bit Sumber : JAXA. Nadir.5 m 35 km ( Triplet Mode ) 70 km (hanya pengambilan tegak) 28 000 / Kanal (lebar cakupan 70 Km) 14 000 / Kanal (lebar cakupan 35 Km) 1.

44 to +44 Derajat 8 bit S/N MTF Resolusi Lebar Cakupan Jumlah Detector Sudut pengambailan Panjang bit Sumber : JAXA. dengan memiliki kemampuan cross track pointing untuk pemantauan bencana alam. sehingga informasi permukaan bumi dapat diperoleh setiap saat. baik malam maupun siang hari.25 Kanal 4 : > 0. 2006 PALSAR merupakan salah satu sensor untuk pengamatan cuaca dan permukaan daratan pada siang dan malam hari dengan sistem yang lebih maju dari JERS-1 SAR.76 – 0. Sensor ini digunakan untuk tujuan pemetaan dan klasifikasi penutup/penggunaan lahan skala regional.42 – 0.89 µm > 200 Kanal 1-3 : > 0. Resolusi untuk high resolusion mode dan ScanSAR masing-masing 10 meter dan 100 meter.21 Advanced Vicible and Near-Imfrared Radiometer type-2 (AVNIR-2) merupakan instrumen pada satelit ALOS yang dilengkapi kanal multispektral untuk pengamatan permukaan daratan dan wilayah pesisir dengan resolusi spasial lebih baik dari AVNIR-ADEOS.50 µm Kanal-2 : 0.60 µm Kanal-3 : 0.20 10 m ( Nadir) 70 km (Nadir) 7000 / Kanal . .61 – 0. Keterangan umum AVNIR Kanal Observasi Kanal-1 : 0. Sensor Phased Array type L-band Synthetic Aperture Radar (PALSAR) ini mempunyai keistimewaan dapat menembus awan.52 – 0.69 µm Kanal-4 : 0. Tabel 3.

sedangkan warna putih memperlihatkan daerah topografi tinggi). DEM merupakan informasi ketinggian permukaan bumi yang ditampilkan dengan perbedaan warna (warna hitam memperlihatkan daerah topografi rendah. Data DEM ini dapat diperoleh dengan beberapa cara seperti dengan pengolahan berbagai peta topografi atau peta rupa bumi.BAND) 28 / 14MHz Polarimetric HH atau VV / HH +HV atau VV + VH 10 m (2 look)/ 20m(4 look) 70 Km 8-60 derajat < .2 Digital Elevation Model (DEM) Digital Elevation Model (DEM) merupakan data dijital dengan format raster yang memiliki informasi koordinat posisi (x.29 dB 3 bit / 5 bit Sumber : JAXA.5. 2006). 2006 2.23 dB (70 Km) < -25 dB (60 Km) 3 bit / 5 bit HH atau VV 100 m (multi look) 250 – 350 Km 18-43 derajat < .9 m HH+HV+VH+VV 30 m 30 Km 8 –30 derajat < . Data DEM dapat dibuat berdasarkan data titik tinggi (spot height) yang dapat diperoleh dari pengolahan foto udara. DTM merupakan informasi ketinggian dari permukaan bumi tanpa tutupan lahan diatasnya. Data ini digunakan untuk menggambarkan kondisi topografi suatu wilayah. citra satelit secara fotogrametri atau citra RADAR melalui proses interferometri.y) dan elevasi (z) pada setiap selnya.25 dB 5 bit AZ: 8. Keterangan umum PALSAR Mode Frekuensi Lebar Kanal Polarisasi Resolusi Spasial Lebar Cakupan Incidence Angle NE Sigma 0 Panjang bit Ukuran Antena Fine ScanSAR 1270 MHz (L . Namun secara konvensional DEM diperoleh melalui survey lapangan dengan menggunakan berbagai alat survey (Hajar.9 m x EL: 2. DEM berbeda dengan DTM (Digital Terrain Model) dan DSM (Digital Surface Model).22 Tabel 4. sedangkan DSM merupakan informasi tutupan lahan dari .

Pengolahan data DEM akan mengahasilkan kesalahan atau sink dari proses interpolasi yang akan berpengaruh terhadap akurasi data. Perbedaan DEM dan DTM dan DSM (Trisakti. 2006) Akurasi dari data ini tergantung dari sumber titik tinggi dan resolusi spasial suatu data DEM.2004). DEM: Digital Elevation Model DTM: Digital Terain Model DSM: Digital Surface Model Rendah Tinggi Gambar 11. Sink tersebut perlu dihilangkan agar mendapatkan data yang memiliki keakurasian data yang tinggi.23 permukaan bumi beserta tutupan lahan diatasnya misal. maka semakin tinggi akurasi data yang dihasilkan (Ermapper. . Pengolahan data DEM menggunakan data titik atau garis tinggi dapat dilakukan melalui proses interpolasi dengan beberapa cara seperti Inverse Distance Weigted Spline dan Kriging (Ermapper. daerah perkotaan yang memperlihatkan 3D dari gedung-gedung.2004). Apabila titik tinggi diperoleh dari garis kontur peta pada skala 1 : 50. maka ketelitian yang diperoleh dari data DEM ini nantinya memiliki akurasi yang tinggi dan semakin tinggi resolusi spasial yang dimiliki suatu data DEM.000.

JERS-1. Data citra berwarna dengan resolusi rendah digabungkan dengan data monokrom yang beresolusi tinggi yang hasilnya adalah sebuah image data citra berwarna dengan resolusi tinggi. yaitu melakukan interpolasi terhadap titik ketinggian (dimana titik berisi informasi ketinggian Z dan koordinat XY) atau interpolasi terhadap garis kontur untuk menghasilkan DEM. Menurut Prahasta (2008) data fusion merupakan menggabungkan atau mengkombinasikan (fusi) data (dengan cakupan wilayah yang sama) yang berasal dari berbagai (rekaman) sensor satelit (dan dengan resolusi-resolusi spasial yang berbeda) merupakan cara yang sangat efektif dan efisien dalam memberdayakan sumber-sumber basis data spasial secara optimal. yaitu menggunakan 2 atau lebih citra yang diperoleh dari sudut pandang yang berbeda. 2.5.3 Metode Pansharpan Alos Image fusion merupakan kombinasi dua atau lebih dari image/citra yang berbeda untuk menghasilkan image baru dengan menggunakan berbagai algorithma. Dan cara lainnya yaitu dengan Radar Interferometri (InSAR) atau teknik dimana data dari sensor radar dari satelit penginderaan jauh (contoh: ERS. Pan-Sharpenning merupakan salah satu jenis image data fusion. Salah satu dari sekian banyak . Cara kedua yaitu dengan penurunan DEM mengunakan citra stereo. RadarSAT dan PALSAR-ALOS) digunakan untuk memetakan ketinggian (topografi) dari permukaan bumi.24 Data ketinggian suatu objek dari satelit bisa didapatkan dengan beberapa metode. yaitu diantaranya: DEM yang dihasilkan dari interpolasi.

Hasil yang diharapkan dari proses ini adalah citra digital mutispektral dengan resolusi yang sama dengan pankromatik.. diantaranya : 1. atau cubic convolution technique. Image data sebaiknya tercatat dengan akurasi level tinggi terlebih dahulu menggunakan fusion algorithma. .3. HSV (or HSI) Sharpenning Hue Saturation Intensity (Hue Saturation Value) menggunakan resolusi rendah image RGB (Red Green Blue). Hasil keluaran gambar RGB akan mendapatkan nilai pixel dari input data resolusi tinggi. bilinnear. Hasilnya digunakan sebagai alat bantu pada interpretasi citra digital secara visual. Fungsi otomatis dari color bands sampai ukuran pixel dengan resolusi tinggi menggunakan nearest neighbor. Fusion i = (MULTi/MULTi Sum)x PAN (2.9) Setiap band di Image Color dikalikan dengan rasio data resolusi tinggi dibagi dengan jumlah color bands.) merupakan band particular dalam MS Image dan MULTi SUM = MULTI1 + MULTI2 + MULTI3 (2.25 bentuk dari aktifitas ini adalah Pan-sharpen yang mengkombinasikan citra digital pankromatik (band tunggal yang beresolusi spasial lebih tinggi) dengan citra digital multi-spektral (beberapa band berwarna tetapi memiliki resolusi spasial lebih rendah). Color Normalized (Brovey) Sharpenning Digunakan untuk mendapatkan teknik Sharpenning dengan menggunakan kombinasi matematika image berwarna dan data resolusi tinggi. 2.2. Band pankromatik disesuaikan dan diganti untuk intensity band.8) Dimana i (=1. Gambar HSI di convert kembali ke tempat RGB.

PC band 1 digantikan dengan band resolusi tinggi dengan skala yang sesuai dengan PC band 1 sehingga tidak ada distorsi informasi spectral. . 2005). digunakan untuk transform kembali. atau cubic convolution technique. pohon. u dan v adalah vector ortogonal 2. Kemudian.10) (2.26 3. misalnya dengan menganalisa citra satelit (Winardi dan Cahyono. PC Spectral Sharpenning Digunakan untuk Sharpen Spectral Image data dengan data resolusi tinggi menggunakan prinsip transformasi komponen hasil data multispectral. Danau. diperlukan antara lain peta tutupan lahan.5. Algorithma ini merupakan dasar dalam persamaan rotasi di alam untuk PCA. Istilah penutup lahan berkaitan dengan jenis kenampakan yang ada di permukaan bumi. Dalam pembuatan peta tutupan lahan.11) Dimana. bilinnear. (2. Data multispectral otomatis memperbaiki nilai pixel resolusi tinggi menggunakan nearest neighbor. dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh. 4. Gram Schmidt Algoritm Merupakan Kodak/ RSI yang memiliki algoritma Sharpenning. dan es glasial merupakan penutup lahan.4 Penutupan/Penggunaan Lahan Dalam perencanaan dan pegembangan suatu wilayah.

Informasi penggunaan lahan dan penutup lahan sebaiknya disajikan pada peta secara terpisah dan tidak dijadikan satu sistem klasifikasi USGS. Tingkat ketelitian interpretasi minimum dengan menggunakan penginderaan jauh tidak kurang dari 85 persen. Sistem klasifikasi harus dapat diterapkan untuk daerah yang luas. Ketelitian interpretasi untuk beberapa kategori harus tidak kran lebih sama.27 Sedangkan penggunaan lahan berkaitan dengan kegiatan manusia pada bidang lahan tertentu. . 6. 2. 3. Kategorisasi harus memungkinkan penggunaan lahan ditafsir dari tipe penutup lahanya. 4. Sistem klasifikasi harus dapat digunakan dengan data penginderaan jauh yang diperoleh pada waktu yang berbeda. Survey geologi Amerika Serikat telah menyusun sistem klasifikasi penggunaan lahan dan penutup lahan untuk digunakan dengan data penginderaan jauh yang dilaporkan dalam USGS Profesional Paper 964 (5). Akan tetapi dari segi praktisnya lebih efisien menggabungkan dua sistem tersebut apabila data penginderaan jauh digunakan sebagai sumber data utama untuk kegiatan pemetaanya. 5. Sistem klasifikasi penggunaan lahan dan penutup lahan USGS disusun berdasarkan kriteria berikut : 1. Hasil yang dapat diulang harus dapat diperoleh dari penafsir yang satu ke yang lain dan dari satu saat penginderaan ke saat yang lain.

10.500 1: 24. 9. Sistem klasifikasi USGS juga menyajikan kategori penggunaan lahan/ penutupan lahan terdiri dari 4 tingkatan yang terdiri dari : sistem klasifikasi tingkat I yang disusun untuk digunakan pada citra skala kecil seperti citra Landsat. Sejalan dengan itu maka untuk pemetaan pada tingkat IV juga harus diperoleh sejumlah besar informasi penunjang. 1990) Tingkat Interpretasi Citra Skala Peta yang Ukuran Minimum reperentatif Dipetakan I. Tabel 5. sejumlah besar informasi penunjang harus diperoleh disamping informasi yang diperoleh dari foto udara skala sedang.5 ha 0. Citra yang paling banyak digunakan untuk pemetaan tingkat II adalah foto udara inframerah berwarna dengan ketinggian terbang tinggi.28 7.000 2. Ukuran minimum suatu daerah yang dapat dipetakan dalam kelas penggunaan lahan/penutup lahan tergantung pada skala dan resolusi citra.000 150 ha II. Kategori harus dapat dirinci ke dalam sub-kategori yang lebih rinci yang dapat diperoleh dari citra skala besar atau survey lapangan. Bila memungkinkan lahan multiguna dapat dikenali. (Foto udara skala menengah) 1 : 62. (Satelit) 1 : 500. 8.35 ha . disamping yang diperoleh dari foto udara skala besar. Tingkat II disusun untuk digunakan pada foto udara skala kecil. Pengelompokkan kategori harus dapat dilakukan. (Foto udara skala kecil) III. Ukuran Minimum Unit Penggunaan lahan/Penutup lahan (Lillesand/Kiefer. Untuk pemetaan pada tingkat III. Dapat dibandingkan dengan data penggunaan lahan dan penutupan lahan pada masa yang akan datang.

rumput buah-buahan. sebidang lahan mungkin dapat dikelompokkan dalam lebih dari satu kategori sehingga diperlukan suatu definisi khusus untuk menjelaskan prioritas klasifikasinya. Remote sensing (RS atau penginderaan jauh) merupakan salah satu alat mutakhir guna menunjang kegiatan riset tsunami seperti halnya dalam pembuatan DEM dan penuutupan/penggunaan lahan. Daerah yang berair dangkal dimana timbul vegetasi aquatik.29 Lahan pertanian secara luas dapat diartikan sebagai lahan yang penggunaanya terutama untuk menghasilkan makanan dan serabut. Penentuan daerah rawan tsunami yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan daerah limpasan tsunami pada penutupan/penggunaan lahannya. danau. waduk. dan muara.Misalnya. Seperti yang telah disebutkan diatas. Kategori ini meliputi penggunaan seperti tanaman semusim dan padang. daerah pembibitan dan tanaman hias. batang pohonya menghasilkan kayu atau produksi kayu lainnya dan mempengaruhi iklim atau tata air lokal. . jeruk. maka harus dimasukkan dalam kategori lahan bangunan/ lahan terbangun. Lahan gundul ialah lahan yang kemampuannya terbatas untuk mendukung kehidupan dan vegetasi atau penutup lainnya kurang dari sepertiga luas daerahnya. maka harus diambil kategori yang utama. anggur. teluk. diklasifikasikan sebagai kategori air. Apabila obyek mempunyai lebih dari satu kategori. Lahan hutan adalah daerah yang kepadatan tajuk pohonnya (persentasi penutup tajuk) 10 persen atau lebih. kanal. Kategori air antara lain: sungai.daerah pemukiman yang penutupan vegetasinya cukup lebat dan memenuhi kriteria lahan hutan.

Seperti halnya yang telah dilakukan peneliti dari LAPAN dan BPPT yang telah memodelkan tsunami dengan menggunakan data ALOS PRISM (Nadir-Forward) dan SRTM pada tahun 2007 di Cilacap. sewaktu. dan multi temporal dapat memberikan informasi mengenai dinamika yang terjadi di daerah pesisir. visual. Jawa Tengah. digital. Analisis aspek historis kejadian tsunami Indonesia terutama mekanisme pembangkitan tsunami. dan perguruan tinggi di dunia. Namun penelitian mengenai daerah rawan tsunami dengan menggunakan integrasi pemodelan dan data penginderaan jauh. 2. 4. saat ini sedang dikembangkan secara aktif oleh para peneliti. Penelitian mengenai daerah rawan tsunami yang berbasis penginderaan jauh saat ini sudah banyak dilakukan.30 Citra satelit secara global. lembaga penelitian. baik sebelum. maupun setelah tsunami. Mengannalisis aspek historis kejadian gempa yang mempunyai pusat di bawah laut. Simulasi numerik hubungan antara pembangkit tsunami dan tinggi tsunami melalui pemodelan matematika dari hasil analisis gempa dan tsunami sebelumnya. 3. Identifikasi jalur lempeng yang berpotensi menyebabkan gempa dan tsunami baik near field ataupun far field. . Identifikasi daerah yang berpotensi mengalami bencana tsunami dilakukan secara bertahap dengan empat langkah sebagai berikut : 1.

Kabupaten Cilacap yang secara administratif merupakan salah satu kabupaten di Pulau Jawa yang termasuk ke dalam Propinsi Jawa Tengah. Proses pengolahan data dilakukan dalam tiga tahap yaitu: pengolahan data Penginderaan Jarak Jauh dilakukan di Laboratorium Komputer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Jakarta Timur sedangkan pengolahan tsunami modeling dilakukan di Laboratorium balai Pengkajian Dinamika Pantai BPPT Yogyakarta serta survey lapangan.31 3. Penelitian ini mulai dilakukan pada bulan Februari 2008 sampai dengan bulan September 2008. Lokasi Penelitian terletak antara 07°38’54” LS 07°48’33” LS dan 108°57’22” BT . Peta lokasi penelitian .109°06’57”BT (Gambar 12). Gambar 12.1 Waktu dan lokasi penelitian Lokasi penelitian terletak di Perairan Cilacap. BAHAN DAN METODE 3.

Global Positioning System (GPS). Kamera digital memori 512 MB dan alat perekam suara.32 3.1 Alat Peralatan yang dipakai dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri dari : 1. . sebagai alat dokumentasi dan wawancara dalam kegiatan survey lapangan. • • Printer sebagai pencetak data Flash disk 1 GB dan Hard disk external 40 GB sebagai media penyimpan data 2. pembuatan DEM dari citra. dan post-processing model (Interpretasi dan animasi). Perangkat keras pengolah citra yaitu : • Berupa seperangkat PC (Personal computer) berbasis Intel dengan sistem operasi Windows yang digunakan untuk mengolah data citra. sebagai alat dalam kegiatan survey lapangan 4.2 Alat dan bahan 3. Perangkat lunak berupa software-software yang digunakan untuk mengolah data citra ALOS yaitu : • Perangkat lunak pengolah image processing. 3. serta perangkat lunak untuk menyajikan layout citra • perangkat lunak pengolahan pre-processing model (input data sumber/parameter tsunami).2. processing model (running model/pacu model).

data batimetri GEBCO (General Bathymetric Chart of the Oceans ) serta data topogarfi yang didapatkan saat survey lapangan (data pengukuran DEM LAPAN dan BPPT dan data cek lapangan terhadap data penutupan/penggunaan lahan) . pengolahan pemodelan tsunami sebagai input data kerawanan tsunami. . Data Primer Data primer yang digunakan penelitian ini meliputi : Citra satelit ALOS (Advanced Land Observation Satellite).3 Metode penelitian Penelitian ini dilakukan berdasarkan analisis penginderaan jarak jauh dengan metode integrasi data model numerik dengan data citra untuk memperoleh daerah rawan tsunami.2. Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1:25000 serta peta penutupan/penggunaan lahan Kabupten Cilacap skala 1:25000 . data posisi dan kekuatan gempa USGS.2 Bahan Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini terdiri dari : 1.33 3. Data Sekunder Data citra SPOT terkoreksi. yaitu pengolahan penurunan DEM dari citra. Alur pengolahan penelitian ini meliputi tiga tahapan. serta data program pemodelan tsunami Universitas Tohoku serta data lapangan seperti wawancara dan hasil groundchek data tutupan/penggunaan lahan yang mendukung penelitian ini. 2. 3. dan integrasi citra dengan model.

