P. 1
Makalah DRAMA

Makalah DRAMA

|Views: 1,083|Likes:
Published by ulielmuawanah

More info:

Published by: ulielmuawanah on Jun 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/12/2014

pdf

text

original

Makalah DRAMA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Drama berasal dari bahasa yunani yang berarti perbuatan atau gerakan. Dalam perkembangan selanjutnya yang dimaksud drama adalah bentuk karya sastra yang berusaha yang berusaha mengungkapkan perihal kehidupan manusia melalui gerak percakapan di atas panggung ataupun suatu karangan yang disusun dalam bentuk percakapan dan dapat dipentaskan. Oleh karena itu, dalam naskah drama selain percakapan pelaku berisi pula penjelasan mengenai gerak-gerik dan tindakan pelaku, peralatan yang dibutuhkan, penataan pentas atau panggung, music pengiring dan lain-lain. Ciri khas dari drama adalah, naskahnya berbentuk percakapan atau dialog. Dalam menyusun dialog, pengarang harus memperhatikan pembicaraan tokoh-tokoh dalam kehidupan sehari-hari dan pantas untuk diucapkan di atas panggung. Ragam bahasa dalam dialog tokoh-tokoh drama adalah bahasa lisan yang komunikatif dan bukan ragam bahasa tulis, melaiknkan bahasa tutur. Pilihan kata (diksi) pun dipilih sesuai dengan dramatic action dari plat out. Diksi berhubungan dengan irama lakon, artinya panjang pendeknya kata-kata dalam dialog berpengaruh terhadap konflik yang dibawakan lakon. Dialog dalam sebuah dramapun harus bersifat estetis atau memiliki keindahan bahasa. Namun nulai estetis tersebut tidak boleh mengganggu makna yang terkandung dalam naskah. Selain itu, dialog harus hidup. Artinya, dapat mewakili tokoh yang dibawakan. Untuk itu observasi di lapangan perlu dilakukan untuk membantu menulis dialog drama agar realistis. B. Rumusan Makalah Pembahasan menyangkut masalah drama dalam karya sastra sangatlah komplek. Untuk itu penulis hanya mengambil permasalahan dengan beberapa pokok pembahasan sebagai berikut: 1. Unsur-unsur drama dalam karya sastra. 2. Mementaskan naskah drama. C. Tujuan Dalam karya makalah ini penulis mempunyai tujuan di antaranya: 1. Untuk mengetahui apa sajakah ysng trmsduk unsur-unsur drama dalam karya sastra? 2. Untuk mengetahui bagaimana cara mementaskan naskah drama serta tahapan-tahapan pementasan drama? BAB II PEMBAHASAN A. Unsur-Unsur Drama Dalam Karya Sastra Drama dalam bentuk karya sastra yang melukiskan kehidupan manusia melalui lakuan atau dialog. Drama diproyeksikan di atas pentas sebagai seni pertunjukan. Hakikat drama adalah dialog dan konflik yang bersifat hakiki. Dialog adalah percakapan tokoh dengan tokoh lainnya. Adapun macam-macam drama adalah: 1. Tragedi adalah drama yang diwarnai kesedihan 2. Komedi adalah drama yang diwarnai kegembiraan 3. Tragedi-komedi adalah drama gabungan antara drama tragedi dan komedi 4. Pantonim adalah drama yang hanya menampilkan mimik dan gerak

Adapun unsur-unsur drama antara lain: 1. Unsur Intrinsik Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun sebuah drama di dalam drama itu sendiri. Berikut adalah uraian unsur intrinsik drama: a. Tokoh Tokoh adalah orang yang berperan dalam suatu drama. Dalam drama tokoh diperankan oleh seorang actor. Berdasarkan perannya terhadap jalan cerita tokoh dibedakan menjadi tiga sebagai berikut: 1) Tokoh protagonis Adalah tokoh yang membangun cerita, biasanya ada satu atau dua figure tokoh protagonist utamayang dibantu oleh tokoh-rokoh lainnya yang ikut terlibat sebagai pendukung cerita. 2) Tokoh antagonis Adalah tokoh penentang cerita. Biasanya ada seorang tokoh utama yang menentang cerita beberapa figure pembantu yang ikut menentang cerita.

3) Tokoh tritagonis Adalah tokoh pembantu, baikuntuk tokoh protagonist maupun untuk tokoh antagonis. Watak seorang tokoh dalam drama dapat dilihat dari ucapan-ucapan. Seorang tokoh dapat diketahui usia, latar belakang sosial, moral dan suasana kejiwaan. b. Alur/Plot Adalah rangkaian peristiwa dalam drama. Alur dalam drama dibagi dalam babak-babak dan adeganadegan. c. Amanat Adalah pesan penulis naskah drama kepada pemirsa d. Akting Adalah perilaku pemain di panggung e. Latar atau Setting Adalah penjelasan tentang suasana tempat dan waktu yang ada dalam pertunjukan drama bila dipentaskan. Latar diwujudkan dalam: 1) Tata panggung 2) Tata sinar 3) Tata bunyi f. Percakapan Percakapan dalam drama dibedakan atas: 1) Prolog : percakapan awal sebagai pembuka pertunjukan drama 2) Monolog : percakapan sendiri 3) Dialog : percakapan dua orang atau lebih 4) Epilog : percakapan akhir sebagai penutup pertunjukan g. Gerak atau Action Gerak atau aksion dibedakan atas 1) Mimik : gerak raut muka 2) Pantomimik : gerak-gerik anggota tubuh 3) Blocking : posisi aktor di atas pentas h. Tata Artistik Adalah setting panggung i. Konflik Adalah masalah dalam drama

j. Tema Adalah inti cerita k. Perwatakan Adalah watak tiap-tiap tokoh 2. Unsur Ekstinsik Unsur ekstrinsik adalah unsur factor yang terjadi di luar drama, namun berkaitan dengan cerita drama tersebut. Adapun unsur yang dimaksud adalah: a. Sosial budaya b. Politik c. Hankam d. Agama e. Ideologi B. Mementaskan Drama 1. Penyampaian dialog naskah drama Drama adalah karya sastra yang berbentuk dialog. Dialog tersebut tidak jauh beda dengan kehidupan sehari-hari. Perbedaan dalam drama dialog sudah diatur sebelumnya oleh penulisnya. Namun demikian, penyampaian dialog dituntut sewajar dan sealamiah mungkin. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian dialog naskah drama adalah sebagai berikut: a. Penggunaan bahasa yang meliputi pelafalan dan intonasi harus relevan. Pemeran tokoh dituntut memerankan tokoh secara total sesuai dengan karakter tokoh. Logat yang diucapkan hendaknya disesuaikan dengan asal suku (daerah), usia, dan status sosial tokoh yang diperankan. b. Ketepatan ekspresi tubuh dan mimik muka dengan dialog. Misalnya ekspresi dan mimik muka merah, sedih, hembira dan lain-lain. c. Menghidupkan suasana dan menjadikan dialog lebih wajar dan alamiah, serta dapat berimprovisasi di luar naskah. d. Tekanan cepat lambatnya pengucapan suku kata dalam kalimat. e. Tekanan tinggi rendahnya pengucapan suku kata dalam kalimat. f. Pengucapan pengembangan, dapat dicapai dengan menaikkan atau mengurangi volume suara, tinggi nada dan kecepatan tempo suara. g. Tekanan keras lembutnya pengucapan (tekanan dinamik). Selain hal-hal di atas ada hal lain yang tidak kalah penting yaitu menjiwai watak tokoh. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menjiwai watak tokoh adalah sebagai berikut: a. Membaca naskah drame dengan seksama, khususnya watak (karakter) tokoh yang akan diperankan sevara berulang-ulang. b. Memahami ciri-ciri tokoh yang hendak diperankan meliputi hal-hal sebagai berikut: 1) Ciri biologis, yaitu jenis kelamin, umur, tampilan fisik dan lain-lain. 2) Ciri sosiologis, yaitu mencakup pekerjaan, kelas sosial, latar belakang, status sosial masyarakat dan sebagainya 3) Ciri psikologis yang meliputi sifat-sifat, pandangan hidup, motivasi, keadaan betin dan lain-lain. c. Memahami tema dan makna naskah drama dan aspek-aspek lain yang secara keseluruhan memerlukan pemahaman hubungan antar peran. d. Berlatih berulang-ulang, menghayati emosi dan perkembangan psikologis tokoh yang diperankan secara berulang-ulang untuk mencapai kesesuaian antara karakter tokoh yang diperankan dengan akting dan vokal yang ditampilkan. 2. Tahapan pementasa drama Dalam memerankan tokoh, diperlukan penghayatan isi dan jiwa cerita drama. Selain itu perlu memrhatikan petunjuk dalam naskah drama.hal ini dilakukan agar penggambaran karakter tokoh dan konflik yang timbul di dalamnya dapat dilihat. Untuk itulah, seorang pemain drama perlu memiliki

kemampuan menirukan tingkah laku tokoh yang diperankan dengan wajar dan apa adanya. Untuk menirukan tokoh tentu saja melalui pengamatan tokoh dengan cermat, baik itu cara berpakaian, cara berbicara dan kebiasaan-kebiasaan lain dari tokoh yang diperankan. Memainkan sebuah drama memerlukan pemahaman dan penghayatan drama dengan benar. Untuk itu diperhatikan petunjuk pemanggungan dan kalimat (dialog) tokoh cerita. Kalimat yang diucapkan harus sesuai dengan suasana yang dimaksud, begitu juga gerak yang dilakukannya. Membaca drama memerlukan penghayatan dan teknik vocal yang baik. Pembaca drama tidak saja perlu memahami isi naskah, tetapi juga harus menghayati dan mampu mendialogkan sesuai karakter tokoh yang dimainkan. Dalam memerankan drama diperlukan sebuah proses kreatif dari semua pendukung. Proses dalam pementasan drama melalui beberapa tahapan sebagai berikut: a. Menyusun naskah drama atau memilih naskah drama yang sudah ada. b. Membedah secara bersama-sama isi naskah yang akan dipentaskan. Tujuannya agar semua calon pemain memahami isi naskah yang akan dimainkan. c. Reading, yaitu pemain membaca keseluruhan naskah sehingga mengenal masing-masing peran. d. Casting, yaitu memilih peran yang sesuai dengan kemampuan akting pemain. e. Mendalami peran yang dimainkan dengan pengamatan di lapangan. f. Blocking, yaitu latihan secara lengkap mulai dari dialog sampai pengaturan pentas. g. Gladiresik, yaitu latihan terakhir sebelum pentas. h. Pementasan, pemain siap dengan kostum dan dekorasi panggung yang sudah lengkap. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Drama merupakan karya sastra yang berbentuk dialog (percakapan) yang dipentaskan di atas panggung. Bayangan pentas di atas panggung berupa tiruan (mimesis) dari kehidupan sehari-hari. Dan pembicaraan yang ditulis pengarang naskah drama adalah pembicaraan yang diucapkan dan sesuai di atas panggung. Drama memiliki dua unsur. Yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun sebuah drama di dalam drama itu sendiri. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar drama namun berkaitan dengan cerita drama tersebut. B. Saran Drama yang termuat dalam karya sastra Indonesia ini memuat banyak unsur maupun tehap pementasan lainnya. untuk itu siswa maupun yang lainnya harus mempelajari masalah drama dalam pelajaran ini, supaya mereka mampu menganalisa maupun mengetahui bentuk-bentuk drama dan lainnya yang berkaitan dengan drama.

DAFTAR PUSTAKA Ambarwati, Sri. 2006. Kreative (Bahasa Indonesia XI B). Semarang: Viva Pakarindo Ambarwati, Sri. 2006. Kreative (Bahasa Indonesia XII A). Semarang: Viva Pakarindo Ambarwati, Sri. 2006. Kreative (Bahasa Indonesia XII B). Semarang: Viva Pakarindo Indratti, Fatmi. 2002. Mefi SMP (Bahasa Indonesia IX B). Semarang: Mefi Caraka

makalah drama
KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat allah yang senantiasa memberikan nikmat tiada tara kepada hambanya. Atas izinnya penulis dapat membuat laporan pengamatan ini. Materi yang dibahas disampaikan menggunakan bahasa yang lugas. Sehingga dengan mudah dapat memahamkan pembaca. Dalam penulisan ini penulis melakukan pengamatan pada buku pembelajaran bahasa indonesia di SD. Penulis menyadari bahwa kerja keras yang dilakukan masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, penulis mengharap kritik dan saran untuk perbaikan penulisan materi ini. Meski dengan demikian, penulis mengharapkan agar apa yang telah disampaikan kelak memberikan barokah kepada kita semua, amin.... I. PENDAHULUAN Dalam belajar bahasa Indonesia banyak sekali materi yang dipelajari baik berupa sastra maupun non sastra. Dalam penjelasan yang akan dijelaskan berikut ini adalah berupa bagian dari sastra yaitu drama. Drama ini dapat kita saksikan baik secara langsung maupun lewat televisi. Namun akan lebih seru bila kita menyaksikan drama secara langsung karena secara langsung lebih bisa menikmati dan merasakan suasananya. Berbeda lagi jika yang kita bicarakan tentang pendidikan. Drama II. PEMBAHASAN A. Pengertian Drama Istilah drama berasal dari bahasa yunani droomai yang berarti berbuat. Pengertian drama adalah pertunjukan cerita atau lakon kehidupan manusia yang dipentaskan. Drama ialah aksi mimetic (peniruan), yaitu aksi yang meniru atau mewakilkan perlakuan manusia. Menurut Aristotle, drama ialah peniruan kehidupan, sebuah cermin budaya dan suatu bayangan kebenaran. Dalam buku The American College Dictionary, drama didefinisikan sebagai karangan prosa dan puisi yang menyajikan dialog, pantomin atau cereka yang mengandungi konflik untuk dipentaskan. Mengikut Oxford Dictionary, drama sebagai komposisi prosa boleh disesuaikan untuk disaksikan di atas pentas yang ceritanya disampaikan melalui dialog dan aksi, dan dipersembahkan dengan bantuan gerak, kostum dan latar hiasan seperti kehidupan yang sebenar. Bagi Aristotle, plot merupakan penggerak utama sesebuah drama dan drama harus dibina dari tiga kesatuan, yaitu aksi, tempat dan masa. Elemen-elemen inilah yang menyebabkan drama menjadi sebagian dari cabang sastra. Selain elemen sastra, drama juga merangkumi elemen-elemen seni yang lain seperti lakon, seni musik, seni busana dan seni tari. B. Ciri-ciri Drama Pada umumnya, drama mempunyai ciri-ciri yang berikut : Drama merupakan prosa modern yang dihasilkan sebagai naskah untuk dibaca dan dipentaskan.  Naskah drama boleh berbentuk prosa atau puisi. Drama terdiri dari dialog yang disusun oleh pengarang dengan watak yang diwujudkan.  Pemikiran dan gagasan pengarang disampaikan melalui dialog watak-wataknya. Konflik ialah unsur penting dalam drama. Konflik digerakkan oleh watak-watak dalam plot, elemen penting dalam sesebuah skrip drama. Sebuah skrip yang tidak didasari oleh konflik tidak dianggap sebuah drama yang baik.  Gaya bahasa dalam sebuah drama juga penting kerana ia menunjukkan latar masa dan masyarakat yang diwakilinya, sekali gus drama ini mencerminkan sosiobudaya masyarakat yang digambarkan oleh pengarang

