Diagnosis dan Pengobatan Meningitis Bakteri

Ulasan ini berfokus pada kemajuan terbaru mengenai diagnosis dan pengobatan penyebab umum meningitis bakteri yang terjadi pada anak-anak setelah periode neonatal. Meningitis TB di luar dari tinjauan ini. Gejala dan tanda-tanda Meningitis bakteri sulit untuk di diagnosis karena gejala dan tanda-tandanya sering tidak spesifik, terutama pada anak-anak. Gejala-gejala nya suhu tinggi, nafsu makan menurun, muntah, lesu, dan mudah tersinggung. Tanda-tanda klinis meliputi ubun-ubun menonjol, demam, mengantuk, apnoea, kejang-kejang, dan ruam. Pada anak yang lebih besar teradpat tanda lebih klasik yaitu kekakuan leher, sakit kepala, dan yang lebih umum fotofobia . Tandatanda spesifik Kernig sign, Brudzinski, dan kekakuan kuduk sering tidak tampak pada anakanak.1 Tanda-tanda ini tidak sensitif pada orang dewasa,berbeda dengan anak-anak. Dalam penelitian pada orang dewasa, Kernig dan Brudzinski memiliki sensitivitas hanya 5%, sedangkan sensitivitas kaku kuduk adalah 30% .2 Sifat non-spesifik dari gejala dan tanda klinis menyebabkan sering terjadinya overtreat dan cenderung melakukan pemeriksaan lain untuk menunjang diagnosis. Pemeriksaan penunjang Pungsi Lumbal Analisis dan kultur Cairan cerebrospinal (CSF) tetap menjadi metode definitif untuk diagnosis meningitis. Persoalan mengenai indikasi, kontraindikasi, dan keamanan pungsi lumbal telah dibahas baru-baru ini.3 4 Apakah untuk melakukan pungsi lumbal (LP) pada anak dengan ruam petekie masih menjadi bahan perdebatan. Sebagian di Inggris menganggap bahwa anak sehat dengan ruam petekie adalah pathognomonik penyakit meningokokus sehingga pungsi lumbal memberi pengaruh yang lebih kecil serta membawa risiko tinggi atas ketidakstabilan hemodinamik.5 6 Orang lain berpendapat bahwa identifikasi dari organisme dalam CSF penting untuk pengobatan, profilaksis, dan epidemiologi.7 Kami setuju pada pendapat kedua tetapi ada alasan-alasan

LP harus dilakukan sebelum atau. kombinasi serogrup meningokokus (W135. Cranial computed tomography Cranial computed tomography (CT) memiliki manfaat terbatas pada meningitis bakteri akut.10 Penambahan Ultrasonic telah meningkatkan sensitivitas tes ini. "Sterilisasi" meningokokus dapat terjadi dalam waktu dua jam. daerah redaman rendah. infeksi virus. CT di cerebral edema dapat menunjukkan celah-seperti ventrikel lateral. sedangkan PCR yang dilakukan pada CSF yang diambil setelah pengobatan dan stabilisasi masih informatif (lihat di bawah untuk pembahasan lebih lanjut tentang teknik molekuler). dan kelompok B streptokokus. polymerase chain reaction (PCR) darah mungkin negatif. namun kurangnya sensitivitas bisa membatasi penggunaan klinis. sehingga kurang perlu untuk CSF awal. Streptococcus pneumoniae. Namun. keputusan untuk Sterilisasi CSF setelah penggunaan antibiotik terjadi secara cepat. yang dapat bertahan selama penyakit berlangsung. dan tidak adanya muara basilar dan suprakiasmatik. Disamping melakukan LP atau tidak . menandakan meningitis berasal dari bakteri. sedangkan untuk pneumococcus empat jam terapi antibiotik yang diperlukan. dan Y). segera setelah pemberian antibiotik.9 Tes aglutinasi lateks antigen cepat pada uji CSF atau darah memiliki manfaat yang dapat dilakukan secara cepat dan terlokalisir. jika itu tidak mungkin. Pada pengenalan teknik molekuler menjelaskan bahwa organisme hidup tidak diperlukan untuk identifikasi. Jika bakteri harus di kultur. C. dokter dapat mengarahkan pemeriksaan laboratorium mikrobiologi mengenai organisme yang paling mungkin sebagai prioritas tes laboratorium. terutama yang disebabkan oleh enterovirus. Sering digunakan secara keliru untuk menyingkirkan adanya peningkatan tekanan intrakranial. Kit komersial yang tersedia yang meliputi Neiserria meningitidis serogrup B.tertentu untuk menunda LP sampai benar-benar aman. ada variasi .8 Literature terdahulu menyatakan bahwa ketika sel darah putih yang ditemukan dalam CSF terutama polimorf. A. pengobatan antibiotik tetap tidak boleh ditunda. Escherichia coli K1. awalnya juga dapat menyebabkan respon polimorf dominan di CSF. Namun. Karena volume spesimen terbatas. Haemophilus influenzae tipe b.

