P. 1
Kumpulan Puisi Anak

Kumpulan Puisi Anak

|Views: 17|Likes:
Published by Ykza Ghif
puisi anak
puisi anak

More info:

Published by: Ykza Ghif on Jun 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/08/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1. Pena Hitam
  • 2. Sepak bola
  • 3. Sajak Untuk Tidur
  • 4. Sepertiga Akhir Malam
  • 5. Taman Surga
  • 6. Mentari
  • 7. Pengemis-Pengemis Kecil
  • 8. Indah Nian Desaku
  • 9. Berteman Dengan Gempa
  • 10. Berguru Pada Semut
  • 11. Istana Langit
  • 12. Andaikan Boleh Meminta
  • 13. Dialah Batu
  • 14. Sinar Mentari Pukul Sepuluh Pagi
  • 15. Aku ingin sehat
  • 16. Puzzle Ajaib
  • 17. Mendera Sakit
  • 18. Irama Nusantara
  • 19. Lurus Tajam
  • 20. Puisi Dari Bunda
  • 21. Tuhanku Aku Mengadu
  • 23. Alamku Surgaku
  • 24. Alam
  • 25. Kemerdekaan Indonesia
  • 26. Kekeringan
  • 27. Rumah Impian
  • 28. Cahaya Dunia
  • 29. Bangunlah Ibu Pertiwiku
  • 30. Bintang Masa Depan
  • 31. Suara Hati Untuk Bangsa Penjajah
  • 32. Candi Borobudur
  • 33. Ayo Membaca
  • 34. Surat Tuk Bapak Presiden
  • 35. Sinar pelangi
  • 36. Manusia Sabang dan Merauke
  • 37. Kota Pendidikan
  • 38. Lagu Hati Anak Difabel
  • 39. Sepeda Tua
  • 40. Seperti Bintang
  • 41. Air Hujan
  • 42. Terima Kasih Ayah
  • 43. Serdadu Proklamasi
  • 44. Alamku Tidak Kaya Lagi
  • 45. Kapal Layar
  • 46. Polusi
  • 47. Harimauku
  • 48. Sampah
  • 49. Terbanglah Merpatiku
  • 50. Kupu-Kupu Pun Mengerti
  • 51. Menyesal
  • 52. Pohon Jati
  • 53. Sekiranya Bukan Kalau
  • 54. Untukmu Kartiniku
  • 55. Majulah Terus Siswa Indonesia
  • 56. Menyongsong Pagi
  • 57. Pahlawan Pendidikan
  • 58. Angin
  • 59. Kelapa Muda
  • 60. Piknik ke Angkasa
  • 61. Dendang Gembala
  • 62. Permainya Desaku
  • 63. Buat Ibu tercinta
  • 64. Malam gulita
  • 65. Perjalanan jarum jam
  • 66. Menulis Itu Indah
  • 67. Lilin Penerang
  • 68. Siapa Berani
  • 69. Sumpah pemuda
  • 70. Terlambat sekolah
  • 71. Kiamat
  • 72. Antara dunia dan akhirat
  • 73. Petualang kecil
  • 74. Manusia Robot
  • 75. Tukang Batu di Desaku
  • 76. Nikmatnya berzakat
  • 77. Indah Senyuman
  • 78. Anak Nakal
  • 79. Kehebatan Anggota Badan
  • 80. Ramdlan Ku Sayang
  • 81. Selancar Ku Lancar
  • 82. Nyiur Hijau
  • 83. Sekolahku Sehat
  • 84. Taman Bungaku
  • 85. Awan
  • 86. Pahlawan
  • 87. Bungaku
  • 88. Untukmu Guru Bangsa
  • 89. Gunungku
  • 90. Tugu
  • 91. Laut
  • 92. Kupu dan Kumbang
  • 93. Indonesiaku
  • 94. Lagu
  • 95. Gigiku Sehat
  • 96. Tepuk Tangan
  • 97. Beri Terbaik
  • 98. Bocah Jalanan I
  • 99. Bocah Jalanan II
  • 100. Balada Dua Bocah
  • 101. Sudah KehendakNya
  • 102. Pak Pos
  • 103. Prinsip
  • 104. Si Manis
  • 105. Gosok Gigi
  • 107. Suara Adzan
  • 108. Habis Sudah
  • 109. Harus Bisa
  • 110. Memohon Bantuan
  • 111. Waktu Adalah Uang
  • 112. Kunang-Kunang
  • 113. Sang Juara
  • 114. Salam Sapa
  • 115. Bunga Matahari
  • 116. Siklus
  • 117. Berita Duka
  • 118. Nelayan Pantai Selatan
  • 119. Gunung Krakatau
  • 120. Pelangi
  • 121. Rembulan
  • 122. Puncak jayawijaya

KUMPULAN PUISI DI BAWAH INI adalah puisi yang saya coba kirimkan di sibi.or.

id, dalam lomba penulisan pengayaan untuk guru. Memang puisi di bawah ini masih perlu kritik dan saran , karena belum sempat menang dalam sayembara itu . BUKU KUMPULAN PUISI JUDUL PENULIS : BINTANG MASA DEPAN : AKHID HERU PRABAWA

INSTANSI : DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN SLEMAN

106. Guruku Terima kasih guruku Kau telah memberiku pendidikan Sungguh senangnya aku Mendapat ilmu karena pendidikanmu Engkau adalah pahlawan tanpa tanda jasa Aku ingin sepertimu Walau kau keras kepadaku Aku tau kau sangat sayang padaku Terima kasih guruku tercinta 1. Pena Hitam Ayam mencuat kokok di kala pagi Sang mentari bangun meyejukkan hati Membawa daku ingin mandi

Hasrat pun tak terbendung Membawa maksud untuk mengepung Berbagai ilmu yang menggunung Ke sekolah daku berangkat Tak lupa tas aku angkat Pena hitam pun ikut mangkat Dan kugoreskan dengan singkat Daku ingin dapat cepat Tidak mau dengan lambat Pena hitam mengubah nasib dengan makrifat. 2. Sepak bola Begitu senang aku bermain hingga waktu sampai aku lupakan Berlari, menyerang, menyerbu lawan membawa bola lari masuk ke gawang Oh, sepak bola siapa gerangan engkau mencipta Keberadaanmu membawa angin segar dunia Semangat didalammu membawakan kobaran gelora Oh, sepak bola apa dikata engkau tiada dunia sepi!, sunyi !, suram ! bak kota mati yang ditinggal pergi 3. Sajak Untuk Tidur Hai kawan waktu sudah beranjak malam Ayo kita tidur, mata sudah mulai sayu Sang mata sudah berbisik berkata pejamkan aku, aku mau tidur teman ! Bersiaplah untuk berlomba esok hari Pak guru sudah menanti Ilmu baru pun akan di dapati

Selamat tidur kawan, pejam, pejamlah sang mata. Besok kita akan bertempur 4. Sepertiga Akhir Malam Kubuka pintu depan rumah Kusaksikan langit begitu berkilauan Dihiasi gugusan bintang Hati pun nampak senang Sungguh udara dan pikiran begitu lengang Di sepertiga akhir malam Kulawan dan kukalahkan udara dingin Air wudlu pun menembus membasahi kulitku Dalam sujudku kupanjatan doa kehadiratMu Jadikanlah bangsa ini, Bangsa yang aman ,tenteram dan sejahtera Bangsa yang menghidupkan akhir sepertiga malam itu 5. Taman Surga Saat tatapan mata memandang lepas Wujud ciptaanNya di dunia Berdegup hati ini berkata, Sungguh mempesona tak ada duanya Ku bayangkan dan kuresapi siapa gerangan Membuat sama sedemikian rupa Hati semakin berdegup seraya menangis teringat dan terngiang, seperti apa taman surga berada Meratap dan menangis kembali hati ini Mengingat janji Tuhan Hanyalah mereka manusia pilihan