34

3.3.1 Pengolahan citra awal

Penelitian ini menggunakan data citra ALOS (Advanced Land Observing Satellite) sensor PRISM yang diakuisisi 05 Mei 2007 dan sensor AVNIR pada tanggal 04 Januari 2007 dari LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Namun citra yang diperoleh tidah sepenuhnya digunakan dalam analisis, untuk itu perlu dilakukan pemotongan citra (cropping). Pemotongan citra ini bertujuan untuk membatasi daerah sesuai lokasi penelitian. Selanjutnya dilakukan pemulihan citra yaitu koreksi geometrik Koreksi geometrik dilakukan untuk memperbaiki distorsi posisi atau letak objek. Distorsi ini dihasilkan oleh faktor seperti variasi tinggi satelit, ketegakan dan kecepatan satelit (Lillesand and Kiefer, 1990). Setelah koreksi geometrik dilakukan maka didapat citra yang sesuai dengan posisi sebenarnya di bumi.

3.3.2 Penurunan Data Elevation Model

Pengukuran Data Elevation Model (DEM) pada prinsipnya berhubungan dengan sifat stereo yang dipandang sebagai objek. Data ketinggian suatu objek dari satelit bisa didapatkan dengan beberapa metode, yaitu diantaranya: interpolasi, penurunan dari citra stereo, dan Interferometri. Paralak citra menunjukkan perubahan yang tampak pada posisi relatif suatu obyek yang tak bergerak, yang disebabkan oleh perubahan posisi pengamatan. Gambar 13 , melukiskan sifat paralak pada citra stereo satelit ALOS yang bertampalan yang dipotret di atas medan yang beraneka. Perhatikan posisi

35

relatif titik 1 dan 2 yang berubah dengan berpindahnya posisi pengamatan (dalam hal ini titik pengamatan).

Gambar 13. Prinsip pengukuran DEM dengan sifat paralak satelit (Trisakti, 2006)

Teleskop1 akan melakukan merekam bagian puncak dan bagian dasar objek pada waktu yang sama (waktu t1), sedangkan teleskop 2 akan merekam terlebih dahulu pada bagian puncak objek (waktu t2 dan jarak X2 dari posisi rekam sensor 1) kemudian merekam bagian dasar (waktu t3 dan jarak X1 dari posisi rekam sensor 1). Sehingga terjadi perbedaan waktu dan jarak untuk merekam antara bagian puncak dan dasar objek sebesar t3-t2 dan X1-X2. Perbedaan ini akan mengakibatkan terjadinya perbedaan posisi antara puncak dan dasar objek pada citra perekaman arah miring, sedangkan pada citra perekaman

36

tegak lurus, puncak atau dasar objek akan mengacu hanya pada posisi dasar objek. Perbedaan ini disebut perbedaan paralak atau jarak paralak Δp yang besarnya sama dengan jarak perekaman arah miring antara puncak dan dasar objek X1-X2, atau Δp= X1-X2. Sudut arah miring terhadap garis vertikal (atau sudut yang dibentuk antara telescop 1 dan teleskop 2) adalah sebesar α, dimana tan α senilai dengan X1 dibagi ketinggian satelit dari permukaan bumi, atau B/H Selanjutnya ketinggian objek Δh dapat dihitung dengan formula trigonometri sederhana yaitu: tan α = (X1-X2)/Δh. Sehingga persamaannya menjadi sebagai berikut
Δh = (X1-X2)/tan α Δh = Δp/ (B/H) Δh = H*Δp/B (3.1)

(3.2) (3.3)

Data Elevation Model (DEM) yang digunakan pada penelitian ini merupakan data penurunan DEM dari citra ALOS PRISM. Penurunan DEM dapat dilakukan dengan menggunakan kombinasi data yang berbeda, sebagai contoh adalah kombinasi antara Nadir-Forward, Nadir-Backward atau ForwardBackward, atau kalau memungkinkan adalah triplet Nadir-Forward-Backward. Namun yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan kombinasi Nadir-Backward. Citra stereo ALOS PRISM (Nadir dan Backward) dipilih area kajian penelitian yang sama dan sesuai dengan cropping area sehingga overlap antara keduanya tepat. Setelah penyiapan data, maka proses selanjutnya adalah proses penurunan DEM. Data yang digunakan selain data PRISM juga data hasil

Proses selanjutnya adalah masukan data DGPS hasil pengukuran lapangan sebagai data referensi untuk menyesuaikan posisi topografi dengan ALOS PRISM.37 pengukuran ketinggian topografi menggunakan DGPS (Differential GPS) sebagai referensi. Side incidence adalah posisi satelit yang bias bergerak ke kiri atau ke kanan. yang direkomendasikan minimal 50 titik Sehingga pada penelitian ini menggunakan titik ikat sebanyak 50 buah titik. Pengambilan GCP pada tiap-tiap sensor disesuaikan dengan data referensi satu-persatu posisi dengan tepat. . Semakin banyak titik ikat maka ketelitian semakin baik. Sensor line along axis pada sumbu Y karena paralak terjadi pada sumbu Y (proses masukkan informasi sensor terlihat pada Tabel 6). Data DGPS ini merupakan data GCP (XYZ). (XY) untuk koordinat horisontal dan (Z) untuk koordinat vertikal. Data DGPS ini diperoleh dari pengukuran lapangan yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan dan Pemanfaatan dan Teknologi Penideraan Jarak Jauh LAPAN. distribusi sebaran GCP. Ground resolution adalah ukuran sebenarnya di bumi dalam setiap sel di citra. AIT (Asian Institute of Technology) dan data DGPS BPPT . Proses pemasukan input-input parameter yang diperlukan seperti penyesuaian zona 49 UTM (dareah kajian Cilacap) dan parameter sensor (disajikan pada Tabel 6). jumlah GCP. Track incidence adalah sudut yang dibentuk dari Backward-Nadir atau Forward-Nadir. Untuk menambah keakuratan dan mempercepat pembuatan DEM yang dibuat maka diperlukan titik ikat otomatis. RMSE dari nilai paralaks dan ketepatan peletakan titik GCP. Tingkat akurasi GCP referensi yang digunakan.

007 16214 2 2 2 1 1 2 Nilai RMSE yang didapatkan merupakan nilai yang menunjukkan seberapa besar ketelitian DEM yang kita dapatkan. Semaikn kecil nilai RMSE nya maka semakin baik ketelitian Dem yang dihasilkan.57 2. Y. nilai 3 Advanced Simple gross error check options Use image observations of check point Diaktifkan in triangulation Consider earth curvature in Dinonaktifkan Dinonaktifkan calculation Define topocenter (degrees) .007 14650 2 2 2 1 1 2 1939 0 0 0.5 –26.001 Dinonaktifkan Pixels Same weighted values (X.5 Ground resolution (meters) y Sensor line along axis Sensor Information Tab General Focal length (mm) Principal point x0 (mm) Principal point y0 (mm) Pixel size (mm) Sensor columns Tab Model Parameters X Y Z Omega Phi Kappa Forward Nadir Backward 1.57 Track incidence (degrees) 2.5 y Backward 1939 0 0 0.007 16247 2 2 2 1 1 2 1939 0 0 0.5 Side incidence (degrees) 26. Informasi Sensor penuruan DEM ALOS Frame Editor Forward Tab Frame Attributes 1.5 m) Diaktifkan.5 Æ resolusi spasial ALOS Prism = 2.38 Tabel 6.5 0 2.5 y Nadir 1. maka penurunan DEM bisa dilakukan Tabel 7. Sehingga setelah proses triangulasi selesai. Z = 2. Parameter Triangulasi DEM Tab Parameter General Maximum normal iterations Iterations with relaxation Convergence value (pixels) Compute accuracy for unknowns Image coordinate unit for report Point Type Keterangan / nilai 5 3 0.

. Langkah pertama adalah koreksi geometri kedua citra sehingga ketika proses fusion atau pansharpaning dilakukan akan mendapatkan citra pansharpan yang tepat.3 Pengolahan pansharpan ALOS Citra ALOS yang digunakan pada penelitian ini adalah citra ALOS PRISM dan AVNIR. kemudian citra PRISM (Nadir) dikoreksi geometrik terhadap citra AVNIR yang sudah terkoreksi sebelumnya.3. Algoritma metode pansharpan yang digunakan pada penelitian ini adalah algoritma Gramd Smith karena algoritma ini adalah algoritma fusion citra yang paling baik secara visual untuk membedakan objek-objek pada penutupan/penggunaan lahan.5 m) dan termasuk multispektral. Koreksi citra AVNIR terhadap citra yang sudah terkoreksi yaitu dengan menggunakan citra SPOT.39 3.3.5 m. Metode pansharpan ini bertujuan untuk mendapatkan data citra yang memiliki karakteristik citra yang lebih baik yaitu memiliki resolusi tinggi (2. Sedangkan karakteristik AVNIR memiliki resolusi lebih rendah dibandingkan PRISM yaitu 10 m dengan multispektral. Klasifikasi yang digunakan pada penelitian ini adalah klasifikasi tak terbimbing (unsupervised classification).4 Pengolahan Penutupan Lahan Klasifikasi merupakan proses penglemopokkan nilai reflektansi dari setiap obyek ke dalam kelas-kelas tertentu sehingga mudah dikenali. Karakteristik PRISM termasuk citra panchromatik yang memiliki resolusi tinggi yaitu 2. 3. Misalnya dapat membedakan antara tanah dan vegetasi secara lebih jelas dibandingkan dengan algoritma yang lain.

melalui pengenalan penggunaan/penutup lahan dapat diketahui sebaran.ladang. lahan terbuka. bentuk. Kandungan informasi dapat diperoleh melalui kegiatan klasifikasi dan interpretasi data.40 Data citra ALOS yang digunakan untuk mendapatkan citra terklasifikasi berdasarkan tutupan lahanya yaitu menggunakan data citra ALOS AVNIR (Advanced Vicible and Near-Imfrared Radiometer) dan ALOS PRISM ( Nadir). Pemilihan kelas klasifikasi yang dipilih peneliti terdiri dari kelas : pemukiman/bangunan. Serta informasi penggunaan lahan yang berasal dari digitasi pada peta . kebun/perkebunan. Proses pengolahan awal adalah dengan menggunakan metode Pansharpan. Pada penelitian ini pemilihan tutupan/penggunaan lahan ditujukan untuk mendapatkan daerah kalsifikasi yang digenangi tsunami dan daerah rawan tsunami. interpretasi dibatasi pada pengenalan penggunaan/penutup lahan (land cover) yang didefinisikan sebagai pengenalan tipe kemunculan obyek yang ada di permukaan bumi. Setelah proses pansharpan dilakukan maka dilakukan proses klasifikasi tak terbimbing (unsupervised classification). Dengan demikian. Metode Pansharpan ini menggunakan citra PRISM sebagai citra yang memiliki resolusi spasial 2. mangrove. sawah. seperti bangunan urban. tanam tanaman.5 m dengan monospketral dan citra AVNIR sebagai citra yang memiliki resolusi spasial 10 m dengan multispektral. industri. pasir. Banyaknya kelas klasifikasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. vegetasi lain. tambak. Setelah kedua citra yang memiliki resolusi spasial dan sensor yang berbeda diintegrasikan maka dihasilkan citra baru yang memiliki resolusi spasial yang lebih tinggi dengan disertai sifat multispektral.. luasan dan lokasi berbagai obyek di permukaan bumi. air dan lain-lain.

jalan. Citra ALOS ALOS PRISM Pankromatik ALOS AVNIR Multi spektral Fusion / Pan sharpening Ortho rectification Klasifikasi Unsupervised Land Use Map/Landcover Gambar 14. Bagan alir metode pansharpan 3. Hal ini cukup mewakili karena model tsunami dalam penelitian ini berjenis ” Near Fields Tsunami” dimana jarak antara pembangkit tsunami dengan pantai cukup dekat. kurang dari 2000 km. hanya dibangkitkan oleh pergerakan dasar laut akibat gempa.41 penutupan/penggunaan lahan yaitu: rumah sakit. Demikian pula untuk suku gesekan dasar dalam perhitungan ini belum digunakan. sekolah.4 Pengolahan Pemodelan Tsunami Model tsunami yang digunakan dalam penelitian ini. dan tempat peribadatan. Sedangkan persamaan gerak gelombang yang digunakan adalah persamaan gerak gelombang panjang suku-suku linier. .

Sehingga tidak ada aliran yang melewatinya. Dengan kondisi stabil jika h jauh lebih besar dari η C Dimana. discharge fluks dalam arah y g = percepatan gravitasi bumi h = kedalaman perairan η = elevasi muka air laut Program ini hanya digunakan untuk gelombang tsunami. dan gelombang terefleksi secara sempurna. M = ∫ udz = ū (h + η) . Pengaruh gelombang yang diakibatkan angin dan pasang surut tidak diperhitungkan.4) C = kecepatan penjalaran gelombang Δt= spatial waktu Δx= spatial grid dalam arah –x .3) dimana. 2006) ∂η ∂M ∂N + + =0 ∂t ∂x ∂y (3. Hal ini dikarenakan simulasi tsunami hanya memiliki durasi sekitar satu hingga tiga jam. Δt ≤1 Δx (3. Syarat batas tertutup dalam model ini menggunakan asumsi garis sebagai dinding. Paras muka laut diberikan oleh pasang surut saat tersebut dan diasumsikan konstan selama pemodelan tsunami.42 Persamaan di bawah ini adalah persamaan dasar penjalaran gelombang tsunami yang digunakan dalam model ini (Immamura. discharge fluks dalam arah x N = ∫ vdz = v (h + η) .

C. DEM citra ALOS yang telah dibuat pada tahap pengolahan citra sebelumnya.43 Pengolahan model dilakukan tiga tahapan yaitu : pre-processing. Pada pembuatan input ini daerah domain yang digunakan oleh program terdiri dari empat domain. dan post processing. sedangkan domain B.1 Pre-processing Pembuatan data input model berupa data batimetri GEBCO. domain D merupakan daerah kajian penelitian yaitu di cilacap.4. . processing. Tahap terakhir dari pengolahan model tsunami pada penelitian ini yaitu tahap interpretasi dan animasi. Tahap selanjutnya adalah proses running model atau pacu model. 3. Proses pengolahan awal (pre-processing ) adalah membuat input data sumber atau parameter tsunami dan data dasar. maka dibuat tiga domain lainnya. Lokasi domain model Jumlah input batimetri dan topografi terdiri dari empat buah. Keempat domain yang digunakan menggunakan metode nested grid. Gambar 15. Sehingga selain daerah kajian. dan domain A merupakan daerah nonkajian yaitu meliputi daerah yang luasannya lebih besar dibandingkan domain D.

Kemudian file tersebut disimpan dalam bnetuk ekstensi *hdf untuk kemudian digabung dengan data batimetri. Sedangkan untuk daerah nonkajian ditentukan dengan syarat luasan domain C < domain B < domain A. Hal ini dilakukan untuk membantu pada tahap pemasukan data batimetri terhadap DEM. Setelah input data SRTM dan GEBCO selesai maka sebelum diintegrasikan dengan DEM ALOS.3. maka data DEM tersebut harus dikonversi terlebih dahulu ke dalam bentuk data ASCII sehingga dapat dibaca dan diintegrasikan dengan data batimetri. dan GEBCO Centenary edition. Proses pengintegrasian ini dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Global Mapper 8. Data hasil interpolasi dibaca dengan menggunakan software Transform.0.0. Pengolahan dimulai pembuatan topografi dan garis pantai dari data SRTM. Surfer 8. garis pantai. Batas penentuan daerah kajian penelitian disesuaikan dengan batas daerah citra dan DEM yang telah ditentukan sebelumnya sehingga pada saat dilakukan overlay akan tepat. Proses pembuatan input domain D dimulai dengan membuat terlebih dahulu input data dari SRTM 90. dan batimetri pada software Surfer 8. Transform. Textpad.0. Proses selanjutnya yaitu penggabungan data dan interpolasi data dengan metode kriging yaitu data topografi.44 Penentuan domain dilakukan dengan menggunakan software Mapsource sehingga batas penentuan domain lebih mudah dan jelas. Langkah Pembuatan input domain D dilakukan dengan mengintegrasikan data batimetri GEBCO dengan DEM ALOS. Kemudian pembuatan batimetri dari GEBCO sesuai batas domain D. Proses konversi data DEM menjadi data ASCII menggunakan software ENVI 4. Agar dapat dibaca pada software yang .

maka diisi dengan nilai pada data GEBCO pada sel yang sama yaitu (20. Program pemodelan tsunami ini hanya dapat membaca pada ukuran grid 30 x 30. dan domain A. Proses ini memerlukan penyesuaian ukuran grid antara data DEM dan GEBCO sehingga untuk memudahkan proses penggabungan data. Setelah pembuatan input dari data SRTM dan GEBCO selesai maka dilakukan pengintegrasian batimetri dari input SRTM-GEBCO terhadap DEM. Demikian seterusnya sehingga semua sel yang bernilai nol pada data DEM terisi dengan data batimetri pada GEBCO.0 dan dimulai dengan nomor grid satu. Hal ini disebabkan kemampuan dari media running program yaitu komputer yang ada pada saat ini tidak mampu untuk menjalankan program pada grid yang berukuran lebih kecil dari 30 x 30 sehingga pembuat program menentukan ukuran grid yang berukuran 30 x 30. Selanjutnya dilakukan pembuatan pembuatan file input domain C. nomor grid dirubah dari UTM menjadi ukuran nomor grid satuan dengan interval 1. Misalnya pada sel (20. Proses penggabungan data dengan cara memasukkan data batimetri ke dalam data DEM ALOS pada posisi grid sel yang sama.15). B. Sehingga data DEM perlu dibuat sama ukuran gridnya menjadi ukuran 30 x 30.15) artinya pada baris ke-20 dan kolom ke-15 pada DEM memiliki nilai 0 (perairan). Proses pembuatan ketiga input ini dengan menggunakan data .45 sama yaitu Transform maka data ASCII tersebut dibuka dengan Textpad lalu header citra dihilangkan dan disimpan dalam bentuk *txt dan dibuka dengan Transform. Sehingga dihasilkan input model domain D yang terdiri dari DEM sebagai topografi dan batimeri.

B. kemudian pada posisi koordinat UTM domain D pada domain C disi dengan semua data pada file input domain D. Kemudian ketiga file input diatas dibuka dengan software Transform dan disimpan dalam bentuk *hdf untuk masing-masing domain. Tetapi pada proses ini hanya menggunakan data GEBCO sebagai data dasar.46 GEBCO (topografi dan kedalaman laut).B. Caranya yaitu dengan merubah kembali nomor sel ke dalam bentuk UTM. dan C di atas bukan merupakan input model. Batas-batas penentuan domain sesuai dengan batas yang sudah ditentukan sebelumnya. Hal ini disebabkan selain domain A. Kemudian diolah dengan menggunakan software Surfer 8. B. Pada tahap pembuatan input domain A.0 dengan proses interpolasi kriging dengan space grid sesuai dengan luasan grid domainnya disimpan dalam bnetuk *dat. Untuk membuat input model domain A. File input A. Proses pembuatan di mulai dengan penentuan daerah domain pada software GEBCO kemudian disimpan dalam bentuk grid data dengan ekstension *asc. dan C maka untuk input domain C adalah gabungan antara input domain D dan domain C . Sehingga input domain C adalah data topografi dan batimetri dari domain D dan domain C hasilnya dapat dilihat pada Gambar 16 Untuk mendapatkan input domain B dan A dilakukan proses yang sama seperti pada pengolahan domain C. B. dan C ini bukan daerah kajian penelitian juga adanya keterbatasan data ALOS yang digunakan pada pembuatan input model. B. Sehingga didapatkan file input domain C. dan C ini hampir sama dengan pembuatan input domain D. .