C. Unsur-unsur Drama Unsur dalam drama dapat diklasifikasikan menjadi dua unsur yaitu unsur intrinsik (unsur dalam) dan unsur ektrinsik (unsur luar). Unsur intrinsik atau disebut juga unsur dalam adalah unsur yang tidak tampak. Unsur intrinsik (unsur dalam) diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Tokoh Tokoh adalah individu atau seseorang yang menjadi pelaku cerita. Pelaku cerita atau pemain drama disebut actor (pria) dan aktris (wanita). Tokoh dalam cerita fiksi atau drama berkaitan dengan nama, usia, jenis kelamin, tipe fisik, jabatan, dan keadaan kejiwaan. Tokoh dalam drama diklasifikasikan menjadi: a. Berdasarkan sifatnya, tokoh diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Tokoh protagonist yaitu tokoh utama yang mendukung cerita. 2. Tokoh antagonis yaitu tokoh penentang cerita. Biasanya ada seorang tokoh utama yang menetang cerita. 3. Tokoh tritagonis yaitu tokoh pembantu, baik untuk tokoh protagonist maupun tokoh antagonis. b. Berdasarkan peranannya, tokoh diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Tokoh sentral yaitu tokoh yang paling menentukan dalam drama. Tokoh sentral merupakan penyebab terjadinya konflik. Tokoh sentral meliputi tokoh protagonis dan tokoh antagonis. 2. Tokoh utama yaitu tokoh pendukung atau penentang tokoh sentral. Dapat juga sebagai perantara tokoh sentral atau dalam hal ini adalah tokoh tritagonis. 3. Tokoh pembantu tokoh-tokoh yang memegang peran pelengkap atau tambahan dalam mata rangkai cerita. Kehadiran tokoh pembantu ini menurut kebutuhan cerita saja. Jadi tidak semua drama menampilkan kehadiran tokoh pembantu. Contoh: Dalam cerita Romeo dan Juliet tokoh protagonist yang sekaligus juga tokoh sentral adalah Romeo dan Juliet. Tokoh utama sekaligus juga tokoh tritagonis adalah pendeta Lorenso dan wakil keluarga Capulet. Tokoh-tokoh lain, seperti tentara pangeran, inang, wakil-wakil Montage, dan wakil-wakil Capulet yang lain adalah tokoh-tokoh pembantu. 2. Perwatakan atau Penokohan Perwatakan disebut juga penokohan. Perwatakan atau Penokohan adalah penggambaran efek batin seseorang tokoh yang disajikan dalam cerita. Watak pada tokoh digambarkan dalam tiga dimensi (watak dimensional). Penggambaran itu berdasarkan keadaan fisik biasanya dilukiskan paling awal, baru kemudian sosialnya. Pelukisan watak tokoh dapat langsung pada dialog yang mewujudkan watak dan perkembangan lakon. a. Keadaan Fisik Yang termasuk dalam keadaan fisik tokoh adalah umur, jenis kelamin, cirri-ciri tubuh, cacat jasmani, cirri khas yang menonjol,, suku, bangsa, raut muka, kesukaan, tinggi/pendek, kurus/gemuk. Misalnya seseorang yang berleher pendek mempunyai watak mudah tersinggung, seseorang yang berleher panjang mempunyai watak sabar. b. Keadaan Psikis Keadaan psikis tokoh meliputi: watak, kegemaran, mental, standar moral, temperanmen, ambisi, psikologis yang dialami, dan keadaan emosi. c. Keadaan Sosiologis Keadaan sosiologis tokoh meliputi: jabatan, pekerjaan, kelas social, ras, agama, dan ideology. Contoh penampilan pegawai bank akan berbeda dengan penampilan makelar, kendatipun keadaan social ekonominya sama. Penampilan istri bupati, akan berbeda dengan penampilan istri gubernur atau istri lurah. Perwatakan tokoh-tokoh dalam drama digambarkan melalui dialog, ekspresi, atau tingkah laku

sang tokoh. 3. Setting Setting diciptakan penulis/pengarang untuk memperjelas satuan peristiwa dalam cerita agar menjadi logis atau konkretisasi sebuah tempat agar penonton, pembaca mempunyai pembayangan yang tepat terhadap berlangsungnya suatu peristiwa. Selain itu, setting juga diciptakan untuk menggerakan emosi atau kejiwaan pembaca atau penonton. Secara emottif penonton atau pembaca diharapkan mempunyai daya khayal yang lebih dalam sesuai dengan kedalaman-kedalaman pengalaman berfikirnya. Misalnya pelaku yang berada diantara deretan pedagang-pedagang kaki lima, bukan di sebuah plasa atau supermarket, pembaca atau penonton akan menagkap kesan kesedihan, bahkan kemiskinan. Setting atau tempat kejadian cerita sering disebut juga latar cerita. Setting meliputi tiga dimensi: a. Setting tempat Setting tempat adalah tempat terjadinya cerita dalam drama. Setting tempat tidak dapat berdiri sendiri. Setting tempat berhubungan dengan setting ruang dan waktu. b. Setting waktu Setting waktu adalah waktu atau zaman atau periode sejarah terjadinya cerita dalam drama. Setting waktu juga terjadi di waktu pagi, siang, sore, atau malam. c. Setting ruang Setting ruang juga dapat berarti ruang dalam rumah atau latar rumah, hiasan, warna, dan peralatan dalam ruang akan memberi corak tersendiri dalam drama yang dipentaskan. Misalnya di ruang tamu keluarga modern yang kaya akan berbeda dengan ruang tamu keluarga tradisional yang miskin. 4. Tema Tema merupakan gagasan pokok atau ide yang mendasari pembuatan sebuah drama. Tema dalam drama dikembangkan melalui alur, tokoh-tokoh dan perwatakan yang memungkinkan adanya konflik, dan ditulis dalam bentuk dialog. Tema yang bisa diangkat dalam drama adalah masalah percintaan, kritik social, kemiskinan, kesenjangan social, penindasan, ketuhanan, keluarga yang retak, patriotism, dan renungan hidup. 5. Alur atau plot Alur atau plot adalah jalan cerita. Dalam alur sebuah naskah drama bukan permasalahan majumundurnya sebuah cerita seperti yang dimaksudkan dalam karangan prosa, tetapi alur yang membimbing cerita dari awal hingga tuntas. Dimulai dengan pemaparan (perkenalan awal tokoh dan penokohan), adanya masalah (konflik), konflikasi (masalah baru), krisis (pertentangan mencapai titik puncak-klimak s.d. antiklimaks), resolusi (pemecahan masalah), dan ditutup dengan ending (keputusan). Ada pula yang menggambarkan alur dalam sebah naskah drama itu pemaparan-masalahpemecahan masalah atau resolusi-keputusan. 6. Amanat atau pesan pengarang Seorang pengarang drama baik sadar atau tidak sadar pasti menyampaikan amanat dalam karyanya. Amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang kepada pembaca atau penonton melalui karyanya. Amanat yang hendak disampaikan pengarang melalui drama harus ditentukan atau dicari sendiri oleh pembaca atau penonton. Setiap pembaca atau penonton dapat berbeda-beda dalam menafsirkan amanat drama. Amanat bersifat kias subjektif dan umum sedangkan tema bersifat lugas, objektif, dan khusus. Amanat sebuah drama akan lebih mudah ditafsirkan, jika drama itu dipentaaskan. Amanat biasanya memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Amanat drama selalu berhubungan dengan tema drama. Contoh: Drama Romeo dan Juliet bertema masalah percintaan yang berakhir dengan kematian, berdasarkan temanya drama Romeo dan Juliet memiliki amanat: a. Meskipun manusia begitu cermat dan teliti merencanakan sesuatu, Tuhan jugalah yang menetukan

apa yang terjadi. b. Manusia tidak kuasa melawan garis nasib yang ditetapkan oleh Tuhan. Amanat drama yang dipaparkan diatas adalah versi penulis. Amanat drama Romeo dan Juliet dapat ditafsirkan berbeda-beda oleh penonton atau pembacanya. Sedangkan unsur ekstrinsik (unsur luar) dalam drama adalah unsur yang tampak, seperti adanya dialog atau percakapan. Namun, unsur-unsur ini bisa bertambah ketika naskah sudah dipentaskan. Seperti panggung, properti, tokoh, sutradara, dan penonton. D. Jenis-jenis Drama Jenis-jenis drama dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Berdasarkan isi ceritanya. a. Drama tragedy (drama duka) Tragedy atau drama duka adalah drama yang melukiskan kisah sedih yang besar dan agung. Tokohtokohnya terlibat dalam bencana atau masalah yang besar. Drama tragedy menceritakan pertentangan antara tokoh protagonist dengan kekuatan dari luar atau tokoh lainya. Pertentangan ini berakhir dengan keputusan, kehancuran, atau kematian tokoh protagonis. Contoh: Drama Romeo dan Juliet, film Ttitanic. b. Melodrama Melodrama adalah drama yang sangat menyentuh perasaan (sentimental), mendebarkan hati, dan mengharukan. Ceritanya dilebih-lebihkan sehingga kurang meyakinkan penonton. Tokoh-tokoh dalam melodrama adalah tokoh-tokoh yang hitam putih dan bersifat tetap (stereotip). Seorang tokoh jahat adalah seluruh wataknya jahat, tidak ada sisi baik sedikkitpun, sebaliknya, tokoh hero atau tokoh protagonist adalah tokoh pujaan yang luput dari kekurangan, kesalahan, dan tindak kejahatan. Tokoh hero ini pada akhirnya akan memenagkan peperangan, masalah, atau persaingan yang ada. Tokohtokoh dalam melodrama dilukiskan pasrah atau menerima nasibnya terhadap apa yang terjadi. Biasanya sinentron dan film Indonesia merupakan melodrama. Contoh: Film Ada Apa Dengan Cinta, sinetron Cinta Fitri. c. Komedi (drama ria) Komedi adalah drama ringan yang sifatnya menghibur dan didalamnya terdapat dialog kocak yang bersifat menyindir dan biasanya berakhir dengan kebahagiaan. Drama komedi menampilkan tokoh tolol, konyol, atau tokoh bijaksana tapi lucu. Penilaian penonton terhadap drama komedi dapat berbeda. Ada yang dapat tertawa saat menonton drama komedi, ada juga yang tidak. Perbedaan penilaian ini disebabkan oleh perbedaan budaya dan pengalaman. Penonton yang pernah mengalami peristiwa yang diceritakan dalam drama komedi akan tertawa jika melihat drama tersebut. Contoh: Film Mister Bean, sinetron Bajaj Bajuri d. Dagelan Dagelan adalah drama kocak dan ringan. Isi cerita dagelan biasanya kasar, lentur, dan vulgar. Dalam dagelan tidak terdapat kesetiaan terhadap alur cerita. Irama permainan dapat melantur dan ketetapan waktu tidak dipatuhi. Tokoh-tokoh dalam dagelan mempunyai watak yang berubah-ubah dari awal sampai akhir. Tokoh yang serius dapat berubah secara tiba-tiba menjadi kocak. Dagelan disebut juga banyolan, sering disebut tontonan konyol atau tontonan murahan. Contoh: Teater Srimulat, Ketoprak Humor, Opera Van Java, dan Opera Anak 2. Berdasarkan cara penyajianya a. Closed Drama (drama untuk dibaca)

Closed drama adalah drama yang dibuat hanya untuk dibaca dan hanya indah untuk dibaca. Closed drama mempunyai dialog-dialog yang panjang dan menggunakan bahasa yang indah. Dialog-dialog yang digunakan tidak mencerminkan percakapan sehari-hari sehingga sulit dipentaskan. b. Drama treatikal (Drama yang dipentaskan) Drama treatikal adalah drama yang dapat dipentaskan. Drama treatikal dipentaskan di atas pentas atau panggung. c. Drama radio Drama radio adalah drama yang ditayangkan atau dipentaskan melalui radio. Drama radio mementingkan dialog yang diucapkan melalui media radio. Drama radio biasanya direkam melalui kaset. Misalnya, selingan music, sound effect, dan jenis suara. Adegan dan babak dalam drama radio dapat diganti sebanyak mungkin karena tidak perlu menyiapkan pergantian dekor. Misalnya sahur sepuh. d. Drama televisi Drama televisi adalah drama yang ditayangkan atau dipentaskan melalui media televisi. Kelebihan drama televisi adalah dalam melukiskan flashback (kenangan masa lalu). Drama televisi berbentuk scenario . drama televisi ditampilkan dalam bentuk film, sinetron, atau telenovela. 3. Berdasarkan bentuknya a. Sandiwara Sandiwara berasal dari dua kata bahasa jawa, yaitu sandi yang berarti rahasia dan warah yang berarti ajaran. Sandiwara berarti suatu pengajaran yang diberikan secara rahasia dalam bentuk tontonan. b. Teater rakyat Teater rakyat adalah segala jenis tontonan yang dipertunjukan di depan orang banyak dan bersifat kerakyatan. Seperti ketoprak dari jawa, lundruk dari jawa timur, arja dari bali, lenong dari Jakarta, dan sebagainya. c. Opera Opera adalah drama yang berisikan nyanyian dan music pada saat pementasanya. Nyanyian digunakan sebagai dialog. Opera sering disebut drama musical. d. Sendratari Sendratari adalah seni drama tari atau drama tanpa dialog dari pemainanya. Suasana dan adegan dinyatakan dengan gerak yang berunsur tari. Sendratari sebagian besar diangkat dari cerita-cerita klasik, seperti Ramayana dan mahabarata. e. Pantomim Pantomim adalah pertunjukan drama tanpa kata-kata yang hanya dimainkan dengan gerak dan ekspresi wajah biasanya diiringi music. f. Operet atau Operette Operet adalah opera yang ceritanya lebih pendek. g. Tableau Tableau adalah drama yang mirip pantomim yang dibarengi oleh gerak-gerik anggota tubuh dan mimik wajah pelakunya. Atau drama tanpa kata-kata, dan pelaku hanya mengandalkan gerak patah-patah. h. Passie Passie adalah drama yang mengandung unsur agama atau religius. i. Wayang Wayang adalah drama yang pemain dramanya adalah boneka wayang. j. Minikata Drama dengan cakapan singkat yang mengandalkan gerak treatikal. 4. Menurut masanya drama dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu drama baru dan drama lama. a. Drama Baru (Modern) Drama baru adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada mesyarakat yang

umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari. b. Drama Lama (Klasik) Drama lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian, kehidupan istana atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar biasa, dan lain sebagainya. E. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pementasan Drama Didalam pementasan drama ini ada beberapa istilah-istilah yang perlu diketahui, yaitu: 1) Prolog yaitu kata –kata pembukaan dalam suatu pementasan drama. 2) Epilog yaitu kata-kata penutup dalam suatu pementasan drama yang berisikanpesan, kesimpulan dan amanat. 3) Monolog yaitu berbicara sendiri dalam suatu pementasan drama. 4) Dialog yaitu bagian dari naskah drama atau percakapan para pemain.

Selain itu, hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah: a. Tata panggung Sesuaikah tata panggung dengan tema tersebut? Misalnya tema tentang keadaan perang, tentu saja tata panggung harus bisa menggambarkan hal itu. b. Pemeran Pemeran sangat memengaruhi berhasil tidaknya suatu pertunjukan drama. Pemeran harus mampu menampilkan watak dari tokoh yang diperankannya. c. Kostum Kostum akan mendukung pementasan tersebut. Pemilihan kostum harus sesuai karakter tokoh yang diperankannya. d. Suara Suara sangat memengaruhi kelancaran suatu pementasan. Suara dapat berupa vokal si pemain ataupun musik yang mengiri pementasan itu. Penggunaan pengeras suara sangat diperlukan jika pemain tidak dapat bersuara secara lantang dan jelas. III. KESIMPULAN / PENUTUP Drama merupakan pertunjukan cerita atau lakon kehidupan manusia yang dipentaskan. Yang mempunyai ciri-ciri diantaranya drama merupakan prosa modern, naskah drama berbentuk prosa atau puisi, drama terdiri dari dialog, pemikiran dan gagasan pengarang disampaikan melalui dialog watakwataknya, konflik, sebuah skrip yang tidak didasari oleh konflik tidak dianggap sebuah drama yang baik, dan gaya bahasa. Adapun unsur-unsur yang terkandung di dalamnya yaitu unsur intrinsik (unsur dalam) dan unsur ektrinsik (unsur luar). Unsur-unsur intrinsik yaitu tokoh, penokohan, setting, tema, alur atau plot, dan amanat. Sedangkan unsur ekstrinsik dalam drama adalah unsur yang tampak, seperti adanya dialog atau percakapan. Namun, unsur-unsur ini bisa bertambah ketika naskah sudah dipentaskan. Seperti panggung, properti, tokoh, sutradara, dan penonton. Jenis-jenis drama dapat diklasifikasikan berdasarkan isi ceritanya (drama tragedy, melodrama, komedi dagelan). Berdasarkan cara penyajiannya (closed drama, drama treatikal, drama radio, drama televisi). Berdasarkan bentuknya (sandiwara, teater rakyat, opera, sendratari, pantomim, operet, tableau, passie, wayang, minikata). Dan menurut masanya drama ada drama baru dan drama lama. Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu prolog, epilog, monolog, dan dialog. Selain itu juga ada tata panggung, pemeran, kostum, dan suara yang perlu diperhatikan.

PENUTUP Demikianlah makalah yang kami buat, semoga apa yang kami sampaikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan pembaca pada umumnya. Dan kami sadar pembuatan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kesalahan, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA http://organisasi.org/arti-definisi-pengertian-drama-dan-jenis-macam-drama-pelajaran-bahasaindonesia http://arisudaryatno.blogspot.com/2010/01/unsur-unsur-drama.html http://www.dbp.gov.my/lamandbp/main.php?Content=vertsections&SubVertSectionID=893&VertSectio nID=25&CurLocation=208&IID=&Page=1 Maryati, Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP/MTs kelas VIII, Semarang: CV. Aneka Ilmu Noor, Redyanto, dkk, 2004, Pengantar Pengkajian Sastra, Semarang: fasindo Yuli eti, Nunung, dkk, 2005, Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Klaten: Intan Pariwara Diposkan oleh ce2 el-rahma di 04.22 Label: bahasa