Yang jauh dari perbuatan nista dan angkara murka Yang akan menjadikan mereka penghuni taman surga kekal selamanya Oh, Tuhan walau seribu jalan berliku Berikanlah petunjukMu pada langkah kaki ini Agar hambaMu termasuk ke dalam golongannya 6. Mentari Hai mentari pagi Hari ini kau datang tampak cerah sekali Engkau datang tiap hari Untuk sumber energi pribumi Semua orang berlari pagi Untuk menyehatkan diri Tanpa kau, hai mentari Di seluruh bumi ini Akan mati tiada lagi 7. Pengemis-Pengemis Kecil Ditengah persimpangan warna warni Di banyak kerumunan besi berasap Tersaksikan tangan tangan kecil menengadah Meminta belas kasihan pada sang raja jalanan Bertalu talu berada di bawah mentari Menahan hausnya rintihan hati Mengharap ada yang memberi Tak pernah lusuh walau dilakukan setiap hari Sungguh, membenakan hati dirimu itu terlukiskan Namun siapa gerangan bisa berbuat Tuk’membalikkan telapak tangan tentang keberadaanmu itu berada 8. Indah Nian Desaku

Kulihat sawah membentang Warna hijau bagai permata alam Ku coba telusuri jalan Akankah tetap begitu ? Kuingin tetap begini Terlihat apa adanya Kuingin tetap begitu Terlihat kenyataannya Mentari mulai tenggelam Dan…akupun tetap disini Menikmati alam yang ada Anugrah dari yang kuasa Oh…..alam desaku ……aman dan damai Oh…..alam desaku ……lestarikanlah 9. Berteman Dengan Gempa Seribu jalan di bumiku itu telah merekah Laut pun juga ikut tumpah Manusia Indonesia menggeliat Menggeliat ke angkasa dan ke dalam bumi Rumahpun ambil bagian tuk beterbangan Bagaikan burung yang mengangkasa di udara lepas Nuansa jauhari bumi Indonesia pun menghilang ditelan kejamnya keuatan alam Apa yang akan kau tangisi ? Bila memang begitu adanya Apakah bubur itu bisa kau jadikan nasi ? Tidak !, Sang Khalik memang sudah menakdirkan semua harus terjadi agar kita bertaulan, dan tidak berseteru

Berpesta bersama dalam semangat yang tetap mempesona. merah berjalan merayap Menyelinap mencari celah Mencari makan. Berguru Pada Semut Hitam. Yang bersemayam didalamnya Untuk mengatur kehidupan ini sampai kiamat nanti tiba 12. 10.putih bahkan abu-abu warnamu menampakkan Tak terbayang jika manusia berpijak di atasnya Apa yang akan dirasa.dengan Sang Gempa. Istana Langit Memandang ke angkasa lepas biru. Andaikan Boleh Meminta Teringat pesan ibu di hari minggu saat bus aku tunggu Dik. 11. senang. Hitam dan merah tak pernah gerah Menjunjung makanan bersama sama Membawa masuk ke istana raja. jika ayah pulang kamu ingin apa ? . Memang manusia tak berhak tinggal Apalagi tidur di istana langit Hanya Tuhan sang pencipta alam Yang menguasai jagad raya. gembira pasti bahagia disana.

Dialah Batu Besar. tak menjawab Dan ibu pun bosan bertanya Saat duduk di atas bus tua yang pengap Aku tetap tak menjawab Aku hanya bicara pada ibu aku ingin belaian kasih sayang ayah dan ibu sampai matahari terbit dari barat 13.hitam dan putih engkau menampakkan Orang akan memukulmu bila kau membangkang Dan kau dilempar . 14. kamu mau apa ? Aku masih diam. dan menyilaukan mataku. diam Dik. di bawah sinar mentari. Sinar Mentari Pukul Sepuluh Pagi Pukul sepuluh pagi aku berdiri berjalan dan lalu berlari.Aku tidak menjawab. kecil. aku bangga sebagai makhlukNya! Terima kasih.bila orang itu kesal Sungguh malang keberadaanmu Hanya tukang batu yang mengerti kamu. namun tenang menembus hatiku.Tuhan Kau masih biarkan aku terbangun hari ini Kau masih ijinkan hidungku bernafas hari ini Kau masih memberikanku hidup hari ini Sehingga aku masih dapat menikmati . Panasnya menusuk kulitku. Ingin ku utarakan semua biar dunia tahu.

karuniaMu yang terindah dalam permata yang terus bersinar 15. Aku ingin sehat Badan kurus kering kerontang tak nafsu makan Bagaikan bunga-bunga kering yang beterbangan Pagi hari yang indah Harus bangun tanpa gundah Tinggalkan kelana Memutar badan berolahraga Minum dan makan membahana Menggapai tubuh sehat maha sempurna 16. Puzzle Ajaib Di tempat teduh nan rindang bersama teman ku belajar Bila ku bosan dan lelah Puzzle ajaib ku mainkan Memutar otak ke kiri dan ke kanan Meski pusing namun asyik dan pintar ku dapatkan Puzzle ajaib teman baik ku Selalu setia menemaniku Dalam langkah langkah kecilku Menggapai impian yang masih saja termangukan 17. Mendera Sakit Dua bersaudara laki –laki semua Meratap kepedihan di tengah perjalanan usia Tak menahu kenapa tidak terjadi pada semua .

pabila tiga Itu pastilah berbeda Sedikit orang yang memperlihatkan Apalagi mengerti perihalmu beda itu Tak sedikit darah yang ditumpahkan ataupun harta dikobarkan Tuk menebus gejolak iramamu itu Memang hanya satu yang dapat meredam . pabila dua.meluluh. Lurus Tajam Berkelok-kelok itu pasti ada yang ke kiri dan ke kanan . dan menggejola Perihalmu menampilkan Pabila satu. membentang.Menahan keluh setiap saat Karena hidup bersemayam menyatu dengan mala yang tak kunjung sirna Dia mengerti bahkan memahami Tuhan adalah adil dan tak akan menyirnakan harapan di batas sisa umurnya yang terus berjalan Keinginan satu yang terus merayap di tubuhnya Dia tak ingin terlalu lama berseteru dengan mala itu Bahkan tetap meminta mohon syafaatNya tuk menjulangkan citanya di atas sisa umur yang terberi 18. bahkan menyirnakan Pabila persatuan tertancapkan di irama nusantaramu 19. Irama Nusantara Meliuk.

Mu’jizat Di Atas Doa Segudang harapan manusia . dan ringan. Tuhanku Aku Mengadu Aku kecil di kala dulu berada Tak satupun tahu hasrat yang kusimpan Di saat waktu terus berputar Di kala usia bertambah angka Tuhan bolehkah aku bicara padamu ? Sekarang aku sudah besar Detik demi detik kulewati bersamaMu Senang dan sedih kulalui dengan mengenalMu Tuhan aku punya hasrat HambaMu punya timbunan cita –cita Wujudkanlah di kala aku besar nanti Tuhan.Namun bila lurus takkan pernah menemuimu baik kiri maupun kanan itulah hendaknya ditempuh Singkat. Lakukanlah bila ingin menemui-Nya 20. ku percaya engkaulah pengatur jagad raya penentu segala takdir ini . cepat. Puisi Dari Bunda Bunda hanya sedikit mengarang puisi untukku Tapi semakin lama kuamati Seyuman bunda adalah puisi Tatapan bunda adalah puisi Teguran bunda adalah puisi Belaian dan doanya adalah puisi cinta Yang disampaikan padaku Tak putus putus Tak putus putus Bahkan bila kutidur 21.