Pembuatan domain C (gabungan input D dan C) 3.47 dan domain A (grid-c.2 Processing Tahap pacu model (running model) ini adalah proses simulasi model dari input-input yang disiapkan pada proses sebelumnya serta input parameter gempa sehingga dihasilkan sebuah model simulasi tsunami dengan menggunakan software Fortran 9. dan grid-a) yang digunakan pada tahap selanjutnya yiatu tahap processing. Domain D (DEM ALOS) Domain C Batimetri GEBCO Gambar 16.4. grid b.0 .

7 Mw pada posisi gempa di titik -10. Simulasi model yang dilakukan pertama adalah pansharpan untuk kejadian tsunami berdasarkan tsunami 17 Juli 2006 dengan parameter gempa (posisi. Data sejarah gempa dasar laut yang menyebabkan tsunami 17 Juli 2006 yaitu terjadi akibat gempa dengan kekuatan gempa 7. Selain itu parameter waktu tempuh simulasi yang dijalankan model disesuaikan dengan kondisi yang diinginkan peneliti yaitu waktu tempuh tsunami hingga menjalar ke daratan selama 3 jam. Sejarah tsunami Indonesia (Gunawan. Epicentrum gempa dasar laut Gambar 17. kekuatan.48 Parameter gempa yang digunakan pada model ini adalah : kekuatan gempa (Mw) dan posisi gempa (Xo. Pada tahap ini proses pansharpan disimulasikan berdasarkan tiga kasus yang berbeda.28 LS dan 107.Yo). 2007) Skenario kedua pada tahapan processing model ini adalah simulasi model pada posisi gempa yang sama dengan kekuatan gempa lebih besar daripada . dan waktu tempuh) yang disesuaikan dengan data sekunder yang didapat dari data USGS.82 BT (Gambar 17).

J MAX INPUT DX . DY INPUT TOTAL SEC OUTPUT (OUT SEC) FILE OUTPUT SEC INPUT BATIMETRI INPUT DEFORMASI CEK AREA KOMPUTASI No WAKTU > TOTAL WAKTU Yes OUTPUT Gambar 18.9 Mw dipilih sebagai perbandingan pengaruh besarnya kekuatan gempa pada daerah gempa yang sama. Sedangkan untuk skenario ketiga maka dipilih sebagai simulasi model untuk posisi dan kekuatan gempa yang berbeda yang dipilih oleh peneliti. Proses kinerja program dapat dilihat pada Gambar 18.49 7. Bagan alir proses pacu model (running) tsunami modelling . kekuatan gempa 8. INPUT I MAX . Pada penelitian ini. Untuk simulasi ketiga ini dipilih posisi gempa yang berbeda dengan posisi gempa berdasarkan sejarah terjadinya gempa tetapi masih berada pada daerah subduksi.7 Mw.

Batimetri dan topografi (DEM) Cilacap adalah input proses pacu model dengan adanya parameter gempa sehingga menimbulkan deformasi vertikal dasar laut.3 Post Processing Pada tahap ini hasil simulasi model yang telah didapatkan dari proses sebelumnya berupa luasan genangan (innudation) tsunami di daratan serta tinggi (run-up) tsunami. maka peyajian peta dan video animasi diolah dengan menggunakan software Xview. Proses selanjutnya adalah proses komputasi yang menghitung setiap nilai pada tiap sel. Program ini adalah program untuk menampilkan fluktuasi muka air laut dari model yang sudah didapatkan sebelumnya. maka proses komputasi selesai. 3. Jika waktu pacu model sudah melebihi total waktu (3 jam). Bmp2Avi.j) berupa data utama pengolahan model berupa data topografi yang berasal dari penurunan DEM dari citra stereo.B. Input model memiliki increment dx-dy sesuai ukuran tiap grid (A. Untuk menyajikan tinggi fluktuasi muka air laut yang diakibatkan oleh gelombang tsunami maka dapat disajikan dengan bantuan Matlab 6.5 dengan program yang sudah dapat dieksekusi. Kemudian agar pengkajian simulasi dapat diinterpretasikan secara sederhana. dan Matlab sebagai sarana penyajian interpretasi model.4. Total input model yang digunakan pada program ini terdiri dari empat input dimana input domain D adalah grid kajian pada penelitian ini. . maka proses komputasi akan terus dilanjutkan sampai menghasilkan output model yaitu nilai run-up tsunami.50 Masukan (i. dan D). Tetapi jika waktu pacu model kurang dari waktu total.C.

9 Mw dan 8.7 Mw menggunakan selang 0. sedangkan skenario gempa 7. Kemudian proses overlay dilakukan dengan citra atau peta sesuai analisis kajian yaitu daerah mana saja yang terkena tsunami beserta luasannya pada tiga skenario yang berbeda.5 Integrasi Model dan Citra Proses integrasi ini dilakukan untuk mendapatkan informasi daerah yang tergenang tsunami serta ketinggiannya pada daerah kajian yaitu di Cilacap. banyaknya kelas tinggi tsunami dibagi menjadi 5 kelas dengan selang interval 1 m.View 3. Dimana daerah genangan maksimum terlebih dahulu diregistrasi terlebih dahulu dengan empat titik sudut GCP pada ujung-ujung model. 3. Pada skenario gempa 8. Pengkelasan tinggi tsunami. Perangkat lunak Xview adalah software untuk mengkonversi hasil simulasi dari bentuk *txt menjadi bentuk gambar dengan ekstensi *bmp.51 Sedangkan untuk menampilkan video animasi dari hasil simluasi model dengan menggunakan software Bmp2Avi dan Xview. dimana banyaknya kelas serta interval kelas ditentukan sesuai dengan nilai terendah dan tertinggi dari kelas tersebut dengan menggunakan training area. Proses integrasi ini dilakukan dengan mengoverlay hasil genangan (innudation) model dengan tutupan lahan dan penggunaan lahan. Proses overlay dilakukan dengan menggunakan software Arc. pengkelasan topografi darat pada tiap skenario dengan menggunakan sistem pengkelasan supervised.5 .4. Setelah itu pembuatan video animasi menggunakan software Bmp2Avi sehingga menghasilkan video hasil simulasi model dalam bentuk *avi.7 Mw.

View 3. sedang pada penelitian sebelumnya telah dilakukan penurunan DEM ALOS Forward-Nadir dan SRTM oleh peneliti LAPAN. Pada penelitian ini data ALOS yang digunakan untuk menurunkan DEM adalah ALOS Backward-Nadir.sekolah. lahan terbangun seperti industri.view dan dilakukan analisis hubungan antara dua kelas. Hasilnya adalah data tabular dan overlay antara dua kelas tersebut. area budidaya. serta area tutupan lahan alami.52 kemudian ditamplikan di Arc.4. Penentuan daerah rawan tsunami didasarkan atas luasnya limpasan pada area topografi rendah dengan tipe penggunaan lahan yang paling berbahaya dan dianggap rawan jika terjadi tsunami jika menggenangi kelas tersebut. Kemudan penelitian mengenai daerah rawan tsunami dengan menggunakan metode integrasi penginderaan jauh dan model numerik tsunami juga telah dilakukan oleh peneliti LAPAN bekerja sama dengan peneliti BPPT pada tahun 2007. dan kelas tidak terlalu bahaya jika tsunami menggenanginya. maka dilakukan analisis tabular antara kedua kelas tersebut dengan perintah intersection theme di Arc. Urutan tipe penggunaan lahan tersebut adalah tipe penggunaan lahan pemukiman. Proses selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 19. dan tempat peribadatan. misal pohon atau semak/rumput. Untuk mengetahui luasan limpasan tsunami pada kelas penggunaan lahannya. .

Diaglam alir keseluruhan penelitian 53 .Citra ALOS AVNIR Citra ALOS PRISM Citra ALOS PRISM Citra ALOS PRISM Data Lapangan Batimetri GEBCO Parameter Gempa Koreksi geometrik Pansharpan Klasifikasi Landcover/ Land Use Penentuan GCP Running DEM DEM Tsunami Inundation Modeling Genangan Maksimum overlay Daerah Prediksi Genangan Daerah Rawan Tsunami Gambar 19.

Menurut Trisakti (2006) mengatakan bahwa DEM berbeda dengan data yang mempunyai informasi ketinggian lainnya seperti DTM (Digital Terrain Model) dan DSM (Digital Surface Model). DEM terdiri dari 2 informasi. batimetri .4. sedangkan warna putih memperlihatkan daerah topografi tinggi). DTM merupakan informasi ketinggian dari permukaan bumi tanpa tutupan lahan diatasnya. Pengukuran dilakukan pada 18 titik pengamatan oleh LAPAN yaitu menyebar diseluruh wilayah cilacap. Menurut Trisakti (2006) data digital Elevation Model atau DEM adalah model dijital yang memberikan informasi bentuk permukaan bumi (topografi) dalam bentuk data raster atau bentuk data lainnya. sedangkan 15 titik pengamatan dilakukan oleh BPPT di sepanjang pantai Teluk Penyu Cilacap. daerah perkotaan yang memperlihatkan 3D dari gedung-gedung) Pengukuran ketinggian topografi dilaksanakan pada bulan. dan gempa sebagai sumber pembangkit tsunami. . yaitu: data ketinggian dan data posisi koordinat dari ketingian tersebut di permukaan bumi.Desember 2007 oleh pihak LAPAN dan BPPT di sepanjang Teluk Penyu Cilacap. DEM merupakan informasi ketinggian permukaan bumi yang ditampilkan dengan perbedaan warna (warna hitam memperlihatkan daerah topografi rendah. sedangkan DSM merupakan informasi tutupan lahan dari permukaan bumi beserta tutupan lahan diatasnya (sebagai contoh. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1 Digital Elevation Model ( DEM) Penentuan daerah rawan tsunami dengan menggunakan pemodelan numerik dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: faktor topografi.

jembatan. titik pangamatan dilakukan pada titik stasiun yang bersifat konstan seperti persimpangan jalan. Kebonmanis. Lomanis. Sedangkan untuk survey BPPT dilakukan pengamatan pada . dan Gunung Simpang.55 Gambar 20. Donan. atau disekitar lapang terbuka. Survey LAPAN dilaksanakan menyebar ke seluruh bagian Cilacap. Mertasinga. Lokasi pengamatan topografi Teluk Penyu (Cilacap) Pengamatan dilakukan di daerah Sidanegara. Sidakaya. Selain itu. Menganti. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan sampling titik ketinggian topografi yang mewakili seluruh bagian Cilacap. Tegal Kamulyan.

01969 109.452 2.0194 109.71599 7.02058 109.994 0.74352 Koordinat y 109.01012 108.74095 7.99946 109.9977 108.05072 109.02879 109.02745 109.03007 109.70939 7.69408 7.524 2.01946 Tinggi (m) Survey (LAPAN dan BPPT) 4.0745 109.684 5.036 7.75162 7.72077 7.032 Tabel 8 menunjukkan posisi pengukuran dan ketinggian topografi daerah Cilacap yang dilakukan oleh LAPAN dan BPPT.568 2.02306 109.399 7.69023 7.66188 7.74245 7.06954 109.72828 7.74251 7.0088 109.04763 109.69944 7.68887 7.70108 7.69944 7. Topografi pada stasiun .01974 109.71768 7.72562 7.674 3.595 1.02111 109.74254 7.7054 7. Tabel 8.74035 7.0183 109. 2008) No x 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 7.73666 7.03596 109.01932 109.04 2.874 2.01994 109.475 1.852 1.73447 7. Hal ini dimaksudkan untuk mengamati titik ketinggian topografi daerah dekat pantai yang rawan terkena tsunami.68834 7.519 3.817 3.68 2.836 0.115 3.74646 7.74005 7.75193 7.70734 7.71916 7.049 3.56 daerah sepanjang pantai.33 2.02259 109.504 1.64 1.74117 7.418 1.03277 109.583 1.235 2.04979 109.72796 7. Posisi Pengukuran Topografi (Survey LAPAN dan BPPT) (Carolita dan Subarkah.04979 109.0013 109.71279 7.145 2.54 5.079 2.426 1.01982 109.961 1.01214 109.0346 109.68669 7.032 0.01879 109.127 3.03894 109.04009 109.

5 m dan memiliki kemampuan untuk mengambil obyek yang sama pada permukaan bumi dari 3 posisi yang berbeda. ini bertujuan untuk menghasilkan data stereo dengan rasio lebar (base)/tinggi (height) . Sudut yang dibentuk teleskop arah depan dan arah belakang terhadap arah tegak lurus adalah 23.452 m pada posisi 7. 4.57 pengukuran dilakukan dengan menggunakan GPS differensial dengan kalibrasi benchmark Cilacap untuk mengukur ketinggian topografi.80.0745 BT yaitu di Desa Tegal Kamulyan .68834 LS dan 109. Teleskop pada arah tegak lurus dapat merekam citra dengan swath 70 Km.0346 BT . Ketinggian maksimum pada stasiun pengukuran adalah 7.69408 LS dan 109. Penurunan DEM dari citra membutuhkan citra yang memiliki sifat stereo seperti yang dimiliki PRISM dimana setiap teleskop (nadir . dan forward) terdiri dari 3 cermin dan beberapa detektor CCD untuk melakukan perekaman dengan menggunakan metoda push-broom scanning. Secara visual perbedaan anatara kedua citra dapat dilihat pada Gambar 21. Sedangkan topografi terendah adalah 0. arah tegak lurus (Nadir ) dan arah belakang (Backward) searah dengan orbit satelit (along track). Sensor ini mempunyai 3 teleskop untuk merekam citra stereo dari arah depan (Forward). sedangkan arah depan dan arah belakang merekam dengan swath sebesar 35 Km. backward.54 m di Desa Tritih Lor pada posisi 7.2 Pengukuran Ketinggian dari Citra ALOS Panchromatic Remote-sensing Instrumen for Stereo mapping (PRISM) adalah instrument penginderaan jauh pada satelit ALOS dengan sensor pankromatik dengan resolusi spasial 2.

Kombinasi citra stereo tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan DEM dengan akurasi yang cukup untuk memetakan permukaan bumi dalam skala 1:25. Citra ALOS PRISM Pada penelitian ini dilakukan penurunan DEM dari citra ALOS PRISM dengan metode penurunan DEM mengunakan citra stereo. Gambar 21. Kedua citra hasil crooping mewakili wilayah pantai di selatan Kabupaten Cilacap yang menjadi daerah yang rawan terkena tsunami. yaitu menggunakan 2 citra yang diperoleh dari sudut pandang yang berbeda yaitu citra PRISM Nadir dan citra PRISM Backward) daerah Cilacap khususnya di Teluk Penyu yang menjadi daerah kajian penelitian.58 yang mendekati nilai 1.000 atau lebih besar (JAXA. 2006). .

(2006)) Gambar 22 Digital Elevation Model Kabupaten Cilacap 2D Kabupaten Cilacap merupakan dataran rendah dimana daerah timur mempunyai konfigurasi pantai melengkukng ke arah timur laut sampai muara . yang biasa disebut perbedaan paralak atau jarak paralak Δp yang besarnya sama dengan jarak perekaman arah miring antara puncak dan dasar objek. and Welch (1999) in Trisakti et al.59 Penurunan DEM dari citra stereo seperti ALOS atau ASTER berdasarkan prinsip waktu dan jarak perekaman sensor yang ada pada satelit. Berikut adalah gambar hasil penurunan DEM dari cita stereo ALOS pada Gambar 22. Untuk memperoleh ketinggian objek dapat ditentukan dari perhitungan jarak paralak tersebut. (Lang H.

Dan sebaliknya semakin gelap warna pada citra DEM maka semakin rendah topografi. Gambar 23 memperlihatkan bahwa pada posisi yang sama (ditunjukkan dengan transek 6 stasiun) data topografi ALOS memiliki data yang lebih menyerupai topografi sebenarnya dan relief lebih halus dibandingkan dengan DEM SRTM. maka semakin baik hasil akurasinya. Hal ini ditunjukkan secara visual dimana semakin tinggi topografi daratan maka warna yang ditunjukan akan mempunyai gradasi warna yang lebih putih atau cerah. diperlukan titik ikat (tie point) selain GCP/CP yang telah dimasukkan.28 m. Daerah kajian penelitian pada umumnya berwarna gelap sehingga menunjukkan dataran yang rendah. Untuk menambah ketelitian dan mempercepat pembuatan DEM. Akurasi dari data ini tergantung dari sumber titik tinggi dan resolusi spasial suatu data DEM. Semakin tinggi resolusi spasial yang dimiliki . Proses pembuatan DEM ini memerlukan nilai triangulasi dan Control Point yang baik. Semakin banyak titik ikat otomatis.5 m dibandingkan dengan SRTM resolusi 90 m. Namun dalam penelitian ini. Titik ikat tersebut dapat membantu dalam pembuatan DEM agar proses pembuatan menjadi lebih cepat dan mudah. Hal ini disebabkan tingginya akurasi DEM ALOS yang diturunkan dari citra stereo (PRISM) dengan resolusi 2. Sedangkan warna cerah pada citra di atas menunjukkan dataran tinggi yang mempunyai topografi yang tinggi yaitu Pulau Nusakambangan. peneliti menggunakan 50 titik ikat otomatis yang ditambahkan. Semakin kecil nilai RMS maka semakin tinggi tingkat akurasinya.60 Sungai Serayu. Pada penelitian ini dapat diketahui topografi Cilacap mempunyai ketinggian maksimum yaitu 65.

61

suatu data DEM, maka semakin tinggi akurasi data yang dihasilkan (Prahasta,2008).

(a)

(b)

Gambar 23. Perbandingan DEM ALOS dan SRTM 90 Terlihat pada Gambar 24 merupakan hasil pengolahan DEM ALOS dan SRTM 90 m dalam bentuk grafik. Secara visual terlihat relief dari DEM ALOS lebih rapat dan halus dibandingkan DEM SRTM 90. Selain itu nilai topografi yang dimiliki DEM ALOS lebih menyerupai keadaan topografi sebenarnya dibandingkan dengan nilai ketinggian SRTM (Tabel 9).