Analisis Unsur Intrinsik Naskah Drama

1 Votes

Analisis Unsur Intrinsik Naskah Drama ” INSPEKSI “ Karya : Fransiskus Woddy Satyadarma Mata Kuliah Pengantar Apresiasi Drama Dosen Pembimbing Drs. P. Hariyanto disusun oleh : Galang Kurnia Ardi ( 081224059 ) PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2009 ” INSPEKSI “ karya : Fransiskus Woddy Satyadarma Analisis Tema dan Amanat Salah satu unsur intrinsik pembangun cerita dalam sebuah karya prosa adalah tema. Tema merupakan unsur yang begitu penting dalam pembentukan sebuah karya prosa, karena tema adalah dasar bagi seorang pengarang untuk mengembangkan suatu cerita. Sering dijumpai berbagai kekeliruan dalam memaknai sebuah tema. Tema sering disamakan dengan topik, padahal pengertian dari keduanya jelas berbeda. Topik dalam sebuah karya prosa adalah pokok pembicaraan, sedangkan tema adalah gagasan sentral, yakni sesuatu yang hendak diperjuangkan melalui karya tersebut. Sebelum kita membahas mengenai tema dan amanat dalam naskah drama tersebut, akan saya jelaskan terlebih dahulu beberapa pengertian dari tema dan amanat. Menurut Ensiklopedi Sastra Indonesia ( 2004 : 803 ) adalah

gagasan, ide pokok, atau pokok persoalan yang menjadi dasar cerita. Menurut Kamus Istilah Pengetahuan Populer ( 1986 : 263 ) tema adalah persoalan atau buah pikiran yang diuraikan dalam suatu karangan, isi dari suatu ciptaan. Kamus Istilah Sastra ( 1990 : 78 ) mengartikan tema sebagai gagasan , ide, ataupun pikiran utama di dalam karya sastra yang terungkap atau tidak. Tema tidak sama dengan pokok masalah atau topik. Tema dapat dijabarkan dalam beberapa topik. Selain itu, seperti yang terdapat dalam buku yang berjudul Berkenalan Dengan Prosa Fiksi ( 1999 :161 ) tema adalah makna cerita, gagasan sentral, atau dasar cerita. Kemudian amanat menurut Ensiklopedi Sastra Indonesia ( 2004 : 46 ) adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang lewat karyanya ( cerpen atau novel ) kepada pembaca atau pendengar. Dalam naskah drama yang berjudul ” Inspeksi ” karya Fransiskus Woddy Satyadarma dibutuhkan pemikiran serius oleh pembaca atau penonton untuk mencoba mengenali temanya. Tema dalam naskah ini termuat secara implisit dalam dialog tokoh – tokohnya, tidak bisa serta merta diketahui hanya dengan membaca naskah atau menyimak pertunjukan drama secaa sekilas. Pembaca dan penonton dituntut untuk mencermati, berpikir secara kritis, dan berimajinasi tinggi sehingga apa yang dimaksudkan oleh pengarang dapat ditransfer ke diri pembaca dan penonton dalam bentuk pemikiran yang sama dengan apa yang menjadi pemikiran pengarang pada saat ia menulis naskah tersebut. Secara garis besar naskah drama di atas bertemakan sosial. Kehidupan sosial masyarakat yang kebanyakan berkecenderungan untuk memandang sesuatu hanya dari tampak luarnya saja. Hal semacam ini sudah sangat membudaya dalam kehidupan masyarakat di institusi apapun, dari jaman apapun, khususnya masyarakat Indonesia. Segala sesuatu yang akan dilihat oleh orang lain pasti akan dipersiapkan terlebih dahulu supaya mendapat kesan positif dari orang lain yang melihatnya. Dalam naskah terlihat pada dialog yang diucapkan oleh Tumeles dan Hajir. Tumeles : “Nanti dulu, pokoknya itu wadah. Ya, toh, zaman sekarang itu yang perlu itu wadah dan konsepsi itu ya, toh. Rumusan itu, ya, toh. Disiplin terhadap wadah dan rumus itu, ya, toh?” Hajir : “Lha, iya, yang diminum itu apa “ Tumeles : “Yang diminum itu abstrak” Hajir : “Lho, abstrak bagaimana “ Tumeles : “Yang penting kan logis dan rasional toh?” Pada dialog dua tokoh diatas jika hanya dipandang sekilas tidak akan terlihat makna yang ingin disampaikan. Memerlukan pemahaman lebih dari pembaca dan penonton agar dapat menelaah maksud dari kalimat – kalimat tersebut. Jika dilihat dari keseluruhan dialog dalam naskah, kesemuanya akan bermuara pada dialog Tumeles dan Hajir ini. Pengarang ingin menunjukan kepada pembaca dan penonton bahwa dalam setiap aspek – aspek kehidupan kita masih terdapat birokratisasi yang teramat kuat. Seolah – olah atasan dapat mempermainkan bawahan dengan semena – mena dan bawahan menerima saja hal itu sebagai suatu kewajaran, meskipun sebenarnya dalam hati tidak setuju. Ketidaksetujuan ini ditunjukan dalam keseharian masyarakat yang hanya akan

terlihat baik bila akan atau sedang bertemu orang lain yang mereka anggap “lebih tinggi” daripada mereka. Amanat yang terdapat dalam naskah drama ini adalah mengingatkan kita bahwa semua hal harus dipersiapkan sedini mungkin, sehingga jika ada sesuatu yang mendadak dan mendesak tidak perlu terburu – buru untuk menyediakannya, karena jauh hari sebelum hal itu dibutuhkan kesemuanya telah siap. Berusaha melakukan suatu hal sedikit demi sedikit dalam artian persiapan. Jauh lebih efektif dan efisien daripada langsung banyak hal, niscaya hasil yang akan diperoleh akan sangat berbeda. Analisis Tokoh dan Penokohan Unsur intrinsik lain yang terdapat dalam cerpen adalah tokoh dan penokohan. Tokoh merupakan alat bagi pengarang untuk dapat menyampaikan tema kepada pembaca atau penonton. Dengan melalui tokoh lah suatu cerita dapat berjalan runtut, sehingga menghasilkan cerita yang menarik. Tokoh diibaratkan menjadi senjata utama bagi pengarang untuk menggerakan cerita, selain tema yang fungsinya adalah sebagi tulang atau penuntun cerita. Tanpa tokoh suatu cerita tidak akan menarik, bahkan tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Karena melalui dialog – dialog antar tokoh dan perbuatan tokohlah tema cerita itu terkandung. Berikut ini adalah pengertian tokoh menurut Ensiklopedi Sastra Indonesia ( 2004 : 811 ), tokoh adalah salah satu unsur cerita fiksi atau drama yang dapat menentukan unsur – unsur plot. Tokoh dalam fiksi dan drama terdiri atas tokoh utama ( protagonis ), tokoh antagonis, tokoh pembantu, dan tokoh pelengkap. dalam setiap tokoh biasanya digambarkan ciri – ciri menonjol yang membedakan satu tokoh dengan tokoh lainya. Kemudian, masih pada Ensiklopedi Sastra Indonesia ( 2004 : 605 ) dijelaskan mengenai pengertian penokohan, yaitu cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak para pelaku yang terdapat di dalam karyanya. Pada naskah drama ini pengarang mempergunakan lima orang tokoh untuk membawakan keseluruhan cerita. Kelima tokoh tersebut adalah Ihnas, Yunus, Hajir, Tumeles, dan Karman. Kelima orang tersebut mempunyai watak masing – masing yang tidak sama antara satu dengan yang lain. Namun ketidaksamaan watak inilah yang pada akhirnya menjadikan konflik di antara mereka. Cara pengarang melukiskan watak setiap tokoh adalah dari reaksi masing – masing tokoh terhadap suatu kejadian yang sedang terjadi di sekitarnya dan dengan menggambarkan reaksi – reaksi yang timbul pada saat tokoh berbicara dengan tokoh lain, bisa dari dialog bisa juga dari bahasa tubuh. Tokoh Ihnas merupakan seorang laki – laki yang tegas, disiplin, taat peraturan, namun sedikit tempramental. Ini bisa dilihat dari dialognya ketika sedang mengingatkan Yunus, “Kalau Mas Hajir melihat kau begitu ceroboh, tahu rasa kau” kemudian “Ya, garam keringatmu itu, goblok” lalu “Ini kan kamar tamu. Kalau kau naruh baju di sini kan… gila. Kalau si Mincuk kemari gimana?” dan “Taruh di kamar sendiri sana. Terus mandi. jangan begitu, dong kau”. Selanjutnya, tokoh Yunus digambarkan juga sebagai seorang laki – laki yang mempunyai sifat keras kepala, jorok, tolol, tidak disiplin, namun sebenarnya ia juga taat kepada atasannya. Hal ini terlihat pada dialog – dialog Yunus seperti, “Perkara senior kan tidak ada sangkut pautnya dengan baju” lalu “Ooooo itu, toh! sebentar ( jongkok, jarinya mendulit tumpahan limun, mencicip, lalu tertawa ) limun ini” kemudian “Kau ini ngomong apa. Masak Mas Hajir suruh

aku mencicipi keringatku sendiri”. Terdapat banyak dialog yang mengisyaratkan bahwa tokoh Yunus ini tolol, namun sebenarnya pendapat ini juga tidak begitu kuat karena bisa saja Yunus hanya berpura – pura tolol. Yunus juga berulang – ulang kali mengucapkan kata “Siap!” ini juga bisa menandakan bahwa Yunus sebenarnya adalah orang yang taat. Selain itu dialog yang diucapkan oleh Hajir, “Sudah berapa kali kau melakukan kesalahan – kesalahan sehingga dengan demikian kau diperingatkan dengan keras karena tindakanmu yang dapat dikategorikan sebagai tindakan indisipliner, dan mengurangi kewibawaan baik seluruh persekutuan, baik tingkat lokal, maupun regional…?” dialog ini menunjukan bahwa Yunus adalah orang yang tidak disiplin. Tokoh Hajir diceritakan sebagai ketua asrama tapi bisa juga dikatakn sebagai atasan dari keempat tokoh yang lain. Hajir adalah seorang yang mampu menghargai pendapat orang lain, namun juga mempunyai karakter khas seorang ketua atau atasan yaitu gemar menyuruh bawahannya, terkadang ia juga tempramen. Dialog – dialog yang menunjukan hal itu adalah, “Nggak apa – apa. Katakan idemu. Belum tentu jelek, ya toh…” lalu sebagai seorang pelaksana peraturan Hajir terkadang bersikap semaunya,“Pimpinan regional akan datang. Anu… eee itu buku – buku dibersihkan semuanya… Ambil sulak. ( Ihnas exit dan Hajir teriak ) Karman, Karman!” lalu “Ambil taplak meja, buku – buku ilmiah, buku – buku suci, salib – salib, patung – patung, siap di sini….” kemudian “Itu, itu mejanya yang sana pindah sini. ( Tumelas melaksanakan perintah Hajir dengan susah payah )”. Watak tempramen Hajir ditunjukan pada dialog “( Membentak ) Apa, katakan cepat!”. Kemudian tokoh Tumelas. Tumelas digambarkan sebagai seorang yang rajin, ringan tangan, dan patuh pada atasan. Tidak bisa dipastikan apakah Tumelas ini pria ataukah wanita karena memang tidak terdapat dialog atau perbuatan yang dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi ha l itu. Dari nama “Tumelas” merupakan nama perempuan jawa, namun sekali lagi tidak bisa dipastikan apakah ia pria atau wanita. Pada dialog “Baik. Kau mandi dulu sana. Biar aku yang membersihkan lantainya. ( Keduanya exit, tetapi Tumelas segera masuk kembali membawa pel lantai, sambil membenahi kursi – kursi. Hajir masuk dengan tergopoh – gopoh )”mencerminkan bahwa Tumelas adalah seorang yang ringan tangan, ia tidak keberatan membantu pekerjaan orang lain yang sebenarnya bukan tanggungjawabnya. Ia juga taat, pada saat diperintahkan oleh Hajir ia menurut saja, “Itu kursi itu pindah sini. ( Tumelas menjinjing kursi yang satu dipindah ke yang lain )” dan “Itu, itu mejanya yang sana pindah sini. ( Tumelas melaksanakan perintah Hajir dengan susah payah)”. Di samping itu tokoh Tumelas juga digambarkan sebagai seorang yang sedikit “tidak jelas”. Ketidakjelasannya dapat dilihat pada dialog ketika ia sedang berbicara kepada Hajir, “Begini. Maksud saya, supaya segalanya itu tampak hebat. Ya, toh, pokoknya sip, ya, toh. Lha itu…, begini, nanti kalau Pimpinan regional itu datang ya toh…” dialog yang lain “Nanti dulu, pokoknya itu wadah. Ya, toh, zaman sekarang itu yang perlu itu wadah dan konsepsi itu ya, toh. Rumusan itu, ya, toh. Disiplin terhadap wadah dan rumus itu, ya, toh?” dari kedua dialog itu saja sudah dapat disimpulkan bahwa Tumeles adalah seorang yang kurang mampu menjelaskan suatu hal dengan to the point. Langsung ke pokok pembicaraan. Harus berputar – putar terlebih dahulu.

Terakhir adalah tokoh Karman. Hanya sedikit dialog yang ia ucapkan, itupun hanya kata “Ya, mas” terkesan ia bukanlah tokoh penting dalam keseluruhan cerita ini. Di dalam keseluruhan cerita sangat sulit mencari siapakah tokoh utama, tokoh antagonis ataupun protagonis karena dialog – dialog yang menjadi tolak ukur dalam menilai sangat berimbang. Tidak ada tokoh yang dominan dalam cerita ini. Tetepi jika dilihat dari kuantitas dan kualitas dialog Hajir lah yan menjadi tokoh utama, karena ia bisa dibilang paling dominan dari tokoh – tokoh yang lain meskipun kedominannya tidak terlalu terpaut jauh. Untuk menentukan tokoh protagonis dan antagonis juga sangat sulit karena masing – masing tokohnya mempunyai perwatakan yang tidak stabil. Kadang positif sebentar berubah menjadi negatif. Kemudian, tokoh Karman hanya berfungsi sebagai tokoh latar. Karena ia tidak mempunyai cukup andil dalam keseluruhan cerita. Analisis Alur atau Plot Pengertian alur menurut Ensiklopedi Sastra Indonesia ( 2004 : 43 ) adalah jalinan peristiwa di dalam kaya sastra untuk mencapai efek tertentu. Jika dilihat dari keseluruhan cerita dalam naskah drama berjudul “Inspeksi” maka akan terlihat bahwa alur atau plot yang digunakan adalah alur maju. Hal ini bisa dibuktikan dengan meneliti kejadian demi kejadian yang semuanya disusun secara sistematis, menuju ke konflik, klimaks dan akhirnya penyelesaian. Konflik ditunjukan pada saat Hajir menerima telepon bahwa akan ada kunjungan dari Pimpinan Regional, di situ lah awal dari konflik yang terjadi. Meskipun sebelumnya terdapat konflik – konflik kecil antara tokoh satu dengan yang lain, namun konflik yang sebenarnya adalah ketika Hajir mendapat telepon dari pimpinannya. Bermula dari telepon itu mereka menjadi sangat kalut, tidak tentu arah, dan pada akhirnya kebingungan yang mereka dapat. Hal itu disebabkan karena memang mereka tidak menyangka bahwa akan ada kunjungan mendadak dari Pimpinan Regional. Pada saat Hajir sangat marah soal pencuri, itulah klimaks dari semua konflik yang tejadi. Ketika ternyata Pimpinan Regional tidak jadi datang itu merupakan penyelesaian dari keseluruhan cerita. Analisis Latar atau Setting Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita. Menurut Ensiklopedi Sastra Indonesia ( 2004 : 455 ) latar berupa tempat kejadian dan waktu kejadian berguna untuk memperkuat tema, menentukan watak tokoh, dan membangun suasana cerita. Dalam naskah ini latar tempat digambarkan sebagai ruang tamu sebuah asrama Katolik. Cukup luas dengan beberapa kursi dan meja. Sehingga memang pantas jika disebut ruang tamu dengan beberapa pasang zitje. Terdapat sebuah rak buku yang penuh dengan buku – buku. Latar waktu adalah sore hari sekitar pukul 16.27 WIB. Lalu Karman masuk membawa patung – patung, salib , taplak meja, buku – buku ilmiah sehingga tempat itu menjadi lebih berisi dan semakin kelihatan lebih hidup. Bisa diperkirakan tempat itu merupakan sebuah asrama Katolik karena pada naskah disebutkan akan datang pemimpin – pemimpin regional, persekutuan, wakil kesatu , wakil kedua. Karena pertama jelas terdapat salib dan yang kedua dalam agama Kristen tidak ada pemimpin – pemimpin regional ataupun lokal. karena gereja – gereja Kristen berdiri mandiri dibawah naungan PGGI ( Persekutuan Gereja –

Gereja Indonesia ) yang bisa dipastikan tidak akan melakukan pemeriksaan semacam itu. Latar sosial dalam naskah drama ini kemungkina besar terdapat dalam sebuah asrama calon – calon romo atau yang biasa disebut frater, dengan pengawasan ketat yang biasanya dinaungi oleh ordo tertentu atau yayasan Katolik tertentu.