Pemeriksaan penunjang lain Semua anak dirawat di rumah sakit dengan dugaan meningitis harus memiliki kultur darah. PCR mungkin . tidak semua anak-anak dengan Ruam hemoragik memiliki penyakit meningokokus. Meningokokus dapat diisolasi dari tenggorokan dalam sekitar separuh pasien dengan penyakit meningokokus. Indikasi utama untuk CT scan pada meningitis adalah ketika diagnosis tidak pasti dan kemungkinan penyebab lain dari meningisme sedang dipertimbangkan. Aspirasi dari petechiae pada penyakit meningokokus merupakan sesuatu yang dilupakan. faktor pembekuan. misalnya.Dapat dikatakan bahwa jika dokter sudah yakin dengan penyakit meningokokus. C reaktif protein (CRP). darah EDTA (ethylenediaminetetra-asam asetat) spesimen untuk studi PCR dan darah beku awal untuk tes serologi. konfirmasi penting pada epidemiologi dan tingkat kesehatan masyarakat. Setiap keputusan untuk melakukan CT tidak harus menunda penggunaan antibiotik. Pemeriksaan ini sangat berguna dalam diagnosis definitif penyakit meningokokus yang dapat dilakukan ketika gejala klinis tersebut menghalangi dilakukannya pungsi lumbal. terutama karena teknik PCR dapat digunakan untuk mengkarakterisasi meningokokus. Hitung darah lengkap. Hal yang yang harus diperhatikan adalah CRP yang rendah atau normal yang mungkin muncul pada awal infeksi yang parah. Antibiotik tidak mempengaruhi gambaran meningokokus pada aspirasi kulit. urea dan elektrolit juga harus dilakukan secara rutin. Suatu studi menemukan bahwa petechiae dari dua pertiga pasien mengandung meningokokus. swab tenggorokan. angka ini tidak dipengaruhi oleh pengobatan antibiotik. mengapa butuh pemeriksaan lebih lanjut? Namun.dalam ukuran ventrikel lateral normal. pengenalan metode ekstraksi baru pada darah lengkap memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih baik PCR. Selanjutnya. yang membuat interpretasi dari CT scan sulit. tumor fossa posterior atau jika komplikasi meningitis yang dicurigai. abses otak. Teknik molekul Dalam kasus meningococcus. yang dapat dilihat pada pewarnaan Gram atau kultur. misalnya. baru-baru ini sebuah studi dari Liverpool menunjukkan sensitivitas 87% dan spesifisitas 100% yang dilaporkan pada anakanak dengan kemungkinan meningokokus disease.