Gambar 24. Grafik perbandingan (a) DEM ALOS dan (b) DEM SRTM

62

Tabel 9. Perbandingan topografi survey lapangan, ALOS dan SRTM
Koordinat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 x 280733 280538 279538 284636 282726 283699 284894 284997 287068 287615 281599 281608 281494 281690 281747 281959 281907 282586 283022 283373 283827 284894 280384 281556 279351 282439 281600 281563 281570 279168 283215 281627 281441 y 9149830 9143803 9149583 9152592 9146598 9147774 9148439 9148258 9149467 9149679 9142652 9143898 9143931 9144307 9144549 9145235 9145270 9146410 9146953 9147331 9147560 9148439 9145522 9143222 9146054 9146246 9143656 9143659 9143547 9143820 9149024 9142617 9143665 Survey 4.6840 5.0360 7.0790 2.5190 3.6740 3.3990 7.5400 5.3300 2.0400 2.9940 0.8360 0.9610 1.1270 3.0320 0.4520 2.0490 3.8740 2.6800 2.8170 3.8520 1.5240 2.2350 2.1450 2.5950 1.5680 2.4260 1.6400 1.5040 1.4750 1.4180 1.5830 1.1150 3.0320 Tinggi (m) ALOS 4.4499 5.4283 7.6504 2.0814 2.8800 3.1393 7.3244 4.1077 2.0791 2.9818 0.8268 0.9356 1.3118 2.8195 0.6299 2.1650 1.4949 2.2400 1.9759 3.1393 1.4537 2.2923 2.1423 2.8800 1.5691 2.2288 1.7709 1.9614 1.4537 1.8928 1.4812 1.0044 3.0031 SRTM 9.8956 10.6924 7.7269 4.8757 5.9341 4.3814 10.4338 3.8738 4.0000 2.1803 4.8862 6.0000 10.7914 9.9942 4.8532 5.9419 5.9992 6.8785 5.5492 4.3814 5.1872 6.9946 2.0004 8.6893 4.0000 3.8312 3.2041 3.7082 5.1872 4.3730 2.9410 2.8639 2.9175 Bias Ketinggian [Survey-ALOS] 0.2341 0.3923 0.5714 0.4376 0.7940 0.2597 0.2156 1.2223 0.0391 0.0122 0.0092 0.0254 0.1848 0.2125 0.1779 0.1160 2.3791 0.4400 0.8411 0.7127 0.0703 0.0573 0.0027 0.2850 0.0011 0.1972 0.1309 0.4574 0.0213 0.4748 0.1018 0.1106 0.0289 [Survey-SRTM] 5.2116 5.6564 0.6479 2.3567 2.2601 0.9824 2.8938 1.4562 1.9600 0.8137 4.0502 5.0390 9.6644 6.9622 4.4012 3.8929 2.1252 4.1985 2.7322 0.5294 3.6632 4.7596 0.1446 6.0943 2.4320 1.4052 1.5641 2.2042 3.7122 2.9550 1.3580 1.7489 0.1145

Tabel 10. Data statistik perbandingan bias topografi
Topografi Rata-rata Maksimum Minimum ALOS (m) 0.3399 2.3791 0.0011 SRTM (m) 3.0300 9.6644 0.1145

63

Tingkat ketelitian DEM yang berasal dari citra stereo ALOS dapat dilihat pada table 9. Secara keseluruhan data ketinggian yang terukur pada saat survey lapangan hampir sama dengan data ketinggian dari ALOS. Rata-rata ketinggian pada area pengamatan di lapangan mencapai 2.7 m. Nilai ketinggian ini hampir menyerupai dengan rata-rata ketinggian yang berasal dari DEM ALOS yaitu sebesar 2.5 m. Nilai bias ketinggian ALOS lebih kecil (0.3 m) dari pada nilai bias SRTM (3.03 m) terhadap topografi sebenarnya. Hal ini menunjukkan bahwa ketelitian ALOS lebih tinggi karena mendekati nilai topografi sebenarnya.

Berikut adalah tampilan DEM ALOS dalam bentuk 3 dimensi (Gambar 25).

Gambar 25. Digital Elevation Model Cilacap 3D (Teluk Penyu)

Gambar 25 menunjukkan topografi Cilacap berdasarkan tampilan 3 dimensi. Warna kuning muda menunjukkan topografi bernilai nol atau terlihat pada gambar ketinggian nol termasuk perairan. Sedangkan semakin warna

Sensor AVNIR ini memiliki resolusi spasial (10 m) yang lebih rendah dibanding resolusi spasial PRISM (2. Gambar 26.3 Pansharpan ALOS Selain PRISM. Pengolahan pansaharpan ini bertujuan untuk mendapatkan data citra yang memiliki karakteristik citra yang lebih baik yaitu memiliki resolusi tinggi (2.5 m) tetapi memiliki multispektral.5 m) dan termasuk multispektral yang dapat digunakan untuk pengolahan selanjutnya yaitu pemetaan penutupan atau penggunaan lahan. Terlihat kisaran topografi Cilacap termasuk topografi yang landai berkisar antara 0 m hingga 43 m 4. satelit buatan Jepang ini juga memiliki instrumen yang dilengkapi kanal multispektral untuk pengamatan permukaan daratan dan wilayah pesisir dengan resolusi spasial yang dapat digunakan untuk tujuan pemetaan dan klasifikasi penutupan/penggunaan lahan skala regional yaitu AVNIR (terlihat pada Gambar 26). Citra ALOS AVNIR (hasil croping) . maka menunjukkan topografi yang lebih tinggi.64 cokelat kebiru-biruan.

Komposit dilakukan pada kanal 3.65 Gambar di atas adalah citra AVNIR croping dan zooming dengan kombinasi RGB 321. ALOS PRISM –Nadir (hasil croping) . Sehingga kombinasi tersebut yang paling sesuai untuk penampakan penutupan/ penggunaan lahan. dan lahan kering.2. Selain itu penajaman citra dilakukan dengan membuat komposit citra RGB. terutama untuk obyek perairan. Pemotongan dan pembesaran citra dilakukan untuk mengetahui perbandingan tampilan dengan PRISM pada area pemotongan yang sama sehingga dapat terlihat jelas setelah dilakukan proses pansharpan . Gambar 27. Kombinasi RGB 321 tersebut mempunyai tingkat kekontrasan yang baik. vegetasi darat. dan kanal 1 secara berurutan untuk RGB.

66 PRISM nadir hasil pemotongan citra pada Gambar 27 memperlihatkan citra alos yang mempunyai resolusi spasial yang tinggi yaitu 2.5 m Gambar 28. Area yang terekam pada sensor ini bisa memberikan informasi yang lebih detil dibandingkan AVNIR. maka setelah dilakukan pansarhpan dengan metode Gram Schmidt Algoritm (terlihat pada Gambar 28) AVNIR 10 m Phansarpan-Multispektral 2. Tetapi meskipun area yang terekam lebih jelas tetapi sifatnya yang monospektral.5 m PRISM 2. Citra ALOS pansharpan (PRISM-AVNIR) Menurut Prahasta (2008) pansharpening adalah penggabungan atau mengkombinasikan (fusi) data (dengan cakupan wilayah yang sama) yang berasal dari berbagai (rekaman) sensor satelit (dan dengan resolusi-resolusi spasial yang .5 m dan pankromatik (monospektral).

Dalam penelitian ini klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi tak terbimbing (Unsupervised classification) dan digitasi peta penggunaan lahan sebagai informasi tambahan. masih ada kelas-kelas yang tercampur. Hasil klasifikasi secara digital tidak terlalu baik. Kelas penutupan. Dari 53 stasiun pengamatan.5 m dan multspektral sehingga dapat mempermudah dalam ekstraksi informasi pada pembuatan peta penutupan atau penggunaan lahan.penggunaan lahan hasil ekstraksi dari pansharpan ALOS menghasilkan kelas-kelas penutupan/penggunaan lahan akurasi yang tinggi.4 Peta Penutupan/Penggunaan Lahan (Land Use) Klasifikasi merupakan suatu proses pengelompokkan nilai reflektansi dari setiap objek ke dalam kelas-kelas tertentu sehingga mudah dikenali.67 berbeda) yang mengkombinasikan citra digital pankromatik (band tunggal yang beresolusi spasial lebih tinggi) dengan citra digital multi-spektral (beberapa band berwarna tetapi memiliki resolusi spasial lebih rendah). Hasil penggabungan dua citra yang memiliki resolusi spasial yang berbeda ini adalah citra lebih jelas dengan resolusi 2. Maka proses editing dilakukan untuk memisahkan kelas-kelas yang tercampur dengan cara editing region tiap kelas. 4. Hal ini telah dibuktikan oleh peneliti langsung dengan survey lapangan. maka 50 stasiun sesuai dengan hasil lapangan (dapat dilihat pada lampiran) .

industri. semak/rumput. vegetasi . Pada penelitian ini pembuatan peta penutupan lahan/penggunaan lahan dimaksudkan untuk mengklasifikasi area penutupan/penggunaan lahan di Kabupaten Cilacap yang rawan terhadap tsunami. sawah. tambak. ladang. lahan terbuka.68 Gambar 29. Penutupan/penggunaan lahan Kabupaten Cilacap Menurut Purbowaseso (1995) satu faktor penting untuk menentukan kesuksesan pemetaan penggunaan lahan dan pentutpan lahan terletak pada pemilihan skema klasifikasi yang tepat dirancang untuk satu tujuan dimaksud. Kelas penutupan/penggunaan lahan yang dapat diekstrak dari citra ALOS pada penelitian ini terdiri dari 16 jenis/kelas penggunaan lahan: pemukiman dan bangunan.

serta kelas rumput dan semak akan sulit dibedakan dengan vegetasi lain). dan sungai/perairan.5 m) sehingga pengkelasan yang dihasilkan lebih memberikan informasi kelas-kelas penggunaan lahan yang lebih banyak dibandingkan jika hanya mengggunakan sensor AVNIR saja. seperti kelas vegetasi lain (pohon-pohon disekitar area pemukiman. mangorve. rumah sakit.69 lain. Sedangkan informasi tambahan hasil digitasi dari peta rupa bumi Bakosurtanal skala 1:25000 adalah jalan. Tujuan metode ini adalah untuk memunculkan kelas-kelas yang tidak bisa dibedakan dengan kelas yang berdekatan nilai pantulannya. kategorisasi memungkinkan penggunaan lahan ditafsir dari tipe penutup lahannya. dan tempat peribadatan. hasil yang dapat diulang dapat diperoleh dari penafsir yang satu ke yang lain dan dari satu saat penginderaan ke saat yang lain (dalam hal ini sudah ada penelitian mengenai penutupan/penggunaan lahan di Kabupaten Cilacap ini dan hasilnya adalah kurang lebih sama ). Hal ini sesuai dengan kriteria yang diberikan USGS (Purbawoseso. sekolah. 1995) yaitu : level kecermatan interpretasi minimum dengan menggunakan penginderaan jauh tidak kurang dari 85 persen. Pembuatan peta penutupan/penggunaan lahan pada penelitian ini dibuat berdasarkan metode pansaharpan dari citra ALOS AVNIR (resolusi spasial 10 m) dan PRISM (2. . Sistem pengkalsifikasian yang digunakan penelitian ini adalah sistem klasifikasi lahan dan penutupan lahan USGS (United State Geological Survey) tingkat I dengan menggunakan data penginderaan jauh. Hal ini membantu dalam pengkelasan penutupan/penggunaan lahan untuk area rawan tsunami. pasir. sistem klasifikasi dapat diterapkan untuk daerah yang luas yaitu area kabupaten.

Pembuatan domain model berdasarkan metode nested area. Oleh sebab itu pada penelitian ini. pemodelan tsunami adalah input utama yang akan memberikan informasi secara spasial mengenai daerah yang rawan yang akan terkena tsunami berdasarkan area genangan/limpasan tsunami. dan area C tidak dilakukan simulasi genangan karena tidak termasuk area kajian penelitian. serta faktor pembangkit gelombang tsunami yaitu gempa dasar laut yang berpotensi menghasilkan deformasi dasar laut dan berpotensi menimbulkan tsunami.5.70 4. . Berikut adalah area topografi dan area batimetri sebagai input model (Gambar 30). Hal ini penting untuk mempermudah proses komputasi. 5 Tsunami Modeling Pemodelan tsunami saat ini sedang dikembangkan secara aktif oleh para peneliti untuk dapat memprediksi tinggi awal gelombang tsunami akibat deformasi dasar laut dan perhitungan run-up gelombang pantai.1 Area Simulasi dan Batimetri Area genangan yang disimulasikan adalah daerah domain D atau area kajian saja yaitu di sekitar Pantai Teluk Penyu. B. Perhitungan komputasi dimulai dari domain tersempit (D) hingga terluas (Grid A). Faktor-faktor yang berperan dalam pemodelan tsunami ini adalah karakter dasar laut yang ditunjukkan dengan batimetri. Sedangkan Area A. 4. topografi daratan yang merupakan hasil penurunan DEM dari ALOS. Kabupaten Cilacap.

11585 Batimetri adalah ukuran keadaan profil laut yang berhubungan dengan tinggi rendahnya dasar laut (Dishidros.33543 108.316 109.71316 109.13 105.01973 113.64926 7.455 7.64853 7.70452 108. Karakter dasar laut yang berubah .711 109.95545 109. Grid area batimetri dan topografi (Tsunami Modeling Program) Tabel 11. Area (Domain) Topografi dan Area Batimetri Posisi No 1 Grid A1 A2 A3 A4 B1 B2 B3 B4 C1 C2 C3 C4 D1 D2 D3 D4 Geografi 11.56 6.55 7.2007).58116 7.584 7.708 108.98298 7.337 108.02 UTM 502181 8722100 735569 502181 735569 204531 357428 204531 357428 247677 316533 247677 316533 274542 292237 274542 292237 9284347 9284347 8722100 9053868 9175743 9175743 9053868 9117213 9161340 9161340 9117213 9136325 9154022 9154022 9136325 2 3 4 113.32319 109.55715 7.47446 11.95622 109.80851 7.55195 8.98 7.47 6.44879 8.11656 108.16 108.80926 105.71 Gambar 30.

Data batimetri yang digunakan pada penelitian ini adalah data batimetri GEBCO (General Bathymetric Chart of the Oceans ) yang berasal dari bank data berupa Digital Atlas GDA Software Interface. Data batimetri yang tersimpan pada software GDA Software Interface ini. kecepatan semaking berkurang karena gesekan dengan dasar laut yang semakin dangkal.85 km. mencangkup data-data yang terekam oleh GEBCO dalam selang 1 menit per satu grid dengan luasan 1.72 pada setiap kedalamannya mempengaruhi penjalaran tsunami. Peta batimetri (GRID-A) Pulau Jawa . Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Diposaptono (2006) mengenai gelombang di tempat dangkal bahwa tsunami merupakan gelombang perairan dangkal yang dipengaruhi oleh perbandingan antara kedalaman laut dan panjang gelombang yang lebih kecil dari seperduapuluh (1/20). Pengaruh penjalaran tsunami dari tengah laut (pusat terbentuknya tsunami) menuju pantai. Gambar 31.

13 Bujur Timur dengan interval kedalaman 500 m. dan domain A berbentuk nested grid .46 -11. Dimana domain A adalah area terluas yang disimulasikan oleh model. dan Jawa Timur.73 Dalam pemodelan tsunami ini. Kalsifikasi perairan Indonesia (Sumber : TNI AL. tsunami modeling program memerlukan area simulasi yang terdiri dari empat grid atau domain yang disimulasikan yaitu domain D. Gambar 32. C. Profil kedalaman dasar laut selatan di Pulau Jawa ini termasuk laut dalam dan curam karena memiliki profil yang khas dimana setelah beberapa meter dari pantai maka ketinggian kedalaman semakin meningkat sehingga laut selatan ini termasuk laut dalam (Gambar 32). Jawa Tengah. Kedalaman laut tertinggi pada area simulasi adalah 7500 m.56 Lintang Selatan dan 105.02113. Sedangkan Domain B. Area grid A terletak pada posisi 6. 2005) . khususnya Propinsi Jawa Barat. Domain A dalam model ini meliputi daerah Pulau Jawa. Domain D adalah area penelitian yaitu di Kabupaten Cilacap khususnya di Teluk Penyu Cilacap. dan C adalah area yang lebih kecil dari area A. B.

74 Hal ini ditetapkan oleh TNI AL pada Laporannya yang berjudul Rencana Pembangunan Jangka Panjang TNI AL (2005).64 -7. Terlihat pada Gambar bahwa semakin mendekati pantai maka kontur semakin dangkal dan hampir homogen area sepanjang Pantai Teluk Penyu yaitu pada kedalaman < 6 m yang ditunjukkan dengan warna kontur .95-109.11 Bujur Timur. warna biru menunjukkan laut dalam (deep water) dan merupakan laut terbuka (open sea). sedangkan warna hijau menunjukkan laut dalam (deep water) tetapi di luar laut terbuka (non open sea). Peta batimetri (GRID-D) Kab.80 Lintang Selatan dan 108. Gambar 33. Cilacap Input batimetri domain D adalah area kajian tsunami inundation yang menjadi wilayah domain topografi daratan Cilacap (DEM ALOS) yang telah dibuat sebelumnya yaitu terletak pada posisi 7. Warna merah menunjukkan laut dangkal (shallow water) terdiri dari Dangkalan Sunda di Barat dan Dangkalan Sahul di Timur.

75

yang semakin biru muda. Kedalaman laut maksimum adalah sebesar 55 m. Jika merujuk Gambar 31 maka area grid D ini adalah termasuk laut dangkal (berwarna merah).
4.5.2 Sumber Gempa

Pemodelan tsunami secara spasial pada penelitian ini dilakukan berdasarkan tiga skenario yang berbeda. Model pertama adalah simulasi model berdasarkan sejarah tsunami yang telah terjadi yaitu kejadian tsunami tsunami 17 Juli 2006 dengan parameter gempa (posisi, kekuatan, dan waktu tempuh) yang disesuaikan dengan data sekunder yang didapat dari data USGS. Data sejarah gempa dasar laut yang menyebabkan tsunami 17 Juli 2006 yaitu terjadi akibat gempa dengan kekuatan gempa 7.7 SM pada posisi gempa di titik -10.28 LS dan 107.82 BT dengan kedalaman pusat gempa 20.4 km. Sedangkan model yang kedua adalah model tsunami skenario yang ditentukan berdasarkan analisis dan prediksi peneliti sendiri yaitu model tsunami pada posisi epicenter gempa yang sama yaitu di titik -10.28 LS dan 107.82 BT dengan kedalaman pusat gempa yang sama pula yaitu 20.4 km. Tetapi dengan kekuatan gempa 8.9 SM (sesuai tsuanami Aceh 2004). Dan model ketiga adalah model skenario prediksi tsunami yaitu dengan kekuatan gempa 8.7 SM dan posisi gempa yang pernah terjadi pada tahun 2008 yaitu tepatnya pada 8.49 LS dan 108.78 BT. Tabel 12. Parameter gempa NO Gempa Xo 1 Skenario 1 -10.28 2 Skenario 2 -10.28 -9.195 3 Skenario 3

Yo 107.82 107.82 109.59

M 7.7 8.9 8.7

D 2.28 9.09 7.22

L 78.82 314 249

W 39 157 125

76

Menurut Budiman dan Diposaptono (2005) parameter sesar yang dihasilkan gempa seperti panjang dan lebar sesar, energi atau magnitude, kedalaman pusat gempa, slip dan mekanisme fokus (strike, dip, dan sudut slip) adalah parameter-parameter yang utama dari sumber gempa. Namun parameter sesar yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari komponen posisi gempa (Xo, Yo), kekuatan gempa (SM), dislokasi gempa (derajat), panjang (L) dan lebar (W) patahan yang diakibatkan gempa.

pusat gempa

pusat gempa
(a)

(b)

pusat gempa
(c)

Gambar 34. Posisi epicenter dan kekuatan gempa (a) 7.7 SM (b) 8.9 SM (c) 8.7 SM

77

Ketiga pusat gempa di atas adalah gempa-gempa yang pernah terjadi di area pantai selatan Pulau Jawa. Berdasarkan data USGS pusat gempa yang pernah terjadi pada tahun 17 Juli 2006 berada pada jarak 220 km dari arah utara Pulau Christmas, 245 km dari arah barat Tasikmalaya, 265 km dari arah selatan Bandung, dan 355 km dari arah Utara Jakarta. Sedangkan pada skenario gempa ketiga berdasarkan gempa yang terjadi pada tahun 2008 yang jaraknya lebih dekat dengan Cilacap yaitu sekitar 165 km. Skenario ketiga dipilih untuk melihat pengaruh dari parameter jarak dan kekuatan gempa pada posisi yang lebih dekat dengan daerah kajian. Gempa dengan kekuatan 7.7 SM menghasilkan gempa yang mempunyai panjang patahan 78.82 km, lebar patahan 39 km, dan sudut dislokasi sebesar 2.28 derajat. Gempa dengan kekuatan 8.9 SM menghasilkan panjang patahan sebesar 314 km, lebar patahan 157 km, dan sudut dislokasi sebesar 9.09 derajat. Gempa berkekuatan 8.7 SM menghasilkan panjang dan lebar patahan sebesar 249 km dan 125 km dengan besar dislokasi 7.22 derajat. Pembangkitan tsunami dipengaruhi oleh besarnya kekuatan gempa dengan ditunjukkan perbedaan hasil lebar dan panjang patahan serta sudut dislokasi akibat patahannya.