Alamku Surgaku Zamrud khatulistiwa. Terus dan teruslah berdoa mendekatlah kepada sang pencipta Kuasa ada bersamaNya Tak perlu kau resah pabila harapan tidak terwujudkan Janganlah berputus asa dan tetap berdoa karena doa adalah mu’jizatNya 23. tempat tak ada dua di dunia Namun mengapa alam surgaku mulai hilang mulai terkikis oleh hingar – bingarnya dunia dan juga kejamnya nafsu manusia Oh Tuhan janganlah kau ambil alam surgaku dan sadarkanlah kami untuk membelainya dengan penuh kasih sayang 24. . tumbuhan menantimu setiap nafas Alam. ini adalah surga dunia. hewan. janganlah marah janganlah engkau bosan Engkau tempat berpijak semua makhluk. Alam Mengapa engkau tak tersenyum cerah Manusia. kau adalah surga Fenomena alam Indonesia begitu menawan Orang Arab sering berkata oh Indonesia.tersimpan dalam kata – kata Terpanjatkan bersama untaian suara yang berisi harapan tuk kehidupan Untukmu para siswa Indonesia. untaian harapanmu tersimpan dalam doa.

Pahlawan yang telah gugur dahulu dapat tertawa lega melihat anak cucunya bahagia Mereka dapat tidur nyenyak di sisi-Nya 26.Alam janganlah kau enggan bersahabat dengan semua makhluk terutama manusia di dunia Kalau memang manusia berbuat dosa tunjukkanlah yang terbaik ya Allah. sepulau bahkan sebenua Kini kewajibanku sebagai anak bangsa Belajar tekun untuk membangun bangsa Agar nanti menjadi negara yang kaya raya Aku ingin…. Mohon ampun segala dosa…. Kekeringan Di daerahku mengalami kekeringan Pepohonan mulai layu dan daun berguguran Debu-debu beterbangan Orang orang pun kebingungan Pohon besar di hutan sudah jarang . Bencana gempa di mana-mana Membuat manusia harus ingat kepadaMu 25. Kemerdekaan Indonesia Aku bisa tertawa Aku bisa bergaya Aku bisa berpesta Aku bisa tamasya Karena Indonesia telah merdeka Kemerdekaan yang mahal harganya yang tak dapat diukur dengan harta sekalipun segunung.

Cahaya Dunia Di tengah kegelapan yang gulita Di antara orang-orang yang merambat mencari pegangan Di tengah orang tak tahu arah tujuan Di antara gulung-gulung ombak samudra yang siap menenggelamkan. Sungai nan jernih sungguh mempesona Padang rumput penuh canda ria bocah-bocah gembala yang selalu membuatku terpesona Namun….Air hujan pun menghilang Terjadilah kemarau panjang Di sana sini mencari air Kami bersyukur punya sumur masih air Orang-orang datang untuk meminta air Kuberi dengan ikhlas lahir batin Itu anugrah dari Sang Maha Adil. Apa ini hanya impian ? Walaupun ini hanya impian aku tetap akan terpesona 28. Kemanakah rumahku itu ? Hilang dalam waktu sekejab Berganti dengan pabrik-pabrik penuh asap Oh….. 27.. Datanglah dewa penolong tepat saatnya . Rumah Impian Rumahku…… Sawah hijau terbentang luas Gunung-gunung menjulang tinggi Yang selalu menemaniku di kala pagi Rumahku ….

perpecahan. untuk apa.Gemerlap sinar membahana ke seluruh dunia Kegelapan dunia sirnalah. dan dari mana hidup ini terjadi Semua orang akhirnya hanya bersujud di hadapan Illahi yang telah menciptakan langit dan bumi Terima kasih para kyai yang telah mengajarkan kitab suci Terima kasih para bapak ibu yang sabar mendidik kami Terima ksih orang tuaku yang kujadikan teladan sejati Kaulah penerang duniaku yang abadi 29. pertikaian . Bangunlah Ibu Pertiwiku Kami saksikan suasana luka lara menerpa Ibu Pertiwi Kami tak habis pikir Apa gerangan engkau bersedih Mengapa keadaanmu begitu mengkhawatirkan begitu mencemaskan Kami tahu kami begitu durhaka Tak pernah berbakti kepadamu Kerusakan. dan menyaksikan engkau bangun melawan keruntuhan itu 30. Bintang Masa Depan Di tengah keheningan malam Suasana begitu kelam dan mencekam .banyak kami lakukan Dan hanyalah maaf yang dapat kami pinta Selagi engkau masih mau menerima Di hati kami tak ada bisikan selain minta maaf . berganti remang-remang dan kini jadilah terang benderang Kini semua orang jadi tahu mengapa.

Candi Borobudur Hamparan susunan batu tertata apik Pahatan dan ukiran terbaik dari orang orang terpilih. Suara Hati Untuk Bangsa Penjajah Menangis pedih hati ini teringat Merintih perih jiwa ini terngiang Masa masa di mana semua orang tak punya kebebasan Hari –Hari di kala semua tercengkal oleh aturan kejam Wahai bangsa penjajah dimana hati nuranimu? Apakah engkau tidak mempunyai mata hati ? Dimana sebenarya rasa kemanusiaanmu berada ? Sungguh kejam kau perbuat waktu itu Manusia kau perlakukan seperti binatang Kau pekerjakan paksa orang – orang tak berdosa Mereka menangis. Tak berbelok mata ini menatapnya . dan menahan keluh Dan kau diam saja lagi senang Memang. merintih . perbolehkan aku bermimpi untuk menjadi sepertimu wahai sang bintang 31.sudah sepantasnyalah engkau binasa dari muka bumi ini 32.Terpancar pesona menawan Seindah taman surga Di malam itu kau tidak tidur Kau hidup penuhi pesona langit Terangi hamparan bumi Keindahan dan kekuatanmu Begitu sempurna menawan hati Mencerahkan duka setiap insan Andaikan aku bermimpi di kala itu.

Reliefmu begitu melegenda Oh. Sungguh warisan usahamu begitu membekas Semangat gotong royongmu bak kehidupan kerajaan semut Dan saatnyalah kini kau berikan contoh Kau berikan tauladan Agar kami bangkit membangun negeri ini 33. Ayo Membaca Sesobek kertas telah diberikan Seuntai tulisan juga berada di dalamnya Duhai anak yang malang Kenapa engkau diam saja ? Kenapa kertas itu hanya kau simpan ? Sungguh banyak harapan terpendam Ilmu maha luas telah tertuliskan Namun sayang kau malas membaca Dunia begitu luas ilmu pun begitu terbentang Sungguh dunia telah berkata. nenek moyangku sungguh kekuatanmu maha hebat waktu itu Kau torehkan tanpa pamrih usahamu Kau bangun peninggalan sejarah itu untuk keindahan dunia Kini kusaksikan hasil keikhlasanmu itu ada di depanku Terbesik dalam hati menyentuh stupa-stupamu. Kau ingin tahu isiku ? Kau ingin mengerti apa tentang dunia ini ? Malang beribu malang kau malas membaca Duhai anak yang malang Bangkitlah sekarang Wawasan luas telah menantimu Lawanlah jiwa kotormu itu .

Tuk mencapai impianmu 34. Sinar pelangi Kulewati jalan setapak menyusuri pantai di kala pagi buta meninggalkan bumi Kala itu gerimis kecil pun datang Datang menemani sang mentari bangun Aku lihat di seberang ufuk timur Bersama dinginnya tetesan embun Sinar pelangi melingkar merangkul menyinari bumi Betapa elok nan indah Tuhan kau ciptakan Tak ada dua bentuk yang menyamainya Sinarnya menorehkan hiasan langit di kala pagi Mengajak manusia menatap indah dunia Menggapai hasrat mencapai mimpi 36. Manusia Sabang dan Merauke . Surat Tuk Bapak Presiden Hari ini Indonesia merintih Berita demi berita hanyalah berisi kepedihan Begitu banyak rakyat menderita Sungguh berat beban hidup ini Bapak presiden kenapa sekolah ini mahal ? Kenapa banyak rakyat miskin tak bisa bersekolah Kenapa sembako dan BBM merangkak naik Sungguh pilu hati ini melihatnya Bapak presiden marilah kita gandengkan tangan. tapi kuasa ada di tanganmu 35. ambilah jalan yang terbaik Berilah kemudahan bagi siswa – siswi Indonesia Berilah kelapangan bagi rakyat – rakyat miskin Bapak presiden kami kan bersatu. Rekatkan barisan .