Analisis Sudut Pandang ( Point of View ) Seperti yang terdapat dalam Ensiklopedi Sastra Indonesia ( 2004 : 626 ) yang dimaksud dengan sudut pandang adalah teori cerita atau naratologi yang menunjukan kedudukan atau tempat berpijak juru cerita terhadap ceritanya. Pengarang dalam naskah drama ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu dalam ia menceritakan naskah dramanya. Pengarang tidak muncul sebagai tokoh “aku” ataupun sebagai “peserta” yang terlibat dal am cerita tersebut. Ia hanya menjadi semacam dalang yang menggerakan cerita sesuai dengan imajinasinya. Pengarang di sini bertindak sebagai pencipta segalanya, yang serba tahu terhadap setiap detail ceritanya. Kesimpulan Cerita yang disampaikan cukup lucu. Sedikit menghibur. Cerita ini menjadi sedikit hidup dengan adanya tokoh Yunus yang seperti orang tolol. Pelukisan latar juga bagus, simple tapi cukup membantu dalam penegasan tema dan kesistematisan setiap adegan. Selain itu biasa – biasa saja, tidak ada hal lain yang spesial. Adegan kurang bervariasi dan terkesan kaku, monoton. Sedikitnya dialog yang dipergunakan juga berpengaruh besar kepada kebingungan pembaca dan penonton untuk memahi tema dan menentukan jalan cerita. Tidak terdapat efek kejut yang nyata sehingga pada akhir cerita pembaca atau penonton kurang mendapat kesan dari naskah drama yang dibaca ataupun yang dipentaskan, karena ending yang diberikan terlalu biasa, hanya menimbulkan kata “Oooooo..oo” pada akhir cerita. Dari segi teknis pencitraan pengarang dalam menunjukan tema sangat sulit dipahami, sehingga menyulitkan penikmat awam untuk menikmati cerita tersebut. Akan lebih baik jika tidak terlalu meng-implisitkan tema supaya karya ini dapat dinikmat dengan mudah oleh semua kalangan. Dari dialog antar tokoh juga seperti terdapat logat daerah tertentu. terutama pada saat dialog Tumeles sedang berbicara mengenai suatu hal dengan Hajir, sangat tidak jelas apa yang dimaksudkan. Secara keseluruhan naskah drama yang berjudul “Inspeksi” ini kurang. Daftar Pustaka

makalah unsur-unsur intrinsik drama dan teater
Kata Pengantar
Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan yang maha esa, karena atas rahmat-Nya jualah, kami dapat menyelesaikan makalah tentang drama atau teater ini yang lebih dikhususkan kepada pembahasan tentang usnsur-unsur drama. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam memberikan masukan dan kritik yang membangun yang dapat menjadikan makalah ini lebih lengkap dan lebih layak sebagai informasi. Secara khusus kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Supriyadi, M.Pd. selaku dosen pembimbing mata kuliah teori dan apresiasi drama yang telah berkenan memberikan informasi tentang materi yang akan kami bahas. Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami senantiasa mengharapkan masukan dan penyempurnaan makalah ini. Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Palembang,

Maret 2011

Penulis

Bab 1 Pendahuluan
Sebagai suatu genre sastra, drama mempunyai kekhususan dibanding dengan genre puisi ataupun genre fiksi. Kesan dan kesadaran terhadap drama lebih difokuskan kepada bentuk karya yang bereaksi lansung secara konkret. Kekhususan drama disebabkan tujuan drama ditulis pengarangnya tidak hanya berhenti sampai pada tahap pembeberan peristiwa untuk dinikmati secara artistik imajinatif oleh para pembacanya, namun mestinditeruskan untuk kemungkinan dapat dipertontonkan dalam suatu penampilan gerak dan perilaku konkret yang dapat disaksikan. Kekhususan drama inilah yang kemudian menyebabkan pengertian drama sebagai suatu genre sastra lebih terfokus sebagai suatu karya sastra yang lebih berorientasi pada seni pertunjukkan, dibandingkan seebagai genre sastra. Kata drama sendiri berasal dari kata

Yunani draomai (Harymawan, 1988: 1) yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, beraksi, dan sebagainya. Jadi, drama berarti perbuatan atau tindakan. Di dalam sebuah drama juga terdapat unsur-unsur yang membangun salah satunya yaitu unsur intrinsik. Jika dibandingkan sengan fiksi, maka unsur intrinsik drama dapat dikatakn kurang sempurna karena di dalam drama tidak ditemukan adanya unsur pencerita, sebagaimana terdapat dalam fiksi. Alur di dalam drama lebih dapat ditelusuri melalui motivasi yang merupakan alasan untuk munculnya suatu peristiwa. Motivasi di dalam drama menjadi penting, karena aspek ini sudah menjadi perhatian pengarang sewaktu karya drama ditulis. Meskipun di dalam menulis pengaang dapat mempergunakan kebebasan daya cipta yang dimilikinya, ia tetap harus memikirkan kemungkinan dapat terjadinyam laku (action) di pentas. Faktorlaku merupakan wujud lakon, dan mptivasilah yang merupakan landasannya. Aspek inilah yang menyebabkan mengapa drama mempunyai sedikit keterbatasan dibandingkan fiksi. Namun walaupun drama mempunyai sedikit keterbatasan dibandingkan fiksi, tidaklah berarti bahwa dengan hilangnya unsur pemaparan dan pembeberan, drama menjadi karya yang terbatas sama sekali. Justru pada aspek ini jugalah letak kekuatan karya drama. Membandingkan unsur intrinsik drama dengan unsur intrinsik fiksi bukan bertujuan untuk melihat kelemahan dan keunggulan masing-masing unsur, melainkan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh.

Bab 2 Pembahasan
2.1 Pengertian Drama
Kata drama berasal dari bahasa Yunani Draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak. Jadi drama bisa berarti perbuatan atau tindakan. Drama / teater adalah salah satu sastra yang amat popular hingga sekarang. Bahkan di zaman ini telah terjadi perkembangan yang sangat pesat di bidang teater. Contohnya sinetron, film layar lebar, dan pertunjukan-pertunjukan lain yang menggambarkan kehidupan makhluk hidup Adapun istilah lain drama berasal dari kata drame, sebuah kata Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah. Dalam istilah yang lebih ketat, sebuah drama adalah lakon serius yang menggarap satu masalah yang punya arti penting – meskipun mungkin berakhir dengan bahagia atau tidak bahagia – tapi tidak bertujuan mengagungkan tragedi. Bagaimanapun juga, dalam jagat modern, istilah drama sering diperluas sehingga mencakup semua lakon serius, termasuk didalamnya tragedi dan lakon absurd. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Drama adalah satu bentuk lakon seni yang bercerita lewat percakapan dan action tokoh-tokohnya. Akan tetapi, percakapan atau dialog itu sendiri bisa juga dipandang sebagai pengertian action. Meskipun merupakan satu bentuk kesusastraan, cara penyajian drama berbeda dari bentuk kekusastraan lainnya. Novel, cerpen dan balada masingmasing menceritakan kisah yang melibatkan tokoh-tokoh lewat kombinasi antara dialog dan narasi, dan merupakan karya sastra yang dicetak. Sebuah drama hanya terdiri atas dialog, mungkin ada

semacam penjelasannya, tapi hanya berisi petunjuk pementasan untuk dijadikan pedoman oleh sutradara. Oleh para ahli, dialog dan tokoh itu disebut hauptext atau teks utama, petunjuk pementasannya disebut nebentext atau tek sampingan.

2.2 Unsur-Unsur Drama
Unsur-unsur intrinsik di dalam drama, unsure intrinsik adalah unsur yang tidak tampak. Unsur-unsur terdiri atas:

1. Tema
Tema adalah ide pokok yang ingin disampaikan dari sebuah cerita dan inti permasalahan yang hendak dikemukakan pengarang dalam ceritanya. Walaupun dalam sebuah drama terdapat banyak peristiwa yang masing-masingnya mengemban permasalahan, tetapi hanya ada sebuah tema sebagai intisari dari permasalahan-permasalahan. Permasalahan ini dapat juga muncul melalui perilaku-perilaku para tokoh ceritanya yang terkait dengan latar dan ruang. Tema sering pula dikatakan dengan nada dasar drama. Sebuah tema tidak terlepas dari manusia dan kehidupan, misalkan cinta, maut, dan sebagainya. Jika ada yang menyebutkan temanya romantis itu bias pengertian. Romantis bukan tema, tetapi gaya yang digunakan oleh penulis. Dalam kasus dimaksud sebenarnya temanya adalah cinta/percintaan. Jalan ceritanya yang dibuat jadi romantis, ini hanya perkara gaya atau style.

2. Alur atau Plot
Hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya yang saling berhubungan secara kausalitas akan menunjukkan kaitan sebab akibat. Jika hubungan kausalitas peristiwa terputus dengan peristiwa yang lainnya maka dapat dikatakan bahwa alur tersebut kurang baik. Karakteristik alur drama jika ingin membedakannya, mungkin dapat dikategorikan dengan alur konvensional dan alur nonkonvensional. Persoalannya, terdapat perbedaan penyajian alur oleh pengarang-pengarang drama Indonesiapada tahun-tahun awal dengan drama-drama yang lebih mutakhir. Pengertian alur konvensional adalah jika peristiwa yang disajikan lebih dahulu selalu menjadi penyebab munculnya peristiwa yang hadir sesudahnya. Peristiwa yang muncul kemudian selalu menjadi akibat dari peristiwa yang terjadi lebih dahulu menjadi akibat dari peristiwa yang terjadi sesudahnya. Sedangkan alur nonkonvensional adalah alur yang dibentuk berdasarkan rangkaian peristiwa yang tidak berdasarkan runutan sebagaimana alur konvensional. masingmasing dari alur tersebut mempunyai fungsi dan peran tersendiri, terutama dengan kaitan teks dramanya.

Alur juga sering disebut sebagai tahapan cerita yang bersambungan. Meliputi Pemaparan, pertikaian, penggawatan, klimaks, peleraian. Dilihat dari cara menyusun yakni, alur maju/lurus, alur mundur, alur sorot balik, alur gabungan. Menurut Wiyanto (2002: 25-26), menyatakan bahwa perkembangan plot ada enam tahap, yaitu : (1) Eksposisi, tahap ini disebut tahap perkenalan, karena penonton mulai diperkenalkan dengan lakon drama yang akan ditontonnya meskipun hanya dengaan gambaran selintas. (2) Konflik,

pemain drama sudah terlibat dalam persolan pokok. (3) Komplikasi, insiden kemudian berkembang dan menimbulkan konflik-konflik yang semakin banyak dan ruwet. (4) Krisis, dalam tahap ini berbagai konflik sampai pada puncaknya (klimaks). (5) Resolusi, dalam tahap ini dilakukan penyelesaian konflik. (6) Keputusan, dalam tahap terakhir ini semua konflik berakhir dan sebentar lagi cerita selesai.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa sebuah drama akan mempunyai beberapa tahap dala plot dan tidak sama bagi tiap-tiap lakon drama.

3. Tokoh dan Penokohan
Tokoh dalam drama disebut tokoh rekaan yang berfungsi sebagai pemegang peran watak tokoh. Itulah sebebanya istilah tokoh juga disebut karakter atau watak. Istilah penokohan juga sering disamakan dengan istilah perwatakan atau karakterisasi Berdasarkan peranannya di dalam alur cerita tokoh dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam yakni: 1. Antagonis, tokoh utama berprilaku jahat. 2. Protagonis, tokoh utama berprilaku baik. 3. Tritagonis, tokoh yang berperanan sebagai tokoh pembantu. Selain itu, berdasarkan fungsinya di dalam alur cerita tokoh dapat diklasifikasi menjadi tiga macam juga, yakni: 1. Sentral, tokoh yang berfungsi sebagai penentu gerakan alur cerita. 2. Utama, tokoh yang berfungsi sebagai pendukung tokoh antagonis atau protagonis, 3. Tokoh pembantu, tokoh yang berfungsi sebagai pelengkap penderita dalam alur cerita. Masih berkaitan dengan tokoh ini, ada istilah yang lazim digunakan yakni penokohan dan teknik penokohan. Penokohan merujuk kepada proses penampilan tokoh yang berfungsi sebagai pembawa peran watak tokoh cerita dalam drama. Sedangkan teknik penokohan adalah teknik yang digunakan penulis naskah lakon, sutradara, atau pemain dalam penampilan atau penempatan tokoh-tokoh wataknya dalam drama. Teknik penokohan dilakukan dalam rangka menciptakan citra tokoh cerita yang hidup dan berkarakter. Watak tokoh cerita dapat diungkapkan melalui salah satu lima teknik di bawah ini: 1. Apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dikehendaki tentang dirinya atau tentang diri orang lain. 2. Lakuan, tindakan, 3. Cakapan, ucapan, ujaran, 4. Kehendak, perasaan, pikiran, 5. Penampilan fisik. Dalam hal penokohan, di dalamnya termasuk hal-hal yang berkaitan dengan penamaan, pemeranan, keadaan fisik tokoh (aspek fisiologis), keadaan kejiwaan tokoh (aspek psikologis) , keadaan sosial tokoh (aspek sosiologi), serta karakter tokoh. Di dalam drama unsur penokohan merupakan aspek penting. Selain melalui aspek inilah aspek-aspek lain di dalam drama dimungkinkan berkembang, unsur penokohaan di dalam drama terkesan lebih tegas dan jelas pengucapannya dibandingkan dengan fiksi.

Tokoh watak atau karakter dalam drama adalah bahan baku yang paling aktif dan dinamis sebagai penggerak alur cerita. Para tokoh dalam drama tidak hanya berfungsi sebagai penjamin bergeraknya semua peristiwa cerita, tetapi juga berfungsi sebagai pembentuk, dan pencipta alur cerita. Tokoh demikian disebut tokoh sentra Penokohan, gerak, dan cakapan adalah tiga komponen utama yang menjadi dasar terjadinya konflik (tikaian) dalam drama. Pada hakekatnya, konflik (tikaian) merupakan unsur instrinsik yang harus ada di dalam sebuah drama. Tokoh cerita dalam drama dapat diwujudkan dalam bentuk 3 dimensi, meliputi : 1. Dimensi fisiologi, yakni ciri-ciri fisik yang bersifat badani atau ragawi, seperti usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, ciri wajah, dan ciri-ciri fisik lainnya. 2. Dimensi psikologi, yakni ciri-ciri jiwani atau rohani, seperti mentalitas, temperamen, cipta, rasa, karsa, IQ, sikap pribadi, dan tingkah laku. 3. Dimensi sosiologis, yakni ciri-ciri kehidupan sosial, seperti status sosial, pekerjaan, jabatan, jenjang pendidikan, kehidupan pribadi, pandangan pribadi, sikap hidup, perilaku masyarakat, agama, ideologi, sistem kepercayaan, aktifitas sosial, aksi sosial, hobby pribadi, organisasi sosial, suku bangsa, garis keturunan, dan asal usul sosial.

4. Latar atau Setting
Latar atau setting adalah bagian dari cerita yang menjelaskan waktu dan tempat kejadian ketika tokoh mengalami peristiwa. Tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah drama. Latar tidak hanya merujuk kepada tempat, tetapi juga ruang, waktu, alat-alat, benda-benda, pakaian, sistem pekerjaan, dan sistem kehidupan yang berhubungan dengan tempat terjadinya peristiwa yang menjadi latar ceritanya. Latar juga merupakan identitas permasalahan drama sebagai karya fiksionalitas yang secara samar diperlihatkan penokohan dan alur. Latar atau setting memperjelas suasana, tempat, serta waktu peristiwa itu berlaku dan juga memperjelas pembaca untuk menidentifikasi permasalahan drama. Secara langsung latar berkaitan dengan penokohan dan alur. Sehubungan dengan itu, latar harus saling menunjang dengan alur dan penokohan dalam membangun permasalahan dan konflik. Latar yang konkret biasanya berhubungan dengan peristiwa yang konkret. Sebaliknya latar yang abstrak dan tokoh-tokoh yang abstrak akan berhubungan dengan yang abstrak pula. Dalam sebuah drama latar ikut membangun permasalahan drama dan menciptakan konflik. Bagi pembaca, latar haruslah dipandang sebagai suatu unsur yang mengarahkan dan memperjelas permasalahan drama. Karena hakikat drama yang ditulis dengan tujuan untuk dipentaskan menyebabkan latar pada drama berbeda dengan latar pada cerpen atau novel.

5. Amanat
Amanat adalah pesan atau sisipan nasihat yang disampaikan pengarang melalui tokoh dan konflik dalam suatu cerita. Amanat juga dapat diartikan sebagai pesan yang hendak disampaikan penulis dari sebuah cerita. Jika tema bersifat lugas, objektif, dan khusus, amanat lebih umum, kias, dan subjektif. Amanat di dalam drama dapat terjadi lebih dari satu, asal kesemuanya itu terkait dengan tema. Pencarian amanat pada dasarnya identik atau juga merupakan kristalistik dari berbagai peristiwa, perlaku tokoh, latar, dan ruang cerita. Pencarian amanat sama halnya seperti tema yaitu hanyalah

diperlukan bagi pelajar,pembaca, atau kritikus pemula. Bagi peneliti dan kritikus maupun hal semacam pencarian tema dan amanat bukanlah hal yang utama dan penting. Begitu juga dalam hal analisis drama, amanat tidak diperlukan dan tidak dipentingkan.

2.3 Contoh Drama dan unsur-unsur yang terkandung dalamnya

MENGANALISIS DRAMA “SAKIT ANEH SANG BAGINDA”

: Disebuah negeri timur tengah, berdirilah sebuah kerajaan yang sangat besar dan megah. Tanahnya subur dan berlimpah ruah hasilnya, membuat rakyatnya hidup rukun dan sejahtera. Apalagi kerjaan itu dipimpin oleh seorang raja yang tampan dan gagah berani, membuat negeri itu aman dan damai. Adegan 1 : (Sambil meletakan sendoknya dalam piringya lalu menarik nafas panjang dalam-dalam dengan tatapan matanya, yang sayup memperhatikan hidangan yang disiapkan). Permaisuriku….? Permaisuri : ”Ada apa bagindaku…..?

a

:“Begini permaisuriku, perutku terasa kering dan mual-mual, rasanya mau muntah sehingga selera makanku menjadi hilang” Permaisuri Baginda : “Ma‟af bagindaku, mungkin masakannya kurang enak ya?” : “Tidak permaisuriku, makananya sudah enak sekali.”

uri

:(Permaisuri tidak putus asa, lau memanggil dayangnya). “Dayang….dayang, kemarilah….! : (Dengan tergesa-gesa sambil membungkukan badan). “permaisuri memanggil hamba….?” Pemaisuri : “Ambilkan masakan jamur untuk baginda!”

g

g

: “ Baiklah, hamba segera melaksanakan tittah paduka.” (sambil membawa makanan), “ini makanan untuk paduka, permaisuri” : “Kembalilah danyangku. Paduka cobalah makan ini mungkin bias mengembalikan selerah makan baginda.” : (Mengambil satu sendok nasi lalu mencicipinya kemudian)”hoak…hoak…hoak.” (sampai muntah)

ri

ri

: (Dengan tergesa-gesah). “dayang…..dayang…tolong panggilkan tabib kerajaan!” : “Ia permaisuri (dengan tergesa-gesa dayang keluar dari ruangan itu dan memanggil tabib. Kemudian dalam waktu yang singkat, dayang kembali dengan seorang tabib kerajaan). : “ Ampun permaisuri, adakah yang bisa hambah perbuat?” : “Begini tabib, hampir sebulan ini selera makan baginda terganggu.” : “Hamba mohon ampun baginda, ijinkan hamba memeriksa keadaan baginda. (tabib mendekati baginda dan langsung memeriksanya). : “Bagaimana keadaannya tabib?” : “Mohon ampun paduka, hamba tidak dapat menemukan penyakit dalam diri baginda, sekali lagi ma‟af permaisuri.” : (Menggeleng-gelengkan kepalanya), “bagaimana ini tabib, apakah tidak ada jalan lain lagi untuk mengetahui penyakit baginda raja? : “Mohon amapun permaisuri, hamba sarankan kalau bisa memanggil abunawas yang mungkin bisa menyembuhkan penyakit baginda raja. : Pergilah tabib menemui abunawas dan berceritalah mereka tentang penyakit aneh sang baginda raja. Apakah baginda raja dapat disembuhkan? Apakah abunawas mampu melakukan yang terbaik unttu baginda raja? Saksikan Adegan II : “ Abunawas” (sambil menundukkan kepala). “salam sejahtera baginda raja” : Apakah kamu yang bernama abunawas? : “ Mohon ampun baginda, hamba yang bernama abunawas” : “ Apakah kamu bisa mengobati penyakitku ini? : “ Ampun baginda raja, hamba sudah mendengar semua dari tabib kerajaan tentang apa yang paduka derita.” : “ Menurutmu, adakah obat yang bisa menyembuhkan penyakitku ini?” : “ Ada paduka yang mulia.”