4.5.3 Area Genangan Tsunami (Inundation Area of Tsunami)

Gelombang Tsunami awal akibat gempa bumi, akan menjalar keseluruh arah. Akibat adanya perbedaan kontur kedalaman, maka akan terjadi pembelokan arah dan tinggi gelombang tsunami. Di bawah ini disajikan tiga skenario pembangkitan gelombang tsunami pada dua waktu tempuh simulasi yaitu 1 jam dan 2 jam setelah pembangkitan.

dampak yang ditimbulkan tsunami di sekitar pesisir Cilacap meskipun tidak sebesar dampaknya di daerah lain seperti Pangandaran.78 (meter) (a) (meter) (b) Gambar 35. Pada satu jam pertama waktu simulasi. area . penjalaran tsunami belum sampai ke daerah Cilacap. Yogyakarta. Penjalaran tsunami pada setelah dua jam waktu simulasi. Penjalaran tsunami 7. dan hingga terasa di daerah Cilacap (daerah kajian penelitian). maka tsunami mulai terasa dampaknya di daerah Cilacap dengan kondisi perairan belum terdapat fluktuasi gelombang yang signifikan dengan perairan disekitarnya. Kebumen . terlihat pada Gambar (a) sudah terlihat adanya area yang terkena tsunami namun masih dalam skala yang tidak terlalu luas akibat Tsunami.7 SM menghasilkan tsunami di beberapa daerah diantaranya : Pangandaran . Berdasarkan data BMG (2008).7 SM (a) setelah 1 jam (b) 2 jam Gempa di dasar laut dengan kekuatan energi magnitude 7.

Pemilihan skenario penjalaran tsunami ini didasarkan Tsunami yang terjadi di Pangandaran pada tanggal 17 Juli 2006.9 SM (a) setelah 1 jam (b) 2 jam .79 genangan tsunami pada tanggal 17 Juli 2006 di daerah Cilacap mencapai 300 m di daerah karang Tirta dan Ngantik Kisik. Penjalaran tsunami 8. Energi magnitude dan posisi sesar yang disimulasikan sudah disesuaikan dengan kondisi pada waktu tsunami 17 Juli 2006. pada penelitian ini peneliti menggunakan waktu simulasi 3 jam (10800 detik) dengan asumsi waktu 3 jam tersebut adalah waktu tempuh dimana tsunami sudah terasa pengaruhnya di Pantai Cilacap. (meter) (a) (meter) (b) Gambar 36. tetapi waktu yang digunakan untuk mengsimulasikan belum ada data historis yang pasti mengenai waktu awal pembangkitan sampai air surut kembali.

7 SM pada waktu tempuh yang sama. Simulasi dengan kekuatan 8.9 SM adalah kekuatan gempa yang pernah terjadi di Indonesia yang menjadi peristiwa yang paling dahsyat sekaligus mengerikan bagi seluruh masyarakat Indonesia. pengaruh tsunami di area Cilacap sudah sangat terasa dampaknya.80 Seperti halnya simulasi skenario tsunami dengan kekuatan gempa 7.7 SM. Namun kondisi perairan sudah terdapat fluktuasi gelombang yang diakibatkan oleh tsunami dengan kisaran tinggi gelombang lebih besar (terlihat secara visual warna merah muda) dibanding yang dihasilkan gempa dengan kekuatan 7. pada gempa 8. Penjalaran tsunami 8. (meter) (a) (meter) (b) Gambar 37.7 SM (a) setelah 1 jam (b) 2 jam .9 SM pun masih belum terasa di area pesisir pada jam ke-1 (3600 detik pertama). baik itu tinggi maupun luasan limpasan air akibat tsunami. Sedangkan pada jam ke-2 waktu simulasi.

jika dibandingkan dengan dua skenario sebelumnya.9 SM. (a) (b) . Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi tinggi atau rendahnya tsunami yang dihasilkan tergantung dari faktor jarak dari sumberr gempa dan kekuatan gempa yang membangkitkan tsunami. Area penjalaran tsunami lebih cepat dibandingkan dengan yang lainnya.7 SM pada posisi epicenter yang lebih jauh lebih dekat dengan area pantai di Cilacap tetapi masih pada area dekat zona subduksi dasar laut.81 Skenario ketiga adalah tsunami yang disebabkan oleh kekuatan gempa sebesar 8.7 SM dibandingkan skenario simulasi tsunami kedua yaitu sebesar 8. namun pengaruh jarak pusat gempa terhadap daerah Cilacap adalah sangat besar. Cilacap Jawa Tengah. Skenario ini bertujuan untuk melihat pengaruh jarak epicenter dan kekuatan gempa terhadap area yang lebih dekat dengan area kajian penelitian yaitu di Teuk Penyu. Walaupun kekuatan gempa lebih kecil yaitu 8. Pada waktu tempuh 1 jam pertama waktu simulasi. dampak tsunami sudah langsung terasa di pesisir Cilacap.

energi yang ditimbulkan lebih dari 1.4)x 1023erg. Dimana.7 SM Simulasi model dengan tiga skenario yang berbeda memperlihatkan area maksimum genangan atau limpasan tsunami yang berbeda pula. maka pengaruh lainnya yang sangat berpengaruh terhadap area genangan atau limpasan akibat tsunami yaitu topografi (DEM ALOS) wilayah disekitar pantai yang menentukan kelandaian pantai dan seberapa jauh tsunami menghempas ke daratan serta .82 (c) Gambar 38.1-0. Selain dari pengaruh kekuatan gempa dan posisi gempa.7 SM (b) 8.9 SM (c) 8. Maksimum run-up tsunami (a) 7. Sedangkan gempa yang berkekuatan 8-9 SM bisa menghasilkan skala lebih dari 3 artinya.6 x 1023 erg. gempa dengan kekuatan 7 SR dapat menghasilkan skala tsunami 1-2 dengan energi tsunami yang dihasilkan (0. Menurut Iida (1963) in Diposaptono dan Budiman (2005) menyebutkan hubungan linier antara kekuatan gempa yang ditunjukkan dengan skala Iida.

83 batimetri (GEBCO) sebagai faktor yang berpengaruh di dalam penjalaran tsunami di laut (pusat gempa) hingga pantai. Ibarat bola karet. Semakin dangkal maka air laut terdorong naik karena adanya konversi kecepatan yang berkurang menjadi ketinggian gelombang tsunami. Posisi pengamatan kedua yaitu lokasi yang dekat dengan pesisir/daratan di Desa Karang Kandri pada posisi -7°41’28.6 Ketinggian tsunami (Run-up Tsunami) Naik atau turunnya permukaan air laut akibat tsunami mengikuti teori elastic body (benda elastis).3” BT sebagai titik pengamatan kesatu yang letaknya dekat dengan sumber gempa pada kedalaman 18 m. Apabila sudah mendekati tepi pantai. maka pada bagian lain akan mengembang. Apabila dasar laut terjadi tonjolan naik.5” LS dan 109° 05’31.5 m . orbit bundaran tidak tutup lagi karena dampak gesekan dasar laut yang berubah seiring dengan berkurangnya kedalaman laut. Pengaruh kedalaman laut terhadap penjalaran tsunami didasarkan pada teori tsunami sebagai gelombang dangkal. maka permukaan air meningkat. Hal ini bertujuan untuk mengetahui penjalaran tsunami di dua titik lokasi yang berlainan. Dari dasar laut sampai permukaan laut pergerakan orbit air bolak-balik dengan kecepatan yang hampir sama. Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi muka air laut yang diakibatkan tsunami bersifat transien dan kontinu. apabila ditekan satu bagian.7” BT dan kedalaman 1.6” LS dan 109°05’30. sehingga permukaan laut di dekat pantai naik secara mendadak (Diposaptono dan Budiman. Di bawah ini disajikan grafik tinggi fluktuasi muka air laut yang diakibatkan tsunami di dua titik pengamatan yaitu -7°46’36. . 2005). 4.

Nilai negatif pada grafik menujukkan tinggi gelombang dibawah nilai -0.7 SM (Posisi -7:46: 36. Kemudian beberapa menit kemudian menurun dengan ketinggian kurang dari 0.001 (MSL) yaitu berkisar antara (0-0. Tinggi tsunami di titik pengamatan berkisar antara (0-1.2) m dari MSL (mean Sea Level) dari titik acuan.4 m (dibawah MSL -0.7 SM (Posisi -7:41: 28. Run-up tsunami 7.7 BT) .5 LS 109: 05:31. Pada grafik terlihat bahwa tsunami mulai terlihat tinggi di posisi dekat sumber gempa pada waktu kurang lebih ke.001 m).8) m. Run-up tsunami 7. Gambar 40.58 m pada waktu ke-7620 detik (menit ke-127 menit).84 Gambar 39.6 dan 109:05:30.08 meter.3300 detik (menit ke-55) dengan ketinggian tsunami mencapai 1.3 BT) Pada Gambar 39 menunjukkan hubungan antara tinggi gelombang dengan waktu tempuh simulasi model tsunami. Tsunami mulai terlihat tinggi kembali hingga 0.

2008) Berdasarkan pengolahan tsunami Pangandaran oleh BMG.85 Gambar 40. Pada grafik dapat diketahui bahwa tinggi tsunami tertinggi mencapai 1. Gambar 41. Waktu tempuh yang berbeda dengan simulasi model disebabkan oleh perbedaan jarak sumber gempa yang dipakai oleh simulasi BMG dengan pada penelitian ini yang menggunakan posisi .49 m di atas MSL (-0. Hal ini menunjukkan bahwa penjalaran tsunami pada posisi pertama sudah lebih terjadi dibandingkan pada posisi pengamatan kedua karena titik pengamatan pertama lebih dekat sumber gempa dibandingkan dengan titik pengamatan kedua yang lebih dekat dengan pesisir. menunjukkan hubungan antara tinggi tsunami (run-up) dengan waktu tempuh simulasi pada titik pengamatan yang letaknya lebih mendekati daratan (dekat Desa Karang Kandri) atau lebih jauh dari pusat sumber gempa.01 m) pada detik ke-2160 (menit ke-41). Penjalaran Tsunami berdasarkan Waktu Tempuh (Arrival time) (BMG. tsunami baru terasa dampaknya pada menit ke-25 (Gambar ).

. Gambar 42.25 m di bawah MSL. kondisi perairan masih terlihat tenang.15 m).9 SM (Posisi -7:46: 36.47 m di bawah MSL (0.49 m pada menit ke-54. Tinggi gelombang yang dihasilkan mencapai 3. Namun perubahan muka air laut mulai terlihat pada menit ke-34 dimulai terjadinya penurunan muka air laut hingga 0. Run-up Tsunami 8. tetapi 2 menit sebelumnya terjadi penurunan fluktuasi muka air laut hingga 2.86 sumber gempa USGS sehingga arrival time yang dibutuhkan tsunami masuk ke daratan juga berbeda.6 dan 109:05:30.3 BT) Sebelum terjadi perubahan muka air laut di titik ini.

87 Gambar 43. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa skenario model tsunami untuk kekuatan gempa 8.9 SM dimaksudkan untuk prediksi tsunami jika pada masa yang akan datang terjadi kembali tsunami pada posisi sumber gempa yang sama dengan kekeuatan gempa yang jauh lebih besar dibandingkan dengan tsunami 17 Juli 2006. Akibatnya panjang gelombang di laut dangkal memendek dan menimbulkan gelombang yang lebih tinggi (Diposaptono dan Budiman. menunjukkan grafik hubungan tinggi tsunami dengan waktu tempuh pembangkitan tsunami.5 LS 109: 05:31.7 SM. Hal ini ditunjukkan tinggi tsunami tertinggi mencapai 4.49 m) pada detik ke-10440 (menit ke-174).9 SM (Posisi -7:41: 28. . Tingginya tsunami pada titik pengamatan ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa tsunami akan mengalami perubahan tinggi dan kecepatan di perairan dangkal (pantai) yang disebabkan kehilangan energi akibat berkurangya kecepatan sehingga energi tersebut ditransfer ke dalam bentuk pembesaran tinggi gelombang.36 m diatas MSL (0. Dari grafik dapat diketahui bahwa tinggi tsunami yang dihasilkan gempa berkekuatan 8.9 SM jauh lebih besar dibandingkan tsunami yang dihasilkan gempa berkekuatan 7.7 BT) Gambar 42 . 2005). Run-up Tsunami 8.

4 m dibawah MSL (-0. air mengalami tinggi maksimum pada menit ke-131 yaitu setinggi 2.29 m pada menit ke-115.06 m) setelah 5 menit kemudian. Hal ini disebabkan adanya pendangkalan dasar laut sehingga terjadi peningkatan tinggi gelombang akibat perubahan energi kecepatan menjadi tinggi gelombang. .7 SM (Posisi -7:46: 36. Run-up Tsunami 8.59 m pada menit ke-36 dan turun hingga 1.6 dan 109:05:30.7 SM mulai terlihat di posisi pengamatan kesatu yaitu pada waktu menit ke-47 dengan ketinggian tsunami mencapai 2.1 m.3 BT) Tsunami yang diakibatkan oleh gempa dasar laut dengan kekuatan 8.88 Gambar 44. Gambar 45. Setelah mencapai titik kedua maka air mengalami kenaikan yang sangat besar disbanding di titik pengamatan yang pertama. Setelah beberapa detik kemudian maka air mulai turun hingga di bawah MSL (0. Namun di titik ini.25 m) dengan ketinggian 1.5 LS 109: 05:31.7 SM mencapai 5.7 BT) Terlihat tinggi air maksimum pada tsunami dengan kekuatan gempa 8. Run-up Tsunami 8.7 SM (Posisi -7:41: 28.9 m.

. (2-4 m).1 Limpasan Tsunami dan Citra DEM ALOS (PRISM) Kelas-kelas topografi dihasilkan dengan menggunakan metode klasifikasi terbimbing (supervised classification). Pemilihan kelas-kelas topografi didasarkan atas nilai ketinggian terendah lebih besar dari 0 m dan tertinggi lebih kecil dari 10 m. 4. dan (8-10) m. (6-8 m).7 Integrasi (Overlay) Data Penginderaan Jauh dengan Model Tsunami Penentuan daerah rawan tsunami di kabupaten Cilacap berdasarkan metode pemodelan tsunami (area limpasan tsunami) didasarkan pada kondisi topografi daratan di sekitar pesisir dan penutupan/penggunaan lahannya.7. (4-6 m). Tinggi tsunami yang terukur pada model adalah tinggi tsunami yang di atas topografi bukan dari MSL. Peneliti membagi lima kelas topografi yaitu : (0-2 m).89 4.

.7 SM .5 58.92 8.5) m yaitu sebesar 58.90 Gambar 46. Dan tabel 10. DEM dan Limpasan Tsunami 7.26 0 0 0 0 Gambar 46 memperlihatkan luasan tsunami pada kelas-kelas topografi Cilacap yang digunakan pada penelitian ini.89 2.55 6.5 0.5-1 1-1. Luasan limpasan tsunami tertinggi berada pada kelas topografi (0-2) m dengan kelas tinggi tsunami (0-0. menunjukkan area luas limpasan tsunami pada kelas topogarfi yang dihasilkan gempa yang berkekuatan 7.53 0.7 SM Tabel 13.29 0 0 1.55 0 2. Landainya topografi daratan mempengaruhi seberapa luas masuknya tsunami ke daratan.924 ha. Luasan limpasan tsunami (7. Hasil survey lapangan menunjukkan bahwa hampir 90% area terkena tsunami sama dengan model yang dihasilkan (Lampiran 3).7 SM) pada kelas topografi (ha) Kelas Ketinggian Topografi (m) 0-2 2-4 4-6 6-8 8-10 Kelas Ketinggian Tsunami (m) 0-0.42 2.

Dibanding dengan topografi yang lebih tinggi dari 2 m.86 1.9 SM) pada kelas Topografi (ha) Kelas Ketinggian Topografi (m) 0-1 0-2 2-4 4-6 6-8 8-10 218.91 Gambar 47.24 0 3-4 110.17 13.9 SM menunjukkan area limpasan yang lebih besar dibanding dengan tsunami yang dihasilkan gempa berkekuatan 7. tsunami menggenangi hingga 110.93 3. LuasanLimpasan Tsunami (8. Pada tiap kelas ketinggian tsunami menunjukkan bahwa ketinggian (0-2) m adalah wilayah yang lebih banyak terkena tsunami. Tsunami yang dihasilkan gempa berkekuatan 8. Hal ini menunjukkan daerah yang memiliki topografi yang relatif rendah lebih berpotensi untuk digenangi tsunami lebih luas dibandingkan daerah yang memiliki topografi lebih tinggi.69 1.20 32.60 1. .86 0 4-5 11.39 24. Bahkan pada kelas tinggi tsunami 3-4 m.04 1.94 1.17 ha.04 1.85 2.64 7.48 163. Topografi rendah memberikan limpasan tsunami dengan mudah hingga mencapai ratusan meter.88 2.479 ha.04 0.9 SM Hasil overlay DEM dan limpasan tsunami menunjukkan bahwa pengaruh topogarfi terhadap luasan limpasan tsunami dapat dilihat pada Gambar 47.74 53. DEM dan Limpasan Tsunami 8. Tabel 14.66 0 2-3 70.7 W.28 0 Kelas Ketinggian Tsunami (m) 1-2 85.21 Tabel 14 menunjukkan kelas ketinggian topografi yang paling rendah (02) m adalah kelas yang paling banyak terkena tsunami yaitu sebesar 218.

83 4.04 5.79 137. DEM dan limpasan tsunami 8.99 98.41 4-5 0 0.04 0.7 SM Prediksi tsunami yang dibangkitkan oleh gempa yang berkekuatan 8.498 ha. Terlihat pada Tabel.78 5. Tabel 15.7 SM) pada kelas topografi (ha) Kelas Ketinggian Topografi (m) 0-2 2-4 4-6 6-8 8-10 Kelas Ketinggian Tsunami (m) 1-2 2-3 3-4 245.46 33. Luasan limpasan tsunami (8.62 3.20 0 0 0 .87 3. bahwa area terluas limpasan berada pada kelas topografi (0-2) m dengan tinggi tsunami (1-2) m yaitu sebesar 245.50 46.7 SM menunjukkan area limpasan area tsunami yang jauh lebih besar.83 29.54 192.43 1.06 2.67 5.92 Gambar 48.81 0 0 0-1 141.04 0.