Ketika menunjuk ujung barat Indonesia Ketika menunjuk ujung timur Indonesia Mata ini tak lepas lepasnya membelalak mengikuti putaran irama yang sedang membiak Megah memang di sebelah barat namun lusuh mungkin di sebelah timur Lurus mungkin disebelah barat namun keriting tapi di sebelah timur Apa mau dikata dan siapa mau menyangka Sabang dan merauke adalah putih dengan hitam Namun Indonesia adalah abu-abu Dimana putih telah tumpah dengan hitam 37. mengapa ini terjadi dan berbalik nyata ? Manusia Jogja ada dimana ? 38. kota pendidikan tersandangkan di tanahmu Bendera kalimat itu sulit memang dipertahankan Kini tersaksikan hanya segelintir saja yang berkibar di udara Apa ditanya ?. Kota Pendidikan Di tempat ini kami lahir Di tanah ini kami besar Sejarah bicara dan kami menyaksikan Kau tumbuh dengan timbunan pengalaman dan pengetahuan Dan kini kau wariskan pada kami anak bangsa Kota budaya. Lagu Hati Anak Difabel Tak tahu entah apa dirasa isi jiwaku tidaklah sesempurnamu Kau punyai kebahagiaan lengkap . kota etika.

Sepeda Tua Di kala pagi telah mencuri malam Sepeda penuh karat berkata adakah dikau mau mengayuhku ? Aku butuh semangatmu Rodaku telah menantimu tuk mengantarkan nalurimu kemanapun engkau ingin Jika jiwa itu telah pudar Bila hatimu itu sudah tidak merasa Apa diri akan kau temui nanti ? Tersaksikan oleh bisinngnya dunia Manusia telah enggan merengkuh rodaku Dan aku kini telah terasingkan Tergantikan dengan teman barumu yang bernama mesin .seindah kemolekan bunga Ku tahu itu pasti mempesona bagi siapa saja yang mampu merasa dan mendayanya Entah mengapa diri ini merintih dan mengiba pada keadaan Keadaan dimana aku tak sesempurnamu Aku hanyalah sisa kesedihan di mata orang lain Banyak orang tak merasuk ke jiwaku Dalam asa kepedihan ini Itu karena hanya aku yang mampu mendayanya Andaikan begitu adanya irama hati ini akan tetap bersujud syukur kepadaNya Dan tetap bangkit melawan rintihan jiwa yang menggejola 39.

Air Hujan Engkau turun secara perlahan – lahan Butiranmu bisa kecil dan juga besar Suaramu begitu nyaring merasuk telinga Kadangkala engkau adalah teman manusia Teman di kala duka.40. Seperti Bintang Kutatap langit nan berkilau di kala malam Kusaksikan gugusan bintang begitu bercahaya Cahayanya begitu indah Sinarnya sungguh menggugah Oh. Bintang daku ingin seperti dikau Menjadi pelita terang di kala gelap Membuat penyejuk hati untuk setiap insan Oh. Tuhan izinkanlah aku bersinar seperti bintang 41. Terima Kasih Ayah Kau yang sempat kulupakan yang sempat terabaikan Tak pernah ku memikirkanmu . Tuhan sungguh kuasaMu begitu sempurna Engkau ciptakan hiasan maha sempurna Sebagai pelengkap dunia di kala kelam Sebagai permata berlian bagi setiap mata yang memandang Oh. bak Pak Ogah berkepala botak Saat itu engkau turun sesukamu dan tahu rasa manusia saat itu 42.teman di kala suka Permatamu bisa menyegarkan tanaman Tapi bisamu dapat menggegerkan dunia Di saat manusia rakus terhadap hutan Hutan dijadikan gundul.

Serdadu Proklamasi Terngiang – ngiang sudah Puluhan tahun begitu membekas Semangatmu tertancap kuat hingga sekarang Tidak pernah terpikirkan Apa jadinya bila serdadu itu hilang Proklamasi tidak akan menggema Serdadu proklamasi tancapan kuat proklamasimu menorehkan barisan berapi – api Perjuangan itu menjalar hingga sekarang Kobaran nasionalismemu membawa bangsa ini hingga merdeka Oh. 43. telah menimangku hingga aku besar Namun tetap engkau yang berjasa seperti Ibu. Ayah jasamu sungguh besar sama seperti Ibu yang telah mengasihiku Satu kata sekali lagi terima kasih ayah tetaplah semangat bekerja.jika sekarang perjuangan itu tersendat bagaikan kereta yang macet 44. serdadu proklamasi maafkanlah kami.Bukan maksud hati mengutamakan Ibu Memang Ibu telah mengandungku. ku menyayangimu. Alamku Tidak Kaya Lagi Tidak habis pikir mata ini memandang Pesona keindahan alam begitu terbentang . Tiada engkau aku tidak bersekolah tak bisa membeli makanan adik pun tak bisa beli mainan Oh.

tataplah dan pandanglah Alam Indonesia kini sedang bersedih 45. Ada apa dengan sikapmu ? Kenapa kau di luar batas ? Perilakumu begitu menghancurkan alam ini Lihatlah. Kapal Layar Dunia begitu luas membentang singgasana Begitu bingung kita berjalan bila tidak tahu arah Luas bentangan samudra ombak menerpa Kapal layar merangkak mengikuti arus Banyak orang berada di dalamnya Begitu banyak bawaan di angkutnya Layarmu telah dibentangkan Anginpun siap menerpa membawamu pergi Nahkoda pintar telah berada bersamamu Hanya satu pesan sang ombak Perbaharuilah kapalmu karena aku akan terus menerjangmu 46. hamparan hutan begitu menyegarkan udara Namun kulihat kini dimana keberadaanmu ? Kenapa engkau semakin tiada Hutan – hutan banyak yang digunduli Laut – laut banyak yang tercemar Kawasan persapan banyak dijadikan perumahan Apakah memang bumi Indonesia telah rusak ? Wahai manusia Indonesia. sesak. dan sesak aku bernafas Bau asap kendaraan begitu menyelimuti dunia .Barisan bukit – bukit nampak begitu indah Bentangan samudra nan kaya hasil laut. Polusi Sesak.

waspadalah macan itu akan mengejar rusa kesukaanmu Harimaku jangan pernah gentar melawan petir itu 48. engkau adalah pembunuh terbesar Engkau adalah perusak terkuat Semuanya akan rusak. tegas. awas di depanmu ada macan ! Kuatkan barisan kakimu ! Bersiaplah dengan tenagamu ! Harimauku. waspadalah singa itu akan mencuri buruanmu Harimauku.Banyak sungai telah berteman dengan limbah pabrik Banyak pula orang menerbangkan sampah kesana – kemari Mau jadi apa dunia ini sekarang Semua sudah tak ‘da yang mengerti Semua sudah tak ‘da yang mau peduli Dunia serasa sudah tak punya arti Memang manusia. semuanya akan hancur Hanya karena satu ulahmu tidak mau berteman dengan alam 47. dan kuat cengkramanmu Menelusur luas nuansa hutan belantara Tak pernah suram ataupun galau dengan rintangan Kau bagaikan pahlawan di dalam kerajaan Harimauku. awas di depanmu ada singa ! Harimauku. Harimauku Begitu kencang. dan muntah aku melihatmu Kenapa kondisimu bisa seperti itu ? Memang engkau tidak salah Memang engkaulah yang benar . Sampah Begitu menggunung aku melihat kau berada Baumu menyengat begitu terasa Muntah.