ri

ri

ri

s

s

s

: (Sambil berdiri dengan wajah yang berseri- seri ). “Obat apakah itu abunawas? :“ Hamba punya saran, di hutan tutupan ada kijang berbulu putih yang dagingnya sagat lezat.” : “ Lalu?” : “ Syaratnya, Baginda harus menangkap sendiri kijang berbuluh putih itu, apakah baginda sanggup?” :“ Baiklah abunawas, saya sanggup dan besok pagi kita berangkat.” (tanpa ragu-ragu). : Kemudian pulanglah abunawas ke rumahnya yang letaknya tidak jauh dari singgasana. Abunawas pulang untuk mempersiapkan semua perlengkapan yang akan dibawah. Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Baginda, abunawas dan prajurit kerajaan sudah siap di depan singgasana untuk melakukan perjalanan. Adegan III : “ Abunawas, apakah semua perlengkapan sudah disiapkan?” : “ Bagaimana prajurit, apakah perlengkapan dari singgasana sudah disiapkan?” : “Ampun baginda semuanya sudah siap.” : “ Kita berangkat sekarang.” : Rombongan paduka berangkat dengan membawa perlengkapan berburu, tetapi abunawas sengaja membawa nasih putih, air putih, garam, dan asam. Perjalanan cukup panjang dan melelahkan namun, untuk mencapai tujuan, merekapun dengan bersemangat melanjutkan perjalanannya. Maka tibalah mereka di tengah-tengah hutan.

s

s

s

,11

Adegan IV : “ Abunawas, selama perjalanan sampai di tengah hutan ini, tidak satupun binatang yang kita temukan.” : “ Memang betul paduka yang mulia, di sini ada semak-semak duri.” : “ Kalau disini hanya semak-semak duri, lalu di mana kijang berbulu putih itu?” : (Diam sejenak sambil tersenyum). “Begini baginda raja, konon kabar kijang berbulu putih itu muncul secara tiba-tiba.”

a

was

a

was

a

: (Sambil mengusap keringat dan menghela napas panjang). Oh begitu ya abunawas? :“ Ya baginda raja. Kalau begitu, kita istirahat dulu sambil mencari sumber air.” Baginda : “ Baiklah abunawas.”

was

1

: “ Mohon ampun paduka, tidak jauh dari sini ada sumber mata air.” Abunawas : “ Oh benar paduka. Lebih baik kita segera ke sana.”

r

: Lalu dengan langkah pasti, paduka bersama abunawas, dan prajurit-prajuritnya bergegas menuju sumber mata air dan tidak lama kemudian mereka tiba di sumber mata air tersebut. Adegan V : (Menghela napas panjang). “ oh indah sekali abunawas keadaan alam ini, airnya sangat jernih yang membuatku tidak tahan lagi untuk meminumnya. Dengan air ini, benar-benar menghilangkan dahagaku.” Abunawas : “Betul paduka, airnya sangat jernih.”

a

1,11

: “Mohon ampun paduka, ijinkan hamba meminta paduka untuk beristirahat di sini (menunjukkan tempat yang disediakan).” Baginda :“Terima kasih prajuritku.” (berjalan menuju tempat istirahat)

was

: “Ampun baginda, ijinkan hamba untuk mencari ikan di muara itu. (sambil menuju ke arah muara yang tidak jauh dari peristirahatan mereka).” : “Oh silakan abunawas, kebetulan perutku sudah lapar.” : “mohon ampun baginda, hamba dan prajurit segera mencari ikan di sana.” : Lalu abunawas bersama prajurit menuju ke muara. Saksikan apakah mereka benar-benar menemukan ikan di muara? Adegan VI

a

was

r

11

: “Abunawas, lihatlah ternyata di muara ini banyak sekali ikannya dan sungguh menakjutkan.” : “Oh betul sekali prajurit, jika kita bisa menangkapnya maka kita akan menikmatinya sampai puas. (sambil menancapkan sebilah bambu yang sudah diruncing ke arah ikan-ikan di muara).”

was

r

: Berkali-kali abunawas menancapkan bambu ke arah ikan, sehingga ia mendapat beberapa ikan yang sangat besar. Lalu abunawas bersama prajurit bergegas menuju ke tempat baginda beristirahat, sambil membawa ikan hasil tangkapan mereka. : “Mohon ampun baginda, abunawas dan prajurit sudah datang dan membawa beberapa ikan hasil tangkapan.” :“Oh ikannya besar sekali, rupanya mereka pandai menangkap ikan.”

1

a

was dan prajurit: (dengan wajah tersenyum, tibalah mereka di tempat peristirahatan baginda raja). Abunawas : “Mohon ampun baginda raja, imilah ikan tangkapan kami.”

a

: “kalau begitu bakarlah ikan-ikan itu.” : “Baiklah baginda, hamba akan melakukan perintah.” (sambil tersenyum). : Bergegaslah abunawas membakar ikan hasil tangkapan mereka dengan hati gembira, abumawas mengkipas bara api sehingga aroma ikan-ikan itu tercium hidung baginda raja. Setelah ikan-ikan itu matang, abunawas membuka bungkusan bekal yang dibawanya.

was

Adegan VII : (Sambil menyungguhkan ikan bakar yang lezat itu kehadapan baginda raja ). “amp un baginda, ijinkan hamba mempersilakan paduka menikmati ikan-ikan bakar ini.” : “Terimah kasih abunawas.” : Ternyata baginda raja sangat menikmati masakan-masakan yang sudah disiapkan abunawas bersama prajuritnya. Adegan VIII : “Abunawas, ikannya enak sekali seperti makanan ini akan saya habiskan.” : “Ampun baginda raja, dengan makanan ini apakah selera makan baginda sudah pulih kembali?” : “Ya, rasanya selera makanku sudah pulih. Kalau begitu lanjutkan perjalanan mencari kijang berbulu putih itu.” : “Ampun baginda raja, sebenarnya kijang berbulu putih itu tidak ada.”

s

s

s

: “lalu, bagaimana kita harus mendapatkan obat unttuk penyakitku ini?” : “Mohon ampun baginda, baginda tidak perlu mencari obat lagi, karena selera makan baginda sudah pulih kembali.” : “Kamu benar-benar abunawas, penyakit anehku sudah sembuh. Bagaimana ini bisa terjadi?” : “Menurut hamba, sebenarnya baginda tidak menderita penyakit apapun karena selama ini ketika makan, perut baginda belum terasa lapar apa lagi baginda tidak banyak bergerak.” : “Kamu benar-benar cerdik abunawas, kalau begitu lain waktu kita berburu lagi.” :(sambil tertawa terbahak-bahak)“ha…..ha….ha……ha…….” : Demikianlah kisah cerita “ SAKIT ANEH SANG BAGINDA” yang membuat kita semakin penasaran untuk mencari tahu apakah kijang berbulu putih itu benar-benar ada? sebagai akhir kata “saya ingin menyampaikan mohon ma‟af bila ada kata-kata dan kalimat yang kurang menyenang di hati para pembaca.” KASIH” A. Tema : Abunawas yang Cerdik B. Latar atau Seting 1. Tempat a. Disebuah negeri timur tengah. Disebuah kerajaan yang sangat besar dan megah. b. Di tengah hutan c. Di pinggir sebuah muara 2. Waktu a. Pada pagi hari b. Pada siang hari C. Alur atau Plot (Tahapan Alur Drama)

s

s

s

1. Pemaparan atau eksposisi : disebuah negeri timur tengah. Disebuah kerajaan yang sangat besar dan megah. 2. Komplikasi : tabib yang menemukan adanya penyakit pada sang baginda 3. Klimaks : abunawas mempunyai obat yang bisa menyembuhkan penyakit baginda yaitu berburu kijang beebulu putih. 4. Penyelesaian/katastrota : baginda tidak memiliki penyakit, dia hanya kurang bergerak. Alur : Maju, karena dalam cerita tidak ada pengulangan kebelakang

D. Penokohan atau Perwatakan Perwatakan Batin 1. Baginda : Tidak nudah putus asa 2. permaisuri : Tidak nudah putus asa, mengurus baginda yang sedang sakit. 3. Dayang-dayang : Selalu setia melayani baginda dan permaisuri 4. Tabib : Bijasana dalam memberi jalan keluar untuk menyembuhkan baginda raja. 5. Prajurit : Setia menemani baginda raja disaat berburu 6. Abunawas : Pintar, cerdik, dan bijaksana E. Amanat Agar tidak boleh memprediksikan sesuatu yang tidak kita ketahui kebenarannya, dan harus saling tolong-menolong kepada sesama yang membutuhkan bantuan kita.

3. Penutup
3.1 Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Drama / teater adalah salah satu sastra yang amat popular hingga sekarang. Bahkan di zaman ini telah terjadi perkembangan yang sangat pesat di bidang teater. Contohnya sinetron, film layar lebar, dan pertunjukan-pertunjukan lain yang menggambarkan kehidupan makhluk hidup. Drama adalah satu bentuk lakon seni yang bercerita lewat percakapan dan action tokoh-tokohnya. Akan tetapi, percakapan atau dialog itu sendiri bisa

juga dipandang sebagai pengertian action. Meskipun merupakan satu bentuk kesusastraan, cara penyajian drama berbeda dari bentuk kekusastraan lainnya. Unsur-unsur yang terdapat dalam drama seperti tema, alur, tokoh dan penokohan, latar atau setting, dan amanat. Kesemuanya itu termasuk ke dalam unsur intrinsik drama atau unsur yang tidak tampak. Secara garis besar jika dibandingkan dengan fiksi, maka unsur intrinsik drama dikatakan kuranng sempurna. Tapi bukan berarti drama menjadi karya yang terbatas sama sekali. Unsur-unsur yang terdapat dalam drama tersebut justru membangun drama yang ada.

Unsur Intrinsik Drama “BAPAK”
OLEH DIAN PADA MARET 22, 2011

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Drama tergolong jenis karya sastra disamping puisi dan prosa. Karya drama diciptakan pengarang berdasarkan pikiran atau imajinasi, perasaan dan pengalaman hidupnya. Drama sebagai karya sastra merupakan objek yang terikat pada pengarang, realitas, dan penikmat. Kata drama berasal dari bahasa Yunani yang berarti action dalam bahasa Inggris, dan „gerak‟ dalam bahasa Indonesia. Jadi secara mudah drama dapat kita artikan sebagai bentuk seni yang berusaha mengungkapkan perihal kehidupan manusia melalui gerak atau action dan percakapan serta dialog. Drama yang termasuk dalam karya sastra adalah naskah ceritanya. Sebagai karya sastra, drama memiliki keunikan tersendiri. Dia diciptakan tidak untuk dibaca saja, namun jug harus memiliki kemungkinan untuk dipentaskan. Karya drama sebagai karya sastra dapat berupa rekaman dari perjalanan hidup pengarang yang menciptakannya. Pengarang dapat diilhami pengarang lain, disamping masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar. Karya drama merupakan tempat kita masuk ke dalam penyatuan secara spiritual dan humanistic dengan pikiran dan kepercayaan pengarang seperti yang diungkap Selden, dalam Sudjarwadi (2005). Karya drama merupakan karya humaniora. Karya drama merupakan objek manusia, faktor kemanusiaan atau fakta kultural, sebab merupakan hasil ciptaan manusia. Fakta drama merupakan fakta budaya. Pengalaman pribadi di dalam drama dapat dikatakan benar sebagai dasar sastra yang nyata. Seorang penulis drama memang tidak sebebas penulis karya sastra yang lain, karena dalam menulis drama pengarang harus memikirkan kemungkinan- kemungkinan agar drama itu dapat di pentaskan.

Oleh karena itu, untuk memahami suatu naskah drama seseorang harus mengetahui unsur-unsur intrinsik adan ekstrinsik naskah drama. Dalam makalah ini, mengambil contoh naskah drama yang berjudul “Bapak” karya B. Soetarto Penulis akan membahas perihal unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik naskah tersebut. I.2 Rumusan Masalah I.2.1 Bagaimana unsur-unsur intrinsik pada naskah drama “Bapak”? I.2.2 Bagaimana unsur ekstrinsik pada naskah drama “Bapak”? I.3 Tujuan Penulisan Penulisan makalah ini bertujuan untuk : I.3.1 Mengetahui unsur-unsur intrinsik pada naskah drama “Bapak”. I.3.2 Mengetahui unsur ekstrinsik pada naskah drama “Bapak”. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Unsur Intrinsik Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri (Nurgiyantoro, 2002). Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik sebuah drama adalah unsur-unsur yang (secara langsung) turut serta membangun cerita. Kepaduan antar berbagai unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah drana berwujud. Atau sebaliknya, jika dilihat dari sudut kita pembaca, unsur-unsur (cerita) inilah yang akan dijumpai jika kita membaca sebuah naskah drama. Unsur yang dimaksud untuk menyebut sebagian saja, misalnya: 1) judul; 2) tema; 3) plot atau alur ; 4) tokoh cerita dan perwatakan; 5) dialog; 6) konflik; dan 7)latar. 2.1.1 Judul Judul adalah kepala karangan atau nama yang dipakai untuk buku atau bab dalam buku yang dapat menyiratkan isi buku tersebut. Judul suatu karya (buku) drama juga merupakan kunci untuk melihat keseluruhan makna drama. Judul isi karangan selalu berkaitan erat. Drama sebagai karya sastra dan merupakan cabang sini tergolong sebagai karya fiksi. Sugiarta dalam Sudjarwadi (2004) menjelaskan, judul pada karya fiksi bersifat manasuka, dapat diambil dari nama salah satu tempat atau tokoh dalam cerita, dengan syarat sebaiknya melambangkan isi cerita untuk menarik perhatian. Judul karangan seringkali berfungsi menunjukan unsur-unsur tertentu dari karya sastra, misalnya :

1. 2. 3. 4. 5.

Dapat menunjukan tokoh utama Dapat menunjukan alur atau waktu Dapat menunjukan objek yang dikemukakan dalam suatu cerita Dapat mengidentifikasi keadaan atau suasana cerita Dapat mengandung beberapa pengertian

2.1.2 Tema Tema adalah ide yang mendasari cerita sehingga berperan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya Tema dikembangkan dan ditulis pengarang dengan bahasa yang indah sehingga menghasilkan karya sastra atau drama. Tema merupakan ide pusat atau pikiran pusat, arti dan tujuan cerita, pokok pikiran dalam karya sastra, gagasan sentral yang menjadi dasar cerita dan dapat menjadi sumber konflik-konflik. Jika dikaitkan dengan dunia pengarang, tema adalah pokok pikiran didalam dunia pengarang. Setiap karya sastra (fiksi) telah mengandung atau menawarkan tema. Tema mengikat pengembangan cerita. Tema juga sebagai premis artinya rumusan inti sari yang merupakan landasan untuk menentukan tujuan dan arah cerita. Menurut Nurgiyantoro (1995), tema dibagi dua, yaitu tema mayor ( tema pokok cerita yang menjadi dasar karya sastra itu) dan tema minor (tema tambahan yang menguatkan tema mayor). 2.1.3 Plot atau alur Menurut Sudjarwadi (2005), plot atau alur dalam drama tidak jauh berbeda dengan plot atau alur dalam prosa fiksi. Dalam drama juga mengenal tahapan plot yang dimulai dari tahapan permulaan, tahapan pertikaian, tahapan perumitan, tahapan puncak, tahapan peleraian, dan tahapan akhir. Hanya saja dalam drama plot atau alur itu dibagi menjadi babak-babak dan adegan-adegan. Babak adalah bagian dari plot atau alur dalam sebuah drama yang ditandai oleh perubahan setting atau latar. Sedangkan adegan merupan babak yang ditandai oleh perubahan jumlah tokoh ataupun perubahan yang dibicarakan. 2.1.4 Tokoh cerita dan perwatakan Tokoh cerita adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa dalam berbagai peristiwa cerita. Tokoh cerita dapat berupa manusia, binatang, makhluk lain seperti malaikat, dewi-dewi, bidadari, setan atau iblis, jin, setan, sikuman, roh, dan benda-benda yang diinsankan. Tokoh dalam karya sastra memiliki perwatakan. Adanya watak yang berbeda-beda menyebabkan timbulnya peristiwa atau konflik yang membuat cerita semakin menarik. Berdasarkan segi peran atau tingkat pentingnya tokoh dalam suatu cerita dibedakan menjadi dua bagian. Yaitu central character (tokoh utama) danperipheral character (tokoh tambahan). Ada dua macam tokoh, yaitu tokoh utama dan tokoh

bawahan. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penderitaannya dalam suatu karya sastra (drama). Ada tiga kriteria untuk menentukan tokoh utama, yaitu : 1. Mencari tokoh yang paling banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. 2. Mencari tokoh yang paling banyak membutuhkan waktu penceritaan 3. Melihat intensitas keterlibatan tokoh dalam peristiwa yang membangun cerita (tema) Berdasarkan fungsinya dalam drama, tokoh cerita ada empat macam, yaitu tokoh protagonis, antagonis, tritagonis, dan peran pembantu. Ada pula pendapat lain, bahwa ada tiga macam tokoh cerita, yaitu tokoh utama, tokoh pendamping, dan tokoh tambahan. Berdasarkan wataknya, tokoh cerita dibedakan menjadi dau jenis, yaitu flat character (tidak mengalami perubahan) dan round character (mengalami perubahan). 2.1.5 Teknik Dialog Teknik dialog sangat penting di dalam drama. Dialog merupakan ciri khas suatu karya drama. Adanya teknik dialog secara visual membedakan karya drama dengan yang lain, yaitu puisi dan prosa. Dialog ada juga di dalam puisi dan prosa, tetapi tidak semutlak di dalam drama. Dialog di dalam drama tidak boleh diabaikan karena pada dasarnya drama merupakan dialog para tokoh cerita. Dialog adalah percakapan tokoh cerita. Dalam struktur lakon, dialog dapat ditinjau dari segi estetis dan segi teknis. Dari segi estetis, dialog merupakan faktor literer dan filosofis yang mempengaruhi struktur keindahan lakon. Dari segi teknis, dialog biasanya diberi catatan pengucapan yang ditulis dalam tanda kurung. Dialog melancarkan cerita atau lakon. Dialog mencerminkan pikiran tokoh cerita. Dialog mengungkapkan watak para tokoh cerita. Dialog merupakan hubungan tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Dialog berfungsi menghubungkan tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Dialog juga berfungsi menggerakan cerita dan melihat watak atau kepribadian tokoh cerita. Ada dua macam tenik dialog, yaitu monolog dan konversi (percakapan). Ada juga teknik dialog dalam bentuk prolog dan epilog. Prolog berarti pembukaan atau peristiwa pendahuluan yang diucapakan pemeran utama dalam sandiwara. Epilog berarti bagian penutup pada karya drama untuk menyampaikan atau menafsirkan maksud karya drama tersebut. 2.1.6 Konflik Konflik adalah pertentangan. Tokoh cerita dapat mengalami konflik, baik konflik dengan diri sendiri, dengan orang / pihak lain, maupun dengan lingkungan alam. Seperti halnya biasa, tokoh cerita dalam drama juga mengalami konflik. Konflik dapat membentuk rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan kausalitet. Konflik di dalam karya drama dapat menimbulkan atau menambah nilai estetik.

Tanpa konflik antar tokoh cerita, suatu karya drama terasa monoton, akibatnya pembaca atau penonton drama menjadi bosan. Ada pendapat yang menyatakan bahwa konflik dibagi menjadi dua bagian, yaitu konflik eksternal dan internal. Ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa konflik ada tiga macam, yaitu konflik mental (batin), konflik sosial, dan konflik fisik. Konflik mental (batin) adalah konflik atau pertentangan antara seseorang dengan batin atau wataknya. Konflik sosial adalah konflik antara seseorang dengan masyarakatnya, atau dengan orang / pihak lain. Konflik fisik adalah konflik antara seseorang dengan kekuatan diluar dirinya, misalnya dengan alam yang ganas, cuaca buruk, lingkungan yang kumuh, pergaulan yang salah. Konflik merupakan kunci untuk menemukan alur cerita. Dengan adanya konflik, maka cerita dapat berlangsung. Konflik berkaitan dengan unsure intriksik yang lain, seperti tokoh, tema latar, dan tipe drama. Konflik dapat menggambarkan adanya tipe drama. 2.1.7 Latar Latar merupakan unsur struktural yang sangat penting. Latar di dalam lakon atau crita drama harus mendukung para tokoh cerita dan tindakannya. Pengarang tentu membuat latar membuat latar yang tepat demi keberj\hasilan dan keindahan struktur drama. Penggunaan latar yang berhasil juga menentukan keberhasilan suatu karya drama. Penyaji latar yang tepat dapat menciptakan warna kedaerahan yang kuat sehingga dapat menghidupkan carita. Latar adalah lingkungan tempat berlangsungnya peristiwa yang dapat dilihat, termasuk di dalamnya aspek waktu, iklim, dan periode sejarah. Latar mendukung dan menguatkan tindakan tokoh-tokoh cerita. Latar memberikan pijakan cerita dan kesan realistis kepada pembaca untuk menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi (Nurgiyantoro, 1995). Fungsi latar yaitu: 1. 2. 3. 4. menggambarkan situasi proyeksi keadaan batin para tokoh cerita menjadi metafor keadaan emosional dan spiritual tokoh cerita menciptakan suasana

Unsur-unsur latar yaitu: 1. 2. 3. 4. letak geografis kedudukan / pekerjaan sehari-hari tokoh cerita waktu terjadinya peristiwa lingkungan tokoh cerita

Aspek latar berdasarkan fungsinya mencakup: 1. tempat terjadinya peristiwa

2. 3. 4. 5.

lingkungan kehidupan sistem kehidupan alat-alat atau benda-benda waktu terjadinya peristiwa

2.3 Unsur Ekstrinsik Menurut Tjahyono (1985), unsur ekstrinsik karya sastra adalah hal-hal yang berada di luar struktur karya sastra, namun amat mempengaruhi karya sastra tersebut. Misalnya faktor-faktor sosial politik saat karya tersebut diciptakan, faktor ekonomi, faktor latar belakang kehidupan pengarang, dan sebagainya. Mengutip pernyataan Wellek dan Warren, Tjahyono menjelaskan pengkajian terhadap unsur ekstrinsik karya sastra mencakup empat hal. Salah satunya adalah mengkaji hubungan sastra dengan aspek-aspek politik, sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan. Bahwa situasi sosial politik ataupun realita budaya tertentu akan sangat berpengaruh terhadap karya sastra tersebut. BAB III PEMBAHASAN Dalam pembahasan ini, akan diuraikan analisis mengenai unsur-unsur intrinsik dan unsur ektrinsik naskah drama “Bapak” karya B. Soenarto. Unsur-unsur intrinsik yang akan dibahas yaitu: 1) judul; 2) tema; 3) plot atau alur ; 4) tokoh cerita dan perwatakan; 5) dialog; 6) konflik; dan 7) latar. Sedangkan unsur ekstrinsik yang akan dibahas mengenai faktor sosial politik pada naskah tersebut. Namun sebelum itu, akan diuraikan sinopsis naskah drama “Bapak”. 3.1 Sinopsis BAPAK Drama ini berlatar Kota Yogyakarta tahun 1949. Tokoh Bapak (51 tahun) adalah orang tua tunggal dari tokoh Si Sulung dan Si Bungsu. Drama ini diawali dengan tokoh Bapak yang terkejut oleh kedatangan Si sulung yang telah lama merantau. Situasi Republik saat itu sangat kacau karena tentara kolonial melancarkan agresi militer kedua. Si Sulung memohon Bapak untuk ikut serta dirinya mengungsi ke luar negeri. Akan tetapi Bapak menolak lantaran dalam dirinya timbul tanggung jawab untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air dari tangan penjajah. Selain itu, Bapak juga beralasan, dengan hidup di luar negeri, itu sama artinya dengan tunduk pada penjajah. Ketegangan terus terjadi antara keduanya. Saat Bapak mendengar suara radio pemancar di kamar Si Sulung. Bapak segera mencari tahu ke kamar Si Sulung. Pada saat yang sama, Si Bungsu sedang kedatangan tamu, yaitu Perwira yang merupakan tunangan Si Bungsu. Mereka berdua terkejut mendengar bunyi ledakan pistol dari ruang dalam. Seketika Bapak keluar kamar dan menjelaskan pada Si Bungsu dan Perwira bahwa dirinya telah menembak Si Sulung. Bapak melakukan hal itu karena mengetahui Si Sulung adalah mata-mata tentara kolonial. Walaupun Bapak sungguh kecewa pada Si Sulung, namun demi menyelamatkan Negara, Bapak membunuh

putra yang amat disayanginya itu. Akhir drama ditutup dengan keputusan Bapak untuk tetap tinggal di rumah untuk melawan musuh. Sementara itu Bapak meminta Si Bungsu dan Perwira untuk pergi dari tempat itu. 3.2 Judul Drama ini diberi judul oleh pengarang dengan kata “Bapak”. Sebab seperti yang dijelaskan Sugiarta dalam Soedjarwadi (2004), judul pada karya fiksi bersifat manasuka, dapat diambil dari nama salah satu tempat atau tokoh dalam cerita, dengan syarat sebaiknya melambangkan isi cerita untuk menarik perhatian. Kata „‟Bapak” menunjukkan tentang adanya kesesuaian judul dengan tokoh utama, serta objek yang dikemukakan dalam drama keseluruhan. Kata „Bapak” dapat diartikan sebagai pelindung dan penanggung jawab serta pemimpin dalam rumah tangga. 3.3 Tema Setiap karya sastra tentu mengandung tema. Tema menjadi dasar pengembangan cerita dan merupakan makna keseluruhan yang tidak disampaikan langsung, namun secara implisit. Selain itu, tema mengikat pengembangan cerita atau sebaliknya (Nurgiyantoro, 1995). Berikut ini dikemukakan analisis kajian tema, baik tema mayor ataupun tema minor pada naskah drama”Bapak”. Tema mayor drama ini diambil dari tokoh Bapak yang mengalami konflik dengan Si Sulung. …… Sulung: Menyesal ya Bapak, rupanya kita berbeda kutub dalam tafsir makna.

Bapak: Namun kau nak, kau wajib untuk merenungkannya. Sebab aku yakin kau akan mampu menemukan titik simpul kebenaran ucapanku itu. (Lima Drama,1985:107) Bapak: Kita sedang dalam keadaan darurat-perang, nak. Dan dalam keadaan begini bagi seorang prajurit, kepentingan negara ada di atas segalanya. (Lima Drama,1985:104) ……. Bapak : Sulung : Sesungguhnyalah nak, lebih karena itu. Oo ya?!? Apa itu ya Bapak?

Bapak : Sulung : Bapak :

Kemerdekaan. Kemerdekaan!?! Kemerdekaan siapa!? Bangsa dan bumi pusaka.

Si Sulung ketawa. …… (Lima Drama,1985:105) Bapak :[……] Tidak anakku! Kemerdekaan tidak ditentukan oleh semua itu. Kemerdekaan adalah soal harga diri dan kebagsaan. Ia ditentukan oleh kenyataan, apakah suatu bangsa menjadi yang dipertuan mutlak atas bumi pusakanya sendiri atau tidak. [……] (Lima Drama,1985:107) Bapak :[……] pembangkanganku dulu, sekarang dan besok bukanlah karena sentimen, tetapi karena keyakinan. Ya, keyakinan bahwa mereka adalah penjajah. Keyakinan membangkang penjajah adalah tindakan mulia. Untuk itu aku rela menderita dan korbankan segalanya, nak. [……] (Lima Drama,1985:108-109) Dari banyaknya dialog antara Bapak dengan Sulung di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Bapak ingin mempertahankan kemerdekaan bangsa walaupun Sulung menolak dan menertawakannya. Dengan demikian tema mayor drama ini adalah seorang patriot tentu memperjuangkan kemerdekaan bangsanya walaupun harus mengorbankan segalanya. Dan tema minor drama ini ialah seorang anak yang tidak mau membantu ayahnya memperjuangkan bangsa lantaran pemikiran yang berbeda. 3.4 Plot atau alur Plot atau alur dalam drama dibagi dalam babak dan adegan. Babak dan adegan inilah yang membedakan drama dengan karya sastra lainnya. Drama ini berjalan maju. Dalam naskah drama”Bapak” ini, meskipun pada bawah judul tertera lakon dua babak, namun jika dianalisis lebih dalam, seluruh kejadian berlangsung pada satu tempat dan satu waktu. Sedangkan adegan pada drama ini, berlatar ruang tamu sebuah keluarga, awalnya diisi dengan Bapak yang berbicara sendiri mengenai putranya yang baru datang merantau, adegan kedua diisi dengan munculnya Bungsu yang menemani Bapak mengobrol. Adegan selanjutnya Sulung datang dan mulai beradu mulut dengan Bapak. Kemudian Bungsu pergi ke luar. Setelah adu mulut itu, Sulung pergi ke kamarnya, Bapak membuntuti karena curiga mendengar suara radio pemancar. Adegan selanjutnya Bungsu

kembali ke ruang tamu karena Perwira datang. Kemudian mereka terkejut dengan suara tembakan. Adegan selanjutnya Bapak muncul dengan pistol dan map-map tebal di tangannya. Perwira pergi ke kamar Sulung dan mendapati Sulung mati. Perwira kembali ke ruang tamu membawa bukti-bukti penghianatan Sulung. Bapak sangat kecewa dan Bungsu menangis. Bapak meminta Perwira membawa pergi Bungsu sedangkan Bapak tetap di rumah dengan perasaan bangga sekaligus kecewa. 3.5 Tokoh cerita dan perwatakan Tokoh cerita dan perwatakan merupakan unsur intrinsik yang sangat penting. Selanjutnya dilakukan analisis dalam naskah drama “Bapak”. Dalam drama ini, Bapak menjadi dapat disebut sebagai tokoh utama, melihat keterkaitannya dengan lain yang sangat banyak, mulai awal hingga akhir adegan. …… Sulung : …… Bapak: [……] nak, kaupun tahu aku tidak pernah memaksakan kehendakku pada anakanakku. Bila ada anakku yang yakin masa depannya ada di daerah pendudukan, akan lebih membahagiakan hidupnya, silahkan pergi. Begitulah bila adikmu mantap untuk mengungsi kesana, silahkan pergi bersamamu. Tapi adikmu dibesarkan dalam alam kemerdekaan, jadi dia tentulah dapat menilai arti kemerdekaan…. Dan kurasa bukanlah soal pernikahannya dengan TNI yang menjadi dasar timbangrasa, timbang hatinya tapi pengertian cintanya pada bumi pusakanya! (Lima Drama,1985:108) Bapak : Perwira: apa saja yang kau temukan di sana……………………………………. sebuah alat pemancar-isyarat radio. Dan yang ku bawa ini…………… Menyesal ya Bapak, rupanya kita berbeda kutub dalam tafsir makna.

(Lima Drama,1985:112) Bungsu: Bapak : Abang! tak perlu ia diratapi lagi, nak.

(Lima Drama,1985:113)

Bapak :Tidak! Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini. Mereka pasti akan segera kemari. Mereka akan menjumpai jenazah abangmu. Dan, aku akan bikin perhitungan dengan mereka. Pistol ini akan memadailah untuk itu. (Lima Drama,1985:115) Dari uraian di atas selain Bapak disebut sebagai tokoh utama bapak juga merupakan tokoh protagonis dilihat dari sisi perjuangannya membela bangsa. Dan dari segi perwatakan Bapak termasuk flat character karena tidak mengalami perubahan nasib hingga akhir kisah. Sedangkan tokoh Sulung merupakan tokoh antagonis karena menjadi lawan Bapak dalam cerita ini. Sulung mengalami perubahan nasib, yaitu dia mati dibunuh Bapak. Karena itu, dia disebut juga sebagairound character. Selanjutnya tokoh Bungsu dan Perwira. Bungsu dan Perwira dikatakan sebagai tokoh pembantu. Bungsu adalah adik Sulung, sedangkan perwira adalah prajurit TNI merupakan tunangannya. Dari segi perwatakan, Bungsu dan Perwira mengalami flat character. Tidak ada perubahan nasib. …… Bapak: Ya anakku, terkadang orang lebih suka ngomong pada dirinya sendiri. Tapi, bukankah tadi kau…bersama abangmu? Bungsu: Ya. Sehari kami tamasya mengitari seluruh penjuru kota. Sayang sekali kami tidak ketemu mas…… Bapak: Bungsu: Tunanganmu? Ah dia selalu sibuk dengan urusan kemiliteran melulu.[…]

(Lima Drama,1985:104) 3.6 Teknik Dialog Dalam struktur lakon, dialog dapat ditinjau dari segi estetis dan segi teknis. Dari segi estetis, dialog merupakan faktor literer dan filosofis yang mempengaruhi struktur keindahan lakon. Dari segi teknis, dialog biasanya diberi catatan pengucapan yang ditulis dalam tanda kurung. Dialog melancarkan cerita atau lakon. Dalam cerita ini, dialog antar tokoh lebih disoroti dari segi teknis. Meskipun ada juga sisi estetisnya, seperti pada percakapan Bapak dengan dirinya sendiri. Namun dialog yang dihadirkan tidak ditulis dalam tanda kurung. …… Si Bungsu senyum mendatang.

Bungsu: ……

Ah Bapak rupanya lagi ngomong seorang diri

Si Sulung mendatang dengan mencangklong pesawat potret, mengenakan kaca mata hitam. Terus duduk, melepas kaca mata dan meletakkan pesawat potret di meja. Sulung: Hu…uh, kota tercintaku ini sudah berubah wajah. Dipenuhi penghuni berbaju seragam menyandang senapan. Dipagari lingkaran kawat berduri. Dan wajahnya kini menjadi garang berhiaskan laras-laras senapan mesin. Tapi di atas segalanya, kota tercintaku ini masih tetap memperlihatkan kejelitaanya. (Lima Drama,1985:104) Dalam drama ini juga terdapat prolog, yaitu Drama ini terjadi pada tanggal 19 Januari 1949, sebulan sesudah tentara kolonial Belanda melancarkan aksi agresinya yang kedua dengan meerbut kota Republik Indonesia, Yogyakarta. Tentara kolonia telah pulang siap siaga untuk melancarkan serangan kilat hendak merebut sebuah kota strategis yang hanya dipertahankan oleh satu batalyon TNI. Di kota itulah SI BAPAK dikagetkan kedatangan putra sulungnya yang mendadak muncul setelah bertahun merantau tanpa kabar berita. SI SULUNG telah kembali pulang dengan membawa usul yang amat sangat mengagetkan SI BAPAK. Waktu itu seputar jam 10.00, SI BAPAK yang sudah lanjut usia jalan hilir mudik dengan membawa beban persoalan yang terus menerus merongrong pikirannya. (Lima Drama,1985:103) Pada drama ini juga terdapat monolog yaitu ketika Bapak berbicara pada dirinya sendiri tentang si Sulung. Bapak: Dia, putra sulungku. Si anak hilang telah kembali pulang. Dan sebuah usul diajukan; segera mengungsi ke daerah pendudukan yang serba aman tenteram. Hem, ya-ya usulnya dapat kumengerti. Karena ia sudah terbiasa hidup di sana. Dalam sangkar. Jauh dari deru prahara. Bertahun mata hatinya digelap-butakan oleh nina bobo, lela-buai si penjajah.[……] (Lima Drama,1985:103)

3.7 Konflik Ada pendapat yang menyatakan bahwa konflik dibagi menjadi dua bagian, yaitu konflik eksternal, meliputi manusia, dengan manusia, masyarakat dan denagn alam sekitarnya. Sedang konflik internal meliputi satu ide dengan ide yang yang lain. Atau yang terjadi dalam batin (Tarigan, 1984:134). Ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa konflik ada tiga macam, yaitu konflik mental (batin), konflik sosial, dan konflik fisik. Konflik mental (batin) adalah konflik atau pertentangan antara seseorang dengan batin atau wataknya. Konflik sosial adalah konflik antara seseorang dengan masyarakatnya, atau dengan orang atau pihak lain (Nurgiyantoro, 1995). Konflik dalam drama ini adalah konflik eksternal dan konflik sosial-dalam hal ini keluarga- yang terjadi antara Bapak dengan Sulung. …… Bapak: Sayang sekali nak, kita tegak pada dua kutub yang bertentangan secara asasi. Tetapi adalah keliru bila kau menimpakan kesalahan dan tanggung jawab segala duka cita pada pihak kami, nak. [……] Sulung: itu. Bapak: Itu pendapat Bapak? Memang Bapak ada hak penuh untuk berpendapat demikian

Nak, keyakinanmu salah. Sadarlah!

Sulung: Salah bagi Bapak benar bagiku. Dan, aku sadar benar akan itu. Dan dengan penuh kesadaran pula, aku bersedia menganggung segala resikonya. (Lima Drama,1985:110) Sulung: Menyesal ya Bapak, rupanya kita berbeda kutub dalam tafsir makna.

Bapak: Namun kau nak, kau wajib untuk merenungkannya. Sebab aku yakin kau akan mampu menemukan titik simpul kebenaran ucapanku itu. (Lima Drama,1985:107) ……. Bungsu: Tapi, kenapa mesti Bapak sendiri yang menghakimi.

Bapak: Karena, dia anak kandungku pribadi. Karena aku cinta padanya. Ya, karena cintaku itulah, aku tidak rela ia meneruskan langkah sesatnya. Langkah khianatnya, harus ya, wajib

dihentikan. Meskipun dengan jalan membunuhnya. Tapi dengan kematiannya aku telah menyelamatkan jiwanya dari kesesatan hanya sampai sekian. Dengan kematiannya, berakhirlah pula kerja nistanya sebagai penghianat. (Lima Drama,1985:114) Dalam dialog di atas dapat dipahami bahwa konflik yang dialami Bapak sangat keras. Setelah bapak beradu mulut dengan anaknya, Bapak dihadapkan pada kondisi untuk memilih membunuh anaknya atau berkhianat pada bangsanya. Apalagi setelah mengetahui ternyata anaknya adalah seorang mata-mata musuh. Akhirnya Bapak memutuskan untuk membunuh Sulung. Bapak merasa kecewa namun juga bangga. 3.8 Latar Latar mendukung atau menguatkan tindakan para tokoh cerita. Latar memantapkan peristiwaperistiwa di dalam cerita atau lakon drama. Latar memberikan pijakan cerita dan kesan realistis kepada pembaca untuk menciptakan suasana tertentu, yang seolah-olah sungguh –sungguh ada dan terjadi (Nurgiyantoro, 1995:17). Latar pada drama ini adalah sebuah rumah di kota Yogyakarta. Di saat kondisi Negara kacau karena serangan tentara kolonial tahun 1949. Latar percakapan tokoh secara keseluruhan terjadi di ruang tamu. Berikut analisis latar secara umum yang terdapat pada prolog. Drama ini terjadi pada tanggal 19 Januari 1949, sebulan sesudah tentara kolonial Belanda melancarkan aksi agresinya yang kedua dengan meerbut kota Republik Indonesia, Yogyakarta. Tentara kolonial telah pulang siap siaga untuk melancarkan serangan kilat hendak merebut sebuah kota strategis yang hanya dipertahankan oleh satu batalyon TNI. Di kota itulah SI BAPAK dikagetkan kedatangan putra sulungnya yang mendadak muncul setelah bertahun merantau tanpa kabar berita. Pada bagian lain dijelaskan suasana kota yang dipenuhi aktivitas militer Sulung: Hu…uh, kota tercintaku ini sudah berubah wajah. Dipenuhi penghuni berbaju seragam menyandang senapan. Dipagari lingkaran kawat berduri. Dan wajahnya kini menjadi garang berhiaskan laras-laras senapan mesin. Tapi di atas segalanya, kota tercintaku ini masih tetap memperlihatkan kejelitaanya. Bapak: begitulah nak, suasana kota sedang dicekam darurat-perang.

(Lima Drama,1985:104-105)

Dengan suasana demikian, juga mendukung konflik dramatik yang berujung pada keputusan Bapak menembak anaknya yang mata-mata musuh. Serta keinginan Bapak untuk tinggal di rumahnya. …… Bapak :Tidak! Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini. Mereka pasti akan segera kemari. Mereka akan menjumpai jenazah abangmu. Dan, aku akan bikin perhitungan dengan mereka. Pistol ini akan memadailah untuk itu. (Lima Drama,1985:115) Terdengar ledakan bom-bom menggemuruh, bersusul tembakan meriam-meriam. Bapak : Cepat pergilah! Cepat!

Perwira yang telah mengambil barang-barang sitaan, cepat-cepat menarik tangan Si Bungsu. Keduanya berlari keluar, tapi henti sejenak di ambang. (Lima Drama,1985:116) 3.9 Unsur Ekstrinsik Unsur ekstrinsik pada karya sastra sebenarnya merupakan wujud murni pesan yang ingin disampaikan pengarang pada pembaca. Untuk menganalisis unsure ekstrinsik pada darama ini dapat diguanakan metode sosiologi sastra. Metode ini berdasarkan prinsip bahwa kesustraan merupakan refleksi masyarakat pada zaman karya sastra itu ditulis. Yaitu masyarakat yang melingkungi penulis sebab sebagai anggotanya, penulis tidak dapat lepas dari dirinya sendiri. Istilah sosiologi sastra digunakan pada tulisan-tulisan para kritikus dan ahli sejarah sastra yang perhatian utamanya ditujukan pada cara-cara pengarang dipengaruhi oleh status kelasnya, ideologi masyarakat, keadaan-keadaan ekonomi dan jenis pembaca yang dituju. Demikian pendapat Abrams yang dikutip Rachmat Djoko P. Drama ini banyak bercerita tentang kehidupan sosial-politik di Indonesia pasca kemerdekaan. Jika dilihat latar pembuatannya, drama ini merupakan satu dari lima drama yang ditulis B. Soetarto pada tahun 1985. Tidak diketahui secara pasti latar belakang pengarang. Namun dalam hal ini, lebih utama dibahas permasalahan yang diangkat pengarang dalam drama tersebut. Permasalahan yang diangkat pengarang dalam drama ini adalah adanya perbedaan ideologi antara Bapak dengan Sulung. Bapak dengan kukuh berusaha meyakinkan Sulung untuk kembali mempertahankan kemerdekaan bangsa. Namun karena Sulung telah hidup lama di luar negeri, sulung berpikir praktis dengan mengambil keputusan berdasarkan asas manfaat. Dirinya tidak peduli walaupun menjadi kaki tangan musuh, dan bangsanya musnah asalkan dirinya sendiri selamat.

…… Bapak: Tapi nak, ijinkan aku tanya. Bagaimana sikapmu dalam perjuangan pembangkangan kita melawan penjajah? Sulung: Sudah kunyatakan tadi, bahwa antara kita kita ada perbedaan kutub, perbedaan dalam merumuskan tafsir makna. Kita menempuh jalan yang beda. Bapak memilih jalan pembangkangan, aku sebaliknya. Konsekuensinya, memang berat amat. Satu tragedi. Dan menurut tanggapanku, tragedi yang terjadi dan bakal terjadi di sini menjadi tanggung jawab kaum ekstrimis, dari pihak yang sekeyakinan dengan Bapak. (Lima Drama,1985:109-110) Sulung: Ah, Bapak terpanggang oleh api sentimen patriotisme. Ya..ya aku memang dapat mengerti, lantaran dulu Bapak pernah jadi buronan pemerintah Hindia-Belanda. Bahkan, sampaisampai marhumah bunda wafat dalam siksa kesepian dan kegelisahan karena Bapak selalu keluar masuk penjara. (Lima Drama,1985:108) Bapak: Tengoklah sejarah, lihatlah betapa satria muslim syahid dalam membela dan meneguhi keyakinannya. Betapa kaum Nasrani begitu pasrah mati dikoyak-koyak singa di zaman Nero. Ya..mereka, yang Muslim, yang Nasrani, sama tulus ikhlas, mati syahid menurut anggapannya, dari pada mengorbankan keyakinan yang mereka teguhi. (Lima Drama,1985:109) Bapak: Nak, sejarah membuktiakn bahwa sejak kaum penjajah menjangkahi bumi pusaka kita, merekalah yang menciptakan segala sengketa berdarah antara sesama kita.Politik penjajahan merekalah yang menghasilkan duka cerita di tanah air. Ya, dimana saja. (Lima Drama,1985:110) Dari percakapan di atas kita dapat mengetahui bahwa pengarang ingin menunjukkan adanya sejarah pertentangan-pertentangan yang dialami bangsa-bangsa di setiap Negara, termasuk Indonesia pada masa penjajahan. Pertentangan tersebut, dicontohkan pengarang, dialami Bapak dengan Sulung. Bapak dengan keyakinan timur, dan sulung denagn pemikiran barat. Bahkan hingga saat ini, mungkin penjajah tidak lagi melakukan serangan fisik, namun sebenarnya adalah melalui perang pemikiran. Dan penjajahan tersebut telah ada sejak pemerintahan Hindia-Belanda menduduki Indonesia. BAB IV PENUTUP

Simpulan yang dapat diambil dari naskah drama “Bapak” ini antara lain, 1. untuk mengetahui dan mengapresiasi suatu karya sastra dibutuhkan pengetahuan serta analisis mengenai unsur-unsur pembangun karya tersebut. Unsur pembangun dalaman karya sastra tersebut disebut dengan unsur intrinsik. Dalam drama ini, unsur-unsur intrinsiknya adalah 1) judul; 2) tema; 3) plot atau alur ; 4) tokoh cerita dan perwatakan; 5) dialog; 6) konflik; dan 7) latar. 2. sedangkan untuk mengetahui makna keseluruhan karya tersebut digunakan analisis unsur luaran yang disebut unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik yang dianalisis dalam naskah ini adalah faktor sosial-politik Indonesia pada masa pasca penjajahan Belanda.

menganalisis Drama Berdasarkan Unsur Instrinsik
TUGAS: KAJIAN DRAMA MENGANALISIS DRAMA BERDASARKAN UNSUR INTRINSIK

FITRY YUNITA MARANAY A2D1 09031

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2011

PENDAHULUAN 1. Pengertian Sastra Sastra adalah merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi yang berunsur fiksionalitas, yang merupakan luapan emosi spontan. Van Luxwmburg, Jan (Terj. Dick Hartoko). Pengantar Ilmu Sastra Yogyakarta :Kanisius, 1983. Sastra adalah karya sastra imajinatif bermedia yang nilai estetikanya bernilai dominan. Melalui karya sastra seorang pengarang bermaksud menyampaikan informasi, gambaran atau pesan tertentu kepada pembaca. Sesuatu yang disampaikan itu biasanya merupakan gagasan tentang kehidupan yang ada disekitar pengarang. 2. Penjelasan Tentang Kajian Sastra(drama) Kajian (sastra) adalah kegiatan mempelajari unsur-unsur dan hubungan antarunsur dalam karya sastra dengan bertolak dari pendekatan, teori, dan cara kerja tertentu (Aminuddin, 1995:39). Kegiatan “mempelajari” dalam pemahaman yang bersifat keilmuan adalah “menganalisis”. Inti dari kegiatan mengkaji adalah menganalisis. 3. Judul Drama : “Alangkah Lucunya Kampus Ini” (Mas Jaya) 4. Alasan Memilih Drama “Alangkah Lucunya Kampus Ini”. Karena mengandung pesan moral yang dapat kita petik. bagaimana mempertanggungjawabkan amanah dan harapan orang tua, dengan berbagai pengaruh-pengaruh dilingkungan kampus. Seperti terdapat dalam kutipan percakapan berikut ini :

Amanah dan Harapan Orang Tua Inu: Ibu: “Imu diantara kalian bertiga ini, hanya kamu yang saya lihat pintar. Ko sering dapat juara kelas. jadi kalau ko sudah pergi kuliah nanti, ko harus lebih pintar lagi. Supaya ko bisa seperti kakaknya La Iso, jadi anggota dewan. Atau tidak, ko bisa seperti bapaknya Ambo’i. sudah jadi kepala sekolah SD sekarang.” Ayah: “Imu..tujuan bapak dan ibumu kasi duduk km malam ini, supaya ko bisa dengar baik -baik nasehat dari orang tuamu ini. Bapak sangat percaya sama kamu. Kamu itu sudah pintar, tidak merokok dan minum seperti kebanyakan pemuda dikampung ini. Kamu juga belum pernah pacaran saya lihat, dan mudah-mudahan saat kuliah juga jangan dulu.” Ibu: “iya imu..apa lagi dari mereka itu ada juga yang pulang sudah bawa anak g adisnya orang. Jangan kasihan Inu, jangan! Disana itu Inu, kota.banyak maksiatnya. Tidak ada ibu dan bapakmu yang akan melihatmu nanti, selain Allah dan dirimu sendiri. Jadi jangan sekali-kali ko tinggalkan itu sholat dan mengajimu, karena itu adalah orang tuamu yang akan selalu menegur dan menasehatimu disana.” Ayah: ”Imu..ko jaga pergaulanmu. Jangan sedikit -sedikit ko kaget lihat modelnya orang disana. Jadilah seperti tukang genteng yang selalu melihat kebawah, jangan seperti tukang gali sumur yang sedikitsedikit melihat keatas. Ko lihat orang-orang di atas, beli ini..beli itu, begini begitu, ko mau ikut juga. Ingat nak kita ini orang bawah, orang miskin Nak.” Ibu: “iya Nak, kondisi keluargamu harus juga ko ingat. Tapi jangan karena ko miskin baru ko mind er untuk belajar. Mama yakin, pasti ko lebih pintar dari pada orang-orang kota sana.” Pengaruh-pengaruh: La Ipo: “ beee…apami yang ko dapat itu..ko tidak bisa jadi orang sukses kalau begitu, kuliah itu harus kasi lama. Ko harus masuk organisasi, biar ko ja di aktivis. Heee…hitungkan ko nah…kuliah sarjana itu 4 tahun. Organisasi juga harus begitu: 1 tahun jadi ketua HMPS, 1 tahun jadi ketua DPM, 1 tahun jadi ketua BEM fakultas dan 1 tahun lagi jadi ketua BEM universitas. Jadi totalnya 8 tahun. La Ipo: “ha..ha..ha (tertawa) .eh saya jelaskan nah,Mahasiswa itu bisa dikatakan sukses kalau dapat CW. Kalau ko hanya sukses kuliah, itu sama saja kutu buku. Pokokno begini he! Pertama ko belajarmi dulu bae-bae, karena itu amanah dari orang tuamu, amanahnya om dan tantemu juga. Jadi, saya hargai itu. Nah pelan-pelan ko masukmi organisasi. Nah kalo ko sudah pintar, baru bagus organisasimu, banyak itu cewek yang lengket sama kamu nanti. Bagaimana, mantap toh! La Ipo: “hmmm..deela kunee..! janganmi ko khawatir yang itu, kit aji yang pegang kampus. Kalau di DO, tinggal angkat megafon langsung takut itu birokrasi. Pokokno ko tidak rugi kasihan kalo ko ikut sepupumu ini. Hee..tidak ada yag berani kore-kore ko dikampus, bisa ko kuliah semaumu, dan yang penting ko tidak kelaparan. Artinya, biarpun lama ko kuliah, ko tidak akan jadi beban orang tua. La ipo: ”wooo…ada toh caranya…hanya aktivis kayak sepupumu ini yang tau. Pokokno kalau masalah uang itu kecil, makanya ko gabungmi sama kita ini. Uuu…kalau ko sudah punya uang kasian, it u cewekcewek tinggal ko pungut seperti gula-gula, hehehe….! Ko tidak lihatkah sepatuku ini, kayak sepatunya bos-bos toh. Ngeri juga harganya. A. Analisis Unsur Intrinsik Unsur intrinsik karya sastra yaitu unsur-unsur yang berada dalam karya sastra itu sendiri dan sebagai unsur pembangun dalam tubuh karya sastra itu. Unsur intrinsik pada karya sastra meliputi tema, alur, tokoh atau penokohan, latar, amanat atau pesan, dan sebagainya. 1. Tema Tema adalah persoalan yang menduduki tempat utama dalam karya sastra. Tema bisa juga disebut muatan intelektual dalam sebuah permainan: topik, ide utama atau pesan, mungkin juga sebuah keadaan (Robert Cohen, 1983). Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan bahwa tema adalah ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naska lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita.