2 Limpasan Tsunami pada Penutupan/penggunaan Lahan Selain faktor topografi yang landai.7 SM pada penggunaan/penutupan lahan di Kabupaten Cilacap .7. Area yang bisa dikategorikan rawan tsunami yaitu berdasarkan penggunaan lahannya bagi kepentingan masyarakat yang menempati wilayah tersebut. Hal ini penting untuk penentuan prediksi daerah rawan tsunami berdasarkan limpasaan tsunami yang menghempas tipe penggunaan lahan tertentu. maka penentuan daerah rawan tsunami didasarkan pada penutupan/penggunaan lahannya. Gambar 49.93 4. Area limpasan tsunami 7. Peta penutupan/penggunaan lahan yang dihasilkan dari citra ALOS memberikan informasi penutupan/penggunaan lahan yang lebih akurat.

tambak. dan budidaya seperti sawah.04 3.5 1-1. Kelas pemukiman terbesar yang terkena tsunami 7.29 7.26 Tabel 16 menunjukkan hubungan kelas penggunaan/penutupan lahan yang terkena tsunami dengan kelas skala tinggi tsunaminya.75 1.94 Tabel 16.91 3. Luasan Area Limpasan Tsunami dan pada Tipe Penggunaan Lahan (ha) Kelas Landuse Pemukiman Industri Jalan Lahan Terbuka Tambak Sawah Pasir Vegetasi Lain Kelas Skala Tsunami (m) 0.63 1.53 12.51 0. fasilitas umum seperti jalan dan lapangan (lahan terbuka).77 1.02 4.63 ha dengan tinggi tsunami 0-0.77 0. Hal ini deisebabkan tsunami dengan kekuatan gemap 7. Kelas pemukiman menjadi kelas pertama dalam penentuan area rawan tsunami.34 0.77 0-0.7 SM menghempas area yang tidak terlalu jauh ke daratan dan hanya menggenangi kelas dekat pesisir yaitu pada kelas tambak sebesar 27.57 0. Sedangkan kelas penutupan/penggunaan lahan yang terkena tsunami yang paling besar adalah kelas tambak.5 0 0 2. dan ladang dan kelas terakhir adalah kelas penutupan lahan yang tidak terlalu rawan jika dibandingkan dengan kelas pemukiman atau budidaya.26 0.76 4.7 SM adalah 6. Sedangkan kelas kedua adalah kelas-kelas penggunaan untuk kepentingan masyarakat dalam hal penggunaan untuk industri.08 27.32 0.293 ha .08 25.5 m.53 11.5-1 6.04 2. Hal ini disebabkan area pemukiman merupakan lahan yang paling penting dan akan menjadi rawan tsunami apabila area tersebut terkena tsunami.22 4.

Area limpasan tsunami 8.95 Gambar 50.9 SM.9 SM pada penggunaan/penutupan lahan di Kabupaten Cilacap Gambar 50. Terlihat pada peta di atas. memperlihatkan area genangan tsunami yang dihasilkan gempa berkekuatan 8. daerah limpasan tsunami lebih besar dibandingkan dengan tsunami 7.7 SM dan merusak beberapa penutupan/penggunaan lahan yang lebih besar (Tabel 17) .

92 ha dengan ketinggian tsunami.10 71.63 0.42 30.62 17.37 4.62 0 2.00 316.21 0 0 0 0 Kelas penutupan/penggunaan lahan yang terkena tsunami jauh lebih banyak dan besar dibanding tsunami yang dihasilkan gempa yang lebih kecil.12 41.46 2.23 8.45 17.54 17.38 1.86 5.48 15.96 Tabel 17 .14 2.50 51.75 3. Kelas penggunaan lahan tambahan yang terkena limpasan tsunami adalah sekolah dan tempat peribadatan.87 91.21 0 0.60 51.42 0 0 4.08 159.51 49.11 11. Luasan Area Limpasan Tsunami dan pada Tipe Penggunaan Lahan (ha) Kelas Landuse Pemukiman Industri Sekolah Tempat Ibadah Jalan Lahan Terbuka Tambak Sawah Pasir Vegetasi lain Ladang Rumput/Semak Kebun/Perkebunan Kelas Skala Tsunami (m) 1-2 2-3 3-4 34.37 32.65 0.76 2.63 ha pada kelas ketinggian tsunami 0-1 m .92 57.65 0.88 22. Hal ini menunjukkan bahwa kelas kebun/perkebunan di Kabupaten Cilacap berada di area topografi yang tinggi sehingga kecil kemungkinan akan tergenang tsunami.84 4.47 26.85 23.49 11.23 0 2.21 2.62 5.02 23.07 1.22 19.08 20.21 0 0 0 0 0 0-1 132.81 0. Kebun atau perkebunan menempati kelas yang paling sedikit tergenang tsunami. Luas area tergenang tsunami pada kelas kebun hanya mencapai 0.98 ha dengan tinggi tsunami 0-1 m.44 66. Kelas pemukiman yang terkena tsunami sebesar 132.86 4.48 0.62 16.98 22. Kelas penutupan/penggunaan lahan terbesar yang terkena genangan tsunami 8.63 4-5 3.9 SM ini adalah jalan yaitu sebesar 316.

7 SM pada penggunaan/penutupan lahan di Kabupaten Cilacap Skenario ketiga memperlihatkan area genangan tsunami jauh lebih merusak tipe penutupan/penggunaan lahan yang berada di Kabupaten Cilacap. . Hal ini disebabkan meskipun kekuatan gempa yang membangkitkan tsunami lebih kecil dari skenario sebelumnya. namun dampak yang ditimbulkan lebih besar karena pengaruh jarak dari pusat gempa lebih dekat dibandingkan dengan skenario sebelumnya. Area limpasan tsunami 8.97 Gambar 51.

Ini menunjukkan bahwa pada tsunami yang berkekuatan 8.14 0 0-1 163.82 4-5 0 0 0 0 0 0 0.71 0.75 0.03 18.14 0 0.52 122.87 7.61 2. . Luasan Area Limpasan Tsunami dan pada Tipe Penggunaan Lahan (ha) Kelas Landuse Pemukiman Industri Sekolah Rumah Sakit Tempat Ibadah Jalan Lahan Terbuka Tambak Sawah Pasir Vegetasi lain Ladang Rumput/Semak Kebun/Perkebunan Kelas Skala Tsunami (m) 1-2 2-3 3-4 66.14 0.38 0 0 0 0 0 0.06 3.70 39.89 14.14 0 0 0.27 0. Pada skenario ketiga memperlihatkan kondisi limpasan tsunami yang lebih luas dan lebih banyak merusak tipe penutupan/penggunaan lahan.91 203.65 16.46 24.59 55.23 17.7 SM adalah kondisi atau skenario paling buruk karean telah merusak area penutupan/penggunaan lahan yang lebih besar.62 23. sedangakan kelas penggunaan lahan sawah menjadi area yang paling besar terkena tsunami yaitu sebesar 203.99 54.29 ha dengan tinggi tsunami 0-1 m.05 49.68 3.52 0. adanya kelas tambahan yang terkena tsunami yaitu rumah sakit yang pada kedua skenario sebelumnya kelas tersebut belum terkena tsunami.65 16.98 Tabel 18.70 0.31 38.14 0 0 0.38 17.54 1.42 0.41 2.13 19.99 0 0 58.95 11.67 11. Hal ini terlihat pada Tabel 15.13 124 45.42 0 0 0 Area pemukiman yang terkena tsunami sebesar 1630.61 1.14 2.46 1.751 ha pada ketinggian tsunami yang sama.51 31 6.14 1.34 14.

7.5-1 1. Area Limpasan tsunami pada Desa (ha) Nama Desa Menganti Karang kandri Slarang Cilacap Selatan Tegal Kamulyan Mertasinga Kelas Skala Tsunami (m) 0-0. Selain karena topografinya termasuk dataran rendah juga karena letaknya yang langsung berhadapan dengan zona patahan di Samudera Hindia.99 4.373 0.185 0.5-2 0 0 0 0 0.562 1-1.187 0. Kabupaten Cilacap Tsunami sangat merugikan manusia.750 1. Area limpasan tsunami 7.176 49.686 12.124 0.7 SM di Kabupaten Cilacap Tabel 19.3 Limpasan Tsunami di Desa.5 0.562 3. Wilayah yang terkena tsunami mengindikasikan wilayah tersebut rawan tsunami.750 4. Gambar 52 .187 0 .5 18. khususnya pada wilayah yang rawan tsunami sperti di Cilacap.280 3.870 4.742 1.750 7.122 0 0 0.310 0.

Run-up tsunami 7.5 m di atas topografi tersebut dan jarak terjauh limpasan tsunami hingga 355. Desa Karang Kandri juga memiliki topografi yang lebih rendah dibandingkan daerah lainnya sehingga tsunami masuk lebih luas di desa tersebut.280 ha di Karang Kandri dengan tinggi tsunami 0-0. Dalam penelitian ini area tergenang tsunami menacapai 49. Desa yang terkena tsunami paling kecil adalah Kecamatan Cilacap Selatan yaitu seluas 0.7 SM di Kabupaten Cilacap . Gambar 53. Hal ini disebabkan desa atau kecamatan tersebut memiliki topografi yang lebih tinggi serta terlindung dari tsunami oleh Pulau Nusa Kambangan yang topografinya tinggi.75 ha.100 Tsunami yang dihasilkan gempa tektonik pada tanggal 17 Juli 2006 telah merusak beberapa wilayah di kabupaten Cilacap. Hal ini disebabkan selain letaknya dekat pantai.96 m dari garis pantai di desa Karang Kandri.

Hal ini telah dibuktikan dengan pengukuran data tide gauge oleh peneliti BMG lalu dibandingkan dengan hasil model. 2007) . Selain itu adanya arrival time yang dihasilkan model hanya didasarkan atas waktu pacu model selama 3 jam.66 m dengan jarak terjauh hingga 1000 m.101 Informasi ketinggian tsunami (run-up) yang dibangkitkan gempa dengan kekuatan 7. Perbedaan pengukuran run-up dan inundation tsunami hasil survey lapangan dan hasil model disebabkan oleh perbedaan titik pengamatan dan pengukuran.3 m dari atas topografi desa tersebut. Maka hasilnya model Tohoku University memiliki akurasi mencapai +1 (100%) (Gunawan. Tsunami masih terasa hingga Sidakaya. Pada model penelitian ini tinggi run-up tsunami dihitung berdasarkan tinggi tsunami dari topografi di titik tersebut. Sedangkan pada pengamatan survey lapangan. ketinggian tsunami mencapai 4. namun ketinggian tsunami di desa tersebut tidak terlalu besar hanya 0.7 SM melanda beberapa wilayah di Cilacap. Namun pada dasarnya model yang dihasilkan pada penelitian ini memiliki akurasi yang baik. Namun jika dibandingkan data BMG (2006) hasil Survey Tsunami Jepang-Korea-Indonesia tinggi tsunami 17 Juli 2006 mencapai 5 meter di Lengkong (tidak termasuk area kajian penelitian) dengan jarak terjauh inundation dari garis pantai sepanjang 400 m. Hal ini disebabkan tidak adanya data history tsunami dari mulai pembangkitan hingga run down tsunami yang akurat yang dimiliki pemerintah. pengukuran run-up tsunami dihitung dari MSL.27 m. Di wilayah Adipala (tidak termasuk area kajian penelitian). Tinggi tsunami tertinggi terletak di Desa Slarang setinggi 1.

Area yang tergenang tsunami berdasarkan pembagian desa di Kabupaten Cilacap dapat dilihat pada tabel 20. . Limpasan tsunami hingga mencapai jarak 599.9 SM di Kabupaten Cilacap Kekuatan gempa 8. Pengukuran jarak limpasan tsunami dengan mengukur tegak lurus dari garis pantai mencapai limpasan tsunami terjauh.48 m dari garis pantai di desa Tegal Kamulyan hingga Desa Salarang. Tingkat kerusakan tsunami berdasarkan klasifikasi tinggi tsunami. Area limpasan tsunami 8.102 Gambar 54.9 SM mengakibatkan kerusakan yang besar pada penggunaan lahan manusia seperti pemukiman (Gambar 54).

63 41. Tegal Kamulyan.05 26. Area Limpasan tsunami pada Desa (ha) Kelas Skala Tsunami (m) Nama Desa Desa Baru Sidanegara Tambakreja Menganti Karang Kandri Slarang Kalisabuk Buton Sidakaya Cilacap Tegal Kamulyan Gumilir Mertasinga Kebon Manis Gunung Simpang 0-1 39.02 0 0 27.60 1.88 65.68 11.51 9.58 13. Desa Tegal Kamulyan adalah desa paling banyak terkena limpasan tsunami hingga 142.97 142.58 1-2 34. Sama halnya di Tegal Kamulyan. Karangkandri.70 3.70 0 3.513 ha dengan ketinggian tsunami 0-1 m. Slarang.50 15.47 1. Kalisabuk. Desa Karang kandri juga termasuk area terkena limpasan tsunami yang tidak kecil yaitu sebesar 108.40 0. Kebon Manis. Buton.15 108.61 0 0.36 32.57 0 4.7 SM.05 0 0 0 0 0 0 0 Kerusakan yang diakibatkan pada skenario ini lebih meluas hingga 15 desa/kecamatan di Kabupaten Cilacap.02 0 0 12.56 6.11 76.103 Tabel 20.45 71. Gumilir.56 54.27 1. . Maka prediksi wilayah yang tergenang tsunami jauh lebih luas meliputi : Desa Baru.75 0 0 4-5 0 0 0 3.41 0 0.34 2-3 1.69 0 5. Mertasinga. Cilacap.581 ha pada ketinggian tsunami 3-4 m.70 22.09 13. Sidanegara.39 1.47 5. Menganti.40 0 6.63 0.39 25.91 92.11 0 1.68 0 0 4.41 0 0 3-4 1. Hal ini tentu lebih besar dibandingkan tsunami dengan gempa 7.34 23.57 7.68 3. Gunung Simpang.02 51. Sidakaya.09 12. Tambakreja.83 54.02 19.

7 SM). maka keduanya memiliki pusat area yang paling rawan terkena tsunami yaitu Desa Slarang dan Karang Kandri.7 SM.5 – 3.9 SM menghasilkan interval tinggi tsunami 1. Namun seperti halnya skenario gempa satu (7.75 m di beberapa titik pengamatan.104 Gambar 55. Jika dibandingkan dengan tinggi tsunami dengan skenario gempa 7. tinggi tsunami dengan kekuatan gempa 8.9 SM menghasilkan tinggi tsunami yang lebih tinggi dan menyebar diseluruh pesisir Cilacap.9 SM di Kabupaten Cilacap Gambar 55 mennjukkan tinggi tsunami pada skenario gempa 8. Run-up tsunami 8. Pada umumnya tsunami yang dihasilkan lebih dari 1 m berada di desa/kecamatan Karang Kandri dan Slarang dengan tinggi maksimum berada di Slarang. .

Informasi luasan limpasan tsunami yang dibangkitkan gempa berkekuatan 8. Secara visual area tergenang tsunami terlihat paling luas hingga lebih dari 800 m berada di area yang jauh dari Pulau Nusakambangan.7 SM ini dapat dilihat pada tabel 21.92 m dari garis pantai yang berada hingga Desa Slarang (Gambar 56).7 SM menghasilkan area genangan tsunami yang jauh lebih besar dibandingkan dua skenario gempa sebelumnya yaitu 7.9 SM ini area limpasan mencapai 843.7 SM dan 8. . Area Limpasan Tsunami 8.105 Gambar 56. Hal ini menyebabkan Desa yang tidak terlindung Pulau Nusakambangan mendapat limpsan tsunami yang lebih luas.7 SM di Kabupaten Cilacap Dampak tsunami 8. Pada gempa 8.9 SM.

02 36.41 1.18 21.27 58.83 37.32 39.07 3-4 0 0 15.24 0 0 0 0 1.89 102.7 SM (Skala Magnitude) menghasilkan tsunami yang lebih besar.94 27. Sedangkan wilayah Tegal Kamulyan menempati urutan kedua daerah rawan tsunami dengan prediksi luasan tsunami hingga 120.44 1-2 5. Area Limpasan tsunami pada Desa (ha) Nama Desa Sidanegara Tambakreja Menganti Karang Kandri Sidakaya Cilacap Tegal Kamulyan Gumilir Mertasinga Kebon Manis Gunung Simpang Slarang Kalisabuk Buton Kelas Skala Tsunami (m) 0-1 44. .9 SM (Skala Magnitude).72 0 0 2. Meskipun kekuatan gempa juga mempengaruhi tetapi faktor jarak terhadap sumber gempa pada penelitian ini lebih berpengaruh.92 m dari garis pantai.29 1.106 Tabel 21.89 6.85 40.25 17.89 26.96 4.21 5.06 22.939 ha pada ketinggian tsunami yang sama yaitu 0-1 m dengan jarak terjauh limpasan mencapai 843.19 0 2.613 ha dengan ketinggian tsunami 0-1 m.22 20.88 0 7. Hal ini terlihat pada area limpasan yang tergenang tsunami lebih jauh mencapai daratan dibandingkan dua skenario sebelumnya.00 9.23 134.43 0 8.65 30.89 3.32 8.01 14. Skenario gempa 8.63 70.54 120.89 Luas area genangan tsunami terbesar terletak di Desa Slarang hingga mencapai 134.61 0 0.61 2.08 90.92 0 1. Sehingga tingkat kerusakan yang dihasilkan lebih besar dibandingkan tsunami dengan kekuatan gempa 8.59 13.32 1.29 114.24 0 0. Faktor jarak sumber gempa terhadap daratan sangat mempengaruhi besarnya tsunami yang dihasilkan.34 0 1.35 21.83 0 2.12 4-5 0 0 0 0 0 0 0.37 2-3 0 0 28.

107

Gambar 57. Run-up tsunami 8.7 SM di Kabupaten Cilacap Tinggi tsunami pada skenario ketiga yaitu tsunami yang dihasilkan gempa 8.7 SM memiliki run-up yang menyebar dan tinggi tsunami yang lebih tinggi dibanding dengan kedua skenario sebelumnya. Seperti yang terlihat pada Gambar 57, tinggi tsunami menyebar diseluruh pesisir dengan ketinggian 0.5-3.75 m. Run-up tsunami paling tinggi berada di desa Karang Kandri yaitu sekitar 3.7 m dari topografi titik pengamatan.

4.8 Penentuan Daerah Rawan Tsunami Kabupaten Cilacap

Penentuan daerah rawan tsunami pada penelitian ini didasarkan pada prediksi area tergenang tsunami dengan menggunakan tiga model skenario gempa. Daerah tergenang tsunami pada kekuatan gempa dasar laut 7.7 SM, 8.7 SM dan

108

8.9 SM menunjukkan area pesisir merupakan daerah rawan tergenang tsunami. Namun dalam penentuan daerah rawan tsunami, faktor kelas penggunaan lahan ikut mempengaruhi. Sehingga suatu daerah bisa dikatakan rawan jika daerah tersebut memiliki kriteria jenis penutupan/penggunaan lahan yang paling penting.

Gambar 58 . Luasan area kelas penutupan/penggunaan lahan pada tiap Desa di Kab. Cilacap

Gambar 59 . Luasan area kelas topografi pada tiap Desa di Kab. Cilacap

109

Gambar ( 58 dan 59) menunjukkan luasan jenis-jenis penggunaan lahan tiap desa dan luasan area tiap desa berdasarkan kelas topografinya. Tsunami akan mudah menghempas pada daerah yang memiliki topografi yang rendah. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan terjal dan landainya morfologi pantai akan mempengaruhi jangkauan tsunami yang menghempasnya. Pada pantai yang terjal, tsunami tidak akan terlalu jauh mencapai daratan karena sebagian tsunami tersebut akan tertahan dan dipantulkan kembali oleh tebing pantai, sedangkan pada pantai yang landai seperti pantai Cilacap ini, tsunami dapat menerjang sampai beberapa kilometer masuk ke daratan. Desa Tegal kamulyan adalah desa yang memiliki topografi yang rendah (0-2) m yang paling luas dibandingkan dengan desa lainnya yaitu sebesar 158 ha. Sedangkan Desa Karang kandri adalah desa yang memiliki luas topografi lebih dari 8 m paling luas yaitu sebesar 19.665 m. Namun desa ini juga memiliki topografi yang rendah yang cukup luas yaitu sebesar 126.648 ha.