buang gerah Merpati bentangkan tawamu Usir gelisah dari jiwamu Jangan biarkan angin membawamu Tunjukkan pada semua wibawamu 50. teruslah mendayung Masihlah berwarna sang pelangi Masih ada merah masih ada jingga Masihlah kau harum mewangi Masihlah aku padamu bangga Hari esok sedang menunggu Hilangkan gundah. Kupu-Kupu Pun Mengerti Ketika kupu-kupu bergerak Mengikuti harumnya aroma bunga itu Ia tak tahu bahwa sekarang telah bisa terbang Menikmati indahnya awan angkasa Apakah kau mengerti dulu kau adalah ulat Dengan segala keganasanmu Kau makan daun daun muda kesayangan pak tani. dan kau sangat jijik . tanpa dihiraukan Karena manusia senang bertindak tanpa otak 49.Engkau bisa dioalah. kotor lagi menakutkan . teruslah kawan Mengapa matamu sayu Pelan kedipmu terhuyung huyung Samudera hidup masih merayu Merpati teruslah. engkau bisa dirubah Engkau memiliki potensi terpendam Wujudmu memang sampah dan manusialah yang salah Kau sering di lempar begitu saja Tanpa dipikirkan. Terbanglah Merpatiku Merpati sayapmu menari merajut awan Merpati sayapmu putih suci menawan Waktu terus mengalir bagai bengawan Merpati teruslah menari.

dan ampunilah dosaku Ku menyesal ! 52. Sekiranya Bukan Kalau Kalau seluruh laut bersatu alangkah besarnya laut . menahan haus dan dahaga Di dalam kurungan hijau yang tergulung. daunmu lebat Kau sangat bermanfaat bagiku Tetapi nasibmu sungguh malang Kau ditebang secara liar oleh orang yang tak peduli Pohon jati jasamu sungguh besar Kau mengurangi pemanasan global Pohon jati jasamu tak kulupakan 53. Menyesal Bertahun – tahun sudah dunia bersamaku Bermacam – macam kealfaan di sandangku Tak peduli apakah itu putih atau hitam Semua tak terduga berjalan begitu saja Aku telah melakukan banyak khilaf Hanya kepadaMu lah aku kembalikan Hanya kepadaMu lah semuanya aku pasrahkan Ampun.gulung Ketika waktu tiba kau rubah dirimu jadi makhluk maha sempurna Berpenampilan molek dan menawan Membawa bahagia bagi siapa saja yang melihatnya 51. Pohon Jati Pohon jati kau berwibawa Tubuhmu besar. ampun.Tapi sungguh ajaib Tuhan menciptakan Kau bekali dirimu dengan metamorfosa Dan kau tidak makan.

Majulah Terus Siswa Indonesia Dengar. dengarlah isi tulisan ini Hanya kepadamu harapan ku sandangkan Hanya kepadamu cita. Untukmu Kartiniku Masa penjajahan membelenggu bangsa Indonesia Masa penindasan begitu mencekal rakyat Tak ada kebebasan pada waktu itu Tak ada kelapangan di zaman itu Semua hidup dalam tekanan Wanita – wanita tak boleh bersekolah Wanita – wanita tak diberi kebebasan Wanita. terima kasih Kartiniku ! 55. dengar.cita dipertaruhkan Tak ada sesuatu yang tak mungkin bagimu Bangkitlah melawan arus yang terus mendera .Kalau seluruh pepohonan bersatu alangkah besarnya pohon Kalau pohon yang bersatu tumbang kedalam laut yang bersatu alangkah besarnya gelombang Kalau Indonesia berada didalamnya Hore! 54.wanita dikurung di dalam rumah Ibarat katak berada dalam tempurung Hanya kekhawatiran yang ada pada waktu itu Hanya kecemasan yang ada pada saat itu Seolah menandakan wanita Indonesia tak mampu bangkit Adalah sebuah keberanian melawan arus Melakukan secara diam – diam Merombak total pemikiran wanita Indonesia Menuai hasil dimasa sekarang.

resah. tak bisa kemana-mana Tapi kini dunia kami penuh warna Dengan goresan garis-garis. Menyongsong Pagi Pulas dan pulas manusia menutup mata Saat tidur menemaninya Tak terasa waktu terus berputar Pagi pun telah menghampiri kembali Begitu banyak manusia tak tahu Mengapa hari terus berganti Pagi berganti siang.Kuasailah dirimu dengan sikap optimis Paculah laju kudamu sekencang-kencangnya Lawanlah bebatuan terjal yang mengusik di jalanan Ingat. siang berganti malam dan malam berganti pagi Gundah. hari ini. hari ini.senang semuanya telah menemani manusia Pagi ini. mari tetap berkarya 57. juga kata Yang dulu hanya jadi mimpi Kini mulai terlihat bukan lagi mimpi Itu karena kau yang mengajarkan Tentang mana warna yang indah . engkau adalah masa depan Masa depan ada di tanganmu Harapan terpendam ada di pundakmu Nasib bangsa engkau yang menentukan 56. telah dikalahkan oleh siang dan malam Pagi ini. Pahlawan Pendidikan Jika dunia kami yang dulu kosong tak pernah kau isi Mungkin hanya ada warna hampa. gelap tak bisa apa-apa. Engkau adalah harapan.

Memanggil kering kerontangnya tenggorkan Mata pun tak sabar ikut berbicara Oh kaki dan tangan bisakah dikau panjatkan kelapa muda itu ? Sungguh kenikmatan tertinggi ..mbek…… yang mencuat dari mulut domba itu sebagai ucapan terima kasih untuk sang angin 59.Tentang garis yang harus dilukis Juga tentang kata yang harus dibaca Terimakasih guruku dari hatiku Untuk semua pejuang pendidikan Dengan pendidikanlah kita bisa memperbaiki bangsa Dengan pendidikanlah nasib kita bisa dirubah Apa yang tak mungkin kau jadikan mungkin Hanya ucapan terakhir dari mulutku Di hari pendidikan nasional ini Gempitakanlah selalu jiwamu wahai pejuang pendidikan Indonesia 58. Kelapa Muda Ketika haus mendahaga.mbek…. Angin Desis mendesis suara itu datang Menggugurkan suasana panas yang tak kunjung sirna Di hamparan nuansa hijau yang telah menguning dan mengering Domba domba berpayahan Merasakan panas dan teriknya nuansa matahari saat itu Domba domba itu pun tetap tak mengerti Hanya suara mbek….

lebih dan lebih ke atas sampai ke angkasa luar Mungkin rumah juga ku bangun di sana Dan ku tinggal di luar angkasa menggapai cita yang membahana 61. Piknik ke Angkasa Bila burung mengangkasa Dan mata memandang Hati pun pasti ikut terngiang Oh……Tuhan kenapa bisa begitu ? Kenapa manusia hanya begini ? Bukan maksud hati untuk membanding Tapi ……andaikan ku punya sayap Pasti ku kan terbang lebih .kan kudapatkan lama setelah ku sabar menunggu di penantian jatuhnya kelapa muda itu 60. Dendang Gembala Di keteduhan pohon sengon di kaki bukit terdengar ria dendang anak gembala menunggui ternak mereka yang asyik memagut segar dan hijau rumput Bunyi seruling gembala nyaring gembira lupalah haus dan lapar dalam gurau dan kelakar Dendang gembala di ambang senja hewan – hewan di halau pulang .