dalam studi eksperimental. Namun. Antibiotik yang dipilih harus memiliki bakterisida aktivitas CSF. diikuti oleh pemeriksaan mikrobiologi bersamaan dengan pengobatan antibiotik merupakan landasan dari manajemen terapi meningitis. Pada anak dengan dicurigai meningitis . langsung dirawat di rumah sakit. Untuk diagnosis penyakit pneumokokus. menggunakan PCR mungkin bermasalah. PENGOBATAN Pemilihan antibiotik tergantung pada organisme yang terisolasi. konsentrasi.Kurangnya darah yang adekuat dan kultur CSF dapat mengakibatkan kesulitan menentukan durasi pengobatan dan ketidakpastian atas kerentanan antimikroba dari organisme.di masa depan akan digunakan untuk menentukan prognosis. Produk-produk tersebut memprovokasi produksi inflamasi mediator seperti faktor nekrosis tumor a (TNF-a). Studi baru-baru ini menggunakan PCR kuantitatif pada darah untuk mengungkapkan bahwa DNA bakteri meningokokus berkorelasi dengan keparahan penyakit dan menimbulkan beban maksimum tertinggi pada mereka yang Mati. tes ini sensitif dan specific. Perannya dalam diagnosis pada saat ini tidak ditunjukkan untuk meningokokus. interleukin 1 (IL-1). Pada Hewan penelitian telah menunjukkan bahwa efek bakterisidal diperlukan untuk sterilisasi CSF dan survival. dan platelet activating factor (PAF). hasil positif palsu mungkin diperoleh karena tingkat karier nasofaring tinggi pada anak.Antibiotik bakterisidal melakukan pelepasan sel bakteri ke sasaran seperti endotoksin. teknik ini melibatkan amplifikasi dari gen pneumolysin umum untuk semua pneumococci. Konsentrasi Antibiotik di CSF yang dibutuhkan untuk aktivitas bakterisida yang optimal tidak pasti. Pasien dengan radang paru atau Gram bacillary meningitis negatif yang diobati dengan bakteriostatik antibiotik mungkin memiliki hasil klinis yang buruk. dan peptidoglycans.Namun pada darah. Ada tiga faktor yang mempengaruhi aktifitas antibiotika: kemampuan untuk menembus CSF. asam teichoic. dan aktivitas intrinsik dalam cairan yang terinfeksi. Pada CSF. kegiatan bakterisida maksimal terjadi ketika konsentrasi suatu antibiotik adalah sekitar 10-30 kali konsentrasi minimal bakterisida terhadap organisme secara in vitro. Paling umum. .

Sebuah studi menunjukkan bahwa kesimpulan yang .Pengobatan umumnya direkomendasikan 10-14 hari sedangkan untuk N meningitidis tujuh hari saja sudah cukup. Pengobatan pilihan untuk Gram negatif bacillary meningitis adalah cefotaxime atau ceftriaxone.Ceftriaxon akan efektif ketika diberikan sebagai dosis tunggal harian (80-100 mg/kg) untuk mengobati infeksi bakteri serius termasuk meningitis pada anak. Mereka menghambat transkripsi mRNA untuk TNF. Ini menutupi Neisseria meningitides. Temuan CSF dapat diubah. namun antibiotik jarang menginterfensi protein CSF atau glukosa. Streptococcus pneumoniae.32 Pada kebanyakan kasus meningitis bakteri spektrum yang luas. Untuk S pneumoniae dan H influenzae. karena ini tidak terpengaruh sebelum pemberian antibiotik .Uji meta-analisis terbaru dari penggunaan steroid pada meningitis bakteri dapat mencapai kesimpulan yang berbeda. dan mengurangi produksi sintesis nitrat oksida yang dapat diinduksi. Penggunaan Deksametason Steroid memiliki efek anti-inflamasi dan mengurangi pelepasan dari berbagai sitokin. mengurangi edema serebral vasogenik. dan menembus CSF dengan baik. Ampisilin harus ditambahkan pada bayi (kurang dari 3 bulan) untuk menutupi Listeria monocytogenes. pewarnaan Gram dan pertumbuhan organisme mungkin negatif. Aminoglikosida kadang-kadang digunakan sebagai tambahan. antibiotik harus diberikan dalam 14-21 hari. dan produksi dari prostaglandin dan PAF. sefalosporin (cefotaxime atau ceftriaxone) adalah yang paling sesuai empiris pilihan pada anak di atas 3 bulan.α dan IL-1. Dalam situasi ini.31 Lama pengobatan dan pilihan antibiotik Durasi terapi antibiotik tergantung pada organisme yang terisolasi. Pada Listeria monocytogenes dan Kelompok B streptokokus meningitis. CSF harus dikirim untuk PCR dan deteksi antigen bakteri. mungkin karena perbedaan dalam kriteria kelayakan mereka. Perubahan inflamasi pada meningitis akhirnya dapat menyebabkan kerusakan saraf dan ketulian. dan Haemophilus influenzae.Terapi parsial meningitis Terapi parsial dapat menunda presentasi anak ke rumah sakit dan hasil dalam dilema diagnostik. Untuk basil Gram negatif minimal selama tiga minggu. tetapi tidak sendiri karena mereka sering tidak melebihi konsentrasi minimum (MIC) untuk bakteri gram negatif dan tidak mungkin menjadi berhasil dalam pemberantasan bakteri patogen.