Gambar 60. Tingkat kerusakan jenis penutupan/penggunaan lahan oleh limpasan tsunami 7.7 SM

Gambar 61. Data ini menujukkan bahwa desa ini termasuk daerah rawan .648 ha.220 ha dibandingkan Karang Kandri. Tingkat kerusakan penggunaan lahan tipe pemukiman dan bangunan sebesar 132.9 SM Sedangkan pada skenario gempa kedua menunjukkan Desa Tegal Kamulyan adalah desa rawan tsunami dengan luasan limpasan tertinggi sebesar 142. Tingkat kerusakan jenis penutupan/penggunaan lahan oleh limpasan tsunami 8. maka desa yang bisa dikatakan rawan tsunami adalah desa Tegal Kamulyan karena wilayah ini merupakan daerah yang padat area pemukiman (Gambar 61) dengan topografi 0-2 m yang lebih luas yaitu 158. Namun jika dibandingkan desa pesisir lain yang tergenang tsunami.220 ha.513 ha pada kelas tinggi tsunami 0-1 m.110 Tsunami dengan kekuatan gempa dasar laut 7.7 SM menggenangi daerah Karang Kandri paling luas mencapai 49.28 ha dengan luas topografi 0-2 m sebesar 126.982 ha dan luasan topografi 0-2 m sebesar 158.

7 SM Tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh tsunami berkekuatan gempa 8. Area rawan tsunami daerah pesisir Cilacap pada skenario gempa 8.982 ha.111 tsunami jika pada terjadi gempa dengan kekuatan 8. . misalnya tingkat kerusakan penggunaan lahan jenis pemukiman mencapai 163.9 SM pada posisi epicenter dibanding desa lain yang tergenang tsunami.7 SM menjukkan bahwa desa Tegal Kamulyan adalah desa yang paling rawan dibandingkan desa-desa lainnya yang tergenang tsunami di Kabupaten Cilacap. Hal ini terlihat jelas dari Gambar .9 SM yang hanya merusak kelas pemukiman sebesar 132.029 ha. Nilai ini lebih besar disbanding tsunami dengan kekuatan 8. Gambar 62. Hal ini disebabkan desa ini merupakan area pesisir yang memiliki tipe penggunaan lahan padat pemukiman dan bangunan dibanding dengan desa lainnya yang terkena limpasan tsunami juga. Tingkat kerusakan jenis penutupan/penggunaan lahan oleh limpasan tsunami 8.7 SM lebih tinggi dibanding dua skenario sebelumnya.

dan 120. .96 m.48 m dan 843.7 Mw. 8.513 ha pada skala gempa 8.serta jarak sumber gempa). KESIMPULAN DAN SARAN 5.7 Mw menggenangi beberapa desa pesisir di Kabupten Cilacap.87 ha pada skala gempa 7.9 Mw serta 8. Begitu pula metode pansharpan AVNIR dan PRISM pada penelitian ini mempengaruhi banyaknya informasi pengkelasan landuse sehingga tingkat ketelitian data penutupan/penggunaan lahan semakin akurat. Desa Tegal Kamulyan adalah Desa rawan tsunami dengan tingkat kerusakan yang paling besar yaitu 7.914 ha pada skala gempa 8. Jarak sumber gempa mempengaruhi limpasan tsunami yang semakin luas di daerah pesesisir Cilacap.1 Kesimpulan DEM hasil penurunan dari citra ALOS memiliki ketelitian yang lebih detil dengan relief menyerupai topografi sesungguhnya. Jarak terjauh limpasan mencapai 355. topografi dan faktor kedalaman laut pada penelitian ini mempunyai pengaruh terhadap besarnya area limpasan tsunami di daerah peisisir pantai Cilacap.9 Mw.92 m dari garis pantai di Desa Tegal Kamulyan pada tiap skenario.112 5. Semakin besar kekuatan gempa maka tingkat kerusakan tsunami semakin tinggi.7 Mw. Tiga skenario gempa yang dapat menghasilkan tsunami yaitu 7. 142. Hal ini disebabkan landainya topografi dan tipe penggunaan lahan yang padat pemukiman dibandingkan dengan desa lain yang terkena limpasan tsunami. 599. Parameter gempa (kekuatan.7 Mw.

Selain itu penggunaan parameter-parameter gempa selain: posisi epicenter. sehingga dapat diketahui perbandingan tingkat akurasi dari model DEM yang dihasilkan. . panjang sesar. Pada penelitian ini metode pansharpan yang digunakan adalah metode algoritma Gram Schmidt. maka disarankan untuk penelitian selanjutnya menggunakan algoritma yang lain sehingga dapat diketahui tingkat akurasi tiap algoritma penggabungan citra. dip. lebar sesar dan kekuatan gempa yang lebih bervariasi sehingga dapat membedakan pengaruh dari tiap parameter gempa tersebut.113 5.2 Saran Penelitian selanjutnya disarankan membandingkan model dengan menggunakan DEM interferometri.

2006. Cilacap. Indonesia (BPPT). IndonesiaIntegrating numerical model with remote sensing and GIS. Agency for the Assessment & Application of Technology. BMG : Jakarta Hajar. Dalam : Prosiding Penerapan Hasil Riset untuk Penanggulangan Bencana Tsunami di Indonesia. Earth Resource Mapping Pty Ld Ginting. 2007. Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA). 2006. Program Studi Ilmu Kelautan. Tsunami. BAPPEDA. . 2003. BMG : Jakarta Gunawan. R. 2005. Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh Deputi Bidang Penginderaan Jauh. Tsunami hazard assessment of Cilacap. Bambang. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2004. Carolita. Skripsi (Tidak Dipublikasikan). dan A. Subarkah. Survey Tsunami Pantai Selatan Jawa : Pangandaran-Cilacao-Kebumen-Yogyakarta. Model Numerik Penjalaran Gelombang Tsunami Biak Tahun 1996. 2005. S.co. 1997. Institut Teknologi Bandung. Skripsi (Tidak Dipublikasikan). M.114 DAFTAR PUSTAKA Abietto. Program Studi Geofisika dan Metereologi. http:// ugm. 1988. Tsunami Propagation and Inundation Modeling Using ComMit Interface. Institut Pertanian Bogor. dan Idriawan. Kebutuhan Riset Tsunami untuk Mendukung Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu di Indonesia. 2005. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Indonesia National Aeronautics and Space Institute (LAPAN).0 : Helping People Manage the Earth. Pengantar Oseanografi. 1990. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Y. LAPAN Gunawan. GIC Asia Institute of Technology Diposaptono.id (24 Mei 2008) BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Cilacap. ER Mapper 6. 2007. Bogor Hutabarat. A. S dan S. Cilacap Dalam Angka 2005. Pemetaan Tingkat Kerawanan Bencana Tsunami Menggunakan Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) Studi kasus : Kota Padang. Bogor Ermapper. Jakarta. Kajian Sateli Masa Depan – ALOS. Buku Ilmiah Populer. I dan Fachrizal. BPPT. M. I. I. Evans. Hlm: 207-233 Diposaptono. Bandung BAKOSURTANAL. Permasalahan dan Dinamika Pantai pada Daerah Wisata Pantai Baron dan Krakal Yogyakarta . S dan Budiman.

Jilid I. Rencana Pembangunan Jangka Panjang TNI-AL. 2006. Centre for Estuarine and Marine Ecology. Pages 11351154. Yogyakarta. Earth Observation Research Center Japan Aerospace Exploration Agency. ALOS User handbook. Teknik Pantai.wikipedia. vii+252 h. Kabupaten Cilacap http://id. 2006. TNI-AL. 2007. 2006. 1973. B.J. Yogyakarta. Deputi Bidang Penginderaan Jauh. Prahasta. And D. http://usgs. E. L..2007. K. Gajah Mada University Press. Tsunami Modelling Manual. Bandung Purbowaseso. Harvard Moment Tensor Solution.Yogyakarta.. Disaster Control Research Center. Oceanography an Introduction. PT Iinformatika. Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh. Kiefer. Tohoku University. Japan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Bull. 1995. California Imammura. Penginderaan jauh terapan. Mansinha. dan P. Seism. Dulbahri.M dan F. Wadsworth Publishing Company. Surface Deformation due to Shear and Tensor Fault in Falf-space. LAPAN: Jakarta USGS. dan W. T. Gadjah Mada University Press.. Soc.W. Smylie. B. Berita Inderaja.Wallace. Digital Elevation Model Menggunakan Citra Stereo Satelit Optis dan Potensi Pemanfaatanya. Universitas Indonesia-Press : Jakata Soetaert.id/batimetri indonesia (24 Mei 2008) Triatmodjo. Trisakti. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Gajah Mada University Press. http:// google. Remote Sensing. Lillesand.115 Iingmason. 2001. 2008. Netherlands Institut of Ecology Sutanto. B. E. 2008. Jepang JAXA. Diterjemahkan oleh R.co. Penginderaan Jauh. 2005. Vol. D. 1999.org/wiki/Kabupaten_Cilacap (10 Februari 2008) . Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra.com/earthquake havard (12 Juni 2008) Wikipedia. Herman. 75.1990.Ame. Ecological modelling lecture notes.E. 1998. 1971.

Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV. Cahyono. Program Studi Teknik Geodesi.116 Winardi. Studi Perubahan Tutupan Lahan dengan Citra Landsat Menggunakan Geographic Resources Analyis Support System ( GRASS). Surabaya . Institut Sepuluh November. W dan A. 2005.

L A M P I R AN .

5" LS : 109o 00' 39.3" BT : 05:46 WIB : 19 m : Tidak terkena Jenis pengg. Survey Lapangan Gambar 63. Masjid Alun-alun Tsunami 2006 : 01 : 07o 43' 40.117 1.9 SM : Tidak terkena .7-8. Foto-foto kegiatan survey lapangan No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 1. lahan : Masjid Prediksi 8. Posisi stasiun survey lapangan penelitian 2.

lahan : Sekolah Prediksi 8. Pertamina Tsunami 2006 : 04 : 07o 44' 51.118 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 2. SMP 8 Cilacap Tsunami 2006 : 03 : 07o 44' 51.1" BT : 05:57 WIB : 16 m : Tidak terkena Jenis pengg.9 SM : terkena . lahan : Industri Prediksi 8.9 SM : Tidak terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 3.1" BT : 05:50 WIB : 20 m : Tidak terkena Jenis pengg.3" LS : 109o 00' 55.0" LS : 109o 01' 09.9 SM : Tidak terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 4.7-8.7-8.7-8.3" BT : 06:50 WIB : 25 m : Tidak terkena Jenis pengg. lahan : Bangunan Prediksi 8.3" LS : 109o 01' 17. Tugu Tsunami 2006 : 02 : 07o 43' 59.

9 SM : terkena .6" BT : 07:15 WIB : 21 m Jenis pengg. Pasir pantai Cilacap : 05 : 07o 44' 34.2" LS : 109o 01' 15.5" BT : 07:25 WIB : 22 m Jenisi pengg. lahan : Dermaga Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.9" LS : 109o 01' 08. Vegetasi lain : 07 : 07o 44' 31.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 6.119 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 5. lahan : Pasir Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.7-8.7-8.7-8.2" BT : 07:08 WIB : 22 m Jenis pengg.7" LS : 109o 01' 11. Dermaga : 06 : 07o 44' 32.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 7. lahan : Vegetasi lain Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.

1" BT : 07:38 WIB : 21 m Jenis pengg.7-8.7-8.2" BT : 07:43 WIB : 22 m Jenis pengg.9" LS : 109o 01' 06.7-8. lahan : Jalan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 10.5" LS : 109o 01' 08.3" LS : 109o 01' 07. Jalan : 11 : 07o 44' 07.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 9.6" BT : 07:31 WIB : 21 m Jenis pengg.120 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 8. PT Antam Tbk : 10 : 07o 44' 15. lahan : Permukiman Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8. lahan : Industri Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8. Permukiman : 08 : 07o 44' 24.9 SM : terkena .

Pembangunan gedung Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.5" BT : 07:56 WIB : 16 m Jenis pengg.2" LS : 109o 01' 10.9 SM : terkena .9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi : 20 : 07o 43' 36.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 12.7-8. lahan : Bangunan Gamb 13.7-8. lahan : Bangunan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.3" LS : 109o 01' 21.2" BT : 08:32 WIB :7m Jenis pengg. Pelabuhan : 18 : 07o 43' 40.6" LS : 109o 01' 27.5" BT : 08:50 WIB : 20 m Jenis pengg. Jembatan : 14 : 07o 44' 01.121 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 11.7-8. lahan : Jembatan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.

8" BT : 09:31 WIB : 21 m Jenis pengg. lahan : Bangunan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8. Jalan : 24 : 07o 43' 09.3" LS : 109o 01' 10. Gedung Olahraga : 27 : 07o 43' 00.9 SM : Tidak terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 15. Sawah : 23 : 07o 43' 15.7-8.7-8. lahan : Jalan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.7" BT : 09:08 WIB : 20 m Jenis pengg.8" LS : 109o 01' 13.8" BT : 09:18 WIB : 19 m Jenis pengg. lahan : Sawah Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.122 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 14.9 SM : Tidak terkena .9 SM : Tidak terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 16.2" LS : 109o 01' 14.7-8.

9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 18.7-8. lahan : Industri Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8. Industri ikan asin : 32 : 07o 42' 53.1" LS : 109o 01' 27.9" BT : 09:39 WIB : 23 m Jenis pengg.9 SM : terkena . lahan : Sawah Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8. Lapangan Tenis : 28 : 07o 43' 09.6" BT : 10:09 WIB : 22 m Jenis pengg.0" LS : 109o 01' 17.7-8.9 SM : Tidak terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 19.123 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 17. lahan : Bangunan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.2" BT : 10:16 WIB : 25 m Jenis pengg. Sawah : 31 : 07o 42' 57.7-8.7" LS : 109o 01' 39.

4" LS : 109o 01' 39.9 SM : terkena .7-8.3" LS : 109o 01' 42.7-8.124 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 20.7-8.8" BT : 10:19 WIB : 22 m Jenis pengg.9" BT : 10:25 WIB : 13 m Jenis pengg. lahan : Bangunan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.3" BT : 10:20 WIB : 22 m Jenis pengg. lahan : Perkebunan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 22. Tegalkatilayu : 33 : 07o 42' 54.9" LS : 109o 01' 42. TPI Tegalkatilayu : 34 : 07o 42' 55. Jemb. Perkebunan : 35 : 07o 42' 56.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 21. lahan : Jembatan Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8.

6" BT : 11:45 WIB : 24 m Jenis pengg. lahan : Tambak Tsunami 2006 : Tidak terkena Prediksi 8. lahan : Lahan Terbuka Tsunami 2006 : tidak terkena Prediksi 8.7-8.5" LS : 109o 01' 51. lahan : Pasir Tsunami 2006 : terkena Prediksi 8.5" LS : 109o 01' 57. Tambak : 36 : 07o 42' 57.125 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 23. Lahan Terbuka : 41 : 07o 42' 25.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 24. Pasir : 38 : 07o 42' 53.7-8.9 SM : terkena .5" LS : 109o 02' 16.4" BT : 10:33 WIB : 17 m Jenis pengg.7-8.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 25.0" BT : 11:46 WIB : 25 m Jenis pengg.

1" BT : 14:00 WIB : 13 m Jenis pengg.9"LS : 109o 03' 26.7-8. RS.1" BT : 13:40 WIB : 19 m Jenis pengg. lahan : Sawah Tsunami 2006 : terkena Prediksi 8. lahan : Jalan Tsunami 2006 : terkena Prediksi 8. Sawah : 48 : 07o 41' 35. lahan : Bangunan Tsunami 2006 : tidak terkena Prediksi 8.4"LS : 109o 02' 32.9 SM : terkena .126 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 26.7-8. Jalan ke PLTU : 47 : 07o 41' 43.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 28. Pertamina : 45 : 07o 42' 11.0" BT : 13:03 WIB : 20 m Jenis pengg.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 27.3" LS : 109o 03' 43.7-8.

7-8. TPI Lengkong : 49 : 07o 41' 28.5" BT : 17:00 WIB : 26 m Jenis pengg.7-8.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 31.4" LS : 109o 01' 28.9 SM : tidak terkena .127 No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 29. Kota Cilacap : 53 : 07o 42' 09.3" BT : 14:26 WIB : 19 m Jenis pengg. lahan : Industri Tsunami 2006 : terkena Prediksi 8.1" BT : 15:00 WIB : 27 m Jenis pengg. lahan : Jalan Tsunami 2006 : tidak terkena Prediksi 8. PLTU Mertasinga : 51 : 07o 42' 09.2" LS : 109o 01' 28.7-8.9 SM : terkena No Stasiun Latitude Longitude Waktu Elevasi Gambar 30. lahan : Bangunan Tsunami 2006 : terkena Prediksi 8.6" LS : 109o 04' 00.

9" 07o 43' 15.6" 109o 01' 05.5" 109o 02' 14.9" 109o 01' 14.8" 109o 01' 17.7" 109o 01' 10.9" 109o 01' 21.6" 07o 43' 00.0" 109o 02' 23.1" 109o 01' 17.3" 109o 01' 21.9" 07o 43' 47.8" 109o 01' 29.2" 07o 44' 01.3" 07o 44' 51.8" 109o 01' 42.3" 07o 44' 00.2" 109o 01' 04.7" 07o 42' 54.3" 07o 43' 26.5" 07o 42' 53.4" 07o 42' 55.6" 07o 43' 37.0" 07o 44' 34.0" 07o 43' 09.6" 109o 01' 08.1" 07o 44' 15.7" Waktu 5:46 5:50 5:57 6:50 7:08 7:15 7:25 7:31 7:33 7:38 7:43 7:46 7:49 7:56 8:10 8:24 8:30 8:32 8:48 8:50 8:55 9:01 9:08 9:18 9:22 9:27 9:31 9:39 9:43 10:07 10:09 10:16 10:19 10:20 10:25 10:33 10:38 11:45 11:36 11:40 11:46 12:00 Elevasi (m) 19 20 16 25 22 21 22 21 23 21 22 21 23 16 24 20 20 7 29 20 28 23 20 19 18 16 21 23 22 20 22 25 22 22 13 17 21 24 24 18 25 3 Tsunami 2006 Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Terkena .0" 07o 43' 00.1" 109o 01' 08.9" 07o 44' 24.2" 109o 01' 04.3" 109o 00' 55.4" 109o 01' 52.6" 109o 02' 08.6" 109o 01' 39.2" 07o 43' 09.8" 109o 01' 09.3" 07o 43' 30.8" 07o 43' 09. Tenis Jalan Permukiman Sawah Industri ikan asin Jembatan TPI Tegalkatilayu Kebun Tambak Pasir Pasir Jalan Vegetasi Tanah terbuka Tegalkamulyan Latitude (LS) 07o 43' 40.128 3.2" 07o 44' 03.3" 109o 01' 13.5" 07o 43' 40.5" 07o 42' 14.5" 109o 01' 16.2" 109o 01' 20.8" 109o 01' 10.2" 109o 01' 39.3" 07o 44' 51.5" 109o 01' 19.1" 109o 02' 16.6" 07o 42' 25.4" 109o 01' 13.6" 109o 01' 27.3" 07o 44' 23.0" 109o 01' 27.9" 109o 01' 51.3" 109o 01' 11.5" 07o 42' 58. Tabel hasil survey lapangan (track GPS dan wawancara) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 Jenis/Tipe Masjid Alun-alun Tugu Cilacap (bangunan) SMP 8 (sekolah) Pertamina (industri) Pasir Darmaga (bangunan) Pohon (vegetasi lain) Permukiman Pohon (vegetasi lain) PT Antam Tbk (industri) Jalan SDN 10 Permukiman Jembatan Jalan Darmaga (bangunan) Vegetasi Pelabuhan Samudera Cilacap HNSI (bangunan) Bangunan Jembatan Sawah Sawah Jalan Sawah Jalan Gedung Olahraga (bangunan) Lap.1" 07o 43' 44.5" 07o 42' 37.7" 07o 44' 32.9" 07o 42' 56.9" 07o 44' 07.3" 109o 01' 26.5" 07o 43' 03.1" 07o 42' 28.3" 07o 43' 07.5" 07o 44' 04.2" 109o 01' 06.2" 109o 01' 15.2" Longitude (BT) 109o 00' 39.4" 07o 43' 36.6" 07o 42' 57.9" 109o 01' 27.8" 109o 01' 57.3" 07o 42' 57.1" 07o 42' 53.5" 109o 01' 07.2" 109o 01' 13.1" 109o 01' 09.2" 07o 44' 31.5" 07o 43' 59.3" 109o 01' 42.