kala aku beranjak dewasa. kalau memang begitu adanya. doakan aku supaya kuat. ibu tahu tidak kalau aku sedih? ibu tahu tidak kalau aku takut? tapi kenapa Ibu pergi? Ibu. kala aku membutuhkan tempat bertanya. bicara dong. doakan aku supaya bijak dan tidak terinjak-injak… Dari putrimu yang sangat menyayangi.menuju ke kandang 62. kenapa Ibu pergi? Ibu. Buat Ibu tercinta Ibu. . kenapa cuma diam saja? memang beban ini cuma milikku saja? Ibu. Padi yang hijau siap untuk dipanen petani bersuka ria beramai – ramai memotong padi Gemercik air sungai begitu beningnya bagaikan zamrud khatulistiwa itulah alam desaku yang permai 63. Permainya Desaku Sawah mulai menguning mentari menyambut datangnya pagi ayam berkokok bersahutan petani bersiap hendak ke sawah.

dan membutuhkanmu….merindukan. Malam gulita Gelap sekali aduh…. kami tak mau Larut dalam gelap gulita malam Kami tetap ingin Belajar sekali lagi dan sekali lagi … Sampai lampu hidup betul 65. tak tahu arah Kami berjalan mencari jalan keluar Lampu memang mati Jalan pun jadi kacau Jika begini hancurlah sudah Sirnalah harapan Kenapa.. kenapa pemadaman terus terjadi ? Kami tak ingin begitu Juga tak ingin begini Melihat kenyataan ini Sedih hati ini Tapi….. Perjalanan jarum jam Kupandang kau bergerak Mengikuti putaran yang menjingkrak Putaranmu searah dan tak pernah berbalik arah Mengapa kau tidak pernah berbalik ? Ataukah memang tak ingin kembali Ku lihat sekali lagi kau tetap begitu Dan tetap begitu saja Dan ku tahu apapun yang terjadi Kau memang tetap begitu . 64.

tak ada yang mengeluh Kami hanya yakin semua kan kembali seperti sedia kala hingga waktu tiba 68.Sungguh pendirianmu begitu kuat Dan tak ada sesuatupun yang menyamaimu 66. Menulis Itu Indah Hai bocah kecil…… Angkatlah pena itu dan goreskanlah keinginanmu dengan jelas Tuliskan apa saja yang kau ingin dan harapkan Tak usahlah kau takut mengotori kertas itu Kertas itu nanti memang jadi kotor Dan kotor di kertas itu Akan membantu dalam mewujudkan cita-citamu Apakah kau tidak tahu Tulisanmu adalah harta bagi siapa saja yang membacanya 67. Lilin Penerang Di kala gelap menimpa rumah Di saat itu hati harus tabah Berteman dengan lilin kecil pencipta benderang Pengusir hati yang sedang terkekang Meskipun lama tidak hidup Namun tetap kami tunggu dengan lapang dada Dan tak menggerutu di rasa hati kami Sedikitpun tak ada. Siapa Berani Siapa berani mendaki gunung itu ? Siapa berani melewati bebatuan terjal di jalanan .

Sumpah pemuda Wahai para pemuda pendahulu…. Terlambat sekolah Burung telah bernyanyi di kala pagi Menyanyikan lagu semangat tuk menanti hari berseri Dan bedalah manusia dengan burung itu Di balik selimut manusia bersembunyi Menyenyakkan diri melupakan kewajiban hati Aku tidaklah beda masih demikian Kemalasan telah meracuniku Hingga aku tak bisa berbuat banyak . hanya dia sang pemberani Yang memiliki jiwa ksatria yang mampu mengalahkannya Dan apakah kau termasuk ke dalam anggota di dalamnya Hanya dirimu yang mampu menjawabnya 69.menanjak itu ? Siapa berani menerjang ombak yang ada di laut itu ? dan siapa berani melawan kesemuanya itu Tahukah kawan. Yang telah hidup puluhan tahun berlalu Yang telah membuat semua bersatu Mengabadikan lentera nusantaramu Di kala sekarang telah tiada Gema janji sumpahmu tetap masih meraung Meraung keras di seluruh penjuru sudut bangsa ini 28 oktober. karenamu pemuda Indonesia melebur Menjadi sebuah pedang yang diasah tajam Dan siap di gunakan untuk mengisi kemerdekaan ini Terima kasih sumpahmu 28 oktober kan kugemakan slalu sampai nanti mentari tenggelam di seberang timur 70..

Kiamat Kiamat…… Banyak kejadian aneh di muka bumi Kiamat…… Banyak anak-anak durhaka pada orang tua Kiamat…… Orang baik sudah tidak ada lagi Untuk temanku yang sedang termangu Marilah bersujud di hadapanNya Mohon ampun belas kasihanNya Semoga ampunan selalu dalam perlindunganNya Membawa kita masuk ke dalam surgaNya 72. jalan merangkak Berdiri tegap. berbadan kuat Melewati belantara terjal pegunungan . Petualang kecil Jalan merayap.Kesekolah tidak bisa datang tepat Aku kalah dengan seekor burung Hingga malupun aku dapat 71. Antara dunia dan akhirat Duhai teman yang ada di seberang utara wahai teman yang berada di seberang selatan Duhai teman yang ada diseberang timur Wahai teman yang berada seberang barat Bisakah keadaan semua disana diceritakan ? Kami tahu itu tak jauhlah berbeda Dengan adanya dunia dan akhirat Antara panas dan dingin Antara kaya dan miskin Dan antara manis dengan pahit 73.

Menemani nuansa riuh berkicaunya burung Mengalahkan kejamnya tantangan alam Sang petualang kecil bertoreh keberanian Tak pernah takut ataupun sirna Melawan kesegala mara bahaya Yang bermunculan di jalanan Dan bila haus mendahagakan Mengeringkerontangkan tenggorokan Kau tetap menggeliat Mencari timbunan asamu yang masih terpendam 74. Manusia Robot Robot banyak orang memanggilmu Di jepang banyak kamu tinggal Robot kamu adalah manusia mesin Walaupun begitu apakah kamu punya perasaan sepertiku ? Tak sedikitpun kau perbuat kesalahan Unik. tak pernah putus asa dirimu berada Dan bila pekerjaan banyak menimpamu Kau akhiri segalanya dengan sesempurna kemampuanmu. Tukang Batu di Desaku Oh tukang batu…… Sungguh heran hatiku melihatmu Jam 11 malam pun kau masih menggema Memukul batu batu di dasar rumah itu Tuk memetakan keramik lantai Menghaluskan kondisi rumah itu Kau jadi pemborong Dan memborong segalanya Untuk memolekkan rumah orang itu . 75.gesit. lucu.

ha…. Begitu juga kambing tertawa hi…hi…hi… Manusia cemberut menahan kerut Bila gundah dalam hati Menitikkan air mata duka lara Memang duka lara akan pergi Bila senyum kita lempar Namun tidak seperti melempar batu Ke atas langit dan ke bawah bumi jika kambing pasti tertawa dalam haus dan lapar manusia juga perlu senyum dalam duka lagi lara 78.. jangan banyak usil Bisakah kau perhatikan sebentar ! Celotehmu hanya bikin gerah Perilakumu hanya buat mual saja Lihatlah semua guru telah mencibirmu .Semangatmu sungguh luar biasa Bagaikan robot yang tak pernah putus asa 76. Indah Senyuman Burung Kaka tua tertawa ha….ha…. Anak Nakal Diam kamu……. Nikmatnya berzakat Menumpuk sudah uang tabunganku Tak hilang punah semua usahaku Setelah berlama-lama kukumpulkan Kini saatnya sebagian aku zakatkan Tidak merasa hilang uangku dimasukkan Dalam kotak kecil yang begitu lusuh Lusuh dalam penglihatan manusia Namun tidak disisi Tuhan Yang Kuasa 77.