Adapun tema drama di atas adalah “Pengaruh -Pengaruh di lingkungan Kampus”. Mengapa? Karena persoalan yang menduduki tempat utama dalam drama “Alangkah Lucunya Kampus Ini” adalah pengaruh negatif yang dilakukan oleh tokoh La Ipo terhadap sepupunya Imu yang merupakan mahasiswa baru. Sebagaimana yang tergambar dalam kutipan dialog berikut: La Ipo : “beee…apami yang ko dapat itu..ko tidak bisa jadi orang sukses kalau begitu, kuliah itu harus kasi lama. Ko harus masuk organisasi, biar ko jadi aktivis. Heee…hitungkan ko nah…kuliah sarjana itu 4 tahun. Organisasi juga harus begitu: 1 tahun jadi ketua HMPS, 1 tahun jadi ketua DPM, 1 tahun jadi ketua BEM fakultas dan 1 tahun lagi jadi ketua BEM universitas. Jadi totalnya 8 tahun. Imu: “biihh..sa tidak mau jadi aktivis, lama sekali kuliahnya. Biarmi saya bisa jadi sukses dengan belajar.” La Ipo: “ha..ha..ha (tertawa) .eh saya jelaskan nah,Mahasiswa itu bisa dikatakan sukses kalau dapat CW. Kalau ko hanya sukses kuliah, itu sama saja kutu buku. Pokokno begini he! Pertama ko belajarmi dulu bae-bae, karena itu amanah dari orang tuamu, amanahnya om dan tantemu juga. Jadi, saya hargai itu. Nah pelan-pelan ko masukmi organisasi. Nah kalo ko sudah pintar, baru bagus organisasimu, banyak itu cewek yang lengket sama kamu nanti. Bagaimana, mantap toh!” Imu: “iih…gimana di….? Eh tadi ko bilang, kita harus kuliah 8 tahun. Perasaan kalau 8 tahun kita sudah di DO mi itu…!” La Ipo: “hmmm..deela kunee..! janganmi ko khawatir yang itu, kitaji yang pegang kampus. Kalau di DO, tinggal angkat megafon langsung takut itu birokrasi. Pokokno ko tidak rugi kasihan kalo ko ikut sepupumu ini. Hee..tidak ada yag berani kore-kore ko dikampus, bisa ko kuliah semaumu, dan yang penting ko tidak kelaparan. Artinya, biarpun lama ko kuliah, ko tidak akan jadi beban orang tua.” Inu: “iyo! Bagaimanakah caranya?” La ipo: ”wooo…ada toh caranya…hanya aktivis kayak sepupumu ini yang tau. Pokokno kalau masalah uang itu kecil, makanya ko gabungmi sama kita i ni. Uuu…kalau ko sudah punya uang kasian, itu cewek cewek tinggal ko pungut seperti gula-gula, hehehe….! Ko tidak lihatkah sepatuku ini, kayak sepatunya bos-bos toh. Ngeri juga harganya.” Inu;” iya dee.. sa mau ikutmi juga sama kalian.

2. Alur Alur atau plot merupakan rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab-akibat sehingga menjadi satu kesatuan yang bulat dan utuh. Dalam pengertian umum, alur atau plot sering didefenisikan sebagai rangkaian peristiwa-peristiwa cerita yang disusun secara logis dan kausalitas. Banyak aspek dalam menganalisis alur sebuah karya sastra (cerpen, novel, drama, dan sebagainya), misalnya, kita menempatkan analisis alur cerita sesuai dengan urutan teks (alur sekuen), urutan waktu (kronologis), atau urutan logis (kausalitas) sesuai dengan pengertian awal tentang alur. Adapun analisis alur dari segi urutan waktu (alur kronologis) dari drama “Alangkah Lucunya Kampus Ini” karya yaitu: Deskripsi Inu masuk kuliah. Tokoh Inu sebelumnya diberi nasehat-nasehat oleh orang tuanya. Tokoh Inu bertemu sepupunya yang bernama La Ipo. Percakapan antara tokoh Inu dan tokoh La Ipo. Deskripsi tentang manuskripsi tokoh Inu. Deskripsi sajak, cerita pendek, sandiwara, dan sebagainya. Penawaran masuk organisasi oleh tokoh La Ipo kepada tokoh Inu.

Deskripsi suasana hati tokoh Inu tentang nasihat orang tuanya. Tokoh la Ipo berusaha meyakinkan tokoh Deskripsi terpengaruhnya tokoh Inu. Tokoh inu bertemu lagi dengan tokoh Usman  Tokoh Usman menawarkan Inu masuk organisinya  Terjadi perbincangan antara tokoh La Ipo dengan John  Deskripsi terjadi perdebatan kecil antara tokoh La Ipo dengan tokoh Usman Terjadi dialog dalam aksi demo antara tokoh Celo dengan tokoh Rektor Deskripsi keluhan kebingungan yang dialami oleh tokoh Inu kepada tokoh Usman  Tokoh La Ipo datang menghampiri Usman Deskripsi akhir yaitu ketegangan antara tokoh Usman dan tokoh La Ipo, atas kegerangan tokoh La Ipo terhadap tokoh Usman yang selalu mendekati Inu. 3. Tokoh atau Penokohan Tokoh adalah pelaku utama dalam karya sastra. Penokohan adalah perwatakan oleh teknik atau cara-cara menampilkan tokoh. Nama-Nama Tokoh - Bapak - La Ipo - Ibu - john - Kakak - Celo - Adik - Rektor - Imu - Usman Penokohan: Penulis mencitrakan tokoh Inu yang pintar diantar dua saudaranya dan juga sebagai seorang mahasiswa baru yang lugu, seperti terdapat dalam kutipan berikut :  Imu: “ihh…gimana di…! Eh tadi ko bilang, kit a harus kuliah 8 tahun. Perasaan kalau 8 tahun, kita sudah di DO mi.” Imu: “iya dee..sa mau ikutmi juga sama kalian.” Imu: “ingin sih kak. Eh kak katanya kalau kita ikut organisasi itu bisa menghambat kuliahnya kita?” Penulis menceritakan tokoh ibu yang sangat penyayang dan perhatian. Seperti terlihat pada kutipan dialog: “Ibu: “iya inu..apa lagi dari mereka itu ada juga yang pulang sudah bawa anak gadisnya orang. Jangan kasihan Inu, jangan! Disana itu Inu, kota.banyak maksiatnya. Tidak ada ibu dan bapakmu yang akan melihatmu nanti, selain Allah dan dirimu sendiri. Jadi jangan sekali-kali ko tinggalkan itu sholat dan mengajimu, karena itu adalah orang tuamu yang akan selalu menegur dan menasehatimu disana. Penulis mencitrakan tokoh ayah yang bertanggung jawab terhadap masa depan anaknya. Seperti terlihat pada kutipan dialog: Ayah: “ho…Imu, sebentar lagi ko akan pergi jauh, ko mau pergi sekolah supaya ko jadi orang. Tidak kaya bapak dan mama mu ini. Sudah mau rabunmi ini mata, biar ditabrak huruf huruf A tidak ditahu. Penulisan tokoh kakak yang nakal, malas sekolah tetapi menyayangi Imu. Seperti terlihat dalam kutipan: Kakak: “heh…!iyo Inu, pokono ko harus bae -bae, jangan kaya kakakmu ini, belum tamat SD sudah patah pulpenku. Pokoknya saya janji, saya akan banting keringat untuk bantu biayaiko.” Penulis mencitrakan tokoh Adik yang cerewet. Seperti terlihat pada kutipan dialog:  Adik: “Betul itu Imu, masa kemarin saja to saya minta diajar membaca sama bapak, dia tolak. Saya kecewami kasian.”

Adik: “ iyo Imu! Jangan seperti Ino (kakak). Satu hari to banyaknya leta yang dia habiskan, kayak sudah pegawai negeri saja. Untung-untung dia tidak minumji.” Adik: “ Kak, kalo ko sudah jadi mahasiswa toh. Ko ikut -ikut juga demo nah, sapa tahu Ade bisa lihatko diTV. Supaya saya bisa sombong-sombongkan juga sama temanku, kalo kakakku masuk TV.” Penulis mencitrakan tokoh La Ipo sebagai sosok orang yang suka menyombongkan diri dan juga arogan. Seperti terlihat pada kutipan dialog: La Ipo: “hee..sekarang ko tenangmi. Uuu..pokono kalo sudah bosku yang turun tangan, semuanya jadi angkat tangan. Tidak ada yang berani, dari dulu sampai sekarang kitami ini yang pegang peradaban kampus trus. Bagaimanami rencana kampusmu?” La Ipo: “hmmm..deela kunee..! janganmi ko khawatir yang itu, kitaji yang pegang kampus. Kalau di DO, tinggal angkat megafon langsung takut itu birokrasi. Pokokno ko tidak rugi kasihan kalo ko ikut sepupumu ini. Hee..tidak ada yag berani kore-kore ko dikampus, bisa ko kuliah semaumu, dan yang penting ko tidak kelaparan. Artinya, biarpun lama ko kuliah, ko tidak akan jadi beban orang tua. La ipo: ”wooo…ada toh caranya…hanya aktivis kayak sepupumu ini yang tau. Pokokno kalau masalah uang itu kecil, makanya ko gabungmi sama kita ini. Uuu… kalau ko sudah punya uang kasian, itu cewekcewek tinggal ko pungut seperti gula-gula, hehehe….! Ko tidak lihatkah sepatuku ini, kayak sepatunya bos-bos toh. Ngeri juga harganya. La Ipo: “Lee..bosku. saya tidak bisami tahan ini tanganku kalo begini, gatal sekalimi!” Penulis mencitrakan tokoh john sebagai seorang yang suka menyombongkan diri sebagai orang yang ditakuti. Seperti terlihat pada kutipan dialog: John: “ Halo bosku. Ada yang abang bisa bantu? Hah! Ko diskorsing? Wiih… cari gara -gara lagi ini pak Rektor eee….ko tenangmi, besok kita angkat megafon didepan rektorat. Biar saya nanti yang arahkan semua kawan-kawan. Okemi..tidak usah sungkan-sungkan.” Penulis mencitrakan tokoh Rektor yang konsisten pada keputusan yang telah dikeluarkan. Seperti terlihat dalam kutipan dialog: Rektor: ”eh! Tidak bisa begitu, jelas-jelas diperaturan pelaku anarkis yang merugikan pihak kampus dan mahasiswa lainnya aan dikenakan sanksi skorsing. Syukur-syukur saya tidak kasi DO itu anak-anak. Kalo kita cabut ini keputusan, sama saja tidak konsisten dengan peraturan dikampus ini.” Penulis mencitrakan tokoh Celo sebagai asisten Rektor yang takut pada mahasiswa preman kampus. Seperti terlihat pada kutipan dialog: Celo: “ Memang kayaknya kita seperti itu pak, harus melunak sedikitlah. Karena saya tahu betul wataknya itu anak-anak, kalo sudah bilang A harus A, tidak bisa B.” Penulis mencitrakan tokoh Usman sebagai mahasiswa yang rajin beribadah dan tenang menghadapi masalah. Seperti terlihat pada kutipan dialog: Usman: ”Tadi baru dari musholah, Alhamdulillah baru selesai ngisi mentoring anak -anak MABA.” Usman: ”(dengan tenang) mungkin ada baiknya jika kita saling memberikan yang positif saja buat Imu, tanpa harus memakai urat seperti ini. Biarpun bersebrangan pemikiran, tapi bukan berarti kita harus saling bersebrangan hati.” 4. Latar Latar atau setting yaitu tempat atau waktu terjadinya peristiwa-peristiwa dalam sebuah karya sastra. Latar waktu Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa, adegan, dan babak itu terjadi. Pada drama “Alangkah Lucunya kampus Ini ” latar waktunya yaitu pada saat berkumpul dengan keluarga terjadi malam hari, seperti terlihat pada kutipan dialog: Ayah: ”Inu..tujuan bapak dan ibumu kasi duduk kamu malam ini, supaya ko bisa dengar baik-baik nasehat dari orang tuamu ini. Bapak sangat percaya sama kamu. Kamu itu sudah pintar, tidak merokok

dan minum seperti kebanyakan pemuda dikampung ini. Kamu juga belum pernah pacaran saya lihat, dan mudah-mudahan saat kuliah juga jangan dulu. Dan situasi dikampus terjadi siang hari seperti yang tergambar dalam kutipan dialog berikut : La Ipo: “ko kuliah disini ka? kenapa kasian ko tidak bilang -bilang dulu ka kalo ko mau kuliah disini…? Supaya sa jemputko. Jadi, ko aman-amanji kemarin waktu OSPEK..nda adaji yang gangguko ko? Latar tempat Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi. Pada drama “Alangkah Lucunya Kampus Ini” yang menjadi latar tempatnya yaitu di dirumah Inu dan dikampus, hal ini seperti yang tampak dalam dialok berikut : La Ipo: “ko kuliah disini ka? kenapa kasian ko tidak bilang -bilang dulu ka kalo ko mau kuliah disini…? Supaya sa jemputko. Jadi, ko aman-amanji kemarin waktu OSPEK..nda adaji yang gangguko ko?” 5. Amanat atau Pesan Amanat atau Pesan merupakan pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalan didalam karya sastra. Amanat atau Pesan terbagi atas dua macam yaitu : Amanat Tersurat Amanat tersurat adalah pemecahan yang diberikan oleh pengarang secara langsung atau tersurat melalui karya atau tulisannya. Amanat tersurat dalam drama ini yaitu seperti dalam kutipan dialog : Ibu: “Inu diantara kalian bertiga ini, hanya kamu yang saya lihat pintar. Ko sering dapat juara kelas. jadi kalau ko sudah pergi kuliah nanti, ko harus lebih pintar lagi. Supaya ko bisa seperti kakaknya La Iso, jadi anggota dewan. Ato tidak, ko bisa seperti bapaknya Ambo’i. sudah jadi kepala sekolah SD sekarang.” Ayah: “Inu..tujuan bapak dan ibumu kasi duduk km malam ini, supaya ko bisa dengar baik-baik nasehat dari orang tuamu ini. Bapak sangat percaya sama kamu. Kamu itu sudah pintar, tidak merokok dan minum seperti kebanyakan pemuda dikampung ini. Kamu juga belum pernah pacaran saya lihat, dan mudah-mudahan saat kuliah juga jangan dulu. Ibu: “iya inu..apa lagi dari mereka itu ada juga yang pulang sudah bawa anak gadisnya orang. Jangan kasihan Inu, jangan! Disana itu Inu, kota.banyak maksiatnya. Tidak ada ibu dan bapakmu yang akan melihatmu nanti, selain Allah dan dirimu sendiri. Jadi jangan sekali-kali ko tinggalkan itu sholat dan mengajimu, karena itu adalah orang tuamu yang akan selalu menegur dan menasehatimu disana. Ayah: ”Inu..ko jaga pergaulanm. Jangan sedikit -sedikit ko kaget lihat modelnya orang disana. Jadilah seperti tukang genteng yang selalu melihat kebawah, jangan seperti tukang gali sumur yang sedikitsedikit melihat keatas. Ko lihat orang-orang di atas, beli ini..beli itu, begini begitu, ko mau ikut juga. Ingat nak kita ini orang bawah, orang miskin Nak.” Ibu: “iya Nak, kondisi keluargamu harus juga ko ingat. Tapi jangan karena ko miskin baru ko minder untuk belajar. Mama yakin, pasti ko lebih pintar dari pada orang-orang kota sana. Usman:” Ah. Tidak juga. Lihat kakak ini, masih aktif ditiga organisasi tapi kuliah masih teta p lancar tuh. Malahan targetku untuk selesai kuliah 4 tahun, insyaallah tercapai. Makanya, kalau mau ikut organisasi itu harus selektif. Pilihlah organisasi yang juga mendukung kita untuk kuliah dengan baik. Intinya jika kita ingin berhasil dikuliah dan organisasi, dahulukan kuliah, nomor dua organisasi. Jadi dua-duanya sama-sama prioritas. Oh iya, sekarang di aula lagi ada beda buku. Mau ikutan?” Amanat Tersirat Amanat tersirat adalah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalaan di dalam karya sastra secara tersirat atau secara tidak langsung melalui tulisannya.

Amanat tersirat dalam drama ini yaitu : Untuk selalu menjaga amanah dan kepercayaan orang tua terhadap kita. Dan bagaimana kita dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dalam pergaulan. B. Analisi Unsur Ekstrinsik Unsur ekstrinsik karya sastra yaitu unsur-unsur yang berada luar karya sastra itu sendiri. Unsur ekstrinsik pada karya sastra meliputi nilai-nilai yang berada diluar karya sastra tersebut, yang berhubungan dengan kehidupan dalam masyarakat nyata. Drama “Alangkah Lucunya Kampus Ini” terdapat nilai pendidikan. Dalam lingkungan perguruan tinggi yaitu kampus, pendidikan dikampus sangatlah penting sebagai masa depan setiap individu manusia dan juga bangsa. Tidak semua mahasiswa-mahasiswi yang menjalani kuliah dengan sungguh-sungguh, sehingga tidak sedikit dari mereka yang tidak berhasil menyelesakan kuliah, mencapai hasil yang memuaskan dan berlama-lama menjalani kuliah. Penyebabnya yaitu mengikuti organisasi kampus tapi mengabaikan kuliah dan ada juga ada yang bermalas-malasan mengikuti kegiatan perkuliahan. Oleh karena itu sebagai penerus bangsa dan demi masa depan secara pribadi, mahasiswa harus bersungguhsungguh dalam menjalani kuliah agar terciptanya Sumber Daya Manusia yang bermutu dan berkualitas. Sehingga, mampu bersaing secara nasional maupun internasional.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->