7" 07o 41' 07.8" 109o 03' 26.1272521 123.6171085 39.5" 109o 01' 30.6" 07o 42' 11.1" 109o 04' 00.7652413 4.0" 109o 02' 45.0" 109o 01' 28.0203218 0.9977295 45. Pertamina Kebun Jalan Sawah/jalan TPI Lengkong Sawah PLTU PLTU Mertasinga Kota/jalan Terminal 07o 42' 09.9087813 1-2 66.7 dengan tutupan lahan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Kelas Landuse Pemukiman Industri Sekolah Rumah Sakit Tempat Ibadah Jalan Lahan Terbuka Tambak Kelas Skala Tsunami (m)-8.7 dengan tutupan lahan Kelas Skala Tsunami (m)-7.0406435 3.6722938 38.2936073 3.5226628 0 0 0 11.0633422 0.129 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 RS.3129165 17.5304827 1.6" 07o 41' 25.5101609 0.8" 07o 41' 43.2550804 0 0 0 5.7540221 11.0" 12:27 12:56 13:03 13:27 13:40 14:00 14:26 14:32 14:50 15:00 17:00 17:30 19 19 20 29 19 13 19 20 20 27 26 33 Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Tidak terkena Terkena Terkena Tidak terkena Tidak terkena 4.69524 14.3363675 0 0 0 0.0288329 18.4" 07o 42' 00.517733 >4 0 0 0 0 0 0 0.6320915 12.2681586 0.1" 109o 02' 29.4" 07o 42' 09.2235394 25.5304827 4.2" 109o 02' 32.0812871 7.1" 07o 42' 09.5 0 0 2.0" 109o 05' 05.2" 109o 02' 28.1" 109o 03' 43.3" 07o 41' 28.4587529 1.3160457 0.231558 24.0496878 2-3 30.7652413 0 0 0 1-1.2550804 0.0406435 2.140907 0 .7631246 27.9994324 16.890197 49.7 MW 0-1 163. Tabel hubungan skala tsunami 8. Pertamina Masjid Pertamina RS.5711262 0. Tabel hubungan skala tsunami 7.1409065 1.1" 109o 01' 28.7652413 1.4227195 0.9" 07o 41' 35.5-1 1.9074937 0.2" 07o 42' 09.3" 109o 04' 09.1409065 0.9863456 58.11" 07o 42' 09.4581853 3-4 6.6537095 16.5078731 14.6542771 0.0812871 4.1409065 0 0 23.7 MW Kelas Landuse Pemukiman Industri Jalan Lahan Terbuka Tambak Sawah Pasir Vegetasi Lain ladang Rumput/Semak Kebun/Perkebunan 0-0.340793 3.5 6.

0740598 0 0 0 >4 3.490694 17.000 14.5052926 30.541 127.000 0.954 1.526 87.000 90.884161 11.000 0.422838 0 0 4.566 34.000 100.149 0-2 129. Tabel hubungan kelas topografi dengan desa Desa/Kecamatan Sidanegara Tambakreja Tritih Wetan Tritih Lor Menganti Karang Kandri Slarang Kalisabuk Kuripan Kuripan kl Sidakaya Cilacap Tegalreja Tegal Kamulyan Gumilir Kelas Topografi 2-4 4-6 6-8 256.587 1.9 MW 0-1 132.805545 0.8626406 0.114192 11.4090651 19.985 0.098 90.205 64.130 9 10 11 12 13 14 Sawah Pasir Vegetasi lain Ladang Rumput/Semak Kebun/Perkebunan 203.637 39.593 2.706 0.183 14.6952404 0.867818 3.3827065 4.803 0.651222 0.6214639 5.8546912 22.175 148.788 126.464 0.330 0.748449 15.1409065 2.463673 2.9863456 54.262 2.4799341 5.895 5.9 dengan tutupan lahan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kelas Landuse Pemukiman Industri Sekolah Tempat Ibadah Jalan Lahan Terbuka Tambak Sawah Pasir Vegetasi lain Ladang Rumput/Semak Kebun/Perkebunan Kelas Skala Tsunami (m)-8.8744541 71.0215204 19.215976 41.361 0.5886643 1.3748553 4.087 116.704533 0.759209 2.628 59.7508145 0.000 76.670 29.9956328 316.08482 159.722 0.977 47.5370299 0 0 49.4505625 66.6342575 1-2 34.8564368 1.541 0.1409065 17.6089516 0 0 0.252 0.494 252.658 55.3762587 2.665 0.526 0.283 0.4968981 51.4799341 0.849 106.722 125.278 6.2318364 2.8181302 122.948 10.2114192 0 2-3 22.000 10.2318364 8.819 34.531 158.6233623 91.6218498 17.6512215 0.009 174.9207697 57.033 235.3817563 0 0.495 30.648 33.000 0.195 5.2052153 2.135712 1.165 0.6218498 2.954 38.000 121.5970346 2.000 34.180 2.438155 32.205 5.3748553 3.613314 1.98265 22.180 0.83947 4.000 2.220 16.004 56.1272521 2.593 0. Tabel hubungan skala tsunami 8.417 8-10 0.9535392 11.418765 26.443 5.319 4.211419 0 0 0 0 7.4675265 17.0831725 20.1004009 23.541 0.205 71.5363172 7.6772237 0 0 0 0 0.361 .42272 0 0 0 6.1409065 55.613 19.2114192 0 0 3-4 16.6342575 0.361 12.000 0.887 0.1249518 51.055 2.829 13.

361 156.252 15. Tabel pengukuran tinggi gelombang tsunami Run-up Tsunami (meter) di dua Posisi Pengamatan 7.675 2.000 0.335 7.876 222.360 36.319 0.7 Mw 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Waktu (detik) 60 120 180 240 300 360 420 480 540 600 660 720 780 840 900 960 1020 1080 1140 1200 1260 1320 1380 1440 1500 1560 1620 1680 .536 148.577 79.084 246.525 50.484 196.096 262.541 17.185 3.839 222.000 6.131 Mertasinga Tritih kulon Karang Tal Kebon manis Donan Gunung Simpang Lomanis Kutawaru 24.000 10.067 1.541 0.495 0.526 6.287 35.440 166.985 0.230 113.283 0.106 180.7 Mw 8.957 35.922 0.804 107.317 52.807 54.000 8.626 174.9 Mw 8.902 11.699 84.680 292.117 126.

07 -0.03 -1.04 0.78 1.12 -0.99 2.17 1.15 -0.34 -0.79 -0.31 2.04 -1.28 -0.91 -0.1 2.32 0 0 0 0 0 0.04 -0.13 0.35 0 0 0 0 0 0.49 2.33 0.5 -0.76 -0.51 -1.39 .91 -1.12 -0.24 -0.95 1.19 -0.31 -0.3 -0.03 -0.76 -0.17 -0.64 0.19 -0.21 -1.86 0.01 0.68 -0.47 0.44 -0.61 -0.76 -0.42 2.25 -0.1 0.07 0.98 -0.52 -0.09 0.32 -0.38 5.45 -0.32 0.86 -0.05 -1.15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -0.2 -1.47 -0.07 -0.08 0.39 -1.2 -0.27 2.09 -0.21 0.93 1.13 0.18 -0.08 0.08 -0.01 0.92 1.93 3.72 0.61 0.24 -0.02 -0.35 0.16 -0.06 0.44 -0.06 0.17 -1.86 -2.44 -0.97 -1.08 -1.92 0.09 0.08 -0.63 1.25 -0.91 -0.26 0.22 -1.03 -0.49 0.22 -0.43 -0.02 0.82 -0.01 1.2 -0.06 -0.51 0.89 0.17 -0.62 -0.02 -0.05 -0.11 -0.16 -0.41 -1.62 0.34 1.54 0.02 0 0 0 0 0 -0.18 -0.01 0 -0.63 -1.27 1.25 -0.1 -0.27 -0.1 -0.19 -2.59 4.28 -0.56 -0.66 0.05 -0.12 -0.16 0.6 2.94 -1.27 2.68 -0.75 1.11 -1.61 1.96 -0.89 0.08 -0.132 1740 1800 1860 1920 1980 2040 2100 2160 2220 2280 2340 2400 2460 2520 2580 2640 2700 2760 2820 2880 2940 3000 3060 3120 3180 3240 3300 3360 3420 3480 3540 3600 3660 3720 3780 3840 3900 3960 4020 4080 4140 4200 4260 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0.55 0.09 0.08 0.25 0.05 0.84 -0.22 -0.03 0.68 0.05 -0.36 -0.06 -0.12 -1.11 0.43 -0.12 -0.13 -0.09 -0.51 -0.28 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.25 -1.53 1.19 -0.21 4.59 -0.26 -0.45 0.1 0.01 -0.07 0.

39 -0.54 0.43 -0.48 -1.61 1.06 -0.46 0.66 -0.91 -0.23 0.38 -0.82 -1.12 0.53 1.37 -0.05 -0.05 0.05 -0.27 -0.69 -0.71 2.03 -0.24 -0.45 2.75 -0.63 3.28 -1.86 1.54 0.94 -1 -1.08 -1.47 1.14 -0.93 0.05 -0.83 -0.51 1.32 -0.12 -1.13 -0.7 .64 1.77 1.31 0.02 0.98 -1.31 0.09 -1.04 -0.06 -0.09 -0.09 0.21 0.03 -0.05 -0.16 0.55 -1.04 -1.11 0.42 -0.2 -0.09 0.19 0.61 -0.35 3.1 0.88 -2.55 -0.04 -0.74 -0.07 -0.04 -0.92 1.86 1.04 0.51 1.48 0.11 -0.29 -0.17 -1.19 -2.08 0.16 -0.74 -1.2 0.95 -1.33 -0.9 1.01 -2.41 -0.62 -0.07 -1.22 -0.133 4320 4380 4440 4500 4560 4620 4680 4740 4800 4860 4920 4980 5040 5100 5160 5220 5280 5340 5400 5460 5520 5580 5640 5700 5760 5820 5880 5940 6000 6060 6120 6180 6240 6300 6360 6420 6480 6540 6600 6660 6720 6780 6840 -0.9 1.36 -0.81 -0.34 -0.37 -2.47 -0.4 3.11 -0.14 -0.2 -0.26 -0.05 -1.55 1.6 2.08 -0.05 -0.14 -0.45 0.33 1.16 -1.48 1.01 -0.4 -0.29 1.89 -0.67 0.24 -0.64 -0.04 0.19 -1.09 -0.07 0.11 -1.11 1.14 -0.16 -0.25 0.05 0.28 -1.17 -0.09 -0.34 -0.05 -0.54 -0.46 -1.4 -0.03 0.51 0.76 -1.5 3.2 -1.62 -0.68 2.83 0.36 0.83 -0.28 1.8 -0.86 -0.12 0.19 -0.55 0.63 1.28 -0.25 -1.04 -0.37 0.31 -1.35 2.17 -0.43 -0.76 0.11 -0.31 -0.05 1.52 -0.24 1.64 0.04 -2.08 -0.07 -0.53 -0.84 0.02 0.87 1.68 -0.13 -0.28 1.34 -0.29 2.98 1.17 1.16 0 0.76 3.12 0.8 0.29 1.04 0.47 1.89 0.77 0.08 1.25 3.25 -1.42 0.13 1.15 0.21 1.04 -0.27 -0.04 -1.07 0.16 4.15 -0.3 0.08 1.82 -1.63 -1.35 0.77 -0.58 1.12 -0.31 -0.29 0.21 -0.07 0.05 0.37 -0.14 -0.72 2.34 0.85 1.42 0.3 -0.73 1.94 -1.09 0.06 -0.52 0.47 -0.21 -0.33 -0.4 -0.11 0.09 0.56 1.46 0.08 2.12 -1.12 -1.94 -1.5 -0.16 0.49 1.7 -1.32 -1.15 0.22 -0.21 -0.08 -0.52 2.26 -0.13 1.

65 2.05 0.66 -0.71 2.61 1.23 0.24 0.48 0.11 0.21 -0.17 -0.38 0.53 0.12 1.41 0.07 1.01 -0.01 -0.19 1.02 0.82 0.57 -0.02 0 0.31 .04 -0.93 -0.1 0.28 0.26 0.33 1.08 0.59 0.2 1.34 1.84 1.3 1.59 0.24 0.81 1.67 1 0.06 0.14 0.23 -0.79 0.68 -1.58 0.07 -1.37 -0.74 -0.18 0.07 -0.37 1.1 -0.4 0.02 0.08 -0.58 0.03 -0.35 0.81 -1.06 -0.01 2.34 -0.81 -0.13 -0.99 -1 -0.34 2 2.46 -0.86 -0.05 0.66 -0.57 1.45 -0.09 0.02 -0.06 0.06 0.84 0.11 -0.09 -1.12 -0.46 1.01 0.05 -3.3 -0.69 -0.15 -0.14 -0.34 0.01 0.87 1.21 0.62 -0.07 -0.58 0.13 0.18 1.67 -1.1 -0.07 1.1 0.3 0.19 2.11 -0.95 -0.1 0.47 0.9 1.42 -0.73 -0.04 -0.33 0.08 0.83 1.42 -2.48 1.37 0.33 0.07 0.08 0.42 0.1 0.11 -0.11 -0.87 -0.34 -2.56 2.02 -0.78 -1.13 0.54 0.06 0.58 0.04 -0.78 -0.43 2.52 0.22 0.41 1.33 2.01 0.68 0.04 0.13 -0.16 1.17 0.1 0.85 -0.21 0.09 0.32 0.53 0.38 0.5 1.54 -0.09 0.28 0.11 -0.75 0.68 0.51 -2 -2.2 1.8 0.13 -0.09 1.22 -0.07 0.45 0.83 1.01 0.15 -0.28 1.63 2.08 1.73 -0.02 -0.38 0.1 0.27 0.08 -0.34 -0.12 -0.05 1.04 -0.09 -2.71 1.42 1.01 -1.19 -0.91 -0.49 -0.28 0.03 0.3 -0.06 -0.08 0.32 0.16 0.41 0.25 1.38 1.27 0.35 0.11 -1.89 0.1 2.08 0.17 0.19 -1.26 0.49 0.21 0.43 1.1 -0.06 0.42 1.31 1.84 1.23 1.9 2.89 2.28 0.83 -0.04 0.14 0.93 -2.29 -1.4 -0.01 -0.68 -0.26 1.25 -0.05 -0.01 1.39 1.12 0.134 6900 6960 7020 7080 7140 7200 7260 7320 7380 7440 7500 7560 7620 7680 7740 7800 7860 7920 7980 8040 8100 8160 8220 8280 8340 8400 8460 8520 8580 8640 8700 8760 8820 8880 8940 9000 9060 9120 9180 9240 9300 9360 9420 0 0 -0.38 0.24 -1.97 -0.57 2.03 -0.11 1.15 1.88 -0.35 0.1 0.25 0.1 -0.32 -0.6 1.11 -0.

12 0.25 3.06 -1.65 -0.45 2.44 1.25 -0.43 0.4 -0.82 -0.34 -0.84 .31 0.77 -2.56 -1.28 -0.92 1.52 -0.64 -1.12 -0.24 -0.12 -0.34 -0.05 -0.62 0.19 0.37 -0.135 9480 9540 9600 9660 9720 9780 9840 9900 9960 10020 10080 10140 10200 10260 10320 10380 10440 10500 10560 10620 10680 10740 10800 0.2 3.19 0.45 2.14 0.03 0 0.56 0.02 -0.22 -0.04 -1.14 0.53 -0.83 0.75 0.12 -0.9 2.2 0.18 0.12 -0.61 -0.26 -0.68 -0.27 -1.22 1.15 -0.75 0.02 0.54 -0.97 2.13 -0.36 4.15 -0.46 0.16 -0.38 -0.11 -0.58 0.32 -1.4 0.06 -0.11 -0.15 -0.61 2.18 0.46 1.04 -0.04 0.33 0.19 -0.25 -0.13 0.69 -1.96 2.27 -0.91 4.02 0.13 1.52 -0.45 0.92 3.05 -0.19 0.73 -0.15 2.02 -2.49 -0.31 -0.31 -1.94 2.02 0.14 -0.23 -1.1 -0.75 1.31 -0.18 -0.21 -0.42 -0.05 0.11 -0.46 -0.19 1.11 2.19 2.9 1.1 -0.62 -0.11 -1.91 3.39 -0.74 0.41 -0.07 0.32 -0.6 2.5 -0.49 -0.43 0.35 0.54 1 1.22 0.21 -0.53 -1.39 -0.28 1.89 -1.29 -0.97 0.5 -0.26 1.

PLG=55.AZM= 13 2.01 PRINCIPAL AXES: 1.SLIP= 89 .0*10**27 NP1:STRIKE=289.28S 0.DIP=10.90 0.7 SOUTH OF JAVA. T=150 CENTROID LOCATION: ORIGIN TIME 08:20:39. MTP= 0. Data USGS 2008 Harvard Moment Tensor Solution Magnitude 7.LON 107. 35.HALF-DURATION 50. MW=7. MTT=-1.136 9.7.06. July 17.2 LAT 10.(P) -3.01 DEP 20.49 0. 1.0 MOMENT TENSOR. 195 BEST DOUBLE COUPLE:M0=4.87.01. SCALE 10**27 D-CM MRR= 1.SLIP= 95 NP2:STRIKE=104.01. 2006.82E 0.14 MRP=-0. INDONESIA Monday.4 0.01 MPP=-0.60 0. 2006 at 08:19:28 UTC July 17. SOUTH OF JAVA. 104 3.28 0.(T) VAL= 4.21 0.194C.19. MOMENT TENSOR SOLUTION HARVARD EVENT-FILE NAME M071706A DATA USED: GSN MANTLE WAVES: 73S. MRT= 3. INDONESIA.1 0.07.DIP=80.7 CENTROID.(N) -0.01.32 0.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->