Terdapat kekhawatiran mengenai penetrasi antibiotik ke dalam CSS (cairan serebro spinal) ketika steroid digunakan. Kami mendukung penggunaannya secara empiris di negara berkembang untuk anak-anak dengan kecurigaan meningitis. Sebuah percobaan plasebo tersamar ganda terkontrol secara luas yang terbaru dari Malawi menunjukkan tidak ada manfaat deksametason sebagai terapi adjuvant/pembantu pada anak dengan meningitis bakteri akut di negara berkembang. malnutrisi. Perbedaan dosis untuk deksametason telah digunakan. pengurangan besar . dan infeksi HIV-1 mungkin telah mempengaruhi efek deksametason dalam keadaan ini. Ini mungkin dapat menjelaskan mengapa beberapa RCT menunjukkan bahwa deksametason mengurangi angka kematian secara keseluruhan.4 mg / kg diberikan setiap 12 jam dengan total durasi dua hari terbukti aman dan sama berkhasiatnya seperti dosis 0. Presentasi terlambat dan penyakit bawahan seperti anemia. Bukti terbaik untuk manfaat deksametason adalah pada meningitis H influenzae tipe b meningitis. Namun. Namun pada anak-anak. Penelitian terhadap hewan menunjukkan bahwa penetrasi antibiotik seperti vancomycin berkurang pada terapi steroid dibandingkan dengan hewan yang tidak diterapi steroid. vankomisin mencapai konsentrasi yang memadai dalam CSS bahkan ketika deksametason diberikan secara bersamaan.15 mg / kg diberikan setiap 6 jam selama empat hari. Satu dosis dari 0. misalnya. sedangkan yang lain tidak menunjukkan manfaat yang sama. Kita dapat berspekulasi bahwa kasus yang sama terjadi pada RCT (uji klinis acak terkonrol) dari penggunaan steroid pada meningitis. Terdapat munculnya menjadi keuntungan jika pemakaian deksametason dimulai sebelum atau bersamaan dengan antibiotic. Penggunaan singkat mungkin dapat membantu mengurangi risiko perdarahan lambung. bukti manfaat untuk meningitis pneumokokus kurang pasti. gangguan pendengaran.diperoleh dari beberapa percobaan acak terkontrol (RCT) dari penggunaan antibiotik pada meningitis bakteri mungkin tidak akurat karena mereka kurang kuat untuk menunjukkan perbedaan yang berarti secara klinis. dan kejadian gejala sisa neurologis jangka panjang pada anak-anak. Sebagai akibat dari perubahan epidemiologi meningitis bakteri.

Manitol bukan tanpa efek samping. pemilihan untuk intubasi dan sedasi serta pengobatan yang tepat. Kisaran intervensi tersebut dari menyusui anak dengan kepala sampai posisi 20-30 ° dan di lingkungan yang tenang.25-1 g / kg. bradikardi. Hal ini umumnya direkomendasikan untuk tujuan untuk hipokapnia minimal (PaCO2 tidak kurang dari 3. gliserol. tapi terdapat uji klinis acak terkontrol dari gliserol. Bukti yang dipublikasikan belum tersedia.5 kPa) untuk menghindari vasokonstriksi serebral yang berlebihan. Pemeriksaan fundoskopi yang normal tidak menyingkirkan kenaikan TIK. pertanyaan tentang kemanjuran dari steroid pada meningitis bakteri akan terus diperdebatkan.dalam meningitis H influenzae tipe b dan munculnya resistensi antibiotik. dengan papilloedema adalah tanda akhirnya. Pengobatan kenaikan tekanan intrakranial Peningkatan tekanan intrakranial (ICP/TIK) merupakan komplikasi yang diakui akibat meningitis. Tanda-tanda naiknya TIK meliputi berubahnya tingkat kesadaran. personal komunikasi). Diuretik osmotik seperti manitol 20%. Efek menguntungkan dari hiperventilasi dalam pengobatan kenaikan TIK masih diperdebatkan. Langkah-langkah untuk mengoptimalkan homoeostasis otak dengan memastikan pengiriman oksigen dan nutrisi yang memadai serta mempertahankan perfusi serebral dan memastikan tekanan arteri rata-rata yang memadai adalah penting sebagai intervensi untuk mengurangi kenaikan TIK. manitol. dan steroid untuk pengobatan kenaikan TIK pada anak-anak dengan meningitis bakteri. Manitol diberikan sebagai infus dalam dosis 0. pada keadaan hiperosmolar yang diikuti dengan dosis ulangan. hipertensi atau hipotensi. . Aksi mereka adalah melalui pergeseran cairan dari ekstravaskular ke ruang intravaskular. dan salin hipertonik digunakan dalam pengobatan edema serebral dan peningkatan TIK. untuk menurunkan tekanan intrakranial. dan berubahnya pola pernapasan. yang akan ditutup tahun 2004 (Heikki Peltola. mengakibatkan pengurangan dari tekanan intrakranial. perburukan edema serebral dan gangguan kardiak output.