hidung Dan semua yang terkumpul dalam kekuatan maha hebat Namun dibalik itu semua ternyata tersimpan kelancangan Perilaku dan sikap Kami tak pernah mensyukur sedikitpun Tangan kami gunakan untuk merusak alam Kaki kami gunakan tuk menendang bumi Telinga dan mata kami gunakan untuk mendengar dan melihat yang seharusnya tidak kami perbuat Dan semua adalah demi berteman dengan hawa nafsu Jika memang kami dosa……. Tunjukkanlah apa yang seharusnya kami lakukan Kau adalah maha perubah Ya Tuhan rubahlah perilaku kami agar tidak sedemikian itu 80.Dan kau selalu panaskan kejengkelan hati padanya Tak pernah secuilpun kau perbuat selaras dengan aturan hati Dunia bisa siang juga bisa malam Kau hanya perlu memilih saja Jika baik di kata kau selalu ambil Perubahan berarti pasti kau dapatkan Namun bila buruk kata selalu dipilih Sampai nanti kau takkan selalu tiada arti 79. kaki . Ramdlan Ku Sayang Kau datang dengan segudang harapan Di tengah penantian berjuta manusia Senyum suka cita pun mencuat dari mulut mulut kecil . Kehebatan Anggota Badan Kami tak bisa berucap ya Tuhan……. telinga. tangan. Apa yang harus kami katakan Kau karuniakan mata.

Selancar Ku Lancar Bahagia diriku di kala sore Udara begitu sejuk menawan hati Angin pun kencang menerpa mengangkat ombak Melayangkan selancarku berayun ayun.Dan bila kau pergi keramahan tiada lagi Tangis sedih mewarnai kehilanganmu Tak’da lagi lantunan lantunan kecil Yang menyejukkan hati Penenang jiwa nan gundah Dari hasil tilawah yang menggugah 81. Nyiur Hijau Nyiur hijau di tepi pantai Bang kuning meraya Siur siur daunnya melambai Burung-burung berpada menyanyi gembira Tanah airku tumpah darahku Tanah yang subur kaya makmur Tanah airku tumpah darahku Tanah yang indah permai nyata 83. mengangkasakan diriku Menikmati riuhnya ombak bergulung-gulung Membukakan hati yang berketakutan 82. Sekolahku Sehat Sekolahku yang sehat Betapa ku mencintaimu Terimakasih kawan kawanku Yang telah membersihkannya Akan ku kenang engkau Sekarang sekolahku indah dan sehat Betapa aku senang .

Taman Bungaku Tamanku taman indah permai Kurindu dan kupandang slalu Bunga pujaan hatiku Kagum tiada jemu Burung berkicau riang hinggap Di dahan-dahan sambil menari senang Alangkah indahnya tamanku Kusiram dengan tekun selalu 85.Ini semua karena keikhlasanmu yang menggema 84. Awan Kulihat awan seputih bunga melati Kesana kemari dilangit luas Andai saja aku bisa menggapainya Agar aku bisa melihatmu Akan kuraih bila aku dapat Akankah aku bisa menggapainya Aku akan berusaha sekuat mungkin 86. tiada kebebasan Karenamu bangsa bebas dari penjajah Sekarang tiada engkau lagi Dan bangsa harus tetap bersatu Ku akan merindukanmu selalu Karena namamu tetap harum menyatu di kalbu 87. pahlawan Engakulah yang melindungi bangsa Tiada engkau. Bungaku Oh Bunga…… Engkau mekar di taman beraneka warna . Pahlawan Oh.

menyanyi dan menghirup madumu Bagaikan mimpi dikhayalku 88. Engakulah pengajar kami Engkau ajarkan ilmumu untuk kami Tiada bosan bosan engkau mengajar Dengan penuh kesabaran Guru ………. Untukmu Guru Bangsa Guru……. Tugu .. Gunungku Gunungku Engkau tinggi menjulang Penuh pepohonan kiri dan kanan Merah bungaku Hijau daunmu Coklat batangmu Tetapi mengapa manusia begitu kejam ? Menebang dengan liar Membakari hutan-hutan Sekarangpun hutan banyak yang gundul Karena perbuatan manusia yang kejam Kepahitan masa lalu pun didapatkan 90.Merah dan putih selau berseri Mawar dan melati berwarna warni Di atasmu penuh kumbang dan kupu Menari. Engkau mengajar dengan ikhlas Engkaulah pendidik putra putri bangsa Jasamu kepada kami sungguh besar Hingga aku menjadi pandai dan pintar 89.

.. Begitu indah dipandang Begitu dingin dirasakan Engkaulah salah satu buah karya Tuhan Tetapi manusia tidak merawatmu Membuang sampah dilaut Hingga tsunami meraja di Aceh Itulah wujudmu 92. Engkau datar meluas Penuh air di tepi dan di dalam Ombakmu yang tinggi Warnamu yang biru Laut………. Engkaulah sang penghirup madu Menghirup dengan penuh kesenagan Menghirup di atas bunga-bungaku Kupu…. Tetap kokoh melawan zaman Yang penuh kekerasan Jikalau malam datang Ku ingin sepertimu Tetap tegar melawan kokoh yang penuh liku 91. Laut Laut…….Tugu…….Kumbang . Engkau menjadi saksi bisu Kehidupan dulu Yang belum kutahu Tugu…. Kupu dan Kumbang Kupu……Kumbang……..

Gigiku Sehat Gigiku salah satu anggota tubuhku Yang berwarna putih Di dalam mulutku Yang memangjang satu persatu Oh tuhan terima kasih engkau menciptakan gigiku Hanya sebutir kata yang keluar dari mulutku . merdu dan sempurna Itulah wujudmu wahai lagu 95.Engkau terbang menari-nari Bersama kawan-kawanmu Di atas bunga. di bawah sang mentari 93. Lagu Kulantunkan tembang rindu Untukmu sahabatku Di atas panggungmu Kumenari dan bernyanyi dengan riang Penuh damba dan senang di dalam hati Dengan riangnya kau mengikutiku Menyanyikan lagu Indah. Indonesiaku Angin berdesir di pantai Angin berdesir sepoi-sepoi Burung pun ikut berkicau dengan merdu Di atas pantaiku Sawahnya yang hijau terbentang luas Gunungnya tinggi menjulang Itulah Indonesiaku Disanalah aku dilahirkan dan dibesarkan Di sanalah aku akhir menutup mata 94.

pekarangannya Raga. Tepuk Tangan Berepuklah tangan Dan hempaskanlah suasana duka lara Riuh dan ricuh terdengarkan Menusuk telinga Namun membakarkan kesenduan hati Dan apakah hanya itu yang akan kau dapatkan Tidak ………….menggelindingkannya Sampai jiwa kembali padaNya 99. Beri Terbaik Segala apa yang diambil Dan Semua apa yang telah dinjak Adalah buah dari asa manusia Keberanian berjalan Keuletan berlaku Kepatutan bercermin Tiadalah metamorfosa manusia dalam hijaunya dunia Apalah yang akan dipetik Buah nangka atau durian busuk ? Pastilah yang akan dipilih adalah segala apa yang terbaik 98.Aku bisa melumat makanan itu 96. bapaknya Bumi. Bocah Jalanan II Berangkat pagi diterpa angin .rumahnya Waktu. Bocah Jalanan I Langit.tepuklah sekali lagi Semua mala akan hijrah ke angkasa 97. ibunya Alam..

Menyibak kabut bertaruh nyawa Untuk menyambung hidup hari ini Belajar dari binatang buas Memburu rejeki lewat apa saja 100. Sudah KehendakNya Raja kematian datang dini hari Menjemput sukma kembali padaNya Walau sedu sedan menghiba Minta tangguh barang sejenak Tetap saja jalankan tugasnya Karena semua yang tersurat sudah kehendakNya . Balada Dua Bocah Dua bocah dalam rumah kosong Berkelakar dan tertawa riang Tuk usir lapar Yang merongrong Selama menunggu ibu bapak pulang Mengkais rejeki disetiap peluang Dua bocah dalam rumah kosong Lelah bermain selepas petang Berbaring di lantai sambil menerawang Sementara ibu bapak terus berjuang Abaikan dahaga dan terik yang memanggang Dua bocah dalam rumah kosong Sama mimpi lihat makanan terhidang Lalu dilahap hingga perut kenyang Tepat di saat ibu bapak genggam menang Segera bawa buat buah hati sayang Tapi bocah sudah meregang Paras mereka tenang 101.

Jangan biarkan semangat tergerus Karena. Rebut. malam sepanjang hari Karena aku takut gigku sakit lagi Akupun senang gigiku sehat Ayo kawan kita gosok gigi . sore. Bila tidak bisa apa-apa Tak kan pernah bisa apa-apa 104. Gosok Gigi Sehari aku gosok gigi Pagi . Genggam.. Bulumu putih mulus Wajahmu imut Dan tebal seperti selimut Engkau kucing yang lucu Juga menggemaskan Senangnya aku melihatmu Eloknya kamu kucingku 105. Prinsip Keberhasilan bukanlah hadiah. Pak Pos Biar terik atau hujan Setia datangi penerima khabar Yang menanti penuh harap Digubuk atau gedung semua pelosok Agar tragis tak berulang Seperti beliung yang memporakporandakan 103.102. Si Manis Si Manis…….

Suara Adzan Bila telah terdengar suaranya Mengumandang mencubit telinga Orang pun berbondong Mengambil wudlu membasuh tangan Dan merelakan kewajiban suci Menghadap ilahi mempasrahkan diri Mencari harapan untuk mengumpulkan pahala Berharap hasil di negeri kahirat 108.Janganlah kau malas kawanku Maka dari itu ku memeperingatikanmu Agar gigimu tidak sakit sepertiku 106. Guruku Terima kasih guruku Kau telah memberiku pendidikan Sungguh senangnya aku Mendapat ilmu karena pendidikanmu Engkau adalah pahlawan tanpa tanda jasa Aku ingin sepertimu Walau kau keras kepadaku Aku tau kau sangat sayang padaku Terima kasih guruku tercinta 107. Habis Sudah Habis sudah harta terkuras Hilang telah semua yang terpunya Dan kini mengisap jempol Mengkhawatirkan menangiskan diri Meratapi timbunan kesedihan yang melekat Berharap ada yang membela kasihani Hanya satu yang terpukat .

dan sekali lagi……… 111.Kebangkrutan tidak akan datang Bila impian masih tertancapkan 109. Waktu Adalah Uang Benarlah apa dikata orang Orang kaya bilang waktu adalah uang Bila berpangku tangan di ruang Apakah uang akan datang ? . Harus Bisa Saat waktu telah tiba Dan semua harus tekumpulkan Waktu memang terus berkejaran Tidak mau terkalahkan Bisa atau tidak ? Tahu atau tidak ? Semua adalah cobaan yang harus diterpa 110.sekali lagi….. Memohon Bantuan Derita datang Mala pun bebarengan hadir Seperti tamu tak diundang Rintihan rintihan kecil Tangis tangis pilu Menghiasi segala asa Yang memelas memohon bantuanNya Gegas gegaslah tetap Tanpa henti tiada berputus asa Tuhan adalah maha tahu Segala apa yang buruk dan baik untuk hambaNya Tetaplah bermohon kepadaNya Bila belumlah termakbulkan Teruslah sekali lagi….

Sang Juara Dia bukanlah keberuntungan Mereka tiadalah orang yang berkejora Dia dan mereka hanya bergelora Di saat pertandingan tiba Hatinya adalah mesin Berputar terus menerus Tiada henti Dalam kemunduran .Banyak orang tidak tahu Juga tidak mau tahu Kejadian yang terjadi padanya Adalah ketentuan dariNya Namun tidaklah demikian sebenarnya Orang kecil orang besar Berpeluang sama besarnya 112. Kunang-Kunang Saat malam tiba Gelap pun membumi Menutupi hingarnya dunia siang Ada satu yang menakjubkan kalbu Kunang-kunang beterbang ke kiri dan ke kanan Melintas mata manusia Membuat otak memutar pikir Memberikan pertanyaan Mengapa engkau memiliki benderang pencipta terang di kala malam ? Sadar semua berpikir Hanya Tuhan yang maha tahu Semua itu 113.

bahkan mencibir satu sama lain Berbahagia dalam bergunjing ria adakah manusia kan membahagia ? 115. mendengki.Tetaplah menampakkan dan menghadiahkan Kemenangan yang tiada henti 114. dan menggugah Bunga matahariku di depan rumah Bila kau akan layu kukayuhkan timba Air pun kualirkan di akarmu Dan ku membahagia Menyaksikan kau hidup segar Tanpa kesakitan menahan teriknya sang mentari 116. tak tahu malu menghardik. cerah. Bunga Matahari Kuning. Siklus Kemarin ada tawa dalam gelap Sekarang ada tangis dicerah cahaya Lintangku tetap saja dari selatan ke utara Seiring gelap terang sepanjang jalan Semua jadi bukan aral langkah Buat esok wujudkan impian 117. Berita Duka . Salam Sapa Menatap semut yang berpapasan Berhingar bingar dalam kerumunan Kesana kemari menampilkan pola perilaku yang menakjubkan Tetap bersalam sapa dan berjabat tangan walau berat beban makanan di atas badan Manusia.

Nelayan Pantai Selatan Gelombang gelombang pasang telah bermain Mengosak asikkan nuansa pantai Perahu perahu di halau pulang Masuk ke pekarangan Nelayan tetaplah nelayan Tidaklah kan tetap kekurangan Walau hanya sebentar Menahan lapar dalam kelakar Bersama gelombang gelombang pasang 119.Dipintu gerbang kalian berdiri Menenteng thermos sore tadi Dengan wajah kuyu dan bibir terkatup rapat Serta mata sembab oleh tangis berkepanjangan Tiada yang dapat ku katakana dari fenomena itu Karena akupun seperti kalian Tergetar oleh kuasanya Di malam yang kelewat dingin ini Terukir haru yang pekat Oleh berita duka Berpulangnya ibu tersayang 118. Gunung Krakatau Di selat sunda perahu berlintas lalu lalang Membawakan penumpang Menyibakkan pesona gunung Krakatau Fenomena alam Krakatau Berpenampilan gagah Membahana di lautan luas Mengepulkan asap membabibutakan .

pelangi…… Warnamu indah berseri Merah kuning. Puncak jayawijaya Tebing tebing tebal Tertaklukkan sang pendaki Berhari-hari menahan rintihan Menahan siksaan dinginnya salju berasa puncak jaya wijaya Setapak demi setapak Kaki bertautan menahan pijak Melawan terjalnya tantangan alam jayawijaya Berlama lama melintas . Rembulan Saat rembulan berwajah muram Sinarnya pun amat temaram Malam tetaplah malam Malam hanyalah hitam Oh…….rembulan Kau membuat hati makin bimbang Apakah kita bisa menang melawan musuh yang akan datang 122.Musuh musuh yang berkeliaran 120. Pelangi Pelangi……pelangi…. hijau.itu warnamu Disinari oleh mentari Semua orang menyukaimu Kau pelangi terindah disini Inginnya aku melihatmu setiap hari Dan disertai burung burung terbang tinggi 121.

mengganjal Guliran kaki yang menghentak Sedikit demi sedikit Dengan pelan lagi pasti Sang puncak telah terlihat Haru membahagia membahana Bendera menancap pada sang raja pegunungan . meliku.Menanjak.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->