untuk anakanak dosisnya adalah 10 mg / kg (di bawah 1 tahun. 600 mg / hari) selama empat hari. Dugaan kasus harus dilaporkan sesegera mungkin pada pelayanan kesehatan umum setempat. Kotak memberikan rekomendasi untuk kemoprofilaksis dan pencegahan kasus sekunder antara kontak dekat. • Ceftriaxone 250 mg pada orang dewasa (anak <12 tahun. Sebuah RCT yang cukup besar untuk menemukan perbedaan yang signifikan sepertinya tidak mungkin dilakukan. Setiap anak yang belum divaksin yang berusia 12-48 bulan. Satu RCT menunjukkan manfaat dari rifampisin dalam mencegah kasus sekunder meningitis Haemophilus influenzae antara kontak yang dekat. Anak yang belum divaksin yang berusia 2-11 bulan harus diberikan tiga dosis vaksin. UCAPAN TERIMA KASIH Kami berterima kasih kepada Drs DV Shingadia. 5 mg / kg) setiap 12 jam selama dua hari secara oral.Kemoprofilaksis dan pencegahan kasus sekunder Tidak ada review sistematis atau percobaan klinis acak terkontrol (RCT) yang telah terbit mempelajari efek dari antibiotik profilaksis untuk mencegah kasus-kasus berikutnya dalam penyakit meningokokus. harus diberikan satu dosis vaksin. P Heath. • Infeksi Meningokokus (harus diberikan salah satu dari berikut:) • Rifampicin 600 mg setiap 12 jam selama dua hari untuk orang dewasa. dan dokter umum harus diberitahu tentang kebijakan untuk pencegahan sekunder dari kasus. 125 mg) intramuskular sebagai dosis tunggal. Ciprofloxacin 500 mg oral sebagai dosis tunggal pada orang dewasa dan anak usia > 12 tahun (tidak berlisensi tetapi ekstensif digunakan). Rekomendasi untuk pencegahan kasus sekunder antara kontak yang dekat infeksi H influenzae tipe b • • Semua kontak di rumah harus diberikan rifampisin 20 mg / kg / hari (maks. E Price. dan E Kaczmarski untuk komentar bermanfaat pada draft kertas ini. • .

atau W135 harus ditawarkan vaksin quadrivalen meningokokus.• Anak yang belum divaksin dan kontak terdekat usia > 2 tahun dan terkena meningokokus A. Untuk rincian dari mereka yang harus menerima kemoprofilaksis. petugas kesehatan umumnya tidak membutuhkan kemoprofilaksis Meningitis Pneumokokus •Kemoprofilaksis biasanya tidak diindikasikan untuk kontak terdekat Meningitis bakteri jenis lain • Pencegahan sekunder tidak diperlukan. Y. hubungi konsultan dalam pengendalian penyakit komunitas (atau konsultan dalam penyakit menular.. . atau laboratorium kesehatan masyarakat setempat). C. Kecuali telah ada kontak mulut-ke-mulut (atau paparan langsung tetesan menular dari pasien dengan penyakit meningokokus).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful